pengaruh penilaian kinerja pegawai fungsional

advertisement
PENGARUH PENILAIAN KINERJA PEGAWAI
FUNGSIONAL TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR
BERBASIS KOMPETENSI PADA KANTOR PELAYANAN
PAJAK (KPP) PRATAMA BOGOR
Oleh
VIVIN LIAN HUTAJULU
H24080040
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
PENGARUH PENILAIAN KINERJA PEGAWAI
FUNGSIONAL TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR
BERBASIS KOMPETENSI PADA KANTOR PELAYANAN
PAJAK (KPP) PRATAMA BOGOR
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
VIVIN LIAN HUTAJULU
H24080040
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
Judul Skripsi : Pengaruh Penilaian Kinerja Pegawai Fungsional Terhadap
Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi pada Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor
Nama
: Vivin Lian Hutajulu
NRP
: H24080040
Menyetujui :
Pembimbing I
Pembimbing II
Dra. Siti Rahmawati, M.Pd.
NIP 195912311986012003
Lindawati Kartika, SE, M.Si
NIP 198601182009122001
Mengetahui:
Ketua Departemen,
Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc.
NIP 196101231986011002
Tanggal Lulus :
RINGKASAN
Vivin Lian Hutajulu. H24080040. Pengaruh Penilaian Kinerja Pegawai
Fungsional Terhadap Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi Pada Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor. Di bawah bimbingan Siti Rahmawati
dan Lindawati Karika.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor merupakan unit kerja dari
Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat baik
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak maupun tidak di wilayah Kota Bogor. Di
masa sekarang ini organisasi atau perusahaan tidak terfokus lagi hanya pada aspek
keuangan saja akan tetapi fokus terpenting adalah mengembangkan dan menggali
potensi yang dimiliki oleh sumber daya manusia yang sangat berperan dalam
kemajuan organisasi atau perusahaan. Kinerja pegawai harus diperhatikan dalam
pelaksanaan dan penilaiannya secara baik agar sesuai dengan tujuan organisasi
dan untuk diri pegawai itu sendiri. Kinerja yang baik akan berpengaruh terhadap
penentuan kemajuan karir seorang pegawai. Penilaian kinerja yang dilakukan
terhadap pegawai tidak hanya berguna bagi organisasi atau perusahaan tetapi juga
bagi pengembangan karir pegawai itu sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kinerja pegawai fungsional
pada KPP Pratama Bogor berdasarkan persepsi, mengidentifikasi pengembangan
karir
pegawai
fungsional
KPP
Pratama
Bogor
berdasarkan
persepsi,
mengidentifikasi faktor penghambat pengembangan karir, dan menganalisis
penilaian kinerja pegawai fungsional terhadap pengembangan karir pada KPP
Pratama Bogor.
Informasi dan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data
primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor. Data sekunder
diperoleh melalui dokumen dan data instansi. Metode pengambilan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus atau seluruh anggota
populasi digunakan sebagai sumber data. Responden adalah pegawai yang berada
pada divisi fungsional sebanyak 15 orang.
Hasil penelitian dengan menunjukkan penilaian kinerja menggunakan empat
indikator yaitu pengetahuan, keterampilan, motivasi dan peran. Sedangkan
pengembangan karir menggunakan tiga indikator yaitu kompetensi dan
kualifikasi.
Secara keseluruhan kinerja dan
pengembangan karir
telah
menggambarkan hasil yang baik, dimana indikator yang paling berpengaruh pada
pengembangan karir adalah motivasi memiliki pengaruh yang positif dan adanya
hubungan yang signifikan terhadap pengembangan karir pegawai fungsional
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor. Dapat disimpulkan bahwa apabila
motivasi ditingkatkan dapat meningkatkan pengembangan karir pegawai
fungsional. Motivasi
memiliki pengaruh yang sangat signifikan dan positif
terhadap pengembangan karir. Faktor penyebab terhambatnya pengembangan
karir adalah pada klasifikasi angka kredit, posedur, waktu, dan kebijakan.
Sedangkan faktor pemicu/pendorong yang paling kuat untuk pengembangan karir
adalah sarana/prasarana memadai yang disediakan untuk mendukung pekerjaan di
divisi fungsional. Kendala atau faktor penghambat yang paling kuat adalah
penyesuaian pangkat/jabatan yang tidak sama di tempat kerja baru dan tidak
adanya pengakuan angka kredit yang dicapai di tempat kerja sebelumnya pada
saat mutasi.
RIWAYAT HIDUP
Vivin Lian Hutajulu dilahirkan pada tanggal 23 Oktober 1989 di Tarutung
yang merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan Daslon
Hutajulu dan Lumongga Silalahi. Penulis memulai pendidikan di TK
Bhayangkary pada tahun 1995, kemudian melanjutkan Sekolah Dasar di SD
Negeri 178492 Perumnas Pagarbatu lulus pada tahun 2002, Sekolah Menengah
Pertama Negeri 1 Sipoholon lulus pada tahun 2005, dan Sekolah Menengah Atas
Negeri 1 Sipoholon lulus pada tahun 2008.
Masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk
IPB (USMI) pada tahun 2008 diterima sebagai mahasiswa Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi mahasiswa
aktif sebagai komisi disiplin dalam Masa Perkenalan Departemen tahun 2010,
sebagai seksi pemerhati di komisi kesenian PMK IPB, sebagai bendahara pada
Camp Pengutusan Komisi Praalumni (KOPRAL) PMK IPB pada tahun 2012 dan
menjadi anggota COM@ IPB. Selain itu penulis juga aktif di organisasi luar
kampus yaitu sebagai kerohanian di Parsadaan Anak Rantau Tarutung
(PARTARU) pada tahun 2010.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang setinggi-tingginya penulis panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas Kasih dan Karunia yang selalu berlimpah sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Penilaian Kinerja Pegawai
Fungsional Terhadap Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi pada Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor. Sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Instansi yang bekerja untuk memberikan pelayanan terbaik bagi
masyarakat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor tidak lepas dari
kualitas
dari
kinerja
sumberdaya
manusia
yang memiliki
kompetensi.
Pengembangan karir berbasis kompetensi sangat diperlukan untuk efektivitas dan
efisiensi hasil kinerja yang ingin dicapai. Adanya pengembangan karir berbasis
kompetensi diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja pegawai di KPP Pratama
Bogor.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan,
sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun penulis harapkan untuk bahan
perbaikan di masa yang akan datang. Kepada semua pihak yang telah membantu
proses penyusunan skripsi ini, penulis ucapkan terima kasih.
Bogor, Mei 2012
Penulis
iv
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
memberikan kasih dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul Pengaruh Penilaian Kinerja Pegawai Fungsional Terhadap
Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi Pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Pratama Bogor. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses
kegiatan penelitian dan penyusunan skripsi ini.
1. Dra. Siti Rahmawati, M.Pd. dan Lindawati Kartika, SE, M.Si. selaku dosen
pembimbing, atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah
diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
2. Drs. Edward H Siregar, SE, M.Si. selaku dosen penguji yang telah bersedia
menguji dan memberikan masukan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Kepada Bapak pimpinan, pak Budi, pak Torang, dan seluruh pegawai
fungsional di KPP Pratama Bogor.
4. Papa tercinta di surga atas segala doa, mimpi, harapan serta nasehat yang tak
ternilai harganya. Skripsi ini kupersembahkan untukmu. Untuk Mama
tercinta
yang
telah
mendoakan,
memperjuangkan,
mendidik,
dan
mengajarkan arti perjuangan hidup bagi penulis.
5. Adik-adik tercinta Delita, Fitrie, Putra, Agave, Ivo dan Evo atas doa dan
harapan serta keceriaan yang menyemangati penulis dalam mengerjakan
skripsi ini.
6. Kepada keluarga besar, Opung, opung Jack, eda dan ito Ika, tulang Rudi,
tulang Alvon, Tulang Jack, tante Evi, bang Jo, tulang Jimmi dan bang Alan
atas doa, semangat dan dukungannya bagi penulis.
7. Ibu gembala sidang dan penatua GPI Bogor, Ibu A Sinaga, Pdt. Rajagukguk,
Gr. Sianipar, bang Putra, Grace, Joshua dan semua teman-teman atas doa
dan dukungannya bagi penulis.
8. Sri Bonasi Agustina Sinaga (bonbon) yang selalu mendoakan dan
menyemangati penulis setiap saat.
v
9. Kak Tiur, kak Suryana, kak Rien, kak Gusty, ka Oci dan bang Itong
terimakasih untuk doa dan semangat yang tidak pernah berhenti bagi
penulis.
10. Teman-teman seperjuangan Partaru 45 Rina, Ria, Agung, Sintong, Desi,
Yuni, Nasip, Eva, Riko, Suarno, Andreas dan adik-adik Murdhani, Jise,
Noldy, May, Karta, Saima, Getha, Ratna, Shara, Yenny dan seluruh keluarga
Partaru yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
11. Komisi Kesenian IPB atas kebersamaan, penajaman dan setiap kesempatan
yang diberikan dalam pembentukan menjadi pribadi yang pembelajar,
dinamis, religius dan kritis.
12. Teman-teman TPB Gusti, Debora, Metha, Swinda, Hera, Amudi, Rio,
Vonika, Fega Jo dan Meycris atas doa, penguatan dan semangat yang tidak
pernah berhenti.
13. Teman-teman magang di KPP Pratama Bogor Ratu, Mumun, Putri dan
Toresh untuk kebersamaan dan kekompakan.
14. Teman-teman terkasih Ruth, Cristini, Leo, David, Satchi, Adi, Ocha, Rita,
Icha dan Vania buat hari-hari yang indah dan penuh makna.
15. Teman-teman bimbingan skripsi Lely, Ismi, Dimas, Antin, dan Mey untuk
semangat dan dukungannya.
16. Teman-teman seperjuangan Manajemen 45 khususnya yang telah menemani
kebersamaan dalam kelas saat belajar. Atas semangat dan sharing selama
penelitian hingga penulisan skripsi, serta seluruh pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuannya.
Semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang telah diberikan hingga
penyusunan skripsi ini selesai pada waktunya. Penulis menyadari sepenuhnya
bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penyusunan skripsi ini,
semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang
memerlukannya.
Bogor, Mei 2012
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP .....................................................................................
iii
KATA PENGANTAR .................................................................................
iv
UCAPAN TERIMA KASIH ......................................................................
v
DAFTAR ISI
...........................................................................................
vii
DAFTAR TABEL .....................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
xi
I.
PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
Latar Belakang ............................................................................
Rumusan Masalah .......................................................................
Tujuan Penelitian ........................................................................
Manfaat Penelitian ......................................................................
Ruang Lingkup Penelitian ...........................................................
1
5
6
7
7
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
Kinerja ........................................................................................
2.1.1 Prinsip Dasar dan Tujuan Peningkatan Kinerja Karyawan
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja .................................
Pengembangan Karir........... ........................................................
2.2.1 Tujuan dan Manfaat Perencanaan dan Pengembangan
Karir ..................................................................................
2.2.2 Desain Pengembangan Karir ............................................
2.2.3 Pengembangan Karir Secara Individual dan Organisasi...
2.2.4 Manajemen Pengembangan Karir.....................................
Kompetensi .................................................................................
2.3.1 Karakteristik Kompetensi.............................................. ...
2.3.2 Tujuan Kompetensi....................................................... ....
2.3.3 Jenis Kompetensi........................................................... ...
2.3.4 Kompetensi Dasar dan Kompetensi Pembeda ..................
2.3.5 Komponen Utama Kompetensi ........................................
2.3.6 Tahap Pelaksanaan Sistem Kompetensi ........................ ..
2.3.7 Manajemen Kompetensi ............................................... ...
2.3.8 Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi ................. ...
Penelitian Terdahulu ...................................................................
8
9
10
12
13
14
16
18
18
20
20
21
21
23
23
23
24
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.
3.2.
Kerangka Pemikiran Penelitian ...................................................
Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................
vii
26
27
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.
Jenis dan Sumber Data ................................................................
Penentuan Sampel ................................................................. .....
Metode Pengumpulan Data .................................................. ......
Metode Pengolahan Data dan Analisis Data ........................... ...
28
29
29
29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lembaga..........................................................
4.1.1 Sejarah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor ..............
4.1.2 Visi, Misi dan Nilai Direktorat Jenderal Pajak .................
4.1.3 Struktur Organisasi ...........................................................
4.1.4 Pegawai Fungsional KPP Pratama Bogor ........................
4.2. Karakteristik Pegawai Fungsional Berdasarkan Uji Crosstabs ...
4.2.1 Jenis Kelamin Pegawai Fungsinal ................................. ..
4.2.2 Usia Pegawai Fungsional ............................................. ....
4.2.3 Tingkat Pendidikan Pegawai Fungsional .........................
4.2.4 Status ................................................................................
4.2.5 Pangkat .......................................... ..................................
4.2.6 Pendapatan .................................................................. .....
4.2.7 Masa Kerja .................................................................. .....
4.3. Identifikasi Kinerja Pegawai Fungsional dan Pengembangan
Karir pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor .....................
4.3.1 Identifikasi Kinerja Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor ................................ ......
4.3.2 Tujuan Penilaian Kinerja dan Penentuan Angka Kredit ...
4.3.3 Unsur dan Sub Unsur Kegiatan yang Dinilai ....................
4.3.4 Pejabat Penilai ..................................................................
4.3.5 Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kinerja Pegawai
Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor..... ...
4.3.6 Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor .......................................
4.3.7 Identifikasi Pengembangan Karir Pegawai Fungsional
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor ...........................
4.3.8 Persepsi Responden Terhadap Kompetensi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor .......................................
4.3.9 Persepsi Responden Terhadap Kualifikasi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor .......................................
4.4. Pemetaan (mapping) Karir Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor. ...................................................
4.5. Pengaruh Penilaian Kinerja Terhadap Pengembangan Karir
Pegawai Fungsional Melalui Analisis Path Modelling Partial
Least Square .............................................................. ..................
4.5.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Model ................................
4.5.2 Indikator-indikator yang Mencerminkan Faktor-faktor
Penilaian Kinerja ..............................................................
4.5.3 Indikator-indikator yang Mencerminkan Pengembangan
Karir ..................................................................................
viii
36
36
36
37
38
41
42
43
44
45
46
47
49
49
50
50
50
51
52
52
53
53
55
56
58
61
64
68
4.6.
4.7.
4.5.4 Pengaruh Faktor-faktor Penilaian Kinerja Terhadap
Pengembangan Karir ........................................................
Analisis Faktor Penghambat Karir Pegawai Fungsional
Menggunakan Fishbone Aanlysis dan Force Field Analysis .......
4.6.1 Analisis Penghambat Pengembangan Karir Melalui
Fishbone Analysis ........................................................ ....
4.6.2 Analisis
Faktor
Pendorong
dan
Penghambat
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Menggunakan
Force Field Analysis.................................................... .....
Implikasi Manajerial ...................................................................
70
72
72
75
81
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ...........................................................................................
Saran ......................................................................................................
83
84
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
85
LAMPIRAN …. ...........................................................................................
87
ix
DAFTAR TABEL
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Halaman
Peta karir pegawai fungsional................................................................
Karakteristik Responden........................................................................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap jenis kelamin ................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap usia ...............................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap tingkat pendidikan .......
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap status ............................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap pangkat .........................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap pendapatan ...................
Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap masa kerja ....................
Persepsi pengembangan karir terhadap kinerja pegawai fungsional
KPP Pratama Bogor ...............................................................................
Persepsi pegawai fungsional terhadap kompetensi dalam
pengembangan karir pegawai fungsional KPP pratama Bogor .............
Persepsi pegawai fungsional terhadap kualifikasi dalam
pengembangan karir pegawai fungsional KPP pratam Bogor ...............
Variabel-variabel reflektif yang mencerminkan faktor-faktor penilaian
kinerja...................... ..............................................................................
Variabel-variabel reflektif yang mencerminkan pengembangan karir.
Nilai outer loading indikator faktor pengetahuan .................................
Nilai outer loading indikator faktor keterampilan .................................
Nilai outer loading indikator faktor motivasi ........................................
Nilai outer loading indikator faktor peran .............................................
Nilai outer loading indikator faktor kompetensi ...................................
Nilai outer loading indikator faktor kualifikasi .....................................
Nilai koefisien dan t-value faktor-faktor penilaian kinerja terhadap
pengembangan karir ..............................................................................
Faktor pendukung dan faktor penghambat pengembangan karir
pegawai fungsional KPP Pratama Bogor...............................................
Strategi dan rencana aksi untuk memperkuat faktor pendorong ...........
Strategi dan rencana aksi untuk mengatasi faktor penghambat .............
x
5
42
43
44
45
46
47
48
49
52
54
55
59
60
64
65
66
67
68
69
71
78
80
80
DAFTAR GAMBAR
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Halaman
Aspek-aspek kecerdasan emosional ………………………………........
Kerangka pemikiran penelitian …………………………………….......
Model diagram lintas penelitian ..............................................................
Struktur organisasi KPP Pratama Bogor…….................................. .......
Model path modelling Partial Least Square………………………. ......
Output grafis SmartPLS (sebelum diestimasi ulang)……………….......
Output grafis SmartPLS (setelah diestimasi ulang)……………...... ......
Output grafis SmartPLS pengetahuan .....................................................
Output grafis SmartPLS keterampilan.............................................. ......
Output grafis SmartPLS motivasi .......………………………….............
Output grafis SmartPLS peran ………………………………................
Output grafis SmartPLS kompetensi ............................................... .......
Output grafis SmartPLS kualifikasi……………………................... .....
Diagram Fishbone penghambat pengembangan karir ................... ........
Matriks Force Field Analysis……………………………………..........
xi
20
28
32
38
58
61
61
64
65
66
67
68
69
74
75
DAFTAR LAMPIRAN
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Halaman
Kuesioner penelitian ...........………………………………….................
Karakteristik umum responden ...............................................................
Hasil outer loading pengaruh penilaian kinerja terhadap pengembangan
karir ...................................................................................................... ...
Hasil cross loading ..................................................................................
Nilai average variability extracted (AVE)...............................................
Nilai composiet reliability .......................................................................
Nilai R-square ..........................................................................................
Nilai path coefficients ..............................................................................
Pemetaan (mapping) Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor .........................................................................................
xii
88
91
92
93
94
94
95
95
96
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor merupakan unit kerja dari
Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat baik
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak (WP) maupun tidak di wilayah Kota
Bogor. Pada masa pemerintahan Belanda, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
untuk selanjutnya disingkat KPP Pratama Bogor, bernama De In Fiksi Van
Finansien. Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut berubah menjadi Kantor
Inspeksi Keuangan, kemudian menjadi Kantor Inspeksi Pajak. Setelah adanya
reformasi perpajakan pada tahun 1984 dan adanya perubahan sistem pemungutan
pajak, maka Kantor Inspeksi berganti nama menjadi Kantor Pajak. Dengan
terbentuknya Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak besar dan diikuti pembentukan
Kantor Pelayanan Pajak
Madya dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang
dibentuk pertama kali di Jakarta sejak tanggal 14 Agustus 2007 Kantor Pelayanan
Pajak Bogor, Kantor Pelayanan Pajak PBB Bogor, dan Kantor Pemeriksaan Pajak
Bogor disatukan menjadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor berdasarkan
keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP – 112/PJ./2007. Perkembangan
dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di KPP Pratama Bogor merupakan
human investment yang tiada batas waktunya mengingat tugas dan tanggung
jawab kelancaran pelayanan bagi masyarakat berada di tangan sumber daya
manusia yang handal dan berkualitas.
Pengembangan karir diperlukan untuk memicu pengembangan diri dalam
bekerja. Akan tetapi perencanaan dan pengembangan diri ataupun karir itu
bersumber dari dalam diri pribadi SDM itu sendiri. Proses perencanaan dapat
memungkinkan SDM untuk mengetahui sasaran-sasaran dan jenjang yang
mengarah
pada
tujuan
yang
akan
dicapai
tersebut.
Melalui
aktivitas
pengembangan karir, SDM dapat memilih cara untuk meningkatkan dirinya
sendiri dengan menggunakan potensi yang tertanam dalam dirinya sendiri.
Kebanyakan kegiatan pengembangan SDM bersifat individual secara sukarela
dalam pelaksanaanya.
2
Sesuatu yang wajib diketahui bahwa karir bukanlah hal yang dapat
diberikan begitu saja kepada setiap pegawai. Pegawai tersebut harus dilatih dan
dikelola oleh perusahaan untuk memastikan pengembangan karirnya. Perencanaan
karir yang baik sangat bergantung pada kemampuan dan keinginan perusahaan
untuk mencapai tujuan yang dianggap penting dalam pengembangan karyawan
dan pencapaian tujuan perusahaan. Komitmen perusahaan/instansi sangat
menentukan bagaimana keberlangsungan peningkatan pengembangan karir
karyawan yang juga akan memberikan pengaruh
baik terhadap kemajuan
perusahaan. Adanya kegiatan tersebut, pegawai mengalami peningkatan kinerja
sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan. Manajemen karir akan sangat
dibutuhkan dalam proses pencapaian pengembangan karir yang dilakukan
perusahaan yang mampu terbuka dan menyesuaikan diri terhadap perubahanperubahan yang terjadi.
Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor: 16 TAHUN 1994 (16/1994)
jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab,
wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam suatu satuan
organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan
keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Pegawai Sipil perlu dibina dengan
sebaik-baiknya atas dasar sistem karir dan sistem prestasi kerja. Rumpun jabatan
fungsional adalah himpunan jabatan fungsional yang mempunyai fungsi dan tugas
yang berkaitan erat satu sama lain dalam melaksanakan salah satu tugas umum
pemerintahan. Angka Kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau
akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh pejabat fungsional
dalam rangka pembinaan karir yang bersangkutan. Jabatan Fungsional Pemeriksa
Pajak adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh PNS. Pemeriksa Pajak
tingkat terampil adalah Pemeriksa Pajak yang mempunyai kualifikasi teknis yang
pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis
dan prosedur kerja di bidang pemeriksaan pajak dan penyidikan tindak pidana
perpajakan.
Pemeriksa Pajak tingkat ahli adalah Pemeriksa Pajak yang mempunyai
kualifikasi profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan
penguasaan ilmu pengetahuan, metodologi, dan teknik analisis di bidang
3
pemeriksaan pajak dan penyidikan tindak pidana perpajakan. Pangkat dan jabatan
yang ditempuh oleh pegawai fungsional disesuaikan dengan pencapaian angka
kredit dan pemenuhan standar kinerja yang ditetapkan. Pencapaian karir setiap
pegawai fungsional berbeda, ada yang mengalami peningkatan sesuai standar
peningkatan karir ada juga yang jauh di bawah standar. Peningkatan pangkat dan
golongan pegawai umumnya adalah empat tahun sekali. Di pegawai fungsional
peningkatan dapat terjadi lebih cepat dan ada juga yang lambat. Umumnya di usia
28-35 tahun seorang pegawai umumnya berada pada golongan/pangkat yang lebih
besar atau sama dengan IIIa bagi pegawai dengan atau tanpa gelar strata 1 (S1)
pada jabatan PP Pelaksana Lanjutan dan PP Pajak Pertama. Dari data dapat
diketahui hanya 33,33 % dari 6 orang pegawai yang berada pada golongan IIIa
dan pada jabatan tersebut. Pada usia 36-45 pegawai fungsional umumnya berada
pada golongan IIIb dengan gelar S1 dan mendekati pada jabatan PP Madya, dari
data dapat diketahui bahwa 60 % pegawai dari 5 orang pegawai yang memeiliki
gelar IIIb dan 20 % pada golongan IVa. Sedangkan di usia 45 tahun ke atas
seorang pegawai berada pada level pangkat Pembina sampai Pembina Utama
Muda atau pada IVa-IVc yang memiliki jabatan di Pemeriksa Pajak Madya dan
dari data diketahui 50 % dari 4 orang pegawai fungsional pada jabatan PP Madya.
Dari data yang ada di Tabel 1 menunjukkan adanya keterlambatan pencapaian
karir yang dialami oleh pegawai fungsional. Usia yang dimiliki pegawai tidak
sesuai dengan pencapaian karir yang diduduki sekarang ini. Pengangkatan
Pegawai Negeri Sipil dari jabatan lain ke dalam jabatan fungsional harus berada
pada golongan IIc dan memiliki usia setingi-tingginya lima tahun sebelum
mencapai usia pensiun. Sedangkan usia maksimal diterima untukmenjadi PNS
adalah 28 tahun. Jabatan dan golongan yang disesuaiakan divisi fungsional yaitu :
1.
Pemeriksa Pajak Madya : Golongan ≥ IVa dengan gelar minimal S1
2.
Pemeriksa Pajak Muda : Golongan ≥ IIIc dengan gelar S1
3.
Pemeriksa Pajak Penyelia : Golongan ≥ IIIc non gelar S1
4.
Pemeriksa Pajak Pertama : Golongan ≥ IIIa dengan gelar S1
5.
Pemeriksa Pajak Pelaksana Lanjutan : Golongan ≥ IIIa non gelar S1
6.
Pemeriksa Pajak Pelaksana : Golongan ≥IIc gelar D3
4
Pencapaian karir pegawai disesuaikan dengan penilaian kinerja yang
dilakukan terhadap pegawai. Masalah keterlambatan yang dialami oleh pegawai
fungsional disebabkan oleh banyak hal. Kesulitan dalam pemenuhan angka kredit
sebagai bagian dari penilaian kinerja di divisi fungsional menjadi penyebab dari
terlambatnya peningkatan karir pegawai fungsional. Tabel 1 dapat menjelaskan
usia pegawai fungsional, golongan dan jabatan yang dicapai sampai saat ini dan
masa kerja di Direktorat Jenderal Pajak.
Tabel 1. Peta karir pegawai fungsional
Usia (tahun)
28-35
36-45
>45
Responden
2
4
7
9
10
11
3
6
8
13
14
1
5
12
15
Golongan/jabatan
IIId/PP Pelayanan Lanjutan
IIIa/ PP Pelayanan Lanjutan
IId/PP Pelaksana
IIIa/PP Pelaksana Lanjutan
IId/PP Pelaksana
IId/PP Pelaksana
IIIb/PP Pertama
IIIb/P PBB Pertama
IVa/PP Madya
IIIb/PP Pelaksana Lanjutan
IId/PP Pertama
IIId/PP Pajak Penyelia
IVc/PP Madya
IVa/PP Madya
IIIa/PP Pelaksana Lanjutan
Masa kerja (tahun)
14
9
13
16
4
5
16
16
16
18
11
39
35
37
23
Dasar pengembangan sumber daya manusia perusahaan/instansi dapat
dilakukan dengan menilai kinerja pegawainya.melalui penilaian kinerja. Hal ini
akan diketahui seberapa baik karyawan dalam melaksanakan tugas-tugas yang
diberikan kepadanya, sehingga perushaan dapat menetapkan umpan balik atau
balas jasa atas kinerja tersebut. Penilaian kinerja dapat digunakan untuk
megetahui kekurangan dan potensi seorang karyawan. Hasil penilaian kinerja
dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk memberikan kesempatan jalur karir
bagi pegawainya untuk merencanakan karir mereka. Penilaian kinerja adalah
proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai kinerja pegawai. Penilaian
prestasi kerja berupaya untuk menjaga kinerja, memperbaiki, dan mendorong
pegawai agar dapat bekerja lebih baik lagi. Pelaksanaan penilaian kinerja
merupakan hal yang perlu dilakukan perusahaan sebagai dasar pengambilan
keputusan institusi dalam menentukan peningkatan karir pegawai.
5
Pengembangan karir pegawai adalah hal yang sangat penting untuk
mengetahui dan sejauh mana kinerja karyawan fungsional dalam memajukan dan
menjalankan serta mencapai visi, misi serta nilai yang dijunjung tinggi Direktorat
Jenderal Pajak. Hal tersebut terlihat dari nilai yang diterapkan yaitu integritas,
profesionalisme, inovasi dan teamwork. Melalui pengetahuan dan pemahaman visi
KPP Pratama Bogor dan nilai yang diterapkan kinerja karyawan diharapkan dapat
bertahan dan meningkat untuk menciptakan kinerja semakin berkualitas yang
memberikan dampak positif bagi perusahaan. Oleh sebab itu KPP Pratama Bogor
perlu melakukan pengembangan karir bagi seluruh karyawannya khususnya
pegawai fungsional sesuai dengan kompetensi dan potensi yang dibutuhkan demi
tercapainya rencana karir yang diinginkan. Penilaian kinerja dilakukan untuk
menilai kinerja pegawai fungsional yang dapat menentukan kemajuan karir yang
sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Adanya target promosi jabatan untuk
peningkatan karir, karyawan akan merasa dihargai, diperhatikan, dibutuhkan dan
diakui
kemampuan
kerjanya
oleh
manajemen
sehingga
mereka
akan
menghasilkan prestasi yang baik serta meningkatkan loyalitas pada institusi KPP
Pratama Bogor.
1.2.
Rumusan Masalah
Sumber Daya Manusia adalah modal penggerak dan penentu keberhasilan
bagi sebuah perusahaan. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor, salah satu unit
kerja dari Direktorat Jenderal Pajak, melaksanakan pelayanan kepada masyarakat
baik yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak maupun tidak. Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor memperhatikan perkembangan karir dan prestasi karyawan
yang menjadi investasi berharga untuk kemajuan perusahaan demi mencapai
tujuan dan target yang telah dibuat. Karyawan sebagai ujung tombak dalam
perjalanannya harus memiliki potensi dan kualitas yang baik dan terus menerus
diperbaharui. Semua keberhasilan yang dicapai tidak terlepas dari usaha institusi
dalam mengembangkan karir Sumber Daya Manusia yang profesional dan kinerja
yang berkualitas.
Pengembangan karir pegawai dalam suatu perusahaan memiliki peranan
penting bagi kemajuan pegawai dan organisasi. Sehingga suatu organisasi harus
mendukung hal tersebut. Pengembangan karir berbasis kompetensi sangat
6
diperlukan untuk efektivitas dan efisiensi hasil kinerja yang ingin dicapai. Dengan
adanya penilaian kinerja bagi pegawai fungsional, diharapkan akan dapat
mengetahui bagaimana perkembangan karir berdasarkan kompetensi pegawai
fungsional di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor. Pada saat ini, Direktorat
Jenderal Pajak mulai memasuki tahap reformasi birokrasi kedua. Sehingga
perkembangan karir pegawai fungsional dilakukan berdasarkan kompetensi yang
dimiliki dan pencapaian diri sendiri melalui penilaian kinerja. Diharapkan, dengan
kinerja yang baik dari seorang pegawai fungsional dapat mencapai karir sesuai
dengan kompetensi yang dimiliki oleh dirinya sendiri.
Kinerja Sumber Daya Manusia mampu bertahan dan meningkat dapat
dipengaruhi oleh perusahaan dalam mengembangkan karir karyawannya untuk
menciptakan kinerja semakin baik yang dapat memberikan dampak positif bagi
perusahaan. Untuk
itu Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor melakukan
pengembangan karir bagi seluruh karyawannya khususnya bagi pegawai
fungsional sesuai dengan kompetensi dan kemampuan yang dibutuhkan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka masalah dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Bagaimana penilaian kinerja pegawai fungsional pada KPP Pratama Bogor
berdasarkan persepsi pegawai?
2. Bagaimana pengembangan karir pegawai fungsional pada KPP Pratama Bogor
berdasarkan persepsi pegawai?
3. Bagaimana
pengaruh
penilaian
kinerja
pegawai
fungsional
terhadap
pengembangan karir pada KPP Pratama Bogor?
4. Apa saja faktor penghambat pengembangan karir pada KPP Pratama Bogor?
1.3.
Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi penilaian kinerja pegawai fungsional pada KPP Pratama
Bogor berdasarkan persepsi.
2. Mengidentifikasi pengembangan karir pegawai fungsional KPP Pratama Bogor
berdasarkan persepsi.
3. Menganalisis pengaruh penilaian kinerja pegawai fungsional terhadap
pengembangan karir pada KPP Pratama Bogor.
4. Mengidentifikasi faktor penghambat pengembangan karir.
7
1.4.
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat berpengaruh
baik bagi yang membacanya, manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
bermanfaat bagi KPP Pratama Bogor sebagai saran dan masukan dalam
mengambil
kebijakan
untuk
meningkatkan
kualitas
kinerja
melalui
pengembangan karir.
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis penilaian kinerja terhadap pengembangan karir
di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor. Pegawai yang dijadikan sampel
yaitu seluruh pegawai fungsional pada KPP Pratama Bogor.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Kinerja
Menurut Wibowo (2008), kinerja adalah implementasi dari rencana yan
telah disusun. Implementasi kinerja dilakukan oleh sumber daya manusia yang
memiliki kemampuan, kompetensi, motivasi, dan kepentingan. Bagaimana
organisasi menghargai dan memperlakukan sumber daya manusianya akan
mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menjalankan kinerja.
Menurut Mangkunegara (2001) kinerja karyawan adalah hasil kerja secara
kuantitas yaitu jumlah atau banyaknya pekerjaan yang dihasilkan karyawan dan
kualitas yaitu mutu pekerjaan yang dicapai oleh seorang karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan waktu untuk menyelesaikan tugas dan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Menurut Rivai (2005), kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan
setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan
perannya dalam perusahaan. Kinerja karyawan merupakan suatu hal yang sangat
penting dalam upaya perusahaan untuk mencapai tujuannya. Peningkatan kinerja
karyawan di suatu institusi pemerintah atau perusahaan sangat diperlukan guna
meningkatkan kinerja pada instansi pemerintahan atau perusahaan tersebut secara
keseluruhan. Terciptanya kualitas SDM unggul dan berprestasi, tentunya dapat
meningkatkan mutu dan kualitas dari instansi pemerintahan atau perusahaan
tarsebut. Adapun cara dalam meningkatkan kinerja seorang karyawan dapat
dilakukan dengan tahap-tahap berikut:
1. Peningkatan kerja melalui penilaian kinerja.
2. Peningkatan kinerja melalui upaya peningkatan pendidikan
3. Peningkatan kinerja melalui pelatihan
4. Peningkatan kinerja melalui penghasilan
5. Peningkatan kinerja melalui penghargaan dan perlindungan
6. Peningkatan kinerja melalui belajar kelompok
7. Peningkatan kinerja melalui belajar mandiri
9
2.1.1 Prinsip Dasar dan Tujuan Peningkatan Kinerja Karyawan
Pengertian kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam
melaksanakan keseluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab karyawan
tersebut.
Tugas-tugas
tersebut
biasanya
berdasarkan
indikator-indikator
kebehasilan yang sudah ditetapkan dan sebagai hasilnya akan diketahui bahwa
seorang karyawan masuk ke dalam tingkatan kinerja tertentu.
Rivai (2006), mengemukakan prinsip-prinsip dasar dalam meningkatkan
kinerja karyawan, yaitu:
1. Membangkitkan motivasi dan etos kerja untuk bekerja secara professional
2. Meningkatkan kompetensi kerja (akademik atau vokasional) melalui
pendidikan, pelatihan, kelompok kerja,serta belajar mandiri.
3. Menerapkan sistem rewards and punishment.
4. Menerapakan sistem imbalan yang memuaskan.
5. Menerapkan sitem jenjang karir yang jelas.
Peningkatan kinerja seorang karyawan terhadap pengetahuan bidang
tugasnya sangat penting. Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa kinerja dari
seorang karyawan perlu ditingkatkan, yaitu:
1. Memenuhi
kebutuhan
perusahaan
atau
instansi
pemerintahan
yang
menginginkan hasil kerja yang bermutu.
2. Meningkatkan kemampuan sistem perusahaan atau instansi pemerintahan agar
efektif, efisien, dan bermutu.
3. Membantu karyawan dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap
kerja maupun kepribadiannya.
4. Karyawan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya mesyaratkan penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang keahliannya, sehingga karyawan itu
sendiri dapat dijadikan investasi bagi instansi yang bersangkutan.
2.1.2
Faktor yang Memengaruhi Kinerja
Menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2007), kinerja merupakan suatu
konstruksi multidimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor tersebut terdiri atas SDM dan eksternal, yaitu kepemimpinan,
sistem, tim, dan situasional. Faktor-faktor tersebut adalah:
10
1. Faktor personal/individual, meliputi
unsur pengetahuan, keterampilan,
kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh tiap
individu karyawan.
2. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan team leader dalam
memberikan dorongan, semangat, arahan dan dukungan kerja kepada
masyarakat.
3. Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh
rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesame anggota tim, kekompakan
dan keeratan anggota tim.
4. Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja, dan infrastruktur yang
diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja dalam
organisasi.
5. Faktor kontekstual, meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan
internal.
2.2.
Pengembangan Karir
Menurut Samsudin (2006), manajemen sumber daya manusia (human
resources management) adalah suatu kegiatan pengelolaan yang meliputi
pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa bagi manusia
sebagai individu anggota organisasi atau perusahaan bisnis. Manajemen sumber
daya manusia merupakan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan agar sumber daya
manusia dalam organisasi dapat didayagunakan secara efektif dan efisien guna
mencapai berbagai tujuan.
Menurut Rivai (2009) fungsi-fungsi manajemen SDM, meliputi:
1. Fungsi manajerial
a.
Perencanaan (planning)
b.
Pengorganisasian (organizing)
c.
Pengarahan (directing)
d.
Pengendalian (controlling)
2. Fungsi Operasional
a.
Pengadaan tenaga kerja (SDM)
b.
Pengembangan
c.
Kompensasi
11
d.
Pengintegrasian
e.
Pemeliharaan
f.
Pemutusan hubungan kerja
Manajemen SDM tidak hanya memperhatikan kepentingan perusahaan,
tetapi juga memperhatikan kebutuhan karyawan dan tuntutan masyarakat luas.
Peranan Manajemen SDM adalah mempertemukan atau memadukan ketiga
kepentingan tersebut yaitu perusahaan, karyawan dan masyarakat luas, tujuannya
agar tercapai efektifitas, efisiensi, produktivitas dan kinerja perusahaan.
Pelaksanaan job analysis, perencanaan SDM, rekrutmen dan seleksi, penempatan
dan pembinaan karir serta pendidikan dan pelatihan yang baik akan meningkatkan
potensi SDM untuk berkarya, melalui aktivitas ini karyawan mendapatkan bekal
pengetahuan dan keterampilan dan dapat ditempatkan pada kedudukan yang tepat
(the right man on the right place). Sedangkan pelaksanaan fungsi-fungsi SDM
lainnya seperti kompensasi, perlindungan, dan hubungan perburuhan yang baik
akan dapat menimbulkan stimulus yang mendorong meningkatnya motivasi kerja
SDM.
Menurut Rivai (2009), karir merupakan seluruh pekerjaan yang dimiliki
atau dilakukan oleh individu selama masa hidupnya dan merupakan pola dari
pekerjaan dan sangat berhubungan dengan pengalaman (posisi, wewenang,
keputusan, dan interpretasi subjektif atas pekerjaan), dan aktivitas selama masa
kerja individu. Pengembangan karir adalah peningkatan pribadi yang dilakukan
seseorang dalam mencapai rencana karir pribadinya.
Menurut Samsudin (2006), perencanaan karir adalah perencanaan tentang
kemungkinan seseorang karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan, meniti
proses kenaikan pangkat atau jabatan sesuai persyaratan dan kemampuannya.
Karir merupakan semua pekerjaan atau jabatan yang dimiliki atau diperpanjang
selama kehidupan kerja seseorang. Pengembangan karir adalah perubahan nilainilai, sikap, dan motivasi yang terjadi pada seseorang, sejalan dengan
penambahan usia yang akan menjadikan karyawan semakin matang. Karir dapat
juga dimaksudkan sebagai suatu rangkaian posisi atau jabatan yang ditempati
seseorang selama masa kehidupan tertentu.
12
2.2.1
Tujuan dan Manfaat Perencanaan dan Pengembangan Karir
Menurut Samsudin (2006), manfaat perencanaan karir adalah:
1. Menetapkan karyawan agar dapat dipromosikan
Maksudnya adalah perencanaan karir dapat membantu mengembangkan supply
karyawan internal, terutama karyawan yang potensial.
2. Mengungkapkan potensi karyawan
Adanya perencanaan karir yang jelas akan mendorong para karyawan secara
individual maupun kelompok menggali kemampuan potensial masing-masing
untuk mencapai sasaran-sasaran karir yang diinginkan.
3. Menurunkan perputaran kayawan (turnover)
Perhatian terhadap karir individu dalam perencanaan karir yang telah
ditetapkan akan dapat meningkatkan loyalitas pada organisasi tempat mereka
bekerja.
4. Mendorong pertumbuhan
Perencanaan karir yang baik akan mendorong semangat kerja karyawan untuk
tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, motivasi kerja karyawan dapat
dipelihara.
5. Memuaskan kebutuhan karyawan
Adanya perencanaan karir berarti adanya penghargaan terhadap individu
karyawan, yang berarti pula adanya pengakuan dan penghargaan terhadap
prestasi individu karyawan. Hal inilah yang akan dapat memuaskan karyawan
yang pada dasarnya merupakan kebutuhan organisasi juga.
6. Mengurangi penimbunan
Perencanaan karir berarti adanya penghargaan terhadap individu karyawan,
yang berarti pula adanya pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi
individu karyawan. Hal inilah yang akan memuaskan karyawan yang pada
dasarnya juga merupakan kebutuhan organisasi .
7. Membantu pelaksanaan rencana-rencana kegiatan yang telah disetujui
Perencanaan karir dapat membantu para karyawan agar siap untuk menduduki
jabatan yang lebih penting. Persiapan ini akan membantu pencapaian rencana
kegiatan yang telah ditetapkan.
13
Perencanaan karir yang matang sangat bermanfaat tidak hanya bagi
karyawan yang bersangkutan, tetapi juga bagi perusahaan. Manfaat tersebut
diantaranya (Handoko, 2003):
1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualifikasi.
2. Sebagai masukan untuk perencanaan program pengembangan.
3. Membantu karyawan membuat strategi pengembangan.
4. Selektif untuk mengikuti program-program pengembangan
5. Mempermudah pemanfaatan potensi karyawan.
6. Mempermudah meningkatkan motivasi kerja
7. Mempermudah proses promosi karyawan.
8. Mempermudah peningkatan kepuasan kerja.
9. Mengurangi turnover dan meningkatkan loyalitas.
Menurut Samsudin (2006), pengembangan karir pada dasarnya bertujuan
untuk memperbaiki dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan pekerjaan para
pekerja agar semakin mampu memberikan kontribusi terbaik dalam mewujudkan
tujuan organisasi. Dari segi pengembangan karir, ada tiga alternative dalam
perlakuan organisasi terhadap karyawan, yaitu:
1. Organisasi perlu mempertahankan jabatan semula untuk jangka waktu tertentu
dengan memberikan ganjaran yang sesuai.
2. Organisasi perlu menginformasikan kepada pekerja secara vertikal untuk
mengisi suatu jabatan yang secara struktural lebih tinggi kedudukannya.
3. Organisasi perlu memudahkan pekerja pada jabatan lain secara horizontal yang
lebih relevan dengan peningkatan dan perbaikan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap yang dialami pekerja.
2.2.2
Desain Program Pengembangan Karir
Menurut Samsudin (2006), desain program pegembangan karir dibedakan
dalam 3 fase, sebagai berikut:
1. Fase perencanaan
a. Menyelaraskan rangcangan karir pekerja dengan rancangan karir organisasi.
b. Tujuan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pekerja dalam
melaksanakan tugas.
2. Fase pengarahan
14
Fase pengarahan dimaksudkan untuk membantu para pekerja agar mampu
mewujudkan perencanaan karir menjadi kenyataan. Dalam hal ini ada 2
pendekatan yaitu:
a. Pengarahan dengan menyelenggarakan konseling karir.
b. Pendekatan dengan menggunakan pelayanan informasi
3. Fase pengembangan
Pekerja harus berusaha mewujudkan kreativitas dan inisiatif yang dapat
mendukung untuk menduduki posisi pada masa mendatang. Kegiatan yang
dapat dilakukan adalah:
a. Penyelenggaraan sistem mentor.
b. Pendidikan dan pelatihan.
c. Rotasi jabatan.
d. Program beasiswa atau ikatan dinas.
2.2.3
Pengembangan Karir Secara Individual dan Organisasi
Pengembangan karir secara individual dan organisasi menurut Samsudin
(2006) adalah:
1. Pengembangn Karir Secara Individual
Secara individual, setiap orang harus siap mengembangkan dirinya dalam
rangka pencapaian karirnya lebih lanjut. Ada enam kegiatan pengembangan
karir secara individual yaitu:
a. Prestasi kerja
Kegiatan paling penting untuk memajukan karir adalah prestasi kerja yang
baik karena mendasari semua kegiatan pengembangan karir lainnya.
Kemajuan karir sangat bergantung pada perstasi kerja.
b. Exposure
Kemajuan karir juga ditentukan oleh exposure berarti menjadi dikenal oleh
orang-orang yang memutuskan promosi, transfer dan kesempatan karir
lainnya. Tanpa exposure, karyawan yang berprestasi baik mungkin tidak
akan mendapatkan kesempatan unutk mencapai sasaran karirnya. Para
manajer mendapatkan exposure terutama melalui prestasi, laporan tertulis,
presentasi lisan, kerja panitia, pelayanan masyarakat, dan kerjanya sendiri.
c. Permintaan berhenti
15
Hal ini merupakan suatu cara untuk mencapai sasran karir bila ada
kesempatan karir di tempat lain. Dengan permintaan berhenti tersebut, yang
bersangkutan berpindah tempat kerja. Berpindah-pindah tempat kerja bagi
sementara manajer profesional merupakan bagian strategi kairnya.
d. Kesetiaan pada organisasi
Kesetiaan pada organisasi juga menentukan kemajuan karir yang
bersangkutan. Kesetiaan organisasional yang rendah umumnya ditemui pada
para sarjana baru, yang mempunyai harapan tinggi, tetapi sering kecewa
dengan tempat tugas pertama mereka, dan para profesional yang setia pada
profesinya.
e. Mentor dan sponsor
Apabila mentor atau pembingbing karir informal berhasil membimbing karir
karyawan atau pengembangan karirnya lebih lanjut, para mentor tersebut
dapat menjadi sponsornya. Seorang sponsor adalah orang-orang dalam
organisasi yang dapat menciptakan kesempatan pengembangan karir bagi
orang lain. Sering kali sponsor karyawan adalah atasan mereka langsung.
f. Kesempatan untuk berkembang
Hal ini terjadi bila karyawan meningkatkan kemampuan, misalnya melalui
program pelatihan, pengambilan kursus atau penambahan gelar. Hal ini
berguna bagi departemen personalia dalam pengembangan sumber daya
manusia internal maupun bagi pencapaian karir karyawan.
2. Pengembangan Karir Secara Organisasi
Organisasi atau perusahaan sebagian besar mengarahkan program perencanaan
karir untuk mencapai satu atau lebih tujuan berikut ini:
a. Pengembangan tenaga berbakat yang tersedia secara lebih efektif.
b. Kesempatan penilaian diri bagi karyawan untuk memikirkan jalur-jalur karir
tradisional atau karir yang baru.
c. Pengembangan sumber daya manusia yang lebih efisien di dalam dan antar
divisi atau karir yang baru.
d. Peningkatan kinerja melalui pengalaman on the job training yang diberikan
oleh perpindahan karir vertikal dan horizontal.
16
e. Peningkatan
loyalitas
dan
motivasi
karyawan
akan
menyebabkan
merosotnya perputaran karyawan.
f. Sebuah metode penentuan kebutuhan pelatihan dan pengembangan.
2.2.4
Manajemen Pengembangan Karir
Menurut Samsudin (2006), pengembangan karir sebagai kegiatan
manajemen sumber daya manusia merupakan realisasi hubungan antara individu
sebagai pekerja dengan organisasinya. Untuk mewujudkan manajemen karir diri
sendiri, diperlukan kondisi:
1. Kesadaran dan pemahaman bekerja bahwa setiap pekerjaan selalu memberikan
kesempatan untuk maju dan berkembang.
2. Setiap pekerja harus memahami tanggung jawab individu sehingga setiap
individu harus melakukan manajemen karir diri sendiri.
3. Setiap pekerja perlu menyadari dan memahami bahwa tidak mudah bagi
organisasi untuk menyediakan karir berupa jabatan yang tersedia.
Berdasarkan ketiga kondisi tersebut, setiap karyawan yang merencanakan
pengembangan karir perlu bersikap dan bertindak sebagai berikut:
1. Memilih bidang pekerjaan
a. Harus memiliki gambaran secara keseluruhan mengenai bidang kerjanya
yang dihubungkan dengan tujuan jangka panjang karir.
b. Untuk memperoleh masukan yang akurat, perlu mempelajari setiap langkah
yang potensial pada setiap posisi yang searah dengan karir yang dinginkan
untuk jangka panjang.
c. Menerima setiap posisi jangka pendek untuk dimanfaatkan dalam usaha
mencapai posisi akhir yang diinginkan dan realistis untuk dicapai.
d. Mempersiapan diri secara cermat untuk agar memiliki pengetahuan
keterampilan dan keahlian yang diisyaratkan untuk menerima posisi yang
lebih tinggi.
2. Memahami dan menerima kedudukan yang sekarang
a. Menerima setiap kesempatan menduduki posisi sebagai suatu yang berharga
untuk mewujudkan kemampuan memberi kontribusi bagi pencapaian tujuan
organisasi.
17
b. Berlaku cermat dan jujur pada diri sendiri dalam memprediksi kemampuan
untuk melaksanakan pekerjaan.
c. Berusaha memahami bila organisasi menempatkan suatu jabatan tertentu
dalam waktu cukup lama.
3. Merencanakan jalan keluar
a. Setiap karyawan sebagai individu mempunyai hak untuk menolak bahkan
meninggalkan pekerjaan yang tidak disenanginya.
b. Apabila pilihan keluar telah dipastikan, lakukanlah dengan cara yang baik.
c. Betapapun suatu pekerjaan tidak menyenangkan, jangan meninggalkan
pekerjaan sebelum mendapat penggantinya yang pasti.
Manajemen pengembangan karir berlangsung dua arah yaitu:
1. Arah pertama datang dari karyawan yang dengan aktif merencanakan dan
melakukan kegiatan kearah kemajuan dan perkembangan untuk mewujudkan
karir yang sukses.
2. Arah kedua dalam pengembangan karir datang dari organisasi untuk membantu
dan memberi peluang bagi pekerja yang potensial dalam mengembangkan
karir.
Setiap organisasi ikut memikul tanggung jawab dalam membantu para
karyawan agar mencapai sukses dalam karirnya. Bantuan organisasi dalam
pengembangan karir dapat berupa hal-hal berikut:
1. Organisasi harus menempatkan karyawan sebagai mitra (partner) yang harus
dibantu sepenuhnya dalam mengembangkan karir.
2. Organisasi wajib membantu para pekerja untuk mengetahui kemampuan dan
keterampilan untuk melaksanakan pekerjaan.
3. Organisasi perlu memberikan dorongan kepada para pekerja agar mengelola
karirnya sejalan dengan strategi organisasi dan pengembangannya.
4. Data yang dimiliki organisasi untuk perencanaan sumber daya manusia sebagai
keputusan masa mendatang dapat dipadankan dengan tujuan karyawan dalam
manajemen pengembangan karir.
5. Organisasi harus mempergunakan data hasil penilaian kerja agar dapat
menempatkan pekerja secara tepat untuk jabatan tertentu.
18
6. Hubungan kebutuhan pengembangan karir karyawan secara individu dengan
kebutuhan pengembangan karir organisasi harus sejalan.
2.3.
Kompetensi
Kompetensi inti merupakan karakteristik yang mendasar yang dimiliki
seseorang yang berpengaruh langsung terhadap, atau dapat memprediksikan,
kinerja yang sangat baik. Dengan kata lain, kompetensi adalah apa yang
outstading performers lakukan lebih sering pada lebih banyak situasi dengan hasil
yang lebih baik daripada apa yang dilakukan para average performers
(McClelland, 1973 dalam Rivai, 2009). Kompetensi menyangkut kewenangan
setiap individu untuk melakukan tugas atau mengambil keputusan sesuai dengan
perannya dalam organisasi yang relevan dengan keahlian, pengetahuan, dan
kemampuan yang dimiliki. Identifikasi kompetensi yang tepat dianggap memiliki
nilai prediksi yang cukup valid terhadap kinerja seorang karyawan (Rivai, 2009).
Menurut Wibowo (2008), kompetensi adalah suatu kemampuan untuk
melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yan dilandasi atas
keterampilan dan pengetahuan serta dukungan oleh sikap kerja yang dituntut oleh
pekerjaan tersebut. Kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan
yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai sesuatu
yang terpenting, sebagai unggulan bidang tertentu.
2.3.1
Karateristik Kompetensi
Karakteristik kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, perilaku,
kemampuan kognitif, sikap, nilai-nilai, motif, dan kemampuan motorik yang
secara akurat menggambarkan level kinerja tertentu. Saat ini, mendeskripsikan
karakteristik pemimpin yang baik sudah seperti sebuah industri. Salah satu
deskripsi karakteristik terbaik adalah kecerdasan emosionalnya (emotional
intelligence), karena karakteristik ini berkaitan dengan otak, dan bukan bawaan
sejak lahir, maka orang dapat mempelajari dan mengembangkannya.
Menurut Rivai (2009), kompetensi dapat berupa motif, sifat, konsep diri,
sikap, atau nilai keterampilan konitif atau perilaku karakteristik individual apa
saja yang dapat diukur atau dihitung dan yang dapat diperlihatkan untuk
membedakan secara signifikan antara para pengunjuk kerja terbaik dan yang ratarata.
19
Menurut Wibowo (2008), berikut adalah defenisi dari karakteristik
tersebut :
1. Motif: kebutuhan dasar atau pola pikir yang menggerakkan,
mengarahkan,
dan menyeleksi perilaku individual, misalnya kebutuhan untuk berprestasi.
2. Sifat: bawaan umum untuk berperilaku atau merespon dengan cara tertentu,
misalnya dengan kepercayaan diri, kontrol diri, resistensi stres atau
‘kekerasan’.
3. Konsep diri: sikap atau nilai yang diukur oleh tes responden yang menanyakan
kepada orang apa yang mereka nilai;apa yang harus mereka lakukan; atau
mengapa mereka tertarik dalam melakukan pekerjaan mereka.
4. Content knowledge: ini berhububgan dengan fakta atau prosedur, baik secara
teknis atau interpesonal. Content knowledge diukur oleh tes responden.
Kebanyakan penemun memperlihatkan content knowledge itu sendiri jarang
membedakan pengunjuk kerja terbaik dengan yang rata-rata.
5. Perilaku: apakah terselubung (misalnya berpikir deduktif atau induktif) atau
dapat diamati (misalnya, keterampilan mendengarkan secara aktif).
Menurut Goleman dalam Berger (2008), mengungkapkan bahwa
kecerdasan emosi dapat ditunjukkan dalam empat area: self-awareness (kesadaran
diri), social awareness (kesadaran sosial), self-management (pengelolaan diri),
dan relationship management (pengelolaan hubungan). Pengelompokan aspek
kecerdasan emosional yang terbagi atas empat bagian dapat dilihat pada Gambar
1.
Kesadaran Diri
1. Kepekaan emosi diri
2. Penilaian diri yang akurat
3. Kepercayaan diri
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pegendalian Diri
Pengendalian emosi diri
Transparansi
Kemampuan adaptasi
Pencapaian
Inisiatif
Optimisme
Kesadaran sosial
1. Empati
2. Kepekaan terhadap
organisasi
3. Orientasi pelayanan
Pengelolaan Hubungan
1. Empati
2. Kepekaan terhadap
organisasi
3. Orientasi pelayanan
Gambar 1. Aspek-aspek kecerdasan emosional
20
2.3.2 Tujuan Kompetensi
Menurut Palan (2003), menyatakan bahwa organisasi membutuhkan orang
yang kompeten untuk mencapai hasil secara efisien dan efektif. Dalam dunia yang
didominasi oleh sektor jasa, pentingnya modal manusia tidak dapat dipungkiri.
Untuk mendapatkan pengembalian investasi (Return on investment) sumber daya
fisik dan teknologi, sangat tergantung pada kompetensi orang. Dalam lingkup
yang luas, modal manusia yang didefenisikan sebagai ketermpilan, keangkasan
dan pengetahuan sekelompok orang merupakan penentu utama pertumbuhan
ekonomi saat ini. Oleh karena itu, oraganisasi perlu melakukan upaya akuisisi
atau pengembangan kompetensi secara sistematis.
Penggunaan kompetensi dalam organisasi atau perusahaan pada umumnya
adalah untuk tujuan:
1. Pembentukan pekerjaan
2. Evaluasi pekerjaan
3. Rekruitmen dan seleksi
4. Pembentukan dan pengembangan oragisasi
5. Manajemen prestasi
6. Membentuk dan memperkuat nilai dan budaya perusahaan
7. Pembelajaran organisasi
8. Manajemen karir dan penilaian potensi karyawan
9. Sistem balas jasa
2.3.3
Jenis Kompetensi
Menurut Prihadi (2004), mengemukakan bahwa terdapat lima jenis
kompetensi, yaitu motives, traits, self-concept, pengetahuan dan keterampilan.
Kompetesi terdiri dari empat klasifikasi (Palan, 2003) yaitu:
1. Kompetensi inti adalah sesuatu yang dimiliki perusahaan, biasanya merupakan
sekumpulan keahlian dan teknologi, yang secara kolektif memberi keunggulan
bersaing (competitve advantage) suatu perusahaan. Kompetensi inti berada
pada level organisasi.
2. Kompetensi fungsional adalah kompetensi yang mendeskripsikan kegiatan
kerja dan output, seperti pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk
21
melakukan sebuah pekerjaan. Kompetensi inti berhubungan dengan level posisi
ini.
3. Kompetensi perilaku adalah karakteristik dasar yang diperlukan untuk
melakukan sebuah pekerjaan. Kompetensi ini berada pada level individu.
4. Kompetensi peran merujuk pada peran yang harus dijalankan oleh seseorang di
dalam sebuah tim. Kompetensi peran berkaitan dengan level posisi.
2.3.4
Kompetensi Dasar dan Kompetensi Pembeda
Pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik pribadi yang merupakan
tuntutan minimal untuk mencapai kinerja pada tingkat wajar disebut sebagai
kompetensi
threshold.
Kompetensi
threshold
adalah
kompetensi
yang
membedakan antara orang yang bisa melakukan suatu pekerjaan dengan yang
tidak dapat melaksanakan suatu pekerjaan. Karakteristik yang menunjukkan ke
arah kinerja superior (unggul) merupakan kompetensi differentiating karena
membedakan antara orang yang mampu mencapai kinerja unggul dengan orangorang yang kinerjanya rata-rata.
Palan (2003), mengemukakan bahwa kompetensi merupakan karakter
dasar orang yang mengindikasikan cara berperilaku atau berpikir, yang berlaku
dalam cakupan situasi yang sangat luas dan bertahan untuk waktu yang lama.
Kompetensi yang dimiliki seseorang terdiri dari:
1. Kompetensi dasar adalah karakteristik penting seperti pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan seseorang untuk mencapai standar minimum
dalam sebuah pekerjaan. Hanya saja kompetensi dasar ini tidak membedakan
karyawan yeng berkinerja unggul dari yang biasa.
2. Kompetensi pembeda adalah kompetensi yang merujuk pada faktor-faktor
seperti motif, karakteristik pribadi, konsep diri, serta nilai-nilai yang
membedakan karyawan yang berkinerja unggul dari karyawan biasa.
2.3.5
Komponen Utama Kompetensi
Spencer dan Spencer dalam Hutapea dan Thoha (2008), mengungkapkan
bahwa ada tiga komponen utama pembentuk kompetensi, yaitu pengetahuan yang
dimiliki seseorang, keterampilan dan perilaku individu, yang mana ketiga
komponen tersebut dipengaruhi oleh konsep diri, sikap bawaan diri dan motif.
1. Pengetahuan
22
Pengetahuan merupakan informasi yag dimiliki oleh seseorang. Pengetahuan
adalah komponen utama kompetensi yang mudah diperoleh dan mudah
diidentifikasi.
2. Keterampilan
Keterampilan diri merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan suatu
aktivitas atau pekerjaan.
3. Konsep Diri
Konsep diri merupakan sikap atau nilai individu. Nilai individu mempunyai
sikap reaktif yang dapat memperbaiki apa yang akan dialakukan oleh seseorang
dalam waktu yang singkat. Konsep diri menunjukkan bagaimana seseorang
melihat dirinya atau sesuatu. Konsep diri ini mempengaruhi
etika, cara
pandang atau pengertian seseorang tentang sesuatu.
4. Ciri Diri
Ciri diri adalah karakter bawaan diri. Ciri ini merupakan karakteristik fisik,
kognitif, dan sosial yang dapat melekat secara permanen pada diri seseorang.
5. Motif
Motif adalah sesuatu yang dipikirkan atau diinginkan seseorang secara
konsisten, yang dapat menghasilkan perbuatan. Kebutuhan, keinginan dan
perhatian yang biasa terjadi tanpa disadari ini akan mempengaruhi pemikiran
seseorang untuk mencapai sasaran kerjanya sehingga pada akhirnya akan
berdampak pada perilaku seseorang.
Menurut Hutapea dan Thoha (2008), ada banyak faktor yang
mempengaruhi turun-naiknya prestasi karyawan, diantaranya:
1. Kebijakan perusahaan dapat dipengaruhi atau dekendalikan oleh organisasi
atau perusahaan.
2. Faktor individu karyawan, karakter kerja yang buruk, sifat seseorang yang
cepat bosan, tidak dapat mengatasi tantangan, sering mengganggu orang lain
dalam bekerja.
3. Faktor lingkungan usaha, keadaan bisnis dan ekonomi yang berfluktuasi
dengan pola yang tidak menentu.
23
2.3.6 Tahap Pelaksanaan Sistem Kompetensi
Menurut Hutapea dan Thoha (2008), secara keseluruhan perumusan dan
pelaksaan sistem kompetensi dalam perusahaan dapat dilakukan dengan tahapan:
1. Persiapan pelaksanaan
2. Melakukan komunikasi proyek
3. Membuat keputusan strategis kompetensi
4. Merumuskan defenisi kompetensi setiap pekarjaan
5. Menentukan target kebutuhan kmpetensi setiap pekerjaan
6. Melakukan penilaian kinerja
7. Uji coba sistem kompetensi
8. Memanajemeni kompetensi
9. Penyempurnaan sistem kompetensi
2.3.7
Manajemen Kompetensi
Menurut Palan (2003), menyatakan bahwa manajemen kompetensi dapat
diartikan sebagai mengidentifikasi, menilai, dan melaporkan level kompetensi
karyawan untuk mematikan bahwa organisasi memiliki SDM yang memadai
untuk menjalankan strateginya. Ada tiga pendekatan utama pada manajemen
kompetensi, yaitu:
1. Akuisisi kompetensi (competency acquisition): Organisasi melakukan upaya
yang disengaja dan terencana untuk mendapatkan kompetensi yang diperlukan
bagi pertumbuhan dan ekspansi perusahaan.
2. Pengembangan kompetensi (competency development): Level kompetensi
karyawan yang sudah ada ditingkatkan melalui program pengembangan
berkelanjutan.
3. Penyebaran kompetensi (competency deployment): Karyawan ditempatkan di
berbagai posisi dalam organisasi yang paling cocok dengan kompetensinya
(best person- position fit).
2.3.8
Pengembangan Karir Berbasis Kompetensi
Pengelolaan karir dalam perusahaan biasanya dilakukan dengan melihat
dua sisi, yaitu:
1. Sisi Karyawan
2. Sisi ketersediaan pekerjaan/posisi/jabatan di perusahaan
24
Sisi yang pertama, karyawan memiliki kemampuan, potensi, bakat,
karakter dan perecanaan karir sendiri. Namun di sisi lain ketersediaan pekerjaan
atau posisi di perusahaan sering kali terbatas. Kedua sisi tersebut harus berjalan
bersama-sama dan saling mengisi satu sama lain agar tidak tejadi kesenjangan
(gap). Bagi perusahaan yang telah menerapkan sistem yang berbasis kompetensi,
perencanaan karir harus disesuaikan dengan persyaratan kompetensi, baik itu
persyaratan kompetensi untuk pekerjaan maupun persyaratan kompetensi untuk
standar kualifikasi karyawan. Kebutuhan kompetensi untuk pengembangan karir
dan jalur karir akan menentukan dasar untuk pengembangan karyawan.
2.4.
Hasil Penelitian Terdahulu
Puspitasari (2009), Analisis Pengaruh Pengembangan Karier Berbasis
Kompetensi dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai (Studi Kasus Institut Petanian
Bogor). Hasil penelitian tentang pengembangan karir menyatakan bahwa secara
keseluruhan dari peubah pengembangan karir yaitu kompetensi dan kualifikasi
dapat disimpulkan bahwa pengembangan karir di Institut Pertanian Bogor
tergolong baik, dalam kategori keseluruhan untuk kompetensi dan kualifikasi.
Hal ini menunjukkan persepsi pegawai yang berada dalam rentang setuju terhadap
masing-masing indicator pengembangan karir dan sudah dilaksanakan dengan
baik pada Institut Pertanian Bogor.
Hasil regresi menunjukkan bahwa
pengembangan karir didominasi oleh peubah kompetensi kemudian kualifikasi.
Oktavianto (2010), Pengaruh Pengembangan Karir Terhadap Peningkatan
Kinerja Karyawan (Studi Kasus PT XYZ Bogor). Hasil penelitian tentang
pengembangan karier menyatakan bahwa sistem pengembangan karir (kompetensi
dan kualifikasi) yang diterapkan PT XYZ Bogor sudah dilaksanakan dengan baik.
Sistem peningkatan kinerja berdasarkan pengetahuan, keterampilan, motivasi dan
peran yang diterapkan PT XYZ Bogor telah dilaksanakan dengan baik.
Pengembangan karir yang telah diterapkan PT XYZ Bogor memiliki pengaruh
terhadap peningkatan kinerja karyawan. Faktor kualifikasi pada pengembangan
karir mendominasi pengaruh terhadap peningkatan kinerja dan diikuti oleh faktor
kompetensi.
Marliani (2011), Analisis Program Pengembangan Karir Melalui Talent
Management pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Hasil penelitian
25
tentang pengembangan karir melalui talent management pada Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigran menyatakan bahwa faktor-faktor yang
memengaruhi program pengembangan karir melalui talent management terdiri
dari integritas, sikap profesional, orientasi melayani masyarakat, pembelajaran
berkesinambungan dan kerjasama tim. Alternaif strategi pemilihan program
pengembangan karir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai terdiri dari
bimbingan teknis, coaching dan mentoring. Bimbingan teknis dipilih sebagai
prioritas pertama karena karena program pengembangan karir melalui talent
management merupakan program baru yang masih membutuhkan pembinaan dan
pengarahan untuk melaksanakan tugasnya dengan lebih baik.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran
Pengembangan karir merupakan hal yang terpenting dalam mencapai
tujuan suatu organisasi, karena dengan pengembangan karir dapat menciptakan
pegawai yang mampu bekerja secara efektif dan efisien, sehingga tujuan
organisasi dapat dicapai sesuai dengan visi dan misi KPP Pratama Bogor.
Pengembangan kerja dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan metode ,
diantaranya seperti rotasi pekerjaan, penugasan melalui gugus tugas, serta lainlainnya, termasuk yang dilakukan dalam menghadapi krisis bisnis hingga
mencapai pemahaman atau kepercayaan diri yang semakin besar.
Peranan SDM khususnya kinerja pegawai dalam suatu organisasi sangat
penting dan dibutuhkan, terutama dalam merencanakan, melaksanakan dan
mengendalikan tujuan organisasi. Keberhasilan kinerja sangat tergantung pada
SDM yang memiliki kualifikasi tinggi serta kompetensi yang sesuai dengan
pengembangan karir. Pengembangan human capital memerlukan investasi waktu
dan sumber daya yang tidak sedikit. Pemikiran dan arah investasi ini harus
menjadi bagian dari proses perencanaan bisnis di jenjang tertinggi di dalam
organisasi. Keberhasilan kinerja sangat tergantung pada SDM yang memiliki
kualifikasi tinggi serta kompetensi yang sesuai pada jabatannya.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor melaksanakan suatu pengelolaan
SDM yang bedasarkan visi dan misi, serta tujuan yang ingin dicapai. Pengelolaan
SDM ini dijalankan oleh seluruh karyawan dengan tujuan untuk semakin
meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki perusahaan dan mendukung
pencapaian tujuan, sasaran dan meningkatkan kinerja pegawai. Khususnya
pegawai fungsional yang memiliki kinerja yang mendukung pengembangan karir
mealui pencapaian angka kredit yang ditentukan sesuai dengan kompetensi dan
kemampuan yang dimilki oleh dirinya sendiri. Penilaian kinerja pegawai
fungsional akan berpengaruh terhadap pengembangan karir yang berbasis
kompetensi yang dimiliki oleh pegawai sesuai dengan standar dan kualifikasi
yang ditetapkan. Pegawai fungsional memilki peningkatan karir yang berbeda
dengan pegawai struktural.
27
Seiring berjalannya karir seorang pegawai pendorong dan penghambat
untuk kemajuan karir tidak luput dari semua proses yang dilakukan. Untuk
mengatasinya harus diketahui dan dianalisis apa yng menjadi penghambat dan
pendorong karir. Identifikasi pendorong dan penghambat karir akan membantu
untuk menentukan bagaimana rencana dan strategi yang dilakukan untuk
memperkuat pemicu karir dan mengurangi atau menghilangkan penghambat yang
datang dalam pengembangan karir. Peningkatan golongan dan jabatan dapat
dilihat dari bagaimana kinerja yang telah dicapai melalui pengetahuan,
keterampilan, motivasi serta peran yang dimilikinya. Penilaian kinerja yang
dilakukan akan berpengaruh terhadap pengembangan karir, karena hasil penilaian
akan memberikan petunjuk seperti apa kemajuan dan kekurangan pegawai
sehingga jenjang peningkatan karir dapat diarahkan dengan baik. Melalui program
tersebut akan diketahui apa yang akan menjadi strategi yang dapat diterapkan oleh
seorang pegawai untuk mencapai karir dengan kinerja yang dimilikinya. Sehingga
pengembangan karir menjadi sarana untuk meningkatkan kinerja secara efektif
dalam pencapaian tujuan organisasi. Bagan dari uraian kerangka pemikiran yang
telah dijelaskan dapat dilihat pada Gambar 2.
3.2.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di KPP Pratama di daerah Bogor Jawa Barat.
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan Februari 2012 sampai
bulan April 2012. Penentuan tempat ini dilakukan secara sengaja karena ingin
meneliti dan mengetahui penilaian kinerja pegawai fungsional secara khusus serta
pengaruhnya terhadap pengembangan karir yang berdasarkan kompetensi yang
dimiliki pegawai fungsional pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor yang
belum pernah dilakukan sebelumnya.
28
KPP Pratama Bogor
Visi, misi dan tujuan
Pegawai Fungsional KPP
Pratama Bogor
Kinerja (Rivai,2005) :
1. Pengetahuan
2. Keterampilan
3. Motivasi
4. Peran
5. Penilaian
Pengembangan karir
(Samsudin, 2006):
1. Kompetensi
2. Kualifikasi
Mapping
karir
Analisis Deskriptif
Pengaruh Penilaian Kinerja
Terhadap Pengembangan Karir
Kualitatif
FFA
(Lewin,
1951)
Fishbone
analysis
(Nasution,
2001)
Analisis PLS
Implikasi Manajerial
Rekomendasi Strategi Pengembangan
Karir Pegawai Fungsional KPP Paratama
Bogor
Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian
3.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang langsung dikumpulkan atau diperoleh dari sumber
pertama/objek riset yaitu tempat meneliti dan belum pernah diolah sebelumnya.
Data primer dalam hal ini diperoleh berdasarkan wawancara langsung yang
dilakukan terhadap pegawai fungsional melalui dan menggunakan kuesioner.
Data sekunder adalah data yang tidak langsung diperoleh melalui sumber
pertama, dan telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen tertulis. Dalam hal
ini, data sekunder diperoleh dari dokumen dan data instansi, seperti data
kepegawaian, peraturan pusat dan gambaran umum pegawai fungsional Direktorat
Jenderal Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
Skala yang digunakan dalam penyusunan kuesioner adalah skala likert.
Skala likert adalah skala yang berhubungan dengan pernyataan dengan sikap
29
seseorang terhadap sesuatu. Misalnya setuju- tidak setuju, senang-tidak senang
dan puas- tidak puas, dengan bobot tertentu pada setiap pertanyaan tersebut.
Berikut adalah model skoring menurut Likert:
Bobot nilai 4 = sangat setuju
Bobot nilai 3 = setuju
Bobot nilai 2 = tidak setuju
Bobot nilai 1 = sangat tidak setuju
3.3. Penentuan Sampel
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
metode sensus yaitu proses pengambilan sampel dimana seluruh anggota populasi
pegawai fungsional digunakan sebagai sumber data (Sumarwan, 2004).
3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode penentuan sampel yang digunakan adalah:
1. Pengamatan langsung di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor .
2. Wawancara langsung kepada divisi Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor.
3. Menggunakan pengisian kuesioner oleh responden yaitu pegawai fungsional
pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
3.5.
Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Pengolahan data dan analisis data pada penelitian ini untuk menjawab
setiap tujuan dari penelitian menggunakan beberapa alat analisis yang terdiri dari:
1. Tabulasi Silang (Crosstabs)
Tabulasi silang adalah prosedur yang menyajikan deskripsi data
dalam bentuk baris dan kolom. Tabulasi silang digunakan untuk
melakukan analisis hubungan di antara baris dan kolom. Data yang
digunakan untuk analisis ini adalah data yang berskala ordinal dan
nominal (Nazir,1988).
Pengambilan keputusan pada tabulasi silang dilakukan berdasarkan
perbandingan antara uji chi-square dengan tabel
chi square. Bila nilai
hasil hitung chi-square kurang dari atau sama dengan tabel chi-square
30
maka hipotesis diterima. Bila chi-square test menampilkan hasil kurang
dari atau sama dengan 0,05 maka artinya ada hubungan baris dan kolom.
2. Analisis Partial Least Square (PLS)
Partial Least Square merupakan factor indeterminacy, metode analisis
yang powerfull oleh karena tidak mengasumsikan data harus dengan
pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil. PLS dapat juga digunakan
untuk konfirmasi teori.
Secara filosofis, perbedaan antara covariance based SEM dengan
component based PLS adalah kita akan menggunakan model persamaan
struktural untuk menguji teori atau pengembangan teori untuk tujuan
prediksi. Pada situasi dimana kita mempunyai dasar teori yang kuat dan
pengujian teori atau pengembangan teori sebagai tujuan utama riset, maka
metode dengan covariance based (maximum likelihood atau generakized
least square) lebih sesuai. Namun demikian adanya indeterminacy dari
estimasi factor score maka akan kehilangan ketepatan prediksi.
Tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai
variabel laten untuk tujuan prediksi. Model formalnya mendefenisikan
variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weight
estimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten didapat
berdasarkan
bagaimana
inner
model
(model
struktural
yang
menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran
yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi.
Hasilnya adalah reidual variance dari variabel dependen (keduanya
variabel laten dan indikator) diminimumkan.
a. Cara kerja PLS
Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan
menjadi tiga. Kategori pertama, adalah weight estimate yang digunakan
untuk menciptakan skor variabel laten. Kedua mencerminkan estimasi
jalur (path estimate) yang menghubungkan variabel laten dan antar
variabel laten dan blok indikatornya (loading), kategori ketiga adalah
berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi)
untuk indikator dan variabel laten.
31
Pada dua tahap pertama proses iterasi indikator dan variabel laten
diperlakukan sebagai deviasi (penyimpangan) dari nilai rata-rata. Pada
tahap ketiga untuk hasil estimasi dapat diperoleh berdasarkan pada data
metrik original, hasil weight estimate dan path estimate pada tahap
kedua digunakan untuk menghitung rata-rata dan lokasi parameter.
Tahap pertama merupakan jantung dari algoritma PLS yang berisi
prosedur iterasi yang selalu akan menghasilkan weight estimate yang
stabil. Komponen skor estimate untuk setiap variabel laten didapat
dengan
dua
cara
yaitu
melalui
outside
aproksimasi
yang
menggambarkan weighted agregat dari indikator konstruk dan melalui
inside aproksimasi yang merupakan weighted agretgat component score
lainnya yang berhubungan dengan konstruk dalam model teoritis.
Selama iterasi berlangsung inner model estimate digunakan untuk
mendapatkan outside approximation weight, sementara itu outer model
estimate digunakan untuk mendapatkan inside approximation weight.
Prosedur iterasi akan berhenti ketika persentase perubahan setiap
outside approximation weight relatif terhadap proses iterasi sebelumnya
kurang dari 0,001.
b. Path diagram dalam penelitian
Path diagram merupakan grafik mengenai bagaimana beberapa
variabel pada suatu model berhubungan satu sama lain, yang
memberikan pandangan menyeluruh mengenai struktur model. Path
diagram dalam penelitian berguna untuk memahami hipotesis yang
telah dilakukan sebelumnya, path diagram yang dibangun secara benar,
maka persamaan-pesamaan aljabar akan ditunjukkan dengan benar
beserta error dalam persamaan tersebut (Ghozali, 2005).
Model
diagram
lintas
penelitian
yang
digunakan
dalam
menganalisis pengaruh penilaian kinerja terhadap pengembangan karir
serta pengaruh setiap indikator dapat dilihat pada Gambar 3.
Keterangan:
λ: hubungan antara variabel laten eksogen maupun endogen terhadap
indikator-indikatornya
32
γ: hubunan langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen
X1
Y
1
λ
λ
λ
Y2
kinerja
karir
γ
λ
λ
Y3
λ
X2
Y4
Gambar 3. Model Diagram Lintas Penelitian
X1, X2 ,Y1,Y2,Y3,Y4 : variabel manifest / indikator
Kinerja, karir : variabel laten
Kinerja : variabel eksogen (laten bebas)
Karir : variabel endogen (laten tak bebas)
Variabel kinerja terdiri dari sub variabel:
Y1 : komponen pengetahuan
Y2: komponen keterampilan
Y3: komponen motivasi
Y4: komponen peran
Diregresikan dengan variabel karir dengan indikator sebagai berikut:
X1 : komponen kompetensi
X2 : komponen kualifikasi
Hipotesis:
Penelitian ini menggunakan Modelling Path Partial Least Square
dengan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis utama:
H0 = Penilaian kinerja tidak berpengaruh terhadap pengembangan karir
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
33
H1 = Penilaian kinerja memiliki pengaruh terhadap pengembangan
karir pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
Hipotesis pendukung:
H0 = Indikator pengetahuan tidak memiliki pengaruh terhadap penilaian
kinerja pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor.
H1= Indikator pengetahuan memiliki pengaruh terhadap penilaian
kinerja pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor.
H0= Indikator keterampilan tidak memiliki pengaruh terhadap
penilaian kinerja pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor
H1= Indikator keterampilan memiliki pengaruh terhadap penilaian
kinerja pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor.
H0= Indikator motivasi tidak memiliki pengaruh terhadap penilaian
kinerja pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor.
H1= Indikator motivasi memiliki pengaruh terhadap penilaian kinerja
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
H0 = Indikator peran tidak memiliki pengaruh terhadap penilaian kinerja
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
H1= Indikator peran memiliki pengaruh terhadap penilaian kinerja
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
H0 = Indikator
kompetensi
tidak
memiliki
pengaruh
terhadap
pengembangan karir pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor.
H1= Indikator kompetensi memiliki pengaruh terhadap pengembangan
karir pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
H0= Indikator
kualifikasi
tidak
memiliki
pengaruh
terhadap
pengembangan karir pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor.
34
H1= Indikator kualifikasi memiliki pengaruh terhadap pengembangan
karir pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Bogor.
3. Analisis Model Tulang Ikan (Fishbone)
Model fishbone atau sebab akibat adalah suatu pendekatan terstruktur
yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam
menemukan penyebab-penyebab dari suatu masalah, ketidaksesuaian, dan
kesenjangan yang ada. Metode sederhana yang dapat dipergunakan untuk
menelusuri penyebab suatu permalahan terjadi. Dasarnya adalah prinsip
bahwa pemikiran yang bersumber dari orang banyak atau lebih baik dari
satu orang. Dinamakan diagram tulang ikan karena bentuk dari diagram ini
seperti tulang ikan, dengan permasalahan sebagai kepalanya, dan
penyebab-penyebab yang ada sebagai duri-durinya. Diagram fishbone
dapat digunakan dalam situasi dimana :
a. Terdapat pertemuan diskusi dengan menggunakan brainstorming
untuk mengidentifikasi mengapa suatu masalah terjadi.
b. Diperlukan analisis lebih terperinci terhadap suatu masalah
c. Terdapat kesulitan untuk memisahkan penyebab dari akibat.
Analisa fishbone dipakai untuk mengkategorikan berbagai sebab
potensial dari suatu masalah dengan cara mudah dimengerti dan rapi. Alat
ini juga daat membantu dalam menganalisis apa yang sesungguhnya
terjadi dalam proses.
4. Force Field Analysis
Analisis force field adalah teknik yang berguna untuk melihat semua
kekuatan yang mendukung dan menentang keputusan. Alat ini juga dapat
membantu untuk merencanakan bagaimana mengatasi hambatan atau
kendala untuk suatu perubahan dan perbaikan. Proses yang dimulai dengan
pembentukan tim yang menggambarkan perubahan dan perbaikan yang
diinginkan serta mengidentifikasi tujuan dan solusi tepat untuk sebuah
masalah. Analisis ini adalah metoda yang sangat ampuh untuk
memperoleh gambaran lengkap yang menyeluruh dari berbagai kekuatan
yang ada dalam isu utama suatu kebijakan atau strategi juga untuk
memperkirakan sumber dan tingkat kekuatan-kekuatan tersebut. Langkah
35
pertama yang dilakukan adalah menyepakati bidang perubahan yang akan
dibahas. Bidang perubahan ini dapat ditulis sebagai sasaran kebijakan
yang diinginkan atau tujuan. Langkah kedua adalah menetapkan apakah
ada yang dapat dilakukan menghadapi kekuatan-kekuatan tersebut.
Dampak paling signifikan akan diperoleh dengan cara meningkatkan
kekuatan pendukung yang lemah sementara mangurangi kekuatankekuatan penghambat yang kuat.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Gambaran Umum Lembaga
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor merupakan unit kerja dari
Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat baik
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak maupun tidak di wilayah Kota Bogor.
Pada masa pemerintahan Belanda, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor untuk
selanjutnya disingkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor, bernama De In
Fiksi Van Finansien. Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut berubah menjadi
Kantor Inspeksi Keuangan, kemudian menjadi Kantor Inspeksi Pajak. Setelah
adanya reformasi perpajakan pada tahun 1984 dan adanya perubahan sistem
pemungutan pajak, maka Kantor Inspeksi berganti nama menjadi Kantor Pajak.
Terbentuknya Kantor Pelayanan Pajak WP besar dan diikuti pembentukan Kantor
Pelayanan Pajak Madya dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang dibentuk
pertama kali di Jakarta sejak tanggal 14 Agustus 2007 . Kantor Pelayanan Pajak
Bogor, Kantor Pelayanan Pajak PBB Bogor, dan Kantor Pemeriksaan Pajak Bogor
disatukan menjadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor berdasarkan keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP – 112/PJ./2007 tentang Penerapan
Organisasi, Tata Kerja, dan Saat Mulai Beoperasinya Kantor Pelayanan Pajak
Pratama dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan di
Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I, dan Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Barat II. KPP Pratama Bogor sendiri terletak di
Jalan Ir.H. Juanda Nomor 64, Bogor.
4.1.1 Visi, Misi dan Nilai Direktorat Jenderal Pajak
Visi Direktorat Jenderal Pajak adalah menjadi institusi pemerintah yang
menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien,
dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi. Misi
Direktorat Jenderal Pajak adalah menghimpun penerimaan pajak negara
berdasarkan Undang-Undang Perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian
pembiayaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara melalui administrasi
perpajakan yang efektif dan efisien.
37
Nilai yang dijunjung tinggi oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah sebagai
berikut:
1. Integritas
Menjalankan tugas dan pekerjaan dengan selalu memegang teguh kode etik dan
prinsip-prinsip moral, yang diterjemaahkan dengan bertindak jujur, konsisten,
dan menepati janji.
2. Profesionalisme
Memiliki kompetensi di bidang profesi dan menjalankan tugas dan pekerjaan
sesuai dengan kompetensi, kewenangan, serta norma-norma profesi, etika dan
sesuai dengan kompetensi, kewenangan, serta norma-norma profesi, etika dan
sosial.
3. Inovasi
Memiliki pemikiran yang berpikir terobosan dan/atau alternatif pemecahan
yang kreatif, dengan memperhatikan aturan dan norma yang berlaku.
4. Teamwork
Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain, serta membangun
network untuk menunjang tugas dan pekerjaan.
4.1.2
Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan wadah bagi sekelompok orang yang
bekerjasama dalam, usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Struktur
organisasi menyediakan pengadaan personil yang memegang jabatan tertentu dan
masing-masing diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan
jabatannya. Hubungan kinerja dalam organisasi dituangkan dalam struktur
organisasi yang merupakan gambaran sistematis tentang hubungan kerja dari
orang-orang yang menggerakkan organisasi dalam usaha mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Struktur organisasi sangat penting untuk terlaksananya fungsi
pengorganisasian dengan baik sebab dengan adanya struktur organisasi akan
terlihat jelas tugas dan wewenang dari setiap bagian yang terdapat dalam hierarki
organisasi dan ini akan memudahkan setiap karyawan untuk menjalankan tugas
dan fungsinya.
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor mempunyai tugas
melaksanakan pelayanan, pengawasan administrasi, dan pemeriksaan sederhana
38
terhadap wajib pajak di bidang Pajak Penghasilan(PPh), Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB), dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dalam
wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun struktur organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor
dapat dilihat pada Gambar 4.
Kepala Kantor
Subbag.Umum
Seksi
Pelayanan
Seksi PDI
Seksi
Pemeriksaan
Seksi
Waskon II
Seksi
Ekstensifikasi
Perpajakan
Seksi
Penagihan
Seksi
Waskon I
Jabatan
Fungsional
Seksi
Waskon
III
Gambar 4. Struktur Organisasi KPP Pratama Bogor
4.1.3
1.
Pegawai Fungsional KPP Pratama Bogor
Pemeriksa Pajak Tingkat Terampil
Jenjang jabatan dan rincian tugas dan fungsi Pemeriksa Pajak tingkat
terampil dari yang terendah sampai yang tertingggi adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksa Pajak Pelaksana, meliputi:
1) Mengumpulkan informasi dan data perpajakan;
2) Mencocokkan segi pembayaran pajak;
3) Mempelajari berkas Wajib Pajak (WP) untuk dilakukan pengamatan;
4) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
5) Membuat Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP);
6) Membuat surat permohonan ijin penyitaan;
7) Membuat surat permintaan untuk membuka dan memeriksa suratsurat/dokumen lainnya;
b. Pemeriksa Pajak Pelaksana Lanjutan, meliputi:
1) Mempelajari berkas WP dan data perpajakan;
39
2) Melakukan pengamatan sebelum pemeriksaan;
3) Meneliti kelengkapan dan mengembalikan buku catatan/dokumen
yang akan dipinjam;
4) Menyiapkan surat pernyataan penolakan pemeriksaan/membantu
kelancaran pemeriksaan;
5) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
6) Membuat KKP;
7) Mencocokkan dokumen/bukti pembukuan WP dengan buku pihak
ketiga;
8) Membuat surat konfirmasi kepada pihak ketiga;
9) Menyusun konsep surat pemberitahuan hasil pemeriksaan pajak;
10) Membuat konsep daftar temuan hasil pemeriksaan pajak;
11) Membuat surat perintah penyitaan;
c. Pemeriksa Pajak Penyelia, meliputi:
1) Menentukan identifikasi masalah objek yang diperiksa;
2) Menganalisa
informasi
dan
data
perpajakan
dalam
rangka
pengamatan;
3) Menentukan buku, catatan, dan dokumen yang belum dipinjamkan
dalam rangka pemeriksaan;
4) Membuat surat peringatan tidak menyerahkan buku/catatan/dokumen;
5) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
6) Membuat KKP;
7) Melakukan pembahasan dengan Tim Pembahas atas temuan hasil
pemeriksaan pajak;
8) Membuat konsep laporan bukti permulaan;
9) Membuat surat laporan penyidikan;
10) Membuat surat laporan penggeledahan;
11) Meneliti kelengkapan dan menyerahkan tanda bukti penyerahan
kembali surat-surat/dokumen lainnya;
12) Menambah dan mengamankan barang bukti;
40
2.
Pemeriksa Pajak Tingkat Ahli
Jenjang jabatan dan rincian tugas dan fungsi Pemeriksa Pajak tingkat ahli
dari yang terendah sampai yang tertingggi adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksa Pajak Pertama
1) Mengidentifikasi informasi dan data perpajakan;
2) Meneliti keabsahan dan kebenaran segi pembayaran pajak;
3) Merencanakan dan mengidentifikasi buku/catatan/dokumen yang akan
dipinjam;
4) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
5) Membuat KKP;
6) Melakukan pengujian fisik atas persediaan dan saldo kas;
7) Membuat surat pesetujuan/penolakan perpanjangan jangka waktu
penyerahan tanggapan hasil pemeriksaan;
8) Menyusun konsep ikhtisar hasil pembahasan akhir;
9) Membuat nota perhitungan;
10) Melaksanakan penyitaan;
11) Memanggil saksi-saksi dalam rangka penyitaan dalam keadaan sangat
penting dan mendesak;
12) Memanggil saksi-saksi dalam rangka penggeledahan;
13) Melaksanakan penggeledahan;
b. Pemeriksa Pajak Muda
1) Membuat program pemeriksaan;
2) Melakukan pemeriksaan pada bagian-bagian/fungsi-fungsi dalam
perusahaan;
3) Melakukan pemutakhiran cakupan pemeriksaan;
4) Membuat surat permintaan keterangan dan berita acara pemberian
keterangan WP;
5) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
6) Membuat KKP;
7) Mengumpulkan dan membuat bukti-bukti permulaan;
8) Menyusun dan membuat bukti-bukti permulaan;
9) Menyusun konsep Berita Acara Hasil Pemeriksaan;
41
10) Membuat konsep laporan hasil pemeriksaan pajak;
11) Melengkapi laporan pemeriksaan pajak dan atau laporan pengamatan;
12) Menghitung jumlah kerugian negara;
13) Membuat laporan bukti permulaan untuk ditindak lanjuti;
c. Pemeriksa Pajak Madya
1) Menetukan cakupan pemeriksaan;
2) Menetukan tindak lanjut hasil pengamatan;
3) Membuat berita acara pemenuhan seluruh peminjaman buku, catatan,
dan dokumen/berita acara tidak dapat dipenuhinya peminjaman buku,
catatan dan dokumen;
4) Membuat berita acara penolakan pemeriksaan membantu kelancaran
pemeriksaan;
5) Melakukan pemutakhiran program pemeriksaan;
6) Memeriksa buku, catatan, dan dokumen WP;
7) Membuat KKP;
8) Membuat berita acara penyegelan;
9) Melakukan penilaian atas temuan hasil pemeriksaan;
10) Melaporkan adanya bukti permulaan tindak pidana perpajakan;
11) Meneliti dan menandatangani surat pemberitahuan hasil pemeriksaan
pajak;
12) Meneliti dan menyetujui daftar temuan hasil pemeriksaan pajak;
13) Melakukan pembahasan koreksi fiskal dengan WP;
14) Membuat dan menandatangani berita acara hasil pemeriksaan;
15) Membuat lembar pernyataan persetujuan hasil pemeriksaan pajak;
4.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Uji Crosstabs
Responden dalam penelitian ini adalah pegawai fungsional Direktorat
Jenderal Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor yang meliputi
Fungsional Pemeriksa Pajak dan Fungsional Penilai PBB. Dalam penelitian ini
responden berjumlah 15 responden. Karakteristik responden dinilai secara
deskriptif
seperti jenis kelamin, usia, status pernikahan, pendidikan terakhir,
pendapatan, jabatan, dan pangkat dapat dilihat pada Tabel 2.
42
Tabel 2. Karakteristik Responden
Karakteristik Responden
Jenis Kelamin
Usia (tahun)
Pria
Wanita
Total
25-30 tahun
31-40 tahun
41-50 tahun
51-60 tahun
Jumlah
(orang)
11
4
15
1
8
2
4
Persentase
(%)
73
27
100
7
53
13
27
15
1
1
5
6
2
15
15
0
0
15
3
9
3
15
3
1
100
7
7
33
40
13
100
100
0
0
100
20
60
20
100
20
6
1
7
3
20
4
27
3
15
4
9
2
15
2
9
1
3
15
20
100
27
60
27
100
13
60
7
20
100
Total
SMA
D1
Tingkat Pendidikan
D3
S1
S2
Total
Menikah
Status
Belum menikah
Duda/Janda
Total
IIa-IId
Pangkat
IIIa-IIId
IVa-IVc
Total
Pemeriksa Pajak Madya
Pemeriksa Pajak
Penyelia
Pemeriksa Pajak Bumi
dan Bangunan Pertama
Jabatan
Pemeriksa Pajak
Pertama
Pemeriksa Pajak
Pelaksana Lanjutan
PP Pelaksana
Total
5.000.000-10.000.000
Pendapatan
10.000.001-15.000.000
15.000.001-20.000.000
Total
1-10 tahun
11-20 tahun
Masa kerja
21-30 tahun
31-40 tahun
Total
4.2.1
Jenis Kelamin Pegawai Fungsional
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Karakteristik responden dihubungkan dengan jabatan
yang diduduki oleh pegawai fungsional. Adapun jenis kelamin responden pegawai
fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa responden dengan jenis kelamin pria
sebesar 73,3 persen, sedangkan responden dengan jenis kelamin wanita sebesar
26,7 persen. Dari Tabel 3 dapat dilihat seberapa banyak pegawai fungsional yang
43
berjenis kelamin pria atau wanita menduduki jabatan seperti yang disajikan dalam
Tabel 3. Maka dapat disimpulkan bahwa pegawai fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor sebagian besar adalah pria. Hal ini terjadi karena
penyesuaian aktivitas atau kegiatan yang ada di duvisi fungsional. Banyaknya
aktivitas dinas keluar sehingga sebagian besar wanita akan cenderung untuk
menolak pekerjaan karena ragam pekerjaanya yang dirasa terlalu berat bagi
wanita dan lebih sesuai bagi pria.
Tabel 3. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap jenis kelamin
jenis_kelamin
Wanita
Jabatan
PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama
Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana Lanjutan
Count
% of Total
PP Pelaksana
Count
% of Total
Total
Count
% of Total
4.2.2
Pria
Total
2
1
3
13.3%
6.7%
20.0%
0
1
1
.0%
6.7%
6.7%
0
1
1
.0%
6.7%
6.7%
1
2
3
6.7%
13.3%
20.0%
1
3
4
6.7%
20.0%
26.7%
0
3
3
.0%
20.0%
20.0%
4
11
15
26.7%
73.3%
100.0%
Usia Pegawai Fungsional
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Adapun usia responden pegawai fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor sesuai dengan jabatan yang diduduki dapat dilihat
pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa responden dengan
persentase terendah yaitu usia 25-30 tahun sebesar 6,7 persen. Sedangkan
responden dengan persentase tertinggi yaitu 31-40 tahun sebesar 53,3 persen. Dari
Tabel 4 dapat diketahui berapa usia yang dimiliki oleh pegawai fungsional yang
menduduki jabatan yang ada di divisi fungsional. Maka dapat disimpulkan bahwa
usia pegawai fungsional di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor sebagaian
besar adalah berusia 31-40 tahun. Pada saat rekrutmen Direkorat Jenderal Pajak
44
membuat penjatahan pada setiap usia yang dibutuhkan. Pada usia 31-40 tahun
adalah angka usia yang dijatahkan paling banyak karena pada usia itu pegawai
telah mencapai pengalaman pangkat dan jabatan yang lumayan dan memilki
pengalaman kerja serta berada di masa produktif dalam bekerja.
Tabel 4. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap usia
Usia
25-30
Jabatan
PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama
Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana Lanjutan
Count
% of Total
PP Pelaksana
Count
% of Total
Total
Count
% of Total
4.2.3
31-40
41-50
51-60
Total
0
0
1
2
3
.0%
.0%
6.7%
13.3%
20.0%
0
0
0
1
1
.0%
.0%
.0%
6.7%
6.7%
0
1
0
0
1
.0%
6.7%
.0%
.0%
6.7%
0
2
1
0
3
.0%
13.3%
6.7%
.0%
20.0%
0
3
0
1
4
.0%
20.0%
.0%
6.7%
26.7%
1
2
0
0
3
6.7%
13.3%
.0%
.0%
20.0%
1
8
2
4
15
6.7%
53.3%
13.3%
26.7% 100.0%
Tingkat Pendidikan Pegawai Fungsional
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Adapaun tingkat pendidikan responden pegawai
fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 5.
Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa responden dengan persentase terendah
responden dengan tingkat pendidikan SMA dengan persentase sebesar 6,7 persen
dan D1 sebesar 6,7 persen. Sedangkan responden dengan persentase tertinggi
yaitu responden dengan tingkat pendidikan S1 sebesar 40 persen. Dari Tabel 5
dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan pegawai fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor sebagian besar adalah dengan tingkat pendidikan
S1. Hal tersebut terjadi karena tuntutan untuk menjadi seorang fungsional harus
memiliki landasan pengetahuan yang lebih dari sekedar lulusan khusus pajak.
Untuk membantu pemenuhan angka kredit untuk kelancaran pengembangan karier
pegawai. Untuk tingkat pendidikan SMA yang memiliki persentase responden
terkecil karena di divisi fungsional sudah mengutamakan jenjang lulusan yang
45
lebih tinggi untuk modal kelancaran pekerjaan dari pengetahuan yang didapatkan
melalui pendidikan formal selain pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan
pihak Direktorat Jenderal pajak. Pegawai Fungsional lulusan SMA biasanya
adalah pegawai yang direkrut pada waktu masa perekrutan masih menerima dari
lulusan SMA.
Tabel 5. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap pendidikan
Pendidikan
SMA
Jabatan PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama
Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana Lanjutan Count
% of Total
PP Pelaksana
Count
% of Total
Total
Count
% of Total
4.2.4
D1
D3
S1
S2
Total
0
0
0
2
1
3
.0%
.0%
.0%
13.3%
6.7%
20.0%
1
0
0
0
0
1
6.7%
.0%
.0%
.0%
.0%
6.7%
0
0
0
1
0
1
.0%
.0%
.0%
6.7%
.0%
6.7%
0
0
0
2
1
3
.0%
.0%
.0%
13.3%
6.7%
20.0%
0
0
3
1
0
4
.0%
.0%
20.0
%
6.7%
.0%
26.7%
0
1
2
0
0
3
.0%
6.7%
13.3
%
.0%
.0%
20.0%
1
1
5
6
2
15
6.7%
6.7%
33.3
%
40.0%
13.3%
100.0%
Status
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Adapun status pernikahan responden pegawai fungsional
Kantor Pelayanan Pajak Paratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan
Tabel 6 dapat dilihat bahwa responden dengan persentase 100% menunjukkan
bahwa seluruh pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
adalah sudah menikah. Data tersebut didukung oleh usia seluruh pegawai
fungsional rata-rata diatas 25 tahun. Pada usia tersebut pegawai fungsional KPP
Pratama Bogor sudah menikah serta pada saat baru masuk di divisi fungsional.
46
Tabel 6. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap status
status
Menikah
Jabatan PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama
Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana Lanjutan
Count
% of Total
PP Pelaksana
Count
% of Total
Total
Count
% of Total
4.2.5
Total
3
3
20.0%
20.0%
1
1
6.7%
6.7%
1
1
6.7%
6.7%
3
3
20.0%
20.0%
4
4
26.7%
26.7%
3
3
20.0%
20.0%
15
15
100.0%
100.0%
Pangkat
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Pangkat responden pegawai fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor yang dihubungkan dengan jabatan yang ada di divisi
fungsional. Adapun karakteristik pangkat pegawai fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 7.
Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa responden dengan persentase
terendah yaitu pangkat pada golongan IVc dan golongan IIIc sebesar 6.7 persen.
Sedangkan responden dengan persentase tertinggi yaitu responden dengan
golongan IIIa sebesar 6.7 persen. Dari Tabel 7 dapat disimpulkan bahwa pangkat
pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor sebagian besar adalah
pada golongan IIIa. Pegawai fungsional pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor didominasi oleh golongan IIIa hal tersebut didukung oleh jatah perekrutan
pegawai fungsional lebih banyak di golongan tersebut, dimana rata-rata usia dan
masa jabatan yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak umumnya pada
tingkat medium untuk pegawai fungsional di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Bogor. Golongan minimal untuk memenuhi persyaratan masuk ke dalam divisi
fungsional adalah golongan IId, sehingga rata-rata golongan yang dimiliki oleh
pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor mayoritas terdapat pada golongan IIIa.
47
Tabel 7. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap pangkat
Pangkat
IId
Jabatan PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB
Pertama
Count
% of Total
PP Pertama Count
% of Total
PP
Pelaksana
Count
% of Total
IIIa
IIIb
IIIc
IVa
IVc
Total
0
0
0
0
2
1
3
.0%
.0%
.0%
.0%
13.3%
6.7%
20.0%
0
0
0
1
0
0
1
.0%
.0%
.0%
6.7%
.0%
.0%
6.7%
0
0
1
0
0
0
1
.0%
.0%
6.7%
.0%
.0%
.0%
6.7%
0
1
2
0
0
0
3
.0%
6.7%
13.3%
.0%
.0%
.0%
20.0%
0
3
1
0
0
0
4
.0%
20.0%
6.7%
.0%
.0%
.0%
26.7%
3
0
0
0
0
0
3
20.0%
.0%
.0%
.0%
.0%
.0%
20.0%
3
4
4
1
2
1
15
20.0%
26.7%
26.7%
6.7%
13.3%
Lanjutan
PP
Pelaksana
Total
Count
% of Total
Count
% of Total
4.2.6
6.7% 100.0%
Pendapatan
Berdasarkan data responden yang diperoleh, data tersebut diolah dengan
menggunakan SPSS 17. Pendapatan pegawai fungsional dihubungkan dengan
jabatan yang ada di divisi fungsional. Adapun tingkat pendapatan responden
pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada
Tabel 8.
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa responden dengan persentase
terendah yaitu responden dengan tingkat pendapatan antara Rp.15.000.001Rp.20.000.000 dengan persentase sebesar 13,3 persen. Sedangkan responden
dengan persentase tertinggi yaitu responden dengan tingkat pendapatan antara
Rp.10.000.001-Rp.15.000.000 dengan persentase sebesar 60 persen. Dari Tabel 8
dapat disimpulkan bahwa pendapatan pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor sebagian besar adalah dengan tingkat pendapatan antara
Rp.10.000.001-Rp.15.000.000. Hal ini sesuai dengan data karakteristik responden
48
berdasarkan pangkat yang rata-rata berada pada golongan IIIa-IIId dan jabatan
yang diduduki oleh pegawai fungsional. Penetapan gaji per individu disesuaikan
dengan pangkat dan jabatan yang dimiliki oleh pegawai fungsional. Jumlah
pegawai yang memiliki pendapatan pada persentase 13 persen sesuai dengan
jumlah pegawai yang memilki golongan yang sama dan diatas IVa dan pada
jabatan Pemeriksa Pajak Madya yang ada di divisi fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Bogor. Dalam hal ini pendapatan yang diterima oleh peagawai fungsional
adalah keseluruhan dari gaji pokok dan tunjangan lainnya yang diterima atau allin compensation.
Tabel 8. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap pendapatan
pendapatan
5.000.00010.000.000
jabatan PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana
Lanjutan
Count
PP Pelaksana
Count
% of Total
% of Total
Total
Count
% of Total
4.2.7
10.000.00115.000.000
15.000.00120.000.000
Total
0
1
2
3
.0%
6.7%
13.3%
20.0%
0
1
0
1
.0%
6.7%
.0%
6.7%
1
0
0
1
6.7%
.0%
.0%
6.7%
0
3
0
3
.0%
20.0%
.0%
20.0%
0
4
0
4
.0%
26.7%
.0%
26.7%
3
0
0
3
20.0%
.0%
.0%
20.0%
4
9
2
15
26.7%
60.0%
13.3%
100.0%
Masa Kerja
Berdasarkan
data
yang
diperoleh,
data
tersebut
diolah
dengan
menggunakan SPSS 17. Adapun masa kerja responden pegawai fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan Tabel 9
dapat dilihat bahwa responden dengan persentase terendah yaitu responden
dengan masa kerja 21-30 tahun sebesar 6,7 persen. Sedangkan responden dengan
persentase tertinggi yaitu responden dengan masa kerja 11-20 tahun dengan
persentase 60 persen. Dari Tabel 9 dapat disimpulkan bahwa masa kerja pegawai
fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor sebagian besar adalah masa
49
kerja antara 11-20 tahun. Hal tersebut didukung dengan karakteristik responden
berdasarkan usia pegawai fungsional. Sesuai data semakin tua usia seorang
pegawai maka masa kerjanya di Direktorat Jenderal Pajak akan semakin lama juga
dan demikian sebaliknya.
Tabel 9. Hasil crosstabs karakteristik jabatan terhadap masa kerja
Masa kerja
1-10
jabatan PP Madya
Count
% of Total
PP Muda
Count
% of Total
P PBB Pertama
Count
% of Total
PP Pertama
Count
% of Total
PP Pelaksana Lanjutan Count
% of Total
PP Pelaksana
Count
% of Total
Total
Count
% of Total
11-20
21-30
31-40
Total
0
1
0
2
3
.0%
6.7%
.0%
13.3%
20.0%
0
0
0
1
1
.0%
.0%
.0%
6.7%
6.7%
0
1
0
0
1
.0%
6.7%
.0%
.0%
6.7%
0
3
0
0
3
.0%
20.0%
.0%
.0%
20.0%
0
3
1
0
4
.0%
20.0%
6.7%
.0%
26.7%
2
1
0
0
3
13.3%
6.7%
.0%
.0%
20.0%
2
9
1
3
15
13.3%
60.0%
6.7%
20.0%
100.0%
4.3. Identifikasi Kinerja Pegawai Fungsional dan Pengembangan Karir
Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
Fokus dalam penelitian ini adalah mengkaji tentang pengaruh penilaian
kinerja pegawai fungsional terhadap pengembangan karir pada KPP Praama
Bogor. Untuk itu identifikasi kinerja dan pengembangan karir pegawai fungsional
adalah bagian dari proses yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja
pegawai fungsional dan pengembangan karir melalui wawancara langsung
terhadap pegawai funsional baik dengan menggunakan kuesioner maupun tanpa
kuesioner serta data yang telah tersedia di dokumen divisi fungsional.
4.3.1
Identifikasi Kinerja Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor
Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kemampuan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Untuk menilai
pekerjaan, maka diperlukan suatu proses kegiatan penilaian pekerjaan. Secara
50
umum penilaian di divisi fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
dilakukan berdasarkan petunjuk panduan pelaksanaan jabatan fungsional
pemeriksa pajak dan angka kreditnya : 1) tujuan penilaian dan penentuan angka
kredit, 2) unsur dan sub unsur kegiatan yang dinilai, 3) pejabat penilai, 4) tata
cara penilaian.
4.3.2
Tujuan Penilaian Kinerja dan Penentuan Angka Kredit
Penilaian kinerja dan penentuan angka kredit yang dilakukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Memperoleh bahan-bahan sebagai pertimbangan yang objektif dalam
pembinaan dan pengarahan serta penentuan angka kredit pegawai fungsional
berdasarkan sistem karir dan sistem prestasi kerja.
2. Sesuai dengan tujuannya, maka daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan harus
dibuat seobjektif mungkin berdasarkan data yang tersedia.
4.3.3 Unsur dan Sub Unsur Kegiatan yang Dinilai
Unsur-unsur yang dinilai mewakili setiap kemampuan yang harus dimiliki
oleh
masing-masing
pegawai
fungsional.
Unsur-unsur
tersebut
dapat
menggambarkan prestasi maupun potensi kerja pegawai fungsional yang dinilai.
Adapun unsur-unsur yang dinilai dalam penilaian sebagai berikut:
1. Pendidikan, meliputi:
a. Pendidikan sekolah dan memperoleh ijazah/gelar;
b. Pendidikan
dan
pelatihan
fungsional
di
bidang
perpajakan
memperoleh surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan.
2. Pemeriksaan pajak, meliputi:
a. Persiapan pemeriksaan pajak;
b. Pelaksanaan pemeriksaan pajak;
c. Pemeriksaan buku/catatan/dokumen wajib pajak;
d. Pemberitahuan dan pembahasan hasil pemeriksaan pajak;
e. Penyusunan laporan pemeriksaan pajak.
3. Penyidikan tindak pidana perpajakan, meliputi:
a. Persiapan penyidikan tindak pidana perpajakan;
b. Penyitaan bahan bukti;
c. Penyitaaan bahan bukti dalam keadaan sangat penting dan mendesak;
dan
51
d. Penggeledahan;
e. Pengumpulan dan penelitian bukti/dokumen perpajakan dalam rangka
tindak pidana perpajakan;
f. Pemeriksaan saksi/saksi ahli dalam rangka persidangan;
g. Pemeriksaan
tersangka
tindak
pidana
perpajakan
dalam
rangka
persidangan;
h.
Pencekalan tersangka tindak pidana perpajakan;
i. Permintaan bantuan POLRI dalam rangka penyidikan dan persidangan;
j. Pemberkasan perkara dalam rangka penyidikan dan persidangan;
k. Penyusunan laporan penyidikan pajak.
4. Pengembangan profesi, meliputi:
a. Pembuatan karya tulis dan atau karya ilmiah di bidang perpajakan;
b. Pengembangan sistem pemeriksaan pajak dan atau penyidikan tindak
pidana perpajakan;
c. Penyusunan petunjuk pelaksanaan pengelolaan kegiatan perpajakan;
d. Penerjemahan /penyaduran buku atau karya ilmiah di bidang perpajakan.
5. Pendukung kegiatan Pemeriksa Pajak, meliputi:
a. Pengajar/pelatih di bidang perpajakan;
b. Peran serta dalam seminar/lokakarya/konferensi;
c. Keanggotaan dalam Tim Penilai Jabatan
d. Fungsional Pemeriksa Pajak;
e. Perolehan piagam kehormatan;
f. Perolehan gelar kesarjanaan lainnya.
4.3.4 Pejabat Penilai
Penilaian kerja dilakukan oleh pejabat penilai. Pejabat penilai/tim penilai
adalah tim penilai yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang dan
bertugas menilai prestasi kerja Pemeriksa Pajak. Pegawai Negeri Sipil yang dapat
menduduki jabatan sebagai Pejabat penilai adalah pegawai yang memenuhi syarat
yang telah ditentukan Direktorat Jenderal Pajak dan Keputusan Menteri
Pemberdayaan dan Aparatur Negara.
52
4.3.5
Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kinerja Pegawai Fungsional
KPP Pratama Bogor
Penelitian ini, kinerja terdiri dari pengetahuan, keterampilan, motivasi, dan
peran. Berdasarkan hasil pehitungan, persepsi responden terhadap kinerja pegawai
fungsional di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Persepsi Pengembangan Karir terhadap Kinerja
Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
No.
1
2
3
4
Kinerja Pegawai
Pengetahuan
Keterampilan
Motivasi
Peran
Total
Skorrataan
3.17
2.81
2.76
2.70
2.86
Pegawai
Keterangan
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan persepsi pegawai yang berada dalam
rentang
setuju terhadap masing-masing indikator kinerja. Hasil perhitungan,
secara keseluruhan dari variabel kinerja dengan indikator di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja pegawai fungsional KPP Pratama Bogor tergolong
kategori baik, dimana nilai skor rataan keseluruhan 2.86. Diharapkan pada
indikator kinerja yang memiliki skor rataan 2.70
yaitu peran pada pegawai
fungsional lebih di perhatikan. Hal ini disebabkan wewenang yang dimiliki oleh
seorang pegawai fungsional untuk menangani suatu kasus Wajib Pajak tidak
terpenuhi dengan baik sesuai dengan tanggung jawab wewenangnya
karena
adanya campur tangan pihak lain dalam menyelesaikan masalah tersebut.
4.3.6
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor
Pengembangan karir merupakan suatu rangkaian posisi atau jabatan yang
ditempati orang selama masa kehidupan tertentu dalam pekerjaannya.
Pengembangan karir dapat menyebabkan perubahan nilai-nilai, sikap, dan
motivasi yang terjadi pada seseorang karena dengan karena dengan penambahan
tugas dan tanggung jawab akan membuat seseorang semakin matang.
Adapun prinsip dari sistem pengembangan karir di Direktorat Jenderal
Pajak untuk pegawai fungsional yang juga adalah jabatan karir yang hanya dapat
diduduki
oleh
Pegawai
Negeri
Sipil
berdasarkan
Keputusan
Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara No.31/KEP/M.PAN/3/2003 tentang Jabatan
Fungsional Pemeriksa Pajak dan Angka Kreditnya.
53
Pemberian pangkat dilaksanakan berdasarkan sistem pemenuhan angka
kredit kumulatif minimal. Setiap Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat
dalam jabatan dan kenaikan pangkat Pemeriksa Pajak tingkat terampil maupun
Pemeriksa Pajak tingkat ahli. Angka kredit adalah nilai dari tiap butir kegiatan
dan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh Pemeriksa
Pajak dan digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan
pangkat/jabatan. Pemeriksa Pajak tingkat terampil adalah Pemeriksa Pajak yang
mempunyai
kualifikasi
teknis
yang
pelaksanaan
tugas
dan
fungsinya
mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis dan prosedur kerja di bidang
pemeriksaan pajak dan penyidikan tindak pidana perpajakan. Sedangkan
Pemeriksa Pajak tingkat ahli adalah Pemeriksa Pajak yang mempunyai kualifikasi
profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan ilmu
pengetahuan, metodologi, dan teknik analisis di bidang pemeriksaan pajak dan
penyidikan tindak pidana perpajakan.
4.3.7
Identifikasi Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Bogor
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Tentang
Jabatan Fungsional Pemeriksa Pajak dan Angka Kreditnya No. 31/KEP/M.
PAN/3/2003 pasal 2 dan 3, jabatan Fungsional Pemeriksa Pajak termasuk dalam
rumpun imigrasi, pajak dan asisten profesional yang berkaitan dan merupakan
jabatan karir yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil. Oleh karena
itu, dalam pengembangan karir perlu penyesuaian kompetensi dan kualifikasi
yang dimiliki pegawai tersebut agar dapat melaksanakan fungsi dan menjalankan
kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya secara optimal. Dengan demikian
tujuan organisasi dan tujuan pribadi dari orang yang bersangkutan tercapai.
4.3.8
Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kompetensi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor
Persepsi responden terhadap kompetensi pengembangan karir pegawai
fungsional KPP Pratama Bogor. Berdasarkan hasil perhitungan dapat dilihat pada
Tabel 11 menunjukkan persepsi pegawai yang berada pada rentang setuju pada
masing-masing indikator berdasarkan jawaban kuesioner responden.
54
Secara keseluruhan dari indikator kompetensi, dapat disimpulkan secara
umum bahwa kompetensi pegawai fungsional tergolong baik, dengan nilai skor
rataan keseluruhan benilai 2.61 dan masing-masing indikator sudah dilaksanakan
dengan baik oleh pegawai fungsional Kantor Pelayanan Pajak Bogor.
Tabel 11. Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kompetensi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Partama Bogor
No
1
2
3
4
5
6
Indikator kompetensi
Pengembangan karir di KPP
Pratama Bogor sudah
memperhatikan latarbelakang
pendidikan dan pengetahuan
yang sesuai dengan pekerjaan di
divisi fungsional.
Pengembangan karir pegawai
fungsioanl di KPP Pratama
Bogor sudah memperhatikan
kesesuaian keterampilan dan
keahlian pegawai fungsional
terhadap pekerjaan.
Pengembangan karir pegawai
fungsional KPP Pratama Bogor
sudah mengoptimalkan potensi
psikologis pegawai fungsional.
KPP Pratama Bogor sudah
memberikan pelatihan untuk
meningkatkan
kemampuan/kompetensi yang
dibutuhkan sebagai dasar
pengembangan karir khusus
pegawai fungsional.
Pengembangan karir pegawai
fungsional di KPP Pratama
Bogor sudah memperhatikan
prestasi kerja pegawai sesuai
dengan pemenuhan angka
kredit.
Pengembangan karir pegawai
fungsioanl di KPP Pratama
Bogor sangat berguna untuk
memacu peningkatan
kompetensi masing-masing
pegawai.
Jawaban responden
STS
TS
S
SS
Skor
rataan
Ket.
0
5
10
0
2.67
Setuju
0
5
10
0
2.67
Setuju
0
7
8
0
2.53
Setuju
0
2
13
0
2.87
Setuju
1
8
6
0
2.33
Setuju
0
6
9
0
2.60
Setuju
2.61
Setuju
Total
55
4.3.9
Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kualifikasi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bogor
Persepsi responden terhadap kualfikasi pengembangan karir pegawai
fungsional KPP Pratama Bogor. Berdasarkan hasil perhitungan dapat dilihat pada
Tabel 12.
Tabel 12. Persepsi Pegawai Fungsional Terhadap Kualifikasi dalam
Pengembangan Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor
No
1
2
3
4
5
6
Indikator kualifikasi
Jawaban responden
STS
TS
S
SS
Skor
rataan
Ket.
Pengembangan karir di KPP
Pratama Bogor sudah
memperhatikan latar belakang
pendidikan pegawai khusus
fungsional.
0
3
12
0
2.80
Setuju
Kualifikasi keahlian saya telah
sesuai dengan syarat
pengembangan karir yang
tertera di DJP.
0
2
13
0
2.87
Setuju
0
3
12
0
2.80
Setuju
0
8
7
0
2.47
Setuju
0
8
7
0
2.47
Setuju
0
5
10
0
2.67
Setuju
2.68
Setuju
Saya yakin pengembangan karir
pegawai fungsional di KPP
Pratama Bogor sesuai dengan
kualifikasi keahlian yang
dibutuhkan dalam suatu
pekerjaan fungsional.
Saya yakin bahwa kebijakan
penempatan (mutasi/rotasi) di
DJP telah sesuai dengan prinsip
“the right man on the right
place in the right time”
Saya merasa adanya standard
kompetensi pegawai fungsional
dalam pengembangan karir di
KPP Pratama Bogor sudah
sangat baik dan pantas.
Kualifikasi kemampuan setiap
individu untuk jabatan
fungsional di KPP Pratama
Bogor telah sesuai dengan
standard jabatan yang telah
ditetapkan
Total
Tabel 12 menunjukkan bahwa masing-masing indikator kualifikasi
tergolong baik, dengan nilai skor rataan keseluruhan bernilai 2.68. Terlihat dari
persepsi pegawai yang berada pada rentang setuju pada masing-masing indikator
berdasarkan jawaban kuesioner responden yang menunjukkan bahwa indikator
56
kualifikasi telah dilaksanakan dengan baik pada pegawai fungsional Kantor
Pelayanan Pajak Pratama
4.4.
Bogor.
Pemetaan (mapping) Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Bogor
Pegawai fungsional KPP Pratama Bogor memiliki pangkat dan jabatan
yang berbeda sesuai dengan tingkatan masing-masing. Pencapaian pangkat secara
berurutan dan penempatan jabatan sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam
divisi fungsional dapat dilihat pada Lampiran 10.
Perubahan pangkat pegawai fungsional diikuti perubahan jabatan yang
didudukinya dapat dilihat pada Lampiran 10. Perubahan jabatan yang terjadi tidak
selalu meningkat atau menurun sesuai dengan penempatan pegawai fungsional di
jenis Kantor Pelayanan Pajak di setiap daerah. Di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama biasa jenjang karier dan peringkatnya lebih rendah daripada di Kantor
Pelayanan Pajak Medium Text Officer (MTO) yang memiliki standar peringkat
penetapan jabatan yang lebih tinggi. Peringkat yang memiliki standar tertinggi
adalah pada Kantor Pelayanan Pajak di Large Text Officer (LTO). Pegawai
fungsional yang mengikuti mutasi ke daerah jenis KPP tersebut akan mengalami
penyesuaian untuk pangkat yang dimiliki terhadap jabatan yang akan diduduki.
Peningkatan pangkat dan jabatan pegawai fungsional berbeda pada setiap
pegawai, hal ini disesuaikan juga dengan usia pegawai yang bervariasi. Pegawai
fungsional yang lebih senior ataupun yang memiliki usia lebih tua memiliki
pencapaian karir yang lebih banyak dibandingkan dengan pegawai yang masih
junior atau muda. Namun fakta tersebut tidak selalu berlaku bagi setiap pegawai
baik yang sudah tua maupun yang muda. Seperti pegawai yang akan akan
dibandingkan menurut usia dan lamanya bekerja terhadap jenjang karier yang
dicapainya. Pegawai 15 (P15) adalah pegawai yang paling senior dan memiliki
usia yang lebih tua dibandingkan pegawai fungsional lainnya. Jenjang karier yang
dijalaninya selama bekerja sudah tercatat panjang. Dimulai dari pangkat di IIb
dengan jabatan pelaksana di divisi struktural pada usia 23 tahun sampai IVc
dengan jabatan pemeriksa pajak madya pada usia 58 tahun. Urutan pencapaian
jabatan dapat dilihat pada Lampiran 10.
57
Berbeda dengan Pegawai 9 (P9) yang saat ini sudah berusia 52 tahun.
Pencapaian karirnya hanya beranjak dari golongan IId dengan jabatan pelaksana
sampai golongan IIIa dengan jabatan pemeriksa pajak lanjutan di divisi
fungsional. Pencapaian pangkat yang dicapai hingga 8 tahun yang jauh melewati
standar kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil yaitu 4 tahun sekali. Dari hasil
wawancara dalam penelitian ini diketahui yang menjadi kendala untuk pencapaian
karier yang dinginkan adalah masalah prosedur angka kredit yang rumit dan
kebijakan mutasi yang menyebabkan angka kredit yang sudah dicapai sebelumnya
terbengkalai. Pegawai fungsional I adalah pegawai yang pencapaian jenjang
karirnya lambat dan banyak kendala. Hal yang berbeda lagi ditemukan pada
Pegawai 7 (P7) yang memiliki jenjang karier yang panjang yaitu di usia 20 tahun
mendapatkan pangkat IIa pada jabatan pelaksana di struktural kemudian di usia 38
tahun mencapai golongan IIIb pada jabatan pemeriksa pajak lanjutan Pegawai 7
(P7) adalah pegawai yang memiliki jenjang karier yang cepat dan tepat waktu.
Pegawai fungsional tidak secara umum memiliki latar belakang pendidikan
yang sudah mencapai lulusan tingkat pendidikan tinggi dan mendapatkan
golongan atau pangkat di golongan dua. Seperti halnya Pegawai 3 (P3) yang
menduduki pangkat pertama di golongan Ib pada usia 17 tahun sebagai operator
console dengan lulusan SMA sampai mencapai golongan IIId dengan jabatan
supervisor di usia 56 tahun. Dengan pendidikan formal yang diterima saat
program masa belajar serta pendidikan dan pelatihan yang di selenggarakan
Direktorat Jenderal Pajak membantu dalam menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam melaksanakan tugas di divisi fungsional. Hasil pencapaian
karir pegawai fungsional ditentukan oleh aturan yang ditetapkan serta bagaimana
penilaian terhadap prestasi kerja yang dicapai pegawai. Kinerja seorang pegawai
akan menentukan bagaimana pencapaian karir yang dimiliki. Angka kredit yang
menjadi aturan yang harus dipenuhi oleh pegawai fungsional sebagai bentuk
penilaian kinerja.
4.5.
Pengaruh Penilaian Kinerja Terhadap Pengembangan Karir Pegawai
Fungsional Melalui Analisis Path Modelling Partial Least Square
Path Modelling Partial Least Square dalam penelitian ini digunakan untuk
mengetahui besarnya pengaruh, menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar
58
variabel laten (endogen dan eksogen), menganalisis konstruk yang dibentuk
indikator reflektif, serta signifikan atau tidaknya faktor-faktor penilaian kinerja
terhadap pengembangan karir. Analisis Path Modelling Partial Least Square juga
dapat menentukan bobot (weight) masing-masing indikator yang membentuk
faktor-faktor penilaian kinerja dan loading factor yaitu indikator yang
mencerminkan faktor-faktor penilaian kinerja dan pengembangan karir pegawai
fungsional. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan bantuan software
SmarthPLH 2.0, diperoleh model yang menggambarkan faktor-faktor penilaian
kinerja terhadap pengembangan karir pegawai fungsional. Model PLS yang
digunakan untuk mengetahui pengaruh setiap indikator dapat dilihat pada Gambar
5. Pada tahap ini loading indicator setiap variabel belum ditentukan. Variabelvariabel indikator yang merefleksikan konstruk faktor-faktor penilaian kinerja
telihat dalam Tabel 13. Setiap variabel berisi pernyataan yang merefleksikan
konstuk pada kinerja.
Gambar 5. Model Path Modelling Partial Least Square
Variabel-variabel indikator reflektif yang mencerminkan pengembangan
karir setelah dipengaruhi oleh faktor-faktor penilaian kinerja dapat dilihat pada
Tabel 14. Setiap varibel berisi pernyataan yang mewakili setiap konstruk
pengembangan karir yang dipengaruhi penilaian kinerja yaitu kompetensi dan
kualifikasi. Menjadi petunjuk bagi responden dalam menetukan persepsi terhadap
pengaruh penilaian kinerja terhadap pengembangan karir pegawai fungsional di
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor.
59
Tabel 13. Variabel-variabel reflektif yang mencerminkan faktor-faktor
penilaian kinerja
Konstruk
Indikator
PGTHN1
PGTHN2
Pengetahuan
PGTHN3
PGTHN4
PGTHN5
KTRMPLN1
Keterampilan
KTRMPLN2
KTRMPLN3
KTRMPLN4
KTRMPLN5
KTRMPLN6
MTVS1
MTVS2
Motivasi
MTVS3
MTVS4
MTVS5
PRN1
PRN2
PRN3
Peran
PRN4
PRN5
PRN6
Keterangan
Latar belakang pendidikan membantu menyelesaikan
pekerjaan.
Bimbingan dari atasan membantu menyelesaikan pekerjaan
fungsional.
Pelatihan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahaun dalam
bekerja.
Kerjasama tim memberi pengetahuan tentang pekerjaan.
Evaluasi kinerja dapat memperbaiki pengetahuan dan
wawasan.
Menemukan ide baru dalam menyelesaikan tugas dan
pekerjaan dengan efektif dan efektif.
Pekerjaan baru dapat menambah keterampilan.
Kreativitas ide diterima dan diakui.
Mutasi kerja dapat meningkatkan keterampilan dalam bekerja.
Kegiatan kunjungan menambah keterampilan saya dalam
menjalankan tugas.
Mengerjakan tugas-tugas secara teliti, akurat, dan tepat waktu
sehingga mencapai hasil yang diharapkan.
Pendapatan memotivasi untuk bekerja lebih baik.
Atasan menghargai hasil kerja sehingga termotivasi untuk
bekerja lebih baik.
Promosi jabatan memotivasi untuk berkinerjaa lebih baik.
Posisi/jabatan memotivasi untuk bekerja dengan baik.
Sistem penilaian kinerja memotivasi saya untuk
meningkatkan prestasi kerja.
Memanfaatkan kompetensi untuk meningkatkan kinerja.
Peran berpengaruh dalam meningkatkan kinerja kelompok.
Kerjasama untuk meningkatkan hubungan kerja yang positif
dan kolaboratif.
Peran sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja
organisasi.
Menawarkan bantuan kepada rekan kerja untuk tujuan dan
sasaran departemen/divisi.
Mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan
pribadi dalam melaksanakan pekerjaan.
Pernyataan yang terdapat pada Tabel 14 mencerminkan pelaksanaan dan
penerapan kompetensi dan kualifikasi sebagai dasar pengembangan karir pegawai
fungsional Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor. Kompetensi dan
kualifikasi menjadi standar atau tolak ukur pengembangan karir di divisi
fungsional yang harus dipenuhi oleh setiap pegawai dan penerapannya wajib.
60
Tabel 14. Varabel-variabel reflektif yang mencerminkan pengembangan
karir
Konstruk
Indikator
KOMPT1
KOMPT2
KOMPT3
Kompetensi
KOMPT4
KOMPT5
KOMPT6
KUALIF1
KOMPT2
KOMPT3
Kualifikasi
KOMPT4
KOMPT5
KOMPT6
4.5.1
Keterangan
Pengembangan karir memperhatikan pengetahuan/kompetensi
sesuai pekerjaan divisi fungsional.
Pengembangan karir memperhatikan kesesuaian keterampilan
dan keahlian pegawai fungsional terhadap pekerjaan.
Pengembangan karir mengoptimalkan potensi psikologis
pegawai fungsional.
Pelatihan meningkatkan kemampuan/kompetensi sebagai dasar
pengembangan karir.
Pengembangan karir memperhatikan prestasi kerja pegawai
sesuai pemenuhan angka kredit.
Pengembangan karir memacu peningkatan kompetensi masingmasing pegawai.
Pengembangan karir memperhatikan latar belakang pendidikan
pegawai khusus fungsional.
Kualifikasi keahlian sesuai syarat pengembangan karir yang
tertera di DJP.
Pengembangan karir sesuai dengan kualifikasi keahlian yang
dibutuhkan dalam suatu pekerjaan fungsional.
Kebijakan penempatan di DJP telah sesuai dengan prinsip “the
right man on the right place in the right time”
Standar kompetensi pengembangan karir sudah baik dan pantas.
Kualifikasi kemampuan setiap individu untuk jabatab
fungsional sesuai dengan standar jabatan yang telah ditetapkan
Uji validitas dan reliabilitas Model
Model PLS yang digunakan dalam penelitian ini adalah model reflektif.
Pengujian validitas dan reliabilitas dalam model reflektif dilakukan dalam tiga
pengujian, yaitu convergent validity, discriminant validity, dan composite
reliability. Convergent validity dari model pengukuran reflektif indikator dinilai
berdasarkan korelasi antara item score/component score dengan construct score
yang dihitung dengan PLS. Ukuran reflektif dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih
dari 0,70 dengan kontruk yang ingin diukur. Namun untuk penelitian tahap awal
dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai 0,60 dianggap
cukup (Chin dalam Ghozali). Penelitian ini menggunakan ukuran reflektif 0,50
karena termasuk penelitian tahap awal. Model pengukuran awal dapat dilihat pada
Gambar 6. Berdasarkan gambar diketahui masih terdapat nilai loading factor
yang berada di bawah 0,50. Agar dapat memenuhi nilai covergent validity loading
factor yang berada dibawah 0,50 di drop atau dihilangkan kemudian dirun
kembali atau diestimasi ulang sampai semua nilai loading factor berada di atas
0,50.
61
Gambar 6 . Output grafis SmartPLS (sebelum estimasi ulang)
Pada faktor penilaian kinerja dilakukan tiga kali estimasi ulang dan indikatorindikator yang dihilangkan secara berturut-turut adalah ktrmp 5 sebesar 0,134;
pgthn 5 sebesar 0,406; mtvs 3 sebesar 0,456. Untuk pengembangan karier
dilakukan tiga kali estimasi ulang dan indikator tersebut adalah kompt 5 sebesar
0,389; kualif 2 sebesar 0,399 dan kompt 3 sebesar 0,487. Setelah diestimasi dan
nilai loading factor masing-masing di atas 0,50 maka convergent validity telah
terpenuhi. Model setelah estimasi ulang dapat dilihat pada Gambar 7 dan hasil
outer loading dapat dilihat pada Lampiran 4.
Gambar 7. Uutput grafis SmartPLS (setelah estimasi ulang)
Setelah syarat convergent validity terpenuhi selanjutnya menguji
discriminant validity. Discriminat validity dari model pengukuran dengan reflektif
indikator dinilai berdasarkan crossloading pengukuran dengan konstruk. Jika
korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk
lainnya, maka hal ini menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran
62
pada blok mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya. (Ghozali, 2008).
Tabel crossloading pada penelitian ini dapa dilihat pada Lampiran 5.
Berdasarkan tabel crossloading terlihat bahwa korelasi konstruk pgthn
(pengetahuan) dengan indikator pgthn 1, pgthn 2, pgthn 3, pgthn 4 lebih tinggi
dibandingkan korelasi antara indikator tersebut dengan konstruk lainnya. Korelasi
konstruk ktrmp (keterampilan) dengan indikator ktrmp 1, ktrmp 2, ktrmp 3, ktrmp
4, ktrmp 6 lebih tinggi dibandingkan korelasi antara indikator tersebut dengan
konstruk lainnya. Korelasi konstruk mtvs (motivasi) dengan indikator mtvs1,
mtvs2,mtvs4 dan mtvs5 lebih tinggi dibandingkan korelasi antara indikator
tersebut dengan konstruk lainnya. Korelasi prn (peran) dengan indikator prn1,
prn2, prn3, prn4, prn5 dan prn6 lebih tinggi dibandingkan korelasi antara
indikator tersebut dengan konstruk lainnya. Indikator kinerja yang memiliki
pengaruh yang lebih besar terhadap pengembangan karier adalah indikator
motivasi sebesar 0.675. Hal ini manjelaskan bahwa pegawai fungsional dalam
mencapai keberhasilan kariernya sangat dipengaruhi oleh motivasi yang diberikan
dari instansi. Pendapatan (reward), penghargaan atas hasil kerja, promosi jabatan,
posisi yang dimiliki saat ini dan sistem penilaian yang dapat memotivasi pegawai
untuk semakin meningkatkan kinerja yang dimiliki. Indikator pengembangan
karier yang paling besar pengaruhnya secara umum adalah pada kompetensi 4
yaitu
pelatihan
meningkatkan
kemampuan/kompetensi
sebagai
dasar
pengembangan karir dan kualifikasi 5, standar kompetensi pengembangan karir
sudah baik dan pantas sebesar 0.758 dan 0.712. Nilai tersebut dapat menjelaskan
bahwa pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensi
pegawai fungsional dan standar kompetensi pegawai fungsional dalam
pemgembangan karir sudah baik dan pantas.
Metode lain yang dapat digunakan untuk melihat discriminant validity
adalah dengan membandingkan nilai square root of average variance exracted
(AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya
dalam model. Jika nilai akar kuadrat AVE setiap konstruk lebih besar
dibandingkan nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya, maka dapat
dikatakan memiliki nilai discriminat validity yang baik (Formell dan Lrcker
dalam Ghozali). Berdasarkan tabel nilai akar AVE yang tertera pada Lampiran 6,
63
dapat disimpulkan bahwa nilai akar AVE dari konstruk karir, pengetahuan,
keterampilan, motivasi dan peran lebih besar dibandingkan nilai korelasi antara
faktor-faktor penilaian kinerja (pengetahuan, keterampilan, motivasi dan peran)
dengan karir. Jadi semua konstruk dalam model telah memenuhi discriminant
validity.
Uji reliabilitas konstruk dalam PLS dilakukan dengan dua kriteria yaitu
composite reliability dan Cronbach alpha dari blok indikator yang mengukur
konstruk. Konstruk dinyatakan reliabel jika nilai composite reliability maupun
Cronbach alpha di atas 0,70 dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil uji reliabilitas
konstruk dapat dilihat pada lampiran. Seluruh konstruk, yaitu karir, pengetahuan,
keterampilan, motivasi dan peran telah memenuhi dua kriteria composite
reliability maupun cronbach alpha diatas 0,70. Artinya, masing-masing konstruk
reflektif memiliki reliabilitas yang baik. Setelah model memenuhi asumsi
convergent validity, dicriminant validity, validitas konstruk, dan reliabilitas
konstruk, maka model dapat dianalisis dan diinterpretasikan.
4.5.2
1.
Indikator-Indikator yang Mencerminkan Faktor-Faktor Penilaian
Kinerja
Pengetahuan
Setelah dilakukan estimasi ulang
untuk menghilangkan nilai loading
factor yang masih di bawah 0,50 agar dapat memenuhi nilai convergent
validit , loading factor harus berada di bawah 0,50 didrop atau dihilangkan.
Untuk indikator pengetahuan dilakukan sekali estimasi ulang dan indikator
yang dihilangkan adalah PGTHN 5 sebesar 0,406. Setelah diestimasi dan nilai
loading factornya masing-masing di atas 0,50 maka convergent validity telah
terpenuhi. Model untuk pengetahuan setelah diestimasi ulang dapat dilihat
pada Gambar 8.
Pada Tabel 15, terlihat bahwa loading indikator
pengetahuan paling besar adalah PGTHN 4 sebesar 0,924 dengan t-value
50,822318. Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan.
Artinya, bekerjasama dengan rekan lain sangat membantu untuk lebih
mengetahui seluk beluk pekerjaan di divisi fungsional. Sedangkan nilai
loading indicator yang paling rendah adalah PGTHN 1 sebesar 0,583 dengan
t-value 4,94366.
64
Gambar 8. Output grafis SmartPLS pengetahuan
Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan. Artinya
latar belakang pendidikan yang dimiliki pegawai fungsional tidak terlalu
berpengaruh bagi pegawai dalam melaksanakan pekerjaan. Hal ini disebabkan
karena kemampuan yang dimiliki pegawai fungsional dari pendidikan formal
yang diterima tidak selalu sesuai dengan bidang pekerjaan yang ada di divisi
fungsional. Keahlian dan pengetahuan yang dimiliki pegawai fungsional,
dalam melaksanakan pekerjaan umumnya, diterima dari pendidikan dan
pelatihan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Tabel 15. Nilai outer loading faktor pengetahuan
Outer Model
PENGETAHUAN 1
PENGETAHUAN 2
PENGETAHUAN 3
PENGETAHUAN 4
2.
Loading
0,583
0,860
0,863
0,924
t-value
4,943661
21,944196
13,719424
50,822318
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Keterampilan
Pada Gambar 9 diketahui bahwa tidak ada lagi indikator keterampilan
yang memiliki nilai loading factor dibawah 0,50. Estimasi ulang telah
dilakukan untuk menghilangkan nilai loading factor yang berada di bawah
0,50. Untuk indikator keterampilan dilakukan sekali estimasi ulang dan
indikator tersebut adalah KTRMP 5 sebesar 0,134. Setelah diestimasi dan
nilai loading factornya masing-masing di atas 0,50 maka convergent validity
telah terpenuhi.
Dalam Tabel 16, dapat dilihat bahwa loading indicator keterampilan yang
paling besar adalah KTRMP 3 sebesar 0,883 dengan t-value 10,011390. Hal
ini menunjukkan adanya korelasi positif dan signifikan. Artinya, kreatifitas
ide yang diusulkan dapat diterima dan diakui oleh rekan di divisi fungsional.
Sedangkan loading indikator yang paling rendah adalah KTRMP 2 sebesar
0,590 dengan t-value 5,634303.
65
Gambar 9. Output grafis SmartPLS keterampilan
Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan. Artinya,
pekerjaan baru selain pekerjaan rutin yang diberikan bagi pegawai fungsional
tidak terlalu berpengaruh dalam menambah keterampilan pegawai fungsional
dalam melaksanakan pekerjaan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor.
Keterampilan yang lebih praktis mereka dapatkan cenderung berasal dari
pelatihan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Tabel 16. Nilai outer loading faktor keterampilan
Outer Model
KETERAMPILAN 1
KETERAMPILAN 2
KETERAMPILAN 3
KETERAMPILAN 4
KETERAMPILAN 6
3.
Loading
0,837
0,590
0,883
0,694
0,740
t-value
6,727897
5,634303
10,011390
5,210821
8,707295
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Motivasi
Setelah dilakukan estimasi ulang
untuk menghilangkan nilai loading
factoryang masih di bawah 0,50 agar dapat memenuhi nilai convergent
validity, maka loading factor berada di bawah 0,50 didrop atau dihilangkan.
Untuk indikator motivasi dilakukan sekali estimasi ulang dan indikator yang
dihilangkan adalah indikator MTVS 3 sebesar 0,456. Setelah diestimasi dan
nilai loading factornya di atas 0,50, maka convergent validity telah terpenuhi.
Model untuk keterampilan setelah diestimasi ulang dapat dilihat pada Gambar
10. Pada Tabel 17, memperlihatkan bahwa loading indikator motivasi yang
paling besar adalah MTVS 2 sebesar 0,810 dengan t-value 11,258401. Hal ini
menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan. Artinya,
penghargaan dari atasan atas hasil kerja dapat memotivasi pegawai untuk
bekerja lebih baik. Sedangkan loading indikator yang paling rendah adalah
MTVS 5 sebesar 0,553 dengan t-value 3,588831.
66
Gambar 10. Output grafis SmartPLS motivasi
Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan korelasi yang positif dan
signifikan. Artinya, penilaian kinerja yang dilakukan di divisi fungsional
belum maksimal dalam memotivasi pegawai untuk meningkatkan prestasi
kerja. Hal ini dapat disebabkan dalam penilaian kinerja yang dilakukan bagi
pegawai fungsional belum sesuai dengan prosedur yang baik dan benar yang
terkadang menyulitkan pegawai sendiri.
Tabel 17. Nilai outer indikator faktor motivasi
Outer Model
MOTIVASI 1
MOTIVASI 2
MOTIVASI 4
MOTIVASI 5
4.
Loading
0,712
0,810
0,827
0,553
t-value
7,502326
11,258401
22,607633
3,588831
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Peran
Pada Gambar 11 diketahui bahwa tidak ada lagi indikator yang memiliki
nilai loading factor di bawah 0,50. Estimasi ulang telah dilakukan untuk
menghilangkan nilai loading factor yang berada di bawah 0,50. Untuk
indikator peran tidak dilakukan estimasi ulang karena semua nilai loading
indikatornya sudah di atas 0.50 dan sudah memenuhi convergent validity.
Model untuk peran setelah dilakukan estimasi ulang dapat dilihat pada
Gambar 11. Dari tabel 18 dapat dilihat bahwa loading indikator peran paling
besar adalah indikator PRN 2 sebesar 0,934 dengan t-value 20,609549. Hal
ini menunjukkan adanya korelasi positif dan signifikan, artinya, semakin
besar peran pegawai fungsional akan berpengaruh dalam meningkatkan
kinerja pegawai. Sedangkan loading indikator yang paling rendah adalah
PRN 5 sebesar 0,700 dengan t-value sebesar
12,467842. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya korelasi positif dan signifikan.
67
Gambar 11. Output grafis SmartPLS peran
Artinya, penawaran bantuan kepada rekan kerja untuk mendukung tujuan
dan sasaran divisi fungsional tidak terlalu berpengaruh dalam meningkatkan
kinerja pegawai fungsional.
Tabel 18. Nilai outer loading faktor peran
Outer
Model
PERAN 1
PERAN 2
PERAN 3
PERAN 4
PERAN 5
PERAN 6
4.5.3
1.
Loading
t-value
0,700
0,934
0,740
0,895
0,704
0,740
12,467842
20,609549
9,739047
37,000855
5,792716
9,739047
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Indikator-indikator yang Mencerminkan Pengembangan Karir
Kompetensi
Pengembangan karir memiliki dua indikator besar yaitu kompetensi dan
kualifikasi. Pada indikator kompetensi setelah dilakukan diestimasi ulang
untuk menghilangkan nilai loading factor yang masih di bawah 0,50 dapat
memenuhi nilai convergent validity, loading factor berada di bawah 0,50
didrop atau dihilangkan. Untuk indikator kompetensi dilakukan dua kali
estimasi ulang dan indikator yang dihilangkan adalah indikator KOMPT 5
sebesar 0,389 dan KOMPT 3 sebesar 0,487. Setelah diestimasi dan nilai
loading factornya di atas 0,50 maka convergent validity telah terpenuhi.
Model untuk keterampilan setelah diestimasi ulang dapat dilihat pada Gambar
12.
Berdasarkan Tabel 19 dapat dilihat bahwa loading indikator kompetensi
paling besar adalah indikator KOMPT 4 sebesar 0,758 dengan t-value
9,727650. Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan.
Artinya, pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan kompetensi sebagai
68
dasar pegembangan karir pegawai. Pelatihan dan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah suatu program yang
membantu pegawai untuk menambah kompetensi dan cara kerja yang sesuai
dengan aturan di divisi fungsional. Pengetahuan dan pengalaman yang
diberikan lewat pendidikan dan pelatihan akan membantu pegawai dalam
meningkatkan kinerja dan memperbaiki pencapaian prestasi kerja pegawai
fungsional. Sedangkan loading indikator kompetensi paling rendah adalah
KOMPT 1 sebesar 0,581 dan t-value 2,785807. Hal ini menunjukkan bahwa
adanya korelasi positif dan signifikan. Artinya, proses pengembangan karir
pegawai
fungsional
belum
secara
optimal
memperhatikan
pengetahuan/kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan di divisi fungsional
sehingga indikator ini kurang memberikan kontribusi dalam pengembangan
karir.
Gambar 12. Output grafis SmartPLS kompetensi
Tabel 19. Nilai outer loading faktor kompetensi
Outer model
KOMPETENSI 1
KOMPETENSI 2
KOMPETENSI 4
KOMPETENSI 6
Loading
0,581
0,584
0,758
0,751
t-value
2,785807
3,068838
9,727650
5,267897
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
2. Kualifikasi
Berdasarkan Gambar 13 diketahui bahwa tidak ada lagi indikator yang
memiliki nilai loading factor di bawah 0,50. Estimasi ulang telah dilakukan
untuk menghilangkan nilai loading factor yang berada di bawah 0,50. Untuk
indikator kualifikasi dilakukan sekali estimasi ulang dan indikator tersebut
adalah KUALIF 2 sebesar 0,399.
Setelah diestimasi dan
nilai loading
69
factornya di atas 0,50 maka convergent validity telah terpenuhi. Model
untuk keterampilan setelah diestimasi ulang dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13.Output grafis SmartPLS kualifikasi
Pada Tabel 20, dapat dilihat bahwa loading indikator untuk kompetensi
yang paling besar adalah KUALIF 5 sebesar 0,712 dengan t-value 9,979246.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan. Artinya,
bahwa standar kompetensi pegawai fungsional dalam pengembangan karir
sudah baik dan pantas. Aturan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak
untuk kriteria kompetensi yang dimiliki oleh peagawai fungsional sesuai
dengan kebutuhan pekerjaan yang ada di divisi fungsional. Sedangkan
loading indikator yang paling rendah adalah KUALIF 6 sebesar 0,557 dengan
t-value sebesar 5,141336. Hal ini menunjukkan bahwa adanya korelasi positif
dan signifikan. Artinya, kualifikasi kemampuan setiap individu untuk jabatan
fungsional belum sesuai secara optimal dengan standar jabatan yang telah
ditetapkan. Dalam proses penentuan kemampuan pegawai terkadang tidak
konsisten dengan apa yang ditetapkan dalam standar jabatan. Hal ini dapat
menyebabkan pengembangan karir pegawai yang tidak sesuai dengan aturan
waktu yang diinginkan.
Tabel 20. Nilai outer loading faktor kualifikasi
Outer model
KUALIFIKASI 1
KUALIFIKASI 3
KUALIFIKASI 4
KUALIFIKASI 5
KUALIFIKASI 6
4.5.4
Loading
0,612
0,612
0,559
0,712
0,557
t-value
4,102333
4,102333
4,283637
9,979246
5,141336
Interpretasi
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh Faktor-faktor Penilaian Kinerja Terhadap Pengembangan
Karir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh, arah
hubungan, serta signifikan atau tidaknya faktor-faktor penilaian kinerja terhadap
70
pengembangan karir. Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui besarnya pengaruh
faktor pengetahuan terhadap pengembangan karier sebesar 0,246. Nilai yang
positif ini menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara faktor
pengetahuan terhadap pengembangan karir, artinya semakin tinggi pengetahuan
yang dimiliki pegawai fungsional maka akan berpengaruh baik terhadap penilaian
kinerja yang dimiliki yang menjadi dasar untuk pengembangan karir pegawai.
Nilai t-value pengetahuan sebesar 2,227594, artinya pengetahuan berpengaruh
signifikan terhadap pengembangan karir. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-value
yang lebih besar dari ttabel (ttabel signifikan selang 5% = 1,96) sehingga dapat
disimpulkan bahwa kejujuran berpengaruh positif dan signifikan terhadap
pengembangan karir pegawai fungsional.
Besarnya pengaruh faktor keterampilan terhadap pengembangan karir
sebesar -0,158, yang dapat diinterpretasikan bahwa faktor keterampilan memiliki
hubungan yang negatif terhadap pengembangan karir pegawai fungsional.
Artinya, keterampilan yang semakin meningkat berakibat pengembangan karir
akan menurun. Keterampilan dalam hal ini tidak begitu dibutuhkan pegwai
fungsional karena keterampilan lebih dibutuhkan pada pekerjaan struktural.
Pegawai fungsional lebih mengutamakan keunggulan dalam pengetahuan dan
keahlian untuk berkinerja lebih baik sehingga meningkatkan karirnya. Nilai tvalue untuk faktor keterampilan adalah sebesar 0,773185. Angka tersebut
menunjukkan bahwa faktor keterampilan berpengaruh signifikan terhadap
pengembangan karir karena nilai t-valuenya lebih besar dari ttabel. Jadi dapat
disimpulkan bahwa faktor keterampilan berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap pengembangan karir.
Faktor motivasi memiliki pengaruh terhadap pengembangan karir sebesar
0,676. Hal ini menunjukkan adanya arah hubungan yang positif antara motivasi
terhadap pengembangan karier pegawai, artinya semakin besar motivasi yang
dimiliki pegawai maka akan semakin meningkatkan pengembangan karir
pegawai fungsional. Nilai t-value motivasi terhadap pengembangan karir pegawai
diketahui sebesar 6,307248. Nilai ini menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh
signifikan terhadap pengembangan karir, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa
71
motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan karir
pegawai.
Tabel 21. Nilai Koefisien dan t-value faktor-faktor penilaian kinerja
terhadap pengembangan karir
Konstruk
KTRPLN->KARIER
MTV->KARIER
PGTHN->KARIER
PRN->KARIER
Koefisien
-O,158
0,676
0,246
0,288
t-value
0,773185
6,307248
2,227594
1,206727
Interpretasi
Pengaruh negatif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Pengaruh positif dan signifikan
Faktor peran memiliki pengaruh terhadap pengembangan karir sebesar
0,288. Hal ini menunjukkan adanya arah hubungan positif antara faktor peran
terhadap pengembangan karir pegawai. Semakin besar peran yang dimiliki oleh
pegawai fungsional dalam melaksanakan pekerjaan akan semakin meningkatkan
karier pegawai fungsional. Nilai t-value peran terhadap pengembangan karir
sebesar 0,288. Nilai ini menunjukkan bahwa peran berpengaruh signifikan
terhadap pengembangan karir, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa peran
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan karir pegawai.
Model pengaruh faktor-faktor penilaian kinerja terhadap pengembangan
karir pegawai memiliki nilai R-square sebesar 0,763596 berarti model regresi
memiliki tingkat goodness-fit yang baik. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa
variabilitas konstruk dapat dijelaskan oleh variabilitas konstruk pengembangan
karir adalah sebesar 76,3596 persen, sedangkan sisanya atau 23,6404 persen
dijelaskan oleh variabel lain diluar model ini. Nilai R-square dapat dilihat pada
Lampiran 8 dan tabel path coefficient dapat dilihat pada Lampiran 9.
4.6.
Analisis Faktor Penghambat Karir Pegawai Fungsional Menggunakan
Fishbone Analysis dan Force Field Analysis
Selain menggunakan analisis kuantitatif, uji analisis faktor penghambat
karir pegawai fungsional menggunakan analisis kualitatif melalui alat analisis
Fishbone Analysis dan Force Field Analysis. Dari kedua alat analisis tersebut
dapat diidentifikasi apa yang menjadi faktor-faktor penghambat dan pemicu
pengembangan karir pegawai fungsional.
4.6.1 Analisis Penghambat Pengembangan Karir Melalui Fishbone Analysis
Penyebab timbulnya permasalahan pada lamanya pengembangan karir
bagi sebagian besar pegawai fungsional, dapat diketahui jenis penyebab yang
72
paling dominan dengan menggunakan Diagram Fishbone (Diagram SebabAkibat). Diagram fishbone adalah alat yang paling efektif untuk mencari faktorfaktor penyebab masalah yang mempengaruhi kualitas suatu hasil dari suatu
proses. Untuk memperoleh informasi dari penyebab masalah tersebut, maka
digunakan beberapa faktor umum sebagai suatu sebab-akibat yaitu :
1. Angka kredit
Angka kredit adalah nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai
butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh Pemeriksa Pajak dan digunakan
sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat/jabatan.
Jika ditinjau dari faktor angka kredit, yang menyebabkan terhambatnya
pengembangan karir yang dirasakan oleh pegawai fungsional KPP Pratama
Bogor adalah rumitnya proses yang harus dilakukan dalam pemenuhan angka
kredit. Birokrasi dan kriteria kinerja yang tidak jelas yang menyebabkan
sulitnya pencapaian kinerja sebagai syarat pengisian angka kredit. Banyaknya
peraturan dan penilaian yang tidak sesuai dengan beban kerja yang telah
diselesaikan. Ada banyak pekerjaan yang telah terselesaikan oleh pegawai
namun penilaiannya berbeda pada saat pengisian angka kredit. Selain dari
kedua sebab itu proses yang lama juga menjadi masalah yang sangat
mengganggu dalam memenuhi persyaratan dan kriteria pengeisian angka kredit
yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
2. Prosedur
Dari segi prosedur, tidak berbeda halnya dengan angka kredit dimana masalah
kerumitan proses dalam memenuhi syarat untuk kenaikan pangkat atau jabatan
pegawai fungsional. Proses yang berbelit-belit dan terkadang tidak sesuai
dengan standar dan aturan yang telah
ditentukan. Prosedur yang tidak
mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu proses maupun tahap yang berjalan
untuk peningkatan karir terkadang tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan
oleh Direktorat Jenderal Pajak yang berhubungan dengan banyaknya peraturan
dan penilaian yang tidak sesuai dengan beban kerja yang telah diselesaikan
Penetapan bobot pada setiap kinerja juga tidak sesuai dengan proporsi
pelaksanaannya. Misalnya pemberian bobot untuk pekerjaan pemerikasaan
lebih tinggi dari pada bobot pada pekerjaan meneliti SPT Wajib Pajak.
73
3. Kebijakan
Penilaian kinerja pegawai fungsional dan penetapan angka kredit yang akan
berpengaruh pada peningkatan pangkat dan jabatan pegawai ditentukan dan
diatur oleh kebijakan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Kebijakan
yang ditetapkan utnuk angka kredit tidak objektif dirasakan para pegawai
fungsional di KPP Pratama Bogor. Penetapan bobot angka pada setiap unsur
kerja tidak sesuai dengan pelaksanaan kinerja yang telah dilakukan. Selain itu,
pendidikan formal yang dimiliki oleh pegawai fungsional tidak diakui oleh
Direktorat Jenderal Pajak. Penyesuaian gelar yang diterima dari pendidikan
tertentu tidak dapat dilakukan penyetaraan terhadap jenjang pangkat dan
jabatan di divisi fungsional.
4. Waktu
Jika ditinjau dari segi waktu, yang menyebabkan terhambatnya kelancaran
pengembangan karir pegawai fungsional KPP Pratama Bogor adalah proses
untuk kenaikan pangkat yang dipengaruhi oleh pemenuhan angka kredit yang
lama, dimana waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi bobot angka kredit
pada setiap kegiatan cukup lama untuk penyesuaian kenaikan pangkat. Selain
itu, penentuan standar dan waktu yang tidak jelas dan pasti untuk penilaian
kinerja pegawai fungsional.
5. Mutasi
Pegawai fungsional KPP Pratama Bogor memiliki jadwal untuk pindah tempat
kerja sesuai dengan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Jika
ditinjau dari faktor mutasi, yang menyebabkan terhambatnya pengembangan
karir pegawai adalah angka kredit yang terbengkalai, dimana pencapaian angka
kredit di tempat kerja yang lama tidak berlaku pengakumulasian
untuk
pencapaian angka kredit di tempat yang baru. Pegawai harus memulai dari
awal untuk pemenuhan angka kredit selanjutnya di tempat yang baru. Selain
itu, juga dapat disebabkan kesulitan penyesuaian pangkat di tempat baru,
dimana pangkat dan jabatan yang tinggi yang dicapai di tempat kerja yang
lama tidak berlaku ditempat baru. Pangkat dan jabatan harus disesuaikan
dengan penyusunan kedudukan jabatan menurut tingkatan pangkat oleh setiap
pegawai yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang baru. Artinya,
74
pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor memiliki kemungkinan perubahan
jabatan di KPP Pratama lain menjadi seksi pelaksana atau yang lainnya sesuai
pangkat/golongan yang ada.
Angka kredit
Prosedur
Angka kredit terbengkalai
akibat mutasi
Prosedur yang
terkadang tidak
mengikuti aturan
Banyaknya peraturan dan
penilaian yang tidak sesuai
dengan beban kerja
Kebijakan angka kredit
yang tidak objektif
Proses yang lama
Proses administrasi karier
yang harus diikuti rumit
Standar pangkat &
jabatan yang lebih
tinggi di temapat
kerja baru saat
mutasi
Pengembangan
karier
terhambat
Pendidikan formal
pegawai yang
tidak diakui DJP
Administrasi
kenaikan jabatan
yang lama
Penyesuaian pangkat
di tempat baru yang
kompleks
Kebijakan
Penetuan standard
dan waktu kenaikan
pangkat/jabatan yang
tidak jelasdan pasti
Waktu
Gambar 14.Diagram Fishbone Penghambat Pengembangan Karir
4.6.2 Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat Pengembangan Karir
Pegawai Fungsional Menggunakan Force Field Analysis
Force Field Analysis (Analisis Kekuatan Medan) adalah analisis yang
dapat digunakan untuk mengetahui pemicu dan penghambat suatu keputusan.
Tahapan analisis Force Field (Analisis Kekuatan Medan) sebagai berikut:
1. Menentukan semua faktor pendorong yang merupakan potensi dalam
pengembangan karir.
2. Menentukan semua faktor penghambat yang merupakan permasalahan dalam
pengembangan karir.
3. Memberikan nilai setiap faktor pendorong dan faktor penghambat untuk
menunjukkan sebarapa besar kekuatannya terhadap pengembangan karier.
Adapun matriks analisis Kekuatan Medan dapat dilihat pada Gambar 15. Terdapat
dua kekuatan yang mempengaruhi strategi pengembangan karir diantaranya
adalah penghambat dan pemicu dari stategi tersebut.
75
Kekuatan
Kekuatan
Strategi
Pengembangan
Karir
Gambar 15. Matriks Force Field Analysis
1. Potensi (Faktor Pendorong) Pengembangan Karir
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil (PNS) No.16 Tahun 1994 Bab I pasal 1 ayat
1 menyatakan bahwa jabatan fungsional PNS adalah kedudukan yang
menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang Pegawai
Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya
didasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.
Jabatan
Fungsional
Pemeriksa
Pajak
menurut
Keputusan
Menteri
Pendayagunaan dan Aparatur Negara tentang Jabatan Fungsional Pemeriksa
Pajak dan Angka Kreditnya No.31/Kep/M.Pan/3/2003 pasal 2 adalah jabatan
karir yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil. Pegawai
fungsional memiliki jenjang karir yang jelas dan membantu mereka untuk
dapat menentukan kemana arah atau tujuan dari kinerja yang dilakukan.
Tingkatan pangkat dan jabatan yang
ada pada jabatan fungsional
memungkinkan seorang pegawai dapat mencapai tingkat (level) yang ingin
dituju dalam karir untuk mencapai kepuasan dalam kinerjanya. Tunjangan
pegawai fungsional yang telah diatur sangat memotivasi dan mendorong
pegawai untuk berkinerja dengan baik serta berusaha mencapai pangkat yang
lebih tinggi. Pendapatan/penghasilan ataupun reward yang diterima dapat
menjamin kesejahteraan pegawai dengan baik sesuai dengan pangkat dan
posisi yang dimiliki pegawai fungsional KPP Pratama Bogor yang dapat
mendukung kinerja yang lebih baik.
Kebijakan instansi untuk menjadi instansi yang berintegritas memberikan
dampak bagi pegawai fungsional KPP Pratama Bogor untuk berkinerja lebih
76
baik dan berusaha untuk mencapai karir atau pangkat/jabatan yang lebih
tinggi lagi. Integritas yang dimiliki oleh sebuah instansi mampu memberikan
suasana kompetisi sehat antar pegawai fungsional untuk lebih maju sehingga
berdampak baik pada pencapaian tujuan perusahaan. Fasilitas yang
disediakan di KPP Pratama Bogor untuk mendukung pekerjaan di divisi
fungsional memberikan pengaruh terhadap keinginan pegawai untuk
melaksanakan pekerjaan dengan optimal. Hal tersebut akan mendorong para
pegawai fungsional agar terpacu untuk mencapai kinerja lebih baik yang
berpengaruh pada hasil penilaian kinerja yang baik untuk kemajuan atau
peningkatan pangkat atau jabatan masing-masing. Untuk pencapaian karir
yang lebih baik tentunya seorang pegawai tidak dapat bekerja sendiri untuk
mencapai hal tersebut. Komitmen tim untuk bekerjasama secara profesional
dalam melaksanakan pekerjaan memberikan dampak psikologis yang baik
bagi pegawai dalam mencapai jenjang karir yang lebih baik.
2. Permasalahan (Faktor Penghambat) Pengembangan Karir
Secara keseluruhan pegawai fungsional KPP Pratama Bogor memiliki
jenjang karir dan mengalami peningkatan pangkat dan jabatan. Namun dalam
proses pencapaian karir tidak jarang terjadi kesulitan dan hambatan yang
dialami untuk mencapai proses tersebut. Bagi sebagian pegawai fungsional di
Direktorat Jenderal Pajak, pengembangan karir yang dijalani sesuai dengan
target yang diinginkan namun tidak berlaku bagi sebagian pegawai yang lain.
Diantara banyaknya faktor pendukung pengembangan karir pegawai
fungsional ada banyak masalah atau penghambat dan menjadi keluhan
pegawai fungsional dalam mencapai karirnya. Angka kredit, yang
menyebabkan terhambatnya pengembangan karir yang dirasakan oleh
pegawai fungsional KPP Pratama Bogor adalah rumitnya proses yang harus
dilakukan dalam pemenuhan angka kredit. Birokrasi dan kriteria kinerja yang
tidak jelas yang menyebabkan sulitnya pencapaian kinerja sebagai syarat
pengisian angka kredit. Banyaknya peraturan dan penilaian yang tidak sesuai
dengan beban kerja yang telah diselesaikan. Ada banyak pekerjaan yang telah
terselesaikan oleh pegawai namun penilaiannya berbeda pada saat pengisian
angka kredit. Selain itu proses yang lama juga menjadi masalah sehingg
77
sangat mengganggu dalam memenuhi persyaratan dan kriteria pengisian
angka kredit yang telah ditetapkan. Proses yang berbelit-belit dan terkadang
tidak sesuai dengan standar dan aturan yang telah ditentukan. Prosedur yang
tidak mengikuti standar yaitu proses maupun tahap yang berjalan untuk
peningkatan karir terkadang tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan.
Kebijakan yang ditetapkan untuk angka kredit tidak objektif dirasakan
para pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor. Penetapan bobot angka
pada setiap unsur kerja tidak sesuai dengan pelaksanaan kinerja yang telah
dilakukan. Selain itu, pendidikan formal yang dimiliki oleh pegawai
fungsional tidak diakui oleh Direktorat Jenderal Pajak. Penyesuaian gelar
yang diterima dari pendidikan tertentu tidak dapat dilakukan penyetaraan
terhadap jenjang pangkat dan jabatan di divisi fungsional. Waktu yang
dibutuhkan untuk memenuhi bobot angka kredit pada setiap kegiatan cukup
lama untuk penyesuaian kenaikan pangkat. Selain penentuan standar dan
waktu yang tidak jelas dan pasti untuk penilaian kinerja pegawai fungsional
juga jadi masalah. Adanya program mutasi atau pemindahan tempat kerja
menyebabkan pencapaian angka kredit di tempat kerja yang lama tidak
berlaku pengakumulasian untuk pencapaian angka kredit di tempat yang
baru. Pegawai harus memulai dari awal untuk pemenuhan angka kredit di
tempat yang baru. Selain itu terdapat kesulitan penyesuaian pangkat di tempat
baru, dimana pangkat dan jabatan yang tinggi yang dicapai di tempat kerja
yang lama tidak berlaku ditempat baru. Pangkat dan jabatan harus disesuaikan
dengan penyusunan kedudukan jabatan menurut tingkatan pangkat oleh setiap
pegawai yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang baru. Artinya,
pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor memiliki kemungkinan perubahan
jabatan di KPP Pratama lain menjadi seksi pelaksana atau yang lainnya sesuai
pangkat/golongan yang ada.
Menggunakan alat analisis ini akan diketahui seberapa kuat faktor
pendorong atau faktor penghambat mempengaruhi pengembangan karir.
Semua kekuatan yang mendukung adanya perubahan kemudian ditulis dalam
kolom sebelah kiri, sementara semua kekuatan penghambat di tulis dalam
kolom sebelah kanan. Kekuatan pendorong dan penghambat ini harus dipilah
78
menurut
tema
yang
sama,
kemudian
diberi
skor
sesuai
dengan
kepentingannya masing-masing. Mulai dari skor satu (lemah), hingga skor
lima (kuat). Dari uraian diatas pengelompokan faktor pendorong dan faktor
penghambat pengembangan karir dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Faktor pendukung dan faktor penghambat pengembangan
karir pegawai fungsional KPP Pratama Bogor
Faktor pendukung
1. Sarana/prasarana memadai yang
disediakan untuk mendukung pekerjaan
di divisi fungsional..
Faktor pengehambat
1. Penyesuaian pangkat/jabatan yang tidak
sama di tempat kerja baru dan tidak adanya
pengakuan angka kredit yang dicapai
ditempat kerja sebelumnya pada saat mutasi.
2. Komitmen tim untuk bekerja secara
profesional.
3. Jenjang karir yang jelas.
5. Komitmen Direktorat Jenderal Pajak
untuk menjadi instansi yang berintegritas.
2. Waktu untuk pemenuhan angka kredit yang
tidak jelas dan belum pasti.
3. Prosedur yang panjang pencapaian karier
yang tidak mengikuti aturan atau standar yang
ditetapkan.
4. Pendidikan formal yang dimiliki pegawai
fungsional diluar persetujuan masa belajar
DJP tidak diakui dalam angka kredit.
5. Kebijakan angka kredit yang kurang
objektif.
Faktor Pendukung
Faktor Penghambat
4. Pendapatan/reward yang diterima
mencukupi.
Berdasarkan Tabel 22 dapat dilihat bahwa faktor pendukung yang
memiliki kekuatan paling dominan yaitu sarana dan prasarana memadai yang
disediakan untuk mendukung pekerjaan di divisi fungsional KPP Pratama
Bogor.
Berarti
faktor
pendukung
ini
berpengaruh
untuk
memicu
pengembangan karir pegawai fungsional. Faktor di peringkat 1 berhubungan
erat dengan kelancaran dalam pelaksanaan tugas yang diberikan. Di peringkat
ke-2 terdapat komitmen tim untuk bekerja secara profesional. Faktor
pendukung ini membantu pegawai untuk melakukan tugas dan pekerjaan
secara tepat waktu dan berkualitas yang akan berdampak positif terhadap
penilaian kinerja. Jenjang karir yan jelas berada di peringkat ke-3, faktor
pendukung ini membantu pegawai fungsional dalam mengarahkan dan
merencanakan karir mereka sesuai dengan jenjang yang telah di tentukan.
Pada peringkat 4 yaitu pendapatan/reward yang diterima mencukupi, dimana
79
faktor ini berperan sebagai motivasi untuk menorong pegawai mencapai karir
setinggi-tingginya. Untuk pemberian peringkat kepentingan yang terakhir
adalah komitmen Direktorat Jenderal Pajak untuk menjadi instansi yang
berintegritas mendapat peringkat ke-5. Pengembangan karir pegawai
fungsional, faktor pendukung yang terakhir adalah sebagai pelengkap untuk
lebih memotivasi pegawai fungsional dalam berkinerja.
Pada faktor penghambat, penyesuaian pangkat/jabatan yang tidak sama
ditempat kerja baru dan tidak adanya pengakuan angka kredit yang dicapai di
tempat kerja senelumnya pada saat mutasi mendapat peringkat pertama atau
1, dimana dalam pelaksanaan kinerja pegawai fungsional memiliki jadwal
mutasi kerja ke Kantor Pelayanan Pajak lainnya. Untuk penyesuaian
pencapain angka kredit dan pangkat/jabatan tidak di akui di temapat kerja
baru karena sesuai dengan peraturan yang ada. Pada prioritas di peringkat ke2 terdapat faktor penghambat waktu untuk pemenuhan angka kredit yang
tidak jelas dan belum pasti. Posedur pencapaian karir yang tidak mengikuti
atuan atau standar yang ditetapkan mendapat peringkat ke-3. Faktor
penghambat ini sering menjadi kendala dalam proses memenuhi persyaratan
yang terkadang tidak sesuai dengan aturan dan standar sehingga menghambat
ketepatan waktu pegawai untuk mencapai karirnya. Peringkat ke-4 pada
faktor penghambat adalah pendidikan formal yang dimiliki oleh pegawai
fungsional yang tidak diakui dalam angka kredit. Seorang pegawai fungsional
yang memiliki latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak harus melakukan penyesuaian
terlebih dulu dengan pendidikan dan pelatihan yang diberikan atau
diselenggarakan oleh DJP. Kebijakan angka kredit yang kurang objektif
menjadi prioritas peringkat ke-5. Penentuan penilaian kinerja yang ditetapkan
terkadang tidak sesuai dengan beban kerja yang telah dikerjakan oleh seorang
pegawai fungsional.
3.
Strategi dan Rencana Aksi
Hasil analisis kekuatan medan yang telah dilakukan maka diperoleh
strategi dan rencana aksi untuk memperkuat faktor pendorong dan
memperlemah faktor penghambat dapat dilihat pada Tabel 23 dan Tabel 24.
80
Strategi dan rencana aksi dapat membantu pegawai fungsional untuk
mengatasi masalah yang dihadapi dalam pengembangan karir dan membantu
pihak manajemen untuk mengetahui bagaimana langkah yang dilakukan
untuk mengatasi masalah yang ada.
Tabel 23. Strategi dan
pendorong
Faktor Pendorong
1.Sarana/prasarana memadai
yang disediakan untuk
mendukung pekerjaan di divisi
fungsional
rencana
aksi
untuk
Strategi yang Dilakukan
Untuk Memperkuat Kekuatan
Pendorong
Pemenuhan kebutuhan fasilitas
komputerisasi.
2.Komitmen tim untuk bekerja
secara profesional
Mengadakan forum pegawai
fungsional yang dipandu oleh
ketua tim
3.Jenjang karir yang jelas
Penilaian kinerja yang rutin
dilakukan
4.Pendapatan/reward yang
diterima mencukupi
Secara kasat mata sudah
kelihatan sejahterah/layak
dalam kehidupan secara
umum.
Mengadakan acara/momen
kebersamaan dari instansi.
5.Komitmen Direktorat Jenderal
Pajak untuk menjadi instansi
yang berintegritas
memperkuat
faktor
Rencana Aksi
Menyediakan fasilitas
komputerisasi dari divisi
Subag. Umum dan supply dari
kantor pusat
Sering dilakukan acara
pertmuan antar pegawai
fungsional untuk bahas
permaslahan dan cari solusi.
Penilaian langsung ke bawah
artinya pimpinan menilai
bawahan langsung selama
melaksanakan tugas-tugas
rutin.
Kehidupan terjadwal dalam
keseharian dengan adanya
waktu untuk rekreasi atau
refresing keluar.
Membuat acara/kegiatan di luar
lingkungan kerja kantor
Tabel 24. Strategi dan rencana aksi untuk mengatasi faktor penghambat
Faktor Penghambat
1.Penyesuaian pangkat/jabatan
yang tidak sama di tempat kerja
baru dan tidak adanya
pengakuan angka kredit yang
dicapai ditempat kerja
sebelumnya pada saat
rotasi/mutasi kerja
2.Waktu untuk pemenuhan
angka kredit yang tidak jelas
3.Prosedur yang panjanguntuk
pencapaian karier yang tidak
mengikuti aturan atau standar
yang ditetapkan
4. Pendidikan formal yang
dimiliki pegawai fungsional
diluar persetujuan masa belajar
DJP tidak diakui dalam angka
kredit.
5.Kebijakan angka kredit yang
kurang objektif
Strategi
Yang Dilakukan
Untuk Melemahkan Kekuatan
Penghambat
Mengetahui bahwa setiap KPP
memiliki jenjang pangkat yang
lebih tinggi untuk suatu
jabatan tertentu.
Rencana Aksi
Pejabat yang berwenang untuk
memutasi pegawai
memperhatikan pangkat dan
jabatan pegawai yang akan
dimutasi agar setara dengan
tingatan pangkat di tempat
kerja yang baru.
Bagi pegawai dan penilai lebih
cermat dalam penelusuran
penilaian dan angka kredit.
Mengevaluasi diri pegawai
fungsional untuk peninjauan
pencapaian karir.
Penilai lebih aktif dan
bersungguh-sungguh dalam
mengawas dan menilai kinerja.
Memperbaiki cara dan sikap
dalam berkinerja.
Mengetahui latar belakang
pendidikan
apa
diakui
Direktorat Jenderal Pajak
untuk
pemenuhan
angka
kredit.
Mengajukan peninjauan ulang
atas penilaian yang sudah
diberikan.
Mengikuti pendidikan dan
pelatihan yang diselenggarakan
oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Memberikan masukan kepada
ketua tim terkait penilaian
kinerja. .
81
4.7.
Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka yang menjadi
implikasi manajerial adalah sebagai berikut:
1.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Partial Least Square dapat
diketahui bahwa indikator penilaian kinerja yang memiliki pengaruh besar
terhadap pengembangan karir pegawai fungsional adalah motivasi. Motivasi
yang diberikan kepada pegawai baik secara langsung maupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan karir pegawai fungsional.
Dimana semakin meningkatnya penghargaan yang diberikan oleh atasan
kepada pegawai fungsional akan mendorong pegawai untuk mencapai
prestasi kerja yang lebih baik lagi. Indikator pengembangan karir kualifikasi
dan kompetensi sudah diterapkan dengan baik di divisi fungsional. Standar
kompetensi pegawai fungsional dalam pegembangan karir KPP Pratama
Bogor sudah sangat baik dan pantas sehingga hal tersebut dapat mendorong
pegawai untuk mencapai karir yang lebih baik dengan kompetensi yang
mereka miliki. Pada indikator kompetensi, KPP Pratama Bogor dan
Direktorat Jenderal Pajak memberikan pendidikan dan pelatihan yang lebih
baik untuk meningkatkan kompetensi/kemampuan yang sesuai dengan
dengan syarat yang ditentukan dan sebagai dasar untuk pengembangan karir.
2.
Faktor-faktor yang menyebabkan terhambatnya pengembangan karir pegawai
fungsional yang dianalisis menggunakan Fishbone adalah
angka kredit,
prosedur, waktu, dan kebijakan. Diperlukan masukan/saran implementatif
dari pihak Direktorat Jenderal Pajak dan pegawai fungsional itu sendiri
sebagai solusi untuk dapat mengatasi penyebab tersebut. Misalnya pada
angka kredit, dapat diberikan pemahaman bagi pegawai fungsional
bagaimana cara pemenuhan angka kredit dengan melakukan pekerjaan yang
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan melaksanakannya dengan
tepat waktu.
3.
Melalui analisis kekuatan medan (Force Field Analysis) diketahui bahwa
yang menjadi faktor pendorong pengembangan karir pegawai fungsional
adalah sarana dan prasarana memadai yang disediakan untuk mendukung
pekerjaan di divisi fungsional. Hal ini didukung dengan pemenuhan
82
kebutuhan fasilitas komputerisasi yang dapat di supply dari sub bagian umum
dan kantor pusat. Faktor penghambat pengembangan karir adalah
penyesuaian pangkat dan jabatan yang belum sama kebijakannya di tempat
kerja baru dan belum sepenuhnya terdapat pengakuan angka kredit yang
dicapai di tempat kerja sebelumnya pada saat rotasi/mutasi kerja. Tindakan
yang dapat dilakukan untuk mengatasi adalah dengan mengetahui bahwa
setiap Kantor Pelayanan Pajak memiliki jenjang pangkat yang berbeda
bahkan lebih tinggi sesuai dengan jenis Kantor Pelayanan Pajak untuk suatu
jabatan tertentu, maka perlu dilakukan penyesuaian dan sosialisasi
dahulu.
terlebih
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Penilaian kinerja pegawai fungsional pada KPP Pratama Bogor berdasarkan
persepsi pegawai secara umum tergolong baik. Persepsi pegawai terhadap
pengetahuan, keterampilan, motivasi dan peran sudah dilaksanakan dengan
baik oleh pegawai Fungsional KPP Pratama Bogor.
2.
Pengembangan karir berdasarkan persepsi pegawai tergolong dalam kategori
baik. Kompetensi dan kualifikasi dalam pengembangan karir sudah
dilaksanakan dengan baik di divisi fungsional KPP Pratama Bogor.
3.
Secara
garis
besar
penilaian
kinerja
berpengaruh
positif
terhadap
pengembangan karir. Motivasi merupakan bagian dari penilaian kinerja yang
paling berpengaruh.
4.
Faktor-faktor penghambat pengembangan karir adalah klasifikasi angka
kredit, prosedur, waktu, dan kebijaksanaan. Faktor pemicu/pendorong yang
paling kuat untuk pengembangan karir adalah sarana/prasarana memadai
yang disediakan untuk mendukung pekerjaan di divisi fungsional. Faktor
penghambat yang paling kuat untuk pengembangan karir adalah penyesuaian
pangkat/jabatan tidak sama di tempat kerja baru dan tidak adanya pengakuan
angka kredit yang dicapai di tempat kerja sebelumnya pada saat mutasi/rotasi.
84
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diajukan saran-saran dalam rangka
peningatan kinerja dan pengembangan karir sebagai berikut:
1.
KPP Pratama Bogor dan Direktorat Jenderal Pajak sebaiknya lebih
meningkatkan motivasi pegawai fungsional dalam melaksanakan kinerja
untuk peningkatan karir. Dapat dilakukan dengan cara mamberikan
penghargaan yang baik dari atasan atas kinerja yang telah dicapai.
2.
KPP Pratama Bogor sebaiknya meningkatkan pendidikan dan pelatihan yang
diberikan
kepada
pegawai
fungsional
serta
memperbaiki
atau
mempertahankan kualifikasi/standar kompetensi dalam pengembangan karir.
Dapat dilakukan dengan menambah pendidikan dan pelatihan yang diberikan
kepada pegawai fungsional.
3.
Pegawai fungsional sebaiknya memperbaiki kinerja dan mengevaluasi diri
serta memperhatikan aturan dalam penilaian kinerja dan pengembangan karir
di divisi fungsional.
4.
Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan sejenis terkait pengaruh penilaian
kinerja terhadap pengembangan karir pada pegawai struktural Kantor
Pelayanan Pajak yang sama atau lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, L.A. and Berger, D.R. 2008 Best Practices on Talent Management. PPM,
Jakarta.
Ghozali, I. 2008. Metode Alternatif dengan Partial Least Square. Universitas
Diponegoro, Semarang.
Handoko, H. 2003. Keunggulan Kompetitif Melalui Manajemen Sumber Daya
Manusia dalam Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia.
Amara Books, Yogyakarta.
Hutapea, P. dan N.Toha. 2008. Kompetensi Plus Teori, Desain, dan Penerapan
untuk HR dan Organisasi yang Dinamis. PT.Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Mangkunegara, A.P. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia. PT Refika Aditama, Bandung.
Mangkuprawira, S. dan A.S Hubeis. 2007. Manajemen Mutu Sumber Daya
Manusia. Ghalia Indonesia, Bogor.
Marliani, D. 2011. Analisis Program Pengembangan Karir Melalui Talent
Management pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Skripsi
pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Oktavianto, R.M. 2010 Pengaruh Pengembangan Karir Terhadap Peningkatan
Kinerja Karyawan (Studi Kasus PT XYZ Bogor). Skripsi pada Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Palan, R. 2003. Competency Management.PPM, Jakarta.
Prihadi, F.S. 2004. Asesment Center (Identifikasi, Pengukuran, dan Kompetensi).
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Puspitasari, D.E. 2009 Analisis Pengaruh Pengembangan Karier Berbasis
Kompetensi dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai (Studi Kasus Institut
Pertanian Bogor). Skripsi pada Departemen Manajemen, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Peranian Bogor, Bogor.
Rivai,V.(2009) Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: Dari Teori
ke Praktik. PT Raja Grafindo, Jakarta.
86
Samsudin, S. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. CV Pustaka Setia,
Bandung.
Sumarwan, U. 2004. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran. Ghalia Indonesia. Bogor.
Wibowo, 2008. Manajemen Kinerja. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Force Field Analysis. http://www.mindtools.com/pages/article/newTED_06.htm.
[27 Februari 2012]
http://irwansst.blogspot.com/2011/11/analisis-fishbone-ishikawa-diagram.html.
[11 April 2012]
Jusuf, Y dan F. Rauf. 2011. Studi Pengusulan Hutan Desa di Desa Bonto Marannu
Kecamatan
Ulu
Ere
Kabupaten
Banteng
.http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/723/STUDI%20
PENGUSULAN%20HUTAN%20DESA%20DI%20DESA%20BONTO%
20MARANNU%20KECAMATAN%20ULU%20ERE%20KABUPATEN
%20BANTAENG.pdf [24 Maret 2012]
LAMPIRAN
88
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN
PENILAIAN KINERJA PEGAWAI FUNGSIONAL DAN PENGEMBANGAN
KARIER BERBASIS KOMPETENSI PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK (KPP)
PRATAMA BOGOR
Kepada Yth
Bapak/Ibu
Di divisi fungsional Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bogor
Dengan hormat, penyusunan skripsi dalam rangka memenuhi syarat untuk menyelesaikan program
sarjana (S1) pada Institut Pertanian Bogor memerlukan data-data dan informasi yang mendukung penelitian
ini. Demi tercapainya tujuan penelitian maka saya memohon kesediaan dari Bapak/Ibu/Saudara untuk
mengisi angket atau daftar pertanyaan yang telah disediakan (terlampir berikut ini). Atas kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara, yang telah meluangkan waktunya untuk mengisi angket penelitian ini, saya mengucapkan
banyak terimakasih dan mohon maaf apabila ada pertanyaan yang tidak berkenan di hati Bapak/Ibu/Saudara.
Hormat saya
VIVIN LIAN HUTAJULU
H24080040
I.
1.
2.
3.
4.
IDENTITAS RESPONDEN
Nama
Jenis Kelamin
Jabatan terakhir
Nama atasan langsung
:
:
:
:
Berilah tanda silang (x) pada jawaban yang sesuai.
1. Apakah tingkat pendidikan terakhir Anda?
a. SMA atau sederajat
d. S1,bidang.............
b. D1
e. S2,bidang.............
c. D3,bidang............
f. Lainnya, sebutkan.....
2. Apakah status pernikahan Anda?
a. Menikah
b. Belum Menikah c. Duda / Janda
3. Berapakah pendapatan total rata-rata Anda perbulan? (All-in yang diterima dari DJP)
+/- Rp…………………….....
4. Berapa usia Anda saat ini? ………...tahun
Petunjuk Pengisian
:
Berilah tanda silang (X) pada kotak jawaban yang Anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
Keterangan :
SS
: Sangat Setuju
S
: Setuju
TS
: Tidak Setuju
STS
: Sangat Tidak Setuju
89
Lanjutan Lampiran 1
II.
No
1
2
3
4
5
No
1
2
3
4
5
6
No
1
2
3
4
5
No
1
2
3
4
5
6
FAKTOR – FAKTOR KINERJA (Rivai, 2005)
A. PENGETAHUAN
Pertanyaan
Latar belakang pendidikan yang saya miliki sangat membantu dalam
menyelesaikan pekerjaan saya.
Bimbingan dari atasan, membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan
saya selaku fungsional di KPP Pratama Bogor.
Pelatihan yang selama ini diberikan selalu bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan saya dalam pekerjaan.
Bekerjasama dengan rekan lain (kerjasama tim) sangat membantu saya
untuk lebih mengetahui seluk beluk pekerjaan saya.
Hasil evaluasi kinerja membuat saya bersemangat untuk memperbaiki
pengetahuan dan wawasan saya untuk lebih baik lagi dalam bekerja
B. KETERAMPILAN
Pertanyaan
Saya selalu dapat menemukan ide baru dalam menyelesaikan tugas dan
pekerjaan dengan efektif dan efisien
Pekerjaan yang baru selain pekerjaan rutin yang diberikan dapat
menambah keterampilan saya.
Selama ini Kreatifitas ide yang saya usulkan dapat diterima dan diakui
oleh rekan saya di divisi fungsional.
Mutasi kerja dapat meningkatkan keterampilan saya dalam bekerja.
Kegiatan kunjungan dalam rangka dinas /tugas ke cabang lain
menambah keterampilan saya dalam menjalankan tugas.
Saya selalu dapat menyelesaikan tugas – tugas secara teliti, akurat, dan
tepat waktu sehingga mencapai hasil yang diharapkan.
C. MOTIVASI
Pertanyaan
Pendapatan yang saya terima sangat memotivasi saya untuk bekerja
lebih baik.
Atasan menghargai hasil kerja saya sehingga saya sangat termotivasi
untuk bekerja lebih baik.
Program promosi jabatan yang dilaksanakan di tempat kerja sangat
memotivasi saya untuk berkinerja lebih baik.
Posisi/jabatan saya saat ini sangat memotivasi saya untuk bekerja
dengan baik.
Sistem penilaian kinerja yang telah diterapkan sangat memotivasi saya
untuk meningkatkan prestasi kerja.
D. PERAN
Pertanyaan
Saya mampu memanfaatkan kompetensi yang saya miliki untuk
meningkatkan kinerja diri saya di DJP
Peran saya sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja kelompok.
Bekerja sama dengan rekan kerja sangat penting bagi saya untuk
meningkatkan hubungan kerja yang positif dan kolaboratif.
Peran saya sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja organisasi.
Saya selalu menawarkan bantuan kepada rekan kerja untuk mendukung
tujuan dan sasaran departemen/divisi fungsional.
Saya sangat setuju untuk mengutamakan kepentingan kelompok di atas
kepentingan pribadi dalam melaksanakan pekerjaan.
STS
TS
S
SS
STS
TS
S
SS
STS
TS
S
SS
STS
TS
S
SS
90
Lanjutan Lampiran 1
III.
No
1
2
3
4
5
6
N
o
1
2
3
4
5
6
FAKTOR – FAKTOR PENGEMBANGAN KARIR (Samsudin, 2006)
A. KOMPETENSI
Pertanyaan
Pengembangan karier di KPP Pratama Bogor sudah memperhatikan
pengetahuan/kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan di divisi
fungsional.
Pengembangan karir pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor (DJP)
sudah memperhatikan kesesuaian keterampilan dan keahlian pegawai
fungsional terhadap pekerjaan.
Pengembangan karir pegawai fungsional KPP Pratama Bogor (DJP)
sudah mengoptimalkan potensi psikologis pegawai fungsional.
KPP Pratama Bogor telah memberikan pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan/kompetensi yang dibutuhkan sebagai dasar pengembangan
karir khusus pegawai fungsional.
Pengembangan karir pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor sudah
memperhatikan prestasi kerja pegawai sesuai dengan pemenuhan angka
kredit.
Pengembangan karir pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor sangat
berguna untuk memacu peningkatan kompetensi masing-masing
pegawai.
B. KUALIFIKASI
Pertanyaan
STS
TS
S
SS
STS
TS
S
SS
Pengembangan karir di KPP Pratama Bogor sudah memperhatikan latar
belakang pendidikan pegawai khusus fungsional.
Kualifikasi keahlian saya telah sesuai dengan syarat pengembangan karir
yang tertera di DJP.
Saya yakin pengembangan karir pegawai fungsional di KPP Pratama Bogor
sesuai dengan kualifikasi keahlian yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan
fungsional.
Saya yakin bahwa kebijakan penempatan (mutasi/rotasi) di DJP telah
sesuai dengan prinsip ―the right man on the right place in the right time‖
Saya merasa adanya standar kompetensi pegawai fungsional dalam
pengembangan karir di KPP Pratama Bogor sudah sangat baik dan pantas.
Kualifikasi kemampuan setiap individu untuk jabatan fungsional di KPP
Pratama Bogor telah sesuai dengan standar jabatan yang telah ditetapkan.
 Menurut Bapak/Ibu apa saja yang menjadi pemicu/pendorong peningkatan karir Anda di divisi fungsional
DJP:
1.
...........................................................................
2. ...........................................................................
3. ...........................................................................
4. ...........................................................................
5. ...........................................................................
 Menurut Bapak/Ibu apa saja yang menjadi penghambat peningkatan karir Anda di divisi fungsional DJP:
1. ...........................................................................
2. ...........................................................................
3. ...........................................................................
4. ...........................................................................
5. ...........................................................................
 Menurut Bapak/Ibu apa saja yang menjadi masukan terhadap penilaian kinerja fungsional yang selama ini
berjalan di DJP:
1. ..........................................................................
2. .........................................................................
3. .........................................................................
4. ..........................................................................
5. ..........................................................................
-Terima Kasih Atas Bantuan dan Kerja Samanya-
91
Lampiran 2. Karakteristik Umum Pegawai Fungsional Bedasarkan Jenis
Kelamin, Pendidikan, Status, daan Pendapatan
Nomor
responden
Pegawai 1
Pegawai 2
Pegawai 3
Pegawai 4
Pegawai 5
Pegawai 6
Pegawai 7
Pegawai 8
Pegawai 9
Pegawai 10
Pegawai 11
Pegawai 12
Pegawai 13
Pegawai 14
Pegawai 15
Jenis
kelamin
LK
LK
PR
LK
LK
LK
LK
PR
LK
LK
LK
PR
PR
LK
LK
Pendidikan
Status
Pendapatan
SMA
D3
S2
S1
S1
S1
S1
S1
D3
D3
D1
S2
D3
S1
D3
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Menikah
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.5.000.000-10.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.15.000.001-20.000.000
Rp.5.000.000—10.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.15.000.001-20.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.5.000.000-10.000.000
Rp.5.000.000-10.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Rp.10.000.001-15.000.000
Lampiran 3. Karakteristik Umum Pegawai Fungsional Berdasarkan Usia,
Pangkat, Jabatan dan Masa Kerja
Nomor
responden
Pegawai 1
Pegawai 2
Pegawai 3
Pegawai 4
Pegawai 5
Pegawai 6
Pegawai 7
Pegawai 8
Pegawai 9
Pegawai 10
Pegawai 11
Pegawai 12
Pegawai 13
Pegawai 14
Pegawai 15
Usia (tahun)
Pangkat
Jabatan
Masa kerja
51-60
31-40
41-50
31-40
51-60
31-40
31-40
41-50
31-40
25-30
31-40
51-60
31-40
31-40
51-60
IIIa-IIId
IIa-IId
IIIa-IIId
IIIa-IIId
IVa-IVc
IIIa-IIId
IIIa-IIId
IVa-IVc
IIIa-IIId
IIa-IId
IIa-IId
IVa-IVc
IIIa-IIId
IIIa-IIId
IIIa-IIId
PP Madya
PP Pelaksana
PP Pertama
PP Pelaksana Lanjutan
PP Madya
P PBB Pertama
PP Pertama
PP Madya
PP Pelaksana Lanjutan
PP Pelaksana
PP Pelaksana
PP Madya
PP Pelaksana Lanjutan
PP pertama
PP Pelaksana Lanjutan
31-40
11-20
11-20
11-20
31-40
11-20
11-20
11-20
11-20
1-10
1-10
31-40
11-20
11-20
21-30
92
Lampiran 4. Hasil outer loading pengaruh penilaian kinerja terhadap
pengembangan karir
Outer Loadings
KARIER KTRPLN MTV
PGTHN
KOMPT1 0.581268
KOMPT2 0.584130
KOMPT4 0.757606
KOMPT6 0.750728
KTRMP1
0.836997
KTRMP2
0.590443
KTRMP3
0.883259
KTRMP4
0.694410
KTRMP6
0.739875
KUALIF1 0.611942
KUALIF3 0.611942
KUALIF4 0.559402
KUALIF5 0.711766
KUALIF6 0.557209
MTVS1
0.711815
MTVS2
0.810127
MTVS4
0.826599
MTVS5
0.552736
PGTHN1
0.582714
PGTHN2
0.860489
PGTHN3
0.862612
PGTHN4
0.923922
PRN1
PRN2
PRN3
PRN4
PRN5
PRN6
93
Lampiran 5. Hasil cross loading pengaruh peniaian kinerja terhadap
pengembangan karir
Cross Loadings
KARIER KTRPLN MTV
PGTHN PRN
KOMPT1 0.581268 0.611542 0.504483 0.502402 0.280355
KOMPT2 0.584130 0.476524 0.546780 0.137182 0.510049
KOMPT4 0.757606 0.429496 0.810127 0.509044 0.410335
KOMPT6 0.750728 0.520871 0.485687 0.445585 0.491981
KTRMP1 0.398049 0.836997 0.207401 0.355785 0.660212
KTRMP2 0.228925 0.590443 0.275111 0.259900 0.427327
KTRMP3 0.634043 0.883259 0.681370 0.493299 0.789279
KTRMP4 0.215566 0.694410 0.128309 0.380279 0.338157
KTRMP6 0.221967 0.739875 0.292152 0.232094 0.623751
KUALIF1 0.611942 0.379798 0.408916 0.221828 0.408480
KUALIF3 0.611942 0.379798 0.408916 0.221828 0.408480
KUALIF4 0.559402 -0.072376 0.262554 0.325186 0.032908
KUALIF5 0.711766 0.150083 0.646750 0.375174 0.249948
KUALIF6 0.557209 0.034687 0.432085 0.458393 0.103107
MTVS1
0.580863 0.492969 0.711815 0.091136 0.326348
MTVS2
0.757606 0.429496 0.810127 0.509044 0.410335
MTVS4
0.655316 0.215297 0.826599 0.382503 0.090823
MTVS5
0.310396 0.373774 0.552736 0.304636 0.502368
PGTHN1 0.173166 0.004071 -0.063739 0.582714 0.084060
PGTHN2 0.531864 0.197816 0.424498 0.860489 0.087140
PGTHN3 0.463537 0.579939 0.321613 0.862612 0.318764
PGTHN4 0.554556 0.603416 0.538348 0.923922 0.489738
PRN1
0.197041 0.528610 -0.140320 0.237564 0.702784
PRN2
0.580901 0.747075 0.449239 0.309823 0.933924
PRN3
0.031593 0.725108 -0.000487 0.174315 0.739768
PRN4
0.477880 0.748287 0.398935 0.380931 0.895482
PRN5
0.348998 0.510446 0.436992 0.108216 0.704249
PRN6
0.031593 0.725108 -0.000487 0.174315 0.739768
94
Lampiran 6. Nilai AVE untuk discriminant validity
AVE
AVE
Akar AVE
KARIER 0.410623 0.640798
KTRPLN 0.571790 0.756167
MTV
0.537942 0.733445
PGTHN
0.669432 0.818188
PRN
0.626415 0.791463
Total Effects
KARIER KTRPLN MTV PGTHN
KARIER
KTRPLN -0.157618
MTV
0.675385
PGTHN
0.245848
PRN
0.287632
Lampiran 7. Nilai composite reliability
Composite Reliability
Composite Reliability
KARIER 0.860746
KTRPLN 0.867558
MTV
0.819959
PGTHN
0.887499
PRN
0.908442
95
Lampiran 8. Nilai R - square
R Square
R Square
KARIER 0.763596
KTRPLN
MTV
PGTHN
PRN
Lampiran 9. Nilai path coefisien penilaian kinerja tarhadap pengembangan
karir
Path Coefficients
KARIER
KARIER
KTRPLN -0.157618
MTV
0.675385
PGTHN
0.245848
PRN
0.287632
Lampiran 10 . Pemetaan (mapping) Karir Pegawai Fungsional Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor
Pegawai
fungsional
Masa
kerja
P1
16
P2
37
P3
39
P4
10
P5
16
Pemeriksa
pajak
pelaksana
P6
16
Pelaksana
P7
18
P8
16
P9
23
Usia saat
ini
(tahun)
Urutan pangkat dan golongan
Ib
Ic
Id
IIa
IIb
IIc
IId
IIIa
Pemeriksa
pajak
madya
IIIb
Pemeriksa
pajak
madya
4
Pemeriksa
pajak
pelaksana
Opr.
cons
ole
Opr.
cons
ole
2
pelaksa
na
4
pelaksana
4
pelaksana
Pemeriksa
pajak
pelaksana
5
4
Pelaksana
Pelaksana
4
Pemeriksa
pajak
pelaksana
4
4
pelaksana
Masabelaja
r
2
Struktural
4
4
7
Kord.lak
Pemeriksa
Pajak
Madya
4
Anggota
tim
4
IIId
Pemeriksa
pajak
madya
4
Struktural
Pemeriksa
pajak
pertama
IIIc
Pemeriksa
pajak
madya
Ketua tim
4
4
5
4
Pemeriksa
Pajak
Madya
Pemeriksa
Pajak
Madya
5
Anggota
tim
4
Supervisor
IVa
Pemeriksa
pajak
madya
4
4
Pemeriksa
Pajak
Madya
IVb
IVc
44
55
56
39
4
Pemeriksa
pajak
pelaksana
Pemeriksa
pajak
pelaksana
Account
representati
f
Pemeriksa
pajak
pertama
4
pelaksana
Jurusita
2
4
4
4
pelaksana 4 Pemeriksa
Pemeriksa
pajak
pajak
pelaksana
lanjutan
4
4
4
Kord.lak
Account
Pemeriksa
Pemeriksa
representati
pajak
pajak
f
pelaksana
lanjutan
42
4
pelaksana
4
pelaksana
4
4
Pemeriksa
pajak
pelaksana
4
37
38
4
Pemeriksa
pajak
pertama
34
Pemeriksa
pajak
lanjutan
52
4
pelaksana
8
96
Lanjutan Lampiran 10
Pegawai
fungsional
Masa
kerja
P10
9
P11
13
P12
4
pelaksana
P13
5
pelaksana
P14
16
Usia saat
ini
(tahun)
Urutan pangkat dan golongan
Ib
Ic
Id
IIa
IIb
IIc
pelaksana
IId
Bendahara
proyek
Kord.lak
4
Kord.lak
4
4
IIIb
IIIc
IIId
IVa
IVb
IVc
32
5
4
pelaksana
IIIa
Pemeriksa
pajak
lanjutan
Pemeriksa
pajak
pelaksana
34
5
Pemeriksa
pajak
pelaksana
28
Pemeriksa
pajak
pelaksana
37
5
pelaksana
Pemeriksa
pajak
pelaksana
4
P15
35
pelaksana
Pemeriksa
pajak
pelaksana
4
Juru sita
3
Pemeriksa
pajak
lanjutan
5
Pemeriksa
Pajak
lanjutan
4
37
4
4
Pelaksana
Penilai
PBB
pertama
Pemeriksa
Pajak
lanjutan
4
Pemeriksa
Pajak
lanjutan
4
Pemerika
Pajak
lanjutan
4
Pemerika
pajak
madya
4
Pemerika
pajak
madya
4
Pemeriks
a pajak
madya
58
3
Keterangan: * angka dalam kotak : jangka waktu yang ditempuh untuk peningkatan pangkat dan jabatan (tahun)
97
Download