BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Industri pariwisata di Bali menjadi salah satu bisnis yang sangat potensial
mengingat pulau Bali memiliki keindahan alam, keragaman budaya serta keunikan
ada istiadat secara alami sehingga para wisatawan pun tertarik mengunjungi pulau
Bali. Industri pariwisata menjadi salah satu tonggak perkembangan bisnis industri
perhotelan di Bali. Tidak jarang perkembangan industri perhotelan pula mengalami
fluktuasi sesuai dengan perkembangan yang terjadi di dunia pariwisata. Namun pada
kenyataannya kondisi industri pariwisata dan perhotelan di Bali tetap stabil. Industri
perhotelan menjadi sumber ekonomi yang sangat ideal bagi masyarakat. Seiring
dengan pemanfaatan ekonomi yang didapat, akan selalu dibayangi oleh berbagai
masalah contohnya seperti perusakan alam dan lingkungan, eksploitasi budaya dan
adat istiadat, serta pengalihan fungsi lahan.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh industri perhotelan dalam mengurangi
dampak negatif dari pembangunan pariwisata yang terus berkembang adalah
melaksanakan secara maksimal penerapan CSR (Corporate Social Responsibility).
CSR merupakan salah satu program dari PR (public relations) dalam membangun
reputasi positif perusahaan kepada stakeholdersnya. Dalam hal ini public relations
memiliki peran komunikasi dalam membentuk sebuah hubungan yang menciptakan
mutual understanding antara perusahaan dengan publiknya sehingga perusahaan
harus mampu berkomunikasi dengan baik dan menjalin hubungan atau relasi dengan
publik serta mampu merepresentasikan perusahaan tersebut dengan baik.
Industri perhotelan membutuhkan peran seorang public relations dalam
mengelola komunikasi pelaksanaan CSR, public relations berperan sebagai
penghubung yang dapat memenuhi keinginan perusahaan tanpa mengesampingkan
keinginan dan kebutuhan publik terhadap perusahaan. CSR merupakan komitmen
sebuah perusahaan dalam memperhatikan masyarakatnya melalui kontribusi yang
seimbang terhadap aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
1
Konsep tentang CSR adalah sebagai konsekuensi dari dampak kegiatan sebuah
perusahaan seharusnya sejalan dengan ISO 26000 mengenai Guidance on Social
Responsibility. Berdasarkan pedoman tersebut ditegaskan bahwa bentuk CSR
dijalankan secara etik yang sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan
(sustainable
development).
Dalam
pelaksanaan
pembangunan
berkelanjutan
diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakatnya yang dapat disejajarkan
antara satu dengan lainnya.
Industri perhotelan merupakan sarana penunjang pariwisata yang tumbuh pesat
di Bali. Industri perhotelan adalah bisnis yang berjalan di bidang jasa, jika dilihat
dalam penjelasannya dalam UU PT No.40 tahun 2007 pasal 74 yang dapat
diinterpretasikan sebagai kegiatan atau usaha yang berdampak pada fungsi
kemampuan sumber daya alam yaitu menggunakan sumber daya alam sebagai
komoditasnya. Hal inilah yang menyebabkan seakan – akan hotel menjadi tidak
terlalu urgent untuk melaksanakan CSR. Namun ada beberapa alasan mengapa
perhotelan tetap ingin melakukan CSR. Pertama alasan sosial, perusahaan melakukan
CSR sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat serta
lingkungan sosial di sekitarnya. Kedua adalah alasan ekonomi, perusahaan
melakukan CSR untuk menarik simpati masyarakat dengan membangun reputasi
positif yang pada akhirnya tetap bertujuan untuk meningkatkan profit, hal ini sesuai
dengan data riset dari majalah SWA 2005 terhadap 45 perusahaan (Wahyudi &
Azheri,2011: 125), yang menunjukan bahwa CSR bermanfaat dalam memelihara dan
meningkatkan reputasi perusahaan (37,38%); hubungan baik dengan masyarakat
(16,82%); dan mendukung operasional perusahaan (10,28%). Alasan ketiga yang
menjadi perhatian utama yaitu untuk membangun reputasi yang baik. Untuk
menciptakan reputasi yang baik di mata publik, public relations bertugas menjalin
komunikasi dan hubungan dengan publik, dalam hal ini yaitu melibatkan publik
dengan kegiatan public relations agar tercipta hubungan yang harmonis.
Secara hukum peraturan tentang CSR secara eksplisit di Indonesia dimulai
ketika Undang – Undang No. 1 Tahun 1995 menjadi Undang – Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas. Hal ini membawa perubahan penting bagi dunia
2
usaha di Indonesia dikarenakan CSR menjadi salah satu faktor penilaian penting bagi
investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. CSR menjadi suatu
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh sebuah perusahaan sesuai dengn ketentuan
Pasal 74 UU. PT No. 40 Tahun 2007, yang menyatakan:
(1). Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.
(2). Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai
biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan
kepatutan dan kewajaran.
(3). Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4). Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Dilihat dari undang – undang tersebut dapat diketahui bahwa konsep CSR di
Indonesia dapat dinamakan dengan istilah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP)
atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan (TJSLP)
Salah satu konsep dasar implementasi program CSR adalah Konsep Triple
Bottom Line. Konsep Triple Bottom Line yang dipopulerkan oleh John Elkington
(1998) dalam bukunya yang berjudul Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line
in 21st Century Business. Konsep Triple Bottom Line menekankan pada model bisnis
yang bukan mengarahkan tujuannya hanya pada mengejar keuntungan melainkan
juga memperhatikan lingkungan dan kemakmuran rakyat yang sustainability
(berkelanjutan). Nilai sustainability ini didukung oleh tiga aspek yaitu profit
(keuntungan), people (masyarakat), dan planet (lingkungan) atau bisa juga disebut
dengan konsep 3P (Rachman, 2011:83).
Pada pembangunan perhotelan di Bali pengimplementasian CSR sejauh ini
mengikuti adat budaya atau kultur lingkungan lokasi hotel berada. Hotel sebaiknya
mengintegrasikan penerapan program CSR dengan nilai kearifan lokal di Bali yang
bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan publik khususnya masyarakat sekitar
perhotelan. Masyarakat Bali adalah salah satu kultur masyarakat yang masih kental
akan nilai religiusnya. Kehidupan sosial budaya di Bali berlandaskan ajaran agama
3
Hindu yang merupakan agama mayoritas di Bali sehingga masyarakat Bali harus
menjaga nilai – nilai kearifan lokal yang mereka miliki. Salah satu ajaran yang dapat
menjadi dasar masyarakat Bali dalam menciptakan keharmonisan dalam menjalin
hubungan sebagai manusia yaitu ajaran Tri Hita Karana.
Keharmonisan merupakan kebijakan pembangunan di Bali yang harus
diimplementasikan. Hal ini tercermin pada visi Pembangunan Provinsi Bali tahun
2006 – 2026 yaitu Menuju Bali Dwipa Jaya yang Berlandaskan Tri Hita Karana.
Nilai pokoknya adalah pembangunan Bali memang diharapkan akan menuju pada
kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Namun dalam proses untuk mencapai
tujuan tersebut, haruslah berlandaskan pada prinsip keharmonisan dan kebersamaan,
sesuai dengan nilai filosofis Tri Hita Karana. Hal ini didukung oleh Peraturan Daerah
Provinsi Bali no.2 Tahun 2012 Tentang Kepariwisataan Budaya Bali Pasal 1 no.14
yang menyatakan :
“Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan
kepada Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah
Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan
sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal-balik
yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat
keduanya berkembang secara sinergis, harmonis dan berkelanjutan untuk
dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya dan
lingkungan.”
Di Pulau Bali nilai filosofis yang dikenal dengan sebutan Tri Hita Karana
merupakan pola keselarasan untuk mencapai keharmonisan dalam menjalankan
segala aktivitas di kehidupan sehari - hari. Tri Hita Karana menjadi filosofi
keseimbangan hidup masyarakat Hindu di Pulau Bali yang meliputi hubungan
manusia dengan Tuhan yang maha esa yang disebut dengan Parahyangan; hubungan
manusia dengan sesama manusia yang disebut Pawongan dan hubungan manusia
dengan alam atau lingkungan yang disebut Palemahan (Astiti dkk, 2011: 28). Dan
tampaknya konsep CSR dapat berjalan seirama dengan unsur – unsur yang
terkandung dalam Tri Hita Karana.
Pengimplementasian Program CSR dengan konsep Tri Hita Karana merupakan
penyelarasan antara konsep internasional dengan nilai kearifan lokal. Seperti bunyi
4
peribahasa tentang adat budaya, “Dimana langit dipijak disitu langit dijunjung”, jadi
keberadaan pembangunan hotel haruslah mengikuti adat istiadat yang berlaku di
wilayah tersebut. Untuk itu diperlukan penyelarasan dan pengidentifikasian Program
CSR dengan Konsep Tri Hita Karana yang merupakan salah satu nilai kearifan lokal
di Bali yang diharapkan mampu memberikan suatu akar pondasi yang kuat untuk
membentuk suatu kerjasama dengan publik atau masyarakat yang lebih baik
kedepannya. Pengidentifikasian penerapan CSR berbasis Tri Hita Karana penting
dilakukan dikarenakan sebuah nilai filosofis suatu budaya bukan menjadi hal yang
harus di manifestasikan nilai – nilainya. Sehingga, dalam membentuk kerjasama yang
baik diperlukan adanya peran seluruh manajemen yang mendukung dan
mengkomunikasikan program CSR agar selaras dengan Tri Hita Karana.
Maka dari itu diharapkan pembangunan hotel di Bali disertai juga dengan
penerapan Tri Hita Karana dikarenakan pembangunan hotel dalam proses
perkembangan kepariwisataan di bali memiliki dampak yang sangat besar. Sesuai
catatan BPS Bali (2014) sumbangan bisnis hotel setiap tahunnya terus meningkat.
Apabila peningkatan tersebut tidak diseimbangkan dengan penerapan harmoni dan
kebersamaan maka dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat adat sehingga
dapat memberikan penilaian yang buruk terhadap reputasi Bali sebagai salah satu
tujuan wisata dunia. Sehingga, perhotelan harus mengedepankan pendekatan yang
harmonis dalam setiap menangani persoalan di masyarakat sekitar.
Dengan menerapkan program CSR berbasis Tri Hita Karana diharapkan dapat
meningkatkan kualitas kepercayaan dan menciptakan reputasi positif terhadap
industri perhotelan di mata publik, baik publik eksternal maupun internal serta dapat
meningkatkan kinerja dalam pengimplementasian CSR pada industri perhotelan.
Peran public relations sebagai penghubung antara perusahaan dengan stakeholders
harus mampu menyelaraskan program CSR dengan konsep Tri Hita Karana agar
semangat berbudaya dapat menjiwai serta menjadi akar pondasi penerapan program
CSR di industri perhotelan di Bali.
5
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan
penelitian, yakni:
Bagaimanakah penerapan nilai – nilai Filosofis Tri Hita Karana dalam program
Corporate Social Responsibility (CSR) pada 3 hotel berbintang lima di Bali?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui penerapan nilai – nilai filosofis Tri Hita Karana dalam
program Corporate Social Responsibility (CSR) pada 3 hotel berbintang lima di Bali.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu :
1. Memberikan pengetahuan dalam pengimplementasian CSR (Corporate
Social Responsibility) yang diselaraskan dengan konsep Tri Hita Karana
pada 3 hotel berbintang lima di Bali.
2. Menjadi
referensi
(rujukan)
bagi
peneliti
yang
mengkaji
pengimplementasian CSR (Corporate Social Responsibility) berbasis nilai
kearifan lokal.
E. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah landasan berpikir tentang dasar teori atau model yang
digunakan dalam memecahkan suatu masalah dalam sebuah penelitian. Setiap
penelitian selalu menggunakan teori. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori
yang tentunya berkaitan dengan masalah penelitian yang ingin diteliti oleh penulis,
teori tersebut adalah:
1. Peran public relations
Public relations memiliki peranan yang penting bagi perusahaan yaitu sebagai
jembatan komunikasi antara perusahaan dengan publiknya sehingga terjadi
komunikasi dua arah (two way communications) dan tercapai kesepakatan bersama
(mutual understanding). Peranan dalam lingkup kerja PR adalah melakukan
perannya sebagai praktisi PR sesuai dengan ketentuan yang telah di atur sesuai
kedudukannya dalam sebuah perusahaan. Oleh karena itu, peran seorang public
6
relations dalam perkembangannya bersifat dinamis karena mengikuti hal – hal di
sekitar yang dapat mempengaruhinya.
Cutlip, Center, dan Broom (2009: 45) mengungkapkan bahwa praktisi selalu
menyesuaikan pola perilakunya untuk menangani situasi yang senantiasa terjadi di
dalam pekerjaan mereka dan mengakomodasi ekspektasi orang lain tentang apa
yang seharusnya dilakukan dalam pekerjaan mereka. Empat peran utama public
relations adalah sebagai berikut:
a. Teknisi Komunikasi (communication technician)
Kebanyakan praktisi masuk ke bidang ini sebagai teknisi komunikasi.
Teknisi komunikasi disewa untuk menulis dan mengedit newsletter
karyawan, menulis news release dan feature, mengembangkan isi website,
dan menangani kontak media. Dalam peran ini, praktisi hanya melaksanakan
keputusan pimpinan. Praktisi memegang peranan untuk mengutamakan
informasi publik atau hubungan media.
b. Ahli Komunikasi Pendeskripsi (expert prescriber communication)
Manajemen perusahaan menginginkan public relations berada di tangan
para ahli yang bertugas mendefinisikan problem, mengembangkan program
dan bertanggungjawab penuh atas implementasinya sehingga manajemen
hanya mengambil peran pasif saja, tidak akan banyak memberikan
komitmen kepada kegiatan public relations dan tidak bertanggungjawab atas
keberhasilan atau kegagalan program.
c. Fasilitator komunikasi (communication fasilitator)
Peran fasilitator komunikasi bagi seorang praktisi adalah sebagai
pendengar yang peka dan broker (perantara) komunikasi. Fasilitator
komunikasi bertindak sebagai perantara (liaison), interpreter, dan mediator
antara organisasi dan publiknya. Mereka menjaga komunikasi dua arah dan
memfasilitasi percakapan dengan menyingkirkan rintangan dalam hubungan
dan menjaga agar saluran komunikasi tetap terbuka. Tujuannya adalah
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen maupun publik
untuk membuat keputusan demi kepentingan bersama.
7
d. Fasilitator proses pemecahan masalah (problem solving process fasilitator)
Ketika praktisi melakukan peran fasilitator pemecah masalah, mereka
berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan memecahkan
masalah. Mereka menjadi bagian dari tim perencanaan strategis. Kolaborasi
dan musyawarah dimulai dengan persoalan pertama dan kemudian sampai ke
evaluasi program final. Praktisi pemecah masalah membantu manajer lain
dan organisasi untuk mengaplikasikan public relations dalam proses
manajemen bertahap yang juga dipakai untuk memecahkan problem
organisasional lainnya.
Pada awalnya public relations berperan hanya sebagai pendukung fungsi
komunikasi pada sebuah perusahaan. Namun, kini fungsi public relations semakin
berkembang dengan pesat dan juga tanggung jawab yang dimiliki public relations
semakin besar seiring meluasnya pemahaman tentang kinerja dari seorang public
relations. Pada prakteknya public relations tidak dapat berdiri sendiri tanpa
kerjasama dan dukungan dari departemen lain di perusahaan.
Sampai sekarang masih terjadi perselisihan pendapat mengenai letak
kedudukan public relations sesungguhnya di dalam struktur manajemen
perhotelan. Jawaban sebenarnya terdapat pada tugas macam apa yang diemban
oleh public relations itu sendiri. Di mana pun tempatnya public relations dalam
suatu struktur organisasi harus memiliki tingkat profesionalisme yang tinggi. Pada
industri perhotelan penempatan public relations dalam struktur organisasinya
sangat beragam. Bahkan, tidak sedikit hotel yang mengabaikan bagian public
relations.
2. Corporate Social Responsibility
Penerapan CSR dari sebuah perusahaan merupakan pengimplementasian nilai –
nilai moral perusahaan atau komitmen perusahaan untuk memberikan dampak
yang positif serta bersifat berkelanjutan untuk masyarakat serta lingkungan. Dan
apabila perusahaan dapat berhubungan baik dengan publiknya, maka perusahaan
akan merasa lebih aman dan nyaman untuk menjalankan aktifitas perusahaannya.
8
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)
mendefinisikan CSR sebagai :
“Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to
economic development while improving the quality of life of the workforce and
their families as well as of the local community and society at large”(Wibisono,
2007: 7).
Menurut Wibisono (2007:8) CSR adalah komitmen dunia usaha untuk terus
menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk
peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari
karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal
dan masyarakat secara lebih luas.
Untung (2009) mendefinisikan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah
komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan
ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tangung jawab sosial
perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap
aspek ekonomi, sosial dan lingkungan (Untung, 2009:1).
Selain itu, yang menjadi rujukan dan panduan pelaksanaan CSR, dalam Final
Draft International Standard ISO 26000 Guidance on Social Responsibility (2010)
mengatakan definisi CSR adalah :
“Responsibility of an organization for the impacts of its decisions and activities
on society and the environment, through transparent and ethical behavior that
contributes to sustainable development, health and the welfare of society; takes
into account the expectations of stakeholders; is in compliance with applicable
law and consistent with international norms of behaviour; and is integrated
throughout the organization and practiced in its relationships.” (ISO, 2010: 3).
Menurut Suharto (2009) CSR adalah Tanggung jawab sebuah organisasi
terhadap dampak dari keputusan - keputusan dan kegiatan - kegiatannya pada
masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan
dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan
masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan
hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi
dengan organisasi secara menyeluruh (Suharto, 2009: 104).
9
Dari berbagai definisi CSR di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab
sosial atau Corporate Social Responsibility merupakan wujud komitmen
pertanggungjawaban perusahaan terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari
segala aktivitas perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat lainnya di
lingkungan sosial. Sehingga perusahaan harus peduli dengan perkembangan
ekonomi serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada umumnya yang
menitikberatkan pada keseimbangan perhatian antara aspek ekonomi, sosial dan
lingkungan melalui pertimbangan praktik bisnis yang etis dan kontribusinya
bersumber dari pihak perusahan sehingga tercipta yang disebut dengan
sustainability development (pembangunan yang berkelanjutan).
Untuk itu, industri perhotelan di Bali berkomitmen untuk bertanggungjawab
kepada masyarakat sekitar. Industri perhotelan berkontribusi meminimalisir
dampak negatif yang diakibatkan dari pembangunan serta segala aktivitas hotel
dalam melakukan usaha bisnisnya. Berdasarkan dengan kesadaran akan
pentingnya menjalin hubungan yang harmonis dengan publik dan lingkungan
maka industri perhotelan merancang program CSR yang peduli terhadap aspek –
aspek yang dapat mempengaruhi keberlanjutan perusahaan.
Konsep
CSR
menjelaskan
bahwa
keberlangsungan
dan
pertumbuhan
perusahaan tidak hanya berdasarkan dari keuntungan (profit) perusahaan saja,
namun juga melalui tindakan nyata yang dilakukan perusahaan terhadap
lingkungan (planet) dan masyarakat (people). Ketiga aspek inilah yang menjadi
sebagai dasar perencanaan, implementasi dan evaluasi program CSR Istilah Triple
Bottom Line dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya
“Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”.
Tindakan tersebut dilakukan untuk menciptakan sustainable development
(pembangunan berkelanjutan).
Aspek – aspek yang terdapat dalam Triple Bottom Line, yaitu Profit, People
and Planet. (Suharto, 2009:107).
10
a) Profit.
Profit merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan dari setiap bentuk
usaha dan menjadi fokus utama dari seluruh kegiatan sebab perusahaan
harus tetap berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomis yang
memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
b) Planet.
Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan
keragaman hayati. Beberapa program CSR yang berpijak pada prinsip ini
biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air
bersih, perbaikan pemukiman, pengembangan pariwisata (ecotourism)
dan lainnya.
c) People
Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia.
Beberapa
program
CSR
sering
dikembangkan
oleh
perusahaan
siantaranya: pemberian beasiswa bagi pelajar di lingkungan sekitar
perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan
kapasitas ekonomi lokal dan lain sebagainya
Triple Bottom Line merupakan sinergi dari tiga elemen yang merupakan
komponen dasar dari pelaksanaan dasar Corporate Social Responsibility. Triple
Bottom Line sering dijadikan acuan dalam program Corporate Social
Responsibility. CSR harus diterapkan secara konsisten dalam menyeimbangkan
aspek – aspek yang dapat menciptakan pembangunan berkelanjutan yaitu
menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial serta lingkungan.
Teguh Pambudi (2006), menyebutkan program - program Corporate Social
Responsibility dapat dikelompokkan atas tiga aspek, yaitu:
a. Program Sosial
Program sosial merupakan program perusahaan yang melakukan kegiatan
kedermawanan untuk membangun masyarakat dan meningkatkan taraf
hidup manusia.
11
b. Program Lingkungan
Program lingkungan merupakan program perusahaan yang bertujuan
untuk menjaga ekosistem dan lingkungan agar terjaga dari kerusakan dan
meminimalisir terjadinya polusi akibat dari aktivitas perusahaan.
c. Program Ekonomi
Pada saat ini, perusahaan pada aktivitasnya tidak lagi berusaha untuk
meningkatkan nilai keuntungan sebesar-besarnya, akan tetapi harus dapat
memberikan kemajuan ekonomi bagi para stakeholder (Pambudi,
2006:12)
Dengan upaya mensinergiskan program sosial, lingkungan serta ekonomi,
perusahaan dapat mencapai pembangunan keberlanjutan yang tidak hanya
menguntungkan perusahaan namun juga memberikan kontribusi positif terhadap
masyarakat serta lingkungan. Kegiatan yang berhubungan dengan elemen –
elemen Triple Bottom Line memang penting dilakukan oleh perusahaan namun
yang lebih penting lagi adalah perusahaan melakukan CSR dengan memfokuskan
kepada prinsip – prinsip yang mewujudkan pembangunan berkelanjutan
(sustainable development).
Menurut Kotler dan Lee (2005), terdapat enam alternatif program CSR yang
dapat dipilih perusahaan dengan mempertimbangkan tujuan perusahaan, tipe
program, keuntungan potensial yang akan diperoleh, serta tahap – tahap kegiatan.
Kategori aktivitas CSR, yaitu sebagai berikut: (Kotler dan Lee, 2005: 22).
1. Promosi kegiatan Sosial (Cause Promotions).
Pada aktivitas CSR ini perusahaan menyediakan dana atau sumber daya
lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap suatu kegiatan sosial atau untuk mendukung
pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat atau perekrutan tenaga
sukarela untuk suatu kegiatan tertentu. Fokus utama dari kategori
aktivitas CSR ini adalah komunikasi persuasif, dengan tujuan
menciptakan kesadaran masyarakat terhadap suatu masalah sosial.
12
2. Pemasaran Terkait Kegiatan Sosial (Cause Related Marketing)
Ketika sebuah perusahaan menyatakan bahwa sebagian dari keuntungan
atau penjualan produknya akan disumbangkan untuk kegiatan sosial
tertentu, maka perusahaan tersebut sedang melakukan apa yang disebut
sebagai cause related marketing (CRM). Kegiatan ini biasanya
berdasarkan kepada penjualan produk tertentu, untuk jangka waktu
tertentu serta untuk aktivitas derma tertentu.
3. Pemasaran Kemasyarakatan Korporat (Corporate Societal Marketing).
Pada aktivitas CSR ini perusahaan mengembangkan dan melaksanakan
kampanye untuk
mengubah perilaku masyarakat
dengan tujuan
meningkatkan kesehatan dan keselamatan publik, menjaga kelestarian
lingkungan
hidup
serta
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat.
Corporate social marketing ini dilakukan perusahaan dengan tujuan
untuk mengubah perilaku masyarakat (behavioral changes) dalam suatu
issue tertentu.
4. Kegiatan Filantropi Perusahaan (Corporate Philantrophy)
Dalam aktivitas CSR ini perusahaan memberikan sumbangan langsung
dalam bentuk derma untuk kalangan masyarakat tertentu. Kegiatan
filantropi biasanya berkaitan dengan berbagai kegiatan sosial yang
menjadi prioritas perhatian perusahaan.
5. Pekerja
Sosial
Kemasyarakatan
Secara
Sukarela
(Community
Volunteering)
Pada aktivitas CSR ini perusahaan mendukung dan mendorong para
karyawan, rekan pedagang eceran atau para pemegang franchise agar
menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasiorganisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran
program.
13
6. Praktik Bisnis yang Memiliki Tanggung Jawab Sosial (Sosially
Responsible Business Practice)
Perusahaan melaksanakan aktivitas bisnis melampaui aktivitas bisnis
yang diwajibkan oleh hukum serta melaksanakan investasi yang
mendukung kegiatan sosial dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan
komunitas dan memelihara lingkungan hidup. Komunitas dalam hal ini
mencakup karyawan perusahaan, pemasok, distributor, organisasiorganisasi nirlaba yang menjadi mitra perusahaan serta masyarakat secara
umum. Kesejahteraan dalam hal ini mencakup di dalamnya aspek-aspek
kesehatan, keselamatan, kebutuhan pemenuhan kebutuhan psikologis dan
emosional (Kotler dan Lee, 2005: 22).
Dari tahapan penerapan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan dapat
disimpulkan bahwa konsep CSR saat ini merupakan wujud komitmen
pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosial sekitarnya yang
memiliki keseimbangan perhatian kepada aspek ekonomi, sosial serta lingkungan.
Dalam penerapan dan pelaksanaan CSR, manajemen pelaksana mendapatkan
tantangan untuk menentukan poin – poin penting dalam setiap pemilihan program
yang akan diterapkan. Menurut Kotler dan Lee (2005) berikut adalah langkah –
langkah perencanaan program CSR :
a) Memilih sebuah isu atau masalah sosial (choosing social issue to
support). Tahapan awal ini merupakan tantangan paling besar sebab
keputusan pertama ini adalah langkah awal yang memiliki dampak paling
berpengaruh dalam program – program selanjutnya dan hasil yang
didapatkan. Tahap ini manajemen dihadapkan pada keputusan untuk
menentukan prioritas dan publik.
b) Memilih sebuah inisiatif atau tindakan mengenai isu (selecting initiatives
to support social issues). Setelah sebuah isu dipilih, manajemen
dihadapkan kepada langkah inisiatif apa yang akan diambil berkaitan
dengan isu tersebut.
14
c) Mengembangkan dan melaksanakan perencanaan program (developing
and implementing program plans). Pada tahap ini adanya keputusan
untuk bekerja sama dengan pihak lainnya atau tidak, jika iya, dengan
siapa; menentukan strategi kunci, termasuk media komunikasi dan
pendistribusian; menetapkan peran dan tanggung jawab masing – masing
bagian; mengembangkan time tables; dan menentukan alokasi anggaran
dan sumber dana.
d) Evaluasi (evaluation efforts).
Evaluasi merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam penerapan
CSR. Tahap ini bisa dikatakan sebagai komitmen yang yang harus
dilaksanakan
untuk
memenuhi
dan
memberikan
laporan
yang
bertanggungjawab kepada para stakeholders (Kotler and Lee, 2005: 256).
3. Implikasi peran Public relations terhadap Corporate Social Responsibility
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu bentuk kegiatan
perusahaan yang ditujukan untuk publik. Dalam mengimplementasikan Corporate
Social Responsibility (CSR) dibutuhkan peran public relations yang berfungsi
sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan dengan publik sehingga
keberadaan public relations penting adanya. Corporate Social Responsibility
(CSR) yang berupa kebijakan – kebijakan diimpelemntasikan ke dalam bentuk
kegiatan atau program.
Program yang diterapkan dalam jangka waktu singkat dan jangka waktu
panjang diharapkan dapat menciptakan reputasi yang baik di mata publik. Secara
harfiah komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan haruslah sejalan dengan
perilaku dan kinerja dari anggota organisasi. Seperti yang dibahas oleh John
Doorley dan Fred Garcia mengenai pemetaan reputasi yang ditulis dalam bentuk
rumus yaitu sebagai berikut: (Sati ,dkk, 2001: 40).
Reputasi=sejumlah citra=Performance/Perilaku/Kinerja +Komunikasi
Definisi ini membuat lebih jelas pemahaman bahwa performance atau kinerja
dan perilaku seharusnya seiring, sebaik, dan konsisten dengan kegiatan
15
komunikasi. Apabila proses tersebut tidak berjalan selaras maka akan mengarah
pada pencitraan semu, bahkan bisa mengarah kepada kebohongan publik.
Peran seorang public relations sebagai wakil perusahaan harus mampu
memberikan bukti kinerja dan perilaku sesuai dengan harapan publik sehingga
publik memberikan pendapat yang positif kepada perusahaan. dan tentu saja
reputasi yang positif merupakan tujuan utama public relations melakukan CSR
namun hal tersebut tidak mungkin dapat tercipta dalam waktu yang singkat
sehingga seorang public relations harus tetap berkomunikasi dengan publiknya.
Dalam implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) pada
prosesnya dijalankan dengan pola dan susunan tertentu agar tetap fokus dan
produktif dengan menekankan pentingnya menghasilkan keputusan – keputusan
yang akan memastikan kemampuan perusahaan untuk merespon perubahan
lingkungan dengan baik. Penjelasan proses manajemen dalam public relations
adalah sebagai berikut (Cutlip, Center, dan Broom, 2009 : 6) :
1) Defining the problem
Langkah ini menuntut public relations untuk memantau pengetahuan,
opini, sikap maupun perilaku yang berkepentingan dan terpengaruh oleh
sikap dan kebijakan perusahaan. tahap ini merupakan penerapan atau fungsi
intelejen perusahaan. Pengumpulan informasi ini bisa diperoleh dengan cara:
a. Focus group & community forums
Focus groups dan community forums ini dibentuk dari kalangan
masyarakat setempat bertujuan untuk mendiskusikan tentang masalah
atau isu – isu yang ada berkaitan dengan seputar permasalahan warga
ataupun masyarakat setempat pada saat itu.
b. Secondary analysis
PR tidak selalu mendapatkan informasi atau data sendiri, tetapi
informasi atau data yang diperoleh berasal dari pihak lain misalnya
dari pihak pemerintahan, instansi – instansi yang pernah melakukan
survey atau penelitian berkitan dengan isu atau permasalahan yang
sedang terjadi, pengumpulan kliping – kliping dan jurnal.
16
2) Planning and programming
Informasi mengenai penyebab permasalahan yang didapat digunakan
untuk membuat langkah – langkah pencegahan atau pemecahan. Langkah ini
akan dirumuskan dalam bentuk rencana, program maupun kebijakan
perusahaan. Tahap ini meliputi objective, aksi dan strategi komunikasi,
taktik dan tujuan (goals). Strategi dapat dikaitkan dengan kemampuan
perusahaan atau organisasi dalam menghadapi tekanan yang muncul baik
dari dalam maupun dari luar. Apabila tekanan itu dapat diatasi, maka
perusahaan akan terus survive dan exist.
Dalam hal ini public relations mempunyai hak dalam membuat strategic
planning yang menentukan kemana suatu perusahaan akan dibawa untuk
tahun – tahun berikutnya yang biasa disebut dengan corporate goals. Namun
perusahaan perlu melihat target publik sehingga program yang dibuat akan
tepat sasaran. Tahap ini meliputi objective, aksi dan strategi komunikasi,
taktik dan tujuan (goals). Strategi dapat dikaitkan dengan kemampuan
perusahaan atau organisasi dalam menghadapi tekanan yang muncul baik
dari dalam maupun dari luar. Dalam hal ini public relations mempunyai hak
dalam membuat strategic planning yang menentukan kemana suatu
perusahaan akan dibawa untuk tahun – tahun berikutnya yang biasa disebut
dengan corporate goals. Namun perusahaan perlu melihat target publik
sehingga program yang dibuat akan tepat sasaran.
3) Taking action and communicating
Tahap ini meliputi implementasi terhadap pelaksanaan program dan
komunikasi dirancang untuk memperoleh specific objective dari publik
untuk mencapai tujuan program perusahaan. Dalam taking action and
communication terdapat :
a) Action Strategies
Action strategies mengarah pada perubahan dan adaptasi dalam
suatu perusahaan atau organisasi. Action strategies berarti
memberikan perhatian dan penanganan sesegera mungkin dan
17
secara efektif terhadap setiap permasalahan perusahaan kepada
pihak yang terlibat atau yang bersangkutan (publik dan masyarakat
setempat) sesuai dengan kebijakan perusahaan yang ada.
b) Communication Strategies
Harus bisa menciptakan face to face communication pada pihak
yang terlibat dalam isu – isu ataupun permasalahan perusahaan. Hal
ini
membahas
bagaimana
program
yang
dibuat
bisa
dikomunikasikan kepada publik dengan memperhatikan konsep
pesan yang akan disampaikan, dimana harus diketahui dengan jelas
permasalahan yang ada, mengetahui dengan benar keinginan dan
harapan publik, target publik agar tepat pada sasaran, serta
mengetahui cara mengkomunikasikan dan bentuk pesan.
c) Implementation Plans
Hal ini berhubungan dengan implementasi program PR. Yang harus
diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Credibility
Komunikasi dapat diterima dengan baik apabila diawali
dengan adanya kepercayaan yang dengan sendirinya akan
muncul dalam diri pihak yang menjadi sender (penerima).
2. Context
Program
–
program
yang
disosialisasikan
dan
diimplementasikan harus sesuai dengan fakta atau kenyata an
mengenai permasalahan yang ada, dan mampu mendorong
adanya partisipasi dari publik dengan sendirinya.
3. Content
Isi dari program harus benar – benar sesuai dengan harapan
dan keinginan publik serta sesuai dengan nilai – nilai yang
berlaku. Program yang diberikan harus relevan dengan situasi
yang terjadi. Publik akan lebih memilih informasi yang
menjanjikan dan sesuai dengan harapan mereka.
18
4. Clarity
Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan program harus
disesuaikan dengan target publik. Hal ini dimaksudkan agar
publik yang menjadi target lebih mudah menerima. Akan jauh
lebih baik apabila pihak komunikator perusahaan menggunakan
bahasa yang sederhana, tidak berbelit – belit dan mudah
dipahami.
5. Continuity & Consistency
Komunikasi bersifat terus menerus, dan membutuhkan
perulangan dalam proses penyampaiannya agar dapat dicerna
dengan baik oleh penerimanya.
6. Channels
Dalam suatu proses komunikasi harus diperhatikan media
atau channels yang digunakan, sehingga komunikator perlu lebih
jeli dan selektif dalam memilih media dan disesuaikan dengan
penerima
pesan.
Kesalahan
dalam
pemilihan
media
menyebabkan pengeluaran biaya menjadi lebih mahal, banyak
waktu yang terbuang, dan sebagainya.
7. Capability & Audience
Sebelum menyampaikan pesan, komunikator harus melihat
dan mengukur kemampuan dari penerima pesan agar pesan dapat
diterima dengan baik. Kemampuan ini meliputi kemmapuan
membaca, menulis, mendengarkan serta tingkat kecerdasan
(dilihat dari tingkat pendidikan penerima atau publik).
4) Evaluating the program
Tahap ini meliputi proses evaluasi, pengukuran, serta implementasi
terhadap hasil pelaksanaan program. Selama implementasi program,
penilaian perlu dilakukan berdasarkan feedback yang diperoleh untuk
kemudian dipelajari lebih lanjut sehingga pada akhirnya akan menentukan
program tersebut perlu dilanjutkan atau dihentikan.
19
Dalam kasus pengimplementasian CSR pada industri perhotelan, public
relations dapat menggunakan tahapan – tahapan dalam manajemen public
relations sebagai panduan atau kerangka dalam pembuatan program Corporate
Social Responsibility (CSR). Sehingga dalam praktek atau pelaksanaannya,
tahapan manajemen public relations bisa sejalan dan sesuai dengan program
Corporate Social Responsibility (CSR).
4. Corporate Social Responsibility berbasis Tri Hita Karana
Sebuah perusahaan perlu menjalin hubungan yang baik dengan publiknya
dalam rangka sebagai penyesuaian diri dengan lingkungan masyarakat. Peran
public relations dalam aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) semakin
berkembang secara signifikan seiring dengan kemajuan dari pelaksanaan program
Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam pelaksanaannya CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan atau usaha
bisnis di Pulau Bali sangat berkaitan dengan budaya serta nilai spiritual
masyarakat di lingkungan perusahaan. Dalam melaksanakan CSR, biasanya
perusahaan atau melakukan kegiatan CSR yang selaras dengan budaya atau adat
istiadat masyarakat setempat. Yang memiliki tujuan agar masyarakat dan
lingkungan sekitar dapat merasakan manfaat dari pelaksanaan CSR tersebut dan
memberikan apresiasi terhadap perusahaan atau usaha bisnis tersebut.
Masyarakat di Pulau Bali sangat dipengaruhi oleh aspek spiritual dan dan nilai
dari budaya serta adat istiadat yang diterapkan dalam kehidupan sehari - hari.
Salah satu nilai filosofis agama hindu yang merupakan agama mayoritas di Bali
adalah konsep Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana merupakan filosofis
keseimbangan hidup masyarakat di Pulau Bali, yang meliputi hubungan manusia
dengan Tuhan (Parahyangan), antar manusia (Pawongan) dan manusia dengan
lingkungan (Palemahan).
Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) menekankan pada dua unsur,
yaitu keharmonisan hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar dan
keharmonisan perusahaan dengan lingkungan sedangkan filosofis Tri Hita Karana
memiliki pemahaman tentang keharmonisan hubungan antara manusia dengan
20
Tuhan (Parahyangan), antar manusia (Pawongan) dan manusia dengan
lingkungan (Palemahan). Aspek masyarakat dalam CSR memiliki keterkaitan
dengan unsur Pawongan dalam nilai filosofis Tri Hita Karana. Aspek lingkungan
memiliki kaitan dengan unsur Palemahan pada nilai filosofis Tri Hita Karana.
Kemudian dalam nilai filosofis Tri Hita Karana, unsur masyarakat (Pawongan)
dan unsur alam lingkungan (Palemahan) akan selalu berhubungan dengan Sang
Pencipta yaitu Tuhan Maha Esa sebagai pencipta segalanya (Parahyangan). Jadi
dapat dikatakan bahwa konsep Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki
keharmonisan dan keselarasan dengan nilai filosofis Tri Hita Karana yang ada
pada masyarakat di Pulau Bali.
Dalam
pengimplementasian
Corporate
Social
Responsibility
(CSR)
berlandaskan nilai filosofis Tri Hita Karana diharapkan perusahaan atau usaha
bisnis yang hanya berpijak kepada nilai perusahaan (value) yang mengutamakan
keuntungan dari keadaan keuangan (financial) saja tapi juga perusahaan berpijak
kepada nilai sosial, lingkungan serta agama (Tuhan sebagai pencipta segala-Nya di
alam semesta) demi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) berbasis Tri Hita Karana
diharapkan membuat perusahaan lebih bertanggungjawab dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sekitar dan berinisiatif dalam menjaga kelestarian
lingkungan serta membawa dampak positif bagi keajegan budaya dan
pertumbuhan ekonomi perusahaan di masa mendatang.
F. Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sifat deskriptif diarahkan untuk
menggambarkan fenomena yang terjadi berkaitan dengan penerapan nilai filosofis Tri
Hita Karana pada program Corporate Social responsibility (CSR). Metode yang
digunakan penelitian ini adalah metode studi kasus untuk menjawab bagaimana
implementasi penerapan corporate social responsibility pada industri perhotelan di
Bali yang berbasis kearifan lokal yaitu nilai filososfis Tri Hita Karana. Penelitian
studi kasus tidak hanya diaplikasikan pada sebuah kasus tertentu saja, namun juga
21
pada suatu fenomena unik yang menjadi isu sehingga dapat dianalisis dengan studi
kasus.
1. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi
kasus. Robert E.Stake menuliskan dalam Handbook of Qualitative Research,
Second Edition mengungkapkan bahwa studi kasus bukan suatu pilihan
metodologi tetapi suatu pilihan mengenai kasus yang seharusnya dipelajari
(Denzin, 2000: 435). Analisis studi kasus dalam penelitian ini bertujuan untuk
memberikan pandangan, pengetahuan tentang suatu fenomena penerapan nilai
filosofis Tri Hita Karana pada program CSR dalam industri perhotelan di Bali.
Yin (2011: 23) menjelaskan bahwa terdapat tiga karakteristik utama metode
penelitian studi kasus yang membedakannya dengan strategi ataupun metode
penelitian lainnya. Ketiga karakteristik utama tersebut adalah kebaruan
fenomena sosial yang diteliti, sedikit atau bahkan tidak adanya keterlibatan atau
kontrol peneliti dalam fenomena sosial yang diteliti, serta dapat digunakannya
berbagai sumber data untuk menjelaskan fenomena sosial secara lebih
mendalam dan terperinci. Selain itu, pemilihan studi kasus dianggap sangat
cocok karena dalam penelitian ini akan menjawab pertanyaan how dan why.
Pendekatan studi kasus berusaha menjawab pertanyaan penelitian how dan why.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi atas dua jenis data, yaitu sumber
data lisan (sumber data primer) dan tertulis (sumber data sekunder). Sumber
data secara lisan diperoleh melalui wawancara dan observasi yang kemudian
dicatat melalui catatan tertulis. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi
mendalam mengenai fenomena tertentu. Sedangkan data tertulis dalam
penelitian ini meliputi sumber buku, dokumen, majalah dan literatur lainnya.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di tiga hotel bintang lima yang berada di
beberapa kabupaten di Pulau Bali. Adapun lokasi penelitian dimaksud adalah:
22
a. Hotel Grand Hyatt Bali yang berada di Kawasan Wisata Nusa Dua,
ITDC. Kabupaten Badung, Bali.
b. Hotel Discovery Kartika Plaza, Jalan Kartika Plaza, Kuta, Kabupaten
Badung, Bali.
c. Pan Pacific Nirwana Resort, Jalan Raya Tanah Lot, Kabupaten Tabanan,
Bali.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap terhadap kasus dalam
penelitian ini maka pengumpulan data akan disesuaikan dengan tujuan
penelitian ini. Data yang dibutuhkan dalam penelitian adalah informasi dari
manajemen perhotelan untuk mendapatkan gambaran pengimplementasian CSR
berbasis Tri Hita Karana pada hotel. Untuk mendapatkan informasi tersebut
peneliti akan menggunakan metode wawancara.
a. Wawancara
Teknik wawancara ini dimaksudkan untuk menggali informasi secara
langsung yang tepat dan akurat mengenai data yang dibutuhkan. Instrumen
yang digunakan adalah pedoman wawancara. Wawancara mendalam melalui
interview guide yang dilakukan secara informal dan berdiskusi untuk
mendapatkan fakta yang lebih jujur. Untuk memudahkan maka peneliti
menggunakan alat bantu berupa alat perekam (recorder) dan kamera foto
digunakan.
b. Dokumentasi
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi. Dalam
penelitian ini peneliti mengumpulkan data – data dari perhotelan berupa
dokumen catatan data perencanaan CSR, Laporan data CSR, tanda bukti
pelaksanaan penilaian Tri Hita Karana Awards, Dokumen struktur
organisasi dan nama divisi dan bagian – bagian dalam masing – masing
hotel, kemudian agar lebih terpercaya didukung oleh data bersifat visual
yaitu foto – foto kegiatan CSR berbasis Tri Hita Karana.
23
5. Teknik Analisis Data
Secara lebih detail peneliti menggunakan langkah – langkah berikut :
a. Pengumpulan Data
Data
penelitian
diperoleh
menggunakan
teknik
wawancara.
Wawancara dilakukan kepada 5 orang informan yang mengetahui serta
memahami pengimplementasian CSR berbasis Tri Hita Karana.
Wawancara yang dilakukan tidak terstruktur yang memungkinkan
peneliti lebih mengembangkan pertanyaan. Hal ini dilakukan agar data
yang didapat lebih lengkap tetapi tetap pada tujuan yaitu penerapan
nilai filosofis Tri Hita Karana pada pengimplementasian program
Corporate Social Responsibility (CSR). Data lain diperoleh dari
dokumentasi
pihak
manajemen
pada
saat
Corporate
Social
Responsibility (CSR) dilaksanakan.
b. Penyajian Data
Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari hasil wawancara di
lapangan disajikan dalam bentuk uraian tentang program Corporate
Social Responsibility (CSR) yang didukung oleh data berupa
dokumentasi yang berkaitan dengan penerapan nilai filosofis Tri Hita
Karana. Dalam proses ini, data yang didapatkan dari hasil penelitian
dianalisis untuk disusun secara sistematis sehingga data yang diperoleh
dapat menjelaskan atau menjawab masalah yang diteliti.
c. Interpretasi Data dan Penarikan Kesimpulan
Setelah
melakukan
penyajian
data,
kemudian
data
tersebut
diinterpretasikan atau melakukan pemaknaan terhadap data yang ada
sesuai dengan objek penelitian dan kemudian menganalisis data yang
ada dengan menggabungkan data yang didapat dari informan dan data
sekunder. Selanjutnya peneliti memberikan kesimpulan atas hasil yang
didapat dan memberikan saran – saran.
24
Download