hubungan pola komunikasi keluarga dengan tingkat

advertisement
Tingkat Depresi pada Lansia
HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN
TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PEKAUMAN
BANJARMASIN
Normalisa*, Hariadi Widodo1, Nurhamidi2
1
STIKES Sari Mulia Banjarmasin
Politeknik Negeri Kemenkes RI Banjarbaru
*
Korespondensi penulis: [email protected], No. Hp : 081254745374
2
ABSTRAK
Latar Belakang : Usia lanjut termasuk kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan,
khususnya terhadap kemungkinan jatuhnya sakit dan ancaman kematian. Kondisi seperti ini dapat
memicu terjadinya depresi pada lansia. Pola komunikasi keluarga merupakan faktor yang penting
yang mempengaruhi tingkat depresi lansia, karena semua hal yang menjadi penyebab lansia
mengalami depresi dapat didiskusikan bersama oleh keluarga dan lansia melalui komunikasi dalam
keluarga.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan tingkat depresi pada
lansia di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin
Metode : Penelitian menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi
adalah lansia di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin tahun 2015 sebanyak 4.879 orang
dan sampel diambil berjumlah 98 orang dengan teknik pengambilan purposive sampling. Data
dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil : Lansia sebagian besar memiliki pola komunikasi keluarga yang fungsional yaitu 58 orang
(59,2%) dan memiliki tingkat depresi ringan yaitu 83 orang (84,7%). Ada hubungan antara pola
komunikasi keluarga dengan tingkat depresi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Pekauman
Banjarmasin (p = 0,000 < α 0,05).
Simpulan : Ada hubungan pola komunikasi keluarga dengan tingkat depresi pada lansia.
Puskesmas Pekauman Banjarmasin hendaknya dilakukan pengkajian depresi pada lansia secara
rutin dan melakukan kunjungan ke rumah-rumah lansia.
Kata kunci : Pola Komunikasi Keluarga, Tingkat Depresi
1
Tingkat Depresi pada Lansia
ABSTRACT
Background: Elderly people, including those most vulnerable to health problems, especially
against the possibility to get illness and death threats. These Conditions can trigger symptoms of
depression in the elderly. The pattern of family communication is an important factor affecting the
level of depression elderly, because of all the things that can depression in elderly can be
discussed the family and the elderly through family communication.
Objective: To examine the correlation between family communication patterns and the level of
depression in the elderly in Pekauman Public Health Centers Banjarmasin
Methods: The study used analytic survey with cross sectional approach. The population is elderly
in Public Health Centers Pekauman Banjarmasin in 2015 as many as 4,879 people and 98
samples were taken with purposive sampling techniques retrieval. Data were analyzed using
Spearman Rank test with a confidence level of 95%.
Results: Most elderly have a functional family communication patterns which is 58 people (59.2%)
and 83 people (84.7%) have mild level of depression. There is a correlation between family
communication patterns and the level of depression in the elderly in Pekauman Public Health
Centers Banjarmasin (p = 0.000 <α 0.05).
Conclusion: There is a correlation between family communication patterns and level depression in
the elderly. Pekauman Public Health Centers Banjarmasin should assess the depression in the
elderly on a regular basis and make visits to the homes of the elderly.
Keywords: Family Communication Patterns, Level of Depression
2
Tingkat Depresi pada Lansia
PENDAHULUAN
Susenas BPS 2012 menunjukkan lansia di
Keberhasilan pembangunan merupakan
cita-cita suatu bangsa yang terlihat dari
Indonesia sebesar 7,56% dari total penduduk
Indonesia (Wardhana, 2014).
peningkatan taraf hidup dan Umur Harapan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik
Hidup (UHH)/Angka Harapan Hidup (AHH).
(BPS) tahun 2014 jumlah lansia (≥ 60 tahun)
Namun peningkatan umur harapan hidup ini
di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak
dapat
transisi
235.785 orang sedangkan Kota Banjarmasin
epidemiologi dalam bidang kesehatan akibat
sebanyak 32.116 orang yang terbagi dalam
meningkatnya jumlah angka kesakitan karena
lima kecamatan yaitu Kecamatan Banjarmasin
penyakit
struktur
Selatan sebanyak 8.903 orang, Kecamatan
demografi ini diakibatkan oleh peningkatan
Banjarmasin Timur sebanyak 7.290 orang,
populasi
dengan
Kecamatan Banjarmasin Barat sebanyak 8.154
menurunnya angka kematian serta penurunan
orang dan Kecamatan Banjarmasin Utara
jumlah kelahiran (Kemenkes RI, 2013).
sebanyak
mengakibatkan
degeneratif.
lanjut
WHO
terjadinya
Perubahan
usia
(lansia)
memperkirakan
tahun
7.769
orang
lansia
(BPS
2025
Banjarmasin, 2014). Menurut data Puskesmas
jumlah lansia di seluruh dunia akan mencapai
Pekauman Banjarmasin tahun 2015 jumlah
1,2 miliar orang yang akan terus bertambah
lansia sebanyak 4.879 orang.
hingga 2 miliar orang di tahun 2050. Data
WHO juga memperkirakan
Pertambahan penduduk lanjut usia secara
75% populasi
bermakna akan disertai oleh berbagai masalah
lansia di dunia pada tahun 2025 berada di
yang akan mempengaruhi berbagai aspek
negara berkembang. Hasil sensus penduduk
kehidupan lanjut usia baik terhadap individu
tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia
maupun bagi keluarga dan masyarakat antara
termasuk
lain meliputi fisik, biologis, mental dan sosial
5 besar
negara
dengan
jumlah
penduduk lansia terbanyak di dunia. Pada
ekonomi.
tahun
Indonesia
kemunduran sel-sel yang berakibat pada
mencapai 18,1 juta orang. Sementara itu Data
kelemahan organ dan timbulnya berbagai
2010
jumlah lansia
di
Secara
fisik
usila
mengalami
3
Tingkat Depresi pada Lansia
macam
penyakit
degeneratif
psikologis
usila
menjadi
mengalami
rasa
kebosanan
kehilangan
pekerjaan.
dan
mudah
apalagi
Usila
secara
lupa,
jika
termasuk
terdapatnya masalah psikososial pada lansia
yaitu depresi (Djaali, 2013).
Menurut World Health Organization
(WHO)
pada
tahun
2012
prevalensi
kelompok yang rentan terhadap masalah
keseluruhan gangguan depresi di kalangan
kesehatan, khususnya terhadap kemungkinan
lansia di dunia bervariasi antara 10% hingga
jatuhnya sakit dan ancaman kematian. Kondisi
20% yaitu sekitar dari 7 juta dari 39 juta
seperti ini dapat memicu terjadinya depresi
sedangkan prevalensi depresi di Indonesia
pada lansia (Khoiriyah, 2011).
cukup tinggi yaitu sebesar 17,8% (Nurullah,
Berbeda dengan populasi yang lain,
2014).
depresi pada populasi lansia terjadi bersamaan
Beberapa upaya mengatasi depresi yang
dengan terjadinya penurunan fungsi fisik,
dapat dilakukan dengan identifiikasi berbagai
mental, karena adanya proses penuaan yang
kegiatan yang mendatangkan rasa senang dan
tidak bisa dihindari oleh para lansia. Depresi
memasukkan
merupakan salah satu dampak yang muncul
kegiatan sehari-hari, kembangkan berfikir
akibat perubahan karena penuaan, perubahan
positif (positif thingking) dan rasional serta
status sosial, bertambahnya penyakit dan
berkomunikasi dengan orang lain sehingga
berkurangnya kemandirian sosial. Adanya
memperoleh dukungan dan stimulan dari
perubahan-perubahan alamiah yang terjadi
orang lain khususnya keluarga (Suardiman,
pada lansia akan mengakibatkan perubahan
2011).
dalam
rancangan
agenda
perilaku pada dirinya dan dapat mengganggu
Komunikasi dapat meningkatkan harga
fungsi kehidupannya mulai dari kognitif,
diri dan promosi terhadap kontrol diri melalui
motivasi, emosi dan perasan, tingkah laku,
dukungan sosial terutama keluarga sebagai
sampai
fisik
orang terdekat. Pola komunikasi fungsional
seseorang. Perubahan ini merupakan indikator
dapat menjadi indikator terlaksananya fungsi
pada
penurunan
kondisi
keluarga untuk mengantisipasi tekanan dan
4
Tingkat Depresi pada Lansia
masalah yang harus dihadapi lansia pada
kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin tahun
proses menua tersebut agar lansia tidak
2015 yaitu sebanyak 4.879 orang dan sampel
mengalami depresi berat (Adinegara, 2014).
yang diambil berjumlah 98 orang dengan
Hasil studi pendahuluan kepada 10 orang
lansia
yang
berkunjung
di
Puskesmas
Pekauman Banjarmasin pada tanggal 12
teknik
pengambilan
sampel
purposive
sampling.
Variabel
independen
komunikasi
orang
terikat dalam penelitian ini adalah tingkat
(60%)
mengatakan
bahwa
keluarga seringkali tidak mau mendengarkan
pendapat lansia dan mereka sering merasa
Metode analisis data dalam penelitian ini
meliputi:
mengatakan
a. Analisis univariat
keluarga
selalu
mendengarkan dan meminta pendapat dan
mereka selama ini merasa bahagia.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti
tertarik melakukan penelitian yang berjudul
“Hubungan Pola Komunikasi Keluarga dengan
Tingkat Depresi pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekauman Banjarmasin”
variabel
depresi.
sedih sedangkan 4 orang lansia (40%) lainnya
bahwa
sedangkan
pola
Desember 2015 mendapatkan sebanyak 6
lansia
keluarga
adalah
Analisis univariat dilakukan terhadap
tiap variabel dari hasil penelitian untuk
mengetahui
distribusi,
frekuensi
dan
persentase dari tiap variabel yang diteliti.
b. Analisis bivariat
Analisa bivariat adalah analisa yang
dilakukan terhadap dua variabel yang
diduga
berhubungan
atau
berkolerasi
BAHAN DAN METODE
dengan menggunakan uji Spearman Rank
Metode yang digunakan dalam penelitian
dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 atau
ini adalah survei analitik dengan pendekatan
tingkat kepercayaan 95% .
cross sectional.
Populasi adalah seluruh lansia di wilayah
kerja
Puskesmas
Pekauman
Banjarmasin.
Berdasarkan data jumlah lansia di wilayah
5
Tingkat Depresi pada Lansia
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi
pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekauman Banjarmasin
Tahun 2016
HASIL
1. Analisis univariat
No.
Tingkat
Depresi
Tidak
depresi
Ringan
Berat
Total
a. Pola komunikasi keluarga lansia di
1
wilayah kerja Puskesmas Pekauman
2
3
Banjarmasin
Distribusi
frekuensi
Frekuensi
(f)
15
Persentase
(%)
15,3
83
0
98
84,7
0
100
pola
Tabel 2 didapatkan bahwa lansia
komunikasi keluarga lansia di wilayah
di wilayah kerja Puskesmas Pekauman
kerja Puskesmas Pekauman
dapat
Banjarmasin sebagian besar memiliki
dilihat pada tabel berikut
tingkat depresi ringan yaitu 83 orang
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pola Komunikasi
Keluarga Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekauman Banjarmasin
Tahun 2016
No.
1
2
Pola
Komunikasi
Keluarga
Fungsional
Disfungsional
Total
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
58
40
98
59,,2
40,8
100
(84,7%).
b. Analisa bivariat
Analisa hubungan pola komunikasi
keluarga dengan tingkat depresi pada
lansia
Tabel 1 didapatkan bahwa lansia
keluarga
kerja
Puskesmas
tabel berikut.
Banjarmasin sebagian besar memiliki
komunikasi
wilayah
Pekauman Banjarmasin dapat dilihat pada
di wilayah kerja Puskesmas Pekauman
pola
di
Tabel 3 Hubungan Pola Komunikasi Keluarga
dengan Tingkat Depresi pada Lansia di
Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman
Banjarmasin Tahun 2016
yang
fungsional yaitu 58 orang (59,2%).
Tingkat Depresi
b. Tingkat depresi di
wilayah kerja
Puskesmas Pekauman Banjarmasin
Distribusi
frekuensi
tingkat
depresi di wilayah kerja Puskesmas
No
.
Pola
Komunikasi
Keluarga
Jumlah
Tidak
depresi
Ringan
f
%
f
%
f
%
1
Fungsional
15
25,9
43
74,1
58
100
2
Disfungsional
0
0
40
100
40
100
Jumlah
15
15,3
83
84,7
98
100
p value = 0,000
Correlation Coefficient = 0,353
Pekauman
berikut.
dapat dilihat pada tabel
Tabel 3 menunjukkan bahwa lansia
yang memiliki pola komunikasi keluarga
6
Tingkat Depresi pada Lansia
fungsional
sebagian
besar
mengalami
depresi ringan yaitu 43 orang (74,1%)
PEMBAHASAN
1. Pola
komunikasi
sedangkan lansia yang memiliki pola
wilayah
komunikasi
disfungsional
Banjarmasin
seluruhnya mengalami depresi ringan yaitu
Hasil
keluarga
40 orang (100%).
kerja
keluarga
lansia
Puskesmas
penelitian
di
Pekauman
mendapatkan
bahwa lansia di wilayah kerja Puskesmas
Hasil uji statistik Spearman Rank
Pekauman Banjarmasin sebagian besar
didapatkan p = 0,000 maka p < α maka
memiliki pola komunikasi keluarga yang
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan
fungsional yaitu 58 orang (59,2). Ini
Ha diterima artinya ada hubungan antara
menunjukkan bahwa responden sebagian
pola komunikasi keluarga dengan tingkat
besar memiliki proses penyampaian pesan
depresi pada lansia di wilayah kerja
komunikasi
Puskesmas Pekauman Banjarmasin.
berjalan dengan baik. Komunikasi amat
Nilai
korelasi
Spearman
Rank
berperan
antar
penting
anggota
dalam
keluarga
menjelaskan
sebesar 0,353 menunjukkan bahwa arah
segala sesuatunya, lansia akan mudah
korelasi positif dengan kekuatan korelasi
memahami
yang sedang, dapat diartikan semakin
sampaikan apabila pola komunikasi benar.
fungsional pola komunikasi keluarga maka
Salah satu faktor yang mendukung pola
akan semakin rendah kecenderungan untuk
komunikasi keluarga berfungsi dengan
mengalami depresi.
baik dalam penelitian ini adalah adanya
makna
pesan
yang
di
budaya tiga generasi (orang tua, anak dan
cucu) yang biasanya hidup dibawah satu
atap bersama lanjut usia lebih memberikan
peluang untuk dapat saling memberikan
perhatian dan dapat saling memahami
komunikasi yang terjalin.
7
Tingkat Depresi pada Lansia
Komunikasi fungsional memiliki
persentase
lebih
besar
disfungsional.
Komunikasi
pola
disfungsional pada lansia tersebut dapat
komunikasi keluarga disfungsional adalah
disebabkan karena penurunan fisik dan
karena para lansia hidup bersama keluarga,
psikologis lansia. Penurunan daya pikir
dalam keseharian para lansia mendapatkan
lansia yang dapat mengganggu dalam
lawan bicara yang sesuai, sehingga terjadi
proses
suatu komunikasi yang selaras. Menurut
merespon
Friedman
pada
Lansia sering mengalami gangguan fisik
keluarga yang sehat merupakan suatu
yang menyebabkan lansia sulit berfokus
proses yang sangat dinamis dan saling
dalam pembicaraan misalnya fokus pada
timbal balik. Pesan tidak hanya dikirim
rasa sakit, haus, lapar, capek dan perasaan
dan diterima. Sebagai contoh, setelah
tidak enak lainnya.
(2012)
dari
komunikasi
komunikasi
pengirim memulai suatu pesan, penerima
pendengaran,
pada
mengingat
pertanyaan
dan
keluarga.
Hasil penelitian ini sama dengan
pesan mungkin menampakkan ekspresi
hasil penelitian yang
wajah yang akan, melalui umpan balik
Adinegara (2014) yang menyatakan bahwa
negatif,
pola
mengubah
pesan
pengirim
komunikasi
dilakukan oleh
keluarga
Leyangan
pengirim dapat mengubah kata-kata dalam
Kabupaten Semarang yaitu dari 71 orang
pesan
lansia sebagian besar memiliki kategori
pada
saat
sedang
fungsional
mempunyai kerangka acuan yang sama.
(64,8%) dan
Akan tetapi, sifat dinamis dari komunikasi
komunikasi disfungsional sebanyak 25
fungsional membuat interaksi menjadi
orang
kompleks dan tidak dapat diramalkan.
menggunakan lansia yang bersuku jawa,
masih adanya data lansia yang memiliki
sebanyak
46
Timur
mengirimnya, sehingga penerima akan
Hasil penelitian juga menunjukkan
yaitu
Ungaran
Desa
sebelum ia selesai bicara. Akibatnya,
tersebut
Kecamatan
di
lansia
lansia yang memiliki pola
(35,2%).
Penelitian
tersebut
dimana karakter budaya jawa ialah sopan
santun yang sudah terkenal sejak lamanya.
8
Tingkat Depresi pada Lansia
2. Tingkat depresi pada lansia di wilayah
>70 tahun sebagian besar mulai kurang
kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin
mampu untuk merawat diri sendiri dan
Hasil penelitian didapatkan bahwa
lansia
di
wilayah
kerja
hubungan interpersonal yang kurang serta
Puskesmas
tidak mampu untuk melakukan suatu
Pekauman Banjarmasin sebagian besar
pekerjaan tertentu seperti menghadiri acara
memiliki tingkat depresi ringan yaitu 83
keagamaan,
orang (84,7%). Hasil penelitian tersebut
puskesmas. Hal ini juga dipengaruhi oleh
menunjukkan bahwa sebagian besar lansia
perlakuan keluarga dalam merawat lansia,
merasakan kesedihan karena sesuatu hal.
dimana anggota keluarga lainnya sebagian
Depresi ringan dapat disebabkan karena
besar menghabiskan waktunya di luar
masalah yang lansia alami baik kesehatan
rumah. Sehingga sebagian besar lansia
ataupun dalam kehidupan sehari-hari tidak
pada kelompok umur tersebut kurang
terlalu besar dan lansia tersebut sudah
mendapat
dapat beradaptasi dengan masalah atau
menimbulkan
perubahan-perubahan yang mereka alami.
lansia tersebut. Hal ini sesuai dengan yang
Depresi yang terjadi pada lansia
memeriksakan
perhatian
terjadinya
diri
ke
dan
dapat
depresi
pada
dikemukakan oleh Bhayu (2014) umur
dapat berkaitan dengan umur. Menurut
merupakan
data lansia yang tidak mengalami depresi
terjainya depresi. Semakin meningkatnya
lebih banyak pada kelompok umur 60-70
usia maka risiko terjadinya depresi juga
tahun. Lansia dengan kelompok usia 60-70
akan menjadi dua kali lipat karena pada
tahun
masa
terlihat
masih
mampu
untuk
salah
tersebut
satu
banyak
faktor
terjadi
risiko
suatu
mengurus dirinya sendiri, serta masih
perubahan pada diri seseorang. Perubahan
mampu
hubungan
tersebut baik perubahan secara fisik,
interpersonal dengan baik dan masih
psikologis, ekonomi, sosial dan spiritual
mampu untuk melakukan suatu pekerjaan
yang
tertentu. Sedangkan pada kelompok usia
seorang lansia.
untuk
melakukan
mempengaruhi
kualitas
hidup
9
Tingkat Depresi pada Lansia
Hasil penelitian ini sama dengan
keluarga
dengan
tingkat
hasil penelitian yang dilakukan oleh
depresi pada lansia di wilayah kerja
Adinegara (2014)
Puskesmas Pekauman Banjarmasin.
bahwa
lansia
yang menyatakan
Leyangan
Hubungan pola komunikasi keluarga
Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten
dengan tingkat depresi pada lansia tersebut
Semarang
di
mengalami
menunjukkan kekuatan hubungn yang
depresi ringan sebanyak 50 responden
sedang, dapat diartikan semakin fungsional
(70,4%).
pola komunikasi keluarga maka akan
sebagian
Depresi
merupakan
3.
komunikasi
Desa
besar
meskipun
gangguan
yang
ringan
dapat
semakin
rendah
kecenderungan
memadamkan semangat hidup. Ini sering
mengalami
disadari atau dikenali pada lansia dan
keluaga yang fungsional menunjukkan
mempunyai potensi untuk menghancurkan
besarnya perhatian keluarga yang dapat
kualitas hidup itu sendiri.
mengurangi beban pikiran lansia sehingga
Hubungan
terhindar dari perasaan depresi.
pola komunikasi keluarga
dengan tingkat depresi pada lansia di
wilayah
kerja
Puskesmas
Pekauman
Banjarmasin
depresi.
Pola
komunikasi
komunikasi
keluarga
merupakan faktor yang penting yang
mempengaruhi
Hasil penelitian didapatkan bahwa
Pola
untuk
tingkat
depresi
lansia,
karena semua hal yang menjadi penyebab
lansia yang memiliki pola komunikasi
lansia
keluarga
besar
didiskusikan bersama oleh keluarga dan
mengalami depresi ringan yaitu 43 orang
lansia melalui komunikasi dalam keluarga.
(74,1%) sedangkan lansia yang memiliki
Lanjut
pola komunikasi keluarga disfungsional
komunikasi dalam keluarga, karena adanya
seluruhnya mengalami depresi ringan yaitu
komunikasi mempunyai arti sebagai suatu
40
interaksi.
fungsional
orang
(100%).
sebagian
Uji
statistik
menunjukkan ada hubungan antara pola
mengalami
usia
depresi
senantiasa
Pada
lanjut
dapat
membutuhkan
usia
banyak
persoalan hidup yang dihadapi oleh lansia
10
Tingkat Depresi pada Lansia
seperti masalah ekonomi dan masalah
Dukungan keluarga berupa komunikasi
kesehatan. Kondisi tersebut dapat memicu
dapat menjadi sistem pendukung dalam
terjadinya
menghadapi
depresi
Membicarakan
pada
yang
depresi.
Penerapan
pola
dialami
komunikasi yang baik akan memberikan
lansia dengan keluarga bisa mengurangi
kontribusi baik antara keluarga dan lansia
beban yang dirasakan responden.
dalam menyelesaikan masalah serta lebih
Lansia
masalah
lansia.
seringkali
mengalami
sulit mengalami depresi.
masalah kesehatan. Pola komunikasi pada
Hasil penelitian ini sama dengan
keluarga membantu dalam menentukan
hasil penelitian yang dilakukan oleh
arah tindakan apa saja yang bertujuan
Adinegara
membantu
bahwa
Proses
dalam
komunikasi
persiapan
yang
depresi pada lansia di Desa Leyangan
matang sehingga di harapkan terjadinya
Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten
suatu pola komunikasi yang baik dalam
Semarang dengan nilai p = 0,003 < α 0,05.
keluarga
memerlukan
hubungan
mendapatkan
status
responden.
ada
yang
perbaikan
kesehatan
proses
(2014)
keluarga
antara
dengan
pola
tingkat
keluarga. Penerapan pola komunikasi yang
UCAPAN TERIMA KASIH
baik akan memberikan kontribusi yang
Saya sangat berterima kasih kepada
baik antara keluarga dan lansia dalam
STIKES Sari Mulia Banjarmasin yang telah
menyelesaikan masalah, yang selanjutnya
memberikan saya surat izin untuk melakukan
akan
memberikan
peningkatan
penelitian, dan ucapan terima kasih kepada
keharmonisan dalam keluarga.
Puskesmas Pekauman Banjarmasin yang telah
Banyaknya masalah (stresor) yang
memberikan
dialami
lansia
mengakibatkan
izin
serta
tempat
untuk
lansia
melakukan penelitian.
mengalami
gejala
depresi.
Adanya
keluarga di sekitar lansia seharusnya dapat
DAFTAR PUSTAKA
memberi dukungan pertama pada lansia.
Badan Pusat Statistik Banjarmasin. 2014.
Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan
11
Tingkat Depresi pada Lansia
Selatan dan Kota Banjarmasin
[Internet].
tersedia
dalam
http://banjarmasinkota.bps.go.id.
[diakses tanggal 21 November 2015]
Cepiring Kabupaten Kendal (Internet).
tersedia
dalam
<http://digilib.unimus.ac.id>. [diakses
tanggal 21 November 2015]
Djaali, N. A. 2013. A Systematic Review:
Group
Counselling
for
Older
Peoplewith Depression [Internet].
tersedia
dalam
http://educ.utm.my/tr/wpcontent/uploads/2013/11/63.pdf.
[diakses tanggal 21 November 2015]
Nurullah, F. A. 2014. Hubungan Olahraga
Rutin dengan Tingkat Depresi pada
Lansia di Kecamatan Coblong Kota
Bandung [Internet]. tersedia dalam:
http://karyailmiah.unisba.ac.id.
(diakses tanggal 03 Februari 2016)
Friedman,M.M. 2012. Buku Ajar Keperawatan
: Riset, Teori, & Praktik. Ed : 5.
Jakarta:EGC.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Buletin
Jendela Data dan Informasi Kesehatan
[Internet].
tersedia
dalam
http://www.depkes.go.id/.
[diakses
tanggal 21 November 2015]
Suardiman, S. P. 2011. Psikologi Usia Lanjut.
Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Wardhana, H. 2014. Mereka Lansia, Mereka
Berdaya [Internet]. tersedia dalam
http://www.kompasiana.com/. [diakses
tanggal 21 November 2015]
Khoiriyah, N. 2011. Faktor – Faktor yang
Berhubungan dengan Motivasi Lansia
Berkunjung ke Posyandu Lansia di RW
II Kelurahan Margorejo Kecamatan.
12
Download