perubahan perilaku masyarakat di lingkungan kawasan industri

advertisement
PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT DI
LINGKUNGAN KAWASAN INDUSTRI
(Studi Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk
Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Eni Haryati
NIM 1112015000037
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
1
ABSTRAK
Eni Haryati (1112015000037). Perubahan Perilaku Masyarakat Di
Lingkungan Kawasan Industri (Studi Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skripsi, Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Salah satu kebijakan pemerintah adalah dengan ditumbuhkannya
industrialisasi di berbagai daerah. Kegiatan tersebut merupakan usaha untuk
meningkatkan taraf kehidupan dan kesejahteraan. Kehidupan masyarakat Desa
Tarikolot telah mengalami perubahan semenjak adanya kawasan industri. Adanya
lingkungan industri telah menjadikan perubahan struktur masyarakat yang
awalnya bekerja dalam sektor pertanian beralih mata pencaharian ke sektor
industri. Hal ini berimplikasi pada perubahan pola hidup, perilaku, cara berpikir,
dan perubahan lainnya. Di desa Tarikolot, dampak yang ditimbulkan dari hadirnya
industri telah merubah pola kehidupan masyarakat, terutama perubahan perilaku
sosial seperti pergeseran perilaku bergotong royong dan perilaku ekonomi seperti
gaya hidup konsumtif masyarakat sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan perilaku
masyarakat sekitar kawasan industri yang beralih mata pencaharian dari sektor
pertanian ke masyarakat industri meliputi perilaku dalam kehidupan sosial dan
ekonomi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi, wawancara dan
dokumentasi. Kemudian teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perilaku masyarakat dalam
kehidupan sosial dan ekonomi sebelum adanya kawasan industri seperti layaknya
masyarakat desa yang sederhana dan kental akan rasa solidaritas dalam hal
bergotong royong. Namun setelah hadirnya kawasan industri masyarakat lebih
berorientasi pada sistem upah sehingga intensitas partisipasi masyarakat dalam hal
bergotong royong mengalami penurunan. Sedangkan perilaku dalam kehidupan
ekonomi setelah adanya kawasan industri secara umum mengalami perubahan
seperti pola hidup yang lebih konsumtif.
Kata kunci: industrialisasi, perubahan perilaku sosial dan ekonomi
i
ABSTRACT
Eni Haryati (NIM: 1112015000037). Community Behavioral Studies in
Environmental Tarikolot Village Industrial Zone, District Citeureup, Bogor,
West Java. Skripsi, Department of Education Social Sciences (IPS), Tarbiyah
and Teaching Science Faculty, State Islamic University Syarif Hidayatullah
Jakarta.
One of the government's policy is to industrialization would grow in
various regions. The activity is an effort to improve the lives and well-being.
Tarikolot village people's lives have changed since their industrial areas. Their
industry environment has made changes in the structure of society who initially
worked in the agricultural sector switch livelihood to the industrial sector. This
has implications for changes in lifestyle, behavior, thinking, and other changes. In
the village Tarikolot, the impact of the presence of the industry has changed the
pattern of people's lives, especially the changes in social behavior are like the
shifting attitudes of mutual cooperation and economic behavior as consumptive
lifestyles surrounding communities.
This study aims to know how the behavior of people around the industrial
area have livelihood from agriculture to the industrial community includes
behavior in social and economic life.. The method used in this research is
qualitative. The techniques used to collect the data are: observation, interviews
and documentation.
Then the data analysis technique used are data reduction, data
presentation and conclusion. Based on the research result shows that people's
behavior in social and economic life before the industrial area like a village
community that is simple and condensed solidarity in terms of mutual
cooperation. Meanwhile, after the industrial area in general change as more
consumptive lifestyles.
Keywords: industrialization, social and economic behavior
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Dzat yang Maha
Sempurna yang senantiasa menyempurnakan kenikmtan kepada hamba-Nya,
dengan segala karunia-Nya penulis akhirnya mampu menyelesaikan penelitian ini.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi besar kita Nabi
Muhammad SAW beserta para sahabat dan keluarganya.
Penulis menyadari bahwa tidak akan mampu menyelesaikan skripsi ini
tanpa bantuan dari pihak lain. Semua karena bimbingan, nasihat dan motivasi dari
semua pihak yang diberikan kepada penulis.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang disusun untuk melengkapi salah
satu syarat yang telah ditentukan dalam menempuh program studi Strata (S1) pada
jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selanjutnya, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Iwan Purwanto, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS), beserta seluruh Staf Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. H. Syaripulloh, M.Si, Sekretaris Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4. Andri Noor Ardiansyah, M. Si dan Neng Sri Nuraeni, M.Pd. selaku Dosen
Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan ilmu dan meluangkan
waktu serta kontribusinya membimbing penulis dalam proses penyusunan
skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
5. Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A. sebagai Dosen Penasehat Akademik
yang telah memberikan arahan kepada penulis.
iii
Seluruh Dosen yang mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
khususnya yang mengajar di Jurusan Pendidikan IPS UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, atas segala pengetahuan dan pengalaman berharga
sehingga penulis bisa menyelesaikan studi di Universitas ini.
6. Seluruh Staf Pusat Perpustakaan dan Perpusakaan Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu
penulis untuk mencari bahan referensi penelitian ini.
7. H. Maspuloh, selaku Kepala Desa Tarikolot yang telah mengijinkan
penulis untuk melakukan penelitian dan Ryan Hidayat selaku Sekretaris
Desa, serta tak
lupa seluruh warga sekitar Kawasan Industri Desa
Tarikolot yang telah membantu dengan tulus dalam memberikan
informasinya.
8. Orang tua tercinta yakni Bapak Ayub dan Ibu Ade serta Kakak-kakak
tersayang Liana Hayati dan Akmal Saepul atas segala doa, perhatian,
motivasi dan kasih sayang baik secara materil dan non materil.
9. Sahabat teristimewa Dhoni Amalia, Hanni Khairunisa, Nurhayati, Alm.
Ajeng Putri Kartini, Maulyda Wulandari, Sri Setiyowati,
Eli Karlina,
Winda Alfiani dan Khoirunnisa untuk waktu bersama, beban bersama
yang telah dilewati selama di bangku perkuliahan dan tidak pernah bosan
dalam memberikan sarannya selama proposal hingga skripsi rampung.
10. Teman-teman Bu Muslim Community (BMC) Pupu Ressy Lusita,
Nurkumalasari dan Reza Nawafella yang telah tinggal beberapa tahun
terakhir dan saling menyemangati untuk segera menyelesaikan skripsi.
11. Teman-teman seluruh keluarga besar pendidikan IPS angkatan 2012,
khususnya teman-teman Geografi 2013.
12. Segenap pihak yang telah mendukung penulis dalam proses penulisan
yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah membalas jasa
kalian.
iv
Akhirnya, saat ini penulis hanya bisa membalas dengan doa, semoga
semua pihak yang telah memberi perhatian dan membantu atas kelancaran
studi penulis untuk meraih gelar sarjana mendapatkan balasan yang setimpal
dari Allah SWT, serta hajatnya dikabulkan, dan mohon maaf apabila ada katakata atau penulisan dalam skripsi ini ada yang salah. Penulis mengakui banyak
sekali kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu kritikan dan masukan
yang konstruktif sangat penulis harapkan bagi siapa saja yang mau membantu
untuk menyempurnkannya.
Jakarta, 25 Oktober 2016
Penulis
Eni Haryati
NIM. 1112015000037
v
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK .....................................................................................................
i
ABSTRACT ...................................................................................................
ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................
iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................
vi
DAFTAR TABEL .........................................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
ix
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................
1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................
4
C. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah ........................
5
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ................................
5
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori ...............................................................................
7
1. Perilaku ...............................................................................
7
a. Pengertian Perilaku ........................................................
7
b. Proses Terjadinya Perubahan Perilku ............................
8
2. Masyarakat ..........................................................................
10
3. Industri ................................................................................
12
4. Perilaku
dalam
kehidupan
Sosial
dan
Ekonomi
Masyarakat ..........................................................................
13
a. Solidaritas Sosial .............................................................
13
1) Mekanik ..................................................................
14
2) Organik ...................................................................
16
3) Gotong royong ........................................................
19
vi
b. Perilaku Konsumtif .........................................................
21
B. Hasil Penelitian yang Relevan ...................................................
26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian....................................................
28
B. Metode Penelitian .....................................................................
29
C. Populasi dan Sampel .................................................................
30
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ...........................
31
a. Observasi ............................................................................
32
b. Wawancara .........................................................................
32
c. Dokumentasi .......................................................................
32
E. Pemeriksaan dan Pengecekan Keabsahan data ..........................
33
F. Teknik Analisis Data ................................................................
33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data ..........................................................................
35
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...................................
35
a) Kondisi Geografis .........................................................
35
b) Kondisi Demografis ......................................................
36
c) Kondisi Sosial dan Ekonomi ........................................
38
2. Perubahan Perilaku dalam kehidupan Sosial dan Ekonomi
BAB V
Masyarakat di Lingkungan Kawasan Industri ....................
41
B. Pembahasan ..............................................................................
53
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................
59
B. Saran ..........................................................................................
61
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
62
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...........................................................................
66
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik ............... 18
Tabel 3.1
Jadwal Penelitian ........................................................................
29
Tabel 4.1
Batas Wilayah Desa Tarikolot .......... .........................................
35
Tabel 4.2
Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin .....................
36
Tabel 4.3
Rekapitulasi Kelompok Umur Penduduk ..................................
37
Tabel 4.4
Sarana dan Prasarana ..................................................................
38
Tabel 4.5
Mata Pencaharian 2006 ................................ ..............................
40
Tabel 4.6
Mata Pencaharian 2016 ................................ ..............................
40
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1
Peta Lokasi Penelitian ........................................................... 28
Gambar 4.1
Peta Administratif Kecamatan Citeureup............................... 36
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan adalah suatu bentuk respon manusia terhadap
lingkungannya,
baik
itu
menyangkut
lingkungan
sosial
maupun
lingkungan alamnya. Pembangunan berarti usaha sadar dan mendasar
manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kondisi yang
lebih baik dan hasilnya dapat dinikmati secara lebih layak oleh
masyarakat. Salah satu bentuk pembangunan yang terjadi di Negara kita
adalah pembangunan kawasan industri. Kegiatan pembangunan di bidang
industri ini, pemerintah telah melakukan kebijakan yakni dengan
memberikan peluang serta kesempatan luas terhadap pembangunan
kawasan industri melalui Keputusan Presiden No.41 Tahun 1996. 1
Industrialisasi merupakan bagian integral dari pemulihan serta
pertumbuhan perekonomian Indonesia. Industrialisasi menciptakan
peranan yang kompleks dan menekankan pada berbagai ragam
keahlian yang diperlukan dalam proses-proses industri.
Industrialisasi membuat perubahan sosial pada masyarakat yang
menjadikan kawasan pertanian menjadi kawasan industri secara
perlahan-lahan dapat mengubah struktur sosial yang ada di
masyarakat misalnya nilai sikap, pemikiran, kepercayaan, dan pola
tingkah laku sebagaimana perilaku masyarakat pada hakikatnya
merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat,
yang berpengaruh pada gaya hidup, makanan, pakaian, perjalanan,
adat istiadat, kesenian (kebudayaan), bahasa, dan termasuk pada
mata pencaharian. 2
Di Indonesia sektor industri menjadi salah satu solusi bagi
sebagian kalangan di masyarakat dalam aspek mata pencaharian. Selama
ini, tidak sedikit yang beranggapan bahwa industrialisasi dapat
berpengaruh dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang lebih
1
Keputusan Presiden No.41 Tahun 1996 tentang Pembangunan Kawasan Industri
Hafiah Choerunisa ‘Pergeseran Nilai-nilai Solidaritas Sosial Masyarakat di Kawasan
Industri (Studi Kasus di Desa Cintamulya Kecamatan Jatinagor Kabupaten Sumedang’ Skripsi
Kearsipan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UPI, 2015, h.1.
2
1
2
baik. Berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS) sektor
industri, selain memberi kontribusi ekonomi melalui nilai tambah,
lapangan kerja dan devisa, tetapi juga mampu memberi kontribusi menuju
transformasi kultural masyarakat kearah modernisasi yang menunjang
daya saing suatu wilayah. 3
Perubahan akibat pembangunan yang berlangsung dengan pesat,
selain mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat juga memberi
pengaruh terhadap lingkungan sosial, ekonomi setempat. Untuk itu setiap
pembangunan industri harus memperhitungkan dampak yang mungkin
ditimbulkan. Dampak ini meliputi dampak yang bersifat positif dan
negatif.
Dampak positif dari pembangunan kawasan industri diharapkan
mampu
menciptakan
keanekaragaman
kehidupan
ekonomi
dan
menciptakan lapangan kerja baru. Artinya, kehadiran kawasan industri
akan menciptakan peluang kerja baik dari sektor industri itu sendiri
maupun di sektor lain seperti sektor jasa dan perdagangan, sehingga
mendorong peningkatan pendapatan masyarakat yang akan berimplikasi
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik
dan merata. Dampak lain dari kehadiran kawasan industri ini pun
berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat pedesaan, pada pola
perilaku masyarakat, yang lambat laun mulai pudar tergerus oleh zaman.
Di Kecamatan Citeureup sejak tahun 2002, sektor pembangunan
industri dijalankan dan secara geografis dapat dilaksanakan dengan
kondisi kekayaan alam (natural resources) yang serba memungkinkan.
Namun pada sumber daya manusia (human resources) yang perlu
dipertanyakan, adakah kesiapan dari masyarakat setempat untuk menerima
segala macam bentuk perubahan tersebut. Salah satu daerah yang terkena
imbas dari proses industrialisasi adalah Desa Tarikolot.
Dari data kependudukan dan statistik Desa Tarikolot Kecamatan
Citeureup tahun 2015, semakin bertambahnya masalah sosial yang ada di
3
http://Bogor.bps.go.id, (Diakses Sabtu, 20 Febuari 2016)
3
masyarakat desa tersebut ditemukan fakta bahwa terdapat kasus yang tak
lazim dilakukan oleh kalangan remaja, seperti mabuk-mabukkan.
Kemudian dari gaji pekerjaan sebagai buruh pabrik karena Desa Tarikolot
ini merupakan kawasan industri yang notabennya buruh pabrik
menjadikan masyarakat lebih konsumtif dan matrealistik. Dengan itu,
dimensi-dimensi hubungan sosial dan gaya hidup di pedesaan mulai
berubah dan menyesuaikan diri dengan gaya
hidup modern sesuai
4
kemampuan dan akses yang dimiliki. Singkatnya, masyarakat mengalami
perubahan terhadap kondisi sosial ke tahap berikutnya atau menuju taraf
kehidupan yang semakin kompleks. Menurut Durkheim (dalam Beilhardz,
2005) mengungkapkan,
“Perubahan sosial yang terjadi akibat modernitas secara lambat
laun menggeser pola kehidupan sosial masyarakat secara perlahan,
pembagian kerja karena proses industrialisasi, pencerahan dan
individualism telah bergeser nilai-nilai sosial masyarakat
khususnya pada ikatan-ikatan tradisional masyarakat.” 5
Perubahan gaya hidup modern yang sejalan dengan
berkembangnya
industrialisasi
di
berbagai
daerah
menyebabkan
menipisnya perbedaan antara desa dan kota. 6 Perubahannya ditunjukkan
melalui perilaku konsumtif masyarakat desa yang sudah tidak jauh berbeda
dengan masyarakat kota. Sebelum masuknya sektor industri di desa
Tarikolot, mayoritas masyarakatnya adalah bermata pencaharian dalam
sektor pertanian. Masuknya sektor industri di bidang barang/jasa di daerah
tersebut menambah variasi dalam segi mata pencaharian masyarakat
sekitar. Sebenarnya, jika dilihat dari pendapatan masyarakat setelah
beralih berprofesi sebagai buruh pabrik tidaklah lebih besar nominalnya
yang berkisaran Rp. 1.800.000 sampai Rp. 2.500.000 perbulannya yang
mana hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 7 Namun
menjadi buruh pabrik lebih mudah memperoleh pendapatan tambahan
4
Raharjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Gajah Mada University Press,
(Yogyakarta, 2010), h. 194.
5
Hafiah Choerunisa, op. cit., h. 2.
6
Raharjo, op. cit., h. 193.
7
Hasil wawancara dengan Bpk. Agus, pada tanggal 11 Maret 2016
4
seperti adanya kerja lembur. Sehingga memberikan peluang bagi pekerja
untuk berperilaku konsumtif.
Keberadaan kawasan industri juga dapat memicu terjadinya
mobilitas penduduk yaitu terdapat penduduk pendatang ke daerah sekitar
kawasan industri. Keberadaan penduduk pendatang akan berpengaruh
terhadap
pergeseran perilaku sosial dalam tingkat solidaritas antara
penduduk lokal dan penduduk pendatang yang membawa tata nilai dan
perilakunya dengan masyarakat setempat. Akibatnya melemah dan
melunturnya solidaritas dalam hal bergotong royong diakibatkan dari
kesibukan dan banyaknya masyarakat yang menghabiskan waktu di tempat
kerja. Kesibukan itulah yang membuat masyarakat menjadi kurang
perhatian terhadap lingkungan sekitarnya yang menyebabkan melunturnya
solidaritas dalam hal bergotong royong.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul: “Perilaku Masyarakat di Lingkungan
Kawasan Industri (Studi Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat)”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah
di atas, maka dapat diketahui untuk diidentifikasikan masalahnya seperti
berikut :
1. Alih fungsi lahan agraris menjadi bangunan industri
2. Banyaknya pendatang dari berbagai daerah
3. Terjadi variasi dalam pekerjaan
4. Terjadi perubahan perilaku dalam bentuk gotong royong antar
masyarakat
5. Terjadi perubahan gaya hidup yang mengarah kepada perilaku
konsumtif karena peralihan mata pencaharian dalam sektor industri
5
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Masalah penelitian ini dibatasi pada Desa Tarikolot, yang dijadikan
fokus kajian adalah :
1. Perubahan perilaku dalam kehidupan sosial yaitu solidaritas sosial
dalam bentuk gotong royong antar masyarakat
2. Perubahan perilaku dalam kehidupan ekonomi yaitu perilaku
konsumtif karena peralihan mata pencaharian dalam sektor industri
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut penulis menemukan
rumusan masalah :
1. Bagaimana perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan sosial di
lingkungan kawasan industri Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat?
2. Bagaimana perilaku dalam kehidupan ekonomi masyarakat di
lingkungan kawasan industri Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan uraian yang telah dikemukakan, tujuan dari
prnrlitian ini adalah :
1. Untuk memperoleh gambaran perubahan perilaku dalam kehidupan
sosial masyarakat di lingkungan kawasan industri Desa Tarikolot,
Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
2. Untuk memperoleh gambaran perilaku dalam kehidupan ekonomi
masyarakat di lingkungan kawasan industri Desa Tarikolot, Kecamatan
Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Manfaat penelitian dari kegiatan penelitian yang dilakukan ini
diantaranya :
1. Manfaat Teoritis
Hasil ini dapat dijadikan sumber wawasan dalam khasanah ilmu
pengetahuan
mengenai
bagaimana
perilaku
masyarakat
dalam
6
kehidupan sosial dan ekonomi di lingkungan kawasan industri Desa
Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
2. Manfaat Praktis
a. Bagi mahasiswa: Memberikan informasi mengenai pentingnya
menjaga struktur masyarakat yang ada di lingkungan sekitar.
b. Bagi masyarakat: Memberikan informasi mengenai gambaran
kehidupan sosial dan ekonomi yang ada pada masyarakat pedesaan
saat ini khususnya bagi pemerintah di Desa Tarikolot, Kecamatan
Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
c. Bagi pemerintah: Penelitian ini dapat membantu pihak pemerintah
desa untuk membuat kebijakan mengenai perilaku masyarakat
dalam bidang industri di Desa Karang Tarikolot, Kecamatan
Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
d. Bagi peneliti lain yang mempunyai ketertarikan yang sama dengan
penulis, kiranya dapat dijadikan rujukan atau referensi serta dapat
menyempurnakan lagi, baik dari segi konsep maupun temuan di
lapangan.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Perilaku
a. Pengertian Perilaku
Kata perilaku dalam Kamus Bahasa Inggris disebut dengan
“behave” dan “conduct”. “Behave” yang memiliki arti kelakuan /
perilaku, 8 sedangkan “conduct” yang artinya adalah tingkah laku,
kelakuan, sikap, tabi’at, memimpin dan menuntut. 9 Arti perilaku
menurut J.P Chaplin, perilaku lebih ke arah pembahasan behavior
(tingkah
laku,
kelakuan,
perilaku
tindak-tanduk,
perangi).
Menurutnya perilaku ini sebagai respon baik dalam bentuk reaksi,
tanggapan, jawaban, dan balasan yang dilakukan oleh suatu
organisme. 10
Behavior (tingkah laku, kelakuan, perilaku tindak-tanduk,
perangi); 1. Sebarang respon (reaksi, tanggapan, jawaban, balasan)
yang dilakukan oleh oraganisme. 2. Secara khusus, bagian dari satu
kesatuan pola reaksi. 3. Suatu perbuatan atau aktifitas. 4. Satu
gerak atau kompleks gerak-gerak. 11 Sedangkan menurut KBBI
perilaku “tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau
lingkungan’. 12 Maksud dari KBBI ini bahwa perilaku merupakan
sebuah tanggapan baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan yang
dilakukan individu dalam bentuk reaksi individu maupun
8
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
2005), Cet.Ke-XXVI, hal. 60
9
Ibid., h. 136
10
J.P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi Diterjemahkan Kartini Kartono, (Jakarta: PT
Radja Grafindo Persada, 2011), h. 12.
11
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka:
Jakarta, 2004 edisi ke-3), h. 53.
12
Ibid., h. 859.
7
8
kelompok yang dipengaruhi oleh lingkungan sehingga muncul
adanya sebuah rangsangan.
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan
atau aktivitas organisme yang bersangkutan yang dapat diamati
secara langsung maupun tidak langsung. 13
Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi
reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi
apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi
yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan
menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Menurut penulis, yang
disebut perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya
stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun
tidak langsung.
Menurut Notoatmodjo, dilihat dari bentuk stimulus ini maka
perilaku dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1) Perilaku tertutup (convert behaviour)
Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang
terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum
dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2) Perilaku terbuka (overt behaviour)
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam atau
praktik yang dengan mudah diamati atau dilihat orang lain. 14
b. Proses Terjadinya Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku manusia sangat bervariasi tergantung
pada konsep yang digunakan para ahli dalam memahami perilaku
manusia tersebut. Secara psikologis, proses terjadinya perubahan
perilaku manusia disebabkan oleh :
1) Perubahan secara alamiah (Natural change)
13
Soekidjo Notoatmojo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta: Rineka Cipta,
2011), h.135
14
Ibid., h. 136.
9
Perilaku manusia cenderung selalu berubah-ubah dan hampir
sebagian besar perubahannya disebabkan kejadian secara
alamiah. Apabila terjadi perubahan di lingkungan sosial,
budaya dan ekonomi, maka seseorang atau sekelompok orang
juga cenderung ikut mengalami perubahan. Misalnya, ibu
hamil dalam kondisi sakit kepala. Semula dia akan membuat
ramu-ramuan
tradisional
untuk
mengurangi
keluhannya
kemudian secara alamiah dia mulai berubah dan beralih dengan
menggunakan obat-obat modern.
2) Perubahan terencana
Perubahan perilaku juga dapat terjadi akibat direncanakan
sendiri. Misalnya, seorang wanita saat belum menikah dia
adalah seorang perokok berat, namun karena dia ingin hamil dan
memperoleh
informasi
dampak
negative
merokok
pada
perkembangan janin, kemudia dia merencanakan untuk tidak
merokok lagi. Selama masa hamil dia berhenti merokok, berarti
terjadi perubahan perilaku terencana sesuai informasi dan
pengalamannya.
3) Penerimaan informasi atau pengetahuan
Banyak tidaknya informasi atau pengetahuan yang diterima
seseorang atau sekelompok orang memengaruhi perubahan
perilaku. Misal, informasi keluarga berencana. Informasi dan
pengetahuan makna keluarga berencana bagi masyarakat di
desa yang sangat terpencil cenderung lebih sedikit daripada
masyarakat kota. Bagi masyarakat kota biasanya lebih mudah
mendapatkan informasi keluarga berencana. Kondisi itu
membedakan perilaku orang atau masyarakat yang mengenal
konsep keluarga berencana dengan yang belum mengenal.
4) Perubahan kondisi fisiologis
Perubahan perilaku manusia juga bisa terjadi akibat
perubahan kondisi fisiologis, terutama yang berhubungan
10
kesehatan dan penyakit yang diderita. Adanya perubahan
terhadap kondisi kesehatan fisik akan memengaruhi kondisi
psikis seseorang yang akhirnya membawa perubahan sikap dan
perilaku.
5) Kesediaan untuk berubah
Apabila terjadi inovasi program-program pembangunan
dalam masyarakat, maka sering terjadi perubahan perilaku.
Akan terlihat perbedaan pola sikap dan perilaku masyarakat.
Ada sebagian cepat menerima program dan ada sebagian lagi
menolak terhadap perubahan tersebut. Hal ini disebabkan
kesiapan dan kesediaan untuk berubah akibat perbedaan dari
sikap, minat, dan kemampuan diri. 15
2. Masyarakat
Masyarakat menurut Shadily dalam Abu Ahmadi, adalah
“golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, dengan atau karena
sendirinya,bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh
kebatinan satu sama lain” 16. Masyarakat bisa diartikan pula sebagai
kelompok manusia yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi
yang memiliki peranan untuk mencapai tujuan bersama.
Pendapat J.L. Gillin dan J. P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat
adalah “kelompok manusia terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi,
sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi
pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil” 17.
Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut sebagai society, asal kata
socius yang berarti kawan. Adapun “masyarakat” berasal dari
bahasa Arab yaitu syirk yang artinya bergaul. Adanya saling
begaul itu tentu karena ada bentuk-bentuk aturan hidup, yang
bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melainkan
15
Herri Zan Pieter dan Namora Lumongga Lubis, Pengantar Psikologi untuk Kebidanan,
(Jakarta: Kencana, 2010), h.51-53.
16
Abu Ahmadi, dkk, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2009), h. 106.
17
Ibid.
11
oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang
merupakan kesatuan 18.
Drs. JBAF Mayor Polak dalam Abu Ahmadi menyebut
masyarakat adalah “wadah segenap antar hubungan sosial terdiri atas
banyak sekali kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap-tiap
kelompok terdiri atas kelompok-kelompok lebih baik atau sub
kelompok”. 19
Dapat disimpulkan dari pernyataan di atas, Masyarakat berasal
dari 2 bahasa yaitu bahasa Inggris dan Arab yang memiliki pengertian
yakni kawan dan bergaul maksudnya adalah sekolompok individuindividu yang memiliki kepentingan dan tujuan sama dengan cara
berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya. Ciri-ciri pokok
masyarakat yaitu :
a. Manusia yang hidup bersama. Di dalam ilmu sosial tak ada ukuran
yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa
jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoritis, angka
minimumnya ada dua orang yang hidup.
b. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia
tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti
umpamanya kursi, meja dan sebagainya. Oleh karena dengan
berkumpulnya manusia, maka akan timbul manusia-manusia baru.
Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti;
mereka
juga
mempunyai
keinginan-keinginan
untuk
menyampaikan kesan-kesan perasaannya. Sebagai akibat hidup
bersama itu, timbulah system komunikasi dan timbul peraturanperaturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam kelompok
tersebut.
c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan. Mereka
merupakan system hidup bersama. Sistem kehidupan bersama
18
M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Edisi Revisi, ( Bandung: PT Eresco, 1995),
h. 63.
19
Abu Ahmadi, dkk, op. cit.,h. 96.
12
menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota kelompok
merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya. 20
3. Industri
Industri memiliki pengertian kumpulan perusahaan yang
menghasilkan produk yang sejenis, atau produk pengganti yang
mendekati. 21 Menurut UU. No.5 Tahun 1984 Bab 1 tentang
perindustrian, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan
mentah, bahan baku, bahan setengah jadi,
dan/atau barang jadi
menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya,
termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Pembangunan industri adalah bagian dari pembangunan nasional,
sehingga pembangunan industri ini diharapkan mampu memberikan
sumbangan yang berarti terhadap pembangunan ekonomi maupun
sosial. Oleh karenanya, dalam penentuan tujuan pembangunan sektor
industri di masa depan, baik jangka menengah maupun jangka
panjang, bukan hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan
kelemahan di sektor industri saja yang disebabkan oleh melemahnya
daya saing, tetapi juga hasrus mampu turut mengatasi permasalahan
nasional. 22
Perusahaan/usaha industri adalah
suatu unit (kesatuan)
produksi yang terletak pada suatu tempat tertentu yang melakukan
kegiatan untuk mengubah barang-barang (bahan baku) dengan mesin
atau kimia atau dengan tangan menjadi produk baru, atau mengubah
barang-barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi
nilainya, dengan maksud untuk mendekatkan produk tersebut dengan
konsumen akhir.
20
Ibid., h. 32.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga,
(Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 234.
22
Departemen Perindustrian RI. Kebijakan Pembangunan Industri,
http://www.dprin.go.id/kebijakan/10KPAIN-Bab6.pdf (Diakses Minggu, 19 Juni 2016).
21
13
Berdasarkan PP.24/2009, pengertian kawasan industri adalah
kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan
sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh
perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan
industri.
4. Perilaku dalam Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat di
Lingkungan Kawasan Industri
a. Solidaritas Sosial
1) Pengertian solidaritas sosial
Solidaritas dalam bahasa arab dikenal dengan istilah
“Takaful” 23 yang artinya dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) mengandung pengertian Sifat (perasaan)
solider; sifat satu rasa (senasib dsb); perasaan setia kawan. 24
Adapun pengertian solidaritas menurut Siti Sholehah adalah
sikap saling membantu, menanggung dan memikul kesulitan
dalam hidup bermasyarakat. 25
Secara terminologi, solidaritas sosial adalah potensi
spiritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa. Oleh
karena itu, kesetiakawanan sosial merupakan Nurani Bangsa
Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang
dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung
jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari
masing-masing dari warga masyarakat dengan semangat
kebersamaan,
kerelaan
untuk
berkorban
demi
sesama,
kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Oleh
karena itu, kesetiakawanan sosial merupakan nilai dasar
kesejahteraan sosial, modal sosial yang ada dalam masyarakat
23
Achmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Indonesia-Arab, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 2007), h. 821.
24
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, (Diakses Selasa, 21 Juni 2016).
25
Siti Sholihah ‘Peran Masjid Cinere dalam Meningkatkan Solidaritas Sosial Mayarakat
(Cinere-Depok)’ Skripsi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Jakarta, 2009, h. 26.
14
terus
digali,
dikembangkan
dan
didayagunakan
dalam
mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk bernegara yaitu,
masyarakat sejahtera. 26
Salah seorang sosiolog yang menaruh perhatian dan
menjadikan fokus teoritis dalam membaca masyarakat adalah
Emile Durkheim. Bahkan,
persoalan solidaritas sosial
merupakan inti dari seluruh teori yang dibangun Durkheim.
Menurut Durkheim dikutip dari Johnson menyatakan bahwa
solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antar
individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral
dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama. 27
2) Bentuk-bentuk Solidaritas sosial
Menurut Durkheim, solidaritas sosial dapat diklasifikasikan
menjadi dua kategori yakni solidaritas mekanik dan solidaritas
organik.
a) Solidaritas mekanik
Solidaritas mekanik pada umumnya terdapat pada
masyarakat primitif, terbentuk karena mereka terlibat dalam
aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang
sama
dan
memerlukan
keterlibatan
secara
fisik. 28
Solidaritas tersebut mempunyai kekuatan sangat besar
dalam membangun kehidupan harmonis antara sesama,
sehingga solidaritas tersebut lebih bersifat lama dan tidak
temporer.
26
Ihttp://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=342.
Doyle Paul Jhonson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert M.Z Lawang,
(Jakarta: PT Gramedia, 1998), h. 181.
28
George Ritzer, Teori Sosiologi (Dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan
Mutakhir Teori Sosial Postmodern), (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), h. 93.
27
15
Solidaritas mekanik juga didasarkan pada tingkat
homogenitas yang tinggi. 29 Tingkat homogenitas yang
tinggi dengan tingkat ketergantungan antar individu yang
sangat rendah. Hal ini dapat dilihat misalnya pada
pembagian kerja dalam masyarakat. Dalam solidaritas
mekanik, individu memiliki tingkat kemampuan dan
keahlian dalam suatu pekerjaan yang sama sehingga setiap
individu dapat mencukupi keinginannya tanpa bergantung
dengan individu lain.
Ciri masyarakat dengan solidaritas mekanik ini
ditandai dengan adanya kesadaran kolektif yang
kuat, yang menunjuk pada totalitas-totalitas
kepercayaan dan sentiment-sentimen bersama.
Dimana ikatan kebersamaan tersebut terbentuk
karena adanya kepedulian diantara sesama.
Solidaritas mekanik terdapat dalam masyarakat
yang homogen terutama masyarakat yang tinggal di
daerah pedesaan, karena rasa persaudaraan dan
kepedulian diantara mereka biasanya lebih kuat
daripada masyarakat perkotaan. Ia menyimpulkan
bahwa masyarakat primitive dipersatukan terutama
oleh fakta nonmaterial, khususnya oleh kuatnya
ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang biasa
ia sebut sebagai kesadaran kolektif. 30
Bagi Durkheim, indikator yang paling jelas untuk
solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya
hokum-hukum yang bersifat represif (menekan). Anggota
masyarakat ini memiliki kesamaan satu sama lain dan
mereka cenderung sangat percaya pada moralitas bersama,
apapun pelanggaran terhadap sistem nilai bersama tidak
akan dinilai main-main oleh seriap individu. 31
29
John Scott, Teori Sosial: Masalah-masalah Sosial dalam Sosiologi, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012), h. 80.
30
George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana,
2011), h. 22
31
George Ritzer. loc. cit. h. 93.
16
Hukuman yang dikenakan terhadap pelanggaran
aturan-aturan
represif
itu
pada
hakikatnya
adalah
merupakan manifestasi dari kesadaran kolektif untuk
menjamin supaya masyarakat yang bersangkutan berjalan
dengan teratur dan baik. Ikatan yang mempersatukan
anggota-anggota masyarakat disini adalah homogen dan
masyarakat terikat satu sama lain secara mekanik.
Perilaku disebut melawan hukum jika dipandang
mengancam atau melanggar kesadaran kolektif. Jenis dan
beratnya hukuman tidak selalu harus mempertimbangkan
kerugian atau kerusakan yang yang diakibatkan oleh
pelanggarannya, tapi lebih dirasakan pada kemarahan
bersama akibat terganggunya kesadaran kolektif seperi
penghinaan untuk menjamin supaya masyarakat yang
bersangkutan berjalan dengan teratur dan baik.
b) Solidaritas organik
Solidaritas
organik
merupakan
sebuah
ikatan
bersama yang dibangun atas dasar perbedaan, mereka justru
dapat bertahan dengan perbedaan yang ada di dalamnya
karena pada kenyataannya bahwa semua orang memiliki
pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. 32 Tetapi
perbedaan tersebut saling berinteraksi dan membentuk
suatu ikatan yang sifatnya tergantung. Masing-masing
anggota masyarakat tidak lagi dapat memenuhi semua
kebutuhannya sendiri melainkan ditandai oleh saling
ketergantungan yang besar dengan orang atau kelompok
lain. saling ketergantungan antar anggota ini disebabkan
karena mereka telah mengenal pembagian kerja yang
teratur.
32
Ibid., h. 91.
17
Solidaritas
organik
biasanya
terdapat
dalam
masyarakat perkotaan yang heterogen. Hubungan atau
ikatan yang dibangun biasanya didasarkan atas kebutuhan
materi atau hubungan kerja dalam sebuah perusahaan.
Pembagian yang mencolok terdapat dalam masyarakat
perkotaan yang sebagian masyarakatnya bekerja dalam
berbagai macam sektor perekonomian. Spesialisasi yang
berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial
menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada
sesamanya, sehingga tingkat solidaritas organik uncul
karena
pembagian
kerja
yang
bertambah
besar.
Bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan
akan berakibat pada bertambahnya spesialisasi dalam
pembagian pekerjaan akan berakibat pada bertambahnya
saling
ketergantungan
meungkinkan
individu.
antara
bertambahnya
Munculnya
individu,
perbedaan
perbedaan-perbedaan
yang
juga
dikalangan
dikalangan
individu merombak kesadaran kolektif itu, yang pada
gilirannya menjadi kurang penting lagi sebagai dasar untuk
keteraturan sosial.
Akibat dari pembagian kerja yang semakinrumit,
timbullah kesadaran yang lebih mandiri. 33 Kesadaran
individual berkembang dala cara yang berbeda dari
kesadaran kolektif, seringkali malah berbenturan dengan
kesadaran kolektif. Sehingga kepedulian diantara sesama
menjadi luntur dan berkurang dalam sebuah masyarakat.
Dari kondisi tersebut timbullah aturan-aturan baru yang
berlaku pada individu, misalnya aturan bagi para dokter,
para
33
guru,
buruh
atau
pekerja,
konglomerat,
I.B Wirawan, Teori-teori dalam Tiga Paradigma, (Jakarta: Kencana Prenadamedia
Group, 2013), h. 18
dan
18
sebagainya. Aturan-aturan tersebut menurut Durkheim yang
disebut bersifat restitutif.
Hukum yang bersifat restitutuf (memulihkan), ia
bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk
memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang
kompleks. Hukum restitutif berfungsi untuk melndungi dan
mempertahankan pola ketergantungan antara berbagai
individu dan kelompok yang berbeda. Hukuman yang
diberikan
bukan
untuk
memulihkan keadaan.
balas
dendam
tapi
untuk
Jenis dan beratnya hukuman
disesuaikan dengan parahnya pelanggaran yang dilakukan
dan dimaksudkan untuk memulihkan hak-hak korban atau
menjamin bertahannya pola ketergantungan yang tercipta
dalam masyarakat.
Tabel 2.1
Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik
Solidaritas Mekanik
Solidaritas Organik
1. Pembagian kerja
1. Pembangian kerja
rendah
2. Kesadaran kolektif
kuat
3. Hukum represif
dominan
4. Konsensus
tinggi
2. Kesadaran kolektif
lemah
3. Hukum restitutif
dominan
4. Konsensus pada
terhadap pola-pola
nilai-nilai abstrak
normative penting
dan umum penting
5. Individualitas
5. Individualitas tinggi
rendah
6. Keterlibatan
6. Badan kontrol sosial
komunitas dalam
yang menghukum
menghukum orang
orang-orang yang
19
yang menyimpang
7. ketergantungan
rendah
menyimpang
7. ketergantungan
tinggi
8. Bersifat primitive
atau pedesaan
8. Bersifat industrial
perkotaan
3) Gotong royong
Solidaritas tentunya tidak lepas dari makna gotong royong.
Hubungannya dengan gotong royong, Sajogyo mengatakan
bahwa gotong royong merupakan satu bentuk tolong menolong
yang umumnya berlaku pada daerah pedesaan Indonesia.
Gotong royong sebagai bentuk kerjasama antar individu,
individu dengan kelompok, dan diantara sesama kelompok
membuat suatu norma yang saling percaya untuk melakukan
kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi
kepentingan bersama. Bentuk gotong royong seperti ini
merupakan salah satu bentuk solidaritas sosial, karena salah satu
sumber solidaritas adalah gotong royong. 34
Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan secara
bersama-sama dan bersifat suka rela dengan tujuan agar
kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar, mudah
dan ringan. Menurut Kentjoroningrat dalam Rary, gotong
royong atau tolong menolong dalam komunitas kecil bukan saja
tergolong oleh keinginan spontan untuk berbakti kepada sesama,
tetapi
dasar
tolong
menolong
adalah
perasaan
saling
membutuhkan yang ada dalam jiwa masyarakat. 35
Perilaku masyarakat dalam kegiatan gotong royong
menunjukkan bentuk solidaritas dalam kelompok masyarakat
34
Siti Sholihah ‘Peran Masjid Cinere dalam Meningkatkan Solidaritas Sosial Mayarakat
(Cinere-Depok), h. 34-35.
35
Rary, 2012, Bentuk-bentuk Gotong Royong Masyarakat Desa, (Diakses Senin, 4 April
2016)
20
tersebut. Gotong royong merupakan ciri bangsa Indonesia yang
berlaku secara turun-temurun sehingga membentuk perilaku
sosial yang nyata dalam tata nilai kehidupan sosial. Nilai
tersebut menjadikan kegiatan gotong royong selalu terbina
dalam kehidupan komunitas sebagai suatu warisan yang patut
untuk dilestarikan.
Gotong royong sebagai solidaritas sosial mengandung dua
pengertian, yaitu gotng royong dalam bentuk tolong menolong
dan gotong royong dalam bentuk kerja bakti. Keduanya
merupakan sama-sama bertujuan untuk saling meringankan
beban namun berbeda dalam hal kepentingan. Tolonng
menolong dilakukan untuk kepentingan perseorangan pada saat
kesusahan atau memerlukan bantuan dalam menyeesaikan
pekerjaannya sehingga pihak yang bersangkutan mendapat
keuntungan dengan adanya bentuan tersebut. Sedangkan kerja
bakti
dilakukan
untuk
kepentingan
bersama
sehingga
keuntungannya pun dirasakan bersama baik bagi warga yang
bersangkutan maupun orang lain walaupun tidak turut serta
dalam kerja bakti. Guna memelihara nilai-nilai solidaritas sosial
dan partisipasi masyarakat secara sukarela dalam pembangunan
di era sekarang ini, maka perlu ditumbuhkan dari interaksi sosial
yang berlangsung karena ikatan kultural sehingga memunculkan
kebersamaan
komunitas
yang
unsur-unsurnya
meliputi:
seperasaan, sepenanggungan, dan saling butuh. Pada akhirnya
menumbuhkan kembali solidaritas sosial.
Menurut Koendjaraningrat dalam Suprihatin mengemukaan
konsep atau bentuk kegiatan gotong royong sebagai berikut : 36
a) Gotong royong dalam kepentingan umum dalam masyarakat
desa, seperti siskamling, memperbaiki jalan, jembatan,
36
Suprihatin, “Perubahan Perilaku Bergotong Royong Masyarakat sekitar Persahaan
Tambang Batubara di Desa Mulawarman Kecamatan Tenggarong Seberang”, Skripsi pada
Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, 2014, h. 32.
21
bendungan irigasi, bangunan umum, dsb. Dalam hal ini
penduduk desa dapat bergerak untuk kerja bakti atas
perintah dari kepala desa.
b) Gotong royong dalam menangani musibah seperti kematian,
sakit, atau kecelakaan, dimana keluarga yang tertimpa
musibah tersebut mendapat pertolongan berupa tenaga dan
benda dari tetangga-tetangga dan orang lain yang tinggal di
desa sekitar.
c) Gotong royong dalam pesta atau hajatan, bantuan tidak
hanya dapat diminta dari kaum kerabat saja tetapi juga
tetangga untuk mepersiapkan dan penyelenggaraan pestanya.
b. Perilaku Konsumtif
1) Pengertian Perilaku Konsumtif
Kata konsumtif, bisa berarti sikap atau perilaku yang
senang membeli barang untuk mendapatkan prestise atau
gengsi. 37 Retno Widiastuti mengatakan bahwa perilaku
konsumtif adalah sebuah perilaku boros, yang mengkonsumsi
barang atau jasa secara berlebihan, yang lebih mendahulukan
keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas.
Perilaku konsumtif juga dapat diartikan sebagai gaya hidup
yang bermewah-mewahan. 38
Kemudian Ratno Sumabi, dalam situs komunitas dari
Universitas Gunadarma, istilah konsumtif biasanya digunakan
pada masalah yang berkaitan dengan perilaku konsumen dalam
kehidupannya. Dewasa ini salah satu gaya hidup konsumen
yang cenderung terjadi di dalam masyarakat adalah gaya hidup
yang
37
menganggap
materi
sebagai
sesuatu
yang
bisa
Fitri Irfani, 2010, Pengaruh Iklan Fashion Majalah Terhadap Perilaku Konsumtif
Siswa SMAN 2 Kota Tangsel, Skripsi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Syarif
Hidayatullah, h. 24.
38
Fatimatul Fikriyah, 2009, Hubungan Antara Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif
pada Mahasiswa Program Non Reguler Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Skripsi Sarjana Psikologi, h. 30.
22
mendatangkan kepuasan. Gaya hidup seperti ini dapat
menimbulkan
adanya
gejala
konsumtifisme,
sedangkan
konsumtifisme untuk membeli barang yang kurang atau tidak
diperlukan. 39
Adapun menurut Tambunan menjelaskan bahwa perilaku
konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi barangbarang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan
untuk mencapai kepuasan maksimal. 40
Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang
semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih
mementingkan keinginan dari pada kebutuhan. Sehingga tanpa
pertimbangan
yang
matang
seseorang
begitu
mudah
melakukan pengeluaran untuk macam-macam keinginan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.
Sejalan dengan pendapat di atas, penulis memiliki
pandangan yang sama mengenai perilaku konsumtif yaitu
perilaku individu yang ditujukan untuk mengkonsumsi tiada
batas terhadap barang dan jasa yang kurang atau tidak
diperlukan, hanya berdasarkan keinginan semata tanpa
pertimbangan
yang
rasional.
Para
perilaku
konsumtif
berperilaku dengan demikian karena alasan-alasan tertentu
yang
sebenarnya
hanya
berorientasi
pada
pencapaian
kepuasan, peningkatan kepercayaan diri serta ingin dianggap
keberadaannya di lingkungan mereka tinggal.
Perilaku konsumtif sebagian besar dilakukan kaum wanita.
Wanita
mempunyai
kecenderungan
lebih
besar
untuk
berperilaku konsumtif dibandingkan pria. Hal ini disebabkan
konsumen
39
wanita
cenderung
lebih
emosional,
sedang
Retno Sumabi, Konsep Konsumsi, konsumen, Konsumtif, Konsumerisme, Universitas
Gunadarma, www.wartawarga.com (11-06-2016, 20.42).
40
Nur Fitriyani dkk, Hubungan antara Konformitas dengan Perilaku Konsumtif pada
Mahasiswa di Genuk Indah, jurnal psikolog Undip, 2013, vol 12 no 1 April, h. 56.
23
konsumen pria lebih nalar. Wanita sering menggunakan
emosinya dalam berbelanja. Wanita Kalau emosi sudah
menjadi raja sementara keinginan begitu banyak, maka yang
terjadi adalah mereka akan jadi pembeli yang royal. 41
Tambunan menjelaskan kecenderungan perilaku konsumsi pria
yaitu mudah terpengaruh bujukan penjual, sering tertipu
karena tidak sabaran dalam memilih barang, mempunyai
perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah
memasuki toko, kurang menikmati kegiatan berbelanja
sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.
Sebaliknya, perilaku konsumsi wanita yaitu lebih tertarik pada
warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya,
mudah terbawa arus bujukan penjual, menyenangi hal-hal yang
romantic daripada objektif, cepat merasakan suasana toko, dan
senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya windows
shopping (melihat-lihat tapi tidak membeli). 42
2) Faktor-faktor yang mempegaruhi perilaku konsumtif
Kotler mengatakan bahwa, “perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan
psikologis”.
a) Faktor Budaya
Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting
bagi perilaku pembelian. Budaya terdiri dari sejumlah subbudaya yang lebih menampakkan identifikasi dan sosialisasi
khusus bagi para anggotanya. Sub-budaya mencakup
kebangsaan, agama, kelompok ras, wilayah geografis. Pada
dasarnya, semua masyarakat manusia memiliki stratifikasi
41
Rifa Dwi Styaning Anugrahati, 2014, Gaya Hidup Shopaholic sebagai bentuk Perilaku
Konsumtif pada Kalangan Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Skripsi Sarjana Ilmu Sosial,
h. 1.
42
Habibah, 2014, Dampak Tunjangan Sertifikasi terhadap Gaya Hidup Konsumtif,
Skripsi Sarjana PAI UIN JKT, h. 22.
24
sosial. Stratifikasi lebih sering ditemukan dalam bentuk
kelas sosial, pembagian masyarakat yang relatif homogeny
dan permanen, yang tersusun secara hirarkis dan yang para
anggotanya menganut nilai, minat, dan perilaku serupa.
b) Faktor sosial
Perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor
sosial, seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan
status
sosial.
Kelompok
acuan
membuat
seseorang
menjalani perilaku dan gaya hidup baru dan mempengaruhi
perilaku serta konsep pribadi seseorang, kelompok acuan
menuntut orang untuk mengikuti kebiasaan kelompok
sehingga dapat mempengaruhi pilihan seseorang akan
produk dan merek actual. Keluarga orientasiterdiri dari
orang tua dan saudara kandung seseorang. Dari orang tua
seseorang mendapatkan orientasi atas agama, politik, dan
ekonomi serta ambisi, pribadi, harga diri dan cinta.
c) Faktor pribadi
Keputusan
pembeli
juga
dipengaruhi
oleh
karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi usia
dan tahap dalam siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi,
kepribadian dan konsep diri, serta nilai dan gaya hidup
pembeli.
d) Faktor psikologis
Suatu perangkat proses psikologis berkombinasi
dengan karakter konsumen tertentu untuk menghasilkan
proses keputusan dan pembelian. Empat proses psikologis
penting-motivasi, persepsi, pembelajaran, dan memorisecara fundamental mempengaruhi tanggapan konsumen
terhadap berbagai rangsangan pemasaran. 43
43
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran Analils, Perencanaan Pengendalian, Prentice
Hall (Jakarta: Salemba Empat,2007), Edisi Bahasa Indonesia.
25
3) Aspek-aspek perilaku konsumtif
Ciri-ciri seseorang yang berperilaku konsumtif ditandai
dengan:
a) Pembeli ingin tampak berbeda dengan orang lain
Seseorang melakukan kegiatan membeli barang
dengan maksud untuk menunjukkan dirinya berbeda dengan
yang lainnya. Seseorang dalam memakai atau menggunakan
suatu barang selalu ingin lebih dari yang dimiliki orang lain.
b) Kebanggan diri
Orang biasanya akan merasa bangga apabila ia
dapat memiliki barang yang berbeda dari orang lain,
terlebih lagi apabila barang tersebut jauh lebih bagus
daripada milik orang lain.
c) Ikut-ikutan
Pada umumnya seseorang akan melakukan tindakan
pembelian yang berlebihan hanya untuk meniru orang lain
dan mengikuti trend mode yang sedang beredar dan bukan
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
d) Menarik perhatian orang lain
Pembelian terhadap suatu barang dilakukan karena
seseorang ingin menarik perhatian orang lain dengan
menggunakan barang yang sedang popular saat ini. 44
Menurut Lamarto, gejala-gejala konsumitivisme adalah :
1) Adanya pola konsumsi yang bersifat berlebihan, artinya
kecenderungan manusia untuk mengkonsumsi barang
tanpa batas (berfoya-foya) dan lebih mementingkan
faktor keinginan.
2) Pemborosan, artinya kecenderungan manusia yang
bersifat matrealistik dan hasrat yang besar untuk
44
Gultomhans, https://gultomhans.woldpress.com/2012/10/14/faktor-faktor-yangmempengaruhi-perilaku-konsumtif/, (Diakses Selasa, 29 September 2016).
26
memiliki
benda-benda
tanpa
memperhatikan
kebutuhannya.
3) Kepuasan semu, artinya kepuasan yang seharusnya
dapat ditunda menjadi yang harus segera dipenuhi.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
1. Penelitian dilakukan oleh Sri Hastuti (2007) di mana judul
penelitiannya adalah Gaya Hidup Remaja Pedesaan (Studi di Desa
Sukaraya, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera
Utara) dengan menggunakan metode Kualitatif. Hasil penelitian
tersebut ditemukan bahwa masyarakat mengalami perubahan dalam hal
gaya
hidup
yang
mengarah
ke
perilaku
konsumtif
dalam
berpenampilan mengikuti perkembangan zaman. 45
2. Penelitian dilakukan Ayi Budi Santosa (2010), meneliti tentang gotong
royong menggunakan metode kualitatif dengan judul Sikap Gotong
Royong pada Masyarakat Pedesaan (Studi Kasus Kampung Batu Reog,
Lembang). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan gotong
royong masih ada dan terpelihara kelestariannya dengan adanya
kegiatan gotong royong seperti jum’at bersih, pembersihan makam,
gotong royong dalam menggalang dana untuk memeriahkan hari
kemerdekaan Indonesia, gotong royong dalam hajatan dsb. 46
3. Penelitian dilakukan oleh Febri Cahya Gumelar (2012) yang berjudul
Dampak Perubahan Mata Pencaharian terhadap Perilaku Masyarakat di
Pantai Harapan Jaya Kabupaten Bekasi, dengan menggunakan metode
Kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak
mengalami perubahan yang signifikan yaitu masih berbau masyarakat
desa. Sedangkan perilaku yang berkaitan dengan perilaku ekonomi,
perilaku pola pikir dan perilaku gaya hidupnya, secara umum
mengalami perubahan, seperti pendapatan bertambah, pekerjaan tetap,
45
Sri Hastuti, Gaya Hidup Masyarakat Pedesaan, jurnal FISIP Universitas Sumut, Januari
2007, vol 1 no 2.
46
Ayi Budi Santosa. 2010. Sikap Gotong Royong Pada Masyarakat Perdesaan (Studi
Kasus Kampung Batu Reog, Lembang). Lembang.
27
hidup lebih konsumtif (boros), gaya hidup ke kota-kotaan dan
pergaulan dalam penampilan lebih glamaour serta lebih banyak
menggunakan sarana teknologi dalam komunikasinya. 47
4. Penelitian dilakukan oleh Ana Rosita Sari (2006) yang berjudul
Industrialisasi dan Perubahan Pola Perilaku Masyarakat Desa (Studi
tentang Perubahan Pola Perilaku Sosial dan Perubahan Pola Perilaku
Ekonomi yang terjadi di Desa Tepas, Kec. Geneng, Kab. Ngawi) yang
menggunakan metode Kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terjadi perubahan perilaku masyarakat dengan masuknya industrialisasi
yang secara tidak langsung terjadi perubahan mata pencaharian ke
sektor industri, pola perubahan perilaku ekonomi masyarakat
cenderung konsumtif. Sedangkan perilaku sosial masyarakat tidak
peduli
pada
lingkungan
sekitarnya,
individualistik.
Rutinitas
masyarakat terpusat pada sektor industri sehingga rasa kebersamaan
sebagai ciri masyarakat menjadi pudar. 48
5. Penelitian dilakukan oleh Elly (2006) yang berjudul Perilaku Konsumtif
Masyarakat Desa di Lingkungan Industri (Studi Deskriptif tentang
Perilaku Konsumtif Masyarakat Desa Cangkrigmalang, Kecamatan
Beji, Kabupaten Pasuruan) yang menggunakan metode kualitatif. Hasil
penelitian
menunjukkan
perilaku
konsumtif.
Faktor
yang
mempengruhi seperti untuk membandingkan, tidak ingin ketinggalan
zaman, tampil percaya diri, kepuasan, keren/gaul dan gengsi/kelihatan
kaya. 49
47
Febri Cahya Gumelar, ‘Dampak Perubahan Mata Pencaharian terhadap Perilaku
Masyarakat (Studi Psikolog Sosial di Pantai Harapan Jaya Kabupaten Bekasi)’ Skripsi Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2012.
48
Ana Rosita Sari, “Industrialisasi dan Perubahan Pola Perilaku Masyarakat Desa (Studi
tentang Perubahan Pola Perilaku Sosial dan Perubahan Pola Perilaku Ekonomi yang terjadi di Desa
Tepas, Kec. Geneng, Kab. Ngawi), Skripsi Jurusan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah
Malang, 2006.
49
Elly, “Perilaku Konsumtif Masyarakat Desa di Lingkungan Industri (Studi Deskriptif
tentang Perilaku Konsumtif Masyarakat Desa Cangkrigmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten
Pasuruan)”, Skripsi Jurusan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang, 2006.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini difokuskan pada desa Tarikolot, Kecamatan
Citeureup, Bogor yang menjadi daerah sekitar kawasan industri. Tempat
ini dipilih karena desa tersebut merupakan desa yang paling dekat berada
dengan kawasan industri. Secara administratif, Desa Tarikolot berbatasan
dengan wilayah:
Sebelah Utara
: Desa Citeureup
Sebelah Selatan
: Desa Sukahati
Sebelah Timur
: Desa Pasir Mukti
Sebelah Barat
: Desa Karang Asem Timur
Untuk lebih jelasnya mengenai tempat penelitian dapat dilihat pada
gambar:
Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian
28
29
Waktu penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai September
2016. Berikut ini dijelaskan jadwal penelitian dalam bentuk tabel:
Tabel 3.1
Jadwal Penelitian
Bulan
No.
1
Kegiatan
Maret
Mei
Juli
Sept
2015
2016
2016
2016
2016
Pengajuan
Proposal
2
Nov
√
Seminar Proposal
√
3
Penyusunan Bab IIII
4
√
Penyusunan
Instrumen
√
Penelitian
5
Pengumpulan Data
√
6
Pengolahan Data
√
dan Analisis Data
7
Pemeriksaan dan
√
Keabsahan Data
8
Penyerahan Hasil
Penelitian
√
B. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang digunakan dalam suatu
penelitian untuk memecahkan masalah dan tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut maka harus ditempuh
30
dengan langkah-langkah yang relevan dengan masalah yang sudah
dirumuskan. Metode penelitian merupakan panduan bagi peneliti dalam
menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan. Metode yang
digunakan penulis dalam penyusunan penelitian ini adalah kualitatif.
“Meleong menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang
yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, dan lain sebagainya secara holistik dan dengan
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks
khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah”. 50
Dimana menurut metode ini adalah metode yang dapat
menghasilkan data dalam bentuk deskriptif. Hal tersebut sejalan dengan
pendapat Taylor dan Bogdan yang mengemukakan bahwa metode
peneltian kualitatif ini dapat diartikan “Sebagai penelitian yang
menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis,
dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti.” 51
C. Populasi dan Sampel
Populasi menurut Sugiyono adalah “wilayah generalisasi yang
terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang tetapi juga objek
dan benda-benda alam yang lain” 52.
Menurut pendapat Nursid Sumaatmadja, populasi adalah
“keseluruhan gejala, individu, kasus dan masalah yang kita teliti,
yang ada di daerah penelitian, menjadi obyek penelitian geografi
itu meliputi kasus (masalah, peristiwa tertentu), individu (manusia
baik sebagai perorangan, maupun sebagai kelompok), dan gejala
(fisis, sosial, ekonomi, budaya, politik) yang ada pada ruang
geografi tertentu”. 53
50
Lexy J. Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2009), h. 6.
51
Bagong Syanto, Sutinah, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan,
(Jakarta: Prenada Media Group, 2011), h. 166.
52
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,
2009), h. 80.
53
Nursid Sumaatmadja, Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan,
(Bandung: Alumni 1988), h. 112.
31
Pendapat Suharsimi mengenai populasi adalah “Keseluruhan
subjek penelitian”. 54
Populasi menurut Moh. Pabundu Tika adalah himpunan atau objek
yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas”. 55
Berdasarkan pernyataan diatas, populasi adalah keseluruhan dari
suatu objek maupun subjek dari suatu tempat penelitian. Populasi di
penelitian ini adalah keseluruhan warga masyarakat yang ada di Desa
Tarikolot.
Sampel menurut Moh. Pabundu Tika adalah “sebagian dari objek
atau individu-individu yang mewakili suatu populasi”. 56
Pendapat lain menurut Suharsimi Arikunto adalah “sebagian atau
wakil populasi yang diteliti”. 57
Sampel sebagai setengah bagian dari suatu populasi, sampel ini
dijadikan sebagai pembatas dalam penarikan data. Sampel di dalam
penelitian ini berjumlah 13 orang yaitu Kepala Desa, tokoh masyarakat,
ketua RT, dan buruh pabrik.
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
Pengumpulan data merupakan langkah yang penting dalam metode
ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan akan digunakan
untuk memperoleh data yang dibutuhkan agar dapat menunjang suatu
penelitian, maka penulis melakukan pengumpulan data dengan teknik dan
alat pengumpulan data sebagai berikut :
54
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), h.173.
55
Moh. Pabundu Tika, Metode Penelitian Geografi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), h
24.
56
Ibid.
57
Suharsini Arikunto, op. cit., h.109.
1. Observasi
Menurut Nasution dalam Sugiyono, menyebutkan observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan. 58 Observasi penelitian yaitu peneliti
langsung di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh gambaran
lengkap tentang keadaan kondisi sosial masyarakat dan kesaharian
informan. Teknik ini dianggap kuat karena meskipun sasarannya
individu tetapi dapat memotret dunia sosial mereka sehingga dapat
menampilkan potret masyarakat secara keseluruhan. Data yang
diungkap melalui observasi antara lain keadaan sosial individu
informan, proses interaksi antar individu di dalam masyarakat.
2. Wawancara
Wawancara merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap
muka (face to face) antara pewawancara (interviewer) dan yang
diwawancara (interviewee) tentang masalah yang diteliti, dimana
pewawancara bermaksud memperoleh persepi, sikap, dan pola pikir
dari yang diwawancarai yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Karena wawancara itu dirancang oleh pewawancara maka hasilnya pun
dipengaruhi
oleh
karakteristik
pribadi
pewawancara. 59
Teknik
wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
wawancara mendalam. 60
3. Dokumentasi
Menurut Sugiyono “Dokumentasi merupakan catatan peristiwa
yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau
karya-karya monumental dari seseorang” 61. Dokumentasi dalam
penelitian ini mengambil segala kegiatan yang dilaksanakan sejak awal
penelitian hingga akhir penelitian dengan menggunakan kamera, alat
perekam, catatan kecil.
58
Sugiyono, op. cit., h. 218-219.
Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (PT Bumi Aksara,
2013), h. 162.
60
Arif Sumantri, metodologi Penelitian Kesehatan. (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2011), h. 170.
61
Sugiyono, op. cit., h. 240.
59
32
33
E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas dalam penelitian
kualitatif ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber
dengan cara dan tekhnik yang berbeda, terdapat dua macam triangulasi
untuk mengecek kreadibilitas data dalam penelitian ini.
1. Triangulasi sumber, digunakan unutk menguji kreadibiltas data
dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui
beberapa
sumber.
Setelah
didapatkan
data
selanjutnya
data
dideskripsikan, dikategorisasikan, dan dicari yang lebih spesifik.
2. Triangulasi tekhnik, untuk menguji kreadibilatas data dengan cara
mengecek data kepada sumber yang sama dengan tekhnik yang
berbeda. 62
F. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang di peroleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,
dan dokumentasi. Analisis data dilakukan sebelum memasuki lapangan,
selama di lapangan, hingga setelah di lapangan. 63
Untuk menganalisis data-data yang terkumpul yang kemudian telah
diolah, maka digunakan beberapa tekhnik analisis data sebagai berikut:
1. Data reduksi, data yang di peroleh di tulis dalam bentuk laporan atau
data yang terperinci. Laporan yang di susun berdasarkan data yang di
peroleh di reduksi, di rangkum, di pilih hal-hal yang pokok di
fokuskan pada hal-hal yang penting. Data hasil akan memberikan
gambaran yang lebih mudah untuk melakukan pengumpulan data.
2. Data display, dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan
berbagai bentuk seperti tabel, grafik dan sejenisnya. Penyajian data
bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antra
kategori, flowchart dan sejenisnya.
62
Ibid., h. 273.
Buchori Lapau. Metode Penelitian Kesehatan, Metode Ilmiah Penulisan Skripsi, Tesis
dan Disertasi. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2013), h. 95-96.
63
34
3. Penarikan kesimpulan, kesimpulan dalam penelitian kualitatif
mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang di rumuskan sejak
awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan
bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualittaif
masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada
di lapangan. 64
64
Djam’an Satori dan Aan Komariah. Metodologi penelitian Kualitatif, (Bandung:
Alfabeta, 2013), h.218-220.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
a. Kondisi Geografis
Desa
Tarikolot
merupakan
bagian
dari
Kecamatan
Citeureup yang merupakan bagian dari Kabupaten Bogor dengan
luas wilayah 250.05 Ha. Bentang alam Desa Tarikolot merupakan
dataran rendah dengan curah hujan 3002002/3500/Tahun, tingkat
kelembapan dengan suhu rata-rata 3500°C s/d 3800°C. Memiliki
tinggi tepat 94300.120 dari permukaan laut.
Batas-batas Desa Tarikolot antara lain sebelah utara
berbatasan dengan Desa Citeureup, Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Sukahati, sebelah Timur berbatasan dengan Desa
Pasir Mukti, dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Karang
Asem Timur. 65 Secara tabel dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 4.1
Batas Wilayah Desa Tarikolot
Batas
Desa/Kelurahan
Kecamatan
Sebelah Utara
Citeureup
Citeureup
Sebelah Selatan
Sukahati
Citeureup
Sebelah Timur
Pasir Mukti
Citeureup
Sebelah Barat
Karang Asem Timur
Citeureup
Sumber: Data dan Informasi Desa Tarikolot 2016
65
Data dan Informasi Desa di Jawa Barat Tahun 2016
35
36
Gambar 4.1 Peta Administratif Kecamatan Citeureup
b. Kondisi Demografis
Desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 19.224 Jiwa pada
tahun 2016 dengan jumlah perbandingan Laki-laki sebanyai 9.870 Jiwa
dan Perempuan sebanyak 9.354 Jiwa. Berdasarkan jumlah Kepala
Keluarga (KK) berjumlah 4.931 KK, yang terbagi menjadi 4 (empat)
Dusun, 11 (sebelas) Rukun Warga (RW), dan 58 (lima puluh delapan)
Rukun Tetangga (RT).
Tabel 4.2
Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis Kelamin
Jumlah
1
Laki-laki
9.870 Jiwa
2
Perempuan
9.354 Jiwa
Jumlah
19.224 Jiwa
Sumber: Data dan Informasi Desa Tarikolot 2016
Gambaran data penduduk berdasarkan usia Desa Tarikolot dapat
dilihat dari tabel di bawah ini :
37
Tabel 4.3
Rekapitulasi Kelompok Umur Penduduk
Kelompok
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
00 s/d 05 Thn
323
291
614
05 s/d 07 Thn
322
316
638
07 s/d 13 Thn
1.193
1.200
2.993
13 s/d 16 Thn
640
541
1.181
16 s/d 19 Thn
563
525
1.088
19 s/d 23 Thn
774
666
1.440
23 s/d 30 Thn
1.308
1.282
2.590
30 s/d 40 Thn
1.856
2.006
3.862
40 s/d 56 Thn
2.096
1.910
4.006
56 s/d 65 Thn
529
426
955
65 s/d 75 Thn
206
133
339
75 Thn keatas
60
58
118
Jumlah
9.870
9.354
19.224
Umur
Sumber: Data dan Informasi Desa Tarikolot 2016
Berikut ini adalah penjelasan data penduduk Desa Tarikolot
berdasarkan usia, usia 0 – 5 tahun sampai dengan usia 75 tahun ke atas.
Usia 0-5 tahun sebanyak 614 orang, usia 5-7 tahun sebanyak 638 orang,
usia 7-13 tahun sebanyak 2.993 orang, usia 13-16 tahun sebanyak 1.181
orarng, usia 16-19 tahun sebanyak 1.088 orang, usia 19-23 tahun sebanyak
1.440 orang, usia 23-30 tahun sebanyak 2.590 orang, usia 30-40 tahun
sebanyak 3.862 orang, usia 40-56 tahun sebanyak 4.006 orang, usia 56-65
tahun sebanyak 955 orang, usia 65-75 tahun sebanyak 339 orang, dan usia
75 ke atas sebanyak 118 orang.
38
c. Kondisi Sosial Politik dan Trantib (Ketentraman dan ketertiban)
Secara umum kondisi sosial politik serta ketentraman dan
ketertiban di wilayah Desa Tarikolot cukup kondusif dan terkendali.
Berkaitan dengan masalah ketentraman dan ketertiban dapat
disampaikan bahwa pada tahun 2016 situasi dan kondisi terbilang
aman. Adapun gangguan ketentraman dan ketertiban yang terjadi
antara lain :
Pencurian
: 4 kali
Kebakaran
: 0 kali
Penipuan
: 0 kali
Lain kejadian
: 4 kali
Adapun jumlah anggota Perlindungan Masyarakat (LINMAS)
sampai saat ini tercatat sebanyak 100 orang dan LINMAS kategori
aktif tercatat sebanyak 46 orang. Untuk mendukung tugas pemerintah,
Desa Tarikolot memiliki fasilitas umum yaitu Kantor Pemerintahan
Desa 1 buah, Balai Pertemuan 1 buah, Posyandu 11 buah, dan
Poskamling 8 buah. Serta sarana dalam bidang pendidikan desa
Tarikolot memiliki 6 Taman Kanak-kanak (TK), 6 Sekolah Dasar
(SD), 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 2 Sekolah Menegah
Atas (SMA). Lebih jelas dapat diuraikan dalam table di bawah ini :
Tabel 4.4
Sarana dan Prasarana
No
Sarana
1
Pemerintahan Desa
2
Pendidikan Umum
Nama Tempat
Jumlah
Kantor Desa
1
Balai Pertemuan
1
Poskamling
8
TK/PAUD
8
SD/MII
9
39
3
Peribadatan
4
Kesehatan
SMP/MTs
3
SMA/MAN
3
Mesjid
11
Mushola
18
Majelis Ta’lim
15
Posyandu
11
Puskesmas
1
Bidan praktek
5
swasta
6
Dukun beranak
terlatih
Jumlah
109
Sumber: Data dan Informasi Desa Tarikolot 2016
d. Keadaan Ekonomi
Dari Tabel 4.5 di bawah dapat diketahui jumlah penduduk
Menurut mata pencaharian. Penduduk yang berprofesi sebagai
pengrajin sebanyak 275 orang, buruh pabrik sebanyak 876 orang,
bengkel las sebanyak 15 orang, bengkel mobil/motor sebanyak 15
orang, tukang jahit sebanyak 25 orang, pedagang sebanyak 115 orang,
warung sebanyak 6 rang, kios sebanyak 55 orang, petani sebanyak 214
orang, berkebun sebanyak 6 orang, kuli bangunan sebanyak 43 orang,
supir angkot sebanyak 33 orang, tukang ojeg sebanyak 480 orang,
ABRI sebanyak 9 orang, pensiunan sebanyak 17 orang, PNS sebanyak
45 orang dan lain-lain 7817 orang.
Dilihat
dari
jumlah
tersebut
dapat
diketahui
bahwa
matapencaharian ataupun pekerjaan yang paling banyak digeluti oleh
penduduk Desa Tarikolot adalah buruh pabrik. Tentunya hal ini
didukung oleh perkembangan industri yang ada di Desa Tarikolot
seperti PT Ricki Putra Globalindo, PT Wacoal Indonesia, PT Untung
Terus Sejahtera, PT Sari Rasa dan lain-lain.
40
Tabel 4.5
Mata Pencaharian
No
Nama Pekerjaan
Jumlah
1
Pengrajin
275
2
Buruh Pabrik
876
3
Bengkel Las
15
4
Bengkel Motor/Mobil
15
5
Tukang Jahit
25
6
Pedagang
115
7
Warung
60
8
Kios
55
9
Petani
214
10
Berkebun
6
11
Kuli Bangunan
43
12
Sopir Angkot
33
13
Tukang ojeg
480
14
ABRI
9
15
Pensiunan
17
16
PNS
45
17
Lain-lain
3817
Jumlah
6094
Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Kepala Desa Tarikolot
2006
Tabel 4.5
Mata Pencaharian
No
1
Nama Pekerjaan
Petani
Jumlah
214
41
2
Pedagang
525
3
Pegawai Negeri
23
4
TNI/POLRI
102
5
Pensiun
53
6
Swasta
3.556
7
Buruh pabrik
5.253
8
Pengrajin
541
9
Tukang bangunan
96
10
Penjahit
38
11
Tukang las
12
12
Tukang ojeg
121
13
Bengkel
23
14
Sopir angkutan
95
Jumlah
10.652
Sumber: Data dan Informasi Desa Tarikolot 2016
Keadaan ekonomi masyarakat Desa Tarikolot begitu beragam
tetapi secara umum lebih banyak mengandalkan sector industri dari pada
sector pertanian. Dari data di atas menjelaskan yang bekerja dalam sector
pertanian sebanyak 525 orang, pegawai negeri 102 orang, pensiun 53
orang, swasta 3.556 orang, buruh pabrik 5253 orang, pengrajin 541
orang, tukang bangunan 96 orang, penjahit 38 orang, tukang las 12 orang,
tukang ojeg 121 orang, bengkel 23 orang dan supir angkuran 95 orang.
Bila dibandingkan dari tabel 4.5 dan 4.6 dapat diketahui bahwa
mata pencaharian penduduk Desa Tarikolot mengalami peningkatan
dalam sektor industri dimana pada tahun 2006 buruh industri sebanyak
876 orang sedangkan pada tahun 2016 sebanyak 5253 orang.
2. Perubahan Perilaku dalam Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Masyarakat di Lingkungan Kawasan Industri
a. Kehidupan Sosial
Interaksi sosial pada dasarnya adalah segala tindakan yang
dilakukan oleh setiap individu di lingkungan tempat tinggalnya
42
dengan individu yang lain. Dalam interaksi sosial tidak jarang
nantinya akan timbul intensitas dalam berhubungan, keakraban dan
saling memiliki satu sama lain dan akan cenderung membentuk
kelompok. Dalam masyarakat pedesaan yang pada umumnya pasti
akan memiliki interaksi yang sangat intens dan sangat dekat, tetapi
pada Desa Tarikolot dengan adanya perkembangan industri yang
terus meningkat terjadi perubahan dan pergeseran nilai kebersamaan
seperti dalam kegiatan gotong royong.
1) Perilaku gotong royong dalam kepentingan umum sebelum
hadirnya kawasan industri
Kegiatan yang terjadi secara gotong royong pada kepentingan
umum adalah seperti pada pembuatan atau perbaikan jalan,
membersihkan parit dan renovasi tempat ibadah. Perbaikan jalan
dilakukan karena kondisi jalan yang rusak sehingga mengkhawatirkan
pengguna jalan. Hal ini dirasakan oleh Ketua RT 04/07 yang
mengatakan, sebelum adanya kawasan industri, masyarakat sangat
antusias dalam mengikuti aktivitas kerja bakti yang menyangkut
kepentingan bersama.
“dulu… masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan kerja
bakti seperti membersihkan lingkungan.” 66
Rasa kebersamaan dan persaudaraan sangat nampak disini.
Dengan suka rela warga mengerjakannya hingga selesai, baik dalam
menyediakan material maupun proses pelaksanaan. Sebagaimana yang
dikatakan Informan :
“memperbaiki jalan, parit hingga jalan dulunya dikerjakan oleh
masyarakat dengan kerja bakti yang digerakan oleh RT
setempat. Dengan sukarela masyarakat turut berpartisipasi
hingga pekerjaan selesai. Jadi kebersamaan antar warga sangat
kelihatan.” 67
Pernyataan sama disampaikan oleh Bapak H. Maspuloh selaku Kepala
Desa :
66
67
Wawancara Ketua RT 04/07, 45 Thn, 04 September 2016, Pukul 11.15
Wawancara Buruh Pabrik, 35 Thn, 06 September 2016, Pukul 10.43
43
“Alhamdulillah, masyarakat di desa ini sangat kompak dalam
kegiatan kerja bakti yang bertujuan untuk memperbaiki
kepentingan umum, tujuan lainnya kan bisa menjalin
kebersamaan antar warga.” 68
Pada kegiatan ini pula tidak hanya kaum laki-laki saja,
perempuan juga ikut berperan dengan turut berpartisipasi dalam
menyajikan makan dan minum yang biasanya dikerjakan di satu
rumah yang lokasinaya dekat dengan kegiatan kerja bakti.
“ya engga laki-laki saja yang ikut kerja bakti, ibu-ibu juga
ikut bantuin seperti masak-masak dan sediain minuman..
yang dilakukan disalah satu rumah warga yang terdekat
dengan kegiatan kerja bakti.” 69
Adapun kegiatan dalam memperbaiki sarana umum yaitu
gotong royong antar masyarakat ketika adanya renovasi masjid
dikarenakan kondisi masjid mengalami kerusakan. Kemudian
masyarakat secara bersama-sama berusaha mencari dana seperti
meminta sumbangan kepada masyarakat dengan mencari dana di
jalan raya dengan meminta kepada motor dan mobil yang lewat.
Masyarakat
secara
bersama-sama
saling
bahu
membahu
membantu kelancaran memberbaiki sarana umum yang ada di
dalam desa.
“iya.. kalau dulu renovasi masjid atau mushola itu ya
dikerjakan dengan kerja bakti, iuran beli material kemudian
dikerjakan bersama-sampai selesai. Kalau pun dana kurang,
warga mempunyai inisiatif meminta sumbangan di jalan
raya kepada pengguna motor atau mobil yang lewat.
Kegiatan tersebut biasanya dipimpin pengurus musholla
sama Pak RT.” 70
2) Perilaku gotong royong dalam bidang penanganan musibah
sebelum adanya kawasan industri
Perilaku masyarakat secara bergotong royong saat ada
kerabat
atau
tetangga
yang sedang
mengalami
musibah
merupakan kepedulian masyarakat untuk saling membantu
68
Wawancara Kepala Desa, 55 Thn, 06 September 2016, Pukul 14.47
Wawancara Ketua RT 05/07, 42 Thn, 04 September 2016, Pukul 14.22
70
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 05/07, 39 Thn, 06 September 2016, Pukul 15.09
69
44
sesamanya seperti pada musibah sakit, kecelakaan maupun
kematian.
Seperti yang disampaikan oleh Ketua RT 04/07, beliau
mengatakan sebelum hadirnya kawasan industry, masyarakat
memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kerabat atau tetangga
yang sedang tertimpa musibah, seperti ketika terdapat keluarga
yang sakit, kecelakaan dan ketika ada salah satu anggota keluarga
yang meninggal. Warga saling membantu untuk mengatasi segala
keperluan yang dibutuhkan oleh keluarga yang terkena musibah.
Bantuan tersebut berupa uang, tenaga juga sembako yang
diberikan seikhlasnya.
“dulu.. kalau ada masyarakat yang sedang terkena musibah,
contohnya saja ada yang sakit, kecelakaan atau ada yang
meninggal, tanpa disuruh pun warga lain secara bergotong
royong akan berdatangan untuk membantu. Bantuan yang
diberikan seperti tenaga, uang dan perlengkapan lain yang
dibutuhkan” 71
Adapun ketika ada musibah kematian, warga masyarakat
berdatangan berusaha membantu selama proses pemakaman
hingga selesai. Bantuan yang diberikan secara suka rela karena
merupakan kesadaran moral masing-masing individu seperti uang
santunan maupun tenaga. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh
tokoh masyarakat:
“ketika terdapat warga yang meninggal, masyarakat seperti
biasa mengikuti dan membantu mempersiapkan segala
keperluannya. Adapun warga masyarakat yang mengikuti
pengajian, sedangkan yang lain ada yang menggali
kuburan, membuat kayu nisan dan sebagainya. Seperti
hukum dalam Islam, membantu proses pemakaman orang
yang meninggal itu hukumnya fardu kifayah.” 72
Perilaku masyarakat dalam bentuk gotong royong lainnya
adalah ketika menjumpai tetangga atau kerabat dekat yang sedang
mengalami musibah sakit atau kecelakaan. Warga menunjukkan
71
72
Wawancara Ketua RT 04/07, 45 Thn, 04 September 2016, Pukul 11.15
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 04 September 2016, Pukul 13.11
45
pedulinya dengan menjenguk ke rumah warga yang sakit, entah
secara individu maupun bersama-sama yang bertujuan untuk
memberikan kekuatan moril supaya segera sembuh dari sakitnya
atau jika pada kondisi yang parah, mereka membantu selama
proses evakuasi dan pengobatan secara suka rela, karena baginya
dalam kehidupan bermasyarakat sangat penting mempunyai rasa
kepedulian satu sama lain.
“kalau terdapat warga yang sakit atau sakit karena
kecelakaan pasti kerabat serta tetangga yang mengetahui
kabar tersebut akan datang untuk menjenguk dan
membantu sebisa mereka seperti kalau ada yang
membutuhkan kendaraan untuk ke puskesmas hingga
pendanaan. Apalagi kalau yang terkena musibah itu
keadannya kurang mampu atau sedang tidak punya uang.” 73
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh ketua RT 06/07
yaitu Bapak Ujang Jarkasih yaitu ketika terdapat warga yang
sedang terkena musibah seperti sakit atau sakit karena kecelakaan,
tetangga akan berdatangan untuk menjenguk atau sekedar
memberi semangat supaya lekas sembuh.
“ya tentu, masyarakat di sini akan membantu ketika ada
tetannga atau kerabat yang terkena musibah seperti kalau
ada yang sakit. Hal yang mereka lakukan adalah membantu
semampu mungkin seperti dipinjamkan ke warga yang
punya mobil untuk mengantar ke puskesmas atau rumah
sakit.” 74
3) Gotong royong dalam bidang pesta atau hajatan sebelum
adanya kawasan industri
Pesta atau hajatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat
pedesaan adalah seperti pada acara pernikahan, khitanan dan
aqikahan. Acara-acara tersebut dilakukan bergorong royong.
Mekanisme pelaksanaan pesta atau hajatan ini yaitu warga yang
mempunyai hajat meminta bantuan kepada kerabat atau tetangga
dekat sebelum acara dilaksanakan.
73
74
Wawancara Ketua RT 05/07, 42 Thn, 04 September 2016, Pukul 14.22
Wawancara Ketua RT 06/07, 45 Thn, 04 September 2016, Pukul 11.45
46
Ketika ada warga masyarakat yang akan menyelenggarakan
pesta atau hajatan, perilaku masyarakat dalam bergotong royong
untuk membantu segala prosesi kegiatan nempak antusias. Seperti
yang disampaikan oleh tokoh masyarakat sebagai berikut :
“iya kalau ada yang mau menyelenggarakan hajatan seperti
ada yang nikahan, biasanya salah satu keluarga datang ke
sini.. istilahnya mengundang ya yang maksudnya meminta
bantuan dalam acara tersebut.. ya bantu-bantu suka rela
sampai acara selesai.. itu juga kepada kerabat dekat,
tetangga-tetangga dekat. Setelah dikasih tau kapan
pelaksanaannya, paling datang ke rumahnya sekitar
seminggu atau mendekati acara. Disana.. terlihat warga
antusias meskipun suasana hajatan sederhana namun rame
gitu.” 75
Dalam penyelenggaraan suatu pesta atau hajatan, tuan rumah
mempercayakan pelaksanaan dalam pengarturan dan pembagian
kerja kepada seseorang dinamakan Bas (mengatur dari proses dan
keperluan dalam pelaksanaan hajatan).
“ada yang ditunjuk oleh yang menyelenggarakan hajat atau
dibilang tuan rumah yaitu seseorang untuk menjadi bas..
kaya wakil tuan rumah yang mengarahkan dan menjadi
pemimpin buat teman-teman lain yang juga membantu
dalam pelaksanaan hajatan.” 76
Berkaitan dengan imbalan, berikut yang dikatakannya
menurut salah satu warga yang sering diminta bantuan untuk
memasak :
“kalau sistem imbalan kepada warga yang ngebantuin mah
suka diberi makanan bukan berupa uang ya sebagai tanda
terima kasih telah ngebantuin hehe. Tapi yang dikasih uang
itu kalau yang memasak.. kan pekerjaannya banyak dan bikin
lelah ya.” 77
a) Gotong royong dalam bidang kepentingan umum sesudah
adanya kawasan industri
Kegiatan gotong royong dalam bidang kepentingan umum
yaitu aktivitas kerja bakti pada kegiatan yang menyangkut
75
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 04 September 2016, Pukul 13.11
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 04 September 2016, Pukul 13.11
77
Wawancara warga masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 07 September 2016, Pukul 11.02
76
47
kepentingan bersama seperti memperbaiki jalan, jembatan
maupun tempat ibadah. Setelah adanya kawasan industri, antusias
warga
masyarakat
untuk
gotong
royong
dalam
bidang
kepentingan umum tersebut mengalami penurunan bahkan nyaris
tidak ada lagi.
Hal ini dituturkan oleh tokoh masyarakat di Desa
Tarikolot RT 04/07 bahwa saat ini masyarakat cenderung
berorientasi pada kegiatan yang lebih menghasilkan uang
sehingga tidak berminat untuk kerja bakti.
“ah.. sekarang mah sudah tidak seperti dulu. Maksudnya
tidak ada lagi dek yang namanya kerja bakti memperbaiki
jalan, jembatan maupun mushola. Masyarakatnya sibuk
sendiri, meskipun banyak pendatang pun sama saja,
sekarang mereka sibuk dengan pekerjaan yang
mendatangkan materi, yaa matrealistis lah kata orang mah,
mana mau diajak kerja bakti. Kan kalau pun ada perbaikan
mungkin mempekerjakan orang saja he he he.” 78
Ditambahkan pula pernyataan tersebut oleh Bapak Riyan
Hidayat selaku Sekretaris desa bahwa :
“kalau soal kerja bakti antar warga yang sifatnya pekerjaan
umum kaya gitu… masyarakat sekarang ni cuek dek.. tidak
ada lagi, karena warga merasa hal tersebut merupakan
tanggung jawab pihak pemerintah desa.”
“memang benar, saat ini segala perbaikan seperti
infrastruktur jalan maupun jembatan yang mendanai yaitu
dari bantuan anggaran dasar desa (ADD) dengan
mengerjakan tenaga kontraktor, sebab bagaimana
masyarakat mau mengerjakan sedangkan faktor kesibukan
dalam bekerja dan rasa malas, matrealistis masyarakat
menjadi sebuah alasan utama untuk tidak turut
berpartisipasi dalam melakukan kegiatan gotong royong
tersebut, dan karna faktor ini pula antusias warga jadi
menurun.” 79
Begitu juga dalam hal kegiatan renovasi tempat ibadah, di
desa ini tetap dilakukan dengan intruksi dari Ketua RT setempat
78
79
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 05/07, 55 Thn, 04 September 2016, Pukul 14.54
Wawancara Sekretaris Desa Tarikolot, 26 Thn, 06 September 2016, Pukul 14.25
48
atau ketua masjid/mushola tetapi hanya dihadiri oleh sebagian
warga yang sempat saja.
“tentunya dikumpulkan dulu warganya atas intruksi dari
Pak RT atau ketua masjid/mushola kalau akan melakukan
kerja bakti tapi.. ya begitulah karena banyak yang sibuk
yang datang ya sedikit aja.” 80
b) Gotong royong dalam bidang penanganan musibah sesudah
adanya kawasan industri
Perilaku masyarakat secara bergotong royong saat ada
kerabat
atau
tetangga
yang sedang
mengalami
musibah
merupakan kepedulian masyarakat untuk saling membantu
sesamanya seperti pada musibah sakit, kecelakaan maupun
kematian. Setelah hadir kawasan industri di Desa Tarikolot,
perilaku bergotong royong warga kepada yang terkena musibah
ditunjukan dengan memberi bantuan atau pertolongan.
Seperti halnya pada musibah kematian, kepedulian itu
ditunjukkan dengan hadir untuk berbela sungkawa dan memberi
bantuan berupa uang dan tenaga hingga proses pemakaman
selesai. Seperti yang disampaikan oleh warga di desa ini :
“namanya juga musibah dek siapa yang tau dan mau.. yang
pasti dari dulu sampai sekarang warga saling membantu
semampunya, seperti hadir ke rumah duka untuk berbela
sungkawa dan mengikuti pengajian serta memberi bantuan
seperti uang, tenaga atau bantuan lain yang dibutuhkan.” 81
Selanjutnya, ketika terdapat kerabat atau tetangga yang
sakit atau sakit karena kecelakaan, perilaku masyarakat di Desa
Tarikolot terlihat kepeduliannya untuk menjenguk dan semapunya
memberi bantuan berupa uang maupun tenaga dari proses
evakuasi hingga pendanaan ke rumah sakit terutama yang kurang
mampu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh salah satu informan :
80
81
Pengurus Mesjid/Mushola Desa, 55 Thn, 07 September 2016, Pukul 13.36
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 04 September 2016, Pukul 13.11
49
“ya pasti dek.. kalau ada yang sakit mah kita saling
ngejenguk apalagi yang sakit tetangga dekat atau
kerabat.” 82
Kemudian tokoh masyarakat mengatakan :
“kalau misalnya salah satu warga ada yang kecelakaan,
semampunya akan kita bantu, entah langsung
mengevakuasi apalagi kan desa ini lumayan jauh dari
rumah sakit jadi langsung dipanggilkan ambulance tapi
kalau ambulance tidak ada.. yaa berarti kita yang
mengantarkan supaya si korban kecelakaan cepat ditangani.
Kalau soal pendanaan rumah sakit misalnya si orang tua
belum datang atau kurang mampu, maka warga seikhlasnya
memberikan iuran dulu.” 83
Adapun tokoh pemuda di Desa Tarikolot menuturkan :
“misalnya kalau ada yang sakit parah.. biasanya pemuda di
desa ini dimintai untuk mengantar ke rumah sakit.. ya
upahnya seikhlasnya aja karena kan kita niatnya bantuin
tapi kadang-kadang sih dikasih buat uang bensin atau rokok
bilangnya.” 84
Selanjutnya Ketua RT 04/07 dan RT 05/07 ikut
menuturkan pendapat yang berbeda dari pendapat informan lain
yaitu :
“sekarang mah dek karena pada punya kesibukan dalam
pekerjaannya, perilaku masyarakat jika ada tetangga yang
sedang tertimpa musibah kalau memberikan bantuan
banyak menggunakan uang saja, kalau ada waktu ya
nengok tapi biasanya kalau menengok kepada kerabat dekat
saja.”
“ketika ada yang terkena musibah ya jelas dek pengennya
ngebantu, bantuan seperti memberikan uang atau tenaga
yang dibutuhkan tapi yang banyak membantu sih dari
kerabat dekat, sedangkan yang lain membantu dalam hal
menengok, menemani, memberi semangat supaya cepet
sehat.” 85
82
Wawancara warga masyarakat, 36 Thn, 07 September 2016, Pukul 10.42
Wawancara warga masyarakat, 39 Thn, 07 September 2016, Pukul 11.02
84
Wawancara Tokoh Pemuda, 33 Thn, 07 September 2016, Pukul 10.57
85
Wawancara Ketua RT 04/07 dan RT 05/07, 45-42 Thn, 04 September 2016, Pukul
11.15-14.22
83
50
c) Gotong royong dalam bidang pesta atau hajatan sesudah
adanya kawasan industri
Pesta atau hajatan yang dimaksud seperti pada acara
pernikahan, khitanan sampai aqikahan. Acara tersebut dilakukan
masyarakat secara bergotong royong dengan mengundang atau
meminta bantuan kepada kerabat dekat maupun tetangga-tetangga
sekitar rumah. Untuk mengetahui perilaku sosial masyarakat
setelah hadirnya kawasan indsutri dalam kegiatan bergotong
royong dalam acara pesta atau hajatan dapat dilihat dari
mekanisme pelaksanaannya yaitu dengan cara warga yang akan
melaksanakan pesta atau hajatan meminta bantuan kepada kerabat
dekat maupun tetangga sekitar rumahnya dengan cara mendatangi
langsung seminggu sebelum acara akan dilaksanakan. Seperti
yang disampaikan oleh Tokoh Masyarakat sebagai berikut :
“didatengin langsung ke rumah.. dari rumah sini ke rumah
sana.. warga yang akan melaksanakan hajat meminta
bantuan untuk acaranya nanti. Bisa dilihat antusias warga
untuk hadir membantu yaa..namanya hidup bermasyarakat,
ketika ada yang meminta bantuan ya dibantu.. kan nanti
juga kita yang akan meminta bantuan kepada mereka.
Bedanya sekarang kan banyak yang menggunakan sewaan
jadi ga ribet. Kaya tenda dan perabot atau yang lainnya.
Kurang lebih 3 sampai 4 harian yang diminta bantuan akan
datang untuk melakukan tugasnya.” 86
Berkaitan dengan imbalan setelah acara selesai, berikut
yang disampaikan warga masyarakat :
“untuk imbalan mah ya tergantung tuan rumah.. namanya
kita ngebantu ya. Tapi biasanya sih juru masak yang diberi
bayaran karena kan pekerjaannya banyak dan melelahkan..
yang lainnya mah dikasih makanan sebagai tanda terima
kasih dari tuan rumah. 87
86
87
Wawancara Tokoh Masyarakat RT 04/07, 58 Thn, 04 September 2016, Pukul 13.11
Wawancara warga masyarakat, 39 Thn, 07 September 2016, Pukul 11.02
51
b. Kehidupan Ekonomi
Sebelum Desa Tarikolot dijadikan kawasan industri, masyarakat
setempat umumnya bekerja dalam sektor pertanian. Akan tetapi,
setelah dijadikannya kawasan industri yang tentunya telah banyak
didirikan pabrik-pabrik seperti industri garmen, sepeda, helm, baja
dan lain sebagainya secara otomatis pabrik tersebut membutuhkan
banyak tenaga kerja dan secara tidak langsung memberikan peluang
bagi
masyarakat
dari
kehidupan
bertani
menjadi
ke sektor
perindustrian. Dalam arti, sumber ekonomi yang asalnya bergantung
dari hasil pertanian kini menjadi kepada akibat adanya industri di
sekitar tempat tinggalnya.
Pendapatan yang diperoleh masyarakat dengan adanya kawasan
industri telah mengalami perubahan. Seperti yang diungkapkan salah
satu warga yang mengalami peralihan dari sektor pertanian ke
industri.
“dulu sih sebelum hadir industri ini saya kerja di bidang
pertanian, tau sendiri pendapatannya tidak nentu dan tentu saja
kurang cukup untuk kebutuhan. Alhamdulillah disini sekarang
banyak pabrik dan menjadi peluang untuk mencari pendapatan
yang lebih”. 88
Hal yang sama juga dikatakan oleh buruh pabrik lain, yaitu :
“iya mbak sebelum adanya kawasan industri di sini dulu mah
susah cari kerja paling di sawah ikut-ikutan ngebantuin..
pendapatannya ga seberapa. nah sekarang banyak pabrik dan
banyak juga pendatang jadi rame buat cari kerja.. kan bisa buat
ngasih orang tua dan memenuhi kebutuhan”. 89
Penuturan lain juga diungkapkan oleh Kepala Desa setempat.
Peningkatan dalam pendapatan sudah terlihat, karena warga
masyarakat yang bekerja di pabrik ini terpenuhi kebutuhannya
bahkan ada yang bisa membeli kebutuhan lain-lain misalnya saja
kendaraaan sepeda motor yang sebagian besar masyarakat sudah
memiliki dan TV.
88
89
Wawancara Buruh Pabrik S, 45 Tahun, 4 September 2016, Pukul 11.31
Wawancara Buruh Pabrik W, 23 Tahun, 7 September 2016, Pukul 19.27
52
“bisa dilihat ya perkembangan sebelum dan sesudah adanya
industri, masyarakat di sini sudah bisa memenuhi
kebutuhannya. Ada yang beli TV bahkan kendaraan seperti
motor meskipun kredit”. 90
Kehidupan yang ditopang dari penghasilan di atas standar
membawa perubahan terhadap gaya hidup yang lebih ke arah
perilaku konsumtif. Sehingga apa yang dilihat masyarakat saat ini
menjadi tren tersendiri untuk dipraktekkan. Karena ini menyangkut
rasa kepercayaan diri yang diukur dari perubahan materi.
“.. ya gitu mbak perubahan pasti ada, dengan penghasilan yang
cukup, masyarakat memiliki jiwa konsumtif yang tinggi
terutama anak muda. Mereka bisa membeli apapun yang dimau
sesuai dengan kemampuannya”. 91
Ungkapan Ketua RT dibenarkan oleh warga masyarakat yaitu :
“hmmm bisa dirasakan ya perubahannya karena yang dulu
menganggur dan ga nentu penghasilannya sekarang punya
penghasilan dan lebih dari cukup untuk membeli apa yang
mereka butuhkan”. 92
Terkadang kesempatan untuk bekerja di pabrik tidaklah efektif
dalam penggunaan penghasilan mereka. Tidak sadar para pekerja
membelanjakan gaji tanpa berpikir panjang secara tepat. Seperti
yang dikatakan buruh pabrik sebagai berikut :
“mulai aktif mengkonsumsi barang ya dari pas kerja, sebelum
kerja mah dari mana uangnya hehe.. cukup sih gajinya buat
beli barang yang pengen dibeli kaya baju terus bisa main.” 93
“iya teh sekarang mah banyak barang ini itu terbaru, kan siapa
yang ga ke pengen beli. Jadi kalau gajian beli hehe kaya kalau
pengen baju, celana, hp.” 94
“hmm.. iya mengikuti trend yang lagi berkembang.. eee dapet
informasinya ya kadang dari temen atau kan sekarang banyak
sosial media kaya instagram dan facebook jadi bisa tau dari
situ.” 95
90
Wawancara Kepala Desa H.M, 55 Tahun, 7 September 2016, Pukul 14.47
Wawancara Ketua RT, 45 Tahun, 04 September 2016, Pukul 11.15
92
Wawancara masyarakat, 39 Tahun, 07 September 2016, Pukul 10.42
93
Wawancara buruh pabrik W, 23 Thn, 7 September 2016, Pukul 19.27
94
Wawancara buruh pabrik L, 26 Thn, 7 September 2016, Pukul 19.34
95
Wawancara buruh pabrik W, 23 Thn, 7 September 2016, Pukul 19.27
91
53
Pernyataan yang sama pula disampaikan oleh pekerja pabrik
lainnya :
“hehe iya sih ngikutin apa yang lagi musim.. kan pengen kaya
gitu. Kebanyakan sih dari media sosial kan suka ada tuh apa
aja yang sekarang lagi trend tapi kadang juga dari temen.
Temen pabrik kan suka ada yang jualan bawa majalah.” 96
Selain itu, dengan hadirnya pendatang dijadikan sumber
keuntungan. Artinya, berdirinya pabrik-pabrik di desa tersebut
memberikan peluang usaha kepada masyarakat sekitar. Peluang
usaha ini memberikan nilai tersendiri bagi sebagian masyarakat yang
membuka usaha mendirikan kontrakan, bengkel dan berdagang.
“dijadikan peluang dek dari semenjak adanya bangunanbangunan pabrik.. kita di sini ada yang jualan makan da ada
juga bengkel karna banyak orang atau yang bekerja
membutuhkan itu seperti kalau istirahat kerja yang mereka
cari kan warung untuk makan. Walaupun usahanya tidak tentu
tapi lumayan lah buat tambah-tambah. Iya.. lihat saja makin
kesini makin banyak yang bangun kontrakan untuk yang kerja
tatapi yang punya nya mah gak tinggal di sini” 97
Adapun pernyataan salah satu warga yang menjadikan keadaan
ini sebagai peluang adalah warga yang menjual sayur :
“kawasan ini jadi ramai sekali banyak orang yang datang sejak
dibangunnya pabrik-pabrik.. makanya saya jualan sayur karena
jarak ke pasar lumayan jauh.” 98
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari observasi dan
wawancara kepada informan di lapangan, maka dapat diketahui bagaimana
perilaku masyarakat di lingkungan kawasan industri dalam kehidupan
sosial dan ekonomi dari sebelum dan sesudah hadirnya kawasan industri.
Dari hasil penelitian yang sudah dijelaskan di atas bahwa dapat
diketahui sebelum hadirnya kawasan industri di tengah masyarakat Desa
Tarikolot perilaku masyarakat ketika terdapat warga, tetangga atau kerabat
dekat yang sedang mengalami musibah ditunjukkan dengan sikap
96
Wawancara buruh pabrik E, 23 Thn, 7 September 2016, Pukul 19.34
Wawancara pedagang, 30 Thn, 07 September 2016, Pukul 16.52
98
Wawancara pedagang, 28 Thn, 07 September 2016, Pukul 16.29
97
54
kepedulian dan sikap untuk saling membantu dalam hal memberi bantuan
yang bertujuan untuk meringankan beban. Ketika ada salah satu tetangga
atau kerabat dekat meninggal, maka warga saling membantu dalam
mempersiapkan segala suatu yang dibutuhkan dari proses pemakaman
hingga selesai secara sukarela. Bantuan lain selain tenaga, mayarakat juga
memberikan bantuan dalam bentuk sembako atau uang santunan.
Kemudian ketika ada yang sakit, entah sakit atau sakit karena kecelakaan,
warga masyarakat juga menunjukkan kepedulian seperti saling menjenguk
atau kondisi sudah parah, warga membantu dalam proses membawa ke
rumah sakit hingga pembiayaan bagi orang yang kurang mampu.
Perubahan dari perilaku masyarakat sebelum dan sesudah adanya
kawasan industri tidak jauh berbeda. Masyarakat masih memiliki
kepedulian untuk saling membantu. Bedanya, bentuk bantuan yang
diberikan lebih kepada finansial (uang). Ketika ada yang meninggal dunia,
kepedulian
itu
ditunjukkan
dengan
menyempatkan
hadir
untuk
berbelasungkawa dan memberi uang santunan. Sama halnya ketika warga
atau tetangga ada yang sedang sakit atau sakit karena kecelakaan, perilaku
masyarakat desa terlihat kepeduliannya untuk menjenguk dan memberi
bantuan berupa uang.
Artinya, kondisi sebelum dan sesudah hadirnya kawasan industri
kepedulian dan antusias masyarakat tetap ada untuk saling membantu
ketika ada yang mengalami musibah seperti ada yang sakit atau sakit
karena kecelakan dan kematian. Perbedaannya, bantuan yang diberikan
lebih dominan pada bentuk finansial. Ketika bantuan finansial lebih
dominan, berarti partisipasi langsung masyarakat mengalami penurunan.
Adapun perilaku bergotong royong yang dilakukan masyarakat yaitu
dalam hal kepentingan umum seperti memperbaiki jalan, jembatan dan
renovasi masjid. Sebelum hadirnya kawasan industri, antusias masyarakat
sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan gotong royong berupa kerja bakti
dalam hal membersihkan jalan, jembatan maupun renovasi masjid yang
digerakkan oleh RT setempat. Bisa dilihat dari kegiatan tersebut
55
membangun rasa kebersaman dan persaudaraan. Tidak hanya kaum pria
saja yang ikut serta, tetapi ibu-ibu pun turut berpartisipasi dalam menjamu
makanan dan minuman.
Kemudian pada kegiatan renovasi tempat ibadah seperti mushola
dan masjid secara bersamaan warga yang tinggal di sekitar meyiapkan
material hingga proses pengerjaan selesai. Tetapi, setelah hadirnya
kawasan industri di tengah masyarakat, antusias yang sebelumnya tinggi
terjadi penurunan dan lebih memilih pekerjaan yang menghasilkan uang
sehingga tidak mau mengikuti kerja bakti. Selain itu, faktor kesibukan
dalam pekerjaan sehingga ada rasa malas yang timbul dalam diri
masyarakat untuk tidak turut serta dalam melaksanakan kerja bakti.
Aktifitas kerja bakti dalam menyangkut kepentingan umum bisa
dikatakan sudah jarang bahkan hampir sulit dijumpai. Kalau pun ada,
biasanya kerja bakti dilakukan tetapi hanya dihadiri oleh sebagian warga
yang bisa saja dengan yang tidak banyak. Saat ini, mengerjakan pekerjaan
seperti perbaikan jalan, jembatan maupun renovasi masjid, pemerintah
desa menggunakan tenaga kontraktor atau diserahkan kepada tukang kuli
bangunan.
Artinya, perilaku bergotong royong masyarakat yang ada di
lingkungan kawasan industri dalam kegiatan yang berhubungan dengan
kepentingan umum mengalami penurunan. Penurunan tersebut ditandai
dengan antusias dan minat masyarakat dalam berpartisipasi lebih memilih
pada kegiatan yang mendatangkan rupiah. Kini, kegiatan-kegiatan tersebut
cenderung mempekerjakan orang dengan sistem upah.
Selanjutnya, gotong royong dalam bidang pesta atau hajatan sebelum
hadirnya kawasan industri mekanisme yang dipakai pada acara tersebut
adalah warga yang mempunyai hajat mendatangi kerabat dekat atau
tetangga untuk meminta bantuan. Antusias masyarakat dalam bergotong
royong untuk membantu rangkaian kegiatan Nampak ramai. Dalam
penyelenggaraannya, tuan rumah mempercayai seseorang untuk menjadi
pemimpin untuk mengarahkan teman-teman lainnya yang disebut Bas.
56
Tidak ada imbalan atau upah untuk semua yang ikut serta membantu
kecuali bagi yang menjadijuru masak yang pekerjaannya banyak dan
melelahkan, sedangkan yang lainnya diberi makanan sebagai ungkapan
rasa terima kasih. Namun, setelah hadirnya kawasan industri, mekanisme
yang digunakan tetap sama yaitu tuan rumah meminta bantuan kepada
kerabat maupun tetangga sekitar rumah serta masih ada antusias warga
dalam bergotong royong untuk membantu rangkaian acara, meski
demikian pekerjaan yang dilakukan tidak lagi sebanyak masa sebelumnya.
Hal tersebut karena masyarakat banyak yang memilih untuk menggunakan
jasa penyewaan seperti tenda maupun perabot dapur. Kurang lebih 3
sampai 4 hari sebelum acara dilaksanakan, warga yang dipercaya oleh tuan
rumah untuk membantu telah hadir. Sebagian orang yang turut membantu
medapat bayaran, mereka yang mendapat upah adalah khusus untuk juru
masak yang dirasa pekerjaannya cukup melelahkan, sedangkan yang lain
secara keseluruhan diberi makanan juga diberi upah sebagai tanda terima
kasih.
Artinya, perilaku masyarakat bergotong royong dalam bidang ini
mengalami perubahan. Perubahan tersebut Nampak pada teknis bergotong
royong yang dilakukan oleh masyarakat menjadi tidak sebanyak sebelum
adanya kawasan industri, karena telah menggunakan jasa-jasa penyewaan
dan peralatan rumah tangga yang lebih mudah dan cepat.
Dengan demikian, kondisi seperti ini sesuai dengan teori Emile
Durkheim bahwa pada masyarakat industri solidaritas mekanik berubah
menjadi solidaritas organik yang didalamnya telah memberlakukan sistem
bayaran sebagai imbalan nyata atas bantuan yang diberikan dan imbalan
tersebut diberikan berupa uang.
Dalam kehidupan ekonomi masyarakat di Kecamatan Citeureup
khususnya Desa Tarikolot telah mengalami perubahan sebagai daerah
agraris. Perubahan tersebut dapat dilihat pada mata pencaharian penduduk
yang telah digambarkan sebelumnya dalam data mata pencaharian
57
penduduk Desa. Perubahan tersebut diantaranya dengan menurunnya
pekerja dalam sektor pertanian. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor antara
lain, menyempitnya lahan pertanian yang disebabkan
oleh adanya
pengalihan lahan pada bidang non pertanian yaitu pembangunan usaha lain
seperti industri, baik industri berskala kecil sampai industri dengan skala
besar.
Keberadaan
kawasan
industri
otomatis
menjadi
daya
tarik
masyarakat luar datang untuk menjadi karyawan/buruh pabrik. Daya tarik
tersebut yakni sebagai tenaga kerja untuk mendapatkan sumber mata
pencaharian yang baru dalam arti mengharapkan untuk mendapatkan
kehidupan ekonomi yang lebih baik. Artinya, bekerja di pabrik tersebut
untuk mendapatkan hasil dan usaha, mereka bekerja dengan maksud untuk
mengubah keadaan hidupnya. Akibat dari hal tersebut dengan sendirinya
membawa perubahan-perubahan dalam perilaku kehidupan ekonomi.
Perubahan-perubahan dalam perilaku akibat dari kehidupan ekonomi
yang mereka peroleh nampak dari gaya hidup mereka sebelumnya, serta
keinginan-keinginan
dan
harapan
yang
mereka
dapatkan
akibat
bertambahnya pendapatan yang mereka peroleh. Seberapa jauh transisi
terlihat pada masyarakat setempat dan masyarakat pendatang, yakni
munculnya jiwa konsumtif yang melanda sebagian besar di antara mereka.
Gejala ini tampak pada suburnya sistem kredit barang-barang baik berupa
pakaian maupun barang elektronik yang baru.
Terkadang kesempatan untuk bekerja di pabrik tidaklah efektif
dalam penggunaan penghasilan mereka. Tidak sadar para pekerja
membelanjakan gaji tanpa berpikir panjang secara tepat. Dengan logika
yang sederhana mereka merasa ketergantungan akan produk-produk baru
yang beredar di pasaran.
Beberapa hal yang mendorong para pekerja pabrik berlaku
konsumtif adalah pertama, lebih pada gaya hidup yang merupakan sebagai
landasan untuk membangun percaya diri sehingga dari rasa kecanduan dan
dibuat mudah oleh produk pasar menjadi ketergantungan pada suatu benda
58
yang sudah dibeli. Kedua, ingin dianggap keberadaannya dan diakui oleh
lingkungan. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang
lain itu menyebabkan mengikuti berbagai atribut yang sedang popular.
Salah satu caranya dengan berperilaku konsumtif, seperti memakai barangbarang yang baru agar dianggap mampu menyesuaikan diri terhadap
lingkungan di mana mereka tinggal.
Di dukung pula dengan adanya semua fasilitas dan tempat
perbelanjaan yang memudahkan akses bagi masyarakat untuk berperilaku
konsumtif. Hal ini dikarenakan untuk dianggap keberadaanya oleh
lingkungan, ia harus mengikuti lingkungan tersebut dengan cara
mengkonsumsi dan menikmati semua fasilitas yang telah disediakan.
Artinya, semua yang dilakukan semata-mata ingin diperhatikan dan ingin
menunjukkan bahwa sudah bisa hidup dan bergaul, tetapi akibat dari
perilaku konsumtif ini akan terus menjadi kebiasaan gaya hidup
masyarakat di Indonesia.
Ketiga, munculnya majalah. Majalah yang berisi produk-produk
untuk dijual yang setiap orang melihatnya pasti ada keinginan untuk
membeli. Perilaku konsumtif menyebabkan pemborosan. Kita tanpa daya
di hadapan tawaran konsumsi itu.
Beda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Febri Cahya
Gumelar yang berjudul Dampak Perubahan Mata Pencaharian terhadap
Perilaku Masyarakat (Studi Psikolog Sosial di Pantai Harapan Jaya
Kabupaten Bekasi) menyatakan bahwa perilaku sosial masyarakat sebelum
dan sesudah berubahnya pola mata pencaharian tidak mengalami
perubahan yang signifikan yakni masih berbau masyarakat desa.
Sedangkan ada persamaan perilaku yang berkaitan dengan kehidupan
ekonomi yaitu dalam pola pikir dan perilaku gaya hidup secara umum
mengalami perubahan, seperti pendapatan bertambah, pekerjaan tetap,
hidup lebih konsumtif (boros), gaya hidup ke kota-kotaan dan pergaulan
dalam penampilan lebih glamaour serta lebih banyak menggunakan sarana
teknologi dalam komunikasinya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan
yang telah
dikemukakan oleh penulis yang bersumber dari hasil observasi,
wawancara dan dokumentasi mengenai perilaku masyarakat di lingkungan
kawasan industri desa Tarikolot yang meliputi kehidupan sosial dan
ekonomi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Keberadaan kawasan industri di Desa Tarikolot Kecamatan Citeureup
Kabupaten Bogor berimplikasi pada perubahan perilaku masyarakat
disekitarnya yaitu dalam perilaku bergotong royong pada bidang
penanganan musibah, kepentingan umum dan hajatan. Sebelum
hadirnya kawasan industri di Desa Tarikolot, masyarakat sangat
antusias dalam mengikuti aktivitas kerja bakti yang menyangkut
kepentingan bersama seperti pada pembuatan atau perbaikan jalan,
membersihkan parit dan renovasi tempat ibadah. Tetapi, setelah hadir
kawasan industri, perilaku masyarakat dalam kegiatan bergotong
royong mengalami perubahan, yaitu perilaku masyarakat lebih
berorientasi pada materi atau sistem upah serta lebih dominan
memberi bantuan dalam bentuk finansial (uang) dari pada bantuan
tenaga. Adapun faktor lain karena kesibukan kerja masing-masing
warga yang semakin bervariasi sehingga intensitas partisipasi
masyarakat mengalami penurunan. Adapun perilaku gotong royong
dalam bidang penanganan musibah yaitu tidak jauh berbeda antara
sebelum dan sesudah hadinya kawasan industri. Selanjutnya,
perubahan perilaku bergotong royong dalam bidang pesta atau hajatan
yang sebelumnya tuan rumah mendatangi rumah kerabat atau tetangga
sekitar untuk meminta bantuan dan antusias warga yang datang
tampak ramai, dan tidak ada imbalan atau upah, namun setelah
59
60
hadirnya kawasan industri antusias warga masih ada tapi keikutsertaan
dalam
membantu tidak sebanyak saat sebelum hadirnya kawasan
industri, hal ini dikarenakan masyarakat banyak yang memilih untuk
menggunakan jasa penyewaan.
2. Perubahan-perubahan perilaku akibat berdirinya kawasan industri
adalah dalam kehidupan enonomi yang mereka peroleh. Nampak dari
gaya hidup masyarakat yang ditunjukkan pada perilaku konsumtif,
karena telah masuknya industri otomatis terbukanya peluang kerja
bagi masyarakat sekitar. Kemudian pekerja pabrik selain mendapatkan
gaji pokok, mendapatkan juga penghasilan dari kerja lembur serta
kebijakan-kebijakan lain dari pabrik yang menguntungkan. Sehingga
dengan adanya kemudahan tersebut memberikan peluang bagi pekerja
untuk berperilaku konsumtif. Perilaku tersebut mereka tunjukkan
untuk menikmati hasil pekerjaan, walaupun terkadang mereka
menganggap hal tersebut sebagai rasa kepercayaan diri, gengsi
sekaligus ingin diakui keberadaannya di lingkungan tempat mereka
tinggal. Adapun dampak positif dan negatif dari perilaku konsumtif.
Dampak negatifnya adalah pertama, pemborosan, baik dari segi
materi maupun produk yang dibeli. Kedua, menimbulkan sifat riya
(pamer). Sedangkan dampak positifnya adalah membeli jenis barang
tertentu merupakan bentuk dari menikmati hasil kerja dan dapat
memenuhi keinginan-keinginan mereka. Selain itu, dengan hadirnya
pendatang dijadikan sumber keuntungan. Artinya, berdirinya pabrikpabrik di desa tersebut memberikan peluang usaha kepada masyarakat
sekitar. Peluang usaha ini memberikan nilai tersendiri bagi sebagian
masyarakat yang membuka usaha mendirikan kontrakan, bengkel dan
berdagang.
61
B. Saran
1. Kepala Desa, Dusun dan Ketua RT/RW setempat harus lebih aktif dan
berinisiatif menggerakan masyarakat untuk saling peduli serta mau
berpartisipasi langsung untuk membantu kepada warga atau tetangga
yang sedang membutuhkan pertolongan baik berupa bantuan tenaga
atau materi.
2. Masyarakat Desa Tarikolot harusnya menyadari pentingnya gotong
royong sebagai bentuk solidaritas dan kerukunan dalam lingkungan
bertetangga juga sebagai wujud kebersamaan.
3. Peneliti lain yang hendak meneliti penelitian yang sama, supaya
mengambil tema lain agar lebih inovatif sekaligus menambah wawasan
bagi masyarakat umum.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Teks
Abdulsyani. Sosiologi Skematika, teori, dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2012)
Ahmadi, Abu dkk, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2009)
Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi Diterjemahkan Kartini Kartono, (Jakarta:
PT Radja Grafindo Persada, 2011)
Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (PT Bumi
Aksara, 2013
Jhonson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert M.Z
Lawang, (Jakarta: PT Gramedia, 1998)
Komariah, Aan dan Djam’an Satori. Metodologi penelitian Kualitatif, (Bandung:
Alfabeta, 2013
Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran Analils,
Perencanaan,Pengendalian,Prentice Hall (Jakarta: Salemba Empat, 2007),
Edisi Bahasa Indonesia
Lapau, Buchori. Metode Penelitian Kesehatan, Metode Ilmiah Penulisan Skripsi,
Tesis dan Disertasi. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2013)
M. Echols, John dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:
Gramedia, 2005), Cet.KeXXVI
Meleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2009)
Munawwir, Achmad Warson. Al-Munawwir: Kamus Indonesia-Arab, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 2007)
Notoatmojo, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2011)
Pedoman Penulisan Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Pieter, Herri Zan dan Namora Lumongga Lubis, Pengantar Psikologi untuk
Kebidanan, (Jakarta:Kencana, 2010)
62
63
Raharjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Gajah Mada University
Press, (Yogyakarta, 2010)
Ritzer, George. Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana,
2011
Sarwono, Sarlito W. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh
Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002)
Scott, John. Teori Sosial: Masalah-masalah Sosial dalam Sosiologi, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012)
Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar Edisi Revisi, (Bandung: PT Eresco,
1995)
Sutinah, Bagong Syanto. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif
Pendekatan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011)
Sumantri, Arif. Metodologi Penelitian Kesehatan. (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002)
Walgito, Bimo. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar (Yogyakarta: C.V ANDI
OFFSET, 2003)
Wirawan, I.B. Teori-teori dalam
Prenadamedia Group, 2013)
Tiga
Paradigma,
(Jakarta:
Kencana
Skripsi
Anugrahati, Rifa Dwi Styaning. 2014, Gaya Hidup Shopaholic sebagai bentuk
Perilaku Konsumtif pada Kalangan Mahasiswa Universitas Negeri
Yogyakarta, Skripsi Sarjana Ilmu Sosial, UNY
Choerunisa, Hafiah. ‘Pergeseran Nilai-nilai Solidaritas Sosial Masyarakat di
Kawasan Industri (Studi Kasus di Desa Cintamulya Kecamatan Jatinagor
Kabupaten Sumedang’ Skripsi Kearsipan Fakultas Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial, UPI, 2015
E. Sonia. Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswi Unika Soegijapranata Ditinjau
dari External Locus Of Control, Semarang, 2008. Skripsi
Fikriyah, Fatimatul. 2009, Hubungan Antara Konsep Diri dengan Perilaku
Konsumtif Pada Mahasiswa Program Non Reguler Fakultas Psikologi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, Skripsi Sarjana Psikologi
64
Gumelar, Febri Cahya. ‘Dampak Perubahan Mata Pencaharian terhadap Perilaku
Masyarakat (Studi Psikolog Sosial di Pantai Harapan Jaya Kabupaten
Bekasi)’ Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati
Bandung, 2012.
Habibah. 2014, Dampak Tunjangan Sertifikasi terhadap Gaya Hidup Konsumtif,
Skripsi Sarjana PAI UIN JKT
Irfani, Fitri. 2010, Pengaruh Iklan Fashion Majalah Terhadap Perilaku Konsumtif
Siswa SMAN 2 Kota Tangsel, Skripsi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam,
UIN Syarif Hidayatullah
Sholihah, Siti. ‘Peran Masjid Cinere dalam Meningkatkan Solidaritas Sosial
Mayarakat Cinere Depok)’ Skripsi Kearsipan Fakultas Dakwah dan
Komunikasi, UIN Jakarta, 2009
Suprihatin, “Perubahan Perilaku Bergotong Royong Masyarakat sekitar Persahaan
Tambang Batubara di Desa Mulawarman Kecamatan Tenggarong
Seberang”, Skripsi pada Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur
Jurnal
Hastuti, Sri. Gaya Hidup Masyarakat Pedesaan, jurnal FISIP Universitas Sumut,
Januari 2007, vol 1 no 2.
Nur Fitriyani dkk. Hubungan antara Konformitas dengan Perilaku Konsumtif pada
Mahasiswa di Genuk Indah, jurnal psikolog Undip, 2013
Samaun, Indra. “Solidaritas Masyarakat Pluralisme dalam Tradisi Perkawinan
(Suatu Penelitian Pada Masyarakat Etnik Gorontalo dan Masyarakat Etnik
Jawa di Desa Bandung Rejo Kecamatan Boliyohuto Kabupaten
Gorontalo)”, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial, (Gorontalo, 2015), h. 3
Santosa, Ayi Budi. 2010. Sikap Gotong Royong Pada Masyarakat Perdesaan
(Studi Kasus Kampung Batu Reog, Lembang). Lembang.
Internet
Departemen
Perindustrian
RI.
Kebijakan
Pembangunan
Industri, http://www.dprin.go.id/kebijakan/10KPAIN-Bab6.pdf
http://Bogor.bps.go.id
Ihttp://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=342
65
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online
Keputusan Presiden No.41 Tahun 1996 tentang Pembangunan Kawasan Industri
Rary, 2012, Bentuk-bentuk Gotong Royong Masyarakat Desa
Sumabi, Retno. Konsep Konsumsi, konsumen, Konsumtif, Konsumerisme,
Universitas Gunadarma.
LAMPIRAN - LAMPIRAN
66
Kisi-kisi Pedoman Wawancara
Variabel
Dimensi
Kehidupan
Perilaku
Sosial
Masyarakat di
Lingkungan
Kawasan
Industri Desa
Tarikolot
1. Perkembangan wilayah sebelum dan
setelah masuknya industri
2. Tanggapan terhadap kedatangan para
migran di lingkungan
3. Kegiatan
bekerja
mempengaruhi
interaksi dengan lingkungan sekitar
4. Penggunaan waktu luang yang dimiliki
5. Kepedulian
masyarakat
terhadap
tetangga yang tertimpa musibah
6. Kepedulian
masyarakat
terhadap
kepentingan umum
7. Kepedulian masyarakat terhadap dalam
pesta atau hajatan
8. Masyarakat
pendatang
tidak
mendominasi dalam kegiatan sosial
9. Kegiatan yang dilakukan untuk
menjalin keakraban dan kebersamaan
Kecamatan
1. Sebelum dan sesudah beralih profesi
menjadi aktif dalam mengkonsumsi
(barang)
2. Barang apa saja yang dibeli
3. Jika berbelanja mengikuti trend yang
Citeureup
Kabupaten
Bogor, Jawa
Barat
Pernyataan
Kehidupan
sedang berkembang melalui majalah
Ekonomi
atau sosial media
4. Jika
berbelanja
mementingkan
keinginan atau kebutuhan
5. Jika berbelanja direncanakan atau tidak
67
Daftar Pertanyaan Wawancara
1. Identitas Informan :
Nama :
Jenis Kelamin :
Status :
Alamat :
Pendidikan :
2. Bagaimana perkembangan wilayah sebelum dan sebelum masuknya
industry?
3. Bagaimana tanggapan terhadap kedatangan para migran di lingkungan
masyarakat?
4. Apakah masyarakat pendatang mendominasi/tidak mendominasi dalam
kegiatan sosial?
5. Apakah kegiatan bekerja mempengaruhi interaksi dengan tetangga, teman
kerja, dan masyarakat?
6. Bagaimana penggunaan waktu luang yang di miliki?
7. Apakah sebelum dan sesudah beralih profesi Anda dan keluarga aktif
dalam berkonsumsi (barang)?
8. Barang apa saja yang Anda beli?
9. Apakah Anda jika berbelanja mengikuti trend yang sedang berkembang?
Jika iya, dari mana memperoleh informasinya?
10. Apakah Anda jika berbelanja mementingkan keinginan atau kebutuhan?
11. Apakah Anda jika berbelanja direncanakan atau tidak?
12. Kegiatan apakah yang dilakukan untuk menjalin keakraban dan
kebersamaan?
13. Bagaimana kepedulian masyarakat terhadap tetangga yang tertimpa
musibah?
14. Bagaimana kepedulian masyarakat dalam pesta atau hajatan?
15. Bagaimana kepedulian masyarakat di bidang kepentingan umum, seperti
kegiatan
pembuatan
jalan/jembatan,
perbaikan
jalan/jembatan,
membersihkan parit, renovasi tepat-tempat ibadah?
68
REKAP BERITA WAWANCARA WARGA DESA
TARIKOLOT
Identitas Interview 1
Nama
: Sodikan
Usia
: 45
Pekerjaan
: Buruh pabrik dan Tukang ojeg
Alamat
: Desa Tarikolot RT 04/07
Saya
: Assalamu’alaikum wr wb
Sodik : Wa’alikumsalam wr wb Ada apa?
Saya
: ini pak, Saya dari UIN Jakarta sedang melakukan penelitian skripsi yang
berjudul “Perilaku masyarakat di lingkungan kawasan industry Desa
Tarikolot”. Saya ingin bertanya sedikit kepada bapak, apakah bapak
bersedia?
Sodik : boleh…. mau nanya apa?
Saya
: bapak di sini pendatang apa penduduk asli?
Sodik : pendatang, Saya sudah 22 tahun tinggal di sini.
Saya
: tentunya banyak tau tentang desa tarikolot
Sodik : iya
Saya
: nih pak.. Di sini kan bisa dikatakan kawasan industri ya pak. Nah
sebelum adanya kawasan industri lahan di sini apa sih sebelumnya?
Sodik : sawah
Saya
: terus?
Sodik : terus sekarang sudah berubah menjadi banyak bangunan-bangunan
pabrik
Saya
: berarti semakin sini semakin berkembang ya? Bagaimana sih
perkembangannya dari tahun ke tahun?
Sodik : ya kalau bisa dibilang di sini perkembangannya cukup pesat..
perkembangannya kaya nambah bangunan-bangunan pabrik lagi, tapi ga
kaya yang lain ya perkembangannya ke infrastruktur juga diperhatikan.
Disini juga bisa dilihat ya banyak kontrakan atau kos kosan yang berdiri
dan untuk kerapihan ya kurang
69
Saya
: dengan adanya industri otomatis menjadi daya tarik masyarakat luar.
Bagaimana tanggapan masyarakat?
Sodik : ya seperti saya dulu pas datang ke desa ini ngerasa hubungannya sama
pribumi seakan tidak cocok yak arena bisa dilihat di desa ini kan
kebanyakan pendatang jadi yang kebanyakan berhasil ya dari pendatang
daripada pribumi. Pribumi kebanyakan perkembangannya kurang bagus.
Seperti tanah.. mungkin sekarang sudah kebanyakan milik pendatang. Nah
dari kerja juga peribumi gamau dia.. males-maslesan gitu (dulu ya). Terus
dulu banyak preman ya kalau bekerja ditegur udah diancam-ancam.. itu
dulu. Kalau sekarang udah mulai beradaptasi antara pendatang dan
pribumi. Kebanyakan sih pendatang dari Jawa, lampung
Saya
: apakah masyarakat pribumi atau pendatang mendominasi dalam kegitan
sosial seperti gotong royong?
Sodik : ya ada yang ikut ada yang engga, yang pribumi atau pendatang begitu.
Apalagi pendatang kurang ya untuk kebersamaannya
Saya
: biasanya kalau ada kegiatan sosial diberitahunya kumpulan gitu pak?
Sodik : iya ada kumpulan dulu
Saya
: bapak kan pekerja pabrik ya, apakah ada pengaruh terhadap mayarakat
seperti dalam interaksi?
Sodik : ya namanya kerja ya lamaan di tempat kerja jadi intensitas ketemu orang
ya jadi berkurang tetapi paling ketemu di tempat kerja kalaupun sama
daerahnya. Jadi kalau ketemu ya biasa aja gitu gitu aja
Saya
: bagaimana penggunaan waktu luang?
Sodik : kalau pun libur dipake buat tidur aja. Tapi kadang keluar sekedar
nyenengin anak
Saya
: nah.. bapak kan sudah berkeluarga ya? Apakah sebelum dan sesudah
adanya kawasan industri aktif mengkonsumsi barang? (elektronik, baju,
dll.) lebih mendahulukan keinginan atau kebutuhan
Sodik : iya betul. ya butuh ya hehe tapi yang namanya ngeliat barang yang
dipengen meskipun ga butuh pengen beli juga.. istilahnya gapapa sesekali.
Saya
: apakah kalau berkonsumsi mengikuti trend?
Sodik : kadang engga.. kadang iya ya. Tapi masih dibatas wajar dan ukuran
pengahsilan. Kaya baju kita beli tapi karena punya anak ya jadi pentingin
mereka
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat ketika ada yang terkena musibah?
70
Sodik : ya kita kalau ada waktu pasti diluangkan waktu ya, misal kalau ada
tetangga yang meninggal. Kalau kita punya ya sekalian bantu
semampunya. Entah tenaga atau sumbangan
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap kepentingan umum?
Sodik : balik lagi ke waktu ya. Kalau ada waktu ya ikut kalau engga ya berarti
belum sempet. Kan buruh pabrik kadang minggu juga ada yang masuk.
Kalau tidak bisa ikut ya paling sekedar bantu memberi buat beli makanan
kecil
Sodik : selain sebagai buruh pabrik apakah ada pekerjaan lain?
Sodik : iya.. ya kaya ngojek kalau ada libur.
Identitas Interview 2
Nama
: Wahyu
Usia
: 23
Pekerjaan
: Buruh Pabrik
Alamat
: Desa Tarikolot RT 04/07
Saya
: Assalamu’alaikum wr wb
Wahyu : Wa’alikumsalam wr wb
Saya : saya sedang melakukan penelitian nih mau nanya-nanya sedikit boleh ga?
Hehe
Wahyu : ya kalau saya bisa jawab mau aja hehe. Emang apa?
Saya
: mas nya kerja di pabrik bukan?
Wahyu : oh iya benar. Knapa tuh?
Saya
: hehe mau nanya nih mas tau gak dulu daerah sini sebelum adanya
kawasan industri keadaannya gimana?
Wahyu : yang saya tau sih di sini sawah dan perkebunan yang luas sekali
Saya : nah bagaimana perkembangannya semakin ke sini setelah masuknya
industri?
Wahyu : ya menurut saya banyak berdirinya pabriik-pabrik, kos kosan dan
penduduk kan makin padat
Saya
: otomatis menjadi daya tarik masyarakat luar untuk bekerja atau
bermukim dong? Bagaimana responnya?
71
Wahyu : biasa aja sih. Dia dia saya saya hubungannya. Asal jangan mengganggu
aja selagi dia baik mah
Saya
: apakah kalau ada kegiatan sosial mas atau masyarakat lainnya ikut?
Wahyu : tergantung sih. Ada yang ikut ada yang engga. Kalau ada waktu ya ikut,
kalau engga ah berarti belum sempet apalagi kan kerja. bisa dilihat kalau
ada kegiatan begitu ga begitu rame ya jadi yang mau aja
Saya
: membahas pendatang nih mas, dari mana aja sih?
Wahyu : kebanyakan sih orang jawa. Jawa timur, jaw tengah misalnya
purbalingga, purwkerto, lampung dan sumatera
Saya
: dengan bekerja, masing-masing pabrik tentunya mempunyai peraturan
sift misalnya. Nah apakah dengan bekerja mempengaruhi interaksi dengan
orang sekitar?
Wahyu : tergantung ya. Tergantung kitanya terhadap mereka. Ya kalau kita duluan
nyapa ya nyapa tapi kalau engga ya biasa aja. Tergantung waktu juga,
kalau kerja pulangnya masih siang bisa lah mainmain sebentar dengan
teman
Saya
: kalau ada libur, waktu luang anda digunakan ngapain aja? Apa jalanjalan, apa belanja?
Wahyu : kalau misalnya waktu luang ya paling digunakan untuk main bola kalau
ada jadwalnya itu juga hehe. Ngeband juga sama temen-temen keluar ya
kemana aja namanya libur kan. Misalnya makan atau liat-liat
Saya
: selanjutnya.. apakah sebelum dan sesudah beralih profesi menjadi pekerja
pabrik anda aktif berkonsumsi? Misal barang elektronik dll.
Wahyu : ya begitu lah. Dulu mah belum kerja kan gak punya penghasilan paling
minta sama orang tua. Tapi sekarang udah kerja jadi gaminta lagi.
Bedanya sekarang pake uang sendiri pengen beli apa aja Alhamdulillah
bisa. misalnya beli baju sering, sepatu, beli apa aja.
Saya
: apakah rutin setiap gajian membeli sesuatu?
Wahyu : bisa dikatakan rutin. Kaya beli bajukan sering hehe.
Saya
: apakah ada perkembangan drastis dulu dan sekarang?
Wahyu : ada.
Saya
: seperti apa?
Wahyu : ya kaya sekarang, pengen ini pengen itu ada.. kebeli gitu alhamdulilah
lah
Saya
: apakah kalau berbelanja mengikuti trend?
Wahyu : sering sih mengikuti.
72
Saya
: darimana mengetahuinya/
Wahyu : banyak sih dari sosmed kaya facebook, instagram, dari temen juga ada
Saya
; balik lagi pertanyaan tentang masyarakat. Kegiatan apakah yang anda
lakukan untuk menjalin kebersamaan?
Wahyu : paling ngumpul sama temen kaya gitar-gitaran ya namanya juga masih
muda bu hehe
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap tetangga yang terkena
musibah? seperti sakit, meninggal atau kecelakaan
Wahyu : ya gitu sih responnya. Ngebantu.
Saya
: bagaimana? Apa kolektifan atau individu
Wahyu : ada ada. Kolektifan seikhlasnya. Kadang juga disuruh RT nya kan gaenak
juga kalau ga lakuin apa apa
Saya
: kegiatan masyarakat dikepntingan umum seperti membersihkan jalan
atau renovasi masjid. Bagaimana kepedulian masyarakat dalam hal itu?
Wahyu : peduli. Tapi ada juga yang engga ikut.. ga semuanya lah. Tergantung
orangnya
Saya
: mungkin sampai disini saja. Terimakasih
Wahyu : sama sama.
Identitas Interview 3
Nama
: Edi Mulyono
Usia
: 58
Pekerjaan
: Ketua Komite Pendidikan SD
Alamat
: Kp. Tarikolot RT 04/07
Saya
: langsung saja pak ke pertanyaan
Edi
: boleh
Saya
: di desa ini kan bisa dikatakan kawasan industri ya pak?
Edi
: ya sebagian besar betul
Saya
: nah sebelum adanya kawasan industri tuh daerah sini gimana pak? Apa
lahan pertanian apa permukiman warga?
Edi
: awalnya sih ga begitu tau karena kami pendatang tapi pendatang lama
sekitar 26 tahunan memang sudah ada pabrik tapi ada juga persawahan.
Terus saja juga liat dulu ada pembuatan batu bata atau lio tapi semakin
73
kesini sudah tidak ada lagi. Tapi di sini warga nya hampir bekerja pabrik
semua 90% bisa dilihat disini banyak dibangunnya kontrakan
Saya
: nah setelah masuknya kawasan industri perkembangannya gimana sih?
Misalnya ekonomi, sosial atau budayanya?
Edi
: kalau budaya ya otomatis berubah yak karena kan disini kawasan industri
tentu menerima masuknya semua suku bangsa ya dari seluruh Indonesia
barangkali. Disini ekonomi ada juga sebagian penduduk yang memang
mata pencahariannya diperdagangan entah itu jualan makanan jadi, tokotoko tapi secara umum kalau di kita sih ga terlalu terasa ya. Di sini standar
aja hidupnya karena dominasikan karyawan jadi pola hidupnya seperti itu
aja tapi ada juga yang mempunyai penghasilan lebih hidupnya seneng
Saya
: ini kan kawasan industri, otomatis kan menjadi daya tarik masyarakat
luar untuk menetap atau bekerja di sini. Bagaimana sih tanggapan adanya
mereka?
Edi
: kalau buat kami welcome aja ya. Selagi mereka baik. Kalau mereka
datang dengan baik-baik kami terima tapi kalau mereka tidak baik ya
begitu. Kebanyakan pendatang perempuan yak arena kan pabrik di sini
seperti garmen. Kalau yang lakinya ga terlalu banyak
Saya
: mereka mendominasi atau engga sih pak kalau ada kegiatan sosial?
Edi
: tidak terlalu juga. Kami berupaya mengajak. Jadi dalam kegiatan sosial
seperti hari kemerdekaan, PHBI kami tetep libatkan. Entah mereka datang
atau engga tapi tetep berkontribusi kan lari-larinya ke uang ya yang
bertujuan untuk mensukseskan acara juga
Saya
: apakah kegiatan bekerja mempengaruhi interaksi dalam masyarakat?
Edi
: biasa aja. Normal. Ada juga kan setiap daerah ga semua islam nah
misalnya kalau ada kegiatan qurban tetep kami kasih
Saya
: kegiatan apakah yang dilakukan untuk menjalin kebersamaan antar
masyarakat?
Edi
: biasanya yang terasa itu pas tujuh belas agustusan ya kita di sini ada
pengajian tapi balik lagi lah ke orang nya. Ada yang datang ada yang
engga
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap orang yang terkena
musibah?
Edi
: Alhamdulillah kalau disini barang kali bisa dicontoh ya barang kali. Saya
ambil contoh baru seratus tiga puluh hari istri saya meninggal itu sejak
pulang dari rumah sakit dan selesai hampir semua terlibat mebantu
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat dikepentingan umum?
Edi
: biasa aja
74
Saya
: kalau ada kegiatan misalnya gotong royong melakukan apa gitu apa
dibertahu dulu misal kumpul dulu?
Edi
: kita cukup umumkan di mushola. Yang sempet tinggal bergabung. Itu aja
ya begitu ada yang gabung sebagian. Kan ada yang males juga apalagi
kalau libur apalagiyang bekerja mungkin alasannya cape atau apa jadi
seadanya aja. Apalgi kan sekarang jarang ya padahal penting gotong
royong untuk silaturahmi juga tapi tau sendirisekarang apa apa bayar
istilahnya
Saya
: mungkin itu aja yang ditanyakan hehe terimakasih pak.
Identitas Interview 4
Nama
: Ujang Jarkasih
Usia
: 42
Status
: Kawin, Ketua RT dan Security Pemda
Alamat
: Desa Tarikolot RT 05/07
Saya
: bismillah. Assalamu’alaikum pak
Ujang : wa’alaikumsalam
Saya
: bapak pendatang pak apa asli sini?
Ujang : bisa dibilang asli lah
Saya
: lagsung saja ke pertanyaan pak. Bapak kan asli sini ya.. nah di sini bisa
dikatakan kawasan industri, sebelumnya apasih pak?
Ujang : di sini sawah yah kebun dan pengrajin kaya ember, batu bata pekerjaan
pribuminya tapi sekarang banyak pabrik dan kontrakan yang ditemui padat
Saya
: nah sesudah adanya kawasan industri perkembangannya seperti apa?
Ujang : ada sih. Misalnya dari bidang keamanan
Saya
; adanya kawasan industri berarti menjadi daya tarik masyarakat luar. Nah
bagimana sih responnya?
Ujang : nerima nerima aja sih asal tau peraturannya. Tapi kalau misal gaada
laporan ya maaf maaf saja saya tidak membantu apabila ada keperluan.
Misalnya banyak maslah yang dari luar dibawa ke sini gitu kita kena
imbasnya makanya yang begitu saya ga akui. Dengan itu bukan gila
hormat tetapibiar saling menghormati. Yang kita takutkan ya kalau
adamasalah misal ada yang celaka atau apaterus nyari alamatnya kesini
kan dari awal tidak lapor bagaimana saya tau. Tapi kalau lapor dari awal
pasti kita bantu
75
Saya
: banyak yang seperti itu?
Ujang : banyak. Misalnya sudah tinggal sekian bulan lagi sakit dating ke rumah.
Saya jawab aja saya bukan dokter dan anda saja kesini tidak lapor,
memberi salam itulah yang gapunya aturan tapi masih aja yang cuek-cuek
aja
Saya
: apakah masyarakat mendominasi dalam kegiatan sosial?
Ujang : kalau kegiatan sosial ya semua tergantung kepengurusan ya. Kalau kita
agak jauh dengan masyarakat mungkin mereka juga agak cuek. Saya
menafsikan di sini kebanyakan masyarakat pekerja yang cuek ada juga
males. Saya menafsirkan juga masyarakat disini kalau soal gotong royong
ya Alhamdulillah ada yang hadir. Tapi banyak nya ya yang ogah-ogahan.
Kebanyakan apa apa dikerjain orng bukan kita semua yang ngerjain. Ya
gimana orang-orangnya susah. Kita di sini ada linmas ya tentunya kalau di
RT lain mungkin ada pungutan misal sebulan 10-15 ribu kalau disini tidak
ada. Saldo kita nol pisan ya jadi kalau adakegiatan apapun ya paling
maintain ke masyarakat. Ada yang tidak datang tapi kan bayar mah kudu
Saya
: bagaimana interaksi masyarakat terhadap lingkungan sekitar? Apakah
dengan bekerja mempengaruhi?
Ujang : ya secara kasat mata biasa aja. Soalnya bisa kita pantau biasa aja. Tetap
akur
Saya
: seanjutnya, kegiatan apakah untuk menjalin keakraban dengan
masyarakat?
Ujang : ya itu dengan pendekatan kaya pengajian. Intinya saling komunikasi
misalnya saya nih kalau ada yang diperluin ya kadang saya samperin kaya
tadi yang baru pindah
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap masyarakat yang terkena
musibah?
Ujang : di sini Alhamdulillah kalau adamaslah musibah sakit, meninggal atau apa
kita siap ada. Misal nih ada yang ngasih tau.. pak RT ni ada yang sakit, ya
kita musyawarah buat membantu entah tenaga atau uang. Tapi semakin
kesini yan namanya kebanyakan pekerja kalau ga bisa liat paling
ngebantunya sama sumbangan seikhlasnya dengan uang. Kalau butuh
anter ke puskemas kalau ada yang punya kendaraan dianter. Kalau udah
dirawat juga ada yang nyamperin ke sana
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap kepentingan umum?
Misalnya memperbaiki jalan, membersihkan selokan atau merenovasi
masjid
Ujang : Alhamdulillah masalah gotong royong di sini siap., dari laki-lakinya
maupun ibu ada yang ikut serta tapi ga banyak sih seadanya aja. Misal ibu
yang mempersiapkan makanan seadanya untuk yang lagi kerja bakti. Udah
76
di informasikan kepada warga nah ada yang ikut ada yang engga ya
gimana yaaa sekarang mah antusiasnya ga kaya dulu apalgi kan alasannya
yacape mungkin bekerja atau males. Maunya semuanya ya
Saya
: itu saja pak yang ditanyakan, terimakasih atas waktunya
Ujang : sama sama neng
Identitas Interview 5
Nama
: Popon
Usia
: 38
Pekerjaan
: Buruh pabrik
Alamat
: Desa Tarikolot RT 06/07
Saya
: langsung saja ya bu hehe pertanyaannya tadi ibu kan bilang sudah lama
ya tinggal di sini tentunya tau ya sedikit atau banyaknya perkembangan
tentang desa ini?
Popon : hehe ya apa dulu peranyaannya nanti kalau tau mah dijawab
Saya
: dulu sebelum adanya kawasan industri di desa ini apa sih bu?
Popon : masih sepi ya di dulu mah sawah, perkebunan ya
Saya
: nah setelahnya gimana nih?
Popon : ya bisa diliat sekarang mah banyak kontrakan dibangun banyak juga
pabrik, sawah udah ga keliatan hehe
Saya
: nih bu ini kan kawasan industri ya tentunya menjadi daya tarik
masyarakat luar untuk datang sekedar bekerja dan bermukim.. bagaimana
sih responnya?
Popon : sekarang mah rame, padat. Banyak yang datang. Ada yang dari jawa,
sumatera ada. Responnya ya biasa aja
Saya
: selanjutnya bu apakah masyarakat sini.. masyarakat pendatang atau asli
mendominasi dalam kegiatan sosial?
Popon : ikut kalau lagi ga kerja mah seperti bapak nih (suami) tapi sekarang
lagisakit jadi ga ikut. Tapi kalau kerja kan dibagi-bagi waktunya jadi
kadang ikut kadang engga. Disini sih tergantung RT nya kalau ikut serta
ya yang llain ikut tapi ga banyak. Apalagi didominasi pekerja ya jadi
adayang hadir ada yang engga.. karena itu kalau ada apa apa istilahnya
biar orang aja yang ngerjain dibayar
Saya
: ibu bekerja?
Popon : iya
77
Saya
: nah sebagai pekerja apakah mepengaruhi hubungannya dengan
masyarakat? Misal dengan tetangga
Popon : kurang lah
Saya
: terus?
Popon : kebanyakan di tempat kerja ya dari pada di rumah jadi biasa aja
hubungannya hehe gitu deh
Saya
: nih bu kalau libur. Waktunya ibu gunain ngapain sih?
Popon : paling istirahat ya dirumah sama keluarga. Kalau gajian mah keluar
untuk sekedar jalan-jalan sama anak hehe misalnya makan kemana gitu
Saya
: bu.. apakah sebelum dan sesudah beralih profesi ibu aktif dalam
berkonsumsi? Misal barang elektronik, pakaian atau apa aja
Popon : berbelanja ya yang dibutuhin aja
Identitas Interview 6
Nama
: Suherman
Usia
: 45
Pekerjaan
: Buruh pabrik
Alamat
: Desa Tarikolot RT 05/07
Saya
: ini pak saya mau menanyakan sedikit tentang kehidupan di desa ini.
Apakah bapak bersedia?
Herman: oh boleh. Tentang apa? Kalau bisa saya jawab mah hehe
Saya
: nah pertanyaannya.. sebelum adanya kawasan industri di sini apa sih
pak? Apa lahannya memang kosong apa sawah?
Herman : oh itu mah yang saya tau persawahan ya sebelum adanya pabrik kaya
sekarang
Saya
: setelah dibangunnya industri perkembangannya gimana?
Herman : Alhamdulillah ya warga di sini ada kemajuan. Entah dari informasi
entah darimasalah jalan
Saya
: kawasan industri nih pak tomatis menjadidaya tarik masyarakat luar
untuk bekerja atau bermukin disini.. bagaimana sih responnya masyarakat
sekitar?
Herman : iya sih bisa dirasakan di sini mayoritas pendatang ya. Hmm 60% lah
malahan
78
Saya
: darimana saja pak?
Herman : ya ada dari lampung ya, ada dari jawa.
Saya
: bagaimana sih pak responnya?
Herman : baik.. baik
Saya
: apakah masyarakat pendatang atau asli mendominasi dalam kegiatan
sosial?
Herman : hmm kalau itu ya sekarang gimana ya bisa dikatakan biasaaja. Ga rame
ga sepi ya tergantung orang dan waktunya ya da nada juga yang males.
Tapi dulu sih lebih ramenaanya kegiatan ya tapi sekarang sepi sih tapi
tetap adayang hadir mah
Saya
: di sini kebanyakan yang bekerja pabrik ya pak. Apakah mempengaruhi
gak sih pak terhadap tetangga sekitar?
Herman : balik lagi ke masalah waktuya. Kan namanya kerja dipabrik di sift jadi
jarang ketemu selain di pabrik mah. Ya biasa aja hehe tetap berhubungan
Saya
: bapak juga seorang pekerja pabrik. Nah bagaimana bagaimana
penggunaan waktu luang?
Herman : saya gunain ya sebaik baiknya tapi kebanyakan mah di rumah ya
istirahat tapi kadang-kadang keluar kemana gitu hehe naanya libur kan
jarang ya istilahnya refreshing dulu
Saya
: saya mngambil judul tentang perilaku ya pak. Mengarah ke perilaku
konsumtif salah satunya.. bagaimana perkembangan sebelum dan sesudah
beralih profesi? Apakah andaaktif dlm berkonsumsi? Misalnya berbelanja
barang atau lain lain
Herman : aktif. Bisa dikatakan aktif
Saya
: apa aja sih pak yang suka dibeli?
Herman : ya gitu gitu aja sih dek hehe adek juga paling sama beli. Seperti baju ya
gitu deh. Apalgi kalau ada uang lebih yaa bisa digunakan buat apa aja
Saya
: bapak kalau belanja mengikuti trend yang berkembang gitu pak?
Herman : biasa aja sih tapi pernah juga.
Saya
: kegiatan apa yang bapak lakukan untuk menjalin keakrabandengan
lingkungan sekitar?
Herman : ya mungkin dengan kerja bakti tapi sekarang kan gimana ya sudah agak
susah ya. Ada juga perkumpulan di suruh RT.. ada yang datang ada yang
engga
Saya
: apakah bapak sering ikut kalau adakegiatan?
79
Herman: ikut.. kalau ada waktu luang ikut
Saya
: bagaimana kepedulian masyarakat terhadap yang terkena musibah? misal
adayang sakit atau ada yang meninggal
Herman : maksudnya ada gotong royong sih solidaritas gitu ada
Saya
: kalau dalam kepentingan umum pak bagaimana kepeduliannya?
Herman : itu jasdi itu kan RT ya yang ngadiain ya tergantung mereka. Tapi ya
disini ada sih suka adakegiatan tapi jarang mungkin karena waktu kan di
sini banyak yang kerjanya di pabrik. Cape juga ungkin alasnnnya jadi
kalau adakegiatan begitu aumau engga engga hehe namanya sukarela yaaa.
Kan sekarang mah banyak yang apa apa maunya dibayar meskipun
kepentingan bersama juga
Saya
: itu kalau ada kegiatan begitu diinformasikannya gimana pak?
Herman : ya kalaudimushola ya setelah sholat atau adakumpulan dulu. Tapi kalau
adayang ga hadir paling memberikan uang buat beli apa gitu itung-itung
makanan kecil hehe
Saya
: oh gitu ya pa. hmmmm terimakasih pak itu saja yang ditanyakan hehe
Herman : ya sama sama.
Identitas Interview 7
Nama
: Budi
Usia
: 31
Pekerjaan
: Counter
Alamat
: Kp. Bojong RT 05/07
Saya
: ehehe selamat siang nih mas maaf mengganggu waktunya
Budi
: iya gapapa.. ada apa ya?
Saya
: mau menanyakan sedikit tentang daerah sini mas. Boleh gak?
Buid
: apa ya? Hehe boleh kalau saya bisa jawab mah
Saya
: mas di sini pendatang atau asli?
Budi
: pendatang udang lama tapi ya
Saya
: oh berapa tahun?
Budi
: sekitar berapa ya lamaaa.. kecil kali eh mgkin 13 tahunan
Saya
: langsung ke pertanyaan, mas gimana sih keadaan disini sebelum adanya
kawasan industri?
80
Budi
: oh itu mah yang saya tau mungkin sawah ya perladangan mungkin
asyarakat skitar
Saya
: oh sawah. Sekarang sudah jarang ya sawahnya?
Budi
: iya kan sekarang udah dibangun pabrik dan banyak kontrakan untuk
peukiman warga yang semakin padat hehe
Saya
: mas kan pendatang ya.. ini kan kawasan industri otomatis menjadi daya
tarik masyarakat luar tergantung mas juga. Bagaimana sih responnya?
Budi
: iya tentu apalagiuntuk bekerja dan tinggal ya banyak. Saya juga pas
datang kesini baik baik aja ya biasa aja
Saya
: nah pertanyaan selanjutnya.. kalau ada kegiatan sosial di sini nih yang
mendominasi pendatang atau asli yang ikut?
Budi
: ya kaya kegiatan kemarin ya pas 17 agustusan hehe di sini rame
Saya
: masnya ikut serta?
Budi
: diundang sih hehe tapi saya ga dating dan belum kesana
Saya
: kenapa?
Budi
: ya gitu deh hehe disini aja ah keliatan gaikut kesana jadinya. Di sini juga
jaga counter ya
Saya
: dengan bekerja begini mas, otomatis kan kebanyakan bekerja dari pada di
rumanya. Apakah itu mempengaruhi?
Budi
: biasa aja. Tapi ada sih yang saya saya dia dia maksudunya cuek gitu.. ada
banyak tapi ada juga yang suka negur menegur
Saya
: kalau jaga counter gini liburnya kapan mas?
Budi
: semaunya hehe semaunya kita
Saya
: kalau libur? Waktunya digunain untuk apa?
Budi
: saya paling di rumah atau keluar sama istri dan anak hehe jalan jalan gitu
Saya
: aktif dalam berkonsumsi mas? Misalnya membeli barang, baju dll
Budi
: biasa aja hehe dibilang jarang ya tapi sering apalagi istri itu mah
mungkin sering hehe kaya belanja baju apa aja tuh
Saya
: kalau belanja gitu.. mementingkan kebutuhan atau keinginan sih?
Budi
: tergantung.. namanya juga misal liat barang nih yang bagus tentu saja
dipengen hmm kadang langsung beli hehe takut diambil orang
Saya
: suka mengikuti trend yang sedang berkembang mas?
81
Budi
: iya kadang, kan gamau beli yang lama lama mah hehe kalau lagi musim
baju ya beli kan pengen gitu ngikutin hehe senengkalau punya mah
Saya
: oh gitu mas.. terus pertanyaan selanjutnya nih. Bagaimana kepedulian
masyarakat kepada orang yang sedang terkena musibah mas?
Budi
: ya naanya sakit ya hehe siapa yang mau apalgi deket misalnya tetangga.
Kalaupun lagi disempetin atau engga ngasih sembako atau sumbangan
buat bantu seikhlasnya.. seadanya kita
Saya
: itu kan kalau ada musibah ya mas.. kalau untuk kepentingan umum
bagaimana kepedulinnya?
Budi
: hmm gotong royong kaliyakerjasama gitu kerjnya. Tapi pasti
adaperbedaan dulu sampe sekarang. Kaya dulu mah rame ya sebelum
adanya pabrik, sekarang mah mungkin karena pada bekerja jadi waktunya
terbatas dan kerja begitu sepi dan jarang dilakuin. Yang datang paling
sedikit apalgi kan sekarang mah meskipun buat kita nantinya kebanyakan
sih dikerjain orang dan digaji kaya perbaikan mushola, jalan. Tapi kadang
juga ada sih yang minta sumbangan dijalan hehe
Saya
: hehe gitu ya mah. Terimakasih ya atas waktunya nih maaf mengganggu
Budi
: iya gapapa sama sama hehe
Identitas Interview 8
Nama
: Riyan Hidayat
Usia
: 26
Pekerjaan
: Sekdes
Alamat
: Kp. Bojong RT 04/07
Saya
: asaalau’alaikum.. maaf menggannggu waktunya sbentar pak hehe paling
5-10 menitan. Apakah bpk bersedia?
Riyan : nanya apa? Hmm boleh
Saya
: bapak asli sini?
Riyan : asli. Memang kenapa?
Saya
: mau menyakan tentang desa ini sebelum dan sesudahadanya kawasan
industri gimana pak?
Ryan : yang saya tau mah dulu di sini sawah an lahan untuk berladang
masyarakat lah ya. Sekarang mah bisa diliat banyak pabrik dan kontrakan
di mana-mana karena penduduk semakin banyak
82
Saya
: hmm sawah ya. Terus sekarang ajdi kawasan industri banyak juga
pendatang..bagaimana responnya?
Riyan : biasa aja, ada yang cuek ada yang nerima ya masing-masing aja
Saya
: kalau ada kegiatan sosial ana yang paling mendominasi?
Riyan : semua harusnya ikut serta yaaa hadir tapi kan gabisa paksain. Setiap
orang punya kepentingan masing-masing seperti banyak yang bekerja
alasannya jadi seadanya aja
Saya
: hmmm ada pengaruh berarti pak bekerja?
Riyan : iya jelas ada. Kaya ada timbul individualis ya, cuek. Apalgi ya yang
peruahan sana kepengennya membuat peraturan sendiri kabarnya tetapi
kita biarkan tapi sebelumnya ada sih peringatan tapi mereka tertutup
seakan ga ngikutin peraturan ya
Saya
: selajutnya pak.. kepedulian masyarakat gimana terhadap yang terkena
musibah seperti adayang sakit atau adayang meningga?
Riyan : kita bantu ya sebisa mungkin.kan ini lingkungan di mana kita tinggal
hmmm namanya juga musibah yaa. Kalau butuh apa apa kita bantu misal
anterke rumah sakit pake ambulance atau kalau tidak adamemakai yang
punya kendaraan. Apa lagi yang kurang mampu hmm bisa ajakita memberi
sumbangan untuk meringankan. Kalau adayang sakit ya jenguk kalau
punya waktu mah. Tapi kan kebanyakan yang kerja ya jadi waktunya ga
nentu pasti ada perbedaannya
Saya
: nah itukan kalauadamusibah pak, bagaimana kalau kepentingan umum?
Kaya merenovasi masjid, membersihkan parit.. kegiatan begitu-begitu
pak?
Riyan : ada ya sering diadain sebisa mungkin untuk menjalin kebersamaan.. tapi
balik lagi ke kesibukan masing-masing. Adajuga karena males atau ada aja
ya hehe mungkin karena itu. Diadain juga ya yang dating itu itu aja hehe
ga banyak. Beda kalau dulu kan rame gotong royong namanya untuk
kepentingan kita juga yaaa
Saya
: hmmm gitu ya pak
Riyan : iya mungkin karena sudah bekerja ya jadi kalau ada kerjaan yang
sukarela begitu agak maleskan kalau kerja sekarang mah apa apa ada
bayarannya. Jadi sekarang mah mending dikerjain orang aja
Saya
: mungkin itu aja pak yang saya tanyain. Hehe terimakasih ya
Riyan : iya
83
Identitas Interview 9
Nama
: H. Maspulloh
Usia
: 55
Pekerjaan
: Kepala Desa
Alamat
: Desa Tarikolot RT 04/07
Saya
: assalamu’alaikum pak
H
: wa’alaikumsalam.. hehe ada apa ini?
Saya
: ini pak saya mahasiswa dari UIN lagi penelitian tentang periaku
masyarakat. Boleh diwawancara sebentar pak?
H
: hehe wawancara apa neng? Boleh boleh lah kalau saya bisa jawab mah
Saya
: bapak di sini pendatang atau asli?
H
: pendatang tapi sudah lama banget di sini sudah jadi asli mungkin hehe
Saya
: hmm pak. Ini kan kawasan industri ya pak? Sebelum adanya ini di sini
gimana sih keadaannya?
H
: dulu mah sepi neng sepi beda sama yang sekarang hehe rame. Rame
pabrik rame kontrakan. Kan dulu sawah, lahan kosong, ada juga
pemukimana yang sekarang jadi pabrik-pabrik
Saya
: oh gitu ya sebelum dan sampai sekarangnya hehe
H
: iya hehe sekarang mah sudah tidak terlihat sawah kaya dulu. Ada sih tapi
mungkin jarang. Jarang juga keliatan yak e kebon nanem apa gitu kaya
sayur.. sekarang mah penduduk semakin banyak dengan bekerja
Saya
: iya pak namanya kawasan industri ya otomatis menjadi daya tarik
masyarakat luar untuk bekerja dan tinggal
H
: iya neng betul. Ada kemajuannya ehehe entah dari perekonomian
masyarakat sekitar. Apalagi banyak pabrik banyak juga tentunya yang
bekerja sebagai buruh.. Alhamdulillah
Saya
: bagaimana sih pak respon masyarakat? Kan banyak pendatang tuh?
H
: welcome ya kalau niatnya baik mah masa kita tolak hehe asalmengikuti
peraturan aja. Kan desa ini juga seneng kalau adaperkembangan mah
Saya
: selanjutnya pak.. kalau adakegiatan sosial yang paling mendoinasi
pendatang atau asli?
H
: hmmm pendatang dengan asli sama aja yaasudah tidak keliatan. Disini
juga kan malah banyakan pendatang hmmm atau sama yaa. Dihitung mah
bisa 50:50% lah. Kalauada kegiatan ya kita kasih tau tapi balik lagi ke
84
masyarakatnya dan RT setempat bagaimana melaksanakannya. Tapi
Alhamdulillah disini lancar da nada yang hadir meski ga semua
Saya
: bagaimana pak untuk menjalin kebersamaan?
H
: ya paling sering rapat ya untuk bagaimana kemajuan yang aka dibuat
untuk desa ini hmmm
Saya
: nah bagaimana kepedulian masyarakat kalau ada keluarga, tetangga yang
terkena musibah? entah sakit atau meninggal
H
: kita bantu ya, kolektifan atau gimanapun caranya hehe jangan sampai
kita tidak. Sepertiadayang meninggalyakita bantu keperluan atau
sumbangan seikhlasnya. Adaun kaya sembako.. tapisemakinkesinikan
namanya banyak yang kerja ya mungkin bantuan yng dikasih kebanyak
uang biar simple istilahnya. Nah kalau ada yang sakit sekerdar menjenguk
mah harus tapi kalau ada waktun juga ya menyesuaikan aja.
Saya
: itukan kalau ada musibah ya pak.. kalau kepentingan umum gimana
kepedulian masyarakatnya?
H
: suka kita adain yaa kaya gotong royong ya maksudnya kaya renovasi
atau mebersihkan selkan dan memperbaikinya.. suka diadain dan setiap RT
ya tapi ya balik lagi ke waktu. Hhmm bisa dikatakan namanya dunia juga
berkembang yaa tentunya masyarakatnya juga ikut. Kaya dulu mah rame
yang ikut kerja bakti kaya pekerjaan di atas, sekarang mah ya biasa aja
hehe. Apalgi adayang berpikiran bahwa alau ada apa apa yang rusak ya
pemerintah desa yang ngurusin kaya ada pengeluaran buat itu semua.
Hmm jadi kalau ada apa apa lebih ke nyuruh orang ya dengan system gaji.
Kan kalau ngandelin mah jarang yaaa. Ada sih tapi sepi
Saya
: oh gitu ya pak. Berarti ada ya perbedaannya hmmmm
H
: iya neng
Saya
: yaudah pak hehe itu aja yang ditanyain.makasih pak.. assalamu’alaikum
H
: wa’alaikumsalam
85
DOKUMENTASI
Wawancara dengan Kepala Desa
Wawancara dengan Sekretaris Desa
Wawancara dengan Buruh Pabrik (S) Wawancara dengan Buruh Pabrik (P)
86
Wawancara dengan Ketua RT
Wawancara Penjaga Counter (B)
Wawancara dengan Buruh Pabrik (W) Banyak bangunan Kontrakan
87
Banyak bangunan Kontrakan
Sedang merenovasi tempat ibadah
Kemacetan jalan raya Desa Tarikolot
88
BIOGRAFI PENULIS
Eni Haryati, lahir di Bogor, pada tanggal 03 September 1994. Bertempat
tinggal di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Merupakan Anak
ke tiga dari Bapak Ayub dan Almh Ibu Emah.
Pendidikan formal yang ditempuh ialah mulai dari Sekolah Dasar di MII
Al-Khairiyah, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di tempat yang sama
MTs Al-Khairiyah, melanjutkan Sekolah Menengah Atas di MAN Cibinong, dan
melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Ilmu
Sosial IPS/Konsentrasi Geografi.
Skripsi yang penulis buat berjudul “Perubahan Perilaku Masyarakat di
Lingkungan Kawasan Industri Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat” dengan berbagai arahan dan bimbingan dari
Bapak Andri Noor Ardiansyah, M.Si dan Ibu Neng Sri Nuraeni, M.Pd.
Download