Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Manajemen Keuangan
2.1.1 Pengertian Manajemen
Keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya tidak terlepas dari
adanya proses manajemen. Tanpa adanya manajemen yang jelas dalam suatu
perusahaan, berbagai aktivitas bisnis perusahaan tidak akan berjalan dengan
optimal. Menurut Terry (2010:16) menjelaskan pengertian manajemen sebagai
berikut:
“Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri atas tindakantindakan
perencanaan,
pengorganisasian,
penggerakan,
dan
pengendalian untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.”
Sedangkan menurut Handoko (2009:10) menjelaskan mengenai pengertian
manajemen adalah sebagai berikut:
“Manajemen dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang
untuk menentukan, menginterprestasikan dan mencapai tujuan-tujuan
organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian
(organizing),
penyusunan
personalia
atau
kepegawaian (staffing), pengarahan dankepemimpinan (leading), dan
pengawasan (controlling).”
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan manajemen adalah
suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta
pengawasan melalui pemanfaatan sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
2.1.2 Pengertian Keuangan
Lingkup keuangan demikian luas dan dinamis. Keuangan sangat
berpengaruh langsung terhadap kehidupan setiap orang dan organisasi baik yang
bersifat keuangan maupun non keuangan, umum maupun pribadi, mencari laba
atau tidak mencari laba. Keuangan diperlukan oleh setiap perusahaan dalam
13
14
memperlancar kegiatan operasinya. Pengertian keuangan menurut Gitman
(2012:4) adalah:
“Keuangan dapat didefiniskan sebagai suatu seni dan ilmu
pengetahuan dari pengelolan uang. Sesungguhnya setiap individu dan
organisasi
menghasilkan
uang
dan
membelanjakan
atau
menginvestasikan uang. Keuangan berhubungan dengan proses,
institusi, pasar, dan instrumen yang terlibat dalam perpindahan atau
transfer uang antar individu, bisnis, dan pemerintah.”
Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2012:3) mengenai pengertian keuangan
ialah sebagai berikut:
“Keuangan menjelaskan fenomena di bidang keuangan yang berguan
bagi mereka yang bertanggung jawab di bidang keuangan dan
individu, sebagai pengambilan keputusan.”
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keuangan
merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaimana pengelolaan uang,
dimana keuangan sangat berpengaruh dalam kehidupan setiap manusia.
2.1.3 Pengertian Manajemen Keuangan
Pada dasarnya manajemen keuangan mempunyai dua unsur kata yaitu
“manajemen” dan “keuangan”. Manajemen keuangan merupakan salah satu fungsi
operasional perusahaan yang sangat penting diantara fungsi-fungsi operasional
perusahaan lainnya seperti manajemen pemasaran, manajemen sumber daya
manusia, manajemen strategik dan lainnya. Menurut Sutrisno (2012:3) pengertian
manajemen keuangan adalah sebagai berikut:
“Manajemen keuangan adalah aktivitas perusahaan yang berhubungan
dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang
murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana
tersebut secara efisien.”
Sedangkan menurut Kasmir (2010:5) mengartikan manajemen keuangan
sebagai:
“Manajemen keuangan adalah segala aktivitas yang berhubungan
dengan perolehan, pendanaan, dan pengelolaan aktiva dengan
beberapa tujuan menyeluruh.”
15
Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen
keuangan merupakan suatu kegiatan perencanaan masalah keuangan di dalam
penganggaran dan pemeriksaan keuangan pengelolaan pengendalian, pencarian
dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu badan atau organisasi organisasi
atau perusahaan.
2.1.4 Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan memiliki aktivitas yang luas dalam bidang keuangan
karena setiap perusahaan membutuhkan seorang manajer keuangan yang
menangani fungsi-fungsi keuangan. Fungsi pokok dari manajemen keuangan
mencakup keputusan investasi, keputusan pembiayaan, dan keputusan kebijakan
deviden.
Fungsi manajemen keuangan menurut Sutrisno (2012:5) terdiri dari tiga
keputusan utama yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan yaitu :
1.
Keputusan Investasi
Keputusan
investasi
adalah
bagaimana
manajer
keuangan
harus
mengalokasikan dana kedalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat
mendatangkan keuntungan dimasa mendatang. Bentuk, macam, dan
komposisi dari investasi tersebut akan mempengaruhi dan menunjang
tingkat keuntungan dimasa depan. Keuntungan dimasa depan yang
diharapkan dari investasi tersebut tidak dapat diperkirakan secara pasti. Oleh
karena itu investasi akan mengandung risiko atau ketidakpastian. Risiko dan
hasil yang diharapkan dari investasi itu akan sangat mempengaruhi
pencapaian tujuan, kebijakan, maupun nilai perusahaan.
2.
Keputusan Pendanaan
Keputusan pendanaan ini sering disebut sebagai kebijakan struktur modal.
Pada keputusan ini seorang manajer dituntut untuk mempertimbsngksn dan
menganalisis kombinasi dan sumber-sumber dana yang ekonomis bagi
perusahaan guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan
usahanya.
16
3.
Keputusan Deviden
Deviden merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibayarkan
oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Oleh karena itu deviden ini
merupakan bagian dari penghasilan yang diharapkan oleh pemegang saham.
Keputusan deviden merupakan keputusan manajemen keuangan untuk
menentukan: (1) besarnya persentase laba yang dibagikan kepada para
pemegang saham dalam bentuk cash dividend, (2) stabilitas dividen yang
dibagikan, (3) deviden saham (stock dividend), (4) pemecahan saham (stock
split), (5) penarikan kembali saham yang beredar, yang semuanya
ditunjukkan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.
2.1.5 Tujuan Manajemen Keuangan
Untuk bisa mengambil keputusan-keputusan keuangan yang benar, manajer
keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai. Keputusan yang benar
adalah keputusan yang membantu mencapai tujuan tersebut. Secara normatif
tujuan keputusan keuangan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan,
dimana nilai perusahaan itu sendiri merupakan harga yang tersedia dibayar oleh
calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Menurut Kasmir (2010:13)
dalam praktiknya untuk mencapai tujuan tersebut, maka manajemen keuangan
memiliki tujuan melalui dua pendekatan yaitu:
1.
Profit Risk Approach
Dalam hal ini manajer keuangan tidak hanya sekedar mengejar
maksimalisasi profit, akan tetapi juga harus mempertimbangkan risiko yang
akan dihadapi. Bukan tidak mungkin harapan profit yang besar tidak
tercapai akibat risiko yang dihadapi juga besar. Disamping itu, manajer
keuangan juga harus melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap
seluruh aktivitas yang dijalankan. Kemudian seorang manajer keuangan
dalam menjalankan aktivitasnya harus menggunakan prinsip kehati-hatian.
2.
Liquidity and Profitability
Merupakan kegiatan yang berhubungan dengan bagaimana seorang manajer
keuangan mengelola likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Dalam hal
17
likuiditas, manajer keuangan harus sanggup untuk menyediakan dana (uang
kas) untuk membayar kewajiban yang sudah jatuh tempo secara tepat waktu.
Kemudian manajer keuangan juga dituntut untuk mampu mengelola dana
yang dimilki termasuk pencarian dana serta mampu mengelola asset
perusahaan sehingga terus berkembang, dari waktu ke waktu.
2.2
Pasar Modal
2.2.1 Pengertian Pasar Modal
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat hutang (obligasi),
ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar
modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain
(misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan
demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual
beli dan kegiatan terkait lainnya.
Menurut Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 pengertian
pasar modal yaitu:
“Pasar modal yaitu sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek.”
Menurut Fahmi (2012:55) mendefinisikan pasar modal sebagai berikut:
“Pasar modal adalah tempat berbagai pihak, khususnya perusahaan
menjual saham (stock) dan obligasi (bond), dengan tujuan dari hasil
penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan
dana untuk memperkuat modal perusahaan.”
Sedangkan menurut Martalena dan Maya (2011:2)
“Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun
institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan
berinvestasi.”
18
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pasar
modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan
perdagangan efek .
2.2.2 Peran dan Manfaat Pasar Modal
Dengan adanya pasar modal diharapkan aktivitas perekonomian menjadi
meningkat, karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaanperusahaan, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar
dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran
masyarakat luas. Menurut Martalena dan Maya (2011:5), peran dan manfaat
pasar modal dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu:
1.
Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien.
2.
Pasar modal sebagai alternatif investasi.
3.
Memungkinan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan
berprospek baik.
4.
Pelaksanaan manajemen perusahaan secara professional dan transaparan.
5.
Peningkatan aktivitas ekonomi nasional.
2.2.3 Jenis-Jenis Pasar Modal
Penjualan saham (termasuk jenis sekuritas lain) kepada masyarakat dapat
dilakukan dengan beberapa cara. Umumnya penjualan dilakukan sesuai dengan
jenis ataupun bentuk pasar modal dimana sekuritas tersebut diperjualbelikan.
Jenis-jenis pasar modal menurut Sunariyah (2011:13) sebagai berikut :
1.
Pasar Perdana (Primary Market)
Pasar perdana merupakan penawaran saham pertama kali dari emiten
kepada para pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak penerbit
(issuer) sebelum saham tersebut diperdagangkan dipasar sekunder. Biasanya
dalam jangka waktu sekurang-kurangnya enam hari kerja. Harga saham
dipasar perdana ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang go
public berdasarkan analisis fundamental perusahaan yang bersangkutan.
Harga saham dipasar perdana tetap, pihak yang berwenang adalah penjamin
19
emisi dan pialang, tidak dikenakan komisi dengan pememsanan yang
dilakukan agen penjualan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 859/kmk/1987
pengertian pasar perdana adalah:
“Pasar perdana (premier) adalah pasar dimana penawaran efek emiten
kepada pemodal selama masa tertentu sebelum efek ini dicatatkan di bursa
efek.”
2.
Pasar Sekunder (Secondary Market)
Pasar sekunder merupakan tempat terjadinya transaksi jual-beli saham
diantara investor setelah melewati masa penawaran saham di pasar perdana,
dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari setelah ijin emisi diberikan maka
efek tersebut harus dicatatkan di bursa.
Menurut Surat Keputusan Bapepam No.01/RM/1989 pengertian pasar
sekunder adalah :
“Pasar Sekunder adalah pasar dimana penawaran efek kepada publik
dilakukan melalui masa penawaran di pasar perdana dan telah dicatatkan
pada bursa efek.”
Dari pengertian di atas dapat ambil kesimpulan bahwa pasar sekunder
dimana saham dan sekuritas lain diperjualbelikan secara luas, setelah
melalui masa penjualan dipasar perdana. Harga saham dipasar sekunder
ditentukan oleh permintaan dan penawaran pembeli dan penjual.
3.
Pasar Ketiga (Third Market)
Pasar ketiga merupakan tempat perdagangan saham atau sekuritas lain di
luar bursa (over the counter market). Bursa paralel merupakan suatu sistem
perdagangan efek yang terorganisasai di luar bursa efek resmi, dalam bentuk
pasar sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh Perserikatan Perdagangan
Uang dan Efek dengan diawasi dan dibina oleh Badan Pengawas Pasar
Modal Lembaga Keuangan. Jadi, dalam pasar ketiga ini tidak memiliki
pusat lokasi perdagangan yang dinamakan floor trading (lantai bursa).
Informasi yang diberikan dalam pasar ini pun meliputi: harga-harga saham,
jumlah transaksi, dan keterangan lainnya mengenai surat berharga yang
20
bersangkutan. Dalam sistem perdagangan ini pialang dapat bertindak dalam
kedudukan sebagai pedagang efek maupun sebagai perantara pedagang.
4.
Pasar Keempat (Fouth Market)
Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar pemodal atau
dengan kata lain pengalihan saham dari satu pemgang saham ke pemegang
saham lainnya tanpa melalui perantara pedagang efek. Bentuk transaksi
dalam perdagangan semacam ini biasanya dilakukan dalam jumlah besar
(block sale).
2.2.4 Fungsi Pasar Modal
Pasar modal memilki peran penting bagi perekonomian suatu Negara karena
pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi
pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana
dari masyarakat pemodal (investor). Dana diperoleh dari pasar modal dapat
digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan
lain-lain. Kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi
pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana dan lain-lain.
Dengan demikian masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai
dengan
karakteristik
keuntungan
dan
risiko
masing-masing
instrumen
(http://www.idx.co.id/home) .
2.2.5 Instrumen Pasar Modal
Dalam mengukur tingkat kemajuan pasar modal dapat diukur dengan
instrumen investasi yang tersedia. Semakin banyak instrumen yang ditawarkan
akan membuat banyak pilihan bagi pelaku pasar dan kemungkinan besar akan
semakin diminati oleh investor. Menurut Sunariyah (2011:48) mengenai
instrumen pasar modal di Indonesia antara lain:
1.
Saham Biasa (Common Stock)
Diantara surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal, saham
biasa (common stock) adalah yang paling dikenal oleh masyarakat. Diantara
emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham biasa juga
merupakan yang paling banyak digunakan untuk menarik dana dari
21
masyarakat. Saham biasa dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau
kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham
adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemiliki kertas tersebut
adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut.
2.
Saham Preferen (Prefered Stock)
Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan
antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap
(seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti
yang dikehendaki investor.
3.
Obligasi (Bond)
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara
pemberi dana (dalam hal ini pemodal) dengan diberi dana (emiten). Jadi
surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik
kertas tersebut telah membeli hutang perusahaan yang menerbitkan obligasi.
4.
Obligasi Konversi (Convertible Bond)
Obligasi konversi sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya
memberi kupon yang tetap, memiliki waktu jatuh tempo, dan memiliki nilai
par. Hanya saja, obligasi konversi memiliki keunikan, yaitu bisa ditukar
dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercantum persyaratan
untuk melakukan konversi.
5.
Right
Right merupakan surat berharga yang memberikan hak bagi pemodal untuk
membeli saham baru yang dikeluarkan emiten. Kebijakan untuk melakukan
right issue merupakan upaya emiten untuk menambah saham yang beredar,
guna menambah modal perusahaan. Sebab dengan pengeluaran saham baru
berarti pemodal harus mengeluarkan uang untuk membeli right. Kemudian
uang ini akan masuk ke modal perusahaan.
6.
Waran
Waran seperti halnya right adalah hak untuk membeli saham biasa pada
waktu dan harga yang sudah ditentukan. Biasanya waran dijual bersamaan
dengan surat berharga lainnya, misalnya obligasi atau saham. Penerbit
22
waran harus memiliki saham yang nantinya dikonversi oleh pemegang
waran. Namun, setelah obligasi atau saham yang disertai waran memasuki
pasar, baik obligasi, saham, maupun waran dapat diperdagangkan terpisah.
7.
Reksa Dana
Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat
pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki
banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko investasi mereka.
Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari
masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan
investasi namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.
2.2.6 Pelaku Pasar Modal
Sebagai suatu bisnis yang berdampak sosial, pasar modal melibatkan
banyak orang dan banyak lembaga. Masing-masing pihak mempunyai peranan
dan fungsi yang berbeda-beda dan saling menunjang kepentingan pihak lain.
Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pasar modal Indonesia sesuai dengan
SK Menteri Keuangan RI Nomor 1548/KMK.013/1990 tentang Pasar Modal
yaitu:
1.
Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
Bapepam merupakan lembaga pemerintah yang bertugas untuk (1)
mengikuti perkembangan dan mengatur pasar modal sehingga efek dapat
ditawarkan dan diperdagangkan secara teratur, wajar dan efisien serta
melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat umum pasar modal, (2)
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga-lembaga dan
profesi-profesi penunjang yang terkait dalam pasar moda, (3) memberi
pendapat kepada menteri keuangan mengenai pasar modal beserta kebijakan
operasionalnya.
2.
Pelaksana Bursa
Bursa efek menurut Kepres No.53 adalah suatu tempat pertemuan termasuk
sistem elektronik tanpa tempat pertemuan yang diorganisir dan digunakan
23
untuk menyelenggarakan pertemuan penawaran jual-beli atau perdagangan
efek.
3.
Perusahaan yang Go Public (Emiten)
Adalah pihak yang melakukan emisi atau yang telah melakukan emisi efek.
Emiten adalah pihak yang membutuhkan dana guna membelanjai operasi
maupun rancangan investasi.
4.
Perusahaan Efek
Adalah perusahaan yang telah memperoleh izin usaha untuk beberapa
kegiatan sebagai penjamin emisi efek, perantara pedagang efek, manajer
investasi atau penasihat investasi.
5.
Lembaga Kliring dan Penyelesaian Penyimpanan
Adalah suatu lembaga yang menyelenggarakn kliring dan penyelesaian
transaksi di bursa efek, serta penyimpanan efek dalam penitipan dalam
pihak lain.
6.
Reksa Dana (Investment Fund)
Adalah pihak yang kegiatan utamanya melakukan investasi, investasi
kembali (reinvestment) atau perdagangan efek, Reksa dana tertutup (closed
and investment fund) adalah reksa dana yang melakukan emisi saham tidak
dapat dijual kepada atau dibeli kembali oleh reksa dana yang bersangkutan.
7.
Lembaga Penunjang Pasar Modal
Adalah tempat penitipan harta, biro administrasi efek, wali amanat, atau
penanggung yang menyediakan jasanya.
8.
Profesi Penunjang Pasar Modal
Tediri dari akuntan, notaris, perusahaan penilai (appraisal), dan konsultan
hukum.
9.
Pemodal (Investor)
Adalah pihak baik perorangan maupun lembaga yang menanamkan
modalnya dalam efek-efek yang diperdagangkan di pasar modal.
24
2.3
Bursa Efek
2.3.1 Pengertian Bursa Efek
Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem
dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran dan permintaan efek pihakpihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka. Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal Pasal 1 ayat 4 mendefinisikan bursa efek sebagai berikut:
“Pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dana atau
sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek, pihakpihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.”
Sedangkan pengertian Bursa Efek menurut Sutrisno (2012:341) yaitu:
“Bursa Efek/Stock Exchange adalah suatu sistem yang terorganisir
yang mempertemukan antara penjual dan pembeli efek yang dilakukan
baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya.”
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bursa efek adalah
suatu wadah atau tempat bagi para pelaku saham dalam melakukan transaksi jual
beli saham.
2.3.2 Fungsi Bursa Efek
Bursa efek yang menyediakan sarana perdagangan efek antara penjual dan
pembeli mempunyai fungsi dalam mencapai tujuannya. Fungsi bursa efek
menurut Ahmad (2004:19) adalah:
1.
Menciptakan pasar secara terus-menerus bagi efek yang ditawarkan kepada
masyarakat.
2.
Menciptakan harga yang wajar bagi efek yang bersangkutan melalui
mekanisme penawaran dan permintaan.
3.
Untuk membantu dalam pembelanjaan dunia usaha.
2.3.3 Tugas Bursa Efek
Bursa Efek adalah salah satu bursa dimana orang memperjualbelikan efek
diindonesia yang mempunyai tugas. Menurut Darmadji dan Fakhrudin
(2012:35) tugas bursa efek adalah sebagai berikut:
25
1.
Tugas bursa efek sebagai fasilitator:
a.
Menyediakan sarana perdagangan efek
b.
Mengupayakan likuiditas instrumen, yaitu mengalirnya dana secara
cepat pada efek efek yang dijual.
c.
Menyebarluaskan informasi bursa ke seluruh lapisan masyarakat.
d.
Memasyarakatkan pasar modal, untuk menarik calon investor dan
perusahaan yang go public.
e.
2.
Menciptakan instrumen dan jasa baru.
Tugas bursa efek sebagi SRO (Self Regulatory Organization)
a.
Membuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan bursa.
b.
Mencegah praktik transaksi yang dilarang melalui pelaksanaan fungsi
pengawasan.
c.
Ketentuan bursa efek mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi
pelaku pasar modal.
2.4
Investasi
2.4.1 Pengertian Investasi
Investasi merupakan pengeluaran penanam modal atau perusahaan untuk
membeli barang-barang modal dan perlengkapan produksi yang akan menambah
kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Menurut Sunariyah (2011:4) mendefinisikan investasi sebagai berikut :
“Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang
dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
mendapatkan keuntungan dimasa-masa yang akan datang.”
Sedangkan menurut Fahmi (2012:3) mengatakan bahwa :
“Investasi dapat didefinisikan sebagai bentuk pengelolaan dana guna
memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut
pada alokasi
yang diperkirakan
keuntungan (compounding).”
akan memberikan
tambahan
26
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi
merupakan suatu kegiatan penempatan dana pada periode tertentu dengan harapan
mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang.
2.4.2 Jenis-Jenis Investasi
Pada dasarnya investasi merupakan penundaan konsumsi atas sejumlah dana
yang dilakukan baik melalui investasi rill (real investment) maupun investasi
keuangan (financial invesment) pada saat ini untuk digunakan dalam produksi
atau ditanam dalam bidang tertentu selama suatu periode waktu dengan tujuan
memperoleh keuntungan yang akan diterima di masa mendatang. Menurut Fahmi
(2012:4), secara umum investasi terdiri dari dua jenis yaitu:
1.
Investasi nyata (real assets)
Secara umum melibatkan aset berwujud, seperti tanah, mesin-mesin, atau
pabrik.
2.
Investasi keuangan
Investasi keuangan (financial investment) melibatkan kontrak tertulis,
seperti saham biasa (common stock) dan obligasi (bond)
2.4.3 Tujuan Investasi
Pada umumnya investor melakukan investasi dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan atau return yang akan diperoleh di masa yang akan
datang. Menurut Fahmi (2012:3) tujuan investasi sebagai berikut:
1.
Terciptanya keberlanjutan (continuity) dalam investasi tersebut.
2.
Terciptanya profit yang maksimum atau keuntungan yang diharapkan (profit
actual).
3.
Terciptanya kemakmuran bagi para pemegang saham.
4.
Turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa.
2.5
Kinerja Keuangan
2.5.1 Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan
perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan
27
yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Menurut Mulyadi (2007:2)
pengertian kinerja keuangan adalah:
“Kinerja keuangan adalah penentuan secara periodik efektifitas
operasional suatu organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran,
standar, dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya.”
Sedangkan menurut Fahmi (2012:2) kinerja keuangan adalah:
“Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat
sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan
aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan
adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat mengukur
keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga dapat melihat
prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan baik perusahaan dengan
mengandalkan sumber daya yang ada. Suatu perusahaan dapat dikatakan berhasil
apabila telah mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan.
2.5.2 Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan
Tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam
mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah
ditetapkan sebelumnya agar mencapai hasil yang diinginkan. Menurut Mulyadi
(2007:416) manfaat pengukuran kinerja adalah sebagai berikut:
1.
Mengelola operasi organisasi secara efisien melalui pemotivasian karyawan
secara maksimal.
2.
Membantu pengambilan keputuisan yang bersangkutan dengan karyawan.
3.
Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
4.
Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaiamana atasan
mereka.
5.
Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
28
2.5.3 Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di
atas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Analisis
kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review data,
menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap keuangan
perusahaan pada suatu periode tertentu. Dalam mengukur kinerja keuangan suatu
perusahaan, diperlukan suatu kajian berupa rasio keuangan yang tercermin dalam
laporan keuangan masing-masing perusahaan. Seperti yang diungkapkan oleh
Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar
penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan
analisa terhadap rasio keuangan perusahaan.
2.6
Laporan Keuangan
2.6.1 Pengertian Laporan Keuangan
Mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu
perusahaan sangat perlu untuk mengetahui kondisi keuangan suatu perusahaan
tersebut. Kondisi keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dari laporan
keuangan. Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, dimana
dalam proses tersebut semua transaksi yang terjadi akan dicatat, diklasifikasikan,
diikhtisarkan untuk kemudian disusun menjadi suatu laporan keuangan. Dimana
dalam laporan keuangan tersebut akan terlihat data kuantitatif dari harta, hhutang,
modal, pendapatan dan biaya-biaya dari perusahaan tersebut.
Pengertian laporan keuangan menurut Kasmir (2012:7)
“Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi
keuangan perusahan pada saat ini atau pada saat periode tertentu.”
Sedangkan menurut Harahap (2013:105) pengertian laporan keuangan
adalah sebagai berikut:
“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil
usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu
tertentu.”
29
Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
merupakan hasil akhir aktivitas suatu perusahaan yang dibuat oleh pemilik
perusahaan, calon investor, kreditur, pemerintah dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan untuk melihat kinerja dan operasional perusahaan.
2.6.2 Tujuan Laporan Keuangan
Pada dasarnya laporan keuangan dimaksudkan untuk menyediakan
informasi keuangan mengenai suatu badan usaha yang akan dipergunakan oleh
pihak-pihak
yang berkepentingan
sebagai
bahan
pertimbangan
didalam
pengambilan keputusan ekonomi. Menurut Kasmir (2012:10), tujuan pembuatan
dan penyusunan laporan keuangan yaitu:
1.
Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
perusahaan pada saat ini.
2.
Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
dimilki perusahaan pada saat ini.
3.
Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
pada suatu periode tertentu.
4.
Memberikan informasi tentang jumlah dan jenis biaya yang dikeluarkan
perusahaan dalam periode tertentu.
5.
Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi terhadap aktiva,
passive, dan modal perusahaan.
6.
Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
periode.
7.
Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan.
8.
Informasi keuangan lainnya.
2.6.3 Pengguna Laporan Keuangan
Setiap transaksi yang berkaitan dengan keuangan dicatat dalam laporan
keuangan yang tujuan pokoknya yaitu memberikan informasi kepada pihak yang
berkepentingan atas kondisi dan perkembangan posisi keuangan perusahaan.
Pihak pihak tersebut menurut Harahap (2013:64) antara lain:
30
1.
Pemegang saham
Pemegang saham ingin mengetahui kondisi keuangan perusahaa, asset,
hutang, modal, hasil, biaya, dan laba. Pemegang saham juga ingin melihat
prestasi perusahaan dalam pengelolaan manajemen serta ingin mengetahui
jumlah deviden yang akan diterima, jumlah pendapatan persaham, jumlah
laba yang ditahan. Juga mengetahui perkembangan perusahaan dari waktu
ke waktu, perbandingan dengan usaha sejenis, dan perusahaan lainnya. Dari
informasi ini pemegang saham dapat mengambil keputusan apakah akan
mempertahankan sahamnya, menjual atau menambah sahamnya.
2.
Investor
Investor dalam hal tertentu juga sama dengan pemegang saham. Bagi
investor potensial akan melihat kemungkinan potensi keuntungan yang
akan diperoleh dari perusahaan yang dilaporkan.
3.
Analis pasar modal
Analis pasar modal selalu melakukan analis tajam dan lengkap terhadap
laporan keuangan perusahaan go public muapun yang berpotensi masuk ke
pasar modal. Ia ingin mengetahui nilai perusahaan, kekuatan dan posisi
keuangan perusahaan. Apakah layak disarankan untuk dibeli sahamnya,
dijual atau dipertahankan. Informasi ini akan disampaikan kepada
langganannya berupa investor baik individual maupun lembaga.
4.
Manajer
Manajer ingin mengetahui situasi ekonomis perusahaan yang dipimpinnya.
Seorang manajer selalu dihadapkan kepada seribu satu masalah yang
memerlukan keputusan cepat dan setiap saat. Untuk sampai pada keputusan
yang tepat. Karena beragamnya informasi yang dibutuhkan, laporan
keuangan yang disusun dengan norma akuntansi keuangan yang bersifat
umum terasa sangat sedikit sehingga ia harus mengharapkan informasi yang
didesain dari akuntansi manajemen.
5.
Karyawan dan serikat pekerja
Karyawan perlu mengetahui kondisi perusahaan untuk menetapkan apakah
ia masih terus bekerja diperusahaan tersebut atau pindah. Karyawan juga
31
perlu mengetahui hasil usaha perusahaan supaya ia bisa menilai apakah
penghasilan yang diterimanya adil atau tidak serta karyawan juga perlu
mengetahui jumlah modal yang dimiliki karyawan jika memang ada seperti
dalam perusahaan penerbitan Indonesia. Demikian juga tentang cadangan
dana pensiun, asuransi kesehatan, asuransi atau jaminan sosisal tenaga kerja
Negara yang demokratis, hak-hak karyawan dilindungi informasi seperti ini
sangat penting.
6.
Instansi pajak
Perusahaan selalu memiliki kewajiban pajak, perusahaan juga dikenakan
pemotongan, perhitungan, dan pembayarannya. Semua kewajiban pajak
tergambar dalma laporan keuangan, dengan demikian instansi pajak dapat
menggunakan laporan keuangan sebagai dasar menentukan kebenaran
perhitungan pajak, restitusi, dan juga dasar penindakan.
7.
Pemberi dana (kreditur)
Bank ingin mengetahui informasi tentang situasi kondisi perusahaan baik
yang sudah diberi pinjaman maupun yang akan diberi pinjaman. Perusahaan
calon debitur laporan keuangan dapat menjadi sumber informasi untuk
menilai kelayakan perusahaan untuk menerima kredit yang akan
diluncurkan.
8.
Supplier
Supplier hampir sama dengan kreditur. Laporan keuangan menjadi
informasi untuk mengetahui apakah perusahaan layak diberikan fasilitas
kredit, seberapa lama akan diberikan, dan sejauh mana potensi resiko yang
dmiliki perusahaan.
9.
Pemerintah
Untuk mengetahui apakah perusahaan telah mengikuti peraturan yang telah
ditetapkan.
10. Pelanggan atau lembaga konsumen
Sebaiknya laporan keuangan juga menyajikan tentang ini.
32
11. Lembaga swadaya masyarakat
Untuk menilai sejauh mana perusahaan meerugikan pihak tertentu yang
dilindunginya.
12. Peneliti/ Akademisi/ Lembaga Peneliti
Sebagai data sekunder dalam melakukan penelitian terhadap pihak tertentu
yang berkaitan dengan laporan keuangan atau perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pengguna laporan keuangan
adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Mereka memonitor
kinerja perusahaan dan pencapaian tujuan dengan menganalisa atas aspek-aspek
yang menjadi fokus perhatian mereka saja. Dengan demikian, pihak-pihak
tersebut dapat mempertimbangkan risiko dan return yang menjadi perhatian
mereka.
2.6.4 Jenis-Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai
prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Jenis laporan keuangan utama
dan pendukung menurut Harahap (2013:106) sebagai berikut:
1.
Daftar neraca yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu
tanggal tertentu.
2.
Perhitungan laba/rugi yang menggambarkan jumlah hasil, biaya dan
laba/rugi perusahaan pada suatu periode tertentu.
3.
Laporan dan sumber penggunaan dana, disini dimuat sumber dan
pengeluaran perusahaan selama satu periode.
4.
Laporan arus kas, disini digambarkan sumber-sumber dan penggunaan kas
dalam suatu periode.
5.
Laporan harga pokok produksi yang menggambarkan berapa dan unsur apa
yang diperhitungkan dalam harga pokok produksi suatu barang. Dalam hal
tertentu Harga Pokok Produksi (HPPd) disatukan dalam laporan Harga
Pokok Penjualan (HPPj). Harga Pokok Penjualan adalah harga pokok
produksi ditambah dengan persediaan barang awal dikurangi persediaan
barang akhir.
33
6.
Laporan laba ditahan, menjelaskan posisi laba ditahan yang tidak dibagikan
kepada pemilik saham.
7.
Laporan perubahan modal, menjelaskan perubahan posisi modal baik saham
atau modal dalam perusahaan perseroan.
8.
Dalam suatu kajian dikenal laporan kegiatan keuangan. Laporan ini
menggambarkan
transaksi
laporan
keuangan
perusahaan
yang
mempengaruhi kas atau ekuivalen kas.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah
hal yang penting dalam menyediakan informasi mengenai keuangan perusahaan
yang dibutuhkan oleh berbagai pihak.
2.6.5 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun dan disajikan untuk memberikan informasi
keuangan suatu perusahaan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan
sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, para
pemakai laporan keuangan harus mengetahui sifat dan keterbatasan dari suatu
laporan keuangan agar dalam membacanya tidak menimbulkan salah tafsir.
Menurut Harahap (2013:201) keterbatasan analisis laporan keuangan harus
memperhatikan keterbatasan laporan keuangan sebagai berikut:
1.
Laporan keuangan dapat bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas
kejadian yang telah lewat. Karenanya laporan keuangan tidak dapat
dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini, karenanya akuntansi
tidak hanya satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan
keputusan ekonomi.
2.
Laporan keuangan menggambarkan nilai harga pokok atau nilai pertukaran
pada saat terjadinya transaksi, bukan harga saat ini.
3.
Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan pihak tertentu. Informasi disajikan untuk dapat digunakan semua
pihak. Sehingga terpaksa selalu memperhatikan semua pihak pemakai yang
sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan.
4.
Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran
dan berbagi pertimbangan dalam memilih alternatif dari berbagai pilihan
34
yang ada yang sama-sama dibenarkan tapi menimbulkan perbedaan angka
laba maupun asset.
5.
Akuntansi tidak mencakup informasi yang tidak material. Demikian pula,
penerapan prinsip akuntansi terhdap suatu fakta atau pos tertentu mungkin
tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang material
terhadap kelayakan laporan keuangan. Batasan terhadap istilah dan
jumlahnya agak kabur.
6.
Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian,
bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai
penilaian pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba
bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
7.
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan
pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat
dari informasi yang dilaporkan.
8.
Akuntansi didominasi informasi kuantitatif, informasi yang bersifat
kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
Namun bias saja informasi kuantitatif dapat gambaranatau indikasi
informasi kualitatif.
2.7
Analisis Laporan Keuangan
Sebelum manajer keuangan mengambil keputusan maka manajer harus
terlebih dahulu memahami mengenai kondisi suatu perusahaan. Untuk memahami
kondisi keuangan perusahaan, diperlukan analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan.
2.7.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk dapat mengetahui
apakah posisi keuangan hasil operasi perusahaan memuaskan atau tidak. Analisis
terhadap laporan keuangan ini akan memudahkan bagi manajemen maupun pihakpihak lain didalam pengambilan keputusan ekonomi. Adapun pengertian lainnya
menurut Harahap (2013:190) menyatakan bahwa analisis laporan keuangan
adalah:
35
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang
lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang
mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data
kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk
mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam
proses menghasilkan keputusan yang tepat.”
Sedangkan menurut Munawir (2010:35) analisis laporan keuangan adalah:
“Analisis laporan keuangan yang terdiri dari penelahan atau
mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan
(trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta
perkembangan perusahaan yang bersangkutan.”
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan
adalah suatu proses penelitian laporan keuangan beserta unsur-unsurnya yang
bertujuan untuk mengevaluasi dan memprediksi kondisi keuangan perusahaan
atau badan usaha dan juga mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan
atau badan usaha pada masa lalu dan sekarang.
2.7.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk menambah
informasi yang ada dalam suatu laporan keuangan. Tujuan analisis laporan
keuangan menurut Harahap (2013:195), secara lengkap kegunaan analisis
laporan keuangan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.
Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang
terdapat dalam laporan keuangan biasa.
2.
Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit)
dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan.
3.
Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4.
Dapat membongkar hal-hal bersifat tidak konsisten dalam hubungannya
dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern
laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari
luar perusahaan.
36
5.
Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan modelmodel dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi
peningkatan (rating).
6.
Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil
keputusan. Dengan kata lain apa yang dimaksudkan dari suatu laporan
keuangan merupakan tujuan analisis laporan keuangan antara lain:
a.
Dapat menilai prestasi perusahaan.
b.
Dapat memproyeksi keuangan perusahaan.
c.
Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari
aspek waktu tertentu.
7.
d.
Melihat perkembangan dari waktu ke waktu.
e.
Melihat komposisi struktur keuangan arus dana.
Dapat menentukan peringkat perusahaan menurut kriteria tertentu yang
sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8.
Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan
periode sebelumnya dengan standar industri normal atau standar ideal.
9.
Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan
baik diposisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan dan seabgainya.
10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan
dimasa yang akan datang.
2.8
Analisis Rasio Keuangan
2.8.1 Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan akan berguna bagi
investor apabila telah dianalisis. Analisis yang dilakukan bermanfaat untuk
mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan perusahaan. Ukuran yang
sering digunakan dalam analisis keuangan perusahaan adalah rasio keaungan.
Analisis ini akan membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan
prospeknya di masa datang serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh
perusahaan. Untuk melakukan analisis rasio keuangan dapat dengan cara
membandingkan prestasi satu periode dengan periode sebelumnya sehingga
37
diketahui adanya kecenderungan selama periode tertentu. Rasio keuangan
merupakan suatu perhitungan rasio dengan menggunakan laporan keuangan yang
dapat berfungsi sebagai alat ukur dalam menilai kinerja perusahaan. Menurut
Kasmir (2012:104) rasio keuangan adalah:
“Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka
yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka
dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu
komponen dengan komponen lainnya dalam satu laporan keuangan
atau antar komponen yang ada diantara laporan keuangan. Kemudian
angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu
periode maupun berbeda periode.”
Sedangkan menurut Harahap (2013:297) pengertian rasio keuangan adalah:
“Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).”
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa rasio keuangan
merupakan suatu hasil yang diperoleh dengan cara membandingkan prestasi satu
periode yang dibandingkan dengan periode lainnya yaitu sebelum atau sesudahnya
sehingga dapat diketahui adanya kcenderungan selama periode tertentu.
2.8.2 Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Terdapat beberapa jenis rasio keuangan dimana dalam setiap rasio keuangan
memiliki
fungsi-fungsi
tersendiri
untuk
aplikasinya. Menurut
Harahap
(2013:301) jenis-jenis rasio keuangan sebagai berikut:
1.
Rasio Likuiditas
Rasio
likuiditas
menggambarkan
kemampuan
perusahaan
untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung
melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar
dan hutang lancar.
2.
Rasio Solvabilitas
Rasio
solvabilitas
menggambarkan
kemampuan
perusahaan
dalam
membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya
apabila perusahaan di likuidasi. Rasio ini dapat dihitung melalui pos-pos
38
yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang jangka
panjang.
3.
Rasio Rentabilitas/Profitabilitas
Rasio rentabilitas atau disebut juga rasio profitabilitas menggambarkan
kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan
sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan,
jumlah cabang, dan sebagainya.
4.
Rasio Leverage
Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap
modal maupun asset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan
dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang
digambarkan oleh modal (equity). Perusahaan yang baik mestinya memiliki
komposisi modal yang lebih besar dari hutang.
5.
Rasio Aktivitas
Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam
menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan
kegiatan lainnya.
6.
Rasio Pertumbuhan (Growth)
Rasio ini menggambarkan presentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari
tahun ke tahun.
7.
Rasio Penilaian Pasar (Market Based Ratio)
Rasio ini merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan
dipasar modal yang menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan
dipasar modal.
8.
Rasio Produktivitas
Jika perusahaan ingin dinilai dari segi produktivitas unit-unitnya maka bisa
dihitung dengan rasio produktivitas. Rasio ini menunjukkan tingkat
produktivitas dari unit atau kegiatan yang dinilai.
39
2.9
Rasio Profitabilitas
2.9.1 Pengertian Rasio Profitabilitas
Profitabilitas merupakan hal penting bagi perusahan karena disamping dapat
menilai efisiensi kerja, juga merupakan alat untuk meramal laba di masa yang
akan datang dan merupakan alat pengendalian bagi manajemen. Dengan
berpedoman pada profitabilitas, manajemen dapat mengambil dan menentukan
langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan profitabilitas dimasa yang akan
datang. Hasil perhitungan profitabilitas merupakan media bagi manajemen untuk
menganalisa variabel-variabel penyebab kenaikan atau penurunan suatu usaha
pada periode tertentu. Menurut Sutrisno (2012:16):
“Rentabilitas atau profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan semua modal yang bekerja
didalamnya.”
Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2013:146):
“Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi
dari pengaruh rasio likuiditas, manajemen asset dan hutang pada hasil
operasi.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas
merupakan alat tentang efektivitas manajemen perusahaan untuk menghasilkan
laba.
2.9.2 Mengukur Rasio Profitabilitas
Untuk mengukur rasio profitabilitas, terdapat bermacam rasio keuangan
yang memiliki fungsi berbeda pada setiap elemen yang dianalisis. Menurut
Kasmir (2012:197), ukuran rasio profitabilitas dihitung dengan rasio sebagai
berikut:
1.
Profit Margin (Profit Margin on Sales), merupakan salah satu rasio yang
digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Untuk mengukur
rasio ini adalah dengan cara membandingkan antara laba bersih setelah
pajak dengan penjualan bersih. Rasio ini juga dikenal dengan nama profit
margin.
40
2.
Return on Assets (ROA), merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return)
atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROA juga merupakan
salah satu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola
investasinya.
3.
Return on Equity (ROE), merupakan rasio untuk mengukur laba bersih
sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi
penggunaan modal sendiri. Makin tinggi rasio ini makin baik. Artinya,
posisisi pemilik perusahaan makin kuat, demikian pula sebaliknya.
4.
Laba Per Lembar Saham, merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan
manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang
rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang
saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang
saham meningkat dengan pengertian lain bahwa tingkat pengembalian
tinggi.
Rasio profitabilitas yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Return
on Assets, untuk diteliti kaitannya dengan harga saham dan return saham
2.9.3 Return On Assets (ROA)
2.9.3.1 PengertianReturn On Assets (ROA)
Return On Assets merupakan salah satu dari penilaian dalam rasio
profitabilitas. ROA mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik
analisis keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif), sehingga lazim
digunakan oleh pemimpin perusahaan juga investor untuk mengukur efektivitas
dari keseluruhan operasi perusahaan. Menurut Harahap (2013:305) ROA adalah:
“Rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh
perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.”
Pengertian Return On Assets (ROA) menurut Fahmi (2012:98) :
“Return On Asset sering juga disebut sebagai Return On Investment,
karena ROA ini melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan
mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang
diharapkan dan investasi tersebut sebenarnya sama dengan aset
perusahaan yang ditanamkan atau ditempatkan.”
41
Sedangkan menurut Tandelilin (2010:372) mendefinisikan ROA sebagai
berikut:
“ROA (Return On Assets) menggambarkan sejauh mana kemampuan
asset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba.”
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Return On Assets
(ROA) merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki dalam menghasilkan
laba.
2.9.3.2 Ukuran Return On Assets (ROA)
Return On Assets adalah rasio keuntungan bersih pajak yang juga berarti
suatu ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari asset yang
dimiliki perusahaan. Untuk mengukur Return On Assets (ROA) dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007:196) ROA adalah rasio yang
digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan
aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik
produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya
akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik
perusahaan tersebut akan semakin diminati investor, karena tingkat pengembalian
(return) akan semakin besar. Hal ini juga akan berdampak bahwa harga saham
dari perusahaan tersebut dipasar modal juga akan semakin tinggi sehingga ROA
akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.
2.9.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ROA
Return On Assets adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih setelah bunga dan pajak dari aktiva
yang dimiliki. Faktor-faktor yang mempengaruhi Return On Assets menurut Gill
and Chatton (2006:50):
42
“Return On Assets dipengaruhi dengan mudah oleh penyusutan pabrik
dalam jumlah besar, asset intangible (bukan fisik, seperti hak paten)
atau pendapatan dan biaya yang tidak biasa.”
Artinya ROA dipengaruhi oleh aktiva, pendapatan serta biaya yang tidak
biasa, misalkan kenaikan pendapatan atau kenaikan biaya operasi.
2.10 Rasio Leverage/Solvabilitas
2.10.1 Pengertian Rasio Leverage/Solvabilitas
Leverage menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan
dibelanjai dengan hutang. Apabila perusahaan tidak mempunyai leverage artinya
perusahaan dalam beroperasi sepenuhnya menggunakan modal sendiri sehingga
risiko perusahaan menjadi kecil. Semakin besar tingkat leverage perusahaan, akan
semakin besar jumlah pinjaman yang digunakan, sehingga risiko keuangan yang
dihadapi perusahaan semakin besar. Rasio solvabilitas/leverage menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau
kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan di likuidasi. Rasio ini dapat dihitung
melalui pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang
jangka panjang. Definisi rasio leverage menurut Kasmir (2012:150) adalah:
“Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Artinya berapa besar
beban hutang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan
aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahan untuk membayar
seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang
apabila perusahaan dibubarkan (likuidasi).”
Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2013:142):
“Rasio leverage merupakan rasio yang mengukur sejauh mana
perusahaan menggunakan pendanaan melalui hutang (financial
leverage).”
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa rasio leverage adalah
rasio
untuk
menilai
kemampuan perusahaan untuk
membayar
seluruh
kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan
dibubarkan.
43
2.10.2 Mengukur Rasio Leverage/Solvabilitas
Untuk mengukur rasio leverage, terdapat bermacam rasio keuangan yang
memiliki fungsi berbeda pada setiap elemen yang dianalisis. Menurut Kasmir
(2012:151), ukuran rasio leverage dihitung dengan rasio sebagai berikut:
1.
Debt to Assets Ratio (Debt Ratio), merupakan rasio hutang yang digunakan
untuk mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau
seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.
Caranya adalah dengan membandingkan antara total hutang dengan total
aktiva.
2.
Debt to Equity Ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
hutang
dengan
ekuitas.
Untuk
mencari
rasio
ini
dengan
cara
membandingkan antara seluruh hutang, termasuk hutang lancar dengan
seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang
disediakan peminjam (kreditur) dengan pemiliki perusahaan. Dengan kata
lain rasio ini untuk mengethaui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan
untuk jaminan hutang.
3.
Long Term Debt to Equity Ratio, merupakan rasio antara hutang jangka
panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa
bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminana hutang
jangka panjang dengan cara membandingkan antara hutang jangka panjang
dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
4.
Time Interest Earned, merupakan rasio untuk mencari jumlah kali peroleh
bunga. Rasio ini diartikan juga kemampuan perusahaan untuk membayar
biaya bunga, sama seperti coverage ratio.
5.
Fixed Charge Coverage, merupakan rasio yang menyerupai Times Interest
Earned. Hanya saja bedanya, rasio ini dilakukan apabila perusahaan
memperoleh hutang jangka panjang atau menyewa biaya bungan ditambah
kewajiban sewa tahunan atau jangka panjang
44
2.10.3 Debt to Equity Ratio (DER)
2.10.3.1 Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio merupakan salah satu rasio pengelolaan modal yang
mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membiayai usaha dengan pinjaman
yang disediakan oleh pemegang saham. Menurut Kasmir (2012:151) pengertian
Debt to Equity ratio adalah:
“Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
hutang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan
antara seluruh hutang, termasuk hutang lancar dengan seluruh
ekuitas.”
Sedangkan Harahap (2013:303) mendefinisikan Debt to Equity Ratio
sebagai berikut:
“Debt to Equity Ratio menggambarkan sejauh mana modal pemilik
dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar.”
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity
Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan modal yang dimiliki
oleh perusahaan tersebut.
2.10.3.2 Ukuran Debt to Equity Ratio (DER)
DER menggambarkan perbandingan hhutang dengan ekuitas dalam
pendanaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut
untuk memenuhi kewajibannya. Sutrisno (2012:210) menjelaskan semakin tinggi
rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding dengan hhutangnya.
Menurut Fahmi (2012:128), DER dapat dirumuskan sebagai berikut:
Para pemberi pinjaman menginginkan rasio ini semakin rendah. Semakin
rendah rasio ini, semakin tinggi tingkat pendanaan perusahaan yang disediakan
oleh pemegang saham dan semakin besar batas pengamanan pembeli pinjaman
jika terjadi penyusutan nilai aktiva atau kerugian.
45
Sedangkan bagi investor, semakin tinggi rasio ini maka tinggi risiko yang
akan dihadapi. Bagi investor yang tidak suka untuk mengambil risiko, maka
mereka menghindari untuk menanamkan modalnya pada perusahaan yang
memiliki DER yang tinggi. Hal ini akan berpengaruh pada harga saham dan juga
return saham perusahaan tersebut.
2.10.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi DER
Debt to Equity Ratio berfungsi untuk mengukur seberapa jauh perusahaan
mendanai operasinya dengan hutang dibandingkan modal sendiri (ekuitas).
Menurut Gill and Chatton (2006:44) faktor-faktor yang mempengaruhi DER
sebagai berikut:
1.
Kenaikan atau penurunan hutang
2.
Kenaikan atau penurunan modal sendiri
3.
Hutang atau modal sendiri tetap
4.
Hutang meningkat lebih tinggi dibandingkan modal sendiri, atau sebaliknya.
Dengan kata lain, semakin rendahnya hutang dan semakin tingginya modal
sendiri akan membuat Debt to Equity Ratio menjadi rendah, sehingga beban
dalam membayar bunga pinjaman dapat berkurang.
2.11 Saham
2.11.1 Pengertian Saham
Salah satu jenis surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal yang
banyak dikenal masyarakat adalah saham. Saham adalah jenis surat berharga yang
dikeluarkan oleh sebuah perusahaan bentuk Perseroan Terbatas (PT) atau biasa
disebut emiten. Pengertian saham menurut Sutrisno (2012:310) yaitu:
“Saham (stock) merupakan surat bukti kepemilikan perusahaan atau
pernyataan pada perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas.”
Sedangkan menurut Martalena dan Maya (2011:12) pengertian saham
adalah:
“Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal sesorang
atas pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan
46
terbatas dengan menyertakan modal tersebut maka pihak tersebut
memiliki klaim atas pendapatn perusahaan.”
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa saham merupakan
surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal yang dikeluarkan oleh emiten
dimana pemegang saham mempunyai hak atas pendapatan perusahaan.
2.11.2 Jenis-Jenis Saham
Saham merupakan surat berharga yang paling popular dan dikenal luas
oleh kalangan masyarakat. Pada umumnya saham yang dikenal sehari-hari adalah
saham biasa (common stock). Dalam praktek menurut Darmadji dan Fakhrudin
(2012:7) menyebutkan bahwa saham terdiri dari beberapa jenis yaitu:
1.
Berdasarkan cara peralihan hak
Ditinjau dari cara peralihannya saham dibedakan menjadi saham atas
unjuk dan saham atas nama.
a. Saham atas unjuk (Beatet Stock)
Di atas saham sertifikat saham atas unjuk dituliskan nama pemilik.
Dengan pemilihan saham ini, seorang pemilik sangat mudah untuk
mengalihkan atau memindahkan kepda orang lain karena sifatnya mirip
uang.
b. Saham atas nama (Registered Stock)
Di atas sertifikat saham ini ditulis nama pemiliknya. Cara
pemindahannya harus memenuhi prosedur tertentu yaitu dengan
dokumen peralihan, kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku
perusahaan yang khusus memuat daftar nama pemegang saham.
2.
Berdasarkan hak tagihan (klaim)
Ditinjau dari segi manfaatnya, pada dasarnya saham dapat digolongkan
menjadi saham biasa dan saham preferen.
a. Saham biasa (Common Stock)
Saham biasa selalu muncul dalam setiap struktur modal perseroan
terbatas. Besar kecilnya dividen yang diterima tidak tetap, tergantung
pada keputusan RUPS.
47
b. Saham preferen (Preffered Stock)
Saham preferen merupakan gabungan penandaan antara hhutang dan
saham biasa. Dalam praktek terdapat beraneka jenis saham preferen
diantaranya adalah:
1) Cumulative Preffered Stock
Saham preferen jenis ini memberikan hak kepada pemiliknya atas
pembagian dividen yang sifatnya kumulatif dalam suatu presentase
atau jumlah tertentu dividen yang dibayarkan tidak mencukupi atau
tidak dibayar sama sekali, maka akan diperhitungkan tahun-tahun
berikutnya.
2) Non Cumulative Preffered Stock
Pemegang saham jenis ini mendapat prioritas dalam pembagian
dividen sampai pada suatu presentasi atau jumlah tertentu, tetapi
tidak bersifat komulatif. Dengan demikian apabila pada suatu tahun
tertentu dividen yang dibayarkan lebih kecil dari yang telah
ditentukan atau tidak dibayar sama sekali, maka hal ini dapat
diperhitungkan pada tahun berikutnya.
3) Participacing Preffered Stock
Pemilik saham jenis ini disamping memperoleh dividen tetap
seperti yang telah ditentukan, juga memperoleh ekstra dividen
apabila perusahaan mencapai sasaran yang telah ditentukan.
4) Covertible Preffered Stock (saham istimewa)
Pemegang saham istimewa mempunyai hak lebih tinggi dari
pemegang saham lainnya. Hak lebih itu terutama dalam
penunjukkan direksi perusahaan.
3.
Berdasarkan kinerja saham
a. Blue Chip Stock
Yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi
sebagian leader di industri sejenis, memilki pendapatan yang stabil dan
konsisten dalam membayar dividen.
48
b. Income Stock
Merupakan saham dari suatu emiten yang memilki kemampuan
membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata yang dibayarkan pada
tahun sebelumnya.
c. Growth Stock
Saham ini merupakan saham-saham dari emiten yang memilki
pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industry sejenis
yang mempunyai reputasi tinggi.
d. Speculative Stock
Adalah saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten
memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai
kemungkianan penghasilan yang tinggi dimasa mendatang meskipun
belum pasti.
e. Counter Cylical Stock
Saham ini merupakan saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi
ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum.
2.11.3 Nilai Saham
Nilai saham ditentukan oleh perkembangan perusahaan penerbitnya. Jika
perusahaan penerbit mampu menghasilkan keuntungan yang tinggi, perusahaan
tersebut akan dapat menyisihkan bagian keuntungan sebagai dividen dalam
jumlah yang tinggi. Pemberian dividen yang tinggi akan menarik minat investor
untuk membeli saham tersebut. Hal ini mengakibatkan permintaan atas saham
yang bersangkutan akan meningkat yang pada akhirnya akan mendorong naiknya
nilai saham. Menurut Rusdin (2008:68) beberapa konsep nilai saham yaitu:
1.
Nilai Nominal (Nilai Par)
Merupakan
nilai
yang
tercantum
dalam
sertifikat
saham
yang
bersangkutan, di Indonesia saham yang diterbitkan harus memiliki nilai
nominal dan untuk satu jenis saham yang sama pada suatu perusahaan
harus memiliki satu jenis nilai nominal.
49
2.
Nilai Dasar
Pada prinsipnya harga dasar saham ditentukan dari harga perdana saat
saham tersebut diterbitkan, harga dasar ini akan berubah sejalan dengan
dilakukannya berbagai tindakan emiten yang ebrhubungan dengan saham,
antara lain: right issue, stock split, waran, dll.
3.
Nilai Pasar
Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung, jika
bursa sudah tutup maka harga pasar saham tersebut adalah harga
penutupannya.
Sedangkan menurut Sasongko (2008) dalam jurnalnya yang berjudul
analisa penilaian saham, dalam situs www.WealthIndonesia.com mengemukakan
bahwa beberapa jenis nilai saham, yaitu:
1.
Nilai Nominal, merupakan nilai per lembar saham yang berkaitan dengan
hukum.
2.
Nilai Buku, merupakan nilai saham menurut pembukuan perusahaan.
3.
Nilai Pasar, merupakan harga saham di bursa efek
4.
Nilai Intrinsik, merupakan nilai sebenarnya dari saham
Dari pernyataan di atas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu nilai saham
terdiri dari beberapa jenis yaitu nilai nominal, nilai dasar, nilai buku, nilai pasar
dan nilai instrinsik. Nilai nominal saham tertera pada saham itu sendiri. Nilai
dasar saham adalah harga pertama kali saham diperjualbelikan di pasar perdana.
Nilai buku yaitu nilai harga saham menurut catatan perusahaan. Nilai pasar saham
terjadi ketika penutupan pasar bursa, sedangkan nilai intrinsik yaitu nilai
sebenarnya dari saham.
2.11.4 Pengertian Harga Saham
Dalam pasar modal yang efisien semua sekuritas diperjualbelikan pada
harga pasar. Harga pasar saham adalah harga yang ditentukan oleh investor
melalui pertemuan permintaan dan penawaran. Pertemuan ini dapat terjadi karena
para investor sepakat terhadap harga suatu saham. Menurut Darmadji &
Fakhrudin (2012:102) pengertian harga saham adalah:
50
“Harga yang terjadi di bursa pada waktu tertentu. Harga saham bisa
berubah naik atau pun turun dalam hitungan waktu yang begitu
cepat. Ia dapat berubah dalam hitungan menit bahkan dapat berubah
dalam hitungan detik. Hal tersebut dimungkinkan karena tergantung
dengan permintaan dan penawaran antara pembeli saham dengan
penjual saham.”
Sedangkan menurut Martalena dan Maya (2011:14) menyatakan bahwa:
“Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan
penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain, harga saham
terbentuk oleh supply dan demand harga saham tersebut”.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa harga saham merupakan harga dari
suatu saham yang ditentukan pada saat pasar saham sedang berlangsung dengan
berdasarkan kepada permintaan dan penawaran pada saham yang dimaksud.
2.11.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Nilai pasar saham ini dipengaruhi oleh faktor yang langsung dan tidak
langsung. Nilai saham dapat berubah setiap saat, tergantung kondisi pasar,
persepsi investor terhadap perusahaan, informasi yang berkembang atau isu lain
yang menerpa pasar modal. Selain itu, harga saham pada dasarnya sangat terkait
dengan kinerja keuangan perusahaan. Ketika kinerja keuangan perusahaan naik,
maka keyakinan investor juga akan tinggi, maka biasanya harga saham akan naik.
Jika perusahaan mengalami penurunan kinerja atau kerugiaan harga saham
biasanya akan turun. Menurut Brigham dan Houston (2013:26) faktor-faktor
yang mempengaruhi harga saham adalah :
1.
Laba per lembar saham
Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan
menerima laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per
lembar saham yang diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian
hyang cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk melakukan investasi
yang lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.
2.
Tingkat Bunga
Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara:
51
a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham denganobligasi.
Apabila tingkat bunga naik maka investor akan menjualsahamnya
ditukar dengan obligasi. Hal ini akan menurunkan harga saham.
b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah
biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba
perusahaan. Suku bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yang
akan mempengaruhi laba perusahaan.
3.
Jumlah Kas Deviden yang Diberikan
Kebijakan pembagian deviden dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagian
dibagilan dalam bentuk deviden dan sebagian disisihkan sebagai laba
ditahan. sebagai salah satu faktor yang memeprngaruhi harga saham, maka
peningkatan pembagian deviden merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas
deviden yang besar adalah yang diinginkan sehingga harga saham naik.
4.
Jumlah Laba yang Didapat Perusahaan
Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang
mempunyai profit yang cukup baik, karena menunjukkan prospek yang
baik sehingga investor tertarik berinvestasi.
5.
Tingkat Resiko Pengembalian
Tingkat risiko dan proyeksi laba diharapkan perusahaan meningkat maka
mempengaruhi harga saham perusahaan. Biasanya semakin tinggi risiko
maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian saham yang diterima.
2.11.6 Penilaian Harga Saham
Setiap pelaku pasar modal memerlukan suatu alat analisis untuk
membantu dalam mengambil keputusan membeli atau menjual saham. Menurut
Sunariyah (2011:166) ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk
menilai harga suatu saham. Terdapat dua pendekatan yang paling dikenal yaitu
pendekatan tradisional dan pendekatan portofolio modern.
1.
Pendekatan tradisional, untuk mengalisis surat berharga saham dengan
pendekatan tradisional digunakan dua analisis yaitu:
52
a.
Analisis teknikal
Analisis teknikal (technical analysis) merupakan suatu teknik analisis
yang menggunakan data atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk
berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu
atau pasar secara keseluruhan. Pendekatan analisis ini menggunakan
data pasar yang dipublikasikan seperti: harga saham, volume
perdagangan, indeks harga saham gabungan dan individu, serta faktorfaktor lain yang bersifat teknis. Oleh sebab itu, pendekatan ini juga
disebut pendekatan analisis pasar (market analysis) atau analisis
internal (internal analysis). Asumsi yang mendasari analisis teknikal
adalah:
1) Terdapat ketergantungan sistematik (systematic dependencies) di
dalam return yang dapat di eksploitasi ke return abnormal.
2) Pada pasar tidak efisien, tidak semua informasi harga masa lalau
diamati ketika memprediksi distribusi return sekuritas.
3) Nilai suatu saham merupakan fungsi permintaan dan penawaran.
Beberapa kesimpulan menyangkut pendekatan analisis teknikal
sebagai berikut:
1) Analisis teknikal didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan.
2) Fokus analisis teknikal adalah ketepatan waktu, penekanannya
hanya pada perubahan harga.
3) Teknik analisis berfokus pada faktor-faktor internal melalui
analisis pergerakan di dalam pasar dan/atau suatu saham.
4) Para analisis teknikal cenderung lebih berkonsentrasi pada jangka
pendek.
Teknik-teknik
analisis
teknikal
dirancang
untuk
mendeteksi pergerakan harga saham dalam jangka waktu yang
relatif pendek.
b.
Analisis fundamental
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham
memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik inilah yang diestimasi oleh para
pemodal atau analis. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari
53
variabel-variabel
perusahaan
yang
dikombinasikan
untuk
menghasilkan suatu return yang diharapkan dan suatu resiko yang
melkat pada saham. Hasil estimasi nilai intrinsik kemudian
dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang (current market
price). Harga pasar suatu saham merupakan refleksi dari rata-rata nilai
intrinsiknya.
2.
Pendekatan portofolio modern
Pendekatan portofolio modern menekankan pada aspek psikologi bursa
dengan asumsi hipotesis mengenai bursa, yaitu hipotesis pasar efisien.
Pasar efisien diartikan bahwa harga-harga saham yang terefleksikan secara
menyeluruh pada seluruh informasi yang ada di bursa.
2.12
Return Saham
2.12.1 Pengertian Return Saham
Return adalah laba atas suatu investasi yang biasanya dinyatakan sebagai
tarif persentasi tahunan. Return saham merupakan tingkat keuntungan yang akan
diperoleh investor yang menanamkan dananya di pasar modal. Return saham ini
dapat dijadikan sebagai indikator dari kegiatan perdagangan di pasar modal.
Menurut Jogiyanto (2010:205) definisi return adalah:
“Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat
berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang
belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa
mendatang”.
Sedangkan menurut Gitman (2012:311):
“The total rate of return is the total gain or loss experienced on an
investment over a given period. Mathematically, an investment’s total
return is the sum of any cash distributions (for example, dividens or
interest payments) plus the change in the investment’s value, dividend by
the beginning of period value.”
Artinya total tingkat pengembalian adalah total keuntungan atau kerugian
yang dialami pada investasi selama periode tertentu. Secara matematis, total
pengembalian investasi adalah jumlah dari disribusi kas apapun (contohnya,
54
dividen atau pembayaran bunga) ditambah dengan perubahan dalam nilai
investasi, dibagi dengan nilai periode awal investasi tersebut. Berdasarkan
pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan return saham merupakan tingkat
pengembalian yang diterima oleh investor di masa yang akan datang atas investasi
yang dilakukan.
2.12.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham
Informasi yang tersedia di pasar modal memiliki peranan yang penting
untuk mempengaruhi segala macam bentuk transaksi perdagangan di pasar modal
tersebut. Hal ini disebabkan karena para pelaku di pasar modal akan melakukan
analisis lebih lanjut terhadap setiap pengumuman atau informasi yang masuk ke
bursa efek. Informasi atau pengumuman-pengumuman yang diterbitkan oleh
emiten akan mempengaruhi para calon investor dalam mengambil keputusan
untuk memilih portofolio investasi yang efisien.
Menurut Jogiyanto (2010:354),
para pelaku pasar modal akan
mengevaluasi setiap pengumuman yang diterbitkan oleh emiten, sehingga hal
tersebut akan menyebabkan beberapa perubahan pada transaksi perdagangan
saham, misalnya adanya perubahan pada volume perdagangan saham, perubahan
pada harga saham, proporsi kepemilikan, dan lain-lain. Hal ini mengindikasikan
bahwa pengumuman yang masuk ke pasar memiliki kandungan informasi,
sehingga direaksi oleh para pelaku pasar modal. Suatu pengumuman memiliki
kandungan informasi jika pada saaat transaksi perdagangan terjadi, terdapat
perubahan terutama perubahan harga saham. Berubahnya harga saham akan
mempengaruhi return saham yaitu semakin tinggi harga saham berarti semakin
meningkat return yang diperoleh investor. Pergerakan berubahnya harga saham
tersebut juga dapat disebabkan karena kondisi dan situasi baik dalam lingkup
perusahaan maupun diluar lingkup perusahaan.
Menurut Fahmi (2012:87), ada beberapa kondisi dan situasi yang
menentukan suatu saham itu akan mengalami fluktuasi (mengalami kenaikan atau
penurunan), yaitu:
55
1.
Kondisi mikro dan makro ekonomi.
2.
Kebijakan perusahaan dalam memutuskan untu ekspansi (perluasan
usaha), seperti membuka kantor cabang (brand office), kantor cabang
pembantu (sub brand office) baik yang dibuka di domestik maupun luar
negeri.
3.
Pergantian direksi secara tiba-tiba.
4.
Adanya direksi atau pihak komisaris perusahaan yang terlibat tindak
pidana dan kasusnya sudah masuk ke pengadilan.
5.
Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap
waktunya.
6.
Risiko sistematik, yaitu suatu bentuk risiko yang terjadi secara menyeluruh
dan telah ikut menyebabkan perusahaan ikut terlibat.
7.
Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi teknikal
jual beli saham.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi dan
situasi yang dapat mengakibatkan berubahnyaa harga saham maka dapat
mempengaruhi return saham.
2.12.3 Mengukur Return Saham
Return saham biasanya didefinisikan sebagai perubahan nilai antara
periode t+1 dengan periode t ditambah pendapatan-pendapatan lain yang terjadi
selama periode t tersebut. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi
saham yang terdiri dari capital gain (loss) dan yield. Capital gain merupakan
selisih untung (rugi) dari investasi sekarang yang relatif dengan harga periode
yang lalu. Yield merupakan persentase permintaan kas periodik terhadap harga
investasi periode tertentu dari suatu investasi (Jogiyanto, 2010:206).
Berdasarkan pengertian return, bahwa return suatu saham adalah hasil
yang diperoleh dari investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode
berjalan dengan periode sebelumnya, maka dapat ditulis dengan rumus:
(Jogiyanto,2010:206)
56
Keterangan :
= Return Saham
= Harga saham pada periode t
= Harga saham pada periode t-1
= Deviden yang dibagikan pada periode t
2.13
Pengaruh Kinerja Keuangan yang Diukur dengan Return On Assets
(ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham
2.13.1 Pengaruh Return On Assets terhadap Harga Saham
Setiap perusahaan atau individu melakukan investasi dengan tujuan untuk
memperoleh laba. Laba dapat diperoleh apabila kegiatan operasional perusahaan
memiliki kinerja yang baik, yang kemudian menimbulkan penilaian dari calon
investor sebagai sinyal untuk meningkatkan permintaan saham yang berdampak
pada naiknya harga saham.
Untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, salah satunya diukur
dengan menggunakan Return On Assets (ROA). ROA merupakan rasio yang
mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total
assets (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biayabiaya untuk mendanai asset tersebut (Hanafi, 2009:84). Semakin tinggi Return
On Assets (ROA) berarti efektivitas perusahaan untuk menghasilkan laba melalui
aktiva yang dimilikinya semakin baik. Hal ini dapat menjadi sinyal bagi investor
untuk berinvestasi. Semakin banyak permintaan saham, maka harga saham akan
semakin mahal.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Zuliarni (2012)
juga menyimpulkan bahwa ROA berpengaruh terhadap harga saham. Ghozali
(2013) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel ROA dominan
berpengaruh terhadap harga saham. Selain itu penelitian Samoedra dan Susanti
(2014) juga menyimpulkan ROA berpengaruh terhadap harga saham
2.13.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Harga Saham
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan analisis solvabilitas yang
menggambarkan berapa besar hutang atau kewajiban jangka pendek atau jangka
57
panjang dibandingkan jumlah modal yang dimiliki perusahaan. Debt to Equity
Ratio (DER) digunakan untuk mengukur seberapa besar modal sendiri dalam
menjamin hhutangnya.
Apabila Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan tinggi maka ada
kemungkinan harga saham perusahaan akan rendah karena apabila perusahaan
memperoleh laba perusahaan akan cenderung untuk menggunakan laba tersebut
untuk membayar hutangnya dibandingkan membayar dividen (Dharmaastuti,
2004). Sebaliknya, apabila tingkat Debt to Equity Ratio (DER) rendah maka
membawa dampak meningkatnya harga saham di bursa. Hal ini penelitian yang
dilakukan Amanda, dkk (2013) menyimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio
(DER) secara parsial signifikan terhadap harga saham. Selanjutnya penelitian oleh
Susilawati (2012) juga menyimpulkan bahwa DER dan ROA berpengaruh
signifikan terhadap harga saham. Selain itu penelitian Lasmanah dan Fitriani
(2014) juga menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh DER terhadap harga saham.
2.14
Pengaruh Kinerja Keuangan yang di Ukur dengan Return On Assets
(ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham
2.14.1 Pengaruh Return On Assets terhadap Return saham
Return On Assets (ROA) menggambarkan kinerja keuangan perusahaan
dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan untuk operasional
perusahaan. ROA digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan berdasarkan
kemampuan perusahaan dalammendayagunakan jumlah aset yang dimiliki, ROA
akan dapat menyebabkan apresiasi dandepresiasi harga saham. Kinerja keuangan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan, akan
berdampak pada pemegang saham perusahaan. ROA yang semakin bertambah
menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan para pemegang saham
akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang diterima semakin meningkat,
atau semakin meningkatnya harga maupun return saham (Sutrisno, 2012).
Dengan demikian ROA berhubungan positif terhadap return saham. Hal ini
didukung dengan penelitian yang dilakukan Farhan dan Ika (2013) yang
menyimpulkan secara parsial ROA mempunyai pengaruh signifikan terhadap
58
return saham. Selain itu penelitian Arisandi (2014) juga menyimpulkan secara
parsial ROA mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
2.14.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Return Saham
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara hutang dan
modal sendiri. DER memberikan jaminan tentang seberapa besar hutang
perusahaan yang dijamin dengan modal sendiri perusahaan yang digunakan
sebagai sumber pendanaan usaha. Kasmir (2012:158) menyatakan bahwa
semakin besar DER, maka risiko gagal bayar yang dihadapi oleh perusahaan akan
semakin besar. Selain itu, semakin tinggi DER perusahaan juga harus membayar
biaya bunga yang tinggi. Apabila hal tersebut terjadi, maka akan dapat
mengakibatkan penurunan pembayaran dividen. Investor melihat tersebut sebagai
informasi yang buruk, sehingga permintaan terhadap saham perusahaan akan
turut pula mengalami penurunan yang berakibat pada penurunan harga saham.
Kondisi tersebut menandakan saham perusahaan kurang diminati yang secara
otomatis akan menurunkan tingkat return saham perusahaan. Sehingga dalam hal
ini terjadi hubungan yang berlawanan arah dan signifikan DER terhadap return
saham. Penjelasan tersebut didukung oleh Rafique (2012) yang memperoleh hasil
penelitian dimana DER memiliki pengaruh yang berlawanan arah
serta
signifikan terhadap return saham. Sedangkan penelitian Christanti (2009)
menyatakan DER berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham. Selain
itu penelitian yang dilakukan Pande dan Sudjarni (2014) menyimpulkan bahwa
DER berpengaruh terhadap return saham.
Adapun ringkasan penelitian terdahulu mengenai variabel kinerja
keuangan yang diukur melalui Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio
(DER), harga saham dan pengaruhnya terhadap return saham dicantumkan dalam
tabel 2.1 berikut:
59
Tabel 2.1
Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti
Metode Analisis
Hasil Penelitian
Data
Astrid Amanda,
Analisis Regresi
Secara simultan DER, ROE, EPS,
Darminto, dan Achmad
Berganda
dan PER signifikan pengaruhnya
Husaini
terhadap harga saham. Secara parsial,
(Jurnal Administrasi
hanya PER yang tidak berpengaruh
Bisnis Universitas
terhadap harga saham.
Brawijaya, 2013)
Artarina D.A Samoedra
Multiple Linear
From the simoultaneous test with F-
dan Neneng Susanti
Regression
test it can be concluded that company
(Jurnal Business
financial
performances
Management,
from ROA, ROE, and NPM effect on
Universitas
stock price. From the partial test
Tarumanagara,
with T-test it can be concluded that
University Sains
all ROA, ROE, and NPM variable
Malaysia, November 6,
partially
2014)
(Berdasarkan
effect
on
measured
stock
Uji
price.
simultan
disimpulkan bahwa kinerja keuangan
perusahaan yang diukur dari ROA,
ROE, dan NPM berpengaruh pada
harga
saham.
parsial
ROA,
Sedangkan
ROE
secara
dan
NPM
berpengaruh terhadap harga saham.
Christine Dwi Karya
Single Linear
Solvability and Profitability
Susilawati (Jurnal
Regression
dan ROA) significantly influence
Akuntansi Vol.4 No.2
Method
stock
2012)
prices.
(Solvabilitas
profitabilitas
ROA
berpengaruh
signifikan
harga saham).
dan
(DER
dan
DER
terhadap
60
Nama Peneliti
Metode Analisis
Hasil Penelitian
Data
Faruq Ghozali (Jurnal
Analisis Regresi
Secara simultan ROA, EPS, dan
Ilmiah Mahasiswa FEB
Berganda
DER mempengaruhi harga saham,
secara parsial hanya ROA dan EPS
Vol.1 No.2 2013)
yang mempengaruhi harga saham.
Lasmanah dan Vina
Analisis Regresi
Secara simultan Quick Ratio, Debt
Dewinta Fitriani (Jurnal
Berganda dan
to Total Equity Ratio, Total Assets
Ekonomi dan Bisnis
Regresi Linear
Turnover, dan Return On Assets
Universitas Jenderal
Sederhana
berpengaruh
signifikan
terhadap
Soedirman, November
harga saham pada perusahaan Indeks
19, 2014
Bisnis27. Secara parsial Quick Ratio
Feb.unsoed.ac.id)
tidak berpengaruh terhadap harga
saham sedangkan Debt to Total
Equity Ratio, Total Asset Turnover
dan Return On Assets berpengaruh
terhadap harga saham
Sri Zuliarni (Jurnal
Analisis Regresi
Terdapat pengaruh yang signifikan
Aplikasi Bisnis Vol.3
Berganda
antara ROA dan PER terhadap harga
saham
No.1, Oktober 2012)
sedangkan
DPR
tidak
berpengaruh terhadap harga saham
Amir Haghiri dan
Multivariable
ROA
dan
ROE
berpengaruh
Soleyman Haghiri
Regression
signifikan terhadap return saham,
(Journal of Basic and
Patterns And
kemudian
Applied Scientific
Delaying
berpengaruh
Research, 2012)
Variable Models.
terhadap return saham.
Dyah Ayu Savitri (2011)
Analisis Regresi
PER dan NPM mempunyai pengaruh
(eprints.undip.ac.id)
Berganda
yang
financial
leverage
tidak
signifikan
signifikan
terhadap
return
saham sedangkan ROA dan EPS
tidak berpengaruh terhadap return
saham
61
Nama Peneliti
Metode Analisis
Hasil Penelitian
Data
Farhan dan Ika (VALUE
Analisis Regresi
Secara simultan CR, DER, TAT,
ADDED Vol.9 No.1
Berganda
ROA dan PER berpengaruh terhadap
September 2012
return saham. Sedangkan secara
Februari 2013
parsial, menunjukkan ROA dan PER
Jurnal.unimus.ac.id)
mempunyai
pengaruh
signifikan
terhadap return saham. Adapun CR,
DER dan TAT tidak mempunyai
pengaruh secara signifikan terhadap
return saham
Meri Arisandi (Jurnal
Analisis Regresi
Secara simultan ROA, DER, CR,
Dinamika Manajemen
Linear Berganda
Inflasi
dan
kurs
mempunyai
Vol.2 No.1 Januari-
pengaruh yang signifikan terhadap
Maret 2014)
return saham industry makanan dan
minuman di BEI. Secara parsial
ROA,
Inflasi,
Kurs
mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap
return saham sedangkan variabel
DER dan CR tidak berpengaruh
signifikan terhadap return saham
Nining Puji Astuti (2013)
Analisis Regresi
Pengaruh Earning Per Share (EPS),
(repository.uin-
Berganda
Price Earning Ratio (PER), dan Debt
suska.ac.id)
to Equity Ratio (DER) terhadap
Return
saham
pada
perusahaan
Asuransi yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI), dalam hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa
semua variabel independen tidak
berpengaruh
secara
signifikan
terhadap harga saham baik secara
parsial (uji t) maupun secara simultan
(uji f)
62
Nama Peneliti
Metode Analisis
Hasil Penelitian
Data
Rio Malintan
Analisis Regresi
Variabel-variabel independen yang
(Jurnal Ilmiah
Berganda
digunakan yaitu Current Ratio (CR),
Mahasiswa FEB Vol.1
Debt to Equity Ratio (DER), Price
No.1 2013)
Earning Ratio (PER), dan Return
On Asset
(ROA) secara simultan
tidak memberikan pengaruh terhadap
return
saham
perusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) tahun 20052010
2.15 Kerangka Pemikiran
Pasar modal memiliki peran yang sangat penting bagi suatu Negara dimana
pasar modal merupakan salah satu penggerak utama perekonomian suatu Negara
karena melalui pasar modal perusahaan dapat memperoleh dana untuk melakukan
kegiatan perekonomiannya. Definisi pasar modal menurut Undang-Undang
Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 yaitu:
“Pasar modal yaitu sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek.”
Pasar modal adalah alternatif bagi pemilik modal (investor) untuk
melakukan penanaman modal (investasi) jangka panjang. Menurut Sunariyah
(2011:5) mendefinisikan investasi sebagai berikut :
“Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang
dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
mendapatkan keuntungan dimasa-masa yang akan datang.”
Investasi di pasar modal dapat memberikan keuntungan yang sangat besar
apabila investor mampu mengambil keputusan yang tepat setiap saat dalam
melakukan investasi. Dalam hal ini pasar modal memberikan kesempatan kepada
63
para investor untuk menentukan tingkat return yang diharapkan. Menurut Gitman
(2012:311) pengertian return saham adalah:
“The total gain or loss experienced on an investment over a given period
of time, calculated by dividing the asset’s change in value plus any cash
distributions during the period by it’s beginning of period investment
value.”
Artinya return saham atau tingkat pengembalian adalah tingkat pengembalian
untuk saham biasa dan merupakan pembayaran kas yang diterima akibat
kepemilikan suatu saham ditambah dengan perubahan harga pasar saham lalu
dibagikan dengan harga saham pada saat awal investasi. Jadi return ini berdasar
dari dua sumber yaitu pendapatan (dividend), capital gain dan perubahan harga
pasar saham (capital gain/loss).
Return saham yang diperoleh investor sangat berkaitan dengan harga saham
karena untuk menghitungnya digunakan harga saham penutupan dan harga saham
awal. Harga saham mempengaruhi tingkat keuntungan, semakin tinggi harga
saham maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Menurut
Sunariyah (2011:1) mendefinisikan harga saham sebagai berikut:
“Harga saham adalah harga selembar saham yang berlaku dalam
pasar saat ini di bursa efek.”
Harga saham dapat dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu
analisis fundamental dan analisis teknikal. Pengertian analisis teknikal menurut
Sunariyah (2011:166) menyatakan:
“Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisa yang menggunakan
data atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha
mengakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu atau
pasar secara keseluruhan.”
Sedangkan mengenai pengertian analisis fundamental menurut Sunariyah
(2011:166) sebagai berikut:
“Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham dimasa
yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor
fundamental yang mempengaruhi harga saham dimasa yang akan
datang dan menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga
diperoleh taksiran harga saham.”
64
Dalam analisis fundamental, proyeksi harga saham dilakukan dengan
mempertimbangkan proyeksi prestasi perusahaan dimasa depan. Prestasi
perusahaan yang dinilai dikaitkan dengan kondisi fundamental atau kinerja
keuangan perusahaan. Kondisi fundamental mencerminkan kinerja variabelvariabel keuangan yang dianggap mendasar atau penting dalam perubahan harga
saham. Para penganut analisis fundamental berasumsi bahwa apabila kondisi
fundamental atau kinerja keuangan perusahaan semakin baik maka harga saham
yang diharapkan juga akan mengalami kenaikan dan berdampak pada return
saham yang juga akan naik.
Sebaliknya apabila terdapat berita buruk mengenai kinerja perusahaan maka
akan menyebabkan penurunan harga saham dan return saham pada perusahaan
tersebut. Kinerja perusahaan ini akan menjadi tolak ukur seberapa besar rasio
resiko yang ditanggung investor. Untuk memastikan kinerja perusahaan tersebut
dalam kondisi baik atau buruk dapat dilakukan dengan menggunakan analisis
rasio yang dapat dilihat pada laporan keuangan perusahaan.
Laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan merupakan salah satu
sumber informasi yang sering digunakan oleh investor untuk mengambil
keputusan. Berdasarkan angka-angka yang terdapat pada laporan keuangan
investor dapat mengetahui kinerja keuangan perusahaan selama periode tertentu.
Menurut Fahmi (2012:2) kinerja keuangan adalah:
“Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat
sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan
aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Ukuran analisis kinerja keuangan merupakan basis pada analisis
fundamental. Analisis yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan
perusahaan adalah dengan analisis rasio. Rasio keuangan tersebut dikelompokkan
kedalam lima rasio yaitu rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, aktivitas dan
rasio pasar. Rasio-rasio keuangan tersebut digunakan untuk menjelaskan kekuatan
dan kelemahan dari kondisi keuangan suatu perusahaan.
65
Rasio-rasio yang digunakan dalam penelitian ini meliputi rasio profitabilitas
dan rasio solvabilitas. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Return On Assets (ROA). Menurut Harahap (2013:130) adalah:
“Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh
perusahaan bila diukur dari nilai aktiva”.”
Sedangkan menurut Fahmi (2012:98), Return On Assets adalah rasio yang
digunakan untuk melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu
memberikan
pengembalian
keuntungan
sesuai
dengan
yang
diharapkan
berdasarkan asset yang dimiliki. Semakin tinggi ROA berarti efektivitas
perusahaan untuk menghasilkan laba melalui asetnya semakin baik. Hal ini dapat
menjadi sinyal untuk berinvestasi. Semakin banyak permintaan saham, maka
harga saham akan semakin mahal yang akan berdampak pada meningkatnya
return saham yang diterima investor. Hal ini didukung dengan penelitian yang
dilakukan Arisandi (2014) yang menyimpulkan ROA mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap return saham.
Rasio lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi harga saham dan
memberikan dampak pada return saham adalah Debt to Equity Ratio (DER).
Menurut Kasmir (2012:157):
“Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
hutang dengan ekuitas rasio ini dicari dengan cara membandingkan
antara seluruh hutang termasuk hutang lancar dengan seluruh
ekuitas.”
Semakin tinggi DER menunjukkan semakin besar total hutang juga akan
menunjukkan semakin besar ketergantungan perusahaan terhadap pihak luar
(kreditur) sehingga tingkat resiko perusahaan akan semakin besar. Hal ini akan
berdampak pada harga saham yang menurun sehingga return yang diterima
investor akan menurun. Sehingga dalam hal ini terjadi hubungan berlawanan arah
antara DER dengan harga maupun return saham. Penjelasan tersebut didukung
oleh Rafique (2012) yang menyatakan DER memiliki pengaruh yang berlawanan
arah serta signifikan terhadap return saham. Berdasarkan uraian di atas maka
dapat disusun bagan kerangka pemikiran sebagai berikut:
66
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Pemikiran
Pasar Modal
Investasi
Analisis Fundamental
Analisis Teknikal
Penilaian Kinerja
Keuangan
Rasio Keuangan
ROA
DER
Harga Saham
Return Saham
Keterangan:
= Variabel yang diteliti
= Variabel yang tidak diteliti
67
2.16
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat
untuk menjelaskan hubungan hal tersebut. Berdasarkan identifikasi masalah dan
kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
: Terdapat pengaruh kinerja keuangan yang diukur melalui Return On
Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham.
: Terdapat pengaruh kinerja keuangan yang diukur melalui Return On
Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap return saham
: Harga Saham dapat memediasi hubungan antara kinerja keuangan yang
diukur melalui Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER)
terhadap return saham
Gambar 2.2
Paradigma Penelitian
Harga Saham
(M)
Kinerja Keuangan
ROA (𝑋 )
DER (𝑋 )
Return Saham
(Y)
Download