22 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu

advertisement
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pasar Simpang Limun Medan yang merupakan
salah satu pasar tradisional di Kota Medan. Pasar Simpang Limun yang berlokasi
di Jalan Kemiri 1, Sudirejo II, Medan Kota, Sumatera Utara dengan Kode Pos
20216. Salah satu keistimewaan pasar ini adalah nuansa pasar yang tampak
multikultural. Di pasar ini kita akan menemukan para pedagang dan pembeli yang
beradu kepiawaian dalam menawar barang-barang yang hendak dibeli. Alasan
peneliti memilih Pasar Simpang Limun Medan karena pasar merupakan tempat
dimana terdapat interaksi antara berbagai macam penutur bahasa. Pasar ini juga
berlokasi di tempat padat penduduk, strategis, dan mudah dijangkau serta mudah
diteliti.
Gambar 2.1 Denah Pasar Simpang Limun Medan
22
Universitas Sumatera Utara
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, pembuatan, atau
keadaan berada atau berlangsung (Sugono, 2008:1554). Waktu yang digunakan
peneliti untuk melaksanakan penelitian terhadap objek sekitar sebulan mulai
disetujui proposal.
3.2 Data dan Sumber Data
Data adalah keterangan yang benar dan nyata, keterangan atau bahan nyata
yang dapat dijadikan dasar kajian(analisis atau kesimpulan) (Sugono, 2008:296).
Data yang terdapat dalam penelitian ini berupa data verbal atau percakapan yang
terjadi antara penjual dan pembeli yang ada di Pasar Simpang Limun Medan.
Sumber data adalah asal dari data penelitian itu diperoleh. Dari sumber itu
penulis memperoleh data yang diinginkan. Data sebagai objek penelitian secara
umum adalah informasi atau bahasa yang dikumpulkan dan dipilih oleh
peneliti.Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat yaitu penjual dan
pembeli di Pasar Simpang Limun Medan. Pasar terdiri dari satu lantai, ada di
bagian luar dan di bagian dalam. Di bagian luar pasar terdapat bangunan lebar
seperti lapak untuk pedagang basah seperti ikan, sayur dan daging. Sementara di
bagian dalam pasar terdapat para pedagang sembako, pakaian, perhiasan dan
perabotan. Di dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel 15 penjual dan 20
pembeli secara acak yang ada di Pasar Simpang Limun Medan untuk diteliti.
23
Universitas Sumatera Utara
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak
(pengamatan/observasi). Disebut “metode simak” atau “penyimakan” karena
memang berupa penyimakan: dilakukan dengan menyimak. Metode simak adalah
metode yang digunakan peneliti untuk menyimak pembicara yang dituturkan oleh
narasumber atau penutur bahasa. Metode simak dapat disejajarkan dengan metode
pengamatan atau observasi (Sudaryanto, 2015:203). Metode simak memiliki
teknik dasar yang disebut teknik sadap.
Berdasarkan jenis datanya, maka teknik dasar yang dipakai dalam
pengumpulan data adalah teknik sadap, yang bertujuan untuk menyadap
pembicara penutur dengan teliti dan cermat, peneliti juga menggunakan teknik
lanjutan yang pertama yaitu teknik simak libat bebas cakap (SLBC), dimana si
peneliti tidak ikut serta atau tidak terlibat langsung di dalam percakapan atau
dialog (Sudaryanto, 2015:130). Dalam teknik simak dilakukan penyimakan
terhadap tuturan interaksi pedagang di Pasar Simpang Limun Medan saat penjual
dan pembeli melakukan aktivitas.
Teknik lanjutan kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
catat yaitu teknik yang digunakan dengan cara mencatat data-data yang diperoleh
dari percakapan atau dialog, sedangkan teknik lanjutan ketiga yang digunakan
peneliti adalah teknik rekam yaitu pengumpulan data dengan cara merekam
dengan telepon seluler (HPbermerek Oppo F1S).
24
Universitas Sumatera Utara
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul kemudian akan dianalisis dengan teknik atau
metode yang sesuai. Dalam penelitianini penulis menggunakan metode padan
yaitu alat penentunya di luar atau terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa
yang bersangkutan. Teknik dasar yang digunakan pada penelitian ini adalah
teknik pilah unsur penentu. Dengan tekik pilah maka setiap kata yang telah
dipadankan tersebut dipilah- pilah dari bahasa pertamanya. Daya pilah sebagai
pembeda referen digunakan untuk membagi satuan lingual kata menjadi berbagai
jenis, maka pembedaan referen yang ditunjuk oleh kata itu harus diketahui lebih
dahulu (Sudaryanto, 2015:21)
Campur kode yang terdapat pada transaski jual beli di Pasar Simpang
Limun Medan akan diketahui dari daya pilah yang digunakan peneliti. Analisis
datadapat dilihat pada campur kode dalam transasksi jual beli di bawah ini :
(1) Campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Minang
Lokasi
: Pasar Simpang Limun Medan
Bahasa
: Indonesia dan Minang
Pembeli
: Suku Minang
Penjual
: Suku Minang
Waktu
: Minggu, 26 Maret 2017, pukul 13.00 WIB
Penutur
: Pembeli dan penjual
Topik
: Membeli daging sapi
25
Universitas Sumatera Utara
Percakapan
Pembeli
: berapa dagiangnya sekilo?
‘berapa dagingnya sekilo?’
Penjual
: seratuih duo puluah.
‘seratus dua puluh.’
Campur kode yang terdapat pada transaski jual beli di atas merupakan
campur kode yang merupakan penyisipan unsur-unsur yang berupa kata dengan
bahasa pertama (B1) yaitu bahasa Indonesia. Dalam hal ini bahasa Indonesia
sebagai bahasa dasar dan bahasa Minang sebagai bahasa yang dipadankan.
Dengan metode padan dari contoh di atas dapat dilihat bahwa campur kode antara
bahasa Indonesia(B1) dan bahasa Minang (B2) dapat dipadankan dalam satu
kalimat. Dengan teknik pilah maka setiap kata yang dipadankan dapat dipilah dari
bahasa pertamanya. Dengan daya pilah peneliti juga menentukan jenis kata dari
bahasa yang menyisip terhadap bahasa pertama. Disini terdapat kata yang disebut
jenis kata yaitu kata dagiang ‘daging’ termasuk kata benda dan seratuih duo
puluh ‘seratus dua puluh’ yang termasuk kata bilangan.
(2) Campur kode Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa
Lokasi
: Pasar Simpang Limun Medan
Bahasa
: Indonesia dan Jawa
Penjual
: Suku Jawa
Pembeli
: Suku Jawa
26
Universitas Sumatera Utara
Waktu
: Minggu, 26 Maret 2017, pukul 13.30 WIB
Penutur
: Pembeli dan Penjual
Topik
: Membeli tas
Percakapan
Pembeli
: piro tasnya Dek?
‘berapa tasnya Dek?’
Penjual
: tujuh puluh ribu
Pembeli
: kalau yang warna hitam ada?
Penjual
: entek
‘habis’
Campur kode yang terdapat pada transaksi jual beli di atas adalah campur
kode yang merupakan penyisipan unsur- unsur yang berupa kata dengan bahasa
pertama (B1) yaitu bahasa Indonesia. Kata piro dan entek memiliki padanan kata
dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini bahasa Indonesia sebagai bahasa dasar dan
bahasa Jawa sebagai bahasa yang dipadankan. Dengan metode padan dari contoh
di atas dapat dilihat bahwa campur kode antara bahasa Indonesia (B1) dan bahasa
Karo (B2) dapat dipadankan dalam satu kalimat. Dengan teknik pilah maka setiap
kata yang dipadankan dapat dipilah dari bahasa pertamanya.Dengan daya pilah
peneliti juga menentukan jenis kata dari bahasa yang menyisip terhadap bahasa
pertama. Disini terdapat kata yang disebut jenis kata yaitu piro yang artinya
27
Universitas Sumatera Utara
‘berapa’ yang termasuk kata benda (nomina) dan entek yang artinya ‘habis’ yang
termasuk kata kerja.
3.5 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil penelitian campur kode dalam wacana interaksi jual beli di Pasar
Simpang Limun Medan ini disajikan dengan menggunakan metode sajian
informal. Metode sajian informal dimaksudkan sebagai cara penyajian hasil katakata biasa (Sudaryanto, 1993:145). Dengan demikian, sajian hasil analisis data
dalam penelitian ini tidak memanfaatkan berbagai lambang, tanda, singkatan,
seperti yang biasa digunakan dalam metode penyajian hasil analisis data secara
formal. Metode sajian informal digunakan dalam menuangkan hasil analisis pada
tulisan ini karena pada dasarnya penelitian ini tidak memerlukan notasi formal.
28
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Campur Kode pada Transaksi Jual Beli
Kegiatan aktifitas jual beli di Pasar Simpang Limun Medan, para penjual
melakukan transaksi dengan pembeli. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat
komunikasi para penjual dan pembeli. Sering sekali terjadi penyisipan kata dalam
bahasa daerah dan bahasa asing ke bahasa utama yaitu bahasa Indonesia. Hal itu
disebabkan karena adanya status sosial yang berbeda–beda atau minimnya ilmu
pengetahuan tentang bahasa yang dikuasai. Oleh sebab itu, dalam transaksi yang
dilakukan oleh penjual dan pembeli adalah terjadi campur kode.
Hasil penelitian yang dikemukakan dalam pembahasan ini mengenai
bagaimana campur kode pada transaki jual beli di pasar Simpang Limun Medan.
Penelitian dilakukan pada penjual dan pembeli yang berada di pasar tersebut.
Data 1
Penjual
: Suku Padang
Pembeli
: Suku Padang
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
daging.
Percakapan
(1) Pembeli
: dagiang berapa Bang?
29
Universitas Sumatera Utara
‘daging berapa Bang?’
(2) Penjual
: seratuih Dek
‘seratus Dek’
(3) Pembeli
: enggak kurang lagi Bang?
(4) Penjual
: enggak Dek ini sudah murah
(5) Pembeli
: ya sudah buatlah satu kilo Bang
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (2) seratuih Dek.
Kata seratuih ‘seratus’ dari bahasa Padang termasuk kata dasar. Kata ini
disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada
kalimat (4) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya campur kode karena
keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat (1)
dagiang berapa Bang?. Kata dagiang ‘daging’dari bahasa Padang termasuk kata
dasar. Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
campur kode. Pada kalimat (3) dan (5) dari dialog pembeli, tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
30
Universitas Sumatera Utara
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Padang
yang menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 2
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
sayur sawi.
Percakapan
(1) Pembeli
: berapa sawinya satu ikat?
(2) Penjual
: delapan ribu aja
(3) Pembeli
: gak kurang lagi?
(4) Penjual
: enggak Dek. Mau ambil berapa kam rupanya?
‘ enggak Dek. Mau ambil berapa kamu rupanya?’
(5) Pembeli
: ambil telu ikat
‘ ambil tiga ikat’
(6) Penjual
: ya sudah ambillah dua puluh ribu.
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (4)enggak Dek .
Mau ambil berapa kam rupanya?. Kata kam ‘kamu’ dari bahasa Karo termasuk
31
Universitas Sumatera Utara
kata dasar. Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
campur kode. Pada kalimat (2) dan (6) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(5)ambil telu ikat. Kata telu ‘tiga’dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Kata ini
disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada
kalimat (1) dan (3) dari dialog pembeli, tidak terlihat adanya campur kode karena
keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 3
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
bawang.
Percakapan
(1) Pembeli
: bawang berapa?
(2) Penjual
: delapan ribu saja
32
Universitas Sumatera Utara
(3) Pembeli
: enggak kurang lagi?
(4) Penjual
: enggak Dek. Cantik itu enggak nyesal kam nanti
‘ enggak Dek. Cantik itu enggak nyesal kamu nanti
(5) Pembeli
:ya sudah buatlah
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (4) enggak Dek.
Cantik itu gak nyesal kam nanti. Kata kam ‘kamu’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar. Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
campur kode. Pada kalimat (2) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya campur
kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia. Begitu juga pada
dialog pembeli dari kalimat (1),(3), dan (5) tidak ada terjadi campur kode.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 4
Penjual
: Suku Jawa
Pembeli
: Suku Jawa
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
baju sekolah.
33
Universitas Sumatera Utara
Percakapan
(1) Pembeli
: ini bajunya berapa Bu ?
(2) Penjual
: lima puluh ribu aja Nak.
(3) Pembeli
: masak larang tenan Bu harganya
‘masak mahal sekali Bu harganya’
(4) Penjual
: itu sing alus bahannya Nak
‘itu yang halus bahannya Nak’
(5) Pembeli
: ahhh.. kuranglah
(6) Penjual
: empat puluh lima ribulah uda murah kali itu Nak
kalau mau ambillah
(7) Pembeli
: ya suda Buk satu yah.
SuwonBuk
‘terima kasih Bu’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (4)itu sing alus
bahannya Nak. Kata sing alus ‘yang halus’ dari bahasa Jawa termasuk frasa
adjectiva. Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
campur kode. Pada kalimat (2) dan (6) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
34
Universitas Sumatera Utara
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat (3)
masak larang tenan Bu harganya. Kata larang tenan ‘mahal sekali’ dari bahasa
Jawa termasuk frasa adjectiva.Pada kalimat (7)suwon Buk. Kata suwon ‘terima
kasih’ dari bahasa Jawa termasuk kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam
seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (1) dan (5)
dari dialog pembeli tidak terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata
menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Jawa yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 5
Penjual
: Suku Jawa
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
ayam.
Percakapan
(1) Pembeli
: manok berapa sekilo bang ?
‘ayam berapa sekilo bang?’
(2) Penjual
: dua puluh lima ribu aja
35
Universitas Sumatera Utara
(3) Pembeli
: buat sekilo ya
(4) Penjual
: ya
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Pembeli melakukan campur kode seperti pada kalimat (1) manok berapa
sekilo bang ?. Kata manok ‘ayam’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Kata ini
disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada
kalimat (3) pada dialog pembeli tidak ada terjadi campur kode karena keseluruhan
kata menggunakan bahasa Indonesia. Begitu juga pada dialog penjual dari kalimat
(2) dan (4) tidak ada terjadi campur kode.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Adapun perbedaan suku
pada penjual dan pembeli tetap terjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian,
peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual beli di atas adalah
campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang menyisip
pada bahasa Indonesia.
Data 6
Penjual
: Suku Padang
Pembeli
: Suku Jawa
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
emas.
36
Universitas Sumatera Utara
Percakapan
(1) Pembeli
: piro emas satu gram sekarang bang?
‘berapa emas satu gram sekarang bang?’
(2) Penjual
: tiga ratus lima puluh ribu buk
(3) Pembeli
: cincin yang tiga gram aja eneng bang?
‘cincin yang tiga gram aja ada bang?’
(4) Penjual
: ada buk, ini cincinnya
(5) Pembeli
: berapa jadinya kalo tiga gram bang?. Kurangkanlah!
(6) Penjual
: potong dua puluh ribu buk. Mau?
(7) Pembeli
: ya sudahlah bang
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Pembeli melakukan campur kode seperti pada kalimat (1) piro emas satu
gram sekarang bang?. Kata piro ‘berapa’ dari bahasa Jawa termasuk kata dasar.
Pada kalimat (3) cincin yang tiga gram aja eneng bang?. Kata eneng ‘ada’ dari
bahasa Jawa termasuk kata dasar.
Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh
struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (5) dan (7) pada
dialog pembeli tidak ada terjadi campur kode. Begitu juga pada dialog penjual
dari kalimat (2), (4) dan (6) tidak ada terjadi campur kode.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Adapun perbedaan suku
37
Universitas Sumatera Utara
pada penjual dan pembeli tetap terjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian,
peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual beli di atas adalah
campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Jawa yang menyisip
pada bahasa Indonesia.
Data 7
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Padang
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
ikan.
Percakapan
(1) Pembeli
: berapa dencis sekilo bu?
(2) Penjual
: dua puluh lima ribu saja
(3) Pembeli
: agiahsekilo lah bu
‘kasih sekilo lah bu’
(4) Penjual
: sekilo saja?
(5) Pembeli
: ia bu
tambahlah ciek lagi
‘tambahlah satu lagi’
(6) Penjual
: sudah lewat ini timbangannya
38
Universitas Sumatera Utara
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Pembeli melakukan campur kode seperti pada kalimat (3) agiah sekilo
lah bu. Kata agiah ‘kasih’ dari bahasa Padang termasuk kata dasar. Pada kalimat
(5)tambahlah ciek lagi. Kata ciek ‘satu’ dari bahasa Padang termasuk kata dasar.
Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
campur kode. Pada kalimat (1)pada dialog pembeli tidak ada terjadi campur kode.
Begitu juga pada dialog penjual dari kalimat (2), (4) dan (6) tidak ada terjadi
campur kode.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Adapun perbedaan suku
pada penjual dan pembeli tetap terjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian,
peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual beli di atas adalah
campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Padang yang menyisip
pada bahasa Indonesia.
Data 8
Penjual
: Suku Jawa
Pembeli
: Suku Jawa
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
sepatu
Percakapan
(1) Pembeli
: bang ada sepatu anak sekolah ?
39
Universitas Sumatera Utara
(2) Penjual
: ada. Kelas berapa Buk ?
(3) Pembeli
: kelas tiga SD
(4) Penjual
: ini Buk
(5) Pembeli
: gak usah pake tali bang
(6) Penjual
: bentar Buk
(7) Pembeli
: eneng Bang ?
‘ada Bang?’
(8) Penjual
: eneng Buk
‘ada Buk?’
(9) Pembeli
: yasudah ini saja lah, piro?
‘yasudah ini sajalah, berapa?
(10) Penjual
: harga pas buk tiga puluh lima ribu
(11) Pembeli : ya sudahlah
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (8) eneng Bang ?.
Kata eneng ‘ada’ dari bahasa Jawa termasuk kata dasar. Kata ini disisipkan ke
dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (2),
(4), (6), dan (10) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya campur kode karena
keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
40
Universitas Sumatera Utara
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat (7)
eneng Bang?. Kata eneng ‘ada’ dari bahasa Jawa termasuk kata dasar. Pada
kalimat (9) yasudah ini saja lah, piro?. Kata piro ‘berapa’ dari bahasa Jawa
termasuk kata dasar. Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat,
sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (1), (3), (5), dan (11) dari dialog
pembeli tidak terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan
bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Jawa yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 9
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
kentang.
Percakapan
(1) Pembeli
: Nande berapa kentang sekilo?
‘ibu berapa kentang sekilo?’
(2) Penjual
: tigabelas ribu
41
Universitas Sumatera Utara
(3) Pembeli
: mahalnya
(4) Penjual
: pigakilokam mau?
‘berapa kilo kamu mau ?’
(5) Pembeli
: sebelas ribu saja yah
(6) Penjual
:buat
‘ambil’
(7) Pembeli
: bujur
‘Terima kasih’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (4) pigakilokam
mau?. Kata piga ‘berapa’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar dan kam ‘kamu’
dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada kalimat (6) buat ‘ambil’ dari bahasa
Karo termasuk kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur
kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (2) dari dialog penjual, tidak
terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa
Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(1)Nande berapa kentang sekilo?. Kata Nande ‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar.Pada kalimat (7) bujur ‘terima kasih’ dari bahasa Karo termasuk kata
dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi
42
Universitas Sumatera Utara
campur kode. Pada kalimat (3) dan (5) dari dialog pembeli tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 10
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
baju tidur
Percakapan
(1) Penjual
: apa kam cari?
‘apa kamu cari?’
(2) Pembeli
: ada baju tidur Bik?
‘ada baju tidur Tante?’
(3) Penjual
: mau warna kai Dek?
‘mau warna apa Dek?’
(4) Pembeli
: biru-biru muda yang cantik ya Bik
43
Universitas Sumatera Utara
‘biru-biru muda yang cantik ya Tante’
(5) Penjual
: cantik karina ini Dek
‘cantik semua ini Dek’
(6) Pembeli
: kalau yang ini sekai Bik?
‘kalau yang ini berapa Tante?’
(7) Penjual
: lima puluh ribu Dek
(8) Pembeli
: gak kurang?
tiga puluh lima ribu ya
(9) Penjual
: ya suda ambillah sama mu
(10) Pembeli : bujur ya Bik
‘terima kasih ya Tante’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (1) apa kam cari
?.Kata kam‘kamu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar, pada kalimat (3) mau
warna kai Dek?. Kata kai ‘apa’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar, dan pada
kalimat (5) cantik kerina ini Dek. Kata kerina ‘semua’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga
terjadi campur kode. Pada kalimat (7) dan (9) dari dialog penjual, tidak terlihat
adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
44
Universitas Sumatera Utara
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(6)kalau yang ini sekai Bik?. Kata sekai‘berapa’ dari bahasa Karo termasuk kata
dasar dan Bik ‘Tante’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.Pada kalimat (10)
bujurya Bik. Kata bujur‘terima kasih’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar dan
Bik ‘Tante’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke
dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (2),
(4), dan (8) dari dialog pembeli tidak terlihat adanya campur kode karena
keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 11
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
tas
Percakapan
(1) Pembeli
: ada tas untuk ke pesta?
(2) Penjual
: ada masuklah Nde
45
Universitas Sumatera Utara
‘ada masuklah Bu’
(3) Pembeli
: buat yang bagus yah
‘ambil yang bagus yah’
(4) Penjual
: bagus kerina ini bahannya Nde
‘bagus semua ini bahannya Bu’
(5) Pembeli
: lit Dek?
‘ada Dek?
(6) Penjual
: ada Nde
‘ada Bu’
(7) Pembeli
: sekai yang hitam ini?
‘berapa yang hitam ini?’
(8) Penjual
: erga pasna saja ya seratus ribu
‘harga pasnya saja yah seratus ribu
(9) Pembeli
: yasudah bungkuslah
(10) Penjual
: bujur ya Nde
‘terima kasih ya Bu’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (2)ada masuklah
Nde. Kata Nde‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada kalimat (4) bagus
46
Universitas Sumatera Utara
kerina ini bahannya Nde. Kata kerina ‘semua’ dari bahasa Karo termasuk kata
dasar dan Nde ‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada kalimat (6) ada
Nde. Kata Nde ‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada kalimat (8) erga
pasna saja ya seratus ribu. Kata erga ‘harga’ dari bahasa Karo termasuk kata
dasar. Pada kalimat (10) bujur ya Nde. Kata bujur ‘terima kasih’ dari bahasa Karo
termasuk kata dasar dan Nde ‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Katakata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur
kode.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(3)buat yang bagus yah. Kata buat‘ambil’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.
Pada kalimat (5)lit Dek?. Kata lit ‘ada’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.
Pada kalimat (7)sekai yang hitam ini?. Kata sekai ‘berapa’ dari bahasa Karo
termasuk kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat,
sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (1) dan (9) dari dialog pembeli tidak
terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa
Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia
Data 12
Penjual
: Suku Karo
47
Universitas Sumatera Utara
Pembeli
: Suku Karo
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
jeruk
Percakapan
(1) Penjual
: mau beli apaNde?
‘mau beli apa Bu?’
(2) Pembeli
: sekai jeruknya?
‘berapa jeruknya?’
(3) Penjual
: dua belas ribu Nde
‘dua belas ribu Bu’
(4) Pembeli
: banlah sekilo jeruknya
‘buatlah sekilo jeruknya’
(5) Penjual
: ada lagi?
(6) Pembeli
: mangga setengah ya, sekai kerina?
‘mangga setengah, berapa semua?’
(7) Penjual
:lima belas ribu
(8) Pembeli
: ini uangnya, bujur ya
‘ini uangnya, terima kasih ya
48
Universitas Sumatera Utara
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (1)mau beli apa
Nde?. Kata Nde‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada kalimat (3)dua
belas ribu Nde. Kata Nde ‘Ibu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Kata-kata
ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode.
Pada kalimat (5) dan (7) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya campur kode
karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(2)sekai jeruknya ?.Kata sekai‘berapa’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.
Pada kalimat (4)banlah sekilo jeruknya. Kata banlah‘buatlah’ dari bahasa Karo
termasuk kata dasar. Pada kalimat (6) sekai kerina ?. Katasekai kerina‘berapa
semua’ dari bahasa Karo termasuk frasa adjectiva. Pada kalimat (8) ini uangnya,
bujur ya. Kata bujur ‘terima kasih’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Katakata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur
kode.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia
Data 13
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
49
Universitas Sumatera Utara
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
kopi
Percakapan
(1) Penjual
: mau beli apa?
(2) Pembeli
: kopi
(3) Penjual
: lit, mau berapa Dek?
‘ada, mau berapa Dek?
(4) Pembeli
: ban sebungkus aja
‘buat sebungkus aja’
(5) Penjual
: delapan ribu Dek
(6) Pembeli
: bujur ya Bang
‘terima kasih ya bang’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (3) lit mau berapa
Dek?. Kata lit‘ada’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Kata ini disisipkan ke
dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (1)
dan (5) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya campur kode karena keseluruhan
kata menggunakan bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(4)ban sebungkus aja.Kata ban‘buat’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar. Pada
50
Universitas Sumatera Utara
kalimat (6) bujurya bang. Kata bujur ‘terima kasih’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga
terjadi campur kode. Pada kalimat (2) dari dialog pembeli tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
Data 14
Penjual
: Suku Jawa
Pembeli
: Suku Inggris
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
rempah-rempah
Percakapan
(1) Penjual
:mau beli apaMadam?
‘mau beli apa Nyonya?’
(2) Pembeli
: mau cari rempah-rempah
(3) Penjual
: mau yang mana?
(4) Pembeli
: ada jahe?
51
Universitas Sumatera Utara
(5) Penjual
: ada mau?
(6) Pembeli
: ya, satu bungkus
(7) Penjual
:one
‘satu’
(8) Pembeli
ya one saja
‘ya satu saja’
(9) Penjual
: ada lagi?
(10) Pembeli : how many?
‘berapa?’
(11) Penjual
: two thousand rupiah
‘dua ribu rupiah’
(12) Pembeli : ohhh thank you
‘ohh terima kasih’
(13) Penjual
: you are welcome
‘sama-sama’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (1) mau beli apa
Madam?. Kata Madam‘Nyonya’ dari bahasa Inggris termasuk kata dasar. Pada
kalimat (7) one‘satu’ dari bahasa Inggris termasuk kata dasar. Pada kalimat (11)
52
Universitas Sumatera Utara
two thousand rupiah ‘dua ribu rupiah’ dari bahasa Inggris termasuk frasa
adjectiva. Pada kalimat (13) you are welcome ‘sama-sama’ dari bahsa Inggris
termasuk frasa adjectiva. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur
kalimat, sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (3), (5), dan (9) dari dialog
penjual, tidak terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan
bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(8)ya one saja?. Kataone‘satu’ dari bahasa Inggris termasuk kata dasar. Pada
kalimat (10) how many? ‘berapa’dari bahasa Inggris termasuk kata dasar. Pada
kalimat (12) ohhh thank you. Kata thank you ‘terima kasih’ dari bahasa Inggris
termasuk kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat,
sehingga terjadi campur kode. Pada kalimat (2), (4), dan (6) dari dialog pembeli
tidak terlihat adanya campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa
Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Adapun perbedaan suku
pada penjual dan pembeli tetap terjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian,
peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual beli di atas adalah
campur kode ke luar (outher code-mixing), berupa bahasa Inggris yang menyisip
pada bahasa Indonesia.
Data 15
Penjual
: Suku Karo
Pembeli
: Suku Karo
53
Universitas Sumatera Utara
Konteks
: Percakapan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli
kelapa
Percakapan
(1) Penjual
: apa cari?
(2) Pembeli
: kelapa berapa satu?
(3) Penjual
: lima ribu, mau ambil berapa kam Dek?
‘lima ribu , mau ambil berapa kamu Dek?’
(4) Pembeli
: buat dualah enggo parutkan?
‘buat dualah sudah parutkan?’
(5) Penjual
: sudah bentar diparut dulu
(6) Pembeli
:sekaikerina?
‘berapa semua?’
(7) Penjual
: dua belas ribu saja
(8) Pembeli
: bujur ya
‘terima kasih ya’
Pada percakapan di atas, terjadi campur kode yakni pada penjual dan
pembeli. Penjual melakukan campur kode seperti pada kalimat (3) lima ribu, mau
ambil berapa Kam Dek?. Kata Kam‘kamu’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.
Kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga terjadi campur
54
Universitas Sumatera Utara
kode. Pada kalimat (1), (5), dan (7) dari dialog penjual, tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Peristiwa campur kode juga terjadi pada pembeli seperti pada kalimat
(4)buat dualah enggo parutkan?. Kata enggo ‘sudah’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar. Pada kalimat (6) sekai kerina?. Kata sekai ‘berapa’ dari bahasa Karo
termasuk kata dasar dan kerina ‘semua’ dari bahasa Karo termasuk kata dasar.
Pada kalimat (8) bujur ya. Kata bujur‘terima kasih’ dari bahasa Karo termasuk
kata dasar. Kata-kata ini disisipkan ke dalam seluruh struktur kalimat, sehingga
terjadi campur kode. Pada kalimat (2) dari dialog pembeli tidak terlihat adanya
campur kode karena keseluruhan kata menggunakan bahasa Indonesia.
Pada wacana transaksi jual beli di atas penjual dan pembeli melakukan
campur kode agar dapat berkomunikasi dengan lancar, berharap agar suasana
menjadi lebih akrab. Peristiwa campur kode yang dimaksud pada transaksi jual
beli adalah campur kode ke dalam (inner code-mixing), berupa bahasa Karo yang
menyisip pada bahasa Indonesia.
4.2 Jenis Kata dalam Campur Kode Transasksi Jual Beli
Dalam penelitian ini peneliti meneliti penyisipan unsur-unsur yang
berwujud kata. Sebuah kata dari unsur bahasa lain menyusup ke dalam bahasa
inti, yaitu bahasa Indonesia. Adapun bahasa yang digunakan saat campur kode
yaitu bahasa Indonesia, bahasa Karo, bahasa Jawa, bahasa Padang, dan bahasa
Inggris. Hal itu disebabkan karena adanya status sosial yang berbeda-beda atau
minimnya ilmu pengetahuan tentang bahasa yang dipelajari.
55
Universitas Sumatera Utara
Oleh sebab itu, dalam transaksi yang dilakukan oleh penjual dan pembeli
dalam menawarkan dagangannya sudah terjadi penyisipan bahasa yaitu yang
disebut campur kode. Dalam berbicara antar masyarakat juga sering menyisipkan
bahasa satu ke bahasa lainnya seperti bahasa Karo yang menyisip ke dalam bahasa
Indonesia atau bahasa daerah lainnya. Jenis kata dalam transaksi jual beli di pasar
Simpang Limun Medan, yaitu kata benda ( nomina), kata kerja ( verba), kata sifat
(adjectiva), dan kata tugas. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata tersebut
dapat dilihat pada datavdi bawah ini.
Tabel 1. Perbandingan Jumlah Jenis Kata
No.
Jenis Kata
Jumlah
1.
Kata benda (nomina)
15
2.
Kata kerja (verba)
5
3.
Kata sifat (adjectiva)
9
4.
Kata tugas
2
Dari tabel di atas dapat dilihat dan disimpulkan bahwa, saat terjadinya
transaksi jual beli di Pasar Simpang Limun Medan jenis kata yang sering muncul
adalah pertama kata benda (nomina), kedua kata sifat (adjectiva), ketiga kata kerja
(verba) dan keempat kata tugas. Dapat dilihat jenis kata yang sering muncul pada
data di atas adalah jenis kata benda (nomina).
56
Universitas Sumatera Utara
4.2.1 Kata Benda (Nomina)
Tabel 2. Daftar Kata Benda dalam Bahasa Karo
NO
Bahasa Karo
Glos
Data
1.
kam
kamu
5
2.
manok
ayam
1
3.
nande
ibu
7
4.
piga
berapa
1
5.
bujur
terima kasih
6
6.
bik
tante
4
7.
sekai
berapa
5
8.
erga
harga
1
Dari daftar tabel kata benda (nomina) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Karo terdapat 8 kata. Kata kata kersebut adalah kata kam ‘kamu’, manok ‘ayam’,
nande ‘ ibu’, piga ‘berapa’, bujur ‘terima kasih’, bik ‘tante’, sekai ‘berapa’, erga
‘harga’.
57
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3. Daftar Kata Benda dalam Bahasa Jawa
No
Bahasa Jawa
Glos
Data
1.
suwon
terima kasih
1
2.
tenan
kali
1
3.
piro
berapa
2
Dari daftar tabel kata benda (nomina) di atas dapat dilhat bahwa bahasa
Jawa terdapat 3 kata. Kata-kata tersebut adalah kata suwon ‘terima kasih’, tenan
‘kali’, piro ‘berapa’.
Tabel 4. Daftar Kata Benda dalam Bahasa Padang
No
Bahasa Padang
Glos
Data
1.
dagiang
daging
1
Dari daftar tabel kata benda (nomina) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Padang terdapat 1 kata. Kata tersebut adalah dagiang ‘daging’.
Tabel 5. Daftar Kata Benda dalam Bahasa Inggris
No
Bahasa Inggris
Glos
Data
1.
madam
nyonya
1
2.
how many
berapa
1
3.
thank you
terima kasih
1
58
Universitas Sumatera Utara
Dari daftar tabel kata benda (nomina) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Inggris terdapat 3 kata. Kata-kata tersebut adalah kata madam ‘nyonya’, how
many ‘berapa’, thank you ‘terima kasih’.
4.2.2 Kata Kerja (Verba)
Tabel 6. Daftar Kata Kerja dalam Bahasa Karo
No.
Bahasa Karo
Glos
Data
1.
buat
ambil
2
2.
lit
ada
2
3.
ban
buat
2
Dari daftar tabel kata kerja (verba) di atas dapat dilihat bahwa bahasa Karo
terdapat 3 kata. Kata-kata tersebut adalah buat ‘ambil’, lit ‘ada’, ban ‘buat’.
Tabel 7. Daftar Kata Kerja dalam Bahasa Jawa
No
Bahasa Jawa
Glos
Data
1.
eneng
ada
2
Dari daftar tabel kata kerja (verba) di atas dapat dilihat bahwa bahasa Jawa
terdapat 1 kata. Kata tersebut adalah eneng ‘ada’.
59
Universitas Sumatera Utara
Tabel 8. Daftar Kata Kerja dalam Bahasa Padang
No.
Bahasa Padang
Glos
Data
1.
agiah
kasih
1
Dari daftar tabel kata kerja (verba) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Padang terdapat 1 kata. Kata tersebut adalah kata agiah ‘kasih’.
Tabel 9. Daftar Kata Kerja dalam Bahasa Inggris
No
Bahasa Inggris
Glos
Data
1.
-
-
0
Dari daftar tabel kata kerja (verba) di atas tidak terdapat kata yang
merupakan kata kerja dalam bahasa Inggris.
4.2.3 Kata Sifat (Adjectiva)
Tabel 10. Daftar Kata Sifat dalam Bahasa Karo
No.
Bahasa Karo
Glos
Data
1.
kerina
semua
4
2.
telu
tiga
1
Dari daftar tabel kata sifat (adjectiva) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Karo terdapat 2 kata. Kata-kata tersebut adalah kata kerina ‘semua’, telu ‘tiga’.
60
Universitas Sumatera Utara
Tabel 11. Daftar Kata Sifat dalam Bahasa jawa
No.
Bahasa Jawa
Glos
Data
1.
larang
mahal
1
2.
alus
halus
1
Dari daftar tabel kata sifat (adjectiva) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Jawa terdapat 2 kata. Kata-kata tersebut adalah larang ‘mahal’, alus ‘halus’.
Tabel 12. Daftar Kata Sifat dalam Bahasa Padang
No.
Bahasa Padang
Glos
Data
1.
seratuih
seratus
1
2.
ciek
satu
1
Dari daftar tabel kata sifat (adjectiva) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Padang terdapat 2 kata. Kata-kata tersebut adalah seratuih ’seratus’, ciek ‘satu’.
Tabel 13. Daftar Kata Sifat dalam Bahasa Inggris
No.
Bahasa Inggris
Glos
Data
1.
one
satu
2
2.
two thausand rupiah
dua ribu rupiah
1
3.
you are welcome
sama-sama
1
61
Universitas Sumatera Utara
Dari daftar tabel kata sifat (adjectiva) di atas dapat dilihat bahwa bahasa
Inggris terdapat 3 kata. Kata-kata tersebut adalah one ‘satu’, two thausand rupiah
‘dua ribu rupiah’, dan you are welcome ‘sama-sama’.
4.2.4 Kata Tugas
Tabel 14. Daftar Kata Tugas dalam Bahasa Karo
No.
Bahasa Karo
Glos
Data
1.
enggo
sudah
1
Dari daftar tabel kata tugas di atas dapat dilihat bahwa bahasa Karo
terdapat1 kata. Kata tersebut adalah enggo ‘sudah’.
Tabel 15. Daftar Kata Tugas dalam Bahasa Jawa
No.
Bahasa Jawa
Glos
Data
1.
sing
yang
1
Dari daftar tabel kata tugas di atas dapat dilihat bahwa bahasa Jawa
terdapat 1 kata. Kata tersebut adalah sing ‘yang’.
Tabel 16. Daftar Kata Tugas dalam Bahasa Padang
No.
Bahasa Padang
Glos
Data
1.
-
-
0
62
Universitas Sumatera Utara
Dari daftar tabel kata tugas di atas tidak terdapat kata yang merupakan
kata tugas dalam bahasa Padang.
Tabel 17. Daftar Kata Tugas dalam Bahasa Inggris
No.
Bahasa Inggris
Glos
Data
1.
-
-
0
Dari daftar tabel kata tugas di atas tidak terdapat kata yang merupakan
kata tugas dalam bahasa Inggris.
63
Universitas Sumatera Utara
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis terhadap campur kode pada transaksi jual beli di
Pasar Simpang limun Medan yang telah di uraikan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Campur kode yang terjadi pada transaksi jual beli di pasar Simpang Limun
Medan yaitu tedapat kata dan frasa. Pada peristiwa campur kode trrjadi
campur kode ke dalam (inner code-mixing) berupa bahasa daerah yang
menyisip pada bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia dan campur kode ke
luar (outher code-mixing) berupa bahasa asing yang menyisip pada bahasa
pertama yaitu bahasa Indonesia .
2. Jenis kata menurut Keraf dibagi menjadi empat bagian yaitu: kata benda
(nomina) berjumlah 15, kata kerja (verba) berjumlah 5, kata sifat
(adjectiva) bejumlah 9, kata tugas berjumlah 2, dan yang sering muncul
adalah kata benda (nomina).
5.2 Saran
Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan alat komunikasi berupa
bahasa. Bahasa merupakan alat yang ampuh untuk berhubungan dan kerja sama
dengan orang lain seperti contoh di pasar. Beragam dialek akan ditemui saat
proses jual beli terjadi. Hal ini dimaksudkan agar penutur (penjual) maupun mitra
tutur (pembeli) dapat saling memahami apa yang dimaksud oleh kedua belah
64
Universitas Sumatera Utara
pihak dan tidak menimbulkan salah pengertian. Adanya campur kode selama
percakapan berlangsung merupakan hal yang wajar dipakai penjual dan pembeli
saat melakukan transaksi.
65
Universitas Sumatera Utara
Download