pendahuluan - Jurnal UNESA

advertisement
MATHEdunesa
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 2 No.6 Tahun 2017
ISSN :2301-9085
PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA KONTEKSTUAL SISWA SMP DITINJAU
DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT
Wilda Pratiwi
Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
e-mail: [email protected]
Ismail
Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
e-mail: [email protected]
Abstrak
Dalam pembelajaran, kemampuan memecahkan masalah amatlah penting bukan saja bagi siswa
yang kemudian hari akan mendalami matematika melainkan juga bagi siswa yang akan menerapkannya
baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Krulik dan Rudnick ada 5
tahapan dalam pemecahan masalah yaitu Read,Explore, Select a strategy, Solve, dan Look Back. Masalah
matematika kontekstual membuat siswa menjadi penasaran dan berusaha untuk memecahkan masalah,
salah satunya materi perbandingan. Dalam memecahkan masalah, adanya perbedaan dalam memecahkan
masalah matematika disebabkan oleh kepribadian yang berbeda.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan
profil pemecahan masalah matematika kontekstual siswa SMP ditinjau dari tipe kepribadian ekstrovert dan
introvert. Subjek penelitian terdiri dari 2 siswa kelas VII SMP dengan kemampuan matematika setara, di
antaranya 1 siswa ekstrovert dan 1 siswa introvert. Instrumen penelitian yang digunakanuntukmemperoleh
data yang dibutuhkanadalah angket tipe kepribadian ekstrovert-introvert, tes kemampuan matematika, tes
pemecahan masalah matematika kontekstual dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dianalisis
berdasarkan indikator pemecahan masalah Krulik dan Rudnick yaitu Read, Explore, Select a strategy,
Solve, dan Look Back.
Berdasarkan hasil penelitian, profil pemecahan masalah matematika kontekstual kedua subjek
pada langkah membaca masalah relatif sama hanya saja subjek introvert lebih teliti dalam merumuskan dan
menganilisis permasalahan. Pada langkah mengeksplorasi, subjek ekstrovert kurang lengkap dalam
mengumpulkan informasi sehingga mempengaruhi langkah selanjutnya. Pada langkah memilih
strategi,kedua subjek memiliki perbedaan yaitu subjek ekstrovert beranggapan tidak ada strategi lain namun
subjek introvert beranggapan bahwa ada strategi lain untuk menyelesaikan permasalahan. Pada langkah
menyelesaikan masalah, kedua subjek melaksanakan penyelesaian masalah sesuai dengan strategi yang
dipilih. Pada langkah merefleksi, subjek ekstrovert tidak mengevaluasi langkah-langkah penyelesaian
masalah, sedangkan subjek introvert mengevaluasi langkah-langkah penyelesaian masalah bahkan
menggunakan strategi lain yang mungkin.
Kata Kunci: Pemecahan Masalah, Langkah Pemecahan Masalah Krulik dan Rudnick, Ekstrovert,
Introvert.
Abstract
In learning, the ability to solve problems was very important not only for students who will
explore math but also for students who will apply on the other fields of study or on daily life. According to
Krulik and Rudnick there was 5 stages in problem solving such as reading, exploring, selecting a strategy,
solving, and looking back.Contextual mathematical problems make students become curious and trying to
solve problems, one of them is material comparison.In solving problems, the differences in solving
mathematical problems are caused by different personalities.
This research was a qualitative research that the objective was to describe the profile of
mathematical contextual problem solving in junior high school students based on extrovert and introvert
personality. The subject of this research was one student from extrovert personality and one student from
introvert personality that have same mathematics ability category.The instrument that used to gain data
needed was questionnaire extrovert-introvert personality type, mathematical ability test, solving
mathematicalcontextual
problems
and
interview
guide
lines.
The data obtained are analyzed based on Krulik and Rudnick problem solving indicators such as reading,
exploring, selecting a strategy, solving, and looking back.
209
Volume 2 No.6 Tahun 2017
Based on the research result, profile of mathematical contextual problem solving from both
subjects in the reading step was relatively the same but introvert subject was more careful in formulating
and analyzing the problems. In the exploring step, the extrovert subject was incomplete in gathering
information so that it affected on the next step.In the choosing strategy step, both of subjects has
differences. The extrovert subject assumed that there was no other strategy to solve the problem but the
introvert subject assumed that there was another strategy. In the problem solving step, both subjects carried
out problem according to the chosen strategy. In the reflecting step, the extroverted subject does not
evaluate the problem-solving steps, while the introverted subject evaluates the problem-solving steps even
used other possible strategies.
Keywords: Problem-Solving, Krulik and Rudnick problem solving step, Extrovert, Introvert.
merupakan salah satu materi matematika yang
kontekstual. Materi perbandingan merupakan materi yang
memanfaatkan prosedur matematika. Oleh karena itu,
penelitian ini akan menggunakan masalah matematika
kontekstual materi perbandingan.
Dalam memecahkan masalah, setiap siswa
memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Selaras dengan
pendapat Siskawati (2013) bahwa adanya perbedaan
dalam memecahkan masalah matematikadisebabkan oleh
kepribadian yang berbeda. Kepribadian adalah
keseluruhan pola sikap, perasaan dan ekspresi serta
kebiasaan seseorang dalam menghadapi situasi. Salah satu
kecenderungan tipe kepribadian dalam kajian ilmu
psikologi oleh Carl Gustav Jung (dalamSuryabrata) dibagi
menjadi dua golongan besar yaitu ekstrovert dan introvert.
MenurutPangarso (2012) bahwa kebiasaan yang ada pada
diri seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang
bersikap dan mengambil keputusan dalam bertindak.
Berdasarkan pada hal tersebut jikadikaitkan dengan
pemecahan masalah maka kepribadian ekstrovert dan
introvert turut berperan dalam kegiatan pengambilan
keputusan untuk memecahkan permasalahan. Hal yang
samajugadikemukakan oleh Noviani (2014) bahwa dalam
memecahkan masalah perbedaan kepribadian ekstrovert
dan introvert memegang peranan penting.
Djaali (2008) berpendapat bahwa seseorang yang
berkepribadian ekstrovert tidak sabar menghadapi
masalah serta ketika menyelesaikan persoalan tidak
menuliskan secara rinci kesimpulan yang diperoleh,
sedangkan kepribadian introvert lebih sabar dan
menuliskan kesimpulan secara rinci. Siswa dengan
kepribadian yang berbeda tentunya memiliki strategi
pemecahan masalah yang berbeda pula. Melalui
pengenalan kepribadian dapat membantu mengetahui
kelebihan dan kekurangan dalam diri siswa
sehinggadapatdicari cara-cara terbaik untuk mengatasi
kekurangan yang dapat menyebabkan ketidakberhasilan
dalam pembelajaran.
Subjek yang digunakan pada penelitian ini yaitu
siswa SMP. Hal yang mendasari memilih siswa SMP
disebabkan siswa SMP berusia 11 tahun ke atas sehingga
PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran
yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa.
Matematikadikenal sebagai mata pelajaran tentang
berhitung saja, padahal matematika juga merupakan
sebuah konsep-konsep dan memiliki keterkaitan dalam
memecahkan masalah yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan pendapat Soedjadi
(2003) yang menyarankan guru untuk memilih strategi
yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar. Pemilihan
strategi yang tepat menyebabkan mata pelajaran
matematika yang semuladianggap sulit akan menjadi
menyenangkan karena menerapkan pendekatan yang
dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Soedjadi
(2003) seorang guru matematika harus memahami
perkembangan siswanya, harus mengusahakan agar fakta,
konsep, operasi ataupun prinsip dalam matematika itu
terlihat konkret sehingga lebih mudah dipelajari oleh
siswa. Guru juga dapat memberikan sebuah masalah
kepada siswa untuk menarik minat siswa untuk belajar
matematika. Masalah matematika yang dimunculkan guru
sebaiknya masalah yang dekat dengan kehidupan seharihari (kontekstual) siswa. Selaras dengan pendapat
Zulkardi (2006) bahwa masalah matematika kontekstual
merupakan soal-soal matematika yang menggunakan
berbagai konteks sehingga menghadirkan situasi yang
pernah dialami secara nyata oleh anak.
Masalah matematika kontekstual membuat siswa
menjadi penasaran dan berusaha untuk memecahkan
masalah tersebut. Menurut Krulik dan Rudnick (1995:4)
mengemukakan bahwa pemecahan masalah merupakan
proses
dimanaindividumenggunakanpengetahuan,
ketrampilan, dan pemahaman yang telah diperoleh untuk
menyelesaikan masalah pada situasi yang tidak
dikenalnya. Menurut Krulik dan Rudnick ada 5 tahapan
dalam pemecahan masalah yaitu Read the problem
(Membaca masalah), Explore (Mengumpulkan informasi),
Select
a
strategy
(Memilihstrategi),
Solve
(Menyelesaikan), dan Lock Back (Refleksi).
Bagian penting dari pemecahan masalah yaitu soal
dari beberapa materi matematika. Materi perbandingan
210
Volume 2 No.6 Tahun 2017
memasuki tahap operasi formal (menurut Piaget). Pada
tahap operasi formal, siswa dapat mengembangkan
kemampuannya dalam memecahkan masalah dengan cara
yang lebih baik, dapat memberikan alasan dalam
pengambilan keputusan, dan dapat melihat hubunganhubungan abstrak.
Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “Pemecahan Masalah
Matematika Kontekstual Siswa SMP Ditinjau dari
Tipe Kepribadian Ekstrover tdan Introvert.”
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan,
dirumuskan pertanyaan penelitian yakni bagaimana profil
pemecahan masalah matematika kontekstual siswa SMP
tipe kepribadian ekstrovert dan introvert.
Berdasarkan pertanyaan penelitian agar dapat
menjawab pertanyaan penelitian tersebut, perlu adanya
pengetahuan tentang beberapa teori yang mendukung
penelitian ini, antara lain: pemecahan masalah, langkah
pemecahan masalah menurut Krulik dan Rudnick, tipe
kepribadian ekstrovert, dantipe kepribadian introvert.
Menurut Polya (1973) pemecahan masalah sebagai
usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan. Selaras
dengan pendapat Polya, Krulik dan Rudnick (1995:4) juga
mendefinisikan pemecahan masalah sebagai berikut “It
[problem solving] is the mean by wich an individual uses
previously acquired knowledge, skill, and understanding
to satisfy the demand of an unfamiliar situation”. Artinya
pemecahan masalah adalah suatu usaha individu
menggunakan
pengetahuan,
ketrampilan
dan
pemahamannya untuk menemukan solusi dari suatu
masalah. Berdasarkan pendapat dari para ahli, maka dapat
disimpulkan bahwa pemecahan masalah adalah kegiatan
yang dilakukan untuk menemukan penyelesaian dari suatu
permasalahan yang tidak begitu saja dapat diselesaikan
dengan prosedur rutin.
Menurut Krulik dan Rudnick (1995) pemecahan
masalah dapat dilakukan melalui proses membaca
masalah, mengumpulkan informasi, memilih strategi,
menyelesaikan masalah dan merefleksi (melihat kembali).
Berdasarkan langkah pemecahan masalah menurut
Krulik dan Rudnick, beberapa indikator yang dapat
dirumuskan sebagai berikut.
Tabel Indikator Pemecahan Masalah Krulik dan
Rudnick
Langkah
Indikator
Memecahkan
Masalah
Memahami masalah
Menganalisis
ruang
lingkup permasalahan:
Merumuskan
pokok
permasalahan terkait dengan
soal yang digunakan dalam
penyelesaian masalah.
Langkah
Memecahkan
Masalah
Mengeksplorasi
Memilih strategi
Menyelesaikanmasalah
Merefleksi
Indikator
Menganalisis
permasalahan
Memilih informasi yang
diketahui dan ditanyakan
Mengumpulkan informasi
Mengidentifikasi kecukupan
informasi pada permasalahan
dan
mengaitkan
permasalahan dengan materi
yang telah dipelajari
Membuat
model
matematika
dari
permasalahan
Membuat
diagram/grafik/
bagan/ tabel
Memilih langkah yang
akan digunakan dalam
pemecahan masalah
Menentukan langkah untuk
menyelesaikan permasalahan
Memilihlangkah lain
Menentukan langkah lain
untuk
menyelesaikan
permasalahan
Melaksanakan
penyelesaian masalah
Menyelesaikan
permasalahan sesuai strategi
yang dipilih
Mengevaluasi
langkahlangkah
penyelesaian
masalah
Memeriksa kembali langkahlangkah
penyelesaian
masalah
Kepribadian adalah pola perilaku dan persepsi
dalam bereaksi maupun berinteraksi dengan individu lain
serta menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Menurut
Jung (dalam Djaali, 2008:11) kepribadian dibedakan
menjadi dua, yakni introvert dan ekstrovert.
Ekstrovert menurut Eysenck (dalam Catrunada,
2008) yaitu sebagai individu yang mudah bergaul, suka
pesta, mempunyai banyak teman, membutuhkan teman
untuk bicara, tidak suka membaca dan belajar sendirian,
sangat membutuhkan kegembiraan, berperilaku tanpa
berpikir dahulu, biasanya suka menuruti kata hati, gemar
bergurau, selalu siap menjawab, dan biasanya suka akan
perubahan, riang, tidak banyak pertimbangan dan tidak
selalu dapat dipercaya.
Berdasarkan uraian di atas, jika dihubungkan
dengan kegiatan siswa ekstrovert terhadap pembelajaran
matematika maka siswa tersebut memiliki sikap yang aktif
dalam kegiatan pembelajaran baik secara individu maupun
211
Volume 2 No.6 Tahun 2017
dalam kelompok, berpikir logis matematis, apabila
diberikan masalah matematika tidak berputus asa dalam
menemukan solusi namun ceroboh dan kurang kritis dalam
memecahkan masalah.
Kepribadian intovert yang digambarkan oleh
Eysenck (dalam Catrunada, 2008) mempunyai ciri khas
antara lain pendiam, pemalu, mawas diri, gemar membaca,
suka menyendiri dan menjaga jarak kecuali dengan teman
yang sudah akrab, cenderung melihat-lihat dahuli sebelum
melangkah, dan curiga, tidak suka kegembiraan, menjalani
kehidupan sehari-hari dengan keseriusan, dan menyukai
gaya hidup yang teratur dengan baik, perasaanya tertutup,
dalam beberapa hal pesimis, dan mempunyai standar etika
yang tinggi.
Berdasarkan uraian di atas, jika dihubungkan
dengan kegiatan siswa introvert terhadap pembelajaran
matematika maka siswa tersebut memiliki sikap yang
kurang aktif bahkan cenderung pasif dalam kegiatan
pembelajaran baik secara individu maupun dalam
kelompok, banyak berpikir, apabila diberikan masalah
matematika siswa intovert akan menyelesaikan dengan
sungguh-sungguh dan teliti.
Untuk mengetahui tipe kepribadian siswadengan
menggunakan tes kepribadian Myers – Briggs Type
Indicator (MBTI) oleh Katharin dan Isabel dalam
(Mudrika:2011) untuk mengetahui tipe kepribadian siswa
dalam dimensi ekstrovert atau introvert. Dalam soal tes ini
berisikan 15 nomor masing-masing nomor memiliki dua
pernyataan yang bertolak belakang (pernyataan A dan
pernyataan B). Subjek penelitian diharuskan memilih
salah satu pernyataan yang paling sesuai dengan
dirinyaatau yang paling dominan dengan menandai pada
kolom yang sudah disediakan (kolom isian).
Qomariyah (2012) bahwa kebiasaan dan sikap
dalam mengambil keputusan dan bertindak jelas sangat
berpengaruh terhadap pembelajaran. Hal tersebut
dikarenakan dalam memahami suatu materi pembelajaran
seseorang mengalami proses berpikir dari apa yang
dipelajari dan kemudian mereka mengambil suatu
kesimpulan terhadap apa yang dipelajari dengan
dipengaruhi oleh sikap.Selain itu, tipe kepribadian juga
mempunyai andil besar dalam pemecahan masalah.
Dewiyani (2010) menyatakan bahwa setiap tipe
kepribadian memiliki cara pemecahan masalah yang
berbeda-beda. Siswa dengan tipe kepribadian yang
berbeda akan berbeda pula dalam memecahkan masalah.
Subjekpenelitian terdiri dari 2 siswa kelas VII SMP
tahun ajaran 2016/2017 dengan rincian 1 siswa ekstrovert
dan 1 siswa introvert dengan kriteria yang memiliki
kemampuan matematika yang setara (skor tes kemampuan
matematika maksimal selisih 5 poin), komunikatif dan
bersedia.Instrumen
yang
digunakandalampenelitianiniyaitu Angket Kepribadian
Ekstrovert-Introvert, Tes Kemampuan Matematika, Tes
Pemecahan Masalah Matematika Kontekstual, dan
pedoman wawancara. Angket Kepribadian digunakan
untuk mendapatkan data kelompok siswa ekstrovertintrovert. Tes Kemampuan Matematika digunakan untuk
mendapatkan data nilai matematika siswa kelas VII. Tes
Pemecahan Masalah Matematika Kontekstual digunakan
untuk mendapatkan data nilai tentang proses penyelesaian
siswa dalam memecahkan masalah. Wawancara
digunakan untuk memperoleh data tentang informasiinformasi yang tidak tertulis dan mendapatkan hasil yang
lebih mendalam.
Pemilihan subjek penelitian dilakukan berdasarkan
hasil analisis data Angket Kepribadian Ekstrovert dan
Introvert dan Tes Kemampuan Matematika. Analisis data
Angket Kepribadian Ekstrovert dan Introvert dilakukan
dengan menggunakan kisi-kisi. Analisis data Tes
Kemampuan Matematika dilakukan dengan menggunakan
pedoman penskoran. Dari hasil analisis data Tes
Pemecahan Masalah Matematika dan wawancara akan
dideskripsikan proses pemecahan masalah siswa SMP
dalam memecahkan masalah matematika konteksual.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang dilakukan,
diperoleh hasil dan pembahasan mengenai proses
pemecahan masalah matematika kontekstual siswa SMP
ekstrovert dan introvert.
1. Profil
Pemecahan
Masalah
Matematika
Kontekstual Siswa SMP Ditinjau dari Tipe
Kepribadian Ekstrovert
Hal pertama yang dilakukan subjek ekstrovert
ketika mendapatkan soal yaitu membaca masalah
sebanyak dua kali. Hal tersebut dilakukan subjek
ekstrovert agar lebih memahami permasalahan yang
diberikan. Dari kegiatan membaca masalah tersebut,
subjek ekstrovert dapat menyebutkan kata kunci yang
terdapat dalam permasalahan dengan membaca lembar
soal. Subjek ekstrovert dapat menyebutkan informasi
yang ada pada soal secara singkat dan terkadang secara
spontan. Subjek ekstrovert dapat mengungkapkan
permasalahan menggunakan kalimatnya sendiri.
Subjek ekstrovert dapat menyebutkan apa yang
diketahui meskipun ada informasi yang diabaikan.
Subjek ekstrovert dapat menyebutkan apa yang
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan pemecahan
masalah matematika kontekstual siswa SMP ditinjau dari
tipe kepribadian ekstrovert dan introvert.
212
Volume 2 No.6 Tahun 2017
ditanyakan dan memprediksi kecukupan informasi
pada permasalahan yang diberikan. Jadi subjek
ekstrovert
memenuhi
indikator
merumuskan
permasalahan dengan baik namun dalam indikator
menganalisis permasalahan kurang teliti karena ada
informasi yang diabaikan.
Langkah selanjutnya yang dilakukan subjek
ekstrovert
yaitu
mengeksplorasi.
Dalam
mengeksplorasi permasalahan, subjek ekstrovert dapat
mengumpulkan informasi-informasi yang ada pada
soal dan apa yang dibutuhkan dalam menyelesaikan
permasalahan tersebut. Namun dalam mengekplorasi
permasalahan, subjek ekstrovert cenderung tergesagesa dan kurang teliti sehingga ada informasi yang
tidak dihiraukan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Arif (2009) bahwa siswa berkepribadian ekstrovert
cenderung tergesa-gesa dan ceroboh dalam
mengerjakan soal. Langkah selanjutnya yaitu memilih
strategi, dalam memilih strategi subjek ekstrovert
memilih strategi dengan coba dan kerjakan. Subjek
ekstrovert memilih strategi itu karena akan dapat
menyelesaikan permasalahan yang ada. Subjek
ekstrovert juga beranggapan bahwa strategi tersebut
menjadi satu-satunya strategi yang dapat memecahkan
masalah. Subjek ekstrovert memenuhi indikator
mengumpulkan informasi dan membuat model
matematika dari permasalahan.
Setelah memilih strategi, subjek ekstrovert
melanjutkan ke langkah menyelesaikan masalah. Pada
langkah menyelesaikan masalah, subjek menggunakan
strategi sesuai dengan yang dipilih sebelumnya. Dalam
menyelesaikan
masalah
subjek
ekstrovert
menggunakan informasi yang tersedia pada soal.
Namun subjek ekstrovert kurang teliti dan tergesa-gesa
dalam menyelesaikan masalah sehingga ada informasi
yang tidak abaikan sehingga mempengaruhi
penyelesaian.
Langkah terakhir yaitu merefleksi, dalam
langkah ini subjek ekstrovert sangat percaya diri dalam
menyampaikan hasil yang telah diperoleh. Hal tersebut
sesuai dengan pendapat Suryabrata (2011) bahwa
individu tipe ekstrovert memiliki kepecayaan diri yang
sangat tinggi. Subjek ektrovert dalam menuliskan
kesimpulan juga tidak begitu rinci. Selain itu, subjek
ekstrovert sering terburu-buru dalam menjawab
pertanyaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Djaali
(2008) bahwa seseorang yang berkepribadian
ekstrovert tidak sabar menghadapi masalah serta ketika
menyelesaikan persoalan tidak menuliskan secara
rinci kesimpulan yang diperoleh. Jadi subjek ekstrovert
tidak
melakukan
evaluasi
langkah-langkah
penyelesaian masalah.
Berdasarkan pemecahan masalah soal A dan
soal B, subjek ekstrovert mengalami sedikit perbedaan
dalam langkah pemecahan masalah. Perbedaan
disebabkan karena subjek ekstrovert tidak teliti dalam
memahami permasalahan. Dalam menyelesaikan soal
A, subjek ektrovert kurang memperhatikan informasi
yang tersedia. Pada awalnya subjek membaca masalah,
mengeksplorasi, memilih strategi dan menyelesaikan
masalah. Namun pada langkah menyelesaikan masalah
subjek ekstrovert mengalami keraguan sehingga
subjek ekstrovert kembali membaca masalah,
mengeksplorasi, memilih strategi, menyelesaikan
masalah dan merefleksi. Hal tersebut membuat subjek
ekstrovert menemukan penyelesaian yang tepat.
Sedangkan dalam menyelesaikan soal B, subjek
ekstrovert kurang teliti dalam memahami informasi
yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan.
Pada
awalnya
subjek
membaca
masalah,
mengeksplorasi, memilih strategi, menyelesaikan
masalah dan merefleksi. Karena tidak mengecek ulang
hasilnya, jawaban yang dituliskan oleh subjek
ekstrovert kurang tepat. Hal tersebut disebabkan oleh
kurangnya
langkah
dalam
menyelesaikan
permasalahan sehingga jawabannya kurang tepat dan
tidak sesuai yang diharapkan.
2. Profil
Pemecahan
Masalah
Matematika
Kontekstual Siswa SMP Ditinjau dari Tipe
Kepribadian Introvert
Langkah pertama saat subjek introvert
mendapatkan soal yaitu membaca masalah. Subjek
introvert membaca masalah berkali-kali agar ia
memahami masalah yang diberikan. Selain membaca
masalah, subjek introvert juga menggarisbawahi
informasi yang dianggap penting. Hal tersebut
digunakan untuk menemukan kata kunci pada
permasalahan
agar
memudahkan
dalam
menyelesaikannya. Subjek introvert menuliskan secara
rinci apa yang diketahui dan apa ditanyakan pada
permasalahan.
Subjek
introvert
dapat
mendeskripsikan
permasalahan
menggunakan
kalimatnya sendiri dengan penuh pertimbangan dan
sangat detail. Jadi subjek introvert memenuhi indikator
merumuskan permasalahan
dan
menganalisis
permasalahan.
Setelah membaca masalah, subjek introvert
mengeksplorasi permasalahan dengan beranggapan
bahwa informasi yang ada pada soal sudah cukup
untuk menyelesaikan permasalahan. Subjek introvert
memenuhi indikator mengumpulkan informasi dan
membuat model matematika dari permasalahan dengan
membuat tabel.
Selanjutnya subjek introvert memilih strategi
sesuai dengan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan
213
Volume 2 No.6 Tahun 2017
permasalahan yaitu mengaitkan materi dengan
permasalahan yang ada. Jadi subjek introvert
memenuhi indikator memilih langkah yang akan
digunakan dalam pemecahan masalah dan mempunyai
langkah lain dalam menyelesaikan permasalahan.
Langkah selanjutnya yaitu menyelesaikan
masalah. Subjek introvert menyelesaikan masalah
dengan sangat rinci dan teliti. Selain menuliskan
jawaban dengan sangat baik, pada saat wawancara
subjek introvert menjawab setiap pertanyaan dengan
hati-hati dan seolah-olah ada jeda waktu untuk
berpikir.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Suryabrata (2011) bahwa siswa introvert mempunyai
strategi yang tepat dan berhati-hati dalam menentukan
keputusan serta cenderung berpikir terlebih dahulu
sebelum berbicara.
Setelah menyelesaikan masalah, subjek
introvert mengecek ulang hasil yang diperoleh. Bahkan
subjek introvert memiliki cara untuk mengecek hasil
yang diperoleh dengan caranya sendiri. Subjek
introvert juga sangat rinci dalam menuliskan
kesimpulan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Djaali (2008) bahwa seseorang yang berkepribadian
introvert lebih sabar menghadapi masalah dan
menuliskan kesimpulan secara rinci. Jadi subjek
introvert memenuhi indikator mengevaluasi langkahlangkah penyelesaian masalah dengan sangat baik.
Berdasarkan pemecahan masalah soal A dan
soal B, subjek introvert melakukannya secara
konsisten. Langkah-langkah yang diambil oleh subjek
introvert juga sama dan berurutan yaitu membaca
masalah,
mengeksplorasi,
memilih
strategi,
menyelesaikan masalah dan merefleksi. Hal tersebut
dikarenakan subjek introvert berhati-hati dalam setiap
mengambil
keputusan
sehingga
memperoleh
penyelesaian yang benar.
sehingga ada informasi yang diketahui terlewatkan
yaitu jumlah hari dalam satu bulan.
Pada langkah mengeksplorasi, siswa SMP tipe
kepribadian ekstrovert mengumpulkan informasi
dengan mengidentifikasi bahwa informasi yang ada
pada soal sudah cukup untuk menyelesaikan soal A
namun tidak cukup untuk menyelesaikan soal B. Siswa
ekstrovert mengaitkan bahwa soal A berhubungan
dengan materi operasi aljabar dan soal B berhubungan
dengan materi perbandingan berbalik nilai. Siswa
ekstrovert tidak membuat model matematika dari
permasalahan seperti tidak membuat diagram/ grafik/
bagan/ tabel untuk menyelesaikan permasalahan.
Pada langkah memilih strategi, siswa SMP tipe
kepribadian ekstrovert memilih langkah yang akan
digunakan dalam pemecahan soal A menggunakan
coba-coba dan kerjakan dan soal B menggunakan
perbandingan berbalik nilai. Siswa ekstrovert tidak
memilih langkah lain untuk soal A dan B.
Pada langkah menyelesaikan masalah, siswa
SMP tipe kepribadian melaksanakan penyelesaian soal
A sesuai dengan strategi yang dipilih yaitu strategi
coba-coba dan kerjakan sedangkan soal B
melaksanakan penyelesaian soal B juga sesuai dengan
strategi yang dipilih yaitu strategi mengaitkan dengan
materi yang pernah dipelajari yaitu perbandingan
berbalik nilai. Pada langkah ini, siswa ekstrovert dalam
menyelesaikan soal A mengalami keraguan sehingga
subjek kembali ke langkah awal yaitu membaca
masalah.
Pada langkah merefleksi, siswa SMP tipe
kepribadian ekstrovert mengevaluasi langkah-langkah
penyelesaian masalah tidak memeriksa kembali
langkah-langkah penyelesaian sehingga hasil dari soal
B yang diperoleh kurang tepat.
b. Profil
Pemecahan
Masalah
Matematika
Kontekstual Siswa SMP Ditinjau dari Tipe
Kepribadian Introvert
Pada langkah membaca masalah, siswa SMP
tipe kepribadian introvert merumuskan permasalahan
dengan
menjelaskan
pokok
permasalahan
menggunakan kalimat sendiri sesuai dengan kata kunci
permasalahan secara hati-hati. Siswa introvert
menganalisis permasalahan dengan memilih informasi
yang diketahui dan ditanyakan dengan rinci sehingga
tidak ada informasi yang terlewatkan.
Pada langkah mengeksplorasi, siswa SMP tipe
kepribadian introvert mengumpulkan informasi
dengan mengidentifikasi bahwa informasi yang ada
pada soal sudah cukup untuk menyelesaikan soal A
namun tidak cukup untuk menyelesaikan soal B. Siswa
introvert mengaitkan bahwa soal A berhubungan
dengan materi operasi aljabar dan soal B berhubungan
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
a. Profil
Pemecahan
Masalah
Matematika
Kontekstual Siswa SMP Ditinjau dari Tipe
Kepribadian Ekstrovert
Pada langkah membaca masalah, siswa SMP
tipe kepribadian ekstrovert merumuskan permasalahan
dengan
menjelaskan
pokok
permasalahan
menggunakan kalimat sendiri sesuai dengan kata kunci
permasalahan secara spontan. Siswa ekstrovert
menganalisis permasalahan dengan memilih informasi
yang diketahui dan ditanyakan dengan spontan
214
Volume 2 No.6 Tahun 2017
Catrunada, Lidya dan Ira Puspita. 2008. Prokrastinasi
Task Differences on Thesis Introvert and Extrovert
Personality. [Online]. Tersedia: http://229-587-1PB.pdf. [Diunduh 19 September 2016, pukul 13.00
WIB].
dengan materi perbandingan berbalik nilai. Siswa
introvert tidak membuat model matematika dari
permasalahan seperti tidak membuat diagram/ grafik/
bagan/ tabel untuk menyelesaikan permasalahan untuk
soal A namun membuat tabel perbandingan untuk
menyelesaiakan soal B.
Pada langkah memilih strategi, siswa SMP tipe
kepribadian introvert memilih langkah yang akan
digunakan dalam pemecahan soal B menggunakan
operasi aljabar dan soal B menggunakan perbandingan
berbalik nilai. Siswa introvert tidak memilih langkah
lain untuk soal A namun ia berpendapat bahwa ada
langkah lain untuk soal B.
Pada langkah menyelesaikan masalah, siswa
SMP tipe kepribadian melaksanakan penyelesaian soal
A sesuai dengan strategi yang dipilih yaitu
menggunakan operasi aljabar sedangkan soal B
melaksanakan penyelesaian soal B juga sesuai dengan
strategi yang dipilih yaitu strategi mengaitkan dengan
materi yang pernah dipelajari yaitu perbandingan
berbalik nilai dengan menggambarkan tabel
perbandingan juga.
Pada langkah merefleksi, siswa SMP tipe
kepribadian introvert mengevaluasi langkah-langkah
penyelesaian masalah dengan memeriksa kembali
langkah-langkah penyelesaian sehingga hasil yang
diperoleh tepat.
Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Mudrika, Nafis. 2011.
Membaca Kepribadian
Menggunakan Tes Myer Briggs Type Indicator
(MBTI). [online]. Tersedia: http://mbti.pdf.
[Diunduh 14 Oktober 2016, Pukul 14.00 WIB]
Noviana, Julia. 2014. Profil Berpikir Metaforis Siswa SMP
dalam Memecahkan Masalah Aljabar Ditinjau dari
Tipe Kepribadian. Tesis tidak dipublikasikan.
Universitas Negeri Surabaya
Krulik dan Jesse A Rudnick. 1995. The New Sourcebook
for Teaching Reasoningand Problem Solving in
Elementary School. Boston: Temple University.
Pangarso, Astadi. (2012). Prilaku Organisasi.
[online]Tersedia:
http://www.slideshare.net/a57adee/2-kepribadian.
[Diunduh 25 Oktober 2016, Pukul 13.00 WIB]
Polya, George. 1973. How to Solve It a New Aspect of
Mathematical Method. New Jersey: Stanford
University.
Siskawati, Fury Styo. 2013. Penalaran Siswa SMP Dalam
Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari
Perbedaan Kepribadian Ekstrovert dan Introvert.
Tesis tidak dipublikasikan. Universitas Negeri
Surabaya.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan profil
pemecahan masalah matematika kontekstual siswa SMP
ditinjau dari tipe kepribadian ekstrovert dan introvert,
peneliti dapat memberikan saran yang diuraikan sebagai
berikut.
1. Penelitian ini dibatasi pada langkah pemecahan
masalah Krulik dan Rudnick, diharapkan bagi
peneliti selanjutnya akan mengadakan penelitian
yang mengkaji hal serupa agar menvariasikan
masalah matematikanya dan menambah soal.
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa introvert
lebih berhati-hati dan siswa ekstrovert cenderung
terburu-buru. Diharapkan guru dapat memberikan
motivasi kepada siswa agar siswa dapat menjadi
lebih teliti dan percaya diri.
Soedjadi, R. 2003. Masalah Kontekstual Sebagai Batu
Sendi Matematika Sekolah. Surabaya: Pusat Sains
dan Matematika Sekolah (PSMS) Unesa.
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta
: Rajawali Pers
Zulkardi, dan Ilma, R. 2006. Mendesain Sendiri Soal
Kontekstual Matematika. [Online] Tersedia:
http://eprits.unsri.ac.id/610/1/mendesain_sendiri_s
oal_kontekstual.pdf [Diunduh 21 November 2016
Pukul 21.00 WIB]
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mohammad. 2009. Proses Berfikir Siswa Dalam
Menyelesaikan Soal-Soal Turunan Fungsi Ditinjau
Dari Perbedaan Kepribadian Dan Kemampuan
Matematika.
Tesis
tidak
dipublikasikan.
Universitas Negeri Surabaya.
215
Download