Partisipasi dan Kesadaran Politik di Kabupaten Boyolali

advertisement
KOMISI PEMILIHAN UMUM
KABUPATEN BOYOLALI
LAPORAN AKHIR
Partisipasi
dan
Partisipasi dan
Kesadaran
Politik
di
Kesadaran Politik di
Kabupaten
Boyolali
Kabupaten Boyolali
i
DAFTAR ISI
BAB I
1. PENDAHULUAN
2. TUJUAN DAN METODE
1
3
BAB II
1. KAJIAN PUSTAKA
A. PARTISIPASI DAN PARTISIPASI POLITIK
B. PARTISIPASI POLITIK SEBAGAI TINDAKAN SOSIAL
4
4
11
BAB III
1. KABUPATEN BOYOLALI
A. SEJARAH
B. GEOGRAFIS
C. EKONOMI
D. DEMOGRAFI
17
17
18
21
23
BAB IV
1.
2.
3.
4.
SKEMA OPTIMALISASI PARTISIPASI
DINAMIKA DAN KESADARAN POLITIK
PRAKTEK PARTISIPASI DALAM PEMILU
TANTANGAN BAGI PARTISIPASI POLITIK
27
32
40
46
BAB V
5. PENUTUP
49
1
PENGANTAR
Partisipasi politik secara fundamental ditentukan oleh kesadaran politik.
Dalam pelaksanaan agenda politik maka pelaksanaan Pemilu menjadi salah
satu tonggak untuk mengukur partisipasi. Pada beberapa konteks kajian,
partisipasi ditentukan oleh kesadaran politik yang terbangun oleh warga dan
kesadaran tersebut ditentukan oleh beragam faktor. Kabupaten Boyolali
merupakan daerah pedesaan dimana sektor agraris menjadi menetukan pola
pola relasi sosial, budaya maupun politik. Untuk itu, mengkaji dinamika
partisipasi politik warga dalam Pemilu 2014 sedianya dapat memberi bekal
bagi skema pelaksanaan pendidikan politik kedepan bagi warga. Dan hasil
riset ini tentu mempunyai beragam keterbatasan namun upaya untuk
memulai riset sebagai bagian dari pengembilan kebijakan kedepan, telah
dilakukan bersama. Semoga hasil riset ini dapat bermanfaat.
Boyolali, Juli 2015
KPU Kabupaten Boyolali
2
ii
BAB I
1. PENDAHULUAN
Praktek demokrasi di Indonesia, mengalami akselerasi pasca Orde Baru. Titik
tolak evaluasi atas pengalaman berdemokrasi sebelumnya memberi
kesempatan bagi setiap aktor untuk menjadi bagian dari setiap proses yang
ada. Kebebasan kemudian menjadi kata kunci yang membingkai praktek
bernegara, setidaknya satu dekade terakhir. Dimana sistem dan tatanan
kelembagaan negara yang ditata ulang, media diberi ruang untuk
mensirkulasikan semua model informasi, daerah dikelola dengan semangat
desentralisasi hingga kekebebasan berekspresi membentuk praktek politik
yang lebih nyata. Kerangka tersebut menjadi modal bagi proses politik yang
jauh lebih maju, sekaligus memberi pondasi bagi pelaksanaan Pemilu 1999,
2004, 2009 dan 2014 yang menjadi penanda bagi konsolidasi demokrasi di
era Reformasi. Momentum Pilpres 2004, 2009 dan 2014 juga dapat ditilik
sebagai bingkai baru bagi kedewasaan demokrasi di Indonesia.
Tentu ada banyak catatan dalam proses yang ada sekaligus melahirkan
beragam tantangan kedepan dari semua proses berdemokrasi, setidaktidaknya berdasarkan pelaksanaan Pemilu 2014. Sebab urgensi dari
penyelenggaraan Pemilu yang menganut prinsip-prinsip nan demokratis dan
berkualitas, sedianya dapat memberikan jaminan keadilan kepada setiap
warga negara serta berujung pada kualitas demokrasi yang kian membaik.
Sebab pelaksanaan Pemilu yang berlangsung secara jujur, adil, bebas,
rahasia, dan damai menjadi penting sebagai indikator bagi berkembangnya
demokrasi. Demokrasi yang sudah berjalan, setidak-tidaknya selama satu
dekade terakhir pasca Orde Baru.
1
Sisi lain, dari semua proses yang telah berjalan adalah mendalami beberapa
point dalam pelaksanaan Pemilu dari sisi yang berbeda, yaitu pengguna hak
pilih. Dinamika penggunaan hak pilih juga ditentukan oleh adanya jaminan
atas hak-hak setiap warga negara pada seluruh proses penyelenggaraan
Pemilu. Kondisi yang ditentukan oleh terwadahinya hak-hak politik pemilih,
terjaga atau dipelihara dalam proses penyelenggaraan Pemilu. Mengkaji
kesadaran politik dan dinamikanya dalam pelaksanaan Pemilu 2014,
sehingga memungkinkan analisis terkait dengan partisipasi warga agar
berguna untuk menopang analisa pelaksanaan Pemilu.
Kerangka partisipasi dan kesadaran politik dalam konteks demokrasi,
setidak-tidaknya ditentukan oleh beberapa hal. Baik dalam konteks
partisipasi politik dalam pengertiannya mencakup orientasi orientasi para
warga negara terhadap politik. Pengetahuan tentang politik, minat terhadap
politik, perasaan-perasaan mengenai kompetisi dan efektivitas politik,
persepsi persepsi tentang relevansi politik, yang semua itu seringkali dapat
berkaitan erat dengan tindakan politik akan tetapi sering juga tidak. Dan
kesadaran tersebut berimplikasi pada kegiatan politik warga negara sipil
atau lebih tepat lagi perorangan-perorangan dalam peranan mereka sebagai
warga negara sipil. Dalam konteks riset ini maka kerangka Pemiliu menjadi
bingkai utamanya. Dan bagian penting yang mesti dipahami, kesadaran dan
tindakan
politik
merupakan
kegiatan
yang
dimaksudkan
untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan untuk kepentingan yang luas.
Kegiatan yang demikian difokuskan terhadap pejabat pejabat umum, mereka
yang pada umumnya diakui memiliki wewewang untuk mengambil
keputusan dan yang final mengenai pengalokasian nilai nilai secara otoritatif
di dalam masyarakat. Pendek kata, partisipasi politik dapat mengarah untuk
membuat keputusan pejabat yang sedang berkuasa berubah, menggantikan
atau mempertahankan organisasi sistem politik yang ada dan aturan aturan
permainan politiknya, dimana semua kerangka diatas diletakkan dalam
konteks pelaksanaan Pemilu.
2
2. TUJUAN DAN METODE
Tujuan dari penyusunan dokumen riset ini adalah : mentradisikan kebijakan
berbasis riset atas persoalan yang berkaitan dengan manajemen Pemilu,
sekaligus
menyiapkan
bahan
kebijakan
untuk
meningkatkan
dan
memperkuat partisipasi warga dalam pelaksanaan demokrasi. Bagian
spesifik dari riset ini adalah mengkaji kesadaran politik dan dinamikanya
dalam pelaksanaan Pemilu 2014, sehingga memungkinkan analisis terkait
dengan partisipasi warga agar berguna untuk menopang analisa pelaksanaan
Pemilu. Berdasarkan kebutuhan tersebut, beberapa agenda dirancang:
Review-Data Sekunder: Pada proses ini, basis penelitian ini diletakkan
dengan daya dukung KPU Kabupaten Boyolali untuk menyediakan beragam
data, akses maupun informasi awal terkait dengan pelaksanaan Pemilu.
Interview-Observasi: Berdasarkan skema awal, agenda penelitian dilanjutkan
dengan mengakses informan secara langsung untuk menggali beragam
informasi. Proses interview dan observasi bertujuan mencatat opini, dan hal
lain berkaitan dengan individu yang ada dalam komunitas. Dengan
melakukan wawancara, penelitian ini berusaha untuk memperoleh data yang
lebih banyak sehingga dapat memahami beragam informasi.
Analisis Data-Pelaporan: Bagian akhir dari proses ini, adalah menyusun
analisis berdasar dua tahapan riset sebelumnya. Tahapan ini sekaligus
merangkum semua kerangka analisis bersamaan dengan penyusunan
laporan akhir penelitian.
3
BAB II
1. KAJIAN PUSTAKA
Partisipasi politik dalam Pemilu merupakan perilaku politik yang bisa
dikategorikan sebagai tindakan sosial. Beberap konsep dasar partisipasi
merupakan tindakan sosial dimana proses aktor terlibat dalam pengambilanpengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah dipilih, tindakan tersebut mengenai semua jenis
perilaku manusia, yang dengan penuh arti diorientasikan kepada perilaku
orang lain, yang telah lewat, yang Ada beragam perspektif dalam kajian
akademik untuk melihat praktek kerelawanan dalam konteks yang luas.
Dalam dimensi sosiologis terdapat beberapa kajian yang bisa dijadikan
rujukan awal untuk memberi bahan awal memahami realitas dari beragam
tindakan individu maupun kelompok.
A. Partisipasi dan Partisipasi Politik
Partisipasi berasal dari bahasa latin pars yang artinya bagian dan capere,
yang artinya mengambil, sehingga diartikan “mengambil bagian”. Dalam
bahasa Inggris, participate atau participation berarti mengambil bagian atau
mengambil peranan. Sehingga partisipasi berarti mengambil bagian atau
mengambil peranan dalam aktivitas atau kegiatan politik suatu negara.
Menurut Sambroek dan Eger (1996) partisipasi merupakan suatu proses
dimana seluruh pihak terkait-stakeholder secara aktif terlibat dalam
rangkaian kegiatan, mulai dari perencanaan sampai pada
pelaksanaan.
Pelibatan semua kelompok tidak selalu berarti secara fisik terlibat, tetapi
yang penting adalah prosedur pelibatan menjamin seluruh pihak dapat
terwakili kepentingannya.
4
Sedang menurut Cohen dan Uphoff (1997) dalam Sumaryati (1984),
partisipasi dalam pembangunan pedesaan adalah keterlibatan masyarakat
dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan dikerjakan dan
bagaimana caranya, keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program
dan keputusan dengan
menyumbangkan beberapa sumber daya atau
bekerjasama dalam organisasi/kegiatan tertentu, bagian manfaat dari
program pembangunan, dan/atau keterlibatan masyarakat dalam upaya
evaluasi program. Oleh karena itu, pengukuran partisipasi dilakukan dengan
melihat
keterlibatan
masyarakat
dalam
proses
perencanaan
dan
pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pemeliharaan/pemanfaatan hasil
kegiatan.
Sementara itu, Syahyuti menyebut partisipasi sebagai proses tumbuhnya
kesadaran terhadap kesalinghubungan di antara stakeholders yang berbeda
dalam masyarakat, yaitu antara kelompok- kelompok sosial dan komunitas
dengan pengambil
kebijakan dan lembaga-lembaga jasa lain. Secara
sederhana, “partisipasi” dapat dimaknai sebagai “the act of taking part or
sharing in something”. Dua kata yang dekat dengan konsep “partisipasi”
adalah “engagement” dan “involvement”. Dalam bidang politik dan sosial,
partisipasi bermakna sebagai upaya melawan ketersingkiran (opposite of
marginality). Jadi, dalam partisipasi, siapapun dapat memainkan peranan
secara aktif, memiliki kontrol terhadap kehidupannya sendiri, mengambil
peran dalam masyarakat, serta menjadi lebih terlibat dalam pembangunan.
Secara umum, sisi positif partisipasi adalah program yang dijalankan akan
lebih respon terhadap kebutuhan dasar yang sesungguhnya. Ini merupakan
suatu cara penting untuk menjamin keberlanjutan program, akan lebih
efisien karena membantu mengindentifikasi strategi dan teknik yang lebih
tepat, serta meringankan beban pusat baik dari sisi dana, tenaga maupun
material. Namun sisi negatifnya, partisipasi akan melonggarkan kewenangan
pihak atas sehingga akuntabilitas pihak atas sulit diukur, proses pembuatan
keputusan menjadi lambat demikian pula pelaksanaan, serta bentuk program
juga akan berbeda-beda karena masyarakat yang beragam.
5
Konsep “partisipasi” terutama dibicarakan dalam konteks dunia politik.
Dalam ilmu politik, “partisipasi” merupakan istilah payung (umbrella term)
yang kemudian memiliki banyak pengertian. Namun, intinya adalah
bagaimana keterlibatan publik dalam keputusan politik. Partisipasi
merupakan materi yang esensial untuk terjadinya demokrasi, karena
demokrasi membutuhkan keterbukaan (transparency). Pada akhirnya, tujuan
partisipasi adalah untuk meningkatkan keteguhan diri (self-determination,)
serta terbangunnya control dan inisiatif masyarakat terhadap pengelolaan
sumberdaya untuk pembangunan.
Partisipasi politik adalah kegiatan warganegara yang bertujuan untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan politik. Partisipasi politik dilakukan
orang dalam posisinya sebagai warganegara, bukan politikus ataupun
pegawai negeri. Sifat partisipasi politik ini adalah sukarela, bukan
dimobilisasi oleh negara ataupun partai yang berkuasa.
Sementara itu partisipasi politik dapat pula dipahami sebagai aktivitas atau
kegiatan warga sipil (private citizen) yang bertujuan mempengaruhi
pengambilan keputusan oleh pemerintah aktivitas atau kegiatan warga sipil
(private citizen) yang bertujuan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh
pemerintah (Samuel dan Nelson,1990). Beberapa aspek dari definisi dan
pengertian inti ini adalah:
Pertama, mencakup berbagai kegiatan politik. Partisipasi politik dalam
pengertiannya mencakup orientasi orientasi para warga negara terhadap
politik. Pengetahuan tentang politik, minat terhadap politik, perasaanperasaan mengenai kompetisi dan efektivitas politik, persepsi persepsi
tentang relevansi politik, yang semua itu seringkali dapat berkaitan erat
dengan tindakan politik akan tetapi sering juga tidak.
Kedua, kegiatan politik warga negara sipil atau lebih tepat lagi peroranganperorangan dalam peranan mereka sebagai warga negara sipil. Dengan
demikian ada perbedaan antara partisipasi politik dan orang profesionl di
bidang politik. Seorang profesional politik adalah orang yang pekerjaan
6
utamanya berpolitik dalam pemerintahan. Konsep mengenai partisipasi
politik tidak mencakup kegiatan pejabat pejabat pemerintah, pejabat pejabat
partai, dan calon politikus, professional yang bertindak di dalam sejumlah
peranan tersebut.
Ketiga, kegiatan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan keputusan pemerintah. Kegiatan yang demikian difokuskan
terhadap pejabat pejabat umum, mereka yang pada umumnya diakui
memiliki wewewang untuk mengambil keputusan dan yang final mengenai
pengalokasian nilai nilai secara otoritatif di dalam masyarakat. Pendek kata,
partisipasi politik dapat mengarah untuk membuat kepututsan pejabat yang
sedang berkuasa berubah, menggantikan atau mempertahankan organisasi
sistem politik yang ada dan aturan aturan permainan politiknya. Keempat,
mencakup seluruh aktivitas yang ditujukan agar pemerintah terpengaruh,
tanpa mempedulikan hasil kedepannya atau ada tidaknya efek yang
dihasilkan.
Kevin R. Hardwick dalam Budiarjo (2008) mengatakan bahwa Partisipasi
politik memberi perhatian pada cara-cara warga negara berinteraksi dengan
pemerintah,
warga
kepentingan
mereka
mewujudkan
negara
berupaya
terhadap
menyampaikan
pejabat-pejabat
kepentingan-kepentingan
tersebut.
publik
kepentinganagar
Indikatornya
mampu
adalah
terdapat interaksi antara warga negara dengan pemerintah dan terdapat
usaha warga negara untuk mempengaruhi pejabat publik. Masih dalam
Budiarjo (2008) Norman H. Nie dan Sidney Verba dalam Handbook of
Political Science semakin menyempurnakan konsep partisipasi politik
sebagai kegiatan pribadi warga negara yang legal yang sedikit banyak
langsung bertujuan untuk mempengaruhi seleksi pejabat-pejabat Negara
dan/atau tindakan-tindakan yang mereka ambil.
Sementara itu menurut Ramlan Surbakti (1999) partisipasi politik dibagi
menjadi 2 yaitu partisipasi aktif dan partisipasi pasif. Partisipasi aktif yaitu
kegiatan warga negara ikut serta dalam menentukan kebijakan dan
7
pemilihan pejabat pemerintah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
demi kepentingan bersama. Bentuk partisipasi aktif antara lain : Mengajukan
usulan tentang suatu kebijakan,mengajukan saran dan kritik tentang suatu
kebijakan tertentu, dan ikut partai politik. Partisipasi pasif yaitu kegiatan
warga negara yang mendukung jalannya pemerintahan Negara dalam rangka
menciptakan kehidupan negara yang sesuai tujuannya. Bentuk partisipasi
pasif antara lain, menaati peraturan yang berlaku dan melaksanakan
kebijakan pemerintah.
Jika mode partisipasi politik bersumber pada faktor “kebiasaan” partisipasi
politik di suatu zaman, maka bentuk partisipasi politik mengacu pada wujud
nyata kegiatan politik tersebut. Samuel P. Huntington dan Joan Nelson (1990)
membagi bentuk-bentuk partisipasi politik menjadi:
1. Kegiatan pemilihan yaitu kegiatan pemberian suara dalam pemilihan
umum, mencari dana partai, menjadi tim sukses, mencari dukungan
bagi calon legislatif atau eksekutif, atau tindakan lain yang berusaha
mempengaruhi hasil pemilu.
2. Lobby yaitu upaya perorangan atau kelompok menghubungi
pimpinan politik dengan maksud mempengaruhi keputusan mereka
tentang suatu isu.
3. Kegiatan organisasi yaitu partisipasi individu ke dalam organisasi,
baik selaku anggota maupun pemimpinnya, guna mempengaruhi
pengambilan keputusan oleh pemerintah.
4. Contacting yaitu upaya individu atau kelompok dalam membangun
jaringan dengan pejabat-pejabat pemerintah guna mempengaruhi
keputusan mereka.
5. Tindakan kekerasan (violence) yaitu tindakan individu atau kelompok
guna mempengaruhi keputusan pemerintah dengan cara menciptakan
kerugian fisik manusia atau harta benda.
Gabriel Almond dalam Budiarjo (2008) memberikan catatan yang sedikit
berbeda tentang bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi diberbagai
negara dapat dibedakan menjadi kegiatan politik dalam bentuk konvensional
8
dan nonkonvensional. Bentuk konvensional partisipasi konvensional melalui
suara (voting), diskusi kelompok, kegiatan kampanye, membentuk dan
bergabung dalam kelompok kepentingan, komunikasi individual dengan
pejabat politik dan pengajuan petisi. Sementara itu bentuk nonkonvensional
antara lain berdemonstrasi, konfrontasi, pemogokan, tindakan kekerasan
politik terhadap harta benda, perusakan, pemboman dan pembakaran dan
tindakan kekerasan politik manusia.
Partisipasi politik partispasi warga negara (private citizen) bertujuan untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa
bersifat individual atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap atau
sporadis, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau ilegal, efektif atau
tidak efektif (Huntington dan Nelson, 1990). Partisipasi politik merupakan
aspek penting dalam demokrasi karena keputusan politik yang diambil oleh
pemerintah akan menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga
masyarakat. Karena itu masyarakat berhak ikut serta menentukan isi
keputusan politik.
Robert Lane dalam Surbakti (1999) menyebut ada beberapa manfaat
partisipasi politik antara lain:
1. Sebagai sarana untuk mengejar kebutuhan ekonomi.
2. Sebagai sarana untuk memuaskan suatu kebutuhan bagi penyesuaian
social.
3. Sebagai sarana mengejar niai-nilai khusus.
4. Sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan alam bawah sadar dan
kebutuhan psikologis tertentu.
5. Memberikan dukungan kepada penguasa dan pemerintah yang
dibentuknya beserta sistem politik yang dibentuknya.
6. Sebagai usaha untuk menunjukkan kelemahan dan kekurangan
pemerintah.
7. Sebagai
tantangan
terhadap
penguasa
dengan
maksud
menjatuhkannya sehingga diharapkan terjadi perubahan struktural
dalam pemerintahan dan dalam sistem politik.
9
Faktor-faktor yang mempegaruhi partisipasi politik menurut Ramlan
Surbakti (1999) menyebutkan dua variabel penting yang mempengaruhi
tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik seseorang. Variabel pertama
adalah aspek kesadaran politik seseorang yang meliputi kesadaran terhadap
hak dan kewajiban sebagai warga negara. Misalnya hak politik, hak ekonomi,
hak mendapatkan jaminan hukum dan lain–lain.
Variabel kedua adalah
aspek menyangkut bagaimana pernilaian dan apresiasi nya terhadap
pemerintah, baik terhadap kebijakan–kebijakan pemerintah dan pelaksanaan
pemerintah. Dan juga luasnya partisipasi politik dipengaruhi oleh tingkat
kemajuan bangsa, sistem politik yang dianut, masalah komunikasi, tingkat
melek huruf.
Menurut Myron Weiner dalam Huntington dan Nelson (1990), paling tidak
terdapat lima hal yang dapat menyebabkan timbulnya gerakan ke arah
partisipasi yang lebih luas dalam proses politik, yaitu:
1. Modernisasi.
Sejalan
dengan
berkembangnya
industrialisasi,
perbaikan pendidikan dan media komunikasi massa, maka pada
sebagian penduduk yang merasakan terjadinya perubahan nasib akan
menuntut berperan dalam politik.
2. Perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Salah satu dampak
modernisasi adalah munculnya kelas pekerja baru dan kelas menegah
yang semakin meluas, sehingga mereka merasa berkepentingan untuk
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan politik.
3. Pengaruh kaum intelektual dan komunikasi massa modern. Kaum
intelektual
melalui ide-idenya kepada masyarakat umum dapat
membangkitkan tuntutan akan partisipasi masa dalam pembuatan
keputusan politik.
4. Konflik di antara kelompok-kelompok pemimpin politik. Para
pemimpin politik bersaing memperebutkan kekuasaan. Sesungguhnya
apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka mencari dukungan
rakyat. Berbagai upaya yang mereka lakukan untuk memperjuangkan
10
ide-ide partisipasi massa dapat menimbulkan gerakan-gerakan yang
menuntut agar hak-hak rakyat yang berpartisipasi itu terpenuhi.
5. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial ekonomi
dan kebudayaan. Perluasan kegiatan pemerintah dalam berbagai
bidang menimbulkan akibat adanya tindakan-tindakan yang semakin
menyusup ke segala segi kehidupan rakyat. Ruang lingkup tindakan
atau kegiatan atau tindakan pemerintah yang semakin luas
mendorong timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisir untuk ikut
serta dalam pembuatan keputusan politik.
B. Partisipasi Politik sebagai Tindakan Sosial
Partisipasi politik dalam Pemilu merupakan perilaku politik yang bisa
dikategorikan sebagai tindakan sosial. Dimana tindakan sosial merupakan
proses aktor terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan subjektif
tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih,
tindakan tersebut mengenai semua jenis perilaku manusia, yang dengan
penuh arti diorientasikan kepada perilaku orang lain, yang telah lewat, yang
sekarang dan yang diharapkan diwaktu yang akan datang. Menurut Johnson
(1990) bahwa tindakan sosial (social action) adalah tindakan yang memiliki
makna subjektif (a subjective meaning) bagi dan dari aktor pelakunya.
Tindakan sosial seluruh perilaku manusia yang memiliki arti subjektif dari
yang melakukannya. Baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang
diutarakan secara lahir maupun diam-diam, yang oleh pelakunya diarahkan
pada tujuannya. Sehingga tindakan sosial itu bukanlah perilaku yang
kebetulan tetapi yang memiliki pola dan struktur tertentu dan makna
tertentu. Teori tindakan menurut Weber (Abercrombie, Hill dan Turner,
2010) adalah tindakan subyektif yang dibedakan dari perilaku karena
melibatkan maksud atau pamrih. Teori tindakan adalah analisis tindakan
yang dimulai dari aktor individual. Analisis dilakukan dalam hak aktor
tertentu, pada situasi tertentu dengan mengidentifikasi tujuan, harapan dan
nilai si aktor; sarana untuk mencapai tujuan itu; sifat situasi dan pengetahuan
11
aktor terhadap situasi, diantara elemen-elemen lain. Parson menyebut
elemen-elemen ini sebagai kerangka acuan tindakan.
Ada dua bentuk teori aksi, yaitu teori hermenutik dan positivis yang
berkaitan dengan doktrin interaksionisme simbolik. Keduanya mula-mula
dicetuskan dalam tulisan Weber. Weber membedakan empat tipe tindakan:
tradisional, afektual, zweckrational dan wertrational. Tindakan tradisional
adalah tindakan yang dilakukan hanya karena memang telah dilakukan di
masa lalu. Tindakan afektual ditampilkan hanya untuk menunjukkan emosi.
Namun Weber tidak terlalu tertarik dengan dua bentuk tindakan ini karena
lebih tertarik pada tindakan rasional. Zweckrational (tindakan instrumental)
adalah tindakan yang mana aktor tidak hanya membandingkan berbagai alat
untuk mencapai sebuah tujuan, tetapi juga menaksir kegunaan tujuan itu
sendiri. Dalam tindakan wertational (rasionalitas nilai), aktor mengambil
tindakan sebagai tujuan akhir itu sendiri dan tidak membandingkan saranasarana yang berbeda untuk meraih tujuan itu. Weber memperjelas bahwa
keempat tipe tindakan itu adalah tipe ideal dan secara empiris campuran dari
satu atau lebih tipe tindakan itu terjadi.
Menurut
Weber,
”keberartian”
dan
tindakan
analisis
perlu
didefinisikan
sosiologi
harus
dengan
pengertian
dilakukan
dengan
mengidentifikasikan makna yang dimiliki tindakan itu bagi aktor. Teori
tindakan hermeneutik adalah teori tindakan yang menjadikan keberartian ini
sebagai prioritas mutlak; tindakan dan niat sangat berkaitan. Schutz
(Abercrombie, Hill dan Turner, 2010) menekankan bahwa kunci menuju
penafsiran atas tindakan berada pada gagasan tentang aliran pengalaman
seiring waktu. Pengalaman kita membentuk aliran pengalaman seiring
waktu.
Setiap pengalaman tidak memiliki makna dengan sendirinya, tetapi dapat
diberi makna melalui refleksi terhadap pengalaman itu dengan melihatnya ke
masa lalu. Namun, tindakan juga dapat direfleksikan terhadap apa yang
12
disebut Schutz sebagai tenses future perfect, yaitu bahwa seseorang dapat
merefleksikan tindakan di masa depan seolah-olah tindakan itu pernah
terjadi di masa lalu. Menurut Schutz, bentuk refleksi ini krusial karena
tindakan merupakan produk dari niat dan refleksi. Dengan kata lain telah
ditentukan oleh sebuah proyeksi atau rencana. Lebih lanjut Schutz,
membendakan motif tujuan”dalam rangka” dan motif “karena”. Yang
pertaman merujuk pada masa depan dan setara dengan tujuan dimana
tindakan itu menjadi sarana. Yang kedua merujuk pada masa lalu dan
merupakan alasan langsung atas tindakan yang tengah diambil. Tindakan
sosial adalah tindakan yang motif dalam rangkanya memuat acuan aliran
pengalaman orang lain. Jika tindakan sosial yang didefinisikan seperti ini
terjadai pada kedua sisi, maka terjadilah interaksi sosial.
Secara umum, semakin serius para teoritisi tindakan hermeneutik
menggunakan keberartian sebuah tindakan, semakin sulit bagi mereka untuk
menyertakan konsep struktur sosial dalam teori itu. Schutz bersikap
ambivalen perihal pertanyaan tentang hubungan aktor individual terhadap
struktur sosial. Di sisi lain, teori tindakan positivis, seperti pada teori Talcott
Parsons, cenderung tertarik pada struktur sosial dan bagaiman struktur
merancang tujuan dan alat yang tersedia bagi aktor. Oleh karena itu, ada
kecenderungan pada teori positivis untuk menjadikan konsep tindakan dan
interaksi kurang penting daripada analisis sistem sosial secara keseluruhan.
Gagasan bahwa struktur sosial hanyalah hasil dari proyeksi dan tindakan
aktor sosial itu dikesampingkan untuk mendukung gagasan bahwa aktor
manusia bersosialisasi ke dalam budaya yang sama.
Tokoh lain dari sosiologi yang berpendapat tentang teori tindakan (Action
Theory) adalah Talcott Parson. Menurut Parsons, tindakan adalah perilaku
yang ditujuan kepada hal ihwal dan orang-orang oleh makna yang melekat
pada aktor. Aktor memiliki tujuan dan memilih saran yang sesuai. Pilihan
terhadap tindakan dibatasi oleh situasi dan dibimbing oleh simbol dan nilai.
Kategori paling penting adalah interaksi, yaitu tindakan yang diarahkan
kepada aktor lain. Ketika sering terjadi interaksi antara dua pihak, muncullah
13
harapan bersama. Keduabelah pihakpun harus menyesuaikan harapan dan
perilaku mereka sehingga bersesuaian dengan yang lain. Karena dianggap
meramalkan perilaku, harapan menjadi norma yang mengatur interaksi.
Mengikuti norma tidak hanya membuat tindakan menjadi lebih efektif tetapi
juga memberikan aktor kepuasan intrinsik karena menurut Parsons, aktor
membutuhkan persetujuan pihak lain. Norma-norma ini adalah dasar bagi
tatanan sosial yang dilembagakan dalam masyarakat dan diinternalisasikan
pada individu. Giddens mencoba untuk melampaui keterbatasan pembedaan
konvensonal
antara
tindakan
pengetahuan
aktor
dan
keberadaan
sumberdaya pengetahuan itu sendiri.
Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan
perhatian pada individu, pola dan regularitas tindakan, dan bukan pada
kolektivitas. Tindakan dalam pengertian orientasi perilaku yang dapat
dipahami secara subyektif hanya hadir sebagai perilaku seorang atau
beberapa manusia individual. Weber mengakui bahwa untuk beberapa
tujuan kita mungkin harus memperlakukan kolektivitas sebagai individu,
namun untuk menafsirkan tindakan subyektif dalam karya sosiologi,
kolektivitas-kolektivitas ini harus diperlakukan semata-mata sebagai
resultan dan mode organisasi dari tindakan individu tertentu, karena semua
itu dapat diperlakukan sebagai agen dalam tindakan yang dapat dipahami
secara subyektif. Tampaknya bahwa Weber hampir tidak dapat mengelak
lagi: sosiologi tindakan pada akhirnya berkutat pada individu, bukan
kolektivitas.
Weber menggunakan metodologi tipe idealnya untuk menjelaskan makna
tindakan dnegan cara mengindetifikasi empat tipe tindakan dasar. Tipologi
ini tidak hanya sangat penting untuk memahami apa yang dimaksud Weber
dengan tindakan, namun juga menjadi salah satu dasar bagi minat Weber
pada struktur tindakan dan institusi sosial yang lebih luas. Yang terpenting
adalah pembedaan yang dilakukan Weber terhadap kedua tipe dasar
tindakan rasional. Yang pertama adalah rasionalitas sara tujuan, atau
tindakan yang ditentukan oleh harapan terhadap perilaku obyek dalam
14
lingkungan dan perilaku manusia lain; harapan-harapan ini digunakan
sebagai syarat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan aktor lewat upaya
dan perhitungan yang rasional. Yang kedua adalah rasionalitas nilai, atau
tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaraqn akan nilai-nialai
perilaku etis, estetis, religius atau bentuk perilaku lain, yang terlepas dari
prospek keberhasilannya. Tindakan afektual ditentukan oleh kondisi emosi
aktor. Tindakan tradisional ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa
dan telah lazim dilakukan.
Aspek pemikiran Max Weber yang terkenal yang mencerminkan tradisi
idealis adalah tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif) sebagai
metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti subyektif
tindakan sosial. Bagi Weber, istilah ini tidak hanya sekedar merupakan
instrospeksi. Introspeksi bisa memberikan seseorang pemahaman akan
motifnya sendiri atau arti-arti subyektif, tetapi tidak cukup untuk memahami
arti-arti subyektif dalam tindakan –tindakan orang lain. Sebaliknya, apa yang
diminta adalah empati-kemampuan untuk menempatkan diri dalam
kerangka berpikir orang lain yang perilakunya mau dijelaskan dan situasi
serta tujuan-tujuannya mau dilihat menurut perspektif itu. Proses itu
menunjuk
pada
konsep
“mengambil
peran”
yang
terdapat
dalam
interaksionisme simbol.
Kalau tindakan sosial itu harus dimengerti dalam hubungannya dengan arti
subyektif yang terkandung di dalamnya, orang perlu mengembangkan suatu
metode untuk mengetahui arti subyektif ini secara obyektif dan analitis.
Dalam keadaan tidak ada metode seperti itu, kritik-kritik terhadap berbagai
pendekatan subyektif pasti benar yang mengatakan bahwa aspek-aspek
pengalaman individu yang tidak dapat diamati tidak dapat dimasukkan
dalam suatu analisa ilmiah mengenai perilaku manusia.
Dalam melihat konflik tradisional antara kaum obyektif dan subyektif, analisa
obyektif mengenai arti subyektif mungkin kelihatannya merupakan suatu
kontradiksi dalam istilah-istilah sendiri. Asumsi yang biasanya mendasari
15
debat ini adalah bahwa pendekatan obyektif hanya berhubungan dengan
gejala yang dapat diamati (benda fisik atau perilaku nyata), sedangkan
pendekatan subyekitf berusaha untuk memperhatikan juga gejala-gejala yang
sukar ditangkap dan tidak dapat diamati seperti perasaan individu,
pikirannya dan motif-motifnya. Cara lain untuk melihat perbedaan obyektif
dan subyektif adalah dalam hubungannya dengan hal dimana pengalaman
subyektif pribadi seseorang dimiliki bersama oleh suatu kelompok sosial.
Suatu pengalaman subyektif yang dapat dimengerti karena dialami bersama
secara meluas, dapat dilihat sebagai obyektif, sedangkan suatu pengalaman
subyektif yang tidak dapat dikomunukasikan atau dimengerti, tetap tidak
dapat diungkap sebagai suatu pengamalam pribadi yang benar-benar
subyektif, meskipun sangat riik bagi orang yang bersangkutan.
Rasionalitas dan peraturan biasa mengenai logika merupakan suatu
kerangka acuan bersama secara luas dimana aspek-aspek subyektif perilaku
dapat dinilai secara obyektif. Misalnya, apabila seseorang memilih yang
kurang mahal dari dua produk yang sama, kita mengerti perilaku itu sebagai
rasional karena sesuai dengan kriteria rasionalitas obyektif yang kita terima.
Tidak semua perilaku dapat dimengerti sebagai suatu manifestasi dari
rasionalitas.
Penderitaan-penderitaan
seperti
kemarahan
atau
cinta,
ketakutan mungkin diungkapkan dalam perilaku nyata dalam bentuk yang
sepintas lalu kelihatannya tidak rasional.
Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam
klasifikasinya mengenai tipe-tiep tindakan sosial. Pembedaan pokok yang
diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang nonrasional. Singkatnya,
tindakan rasional berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan
bahwa tindakan itu dinyatakan. Di dalam kedua kategori utama mengenai
tindakan rasional dan non rasional itu, ada dua bagian yang berbeda satu
sama lain.
16
BAB III
1. KABUPATEN BOYOLALI
A. Sejarah
Asal mula nama Boyolali menurut cerita serat Babad Pengging Serat
Mataram, nama Boyolali tak disebutkan. Demikian juga pada masa Kerajaan
Demak Bintoro maupun Kerajaan Pengging, nama Boyolali belum dikenal.
Menurut legenda nama Boyolali berhubungan dengan ceritera Ki Ageng
Pandan Arang (Bupati Semarang pada abad XVI).
Alkisah, Ki Ageng Pandan Arang yang lebih dikenal dengan Tumenggung
Notoprojo
diramalkan
oleh
Sunan
Kalijogo
sebagai
Wali
penutup
menggantikan Syeh Siti Jenar. Oleh Sunan Kalijogo, Ki Ageng Pandan Arang
diutus untuk menuju ke Gunung Jabalakat di Tembayat (Klaten) untuk syiar
agama Islam.
Dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, Ki Ageng Pandan Arang semakin
meninggalkan anak dan istri. Sambil menunggu mereka, Ki Ageng
Beristirahat di sebuah Batu Besar yang berada di tengah sungai. Dalam
istirahatnya Ki Ageng Berucap “ Bayawis lali wong iki” yang dalam bahasa
indonesia artinya “Sudah lupakah orang ini”.Dari kata Baya Wis Lali/ maka
jadilah nama Boyolali.
Batu besar yang berada di Kali Pepe yang membelah kota Boyolali
mungkinkah ini tempat beristirahat Ki Ageng Pandan Arang. Mungkin tak ada
yang bisa menjawab dan sampai sekarang pun belum pernah ada meneliti
tentang keberadaan batu ini. Demikian juga sebuah batu yang cukup besar
yang berada di depan Pasar Sunggingan Boyolali. Konon, menurut
masyarakat setempat, batu ini dulu adalah tempat untuk beristirahat Nyi
Ageng Pandan Arang.
17
Dalam istirahatnya Nyi Ageng mengetuk-ngetukan tongkatnya di batu ini dan
batu ini menjadi berlekuk-lekuk mirip sebuah dakon (mainan anak-anak
tempo dulu). Karena batu ini mirip dakon, masyarakat disekitar Pasar
Sunggingan menyebutnya mBah Dakon dan hingga sekarang batu ini
dikeramatkan oleh penduduk dan merekapun tak ada yang berani
mengusiknya.
Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali tidaklah mudah. Untuk menetapkan
hari jadi yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni itu memakan waktu
yang cukup lama dan perlu penelusuran sejarah yang panjang.
Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali sebelumnya telah dilakukan
penelitian oleh Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penelitian ini didasarkan atas Surat Perjanjian Kerja sama antara Pemerintah
Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali dengan dengan Lembaga Penelitian
UNS pada 11 September 1981. Setelah melakukan penelusuran sejarah,
selanjutnya pada 23 Pebruari 1982 di Gedung DPRD Kabupaten Boyolali
diselenggarakan seminar tentang Sejarah Hari Jadi Kabupaten Daerah
Tingkat II Boyolali.
Selanjutnya melalui Rapat Paripurna DPRD pada tanggal 13 Maret1982 telah
ditetapkan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Boyolali Nomor 3 Tahun
1982 tentang Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. Perda tersebut telah
diundangkan melalui Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II
Boyolali pada tanggal 22 Maret 1982 Nomor 5 Tahun 1982 Seri D Nomor 3.
B. Geografis
Secara astronomis wilayah Kabupaten Boyolali berada pada posisi antara
110022’-110050’ Bujur Timur (BT) dan antara 707’-7036’ Lintang Selatan
(LS). Kemudian, secara geografis, Kabupaten Boyolali mempunyai luas
wilayah kurang lebih 101.510,10 hektar. Wilayah itu membentang dari BaratTimur sejauh 48 km dan Utara-Selatan sejauh 54 km,
dengan batas
administrasi wilayah, sebagai berikut: Kabupaten Grobogan dan Kabupaten
18
Semarang di sebelah utara; Kabupaten Karanganyar, Sragen, dan Sukoharjo
di sebelah timur; Kabupaten Klaten dan Provinsi D.I. Yogyakarta di sebelah
selatan; Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang di sebelah barat.
Pemerintahan Kabupaten Boyolali secara administratif terbagi ke dalam 19
kecamatan, meliputi: Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Musuk,
Kecamatan Ampel, Kecamatan Boyolali, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan
Teras, Kecamatan Sawit, Kecamatan Banyudono, Kecamatan Sambi,
Kecamatan Simo, Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Nogosari, Kecamatan
Klego, Kecamatan Andong, Kecamatan Karanggede, Kecamatan wonosegoro,
Kecamatan Kemusu, dan Kecamatan Juwangi.
Wilayah Kabupaten Boyolali termasuk kategori iklim tropis dengan rata-rata
curah hujan sekitar 2000 milimeter/tahun. Dengan kontur yang didominasi
dataran tinggi, Kabupaten Boyolali menyimpan potensi/kekayaan sumber
daya air, antara lain: sumber air dangkal/mata air atau masyarakat setempat
menyebutnya umbul, terdapat di Tlatar di wilayah Kecamatan Boyolali,
Nepen di wilayah Kecamatan Teras, Pengging di wilayah Kecamatan
Banyudono, Pantaran di wilayah Kecamatan Ampel, Wonopendut di wilayah
Kecamatan Cepogo, Mungup di wlayah Kecamatan Sawit.
Struktur tanah wilayah Kabupaten Boyolali pun beragam, seperti: tanah
lempung yang bisa ditemukan di bagian timur laut sekitar wilayah Kecamatan
Simo dan Kecamatan Karanggede; tanah geluh yang bisa ditemukan di bagian
tenggara sekitar wilayah Kecamatan Banyudono dan Kecamatan Sawit; Lalu, di
bagian barat laut sekitar wilayah Kecamatan Musuk dan Kecamatan Cepogo
struktur tanah pada umumnya berpasir; dan tanah berkapur bisa dijumpai di
bagian utara, sepanjang perbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan yakni
sebagian
Kecamatan
Juwangi,
Kecamatan
Kemusu,
dan
Kecamatan
Wonosegoro).
Struktur tanah tersebut menyimpan potensi ekonomi di Kabupaten Boyolali
khususnya di sektor pertambangan, berupa: bahan galian bentonit terdapat di
Kecamatan Wonosegoro, Kecamatan Karanggede, Kecamatan Klego, dan
19
Kecamatan Simo; bahan galian gamping di Kecamatan Juwangi; bahan galian
tanah urug terdapat di Kecamatan Nogosari dan Kecamatan Ngemplak; bahan
galian trass terdapat di Kecamatan Mojosongo; dan bahan galian pasir dan batu
terdapat di Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Ampel, Kecamatan
Musuk, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Teras, Kecamatan Karanggede, dan
Kecamatan Wonosegoro; serta bahan galian tanah liat terdapat di Kecamatan
Boyolali, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Teras, dan Kecamatan Banyudono.
Selain itu, tanah di wilayah Kabupaten Boyolali dengan didukung iklim dan
ketersediaan air, sangat cocok untuk dijadikan pengembangan produksi bahan
pangan pokok, hortikultura, buah-buahan, dan perkebunan.
Pada kurun waktu yang sama, Kabupaten Boyolali juga menghasilkan tebu
sebanyak 29.337,60 ton; tembakau rajangan sebanyak 2.635,35 ton;
tembakau asepan sebanyak 626,73 ton; kopi sebanyak 397,52 ton; cengkeh
sebanyak 104,64 ton; dan kelapa sebanyak 18,2 juta butir. Hasil-hasil pada
sektor pertanian itu menjadi sumbangan tertinggi terhadap PDRB ADHB
Kabupaten Boyolali tahun 2013 sebesar Rp3,541 trilyun. Sektor pertanian
merupakan sektor dominan di Boyolali.
Penggunaan lahan di Kabupaten Boyolali diatur dalam Perda Nomor 9 Tahun
2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Boyolali Tahun 2011 –
2031. Ketentuan tersebut telah selaras dengan rencana tata ruang baik di
tingkat provinsi maupun nasional.
Sebagian besar lahan di Kabupaten Boyolali (sebanyak 70%) merupakan
lahan kering baik berupa tegalan, pekarangan, maupun hutan. Sisanya, tanah
berupa sawah, waduk/kolam, dan lahan lainnya. Wilayah yang memiliki
lahan kritis dan lahan kering meliputi: Kecamatan Sambi, Kecamatan Simo,
Kecamatan Nogosari, Kecamatan Andong, Kecamatan Klego, Kecamatan
Karanggede, Kecamatan Wonosegoro, Kecamatan Kemusu, dan Kecamatan
Juwangi.
20
Sementara itu, wilayah Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, Kecamatan
Ampel, dan Kecamatan Musuk beriklim cukup sejuk mendukung untuk
pengembangan budidaya peternakan sapi dan hortikultura. Pengembangan
perikanan Kabupaten Boyolali didukung oleh potensi wilayah untuk
pengembangan perikanan darat. Ikan yang paling banyak dipelihara adalah
lele dumbo, nilai, mas dan tawes. Hal tersebut membuat Kabupaten Boyolali
juga dikenal dengan produksi ikannya yang melimpah.
C. Ekonomi
Perkembangan perekonomian suatu wilayah selama ini diukur melalui
perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan hasil
penghitungan angka sementara, PDRB Boyolali tahun 2013 Atas Dasar Harga
Berlaku (ADHB) mencapai Rp10,861 trilyun. Jumlah itu meningkat dibanding
tahun 2012 sebesar Rp9,976 trilyun.
Jika dilihat dari PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) pada tahun 2013
mencapai Rp4,973 trilyun. Sedangkan, pada tahun 2012 PDRB ADHK
mencapai Rp4,725 trilyun. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Boyolali
apabila dilihat dari indikator PDRB, secara agregat PDRB Atas Dasar Harga
Berlaku pada tahun 2013 apabila dibadingkan tahun 2013 terjadi kenaikan
sebesar 8,87%. Sedangkan PDRB Atas Dasar Harga Konstan pada tahun 2013
tumbuh 5,24 % jika dibandingkan tahun 2012.
Sektor pertanian mengkontribusi PDRB ADHK paling tinggi, meskipun terjadi
penurunan produksi padi. Hal ini dikarenakan nilai produksi subsektor
pertanian palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan
kehutanan mengalami peningkatan nilai produksi jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya.
Inflasi adalah besarnya perubahan harga barang dan jasa secara rata-rata
yang mencakup ratusan komoditas yang dikonsumsi masyarakat. Indikator
ini menunjukkan tingkat stabilitas perekonomian di suatu wilayah pada
periode tertentu. Inflasi yang relative rendah danterkendali merupakan
21
prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi secara wajar, karena kegiatan
produksi barang dan jasa berlangsung sesuai hokum pasar yang berlaku dan
dapat diprediksi sifat dan perilakunya di pasar. Setelah mengalami lonjakan
yang tinggi di tahun 2005 akibat kenaika harga bahan bakar minyak (BBM)
yang terjadi pada bulan Maret dan Oktober 2005, lajuinflasi Kabupaten
Boyolali mulai stabil dan berangsur turun di periode tahun-tahun setelahnya.
Inflasi tahun kalender 2013 di Kabupaten Boyolali sebesar 8,21%, jika
dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 3,35% berarti ada kenaikan
sebesar 1,45%. Andil terbesar disumbangkan oleh kelompok bahan makanan
sebesar 16,62%.
Selain itu, pemerintah secara rutin setiap tahun melaksanakan renovasi dan
pemeliharaan/rehab pasar-pasar yang lain. Pasar yang dikelola pemerintah
Kabupaten Boyolali saat ini berjumlah 44 pasar yang terdiri dari 39 pasar
Umum dan 5 pasar Hewan. Pelaksanaan pembangunan industri difokuskan
pada pemberdayaan industri kecil dan menengah dengan meningkatkan daya
saing produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas output produksi.
Fasilitasi pelatihan dan bantuan alat merupakan solusi yang dipilih
disamping pelaksanaan kegiatan yang lain yang mendukung. Saat ini,
Kabupaten Boyolali memiliki sebanyak 6.214 industri kecil; 111 industri
menengah; dan 16 industri besar.
Dalam upaya mendorong tumbuhnya pariwisata di Kabupaten Boyolali, telah
dilaksanakan revitalisasi beberapa obyek wisata di Kabupaten Boyolali
Tahun 2013, antara lain obyek wisata di Tlatar;
Waduk Bade;
waduk
Cengklik; Pengging; Kapujanggan/ Ngeksipurna; Ampel Pantaran; Selo dan
Taman Kridanggo. Sedangkan langkah–langkah yang ditempuh
dalam
peningkatan partisipasi masyarakat dan sadar wisata di Boyolali antara lain:
melalui kegiatan Pemberdayaan masyarakat dengan sasaran masyarakat
umum; Kegiatan pemasyarakatan sapta pesona dengan sasaran masyarakat
sekitar obyek wisata terutama anggota Pokdarwis.
22
Selain itu langkah yang ditempuh dalam upaya peningkatan kompetensi
kepariwisataan
di
Boyolali:
Percepatan
pembangunan
infrastruktur;
Peningkatan iklim investasi; Rancang desain pengembangan obyek wisata;
dan Peningkatan peran serta masyarakat. Kunjungan wisata pada tahun 2013
domestik maupun mancanegara sebanyak 375.814 orang dibandingkan pada
tahun 2012 sebanyak 336.941 orang atau terjadi peningkatan jumlah
pengunjung obyek wisata di Kabupaten Boyolali sebesar 10,34 %. Kendati
demikian, pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan Obyek Tujuan
Daerah Wisata di Kabupaten Boyolali melalui perbaikan dan revitalisasi
sarana prasarana maupun manajemen pengelolaannya.
D. Demografi
Penduduk Kabupaten Boyolali pada tahun 2013 berjumlah 959.732 jiwa
dengan komposisi laki-laki sebanyak .471.593 jiwa dan perempuan sebanyak
488.139 jiwa, serta kepadatan penduduk sebesar 949 jiwa/Km2. Sedangkan
pada tahun 2012
berjumlah 956.850 jiwa dengan komposisi laki-laki
sebanyak 469.649 jiwa dan perempuan sebanyak 487.201 jiwa, serta
kepadatan penduduk sebesar 943 jiwa/Km2.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa jumlah penduduk Kabupaten
Boyolali tahun 2013 terjadi penambahan 2.882 jiwa atau terjadi
pertumbuhan sekitar 0,30 %. Dalam kurun waktu yang sama tingkat
kelahiran di Kabupaten Boyolali sebesar 12,2 per 1000 penduduk. Dan
tingkat kematian mencapai 7,4 per 1000 penduduk.
Di wilayah tersebut juga terdapat 17.510 murid taman kanak-kanak (TK)
yang bersekolah di 534 TK swasta. Sedangkan di TK milik pemerintah
terdapat sebanyak 240 murid yang belajar di 3 sekolah. Jumlah total murid
TK baik negeri maupun swasta mencapai 17.750 murid. Mereka setiap hari
diajar oleh sebanyak 1.468 guru. Dengan demikian, rasio murid dibanding
guru adalah 12.
23
Pada jenjang sekolah dasar (SD), terdapat 4.776 murid yang menempuh
pendidikan di 26 sekolah swasta. Jumlah itu masih ditambah dengan 69.328
murid yang belajar di sekolah milik pemerintah. Dengan begitu, jumlah total
murid yang menempuh sekolah dasar di Kabupaten Boyolali sebesar 74.104
murid. Sedangkan jumlah guru yang mengajar untuk keseluruhan sekolah
sebesar 5.864 guru. Dengan demikian, rasio jumlah murid terhadap jumlah
guru adalah 13.
Kemudian untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Di Kabupaten
Boyolali terdapat 39 sekolah swasta. Sekolah itu menampung sebanyak 6.444
murid. Selain sekolah swasta, terdapat pula sekolah milik pemerintah yang
berjumlah 52 sekolah. Sekolah milik pemerintah itu total menampung murid
sebanyak 27.746 murid. Dengan demikian, jumlah total murid SMP yang
bersekolah di Kabupaten Boyolali sebanyak 34.190 murid. Pada kurun waktu
yang sama jumlah guru yang terdapat di sana sebanyak 2.506 guru. Sehingga
rasio jumlah murid terhadap jumlah guru adalah 14.
Terakhir, pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah
kejuruan (SMK). Menurut data tahun 2013, jumlah SMA dan SMK swasta di
Kabupaten Boyolali sebanyak 48 sekolah. Sekolah tersebut menjadi tempat
belajar bagi 12.193 murid setiap harinya.
Sementara, jumlah SMA/SMK negeri di Kabupaten Boyolali berjumlah 26
sekolah. Sekolah-sekolah diisi pelajar berjumlah 8.733 murid. Dengan
demikian, julmah murid SMA/SMK di Kabupaten Boyolali secara keseluruhan
sebesar 28.246 murid. Jumlah guru SMA/SMK di Kabupaten Boyolali pada
kurun waktu yang sama sebanyak 2.457 murid. Dengan demikian, rasio
jumlah murid terhadap jumlah guru sebesar 11.
Kendati rasio murid terhadap guru relative rendah, angka partisipasi kasar
(APK) dan angka partisipasi murni (APM) di Kabupaten Boyolali cenderung
rendah. Pada tahun 2013, untuk jenjang sekolah dasar (SD) nilai APK untuk
sebesar 98,97 dan nilai APM sebesar 83,72. Sementara untuk jenjang sekolah
menengah pertama (SMP) nilai APK sebesar 92,08 dan nilai APM sebesar
24
72,05. Nilai APM dan APK semakin kecil pada jenjang sekolah menengah atas.
Pada jenjang ini, nilai APK sebesar 69,45 dan nilai APM sebesar 48,57.
Berdasarkan kelompok umur penduduk, sebesar 65,57% merupakan
penduduk usia produktif, yakni mereka yang berumur antara 15 tahun
hingga 64 tahun, sedangkan selebihnya sebesar 34,42% adalah kelompok
umur yang secara teoritis menjadi tanggungan kelompok produktif yakni
kelompok umur muda (usia 0 hingga 14 tahun) dan kelompok umur tua (usia
65 tahun keatas).
Sebaran penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja berdasarkan lapangan
pekerjaan di Kabupaten Boyolali tahun 2013, sebagai berikut: Pertanian
sebesar 346.422 orang; pertambangan dan penggalian sebesar 4.425 orang;
industry pengolahan sebesar 84.192 orang; listrik, gas, dan air sebesar 1.253
orang; konstruksi sebesar 49.864 orang; perdagangan, rumah makan dan
akomodasi
sebesar
126.070
orang;
transportasi,
pergudangan
dan
komunikasi sebesar 19.914 orang; keuangan sebesar 5.005 orang; jasa
sebesar 88.751 orang; dan laiinya mencapai 3.617 orang.
Selanjutnya dari komposisi ini dapat dihitung angka rasio ketergantungan
(dependency ratio) yang menyatakan besarnya tanggungan kelompok
produktif. Rasio ketergantungan pada tahun 2013 sebesar 52,49% yang
berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif menanggung sekitar 52 orang
yang belum atau sudah tidak produktif lagi. Kondisi ini relatif stabil jika
dibandingkan dengan tahun 2012 yang berada pada angka 53,09.
Struktur penduduk Kabupaten Boyolali sebagian besar masih bermata
pencaharian sebagai petani bahkan cenderung semakin meningkat. Oleh
sebab itu kebijakan di sektor pertanian mendapatkan perhatian utama,
meskipun tetap mengembangkan sektor lain sebagai ciri kemajuan bangsa
yaitu industrialisasi dan jasa, namun industrialisasi tetap bertumpu pada
modernisasi dan industrialisasi pertanian.
25
Penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah
muaranya adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara material
dan spiritual, dalam upaya tersebut berbagai program dan kegiatan
diarahkan dan diintervensikan guna mencapai sasaran tersebut. Hal ini
sangat relevan dengan visi Kabupaten Boyolali 2010-2015 “Kabupaten
Boyolali yang lebih Sejahtera, berdaya saing dan pro Investasi”. Sehingga
keberhasilan pengingkatan kesejahteraan merupakan indikator tercapainya
visi misi pembangunan.
Kemiskinan tampaknya masih menjadi problem pemerintah daerah. Di
Boyolali, garis kemiskinan ditetapkan setiap tahun mengalami peningkatan.
Secara detil, jumlah garis kemiskinan dan persentase penduduk miskin
diuraikan berikut ini: tahun 2009 garis kemiskinan ditentukan sebesar
Rp195.538/kapita/bulan dengan persetase penduduk miskin sebesar 15,96
persen.
Tahun
2010
garis
kemiskinan
ditentukan
sebesar
Rp209.495/kapita/bulan dengan persetase penduduk miskin sebesar 13,72
persen.
Lalu,
tahun
2012
garis
kemiskinan
ditentukan
sebesar
Rp238.986/kapita/bulan dengan persetase penduduk miskin sebesar 13,88
persen.
26
BAB IV
1. SKEMA OPTIMALISASI PARTISIPASI
Menyadarai bahwa proses terkait melek politik masyarakat tidak semudah
membalikkan telapak tangan, maka KPU Kabupaten Boyolali berusaha
mengajak semua pihak yang terkait dan peduli dengan pelaksanaan Pemilu
untuk bersama memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Karena
untuk melakukan berbagai macam program, KPU Kabupaten Boyolali juga
mempunyai keterbatsan dana. Dan proses yang bisa dilakukan adalah bisa
dengan forum diskusi atau melakukan berbagai macam seminar yang
berkaitan dengan proses pendidikan politik.
“Harus ada skema pendidikan politik yang terus menerus. Mungkin tidak akan
memperbaiki 100%, namun semuanya kan by proses bahwa waktu itu akan
yang akan menjawab. Kami kan tidak bisa membuat program sendiri, jadi
kami masih nunggu dari pusat, tetapi menurut kami itu sangat bagus, sebab
strukur kebijakan kami juga terikat dengan anggaran.”
Salah satu skema program yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyoali
adalah melakukan rekruitmen bagi Relawan Demokrasi. Dalam kapasitasnya
untuk membantu kerja-kerja sosialisasi dalam rangka promosi penggunaan
hak pilih bagi warga. Kondisi tersebut setidak-tidaknya memberi dampak
secara tidak langsung bagi upaya untuk meningkatkan tingkat partisipasi
dalam Pemilu, mengingat wilayah di Boyolali yang luas dan terdiri dari 19
Kecamatan. Dampak utama yang bisa dirasakan bagi aktivitas para Relawan
Demokrasi adalah adanya peningkatan tingkat partisipasi sebagai bagian dari
bentuk kesadaran politik warga untuk bersama-sama mewujudkan Pemilu
yang demokratis.
Strategi yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyolali beserta stakeholder
adalah meningkatkan pemahaman dan pengenalan semua Calon-calon
27
Legislatif kepada masyarakat tidak hanya menjelang pemilu. Dengan pola ini,
perlu dicatat juga prestasi apa yang telah dicapai, atau apa saja yang telah
dilakukan calon anggota dewan yang bakal disosialisasikan untuk kemudian
dipilih oleh warga. Dengan kapasitas Parpol dalam melakukan verifikasi
calon dilakukan lebih serius dan diperketat, diharapkan kedepannya bisa
meminimalisir lolosnya calon yang tidak berkualitas. Bingkai pendidikan
politik, dalam konteks luas tentunya tidak bisa dalam hitungan politik
menjelang Pemilu. Oleh karenanya, bisa melibatkan berbagai macam pihak
seperti dari kurikulum pendidikan yang memberikan nilai lebih kepada siswa
yang sudah memenuhi syarat menggunakan hak pilihnya.
Intensitas program-program yang selama ini yang sudah dilakukan yaitu
sosialisasi dan pendampingan kedepan mesti harus terus dilakukan. Secara
khusus, sebagai contoh adalah program sosialisasi terhadap kelompokkelompok difabel, yang secara spesifik berbeda dengan orang pada
umumnya. Idealnya, kalau tahapan yang dilakukan tersebut bisa dilakukan
secara berkala. Dengan strategi mengembangkan pembuatan kelas belajar
yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyolali, untuk teman–teman difabel
bisa belajar bersama dan menerima penjelasan. Pada saat bersamaan, KPU
Kabupaten Boyolali juga bisa mendengar lebih lanjut apa yang diinginkan
serta menjadi kebutuhan teman–teman difabel. Jadi kedepan, pelaksanaan
Pemilu bisa lebih baik lagi.
“Tetep sosialisasi ya, walaupun masih 5 tahun yang akan datang. Tapi dari
sekarang bisa dilaksanakan. Trus KPU kalau bisa membuat kayak semacam
kelas antara KPU dan difabel” .
Keberadaan Relawan Demokrasi, sejauh ini memberi dampak bagi temanteman difabel untuk bisa lebih melek politik. Banyak diskusi–diskusi yang
menghasilkan dinamika untuk bisa lebih jauh mengetahui bahwa kebutuhan
difabel antar satu kelompok dengan kelompok yang lain tidaklah sama tetapi
seringkali dipukul rata bahwa semua difabel itu sama.
28
Kebijakan yang bisa dilakukan adalah bahwa fasilitas kertas atau surat suara
itu perlu ditingkatkan. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan mengacu pada
jumlah data pemilih. Karena tidak semua wilayah ini kan mempunyai pemilih
difabel. Dengan data yang akurat, maka diharapkan dari panitia bisa lebih
memberikan perhatian khusus bagi kaum difabel. Untuk TPS kedepan, juga
disediakan bilik khusus difabel kalau memang di TPS yang bersangkutan
terdapat pemilih difabel sehingga kenyamanan kelompok difabel bisa
ditingkatkan. Untuk hal ini, memang dibutuhkan kerja sama dari berbagai
pihak terutama dari KPU Kabupaten Boyolali dan Dinas Sosial Kabupaten,
mengingat karena sekarang dari Dinas Sosial adalah kelompok yang memberi
perhatian lebih kepada kaum difabel.
Keberadaan Relawan Demokrasi untuk mengkampanyekan kesadaran dalam
menggunakan hak pilih dirasa mampu memberi kontribusi. Walaupun
kendala secara mendasar tetap ada yaitu kendala waktu. Dimana masalah
waktu pembentukan para relawan yang dilakukan masih terasa kurang
terutama bagi kelompok difabel. Karena untuk sosialisasi kepada difabel
banyak yang harus diperhatikan. Berbeda dengan segmentasi relawan
demokrasi bagi stakeholder yang lain, mungkin lebih mudah. Karena mereka
bisa menggunakan berbagai macam strategi pendekatan namun kalau untuk
kelompok difabel, itu tidak bisa dilakukan, karena memang forumnya harus
khusus.
Skema program yang lain, yaitu pola sosialisasi yang bisa berjalan dua arah.
Sosialisasi dalam frame pendidikan politik, dimana pihak–pihak yang perlu
dilibatkan dalam peningkatan proses melek politik adalah semua pihak yang
berkepentingan, baik individu atau kelompok. Karena pola tersebut akan
secara efektif dengan terbentuknya kelompok-kelompok profesi seperti
kelompok tani, kelompok ternak, ibu–ibu PKK, lansia, maupun kelompok–
kelompok lain yang bisa dijadikan tempat untuk proses pembelajaran politik
bersama bagi masyarakat.
29
Pelaksanaan Pemilu sangat penting karena disitulah masyarakat dilibatkan
dalam proses pemilihan wakil rakyat yang diharapkan mampu menyerap
aspirasi mereka, atau mau mendengarkan keluhan yang mereka rasakan.
Pada level masyarakat umum, menggunakan hak pilihnya dalam setiap
kesempatan karena pelaksanaan Pemilu yang dilakukan setiap 5 tahun sekali
sangat disayangkan kalau hanya jadi penonton, karena kesadaran bahwa satu
suara bisa sangat menentukan perubahan kedepan. Karena dalam setiap
pelaksanaan Pemilu yang diharapkan adalah adanya perubahan kearah yang
lebih baik dan bisa tercapai kesejahteraan.
Kondisi diatas menjadi hasil dari pola sosialisasi yang ada. Namun beberapa
program perlu dilakukan, agar berbagai macam kajian lebih lanjut untuk
meningkatkan kesadaran politik dan melibatkan banyak pihak. Selain KPU
Kabupaten Boyolali, Parpol sendiri harus lebih memperhatikan kualitas
kader-kader politiknya. Lewat skema diberikannya pendidikan yang
mendalam dan lebih terarah dalam kerangka kebijakan Parpol. Untuk itu,
perlu kerjasama yang lebih intens dengan Komisioner selaku penyelenggara
Pemilu bisa melakukan program dengan stake holder terkait seperti LSM,
maupun tokoh agama, bisa duduk bersama membahas skema terbaik yang
bisa dilakukan. Forum ini mungkin tidak bisa satu kali jalan terus selesai
tetapi memang harus dilakukan secara intensif, sehingga nanti bisa
menularkan ke masyarakat luas.
“Dari Partai memberikan sebuah pendidikan politik kepada kader dan
konstituennya. Kalau semua Partai melakukannya, maka tanggung jawab KPU
bisa terbantu. Bisa juga melibatkan stake holder.”
Hal ini diperlukan agar kerja para relawan bisa maksimal dan pada saat
bersamaan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilih ditopan
bersama oleh Komisioner, Parpol maupun masyarakat yang secara suka rela
aktif mempromosikan kepada masyarakat luas untuk menggunakan hak
pilihnya.
30
Kerja-kerja nyata para relawan yang diterjunkan oleh KPU Kabupaten
Boyolali, yang aktif melakukan sosialisasi dalam agenda perkumpulanperkumpulan warga yang secara rutin dilakukan. Pola tersebut dirasa lebih
efektif dibanding dengan sosialisasi melalui media massa, mengingat secara
demografis Boyolali lebih didominasi masyarakat pedesaan. Dalam
prakteknya di masyarakat pedesaan, materi yang didistribusikan pada ajang
perkumpulan bisa lebih menyentuh di benak masyarakat. Hal tersebut, juga
lebih hemat biaya dibandingkan dengan kampanye melalui media,
pembuatan pamflet, dan sebagainya.
Semuanya skema sosialisasi tentunya akan berujung pada upaya untuk
meningkatkan partisipasi warag dalam menggunakan hak pilihnya. Dan
untuk mendukung proses peningkatan partisipasi politik, satu hal yang
seringkali terabaikan adalah keberadaan Tempat Pemungutan Suara.
Mengingat kondisi geografis yang luas dan kecenderungan masyarakat yang
enggan mengakses TPS bila letaknya terlalu jauh. Pada beberapa kasus,
semisal daerah Cepogo yang geografisnya adalah pegunungan dan banyak
jurang. Akses warga untuk menggunakan hak pilih menjadi tantangan besar
bila harus melihat kondisi lingkungan di sekitar Boyolali maka mesti dikaji
lebih jauh agar kesempatan untuk menggunakan hak pilih bisa dilakukan
secara maksimal.
31
2. DINAMIKA DAN KESADARAN POLITIK
Catatan atas tingkat partisipasi di Boyolali, menarik karena menunjukkan
beberapa informasi. Pertama, partisipasi politik yang paling tinggi adalah
dari kawasan-kawasan yang dihuni oleh masyarakat yang beraktivitas
keseharian sebagai kaum petani. Disini tingkat partisipasi tinggi disebabkan
karena petani biasanya selalu beraktivitas dirumah dan tidak meninggalkan
rumah dalam waktu yang lama. Keberadaan dan pola aktivitas ternyata
menentukan model informasi yang masuk dan menjadi panduan bagi para
petani untuk menggunakan hak pilihnya.
Selain kelompok petani, pemilih pemula mempunyai potensi untuk menjadi
pemillih yang dominan kesadaran politiknya. Generasi muda mempunyai
keuntungan bahwa mereka mudah untuk akses teknologi dan idealisme yang
kuat. Para generasi muda ini harus diarahkan, karena para generasi muda
bisa menjadi sangat peduli atau bisa sangat apatis. Ketika generasi muda
mempunyai kesadaran yang tinggi, maka diharapkan akan mampu
menularkan kepada teman–temannya, keluarga, dan juga lingkungan sekitar.
32
“Ketika ada diskusi dengan
kelompok pemilih pemula
diskusinya itu bisa hidup gitu ya.
Kan sekarang tekhnologi sudah
semakin maju ya. Televisi, internet,
dan sebagainya. Mereka melihat
tidak dari indonesia saja ya.
Mereka juga lebih ke awarenes.”
33
Sedangkan, untuk kelompok masyarakat lain adalah dari sektor pemilih
pinggiran atau kaum marjinal. Keberadaan para pemilih marjinal kedepan
harus dimaksimalkan pendidikan politiknya, sebab ada asumsi bahwa tidak
ada korelasi antara kehidupan ekonomi keseharian warga disektor marjinal
dengan praktek-praktek politik. Dan kondisi tersebut berujung pada
keengganan untuk ikut dalam kegiatan Pemilu. Tantangan kedepannya
adalah
menempatkan
kelompok
masyarakat
marjinal
untuk
bisa
berpartisipasi dalam pelaksanaan Pemilu, sekaligus membangun kesadaran
bersama bahwa menggunakan hak politik bukanlah rutinitas semata dan
tidak benar–benar diperlukan. Kesadaran tersebut harus dibangun agar
memberi kesempatan yang luas terhadap terbukanya praktek politik
terhadap peluang-peluang kehidupan yang lebih baik bagi warga secara
kesuluruhan.
Secara umum, kesadaran politik di Boyolali masih dalam tahap menengah.
Kondisi tersebut dikarenakan banyaknya faktor yang menyebabkan
pengguna hak pilih datang ke TPS untuk menggunakan hak-hak politiknya.
Ada beragam faktor, antara lain bisa karena kedekatan emosi, kedekatan
wilayah, fanatik dengan Partai tertentu, dan yang lebih parah adanya
praktek-praktek transaksi politik. Kesadaran bersama yang diharapkan dari
pelaksanaan Pemilu bagi masyarakat adalah kesempatan bisa memilih
pemimpin yang berkualitas dan mampu membawa perubahan. Kondisi inilah
yang sepenuhnya belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, yaitu
menumbuhkan kesadaran politik bagi masyarakat karena memang butuh
proses untuk bisa memberikan pendewasaan politik.
Dalam membangun kesadaran politik warga, harus ada rasa kepercayaan
dengan tumbuh dan dibangun secara masyarakat. Siklus demokrasi yang
menempatkan hasil Pemilu menjadi anggota-anggota DPRD sebagai
representasi wakil rakyat di parlemen. Beban politik wakil rakyat adalah
memperjuangkan serta mendengarkan aspirasi rakyat, keluhan ditampung,
dan ketika ada bantuan untuk masyarakat disalurkan ke masyarakat sesuai
kebutuhannya. Kondisi yang ideal atas praktek parlemen akan memberi
34
modal besar bagi proses keterbangunan kesadaran politik bagi masyarakat
luas dan setidaknya dapat berimplikasi secara langsung terhadap partisipasi
politik di pelaksanaan Pemilu.
Tantangan untuk meningkatkan kesadaran wrag terhadap politik juga
dimaksimalkan hasilnya oleh keberadaan Panitia Pemilihan Kecamatan.
Keberadaan PPK membantu skema sosialisasi program-program KPU
Kabupaten Boyolali sampai ke tingkat yang paling bawah yaitu KPPS. Dari
Tim PPK ada 5 orang, sedangkan ada sasaran Desa sejumlah 15 di Kecamaan
tersebut, yang secara otomatis mendustribusikan tugas 1 orang PPK berkerja
di 3 Desa untuk melakukan sosialiasi. Lewat proses sosialisasi yang telah
dilaksanakan dalam acara kumpulan warga, terdapat beragam kelompok
baik kelompok tani, kelompok ibu–ibu PKK, kumpulan rutin bapak–bapak,
hingga kelompok remaja baik Karang Taruna maupun Masjid. Selain
sosialisasi PPK juga memberikan bimbingan teknis kepada masyarakat
terkait tata cara pemilihan, dengan memberikan contoh surat suara, dan tata
cara memilih yang benar.
“Kita turun ke lapangan, kita kasih arahan ke mereka, nah, di proses itulah kita
bisa memberikan kayak semacam pendidikan kepada penyelenggara dulu ya.
Nah, nanti minimal di PPS nanti bisa koordinasi dengan KPPS ya. Nah disinilah
ujung tombaknya. Mereka masuk di kumpulan rutin di perkumpulan warga,
mengumumkan bahwa tanggal 9 April ada Pemilu. Mereka membawa contoh
surat suara, dalam bentuk specimen”
Kerja-kerja tersebut secara sistematis menggarap kelompok-kelompok yang
dominan yaitu yang tingkat partisipasi politiknya paling tinggi adalah petani
kalau dilihat dari segi pekerjaan karena memang mayoritas penduduk di
beberapa kawasan Boyolali adalah petani. Para petani, mempunyai
keuntungan karena aktivitas sering dirumah dan bisa lebih sering membaca
situasi. Selain petani, sasaran target kampanye yang lain berdasarkan usia
baik pada warga berusia lanjut maupun kelompok warga yang berusia
menengah. Lansia menjadi target khusus mengingat sejauh ini mempunyai
35
kendala terhadap upayanya untuk menggunakan hak pilihnya. Faktor fisik
seringkali menjadi sebab sehingga tidak memungkinkan para lansia untuk
datang ke TPS. Karena berbagi macam pertimbangan seperti kendala fisik,
atau karena kendala lain seperti minimnya akses informasi yang diberikan.
Disinilah peran para relawan politik ditingkat basis. Dinamika kesadaran
politik juga terbangun oleh kehadiran para relawan politik yang tergabung
bersama para pendukung dalam tim sukses. Karena kerja-kerja tim sukses
yang fokus pada beragam upaya agar calon yang didukungnya bisa terpilih.
Jadi sosialisasi jadi terbantu dengan adanya dukunan dari banyak pihak,
salah satunya adanya tim sukses. Kehadiran dan kerja-kerja tim sukses yang
hadir dalam bentuk kelompok-kelompok yang mempunyai tingkat kesadaran
politik, jejaring yang luas dan kemauan untuk menghasilkan suara sebanyak
mungkin. Hal ini dikarenakan tim sukses tidak hanya mengenal calon dari
luarnya saja, tetapi sampai bisa menjelaskan visi misi, dan target harus bisa
merangkul semua kalangan. Tentu saja syarat untuk menjadi tim sukses juga
tidak mudah. Karena sebelum turun di lapangan para tim sukses pasti sudah
mendapatkan beragam materi pembekalan yang banyak terkait apa aja yang
harus dilakukan.
Latar belakang masyarakat desa mayoritas adalah petani. Bagi kebanyakan
warga isu penting terkait dengan Pemilu adalah upaya warga desa untuk
aktif mengembangkan isu yang bisa didorong menjadi kebijakan pro petani.
Karena selama ini yang terjadi adalah petani seringkali menjadi pihak yang
dirugikan, ketika akan mulai menanam, harga pupuk bisa melambung tinggi,
sedangkan ketika menjelang panen, harga–harga komoditi justru turun.
Kondisi tersebut membuat harapan untuk mencapai kesejahteraan seperti
jauh dari harapan petani. Dimana para petani biasanya mempunyai
kelompok-kelompok tani/Gapoktan yang biasa digunakan untuk forum
diskusi. Dan dari sinilah pendidikan akan kesadaran politik bisa
ditanamakan.
36
Sedangkan untuk kelompok difabel yang juga mempunyai dinamika tingkat
melek yang menarik. Dengan tersedia beragam akses informasi dari berbagai
sumber bisa berasal dari internet, koran, dan juga televisi, kelompok difabel
antusias dengan pelaksanaan Pemilu karena mereka juga berharap
mempunyai pemimpin yang mampu memahami kebutuhan difabel. Mereka
ingin hak – haknya sebagai warga negara juga diperhatikan. Oleh karena itu,
mereka senantiasa mengikuti perkembangan politik yang ada. Secara khusus,
kelompok kaum difabel yang memiliki melek politik paling tinggi adalah
kelompok tuna daksa. Karena tuna daksa memiliki kemampuan akses
informasi yang lebih baik, karena mereka mempunyai panca indera yang
semuanya normal. Lewat kemampuan untuk membaca koran, mendengarkan
televisi, dan maupun membaca artikel–artikel di internet, berharap memiliki
pemimpin yang benar–benar bisa memahami.
37
“Teman-teman tuna daksa paling tinggi.
Mereka kayak punya misi khusus,
misale caleg A, dia care sama aku,
berarti dia juga bisa care sama temen–
temen. Trus dia itu kayak bisa ngajak
temen–temene gitu ya supaya bisa suara
mereka bisa didengarkan.”
38
Namun secara umum, dinamika kesadaran politik yang terjadi di Boyolali
tidak secara merata terjadi disemua golongan. Secara khusus, beberapa pihak
yang terlibat langsung dengan partai politik, atau bisa dikatakan adalah
aktivis partai politik. Untuk itu tantangan terbesarya adalah meluaskan
kesadaran tersebut tidak hanya disatu level tapi juga terjadi pada level
masyarakat luas. Karena biasanya kondisi tersebut terjadi karena kurangnya
kesadaran bahwa dalam memilih calon legislatif, tidak berhenti pada saat
masa pemilihan. Tetapi setelah itu ada proses lagi yaitu mengawal calon yang
telah dipilih agar mereka bekerja itu ada pihak lain yang bisa mengingatkan
jika mereka keluar dari jalur.
Termasuk para pemilih pemula yang dari sisi jumlah selalu mengalami
kenaikan dari setiap Pemilu. Dikarenakan pemilih pemula selama
mempunyai kecendrungan mengikuti euforia Pemilu semata, tetapi mereka
belum benar–benar memahami apa maksud dan tujuan mereka mengikuti
kegiatan Pemilu. Walaupun potensi dari pemilih pemula itu sangat besar, hal
ini belum dimanfaatkan dan dimaksimalkan sepenuhnya karena proses
pendidikan politik yang diberikan masih terbatas.
“Pemilih pemula rata-rata masih labil, euforianya itu masih ikut–ikutan. Dan
belum terlalu serius memahami sebuah visi misi atau program. Sekalipun
potensinya besar, kecendrungan karena ajakan teman, makanya kesannya
hura–hura“.
Dinamika masyarakat yang memiliki tingkat partisipasi atau kesadaran
politik yang paling tinggi adalah dari golongan yang sudah bekerja. Hal ini
dikarenakan golongan yang sudah bekerja mempunyai pengetahuan dan
pengalaman yang lebih dibanding dengan para pelajar atau mahasiswa.
Dengan bekerja, membuat seseorang mempunyai tingkat kematangan yang
lebih tinggi, terutama untuk mereka yang bekerja dan mempunyai
pengalaman organisasi.
39
3. PRAKTEK PARTISIPASI DALAM PEMILU
Pelaksanaan Pemilu di Boyolali, dalam banyak pendapat telah berjalan
dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari skema nasional yang mempunyai
target pada kisaran 75 % dalam penggunaan hak pilih, sedangkan di Boyolali
rekapitulasi para pemilih mampu mencapai 80% dari jumlah pemilih yang
terdaftar. Dengan sebaran jumlah pemilih di Daerah Pemilihan Kabupaten
Boyolali dalam Pemilu kemarin dibagi menjadi lima Dapil yang meliputi :
1. Dapil I terdiri dari Kecamatan Boyolali, Ampel, Teras, Mojosongo.
2. Dapil II terdiri dari Kecamatan Juwangi, Wonosegoro, Kemusu,
Karanggede.
3. Dapil III terdiri dari Kecamatan Klego, Simo, Nogosari, Andong
4. Dapil IV terdiri dari Kecamatan Sawit, Banyudno, Ngemplak, Sambi
5. Dapil V terdiri dari Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk.
Terkait dengan hasil akhir bahwa persebaran tingkat partisipasinya tidak
merata. Kondisinya, ada daerah yang mempunyai tingkat partisipasi yang
tinggi seperti Kecamatan Selo ada daerah yang tingkat partisipasinya
mencapai 90 %. Sedangkan ada juga daerah yang partisipasinya agak kurang
seperti Kecamatan Wonosegoro. Dimana partisipasi dihitung dari DPT
berbanding dengan tingkat ketidakhadiran disebabkan oleh mobilitas
keseharian warga yang tinggi.
Ada banyak faktor yang menyebabkan partisipasi politik di Boyolali.
Beberapa diantaranya, adalah strategi dari KPU yang mensosialisasikan
materi KPU sangat terperinci bahkan hingga ke tingkat RT, melibatkan
berbagai macam bidang seperti Relawan Demokrasi yang terdiri dari bidang
kelompok pemilih perempuan, pemilih pemula, agama, difabel, dan juga
terakhir dari kelompok marginal. Yang tidak kalah penting adalah kehadiran
tim sukses yang secara dinamis, menstimulasi beragam kegiatan terkait
dengan beragam cara untuk memenangkan calon yang didukungnya.
40
Dalam pelaksanaanya, berjalan dengan sangat baik. hal itu tampak bahwa
kesadaran masyarakat makin hari makin tinggi. Mereka sudah menyadari
Pemilu sebagai sarana menyalurkan aspirasi. Pelaksanaan Pemilu yang hanya
5 tahun sekali dirasa sebagai momentum yang tidak boleh dilewatkan.
Partisipasi pada level masyarakat, dimana penggunaan hak pilih banyak
digunakan karena adanya kesempatan yang luas untuk menggunakan hak
pilih. Salah satu faktor utama yang mendorong adalah keberadaan calon di
daerah yang bisa menjadi magnet untuk mendorong masyarakat mau
menggunakan hak pilihnya. Keterikatan dengan basis masyarakatlah yang
menjadi alasan kuat bagi partisipasi warga.
Namun
kondisi
tersebut
tidak
boleh
mengurangi
upaya
untuk
memaksimalkan pendidikan politik agara kesadaran warga membaik.
Pelaksanaan Pemilu yang telah berjalan setidak-tidaknya adalah bagian yang
tidak terpisahkan dari peran banyak pihak. Dengan segmentasi pemilih
terbesar adalah dikawasan pedesaan makan tentangan untuk melaksanakan
sosialisasi sebagai bentuk dari pendidikan politik harus dimaksimalkan.
Dalam pelaksanaan Pemilu, beberapa pemilih mengaku dirinya juga kurang
kenal dengan calon yang dipilihnya terutama untuk yang DPR, DPD, dan
DPRD I dan DPRD II. Karena selama ini informasi hanya terdistribusi lewat
spanduk yang dipasang dan ditempel di pinggir jalan. Berbeda dengan
keberadaan Caleg yang di DPRD Kabupaten lebih banyak tahu karena
tetangganya banyak yang menjadi Caleg. Sedangkan dalam menggunakan
hak pilihnya, beberapa warga mengaku mendasarkan pada pilihan-pilihan
kata hati, berdiskusi dengan keluarga maupun dengan anggota kelompoknya.
Hal ini dilakukan sebenarnya untuk saling berbagi pengalaman tanpa ada
unsur pemaksaan. Sekalipun menjadi bagian dari keluarga, aspek pemaksaan
juga tidak boleh terjadi.
41
Dalam konteks, sebagai individu maupun bagian dari kelompok, tentunya ada
perbedaan. Sekalipun menjadi mempunyai peran dan menjadi bagian dari
kelompok perempuan Rukun Makmur, tentunya tidak bisa memaksakan
kepada kelompoknya untuk memilih calon tertentu. Semua hal berkaitan
dengan politik hanya dijadikan bahan diskusi saja, dengan kelompoknya.
Tema diskusi yang diangkat tentu saja adalah tentang isu yang berkaitan
dengan hak dan keterlibatan kaum perempuan.
42
“Walaupun kita ini kaum perempuan,
kita tidak boleh hanya asal nurut aja.
Sekarang kan sudah jamannya emansipasi.
Kalau kita pengen ada perubahan,
ya harus mau untuk memberikan suara.
Kita memilih sesuai hati nurani,
ya walupun kadang memang bisa saling
diskusi entah dengan keluarga atau
dengan anggota kelompok saya yang lain.”
43
Dinamika yang lain dalam pelaksanaan Pemilu yang sekarang yang dipilih
berdasarkan
suara
terbanyak.
Berdasarkan
suara
terbanyak
maka
persaingan antar Caleg di lapangan terasa sangat besar, dimana banyak yang
terjadi adalah upaya untuk melakukan mobilisasi untuk memilih calon
tertentu. Implikasinya biaya yang dibutuhkan menjadi sangat besar.
Walapun, kondisi tersebut tentu saja berdampak dengan jumlah partisipasi
masyarakat yang datang ke TPS menjadi lebih banyak. Tetapi yang patut
digarisbawahi adalah jumlah partisipasi yang tinggi itu apakah berbanding
lurus dengan kesadaran masyarkat kepada wakil rakyat yang dipilihnya atau
adanya faktor lain. Masyarakat yang memilih itu apakah memang benarbenar melek politik, atau karena adanya faktor yang lain seperti tekanan dari
pihak lain. Sedangkan pada saat yang bersamaan, penentuan hasil dengan
menggunakan suara terbanyak maka kesempatan semua calon hampir sama,
karena tidak ditentukan lagi oleh nomer urut. Jika ada calon yang masuk
maka kesempatannya sama untuk bisa terpilih, tergantung pada bagaimana
strategi yang digunakan sekaligus memaksimalkan hasil akhir dari semua
proses tersebut.
Semua skema pelaksanaan Pemilu tentunya masih memiliki banyak catatan,
diluar persoalan bahwa telah terselenggara dengan standart yang telah
ditetapak hingga adanya partisipasi dari pengguna hak pilih. Dalam beberapa
hal catatan tersebut terkait dengan beberapa persoalan, semisal kertas suara
yang untuk kelompok tuna netra yang secara mempunyai kekurangan dalam
penglihatan. Dalam pelaksanaan Pemilu kemarin, kertas suara untuk tuna
netra masih berbentuk awas, bukan braile. Hal ini tentu saja menyulitkan
difabel yang tuna netra yang memang memiliki kekurangan dalam
penglihatan. Berbeda dengan materi yang disampaikan ketika sosialisasi,
dengan huruf braile sedangkan dalam pelaksanaannya justru dibuat awas.
Dari 4 jenis surat suara yaiu DPD, DPR RI, DPRD I, dan juga DPRD II hanya 1
saja yang dibuat khusus untuk tunanetra.
44
Sedangkan terkait dengan kelompok pengguna hak pilih dari kelompok tuna
rungu, khususnya di daerah Boyolali terdapat kendala teknis. Dimana dalam
pelaksanaan dilapangan, teknis panitia dalam memanggil urutan peserta saat
di TPS hanya memakai suara. Hal itu tentu saja menyulitkan tuna rungu
karena walaupun mereka juga mempelajari bahasa bibir, tetapi karena
suasana yang ramai maka kondisi tersebut menyulitkan dan kebingungan.
Harapannya ada upaya lebih dari panitia agar bisa memaksimalkan kondisi
dilapangan agar bisa menampilkan urutan nomor berikutnya. Termasuk juga
kesigapan panitia untuk mengantisipasi akses bagi kelompok tuna daksa agar
bisa mengakes bilik suara yang disediakan. Dimana kondisi dilapangan
relative tinggi, sehingga pada beberapa kasus kelompok tuna daksa yang
memakai kursi roda atau bertubuh kecil kesulitan ketika akan menggunakan
hak pilihnya di TPS.
4. TANTANGAN BAGI PARTISIPASI POLITIK
Lanskap Boyolali dalam pelaksanaan Pemilu setidaknya ditentukan oleh
situasi yang telah terbentuk, dalam beberapa hasil Pemilu sebelumnya.
Dimana tipikal masyarakat pedesaan menyumbang partisipasi paling tinggi.
Tetapi kondisi tersebut harus dipahami lebih kritis untuk melihat kondisi
yang sesungguhnya dilapangan. Sebab tingkat partisipasi tinggi tidak mesti
berbanding lurus dengan kesadaran politik, karena ada banyak faktor yang
secara dinamis menjadi dasar bagi pilihan-pilihan politik, baik karena faktor
relasi, kedekatan wilayah maupun pilihan-pilihan karena dasar pragmatisme
politik.
Dari kondisi diatas, menjadi tantangan bagi pelaksanaan Pemilu maupun
praktek demokrasi yang lebih luas. Berbasis upaya untuk membangun
kesadaran dalam menggunakan hak politiknya dan setiap pilihan tersebut
didasarkan pemahaman atas visi misi yang telah ditetapkan oleh Parpol
45
maupun calon tertentu. Jadi para pemilih diharapkan tidak asal memilih
seperti membeli kucing dalam karung dan juga menghindari politik
transaksional. Pilihan-pilihan para pemilih yang sadar siapa yang mereka
pilih, diharapkan member dampak yang luas bagi masyarakat untuk mau
mengawal hasil pelaksanaan Pemilu sampai akan datang Pemilu selanjutnya.
Jadi wakil rakyat yang mereka pilih seperti akan mempertanggungjawabkan
kepada para pemilihnya.
Dari sisi yang berbeda, dinamika politik di Boyolali sendiri, dalam perspektif
Parpol juga bisa dijadikan bahan diskusi lebih dalam. Dengan jumlah yang
dominan diperolehan suara di parlemen, lebih ditentukan karena keberadaan
basis konstituen yang telah mapan selama beberapa waktu sebelumnya.
Tetapi kondisi tersebut juga tidak menyurutkan untuk tetap bekerja keras
mengembangkan beragam strategi dalam membangun kesadaran politik
untuk berdemokrasi bagi masyarakat luas di Boyolali. Bisa dirujuk pada hasil
akhir dimana, dari 45 kursi yang diperebutkan, PDIP meraih suara sekitar
55% atau 25 kursi, sedangkan jumlah kursi yang lain dibagi kepada partai
yang lain yaitu Golkar 6 kursi, PKS dan Gerindra 4 kursi, PAN 3 kursi, dan
juga PKB 2 kursi.
Implikasi dari kondisi tersebut tentunya jelas, bahwa skema yang berupaya
untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau memilih yang
berkualitas juga harus berimplikasi pada dinamika politik pasca Pemilu.
Dominasi Parpol pemenang Pemilu juga harus diikuti oleh setidaknya
keseimbangan politik dilevel parlemen dan pengambilan kebijakan bagi
dilevel eksekutif secara luas bagi kepentingan masyarakat luas. Upaya
mendinamisir dinamika politik warga idealnya dilakukan oleh semua pihak
di Boyolali, secara khusus Parpol yang telah diamanati untuk melakukan
pendidikan politik. Sehingga kesadaran politik yang terbangun tidak hanya
berujung pada pada partisipasi dalam menggunakan hak pilihnya di TPS
tetapi berlanjut pada kesadaran politik untuk mengawal hasil Pemilu.
46
Salah satu upaya untuk mengantisipasi kondisi tersebut butuh beragam
kreatifitas yang bisa dilakukan, alah satunya lewat istrumen budaya yang
menjadi paket budaya yang ada dimasyarakat. Kondisi tersebut berlaku
dalam proses sosialisasi Pemilu yang akan berujung pada kesadaran politik
warga. Proses kreatif juga diperlukan agar masyarakat tidak jenuh dan
mengalami kebosanan dengan memahami dinamika Pemilu bisa lebih baik.
Dan tanggung jawab untuk membangun kesadaran dan dinamika politik
tidak bisa sepihak dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyolali saja, namun juga
harus diimbangi proses tersebut oleh stakeholder yang ada di Boyolali. Baik
Partai politik, Calon-calon Legislatif, Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali
hingga tokoh masyarakat yang menjadi bagian penting dalam keseharian
warga Boyolali.
Keberadaan media massa yang bisa diakses oleh publik secara luas, dapat
menjadi materi
dasar bagi pendidikan politik dan upaya membangun
dinamika politik warga. Media massa lokal dengan materi lokal tentu
member konstribusi besar bagi dinamika politik ditingkat lokal. Dimana
aktivitas dan semua bagian dari masyarakat Boyolali menjadi fokus yang
materi yang didistribusikan. Informasi tersebut menjadi bekal bagi upaya
mendinamisir kehidupan demokrasi, sebab informasi harus dishare publik
untuk kemudian menjadi dasar bagi keputusan politik untuk kepentingan
publik.
Selain media, faktor seleksi Parpol atas calon-calon yang akan mewakili di
parlemen menjadi daya dorong bagi masyarakat untuk menggunakan hak
pilihnya. Keberadaan aktor politik yang kuat akan mampu memberi garansi
politik, daya jual agar masyarakat mau menggunakan hak pilihnya dan juga
menentukan calon yang dipilih. Partai politik seharusnya melakukan seleksi
terhadap figur-figur yang ada atau member kesempatan untuk figur-figur
yang baik agar punya kesempatan secara politik. Dengan basis demografis
pedesaan keberadaan aktor politik menjadi strategis, karena pola relasi
politik yang didukung dengan kultur patronase masyarakat agraris.
47
Sebab dalam prakteknya, dinamika Parpol dan aktor akan membentuk pola
hubungan yang tidak homogeny namun senantiasa dinamis.
“Ada kecenderungan, bahwa faktor partai berpengaruh, tetapi ada juga
individu. Kadang suka sama individunya, tetapi tidak suka partainya. Atau
suka partainya tetapi gak suka sama individunya.“
Bagian akhir dari faktor yang menentukan dinamika politik adalah dinamika
masyarakat untuk memahami ideologi Partai. Dalam faktor ideologi,
menggunakan hak pilih untuk memilih wakil rakyat menjadi basis dari
tindakan yang dilakukan. Dari pilihan ideologislah, Partai dan aktor yang
menjadi calon anggota parlemen menentukan strategi, program dan agenda
kerja-kerja politik, yang pada akhirnya akan ditawarkan kepada masyarakat.
Pilihan-pilihan berdasar faktor tersebut memberi peluang yang luas untuk
memaksimalkan partisipasi karena alasan-alasan ideologis. Namun pada saat
yang bersamaan, alasan tersebut juga memberi kendala bagi praktek
demokrasi yang terbuka untuk kritik dan keseimbangan politik antara
kepentingan semua pihak yang ada didalamnya.
48
BAB V
1. PENUTUP
Strategi optimalisasi yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyolali beserta
stakeholder adalah meningkatkan pemahaman dan pengenalan Caleg kepada
masyarakat tidak hanya menjelang Pemilu. Dengan pola ini perlu dicatat juga
prestasi apa yang telah dicapai, atau apa saja yang telah dilakukan calon
anggota dewan yang bakal disosialisasikan untuk kemudian dipilih oleh
warga. Dengan kapasitas Parpol dalam melakukan verifikasi calon dilakukan
lebih serius dan diperketat, diharapkan kedepannya bisa meminimalisir
lolosnya calon yang tidak berkualitas.
Bingkai pendidikan politik, dalam konteks luas tentunya tidak bisa dalam
hitungan politik menjelang Pemilu. Oleh karenanya, bisa melibatkan berbagai
macam pihak seperti dari kurikulum pendidikan yang memberikan nilai lebih
kepada siswa yang sudah memenuhi syarat menggunakan hak pilihnya.
Intensitas program-program yang selama ini yang sudah dilakukan yaitu
sosialisasi dan pendampingan kedepan mesti harus terus dilakukan. Secara
khusus, sebagai contoh adalah program sosialisasi terhadap kelompokkelompok difabel, yang secara spesifik berbeda dengan orang pada
umumnya.
Idealnya, kalau tahapan yang dilakukan tersebut bisa dilakukan secara
berkala. Dengan strategi mengembangkan pembuatan kelas belajar yang
dilakukan oleh KPU Kabupaten Boyolali, untuk teman–teman difabel bisa
belajar bersama dan menerima penjelasan. Pada saat bersamaan, KPU
Kabupaten Boyolali juga bisa mendengar lebih lanjut apa yang diinginkan
serta menjadi kebutuhan teman–teman difabel. Jadi kedepan, pelaksanaan
Pemilu bisa lebih baik lagi.
49
Kedepan dinamika politik Kabupate Boyolali pasca Pemilu, merupakan
dinamika politik ditopang oleh aktivitas stakeholder di Boyolali dalam
bentuk : Penguatan dari sisi Parpol. Dimana dominasi Parpol pemenang
Pemilu juga harus diikuti oleh setidaknya keseimbangan politik dilevel
parlemen dan pengambilan kebijakan bagi dilevel eksekutif secara luas bagi
kepentingan masyarakat luas. Upaya mendinamisir dinamika politik warga
idealnya dilakukan oleh semua pihak di Boyolali, secara khusus Parpol yang
telah diamanati untuk melakukan pendidikan politik. Sehingga kesadaran
politik yang terbangun tidak hanya berujung pada pada partisipasi dalam
menggunakan hak pilihnya di TPS tetapi berlanjut pada kesadaran politik
untuk mengawal hasil Pemilu.
Kemudian membangun kesadaran dan partisipasi yang lebih luas, dengan
menempatkan keberadaan media massa yang bisa diakses oleh publik secara
luas, sebagai materi dasar bagi pendidikan politik dan upaya membangun
dinamika politik warga. Media massa lokal dengan materi lokal tentu
member konstribusi besar bagi dinamika politik ditingkat lokal. Dimana
aktivitas dan semua bagian dari masyarakat Boyolali menjadi fokus yang
materi yang didistribusikan. Informasi tersebut menjadi bekal bagi upaya
mendinamisir kehidupan demokrasi, sebab informasi harus dishare publik
untuk kemudian menjadi dasar bagi keputusan politik untuk kepentingan
publik. Dua point diatas, pada level internal yaitu Parpol dan pada level
eksternal dikembangkan lewat program pendidikan politik warga berbasis
media publik.
50
DAFTAR PUSTAKA
Abercrombie, Nicholas et.al, 2010. Kamus Sosiologi (Terjemahan), Pustaka
Pelajar, Yogyakarta
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta, Gramedia
pustaka utama.
Surbakti, Ramlan 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta, Grasindo
Campbell, T. 1981. Seven Theories of Human Society. Oxford University
Press.
Johnson, D.P. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Gramedia Jakarta
Ritzer, G dan Goodman Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern. Prenada
Media.
Ritzer, G. 1975. Sociology: A Multiple Paradigma Science. Boston: Allyn and
Bacon.
51
Download