Investasi Pemerintah Daerah Pada Sektor Perbankan: Kajian

advertisement
Investasi Pemerintah Daerah Pada Sektor Perbankan:
Kajian Teoritis Teori Permodalan dan Prinsip Dasar Modal Bank
Abstrak
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah dapat secara aktif terlibat melalui pembelian
atas saham-saham pada persusahaan tertentu, baik melalui mekanisme IPO atau
Right Issue. Penyertaan ini merupakan bentuk Investasi jangka panjang pemerintah
daerah yang dapat dianggarkan. Investasi Pemerintah Daerah harus sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta serta sesuai dengan kajian
ilmiah dalam dunia bisnis. Dengan mempehatikan konsep dan teori dalam investasi
maka diharapkan investasi tersebut dapat memberikan manfaat yang optimal bagi
masyarakat.
Latar Belakang
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah serta untuk meningkatkan
pertumbuhan perekonomian daerah diperlukan upaya-upaya dan usaha untuk
meningkatkan sumber pendapatan daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 285
Undang-Undang
Nomor
23
Tahun
2014
tentang
Pemerintahan
Daerah
dinyatakan bahwa sumber-sumber pendapatan Daerah terdiri atas :
1. Pendapatan Asli Daerah, yang terdiri dari :
a. hasil pajak Daerah;
b. hasil Retribusi Daerah;
c. hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan;
d. lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.
2. Pendapatan Transfer;
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.
Selanjutnya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Menteri dalam Negeri
No. 52 tentang Pedoman
pemerintah daerah
Pengelolaan Pemerintah
Daerah, dijelaskan bahwa
dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha
Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat
dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha
Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pasal 71 ayat (8) dan ayat (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,
menyebutkan bahwa penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban yang
telah tercantum dalam peraturan daerah penyertaan modal pada tahun-tahun
sebelumnya, tidak diterbitkan peraturan daerah tersendiri sepanjang jumlah
anggaran penyertaan modal tersebut belum melebihi jumlah penyertaan modal yang
telah ditetapkan pada peraturan daerah tentang penyertaan modal.
Dalam hal pemerintah daerah akan menambah jumlah penyertaan modal
melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah
tentang penyertaan modal, dilakukan perubahan peraturan daerah tentang
penyertaan modal yang berkenaan.
2. Peraturan Perundangan Berkaitan Investasari Pemerintah Daerah
Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Peraturan
Daerah ini adalah:
1.
Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.
Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286)
3.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
4.
Undang-undang
nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah
diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5679);
5.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4724);
6.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4756);
7.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
8.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
9.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4593);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4737);
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 52 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Pengelolaan Investasi Pemerintah Daerah
14. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2007 Tentang Penyertaan Modal
Pemerintah Kota Bandung pada PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan
Banten Tbk
15. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 1 Tahun 2017 tentang
Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 (Lembaran Daerah Kota
Bandung Tahun 2011 Nomor 20);
3. Teori Penambahan Modal Pemerintah Daerah
Definisi secara umum penyertaan modal yaitu suatu usaha untuk memiliki
perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal
ke perusahaan tersebut. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan
kepemilikan kekayaan Daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak
dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai
modal/saham daerah.
Maksud Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah upaya meningkatkan
produktifitas pemanfaatan tanah dan/atau bangunan serta kekayaan lainnya milik
Pemerintah Daerah dengan membentuk usaha bersama dan saling menguntungkan.
Tujuan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah untuk meningkatkan:
1) Sumber Pendapatan Asli Daerah;
2) Pertumbuhan ekonomi;
3) Pendapatan masyarakat; dan
4) Penyerapan tenaga kerja.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Penyertaan modal pemerintah daerah
dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang transparan dan
akuntabilitas. Perencanaan penyertaan modal pemerintah daerah yang diatur dalam
Peraturan Daerah meliputi perencanaan penyertaan modal oleh Badan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah dan perencanaan kebutuhan penyertaan modal
pemerintah daerah yang berasal dari APBD.
Perencanaan penyertaan modal oleh Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Daerah diatur dengan prinsip kehati-hatian sehingga tujuan penyertaan modal
pemerintah daerah terlaksana dengan efektif dan efisien. Perencanaan Penyertaan
Modal pemerintah daerah memerlukan suatu koordinasi kelembagaan pada
pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah dalam rangka pencapaian
efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan penyertaan modal
1.
Pelaksanaan penyertaan modal
Pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah dilakukan oleh Badan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah berdasarskan persetujuan Walikota. Untuk
pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah kepada PT Bank Pembangunan
Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk akan dilakukan sesuai perencanaan senilai Rp
10.322.761.500,00 (sepuluh milyar tiga ratus dua puluh dua juta tujuh ratus enam
puluh satu ribu lima ratus rupiah), dianggarkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Tahun Anggaran 2017 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan yang
merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.
2.
Penatausahaan dan pertanggungjawaban Penyertaan modal
Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan
Penyertaan modal pemerintah daerah, lembaga-lembaga yang terkait harus
menyelenggarakan akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah
daerah. Akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah mengacu
kepada Standar Akuntansi Keuangan.
3.
Manajemen risiko
Dalam rangka pengelolaan Penyertaan Modal pemerintah daerah disamping tingkat
pendapatan yang diharapkan, hal penting yang harus diperhatikan adalah timbulnya
potensi kerugian yang akan berpengaruh terhadap pendapatan dan modal
Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen risiko
sebagai langkah antisipasi terhadap munculnya variabel-variabel risiko Penyertaan
Modal pemerintah daerah.
Khusus dalam Perseroan Terbatas modalnya dalam bentuk saham. Hal ini
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 31 UU Nomor 40 Tahun 2007: “Modal dasar
perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham.” Oleh karena itu, apabila
Perseroan Terbatas akan melakukan penambahan modal caranya adalah dengan
menambah jumlah saham dalam Perseroan Terbatas. Dalam hal keputusan
penambahan modal PT harus mendapat persetujuan dari RUPS. RUPS dapat
mendelegasikan kewenangannya dalam hal persetujuan penambahan modal kepada
Dewan Komisaris. Penambahan modal dalam PT wajib diberitahukan kepada Menteri
Departemen Hukum dan HAM dan dicatatkan dalam daftar perusahaan.
Secara regulasi, penambahan modal telah diatur dalam beberapa peraturan dari
otoritas terkait, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, antara lain:
1. Peraturan OJK Nomor 38/POJK.04/2014 tentang Penambahan Modal
Perusahaan Terbuka Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
2. Peraturan OJK Nomor 32/POJK.04/2015 tentang Penambahan Modal
Perusahaan Terbuka Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu
Dalam aturan tersebut, yang dimaksud dengan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu yang selanjutnya disingkat HMETD adalah hak yang melekat pada saham
yang memberikan kesempatan pemegang saham yang bersangkutan untuk membeli
saham dan/atau Efek Bersifat Ekuitas lainnya baik yang dapat dikonversikan menjadi
saham atau yang memberikan hak untuk membeli saham, sebelum ditawarkan
kepada Pihak lain.
Perusahaan Terbuka dapat menambah modal tanpa memberikan HMETD
kepada pemegang saham sebagaimana diatur dalam peraturan di sektor Pasar
Modal yang mengatur mengenai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, baik untuk
memperbaiki posisi keuangan maupun selain untuk memperbaiki posisi keuangan
Perusahaan Terbuka dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
yang sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.
Penambahan modal Perusahaan Terbuka tanpa memberikan HMETD selain
untuk memperbaiki posisi keuangan hanya dapat dilakukan paling banyak 10%
(sepuluh persen) dari modal disetor yang tercantum dalam perubahan anggaran
dasar yang telah diberitahukan dan diterima Menteri yang Berwenang pada saat
pengumuman RUPS.
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah dapat secara aktif terlibat melalui
pembelian atas saham-saham pada persusahaan tertentu, baik melalui mekanisme
IPO atau Right Issue. Penyertaan ini merupakan bentuk Investasi jangka panjang
pemerintah daerah yang dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan
dalam tahun anggaran yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang penyertaan
modal dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Teori Permodalan dan Prinsip Dasar Modal Bank
Kegiatan usaha perbankan sangat berkaitan erat dengan stakeholder serta
regulasi dalam kenyataannya. Hal ini terkait dengan perilaku pemegang saham
perbankan (shareholder) dalam mengawasi kebijakan bank dalam pelonggaran
(penurunan persyaratan modal) dan pengetatan (kenaikan persyaratan modal bank).
Oleh karena itu terdapat beberapa teori yang menjelaskan mekanisme tersebut
secara komprehensif.
4.1. Trade Off Theory menurut Miller dan Modigliani (MM)
Teori trade off dalam balancing theory yaitu menyeimbangkan kegunaan dan
biaya dari penggunaan hutang dalam struktur modal sehingga disebut pula sebagai
trade off theory (Brigham et al, 1999). Berdasarkan Modigliani dan Miller (1996),
semakin besar hutang yang digunakan, semakin tinggi nilai perusahaan. Dalam
perspektif Modigliani dan Miller, mereka mengabaikan beberapa faktor biaya
kebangkrutan dan biaya keagenan. Teori ini meyakini bahwa perusahaan tidak akan
bangkrut karena struktur modal sangat erat hubungannya dengan nilai perusahaan.
Miller dan Modigliani menjelaskan bahwa dalam teori ini terdapat track-off antara
tax benefit (penghematan pajak atas hutang) dan cost financial distress (faktor risiko
yang muncul karena adanya kenaikan resiko kebangkrutan akibat tingginya hutang).
Lebih lanjut lagi, Modigliani dan Miller menjelaskan struktur modal perusahaan yang
optimal terjadi karena adanya benefit dari pajak dan penggunaan hutang terhadap
biaya kebangkrutan.
4.2 Pecking Order Theory
Pecking order theory menjelaskan bahwa perusahaan akan melihat
bagaimana tingkatan sumber dana perusahaan apakah menggunakan internal equity
dalam menjalankan bisnis perusahaan atau menggunakan pendanaan eksternal
melalui penerbitan hutang (Myers, 1984). Internal equity didapatkan dari laba yang
ditahan dari hasil kegiatan perusahaan dan eksternal seperti ponjaman kreditur atau
menerbitkan saham baru. Dalam internal equity, hal ini mempunyai implikasi
langsung terhadap seberapa besar laba ditahan yang berkaitan erat dengan besaran
dividen yang dialokasikan terhadap shareholder. Sementara itu, apabila besaran laba
ditahan yang ditentukan mempunyai nilai yang besar maka aktifitas pendanaan akan
bergantung kepada eksternal sehingga perusahaan harus menerbitkan saham baru
atau mengubah struktur hutang yang dimiliki. Pecking order theory menekankan
kepada permasalahan informasi asimetri. Perusahaan memiliki financial slack yang
cukup sehingga tidak perlu menerbitkan hutang atau saham baru untuk mendanai
kegiatan operasional perusahaan tanpa harus merugikan shareholder. Lebih lanjut
lagi, teori ini menekankan kepada perilaku perusahaan untuk menahan sebagian
laba dan membuat cadangan kas dalam jumlah yang cukup besar.
Agency Theory
Teori agensi dan berpendapat bahwa terdapat kesenjangan antara pemilik
(pemegang saham) dan pengelola perusahaan (manajer) yang timbul dari penurunan
kepemilikan saham. Kondisi ini mengakibatkan para manajer untuk mengejar
kepentingan mereka sendiri, bukan memaksimalkan nilai pemegang saham (nilai
perusahaan). Menurut Jensen dan Meckling (1976), menjelaskan bahwa manajer
tidak selalu menjalankan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Hubungan keagenan adalah kontrak di mana satu atau lebih orang (principal)
melibatkan orang lain (agent) untuk melakukan pengelolaan perusahaan, bertindak
atas nama principal dan mendelegasikan beberapa pengambilan keputusan otoritas
kepada agent. Kenyataannya adalah bahwa kepentingan manajer dan pemegang
saham tidak selalu sama. Manajer yang bertanggung jawab menjalankan perusahaan
cenderung mencapai tujuan pribadinya daripada memaksimalkan ke untungan
pemegang saham. Manajer akan menggunakan kelebihan free cash flow yang
tersedia untuk memenuhi kepentingan pribadinya bukan untuk meningkatkan nilai
perusahaan (Boodhoo, 2009).
Masalah utama yang dihadapi pemegang saham adalah untuk memastikan
bahwa manajer tidak menghabiskan free cash flow untuk investasi yang tidak
menguntungkan atau yang memiliki nilai NPV (Net Present Value) negatif. Free cash
flow ini harus dikembalikan kepada pemegang saham misalnya untuk pembayaran
dividen atau untuk biaya pemantauan manajer sehingga manajer bertindak sesuai
dengan kepentingan pemegang saham. Biaya ini disebut agency cost. Semakin tinggi
kebutuhan untuk memonitoring manajer, semakin tinggi agency cost yang harus
dikeluarkan perusahaan (Jensen, 1986). Menurut Fauz dan Roshidi (2007), konflik
keagenan dapat diminimalisasi dengan beberapa alternatif berikut:
1. Meningkatkan pendapatan perusahaan melalui penggunaan hutang, sehingga
akan menurunkan tingkat konflik antara pemegang saham dengan manajer
(Mahadwartha dan Hartono, 2002).
2. Meningkatkan proporsi kepemilikan institusional. Penggunaan investor
institusional sebagai monitoring agent akan mendorong meningkatnya
pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.
5. Pasar Modal
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik surat utang (obligasi),
ekuitas (saham), reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar
modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain
(misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi.
Menurut undang-undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 “Pasar modal adalah
kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga
dan profesi yang berkaitan dengan efek”. Pasar modal menurut Tandelilin (2001)
adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang
membutuhkan dana dengan cara memperjual belikan sekuritas. Sedangkan tempat
dimana terjadinya jual beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Beberapa sekuritas
yang umumnya diperdagangkan di pasar modal antara lain adalah saham, obligasi,
reksadana dan instrumen derivatif.
Masing-masing sekuritas tersebut memberikan tingkat return dan risiko yang
berbeda. Saham merupakan surat kepemilikan atas sebuah perusahaan, sedangkan
obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan perusahaan untuk mencari dana,
sedangkan reksadana adalah surat sertifikat yang menjelaskan bahwa menitipkan
sejumlah uang kepada perusahaan melalui manajer investasi untuk dikelola di pasar
modal maupun di pasar uang. Instrumen derivatif merupakan sekuritas yang nilainya
merupakan turunan dari sekuritas lain, sehingga nilai instrumen derivatif sangat
tergantung dari harga sekuritas lain yang ditetapkan sebagai patokan. Ada beberapa
jenis instrumen derivatif, diantaranya waran, right issue, opsi dan futures (Tandelilin,
2001).
6. Saham
Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan perusahaan
sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi lain yang
dilakukan perusahaan kepada pemegang saham lainnya.
Menurut Samsul (2006)
saham adalah tanda bukti memiliki perusahaan di mana pemiliknya disebut juga
sebagai pemegang saham (shareholder atau stockholder). Bukti bahwa seseorang
atau suatu pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila mereka
sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku yang disebut Daftar Pemegang
Saham (DPS).
Definisi saham menurut Husnan (2005:29)
“saham merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang
memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan
organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang
memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya”
Saham sendiri merupakan instrumen paling sering diperdagangkan di bursa.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001:6), ada beberapa sudut pandang untuk
membedakan jenis-jenis saham yaitu:
1. Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa merupakan saham yang memiliki hak klaim berdasarkan laba atau
rugi yang diperoleh perusahaan. Bila terjadi likuidasi, pemegang saham biasa
yang mendapatkan prioritas paling akhir dalam pembagian dividen dari
penjualan asset perusahaan. Menurut Siamat (2004:385), ciri-ciri dari saham
biasa adalah sebagai berikut:
a.
Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
b.
Memiliki hak suara (one share one vote).
c.
Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan paling akhir apabila
bangkrut setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
2. Saham Preferen (Preffered Stock)
Saham preferen merupakan saham dengan bagian hasil yang tetap dan apabila
perusahaan mengalami kerugian maka pemegang saham preferen akan
mendapat prioritas utama dalam pembagian hasil atas penjualan aset. Saham
preferen mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Adapun
ciri-ciri dari saham preferen menurut Siamat (2004:385) adalah:
a. Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen.
b. Tidak memiliki hak suara.
c. Dapat
mempengaruhi
manajemen
perusahaan
terutama
dalam
pencalonan pengurus.
d. Memiliki hak pembayaran sebesar nilai nominal saham lebih dahulu
setelah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi.
DAFTAR PUSTAKA
Aswarth, Damodaran. 2006. Valuation Approaches and Metrics: A Survey of the
Theory and Evidence. New York: Stern School of Business.
Darmadji, T & Fakhruddin, H. M. 2006. Pasar Modal di Indonesia, Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Salemba Empat.
Eduardus, Tandelilin. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio Edisi
Pertama. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Jensen, M.C. 1986. Agency Cost of Free Cash Flow, Corporate Finance and Takeovers.
American Economic Review, 76, May, 323-329.
Mandiri Sekuritas. 2017. Focus Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten
Tbk, Company Update, 23 Maret 2017
Miller, H Merton. 1998. The Current Southeast Asia Financial Crisis. Pacific Basin
Financial Journal, 225-233.
Myers, S.C. 1984. Capital Sructure Puzzle. Journal of Finance, 39(3), July, 575 - 592.
Michailidis, Tsopoglou. 2006. Testing the Capital Asset Pricing Model. International
Research Journal of Finance and Economics, 4, pp, 78-82.
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 38/POJK.04/2014
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 32/POJK.04/2015
Suad Husnan. 2005. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi kelima,
Yogyakarta : BPFE
Surat Direksi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk Nomor
919/DIR-Tim P3M/2016 Tanggal 16 November 2016.
Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, UPP STIM
YKPN, Yogyakarta.
Siamat, Dahlan. 2004. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Keempat, Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Download