6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TEORI MEDIS 1. Nifas a. Definisi

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TEORI MEDIS
1.
Nifas
a.
Definisi
Nifas atau Puerperium merupakan masa yang dimulai dari 1
jam setelah kelahiran plasenta hingga 42 hari atau 6 minggu setelah
itu (Saifuddin, 2011).
b.
Tahapan Masa Nifas
Menurut Sofian (2013) masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1) Puerperium
dini
merupakan
kepulihan
saat
ibu
telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam,
dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2) Puerperium intermediat merupakan pemulihan menyeluruh alatalat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3) Puerperium lanjut merupakan waktu yang diperlukan untuk
pulih dan kembali sehat sempurna, terutama jika selama hamil
atau sewaktu persalinan timbul komplikasi. Waktu untuk
mencapai kondisi sehat sempurna dapat berminggu-minggu,
bulanan, atau tahunan.
c.
Perubahan Fisiologis Masa Nifas
1) Vagina dan Ostium Vagina
6
7
Awal masa nifas, vagina dan ostiumnya membentuk
saluran yang berdinding halus dan lebar yang ukurannya
berkurang secara perlahan namun jarang kembali ke ukuran saat
nulipara. Rugae mulai muncul kembali pada minggu ketiga
namun tidak semenonjol sebelumnya. Himen tinggal berupa
potongan – potongan kecil sisa jaringan, yang membentuk
jaringan parut disebut Carunculae myrtiformes. Epitel vagina
mulai berpoliferasi pada minggu ke-4 sampai minggu ke-6,
biasanya bersamaan dengan kembalinya produksi estrogen
ovarium. Laserasi atau peregangan perineum selama pelahiran
dapat menyebabkan relaksasi ostium vagina (Cunningham,
2013).
2) Pembuluh Darah Uterus
Setelah pelahiran, diameternya berkurang kira- kira ke
ukuran sebelum kehamilan. Pada uterus puerperal, pembuluh
darah yang membesar menjadi tertutup oleh perubahan hialin,
secara perlahan terabsobsi kembali, kemudian digantikan oleh
yang lebih kecil. Akan tetapi sedikit sisa – sisa pembuluh darah
yang lebih besar tersebut tetap bertahan selama beberapa tahun (
Cunningham, 2013).
3) Lochea
Awal
masa
nifas,
peluruhan
jaringan
desidua
menyebabkan timbulnya duh vagina dalam jumlah yang
8
beragam. Duh tersebut dinamakan lochea dan terdiri dari
eritrosit, potongan jaringan desidua, sel epitel, dan bakteri
(Cunningham, 2013).
Menurut Rukiyah, dkk (2010) lochea mempunyai bau
amis (anyir), meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya
berbeda pada setiap wanita. Lochea juga mengalami perubahan
karena proses involusi. Lochea bertahan selama 4 sampai 8
minggu setelah pelahiran, pengeluaran lochea dapat dibagi
menjadi lochea rubra, lochea sanguinolenta, serosa dan alba.
Perbedaan masing- masing lochea dapat dilihat sebagai berikut :
a) Lochea Rubra (Cruenta)
Muncul pada hari 1-2 pascapersalinan, berwarna merah
mengandung darah dan sisa-sisa selaput ketuban, jaringan
dari desidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
b) Lochea Sanguinolenta
Muncul pada hari ke 3-7 pascapersalinan, berwarna merah
kuning dan berisi darah lendir.
c) Lochea Serosa
Muncul pada hari ke 7-14 pascapersalinan, berwarna
kecoklatan mengandung lebih banyak serum. Lebih sedikit
darah dan banyak serum, juga terdiri dari leokosit dan
robekan laserasi plasenta.
9
d) Lochea Alba
Lochea berwarna putih kekuningan mengandung leokosit,
selaput lendir serviks dan selaput jaringan yang mati,
muncul sejak 2-6 minggu pascapersalinan.
e) Lochea Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau
busuk.
f)
Lochiostatis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
Umumnya jumlah lochea lebih sedikit bila wanita
postpartum dalam posisi berbaring dari pada berdiri. Hal ini
terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat
wanita dalam posisi berbaring dan kemudian akan mengalir
keluar saat berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran lochea
sekitar 240 hingga 270 ml (Rukiyah, dkk., 2010).
4) Perubahan di Serviks dan Segmen Bawah Uterus
Selama persalinan, batas serviks bagian luar, yang
berhubungan dengan ostium externum biasanya mengalami
laserasi terutama di lateral. Pembukaan serviks berkontraksi
secara perlahan dan selama beberapa hari setelah persalinan
masih sebesar dua jari. Di akhir minggu pertama, pembukaan ini
meyempit, serviks menebal dan kanalis endoservikal kembali
terbentuk. Ostium externum tidak dapat kembali sempurna ke
10
keadaan sebelum hamil. Bagian tersebut tetap agak lebar dan
secara khas, cekungan di kedua sisi pada tempat laserasi menjadi
permanen. Perubahan – perubahan ini merupakan karakteristik
serviks para. Segmen uterus bagian bawah yang menipis secara
nyata mengalami kontraksi dan retraksi, namun tidak sekuat
pada corpus uteri ( Cunningham, 2013).
Dalam beberapa minggu, segmen bawah diubah dari
struktur yang jelas- jelas cukup besar untuk memuat kebanyakan
kepala janin cukup bulan menjadi isthmus uteri hampir tidak
dapat dilihat yang terletak diantara korpus diatas dan os interna
serviks di bawah. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena
penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan
pemeriksa masih dapat dimasukkan 2-3 jari dan setelah 1
minggu hanya 1 jari yang dapat masuk karena hiperplasi dan
retraksi serviks dan robekan serviks dapat sembuh (Rukiyah,
dkk., 2010).
5) Involusio Uterus
Segera setelah pengeluaran plasenta, fundus uteri yang
berkontraksi tersebut terletak sedikit di bawah umbilikus.
Bagian tersebut sebagian besar terdiri miometrium yang ditutupi
oleh serosa dan dilapisi oleh desidua basalis. Dinding posterior
dan anterior, dalam jarak yang terdekat, masing – masing
11
tebalnya 4 sampai 5 cm. Segera setelah pascapartum berat
uterus menjadi kira-kira 1.000 gram (Cunningham, 2013).
Dalam masa nifas, uterus akan berangsur-angsur pulih
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan uterus ini
dalam keseluruhannya disebut involusi. Involusi disebabkan
oleh :
a.
Pengurangan estrogen plasenta. Pengurangan estrogen
menghilangkan stimulus ke hipertropi dan hiperplasia
uterus.
b.
Iskemia miometrium
Miometrium terus berkontraksi dan beriteraksi setelah
kelahiran, mengkontriksi pembuluh darah dan mencapai
haemostasis pada sisi plasenta. Iskemia menyebabkan atropi
pada serat-serat otot.
c.
Otolisis miometrium
Selama kehamilan, estrogen meningkatkan sel miometrium
dan kandungan protein (aktin dan miosin), penurunan
estrogen setelah melahirkan menstimulasi enzim proteolitik
dan makrofag untuk menurunkan dan mencerna (proses
autolisis) kelebihan protein dan sitoplasma intrasel,
mengakibatkan pengurangan ukuran sel secara menyeluruh.
Jaringan ikat dan lemak biasanya ditelan, dihancurkan dan
dicerna oleh jaringan makrofag.
12
(Rukiyah, dkk., 2010).
Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa
involusi terlihat pada tabel berikut :
Involusi
Bayi lahir
Plasenta lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Tinggi fundus
Setinggi pusat
Dua jari di bawah pusat
Pertengahan pusat-simfisis
Tidak teraba diatas simfisis
Bertambah kecil
Normal
Berat uterus
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
Sumber : Sofian (2013)
Penurunan tinggi fundus dapat terjadi secara signifikan
pada ibu postpartum hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari
Ripniatin (2015) bahwa penurunan tinggi fundus dapat terjadi
secara signifikan karena pengaruh pemberian jus nanas selama 7
hari dengan setiap hari diberikan jus nanas 2 kali sehari
sebanyak 150 gram nanas. Hasilnya tinggi fundus ibu
postpartum dengan pemberian jus nanas lebih cepat mengalami
penurunan dibandingkan dengan tinggi fundus ibu postpartum
tanpa pemberian jus nanas.
d.
Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas
Menurut Rukiyah, dkk. (2010) ada beberapa tahapan adaptasi
psikologis ibu di masa nifas yaitu :
1.
Taking On
Periode ini disebut periode meniru, pada taking on fantasi
wanita tidak hanya meniru tapi sudah membayangkan peran
13
yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Pada tahap ini wanita
akan meninggalkan perannya pada masa lalu.
2.
Taking In
Periode ini terjadi pada hari ke 1-2 setelah melahirkan, ibu
baru pada umumnya masih pasif dan tergantung, perhatiannya
tertuju pada tubuhnya.
3.
Taking Hold
Periode ini terjadi pada hari ke 2-4 setelah melahirkan, ibu
menjadi orang tua yang sukses dengan tanggung jawab terhadap
bayinya. Pada masa ini ibu agak sensitif dan tidak mahir dalam
melakukan hal – hal tersebut. Cenderung menerima nasihat
bidan.
4.
Letting Go
Periode yang biasanya terjadi setiap ibu pulang ke rumah,
pada ibu yang bersalin di klinik dan sangat berpengaruh
terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarganya.
Dan depresi pospartum biasanya terjadi pada periode ini.
2.
Atonia Uteri
a.
Definisi
Atonia Uteri merupakan kondisi dimana myometrium tidak
dapat berkontraksi segera setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi
jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik setelah
14
dilakukan rangsangan taktil (massage) fundus uteri, segera setelah
lahirnya plasenta (Nugroho, 2012).
b.
Etiologi
Pada 80 sampai 90 persen kasus perdarahan pascapartum
segera disebabkan oleh atonia uteri atau dari pelahiran plasenta yang
tidak lengkap (Varney, 2008).
Overdistensi uterus, baik absolut maupun relatif merupakan
faktor risiko mayor terjadinya atonia uteri, hal ini dapat pula terjadi
karena persalinan lama atau persalinan dengan tenaga besar,
terutama
bila
mendapatkan
stimulan
akibatnya
kontraksi
miometrium menjadi lemah (Nugroho, 2012).
c.
Patofisiologi
Perdarahan berat terjadi karena berbagai kombinasi faktor
penyebab yang dapat menimbulkan perdarahan. Misal, perdarahan
yang disebabkan oleh trauma berat pada vagina disertai kontraksi
uterus yang lemah akan menimbulkan koagulopati akibat konsumsi
faktor-faktor pembekuan (Hollingworth, 2012). Atonia uteri terjadi
jika serabut – serabut otot miometrium gagal untuk berkontraksi dan
memendek
sehingga
dapat
menyebabkan
perdarahan
(Nugroho, 2012). Lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan 2.1
hebat
15
uterus
Kelainan
uterus
Kontraksi uterus
terlalu sering
Otot uterus
kelelahan
Overdistensi
uterus
Otot uterus terlalu
lama relaksasi
Otot uterus tidak
mampu berkontraksi
Pembuluh darah uterus ditempat bekas
implantasi plasenta tidak terjepit otot uterus
Perdarahan
Bagan 2.1 : Patofisiologi Atonia Uteri
Sumber : Sofian (2013), Nugroho, (2012), Varney (2008)
d.
Faktor Predisposisi
Menurut Sofian (2013) faktor predisposisi terjadinya atonia
uteri adalah :
1) Umur (umur yang terlalu muda dan terlalu tua)
2) Paritas : sering dijumpai pada multipara dan grandemultipara
3) Partus lama dan partus terlantar
4) Obstetri operatif dan nerkosa
5) Uterus terlalu regang dan besar, misalnya pada gemeli,
hidramnion, atau janin besar
16
6) Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus convelair pada
solusio plasenta
7) Faktor sosio ekonomi, yaitu malnutrisi
Selain itu Varney (2008) menambahkan faktor predisposisi
atonia uteri yang lain, yaitu :
8) Induksi atau stimulasi persalinan
9) Persalinan cepat
10) Riwayat atonia uteri sebelumnya
11) Partus cepat atau memanjang
12) Penggunaan agens relaksan uterus seperti magnesium sulfat
e.
Keluhan Subyektif
Pasien yang mengalami perdarahan lebih dari normal akan
mengeluh berkeringat dingin, sesak napas, limbung dan kesadaran
mulai menurun selain itu pasien terlihat pucat, tensi < 90 mmHg dan
nadi > 100 menit maka harus segera mendapatkan penanganan (
Saifuddin, 2009).
f.
Prognosis
Menurut pendapat para ahli kebidanan modern: “Perdarahan
postpartum tidak perlu membawa kematian pada ibu bersalin”.
Pendapat tersebut dibenarkan apabila masyarakat sadar akan
pentingnya hal tersebut sehingga dalam klinik tersedia banyak darah
dan cairan serta fasilitas lainnya (Sofian, 2013).
17
Perdarahan akibat atonia uteri dapat dicegah dengan
melakukan tindakan manajemen aktif kala 3 dan identifikasi faktor
risiko serta mempersiapkan diri apabila terjadi atonia uteri pada
setiap persalinan. Jika telah terjadi atonia uteri dapat dilakukan
rehabilitasi
pada
pasien
dengan
cara
mengawasi
hingga
hemodinamik stabil dengan penanganan yang sesuai ( Nugroho,
2012).
g.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan apabila setelah bayi dan plasenta lahir
ternyata perdarahan masih aktif dan banyak serta ditemukan tanda
dan gejala yang selalu ada yaitu :
1) Uterus tidak berkontraksi dan lembek
2) Perdarahan segera setelah bayi lahir
Sedangkan tanda dan gejala yang kadang – kadang ada yaitu
shock (Nugroho, 2012).
Perbedaan
antara
perdarahan
akibat
atonia
uteri
dan
perdarahan dari laserasi traktus genetalis secara tentatif ditentukan
oleh faktor risiko predisposisi dan kondisi uterus (Cunningham,
2013), sehingga palpasi uterus, pengukuran tinggi fundus, inspeksi
robekan serviks, vagina serta varises penting dilakukan untuk
menegakkan diagnosa (Nugroho, 2012).
Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri didiagnosis,
maka pada saat itu teraba fundus uteri setinggi pusat serta masih ada
18
darah 500-1000 cc yang sudah keluar dari pembuluh darah, tetapi
masih terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam
pemberian darah pengganti ( Saifuddin, 2009).
h.
Pencegahan
Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin,
namun sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal
care yang baik (Sofian, 2013). Disamping itu tindakan penanganan
aktif pada persalinan kala III dapat dilakukan untuk menurunkan
insidensi dan tingkat keparahan perdarahan postpartum (Nugroho,
2012).
Pada banyak perempuan, atonia uteri paling tidak dapat
diantisipasi dengan baik jauh sebelum pelahiran. Meskipun faktor
risiko diketahui dengan baik, kemampuan untuk mengidentifikasi
perempuan mana yang akan mengalami atonia uteri masih terbatas
(Cunningham, 2013). Sehingga antisipasi perdarahan pascapartum
segera sebagai akibat atonia uteri dapat dicegah dengan pemberian
misoprostol peroral 2-3 tablet (400 – 600 µg) segera setelah bayi
lahir (Saifuddin, 2009).
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada bagan pencegahan
atonia uteri berikut:
19
ANC
Riwayat
perdarahan
pascapersalinan
Predisposisi
Anjurkan untuk
bersalin di Rumah
Sakit
Pemeriksaan
keadaan
fisik,
keadaan
umum,
kadar Hb, golongan
darah dan bila
mungkin tersedia
donor darah.
Sambil
mengawasi
persalinan,
dipersiapkan keperluan untuk infus
dan obat-obatan penguat rahim
(uterotonika). Setelah ketuban pecah
kepala janin mulai membuka vulva,
infus dipasang dan sewaktu bayi
lahir diberikan 1 ampul methergin
atau kombinasi dengan 5 satuan
sintosinon (= sintometrin intravena)
Sumber : (Sofian, 2013)
i.
Penatalaksanaan dan Pengobatan
1) Penatalaksanaan
Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi
keadaan umum pasien. Pasien masih dalam keadaan sadar,
sedikit anemis atau sampai syok berat hipovelemik. Tindakan
pertama yang harus dilakukan bergantung pada keadaan
kliniknya (Saifuddin, 2009).
20
Menurut JNPK-KR (2008) penanganan atonia uteri dapat
dilakukan oleh bidan yang sesuai dengan wewenang bidan,
dapat dilihat di bagan 2.2.
Penatalaksanaan selanjutnya setelah bidan melakukan
rujukan ke rumah sakit, maka pasien dengan atonia uteri akan
mendapatkan penanganan lanjut yaitu :
Tampon kasa uterovaginal
Pasien di rujuk
Uterus lembek dan
perdarahan tetap
>200ml/jam
Tindakan operatif
Perdarahan
terkontrol
Transfusi
RAWAT LANJUT
DAN OBSERVASI
Laparotomi
(ligasi arteria
uterina)
Perdarahan
tidak terkontrol
Transfusi
HISTEREKTOMI
Bagan 2.3 : Penatalaksanaan Lanjut Atonia Uteri Di Rumah Sakit
Sumber : Nugroho (2012), Saifuddin (2009), Marmi (2012)
21
2) Pengobatan
Menurut Sofian (2013) pengobatan pada pasien dengan
perdarahan postpartum karena atonia uteri tergantung pada
banyaknya perdarahan dan derajat atonia uteri, dibagi dalam 3
tahap :
Tahap
Tahap I
Tahap II
Tahap III
3.
Tindakan
Perdarahan yang tidak begitu
banyak dapat diatasi dengan cara
pemberian uterotonika, mengurut
rahim (massage) dan memasang
gurita
Perdarahan belum berhenti dan
bertambah banyak segera pasang
infus dan transfusi, disamping itu
juga dapat dilakukan tindakan :
a) Perasat
(maneuver)
Zangemeister
b) Perasat (maneuver) Fritch
c) Kompresi bimanual
d) Kompresi aorta
e) Tamponade utero vaginal
f) Jepitan arteri uterina
dengan cara Henkel
Bila upaya tersebut gagal, maka
usaha
terakhir
adalah
menghilangkan
sumber
perdarahan yaitu
a) Ligasi arteri hipogastrika
b) Histerektomi
Nifas dengan Atonia Uteri
Masa nifas dimulai dari satu jam lahirnya plasenta hingga 42 hari
atau 6 minggu setelah itu (Saifuddin, 2011). Berakhirnya proses
persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi,
22
komplikasi yang dapat terjadi pada ibu masa nifas seperti perdarahan
postpartum ( Maritalia, 2012).
Menurut Varney (2008) 80 sampai 90 persen kasus perdarahan
postpartum segera disebabkan oleh atonia uteri yang diakibatkan oleh
banyak faktor predisposisi. Pasien dengan perdarahan postpartum harus
segera diperiksa tanda-tanda vital, palpasi uterus untuk menegakkan
diagnosa, apabila ditemukan palpasi uterus dengan konsistensi lunak
maka pasien dapat didiagnosis perdarahan postpartum
karena atonia
uteri (Hollingworth, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian Purwanti dan Trisnawati (2015) pada
ibu nifas dengan perdarahan karena atonia uteri di RSUD Margono,
bahwa ibu nifas dengan umur berisiko (kurang dari 20 tahun dan lebih
dari 35 tahun) sebanyak 35,9% dan jarak kehamilan berisiko (jarak
kehamilan kurang dari 2 tahun) sebanyak 33,3% memiliki kecenderungan
mengalami atonia uteri. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan
antara umur dan jarak kehamilan terhadap perdarahan karena atonia uteri.
Di Kabupaten Pati pada tahun 2011 kematian ibu sebagian besar
terjadi pada masa nifas, sebanyak 16 kecamatan dari 21 kecamatan
sekitar 40% kematian ibu masa nifas terjadi beberapa jam setelah
persalinan. Penyebab kematian yaitu karena komplikasi kehamilan,
komplikasi persalinan dan riwayat penyakit sebesar 64,3% sedangkan
35,7% disebabkan oleh variabel yang lain. Kondisi ini mengindikasikan
23
mekanisme pengawasan setelah persalinan oleh tenaga medis yang masih
lemah (Aeni, 2013).
B. TEORI MANAJEMEN KEBIDANAN
1.
Langkah I : Pengumpulan / Penyajian data dasar secara lengkap
a.
Identitas Pasien
Umur yang terlalu muda atau tua serta faktor sosio ekonomi
dapat mendukung terjadinya atonia uteri (Sofian, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian Purwanti S dan Yulianti T (2015)
bahwa risiko ibu yang memiliki umur kurang dari 20 tahun dan lebih
dari 35 tahun lebih besar mengalami perdarahan postpartum karena
atonia uteri dibandingkan ibu yang berumur 20-30 tahun.
b.
Anamnesa (Data Subyektif)
1) Keluhan utama
Ibu mengatakan merasa mengeluh berkeringat dingin,
sesak napas, limbung dan kesadaran mulai menurun (Saifuddin,
2009).
2) Riwayat Kebidanan
Meliputi riwayat obstetric apabila ibu dengan riwayat
atonia uteri pada saat persalinan sebelumnya maka memiliki
kecenderungan terjadi atonia uteri pada persalinan selanjutnya
(Varney, 2008). Ibu dengan riwayat kehamilan grandemultipara
dan ibu dengan riwayat penyakit menahun memiliki faktor risiko
24
mengalami perdarahan pascapersalinan karena atonia uteri
(Saifuddin, 2009).
c.
Data Obyektif
1) Status generalis
Ibu dengan kesadaran menurun, limbung, sesak nafas serta
tekanan darah menurun (<90 mmHg) dan nadi <100/menit
kondisi ini terjadi pada pasien yang mengalami perdarahan berat
(Saifuddin, 2009). Pasien dengan kondisi perdarahan dapat
mengalami tanda – tanda syok (Nugroho, 2012).
2) Pemeriksaan Sistematis
Muka terlihat pucat dan ekstremitas teraba dingin
merupakan tanda dan gejala pasien yang mengalami perdarahan
postpartum (Nugroho, 2012).
3) Pemeriksaan khusus Obstetri
a) Inspeksi
Pada kasus ibu nifas dengan atonia uteri terlihat
pengeluaran darah dari jalan lahirnya masih aktif sebanyak
500 – 1000 cc dari pembuluh darah, tetapi masih
terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam
kalkulasi pemberian darah pengganti (Saifuddin, 2009).
b) Palpasi
Pada pemeriksaan lokalis ditemukan adanya kontraksi
uterus yang lembek atau bahkan tidak ada kontraksi, ini
25
merupakan tanda gejala terjadinya perdarahan karena atonia
uteri ( Nugroho, 2012)
Menurut Saifuddin (2009) diagnosis atonia uteri dapat
ditegakkan bila bayi dan plasenta lahir pada palpasi
didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat.
4) Pemeriksaan Dalam
Untuk menegakkan diagnosa penyebab perdarahan dapat
dilakukan tindakan eksplorasi kavum uteri dengan jari atau kuret
tumpul besar secara hati-hati hal ini dilakukan untuk
memastikan adanya jaringan sisa dalam uterus sehingga dapat
menegakkan diagnosa penyebab perdarahan (Hollingworth,
2012).
5) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan golongan
darah
pasien perlu dilakukan karena untuk mengantisipasi
terjadinya tindakan transfusi pada pasien yang mengalami
perdarahan akibat atonia uteri (Varney, 2008).
Selain itu pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan
sejak periode antenatal. Kadar haemoglobin di bawah 10g/dl
berhubungan dengan hasil kehamilan yang buruk sehingga
rentan terjadi penyulit saat persalinan ( Nugroho, 2012).
Menurut hasil penelitian Wuryanti (2010) ibu dengan
anemia
dalam
kehamilan
45,4%
mengalami
perdarahan
26
postpartum karena atonia uteri dan 54,5 % tidak perdarahan.
Sedangkan 4,3% ibu bersalin yang tidak mengalami anemia
dalam kehamilan mengalami perdarahan postpartum karena
atonia uteri dan 95,7% tidak mengalami perdarahan postpartum.
Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan Hb dan hematokrit
untuk memperkirakan jumlah perdarahan yang terjadi saat
persalinan
dibandingkan
dengan
keadaan
prapersalinan
(Saifuddin, 2009).
2.
Langkah II : Interpretasi data dasar
a.
Diagnosa Kebidanan
Diagnosa tersebut ditegakkan berdasarkan data subyektif dan
obyektif. Diagnosa dalam studi kasus ini: Ny. X, PXAX, umur X
tahun postpartum X jam dengan atonia uteri.
b.
Masalah
Pada kasus atonia uteri, masalah yang dialami ibu biasanya
adalah
kecemasan karena perdarahan yang banyak dari jalan
lahirnya (Sulistyawati, 2009). Selain itu ibu mengalami rasa gelisah,
letih, mual, pusing dan haus karena kehilangan darah dalam jumlah
yang banyak (>500 ml) (Rukiyah dan Yuliyanti, 2012). Ibu juga
mengalami perubahan tingkat kesadaran ditandai dengan ibu menjadi
mengantuk (Marmi, dkk.,2011).
27
c.
Kebutuhan
Untuk mengatasi masalah yang dialami ibu, berikan informasi
kepada ibu bahwa ibu mengalami perdarahan setelah persalinan yang
disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yang dialami ibu
adalah atonia uteri (Maritalia, 2012). Lakukan tindakan masase
uterus untuk memunculkan kontraksi (Medforth, 2011). Berikan
suntikan oksitosin, infus RL, pasangkan oksigen, lakukan KBI dan
KBE (Rukiyah dan Yulianti, 2012).
3.
Langkah III : Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial/ Diagnosa
Potensial dan Antisipasi Penanganan
Diagnosa potensial pada kasus atonia uteri dapat menyebabkan
perdarahan banyak yang mengarah pada terjadinya syok hipovolemik
(Nugroho, 2012)
Antisipasi penanganan perdarahan karena atonia uteri oleh bidan :
a)
Melakukan masase uterus (Nugroho, 2012).
b)
Melakukan rangsangan taktil melalui stimulasi puting susu pada
ibu. Karena rangsangan berulang pada puting melalui pelepasan
oksitosin menyebabkan peningkatan kontraksi miometrium, hal ini
dapat dilakukan oleh keluarga ibu (Rukiyah dkk., 2010)
c)
Observasi keadaan umum, vital sign, kandung kemih (Saifuddin,
2011).
28
4.
Langkah IV : Kebutuhan terhadap Tindakan Segera
Tindakan segera pada kasus perdarahan karena atonia uteri yaitu
dengan melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri
dan ginekologi untuk penanganan dan pemberian terapi yaitu :
a)
Pemberian terapi berupa obat ergometrin 0,2 mg IM dan misoprostol
600-1000 mcg per rectal (JNPK-KR, 2008).
b) Pemasangan infuse RL 500 ml + 20 IU oksitosin 40 tpm (Marmi,
2012).
c)
Melakukan kompresi bimanual interna dan eksterna serta kompresi
aorta abdominalis (Saifuddin, 2009).
5.
Langkah V : Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh
Rencana asuhan terhadap pasien perdarahan postpartum karena
atonia uteri yaitu :
a.
Observasi KU, vital sign, PPV dan kontraksi (Saifuddin, 2011)
b.
Masase fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (Marmi, 2012)
c.
Kosongkan kandung kemih untuk membantu kontraksi (Saifuddin,
2011).
d.
Melakukan advice dokter SpOG untuk pemberian terapi dan
tindakan penanganan yaitu :
1) Lakukan kompresi bimanual interna (KBI) selama 5 menit
(Nugroho, 2012). (lampiran 2)
Jika muncul kontraksi uterus, teruskan KBI selama 2 menit
(Aminin, 2013).
29
2) Jika kontraksi uterus belum muncul anjurkan keluarga untuk
membantu melakukan kompresi bimanual eksterna (Norma D.N
dan Dwi S.M, 2013). (lampiran 3)
3) Pemberian obat yaitu pemberian ergometrine 0,2 mg IM atau
misoprostol 600-1000 mcg per rectal (tablet 200 mg).
Ergometrin tidak untuk ibu hipertensi (Nugroho, 2012).
4) Pemasangan infuse menggunakan jarum 16 atau 18 dan berikan
RL 500 cc + 20 IU oksitosin 40 tpm guyur, habiskan 500cc
pertama secepat mungkin (Marmi, 2012).
5) Ulangi KBI (JNPK-KR, 2008)
6) Bila perdarahan belum berhenti lakukan transfusi darah dan
dapat dilakukan tindakan kompresi aorta abdominalis (Sofian,
2013). (lampiran 4)
7) Apabila tindakan tersebut tidak dapat menghentikan perdarahan
maka harus dilakukan tindakan operatif yaitu laparotomi dengan
pilihan bedah konservatif (mempertahankan
uterus
atau
melakukan histerektomi) (Saifuddin, 2009).
6.
Langkah VI : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman
Pada langkah implementasi mengenai kasus atonia uteri, dilakukan
pelaksanaan dari rencana asuhan menyeluruh yang telah diuraikan pada
langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Hal ini dapat
dilakukan oleh bidan atau sebagian oleh klien serta anggota tim
kesehatan lainnya. Bidan dapat melakukan kolaborasi dengan dokter
30
spesialis obstetri dan ginekologi terhadap penatalaksanaan pasien dan
dalam pemberian terapi (Varney, 2008).
7.
Langkah VII : Evaluasi
Evaluasi dari tindakan yang dilakukan pada asuhan kebidanan ibu
nifas dengan atonia uteri meliputi keadaan umum pasien membaik,
kesadaran composmentis, vital sign normal, perdarahan sudah berkurang,
kontraksi uterus keras dan pasien telah merasa tenang dengan kondisinya
yang mulai membaik karena tertangani dengan baik oleh tim medis
maupun para medis.
FOLLOW UP DATA PERKEMBANGAN KONDISI KLIEN
Tujuh langkah Varney disarikan menjadi 4 langkah, yaitu SOAP (Subjektif,
Objektif, Analisa dan Penatalaksanaan). SOAP disarikan dari proses pemikiran
penatalaksanaan kebidanan sebagai perkembangan catatan kemajuan keadaan
klien.
S = Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien
melalui anamnesa sebagai langkah I Varney.
O = Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan umum klien,
pemeriksaan
fisik
dan
pemeriksaan
penunjang
berupa
hasil
laboratorium yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung
asuhan sebagai langkah I Varney.
31
A = Analisa
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data
subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi:
Diagnosa pada kasus ini adalah: Ny. X, PxAx, umur x tahun, nifas hari
ke-x post atonia uteri
P = Penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan
dan evaluasi
perencanaan. Dalam langkah ini menjelaskan mengenai seluruh
perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti
tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif
meliputi penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi dan follow
up/rujukan berdasarkan analisa sebagai langkah 3, 4, 5, 6, dan 7
Varney.
( KepMenKes RI no 938 / Menkes / SK / VIII / 2007 )
Download