BAB I - Universitas Putra Indonesia "YPTK" Padang

advertisement
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
PENERIMAAN DIRI IBU YANG MEMILIKI ANAK
PENDERITA SKIZOFRENIA
Harry Theozard Fikri, Nepi Andriani
Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan diri ibu yang memiliki anak
penderita skizofrenia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi. Proses pengumpulan data
dilakukan dengan wawancara. Data dianalisis mengunakan analisis tematik dan subjek
penelitian diambil secara purposive sampling, dengan subjek berjumlah 2 orang.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa penerimaan diri ibu yang memiliki
anak penderita skizofrenia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pada subjek I dan II
ditemukan memiliki karakteristik satu sampai lima, yaitu: individu mempunyai keyakinan
menghadapi persoalan, individu menganggap dirinya sederajat dengan orang lain, tidak
ada harapan ditolak, individu tidak malu atau hanya memperhatikan dirinya sendiri,
individu berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya. Pada subjek I tidak
ditemukan karakteristik Individu dapat menerima pujian atau celaan secara objektif.
Sedangkan pada subjek II ditemukan semua karakteristik penerimaan diri.
Kata Kunci: Penerimaan Diri, Skizofrenia
1. PENDAHULUAN
Seseorang yang memutuskan untuk menikah, pada umumnya selain karena ingin
hidup bersama dengan orang yang disayangi dan dicintai, orang tersebut juga ingin
memiliki keturunan. Anak adalah suatu anugrah dari tuhan yang sangat berharga. Semua
orang tua selalu berharap mendapatkan anak yang sehat dan normal, namun tidak semua
individu dilahirkan dalam keadaan sempurna. Harapan orang tua dapat berubah menjadi
kecewa yang dalam, apabila diketahui anak yang selama ini selalu didambakan
mengalami gangguan psikologis dalam perkembangan beranjak remaja kedewasa.
Seseorang yang mengalami gangguan psikologis banyak mengalami hambatan
dalam perkembangan normal seperti hambatan dalam komunikasi dan interaksi sosial,
serta hambatan mengelola emosi (dalam http://eprint.unika.ac.id, Padang, 30/10/2013).
Menurut Craighead dkk (dalam Ikmaliyati & Sriningsih, 2011) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa prognosis bagi penderita skizofrenia pada umumnya kurang begitu
menyenangkan, sekitar 25% dapat pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali
pulih pada tingkat premorbid (tingkat stres pada stadium tertentu).
Selain itu Skizofrenia tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi individu yang
mengalaminya, tetapi juga bagi orang-orang terdekat dengannya, biasanya keluargalah
yang paling rentan terkena dampak kehadiran orang dengan skizofrenia.
Berdasarkan studi awal yang dilakukan di RSJ. Prof. HB. Sa’anin Padang,
diketahui bahwa kasus penderita Skizofrenia pada remaja dan anak yang berusia 9 sampai
20 tahun, tercatat 58 kasus dari bulan November 2011 sampai September 2013. Adapun
tingkat keterjangkitan gangguan berdasarkan jenis kelamin, terdapat 16 kasus pada
perempuan dan 42 kasus pada laki-laki, sehingga perbandingannya 1:3.
81
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
Gambaran gangguan skizofrenia beraneka ragam dari mulai gangguan pada alam
pikir, perasaan dan perilaku yang mencolok sampai pada yang tersamar. Sebelum
seseorang sakit, pada umumnya penderita sudah mempunyai ciri-ciri kepribadian tertentu.
Kepribadian penderita sebelum sakit disebut sebagai Kepribadian Pramorbid, seringkali
digambarkan sebagai orang yang mudah curiga, pendiam, sukar bergaul, lebih senang
menarik diri dan menyendiri serta eksentrik (aneh).
Seseorang dikatakan menderita Skizofrenia apabila perjalanan penyakitnya sudah
berlangsung lewat 6 bulan. Sebelumnya didahului oleh gejala-gejala awal disebut sebagai
fase prodromal yang ditandai dengan mulai munculnya gejala-gejala yang tidak lazim
misalnya pikiran tidak rasional, perasaan yang tidak wajar, perilaku yang aneh, penarikan
diri dan sebagainya (Hawari, 2000).
Menurut Nevid (2003) Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang
ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas yang
ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan
yang tidak koheren, dan prilaku yang aneh. Defisit residual dalam area kognitif,
emosional, dan sosial dari fungsi-fungsi yang ada sebelum episode akut. Selanjutnya
menurut Halgin dan Whitbourne (2010) Skizofrenia adalah gangguan dengan serangkaian
simtom yang meliputi gangguan konteks berfikir, bentuk pemikiran, persepsi, afek, rasa
terhadap diri (sense of self), motivasi, prilaku dan fungsi interpersonal.
Reaksi pertama orang tua ketika anaknya dikatakan bermasalah adalah tidak
percaya, shock, sedih, kecewa, merasa bersalah, marah dan menolak. Begitu pula dengan
ibu yang anaknya mengalami skizofrenia. Tidak mudah bagi ibu yang anaknya
mengalami skizofrenia untuk mengalami fase ini, sebelum akhirnya sampai pada tahap
penerimaan (acceptance). Ada masa orang tua merenung dan tidak mengetahui tindakan
tepat apa yang harus diperbuat. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih tidak
terbuka mengenai keadaan anaknya kepada teman, tetangga bahkan keluarga dekat
sekalipun, kecuali pada dokter yang menangani anaknya tersebut Safaria (dalam
Khotimah, 2012).
Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis
maupun sosial. Umumnya ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan
anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung
(biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Seperti pada orang tua angkat (karena
adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak). Ibu yang lebih sering mengadakan
komunikasi dengan anak ketimbang ayah yang lebih banyak beraktifitas di luar, dapat
menjadi orang tua dan sekaligus teman yang baik bagi anak untuk berbagi permasalahan,
kasih sayang dan hal-hal yang disenangi oleh anak. Dalam keluarga ibu yang bersikap
lebih menerima, lebih mengerti, lebih koperatif terhadap anak dibandingkan dengan ayah,
meskipun ibu seperti juga ayah dapat menunjukkan otoritasnya bila persoalan mengenai
hal-hal yang prinsip (Younis dan Smollar dalam Monk dkk, dikutip Nora dan Widuri,
2011).
Ibu merasakan rasa tanggung jawab terhadap kondisi normal-abnormal anaknya
karena ibulah yang merawat anak sejak dalam kandungan, melahirkan, hingga masa
pertumbuhan anak. Reaksi emosi ibu akan keberadaan anaknya yang mengalami
gangguan psikologis akan lebih terasa karena interaksi ibu terhadap anak berlangsung
lebih intens dibanding anggota keluarga lainnya (Zainal dalam mahabbati, 2010).
Menurut Rogers (dalam Purnaningtyas, 2013) Penerimaan merupakan sikap
seseorang yang menerima orang lain apa adanya secara keseluruhan, tanpa disertai
persyaratan apapun penilaiannya, sehingga dapat mengembangkan pandangan tentang
siapa dirinya sesungguhnya. Selanjutnya Maslow (dalam Simanjuntak dan Siregar, 2012)
menyatakan penerimaan diri merupakan suatu tingkat kemampuan individu untuk hidup
dengan segala kekhususan diri yang dapat melalui pengenalan diri secara utuh.
Apabila dalam keluarga terutama pada ibu terdapat penerimaan, maka akan dapat
membantu dalam perawatan dan akan mendukung perkembangan anak. Besar kecil
82
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
penerimaan oleh keluarga akan mempegaruhi kualitas hubungan keluarga. Terlebih
penerimaan ibu semakin kuat perasaan keibuan pada seorang wanita, maka semakin besar
kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang dan cinta kepada anaknya (Ibrahim dalam
Khotimah, 2012). Bagaimanapun anak dengan gangguan jiwa tetaplah seorang anak yang
membutuhkan kasih sayang, perhatian dan cinta dari orangtua, saudara dan keluarganya
(Safaria dalam Rachmayanti, 2007).
Menurut Waal (dalam Achmad, 2010) berpendapat bahawa fenomena dalam
masyarakat masih banyak orang tua khususnya ibu yang menolak kehadiran anak yang
tidak normal, kerena malu mempunyai anak yang mengalami gangguan dan tidak mandiri.
Orang tua yang demikian akan cenderung menyangkal keberadaan anaknya dengan
menyembunyikan anak tersebut jangan sampai diketahui oleh orang lain. Salah satu
reaksi keluarga dengan anak mengalami gangguan dan tidak mandiri adalah penolakan
sehingga anak diisolasi di kamar dan tidak diperlihatkan pada orang lain (karena malu)
atau dibiarkan terlantar (Staf pengajar ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia dalam Achmad, 2010).
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang ingin diteliti adalah mengenai
gambaran penerimaan diri ibu yang memiliki anak penderita Skizofrenia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran penerimaan diri ibu yang memiliki
anak penderita Skizofrenia.
2. METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Dasar analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis
tematik. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik sampel
bertujuan (purposive sample) dengan kriteria: Ibu yang memiliki anak yang penderita
skizoferenia; serta bersedia untuk menjadi subjek penelitian.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara.
Pedoman wawancara berupa Open Endeed Question, yaitu pertanyaan dengan jawaban
terbuka dan dapat dijawab oleh subjek dengan caranya sendiri. Jenis wawancara yang
digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi-terstruktur.
3. ANALISA DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap subjek I dan II
mengenai penerimaan diri ibu yang memiliki anak penderita skizofrenia dengan
menggunakan karakteristik penerimaan diri teori Sheerer (dalam Hermawati dan
Widjanarko, 2011), individu mempunyai keyakinan akan kemampuannya menghadapi
persoalan; individu menganggap dirinya berharga dan sederajat dengan orang lain;
individu tidak tidak menganggap dirinya aneh atau abnormal dan tidak ada harapan
ditolak orang lain; individu tidak malu atau hanya memperhatikan dirinya sendiri;
individu berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya, menerima pujian atau
celaan secara objektif; individu tidak menyalahkan diri atas keterbatasan yang dimiliki
ataupun menghindari kelebihannya.
4. HASIL DAN DISKUSI
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penerimaan diri ibu yang memiliki anak
penderita skizofrenia memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
1. Individu mempunyai keyakinan akan kemampuannya menghadapi persoalan. Subjek
I dan subjek II sama-sama mempunyai keyakinan akan kemampuannya untuk
83
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
2.
3.
4.
5.
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
menghadapi persoalan. Keyakinan subjek I dan subjek II muncul karena adanya
dukungan dari keluarga, mantan suami subjek I, suami subjek II, anak-anak subjek
dan kedua subjek selalu berdoa, merawat serta menerima kondisi anaknya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sarasvati (dalam Rachmayanti dan Zulkaida, 2007) semakin
kuatnya dukungan keluarga besar, orangtua akan terhindar dari merasa sendirian
sehingga menjadi lebih kuat dalam menghadapi cobaan karena dapat bersandar pada
keluarga besar mereka.
Individu menganggap dirinya berharga dan sederajat dengan orang lain. Subjek I dan
subjek II sama-sama menganggap dirinya dan anaknya berharga sebagai seorang
manusia dan sederajat dengan orang lain, subjek I merasa dirinya sama seperti ibu
lainya yang harus memperhatikan pendidikan, kesehatan, kebutuhan dan anak subjek
serta memperlakukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Hal tersebut juga
muncul pada subjek II karena subjek mendapatkan motivasi dari suami dan anakanaknya yang mebuat subjek menjadi kuat dan merasa dirinya sama seperti istri
lainnya yang saling membantu suami mencari nafkah dan subjek dapat
memperlakukan anak-anaknya dengan baik sehingga anaknya dapat membantu
keluarga untuk kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut di dukung juga oleh pendapat
dari sesuai dengan pendapat Denmark (dalam Fahrial, 2014) bahwa standar diri
seseorang tidak dipengaruhi lingkungan luar, keyakinan menjalani hidup, dirinya
sama dengan orang lain, tidak ingin orang lain menolak kondisi apapun, dan tidak
menganggap dirinya berbeda dengan orang lain.
Individu Tidak menganggap dirinya aneh atau tidak abnormal dan tidak ada harapan
ditolak. Subjek I dan subjek II muncul aspek individu tidak menganggap dirinya
aneh atau abnormal dan tidak ada harapan ditolak orang lain. Subjek I dan subjek II
sama-sama memiliki harapan terbesar pada anaknya, subjek I ingin anaknya tumbuh
normal seperti anak lainya dan subjek ingin anaknya melanjutkan pendidikan yang
tertunda sebelumya. Subjek II tidak menanggapi cemoohan dari orang lain dan selalu
berharap anaknya dapat sembuh total, hidup mandiri dan menikah. Hal ini di
dukukung oleh teori dari pendapat Jerslid (dalamTrismawati, 2013) terdapat aspek
keseimbangan “real self dan ideal self” individu memiliki penerimaan diri adalah
mempertahankan harapan dan tuntutan dari dalam dirinya dengan baik dan juga
memiliki ambisi yang besar.
Individu Tidak malu atau hanya memperhatikan dirinya sendiri. Subjek I dan subjek
II sama-sama tidak malu menceritakan mengenai masalah pribadi maupun tentang
keadaan anaknya justru subjek dapat menjelaskan dengan baik kepada orang lain dan
subjek dapat bersosialisasi dengan mengikuti kegiatan sosial yang ada di lingkungan
sekitar, namun subjek II kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumah. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Menurut Supratiknya (dalam
Nurviana dkk, 2009) penerimaan diri adalah memiliki penghargaan yang tinggi
terhadap diri sendiri, atau tidak bersikap sinis terhadap diri sendiri. Penerimaan diri
berkaitan dengan kerelaan membuka diri atau mengungkapkan pikiran, perasaan dan
reaksi kepada orang lain, kesehatan psikologis individu serta penerimaan terhadap
orang lain.
Individu Berani memikul tanggung jawab terhadap prilakunya. Subjek I dan subjek II
berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya karena anak merupakan
tanggub jawab subjek sebagai seorang ibu. Subjek I menyadari bahwa semua terjadi
karena kesalahannya dan kegagalan dalam menjalani rumah tangga bersama mantan
suaminya yang berdampak buruk pada perkembangan psikologis anaknya dan subjek
merasa gagal dalam mendidik anaknya. Subjek menebus semua kesalahanya dengan
melakukan segala upaya pengobatan seoptimal mungkin agar anaknya bisa normal
seperti anak lainya dan bersekolah. Selanjutnya subjek II merasa bertanggung jawab
terhadap anaknya sampai anaknya menikah dan bisa mandiri. Ini sesuai dengan
84
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
pendapat Jerslid (dalam Trismawati, 2013) seorang individu memiliki spontanitas dan
tanggung jawab terhadap perilakunya.
5. KESIMPULAN
Dari ketujuh karakteristik penerimaan diri ditemukan karakteristik satu sampai lima
pada subjek I yaitu individu mempunyai keyakinan menghadapi persoalan, individu
menganggap dirinya sederajat dengan orang lain, tidak ada harapan ditolak, individu tidak
malu atau hanya memperhatikan dirinya sendiri, individu berani memikul tanggung jawab
terhadap perilakunya .
Pada subjek II ditemukan semua karakteristik yaitu individu mempunyai keyakinan
menghadapi persoalan, individu menganggap diri sederajat dengan orang lain, tidak ada
harapan ditolak, tidak malu atau hanya memperhatikan dirinya sendiri, berani memikul
tanggung jawab terhadap prilakunya, menerima pujian atau celaan secara objektif, tidak
menyalahkan diri atas keterbatasan yang dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Achamd, Anggian Putri Antiandany. 2010. Penerimaan Diri Ibu Terhadap Anak Yang Mengalami
Gangguan Down syndrom Di Sekolah Luar Biasa Yayasan Wacana Asih Padang. Skripsi
(tidak diterbitkan) Padang: Fakulatas Psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK”
Alsa, Asmadi. 2003. Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif Serta Kombinasi Dalam Penelitian
Psikologi. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Bodanno. 2009. The Other Side of Sadness. New York : A member of the Perseus Book Group.
Chaplin.J.P. 2009. Kamus lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Fahrial, Feby. 2014. Peneriama Diri Anak Yang Lahir Di Luar Nikah. Skripsi (tidak diterbitkan)
Padang: Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK”
Halgin, P. Richard & Whitbourne. 2010. Psikologi Abnormal Pesfektif Klinis Pada Gangguan
Psikologis. Jakarta: salemba Humanika
Hartini & Machdan. 2012. Hubungan antara Penerimaan diri dengan Kecemasan menghadapi
dunia kerja pada Tunadaksa di UPT Rehabilitasi Sosial cacat tubuh Pasuruan. Jurnal
Psikologi Klinis dan kesehatan Mental Vol 1. no.02, 81-82. Surabaya: Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga
Hawari, Dadang. 2000. Al Quran Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: PT.
Dana Bakti Prima Yasa
Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta
selatan: Salemba Humanika
Hermawanti & Widjanarko. 2011. Penerimaan Diri Perempuan Pekerja Seks Yang Menghadapi
Status HIV Positif di Pati Jawa Tengah. Psikobuana Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 3. No. 2,
94-103. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana
Ikmalayati, Rifqi & Sriningsih. 2011. Penarimaan Anak Terhadap Ibu Dengan Skizofrenia.
Skripsi (tidak diterbitkan) Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas mercu Buana
85
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
Ismail, Amalia. 2008. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penerimaan Diri Ibu Dari Anak
Autis. Skripsi
(tidak diterbitkan) Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial 3. Jakarta: Pt. Toko Gunung Agung
Khotimah, Nuria. 2012. Penerimaan Ibu Yang Memiliki Anak Tunarungu. Skripsi (tidak
diterbitkan) Jakarta Timur: Fakultas Psikologi Universitas Guna Darma
Mahabbati, Aini. 2010. Penerimaan Dan Kesiapan Pola Asuh Ibu Terhadap Anak Berkebutuhan
Khusus. Skripsi (tidak diterbitkan) Jakarta: Fakultas Psikologi
Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atmajaya
Moleong, J. Lexy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Nevid & dkk. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga
Nora, Ariza Cilvia & widuri. 2011. Komunikasi Ibu Dan Anak Dengan Depresi Pada Remaja.
Jurnal Humanitas Vol VIII. No. 1. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Ahmad
Dhalan
Nurkholisoh. 2009. Pelaksanaan Terapai Bagi Pasien Skizofrenia Di Madani Mantal Haelth Care
Jakarta Timur. Skripsi (tidak diterbitkan) Jakarta: Fakultas Dakwah Dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Nurviana dan dkk. 2009. Penerimaan diri Pada Penderita Epilepsi. Skripsi (tidak
diterbitkan)
Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Pancawati, 2013. Penerimaan diri dan dukungan orang tua terhadap anak autis. Ejournal
Psikologi fisip-unmul. 1, 41-42.
Poerwandari, S.K. 2007. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Depok:
Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia.
Purnaningtyas, Arry Avrilya. 2013. Penerimaan Diri Pada Laki-laki Dewasa Penyandang
Disabilitas Fisik Karena Kecelakaan. Jurnal Psikologi. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi
Universitas Ahmad Dhalan
Rachmayanti, Zulkaida. 2007. Penerimaan Diri Orang Tua terhadap Anak Autisme dan
Peranannya dalam Terapi Autisme. Jurnal Psikologi Vol 1. No. 1, 8-9. Jawa Barat: Fakultas
Psikologi Universitas Guna Darma
Sari. 2010. Faktor yang mempengaruhi pernerimaan diri: sebuah penelitian dikalangan anak
berhadapan dengan hukum (ABH) diPanti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani. Skripsi
(tidak diterbitkan) Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah. Diakses 13 november 2013.
Satyaningtyas, R. & Abdullah, S.M. 2010. Penerimaan Diri dan Kebermaknaan Hidup Penyandang
Cacat Fisik. Jurnal Psikologi. Jakarta: Fakultas Psikologi Mercu Buana
86
Jurnal PSYCHE 165 Fakultas Psikologi, Vol. 10, No. 2, Juli 2017, Hal. 81-87
Copyright©2017 by LPPM UPI YPTK Padang
ISSN: 2088-5326 e-ISSN : 2502-8766
Simajuntak, Devi Lestari Dan Ade rahmawati Siregar. 2012. Hubungan Penerimaan Diri Dengan
Kompetensi Sosial Pada Remaja Obesitas. Jurnal Psikologi Sosial
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Trismawati, Merry. 2013. Hubungan Antara Penerimaan Diri Terhadap Perubahan Fisik Dengan
Kecemasan Menghadapi Menoupause Di Kubu Dalam Parak Karakah Padang. Skripsi
(tidak diterbitkan) Padang: Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK”
87
Download