konflik pertanahan di kelurahan tondo kecamatan

advertisement
KONFLIK PERTANAHAN DI KELURAHAN TONDO
KECAMATAN MANTIKULORE KOTA PALU
DIAN PRATIWI
A 351 09 018
JURNAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
TAHUN 2014
1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
ABSTRAK
Masalah pokok penelitian ini adalah: terdapatnya konflik pertanahan di Kelurahan
Tondo. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui intensitas lahan yang berkonflik, sebaran
lahan yang berkonflik, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik serta pengaruh
kaum migran di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu selama tahun 2009–
2013 (5 tahun terakhir); dan dampak apa saja yang menyebabkan kaum migran tinggal di
Kelurahan Tondo. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus (case study).
Variabel penelitian ialah lahan di Kelurahan Tondo dan penduduk yang mengalami
konflik di Kelurahan Tondo. Sumber data penelitian meliputi penduduk Kelurahan Tondo yang
mengalami konflik, dengan mewawancarai narasumber yang telah di pilih berdasarkan
informasi staf Kelurahan yang mengetahui proses terjadinya konflik, yaitu sebanyak 4
informan diantaranya 2 orang penduduk migrasi dan 2 orang penduduk asli. Metode
pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan
adalah deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lahan yang mengalami konflik selama
tahun 2009-2013 mencapai luasan 28.275 m2 atau sekitar 2,8 Ha diantaranya terdapat di Jl.
Padat Karya, Jl. Roviga, Jl. BTN Bumi Tadulako, Jl. Vatutela, Jl. Dayo Dara, Jl. Soekarno
Hatta, dan Jl. Untad I, yang melibatkan 15 orang penduduk migrasi dan 16 orang penduduk
asli. Sumber konflik pertanahan di Kelurahan Tondo pada umumnya karena adanya pihak
ketiga, pengaruh kaum migran terhadap lahan yang mengalami konflik diantaranya
memanfaatkan lahan kosong yang di klaim oleh masyarakat asli (pemilik) dengan menyewanya
pertahun untuk kebutuhan ekonomi. Dampak yang ada terhadap konflik petanahan secara
positif salah satunya masyarakat migrasi memberikan inisiatif untuk berwirausaha bagi
masyarakat asli pada penggunaan/pemanfaatan lahan kosong, membuka lapangan pekerjaan
baik bagi masyarakat asli maupun masyarakat migrasi dan salah satu dampak negatifnya ialah
terjadinya persaingan ekonomi antara penduduk asli dengan penduduk migrasi (kaum migran).
Kata Kunci: Migrasi Penduduk, Konflik Pertanahan, Kelurahan Tondo
2
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Palu merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, sekaligus sebagai kota
administrasi. Kota Palu dibagi menjadi 8 (delapan) kecamatan dan 45 (empat puluh lima)
kelurahan. Kecamatan-kecamatan di Kota Palu: Palu Barat, Palu Selatan, Palu Timur, Palu
Utara, Mantikulore, Ulujadi, Tatanga, dan Tawaili. Etnis yang terdapat di Kota Palu meliputi
Kaili (38,71%), diikuti oleh etnis Bugis (22,47%), Jawa (9,38%), Gorontalo (2,86%), Buol
(1,21%), Bali (1,08%), Banggai (0,72%), Saluan (0,71%), dan lainnya (22,86) (Leo
Suryadinata, dkk, 2003:176).
Pentingnya lahan bagi kehidupan manusia disebabkan lahan digunakan sebagai tempat
tinggal dan tempat melakukan kegiatan antara lain: sebagai tempat tumbuhnya vegetasi, lahan
juga mengandung barang tambang atau bahan galian, serta sebagai tempat berkembangnya
hewan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Seiring dengan jumlah penduduk yang
semakin bertambah dari tahun ke tahun, pengunaan lahanpun semakin banyak digunakan atau
semakin intensif. baik untuk tempat tinggal maupun tempat untuk kegiatan ekonomi.
Kelurahan Tondo adalah salah satu bagian wilayah administrasi
Kecamatan
Mantikulore yang berjumlah penduduk 10.073 jiwa dengan luas wilayah 5.516 ha. Status tanah
yang bersertifikat di wilayah Kelurahan Tondo adalah 3.267 (46%) buah, sedangkan tanah yang
belum bersertifikat ialah 4.128 (54%) buah. Banyaknya status tanah yang belum bersertifikat
menyebabkan tanah/lahan terbengkalai. Terbengkalainya lahan tersebut, menyebabkan
masyarakat asli ataupun pendatang dapat mencantumkan nama hak milik (atas nama) terhadap
lahan kosong tersebut dengan mudah. Adanya banyak hak milik yang dicantumkan di berbagai
lahan kosong, dapat menyebabkan terjadinya konflik. Baik konflik sesama penduduk asli,
ataupun konflik antara penduduk asli dan penduduk pendatang.
Jumlah konflik/persengketaan lahan di wilayah Kelurahan Tondo sejak tahun 20092013 (5 tahun terakhir) terdapat 16 kasus persengketaan lahan, yang melibatkan 16 orang
penduduk asli dan 15 orang
penduduk pendatang (migrasi) dengan luasan kurang lebih
28.275m². Adapun objek tanah yang berkonflik antara lain berada di: Jl. Padat Karya, Jl.
Roviga, Jl. BTN Bumi Untad, Jl. Vatutela, Jl. Dayo Dara, Jl. Soekarno Hatta dan Jl. Untad I.
3
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Akibat dari banyaknya penduduk pendatang yang membeli tanah untuk tinggal di
wilayah Kelurahan Tondo khususnya di Perumahan Dosen, tanah diklaim oleh penduduk asli
bahwa tanah yang dimiliki oleh masyarakat Perumahan Dosen dan Perumahan Roviga adalah
tanah mereka. Masalah persengketaan tanah muncul karena berubahnya fungsi lahan/tanah
yang semula berfungsi sosial menjadi lebih bersifat ekonomi.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik meneliti kondisi bertambahnya
penduduk yang diakibatkan terjadinya migrasi dan perubahan status kepemilikan lahan pada
Wilayah Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikolore selama tahun 2009-2013 (5 tahun terakhir)
dengan judul: “Konflik Pertanahan di Wilayah Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore Kota
Palu”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat di rumuskan
masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Berapa intensitas/jumlah lahan yang berkonflik dan dimana saja letak lahan yang
berkonflik;
2. Apa saja sumber konflik pertanahan yang ada di Kelurahan Tondo;
3. Apa saja pengaruh kaum migran terhadap lahan yang mengalami konflik di Kelurahan
Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu selama tahun 2009–2013 (5 tahun
terakhir);
4. Dampak apa saja yang ditimbulkan oleh keberadaan kaum migran di Kelurahan Tondo.
1.3. Tujuan, Sasaran dan Kegunaan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui berapa intensitas/jumlah masyarakat yang mengalami konflik dan
mengetahui dimana letak lahan yang mengalami konflik;
2. Mengetahui darimana sumber konflik pertanahan yang terjadi di Kelurahan Tondo;
3. Mengetahui bagaimana pengaruh migrasi masuk (in-migration) ke wilayah Kelurahan
Tondo Kecamatan Mantikulore terhadap jumlah/intensitas timbulnya kasus konflik
kepemilikan tanah selama tahun 2009–2013 (5 tahun terakhir);
4. Faktor dan dampak apa saja yang menyebabkan kaum migran bermigrasi di Kelurahan
Tondo.
4
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Sasaran penelitian ini terpusat pada masyarakat Kelurahan Tondo yang terdaftar dalam
konflik lahan di administrasi Kelurahan Tondo pada tahun 2009-2013. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1) Bagi masyarakat, dapat memberikan pengetahuan tentang pentingnya pemahaman terhadap
Undang–Undang Pokok Agraria (UUPA) terkait dengan kepemilikan dan penguasaan
tanah, jual-beli tanah, hak guna usaha, hak kepemilikan, hak guna bangunan, dan hak
pakai;
2) Bagi peneliti, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai masalah
persengketaan tanah;
3) Bagi pemerintah dan instansi yang terkait, menyangkut penunjukkan lokasi dan penetapan
luasnya, pelepasan atau pembebasan, pengosongan tanah, ganti rugi atau imbalannya
lainnya, pembatalan haknya dan pencabutan haknya;
4) Bagi UniversitasTadulako, sebagai sumbangsih dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan
Tinggi yang disesuaikan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) yakni Pendidikan, Penelitian,
dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
II.
METODOLOGI
2.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian Studi Kasus (case study). Menurut
Kusmarni,Y. (2013; 2-3) Studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari “suatu sistem yang terikat”
atau “suatu kasus/beragam kasus” yang dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data yang
mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi yang “kaya” dalam suatu konteks.
Sistem terikat ini diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus dapat dikaji dari suatu
program, peristiwa, aktivitas atau suatu individu.
2.2. Lokasi Penelitian
Secara geografis dan demografis Kelurahan Tondo berada pada wilayah Kecamatan Palu
Timur dengan luas wilayah 5.516 Ha, dengan titik koordinat 0°48'20,5"LS-0°51'154,8"LS dan
119°52'43"BT-119°58'26,6"BT. Terdiri dari 41 RT dan 15 RW, adapun batas-batas geografis
Kelurahan Tondo yakni Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Layana, sebelah Timur
5
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Utara berbatasan dengan Kab. Parigi Moutong, Kebun kopi, sebelah Barat Utara
berbatasan
dengan Kelurahan Talise, dan sebelah Selatan Utara berbatasan dengan Teluk Palu.
Gambar 2.1 Peta Lokasi Penelitian
2.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diambil dari sumber pertama (informan) yaitu berupa hasil
wawancara mendalam (indepth interview). Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari
instansi yang terkait. Data sekunder dalam penelitian ini adalah peta administrasi Kelurahan
Tondo, peta kepemilikan lahan/persil, peta penggunaan lahan, dan data–data konflik tanah yang
bersengketa beserta nama–nama konflik tanah baik warga asli Tondo maupun pendatang,
beserta dokumentasi tersimpan yang ada di lembaga Pusat Penelitian Perdamaian dan
Pengelolaan Konflik (P4K) Universitas Tadulako.
2.4. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Tondo yang memiliki lahan
bersengketa, yang telah terdaftar di Kantor Kelurahan Tondo dari tahun 2009-2013, sebanyak
16 kasus konflik pertanahan. Informan ditentukan dengan cara di pilih oleh staf Kelurahan
6
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Tondo. Masyarakat Kelurahan Tondo yang mengalami konflik pertanahan dari tahun 2009–
2013 berjumlah 31 orang, terdiri dari 16 orang penduduk asli dan 15 orang penduduk
pendatang, yang dimana informan tersebut hanya 4 (empat) warga yang dipilih oleh Kantor
Kelurahan Tondo untuk dijadikan variabel penelitian.
2.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) Observasi,
langkah awal yang ditempuh oleh setiap peneliti guna memperoleh data di lokasi penelitian.
(2) wawancara mendalam Wawancara dengan sistem ini memberikan kebebasan yang terbatas
pada para penanya untuk menanyakan hal lain di luar pedoman, namun kebebasan tersebut
tetap terbatas sepanjang tidak menyimpang dengan rencana penelitian yang telah dirumuskan
(Subagyo,P. 2004:39), pengumpulan data dilakukan dengan cara turun langsung ke lapangan
dengan mewawancarai informan yang dipilih oleh
staf kelurahan dengan menggunakan
pedoman wawancar. (3) Dokumentasi, Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi, dimana
data diperoleh dari arsip atau dokumen kelurahan mengenai jumlah penduduk yang bersengketa
serta data lainnya yang berkaitan dengan penelitian.
2.6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian menggunakan Analisis deskriptif kualitatif,
Analisis deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian pada saat-saat sekarang
berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimananya keadaan (Nawawi,H: 63). Analisis
ini digunakan untuk memberikan gambaran tentang konflik pertanahan dengan adanya
masyarakat yang bermigrasi. Jumlah pertanyaan dalam panduan wawancara sebanyak 4
(empat) item pertanyaan dan kemudian dikembangkan pada saat wawancara berlangsung.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut peneliti menganalisis secara deskriptif mengenai studi
kasus pengaruh migrasi terhadap konflik pertanahan di Kelurahan Tondo sesuai dengan fakta
yang ada di lapangan.
III. HASIL
7
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
3.1. Lokasi Konflik Lahan
Tahap penelitian lapangan menunjukkan bahwa, lahan yang mengalami konflik terdapat
2 (dua) versi yaitu menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Kelurahan Tondo. Adapun
beberapa lokasi lahan yang mengalami konflik menurut Kelurahan Tondo dari tahun 20092013 (5 tahun terakhir) diantaranya terdapat di Jl. Padat Karya, Jl. Roviga, Jl. BTN Bumi
Tadulako, Jl. Vatutela, Jl. Dayo Dara, Jl. Soekarno Hatta, dan Jl. Untad I.
Menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) lahan yang mengalami konflik hingga saat
ini ialah lahan yang di tempati oleh Universitas Tadulako dan di Jl. Vatutela yaitu lahan yang
berada di sebelah Selatan komplek kampus. Lahan yang sekarang ditempati oleh Universitas
Tadulako berkonflik karena lahan mengalami pergesaran dari batas pagar tembok UNTAD
yang telah di tentukan, sedangkan lahan yang mengalami konflik di Jl. Vatutela ialah lahan
yang di klaim oleh masyarakat asli, yang digunakan untuk usaha baik usaha warung makan,
usaha fotokopi, bengkel dan lainnya.
Gambaran lokasi dan penggunaan lahan pada lahan yang berkonflik sebagaiman tercantum
dalam rangkaian Gambar 1-6.
Gambar 1. Bangunan Usaha Penjual
Pisang Goreng.
Gambar 2. Bangunan Usaha Penjual
Warung Makan
Gambar 1 dan 2 adalah Gambar Kondisi Bangunan Usaha dan Merupakan Batasan Lahan yang
di Miliki oleh Pemilik Lahan yang Dimulai dari Penjual Pisang Goreng
Hingga Warung Makan Palopo.
8
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Gambar 3. Bangunan Kios dan
Bengkel
Gambar 4. Bangunan Warung
Makan
Gambar 5. Bangunan Warung
Makan
Gambar 6. Bangunan Warung
Makan
Gambar 3-6 adalah Gambar Kondisi Bangunan yang Mengontrak Tanah untuk Berwirausaha
yang Dimiliki oleh Bapak Ahmad.
3.2. Intensitas dan Letak Konflik Lahan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara jumlah konflik pertanahan yang tercatat di
Kelurahan Tondo dari tahun 2009-2013 (5 tahun terakhir) terdapat 16 kasus yang melibatkan di
dalamnya 31 orang, diantaranya terdapat 16 masyarakat asli dan 15 masyarakat pendatang
dimana lahan yang mengalami konflik dengan mencapai luasan 28.275 m2 atau sekitar 2,8 Ha
diantaranya terdapat di Jl. Padat Karya, Jl. Roviga, Jl. BTN Bumi Tadulako, Jl. Vatutela, Jl.
Dayo Dara, Jl. Soekarno Hatta, dan Jl. Untad I. Jumlah konflik lahan di Kelurahan Tondo
setiap tahunnya mengalami peningkatan karena banyak masyarakat pendatang yang datang
untuk tinggal sehingga kebutuhan akan lahan semakin meningkat dan ketersediaan lahan
semakin berkurang.
Tabel 5.1
9
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Daftar Jumlah Konflik Pertanahan Tahun 2009-2013
Tahun
Jumlah
Jenis Sengketa
Konflik
2009
2
Saling mengklaim hak milik dan tumpang
tindih lahan (overlap).
2010
4
Saling mengklaim hak milik, menjual tanah
orang lain, dan tumpang tindih lahan
(overlap).
2011
5
Tumpang tindih lahan (overlap), menjual
tanah milik orang lain, pemisahan sertifikat,
dan saling mengklaim hak milik.
2012
5
Saling mengklaim hak milik, tumpang tindih
lahan (overlap), dan tanah terambil jalan.
Jumlah Luasan
3.3. Sumber dan Penyebab Konflik
Jumlah
Luasan
± 2003 m2
± 15.823 m2
± 8642 m2
± 1.807 m2
± 28.275 m2
Sumber konflik pertanahan di Kelurahan Tondo ini bukanlah sepenuhnya terjadi karena
adanya masyarakat yang bermigrasi ke Kelurahan Tondo, tetapi melainkan adanya pihak lain
yang dipercaya oleh salah satu pihak yang ikut berperan dalam kepengurusan sertifikat tanah,
namun kepercayaan yang telah diberikan disalahgunakan dalam arti pihak tersebut mencari
pembeli lain dengan harga yang lebih tinggi sehingga menyebabkan terjadinya konflik
Masyarakat migrasi (kaum migran) mengalami konflik apabila lahan yang mereka beli
atau tempati terjadi tumpang tindih batas lahan, karena dalam sumber kepemilikan di
Kelurahan Tondo ini belum jelas asal kepemilikannya yang menyebabkan dalam satu lahan
terdapat beberapa sertifikat tanah. Banyaknya masyarakat yang bermigrasi (kaum migran) ke
Kelurahan Tondo menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan
penggunaan lahan yang digunakan untuk tempat tinggal, sehingga nilai suatu lahan akan
menjadi tinggi
Penyebab konflik antara masyarakat asli dan masyarakat pendatang dalam konflik
pertanahan ialah masyarakat asli didasarkan atas
kepemilikan lahan karena sudah lama
menempati lahan kosong dan membukanya untuk berkebun maupun bergembala ternaknya,
sedangkan masyarakat migrasi memiliki hak atas kepemilikan tanah yang didasarkan pada
sertifikat sebagai bukti kepemilikan.
3.4. Pengaruh Kaum Migran terhadap Lahan yang Mengalami Konflik
10
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Masyarakat yang bermigrasi ke Kelurahan Tondo kebanyakan memilih untuk tinggal di
perumahan-perumahan. Perumahan-perumahan yang dibangun pada umumnya dilengkapi
prasarana dan sarana yang lengkap disekitarnya antaralain berdekatan dengan sekolah,
universitas, rumah sakit serta tempat hiburan.
Pengaruh masyarakat migrasi yang bertempat tinggal di Kelurahan Tondo menyebabkan
timbulnya konflik secara langsung memang tidak ada, akan tetapi dilihat dari kronologinya
migrasi menyebabkan wilayah di Kelurahan Tondo semakin ramai sehingga kebutuhan akan
lahan semakin meningkat dan lahan kosong yang tersedia semakin berkurang. Besarnya
kebutuhan akan lahan, dapat menimbulkan persaingan dalam hak kepemilikan lahan antara
masyarakat migrasi dengan masyarakat asli maupun berkonflik sesama masayarakat asli
3.5. Dampak Konflik Tanah
Berdasarkan peta kepemilikan lahan yang mengalami konflik dari Badan Pertanahan
Nasional yang ada di sebelah Selatan kampus Universitas Tadulako tentu memiliki dapak
positif dan dampak negatif bagi masyarakat. Dampak positifnya ialah masyarakat migrasi
memberikan inisiatif untuk berwirausaha bagi masyarakat asli pada penggunaan/pemanfaatan
lahan kosong, membuka lapangan pekerjaan baik bagi masyarakat asli maupun masyarakat
migrasi, memberikan pengahasilan kepada pemilik lahan dengan cara menyewa lahannya yang
belum digunakan serta memudahkan mahasiswa dan masyarakat sekitar PERDOS dalam
memenuhi kebutuhannya, sedangkan dampak negatifnya antara lain terjadinya persaingan
ekonomi antara penduduk asli dengan penduduk migrasi (kaum migran), kerusakan tanah
maupun lahan yang terjadi pada usaha bengkel yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang
dibuang ke dalam tanah, serta penataan bangunan yang tidak teratur.
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut.
1.
Intensitas/jumlah konflik pertanahan yang tercatat di Kelurahan Tondo dari 2009-2013
(5 tahun terakhir) terdapat 16 kasus persengketaan lahan, yang melibatkan 16 orang
penduduk asli dan 15 orang penduduk pendatang (migrasi) dengan jumlah luasan lahan
11
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
± 28.275 m2. Objek tanah yang mengalami konflik antara lain berada di: Jl. Padat
Karya, Jl. Soekarna Hatta, Jl. Roviga, Jl. BTN Bumi Untad, Jl. Vatutela, Jl. Dayo Dara,
dan Jl. Untad I. Beberapa jenis konflik pertanahan yang terjadi selama 5 (lima) tahun
terakhir ialah saling mengklaim hak milik, menjual tanah milik orang lain, pemisahan
sertifikat, tanah terambil jalan, serta tumpang tindih lahan (overlap).
2.
Masyarakat yang melakukan migrasi memiliki tujuan mengubah kehidupannya menjadi
yang lebih baik dari daerah asalnya. Masyarakat migrasi memiliki pengaruh cukup
besar terhadap masyarakat asli, antara lain berkembangnya suatu lahan kosong yang
kini berubah menjadi tempat usaha bagi masyarakat pendatang yang mungkin
masyarakat penduduk asli sulit untuk bersaingan dalam hal perekonomian. Masyarakat
migrasi (kaum migran) pada umumnya melakukan migrasi ke Kelurahan Tondo karena
lokasi yang strategis (dekat dengan Universitas Tadulako), serta prasarana dan
sarananya yang ada hampir lengkap;
3.
Penyebab terjadinya konflik secara umum ialah karena pihak ke tiga yang di
berikepercayaan
dalam
pengurusan
tanah,
akan
tetapi
kepercayaan
tersebut
disalahgunakan. Penanganan konflik pertanahan antara sesama masyarakat asli lebih
sama-sama memaklumi dan menghargai karena mereka masih terdapat solidaritas
sesama di bandingkan konflik dengan masyarakat migrasi, sehingga konflik tersebut
tidak ada pihak yang kalah (sama-sama menang);
4.
Lahan kosong yang ada di Kelurahan Tondo ini masih belum jelas asal kepemilikan
tanahnya sehingga dalam suatu lahan kosong terdapat beberapa sertifikat yg tidak jelas
diketahui kebenarannya.
5.2. Saran
Beberapa saran yang perlu dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian dan
pembahasan sebagai berikut:
1.
Apabila ingin membeli suatu lahan, sebaiknya cari tahu asal kepemilikan lahan yang
akan di beli dan pastikan bahwa sertifikat tanahnya hanya ada satu tidak lebih,
pengecekkan bisa dilakukan melalui Notaris/Pejabat Pembuatan Akta Tanah (PPAT);
12
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
2.
Para pemilik lahan baik masyarakat asli maupun pendatang harus mempunyai bukti
yang kuat baik dimata adat maupun di mata hukum atas status tanah yang dimiliki dan
atau dikuasai;
3.
Terhadap sengketa pertanahan yang diajukan ke pengadilan ada dua hal yang perlu
dicatat. Pertama, pengadilan seringkali dianggap tidak efektif dan efisien dan kedua,
kualitas keputusannya masih diragukan. Dari pengalaman berperkara di pengadilan
sungguh tidak sederhana dan memakan waktu. Selain kendala yang bersifat
organisatoris, adanya campur tangan yang bersifat non yuridis membuat putusan
pengadilan sering diragukan;
4.
Penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan di luar pengadilan, dapat berupa
perbuatan hukum administrasi pertanahan meliputi: pembatalan hak atas tanah karena
cacat hukum administrasi, pencatatan dalam sertifikat atau buku tanah serta daftar
umum lainnya, dan penerbitan surat atau keputusan administrasi pertanahan lainnya
karena terdapat cacat hukum administrasi dalam penerbitannya.
V.
DAFTAR PUSTAKA
Kusmarni,
Y.
(2013).
Laporan
Studi
Kasus.
(online).
Tersedia:
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/196601131990012YANI_KUSMARNI/Laporan_Studi_Kasus.pdf. 4 Maret 2014, jam 23.30 WITA.
Nawawi, Hadari. (1990). Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Subagyo, Joko P. (2004). Metode Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta
Suryadinata Leo, dkk. (2003). Penduduk Indonesia. Jakarta: LP3ES.
13
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi P.IPS FKIP UNTAD
Penerbit : E-Jurnal GEO FKIP UNTAD
Download