usulan penelitian - Universitas Semarang

advertisement
LAPORAN PENELITIAN
PENERAPAN KONSEP
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
DALAM KEBIJAKAN KORPORASI
(SUATU KAJIAN NORMATIF)
Oleh:
Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
Efi Yulistyowati, S.H. M. Hum.
Proyek Penelitian ini dibiayai oleh Universitas Semarang
Dengan Surat Perjanjian Nomor : 239.25/ USM. H8/L/ 2009
YAYASAN ALUMNI UNIVERSITAS DIPONEGORO
UNIVERSITAS SEMARANG
FAKULTAS HUKUM
2010
i
LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN DOSEN MUDA
--------------------------------------------------------------------------------------------------1. a. Judul Penelitian
: Penerapan Konsep Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan Dalam Kebijakan Korporasi (Suatu
Kajian Normatif)
b. Bidang Ilmu
: Ilmu Hukum (Hukum Perusahaan)
--------------------------------------------------------------------------------------------------2. Ketua Peneliti
a. Nama
: Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
b. Jenis Kelamin
: Perempuan
c. NIS
: 06557003801003
d. Pangkat / Golongan
: Penata / III-C
e. Jabatan Fungsional
: Lektor
f. Fakultas/Jurusan
: Hukum/ Ilmu Hukum
g. Universitas
: Universitas Semarang
--------------------------------------------------------------------------------------------------3. Jumlah Anggota Peneliti
: 1 (satu) orang
Efy Yulistyowati, SH. MHum.
--------------------------------------------------------------------------------------------------4. Lokasi Penelitian
: Kota Semarang
--------------------------------------------------------------------------------------------------5. Jangka Waktu Penelitian
: 6 ( enam ) bulan
--------------------------------------------------------------------------------------------------6. Biaya Penelitian
: Rp. 2.500.000,(dua juta lima ratus ribu rupiah)
--------------------------------------------------------------------------------------------------7. Sumber Biaya
: Universitas Semarang
--------------------------------------------------------------------------------------------------Semarang,
Mei 2010
Mengetahui,
Dekan Fakultas Hukum
Ketua Peneliti,
Efi Yulistyowati, S.H., M.Hum.
NIS: 06557003801006
Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
NIS: 06557003801003
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Semarang
Indarto, S.E., Msi.
NIS:06557000504065
ii
LEMBAR REVIEWER
__________________________________________________________________
1. a. Judul
: Penerapan Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Dalam Kebijakan Korporasi (Suatu Kajian Normatif)
b. Bidang Ilmu
: Ilmu Hukum ( Hukum Perusahaan)
__________________________________________________________________
2. Ketua Peneliti
a. Nama
: Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
b. Jenis Kelamin
: Perempuan
c. N I S
: 06557003801003
d. Pangkat / Gol.
: Penata / III-C
e. Jabatan Fungsional
: Lektor
f. Fakultas / Jurusan
: Hukum / Ilmu Hukum
g. Perguruan Tinggi
: Universitas Semarang
__________________________________________________________________
3. Jumlah Anggota Peneliti
: 1 (satu) orang
Efy Ylistyowati,S.H. M. Hum.
__________________________________________________________________
4. Jangka Waktu Penelitian
: 6 (enam) bulan
__________________________________________________________________
5. Lokasi Penelitian
: Kota Semarang
__________________________________________________________________
Semarang,
Mei 2010
Menyetujui,
Reviewer,
Ketua Penelitian
Muzayanah, S.H. M.H.
Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
NIS: 06557003801033
NIS: 06557003801003
iii
DOKUMENTASI UPT PERPUSTAKAAN
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Semarang dengan ini menerangkan
bahwa laporan di bawah ini :
Judul
:
Penerapan Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dalam
Kebijakan Korporasi (Suatu Kajian Normatif)
Nama
:
1. Dewi Tuti Muryati, S.H. M.H.
2. Efi Yulistyowati,S.H. M.Hum.
Unit
:
Fakultas Hukum
Telah didokumentasikan dengan nomor : ……………………………………..
diperpustakaan Universitas Semarang untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Semarang,
Mei 2010
Kepala UPT Perpustakaan
Universitas Semarang
N u r l i s t i a n i, S.Sos.
NIS. 06557060687230
DAFTAR ISI
iv
Halaman Judul ……………………………………………………
i
Lembar Identitas dan Pengesahan ………………………………
ii
Lembar Pengesahan Reviewer …………………………………..
iii
Lembar Dokumentasi Perpustakaan ……………………………
iv
Daftar Isi …………………………………………………………..
v
Daftar Tabel ………………………………………………………
vii
Kata Pengantar ……………………………………………………
viii
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG …………………………
1
B. PERUMUSAN MASALAH …………………...
3
C. SISTIMATIKA PENULISAN ………………..
4
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN DAN KONSEP TANGGUNG
JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY) ………………..
6
B. RUANG LINGKUP PENERAPAN TANGGUNG
JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN …………
11
C. PERKEMBANGAN TANGGUNG JAWAB
SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) DI INDONESIA
13
D. KEBERLANJUTAN KORPORASI DAN
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
(CSR) ………………………………………….
17
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN …….
21
BAB IV
METODE PENELITIAN
BAB V
A. METODE PENDEKATAN …………………..
22
B. SPESIFIKASI PENELITIAN ………………..
22
C. JENIS DAN SUMBER DATA ………………..
22
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA …………
23
F. ANALISIS DATA …………………………….
23
HASIL DAN PEMBAHASAN
v
A. PENGATURAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PERUSAHAAN (CSR) BAGI KORPORASI
24
B. KONSEP TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PERUSAHAAN (CSR) MENURUT DUNIA
USAHA ………………………………………..
31
C. PENERAPAN KONSEP CSR DALAM
KEBIJAKAN PERUSAHAAN ……………...
BAB VI
37
PENUTUP
A. SIMPULAN ……………………………………
48
B. SARAN ………………………………………….
50
DAFTAR PUSTAKA
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Triple Bottom Lines dan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan ……………………………………….....
11
Ilustrasi Kepres No. 90/1995 & Kepres No. 98/1998
25
Ilustrasi UU No. 19 Tahun 2003 ……………………
27
Ilustrasi UU No. 25 Tahun 2007 ……………………
28
Ilustrasi UU No. 40 Tahun 2007 ……………………
30
Contoh praktek CSR dengan focus product &
Environment support …………………………………
35
Contoh praktek CSR – INDOSAT DAN XL ………
36
Contoh praktek CSR – TELKOM DAN PERTAMINA 36
Contoh program operasional CSR yang diklasifikasikan
Dalam beberapa bidang …………………………….
40
Contoh pembagian wilayah …………………………
42
Contoh pengalokasian dana yang dilakukan oleh
Salah satu BUMN ……………………………………
42
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan
melimpahkan rahmatNya sehingga penelitian ini dapat selesai dengan baik dan tepat
waktu.
Laporan hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca
guna menambah wacana mengenai penerapan konsep tanggung jawab sosial perusahaan
dalam kebijakan korporasi (suatu kajian normatif).
Menyadari bahwa penelitian ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai
pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, maka pada kesempatan ini kami
menyampaikan terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Pahlawansjah Harahap, SE, ME., Rektor Universitas Semarang
yang telah berkenan memberikan kepercayaan kepada Peneliti untuk
melakukan penelitian.
2. Indarto,SE. MSi., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Semarang yang telah menyeleksi dan menerima usulan
penelitian ini.
3. Efy Yulistyowati, SH. MHum., Dekan Fakultas Hukum Universitas
Semarang yang selalu memberikan dukungan dan kepercayaan kepada
Peneliti untuk melakukan penelitian.
4. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
mendukung selesainya penelitian ini.
Seiring doa dan terima kasih, semoga amal Bapak/ Ibu diberkati oleh Allah
SWT. Peneliti sadar bahwa kesempurnaan belum sepenuhnya terwujud dalam penelitian
ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan.
Semarang, Mei 2010
Tim Peneliti
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dinamika pembangunan nasional pada satu sisi diharapkan memberikan
kontribusi bagi peningkatan kualitas kesejahteraan hidup masyarakatnya, tetapi pada sisi
lain juga dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap merosotnya kualitas lingkungan
hidup secara permanen dalam jangka panjang. Kekhawatiran ini cukup beralasan, karena
kenyataan menunjukkan bahwa lingkungan hidup di negeri ini belum aman atau terhindar
dari ancaman dan pencemaran akibat buangan limbah industri dan terjadinya degradasi
lingkungan sebagai akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang
dilakukan oleh korporasi.
Beberapa tahapan proses di dalam kegiatan korporasi dikenal banyak membawa
masalah terhadap lingkungan, karena terjadinya eksploitasi sumber daya alam yang
berlebihan dan menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan selama proses produksi
serta dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi pemakai produk akhir. 1 Jika berpegang
kepada laporan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan, maka korporasi
yang melakukan kegiatan usahanya dengan merusak lingkungan harus menerima
tanggung jawab sosial yang luas dan berjanji akan mengacuhkan pertimbangan
lingkungan pada semua tingkat.
2
Hal ini semestinya disadari dan menjadi acuan bagi
korporasi untuk melakukan berbagai upaya pencegahan pencemaran lingkungan hidup
akibat limbah yang dihasilkannya dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.
Upaya pencegahan pencemaran lingkungan hidup akibat buangan limbah dan
pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, adalah persoalan mendasar dalam
aktivitas pembangunan. Salah satu bentuk komitmen korporasi terhadap lingkungan
hidup adalah dengan mengimplementasikan tanggung jawab sosial perusahaan atau
1
Isminingsih Gitoparmojo dan Wiwin Winiati, Menuju Produk dan Teknologi Bersih Dalam Industri
Tekstil dalam Sonny Yuliar, et.al., Paradigma Produksi Bersih (Mendamaikan Pembangunan Ekonomi dan
Pelestarian Lingkungan), Bandung, Penerbit Nuansa bekerja sama dengan Pusat Penelitian Teknologi ITB,
1999, hlm. 197.
2
Gro Harlem Brutland, dkk., Hari Depan Kita Bersama., Jakarta, Gramedia, 1988, hlm. 305.
1
Corporate Social Responsibility (CSR) dalam aktivitas perusahaan. Konsep tanggung
jawab sosial perusahaan memang telah menjadi isu yang banyak diperbincangkan sejak
awal 2000-an dan baru mendapatkan perhatian khusus di Indonesia sejak disahkan UU
No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas. Yang melatarbelakangi diterapkannya konsep tanggung jawab sosial
perusahaan tersebut adalah selain adanya ketimpangan ekonomi antara pelaku usaha
dengan masyarakat disekitarnya, kegiatan operasional korporasi umumnya juga
memberikan dampak negatif, misalnya eksploitasi sumber daya dan rusaknya lingkungan
disekitar operasi korporasi tersebut.
Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, perusahaan, terutama yang berbasis
sumber daya alam, berkewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan,
walaupun seharusnya bersifat sukarela. Dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007
tersebut, definisi tanggung jawab sosial dan lingkungan lebih menitikberatkan kepada
pengembangan komunitas (community development).
Di luar “kewajiban” untuk mengikuti peraturan, tanggung jawab sosial
perusahaan memang sepatutnya dilaksanakan oleh perusahaan, dengan kesadaran sendiri
dan bersifat sukarela, karena tanggung jawab sosial perusahaan saat ini telah menjadi
semacam social license to operation bagi perusahaan, yang sebenarnya dapat dijabarkan
dari perumusan misi perusahaan. 3
Tanggung jawab sosial perusahaan pada awalnya berkembang dari motif
filantropis perusahaan, yang sering bersifat spontan dan belum terkelola dengan baik.
Selanjutnya, dorongan eksternal berupa tuntutan masyarakat dan dorongan internal
perusahaan agar perusahaan lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Makna tanggung jawab sosial perusahaanpun meluas, bukan sekadar tanggung jawab
terhadap masyarakat sekitar dan dan hanya bersifat filantropis, tetapi meluas keseluruh
planet bumi, dan harus dikelola dengan sasaran yang jelas dan perencanaan yang baik.
Di tengah masyarakat duni yang semakin kritis dan peduli terhadap
keberlangsungan lingkungan dalam jangka panjang dan menjunjung nilai-nilai etika,
tanggung jawab sosial perusahaan menjadi keharusan bagi perusahaan. Apalagi
3
A.B. Susanto, Reputation – Driven Corporate Social Responsibility (Pendekatan Strategic Management
Dalam CSR), Erlangga, Jakarta, 2009, hlm. v.
2
perusahaan memperoleh manfaat dalam kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan ini,
yang terutama berkaitan dengan manajemen reputasi. Tanggung jawab sosial perusahaan
yang awalnya merupakan kegiatan filantropis ini pun berubah menjadi strategic
philantropy, yang dikaitkan dengan strategi perusahaan dan dikelola secara profesional.
Aspek yuridis yang melandasi implementasi tanggung jawab sosial perusahaan
dalam kegiatan korporasi adalah, Kep. Menteri BUMN No. KEP-236/MBU/2003 tentang
Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL),
UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas. Dalam Pasal 15 dan Pasal 34 UU No. 25 Tahun 2007 disebutkan
bahwa bagi korporasi yang tidak melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan akan
diberikan sanksi administratif berupa peringatan tertulis, pembatalan kegiatan usaha,
pembekuan kegiatan usaha, sampai pencabutan kegiatan usaha, adapun Pasal 74 UU No.
40 Tahun 2007 yang mengatur tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan pada Ayat
1 disebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan / atau
berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan.
Walaupun konsep tanggung jawab sosial perusahaan pada banyak negara sudah
merupakan bagian yang melekat dari dinamika korporasi, dan khususnya di Indonesia
telah mempunyai dasar hukum juga sudah mulai dipahami serta dilaksanakan oleh
sebagian pelaku usaha, namun masih ada yang beranggapan bahwa tanggung jawab sosial
perusahaan adalah sebagai beban bagi korporasi.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian, maka dapat dikemukakan
permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan bagi korporasi ?
2. Bagaimanakah konsep tanggung jawab sosial perusahaan menurut dunia usaha?
3. Bagaimanakah penerapan konsep CSR dalam kebijakan perusahaan ?
3
C. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan dari judul dan lebih
mudah dalam menelaah uraian yang disajikan secara keseluruhan. Penulisan laporan
penelitian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I
: PENDAHULUAN
Pendahuluan terdiri dari tiga sub bab yang membahas mengenai latar
belakang penelitian, perumusan masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II
: TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka menguraikan landasan teori untuk menganalisa
permasalahan yang dibahas. Tinjauan pustaka ini berisi kerangka
pemikiran atau teori-teori yang berkaitan dengan pokok permasalahan.
Uraian pada bab ini meliputi pengertian dan konsep tanggung jawab
sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility), ruang lingkup
penerapan tanggung jawab sosial perusahaan, perkembangan tanggung
jawab sosial perusahaan (CSR) di Indonesia, keberlanjutan korporasi dan
tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
BAB III
: TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan dan manfaat penelitian membahas tentang tujuan dilakukannya
penelitian tersebut, serta manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian.
BAB IV
: METODE PENELITIAN
Metode penelitian menjelaskan mengenai metode yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu metode pendekatan, spesifikasi penelitian, teknik
penentuan sampel, teknik pengumpulan data dan analisa data.
BAB V
: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan dan dianalisa mengenai penerapan konsep
tanggung jawab sosial perusahaan dalam kebijakan korporasi. Lebih
lanjut pembahasan difokuskan pada tiga hal yaitu pengaturan tanggung
jawab sosial perusahaan bagi korporasi, konsep tanggung jawab sosial
perusahaan menurut dunia usaha, dan penerapan konsep CSR dalam
kebijakan perusahaan.
4
BAB VI
: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini mengutarakan tentang simpulan peneliti terhadap hasil penelitian
ini. Disamping itu disampaikan juga saran-saran sebagai masukan untuk
perbaikan dikemudian hari.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
DAN
KONSEP
TANGGUNG
JAWAB
SOSIAL
PERUSAHAAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)
Walaupun telah menjadi isu global, sampai saat ini belum ada suatu definisi tunggal
dari Corporate Social Responsibility. Secara etimologis Corporate Social Responsibility
dapat diartikan sebagai tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Korporasi. The World
Business Council for Sustainable Development (WBCSD), suatu lembaga internasional
yang beranggotakan lebih dari 120 multinational company, dalam publikasinya Making
Good Business Sense mendefinisikan Corporate Social Responsibility sebagai
“Continuing commitment by business to behave athically and contribute to economic
development while improving the quality of life of the workforce and their families as
well as of the local community and society at large” (komitmen dunia usaha untuk terus
menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk
peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan
keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara
lebih luas). 4
Dalam Pasal 1 butir 3 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
memberikan pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan sebagai komitmen perseroan
untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan
kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri,
komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.
Fajar Nursahid mengemukakan pengertian tanggung jawab sosial perusahaan
sebagai tanggung jawab moral suatu organisasi bisnis terhadap kelompok yang menjadi
stakeholder-nya yang terkena pengaruh, baik secara langsung atau tidak langsung dari
operasi perusahaan. Lebihlanjut dikemukakan bahwa dalam pengertian terbatas, tanggung
jawab sosial perusahaan dipahami sebagai upaya untuk tunduk dan memenuhi hukum dan
aturan main yang ada, yaitu menggunakan seluruh sumber dayanya untuk aktivitas yang
mengabdi pada akumulasi laba. Sedangkan dalam pengertian luas tanggung jawab sosial
4
Yusuf Wibisono, Membedah Konsep dan Aplikasi CSR, Fascho Publishing, Gresik, 2007, hlm. 7.
6
perusahaan dipahami sebagai konsep dimana suatu organisasi dipandang sebagai agen
moral. 5
Schemerhorn memberi definisi Corporate Social Responsibility sebagai suatu
kepedulian organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam
melayani kepentingan organisasi dan kepentingan publik eksternal. Secara konseptual,
Corporate Social Responsibility adalah sebuah pendekatan di mana perusahaan
mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis dan interaksi mereka dengan
para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan
kemitraan. 6
Di dalam The Handbook for Corporate Action, yang diterbitkan oleh International
Union for Conservation on Nature (IUCN) pada tahun 2002 Corporate Social
Responsibility diartikan sebagai pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai
etika, ikut menegakkan aturan-aturan hukum yang berlaku, melindungi hak asasi
manusia, masyarakat serta melestarikan lingkungan dan sumber daya alam. 7 Penjabaran
Corporate Social Responsibility tampak dalam cara perusahaan bersikap atau
memperlihatkan perilaku ketika berhadapan dengan pihak lain sebagai salah satu cara
untuk memperbaiki reputasi dan meningkatkan keunggulan kompetitif, yaitu dengan
sukarela mengintegrasikan kepeduliannya terhadap masalah sosial dan lingkungan
kedalam kegiatan usaha mereka. Lebih lanjut Harsono mengemukakan bahwa tanggung
jawab sosial perusahaan adalah suatu keyakinan bahwa keputusan-keputusan bisnis harus
dibuat dan dilaksanakan dalam batasan pertimbangan-pertimbangan sosial dan ekonomi. 8
Dari definisi-definisi tersebut belum ditemui kesepakatan bakunya, karena
umumnya masih merujuk pada definisi yang umum digunakan di negara lain. Namun
demikian, walaupun tidak mempunyai definisi tunggal, konsep ini menawarkan sebuah
kesamaan, yaitu keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan perhatian
terhadap aspek sosial serta lingkungan. Dengan demikian berarti perusahaan dihadapkan
5
Fajar Nursahid, Praktik Kedermawanan Sosial BUMN : Analisis terhadap Model Kedermawanan PT
Krakatau Steel, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Indonesia, dalam Jurnal Galang Vol. 1, No. 2, 2006,
hlm. 6-7.
6
Edi Suharto, Pekerjaan Sosial di Dunia Industri, Memperkuat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
(Corporate Social Responsibility), PT Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm. 102.
7
Sudharto P. Hadi, FX. Adji Samekto, Dimensi Lingkungan Dalam Bisnis, Kajian Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan Pada Lingkungan, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 2007, hlm. 120.
8
Harsono, Bisnis Pengantar, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta, 2001, hlm. 19.
7
pada berbagai macam kewajiban yang harus dipenuhi dan dilaksanakan olehnya agar
kehidupan perusahaan dan manusia-manusia serta lingkungan alam yang terkait dan
terlibat didalamnya dapat berkelanjutan.
Awal mula munculnya konsep tanggung jawab sosial perusahaan adalah adanya
ketidakpercayaan masyarakat terhadap korporasi. Korporasi yang dimaksud disini tidak
hanya terbatas pada Perseroan Terbatas saja, tetapi setiap kegiatan usaha yang ada, baik
yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Seiring dengan perkembangan zaman,masyarakat semakin sadar akan pentingnya
perlindungan atas hak-hak mereka dan kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat
menuntut korporasi untuk lebih peduli pada masalah-masalah yang terjadi dalam
komunitas mereka. Lebih jelasnya, masyarakat menuntut tanggung jawab sosial
perusahaan. Pada tataran selanjutnya dunia usaha semakin menyadari bahwa korporasi
tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu
nilai perusahaan (corporate value) untuk menciptakan profit demi kelangsungan
usahanya, melainkan juga tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungannya. 9
Pemikiran yang mendasari hal ini adalah bahwa korporasi yang sehat secara
finansial sekalipun tidak menjamin korporasi tersebut dapat terus eksis apalagi
bertumbuh. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat sekitar memiliki semacam “power”
yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi eksistensi korporasi tersebut. Semakin
baik citra korporasi tersebut ditengah-tengah masyarakat sekitarnya, semakin kondusif
pula iklim usaha bagi korporasi tersebut.
Konsep tanggung jawab sosial perusahaan didorong oleh terjadinya kecenderungan
pada masyarakat industri yang dapat disingkat sebagai fenomena DEAF (yang dalam
Bahasa
Inggris
berarti
tuli)
sebuah
akronim
dari
Dehumanisasi,
Equalisasi,
Aquariumisasi, dan Feminisasi : 10
1. Dehumanisasi industri.
Efisiensi dan mekanisasi yang semakin menguat di dunia industri telah
menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan baik bagi kalangan buruh di
perusahaan tersebut, maupun bagi masyarakat di sekitar perusahaan. “Merger
mania” dan perampingan perusahaan telah menimbulkan gelombang Pemutusan
9
Yusuf Wibisono, Ibid, hlm. xxiv.
Edi Suharto, Ibid, hlm. 103.
10
8
Hubungan Kerja dan pengangguran, ekspansi dan eksploitasi dunia industri
telah melahirkan polusi dan kerusakan lingkungan yang hebat.
2. Equalisasi hak-hak publik.
Masyarakat kini semakin sadar akan haknya untuk meminta
pertanggungjawaban perusahaan atas berbagai masalah sosial yang seringkali
ditimbulkan oleh beroperasinya perusahaan. Kesadaran ini semakin menuntut
akuntabilitas (accauntability) perusahaan bukan saja dalam proses produksi,
melainkan pula dalam kaitannya dengan kepedulian perusahaan terhadap
berbagai dampak sosial yang ditimbulkannya.
3. Aquariumisasi dunia industri.
Dunia kerja kini semakin transparan dan terbuka laksana sebuah akuarium.
Perusahaan yang hanya memburu rente ekonomi dan cenderung mengabaikan
hukum, prinsip etis, dan filantropis tidak akan dapat dukungan publik. Bahkan
dalam banyak kasus, masysrakat menuntut agar perusahaan seperti ini ditutup.
4. Feminisasi dunia kerja.
Semakin banyaknya wanita yang bekerja, semakin menuntut penyesuaian
perusahaan, bukan saja terhadap lingkungan internal organisasi, seperti
pemberian cuti hamil dan melahirkan, keselamatan dan kesehatan kerja,
melainkan pula terhadap timbulnya biaya-biaya sosial, seperti penelantaran
anak, kenakalan remaja, akibat berkurangnya atau hilangnya kehadiran ibu-ibu
di rumah dan tentunya di lingkungan masyarakat. Pelayanan sosial seperti
perawatan anak (child care), pendirian fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi
anak-anak, atau pusat-pusat kegiatan olah raga dan rekreasi bagi remaja bisa
merupakan sebuah “kompensasi” sosial terhadap isu ini.
Lebih lanjut Archie B. Carrol mengemukakan konsep Piramida Tanggung Jawab
Sosial Perusahaan yang memberi justifikasi logis sehingga sebuah perusahaan perlu
menerapkan tanggung jawab sosial perusahaan bagi masyarakat di sekitarnya. Sebuah
perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab ekonomis, melainkan pula tanggung
jawab legal, etis, dan filantropis. 11
1. Tanggung jawab ekonomis.
Kata kuncinya adalah : make a profit. Motif utama perusahaan adalah
menghasilkan laba. Laba adalah fondasi perusahaan. Perusahaan harus memiliki
nilai tambah ekonomi sebagai prasyarat agar perusahaan dapat terus hidup
(survive) dan berkembang.
2. Tanggung jawab legal.
Kata kuncinya : obey the law. Perusahaan harus taat hukum. Dalam proses
mencarai laba, perusahaan tidak boleh melanggar kebijakan dan hukum yang
telah ditetapkan pemerintah.
11
Zaidi, Zaim dan Hamid Abidin, Menjadi Bangsa Pemurah : Wacana dan Praktek Kedermawanan Sosial
di Indonesia, Piramedia, Jakarta, 2004, hlm. 59-60.
9
3. Tanggung jawab etis.
Perusahaan memiliki kewajiban untuk menjalankan praktek bisnis yang baik,
benar, adil, dan fair. Norma-norma masyarakat perlu menjadi rujukan bagi
perilaku organisasi perusahaan. Kata kuncinya : be ethical.
4. Tanggung jawab filantropis.
Selain perusahaan harus memperoleh laba, taat hukum dan berperilaku etis,
perusahaan dituntut agar dapat memberi kontribusi yang dapat dirasakan secara
langsung oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas
kehidupan semua. Kata kuncinya : be a good citizen. Para pemilik dan pegawai
yang bekerja di perusahaan memiliki tanggung jawab ganda, yakni kepada
perusahaan dan kepada publik yang kini dikenal dengan istilah nonfiduciary
responsibility.
Mengingat kemampuan perusahaan untuk bersaing sangat tergantung pada keadaan
lokasi di mana perusahaan beroperasi, maka konsep Piramida Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan tersebut harus dipahami sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu kemudian
lahir suatu konsep yang dikemukakan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui
bukunya “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business “
yang menyatakan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan
hidupnya, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan “3P” yaitu : 12
1. Profit.
Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang
memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
2. People.
Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia.
Beberapa perusahaan mengembangkan program tanggung jawab perusahaan,
seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana
pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan ada
perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga
setempat.
3. Plannet.
Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup keberlanjutan keberagaman
hayati. Beberapa program tanggung jawab sosial perusahaan yang berpijak pada
prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana
air bersih, perbaikan pemukiman, pengembangan pariwisata (ekoturisme).
12
Edi Suharto, Ibid, hlm. 104-105.
10
Tabel 1. Triple Bottom Lines dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Dalam perkembangannya sampai saat ini masih sulit untuk menemukan konsep
standar yang dapat dijadikan acuan pokok mengenai batasan dan kriteria yang harus
dipenuhi dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Di tingkat global,
memang telah ada beberapa konsep pedoman yang harus dijalankan dalam tanggung
jawab sosial perusahaan antara lain diterbitkan oleh organisasi internasional yang bersifat
independen seperti Sullivan Principles, Global Reporting Initiative, organisasi negaranegara dalam
kerangka PBB (Organization for Economic Cooperation and
Development), dan dikeluarkan juga oleh organisasi non pemerintah.
B. RUANG
LINGKUP
PENERAPAN
TANGGUNG
JAWAB
SOSIAL
PERUSAHAAN.
Lingkup penerapan tanggung jawab sosial perusahaan menurut pendapat Prince of
Wales International Business Forum merujuk pada lima pilar yaitu, Pertama upaya
perusahaan untuk menggalang dukungan sumber daya manusia, baik internal (karyawan)
maupun eksternal (masyarakat sekitar) atau disebut building human capital; Kedua,
memberdayakan ekonomi komunitas atau strengthening economies; Ketiga, menjaga
harmonisasi dengan masyarakat sekitar agar tidak terjadi konflik atau assessing social
11
cohession; Keempat, mengimplementasikan tata kelola yang baik atau encouraging good
corporate governance; Kelima, memperhatikan kelestarian lingkungan atau protecting
the environment. 13
Lebih lanjut Gurvy Kavei, seorang pakar manajemen dari Universitas Manchester
menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility ruang lingkupnya meliputi : 14
1. di tempat kerja, implementasinya mencakup aspek kesehatan dan keselamatan
kerja, pengembangan knowledge dan skill karyawan, peningkatan kesejahteraan
dan kepemilikan saham;
2. di komunitas, implementasinya berupa kontribusi dalam bentuk charity,
philantrophy maupun community development;
3. terhadap lingkungan, implementasinya meliputi proses produksi dan produk
yang ramah lingkungan, ikut serta dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Green Paper dari Komisi Masyarakat Eropa (2001) memberikan perspektif lain,
bahwa tanggung jawab sosial korporat itu memiliki dua dimensi yaitu :
1. dimensi internal yang mencakup manajemen sumber daya manusia, kesehatan
dan keselamatan kerja, beradaptasi dengan perubahan, manajemen dampak
lingkungan dan sumber daya alam;
2. dimensi eksternal yang mencakup komunitas-komunitas lokal, mitra usaha,
pemasok dan konsumen, hak asasi manusia, dan kepedulian pada lingkungan
hidup.
The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam
salah satu publikasinya menyebutkan bahwa area-area yang menjadi objek dari tanggung
jawab sosial perusahaan diantaranya adalah environmental stewardship, labour
management, disclosure of information, competition, taxation, bribery and korruption,
science and technology, dan consumer protection. 15
13
Ibid, hlm. 119.
Ibid.
15
Widjaja, Gunawan dan Yeremia Ardi Pratama, Risiko Hukum & Bisnis Perusahaan Tanpa CSR, Forum
Sahabat, Jakarta, 2008, hlm. 51.
14
12
Hasil penelitian Eleanor Chambers dengan kawan-kawan pada tahun 2003
mengklasifikasikan tanggung jawab sosial perusahaan dalam tiga aspek yaitu :
1. Keterlibatan dalam komunitas yang meliputi pengembangan masyarakat
(community development), pendidikan dan pelatihan, kegiatan keagamaan dan
olah raga.
2. Pembuatan produk yang bisa dipertanggungjawabkan secara sosial, yaitu
kesehatan dan keselamatan kerja, proses dan produk yang ramah lingkungan
termasuk kepedulian terhadap konservasi lingkungan hidup.
3. Employee relations, yaitu kesejahteraan pekerja dan keterlibatan pekerja.
Mengingat belum adanya definisi tunggal yang diterima secara global oleh semua
pihak, juga menimbulkan beragamnya pendapat
mengenai ruang lingkup tanggung
jawab sosial perusahaan. Setiap korporasi berhak menentukan sendiri bentuk tanggung
jawab sosial perusahaan yang akan dilakukannya sesuai dengan kemampuan korporasi
tersebut. Meskipun perdebatan masih akan berlanjut karena masalah tanggung jawab
sosial perusahaan akan terus berkembang, namun ada beberapa isu penting yang sebagian
besar telah disepakati menjadi perhatian uatama dalam tanggung jawab sosial
perusahaan, seperti masalah transparansi dan akuntabilitas, hak asasi manusia, hak-hak
pekerja, lingkungan, masyarakat dan komunitas sekitarnya.
C. PERKEMBANGAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
DI INDONESIA
Citra positif CSR di Indonesia mencatat perkembangan menggembirakan akhirakhir ini. Pada halaman-halaman media cetak kini sering menyajikan advertorial bakti
sosial perusahaan, bahkan sering menyebutkan CSR untuk kegiatannya. Beberapa
perusahaan bahkan menyajikan informasi kegiatan CSRnya hingga satu halaman penuh
surat kabar bahkan berhalaman-halaman majalah. Secara faktual, hal ini menjadi
indikator penting bahwa pertimbangan-pertimbangan sosial sudah berdampingan dengan
hitung-hitungan rasionalitas bisnis.
Pada akhir tahun 2005 dicatat sebagai salah satu puncak momentum CSR di
Indonesia melalui kehadiran CSR Award yang diselenggarakan oleh Corporate Forum for
Community Development (CFCD) bekerjasama dengan majalah SWA dan berbagai
13
lembaga lainnya. Sebagian kalangan menyatakan bahwa momentum CSR Award masih di
level sosialisasi pentingnya kesadaran terhadap CSR, bukan menilai CSR yang
sesungguhnya.
16
Walaupun masih ditemukan kelemahan terutama dari sudut pandang
konsep dan praktiknya, sebagai strategi publikasi tidak berlebihan jika CSR Award
disebut sebagai momentum penting dalam meningkatkan kesadaran perusahaan akan
keharusan memasukkan CSR sebagai bagian integral strategi bisnis.
Perkembangan konsep dan praktik CSR di Indonesia tentu tak lepas dari perubahan
geopolitik ekonomi internasional. Globalisasi yang mengusung isu demokratisasi
membawa implikasi dimasukkannya agenda HAM serta penguatan masyarakat sipil,
sekaligus kesempatan penting bagi perluasan sayap bisnis yaitu melalui upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal dan pelestarian lingkungan. PBB dan
OECD, misalnya mengajukan standar yang didasarkan pada Deklarasi Hak Asasi
Manusia (1948), Deklarasi PBB tentang Kelestarian Lingkungan (1972), serta Deklarasi
Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (1992), sebagai indikator yang
mengikat perusahaan penggunanya. 17
Inisiatif penyelenggaraan CSR di Indonesia pun berhubungan dengan perubahan
politik ekonomi paska Orde Baru, khususnya berkenaan dengan kebijakan desentralisasi
yang menghasilkan Undang-undang Otonomi Daerah yang mengharuskan perusahaan
mendudukkan diri sebagai mitra yang baik terhadap daerah di mana perusahaan tersebut
melakukan kegiatannya.
Perkembangan paling mutakhir dari CSR di Indonesia adalah masuknya aspek
tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, yaitu Pasal 74. Pasal tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai
negara yang pertama kali mewajibkan CSR di dunia. Menyusul kemudian Inggris yang
meregulasikan CSR bagi pelaku usaha di wilayahnya, sedangkan Amerika Serikat
sekarang sedang mendiskusikan bill yang memuat pewajiban CSR. Kita sadari bahwa
perumusan CSR dalam Pasal 74 UU PT memang problematik, terutama karena
definisinya kurang begitu jelas (akan diperjelas dalam PP yang sedang disiapkan).
16
Beria Leimona dan Aunul Fauzi, CSR dan Pelestarian Lingkungan (Mengelola dampak : Positif dan
negatif), Indonesia Business Links, Jakarta, 2008, hlm. xxii.
17
Ibid, hlm. xxiv.
14
Dengan dimasukkannya CSR dalam regulasi, kini perusahaan memang tidak
memiliki pilihan, selain memasukkan konsep dan praktik CSR sebagai bagian integral
dari penilaian kinerjanya. Perusahaan harus mampu menjalin hubungan baik yang
konstruktif dengan berbagai kalangan, proaktif, memimpin inovasi, dan menemukan
cara-cara baru demi kelangsungan dan keamanan bisnis.
Memperhatikan hal tersebut maka sudah saatnya perusahaan-perusahaan dan
kalangan bisnis di Indonesia mengambil prakarsa untuk mewujudkan tanggung jawab
sosial perusahaan. Perusahaan dan kalangan bisnis sebagai pihak yang juga mendapatkan
keuntungan dari bumi Indonesia (yang sesungguhnya juga harus dapat memberi
keuntungan pada masyarakat Indonesia), harus semakin menyadari bahwa mereka harus
juga berpartisipasi untuk mengentaskan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat
Indonesia agar mampu menghadapi tantangan masa depannya demi kemajuan bangsa,
misalnya melalui pendidikan, pemberian bea-siswa, pelatihan dan sejenisnya. Tentu yang
diharapkan industri semakin bertanggung jawab dalam melakukan operasinya, bukan
sebaliknya.
Memang tidak bisa dipungkiri masih ada pandangan yang bersikap curiga terhadap
konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Pandangan negatif tersebut dilatarbelakangi
oleh penilaian bahwa perusahaan-perusahaan menjalankan tanggung jawab sosial
perusahaan sekedar untuk meredakan resistensi masyarakat ditengah laju kepentingan
untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin. Bahkan komitmen perusahaan-perusahaan
pada masalah lingkungan misalnya, dipandang sebagai tidakan kamuflase. Mensikapi
pandangan-pandangan negatif seperti itu maka kalangan industri justru harus semakin
tertantang untuk membuktikan bahwa pandangan-pandangan negatif tentang tanggung
jawab sosial perusahaan tidak benar adanya.
Ada beberapa alasan yang kuat perlunya tanggung jawab sosial perusahaan untuk
mendapatkan perhatian bagi pelaku usaha di Indonesia, yaitu : 18
1. Masyarakat Semakin Kritis
Kondisi yang ada pada saat ini bahwa masyarakat semakin kritis, terbuka dan
berani menyampaikan aspirasinya terhadap hal-hal yang menyangkut ketidakadilan, kerusakan lingkungan atau sikap ketidak pedulian. Tuntutan tersebut
18
Sudharto P. Hadi, FX. Adji Samekto, Ibid, hlm. 123-127.
15
adalah wajar, apalagi jika tuntutan tersebut untuk kepentingan bersama
mewujudkan keadilan termasuk bidang lingkungan. Hal ini hendaknya menjadi
perhatian bagi kalangan industri dan pelaku bisnis akan tuntutan untuk memiliki
komitmen sosial selain komitmen finansial. Ketidak pedulian terhadap tuntutan
masyarakat dapat mengakibatkan perusahaan dikenakan sanksi pemboikotan
terhadap produk baik berupa barang maupun jasa yang dihasilkan perusahaan.
2. Mewujudkan Tanggung Jawab Bersama
Tuntutan untuk memenuhi tanggung jawab sosial sebenarnya bukan hanya datang
dari masyarakat, tetapi juga dari kalangan bisnis itu sendiri. Sejak tahun 1990-an
dunia bisnis diperkenalkan dengan model pengelolaan lingkungan yang
berparadigma “atur diri sendiri”. Paradigma pengelolaan lingkungan atur diri
sendiri berangkat dari pemikiran bahwa tindakan untuk melindungi lingkungan
tidak harus didasarkan pada keharusan-keharusan yang ditetapka pemerintah
melalui hukum positifnya, tetapi dapat dilakukan atas prakarsa sendiri. Hal
tersebut tercermin dari adanya setifikasi ecilabelling dan bertema tentang audit
lingkungan, yaitu sertifikasi yang diberikan kepada suatu perusahaan yang
didalam menjalankan kegiatan usahanya untuk melakukan proses produksi dari
awal hingga akhir tidak berimplikasi buruk terhadap lingkungan dan Hak Asasi
Manusia. Pelaku usaha sesungguhnya merasa khawatir apabila treck record-nya
buruk di bidang lingkungan, maka kredibilitasnya dihadapan pemegang saham
dan konsumen juga buruk. Mengingat kredibilitas yang tinggi akan berdampak
positif pada meningkatnya harga saham perusahaan.
3. Bisnis Yang Berwajah Sosial
Kinerja bisnis yang mencerminkan adanya komitmen sosial yang tinggi, merasa
senasib sepenanggungan dengan masyarakat dan ikut bersama menyelesaikan
persoalan masyarakat akan lebih mudah memperoleh simpati dari masyarakat dan
berimplikasi pada munculnya citra posisitf perusahaan tersebut. Lebih-lebih
kondisi sekarang, dimana berita mudah diakses oleh masyarakat, maka citra
positif perusahaan menjadi sesuatu yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar
dapat menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan.
16
4. Membuktikan Diri Sebagai Mitra Setia Masyarakat
Kejujuran adalah salah satu modal dasar dalam dunia bisnis yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi. Manakala masyarakat mendapat bukti bahwa suatu perusahaan
telah berbuat atau menyatakan sesuatu secara tidak jujur, maka perusahaan
tersebut akan ditinggalkan. Masyarakat yang dalam hal ini terdiri dari bermacammacam segmen dan kepentingan akan lebih tertarik menggunakan produk suatu
perusahaan yang tidak melakukan kebohongan.
5. Menjamin Bisnis Yang Berkelanjutan
Adalah sesuatu yang memungkinkan apabila suatu perusahaan menunjukkan
kinerja yang jujur, bertanggung jawab atas produknya, membuktikan diri sebagai
mitra setia masyarakat dan menunjukkan tanggung jawab sosialnya, maka akan
menumbuhkan hubungan yang langgeng antara perusahaan dengan stakeholders
termasuk didalamnya masyarakat.
D. KEBERLANJUTAN KORPORASI DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PERUSAHAAN (CSR)
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) merupakan kontribusi dunia usaha bagi
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan
adalah suatu upaya yang mendorong tercapainya kebutuhan generasi saat ini tanpa
mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep
ini menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan standar
lingkungan yang tinggi. 19
Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, setiap
insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas
hidup masyarakat. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang
sehat dengan mempertimbangkan pula faktor lingkungan hidup. Dunia usaha saat ini
tidak lagi hanya memperhatikan aspek keuangan saja, melainkan meliputi baik aspek
keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan yang biasa disebut sebagai triple bottom
19
Yusuf Wibisono, Ibid, hlm. 15.
17
line. Sinergi dari ketiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan
berkelanjutan (sustainable development). 20
Namun dalam kondisi saat ini, pelaku usaha juga mengalami berbagai tekanan yang
cukup berat, mulai dari kepentingan untuk meningkatkan daya saing, tuntutan untuk
menerapkan corporate governance, hingga masalah kepentingan stakeholder yang makin
meningkat. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mencari pola-pola kemitraan (partnership)
dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam pembangunan, sekaligus
meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan berkembang menjadi perusahaan
yang mampu bersaing.
Salah satu bentuk peran korporasi dalam pembangunan adalah dengan
mengimplementasikan CSR dalam kebijakan perusahaan dan melaksanakan dengan
penuh komitmen serta mendapatkan dukungan sepenuhnya dari jajaran manajernya. Hal
tersebut dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan
aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan
lingkungan hidup, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara
berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya
dunia usaha.
CSR merupakan salah satu strategi bisnis yang tujuan akhirnya adalah menjaga
kelangsungan hidup perusahaan, yang dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan tiga
hal yaitu : 21
1. Sustainability ekonomi
Setiap perusahaan yang didirikan pasti memiliki tujuan dasar yaitu mencari
keuntungan. CSR tidak berarti melakukan aktivitas sosial dan menjaga kelestarian
lingkungan hingga mempengaruhi keuntungan perusahaan. Dalam melaksanakan
CSR, perusahaan wajib memenuhi tujuan dasarnya, yaitu mencari keuntungan
sebesar-besarnya.
Sustainability
ekonomi
perusahaan adalah dasar bagi
perusahaan dalam menjaga sustainability sosial dan lingkungan. Perusahaan akan
dapat menjaga sustainability sosial dan lingkungan jika perusahaan tersebut
mendapatkan keuntungan. Sustainability ekonomi dapat dicapai dengan cara
20
21
Eka Tjipta Faoundation, Sustainable CSR, dalam Ibid, hlm. 43.
Widjaja, Gunawan, ibid, hlm. 45.
18
mendapatkan keuntungan, meminimalisasi biaya dan memaksimalkan penjualan,
membuat
kebijakan-kebijakan
bisnis
yang
strategis
serta
menjanjikan
pengembalian yang menarik bagi para investor.
2. Sustainability Sosial
Beroperasinya sebuah perusahaan ditengah-tengah masyarakat pasti akan
menimbulkan dampak bagi
masyarakat
tersebut. Kehadiran perusahaan
diharapkan sedikit banyak akan mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat
sekitarnya baik melalui perekrutan tenaga kerja maupun sumbangsih perusahaan
secara langsung terhadap masyarakat tersebut. Dengan adanya CSR terhadap
masyarakat sekitar, perusahaanpun sebenarnya terbantu dalam hal mendapatkan
rasa aman dan nyaman dalam berusaha yang didapat dari masyarakat sekitarnya.
Sustainability sosial terkait dengan upaya perusahaan dalam mengutamakan nilainilai yang tumbuh dalam masyarakat dan dilakukan dengan cara-cara antara lain
mendukung upaya kesehatan masyarakat,penegakan Hak Asasi Manusia,
pembangunan regional suatu negara dan melakukan persaingan usaha yang sehat.
3. Sustainability Lingkungan
Lingkungan yang baik dan terpelihara adalah harapan dari semua pihak.
Belakangan ini dunia disibukkan dengan masalah global warming yang
mengancam kehidupan manusia. Dalam hal ini salah satu pihak yang disalahkan
adalah perusahaan. Aktivitas kegiatan industri dituding sebagai penyebab utama
terjadinya global warming. Banyaknya tuntutan dari masyarakat, LSM, dan
organisasi internasional lainnya agar perusahaan memperhatikan masalah
lingkungan, merupakan argumen yang kuat bahwa sustainability lingkungan
merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup
perusahaan. Lingkungan yang baik dan terpelihara akan memberikan jaminan
keberlanjutan kegiatan perusahaan terutama bagi perusahaan yang bergerak di
bidang sumber daya alam. Sustainability lingkungan ini dijaga oleh perusahaan
antara lain dengan cara menggunakan teknologi ramah lingkungan demi
mengurangi emisi gas buang, mengimplementasikan sistem manajemen resiko
lingkungan yang efektif, menerapkan prinsip-prinsip eco-labelling dan lain-lain.
19
Menurut Eka Tjipta Foundation, CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren
dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan
kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Kedua hal tersebut akan
menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing.
Dilain pihak adanya kesadaran dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan
kriteria-kriteria berbasis nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa
mendatang.
20
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
A.TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan secara analitis
tentang penerapan asas tanggung jawab sosial perusahaan dalam kebijakan korporasi,
sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan bagi korporasi .
2. Untuk mengetahui konsep tanggung jawab sosial perusahaan menurut dunia
usaha.
3. Untuk mengetahui penerapan konsep CSR dalam kebijakan perusahaan.
B. MANFAAT PENELITIAN
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong komitmen perusahaan untuk
berperan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas
kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat dengan melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan.
2. Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan masukan bagi Pemerintah
untuk memberikan ruang yang luas pada kenyamanan berusaha dengan
memperhatikan faktor kelembagaan sehingga kebijakan yang berkaitan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan dapat terlaksana dengan baik.
21
BAB IV
METODE PENELITIAN
1. Metode Pendekatan.
Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis
normatif. Pendekatan normatif untuk mengkaji konsep tanggung jawab sosial
perusahaan dengan menggunakan tolok ukur Undang-undang Perseroan Terbatas
dan Undang-undang Penanaman Modal yang dapat disimpulkan dari pasal-pasal
yang mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan.
2. Spesifikasi Penelitian.
Spesifikasi penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis, karena bertujuan
memberikan gambaran secara menyeluruh, mendalam tentang suatu keadaan atau
gejala yang diteliti.
22
Spesifikasi deskriptif analitis dalam penelitian ini karena
diharapkan mampu memecahkan masalah dengan cara memaparkan keadaan obyek
penelitian yang sedang diteliti apa adanya berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh
pada saat penelitian dilakukan. 23
3. Jenis dan Sumber Data.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data ini
merupakan hasil olahan/ tulisan/ penelitian pihak lain. Data sekunder dalam
penelitian ini berupa dokumen-dokumen program tanggung jawab sosial
perusahaan, peraturan-peraturan hukum yang terkait, tulisan ilmiah/ hasil-hasil
penelitian, dll. Data sekunder di bidang hukum dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. bahan-bahan hukum primer, adalah produk-produk hukum yang mengikat
warga negara meliputi UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, UU
No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No.
39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 8 Tahun 1999 tentang
22
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. III, UI Press, Jakarta, 1986, hlm. l0.
Hadari Nawawi, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1992,
hlm. 42.
23
22
Perlindungan Konsumen dan UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha
Milik Negara;
b. bahan-bahan hukum sekunder, adalah bahan-bahan hukum yang erat kaitannya
dengan bahan hukum primer dan dapat membantu memahami atau menganalisis
bahan hukum primer, yang meliputi buku-buku ilmiah yang membahas
tanggung jawab sosial perusahaan, hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan dan beberapa makalah, hasil seminar, jurnal
ilmiah yang membahas tanggung jawab sosial perusahaan;
c. bahan hukum tersier, adalah bahan hukum yang memberikan informasi
mengenai bahan hukum primer maupun sekunder, Kamus Hukum, ensiklopedi,
Black Law Dictionary.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data sekunder
adalah dengan cara studi kepustakaan, kajian dokumen, dan hasil-hasil penelitian
sebelumnya yang terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan.
5. Analisis Data
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan teknik deduksi,
hal ini dilakukan terhadap data yang sifatnya data sekunder yang diperoleh
melalui kajian kepustakaan. Hasil editing kemudian diinterpretasikan dengan
menggunakan teori dan konsep yang hasilnya dideskripsikan secara kualitatif
kemudian diambil kesimpulan.
23
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PENGATURAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) BAGI
KORPORASI
Wacana adanya tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menyulut perdebatan
perlunya diregulasikan atau tidak mengenai kewajiban perusahaan untuk melaksanakan
CSR, mengingat belum semua perusahaan melaksanakan CSR tersebut. Pihak yang pro
terhadap regulasi CSR, menyatakan bahwa dengan diregulasikannya CSR maka ada
payung hukum untuk memaksa kepada perusahaan yang belum melaksanakan CSR.
Disamping itu dengan adanya keberagaman definisi tentang CSR yang mengakibatkan
bermacam-macam bentuk aplikasinya di lapangan, maka dengan adanya regulasi CSR
akan memberikan keseragaman/ standarisasi pelaksanaan CSR sehingga akan
memudahkan dalam audit sosial perusahaan terhadap lingkungan internal maupun
lingkungan eksternal dari perusahaan.
Meskipun kewajiban melaksanakan CSR bagi perusahaan merupakan suatu
tindakan yang memang harus dilaksanakan tanpa suatu paksaan, namun ada sementara
pihak yang keberatan jika CSR tersebut harus diregulasikan. Latar belakang penolakan
tersebut adalah bahwa melaksanakan CSR merupakan kegiatan yang bersifat
discretionary, yang mendorong perusahaan untuk mau atau tidak mau harus
melaksanakan CSR. Sebab jika CSR tidak dilaksanakan maka perusahaan sendirilah yang
akan mengalami kerugian akibat dampak sosial yang muncul, atau dengan kata lain CSR
bukanlah suatu hal yang perlu dipaksakan tapi bentuk keberpihakan bisnis yang bersifat
sukarela.
Terlepas dari adanya pro dan kontra terhadap regulasi CSR, sejak tahun 1995
sejumlah produk hukum yang mengatur CSR di Indonesia telah ada, antara lain :
1. Kepres No. 90 Tahun 1995 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Bantuan
yang diberikan untuk Pembinaan Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1
yang menyebutkan :
“Wajib Pajak Badan maupun orang pribadi dapat membantu sampai dengan
setinggi-tingginya 2 persen dari laba atau penghasilan setelah Pajak Penghasilan
24
yang diperolehnya dalam satu tahun pajak untuk pembinaan Keluarga Pra
Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1”.
Kemudian dirubah melalui Kepres No. 92 Tahun 1996 menjadi :
“Wajib Pajak Badan atau Orang Pribadi wajib memberikan bantuan untuk
pembinaan Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera 1 sebesar 2 persen dari laba atau
penghasilan setelah Pajak Penghasilan dalam satu tahun pajak”.
Dalam perkembangannya kedua Kepres tersebut kemudian dicabut melalui
Kepres No. 98 Tahun 1998. Meskipun kedua Kepres tersebut telah dicabut,
namun konsep CSR tetap diwujudkan dalam bentuk program Pembinaan
Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan menggunakan dana yang
besumber dari penyisihan dua persen keuntungan setelah pajak selama satu tahun
terakhir. Konsep CSR ini masih dimaknai sebagai sebuah kedermawanan sosial
yang ditujukan untuk pengentasan keluarga miskin.
Tabel 2. Ilustrasi Kepres No. 90/1995 & Kepres No. 98/1998
25
2. Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN dikenal dua bentuk badan
usaha milik negara yaitu Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Perseroan
(Persero). Pasal 2 juncto Pasal 66 ayat (1) UU BUMN mengatur tentang program
kemitraan. Praktek CSR dalam BUMN berbeda dengan perusahaan non-BUMN
yang secara normatif memahami sebagai suatu kedermawanan sosial. Sedangkan
bagi BUMN implementasi CSR merupakan mandatory karena adanya instrumen
yang bersifat imperatif yang berupa kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah
tersebut lebih lanjut dituangkan melalui keputusan Menteri BUMN Nomor : Kep236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 yang pada prinsipnya mengikat BUMN
untuk menyelenggarakan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan atau
biasa disingkat dengan istilah PKBL. Program Kemitraan adalah program untuk
meningkatkan kemampuan usaha kecil dalam bentuk pinjaman baik untuk modal
usaha maupun pembelian perangkat penunjang produksi agar usaha kecil menjadi
tangguh dan mandiri. Sementara Program Bina Lingkungan adalah program
pemberdayaan kondisi sosial masyarakat untuk tujuan yang memberikan manfaat
kepada masyarakat di wilayah usaha BUMN yang bersangkutan. Kemudian
melalui Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-433/MBU/2003 yang merupakan
petunjuk pelaksanaan dari Keputusan Menteri BUMN Nomor : Kep.236/MBU/2003 ditentukan bahwa setiap BUMN disyaratkan membentuk unit
tersendiri yang bertugas secara khusus menangani PKBL. Unit tersebut menjadi
bagian tak terpisahkan dari organisasi perusahaan dan bertanggung jawab
langsung kepada salah satu anggota direksi yang ditetapkan dalam rapat direksi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara BUMN No. 4 Tahun 2007, sumber dana
yang dialokasikan untuk PKBL diambilkan dari laba bersih sebesar 2%. Dalam
Permen tersebut ditentukan pula persyaratan mengenai pihak-pihak yang dapat
memperoleh bantuan PKBL yaitu bagi pelaku usaha yang memiliki aset 200 juta
atau omzetnya 1 milyar setahun. Dengan adanya ketentuan batasan pihak yang
memperoleh bantuan tersebut adalah bertolak belakang dengan filosofi CSR yang
tidak mengenal adanya persyaratan minimum asset/ omzet yang dimiliki bagi
pengembangan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.
26
Tabel 3. Ilustrasi UU No. 19 Tahun 2003
3. Dalam Pasal 15 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal ditegaskan
amanat bahwa, setiap penanam modal berkewajiban menerapkan tata kelola
perusahaan yang baik dan melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan, untuk
tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan
lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Lebih lanjut dalam
Pasal 17 disebutkan bahwa “Penanam modal yang mengusahakan sumber daya
alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan dana secara bertahap untuk
pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan”. Dalam hal ini
CSR diaplikasikan dalam bentuk pelaksanaan green mining dimana segala bentuk
jenis usaha pada sektor tak terbarukan (pertambangan dan sejenisnya) diwajibkan
untuk melakukan secara bertahap pemulihan lokasi operasional sesuai dengan
standar kelayakan lingkungan. Selanjutnya lebih tegas didalam Pasal 15 butir b
tercantum kewajiban tentang tanggung jawab sosial perusahaan sbb. “Setiap
penenanam
modal
berkewajiban
melaksanakan
tanggung
jawab
sosial
perusahaan”. Bagi pelaku usaha yang tidak memenuhi kewajiban tersebut akan
dikenai sanksi berupa peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha dan/ atau
fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/ atau fasilitas
27
penanaman modal, sampai pembatalan kontrak, hal ini tercantum dalam Pasal 34
ayat (1) sbb. “Badan usaha atau usaha perorangan yang tidak memenuhi
kewajiban
melaksanakan
tanggung
jawab
sosial
akan
dikenai
sanksi
administratif”.
Tabel 4. Ilustrasi UU No. 25 Tahun 2007.
4. UU No. 40 Tahun 2007 tentang Peseroan Terbatas juga mengatur aspek tanggung
jawab sosial perusahaan (CSR), hal tersebut dapat dilihat dalam Pasal 74 yang
menyatakan sbb. :
Ayat (1), “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau
berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial
dan lingkungan”.
Ayat (2), “tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan
yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran”.
Ayat (3), “perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Ayat (4), “ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan
diatur dengan peraturan pemerintah”.
Dalam Pasal 74 ayat (1) yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan
kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam” adalah perseroan yang
kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Adapun yang
28
dimaksud dengan “ perseroan yang menjalankan kegitan usahanya yang
berkaitan dengan sumber daya alam” adalah perseroan yang tidak mengelola
dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi kegiatan usahanya berdampak
pada fungsi kemampuan sumber daya alam. Hal ini memberikan pengertian
bahwa kegiatan usaha yang dimaksud tidak hanya melihat pada bisnis inti (core
business) dari perusahaan tersebut. Walaupun tidak secara langsung melakukan
eksploitasi sumber daya alam, tetapi kegiatan usahany berdampak pada fungsi
kemampuan sumber daya alam, maka perusahaan tersebut wajib melaksanakan
tanggung jawab sosialnya. Hal ini berarti bahwa baik itu perusahaan
pertambangan, industri perkayuan, industri makanan, yang kegiatan usahanya
berhubungan langsung dengan sumber-sumber daya alam, maupun rumah sakit,
perusahaan telekomunikasi, perbankan, percetakan dan perusahaan-perusahaan
lain yang walaupun tidak secara langsung menggunakan sumber daya alam dalam
kegiatan usahanya, wajib melaksanakan CSR. Adapun yang dimaksud dengan
anggaran dan biaya CSR sebagaimana disebutkan dalam Pasal 74 ayat (2) adalah
dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran yang diatur besarnya
sesuai dengan manfaat yang hendak dituju dari pelaksanaan CSR berdasarkan
kemampuan keuangan perseroan dan potensi risiko serta besarnya tanggung
jawab yang harus ditanggung oleh perseroan sesuai dengan kegiatan usahanya.
Kondisi tersebut pada dasarnya penentuan besar kecilnya dana untuk pelaksanaan
CSR tetap memperhatikan tujuan pelaksanaan CSR yaitu sustainability
perusahaan, lingkungan dan sosial. Selanjutnya yang dimaksud dengan sanksi
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 74 ayat (3) adalah sanksi yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang terkait. Artinya sanksi yang dikenakan
bukan karena perusahaan tidak melakukan CSR menurut UU PT, melainkan
sanksi yng karena perusahaan mengabaikan CSR sehingga perusahaan tersebut
melanggar aturan-aturan terkait dibidang sosial dan lingkungan yang berlaku.
29
Tabel 5. Ilustrasi UU No. 40 Tahun 2007.
5. Berbagai macam peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaksanaan
tanggung jawab sosial dan lingkungan misalnya UU No. 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No. 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia, UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, dan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
Dengan demikian jelaslah bahwa konsep CSR yang semula hanya merupakan
kewajiban moral, dengan adanya beberapa kebijakan di bidang CSR maka mejadi
kewajiban yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum, tetapi khusus hanya bagi
perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengan
sumber daya alam. Bagi perusahaan lainnya, CSR hanya merupakan kewajiban moral
saja.
30
B.
KONSEP TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) MENURUT
DUNIA USAHA
Walaupun sampai saat ini, secara konseptual, pemahaman mengenai CSR, baik itu
dalam hal definisi, konsep, ruang lingkup maupun bentuk pelaksanaan masih cukup
beragam dan terus berkembang dari waktu kewaktu, karena CSR adalah sebuah konsep
yang terus berkembang. Akan tetapi terdapat beberapa hal yang telah menjadi
kesepakatan umum yang diterima secara universal sebagai suatu konsep oleh perusahaanperusahaan terkait dengan pelaksanaan CSR. Adapun konsep CSR menurut dunia usaha
dapat dikemukakan sebagai berikut : 24
1. Merupakan bagian dari strategi bisnis dan identitas perusahaan (corporate identity).
Perusahaan menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan lagi sekadar kegiatan
ekonomi menciptakan profit demi kelangsungan bisnisnya, melainkan juga tanggung
jawab sosial dan lingkungan. Dasar pemikirannya, menggantungkan semata-mata pada
kesehatan finansial tidak akan menjamin perusahaan
bisa tumbuh secara
berkelanjutan. Perusahaan meyakini bahwa program CSR merupakan investasi demi
pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) usaha, bukan lagi dilihat sebagai
sentra biaya (cost center) melainkan sebagai sentra laba (provit center) di masa
mendatang. Logikanya sederhana, bila CSR diabaikan, kemudian terjadi insiden, maka
biaya untuk mengcover resikonya jauh lebih besar dibandingkan nilai yang hendak
dihemat dari alokasi anggaran CSR itu sendiri. CSR berada dalam koridor strategi
perusahaan yang diarahkan untuk mencapai bottom line business goal yaitu
mendatangkan keuntungan yang diyakini akan menjadi sumber keunggulan kompetitif
yang sangat powerfull bagi perusahaan. Efek positifnya adalah kearah pembentukan
citra, melampaui standar regulasi yang berlaku, mendongkrak nilai saham, atau
memenangi kompetisi dan memperoleh penghargaan.
24
Widjaja, Gunawan, Ibid, hlm. 82-89
31
2. Bukan kegiatan philanthropy.
Konsep CSR yang diterima dunia usaha juga tampak dan dapat disimpulkan melalui
tiga laporan kegiatan CSR oleh Starbucks, Nestle dan Time Warner sebagai berikut :
a. Starbucks memandang CSR sebagai, “For us corporate social responsibility is not
just a program or a donation or a press release. It’s the way we do business every
day”.
b. Nestle memandang kegiatan CSR sebagai kegiatan yang dapat mempertahankan
kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang. Dalam rangka mempertahankan
kesuksesan perusahaan harus menciptakan nilai (create value), tidak hanya untuk
para shareholders saja tetapi juga bagi masyarakat. Oleh Nestle hal ini disebut
“Creating Shared Value”, yang bukan merupakan philanthropy atau kegiatan
tambahan, tetapi merupakan bagian yang fundamental dari strategi bisnis Nestle.
c. Time Warner berkomitmen untuk menjadi world-class corporate citizen, dan
sebagai warga negara yang bertanggung jawab, setiap kegiatan Time Warner harus
berdasarkan sebuah standar etis yang tinggi. Menjadi good corporate citizen
berarti bahwa Time Warner bekerja keras setiap hari disetiap area kegiatan mereka
untuk melakukan bagian mereka dalam menciptakan dunia yang lebih baik,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Richard D. Parsons bahwa : “CSR is not an
afterthought at our company. It is central to what we do. That’s because Time
Warner cannot be a great company unless we are a good company”.
Ketiga perusahaan tersebut memiliki pandangan yang sama bahwa CSR bukan sekadar
kegiatan philanthropy, tetapi merupakan bagian dari kegiatan inti perusahaan mereka
yang dilakukan setiap hari sebagaimana melakukan kegiatan usahanya.
3. Memerlukan keterlibatan dari semua stakeholders.
Bahwa semua stakeholders dituntut untuk terlibat secara langsung, tidak ada salah
satu stakeholders dirugikan karena penerapan CSR dalam perusahaan. Setiap
stakeholders baik itu shareholders, karyawan, konsumen, bahkan pemerintah,
rekanan bisnis dan setiap kelompok stakeholders harus mau berkorban untuk
penerapan CSR, karena CSR merupakan komitmen dari setiap stakeholders.
Pemerintah harus menyediakan sejumlah peraturan yang mendukung penerapan CSR
dan memperhitungkan CSR sebagai bagian dari pengeluaran perusahaan, yang dapat
32
diperhitungkan dengan penghasilan kena pajak sehingga tidak memberatkan
perusahaan.
4. Menuntut keterlibatan aktif perusahaan.
Keterlibatan perusahaan harus berjalan secara berkesinambungan, direncanakan dan
dengan target yang jelas, serta memiliki mekanisme evaluasi dan pelaporan yang jelas
pula. Dalam penyelenggaraan perseroan yang baik, rencana CSR akan dijadikan satu
dengan Rencana Kerja Tahunan Perseroan dan hasilnya dilaporkan dalam Laporan
Tahunan Perseroan. Baik kegiatan perusahaan dalam rangka menjaga kelestarian
lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masysrakat, pengembangan komunitas dan
lainnya harus ada kontinuitas dari keterlibatan perusahaan.
5. Tujuan penerapan CSR adalah sustainability perusahaan, lingkungan dan sosial.
Sebagai sebuah strategi bisnis, penerapan CSR bertujuan agar perusahaan dapat
melakukan kegiatan bisnisnya dengan baik dan meminimalisir resiko yang muncul
dari komunitas sekitar maupun dari lingkungan tempat perusahaan melakukan
kegiatan bisnisnya. Sustainability perusahaan, lingkungan dan sosial akan sangat
berpengaruh pada eksistensi perusahaan, oleh karena itu diperlukan tanggung jawab
sosial perusahaan agar ketiganya dapat berjalan secara sinergis.
6. Pelaksanaan CSR disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.
Dengan luasnya ruang lingkup CSR, tidak berarti perusahaan memiliki tanggung
jawab sosial yang tidak terbatas. Sebagai badan hukum yang memiliki fungsi
ekonomis, perusahaan tidak hanya memiliki kewajiban untuk melaksanakan tanggung
jawab sosialnya, tetapi juga memiliki hak untuk melakukan kegiatan usahanya dan
mendapatkan keuntungan. Perusahaan berhak menentukan sendiri bentuk CSR yang
akan dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas perusahaan dengan tetap
memperhatikan hal-hal yang sudah disepakati secara umum mengenai konsep CSR.
Bahwa CSR dilaksanakan baik untuk lingkup internal perusahaan yaitu bagi
karyawan, shareholders dan lain-lain maupun lingkup eksternal perusahaan yaitu
masyarakat dan lingkungan disekitar perusahaan.
Dari kosep CSR tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa menurut dunia usaha
konsep CSR adalah bagian dari strategi bisnis dan identitas perusahaan (corporate
identity), dan bukan kegiatan phylanthropy yang dilakukan dengan keterlibatan dari
33
seluruh stakeholders yang dalam pelaksanaannya memerlukan keterlibatan aktif dari
perusahaan, dengan tujuan sustainability perusahaan, lingkungan dan sosial serta
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan perusahaan, guna memperoleh keuntungan yang
optimal bagi perusahaan, masyarakat dan lingkungannya.
Setiap korporasi memiliki kosep dan aplikasi CSR yang berbeda, namun pada
dasarnya CSR melibatkan efektivitas bisnis dalam pengembangan relasi yang saling
menguntungkan antara komunitas dan korporat.
Meskipun setiap korporat memiliki kebebasan dalam melakukan aktivitas CSR
yang hendak dilakukannya, pada dasarnya interpretasi tersebut dapat dikelompokkan
dalam empat kategori tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu : 25
1. Tanggung Jawab Ekonomi (Economic Responsibilities)
Hal ini berkaitan dengan mekanisme pricing yang dilakukan korporat, yaitu
sebagai aktivitas ekonomi yang bersinergi dengan tanggung jawab sosial jika
didasari pada itikad untuk memberikan harga yang memihak kepada konsumen.
Artinya, harga yang diberikan merupakan representasi dari kualitas dan nilai
sebenarnya dari barang atau jasa yang ditawarkan. Proses komunikasi melalui
media iklan tidak bersifat menipu atau membohongi konsumen. Hal tersebut
merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh guna mensinkronkan fungsi
ekonomi dan aktivitas tanggung jawab sosial.
2. Tanggung Jawab Hukum (Legal Responsibilities)
Saat korporat memutuskan untuk menjalankan operasinya di wilayah tertentu
maka ia telah sepakat untuk melakukan kontrak sosial dengan segala aspek norma
dan hukum yang telah ada maupun yang akan muncul kemudian. Tanggung jawab
hukum oleh korporat merupakan kodifikasi sejumlah nilai dan etika yang
dicanangkan korporat terhadap seluruh pembuat dan pemilik hukum yang terkait.
Sudah seharusnya korporat menjalankan kepatuhan terhadap hukum dan norma
yang berlaku.
3. Tanggung Jawab Etis (Ethical Responsibilities)
Tanggung jawab etis berimplikasi pada kewajiban korporat untuk menyesuaikan
segala aktivitasnya sesuai dengan norma sosial dan etika yang berlaku meskipun
tidak diselenggarakan secara tertulis formal. Tanggung jawab etis ini, bertujuan
untuk memenuhi standar, norma, dan pengharap stakeholders terhadap korporat.
Termasuk dalam tanggung jawab etis adalah kepekaan korporat dalam
menjunjung kearifan dan adat lokal. Pengenalan terhadap kebiasaan, tempat
sakral, opinion leader, kebudayaan, bahasa daerah, kepercayaan dan tradisi
menjadi sebuah kemutlakan guna menjalankan tanggung jawab etis.
4. Tanggung Jawab Filantropis (Philanthropic Responsibilities)
Tanggung jawab filantropis ini seyogyanya dimaknai secara bijak oleh korporat.
Tidak hanya memberikan sejumlah fasilitas dan sokongan dana, korporat juga
25
Archie Carrol, dalam Reza Rahman, Corporate Social Responsibility (Antara Teori dan Kenyataan),
Medpress, Yogyakarta, 2009, hlm. 37-38.
34
disarankan untuk dapat memupuk kemandirian komunitasnya. Tanggung jawab
ini didasari dari itikad korporat untuk berkontribusi pada perbaikan komunitas
secara mikro maupun makrososial. Tanggung jawab filantropis merupakan wujud
konkret berupa pembangunan fisik yang dilakukan korporat terhadap komunitas.
Pengalokasian sepuluh persen dari keuntungan untuk aktivitas filantropis tidak
akan menjadi pemicu kerugian melainkan mendorong pada pencapaian
keuntungan jangka panjang.
Apabila keempat unsur tanggung jawab di atas teraplikasikan secara menyeluruh
maka akan terselenggara sebuah Total CSR. Namun dalam kenyataannya tanggung jawab
perusahaan masih didominasi oleh tanggung jawab ekonomi yang menuntut perusahaan
senantiasa menghasilkan keuntungan, sebagai prasyarat agar dapat melaksanakan
tanggung jawab yang lain (legal, etis, dan filantropis). Kondisi ini dapat dimengerti
mengingat pada tahap awal pertumbuhan sebuah organisasi, motif untuk dapat bertahan
dan untuk terus beropersi menjadi pertimbangan utama.
Tabel 6. Contoh praktek CSR dengan fokus product & environment support :
Nama Perusahaan
Levi’s Co
Tahun Launching
Pertengahan Desember 2007
Target Market
SES
A
Psikografi
Laki-laki dan perempuan yang menyukai life style dan cinta
lingkungan. Berumur 15-34 tahun
Positioning
Semua orang yang mencintai lingkungan dengan tagline 100%
terbuat dari bahan organik
Channel
Lokasi
Levi’s Store : Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Pekanbaru,
Padang, Balikpapan, Makasar, Samarinda, Pontianak, Batam.
Jeans Shop : Bandung, Banjarmasin, Padang, Lampung.
Departement Store : Sogo, Java, Golden Truly, dan Matahari.
Komunikasi
Tagline
Penghijauan melalui Denim.
Media Placement
Media cetak, radio, dan media gathering.
35
Tabel 7. Contoh praktek CSR - INDOSAT DAN XL
Nama Perusahaan
Program CSR
Indosat
XL
Indonesia Belajar :
Dilakukan
Program
dalam
pelatihan
guru
bentuk berprestasi,
IPA
matematika,
Indonesia
XL
Care,
& Community development di
pendirian beberapa
wilayah
sekolah di Aceh, Beasiswa Indonesia,
dll.
dan
di
program
pendidikan untuk semua.
Indonesia Sehat :
Berbentuk
mobil
klinik
sehat keliling Indosat dan
pelayanan
kesehatan
masyarakat.
Berbagi bersama Indosat :
Dalam bentuk SMS donasi
dan SMS cinta duafa.
Indosat Peduli :
Bantuan
pasca
bencana,
aktivitas
comdev
sekitar
perusahaan.
Tabel 8. Contoh praktek CSR - TELKOM DAN PERTAMINA
Nama Perusahaan
Program CSR
Telkom
Pembinaan
usaha
kegiatan
sosial
keagamaan,
budaya
Pertamina
kecil, Pertamina
dan Partnership program for
pendidikan small
dan
olah
pemagangan industri.
and
raga, enterprises,
medium
Beasiswa
Pertamina, Reforesstation,
dan
Pertamina
Program.
36
Sehati,
Youth
C. PENERAPAN KONSEP CSR DALAM KEBIJAKAN PERUSAHAAN
Salah satu upaya untuk memudahkan penerapan CSR dalam suatu kebijakan
perusahaan adalah dengan mempelajari dari perusahaan lain yang dinilai relatif lebih
berhasil
dalam
mengimplementasikan
program
tersebut
atau
dengan
istilah
brenchmarking. Tentu saja tidak semua program yang bagus diimplementasikan pada
perusahaan tertentu akan langsung cocok ketika diterapkan pada perusahaan lain. Oleh
karena itu harus ada upaya kreatif untuk memodifikasi agar program dapat inline dengan
situasi dan kondisi yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan.
Hal ini dapat dipahami karena masing-masing perusahaan mempunyai
karakteristik lingkungan dan masyarakat yang berbeda. Sebagai contoh misalnya program
yang well implemented di perusahaan ekstraksi tidak akan serta merta cocok bila
dipraktikkan di perusahaan jasa. Dengan demikian perlu untuk memahami prinsip-prinsip
dasar yang dapat menjadi pedoman untuk penerapan CSR secara umum sebagaimana
diuraikan di bawah ini .
Menyusun Perencanaan Program CSR
Secara umum, perencanaan dibagi menjadi perencanaan jangka pendek (rencana
operasional) berkisar satu tahun, rencana jangka menengah berkisar lima tahun, dan
rencana jangka panjang (rencana strategis) diatas lima tahun. Adapun langkah-langkah
yang dilakukan meliputi : 26
Pertama, Menetapkan Visi.
Penetapan visi ini merupakan langkah penting dalam penyusunan program CSR,
karena visi merupakan gambaran dari sesuatu yang ingin dicapai pada masa yang akan
datang. Contoh visi dari perusahaan otomotif terkemuka “menjadi perusahaan yang
mempunyai tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan”, perusahaan pulp and
paper “terwujudnya masyarakat sejahtera-mandiri melalui kemitraan yang
harmonis antara perusahaan dengan Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi dan
Lembaga Swadaya Masyarakat”.
Adapun visi yang dibuat hendaknya dalam koridor SMART yaitu specific,
measurable (terukur), achieveable (dapat digapai), realistic (masuk akal), dan time-bound
(alokasi waktu).
26
Yusuf Wibisono, Ibid, hlm. 125-138.
37
Kedua, Memformulasikan Misi
Misi mendiskripsikan alasan mengapa perusahaan perlu melakukan program
CSR. Misi mengembangkan harapan pada karyawan dan mengkomunikasikan pandangan
umum dari perusahaan, menginformasikan mengenai identitas perusahaan dan apa yang
akan dilakukan oleh perusahaan untuk program CSR. Atau dengan kata lain misi
merupakan cara untuk mencapai visi yang diinginkan.
Contoh misi dari perusahaan otomotif terkemuka : “Mewujudkan AG (inisial)
sebagai perusahaan yang yang beroperasi secara excellent berdasarkan pada
pendekatan triple bottom line, dengan meningkatkan stakeholders value guna
mencapai sustainable business”.
Contoh lain adalah misi salah satu perusahaan pulp and paper : “Membangun
kemandirian
masyarakat
mengembangkan
didalam
sumberdaya
alam
mengembangkan
dan
lingkungan,
asset
dan
ekonomi,
meningkatkan
sumberdaya manusia dan entitas sosial budaya”.
Ketiga, Menetapkan Tujuan
Tujuan merupakan hasil akhir atau wujud konkret dari sebuah visi. Tujuan
merumuskan apa yang akan diselesaikan oleh perusahaan dan kapan akan diselesaikan
dan sebaiknya diukur jika dimungkinkan.
Keempat, Menetapkan Kebijakan
Kebijakan perusahaan merupakan pedoman umum sebagai acuan pelaksanaan
program CSR yang akan dijalankan. Berikut salah satu contoh bagaimana seharusnya
kebijakan CSR pada sebuah perusahaan :
1. CSR merupakan investasi social perusahaan
2. CSR merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan
3. CSR merupakan upaya untuk memperoleh licence to operate perusahaan dari
masyarakat
4. CSR merupakan bagian dari Risk Management
Kelima, Merancang Struktur Organisasi
Pelaksanaan program CSR dapat ditempatkan pada posisi yang berbeda pada
masing-masing perusahaan. Banyak perusahaan yang menitipkan program CSR pada
struktur eksisting, namun tidak sedikit pula yang telah membentuk sebuah struktur
38
organisasi yang secara khusus menangani program CSR-nya, bahkan langsung di bawah
salah satu CEO atau direksi perusahaan tersebut. Hal ini tergantung dari komitmen
manajemen, besar kecilnya dana atau kegiatan yang dikelola, dan harapan maupun
kebutuhan.
Sebagai kegiatan yang bersifat strategis, maka idealnya program CSR
ditempatkan pada posisi struktur yang strategis dalam perusahaan. Semakin besar
kegiatan yang dikelola tentunya memerlukan struktur organisasi yang lebih representatif.
Tjuannya jelas, agar program CSR yang dijalankan bisa benar-benar focus, terarah dan
termonitor dengan efektif.
Disamping itu ada pula perusahaan yang ingin mendayagunakan program CSR
dengan membentuk Yayasan (foundation) yang dikelola sendiri di luar struktur
perusahaan.
Keenam, Menyediakan SDM
Keberhasilan pelaksanaan program CSR tidak dapat dilepaskan dari peranan
SDM yang terlibat didalamnya. SDM merupakan aset perusahaan yang sangat berharga,
merupakan penopang utama dalam pencapaian tujuan perusahaan. Oleh karena itu untuk
menilai aset SDM tidak hanya ditentukan oleh kuantitas dan rincian jenjang pendidikan
karyawan saja tetapi yang lebih penting adalah tingkat kualitasnya.
Para praktisi CSR diharapkan mampu menyusun program dan kegiatan bagi
perusahaan secara baik. Kegiatan CSR tidak lagi dipandang sekadar membagi-bagikan
hadiah atau uang secara insidental, melainkan secara strategis merencanakan program
yang dapat melahirkan dampak atau outcome bukan sekadar hasil atau output. Dengan
demikian maka program dan kegiatan CSR dapat memberikan manfaat jangka panjang
baik bagi organisasi maupun komunitas.
Ketujuh, Merencanakan Program Operasional
Program CSR sedapat mungkin diupayakan untuk tetap berorientasi baik untuk
internal perusahaan maupun eksternal perusahaan dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Berbasis pada sumberdaya lokal (Local Resources Based)
2. Berbasis pada pemberdayaan masyarakat (Community Development Baset)
3. Mengutamakan program yang berkelanjutan (Sustainable)
39
4. Dibuat berdasar perencanaan partisipatif (Participatory) atau didahului dengan
need assessment
5. Linked dengan core business perusahaan
6. Fokus pada bidang prioritas
Tabel 9. Contoh program operasional CSR yang diklasifikasikan dalam beberapa bidang
(dikutip dari Natural Resources Canada).
Bidang-bidang
Program CSR
Komunitas dan Masyarakat Luas
Program-program
Karyawan
Program Penanganan
Pelanggan/ Produk
Program CSR yang bisa dilakukan
 Mempekerjakan tenaga
lokal
 Membeli produk lokal
 Mendukung karyawan
yang bersedia menjadi
sukarelawan
 Jadwal
kerja
yang
disesuaikan
dengan
kebutuhan lokal
 Filantropi
 Kajian dampak sosial
 Keberagaman di tempat
bekerja
(khususnya
dalam manajemen)
 Keseimbangan
kerja
(waktu yang fleksibel)
 Bagi hasil/ opsi saham
 Manfaat bagi karyawan
paruh waktu
 Pelatihan/
kemajuan
karier
 Program pengembangan
masyarakat
 Pemantauan HAM
 Progra
diversity
pemasok
 Program untuk penduduk
setempat
 Program
merespon
kondisi darurat
 Latihan
kepekaan
kultural bagi para staf
 Partisipasi karyawan dlm
pengambilan keputusan
 Pekerja anak/ HAM
 Kesehatan & keselamatan kerja
 Saluran komunikasi yang
terbuka antara karyawan
dan manajer
 Survei kepuasan karyawan
 Program
bantuan
karyawan/ insentif
 Penanganan produk
 Kajian pelanggan
 Pelabelan
 Komunikasi
dengan
pelanggan berdasarkan
 Informasi kesehatan dan
standar perusahaan
lingkungan pada produk
dan jasa
 Keterlibatan pelanggan
dalam
pengembangan
produk
40
Program Lingkungan
Komunikasi & Pelaporan
Pemegang Saham
Program-program
Pemasok
Program Tata Pamong/
Pedoman Perilaku
 Rancangan lingkungan
(mengembangkan produk yang ekoefisien)
 Manajemen daur ulang
 Pengadaan berwawasan
lingkungan
 Manajemen B3
 Evaluasi lingkungan atas
investasi/ proyek modal
 Program gas rumah kaca
 Memasukkan data kontribusi sosial kedalam
laporan tahunan
 Laporan ttg. lingkungan
hidup
 Laporan ttg. tanggung
jawab sosial korporat
 Kombinasi
laporan
sosial, ekonomi, dan
lingkungan
 Program energi alternatif
 Efisiensi sumber daya
(air, bahan baku, energi)
 Manajemen emisi(udara,
tanah, air)
 Transportasi
dan
distribusi
 Ekologi industri/ memadukan produk sampingan
 Situs web
 Laporan yang disesuaikan dengan fasilitas
lokal
 Berbagai laporan pada
pemerintah
 Semua informasi tentang program atau kegiatan yang
dijalankan perusahaan untuk melibatkan pemegang
saham dalam hal-hal yang bersifat non finansial.
 Semua informasi tentang cara yang dilakukan
perusahaan dalam menyampaikan informasi kepada
pemegang saham minoritas yang memungkinkan
mereka bisa berpartisipasi secara efektif dalam
pengambilan keputusan perusahaan.
 Kajian atas pemasok  Audit pemasok
(lingkungan, kondisi ker  Pelatihan atau bekerja
ja, pekerja anak)
bersama pemasok untuk
memperbaiki kinerja
 Komunikasi
dengan
pemasok
 Kode etik
 Sistem penunjang kode
etik
 Sistem akuntabilitas
 Kajian investasi (HAM,
lingkungan hidup)
Kedelapan, Membagi Wilayah
Agar lebih fokus pada sasaran, perusahaan dapat membuat pembagian wilayah.
Dasar pembagian wilayah ini sangat fleksibel, bisa berdasar lokasi, dampak, jenis, ukuran
41
dan dana yang disediakan perusahaan. Pembagian wilayah ini sangat membantu
perusahaan untuk menentukan prioritas pelaksanaan program-program.
Tabel 10. Contoh pembagian wilayah.
RING
LOKASI
DAMPAK
KETERANGAN
OPERASI
I
0–500 m dari pabrik
Terkena dampak
Desa yang
langsung
berhimpitan
dengan pabrik
II
III
IV
501-1000 m dari
Potensi terkena
Desa disekitar
pabrik
dampak langsung
pabrik diluar ring I
1001-1500 m dari
Tidak terkena
Kecamatan di
pabrik
dampak langsung
sekitar pabrik
Lebih dari 1500 m
Tidak terkena
Seluruh wilayah di
dampak langsung
luar ring I s/d ring
III
Kesembilan, Mengelola Dana
Implementasi CSR sangat tergantung dari dana yang disediakan oleh perusahaan.
Program yang sangat bagus tidak ada artinya jika tidak didukung oleh pendanaan yang
memadai. Yang lebih penting, bila dana telah dialokasikan adalah pengelolaannya.
Karena tanpa pengelolaan yang baik dana besar sekalipun yang dialokasikan tidak akan
memberikan benefit yang optimal.
Tabel 11. Contoh pengalokasian dana yang dilakukan oleh salah satu BUMN.
PRIORITAS ALOKASI
L
DIK
KES
PSU
SIB
BANTUAN
RING I
45 %
5%
20%
35%
20%
20%
RING II
25%
5%
25%
30%
20%
20%
RING III
20%
5%
25%
30%
20%
20%
RING IV
10%
5%
25%
30%
20%
20%
42
Keterangan :
L
DIK
KES
PSU
SIB
: Lingkungan
: Pendidikan
: Kesehatan
: Prasarana/ sarana umum
: Sarana ibadah
Bagi perusahaan yang tidak mempunyai anggaran yang relatif besar, yang harus
dititik beratkan adalah asas manfaat dan dampaknya.
Untuk melaksanakan program CSR dapat dikelola berdasarkan pola sebagai
berikut :
1. Program sentralisasi
Perusahaan sebagai pelaksana/penyelenggara utama kegiatan. Begitukan tempat,
kegiatan berlangsung di areal perusahaan. Pada prakteknya, pelaksanaan kegiatan
bisa bekerjasama dengan pihak lain misalnya event organizer atau institusi
lainnya sejauh memiliki kesamaan visi dan tujuan.
2. Program desentralisasi
Kegiatan dilaksanakan diluar area perusahaan. Perusahaan berperan sebagai
pendukung kegiatan tersebut baik dalam bentuk bantuan dana, material maupun
sponsorhip.
3. Program kombinasi
Pola ini dapat dilakukan terutama untuk program-program pemberdayaan
masyarakat, dimana inisiatif, pendanaan maupun pelaksanaan kegiatan dilakukan
secara partisipatoris dengan beneficiaries.
Adapun mekanisme pelaksanaan program atau kegiatan CSR dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Bottom Up Process
Program berdasar pada permintaan beneficiaries, yang kemudian dilakukan
evaluasi oleh perusahaan.
2. Top Down Process
Program berdasar pada survey/ pemeriksaan seksama oleh perusahaan, yang
disepakati oleh beneficiaries.
43
3. Partisipatif
Program dirancang bersama antara perusahan dan beneficiaries.
Langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi program, yang dapat dilakukan
secara periodik misalnya harian, bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan tergantung
dari kebutuhan perusahaan. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kekurangan atau
masalah-masalah yang muncul pada penyelenggaraan kegiatan serta solusi yang akan
diambil.
Untuk mengetahui tingkat efektifitas program CSR, diperlukan parameter atau
indikator untuk mengukurnya. Untuk itu dapat digunakan dua indikator keberhasilan
yaitu indikator internal dan indikator eksternal : 27
1. Indikator Internal
a. Ukuran Primer/ Kualitatif (M-A-O terpadu)
-
Minimize
Meminimalkan perselisihan/ konflik/potensi konflik antara perusahaan
dengan masyarakat agar terjalin hubungan yang harmonis dan kondusif.
-
Asset
Aset perusahaan yang terdiri dari pemilik/pimpinan perusahaan,
karyawan, pabrik dan fasilitas pendukungnya terjaga dan terpelihara
dengan aman.
-
Operational
Seluruh kegiatan perusahaan berjalan aman dan lancar
b. Ukuran sekunder
-
Tingkat penyaluran dan kolektibilitas (umumnya untuk PKBL BUMN).
-
Tingkat compliance pada aturan yang berlaku.
2. Indikator eksternal
a. Indikator Ekonomi
27
-
Tingkat pertambahan kualitas sarana dan prasarana umum.
-
Tingkat kemandirian masyarakat secara ekonomis.
-
Tingkat peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Ibid, hlm. 145.
44
b. Indikator Sosial
-
Frekuensi terjadinya gejolak/ konflik sosial.
-
Tingkat kualitas hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
-
Tingkat kepuasan masyarakat (dilakukan dengan survey kepuasan).
Pada tahap evaluasi tersebut, apabila diperlukan dapat meminta bantuan pihakpihak yang mempunyai kepakaran pada bidang CSR untuk menilai keberhasilan atau
kegagalan program, sehingga dapat memberikan masukan apakah suatu program perlu
dihentikan, dilanjutkan atau bahkan dikembangkan.
Setelah melakukan serangkaian proses panjang sejak desain atau perencanaan
program, implementasi program sampai evaluasi program maka tindakan terakhir adalah
membuat laporan (reporting). Tindakan ini perlu dilakukan, selain untuk bahan evaluasi
juga bisa menjadi alat komunikasi dengan shareholder dan stakeholder. Reporting suatu
perusahaan ini mulai populer setelah stakeholders semakin menuntut agar perusahaan
tidak hanya membuat laporan yang menyangkut kinerja keuangannya saja, namun juga
laporan yang informatif mengenai aktifitas perusahaan terkait dengan aspek sosial dan
lingkungan.
Bentuk laporan tersebut disesuaikan dengan maksud pembuatan laporan itu
sendiri, baik untuk kepentingan internal maupun untuk kepentingan eksternal. Beberapa
contoh bentuk laporan dari beberapa perusahaan dapat dikemukakan di bawah ini :
1. PT Astra Motor Tbk.
Memiliki Astra’s Corporate Social Responsibility, yang berisi komitmen dan
aktivitas Astra dalam hal bantuan sosial, community development, lingkungan, K3
serta kegiatan sosial lainnya.
2. PT Unilever Indonesia Tbk.
Mempunyai laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang memuat informasi
seputar komitmen manajemen puncaknya, Yayasan Sosial beserta aktivitasnya,
dan beberapa artikel yang menginformasikan operasional kegiatannya ramah
lingkungan dan bersahabat dengan masyarakat.
45
3. Olympus
Mempunyai Environmental Report untuk memberikan informasi seputar aktivitas
korporasi terhadap masalah penanganan pelestarian lingkungan dan dilengkapi
pula informasi mengenai aktivitas sosial.
4. Exxon Mobil
Mencetak Corporate Citizenship Report yang berisi informasi seputar masalah
tanggung jawab ekonomis, tanggungjawab lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Pada umumnya laporan tersebut berkaitan dengan informasi mengenai aktivitas
korporasi dalam berinteraksi dan berkontribusi terhadap masyarakat atau informasi
tentang tanggung jawab sosial korporasi sesuai dengan definisi tanggung jawab sosial
yang dirujuk. Biasanya laporan yang dibuat oleh korporasi mencakup seluruh aspek triple
bottom line yang meliputi : aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial dengan
menyajikan informasi mengenai upaya-upaya yang dilakukan korporasi untuk menuju
keberlanjutan bisnisnya.
Di bawah ini contoh dari format report yang pada umumnya meliputi unsur-unsur
sebagai berikut :
1. CEO statement
7. Sistem manajemen dan prosedur
2. Profil perusahaan
8. Hubungan dengan stakeholder
3. Ruang lingkup
9. Kinerja dan pemenuhan terhadap standar
4. Dampak
10. Target dan pencapaiannya
5. Tata kelola
11. Penghargaan2/external assurance
6. Kebijakan-kebijakan korporasi
Sampai saat ini belum ada keharusan membuat CSR report, walaupun demikian
akan sangat bermanfaat ketika suatu korporasi berinisiatif untuk membuatnya, mengingat
kalangan stakeholders kian melihat aktivitas CSR sebagai barometer untuk menilai
potensi keberlanjutan suatu korporasi.
CSR merupakan sebuah konsep dimana perusahaan memutuskan secara sukarela
untuk memberi kontribusi kepada masyarakat dengan lebih baik dan lingkungan yang
lebih serasi. Perusahaan tidak bisa bertindak egois dalam menjalan kegiatan usahanya
dengan hanya mengejar profit semata. Karena sebagai entitas bisnis, perusahaan tidak
dapat begitu saja mengabaikan masyarakat dan lingkungannya. Perusahaan memang
46
seharusnya bertindak sebagai good citizen yang merupakan tuntutan dari good business
ethics.
Suatu konsep akan dapat berfungsi optimal bila para aktor pelakunya mempunyai
kemauan, kemampuan, dan kesadaran untuk menerapkannya dengan serius dan dinaungi
oleh aturan yang dilaksanakan dengan konsisten. Dengan demikian penerapan CSR
dalam kebijakan perusahaan merupakan suatu tantangan sekaligus kesempatan bagi
pelaku usaha untuk membangun coporate value di mata stakeholders-nya sehingga
koporasi bisa berkelanjutan.
47
BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi korporasi telah
memberikan payung hukum yang memaksa perusahaan untuk melaksanakan CSR
sebagai tanggung jawabnya kepada masyarakat dan lingkungan serta akan
memberikan keseragaman/ stadarisasi dalam aplikasinya yang disesuaikan dengan
kemampuan perusahaan. Adapun berupa regulasi yang telah mengatur mengenai
CSR adalah sebagai berikut :
a. Kepres No. 90 Tahun1995 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Bantuan
yang diberikan untuk Pembinaan Keluarga Prasejahtera dan Keluarga
Sejahtera 1, yang mengatur bahwa “Wajib pajak baik badan maupun orang
pribadi dapat membantu sampai dengan setinggi-tingginya 2 persen dari laba
dst. ........., kemudian peraturan ini diganti dengan Kepres No. 92 Tahun 1996
yang merubah ketentuan menjadi “Wajib pajak baik badan maupun orang
pribadi wajib memberikan bantuan sebesar 2 persen dst. ......... Namun pada
akhirnya kedua Kepres tersebut dicabut, walaupun demikian konsep CSR
dalam Kepres ini masih dimaknai sebagai sebuah kedermawanan sosial yang
ditujukan untuk pengentasan keluarga miskin.
b. UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang memaknai CSR sebagai sebuah
usaha untuk peningkatan pelaku usaha kecil dan menengah. Kemudian
ditindak lanjuti Keputusan Menteri BUMN No. Kep.-236/MBU/2003 dengan
mengeluarkan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan (PKBL)
yng diperkuat dengan Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-433/MBU/2003
yang mensyaratkan agar BUMN memiliki unit tersendiri untuk mengawal
pelaksanaan PKBL. Selanjutnya terbit Peraturan Menteri BUMN No. 4 Tahun
2007 mengatur dana yang dialokasikan untuk PKBL yaitu diambilkan dari
48
laba bersih sebesar 2% dan mensyaratkan bagi penerima bantuan harus yang
memiliki aset 200 juta atau omzet 1 milyar setahun.
c. UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Pasal 25 huruf b yang
mewajibkan bagi setiap penanam modal di bidang eksplorasi SDA tidak
terbarukan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. CSR
diaplikasikan dalam bentuk pelaksanaan green mining di mana segala bentuk
jenis usaha pada sektor tak terbarukan (pertambangan dan sejenisnya)
diwajibkan untuk melakukan secara bertahap pemulihan lokasi operasional
sesuai dengan standar kelayakan lingkungan. Adapun sanksi bagi yang
melanggar adalah berupa teguran sampai pembatalan kontrak.
d. UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 74 ayat (1)
mewajibkan kepada perseroan yang menjalankan kegiatannya di bidang dan
atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab
sosial perusahaan. Kemudian dalam ayat (2) menyebutkan bahwa anggaran
CSR diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dilaksanakan dengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Lebih lanjut dalam ayat (3)
mengatur mengenai sanksi bagi perseroan yang melanggar yaitu dikenakan
sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
e. Adapun peraturan perundang-undang terkait lainnya meliputi UU No. 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air, UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larang
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, UU No. 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dan UU No. 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen.
2. Konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menurut dunia usaha dapat
dikemukakan sebagai berikut :
a. Merupakan bagian dari strategi bisnis dan identitas perusahaan (corporate
identity);
b. Bukan kegiatan philanthropy;
49
c. Dilakukan dengan melibatkan seluruh stakeholders perusahaan;
d. Pelaksanaannya memerlukan keterlibatan aktif dari perusahaan;
e. Dengan tujuan sustainability perusahaan, lingkungan dan sosial, dan
f. Dilaksanakan sesuai dengan kemampuan perusahaan.
Setiap korporasi memiliki konsep dan aplikasi yang berbeda, namun pada
dasarnya CSR melibatkan efektifitas bisnis dalam pengembangan relasi yang
saling menguntungkan antara komunitas dan korporasi.
3. Penerapan konsep CSR dalam kebijakan perusahaan dilakukan dengan memahami
prinsip-prinsip dasar yang dapat menjadi pedoman secara umum, yaitu dengan
menyusu perencanaan program CSR yang meliputi :
a. Menetapkan Visi;
b. Memformulasikan Misi;
c. Menetapkan Tujuan;
d. Menetapkan Kebijakan;
e. Merancang Struktur Organisasi;
f. Menyediakan SDM;
g. Merencanakan Program Operasional;
h. Membagi Wilayah; dan
i. Mengelola dana.
Upaya perusahaan dalam meningkatkan peran tersebut memerlukan sinergi
multipihak yang solid terutama dari pemerintah dan masyarakat.
B. SARAN
a. Terkait dengan kewajiban pelaksanaan CSR, maka ada baiknya perusahaanperusahaan, khususnya yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau
berkaitan dengan sumber daya alam sudah mulai menyusun corporate identitynya, yang selanjutnya dihubungkan dengan code of conduct dan strategi
perusahaan dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya.
b. Pemerintah sebagai regulator diharapkan mampu mengoptimalkan perannya
dalam mendukung tumbuh kembangnya penerapan CSR.
50
c. Pemegang otoritas publik hendaknya menegakkan kewajiban-kewajiban yuridis
yang berhubungan dengan aspek-aspek CSR yang diikuti langkah-langkah
penanganan secara konsisten berkaitan dengan kesejahteraan buruh, lingkungan
kerja, kehidupan sosial sekitar, kelestarian alam dsb.
51
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Archie Carrol, 2009, dalam Reza Rahman, Coporate Social Responsibility (Antara
Teori dan Kenyataan), Medpress, Yogyakarta.
A.B. Susanto, 2009, Reputation – Driven Corporate Social Responsibility
(Pendekatan Strategic Management Dalam CSR), Erlangga, Jakarta.
Beria Leimona dan Aunul Fauzi, 2008, CSR dan Pelestarian Lingkungan
(Mengelola dampak : Positif dan negatif), Indonesia Business Links,
Jakarta.
Edi Suharto, 2007, Pekerjaan Sosial Di Dunia Industri, Memperkuat Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility), PT Refika
Aditama, Bandung.
Fajar Nursahid, 2006, Praktek Kedermawanan Sosial BUMN : Analisis Terhadap
Model Kedermawanan PT Krakatau Steel, PT Pertamina dan PT
Telekomunikasi Indonesia, Jurnal Galang, Vol 1, No. 2.
Gro Harlem Brutland, et.al., 1988, Hari Depan Kita Bersama, Jakarta, Gramedia.
Hadari Nawawi, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta, 1992
Harsono, 2001, Bisnis Pengantar, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN,
Yogyakarta.
Isminingsih Gitoparmojo dan Wiwin Winiati, Menuju Produk Dan Teknologi
Bersih Dalam Industri Tekstil, dalam Sonny Yuliar et.al., Paradigma
Produksi Bersih (Mendamaikan Pembangunan Ekonomi dan Pelestarian
Lingkungan), Bandung, Penerbit Nuansa bekerja sama dengan Pusat
Penelitian ITB, 1999
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cetakan III, UI Press, Jakarta,
1986
Sudharto P. Hadi & Px. Adji Samekto, 2007, Dimensi Lingkungan Dalam Bisnis,
Kajian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pada Lingkungan, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Widjaja dkk., 2008, Risiko Hukum dan Bisnis Perusahaan Tanpa CSR, Forum
Sahabat, Jakarta.
Yusuf Wibisono, 2007, Membedah Konsep dan Aplikasi CSR, Fascho Publishing,
Gresik.
Zaidi Zaim dan Hamid Abidin, 2004, Menjadi Bangsa Pemurah : Wacana dan
Praktek Kedermawanan Sosial di Indonesia, Paramedia, Jakarta.
UNDANG-UNDANG
UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Download