2 FRAKSINASI PROTEIN ANTIKANKER KAPANG

advertisement
3
2 FRAKSINASI PROTEIN ANTIKANKER KAPANG LAUT
Xylaria psidii KT30
Pendahuluan
Latar belakang
Indonesia dikenal sebagai negara bahari dengan luas 75% berupa lautan,
memiliki kekayaan yang melimpah sumber daya hayati. Sumber daya hayati laut
terdiri dari tumbuhan misalnya alga serta hewan misalnya ikan, moluska, karang
lunak, spons, ekinodermata, askidin dan tunikata. Beberapa jenis hewan tertentu
merupakan sumber vitamin, protein dan mineral. Selain hewan dan tumbuhan air,
mikroorganisme laut juga dilaporkan menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat
digunakan dalam bidang farmasi (Ma’at 2003).
Kecenderungan pemakaian bahan alam terutama tumbuhan, hewan, dan
mikroorganisme sebagai obat-obatan semakin meningkat, karena mahalnya obat
sintetik dan berbagai efek sampingnya yang merugikan. Salah satu
mikroorganisme yang berpotensi untuk dimanfaatkan adalah kapang laut.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tanaman menghasilkan senyawa
aktif yang berkhasiat sebagai obat. Senyawa aktif yang dihasilkan diantaranya
adalah protein bioaktif, yang biasanya digunakan sebagai protein pertahanan bagi
tanaman inangnya (Cragg dan Newman 2009)
Protein bioaktif menarik perhatian para peneliti karena dapat dikembangkan
potensinya sebagai senyawa toksik pada imunotoksin. Protein dikonjugasikan
dengan antibodi untuk mengenali sel target sehingga tidak menyerang sel lainnya.
Imunotoksin digunakan untuk perlakuan penyakit pada manusia misalnya kanker,
AIDS, dan penyakit generatif (Minami et al.1992).
Penyakit kanker merupakan penyakit yang menjadi salah satu ancaman
utama terhadap kesehatan karena merupakan penyebab kematian kedua setelah
penyakit jantung. Setiap tahunnya sekitar 7,6 juta orang di seluruh dunia
meninggal karena kanker. Kanker serviks menduduki peringkat kedua yang
diderita oleh perempuan. Setiap tahunnya sekitar 53.000 kasus kanker serviks
terjadi, sebanyak 85% kasus kanker serviks berasal dari negara berkembang
(Asiancancer 2012). Menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2008,
kanker serviks merupakan jenis kanker tertinggi kedua di Indonesia dengan
persentasi pasien rawat inap sebesar 10,3%. Yayasan Kanker Indonesia tahun
2006 menerangkan berdasarkan patologi di 13 center, kanker serviks menempati
urutan pertama dengan angka 16%, yang kemudian disusul dengan kanker
payudara 15%.
Xylaria psidii KT30 adalah salah satu jenis kapang yang dapat
menghasilkan protein antikanker (Tarman et al. 2011). Penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan fraksi aktif protein antikanker dari Xylaria psidii KT30.
4
Bahan dan Metode
Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan September
2013. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Hasil Perairan,
Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB), Institut
Pertanian Bogor.
Bahan dan alat
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah kapang laut
KT30 koleksi Kustiariyah Tarman. Bahan yang digunakan untuk kultur
kapang laut adalah media Potato Dextrose Broth (PDB), Potato Dextrose Agar
(PDA), NaCl, dan akuades. Bahan yang digunakan dalam proses
pengendapan protein adalah amonium sulfat dan Tris HCl 10 mM pH 7,4.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah labu
Erlenmeyer, timbangan digital MC Series, pH meter HM Digital, shaker Gemmy
VRN 360, hot plate MS 400, magnetic stirrer, kertas saring, spektrofotometer
CECIL series 2, inkubator MILLIPORE, cawan petri, dan sentrifus HIMAC CR
21 G.
Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu kultivasi kapang laut
X. psidii KT30 menggunakan media PDA dan PDB, isolasi protein menggunakan
ammonium sulfat 90%, fraksinasi protein kasar dengan kromatografi penukar ion.
Tahap selanjutnya penentuan bobot molekul dengan SDS-PAGE dan dilanjutkan
dengan uji toksisitas dengan metode BSLT. Data dianalisis dengan metode
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan dan jika berpengaruh
nyata maka diuji lanjut menggunakan uji Duncan (Steel and Torrie 1993). Secara
ringkas tahapan penelitian tersebut disajikan dalam bentuk diagram alir yang
disajikan pada Gambar 1.
Kultivasi kapang laut Xylaria psidii KT30
Kultur disiapkan dengan memindahkan kapang dari media padat (PDA) ke
media cair (PDB). Kapang dalam prekultur diinkubasi selama 7 hari. Prekultur
selanjutnya digunakan sebagai biakan. Sebanyak 5% prekultur dimasukkan ke
dalam tabung Erlenmeyer yang berisi 350 mL media PDB dan diinkubasi
selama sembilan hari dalam suhu ruang dengan bantuan shaker (120 rpm).
5
Kapang laut
X. psidii KT30
Kultivasi kapang laut
Penyaringan
Pelet
Supernatan
Pengendapan
(amonium sulfat 90%)
Sentrifuse
(10.000 rpm, 30menit)
Supernatan
kasar
Pelet
Uji toksisitas (Bioassay)
(BSLT)
Fraksinasi protein dengan
kromatografi penukar ion
Uji sitotoksisitas pada
sel Chang dan sel HeLa
Gambar 1 Diagram alir tahapan penelitian
6
Isolasi protein kapang laut Xylaria psidii KT30
Koleksi supernatan digunakan sebagai ekstrak kasar yang proteinnya
diendapkan menggunakan amonium sulfat yaitu 90% (Munandar 2013).
Penambahan amonium sulfat ke dalam tabung Erlenmeyer yang
berisi
supernatan dilakukan sedikit demi sedikit dengan selang waktu 5 menit
setiap penambahan amonium sulfat. Penyimpanan hasil pengendapan
dilakukan selama satu malam. Proses berikutnya adalah pengaturan pH hasil
pengendapan sampai pH 7,4 diikuti sentrifugasi supernatan hasil
pengendapan pada kecepatan 10.000 rpm selama 30 menit. Koleksi pelet
hasil sentrifugasi didilusi menggunakan Tris HCL 10 Mm pH 7,4,
sedangkan supernatan diambil sebanyak 1,5 mL. Pelet hasil dilusi dan
supernatan yang dikoleksi digunakan untuk uji aktivitas antikanker.
Fraksinasi protein dengan kromatografi (Ustadi et al. 2005)
Tahap pemurnian pertama dilakukan dengan kromatografi penukar ion
dengan bahan pengelusi bufer B (bufer gel pemisah, Tris-HCl pH 7,4). Sebanyak
75 mL larutan TrisCl pH 7,4 dan 4 mL larutan SDS 10% (b/v) ditambahkan
dengan akuades hingga volume total 100 mL. Matriks menggunakan kolom
DEAE Sephadex A-50 (30.0 x 30.0 cm) dengan laju aliran 1 mL/menit. Jumlah
volume tiap fraksi ditampung sebanyak 5 mL. Masing-masing fraksi diuji
konsentrasi protein dengan spektrofotometer uv =280 nm dan diuji aktivitasnya
tiap fraksi dengan metode BSLT.
Penentuan bobot molekul dengan SDS-PAGE (Rosenberg 1996)
Metode SDS-PAGE (sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel
electrophoresis) yang
dikerjakan dalam penelitian ini menggunakan 4%
stacking gel dan 8% gel akrilamida. Metode ini menggunakan matriks dari gel
yang disusun oleh akrilamida dan N,N’-metilen-bis-akrilamida yang berpolimerisasi
melalui mekanisme radikal bebas dengan bantuan katalisator N,N,N’N,tetramethylene-diamine (TEMED) dan inisiator ammonium persulfate (APS).
Komposisi pembuatan gel penahan dan pemisah SDS-PAGE dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi gel penahan dan pemisah SDS-PAGE
Komponen
Larutan stok akrilamida
Bufer gel pemisah
Bufer gel pengumpul
Akuades
Amonium persulfat
TEMED
Gel pemisah (8%)
2,66 mL
2,50 mL
3,18 mL
50,00 µL
5,00 µL
Gel penahan (4%)
0,67 mL
1,25 mL
3,00 mL
50,00 µL
5,00 µL
Konsentrasi akrilamida yang digunakan dalam analisis ini adalah 8% (b/v).
Pewarnaan yang digunakan adalah pewarnaan perak. Deteksi SDS-PAGE dilakukan
dengan melepaskan gel hasil elektroforesis dari cetakan dan diukur jarak migrasi
brompenol blue. Gel tersebut dicelup dan direndam dalam larutan fiksasi (25%
methanol + 12% asam asetat) selama 1 jam sambil digoyang konstan. Gel direndam
dalam 50% (v/v) etanol selama 2 x 20 menit. Larutannya diganti dengan larutan
7
pengembang kemudian dicuci dengan akuabidestilata. Gel yang telah dicuci
ditambahkan larutan perak nitrat selama 30 menit kemudian dicuci lagi dengan
akuabides 2 x 20 detik dan ditambahkan larutan campuran Na2CO3 dan formal
dehida dan terakhir dengan larutan fiksasi.
Uji
toksisitas
metode
Brine
Shrimp
Lethality
Test
(BSLT)
(Carballo et al. 2002)
Uji toksisitas dilakukan dengan larva Artemia salina sebagai hewan uji.
Mula-mula telur A. salina ditetaskan di dalam air laut di bawah lampu TL 20
watt. Setelah 48 jam telur menetas menjadi nauplii instar III/IV dan siap
digunakan sebagai hewan uji. Larva A. salina dimasukkan ke dalam vial yang
telah berisi larutan sampel dengan seri dosis 50, 100, 250, 500, 750 dan 1000
ppm dengan 3 kali ulangan. Semua vial diinkubasi pada suhu kamar selama 24
jam di bawah penerangan lampu TL 20 watt.
Pengamatan dilakukan setelah 24 jam dengan melihat jumlah
Artemia salina yang mati pada tiap konsentrasi. Penentuan harga LC50 dalam
µg/mL atau ppm dilakukan menggunakan analisis probit dengan program
MINITAB.
Hasil dan Pembahasan
Kultivasi kapang laut Xylaria psidii KT30
Kapang Xylaria psidii KT30 merupakan kapang endofit yang diisolasi dari
makroalga Kappaphycus alvarezii (Tarman 2011). Kapang laut yang digunakan
dalam penelitian ini diperoleh dari isolat yang ditumbuhkan dalam medium padat
PDA. Kapang tersebut diremajakan dan diinokulasikan pada media cair PDB.
Medium PDB merupakan medium yang sangat cocok untuk pertumbuhan kapang
karena terdapat banyak pati dan nitrogen yang berasal dari asam amino yang
terdapat pada kentang (Kumala dan Muhammad 2008).
Prekultur kapang diawali dengan kultivasi pada medium PDB 50 mL
sebagai masa adaptasi selama seminggu. Miselium kapang yang telah tumbh
dipindahkan pada medium PDB 350 mL serta ditambahkan NaCl 3% dan diaduk
dengan bantuan shaker selama sembilan hari dengan kecepatan 120 rpm.
Pertumbuhan kapang pada media padat terlihat dari benang-benang putih yang
mengelilingi keping inokulan. Miselium akan bertambah banyak dan mengikat
keping-keping tersebut menjadi suatu bentuk yang padat terjalin kuat oleh
hifa-hifa miselium.
Pertumbuhan kapang pada media cair ditandai dengan adanya miselium
yang berbentuk bulat dan berwarna putih yang melayang pada media. Hal ini
sesuai dengan Pratomo (2006) bahwa ketika ditumbuhkan dalam media PDB
miseliumnya akan tampak berwarna putih, lama-kelamaan warna miselium
berubah menjadi coklat muda sampai tua, sel-sel miselium biasanya panjang.
Protein target dalam penelitian ini adalah protein ekstraseluler, sehingga
diperlukan suatu proses pemisahan. Pemisahan miselium dari mediumnya harus
melalui suatu penyaringan sebab miselium tidak bisa diambil seperti perlakuan
pada butir (Gandjar et al. 2006). Proses penyaringan menghasilkan supernatan
kapang yang kemudian dimurnikan melalui proses pengendapan. Volume awal
kultur produksi adalah 350 mL. Volume panen yang diperoleh setelah tujuh hari
masa kultur sebesar 300 mL.
8
Biomassa tidak digunakan karena protein target selama masa pertumbuhan telah
disekresikan ke dalam medium pertumbuhan. Morfologi kapang X. psidii KT30
dalam media padat dan cair dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.
Gambar 2 Kapang laut Xylaria psidii KT30 dalam media padat PDA
Gambar 3 Kapang laut Xylaria psidii KT30 dalam media cair PDB
Isolasi protein kapang laut Xylaria psidii KT30
Isolasi protein kapang laut pada penelitian ini menggunakan teknik
sentrifugasi dan melalui pengendapan. Teknik sentrifugasi digunakan untuk
memisahkan protein dengan sel kapang. Prinsip utama sentrifugasi adalah
memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan
gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar,
sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas. Teknik pengendapan
menggunakan penambahan amonium sulfat dengan konsentrasi 90%
(Munandar 2013).
Protein kasar hasil penyaringan kemudian dipresipitasi dengan
menggunakan amonium sulfat. Metode presipitasi dibagi menjadi 2 grup utama,
yakni (1) metode kelarutan protein dikurangi dan presipitasi dilakukan dengan
mengubah beberapa sifat fisika-kimia pelarut, misalnya pH, konstanta dielektrik,
kekuatan ionik, dan tersedianya air dan (2) Metode presipitasi protein yang
disebabkan oleh interaksi diantara protein dan agen presipitasi (Sivasankar 2005).
Rendemen yang dihasilkan untuk protein kasar adalah 0,090%.
Pengendapan (pemekatan) protein dengan amonium sulfat merupakan
metode yang sering digunakan karena amonium sulfat memiliki daya larut yang
tinggi di dalam air, relatif murah, dan kestabilan protein di dalam larutan
amonium sulfat dapat bertahan bertahun-tahun. Pemilihan amonium sulfat
didasarkan pada kelarutan protein yang berinteraksi polar dengan molekul air dan
interaksi ionik protein dengan garam serta daya tolak menolak protein yang
9
bermuatan sama. Penambahan amonium sulfat pada konsentrasi kejenuhan
tertentu menyebabkan interaksi air pada protein tertentu menurun dan protein
akan saling berinteraksi, beragregrat dan akhirnya mengendap. Fenomena ini
dikenal sebagai salting out. Protein yang mengendap pada konsentrasi kejenuhan
amonium sulfat tinggi adalah protein dengan bobot molekul rendah
(Widyarti 2006).
Kenaikan kelarutan protein akan meningkatkan kekuatan ion larutan.
Molekul air yang berikatan dengan ion-ion garam semakin banyak yang
menyebabkan penarikan selubung air yang mengelilingi permukaan protein
sehingga mengakibatkan protein saling berinteraksi kemudian mengendap
(Bisswanger 2004). Proses penyaringan menghasilkan supernatan kapang yang
kemudian dimurnikan melalui proses pengendapan. Supernatan yang dihasilkan
dari proses penyaringan adalah sebanyak 300 mL. Sebelum diendapkan,
supernatan disesuaikan pH-nya sampai pH 7,4. Hasil pengendapan disentrifugasi
untuk memisahkan antara ekstrak kasar dengan media.
Tingkat toksisitas (Bioassay) hasil pengendapan
Senyawa bioaktif antikanker yang akan digunakan untuk produk
antikanker harus diujikan terlebih dahulu dengan uji toksisitas. Uji toksisitas
merupakan salah satu pengembangan metode untuk memprediksi keberadaan
senyawa yang bersifat toksik pada sel (Kurnijasanti et al. 2008). Salah satu
metode uji toksisitas adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) yang digunakan
untuk praskrining terhadap senyawa yang diduga berkhasiat sebagai antitumor
(Widyastuti 2008). Hewan uji yang digunakan dalam BSLT adalah
Artemia salina L.
Tujuan utama tahapan ini adalah untuk mengetahui protein kasar yang
dihasilkan oleh kapang laut X. psidii KT30 yang paling berpotensi. Selain itu,
tujuannya adalah mengetahui konsentrasi yang dapat membunuh dari setengah
populasi Artemia salina. Nilai tersebut menggambarkan bioaktivitas metabolit
yang dihasilkan dari kapang laut X. psidii KT30. Semakin kecil nilai konsentrasi
yang dapat membunuh setengah populasi larva maka akan semakin tinggi
bioaktivitasnya, begitu pula sebaliknya. Data hasil uji BSLT protein kasar
kapang laut X. psidii KT30 disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Data hasil uji BSLT protein kasar kapang laut Xylaria psidii KT30
Konsentrasi
(ppm)
50
100
250
500
750
1000
Log
konsentrasi
1,69
2,00
2,39
2,69
2,87
3,00
Persen
mortalitas
40,00
46,66
66,66
73,33
80,00
90,00
Probit
4,75
4,90
5,41
5,61
5,84
6,28
LC50
104,95 ppm
Hasil uji toksisitas menggunakan protein kasar kapang laut
Xylaria psidii KT30 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi protein kasar
10
akan menyebabkan semakin besarnya persentase kematian. Persamaan regresi
hubungan antara log konsentrasi dengan mortalita Artemia salina dari protein
kasar kapang laut Xylaria psidii KT30 yaitu Y= 1,094x + 2,789, Y menunjukkan
konsentrasi mortalitas, X menunjukkan log konsentrasi dan R menunjukkan
koefisien korelasi antara X dan Y. Persamaan regresi Y= 1,094x + 2,789
menunjukkan bahwa setiap penambahan konsentrasi sebanyak 1 log (5 ppm)
menyebabkan kenaikan mortalitas probit sebesar 1,094. Berdasarkan persamaan
tersebut diperoleh nilai koefisen korelasi (R2) sebesar 0,984.
Nilai LC50 adalah konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian 50%
populasi Artemia salina yang digunakan dalam penelitian. Nilai LC50 dapat
dihitung dengan menggunakan regresi linear. Nilai LC50 protein kasar kapang laut
Xylaria psidii KT30 yang dihasilkan dari perhitungan sebesar 104,95 ppm.
Menurut Meyer et al. (1982) suatu ekstrak tanaman dianggap sebagai bioaktif
apabila ekstrak tersebut memiliki nilai LC50 lebih kecil atau sama dengan
1.000 mg/L. Nilai tersebut menunjukkan bahwa protein kasar dari kapang laut
Xylaria psidii KT30 termasuk dalam kategori toksik. Beberapa hasil penelitian
terhadap senyawa bioaktif yang diuji dengan Artemia salina (BSLT)
menunjukkan adanya korelasi spesifik terhadap uji antikanker bila mempunyai
LC50 < 1.000 ppm.
Komponen toksik yang terdapat pada protein kasar jika diberikan pada
A. salina dapat menyebabkan kematian hewan tersebut. Artemia salina
merupakan pemakan bahan-bahan organik sehingga komponen-komponen dari
ekstrak yang akan terakumulasi terus menerus di dalam tubuh A. salina. Zat
tersebut akan masuk kemudian distribusikan dan ditranslokasi ke seluruh badan,
kadarnya akan meningkat seiring dengan waktu dan akan menyebabkan kematian
pada A. salina (Abatzopolulos et al. 2010).
Fraksinasi protein kapang laut Xylaria psidii KT30
Fraksinasi protein merupakan suatu langkah awal yang penting untuk
mendapatkan komponen biologis suatu protein dalam upaya memahami fungsi
biologisnya. Ada beberapa faktor yang harus diketahui sebelum melakukan
fraksinasi protein ataupun memisahkan suatu protein tunggal dari suatu campuran
protein antara lain berat molekul, muatan, serta sifat hidrofobiknya. Berdasarkan
faktor-faktor tersebut metode dalam purifikasi protein terbagi menjadi dua yakni
metode kromatografi dan non-kromatografi. Metode non-kromatografi dalam hal
ini antara lain elektroforesis, presipitasi, serta filtrasi membran (Sanagi 2001).
Penelitian ini menggunakan matriks DEAE Sephadex A-50. Matriks ini
termasuk dalam golongan fungsional diethylaminoethyl, terbuat dari dextran,
sejenis polisakarida. Dextran termasuk dalam golongan penukar ion yang lemah.
Kode A-50 adalah penukar ion dengan kapasitas 50, artinya jumlah 50 muatan
dan potensi muatannya per unit berat atau miliequivalen grup ion per milligram
berat kering matrik (Boyer 2000).
Hasil fraksinasi ekstrak protein kasar dari kapang laut Xylaria psidii KT30
yang dipisahkan kromatografi kolom DEAE Sephadex A-50 sampai 100 fraksi.
Hasil fraksinasi protein disajikan pada Gambar 4. Pengukuran kandungan protein
dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Hal ini disebabkan
protein pada umumnya menyerap cahaya pada panjang gelombang 280 nm karena
adanya residu asam amino triptofan, fenilalanin, dan tirosin (Boyer 2000). Hasil
11
absorbansi menghasilkan lima puncak fraksi protein yang terdiri dari fraksi I
(tabung ke-2 sampai ke-12), fraksi II (tabung ke-13 sampai ke-49), fraksi III
(tabung ke-50 sampai ke-61), fraksi IV (tabung ke-62 sampai ke-72), dan fraksi V
(tabung ke-73 sampai ke-100).
I
Absorbansi 280 nm (U/mL)
0.12
0.1
III
0.08
II
0.06
IV
V
0.04
0.02
0
0
20
40
60
80
100
Nomor tabung
Gambar 4 Hasil fraksinasi protein kapang laut Xylaria psidii KT30 menggunakan
kromatografi kolom DEAE Sephadex A-50
Fraksi protein kapang laut X. psidii KT30 kemudian dikeringkan dengan
metode pengeringan beku (Freezedry) dan dihitung rendemennya. Fraksi yang
memiliki rendemen tertinggi adalah fraksi F3.1 (tabung ke-53), F3.2 (tabung
ke-60), dan F4 (tabung ke-69). Data hasil rendemen disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Persentase rendemen protein fraksi terpilih kapang laut X. psidii KT30
Hasil
Jumlah (%)
Fraksi F3.1
3,7
Fraksi F3.2
2,7
Fraksi F4
1,8
Penentuan bobot molekul dengan SDS-PAGE
Penentuan bobot molekul dilakukan menggunakan SDS-PAGE. Sampel
yang digunakan adalah protein kasar dan fraksi protein terpilih yaitu fraksi F3.1
(tabung ke-53), F3.2 (tabung ke-60), dan F4 (tabung ke-69). Fraksi protein
terpilih yang digunakan merupakan hasil fraksinasi yang memiliki nilai
absorbansi dan rendemen tertinggi (Tabel 3). Hasil analisis menggunakan
SDS-PAGE dapat dilihat pada Gambar 5.
12
Gambar 5 Hasil SDS-PAGE ( M (marker), CE (protein kasar), F3.1 (tabung
ke-53), F3.2 (tabung ke-60), F4 (tabung ke-69) )
Hasil penentuan bobot molekul dapat dilihat dari Gambar 5 pada fraksi
protein terpilih F3.1, F3.2, dan F4 menghasilkan tiga band dengan bobot molekul
23,99; 32,8, dan 37,30 kDa. Hal ini menunjukkan bahwa isolasi dan purifikasi
yang dilakukan belum optimal, sehingga perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut
dengan metode yang lainnya. Berdasarkan bobot molekulnya, protein kapang laut
X. psidii KT30 termasuk dalam golongan protease (Barret et al. 2004). Protease
dari mikroorganisme memperlihatkan bobot molekul dari 18 kDa sampai 126 kDa
(Rao et al. 1998). Penelitian lain yang dilakukan oleh Hu et al. 2012 terhadap
kapang Xylaria hypoxylon menyatakan monomer protein terestimasi sebesar
43 kDa. Protease kapang X. psidii KT30 menunjukkan bobot molekul yang lebih
rendah dibandingkan dengan bobot molekul dari kapang Xylaria hypoxylon,
namun lebih tinggi dibandingkan protease dari jamur Pleurotus eryngii sebesar
11,8 kDa (Wang dan Ng 2001), Pleurotus citrinopileatus sebesar 18 kDa
(Cui et al. 2007), dan Helvella lacunosa sebesar 33,5 kDa (Zhang et al. 2010).
Berdasarkan penelitian yang telah dilaporkan sebelumnya, maka protease yang
dihasilkan dari kapang laut X. psidii KT30 menunjukkan jenis protein yang baru.
Simpulan
1 Protein kasar kapang laut Xylaria psidii KT30 dikategorikan senyawa toksik
dengan nilai LC50 104,9 ppm.
2 Penentuan bobot molekul dengan SDS-PAGE pada fraksi terpilih didapatkan
tiga band dengan bobot molekul yaitu 23,99; 32,88, dan 37,30 kDa.
Download