hubungan dukungan suami dengan persiapan persalinan ibu hamil

advertisement
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN
KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONDOK PESANTREN
AL IMAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG
Anggun Mita Arismaya1), Ari Andayani2), Moneca Diah L3)
Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo
Email: UP2M@AKBIDNgudiWaluyo
ABSTRAK
Arismaya, Anggun Mita 0121516. 2015. Hubungan Perawatan Genetalia Dengan Kejadian
Keputihan Pada Santriwati Pondok Pesantren Al Iman Sumowono Kabupaten Semarang. Karya
Tulis Ilmiah. Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo Ungaran. Pembimbing I : Ari Andayani, S.SiT,
M.Kes. Pembimbing II : Moneca Diah L, S.ST
Perawatan genetalia dilakukan untuk menjaga alat kelamin agar terhindar dari infeksi. Salah
satu masalah yang timbul apabila perawatan genetalia tidak dilakukan dengan baik adalah
keputihan. Keputihan apabila tidak ditangani akan berakibat fatal, karena dapat menjalar ke organ
reproduksi lainnya. Untuk itu diperlukan perawatan genetalia yang baik untuk menghindari kejadian
keputihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perawatan genetalia dengan
kejadian keputihan pada santriwati Pondok Pesantren Al Iman Sumowono.
Desain penelitian yang digunakan adalah deskripsi korelasi dengan pendekatan Cross
Sectional, pengambilan data menggunakan data primer (kuesioner). Populasi dalam penelitian ini
adalah santriwati Pondok Pesantren Al Iman Sumowono, yang sudah mengalami menstruasi yaitu
67 santriwati. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu 67 responen.
Didapatkan hasil perawatan genetalia dalam kategori baik 38,8%, sedangkan dalam kategori
kurang baik 61,2%. Untuk kejadian keputihan dengan kategori fisiologi 19,4% dan 80,6% dalam
kategori patologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
perawatan genetalia dengan kejadian keputihan pada santriwati Pondok Pesantren Al Iman
Sumowono, dengan menggunakan uji statistik Chi Square dengan nilai p (0,012<0,05).
Bagi santriwati agar menjaga organ reproduksinya terutama daerah genetalia agar tetap
bersih dan kering untuk menghindari penyakit yang mungkin timbul akibat organ reproduksi yang
tidak terjaga kebersihannya terutama terhadap kejadian keputihan.
Kata kunci
1
: perawatan genetalia , kejadian keputihan, santriwati
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
ABSTRACT
Arismaya, Anggun Mita 2015. The Corelation between Genitalia Care with Leucorrchea Case at Al
Iman Islamic Boarding School Sumowono, Semarang Regency. Scientific Writing. Ngudi Waluyo
Midwifery Academy Ungaran.First Advisor : Ari Andayani, S.SiT,M.Kes. Second Advisor:
Moneca Diah L, S.ST
Genitalia care is done to keep the genital in order avoid infection. One of the problems that
arise if genetalia care is not performed is leucorrchea. If leucorrchea does not handle can be fatal,
because it can spread to other reproductive organs. Therefore it needs good genitalia treatment to
avoid leucorrchea case. The purpose of this study is to know the corelation between genitalia care
with leucorrchea Case at Al Iman Islamic Boarding School Sumowono, Semarang Regency.
The study design used descriptive correlative with Cross Sectional approach and data
collecting used primary data (questionaire). The population in this study were students at Al Iman
Islamic boarding school Sumowono who experience period namely 67 students in April 2015. The
sample in this study used total sampling technique as many as 67 respondents.
The results obtained genitalia care in good category 38,8%, while less category 61,2%. For
categories of leucorrchea case 19,4% in physiology category and 80,6% in the pathology category.
The result show that there is corelation between the genitalia care with leucorrchea case at Al Iman
islamic boarding school Sumowono, Semarang Regency by using Chi Square statistic test with p
value (0. 012<0.05).
For students of islamic boarding school is suggested to keep reproductive organ specially
genitalia always clean and dry to avoid disease that may arise as a result of the productive organs
which are not clean, specially case of leucorrchea.
Key words
: Genetalia care, case of leucorrchea, student of islamic boarding school.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah
kesehatan
reproduksi
menjadi perhatian bersama dan bukan hanya
individu
yang bersangkutan, karena
dampaknya luas menyangkut berbagai aspek
kehidupan
dan
menjadi
parameter
kemampuan
negara
dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan
terhadap masyarakat. Sebagai ketetapan
yang dimaksud dengan kesehatan reproduksi
adalah kemampuan seorang wanita untuk
memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur
kesuburannya (fertilitas) dapat menjalani
kehamilan dan persalinan secara aman
( Manuaba, 2009; h. 7 ).
Kesehatan
reproduksi
menjadi
bagian yang sangat penting untuk dijaga.
Banyak penyakit yang bisa timbul saat
perempuan
kurang
memperhatikan
kesehatan reproduksinya. Salah satu
2
masalah reproduksi yang sering dialami
yaitu keputihan. Keputihan adalah kondisi
vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir
menyerupai nanah. Keputihan dapat
diartikan sebagai semacam lendir yang
keluar terlalu banyak, warnanya putih
seperti susu kental dan agak kekuningkuningan, jika lendir ini tidak terlalu
banyak, tidak menjadi persoalan. Umumnya
perempuan yang menderita keputihan
mengeluarkan lendir tersebut terlalu banyak
dan menimbulkan bau yang tidak enak. Ini
disebabkan karena terjadinya peradangan
dan infeksi pada liang vagina ( Bahari,
2012; h. 9 ).
Keputihan adalah satu diantara tiga
masalah wanita yang semula dianggap
remeh dan lama kelamaan menjadi serius
bahkan menjadi parah. Setidaknya 75%
wanita
pernah
mengalami
masalah
keputihan, setidaknya sekali seumur hidup.
Penyebab keputihan adalah suatu kondisi
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
dimana cairan yang berlebihan keluar dari
vagina. Dalam istilah medisnya, keputihan
biasa disebut flour albus. Penyebabnya
jamur Candida Albicans (Shadine, 2012).
Menurut WHO (World Health
Organization) hampir seluruh wanita dan
remaja pernah mengalami keputihan, 60%
pada remaja dan 40% pada Wanita Usia
Subur
(WUS).
Sedangkan
menurut
penelitian di indonesia, wanita yang pernah
mengalami keputihan, sebanyak 75%
mengalami keputihan minimal 1 kali dalam
seumur hidupnya dengan 50% pada remaja
dan 25% pada WUS. Ini berbeda tajam
dengan negara lain kejadian keputihan
hanya 25% (Ratna, 2013).
Perawatan genetalia merupakan cara
menjaga kebersihan diri dan menjaga
kesehatan agar terhindar dari infeksi. Untuk
itu perlu dilakukan perawatan alat
reproduksi secara teratur seperti melakukan
pembersihan dengan air dan melakukan
cebok yang benar yaitu dari arah depan ke
belakang. Dalam perawatan genetalia
dianjurkan untuk membilas dan menggosok
bagian vagina dengan cermat, terutama
setelah buang air kecil. Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah tertinggalnya sisa air kemih
ataupun kotoran lainnya. Setelah itu
keringkan vagina dengan menggunakan tisu
ataupun handuk kecil (Pribakti, 2010; h. 10).
Cara merawat organ reproduksi diantaranya
adalah mencuci vagina setiap hari,
mengusahakan vagina selalu dalam keadaan
kering, menghindari celana dalam yang
ketat, menggunakan celana dalam dari
bahan katun dan menggunakan sabun
pembersih vagina dengan Ph 4-5. Apabila
organ reproduksi tidak dijaga dengan baik
akan menjadi lahan subur bagi kuman dan
bakteri. Kuman yang terdapat dalam vagina
menyebabkan berbagai keluhan, salah
satunya adalah keputihan (Pribakti, 2010 )
Keputihan bisa berakibat fatal
apabila tidak ditangani dengan baik.
Kemandulan
dan
kehamilan
diluar
kandungan
atau
kehamilan
ektopik
merupakan dua dari berbagai macam akibat
yang bisa disebabkan oleh masalah
keputihan. Gejala awal kanker rahim
biasanya juga diawali dengan adanya
masalah keputihan. Tidak diragukan lagi,
3
kanker leher rahim merupakan salah satu
jenis penyakit yang berbahaya dan jika tidak
ditangani dengan baik bisa berujung pada
kematian ( Hamid, 2010; h.21).
Berdasarkan data Dinkes tahun 2013
jumlah remaja putri di Kabupaten Semarang
yaitu 76.123 jiwa berusia 15-24 tahun.
Menurut Wiwit (2008) di salah satu SMAN
Kabupaten Semarang didapatkan dari 50
siswi yang diwawancarai terdapat 48 (96%)
siswi yang mengalami keputihan, sebanyak
23 (47,9%) siswi yang mengalami keputihan
karena ketidaktahuan tentang merawat organ
genetalia eksterna dan 25 (52,1%) siswi
karena ketidak seimbangan hormon.
Pondok
Pesantren
Al
Iman
merupakan Yayasan Pondok Pesantren yang
terdiri dari asrama putri dan asrama putra.
Dimana lokasi pondok tersebut jauh dari
perkotaan, pondok pesantren ini terletak
pada daerah yang dingin dan lembab,
lingkungan di dalam pondok kurang bersih
dan kurang terjaga, jadi apabila kesehatan
reproduksi tidak dijaga dengan baik
memungkinkan
mudahnya
perkembangbiakan bakteri dan jamur di
sekitar alat kelamin . Kehidupan di asrama
sangat beragam, kebersamaan dan rasa
kekeluargaan sangat kental, sehingga disana
terdapat kebiasaan saling bergantian handuk
maupun pakaian, mereka tidak menyadari
bahwa apabila handuk tersebut dipakai
untuk
mengeringkan
alat
kelamin
kemungkinan akan berakibat menyebarnya
bakteri dari satu orang ke orang lain. Hal ini
merupakan salah satu faktor risiko yang
menyebabkan terjadinya keputihan.
Berdasarkan hasil study pendahuluan
Bulan Oktober 2014, dari 10 santriwati
Pondok Pesantren Al Iman terdapat 8 (80%)
santriwati memiliki perawatan genetalia
yang kurang seperti tidak mencuci tangan
terlebih dahulu sebelum membersihkan
genetalia, tidak menggunakan sabun saat
membersihkan
genetalia,
tidak
mengeringkan genetalia setelah cebok,
sedangkan 2 (20%) diantaranya memiliki
perawatan genetalia yang baik seperti
mencuci tangan terlebih dahulu sebelum
membersihkan genetalia, menggunakan
sabun saat membersihkan genetalia dan
mengeringkan genetalia setelah cebok. Dari
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
10 santriwati tersebut 7 (70%) santriwati
mengalami keputihan abnormal seperti
gatal-gatal dan warna kekuningan dan 3
(30%) diantaranya mengalami keputihan
yang normal dengan ciri tidak gatal dan
tidak berbau.
Berdasarkan data diatas penulis
tertarik untuk meneliti tentang hubungan
perawatan genetalia dengan kejadian
keputihan di pondok pesantren Al Iman
Sumowono Kabupaten Semarang
Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara perawatan genetalia
dengan
kejadian
keputihan
pada
santriwati pondok pesantren Al Iman
Sumowono.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk
mengetahui
gambaran
perawatan genetalia pada santriwati
pondok
pesantren
Al
Iman
Sumowono.
b. Untuk
mengetahui
gambaran
kejadian keputihan pada santriwati
pondok
pesantren
Al
Iman
Sumowono.
c. Untuk mengetahui hubungan antara
perawatan genetalia dengan kejadian
keputihan pada santriwati pondok
pesantren Al Iman Sumowono.
Manfaat Penelitian
1. Bagi institusi pendidikan
Penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya pada kesehatan
reproduksi dan dapat digunakan sebagai
tambahan referensi untuk penelitian
selanjutnya.
2. Bagi petugas kesehatan
Dapat digunakan sebagai referensi
dalam tambahan pengetahuan dan
ketrampilan dalam memberikan informasi
tentang kesehatan reproduksi pada
remaja.
4
3. Bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan
pengalaman mahasiswa sebagai peneliti
tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan kesehatan reproduksi khususnya
dalam perawatan genetalia dan kejadian
keputihan, serta memberikan pengalaman
dalam melaksanakan penelitian sederhana
secara
ilmiah
dalam
rangka
mengembangkan diri.
4. Bagi santriwati Ponpes Al Iman
Dapat mengetahui cara perawatan
genetalia yang benar, sehingga santriwati
dapat menjaga kebersihan genetalia untuk
mencegah terjadinya keputihan.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan
adalah deskripsi korelasi dengan pendekatan
Cross
Sectional,
pengambilan
data
menggunakan data primer (kuesioner).
Populasi dalam penelitian ini adalah
santriwati Pondok Pesantren Al Iman
Sumowono
yang
sudah
mengalami
menstruasi yaitu 67 santriwati. Tekhnik
pengambilan sampel dalam penelitian ini
yaitu menggunakan Total Sampling, dimana
semua santriwati diambil sebagai responden.
Penelitian ini menggunakan analisis data
secara univariat yaitu untuk melihat distribusi
frekuensi dari masing- masing variabel
independen dan dependen, kemudian juga
dilakukan analisis bivariat untuk melihat
hubungan
kedua
variabel
dengan
menggunakan uji chi square.
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Analisis Univariat
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Perawatan Genetalia
Pada Santriwati Pondok Pesantren
Al Iman Sumowono
Perawatan
Frekuensi Presentase
Genetalia
Baik
26
38,8
Kurang Baik
41
61,2
Jumlah
67
100, 0
Tabel 1 menunjukkan bahwa di
Pondok Pesantren Al Iman Sumowono
perawatan genetalia pada santriwati yang
termasuk dalam kategori baik sebanyak 26
responden (38,8 %), yang termasuk kategori
kurang baik sebanyak 41 responden (61,2%).
No
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kejadian Keputihan
Pada Santriwati Pondok Pesantren
Al Iman Sumowono
Kejadian
Frekuensi Persentase
Keputihan
Fisiologi
13
19,4
Patologi
54
80,6
Jumlah
67
100,0
Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian
besar santriwati Pondok Pesantren Al Iman
mengalami keputihan patologi yaitu sebanyak
54 responden (80,6%), sedangkan santriwati
yang mengalami keputihan fisiologi sebanyak
13 responden (19,4%)
Tabel
3
menunjukkan
bahwa
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
kurang baik dan mengalami keputihan
patologi sebanyak 37 responden (90,2%),
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
baik dan mengalami keputihan patologi
sebanyak 17 responden (65,4%), sedangkan
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
kurang baik dan mengalami keputihan
fisiologi sebanyak 4 responden (9,8%), serta
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
baik dan mengalami keputihan fisiologi
sebanyak 9 orang (34,6%). Berdasarkan
prosentase, santriwati yang mengalami
keputihan fisiologi lebih banyak terjadi pada
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
baik dibandingkan dengan santriwati yang
memiliki perawatan genetalia kurang baik.
Hasil
uji
statistik
Chi-Square
menunjukkan bahwa nilai p= 0,012 (p<
0,05) sehingga Ho ditolak berarti terdapat
hubungan yang signifikan antara perawatan
genetalia dengan kejadian keputihan pada
santriwati Pondok Pesantren Al Iman
Sumowono.
Pembahasan
Analisis Univariat
1. Perawatan Genetalia
Hasil penelitian tentang perawatan
genetalia berdasarkan hasil analisa data
dari 17 pernyataan diketahui bahwa
sebagian besar santriwati di Pondok
Pesantren Al Iman Sumowono memiliki
perawatan genetalia yang kurang baik
sebanyak 61,2 %, sedangkan yang
memiliki perawatan genetalia baik
sebanyak 38,8 %. Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar santriwati Pondok
Pesantren Al Iman Sumowono belum
menyadari
pentingnya
menjaga
kebersihan alat kelamin/ genetalia.
Perawatan genetalia yang kurang baik
yang terjadi pada santriwati Pondok
Pesantren
Al
Iman
Sumowono
dikarenakan kurangnya pengetahuan yang
didapatkan oleh para santriwati dan sifat
malu dari santriwati jika ditanya tentang
kesehatan
reproduksi.
Menurut
pengamatan yang dilakukan di Pondok
Pesantren Al Iman Sumowono memang
Analisis Bivariat
Tabel 3 Tabel Silang antara Perawatan
Genetalia
dengan
Kejadian
Keputihan Pada Santriwati Pondok
Pesantren Al Iman Sumowono
Kejadian
Keputihan
Total
Perawatan
P
Genetalia Patologi fisiologi
Value
F % F % F %
Kurang
37 90,2 4 9,8 41 61,2 0,012
Baik
Baik
17 65,4 9 34,6 26 38,8
Jumlah
54 80,6 13 19,4 67 100,0
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
5
sebelumnya belum pernah ada penyuluhan
mengenai perawatan genetalia.
Dari
hasil
penelitian
yang
dilakukan di Pondok Pesantren Al Iman
Sumowono, sebagian besar santriwati
memiliki perawatan genetalia yang kurang
baik dilihat dari penilaian kuesioner dari
beberapa pernyataan yang dijawab jarang
bahkan tidak pernah. Perawatan genetalia
kurang baik yang terjadi pada santriwati
dikarenakan mereka tidak melakukan halhal yang mendasar untuk perawatan
genetalia. Dilihat dari pernyataan tentang
cara perawatan genetalia, santriwati masih
banyak yang menjawab jarang mencuci
tangan
sebelum
dan
sesudah
membersihkan alat kelamin, yaitu sebesar
62,7% dan 53,7%. Mencuci tangan
sebelum dan sesudah membersihkan alat
kelamin merupakan hal yang penting,
karena apabila saat membersihkan alat
kelamin tidak mencuci tangan terlebih
dahulu dikhawatirkan bakteri yang
terdapat dalam tangan akan menempel di
alat kelamin sehingga bakteri tersebut
dapat menyebar dan menyebabkan infeksi
pada alat kelamin sehingga dapat
menimbulkan keputihan patologi.
Dari hasil penelitian sebagian
besar santriwati menjawab tidak pernah
mencukur rambut genetalianya secara
teratur yaitu sebanyak 85,1 %, padahal
mencukur rambut genetalia merupakan
hal yang penting dalam perawatan
genetalia. Mencukur sebagian rambut
genetalia sebaiknya dilakukan secara
teratur yaitu setiap 7 hari sekali dan
maksimal 40 hari sekali. Hal ini sesuai
dengan pernyataan
Manan (2011)
mencukur sebagian rambut kemaluan
secara
teratur
dapat
menghindari
kelembaban yang berlebihan di daerah
vagina,
yang
bisa
menyebabkan
tumbuhnya sejenis jamur atau kutu,
sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman
dan rasa gatal.
Penggunaan cairan pembersih
vagina
biasanya
dilakukan
untuk
mengatasi keputihan atau menjaga daerah
alat kelamin agar tetap bersih dan wangi,
tetapi penggunaan cairan pembersih
vagina harus dilakukan dengan sangat
6
hati-hati dan memperhatikan kandungan
pH didalamnya. Sebenarnya penggunaan
cairan pembersih vagina tidak dianjurkan
dalam perawatan genetalia, karena dapat
mengganggu flora normal dan tingkat
keasaman daerah kewanitaan itu sendiri.
Menurut dr. Pribakti (2014) dalam
artikelnya
tentang
lifestyle
mengungkapkan
bahwa
penggunaan
pembersih vagina tidak boleh dilakukan
setiap hari karena dapat merusak pH
vagina, penggunaan pembersih vagina
seharusnya dilakukan setelah menstruasi
dan dilakukan kurang lebih 4 hari.
Menurut Dr. M. Rezha Faisal,
SpOG jika pH disekitar daerah
kewanitaan kurang dari 3,8 biasanya
jamur akan tumbuh, apabila pH lebih dari
4,2 maka akan tumbuh bakteri dan kuman
penyebab infeksi. Pada vagina terdapat
bakteri alami bernama lactobacillus yang
tinggal
di
dalamnya.
Dengan
menggunakan
cairan
pembersih
kewanitaan , hal ini justru akan
mengganggu tingkat keasaman di dalam
vagina dan berpotensi untuk membunuh
bakteri lactobacillus. Apabila bakteri ini
mati, tidak ada yang menjaga daerah
kewanitaan dari bakteri lain yang
mengganggu sehingga sangat berpotensi
untuk menimbulkan infeksi karena
tumbuhnya kuman yang lebih berbahaya.
Pada hasil penelitian ini sebagian
santriwati masih sering menggunakan
pembersih vagina yaitu sebesar 59,7%.
Dilihat dari kuesioner tentang
pemakaian celana dalam sebagian
santriwati menjawab menggunakan celana
dalam yang ketat yaitu sebesar 73,1%, hal
itu dikarenakan mereka merasa nyaman
apabila menggunakan celana dalam yang
ketat. Penggunaan celana dalam yang
ketat dapat memicu terjadinya iritasi, hal
ini sesuai dengan Bahari (2012) yaitu
penggunaan pakaian berbahan sintesis
yang
ketat
akan
menimbulkan
kelembaban pada daerah kewanitaan
sehingga ruang yang ada tidak memadai,
akibatnya timbul iritasi pada organ
kewanitaan.
Perawatan genetalia juga sangat
penting dilakukan saat sedang menstruasi
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
hal ini sesuai dengan Manan (2011)
Melakukan perawatan ekstra selama haid
merupakan hal yang penting, karena pada
saat haid, pembuluh darah dalam rahim
sangat mudah terkena infeksi, kuman
mudah sekali masuk dan dapat
menimbulkan penyakit pada saluran
reproduksi. Oleh karena itu, sebaiknya
mengganti pembalut secara teratur 2-3
kali sehari atau setelah mandi dan buang
air kecil.
Perawatan
genetalia
juga
dipengaruhi oleh pengetahuan tentang
perawatan genetalia itu sendiri. Hal ini
sesuai dengan Jurnal Kesehatan Donatalia
(2011) yang menyebutkan bahwa perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih baik daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. Hal ini terbukti
dengan nilai
p= 0,027 berarti Ho
ditolak. Perawatan genetalia yang baik
menurut dr Dito (2011) diantaranya
adalah mencuci tangan sebelum dan
sesudah membersihkan alat kelamin,
membersihkan genetalia dari arah depan
ke belakang, mengeringkan genetalia
menggunakan handuk yang lembut atau
tissu tanpa parfum, rutin mengganti celana
dalam, menggunakan celana dalam dari
bahan katun yang menyerap keringat,
mencukur rambut genetalia secara rutin,
tidak menggunakan pembersih kimia
untuk membersihkan alat kelamin, saat
menstruasi menggunakan pembalut yang
nyaman dan tidak menimbulkan iritasi.
Sebagian besar santriwati tidak
mengetahui bagaimana cara perawatan
genetalia yang baik dan benar, mereka
belum
memahami
bahaya
dari
penggunaan
antiseptik/
pembersih
kimiawai,
sehingga
kebanyakan
menganggap membersihkan genetalia
yang benar menggunakan antiseptik tanpa
memperhatikan
kandungan
pH
didalamnya. Penggunaan antiseptik dapat
mempengaruhi keseimbangan pH vagina
yang akan menyebabkan flora normal
terganggu dan merupakan tempat
berkembang biak yang kondusif bagi
pertumbuhan jamur.
7
2. Kejadian Keputihan
Hasil penelitian menunjukkan
santriwati yang mengalami keputihan
patologi sebanyak 80,6%, sedangkan
santriwati yang mengalami keputihan
fisiologi sebanyak 19,4%. Dari hasil
penelitian diatas menunjukkan bahwa
sebagian besar santriwati mengalami
keputihan patologi. Keputihan patologi ini
disebabkan karena adanya infeksi pada
sekitar alat kelamin sehingga keputihan
yang muncul berupa cairan kental,
berwarna kuning kehijauan, seperti
gumpalan susu, dan menyebabkan rasa
gatal pada sekitar alat kelamin.
Menurut Bahari (2012) ciri-ciri
keputihan fisiologis yaitu cairan yang
keluar berwarna jernih atau kekuningan
dan tidak berbau. Selain itu, keputihan
fisiologis juga tidak disertai rasa gatal dan
perubahan warna. Sedangkan keputihan
patologis ditandai dengan keluarnya lendir
dalam jumlah banyak, lendir tersebut
berwarna putih atau kekuningan dan
memiliki bau yang sangat menyengat.
Wanita yang mengalami keputihan
patologis juga merasakan gatal dan
terkadang terasa nyeri pada sekitar alat
kelamin.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa
Sumowono yang memiliki udara dingin
dan lembab, lingkungan di dalam Pondok
kurang bersih dan kurang terjaga, jadi
apabila kesehatan reproduksi tidak dijaga
dengan baik memungkinkan mudahnya
perkembangbiakan bakteri dan jamur di
sekitar alat kelamin. Hal ini sesuai dengan
Bahari (2012) bahwa salah satu faktor
yang dapat menyebabkan keputihan
adalah kondisi cuaca, khususnya cuaca
lembab di daerah tropis.
Keputihan yang disebabkan karena
adanya infeksi dapat muncul dengan
cairan yang keluar berbentuk kental, encer
dan berbuih. Dilihat dari hasil kuesioner
sebanyak 47,8% santriwati menjawab
mengalami keputihan dengan cairan yang
keluar berbentuk kental, hal ini berarti
santriwati mengalami infeksi pada sekitar
alat kelamin. Menurut Bahari (2012)
Keputihan dengan cairan berwarna putih
kekuningan dan sedikit kental menyerupai
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
susu, jika disertai dengan bengkak dan
nyeri pada bibir vagina, rasa gatal,
keputihan dengan cairan seperti susu
tersebut bisa jadi disebabkan oleh adanya
infeksi jamur pada organ kewanitaan.
Keputihan yang muncul juga bisa
menimbulkan bau yang sangat menyengat.
Dalam penelitian ini santriwati yang
mengalami keputihan dengan bau yang
sangat menyengat sebanyak 28,4%.
Dilihat dari hasil kuesioner,
santriwati yang mengalami keputihan
patologi merasakan gatal pada sekitar alat
kelamin yaitu sebanyak 52,2% responden.
Lingkungan Pondok Pesantren yang
mempunyai kondisi cuaca lembab akan
meningkatkan kejadian keputihan apabila
organ reproduksi tidak dijaga dengan
baik. Cairan keputihan yang keluar pada
alat kelamin akan menimbulkan suasana
yang lembab pada sekitar alat kelamin,
akibatnya bakteri dan jamur akan mudah
berkembang. Bakteri dan jamur tersebut
akan menyebabkan rasa gatal pada sekitar
alat kelamin. Hal ini sesuai dengan Bahari
(2012)
bahwa
sebagian
penderita
keputihan mengeluhkan rasa gatal pada
kemaluan dan lipatan di sekitar paha, rasa
panas di bibir vagina, serta rasa nyeri
ketika buang air kecil. Rasa gatal tersebut
bisa jadi terus menerus atau hanya
sesekali, misalnya pada malam hari. Hal
ini diperparah oleh kondisi lembab,
karena banyaknya cairan yang keluar di
sekitar paha, sehingga kulit di sekitar
vagina mudah mengalami lecet. Lecetlecet tersebut semakin banyak karena
garukan yang dilakukan ketika merasakan
gatal.
Dari hasil penelitian, keputihan
patologis yang dialami oleh santriwati
disebabkan oleh adanya infeksi pada alat
kelamin, dari beberapa santriwati yang
mengalami keputihan patologis, 7,5%
diantaranya mengalami rasa nyeri pada
saat BAK. Hal ini sesuai dengan Shadine
(2012) bahwa keputihan dapat disebabkan
oleh berbagai hal, seperti infeksi
mikroorganisme yaitu bakteri, jamur,
virus atau parasit. Infeksi ini dapat
menjalar dan menimbulkan peradangan ke
8
saluran kencing, sehingga menimbulkan
rasa pedih saat penderita buang air kecil.
Keputihan patologi apabila tidak
segera ditangani akan berakibat fatal, hal
ini sesuai dengan Jurnal Kesehatan
Unimus yang menyebutkan bahwa
keputihan merupakan salah satu tanda
atau gejala adanya kelainan pada organ
reproduksi, kelainan tersebut dapat berupa
infeksi, polip leher rahim, keganasan
(tumor dan kanker), serta adanya benda
asing. Bila keputihan ini tidak diobati
secara tuntas maka infeksi dapat menjalar
ke rongga rahim kemudian ke saluran
telur dan sampai ke indung telur dan
akhirnya kedalam rongga panggul, tidak
jarang wanita menjadi mandul.
Analisis Bivariat
Hubungan
Perawatan
Genetalia
Dengan Kejadian Keputihan Pada Santriwati
Pondok Pesantren Al Iman Sumowono
Diketahui bahwa hasil analisis bivariat
dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
santriwati yang memiliki perawatan genetalia
kurang baik dan mengalami keputihan
patologi sebanyak 37 responden (90,2%),
sedangkan
santriwati
yang
memiliki
perawatan genetalia baik dan mengalami
keputihan patologi sebanyak 17 responden
(65,4%). Hasil uji statistik Chi-Square
menunjukkan bahwa nilai p= 0,012 (p< 0,05)
sehingga Ho ditolak berarti terdapat hubungan
yang signifikan antara perawatan genetalia
dengan kejadian keputihan pada santriwati
Pondok Pesantren Al Iman Sumowono.
Banyak masalah yang timbul apabila
perawatan genetalia tidak dilakukan dengan
baik, salah satu masalah yang muncul apabila
perawatan genetalia tidak dilakukan dengan
baik adalah terjadinya keputihan patologis,
hal ini sesuai dengan Hamid Bahari (2012)
bahwa faktor penyebab keputihan adalah
kesalahan dalam melakukan perawatan
genetalia seperti tidak mencuci tangan
terlebih daluhu sebelum membersihkan alat
kelamin, membersihkan alat kelamin dari arah
yang salah (dari depan ke belakang),
penggunaan
celana dalam yang ketat,
penggunaan celana dalam yang tidak
menyerap keringat, sering kali bertukar celana
dalam dan handuk dengan orang lain.
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
Hasil penelitian ini juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ayuningtyas
(2011)
yang
berjudul
“Hubungan Antara Pengetahuan Dan Perilaku
Menjaga Kebersihan Genetalia Eksterna
Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi SMA
Negeri 4 Semarang”. Hasil dari penelitian
tersebut adalah terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan dan perilaku
menjaga kebersihan genetalia eksterna dengan
kejadian keputihan. Hal ini terlihat dari nilai
p= 0.027 (p < 0.05) yang berarti Ho ditolak.
Perawatan
genetalia
memang
seharusnya dilakukan dengan baik untuk
menjaga organ kewanitaan tetap kering dan
bersih. Apabila perawatan genetalia tidak
dilakukan dengan baik, kebersihan dan
kelembaban daerah sekitar alat kelamin tidak
dijaga, akan memungkinkan berkembangnya
bakteri dan jamur yang merugikan, bakteri
dan jamur tersebut akan menyebabkan infeksi
pada sekitar alat kelamin. Infeksi yang terjadi
pada sekitar alat kelamin akan menyebabkan
terjadinya keputihan patologi.
Keputihan sebaiknya diobati sejak
dini, begitu timbul gejala. Karena keputihan
yang sudah kronis dan berlangsung lama akan
lebih susah diobati. Keputihan apabila
dibiarkan akan menjalar ke rongga rahim
kemudian ke saluran indung telur dan sampai
ke rongga panggul. Keputihan patologi
tersebut apabila tidak segera ditangani akan
berdampak negatif. Menurut Hamid (2010)
dampak yang dapat terjadi akibat keputihan
adalah kemandulan dan kehamilan diluar
kandungan atau kehamilan ektopik dan dapat
menyebabkan kematian. Kematian tersebut
disebabkan karena adanya perdarahan yang
disebabkan oleh kehamilan ektopik. Gejala
awal kanker rahim biasanya juga diawali
dengan adanya masalah keputihan. Tidak
diragukan lagi, kanker leher rahim merupakan
salah satu jenis penyakit yang berbahaya dan
jika tidak ditangani dengan baik bisa berujung
pada kematian.
Keputihan patologi dapat disebabkan
oleh adanya bakteri, perubahan hormon,
penggunaan AKDR dan cara perawatan
genetalia yang kurang baik. Hal ini sesuai
dengan Shadine (2012) bahwa keputihan
patologi disebabkan karena adanya masalah
jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri tersebut
9
dapat muncul karena kebersihan organ
genetalia yang kurang terjaga. Apabila
kondisi organ genetalia dalam keadaan yang
kotor akan memungkinkan berkembangnya
bakteri dan jamur yang dapat menyebabkan
keputihan patologi.
Penelitian
sejenis
yang
dapat
mendukung penelitian ini adalah penelitian
yang dilakukan oleh Dhuangga (2014)
mengenai “Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan keputihan”. Faktor yang dapat
menyebabkan keputihan diantaranya yaitu
jamur Kandidiadis vagina dan perawatan
organ reproduksi.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Perawatan Genetalia pada santriwati
Pondok Pesantren Al Iman Sumowono,
Kabupaten Semarang tahun 2015
sebagian besar dalam kategori kurang
baik yaitu sebanyak 61,2%, sedangkan
yang termasuk kategori baik sebanyak
38,8%.
2. Kejadian keputihan pada santriwati
Pondok Pesantren Al Iman Sumowono,
Kabupaten Semarang tahun 2015
sebagian besar responden mengalami
keputihan patologi yaitu sebesar 80,6%,
sedangkan yang mengalami keputihan
fisiologi sebanyak 19,4%.
3. Hasil analisis chi-square menunjukkan
bahwa
terdapat
hubungan
antara
perawatan genetalia dengan kejadian
keputihan pada santriwati Pondok
Pesantren
Al
Iman
Sumowono,
Kabupaten Semarang tahun 2015 dengan
nilai p= 0.012 (p<0,05).
Saran
1. Bagi Pondok Pesantren Al Iman
Sumowono
Pondok Pesantren agar lebih
memperhatikan santriwatinya untuk
menjaga lingkungan sekitar agar tetap
bersih, lebih aktif meminta tenaga
kesehatan untuk memberikan penyuluhan
kepada santriwati mengenai kesehatan
organ reproduksi.
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
2. Bagi Petugas Kesehatan
Petugas kesehatan agar dapat
memberikan
penyuluhan
tentang
perawatan
genetalia
secara
rutin
khususnya pada sekolah-sekolah, pondok
pesantren
dan
remaja
untuk
meningkatkan
pengetahuan
tentang
perawatan genetalia sehingga dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
untuk mengurangi angka kejadian
keputihan.
3. Bagi Peneliti
Peneliti
lain
diharapkan
meneliti variabel lain yang dapat
mempengaruhi Keadian keputihan.
4. Bagi Santriwati Pondok Pesantren Al
Iman Sumowono
Santriwati
agar
lebih
memperhatikan organ reproduksinya dan
melakukan perawatan genetalia dengan
cara menjaga alat kelamin tetap bersih
dan kering, mencuci tangan sebelum dan
sesudah membersihkan alat kelamin,
tidak menggunakan celana dalam yang
ketat, rutin memotong sebagian rambut
genetalianya, menggunakan pembersih
kimiawi yang mempunyai kandungan pH
3,5-4,5, tidak menggunakan bedak pada
alat kelamin, rutin mengganti pembalut
saat
sedang
menstruasi,
segera
memeriksakan dirinya ke dokter apabila
mengalami keputihan yang menyebabkan
rasa nyeri pada saat BAK dan mengalami
keputihan dalam waktu yang lama.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Gusti. (2013). Pengetahuan Dan
Sikap Remaja Putri Tentang Cara
Mencegah
Dan
Mengatasi
Keputihan Di Klinik Remaja
Kiswara PKBI Bali. Jurnal dunia
kesehatan volume 2
Bahari, Hamid. (2010). Cara Mudah Atasi
Keputihan. Jogjakarta: Buku Biru.
Dinkes Kab Semarang. Profil Dinas
Kesehatan Kabupaten Semarang.
2013.
Eliya R, Dwi N, Irna H. (2013). Perilaku
Remaja Putri Dalam Merawat
10
Organ Genetalia Eksterna Selama
Menstruasi Pada Siswi Kelas XI
Di MAN Dolopo Kabupaten
Madiun.
Madiun.
Jurnal
Kesehatan Akbid Harapan Mulya.
Faisal, Rezha. (2014). Bahaya Penggunaan
cairan Pembersih Kewanitaan
Secara
Berlebihan.
http://www.wolipop.com. Diakses
tanggal 18 Mei 2015.
Manan, E. (2011). Miss V. Jogjakarta: Buku
Biru.
Manuaba. (2009) . Memahami Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jakarta. Buku
Kedokteran EGC.
Mirza.
(2008).
Hubungan
Antara
Pengetahuan Tentang Keputihan
Dengan Penanganan Keputihan
Pada Siswi Pondok Pesantren
Darul Hasanah Kalikondang
Demak. Karya Tulis Ilmiah:
Universitas
Muhammadiyah
Semarang.
Novrinta, Donatalia. (2011). Hubungan
Antara
Pengetahuan
Dan
Perilaku Menjaga Kebersihan
Genetalia
Eksterna
Dengan
Kejadian Keputihan Pada Siswi
SMA Negeri 4 Semarang. Karya
Tulis Ilmiah: Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
Pribakti. (2010). Tips dan Trik Merawat
Organ Intim. Jakarta : Sagung
Seto.
Putri, Wiwit. (2008). Hubungan Antara
Tingkat
Pengetahuan
Dan
Perilaku
Merawat
Organ
Genetalia
Eksterna
Wanita
Dengan
Keputihan.
Jurnal
Kesehatan
Sari Ratna, Amalia Amirul. (2013). Efektifitas
Policresulen Vaginal Suppositoria
Terhadap Keputihan Pada Wanita
Usia Subur Di Desa Latukan RT
3/
RW
1
Kecamatan
Karanggeneng Lamongan. Jurnal
Kesehatan.
Shadine, Mahannad. (2012). Penyakit Wanita.
Yogyakarta: Citra Pustaka.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif, R & D.
Bandung : Alfabeta.
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA
SANTRIWATI PONDOK PESANTREN AL IMAN SUMOWONO
KABUPATEN SEMARANG
ARTIKEL
Oleh
ANGGUN MITA ARISMAYA
NIM. 0121516
AKADEMI KEBIDANAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2015
11
HUBUNGAN PERAWATAN GENETALIA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SANTRIWATI PONPES AL IMAN SUMOWONO
Download