analisis pengaruh cash position, debt to equity ratio, dan return on

advertisement
Efektif Jurnal Bisnis dan EkonomiEfektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
30
Juni 2015
Vol. 6, No 1, Juni 2015, 30 - 46
ANALISIS PENGARUH CASH POSITION, DEBT TO EQUITY
RATIO, DAN RETURN ON ASSETS TERHADAP DIVIDEND
PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI PT. BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE : 2010 -2013
Chusnul Khotimah
[email protected]
Sri Yuli Waryati
[email protected]
Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra Yogyakarta
ABSTRACT
This study is performed to analyse the effect of Cash Position, Debt to Equity Ratio
and Return On Assets toward Dividend Payout Ratio on manufacture companies listed
in PT. Indonesia Stock Exchange period 2010‐2013. The samples were collected using
the purposive sampling method and it has resulting 10 companies for the samples. This
study uses a quantitative approach with multiple regression analysis model. The results
of study indicate that all variables: Cash Position, Debt to Equity Ratio and Return
On Assets together had no significant effect on Dividend Payout Ratio. The result also
indicates that Return On Asset had a positive and significant effect to Dividend Payout
Ratio, while Cash Position and Debt to Equity Ratio had no significant effect to Dividend
Payout Ratio.
Keywords: Cash Position, Debt to Equity Ratio, Return On Assets, Dividend Payout
Ratio
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Pasar modal memiliki peranan
besar dalam perekonomian suatu negara
karena pasar modal menjalankan dua
fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi
dan fungsi keuangan. Pasar modal
dikatakan memiliki fungsi ekonomi
karena pasar menyediakan fasilitas
atau wahana yang mempertemukan dua
kepentingan, yaitu pihak yang memiliki
kelebihan dana (investor) dan pihak yang
memerlukan dana (emiten). Pasar modal
dikatakan memiliki fungsi keuangan
karena memberikan kemungkinan dan
kesempatan memperoleh imbal hasil
bagi pemilik dana, sesuai karakteristik
investasi yang dipilih. Dalam aktivitas
dipasar modal, para investor memiliki
harapan dari investasi yang dilakukannya,
yaitu berupa capital gain dan dividen
(Zulaiha, 2013 : 1).
Dividen diartikan sebagai pembayaran kepada pemegang saham oleh
perusahaan atas keuntungan yang
diperoleh
perusahaan.
Kebijakan
pembayaran dividen mempunyai pengaruh
bagi pemegang saham dan perusahaan
yang membayar dividen. Para pemegang
saham
umumnya
menginginkan
pembagian dividen yang relatif stabil
karena hal tersebut akan mengurangi
ketidakpastian akan hasil yang diharapkan dari investasi yang mereka
lakukan dan juga dapat meningkatkan
kepercayaan pemegang saham terhadap
Juni 2015
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
perusahaan sehingga nilai saham juga
dapat meningkat. Bagi perusahaan,
pilihan untuk membagikan laba dalam
bentuk dividen akan mengurangi
sumber dana internalnya, sebaliknya
jika perusahaan menahan labanya dalam
bentuk laba ditahan maka kemampuan
pembentukan dana internalnya akan
semakin besar yang dapat digunakan
untuk membiayai aktivitas perusahaan
sehingga mengurangi ketergantungan
perusahaan terhadap dana eksternal
dan sekaligus akan memperkecil risiko
perusahaan (Lisa dan Clara, 2009 : 1).
Kebijakan
dividen
perusahaan
tergambar pada dividend payout rationya yaitu persentase laba yang dibagikan
dalam bentuk dividen tunai, artinya
besar kecilnya dividend payout ratio
akan mempengaruhi keputusan investasi
para pemegang saham dan disisi lain
berpengaruh pada kondisi keuangan
perusahaan. Pertimbangan mengenai
dividend payout ratio ini diduga sangat
berkaitan dengan kinerja keuangan
perusahaan. Bila kinerja keuangan
perusahaan bagus maka perusahaan
tersebut akan mampu menetapkan
besarnya dividend payout ratio sesuai
dengan harapan pemegang saham dan
tentu saja tanpa mengabaikan kepentingan
perusahaan untuk tetap sehat dan tumbuh
(Lisa dan Clara, 2009 : 1).
Posisi kas atau likuiditas dari suatu
perusahaan merupakan faktor penting
yang harus dipertimbangkan sebelum
mengambil keputusan untuk menetapkan
besarnya dividen yang akan dibayarkan
kepada para pemegang saham. Oleh
karena dividen merupakan arus kas keluar
(cash out flow), maka makin kuatnya
posisi kas atau likuiditas perusahaan
berarti makin besar kemampuannya
membayar dividen (Riyanto, 2001). Hal
ini sejalan dengan apa yang diungkapkan
oleh (Sudarsih, 2002) yang menyatakan
31
bahwa bagi perusahaan yang memiliki
posisi kas yang lebih kuat maka akan
semakin besar kemampuan untuk
membayarkan dividen.
Faktor debt to equity ratio
juga perlu dipertimbangkan dalam
pembayaran dividen yang mana rasio ini
mencerminkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi seluruh kewajibannya
yang ditunjukkan oleh beberapa bagian
modal sendiri yang dipergunakan untuk
membayar hutang. Dalam hal ini dapat
dilihat jika perusahaan mempunyai
debt to equity ratio yang kecil berarti
perusahaan mempunyai kemampuan
yang tinggi untuk melunasi semua
kewajibannya, dan sebaliknya, jika
perusahaan mempunyai debt to equity
ratio yang lebih tinggi dibandingkan
ketersediaan modal sendiri yang dimiliki
berarti perusahaan yang bersangkutan
mempunyai kemampuan yang rendah
untuk memenuhi kewajibannya.
Return on assets menunjukkan
kemampuan modal yang diinvestasikan
dalam total aktiva untuk menghasilkan
laba perusahaan. Semakin tinggi return
on assets maka kemungkinan pembagian
dividen juga semakin banyak. Begitu
pula sebaliknya, semakin rendah return
on assets maka kemungkinan pembagian
dividen juga akan semakin sedikit. Pada
kondisi tertentu profitabilitas berpengaruh
positif terhadap dividen. Hal ini terjadi
bila perusahaan yakin memiliki kepastian
bahwa earning dimasa mendatang
terprediksi secara jelas (Sartono,
2001:54).
Dalam penelitian terdahulu yang
dilakukan (Sudarsi, 2002), dengan
judul “Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Dividend Payout Ratio
pada Industri Perbankan yang Listed
di Bursa Efek Jakarta(BEJ)” menguji
pengaruh cash position, return on assets
dan growth potential terhadap dividend
32
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
payout rasio. Hasil dari penelitian ini
menyebutkan bahwa cash position,
return on assets dan growth potential
tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap dividend payout ratio.
Lisa dan Clara (2009) melakukan
penelitian yang berjudul “Analisis
Pengaruh Cash Position, Debt to Equity
Ratio dan Return on Assets Terhadap
Dividend Payout Ratio” pada perusahaan
manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Cash Position dan Return on Assets
berpengaruh secara signifikan terhadap
Dividend Payout Ratio tetapi Debt to
Equity Ratio tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap Dividend Payout
Ratio.
Febrijani, Theresia dan Mujilan
(2013) menganalisis “Pengaruh return
on investment, current ratio, debt
to equity ratio, growth dan firm size
terhadap dividend payout ratio”. Hasil
penelitiannya yaitu return on investment
dan debt to equity ratio berpengaruh
positif terhadap dividend payout ratio
sedangkan growth berpengaruh negatif
terhadap dividend payout ratio. current
ratio dan firm size tidak memiliki
pengaruh secara signifikan terhadap
dividend payout ratio.
Berdasarkan fenomena yang telah
dipaparkan di atas, peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian terhadap
perusahaan manufaktur. Selain itu
nampak beberapa hasil penelitian
terdahulu yang tidak konsisten. Hal ini
sangat menarik peneliti untuk melakukan
penelitian ulang dengan mereplikasi
penelitian yang dilakukan Lisa Marlina
dan Clara Danica (2009). Atas dasar
alasan hasil yang tidak konsisten, peneliti
akan melakukan penelitian “Analisis
Pengaruh Cash Position, Debt to Equity
Ratio, dan Return on Assets Terhadap
Dividend Payout Ratio Pada Perusahaan
Juni 2015
Manufaktur Yang Terdaftar Di PT. Bursa
Efek Indonesia Periode 2010-2013”.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka identifikasi permasalahan penelitian
ini adalah terdapat perbedaan atau
research gap dari penelitian-penelitian
terdahulu yang menunjukkan hasil yang
berbeda-beda.
Dari identifikasi masalah di atas,
maka dapat diajukan pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1. Apakah Cash Position (CP)
mempunyai pengaruh secara parsial
terhadap DPR (dividend payout
ratio) pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di PT. Bursa Efek
Indonesia?
2. Apakah Debt to Equity Ratio (DER)
mempunyai pengaruh secara parsial
terhadap DPR (dividend payout
ratio) pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di PT. Bursa Efek
Indonesia?
3. Apakah Return on Assets (ROA)
mempunyai pengaruh secara parsial
terhadap DPR (dividend payout
ratio) pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di PT. Bursa Efek
Indonesia?
4. Apakah Cash Position (CP), Debt to
Equity Ratio (DER), dan Return on
Assets (ROA) mempunyai pengaruh
secara bersama-sama terhadap DPR
(dividend payout ratio) pada sektor
industri manufaktur yang terdaftar di
PT. Bursa Efek Indonesia?
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
1. Investasi dan Pasar Modal
Menurut
Tandelilin
(2001:3)
investasi adalah komitmen atas sejumlah
dana atau sumberdaya lainnya yang
Juni 2015
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
dilakukan pada saat ini, dengan tujuan
memperoleh sejumlah keuntungan di
masa datang. Seorang investor membeli
sejumlah saham saat ini dengan harapan
memperoleh keuntungan dari kenaikan
harga saham ataupun sejumlah dividen di
masa yang akan datang, sebagai imbalan
atas waktu dan risiko yang terkait dengan
investasi tersebut.
Istilah investasi bisa berkaitan
dengan berbagai macam aktivitas.
Menginvestasikan sejumlah dana pada
assets riil (tanah, emas, mesin atau
bangunan), maupun assets financial
(deposito, saham ataupun obligasi)
merupakan aktivitas investasi yang
umumnya dilakukan. Bagi investor yang
lebih pintar dan lebih berani menanggung
risiko, aktivitas investasi yang mereka
lakukan juga bisa mencakup investasi
pada aset-aset finansial lainnya yang lebih
kompleks seperti warrants, option dan
futures maupun ekuitas internasional.
Menurut Tandelilin (2001:13) pasar
modal adalah pertemuan antara pihak yang
memiliki kelebihan dana dengan pihak
yang membutuhkan dana dengan cara
memperjualbelikan sekuritas. Dengan
demikian, pasar modal juga bisa diartikan
sebagai pasar untuk memperjualbelikan
sekuritas yang umumnya memiliki umur
lebih dari satu tahun, seperti saham dan
obligasi. Sedangkan tempat dimana
terjadinya jual beli sekuritas disebut
dengan Bursa Efek. Oleh karena itu,
Bursa Efek merupakan arti dari pasar
modal secara fisik.
Pasar modal pada dasarnya bertujuan
untuk menjembatani aliran dana dari pihak
yang memiliki dana (investor), dengan
pihak perusahaan yang memerlukan dana
(untuk ekspansi usaha ataupun untuk
memperbaiki struktur modal perusahaan).
Sedangkan untuk kasus pasar modal
Indonesia, cakupan tujuan dan misi yang
diemban pasar modal Indonesia bersifat
33
lebih luas, sesuai dengan idealisme
bangsa Indonesia yang berusaha untuk
menjalankan
perekonomian
yang
berasaskan kekeluargaan (Tandelilin,
2001).
Untuk mewujudkan tujuan tersebut
ada tiga aspek mendasar yang ingin
dicapai pasar modal Indonesia, yaitu:
a. Mempercepat proses perluasan
partisipasi
masyarakat
dalam
pemilikan saham-saham perusahaan.
b. Pemerataan pendapatan masyarakat
melalui pemilikan saham.
c. Menggairahkan masyarakat dalam
mengerahkan dan penghimpunan
dana untuk digunakan secara
produktif.
Pada dasarnya, pasar modal
memang merupakan produk dari sistem
perekonomian kapitalis. Sedangkan
dalam proses sosialisasi pasar modal
di Indonesia, tujuan didirikannya pasar
modal sudah disisipi muatan idealisme.
Pasar modal Indonesia diharapkan mampu
memberikan alternatif sumber dana
eksternal yang berasal dari masyarakat
(investor) bagi perusahaan, sehingga
nantinya kredit sektor perbankan dapat
dialihkan untuk pembiayaan usaha
industri kecil dan menengah.
2. Dividen
Menurut Riyanto (2001:265) dalam
Zulaiha (2013) dividen merupakan
aliran kas yang dibayarkan kepada para
pemegang saham atau equity investors.
Keuntungan para pemegang saham
atau investor dapat berupa dividen dan
capital gain. Keuntungan yang didapat
dari selisih lebih antara harga jual saham
dengan harga beli saham disebut capital
gain. Hanafi (2008: 361) menyatakan
bahwa dividen merupakan kompensasi
yang diterima oleh pemegang saham
disamping capital gain. Dividen ini
34
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
untuk dibagikan kepada para pemegang
saham sebagai keuntungan dari laba
perusahaan. Menurut Ang (1997: 68)
dividen merupakan pendapatan bersih
setelah pajak dikurangi dengan laba
ditahan (retained earning) yang ditahan
sebagai cadangan perusahaan, maka
dapat disimpulkan bahwa dividen adalah
keuntungan yang dibagikan kepada
para pemegang saham sehubungan atas
keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Dividend payout ratio adalah dividen
kas tahunan dibagi dengan penghasilan
tahunan atau dividen per lembar saham
dibagi dengan laba per lembar saham
(Sabardi, 1994). Rasio ini menunjukkan
persentase penghasilan perusahaan yang
dibayarkan kepada pemegang saham
biasa perusahaan berupa dividen kas.
Apabila penghasilan perusahaan saat
ini ditahan dalam jumlah yang besar,
berarti penghasilan yang akan dibayarkan
sebagai dividen menjadi lebih kecil. Jadi,
aspek penting dari kebijakan dividen
perusahaan adalah menentukan alokasi
laba yang sesuai diantara pembayaran
dengan tambahan laba yang ditahan
perusahaan. Berdasarkan bentuk dividen
yang dibayarkan, dividen dapat dibedakan
atas empat jenis (Ang, 1997), yaitu:
a. Dividen Tunai (Cash Dividend)
Dividen tunai merupakan dividen
yang dibayarkan dalam bentuk uang
tunai. Tujuan dari emiten untuk
memberikan dividen dalam bentuk
tunai adalah untuk memacu kinerja
saham di bursa efek, yang juga
merupakan return (pengembalian
keuntungan) kepada para pemegang
saham.
b. Dividen Saham (Stock Dividend)
Dividen saham merupakan dividen
yang dibayarkan dalam bentuk
saham dengan proporsi tertentu.
Selain tujuan yang sama dengan
dividen tunai, juga bertujuan
Juni 2015
untuk
meningkatkan
likuiditas
perdagangan saham di bursa efek.
Kemungkinan perusahaan ingin
menurunkan nilai sahamnya guna
memperluas kepemilikan dan posisi
likuiditas perusahaan yang tidak
memungkinkan membagikan dividen
dalam bentuk tunai.
c. Sertifikat Dividen (Script Dividend)
Sertifikat dividen (script dividend)
merupakan dividen yang dibayarkan
dengan sertifikat atau promes yang
telah dikeluarkan oleh perusahaan
yang menyatakan bahwa suatu
waktu sertifikat itu dapat ditukarkan
dalam bentuk uang. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa sertifikat dividen
(dividend script) yaitu hutang dividen
dalam bentuk script atau pembayaran
dividen pada masa yang akan datang.
d. Property Dividend
Property dividend yaitu pembayaran
dividen dalam bentuk kekayaan
seperti barang dagangan, real estate
atau investasi dalam bentuk lain yang
dirancang oleh dewan direksi.
3. Bentuk-bentuk Kebijakan Dividen
Menurut Weston dan Brigham
dan Gapenski (1989) dividen yang
optimal adalah kebijakan dividen yang
menciptakan keseimbangan antara dividen
saat ini dan pertambahan di masa yang
akan datang sehingga memaksimalkan
harga saham perusahaan. Prosentase laba
yang dibayarkan sebagai dividen akan
berfluktuasi dari satu periode ke periode
lainnya seiring dengan jumlah peluang
yang diterima perusahaan. Dengan
dibayarkannya dividen maka diharapkan
perusahaan tersebut akan memiliki nilai
yang tinggi di mata investor. Selain itu
dengan pembayaran dividen yang terus
menerus, perusahaan mampu menghadapi
gejolak perekonomian dan mampu
memberikan hasil kepada para pemegang
saham.
Juni 2015
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
Menurut Riyanto (2001: 269)
ada beberapa kebijakan dividen yang
dilakukan oleh perusahaan yaitu:
a. Kebijakan Pembayaran Dividen yang
Stabil
Banyak perusahaan yang menjalankan
kebijakan
pembayaran
dividen
yang stabil, artinya jumlah dividen
per lembar yang dibayarkan setiap
tahunnya relatif tetap selama jangka
waktu tertentu meskipun pendapatan
per lembar saham pertahunnya
berfluktuasi. Dividen yang stabil ini
dipertahankan untuk beberapa tahun,
dan apabila ternyata pendapatan
tersebut tampak mantap dan relatif
permanen, barulah besarnya dividen
per lembar dinaikkan dan dividen
yang dinaikkan ini akan dipertahankan
dalam waktu yang relatif panjang.
Alasan yang mendorong perusahaan
menjalankan kebijakan dividen yang
stabil antara lain sebagai berikut:
1) Kebijakan dividen yang stabil
dapat memberikan kesan kepada
investor
bahwa perusahaan
tersebut mempunyai prospek
yang baik di masa mendatang.
2) Banyak pemegang saham yang
hidup dari pendapatan yang
diterima dari dividen. Golongan
ini dengan sendirinya tidak akan
menyukai adanya dividen yang
tidak stabil, dimana golongan ini
menginginkan kepastian dividen
yang dibayarkan.
b. Kebijakan Pembayaran Dividen
dengan Penetapan Jumlah Minimal
Plus Jumlah Ekstra Tertentu
Kebijakan ini menetapkan jumlah
rupiah minimal dividen per lembar
saham setiap tahunnya. Dalam
keadaan keuangan yang lebih baik
maka perusahaan akan membayarkan
dividen ekstra di atas jumlah minimal
tersebut. Bagi pemodal ada kepastian
35
akan menerima jumlah dividen yang
minimal setiap tahunnya meskipun
keadaan
keuangan
perusahaan
sedikit memburuk. Tetapi di lain
pihak jika keadaan keuangan baik
maka pemodal akan menerima
dividen minimal tersebut ditambah
dengan dividen ekstra. Jika keadaan
keuangan memburuk lagi maka
yang dibayarkan hanya dividen yang
minimal saja.
c. Kebijakan Pembayaran Dividen
dengan Penetapan Dividend Payout
yang Konstan
Perusahaan
yang
menjalankan
kebijakan ini menetapkan Dividend
Payout Ratio yang konstan misalnya
50%. Ini berarti bahwa jumlah dividen
per lembar saham tiap tahunnya yang
dibayarkan akan berfluktuatif sesuai
dengan perkembangan keuntungan
netto tiap tahunnya.
d. Kebijakan Pembayaran Dividen yang
Fleksibel
Perusahaan menetapkan Dividend
Payout
Ratio
besarnya
tiap
tahunnya disesuaikan dengan posisi
keuangan dan kebijakan finansial
dari perusahaan yang bersangkutan.
Apabila keuntungan tinggi maka
besarnya dividen yang dibagikan
relatif tinggi, dan sebaliknya jika
tingkat keuntungan rendah maka
besarnya dividen yang dibayarkan
juga rendah, atau dapat dikatakan
besarnya selalu proporsional dengan
tingkat keuntungan dividen yang
telah diumumkan oleh emiten
(dividen tunai dan dividen saham).
4. Teori Kebijakan Dividen
Menurut Sartono (2001: 282) ada
beberapa teori tentang kebijakan dividen
antara lain:
a. Teori Dividen adalah tidak Relevan
Teori
ini
dikemukakan
oleh
36
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Modigliani dan Miller (M.M).
Mereka berpendapat bahwa nilai
suatu perusahaan hanya ditentukan
oleh kemampuan dasarnya untuk
menghasilkan laba serta risiko
bisnisnya atau dengan kata lain
kebijakan dividen perusahaan tidak
mempunyai pengaruh baik terhadap
nilai perusahaan maupun biaya
modalnya.
b. Bird in the Hand Theory
Salah satu asumsi dari teori M.M
menyatakan
bahwa
kebijakan
dividen tidak mempengaruhi tingkat
keuntungan yang disyaratkan oleh
investor. Sementara itu menurut
Gordon
dan
Lintner
tingkat
keuntungan yang disyaratkan akan
naik apabila pembagian dividen
dikurangi, karena investor lebih
yakin terhadap penerimaan dividen
daripada kenaikan nilai modal
(capital gain) yang akan dihasilkan
dari laba ditahan.
c. Tax Differential Theory
Suatu teori yang menyatakan bahwa
jika capital gain dikenakan pajak
dengan tarif lebih rendah daripada
pajak atas dividen, maka saham
yang memiliki pertumbuhan tinggi
menjadi lebih menarik. Tetapi
sebaliknya jika capital gain dikenai
pajak yang sama dengan pendapatan
atas dividen, maka keuntungan
capital gain menjadi berkurang.
Juni 2015
d. Information Content atau Signalling
Hypothesis
M-M menyatakan bahwa reaksi
investor terhadap perubahan dividen
tidak berarti sebagai indikasi bahwa
investor lebih menyukai dividen
dibanding dengan laba ditahan atau
dengan kata lain teori ini menyatakan
bahwa
investor
menganggap
perubahan dividen sebagai pertanda
bagi perkiraan manajemen atas laba
(Weston dan Bringham,1989).
e. Clientele Effect
Teori menyatakan bahwa kelompok
(clientele) pemegang saham yang
berbeda akan memiliki preferensi
yang berbeda terhadap kebijakan
dividen
perusahaan.
Misalnya,
kelompok investor dengan tingkat
pajak yang tinggi akan menghindari
dividen, karena dividen mempunyai
tingkat pajak yang tinggi dibanding
dengan capital gain. Sebaliknya,
kelompok investor dengan tingkat
pajak yang rendah akan menyukai
dividen. Kelompok pemegang saham
yang membutuhkan penghasilan pada
saat ini lebih menyukai suatu dividend
payout ratio yang tinggi, sedangkan
kelompok pemegang saham yang
tidak begitu membutuhkan uang
saat ini lebih senang jika perusahaan
menahan sebagian besar laba bersih.
Juni 2015
37
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti
1
Sutrisno (2001)
2
Variabel penelitian
Model analisis
Hasil penelitian
• Cash position
• Growth potential
• Firm size
• DER
• Profitability dan
holding
• Model Analysis of
Moment Structure
(AMOS)
• Hanya variabel cash position
dan DER yang berpengaruh
signifikan terhadap dividend
payout ratio (DPR).
Sri Sudarsi
(2002)
• Cash Position (CP)
• Profitabilitas (ROA)
• Growth Potential
(GP)
• Firm size
• DER
• Regresi berganda
• CP, ROA dan GP tidak
mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap DPR.
3
Kartika
Nuringsih (2005)
• Kepemilikan
• DER
• ROA
• Ukuran perusahaan
• Regresi linier
berganda
• ROA dan DER memiliki
pengaruh negatif signifikan
terhadap DPR
• Ukuran perusahaan berpengaruh positif tidak signifikan
terhadap DPR.
• Variabel Kepemilikan
memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap DPR.
4
Eska Prima M.D
(2006)
• Cash position
• Profitability
• Growth potential
• Frm size dan
• Debt to equity ratio
Regresi berganda
• Variabel CP dan profitability
berpengaruh secara positif
tidak signifikan terhadap DPR
• GP, firm size dan DER
berpengaruh secara negatif
tidak signifikan terhadap
DPR
5
Lisa Marlina dan
Clara
Danica
(2009)
• Cash Position (CP)
• DER
• ROA
Regresi linier
berganda
• CP dan ROA berpengaruh
positif dan signifikan terhadap
DPR.
• DER tidak berpengaruh
terhadap DPR.
6
Rini Dwiyani dan
Lely
Triani
(2009)
• Cash ratio
• Net profit margin
(NPM)
• ROI.
Regresi linier
berganda
7
Abdul Kadir
(2010)
• ROI
• Current ratio
• DER
• Assets turnover.
Regresi linier
berganda
• ROI berpengaruh signifikan
terhadap DPR
• Cash ratio dan NPM
tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap DPR.
• ROI, DER, dan assets
turnover mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap DPR.
• Current ratio tidak
mempunyai pengaruh
terhadap DPR.
38
8
Juni 2015
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Zaipul
•
•
•
•
•
•
Cash Position (CP)
Growth Potential
ROE
DER
Firm Size
Investment
9
Vikcy Megawati
(2011)
•
•
•
•
• Regresi
Cash position (CP)
• berganda
Debt to equity ratio
Return on Assets (ROA)
firm size.
• CP, ROA dan firm size
berpengaruh positif signifikan terhadap DPR.
• DER tidak berpengaruh
signifikan terhadap DPR.
10
Siti
Syamsiroh
Difah (2011)
•
•
•
•
Return onAsset (ROA)
Cash Ratio(CR)
Growth
Size
Regresi
berganda
• CR, Growth dan size
berpengaruh
signifikan
positif terhadap DPR.
• ROA dan dividen tahun lalu
tidak berpengaruh signifikan
terhadap DPR
11
Sutari Sri Rejeki
(2011)
•
•
Regresi
berganda
•
•
•
DER
Net Profit
Margin(NPM)
Asset Growth
Firm Size
Current Ratio(CR)
• NPM, dan Firm Size berpengaruh positif dan signifikan
terhadap DPR.
• DER, Asset Growth,
dan CR berpengaruh
negatif dan tidak signifikan t erhadap DPR.
Achmad
(2011)
Regresi linier
berganda
• Variabel growth potential,
firm size, ROE berpengaruh
positif terhadap DPR.
• CP, DER dan investment
tidak berpengaruh terhadap
DPR
12
Febrijani, Theresia
dan Mujilan (2013)
•
•
•
•
•
ROI
Current ratio (CR)
DER
Growth Potential(GP)
Firm size
Regresi
berganda
• ROI dan DER berpengaruh
positif terhadap DPR.
• GP berpengaruh negatif
terhadap DPR.
• CR dan firm size tidak
berpengaruh secara
signifikan terhadap DPR.
13
Zulaiha (2013)
•
•
•
•
Return on Assets,
DER
Cash Position
Firm Size
Regresi
berganda
•
HIPOTESIS
H1 : Cash position berpengaruh positif
dan signifikan terhadap dividend
payout ratio.
H2 : Debt to equity ratio berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap
dividend payout ratio.
•
Variabel return on asset dan
cash position berpengaruh
positif dan signifikan
terhadap DPR
Sedangkan
variabel
DER dan firm size tidak
berpengaruh terhadap
DPR.
H3 : Return on assets berpengaruh positif
dan signifikan terhadap dividend
payout ratio.
H4: Cash Position, Debt to Equity Ratio,
dan Return on Assets Secara
bersama-sama berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap
Dividend payout Ratio.
Juni 2015
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
METODE PENELITIAN
1. Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini digunakan dua
macam variabel, yaitu variabel dependen
dan variabel independen. Variabel
dependen (terikat) merupakan variabel
yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat, karena adanya variabel bebas.
Sedangkan variabel independen (bebas)
merupakan variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen
(Sugiyono,2007).
saldo kas akhir dengan laba
bersih setelah pajak. Bagi
perusahaan yang memiliki posisi
kas yang semakin kuat akan
semakin besar kemampuannya
untuk membayar dividen. Cash
Position bisa dihitung sebagai
berikut: (Sri Sudarsi, 2002 ).
Dividen per lembar saham
DPR = ––––––––––––––––––––––
Laba per lembar saham
2. Variabel Independen (X)
a. Cash Position (CP) yang diberi
Simbol X1
Cash Position dihitung berdasarkan perbandingan antara
Saldo kas akhir
CP = ––––––––––––––––––––––
Laba bersih setelah pajak
b. Debt to Equity Ratio (DER) yang
diberi Simbol X2
Debt to Equity Ratio (DER)
merupakan
rasio
hutang
terhadap modal. Rasio ini
mengukur
seberapa
jauh
perusahaan dibiayai oleh hutang,
dimana semakin tinggi nilai
rasio ini maka menggambarkan
gejala yang kurang baik bagi
perusahaan (Sartono,2011). Oleh
karena itu, semakin rendah DER
akan semakin tinggi kemampuan
perusahaan untui membayar
semua kewajibannya. Debt
to Equity Ratio (DER) dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Variabel dependen dalam penelitian
adalah Dividend Payout Ratio dan variabel
independen adalah Cash Position, Debt
to Equiti Ratio, dan Return on Assets.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai
definisi operasional variabel yang akan
digunakan dalam penelitian, yaitu:
1. Variabel Dependen (Y)
Dalam penelitian ini variabel dependen
(Y) adalah Dividend Payout Ratio.
Dividend Payout Ratio merupakan
persentase pendapatan yang akan
dibayarkan kepada pemegang saham
dengan Earning per Share (EPS).
Menurut Darmadji dan fakhruddin
(2006)
dalam
Hardinugroho
(2012) rasio pembayaran dividen
(Dividend Payout Ratio) merupakan
perbandingan Dividend per Share
terhadap laba perusahaan atau
Earning per Share.
Dividend Payout Ratio dapat
dirumuskan
sebagai
berikut
(Halfert.A Erich, 1995:70)
39
Total Hutang
DER = ––––––––––––––
Total ekuitas
c. Return on Assets (ROA) yang
diberi Simbol X3
Return on Assets (ROA)
adalah
tingkat
keuntungan
bersih yang berhasil diperoleh
perusahaan dalam menjalankan
operasionalnya.
Return
on
Assets diukur dari laba bersih
setelah pajak (Earning After
Tax) terhadap total asetnya yang
mencerminkan
kemampuan
perusahaan dalam penggunaan
investasi
yang
digunakan
40
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
untuk
operasi
perusahaan
dalam rangka menghasilkan
profitabilitas perusahaan. ROA
merupakan salah satu ukuran
profitabilitas perusahaan yang
mana
merupakan
ukuran
efektifitas perusahaan dalam
menghasilkan
keuntungan
dengan menggunakan atau
memanfaatkan aktiva tetap
untuk kegiatan operasi (Ang,
1997 dalam Megawati,2011).
ROA dapat dirumuskan sebagai
berikut (Hanafi,2008: 42):
Laba bersih
ROA = ––––––––––––––
Total aset
2. Populasi dan Teknik Pengambilan
Sampel
Sampel adalah sebagian populasi
yang karakteristiknya hendak diselidiki
dan dianggap mewakili kesuluruhan
populasi (jumlahnya lebih sedikit daripada
jumlah populasi). Teknik pengambilan
sampel yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu dengan metode Purposive
Sampling atau pemilihan sampel dengan
kriteria – kriteria tertentu.
Kriteria tersebut antara lain:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar
di PT. Bursa Efek Indonesia tahun
2010 sampai dengan 2013
2. Perusahaan-perusahaan tersebut telah
menyampaikan laporannya secara
rutin dan mempunyai data keuangan
yang lengkap sesuai yang dibutuhkan
dalam penelitian ini.
3. Perusahaan yang terus menerus
membagikan
dividen
kepada
pemegang sahamnya selama tahun
2010 sampai dengan 2013.
4. Devidend payout ratio (DPR) yang
dimiliki adalah lebih kecil atau
sama dengan satu, karena untuk
Juni 2015
menghindari indikasi permasalahan
kebangkrutan bagi perusahaan.
Berdasarkan kriteria – kriteria
purposive sampling diatas, dari total
146 perusahaan manufaktur yang listing
di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun
2010-2013, perusahaan yang memenuhi
keempat kriteria di atas berjumlah 10
perusahaan.
TEKNIK ANALISIS DATA
1. Uji Asumsi Klasik
Proses pengujian asumsi klasik
OLS (Ordinary Least Squares) terlebih
dahulu dilakukan sehingga hasil yang
diperoleh layak digunakan. Ada empat
uji asumsi klasik yang digunakan, yaitu
uji normalitas, uji multikolonieritas, uji
autokorelasi dan uji heteroskedastisitas.
a. Uji Normalitas. Uji normalitas
yang dilakukan untuk melihat
apakah dalam model regresi variabel
terikat dan variabel bebas keduanya
memiliki distribusi normal atau
tidak. Model regresi yang baik adalah
model regresi yang berdistribusi
normal.
b. Uji
Multikolinieritas.
Uji
multikolinieritas merupakan uji
yang ditujukan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan
adanya kolerasi antarvariabel bebas
(independen). Model uji regresi yang
baik selayaknya tidak terjadi korelasi
diantara variabel bebas (independen).
c. Uji Autokorelasi. Uji autokorelasi
bertujuan untuk menguji adanya
kesalahan
pengganggu
periode
t dengan kesalahan pengganggu
pada periode t-1 (sebelumnya). Jika
terjadi korelasi, maka dinamakan ada
problem autokorelasi. Autokorelasi
muncul karena observasi yang
beruntutan sepanjang waktu berkaitan
Juni 2015
41
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
satu sama lainnya. Autokorelasi
menggunakan uji Durbin-Watson
test.
d. Uji
Heteroskedastisitas.
Uji
Heteroskedastisitas menguji apakah
dalam model regresi yang dipakai,
terjadi ketidaksamaan varian residual
satu pengamatan ke pengamatan lain.
Jika terjadi perbedaan varian dari
satu pengamatan ke pengamatan lain,
maka disebut heteroskedastisitas.
2. Analisis Regresi Berganda
Alat analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan analisis regresi berganda.
Persamaan regresi tersebut adalah sebagai
berikut:
b. Uji Multikolinieritas
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Berdasarkan Tabel 2, bahwa
Pengujian
normalitas
menggunakan
uji
NonParametrik K o l m o g o r o v Smirnov menunjukkan tingkat
signifikansi
sebesar
0,858
Angka ini lebih b e s a r
dari a = 0,05 atau probabilitas
diatas 0,05 (0,858 > 0,05) maka
dapat dinyatakan bahwa data
berdistribusi normal.
Tabel 3. Hasil Uji Multikolonieritas
Variabel Tolerance
VIF
Kesimpulan
CP
0,932
1,073 Tidak terjadi
multikolonieritas
DER
0,875
1,142 Tidak terjadi
multikolonieritas
ROA
0,858
1,165 Tidak terjadi
multikolonieritas
3. Pengujian Hipotesis Penelitian
Pengujian
hipotesis
dilakukan
dengan analisis statistik regresi berganda,
yang terdiri dari adjusted R square,
uji Statistik t untuk menguji hipotesis
antara satu variabel independen dengan
satu variabel dependen, uji Statistik F
untuk menguji hipotesis antara lebih dari
satu variabel independen terhadap satu
variabel dependen.
Berdasarkan hasil pengujian
yang ditunjukkan pada Tabel 3,
nilai tolerance variabel bebas lebih besar dari 10% atau
0,1 dan nilai VIF semua variabel
lebih kecil dari 10. M a k a
dalam Uji ini tidak terjadi gejala
multikolinieritas.
c. Uji Autokorelasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil uji asumsi klasik
a. Uji Normalitas
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas
Z
AsympKeterangan
sig
0,605
0,858
Data berdisOne sample
tribusi normal
K-S
Tabel 4. Hasil Uji Autokorelasi
N
Variabel
independen
DW/d
dL
dU
40
CP,DER,ROA
2,302
1,338
1,658
Berdasarkan Tabel 4, nilai DW
atau d sebesar 2,302. Diketahui
N=40; k=3 dengan a = 5%,
maka diperoleh nilai dL = 1,338
dan nilai dU =1,658 (yang dapat
dilihat melalu tabel D u r b i n Watson : lampiran 9) nilai 4-dL
42
Juni 2015
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
2. Hasil Uji Hipotesis
a. Koefisien Determinasi (R2)
= 2,662 dan nilai 4-dU = 2,342.
Nilai DW atau d m a s u k
dalam kategori dU < d < 4 – dU
(1,658 < 2,302 < 2,342 ), sehingga
dapat disimpulkan data dalam
penelitian tidak ada indikasi
terjadi gejala autokorelasi positif
dan negatif.
Tabel 5. Koefisien Determinasi (R2)
Model
1
R Square
Adjusted R
Square
.130
.057
Std. Error of the
Estimate
.150302620
Berdasarkan tabel 5. Koefisien
Determinasi (R2), nilai Adjusted
R Square sebesar 0,057 atau
5,7%. Hal ini menunjukkan
bahwa 5,7% dividend payout
ratio dipengaruhi oleh cash
position, debt to equity ratio
dan return on assets. Sedangkan
94,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model
regresi.
b. Uji Statistik F
Berdasarkan Tabel 6. Uji
statistik F di atas, maka dapat
diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 1,785 dengan tingkat
signifikan sebesar 0,167. Karena
probabilitas tingkat kesalahan
signifikan Fhitung ≥ a (0,05)
maka dapat disimpulkan bahwa
variabel independen cash
position, debt to equity ratio dan
return on assets secara bersamasama tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio.
Gambar 1. Grafik Scatterplot
.360a
d. Uji Heteroskedastisitas
R
Dari Gambar 1. Grafik scatterplot
di atas dapat dilihat bahwa tidak
terdapat pola yang jelas dan titiktitik menyebar di atas maupun
di bawah angka 0 pada sumbu
Y. Hal ini menunjukkan bahwa
pada model regresi tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Tabel 6. Hasil Uji F
Model
1
Regression
Residual
Total
Sum of Squares
.121
.813
.934
ANOVAb
Df
3
36
39
Mean Square
.040
.023
F
1.785
Sig.
.167a
Juni 2015
43
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
c. Uji Statistik t
Dari Tabel 7 dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1) Variabel cash position (X1),
mempunyai sig 0,989 ≥ a
(0,05) sehingga H1 ditolak
dan Ho diterima. Variabel
cash position (X1) tidak
mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel
dividend payout ratio.
2) Variabel debt to equity ratio
(X2), mempunyai sig 0,147 ≥
a (0,05) sehingga H2 ditolak
dan Ho diterima. Variabel
debt to equity ratio (X2) tidak
mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel
dividend payout ratio.
3) Variabel return on assets
(X3), mempunyai sig 0,040
≤ a (0,05), sehingga H3
diterima dan Ho ditolak.
Variabel return on assets (X3)
mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel
dividend payout ratio.
a. Cash Position (CP) tidak mempunyai
pengaruh secara parsial terhadap
DPR (dividend payout ratio) pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar
di PT. Bursa Efek Indonesia
b. Debt to Equity Ratio (DER) tidak
mempunyai pengaruh secara parsial
terhadap DPR (dividend payout ratio)
pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia.
c. Return on Assets (ROA) mempunyai
pengaruh secara parsial terhadap
DPR (dividend payout ratio) pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar
di PT. Bursa Efek Indonesia
d. Cash Position (CP), Debt to Equity
Ratio (DER), dan Return on Assets
(ROA) tidak mempunyai pengaruh
secara
bersama-sama
terhadap
DPR (dividend payout ratio) pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar
di PT. Bursa Efek Indonesia.
Tabel 7. Hasil Uji t
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
Unstandardized Coefficients
B
Std. Error
.180
.099
Cash Position
Debt to Equity Ratio
Return on Assets
.000
.069
.968
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis penelitian
pada bab lima, yang menggunakan
bantuan program SPSS 17.00 for windows
dengan metode regresi berganda dapat
disimpulkan sebagai berikut:
.023
.046
.455
Standardized
Coefficients
Beta
-.002
.246
.357
t
1.814
Sig.
.078
-.014
1.481
2.127
.989
.147
.040
2. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan- keterbatasan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sampel perusahaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sampel
dari perusahaan manufaktur. Hal ini
menyebabkan penelitian belum tentu
44
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
bisa digeneralisasi pada jenis-jenis
perusahaan yang berbeda lainnya.
b. Dilihat dari nilai koefisien determinasi yaitu sebesar 5,7%. Hal ini
menunjukkan bahwa 5,7% dividend
payout ratio dipengaruhi oleh cash
position, debt to equity ratio dan
return on assets. Sedangkan 94,3%
dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak dirumuskan dalam model
penelitian. Hal ini berarti masih ada
variabel lain yang perlu diidentifikasi
untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi dividend payout
ratio.
3. Saran
a. Pada penelitian ini hanya diambil
sampel 10 perusahaan manufaktur
yang terdaftar di PT. Bursa Efek
Indonesia dengan kurun waktu
penelitian selama empat tahun.
Penelitian
selanjutnya
dapat
mencoba meneliti dengan sektor
perusahaan yang berbeda dan jangka
waktu yang lebih panjang agar dapat
mempertegas ataupun memberi
sanggahan terhadap hasil penelitian
ini.
b. Pada penelitian ini hanya terbatas
pada tiga variabel, yaitu Cash
Position (CP), Debt to Equity Ratio
(DER), dan Return on Assets (ROA).
Sedangkan masih banyak variabel
yang belum diteliti. Diharapkan
peneliti berikutnya menggunakan
variabel lain yang dianggap relevan
terhadap DPR.
Juni 2015
DAFTAR PUSTAKA
Ang,
Robert, 1997, Buku Pintar
Pasar
Modal
Indonesia
(Terjemahan),
Mediasoft
Indonesia, Jakarta.
Brigham, Eugene dan Joel F.Houston,
1989, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi 9,
Jilid 2, Jakarta, Erlangga.
Damarsiwi, Eska P.M, 2006, FaktorFaktor yang Mempengaruhi
Dividend Payout Ratio pada
Perusahaan Manufaktur yang
Listed di BEJ, Skripsi S-1
Program Manajemen UJB,
Yogyakarta.
Febrijanti,
Theresia dan Mujilan,
2013, Faktor-faktor yang
Mempengaruhi
Dividend
Payout Ratio (DPR) pada
Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di BEI Tahun 20092011, Jurnal Riset Manajemen
dan Akuntansi, Vol. 01, No.02,
Hal:13-21, diunduh dari http:
scholar.google.com
pada
tanggal 2 November 2014.
Ghozali, Imam, 2002, Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program
SPSS, Edisi 2, Semarang
:Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Halim,Abdul
dan
Sarwoko,1995,
Manajemen Keuangan, Edisi
1, Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.
Hanafi, Mahmud M, 2004. Manajemen
Keuangan,
Edisi
1,
Yogyakarta: BPFE.
Helfert, Erich A, 1995, Analisis Laporan
Keuangan, Edisi 7, Jakarta:
Erlangga.
Juni 2015
Chusnul Khotimah dan Sri Yuli Waryati
Horne,Van dkk, 1997, Prinsip-prinsip
Manajemen
Keuangan,
(Terjemahan), Heru Sutojo,
Edisi 9, Jakarta: Salemba
Empat.
Indrawati M, Elyzabeth, dkk, 2009,
Pengaruh profitabilitas dan
Kesempatan Investasi Terhadap Kebijakan Dividen:
studi Empirik pada Emiten
Pembentuk Indeks LQ45 di
Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Akuntansi, Vol.1, No.1, Hal:
70-84, diunduh dari http://
www.google.com
pada
tanggal 15 November 2014.
Lisa Marlina dan Clara danica, 2009,
Analisi Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Cash Position,
Debt to Equity Ratio dan
Return on Assets Terhadap
Dividend Payout Ratio. Jurnal
Manajemen Bisnis, Vol.2,
No.1, Hal. 1-6, diunduh dari
http: scholar.google.com pada
tanggal 20 November 2014.
Megawati, Vicky, 2011, Analisis Faktorfaktor yang Mempengaruhi
Devidend Payout Ratio pada
Perusahaan
Manaufaktur
yang Terdaftar di Bursa
Efek
Indonesia,
Skripsi
S-1 Program Manajemen
UPN Veteran, Yogyakarta,
diuduh dari http: repository.
upnyk.ac.id pada tanggal 20
November 2014.
Nuringsih,
Kartika, 2005, Analisis
Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Utang, ROA
dan Ukuran Perusahaan
terhadap Kebijakan Dividend:
Studi 1995-1996. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan
Indonesia, Vol.2, No.2, Hal:
45
103-123, diuduh dari http:
journal.ui.ac.id pada tanggal
21 November 2014.
Putera, Cendikiawan S, 2011, Analisis
Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Dividend
Payout Ratio (pada Perusahaan Manufaktur Periode
2006-2008)
Skripsi
S-1
Program manajemen UNDIP,
Semarang, diunduh dari http:
scholar.google.com
pada
tanggal 24 November 2014.
Rejeki, Sutari S, 2011, Pengaruh Debt
To Equity Ratio, Net Profit
Margin,
Asset
Growth,
Firm Size, Dan
Current
Ratio terhadap Dividend
Payout Ratio, Skripsi S-1
Program Manajemen UNDIP,
Semarang, diunduh dari
http://eprints.undip.ac.id pada
tanggal 20 November 2014.
Riyanto, Bambang, 2001, Dasar-Dasar
Pembelanjaan Perusahaan,
Edisi 4, Yogyakarta: BPFEUGM.
Sabardi,
Agus, 1994, Manajemen
Keuangan, Jilid 2, Yogyakarta:
UPP AMP YKPN.
Sartono, R Agus, 2001, Manajemen
Keuangan Teori dan Aplikasi,
Edisi 4, Yogyakarta: BPFE.
Sudarsi, Sri, 2002, Analisis Faktorfaktor yang Mempengaruhi
Dividend Payout Ratio pada
Industri Penbankan yang
Listed di Bursa efek Jakarta
(BEJ), Jurnal Bisnis dan
Ekonomi, diunduh dari www.
google.co.id pada tanggal 9
November 2014.
46
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Sugiyono,
2007, Metode Penelitian
Bisnis, Bandung: CV.Alfabeta.
Sutrisno,
2001, Analisis Faktorfaktor yang Mempengaruhi
Devidend Payout Ratio pada
Perusahaan Publik Indonesia,
TEMA, Vol.2, No 1.
Tandelilin, Eduardus, 2001, Analisis
Investasi dan Manajemen
Portofolio,
Edisi
1,
Yogyakarta: BPFE-UGM.
Zaipul, Achmad, 2011. Analisis Cash
Position, Growth Potential,
Return on Equity, Debt to
Equity Ratio, Firm Size,
Investment Terhadap Dividend Payout Ratio pada
Perusahaan
Manufaktur
Sektor barang Konsumen
yang Listing di BEI. Jurnal
Skripsi, diunduh dari http://
library.gunadarma.ac.id pada
tanggal 10 November 2014
Juni 2015
Zulaiha, 2013, Analisis Pengaruh Return
on Assets, Debt to Equity
Ratio, Cash Position dan
Firm Size Terhadap Dividend
Payout Ratio, Skripsi S-1
Program Manajemen UMY,
Yogyakarta.
http://junaidichaniago.wordpress.com
diunduh pada tanggal 23
Januari 2015.
www.britama.com diunduh pada tanggal
20 Desember 2014.
www.idx.co.id diunduh pada tangga 18
November 2014.
Download