14 BAB II TINJAUAN TEORI A. Kehamilan a. Pengertian Kehamilan

advertisement
14
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Kehamilan
a. Pengertian
Kehamilan dimulai dari proses pembuahan (konsepsi) sampai
sebelum janin lahir. Kehamilan normal berlangsung selama 280 hari
(atau 40 minggu atau 9 bulan 10 hari), yang perhitungannya dimulai dari
hari pertama menstruasi terakhir (Cristian & Yusron, 2006, hal. 18).
Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambungan
dan terdiri dari ovulasi, migrasi, spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigotm, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan
plasenta dan tumbuh kembang hail konsepsi sampai aterm (Manuaba,
2010; 75).
Kehamilan adalah masa dimulainya konsepsi sampai lahirnya bayi
(Saifuddin, 2007, hal. 89).
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan pengertian
kehamilan adalah masa dimulainya pembuahan sampai lahirnya bayi.
b. Tanda-tanda kehamilan
Wiknjosastro (2007, hal. 275) menjelaskan bahwa tanda-tanda
kehamilan antara lain:
1)
Amenorrhoea
Gejala pertama kehamilan ialah haid tidak datang pada
tanggal yang diharapkan. Bila seorang wanita memiliki siklus haid
teratur dan mendadak berhenti, ada kemungkinan hamil. Tetapi
meskipun demikian sebaiknya ditunggu selama 10 hari sebelum
14
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
15
memeriksakan diri ke dokter. Karena sebelum masa itu sulit untuk
memastikan adanya kehamilan.
Haid yang terlambat pada wanita berusia 16-40 tahun, pada
umumnya memang akibat adanya kehamilan. Tetapi kehamilan
bukanlah satu-satunya penyebab keterlambatan haid. Haid dapat
tertunda oleh tekanan emosi, beberapa penyakit tertentu, dan juga
akibat makan obat-obat tertentu. Selain kehamilan, penurunan berat
badan
dan
tekanan
emosi
juga
sering
menjadi
penyebab
keterlambatan haid pada wanita yang semula mempunyai siklus
normal.
2)
Perubahan pada payudara
Banyak
wanita
merasakan
payudara
memadat
ketika
menjelang haid. Bila terjadi kehamilan, gejala pemadatan bersifat
menetap dan semakin bertambah. Payudara menjadi lebih padat,
kencang dan lebih lembut, juga dapat disertai rasa berdenyut dan
kesemutan pada puting susu.
Perubahan diatas disebabkan oleh tekanan kelamin wanita,
estrogen dan progesterone yang dihasilkan oleh uri (plasenta).
Hormon-hormon ini menyebabkan saluran dan kantong kelenjar susu
membesar, dan tertimbun lemak di daerah payudara. Rasa
kesemutan dan berdenyut disebabkan oleh bertambahnya aliran
darah yang mengaliri payudara.
3)
Mual dan muntah (Emesis Gravidarum)
Kira-kira separuh dari wanita yang mengandung mengalami
mual dan muntah, dengan tingkat yang berbeda-beda, biasanya
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
16
cukup ringan dan terjadi dipagi hari. Penyebabnya tidak diketahui,
tetapi juga disebabkan oleh peningkatan kadar hormon kelamin yang
diproduksi selama hamil. Sesudah 12 minggu gejala-gejala itu
biasanya menghilang, karena tubuh sudah menyesuaikan diri.
4)
Sering kencing
Sering terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada
triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang
membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan gejala
bisa timbul karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan
menekan kembali rongga panggul.
5)
Obtipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebab oleh
pengaruh hormon steroid. Obstipasi pada khususnya harus dimulai
sejak dini, karena dapat menyebabkan pendarahan pada saat
defekasi dan juga haemorrhoid. Oleh sebab itu penanganan dan
pengobatan konstipasi harus dilakukan secepatnya agar tidak
menimbulkan komplikasi yang lebih lanjut.
6)
Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung,
dan dahi kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan,
dikenal sebagai cloasma gravidarum.Areolae mammae juga menjadi
lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebih. Daerah
leher menjadi lebih hitam. Demikian pula linea alba di garis tengah
abdomen menjadi lebih hitam (linea grisea). Pigmentasi ini terjadi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
17
karena pengaruh hormon kortiko-steroid plasenta yang merangsang
melanofor dan kulit.
7)
Epulis adalah suatu hipertrofi papilla ginggivae. Sering terjadi pada
triwulan pertama.
8)
Varises dijumpai pada triwulan terakhir. Didapat pada daerah
genetalia eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida
kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu,
timbul kembali pada triwulan pertama. Kadang-kadang timbulnya
varises merupakan gejala pertama kehamilan muda.
c. Keluhan yang terjadi pada ibu hamil
Menurut Hidayati (2009, hal. 49) menyebutkan bahwa keluhan
yang terjadi pada ibu hamil adalah ibu merasa sakit kepala, rasa mual
dan muntah (Morning Sickness), produksi air liur yang berlebihan
(Ptyalism), mengidam, keringat bertambah, kelelahan, hidung tersumbat
/ berdarah, gatal-gatal, frekuensi kemih meningkat (Nokturia) dandiare.
d. Standar pelayanankesehatan ibu hamil
Dalam melaksanakan pelayanan antenatal care ada 10 standar
pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau, tenaga kesehatan.
Yang dikenal dengan 10T, pelayanan atau asuhan standar minimal 10T
adalah sebagai berikut (Sulistiyawati,2011;h 121) :
1. Timbang berat badan dan ukuran tinggi badan
2. Pemeriksaan tekanan darah
3. Nilai status gizi (nilai lengan atas)
4. Pemeriksaan puncak Rahim (tinggi fundus uteri)
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
18
6. Skrining status imunisasi tetanus dan diberikan imunisasi tetanus
toksoid (TT)
7. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Tes laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tata laksanaan kasus
10. Temu
wicara
(konseling)
termasuk
perencanaan
persalinan,
pencegahan, komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.
e. Perubahan fisiologis ibu hamil
1. Perubahan pada Sistem Reproduksi
1) Uterus
Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau
30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga
menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim
mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak,
dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan
janin.
Perubahan pada isthmus uteri (rahim) menyebabkan
isthmus menjadi lebih panjang dan lunak sehingga pada
pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat saling sentuh.
Perlunakan isthmus disebut tanda hegar. Hubungan antara
besarnya rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahui
karena kemungkinan penyimpangan kehamilan seperti hamil
kembar, hamil mola hidatidosa , hamil dengan hidramnion yang
akan teraba lebih besar.Sebagai gambaran dapat dikemukakan
sebagai berikut :
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
19
a) Pada usia kehamilan 16 minggu, kavum uteri seluruhnya diisi
oleh amnion, dimana desidua kapsularis dan desidua parietalis
telah menjadi satu. Tinggi rahim adalah setengah dari jarak
simfisis dan pusat. Plasenta telah terbentuk seluruhnya.
b) Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus rahim terletak dua jari
di bawah pusat sedangkan pada usia 24 minggu tepat di tepi
atas pusat.
c) Pada usia kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri sekitar 3
jari di atas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan
prosesus xifoideus.
d) Pada usia kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri adalah
setengah jarak prosesus xifoideus dan pusat.
e) Pada usia kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu
jari di bawah prosesus xifoideus, dan kepala bayi belum
masuk pintu atas panggul.
f)
Pada usia kehamilan 40 minggu fundus uteri turun setinggi
tiga jari di bawah prosesus xifoideus, oleh karena saat ini
kepala janin telah masuk pintu atas panggul.
Panjang fundus uteri pada usia kehamilan 28 minggu
adalah 25 cm, pada usia kehamilan 32 minggu panjangnya, 27
cm, dan umur hamil 36 minggu panjangnya 30 cm. Regangan
dinding rahim karena besarnya pertumbuhan dan perkembangan
janin menyebabkan isthmus uteri makin tertarik ke atas dan
menipis di segmen bawah rahim (SBR).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
20
Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama ke semua arah,
tetapi terjadi pertumbuhan yang cepat di daerah implantasi
plasenta, sehingga rahim bentuknya tidak sama. Bentuk rahim
yang tidak sama disebut tanda Piskaseck.
Perubahan konsentrasi hormonal yang memengaruhi
rahim, yaitu estrogen dan progesteron menyebabkan progesteron
mengalami penurunan dan menimbulkan kontraksi rahim yang
disebut Braxton Hicks.
2) Vagina
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah
karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna
merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwick).
3) Ovarium
Dengan
terjadinya
kehamilan,
indung
telur
yang
mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan
fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada
usia 16 minggu. Kejadian ini tidak dapat lepas dari kemampuan
vili korealis yang mengeluarkan hormon korionik gonadotropin
yang mirip dengan hormon luteotropik hipofisis anterior.
4) Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan
sebagai
persiapan
memberikan
ASI
pada
saat
laktasi.
Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh
hormon saat kehamilan, yaitu estrogen, progesteron, dan
somatomamotrofin.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
21
Fungsi
hormon
mempersiapkan
payudara
untuk
pemberian ASI dijabarkan sebagai berikut:
a) Estrogen, berfungsi:
(1) Menimbulkan hipertrofi sistem saluran payudara.
(2) Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam
sehingga payudara tampak makin membesar.
(3) Tekanan serat saraf akibat penimbunan lemak, air, dan
garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.
b) Progesteron, berfungsi:
(1) Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.
(2) Meningkatkan jumlah sel asinus.
c) Somatomamotrofin, berfungsi :
(1) Memengaruhi
sel
asinus
untuk
membuat
kasein,
laktalbumin, dan laktoglobulin.
(2) Penimbunan lemak di sekitar alveolus payudara.
(3) Merangsang
pengeluaran
kolostrum
pada
kehamilan(Manuaba,2012:h. 85).
2. Perubahan pada Organ dan Sistem Lainnya.
a) Sistem Sirkulasi Darah
1) Volume Darah : Volume darah total dan volume plasma darah
naik pesat sejak akhir trimester pertama. Volume darah akan
bertambah banyak, kira-kira 25%, dengan puncaknya pada
kehamilan 32 minggu, diikuti pertambahan curah jantung
(cardiac output), yang meningkat sebanyak ± 30%. Akibat
hemodilusi yang mulai jelas kelihatan pada kehamilan 4 bulan,
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
22
ibu yang menderita penyakit jantung dapat jatu dalam keadaan
kompensasi kordis. Kenaikan plasma darah dapat mencapai
40% saat mendekati cukup bulan.
2) Protein darah: Gambaran protein dalam serum berubah;
jumlah protein, albumin, dan gamaglobin menurun dalam
triwulan pertama dan meningkat secara bertahap pada akhir
kehamilan. Beta-globulin dan fibrinogen terus meningkat.
3) Hitung jenis dan hemoglobin: Hematokrit cenderung menurun
karena kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah eritrosit
cenderung meningkat untuk memenuhi kebutuhan transpor
oksigen
yang
sangat
diperlukan
selama
kehamilan.
Konsentrasi Hb menurun, walawpun sebenarnya lebih besar
dibandingkan Hb pada orang yang tidak amil. Anemia fisiologis
ini disebabkan oleh volume plasma yang meningkat. Dalam
kehamilan, leukosit meningkat sampai 10.000/cc, begitu pula
dengan produksi trombosit.
4) Nadi dan tekanan darah : Tekanan daraharteri cenderung
menurun, terutama selama trimester kedua, kemudian akan
naik lagi seperti pada pra-hamil. Tekanan vena dalam batasbatas normal pada ekstremitas atas dan bawah, cenderung
naik setelah akhir trimester pertama. Nadi biasanya naik, nilai
rata-ratanya 84 per menit.
5) Jantung: Pompa jantung mulai naik kira-kira 30% setelah
kehamilan 3 bulan, dan menurun lagi pada minggu-minggu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
23
terakhir
kehamilan.
Elektrokardiogram
kadangkala
memperlihatkan deviasi aksis ke kiri.
b) Sistem Pernapasan
Wanita hamil kadang-kadang mengeluh sesak dan pendek napas.
Hal itu disebabkan oleh usus yang tertekan ke arah diafragma
akibat pembesaran rahim. Kapasitas vital paru sedikit meningkat
selama hamil. Seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam.
Yang lebih menonjol adalah pernapasan dada (thoracic breathing)
c) Saluran Pencernaan
Salivasi meningkat dan pada trimester pertama timbul keluhan
mual dan muntah. Tonus otot-otot saluran pencernaan melemah
sehingga motilitas dan makanan akan lebih lama berada dalam
saluran makanan. Resorpsi makanan baik, tetapi akan timbul
obstipasi. Gejala muntah (emesis gravidarum) sering terjadi,
biasanya pada pagi hari, disebut sakit pagi (morning sickness).
d) Tulang dan Gigi
Persendian panggul akan terasa lebih longgar karena ligamenligamen melunak (softening). Juga terjadi sedikit pelebaran pada
ruang persendian. Apabila pemberian makanan tidak dapat
memenuhi kebutuhan kalsium janin, kalsium pada tulang-tulang
panjang akan diambil untuk memenuhi kebutuhan tadi. Apabila
konsumsi kalsium cukup, gigi tidak akan kekurangan kalsium.
Gingivitas kehamilan adalah gangguan yang disebabkan oleh
berbagai faktor, misalnya higiene yang buruk pada rongga mulut.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
24
e) Kulit
Pada daerah kulit tertentu, terjadi hiperpigmentasi, yaitu pada
f)
1)
Muka: disebut masker kehamilan (chloasma gravidarum),
2)
Payudara: puting susu dan areola payudara,
3)
Perut: linea nigra striae,
4)
Vulva.
Kelenjar Endokrin
1) Kelenjar tiroid: dapat membesar sedikit.
2) Kelenjar hipofisis: dapat membesar terutama lobus anterior.
3) Kelenjar adrenal: tidak begitu terpengaruh.
g) Metabolisme
1) Tingkat metabolik basal (basal metabolic rate, BMR) pada
wanita hamil meninggi hingga 15-20%, terutama pada trimester
akhir.
2) Keseimbangan
asam-alkali
(acic-base
balance)
sedikit
mengalami perubahan konsentrasi alkali:
(a) Wanita tidak hamil: 155 mEq/liter
(b) Wanita hamil: 145 mEq/liter
(c) Natrium serum: turun dari 142 menjadi 135 mEq/liter
(d) Bikarbonat plasma: turun dari 25 menjadi 22 mEq/liter.
3) Dibutuhkan protein yang banyak untuk perkembangan fetus,
alat kandungan, payudara, dan badan ibu, serta untuk
persiapan laktasi.
4) Hidrat arang: seorang wanita hamil sering merasa haus, nafsu
makan bertambah, sering buang air kecil, dan kadang kala
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
25
dijumpai glukosuria yang mengingatkan kita pada diabetes
melitus. Dlam kehamilan, pengaruh kelenjar endokrin agak
terasa, seperti somatomamotropin, insulin plasma, dan hormonhormon adrenal-17-ketosteroid. Harus diperhatikan sungguhsungguh hasil GTT oral dan GTT intravena.
5) Metabolisme lemak juga terjadi. Kadar kolesterol meningkat
sampai
350
mg
atau
lebih
per
100
cc.
Hormon
somatomamotropin berperan dalam pembentukan lemak pada
payudara. Deposit lemak lainnya terdapat di badan, perut, dan
lengan.
6) Metabolisme mineral:
(a) Kalsium: dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangkan
untuk pembentukan tulang-tulang, terutama dalam trimester
terakhir dibutuhkan 30-40 gram.
(b) Fosfor: dibutuhkan rata-rata 2 g/hari.
(c) Zat besi: dibutuhkan tambahan zat besi ± 800 mg, atau 3050 mg sehari.
(d) Air: wanita hamil cenderung mengalami retensi air.
7) Berat badan wanita hamil akan naik sekitar 6,5-16,5 kg.
Kenaikan berat badan yang terlalu banyak ditemukan pada
keracuanan hamil (preeklamsi dan eklamsi). Kenaikan berat
badan wanita hamil disebabkan oleh:
(a) Janin, uri, air ketuban, uterus;
(b) Payudara, kenaikan volume darah, lemak, protein, dan
retensi air.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
26
8) Kebutuhan kalori meningkat selama kehamilan dan laktasi.
Kalori
terutama
diperoleh
dari
pembakaran
zat
arang,
khususnya sesudah kehamilan 5 bulan ke atas. Namun, jika
dibutuhkan, dipakai lemak ibu untuk mendapatkan tambahan
kalori.
9) Wanita hamil memerlukan makanan yang bergizi dan harus
mengandung banyak protein. Di Indonesia, masih banyak
dijumpai penderita defisiensi zat besi dan vitamin B. Karena itu,
wanita hamil harus diberikan zat besi dan roboransia yang
berisi mineral dan vitamin(Mochtar, 2012; h.30-32).
f.
Tanda-tanda kemungkinan hamil
Tanda-tanda kemungkinan hamil menurut Mochtar (2011;h 35)
bahwa:
1. Perut membesar
2. Uterus membesar terjadi perubahan bentuk, besar, dan konsistensi
Rahim.
3. Tanda hegar ditemukannya serviks dan isthmus uteri yang lunak
pada pemeriksaan manual saat kehamilan usia 4 sampai 6 minggu.
4. Tanda chadwick perubahan warna menjadi kebiruan yang terlihat di
porsio, vagina, dan labia. Tanda tersebut timbul akibat pelebaran
vena karena peningkatan kadar estrogen.
5. Tanda piskacek pembesaran dan pelunakan Rahim ke salah satu sisi
Rahim yang berdekatan dengan tuba uterine. Biasanya tanda ini
ditemukan di usia 7 sampai 8 minggu.
6. Kontraksi-kontraksi kecil uterus jika dirangsang (Braxton Hick).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
27
7. Teraba ballottement.
8. Reaksi kehamilan positif,
g. Tanda pasti kehamilan
Menurut Manuaba (2010;h 109) bahwa tanda pasti kehamilan,
adalah sebagai berikut:
1. Gerakan janin dalam Rahim.
2. Terlihat atau teraba gerakan janin san teraba bagian-bagian janin.
3. Denyut jantung janin. Didengar dengan stetoscop Laenec, alat
kardiografi. Alat Doppler. Dilihan dengan ultrasonografi. Pemeriksaan
dengan alat canggih yaitu rontgen untuk melihat kerangka janin,
ultrasonografi.
h. Tanda bahaya dalam kehamilan
1. Trimester I
1) Abortus (Keguguran)
Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Klinis abortus spontan dibagi
menjadi 5 yaitu (Mochtar, 2011;h 150-152) :
a) Abortusimmines
Keguguran
adalah
belum
keguguran
terjadi
sehingga
yang
mengancam.
kehamilan
dapat
dipertahankan dengan cara tirah baring, tidak berhubungan
badan, evaluasi secara berkala dengan USG untuk melihat
perkembangan janin.
b) Abortusinsipiens adalah proses keguguran yang sedang
berlangsung ditandai dengan adanya rasa sakit karena
kontraksi Rahim untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
28
c) Abortusinkomplet adalah keguguran bersisa atau hanya
sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal
adalah desidua atau plasenta.
d) Abortuskompletus adalah seluruh hasil konsepsi dikeluarkan
(desidua dan fetus) sehingga rongga Rahim kosong
e) Missed abortion adalah keadaan dimana janin yang telah mati
masih berada di dalam Rahim.
2) Mola hidatidosa
Kehamilan mola adalah suatu kehamilan yang ditandai
dengan hasil konsepsi yang tidak berkembang menjadi embrio
setelah fertilisasi, namun terjadi proliferasi dari vili korialis disertai
dengan degenerasi hidropik.Penyebab mola hidatidosa
tidak
diketahui. Faktor penyebab kehamilan ini meliputi:
(a) Ovum sudah patologis sehingga mati, namun terlambat
dikeluarkan.
(b) Keadaan social ekonomi yang rendah
(c) Paritas tinggi
(d) Kekurangan protein
(e) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas.
(Yulaikhah,2009;h 90)
2. Trimester II
a) Hyperemesis Gravidarum
Hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan
pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
29
karena
keadaan
umumnya
menjadi
buruk
karena
terjadi
dehidrasi. (Mochtar,2011;h 141)
b) Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi
diluar rongga uterus. (Saifuddin,2010;m-15)
3. Trimester III
a) Preeklamsia
Preeklamsiadan eklamsia adalah kumpulan gejala yang timbul
pada ibu hamil, bersalin, dan selama masa nifas, yang terdiri atas
trias gejala yaitu hipertensi, proteinuria, dan edema,kadangkadang disertai konvulsi sampai koma. (Yulaikhah,2009;h.95)
Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti.Teori
yang terkenal sebagai penyebabpreeklamsia adalah teori iskemia
plasenta. Akan tetapi teori ini belum dapat menerangkan semua
hal yang berkaitan dengan preeklamsia.(Yulaikhah, 2009;h 95)
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya preeklamsia dan
eklamsia adalah :
(1) Jumlah primigravida terutama primigravida muda
(2) Distensi Rahim yang berlebih, seperti hidramnion, hamil
ganda, dan mola hidatidosa
(3) Penyakit yang menyertai kehamilan seperti diabetes mellitus
(DM), dan kegemukan.
(4) Jumlah umur ibu diatas 35 tahun
(5) Preeklamsia berkisar antara 3%-5% dari kehamilan yang
dirawat (Yulaikhah,2009;h 96)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
30
b) Klasifikasi preeklamsia
(1) Preeklamsia ringan
(a) Tekanan darah sistolik 140 mmHg atau kenaikan 30
mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam
(b) Tekanan darah diastolic 90 mmHg atau kenaikkan 15
mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam
(c) Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam 1 minggu
(d) Proteinuria 0,3 gram atau lebih dengan kualitatif plus 1-2
pada
urine
kateter
atau
urine
aliran
tengah
(Yulaikhah,2009;h. 99).
(2) Preeklamsia berat
Tanda dan gejala preeklamsi berat (Yulaikhah,2009;h 99) :
(a) Tekanan darah 160/110 mmHg
(b) Oliguria, urine kurang dari 400 cc/24 jam
(c) Proteinuria lebih dari 3 gram/liter
(d) Keluhan subyektif, meliputi:
(e) Nyeri epigastrium
(f) Gangguan penglihatan
(g) Nyeri kepala
(h) Edema paru dan sianosis
(i) Gangguan kesadaran
(3) Eklamsia
Eklamsia adalah preeklamsia berat yang dilanjutkan dengan
keadaan kejang dan atau sampai koma. Kejadian eklamsia
menurut timbulnya dibagi kedalam (Yulaikhah,2009;h 101) :
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
31
(a) Eklamsia gravidarum (50%)
(b) Eklamsia parturein (40%)
(c) Eklamsia puerperium (10%)
Sebelum kejang kondisi ini didahului dengan gejal subjektif yaitu
nyeri kepala didaerah frontal, nyeri epigastrium, penglihatan
semakin kabur, dan terdapat mual muntah dan hasil pemeriksaan
menunjukkan
hiper
refleksia
atau
mudah
terangsang
(Yulaikhah,2009;h 102).
c) Plasenta Previa
Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar
segmen bawah Rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau
seluruh ostium uteri internum. Plasenta previa digolongkan
menjadi 3 macam (Yulaikhah, 2009;hal 109-110) :
(1) Plasenta previa totalis yaitu pada pembukaan 4-5 cm teraba
plasenta menutupi seluruh ostium uteri
(2) Plasenta previa partialis yaitu jika pembukaan 4-5 cm
sebagian permukaan ditutupi oleh plasenta
(3) Plasenta previa marginalis yaitu jika sebagian kecil atau hanya
pinggir ostium yang ditutupi oleh plasenta
d) Solusio Plasenta
Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya
dengan implantasi normal pada kehamilan lebi dari 28 minggu.
Faktor predisposisi solusio plasenta (Yulaikhah,2009;hal113) :
(a) Hamil pada usia tua
(b) Mempunyai tekanan darah tinggi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
32
(c) Bersamaan dengan preeklamsiaatau eklamsia
(d) Tekanan vena kava inferior yang tinggi
(e) Kekurangan asam folat
e) Ketuban Pecah Dini (KPD)
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan, dan setelah ditunggu satu jam belum ada tanda
persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi
Rahim disebut periode laten. (Yulaikhah,2009;hal 116)
(1) Etilogi KPD meliputi hal-hal berikut ini (Yulaikhah,2009;hal
116) :
(a) Servik inkompeten
(b) Ketegangan Rahim berlebihan seperti pada kehamilan ganda,
dan hidramnion.
(c) Kelainan letak janin dalam rahim seperti letak sungsang, letak
lintang
(d) Kemungkinan kesempitan panggul seperti perut gantung,
bagian
terendah
belum
masuk
PAP
(pintu
atas
panggul),disproposi sefalopelvik
(e) Kelainan bawaan dari selaput ketuban
(f) Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada
selaput
ketuban
dalam
bentuk
proteolitik
sehingga
memudahkan ketuban pecah.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
33
i.
Kunjungan antenatal
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa
mengancam jiwanya. Wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali
kunjungan selama periode antenatal yang terdiri dari:
1. Satu kali kunjungan selama trimester satu (< 14 minggu).
2. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28).
3. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36
dan sesudah minggu ke 36) (Saifudin, 2010).
Table 1.1 kunujungan antenatal
Kunjungan
Trimester I
Waktu
Sebelum minggu
ke 14
Trimester II
Sebelum minggu
ke 28
Trimester III
Antara
minggu
28-36
Trimester III
Setelah
minggu
36
(Saiffudin, 2010;h N-2)
Informasi penting
-Membangun hubungan saling percaya
antara petugas kesehatan dan ibu hamil.
-Mendeteksi masalah dan menanganinya.
-Melakukan tindakan pencegahan seperti
tetanus neonatorum, anemia kekurangan
zat besi, penggunaan praktek tradisional
yang merugikan.
-Memulai persiapan kelahiran bayi dan
kesiapan untuk menghadapi komplikas
-mendorong perilaku yang sehat (gizi,
latihan dan kebrsihan, istirahat, dan
sebagainya).
Sama
seperti
diatas,
ditambah
kewaspadaan
khusus
mengenai
preeklamsia (Tanya ibu tentang gejalagejala preeklamsia, pantau tekanan darah,
evaluasi edema, periksa untuk mengenai
proteinuria).
Sama seperti diatas, ditambah palpasi
abdomen untuk mengetahui apakah
kehamilan ganda
Sama seperti diatas, ditambah deteksi
letak bayi yang tidak normal, atau kondisi
lain yang memerlukan kelahiran di rumah
sakit.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
34
B. Persalinan
a. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa
bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara
progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sulistyawati, 2010).
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa
persalinan adalah pengeluaran janin yang telah cukup umur yang dapat
hidup di luar kandungan.
b. Tanda dan Gejala Persalinan
Menurut Novita (2011), tanda dan gejala persalinan dapat terjadi
tiga minggu sebelum persalinan, seperti lightening merupakan sensasi
yang bersifat subjektif, terutama pada primigravida dimana fetus mulai
bergerak kearah bawah sehingga diagphragma berkurang tekanannya,
terasa lega saat bernafas dan mudah untuk bernafas dengan dalam.
Kadang klien akan mudah makan karena berkurangnya tekanan. Tanda
yang lain adalah kontraksi braxton hicks digambarkan sebagai sensasi
tarikan diatas tulang pubis. Perubahan serviks menjadi lebih tipis, lembut
dan pendek. Hal tersebut terjadi karena kontraksi braxton hicks.
Persalinan
dimulai
(inpartu)
sejak
uterus
berkontraksi
dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahimya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika
kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks. Tanda dan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
35
gejala inpartu adalah penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus
yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali
dalam 10 menit), cairan lendir bercampur darah (blood show) melalui
vagina.
c. Tahapan Persalinan
Menurut Sulistyawati (2010), ada beberapa tahap persalinan, yaitu:
1. Kala I (pembukaan)
Pasien dikatakan dalam tahap persalinan ibu primipara, jika sudah
terjadi pembukaan serviks dan kontraksi terjadi teratur minimal dua kali
dalam 10 menit selama 40 detik. Ibu primipara adalah kala pembukaan
yang berlangsung antara pembukaan 0-10 cm (pembukaan lengkap).
Proses ini terbagi menjadi dua fase, yaitu fase laten (8 jam) dimana
serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) dimana serviks
membuka clari 3-10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering terjadi selama
fase aktif. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak
begitu kuat sehingga parturient (ibu yang sedang bersalin) rnasih
dapat berjalan-jalan. Lamanya ibu primipara untuk primigravida
berlangsung 12 jam sedangkan pada multigrattida sekitar 8 jam.
Berdasarkan Kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida
1 cm per jam dan pembukaan multigravida 2 cm per jam. Dengan
perhitungan
tersebut
maka
waktu
pembukaan
lengkap
dapat
diperkirakan.
2. Kala II (Pengeluaran Bayi)
Kala II ini adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan
lengkap sampai bayi baru lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
36
ditambah kekuatan meneran akan mendorong bayi hingga lahir.
Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primigravida dan I jam
pada multigravida. Diagnosis persalinan kala II ditegakkan dengan
melakukan pemeriksaan dalarn untuk memastikan pembukaan sudah
lengkap dan kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6
cm.
Gejala utama kala II adalah :
a) His semakin kuat dengan interval 2-3 menit, dengan durasi 50- 100
detik.
b) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah ditandai dengan pengeluaran
cairan secara mendadak.
c) Ketuban pecah pacla pembukaan mendekati lengkap diikuti
keinginan meneran karena tertekannya fleksus frankenhouser.
d) Dua kekuatan, yaitu his dan meneran akan mendorong kepala bayi
sehingga kepala membuka pintu; subolaiput bertindak sebagai
hipomochlion, berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan
muka, serta kepala seluruhnya.
e) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu
penyesuaian kepala pada punggung.
f)
Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi
ditolong.
g) Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30
menit.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
37
3. Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahimya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Perubahan fisiologis kala III
adalah otot uterus menyebabkan berkurangnya rongga uterus secara
tibatiba setelah lahirnya bayi. Penyusunan ukuran rongga uterus ini
menyebabkan implantasi plasenta karena tempat implantasi menjadi
semkain kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah. Perubahan
psikologis kala III adalah ibu ingin melihat, menyentuh dan memeluk
bayi. Kemudian ibu merasa gembira, lega, dan bangga akan dirinya,
juga merasa sangat lelah. Memusatkan diri dan kerap bertanya apakah
vaginanya perlu dijahit dan menaruh perhatian terhadap plasenta
(Marisah dkk, 2011).
4. Kala IV (Observasi)
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama l-2 jam. Pada kala IV
dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan, paling
sering terjadi pada 2 jam pertama.
d. Komplikasi persalinan
Komplikasi persalinan menurut Schorge (2008), yaitu :
1. Komplikasi antepartum :
a) Kematian janin intrauterin
b) Kehamilan kembar
c) Perdarahan antepartum
d) Persalinan kembar
e) Insufisiensi serviks dan pengikatan serviks
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
38
f)
Ketuban pecah dini
2. Komplikasi pasca persalinan
a) Perdarahan pasca persalinan
b) Plasenta yang tertinggal didefinisikan sebgai kegagalan plasenta
untuk dilahirkan dalam waktu 30 menit. Jika terjadi pendarahan
secara berlebihan, maka pengangkatan manual mungkin diperlukan
lebih awal. Kegagalan pengeluaran plasenta secara manual
menunjukan adanya plasentasi abnomal.
e. Asuhan persalinan normal
Terdapat 60 langkah dalam asuhan persalinan normal diantaranya
yaitu(Prawiroharjo, 2010; h.341-347):
1. Melihat tanda dan gejala kala dua
1) Mengamati tanda dan gejala kala dua
a) Ibu mempunyai keinginan untuk mengejan
b) Ibu merasa tekanan semakin meningkat pada rektum dan/atau
vagina.
c) Perineum menonjol.
d) Vulva-vagina dan sfingter anal terbuka.
2. Menyiapkan pertolongan persalinan
1) Memastikas perlengkapan, bahan,dan obat-obat esensial siap
digunakan.
Mematahkan
ampul
oksitosin
10
unit
dan
menempatkan tabung suntik steril sekali pakai dalam partus set.
2) Mengenakan baju penutup atau clemek plastik yang bersih.
3) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci
kedua tangan dengan sabun dan air yang mengalir dan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
39
mengeringkan dengan handuk satu kali pakai ayau pribadi yang
bersih.
4) Memakai satu sarung DTT
atau steril untuk setiap kali
pemeriksaan dalam.
5) Mengisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan
menggunakan sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau
steril)dan meletakan kembali dipartus set/wadah desinfeksi tingkat
tinggi atau steril, tanpa mengontaminasi tabung suntik.
3. Memastikan pembukaan lengkap dengan janin baik
1) Membersihkan vulva dan perineum, menyekannya dengan hatihati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau
kasa yang sudah dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut
vagina,
perineum
anus
terkontaminasi
oleh
kotoran
ibu,
membersihkan dengan cara seksama dengan cara menyeka dari
depan
kebelakang.Membuang
kapas
atau
kasa
yang
terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung
tangan jika terkontaminasi (meletakan kedua sarung tangan
tersebut dengan benar didalam larutan dekontaminasi, langkah #
9),
2) Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan
dalam untuk memastikan bahwa
lengkap,
Bila
selaput
ketuban
pembukaan serviks sudah
belum
pecah,
sedangkan
pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
3) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan
tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
40
klorin 0,5% dan kemudian melepaskanya dalam keadaan terbalik
serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Mencuci kedua tangan (seperti diatas)
4) Memastikan Denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180
kali/menit)
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
b) Mendokumentasikan hasil hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan
semua hasil-hasil penilaian dan asuhan lainnya pada partograf
4. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan
meneran
1) Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai
dengan keinginanya
2) Menunggu
hingga
ibu
mempunyai
keinginan
meneran.
Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta
janin
sesuai
dengan
pedoman
persalinan
aktif
dan
mendokumentasikan temuan temuan
3) Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat
mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai
meneran
4) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu meneran.
(pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan
pastikan ia merasa nyaman)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
41
5) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran :
a) Membimbing
ibu
untuk
meneran
saat
ibu
mempunyai
keinginan untuk meneran.
b) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk
meneran.
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai
pilihanya (tidak memonta ibu berbaring terlentang)
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
e) Menganjurkan keluarga mendukung dan memberi semangat
pada ibu
f)
Menganjurkan asupan cairan per oral
g) Menilai DJJ setiap lima menit .
h) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segeran dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu
primipara atau 60 menit (1jam) untuk ibu multi para, merujuk
segera, jika ibu tidak mempunyai keingina untuk meneran.
i)
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil
podidi yang aman jika belum ingin meneran dalam 60 menit,
anjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksikontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.
j)
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera setelah 60 mrnit meneran, merujuk ibu dengan segera
5. Persiapan Pertolong Kelahiran Bayi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
42
a) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,
letakan handuk bersih dia atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
b) Meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu
c) Membuka partus set.
d) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
6. Menolong Kelahiran Bayi
Lahirnya Kepala
a) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,
lindungi perinium dengan satu tanaga yang dilapisi kain tadi,
letakan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang
lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan
kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran
perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.
b) Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan
kain atau kasa yang bersih. (Langkah ini tidak harus dilakukan)
c) Memerika lilitan tali puasat dan mengambil tindakan yang sesuai
jika hal itu terjadi dan kemudian meneruskan segera proses
kelahiran bayi :
a) Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan
lewat bagian atas kepala bayi.
b) Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di
dua tempat dan memotongnya
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
43
d) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
Lahir Bahu
e) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan tangan di
masing-masing sisi muka bayi, menganjurkan ibu untuk meneran
saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah
bawah dan ke arah luar hingga bahu anterior muncul dibarah
arkus pubis dan kemudian menarik ke arah atas dan ke arah luar
untuk melahirkan bahu anterior.
f)
Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala
bayi yang berada dibagian bawah ke arah perenium, membiarkan
bahu
dan
lengan
posterior
lahir
ke
tangan
tersebut,
mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati
perenium, gunakan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi
saat dilahirkan,Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
g) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di
atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menjaga
saat punggung kaki terlahir.Memegang kedua mata kaki bayi
dengan hati-hati membantu kelahiran bayi.
7. Penanganan Bayi Baru Lahir
1) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian meletakan
bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit rendah dari
tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakan bayi di tempat
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
44
yang memungkinkan). Bila bayi mengalami asfiksia,lakukan
resusitasi. (lihat bab 26 resusitasi neoratus)
2) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan
membiarkan
kontak
kulit
ibu-bayi.
Lakukan
penyuntikan
oksitosin/i.m. (lehiat keterangan dibawah ini).
3) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem pusat ke
arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke
arah ibu).
4) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari
gunting dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
5) Mengeringkan
bayi,
mengganti
handuk
yang
basah
dan
menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan
kering,menutupi bagian kepala,membiarkan tali pusat terbuka,jika
cinta mengalami kesulitan bernapas,ambil tindakan yang sesuai.
6) Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk
memeluk
bayinya
dan
memulai
pemberian
ASI
jika
ibu
menghendakinya.
8. Oksitosin
1) Meletakan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi
abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
2) Memberitahi kepada ibu bahwa ia akan disuntik
3) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan
oksitosin 10 unit I.M. di gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu
bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
45
9. Penegangan Tali Pusat Terkendali
1) Memindahkan klem pada tali pusat.
2) Meletakan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat dia
atas tulsng pubis, dan menggunakan tangan ini untuk palpasi
kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem
dengan tangan yang lain.
3) Menunggu uterus ber kontraksi dan kemudian melakukan
penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.
Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah
uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakan (
dorso kersinal) dengan hati-hati untuk membantu terjadinya
inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik,
hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi
berikut mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seseorang
anggota keluarga untuk melakukan rangsangan puting susu
10. Mengeluarkan Plasenta
1) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil
menarik tali pusat kearah bawah dan kemudian ke arah atas,
mengikuti
kurva
jalan
lahir
sambil
meneruskan
tekanan
berlawanan arah pada uterus.
a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarah 5-10 cm dari vulva
b) Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali
pusat selama 15 menit
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
46
c) Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit I.M.
d) Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi kandung
kemih dengan menggunakan teknik asptika jika perlu.
e) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
f)
Memulai penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
g) Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir pada waktu 30 menit sejak
kelahiran bayi.
2) Jika plasenta terlihat di intosius vagina, melanjutkan kelahiran
plasenta
dengan menggunakan kedua tangan.
Memegang
plasenta dengan kedua tangan dan dengan hati-hati memutar
plasenta hingga selaput ketuban terpilin.dengan lembut perlahan
melahirkan selaput ketuban tersebut.
3) Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi
tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu
dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau
forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan
bagian slaput yang tertinggal.
11. Pemijat Uterus
Sehingga setelah plasenta dan selaputketuban lahir, lakukan masase
uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan masase
dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi
(fundus menjadi keras).
12. Menilai Pendarahan
1) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu
maupun janindan selaput ketuban untuk memastikan bahwa
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
47
plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh.Meletakan
plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus
2) Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama
15 detik mengambil tindakan yang sesuai.
3) Mengevakuasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan
segera menjahit laserasi yang mengalami pendarahan aktif
13. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan
1)
Menilai ulang uterus dan memastikanya berkontraksi dengan
baik.
2) Mencelup kedua tangan yang memakai sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5% membilas kedua tangan yang masih bersarung
tangan
tersebut
dengan
air
disinfeksi
tingkat
tinggi
dan
mengeringkanya dengan kain yang bersih dan kering.
3) Menempatkan klem di tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril
atau mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati
sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
4) Mengikat satu lag di tali pusat yang bersebrangan dengan simpul
mati yang pertama.
5) Meletakan klem bedah dan meletakanya di larutan klorin 0,5%.
6) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.
Memastikan handuk atau kainya bersih dan kering.
7) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.
8) Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan pendarahan
pervaginam :
a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
48
b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.
c) Setiap 20-30 menit pada jam ke 2 pasca persalinan
d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, perawatan yang
sesuai untuk menatalaksanakan atonia uteri.
e) Jika ditemukan laserasi yang memerlukan jahitan, lakukan
penjahitan dengan anestesia lokal dan menggunakan teknik
yang sesuai.
9)
Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana meakukan masase
uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
10) Mengevaluasi kehilangan darah.
11) Memeriksa tekanan darah,nadi, dan keadaan kandung kemih
setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan
setiap 30 menit selama 2 jam pasca persalinan.
a) Memeriksa temeperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2
jam pertama pasca persalinan
b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak
normal.
14. Kebersihan dan Keamanan
1) Menempatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan
setelah dekontaminasi.
2) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat
sampah yang sesuai.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
49
3) Memebersihkan ibu dengan menggunakan cairan disinfeksi tingkat
tinggi.
Membersihkan
cairan
ketuban,
lendir,
dan
darah.
Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
4) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI.
Menganjurkan keluarga memberikan ibu minuman dan makanan
yang diinginkan.
5) Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan
dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
6) Mencelup sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%,
Membalikkan bagiab dalam keluar dan mere ndam dalam larutan
klorin 0,5% selama 10 menit.
7) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
15. Dokumentasi
Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)
f. Elemen penting dalam mempersiapkan persalinan
Rencana persalinan perlu dipersiapkan lebih dini dalam kehamilan
dan harus terdiri atas elemen-elemen dibawah ini:
1. Dimana Ibu akan Bersalin (Desa, Fasilitas Kesehatan, Rumah Sakit).
2. Bagaimana cara menjangkau tingkat asuhan yang lebih lanjut jika
terjadi kegawatdaruratan.
3. Ke fasilitas mana Ibu akan dirujuk.
4. Bagaimana cara mendapatkan dana jika terjadi ke gawat daruratan.
5. Bagaimana cara mencari Donor Darah.
6. Membuat Rencana / Pola Menabung:
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
50
1) Keluarga dianjurkan untukmenabung sejumlah uang untuk
persediaan Dana guna asuhan selama kehamilan dan jika terjadi
kegawatdaruratan.
2) Menabung sesuai kemampuan dan terprogram.
3) Kesepakatan bersama dalamkeluarga.
4) Program Tabulin.
7.
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan.
a) Ibu dan keluarga dapatmengumpulkan barang-barang (seperti
pembalut wanita, sabun, baju ibu, baju bayi dan lain-lain) dan
menyimpannya untuk persiapan persalinan.
b) Beberapa rumah sakit biasa nya sudah membuatkan daftar
peralatan yang harus dibawa saat dating.
c) Hendaknya dipersiapkan jauh hari sebelumnya, dimasukan dalam
satu tas sehingga begitu tanda tanda persalinan muncul,ibu tidak
panik dan dapat langsung mencari pertolongan(Dewi dkk.2012;
h.131-133).
g. Penapisan persalinan normal
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
PENYULIT
Riwayat bedah sesar.
Perdarahan pervaginam.
Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
Ketuban pecah dengan mekonium yang kental.
Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam).
Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37
minggu usia kehamilan).
Ikterus.
Anemia Berat.
Tanda / gejala infeksi.
Preeklamsia / Hipertensi dalam kehamilan.
Tinggi fundus 40 cm atau lebih.
Gawat janin.
Primipara dalam fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
Presentari bukan belakang kepala.
Presentasi majemuk.
YA
TIDAK
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
51
16. Kehamilan gemeli.
17. Tali pusat menumbung.
18. Syok
( USU (2010))
Apabila Didapati Salah Satu Atau Lebih Penyulit Seperti Berikut Dibawah Ini Pasien Harus
DIRUJUK :
h. Faktor - faktor persalinan
Menurut
Sumarah
dkk,
(2008)
faktor
yang
mempengaruhi
persalinan antara lain:
1) Passage jalan lahir
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yaitu bagian tulang padat,
dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina. Meskipun
jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut
menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan
dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya
terhadap jalan lahir yang relatif kaku. oleh karena itu ukuran dan
bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan dimulai.
2) Passangerjanin
Passanger atau janin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan
akibat interaksi beberapa faktor, yaitu ukuran kepala, janin, presentasi,
letak, sikap, dan posisi janin. I(arena plasenta juga harus melewati
jalan lahir, maka plasenta juga dianggap sebagai bagian dai passanger
yan1 menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses
persalinan pada kehamilan normal.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
52
3) Power (kekuatan mengejan)
Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu melakukan kontraksi
involunter dan volunteer secara bersamaan untuk mengeluarkan janin
dan plasenta dad uterus. Kontraksi involunter disebut juga kekuatan
primer, menandai dimulainya persalinan. Apabila serviks berdilatasi,
usaha volunteer dimulai untuk mendorong, yang disebut kekuatan
sekunder, dimana kekuatan ini memperbesar kekuatan kontraksi
involunter. Kekuatan primer berasal dari titik pemicu tertentu yang
terdapat pada penebalan lapisan otot di segmen uterus bagian atas.
Dari titik pemicu, kontraksi dihantar ke uterus bagian bawah dalam
bentuk gelombang, diselingi periode istirahat singkat. Kekuatan primer
membuat serviks menipis (effacement) dan berdilatasi yang kemudian
terjadi penurunan janin.
Effacement serviks adalah pemendekan dan penipisan serviks
selama tahap pertama persalinan dan akan terangkat keatas karena
adanya pemendekan gabungan otot uterus selama penipisan segmen
bawah rahim pada tahap akhir persalinan. Kekuatan sekunder terjadi
segera setelah bagian presentasi mencapai dasar panggul, sifat
kontraksi berubah yakni bersifat mendorong keluar. Sehingga wanita
merasa ingin mengedan. Usaha mendorong kebawah ini disebut
kekuatan sekunder. Kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi
serviks, tetapi setelah dilatasi serviks lengkap. Kekuatan ini penting
untuk mendorong bayi ke luar dari uterus dan vagina. Jika dalam
persalinan seorang wanita melakukan usaha volunteer (mengedan)
ierlalu dini, dilatasi serviks akan terhambat.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
53
4) Posisi ibu
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi
persalinan. Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah
posisi membuat rasa letih hilang, member rasa nyaman dan
memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan,
duduk dan jongkok. Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi
membantu penurunan janin. Kontraksi utreus lebih kuat dan efisien
untuk membantu penipisan dan dilatasi serviks, sehingga persalinan
lebih cepat. Posisi tegak juga menguntungkan curah jantung ibu dalam
kondisi normal meningkat selama persalinan seiring kontraksi uterus
mengendalikan darah ke anyaman pembuluh darah. Posisi tegak juga
membantu mengurangi tekanan pada pembuluh darah ibu dan
mencegah kompresi pembuluh darah.
5) Psychology respons (Respon psikologi)
Tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat, jika
dirinya tidak memahami apa yang terl'adi pada dirinya atau yang
disampaikan kepadanya. Perilaku dan penampilan wanita serta
pasangannya merupakan petunjuk berharga tentang jenis dukungan
yang akan diperlukannnya. Membantu wanita berpatisipasi sejauh
yang diinginkan dalam melahirkan, memenuhi harapan wanita akan
hasil akhir persalinannya, membantu wanita menghemat tenaga,
mengendalikan rasa nyeri merupakan suatu upaya dukungan dalam
mengurangi kecemasan pasien. Dukungan psikologis dari orang-orang
terdekat akan membantu memperlancar proses persalinan yang
sedang berlangsung. Tindakan mengupayakan rasa nyaman dengan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
54
menciptakan suasana yang nyaman dalam kamar bersalin, memberi
sentuhan, memberi penenangan nyeri non farmakologi, memberi
analgesi jika diperlukan dan yang paling penting berada disisi pasien
adalah bentuk-bentuk dukungan psikologi. Dengan kondisi psikologi
yang positif, proses persalinan akan berjalan lebih mudah.
C. Bayi Baru Lahir
1.
Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan
2500-4000 gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan (Rukiyah,
2013).
2.
Penanganan bayi baru lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir, ialah
(Prawirohardjo, 2009; h. 133):
3.
a.
Membersihkan jalan nafas
b.
Memotong dan merawat tali pusat
c.
Mempertahankan suhu tubuh bayi
d.
Identifikasi
e.
Pencegahan infeksi.
Penanganan Bayi Baru Lahir
Jnpk-Kr (2008) menjelaskan bahwa pengangan bayi baru lahir
adalah sebagai berikut:
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
55
a. Mencegah pelepasan panas yang berlebihan
Bayi baru lahir dapat mengalami kehilangan panas tubuhnya melalui
proses konveksi, konduksi, evaporasi dan radiasi.
1)
Konduksi adalah proses hilangnya panas tubuh melalui kontak
langsung dengan benda-benda yang mempunyai suhu lebih
rendah dari suhu tubuh bayi.
2)
Konveksi adalah proses hilangnya panas melalui kontak
dengan udara yang dingin disekitarnya, misalnya saat bayi
berada di ruangan terbuka dimana angin secara langsung
mengenai tubuhnya.
3)
Evaporasi adalah proses hilangnya panas tubuh bayi bila bayi
berada dalam keadaan basah, misalnya bila bayi tidak segera
dikeringkan, setelah proses kelahirannya atau setelah mandi.
4)
Radiasi adalah proses hilangnya panas tubuh bila bayi
diletakkan dekat dengan benda-benda yang lebih rendah
suhunya dari suhu tubuhnya, misalnya bayi diletakkan dalam
tembok yang dingin.
b. Cara mencegah hilangnya panas dari tubuh bayi
Mengeringkan tubuh bayi dari cairan ketuban atau cairan lain
dengan kain hangat dan kering untuk mencegah terjadinya
hipotermi. Selimuti bayi dengan kain kering terutama bagian kepala.
Ganti handuk atau kain yang basah. Jangan menimbang bayi dalam
keadaan tidak berpakaian. Jangan memandikan setidak-tidaknya 6
jam setelah persalinan. Letakkan bayi pada lingkungan yang hangat.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
56
c. Bebaskan atau bersihkan jalan nafas
Bersihkan jalan nafas bayi dengan cara mengusap mukanya dengan
kain atau kapas yang bersih dari lendir segera setelah kepala lahir.
Jika bayi lahir bernafas spontan atau segera menangis, jangan
lakukan penghisapan rutin pada jalan nafasnya.
d. Rangsangan taktil
Mengeringkan tubuh bayi pada dasarnya merupakan tindakan
rangsangan pada bayi dan mengeringkan tubuh bayi cukup
merangsang upaya bernafas.
e. Laktasi
Laktasi merupakan bagian dari rawat gabung, setelah bayi
dibersihkan, segera lakukan kontak dini agar bayi mulai mendapat
ASI. Dengan kontak dini dan laktasi bertujuan untuk melatih refleks
hisap bayi, membina hubungan psikologis ibu dan anak, membantu
kontraksi uterus melalui rangsangan pada puting susu, memberi
ketenangan pada ibu dan perlindungan bagi bayinya serta
mencegah panas yang berlebih pada bayi.
f.
Mencegah infeksi pada mata
Berikan tetes mata atau salep mata antibiotik 2 jam pertama setelah
proses kelahiran.
g. Identifikasi bayi
Dengan membuat dan memeriksa catatan mengenai jam dan
tanggal kelahiran bayi, jenis kelamin dan pemeriksaan tentang cacat
bawaan. Selain itu identifikasi dilakukan dengan memasang gelang
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
57
identitas pada bayi dan gelang ini tidak boleh lepas sampai
penyerahan bayi.
4.
Penilaian Bayi Baru Lahir
Menurut Manuaba (2010; 205) bahwa penilaian bayi baru lahir
dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian Apgar. Dalam
melakukan
pertolongan
persalinan
merupakan
kewajiban
untuk
melakukan : Pencatatan (jam dan tanggal kelahiran, jenis kelamin bayi,
pemeriksaan tentang cacat bawaan). Identifikasi bayi (rawat gabung,
identifikasi sangat penting untuk menghindari bayi tertukar, gelang
identitas tidak boleh dilepaskan sampai penyerahan bayi). Pemeriksaan
ulang setelah 24 jam pertama sangat penting dengan pertimbangan
pemeriksaan saat lahir belum sempurna.
Tabel 2.2 Apgar Skor
Tampilan
Appearance
A
(warna kulit)
Pulse
rate(frekuensi
P
nadi)
0
Pucat
Tidak ada
G
Grimace (reaksi
terhadap rangsangan)
Tidak ada
A
Activity
(tonus otot)
Tidak ada
R
Resfiration (pernafasan)
Tidak ada
Sumber : Prawirohardjo (2011)
1
Badan
merah,
ekstremitas biru
Kurang dari 100
x/menit
Sedikit
gerak
mimik,
menyeringai
Ekstremitas dalam
sedikit fleksi
Lemah/tidak
teratur
2
Seluruh
tubuh
kemerah-merahan
Lebih
dari
100
x/menit
Batuk dan bersin
Gerakan aktif
Baik/menangis kuat
Keterangan :
a. Asfiksia berat
: Jumlah nilai 0 sampai 3
b. Asfiksia sedang : Jumlah nilai 4 sampai 6
c. Vigerious baby : Jumlah nilai 7 sampai 10
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
58
5.
Tanda-Tanda Bayi Normal
Menurut Rukiyah (2013; 2) bahwa bayi baru lahir dikatakan normal
jika mempunyai beberapa tanda antara lain appearance color (warna
kulit), seluruh kulit kemerah-merahan, pulse (heart rate) atau frekuensi
jantung, gerakan aktif, respiration (usaha nafas), bayi manangis kuat.
6.
Asuhan Bayi Baru Lahir
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan
Persalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan
asuhan bayi baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau
perawat. Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam
ruangan yang sama dengan ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi
dirawat dalam satu kamar, bayiberada dalam jangkauan ibu selama 24
jam). Asuhan bayi baru lahir meliputi:
a. Pencegahan infeksi (PI)
b. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
c. Pemotongan dan perawatan tali pusat
d. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
e. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama
f.
6 jam, kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh
bayi.
g. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis
tunggal di paha kiri
h. Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
i.
Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika
dosis tunggal
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
59
j.
Pemeriksaan bayi baru lahir
k. Pemberian ASI eksklusif (Kemenkes, 2010).
7.
Kunjungan Bayi Baru Lahir
a.
Kunjungan Neonatal hari ke-1 (KN 1)
1) Untuk bayi yang lahir di fasilitas kesehatan pelayanan dapat di
laksanakan sebelum bayi pulang dari fasilitas kesehatan (>24
jam)
2) Untuk bayi yang lahir di rumah ,bila bidan meninggalkan bayi
sebelum 24 jam ,maka pelayanan dilaksanakan pada 6 jam
setelah lahir.Hal yang di laksanakan :
b.
a)
Jaga kehangatan tubuh bayi
b)
Berikan Asi Ekslusif
c)
Cegah Infeksi
d)
Rawat tali Pusat
Kunjungan neonatal hari ke 2- (KN 2)
1) Jaga kehangatan tubuh bayi
2) berikan Asi Ekslusif
3) Cegah Infeksi
4) Rawat tali Pusat
c.
Kunjungan neonatal minggu ke -3 (KN 3)
Hal yang di lakukan meliputi :
1)
Memeriksa ada/tidaknya tanda bahaya atau gejala sakit pada
bayi
2)
Menjaga kehangatan bayi
3)
Memberikan ASI Ekslusif.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
60
8.
Jenis-jenis pemeriksaan reflek pada bayi
a. Refleks
Biceps
(BPR)
: ketukan
pada
jari
pemeriksa
yang
ditempatkan pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah
diketuk pada sendi siku. Respon : fleksi lengan pada sendi siku.
b. Refleks Triceps (TPR) : ketukan pada tendon otot triceps, posisi
lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi. Respon : ekstensi
lengan bawah pada sendi siku.
c. Refleks Periosto Radialis : ketukan pada periosteum ujung distal os
symmetric posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi. Respon :
fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi
m.brachiradialis.
d. Refleks Periostoulnaris : ketukan pada periosteum prosesus styloid
ilna, posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi supinasi.
Respon : pronasi tangan akibat kontraksi m.pronator quadrates.
e. Refleks Patela (KPR) : ketukan pada tendon patella dengan hammer.
Respon : plantar fleksi longlegs karena kontraksi m.quadrises
femoris.
f. Refleks Achilles (APR) : ketukan pada tendon achilles. Respon :
plantar fleksi longlegs karena kontraksi m.gastroenemius.
g. Refleks Klonus Lutut : pegang dan dorong os patella ke arah distal.
Respon : kontraksi reflektorik m.quadrisep femoris selama stimulus
berlangsung.
h. Refleks Klonus Kaki : dorsofleksikan longlegs secara maksimal,
posisi tungkai fleksi di sendi lutut. Respon : kontraksi reflektorik otot
betis selama stimulus berlangsung.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
61
i. Reflek kornea : Dengan cara menyentuhkan kapas pada limbus, hasil
positif bila mengedip (N IV & VII )
j. Reflek faring : Faring digores dengan spatel, reaksi positif bila ada
reaksi muntahan ( N IX & X )
k. Reflek Abdominal : Menggoreskan dinidng perut dari lateral ke
umbilicus, hasil negative pada orang tua, wanita multi para, obesitas,
hasil positif bila terdapat reaksi otot.
l. Reflek Kremaster : Menggoreskan paha bagian dalam bawah, positif
bila skrotum sisi yang sama naik / kontriksi ( L 1-2 )
m. Reflek Anal : Menggores kulit anal, positif bila ada kontraksi spincter
ani ( S 3-4-5 )
n. Reflek Bulbo Cavernosus : Tekan gland penis tiba-tiba jari yang lain
masukkan kedalam anus, positif bila kontraksi spincter ani (S3-4 /
saraf spinal )
o. Reflek Moro : Refleks memeluk pada bayi saat dikejutkan dengan
tangan
p. Reflek Babinski : Goreskan ujung reflak hammer pada lateral telapak
kaki mengarah ke jari, hasil positif pada bayi normal sedangkan pada
orang dewasa abnormal ( jari kaki meregang / aduksi ektensi )
q. Sucking reflek : Reflek menghisap pada bayi
r. Grasping reflek : Reflek memegang pada bayi
s. Rooting reflek : Bayi menoleh saat tangan ditempelkan ke sisi pipi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
62
9.
Tanda Bahaya Pada Bayi
Prawirohardjo (2011; 139) menjelaskan bahwa sesak nafas,
frekuensi pernafasan 60 kali/menit, gerak retraksi di dada, malas minum
(menyusu), panas atau suhu tubuh badan bayi rendah, sianosis sentral
(lidah biru), perut kembung, periode apnu, kejang/periode kejang-kejang
kecil, merintih, perdarahan tali pusat, sangat kuning.
D. Nifas
1.
Pengertian
Nifas adalah masa dimulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira – kira enam mingggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru
pulih kembali sebelum ada kehamilan dalam waktu tiga bulan (Hanifa,
2005: 237 ).
Masa nifas ( puerperium ) dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2005: 122).
2.
Tujuan Masa Nifas
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi sehat.
d. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
63
e. Asuhan masa nifas diperlukan pada peiode ini karena merupakan
masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60%
kematian ibu akibat kehamilan tejadi setelah persalinan, dan 50%
kematian masa nifas terjasi 24 jam pertama. Masa neonatus
merupakan masa kritis dari kehidupan bayi, dua pertiga kematian
bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian
bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan
pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa nifas
dapat mencegah kematian beberapa ini. (Saifuddin, 2006:122)
3.
Tahapan Masa Nifas
Tahapan masa nifas dibagi menjadi tiga, yaitu:(Ambarwati, E.R, dkk,
2009:3)
4.
a.
early puerperium (masa jam pertama setelah melahirkan)
b.
Intermediate puerperium (masa 1 sampai 7 hari setelah persalinan).
c.
Late puerperium (masa 7 hari sampai 40 hari setelah persalinan)
Perubahan fisiologis masa nifas
Menurut Varney, 2007 : 958 -962 perubahan fisiologis masa nifas,
yaitu :
a. Uterus
Segera setelah pelahiran bayi, plasenta, dan selaput janin, beratnya
sekitar 1000 gram. Berat uterus menurun sekitar 500 gram pada akhir
minggu pertama pascapartum dan kembali pada berat yang biasanya
pada saat tidak hamil yaitu 70 gram pada minggu kedelapan
pascapartum.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
64
b. Tinggi fundus uteri
Penurunan ukuran yang cepat ini direfleksikan dengan perubahan
lokasi uterus, yaitu uterus turun dari abdomen dan kembai menjadi
organ panggul. Segera setelah pelahiran, tinggi fundus uteri (TFU)
terletak sekitar dua per tiga hingga tiga per empat bagian atas antara
simfisis pubis dan umbilikus. Letak TFU kemudian naik, sejajar
dengan umbilikus dalam beberapa jam. TFU tetap terletak kira-kira
sejajar (atau satu ruas jari di bawah) umbilikus selama satu / atau
dua hari dan secara bertahap turun ke dalam panggil sehingga tidak
dapat dipalpasi lagi di atas simfisis pubis setelah hari kesepuluh
pasca partum
Tabel 2.3
TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
Bayi Lahir
Placenta Lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
TFU
Setinggi Pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat
simfisis
Tidak teraba di atas
simfisis
Bertambah kecil
Normal
(Mochtar, R, 2011:115)
Berat Uterus
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
c. Serviks
Segera setelah pelahiran, serviks sangat lunak, kendur, dan terkulai.
Serviks mungkin memar dan edema, terutama di anterior jika
terdapat tahanan anterior saat persalinan. Serviks tampak mengalami
kongesti, menunjukkan banyaknya vaskularitas serviks. Serviks
terbuka sehingga mudah dimasukkan dua hingga tiga jari. Serviks
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
65
kembali ke bentuk semula pada hari pertama dan kelunakan menjadi
berkurang.
d. Lochea
Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui
vagina selama puerperium. Karena perubahan warnanya, nama
deskriptif lokia berubah: lokia rubra, serosa, atau alba.
Tabel 2.4 Perubahan Lochea
Lokia
Rubra
Waktu
1-3 hari
Warna
Merah
kehitaman
Sanguinolenta
3-7 hari
Serosa
7-14 hari
Merah
kekuningan
Kekuningan/
kecoklatan
Alba
>14 hari
Putih
Ciri-ciri
Terdiri dari sel desidua,
verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa mekoneum
dan sisa darah
Darah dan lendir
Lebih sedikit darah dan
lebih banyak serum, juga
terdiri dari leukosit dan
robekan laserasi plasenta
Mengandung leukosit,
selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati.
e. Vagina dan perineum
Vagina dan Perineum Segera setelah pelahiran, vagina tetap terbuka
lebar, mungkin mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan
celah pada introitus. Setelah satu hingga dua hari pertama
pascapartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan
vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi berdinding lunak,
lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya
menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga
pascapartum.
f. Payudara
Pengkajian payudara pada periode awal pascapartum meliputi
penampilan dan integritas puting susu, memar atau iritasi jaringan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
66
payudara.karena posisi bayi pada payudara, adanya kolostrum,
apakah payudara terisi air susu, dan adanya sumbatan duktus,
kongesti, dan tanda-tanda mastitis potensial.
g. Tanda-tanda vital
1) Tekanan
Darah
Segera setelah melahirkan,
banyak
wanita
mengalami peningkatan sementara tekanan darah sistolik dan
diastolik, yang kembali secara spontan ke tekanan darah sebelum
hamil selama beberapa hari.
2) Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit meningkat
selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama
pascapartum.Denyut nadi yang meningkat selama persalinan
akhir,
kembali
normal
setelah
beberapa
jam
pertama
pascapartum. Hemoragia, demam selama persalinan, dan nyeri
akut atau persisten dapat memengaruhi proses ini. Apabila denyut
nadi di atas 100 selama puerperium, hal tersebut abnormal dan
mungkin menunjukkan adanya infeksi atau hemoragi pascapartum
lambat.
3) Sistem pernafasan
Fungsi pernapasan kembali pada rentang normal wanita selama
jam pertama pascapartum. Napas pendek, cepat, atau perubahan
lain memerlukan evaluasi adanya kondisi-kondisi seperti kelebihan
cairan, eksaserbasi asma, dan embolus paru.
5. Kunjungan masa nifas
Kunjungan masa nifas paling sedikit dilakukan sebanyak 4 kali
kunjungan uang yaitu untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir, dan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
67
untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang
terjadi. Berikut ini adalah jadwal kunjungan masa nifas yang dianjurkan
(Purwoastuti & Walyani, 2015):
a. Kunjungan ke-1 (6-8 jam setelah persalinan), tujuannya untuk:
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2) Medeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan merujuk
apabila perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri.
4) Pemberian ASI awal.
5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.
7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal
dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah
kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil 2.
b. Kunjungan ke-2 (6 hari setelah persalinan), tujuannya untuk:
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak
ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
abnormal.
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
68
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan
tanda-tanda penyulit.
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari.
c. Kunjungan ke-3 (2 minggu setelah persalinan), tujuannya untuk:
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak
ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
abnormal.
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat.
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan
tanda-tanda penyulit.
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari.
d. Kunjungan ke-4 (6 minggu setelah persalinan), tujuannya untuk:
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi
alami.
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.
6. Standar asuhan kebidanan masa nifas
Berikut ini standart pelayanan nifas dalam kebidanan adalah
(Dinkes Kediri, 2015):
a. Standart 14 : Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
69
Bidan melakukan pemantauan pada ibu dan bayi terhadap terjadinya
komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan
tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan
penjelasan tentang hal – hal yang mempercepat pulihnya kesehatan
ibu dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
b. Standart 15 : Pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas.
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan
rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu ke enam setelah
persalinan untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui
penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan, atau
perujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
memberikan
penjelasan
tentang
kesehatan
secara
umum,
kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir,
pemberian ASI, Imunisasi. Disamping standart untuk pelayanan
kebidanan dasar (antenatal, persalinan, dan nifas ), berikut
merupakan standart penanganan obstetric-neonatus yang harus
dikuasai bidan untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi :
c. Standart 21 : Penanganan perdarahan post partum primer
Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam
pertama setelah persalinan ( perdarahan postpartum primer ) dan
segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan
perdarahan.
d. Standart 22 : Penanganan perdarahan post partum sekunder
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
70
Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala
perdarahan post partum sekunder, dan melakukan pertolongan
pertama untuk menyelamatkan jiwa ibu dan atau merujuknya
e. Standart 23 : Penanganan sepsis puerpuralis
Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis
puerpuralis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya.
E. Keluarga Berencana
1.
Pengertian
Menurut Wikjosastro (2007) mengungkapkan bahwa kontrasepsi
berasal dari kata kontra yang berarti mencegah dengan konsepsi yang
berarti pertemuan antara sel telur dan sel sperma yang mengakibatkan
kehamilan dengan cara mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi,
melumpuhkan sperma atau menghalangi pertemuan sel telur dengan sel
sperma. Hartanto (2004) mengungkapkan bahwa pelayanan kontrasepsi
diupayakan untuk menurunkan angka kelahiran yang bermakna.
2.
Tujuan
Menurut Sukarmini (2015) bahwa tujuan keluarga berencana di
Indonesia dibagi menjadi 2 yaitu tujuan umum dan khusus, yang
dijabarkan sebagai berikut ini:
a. Tujuan umum
Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan
NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi
dasar
terwujudnya
mengendalikan
masyarakat
kelahiran
sekaligus
yang
sejahtera
menjamin
dengan
terkendalinya
pertambahan penduduk.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
71
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat
kontrasepsi.
2) Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.
3) Meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara
penjarangan kelahiran
3.
Cara Kontrasepsi
Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi
sederhana dan cara kontrasepsi modern.
1. Kontrasepsi sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi atas kontrasepsi tanpa alat dan
kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat
dapat dilakukan dengan senggama terputus, pantang berkala,
metode suhu badan basal, dan metode kalender. Sedangkan
kontrasepsi sederhana dengan alat/obat dapat dilakukan dengan
kondom, diafragma, kap serviks, dan spermisid.
2. Kontrasepsi Modern
Kontrasepsi modern dibedakan atas 3 yaitu: 1) kontrasepsi
hormonal,
yang
terdiri
dari
pil,
suntik,
implant/AKBK
(Alat
Kontrasepsi Bawah Kulit). 2) IUD/AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam
Rahim). 3) Kontrasepsi mantap yaitu dengan operasi tubektomi
(sterilisasi pada wanita) dan vasektomi (sterilisasi pada pria)
(Hartanto, 2004).
4.
Macam-Macam Alat Kontrasepsi
a. Kontrasepsi Non-Hormonal
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
72
1)
Sanggama terputus (Koitus iterruptus)
a) Definisi
Penarikan penis dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi
(Anwar, 2011; h.438).
b) Keuntungan
Menurut Affandi (2012; h. MK-15) keuntungan senggama
terputus, yaitu:
(1) Efektif bila dilaksanakan dengan benar
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
(3) Tidak ada efek samping
(4) Dapat digunakan setiap waktu
(5) Tidak membutuhkan biaya
c) Kerugian
Menurut Manuaba (2010; h. 596) Kekurangan dari senggama
terputus, yaitu:
(1) Mengganggu kepuasan kedua belah pihak.
(2) Kegagalan hamil sekitar 30% sampai 35%.
2) Pembilasan pascasenggama
Pembilasan vagina dengan air biasa atau tanpa tambahan
larutan obat (cuka atau obat lain) segera setelah koitus (Anwar,
2011; h.439).
3) Perpanjangan masa menyusui anak (prolonged lactation)
4) Pantang berkala (cara kalender)
Berpantang (tidak koitus) beberapa hari sebelum hingga
bebrapa hari sesudah ovulasi (Mochtar ,2011; h.198)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
73
5) Kondom
Menurut Manuaba (2012; h.594) cara kerja dari kondom
adalah menampung spermatozoa sehingga tidak masuk kedalam
kanalis serviks.
a) Keuntungan kondom menurut Manuaba (2012;h 594) :
(1)
Murah
(2)
Mudah didapatkan (gratis)
(3)
Tidak memerlukan pengawasan medis
(4)
Berfungsi ganda
(5)
Dipakai oleh kalangan yang berpendidikan
b) Kerugian kondom
Menurut Affandi (2012; h. MK-19) kekurangan senggama
terputus, yaitu:
(1)
Agak mengganggu hubungan seksual.
(2)
Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan.
(3)
Merepotkan menjelang hubungan hubungan senggrama
(Manuaba, 2012; h.597).
(4)
Dapat menimbulkan iritasi atau alergi (Manuaba, 2012;
h.597)
6) Diafragma
Diafragma dimasukan kedalam vagina sebelum koitus untuk
menjaga jangan sampai sperma masuk kedalam uterus (Anwar,
2011; h.442). Menurut Mochtar (2011; h.201) carakerja dari
diafragma adalah menghalangi sel mani masuk kedalam kanalis
servisis.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
74
7) Kontrasepsi menggunakan obat-obatan spermatisida
a) Menurut Mochtar (2011; h.201) cara kerja dari spermisida,
yaitu:
(1) Melumpuhkan dan mematikan sperma atau sel mani.
(2) Menutup mulut serviks.
(3) Mengubah
keadaan
lendir/cairan
vagina
sehingga
menjadi tidak begitu baik untuk mobilitas dan aktivitas
sperma.
b) Kekurangan spermisida menurut Manuaba (2012;h 597) :
(1) Merepotkan menjelang hubungan senggama
(2) Nilai kepuasan berkurang
(3) Dapat menimbulkan iritasi atau alergi
(4) Kejadian hamil tinggi sekitar 30-35% karena pemasangan
tidak sempurna atau terlalu cepat melakukan senggama.
8) Kontrasepsi hormonal
1) Pil kontrasepsi kombinasi
Pil kontrasepsi yang berisi estrogen dan progesteron.cara
kerja dari pil kontrasepsi kombinasi, yaitu (Mochtar, 2011; h.
204):
a) Mengubah konsistensi lendir serviks menjadi lebih tebal
dan kental sehingga penetrasi dan transportasi sperma
akan terhalang.
b) Kapasitasi spermatozoon yang perlu untuk memasuki
ovum terganggu.
2) Pil mini
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
75
Pil mini adalah pil kontrasepsi yang hanya terdiri dari
progesteron dalam dosis rendah (0,5 mg atau kurang) dan
diberikan secara terus menerus tanpa berhenti (Mochtar,
2011; h.208). Menurut Mochtar (2011; h. 208) cara kerja dari
pil mini adalah mengubah lendir servik menjadi kental dan
berkurang jumlahnya sehingga sukar ditembus sperma.
a)
Keuntungan penggunaan pil mini menurut Varney
(2007;h477) :
Keuntungan pil yang hanya mengandung progestin ialah
pil tersebut sama sekali tidak mengandung estrogen
sehingga
dapat
digunakan
oleh
wanita
sebagai
kontrasepsi hormonal ketika penggunaan pil kombinasi
dikontraindikasikan baginya karena alasan yang terkait
dengan estrogen.
b) Kerugian dari pil mini menurut Varney (2007;h477):
Ketidakteraturan
periode
menstruasi
disertai
perdarahan yang sering dan tidak teratur umum terjadi
dan meupakan alasan yang sering dikemukakan untuk
menghentikan penggunaan pil.
3) Suntikan Setiap 3 bulan (Depo Provera)
Depo Provera adalah suspense cair yang mengandung
Kristal-kristal
mikro
depot
medrolsiprogesteron
asetat
(DPMA). DPMA adalah suatu progestin yang mekanisme
kerjanya bertujuan menghambat sekresi hormone pemicu
folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH.(Varney,2007;h 481)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
76
a) Mekanisme kerja dari Depo Provera menurut Anwar
(2011;h 450) :
(1) Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan
menekan
pembentukan
gonadotropin
releasing
hormone dari hipotalamus.
(2) Lender
servik
bertambah
kental,
sehingga
menghambat penetrasi sperma melalui servik uteri.
(3) Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi.
(4) Mempengaruhi transport ovum di tuba.
b) Kontraindikasi menurut Varney (2007;h 481) :
(1) Kehamilan
(2) Riwayat kanker payudara
(3) Perdarahan genetalia
yang
tidak
diketahui
asal
mulanya
(4) Riwayat stroke
(5) Riwayat gagal atau penyakit hati
(6) Hipersentivitas terhadap Depo Provera
c) Keuntungan menurut Anwar (2011;h 450) :
(1) Efektivitas tinggi
(2) Pemakaiannya sederhana
(3) Cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4x
setahun)
(4) Cocok untuk ibu-ibu nenyusui
d) Kekurangan menurut Manuaba (2012;h 601)
(1) Perdarahan yang tidak menentu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
77
(2) Terjadi
amenorea
(tidak
dating
bulan)
atau
berkepanjangan
(3) Masih terjadi kemungkinan hamil
(4) Kerugian
atau
penyulit
inilah
yang
masih
menyebabkan peserta KB menghentikan suntikan KB.
4) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) atau Implant
a) Definisi
Implan adalah kontrasepsi hormonal yang efektif,tidak
permanen dan dapat mencegah kehamilan antara 3
sampai 5 tahun (Affandi, 2012; h.MK-55).
b) Keuntungan Implant (Manuaba,2012;h 603) :
(1) Dipasang selama 5 tahun
(2) Control medis ringan
(3) Dapat dilayani didaerah pedesaan
(4) Penyulit medis tidak terlalu tinggi
(5) Biaya mura
c) Kerugian Implant (Manuaba,2012;h 603)
(1) Menimbulkan
gangguan
menstruasi
yaitu
tidak
mendapat menstruasi dan terjadi perdarahan yang
tidak teratur
(2) Berat badan bertambah
(3) Menimbulkan akne, ketegangan payudara
(4) Liang senggama terasa kering
5) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine
Device (IUD)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
78
a) Mekanisme kerja AKDR menurut Varney (2007;h 449450):
(1) Mencegah kehamilan
(2) Ion-ion Copper yang terdapat pada AKDR tembaga
mengubah isi saluran telur dan cairan endometrium
sehingga dapat mempengaruhi jalan sel telur di dalam
saluran telur serta fungsi sperma
(3) AKDR hormonal merusak motilitas saluran telur dan
mengentalkan lender servik sehingga cairan servik
lengket
(4) Sperma menjadi sulit masuk ke dalam serviks
sehingga mengganggu sperma
(5) AKDR
bereaksi terhadap
zat
asing
local
yang
membuat endometrium menjadi tempat yang tidak
sesuai untuk penanaman hasil pembuahan dan
membuat AKDR menjadi alat kontasepsi yang efektif
sebagai metode kontrasepsi darurat.
b) Keuntungan penggunaan AKDR (Anwar,2011;h 452) :
(1) Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan
dan dengan demikian satu kali motivasi
(2) Tidak menimbulkan system estemik
(3) Alat itu ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara
massal
(4) Efektivitas cukup tinggi
(5) Reversible
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
79
c) Efek samping AKDR (Varney,2007;h 451) :
(1) Bercak darah dan kram abdomen sesaat setelah
pemasangan
(2) Kram, nyeri punggung bagian bawah, atau kedua
keadaan tersebut terjadi bersamaan selama beberapa
hari setelah pemasangan AKDR
(3) Nyeri berat yang berlanjut akibat kram uterus
(4) Dismenorea terutama yang terjadi selama satu sampai
tiga bulan pertama setelah pemasangan AKDR
(5) Perubahan atau gangguan menstruasi
(6) Perdarahan berat atau berkepanjangan
(7) Anemia
(8) Benang AKDR hilang, terlalu panjang, atau terlalu
pendek
(9) AKDR tertanam pada endometrium ata myometrium
(10)
AKDR terlepas spontan
(11)
Kehamilan, baik AKDR masih tertanam dalam
endometrium atau myometrium atau setelah AKDR
lepas spontan tanpa diketahui
(12)
Kehamilan ektopik
(13)
Aborsi sepsis spontan
d) Waktu pemasangan AKDR (Anwar,2011;h 454-455) :
(1) Sewaktu haid sedang berlangsung
(2) Sewaktu postpartum
(3) Sewaktu postabortum
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
80
(4) Sewaktu melakukan seksio sesaria
e) Pemeriksaan lanjutan (follow up)(Anwar,2011;h 455) :
(1) Pemasangan sesudah IUD dipasang, dilakukan 1
minggu sesduahnya
(2) Pemeriksaan dilakukan 3 bulan berikutnya
(3) Pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan.
9) Kontrasepsi mantap
a) Tubektomi
Metode kontrasepsi untuk perempuan yang tidak ingin
anak lagi (Affandi,2012; h.MK-89). Tubektomi adalah prosedur
bedah
sukarela
perempuan.Jadi
perempuan
untuk
menghentikan
Tubektomi
dengan
adalah
prosedur
fertilitas
metode
seorang
kontrasepsi
pembedahan
untuk
menghentikan fertilitas.
1) Keuntungan
Menurut
Affandi (2012;
h. MK-92)
keuntungan
tubektomi, yaitu:
(1) Sangat efektif
(2) Tidak mempengaruhi proses menyusui.
(3) Tidak bergantung pada faktor sanggrama.
(4) Pembedahan
sederhana,dapat
dilakukan
dengan
anastesi lokal.
2) Kekurangan
Menurut
Affandi
(2012;
h.
MK-44)
kekurangan
tubektomi, yaitu:
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
81
(1) Harus di pertimbangkan mengenai sifat permanennya.
(2) Klien dapat menyesal dikemudian hari
(3) Rasa sakit dalam jangka pendek setelah tindakan.
b) Vasektomi
Metode kontrasepsi untuk laki-laki yang tidak ingin anak lagi.
Metode ini membuat sperma tidak dapat mencapai vesikula
seminalis (Affandi,2012; h.MK-95).
(1) Keuntungan
Menurut
Affandi
(2012;
h.
MK-98)
keuntungan
vasektomi, yaitu:
(a) Sangat evektif.
(b) Tindakan bedah yang aman dan sederhana.
(c) Efektif setelah 20 kali ejakulasi atau 3 bulan
(2) Kekurangan
Menurut
Affandi
(2012;
h.
MK-96)
kekurangan
tubektomi, yaitu:
(a) Permanen
(b) Bila tidak siap ada penyesalan dikemudian hari
(c) Ada nyeri pascabedah.
(d) Perlu pengosongan depot sperma.
F.
Landasan Hukum Wewenang Bidan
Standar
profesi
bidan
diatur
dalam
KepMenKes
RI
nomor
369/MENKES/III/2007 yang berisi tentang stadar profesi ini terdiri dari
standar Kompetensi bidan di Indonesia, Standar pendidikan, Standar
pelayanan kebidanan dan kode etik profesi.Standar profesi ini wajib dipatuhi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
82
dan dilaksanakan oleh setiap bidan dalam mengamalkan amanat profesi
kebidanan.
1.
Kewenangan Bidan
Berdasarkan PemenKes RI nomor 146/MENKES/PER/XI/2010
tentang penyelenggaraan praktik bidan pada pasal 9 dijelaskan bahwa
bidan dalam menjalankan praktiknya, berwenang untuk memberikan
pelayanan
yang
meliputi
pelayanan
kesehatan
ibu,
pelayanan
kesehatan anak dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan
keluarga berencana. Sedangkan pasal 10 menjelaskan bahwa dalam
memberikan pelayanan kesehatan ibu meliputi konseling pada masa pra
kehamilan, kehamilan normal, Persalinan normal , LLibu nifas normal,
ibu menyusui dan konseling pada masa antara dua kehamilan. Dalam
pasal 11 dijelaskan bahwa dalam memberikan pelayanan kesehatan
anak, bidan berwenang untuk memberikan asuhan bayi baru lahir
normal, dan dalam memberikan penyuluhan dan koseling tentang
kesehatan reproduksi perempuan dan KB tercantum pada pasal 12.
2.
Wewenang
bidan
Berdasarkan
PemenKes
RI
nomor
146/MENKES/PER/XI/2010 tentang penyelenggaraan praktik bidan
menyebutkan bahwa dalam pasal 14 bidan yang menjalankan praktik di
daerah yang tidak memiliki dokter, dapat melakukan pelayanan
kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9.
(KepMenKes RI,2010;h.5-7)
3.
Kompetensi bidan
Peraturan Mentri Kesehatan Bidan tahun 2010
a.
Pasal 9
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
83
Bidan dalam menjalankan praktek, berwenang untuk memberikan
pelayanan yang meluputi :
1) Pelayanan kesehatan ibu
2) Pelayanan kesehatan anak, dan
3) Pelayanan kesehatan perempuan dan keluarga berencana.
b.
Pasal 10
1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana yang dimaksud dalam
pasal 9 huruf a diberikan pada masa prahamil, kehamilan, masa
persalinan, masa nifas, masa menyesui, dan masa antara dua
kehamilan.
2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi :
a) Pelayanan konseling pada masa prahamil,
b) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal;
c) Pelayanan persalinan normal
d) Pelayanan ibu nifas normal;
e) Pelayanan ibu menyususi; dan
f)
Pelayanan konseling pada masa dua kehamilan.
Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) berwenang untuk :
a) Episiotomi
b) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan tingkat II
c) Penanganan
kegawatdaruratan,
dilanjutkan
dengan
perujukan;
d) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil;
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
84
e) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;
f)
Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi ASI
ekslusif;
g) Pemberian uterutonika pada manajemen aktif kala tiga dan
pospartum;
h) Penyuluhan dan konseling;
i)
Bimbingan pada kelompok ibu hamil;
j)
Pemberian surat keterangan kematian; dan
k) Pemberian surat keterangan cuti bersalin.
c.
Pasal 11
1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana yang dimaksud dalam
pasal 9 huruf b diberikan pada bayi baru lahir, bayi, anak balita,
dan anak prasekolah.
2) Bidan
dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan
anak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk :
a) Melakukan asuhan pada bayi baru lahir normal termasuk
resusitasi, pencegahan hepotermi, inisiasi menyusui dini,
injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa
neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat.
b) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera
menrujuk;
c) Penanganan
kegawatdaruratan,
dilanjutkan
dengan
perujukan;
d)
Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah;
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
85
e)
Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak
prasekolah;
f) Pemberian konseling dan penyuluhan;
g) Pemberian surat keterangan kelahiran; dan
h) Pemberian surat keterangan kematian.
d.
Pasal 12
Bidan
dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan
reproduksi
perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam
pasal 9 huruf c, berweanang untuk :
1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencan;
2) Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.
e.
Pasal 13
1)
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10,
pasal 11, dan pasal 12, bidan yang menjalankan program
pemerintah
berwenang
melakukan
pelayanan
kesehatan
meliputi :
a) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam
rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah
kulit;
b) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus
penyakit kronis tertentu dilakukan dibawah supervisi dokter;
c) Penanganan bayi dan balita sakit sesuai pedoaman yang
ditetapkan;
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
86
d) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat dibidang
kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan
penyehatan lingkungan, pemantauan tumbuh kembang bayi,
anak balita,anak prasekolah dan anak sekolah;
e) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak
prasekolah, dan anak sekolah;
f) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas;
g) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan
penyuluhan
terhadap
infeksi
menular
seksual
(IMS)
termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya;
h) Pencegahan penyalah gunaan narkotika, psikotropika dan
zat adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi;
dan
i) Pelayanan
kesehatan
lain
yang
merupakan
program
pemerintah.
2)
Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal
terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit dan
pelaksanaan
deteksi
dini,
merujuk,
dan
memberikan
penyuluhan terhadap infeksi menular seksual (IMS) dan
penyakit lainnya, seta pencegahan penyalah gunaan narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) hanya dapat
dilakukan oleh bidan yang dilatih untuk itu.
f.
Pasal 20
1)
Dalam melakukan tugasnya bidan wajib melakukan pencatatan
dan pelaporan sesuai dengan pelayanan yang diberikan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
87
2)
Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan
kepuskesmas wilayah tempat praktik.
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
untuk bidan yang bekerja di fisilitas pelayanan kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,
kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1.
Kewenangan normal:
a. Pelayanan kesehatan ibu
b. Pelayanan kesehatan anak
c. Pelayanan
kesehatan
reproduksi
perempuan
dan
keluarga
berencana
2.
Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
3.
Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak
memiliki dokter
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh
bidan. Kewenangan ini meliputi:
1. Pelayanan kesehatan ibu
a. Ruang lingkup:
1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil
2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
3) Pelayanan persalinan normal
4) Pelayanan ibu nifas normal
5) Pelayanan ibu menyusui
6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
88
b. Kewenangan:
1) Episiotomi
2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
4) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air
susu ibu (ASI) eksklusif
7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum
8) Penyuluhan dan konseling
9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
10) Pemberian surat keterangan kematian
11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
2. Pelayanan kesehatan anak
f.
Ruang lingkup:
1) Pelayanan bayi baru lahir
2) Pelayanan bayi
3) Pelayanan anak balita
4) Pelayanan anak pra sekolah
g. Kewenangan:
1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin
K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari),
dan perawatan tali pusat
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
89
2) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
3) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
4) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra
sekolah
6) Pemberian konseling dan penyuluhan
7) Pemberian surat keterangan kelahiran
8) Pemberian surat keterangan kematian.
3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana,
dengan kewenangan:
1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana
2) Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom
3) Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus
bagi bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat
kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang
meliputi:
4) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim,
dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
5) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit
kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
6) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang
ditetapkan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
90
7) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan
lingkungan
8) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah
dan anak sekolah
9) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
10) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
kondom, dan penyakit lainnya
11) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
12) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
91
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Rosalia Novianti, Kebidanan DIII UMP, 2016
Download