1 implikasi ukuran perusahaan dan pengungkapan

advertisement
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP MANAJEMEN LABA
Gayatri1
Prasetya Pria J2
(Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implikasi ukuran perusahaan
dan pengungkapan corporate social responsibility terhadap manajemen laba. Perusahaan besar wajib melakukan pengungkapan corporate social responsibility dalam
laporan keuangan untuk mendapatkan legitimasi dan nilai positif dari masyarakat.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014. Sampel dalam penelitian ini dipilih
melalui teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan merupakan variabel independen, manajemen laba merupakan variabel dependen, dan pengungkapan corporate social responsibility merupakan variabel intervening. Metode
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan. Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis).
Penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif
pada pengungkapan corporate social responsibility. Hal ini menggambarkan bahwa
peningkatan ukuran perusahaan akan meningkatkan pengungkapan corporate social
responsibility. Ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba. Hal
ini menunjukkan bahwa peningkatan ukuran perusahaan akan menyebabkan terjadinya penurunan manajemen laba. Pengungkapan corporate social responsibility
berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Kondisi ini menggambarkan bahwa
peningkatan pengungkapan corporate social responsibility akan menyebabkan terjadinya penurunan manajemen laba. Pengungkapan corporate social responsibility
mampu memediasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Hal ini
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manjemen laba
melalui pengungkapan corporate social responsibility.
Kata kunci: ukuran perusahaan, manajemen laba.
I.PENDAHULUAN
Laporan keuangan merupakan
sarana dalam mengkomunikasikan informasi keuangan terhadap pihak-pihak
yang berkepentingan dalam mengambil keputusan. Informasi yang terdapat
dalam laporan keuangan diharapkan
dapat membantu kreditor dan investor
dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan dana yang mereka investasikan. Laba merupakan salah satu
parameter penting dalam laporan keuangan yang digunakan untuk menaksir ki-
nerja manajer. Kecenderungan untuk
lebih memperhatikan laba disadari oleh
pihak manajemen, khususnya manajer
yang kinerjanya dinilai berdasarkan informasi laba. Hal tersebut dapat menimbulkan perilaku menyimpang, salah satu
bentuknya adalah manajemen laba.
Manajemen laba berada di daerah
abu-abu antara aktivitas yang diijinkan
oleh prinsip akuntansi atau merupakan
sebuah kecurangan. Laporan keuangan
dapat disebut sebagai cerminan perilaku
etis dan tanggung jawab sosial pribadi
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
1
orang yang membuat laporan keuangan (Sulistyanto, 2008). Banyak manajer menganggap praktik manajemen
laba sebagai tindakan wajar dan etis
serta merupakan alat sah bagi manajer
dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendapatkan keuntungan
atau return perusahaan (Fischer dan
Rosenzweigh, 1995). Manajemen laba dianggap perbuatan yang legal dan tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum (Merchant dan Rockness, 1994).
Para pihak yang kontra terhadap
manajemen laba mengungkapkan bahwa manajemen laba merupakan tindakan yang kontroversial di dalam dunia
akuntansi dan bisnis. Manajemen laba
membawa pengaruh negatif dan cenderung menyesatkan bagi pengguna informasi dalam pelaporan keuangan. Manajemen laba merupakan campur tangan
manajer dalam proses penyusunan
laporan keuangan yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi (Schipper, 1989:92). Manajemen laba
dilakukan dengan memilih metode atau
kebijakan akuntansi untuk menaikkan
laba atau menurunkan laba. Manajemen
akan menggeser laba periode yang akan
datang ke periode sekarang untuk menaikkan laba dan menggeser laba periode masa sekarang ke periode berikutnya untuk menurunkan laba. Manajemen
laba merupakan manipulasi akuntansi
dengan tujuan menciptakan kinerja perusahaan agar terkesan lebih baik dari
yang sebenarnya (Mulford dan Comiskey, 2010).
Manajemen laba timbul sebagai
dampak dari masalah keagenan yang
terjadi karena adanya ketidakselarasan
kepentingan antara pemilik perusahaan (prinsipal) dan manajemen (agen).
Asumsi dalam teori keagenan yaitu masing-masing individu termotivasi oleh
kepentingan diri sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara
prinsipal dan agen. Pemilik perusahaan
2
sebagai prinsipal mengadakan kontrak
untuk memaksimumkan kesejahteraan
dirinya dengan profitabilitas yang selalu
meningkat. Manajer sebagai agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya dalam hal memperoleh investasi,
pinjaman, maupun kontrak kompensasi.
Konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik perusahaan juga
terjadi karena pemilik perusahaan tidak
selalu dapat mengawasi aktivitas yang
dilakukan manajer sehari-hari dan memastikan bahwa manajer bekerja sesuai
dengan keinginan pemilik perusahaan.
Pemilik perusahaan tidak mempunyai
informasi yang cukup mengenai kinerja
perusahaan, sedangkan manajer memiliki lebih banyak informasi mengenai
perusahaan secara keseluruhan. Perbedaan informasi yang dimiliki dapat memberikan peluang bagi manajer untuk
melakukan manajemen laba.
Manajemen
laba
dilakukan
melalui manipulasi laporan keuangan
dengan memanfaatkan kebijakan akuntansi. Manajemen laba yang dilakukan
manajer dengan mengendalikan transaksi akrual, yaitu transaksi yang tidak mempengaruhi aliran kas (Friedlan, 1994). Transaksi akrual merupakan
transaksi yang tidak mempengaruhi aliran kas masuk (cash inflow) maupun aliran kas keluar (cash outflow). Akuntansi
akrual terdiri dari discretionary accruals
dan non discretionary accruals. Discretionary accruals merupakan akrual yang
ditentukan manajemen. Manajer dapat
memilih kebijakan dalam hal metode dan
estimasi akuntansi. Non discretionary accruals merupakan akrual yang ditentukan atas kondisi ekonomi (Xiong, 2006).
Salah satu faktor yang mempengaruhi praktik manajemen laba adalah
ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan tingkat identifikasi besar atau kecilnya suatu perusahaan. Besar kecilnya ukuran perusahaan dapat
didasarkan pada total nilai aktiva, total
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah
tenaga kerja dan sebagainya (Hilmi dan
Ali, 2008). Semakin besar nilai aktiva
mengindikasikan semakin banyak modal
yang ditanam, semakin banyak penjualan mengindikasikan semakin banyak
perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar mengindikasikan semakin dikenal masyarakat. Penelitian ini
menggunakan total aset sebagai proksi
ukuran perusahaan, karena total aset
relatif lebih stabil dibandingkan dengan
ukuran lain dalam mengukur ukuran
perusahaan (Sudarmadji dkk., 2007).
Penelitian Muliati (2011) serta Jao
dan Pagalung (2011) menemukan bahwa
ukuran perusahaan berpengaruh negatif
terhadap manajemen laba. Perusahaan
yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba
dibandingkan dengan perusahaan kecil,
karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak
luar. Namun, penelitian Rahmani dan
Mir (2013) menemukan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Perusahaan besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk melakukan manajemen laba,
karena perusahaan besar harus mampu
memenuhi ekspektasi investor atau pemegang sahamnya.
Perusahaan dalam menjalankan
kegiatan usaha tidak hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri, tetapi
juga harus memberikan manfaat bagi
stakeholder seperti: pemegang saham,
kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain.
Tanggung jawab sosial perusahaan atau
Corporate Social Responsibility (CSR)
merupakan suatu bentuk komitmen perusahaan terhadap para stakeholder dalam mempertanggungjawabkan dampak
dari aktivitas operasi yang telah dilakukan perusahaan. CSR merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial
dan lingkungan kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang
berkepentingan dan masyarakat secara
keseluruhan (Hackston dan Milne, 1996).
Perusahaan menjadi bagian dari suatu
komunitas dan lingkungannya sendiri.
Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan, akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya,
sehingga apa yang dilakukan oleh pihak
perusahaan akan kembali lagi kepada
masyarakat tersebut. Oleh karena itu,
manajemen perusahaan membutuhkan
dukungan dari lingkungan masyarakat
yang kondusif agar perusahaan dapat
beroperasi dengan tenang.
Dalam pasal 74 dan pasal 66 ayat
1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2007
menyebutkan perusahaan yang kegiatan
operasinya berhubungan dengan penggunaan sumber daya alam diwajibkan
untuk melakukan tanggung jawab sosial
dan lingkungan serta harus dimuat dalam laporan tahunan perusahaan. Walaupun pelaksanaan tanggung jawab
sosial perusahaan bersifat wajib, namun
item-item tanggung jawab sosial yang
diungkapkan perusahaan masih merupakan informasi yang bersifat sukarela
(Putra, 2013).
Ukuran perusahaan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR. Ukuran
perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR (Purwanto,
2011). Tanggung jawab sosial dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. Perusahaan besar cenderung mengungkapkan pertanggungjawaban sosial yang
lebih luas. Perusahaan besar akan mengungkapkan lebih banyak informasi
dari pada perusahaan kecil, karena perusahaan besar akan menghadapi resiko
politis yang lebih besar dibandingkan
perusahaan kecil (Kusumastuti, 2014).
Pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan dilakukan untuk mendapatkan nilai positif dan legitimasi dari masyarakat (Junitasari, 2015)
Di sisi lain, pengungkapan aktivitas CSR dapat membatasi terjadinya
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
3
tindakan manajemen laba. Tujuan perusahaan mengungkapkan banyak informasi tentang aktivitas CSR untuk
membentuk profil organisasi yang lebih
baik (Lanis dan Richardson, 2012). Sehingga perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan praktik manipulasi laba
karena tidak konsisten dengan tujuan
pembentukan profil perusahaan. Praktek kecurangan seperti manajemen laba
dapat menghapus pengaruh positif dari
melakukan aktivitas CSR.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1)Apakah ukuran perusahaan berpengaruh pada pengungkapan corporate
social responsibility?
2)Apakah ukuran perusahaan berpengaruh pada manajemen laba?
3)Apakah pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh pada
manajemen laba?
4)Apakah ukuran perusahaan berpengaruh pada manajemen laba melalui
pengungkapan corporate social responsibility?
II.
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Teori Keagenan
Hubungan agensi muncul ketika
satu orang atau lebih (prinsipal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa dan mendelegasikan
wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Jika agen tidak
berbuat sesuai kepentingan prinsipal
mengakibatkan terjadi konflik keagenan
sehingga memicu biaya keagenan (Jensen dan Meckling, 1976).
Perusahaan mempunyai banyak
kontrak seperti: kontrak kerja dengan
para manajer dan kontrak pinjaman dengan kreditur. Agen dan prinsipal ingin
memaksimumkan utilitas masing-masing melalui informasi yang dimiliki. Agen
memiliki informasi lebih banyak (full in-
4
formation) dibandingkan dengan prinsipal sehingga menimbulkan asimetry information. Informasi yang lebih banyak
dimiliki oleh manajer dapat memicu manajer melakukan tindakan yang sesuai
dengan keinginan dan kepentingannya.
Bagi pemilik modal atau investor akan
sulit untuk mengontrol secara efektif
tindakan yang dilakukan oleh manajer
karena hanya memiliki sedikit informasi. Kadangkala kebijakan tertentu yang
dilakukan oleh manajer tanpa sepengetahuan pemilik modal atau investor
(Scott, 2000).
Asumsi teori agensi adalah masing-masing individu termotivasi oleh
kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen. Pemegang
saham sebagai pihak prinsipal akan
mengadakan kontrak untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya melalui
peningkatan profitabilitas. Manajer sebagai agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi
dan psikologisnya dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Perilaku oportunistik
dari agen menyebabkan timbulnya masalah keagenan. Manajer akan memiliki
dorongan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dapat memperlihatkan kinerja yang baik dengan
tujuan mendapatkan bonus (Muliati,
2011).
2.2. Teori Legitimasi
Legitimasi organisasi merupakan
sesuatu yang diberikan oleh masyarakat
kepada perusahaan dan sesuatu yang
diinginkan atau dicari perusahaan dari
masyarakat. Legitimasi memiliki manfaat untuk mendukung keberlangsungan hidup suatu perusahaan (O’Donovan, 2002). Legitimasi dianggap sebagai
penyamaan persepsi bahwa tindakan
yang dilakukan oleh suatu entitas merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem nor-
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
ma, nilai, kepercayaan dan definisi yang
dikembangkan secara sosial (Suchman,
1995). Legitimasi dianggap penting bagi
perusahaan karena menjadi faktor strategis bagi perkembangan perusahaan ke
depan.
Teori legitimasi dapat diterapkan
pada perusahaan yang melakukan kegiatan tanggung jawab sosial. Perusahaan menjadi bagian dari suatu komunitas dan lingkungannya sendiri. Dampak
yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap
masyarakat sekitarnya, sehingga apa
yang dilakukan oleh pihak perusahaan
akan kembali lagi kepada masyarakat
tersebut. Oleh karena itu, manajemen
membutuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat yang kondusif agar perusahaan dapat beroperasi dengan tenang.
Perusahaan memiliki kontrak dengan
masyarakat untuk melakukan kegiatan
berdasarkan nilai-nilai keadilan, dan
bagaimana perusahaan menanggapi
berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan
(Haniffa dan Cooke, 2005). Perusahaan
juga harus memperhatikan kepentingan
berbagai pihak. Semakin banyak perusahaan melakukan kegiatan sosial yang
memberikan dampak positif bagi pihak
lain maka akan memberikan manfaat
dan kemajuan tersendiri bagi perusahaan. Untuk itu, sebagai suatu sistem
yang mengedepankan keberpihakan kepada society, operasi perusahaan harus
kongruen dengan harapan masyarakat
(Retno dan Priantinah, 2012).
2.3
Teori Stakeholder
Stakeholders merupakan
individu, sekelompok manusia, komunitas
atau masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap
perusahaan (Kusumastuti, 2014). Perusahaan bukanlah entitas yang hanya
beroperasi untuk kepentingannya sendiri, namun harus memberikan manfaat
bagi stakeholder-nya seperti: pemegang
saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak
lain (Ghozali dan Chariri, 2007). Pengungkapan corporate social responsibility
menjadi penting karena para stakeholder
perlu mengetahui dan mengevaluasi sejauh mana perusahaan melaksanakan
peranannya sesuai dengan keinginan
stakeholder, sehingga menuntut adanya
akuntabilitas perusahaan atas kegiatan
corporate social responsibility yang telah
dilakukan (Riswari, 2012).
2.4 Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan intervensi atau campur tangan manajer dalam proses penyusunan laporan
keuangan dengan tujuan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi (Schipper,
1989: 92). Manajer melakukan manajemen laba dengan memilih metode atau
kebijakan akuntansi untuk menaikkan
atau menurunkan laba. Pada saat manajer menaikkan laba, maka manajer menggeser laba periode yang akan datang ke
periode sekarang dan pada saat manajer menurunkan laba dengan menggeser
laba periode masa sekarang ke periode
berikutnya. Manajemen laba merupakan
manipulasi akuntansi dengan tujuan
menciptakan kinerja perusahaan agar
terkesan lebih baik dari yang sebenarnya (Mulford dan Comiskey, 2010). Banyak manajer menganggap praktik manajemen laba sebagai tindakan wajar dan
etis serta merupakan alat sah manajer
dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendapatkan keuntungan
atau return perusahaan (Fischer dan
Rosenzweigh, 1995). Manajemen laba
yang banyak dilakukan selama ini dianggap perbuatan yang legal atau tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (Merchant dan
Rockness, 1994).
Pola yang dilakukan manajer dalam melakukan manajemen laba(Scott,
2000), yaitu: pertama, taking a bath.
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
5
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi
termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah
besar. Tindakan ini diharapkan dapat
meningkatkan laba di masa mendatang;
kedua, income minimization. Dilakukan
pada saat perusahaan mengalami tingkat probabilitas yang tinggi sehingga jika
laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan
laba periode sebelumnya; ketiga, income
maximization. Dilakukan pada saat laba
menurun. Tindakan atas Income Maximization bertujuan untuk melaporkan net
income yang tinggi untuk tujuan bonus
yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh
perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang; keempat, income
smoothing. Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
umumnya investor lebih menyukai laba
yang relatif stabil.
2.5 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan
tingkat identifikasi besar atau kecilnya
suatu perusahaan. Besar kecilnya ukuran perusahaan dapat didasarkan pada
total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan
sebagainya. Semakin besar nilai tersebut
maka semakin besar pula ukuran perusahaan (Hilmi dan Ali, 2008). Ukuran
perusahaan yang dipakai untuk menentukan tingkat perusahaan (Restuwulan, 2013) terdiri dari: pertama, tenaga
kerja, merupakan jumlah pegawai tetap
dan kontrak yang terdaftar atau bekerja
di perusahaan pada suatu saat tertentu;
kedua, tingkat penjualan, merupakan
volume penjualan suatu perusahaan
pada suatu periode tertentu; ketiga, total utang ditambah dengan nilai pasar
saham biasa, merupakan jumlah utang
dan nilai pasar saham biasa perusahaan pada tanggal tertentu; keempat, total aset merupakan keseluruhan aktiva
6
yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu.
2.6 Corporate Social Responsibility
Corporate Social Responsibility
(CSR) merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan
kegiatan ekonomi organisasi terhadap
kelompok khusus yang berkepentingan
dan masyarakat secara keseluruhan
(Hackston dan Milne, 1996). CSR merupakan suatu sikap yang ditunjukkan
perusahaan atas komitmennya terhadap
para pemangku kepentingan perusahaan atau stakeholders dalam mempertanggungjawabkan dampak dari operasi
atau aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut baik dalam aspek sosial,
ekonomi, maupun lingkungan, serta
menjaga agar dampak tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat dan
lingkungannya (Arief dan Didik, 2014) .
Gagasan yang terkandung dalam
CSR adalah menjadikan perusahaan tidak hanya dihadapkan pada tanggung
jawab pada nilai perusahaan semata
dalam hal ini adalah laporan keuangannya tetapi juga kewajiban terhadap
stakeholder. Tanggung jawab perusahaan yang ditunjukkan dalam CSR harus berpijak pada aspek sosial, ekonomi,
dan lingkungan. Sehingga perusahaan
dapat menggunakan informasi CSR sebagai salah satu keunggulan kompetitif (Budi, 2013). Tanggung jawab sosial
perusahaan memberikan keuntungan
bersama bagi semua pihak, baik perusahaan, karyawan, masyarakat, pemerintah maupun lingkungan. Manfaat CSR
yang didapat oleh perusahaan (Sayidatina, 2011) yaitu: pertama, Brand differentiation. Dalam persaingan pasar yang
kian kompetitif, CSR bisa memberikan
citra perusahaan yang khas, baik, dan
etis di mata publik yang pada gilirannya menciptakan customer loyalty; kedua,
human resources. Program CSR dapat
membantu dalam perekrutan karyawan
baru, terutama yang memiliki kualifi-
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
kasi tinggi. Bagi staff lama, CSR dapat
meningkatkan persepsi, reputasi dan
dedikasi dalam bekerja; ketiga, license
to operate. Perusahaan yang menjalankan CSR akan mendorong pemerintah
dan publik untuk memberi izin bisnis,
karena dianggap memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas; keempat, risk
management. Reputasi perusahaan yang
dibangun bertahun-tahun bisa runtuh
dalam sekejap oleh skandal korupsi,
kecelakaan karyawan, atau kerusakan
lingkungan. Membangun budaya “doing
the right thing” berguna bagi perusahaan
dalam mengelola risiko bisnis.
Pengungkapan CSR oleh perusahaan di Indonesia adalah wajib dilakukan (mandatory disclosure). Pengungkapan ini didukung oleh regulasi yaitu
Undang-undang Nomor 40 tahun 2007
pasal 74 menyatakan bahwa perusahaan
yang kegiatan operasinya berhubungan dengan penggunaan sumber daya
alam diwajibkan melakukan tanggung
jawab sosial dan lingkungan (Ghozali
dan Chariri, 2007). Sedangkan pasal 66
ayat 1 menyatakan bahwa hal-hal yang
harus dimuat dalam laporan tahunan
perusahaan adalah pelaporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.
Walaupun demikian item-item tanggung
jawab sosial yang diungkapkan perusahaan masih merupakan informasi yang
bersifat sukarela (Putra, 2013).
2.7 Pengembangan Hipotesis
Ukuran perusahaan adalah tingkat identifikasi besar atau kecilnya
suatu perusahaan. Ukuran perusahaan
merupakan variabel penduga yang banyak digunakan untuk menjelaskan variasi pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan. Perusahaan besar
mengungkapkan informasi yang lebih
banyak dari pada perusahaan kecil. Ini
terjadi karena perusahaan besar akan
menghadapi resiko politis lebih besar
dibanding perusahaan kecil (Kusumas-
tuti, 2014). Tekanan politis yang dihadapi perusahaan besar adalah melakukan pertanggungjawaban di bidang CSR.
CSR merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari
kegiatan ekonomi organisasi terhadap
kelompok khusus yang berkepentingan
dan masyarakat secara keseluruhan
(Hackston dan Milne, 1996). Pengkomunikasian dilakukan melalui pengungkapan dalam laporan keuangan tahunan
sehingga dalam jangka panjang dapat
terhindar dari biaya besar akibat tuntutan dari masyarakat. Pengungkapan
CSR ini dilakukan perusahaan untuk
mendapatkan legitimasi dari stakeholders (Nurkhin, 2009).
Hasil penelitian Kusumastuti
(2014) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan
terhadap pengungkapan pertanggung
jawaban sosial (CSR). Hasil penelitian
Purwanto (2011) menemukan bahwa
ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Primadewi dan Mertha (2014) juga menemukan ukuran perusahaan berpengaruh
signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Hal ini menunjukkan bahwa pertanggungjawaban sosial (CSR) dipengaruhi oleh
ukuran perusahaan, dan perusahaan besar cenderung mengungkapkan pertanggungjawaban sosial lebih luas dibandingkan perusahaan kecil. Berdasarkan
uraian tersebut maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1: Ukuran perusahaan berpengaruh
positif pada pengungkapan corporate social responsibility.
Ukuran perusahaan merupakan
suatu skala untuk mengklasifikasikan
besar kecilnya perusahaan menurut beberapa cara yaitu: total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah
tenaga kerja dan sebagainya. Semakin
besar nilai item tersebut maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu.
Ukuran perusahaan digunakan sebagai
proksi dari political cost, yang dianggap
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
7
sangat sensitif terhadap perilaku pelaporan laba (Watt and Zimmerman, 1978).
Pandangan terhadap hubungan
ukuran perusahaan terhadap manajemen laba ada dua yaitu: pertama, ukuran perusahaan memiliki hubungan
positif dengan manajemen laba, karena
perusahaan besar memiliki aktivitas operasional lebih kompleks dibandingkan
perusahaan kecil sehingga lebih memungkinkan untuk melakukan manajemen
laba; kedua, ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen
laba. Perusahaan besar kurang memiliki
dorongan untuk melakukan manajemen
laba dibandingkan perusahaan kecil
karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak
luar. Perusahaan besar memiliki basis
investor lebih besar, sehingga mendapat
tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang kredibel
(Marihot dan Setyawan, 2007).
Hasil penelitian Muliati (2011)
terhadap perusahaan perbankan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada
tahun 2001 sampai 2008 menemukan
bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
negatif terhadap manajemen laba. Penelitian Jao dan Pagalung (2011) menyatakan ukuran perusahaan mempunyai
hubungan negatif signifikan terhadap
manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Didukung juga oleh penelitian
Nariastiti dan Dwi Ratnadi (2014) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen
laba. Berdasarkan uraian tersebut maka
hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh
negatif pada manajemen laba.
Corporate social responsibility
(CSR) merupakan suatu sikap yang ditunjukkan perusahaan atas komitmennya terhadap para pemangku kepentingan
perusahaan atau stakeholders dalam
8
mempertanggungjawabkan dampak dari
operasi atau aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan, serta
menjaga agar dampak tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat dan
lingkungannya (Arief, 2014). Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan
dilakukan untuk mendapatkan nilai
positif dan legitimasi dari masyarakat.
(Junitasari, 2015)
Hubungan antara corporate social
responsibility dengan manajemen laba
dapat dijelaskan melalui teori legitimasi. Organisasi secara kontinyu akan memastikan bahwa perusahaan beroperasi dalam batasan dan norma yang ada
pada masyarakat. Legitimasi mendasarkan diri pada norma dan batasan yang
ada di dalam masyarakat. Perusahaan
yang memiliki komitmen kuat atas tanggung jawab sosial untuk mendapatkan
legitimasi masyarakat akan membatasi praktik manajemen laba. Manipulasi yang secara etika tidak bisa diterima
kebanyakan orang akan lebih sedikit
terjadi pada perusahaan yang memiliki komitmen kuat atas tanggung jawab
sosial (Shleifer, 2004). Perusahaan yang
melakukan pengungkapan corporate social responsibility lebih banyak akan berdampak pada kecilnya manajemen laba
yang dilakukan.
Penelitian Putri (2012) menemukan bahwa pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif
pada manajemen laba. Penelitian Yip et
al. (2011) juga menemukan hubungan
negatif antara manajemen laba dengan
corporate social responsbilty. Diperkuat
dengan penelitian Kim et al. (2011) yaitu corporate social responsbilty berpengaruh negatif pada manajemen laba.
Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H3:Pengungkapan corporate social
responsibility berpengaruh negatif pada
manajemen laba
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
Pengungkapan informasi pada perusahaan besar lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan besar
menghadapi resiko politis lebih besar
dibandingkan perusahaan kecil (Kusumastuti, 2014). Perusahaan besar mengungkapkan aktivitas tanggung jawab
sosialnya untuk mendapatkan nilai positif dan legitimasi dari masyarakat. Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan
karena akan menjadi faktor strategis bagi
perkembangan perusahaan ke depan
(Suchman, 1995). Legitimasi yang diperoleh perusahaan tidak terlepas dari etika
perusahaan dalam menjalankan aktivitas
usahanya. Manipulasi yang secara etika
tidak bisa diterima kebanyakan orang
terjadi lebih sedikit pada perusahaan
yang memiliki komitment kuat atas tanggung jawab sosial (Shleifer, 2004). Perusahaan yang mempunyai tanggung jawab
sosial cenderung membatasi penggunaan
manajemen laba untuk memberikan informasi keuangan kepada investor yang
lebih transparan dan dapat diandalkan
(Kim et al. 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti (2014), Purwanto (2011), serta
Primadewi dan Mertha (2014) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan penelitian Putri (2012), Yip et
al. (2011), serta Kim et al. (2011) menemukan bahwa terdapat pengaruh negatif
antara manajemen laba dengan pengungkapan corporate social responsibility. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah:
H4 : Ukuran perusahan berpengaruh
negatif pada manajaemen laba melalui
pengungkapan corporate social responsibility.
III. METODE PENELITIAN
Kerangka pemikiran teoritis dalam
penelitian ini tampak dalam gambar 3.1.
Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Penelitian ini dilakukan di Bursa
Efek Indonesia (BEI) yang memberikan
informasi laporan tahunan pada situs
www.idx.co.id. Objek penelitian ini adalah: ukuran perusahaan (X1), pengungkapan Corporate Social Responsibility
(X2), dan manajemen laba (Y). Objek
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014. Perusahaan
manufaktur dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini karena: pertama, industri manufaktur merupakan jenis perusahaan yang paling banyak terdaftar
di Bursa Efek Indonesia sehingga variasi
data untuk sampel akan semakin banyak; kedua, untuk menghindari adanya
risiko industri yang berbeda antara sektor industri yang satu dengan yang lain
(industrial effect); ketiga, sektor manufaktur memiliki kegiatan operasional yang kompleks dimulai dari kegiatan
mengolah bahan baku hingga menjadi
barang jadi, sehingga dapat dicurigai
selama proses yang kompleks tersebut
dapat terjadi praktik manajemen laba.
Sampel dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling. Data
sekunder yang diperoleh kemudian
diseleksi sesuai dengan kriteria yang
sudah di tentukan. Variabel dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan
sebagai variabel independen, manajemen laba sebagai variabel dependen dan
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
9
pengungkapan corporate social responsibility sebagai variabel intervening. Penggunaan pendekatan akrual untuk menghitung manajemen laba didasari alasan
dalam perkembangan praktik manajemen laba lebih banyak terjadi melalui
rekayasa akrual. Karena akrual merupakan produk utama dari prinsip akuntansi yang diterima umum dan manajemen
laba lebih mudah terjadi pada laporan
yang berbasis akrual dari pada berbasis
kas. Pendekatan akrual lebih berpotensi
untuk mengungkap praktik manajemen
laba (Beneish, 2001). Manajemen laba
dalam penelitian ini diproksikan dengan discretionary accruals dan dihitung
dengan menggunakan The Modified
Jones Model (Dechow et al., 1995). Langkah-langkah dalam menghitung discretionary accruals adalah:
Menghitung nilai total akrual dengan
menggunakan pendekatan arus kas
(cash flow approach)
........2
Dengan menggunakan koefisien regresi
pada rumus sebelumnya nilai non discretionary accruals (NDA) dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
........3
10
Variabel independen dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan.
Ukuran perusahaan merupakan tingkat
identifikasi besar atau kecilnya suatu
perusahaan yang dapat dinilai dari total
nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi
pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Dalam penelitian ini digunakan total
asset sebagai proksi ukuran perusahaan
karena total aset merupakan ukuran
yang relatif lebih stabil dibandingkan
dengan ukuran lain (Sudarmadji dan
Sularto, 2007). Ukuran perusahaan yang
diukur dengan total aset akan ditransformasikan dalam logaritma untuk menyamakan dengan variabel lain yaitu:
Variabel Intervening dalam penelitian ini adalah pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR
dalam penelitian ini diukur dengan indeks pengungkapan sosial yang merupakan indeks dummy. Indeks perusahaan
sampel diberi kode 1 jika perusahaan
mengungkapkan item pada daftar pertanyaan (checklist) dan diberi kode 0 jika
perusahaan tidak mengungkapkan item
tersebut yang sesuai dengan daftar pertanyaan. Kemudian skor dari setiap item
dijumlahkan untuk memperoleh total
skor setiap perusahaan. Total skor diberi
bobot dengan skor yang seharusnya ada
dalam pertanyaan.
Instrumen pengukuran Corporate
Social Responsibility Index (CSRI) dalam
penelitian ini mengacu pada instrumen
yang digunakan oleh Sembiring (2005)
yang diadopsi dari penelitian Hackston
dan Milne (1996) dengan mengelompokkan informasi CSR ke dalam tujuh
kategori yaitu: lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan tenaga kerja,
lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, dan umum. Ketujuh
kategori tersebut terbagi dalam 90 item
pengungkapan. Berdasarkan peraturan
Bapepam No. VIII.G.2 tentang laporan
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
tahunan dan kesesuaian item tersebut
untuk diaplikasikan di Indonesia, maka
dilakukan penyesuaian sehingga tersisa
78 item pengungkapan. 78 item tersebut
kemudian disesuaikan kembali dengan
masing–masing sektor industri sehingga item pengungkapan yang diharapkan
dari setiap sektor berbeda–beda. Total
item CSR berkisar antara 63 sampai 78,
tergantung dari tipe industri perusahaan. Total item pengungkapan yang terdapat dalam sektor manufaktur berjumlah 78 item. Rumus perhitungan CSRI
didasarkan pada penelitian Hannifa dan
Cooke (2005) adalah:
Data sekunder diperoleh dari
laporan tahunan dan laporan keuangan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sepanjang
tahun 2012-2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2012-2014. Pengambilan sampel dilakukan secara non
probability sampling dengan menggunakan pendekatan purposive sampling
(Sugiyono, 2013:122). Kriteria sampel
yang akan digunakan yaitu: pertama,
perusahaan manufaktur yang terdaftar
di BEI selama tahun 2012-2014; kedua,
perusahaan menerbitkan laporan tahunan selama tahun 2012-2014; ketiga,
perusahaan tersebut mencantumkan pengungkapan corporate social responsibility; keempat, perusahaan menggunakan
mata uang rupiah dalam laporan keuangannya.
Metode pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah metode observasi
non partisipan (Indriantoro dan Supor-
no, 2009: 159) dengan melakukan pengamatan, mencatat, serta mempelajari
laporan tahunan dan laporan keuangan
perusahaan manufaktur yang dipublikasikan oleh PT. Bursa Efek Indonesia
(BEI) melalui www.idx.co.id.
Penelitian ini menggunakan teknik
analisis jalur (path analysis) untuk pengolahan data. Untuk menguji hipotesis
terlebih dahulu dilakukan pengujian
asumsi klasik yaitu: pertama, uji normalitas, untuk mengetahui model regresi
yang dibuat berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah data
yang terdistribusi normal. Metode yang
digunakan adalah dengan menggunakan
statistik Kolmogorov-Smirnov. Jika Asymp. Sig (2-tailed) lebih besar dari level
of significant yang dipakai, maka dapat
disimpulkan bahwa residual yang dianalisis berdistribusi normal; kedua, uji
multikolinearitas, untuk mengetahui
ada tidaknya variabel independen yang
memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model. Kemiripan antar variabel independen dalam
suatu model akan menyebabkan terjadinya korelasi yang sangat kuat antara
suatu variabel independen dengan variabel independen yang lain. Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance atau
variance inflation factor (VIF). Jika nilai
tolerance lebih dari 10% atau VIF kurang
dari 10, maka dikatakan tidak ada multikolinearitas; ketiga, uji heteroskedastisitas, untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian
dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual
satu pengamatan ke pengamatan lain
tetap, maka disebut homoskedastisitas
dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada
atau tidaknya gejala heteroskedastisitas
digunakan metode Glejser, yaitu dengan meregresi nilai absolut residual dari
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
11
model yang diestimasi terhadap variabel
independen. Jika tidak ada satupun variabel bebas yang berpengaruh signifikan
terhadap variabel terikat, maka tidak
ada gejala heteroskedastisitas; keempat,
uji autokorelasi, untuk menguji apakah
dalam model regresi linear ada korelasi
antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1 (Ghozali, 2013:110). Jika suatu
model regresi mengandung gejala autokorelasi, maka prediksi yang dilakukan dengan model tersebut akan tidak baik atau
dapat memberikan hasil prediksi yang
menyimpang. Uji autokolerasi dalam penelitian ini menggunakan Uji Lagrange Multiplier (LM test). Uji autokolerasi dengan LM
test digunakan untuk sample besar diatas
100 observasi. Uji ini memang lebih tepat
digunakan dibandingkan uji DW terutama bila sample yang digunakan relatif besar dan derajat autokolerasinya lebih dari
satu. Uji LM akan menghasilkan statistik
Breusch-Godfrey. Pengujian Breusch-Godfrey (BG test) dilakukan dengan meregress
variabel pengganggu (residual) ut menggunakan autogresive model dengan orde p:
Apabila tampilan ouput menunjukkan
bahwa koefisien parameter residual lag
memberikan probabilitas signifikan diatas 0,05 menunjukkan bahwa model
uji tidak ditemukan kasus autokolerasi
(Ghozali, 2013:118).
Teknik analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis). Analisis jalur (path
analysis) dikembangkan sebagai model
untuk mempelajari pengaruh langsung
maupun pengaruh tidak langsung dari
variabel bebas terhadap variabel terikat.
Langkah yang dilakukan dalam analisis
jalur yaitu (Arief, 2005): pertama, merancang model berdasarkan konsep teoritis yakni: i) Variabel ukuran Perusahaan
(X1) berpengaruh positif pada pengungkapan corporate social responsibility (X2);
ii) Variabel ukuran Perusahaan (X1) ber-
12
pegaruh negatif pada manajemen laba
(Y); iii) Variabel pengungkapan corporate
social responsibility (X2) berpengaruh
negatif pada manajemen laba (Y); iv) Ukuran Perusahaan (X1) berpegaruh negatif
pada manajemen laba (Y) melalui pengungkapan corporate social responsibility
(X2). Berdasarkan hubungan-hubungan
variabel secara teoritis tersebut, dapat
dibuat model dalam bentuk diagram jalur (path) yaitu:
1)Menentukan persamaan struktural dari model analisis.
2) Meregresikan antara variabel eksogen terhadap variabel endogen untuk setiap persamaan struktural.
3) Mengkorelasikan antar variabel
eksogen bila terdapat hubungan korelasional.
4) Menghitung koefisien jalur. Untuk
menghitung varian variabel yang tidak
diteliti dalam model (e1 dan e2) dapat
ditunjukan persamaan sebagai berikut:
Keterangan:
e1,e2 = jumlah varian yang tidak
diteliti dalam varian
R2 = nilai R square
5) Menghitung pengaruh langsung, tidak langsung, dan pengaruh total.
a)Pengaruh langsung ukuran peru
sahaan ke pengungkapan corporate
social responsibility = P1
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
b) Pengaruh langsung ukuran perusahaan ke manajemen laba = P2
c)Pengaruh langsung pengungkapan
corporate social responsibility ke
manajemen laba = P3
d)Pengaruh tidak langsung ukuran
perusahaan ke manajemen laba
melalui pengungkapan corporate
social responsibility = (P1 x P3)
e) Pengaruh total = P2 + (P1 x P3)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel dependen
dapat dijelaskan oleh variabel independen. Valid tidaknya suatu hasil penelitian
tergantung dari terpenuhi atau tidaknya
asumsi yang melandasinya. Terdapat indikator validitas di dalam analsis jalur,
yaitu koefisien determinasi total. Total
keragaman data dapat dijelaskan oleh
model diukur dengan:
Untuk menguji signifikansi pengaruh mediasi maka digunakan uji sobel
(Ghozali, 2013: 255). Uji Sobel diformulasikan dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
a = Koefisien regresi dari variabel independen (X) terhadap variabel moderator (M)
b = Koefisien regresi dari variabel moderator (M) terhadap variabel dependen (Y)
sa= Standar eror dari a
sb= Standar eror dari b
Tujuan dilakukan uji F adalah untuk
menguji pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen. Nilai signifikansi ANOVA dapat dikatakan layak
uji apabila a α ≤ 0,05. Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing
variabel independen berpengaruh secara
individual terhadap variabel dependen.
Apabila P-value pada kolom Sig. kurang
dari atau sama dengan 0,05 maka Ha
diterima dan Ho ditolak, begitu pula sebaliknya.
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Uji Statistik
Dari 141 perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
pada tahun 2012-2014 terdapat 78 perusahaan yang memenuhi kriteria purposive sampling untuk dijadikan sampel
penelitian yang ditampilkan pada tabel
4.1.
Hasil analisis statistik deskriptif nampak
dalam table 4.2.
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat nilai minimum untuk ukuran perusahaan adalah 11,1091 dan nilai maksimumnya adalah 14,3730. Mean dari
ukuran perusahaan adalah 12,294358.
Hal ini berarti rata-rata ukuran perusahaan pada 78 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012–2014 sebesar
12,294358. Standar deviasi untuk ukuran perusahaan adalah 0,5948509. Artinya terjadi penyimpangan nilai ukuran
perusahaan terhadap nilai rata-ratanya
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
13
sebesar 0,5948509.
Nilai minimum untuk pengungkapan CSR adalah 0,1026 dan nilai maksimumnya adalah 0,5385. Mean dari
pengungkapan CSR adalah 0,238179,
artinya bahwa rata-rata pengungkapan CSR pada 78 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014 sebesar
0,238179. Standar deviasi untuk pengungkapan CSR adalah 0,0918800.
Artinya terjadi penyimpangan nilai pengungkapan CSR terhadap nilai rata-ratanya sebesar 0,0918800.
Nilai minimum untuk manajemen
laba adalah -0,4189 dan nilai maksimumnya adalah 0,4589. Mean dari manajemen laba adalah 0,049636, hal ini
berarti rata-rata manajemen laba pada
78 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2012–2014 sebesar 0,049636. Standar
deviasi untuk manajemen laba adalah
0,1045967. Artinya terjadi penyimpangan nilai manajemen laba terhadap nilai
rata-ratanya sebesar 0,1045967.
Uji normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi,
variabel residualnya memiliki distribusi
normal atau tidak normal. Model regresi
yang baik adalah data yang terdistribusi normal. Penelitian ini menggunakan
statistik Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak. Jika Asymp. Sig (2 tailed) lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan
bahwa residual yang dianalisis berdistribusi normal. Hasil uji normalitas untuk
regresi sub struktur 1 dan sub struktur
2 sebagai Nampak dalam tabel.
Berdasarkan tabel 4.3. dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed)
sebesar 0,113. Nilai tersebut menunjuk-
14
kan bahwa secara statistik nilai Asymp.
Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 sehingga residual model regresi yang dianalisis terdistribusi normal.
Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat
bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar
0,057. Nilai tersebut menunjukkan bahwa
secara statistik nilai Asymp. Sig. (2-tailed)
lebih besar dari 0,05 sehingga residual model
regresi yang dianalisis terdistribusi normal.
Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada sebuah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Uji multikoliniearitas dilakukan dengan melihat Varians Inflation Factor (VIF). Model regresi dikatakan
bebas dari masalah multikolinearitas, apabila nilai tolerance lebih besar dari 10 persen
dan VIF kurang dari 10. Tabel 4.5. menyajikan hasil uji multikolinearitas penelitian pada
substruktur 2.
Tabel 4.5. menunjukkan bahwa
nilai tolerance pada masing-masing variabel lebih besar dari 10 persen (0,1) dan
VIF kurang dari 10. Hal ini berarti model
regresi bebas dari masalah multikolinearitas.
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk
mengetahui bahwa pada model regresi
terjadi ketidaksamaan varian. Pada penelitian ini, uji yang digunakan untuk
mendeteksi adanya heterokedastisitas
dalam model regresi adalah metode Glejser, yaitu dengan meregresikan nilai
dari seluruh variabel independen dengan
nilai mutlak (absolute) dari nilai residual sehingga dihasilkan probability value.
Kriteria pengujiannya adalah jika probability value <0,05 maka terjadi heterokedastisitas dan jika probability value
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
>0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas. Hasil uji heterokedastisitas disajikan pada tabel 4.6.
Berdasarkan tabel 4.6. dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap absolute
residual baik secara serempak maupun
secara parsial karena nilai signifikansi
lebih besar dari 0,05. Dengan demikian,
model yang dibuat dalam penelitian ini
tidak mengandung heterokedastisitas,
sehingga layak untuk diprediksi.
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Uji autokolerasi dalam penelitian ini menggunakan Uji Lagrange
Multiplier (LM test). Apabila tampilan ouput menunjukkan bahwa koefisien parameter untuk residual lag 2 dan 4 (RES
2 dan RES 4) memberikan probabilitas
signifikan > 0,05 hal ini menunjukkan
bahwa model uji tidak ditemukan kasus
autokolerasi. Hasil uji autokorelasi untuk regresi substruktur 1 dan substruktur 2 disajikan pada tabel 4.7.
Berdasarkan tabel 4.7. dapat dilihat bahwa nilai signifikansi residual lag
2 (RES2) dan residual lag 4 (RES4) lebih
besar dari 0,05. Dengan demikian, model yang dibuat dalam penelitian ini tidak
mengandung autokolerasi, sehingga layak untuk diprediksi.
Penelitian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis jalur (path
analysis) yang dibantu dengan program
Statistic Package for the Social Sciences
(SPSS). Hasil analisis jalur (path analy-
sis) tabel 4.8. menunjukkan sub struktur 1 dan pada tabel 4.9. menunjukkan
sub struktur 2.
Berdasarkan tabel 4.8. dan tabel
4.9. diketahui persamaan sub struktur
sebagai berikut:
Berdasarkan model sub struktur 1 dan sub struktur 2, selanjutnya
menghitung standar error model sehingga dapat dibentuk model diagram jalur
akhir.
Berdasarkan analisa jalur dapat
dihitung besarnya pengaruh langsung
(direct effect), Pengaruh tidak langsung
(indirect effect) serta pengaruh total (total effect) antar variabel seperti nampak
dalam tabel 4.10
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
15
uji dan pembuktian hipotesis dapat dilakukan.
Pemeriksaan
validitas
model
dilakukan dengan menghitung koefisien
determinasi total sebagai berikut:
Berdasarkan perhitungan diatas,
nilai koefisien determinasi total sebesar
0,346 berarti variasi data yang dapat
dipengaruhi model sebesar 34,6 persen,
sedangkan sisanya 65,4 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model dan
error.
Pengaruh mediasi ditunjukkan
oleh perkalian koefisien (P1 x P3), nilai
pekalian koefisien tersebut signifikan
atau tidak diuji dengan sobel test sebagai berikut :
Berdasarkan hasil perhitungan diatas
dapat dihitung nilai t hitung pengaruh
mediasi sebagai berikut :
Pengujian kelayakan model dilakukan sebelum menguji hipotesis. Jika hasil
dari uji F signifikan, maka kedua variabel
bebas memengaruhi secara simultan variabel terikat dan model yang digunakan dianggap layak uji. Berdasarkan Tabel 4.8.
dan Tabel 4.9. dapat dilihat nilai signifikan
uji F sebesar 0,000 lebih kecil dari 5 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel
bebas berpengaruh secara serempak pada
variabel terikat dengan tingkat signifikansi
5 persen, sehingga model ini dianggap layak
16
4.2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing
variabel bebas secara individual terhadap
variabel terikat. Berdasarkan tabel 4.8. dan
tabel 4.9. maka hasil uji signifikansi sebagai
berikut.
4.2.1 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada pengungkapan corpo
rate social responsibility (X2)
1) Formulasi hipotesis
Ho : β1=0, artinya variabel uku
ran perusahaan tidak berpen
garuh positif pada pengungka
pan corporate social responsi
bility.
H1 : β1>0, artinya variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate social responsibility
2)
Taraf nyata : α = 5 persen = 0,05
3)
Menetapkan kriteria keputusan:
H1 diterima jika tingkat
signifikansi t ≤ α = 0,05
H1 ditolak jika tingkat signifikan
si t > α = 0,05
4)Simpulan
Hasil Tabel 4.8. menunjukkan nilai
signifikansi sebesar 0,000 (0,000<0,05),
yang artinya H1 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate
social responsibility dengan nilai P1 (standardized coefficients) adalah 0,531.
4.2.2 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada manajemen laba (Y)
1)
Formulasi hipotesis
Ho :β1=0, artinya variabel ukuran
perusahaan tidak berpengaruh
negatif pada manajemen laba.
H1 :β1>0, artinya variabel ukuran
perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba.
2)
Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05
3)
Menetapkan kriteria keputusan:
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
H2 diterima jika tingkat sig
nifikansi t ≤ α = 0,05
H2 ditolak jika tingkat
signifikansi t > α = 0,05
4)
Simpulan
Hasil Tabel 4.9. menunjukkan nilai
signifikansi sebesar 0,047 (0,047<0,05),
yang artinya H2 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba dengan
nilai P2 (standardized coefficients) -0,148.
4.2.3 Pengaruh pengungkapan corpo
rate social responsibility (X2) pada manajemen laba (Y)
1)
Formulasi hipotesis
Ho:β1=0, artinya variabel pengungkapan corporate social responsibility tidak berpengaruh negatif
pada manajemen laba.
H1:β1>0, artinya variabel pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif pada
manajemen laba.
2)
Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05
3)
Menetapkan kriteria keputusan:
H3 diterima jika tingkat signifikansi t ≤ α = 0,05
H3 ditolak jika tingkat
signifikansi t > α = 0,05
4)Simpulan
Hasil Tabel 4.9. menunjukkan nilai
signifikansi sebesar 0,011 (0,011<0,05),
yang artinya H3 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif pada
manajemen laba dengan nilai P3 (standardized coefficients) sebesar -0,148.
4.2.4 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada manajemen laba (Y) melalui pengungkapan corporate social responsibility (X2)
1)
Formulasi Hipotesis
Ho : β1=0, artinya variabel pengungkapan corporate social responsibility tidak dapat memediasi
pengaruh ukuran perusahaan
pada manajemen laba.
H1 : β1>0, artinya variabel pen-
gungkapan corporate social responsibility dapat memediasi
pengaruh ukuran perusahaan
pada manajemen laba.
2)
Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05
3)
Menetapkan kriteria keputusan:
H4 diterima jika nilai
thitung < -ttabel = -1,96
H4 ditolak jika nilai
thitung >- ttabel = -1,96
4)Simpulan
Hasil uji sobel menunjukkan bahwa
nilai thitung sebesar -2,260 lebih kecil dari
-ttabel dengan tingkat signifikansi 0.05 yaitu sebesar -1.96 (-2,260<-1.96) dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar
-101 signifikan, berarti terdapat pengaruh
mediasi, sehingga H4 diterima.
4.3Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil penelitian memerlihatkan
bahwa nilai β1=0,531 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang mana nilai
signifikansi lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0,05 sehingga hipotesis pertama (H1)
dapat diterima menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh
positif pada pengungkapan corporate social
responsibility. Peningkatan ukuran perusahaan akan mengakibatkan pengungkapan
corporate social responsibility meningkat.
Pengukuran ukuran perusahaan
yang diproksikan dengan log total aset
menunjukkan perusahaan besar yang
memiliki aset tinggi lebih menjadi sorotan
publik. Pengungkapan yang lebih besar
merupakan pengurangan biaya politis sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Sembiring, 2005). Perusahaan
besar dengan kegiatan usaha yang lebih
kompleks serta memiliki berpengaruh besar terhadap masyarakat menyebabkan
pemegang saham memperhatikan program
sosial perusahaan, sehingga pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan akan
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
17
semakin luas (Cowen et al., 1987). Selain
itu, untuk mendapatkan legitimasi dari
stakeholders perusahaan besar akan mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaannya (Nurkhin, 2009). Hasil penelitian
ini mendukung penelitian yang dilakukan
oleh Kusumastuti (2014), Purwanto (2011),
serta Primadewi dan Mertha (2014) yang
menemukan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif pada pengungkapan
corporate social responsibility.
4.3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Manajemen Laba
Hasil penelitian memerlihatkan
bahwa nilai β2=-0,148 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,047 dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Artinya hipotesis
kedua (H2) diterima. Hal ini menunjukkan
variabel ukuran perusahaan berpengaruh
negatif terhadap manajemen laba. Peningkatan ukuran perusahaan akan menyebabkan terjadinya penurunan manajemen
laba. Perusahaan besar memiliki basis pemegang kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan besar
akan memiliki dampak yang lebih besar
terhadap kepentingan publik dibandingkan
dengan perusahaan kecil. Bagi investor,
kebijakan perusahaan berimplikasi terhadap prospek cash flow dimasa yang akan
datang. Sedangkan bagi regulator (pemerintah) akan berdampak terhadap besarnya
pajak yang akan diterima, serta efektifitas
peran pemberian perlindungan terhadap
masyarakat secara umum.
Perusahaan besar memiliki kecenderungan melakukan tindakan manajemen
laba yang lebih kecil dibanding perusahaan
kecil. Hal ini dikarenakan perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang
saham dan pihak luar sehingga perusahaan
besar mendapatkan tekanan yang lebih
kuat untuk menyajikan laporan keuangan
yang lebih terpercaya. Hasil penelitian ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Muliati (2011), Jao dan Pagalung (2011),
serta Nariastiti dan Dwi Ratnadi (2014)
18
yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen
laba.
4.3.3 Pengaruh Pengungkapan
Corporate Social Responsibility pada Manajemen Laba
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai β3= -0,190 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,011 yang lebih kecil
dari 0,05. Artinya bahwa hipotesis ketiga
(H3) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif terhadap
manajemen laba. Kondisi ini menggambarkan bahwa peningkatan pengungkapan
corporate social responsibility akan menyebabkan terjadinya penurunan manajemen
laba. Perusahaan yang memiliki komitmen kuat atas tanggung jawab sosial untuk mendapatkan legitimasi di lingkungan
sekitarnya akan beroperasi sesuai dengan
etika dan norma yang belaku dan akan
meminimalisir praktik manajemen laba.
Organisasi yang memiliki etika akan memiliki integritas dengan berbuat jujur, tulus,
bertanggung jawab secara sosial, dan dapat
dipercaya (Chun, 2005). Hasil penelitian ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Kim et al. (2011), Putri (2012), dan Yip et al.
(2011) yang menemukan bahwa pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif pada manajemen laba.
4.3.4 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Manajemen Laba melalui
Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar -2,261 yang mana
thitung lebih kecil dari -ttabel dengan taraf
nyata 0,05, yaitu -1,96. Artinya hipotesis
keempat (H4) dapat diterima, yang menunjukkan bahwa variabel pengungkapan corporate social responsibility mampu memediasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap
manajemen laba. Nilai koefisien beta negatif
sebesar -1,101 menunjukkan bahwa uku-
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
ran perusahaan berpengaruh negatif pada
manjemen laba melalui pengungkapan corporate social responsibility.
Informasi yang diungkapkan perusahaan besar akan lebih banyak dari pada
perusahaan kecil (Kusumastuti, 2014). Hal
ini terjadi karena perusahaan besar akan
menghadapi resiko politis yang lebih besar
dibanding perusahaan kecil. Perusahaan
besar mengungkapkan aktivitas tanggung jawab sosialnya untuk mendapatkan
nilai positif dan legitimasi dari masyarakat
karena akan menjadi faktor strategis bagi
perkembangan perusahaan ke depan
(Suchman,1995). Legitimasi yang diperoleh perusahaan tidak terlepas dari etika
perusahaan dalam menjalankan aktivitas
usahanya. Manajemen laba merupakan
sebuah manipulasi dan secara etika tidak
bisa diterima kebanyakan orang. Perusahaan yang memiliki komitmen kuat atas
tanggung jawab sosialnya akan lebih membatasi melakukan praktik manajemen laba.
Tujuan perusahaan mengungkapkan banyak informasi tentang aktivitas corporate
social responsibility adalah untuk membentuk profil organisasi yang baik (Lanis dan
Richardson (2012). Praktek manajemen
laba dapat menghapus pengaruh positif
dari aktivitas corporate social responsibility. Hasil penelitian ini mengembangkan
penelitian yang telah dilakukan oleh Kusumastuti (2014) serta Purwanto (2011) yang
menemukan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan
pertanggung jawaban sosial. Penelitian Kim
et al. (2011) dan Yip et al. (2011) menemukan pengungkapan corporate social responsibility dan manajemen laba mempunyai
hubungan negatif.
V.
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN KETERBATASAN PENELITIAN
Berdasarkan pada data dan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: pertama, ukuran
perusahaan secara signifikan berpengaruh
positif pada pengungkapan corporate social responsibility. Perusahaan besar lebih
banyak mengungkapkan corporate social
responsibility dari pada perusahaan kecil. Disebabkan karena perusahaan besar
menghadapi tekanan politis yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil.
Semakin luas perusahaan mengungkapkan
corporate social responsibility, maka dalam
jangka panjang perusahaan dapat terhindar
dari biaya yang besar akibat tuntutan masyarakat. Perusahaan juga memerlukan legitimasi dari masyarakat sekitarnya; kedua,
ukuran perusahaan secara signifikan berpengaruh negatif pada manajemen laba.
Hal ini menunjukkan perusahaan besar
akan lebih membatasi praktik manajemen
laba dibandingkan dengan perusahaan
kecil. Perusahaan besar kurang memiliki
dorongan untuk melakukan manajemen
laba, karena perusahaan besar dipandang
lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar. Perusahaan besar memiliki basis
investor yang lebih besar dan mendapat
tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan
pelaporan keuangan yang kredibel; ketiga,
pengungkapan corporate social responsibility secara signifikan berpengaruh negatif
pada manajemen laba. Pengungkapan corporate social responsibility yang lebih banyak akan membatasi terjadinya praktik manajemen laba. Perusahaan yang memiliki
komitmen yang kuat atas tanggung jawab
sosial untuk mendapatkan legitimasi di
lingkungan sekitarnya, akan beroperasi sesuai dengan etika dan norma yang berlaku
sehingga akan membatasi praktik manajemen laba yang secara etika tidak bisa diterima kebanyakan orang; keempat, ukuran
perusahaan secara signifikan berpengaruh
negatif pada manajemen laba melalui pengungkapan corporate social responsibility.
Pengungkapan corporate social responsibility mampu memediasi hubungan antara
ukuran perusahaan dengan manajemen
laba. Perusahaan besar yang mengungkapkan lebih banyak corporate social responsibility akan membatasi terjadinya praktik
manajemen laba. Perusahaan besar akan
mengungkapkan corporate social responsibility untuk mendapatkan nilai positif dan
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
19
legitimasi dari masyarakat.
Implikasi dalam penelitian ini adalah: pertama, bagi pihak stakeholder yaitu
investor dan kreditor yang berhubungan
langsung dengan perusahaan agar memperhatikan pengungkapan corporate social
responsibility oleh manajemen perusahaan. Terutama perusahaan manufaktur
lebih cermat dalam mengambil keputusan investasi; kedua, bagi pihak manajemen, diharapkan berkomitmen untuk mengungkapkan aktivitas corporate social
responsibility secara lebih transparan, terutama yang berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Sehingga dengan pengungkapan corporate social responsibility akan
membantu perusahaan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar maupun orang
yang berkepentingan pada perusahaan.
Penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi selain total aset untuk
mengukur ukuran perusahaan seperti total
penjualan dan kapitalisasi pasar. Selain itu
penelitian selanjutnya diharapkan dapat
menambahkan variabel lain baik sebagai
variabel bebas maupun variabel intervening
yang dapat memengaruhi manajemen laba
agar mendapatkan hasil penelitian yang
lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. dan Moh. Didik Ardiyanto. 2014.
Pengaruh Pengungkapan Corporate
Social Responsibility terhadap Manajemen Laba (Studi Kasus Pada Perusahaan Non Keuangan dan Jasa yang
Terdaftar di BEI tahun 2010-2012).
Diponegoro Journal of Accounting, 3(3):
h: 2.
Arief, Wibowo. 2005. Pengantar Analysis
Jalur (Path Analysis). Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga.
Beneish, M.D. 2001. Earnings Management: A Perspective. Managerial Finance 27 (12): 3-17.
Budi, T. S. W. 2013. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility
dan Kinerja Keuangan Perusahaan
Terhadap Return Saham Perusahaan
20
di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia
Periode 2008-2010. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya, Malang.
Chun, R. 2005. Ethical character and virtue of organizations: an empirical assessment and strategic implications.
Journal of Business Ethics. Vol. 57. pp.
269-284.
Cowen, S., Ferrari, L. and L. Parker. 1987.
The Impact of Corporate Characteristics on Social Accounting Disclosure:
A Topology and Frequency Based
Analysis. Accounting, Organisations
and Society. 12(2): 111-122.
Dechow, P. M., Sloan, R.G., dan Sweeney,
A.P. 1995. Detecting Earnings Management. The Accounting Review 70:
193-225.
Fischer, M. dan Kenneth Rosenzweig. 1995.
Attitude of Students and Accounting
Practitioners Concerning the Ethical
Acceptability of Earnings Management. Journal of Business Ethics, Vol.
14. pp. 433-444.
Friedlan, John M. 1994. Accounting Choices of Issuers of Initial Publik Offerings.
Contemporary Accounting Research,
11:1-31.
Ghozali, I. dan Anis Chariri. 2007. Teori
Akuntansi. Edisi 3. Semarang: Badan
Penerbitan Undip.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS
21. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hackston, D. dan Markus J. Milne. 1996.
Some Determinants of Social and Environmental Disclosure in New Zealand Companies. Accounting, Auditing
and Accountability Journal, 9(1): h: 77100.
Haniffa, R. M., dan Terry E. Cooke. 2005.
The Impact of Culture and Governence
on Corporate Social Reporting. Journal of Accounting and Public Policy 24,
pp. 391-430.
Hasibuan, R. 2001. Pengaruh Karakteristik
Perusahaan terhadap Pengungkapan
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
Sosial. Tesis Universitas Dipenogoro,
Semarang.
Hilmi, U. dan Syaiful Ali. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan
Keuangan (Studi Empiris pada Perusahaan-perusahaan yang Terdaftar di
BEJ Periode 2004-2006). Simposium
Nasional Akuntansi 8.
Indriantoro dan Supomo. 2009. Metodologi
Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
Jao, R. dan Pagalung, G. 2011. Corporate
Governance, Ukuran Perusahaan,
dan Leverage terhadap Manajemen
Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia. Jurnal Akuntansi & Auditing,
8(1): h: 1-94.
Jensen, M. C. dan William H. Meckling.
1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Cost, and Ownership Structure. Journal of Financial
Economics, 3(4): h: 305-360.
Junitasari, Putu Diah Krisna. 2015. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social
Responsibility dan Good Corporate
Governance pada Nilai Perusahaan.
Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana.
Kim, Y., M.S. Park, and B. Wier. 2012. Is
Earning Quality Associated with Corporate Social Responsibility? The Accounting Review, Forthcoming. 87 (3):
h: 761-796.
Kusumastuti, I. P. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran, Umur dan
Komposisi Dewan Direksi terhadap
Pengungkapan CSR. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana.
Lanis, R., dan Richardson, G. 2012. Corporate Social Responsibility and Tax
Aggresiveness: an Empirical Analysis.
Journal of Accounting and Public Policy. 31, 86-108.
Marihot, Nasution M dan Setyawan, Doddy. 2007. Pengaruh Corporate Governance terhadap Manajemen Laba di
Industri Perbankan Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar.
Merchant, K. dan J. Rockness. 1994. The
Ethics of Managing Earnings: An Empirical Investigation. Journal of Accounting and Public Policy. 13: 79-94.
Mulford, C. dan Eugene Comiskey. 2010.
The Financial Numbers Game Detecting Creative Accounting Theory. New
York: John Wiley and Sons, Inc.
Muliati, Ni Ketut. 2011. Pengaruh Asimetri
Informasi dan Ukuran Perusahaan
pada Praktik Manajemen Laba di Perusahaan Perbankan yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia. Tesis, Program Magister Program Studi Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Nariastiti, Ni W. dan Ni Made Dwi Ratnadi.
2014. Pengaruh Asimetri Informasi, Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan pada Manajemen
Laba. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana, 9(3): h: 717-727.
Nurkhin, Ahmad. 2009. Corporate Governance dan Profitabilitas; Pengaruhnya terhadap Pengungkapan Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia). Tesis. Universitas Dipernogoro, Semarang
O’Donovan, G. 2002. Environmental Disclosure in the Annual Report: Extending
them Aplicability and Predictive Power
of Legitimacy Theory. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 15(3):
h: 344-371.
Putra, I G. B. Alit Wahyu Palguna. 2013.
Pengaruh Tingkat Pengungkapan Item
Corporate Social Responsibility terhadap Manajemen Laba (Studi pada
Perusahaan yang Terdaftar di Indeks
SRI – KEHATI Selama Tahun 2009 –
2011). Skripsi, Pogram Sarjana Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Primadewi, P.S. dan I Made Mertha. 2014.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial pada Laporan Keuangan Perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi
JUARA
21
Udayana, Vol.7, No. 3, Juni 2014.
Purwanto, A. 2011. Pengaruh Tipe Industri,
Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
terhadap Corporate Social Responsibility. Jurnal Akuntansi & Auditing, 8(1):
h: 1-94.
Putri, A. R. S. 2012. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Manajemen Laba (Studi
Kasus pada Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2011). Skripsi, Pogram Sarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Rahmani, Samira and Akbari Mir Askari .
2013. Impact of Firm Size and Capital
Structure on Earnings Management:
Evidence from Iran. World of Sciences
Journal. ISSN: 2307-3071.
Restuwulan. 2013. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (Penelitian
pada Perusahaan di Sektir Industri
Food and Beverages yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia Tahun 20092013. Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama, Bandung.
Riswari, D. A. 2012. Pengaruh Corporate Social responsibility terhadap Nilai Perusahaan dengan Corporate Governance
sebagai Variabel Moderating. Skripsi,
Universitas Dipenogoro, Semarang.
Retno, R. D. dan Denies Priantiah. 2012.
Pengaruh Good Corporate Governance dan pengungkapan Corporate
Social responsibility terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2007-2010). Jurnal
Nominal, Volume 1, Nomor 1, Tahun
2012. Fakultas Ekonomi Universitas
Yogyakarta.
Sayidatina, K. 2011. Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Stock Return (Studi Empiris Perusahaan yang
Terdaftar di BEI Tahun 2008-2009).
Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Dipenogoro, Semarang.
Schipper, K. 1989. Commentary on Earn-
22
ings Management. Accounting Horizons. h: 9-102.
Scott, W. R. 2000. Financial Accounting Theory. Second Edition. Canada: Prentice
Hall.
Sembiring , E. R. 2005. Karakterisik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung
Jawab Sosial: Study Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek
Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi 8.
Shleifer, A. 2004, Does Competition Destroy
Ethical Behavior? Working Paper. Harvard University.
Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto,
Lana. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, leverage, dan
Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan. Proceeding
PESAT, Volume 2.
Sulistyanto, H. Sri. 2008. Manajemen Laba,
Teori dan Model Empiris. Jakarta:
Grasindo.
Suchman, M. C. 1995. Managing Legitimacy: Strategies and Institutional Approach. Academy of Management Review, 20(3): h: 571-610.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: ALFABETA.
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
Watts. R. L. & Zimmerman. J. L. 1978. Towards a Positive Theory of the Determination of Accounting Standards.
The Accounting Review, 53(1): h: 112134.
Xiong. Y. 2006. Earings Management and
it’s Measurement: A Theoritical Perspective. Journal of American Academy
of Business: 214-219.
Yip, Erica., Staden, Chris Van., dan Cahan,
Steven. 2011. Corporate Social Responsibility Reporting and Earnings Management: The Role of Political Costs.
Australian Accounting, Business and
Finance Journal, 5(3): h: 17-34.
www.idx.co.id
IMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP MANAJEMEN LABA
Download