S42765-Efek penurunan

advertisement
UNIV
NIVERSITASS INDONESIA
IN
EFEK PENURUNAN
EF
PEN UNAN KADAR
ADAR GLUK
LUKOSA
A DAR
DARAH
KOMBI
MBINASI
SI EK
EKSTRAK
RAK ETANOL
ANOL DAUN
AUN ALPUKA
PUKAT (Perse
ersea
americ
ericana Mill) DAN
N BUAH
BU
OYONG
OYO
(Luf
Luffa acutan
utangula (L.)
Roxb)
oxb) PADA
DA M
MENCIT
CIT P
PUTIH
IH JANTAN
JA AN Y
YANG
G DI
DIBEBANI
BANI
GLUKOS
UKOSA
SKRIPS
RIPSI
PR
PRAWITA
ITA LINTAN
TANG LARA
ARASATI
09066015
6601576
FAKU
AKULTAS
S MA
MATEMATIK
ATIKA DAN
AN ILMU
IL
PENG
PENGETAHUA
HUAN ALAM
LAM
PROGRA
GRAM STUDI
TUDI EKSTEN
TENSI
DEPAR
EPARTEMEN
EN FARMASI
MASI
DEPOK
EPOK
JULI 2012
201
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
UNIV
NIVERSITASS INDONESIA
IN
EFEK PENURUNAN
EF
PEN UNAN KADAR
ADAR GLUK
LUKOSA
A DAR
DARAH
KOMBI
MBINASI
SI EK
EKSTRAK
RAK ETANOL
ANOL DAUN
AUN ALPUKA
PUKAT (Perse
ersea
americ
ericana Mill) DAN
N BUAH
BU
OYONG
OYO
(Luf
Luffa acutan
utangula (L.)
Roxb)
oxb) PADA
DA M
MENCIT
CIT P
PUTIH
IH JANTAN
JA AN Y
YANG
G DI
DIBEBANI
BANI
GLUKOS
UKOSA
SKRIPS
RIPSI
Diajuk
iajukan sebaga
ebagai salah
h satu syarat
rat un
untuk mempe
emperoleh
h gela
gelar Sarjana
jana
Farmas
rmasi
PR
PRAWITA
ITA LINTAN
TANG LARA
ARASATI
09066015
6601576
FAKU
AKULTAS
S MA
MATEMATIK
ATIKA DAN
AN ILMU
IL
PENG AHUAN ALAM
PENGETAHUA
LAM
PROGRA
GRAM STUDI
TUDI EKSTEN
TENSI
DEPAR
EPARTEMEN
EN FARMASI
MASI
DEPOK
EPOK
JULI 2012
201
ii
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa
skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang
berlaku di Universitas Indonesia.
Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan plagiarisme, saya akan
bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh
Universitas Indonesia kepada saya.
Depok, 12 Juli 2012
(Prawita Lintang Larasati)
iii
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,dan semua sumber baik yang dikutip
maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama
: Prawita Lintang Larasati
NPM
: 0906601576
Tanda Tangan :
Tanggal
: 12 Juli 2012
iv
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh
Nama
NPM
Program Studi
Judul Skripsi
:
:
:
:
:
Prawita Lintang Larasati
0906601576
Farmasi Ekstensi
Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Kombinasi
Ekstrak Etanol Daun alpukat (Persea americana
Mill) dan Buah Oyong (Luffa acutangula (L.)
Roxb) pada Mencit Putih Jantan yang Dibebani
Glukosa
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai
bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
pada Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing I
: Dra. Azizahwati, M.S., Apt
(.................................)
Pembimbing II
: Dr.Dadang Kusmana, M.S
(.................................)
Penguji I
: Rani Sauriasari, M.Sc., PhD.,Apt (.................................)
Penguji II
: Drs. Jahja Atmadja
Ditetapkan di
Tanggal
(.................................)
: Depok
: 12 Juli 2012
v
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan
rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sedalam-dalamnya bagi pihak-pihak yang turut membantu sepanjang penelitian
dan penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada
1.
Ibu Dra. Azizahwati, M.S., Apt., selaku pembimbing I dan Ketua Program
Studi Sarjana Farmasi Ekstensi yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan
pikiran serta dengan sabar membimbing selama penelitian dan penyusunan
skripsi ini.
2.
Bapak Dr. Dadang Kusmana, M.S. selaku pembimbing II yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran serta dengan sabar membimbing
selama penelitian dan penyusunan skripsi ini.
3.
Ibu Dra. Maryati Kurniadi, M.Si., selaku Pembimbing Akademik, yang telah
membantu memberikan bimbingan akademik selama masa pendidikan di
Farmasi.
4. Ibu Dr. Yahdiana Harahap, M.S., selaku Ketua Departemen Farmasi atas
bantuannya selama ini.
5. Ibu Santi Purna Sari, M.Si yang telah memberikan bimbingan, saran dan
nasehat yang berarti bagi penulis
6. Seluruh staf pengajar dan karyawan Departemen Farmasi FMIPA UI, yang
telah membantu sepanjang proses perkuliahan dan penelitian.
7. Kedua orang tua yang senantiasa memberikan doa, dukungan moril dan
finansial selama penelitian dan perkuliahan.
8. Adik-adikku Bagas, Wulan, Amta yang senantiasa memberikan doa dan
semangat.
9. Teman-teman
di
Laboratorium
Farmakologi
dan
kandang
atas
kebersamaannya dalam suka dan duka, serta semangat untuk saling
memberikan motivasi sepanjang penelitian ini.
10. Pak Surya yang telah membantu selama penelitian di kandang.
vi
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
11. Teman-teman Ekstensi Farmasi UI angkatan 2009, 2008, teman satu kosan,
dan anak-anak Palembang atas persahabatan dan bantuan motivasi yang
telah terjalin selama 3 tahun.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu atas segala
bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis selama
penulisan dan penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang
sifatnya membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga
skripsi ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Penulis
2012
vii
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di
bawah ini:
Nama
: Prawita Lintang Larasati
NPM
: 0906601576
Program Studi
: Farmasi Ekstensi
Departemen
: Farmasi
Fakultas
: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jenis Karya
: Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Kombinasi Ekstrak Etanol DaunAlpukat
(Persea americana Mill) dan Buah Oyong (Luffa acutangula (L.) Roxb.) pada
Mencit Jantan yang Dibebani Glukosa
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Univesitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat
dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan naman saya
sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di
: Depok
Pada tanggal : 12 Juli 2012
Yang menyatakan
(Prawita Lintang Larasati)
viii
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
ABSTRAK
Nama
Program studi
Judul
: Prawita Lintang Larasati
: Ekstensi Farmasi
: Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Kombinasi Ekstrak
Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) dan Buah
Oyong (Luffa acutangula (L.) Roxb.) pada Mencit Putih
Jantan yang Dibebani Glukosa
Daun alpukat (Persea americana Mill) dan buah oyong (Luffa acutangula (L.)
Roxb.) merupakan tanaman yang secara empiris digunakan untuk berbagai
penyakit, salah satunya diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek
penurunan kadar glukosa darah kombinasi ekstrak etanol daun alpukat dan buah
oyong pada mencit. Dua puluh empat ekor mencit putih jantan galur ddY yang
dibagi dalam enam kelompok. Mencit dipuasakan ±16 jam, kemudian diukur
kadar glukosa darah puasa, lalu diberikan ekstrak daun alpukat, ekstrak buah
oyong, ekstrak kombinasi, metformin HCl, dan larutan CMC 0,5%. Tiga puluh
menit setelahnya, diukur kembali kadar glukosa, lalu diberikan glukosa 2 g/kg bb
peroral. Pengukuran dilakukan pada menit ke-30, 60, 90, 120 setelah pemberian
glukosa. Kadar glukosa darah diukur menggunakan glukometer Accu-Chek
Active®. Pemberian kombinasi ekstrak 1, daun alpukat 50 mg/kg bb dan buah
oyong 200 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah yang bermakna
secara statistik pada setengah jam setelah pemberian glukosa, sedangkan
kombinasi ekstrak 2, daun alpukat 100 mg/kg bb dan buah oyong 200 mg/kg bb
dapat menurunkan kadar glukosa darah yang bermakna pada satu jam setelah
pemberian glukosa.
Kata kunci
: Daun alpukat, buah oyong, glukometer, ekstrak, kadar glukosa
darah, dibebani glukosa
xv+75 halaman : 11 gambar; 9 tabel; 14 lampiran
Daftar Pustaka
: 40 (1978–2012)
ix
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
ABSTRACT
Name
Study Program
Title
: Prawita Lintang Larasati
: Pharmacy Ekstensi
: Hypoglycemic Effect of Combination Ethanol Extracts of
Avocado Leaves and Ridged Gourd Fruit in Glucose
Loaded Male Mice
Avocado leaves (Persea americana Mill ) and ridge gourd fruit (Luffa acutangula
(L.) Roxb) is a plant that empirically used for various diseases, one of them is
diabetes. The aim of this research was to know the blood glucose lowering effect
of combination extract ethanol avocado leaves and ridge gourd fruit on mice.
Twenty-four of ddY mice white male which was divided into six groups. Each
mice was fasted for ±16 hours, then measured blood glucose levels of fasting, and
administered extract avocado leaves, extract ridge gourd fruit, extract
combinations, metformin HCl, and CMC liquid 0,5%. Thirty minutes later,
measured back glucose levels, and administered glucose 2 g/ kg bw orally. Blood
glucose then was measured in 30, 60, 90, and 120 minutes after glucose
administration. Blood glucose was measured using Accu-Chek Active®
glucometer. Combination extract 1, avocado leaves 50 mg / kg bb and ridge gourd
fruit 200 mg/ kg bw was able to lower glucose levels in 30 minutes after glucose
administration, while combination extract 2, avocado leaves 100 mg / kg bw and
ridge gourd fruit 200 mg/ kg bw was able to lower blood glucose levels in one
hour after glucose administration.
Key Words
: Blood glucose level, avocado leaves, ridge gourd, extract,
glucometer, glucose loaded
xv+75 pages : 11 figures; 9 tables; 14 appendixes
Bibliography : 40 (1978-2012)
x
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. v
KATA PENGANTAR ......................................................................... vi
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ......... viii
ABSTRAK........................................................................................... ix
ABSTRACT ......................................................................................... x
DAFTAR ISI ....................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... xv
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup ....................................... 3
1.3 Jenis Penelitian dan Metode ........................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian ............................................................................ 3
1.5 Hipotesis ......................................................................................... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................... 4
2.1. Tanaman Alpukat .......................................................................... 4
2.2 Tanaman Oyong ............................................................................. 6
2.3 Diabetes Melitus ............................................................................. 7
2.4 Metode Uji Efek Antidiabetes ...................................................... 14
2.5 Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah ................................. 15
BAB 3. METODE PENELITIAN ................................................... 18
3.1 Lokasi dan Waktu ......................................................................... 18
3.2 Bahan ............................................................................................ 18
3.3 Alat ............................................................................................... 19
3.4 Prosedur Kerja .............................................................................. 19
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................... 25
4.1 Kadar Glukosa Darah Sebelum Perlakuan (T0) ............................ 27
4.2 Kadar Glukosa Darah Satu Jam setelah Perlakuan (T30) .............. 27
4.3 Kadar Glukosa Darah Setengah Jam Setelah Pemberian
Glukosa (Tg30) .............................................................................. 27
4.4 Kadar Glukosa Darah Satu Jam Setelah Pemberian
Glukosa (Tg60) .............................................................................. 28
4.5 Kadar Glukosa Darah Satu Setengah Jam Setelah
Pemberian Glukosa (Tg90) ........................................................... 29
4.6 Kadar Glukosa Darah DuaJam Setelah Pemberian
Glukosa (Tg120) ............................................................................. 30
4.7 Perhitungan Efektivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah........... 31
xi
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................... 34
5.1 Kesimpulan ................................................................................... 34
5.2 Saran ............................................................................................. 34
DAFTAR ACUAN ............................................................................ 35
xii
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Skema reaksi umum yang terjadi pada strip
Accu-check Active® ..................................................... 16
Gambar 3.1. Ekstrak etanol daun alpukat ........................................... 39
Gambar 3.2. Ekstrak etranol buah oyong ........................................... 39
Gambar 3.3. Glukometer Accu-check Active ® ................................ 39
Gambar 4.1. Kurva kadar glukosa darah rata-rata seluruh
kelompok perlakuan pada masing-masing waktu ......... 26
Gambar 4.2. Grafik perhitungan penurunan kadar glukosa darah ...... 31
Gambar 4.3. Grafik efektifitas bahan uji dibandingkan
dengan metformin .......................................................... 32
Gambar 4.4. Kurva kadar glukosa darah rata-rata kelompok dosis
alpukat, kontrol pembanding, dan kontrol normal ....... 40
Gambar 4.5. Kadar glukosa darah rata-rata kelompok dosis
oyong, kontrol pembanding, dan kontrol normal .......... 40
Gambar 4.6. Kadar glukosa darah rata-rata kelompok kombinasi
ekstrak 1, kontrol pembanding, dan kontrol normal ...... 41
Gambar 4.7. Kadar glukosa darah rata-rata kombinasi ekstrak 2,
kontrol pembanding, dan kontrol normal .................... 41
xiii
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Klasifikasi Diabetes Melitus ......................................................... 9
Tabel 2.2. Kadar glukosa darah pada pasien normal, paradiabetes,
diabetes melitus ........................................................................... 10
Tabel 3.1. Perbandingan dosis daun alpukat dan buah oyong
untuk pemberian kombinasi ........................................................ 20
Tabel 3.2. Perlakuan pada masing-masing kelompok .................................. 22
Tabel 3.3. Skema perlakuan setiap kelompok hewan uji ............................. 23
Tabel 4.1. Kadar glukosa darah rata-rata (mg/dL) dari seluruh
kelompok uji pada masing-masing waktu ................................... 26
Tabel 4.2. Hasil perhitungan % penurunan kadar glukosa darah................. 31
Tabel 4.3. Hasil perhitungan efektifitas bahan uji dibandingkan
dengan metformin HCl................................................................ 32
Tabel 4.4. Kadar glukosa darah rata-rata (mg/dL) dari seluruh
kelompok uji pada masing-masing waktu ................................... 42
xiv
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.
Lampiran 6.
Lampiran 7.
Lampiran 8.
Lampiran 9.
Lampiran 10.
Lampiran 11.
Lampiran 12.
Lampiran 13.
Lampiran 14.
Perhitungan dosis ........................................................ 43
Pembuatan ekstrak bahan uji kombinasi ..................... 44
Perhitungan kadar air ekstrak etanol daun alpukat ..... 46
Perhitungan kadar air ekstrak etanol buah oyong ....... 48
Hasil determinasi simpilisia bahan uji daun alpukat ... 49
Hasil determinasi simpilisia bahan uji buah oyong..... 50
Sertifikat analisa Metformin HCl ................................ 51
Sertifikat analisa glukosa monohidrat ......................... 52
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah
seluruh hewan uji sebelum perlakuan (T0) ................ 54
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah
seluruh hewan uji setelah perlakuan (T30) ................ 56
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah
seluruh hewan uji tiga puluh menit setelah
pemberian glukosa (Tg30) ......................................... 60
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah seluruh
hewan uji satu jam setelah
pemberian glukosa (Tg60) .......................................... 64
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah seluruh
hewan uji satu setengah jam setelah
pemberian glukosa (Tg90) ......................................... 68
Uji statistik terhadap kadar glukosa darah seluruh
hewan uji dua jam setelah
pemberian glukosa (Tg120) (SPSS 19) ...................... 72
xv
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes melitus atau penyakit gula darah adalah salah satu penyakit yang
cukup menonjol di antara penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung dan
pembuluh darah, serta penyakit kanker. Diabetes melitus menjadi masalah
kesehatan masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Hal ini dapat
dilihat dengan jumlah penderita sebanyak 8,4 juta jiwa dan diperkirakan akan
terus meningkat sampai 21,3 juta orang pada tahun 2030. Secara umum, hampir
80% prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2 (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2010).
Diabetes melitus merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan
hiperglikemia akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif
(Wadkar, Magdum, Patil, & Naikwade, 2008). Gejala umum yang sering dialami
oleh penderita adalah poliuria, polifagi, polidipsi, rasa lelah dan kelemahan otot
(Corwin, 2008). Jika kadar gula darah terus meningkat sehingga tidak terkendali,
lama kelamaan akan timbul komplikasi. Komplikasi tersebut meliputi
mikrovaskular (retinopati, neuropati, nefropati) dan komplikasi makrovaskular
(serangan jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer) (Price, 2000).
Untuk memperkecil resiko makin parahnya penyakit dan menurunkan
resiko komplikasi diabetes melitus, diperlukan penanganan terapi obat dan terapi
tanpa obat (Departemen Kesehatan RI, 2005). Pengobatan diabetes melitus dapat
dilakukan dengan pemberian insulin, obat antidiabetik oral, dan obat herbal
(Wadkar, Magdum, Patil, & Naikwade, 2008). Insulin merupakan suatu hormon
yang dihasilkan oleh sel β pankreas di dalam pulau Langerhans dan berperan
mengontrol kadar glukosa darah. Penggunaan obat anti diabetes biasanya
berlangsung lama dengan efek samping yang ditimbulkan cukup besar, sehingga
biaya yang ditanggung oleh penderita secara keseluruhan juga besar. Oleh karena
itu diperlukan suatu alternatif pengobatan yang harganya relatif murah dan
1
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
2
khasiatnya tidak berbeda jauh dengan obat sintetik. Salah satu alternatif
pengobatan tersebut adalah penggunaan obat tradisional dari tanaman alami.
Pemanfaatan tanaman obat di kalangan masyarakat sebagai obat
tradisional bukanlah hal yang baru. Masyarakat Indonesia telah mengenal dan
menggunakan obat tradisional sejak dulu kala sebagai warisan nenek moyang.
Obat tradisional ini, baik berupa jamu maupun tanaman obat masih digunakan
hingga saat ini. Karena dilihat dari kelebihan obat tradisional adalah efek
sampingnya relatif rendah serta pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek
farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif
(Katno & Pramono, 2008).
Pengobatan tradisional dengan menggunakan kombinasi ekstrak tanaman
di sekitar kita dianggap sebagai cara baik untuk penyembuhan penyakit diabetes
melitus, selain dapat memberikan efek sinergi, untuk meningkatkan potensi
bahkan menambah daya khasiatnya dan juga ekonomis.
Alpukat (Persea americana Mill) dikenal sebagai tanaman yang banyak
manfaatnya, salah satunya adalah bagian daunnya. Daun alpukat mempunyai
manfaat yang banyak terutama dalam dunia kesehatan, seperti antitusif, anti
diabetes, dan pereda rasa sakit dan inflamasi pada penderita arthritis. Diduga
kandungan flavonoid pada daun alpukat, memiliki aktivitas sebagai antidiabetes.
Penelitian mengenai khasiat daun alpukat sebagai hipoglikemik telah dilakukan
pada ekstrak air daun alpukat dengan dosis 100 mg/kg bb. (Antia, Okokon, &
Okon, 2005).
Oyong (Luffa acatagula (L.) Roxb) merupakan tanaman yang mudah
tumbuh. Oyong memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektif, antidiabetes,
antioksidan, antijamur, dan antidepresi (Jyothi, Ambati, Jyothi Asha, 2010).
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ekstrak metanol dan ekstrak air buah
oyong efektif menurunkan kadar gula darah dan antihiperlipidemia pada dosis
200 mg dan 400 mg/kg bb, akan tetapi ekstrak metanol lebih baik dibandingkan
ekstrak air buah oyong. (Piero, Ngugi et al, 2012)
Berdasarkan hal tersebut akan dilakukan penelitian tentang efek diabetes
dari kombinasi ekstrak etanol daun alpukat dan buah oyong. Sebagai model
hiperglikemia digunakan mencit yang mengalami keadaan hiperglikemia setelah
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
3
dibebani glukosa, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi yang
mendukung secara ilmiah dan dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan
diabetes.
1.2 Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah kombinasi
ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) dan ekstrak etanol buah
oyong (Luffa acatangula (L.) Roxb.) memiliki efek hipoglikemik pada mencit
putih jantan yang dibebani glukosa. Ruang lingkup penelitian ini mencakup
farmakologi.
1.3 Jenis Penelitian dan Metode
Jenis penelitian yang dikerjakan termasuk ke dalam jenis penelitian
ekperimental. Penelitian ini menggunakan mencit putih jantan yang diberi
kombinasi ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) dan buah oyong
(Luffa acatangula (L.) Roxb.) yang kemudian dibebani glukosa. Efek antidiabetes
dari kombinasi ekstrak etanol daun alpukat dan buah oyong dievaluasi kadar
glukosa darahnya pada menit ke 30, 60, 90 dan 120 setelah dibebani glukosa.
1.4 Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penurunan kadar glukosa
darah dari kombinasi ekstrak etanol daun alpukat dan buah oyong pada mencit
putih jantan yang dibebani glukosa.
1.5 Hipotesis
Pemberian kombinasi ekstrak daun alpukat dan ekstrak buah oyong
memiliki efek antidiabetes pada mencit putih jantan yang dibebani glukosa.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Alpukat
2.1.1 Klasifikasi (Heyne, 1987)
Divisi
:
Spermatophya
Kelas
:
Dicotyledoneae
Bangsa
:
Renales
Suku
:
Lauraceae
Marga
:
Persea
Jenis
:
Persea americana Mill
2.1.2 Nama daerah dan nama asing
Tanaman alpukat mempunyai nama lain yaitu avokat, advokat, apokat,
adpokat, alpokat (Sumatera); apuket, alpuket (Sunda); apokat, avokat (Jawa);
advocaat (Belanda); avokat (Prancis); ahuaca-te, aguacate (Spanyol), avocado
(Inggris) (Rukmana, 2000).
2.1.3 Morfologi
Tanaman alpukat berasal dari Amerika Tengah. Tumbuh di daerah tropis
dan subtropik dengan curah hujan antara 1.800 mm sampai 4.500 mm tiap tahun.
Pada umumnya tumbuhan ini cocok dengan iklim sejuk dan basah. Tumbuhan ini
tidak tahan terhadap suhu rendah maupun tinggi, kelembaban rendah pada saat
berbunga dan angin yang keras pada saat pembentukan buah. Di Indonesia,
tanaman alpukat tumbuh pada ketinggian tempat antara 1 m sampai 1.000 m
diatas permukaan laut (Departemen Kesehatan, 1978).
Pohon alpukat memiliki ketinggian 3-10 m, berakar tunggang, batang
berkayu, bulat, warnanya coklat kotor, bercabang banyak, serta ranting berambut
halus. Daun tunggal, dengan tangkai yang panjangnya 1,5-5 cm, kotor, letaknya
berdesakan di ujung ranting, bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang,
tebal seperti kulit, ujung dan pangkal runcing, namun terkadang agak
4
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
5
rmenggulung ke atas, bertulang rnenyirip, panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun
muda berwarna kemerahan dan berambut rapat, serta daun tua berwarna hijau dan
gundul.
Pohon ini berbunga majemuk, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang
keluar dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buah alpukat adalah buni,
bentuk bola atau bulat telur, panjang 5-20 cm, warnanya hijau atau hijau
kekuningan, berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging
buah masak memiliki konsistensi lunak, warnanya hijau, kekuningan. Biji bulat
seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keping biji putih kemerahan (Yuniarti, 2008).
2.1.4 Kandungan kimia
Kandungan kimia dari daging buah dan daun mengandung saponin,
alkaloida dan flavonoid, selain itu juga buah mengandung tanin dan daunnya
mengandung polifenol, quersetin, dan gula alkohol persiit (Yuniarti, 2008). Pada
ekstrak air daun alpukat (Persea americana Mill) mengandung saponin, tanin,
phlobatanin, flavonoid,alkaloid, polisakarida. (Antia, Okokon, & Okon, 2005).
Penelitian lain pada ekstrak metanol pada daun alpukat mengandung steroid,
tanin, saponin, flavonoid, alkaloid, fenol, antraquinon, triterpen (Asaolu et al,
2010)
2.1.5 Kegunaan
Tanaman alpukat direkomendasikan untuk anemia, hiperkolesterolemia,
hipertensi, kelelahan, radang lambung, ulkus saluran cerna (Antia,Okokon, &
Okon, 2005). Infus daun alpukat telah diteliti secara invitro dapat menghambat
replikasi adenovirus serta ekstrak air dan metanol daun alpukat dapat menghambat
aktivitas antibakteri. Ekstrak air daun alpukat memiliki efek antihipertensi dan
hasil dekok daun alpukat dapat meringankan diare, nyeri tenggorokan (Brai,
Odetola, & Agomo, 2007).
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
6
2.2 Tanaman Oyong (Luffa acutangula (L.) Roxb.)
2.2.1 Klasifikasi (Jyothi, Ambati, & Jyothi Asha, 2010 ; Gowtham, Kuppast,
Mankani, 2012)
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Bangsa
: Cucurbitales
Suku
: Cucurbitaceae
Marga
: Luffa
Jenis
: Luffa acutangula (L.) Roxb.
Nama lain
: Jhimani, Karvitarui, Karvituri, Sankirah, Rantorai (Hindi);
Ridge gourd, Angled loofah, Chinese okra, Dishclothgourd, Ribbed loofah, Silk gourd, Silky gourd, Sinkwa
towelsponge, Sinqua melon,Vegetable sponge (Inggris);
Kahire, Kahi Heere, Naaga daali balli (Kannada).
Nama daerah : Jinggi, Oyong (Sumatera); Timput (Palembang); Kimput
(Sunda); Kacur (Jawa); Oyong (Jakarta); Jinggi, Petola
(Maluku).
2.2.2 Morfologi
Oyong (Luffa acutangula (L.) Roxb) merupakan tanaman memanjat yang
cukup besar. Tumbuhan ini memiliki batang sulur. Daun dari tumbuhan ini
berbentuk orbicular, berwarna hijau pucat dengan lebar 15-20 cm,
menjari
dengan 5-7 sudut atau lekukan, dan memiliki urat daun yang menonjol. Buah dari
tumbuhan oyong berbentuk lonjong memanjang berwarna cokelat kekuningan
pucat, dengan panjang 4-10 cm, diameter 2-4 cm, dan pada permukaan luarnya
dikelilingi dengan 8-10 rusuk memanjang yang menonjol. Bagian buah terbagi
dalam 3 bagian. Bagian dalam buah merupakan bagian yang berserat dan mudah
dipisahkan secara sempurna dengan bagian luarnya. Buah ini memiliki rasa pahit,
namun di Indonesia buah oyong memiliki rasa yang sedikit manis dan sejuk
(Jyothi, Ambati, & Jyothi Asha, 2010).
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
7
2.2.3 Ekologi, penyebaran dan budidaya
Tumbuhan oyong tersebar di wilayah India, Cina, serta wilayah lain yang
secara alami beriklim tropis dan subtropis. Tumbuhan ini mampu tumbuh pada
semua jenis tanah dan dapat ditanam baik pada musim panas maupun pada musim
hujan. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji. Bibit atau biji tumbuhan ini
sebaiknya ditebarkan untuk ditanam pada bulan Februari-Maret atau Juni-Juli
(Jyothi, Ambati, & Jyothi Asha, 2010).
2.2.4 Kandungan kimia
Kandungan kimia utama oyong termasuk karbohidrat, karoten, lemak,
protein, asam amino, alanin, arginin, sistin, asam glutamat, glisin, hidroksiprolin,
serin, triptofan, asam pipekolat, flavonoid, dan saponin. Dalam buah oyong juga
terdapat kandungan senyawa yang memberikan rasa pahit, yakni lufein. (Jyothi,
Ambati, & Jyothi Asha, 2010 ; Gowtham, Kuppast, & Mankani, 2012)
2.2.5 Kegunaan
Tanaman oyong memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektif, antidiabetes,
antioksidan, antijamur, antidepresi. (Jyothi, Ambati, & Jyothi Asha, 2010). Hasil
dekoksi dari bagian sponge (gabus) oyong yang diberikan secara intraperitoneal
ataupun subkutan dapat memiliki efek sebagai antiinflamasi, analgesik, dan
transkuilizer pada tikus. Oyong juga dapat bermanfaat untuk menghilangkan
jaringan kulit mati. Selain itu, buah oyong memiliki sifat sebagai demulsen,
diuretik, serta kaya akan nutrisi (Rahman, Anisuzzaman, Ahmed, Islam, &
Naderuzzaman, 2008).
2.3 Diabetes Mellitus
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan”. Melitus dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu.
Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urin
yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus (DM) adalah
gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan
dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
8
disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin,
atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular dan
makrovaskular (Wells, Dipiro J, Scwinghammer, & Dipiro C, 2009)
2.3.1 Gejala diabetes melitus (Corwin, 2008)
a. Poliuria (peningkatan pengeluaran urin) karena air mengikuti glukosa
yang keluar melalui urin.
b. Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar
dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstra sel. Dehidrasi
intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi
keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang
hipertonik (konsentrasi tinggi).
c. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di otot dan
ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai
energi.
d. Polifagia (peningkatan rasa lapar) akibat keadaan pascaabsorptif yang
kronis, katabolisme protein dan lemak, dan kelaparan relatif sel.
2.3.2 Klasifikasi (Wells, Dipiro J, Scwinghammer, & Dipiro C, 2009)
Berdasarkan etiologinya, DM dapat dibedakan menjadi:
(1) DM tipe 1, yaitu penyakit DM yang disebabkan karena adanya kerusakan sel β
pankreas yang menyebabkan kekurangan sekresi insulin secara mutlak. Tipe ini
sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM karena pasien
mutlak membutuhkan insulin. Penderita DM tipe 1 kurang lebih 5-10% dari total
penderita DM.
(2) DM tipe 2, yaitu penyakit DM akibat resistensi insulin atau defisiensi relatif
insulin atau gabungan keduanya. DM tipe 2 ini terjadi ketika gaya hidup dengan
asupan kalori yang berlebihan, kurang olahraga, obesitas, dan adanya faktor
genetik. Pada tipe 2 ini, tidak selalu dibutuhkan insulin, cukup ditangani dengan
diet dan antidiabetik oral. Oleh sebab itu, tipe ini juga disebut non insulin
dependent diabetes mellitus atau NIDDM. Penderita DM tipe 2 kurang lebih 90%
dari kasus DM.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
9
(3) DM gestasional,yaitu penyakit DM yang terjadi pada saat kehamilan ataupun
setelah kehamilan.
(4) DM lainnya, yaitu penyakit DM yang tidak diketahui penyebabnya, seperti
pada sindrom crushing, akromegali, pankreatitis, atau akibat penggunaan obat,
(glukokortikoid, pentamidin, niacin, α-interferon). Keterangan lebih lengkap dapat
dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Klasifikasi diabetes melitus
No
Diabetes
Melitus
1
Tipe 1
2
Tipe 2
3
Tipe lain
4
Gestasional
5
Pra-Diabetes
Keterangan
Destruksi sel β, umumnya mengarah ke defisiensi insulin
absolut akibat autoimun atau idiopatik
Bervariasi, mulai yang predominan resistensi insulin
disertai defisiensi insulin relatif, sampai yang predominan
gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
Defek genetik fungsi sel β, defek genetik kerja insulin,
penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, diabetes
karena obat atau zat kimia, diabetes karena infeksi.
Diabetes melitus yang muncul pada masa kehamilan,
umumnya bersifat sementara, tetapi merupakan faktor
risiko untuk DM tipe 2
IFG (Impaired Fasting Glucose) = GPT (Glukosa Puasa
Terganggu), atau IGT (Impaired Glucose Tolerance) =
TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)
(sumber: Departemen Kesehatan RI, 2005)
2.3.3 Diagnosis (Departemen Kesehatan RI, 2005; Price, 2000).
Apabila penderita telah menunjukkan gejala DM yang khas, hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl telah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126
mg/dl juga dapat digunakan sebagai patokan diagnosis DM (Tabel 2.2).
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
10
Tabel 2.2 Kadar glukosa darah pada pasien normal, pradiabetes, dan diabetes
melitus
Glukosa darah puasa
Glukosa darah postprandial
Kelompok
(mg/dl)
(mmol/l)
(mg/dl)
(mmol/l)
Normal
< 100
< 5,6
< 140
< 7,8
Pradiabetes
100–125
5,6–6,9
140–199
7,8–11,1
Diabetes Melitus
≥ 126
≥ 7,0
≥ 200
≥ 11,1
(Sumber: DiPiro, Talbert, Yees, Matzke, Wells, & Posey, 2005)
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis diabetes melitus
antara lain adalah pemeriksaan urin untuk mendeteksi adanya glukosuria,
pemeriksaan darah yang meliputi glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, tes
toleransi glukosa oral (TTGO), glukosa darah kapiler, dan tes glikohemoglobin
(HbA1c) (Porth & Matfin, 2009).
2.3.4
Terapi nonfarmakologis
2.3.4.1 Diet
Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang.
Asupan serat sangat penting bagi penderita diabetes, disamping akan menolong
menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh
tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang sering dirasakan penderita
DM (Departemen Kesehatan RI, 2005).
2.3.4.2 Olahraga
Olahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar glukosa
darah tetap normal karena dapat memperbanyak jumlah dan meningkatkan
aktivitas reseptor insulin dalam tubuh, serta meningkatkan penggunaan glukosa
(Departemen Kesehatan RI, 2005) selain itu dapat menurunkan lemak tubuh,
mengontrol berat badan (Porth & Matfin, 2009).
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
11
2.3.5 Terapi farmakologis
2.3.5.1 Insulin
Mekanisme kerja insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah dengan
menstimulasi pengambilan glukosa perifer dan menghambat produksi glukosa
hepatik (Sukandar et al, 2008). Terapi insulin mutlak bagi penderita DM Tipe 1
karena sel β Langerhans pankreas penderita rusak, sehingga tidak lagi dapat
memproduksi insulin. Sebagai penggantinya, maka penderita DM Tipe 1 harus
mendapat insulin eksogen untuk membantu agar metabolisme karbohidrat di
dalam tubuhnya dapat berjalan normal. Insulin juga diberikan pada penderita DM
Tipe 2 yang kadar glukosa darahnya tidak dapat dikendalikan dengan diet dan
antidiabetik oral, DM pascapankreatektomi, DM gestasional, DM dengan berat
badan yang menurun cepat, DM dengan komplikasi akut, DM dengan
ketoasidosis, atau komplikasi lain sebelum tindakan operasi (DM tipe 1 dan 2).
Penderita DM yang mendapat nutrisi parenteral untuk memenuhi kebutuhan
energinya yang meningkat, juga memerlukan insulin eksogen secara bertahap
untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal (Departemen
Kesehatan RI, 2005; Suherman, 2007).
Insulin tersedia dalam bentuk injeksi melalui rute intravena, intramuskular,
dan subkutan. Rute subkutan paling banyak digunakan untuk jangka panjang.
Pemberian insulin tidak dapat diberikan melalui oral karena dapat dipecah oleh
enzim pencernaan. Kebutuhan insulin pada pasien DM umumnya berkisar antara
5-150 U sehari bergantung pada keadaan pasien (Suherman, 2007). Terdapat
berbagai jenis sediaan insulin yang berbeda dalam hal mula kerja (onset) dan
masa kerjanya (durasi). Sediaan insulin untuk terapi dapat digolongkan menjadi
beberapa kelompok (Porth & Matfin, 2009; Wells, Dipiro J, Scwinghammer, &
Dipiro C, 2009)
a) Insulin masa kerja singkat (Short-acting Insulin)
b) Insulin masa kerja sedang (Intermediate-acting).
c) Insulin masa kerja sedang dengan mula kerja cepat.
d) Insulin masa kerja panjang (Long-acting insulin).
e) Insulin premixed
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
12
2.3.5.2 Antidiabetik oral
a. Sulfonilurea
Dikenal dua generasi sulfonilurea, generasi pertama terdiri dari
tolbutamid, asetoheksimid, dan klorpropamid. Generasi berikutnya memiliki
potensi hipoglikemik lebih besar, antara lain gliburid atau glibenklamid, glipizid,
glikazid, dan glimepirid.
Mekanisme kerja sulfonilurea yaitu dengan merangsang sekresi hormon
insulin dari granul sel-sel β Langerhans pankreas. Interaksinya dengan ATPsensitive K channel pada membran sel-sel β menimbulkan depolarisasi membran
dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. Dengan terbukanya kanal Ca, maka ion
Ca2+ akan masuk ke dalam sel β kemudian merangsang granula yang berisi insulin
dan akan terjadi sekresi insulin. Pada penggunaan jangka panjang atau dosis yang
besar dapat menyebabkan hipoglikemia (Porth & Matfin, 2009; Suherman, 2007).
Sulfonilurea generasi kedua umumnya memiliki potensi hipoglikemiknya
hampir 100 kali lebih besar daripada generasi pertama. Meski waktu paruhnya
pendek, hanya sekitar 3-5 jam, efek hipoglikemiknya dapat berlangsung 12-24
jam, sehingga cukup diberikan satu kali sehari.
b. Meglitinid
Mekanisme kerja sama seperti sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat
berbeda. Masa paruhnya relatif cepat sehingga perlu diberikan beberapa kali
sehari. Umumnya obat golongan ini dikombinasikan dengan obat antidiabetik oral
lainnya. Efek samping utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna.
Contoh obat golongan ini adalah repaglinid dan netaglinid (Suherman, 2007).
Karena tidak mengandung sulfur, meglitinid dapat digunakan untuk pasien DM
tipe 2 yang alergi terhadap sulfur atau sulfonilurea.
c. Biguanid
Obat golongan ini bekerja meningkatkan sensitivitas reseptor insulin pada
jaringan otot dan hepatik, sehingga terjadi peningkatan ambilan glukosa ke dalam
sel dan mengurangi terjadinya glukoneogenesis. Biguanid tidak merangsang
sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia sebagai efek
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
13
sampingnya. Obat golongan ini hanya satu yang beredar, yaitu metformin. Dosis
metformin ialah 1–3 g sehari dibagi dalam dua atau tiga kali pemberian. Dosis
awal pemberian adalah 500 mg. Efek samping yang dapat terjadi yaitu perut
kembung, mual, muntah, diare dan anoreksia. Obat ini menekan nafsu makan
hingga berat badan tidak meningkat, sehingga baik diberikan pada penderita
yang overweight. (Porth & Matfin, 2009). Metformin dikontraindikasikan pada
pasien gangguan ginjal, hati, hipoksemia, dan dehidrasi. Metformin diperkirakan
50%-60% bioavalabilitasnya oral, kelarutannya dalam lipid rendah, dan volume
distribusinya pada cairan tubuh. Metformin dieliminasi melalui sekresi tubular
ginjal dan filtrasi glomerulus. Waktu paruh metformin rata-rata adalah 6 jam,
meskipun secara farmakodinamik, efek antihiperglikemik pada metformin > 24
jam.
d. Tiazolidindion (Glitazon)
Mekanisme kerja dari tiazolidindion adalah mengurangi resistensi insulin.
Mekanismenya terkait dengan regulasi dari gen yang terlibat dalam metabolisme
glukosa dan lemak. Selain itu, obat ini juga menurunkan glukoneogenesis di hati.
Contoh obat golongan ini rosiglitazon dan pioglitazon (Suherman, 2007).
e. Penghambat α-glukosidase
Senyawa-senyawa penghambat α-glukosidase bekerja menghambat αglukosidase yang terdapat pada dinding usus halus yang sehingga mencegah
penguraian sukrosa dan karbohidrat kompleks dalam usus halus dengan demikian
memperlambat dan menghambat penyerapan karbohidrat (Sukandar et al, 2008).
Karena kerjanya tidak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak akan
menyebabkan efek samping hipoglikemia. Contoh golongan obat ini adalah
akarbose dan miglitol. Obat ini efektif pada pasien dengan diet tinggi karbohidrat
dan dapat digunakan sebagai monoterapi pada DM usia lanjut atau DM yang
glukosa postprandialnya sangat tinggi. (Suherman, 2007).
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
14
f. Terapi berbasis inkretin
Hormon inkretin adalah hormon yang dihasilkan epitel usus yang
berfungsi dalam glukoregulator. Inkretin bekerja dengan menstimulasi sekresi
insulin di sel beta pankreas. Untuk individu normal, jumlah inkretin kira-kira 2060% dari sekresi insulin setelah makan. Inkretin terdiri atas dua macam, yaitu
GLP-1 (glucagone like peptide-1) dan GIP (glucose-dependent isulinotropic
polypeptide). GLP-1 berikatan dengan reseptor sel β di pankreas sehingga
memiliki efek meningkatkan sekresi insulin, menekan sekresi glukagon,
meningkatkan proliferasi sel β, dan menjaga sel β agar resisten terhadap
apoptosis. Namun, GLP-1 sangat cepat didegradasi oleh enzim DPP IV sehingga
mempunyai waktu paruh yang sangat singkat, yaitu 1-2 menit. Terdapat 2 kategori
senyawa yang dikembangkan dalam terapi berbasis inkretin, yaitu GLP-1
mimetik, contohnya exenatide dan liragutide, serta penghambat DPP IV,
contohnya sitagliptin dan vildagliptin (Nicolucci & Rossi, 2008).
2.4 Metode Uji Efek Diabetes
Keadaan diabetes mellitus dapat diinduksi dengan cara pankreaktomi dan
pemberian zat kimia. Zat kimia sebagai induktor (diabetogen) bisa digunakan
aloksan, streptozotozin, diaksosida, adrenalin, glukagon, EDTA (Suharmiati,
2003). Selain itu dapat digunakan metode uji toleransi glukosa, dimana tubuh
dibebani glukosa untuk mengetahui kemampuan tubuh untuk menggunakan
glukosa. (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica, 1993).
2.4.1 Metode uji diabetes aloksan
Aloksan merupakan derivat urea yang menyebabkan nekrosis selektif pada
sel beta pankreas. Aloksan digunakan untuk membuat diabetes pada hewan uji
seperti kelinci, tikus, anjing. Prinsip metode ini yaitu pemberian aloksan secara
parenteral. Hewan uji yang berbeda dengan kondisi yang berbeda akan
menghasilkan dosis yang berbeda, sehingga uji pendahuluan tetap dilakukan
untuk menetapkan dosis aloksan. Dosis tunggal 140–180 mg/kg dapat digunakan
untuk semua jenis hewan uji. Aloksan diberikan dalam larutan konsentrasi 5% b/v
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
15
dan diinjeksikan secara intravena melalui vena telinga kelinci atau secara
intraperitoneal untuk tikus dan mencit (Etuk, 2010).
2.4.2 Metode tes toleransi glukosa peroral (TTGO)
Toleransi glukosa adalah kemampuan tubuh untuk menggunakan
glukosa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban glukosa untuk melihat
pengaruh terhadap toleransi glukosa. Pada pengujian ini, hiperglikemia hanya
berlangsung beberapa jam setelah pemberian glukosa sebagai diabetogen. Prinsip
metode ini adalah hewan uji dipuasakan selama 16-20 jam tetapi tetap diberi
minum, kemudian diambil cuplikan darah vena lalu diberikan sediaan obat yang
diuji secara oral. Setengah hingga satu jam setelah pemberian sediaan obat, hewan
uji diberikan larutan glukosa secara oral. Pengambilan cuplikan darah vena
diulangi setelah perlakuan pada waktu-waktu tertentu.
2.5 Metode pemeriksaan kadar glukosa darah
Pemeriksaan kadar glukosa darah dapat ditentukan dengan tiga macam
metode, yaitu: metode oksidasi reduksi, metode kondensasi, dan metode
enzimatik.
2.5.1 Metode reduksi-oksidasi
Pengukuran glukosa berdasarkan pada sifatnya sebagai zat pereduksi
dalam larutan alkali panas. Metode ini tidak spesifik karena adanya zat-zat non
glukosa lain juga bersifat mereduksi.
2.5.2 Metode enzimatik
Metode ini menggunakan enzim-enzim yang bekerja secara spesifik
pada glukosa. Metode ini menggunakan enzim-enzim yang bekerja secara spesifik
pada glukosa sehingga memberikan hasil yang relatif lebih cepat dibandingkan
dengan metode lainnya. Metode ini diantaranya adalah metode heksokinase,
glukosa oksidase, dan glukosa dehidrogenase.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
16
Penggunaan alat glukometer merupakan salah satu contoh aplikasi
pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan metode ini, dimana strip uji
mengandung enzim pengoksidasi glukosa yang akan bereaksi dengan glukosa
darah (Roche, 2009). Dengan menggunakan alat glukometer, hanya dibutuhkan
sejumlah kecil sampel darah (1-2 µL) yang diaplikasikan pada strip yang
digunakan secara sekali pakai. Pada strip glukometer sudah terkandung suatu
enzim oksidoreduktase bersama-sama dengan koenzim atau kofaktor atau enzim
penyerta yang sesuai dan suatu mediator yang bergantung pada prinsip
pengukuran yang dipilih (fotometri atau elektrokimia).
Prinsip kerja dari alat ini yaitu pada strip terdapat enzim yang secara
spesifik bereaksi pada glukosa. Enzim tersebut akan mengoksidasi glukosa
menjadi glukonolakton sehingga akan dilepaskan elektron akibat dari reaksi ini.
Elektron yang dihasilkan ditransfer ke mediator, mengakibatkan terjadinya proses
reduksi mediator dari bentuk teroksidasi menjadi bentuk tereduksinya.
Mediator akan teroksidasi kembali dan mengirinkan elektron ke elektroda
untuk pengukuran secara elektrokimia, atau ke molekul indikator yang akan
mengalami perubahan warna. Pengukuran dapat dilakukan secara elektrokimia
dan fotometri (Hones, Muller &Surrige, 2008).
Glukosa
Mediatoroks
(Quinoneimine)
2 elektron
Elektroda
Indikator
(Phosphomolybdic)
GDH
Glukonolakton
PQQ
Mediatorred
(Phenylendiamine)
(Sumber: Hones, Muller &Surrige, 2008, telah diolah kembali)
Gambar 2.1. Skema reaksi umum yang terjadi pada strip Accu-chek active®
Keterangan:
GDH
PQQ
: Glucose dehydrogenase (glukosa dehidrogenase)
: Pyrrolo Quinoline Quinone (Pirrolo Kuinolin Kuinon)
Prinsip pengukuran pada Accu-Chek Active® menggunakan metode
fotometri. Pengukuran fotometri dilakukan dengan pemaparan cahaya dari dioda.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
17
Sebagian dari pantulan cahaya sampai pada fotodetektor yang kemudian
dikonversi menjadi arus. Produk reaksi yang terjadi tidak berubah setelah
pengukuran (Hones, Muller, & Surridge, 2008).
2.5.3 Metode kondensasi (metode o-toluidin) (World Health Organization, 2003;
Dubowsky, 2008)
Senyawa amin aromatik seperti o-toluidin, asam p-aminobenzoat, asam paminosalisilat dan m-aminofenol dapat bereaksi dengan glukosa dalam larutan
asam yang panas, dan membentuk produk berwarna. Senyawa amin aromatik
yang banyak digunakan untuk penentuan kadar glukosa adalah o-toluidin
Prinsip dari metode ini, yaitu protein yang terdapat dalam darah
diendapkan terlebih dahulu dengan asam trikloroasetat. Kemudian dilakukan
sentrifugasi untuk memisahkan supernatan dan endapan. Glukosa yang terdapat
dalam supernatan yang jernih kemudian akan direaksikan dengan o-toluidin yang
merupakan amin aromatis primer dalam pelarut asam asetat glasial panas yang
akan memberikan warna hijau - biru.
O-toluidin berkondensasi dengan gugus aldehida pada glukosa membentuk
suatu campuran kromogen hijau - biru dengan panjang gelombang maksimum
sekitar 630 nm Pengukuran serapan dilakukan menggunakan spektrofotometer
UV-vis.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Departemen
Farmasi FMIPA Universitas Indonesia selama empat bulan, sejak Februari hingga
Mei 2012.
3.2 Bahan
3.2.1 Hewan uji
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit putih jantan
galur ddY berumur kurang lebih 5-6 minggu dengan berat badan ± 20 gram
sebanyak 24 ekor. Hewan uji diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Cibinong. Mencit betina tidak diikutsertakan dalam penelitian ini
karena dikhawatirkan siklus hormonalnya dapat berpengaruh pada kadar glukosa
yang akan diukur. Hormon estrogen dan progestin yang terdapat pada tikus betina
diketahui bersifat antagonis terhadap hormon insulin (Suherman, 2007).
3.2.2 Bahan uji
Bahan uji yang digunakan adalah daun alpukat yang diperoleh di daerah
Depok dan sekitarnya kemudian di determinasi di Herbarium Bogorinse, Bidang
Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Cibinong (Lampiran 5). Daun alpukat
kemudian dibuat menjadi ekstrak etanol oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Serpong (Gambar 3.1). Sedangkan ekstrak buah oyong (Gambar
3.2) dibuat dari serbuk kering buah oyong dengan usia sekitar 2 bulan yang
diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik dan dideterminasi
oleh pusat penelitian dan pengembangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) Bogor (Lampiran 6).
18
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
19
3.2.3 Bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan antara lain, aquadest, glukosa monohidrat
®
(merck), glukostrip Accu-Check Active
(Roche), metformin HCl (Clinisindo
Laboratories), CMC-Na, alkohol 70 %.
3.3 Alat
Sonde lambung, timbangan analitik (Ohauss), timbangan tikus (And),
spuit (BD), alat-alat gelas (pyrex), Accu Check Active (Roche), surgical blade
(General Care), perangkap mencit.
3.4 Prosedur kerja
3.4.1 Penyiapan hewan uji
Mencit diaklimatisasi selama ±1 minggu di kandang hewan Departemen
Farmasi FMIPA-UI. Aklimatisasi bertujuan agar tikus beradaptasi dengan
lingkungan baru dan meminimalisasi efek stres pada mencit yang dapat
berpengaruh pada metabolismenya dan dapat mengganggu penelitian. Setiap
mencit diberi makan dan minum serta ditimbang berat badannya secara rutin.
Mencit yang digunakan dalam penelitian harus sehat dengan tanda-tanda bulu
tidak berdiri, warna putih bersih, mata jernih, tingkah laku normal, dan
mengalami peningkatan berat badan dalam batas tertentu yang diukur secara rutin.
3.4.2 Penetapan dosis
3.4.2.1 Ekstrak daun alpukat dan buah oyong
Dosis daun alpukat yang digunakan adalah 100mg/kg bb (Antia, Okokon,
& Okon, 2010) dan dosis buah oyong yaitu 200mg/kg bb (Gowtham, Kuppast, &
Mankani, 2012). Perhitungan dosis secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.
Variasi dosis yang diberikan untuk kombinasi terdapat dalam Tabel 3.1
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
20
Tabel 3.1. Perbandingan dosis daun alpukat dan buah oyong untuk pemberian
kombinasi
Kombinasi
Dosis
Daun Alpukat
1
50 mg/kg bb
2
100 mg/kg bb
Buah oyong
200 mg/kg bb
3.4.2.2 Metformin HCl
Dosis metformin HCl yang digunakan pada manusia adalah 500 mg
diberikan dalam bentuk suspensi dengan CMC (Carboxymethylcellulose), yang
dikonversikan yaitu dosis untuk setiap 20 g bb mencit setara dengan 0,0026 kali
dosis manusia dan dikalikan faktor farmakokinetika 10, sehingga dosis yang
digunakan adalah 13 mg/20 g bb. Sertifikat analisis metformin HCl dapat dilihat
pada Lampiran 7.
3.4.2.3 Dosis Glukosa Yang Diberikan
Dosis glukosa yang diberikan sebesar 2 g/kg bb. Karena yang digunakan
glukosa monohidrat, maka dilakukan perhitungan berdasarkan perbandingan berat
molekul. Sertifikat analisis glukosa monohidrat dapat dilihat pada Lampiran 8.
3.4.3 Penyiapan larutan uji
3.4.3.1 Pembuatan larutan glukosa 20%
Glukosa monohidrat ditimbang sebanyak 2000 mg kemudian dilarutkan
dalam 10 ml aquadest.
3.4.3.2 Pembuatan suspensi metformin HCl
Metformin HCl disuspensikan dengan menimbang 208 mg dan
ditambahkan volumenya dengan CMC (Carboxymethylcellulose) 0,5% hingga 8
ml sambil dihomogenkan.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
21
3.4.3.3 Pembuatan suspensi ekstrak etanol daun alpukat dan buah oyong
Sediaan ekstrak etanol sesuai dosis yang digunakan disuspensikan dengan
CMC (Carboxymethylcellulose) 0,5%. Pembuatan suspensi dibuat dari dosis
tertinggi yaitu 100 mg/kg bb. Dosis 50 mg/kg bb diperoleh dengan cara
mengencerkan dari dosis 100 mg/kg bb.
Ekstrak buah oyong dihitung dahulu rendemen ekstrak yang didapat.
Pembuatan suspensi ekstrak oyong dibuat dengan dosis 200 mg/kg bb dengan
dikalikan hasil rendemen yang didapat. Suspensi bahan uji yang telah siap
kemudian diberikan peroral ke hewan uji dengan volume sesuai dengan berat
badan. Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.
3.4.4
Pelaksanaan Percobaan
Percobaan ini menggunakan rancangan penelitian desain acak lengkap,
dimana hewan uji dibagi dalam 6 kelompok perlakuan di mana jumlah ulangan
tiap kelompok dihitung berdasarkan rumus Federer (Hidayat, 2010)
(n - 1)(t - 1) ≥15
(n - 1)(6 - 1) ≥ 15
(n - 1)(5) ≥15
t = kelompok perlakuan
n = jumlah sampel perkelompok perlakuan
5n – 5 ≥ 15
5n ≥ 20
n≥4
Sehingga jumlah tikus minimum yang digunakan ialah 4 ekor tiap kelompok
perlakuan. Pada penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit putih jantan yang
dibagi secara acak ke dalam 6 kelompok. Perlakuan untuk masing-masing
kelompoknya dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
22
Tabel 3.2 Perlakuan pada masing-masing kelompok
No
Kelompok
Jumlah
mencit
(ekor)
1
Kontrol normal
4
2
Kontrol pembanding
4
3
Daun alpukat
100 mg/kg bb
4
Buah oyong
200 mg/kg bb
Kombinasi 1
5
6
Kombinasi 2
4
4
4
Perlakuan
Diberi larutan CMC 0,5%
0.5 ml/20 g bb, kemudian dibebani
glukosa 2 g/kg bb
Diberi metformin HCl 13 mg/ 20 g
bb, kemudian dibebani glukosa 2
g/kg bb
Diberi ekstrak daun alpukat dosis
100 mg/kg bb dengan CMC 0,5%
sebagai pensuspensi, kemudian
dibebani glukosa 2 g/kg bb
Diberi ekstrak buah oyong dosis
200 mg/kg bb dengan CMC 0,5%
sebagai pensuspensi, kemudian
dibebani glukosa 2 g/kg bb
Diberi ekstrak daun alpukat dosis
50 mg/kg bb dan buah oyong 200
mg/kg bb dengan CMC 0,5%
sebagai pensuspensi, kemudian
dibebani glukosa 2 g/kg bb
Diberi ekstrak daun alpukat dosis
100 mg/kg bb dan buah oyong 200
mg/kg bb dengan CMC 0,5%
sebagai pensuspensi, kemudian
dibebani glukosa 2 g/kg bb
Awalnya hewan uji dipuasakan selama 16 jam dengan tetap diberi minum, puasa
dilakukan untuk memperoleh kadar glukosa darah puasa sebagai kadar glukosa
darah awal. Selain itu, puasa juga dilakukan untuk meminimalisir pengaruh dari
zat–zat yang terdapat dalam makanan yang mungkin dapat mempengaruhi hasil
penelitian.
Kemudian darah diambil melalui vena ekor mencit dan diukur kadar
glukosa darah puasanya sebagai kadar glukosa darah puasa awal. Setelahnya
hewan uji dari tiap-tiap kelompok diberi perlakuan bahan uji seperti yang tertera
pada tabel 3.2. Tiga puluh menit setelah pemberian bahan uji, pengukuran kadar
glukosa darah dilakukan kembali sebagai kadar glukosa darah tiga puluh menit
setelah pemberian larutan uji (T30). Hewan uji kemudian diberikan larutan glukosa
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
23
20 % dengan dosis 2 g/kg bb secara peroral. Cuplikan darah diambil pada menit
30, 60, 90, 120 setelah pemberian glukosa (Tg30, Tg60, Tg90, dan Tg120).
Tabel 3.3. Skema perlakuan setiap kelompok hewan uji
Perlakuan
Kelompo
Setelah
dipuasaka
n 16 jam
k
T0
T30
Tg30
Tg60
Tg90
Tg120
Pemberia
n bahan
uji
Pengukura
n kadar
glukosa
darah 30
menit dan
pemberian
larutan
glukosa
20%
Cuplika
n darah
diambil
pada
menit
30
Cuplika
n darah
diambil
pada
menit
60
Cuplika
n darah
diambil
pada
menit
90
Cuplika
n darah
diambil
pada
menit
120
KN
KP
Pengukura
n kadar
glukosa
darah
puasa
DA
DO
KE1
KE2
Keterangan:
KN = Kontrol normal, diberi larutan CMC 0,5% 0.5 ml/20 g bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; KP =
Kontrol pembanding, diberi metformin HCl 13 mg/ 20 g bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; DA =
Dosis alpukat, diberi ekstrak daun alpukat dosis 100 mg/kg bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; DO =
Dosis oyong, diberi ekstrak buah oyong dosis 200 mg/kg bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; KE1 =
Kombinasi ekstrak 1, diberi ekstrak daun alpukat dosis 100 mg/kg bb dan buah oyong 200 mg/kg bb,
kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; KE2 = Kombinasi ekstrak 2, diberi ekstrak daun alpukat dosis 50
mg/kg bb dan buah oyong 200 mg/kg bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb.
3.4.5 Pengukuran Kadar Glukosa Darah
Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan alat glukometer AccuChek Active® (Gambar 3.3). Strip dimasukkan ke dalam slot yang terdapat pada
alat sampai alat menyala dan pada layar terdapat tanda tetesan darah yang
menunjukkan strip siap untuk diteteskan darah. Hewan uji kemudian dimasukkan
ke perangkap yang sudah dipersiapkan. Bagian dari ekor mencit kemudian.
dibasuh dengan alkohol 70 %, kemudian ditoreh secara melintang dengan pisau
bedah hingga terbentuk luka kecil. Darah yang keluar kemudian diaplikasikan
pada bagian berwarna kuning di strip. Hasil yang keluar pada layar digital dari
glukometer merupakan kadar glukosa yang dicari.
Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan menggunakan alat
glukometer Accu–Chek Active®. Pada metode uji toleransi glukosa, pengambilan
darah dilakukan berkali–kali dalam waktu yang relatif singkat. Karena
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
24
menggunakan sampel darah yang jauh lebih sedikit, waktu pengambilan sampel
sampai pengukuran jauh lebih singkat.
3.4.6
Perhitungan Efektifitas Penurunan Kadar Glukosa Darah
3.4.6.1 Perhitungan Persentase Penurunan Kadar Glukosa Darah
Persentase penurunan (%) dihitung dengan menggunakan rumus:
x kadar glukosa darah kontrol normal - x kadar glukosa darah yang ingin dihitung
%=
x 100 %
x kadar glukosa normal
3.4.6.2 Perhitungan Efektifitas Penurunan Kadar Glukosa Darah Kelompok Uji
Dibandingkan Dengan Metformin HCl
Efektifitas (%) dihitung dengan menggunakan rumus:
% efektifitas = % Efektifitas Kelompok Bahan Uji
% Kadar Glukosa Metformin HCl
3.4.7
x 100%
Pengolahan Data
Data diolah secara statistik dengan menggunakan SPSS. Analisis yang
digunakan adalah uji distribusi normal (uji Shapiro-Wilk), uji homogenitas (uji
Levene). Apabila data yang diperoleh terdistribusi normal dan homogen, maka uji
selanjutnya yang dilakukan adalah uji parametrik ANOVA untuk melihat apakah
terdapat perbedaan signifikan antar kelompok. Jika terdapat perbedaan,
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk melihat kelompok mana
yang berbeda. Apabila diperoleh data yang tidak terdistribusi normal atau tidak
homogen, maka dilanjutkan dengan uji nonparametrik Kruskal–Wallis. Apabila
terdapat perbedaan yang signifikan, dilakukan dengan uji Mann–Whitney untuk
melihat kelompok yang mana berbeda.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini digunakan hewan uji mencit putih jantan galur ddY
yang telah terlebih dahulu diaklimatisasi selama satu minggu agar dapat
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru. Pemilihan mencit jantan
dilakukan dengan pertimbangan mencit mempunyai sensitivitas yang tinggi
dibandingkan hewan uji lainnya terhadap uji antidiabetes dan juga mencit jantan
tidak dipengaruhi oleh faktor homonal seperti halnya mencit betina. Pada
penelitian ini,hewan uji dibagi dalam enam kelompok, satu kelompok normal,
satu kelompok kontrol pembanding, dua kelompok dosis tunggal ekstrak, dan dua
kelompok dosis kombinasi ekstrak.
Metformin HCl digunakan sebagai kontrol pembanding karena mekanisme
kerjanya yang dapat menurunkan kadar glukosa darah melalui peningkatan
sensitivitas insulin pada jaringan perifer dan hepatik sehingga meningkatkan
ambilan glukosa pada jaringan tersebut (Suherman, 2007)
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji toleransi glukosa
oral (TTGO) yaitu mengukur kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa
masuk ke dalam jaringan. Metode ini dipilih karena waktu perlakuan yang singkat
sehingga relatif lebih mudah dilakukan, jika dibandingkan dengan metode induksi
lainnya. Pada metode uji toleransi glukosa, sampel darah yang dibutuhkan hanya
sedikit, yang diambil melalui ekor dengan cara ditusuk pada pembuluh darah vena
hewan uji. Pengukuran dilakukan dengan interval 30 menit, sebab diharapkan
absorbsi glukosa ke dalam jaringan dapat diamati dengan baik.
Pada data yang diperoleh, semua data terdistribusi normal dan homogen.
Kadar glukosa darah rata-rata seluruh kelompok ditunjukkan pada Tabel 4.1,
dimana berdasarkan kadar glukosa darah rata-rata dibuat kurva toleransi glukosa
oral (Gambar 4.1)
25
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
26
Tabel 4.1 Kadar glukosa darah rata-rata (mg/dL) dari seluruh kelompok uji pada
masing-masing waktu
Waktu
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
DA
DO
KN
KP
KE 1
KE 2
T0
67±9,01
58,7±4,78
69,2±10,14
61,5±8,66
73,2±10,62
76,5±15,79
T30
82,7±11,26
65,5±14,54
83,2±13,47
92,5±4,65
101,5±18,80
89±14,60
Tg30
264,2±26,98
63±24,39**
247,6±16,45
250,2±14,47
221,5±30,35*
253,7±20,11
Tg60
214±30,73
39,7±9,42**
171,2±13,07*
166±17,35*
205,5±14,86
176,7±16,53*
Tg90
154,2±16,47
42±10,61**
138,2±21,18
125,2±18,67*
147,7±14.86
138,7±20,21
Tg120
137,2±12,89
70±8,83**
119,2±14,99
112,5±12,12*
130±5,22
112,2±18,89
*bermakna signifikan secara statistik, p < 0,05 dibandingkan kontrol normal, n= 4 (ANOVA)
** bermakna signifikan secara statistik, p < 0,001 dibandingkan kontrol normal, n= 4 (ANOVA)
Keterangan :
T0 = Kadar glukosa darah sebelum perlakuan; T30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah
perlakuan; Tg30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah pemberian glukosa; Tg60 = Kadar
glukosa darah satu jam setelah pemberian glukosa ; Tg90 = Kadar glukosa darah satu setengah
jam setelah pemberian glukosa; Tg120 = Kadar glukosa darah dua jam setelah pemberian glukosa;
DP = Dosis pembanding, diberi metformin 13mg/ 20 g, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; DA
= Dosis alpukat, diberi ekstrak daun alpukat dosis 100 mg/kg bb, kemudian dibebani glukosa 2
g/kg bb; DO = Dosis oyong, diberi ekstrak buah oyong dosis 200 mg/kg bb, kemudian dibebani
glukosa 2 g/kg bb; KE1 = Kombinasi ekstrak 1, diberi ekstrak daun alpukat dosis 100 mg/kg bb
dan buah oyong 200 mg/kg bb, kemudian dibebani glukosa 2 g/kg bb; KE2 = Kombinasi ekstrak 2
diberi ekstrak daun alpukat dosis 50 mg/kg bb dan buah oyong 200 mg/kg bb, kemudian dibebani
glukosa 2 g/kg bb.
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
300
Normal
250
Pembanding
200
Dosis alpukat
150
Dosis Oyong
100
KE 1
KE 2
50
0
T0
T30
Tg30
Tg60
Tg90
Tg120
Waktu (menit)
Gambar 4.1. Kurva kadar glukosa darah rata-rata seluruh kelompok perlakuan
pada masing-masing waktu
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
27
4.1. Kadar Glukosa Darah Sebelum Perlakuan (T0)
Hasil pengukuran kadar glukosa darah rata-rata pada T0 memberikan hasil
diantara 58,7 – 76,5 mg/dL. Setelah dilakukan statistik ANOVA satu arah pada
kadar glukosa darah puasa sebelum perlakuan (T0) diamati bahwa kadar glukosa
darah antar masing-masing kelompok tidak berbeda bermakna antar kelompok
(p > 0,05). Hal ini dapat diamati karena seluruh hewan uji dipuasakan dengan
waktu yang sama sebelum perlakuan, sehingga diperoleh kadar glukosa darah
puasa yang kurang lebih sama untuk seluruh kelompok uji.
4.2. Kadar Glukosa Darah Setengah Jam Setelah Perlakuan (T30)
Pada T30 diperoleh kadar glukosa darah rata-rata dengan
kisaran
65,5– 101,5 mg/dL. Pada kelompok kontrol normal, kelompok dosis alpukat dan
dosis oyong serta kombinasi ekstrak 1 dan 2 terdapat kenaikan kadar glukosa
darah. Akan tetapi, tidak dengan kontrol pembanding tidak terdapat perbedaan
yang berarti dengan kadar glukosa darah puasa. Setelah dilakukan uji BNT,
diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p< 0,05) antara kelompok
kontrol pembanding dengan kelompok dosis oyong, kelompok dosis kombinasi
ekstrak 1 dan 2. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p> 0,05)
antara kelompok dosis ekstrak dan kelompok dosis kombinasi ekstrak. Sehingga
bisa disimpulkan bahwa semua bahan uji belum dapat menurunkan kadar glukosa
jika dibandingkan dengan kelompok normal ataupun kelompok pembanding. Hal
ini dikarenakan pada menit ke-30 (T30) hewan uji belum mendapat pembebanan
glukosa sehingga belum terlihat kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa.
4.3. Kadar Glukosa Darah Setengah Jam Setelah Pemberian Glukosa (Tg30)
Pada setengah jam setelah pemberian glukosa (Tg30), terjadi peningkatan
kadar glukosa darah pada semua kelompok dengan nilai yang berbeda, kecuali
kelompok kontrol pembanding. Pada kelompok kontrol normal peningkatan
kadar glukosa mencapai rata-rata 264,2 mg/dL. Hal ini disebabkan karena pada
setengah jam setelah pembebanan glukosa, sebagian besar glukosa sudah diserap
dari saluran cerna dan masuk ke dalam darah. Sedangkan pada kelompok kontrol
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
28
pembanding, penurunan kadar glukosa darah mencapai rata-rata 63 mg/dL. Pada
semua bahan uji, kenaikan kadar glukosa lebih rendah daripada kontrol normal.
Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat, ekstrak etanol buah
oyong, serta kombinasi ekstrak etanol daun alpukat dan buah oyong memiliki efek
penurunan kadar glukosa pada setengah jam setelah pemberian glukosa.
Setelah dilakukan uji BNT, diamati bahwa terdapat perbedaan yang
bermakna antara kadar glukosa darah pada kelompok kombinasi ekstrak 1 dengan
kelompok kontrol normal dan kontrol pembanding (p < 0,05). Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak 1 memiliki efek penurunan
glukosa darah pada setengah jam setelah pemberian glukosa. Belum ada
penelitian yang membuktikan mekanisme kerja dari daun alpukat ataupun buah
oyong dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian umumnya mengarah
pada senyawa flavonoid dan polifenol pada tanaman yang berkhasiat sebagai
antidiabetes. Senyawa flavonoid dan senyawa polifenol dapat mempengaruhi
penghambatan pencernaan karbohidrat dan penyerapan glukosa di usus, stimulasi
sekresi insulin di pankreas, modulasi pelepasan simpanan glukosa dari hati dan
peningkatan ambilan glukosa pada jaringan perifer (Hanhineva
et al, 2010;
Pandey & Rizki, 2009)). Oleh karena itu senyawa daun alpukat dan buah oyong
yang berperan dalam penurunan kadar glukosa darah
tersebut berasal dari
golongan flavonoid.
4.4. Kadar Glukosa Darah Satu Jam Setelah Pemberian Glukosa (Tg60)
Satu jam setelah pemberian glukosa, kadar glukosa darah pada kelompok
kontrol normal sudah turun ke 214 mg/dL dan kelompok pembanding semakin
turun ke 39,7 mg/dL, sedangkan pada kelompok dosis alpukat, dosis oyong,
kombinasi ekstrak 1 dan 2, kadar glukosa darah sebesar 171,2 ; 166 ; 205 ; 176,7
mg/dL. Nilai pada masing-masing kelompok dosis masih lebih kecil dibandingkan
dengan kelompok kontrol normal dengan kelompok dosis oyong lebih rendah
dibandingkan
kelompok dosis alpukat, kelompok dosis alpukat lebih rendah
dibanding dengan kelompok dosis kombinasi ekstrak 2, dan kelompok dosis
kombinasi ekstrak 2 lebih rendah dibandingkan dosis kombinasi ekstrak 1.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
29
Setelah dilakukan uji BNT, diperoleh data yang menunjukkan perbedaan
yang bermakna antara kadar glukosa darah pada kelompok dosis alpukat,
kelompok dosis oyong, dan kelompok kombinasi ekstrak 2 dengan kontrol normal
(p < 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa pada satu jam setelah pemberian
glukosa, kelompok dosis alpukat, kelompok dosis oyong, dan kelompok dosis
kombinasi ekstrak 2 memiliki efek dalam menurunkan kadar glukosa darah.
Sedangkan pada kombinasi ekstrak 1 sudah tidak memiliki efek lagi secara
signifikan.
Hal ini mungkin disebabkan karena pada kelompok dosis kombinasi
ekstrak 1, dosis ekstrak daun alpukatnya yang terdapat pada larutan kombinasi
lebih sedikit dibandingkan kombinasi ekstrak 2 dikarenakan zat aktif yang masih
terdapat di dalam peredaran darah mencit sudah mencapai konsentrasi yang tidak
menimbulkan efek lagi. Bisa disimpulkan bahwa semakin kecil dosis ekstrak daun
alpukat yang diberikan, efek penurunan kadar akan glukosa darah akan semakin
cepat tetapi durasinya sama.
Daun merupakan tempat terjadinya fotosintesis. Pada proses fotosintesis,
terjadi pembentukan glukosa sebagai sumber energi tumbuhan. Perbedaan waktu
efek penurunan kadar glukosa darah pada kombinasi ekstrak, mungkin disebabkan
senyawa glukosa yang masih tertinggal pada kombinasi ekstrak 1 lebih sedikit,
sehingga glukosa lebih cepat masuk ke jaringan dan efek penurunan kadar
glukosa lebih cepat. Sedangkan pada kombinasi ekstrak 2, senyawa glukosa yang
terkandung pada ekstrak daun alpukat lebih banyak dibandingkan kombinasi
ekstrak 1, sehingga kemampuan kombinasi ekstrak 2 lebih lambat dalam waktu
penurunan kadar glukosa darah.
4.5. Kadar Glukosa Darah Satu Setengah Jam Setelah Pemberian Glukosa (Tg90)
Pada Tg90, kadar glukosa darah pada kelompok kontrol normal dan
kelompok bahan uji berada pada kisaran yang hampir mendekati sama, yaitu
sekitar 125,2 – 154,2 mg/dL, dengan kadar glukosa rata-rata pada kelompok
normal 154,2 mg/dL. Sehingga bisa disimpulkan bahwa semua dosis bahan uji
masih dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
30
Setelah dilakukan uji statistik ANOVA, pada Tg90 memberikan nilai p <
0,05 yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok. Setelah
dilakukan uji BNT, diketahui bahwa perbedaan bermakna terdapat kontrol
kelompok normal dengan dosis oyong. Hal ini menunjukkan bahwa dosis oyong
masih memiliki efek menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan
dibandingkan kelompok dosis alpukat, kombinasi ekstrak 1 dan kombinasi
ekstrak 2 pada satu setengah jam setelah pemberian glukosa. Hal ini disebabkan
konsentrasi
kombinasi
zat aktif
pada kelompok dosis alpukat dan kelompok dosis
sudah menurun, sehingga zat aktif yang tersisa sudah mencapai
konsentrasi yang tidak menimbulkan efek lagi.
4.6 Kadar Glukosa Darah Dua Jam setelah Pemberian Glukosa (Tg120)
Pada dua jam setelah pemberian glukosa diperoleh kadar glukosa rata-rata
70 – 137,2 mg/dL. Pada Tg120 data terdistribusi normal dan homogen. Nilai pada
kelompok masing-masing dosis masih lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok kontrol normal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa semua kelompok
pada masing-masing dosis masih memiliki efek untuk menurunkan kadar glukosa
darah.
Berdasarkan uji BNT, didapatkan bahwa adanya perbedaan bermakna pada
kelompok kontrol normal dengan kontrol pembanding, dan dosis oyong (p <
0,05). Sehingga bisa disimpulkan bahwa dosis kombinasi 1 dan 2 sudah tidak
memiliki efek dalam menurunkan kadar glukosa pada dua jam setelah pemberian
glukosa. Sedangkan dosis oyong masih dapat menurunkan kadar glukosa pada
Tg120. Hal ini mungkin disebabkan karena kandungan protein yang penyusun asam
amino. Asam amino merupakan komponen penyusun insulin, dimana asam amino
dapat meningkatkan sekresi hormon insulin dan respon glukagon
ke dalam
jaringan tubuh semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kadar hormon
insulin ini, maka kadar glukosa darah akan berkurang. (Rosetti et al, 2008)
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
31
4.7. Perhitu
erhitungan Efektivitas
Efekti
Penurunan
Penur
Kadar
Kada Glukosa
kosa D
Darah
Perhitungan
tungan efektivita
ktivitas dilakuka
akukan dengan
ngan membandin
m bandingkan penu
penurunan
n glukosa
gluk
darah antara
antar kelompok
ompok dosis
is alpu
alpukat, dosis oyong,
g, dos
dosis kombina
mbinasi 1 dan dosis
d
kombinasi
inasi 2 dengan
gan kontrol
ko
l pemb
pembanding.
ng. Perhitungan
Per
gan eefektivitas
itas hhanya dilakukan
dilaku
pada Tg30 dan Tg60 karena
ena ppada waktu-waktu
waktu
tu ter
tersebut diam
diamati efek
fek yang
y
bermakna secara statistik.
statist
Tabell 4.2. Hasil perhit
perhitungan
n % penurunan
pe
nan kadar
ka
glukos
lukosa darah
Persen
Persentase
Penurunan
Penur
Kadar Glukosa
kosa D
Darah (%)
Waktu
aktu
Kontrol
ontrol
pembandin
banding
Dosi
Dosis
alpukat
alpuk
Dosis oyong
Kombinasi
K
ekstrak 1
Kombinasi
inasi
ekstrak 2
Tg30
76,15
6,28
5,29
16,16*(0,022)
16
3,97
Tg60
81,44
3,97
,025)
17,42*(0,025)
*(
20,00*(0.012)
22,42*(0,005)
Persentase Penurunan Kadar Glukosa
Darah (%)
*berma
bermakna signifik
gnifikan secara
ara statistik,
st
p < 0,05 diband
ibandingkann kont
kontrol normal,
rmal,
n= 4 (ANOVA)
(A
90,00%
80,00%
81,44%
76,15%
76
70,00%
60,00%
50,00%
Tg30
30
40,00%
30,00%
20%
20,00%
6,28
6,28%
10,00%
22
22,42%
16,16%
16%
5,29%
,29%
17,42%
,42%
Tg60
60
3,97
3,97%
3,97%
0,00%
DP
DA
DO
KEE 1
KE 2
Kelompok
pok dosis
Gam
Gambar
4.2 Grafik perhitungan
perhit
n % penurunan
pe
nan kadar
ka
glukos
glukosa darah
Keterangan:
ngan:
Tg30 = Kada
Kadar glukosa darah
da
setengah
engah jam setelah
telah pemberian
rian glukosa;
gl
Tg6
Tg60 = Kadar
ar glukosa
glu
darah satu jam
ja setelah
lah pemberian
pem
glukosa;
gluko DP = Dosis
Do pembandi
banding, diberi
eri me
metformin 13mg/
13mg 20
g, kemudian
udian dibebanii glukosa
gluk
2 g/kg
/kg bbb; DA = Dosis
Dos alpukat,
kat, ddiberi ekstrak
strak ddaun alpukat
pukat dosis
100 mg/kg
/kg bbb, kemudian
udian dibebani
ni glukosa
gluk
2 g/kg bb;
b DO = Dosis
Do oyong,
ng, ddiberi ekstrak
strak buah
oyong dosis 200 mg/kg
/kg bb
bb, kemudian
dian dibebanii glukosa
gluko 2 g/kg
/kg bb
bb; KE1 = Kom
Kombinasii ekstrak
ekstr 1,
diberi ekstrak
kstrak daun alpukat
lpukat dosis 100
00 mg
mg/kg bb dan buah
b
oyong
ng 200
20 mg/kgg bb, kkemudian dibebani
dibe
glukosa 2 g/k
g/kg bb; KE2 = Kombinasi ekstrak
ek
2 diber
iberi ekstrak
k daun alpukatt dosi
dosis 50 mg/kg
/kg bb dan
buah oyong
ong 200
2 mg/kg
kg bb, kemudian dibebani
dib
glukos
lukosa 2 g/kg bb.
Univer
niversitas Indon
ndonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
32
Tabell 4.3
4.3. Hasil
sil pe
perhitungan
ngan efektifitas
tifitas bahan
an uji
u dibandin
ibandingkan
n dengan
den
metformin
tformin HCl
Efekt
Efektifitas
bahan uji dibandi
ibandingkan
n dengan
deng Metform
etformin HCl
Cl (%
(%)
Waktu
Dosis alpukat
D
Dosis
oyong
Kombinasi
binasi
ekstrak 1
Kombin
ombinasi
ekstrak 2
Tg30
8,
8,24
6,95
21,22**
5,21
Tg60
24,
24,55*
27,53*
4,87
21,38
21,38*
Efektifitas bahan uji dibandingkan
dengan metformin HCl %
*bermak
ermakna signifika
nifikan secara
ara statistik,
st
p < 0,05 dibandingkan
diban
an ko
kontrol
normal,
rmal, n=
n 4 (ANOV
NOVA)
27,53%
30,00%
24,55%
25,00%
21,22%
21,38%
20,00%
Tg30
15,00%
10,00%
8,24%
Tg60
6,95%
4,87%
5,21%
5,00%
0,00%
DA
DO
KE 1
KE 2
Kelompokk Dosis
Do
Grafikk 4.3 Grafik efek
fektifitass bahan
baha uji dibandingkan
diband
an dengan
den
metfor
metformin HCl
Keterangan:
ngan:
Tg30 = Kada
Kadar glukosa
osa da
darah setengah
engah jam setelah
telah pemberian
rian glukosa;
gl
Tg6
Tg60 = Kadar
ar glukosa
glu
darah satu jam
ja setelah
ah pemberian
pem
glukosa;
gluko DA = Dosis
Do alpukat,
kat, diberi
d
ekstrak
strak ddaun alpukat
pukat dosis
100 mg/kg
/kg bbb, kemudian
udian dibebani
ni glukosa
gluk
2 g/kg bb;
b DO = Dosis
Do oyong,
ng, ddiberi ekstrak
strak buah
oyong dosis 200 mg/kg
/kg bb
bb, kemudian
dian dibebanii glukosa
gluko 2 g/kg
/kg bb
bb; KE1 = Kom
Kombinasi ekstr
strak 1,
diberi ekstrak
kstrak daun alpukat
lpukat dosis 100
00 mg
mg/kg bb dan buah
b
oyong
ng 200
20 mg/kgg bb, kkemudian dibebani
dibe
glukosa 2 g/k
g/kg bb; KE2 = Kombinasi ekstrak
ek
2 diber
iberi ekstrak
k daun alpukatt dosi
dosis 50 mg/kg
/kg bb dan
buah oyong
ong 200
2 mg/kg
kg bb, kemudian dibebani
dib
glukos
lukosa 2 g/kg bb.
Ha perhitu
Hasil
erhitungan efektifitas
efekti
menunjukkan
menu
an bahwa
ba
pada T
Tg30 kelompok
kelom
bahan uji memiliki
m
ef
efektifitas
tas yang
ya berbeda
erbeda. Kombina
mbinasi ekstrak
strak 1 lebih
ih efektif
efe
dibandingka
dingkan kombin
ombinasi ekstrak
kstrak 2. Tetapi sebalikny
aliknya, pada
ada T
Tg60 kombinasi
kombi
ekstrak
k 2 lebih
l
efektif
efekti pada
da kombinasi
ko
asi ekstrak
ek
1. Hal
H inii sejal
sejalan dengan
engan uji
Univer
niversitas Indon
ndonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
33
statistik kadar glukosa darah yang dilakukan sebelumnya yang menyatakan bahwa
dosis kombinasi ekstrak 1 bermakna secara signifikan pada tiga puluh menit
setelah pemberian glukosa. Sedangkan kombinasi ekstrak 2 bermakna secara
signifikan pada satu jam setelah pemberian
glukosa. Sehingga bisa diambil
kesimpulan bahwa semakin kecil dosis daun alpukat yang dikombinasikan, maka
akan semakin cepat efek terhadap penurunan kadar glukosa darah, dan sebaliknya.
Semakin besar dosis daun alpukat yang dikombinasikan, maka akan semakin lama
efek terhadap penurunan kadar glukosa darah.
Bisa disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun alpukat-buah oyong
belum memberikan hasil yang lebih baik terhadap penurunan kadar glukosa darah
jika dibandingkan dosis tunggal buah oyong. Ekstrak buah oyong dapat
memberikan efek penurunan kadar glukosa darah lebih lama dengan durasi satu
jam setelah dibebani glukosa, sedangkan kombinasi ekstrak hanya dapat
menurunkan kadar glukosa darah dengan durasi 30 menit setelah dibebani
glukosa.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pemberian kombinasi ekstrak 1, dengan dosis daun alpukat 50 mg/kg bb
dan buah oyong 200 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah yang
bermakna secara statistik pada setengah jam setelah pemberian glukosa,
sedangkan kombinasi ekstrak 2, dengan daun alpukat 100 mg/kg bb dan buah
oyong 200 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah yang bermakna pada
satu jam setelah pemberian glukosa.
5.2 Saran
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui efek antidiabetik
kombinasi ekstrak pada model hewan uji lain diabetes mellitus yang diinduksi
streptozotosin yang lebih mewakili penyakit diabetes mellitus. Penelitian untuk
mengetahui senyawa aktif yang berperan dan mekanismenya dalam penurunan
kadar glukosa darah juga perlu untuk dilakukan.
34
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
DAFTAR ACUAN
Antia, B.S., Okokon, J.E., Okon, P.A. (2005). Hipoglikemic Activity of Aqueous
Leaf Extract of Persea americana Mill. Indian Journal Pharmacol .Vol
37, 325-326.
Asaolu, M.F et al. (2010). Evaluation of in-vitro Antioxidant Activities of
Methanol Extract of Persea americana and Cnidosculus aconitifolius.
Pakistan Journal of Nutrition. 9(11) : 1074 -1077.
Brai, B.I.C., Odetola, A.A., Agomo, P.U. (2007). Effects of Persea americana
Leaf Extracts On Body Weight and Liver Lipids in Rats Fed
Hyperlipidaemic Diet. African Journal of Biotechnology. 6(8), 1007-1011.
Corwin, E. T. (2008). Handbook of pathophysiology. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins, 624-630.
Departemen Kesehatan RI. (1978). Materia Medika Indonesia. (jilid ke-3).
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 20-25.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum
Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Depkes RI, 7-11.
Departemen Kesehatan RI. (2005). Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes
Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan RI,5-15.
DiPiro, J,T., Talbert, L, R., Yees, C, G., Matzke, R, G., Wells, G, B., Posey, M, L.
(2005). Pharmacotherapy: A Patophysiologic Approach. (6th Ed.). New
York: Mc Graw Hill, 1334-1337.
Dubowsky, K. M. (2008). An O-toluidine Method for Body-Fluid Glucose
Determination. Clin Chem, 54 (11): 1919-20.
Etuk. (2010). Animals Models for Studying Diabetes Mellitus. Agriculture and
Biology Journal of North America 1(2): 130-134.
Gowtham,K. N. P., Kuppast,I. J., Mankani,K. L. (2012). A Review On Luffa
Acutangula. International Journal Of Pharma World Reseach. Vol 3 Issue
1: 1-15.
Guven, S., Matfin, G., Kuenzi, J. Diabetes Mellitus and the Methabolic
Syndrome. Dalam: Porth, Carol Mattson., Matfin Glenn. (2009).
35
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
36
Pathophysiology Concepts of Altered Health States. Philadelphia:
Lappincortt William & Wilkins, 1056-1065.
Hanhineva, K., et al. (2010). Impact of dietary polyphenols on carbohydrate
metabolism. Int J Mol Sci, 11, 1365-1402.
Heyne,K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia (Jilid I). Jakarta : Badan Litbang
KehutananYayasan Sarana Wanajaya, 607-608.
Hidayat, Aziz A. (2011). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif.
Surabaya: Health Books Publishing, 64-69.
Hones, J., Muller, P., & Surrige, N. (2008). The Technology Behind Glucose
Meters: test strips. Diabetes Technol Ther. 10-13.
Hutapea et al. 2001. Inventarisasi Tanaman Obat Indonesia (I), jilid 2. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan. 265-266.
Jyothi, V., Ambati, Srinath,. Jyothi Asha. (2010). The Pharmacognostic,
Phytochemical
and
Pharmalogical
Profile
Of
Luffa
acutangula.
International Journal Of Pharmacy and Technology. Vol 2 Issue 4: 512524.
Katno., Pramono, S. (2008). Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan
Obat Tradisional. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada.1-14.
Katzung, Bertram G. (2006). Basic and Clinical Pharmacology. (10th Ed.). New
York: McGraw-Hill.1257- 1280.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Januari 24, 2011. Tahun 2030
Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang.
http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/414-tahun-2030prevalen
si-diabetes-melitus-di-indonesia-mencapai-213-juta-orang.html.
pada tanggal 21 Januari 2012 pukul 19.00.
Lenzen, S. (2008). The Mechanisms of Alloxan and Streptozotocin-Induced
Diabetes. Diabetologia, 51, 216-226.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
37
Nicolucci, Antonio., Rossi, Maria Chiara. (2008). Incretin-Based Therapies: a
New Potential Ttreatment Approach to Overcome Clinical Inertia in Type 2
Diabetes. Acta Biomed, 79, 184-191.
Pandey, Kanti Bhooshan., Rizvi, Syed Ibrahim. (2009). Plant Polyphenols as
Dietary Antioxidants in Human Health and Disease. Oxidative Medicine and
Cellular Longevity, 2 (5), 270-278.
Piero, Ngugi et al. (2012). Herbal Management of Diabetes Mellitus: A Rapidly
Expanding
Research
Avenue.
International
Journal
Current
Pharmaceutical Research. Vol 4 Issue 2, 1-4.
Price, S. A., Wilson, L.M. (2000). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Vol 2. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Rahman, A.H.M.M., Anisuzzaman M., Ahmed, Ferdous, Islam, A.K.M. Rafiul,
dan Naderuzzaman, A.T.M. (2008). Study of Nutritive Value and
Medicinal Uses of Cultivated Cucurbits. Journal of Applied Sciences
Research, 4(5): 555-558.
Roche Diagnostics. (2009). Accu-Chek Active; Test Strips. Germany : Mannheim.
Rossetti, Paolo et al. (2008). Effect of Oral Amino Acids on Counterregulatory
Responses and Cognitive Function During Insulin-Induced Hypoglycemia
in Nondiabetic and Type 1 Diabetic People. Jurnal Diabetes, Vol
57..http://diabetes.diabetesjournals.org/content/57/7/1905.full pada 6 Juni
2012 pukul 20.00.
Rukmana, R. (2000). Budidaya Alpukat. Yogyakarta : Kanisius, 5-10
Santoso, S. (1993). Cermin Dunia Kedokteran: Penggunaan Obat Tradisional
Secara Rasional. Penerbit: Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kimia
Farma. 1-4.
Suharmiati. (2003). Cermin Dunia Kedokteran: Pengujian Bioaktivitas Anti
Diabetes Mellitus Tumbuhan Obat. Penerbit: Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kimia Farma. 8-13.
Sukandar, Yulinah, Elin., Andrajati, Retnosari., Sigit, I, Joseph., Adnyana, Ketut,
I., Setiadi, Prayitno, Adji, A., Kusnandar. (2008). ISO Farmakoterapi.
Jakarta: PT. ISFI Penerbitan, 26-28.
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
38
Suherman, Suharti K. Insulin dan antidiabetik oral. Dalam: Gunawan,S.G.,
R.Setiabudy, Nafrialdi, Elysabeth. (2007). Farmakologi dan Terapi.
Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 481-495.
Trihendrati, C. 2011. Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik SPSS 19.
Yogyakarta: Penerbit ANDI. 93-150.
Wadkar, K.A., Magdum, C.S., Patil, S.S., and Naikwade, N.S (2007) Antidiabetic Potential And Indian Medical Plants. Journal of Herbal
Medicine and Toxicology 2 (1) 45-50.
Wells, B., Dipiro, J., Schwinghammer, T., Dipiro, C. (2009). Pharmacotherapy
Handbook Seventh Edition. New York: Mc Graw Hill Medical. 210 -220.
World Health Organization. (2003). Manual of basic techniques for a health
laboratory. (Ed. Ke-2). Genewa: World Health Organization. 322-324.
Yuniarti, T. (2008). Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta:
MedPress. 100.
Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica.(1993). Penapisan
Farmalogi,
Pengujian
Fitokimia
dan
pengujian
Klinik.
Yayasan
Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica. 15-17
Universitas Indonesia
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
GAMBAR
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
39
Gambar
bar 3.1. Ekstrak
kstrak etanol
ol daun
dau alpukat
ukat
Gambar
mbar 3.2. Ekstrak
Ekstra etanol buah
bu oyong
Ga
Gambar
3.33. Glukometer
ometer Accu-Che
Chek Active®
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
40
300
250
200
150
100
50
0
T0
T30
Normal
Tg30
Tg60
Tg90
Waktu (menit)
Pembanding
Dosis alpukat
Tg120
Keterangan :
T0 = Kadar glukosa darah sebelum perlakuan; T30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah
perlakuan; Tg30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah pemberian glukosa; Tg60 = Kadar
glukosa darah satu jam setelah pemberian glukosa; Tg90 = Kadar glukosa darah satu setengah jam
setelah pemberian glukosa; Tg120 = Kadar glukosa darah dua jam setelah pemberian glukosa.
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
Gambar 4.4 Kurva kadar glukosa darah rata-rata kelompok dosis alpukat, kontrol
pembanding, dan kontrol normal
300
250
200
150
100
50
0
T0
T30
Normal
Tg30
Tg60
Waktu (menit)
Pembanding
Tg90
Tg120
Dosis Oyong
Keterangan :
T0 = Kadar glukosa darah sebelum perlakuan; T30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah
perlakuan; Tg30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah pemberian glukosa; Tg60 = Kadar
glukosa darah satu jam setelah pemberian glukosa; Tg90 = Kadar glukosa darah satu setengah jam
setelah pemberian glukosa; Tg120 = Kadar glukosa darah dua jam setelah pemberian glukosa.
Gambar 4.5 Kadar glukosa darah rata-rata kelompok dosis oyong, kontrol
pembanding, dan kontrol normal
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
41
300
250
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
200
150
100
50
0
T0
T30
Normal
Tg30
Tg60
Waktu (menit)
Tg90
Pembanding
Tg120
KE 1
Keterangan :
T0 = Kadar glukosa darah sebelum perlakuan; T30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah
perlakuan; Tg30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah pemberian glukosa; Tg60 = Kadar
glukosa darah satu jam setelah pemberian glukosa; Tg90 = Kadar glukosa darah satu setengah jam
setelah pemberian glukosa; Tg120 = Kadar glukosa darah dua jam setelah pemberian glukosa; KE1
= Kombinasi ekstrak 1.
Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
Gambar 4.6. Kadar glukosa darah rata-rata kelompok
kontrol pembanding, dan kontrol normal
kombinasi ekstrak 1,
300
250
200
150
100
50
0
T0
T30
Normal
Tg30
Tg60
Waktu (menit)
Pembanding
Tg90
Tg120
KE 2
Keterangan :
T0 = Kadar glukosa darah sebelum perlakuan; T30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah
perlakuan; Tg30 = Kadar glukosa darah setengah jam setelah pemberian glukosa; Tg60 = Kadar
glukosa darah satu jam setelah pemberian glukosa; Tg90 = Kadar glukosa darah satu setengah jam
setelah pemberian glukosa; Tg120 = Kadar glukosa darah dua jam setelah pemberian glukosa; KE2
= Kombinasi ekstrak 2.
Gambar 4.7. Kadar glukosa darah rata-rata kombinasi ekstrak 2, kontrol
pembanding, dan kontrol normal
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
TABEL
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
42
Tabel 4.4 Kadar glukosa darah (mg/dL) dari seluruh kelompok uji pada masingmasing kelompok
Perlakuan
T0
T30
Tg30
Tg60
Tg90
Tg120
74
83
300
214
172
152
54
67
268
230
163
125
Normal
72
93
252
171
147
144
68
88
237
241
135
128
x±SD
67±9,01
82,7±11,26 264,2±26,98
214±30,73
154,2±16,47 137,2±12,89
57
60
61
29
27
64
53
64
44
36
49
83
pembanding
64
86
98
51
50
65
61
52
49
43
42
68
x±SD
58,7±4,78 65,5±14,54
63±24,39**
39,7±9,42**
42±10,61**
70±8,83**
61
67
239
184
155
126
60
83
265
173
157
135
Dosis alpukat
77
83
249
153
127
116
79
100
276
175
114
100
x±SD
69,2±10,14 83,2±13,47 247,6±16,45 171,2±13,07* 138,2±21,18 119,2±14,99
61
87
241
158
116
100
52
94
252
192
151
129
Dosis Oyong
73
98
238
158
126
112
60
91
270
156
108
109
x±SD
61,5±8,66
92,5±4,65
250,2±14,47
166±17,35* 125,2±18,67* 112,5±12,12*
74
100
248
219
141
126
86
125
238
236
135
137
KE 1
73
102
230
202
169
131
60
79
170
165
146
126
x±SD
73,2±10,62 101,5±18,80 221,5±35,11* 205,5±30,35 147,7±30,35
130±5,22
89
102
230
173
121
115
89
97
271
200
164
140
KE 2
72
90
243
179
153
135
56
67
271
155
117
99
x±SD
76,5±15,79
89±14,60
235,7±20,11 176,7±16,53* 138,75±20,21 112,2±18,89
*bermakna signifikan secara statistik, p < 0,05 dibandingkan kontrol normal, n= 4 (ANOVA)
** bermakna signifikan secara statistik, p < 0,001 dibandingkan kontrol normal, n= 4 (ANOVA
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
LAMPIRAN
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
43
Lampiran 1. Perhitungan dosis
1. Ekstrak Daun Alpukat
Dosis daun alpukat yang digunakan merupakan dosis dari hasil penelitian
yaitu sebesar 100 mg/kg bb (Antia., Okokon., & Okon.,2010)
Variasi dosis yang digunakan adalah 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb. Dosis
tersebut kemudian dikonversikan ke dosis tikus dahulu dan dikalikan faktor
konversi dari tikus ke mencit sebesar 0,14
• Dosis 1
= 50 mg/kg bb =
= 50 mg x 200 g x 0,14 = 1,4 mg/ 20 g bb
1000 g
• Dosis 2
= 100 mg/kg bb
= 100 mg x 200 g x 0,14 = 2,8 mg/ 20 g bb
1000 g
2. Ekstrak Buah Oyong
Dosis daun alpukat yang digunakan merupakan dosis dari hasil penelitian
yaitu sebesar 200 mg/kg bb
Dosis
= 200 mg/kg bb
= 200 mg x 200 g x 0,14 = 5.6 mg/ 20 g bb
1000 g
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
44
Lampiran 2. Pembuatan ekstrak bahan uji kombinasi
Pada penelitian ini, volume peroral yang diberikan adalah 0,5 ml untuk
masing-masing hewan uji. Dalam 0,5 ml tersebut, terdapat 0,25 ml ekstrak daun
alpukat dan 0,25 ml ekstrak buah oyong dalam suspensi CMC 0,5%.
1. Ekstrak Daun Alpukat
Variasi dosis alpukat diberikan dengan dosis
• Dosis 1 = 50 mg/kg bb = 1,4 mg/20 g
• Dosis 2 = 100 mg/kg bb = 2,8 mg/20 g
Volume larutan yang diberikan adalah 0,25 ml, maka volume yang
dibutuhkan untuk masing-masing dosis dalam satu hari adalah:
Dosis 2 : 0,25 ml x 4 ekor = 1 ml
Dosis 1 : ½ x 1 ml
= 0,5 ml
Untuk suspensi bahan uji dosis 1 dibuat dengan pengenceran dari dosis 2, Jumlah
total dari bahan uji dosis 2 yang dibutuhkan adalah = 1 + 0,5 = 1,5 ml ~ 10 ml.
Banyaknya ekstrak yang harus ditimbang (dosis 2 = 2,8 mg/20 gr bb)
10 ml/0,25 ml x 2,8 mg = 112 mg dilebihkan dengan kadar air 1,257% (lihat
Lampiran 3) = 112 mg + 1,407 mg = 113,407 mg disuspensikan dalam larutan
CMC 0,5% sampai 10 ml. Sedangkan untuk dosis 1 adalah pengenceran dari dosis
2.
2. Ekstrak Buah Oyong
Ekstrak buah oyong yang digunakan 200 mg/kg bb = 5,6 mg/20 g
Volume larutan yang diberikan adalah 0,25 ml, maka volume yang dibutuhkan
untuk masing-masing dosis dalam satu hari adalah:
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
45
Dosis oyong = 0,25 ml x 9 tikus = 2,25 ml~5 ml
• Hasil rendemen ekstrak : 15,25%
• Rendemen ekstrak yang berasal dari jurnal = 3,2 %
Berat ekstrak yang ditimbang :
5,6/3,2 x 15,25 = 26,687/0,25 x 5 ml = 533,75 mg
Disuspensikan dalam larutan CMC 0,5% sampai 5 ml
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
46
Lampiran 3 . Perhitungan kadar air ekstrak etanol daun alpukat
Metode : Gravimetri
Cara kerja:
10 g ekstrak ditimbang pada cawan penguap,keringkan pada suhu 105oC
selama 5 jam, lalu timbang. Pengeringan dilanjutkan dan ditimbang pada jarak 1
jam hingga perbedaan antara 2 penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%.
Lakukan tiga kali. . (Departemen Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan, 2000)
Berat cawan penguap kosong (a)
Cawan penguap I
= 20,7400
Cawan penguap II
= 20,3912
Cawan penguap III
= 20,8305
Cawan penguap
w sebelum dioven
w stabil (c)
w konstan (d)
(b)
I
31,4403
31,3138
31,3046
II
30,4052
30,2880
30,2797
III
31,0873
30,9610
30,9595
% air =
Cawan penguap I
= (31,4403 – 20,7400) – (31,3046 - 20,7400)
(31,4403 – 20,7400)
= 10,7003 – 10,5646
10,7003
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
47
= 0,1357 x 100% = 12,68%
10,7003
Cawan penguap II
= (30,4052 – 20,3912) – (30,2797 - 20,3912)
(30,4052 – 20,39120)
= 10,014 – 9,8885
10,014
= 0,129 x 100% = 12,88%
10,014
Cawan penguap II
= (31,0873 – 20,8305) – (30,9595 - 20,8305)
(31,0873 – 20,8305)
= 10,2568 – 10,129
10,2568
= 0,1278 x 100% = 12,46%
10,2568
Rata –rata kadar air = (12,68 + 12,88 + 12,46)%
3
= 38.03 = 12,67 %
3
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
48
Lampiran 4. Perhitungan kadar air ekstrak etanol buah oyong
Sebanyak 1 g ekstrak ditimbang seksama lalu dimasukkan ke dalam botol
timbang yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105oC selama 30 menit dan
telah ditara. Sebelum ditimbang, ekstrak diratakan dalam botol timbang dengan
menggunakan batang pengaduk hingga merupakan lapisan setebal kurang lebih 5
mm-10 mm. Botol timbang dalam posisi tidak tertutup dimasukkan ke dalam
oven lalu dikeringkan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Sebelum setiap
pengeringan, botol timbang dalam posisi tertutup dibiarkan mendingin terlebih
dahulu dalam eksikator hingga suhu ruangan. (Departemen Kesehatan RI &
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 2000)
Berat Ekstrak yang Ditimbang
Berat Akhir
Berat yang Hilang
Kadar air
(g)
(g)
(g)
(%)
1,3605
1,0360
0,3245
23,85
1,0883
0,8369
0,2514
23,10
1,4105
1,0661
0,3444
24,42
Cawan penguap I
= (1,3605 – 1,0360)
1,3605
= 0,3245 x 100% = 23,85 %
1,3605
Cawan penguap II
= (1,0883 – 0,8369)
1,0883
= 0,2514 x 100% = 23,10 %
1,0883
Cawan penguap III = (1,4105 – 1,0661)
1,4105
= 0,3444 x 100% = 24,42 %
1,4105
Rata–rata kadar air = (23,85 + 23,10 + 24,42) %
3
= 23,79%
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
49
Lampiran 5. Hasil determinasi simplisia bahan uji daun alpukat
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
50
Lampiran 6. Hasil determinasi simplisia bahan uji buah oyong
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
51
Lampiran 7. Sertifikat analisa metformin HCl
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
52
Lampiran 8. Sertifikat analisa glukosa monohidrat
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
53
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
54
Lampiran 9. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
Uji Sebelum Perlakuan (T0) (SPSS 19)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada T0
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada T0 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
Df
Sig.
Normal
,851
4
,230
Pembanding
,984
4
,925
Dosis Alpukat
,800
4
,103
Dosis Oyong
,947
4
,699
Alpukat-oyong1
,882
4
,780
Alpukat-Oyong2
,822
4
,275
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk kelompok kontrol normal
Kesimpulan
: Ho diterima, data kadar glukosa darah pada T0 terdistribusi
normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada T0
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada T0 bervariasi homogen atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
55
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Levene
Statistic
1,389
Hasil
df1
df2
5
18
Sig.
,275
: Nilai signifikansi > α
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada T0 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
T0
Tujuan
: Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada T0
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Between Groups
Within Groups
Total
Nilai signifikansi > α
Sum of
Squares
918,708
1938,250
2856,958
df
Mean Square
5
183,742
18
107,681
23
F
1,706
Sig.
,184
Kesimpulan : Ho diterima,tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar
glukosa darah antar kelompok uji pada T0
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
56
Lampiran 10. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok Setengah Jam Setelah Perlakuan (T30) (SPSS 19)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada T30
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh
kelompok pada T30 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
Df
Sig.
Normal
,918
4
,528
Pembanding
,910
4
,480
Dosis Alpukat
,944
4
,680
Dosis Oyong
,999
4
,998
Alpukat-oyong1
,802
4
,791
Alpukat-Oyong2
,852
4
,365
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk semua kelompok
Kesimpulan
: Ho diterima, data kadar glukosa darah seluruh hewan uji pada
T30 terdistribusi normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada T30
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada T30 bervariasi homogen atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
57
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Levene
Statistic
,495
Hasil
df1
df2
5
18
Sig.
,776
: Nilai signifikansi > α
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada T30 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
T30
Tujuan
: Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada T30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Between Groups
Within Groups
Total
Hasil
Sum of
Squares
2918,000
3404,500
6322,500
df
Mean Square
5
583,600
18
189,139
23
F
3,086
Sig.
,035
: Nilai signifikansi < α
Kesimpulan : Ho ditolak, terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa
darah antar kelompok uji pada T30
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
58
D. Uji Beda Nyata Terkecil pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok Hewan
Uji pada T30
Tujuan
: Untuk mengetahui antar kelompok yang mana saja terdapat perbedaan
kadar glukosa darah yang bermakna pada T30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah tikus tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah tikus berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
(I)
Kelompok
Normal
(J) Kelompok
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Pembanding Normal
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Alpukat
Pembanding
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Oyong
Pembanding
Dosis Alpukat
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
AlpukatNormal
oyong1
Pembanding
Dosis Alpukat
Mean
Differen
ce (I-J)
17,250
-,500
-9,750
-18,750
-6,250
-17,250
-17,750
-27,000*
-36,000*
-23,500*
,500
17,750
-9,250
-18,250
-5,750
9,750
27,000*
9,250
-9,000
3,500
18,750
36,000*
18,250
Std.
Error
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
Sig.
,093
,960
,329
,070
,529
,093
,085
,012
,002
,027
,960
,085
,354
,077
,562
,329
,012
,354
,367
,723
,070
,002
,077
95% Confidence
Interval
Lower
Upper
Bound
Bound
-3,18
37,68
-20,93
19,93
-30,18
10,68
-39,18
1,68
-26,68
14,18
-37,68
3,18
-38,18
2,68
-47,43
-6,57
-56,43
-15,57
-43,93
-3,07
-19,93
20,93
-2,68
38,18
-29,68
11,18
-38,68
2,18
-26,18
14,68
-10,68
30,18
6,57
47,43
-11,18
29,68
-29,43
11,43
-16,93
23,93
-1,68
39,18
15,57
56,43
-2,18
38,68
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
59
Dosis Oyong
Alpukat-Oyong2
Normal
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
AlpukatOyong2
Hasil
:
9,000
12,500
6,250
23,500*
5,750
-3,500
-12,500
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
9,725
,367
,215
,529
,027
,562
,723
,215
-11,43
-7,93
-14,18
3,07
-14,68
-23,93
-32,93
29,43
32,93
26,68
43,93
26,18
16,93
7,93
Nilai signifikansi < α antar kontrol pembanding dengan dosis
oyong,
kombinasi ekstrak alpukat-oyong1, kombinasi ekstrak
alpukat-oyong2
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah antar
kelompok kontrol pembanding dengan dosis oyong, kombinasi
ekstrak alpukat-oyong1, kombinasi ekstrak alpukat-oyong2 pada
T30
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
60
Lampiran 11. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
Tiga Puluh Menit Setelah Pemberian Glukosa (Tg30)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada Tg30
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg30 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
Df
Sig.
Normal
,918
4
,822
Pembanding
,910
4
,247
Dosis Alpukat
,944
4
,847
Dosis Oyong
,999
4
,444
Alpukat-oyong1
,802
4
,134
Alpukat-Oyong2
,852
4
,213
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk semua kelompok
Kesimpulan
: Ho diterima, data kadar glukosa darah seluruh hewan uji pada
Tg30 terdistribusi normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada Tg30
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg30 bervariasi homogen atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
61
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Levene
Statistic
,759
Hasil
df1
df2
5
18
Sig.
,591
: Nilai signifikansi > α
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada Tg30 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
Tg30
Tujuan
: Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada Tg30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Between Groups
Within Groups
Total
Hasil
Sum of
Squares
120137,333
10386,000
130523,333
df
Mean Square
5
24027,467
18
577,000
23
F
41,642
Sig.
,000
: Nilai signifikansi < α
Kesimpulan : Ho ditolak, terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa
darah antar kelompok uji pada Tg30
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
62
D. Uji Beda Nyata Terkecil pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok Hewan
Uji pada Tg30
Tujuan
: Untuk mengetahui antar kelompok yang mana saja terdapat perbedaan
kadar glukosa darah yang bermakna pada Tg30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah tikus tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah tikus berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
(I)
Kelompok
Normal
(J) Kelompok
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Pembanding Normal
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Alpukat
Pembanding
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Oyong
Pembanding
Dosis Alpukat
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
AlpukatNormal
oyong1
Pembanding
Dosis Alpukat
Mean
Differenc
e (I-J)
201,250*
7,000
14,000
42,750*
10,500
-201,250*
-194,250*
-187,250*
-158,500*
-190,750*
-7,000
194,250*
7,000
35,750*
3,500
-14,000
187,250*
-7,000
28,750
-3,500
-42,750*
158,500*
-35,750*
Std.
Error
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
Sig.
,000
,685
,421
,022
,544
,000
,000
,000
,000
,000
,685
,000
,685
,050
,839
,421
,000
,685
,108
,839
,022
,000
,050
95% Confidence
Interval
Lower
Upper
Bound
Bound
165,57
236,93
-28,68
42,68
-21,68
49,68
7,07
78,43
-25,18
46,18
-236,93
-165,57
-229,93
-158,57
-222,93
-151,57
-194,18
-122,82
-226,43
-155,07
-42,68
28,68
158,57
229,93
-28,68
42,68
,07
71,43
-32,18
39,18
-49,68
21,68
151,57
222,93
-42,68
28,68
-6,93
64,43
-39,18
32,18
-78,43
-7,07
122,82
194,18
-71,43
-,07
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
63
Dosis Oyong
Alpukat-Oyong2
Normal
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
AlpukatOyong2
Hasil
:
-28,750
-32,250
-10,500
190,750*
-3,500
3,500
32,250
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
16,985
,108
,074
,544
,000
,839
,839
,074
-64,43
-67,93
-46,18
155,07
-39,18
-32,18
-3,43
6,93
3,43
25,18
226,43
32,18
39,18
67,93
Nilai signifikansi < α antar kelompok kontrol normal dengan
kontrol pembanding, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 1 dan
kontrol pembanding dengan dosis alpukat, dosis oyong, kombinasi
ekstrak alpukat-oyong 1 dan kombinasi ekstrak alpukat-oyong 2
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah antar
kelompok kontrol normal dengan kontrol pembanding, kombinasi
ekstrak alpukat-oyong 1 dan kontrol pembanding dengan dosis
alpukat, doais oyong, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 1 dan
kombinasi ekstrak alpukat-oyong 2 pada Tg30.
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
64
Lampiran 12. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
Satu Jam Setelah Pemberian Glukosa (Tg60) (SPSS 19)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada Tg60
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg60 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi ≥ 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
df
Sig.
Normal
,910
4
,480
Pembanding
,994
4
,977
Dosis Alpukat
,913
4
,499
Dosis Oyong
,677
4
,006
Alpukat-oyong1
,992
4
,803
Alpukat-Oyong2
,890
4
,941
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk semua kelompok
Kesimpulan
: Ho diterima, data kadar glukosa darah seluruh hewan uji pada
Tg60 terdistribusi normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada Tg60
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg60 bervariasi homogen atau tidak
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
65
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi <0,05
Hasil
Levene Statistic
df1
df2
Sig.
1,038
5
18
,426
: Nilai signifikansi > α
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada Tg60 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
Tg60
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada Tg30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi ≥ 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Sum of
Squares
Between Groups
Within Groups
Total
Hasil
79440,708
8315,250
87755,958
df
Mean Square
5
18
23
15888,142
461,958
F
34,393
Sig.
,000
: Nilai signifikansi < α
Kesimpulan : Ho ditolak, terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa
darah antar kelompok uji pada Tg60
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
66
D. Uji Beda Nyata Terkecil pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok Hewan
Uji pada Tg60
Tujuan
: Untuk mengetahui antar kelompok yang mana saja terdapat perbedaan
kadar glukosa darah yang bermakna pada Tg30
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah tikus tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah tikus berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi ≥ 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
(I)
Kelompok
Normal
(J) Kelompok
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Pembanding Normal
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Alpukat
Pembanding
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Oyong
Pembanding
Dosis Alpukat
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
AlpukatNormal
oyong1
Pembanding
Dosis Alpukat
Mean
Differenc
e (I-J)
174,250*
42,750*
48,000*
8,500
37,250*
-174,250*
-131,500*
-126,250*
-165,750*
-137,000*
-42,750*
131,500*
5,250
-34,250*
-5,500
-48,000*
126,250*
-5,250
-39,500*
-10,750
-8,500
165,750*
34,250*
Std.
Error
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
Sig.
,000
,012
,005
,583
,025
,000
,000
,000
,000
,000
,012
,000
,734
,037
,722
,005
,000
,734
,018
,488
,583
,000
,037
95% Confidence
Interval
Lower
Upper
Bound
Bound
142,32
206,18
10,82
74,68
16,07
79,93
-23,43
40,43
5,32
69,18
-206,18
-142,32
-163,43
-99,57
-158,18
-94,32
-197,68
-133,82
-168,93
-105,07
-74,68
-10,82
99,57
163,43
-26,68
37,18
-66,18
-2,32
-37,43
26,43
-79,93
-16,07
94,32
158,18
-37,18
26,68
-71,43
-7,57
-42,68
21,18
-40,43
23,43
133,82
197,68
2,32
66,18
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
67
AlpukatOyong2
Hasil
Dosis Oyong
Alpukat-Oyong2
Normal
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
39,500*
28,750
-37,250*
137,000*
5,500
10,750
-28,750
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
15,198
,018
,075
,025
,000
,722
,488
,075
7,57
-3,18
-69,18
105,07
-26,43
-21,18
-60,68
71,43
60,68
-5,32
168,93
37,43
42,68
3,18
: Nilai signifikansi < α antar kelompok kontrol normal dengan kontrol
pembanding, dosis alpukat, dosis oyong, kombinasi ekstrak
alpukat-oyong 2 dan kontrol pembanding dengan dosis alpukat,
dosis oyong, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 1, kombinasi
alpukat-oyong 2.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah antar
kelompok kontrol normal dengan kontrol pembanding, dosis
alpukat, dosis oyong, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 2 dan
kontrol pembanding dengan dosis alpukat, dosis oyong, kombinasi
ekstrak alpukat-oyong 1, kombinasi alpukat-oyong 2 pada Tg60.
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
68
Lampiran 13. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok Satu Setengah Jam Setelah Pemberian Glukosa
(Tg90) (SPSS 19)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada Tg90
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg90 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
Df
Sig.
Normal
,968
4
,832
Pembanding
,852
4
,233
Dosis Alpukat
,869
4
,294
Dosis Oyong
,931
4
,600
Alpukat-oyong1
,898
4
,354
Alpukat-Oyong2
,977
4
,294
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk semua kelompok
Kesimpulan
: Ho diterima, data kadar glukosa darah seluruh hewan uji pada
Tg90 terdistribusi normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada Tg90
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg90 bervariasi homogen atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
69
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Levene
Statistic
1,558
Hasil
df1
df2
5
18
Sig.
,222
: Nilai signifikansi > α
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada Tg90 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
Tg90
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada Tg90
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Between
Groups
Within Groups
Total
Hasil
Sum of
Squares
34497,875
5837,750
40335,625
df
5
18
23
Mean
Square
6899,575
F
21,274
Sig.
,000
324,319
: Nilai signifikansi < α
Kesimpulan : Ho ditolak, terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa
darah antar kelompok uji pada Tg90
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
70
D. Uji Beda Nyata Terkecil pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok Hewan
Uji pada Tg90
Tujuan
: Untuk mengetahui antar kelompok yang mana saja terdapat perbedaan
kadar glukosa darah yang bermakna pada Tg90
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah tikus tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah tikus berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
(I)
Kelompok
Normal
(J) Kelompok
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Pembanding Normal
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Alpukat
Pembanding
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
Dosis
Normal
Oyong
Pembanding
Dosis Alpukat
Alpukat-oyong1
Alpukat-Oyong2
AlpukatNormal
oyong1
Pembanding
Dosis Alpukat
Mean
Differenc
e (I-J)
112,250*
16,000
29,000*
6,500
15,500
-112,250*
-96,250*
-83,250*
-105,750*
-96,750*
-16,000
96,250*
13,000
-9,500
-,500
-29,000*
83,250*
-13,000
-22,500
-13,500
-6,500
105,750*
9,500
Std.
Error
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
Sig.
,000
,225
,035
,616
,239
,000
,000
,000
,000
,000
,225
,000
,321
,465
,969
,035
,000
,321
,094
,303
,616
,000
,465
95% Confidence
Interval
Lower
Upper
Bound
Bound
85,50
139,00
-10,75
42,75
2,25
55,75
-20,25
33,25
-11,25
42,25
-139,00
-85,50
-123,00
-69,50
-110,00
-56,50
-132,50
-79,00
-123,50
-70,00
-42,75
10,75
69,50
123,00
-13,75
39,75
-36,25
17,25
-27,25
26,25
-55,75
-2,25
56,50
110,00
-39,75
13,75
-49,25
4,25
-40,25
13,25
-33,25
20,25
79,00
132,50
-17,25
36,25
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
71
AlpukatOyong2
Hasil
Dosis Oyong
Alpukat-Oyong2
Normal
Pembanding
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
22,500
9,000
-15,500
96,750*
,500
13,500
-9,000
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
12,734
,094
,489
,239
,000
,969
,303
,489
-4,25
-17,75
-42,25
70,00
-26,25
-13,25
-35,75
49,25
35,75
11,25
123,50
27,25
40,25
17,75
: Nilai signifikansi < α antar kelompok kontrol normal dengan
kontrol pembanding, dosis
oyong dan kontrol pembanding
dengan dosis alpukat, dosis oyong, kombinasi ekstrak alpukatoyong 1, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 2.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah
antar kelompok kontrol normal dengan kontrol pembanding, dosis
oyong dan kontrol pembanding dengan dosis alpukat, dosis
oyong, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 1, kombinasi ekstrak
alpukat-oyong 2 pada Tg90.
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
72
Lampiran 14. Uji Statistik terhadap Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok Seratus Dua Puluh Menit Setelah Pemberian
Glukosa (Tg120) (SPSS19)
A. Uji Normalitas (Uji Saphiro-Wilk) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh
Kelompok pada Tg120
Tujuan
: Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg120 terdistribusi normal atau tidak
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit terdistribusi normal
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak terdistribusi normal
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
Df
Sig.
Normal
,903
4
,444
Pembanding
,785
4
,079
Dosis Alpukat
,996
4
,984
Dosis Oyong
,946
4
,694
Alpukat-oyong1
,979
4
,256
Alpukat-Oyong2
,951
4
,577
Hasil
: Nilai signifikansi > α untuk semua kelompok
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah seluruh hewan uji pada Tg120
terdistribusi normal
B. Uji Homogenitas (Uji Levene) pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok
pada Tg120
Tujuan : Untuk mengetahui apakah data kadar glukosa darah seluruh kelompok
pada Tg120 bervariasi homogen atau tidak
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
73
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit bervariasi homogen
Ha = Data kadar glukosa darah mencit tidak bervariasi homogen
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Hasil
Levene
Statistic
df1
1,889
5
: Nilai signifikansi > α
df2
18
Sig.
,146
Kesimpulan : Ho diterima, data kadar glukosa darah pada seluruh kelompok uji
pada Tg120 bervariasi homogen
C. Uji ANOVA Satu Arah pada Kadar Glukosa Darah Antar Kelompok Uji pada
Tg120
Tujuan
: Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar glukosa darah yang
bermakna antar kelompok hewan uji pada Tg120
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah mencit tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah mencit berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
Sum of Squares
Between Groups
Within Groups
Total
Hasil
df
Mean Square
11286,708
5
2257,342
3001,250
18
166,736
14287,958
23
F
13,538
Sig.
,000
: Nilai signifikansi < α
Kesimpulan : Ho ditolak, terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa
darah antar kelompok uji pada Tg120
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
74
D. Uji Beda Nyata Terkecil pada Kadar Glukosa Darah Seluruh Kelompok Hewan
Uji pada Tg120
Tujuan : Untuk mengetahui antar kelompok yang mana saja terdapat perbedaan
kadar glukosa darah yang bermakna pada Tg120
Hipotesis : Ho = Data kadar glukosa darah tikus tidak berbeda bermakna
Ha = Data kadar glukosa darah tikus berbeda bermakna
Pengambilan kesimpulan: α = 0,05
Ho diterima jika nilai signifikansi > 0,05
Ha ditolak jika nilai signifikansi < 0,05
95% Confidence Interval
Mean
Std.
Error
Upper
Bound
Bound
(I) Kelompok
(J) Kelompok
Difference (I-J)
Normal
Pembanding
67,250*
9,131 ,000
48,07
86,43
Dosis Alpukat
18,000
9,131 ,064
-1,18
37,18
Dosis Oyong
24,750*
9,131 ,014
5,57
43,93
Alpukat-oyong1
7,250
9,131 ,438
-11,93
26,43
Alpukat-Oyong2
15,000
9,131 ,118
-4,18
34,18
-67,250
*
9,131 ,000
-86,43
-48,07
-49,250
*
9,131 ,000
-68,43
-30,07
-42,500
*
9,131 ,000
-61,68
-23,32
-60,000
*
9,131 ,000
-79,18
-40,82
Alpukat-Oyong2
-52,250
*
9,131 ,000
-71,43
-33,07
Normal
-18,000
9,131 ,064
-37,18
1,18
Pembanding
49,250
*
9,131 ,000
30,07
68,43
Dosis Oyong
6,750
9,131 ,469
-12,43
25,93
Alpukat-oyong1
-10,750
9,131 ,254
-29,93
8,43
Alpukat-Oyong2
-3,000
9,131 ,746
-22,18
16,18
-24,750
*
9,131 ,014
-43,93
-5,57
42,500
*
9,131 ,000
23,32
61,68
-6,750
9,131 ,469
-25,93
12,43
Alpukat-oyong1
-17,500
9,131 ,071
-36,68
1,68
Alpukat-Oyong2
-9,750
9,131 ,300
-28,93
9,43
Normal
-7,250
9,131 ,438
-26,43
11,93
Pembanding
60,000
*
9,131 ,000
40,82
79,18
Dosis Alpukat
10,750
9,131 ,254
-8,43
29,93
Dosis Oyong
17,500
9,131 ,071
-1,68
36,68
Pembanding
Normal
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Alpukat-oyong1
Dosis Alpukat
Dosis Oyong
Normal
Pembanding
Dosis Alpukat
Alpukatoyong1
Sig.
Lower
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
75
Alpukat-Oyong2
Alpukat-
7,750
9,131 ,407
-11,43
26,93
-15,000
9,131 ,118
-34,18
4,18
*
9,131 ,000
33,07
71,43
Dosis Alpukat
3,000
9,131 ,746
-16,18
22,18
Dosis Oyong
9,750
9,131 ,300
-9,43
28,93
-7,750
9,131 ,407
-26,93
11,43
Normal
Oyong2
Pembanding
Alpukat-oyong1
Hasil
:
52,250
Nilai signifikansi < α antar kelompok kontrol normal dengan
kontrol pembanding, dosis oyong, dan kontrol pembanding
dengan dosis alpukat, dosis oyong, kombinasi ekstrak alpukatoyong 1, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 2.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah
antar kelompok kontrol normal
dengan kontrol pembanding,
dosis oyong, dan kontrol pembanding dengan dosis alpukat, dosis
oyong, kombinasi ekstrak alpukat-oyong 1, kombinasi ekstrak
alpukat-oyong 2 pada Tg120.
Efek penurunan..., Prawita Lintang Larasati, FMIPA UI, 2012
Download