BAB I - jurnal eksekutif

advertisement
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
INSTITUTIONAL OWNERSHIP, MANAGERIAL OWNERSHIP
DAN KEBIJAKAN DIVIDEN DALAM MENENTUKAN
KEBIJAKAN HUTANG PERUSAHAAN MANUFAKTUR
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA 2011 -2014
Dian Palupi
[email protected]
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya
ABSTRAK:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kebijakan hutang pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta (BEJ). Dengan menggunakan purposive sampling, sampel dalam
penelitian ini adalah 9 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ periode
2011-2014. Model analisis yang digunakan adalah model regresi linier berganda.
Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari institutional ownership,
managerial ownership, dan kebijakan dividen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa institutional ownership dan kebijakan dividen berpengaruh signifikan
terhadap kebijakan hutang, sedangkan managerial ownership tidak
mempengaruhi kebijakan hutang.
Kata kunci: institutional ownership, managerial ownership, kebijakan dividen,
kebijakan hutang
ABSTRACT:
This study aims to determine the factors that influence the policy of debt on
companies listed in the Jakarta Stock Exchange (BEJ). By using purposive
sampling, sample in this study are 9 companies listed on the BEJ period of 20112014. Model analysis used is multiple linear regression model. The independent
variable in this study consisted of institutional ownership, managerial ownership,
and the dividend policy. The results show that institutional ownership and
dividend policy significantly influence debt policy, while managerial ownership
does not affect the debt policy.
Key words: institutional ownership, managerial ownership, dividend policy,
debt policy
PENDAHULUAN
Setiap
perusahaan
memerlukan
modal
untuk
membiayai
kegiatan
investasinya. Masalah permodalan merupakan salah satu hal yang sangat penting,
362
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
mengingat perusahaan dapat berjalan dan berkembang dengan baik apabila
didukung oleh sumber dana yang cukup. Sumber dana untuk membiayai kegiatan
investasi dan operasional perusahaan bisa berasal dari sumber dana internal, yaitu
dana yang berasal dari dalam perusahaan seperti laba ditahan dan akumulasi
penyusutan. Namun karena tidak semua dana yang dibutuhkan dapat dicukupi
hanya dari sumber dana internal, maka harus dicari alternatif sumber dana lain
yang berasal dari luar perusahaan, yang disebut sumber dana eksternal. Sumber
dana eksternal dapat berasal dari hutang maupun modal sendiri (ekuitas).
Ekuitas atau modal sendiri berasal dari penerbitan saham yang dilakukan
oleh perusahaan kepada pemegang saham (emiten). Pemegang saham dapat
berasal dari perseorangan, institusi yang berbadan hukum baik swasta ataupun
pemerintah. Sebagai pemilik perusahaan, pemegang saham memiliki kendali
untuk mengatur jalannya usaha tersebut. Pemegang saham juga memiliki
kepentingan agar mendapatkan bagi hasil yang menguntungkan.
Di Indonesia sendiri, pemegang saham bisa merupakan pihak yang tidak
ikut mengelola secara aktif jalannya perusahaan, dan memberikan mandat kepada
pihak lain untuk mengelola perusahaan, seperti kepada manajer. Dalam hal
pengelolaan perusahaam, masing-masing pihak memiliki kepentingan yang
terkadang menimbulkan konflik kepentingan baik antara pemegang saham dan
manajer ataupun sesama pemegang saham (mayoritas dan minoritas). Hal iniilah
yang disebut sebagai konflik keagenan.
Menurut Jensen & Meckling (1976) bahwa Agency conflict muncul akibat
adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Dimana
dalam teori keagenan dijelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam
perusahaan yakni manajer, pemilik perusahaan dan kreditor akan berperilaku
sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.
Rahayu (2005) dalam Maftukhah (2013) menyebutkan bahwa dari penelitian
beberapa peneliti disimpulkan bahwa ada beberapa metode yang dapat digunakan
untuk mengurangi permasalahan agensi dan menurunkan biaya yang berkenaan
dengan agensi. Metode-metode tersebut bisa dikelompokkan dalam beberapa
kategori: pertama, melalui pengendalian eksternal atau mekanisme motivasional.
363
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Hal ini dilakukan untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan
pemegang saham dengan meningkatkan kepemilikan manajer pada perusahaan
(Jensen et al., 1992). Kedua, institutional investor sebagai monitoring agents.
Moh’d et al. (1998), menyatakan kepemilikan investor institusional seperti bank,
perusahaan asuransi, perusahaan investasi, dan kepemilikan oleh institusi lain
akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja
manajemen. Ketiga, dengan meningkatkan Dividend Payout Ratio (DPR). DPR
yang meningkat akan menyebabkan free cash flow tidak tersedia cukup banyak
sehingga manajemen terpaksa mencari pendanaan dari luar untuk membiayai
investasinya (Crutchley & Hansen dalam Wahidahwati, 2002). Keempat, dengan
meningkatkan penggunaan pendanaan melalui hutang. Peningkatan hutang akan
menurunkan besarnya konflik antara pemegang saham dengan manajemen.
Disamping itu hutang juga akan menurunkan excess cash flow yang ada dalam
perusahaan sehingga menurunkan kemungkinan pemborosan dilakukan oleh
manajemen (Jensen et al., 1992).
Kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional dapat mempengaruhi
keputusan pendanaan, apakah melalui penerbitan right issue atau utang.
Kepemilikan institusional mempunyai arti penting dalam memonitor manajemen
dalam mengelola perusahaan. Investor institusional dapat di substitusikan untuk
melaksanakan peranan mendisiplinkan penggunaan utang dalam struktur modal
(Haruman, 2008).
Pada dasarnya setiap keputusan pembiayaan, baik internal maupun eksternal
harus dapat meminimalkan biaya modal yang ditanggung perusahaan. Ketika
manajer menggunakan hutang, biaya modal yang ditimbulkan sebesar biaya bunga
yang dibebankan kreditur, sedangkan ketika menggunakan modal sendiri, biaya
modal yang timbul merupakan tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik
dana sebelum mereka menyerahkan dananya ke perusahaan. Keputusan
pembiayaan yang tidak tepat akan menyebabkan biaya tetap yang tinggi, sehingga
dapat menurunkan profitabilitas. Oleh karena itu, sangat penting untuk
menentukan kombinasi penggunaan sumber dana yang akan digunakan secara
364
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
tepat guna kebijakan hutang yang optimal, yaitu kombinasi antara hutang dan
ekuitas yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan.
Penggunaan hutang untuk membiayai kegiatan perusahaan memerlukan
pertimbangan yang cukup matang, karena adanya resiko kebangkrutan yang akan
dihadapi ketika aliran kas yang dimiliki tidak mampu lagi melunasi angsuran
hutang beserta bunganya. Di sisi lain, penerbitan saham baru sebagai salah satu
alternatif pembiayaan juga kurang disukai oleh perusahaan, hal ini dikarenakan:
pertama, penerbitan saham baru memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan
penggunaan hutang dan kedua adanya kekhawatiran bahwa penerbitan saham baru
akan ditafsirkan sebagai sinyal negatif (kinerja perusahaan yang buruk) oleh
investor sehingga membuat harga saham jatuh di pasaran (Brealey dan Myers,
2000). Berkaitan dengan hal tersebut, menurut Pecking Order Theory sebagai
salah satu teori utama yang berkaitan dengan kebijakan hutang, perusahaan lebih
menyukai pembiayaan yang berasal dari internal perusahaan berupa laba ditahan,
kemudian setelah itu jika belum mencukupi dapat diperoleh dari dari hutang dan
ekuitas.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari kepemilikan
manajerial dan kepemilikan institusional serta kebijakan dividen terhadap
kebijakan hutang perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia periode
2010-2014. Pemilihan perusahaan manufaktur sebagai populasi dikarenakan
beberapa hal, seperti yang dikutip oleh (2014), yaitu:
1.
Manufaktur sebagai sektor usaha di Bursa Efek Indonesia yang memiliki
jumlah emiten terbesar sehingga pengaruh signifikan dalam dinamika
perdagangan di BEI, Wiranata dan Nugrahanti (2013).
2.
Perusahaan manufaktur membutuhkan modal besar untuk mendanai
kegiatan operasinya sehingga, untuk memnuhi kebutuhan dana tersebut
perusahaan menggunakan hutang, Putri (2014).
Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk menguji dan menganalisis pengaruh
kepemilikan institutional terhadap kebijakan hutang, 2) untuk menguji dan
menganalisis pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kebijakan hutang, dan 3)
365
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
untuk menguji dan menganalisi pengaruh kebijakan dividen terhadap kebijakan
hutang.
KEPUTUSAN PEMBIAYAAN
Keputusan pembiayaan merupakan salah satu diantara tiga keputusan
keuangan selain keputusan investasi dan keputusan dividen. Keputusan
pembiayaan berkaitan dengan pemilihan berbagai alternatif sumber dana yang ada
sehingga diperoleh kombinasi yang dapat meminimalkan biaya yang timbul
berkaitan dengan aktivitas perusahaan. Pada dasarnya sumber dana dapat berasal
dari luar perusahaan yang disebut sumber dana eksternal, maupun yang berasal
dari dalam, yang disebut sumber dana internal. Yang termasuk sumber dana
internal adalah laba ditahan dan akumulasi penyusutan, sedangkan hutang dan
modal sendiri digolongkan kedalam sumber dana eksternal.
Definisi keputusan pembiayaan menurut Suad Husnan (2004:253) adalah
keputusan yang menyangkut tentang bentuk dan komposisi pembiayaan yang
dipergunakan perusahaan. Terdapat dua macam kegiatan pembiayaan, yaitu yang
berkaitan dengan penggunaan dana (pembiayaan aktif) dan penarikan dana
(pembiayaan pasif). Setiap keputusan keuangan termasuk keputusan pembiayaan,
selalu bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan.
KEBIJAKAN HUTANG
Kebijakan hutang melibatkan perimbangan antara resiko dengan tingkat
pendapatan (return) yang diharapkan. Penggunaan lebih banyak hutang selain
akan meningkatkan resiko yang ditanggung pemegang saham, di sisi lain juga
memperbesar tingkat pendapatan (return) yang diharapkan. Seperti yang
dinyatakan oleh Weston dan Brigham (1993:662) berikut ini: ”Capital structure
policy involves trade-off between risk and return, using more debt raises the
riskiness of the firms earnings stream, however a higher debt ratio generally leads
to the higher expected rate of return.”
Tingginya resiko dapat menurunkan harga saham, tetapi dengan
meningkatnya tingkat pendapatan yang diharapkan, harga saham tersebut akan
366
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
meningkat kembali. Oleh karena itu, komposisi dalam struktur hutang perlu
mempertimbangkan kedua hal diatas. Setiap perusahaan memiliki komposisi
hutang terhadap ekuitas yang ditargetkan, yaitu bauran antara hutang, saham
preferen dan saham biasa yang direncanakan perusahaan dalam membiayai
investasinya.
Kebijakan hutang diproksikan oleh rasio DER (debt to equity ratio) seperti
yang dikemukakan oleh Moh’d et. al, (1998).
DER = Total Hutang
Total Ekuitas
MODAL SENDIRI
Modal sendiri adalah dana jangka panjang perusahaan yang disediakan oleh
pemilik perusahaan/pemegang saham, yang terdiri dari berbagai jenis saham
(saham biasa dan saham preferen) serta laba ditahan.
Modal sendiri yang dimiliki perusahaan dapat berasal dari dalam (internal)
maupun dari luar (eksternal). Modal sendiri yang berasal dari internal perusahaan
dapat diperoleh dengan menahan laba, sedangkan dari eksternal perusahaan
mendapatkannya dari penjualan saham biasa atau saham preferen.
Saham biasa adalah sekuritas yang menunjukkan bukti atau kepemilikan
atas suatu perusahaan yang menerbitkannya (Warsono, 2003:350). Dengan
menerbitkan saham biasa kepada investor baru, perusahaan dapat memperoleh
dana yang diperlukan. Apabila di akhir tahun pembukuan perusahaan
mendapatkan keuntungan, maka pemegang saham biasa akan memperoleh
dividen, namun jika menderita kerugian, dividen tidak dibayarkan.
Saham preferen adalah sekuritas campuran yang merupakan perpaduan
antara karakteristik hutang dan ekuitas. Seperti halnya obligasi, saham preferen
memiliki nilai pari, sedangkan hampir sama seperti pembayaran bunga, dividen
saham preferen jumlahnya tetap dan biasanya harus dibayar sebelum dividen
saham biasa dibayarkan. Pemegang saham preferen memiliki hak terlebih dahulu
atas laba dan hasil likuidasi aktiva perusahan apabila perusahaan dinyatakan pailit.
367
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Laba ditahan adalah pos neraca yang menunjukkan jumlah keseluruhan laba
yang tidak dibagikan sebagai dividen, melainkan diinvestasikan kembali ke dalam
perusahaan (Weston dan Brigham, 1997:245). Jumlah laba ditahan selain
tergantung pada keuntungan yang diperoleh, juga tergantung pada kebijakan
dividen perusahaan tersebut. Perusahaan yang tidak membagikan dividen
(menahan laba) berarti memperbesar penggunaan aktiva yang dibiayai dengan
modal internal.
INSTITUTIONAL OWNERSHIP
Institutional ownership atau yang sering disebut dengan institutional
shareholders atau institutional investor merupakan pemegang saham yang
berbentuk badan hukum. Menurut Reilly (2003:63), investor institusional antara
lain terdiri dari reksadana, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan bank.
Keberadaan investor institusi dalam suatu perusahaan menjadi semacam
monitoring agents terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manajer.
Kepemilikan saham mewakili kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung
atau sebaliknya tidak mendukung suatu keputusan manejer terhadap aktivitas
pencarian dana dan bagaimana menginvestasikan dana yang ada. Menurut
Bathala, et al. (1994) kenaikan kepemilikan saham oleh institusi dapat
mengimbangi kebutuhan akan hutang, sehingga
antara kepemilikan institusi
dengan proporsi hutang memiliki hubungan yang negatif.
Wahidahwati (2002) menyatakan bahwa institutional ownership merupakan
proporsi kepemilikan saham oleh pemegang saham institusional pada akhir tahun,
yang diukur dalam persentase. Institutional ownership dihitung dengan
menggunakan rumus:
INSTi ,t 
INSTi ,t
CSOi ,t
Keterangan:
INSTi ,t = institutional ownership perusahaan i pada akhir tahun ke-t
368
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
INSTi ,t
No. 2 Desember 2015
= saham milik institusional shareholder perusahaan i pada akhir tahun
ke-t
CSOi , t = common stock outstanding perusahaan i pada akhir tahun ke-t
MANAGERIAL OWNERSHIP
Brigham dan Gapenski (1996:17) dalam Nurfebriani (2007) menyatakan
bahwa manajer yang memiliki sebagian besar saham perusahaan di mana ia
bekerja maka cenderung untuk lebih berusaha memaksimumkan harga saham.
Keberadaan kepemilikan manajer penting artinya dalam hubungannya dengan
konflik kepentingan. Salah satu hal yang memotivasi manajer untuk bekerja sesuai
dengan kepentingan pemegang saham yaitu adanya kepemilikan saham oleh
manajer, sehingga manajer tidak hanya mengejar kompensasi tetapi juga dividen
dan capital gain. Peningkatan kepemilikan akan membuat kepentingan manajer
menjadi lebih dekat dengan kepentingan pemegang saham.
Besarnya kepemilikan saham oleh manajemen atau managerial ownership
dapat dinyatakan dalam persamaan:
Number of company’s shares
Managerial Ownership =
Number of shares outstanding
KEBIJAKAN DIVIDEN
Laba yang dihasilkan perusahaan dapat digunakan untuk membeli sekuritas,
melunasi hutang, dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen
ataupun ditahan untuk nantinya diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan.
Dividen dapat didefinisikan sebagai bagian dari laba yang dibagikan kepada
pemegang saham sebagai imbalan atas investasi yang mereka tanamkan pada
perusahaan (Horne & Wachowics, 2005:468). Pembayaran dividen merupakan
arus kas keluar bagi perusahaan. Pembayaran dividen yang tinggi akan
mengurangi proporsi modal sendiri sehingga perusahaan cenderung untuk
memperbesar penggunaan hutang dalam membiayai investasinya. Hal ini juga
369
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
bertujuan untuk menjaga agar stuktur modalnya tetap berada dalam kondisi
optimal. Pembayaran dividen merupakan realisasi tuntutan pemegang saham
untuk mendapatkan pendapatan yang besar.
Emery dan Finnerty dalam Ismiyanti dan Hanafi (2003:264) berpendapat
bahwa dividen yang tinggi merupakan sinyal adanya peningkatan profitabilitas di
masa depan. Hal ini tentu saja menjadi sinyal positif bagi investor karena mereka
melihat adanya peluang investasi yang menjanjikan bagi nilai perusahaan.
Dari sisi perspektif teori keagenan (Wahidahwati, 2002), pembayaran
dividen merupakan bagian dari monitoring perusahaan. Bila dividen yang
dibayarkan tinggi menyebabkan didalam perusahaan tidak terdapat cukup free
cash flow sehingga manajemen harus mencari pendanaan dari luar untuk
membiayai investasinya. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan penyalahgunaan
atau pemborosan dana oleh manajemen untuk kepentingannya sendiri, sehingga
konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham dapat berkurang.
Perusahaan cenderung membayar dividen yang tinggi bila manajer memiliki
proporsi saham yang rendah.
Di lain pihak, menurut Jensen (1986) dlm De Medeiros dan Daher (2004),
untuk mencegah manajer mengambil keuntungan pribadi dari adanya excess cash
flow, suatu perusahaan mempunyai dua pilihan, yakni pertama dengan
menerbitkan hutang, dimana melalui cara ini manajer menjadi lebih berhati-hati
karena adanya kewajiban yang berkaitan dengan pembayaran bunga. Kedua,
melalui kebijakan pembayaran dividen. Oleh karena itu, menurut Jensen, hutang
dan kebijakan dividen memiliki hubungan yang berkebalikan.
Pembayaran dividen dapat diukur dengan menggunakan dividend payout
ratio (DPR). Ross, et al. (2000:94) merumuskan DPR sebagai berikut:
DPR =
Dividend per share
Earning per share
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif. Penelitian ini menitikberatkan pada pengujian hipotesis, penggunaan
370
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
data-data yang terukur dan alat analisis statistik inferensial. Dari penelitian ini
akan diperoleh simpulan yang dapat digeneralisasikan.
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yang bersumber dari laporan tahunan, laporan kinerja dan data dari
Indonesian Capital Market Directory (ICMD) perusahaan manufaktur yang go
public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2011 sampai dengan 2014.
Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2011 – 2014 dengan kriteria pengambilan sampel:
1.
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2011 – 2014
2.
Perusahaan menerbitkan laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31
Desember selama periode pengamatan
3.
Menerbitkan laporan keuangan tahun 2011 – 2014
4.
Membagikan dividen berturut-turut tahun 2011 – 2014
5.
Memiliki data mengenai kepemilikan institusional dan kepemilikan
manajerial
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum model analisis regresi dilakukan, terlebih dahulu akan dilakukan
pengujian model asumsi klasik terhadap empat model analisis sebagai syarat
utama penggunaan statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan nilai Durbin
Watson (DW) sebesar 1.163, yang artinya tidak ada autokorelasi karena angka
DW berada diantara nilai -2 dan +2.
Pada kolom VIF hitung terdapat angka-angka yang berkisar antara angka 1
– < 10 dan nilai pada kolom Tolerance berada pada kisaran 1, berarti tidak terjadi
multikolinieritas.
Kepemilikan Institusi dan Kebijakan Hutang
Variabel X1 (kepemilikan institusional) berpengaruh negatif signifikan pada
tingkat signifikansi < 0,01 dan β = -0,021. Artinya bahwa kenaikan kepemilikan
institusi 1% akan menurunkan porsi DER sebesar 0,021 %. Sehingga H1 yang
menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap
371
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
kebijakan hutang ditolak. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang
dilakukan Moh’d (1998), Rahmawati (2011) dan Putri (2014). Melalui
kepemilikan institusional, pengawasan terhadap penggunaan hutang dapat lebih
ditingkatkan sehingga mengurangi masalah keagenan. Hasil penelitian ini dapat
menjelaskan bahwa dengan adanya kepemilikan institusi yang besar maka bentuk
monitoring terhadap internal perusahaan semakin besar, bentuk monitoring yang
besar ini akan membatasi ruang gerak manajer untuk melakukan kebijakan yang
berhubungan dengan penggunaan hutang, sehingga menyebabkan manajer
cenderung untuk menurunkan hutang guna meminimalkan tingkat resiko atas dana
investor. Akibatnya, dengan adanya kebijakan hutang yang lebih ketat akan
berdampak menurunnya debt to equity ratio perusahaan.
Kepemilikan Manajerial dan Kebijakan Hutang
Variabel X2 (kepemilikan manajerial) tidak mempengaruhi kebijakan
hutang yg diproksikan dengan DER. Ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,907
lebih besar dari 0,05. Sehingga H2 yang menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang ditolak. Porsi
kepemilikan manajemen, baik direksi, manajer dan komisaris yang relatif kecil
pada semua perusahaan sampel menyebabkan manajemen bukan menjadi
pengendali utama dalam menentukan kebijakan hutang perusahaan. Hasil
penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Wiranata dan
Nugrahanti (2013).
Kebijakan Dividen dan Kebijakan Kebijakan Hutang
Variabel X3 (kebijakan dividen) berpengaruh negatif signifikan terhadap
kebijakan hutang yang terlihat dari nilai signifikansi 0,00 < 0,1 dan β = -0,014.
Hasil ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan kepemilikan institusi 1% akan
menurunkan DER sebesar 0,014 %. Sehingga H3 yang menyatakan bahwa
kebijakan dividen berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang diterima.
Penelitian yang mendukung dilakukan oleh Larasati (2012) yang menyatakan
bahwa kebijakan dividen memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan hutang.
372
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Hasil ini sesuai dengan static trade-off theory yang terkait dengan masalah
keagenan. Untuk mencegah manajer mengambil keuntungan pribadi dari adanya
excess cash flow, suatu perusahaan mempunyai dua pilihan, yakni pertama dengan
menerbitkan hutang, dimana melalui cara ini manajer menjadi lebih berhati-hati
karena adanya kewajiban yang berkaitan dengan pembayaran bunga. Kedua,
melalui kebijakan pembayaran dividen.
Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,577 menunjukkan bahwa variabel
kepemilikan institusi, kepemilikan manajerial dan kebijakan dividen dapat
menjelaskan variabel kebijakan hutang sebesar 57,7 %. Berdasarkan uji F yang
dilakukan, diperoleh nilai signifikansi 0,00 < 0,05 sehingga secara simultan
variabel
kepemilikan institusi, kepemilikan manajerial dan kebijakan dividen
berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang, dan dikatakan memenuhi
kriteria goodness of fit.
SIMPULAN
Kepemilikan institusi berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang yang
diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER). Semakin besar kepemilikan
institusi, semakin besar kontrol yang dilakukan terhadap pihak manajemen
sehingga akan mengurangi porsi penggunaan hutang oleh manajemen, dan
semakin kecil kemungkinan penyelewengan yang dilakukan manajemen untuk
kepentingan pribadi, sehingga konflik keagenan dapat dikurangi.
Kepemilikan manajerial tidak mempengaruhi kebijakan hutang. Porsi
kepemilikan manajemen, baik direksi, manajer dan komisaris yang relatif kecil
pada semua perusahaan sampel menyebabkan manajemen bukan menjadi
pengendali utama dalam menentukan kebijakan hutang.
Kebijakan dividen berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. Semakin
besar pembagian dividen kepada pemegang saham maka akan menurunkan porsi
penggunaan hutang, hal ini untuk menghindari ketidakcukupan kas dan risiko
gagal bayar atas penggunaan hutang.
373
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Bagi peneliti yang ingin menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi
kebijakan hutang, bisa menggunakan sampel dari sektor industri lainnya, selain
manufaktur agar dapat diperoleh perbandingan dengan sektor manufaktur.
Penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah variabel lain yang diprediksi
mempengaruhi kebijakan kebijakan hutang, mengingat R2 sebesar 0,577 sehingga
diprediksi ada variabel lain sebesar 43,3 % yang mempengaruhi kebijakan hutang
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. (2005). Teori Keuangan dan Pasar Modal. Edisi Pertama.
Yogykarta: Ekonisia.
Weston, J. Fred, Thomas E. Copeland. (1996). Manajemen Keuangan. Jilid Dua.
Edisi Kedelapan. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Bathala, Chencuramaiah T, Kenneth P. Moon, and Ramesh P. Row. (1994).
Managerial Ownership, Debt Policy and Impact of Institutional Holldings:
An Agency Perspective. Journal of Financial Management. Vol. 23, No.3:
38-50.
Brigham, F. Eugene, Joel F. Houston. (2001). Manajemen Keuangan. Edisi
Kedelapan. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
De Medeiros, Otavio R. and Cecilio E. Daher. (2004). Testing Static Tradeoff
against Pecking Order Models of Capital Structure in Brazilian Firms.
Paper presented at the 40 th USP Congress of Management Control and
Accounting, Sao Paolo Brazil.
Ghosh, Arvin, Francis Cai and Wenhui Li. (2000). the Determinants of Capital
Structure. American Bussiness Review, p:129-132.
Ghozali, Imam. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Edisi ketiga. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gitman, Lawrence J. (2006). Principles of Managerial Finance, Eleventh Edition.
United States. Paearson-Addison Wesley.
Haruman, Tendi. (2008). Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Keputusan
Pendanaan
(Perspektif
Agency
Theory),
National
Conference
on
Management Research.
374
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Husnan, Suad. (2004). Manaajemen Keuangan, Teori dan Penerapannya. Edisi
Keempat. Jilid Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Ismiyanti, Fitri, dan Mamduh M. Hanafi. (2003). Kepemilikan Manajerial,
Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Utang dan Kebijakan Dividen:
Analisis Persamaan Simultan. Simposium Nasional Akuntansi VI: 260-277.
I.M Pandey. (2001). Capital Structure and The Characteristics: Evidence from An
Emerging Market. Journal of Finance. 1-17.
Indonesian Capital Market Directory. Jakarta: Institute for Economic and
Financial Research (ECFIN).
Maftukhah, Ida. (2013). Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional dan
Kinerja Keuangan sebagai Penentu Struktur Modal Perusahaan, Jurnal
Dinamika Manajemen, Vol. 4, No. 1, pp. 69-81.
Moh’d, Mahmoud A., Larry G. Perry, and James H. Rimbey. (2001). The Impact
of Ownership Structure On Corporate Debt Policy: a Time-Series CrossSectional Analysis, The Financial Review, p: 85-97.
Munawir, S. (2002). Analisis Laporan Keuangan. Edisi Keempat.Yogyakarta:
Penerbit Liberty.
Reilly, F. K. and K. C. Brown. (2003). Investment Analysis and Portfolio
Management. 7th edition. Ohio: South-Weston, a division of Thomson
Learning.
Rajan, R.G dan Luigi Zingales (1995). What Do We Know About Capital
Structure? Some Evidence From International Data, Journal of Finance,p:
1421-1460.
Ross, Stephen A., Randolph W. Westerfield, and Bradford D. Jordan. (2000).
Fundamentals of Corporate Finance. Fifth Edition. New York: Mc GrawHill.
Santi, Fitri. (2005). Determinants of Indonesian Firm’s Capital Structure: Panel
Data Analyses. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol.18, No. 3: 243260.
375
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
No. 2 Desember 2015
Wahidahwati. (2002). Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan
Institusional pada Kebijakan Hutang Perusahaan : Sebuah Perspektif Theory
Agency. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 5, No. 1, Januari, Hal 1-16.
Weston, J. Fred, Eugene F. Brigham. (1990). Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Edisi Kesembilan. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Weston, J. Fred dan Eugene F. Brigham. (1993). Essentials of Mangerial Finance.
Tenth Edition. USA. The Dryden Press.
Weston, J. Fred, and Thomas E. Copeland. (1995). Finance Management. Fifth
Edition.New York : The Dryden Press.
Weston, J. Fred, Thomas E. Copeland. (1996). Manajemen Keuangan. Jilid Dua.
Edisi Kedelapan. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Munawir, S. (2002). Analisis Laporan Keuangan. Edisi Keempat.Yogyakarta:
Penerbit Liberty.
Wiranata, Y, A, dan Nugrahani, Y.W. (2013). Pengaruh Struktur Kepemilikan
Terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur di Indonesia, Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Vol. 15, No. 1, p. 15-26.
LAMPIRAN
Tabel 1. Perusahaan Sampel
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Kode Emiten
ASII
AUTO
GJTL
GGRM
INDF
INTP
KAEF
TCID
SMSM
Perusahaan
PT. ASTRA INTERNASIONAL, Tbk.
PT. ASTRA AUTOPARTS, Tbk.
PT. GAJAH TUNGGAL, Tbk.
PT. GUDANG GARAM, Tbk
PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR, Tbk.
PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk.
PT. KIMIA FARMA, Tbk.
PT. MANDOM INDONESIA, Tbk.
PT. SELAMAT SEMPURNA, Tbk.
376
No. 2 Desember 2015
Jurnal EKSEKUTIF Volume 12
Tabel 2. Descriptive Statistics
Y
Mean
,6856
Std. Deviation
,42808
N
36
X1
68,2153
15,30429
36
X2
X3
,9423
38,1239
2,29472
20,20525
36
36
Tabel 3. Regresi Linier Berganda
Model Summaryb
Model
1
Change Statistics
Std. Error
R Square
Adjusted
of the
df1
df2
R Square R Square Estimate Change F Change
,577
,538
,29109
,577
14,564
3
32
R
.760a
Sig. F
Change
DurbinWatson
1,163
,000
a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1
b. Dependent Variable: Y
Coefficients
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
2,669
,308
X1
-,021
,004
X2
-,003
,022
X3
-,014
,003
Standardiz
ed
Coefficient
s
Beta
t
8,657
Sig.
,000
-,757
-5,891
-,014
-,117
-,664
-5,112
a
95,0% Confidence
Interval for B
Lower
Upper
Bound
Bound
Correlations
Zero-order
Partial
Collinearity Statistics
Part
Tolerance
VIF
2,041
3,296
,000
-,028
-,014
-,465
-,721
-,677
,800
1,250
,907
-,048
,043
-,023
-,021
-,013
,923
1,084
,000
-,020
-,008
-,338
-,670
-,588
,783
1,277
a. Dependent Variable: Y
377
Download