DARI ORANG BIASA MENJADI TERORIS: TELAAH PSIKOLOGI

advertisement
LAPORAN PENELITIAN KOLEKTIF
DARI ORANG BIASA MENJADI TERORIS:
TELAAH PSIKOLOGI ATAS PELAKU DAN PERILAKU TEROR
Penelitian ini dibiayai oleh dana dari Lembaga Penelitian (Lemlit)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun Anggaran 2011
Tim Peneliti
Gazi, S.Psi, M.Si
Ikhwan Lutfi, M.PsiT
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Terorisme menjadi ancaman global. Genderang perang global melawan terorisme
telah ditalukan semua bangsa. Setiap negara dan kelompok merasa berkepentingan untuk
mencegah dan memberantas terorisme karena mengancam peradaban dan kemanusiaan.
Banyak pendekatan yang digunakan para akademisi dan pemegang kebijakan dalam
memahami terorisme dan counter-terorisme. Selama ini, pendekatan psikologi telah banyak
digunakan untuk melihat dan memahami masalah-masalah yang terkait terorisme dan
bagaimana memberantasnya.
Analisa dengan pendekatan psikologi terorisme relatif merupakan bidang yang baru
yang muncul sebagai reaksi terhadap peristiwa-peristiwa teroris pada tahun 1970-an dan
tahun 1980-an. Pendekatan psikologi dianggap sebagai salah satu pendekatan yang penting
untuk memahami terorisme, terutama berkaitan dengan bagaimana memahami proses
psikologis dan psikososial hingga seseorang menjadi teroris.
Kajian yang umumnya
digunakan dalam pendekatan psikologi dalam memahami proses seseorang menjadi teroris
lebih menitikberatkan pada motivasi atau proses psikologis.
Kajian terorisme dengan menggunakan pendekatan terorisme dianggap sebagai
bidang kajian dan penelitian yang rumit terutama karena kesulitan-kesulitan yang dialami
peneliti dalam meneliti motivasi perilaku kaum teroris. Bahkan di awal berkembangnya
kajian psikologi terorisme ada kesulitan tersendiri dalam menyepakati definisi terorisme.
Namun, untuk kepentingan penelitian ini, diambil suatu definisi terorisme yang baku
digunakan dan disepakati di kalangan para sarjana dan peneliti bidang terorisme, yaitu suatu
varian khusus penggunaan ancaman kekerasan untuk melawan kekuasaan pemerintah
(Crenshaw, 2007)
Di Indonesia, kajian tentang proses menjadi teroris atau jalur menuju terorisme atau
anak tangga menuju aksi terorisme tidak banyak dilakukan oleh akademisi karena dipandang
sulit dan susah untuk dicapai, padahal sebenarnya hal sangat penting dan diperlukan. Kajian
dan penelitian yang komprehensif tentang hal itu akan sangat berguna dan dapat membantu
pemahaman kita tentang bagaimana mencegah dan memberantas terorisme.
Harus diakui telah banyak ditulis buku-buku tentang terorisme atau yang berkaitan
dengan terorisme dan para teroris, bahkan ada juga yang ditulis oleh para pelaku teror itu
sendiri. Kendati demikian, tidak banyak orang yang mencoba melakukan analisa psikologis
terhadap buku-buku tersebut, padahal kandungan yang terdapat di dalamnya dapat
memberikan informasi dan data psikologis yang penting mengenai proses panjang
keterlibatan seseorang dalam aktivitas terorisme.
Penelitian psikologi tentang terorisme mengalami dua kelemahan, yaitu: Pertama,
kurangnya kerangka kerja konseptual yang kuat dan ketergantungan reduksionis-positivistik
pada data yang dikumpulkan atas dasar asumsi bahwa data tersebut akan memungkinkan kita
untuk meniru kesuksesan sain murni seperti fisika. Kedua, kecenderungan para peneliti
psikologi untuk terpecah ke dalam dua kubu, yaitu kubu disposisi dan kubu kontek (aliran
kepribadian dan aliran situasi). Faktor disposisi dan faktor konteks memiliki pengaruh yang
relatif terhadap perilaku manusia.
Konsep derajat kebebasan memperjelas isu pertentangan antara kedua kubu, dalam
hal ini, Mogadham menggunakan metafora “staircase to terrorism” (tangga menuju
terorisme). Ada 5 lantai menuju terorisme, yaitu : Pertama, lantai dasar (interpretasi
psikologis tentang kondisi materil, persepsi terhadai kejujuran dan adekuasi identitas. Kedua,
lantai pertama (tahap mencari cara untuk meningkatkan kondisi yang dipengaruhi oleh
peluang mobilitas dan suara individual). Ketiga, lantai kedua ( pengaruh pesan persuasif yang
menyatakan bahwa akar persoalan mereka adalah musuh luar yang dipimpin Amerika),
Keempat, lantai ketiga, mulai menganut moralitas yang mendukung terorisme; mereka mulai
terpisah dari moralitas mainstream umat Islam. Mereka mulai menganut moralitas “the end
justify the mean”. Kelima, lantai keempat, menganut gaya berpikir kategoris : kita lawan
mereka, kebaikan melawan kejahatan, hitam dan putih. Muncul legitimasi psikologis untuk
menyerang kekuatan-kekuatan setan dengan segala cara. Keenam, lantai kelima, mengambil
peran dan secara langsung mendukung aksi terorismei.
Dilema baru Amerika saat ini: Di satu sisi, Amerika menyatakan bahwa demokrasi
dan kebebasan adalah semua manusia di semua kelompok masyarakat, lalu menginvasi Irak
atas nama keingina memberikan demikrasi dan kebebasan kepada masyarakat Irak. Tetapi di
sisi lain, Amerika terus mendukung diktator pro Amerika di sejumlah negara Islam termasuk
di Saudi dan Mesir. Publik Muslim menyebut dilema tersebut dengan istilah kemunafikan
Amerika.
Spesialisasi terorisme menurut Moghadam, adalah pelaku bom bunuh diri, sumber
inspirasi, ahli strategi, pembangun jaringan, ahli pembuat bom, manager sel, agitator dan
guide lokal, anggota sel lokal, dan penyandang dana. Significance quest berbeda-beda untuk
setiap level.
Maka, atas dasar itulah, peneliti menganggap penting untuk melakukannya agar
proses psikologis menjadi seorang teroris difahami banyak orang, sehingga pada gilirannya
mereka akan dapat memberikan kontribusi penting dalam mencegah dan memberantas
terorisme, terutama pada level individu dan kelompok kecil.
Permasalahan Penelitian
Buku-buku yang ditulis untuk membahas dan menguraikan tentang terrorisme,
termasuk biografi, otobiografi atau novel berdasarkan kisah nyata tentang teroris telah banyak
beredar di masyarakat. Buku-buku tersebut cukup laris dibeli karena memiliki daya tarik
tersendiri, kendati demikian, buku-buku tersebut lebih banyak ditempatkan sebagai informasi
yang “common sense”, atau buku yang berfungsi sebagai kajian diluar kaidah ilmiah.
Sehingga hal ini menyebabkan buku-buku tersebut belum banyak ditelaah dan diteliti oleh
para akademisi dan peneliti terutama dalam konteks analisa psikologis mengenai motivasi
dan proses menjadi teroris.
Walaupun buku-buku biografi, otobiografi atau kisah nyata dipandang sebagai sumber
sekunder, tetapi data dan informasi yang terkandung di dalamnya tergolong kaya. Terutama
dalam menjelaskan proses psikologis seorang “biasa” bisa menjadi teroris yang melakukan
perusakan dan pembunuhan atas nama ideologi agama tertentu. Buku-buku semacam itu
banyak ditemukan di berbagai tempat seperti toko buku dan perpustakaan, tetapi masalahnya
adalah tidak banyak, bahkan tidak ada satu penelitian yang berusaha mengkajinya dari
perspektif ilmu psikologi.
Pertanyaan Penelitian
Untuk memudahkan kajian dalam penelitian ini, peneliti merasa perlu dirumuskan pertanyaan
penelitian atau rumusan masalah penelitian, dalam hal penelitian ini rumusan masalahnya
adalah:
1. Faktor apa sajakah yang memiliki peran dalam terbentuknya seseorang hingga
menjadi teroris?
2. Dari variable yang ada, bagaimanakah peran variable-variabel tersebut terhadap
proses terbentuknya teroris?
3. Bagaimanakah interaksi antar variabael yang menyebabkan seseorang menjadi
teroris?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui:
1. Variable apa saja yang memiliki peran dalam terbentuknya seseorang hingga menjadi
teroris.
2. Pengaruh setiap variable yang ada terhadap proses terbentuknya teroris.
3. Interaksi antar variable yang menyebabkan seseorang menjadi teroris.
Manfaat Dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini mengandung beberapa manfaat dan kegunaan, yaitu:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan yang memadai tentang proses menjadi teroris
melalui pendekatan psikologi.
2. Memberikan insight dan pemahaman yang memadai tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi keterlibatan seseorang dalam aktivitas terorisme.
Sistematika Penulisan
Laporan penelitian ini disusun secara sistematis berdasarkan susunan bab-bab yang
diatur sedemikian rupa. Laporang ini terdiri dari beberapa bab, yaitu:
Bab I berisi pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan latarbelakang masalah penelitian,
permasalahan penelitian, pertanyaan penelitian, dan manfaat serta kegunaan penelitian.
Bab II berisi landasan teori dan kerangka konseptual. Dalam bab ini diuraikan teoriteori yang menjadi dasar teoritis dan analisis penelitian, kemudian dilanjutkan dengan
pembahasan mengenai kerangka konseptual penelitian yang menjadi dasar paradigma
penelitian dalam menguraikan tema dan variabel penelitian serta hubungan antar tema dan
variabel.
Bab III berisi metodologi penelitian. Dalam bab ini diuraikan metode yang digunakan
peneliti dalam mengumpulkan data, tehnik analisa, dan juga penjelasan tentang subjek dan
objek penelitian.
Bab IV berisi pembahasan dan analisa data. Dalam bab ini diuraikan data dan temuan
penelitian, kemudian analisa terhada data dan temuan penelitian serta kesimpulan.
Bab V berisi diskusi dan rekomendasi penelitian. Dalam bab ini dibuka ruang diskusi
mengenai hasil penelitian dan kesimpulannya, serta posisi hasil penelitian ini dalam konteks
penelitian terdahulu. Kemudian bab ini diakhir dengan rekomendasi, baik yang bersifat
teoritis-metodologis maupun praktis-pragmatis kepada stakeholder.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL
Pada bab ini peneliti menguraikan landasan teori yang digunakan dalam mengkaji
dan menganalisa data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen tentang teroris dan
terorisme, sekaligus membuat kerangka konseptual atau paradigma yang digunakan
peneliti dalam melaksanakan penelitian ini.
Landasan Teori
Dalam penelitian ini, ada beberapa hal yang dijadikan pijakan teoritis dalam
mengkaji psikologi teroris, tetapi sebelum membahas lebih lanjut tentang landasan
teoritis atau penjelasan konseptual tentang proses seseorang menjadi teroris, akan
dijelaskan lebih dahulu batasan dan pengertian tentang terorisme.
Definisi Terorisme
Kata teroris berasal dari kata terere yang berarti mengancam, atau membuat
ketakutan. Sehingga secara harfiah, terorisme berarti adalah tindakan yang dilakukan
dengan tujuan untuk menciptkan atau menimbulkan ketakutan atan ancaman.
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para
pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak
menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Sedangkan pengertian atau batasan
terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan
perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi
terorisme adalah tindakan yang tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti, waktu
pelaksanaan (yang selalu tiba-tiba) dan target /korban jiwa (yang acak serta seringkali
merupakan warga sipil). Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan
teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh
karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan pembalasan yang kejam.
Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan
"terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang
pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam
pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh
dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam
perang". Padahal Terorisme sendiri seringkali dilakukan dengan mengatasnamakan agama.
Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme, satu di antaranya
adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism
(Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: ―Terrorism means the use of
violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the
public or any section of the public in fear”.
Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa
ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau
suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat
ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata
psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak
percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau
kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan
langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan
terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku
teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat
dikatakan lebih sebagai psy-war. Dalam penelitian ini, batasan teroris merujuk pada
aktifitas atau tindakan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan untuk
membuat ketakutan kepada masyarakat.
Terorisme mencerminkan pertemuan antara : Pertama, suatu identitas kultural
yang berbasis kuat pada kolektivisme dan pemahaman fundamentalis tentang prinsip
agama dan budaya.Kedua, suatu identitas sosial yang berbasis pertentangan yang tajam
antara kelompok sendiri dan kelompok-kelompok yang dipersepsikan sebagai ancaman.
Ketiga, identitas personal yang tertutup dan otoritarian atau identitas personal yang
berlebihan dan tanpa tujuanii.
Karakteristik Perilaku Teror
Para ahli sepakat bahwa terdapat ciri-ciri perilaku terorisme yang dapat
digunakan untuk membedakannya dengan perilaku kekerasan lainnya, yaitu: Pertama,
terorisme memiliki tujuan yang jelas dan terencana. Artinya, teror yang dilakukan bukan
semata-mata untuk tujuan teror itu sendiri tetapi ada tujuan di balik perilaku teror
yang dilakukan.
Kedua, motivasi terorisme bisa bersifat patologis tetapi bisa juga bersifat
politik, walaupun penelitian mutakhir yang dilakukan oleh sejumlah psikiater dan psikolog
menyimpulkan bahwa para teroris umumnya adalah kumpulan orang-orang yang normal
yang sama sekali jauh dari karakteristik abnormal atau patologis. Ketiga, selalu
ditujukan kepada khalayak yang besar atau massa dalam jumlah yang banyak. Hal itu
dsebabkan karena semakin banyak korban semakin cepat pesan teroris sampai ke target
utama atau lawan utama. Keempat, terorisme dirancang untuk tujuan melakukan
perubahan sosial dan politik. Kelima, terorisme melibatkan suatu kelompok yang terdiri
dari para pemimpin dan para pengikut.
Mozarth (2006) menyebutkan ada dua perspektif yang berkembang di kalangan
komunitas pengkaji terorisme dalam melihat aksi teror, yaitu :
Pertama, sudut pandang sindrome, yaitu pandangan yang menyebutkan bahwa
terorisme bersifat patologis. Pandangan ini menegaskan bahwa teror dilakukan oleh
orang-orang yang mengidap penyakit atau gangguan patologis. Menurut para penggagas
dan pendukung perspektif ini, aktivitas teror yang dilakukan oleh orang-orang yang
tergabung dalam kelompok teror memenuhi syarat patologis, baik pada tingkat individu
maupun pada tingkat kelompok dengan tujuan untuk mencari penyebab.
Kedua, sudut pandang alat, yaitu pandangan yang menyebutkan perilaku teror
sebagai alat atau media untuk meraih tujuan yang lain sebagai solusi. Pandangan ini
menegaskan bahwa para pelaku teror sangat jelas memiliki tujuan strategis dengan ciriciri yang dapat diidentifikasi, yaitu bila dilihat dari sisi psikologi alat dan tujuan, teror
digunakan untuk meraih tujuan ketika alat lain tidak efektif untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan; serta trait individu dan kelompok sangat sulit untuk dikenali.
Dalam konteks ini, psikologi agama berperan penting dalam menjelaskan motivasi
kekerasan keagamaan dan upaya pencegahannya. Tindakan teroris dan relijiusitas kaum
fundamentalis tidak dapat dijelaskan semata-mata melalui patologi psikologis atau
patologi
sosial. Justeru
proses psikologi sosial yang
normal, seperti reduksi
ketidakpastian, manajemen teror, identitas sosial, dan pencarian makna melalui agama
berkombinasi dengan faktor-faktor kognitif seperti intratekstualitas dan kompleksitas
integratif yang rendah, memberikan pemahaman yang lebih memadai mengenai
radikalisasi kaum muda yang sebagian menjadi pelaku kekerasan dan kebencian terhadap
anggota kelompok lain.
Melihat Sisi Proses Psikologi Teroris
Jika penelitian psikologi tentang terorisme pada tahap awal sebagian besar
berpusat pada upaya untuk menjawab kenapa individu-individu menjadi teroris atau
terlibat dalam terorisme? Maka pertanyaan yang diajukan para peneliti psikologi
terorisme kontemporer lebih fokus dan lebih fungsional. Horgan dan lain-lain membantu
membuat kerangka penelitian masa depan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang lebih baik.
Di dalam pertanyaan ―kenapa‖ terkandung asumsi bahwa menjadi teroris
mencakup pilihan diskrit untuk mengubah status. Observasi sosial dan operasi terhadap
sejumlah teroris dan kelompok teroris menyimpulkan bahwa rekrutmen dan keterlibatan
dalam terorisme tidak terjadi seperti itu. Horgan dan Tylor (2001) mencatat,‖Apa yang
kami ketahui tentang teroris aktual menyatakan bahwa tidak banyak keputusan sadar
yang dibuat untuk menjadi teroris. Hampir sebagian besar keterlibatan dalam terorisme
terjadi melalui paparan dan sosialisasi bertahap terhadap perilaku ekstrim.‖
Sebagai upaya menjadi kerangka konseptual untuk menguji pertanyaan tentang
kenapa seseorang menjadi teroris, Crenshaw menyatakan bahwa isu tentang kenapa
teroris bertahan dalam terorisme walaupun penuh resiko dan tanpa balasan yang jelas
merupakan satu pertanyaan yang penting. Kemudian lebih lanjut ia mengatakan bahwa
ada pertanyaan yang lebih penting lagi, yaitu kenapa dan bagaimana seseorang keluar
dari kelompok teroris?
Psikolog John Horgan dan Max Tylor (2001) kemudian membahas terorisme dari
sisi proses yaitu fase sebelum menjadi teroris, fase menjadi teroris (bisa dikonstruksi
dengan : 1) tetap terlibat dan, 2) terlibat dan keluar dari terorisme. Mereka
menyebutkan bahwa ada suatu distingsi mendasar yang dapat dibuat dalam menganalisa
faktor-faktor yang berpengaruh pada tahap-tahap yang berbeda-beda, yaitu tahap
menjadi, tahap bertahan, dan tahap meninggalkan atau mengakhiri keterlibatan.
Motif dan Vulnerabilitas. Di antara faktor psikologi utama dalam memahami
bagaimana dan individu seperti apa dalam suatu lingkungan akan memasuki proses
menjadi teroris adalah faktor motivasi dan vulnerabilitas. Secara definisi, yang
dimaksudkan dengan motif adalah emosi, hasrat, kebutuhan psikologis, atau impuls yang
menjadi pendorong utama tindakan. Sedangkan vulnerabilitas adalah kecenderungan
untuk terpengaruh oleh bujukan atau ajakan.
Motivasi seseorang untuk terlibat dalam terorisme seringkali diduga adalah
sebab kelompok atau ideologi kelompok. Kendati demikian, sebagaimana Crenshaw
sebutkan bahwa kesan umum teroris sebagai individu yang termotivasi secara eksklusif
oleh komitmen politik yang dalam dan kuat merupakan suatu realitas yang kompleks.
Realitasnya adalah bahwa motif bergabung ke dalam suatu organisasi teroris dan motif
terlibat dalam terorisme beragam sesuai dengan keragaman tipe kelompok dan
keragaman di dalam kelompok serta berubah sesuai perubahan zaman.
Marta Crenshaw (1985) sebagai contoh, menyebutkan paling tidak ada empat
kategori motivasi di kalangan para teroris, yaitu : Pertama, peluang bertindak. Kedua,
kebutuhan untuk diakui. Ketiga, hasrat terhadap status sosial, dan keempat, usaha
mendapatkan balasan materi. Post (1990) lebih jauh menyebutkan bahwa terorisme akan
berakhir dengan sendirinya, tanpa terikat oleh tujuan politik atau ideologi. Alasannya
adalah penyebab terorisme bukanlah penyebab itu sendiri (the cause is not the cause).
Penyebab sebagaimana dikodifikasi dalam ideologi kelompok, menurut jalur argumen
tersebut, menjadi rationale bagi tindakan kaum teroris adalah didorong untuk bertindak.
Dengan kata lain, sebenarnya argumen utama pendekatan ini adalah bahwa individu
menjadi teroris karena bergabung ke dalam kelompok teroris dan melakukan tindakan
terorisme.
Ketiga faktor psikologis yaitu ketidakadilan, identitas dan kepemilikan ditemukan
ada pada kaum teroris dan mempengaruhi pengambilan keputusan secara kuat untuk
memasuki organisasi teroris dan terlibat dalam aksi terorisme. Sebagian analis
terorisme berpendapat bahwa ketiga faktor tersebut saling bersinergi satu sama lain
dan dinamika di antara ketiganya merupakan akar penyebab terorisme, di luar faktor
ideologi. Luckabaugh dan kolega (1997) menyimpulkan bahwa penyebab riil atau motivasi
psikologis untuk bergabung dalam terorisme adalah kebutuhan yang besar untuk diakui,
suatu kebutuhan untuk mengkonsolidasi identitas. Kebutuhan untuk diakui sejalan
dengan identitas personal yang tidak lengkap merupakan suatu faktor yang sama pada
semua kelompok teroris. Dalam rumusan yang sama, Jerold Post (1984) berteori bahwa
kebutuhan untuk diakui, kebutuhan untuk memiliki identitas yang stabil, untuk mengatasi
keterpecahan dan menyatu dengan diri sendiri dan dengan masyarakat merupakan
konsep menjembatani yang penting dan membantu menjelaskan kesamaan perilaku para
teroris yang berasal dari berbagai kelompok dengan motivasi dan komposisi yang
berbeda satu sama lain.
Bruce (1997) berpendapat bahwa untuk memahami proses menjadi seorang
teroris dengan baik, motif tidak dapat dipisahkan dari peluang. Dalam pernyataan yang
sederhana, orang-orang mengikuti jalur tertentu menuju radikalisasi, terorisme dan
organisasi teroris. Jalur menuju terorisme mungkin berbeda antara satu orang dengan
orang lain, dan semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor yang beragam. Bandura (1990)
melihat bahwa jalur menuju terorisme dapat terbentuk oleh faktor-faktor yang
bersifat sengaja, pengaruh rasa suka personal yang terjadi secara bersamaan, dan
dorongan sosial.
Transisi menuju proses menjadi teroris tidak pernah terjadi secara tiba-tiba dan
serta-merta. Horgan mengatakan bahwa proses menjadi teroris melalui proses yang
panjang: paparan dan sosialisasi bertahap terhadap perilaku ekstrim. Pandangan yang
sama dikemukakan oleh Luckabaugh dan rekan-rakan yang menegaskan bahwa proses
menjadi teroris tidak terjadi dalam waktu semalam. Mereka yang menjadi teroris
mengikuti suatu progres umum, dari alineasi sosial sampai kejenuhan sosial, kemudian
ketidaksetujuan dan protes, sebelum akhirnya benar-benar berubah menjadi teroris.
McCormick (2003) menyebut proses tersebut dengan istilah pendekatan
perkembangan. Terorisme dalam perspektif pendekatan perkembangan bukanlah produk
dari suatu keputusan tunggal, tetapi hasil akhir dari suatu proses dialektis yang
mendorong seseorang secara bertahap menuju komitmen terhadap kekerasan sepanjang
waktu. Proses tersebut terjadi pada lingkungan politik yang lebih luas yang meliputi
negara, kelompok teroris, dan konsituen politik. Interaksi di antara variabel-variabel
tersebut dalam suatu seting kelompok digunakan untuk menjelaskan kenapa individu
berubah menjadi pelaku kekerasan dan pada akhirnya dapat menjustifikasi tindakan
kaum teroris.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana ideologi ekstrim berkembang menjadi
radikalisasi dan pada akhirnya diterjemahkan menjadi justifikasi atau imperatif untuk
menggunakan kekerasan teroris? Frederick Hacker (1983) menjelaskan progresi
tersebut dalam tiga tahap, yaitu : Tahap pertama meliputi kesadaran akan penindasan;
kedua, pengakuan bahwa penindasan tersebut bersifat sosial dan karenanya tidak dapat
dihindarkan; ketiga, impetus atau realisasi yang memungkinkan bertindak melawan
penindasan.
Erick Shaw (1986) menjelaskan eksistensi jalur perkembangan umum yang dilalui
para teroris memasuki profesi mereka. Ada empat tahap proses menjadi teroris, yaitu:
Pertama, proses sosialisasi dini; kedua, luka narsistik, misalnya, peristiwa hidup yang
negatif dan secara negatif mempengaruhi citra diri atau harga diri; ketiga, peristiwaperistiwa
yang
bersifat
eskalatif
(seringkali
konfrontasi
dengan
polisi
yang
menyebabkan provokasi yang dipersepsikan; dan keempat, koneksi personal dengan
anggota kelompok teroris yang meningkatkan peluang, akses, dan insentif untuk
memasuki kelompok teroris.
Berdasarkan analisa terhadap kelompok ekstrimis militan yang beragam dengan
ideologi yang juga beragam, Borum (2003) berpendapat bahwa terdapat beberapa tahap
proses yang dialami individu anggota kelompok teroris dalam menganut ideologi ekstrim,
baik luar negeri maupun domestik. Proses tersebut diawali dengan persepsi tentang
peristiwa yang tidak memuaskan atau kondisi yang tidak adil. Ketidakadilan kemudian
dicela dan dikaitkan dengan kebijakan target, person atau bangsa.
Sebagai suatu disiplin ilmu, psikologi memiliki sejarah yang panjang dalam
menjelaskan perilaku menyimpang sebagai suatu fungsi psikopatologi (misalnya
penyakit mental, gangguan, atau disfungsi) atau sindrom kepribadian malasuai.
Menurut Schmid dan Jongman (1988), asumsi umum yang mendasari banyak teori
psikologi adalah bahwa para teroris dalam satu hal atau beberapa hal merupakan
orang yang tidak normal, dan bahwa pemahaman dari psikologi dan psikiatri
menjadi
kunci
yang
memadai
untuk
memahaminya.
Pada
kenyataannya,
psikopatologi terbukti hanyalah faktor penentu yang umum bagi kekerasan biasa,
tetapi tidak relevan untuk memahami terorisme. Dalam realitasnya, ide tentang
terorisme sebagai produk gangguan mental atau psikopati tidak tepat lagi.
Penelitian tentang psikologi terorisme hampir seragam menyimpulkan
bahwa penyakit mental dan abnormalitas secara tipikal bukanlah faktor penting
dalam perilaku kaum teroris. Studi-studi yang dilakukan peneliti dari kalangan
psikolog menemukan bahwa tingkat penyakit mental di kalangan sampel teroris
yang tertangkap adalah rendah atau lebih rendah dibandingkan populasi umum.
Lebih lanjut, walaupun kaum teroris seringkali melakukan tindakan yang gila
tetapi jarang sekali mereka dicap sebagai psikopat klasik. Secara tipikal kaum
teroris memiliki keterkaitan dengan prinsip atau ideologi, termasuk teroris lain
atau orang lain yang berbagi dengan mereka. Padahal, psikopat tidak memiliki
bentuk hubungan seperti itu dan tidak pula mau mengorbankan diri termasuk
bunuh diri atau mati untuk suatu sebab.
Trait kepribadian secara konsisten telah gagal dalam menjelaskan sebagian besar
tipe perilaku manusia, termasuk perilaku kekerasan. Pendekatan tidak dapat memberikan
sumbangan yang lebih banyak dan lebih signifikan dibandingkan faktor situasi atau
faktor konteks. Crenshaw (2001) misalnya menyebutkan bahwa komitmen ideologi
bersama dan solidaritas kelompok merupakan determinan yang lebih penting bagi
perilaku kaum teroris dibandingkan karakteristik individual. Bandura agaknya sepakat,
sebagaimana tercermin dalam sejumlah tulisannya, bahwa diperlukan kondisi sosial yang
kondusif dibandingkan orang-orang gila untuk melakukan tindakan yang gila. Oleh karena
itu,
metode
yang
paling
efektif
untuk
menjelaskan
perilaku
adalah
dengan
mengkombinasikan antara faktor personal dan faktor situasi.
Sejumlah literatur secara tegas menyebutkan bahwa tidak ada kepribadian
teroris dan tidak ada pula profil psikologis atau profil lainnya tentang teroris. Bahkan,
kepribadian sendiri cenderung tidak bisa menjadi prediktor yang sangat baik terhadap
perilaku. Upaya memahami terorisme dengan mengkaji trait kepribadian teroris
merupakan bidang yang tidak produktif untuk menghasilkan investigasi dan studi
selanjutnya.
Pengaruh Pengalaman Hidup Terhadap Terorisme
Pengalaman hidup tertentu secara umum cenderung ditemukan pada kaum teroris.
Sejarah pengalaman kekerasan dan trauma agaknya sesuatu yang umum pada mereka.
Selain itu, tema-tema persepsi tentang ketidakadilan dan keterhinaan seringkali
mengemuka dalam biografi kaum teroris dan sejarah personal mereka. Namun, tidak ada
satupun dari semua itu yang memberikan kontribusi yang banyak terhadap penjelasan
sebab-akibat mengenai terorisme, tetapi bisa terlihat sebagai penanda vulnarebilitas,
sebagai sumber motivasi atau sebagai mekanisme untuk memperoleh atau menguatkan
ideologi kaum militan.
Peran Ideologi Dalam Terorisme
Ideologi seringkali didefinisikan sebagai serangkaian aturan yang umum dan
disepakati secara luas serta menjadi patokan individu yang membantunya mengatur dan
menentukan perilaku. Ideologi-ideologi yang mendukung terorisme yang sangat beragam
agaknya
mengandung
tiga
karakteristik
struktural
yang
umum.
Karakteristik-
karakteristik tersebut mencakup: Satu, harus memberikan sehimpunan keyakinan yang
membimbing dan menjustifikasi serangkaian mandat perilaku. Kedua, keyakinankeyakinan tersebut harus dihargai dan tidak boleh dipersoalkan atau dipertanyakan.
Ketiga, perilaku-perilaku tersebut harus memiliki tujuan yang terarah dan terlihat
memberikan sebab tertentu dan sasaran yang bermakna. Budaya merupakan faktor
penting dalam perkembangan ideologi, tetapi dampaknya terhadap ideologi kaum teroris
secara khusus belum dipelajari. Ideologi membimbing dan mengendalikan perilaku dengan
memberikan satu himpunan penghantar perilaku yang menghubungan perilaku langsung
dan aksi terhadap hasil dan ganjaran yang positif atau dilihat sebagai satu bentuk
aturan perilaku yang berdasarkan aturan.
Untuk menjelaskan tahapan-tahapan atau proses psikologis yang dialami
seseorang dari seorang yang biasa atau bukan teroris menjadi seorang teroris, akan
digunakan teori ―Staircases to terrorism‖ dari Fathali Moghaddam (2005).
Tangga
menuju terorisme adalah metafor yang digunakan Moghaddam untuk menggambarkan
dan menjelaskan proses menjadi terorisme. Tangga-tangga menuju terorisme terdiri
dari :
1. Ground floor: Search for meaning. Mencari makna diri dan sosial menjadi
awal atau modal dasar menjadi terrorisme, walaupun tidak semua orang
yang sedang mencari makna akan terjerumus ke dalam aktivitas terorisme.
Pada tahap ini, ada kekecewaan dan deprivasi atas kondisi pribadi
terutama kondisi kelompok lain yang lebih baik dari kelompok sendiri.
Kondisi seperti ini sering disebut dengan istilah krisis identitas yang
melahirkan persepsi ketidakadilan terhadap kelompok sendiri yang
dilakukan oleh kelompok lain.
2. First floor : Presenting the ideology. Pada saat ini, muncul semangat untuk
mencari musuh dan melawan pihak (kambing hitam) yang dianggap
melakukan ketidakadilan terhadap kelompok sendiri. Maka, pertanyaan
yang muncul adalah bagaimana melawan ketidakadilan tersebut?
3. Second floor: Cultivation stage. Pada tahap ini terjadi proses pengolahan
ideologi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang telah
membuat ketidakadilan terhadap kelompok sendiri. Bentuk dasarnya
adalah displacement aggression. Aktifitas yang sering muncul adalah dalam
bentuk pencelaan dan pengutukan pihak-pihak yang telah dianggap menjadi
penyebab ketidakadilan tersebut.
4. Third floor : yaitu aktifitas yang dilakukan dalam bentuk melihat dunia
sebagai hal yang hitam dan putih. Hanya ada benar atau salah. Dimana
penilaian benar dan salah didasarkan pada ―fatwa leader‖.
Leader
melakukan control, Control over member, dalam bentuk penanaman ide dan
keyakinan moral yang bersifat benar vs salah. Pada tahap ini, semua cara
dihalalkan asalkan bisa digunakan untuk mencapai tujuan.
5. Fourth floor : Moral engagement. Pada tahap ini terjadi proses polarisasi
kelompok kawan dan lawan. ―Mereka adalah lawan yang hendak menyerang
dan menghancurkan kita.‖ Identitas sosial terbentuk secara mantap, yaitu
identitas sebagai mujahid, dan orang/kelompok yang tidak sejalan adalah
musuh.
6. Fifth floor : Recruitment. Pada tahap ini seseorang mulai terlibat dalam
aksi terorisme yang mencengangkan dunia. Keterlibatan secara aktif mulai
dari perencanaan, penentuan target, penentuan tehnik, waktu dan
tempat/lokasi sasaran, hingga yang aktifitas yang menentukan dalam
rekrutmen pelaksana.
Basis Dukungan Terorisme
Selama ini persepsi publik selalu mengaitkan terorisme pada pelaku teror yang
terlibat secara langsung dalam kegiatan destruktif, padahal terorisme tidak hanya
melibatkan orang atau kelompok tertentu yang teridentifikasi oleh pihak intelijen atau
aparat. Terorisme melibatkan suatu jaringan luas yang terdiri dari berbagai lapis. Bila
merujuk kepada pendapat Mozarth M.A (2006), basis dukungan terorisme terdiri dari :

Teroris aktual yaitu pelaku teror yang terlibat secara langsung di
lapangan.

Pendukung aktif, yaitu orang-orang yang menjadi perencana, mentor dan
pengatur tenaga lapangan.

Pendukung pasif yaitu orang-orang yang tidak terlihat atau tidak
terdeteksi oleh aparat atau intelijen tetapi memiliki kontribusi yang besar
atas terlaksananya aksi teror. Kelompok ini terdiri dari penyandang dana
atau ideolog.

Simpatisan, yaitu orang-orang yang sefaham dengan kelompok teroris
tetapi tidak terlibat secara langsung dalam aksi teror. Mereka umumnya
adalah kelompok radikal yang mengusung ideologi yang sama dengan para
teroris.
Islam dan Radikalisme
Ada tiga prinsip kunci ideologi radikal, yaitu intoleransi relijius, sentralitas jihad
militan terhadap penerapan Islam, dan upaya formalisasi syariat dalam hukum
kenegaraan. Argumen teologis berbasis penafsiran radikal terhadap suatu keimanan
melegitimasi, menjustifikasi dan mendorong tindakan terorisme. Walaupun kaum Muslim
mainstream di seluruh dunia mengutuk ideologi radikal tersebut, satu sekte kecil kaum
ekstrimis telah berusaha menggunakan agama sebagai senjata perang selama satu abad.
Mereka bukan musuh dalam bentuk individu atau kelompok tetapi dalam bentuk jaringan
organisasi transnasional yang kompleks. Ideologi tersebut membuat radikal individu dari
berbagai macam ras, etnik, status sosial-ekonomi, dan tingkat pendidikan, serta
mengubah menjadi kaum militant.iii
Kerangka Konseptual
Penelitian ini dilakukan berdasarkan kerangka konseptual sebagai berikut:
Perilaku teror dilakukan oleh para teroris yang memilih jalan ini sebagai alat untuk
meraih tujuan jangka panjang. Para teroris memilih jalan teror karena mereka tidak
menemukan jalan lain yang memungkinkan untuk dilakukan dalam melawan ―musuh‖ yang
dianggap bertanggungjawab atas kesulitan, nestapa dan malapetaka yang menimpa
kaumnya.
Siapa saja bisa menjadi teroris. Artinya, orang biasa yang tidak berdosa sama
sekali bisa terlibat dalam aksi teror, karena proses menjadi teroris merupakan
rangkaian panjang dari sebuah proses sosial dan psikologis. Tahap awal kemungkinan
seseorang menjadi teroris ketika ia mengalami semacam krisis identitas sosial yang
ditandai oleh upaya pencarian jati diri dan kelompok. Pada tahap ini seseorang
merasakan ketidakadilan telah dilakukan pihak-pihak tertentu terhadap kaumnya, lalu ia
akan mencari siapakah sesungguhnya yang bertanggungjawab atas ketidakadilan dan
kezaliman yang menimpa kaumnya? Setelah diperoleh informasi tentang siapa yang
bertanggungjawab atas ketidakadilan dan kezaliman yang ada di depan mata –biasanya
informasi ini diperoleh dari seorang tokoh atau pemimpin kharismatik—maka terjadi
proses pengolahan ideologi atau kaderisasi atau ideologisasi atau pencucian otak oleh
sang ideolog atau pemimpin yang bertugas merekrut dan mengkader para pelaku teror.
Pada saat itu, mentalitas lawan dan kawan atau ingroup dan outgroup yang sangat
bernuansa hitam-putih dalam menilai segala hal. Proses penempaan terus berlangsung
sampai tiba saatnya seseorang berkomitmen untuk menjadi bagian dari jaringan perilaku
teror. Pada saat ini, seseorang sudah pantas dianggap sebagai teroris yang tunduk pada
normal dan moral yang berlaku di kelompok teroris. Setelah itu, tentu saja ada dua
kemungkinan yang terjadi, yaitu terus bertahan sebagai teroris atau berubah menjadi
orang biasa melalui beragam cara. Bila digambarkan dalam bentuk bagan maka prosesnya
sebagai berikut:
Praradicalisation
Radicalisation
Pre-involvement
searching
Violent
radicalisation
Remaining
involved and
engaged
Disengagem
ent
Deradicalisation
Keterangan:

Pra radikalisasi: orang biasa

Radikalisasi : Orang biasa berubah menjadi radikal

Pra pencarian keterlibatan : Orang yang radikal mencari cara dan
kelompok untuk melakukan aksi teror.

Radikalisasi
kekerasan:
Orang
yang
radikal
memilih
jalan
teror,
menemukan kelompok teroris dan mulai melakukan teror.

Tetap terlibat dalam kelompok teroris : seorang teroris tetap bertahan
dalam kelompok teroris dan konsisten memilih jalan teror.

Disengagement: Seorang teroris mulai berubah menjadi bukan teroris atau
orang biasa.

Deradikalisasi: Seorang mantan teroris yang mulai mengubah ideologinya
menjadi ideologi yang moderat dan tidak memilih jalan teror dan
kekerasan.
Penelitian ini akan menggunakan teori staircases to terrorism dari Moghaddam
(2005). Teori ini dikembangkan setelah Moghaddam mengamati bahwa penelitian
psikologi tentang terorisme mengalami dua kelemahan, yaitu: Pertama,
kurangnya
kerangka kerja konseptual yang kuat dan ketergantungan reduksionis-positivistik pada
data yang dikumpulkan atas dasar asumsi bahwa data tersebut akan memungkinkan kita
untuk meniru kesuksesan sain murni seperti fisika.
Kedua, kecenderungan para peneliti psikologi untuk terpecah ke dalam dua kubu,
yaitu kubu disposisi dan kubu kontek (aliran kepribadian dan aliran situasi). Faktor
disposisi dan faktor konteks memiliki pengaruh yang relatif terhadap perilaku manusia.
Artinya, mereka yang menganut kubu disposisi terlalu berlebihan dalam menganggap
trait dan kepribadian sebagai satu-satunya faktor yang kuat dari perilaku teror.
Sebaliknya, kubu situasi atau konteks terlalu berlebihan juga menganggap kekuatan
situasi atau konteks tidak bisa dilawan oleh siapapun. Jalan tengah yang baik adalah
melakukan sinergi atas kedua pandangan tersebut, yaitu membangun suatu asumsi
teoritis yang mencakup kedua kubu, yaitu bahwa perilaku teror adalah sinergi antara
kekuatan disposisi dan kekuatan situasi.
Konsep derajat kebebasan memperjelas isu pertentangan antara kedua kubu,
dalam hal ini, Mogadham menggunakan metafora ―staircase to terrorism‖ (tangga menuju
terorisme). Ada 5 lantai menuju terorisme, yaitu : Pertama, lantai dasar (interpretasi
psikologis tentang kondisi materil, persepsi terhadai kejujuran dan adekuasi identitas.
Kedua, lantai pertama (tahap mencari cara untuk meningkatkan kondisi yang dipengaruhi
oleh peluang mobilitas dan suara individual). Ketiga, lantai kedua ( pengaruh pesan
persuasif yang menyatakan bahwa akar persoalan mereka adalah musuh luar yang
dipimpin Amerika), Keempat, lantai ketiga, mulai menganut moralitas yang mendukung
terorisme; mereka mulai terpisah dari moralitas mainstream umat Islam. Mereka mulai
menganut moralitas ―the end justify the mean‖. Kelima, lantai keempat, menganut gaya
berpikir kategoris : kita lawan mereka, kebaikan melawan kejahatan, hitam dan putih.
Muncul legitimasi psikologis untuk menyerang kekuatan-kekuatan setan dengan segala
cara. Keenam, lantai kelima, mengambil peran dan secara langsung mendukung aksi
terorismeiv
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, menyesuaikan
dengan objek penelitian, dimana objek penelitian ini adalah isi dari buku atau
tulisan tentang biografi teroris.
Pada mulanya, metode penelitian yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah metode yang biasa disebut dengan istilah
mixed methode (metode campuran).
Metode campuran ini adalah sebuah
pendekatan baru yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif baik
dalam hal pengambilan data, pengolahan dan analisa. Tetapi karena keterbatasan
peneliti dari sisi waktu, tenaga dan biaya maka pendekatan yang akhirnya
digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif saja. Sedangkan
untuk penelitian kuantitatifnya akan dilakukan sebagai tindak lanjut dari
penelitian ini.
Dalam penelitian gabungan ini metode penelitian kualitatif dan kuantitatif
dilakukan secara bertahap. Metode pertama adalah pendekatan kualitatif, dan
selanjutnya hasil dari penelitan pertama digunakan sebagai data untuk penelitian
tahap ke-2 (kuantitatif).

Metode pertama yang digunakan adalah metode kualitatif digunakan
dengan pendekatan Analisa isi dari Tulisan (juga dikenal sebagai
Documentary Hypothesis). Teknik yang digunakan adalah penelitian
biografi.
Penelitian
biografi
adalah
studi
tentang
individu
dan
pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan
arsip-arsip..
Pendekatan ini menekankan pada analisa terhadap isi atau
konten suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor
analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol
coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian
diberi interpretasi. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point
moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi
atau mengubah hidup seseorang Dimana analisa isi biografi dibatasi pada
factor-faktor psikologis dan situasi/lingkungan yang secara teoritis
dianggap
memiliki
pengaruh
terhadap
perilaku
terorisme..
Peneliti
menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya
sendiri.
Metode ini digunakan untuk menganalisa data-data yang dihasilkan dari
metode analisa isi biografi.
Hasil yang ditemukan dengan metode analisa isi,
faktor-faktor tersebut kemudian di jadikan variabel yang akan dianalisa. Teknik
analisa regresi digunakan dalam metode ini. Analisa digunakan untuk menjelaskan
hubungan dan interaksi antar variabel dan pengaruhnya terhadap terorisme.
Teknik analisa ini menggunakan soft ware SPSS dan Lisrel.
Objek penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah buku tentang pelaku terorisme, yang terdiri
dari 3 buku, yaitu:
1. Temanku teroris oleh Noor Huda Ismail (2010), yang secara umum berisi
tentang Apa sebenarnya yang terjadi ketika dua santri menerapkan ilmu
agama pada jalan hidup masing-masing? Penulis buku mengangkat kisah
dirinya dan pelaku teroris (Fadlullah Hasan) dengan empati dan simpati,
menyisakan perenungan tentang terorisme, jihad Islam dan arti sebuah
persahabatan.
2. Demi Allah aku seorang teroris oleh Damien Dematra adalah kisah tentang
pencarian kebenaran yang dilakukan seorang anak manusia namun malah
dipelintir
oleh
sejumlah
oknum
dengan
mengatasnamakan
agama.
Dalam kerinduannya mencari Tuhan, seseorang bergabung dengan sebuah
kelompok pengajian dan diminta mengucapkan janji setia pada sebuah
organisasi dan mulai mempercayai pandangan bahwa negara yang benar
adalah negara yang berlandaskan hukum syariat agama. Ia pun percaya
bahwa perlakuan orang-orang non-Muslim di Indonesia adalah kafir,
apalagi mereka yang berasal dari negara barat.
3. Aku melawan teroris ditulis oleh Imam Samudra. Berisi tentang proses
dan ungkapan-ungkapan kesadaran mengenai jalan yang ia tempuh, dari
sekian ragam jalan yang ditempuh oleh umat Islam. Agaknya ungkapan ini
mewakili metode pemahaman yang ia anut.
4. Fuad Hussein
Generasi Kedua Al-Qaidah; Apa dan Siapa Zarqawi, Ikon Kelompok
Perlawanan Iraq Masa Kini/ Fuad Hussein; Penerjemah, Ahmad Syakirin;
Editor, Tony Syarqi, -- Solo:Jazeera, 2009
5. Noor Huda Ismail(2010). Temanku, Teroris?. Jakarta: Penerbit Hikmah
6. N. Bin Laden, O. Bin Laden, Sasson, J. Growing Up Bin Laden (2010).
Jakarta:Penerbit Literati
7. Ed Husain (2007). The Islamist. London: Penguin Book
8. Al-Maqdisi, Abu Muhammad Mereka Mujahid tapi Salah Langkah/Abu
Muhammad Al-Maqdisi; Penerjemah, Abu Sulaiman; Editor, Fahmi Suwaidy
– Solo: Jazeera, 2007
9. Damien Dematra (2009). Demi Allah, Aku Jadi Teroris. Jakarta: Penerbit
Gramedia Pustaka Utama
10. Imam Samudra (2004). Aku Melawan Teroris. Jakarta: Jazeera
11. Ali Imron (2007). Ali Imron Sang Pengebom. Jakarta: Penerbit Republika
Instrument Penelitian
1. Metode kualitatif
Instrument dalam penelitian tahap pertama ini adalah panduan analisa isi
buku, biografi.
Teknik analisa
Analisa dilakukan dengan mengumpulkan informasi atau data yang terkati
deng hal-hal yang menyebabkan seseorang menjadi teroris, tentunya dalam ranah
psikologi. Informasi yang didapatkan dari satu pelaku dengan pelaku yang lain
kemudian dicari karakteristik yang mirip/sama.
Kemudian dijadikan tabulasi
factor psikologis yang dominan dari tokoh-tokoh tersebut.
BAB IV
DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Pada bab ini tim penulis akan menguraikan profil singkat teroris, sejumlah
data dan informasi terkait tema dan tujuan penelitian, serta temuan penting
yang hendak dibahas berdasarkan pendekatan ilmu psikologi.
Profil Singkat Teroris
Profil singkat para teroris sengaja dikemukakan dalam laporan penelitian
ini dengan tujuan agar penelitian memiliki kekuatan utama yang berpijak pada
aspek kepribadian atau psikologi. Dengan mengemukakan profil singkat teroris
ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran awal tentang aspek
psikologis dari para teroris.
Ada dua tokoh yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu Abu Musab dan
Utomo Pamungkas. Pemilihan kedua tokoh ini dasarkan atas argumentasi bahwa
yang pertama mewakili profil teroris dari Timur Tengah dan yang kedua mewakili
profil teroris dari Indonesia. Pemilihan teroris dari Timur Tengah dan teroris
dari Indonesia dimaksudkan untuk melihat bagaimana pengaruh latarbelakang
kondisi geografis dan corak keagamaan mempengaruh keterlibatan seseorang
dalam terorisme.
Argumen di atas didasarkan atas keinginan untuk menguji gagasan seorang
peneliti psikologi sosial atau ahli psikologi lintas budaya dari negeri Belanda,
yaitu Geert Hofsted yang sangat berpengaruh dalam hal pengujian konsep
psikologi berdasarkan perbedaan budaya. Pada tahun 1960an sampai tahun
1970an, Hofsted terlibat dalam suatu penelitian besar dengan ruang lingkup
penelitian yang sangat besar, yaitu melibatkan lebih dari 60 negara di seluruh
dunia. Proyek penelitian massif ini menghasilkan akumulasi respon sebanyak
116.000 respon sehingga memungkinkan bagi Hofstede untuk melakukan analisa
data yang ekstensif yang kemudian ia publikasikan dalam bentuk buku yang
berjudul ―Culture’s Consequence” pada tahun 1980.
Penelitian Hofsted mendukung hasil penelitian dua peneliti dari Amerika,
Alex Inkles, seorang sosiolog dan Daniel Levinson seorang psikolog, yaitu bahwa
semua masyarakat menghadapi empat tantangan berikut ini:

Ketidakadilan sosial, termasuk hubungan dengan penguasa.

Hubungan antara individu dan kelompok

Konsep maskulinitas dan feminitas : implikasi sosial dan emosional akibat
terlahir sebagai laki-laki dan perempuan.

Cara menghadapi ketidakpastian dan ambiguitas dikaitkan dengan kontrol
terhadap agresi dan ekspresi emosi.
1. Abu Mus’ab Al-Zarqawi
Abu Musab al-Zarqawi (bahasa Arab: ‫أبومصعب الزرقاوي‬‎) (± Oktober 1966 – 7
Juni 2006) adalah pemimpin kelompok militan Islam Al-Qaeda di Irak. Zarqawi
termasuk daftar orang yang sangat dicari di Yordania dan Irak karena telibat
dalam serangkaian serangan, termasuk pembunuhan tentara dan polisi, serta
beberapa penduduk sipil. Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah 25
juta USD untuk penangangkapan Zarqawi, jumlah yang sama dengan yang
ditawarkan untuk penangkapan Osama bin Laden sebelum Maret 2004. Zarqawi
terbunuh di suatu serangan udara AS di Baquba pada 7 Juni 2006. Sebagai
penggantinya, Al-Qaeda di Irak telah menunjuk Syeikh Abu Hamza al-Muhajir
sebagai penggantinya.
Dilahirkan di Zarqa, Yordania pada tanggal 20 Oktober 1966 dengan nama
Ahmad Fadil Nazal Al Khalaylah dalam sebuah lingkungan pemukiman yang kumuh
dan didominasi pemandangan kemiskinan. Zarqowi pernah mendekam di penjara
selama beberapa waktu karena beberapa kasus kriminal ringan yang pernah ia
lakukan. Setelah beberapa lama mendekam di sel, ia mengalami transformasi
personal yang mengejukan banyak orang. Selanjutnya ia berubah menjadi seorang
Islamis militan yang menganut ajaran Islam radikal dan garis keras.
Zarqowi
pernah ikut bergabung bersama mujahidin Afganistan untuk berperang melawan
aneksasi Uni Sovyet. Pergaulannya bersama kaum mujahidin lainnya di Tanah
Afganistan membentuk karakter dan kepribadian khas pada diri Zarqowi. Nilainilai jihad dan perlawanan terhadap kaum yang dipandang kafir, munafik dan
sesat amat mendarah daging pada dirinya sehingga ia tampil sebagai sosok yang
menonjol di antara kawan-kawannya.
Abu Musa Al-Zarqawi, adalah salah seorang tokoh terkenal dalam deretan
kelompok teroris kelas dunia dan cukup ditakuti karena sepak terjangnya dalam
dunia teror yang mencemaskan banyak pihak. Untuk memudahkan penulisan tokoh
ini selanjutnya disebut Al-Zarqawi saja. Ia dilahirkan di negeri Yordania, Timur
Tengah. Bayi Al-Zarqawi
dilahirkan di sebuah pemukiman miskin dan sangat
kumuh di tengah padang pasir yang panas yang bernama Al-Zarqa.
Masa kecil Al-Zarqawi sangat sarat dengan nilai-nilai
budaya dan
kehidupan Kaum Badui yang dicirikan dengan watak yang baik, misalnya, gampang
memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, termasuk gampang suka dan
menyayangi orang lain. Al-Zarqawi juga dikenal sebagai pribadi yang berakhlak
mulia, pemberani dan sangat ramah kepada siapa saja, kendati ia dikenal juga
sebagai orang yang sangat pendendam.
Ada beberapa faktor penting yang membentuk pribadi dan karakter AlZarqawi sehingga ia tumbuh menjadi sosok dengan karakter khas Badui yang
melekat pada dirinya. Kekentalan karakter Badui pada diri Al-Zarqawi tercermin
pada hal-hal berikut ini, yaitu :
Pertama, nilai, pola dan gaya hidup Kaum Badui yang sangat kental dengan
ketangguhan, keberanian dan ketegasan. Karakteristik umum yang melekat pada
Kaum Arab Badui sangat melekat pada diri Al-Zarqawi sehingga ia dikatakan
sebagai
prototipe
Arab
Badui
modern.
Ketangguhannya
tercermin
dari
resiliensinya dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan hidup yang
mendera sejak masa kanak-kanak sampai ia dewasa. Selain itu, ia dikenal pula
sebagai orang yang pemberani dalam menyampaikan sikap dan pandangannya
terhadap suatu persoalan dan tegas dalam segala hal.
Ia juga memiliki sifat mulia, berani, dan ramah layaknya seorang badui.
Seorang badui juga di kenal dengan sikap balas dendam, sama sekali ia tidak
melupakan perlakuan buruk musuhnya sampai kapanpun. Dan kebanyakan, seorang
badui mempuyai tingkat kesabaran yang tinggi untuk membalaskan keinginan
balas dendamnya (hal: 11).
Kedua, didikan yang sangat ketat dan penuh disiplin dari kedua orang
tuanya. Salah satu ciri khas para orang tua Kaum Badui adalah konsistensi
mereka dalam menerapkan disiplin yang ketat kepada anak-anak mereka. Dalam
hal ini, Al-Zarqawi termasuk anak yang mendapatkan pola asuh yang sangat
disiplin dan ketat dari orang tuanya sehingga hal itu mempengaruhi cara dia
bersikap dan berperilaku di kemudian hari setelah ia beranjak dewasa.
Ketiga, pengaruh Sosial terutama pengaruh rekan sebaya terasa kental
pada diri Zarqawi. Teman-teman Zarqawi pada saat belajar di Perguruan tinggi,
mayoritas berasal dari berbagai kelompok Islam garis keras yang secara umum
selalu mendorong kaum muda untuk melakukan jihad di berbagai kawasan Islam
yang menurut mereka dikuasai kaum kafir. Saat muda, ide jihad dan mati syahid
tumbuh subur dalam sanubari Zarqawi.
Kehidupan badui adalah pilar utama dalam pembentukan watak Zarqawi.
Orang badui adalah orang yang berwatak baik, cepat melupakan masalah orang,
cintanya kepada orang lain bersifat sepintas lalu, demikian juga ketika ia mau
menerima bantuan dari orang lain sifatnya sepintas lalu (hal: 9).
2. Utomo Pamungkas alias Fadhlullah Hasan alias Mubarok alias Amin
Utomo Pamungkas lahir dari keluarga yang relijius dan cukup terpandang di
masyarakat. Ayahnya yang bernama Harsono adalah seorang guru agama yang
memiliki karakter yang keras dan tegas. Karenanya, pola asuh yang diterapkan di
tengah keluarga adalah pola asuh yang sangat otoriter, keras, tegas dan kaku.
Semenjak dimarahi sang ayah karena meminta sesuatu di kereta yang
sedang berlalu cepat, Utomo kecil menjadi orang yang sangat serius dan kaku
dalam pergaulan. Karakternya yang serius dan tegas justeru membuatnya
kharismatik di depan teman-temannya sehingga ia dipilih menjadi pemimpin. Jiwa
kepemimpinannya, orientasinya pada tindakan yang progresif, dan kemauannya
yang keras menjadi ciri khas yang sangat menonjol pada diri Utomo, setidaknya
dalam persepsi teman-teman terdekatnya saat di pondok pesantren..
Didikan yang kental dengan nilai-nilai Islam ia peroleh dari ayahnya,
seorang guru agama di sekolah Muhammadiyah.
Sang ayah mendidik Utomo
Pamungkas dan saudara-saudaranya dengan nilai-nilai Islam yang sangat kuat.
Itulah sebabnya kenapa Tomo kecil tumbuh menjadi pribadi yang memiliki minat
kuat di bidang ilmu agama Islam (hal: 285).
Utomo menjadi jihadis bermula ketika ia ditawari untuk belajar di
Pakistan. Sesampai di pakistan, dia diberi dua pilihan: belajar mendalami ilmu
agama Islam atau berjihad di medan jihad Afghanistan. Utomo memilih jihad
setelah
melihat
kondisi
Afghanistan
yang
sangat
menyedihkan
dan
memprihatinkan di matanya. Akhirnya Utomo mengikuti latihan militer atau
tadrib di Akademi Militer Afghanistan di bawah pimpinan Abdul Rabbi Rasul
Sayyaf. Jiwa pemberaninya muncul ketika harus ikut di medan perang. Tank,
pesawat, dan suara morir menjadi familiar baginya. Cita-citanya sebagai syahid
atau martir belum bisa tercapai di Afghanistan karena sampai perang berakhir,
ia masih tetap sehat wal-afiat.
Analisa Psikologis
Menganalisa sisi psikologis para teroris adalah pekerjaan yang tidak
mudah karena bidang ini relatif baru. Selain itu, keterlibatan seseorang dalam
terorisme tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor psikologis tetapi juga oleh
faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial dan politik. Kendati demikian, dapat
dikatakan bahwa analisa psikologis terhadap para teroris, baik yang masih hidup
maupun yang sudah mati, dapat membantu menjelaskan kenapa seseorang terlibat
dalam terorisme dan bagaimana mengakhiri keterlibatan mereka.
Sebagai suatu ilmu yang mempelajar perilaku, psikologi sangat tepat untuk
digunakan dalam mengkaji terorisme karena ia berkaitan dengan perilaku teror.
Mengkaji
perilaku
teror
tanpa
melibatkan
ilmu
psikologi
sama
dengan
mendiagnosa suatu penyakit tanpa menggunakan alat yang tepat. Ilmu psikologi
dengan segala variannya bisa memberikan perspektif yang menarik dalam
mengkaji perilaku teror. Misalnya, psikologi klinis, psikologi sosial dan psikologi
agama.
Psikologi agama sebagai salah satu cabang psikologi berperan penting
dalam menjelaskan motivasi kekerasan keagamaan yang dilakukan oleh individuindividu yang menggunakan agama sebagai inspirasi, dan upaya pencegahannya,
termasuk misalnya bagaimana mengubah seorang yang radikal atau teroris
sekalipun menjadi tidak lagi terlibat dalam radikalisme dan perilaku teror.
Tindakan teroris dan relijiusitas kaum fundamentalis tidak dapat
dijelaskan semata-mata melalui patologi psikologis atau patologi sosial karena
sejumlah penelitian membuktikan bahwa para teroris bukanlah kaum abnormal
yang tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Bahkan, penelitian menegaskan
bahwa mereka adalah kumpulan orang normal yang menyadari sepenuhnya
tindakan mereka karena aksi teror mereka didasarkan atas ideologi dan
keyakinan tertentu, serta digerakkan oleh tujuan tertentu.
Menurut para ahli dan pakar di bidang psikologi, justeru proses psikologi
sosial yang normal, seperti reduksi ketidakpastian, manajemen teror, identitas
sosial, dan pencarian makna melalui agama berkombinasi dengan faktor-faktor
kognitif seperti intratekstualitas dan kompleksitas integratif yang rendah,
memberikan pemahaman yang lebih memadai mengenai radikalisasi kaum muda
yang sebagian menjadi pelaku kekerasan dan kebencian terhadap anggota
kelompok lain.
Artinya, menyimpulkan para teroris sebagai kumpulan orang-orang yang
tidak normal dan tidak waras adalah suatu kesalahan besar. Mungkin, ada satu
atau dua kasus individu yang terlibat dalam tindak teror karena faktor
abnormalitas atau psikopati tetapi tidak bisa kemudian dijadikan sebagai dasar
penyimpulan bahwa semua teroris adalah orang gila. Pandangan ini pada mulanya
dianut oleh sejumlah peneliti psikologi terorisme, tetapi mereka kemudian
menarik pandangan tersebut karena data-data empirik dan fakta psikologis yang
diperoleh melalui kajian trait dan pribadi teroris tidak mendukung pernyataan
tersebut.
Proses Menjadi Teroris Ibarat Menaiki Tangga Gedung
Proses menjadi teroris ibarat menaiki anak tangga dalam sebuah bangunan
yang tinggi. Anda bisa bayangkan bagaimana menaiki anak tangga dalam sebuah
ruang bangunan tinggi. Prosesnya cukup panjang dan kadang-kadang agak
melelahkan. Bagaimana menjelaskan hal itu? Fattali Mohammad Moghaddam
(2007), seorang guru besar psikologi sosial keturunan Iran di University of
Washington
menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahap atau anak tangga
menuju terorisme. Tahapan-tahapan tersebut menggambarkan rentang proses
psikologis keterlibatan seseorang dalam aktivitas teror yang destruktif,
mematikan dan merugikan masyarakat, baik materil maupun psikologis.
Tahapan-tahapan psikologis tersebut mencakup lima tangga atau tahapan,
yaitu: Pertama, lantai dasar atau tahap pencarian makna yang ditandai dengan
awal krisis identitas diri dan krisis identitas kelompok. Pada tahap ini, seseorang
mengalami krisis identitas, baik pada level individu maupun kelompok sebagai
akibat interpretasinya atas realitas materil terkait dirinya dan kelompoknya vis
a vis orang lain dan kelompok lain. Oleh karena terorisme merupakan fenomena
kelompok atau suatu proses pembentukan identitas yang terjadi dalam kelompok
maka yang paling ditekankan dan diutamakan adalah identitas kelompok.
Biasanya, pada tahap ini muncul kecenderungan deprivasi relatif, yaitu
perasaan kecewa dengan kondisi kelompok ketika dibandingkan dengan kelompok
lain yang lebih maju atau lebih sukses. Ketika perbandingan antara kelompok
sendiri yang lemah dan tidak berdaya dibandingkan dengan kelompok lain yang
lebih kuat dan lebih berdaya maka perasaan kecewa muncul, lalu seseorang akan
mencaritahu penyebab semua perbedaan dan kesenjangan tersebut. Penyebab
kesenjangan umumnya dikaitkan dengan ketidakadilan atau kezaliman yang
dilakukan kelompok lain terhadap kelompok sendiri.
Kedua, lantai pertama yaitu ketika seseorang mulai memasuki tahap
psikologis tertentu yang
ditandai dengan persepsi bahwa ketidakadilan telah
menimpa dirinya dan kelompoknya sehingga ada dorongan psikologis untuk
mencaritahu penyebab ketidakadilan atau kezaliman tersebut; Pertanyaan yang
muncul pada tahap ini adalah seputar pertanyaan apa bentuk ketikadilan yang
dialami kelompok? Kenapa kelompok lain melakukan kezaliman kepada kelompok
sendiri?
Ketiga, lantai kedua, yaitu tahap berikutnya yang ditandai dengan tindakan
agresi yang biasanya dilakukan dengan mencari kambing hitam penyebab
terjadinya kezaliman dan ketidakadilan. Biasanya pada tahap ini terjadi
mekanisme
pengalihan
target
agresi
dari
pihak
yang
dipersepsikan
bertanggungjawab ke pihak yang berkaitan dengan pihak yang dipersepsikan
bertanggungjawab;
Keempat, keterlibatan moral seseorang dalam menilai kebaikan dan
keburukan dari tindakan yang dia lakukan dalam kelompok teroris. Penilai moral
dalam tahap ini tentu saja bertentangan dengan penilaian moral yang dianut
mainstream masyarakat. Penilaian moral didasarkan atas justifikasi moral
tertentu yang mendukung perasaan ketidakadilan yang menimpa kelompok.
Kelima, berpikir kategoris yang ditandai dengan upaya identifikasi siapa
lawan dan siapa kawan. Pada tahap ini, seseorang mulai memasuki kelompok
teroris yang telah memiliki persepsi dan pandangan tersendiri tentang siapa
kawan yang harus dibela dan siapa lawan yang harus dilawan. Permusuhan dan
perlawanan akan menjadi semakin kuat manakala kelompok lain atau representasi
kelompok lain yang dipersepsikan sebagai penyebab ketidakadilan yang menimpa
kelompok sendiri juga melakukan kategorisasi yang sama.
Keenam, tahap tindak teroris. Pada tahap ini seseorang melakukan
tindakan teroris atas dasar keyakinan yang sangat kuat bahwa apa yang dia
lakukan merupakan misi penting dan suci bagi penyelamatan kelompoknya
(Moghaddam, 2003)
Mencari Makna dan Identitas Diri
Bagi Fathali Moghaddam (2007), pencarian makna dan identitas diri dan
identitas kolektif di tengah dominasi budaya Barat terutama Amerika dalam
berbagai bidang kehidupan, merupakan salah satu dasar psikologis keterlibatan
kaum muda dalam tindak teror, terutama yang berasal dari kelompok garis keras
dan kelompok teroris yang dipengaruhi oleh ideologi salafi-jihadis. Gambaran
tersebut nampak jelas dari sekian banyak tokoh teror dari kelompok Islam garis
keras, seperti Az-Zarqawi maupun Utomo Pamungkas yang menjadi sampel
penelitian ini.
Sebagai salah satu tokoh teroris terkenal dan paling dicari oleh berbagai
pihak termasuk Amerika Serikat, latarbelakang kehidupan dan dinamika
psikologis yang dia alami sebagai seorang pemuda Muslim patut dilihat dan dikaji.
Dalam perspektif psikologi secara umum, perilaku seseorang dalam hidupnya
sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor lingkungan dan
kepribadian. Faktor lingkungan mencakup banyak hal seperti lingkungan keluarga,
lingkungan pergaulan sebaya, lingkungan pendidikan, lingkungan tempat tinggal,
dinamika kaum dan umat, serta kondisi ekonomi, sosial, politik dan keagamaan
seseorang. Sedangkan faktor kepribadian mencakup seperti tipe kepribadian,
keyakinan ideologi, dan dimensi-dimensi psikologi internal lainnya.
Az-Zarqowi lahir di tengah Distrik Ramzi yang seperti ―tidak bertuan‖
alias tak terurus. Oleh karena itu, kota ini tidak memiliki pelayanan umum yang
memadai dan memicu banyak persoalan yang melanda masyarakat kota. Salah
satu masalah sosial yang muncul akibat tidak terurusnya kota adalah banyak
kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi. Fenomena kejahatan dan kemaksiatan
dapat disaksikan secara nyata oleh siapapun yang ada di masa itu, termasuk AlZarqowi. Patut dicatat pula, di tengah merajalelanya keburukan dan kemaksiatan
ada juga orang-orang yang berusaha bertahan dalam kebaikan dan kesalehan.
Dalam suasana pertarungan antara kemaksiatan dan kesalehan; serta antara
kebaikan dan keburukan, Zarqawi menikmati masa remaja yang penuh dengan
pencarian jati diri. (Hussein, 2008).
Dalam
perspektif
psikologi,
pencarian
jati
diri
berkaitan
dengan
pertanyaan siapakah saya? Dari kelompok manakah saya berasal? Kenapa kondisi
saya seperti ini sedangkan kondisi orang lain lebih baik dari kondisi saya?
Kelompok kelompok saya bernasib seperti ini sedangkan kelompok lain bernasib
lebih baik? Kenapa bangsa saya lebih buruk kondisinya dibandingkan nasib bangsa
lain? Dalam kaitannya dengan para teroris dari kalangan kelompok garis keras
Islam, pertanyaan kejatidirian umumnya berkisar pada kondisi umat (bangsa,
peradaban, atau budaya) Islam yang lebih buruk dibandingkan kondisi umat yang
lain.
Beruntung, ketika memasuki usia sekolah menengah atas, Zarqowi diminta
orang tuanya untuk bersekolah di pusat Kota Zarqo yang banyak memiliki masjidmasjid yang megah. Akhirnya, ia memilih Masjid Abdullah bin Abbas sebagai
pusat kegiatan pencarian jati dirinya. Masjid tersebut memang terletak
berdekatan dengan rumahnya sehingga ia tidak kesulitan untuk pulang-pergi dari
rumah ke masjid atau sebaliknya.
Dalam pandangan ahli psikologi sosial, dinamika antara dimensi kepribadian
dan dimensi lingkungan selalu dimenangkan oleh dimensi lingkungan. Sebaliknya,
menurut para ahli psikologi kepribadian, dimensi lingkungan tidak akan berarti
apa-apa di hadapan seseorang yang memiliki kepribadian dan karakter yang kuat.
Penulis sendiri mengambil pandangan jalan tengah yang mengkombinasikan antara
keduanya, yaitu bahwa perilaku seseorang, termasuk para teroris adalah
perpaduan pengaruh dan kontribusi antara dimensi kepribadian dan dimensi
lingkungan. Semua anasir kepribadian dan anasir psikologi lingkungan bersinergi
membentuk dan mendorong seseorang dalam mewujudkan perilaku. Artinya,
seorang teroris yang melakukan aksi teror, bukanlah gambaran patologis yang dia
alami tetapi bukan pula semata-mata tindakan normal yang tidak dipengaruhi oleh
hal-hal yang bersifat abnormalitas.
Bila merujuk kepada teori-teori psikologi pada umumnya dan ―teori
staircases to terrorism‖ yang digagas Fathali Moghaddam (2003), pencarian
identitas dan makna diri yang bersifat sosial adalah pintu masuk pertama
keterlibatan seseorang dalam dunia teror yang sangat panjang. Hal yang sama
juga dialami oleh Utomo Pamungkas, seorang pelaku teror dari Tanah Jawa yang
pernah menimba ilmu di Ngruki dan Afganistan. Banyak peristiwa masa kecil dan
masa remaja yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang keras, tegas dan
amat rentan dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Islam garis keras. Hal itulah
yang kemudian mendorongnya bergabung dalam kelompok teror paling ditakuti di
Asia Tenggara, bahkan di dunia. Kelompok Jamaah Islamiyah yang mengusung
ajaran salafi jihadis dan bercita-cita hendak mendirikan khilafah Islamiyah yang
membentang dan mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan perspektif psikologi, sebagaimana yang telah dikemukakan
sebelumnya, keterlibatan seseorang dalam suatu perilaku atau aksi sesungguhnya
ditumbuhkembangkan oleh modalitas kepribadian yang khas pada diri seseorang.
Modalitas kepribadian tersebut kemudian dipicu oleh pengalaman-pengalaman
tidak mengenakkan yang dialami seseorang. Pengalaman secara psikologis tidak
selalu merujuk kepada sesuatu yang pernah dialami seseorang, tetapi juga
sesuatu yang pernah disaksikan dan dirasakan dalam hidup. Apa yang dilihat,
dirasakan dan dialami seseorang itulah yang membentuk struktur pengalamannya
yang kemudian mempengaruhi kepribadian dan cara pandangnya dalam melihat
persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitarnya.
Hal yang demikian juga tergambar dengan jelas pada diri Utomo
Pamungkas sebagaiman diceritakan oleh Nurhuda, ―Pengalaman demi pengalaman
yang telah Tomo dapatkan sejak kecil mengukuhkan kepribadiannya yang keras.
Kemiskinan di depan mata yang menimpa orang-orang sekitarnya yang umumnya
beragama Islam adalah persoalan yang harus segera dituntaskan menurutnya.‖
(hal: 284). Pengalaman nestapa, tertekan dan tidak mengenakkan yang menimpa
orang-orang di sekitar Utomo membentuknya mejadi pribadi unik dengan
identitas sosial yang diidentifikasi secara kuat oleh dirinya. Ia berubah menjadi
pribadi yang merasa mewakili kenestapaan umat yang ada di sekitarnya.
Mekanisme psikologis yang seperti ini adalah ciri khas yang terjadi pada
inividu-individu yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat
yang sangat kolektivis, jika kita merujuk kepada konsep nilai individualiskolektivis yang dikembangkan oleh Hofstede. Individu yang hidup dan mengalami
tumbuh-kembang di tengah masyarakat dengan nilai-nilai yang didominasi
semangat kolektivis cenderung memiliki empati yang tinggi terhadap apa yang
dirasakan orang-orang di sekitarnya. Sehingga pada titik tertentu ia merasa
berhak menjadi wakil bagi masyarakatnya yang tertindas dan terzolimi.
Krisis identitas jati diri yang terjadi akibat kemiskinan dan keterzaliman
yang dipersepsikan menimpa umat Islam semakin menguat manakala Utomo
Pamungkas memasuki Pesantren Ngruki yang sebagian tokohnya menggelorakan
perlawanan terhadap pihak lain terutama dalam hal ini adalah Amerika dan Israel
yang dipersepsi sebagai biang keladi kehancuran umat Islam terutama di
berbagai belahan dunia Islam. Hal itu tampak jelas dari pernyataan Utomo
Pamungkas sebagaimana diceritakan oleh Nurhuda dalam buku ―Temanku
teroris?‖ seperti berikut ini:
“Barangkali saya termasuk beruntung, saat masuk Ngruki masih sempat
bertemu langsung dengan Ustaz Abdullah Sungkar dan Ustaz Abu Bakar
Ba’asyir” tutur akhi Fadlul kepadaku. “Saya masih sempat mendapat
pengajaran dari Ustaz Dullah dan Ustaz Abu.” (hal: 289)
Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Baasyir adalah dua tokoh
pendiri Jamaah Islamiyah yang sangat membenci Amerika dan Israel karena
dianggap sebagai penyebab berbagai bentuk kezaliman dan penindasan yang
dialami umat Islam di berbagai belahan dunia terutama di Afganistan dan
Palestina.
Ideologi Islam garis keras yang tertanam pada diri Utomo Pamungkas
sebagai hasil indoktrinasi Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Baasyir
selama berada di pesantren dan masa panjang pengkaderan di Malaysia dan
Afganistan telah membentuk cara pandangnya tentang Islam dan bagaimana
ajaran Islam ditegakkan. Cara pandang Islam garis keras tersebut kemudian
menjadi semacam ideologi dan keyakinan yang berharga mati, sebagaimana
diungkapkan Nurhuda mengenai teman masa kecilnya di pesantren.
―Doktrin “Islam harus ditegakkan tidak sebatas ucapan” sangat terpatri
dalam kesadarannya. Baginya, musuh Islam ada di mana-mana sehingga setiap
muslim harus membekali dirinya dengan fisik yang kuat dan ilmu beladiri yang
baik. Jika sewaktu-waktu situasi membutuhkan, kita harus siap sedia memnuhi
panggilan untuk membela kebenaran” (hal: 134).
Kekuatan ideologi tampak jelas pada diri Utomo. Ideologi Islam garis keras
yang diajarkan para gurunya betul-betul menggerakkan pikiran, perasaan dan
perilakunya. Memang, ideologi bukan penarik utama keterlibatan seseorang dalam
dunia teror, tetapi ketika seseorang telah memasuki kelompok teror maka
ideologi menjadi bahan bakar yang menggerakkan aksi teror seseorang. Hal itu
diperkuat juga oleh pandangan Grugklanski dkk (2009) ketika menjelaskan
tentang motivasi bom bunuh diri, salah satu bentuk aksi teror yang mulai marak
digunakan di Indonesia. Krukglanski dkk mengatakan bahwa motivasi bom bunuh
diri adalah mencari kebermaknaan. Ada beberapa faktor penyebab bom bunuh
diri yaitu faktor personal (trauma, perasaan terhina, isolasi sosial dan lain-lain)
yang kemudian mendapatkan pembenaran dari berbagai alasan ideologis seperti
melakukan pembebasan dari pendudukan bangsa asing, membela agama dan
bangsa, serta didorong kuat oleh faktor tekanan sosial. Terorisme bunuh diri
merupakan cermin dari restorasi makna, pencapaian makna, dan usaha
mempertahankan diri dari kehilangan maknav.
Deprivasi Relatif dan Persepsi Tentang Kezaliman
Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi lokus
pertukaran ide dan gagasan. Oleh karena itu, masjid bisa juga menjadi lahan
subur tumbuhnya ideologi garis keras. Pandangan ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh CSRC UIN Jakarta (2011) yang menyimpulkan
bahwa masjid-masjid yang ada di Bekasi, Bogor dan Pandeglang, --terutama untuk
dua wilayah yang pertama—adalah tempat konsolidasi kaum radikalis dalam
menghimpun ide, kekuatan dan dana untuk menggerakkan aksi, misi dan visi
mereka dalam menyebarkan faham yang radikal dan keras.
Masjid Abdullah bin Abbas
banyak menghimpun para pemuda dari
berbagai mazhab dan kelompok yang ada di Yordania. Mereka umumnya kelompok
pemuda Islam yang menganut faham wahabi dan aliran Islam garis keras lainnya.
Oleh karenanya, Zarqowi seperti menemukan dunia baru, yaitu dunia anak muda
yang sama-sama mencari makna dan jati diri dalam hidup. Menurut Hussein
(2008), hampir semua pemuda yang ada di masjid ini sangat terpengaruh dengan
ide jihad dan kesyahidan yang didengungkan oleh para guru dan mentor. Maka,
tidak heran jika ide jihad dan kesyahidan menjadi sistem kedirian Zarqawi yang
paling dalam dan paling kokoh. Saat itu, Zarqowi berpikir bahwa jihad
memberikan makna yang besar bagi dirinya dan kehidupannya.
Ideologi jihad dalam pengertian perang melawan kaum kafir, murtad dan
munafik berkecamuk dalam diri Zarqowi. Terjadi pertarungan batin di dalam
dirinya antara memilih berjihad di tanah Palestina atau di tanah Afganistan. Di
satu sisi, Palestina adalah asal-usul nenek moyangnya sehingga pantas untuk
dibela dan diperjuangkan, sedangkan di sisi lain, tanah Afganistan sedang
dianeksasi Uni Soviet yang komunis. Pertarungan batin tersebut berakhir ketika
ia memilih Afganistan sebagai medan jihad atas pengaruh sejumlah tokoh seperti
Abdullah Azzam dan Usamah bin Ladin.
Gambaran pergolakan batin yang menimpanya tercermin dalam sebuah
surat yang ditujukan kepada saudara-saudaranya. Bunyi surat yang dimaksudkan
adalah demikian:
“Wahai saudara-saudaraku, kembalilah kepada Islam yang tidak lain adalah
kejayaan dan kehormatan kalian. Islam adalah kejayaan nenek moyang yang
pernah berjuang bersama Salahuddin Al-Ayyubi dalam merebut dan
membebaskan Jerussalem.... Wahai saudara-saudaraku, nenek moyang kita
pada masa itu telah menjaga dan melindungi tanah Jerussalem. Sekarang,
giliran kita yang harus merebut dan menjaganya.”vi
Suasana psikologis yang sama juga dialami oleh Utomo Pamungkas alias
Fadlullah Hasan, terdakwa Bom Bali I, 2002, yang dijatuhi hukum penjara seumur
hidup. Dalam catatan yang ditulis oleh Noor Huda Ismail, Utomo Pamungkas
menceritakan perasaannya yang tercabik-cabik saat mengetahui kondisi umat
Islam di Afganistan.
“Ketika di hadapanmu terjadi pembantaian yang dilakukan oleh kekuatan
yang tak pernah berpikir dan bertindak untuk keadilan, apa yang akan
kamu lakukan? Ketika di hadapanmu terpapar pemandangan rumah-rumah
dihancurkan bom, anak-anak tewas bersimbah darah dengan peluru kaum
penjajah bersarang di perutnya, para ibu dan gadis-gadis mereka dirampas
kehormatannya,
ayah-ayah
mereka
dibunuh
tanpa
kesalahan
dan
dipenjarakan tanpa pengadilan, apa yang menjalari perasaanmu? Jika
dirimu menyaksikan suatu bangsa dipecah-belah oleh kepentingan kaum
imperialis dan kolonialis, relakah kamu menyaksikan kehancurannya?”vii
Nurhuda, seorang aktivis LSM yang bergerak dalam kegiatan dan program
deradikalisasi sekaligus sahabat Utomo Pamungkas saat nyantri di Ngruki Solo,
menggambarkan bagaimana Utomo Pamungkas mengalami kecamuk pikiran dan
perasaan tentang kondisi generasi muda Islam di Indonesia. Katanya:
“Bagi akhi Fadlul, masyarakat Indonesia telah mengalami dekadensi moral.
Kalau dibiarkan terus, generasi muda akan semakin meninggalkan Islam.
Oleh karena itu, diperlukan kader-kader muda untuk memperdalam ilmu
agama. Akidah Islam tengah menghadapi tantangan besar. Modernisasi di
segala bidang, perkembangan teknologi informasi, dan berbagai perubahan
tengah melanda dunia. Maka, umat Islam saat ini berhadapan dengan
zaman yang cepat berubah. Anak-anak muda progresif seperti akhi fadlul
diperlukan untuk menyambut panggilan jihad Islam (hal: 298).
Cara pandang Utomo yang cenderung keras dan tegas tidak terlepas dari
pola asuh dan gaya pendidikan yang diterapkan orang tuanya terhadap Utomo
kecil sebelum masuk ke dunia pesantren. Hal itu misalnya, diceritakan Utomo
kepada sahabatnya, Nurhuda. Lalu Nurhuda menceritakan kembali apa yang
pernah dialami sahabatnya di waktu masa kanak-kanak.
Tomo kecil menjalani kehidupan seperti halnya anak-anak kampung lainnya.
Namun, anak seorang guru tentu tidak sebebas anak-anak lain dalam
menentukan pergaulan. Tomo kecil dididik ayahnya dengan keras. Kendati
hidupnya sederhana, Tomo dan keluarganya termasuk cukup terpandang,
orang kampung memanggil ayahnya dengan sebutan pak Guru (hal: 280).
Figur-figur yang menjadi sorotan dalam dunia terorisme umumnya
menganut
suatu
pandangan
bahwa
dunia
tidak
adil
terutama
terhadap
kelompoknya. Pandangan ini mencerminkan bahwa para teroris menganut suatu
keyakinan yang disebut dengan istilah BIUW atau Belief in Unjust World.
Keyakinan psikologis ini begitu terpatri sehingga mengendalikan hampir semua
perilaku dalam kehidupan sehari-hari para teroris. Setiap fenomena dan
peristiwa buruk yang menimpa umat Islam dilihat oleh mereka sebagai suatu
bentuk ketidakadilan dunia yang sengaja diciptakan dan ditujukan kepada
kelompok identitasnya. Mereka cenderung merepresentasikan diri mereka
sebagai pembela kaum mereka yang tertindas sehingga seluruh jiwa dan raga
mereka sepenuhnya dimaksudkan untuk membela umat.
Menghadirkan Ideologi
Ideologi
seringkali
menjadi
sumber
justifikasi
untuk
melawan
ketidakadilan dan diskriminasi yang terjadi pada diri seseorang. Konsekuensi dari
ketidakadilan tersebut adalah mencari penyebab ketidakadilan dan diskriminasi,
atau mencaritahu aktor yang menyebabkan berbagai ketidaknyamanan yang
dialami seseorang atau komunitasnya. Pada saat itulah akan ada batas demarkasi
antara siapa yang pantas disebut kawan dan siapa yang pantas disebut lawan. Hal
itu umumnya terjadi tidak lama setelah seseorang mengalami masa-masa krisis
pencarian makna diri (Moghaddam, 2004). Hal seperti itu misalnya tercermin
pada suasana psikologis yang dialami oleh
Utomo Pamungkas alias Fadlullah
Hasan.
“ Saya masih muda waktu itu, menjelang usia dua puluhan. Kedatangan ke
Malaysia bagi saya adalah awal dari pelajaran hijrah. Perjalanan yang kami
tempuh dengan jalur darat dari Solo merupakan perjalanan yang
mengesankan. Dari Jawa ke Sumatera, berhari-hari saya habiskan di dalam
bus dan berhenti di berbagai persinggahan. Sempat saat itu saya teringat
rumah di Kulon Progo. Terbayang Stasiun Kedundang di desa saya. Kereta
api yang datang dan pergi di stasiun itu tak pernah mengajak saya hijrah
sejauh tempat ini. Bagaimanapun, jauh dari Ibu, Bapak, dan keluarga adalah
hal yang biasa saya alami sejak mengenyam pendidikan di pesantren. Lagi
pula, di tempat itu, saya tidak merasa sendiri. Faturrahman Al-Ghozi,
Ustad Dullah, dan ikhwan-ikhwan yang saya jumpai adalah keluarga baru
yang menyatu dalam persaudaraan Islam yang kokoh. Kami sering bersamasama dalam berbagai kegiatan pengajian dan dakwah Islam. Di Malaysia,
saya merasa tengah mempersiapkan diri saya untuk berjihad, tetapi jihad
yang saya pikirkan saat itu adalah mencari sekolah dan mendalami ilmu
Islam di negeri-negeri jauh.”
Tahap ini juga ditandai dengan munculnya dorongan untuk melawan
penindasan dan kezaliman yang terjadi di depan mata. Pada tahap ini, emosi
seseorang akan terpancing untuk terlibat dalam berbagai kondisi, dan kemudian
menggerakkannya
untuk
bertindak,
sebagaimana
yang
dinyatakan
Utomo
Pamungkas:
“Tetapi saya tidak mau menjadi Muslim yang hanya duduk-duduk
menyaksikan saudara seiman ditindas, tak mau hanya berteori dan
berwacana, sementara bayi-bayi dan perempuan, masjid dan rumah-rumah
kaum Muslim Afghanistan dihancurkan oleh mesin-mesin pembunuh Rusia”
(hal: 19).
Ketika emosi tergerak, lalu seseorang yang sudah memasuki tahap ini akan
mencari justifikasi dari berbagai sumber untuk membenarkan tindakan dan
ideologi yang dianut. Dalam kasus para teroris yang mengatasnamakan agama,
justifikasi jihad sebagai alat untuk berjuang melawan kezaliman dan penindasan
mendapatkan energi dari berbagai inspirasi para tokoh pemikir keagamaan atau
tokoh ulama terkemuka yang kharismatik, sebagaimana yang diungkapkan oleh
Utomo Pamungkas:
“Siapa bilang Islam tidak mengajarkan revolusi? Siapa bilang Islam tidak
melahirkan anak-anak revolusioner? Dalam buku catatan pemikiran jihad,
ulaam As-Suri mencatat Al-Maududi sebagai bagian dari pemikir jihad
yang cukup berpengaruh pada masa kini. Al-Maududi mendefinisikan jihad
sebagai perjuangan revolusioner untuk mencapai kekuasaan, demi kebaikan
dan kemaslahatan umat manusia. Jihad dapat diterjemahkan ke dalam
berbagai bentuk: melalui karya tulis, dakwah, bekerja, belajar, tetapi
setiap muslim harus siap memasuki perjuangan senjata” (hal: 41).
Pernyataan Utomo Pamungkas di atas mewakili radikalisme Islam modern.
Menurut sejumlah ahli, seperti Hediah Mirahmadi & Mehreen Farooq. (2010),
radikalisme Islam modern berpijak pada suatu ideologi yang digagas oleh
Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) yang menyeru kepada pemurnian
Islam dan ingin mencipakan suatu masyarakat yang berdasarkan penafsiran ulang
yang radikal tentang Islam. Penafsiran ekstrim tentang Islam menurut doktrin
Muhammad bin Abdul Wahhab saat ini dikenal dengan sebutan Wahhabisme yang
sangat mempengaruhi organisasi-organisasi radikal seperti Taliban, Al-Qaida dan
lain-lainviii.
Yang menarik untuk ditelaah, menghadirkan ideologi dalam perjuangan
tidak semata-mata dilandasi oleh emosi dan krisis identitas, tetapi –pada kasus
teroris tertentu—juga dilandasi oleh argumen yang terkesan sangat cerdas dan
intelektual, sebagaimana yang diungkapkan Utomo Pamungkas berikut ini.
“Pasca perang dunia II, ketika banyak Negara mencari identitas
kebangsaan dan sibuk merumuskan ideology perjuangan, jihad dalam
pandangan saya adalah solusi dari kebuntuan teori-teori gerakan social.
Terutama di timur tengah, yang merupakan pusat dari peadaban Islam.
Jihad merupakan inspirasi kebangkitan perlawanan terhadap hegemoni
barat yang telah lama menanamkan paham imperialism dan kolonialisme”
(hal : 42).
Intinya, ideologi menjadi kekuatan penting bagi seorang teroris, walaupun
ideologi bukan faktor pendorong pertama yang menarik seseorang ke dalam dunia
teror. Memang, sejumlah penelitian seperti Crenshaw (2001) menyatakan bahwa
ideologi bukanlah anasir pertama yang menarik seseorang menjadi bagian dari
jaringan teror, tetapi ideologi menjadi bahan bakar utama yang memantik
keberanian seseorang melakukan teror dan pengrusakan yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya.
Untuk konteks terorisme yang menggunakan Islam sebagai baju dan
sumber inspirasi gerakan, dapat dikatakan bahwa salafisme, suatu aliran yang
diusung oleh tokoh-tokoh Islam konservatif yang ingin mengembalikan pola dan
gaya hidup di zaman Rasulullah. Tetapi tentu saja, harus dikatakan bahwa
salafisme itu beragam dan mengalami perubahan dan kontekstualisasi yang luar
biasa. Salafisme yang menjadi sumber ideologi kaum Islam garis keras adalah
salafisme yang menekankan ajaran jihad sebagai bentuk perlawanan dan cara
untuk meraih kejayaan Islam.
Gerakan kaum salafi (seringkali disebut Kaum Wahabi) merupakan gerakan
keagamaan yang berisi banyak figur dan faksi, mulai dari Osamah bin Laden
sampai para mufti di Saudi Arabia serta mencerminkan banyak posisi terkait
isu-isu politik dan kekerasan. Terdapat sumber kesatuan yang menghubungkan
antara kaum salafi ekstrimis garis keras dan kaum puritan non kekerasan.
Walaupun menganut ajaran yang sama, tetapi mereka berbeda dalam melihat
masalah kontemporer dan bagaimana ajaran Salafi diterapkan. Perbedaan dalam
hal penafsiran konteks atau situasi menciptakan tiga faksi dalam gerakan salafi,
yaitu purits (kaum pemurni), politicos (pengusung Islam politik) dan jihadis
(pengusung jihad)ix.
Dalam rentetan proses menjalankan aksi teror, seorang teroris kerapkali
mengalami kegundahan atau mungkin kekecewaan akibat banyak hal yang
dipandang tidak jelas atau abu-abu dalam menjalankan amaliah jihad (aksi teror),
misalnya seperti sumber pendanaan yang tidak jelas sehingga menimbulkan
perbedaan pendapat atau membuat korban yang tidak sepantasnya menjadi
korban. Hal itu tergambar misalnya dari pernyataan Utomo Pamungkas dalam
salah satu dialog dengan Nurhuda:
―Faktor pendanaan aksi pengeboman ini juga membuat saya berpikir ulang.
Rasanya ada yang salah dalam aksi itu sebab sebagaian uang operasionalnya
berasal dari hal yang masih abu-abu, yaitu hasil rampokan sebuah toko
emas. Mungkin karena kekurangbersihan dalam masalah dana ini, banyak
madharat (kerusakan) yang kita terima setelah aksi. Banyak ikhwan yang
sebenarnya tidak setuju dan tidak tahu menahu soal aksi ini tetapi kena
pulutnya. Saya sering mengalami pergulatan batin tentang dampak yang
mesti mereka tanggung. Mereka sesungguhnya juga korban dari perbuatan
kami ini” (hal: 258).
Mencari Kambing Hitam
―Ini adalah jihad kami, untuk memberi pelajaran kepada Amerika, Negara
Koran tempat antum bekerja itu agar mereka tidak menzalimi Islam”, jawab
Utomo (hal: 261). Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana dan kepada
siapa Utomo mengarahkan kesalahan dan penyebab kezaliman yang dirasakan
umat Islam di berbagai belahan dunia. Dalam pernyataannya, Utomo secara tegas
menunjuk Amerika sebagai biang keladi berbagai kondisi buruk yang menimpa
umat Islam terutama di Timur Tengah. Pertanyaan yang patut diajukan dalam hal
ini adalah kenapa tindak teroris tidak dilakukan langsung kepada Amerika secara
langsung, tetapi ditujukan kepada pihak lain yang dipersepsikan berkaitan dengan
Amerika, misalnya seperti yang terlihat dari sasaran tindak teroris yang dipilih?
Hal itu dijawab secara terang-benderang oleh teori kambing hitam atau
scapegoat theory yang diambil dari kalangan ahli psikologi sosial atau sosiologi,
dan mekanisme displacement yang dikemukakan oleh para penganut psikoanalisa
terutama Sigmund Freud. Dalam perspektif teori kambing hitam, ketika
seseorang mengalami suasana krisis yang menimpa dirinya atau kelompoknya,
mekanisme psikologis yang biasa dilakukan adalah mencari pihak lain sebagai
penyebab berbagai krisis yang terjadi. Hal itu terjadi karena seseorang tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan kontrol diri, dan biasanya ada pihak lain
yang dipilih untuk dijadikan sebagai penyebab berbagai krisis dan kekecewaan
yang dirasakan. Namun karena ia tidak mampu melakukan perlawanan secara
langsung kepada target yang dipersepsi sebagai pihak yang bertanggungjawab
maka mekanisme psikologis displacement of aggression dilakukan, yaitu dengan
memilih target lain yang memiliki ikatan atau hubungan nyata atau simbolik
terhadap target utama.
Mulai Berpikir Kategoris dan Cenderung Kaku
Salah satu ciri seseorang yang sudah memasuki dunia yang radikal dan
teroris adalah kecenderungan bermental ―kami‖ versus ―mereka‖ serta kaku
dalam memahami dan teks agama dan kehidupan. Hal itu tidak lepas dari
pengaruh doktrin atau ajaran kaku yang diperoleh dari seorang guru yang
dipandang kharismatik sebagaimana gambaran Utomo tentang para mentor dan
guru yang telah menggembelengnya.
―Ustaz Abu bukan seorang orator seperti Ustaz Dullah. Retorika beliau
cenderung seperti mengajar guru kepada muridnya. Tenang, datar, dan
dogmatis. Beliau lebih banyak bicara masalah syariah atau hokum-hukum
dalam islam. Beliau sering berkata: “Ini kata Al-Quran –nya begini, ya, kita
harus mengikutinya. Tidak ada jalan tengah. Karena di dunia ini hanya dua,
hizbullah, golongan Allah, atau hizbusy syaithan, golongan setan. Tinggal
kita mau pilih yang mana. Orang islam tidak bisa abu-abu‖ (hal: 292).
Pada tahap ini tergambar dengan jelas bahwa berfikir fundamentalis dan
radikalis yang dipengaruhi oleh ajaran tertentu adalah ciri khas seorang yang
potensial
melakukan
tindak
terorisme,
walaupun
radikalisme
dan
fundamentalisme tidak otomatis akan mengarah kepada terorisme.
Pandangan yang cenderung memilah antara lawan dan kawan, atau antara
ingroup dan outgroup, yang disertai dengan kecenderungan lebih bersikap positif
kepada kawan dan lebih bersikap negatif kepada lawan atau pengutamaan
terhadap anggota kelompok sendiri dan pengakhiran atau pengabaian terhadap
anggota kelompok lain berkaitan erat dengan seberapa besar tingkat identifikasi
seseorang terhadap kelompoknya.
Dalam hal ini, terlihat juga bagaimana mekanisme dehumanisasi orang lain
atau kelompok lain sangat dominan pada diri seorang yang penganut ideologi
radikal dan garis keras. Mekanisme dehumanisasi mencakup anggapan bahwa
orang lain atau kelompok lain bukanlah manusia atau kumpulan manusia, tetapi
iblis atau kumpulan iblis yang harus dienyahkan dari muka bumi. Pembatasan garis
demarkasi yang memilah antara kemanusiaan dan ketidakmanusiaan menjadi ciri
khas yang menonjol pada penganut ajaran radikal, atau dalam bahasa psikologi
sosial, ingroup (kelompok sendiri) adalah kumpulan orang baik, sedangkan
outgroup (kelompok lain) adalah kumpulan orang jahat.
Mentalitas ingroup dan outgroup akan semakin kuat bila dipengaruh oleh
faktor orientasi budaya sebagaimana dikatakan oleh Hofstede, seorang ahli
psikologi sosial lintas budaya yang berasal dari negeri Belanda. Menurutnya, ada
dua orientasi budaya yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam konteks
interaksinya sebagai individu dan sebagai kelompok, yaitu orientasi kolektivis dan
orientasi individualis. Masyarakat dapat dianggap berorientasi kolektivis jika
anak-anak
mereka
menumbuhkan
dan
mengembangkan
belajar
untuk
mengkonsepsi diri mereka sebagai bagian dari suatu kelompok ―kami‖, yaitu suatu
hubungan yang tidak sukarela tetapi muncul secara alamiah. Individu-individu
yang lahir dari masyarakat yang berorientasi kolektivis cenderung dengan mudah
melakukan kategorisasi antara kita dan mereka; antara kawan dan lawan; antara
baik dan buruk.
Pandangan Hofstede tersebut dapat menjelaskan kenapa para teroris yang
berasal dari kelompok masyarkat kolektivis cenderung membuat garis demarkasi
yang tajam antara kebaikan dan keburukan, kesalehan dan kemaksiatan, manusia
dan setan, serta musuh dan lawan.
Dalam beberapa sesi wawancara, Merari
(2007) dan Crenshaw (2005) menemukan bahwa para teroris umumnya
mengkategorikan musuh-musuh mereka sebagai setan yang harus dihancurkan
atau golongan kafir yang harus dimusnahkan.
Melakukan tindakan teroris dengan Keyakinan Penuh
Ketika seseorang telah memasuki tangga terakhir proses menjadi teroris,
setiap tindakan teror yang dilakukan dilandaskan atas keyakinan tertentu dan
kesetiaan penuh terhadap organisasi, sebagaimana yang dikatakan oleh Utomo
dalam suatu sesi wawancara dengan Nurhuda Ismail:
“Apapun keputusan organisasi harus ditaati dan dijalankan sebaik-baiknya.
Itu adalah syarat mutlak seorang anggota jamaah. Ketika jamaah menetapkan
bahwa saya harus bergerak maka saya harus bergerak. Tidak ada kata’ tidak’
dalam hidup berjamaah” (hal: 65).
Pada titik ini, kesatuan seorang teroris dengan organisasinya tidak bisa
dipisahkan lagi kecuali oleh kematian. Tetapi sudah barang tentu bahwa
pernyataan ini tidak menegasikan kemungkinan seorang teroris untuk berubah
menjadi ―bukan teroris‖ atau mengalami deradikalisasi dan disengagement dari
tindak teroris atau keluar dari organisasi teroris.
Satu hal yang patut ditegaskan bahwa moral atau pandangan tentang
kebaikan dan keburukan yang ada di benak kebanyakan orang tidak lagi menjadi
pegangan bagi kaum teroris. Mereka mengalami apa yang disebut dengan
mekanisme ―moral disengagement” yaitu lepasnya nilai-nilai moral mainstream
dalam berpikir dan bertindak. Sebaliknya, mereka menganut moral sendiri yang
berbeda dengan nilai moral yang dianut kebanyakan orang.
Bila merujuk kepada konsep ―disengagement moral” yang dikembangkan
oleh Albert Bandura, seorang ahli psikologi sosial terkemuka dari Benua Amerika,
maka ada beberapa mekanisme disengagement moral yang dilakukan para teroris
dalam melakukan teror dan dalam melihat kerusakan dan korban.
Cerdas dan Menjadi Teladan
Penelitian para ahli terorisme dan kekerasan politik menemukan data yang
cukup mencengangkan yaitu bahwa hampir semua pelaku teror bom di berbagai
belahan dunia adalah kumpulan orang-orang yang berpendidikan tinggi dan
memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Misalnya, Dr. Azahari adalah seorang
dosen bidang sains yang sangat cerdas di sebuah perguruan tinggi di Malaysia
atau Yaonis Tsaoli, seorang anak muda Muslim dari Inggris yang dikenal dalam
dunia maya dengan kode ―Irhabi 007‖ adalah seorang ahli komputer yang sangat
cerdas dan brilian. Dalam rentang waktu dua tahun ia dikenal di dunia maya
sebagai pendekar teroris internet yang tak tertandingi. Tsaoli kemudian berhasil
ditangkap oleh kepolisian Inggris dengan tuduhan yang tidak berkaitan sama
sekali dengan dunia maya.
Bagaimana dengan para tertuduh teroris di Indonesia? Apakah mereka
tergolong orang-orang yang berpendidikan dan cukup cerdas? Bagaimana pula
dengan Utomo Pamungkas yang menjadi subjek penelitian ini? Apakah ia
tergolong berpendidikan dan cerdas? Apakah ia memiliki wawasan dan
pengetahuan yang tinggi?
Utomo adalah figur seseorang yang cerdas dan bahkan menjadi contoh
atau inspirasi bagi yunior-yuniornya semasa belajar Pondok Pesantren Al-Mukmin
Ngruki Solo. Ia terbilang anak yang istimewa dari segi prestasi dan keterampilan.
Dalam waktu yang relatif singkat ia berhasil menghafal Al-Quran, memiliki
pengetahuan dan pemahaman hadis Nabi yang luas serta menguasai dua bahasa
asing, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Hal itu setidaknya seperti
tergambar oleh cerita Nurhuda tentang seniornya semasa di pesantren dulu.
Katanya:
“Untuk anak seusianya, dia terlihat sempurna. Sabar, disiplin, dan taat
beribadah. Lebih-lebih, kudengar, akhi fadlul terbilang anak yang sangat cerdas.
Hafal Al-Quran, fasih menafsirkan hadis, lancer berbahasa arab dan inggris,
juara kelas pula. Pengamatanku itu sudah cukup memberi alasan untuk
menyematkan label “senior yang karismatik dan patut dicontoh” kepadanya” (hal:
135).
Gambaran karakteristik psikologis Utomo di atas setidaknya menguatkan
pandangan bahwa para teroris bukanlah kumpulan orang-orang yang bermasalah
di masa lalu atau dalam bahasa psikologi, bukanlah orang yang mengalami
psikopatologis. Utomo adalah orang yang sangat normal, bahkan pada konteks
tertentu sangat cerdas dan menonjol dari segi kepemimpinan. Oleh karena itu,
temuan di atas menolak kesimpulan penelitian sebelumnya bahwa para teroris
adalah kumpulan orang gila, dan sekaligus memperkuat kesimpulan penelitian yang
lain bahwa mereka adalah kumpulan orang normal yang sangat sadar akan
tindakan dan tujuan yang ingin mereka raih di balik tindakan teror tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan dalam penelitian ini berisi
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dikemukakan pada bab
sebelumnya, sedangkan saran dalam penelitian lebih banyak berkaitan dengan
saran teoritis, metodologis atau kebijakan yang diambil dari hasil telaah,
ekstraksi dan pemahamaman atas temuan-temuan penelitian yang dikemukakan
pada bab terdahulu.
Kesimpulan
Penelitian ini akan menyimpulkan atau menjawab beberapa pertanyaan yang
dikemukakan pada bab sebelumnya, yaitu:
4. Variable apa sajakah yang memiliki peran dalam terbentuknya seseorang
hingga menjadi teroris?
5. Dari variable yang ada, bagaimanakah peran variable-variabel tersebut
terhadap proses terbentuknya teroris?
6. Bagaimanakah interaksi antar variabael yang menyebabkan seseorang
menjadi teroris?
Dari paparan dan analisa teori beserta data empirik yang telah
dikemukakan peneliti maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut, yaitu:
1. Pada umumnya, ada dua variabel penting yang membentuk seseorang
menjadi teroris, yaitu variabel disposisi atau kepribadian dan variabel
situasi atau lingkungan. Kedua variabel ini bersinergi membentuk kekuatan
psikologis yang mendorong individu bergabung ke dalam kelompok teroris
dan melakukan teror.
2. Kedua
variabel
tersebut
sangat
kuat
mempengaruhi
terbentuknya
seseorang menjadi teroris melalui tahapan-tahapan psikologis atau tanggatangga menjadi teroris sebagaimana disampaikan oleh Fathali Moghaddam
(2005).
3. Interaksi antar-variabel terjalin cukup kuat dalam sebuah proses yang
panjang dengan melibatkan berbagai anasir seperti sosial, politik, ekonomi,
budaya dan psikologi.
Saran
Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian yang telah diperoleh
peneliti maka disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Penelitian ini sebaiknya ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian
kuantitatif karena penelitian ini baru sampai pada tingkat membangun dan
meperkuat teori yang dikembangkan oleh Fathali Moghaddam. Penelitian
berikutnya diharapkan dapat membuktikan secara kuantitatif kebenaran
teori yang dikemukakan oleh Moghaddam.
2. Bila pendekatan penelitian yang sama dilakukan di masa yang akan datang
maka sebaiknya jumlah subjek diperbanyak agar data dan temuan
penelitian semakin memperkaya teori yang telah ada.
3. Perlu dilakukan penelitian profil tentang para teroris Indonesia sebagai
sumber data penting untuk mengkaji lebih dalam dan lebih jauh tentang
psikologi terorisme di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Imron (2007). Ali Imron Sang Pengebom. Jakarta: Penerbit Republika
Al-Maqdisi,
Abu
Muhammad.
Mereka
Mujahid
tapi
Salah
Langkah/Abu
Muhammad Al-Maqdisi; Penerjemah, Abu Sulaiman; Editor, Fahmi Suwaidy
– Solo: Jazeera, 2007
Damien Dematra (2009). Demi Allah, Aku Jadi Teroris. Jakarta: Penerbit
Gramedia Pustaka Utama
Ed Husain (2007). The Islamist. London: Penguin Book
Fathali M. Moghaddam, 2009. The new global American Dilemma and terrorism.
Journal of Political Psychology, Vol. 30. No.3. 2009
Fathali M. Moghaddam, 2009. The new global American Dilemma and terrorism.
Journal of Political Psychology, Vol. 30. No.3. 2009
Fuad Hussein. 2008. Generasi Kedua Al-Qaidah: Apa dan Siapa Zarqawi; Apa
Rencana Mereka Ke Depan?. Solo: Penerbit Jazeera.
Hediah Mirahmadi & Mehreen Farooq. 2010. A community based approach to
countering radicalization: A partnership for America.Washington DC:
World Organization for Resource Development and Education.
Hussein. F.
2009. Generasi Kedua Al-Qaidah; Apa dan Siapa Zarqawi, Ikon
Kelompok Perlawanan Iraq Masa Kini/ Fuad Hussein; Penerjemah, Ahmad
Syakirin; Editor, Tony Syarqi, -- Solo:Jazeera.
Imam Samudra (2004). Aku Melawan Teroris. Jakarta: Jazeera
Ismail. N.H., 2010. Temanku, Teroris?. Jakarta: Penerbit Hikmah
Kruglanski A.W & Chen X & Dechesne M & Fishman S & Orehek E, 2009. Fully
Committed: Suicide Bombers’ Motivation and the Quest for Personal
Significance. Political Psychology, Vol. 30, No. 3, 2009
N. Bin Laden, O. Bin Laden, Sasson, J. Growing Up Bin Laden (2010).
Jakarta:Penerbit Literati
Noor Huda Ismail. 2010. Temanku, Teroris? : Saat Dua Santri Ngruki Menempuh
Jalan Berbeda. Jakarta : Penerbit Hikmah
Schwartz, S.J & Dunkel, C.S. & Waterman, A.S. (2009). Terorism: An identity
theory perspective. Journal of Studies in Conflict & Terrorism, 32:537–
559,
Wiktorowicz, Q. (2006). Anatomi of the salafi movement. Journal of Studies in
Conflict & Terrorism, 29:207–239
Lampiran 1
GENERASI KEDUA AL-QAIDAH

Kehidupan badui adalah pilar utama dalam pembentukan watak Zarqawi. Anda akan
mendapati orang badui sebagai orang yang berwatak baik, cepat melupakan masalah
orang, cintanya kepada orang lain bersifat sepintas lalu, demikian juga ketika ia mau
menerima bantuan dari orang lain sifatnya sepintas lalu (hal: 9).

Ia juga memiliki sifat mulia, berani, dan ramah layaknya seorang badui. Seorang
badui juga di kenal dengan sikap balas dendam, sama sekali ia tidak melupakan
perlakuan buruk musuhnya sampai kapanpun. Dan kebanyakan, seorang badui
mempuyai tingkat kesabaran yang tinggi untuk membalaskan keinginan balas
dendamnya (hal: 11).

Zarqawi kecil, sedari dini, telah tumbuh kesadaran tentang hidup bersama kejahatan
dan kebaikan sekaligus. Ia bisa hidup dengan dua hal yang kontradiktif ini. Selain
masa kecil yang lama dia habiskan diantara kuburan-kuburan itu, menumbuhkkan
perasaan “berdamai” dengan nilai-nilai kontradiktif antara kematian dan kehidupan
(hal: 11).

Namun sebagaimana pada pemuda Yordania muslim yang lain, Zarqawi mempunyai
semangat pergi ke Afghanistan di akhir tahun 1980-an. Di sanalah para pemimpin
seperti Abdullah Azzam dan Usamah bin Ladin berada. Di kalangan mujahidin
Afghan, ia dipandang sebagai pemimpin. Ia juga dipandang sebagai pemberi ilham
bagi setiap sukarelawan Arab dan Muslimin. Abdullah Azzam merupakan pemimpin
bersejarah utama jamaah Ikhwan Muslimin di Yordania (hal: 13).

Saat berada di Afgahanistan, Zarqawi tak lupa membuat hubungan yang erat dengan
masyarakat Afghan – Arab. Seorang saudari kandungnya dinikahi salah seorang
mereka, sebagai bentuk penghargaan Zarqawi atas keberanian lelaki itu yang
kehilangan salah satu kaki dalam perang melawan Soviet (hal: 14).

Ia mendirikan organisasi dan mengembangkan pandangan-pandangannya. Ia
bersepakat dengan Al-Maqdisi. Tujuannnya mendirikan organisasi keagamaanyang
secara pemikiran ia maksudkan, pertama-tama, untuk menggalang para pemuda dan
mendoktrinnya dengan pemikiran yang selama ini ia yakini. Selanjutnya diikuti
dengan langkah mengumpulkan senjata dan bom untuk latihan terlebih dahulu, lalu
melakukan operasi militer terhadap Israel (hal: 15).

Abu Muhammad Al-Maqdisi sang arsitek utama organisasi ini – yang mereka
namakan sebagai Jamaah At-Tauhid – mulai memberikan pelajaran dan kuliah di
masjid-masjid dan tempat-tempat perkumpulan pemuda. Tujuannya menarik
mereka menjadi anggota organisasi baru itu (hal: 15).

Didirikannya Jamaah At-Tauhid bersama Al-Maqdisi yang menggiringnya ke penjara
selama lima tahun,merupakan langkah praktis pertama dalam perjalanan Zarqawi
berikutnya. Demikian pula, penjara menjadi terminal terpenting dalam pembentukan
kepribadiannya (hal: 16).

Mayoritas kelompok Al-Maqdisi dan Zarqawi tidak rampung kuliah, kecuali AlMaqdisi yang selesai kuliah di salah satu universitas Saudi Arabia pada jurusan ilmuilmu agama dan Abu Muntashir yang memperoleh gelar sarjana sastra (hal: 18).

Selama tiga tahun pertama usianya hidup di penjara, Zarqawi di bawah bimbingan
Al-Maqdisi. Semua buku-buku dan pemikiran Al-Maqdisi dia lalap. Ia kuping seluruh
dialog antara Al-Maqdisi dengan tokoh-tokoh pemikir Islam Yordania lainnya yang
sama-sama mendekam di penjara. Pada saat inilah, Zarqawi mengembangkan
pengetahuan agamanya. Di penjara tersebut, ia bahkan mampu menghafal seluruh
Al-Quran di luar kepala (hal: 19).

Di dalam penjara, Zarqawi adalah seorang yang sederhana, kalem dan banyak diam.
Jika diajak bicara dia akan bicara, jika tidak diajak bicara tidak mengeluarkan sepatah
katapun. Ia menghabiskan waktu-waktu luangnya untuk menghafal Al-Quran dan
membaca buku-buku agama yang lain. Ia penuh perhatian dengan shalat fardhu dan
qiyamullail, dan segala hal yang berkaitan dengan nutrisi spiritual. Tiada tempat di
hatinya bagi bacaan sastra, politik atau bacaan yang jauh dari masalah agama. Ia juga
sangat memperhatikan latihan fisik. Ia begitu menjaga vitalitas badan (hal: 23).

Di dalam penjara, Zarqawi berperilaku sebagai dua karakter. Pertama adalah
karakter yang ia pakai dalam berinteraksi dengan jamaahnya. Dalam hal ini, ia
dianggap sebagai ayah yang kasih, pemurah, sayang, lagi lembut. Zarqawi adalah
tokoh yang mempunyai sifat leadership cukup kuat. Sifat-sifat seperti itulah yang
kemudian memungkinkan dirinya membangun jaringan yang terkuat di kawasan
timur tengah (hal: 24).

Kepribadian Zarqawi yang kedua adalah kepribadian yang dilakukan ketika
berinteraksi dengan pihak berwenang di dalam penjara. Ia orang yang sangat serius,
bertampang menyeramkan. Membatasi interaksi dengan mereka hanya pada hal-hal
resmi (hal: 24).

Ibunda Zarqawi adalah pilar kedua dalam pembentukan karakternya. Ayahanda dan
ibunda, keduanya dalam satu waktu banyak berpengaruh dalam masa kecilnya,
keduanya telah mendidik Zarqawi dengan cara konservatif (hal: 24).

Dalam membangun jaringannya, Zarqawi mengandalkan unsur-unsur sumber daya
manusia yang berbeda dengan unsure yang diandalkan Bin Ladin dan Adh-Dhawahiri
– yang memfokuskan pada para sukarelawan dari Jazirah Arab dan Mesir secara
khusus dan pendanaan keduanya yang mengandalkan aliran dana dari Jazirah Arabia.
Dalam membangun jaringannya, Zarqawi mengandalkan unsure dari negeri Syam
(Yordania, Palestina dan Suria) sehingga anggota jaringan ini dinamakan Jund AsySyam (tentara Syam ) (hal: 34).

Zarqawi dalam membangun jaringannya bertumpu pada asa hubungan family (hal:
35).

Sikap keras Zarqawi tidak saja terbataas dengan Syiah saja, tetapi juga terhadap
muslimin Sunni baik Arab maupun Kurdi, dengan alasan ketakutan perang antar faksi
atau kelompok tiada lain merupakan seruan untuk diam terhadap penjajahan (hal:
43).

Zarqawi berkata kepada sang hakim bahwa dirinya tidak mengakui Musyarri’
(legislator) selain Allah. Meskipun musyarri’ itu seorang alim, penguasa, parlemen
atau sesepuh klan. Ia menganggap semua yang menghukumi dengan selain syariat
Allah dan bekerja sesuai undang-undang konvensional di mana pemerintah
melaksanakannya, telah musrik kepada Allah (hal: 51).

Zarqawi tidak mengakui hukum konvensional dan tetap komitmen dengan syariat
Allah (hal: 51).

Dari sini kita pahami, dari balik suratnya kepada anggota klannya, Zarqawi
bermaksud menasehati agar orang-orang yang menyimpang kembali ke jalan yang
benar dan lurus (hal: 54).

Banyak berdalil dengan teks-teks agama, Zarqawi bermaksud ingin menunjuk akan
kepastian berdirinya Negara Islam atau khilafah Islamiyah (hal: 64).

Meski demikian, menurut Zarqawi, tidak mungkin menentukan waktu yang pasti
berdirinya khilafah atau Negara islam – karena hal itu bukanlah tugasnya. Tugas yang
ia emban adalah bekerja untuk agama dan menegakkan syariat, dan berusaha sekuat
tenaga untuk hal itu. Sedangkan hasilnya, “Kita serahkan kepada Allah SWT” (hal:
65).

Zarqawi mengingatkan mujahidin, bahwa mereka harus bersyukur kepada Allah atas
cobaan (mihnah) yang pada hakikatnya adalah karunia (minhah) besar lagi mulia dari
Allah. Inilah fitnah yang di dalamnya terkandung nikmat besar. Ia juga berkata,
“seandainya pada pendahulu pertama dari Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar,
Umar, Utsman, Ali dan lainnya hadir pada zaman ini, tentu sebaik-baik amal yang
mereka kerjakan adalah jihad melawan kaum yang berbuat jahat itu” (hal: 71).

Zarqawi menertawakn sikap sebagian ulama yang menganggap aksi penyembelihan
sandera Amerika Berg – yang dilakukan sendiri dengan tangan Zarqawi – sebagai aksi
yang mencoreng citra islam di Barat. Ia berkata, “sebagian mediator berusaha untuk
menolong keledai keras kepala ini – maksudnya Nicholas Berg, sndera Amerika itu.
Meski akan berikan semua uang yang kami minta. Meski kami sangat membutuhkan
uang untuk menjalankan roda jihad, namun kami lebih memilih untuk membalas
dendam demi ikhwan dan umat kami” (hal: 74).

Problem yang saya hadapi adalah tergesa-gesanya akhi Zarqawi. Ia ingin segala
sesuatu engan cepat. Seolah-olah ia ingin mewujudkan semua yang diinginkannya
dalam beberapa bulan saja, bahkan kalau bisa dalam hitungan jam. Ketergesagesaan ini merupakan factor ancaman yang mengintai dakwah kami (hal: 87).

Allah SWT telah menjadikan penjara sebagai terminal untuk belajar dan mengajar
ikhwan saya di dalam dan luar penjara. Di sana, Dia bukakan kepada kami futuhat
(kemenangan-kemenangan) yang seandainya musuh-mush Allah mengetahuinya,
tentu mereka sejenak pun mereka tidak akan memenjadrakan kami. Alhamdulillah
atas karunia dan nikmatNya (hal : 112).

Sedangkan
Zarqawi,
ia
selalu
berkata
kepada
orang-yang
mengingatkan
kepergiannya meninggalkan negeri: bahwa ia adalah seorang yang mencintai jihad, ia
tak sabar untuk menuntut ilmu, mengajarkannya, dan berdakwah kepada Allah (hal:
113).

Zarqawi, menurut yang kami yakini, adalah pengikut akidah Ahlusunnah wal Jamaah.
Sesuai dengan manhaj kami dalam dakwah menuju tauhid, yaitu menampakkan dan
menyatakan agama Ibrahim dan bara’ah dari thaghut dan para pendukung mereka,
dan mengkafirkan mereka (hal: 119).

Poin –poin perbedaan dengan Zarqawi bukanlah hal baru bagi kami dan bukan satusatunya. Ratusan ikhwan yang dating kepada kami dari berbagai tempat di dunia
sebelumnya, juga berbeda pendapat dengan kami dalam beberapa hal. Semua itu
ujung pangkalnya pada pemahaman yang beragam akan beberapa sisi akidah yang
berkaitan dengan masalah Al-Wala’ wal Bara yang nantinya akan terkait dengan
masalah At- Takfir dan Al- Irja. Masalah kedua adalah soal metode amal dan interaksi
dengan realita yang melingkupi. Masing-masing sesuai ruang lingkup dan tanah
airnya (hal: 135).

Kini pola pikirnya bersifat global, mencakup seluruh realita umat islam secara umum;

Gigih, teliti dan berupaya untuk segera mewujudkan suatu tujuan menjadi salah satu
dari cirri sifatnya;

Gemar membaca dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia kini selalu
menjadi perhatiannya;

Zarqawi sangat mengagumi Nuruddin Zanki, sosok pemimpin Islam yang cerdas yang
memimpin proses pembebasan dan perubahan yang kemudian diteruskan oleh
pahlawan Salahuddin Al- Ayyubi;

Perhatian Zarqawi dengan orang-orang di sekelilingnya bertambah. Ia selalu
berdiskusi denganku tentang metode-metode yang bisa memperkokoh hubungan
social dan psikologis di antara mereka. Lalu ia mengambil sampel Rasulullah SAW
yang menikahi putri dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar; Aisyah dan Hafsha sebagai
tauladan yang seharusnya diikuti. Maka ia pun menikahi putri salah satu temannya
dari Palestina yang bergabung dengannya dari Yordania. Ia juga menghimbau temantemannya untuk menikahi putri teman-teman mereka yang lain dan sebaliknya,
padahal umur-umur putrid-putri mereka sangat kecil jika dibandingkan dengan umur
perempuan sebaya lain ketika menikah di dunia Arab. Dengan demikian, Zarqawi dan
ikhwannya menjadi satu keluarga yang saling asih dan asuh, dari semua segi; akidah,
social, dan ekonomi;

Dua tahun setelah bekerja dan membangun di Heart, Zarqawi mulai berpikir untuk
mengirimkan teman-teman terbaik yang dipercayanya ke luar Afghanistan untuk
berusaha di bidang penggalangan massa dan pengumpulan dana. Upaya ini, seingat
saya, dimulai dengan mengirim kader ke Turki dan Jerman. Karena ikhwan dari
Suriah yang bergabung dengannya mempunyai jangkauan yang baik di dua Negara
ini;

Zarqawi termasih salah satu ikhwan yang pernah saya temui, yang paling mempunyai
ghirah (sensifitas pembelaan) dengan kehormatan,darah, dan nama baik muslimin
(hal: 149).
Lampiran 2
Sekilas Profil Abu Mus’ab Al-Zarqawi
Zarqawi lahir di Yordania, di sebuah tempat kumuh bernama Zarqa. Kehidupan kecilnya
merupakan kehidupan badui, yang terkenal dengan watak baik, cepat melupakan kesalahan,
cintanya kepada orang sepintas lalu. Selain itu dia memiliki sifat mulia, berani, ramah dan
pendendam. Ada beberapa pilar yang membentuk wataknya. Diantaranya adalah kehidupan
baduinya, ibundanya, dan Abu Muhamad Al-Maqdisi. Zarqawi kecil merupakan anak yang
moderat, hidup dalam kesadaran tentang hidup bersama kejahatan dan kebaikan sekaligus.
Didikan yang diberikan oleh orang tuanya dengan cara konservatif. Setelah melakukan jihad
di afghanistan, ia mendirikan jamaah Tauhid yang isinya berupa doktrin jihad di masjidmasjid dan tempat perkumpulan pemuda. Karena kegiatan tersebut, ia dan al-Maqdisi
dimasukkan ke penjara oleh keamanan Yordania. Dan dari penjaralah dia banyak belajar.
Konstruk
Deskripsi
Moderat
-
Konformitas
kelompok
-
Religius
-
Pengambil
keputusan
Agresif
-
Radikal
-
Leadership
-
Ambisius
-
Konservatif
-
Pada masa kecil, Zarqawi merupakan orang yang moderat, karena ia tumbuh dengan kes
hidup bersama kejahatan dan kebaikan sekaligus
Teman-teman baru Zarqawi pada masa sekolah tingkat atas mayoritas berasal dari berbag
islam, dengan berbagai ijtihad yang berbeda, sama-sama mendorong kaum muda untuk b
sehingga ide jihad dan mati syahid tumbuh berkembang.
Belajar agama di penjara dan menghafal Al-quran di penjara.
Zarqawi adalah orang yang sederhana, kalem, banyak diam, ia menghabiskan waktu luan
menghafal Alquran, penuh perhatian kepada shalat fardu dan qiyamullail.
Mencintai ibunya dan menempatkan ibunya di tempat yang Agung (Taat orang tua)
Sikap tegas dan kharismatik mampu menarik anggota organisasi penjara untuk tunduk da
menyerahkan tongkat kepemimpinan sehingga ia menjadi pengambil keputusan
Membunuh seorang tahanan Amerika, Nicholas Berg, dengan cara menggorok lehernya.
Zarqawi tidak puas dengan Al-Qaidah dan Taliban. Keduanya kurang keras dalam memu
musuh Allah. Baginya, aksi-aksi harus lebih berdarah dan menyakitkan.
Melakukan serangan bom mobil thd Izzudin Salim
Menyerang kantor-kantor polisi dan tentara Iraq dan menyatakan siap membunuh Iyad A
Iraq) dengan menyiapkan racun yang mematikan dan pedang yang tajam
Menganggap kafir orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai legislator, baik itu
parlemen, ketua suku dll.
Zarqawi tidak mengakui hukum konvensional dan tetap komitmen dengan syariat Allah.
Menganggap kepastian berdirinya negara islam atau khilafah Islamiyah
Menganggap bahwa tugas yang ia emban adalah bekerja untuk agama dan menegakkan s
berusaha sekuat tenaga untuk hal itu.
Zarqawi bermaksud menasihati agar orang-orang yang menyimpang, kembali ke jalan ya
lurus
Memimpin kelompok di penjara
Zarqawi ingin segala sesuatu dengan cepat, seolah-olah ia ingin mewujudkan semua yan
diinginkannya dalam beberapa bulan saja
Orang tua Zarqawi mendidiknya dengan cara konservatif, di tengah-tengah situasi ekono
sempit dengan jumlah keluarga besar.
Sekilas tentang Buku Abu Muhammad Al-Maqdisi (Mereka Mujahid, Tapi Salah Langkah)
Rentetan kejadian bom bunuh diri sempat mewarnai headline koran ibu kota. Setelah beberapa hari,
diketahui pelakuknya memiliki nama islam. Mereka menyebut diri mereka sebagai jihadis. Cara
mereka seperti itu dianggap salah oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi, penulis buku “waqafaat ma’a
tsamrati jihad”. Isi buku tersebut adalah kekeliruan-kekeliruan para mujahid muda yang bermodalkan
semangat, tidak punya taktik dan strategi untuk melakukan jihad. Mereka tidak memikirkan jihad itu
sendiri secara mendalam. Karena yang ada hanya memperburuk citra jihad dan umat. Isi buku tersebut
adalah nasehat dan renungan bagi mereka yang ingin berjihad, bahwa berjihad tidak selalu
menggunakan bom jika targetnya 1 atau 2 orang. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan pistol.
Selain itu, jihad mestinya dilakukan dengan target yang lebih besar, yang bisa melumpuhkan orang
kafir, thaghut, dan salibis.
Selain itu, ancaman-ancaman teror yang nyatanya tidak terbukti hanya membuat orang kafir malah
tidak takut. Seharusnya teror diumumkan sesuai dengan kekuatan yang ada, sehingga para thaghut
takut dan memperhitungkan ancamannya.
Hal yang saat ini menjadi fokus jihadis adalah nikayah atau melukai, menyerang, dan melumpuhkan
orang kafir. Padahal yang paling penting adalah tamkin yaitu menguasai sebuah wilayah dengan
pemimpin yang paham ilmu syar’i dan fiqhul waqi’.
Para teroris dalam buku ini dijelaskan memiliki semangat yang tinggi dan tidak memiliki strategi.
Seharusnya mereka mengisi terlebih dahulu keilmuwan mereka sehingga serangan-serangan yang
dilancarkan bisa efektif.
Al-Maqdisi merupakan orang yang memiliki keyakinan radikal, bahwa membunuh muslim yang
dijadikan tameng oleh musuh, jika mafsadat lebih besar lebih besar ketika mereka hidup daripada mati
(dhawabith Al-Maqdisi). Al-Maqdisi juga merupakan orang yang tegas, mempunyai jiwa leadership
yang tinggi, serta mempunyai pemikiran yang agresif.
Sekilas Profil Utomo Pamungkas alias Fadhlullah Hasan alias Mubarok alias Amin (Temanku,
Teroris?)
Lahir dari keluarga yang relijius, Bapaknya seorang guru agama yang memiliki karakter keras dan
tegas. Karena keras dan tegas itulah, maka pola asuh yang diterapkan adalah pola asuh yang otoriter.
Semenjak dimarahi ayahnya karena telah meminta sesuatu di kereta yang sedang lewat, Utomo kecil
menjadi orang yang serius. Ketika sudah di pondok menjadi orang yang karismatik, mempunyai jiwa
leadership, berorientasi pada tindakan progresif, dan punya kemauan yang keras.
Awal mula menjadi mujahid adalah ketika ditawari belajar di pakistan. Sesampai di pakistan, dia
diberi dua pilihan, mau belajar atau berjihad di afghanistan. Melihat kondisiAfghanistan yang
menyedihkan dan memprihatinkan, akhirnya fadhlul terpanggil untuk ikut latihan di Akademi Militer
Afghanistan di bawah pimpinan Abdul Rabbi Rasul Sayyaf. Jiwa pemberaninya muncul ketika harus
ikut di medan perang dan menjadikan tank, pesawat, dan suara morir familiar baginya. Cita-citanya
sebagai syuhada belum bisa tercapai di Afghanistan karena Allah belum memanggil dia.
Prinsip dan doktrin serta bai’at organisasi “sami’na wa atha’na membuat dia rela menjadi supir untuk
melakukan perjalanan teror Bom Bali I bersama Amrozi Cs. Padahal diketahui bahwa uang yang
digunakan untuk mendanai kejahatan tersebut berasal dari harta rampokan.
Konstruk
Deskripsi
Konformitas
kelompok
-
Paham agama
Leadership
-
Peduli
-
Radikal
-
Akademis
-
Ambisius
-
Keras
-
Dari seluruh jamaah yang berangkat dari Indonesia, tak ada satupun yang berminat mas
jamiah, sehingga memutuskan untuk ikut ke kamp pelatihan militer Afghanistan
....Sulit rasanya menolak permintaan seorang teman apalagi rumah kami bersebelahan.
Sesungguhnya niat awal keberangkatan saya ke pakistan adalah untuk memperdalam ilm
agama. Namun setelah di Peshawar, keinginan untuk menimba ilmu tak menarik lagi.
Saya lebih memilih untuk menuju kamp militer berjihad
Sebagai mujahidin yang taat kepada atasan dan setia pada perintah organisasi....
Belajar agama di pesantren, sering ceramah
Mengajar di almamater
Sering memberikan arahan kepada juniornya
Akhi Fadlul banyak mengajarkan pada kami perihal teknis bagaimana menjalani
kehidupan sebagai santri
Akhi fadhlul bisa memahami persoalan yang kami hadapi dan mencarikan solusi
Aura seorang pemimpin tidak pernah surut
Laa islaama illa bil quwwah, tidak ada islam kecuali dengan kekuatan
Deraan terhadap saudara seumat itu serasa mengiris-iris hati saya, maka tidak lain
menyambut panggilan jihad
Jihad adalah jalan satu-satunya untuk membaktikan dirinya untuk umat dalam arti yang
sesungguhnya
Dahaga untuk mempelajari ilmu islam semakin hari semakin mengental dalam diri saya
Ingin rasanya saya melakukan hijrah ke mersir atau Madinah sebab disanalah letak mat
air ilmu-ilmu islam
Setiap kali usai shalat saya selalu memanjatkan permohonan kepada Allah, semoga
dimudahkan setiap jalan bagi diri saya untuk menuju Pakistan secepatnya
Setiap kali menjalankan ibadah sholat, saya memanjatkan doa memohon syahid.
Tidak ada kerinduan dengan keluarga, yang ada hanyalah kerinduan akan menjadi
syuhada
Sebelum Jadi Teroris
Bersahabat
Bijaksana
Leadership
-
-
Tegas
-
Sikapnya yang bersahabat membuatnya seperti telah lama mengenalku
Sebagai ketua kamar sekaligus senior kami, dia cukup bijaksana
Sebagai ketua kamar sekaligus senior kami, dia cukup bijaksana
Dia adalah kakak kelas yang dapat memberikan motivasi bagi adik-adiknya. Kami serin
memanggilnya dengan akhi. Bagiku panggilan itu tidak hanya menempatkannya sebaga
kakak yang layang dihormati, tetapi sekaligus menempatkannya sebagai guru muda dan
pemimpin kami.
Sebagai santri senior aku harus memberikan arahan kepada junior. Tidak ada yang lebih
atau kurang, semua berlaku sama. Membantu junior dan membantu memahami kehidup
pesantren itu kewajibanku. Itu sudah panggilan jiwa
Akhi fadlul selalu bisa memahami persoalan yang kami hadapi
Dengan nada tegas, akhi Fadlul menyampaikan amanat pondok kepada kami
Menegaskan peraturan pesantren
Kuat
-
Jika mengajar, maka sikapnya menjadi tegas, suaranya keras
Dalam masalah beladiri, kemampuannya tak diragukan lagi. Beberapa kali aku melihat
akhi fadlul melatih pukulan, tendangan, dan tangkisan
Doktrin Islam harus ditegakkan tidak sebatas ucapan sangat terpatri dalam kesadaranny
Baginya musuh islam ada di mana-mana sehingga setiap muslim harus membekali dirin
dengan fisik yang kuat dan ilmu bela diri yang baik. Jika sewaktu-waktu situasi
membutuhkan, kita harus siap sedia memenuhi panggilan untuk membela kebenaran
Untuk orang seusianya, dia terlihat sempurna. Sabar, disiplin, dan taat beribadah
Dia betul-betul konsisten dengan pilihan dan niatnya yaitu ingi menjadi ahli agama, dia
semata ingin mengabdikan dirinya untuk mushola di desanya.
-
Relijius
Konsisten
-
Sekilas profil Ali imron (Ali Imron sang Pengebom)
Konstruk
Deskripsi
Religius
-
Konformitas
kelompok
-
Berani
-
Agresif
-
Radikal
-
-
Tidak kerasan
-
Mulai saat itu saya berusaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya. Mulai berusaha rajin belajar, memperbaiki pemikiran, memperbaiki
amala sehari
Sebagai orang yang pernah belajar ilmu perang, sebenarnya saya tidak menghendaki
bertugas di pondok, karena latar belakang bukan dari pesantren. Namun karena hal
itu adalah tugas, maka saya harus menaati dan melaksanakan tugas tersebut sesuai
dengan kemampuan saya
Menanyakan kepada Ali Ghufron terkait rencana bom bali, apakah disetujui oleh
anggota
Menanyakan kembali apakah Bom Bali akan benar-benar dilakukan karena
diberitakan bahwa AS mencurigai di Indonesia ada teroris
Melawan aparat dengan pistol
Menempatkan Amerika sebagai musuh utama yang harus diperangi pasca runtuhnya
uni soviet
Terlibat dalam pengeboman Kedubes Filipina,
Membalas kaum kafir
Merakit bom dengan pupuk dan bahan kimia lainnya
Mendambakan medan jihad dengan menjadikan peristiwa Ambon sebagai lahan
berjihad
Membalas kaum kafir
Ingin sekali berjihad di Ambon dengan mencari-cari kerusuhan antaragama
Merencanakan bom manado ketika akan ada pertemuan Kristen
Mengebom Gereja pada malam Natal
Persiapan melawan aparat ketika hendak dikejar
Tidak ada cara yang efektif untuk mengubah semua kerusakan di Indonesia kecuali
dengan adanya medan Jihad yaitu terjadinya peperangan antara kebenaran dan
kebatilan. Adanya jihad akan mudah menyelesaikan masalah krisis multidimensi
yang menimpa negara ini.
Saya senang mengajarkan kepada anak-anak murid tentang jihad dan selalu
mengobarkan jihad kepada mereka
Dalam keyakinan saya, apabila dalam hati seorang muslim tidak ada keinginan untuk
berperang lalu ia meninggal, maka dalam dirinya ada sifat kemunafikan
Syariat Allah harus diberlakukan secara menyeluruh
Pindah-pindah sekolah walaupun baru sebentar
Peduli
-
Keinginan kuat
Patuh
-
-
-
Tekun
-
Pintar
-
Aktif
-
Saya juga mempunyai keinginan untuk ikut andil dalam berjuang membela agama
islam dan kaum muslimin dari musuh-musuhnya seperti yang terjadi di Palestina dan
Afghanistan
Berusaha untuk berangkat ke Afghanistan untuk menjadi Mujahid
Karena sudah menjadi keinginan diri saya sendiri untuk terjun di tempat seperti itu
(kamp militer.pen), maka konsekuensinya sya harus menaati semua peraturan yang
ada dan harus menaati semua peraturan yang ada dan harus mengikuti semua
program sekalipun terasa berat
Sebagai lulusan akademi perang, sebenarnya saya tidak ingin mengajar di pesantren,
tapi karena itu tugas, maka saya harus menaati dan melaksanakan tugas tersebut
sesuai dengan kemampuan saya
Sebenarnya saya hanya ingin bertugas di tempat yang memungkinkan bisa
memegang senjata dan menggunakan bom, bukan di pondok pesantren. Namun
karena itu tugas dari atasan, maka mau tidak mau saya harus taat dan melaksanakan
tugas yang diperintahkan
Beban berat tersebut selalu tidak kami hiraukan karena meyakini bahwa itu semua
adalah ujian di medan I’dad (pelatihan)
Saya menjadi tempat untuk bertanya terkait masalah jihad
Berkali-kali lolos dari pengejaran polisi
Pintar melobi orang-orang yang membantunya untuk melakukan pelarian dan
persembunyian
Sejak akhir 1996 saya sudah aktif ikut membantu mengurusi dan mengajar di pondol
pesantren Al-Islam, selain itu mengikuti kegiatan di Jamaah Islamaiyah
Sekilas Profil Ed Husain (The Islamist)
Ed Husain merupakan penganut islam radikal kurang lebih selama lima tahun. Setelah menolak faham
ekstrimis, dia sekarang tinggal di London bersama dengan istrinya dan sedang menjalani Doktornya.
Konstruk
Deskripsi
Kesepian/dikucilkan
-
Moderat
-
Tertutup
Sederhana
Relijius
-
Puritan
Pemberontak
-
We grew up oblivious of the fact that large numbers of us were somehow d
Pakis! Pakis! F___ off back home!
I continued to be a loner at school, occasionally bullied, frequently sworn
regularly ignored in most classes
My mother would take us to see santa Clauss every year after the
christmast party
We are extremely close family
We were not particularly wealthy, nor especially poor
I had attended Koran classes at weekends, studied with my mother at ho
not with any pasticular intention to recite in public
I now wanted everything to do with islam
Membaca buku-buku islam ideologis
Mengidam-idamkan negara islam
Diracuni pemikiran bahwa orang yang tidak mengikuti Mawdudi bukan
sesungguhnya
Kabur dari rumah
Merasa bebas ketika orang tua melepas kepergiannya
Sekilas Profil Imam Samudera (Aku Melawan Teroris.Pdf)
Konstruk
Deskripsi
Fanatisme
- Sedari awal telah kukatakan kepada segenap Tim Pengacara Muslim (TPM) bahwa, tidaklah
layak aku menulis autobiografi, karena memang tidak layak. Orang-orang yang ditakdirkan
telah ditinggikan dan diharumkan namanya oleh Allah semisal Syaikh Usamah bin Ladin, at
Syaikh Maulawi Mullah Umar, dan tokoh-tokoh mujahidin lainnya –hafizhahumullah– itulah
yang patut ditulis dan dikenang biografi mereka
- Pertama kali beliau mengajakku ke masjid ketika umurku empat tahun.
- Masih tetap datang ke masjid meskipun kakek sudah meninggal.
- Sekolah di madrasah sepulang dari SD
- Sudah bisa membaca sebelum masuk sekolah. Ingin sekali sekolah meskipun belum cukup
umur
- Menjadi bintang pelajar
- Menjuarai cerdas cermat SD tingkat kecamatan
- Tidak ada teguran sekalipun aku telah bergaul dengan bukan mahram. Kalau di kota yang
terkenal religius saja sudah seperti itu, bagaimana pula pergaulan di kota lain?
- Membenci para wanita
- Semangat membacaku menggila
Relijius
(sebelum jadi
teroris)
Pintar
Puritan
Membaca
buku jihadis
Tertutup
-
Kebanyakan membaca buku membuatku kuper
Sekilas tentang Kemala (Demi Allah, Aku jadi Teroris)
Kemala merupakan seorang teroris yang ingin melakukan bom bunuh diri di salah satu kafe di
Jakarta. Masa kecilnya memang kurang bahagia. Ia lahir dari hubungan gelap. Ibunya meninggal saat
dia berumur 3 tahun. Setelah itu ayahnya meninggal karena kecelakaan sesaat setelah menengok
Kemala di rumahnya. Dia merupakan orang yang tertutup, namun banyak teman, pintar menari. Awal
mula perkenalan dia dengan dunia teror adalah saat ia mengikuti pengajian bersama temannya saat
kuliah dulu. Dalam pengajian tersebut, ia didoktrin dengan hukum Allah, negara Islam dan keindahan
surga. Dia ikut menjadi jamaah dan membayar beberapa jumlah uang untuk pembaiatan. Awalnya
Kemala curiga dengan mekanisme pembaiatan. Karena dia menolak, dia lalu diperkosa oleh anggota
jamaah. Setelah diperkosa kemudian harapannya untuk hidup layak pudar, tidak bersemangat hidup.
Tapi pada saat itu ada nggota Jamaah perempuan yang menyemangati, mengajari agama, diberikan
tayangan-tayangan jihad, sehingga setelah setengah tahun menjadi wanita militan.
Dia ingin mati syahid, akhirnya, gurunya menawarkan untuk melakukan bom bunuh diri untuk
menghancurkan orang kafir. Dia awalnya, menyamar menjadi penari striptease kafe. Untung saja ada
pria yang menggagalkan aksi terornya itu, seorang polisi yang jatuh cinta kepadanya. Akhirnya
Kemala dipenjara dan hidup tenang dengan polisi terserah setelah kemala bebas dari penjara.
Konstruk
Deskripsi
Kesepian dan
butuh kasih
sayang
-
Sejak kecil sudah piatu karena ditinggal ibunya karena sakit. Kemudian ditinggal oleh
Ayahnya.
Madewi tidak pernah memberikan cukup baginya (kemala), menemani putrinya, dan jug
tidak sebuah figur ayah
Sensitif
-
Tidak ingin
dikasihani
Pintar
-
Relijius
-
Kemala merindukan figur seorang ayah
Kemala: “Tante, aku mohon. Jangan tinggalkan aku sendiri, “tangisnya waktu
“oom boleh dateng lebih sering ke sini,” kata Kemala perlahan, mulai melangkah pelan.
merasa yakin bahwa pria ini memiliki hubungan dengan ibunya.
Sekarang, semua orang menatapnya dengan pandangan kasiha – sebuah pandangan yang
disukai kemala, dan ia merasa menjadi merasa terasing di rumahnya sendiri.
Kemala merupakan mahasiswa kedokteran yang mendapatkan beasiswa, yang haus akan
siraman keagamaan.
Sering mengikuti pengajian di kampungnya.
Kemauannya untuk mengaji sangat tinggi pada saat kuliah. Sehingga dia mencari ustaz u
ikut pengajian bersama temannya
Sholat adalah salah satu ibadah rutin yang dilakukannya, dan kemala sangat menyukai sa
saat itu, ketika ia berkomunikasi dengan Allah.
Ia memiliki banyak teman dan kepribadiannya tertutup, dia sangat tertutup kuhusunya ke
laki-laki.
Didoktrin tentang negara Islam dan pembaiatan, mendambakan satu hukum Allah (purita
setelah melihat film perang di Afghanistan, setelah satu tahun menjadi wanita militan. Ia
yakin ia mengenal dirinya. Dirinya telah ia selimuti dengan sebuah keyakinan kuat bahw
yang dilakukan adalah suci...
Didoktrin mengenai kehidupan ideal surga
Konsep hijrah
Kemala semakin aktif membaca buku-buku yang diberikan Fatima. Semakin lama,
pemikirannya semakin mengarah pada sebuah paham. Kebencian yang semula dirasakan
mulai dapat dikendalikannya. Ia telah menjadi pribadi yang baru
Setelah satu bulan dijejali film-film peperangan. Saat film-film itu kembali diputar dan
kesakitan itu dieksploitasi dalam satu sisi, kemala pun akhirnya bangkit berdiri. “kita har
memerangi ketidakadilan ini
Tidak mau menanggapi laki-laki sekalipun laki-laki itu sangat hebat
-
Introvert
-
mudah
terdoktrin
-
-
-
Assertif
Leadership
Traumatis
diperkosa
Militan
-
Mengajar tari anak-anak SD
Kemala tersenyum dan bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi pada upaya kerja ke
mereka dan mengangguk
Kemala diperkosa oleh tiga orang dari aliran sesat tersebut
-
Setelah lebih dari setengah tahun, Kemala telah menjadi wanita militan
Kemala: “Saya siap melakukan apaun (termasuk bom bunuh diri) demi Allah”
Sekilas tentang Biografi Osama bin Laden (Growing Up bin Laden)
Awal mula keterlibatan Osama dengan dunia jihadis ketika pada tahun 1979, Uni Soviet memerangi
Afghanistan. Melihat kondisi semacam itu, Osama hatinya terenyuh dan memulai untuk membantu
saudara-saudaranya di sana. Dimulai dari pengumpulan dana untuk membeli persediaan makanan dan
obat. Terpengaruh oleh pemikiran Abdullah Azzam, mereka bertemu di peshawar, memikirkan
metode pengiriman makanan, obat-obatan dan senjata.
Konstruk
Deskripsi
Kurang kasih
sayang
-
Yatim dalam usia 10 tahun
Osama: kakekmu tewas pada saat aku berusia 10 tahun
Percaya diri,
lembut, serius
-
Kuat, tegas dan
keras
-
Pendiam dan
pemalu
-
Konservatif
-
Berani
-
Menghargai istri
Relijius
-
Tenang
-
Penyayang
Dan aku tak punya kesempatan kedua untuk bertemu secara pribadi dengannya
... bahwa dia pemuda yang percaya diri, tapi tak arogan. Dia lembut, tapi tak lemah. Di
tapi tak bengis,
Akhirnya, suamiku menatap ke arahku. Dia tidak berteriak, tapi berbicara dengan lebih
dari biasany, suaranya selembut sutra. “Najwa, Omar itu anak lelaki. Pakaikan pakaian
laki-laki padanya. Potong rambut panjang ini.
...dikenal sebagai anak bin Laden yang serius..
Tak pernah aku mendengar ayahku menaikkan suaranya karena marah pada ibuku.
Dia sangat jarang tertawa..
Ayah begitu serius sehingga jarang sekali membicarakan tentang peristiwa kehidupan
pribadinya
Meskipun sikapnya tenang, tak ada yang pernah menganggap osama lemah, karena kar
kuat dan tegas, osama selalu menyukai jalan kaki.
Ayahku yang keras kepala menampik dengan kasar ajakan mereka untuk dialog yang ra
memperbesar keluhannya sampai luka kecil akhirnya bernanah menjadi borok yang me
..Aku percaya bahwa begitu dia tahu putra-putranya berada dekat dengan anak-anak pe
yang dekat dengan anak perempuan yang bukan dari keluarga kami, kami akan segera d
dari sekolah
Menolak keinginan raja Fahd
Ayah begitu keras........
Menghadapi gangguan dua orang yang sedang marah kepadanya
Siap secara mental untuk merespons invasi soviet di Afghanistan
Sikap dia osama membuatku gusar...” ia lebih pemalu daripada “perawan di balik cada
Ayah punya kebiasaan mengalihkan pandangannya kapanpun dia berada di tempat umu
Apakah ini karena sifat pemalunya atau karena dia berhati-hati untuk tidak memandang
yang bukan keluarganya
Osama begitu konservatif sehingga aku juga akan tinggal di Purdah, atau pengasingan,
meninggalkan rumah baruku
Kami tidak punya televisi karena suamiku tidak ingin keluarganya dirusak dengan taya
tayangan dalam televisi.....
Osama: Ajaran islam dikorupsi oleh modernisasi. Tidak ada AC, kulkas, pemanas ruang
Suamiku tak percaya pada mainan moderen untuk anak-anak kami
Ayah kami melarang minuman ringan dari Amerika
Ayah tetap yakin sebagai muslim, kami harus hidup sesederhana mungkin, mencela keh
modern
Ayah tampak menikmati melihat kami menderita, mengingatkan kami bahwa hal yang
bagi kami untuk mengetahui rasanya lapar atau haus., tak punya apa-apa saat yang lain
banyak.
Ayah melarang kami untuk bergaul dengan orang kristen
Ayah menyuruhku berobat dengan pengobatan tradisional
Ayah menolak modernisasi kompleks itu, menegaskan prinsipnya bahwa keluarganya d
pejuangnya harus hidup dengan sederhana
Kata Osama: “ bagiku kau adalah mutiara yang berharga yang harus dilindungi
... aku tahu suamiku adalah seorang ahli agama
Ayahku dikenal oleh semua orang di dalam dan di luar keluarga sebagai anak bin Laden
serius, yang semakin tenggelam dalam pelajaran agama
Aku mengenal ayahku sebagai orang yang sangat tenang, tak peduli apapun yang terjad
Tetap tenang walaupun dihina oleh Mullah Umar
Menyayangi binatang
Menyayangi anak-anaknya..
Galak
Leadership
-
-
Loyal
Kitis
-
Pintar loby
-
Kreatif
-
Egois
-
Tepat janji
-
Agresif
-
-
Introvert
-
Tidak membunuh kuda walaupun kuda tersebut ingin membunuhnya
Menjadi galak dan kejam terhadap anak-anaknya
Ayah kami selalu mencela segala sesuatu yang mewah jika menyangkut keluarganya, s
menyatakan bahwa kami tak boleh manja, dan kami memang tidak.
Dia sangat mudah marah dan mencapai titik kekerasan dalam seketika
Marah kepada Omar ketika Omar bersikap kritis
Setelah Osama menjadi pemimpin gerakan ini, ada ketegangan diantara sebagian
pengikutnya......
Para pegawai dan veteran perang mengikuti instruksi ayahku untuk dengan tenang .......
Mengajari anak-anaknya untuk berani menghadapi dunia yang begitu liar
Aku perhatikan bahwa para lelaki yang menemani ayahku adalah para pejuang Mujahid
hari-harinya di Afghanistan, sementara yang lain adalah pengikut setia keyakinan ayahk
sehingga semuanya bersikap hormat padanya.
Banyak tentara yang mengeras hatinya menjadi penjaga keamanan ayah, dengan tekun
melindungi ayah dan keluarganya,.. mereka memperlakukan ayah dengan kekaguman d
hormat, berdiri merendah di belakang
Zawahiri akan meminta izin pada ayah saat hendak bicara
Kesetiaan ayah pada kerajaan.... (pada awalnya)
Aku kini tahu bahwa ayahku yang memulai pertikaian dengan keluarga kerajaan
Ayahku bahkan mengaku bahwa keluarga kerajaan menawarinya beberapa posisi pentin
pemerintahan dengan syarat hanya agar ayah menghentikan kritik pedasnya kepada keu
kerajaan
Ayahku meyakinkan salah seorang pangeran untuk membolehkannya meninggalkan Sa
dalam rangka keperluan bisnis yang penting di Pakistan, berjanji pada pangeran yang b
itu bahwa dia akan kembali ke saudi sebelum orang-orang menyadari kepergiannya
Melobi ayahnya untuk mendapatkan mobil
Dapat memohon kepada Mullah Omar untuk tinggal satu setengah tahun lebih lama lag
diusir oleh Mullah Umar
Dia benar-benar memeras otaknya untuk menemukan cara baru memproduksi bunga m
terbesar dunia
...Entah karena alasan apa suamiku berubah pikiran dan memutuskan ladin harus digan
namanya menjadi Bakr.
Para veteran Mujahidin itu memberi tahu kakak dan aku bahwa ayah adalah salah satun
tak pernah melupakan mereka dan tak pernah mengingkari janjinya.
Dunia islam harus menyerang dulu sebelum diserang... untuk pertama kalinya aku mera
bahwa ayah kecanduan pola berpikir yang agresif sehingga bisa membahayakan kami s
Marah karena harus meninggalkan Saudi selamanya, dia menyalahkan Amerika dan ke
kerajaan Saudi. Kemarahan ini meningkatkan tekadnya untuk melakukan serangan tero
Amerika Serikat dan Arab Saudi
Sangat membenci Amerika
Ingin memusnahkan Amerika
Osama terbiasa dengan semangat para prajuritnya, orang-orang yang berpegang pada se
kata-katanya, yang tidur, makan, dan minum hanya untuk menghancurkan orang lain
Osama: Muslim harus menyerang sebelum diserang
Ayahku tak menyesali perbuatannya, bahkan tidak dengan kematian muslim, Kita seda
berperang. Jika musuh membuat dinding dari warga sipil di depan kantor militer, merek
dibunuh lebih dulu
Ayahku tak pernah terbuka tentang perenungannya
Ayahku tidak pernah mengenalkan aku pada teman-temannya
Peduli
-
Ayahku sangat tertutup
Ayah sedih dengan kenyataan bahwa bangsa Afghan tidak bersatu untuk menyatukan k
kepingan negara mereka menjadi satu kembali
Osama menganggap misinya mengubah dunia lebih penting daripada tugasnya sebagai
dan ayah
Lampiran 3
TEMANKU TERORIS?

Tetapi saya tidak mau menjadi Muslim yang hanya duduk-duduk menyaksikan
saudara seiman ditindas, tak mau hanya berteori dan berwacana, sementara bayibayi dan perempuan, masjid dan rumah-rumah kaum Muslim Afghanistan
dihancurkan oleh mesin-mesin pembunuh Rusia (hal: 19).

Siapa bilang islam tidak mengajarkan revolusi? Siapa bilang islam tidak melahirkan
anak-anak revolusioner? Dalam buku catatan pemikiran jihad, ulaam As-Suri
mencatat Al-Maududi sebagai bagian dari pemikir jihad yang cukup berpengaruh
pada masa kini. Al-Maududi mendefinisikan jihad sebagai perjuangan revolusioner
untuk mencapai kekuasaan, demi kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Jihad
dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk: melalui karya tulis, dakwah, bekerja,
belajar, tetapi setiap muslim harus siap memasuki perjuangan senjata (hal: 41).

Pasca perang dunia II, ketika banyak Negara mencari identitas kebangsaan dan sibuk
merumuskan ideology perjuangan, jihad dalam pandangan saya adalah solusi dari
kebuntuan teori-teori gerakan social. Terutama di timur tengah, yang merupakan
pusat dari peadaban islam. Jihad merupakan inspirasi kebangkitan perlawanan
terhadap hegemoni barat yang telah lama menanamkan paham imperialism dan
kolonialisme (hal : 42).

Apapun keputusan organisasi harus ditaati dan dijalankan sebaik-baiknya. Itu ada
syarat mutlak seorang anggota jamaah (hal: 65).

Kenyataan yang sedemikian menggembirakan itu tidak didapat secara tiba-tiba. Allah
membukakan ilmu bagi umat yang belajar. Kedisiplinan juga merupakan factor
penting untuk mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Mendidik orang
biasa menjadi paramiliter sesungguhnya cukup sulit. Sebagai kadet-kadet, mereka
harus mengenal dan menerapkan disiplin militer. Latar belakang sebagai masyarakat
sipil menjadikan mereka terbiasa tidak menjaga kewaspadaan dan keamanan.
Padahal untuk menggunakan senjata, perilaku disiplin harus diterapakan. Kalau
tidak, bisa saja mereka baku tembak dan mencederai ikhwan yang ada di sekitarnya.
(hal: 71).

Akhi fadlul banyak mengajarkan kepada kami perhal teknis bagaimana menjalani
kehidupan sebagai santri. Sikap kepemimpinannya menciptakan rasa segan pada diri
kami. Di antara kami, tak ada yang berani menyangkal atau memprotes akhi fadlul.
Tanpa harus dipaksa, kami merasa perlu menaati dan menjadikannya pemimpin yang
harus senantiasa dihormati segala keputusannya (hal: 125).

Doktrin “Islam harus ditegakkan tidak sebatas ucapan” sangat terpatri dalam
kesadarannya. Baginya, musiuh islam ada di mana-mana sehingag setiap muslim
harus membekali dirinya dengan fisik yang kuat dan ilmu beladiri yang baik. Jika
sewaktu-waktu situasi membutuhkan, kita harus siap sedia memnuhi panggilan
untuk membela kebenaran (hal: 134).

Untuk anak seusianya, dia terlihat sempurna. Sabar, disiplin, dan taat beribadah.
Lebih-lebih, kudengar, akhi fadlul terbilang anak yang sangat cerdas. Hafal Al-Quran,
fasih menafsirkan hadis, lancer berbahasa arab dan inggris, juara kelas pula.
Pengamatanku itu sudah cukup memberi alasan untuk menyematkan label “senior
yang karismatik dan patut dicontoh” kepadanya (hal: 135).

Di pondok, kami betul-betul dididik untuk disiplin, menghargai waktu dengan
berlatih dan bekerja tanpa melupakan ibadah dan kewajiban sebagai muslim. (hal:
138).

Kerap dalam kesendirian yang pekat ini, saya juga mengingat kembali keterlibatan
saya dalam aksi jihad bom bali. Sebenarnya saya tidak terlibat langsung, hanya
rekening bank saya yang dipakai lewat untuk transfer dana. Disamping itu, karena
kuat menyetir ajrak jauh, saya diajak mengantar mobil yang akan dipakai dalam aksi
sampai ke Bali. Sulit rasanya menolak permintaan seorang teman, apalagi jika rumah
kami bersebelahan. Barangkali Amrozi juga senang mengajak saya karena saya jarang
bertanya-tanya, terutama menngenai hal yang bukan urusan saya. Itu adalah bagian
dari doktrin yang saya terima selama saya di organisasi JI (hal: 257-268).

Saya memang tahu teman-teman Amrozi cs akan melakukan aksi jihad di Bali. Tetapi
saya tidak tahu secara detail aksi mereka akan seperti apa. Karena saya “diam” dan
“tidak melapor” kepada polisi inilah, saya diputuskan bersalah dan dimasukan dalam
kategori pelaku penting. Apalagi polisi melihat background saya sebagai veteran
afghan dan pelatih militer di Mindanao, Filipina (hal: 258).

Factor pendanaan aksi pengeboman ini juga membuat saya berpikir ulang. Rasanya
ada yang salah dalam aksi itu sebab sebagaian uang operasionalnya berasal dari hal
yang masih aabu-abu, yaitu hasil rampokan sebuah took emas. Mungkin karena
kekurangbersihan dalam masalah dana ini, banyak madharat (kerusakan) yang kita
terima setelah aksi. Banyak ikhwan yang sebenarnya tidak setuju dan tidak tahu
menahu soal aksi ini tetapi kena pulutnya. Saya sering mengalami pergulatan batin
tentang dampak yang mesti mereka tanggung. Mereka sesungguhnya juga korban
dari perbuatan kami ini (hal: 258).

“Ini adalah jihad kami, untuk member pelajaran kepada Amerika, Negara Koran
tempat antum bekerja itu agar mereka tidak menzalimi islam”, jawabnya (hal: 261).

Tomo kecil menjalani kehidupan seperti halnya anak-anak kampung lainnya. Namun,
anak seorang guru tentu tidak sebebas anak-anak lain dalam menentukan pergaulan.
Tomo kecil dididik ayahnya dengan keras. Kendati hidupnya sederhana, Tomo dan
keluarganya termasuk cukup terpandang, orang kampung memanggil ayahnya
dengan sebutan pak Guru (hal: 280).

Sebagai seorang guru, Pak Suharsono mendidik anaknya dengan keras dan tegas.
Beliau tidak ingin anak-anaknya mempunyai mental sebagai pengemis. Kejadian itu
tentu saja membuat beliau marah bukan kepalang (hal: 282).

Pengalaman demi pengalaman yang telah Tomo dapatkan sejak kecil mengukuhkan
kepribadiannya yang keras. Kemiskinan di depan mata adalah persoalan yang harus
segera dituntaskan. Maka pendidikan adalah jalan keluar (hal: 284).

Sebagai guru di sekolah Muhammadiyah, Pak Harsono mendidik anak-anaknya
dengan nilai-nilai islam yang kental. Tak heran jika Tomo kecil kemudian memiliki
minat kuat pada ilmu agama Islam (hal: 285).

“Barangkali saya termasuk beruntung, saat masuk Ngruki masih sempat bertemu
langsung dengan Ustaz Abdullah Sungkar dan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir” tutur akhi
Fadlul kepadaku. “Saya masih sempat mendapat pengajaran dari Ustaz Dullah dan
Ustaz Abu.” (hal: 289)

Kedua tokoh penting Ngruki ini mempunyai hubungan yang mirip dengan hubungan
Soekarno dan Hatta. Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda, namun
mereka akur dan saling melengkapi. Perbedaan pendapat pasti terjadi. Tapi
kesamaan fikroh (pola pikir) membuat hubungan mereka sangat solid (hal : 289).

Ustaz Abdullah Sungkar adalah seorang orator ulung. Khotbahnya selalu memotivasi
para santri untuk bersemangat. Pesan-pesan yang beliau sampaikan kepada para
santri seingkali sangat berkesan. Akhi fadlul selalu mengingat pesan Ustaz Dullah
yang mengajak santri untuk belajar sungguh-sungguh karean diharapkan menjadi
pemimpin umat atau al ulama amilina fi sabililah: ‘seorang ulama yang menjalankan
misinya di jalan Allah’ (hal : 290).

Ustaz Abu bukan seorang orator seperti Ustaz Dullah. Retorika beliau cenderung
seperti mengajar guru kepada muridnya. Tenang, datar, dan dogmatis. Beliau lebih
banyak bicara masalah syariah atau hokum-hukum dalam islam. Beliau sering
berkata: “Ini kata Al-Quran –nya begini, ya, kita harus mengikutinya. Tidak ada jalan
tengah. Karena di dunia ini hanya dua, hizbullah, golongan Allah, atau hizbusy
syaithan, golongan setan. Tinggal kita mau pilih yang mana. Orang islam tidak bisa
abu-abu” (hal: 292).

Sebagai santri muda yang haus akan ilmu agama, akhi Fadlul semakin tekun menggali
ilmu Islam. Ngruki bagaikan ladang ilmu yang subur untuknya. Pemahaman akan
jihad islam di tuainya dari pondok pesantren yang dimusuhi orde baru ini. Ustazustaz Ngruki sering menyampaikan pembahasan jihan kepada para santri, tak
terkecuali akhi fadlul. “La islama illa bil quwwah, tidak ada islam tanpa kekuatan,”
pesan ustaz. “Pandai ilmu saja tidak cukup. Kita harus kuat secara fisik.” Kalimat
itulah yang membentuk akhi Fadlul menajdi remaja pemberani. Mulailah dirinya
mengikuti latihan beladiri di pondok. “Menguasai ilmu beladiri itu penting untuk
menjaga diri sendiri dan kehormatan islam. Kita para santri tidk akan gentar
menghadapi preman dan musuh-musuh islam.” Tegas akhi Fadlul kepadaku (hal:
296-297).

bagi akhi fadlul, masyarakat Indonesia telah mengalami dekadensi moral. Kalau
dibiarkan terus, generasi muda akan semakin meninggalkan islam. Oleh karena itu,
diperlukan kader-kader muda untuk memperdalam ilmu agama. Akidah islam tengah
menghadapi tantangan
besar. Modernisasi di segala bidang, perkembangan
teknologi informasi, dan berbagai perubahan tengah melanda dunia. Maka, umat
islam saat ini berhadapan dengan zaman yang cepat berubah. Anak-anak muda
progresif seperti akhi fadlul diperlukan untuk menyambut panggilan jihad islam (hal:
298).

Sebagai santri, dirinya hanya mampu sami’na wa atha’na: ‘mendenga dan taat’ (hal:
299).

Anak-anak yatim yang ayahnya tewas karena serangan bom bunuh diri mengatakan
bahwa ayahnya dibunuh teroris. Sedangkan anak-anak yang ayahnya tertangkap
sebagai pelaku peledakan mengatakan ayahnya adalah jihadis, bukan teroris. Anakanak itu sama-sama beragama islam. Mereka membaca kitab yang sama,
menjalankan sholat yang sama, mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang
tiada berbeda, mereka berkiblat ke arah sama. Tidak ada perbedaan antara mereka
dalam hal keislaman (hal: 329).

Islam mengajarkan perdamaian kepada umat manusia dengan berbagai cara.
Persoalan jihan atau bukan jihad telah memicu perseteruan pendapat dan perang
dalil antar-alaim ulama dan merembes ke kalangan umat secara luas. Perdamaian
akan membawa suasana tenang untuk membuka lembaran penyelesaian. Bom
bunuh diri yang terjadi di Indonesia tidak hanya melahirkan anak-anak yatim.
Mereka yang direkrut telah meninggalkan rumah dan orangtua yang mencintai
mereka, tindakan para pelaku telah melahirkan stigma public terhadap suatu
keluarga, bahkan persoalan baru muncul manakala sebagian anggota jaringan pelaku
kemudian berhadapan dengan realitas hidup tanpa pekerjaan saat keluar penjara.
Sebagian mereka yang dihukum mati meninggalkan persoalan-persoalan yang tidak
sepele bagi anak-anak mereka yang masih kecil dalam mengarungi kehidupan
mereka yang panjang kemudian waktu nanti (hal: 330).

Kemenangan jihad adalah kemenangan semangat pembebasan umat manusia untuk
membangun perdamaian seluas-luasnya. Perdamaian diperlakukan untuk menata
kembali dunia yang telah porak poranda akibat peperangan (hal: 330).

“Para pelaku bom bunuh diri itu, kok , nggak pernah mencerna apa yang menjadi
keinginan mereka. Selama ini kami hidup dalam kedamaian dengan saudara kami
yang beragama Hindu”(hal: 340).

“Apakah manfaat aksi peledakan bom itu bagi islam? Bukankah kami ini muslim yang
kemudian menjadi korban dari satu pihak yang mengatasnamakan islam?” cecar
Mbak Laksmi. “Sebaiknya mereka tidak melakukan itu, sebab islam kemudian
dituding sebagai agama yang mengizinkan setiap orang untuk membinasakan satu
sama lain” (hal: 342).

Anak-anak itu menjadi “pengungsi” di negeri sendiri. Mereka harus menjalani
kehidupan yang asing. Ibu-ibu mereka menghadapi stigma miring sebagai janda atau
istri teroris di dalam lingkungan social mereka. Sementara, dengan segenap
kemampuan, mereka harus mengawal masa depan anak-anaknya (hal: 373).
Fathali M. Moghaddam, 2009. The new global American Dilemma and terrorism. Journal
of Political Psychology, Vol. 30. No.3. 2009
i
ii
Schwartz, S.J & Dunkel, C.S. & Waterman, A.S. (2009). Terorism: An identity
theory perspective. Journal of Studies in Conflict & Terrorism, 32:537–559,
iii
Hediah Mirahmadi & Mehreen Farooq. 2010. A community based approach to
countering radicalization: A partnership for America.Washington DC:
World
Organization for Resource Development and Education.
Fathali M. Moghaddam, 2009. The new global American Dilemma and terrorism. Journal
of Political Psychology, Vol. 30. No.3. 2009
iv
v
Kruglanski A.W & Chen X & Dechesne M & Fishman S & Orehek E, 2009. Fully
Committed: Suicide Bombers’ Motivation and the Quest for Personal Significance.
Political Psychology, Vol. 30, No. 3, 2009
vi
Fuad Hussein. 2008. Generasi Kedua Al-Qaidah: Apa dan Siapa Zarqawi; Apa
Rencana Mereka Ke Depan?. Solo: Penerbit Jazeera.
vii
Noor Huda Ismail. 2010. Temanku, Teroris? : Saat Dua Santri Ngruki
Menempuh Jalan Berbeda. Jakarta : Penerbit Hikmah
viii
Hediah Mirahmadi & Mehreen Farooq. 2010. A community based approach to
countering radicalization: A partnership for America.Washington DC:
World
Organization for Resource Development and Education.
ix
Wiktorowicz, Q. (2006). Anatomi of the salafi movement. Journal of Studies in
Conflict & Terrorism, 29:207–239
Download