efektifitas perizinan usaha perikanan

advertisement
EFEKTIFITAS PERIZINAN USAHA PERIKANAN DALAM MELINDUNGI SUMBER
DAYA LAUT KHUSUSNYA IKAN
KOMARIAH PANDIA
Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara
BAB I
PENDAHULUAN
Kaidah dasar yang melandasi pembangunan dan perlindungan Lingkungan
Hidup Indonnesia terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada
alinea keempat yang berbunyi :
"Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial". Ketentuan ini menegaskan "Kewajiban Negara" dan "Tugas
Pemerintah" untuk melindungi segenap sumber daya dalam lingkungan hidup
Indonesia untuk kebahagiaan seluruh rakyat Indonsia dan segenap umat" ,manusia.
Kemudian dari pada itu dalam Pasal 33 ayat (3) pemikiran dasar tersebut di atas
dirumuskan lebih konkrit sebagai berikut :
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Jelaslah
ketentuan tersebut memberikan "hak penguasaan" kepada Negara atas seluruh
sumber daya alam Indonesia dan memberikan "Kewajiban kepada negara" untuk
menggunakannya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Ketentuan-ketentuan dasar tersebut di atas dijabarkan oleh MPR dalam TAP
MPR No. : IV/MPR/1973 tentang GBHN pada BAB III, huruf B, butir 10 yang berbunyi
sebagai berikut : "Dalam pelaksanaan pembangunan, sumber-sumber alam
Indonesia harus digunakan secara rasionil. Penggalian sumber kekayaan alam
tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia,
dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh dan dengan memperhitungkan
kebutuhan generasi yang akan datang".
Sumber daya ikan sebagai bagian kekayaan bangsa Indonesia perlu
dimanfaatkan secara optimal untuk kemakmuran rakyat, dengan mengusahakannya
secara berdaya gun a dan berhasil guna serta selalu memperhatikan kelestariannya.
pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan agar pemanfaatan\sumber
daya ikan diarahkan untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat
Indonesia. Dengan demikian pemanfaatan sumber daya ikan tersebut pada dasarnya
hanya dapat dilaksanakan oleh warga negara Republik Indonesia, baik secara
perorangan maupun dalam bentuk badan hukum dan harus dapat dinikmati secara
merata, baik oleh produsen maupun konsumen. Pemerataan Pemanfaatan sumber
daya ikan hendaknya juga terwujud dalam perlu perlindugan terhadap kegiatan
usaha yang masih lemah seperti nelayan dan petani ikan kecil agar tidak terdesak
oleh kegiatan usaha yang lebih kuat.
© 2004 Digitized by USU digital library
1
BABII
PERMASALAHAN
Walaupun sumber daya ikan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, namun demikian dalam memanfatkan
sumber daya ikan tersebut harus senantiasa menjaga kelestariannya. Ini berarti
bahwa pengusahaan sumber daya ikan harus seimbang dengan daya dukungnya
sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat sumber daya ikan harus dilakukan
secara rasional. Salah satu cara untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan
dilakukan dengan pengendalian usaha perikanan melalui perizinan masalahannya.
Sejauh mana penerapan perizinan dapat berfungsi menjaga kelestarian
sumber daya ikan dan membina usaha perikanan serta memberikan kepastian
usaha perikanan.
BAB-III
PEMBAHASAN
Pembangunan Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, sesuai
dengan GBHN TAP MPR No.II/MPR/1988 adalah diarahkan kepada peningkatan
kontribusi sub sektor perikanan dalam menunjang terciptanya pertanian yang maju,
efisien dan tangguh dalam rangka mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang
antara industri dan pertanian yang didukung oleh pembangunan perikanan yang
tangguh, sekaligus pengembangan pembangunan desa pantai.
Penjabaran secara konkrit adalah serangkaian upaya pemanfaatan potensi
sumber hayati perikanan seoptimal mungkin, untuk kesejahteraan masyarakat tanpa
mengganggu keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya, sekaligus
meningkatkan devisa melalui ekspor non migas dari komoditi perikanan.
Berpedoman kepada kebijaksanaan pembangunan secara Nasional dan Pola
Dasar Pembangunan Daerah Sumatera Utara, serta dengan arah seperti tersebut di
atas maka Pembangunan Perikanan Sumatera Utara bertujuan pokok sebagai
berikut:
Meningkatkan
produksi
perikanan
guna
meningkatkan
pendapatan
dan
kesejahtaraan para petani ikan dan nelayan beserta keluarganya.
Menyediakan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri.
Meningatkan devisa negara melalui peningkatan ekspor hasil- hasil perikanan, serta
mengurangi impor.
Meningkatkan perluasan kesempatan berusaha dalam bidang usaha-usaha produktif
dan meningaktkan penyerapan tenaga kerja produktif.
Semua tujuan tersebut diatas dilaksanakan dengan tetap memperhatikan
keseimbangan lingkungan serta tetap menghindari kerasakan sumber daya.
Setiap perusahaan yang melakukan penangkapan ikan dilaut, harus
mempunyai izin yaitu izin usaha Perikanan (IUP) dan Surat Penangkapan Ikan (SPI).
Di samping itu Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) bagi kapal perikanan asing, yang
digunakan oleh perusahaan perikanan Indonesia yang telah mempunyai IUP dan
PPKA (Persetujuan penggunaan Kapal Asing). Menurut Surat Keputusan Menterai
Pertanian No.815/KPTS/IK, 120/II/1990 tentang perizinan usaha perikanan, Bab I,
Pasal 10:
butir a :
Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum
untuk menangkap atau membudidayakan ikan;' termasuk kegiatan
menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan
komersial.
© 2004 Digitized by USU digital library
2
butir b :
butir c :
butir d :
butir e :
butir f :
butir g :
butir h :
Perusahaan Perikanan adalah perusahaan yang melakukan usaha
perikanan dan dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau
badan hukum Indonesia.
Usaha penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di
perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau
car a apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk
memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau
mengawetkannya untuk tujuan komersial.
Izin Usaha perikanan (IUP) adalah izin tertulis yang dimiliki
Perusahaan Perikanan untuk melakukan Usaha perikanan dentan
menggunakan sarana produksi yang tercantum dalam izin tersebut.
Persetujuan Penggunaan Kapal Asing (PPKA) adalah persetujuan yang
diberikan kepada perusahaan Perikanan yang telah memiliki IUP untuk
menggunakan Kapal Perikanan Berkendaraan asing dalam rangka
kerjasama dengan orang atau badan hukum asing untuk menangkap
ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEE I ) .
Surat Penangkapan Ikan (SPI) adalah surat yang harus dimiliki setiap
kapal Perikanan berbendera Indonesia untuk melakukan kegiatan atau
penangkapan ikan diperairan Indoensia dan atau Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari IUP.
Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) adalah surat izin yang harus
dimiliki setiap kapal Perikanan berbendera asing yang digunakan oleh
Perusahaan Perikanan Indonesia yang telah memiliki IUP dan PPKA
untuk melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia (ZEEI) dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
PPKA.
Kapal Perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya
yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, termasuk
untuk melakukan survei atau eksplorasi perikanan.
Menurut Pasal 2 butir 1 :
Usaha Perikanan terdiri atas :
a. Usaha Penangkapan Ikan.
b. Usaha Pembudidayaan Ikan.
Pada tinjauan ini pembahasan dibatasi hanya pada usaha penangkapan ikan
dilaut. Syarat dan tata cara pemberian IUP, SPI, PPKA, dan SIPI diatur dalam Bab II
Pasal 4 yang berbunyi sebagai berikut : "IUP diberikan kepada Perusahaan Perikanan
apabila telah menyampaikan :
a. Rencana Usaha.
b. NPWP.
c. Akte Pendirian Perusahaan/koperasi.
d. Izin lokasi dari Pemerintah Daerah (bagi usaha pembudidayaan ikan)
e. Dokumen Teknis Kapal yang telah dimiliki.
f. Penyajian informasi Lingkungan (PIL) atau Analisa Dampak
Lingkungan "(ANDAL) bagi usaha pembudidayaan ikan sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Diketahui tujuan Pembangunan Perikanan antara lain:
Meningkatkan
produksi
perikanan
guna
meningkatkan
pendapatan
dan
kesejahteraan petani ikan dan nelayan beserta keluarganya.
Menyediakan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri.
© 2004 Digitized by USU digital library
3
Meningkatkan devisa negara malalui Peningkatan ekspor hasil perikanan, serta
mengurangi impor.
Meningkatkan perluasan kesempatan berusaha dan meningkatkan penyerapan
tenata kerja.
Semua tujuan ini harus dapat direalisasikan dengan tetap memperhatikan
keseimbangan lingkungan dan menghindari kerusakan sumber daya.
Mengabaikan lingkungan dalam jangka panjang berarti mengurangi bahkan
membahayakan kemungkinan pembangunan selanjutnya. Harga yang harus dibayar
adalah kesehatan manusia, penurunan produktivitas, dan hilangnya sumber daya
alam yang berharga.
Dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No.607/KPTS/1976 tentang "Jalurjalur Penangkapan Ikan. Disini telah diatur lokasi penangkapan ikan yang diizinkan,
penggunaan kapal dan alat penangkap ikan yang dituangkan di dalam Surat Izin
Perikanan dan Surat Izin Kapal Perikanan.
Nyatakan disini, bahwa dalam pemanfaatan sumber daya ikan, telah ada
penataan lingkungannya. Hukum Tata Lingkungan merupakan landasan bagi aspekaspek lainnya, mengatur penataan lingkungan bagi aspek-aspek lainnya, mengatur
lingkungan guna mencapai keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungan
hidup, baik lingkungan hidup fisik, maupun terhadap lingkungan hidup sosial budaya.
Penataan lingkungan dituangkan dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun
1982. Salah satu ketentuan Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH) tahun 1982
ini adalah pasal 7 :
Sistem perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UULH 82. Ayat (1) pasal
ini mengatakan bahwa : "Setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib
memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang
untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan".
Selanjutnya ayat (2) menetapkan : "Kewajiban sebagaimana tersebut dalam
ayat (1) pasal ini "dicantumkan dalam setiap izin" yang dikeluarkan oleh instansi
yang berwenang".
Penjelasan ayat (2) pasal ini mengatakan bahwa : "Dengan adanya kewajiban
tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin, maka
penyelenggaraan bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan
pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang
berkesinambungan".
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.1S Tahun 1984 tentang
"Pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)
dalam Bab IV Pasal 7 mengenai Perizinan yaitu : Orang atau badan hukum yang
melakukan penangkapan ikan di ZEEI harus terlebih dahulu memperoleh izin dari
Pemerintah Indohesia.
Undang undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1985 Tentang
perikanan Bab IV pasal 10 butir 1 berbunyi sebagai berikut : "Setiap orang atau
badan hukum melakukan usaha perikanan diwajibkan memiliki izin usaha
perikanan".
Keputusan
Menteri
Pertanian
Republik
Indonesia
No.277/KPTS/IK
120/5/1987, tentang "Perizinan Usaha dibidang penangkapan ikan di perairan
Indoensia dan ZEEI.
Bab I, pasal 1, butir 1 mengatakan : Untuk melakukan penangkapan ikan
diperairan Indonesia dan atau di ZEEI, diperlukan 1 (satu) Izin Usaha bagi
setangkaian kegiatan yang berkaitan dengan usaha perikanan, seperti kegiatan
penangkapan ikan, penanganan pasca panen, pengangkutan serta pemasaran hasil
tangkapan.
Peraturan pemerintah No.1S tahun 1990 tentang Usaha perikanan, Bab II
tentang : Perizinan usaha Perikanan, pasal 6, butir 1 mengatakan : perusahaan
© 2004 Digitized by USU digital library
4
perikanan yang melakukan usaha perikanan di wilayah perikanan Republik Indonesia
wajib memiliki izin usaha perikanan.
Dari perizinan-perizinan yang wajib diperoleh oleh perusahaan perikanan
baik, nyatakan bahwa sumber daya alam hayati khususnya ikan selalu dilindungi,
guna menjaga keseimbangan lingkungan dan kerusakan lingkungan.
perlindungan dilakukan melalui perizinan yang diberikan kepada suatu usaha
perikanan, baik usaha perikanan dengan membudidayakan, maupun usaha
perikanan dengan penangkapan ikan di air, khususnya dilaut. Di dalam perizinan,
ditetapkan kewajiban. Oleh sebab itu, didalam penggalian sumber kekayaan alam
tersebut, harus diusahakan agar tidak merusak lingkungan hidup dan harus
diperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.
Perizinan dapat mengendalikan dan mengawasi, sejauh mana kegiatan
perusahaan perikanan memanfaatkan sumber daya ikan dan bagaimana tanggung
jawab yang harus dilakukannya dalam menjaga keseimbangan lingkungan dengan
daya dukung lingkungan.
BABIV
KESIMPULAN
1. Sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya, mempunyai kedudukan
dan peranan penting bagi kehidupan dan pembangunan nasional. Oleh
karenanya, itu harus dikelola dan dimanfaatkan secara lestari bagi kesejahteraan
masyarakat Indonesia dan umat manusia pada umumnya untuk sekarang dan di
masa yang akan datang.
2. Karena unsur-unsur sumber daya hayati dan ekosistemnya saling tergantung
antara satu dengan yang lainnya, dan pemanfaatannya akan saling
mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu daripadanya akan
berakibat terganggunya ekosistem, diperlukan pengaturan pemanfaatannya dan
perlindungan ekosistemnya.
3. Setiap perusahaan Perikanan wajib memiliki izin Usaha Perikanan (IUP).
4. Dalam IUP, untuk Usaha Penangkapan Ikan dicantumkan koordinat daerah
penangkapan ikan, jumlah dan ukuran Kapal perikanan Berta jenis alat tangkap
yang digunakan.
5. Perizinan berfungsi menjaga kelestarian sumber daya ikan, membina usahausaha perikanan, memberikan kepastian usaha perikanan.
SUMBER BACAAN
Daud Silalahi, 1992 "Hukum Lingkungan", Bandung, Penerbit Alumni.
Koesnadi Hardjosoemantri, 1992,
Semarang LPLH, Bintari.
Peraturan
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup,
Kumpulan Peraturan-peraturan pemerintah Republik Indoensia.
Otto Soemarwoto 1991, Ekologi Lingkungan Hidup dan pembangunan.
© 2004 Digitized by USU digital library
5
Download