View/Open - Repository | UNHAS

advertisement
STEREOTIP SUKU MANDAR DI KOTA MAKASSAR ( STUDI
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SUKU BUGIS DAN SUKU MANDAR
OLEH:
AHMAD RIZANDY R
E 311 08 261
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pada Jurusan Ilmu Komunikasi Program Studi Public Relations
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2012
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi
: Stereotip Suku Mandar di Kota Makassar (Studi
Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar )
Nama Mahasiswa : Ahmad Rizandy R
Nomor Pokok
: E31108274
Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing.
Makassar, 04 Oktober 2012
Menyetujui
Pembibing I
Pembimbing II
Das’ad Latif,S.Sos,S.Ag.M.Si
NIP:197312212006041002
Dr. H. Muhammad Farid, M.Si
NIP: 196107161987021001
Mengetahui
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dr. H. Muhammad Farid, M.Si
NIP: 196107161987021001
HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI
Telah diterima oleh Tim Evaluasi Skripsi Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Hasanuddin
untuk
memenuhi
sebagian
syarat-syarat
guna
memperoleh gelar kesarjanaan dalam Jurusan Ilmu Komunikasi Program Studi
Public Relations Pada Hari Rabu, Tanggal 28 November 2012.
Makassar, 28 Agustus 2012
TIM EVALUASI
Ketua
: DR. H. Muhammad Farid, M.Si
(…………………)
Sekretaris
: Das’ad Latif, S. Sos, S.Sag, M.Si
(…...…………….)
Anggota
: 1. Drs. Abdul Gafar, M.Si
(…...…………….)
2. DR. Jeanny Maria Fatimah, M.Si
(…...…………….)
3. Drs. Kahar. M. Hum
(…...…………….)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, karunia dan kemudahan serta ridha-Nya, sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan meski penulis mengalami beberapa hambatan.
Tak lupa penulis mengucapkan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW.
Penulitian yang berjudul “Stereotip suku Mandar di kota Makassar
(Studi Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)” diharapkan
dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memahami dan menghargai
perbedaan dalam melakukan komunikasi antarbudaya khususnya pada
perbedaan budaya, karena perbedaan itu sendiri bukanlah hambatan dalam
melakukan komunikasi melainkan rahmat yang diberikan olleh Allah SWT
kepada kita.
Proses penyusunan skripsi ini melibatkan berbagai pihak yang memberi
dukungan berupa fasilitas, dukungan materil, moril, dan doa. Oleh karena itu
penulis mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada
1. Ibunda tercinta (salmah) dan ayahanda (Abd Rahman) , penulis
banggakan Kak Rudi, Serly, Siska, Ilham, adik Dyna, David dan
keluarga besar yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Dr. Muhammad Farid, M.Si selaku pembimbing I dan
Das’ad Latif, S.Sos,S.Ag,Msi selaku pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran hingga penulisan
skripsi ini terselesaikan.
3. Bapak Dr. Muhammad Farid, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu
Komunikasi
Fakultas
Ilmu
Sosial
dan
Politik
Universitas
Hasanuddin.
4. Bapak Drs. Sudirman Karnay, Msi selaku sekertaris jurusan ilmu
komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin.
5. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen ilmu komunikasi yang telah
memberikan ilmu dan keteladanan.
6. Pegawai dan staf-staf di akademik dan jurusan ilmu komunikasi
yang telah banyak membantu.
7. Masyarakat kelurahan Lette RW V terkhusus kepada Mira yang
telah membantu, mengenalkan pada warga selama di lokasi
penelitian.
8. Sahabat-sahabatku di Jurusan Ilmu Komuniksai 08 : Zulhidayat dan
Zulfikar, Baso, Akil, Mifda dan seluruh teman-teman di jurusan
komunikasi.
9. Teman-temanku chenry, Arif, Adnan, Takdir dan Asrul terima kasih
atas dukungan dan bantuannya.
10. Saudara-saudaraku yang ada di UKM Silat FISIP UNHAS.
Semoga allah swt senantiasa memberikan karunia dan perlindungan
kepada kita semua, mengingat penulis masih perlu banyak belajar, maka
dengan kerendahan hati meminta kesediaan pembaca untuk meminta
tanggapan dan masukan bilamana dalam penyelesaian skripsi ini terdapat
kesalahan dan kekeliruan. Besar harapan penulis agar skripsi ini bisa menjadi
sebuah referensi ataupun literatur yang dapat meningkatkan potensi, wawasan
dan pengetahuan mahasiswa ilmu komuniasi kususnya komunikasi
antarbudaya.
Makassar, 24 November 2012
PENULIS
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Stereotip Suku Mandar Di Kota Makassar (Studi
Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)”.(Dibimbing
oleh Muhammad Farid dan Das’ad Latif).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stereotip yang berkembang dalam
komunikasi antarbudaya warga suku Bugis terhadap suku Mandar. Selain
itu, penilitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar di kota
Makassar. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini
menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan
pengamatan langsung di lapangan serta melakukan wawancara mendalam
dengan unit analisis warga Bugis yang ditentukan melalui Purposive
sampling yakni menentukan secara sengaja unit analisis dengan
menggunakan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereotip yang berkembang terhadap
suku Mandar di kota Makassar hampir sama. Dari stereotip-stereotip yang
ada pada unit analisis semuanya berkembang dan mengarah pada stereotip
yang positif walaupun ada satu unit analisis yang memiliki stereotip negatif
terhadap suku Mandar. Kemudian dari unit-unit analisis juga menunjukkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip terhadap suku Mandar
adalah lingkungan sosial, persepsi, interaksi langsung, dan unsur
kebudayaan (kepercayaan, nilai, sikap dan lembaga sosial).
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................
ii
HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI ............................................
iii
KATA PENGANTAR .....................................................................................
iv
ABSTRAK .......................................................................................................
vii
DAFTAR ISI ....................................................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
xi
BAB I
PENDAHULUAN ........................................................................
1
A.
Latar Belakang Masalah ......................................................
1
B.
Rumusan Masalah ................................................................
7
C.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian ..........................................
7
D.
Kerangka Konseptual ..........................................................
8
E.
Definisi Operasional ............................................................
12
F.
Metode Penelitian ................................................................
14
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
TINJAUAN PUSTAKA................................................................
18
A.
Pengertian Komunikasi ......................................................
18
B.
Fungsi Komunikasi ..............................................................
20
C.
Komunikasi sebagai proses sosial .....................................
21
D.
Budaya .................................................................................
22
E.
Komunikasi Antarbudaya ....................................................
26
F.
Stereotip dan Prasangka .......................................................
31
G.
Persepsi .................................................................................
37
H.
Teori Interaksi Simbolik .......................................................
39
I.
Konflik ..................................................................................
41
J.
Nilai-nilai Suku Bugis ..........................................................
42
K.
Nilai-nilai Suku Mandar .......................................................
45
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .........................
50
A.
Keadaan Geografis kelurahan Lette.....................................
50
B.
Keadaan Demografi kelurahan Lette ...................................
50
C.
Keadaan Sosialbudaya kelurahan Lette ..............................
53
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...........................
55
A.
Hasil Penelitian .................................................................
55
B.
Pembahasan .......................................................................
77
PENUTUP ....................................................................................
94
A. Kesimpulan ............................................................................
94
B. Saran .......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
95
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keanekaragaman suku bangsa merupakan masalah global, hampir
seluruh negara di dunia memiliki keanekaragaman suku, etnis dan agama.
Keanekaragaman
tersebut
tentunya
ditandai
dengan
keberagaman
kebubudyaan antara satu dengan yang lain. Hal tersebut dapat dilihat dari
perbedaan tatanan pengetahuan, bahasa, pengalaman, kepercayaan, nilai,
sikap, dan konsep tentang alam semesta.
Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut
mempengaruhi gaya komunikasi sehingga perbedaan budaya dapat menjadi
sebuah rintangan dalam berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana
dikemukakan Cangara (2008:156) bahwa terdapat rintangan budaya yang
menjadi gangguan dalam berkomunikasi dimana rintangan budaya yang
dimaksud adalah rintangan yang terjadi disebabkan adanya perbedaan norma,
kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam
berkomunikasi.
Keanekaragaman masyarakat (masyarakat majemuk) adalah hal yang
dihargai pada masyarakat Indonesia karena masyarakat Indonesia sendiri
terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama.Wilodati (2012) secara
rinci menggambarkan kemajemukan masyarakat Indonesia dari berbagai sisi:
Pertama, hubungan kekerabatan, hubungan kekerabatan ini merujuk pada
pada ikatan dasar hubungan darah (keturunan) yang dapat ditelusuri
berdasarkan garis keturunan ayah, ibu atau keduanya. Kedua, ras dapat
dibedakan dengan ciri-ciri fisik orang lain (rambut, kulit dan bentuk muka).
Ketiga, daerah asal merupakan tempat asal orang lahir yang akan memberikan
ciri tertentu apabila yang bersangkutan berada di tempat lain seperti dialek
yang digunakan, anggota organisasi yang bersifat kedaerahan serta prilaku.
Keempat, menggunakan bahasa sukunya masing-masing. Kelima, agama
yang dianut Indonesia yang berbeda-beda.
Masyarakat majemuk yang hidup bersama dalam satu wilayah terdiri
dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tentunya sangat rentan
dengan konflik antar kelompok. Konflik kelompok di Indonesia, seperti
konflik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) sudah menjadi
konsekuensi dalam hidup bermasyarakat majemuk, karena hal tersebut bisa
terjadi kapan saja dengan membawa identitas kelompok. Konflik SARA
biasanya terjadi ketika antar kelompok tidak dapat saling memahami budaya
masing-masing dan merasa budayanyalah yang lebih unggul dibanding yang
lain (etnosentrisme).
Konflik kelompok dalam masyarakat majemuk mengindikasikan
bahwa terdapat kegagalan dalam komunikasi antarbudaya. Komunikasi yang
dimaksud menurut Stewart dalam Djuarsa dan Sunarwinardi (2008:277)
adalah komunikasi yang terjadi dalam satu kondisi yang menunjukan adanya
perbedaan budaya seperti bahasa, nilai, adat dan kebiasaan. Keberhasilan
komunikasi antarbudaya dapat dijelaskan dalam prespektif The 5 Invetable
Laws of Effective Communication (Lima Hukum Komunikasi Efektif)
meliputi: Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble disingkat REACH.
Hal ini relevan dengan prinsip komunikasi sosial budaya yaitu sebagai upaya
meraih perhatian, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon
positif dari orang lain (Suranto, 2010:194).
Stereotip-stereotip terhadap suku, etnis dan agama tertentu merupakan
hambatan dalam membangun sebuah komunikasi antarbudaya yang efektif.
Lippman dalam Mariah (2007:62) menggambarkan stereotip sebagai
“Pictures in our heads” bahwa tidak melihat dulu lalu mendefinisikan,
mendefinisikan dulu kemudian melihat, kita diberitahu dunia sebelum
melihatnya dan membayangkan kebanyakan hal sebelum mengalaminya. Dari
penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa stereotip dapat menjadi
penghambat dalam proses komunikasi karena stereotip dapat menimbulkan
penilaian negatif antar suku dan etnis.
Stereotip itu sendiri terbentuk oleh kategori sosial yang merupakan
upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya. Dengan kata lain,
ketika individu menghadapi sekian banyak orang di sekitarnya, individu akan
mencari
persamaan-persamaan
antara
sejumlah
orang
tertentu
dan
mengelompokkan mereka kedalam satu kategori. Namun pada gilirannya
kategori sosial ini justru mempengaruhi cara pandang seseorang yang sudah
dimasukkan kedalam kelompok tersebut. Akibatnya timbul kesalahan-
kesalahan dalam melakukan persepsi sosial karena seluruh individu dalam
kategori sosial tertentu mempunyai sifat-sifat dari kelompoknya.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bangsa Indonesia adalah
bangsa multikultur terdiri dari banyak suku dan etnik tentunya akan mudah
menimbulkan stereotip antaretnik dan suku. Stereotip ini dapat menjadi
pemicu konflik jika stereotip tidak sesuai dengan kebenaran yang ada atau
salah dalam mempersepsi terhadap kelompok lain. Oleh karena itu
kesalapahaman yang ditimbulkan oleh stereotip harus senantiasa dihilangkan
dalam aktifitas komunikasi antarbudaya.
Keberhasilan komunikasi antarbudaya juga sangat diperlukan bagi
masyarakat yang mendiami kota-kota besar di Indonesia. Tingginya tingkat
perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketergantungan ekonomi dan
mobilitas antar negara menjadikan kota sebagai tempat yang didiami berbagai
latarbelakang budaya yang berbeda. Kesalapahaman antarbudaya yang
ditimbulkan oleh stereotip bisa saja terjadi dalam hidup bermasyarakat di
kota-kota besar jika anggota masyarakat tidak dapat memahami satu sama
lain mengenai budaya kelompok lain.
Salah satu kota besar yang terdapat di Indonesia yang saat ini
mengalami perkembangan pesat adalah kota Makassar, terletak dibagian
timur Indonesia yang sekaligus merupakan Ibu kota Provinsi Sulawesi
Selatan. Kota Makassar sejak abad XV sudah menjadi kota Niaga yang
memiliki peranan penting di Asia Tenggara adanya hubungan dangan kota-
kota dagang lainnya seperti Siam, Pegu, Malaka, Aceh, Cina dan Arab
sebagai bukti bahwa kota Makassar adalah sebuah kota yang besar sekaligus
menandakan bahwa kota Makassar sudah menjadi kota multikultur.
Sampai saat ini pun kota Makassar masih menjadi primadona bagi
masyarakat lokal maupun mancanegara. Sebagai pusat ekonomi, hiburan dan
pendidikan, tentunya hal tersebut menjadi daya tarik kelompok masyarakat
tersebut untuk menetap di kota Makassar. Tak heran jika kota Makassar
didiami bebagai macam etnis, suku dan agama yang berbeda dan ini dapat
dilihat dengan adanya perkempungan etnis atau suku tertentu yang ada di kota
Makassar seperti kampung Cina, kampung Toraja, kampung Mandar.
Adanya pemikiran etnosentrisme, stereotip dan prasangka negatif
yang masih berkembang sampai saat ini dapat menjadi potensi pemicu
terjadinya konflik antar kelompok etnis dan suku di kota Makassar. Seperti
halnya rentetan konflik yang pernah terjadi contohnya konflik pada tahun
1997 melibatkan etnik Bugis-Makassar dan Cina, kemudian tawuran antar
mahasiswa berbeda suku yang kerap terjadi dan terakhir konflik mahasiswa
Bone dan Palopo pada tanggal 29 oktober 2011 adalah gambaran nyata
bahwa konflik antar kelompok suku dan etnis sangat rentan di kota Makassar
sebagai kota yang bermasyarakat majemuk.
Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa etnis dan suku, tetapi ada
empat suku besar yang sekaligus mendiami kota Makassar yakni Makassar,
Bugis, Toraja dan Mandar. Dari literatur-literatur sejarah Sulawesi Selatan
bahwa sejak zaman kerajaan, keempat suku tersebut sudah memiliki
hubungan satu sama lain baik dari aspek perdagangan, politik, dan budaya.
Oleh karena itu keempat suku tersebut memiliki beberapa persamaan dari
aspek budaya dan sampai saat ini keempat suku tersebut memilik ikatan
persaudaraan yang kuat sebagai suku besar yang mendiami Sulawesi
Selatan.
Suku Mandar sendiri dulunya menjadi bagian dari Sulawesi Selatan,
tetapi pada tahun 2006 daerah suku Mandar terpisah dari Sulawesi Selatan
menjadi sebuah provinsi tersendiri dibagian barat Sulawesi, tetapi suku
Mandar yang sudah bermukim di kota Makassar masih tetap menjadi
bagian dari masyarakat kota Makassar. Ini terbukti dengan adanya sebuah
perkampungan Mandar yang bagi masyarakat kota Makassar mengenalnya
“Kampung Mandar” daerah ini berada di Jalan Rajawali kelurahan Lette
kecamatan Mariso kota Makassar, penghuni daerah ini adalah mayoritas
suku Mandar.
Salah satu contoh stereotip yang berkembang bagi suku-suku yang ada
di Sulawesi Selatan adalah stereotip terhadap suku Mandar. Selain suku
Mandar diakaui sebagai pelaut ulung yang hanya dengan perahu “Sandeq”
dapat mengarungi lautan luas, diketahui juga bahwa suku Mandar adalah
suku yang banyak memiliki “Ilmu sihir” atau bagi masyarakat Sulawesi
Selatan mengenalnya dengan istilah “Doti”. “Pelembekan kepala” terhadap
lawan yang ingin disengsarakan adalah jenis doti yang dimiliki suku
Mandar dan menjadi cerita yang lazim terdengar dan di takuti di Sulawesi
Selatan (Ngeljaratan dalam http:/sebuah-refleksi-kritis-tentang-mandar).
Berkembangnya stereotip tersebut bisa menjadi potensi yang
menghambat dalam komunikasi antarbudaya Suku Mandar dengan suku
Bugis maupun dengan suku lainnya khususnya ketika mereka berada dalam
linkungan masyarakat Kota Makassar. Stereotip tersebut bisa saja menjadi
penilaian negatif terhadap suku Mandar sehingga dikawatirkan akan
mengarah pada sikap dan perilaku negatif terhadap suku mandar. Selain itu
apabila kebenaran akan stereotip tersebut benar-benar terjadi tentunya
tuduhan akan secara langsung tertuju pada suku Mandar yang belum tentu
suku Mandar yang melakukan sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Berdasarkan asumsi tersebut maka penulis ingin meneliti mengenai
stereotip tersebut dengan judul penelitian:
“Stereotip Suku Mandar di Kota Makassar (Studi Komunikasi
Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)”
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian, permasalahan
yang diteliti dibatasi sesuai dengan topik yang diteliti. Adapun permasalahan
yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah stereotip yang berkembang pada suku Bugis
terhadap suku Mandar di kota Makassar?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi stereotip suku Bugis
terhadap suku Mandar di kota Makassar?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui stereotip yang berkembang pada suku Bugis
terhadap suku Mandar di kota Makassar.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip
suku Bugis terhadap suku Mandar di kota Makassar.
2. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
pengembangan keilmuan khususnya pada kajian komunikasi
antarbudaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar
informasi untuk mengajukan saran dan rekomendasi kepada
pihak lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan
D. Kerangka Konseptual
Rich dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008) komunikasi antarbuadaya
terjadi apabila diantara orang-orang yang berbeda kebudayaannya dan
Stereotip merupakan hambatan dalam melakukan komunikasi secara efektif
antara orang yang berlainan budaya karena stereotip merupakan keyakinan
seseorang untuk menggeneralisasi sifat-sifat tertentu yang cenderung negatif
tentang orang lain karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman
bersama, Jhonson dalam liliweri (2005:209).
Menurut Tajfel dalam Gudykunst (1992:91) stereotip dibedakan
menjadi stereotip individu dan stereotip sosial, sebagaimana diketahui
stereotip merupakan generalisasi yang dilakukan seseorang individu dengan
menarik kesimpulan atas karakter orang lain melalui proses kategori yang
bersifat kognitif (berdasarkan pengalaman individu) adalah stereotip individu.
Sedangkan stereotip sosial terjadi manakala stereotip itu telah menjadi
evaluasi terhadap kelompok tertentu dan telah meluas dan menyebar pada
kelompok lain. Stereotip ini hanya bisa menjadi sebuah stereotip sosial jika
mereka dimiliki atau didasarkan oleh sebagian besar dari orang yang ada
dalam kelompok sosial.
Sama halnya dengan isu yang berkembang pada suku Mandar di kota
Makassar yang dianggap sebagai suku yang memiliki banyak ilmu sihir atau
“doti” adalah evaluasi yang telah meluas dan menyebar pada suku lain. Miles
dan Brown dalam liliweri (2005:208) mengemukakan tiga aspek esensial dari
stereotip:
1. Acap kali keberadaan individu dalam suatu kelompok telah
dikategorisasi dan kategorisasi itu selalu terindifikasi dengan
mudah melalui karakter tertentu misalnya, perilaku dan kebiasaan
bertindak.
2. Stereotip bersumber dari bentuk atau sifat perilaku turun temurun,
sehingga seolah-olah melekat pada semua anggota kelompok.
3. Karena itu, individu
yang merupakan anggota kelompok
diasumsikan memiliki karakteristik, ciri khas kebiasaan bertindak
yang sama dengan kelompok yang digeneralisasi itu.
Stereotip yang berkembang tentunya akan menghambat proses
komunikasi antarbudaya. Stereotip akan menimbulkan prasangka dan
prasangka ini selanjutnya merupakan dasar atau pendorong dari terjadinya
perilaku terbuka (diskriminasi). Apabila stereotip suku Bugis mengenai ilmu
sihir atau “doti” yang dimiliki suku Mandar
adalah prasangka yang
cenderung kearah prasangka negatif maka tentunya akan berdampak pada
sikap yang ditunjukkan seperti tidak menyukai, penghindaran diri sampai
pada diskriminasi.
Sebagaimana dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008) bahwa stereotip
merupakan kerangka berpikir yang berada pada tataran kognitif atau
pengetahuan maka stereotip muncul karena dipelajari dari berbagai cara.
Pertama, orangtua, saudara atau siapa saja yang berinteraksi dengan kita.
Kecenderungan untuk mengembangkan stereotip ini melalui pengalaman
orang lain, terutama bila kita tidak mengetahui atau kurang memiliki
pengalaman bergaul dengan anggota-anggota dari kelompok yang dikenai
stereotip. Kedua, dari pengalaman pribadi. Setelah berinteraksi satu atau dua
orang kelompok budaya (suku, etnik, ras) kita kemudian melakukan
generalisasi tentang sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh kelompok
tersebut. Begitu kesan kelompok tersebut terbentuk maka kecenderungan kita
selalu mencari sifat atau karakteristik tersebut dalam setiap perjumpaan
dengan anggota kelompok tersebut. Ketiga, dari media massa seperti surat
kabar, majalah, film, radio, televisi, buku Kita dapat mempelajari stereotip
mengenai suatu kelompok dari penyajian pesan atau informasi yang
disampaikan media massa.
Masih dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008), Secara umum bahwa
stereotip memiliki empat dimensi yakni:
1. Arah (direction), yakni menunjuk pada arah penilaian, apakah
positif atau negatif, misalnya disenangi atau dibenci.
2. Intensitas, yaitu menunjuk pada seberapa kuatnya keyakinan dari
suatu stereotip.
3. Ketepatan,
artinya
ada
stereotip
yang
betul-betul
tidak
menggabarkan kebenaran, atau sebagian tidak benar.
4. Isi khusus, yaitu sifat-sifat khusus mengenai suatu kelompok.
Stereotip mengenai suatu kelompok dapat berbeda-beda artinya
stereotip dapat berubah dari waktu ke waktu.
Teori interaksi simbolik yang dipopulerkan Mead dalam West dan
Tunner (2008:99) dengan asumsi bahwa manusia bertindak terhadap manusia
lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka, makna
diciptakan dari hasil interaksi antar manusia melalui proses persepsi.
Suku Bugis memiliki stereotip terhadap suku Mandar bahwa suku
Mandar memiliki ilmu sihir “Doti” yang dapat melembekkan kepala.
Pemaknaan terhadap kepemilikan “Doti“ ini bisa saja berwujud pada
keraguan untuk berkomunikasi dalam berinteraksi. Stereotip ini bisa saja
berubah tergantung sejauh mana pemaknaan terhadap stereotip tersebut,
dalam teori ini individu memiliki peluang untuk mempersepsi lingkungan
sekitarnya. Dalam hal ini pemaknaan adalah hasil persepsi yang dipengaruhi
oleh diri individu masing-masing.
STEREOTIP
SUKU BUGIS
FAKTOR PEMBENTUK
STEREOTIP:
1.
PENGALAMAN
PRIBADI
2.
INFORMASI
ORANG TERDEKAT
3. MEDIA
Dimensi Stereotip
1. Arah (direction)
2. Intensitas
3. Ketepatan
4. Isi khusus
SUKU MANDAR
Gambar I: Model Kerangka Konseptual Penelitian
E. Defenisi Operasional
1. Suku Bugis adalah warga keturunan suku Bugis asli yang berdomisili
di kota Makassar.
2. Suku Mandar adalah warga keturunan suku Mandar asli yang
berdomisili di kota Makassar.
3. Stereotip adalah pengetahuan atau keyakinan suku Bugis terhadap
suku Mandar yang mengarah pada penilaian yang kaku dan cenderung
kearah negatif.
4. Arah (direction) adalah menunjuk pada arah penilaian suku Bugis
terhadap suku Mandar, baik positif atau negatif. Misalnya disenangi
atau dibenci.
5. Intensitas adalah menunjuk pada seberapa kuatnya keyakinan suku
Bugis terhadap stereotip yang berkembang.
6. Ketepatan adalah tingkat akurasi yang menggambarkan benar tidaknya
stereotip yang berkembang terhadap suku Mandar.
7. Isi khusus adalah sifat-sifat khusus yang distereotipkan terhadap suku
Mandar, dalam penelitian ini sifat khusus tersebut adalah “doti” yang
dapat berubah dari waktu ke waktu.
8. Pengalaman pribadi adalah faktor pembentuk stereotip suku Bugis
yang dilatarbelakangi pengalaman pribadi yang pernah dialami
sehingga dapat menguatkan atau melemahkan stereotip.
9. Informasi orang terdekat adalah pembentuk stereotip suku Bugis
terhadap suku Mandar yang berasal dari teman atupun keluarga.
10. Media massa adalah saluran yang digunakan oleh suku Bugis dalam
memperoleh tentang stereotip terhadap suku Mandar, sumber tersebut
adalah surat kabar, majalah, film, radio, televisi, buku.
F. Metode Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lette Kecamatan Mariso
Kota Makassar selama empat bulan yaitu bulan April hingga Juli 2012.
Alasan memilih kelurahan Lette sebagai fokus lokasi penelitian adalah
karena di lokasi tersebut mayoritas penduduknya adalah kelompok
masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu suku Bugis dan suku
Mandar. Tentunya antara suku Bugis dan suku Mandar memiliki
intensitas interaksi yang baik sehingga diantara kedua suku tersebut
memiliki pengetahuan tentang suku satu sama lain.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan objek suku Bugis yang menetap di kota Makassar memiliki
stereotip terhadap suku Mandar. Pendekatan kualitatif digunakan untuk
memahami interaksi sosial serta dengan metode wawancara mendalam,
maka diharapkan ditemukan pola-pola hubungan yang meggambarkan
stereotip berkembang dan faktor-faktor yang mempengaruhi (Sugiono,
2010:24).
3. Teknik Penentuan Informan
Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara
purposive sampling yakni menentukan sendiri secara sengaja informan
dengan menentukan kriteria sebagai berikut:
1. Suku Bugis yang menetap di Kota Makassar
2. Memiliki stereotip terhadap suku Mandar
3. Asli keturunan suku Bugis
4. Berinteraksi dengan suku Mandar minimal 5 tahun
Dengan kriteria tersebut maka peneliti menentukan lima orang dari
suku Bugis mewakili populasi sebagai informan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data secara menyeluruh dan intergratif yang
terkait dengan tujuan penelitian, paling tidak menggunakan tiga teknik
pengumpulan data penelitian kualitatif yaitu observasi, wawancara
mendalam dan dokumentasi.
a. Observasi
Observasi yang dilakukan dengan mengamati secara langsung
tanpa mediator sesuatu objek untuk melihat kegiatan yang dilakukan
oleh objek yang diteliti tujuannya adalah untuk melihat interaksi
langsung yang terjadi dan mengetahui fenomena yang tidak
diperoleh melalui teknik wawancara.
b. Wawancara mendalam
Berger
dalam
Kriyantono
(2007:96)
wawancara
adalah
percakapan antara periset (seseorang yang mendapatkan informasi)
dan informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi
penting tentang suatu objek. Pada teknik pengumpulan data ini
dilakukan dengan bertatap muka dengan informan secara intensif
dengan menggunakan pedoman wawancara guna mendapatkan data
yang lengkap dan mendalam.
c. Dokumentasi
Pengumpulan data melalui dokumentasi dilakukan dengan
mengumpulkan data berupa tulisan, dokumen, gambar ataupun karya
tulis akademik guna pelengkap dari observasi dan wawancara.
Berdasarkan sumbernya, peneliti mengumpulkan data melalui:
1.
Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data
pertama atau tangan pertama dilapangan. Hasil wawancara dan
observasi merupakan data primer yang akan diperoleh sebelum
ataupun pada saat penelitian berlangsung, hasil data tersebut bisa
diperoleh dari hasil wawancara berdasarkan pengalaman individu
sebagai objek opnelitian, mengenai yang dialami warga suku Mandar
dan Bugis dalam berinteraksi atau yang disebut data individu.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua
atau sumber sekunder. Data ini dapat berupa data teks yakni berupa
penelitian sebelumnya, catatan, berita surat kabar, gambar. Dalam
penelitian ini peneliti memperoleh data sekunder melalu situs web
http:/// sebuah-refleksi-kritis-tentang-mandar. Diakses pada tanggal
3 januari 2012 pukul 20.20 WITA.
5. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data penelitian ini akan digunakan analisis data
model interaktif Milles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang
belangsung secara interaktif. Pertama, reduksi data, yaitu proses memilih
memfokuskan, menyederhanakan, dan mengabtraksikan data dari
berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan, dokumen, arsip dan
sebagainya, sedangkan proses mempertegas, memperpendek membuang
yang tidak perlu menentukan fokus dan mengatur data sehingga
kesimpulan bisa dibuat. Kedua, Penyajian data, seperti merakit data dan
menyajikan dengan baik supaya lebih mudah dipahami, penyajian bisa
berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, tabel dan narasi. Ketiga,
menarik kesimpulan/verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal harus
kuat dan terbuka, kesimpulan akhir dilakukakn setelah pengumpulan data
berakhir (Sugiyono 2010:246).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi pada awalnya dikenal sebagai alat untuk menghubungkan
antara manusia satu dengan yang lainnya, komunikasi tidak dianggap sebagai
sesuatu yang harus diberi perhatian atau menjadi satu kajian disiplin ilmu.
Namun sejak pada abad V Masehi, di Yunani berkembang istilah retorika
yang khusus mengkaji pernyataan manusia. Retorika diartikan sebagai seni
berpidato dan seni berbahasa yang digunakan untuk mempengaruhi dan
menggugah orang-orang. Pada perkembangan ini komunikasi masih diartikan
sebagai percakapan dan penyampaian gagasan antar manusia secara lisan
dengan bertatap muka.
Seiring dengan perkembangan zaman komunikasi terus berkembang,
komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan gagasan secara lisan
melainkan berkembang dalam bentuk tulisan. Hal tersebut ditandai dengan
adanya gagasan untuk menuliskan informasi yang dianggap penting oleh
kaisar Romawi Julius Caesar (100-44 SM) dalam sebuah papan pengumuman
(acta diurnal). Selanjutnya dengan adanya Penemuan kertas, mesin cetak dan
terbitnya surat kabar kemudian penemuan radio, film, televisi studi
komunikasi semakin berkembang.
Terkait dengan komunikasi sebagai landasan dasar manusia dalam
menyampaikan gagasan, ide, dan perasaannya, maka dengan hal tersebut
manusia dapat memahami satu sama lain serta mampu mewariskan
pengetahuannya ke genarasi selanjutnya. Sedangkan dalam konteks yang
lebih luas khususnya dalam hidup bermasyarakat, komunikasi menjadi hal
yang sangat dibutuhkan ketika terjadi permasalahan dalam masyarakat,
karena permasalah tersebut akan diselesaikan dengan perundingan maupun
berdiskusi. Sedengkan disisi lain komunikasi dapat menjadi pemicu dari
sebuah permasalahan jika komunikasi tidak dilakukan secara efektif.
Kata atau istilah “komunikasi” bahasa Inggris communication berasal
dari bahasa latin communicates atau communicare yang berarti “berbagi” atau
“menjadi milik bersama”. Dengan demikian bahwa komunikasi mengacu
pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan.
Berbagai defenisi telah dikemukakan oleh para ahli dalam Suranto
(2010:2) diantaranya:
Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara
pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan
penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti
pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta
ditafsirkan oleh penerima (Wilbur Schramm,1955)
Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih
membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama
lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang
mendalam (D. Lawrence Kincaid, 1981)
Komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan
mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu
pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang
serupa dengan yang dimaksudkan
(Raymond S. Ross, 1983)
oleh
sang
komunikator
Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan
yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti,
dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.
(Edward Depari, 1990)
B. Fungsi komunikasi
Dalam
kajian ilmu komunikasi
banyak ahli
mengemukakan
pendapatnya tentang fungsi komunikasi. Salah satu diantaranya Harold D.
Lasswell dalam Cangara (2008:2) menyebut tiga fungsi dasar penyebab
manusia berkomunikasi yakni sebagai berikut:
Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya.
Melalui komunikasi antar manusia dapat mengetahui peluang-peluang
yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal
yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi antar manusia
dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui
komunikasi manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni
belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka
terima dari lingkungan sekitarnya. Kedua, adalah upaya manusia
untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses kelanjutan
suatu masyarakat sesungguhnya tergantung bagaimana masyrakat itu
beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian ini bukan saja
terletak pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala
seperti banjir, gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku
manusia, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup
dalam tantangan.Dalam lingkungan penyusuaian, agar manusia dapat
hidup dalam suasana harmonis. Ketiga, upaya untuk melakukan
transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin
memperthankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya
dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peran.
Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama bermasyarakat
yang baik kepada anak-anaknya.
Rudolph dalam Elvinaro & Bambang (2007:3) mengemukakan bahwa
komunikasi itu memiliki dua fungsi: Pertama, fungsi sosial yakni untuk
tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain,
membangun
dan
memilihara
hubungan.
Kedua,fungsi
pengambilan
keputusan, yaitu memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
pada saat tertentu. Sebagian keputusan ini dibuat sendiri dan sebagian lagi
dibuat setelah berkonsultasi dengan orang lain.
C. Komunikasi sebagai proses sosial
Dalam proses sosial, komunikasi menjadi alat dalam melakukan
perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani
perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan sistem sosial
masyarakat dalam usahanya melakuakan perubahan. Oleh karean itu untuk
memahami komunikasi sebagai proses sosial maka komunikasi harus
dipandang dalam dua aspek yakni secara sosial dan komunikasi sebagai
proses. Komunikasi diartikan secara sosial jika komunikasi selalu melibatkan
dua atau lebih orang yang berinteraksi dengan berbagai niat dan kemampuan,
sedangkan
komunikasi
sebagai
proses
jika
komunikasi
bersifat
berkesinambungan.
Menurut Nurudin (2008:47) bahwa komunikasi sebagai proses sosial
di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Komunikasi
menghubungkan
antar
berbagai
komponen
masyarakat. Komponen disini tidak hanya individu dan masyarakat
saja, melainkan juga berbagai bentuk lembaga sosial seperti pers,
asosiasi, organisasi desa.
2. Komunikasi
membuka
peradaban.
Menurut
Koentjraningrat
(1997), istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsurunsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu
pengetahuan serta sopan santun dan sistem pergaulan yang
kompleks dalam suatu struktur masyarakat yang kompleks pula.
3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat.
Berbagai nilai (Value), Norma (Norm), peran (Role), cara (Usage),
kebiasaan (folkways), tatakelakuan (Mores) dan adat (Customs)
dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan (Deviasi) akan
dikontrol dengan komunikasi baik melalui bahasa lisan, sikap
apatis atau perilaku nonverbal individu.
4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai
ke
masyarakat.
Bagaimana
sebuah
norma
kesopanan
disosialisasikan kepada kegenerasi muda dengan contoh perilaku
orang tua (nonverbal) atau dengn pernyataan nasehat langsung
(verbal).
5. Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri
kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai
manusia karena menggunakan komunikasi, itu juga berarti
komunikasi menunjukkan identitas seseorang.
D. Budaya
D.1 Pengertian Budaya
Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sangsekerta “buddhayah“
yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal.
Adapun istilah Culture yang merupakan istilah asing yang juga memiliki
kesamaan arti dengan kata Latin “colore” yang berarti sebagai daya dan
kegiatan manusia mengolah dan mengubah alam (Soerjono Soekanto
2007:150).
Para pakar anthropology dalam Keesing (1999:150) memberikan
defenisi budaya sebagai berikut:
Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat, istiadat, serta
kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia
sebagai anggota masyarakat (Tylor 1871)
Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang
merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota
suatu masyarakat tertentu (Linton 1940)
Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang
eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, dan nonrasional yang
pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku
manusia (Kluchohn dan Kelly 1945)
Keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan
nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan dan perilaku yang
ditimbulkannya (Kroeber 1948)
Pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang
dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol, yang merupakan
prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam bendabenda budaya (Kroeber dan Kluckhohn 1952)
Berdasarkan beberapa defenisi diatas maka dapat disimpulkan
bahwa budaya adalah himpunan pengalaman dan pengetahuan yang
dipelajari kemudian mengacu pada pola-pola perilaku yang ditularkan
secara sosial sehingga menjadi kekhususan dan pedoman hidup bagi
kelompok sosial tertentu.
D.2 Wujud dan Unsur kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat dalam Tri (1998:32) budaya paling
tidak memiliki tiga wujud. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu
kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan,
dan sebagainya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai bendabenda hasil karya manusia.
Adapun unsur kebudayaan yang bersifat universal yang dapat
dilihat dari setiap kebudayaan:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari
2. Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi misalnya
pertanian, peternakan, sistem produksi
3. Sistem
kemasyarakatan
misalnya
kekerabatan dan sistem warisan
sistem
perkawinan,
4. Bahasa sebagai media komunikasi baik lisan maupun tulisan
5. Ilmu pengetahuan
6. Kesenian
7. Sistem religi atau kepercayaan
D.3 Karakteristik kebuadayaan
Murdrock dalam Mattulada (1997:2) mengemukakan karakteristik
kebudayaan yaitu:
1. Kebudayaan dipelajari, kebiasaan, keterampilan, nilai, dan
pengetahuan yang mendukung suatu kebudayaan diperoleh
sepanjang hidup, bukan dipindahkan atau diperoleh secara
genetik. Kebudayaan diperoleh dari keluarga dan kelompok
sosial lainnya melalui imitasi, saran, instruksi formal dan
informal atau komunikasi massa.
2. Kebudayaan dipindahkan. Meskipun seluruh binatang mampu
belajar, hanya manusia yang mampu memindahkan yang mereka
peroleh dari lingkungan dan pengalamannya kepada anak
cucunya melalau media bahasa.
3. Kebudayaan adalah produk masyarakat. Kebudayaan dihasilkan
dari interksi manusia dalam kelompok yang menghasilkan
seperangkat pengetahuan, kebiasaan dan harapan-harapan.
Pengetahuan dan kebiasaan itu dibagi, dimiliki oleh anggota
kelompok dan dijaga melalui seperangkat sanksi sosial.
4. Kebudayaan itu ideal. Dalam kebudayaan terdapat kebiasaankebiasaan yang dipandang sebagai pola tingkah laku ideal yang
diharapkan untuk diikuti oleh setiap anggota.
5. Kebudayaan memberi kepuasan. Kebudayaan mempunyai tugas
untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan biologis dan
sosiokultur manusia.Kebutuhan biologis seperti kebutuhan akan
makanan, perumahan, dan sex. Kebutuhan untuk dihargai,
dicintai dan kebutuhan akan pendidikan merupakan kebutuhkan
yang bersifat sosiokultur.
6. Kebudayaan itu adaptif. Seluruh kebudayaan itu selalu berubah
dan perubahan ini merupakan penyusuaian terhadap lingkungan.
Perubahan itu dapat terjadi karena adanya penemuan baru atau
pinjaman budaya. Penerimaan tergantung pada keterbuakaan
masyarakat terhadap ide baru, kesesuaian dengan apa yang
masyarakat miliki dan keuntungan relatif yang diberikan oleh
setiap perubahan.
7. Kebudayaan itu integratif. Anggota-anggota kelompok yang
memiliki kebudayaan merasa saling berhubungan dan menjaga
nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaan itu dengan baik.
Mereka saling bersatu dalam menghadapi ancaman dari luar
terhadap kelangsungan hidup kebudayaannya.
E. Komunikasi Antarbudaya
E.1 Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi antarbudaya merupakan perluasan dari komunikasi
antarmanusia seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi, dan
komunikasi massa. Dalam hal ini komunikasi antarbudaya terdapat dalam
jenis-jenis komunikasi tersebut, penekanannya ada pada perbedaan
kebudayaan yang dimiliki antara pengirim dan penerima pesan.
Dalam perkembangannya komunikasi antarbudaya telah banyak
didefinisikan oleh para ahli, beberapa diantaranya yang dikutip dari
Suranto (2010:32) sebagai berikut:
Komunikasi antarbudaya adalah seni untuk memahami dan
dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain (sitaram,
1970)
Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi di antara orang-orang
yang berbeda budayanya (Rich, 1974)
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi dalam
suatu kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan budaya seperti
bahasa, nilai-nilai, adat-adat, kebiasaan (Stewart, 1974)
Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena
komunikasi dimana para pesertanya memiliki latar belakang
budaya yang berbeda terlibat dalam satu kontak antara satu dengan
yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung (Young
Yung Kim, 1984)
Komunikasi dan kebudayaan memiliki keterkaitan satu sama lain,
kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok diwariskan melalui komunikasi.
Sebagaimana fungsi komunikasi adalah sebagai upaya untuk melakukan
transformasi warisan sosial. Dalam hal tersebut masyarakat yang ingin
memperthankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut
untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peran melalui komunikasi.
Perlu dipahami bahwa komunikasi semakin efekif dikarenakan
adanya kemiripan latar belakang sosialbudaya seperti yang diungkapkan
Mulyana (2000:107):
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis
sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam
keluarga yang sama, diberi makanan yang sama dan dididik dengan
cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya
agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat
ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan
pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka
menjadi lebih efektif.
E.2
Unsur
Kebudayaan
Yang
Terdapat
Dalam
Komunikasi
Antarbudaya
Semavor dalam Djuarsa & Ilya (2008:290) membagi berbagai
aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian besar unsur-unsur sosial
budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi penciptaan makna
yang selanjutanya menentukan perilaku komunikasi. Unsur -unsur tersebut
yakni keyakinan, nilai dan sikap, pandangan hidup mengenai dunia,
organisasi sosial.
Unsur-unsur keyakinan, nilai dan sikap memiliki pengaruh yang
sangat besar dalam proses komunikasi antarbudaya yaitu sebagai
penyaring yang menentukan informasi atau pesan apa yang perlu
diperhatikan dan dihindari. Dalam penentuan tersebut bisa dikatakan
bahwa terjadi proses penyeleksian yang melibatkan peranan persepsi,
dalam arti bahwa suatu kelompok budaya melihat sesuatu dengan
prespektif budaya mereka sendiri dan ini timbul dari pengalaman budaya
yang diwariskan yakni yang mereka percaya dan dianggap baik.
Unsur lain seperti pandangan hidup mengenai dunia turut
mempengaruhi kepercayaan nilai dan sikap yang mempengaruhi perilaku
dalam berkomunikasi karena berkaitan dengan orientasi, pandangan hidup
manusia terhadap makhluk dan masalah-masalah mengenai Tuhan dan
alam semesta bisa dikatakan bahwa ini adalah unsur sistem kepercayaan
dalam kebudayaan.
Unsur budaya terakhir yang berkaitan dengan komunikasi
antarbudaya adalah organisasi sosial. Merupakan upaya kelompok budaya
mengorganisasi kelompoknya serta pengaruh organisasi sosial terhadap
anggotanya dalam mempersepsi dunia. Misalnya saja lembaga pendidikan
sebagai organisasi sosial yang kita dapatkan memiliki pengaruh besar
terhadap cara pandang kita terhadap dunia termasuk informasi,
pengetahuan dan keterampilan. Dengan adanya pengetahuan yang
didapatkan dari organisasi sosial yang membentuk identitas kebudayaan
tentunya akan terlihat pada perilaku komunikasi ketika terjadi komunikasi
yang berbeda latar belakang budaya.
Ketiga unsur budaya tersebut semuanya berpengaruh langsung
terhadap persepsi, artinya komunikasi antarbudaya dapat dipahami sebagai
perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial. Hambatan
dalam komunikasi antarbudaya terjadi ketika pengirim dan penerima pesan
yang berbeda latar belakang budaya tidak dapat memahami budaya
masing-masing khususnya perbedaan persepsi terhadap fenomena sosial.
E.3 Model Komunikasi Antarbudaya
Inti dari komunikasi antarbudaya adalah pengirim dan penerima
pesan berasal dari kelompok budaya yang berbeda. Itu artinya bahwa suatu
pesan akan diterima dalam suatu budaya dan akan direspon kembali dalam
budaya lain yang sesuai dengan budaya si penerima pesan.
Pengaruh budaya atas komunikator dalam mengirim pesan dan
merespon pesan terlukis dalam model komunikasi antar budaya sebagai
berikut:
Gambar II: Model komunikasi antarbudaya Porter & Samovar (1998)
Sumber: Sihabuddin (2011:22)
1. Budaya A dan B relatif serupa diwakili oleh gambar A dan B
yang relatif hampir serupa.
2. Budaya C sangat berbeda dari budaya A dan B. Perbedaannya
tampak pada bentuknya dan jarak fisiknya dari budaya A dan
B.
Proses komunikasi antarbudaya dilukiskan oleh arah gambar
panah-panah yang menghubungkan antarbudaya:
1. Pesan mengandung makna yang dikehendaki oleh komunikator
2. Pesan mengalami suatu perubahan dalam arti pengaruh budaya
si penerima pesan atau komunikan.
3. Makna pesan berubah selama fase penerimaan atau respon balik
dalam komunikasi antarbudaya karena makna yang dimiliki
komunikator tidak mengandung budaya yang sama dengan
komunikan.
F. Stereotip dan Prasangka
Komunikasi antarbudaya cenderung mengalami kemudahan jika
pelaku komunikasi yang berlainan budaya memiliki derajat persamaan dalam
persepsi, sebaliknya jika terdapat kesulitan dalam persamaan persepsi maka
komunikasi yang berlangsung tidak akan efektif dan menimbulkan
kecenderungan untuk menguatkan akan perbedaan kelompok.
Dari perbedaan dan persamaan persepsi tersebut maka kelompok
kebudayaan
berfikir
mengenai
kelompok
lain,
menyimpan
dan
mengintegrasikan informasi kelompok lain dan kemudian menggunakan
informasi untuk menarik kesimpulan atau melakukan penilaian.
Terkadang juga suatu kelompok memiliki interaksi yang terbatas
dengan kelompok lain, kelompok tersebut dapat memberikan penggambaran
tentang kelompok lain. Hal ini diakibatkan adanya pengatahuan atau
informasi dasar yang dimiliki oleh kelompok, penggambaran tersebut
cenderung kearah penilaian sosial walaupun karakter yang digambarkan
hanya
dimiliki
oleh
seorang
anggota
kelompok
dan
kemudian
digeneralisasikan secara keseluruhan.
Penggambaran tersebut merupakan aktifitas stereotip yang diartikan
sebagai keyakinan suatu kelompok terhadap kelompok budaya tertentu,
anggota kelompok memiliki karakteristik yang sama dan sekaligus menjadi
kerangka berpikir yang sangat mempengaruhi pemprosesan informasi yang
datang.
Menurut Judd, Ryan & Parke dalam Byrne (2003:230) stereotip yaitu
kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan
tentang kelompok sosial tertentu dan karaktek tertentu yang mungkin dimiliki
oleh orang yang menjadi anggota kelompok.
Sedangkan menurut Sternberg (383:2008) Stereotip adalah keyakinan
bahwa anggota-anggota kelompok sosial cenderung memiliki jenis-jenis sifat
yang kurang lebih seragam.
Masih menurut Dunning dan Sherman dalam Byrne (2003:231)
mendeskripsikan stereotip sebagai penjara kesimpulan (inferential prisons),
ketika stereotip telah terbentuk, stereotip membangun persepsi kita terhadap
orang lain, sehingga informasi baru tentang orang akan diintepretasikan
sebagai penguatan terhadap stereotip bahkan hal yang diketahui tidak terjadi.
Menurut Baron dan Paulus dalam Mulyana (2000:220) stereotip
terjadi karena ada beberpa faktor yang berperan. Pertama, sebagai manusia
kita cenderung membagi dunia ke dalam dua kategori: kita dan mereka. Lebih
jauh, orang-orang yang kita persepsi sebagai diluar kelompok kita dipandang
sebagai lebih mirip satu sama lain daripada orang-orang dalam kelompok kita
sendiri. Dengan kata lain, karena kita kekurangan informasi mengenai
mereka, kita cenderung menyamaratakan kita semua, dan menganggap
mereka sebagai homogen. Kedua, stereotip tampaknya bersumber dari
kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognif sesedikit mungkin dalam
berfikir mengenai orang lain, dengan memasukkan orang dalam kelompok,
kita dapat mengasumsikan bahwa kita mengetahui banyak tentang mereka
(sifat-sifat utama mereka dan kecenderungan prilaku mereka) dan kita
menghemat tugas kita yang menjemukkan untuk memahami kita secara
individu.
Sedangkan menurut Wyer dan Srull dalam Baron (2006:220) Stereotip
seringkali berfungsi sebagai skema, merupakan kerangka kognitif untuk
mengatur, menafsirkan dan mengingat informasi. Manusia juga dalam
pembentukan stereotip menyalurkan usaha kognitif sesedikit mungkin dalam
banyak situasi sosial. Dengan demikian, salah satu alasan penting manusia
mempertahankan stereotip adalah bahwa hal tersebut dapat menghemat usaha
kognitif untuk melihat orang tersebut secara kompleks sebagai individu.
Stereotip juga dapat bekerja secara cepat dalam memproses informasi
sosial dimana stereotip itu bertindak dalam mengatur dan menafsirkan seperti
yang diungkapkan beberapa ahli yang dikutip dalam Baron (2006:222)
dibawah ini;
Stereotip bertindak, mengarahkan apa yang kami hadirkan untuk
mengakhiri desakan pengaruh yang kuat pada bagaimana kita
memproses informasi sosial (Yzerbyt, rocher, & schradron 1997).
Informasi yang sesuai dengan stereotip diaktifkan, diproses lebih
cepat diingat daripada informasi yang berhubungan dengan hal lain
(dovido, Evans, & Tyler, 1986: Macrae et al, 1997).
Stereotip menyebabkan seseorang memegang kelompok untuk
memperhatikan karakter tertentu dari informasi umum yang konsisten
dengan stereotip. Selanjutnya, ketika informasi yang tidak konsisten
dengan stereotip tidak berhasil masuk kedalam kesadaran, mungkin
secara aktif ditolak atau diubah dengan cara yang halus yang
membuatnya tampak konsisten dengan stereotip (Kunda & Oleson,
1995, Locke & Waker, 1999: O'Sullivan & Durso 1984).
Stereotip bekerja seolah sebagai pembenaran atas penilaian kelompok
sekaligus memberikan efek kuat terhadap informasi sosial yang akan
diproses. Informasi yang sesuai dengan stereotip seringkali mendapatkan
respon yang lebih cepat dan diingat lebih baik dibandingkan informasi yang
tidak berhubungan dengan stereotip. Stereotip mendorong seseorang
memperhatikan jenis-jenis tertentu khususnya informasi yang konsisten
dengan stereotip dan ketika informasi itu tidak konsisten dengan stereotip,
maka seseorang secara aktif menolak atau sedikit mengubahnya sehingga
tampak konsisten dengan stereotip (Kunda & Oleson dalam Byrne
2003:230).
Hal ini juga dicontohkan sebagai kelompok dengan kekuatan yang
lebih secara khusus cenderung memperhatikan informasi yang konsisten
dengan stereotip negatif tentang anggota kelompok yang lebih dibawah
Sebaliknya para anggota kelompok yang lebih dibawah ada kecenderungan
stereotip mereka kurang (Fiske dalam Baron, 2006:224).
Stereotip senantiasa bergandengan dengan prasangaka karena prasangka
itu sendiri merupakan hasil dari penggambaran yang digeneralisir yakni
berupa penilaian yang cenderung kearah negatif. Manstead dan Hewstone
dalam fatur (2002:3) prasangka didefinisikan sebagai susatu keadaan yang
berkaitan dengan sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan yaitu ekspresi
perasaan negatif, penunjukan sikap bermusuhan atau prilaku diskriminatif
terhadap anggota lain. Dan prasangka adalah sikap negatif yang dibenarkan
terhadap individu berdasarkan keanggotaan individu dalam kelompok
(Santrock 2005:670).
Masih dalam Santrock (2005:671) bahwa menurut Monteith ada
beberapa faktor orang berprasangka yakni sebagai berikut:
1. Kepribadian individu
Ketaatan pada cara-cara konvensional dalam bersikap, penyerangan
terhadap orang yang melanggar norma-norma konvensional,
pemikiran yang kaku, dan penyerahan berlebihan terhadap otoritas.
individu dengan kepribadian yang otoriter memilik kecenderungan.
Namun, tidak semua orang yang memendam prasangka memiliki
keperibadian otoriter.
2. Persaingan antar kelompok atas sumber daya yang langka
Perasaan permusuhan dan prasangka dapat berkembang ketika
masyarakat tidak memiliki pekerjaan , tanah, kekuasaan, atau status
atau salah satu dari sejumlah bahan sumberdaya dilingkungan
sekitar. Mengingat sejarah kelompok masyarakat terlibat dalam
bersaing satu sama lain untuk kepemilikan sumber daya tertentu,
dengan demikian dimungkinkan timbul prasangka terhadap satu
sama lain.
3. Motivasi untuk meningkatkan harga diri
Individu mendapatkan rasa harga diri melalui identifikasi mereka
sebagai anggota kelompok tertentu. Kelompok mereka dipandang
lebih dibandingkan kelompok lain, dan harga diri mereka akan
lebih ditingkatkan. Dalam pandangan ini, kelompok mengarah ke
identitas sosial yang positif dan memiliki harga diri yang lebih
tinggi.
4. Proses kognitif yang berkontribusi terhadap kecenderungan untuk
mengkategorikan (stereotip)
manusia terbatas dalam kapasitas mereka untuk berpikir secara
cermat dan seksama (Allport, 1954) lingkungan sosial sangat
kompleks
dan
membuat
banyak
tuntutan
pada
kapasitas
pemrosesan informasi yang terbatas, menghasilkan penyederhanaan
lingkungan sosial melalui kategorisasi dan stereotip, sekali
stereotip ada, prasangka sering mengikutinya.
5. Pembelajaran budaya
keluarga, teman, norma tradisional, dan lembaga memberikan
banyak kesempatan bagi individu untuk mendaptkan prasangka
dari orang lain. Dengan cara ini, sistem kepercayaan prasangka
dapat dimasukkan kedalam sistem kepercayaan orang lain. Seperti
halnya anak sering menunjukkan prasangka sebelum mereka
memiliki kemampuan kognitif atau mengembangkan sikap mereka
sendiri.
Prasangka sosial yang pada mulanya hanya merupakan sikap-sikap
perasaan negatif lambat laun berubah menjadi tindakan-tindakan yang
diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk diprasangkai, tanpa
terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenakan
tindakan-tindakan diskriminatif dan ini dapat bersumber dari proses kognif
dan pengaruh sosiokultural (Manstead & Hewstone dalam arif rahman
2002:3).
Stereotip dan prasangka memiliki pengaruh terhadap komunikasi
antarbudaya. Pengaruh tersebut antara lain meliputi tiga hal. Pertama,
stereotip dapat menyebabkan tidak terjadinya komunikasi antarbudaya atau
hambatan dalam berkomunikasi. Kedua, stereotip dan prasangka yang
mengarah pada hal negatif mempengaruhi kualitas dan intensitas interaksi.
Ketiga, stereotip dan prasangka yang mendalam akan menghasilkan
antilokusi yakni berbicara dengan teman sendiri, mengenai sikap, perasaan,
pendapat dan sterotipe tentang kelompok lain, bahkan sampai pada tindakan
diskriminatif.
G. Persepsi
Persepsi dalam proses komunikasi memiliki peranan penting karena
respon terhadap pesan yang diterima merupakan hasil proses persepsi, Proses
tersebut
terkait
dengan
menyeleksi,
mengevaluasi,
mengatur
dan
mengintepretasi pesan yang diterima.
Suranto (2010:197) mendefenisikan persepsi sebagai proses internal
yang dilalui invidu dalam menyeleksi, dan mengtur yang datang dari luar atau
secara sederhana persepsi sebagai proses individu dalam memahami kontak
dengan dunia sekelilingnya.
Beberapa ahli juga memeberikan defenisi terhadap persepsi,
sebegaimana yang disebutkan dalam Werner & Tandkard (2008:84) sebagai
berikut:
Proses yang kompleks dimana orang memilih, mengorganisasikan dan
mengintepretasikan respon terhadap rangsangan ke dalam situasi
masyarakat dunia yang perlu arti dan logis. (Barelson dan Steiner,
1964)
Persepsi merupakan aktifitas aktif yang melibatkan pembelajaran,
pembaruan cara pandang dan pengaruh timbal balik dalam
pengamatan (scott 1994)
Persepsi sebagai proses yang kita gunakan untuk mengintepretasikan
data-data sensoris (lahlry, 1991)
Proses persepsi terbagi dalam dua dimensi, pertama adalah proses
fisiologis yang dikategorikan kedalam dimensi fisik melibatkan proses
indrawi dari stimulus yang diterima. Proses persepsi pada dimensi ini akan
diawali dengan stimulus yang mengenai indra, stimulus dapat berupa sesuatu
yang bisa dicium, segala sesuatu yang dilihat, segala sesuatu yang bisa
didengar. Sedangkan dimensi kedua adalah dimensi psikologis yakni stimulus
yang diterima panca indara dipilih, diorganisasikan dan secara spontan
pikiran dan prasaan memberi makna dari stimulus yang diterima (intepretasi).
Dimensi psikologis yang mengenai pancaindra tersebut sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan individu, dibutuhkan atau tidak. Selain itu dalam
proses ini juga pengalaman masa lalu dan harapan masa yang akan datang
menjadi pertimbangan dalam memproses stimulus, disini kita mengharapkan
sesuatu akan terjadi ketika melihat stimulus namun bila stimulus yang
diharapkan tidak sesuai dengan harapan maka stimulus tersebut tidak akan
mendapatkan perhatian. Yang terakhir dari proses persepsi adalah intepretasi
adalah upaya pemberian makna yang merupakan respon dari stimulus yang
telah melewati tahap fisiologi dan psikologis.
Perilaku atau cara bertingkahlaku seseorang yang nampak dan dapat
diamati dalam lingkungan sosial juga merupakan stimulus atau rangsangan
yang akan dipersepsi oleh orang lain. Oleh karena itu tindakan seseorang
akan memiliki hasil intepretasi yang beragam tergantung cara seseorang
mempersepsi tindakan itu, dan pada akhirnya akan terbentuk penilaian
terhadap orang lain. Hal ini dapat dilihat dari seseorang yang tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada orang lain, kita sudah dapat
memberikan gambaran yang begitu banyak tentang diri orang tersebut
dikarenakan kita melihat dari perilaku yang ditampakkan.
H. Teori Interaksi Simbolik
Teori ini menekenkan pada individu yang berinteraksi dengan
menggunakan simbol, dalam simbol tersebut terdapat makna yang ditafsirkan.
Dalam hal ini, bahwa makna merupakan tujuan dari interaksi sosial yaitu
menciptakan makna yang sama, karena tanpa makna yang sama komunikasi
akan menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin terjadi. Dalam teori ini juga
terdapat tiga konsep utama yang dapat menjelaskan mengenai interaksi
individu dengan lingkungan sosialnya yakni pikiran, diri, dan masyarakat.
Pikiran merupakan kemampuan untuk menggunakan dan memaknai
simbol sehingga pikiran dalam teori ini diartikan sebagai sebuah proses. Ada
keterlibatan kemampuan berfikir dalam menafsirkan simbol-simbol yang
diterima dari orang lain, artinya makna dari simbol yang diterima adalah
kesimpulan dari proses berfikir.
Konsep mengenai “diri” dalam teori ini adalah mengarah pada
“konsep diri” yang terbentuk dari penilaian orang lain yakni seperti apa
individu memandang diri mereka sendiri berdasarkan pandangan orang lain.
jadi lingkungan kelompok yang memperlihatkan simbol-simbol memberikan
pengaruh terhadapa penilaian terhadap diri inidvidu, sehingga akan ada
kecenderungan untuk melakukan tindakan yang sama dengan kelompok.
Sedangkan masyarakat dalam teori interaksi simbolik ditekankan pada
kemampuan memahami dan menyusuaikan atas perilaku-perilaku individu
yang memiliki makna dimana masyarakat diartikan sebagai kehidupan
kelompok yang terdiri dari perilaku-perilaku anggota masyarakat. Oleh
karenaya hubungan individu dalam masyarakat akan dipengaruhi oleh proses
sosial, norma budaya masyarakat memiliki intervensi dalam membatasi
perilaku individu. Sebagaimana yang dikutip dalam Littlejohn (2009:233):
Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana
anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan
tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol (Dell
Hymes, 1974)
Teori ini dalam kaitannya dengan stereotip antarsuku dan etnis
dianggap cukup tepat. Dengan melihat stereotip sebagai aspek kognitif
individu maka pemahaman kelompok yang ditularkan akan melalui proses
kognitif individu dalam menerima stereotip.
I. Konflik Antaretnik
Konflik memiliki dua jenis, pertama adalah konflik atas atau dimensi
vertikal. Yang dimaksud konflik atas adalah konflik antara elit dan massa.
Elit bisa dari para pengambil kebijakan di tingkat pusat, kelompok bisnis atau
aparat militer. Hal yang menonjol dalam konflik ini adalah digunakannya
instrumen kekerasan negara, sehingga timbul korban dikalangan massa
(rakyat). Kedua adalah konflik horizontal, yakni konflik yang terjadi
dikalangan massa (rakyat sendiri) dan ada dua jenis konflik horizontal yang
tergolong besar; (1) konflik antar agama, konflik ini mengemuka ini
mengemuka di berbagai daerah, seperti Ambon, Jakarta, dan beberapa daerah
lainnya. (2) konflik antar suku, khususnya antara suku Jawa dan suku lainnya
di luar pulau Jawa. Selain itu muncul pula kasus seperti konflik antar suku
Madura dengan suku Melayu di Kalimantan Barat seperti di Pontianak dan
Sambas (Susan 2010:99).
Konflik horizontal seperti konflik antar suku dan etnik bagi prespektif
kalangan komunal lebih dapat diamati melalui analisis konflik primordial
dimana pendekatan ini melihat identitas etnik , budaya, agama, ras dan bahasa
adalah kuat atau stabil, tak bisa diubah , yang terbentuk melalui proses yang
panjang. Sehingga anggota kelompok-kelompok suku maupun etnis
cenderung merasa budayanyalah yang paling baik, hebat ataupun kuat. Bukan
hanya itu dalam prakteknya anggota kelompok juga memperlakukan sesama
anggota dengan baik melebihi kelompok lain ataupun menutup hubungan
kepada kelompok lain (ekslusif).
Identitas etnis dilahirkan dari sentimen primordial, kesadaran budaya
yang terbangun didalam komunitas etnis melalui institusi dasar, seperti
keluarga, keyakinan kelompok, loyalitas dimana individu lahir sebagai
anggotanya (Isaacs dalam Susan 2010:92).
J. Nilai-nilai Budaya Suku Bugis
Suku Bugis adalah salah satu dari suku bangsa yang paling dikenal di
Nusantara. Berada di bagian barat daya pulau Sulawesi, termasuk dalam
rumpun keluarga besar Austronesia. suku Bugis atau orang Bugis memiliki
berbagai ciri khas menarik diantaranya bahwa suku Bugis dikenal sebagai
orang pelaut meskipun menurut Christian Pelras dalam bukunya Manusia
Bugis menganggap bahwa pengetahuan tersebut adalah keliru melainkan
orang Bugis sendiri adalah petani.
Masih dalam Manusia Bugis bahwa orang Bugis sendiri dalam
interaksi sehari-hari pada umumnya berdasarkan sistem patron klien sistem
kesetiakawanan antara seorang pemimpin dengan pengikutnya yang saling
kait mengait dan bersifat menyeluruh, namun mereka tetap memiliki rasa
kepribadian yang kuat. Prestise dan hasrat berkompetisi untuk mencapai
kedudukan sosial yang tinggi, baik melalui jabatan maupun kekayaan, tetap
merupakan faktor pendorong utama yang menggerakkan roda kehidupan
sosial kemasyarakatan. Mungkin ciri khas tersebut yang membuat suku Bugis
memiliki mobilitas sangat tinggi serta memungkinkan mereka menjadi
perantau (Perlas, 2006:5).
Diseluruh wilayah nusantara dari semananjung melayu dan Singapura
hingga pesisir barat Papua, dari Filipina selatan dan Kalimantan hingga Nusa
Tenggara dapat dijumpai orang Bugis dengan aktivitas pelayaran,
perdagangan, pertanian, pembukaan lahan perkebunan. Kemampuan orang
Bugis menyusuaikan diri merupakan modal terbesar yang memungkinkan
mereka bertahan dimana-mana selama berabad-abad dan meskipun mereka
menyusuaikan diri dengan keadaan sekitar, orang Bugis juga tetap mampu
mempertahankan identitas “kebugisan” mereka. Orang Bugis juga memiliki
tradisi kesusastraan baik lisan maupun tulisan, salah satu bukti terbesarnya
adalah epos sastra La Galigo merupakan karya tulis yang berkembang dari
tradisi lisan.
Kepercayaan, nilai dan sikap suku Bugis dapat dilihat dari sudut
pandang orang Bugis sendiri maupun diluar dari orang Bugis. Sudut pandang
orang luar memberi gambaran yang sering bertentangan dan belum tentu
sesuai dengan kenyataan sebenarnya seperti yang terlihat dalam Pelras
(2006:251) sebagai berikut:
Secara umum orang bugis adalah orang yang memiliki semangat
tinggi (berdarah panas): mereka tidak akan menerima perlakuan
sewenang-wenang.orang bugis yang berani itu. pantas diberi gelar
yang sama dengan yang diberikan oleh Monsieur Poivre terhadap
orang-orang Melayu pada umumnya, yaitu gemar berpetualang, suka
merantau, dan mampu menjalankan kegiatan paling berbahaya
sekalipun (forest, Voyagege From Calcutta : 76-8)
Berdasarkan kehidupan sosial masyarakat Bugis bahwa Siri dan Pesse
dapat digunakan sebagai kunci utama memahami berbagai aspek perilaku
sosial orang Bugis. “Siri” secara harfiah diartikan sebagai perasaan malu ini
terkait dengan kehormatan. Hal yang tidak dinginkan pun bisa terjadi apabila
seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata atau tindakan orang lain yang
dianggap
tidak sopan, bahkan anggota keluarga, termasuk pengikut dan
pembantu ikut merasa tersinggung dan ikut melakukan tindakan. Jadi siri’
dianggap sesuatu yang dirasakan bersama dan merupakan bentuk solidaritas
sosial bukan semata-mata persoalan pribadi.
Pesse’ atau lengkapnya pesse’ babua, yang berarti ikut merasakan
penderitaan orang lain yang bisa diartikan sebagai solidaritas kelompok
berhubungan erat dengan identits kelompok memberi dasar rasa memiliki
identitas “kebugis-an" menjadi sempugi “sesama orang Bugis”.
Dalam praktiknya bahwa nilai siri’ dan pesse’ dapat dilihat dari sistem
pernikahan, anggota-anggota keluarga akan mempersembahkan yang terbaik
untuk menegakkan gengsi keluarga dimata keluarga lain yang sederajat.
Namun persaingan juga dapat terjadi antar anggota keluarga bila seorang lakilaki dalam suatu keluarga berhasil meraih suatu prestasi, maka saudara lakilakinya akan berusaha juga mencapai sesuatu yang lebih baik demi siri”-nya
itu.
K. Nilai-nilai Budaya Suku Mandar
Suku Mandar adalah salah suku bangsa yang mendiami daerah
Sulawesi Selatan bagian Barat di sekitar 0.5o-3.5o LS dan 118o-119.5o BT.
Mendatu dalam Mustarimula.blogspot.com menjelaskan bahwa ‘’Mandar’’
bukanlah suatu penamaan yang terkait dengan geografis dan demografis
tetapi Mandar merupakan kumpulan nilai-nilai yang bertitik tolak kepada
sistem nilai budaya yang luhur yang berasal dari kata‘’Waimarandanna odi
ada’ odi biasa’’ (kejernihan dari adat dan kebiasaan leluhur).
Untuk menjadi orang Mandar seseorang wajib mengenal inti dari nilai
Passemandaran yang merupakan puncak nilai yang terkandung didalam tallu
ponna atonganan (3 dasar kebijakan) yang terdiri atas:
1.
Mesa ponge’ pallangga (aspek ketuhanan)
2.
Da’duatassisara’ (aspek hukum dan demokrasi)
3.
Tallu tammalaesang (aspek ekonomi, aspek keadilan dan aspek
persatuan).
Ketiga dasar kebijakan tersebut dijabarkan tersebut dijabarkan dalam
annang Pappeyappuu di Lita’ Mandar (Enam pegangan utama di tanah
Mandar) yang terdiri atas
1.
Buttutandira’bai (tegaknya hukum secara utuh)
2.
Manu’ tandipessissi’ (demokrasi dalam segala lini kehidupan )
3.
Bea’ tandicupa’(ekonomi kerakyatan yang merata)
4.
Karra’arrangtandidappai (keadilan tanpa takaran)
5.
Waitandipolong (persatuan yang berkesinambungan )
6.
Buttutanditema’ Diammemanganna Tokuana tokua (kutuhan
keyakinan akan kekuasaan Zat yang Maha Tinggi).
Keseluruhan nilai itu berada didalam suatu bingkai kokoh Mesa
tanggesar yaitu odi ada’ odi biasa (sesuai dengan adat dan kebiasaan adat ).
Odi ada’ odi biasa inilah suatu tanda masyarakat egalitarian karena orang
Mandar tidak mengenal konsep to manurung yang melahirkan masyarakat
yang mempunyai stratifikasi sosial yang ketat berdasarkan darah to manurung
dan darah orang kebanyakan.
Sifat itu tercermin di dalam ajaran luhur orang Mandar yang disebut
Limai gau diajappui na disanga paramata matappak (lima perbuatan sebagai
permata yang bercahaya) yaitu
1.
Lappu ‘ sola rakee (jujur bersama takut kepada sang pencipta)
2.
Loa tongan sola matikka (perkataan benar bersama waspada)
3.
Akkalang sola nia ‘mappaccing (akal bersama niat yang suci).
4.
Siri ‘ sola pannassa (siri ‘ bersama keyakinan)
5.
Barani sola pappejappu (berani bersama ketetapan hati).
Perlu ditambahkan berbagai konsep-konsep kebijakan dari nilai-nilai
luhur kemandaran yang berkaitan dengan kemasyarakatan dibawah ini:
Kesepakatan.Mua ‘purami dipallandang bassi’ pemali diliai,mua’
pura, di pobamba pemali di pepondo’I di sesena atonanganan.Bassi tambbottu
petabung tarrabba (Apabila sudah ditentukan sesuatu haram untuk dilangkahi,
kalau sudah diucapkan/disepakati pantang diingkari, aturan harus tetap
berjalan sesuai dengan asasnya).
Penegakan Hukum. Naiyya ada’ tammaelo pai dipasoso ‘tatti
tonggang pai lembarna , ta ‘ keindopai, ta’ keamma ‘ pai, ta ‘kelelluluare ‘
pai, ta’ ke sola pai, ta’ ke wali pai andiappa to dikalepa’na andiang to
disaliwanna, andiang to na poriana, andiang to nabire’na Tammappucung
tandoppas toi (yang disebut badan penegak hukum adalah tegas dalam
mengambil keputusan, tidak berat sebelah, tidak beribu, tidak berbapak, tidak
punya saudara, tidak punya teman, tidak punya musuh, tidak diiming-iming
kesenangan, tidak punya anak buah dan tidak pernah serakah).
Mencari Kebenaran (Puang Sodo) Appei ruppanna uru bicara
tutumasagala balibali palalo balibali. Sa’be balibali (ada 4 pokok untuk
memutuskan suatu masalah yaitu meneliti dan menganalisis perkataan kedua
belah pihak, kata benar dari keluarga kedua belah pihak, saksi yang
terpercaya dari kedua belah pihak)
Demokrasi. Mua’ mendi-mendi oloi elo’na toarajang disesena odiada‘
odibiasa,turu ‘I ada ‘mua’ mendi-mendi oloi elona ada’ disesena odi ada’
odibiasa, turu’I Toarajang (Apbila keinginan bangsawan raja agak kedepan
sesuai dengan adat dan kebiasaan adat maka bangsawan adat hendaknya ikut
dan demikian juga sebaliknya).
Iyyakodhi rappanna anna mara’dia anna to kaiyyang. Mua sisalai
rappanna, ditokaiyyang diule.Apa nauwang todiolo, iddai naule. Diule dai,
diule’naung. Mua sisalai tokaiyyang, tau tappa diule ( Inilah suatu ibarat
apabila raja berhadapan dengan kaum adat, apabila mereka bersebrangan
maka kaum adat harus diikuti dan apabila kaum adat bersebrangan dengan
kaum adat maka rakyat harus dikuti ).
Otonomi (Daetta Kakanna I Pattan) Madondomg duambongi anna
diang api naung bakarna napideitoi tia alabena, mu’andiani mala napideitoi
pendoama’o lao diindo ada’mu, mua pitumbongi pitungallo andianni mala
mupiddei siola indo ada’mu, pendoa mo’o diama ada’mu apa nasiolamo’o
mappiddei (besok lusa apabila ada api menyala disuatu wilayah maka
sebaiknya api itu dapat diredam sendiri dan jika tidak dapat diredam
hendaknya engkau meminta pertolongan kepada ibu adatmu . Jika tujuh hari
tujuh malam belum dapat diredam hendaknya engkau dating ke bapak adatmu
untuk datang bersama-sama meredam api itu ).
Kaiyyang tammaccina dikende ‘kende’na tammaccinna dikaiyanganna
(yang merintah seharusnya tidak memaksakan kemauan kepada rakyat dan
rakyat tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada yang memerintah).
Konsep Kepemimpinan (tammatindo dilangganna).Pallaku lakuanni
mie lita’mu, apa’ medondong duambongi inai-inai mala mappatumbalie lita’
di balanipa, ia tomo tia nadianna dai dipeuluang, na dipesokkoi anna malai
toma’tia naung ditambing mengngada’dai (pertahankanlah tanah air anda bila
besok lusa siapapun yang dapat menyelamatkan negeri Balanipa ia berhak
diangkat sebagai pemimpin dan saya akan turun tahta dan mendukung dengan
sepenuh hati).
Persatuan (Ammana Wewang/Ammana Pattolawali) Dotai tau
siamateang mie namembere diolona lita’ dadi nanaparentah tedong pute to
kaper (lebih baik mati berkalan tanah dari pada diperintah oleh Belanda si
Kafir laknat).
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Keadaan Geografis
Wilayah Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar berada di
ketinggian tanah dari permukaan air laut 0,3 m dan suhu rata-rata 31,
kelurahan Lette memiliki luas wilayah 14 Ha dengan batas sebelah utara
kelurahan Panambungan, sebelah Selatan kelurahan Mariso sebelah barat
pantai dan sebelah timur kelurahan Mariso. Kelurahan Lette terdiri dari 5 RW
dengan karakteristik topografi berupa wilayah datar yang terbagi atas
kawasan pemukiman dan perdagangan.
Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar memiliki batasbatas wilayah yaitu:
1.
Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Panambungan
2.
Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Mariso
3.
Sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Mariso
4.
Sebelah Barat berbatasan dengan pantai
B. Keadaan Demografis
Kelurahan lette memiliki 5 RW yang terdiri dari:
1.
RW I dengan jumlah penduduk 3585 orang
2.
RW II dengan jumlah penduduk 584 orang
3.
RW III dengan jumlah penduduk 833 orang
4.
RW IV dengan jumlah penduduk 611 orang
5.
RW V dengan jumlah penduduk 2062 orang
Pada wilayah RW 1 terediri atas 8 RT dengan luas wilayah 3,5 Ha dan
jumlah penduduk
berdasarkan laporan penduduk bulan Mei 2012
dari
sumber data kantor kelurahan Lette berjumlah 3585 jiwa, berbatasan
langsung dengan pantai, kondisi jalanya tidak beraspal melainkan
menggunakan paping blok, kondisi perumahan yang padat dengan status
pemilikan tanah rata-rata merupakan berstatus sewa karena mayoritas
penduduknya merupakan dengan kelas ekonomi menegah kebawah. Untuk
RW II terdiri atas 3 RT dengan luas wilayah 2,3 Ha dan jumlah penduduk
pada laporan penduduk bulan Mei 2012 berdasarkan data kelurahan Lette
berjumlah 584 jiwa. Daerah ini merupakan daerah yang lebih kecil diantara
4 RW dikelurahan Lette dengan kriteria bangunan berupa ruko dan
perumahan. Khususnya di sekitar jalan Rajawali I dan II yang sebagian besar
adalah ruko. Dengan akses jalan lebar yang terbuat dari aspal, daerah ini
sebagian besar merupakan daerah perdagangan yang didalamnya berada
sarana dan prasarana berupa ruko, jasa, satu kantor lurah, satu dokter praktik
dan satu mesjid. Pemenuhan akan listrik pun sudah memadai namun untuk
drainase masih kurang dimana masih ada drainase yang tidak berfungsi
sebagaimana mestinya.
Pada RW III terdiri atas empat RT dengan luas wilayah 2,3 Ha
dengan jumlah penduduk 2012 berjumlah 833 jiwa. Daerah ini mencakup
dua jalan lokal dengan lebar 4 meter yang terbuat dari aspal yaitu Jl
Cendrawasih V dan dan Jl Belibis. Daerah ini pada umumnya merupakan
perumahan warga.Sarana yang ada di RW ini adalah satu mesjid, satu asrama
mahasiswa, apotek, dan wartel, serta SMP Swasta. Prasarana air bersih pada
daerah ini mayoritas menggunakan air PAM dan adapula yang menggunakan
sumur pompa dan sumur timba khususnya pada pemukiman yang disewakan
atau kos-kosan.Pemenuhan akan listrik pun sudah mencukupi akan kebutuhan
masyarakat. Draenase yang besar berada pada Jl Cendrawasih V sangat
membantu pembuangan air kotor masyarakat di daerah itu walaupun
kebersihan draenasenya masih belum dapat dikatakan baik sistem
persampahannya pun sudah baik karena sistem angkut oleh truk-truk
pembuang sampah selalu mengontrol agar lingkungan tetap bersih.
Untuk RW IV ini terdiri atas 5 RT dengan luas wilayah 2,3 Ha dengan
jumlah penduduk berdasarkan sumber data kelurahan lette tahun 2012
berjumlah 611 jiwa Daerah ini mencakup 1 jalan lokal yaitu Jl Cendrawasih
IV. Kondisi jalan yang terdapat di RW ini baik serta persampahannya pun
cukup baik dimana masing-masing rumah memiliki tempat sampah masingmasing dimana akan diangkut oleh truk pengangkut sampah setiap seminggu
sekali, untuk perairan masyarakatnya mayoritas menggunakan air PAM untuk
kehidupan sehari-hari. Drainasenya pun baik namun masih ada saja sampah
yang berada di got-got. Sedangkan RW V pada daerah ini terdiri atas 8 RT
dengan luas wilayah 3,5 Ha dan jumlah penduduk berdasarkan kantor
kelurahan lette pada tahun 2012 sejumlah 2062 jiwa. Daerah ini merupakan
kawasan daerah perumahan yang sangat padat dengan status tanah
kebanyakan sewa. Kondisi jalan yang terbuat dari paving blok dan banyak
gang-gang kecil. Jaringan air menggunakan air PAM untuk kehidupan makan
dan minum. Sumur digunakan untuk menopang kehidupan seperti mencuci
dan lain-lain.sistem drainasenya kurang baik karena lebarnya yang sempit dan
kebanyakan ditutupi oleh jalan untuk perluasan jalan. Pada daerah ini terdapat
satu mesjid, pos kesehatan, dan posyandu.Untuk kebutuhan listrik masyarakat
sudah mencukupi untuk kebutuhan masyrakat.
C. Sosial Budaya
Masyarakat Kelurahan Lette terdiri dari beberapa suku Bugis
Makassar, Mandar, Toraja, Jawa, Flores, dan Cina. Di lingkungan RW V
mayoritas dihuni oleh suku Mandar dan terdapat beberapa suku seperti Bugis
dan Jawa, maka kelurahan lette khususnya di lingkungan RW V seringkali
disebut sebagai kampung Mandar.
Masyarakat Kelurahan Lette memiliki sikap sosial dan tenggang rasa
yang kuat. Hal ini terlihat dari sikap warga yang ramah, terbuka terhadap
tamu yang datang dan solidaritas yang kuat antar sesama anggota masyarakat.
Suku Mandar yang bermukim diwilayah kelurahan Lette khususnya pada RW
V rata-rata pekerjaan mereka adalah pengrajin rotan, keahlian tersebut
merupakan keahlian yang diwariskan oleh orang-orang tua mereka dulu,
rotan-rotan diolah menjadi keranjang buah yang dipasok ke beberapa
supermarket di kota Makassar. Kerajinan tersebut dikerjakan dalam skala
kecil pengerjaannya dilakukan oleh satu atau dua keluarga tetapi terkadang
juga terdapat anggota yang bekerja diluar dari hubungan keluarga seperti
warga dari suku Makassar maupun suku Bugis. Sedangkan warga suku Bugis
yang ada dikelurahan Lette rata-rata bekerja sebagai pedagang di pasar.
Interaksi antara warga suku Mandar dan suku Bugis maupun dengan
suku lainnya seperti Makassar dan Jawa sudah sangat terjalin erat dan
harmonis. Dapat dilihat dalam komunikasi yang dilakukan pada keseharian
mereka, seperti beberapa suku Bugis yang sudah paham dengan bahasa
Mandar begitu pun sebaliknya warga Mandar paham dengan bahasa Bugis
atau bahasa Makassar. Selain itu mereka juga berbaur dengan terlibat dalam
aktifitas-aktifitas kemasyarakatan khusunya pada kegiatan seperti kerja bakti,
kegiatan PKK, pengajian, lomba-lomba antar kelurahan maupun kerja bakti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pengumpulan data dalam bab ini menggunakan metode observasi dan
wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan di Kota Makassar
dengan memfokuskan lokasi penelitian di Jalan Rajawali keluruhan Lette
Kecamatan Mariso.
Alasan memilih kelurahan Lette sebagai fokus lokasi penelitian adalah
karena di lokasi tersebut mayoritas penduduknya adalah kelompok
masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu suku Bugis dan suku Mandar,
yang menurut pengamatan peneliti telah sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan. Adapun kriterianya sebagai berikut:
1. Suku Bugis yang menetap di kota Makassar
2. Memiliki stereotip terhadap suku Mandar
3. Asli keturunan suku Bugis
4. Berinteraksi dengan suku Mandar minimal 5 tahun
Dari pengamatan peneliti selama di lokasi penelitian, diperoleh lima
warga suku Bugis yang menetap di lokasi tersebut dan selanjutnya menjadi
unit analisis bagi peneliti. Peneliti menetapkan warga tersebut dengan
mempertimbangkan
latar
belakang
informan
seperti
latar
belakang
pendidikan, usia, dan pekerjaan. Dari pertimbangan tersebut, diharapkan
informan dapat memberikan penjelasan yang jelas.
Wawancara terhadap lima warga yang telah ditetapkan, dilakukan di
rumah mereka masing-masing. Sebelum melakukan wawancara peneliti
dengan seksama memperhatikan kesiapan dan kesediaan informan untuk
diwawancarai karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas
informasi yang akan diberikan, dalam hal ini aspek waktu dan tempat menjadi
pertimbangan
khusus
bagi
peniliti.
Sedangkan
observasi
dilakukan
bersamaan pada saat wawancara berlangsung dan juga dilakukan pada saat
informan melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjukkan adanya interaksi
antara informan dengan suku Mandar.
Dalam proses wawancara tidak jarang peneliti menemukan kendala,
antara lain:
1. Informan merasa ragu dalam memberikan informasi atau
cenderung sekedarnya dalam memberikan jawaban. Hal ini
diakibatkan kekawatiran informan akan timbulnya ketersinggungan
dari suku yang dibicarakan, dikarenakan mereka hidup dalam satu
lingkungan kompleks perumahan.
2. Aktifitas-aktifitas informan menjadi salah satu kendala dalam
proses wawancara, terkadang informan sulit untuk ditemui
dikarenakan kegiatan-kegiatan informan. Sehingga dalam hal ini
peneliti harus menyesuaikan waktu dengan kesediaan informan
untuk melakukan wawancara.
3. Suasana sekitar ketika peneliti melakukan wawancara juga
berpengaruh terhadap informasi yang diberikan informan. Karena
terkadang pada saat melakukan wawancara ada orang ketiga yang
terlibat dalam memberikan penjelasan sehingga penjelasan
informan dipengaruhi oleh penjelasan informan ketiga.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara
mendalam mengenai stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar, secara
keseluruhan informan yang telah ditentukan menjadi unit analisis telah
memenuhi kriteria. Berikut adalah biodata warga yang menjadi unit analisis.
Unit Analisis I
Informan pertama berinisial DI (41) keturunan asli Bugis Pangkep.
Bekerja pedagang eceran, istri dari kepela RT III yang merupakan wilayah
mayoritas suku Mandar, beliau sudah lama berinteraksi dengan orang
Mandar. Hal ini sesuai dengan pemaparan informan:
“Saya kelahiran tahun 1971 Bugis Pangkep, adama sepuluh tahun,
eh, 17 tahun disini. Sebelumnya saya di JL Cakalan-Panampu, nah
barupa nikah sama bapaknya baruka pindah kesini. Banyak
memangmi disini orang Mandar orang Bugis juga adami, yah campur
mi”
Unit Analisis II
Informan kedua berinisial ST (50) merupakan keturunan asli Bugis
Soppeng, aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti kader
KADARSI (keluarga sadar gisi) serta anggota dalam penyuluhan KB
(keluarga berencana). Melalui kegiatan tersebut beliau sudah lama
berinteraksi dengan orang Mandar, beliau juga bertetangga dengan orang
Mandar.
Menurut penuturan informan bahwa informan berinteraksi dengan
orang Mandar selama 24 tahun sampai sekarang.
“Saya Bugis dari Soppeng, adama 24 tahun tinggal disini, orang
Mandar semua saya temani, pas ka’ ada disini satu-satu ji orang
Bugis.Saya juga sekolah daerah sini pas SMP”
Unit Analisis III
Informan ketiga, berinisial MA (39) merupakan ibu rumah tangga dan
menjadi kader Posyandu dan terlibat aktif dalam kegiatan masyarakat. Beliau
keturunan Bugis Soppeng suaminya bekerja sebagai buruh bangunan
keturunan Makassar asal Takalar. Berdasarkan penuturan informan bahwa
informan juga sudah lama berinteraksi dengan orang Mandar, berikut
penuturan informan:
“Kalo disini kampung Mandar namanya , 15 tahun ma disini
semenjak sudah menikah, kalo bapaknya lebih lama disini.Sebelum
kawin saya tinggal dekat pasar sama kakak ada rumah batu itu dekat
pasar tapi najualmi sekarang, setelah nikah pindah ma kesini karena
bapaknya tinggal disini. Bapak ia asli takalar sedangkan saya Bugis”
Unit Analisis IV
Informan keempat berinisial YF (62). Pensiunan TNI AL merupakan
tokoh masyarakat di kelurahan Lette. Beliau asli keturunan Bugis Bone,
sekarang sebagai ketua pembangunan mesjid. Dari tahun 1974 sudah menetap
di Kelurahan Lette sehingga dapat dikatakan informan sangat mengenal orang
mandar. Berikut penuturan informan:
“Saya sudah menetap disini dari tahun 1974 saya keturanan asli
Bugis Bone dan Soppeng, saya disini tinggal mulai dari saya sejak
sekolah, kuliah dan sampai sekarang. dulu saya kontrak rumah kos
yang di RT III lorong 10 yang memang disitu mayoritas orang
Mandar, teman bermainku orang Mandar, bapak kos ku orang
Mandar, teman kuliahku juga orang Mandar.nah nanti saya tinggal di
jalan sekitar pasar sini sudah bukan mayoritas Mandar tapi
kebanyakan Bugis dengan Makassar.”
Unit Analisis V
Informan kelima, berinisial YI (33) beliau keturunan asli Bugis Bone,
sudah menetap selama 12 tahun di Kelurahan Lette. Aktif dalam aktifitas
keagamaan seperti pengajian yang rutin dilakukan oleh majelis ta’lim Darul
Hijrah mesjid yang berada di RW V RT III. Sebelum menikah informan
menetap di Jl Pettarani tepatnya di Sukaria dan informan juga sebagai guru
PAUD (pendidikan usia dini).
“Sebelumnya saya tinggal di Pettarani-Sukaria.12 tahun ma disini
saya dari Bugis Bone.Sebelumnya tinggal sama kakak itu mi di
Pettarani.”
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stereotip yang
berkembang pada suku Bugis terhadap suku Mandar sekaligus untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip suku Bugis terhadap
suku Mandar. Stereotip yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
pengetahuan dan keyakinan suku Bugis terhadap suku Mandar. Untuk
mengetahui gambaran dan faktor terjadinya stereotip tersebut maka peneliti
menganalisis hasil petikan wawancara dan observasi selama di lokasi.
Berikut petikan wawancara dari unit analisis penelitian dalam
kaitannya dengan rumusan masalah.
A.1 Gambaran Stereotip yang berkembang pada suku bugis
terhadap suku Mandar
Dari hasil wawancara dan observasi dilapangan ditemukan
bahwa warga Bugis memiliki stereotip yang sama terhadap suku
Mandar, berikut penuturan dari para informan yang kemudian menjadi
unit analisis.
Penuturan informan pertama
“Datangka’disini banyak memangmi orang Mandar, orang
Bugis beberapa ji mungkin yang dekat pasar bayak-banyak
orang Bugis.Kesulitanta biasa kalau mauki’ sama-sama bicara
itu terkendala di bahasa ji karena nakasi ki’ bahasa Mandar
kurang paham ki’. kayak yang orang-orang tuanya dulu kayak
nenek mala, nenek indo sering pake bahasa Mandar tapi ditau
tonji sedikit diartikan.Kalau saya disini seringka’ sama-sama
orang Mandar kalau mau bicara ya.pake bahasa Indonesia
kayak sama erna pake bahasa Indonesia.”
Dari penuturan informan bahwa ketika informan pertama kali
menetap di kelurahan lette, suku Mandar sudah lebih dulu menetap
dan menjadi kelompok masyarakat dominan di wilayah tersebut. Dan
ditemukan pula bahwa bahasa menjadi kendala dalam berkomunikasi,
terkadang informan sulit memahami maksud dari pesan yang
disampaikan oleh suku Mandar khususnya pada saat informan
berkomunikasi dengan orang tua karena bahasa yang digunakan
adalah bahasa Mandar. Oleh karena itu informan berupaya memahami
bahasa tersebut untuk mempermudah dalam melakukan interaksi,
sekaligus merupakan upaya penyusuaian diri dengan lingkungan
barunya.
“Dimana-mana orang Mandar dikenal banyak dotidotinya.kan pernah ada sepupuku kuliah dan pacaran sama
orang Mandar, sekalinya dijodohkan bukan dengan pacarnya
orang Mandar tapi dengan kemankanku ji nikah, tiba-tiba
sepupuku sakit. Sekalina pergimi ke dukun, bilang mi itu dukun
orang Mandar yang kasi kenna i, timbul mi gossip! Nabilangi
ma sendiri itu orang tuaku, orang Mandar itu bahaya, jadi
sempat ma juga percaya. begitu mi dengar itu agak kawatirkawatir bicara sama orang Mandar, sempat ada prasangka ku.
Tapi sekarang lama ma sama-sama tidak adami dan yang saya
lihat juga disini orang mandar rajin ke mesjid,bagus
agamanya.”
Berdasarkan penuturan informan selanjutnya bahwa informan
memiliki stereotip negatif terhadap suku Mandar. Suku Mandar
diyakini sebagai suku yang memiliki ilmu sihir, hal tersebut diketahui
informan melalui pengalaman keluarga informan, stereotip ini sangat
kuat dalam keyakinan informan tentang penggambaran negatif
terhadap suku Mandar dikarenakan informasi ini langsung dari orang
tua informan. Tetapi setelah informan berinteraksi dan mengamati
secara langsung kehidupan suku Mandar, stereotip tersebut berubah
kearah positif yaitu suku Mandar dinilai sebagai suku yang orangorangnya taat beribadah.
“Alhamdulillah belum pernah pi disini terjadi konflik antar
suku atau yang lain.Saya juga aktif di ibu PKK didalam
campumi mi semua ada Bugis ada Mandar, Makassar, Jawa,
ada memang bagian pembinaan juga. Jadi pembinaannya
biasanya melaului pengajian atau majelis ta’lim disitumi
selalu dibilangi untuk selalu menjaga keharmonisanta antar
sesama warga tidak dibilang biar Bugis, Mandar, Makassar
atau Jawa saling menghargaiki, bersatu ki semua, makanya
anak-anak ku juga sering kubilangi karena biar membina
diluar tapi sendirita belum. biasanya anakku kubilangi hatihati bergaul, baik-baik ki’ sama orang.Ya semoga bisa terus
kita jaga hubungan ta antara warga disini.”
Penuturan informan selanjutnya menunjukkan bahwa lembaga
sosial memiliki peranan penting sebagai wadah dalam mempersatukan
kelompok masyarakat yang berbeda suku. Dalam lembaga tersebut
kelompok masyarakat baik suku Mandar, Bugis, Makassar, dan Jawa
dapat saling menghargai dan memahami akan perbedaan suku. Dalam
aktivitas komunikasi kelompok tersebut, keharmonisan menjadi topik
utama yang selalu dibicarakan dalam pertemuan kegiatan mereka.
Penuturan informan kedua
“Sekarang campurmi Mandar dengan bugis, banyakmi juga
Bugis disini. karena lama ma disini kutaumi bahasa Mandar
mungkin kalo saya ke Mandar tidak hilang ma. Disini banyak
ji juga orang Bugis tapi jarangka sama-sama orang Bugis,
saya lebih suka biasa bicara sama orang Mandar apalagi
kutau bahasanya.”
Dari penuturan informan dapat diketahui bahwa jumlah
penduduk suku Bugis sudah berimbang dengan suku Mandar, dan
mereka sudah berbaur dalam satu wilayah, dengan adanya pembauran
tersebut dimungkinkan terjadi sebuah pertukaran budaya antarsuku
seperti bahasa. Hal ini dapat diketahui dari penuturan informan bahwa
informan tidak menemukan kendala dalam berkomunikasi disebabkan
informan
sudah
menguasai
bahasa
Mandar
yang
kemudian
memudahkan informan untuk berinteraksi dengan suku Mandar,
bahkan informan lebih memilih berkomunikasi dengan suku Mandar.
“Saya dulu aktif di kegiatan penyuluhan KADARSI (Keluarga
Sadar Gizi) sering kasi penyuluhan sama warga, biasa juga
ikut kasi penyuluhan KB datangi rumah warga satu-satu,
Wilayahku memang disini di RW III mayoritas orang Mandar.
Biasa juga atas inisiatif sendiri saya buat kegiatan
pembebasan buta aksara dan didalam ibu-ibu disiniji yang
ikut. Alahamdulillah adami yang pintar membaca. Tapi
sekarang tidak mi lagi, ini ada orang Mandar rumahnya kan
agak besar sama-sama lagi buat kegiatan menjahit tapi
berhenti mi juga, dulu pembagian beras RASKIN dan
SEMBAKO saya juga biasa yang catat namanya warga.
Masyarakat disini baik komunikasinya lancar, kita akrab baru
sama-sama terbuka, tidak ada kita beda-bedakan antara Bugis
atau Mandar. Itu kalo kegiatan yang seperti tadi saya bilang
kita didalam campurmi, baru kalo malam itu disini banyak
datang warga; orang tua, anak muda, ibu-ibu datang ceritacerita, itumi kalo kita menerima orang to pasti kita juga
diterima. Memang ada juga yang bilang baik ada juga tidak
baik tergantung kita ji sebenarnya.”
Dari penjelesan informan ini dapat diketahui bahwa informan
sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang didalamnya ditemukan
keterlibatan langsung dengan masyarakat suku Mandar sehingga dapat
dipastikan informan sudah memiliki kedekatan dan pemahaman
tentang karakter suku Mandar salah satunya adalah memiliki sikap
terbuka.
“Saya kalau dipikiranku orang ini dikenal karena begitunya
misalnya Mandar karena doti-dotinya atau Cina sekkenya kan!
meskipun dulu ada sempat, karena belum ditau bagaiman
aslinya.Tidak jadi penghambatji saya kalau mauka begaul
sama mereka artinya berkomunikasi to. karena saya tidak mau
langsung memvonis orang ibaratnya kalo saya kan biasa
bilang kamu senang saya senang jadi tergantung pendekatanta
sama orang.”
Dari penuturan informan selanjutnya, bahwa informan kedua
juga memiliki stereotip negatif terhadap suku Mandar, stereotip
tersebut diketahui dari orang lain. Minimnya interaksi langsung antara
informan dengan suku Mandar membuat stereotip tersebut sempat
menjadi keyakinan informan. Namun setelah informan berinteraksi
langsung dan cara informan menaggapi stereotip yang tidak langsung
menggeneralisir kepada semua orang Mandar membuat stereotip
tersebut tidak berkembang sampai saat ini.
Peneturan informan ketiga
“Disini memang dikenal kampung Mandar, dulu kebanyakan
orang Mandar tapi sekarang campur. Di dekat pasar, Bugis
bayak disana sebelumnya saya tinggal dekat pasar sama kakak
setelah menikah baru pindah disini karena suamiku sudah
lama mi disini. Saya juga aktif kegiatan-kegiatan termasuk
saya kader posyandu, tiap bulan diadakan juga posyandu,
baru-baru ini ada acara dzikir yang didatangkan itu”Habib”.
Konsumsinya ibu-ibu disini ji semua yang bikin artinya
didalamnya itu campur mi ki semua kecuali orang Jawa,
mereka diacaranya pi datang, orang Bugis ji sama Mandar
yang terlibat.Ini juga pas acara peringatan “Isra Mi’raj” saya
juga ikut dikonsumsinya apalagi selain kader Posyandu saya
juga anggota majelis ta’lim Darul Hijrah disitu mi lagi ada
lagi dibuat kegiatan arisan jadi sama-sama mi lagi dengan
orang Mandar.”
Penuturan informan ketiga menunjukkan bahwa kegiatan
keagamaan menjadi sarana interaksi antara informan dengan suku
Mandar, sehingga sama dengan informan-informan sebelumnya
bahwa informan miliki pengetahuan dan pemahaman mengenai suku
Mandar.
“Yah disitu mi juga seninya to ada kebersamaan ta, walaupun
beda-beda suku ki. Tidak adaji yang dibilang dibeda-bedakan
ini orang Mandar atau ini orang Bugis samaji semua kalau
ketemu sama-sama orang Bugis saya pake bahasa Bugis kalo
orang Mandar pake bahasa Indonesia, paling itu
komunikasinya terhambat dibahasa kalau saya sama-sama
orang Bugis pake bahasa Bugis, mereka tidak tau artikan
begitupun sebaliknya kita juga tidak mengerti apa nabilang
meskipun ada-ada ji yang ditaukan sedikit. Selama saya disini
kita semua saling tolong menolong, baru komunikasi ta saling
terbuka kita cerita-cerita yang hal-hal baik baiknya tidak
pernah cerita-cerita yang jelek, artinya kita sama-sama
terbuka, kalo saya memang terbuka ja sama orang disini
begitu juga orang-orang Mandar disini terbuka ki orangnya,
ramah-ramah baik juga, kayak ini disamping rumahku orang
Mandar baik semua seringki luangkan waktu kalau sore
duduk-duduk didepan rumah cerita-cerita.”
Dalam penuturan informan selanjutnya, bahwa bahasa menjadi
hambatan dalam berkomunikasi, karena informan sulit memahami
bahasa suku Mandar. Meskipun demikian informan tetap dapat
merasakan rasa kebersamaan yang kuat tanpa ada diskriminasi suku.
Informan menganggap suku Mandar adalah orang yang terbuka dan
ramah dalam berkomunikasi, hal ini dilihat adanya waktu yang
diluangkan oleh informan dan suku Mandar untuk berkomunikasi.
“Memang biasa saya dengar kalau suku Mandar itu dikenal
banyak doti-dotinya, nah lama mi saya tau itu karena dari
teman na orang cerita-cerita toh. Kalau saya pribadi tidak
berprasangka seperti itu apalagi dibilang was-was mau bicara
sama orang mandar tidak ji.”
“Kita disini saling menghormati sama menghargai karena
anatara orang Bugis dengan Madar disini selama ini
hubungannya harmonis. Belum pernah ada masalah apa, kita
seling terbuka komunikasi nya artinya tidak adaji yang bilang
ini orang Bugis atau Mandar ini yang harus ditemani bicara.
Soal seperti itu yang dikenal orang Mandar mungkin karena
orang-orang yang belum lama sama-sama tinggal orang
Mandar to tapi kalau macam saya lama sama-sama justru
hilang mi dipikiranku kalau ada yang seperti itu.”
Berdasarkan dari penuturan informan ketiga bahwa informan
juga memiliki stereotip terhadap suku Mandar. Tetapi stereotip
tersebut tidak mengarah pada prasangka yang memberikan penilaian
negatif. Hal ini disebabkan stereotip negatif tidak didukung oleh
pengalaman dan pengamatan langsung dari informan melainkan
sebatas informasi yang didengar dari teman informan. Oleh karena itu
stereotip tersebut tidak menjadi hambatan bagi informan untuk
melakukan komunikasi dengan suku Mandar.
Penuturan informan keempat
“Kalau membicarakan soal bagaimana kehidupan antar
warga disini saya banyak tahu, apalagi orang mandar. bisa
saya katakan saya sangat mengenal orang Mandar lebih dari
orang yang tahu karena hal yang seperti saya bilang tadi
sudah sekian tahun saya berinteraksi dengan mereka bahkan
anak saya nikah dengan orang Mandar.Saya biasa jalan-jalan
ke Polmas. Disini yang memang sudah masyarakatnya sudah
dihuni bermacam suku ada Makassar, Bugis, Toraja, Mandar,
Flores, Jawa dan cina tidak menutup kemungkinan sangat
rawan terjadi konflik.Tapi alhamdulillah hal itu sangat jarang
terjadi. Memang pernah beberapa kali terjadi konflik sebelum
dibangun mesjid dan kejadiannya itu pas didepan rumah tapi
yang bersinggungan itu antar sesama warga Jeneponto bukan
konflik antar suku.”
Dari penuturan informan keempat, bahwa informan sangat
mengenal suku Mandar. Hal ini disebabkan informan sudah sangat
lama berinteraksi dengan orang-orang Mandar, bahkan informan
memiliki ikatan keluarga dengan suku Mandar. Informan melihat saat
ini di kelurahan lette tidak lagi hanya dihuni suku Mandar tetapi sudah
dihuni dari berbagai suku dan etnis.
“Saya melihat orang Mandar secara pribadi bahwa Mandar
orang-orangnya sportif, cepat tersinggung tapi tutur kata
mereka lemah lembut, dan kalau soal ilmu-ilmu mistis yang
dikatakan orang-orag saya sempat dengar.Mungkin dari sisi
agama mereka bagus, saya kenal tokoh agama yang terkenal
di Mandar namanya “imam Lapeo”. Saya mengatakan
mereka cepat tersinggung yah memang benar tapi mereka
sangat cepat juga redah dan mereka redah bukan karena dari
orang lain tapi kesadarannya timbul dari dalam diri mereka
sendiri tidak seperti dari warga lain yang saya lihat, kalau
mau diselesaikan masalahnya harus pake media artinya ada
orang ketiga.”
Dari
penuturan
informan
selanjutnya
bahwa
informan
memiliki stereotip tersendiri mengenai suku Mandar yang terbentuk
dari
pengalaman
pribadi,
berbeda
dengan
informan-informan
sebelumnya. Menurut informan bahawa suku Mandar orang-oranya
sportif, mudah tersinggung tetapi mudah juga redah yang timbul dari
kesedaran mereka sendiri, memiliki tutur kata yang lembut dan
sopan.Mengenai stereotip negatif suku Mandar, informan tidak terlalu
menanggapinya karena hal tersebut tidak pernah didapatkan pada
pengalaman pribadi informan.
“Saya menganggap faktor saling memahami sangat penting
untuk menjalin hubungan termasuk didalmnya adalah
memahami apa yang warga butuhkan termasuk dari kebutuhan
ekonomi, karena masalah bisa dipicu dari ekonomi. Kemudian
saya juga tidak membawa idetitas saya dalam berinteraksi
Baik Mandar Bugis, atau warga lainnya sehingga mereka
tidak segan untuk berkomunikasi, kita punya kesesejaran lah.
Orang akan segan berbicara dengan kita kalau kita selalu
membawa identitas dan menganggap diatas dibanding orang
lain misalnya orang tahu kalau kita kaya, kita pejabat dan
apalah sebagainya.Makanya saya biasa tidak segan-segan
untuk gabung dengan warga biar main domino meskipun saya
tidak tahu main dan tidak pernah membahas mengenai
pekerjaan saya. Intinya dalam pandangan agama “Hablun
minannass” hubungan sesama manusia yang harus dijaga,
dan mesjid juga punya peranan sangat penting dalam
membangun hubungan Karena di dalam mesjid kita bertemu
meskipun kita dari latar belakang berbeda.”
Pada penuturan ini, informan keempat memiliki pandangan
dalam
menanggapi
atas
perbedaan
yang
dapat
menimbulkan
perselisihan.Informan menganggap bahwa dengan pemahaman agama
yang baik, kita akan mampu untuk saling memahami satu sama lain dan
dan senantiasa mengutamakan kesetaraan dalam hidup bermasyarakat.
Karena dengan kesejajaran tersebut akan ditemukan kemudahan dalam
berkomunikasi,
masing-masing
pihak
yang
terlibat
dalam
berkomunikasi tidak merasa ragu dalam menyampaikan pesan. Dalam
penuturan informan juga didapatkan gambaran tentang fungsi rumah
ibadah yakni sebagai sarana pertemuan yang mewadahi masyarakat
yang berbeda latarbelakang baik budaya, status mupun aspek ekonomi.
Penuturan informan kelima
“Disini kan ada Mandar sama Bugis kita biasanya terkendala
dibahasa, ya bahasa indonesia mami kita pake karena mereka
biasa pake bahasa Mandar kalau para orang Mandar, untung
ada bahasa Indonesia.Biasanya kalau ada acara-acara apa to
kayak pengajian di mesjid, disitu mi pake bahasa Mandar
mereka kita juga kadang pake bahasa Bugis.Alhamdullah tidak
adapi masalah dari orang Mandar dengan Bugis di sini apa
lagi kan biasa terjadi ketersinggungan karena perbedaan
bahasa ji, itu mi kan ada biasa bahasa atau kata-kata yang
sama bunyinya dari bahasa Mandar atau Bugis tapi beda
maknanya menurut orang Mandar atau Bugis, dengar biasa
banyak masalah timbul dari situ. Biasa to orang-orang tua
Mandar disini pas ka baru disini nabicara pake bahasa
Mandar ka senyum-senyumma saja karena tidak kutahu
artinya.”
Dari penuturan informan kelima bahwa bahasa menjadi
penghambat dalam melakukan komunikasi dengan orang Mandar,
sama dengan beberapa informan sebelumnya. Dari perbedaan bahasa
yang dimiliki dangan suku Mandar terkadang informan merasa
kawatir akan timbulnya konflik dikarenakan kesalapahaman dalam
mengartikan bahasa yang mereka gunakan. Oleh karena itu informan
menggunakan bahasa Indonesia dalam melakukan komunikasi dengan
orang Mandar.
“Selain dari masalah bahasa, kalo masalah bergaulnya saya
nda ada masalah gang.karena saya orangnya cerewet, saya itu
biasa kalau satu kali ketemu langsung akrab begitupun dengan
orang Mandar disini atau siapa saja. tergantung
kepribadiannya orang mungkin, karena biasa ada orang kalo
tidak disapa tidak nasapamiki juga. Tapi kalo saya, saya sapa
ki duluan kalau ketemu. Saya sering ja juga ikut acara kaya
pengajian, baru didalam campur mi semua artinya ada
Mandar, Bugis, Makassar. Kalau ketemunya bukan hanya
dikegiatan pi, ini juga saya sering sekali setiap sore sempatkan
duduk-duduk di depan rumah campur mi lagi.Itu kaya yang
tetanggaku orang Bugis dari Soppeng ada juga, yang dicerita
itu baisanya soal makanan ji.”
Dari penuturan selanjutnya, informan memiliki kepribadian
yang terbuka dengan siapa saja sehingga dengan keperibadian tersebut
informan dapat dengan mudah berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya khususnya dengan orang-orang Mandar. Hal ini dapat
dilihat dari kebiasaan informan meluangkan waktunya untuk sengaja
berkomunikasi dengan orang Mandar pada waktu luang.
“Kalau masalah nabilang orang Mandar terkenal banyak
doti-dotinya yah itu mungkin orang-orang tua dulu, hampirma
bilang dulu orang Mandar itu bahaya. kalau ilmu-ilmunya
saya tidak percaya karena saya dari kecil memang dididik
agama apalagi saya pernah tinggal di Sukaria Pettarani sama
tante agamanya bagus jadi saya diajarkan agama.
Yah,mungkin ada tonji begitu tapi tidak semua nabilang
orang-orang tua dulu, baru bukan ji juga hanya Mandar yang
ada begitunya, di Bone juga ada yang dikenal dekat rumahku
bisa juga begitu. Itu tetanggaku orang Mandar pernah beng
ditanya tentang asalnya, dia jawabmi dari Mandar langsung
mi dikira banyak baca-bacanya bisa kasi lembe kepala.Kita
disini saling tolong-menolongki jadi itu prasangka tidak ada
memang tong justru biasa kalau kebetulan belum sempat masa
nasi, saya minta nasi begitupun sebaliknya karena kayak
saudara miki semua. Insyallah saya berharap bisa terus kita
jaga hubunganta dengan sering-sering silaturahmi kaya itumi
sempatkan cerita-cerita supaya persatuanta juga semakin
bagus.”
Dari penuturan informan kelima, informan memiliki stereotip
negatif terhadap suku Mandar. Stereotip tersebut diketahui dari orang
tua dan teman-teman informan, namun pengetahuan dan keyakinan
terhadap agama yang dimiliki informan membuat stereotip terhadap
suku Mandar tidak berkembang kearah penilaian negatif. Informan
menganggap bahwa semua suku itu sama walaupun terdapat kesalahan
pada individu, kesalahan itu tidak boleh ditujukan ke identitas suku
melainkan harus melihat keselahan itu dari kepribadian individu.
Selama ini informan menganggap suku Mandar dalam hidup
bermasyarakat
sangat
baik,
informan
merasa
nyaman
saat
berkomunikasi dan memiliki solidaritas kuat.
A.2 Faktor Yang Mempengaruhi Stereotip Yang Berkembang
Terhadap Suku Mandar
Pengetahuan atau informasi yang dimiliki kelompok terhadap
kelompok lain, beberapa diantaranya didapatkan dari pengalaman
individu ataupun diketahui dari orang-orang disekitarnya dan ini dapat
menjadi keyakinan kelompok untuk memberikan penilain terhadap
kelompok lain walaupun kelompok tidak memiliki interaksi langsung
secara intensif. Ada banyak hal yang mempengaruhi suatu stereotip
berkembang baik itu murni dari dalam diri seseorang ataupun berasal
dari faktor luar.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip
terhadap suku Mandar dapat dijelaskan melalui penuturan informan
dalam petikan wawancara berikut ini:
Penuturan informan pertama
“Tapi Begini ade, sama mi itu orang Cina yang dianggapki’
“sekke“orang-orang tapi itu Cina didepan, menyumbang ji ke
mesjid padahal bukan ji agama Islam, tidak semuaji orang
Cina sekke. Samami juga orang Mandar, yah mungkin ada,
baru tidak semua ji itu kalau memang ada begituannya, tapi
selamaka disisni seringka ketemu apa, datang kerumah,
ketemu dipengajian, diacara PKK baik semuaji kalau bicara ki
sama. Allahua’alam kalau yang lain dia, biar orang Mandar
kalau ada juga tidak baik toh. baru kalau yang saya liat disini
orang Mandar rata-rata bagus agamanya bahkan adami
orang Mandar jadi imam mesjid disini, ustadnya juga itu
orang Mandar. Memang kan awalnya sebelum ki disini kita
taunya orang mandar itu biasanya dikenal begitunya tapi lama
mi disini justru baik-baik ki semua.”
Menurut penuturan warga pertama stereotip yang diketahui
mengenai suku Mandar itu masih tetap menjadi pengetahuan informan
tetapi faktor kedekatan dan kebiasaan yang diamati informan dalam
interaksinya dengan suku Mandar, informan memiliki stereotip lain
terhadap suku Mandar yaitu orang-orangnya dikenal taat beribadah
dan banyak memegang peranan dalam kegiatan keagamaan seperti
menjadi Imam atau ustad. Jadi faktor interaksi langsung dan
pengamatan mempengaruhi perubahan stereotip.
Penuturan informan kedua
“Kalau secara khusus kita lihat masyarakat misalnya Mandar,
baik ji, terbuka semua, kalau dibilang memang orang biasa
taunya kan Mandar dikenal karena ilmu-ilmu dotinya, kalo
saya tanggapanku saya tidak mau memvonis atau orang di
kasi sama rata.kayak saya ada sebagian orang bilang saya
begini tapi tetap ji kenapa juga banyak datang ke rumahku. Itu
juga orang Cina yang didepan itu banyak orang bilang tidak
baik ki tertutup orangnya, tapi kenapa bagus sama saya.
sering tiap hari datang kalau malam disini Saya tadi bilang
dari kitanya ji, bagaiman pendekatanta, komunikasinya mi.
Tidak bisa langsung vonis orang baru dikasi sama rata kita
pelan-pelan to.”
“Ini juga saya biasa kasi penyuluhan tentang KB di rumahnya
orang Mandar ini, awalnya suaminya marah-marah. Tapi
bagus pendekatanta komunikasi ta sopan akhirnya lama-lama
bisa ji juga menerima. Biasa juga ini kegiatan pembagian
beras RASKIN atau sembako ada protes-protes, tidak sampai
timbulji masalah besar antara warga ini dengan warga ini.
Saya tidak bilang kalau warga ini baik atau tidak karena
protes-protesnya.seperti saya bilang saya tidak mau sama
ratakan tergantung pribadinya orang to.”
Berdasarkan penuturan informan kekedua, dapat disimpulkan
bahwa cara informan dalam menanggapi stereotip negatif yaitu
dengan tidak mengeneralisir stereotip terhadap suku Mandar
merupakan faktor utama tidak berkembangnya stereotip negatif
terhadap suku Mandar.
Penuturan informan ketiga
“Meskipun saya tahu dari orang-orang kalau banyak dotidotinya mungkin itu dulu tapi selama ka tinggal disini belum
pernah lihat langsung cuma cerita ji saya dengar.Sekarang
mungkin antara percaya tidak percaya mi karena lima belas
tahun ma tinggal disini. Saya kenal orang Mandar justru
bagus agamanya, bagus persatuannya, kebersamaannya,
kalau cerita biasa yang lucu-lucu.”
Berdasarkan penuturan informan ketiga bahwa melemahnya
stereotip negatif terhadap suku Mandar disebabkan oleh faktor
kebenaran stereotip itu sendiri. Informan belum pernah melihat secara
langsung kebenaran ilmu doti yang distereotipkan terhadap suku
Mandar, Justru menurut pengamatan informan suku Mandar orangorangnya taat beribadah.
“Makanya kalau saya, kita perlu perbaiki cara bicara sama
orang, jangan menyinggung perasaannya orang to biar
Mandar atau suku lain, karena biasa kalo misalnya kena yang
begituan kan dari kita yang bikin sakit hati.Yah yang nacerita
orang kan yang mungkin pernah mereka lihat makanya itu mi
nabesar-besarkan, yang jelas saya tidak pernah lihat apalagi
lama ma sama-sama orang Mandar disini. Itu mi kita jadikan
dasar ta berhubungan sama orang, sopan ki, hargai orang
kalo bicara. Saya biar dimana dikegiaan-kegiatan atau kalau
duduk sore-sore sering saya terapkan biar dimana bukan
hanya disini kalau ditempatnya orang harus memang dikasi
begitu.”
Dari penuturan informan selanjutnya memperlihatkan bahwa
stereotip negatif yang berkembang menjadi sebuah prinsip atau
landasan bagi informan dalam bekomunikasi. Informan memandang
perlu adanya sikap sopan dalam bertutur dan tidak menyakiti hati
ketika menyampaikan sesuatu kepada orang lain, karena anggapan
informan bahwa ilmu sihir itu dapat terjadi ketika kita melukai
perasaan orang lain.
Penuturan informan keempat
“Kalau dikatakan bahwa suku Mandar orang-orang sportif,
gampang tersinggung, agamanya bagus dan tutur sapa yang
lembut karena faktor kebersamaan itu tadi Saya mengatakan
sportif karena yang saya alami bersama teman-teman dari
mandar sewaktu berteman dengan mereka kalau ada masalah
dia berani menghadapi satu lawan satu, bukan panggil teman
baru berani Ini kan kebanyakan yang saya liat kalau ada
masalah ajak teman baru berani. Kalau Mandar tidak, satu
lawan satu.”
“Masalah gampang tersinggung tadi memang cepat tapi
mereka cepat juga menyadarinya saya berfikir bahwa faktor
pengetahuan agamanya dan nilai-nilai budaya mereka pegang
sehingga ada kesadaran, bukan hanya orang Mandar tapi
Bugis juga seperti itu apalagi Bugis, Makassar dan Mandar
ada persamaan dari segi budaya. Mesjid juga sebagai salah
satu tempat melakukan kegiatan keagamaan maupun kegiatan
lain juga keterlibatan orang mandar, terlihat hal-hal seperti
itu.”
“Tentunya kita juga tidak terlepas melihat Mandar yang
seperti apa dulu karena mungkin ada perbedaan Mandar yang
ada di kota dan didesa,kalau melihat Mandar yang ada dikota
yang sudah banyak mendapatkan pengaruh pendidikan,
teknologi dan lain sebagainya maka tidak boleh disamakan
penggambarannya. bisa kita lihat bagaimana orang Mandar di
Makassar sudah hampir sama dengan warga Makassar dalam
dialeknya ketika menggunakan bahasa Indonesia.”
“Kemudian orang yang memberikan gambaran juga latar
belakangya perlu diperhatikan.Misalnya kan orang Mandar
dikenal dengan mistisnya itu kan bagi orang yang percaya hal
itu.Tapi kalau macam saya, pola pikir saya dipengaruhi
pendidikan dan agama kan sudah tentu beda menaggapinya.”
Dari penuturan informan bahwa faktor pengalaman pribadi,
latar belakang pendidikan dan pemahaman agama sangat berpengaruh
dalam melihat penggambaran suku Mandar saat ini.Informan melihat
bahwa keberadaan suku Mandar yang ada diperkotaan tentunya sudah
dipengaruhi oleh pendidikan dan teknologi.Oleh karena itu menurut
informan anggapan tentang ilmu sihir (doti) tidak cocok lagi
digambarkan terhadap suku Mandar.
Penuturan Informan Kelima
“Ada ma 12 tahun tinggal disini selama ini saya lihat
alhamdullah kemasyarakatannya bagus, agamanya juga bagus
artinya yang kita liat agamanya mi itu yang kasi anu ki bilang
tidak ada ji yang begitunya paeng, menutupi mi ceritanya.
Kalau dibilang prasangka atau yang seperti menilai tidak baik
karena ada begitunya, tidak ada. karena saya lihat orangorang disini, orang Mandar terbukaki semua, bagus
komunikasinya enak diajak cerita-cerita. Kalo orang jual
mahal diajak cerita yah malu-malu tong ki tapi kalo baik sama
kita, kita juga baik.Itu yang saya liat selama tinggal disini.”
“Mungkin dibawa kedirita lagi, bukan ji masalahnya dari
ilmu-ilmu apa to karena semua daerah ada begitunya, tapi
semua Tuhan yang atur. Kalau belum pi ki paham memang
menanggapi yang beigituan, yah pasti mi ada kaya
kekawatiranta untuk bicara atau berhubungan, tapi coba kita
serahkan sama Tuhan apalagi baik niat membangun
silaturahmi insyallah baik-baik ji semua itu. Makanya kita
warga disini supaya tetap ki dijaga kemasyarakatannya kita
sering-sering silaturahmilah.”
Dari penuturan informan kelima dapat disimpulkan bahwa
faktor pengetahuan dan keyakinan nilai-nilai agama serta perilaku
yang ditunjukan oleh warga suku Mandar berpengaruh terhadap
perkembangan stereotip. Stereotip yang ada pada suku Mandar
berubah berdasarkan cara informan menanggapi dengan konteks
agama. Perubahan stereotip informan juga disebabkan kebiasaan dan
prilaku warga suku Mandar yang terlihat oleh informan menutupi
penggabaran suku Mandar yang diketahui sebelumnya.
B. Pembahasan
B.1 Perkembangan Stereotip
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, secara umum
stereotip memiliki empat dimensi yaitu Arah (direction) arah penilaian,
baik penilaian positif atau negatif. Intensitas, yaitu seberapa kuat dan
lemahnya keyakinan dari suatu stereotip. Ketepatan, artinya kebenaran
dari streotip, pernah terjadi atau sama sekali tidak pernah terjadi. Isi
khusus, yaitu sifat-sifat khusus atau karakter tertentu mengenai suatu
kelompok yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Berikut akan dijelaskan perkembangan stereotip suku Bugis
terhadap suku Mandar berdasarkan keempat dimensi tersebut:
Arah (direction)
Hasil analisis data yang telah diperoleh di lokasi penelitian,
secara umum dapat disimpulkan bahwa arah stereotip mengalami
perkembangan yakni dari penilaian negatif menjadi penilaian positif.
Dengan adanya perubahan penilaian tersebut tentunya akan mempegaruhi
dampak stereotip pada komunikasi antarbudaya masyarakat suku Bugis
dan suku Mandar, adapun dampak stereotip yang dimaksud adalah
prasangka yang memungkinkan kurangnya intensitas dan kualitas
interaksi.
Penilain positif terhadap suku Mandar juga secara langsung
memberikan peluang terhadap kemudahan dalam melakukan komunikasi
antarbudaya. kemudahan-kemudahan itu dapat berupa keinginan dan
keberanian untuk memulai berkomunikasi. Hal ini dapat dilihat dari
aktifitas komunikasi informan dengan suku Mandar dalam kehidupan
sehari-hari mereka, informan secara rutin sengaja meluangkan waktunya
untuk berkomunikasi dengan suku Mandar.
Adanya kesengajaan untuk melakukan komunikasi juga dapat
diindikasikan sebagai bukti telah terjadi hubungan yang baik antara
masyarakat suku Bugis dengan suku Mandar. Hal ini dilihat dari
penuturan informan kedua secara tegas mengatakan bahwa informan
lebih memilih berkomunikasi dengan suku Mandar dibanding suku
lainnya.
Intensitas
Intensitas diartikan seberapa kuat dan lemahnya keyakinan dari
suatu stereotip. Stereotip suku Bugis terhdap suku Mandar yang
menggabarkan suku Mandar memiliki ilmu sihir (doti) yang dapat
melembekkan kepala seseorang memang sempat menjadi keyakinan yang
cukup kuat pada beberapa informan.
Hal tersebut disebabkan kurangnya pengatahuan dan interaksi
langsung informan dengan suku Mandar, ditambah lagi dengan sikap
informan yang menerima begitu saja dan sedikit melakukan usaha
mencari pengetahuan tentang suku Mandar ketika stereotip negatif
diterima dari keluarga maupun teman informan. sebagaimana pandangan
dovido, Evans, & Tyler dalam Baron bahwa Informasi yang sesuai
dengan stereotip diaktifkan sering diproses lebih cepat dan diingat lebih
baik daripada informasi yang berhubungan dengan hal lain. penjelasan
tersebut nampak jelas pada diri informan.
Dari penuturan semua informan bahwa keyakinan mengenai
stereotip negatif yang berkembang menjadi lemah. Hal ini disebabkan
dari kebenaran stereotip itu sendiri, stereotip negatif yang berkembang
tidak pernah dialami dan diamati secara langsung oleh informan selama
bersama dengan suku Mandar melainkan hanya sebatas isu yang
kebenarannya masih diragukan.
Lemah dan kuatnya keyakinan terhadap stereotip berpengaruh
besar terhadap komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya tidak
akan terjadi jika salah satu orang atau keduanya yang terlibat dalam
komunikasi memiliki keyakinan yang kuat terhadap stereotip negatif
yang dimiliki anggota kelompok, keyakinan yang kuat itu justru hanya
akan menjadi penilaian negatif terhadap masing-masing pihak yang
terlibat komunikasi.
Menurut Werner dan Tankard (2008:177) bahwa keyakinan
sangat terkait dengan sikap seseorang terhadap sesuatu seperti seseorang
yang yakin bahwa anggota kelompok ras tertentu kurang cerdas mungkin
akan memperlakukan orang-orang tersebut dengan cara berbeda. Dalam
penjelasan tersebut kita dapat melihat seberapa besar pengaruh keyakinan
pada stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar, misalnya informan
pertama dan kelima sempat merasa kawatir untuk berkomunikasi dan
mengannggap suku Mandar itu berbahaya karena memiliki ilmu sihir
(doti), tetapi ketika keyakinan tersebut melemah, perlakuan mereka pun
berubah tidak ada lagi kekawatiran dan anggapan negatif terhadap suku
Mandar.
Ketepatan
Aspek ketepatan ini sangat berpengaruh terhadap intensitas dan
arah stereotip karena ketepatan terkait dengan kebenaran akan setereotip
itu sendiri. Keyakinan akan semakin kuat terhadap stereotip jika
mengandung nilai kebenaran atau pernah terjadi. Judd, Ryan & Parke
dalam Byrne (2003:230) memberikan pengertian terhadap stereotip
sebagai kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan
keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan karakter tertentu yang
mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompok. Dalam
pengertian ini bahwa sebagaian stereotip keberadaannya masih diragukan
artinya hanya sebatas dugaan atau kemungkinan yang digenaralisir
kepada semua anggota kelompok dan belum tentu pernah terjadi.
Dari kelima informan yang telah diwawancarai, kelima informan
belum pernah melihat secara langsung mengenai stereotip negatif yang
berkembang, stereotip tersebut diperoleh dari penuturan orang terdekat
informan seperti keluarga dan teman tanpa ada pengalaman secara
langsung.
Isi khusus
Isi khusus merupakan sifat-sifat khusus atau karakter tertentu
mengenai suatu kelompok yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Aspek ini dapat dikatakan sebagai bentuk stereotip secara umum karena
stereotip diartikan sebagai penggambaran mengenai suatu kelompok akan
karakter atau sifat yang dimiliki kelompok tertentu.
Dimensi ini juga terkait dengan arah penelian informan terhadap
suku Mandar, artinya penilaian tersebut diperoleh dari penggambaran
suku Bugis terhadap karakter atau sifat yang terlihat oleh suku Bugis
sehingga penggambaran karakter akan berubah berdasarkan pengamatan
informan.
Hal ini dapat ditemukan dari penuturan para informan mengenai
karakter dan sifat orang Mandar yang selama ini mereka amati yaitu
terbuka, ramah, solidaritas yang kuat, taat beribadah ataupun cepat
tersinggung. Sangat berbeda dengan penggambaran yang sebelumnya
mereka ketahui ketika belum melakukan interaksi langsung yaitu suku
Mandar diketahui sebagai suku yang memiliki ilmu sihir pelembekan
kepala.
Interaksi langsung yang kemudian mempengerahui intensitas dan
kualitas interaksi dalam kurung waktu yang lama secara langsung
mempengaruhi perubahan stereotip terhadap suku Mandar. Pengalamanpengalaman yang dialami bersama-sama dalam kehidupan bermasyarakat
menimbulkan pengetahuan-pengetahuan baru, hal ini sesuai dengan
anggapan Jhonson dalam Liliweri (2005:209) bahwa stereotip tebentuk
karena adanya pengetahuan dan pengalaman bersama.
Akibat dari perubahan penggambaran karakter atau sifat tersebut
tetunya akan menjadi generalisasi terhadap orang Mandar lainnya
meskipun itu tidak semua penggambaran tersebut dimiliki oleh orang
Mandar yang berada diwilayah lain. Hal ini dikarenakan individu yang
menjadi anggota kelompok diasumsikan memiliki karakteristik, ciri khas
kebiasaan bertindak yang sama dengan kelompok yang digeneralisasi.
(Miles dan Brown dalam liliweri 2005:208)
Perubahan penggambaran karakter atau sifat khusus juga secara
langsung mempengaruhi komunikasi antarbudaya. Dengan adanya
penggambaran sifat dari suku Mandar yang terbuka yang artinya
menerima keberadaan orang lain maka suku Bugis tidak perlu merasa
kawatir dalam memulai komunikasi. Sikap ini sesuai dengan The 5
Invetable Laws of Effective Communication (Lima Hukum Komunikasi
Efektif) yang sekaligus menjadi dasar dalam membangun komunikasi
antarbudaya secara efektif diantaranya adalah Respect dan Clarity.
Respect diartikan sikap menghargai dan Clarity selain diartikan sebagai
kejelasan dari pesan juga dimaknai sebagai sikap terbuka yang harus
dimiliki oleh orang yang terlibat dalam komunikasi (Suranto 2010:196).
Secara sederhana perkembangan stereotip suku Bugis terhadap
suku Mandar dapat digambarkan dalam tabel berikut ini:
Stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar sebelum melakukan interaksi
secara langsung dengan suku Mandar
Dimensi Stereotip
Informan
Isi Khusus
I
Ketepatan
Memiliki Ilmu Tidak
sihir (doti)
pernah Kuat
Memiliki ilmu Tidak
pernah
Negatif
terjadi
Lemah
Negatif
Memiliki ilmu Tidak
pernah Lemah
Negatif
terjadi
Memiliki ilmu Tidak
V
Negatif
Lemah
sihir (doti)
IV
Arah
terjadi
II
III
Intensitas
sihir (doti)
sihir (doti)
terjadi
Memiliki ilmu Tidak
sihir (doti)
pernah
pernah
Lemah
Negatif
terjadi
Gambar III: Tabel stereotip suku Bugis sebelum terjadi interaksi
dengan suku Mandar
Stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar setelah melakukan
interaksi secara langsung dengan suku Mandar
Dimensi Stereotip
Informan
Isi Khusus
Ketepatan
Intensitas
Arah
I
Taat beribadah
Terjadi
Kuat
Positif
II
Terbuka
Terjadi
Kuat
Positif
III
Taat
Terjadi
Kuat
Positif
Terjadi
Kuat
Positif
beribadah,
terbuka dan solidaritas
kuat
Cepat
IV
tersinggung,
solidaritas kuat, tutur
kata sopan
V
Solidaritas
beribadah
Dan negatif
kuat,taat
dan
Terjadi
Kuat
baik
dalam berkomunikasi
Gambar IV: Tabel stereotip suku Bugis sebelum terjadi
interaksi dengan suku Mandar
Positif
Dari pernyataan informan yang telah dirampungkan dan
kemudian dianalisis bahwa secara umum stereotip menurut peneliti tidak
selamanya diikuti oleh prasangka negatif sebagaimana yang diungkapkan
beberapa informan ketika menerima stereotip sebagai informasi, cara
menanggapi baik itu positif atau negatif terhadap stereotip yang
berkembang adalah faktor yang mempengaruhi arah stereotip menjadi
prasangka.
Dalam
hal
ini
dimensi-dimensi
stereotip
menjadi
pertimbangan dalam menanggapi stereotip yang berkembang.
B.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan stereotip
1. Faktor Lingkungan sosial (Sumber stereotip diperoleh)
Dari hasil pemaparan beberapa informan, dapat diketahui
bahwa stereotip yang terbentuk dalam diri informan terhadap suku
Mandar dipengaruhi dari sumber stereotip yaitu diketahui baik dari
keluarga ataupun orang lain. Dari kelima informan, empat
diantaranya mengetahui stereotip dari teman dan orang tua, peneliti
mengamati pengaruh lingkungan ini sangat mempengaruhi intensitas
stereotip dalam diri informan yaitu kuat atau lemahnya keyakinan
terhadap stereotip. Hal tersebut dapat dilihat pada informan pertama,
keyakinan informan pertama terhadap stereotip sangat kuat terhadap
suku Mandar dikarenakan informasi tersebut langsung diketahui dari
orang tua informan.
Pada
informan
keempat
juga
menilai
aspek
lokasi
(lingkungan) dalam memberikan penggambaran terhadap suku
Mandar, terdapat perbedaan antara suku Mandar yang berada di desa
dan di kota. Informan melihat bahwa suku Mandar di kota sudah
banyak mendapatkan pengaruh pendidikan, teknologi dan pergaulan
dengan lingkungan sekitar sehingga penggambaran akan ilmu doti
terhadap suku Mandar tidak sesuai lagi dengan yang digambarkan
pada saat ini.
2. Faktor Persepsi
Dari penuturan informan yang telah diteliti, persepsi
memiliki pengaruh dalam pembentukan dan perkembangan stereotip
terhadap suku Mandar. Persepsi akan menentukan arah, intensitas,
ketepatan, dan isi khusus stereotip. Arah stereotip ini akan merujuk
pada penilain positif atau negatif, intensitas merujuk pada seberapa
kuat atau lemahnya keyakinan terhadap stereotip, ketepatan merujuk
pada kebenaran dari stereotip yang berkembang dan isi khusus
perubahan stereotip.
Proses persepsi ini diawali dengan proses indrawi atau
fisiologi, terstimulus dengan yang dilihat, didengar, dicium dan
dirasakan, kemudian ransangan yang melalui proses indrawi akan
terproses
dalam
kategori
memilih,
mengorganisasikan
dan
mengiterpretasikan sehingga seseorang dapat memberikan makna
terhadap stimulus yang diterima.
Informasi-informasi yang diterima oleh para informan
mengenai suku Mandar sebelum informan berinteraksi langsung
dengan suku tersebut adalah stimulus yang diterima dari lingkungan
sosial dan pada akhirnya mengarahkan informan untuk melakukan
penilaian,
tentunya
informasi
ini
dimulai
dari
pemilihan,
pengorganisasian dan pada akhirnya memberikan pemaknaan dari
informasi yang diterima.
Pada informan kedua dan kelima misalnya secara jelas
memberikan pemaparan bahwa cara mereka menanggapi stereotip
yang telah terbentuk menjadi dasar untuk berprilaku dalam
berkomunikasi. Pada informan kelima keyakinan nilai-nilai agama
berpengaruh
dalam
proses
pemilihan,
pengorganisasian
dan
pemberian makna terhadap stereotip, sehingga menghasilkan sikap
terbuka dalam komunikasi.
Untuk informan pertama, ketiga dan kelima pengamatan
menjadi penentu dalam pembentukan dan perkembangan stereotip
terhadap suku Mandar, pengamatan tersebut adalah proses indrawi
yang merupakan bagian proses persepsi. Dalam hal ini suku Mandar
kesehariannya memiliki peranan penting dalam aktifitas keagamaan.
Peranan dalam aktifitas keagamaan inilah menjadi stimulus yang
nampak dominan dibanding stimulus lainnya. Sehingga pada
akhirnya membentuk kesan positif terhadap suku Mandar yang juga
merupakan intepratasi dari hasil pengamatan.
Kesan yang terbentuk dari prespesi warga suku Bugis adalah
kesan positif. Penilain religius terhadap suku Mandar tidak lepas dari
perilaku-perilaku yang ditampakan warga suku Mandar itu sendiri.
Sehingga perlu ditekankan bahwa warga suku Mandar memiliki
porsi besar dalam pembentukan dan perkembangan stereotip suku
Bugis. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa stereotip tidak hanya
dikembangkan
oleh
kelompok
yang
menstereotipkan
tetapi
kelompok yang distereotipkan pun memiliki peran.
Sehubungan dengan hal tersebut maka dapat diasumsikan
bahwa jika berkembang suatu stereotip negatif terhadap suatu
kelompok maka stereotip tersebut tidak seharusnya ditampakkan
dengan perilaku yang bisa menguatkan stereotip. Sebaliknya jika
stereotip positif yang berkembang terhadap suatu kelompok maka
kelompok yang distereotipkan harus menunjukkan perilaku yang
sesuai dengan stereotip positif.
Proses persepsi ini juga terkait dengan fungsi dari stereotip
yang dikemukakan oleh Wyer dan Srull, bahwa stereotip berfungsi
sebagai skema yang merupakan kerangka kognitif untuk mengatur,
menafsirkan dan mengingat informasi. Sehubungan dengan hal
tersebut maka stereotip yang sebelumnya berkembang dan telah
menjadi acuan atau landasan bagi informan dalam berkomunikasi
dengan suku lainnya adalah fungsi stereotip sebagai skema dalam
aktifitas kerangka kognitf. Cara informan menyampaikan pesan
dengan menjaga tutur kata dan sopan dalam menyampaikan pesan
adalah hasil dari penafsiran stereotip.
Selain fungsi stereotip yang berkaitan dengan persepsi,
persepsi juga berkaitan dengan teori interaksi simbolik yang
memberikan penjelasan mengenai kerangka kerja kognitif (pikiran)
dalam kemampuannya dalam menggunakan dan memaknai simbol.
Tentunya hal ini penggambaran positif dari pengamatan suku Bugis
terhadap kebiasaan dan peran dalam aktifitas keagamaan
suku
Mandar adalah hasil pemaknaan dari simbol-simbol yang diamati.
Simbol-simbol yang diamati disini adalah kebiasaan, peran dan
status yang dipegang suku Mandar dalam kehidupan beragama.
Sebagaimana hal ini ditegaskan Mead dalam Stephen dan
Karen (2009:233) bahwa gerak tubuh sebagai simbol signifikan,
gerak tubuh yang dapat mengacu pada setiap tindakan yang dapat
memiliki makna, hal ini biasanya verbal atau berhubungan dengan
bahasa, tetapi dapat juga berhubungan dengan non verbal.
3. Faktor Interaksi Langsung
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan informan kedua
dan keempat bahwa faktor interaksi langsung dengan warga suku
Mandar juga dapat mempengruhi stereotip suku Bugis terhadap suku
Mandar yaitu arah penilaian negatif ke positif. Hal tersebut dapat
dilihat dalam aktifitas informan dalam memberikan penyuluhan dan
keterlibatan informan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
bersama suku Mandar. Terlebih lagi dengan adanya pemahaman dan
kepandaian informan dalam menggunakan bahasa Mandar semakin
mempermudah informan untuk memahami masyarakat Mandar.
Interaksi secara langsung ini memeberikan peluang untuk
melakukan komunikasi baik secara personal maupun kelompok.
Karena dari proses komunikasi ini informan dapat memahami cara
yang seharusnya digunakan dalam menjalin hubungan dengan suku
Mandar. Komunikasi personal dan kelompok dapat dilihat dari
aktifitas rutin yang dilakukan informan kedua, ketiga dan kelima,
mereka sengaja meluangkan waktu untuk melakukan komunikasi
dengan suku Mandar dilingkungan sekitar mereka.
Hal tersebut secara berlahan menepis kebenaran stereotip
negatif yang berkembang sebelumnya, terlebih stereotip tersebut
belum pernah dialami atau diamati secara langsung oleh informan.
Interaksi secara secara langsung justru memberikan pemahaman baru
warga suku Bugis terhadap penggambaran suku Mandar yang
kemudian digeneralisir pada semua orang Mandar.
Selain itu interaksi langsung juga membangun hubungan
yang akrab sehingga intensitas dan kualitas interaksi semakin baik,
hal demikian menjadikan suku Bugis dan Mandar memiliki
pengalaman yang dialami secara bersama-sama dalam hidup
bermasyarakat sehingga mereka dapat saling memahami akan
karakter budaya masing-masing.
4. Faktor Unsur Kebudayaan (Keyakinan, Nilai, Sikap Dan
Organisasi Sosial)
Stereotip yang terbentuk melalui informasi yang diterima
oleh informan sebelum berinteraksi secara langsung dengan suku
Mandar memperlihatkan keyakinan, nilai dan sikap menentukan
perkembangan stereotip. Dari pemaparan informan kelima bahwa
stereotip yang terbentuk dan berkembang pada suku Mandar telah
dimaknai melalui landasan keyakinan agama yakni agama Islam
yang mengajarkan keyakinan kepada Tuhan yang maha esa serta
pemahaman akan pentingnya menjaga hubungan sesama manusia.
Hasil dari pengamatan bahwa keyakinan, nilai dan sikap
mempengaruhi stereotip terhadap suku Mandar memiliki persamaan
dengan hasil penelitian prasangka etnik di PT Freeport yang
dilakukan Westy. Kepercayaan terhadap agama ternyata menjadi
elemen kognitif pada suku Amungme sehingga tidak menimbulkan
prasangka yang berkelanjutan dimana agama Kingmi (Kristen versi
Amungme) mengajarkan untuk menghormati perjanjian dengan
orang lain, termasuk perjanjian yang pernah diadakan oleh kepalakepala suku mereka sendiri pada tahun 1970-an yang secara adat
telah menyerahkan hak-haknya kepada PT Freeport Indonesia
(Westy dalam Sarwono 2006:35).
Sikap
terbuka
dari
suku
Mandar
dengan
menerima
keberadaan orang lain adalah stereotip yang juga berkembang
sekaligus dapat dikategorikan dalam unsur budaya. Dari hal tersebut
antara warga suku Bugis dan suku Mandar menjadikan sikap terbuka
sebagai landasan untuk menjalin hubungan yang akrab guna
menciptakan kebersamaan dan persaudaraan yang kuat. Hal ini
ditunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dengan adanya
keterbuakaan
tersebut
telah
menghilangkan
batasan-batasan
keraguan untuk melakukan komunikasi sekaligus menciptakan
kesepahaman dalam berkomunikasi.
Sikap terbuka menurut peniliti merupakan “konsep diri” yang
dimiliki oleh individu dan hal ini dijelaskan dalam teori interaksi
simbolik oleh Mead dalam dalam West dan Tunner (2008) bahwa
Konsep diri terbentuk dari penilaian orang lain yakni seperti apa
individu memandang diri mereka sendiri berdasarkan pandangan
orang lain. Jadi lingkungan kelompok yang memperlihatkan simbol-
simbol, memberikan pengaruh terhadap penilaian terhadap diri
individu
sehingga akan memunculkan kecenderungan untuk
melakukan tindakan yang sama dengan kelompok.
Organisasi sosial juga memiliki peranan dalam perkembangan
stereotip. Dari kelima informan yang diteliti semuanya pernah aktif
dalam aktifitas organisasi sosial baik itu orgnisasi yang bersifat
pelayanan
masyarakat
atau
keagamaan.
Peneliti
mengamati
organisasi sosial tersebut berfungsi sebagai wadah sosialisasi yang
didalamnya terdapat proses saling memahami satu sama lain
sehingga menimbulkan kesepahaman, saling menghargai, dan
menciptakan solidaritas antarsuku. Namun disisi lain organisasi
sosial juga menjadi tempat stereotip itu diwariskan misalnya pada
informan pertama, mengetahui stereotip dari lingkungan keluarga.
Saling menghargai dan rasa solidaritas kuat yang dimiliki
anatara suku Mandar dan suku Bugis saat ini merupakan wujud dari
nilai budaya masyarakat Bugis Makassar itu sendiri itu yaitu
sipakatau (saling menghargai) dan Pesse (solidaritas, kebersamaan).
Hal ini seringkali dikemukakan oleh beberpa informan yang
mengedepankan dan menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan
sehari-hari guna menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini telah dilakukan terhadap lima warga suku Bugis yang
berdomisili di jalan Rajawali kelurahan Lette kecamatan Mariso kota
Makassar. Berdasarkan lokasi tempat tinggal kelima warga tersebut, peneliti
dapat mengamati interaksi dan proses komunikasi antarbudaya dalam aktifitas
keseharian mereka dengan suku Mandar.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat stereotip yang berkembang pada
suku Bugis terhadap suku Mandar, serta ditemukan pula faktor-faktor yang
mempengaruhi berkembangnya stereotip dalam komunikasi antarbudaya. Hal
tersebut dapat dijelaskan dalam kesimpulan sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1. Stereotip yang terbentuk pada masyarakat suku Bugis di kota
Makassar mengalami perkembangan positif. Perkembangan tersebut
dapat diukur dari empat dimensi stereotip yakni arah penilaian dari
penilaian negatif ke postif, intensitas yakni stereotip negatif terhadap
suku Mandar melemah dan stereotip positif menguat, ketepatan adalah
kebenaran akan stereotip negatif tidak pernah terjadi atau tidak pernah
dialami secara langsung dan isi khusus yaitu terbentuk penggambaran
baru mengenai suku Mandar yakni orang-orang suku Mandar taat
beribadah, memiliki sikap terbuka, tuturkata sopan, memiliki rasa
solidaritas tinggi dan cepat tersinggung.
2. Terbentuknya stereotip pada masyarakat suku Bugis terhadap suku
Mandar disebabkan beberapa faktor: pertama adalah lingkungan
sosial, yaitu sumber stereotip itu diterima sebagai pesan atau
informasi, baik itu dari keluarga atau pun orang lain. kedua adalah
persepsi, dalam
Hal ini terkait dengan pengamatan suku Bugis
terhadap perilaku suku Mandar dalam kehidupan sehari-hari serta
pemaknaan dari masyarakat suku Bugis mengenai stereotip yang
berkembang. ketiga adalah interaksi langsung yaitu terbentuknya
peluang untuk melakukan komunikasi baik secara personal maupun
kelompok sehingga antara suku Mandar dan suku Bugis dapat saling
memahami. keempat adalah unsur kebudayaan seperti kepercayaan,
nilai, sikap dan lembaga sosial. Unsur kepercayaan, nilai dan sikap
merupakan unsur yang mempengaruhi cara berpikir dalam merespon
stereotip yang diterima, sedangkan lembaga sosial menjadi wadah
pertemuan dan sosialisasi antara suku Bugis dan suku Mandar
sehingga mereka dapat saling memahami dan terbangun hubungan
yang harmonis.
B. Saran
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ilmu
komunikasi khususnya dalam komunikasi antabudaya. Adapun saran-saran
yang diberikan:
1. Stereotip yang berkembang akan mempengaruhi proses komunikasi
dalam kehidupan bermasyarakat khususnya bagi masyarakat yang
berlainan budaya, oleh karena itu kesadaran dan peran aktif untuk
saling memahami satu sama lain sangat diperlukan. Tentunya hal
tersebut dapat dimulai dengan sikap terbuka dalam komunikasi
antarbudaya.
2. Penelitian
yang
telah
dilakukan
dapat
dilanjutkan
dengan
pertimbangan bahwa stereotip dapat berkembang dan berubah,
khususnya pada perkembangan stereotip yang telah ditemukan
terhadap suku Mandar.
3. Stereotip-stereotip yang berkembang terhadap suatu kelompok suku
dan etnis yang arahnya negatif hendaknya tidak dipandang sebagai
penghambat dalam komunikasi melainkan dibutuhkan peran aktif
dan baik dalam menanggapi hal tersebut. Sebaliknya stereotip yang
mengarah pada penilaian positif hendaknya dijadikan sebagai
karakteristik suatu kelompok budaya sehingga penilaian terhadap
kelompok tersebut dapat mejadi kesan positif bagi kelompok lain.
4. Diperlukan cara pandang yang baik dari setiap anggota masyarakat
dalam melihat dan menaggapi stereotip yang berkembang baik
stereotip yang mengarah pada penialian positif ataupun negatif,
sehingga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dapat
tetap terjaga dan konflik horizontal yang menjadi kekawatiran
karena
adanya
kesalapahaman
kelompok
antarbudaya
dapat
ditanggapi dengan baik dan benar.
5. Diperlukan kesadaran akan pentingnya pemahaman unsur-unsur
Budaya baik itu kepercayaan, nilai-nilai dan sikap mengingat
pemahaman-pemahaman tersebut dapat memberikan pemahaman
dalam menaggapi stereotip yang mengandung dapak negatif. Selain
itu semangat untuk ikut serta dan aktif dalam lembaga-lembaga
sosial harus senantiasa ditingkatkan mengingat peranan lembaga
tersebut sebagai wadah pemersatu antar anggota masyarakat.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro & Bambang Q-anees.2007. Filsafat Ilmu Komunikasi.
Bandung : Simbiosa Rekatama Media
Baron, A Rupert & Donn Byrne. 2004. Psikologi Sosial. Edisi Kesepuluh.
Terjemahan oleh Ratna Djuwita & Melania Parman. Jakarta: Erlangga
Baron, A Rupert. 2006. Social Psychology. Eleventh edition. USA: Pearson
Cangara, Hafied. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Darmawan,
Mas’ud
Rahman.
Revitalisasi-Nilai-Budaya-Mandar.
http://Mustarimula.blogspot.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2012
pukul 19:00 WITA
Fathur. 2002. Mengelola Prasangka Sosial Dan Streotipe Etnik Keagamaan
Melalui Psychological And Global Education. Essai. Tidak diterbitkan.
Yogyakarta : Universitas Negri Yogyakarta
Gudykunts, William & Young kim. 1992. Communications With Strangers. New
York: Mc Graw Hill
Habib, Achmad. 2004. Konflik Antar Etnik Di Pedesaan. Yogyakarta: LKIS
Keesing, Roger. 1999. Antropologi Budaya (suatu Perspektif Kontemporer).
Jakarta : Erlangga
Koentjaraningrat. 1993. Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional.
Jakarta: UI Press
Kriyantono, Rachmat. 2006. Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Laporan akhir studio tata ruang II. 2012. kondisi Geografis dan demografi
Kelurahan Lette. Kota Makassar.
Liliweri, alo. 2005. Prasangka & konflik. Yogyakarta : LKIS
Littlejohn, W Stephen & Karen A Foss. 2009. Theories Of Human
Communication. Edisi kesembilan. Terjemahan oleh Mohammad Yusuf
Hamdan. Jakarta: Salemba Humanika
Maria, Jenny.2007. Komunikasi Lintas Budaya Antar Etnik Tionghoa dengan
Etnik Bugis Makassar dengan Integrasi Bangsa Pasca Orde Baru di
Makassar. Desertasi. Tidak diterbitkan. Makassar: FISIP Universitas
Hasanuddin.
Mattulada. 1997. Kebudayaan Kemanusiaan Dan Lingkungan Hidup. Makassar :
Lembaga Penerbit Universitas Hasanuddin
Mendatu, Achmanto. 2011. Mendefinisikan Prasangka. http://Blog PSIKOLOGI
Online/ diakses pada tanggal 3 januari 2012 Pukul 20.40 WITA.
Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi (Suatu Pengantar) Bandung: Rosda
---------------------. 2008. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Rosda
---------------------. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Bandung: Rosda
Ngeljaratan, Ishak. 2011. Sebuah Refleksi Kritis Tentang Mandar. http:/// sebuahrefleksi-kritis-tentang-mandar. Diakses pada tanggal 3 januari 2012 pukul
20.20 WITA.
Nurudin. 2008. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Perlas, Christian. 2006. Manusia Bugis. Jakarta : Nalar
Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Salemba
Rupert, Brown. 2005. Prejudice. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Santrock, W John. 2005. Psychology. Seventh edition. Texax: Mc Graw Hill
Sarwono, sarlito. 2006. Psikologi Prasangka Orang Indonesia. Jakarta: Raja
Grafindo
Sendjaja, Djuarsa & Ilya Sunarwinardi. 2008. Modul Komunikasi Antarbudaya.
Makassar :Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin
Severin, Werner & James W. Tankard. 2008. Teori Komunikasi :Sejarah, Metode,
& terapan di Dalam Media Massa. Edisi kelima. Terjemahan dari
Sugeng Hariyanto. Jakarta: Kencana
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: Bumi Aksara
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :
ALFABETA
Suranto Aw. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta : Graha Ilmu
Susan, Novri. 2010. Pengantar Sosiologi Konflik Dan Isu-Isu Konflik
Kontemporer. Jakarta: Kencana
Sternberg, J Robert. 2008. Psikologi Kognitif. Edisi keempat. Terjemahan dari
Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tri, Joko Prasetya. 1998. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Rineka Cipta
West, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Edisi
Ketiga. Terjemahan dari Maria Natalia. Jakarta: Salemba Humanika
Wilodati. 2012. Kesadaran Masyarakat Majemuk dan Kebhineka Tunggal Ika-an
Kebudayaan Di Indonesi. Jurnal. Tidak diterbitkan. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
LAMPIRAN
FOTO LOKASI PENELITIAN
(Aktifitas masyarakat kel Lette kec Mariso Makassar)
( Bersama warga dalam peringatan Isra mi’raj 1433 Hijriah/20 Juni 2012)
Stereotip suku Mandar di kota Makassar (Studi Komunikasi Antarbudaya
suku Bugis dan suku Mandar)
Pedoman wawancara
Nama
:
Umur
:
Pekerjaan
:
1. Sudah beralama anda tinggal di daerah ini?
2. Apakah di lokasi tempat tinggal anda juga dihuni oleh suku lain,
khususnya suku Mandar?
3. Apakah anda menyempatkan atau memiliki waktu untuk berkomunikasi
dengan suku lain, khususnya suku Mandar?
4. Bagamana menurut anda tentang suku Mandar?
5. Begaimana menurut anda tentang stereotip yang berkembang terhadap
suku Mandar?
6. Darimana anda mengetahui stereotip mengenai suku mandar?
7. Apakah stereotip mengenai suku Mandar mempengaruhi komunikasi anda
dengan suku Mandar?
8. Apakah anda memiliki pengalaman bersama dengan suku Mandar?
9. Apakah disini pernah terjadi konflik antarsuku?
10. Apa harapan anda terhadap keanekaragaman kelompok masyarakat yang
tinggal disini?
Download