UNAIR Sambut 468 Calon Penerima Bidikmisi Jalur

advertisement
Indonesia
Transisi
Penyakit
Memasuki
Masa
Epidemiologi
UNAIR NEWS – Dalam konteks kesehatan, saat ini Indonesia
memasuki transisi epidemiologi. Transisi tersebut diakibatkan
peningkatan jumlah kasus penyakit tidak menular yang melebihi
angka jumlah penyakit menular.
Salah satu penyakit tidak menular yang berpotensi menjadi
penyebab penyakit-penyakit lainnya adalah tekanan darah tinggi
atau hipertensi. Sedangkan, penyakit-penyakit lainnya yang
juga disebabkan oleh hipertensi adalah jantung, stroke, gagal
ginjal, hingga demensia.
Hal itulah yang dijelaskan oleh M. Atoillah Isfandiari, dr.,
M.Kes, pengajar pada Departemen Epidemiologi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Saat ini, penyakit jantung yang disebabkan karena tekanan
darah tinggi, menduduki peringkat kedua sebagai penyakit yang
paling banyak menyerang masyarakat di Indonesia.
“Penyakit jantung merupakan penyakit yang tertinggi di
Indonesia. Bisa dikatakan silent killer. Berdasarkan sejumlah
penelitian, dari seluruh kematian yang disebabkan oleh
penyakit tidak menular, 17 persen berasal dari stroke, dan 10
persen dari jantung. Dua-duanya disebabkan tekanan darah
tinggi,” ujar Atoillah.
Banyak faktor yang menyebabkan naiknya tekanan darah. Salah
satunya adalah pola hidup masyarakat.
“Dulu karena kita negara agraris, masyarakat lebih mengonsumsi
sayur dan buah. Sekarang, menuju masyarakat industrialis, kita
terlalu banyak mengonsumsi protein dan lemak, termasuk garam.
Kita termasuk negara yang memiliki banyak budaya yang banyak
memiliki kekhasan kuliner. Beberapa kuliner kita yang
mengandung garam yang tinggi menjadi pemicu terhadap tekanan
darah tinggi,” ujarnya.
Selain gaya hidup, stres juga menjadi pemicu naiknya tekanan
darah. Stres bisa muncul karena tuntutan ekonomi maupun
pekerjaan.
“Kita semua memiliki banyak faktor risiko. Pola hidup yang
stres, pola tidur yang tidak teratur karena tuntutan pekerjaan
yang tinggi. Itu juga memicu hipertensi,” tambahnya.
Mengutip pesan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Atoillah
mengimbau agar masyarakat mengurangi konsumsi garam. Sebab,
konsumsi garam berlebih juga memicu munculnya penyakit.
“WHO menganjurkan kurangi konsumsi garam. Tingginya tingkat
konsumsi garam bisa membebani kerja ginjal, menyebabkan volume
darah lebih banyak, dan tekanan darah tinggi,” ungkapnya.
Sekretaris Pusat Layanan Kesehatan UNAIR itu lantas berpesan
agar masyarakat secara rutin melakukan pemeriksaan darah.
“Dengan pengecekan kesehatan rutin, kita mendeteksi secara
dini potensi penyakit-penyakit dalam tubuh sehingga kita bisa
mencegahnya,” tambahnya. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S
Peringati Hari Hipertensi
Sedunia dengan Pemeriksaan
Gratis
UNAIR
NEWS
–Fakultas
Kesehatan
Masyarakat
Universitas
Airlangga menyelenggarakan pemeriksaan tekanan darah secara
gratis, Rabu (17/5). Pemeriksaan ini sejalan dengan peringatan
Hari Hipertensi Sedunia yang jatuh pada hari ini.
Acara pemeriksaan tekanan darah dilakukan oleh tim Puskesmas
Kalijudan dan Puskesmas Kenjeran, Kota Surabaya. Tak kurang
dari 120 dosen, karyawan, maupun mahasiswa yang melakukan
pemeriksaan tekanan darah yang berlangsung di Aula Sabdoadi
FKM UNAIR.
Wakil Dekan III FKM UNAIR Ira Nurmala, Ph.D., mengatakan,
pemeriksaan tekanan darah ini merupakan tindak lanjut surat
dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Pemerintah
Kota Surabaya.
“Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi
badan, lingkar perut, tensi darah, gula darah, dan kolesterol.
Tempatnya di depan pojok laktasi, sekaligus memperkenalkan
bahwa kita memiliki pojok laktasi,” ujar Ira.
Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes pengajar pada Departemen
Epidemiologi FKM mengatakan, pemeriksaan kesehatan ini sejalan
dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang saat ini memasuki
masa transisi epidemiologi.
Angka penyakit menular yang tinggi digantikan oleh banyaknya
jumlah penyakit tidak menular. Salah satu penyebabnya adalah
hipertensi.
Melalui pemeriksaan ini Atoillah berharap, masyarakat dapat
mengikuti paradigma sehat, bukan paradigma sakit. Dengan
melakukan pengecekan kesehatan secara rutin, potensi penyakit
akan dapat diketahui.
Selain itu, pemeriksaan ini juga meminimalisir paradigma lama
yang ada di masyarakat.
“Dengan mendekatkan upaya pencegahan ke kesehatan ke kampus,
semakin meminimalisir paradigma lama bahwa orang takut berobat
karena takut ketahuan punya penyakit. Itu salah satu masalah
di masa lalu yang menyebabkan kenapa banyak penyakit yang
ternyata datang dalam kondisi yang sudah terlambat,” ujar
Atoillah. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S
UNAIR
Sambut
468
Penerima
Bidikmisi
SNMPTN
Calon
Jalur
UNAIR NEWS –Direktorat Kemahasiswaan beserta Organisasi
Bidikmisi Universitas Airlangga memberikan sambutan sekaligus
pengarahan kepada calon mahasiswa baru (camaba) penerima
beasiswa Bidikmisi jalur seleksi nasional masuk perguruan
tinggi negeri.
Penyambutan tersebut bakal dibagi menjadi dua hari. Hari
pertama (17/5), sebanyak 239 camaba bidikmisi mengikuti
penyambutan dan pengarahan tersebut di Aula Garuda Mukti
Kampus C UNAIR.
Dalam acara tersebut, penerima Bidikmisi UNAIR diberikan
arahan mengenai mekanisme pelaksanaan program bidikmisi mulai
awal kuliah hingga lulus. Selain itu, panitia juga mengundang
salah satu alumni Bidikmisi untuk memberikan motivasi dan
pengalaman selama kuliah.
Direktur Kemahasiswaan Dr. M. Hadi Shubhan mengatakan bahwa
kesempatan menjadi mahasiswa bidikmisi UNAIR merupakan
anugerah yang luar biasa.
Selanjutnya, Hadi juga menegaskan bahwa camaba untuk
senantiasa bersyukur, pasalnya tidak semua lulusan SMA
sederajat memiliki kesempatan yang sama untuk studi di kampus
terbaik di Indonesia seperti UNAIR.
“Wujudkan syukur dengan berbagai hal. Tidak sekedar ucapan.
Dengan lulus tepat waktu. Serius dalam berlajar dan berterima
kasih pada negara kita,” tegasnya.
Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih mengatakan, camaba
penerima Bidikmisi merupakan orang-orang pilihan. Nasih juga
tidak mengingkari bahwa dirinya saat kuliah juga memiliki
kondisi yang sama seperti para calon penerima Bidikmisi.
“Andaikan pada tahun 1980-an waktu saya kuliah ada Bidikmisi,
maka saya mungkin juga seperti kalian saat ini,” tandas Nasih
disambut tepuk tangan para hadirin.
Rektor UNAIR ke-13 tersebut juga menyatakan ilmu pengetahuan
dapat dijadikan bekal untuk mengubah nasib. Bagi Nasih,
pendidikan merupakan investasi kehidupan akhirat.
“Ilmu pengetahuan dan keimanan kita yang mangangkat derajat
kita di dunia dan akhirat,” tandas Nasih.
Setelah mendapatkan pengarahan dari Direktorat Kemahasiswaan,
camaba penerima Bidikmisi UNAIR diantar menuju Aula Student
Centre Kampus C untuk mengikuti proses verifikasi sebagai
penentu kelayakan untuk diterima sebagai penerima bidikmisi.
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S
Tiga Tahun Berlalu, Australia
Indonesia
Center
Bakal
Perpanjang Kerjasama
UNAIR NEWS – Australia Indonesia Center (AIC) kembali
bertandang ke Universitas Airlangga. Kunjungannya kali ini
memiliki beberapa tujuan. Selain mengenalkan direktur AIC yang
baru, AIC dan UNAIR juga membahas mengenai perkembangan hasil
kegiatan riset dan kerja sama yang sudah dijalin selama ini.
Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Publikasi Prof. Mochammad
Amin Alamsjah, Ph.D., mengapresiasi kerja sama antara UNAIR
dan AIC yang sudah berjalan hampir empat tahun ini. Selain
itu, Amin juga mengatakan bahwa riset yang sudah dijalankan
bersama bisa tetap memegang teguh prinsip yang telah
disepakati dan dapat dikembangkan lebih baik ke depannya.
“Kampus kami memang memiliki keunggulan di bidang kesehatan,
fasilitas kami lengkap menunjang hal tersebut. Jadi, saya
harap kerja sama ini bisa terus menghasilkan riset yang lebih
baik,” jelasnya.
Menanggapi pernyataan Amin, Direktur baru AIC Dr. Eugene
Sebastian mengatakan bahwa AIC adalah platform untuk
menghadapi tantangan dan permasalahan besar yang ada di
Indoensia dan Australia. Eugene juga memberikan paparan
informasi yang menggembirakan. Pasalnya, kerja sama fase
pertama yang akan selesai tahun depan, bakal diperpanjang
untuk fase kedua.
“Pemerintah kami terus berkomitmen untuk pendanaan selama
empat tahun ke depan. Jadi ditahap kedua nanti, kami harap
bisa memberi banyak kesempatan untuk membawa fokus kerjasama
ini dari berbagai masalah khusus yang berbeda,” jelas Eugene.
Selanjutnya, Eugene juga melaporkan bahwa implementasi kerja
sama pada fase pertama menunjukkan perkembangan yang positif.
Disebutkan pada fase pertama, kerja sama telah berhasil
mengembangkan sekitar 250 penelitian, 50 persen dari Australia
dan 50 persen dari Indonesia.
“Penelitian itu telah dikembangkan di lima hal seperti
infrastruktur, kesehatan, makanan, energi dan air bersih,”
jelasnya.
Menambahkan pernyataan Eugene, Direktur AIC untuk Indonesia
Kevin Evans mengatakan bahwa kerja sama yang dilakukan dengan
UNAIR lebih fokus pada permasalahan kesehatan. Pasalnya,
selain UNAIR unggul dalam bidang kesehatan, riset dan
pengabdian masyarakat yang dilakukan sivitas akademika UNAIR
juga fokus pada permasalahan kesehatan.
“Kalau dengan UNAIR kami lebih fokus kerja sama ke sektor
kesehatan antara kedua negara. Misal kesehatan anak kecil dan
menyangkut pemberian air susu ibu, serta kematian bayi dan ibu
melahirkan,” jelasnya.
Kevin juga menegaskan
bisa menjadi salah
bersama. Selain itu,
bekal untuk memcahkan
bahwa permasalahan yang ada di Indonesia
satu hal yang bisa dipecahkan secara
permasalahan yang terjadi juga menjadi
permasalahan yang terjadi di Australia.
“Karena di Australia juga ada beberapa wilayah yang mengalami
masalah sama dengan di Indonesia. Jadi, teman-teman di
Airlangga yang menyelesaikan masalah ini dan ide-ide yang
diterapkan di sini bisa kami praktikan di sana juga,”
pungkasnya.
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S
Calon Mahasiswa UNAIR Diimbau
Teliti dalam Membawa Berkas
Pendaftaran
UNAIR NEWS – Ratusan calon mahasiswa baru (camaba) melakukan
pendaftaran ulang setelah dinyatakan diterima melalui Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sejak Rabu
(17/5) pagi, ratusan camaba memadati Airlangga Convention
Center (ACC) Kampus C, UNAIR. Dalam SNMPTN tahun ini, UNAIR
menerima sejumlah 1.865 camaba.
Ada berbagai tahapan yang harus dilalui camaba dalam proses
daftar ulang ini. Dalam proses verifikasi berkas, yang harus
dibawa meliputi fotokopi legalisir dan dokumen asli
ijazah/surat keterangan lulus, SKHUN/SKHUN Sementara, Akta
Kelahiran/Surat Kenal Lahir, Surat Keterangan dari RT/RW, dan
fotokopi Kartu Susunan Keluarga.
Selain itu, mereka juga harus membawa pas foto berwarna dan
surat pernyataan bebas narkotika dan obat-obatan terlarang.
Di setiap loket ketika daftar ulang, camaba menunjukkan
berkas-berkas yang dibawa. Kepala Seksi Registrasi Direktorat
Pendidikan, Aris Setiawan, mengatakan, berdasarkan proses
daftar ulang yang telah dilakukan, sejumlah camaba kurang
teliti dalam membaca panduan. Sehingga ada berkas-berkas yang
terlewat untuk dibawa.
“Data harus dibawa. Kadang
membacanya,” kata Aris.
anak-anak
kurang
teliti
Proses pendaftaran ulang ini akan berlangsung hingga hari
Jumat, 19 Mei 2017. Aris menambahkan, camaba yang tidak
melakukan daftar ulang hingga tanggal yang ditentukan
dinyatakan gugur sebagai mahasiswa UNAIR.
“Yang tidak melakukan daftar ulang sampai tanggal 19 dianggap
mengundurkan diri sebagai mahasiswa UNAIR,” ujar Aris.
Listi Budiarti camaba asal Kalimantan Selatan mengaku lega
bisa mengikuti proses daftar ulang. Tandanya, satu tahap telah
dilalui sebelum ia secara resmi dinyatakan sebagai mahasiswa
UNAIR.
“Senang banget diterima di UNAIR dan mengikuti proses daftar
ulang. Informasi seputar daftar ulang cukup bisa dipahami,”
tutur alumnus SMAN 1 Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan
Selatan, ini kepada UNAIR NEWS. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Atlet Denali Bertolak Menuju
Paman Sam
UNAIR NEWS – Sekitar pukul 00.40, tiga atlet Airlangga
Indonesia Denali Expedition (AIDeX) bertolak dari Bandara
Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional San Francisco
Amerika Serikat, Rabu (17/5).
Tim yang beranggotakan Muhammad Roby Yahya (mahasiswa Fakultas
Perikanan dan Kelautan), Muhammad Faishal Tamimi (mahasiswa
Fakultas Vokasi), dan Yasak (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik) tersebut juga berencana mengunjungi Konsulat
Jenderal Republik Indonesia di San Fransisco, Amerika Serikat.
“Penerbangan menuju Bandara Internasional San Fransisco dari
Jakarta memakan waktu 27 jam. Transit satu kali di Bandara
Internasional Dubai selama tiga jam,” terang Maulida Rahma
Fitria selaku bendahara tim AIDeX yang turut mengantar
keberangkatan para atlet.
Salah satu atlet yang juga ketua operasional, Roby, mengatakan
Denali merupakan salah satu gunung yang cukup ekstrem. Di
Denali, tak ada jasa porter sebagaimana ditemui di gununggunung lainnya. Oleh sebab itu, setiap atlet harus menyeret
beban seberat hingga 50 kilogram.
Cuaca di Denali saat ini juga tak menentu. Pada bulan Mei,
biasanya Alaska sudah memasuki musim panas. Namun, hingga saat
ini, matahari belum bergeser ke arah utara. Suhu di Denali
juga tidak menentu. Suhu paling panas mencapai minus sepuluh
Celcius, namun jika terjadi badai suhu bisa mencapai hingga
minus 80 derajat Celcius.
“Melihat suhu yang cukup ekstrem ini tim telah melakukan
tindakan preventif yaitu dengan aklimatisasi (proses adaptasi
tubuh di ketinggian) maupun berlatih menggunakan peralatan
yang akan digunakan,” ujar Faishal.
Salah satu alumnus UNAIR yang turut mengantar keberangkatan
para atlet, Paulus Gatot Rahardja, berpesan agar para atlet
tetap menjaga kesehatan selama di sana.
“Denali bukan
makan dua kali
kalian adalah
ekspedisi Jaya
gunung yang biasa lho ini. Kalian itu harus
lipat, kalian harus sehat, harus kuat, karena
aset Merah Putih,” terang Paulus, anggota
di puncak Cartenz-Papua tahun 1994.
Paulus juga mengingatkan agar para atlet tetap melakukan
berkomunikasi dengan keluarga serta rekan-rekan tim ekspedisi,
dan disiplin beribadah. “Jangan sampai lupa sholat,” tambah
Paulus.
Tim AIDeX akan mendaki Denali selama 18 sampai 22 hari. Mereka
bertolak dari Surabaya ke Jakarta pada 10 Mei, kemudian
berangkat ke Amerika Serikat pada 17 Mei. Sedangkan, pendakian
di Denali akan dimulai pada 21 Mei sampai 9 Juni.
Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota Unit
Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM Wanala). Empat dari tujuh
puncak tertinggi yang telah tim digapai adalah Puncak Cartenz
(Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus
(Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).
Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika
serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven
summits mereka.
Penulis: Wahyu Nur Wahid (manajer AIDeX)
Editor: Defrina Sukma S
Cegah
Peretasan?
Update
Antivirus dan Sistem Operasi
UNAIR NEWS – Warga Dunia termasuk Indonesia tengah dibuat
gusar dengan peretasan paling berbahaya (ransomware) dengan
virus WannaCry. Peretasan dengan virus WannaCry bisa membuat
data-data di komputer pengguna berbasis sistem operasi Windows
terenkripsi sehingga tak dapat diakses atau dibuka.
“Momen ini dimanfaatkan oleh hacker (peretas) untuk menyerang
mayoritas penguna Windows yang tidak mengaktifkan autoupdate
pada sistem operasinya,” ucap dosen S-1 Program Studi Sistem
Informasi Indra Kharisma Raharjana, M.T.
Pengajar pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga ini menengarai, virus ini merupakan modifikasi dari
tool yang dikembangkan oleh National Security Agency untuk
melakukan aksi intelijen melalui dunia siber.
Sayangnya, source code aplikasi peretasan ini dan beberapa
aplikasi peretasan lainnya bocor ke tangan pembajak dan
dimanfaatkan untuk hal yang kurang baik.
Virus ini pertama kali menyerang seperti virus komputer pada
umumnya, seperti laman yang mencurigakan, lampiran surat
elektronik, macro dari dokumen berformat Word maupun Excel,
dan lain-lain. Ketika virus tersebut diaktifkan, maka virus
tersebut akan mencoba mengakses file sharing yang ada dalam
jaringan local area network maupun WiFi.
“Dengan begitu jika ada satu komputer yang terinfeksi dalam
jaringan, maka dengan mudah virus tersebut akan menyebar ke
dalam komputer lain yang ada dalam jaringan tersebut,” tutur
pengampu mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu.
Indra berpendapat, pengguna internet baik individu maupun
kelompok perlu meningkatkan pengetahuannya mengenai keamanan
siber (cybersecurity). Menurut Indra, mayoritas pengguna
internet di Indonesia, baik personal maupun korporasi belum
siap dengan serangan siber. Baik virus hingga serangan
peretas.
Beberapa waktu lalu, salah satu penyedia jasa telekomunikasi
yang besar di Indonesia juga baru terserang oleh peretas
dengan mengubah tampilan pada laman situsnya.
“Dengan dua tragedi ‘besar’ ini, khususnya organisasi di
Indonesia bisa lebih aware dengan pentingnya keamanan siber,”
pungkasnya.
Harapannya, hal-hal tersebut bisa dilakukan secara periodik
dan menyeluruh, bukan hanya karena ancaman virus WannaCry
tetapi untuk menjaga keamanan informasi organisasi atau
perusahaan secara menyeluruh. Untuk itu, dibutuhkan langkah
preventif untuk menyikapi fenomena ini.
“Update (perbarui) OS (operating system) secara berkala,
update Antivirus secara berkala. Berinternetlah secara sehat.
Waspadalah terhadap bahasa tersembunyi internet seperti
phising (mencuri password dengan menggunakan fake form login
pada situs palsu), penyebaran data-data pribadi. Hati-hati
juga ketika men-download file. Pastikan file tersebut aman dan
tidak mencurigakan,” pesan Indra.
Penulis: Helmy Rafsanjani
Editor: Defrina Sukma S
Ujian
SBMPTN
Berjalan Lancar
di
UNAIR
UNAIR NEWS – Ribuan lulusan pelajar sekolah menengah atas
mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SBMPTN) di Universitas Airlangga, Selasa (16/5).
Pelaksanaan tes SBMPTN di UNAIR ditinjau oleh Rektor UNAIR
Prof. Dr. Mochammad Nasih, dan Wakil Rektor I UNAIR Prof.
Djoko Santoso, Ph.D. Keduanya meninjau pelaksanaan tes di
seluruh kawasan lokasi tes.
Wakil Rektor I UNAIR menyebutkan, jumlah total peserta tes
SBMPTN di UNAIR mencapai 6.400 orang. Peserta tes SBMPTN baik
paper based test (PBT) dan computer based test (CBT) tersebar
di kampus A, B, dan C UNAIR.
Ditemui di lokasi pelaksanaan CBT di gedung Airlangga Medical
Center Fakultas Kedokteran, Nasih mengatakan bahwa pelaksanaan
tes CBT di UNAIR berjalan lancar tanpa ada kendala berarti.
“Sejauh ini pelaksanaan tes SBMPTN berjalan lancar. Saat ini,
masih berlangsung tes kelompok IPA dan Campuran. Ini CBT semua
nampaknya tidak ada masalah dan semua berjalan lancar karena
tidak ada komplain yang masuk,” tutur Nasih.
Rektor UNAIR tersebut menjamin, pengerjaan soal tes SBMPTN
berbasis komputer akan berlangsung aman dan lancar. Pasalnya,
setiap komputer di setiap lokasi dihubungkan dengan jaringan
intranet sehingga setiap peserta CBT SBMPTN bisa langsung
mengakses soal-soal tanpa perlu khawatir dengan gangguan dari
luar.
“Setiap lokasi kita siapkan soalnya sehingga jaringannya
memang tidak tersambung jadi satu. Kami gunakan jaringan
intranet bukan internet. Kalau di sini (FK), berarti kami
siapkan soal dan intranet di sini. Di Ekonomi (Fakultas
Ekonomi dan Bisnis) di sana juga begitu. Jadi, Insya Allah
tidak ada masalah,” terang Rektor.
Dari ribuan peserta yang mengikuti tes SBMPTN di UNAIR,
sebanyak 855 di antaranya mengikuti CBT. Pelaksanaan CBT
tersebar di sembilan fakultas yang memadai untuk digunakan
sebagai lokasi ujian tulis berbasis komputer.
“Lokasi CBT kami tersebar di semua kampus. Semoga mereka bisa
menggunakan CBT dengan optimal,” imbuh Nasih.
Pelaksanaan tes SBMPTN dibagi menjadi tiga sesi. Pada sesi
pertama, peserta tes kelompok IPA dan Campuran terlebih dulu
mengerjakan soal-soal. Pada sesi kedua, peserta tes semua
kelompok ilmu mengikuti tes kemampuan potensi akademik.
Sedangkan, pada sesi ketiga, giliran peserta tes kelompok IPS
dan Campuran mengerjakan pertanyaan tes.
Sebagai tambahan informasi, jumlah pendaftar SBMPTN di UNAIR
mencapai angka 42.487 orang. Sebanyak 19.762 orang menempatkan
UNAIR sebagai pilihan pertama, 13.873 orang pada pilihan
kedua, dan 8.852 orang pada pilihan ketiga.
Pada saat yang bersamaan dengan tes SBMPTN, calon mahasiswa
baru UNAIR yang diterima melalui jalur seleksi nasional masuk
perguruan tinggi negeri dikumpulkan di Airlangga Convention
Center. Mereka membawa kartu peserta SNMPTN dan surat
keterangan lolos SNMPTN. Selain itu, mereka mendapatkan
pembekalan dari Rektor UNAIR.
Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan
Gelar
Konser
Kedua,
UKM
Orkestra Lantunkan Lagu-lagu
Cinta 1990-an
UNAIR NEWS – Lagu-lagu hits tahun 1990an digubah secara apik
para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Orkestra Universitas
Airlangga. Melalui lantunan lagu-lagu tersebut, mereka
mengajak para penonton bernostalgia, Jumat (12/5) malam, di
Gedung Cak Durasim.
Sederet 20 komposisi-komposisi kenamaan yang meluncur di
telinga pendengar antara lain Dari Hati (Club 80’s), Satu Yang
Tak Bisa Lepas (Reza Artamevia), Untukku (Chrisye), Bahasa
Kalbu (Titi DJ), dan Inikah Cinta (M.E).
Bukanlah tanpa alasan bagi para anggota UKM Orkestra untuk
memilih lagu-lagu tersebut untuk kembali diperdengarkan kepada
penonton. Ketua pelaksana konser bertajuk “Melodi Cinta 90”,
Muhammad Camal Ed Dien, mengatakan lagu-lagu cinta tahun
1990an tak lekang waktu.
“Lagu-lagu tahun 90an cukup kompleks. Komposisinya tidak
sederhana. Ini yang membedakan dengan lagu-lagu sekarang,”
tutur Camal ketika diwawancarai.
Camal mengaku, pihaknya mempersiapkan konser sejak bulan
Februari 2017. Dalam jangka waktu yang terbilang singkat itu,
mereka mengadakan latihan secara rutin. “Yang bisa kami
lakukan adalah disiplin latihan, mengubah attitude, menghargai
waktu, orang dan proses,” jawab Camal.
“Kami latihan seminggu dua kali secara rutin dan membiasakan
tepat waktu. Kami percaya bahwa sikap yang kami lakukan akan
berbuah hasil yang memuaskan,” imbuh Camal yang juga mahasiswa
Fisika tahun 2014.
Konser seperti ini bukanlah hal pertama bagi para anggota UKM
Orkestra. Camal menjelaskan, ada perbedaan besar dari konser
perdana dengan Melodi Cinta 90an. Perbedaan itu terlihat dari
tempat, jumlah penonton, hingga jumlah lagu yang dibawakan.
Pendiri UKM Orkestra, Candra Dinata, bercerita bahwa konser
yang dihadiri hampir 600 orang tersebut dihadiri kalangan
sivitas akademika UNAIR, masyarakat, dan orang tua para pemain
musik.
Candra yang juga alumnus Ilmu Politik UNAIR tak memungkiri
rasa bangganya atas penyelenggaraan konser kedua UKM Orkestra.
“Konser kali ini sangat spesial karena berbeda dengan gelaran
konser perdana,” ujarnya.
Penulis: Akhmad Janni
Editor: Defrina Sukma S
Prodi
Sastra
Indonesia
Tingkatkan Kualitas Capaian
Pembelajaran
UNAIR NEWS – Guna membahas tentang kurikulum pembelajaran,
Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Airlangga menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara Pertemuan
Forum Program Studi Sastra Indonesia IV (PROPROSSI).
Pertemuan forum yang dihadiri para pengajar Sastra Indonesia
senasional dilangsungkan di Surabaya, Selasa (9/5). Wakil
Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, Ph.D, dalam sambutannya
mengatakan bahwa capaian pembelajaran hendaknya disesuaikan
dengan pangsa kerja di level nasional maupun regional.
“Pemantapan capaian pembelajaran ini penting karena menyangkut
kompetensi ahli yang diluluskan suatu universitas,” tutur
Djoko.
Selain itu, Djoko mengharapkan agar prodi yang berdiri tahun
1988 ini bisa mengajukan diri untuk divisitasi asesor ASEAN’s
University Networking (AUN). “AUN itu suatu jejaring
universitas tingkat ASEAN dan UNAIR termasuk di dalamnya. Itu
merupakan suatu assessment dari proses pendidikan. Sertifikasi
itu menitikberatkan proses manajemen pendidikan,” tutur Djoko.
Dekan FIB Diah Ariani Arimbi, Ph.D., menyambut baik
pelaksanaan acara ini. Diah menyebutkan, forum semacam ini
bisa menjadi embrio lembaga akreditasi mandiri terutama untuk
mengembangkan mutu prodi.
“Ada banyak perkembangan sejumlah kebijakan terkait prodi yang
dikeluarkan Dikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi) yang bisa menjadi tantangan dan potensi,”
ucap Diah, dosen Departemen Sastra Inggris FIB UNAIR.
Ketua panitia acara sekaligus dosen Departemen Sastra
Indonesia, Puji Karyanto, M.Hum., mengatakan pertemuan ini
bertujuan untuk menyamakan persepsi soal capaian pembelajaran
guna meningkatkan kualitas prodi.
“Kesepakatan yang dicapai dalam forum ini bermanfaat untuk
iklim akademik di program studi Sastra Indonesia khususnya,”
tutur Puji.
Sejak tahun 2015, prodi S-1 Sastra Indonesia UNAIR memperoleh
akreditasi A berdasarkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan
Tinggi. Saat ini, pihak prodi terus memacu diri untuk
memperoleh sertifikasi AUN. Berangkat dari sertifikasi prodi
tingkat regional, diharapkan manajemen prodi dapat menaikkan
level manajemen pendidikan untuk mendapatkan akreditasi
internasional.
“Untuk menuju ke arah situ, S-1 Sastra Indonesia UNAIR tidak
akan sampai satu tahun, karena manajemen pendidikan sekarang
sudah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku,” ucap Djoko
dengan nada optimis.
Penulis: Helmy Rafsanjani
Editor: Defrina Sukma S
Download