Pencitraan Politik Elektoral: Kajian Politik Segitiga PAN Dalam

advertisement
Dr. Anang Anas Azhar, M.A.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Penyunting Ahli :
Surya Adi Sahfutra, M.Hum.
Editor :
Mawardi Siregar S.Sos.I, M.A.
Pencitraan Politik Elektoral:
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
© Dr. Anang Anas Azhar, M.A.
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang All Rights Reserved
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit
Cetakan Pertama, Januari 2017
326 halaman (xxii +304 hlm), 17 cm x 24 cm
ISBN: 978-602-74114-7-0
Penulis
: Dr. Anang Anas Azhar, M.A.
Penyunting ahli : Surya Adi Sahfutra, M.Hum.
Editor
: Mawardi Siregar S.Sos.I, M.A.
Pengantar/Sambutan: Prof. Dr. Katimin, M.Ag.
Prof. Dr. H. Saidurrahman, M.Ag.
H. Wildan Aswan Tanjung, SH, M.M.
Prolog
:Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, M.A.
Perancang Sampul : Ibnu Teguh W
Penata Letak
: Ibnu Teguh W
Diterbitkan
Atap Buku Yogyakarta
Semail RT 01 Bangunharjo, Sewon Bantul
Yogyakarta
085729572242, 081329361318
Email: [email protected]
DAFTAR ISI
Daftar Isi..................................................................................................... iii
Daftar Gambar dan Tabel..........................................................................v
Kata Pengantar Penulis........................................................................... vii
Kata Pengantar Prof. Dr. Katimin, M.Ag...............................................xi
Kata Sambutan Rektor............................................................................ xiii
Kata Sambutan Bupati Kabupaten Labuhan Batu Selatan.................xv
Prolog.........................................................................................................xix
Bab 1 Pendahuluan.................................................................................. 1
Pemetaan Arus Politik Era Reformasi .................................................... 1
Fokus Penelitian dan Beberapa Konsep Kunci....................................... 9
Catatan Metodologis................................................................................ 11
Kajian Terdahulu...................................................................................... 14
Alur Kajian dan Penelitian...................................................................... 17
Bab II Pencitraan dan Komunikasi Politik . ..................................... 19
Pencitraan Politik...................................................................................... 19
Komunikasi Politik dalam Menguatkan Pencitraan............................ 68
Pencitraan Politik Melalui Marketing Mix Politik . .............................. 94
Pencitraan Politik Melalui Kampanye Politik..................................... 100
Pencitraan Politik Melalui Media Massa............................................. 102
iii
iv | Daftar Isi
Bab IIIPencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam ............. 109
Strategi Komunikasi Politik................................................................... 109
Menjaga Ketokohan dan Kelembagaan............................................... 117
Partai Politik dan Fungsinya................................................................. 120
Presentasi Diri di Ruang Publik; Teori Dramaturgi.......................... 127
Pencitraan Politik Perspektif Komunikasi Islam................................ 133
Bab IVPAN Sumatera Utara dan Strategi Marketing Politik
Elektoral..................................................................................... 145
Sekilas Tentang Perkembangan PAN Sumatera Utara .................... 147
Pencitraan Melalui Berbagai Saluran Komunikasi............................ 158
Pencitraan Melalui Pesan Iklan Politik................................................ 214
Pencitraan Melalui Program Unggulan Partai .................................. 222
Pencitraan Melalui Jargon Politik......................................................... 232
Pencitraan Melalui Penetapan Caleg PAN Sesuai Daerah Asal...... 236
Bab V Suksesi Pencitraan PAN Merebut Simpati Masyarakat
Sumatera Utara . ....................................................................... 243
Survivalitas PAN Sumut Menguat....................................................... 244
Survivalitas Perolehan Suara PAN di Daerah Menguat................... 249
Model Pencitraan Politik Untuk Menarik Simpati Masyarakat
Sumatera Utara . ..................................................................................... 256
Bab VIKesimpulan . ............................................................................. 281
Penutup.................................................................................................... 281
Saran-saran............................................................................................... 283
Epilog
Daftar Pustaka......................................................................................... 285
Biodata Penulis
Tentang Penulis....................................................................................... 303
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
Tabel 1.1. Persentase Perolehan Kursi PAN Pada Pemilu Legislatif 1999
sampai 2014..................................................................................... 8
Gambar 1. 2. Kerangka konsep dan pemikiran............................................... 17
Gambar 2.1. Model Pembentukan Citra.......................................................... 23
Gambar 2. 2. Model komunikasi AIDDA......................................................... 45
Gambar 2. 3. Kombinasi Modal Kapital dengan Modal Sosial . .................. 65
Gambar 2.4. Sitem Politik Dalam Komunikasi Politik.................................. 72
Tabel 1.1. Komunikator di tinjau dari jenis pembagiannya..................... 78
Gambar 3.1. Model Analisis SWOT............................................................... 113
Gambar 3.2. Konstruksi dalam membangun image, disadur dari
Firmanzah.................................................................................... 115
Gambar 3.3. Sketsa tentang ide dasar dramaturgi....................................... 129
Gambar 4.1. Proses Pemanfaatan Salurah Komunikasi Massa Dalam
Membangun Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara......... 166
Gambar 4.2. Model proses komunikasi interpersonal Knap...................... 182
Gambar 4.3. Model Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara.................... 208
Gambar 4.4. Tiga elemen pertimbangan PAN dalam penetapan caleg... 241
Gambar 5.1. Pola Kampanye DPW PAN Sumatera Utara......................... 268
Gambar 5.2. Strategi Segitiga Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara... 278
v
Untuk Evi, Istri yang tak pernah lelah menemani lahirnya karya ini.
Untuk putra-putraku: Muhammad Choirurrais Alvizar, Muhammad
Hafiz Alvizar, Muhammad Tahfif Alvizar, Muhammad Fikri Rizky
Alvizar, buku ini adalah warisan pemikiran untuk kalian.
KATA PENGANTAR PENULIS
Syukur Alhamdulillah penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, atas
rahmat, taufiq dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya tulis dalam bentuk buku berjudul : “Pencitraan Politik Elektoral”
(Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat). Buku
ini penulis persembahkan kepada masyarakat yang menyukai ranah
komunikasi politik, terkhusus bagi kalangan legislatif dan politisi yang
duduk di kepengurusan partai politik.
Paling tidak, ada tiga hal yang melatarbelakangi mengapa buku yang
di tangan Anda ini diterbitkan. Pertama, sebagai pelaku politik saat aktif
sebagai pengurus partai politik, penulis menemukan pengalaman luar
biasa selama duduk di kepengurusan. Dari beberapa pengalaman itulah,
penulis ingin menuangkannya dalam bentuk penulisan karya ilmiah.
Kedua, selama menulis disertasi pada Program Studi Komunikasi Islam
di Pascasarjana UIN Sumatera Utara, Medan, penulis terinspirasi untuk
menyumbangkan buah pemikiran di bidang politik kepada masyarakat.
Berbekal pengalaman sebagai politisi, penulis menginginkan pembaca
memahami secara menyeluruh mana pemahaman politik secara teori
dan yang mana pula pemahaman politik secara praktis.
Ketiga, dengan terbitnya buku ini penulis sangat berharap dapat
bermanfaat untuk semua pihak. Kalangan akademisi misalnya dosen,
mahasiswa ataupun para politisi yang melibatkan diri di partai politik
dapat menjadikan buku ini menjadi bahan bacaan dan referensi, terutama
dalam hal mengelola pencitraan politik secara personal dan institusi
partai politik.
Bagi para politisi, buku ini setidaknya menjadi rujukan dalam
mengelola pencitraan politik untuk mempengaruhi pemilih dalam
setiap even partai politik maupun personal kader partai politik. Sebab,
pencitraan politik merupakan bagian dari komunikasi politik yang turut
menentukan sukses tidaknya sebuah misi politik. Pencitraan dilakukan
untuk menanamkan opini kepada masyarakat, bahwa partai politik
dapat menjadi harapan penyampai aspirasi. Pencitraan poliik juga dapat
mempengaruhi masyarakat. Salah satu fakta suksesnya pencitraan politik
vii
viii | Kata Pengantar
yang dilakukan partai politik, sadar atau tidak banyak bermunculan
politisi yang dicintai rakyat.
Di sisi lain, kita juga bersyukur kehadiran pencitraan politik
dalam ranah komunikasi politik, sangat banyak membantu para politisi
dalam melakukan sosialisasi kepada konsituennya. Buku yang ada ini,
bukanlah yang terbaik di antara buku-buku yang berkaitan dengan
pencitraan politik. Tetapi, buku ini setidaknya mencoba memotivasi para
stakeholder kita yang ada di partai politik untuk mencari model terbaik
dalam mensosialisasikan diri ke tengah-tengah masyarakat.
Tidak lupa penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sedalamdalamnya kepada Prof Dr Hasyimsyah Nasution MA dan Prof Dr
Katimin M.Ag. Keduanya sebagai guru besar pemikiran politik Islam
di UIN Sumatera Utara, Medan, yang senantiasa membimbing penulis,
sehingga karya ilmiah dalam bentuk buku ini diselesaikan tepat waktu.
Hal yang sama penulis ucapkan terimakasih kepada Rektor UIN
Sumatera Utara, Medan, Prof Dr Saidurrahman M.Ag yang secara khusus
merestui penerbitan buku ini. Secara khusus juga, penulis sampaikan
penghargaan sedalam-dalamnya kepada orang tua penulis Saibon AS
(alm) dan Jamilah (almh) yang sudah mendidik penulis, mulai dari kecil
dalam menamatkan studi program doktor.
Terakhir, penulis persembahkan kepada istri tercinta Evi Sakdiah
S.Ag, S.PdI dan anak-anakku yang tetap memberi motivasi dalam
menyelesaikan penulisan buku ini. Tidak ada yang dapat penulis ucapkan
kepada istri dan anakku tercinta, kecuali mengucapkan alhamdulillah,
tanpa mereka belum tentu buku yang di tangan Anda ini selesai dengan
baik.
Medan, 4 Januari 2016
Dr. Anang Anas Azhar, M.A.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Pengantar Editor
Pencitraan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap
orang, karena melalui pencitraan, manusia memilih hal yang akan
dilakukan dan juga apa yang seharusnya tidak dilakukan. Melalui
pencitraan, setiap orang berharap bisa terlihat sempurna di mata
orang lain. Dalam praktik politik, pencitraan menjadi bagian strategi
komunikasi politik yang bertujuan untuk meningkatkan elektabilitas.
Media massa menjadi lahan strategis dalam membangun citra politik
dan itu hampir dilakukan seluruh partai politik.
Melihat maraknya pencitraan politik yang akhir-akhir ini
dilakukan para politisi, penulis buku ini mencoba mengeksplorasi
secara lugas praktik pencitraan politik yang dilakukan untuk meraih
simpatik masyarakat. Meskipun dalam buku ini yang dijelaskan
hanya pencitraan politik yang dilakukan PAN, namun buku ini dapat
memberikan inspirari bagi partai-partai lainnya, untuk menelaah
dan merumuskan kembali strategi taktik pemenangan dalam setiap
kontestasi politik yang senantiasa bergulir.
Buku dengan penyajian gaya bahasa yang cukup lugas, tegas dan
mudah dipahami ini, adalah hasil karya penelitian Disertasi Saudara
Anang Anas Azhar, seorang mantan aktivis, sekarang sebagai jurnalis
sekaligus akademisi. Buku yang berjudul Pencitraan Politik Elektoral
yang kini berada di tangan pembaca dibagi dalam enam bab. Bab
pertama merupakan pendahuluan. Pada bagian ini diuraikan realitas
perjalanan politik PAN yang lahir dari embrio gerakan reformasi
yang dimotori Amien Rais, hingga Pemilu 2014.
Pada bagian kedua disajikan betapa pencitraan merupakan
strategi komunikasi politik yang dilakukan untuk menarik simpatik
masyarakat. Untuk memperkuat penelitian ini, penulis menyodorkan
sebentuk kasus-kasus pencitraan yang dilakukan elit parpol maupun
partai dalam merebut simpatik masyarakat. Tidak hanya itu, demi
untuk meyakinkan, penulis pun mengutip berbagai kajian teoretis
hasil kajian yang dilakukan para peneliti politik di dalam maupun
di luar negeri.
ix
x | Kata Pengantar
Pada bagian ketiga, pembaca akan disajikan dengan paparan
yang semakin menukik pada inti persoalan yang sesungguhnya
menjadi stressing pencitraan yang dilakukan PAN di Sumatera
Utara. Penulis secara apik, juga menelaah persoalan dari sudut kajian
pandangan komunikasi Islam yang diakui masih sangat minim
rujukan dan referensinya.
Pada bagian keempat, penulis menjelaskan secara gamblang
berbagai bentuk strategi marketing politik elektoral PAN Sumatrera
Utara. Setelah pembaca masuk pada bagian ini, maka akan semakin
tampaklah pencitraan politik PAN. Penulis dengan menggunakan
analisis yang tajam, menyoroti persoalan ini dengan runtut, sehingga
dapat memberikan inspirasi yang menyegarkan, utamanya bagi
mereka yang concern dalam dunia politik. Paling tidak, dari bagian
keempat ini, penulis memberikan gambaran yang sesungguhnya
harus dilakukan seorang politisi, dan juga seorang marketing,
sehingga apapaun namanya yang ditawarkan kepada masyarakat,
dapat lebih menarik.
Pada bagian kelima, penulis menjelaskan realitas kesuksesan
PAN di Sumatera Utara. Penulis menyodorkan data dan fakta yang
cukup menarik berdasarkan kasus kedaerahan. Menariknya lagi,
penulis menjabarkan temuan baru yang cukup menarik, di mana
strategi pencitraan PAN dilakukan dengan istilah “Segi Tiga Politik
PAN”. Apa maksud segitiga politik PAN? Tentu jawaban yang lebih
jelas akan diperoleh pembaca pada bagian ini. Pada bagian ini juga,
pembaca akan larut menikmati argumen-argumen hangat dan analisis
tajam dari penulis, yang secara langsung menyatakan perbedaan
pendapat dengan Clifford Geertz terkait dengan perpolitikan dalam
konteks Sumatera Utara.
Pada bagian akhir, bagian enam penulis menyuguhkan
kesipmpulan dan rekomendasi penting untuk ditindak lanjuti para
peneliti berikutnya, dan juga pada politisi yang concern dalam
berbagai bentuk konstestasi politik.
Medan, 4 Januari 2016
Mawardi Siregar S.Sos.I, M.A
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
KATA PENGANTAR
Prof. Dr. Katimin, M.Ag
Guru Besar Pemikiran Politik Islam dan Dekan
Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri
(UIN) Sumatera Utara, Medan
Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, istilah pencitraan politik
menjadi kata yang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Pencitraan
politik semakin menguat, ketika kalangan akademisi maupun praktisi
menjadikannya sebagai kajian-kajian akademik dan diskusi ilmiah
dalam berbagai kesempatan. Pencitraan politik dijadikan market
tersendiri untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas partai
politik maupun para politisi di negeri ini.
Hampir semua pihak yang berkepentingan terhadap opini
publik, menjadikan pencitraan politik sebagai media yang ampuh
dalam mengelola citra sebuah lembaga politik. Jika ditinjau dari aspek
kesejarahan, ternyata pencitraan sudah jauh-jauh hari dilakukan para
pemimpin dunia dalam membangun peradaban. Sejumlah pemimpin
suku primitif misalnya, banyak menggunakan simbol-simbol dalam
mengelola kerajaan yang dipimpinnya. Penggunaan simbol yang
digunakan para pemimpin primitif ini bertujuan untuk memelihara
citra publik akan keagungan rajanya. Bangunan piramida dan spinx,
salah satu yang disimbolkan untuk mencitrakan raja sebagai tuhan.
Fakta-fakta ini, ternyata dilakukan para pemimpin kita terdahulu.
Tak hanya itu, peradaban Yunani dan Romawi juga
mengedepankan pentingnya opini publik. Kesan yang dimunculkan
adalah pencitraan politik terhadap raja untuk memperkuat tahta
seorang raja. Karya seni dan sastera pada masa itu, justru diarahkan
untuk menguatkan reputasi raja. Pesan-pesan melalui fakta yang
diungkap dalam sejarah peradaban dunia itu, digunakan sebagai
media pembentukan opini publik, selanjutnya mengarah kepada
pencitraan politik yang ada di zamannya.
xi
xii | Kata Pengantar
Buku yang ada di tangan pembaca ini berjudul “Pencitraan Politik
Elektoral (Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Menarik Simpati Masyarakat
Sumatera Utara)” ini, merupakan buah karya dan buah pikir Anang
Anas Azhar. Sepengetahuan saya, penulis buku ini pernah bergelut
di dunia politik selama bertahun-tahun. Sebagai buah karya yang
orisinil dan fokus kepada pembahasan pencitraan politik Partai
Amanat Nasional (PAN), penulis buku ini mencoba mengelaborasi
secara sistematis dan terukur tentang pencitraan politik. Secara
teoritis, buku ini banyak menggambarkan pesan-pesan positif dan
menjadi bahan yang teramat luar biasa ketika diterapkan para politisi.
Tak terkecuali lagi, buku ini sangat baik untuk menjadi rujukan bagi
mahasiswa yang sedang menimba ilmu, khususnya bagi mahasiswa
yang konsern dalam ilmu-ilmu politik.
Penulis juga banyak menawarkan solusi konstruktif dalam
hal pencitraan politik bagi partai politik dan para politisi kita di
negeri ini. Bahkan secara khusus, buku yang ditulis penulis ini
mampu mengelaborasi pencitraan politik umum kepada pendekatan
pencitraan politik Islam. Penulis banyak menggambarkan pencitraan
politik yang dilakukan pemimpin kita dalam sejarah Islam hingga
sekarang.
Saya meyakini dengan hadirnya buku ini, semakin memperkaya
dan memperluas paradigma berpikir para politisi kita dalam
mencitrakan diri di hadapan publik secara santun dan bermartabat.
Terakhir, buku ini memang layak dan menarik untuk dibaca oleh
semua kalangan, karena fokus kajiannya dalam pencitraan politik
terutama dalam pemenangan pemilihan umum bagi partai politik
dan politisi yang mencalonkan diri dalam pemilu.
Medan, 4 Januari 2016
Prof. Dr. Katimim, M.Ag .
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
KATA SAMBUTAN REKTOR
Prof. Dr. H. Saidurrahman, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Sumatera Utara, Medan
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Tidak dapat dipungkiri, salah
satu indikator perguruan tinggi yang
berkualitas dapat dilihat dari seberapa
banyak karya tulis dan jurnal yang
dihasilkan para dosen. Para dosen
yang melakukan penelitian kemudian
mempublikasikan hasil penelitiannya
merupakan tugas Tri Dharma Perguruan
Tinggi. Jurnal hasil penelitian yang diterbitkan, sedikit banyaknya
akan menaikkan tingkat akreditasi perguruan tinggi di mata publik.
Perguruan Tinggi yang baik akreditasinya, dapat dilihat dari bentuk
karya buku yang dihasilkan para dosen di institusi tersebut.
Secara khusus, saya patut menghargai terbitnya buku berjudul :
“Pencitraan Politik Elektoral (Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Menarik
Simpati Masyarakat Sumatera Utara)”, yang ditulis saudara Anang
Anas Azhar selaku Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera
Utara, Medan. Buku yang ada di tangan Anda ini, diharapkan
dapat memberi kontribusi nyata bagi pengembangan demokrasi
kita di Indonesia. Kontribusi lain yang diharapkan pasca terbitnya
buku ini adalah dapat meningkatkan status akreditasi institusi, juga
bermanfaat bagi para akademisi, mahasiswa maupun para stakeholder
yang ada di kepengurusan partai politik.
xiii
xiv | Sambutan
Dalam memacu peningkatan demokrasi kita juga, buku ini
menarik dibaca kalangan pemimpin partai politik, terutama para
anggota DPRD dan profesi lainnya untuk melihat gambaran
teoretis maupun empirik terkait pencitraan politik elektoral yang
dipaparkan penulis dalam buku ini. Hadirnya buku ini, sekalisus
dapat memotivasi dan memberikan kontribusi bagi pengembangan
kampus UIN dari hasil karya para dosen.
Sebagai elemen yang pernah berkiprah di dunia politik, saya
mengharapkan penulis terus mengabdikan ilmunya di kampus.
Sehingga ada keseimbangan antara politik di tataran teori dengan
praktik. Keduanya, sangat dibutuhkan bagi perguruan tinggi
dalam rangka menguatkan sendi-sendi intelektual yang akan
ditransformasikan kepada mahasiswa di kampus.
Akhirnya, sebagai Rektor UIN Sumatera Utara, Medan, saya
menyambut baik atas kehadiran buku yang ditulis ini. Semoga buku
ini dapat mencerahkan semua pihak yang membacanya, sekaligus
memberikan paradigma baru dalam demokrasi kita khususnya dalam
hal pencitraan politik para politisi kita di negeri ini. Saya berharap
agar penulis tetap mengabdikan dirinya melalui karya-karya dalam
bentuk tulisan.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Medan, 4 Januari 2016
Prof. Dr. H. Saidurrahman, M.Ag.
Rektor UIN-SU, Medan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
KATA SAMBUTAN
H. Wildan Aswan Tanjung, SH, M.M.
Bupati Kabupaten Labuhan Batu
Selatan Periode 2016-2021
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Mewujudkan politik yang sehat di
negeri ini tidaklah segampang membalik
telapak tangan. Diperlukan peran serta
para stakeholder untuk mencerahkan
seluruh elemen bangsa, termasuk
pemerintah dan partai politik. Para
stakeholder setidaknya harus duduk bersama dalam mewujudkan
demokrasi politik sehat.
Salah satu poin penting dalam mewujudkan politik yang sehat
itu, menjadikan politik sebagai media silaturrahim antara para
stakeholdar, agar tidak terjadi friksi-friksi apalagi sampai konflik
yang berkepanjangan. Pencitraan politik dalam 15 tahun terakhir,
menjadi salah satu kajian dalam komunikasi politik, sejak berubahnya
sistem perpolitikan di Indonesia dari monopolitik ke arah multi
partai. Didorong gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998,
perpolitikan Indonesia berubah dengan warna tersendiri. Mobilitas
politik massa lahir ke permukaan dengan warna-warni yang berbeda.
Wajah perpolitikan secara nasional berubah drastis setelah
sebelumnya dalam kurun waktu 32 tahun terbungkam dalam
kebijakan politik Orde Baru yang sarat nuansa otoriter. Seperti
sebuah saluran pipa air yang sudah lama tersumbat lalu kemudian
terbuka lebar, maka bermunculanlah wadah-wadah penampungan
aspirasi publik berupa partai politik baru. Munculnya partai politik
xv
xvi | Sambutan
baru, menandai berakhirnya era monopolitik yang menjenuhkan dan
melaju ke arah perpolitikan yang bebas, demokratis dan kompetitif.
Politikus dan pemimpin dalam politik berkepentingan dalam
pembentukan citra politik dirinya melalui komunikasi politik dalam
usaha menciptakan stabilitas sosial dan memenuhi tuntutan rakyat.
Maka tidak berlebihan, bila menjelang Pilpres 2009 dan 2014 yang
lalu, figur-figur yang muncul berusaha keras menciptakan dan
mempertahankan tindakan politik yang dapat membangkitkan citra
yang memuaskan, agar dukungan opini publik dapat diperoleh dari
rakyat sebagai khalayak komunikasi politik. Misalnya pernyataan
presiden atau wakil presiden dalam konferensi pers atau dalam
sebuah pidato mengenai kesulitan perekonomian yang telah teratasi
akibat sebuah kebijakan.
Untuk itu, politikus harus berusaha menciptakan dan
mempertahankan tindakan politik yang membangkitkan citra yang
memuaskan, supaya dukungan opini publik dapat diperoleh dari
rakyat sebagai khalayak komunikasi politik. Meningkatnya arus
kontestasi politik parpol dan kandidat dalam arena pemilu dan
Pilkada, merupakan fakta yang tidak dapat dihindarkan. Terutama
pasca reformasi yang dibarengi dengan munculnya parpol-parpol
baru semakin menguatkan praktik pencitraan politik.
Para politikus atau pemimpin politik juga berkepentingan
dalam pembentukan citra politik dirinya. Namun dapat dipahami,
bahwa selain para politikus atau pemimpin politik, lembaga-lembaga
seperti lembaga eksekutif, lembaga legislatif dan lembaga yudikatif
sangat berkepentingan untuk melakukan pencitraan. Tetapi di
antara semua lembaga yang telah disebutkan, paling berkepentingan
terhadap upaya pencitraan adalah partai politik, karena partai politik
berkompetisi dengan sejumlah partai lainnya, terutama dalam
aktivitas memenangkan pemilihan umum yang berlangsung secara
periodik.
Buku berjudul : “Pencitraan Politik (Kajian Politik Segitiga PAN
Dalam Menarik Simpati Masyarakat Propinsi Sumatera Utara) ini,
menurut saya sangat baik. Pesan-pesan yang ada dalam buku
banyak memberikan gambaran nyata betapa pentingnya pencitraan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Sambutan | xvii
politik harus dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Saya berharap
dengan hadirnya buku yang ada di tangan pembaca ini, sekaligus
ikut mencerahkan para politisi kita, terkhusus yang ada di propinsi,
kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Kehadiran buku ini juga diharapkan dapat menambah wawasan
dan pengetahuan kepada masyarakat untuk menggeluti dunia politik
praktis, dan tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya, saya mengucapkan terimakasih kepada saudara Anang
Anas Azhar yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk
menyampaikan sambutan pemuka dalam buku ini.
Sebagai politisi dan pernah aktif di partai politik dan pernah
menjabat Ketua DPD PAN Kabupaten Labuhan Batu Selatan, saya
berharap sejumlah pengalaman yang diperoleh tak henti-hentinya
dalam berkarya, khususnya dalam menuliskan ide-ide yang
mencerahkan masyarakat.
Medan, 4 Januari 2016
H. Wildan Aswan Tanjung, SH, M.M .
Bupati Kabupaten Labuhan Batu Selatan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
PROLOG
Demokrasi dan Pencitraan Politik di Indonesia
Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, M.A.
Guru Besar Etika Politik Islam
Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan
Demokrasi dipahami hampir semua negara saat ini sebagai
sistem terbaik bernegara, tak terkecuali Indonesia. Semenjak awal
kemerdekaannya, sampai sekarang tetap konsisten walaupun
dengan segala variasi dan dinamika. Keberadaan partai politik
(parpol) merupakan keniscayaan sebagai representasi peran
rakyat dalam bernegara. Di Indonesia, nuansa perpolitikan dengan
segala liku-likunya yang bermuara pada kekuasaan adalah suatu
hal yang menarik untuk dicermati, baik dalam tataran polity
(sarana) dan politics (aksi), maupun policy (tujuan). Parpol dan
elite politik menempati posisi strategis dalam memainkan peran
keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan. Karena itu “gaya”
perpolitikan parpol memberi kontribusi secara teoritis dan praktis
dalam membangun Indonesia berkemajuan.
Sejak Indonesia merdeka, demokrasi kita terus mengalami
perkembangan. Ini ditandai dengan munculnya banyak partai (multi
party). Munculnya sistem politik yang bersifat multi partai ini, drastis
merubah wajah perpolitikan Indonesia dengan munculnya partaipartai baru. Secara realitas, munculnya partai-partai baru tentu akan
semakin membuka kemungkinan bagi rakyat untuk menyalurkan
aspirasinya dan meraih peluang untuk memperjuangkan hak-haknya
sebagai warga negara. Kondisi ini sekaligus memberikan isyarat,
bahwa sistem politik Indonesia telah menempatkan parpol sebagai
pilar utama penyangga demokrasi.
Tak dapat kita bantah, bahwa pertumbuhan parpol di Indonesia
banyak membawa harapan, karena parpol dapat menjadi katalisator
xix
xx | Prolog
positif bagi peningkatan aspirasi politik masyarakat. Munculnya
partai-partai baru memerlukan usaha yang keras agar dapat diterima
di masyarakat. Terlebih lagi, pengetahuan masyarakat terhadap
parpol masih melekat kuat pada partai–partai peninggalan Orde
Baru. Fakta politik inilah yang mendorong agar parpol mendekatkan
dirinya dengan konstituen di tingkat akar rumput (grass root). Upaya
parpol untuk mendekatkan diri kepada masyarakat memerlukan
penanganan yang khusus, mengingat persaingan antara parpolpun
sangat tinggi.
Salah satu penanganan khusus itu adalah dengan mengelola
komunikasi politik yang baik. Sub elemen komunikasi politik tersebut
adalah pencitraan politik. Jika citra diartikan sebagai gambaran,
maka pencitraan diartikan sebagai penggambaran yang diterima
oleh komunikan atau khalayak sebagai efek dari terpaan informasi
yang diterimanya, baik langsung maupun melalui perantara media.
Pencitraan juga sebagai cara seseorang menghubungkan seseorang
dengan orang lain, sehingga pencitraan dalam kegiatan politik dapat
berhasil untuk memenangi target politik, seperti pemenangan parpol
dan politisi pada pemilihan umum.
Buku yang ada di tangan Anda ini, setidaknya menjawab
sejumlah hal pertanyaan para politikus dan akademisi di Indonesia.
Buku yang ditulis Anang Anas Azhar ini, sepengetahuan saya
merupakan refleksi dari pengalamannya sebagai politikus PAN yang
berpadu dengan profesinya sebagai ilmuan, sehingga tepat pilihannya
menjadikan PAN sebagai objek penelitian untuk menyelesaikan
studinya pada program doktor di Pascasarjana UIN Sumatera Utara,
Medan.
Penulis mengkaji bidang pencitraan politik PAN di Propinsi
Sumatera Utara untuk menarik simpati masyarakat sepanjang
tahun 2005-2015. Kajian dalam yang dilakukan penulis, banyak
memberikan pemahaman kepada pembaca atas pencitraan politik.
Sebab, tujuan pencitraan politik salah satunya untuk mempengaruhi
pemilih dengan cara menanamkan opini positif kepada masyarakat
tentang partai yang dicitrakan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Prolog | xxi
Buku ini juga memaparkan betapa pentingnya pencitraan politik
di kalangan politisi kita untuk mendulang simpati dari masyarakat.
Secara khusus, penulis banyak menyentuh ranah Muhammadiyah
sebagai lahan garapan buku ini. Melalui pencitraan politik yang
dilakukan PAN, dukungan muncul dari berbagai lapisan masyarakat,
baik muslim, non muslim, Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah,
sehingga perolehan suara PAN di sejumlah daerah meningkat.
Akhirnya, menurut saya kehadiran buku ini dapat membawa
pencerahan kepada peminat perpolitikan di Indonesia, khususnya
dalam membangun betapa pentingnya pencitraan politik bagi
parpol dan politisi. Begitu juga kepada kalangan akademisi, buku
ini setidaknya menumbuhkan kepustakaan politik Islam. Indonesia
dalam membangun demokrasi ke depan harus membutuhkan banyak
karya yang senada, guna membawa bangsa ini lebih berkeadaban
dan berkemajuan dalam lindungan Allah SWT. Selamat menikmati.
Medan, 4 Januari 2016
Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, M.A.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab 1
Pendahuluan
Pemetaan Arus Politik Era Reformasi Partai politik (parpol) merupakan gambaran wajah peran rakyat
dalam percaturan politik nasional atau dengan kata lain merupakan
cerminan tingkat partisipasi politik masyarakat. Partai politik adalah
sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya
mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan
mandiri dalam hal finansial, memiliki platform atau haluan politik
tersendiri, mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam
urusan politik, dan turut menyumbang political development sebagai
suprastruktur politik. Parpol sebagai institusi yang menjalankan
fungsi komunikasi politik, memerlukan pengintegrasian isu dan
pesan-pesan politiknya yang ditunjukan bagi masyarakat.
Dalam pragmentasi politik, arus demokrasi terus mengalami
perkembangan di Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak
partai (multi partai). Munculnya sistem politik yang bersifat multi partai
drastis merubah wajah perpolitikan nasional dengan munculnya partaipartai baru. Secara realitas, munculnya partai-partai baru tentu akan
semakin membuka kemungkinan yang lebih luas bagi rakyat untuk
menyalurkan aspirasinya dan meraih peluang untuk memperjuangkan
hak-haknya sebagai warga negara. Kondisi ini sekaligus memberikan
isyarat, bahwa sistem politik Indonesia telah menempatkan partai
politik sebagai pilar utama penyangga demokrasi.
Pertumbuhan parpol di Indonesia diharapkan membawa harapan,
bahwa partai-partai tersebut dapat menjadi katalisator positif bagi
peningkatan aspirasi politik masyarakat. Namun demikian, munculnya
1
2 | Pendahuluan
partai-partai baru tersebut memerlukan usaha yang keras agar dapat
diterima di masyarakat. Terlebih lagi pengetahuan masyarakat terhadap
parpol masih melekat kuat pada partai–partai peninggalan Orde Baru.
Hal ini mendorong agar parpol mendekatkan dirinya dengan konstituen
di tingkat akar rumput (grass root). Upaya parpol untuk mendekatkan
diri kepada masyarakat memerlukan penanganan yang khusus,
mengingat persaingan antara parpolpun sangat tinggi. Oleh sebab itu,
pencitraan politik di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang
sangat penting.
Bila diikuti logika berpikir Anwar Arifin, pencitraan politik atau
politik pencitraan merupakan dua kata yang sama maknanya dan
diartikan sebagai pengambaran terhadap sesuatu. Jika citra diartikan
sebagai gambaran, maka pencitraan diartikan sebagai penggambaran
yang diterima oleh komunikan atau khalayak sebagai efek dari terpaan
informasi yang diterimanya, baik langsung maupun melalui perantara
media.1 Lippman sebagaimana dikutip Dan Nimmo menjelaskan citra
sebagai gambaran tentang realitas atau mungkin saja tidak sesuai realitas.
Citra terbentuk dalam pikiran komunikan berdasarkan informasi yang
diterima melalui berbagai media. Nimmo menyebut pencitraan sebagai
cara seseorang untuk menghubungkan dirinya dengan orang lain,
sehingga pencitraan dalam kegiatan politik dapat dilakukan melalui:
Pertama, pure publicity, yakni memopulerkan diri melalui aktivitas
masyarakat dengan setting sosial yang natural atau apa adanya. Kedua,
free ride publicity, yakni publisitas dengan cara memanfaatkan akses atau
menunggangi pihak lain untuk turut memopulerkan diri. Ketiga, tie-in
publicity yakni memanfaatkan kejadian-kejadian yang sangat luar biasa,
seperti peristiwa tsunami, gempa bumi, banjir dan lain-lain. Misalnya
partai mencitrakan dirinya sebagai partai yang sangat perhatian
dengan bencana-bencana tersebut, sehingga partai dianggap memiliki
kepedulian sosial. Keempat, paid publicity yakni cara memopulerkan diri
lewat pembelian rubrik atau program, dan lain-lain.2
Berdasarkan dua penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa
pencitraan merupakan bagian komunikasi politik yang turut
Anwar Arifin, Politik Pencitraan - Pencitraan Politik (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014),
1
h. xi.
2
Dan Nimmo, Komunikasi Politik; Khalayak dan Efek (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006), h. 108.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 3
menentukan sukses tidaknya misi politik. Pencitraan dilakukan
untuk mempengaruhi pemilih dengan cara menanamkan opini pada
masyarakat, bahwa seorang politisi atau parpol yang bersangkutan
benar-benar merupakan personal atau partai yang dapat mengayomi
masyarakat. Dalam proses penanaman opini tersebut, partai
senantiasa menangkap isu sensitif yang tepat untuk dimainkan dalam
proses pencitraan, karena melalui pencitraan, manusia memilih hal
yang akan dilakukan dan juga apa yang seharusnya tidak dilakukan
atau ditinggalkan. Dengan upaya pencitraan positif, setiap orang
berharap terlihat sempurna di mata orang lain. Dalam pembentukan
citra positif, tidak jarang seseorang melakukan cara apapun untuk
mengemas sikap dan perilakunya sehingga memberikan kesan
positif di mata orang lain. Kongkretnya, pencitraan membantu
seseorang untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya
dalam lingkungan sosialnya.
Dalam konteks perpolitikan yang terus berkembang di abad
informasi, pencitraan politik atau politik pencitraan seorang politisi
maupun suatu partai, dapat dibangun melalui berbagai macam media,
baik media cetak, media elektronik dan media tradisional. Terlepas
dari kecakapan, kepemimpinan, dan prestasi politik yang dimiliki,
sikap politik masyarakat dibentuk bahkan dimanipulasi melalui
pencitraan. Oleh sebab itu, suatu partai tidak dapat meninggalkan
media massa, terutama dalam melakukan pencitraan politik.
Pencitraan dilakukan melalui media massa untuk mempersuasi
masyarakat. Dengan sasarannya yang sangat heterogen dan tersebar
dimana-mana, pesan yang sama diharapkan dapat diterima secara
serentak oleh masyarakat.
Pencitraan politik melalui media, merupakan strategi yang
juga sangat ampuh dalam menanamkan opini pada masyarakat
tentang suatu partai. Oleh sebab itu, melalui pencitraan diharapkan
terjadi pergeseran opini ke arah yang lebih baik. Dengan adanya
opini publik yang positif, keputusan memilih menjadi keniscayaan
terhadap partai yang sedang bertarung di arena politik. Opini publik
sendiri merupakan metode persuasi dengan sistem komunikasi yang
lebih luas. Sebagaimana dijelaskan Firmanzah, bahwa citra atau image
dibutuhkan sebagai strategi positioning untuk membedakan satu
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
4 | Pendahuluan
partai politik dengan partai politik lainnya. Pencitraan merupakan
konstruksi atas representasi dan persepsi masyarakat terhadap suatu
partai politik atau individu mengenai semua hal yang terkait dengan
aktifitas politik. Firmanzah juga menegaskan, walaupun citra politik
tidak real, tetapi ia dapat diciptakan, dibangun, dan diperkuat.3
Dalam kaitannya dengan penjelasan Firmanzah, Agung Wasesa
juga menyebutkan, bahwa dalam konteks politik, masyarakat biasanya
memilih satu partai politik sebagai sebuah identitas, sesuai dengan
nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Dengan adanya pencitraan, perilaku
pemilih pada saat akan memilih kandidat atau suatu partai tertentu tidak
lagi melalui proses panjang yang membutuhkan waktu. Masyarakat akan
memiliki sesuai dengan persepsi yang sudah tertanam dalam pikirannya
dan langsung melompat ke pilihan tertentu sesuai dengan nilai yang
ada dirinya. Lompatan tersebut terjadi, karena adanya opini publik
yang terjadi secara singkat.4 Proses opini publik sendiri, di era kebebasan
informasi terjadi sangat cepat. Opini publik terjadi dalam ruang kognitif
masyarakat. Ini menjadi tahap awal selanjutnya masyarakat mengambil
keputusan terhadap pilihan politik. Oleh sebab itu, citra politik yang bagus
akan memberikan efek yang positif terhadap pemilih guna memberikan
suaranya dalam pemilihan kelak. Strategi pencitraan dibangun melalui
komunikasi politik yang baik kepada masyarakat.
Dengan adanya brand image, opini akan mengarah kepada merek
yang memiliki positioning dan diferensiasi. Menurut Dan Nimmo,
opini publik tidak hanya melibatkan aspek kognitif belaka namun
juga menggabungkan perasaan dan usul dari konstituen. Melalui
opini publik, makna terus diproduksi sesuai dengan harapan
konstituen dan partai. Makna sendiri selalu berubah-ubah sesuai
dengan pengalaman konstituen. Makna yang muncul dalam kognisi
dan afeksi masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
citra yang dimaksud.5
Dalam konteks politik Indonesia, pencitraan parpol sering
Firmanzah, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 2012), h. 229.
3
Silih Agung Wasesa, Political Branding & Public Relation (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2011), h. 7.
4
5
Nimmo, Komunikasi, h. 4.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 5
dipengaruhi oleh pencitraan individu. Dominasi citra personal
sering diidentikkan dengan citra lembaganya. Misalnya, sosok Susilo
Bambang Yudhoyono menguatkan citra Partai Demokrat, sosok
Prabowo Subianto menguatkan citra Partai Gerindra, Amin Rais
menguatkan citra PAN, demikian juga para kiyai sepuh yang ada di
PPP turut menguatkan pencitraan ke-Islaman partai tersebut. Dalam
pandangan public relations, citra individu tersebut menjadi kekuatan
dalam mendukung pengembangan citra partai. Seperti dinyatakan
Silih Agung Wisesa dan Macnamara, bahwa perseorangan atau
individu sebagai salah satu sumber pencitraan, turut mendukung
penguatan kekuatan pengembangan citra organisasi.6
Secara realitas dipahami, bahwa tidak selamanya figur personal
dapat membangun pencitraan partai. Hal tersebut dikarenakan sosok
figur akan sangat rentan dalam membangun hubungan emosional
dengan konstituennya dimasa yang akan datang. Apabila figur
menghilang, tidak tertutup kemungkinan reputasi partai akan
mengalamai perubahan. Belum lagi apabila pada kenyataannya figur
partai tidak mampu bersikap konsisten dengan perjuangan partai dan
konstituennya. Untuk itu, sudah menjadi konsekuensi bagi satu parpol
untuk sejak dini menyusun strategi khusus dalam membangun strategi
politik, agar citra partai tetap mendapat tempat di hati pendukungnya.
Dalam perspektif Islam, membangun pencitraan adalah sebentuk
upaya untuk pembaharuan dan penyempurnaan diri ke arah yang
lebih baik. Semakin baik citra diri, maka upaya meraih keberhasilan
akan semakin mudah. Islam sangat mendorong umatnya untuk
senantiasa membangun citra diri yang positif. Sebagaimana yang
ditegaskan Allah swt., dalam surah Al Mudatsir ayat 4.
1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu
berilah peringatan! 3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan
pakaianmu bersihkanlah.7
Silih Agung Wasesa dan J. Macnamara, Strategi Public Relations, Membangun
Pencitraan Berbiaya Minimal dengan Hasil Maksimal (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2010), h. 38.
6
7
QS. Al Mudatsir/ 74:4. Bila dirujuk literatur tafsir, dijumpai penafsiran yang
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
6 | Pendahuluan
Ayat di atas turun pada saat Nabi Muhammad saw., berselimut
karena merasa takut melihat malaikat jibril yang menyampaikan
wahyu. Menurut Quraish Shihab, tafsir ayat ke empat yaitu kata tsiyab
adalah bentuk jamak dari kata tsaub/ pakaian. Selain itu juga digunakan
sebagai majas dengan makna-makna seperti hati, jiwa, usaha, badan,
budi pekerti. Kata thahhir adalah bentuk perintah, dari kata thahara
yang berarti membersihkan dari kotoran. Kata ini juga dapat dipahami
sebagai majas yang menegaskan untuk meyucikan diri dari dosa atau
pelanggaran. Termasuk kata Shihab, yaitu menyucikan hati, jiwa, usaha,
budi pekerti dari segala macam pelanggaran.8
Dari penjelasan di atas, terlihat dengan jelas bahwa Islam
sangat concern dengan kebersihan. Lebih tegas lagi dapat dikatakan
bahwa tidak hanya concern pada kebersihan an sich, tetapi termasuk
penampilan. Hal tersebut tentu merupakan bahagian dari pencitraan
yang bertujuan untuk menanamkan kepercayaan kepada orang
lain. Pencitraan juga akan semakin kuat, ketika yang melakukan
pencitraan itu adalah orang yang memiliki integritas.9
Untuk membangun citra politik dibutuhkan waktu yang relatif
lama. Publik membutuhkan rentang waktu yang panjang untuk bisa
melihat kesesuaian pola dan alur politik mereka dengan suatu partai
politik. Membangun pencitraan juga membutuhkan konsistensi
dari semua hal yang dilakukan partai politik atau perseorangan
berbeda tentang ayat ini. Misalnya, dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa
Ibnu Abbas mengartikan pakaian dalam ayat ini dianalogikan dengan hati yang
mengandung makna suci dari dosa dan maksiat. Muhammad Ibnu Ka’b al Qurazi
dan Al Hasan al Basri juga memaknai ayat ini dengan bersihkan hati dan niat, serta
perindah akhlak. Abu Razin memaknai ayat tersebut, yaitu mensucikan diri, dan
pekerjaan. Lihat, Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam Syafii, 2003), h.
289-291.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an)
(Jakarta: Lentera Hati, 2003), h. 554.
8
9
Penampilan yang dimaksud adalah termasuk dalam menjaga sikap, kerapian,
dan kebugaran sehingga orang akan merasa nyaman pada saat bertemu. Penampilan
juga mencakup performa dalam urusan sehari-hari. Selanjutnya, integritas yang
dimaksud adalah sebentuk sikap konsistensi dan sinkronisasi antara pemikiran,
perkataan serta perbuatan dalam suatu pekerjaan. Istilah Islamnya adalah memiliki
sikap istiqamah. Kalau dalam praktik politik, sesuai antara apa yang dijanjikan
dengan realitas yang dilakukan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 7
bersangkutan seperti program kerja, platform, reputasi. Ketika
terdapat ambiguitas atau inkonsistensi yang dilakukan, pencitraan
yang terekam dipikiran publik menjadi tidak utuh.
Oleh sebab itu, pencitraan merupakan kesan yang sengaja
diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi. Citra organisasi
sangat penting bagi setiap organisasi. Tidak terkecuali organisasi
politik yang dalam hal ini tentu partai politik, karena citra bagi
partai politik sangat berpengaruh terhadap perolehan suara dalam
pemilihan umum. Dengan kata lain citra yang positif dari sebuah
partai politik akan mampu menarik simpatisan massa pendukung
yang dapat mendongkrak kepopuleran dari satu partai. Melihat
begitu pentingnya citra bagi partai politik, maka diperlukan sebuah
kontruksi dengan kata lain dibutuhkan langkah untuk membangun
atau membentuk citra positif partai politik agar tetap mendapatkan
kepercayaan dihati masyarakat. Fakta empiris membuktikan
pentingnya pencitraan partai, meskipun membutuhkan waktu lama.
Pencitraan dapat mendorong perolehan suara partai pada pemilu.
Sebagai salah satu fakta bahwa pencitraan politik dapat
mempengaruhi arah pemilih untuk menentukan pilihannya terhadap
satu partai, dapat ditelaah dari pencitraan yang dilakukan oleh Partai
Amanat Nasional yang selanjutnya dalam disertasi ini ditulis dengan
PAN. PAN adalah partai yang lahir dari rahim gerakan reformasi
yang didirikan oleh tokoh-tokoh reformasi lintas etnis, ras, agama dan
golongan. Sebab itu, PAN mengukuhkan diri sebagai partai terbuka,
mandiri, menjunjung tinggi moralitas keagamaan, kemanusiaan
dan kemajemukan, yang bertujuan untuk pencerahan bangsa. Azas
PAN sebagaimana dijelaskan Bahar, berakar pada moral agama,
kemanusiaan dan kemajemukan.10
Sejak tahun 1999, PAN menjadi salah satu kontestan pada Pemilihan
Umum yang dilaksanakan di Indonesia. Dapat diperhatikan, suara PAN
dalam setiap Pemilu relatif fluktuatif. Pada Pemilu 1999, PAN berada
di peringkat ke enam dalam peroleh suara nasional. PAN memperoleh
7.528.956 suara (7,12 %) dan menempatkan 34 orang wakilnya di
DPR. Citra PAN saat berkampanye mendapat dukungan tokoh-tokoh
10
Nasril Bahar, “Kembali Kepada Jati Diri PAN” dalam Fraksi PAN: Wujudkan
Amanat Rakyat (Jakarta: Fraksi PAN Publisher, 2014), h. 72-74.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
8 | Pendahuluan
intelektual, PAN memposisikan diri sebagai partai kalangan menengah
dan terdidik. Selain itu, PAN melakukan pencitraan melalui peguatan
semangat reformasi dalam tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya
sebagaimana disuarakan masyarakat luas. Pada Pemilu 2004, PAN
berada di peringkat ke lima perolehan kursi sebanyak 53 kursi (6,44 %).
Pada tahun 2009 PAN meraih suara sebesar 46 kursi (8,2 %), sedangkan
pada tahun 2014, PAN meraih kursi sebanyak 52 kursi (9,45 %).
Jumlah peroleh suara dan perolehan kursi sebagaimana yang
telah dijelaskan di atas, tentu sangat jauh dari jumlah perolehan suara
partai-partai lama. Tetapi secara realitas, PAN sampai pemilu 2014
dan hingga sekarang masih tetap survive dalam mengikuti kontestasi
politik ke-Indonesiaan. Survivalitas itu dapat dilihat dari peningkatan
perolehan kursi PAN yang terus meningkat dari tahun 1999 sampai
2014. Gambaran ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1. Persentase Perolehan Kursi PAN Pada Pemilu Legislatif 1999
sampai 2014.
Nama Partai
% Perolehan % Perolehan
Suara tahun Suara tahun
1999
2004
% Perolehan
Suara tahun
2009
% Perolehan
Suara tahun
2014
PAN
7,12
(8,2 %)
(9,45 %)
6,44 %
Perolehan suara di atas, adalah perolehan secara nasional. Sedangkan
untuk peroleh suara di tingkat provinsi, sebagaimana halnya provinsi
Sumatera Utara, suara PAN juga bersifat fluktuatif. Pada Pemilu 2004, dari
11 Daerah Pemilihan (Dapil), PAN memperoleh sebanyak 313.555 suara
dan menempatkan kadernya sebanyak 8 kursi (7,08 %) di DPRD Sumatera
Utara. Ini berarti PAN berada di peringkat ke lima. Pada tahun 2009,
PAN berada di peringkat ke lima dengan memperoleh suara sebanyak
248.975. Pada periode ini PAN menempatkan kadernya sebanyak 7
kursi di DPRD Sumatera Utara. Sedangkan pada Pemilu 2014 PAN
memperoleh suara sebanyak 420.447 suara dan menempatkan kadernya
sebanyak 6 kursi di DPRD Sumatera Utara. Kondisi ini menunjukkan
adanya penurunan kursi PAN di parlemen. Namun demikian, jumlah
ini tidak menjadikan PAN lebih menurun di bandingkan dengan partaipartai berbasis Islam lainnya, seperti PPP dan PBB yang masih berada
di bawah perolehan suara PAN. Meskipun dari perolehan kursi DPRD
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 9
Sumatera Utara, terlihat PAN menurun, tetapi dari perolehan suara
terlihat, bahwa PAN mengalami peningkatan dari setiap Pemilu yang
dilakukan. Adapun perubahan peroleh kursi tersebut, disebabkan oleh
bertambahnya daerah pemilihan menjadi 12.
Hal menarik dari kondisi di atas, PAN menggambarkan
survavilitasnya dalam kontestasi perpolitikan Indonesia, khususnya
kontestasi politik di Sumatera Utara. Hal ini tidak lepas dari upaya
partai yang terus membangun pencitraan politik di tengah masyarakat,
baik pada saat menjelang Pemilu maupun sesudah Pemilu. Dalam
berbagai even politik, PAN juga memperlihatkan eksistensinya
sebagai partai terbuka yang memperjuangkan nasionalisme dan
religiusitas. Strategi pencitraan politik yang dilakukan PAN adalah
sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi partai. Seperti
politik pencitraan yang dilakukan Hatta Rajasa, yang menetapkan
PAN dengan jargon “PAN merakyat”. Demikian juga dengan jargon
“Perubahan” yang dikuatkan oleh Zulkifli Hasan sebagai Ketua
Umum PAN 2015 – 2020. Pencitraan politik tersebut mengindikasikan
adanya upaya berkesinambungan yang dilakukan pengurus partai,
untuk membangun citra politik yang menarik, sehingga masyarakat
tetap mempercayakan aspirasinya kepada PAN.
Fokus Penelitian dan Beberapa Konsep Kunci
Kajian ini berangkat dari beberapa pertanyaan kunci yang
penulis ajukan sebagai lokus pembahasan sesuai dengan konstruksi
latar belakang bagaimana Pemetaan arus politik era reformasi. Atas
dasar hal tersebut pernyataan yang akan di jawab dalam kajian ini
adalah bagaimanakah pencitraan politik Partai Amanat Nasional
(PAN) dalam menarik simpati masyarakat di Provinsi Sumatera
Utara Tahun 2005 – 2015? Dengan pertanyaan perincian seperti: 1)
Bagaimanakah perkembangan PAN Sumatera Utara dan pencitraaan
politik yang dilakukan untuk menarik simpati masyarakat tahun 2005
– 2015?; 2) Apakah pencitraan politik yang dilakukan Partai Amanat
Nasional (PAN) berhasil menarik simpati masyarakat di Provinsi
Sumatera Utara tahun 2005 – 2015? Dan 3) Bagaimanakah model
pencitraan politik yang dapat mempengaruhi simpati masyarakat
Sumatera Utara?
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
10 | Pendahuluan
Beberapa konsep kunci juga diuraikan dalam buku ini diantaranya
adalah:
1. Pencitraan Politik
Pencitraan politik sebagaimana dikutip Firmanzah dari Dutton,
yaitu suatu cara yang dilakukan anggota organisasi atau partai
politik untuk menanamkan kesan terhadap partai yang ada.11 Dengan
demikian, pencitraan politik yang dimaksud dalam disertasi ini adalah
bentuk pencitraan yang dilakukan pengurus DPW PAN Sumatera
Utara, baik bentuk pencitraan yang dilakukan melalui media massa,
media sosial, media tradisional, public relation, penawaran program
partai, untuk mengkonstruksi, menciptakan dan memperkuat pesanpesan politik, sehingga berhasil membangun opini yang baik di benak
pikiran masyarakat terhadap partai tersebut, kemudian masyarakat
menjatuhkan pilihannya kepada PAN sebagai partai perjuangan
aspirasinya.
2. Partai Amanat Nasional
Partai Amanat Nasional yang selanjutnya disebut PAN,
merupakan partai politik berbasis Islam yang cikal bakalnya lahir
dari dukungan Majelis Amanat Rakyat (MARA), dan juga dukungan
dari pengurus Muhammadiyah terhadap Amien Rais, untuk
membentuk satu partai yang diberi nama PAN, dan dideklarasikan
tanggal 23 Agustus 1998. PAN yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional
Sumatera Utara, yang selanjutnya disingkat DPW PAN Sumut. Paling
tidak, ada tiga alasan yang membuat peneliti merasa tertarik untuk
menjadikan PAN sebagai objek penelitian. Pertama, PAN merupakan
partai politik terbuka yang lahir dari rahim reformasi, merupakan
partai yang berbasis Islam, tetapi memiliki cita-cita kuat untuk
mewujudkan masyarakat yang adil, sejahtera dan makmur. PAN,
meskipun awalnya didukung sepenuhnya oleh kaum kelas menengah
dan intelektual, dan merupakan partai terbuka dan modern, tetapi
PAN juga menjadi partai yang konsern memperjuangkan suara kaum
proletar (masyarakat miskin, masyarakat pinggiran, masyarakat
nelayan). Kedua, sebagai partai baru, PAN memperlihatkan
11
Firmanzah, Marketing, h. 230.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 11
survivalitasnya dalam kontestasi perpolitikan di Indonesia, dan
mampu menempatkan diri sebagai partai yang diperhitungkan
sejak kelahirannya. Survivalitas ini mengindikasikan, bahwa rakyat
masih mempercayakan aspirasinya kepada partai baru ini. Ketiga,
dalam pelacakan data, peneliti akan lebih mudah mengumpulkan
data, karena selain peneliti, penulis juga pernah menjadi pengurus,
sekaligus sebagai Caleg dari PAN pada tahun 2009. Kondisi ini dapat
memudahkan penulis dalam pelacakan data dan menjalin komunikasi
dengan pengurus PAN dalam pemenuhan data yang dibutuhkan.
3. Menarik simpati masyarakat
Citra politik adalah sesuatu yang dipercaya dan diharapkan
oleh masyarakat tentang apa yang dilakukan oleh partai politik.
Jadi, khalayak dapat mengidentikkan dirinya dengan partai politik
tertentu, meskipun kadang-kadang ia tidak menyukai aktivitas
yang dilakukan partai tersebut. Dengan demikian, maksud menarik
simpati masyarakat dalam penelitian ini adalah kerelaan masyarakat
untuk memilih dan memberikan dukungan terhadap program partai.
Simpatik dalam disertasi ini juga diindikasikan dengan kuatnya
keinginan masyarakat untuk memilih partai dengan harapan dapat
memenuhi kepentingan dan kebutuhan lainnya.
Catatan Metodologis
Penelitian ini didesain sebagai penelitian kualitatif, karena fokus
penelitian adalah pada observasi dan suasana alamiah (naturalistic
setting).12 Penelitian seperti ini, disebut juga sebagai penelitian
naturalistik (naturalistic inquiry), karena penelitian ini berusaha
memahami objek yang sedang diteliti secara apa adanya, tidak
dimanipulasi melainkan dipahami melalui analisis alamiah.13 Menurut
Creswell sebagaimana dikutip Basuki, bahwa penelitian kualitatif
adalah suatu proses penelitian untuk memahami masalah-masalah
manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan
kompleks yang disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis
Statistik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984), h. 25.
12
13
Mulyana, Metode Penelitian, h. 157-159.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
12 | Pendahuluan
terinci yang diperoleh dari para sumber informasi, serta dilakukan
dalam latar (setting) yang alamiah.14
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologis,
karena pencitraan termasuk dalam konsentrasi kajian komunikasi
politik. Pencitraan merupakan sebentuk komunikasi nonverbal yang
dilakukan seseorang atau lembaga, untuk mempengaruhi prilaku,
pikiran, pandangan, dan pendapat orang lain terhadap apa yang
dicitrakan. Kajian ini semakin menarik dilakukan di Indonesia sejak
Pemilihan Umum (Pemilu) 2004. Sebab itu, fenomenologi menjadi
bahagian yang dipilih sebagai pendekatan dalam riset ini, karena
tujuannya adalah untuk menggambarkan realitas yang sedang terjadi
tanpa menjelaskan hubungan antarvariabel.15 Dengan demikian,
penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis,
faktual dan akurat tentang fakta-fakta dari objek yang diteliti. Artinya,
dalam penelitian ini aktifitas pencitraan politik yang dilakukan DPW
PAN Sumatera Utara dalam menarik simpati masyarakat di catat, di
lukiskan, di uraikan dan di laporkan sesuai dengan fakta yang ada.
Data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer
dan data skunder. Data primer adalah data utama yang dijadikan
sebagai bahan utama yang ditelaah. Sumber data primer penelitian
ini berasal dari pengurus DPW PAN Sumatera Utara dan juga dari
pengurus PAN di daerah. Pimpinan DPW PAN Sumatera Utara
menjadi objek penelitian sekaligus menjadi informan kunci (key
informan) yang diharapkan dapat memberikan data yang diperlukan
sesuai dengan tujuan penelitian.16
Penentuan informan kunci ini dilakukan dengan teknik purposif
(purposive) sampling. Artinya, peneliti dalam hal ini secara sengaja
memilih dan menetapkan informan penelitian. Informan kunci
ditetapkan berdasarkan kriteria kelayakan untuk memberikan data
yang dibutuhkan dalam penelitian. Informan kunci penelitian dipilih
Heru Basuki, Penelitian kualitatif: Untuk Ilmu-Ilmu Kemanusiaan dan Budaya
(Jakarta: Universitas Gunadarma, 2006), h. 86.
14
15
h. 69.
Rakhmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2006),
16
Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis Ke Arah
Penguasaan Model Aplikasi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), h. 53.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 13
dari pengurus DPW PAN Sumatera Utara, antara lain adalah Ketua
DPW PAN Sumatera Utara, Sekreraris DPW PAN Sumatera Utara, dan
anggota DPRD Sumatera Utara dari PAN, dalam rentang waktu tahun
2005-2010. Penentuan informan dilakukan secara berkesinambungan dan
dinamis sesuai dengan perkembangan data yang dibutuhkan. Informan
kunci lainnya dipilih dari tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili
organisasi kemasyarakatan Islam, seperti tokoh Muhammadiyah,
tokoh Al Wasliyah. Informan kunci dalam penelitian ini termasuk dari
Ketua Nasyiyatul Aisyiyah (NA) Sumatera Utara, Ketua DPD PAN
Labuhan Batu Selatan, Ketua DPD PAN Serdang Bedagai dan Ketua
DPD PAN Kota Medan. Sedangkan data skunder penelitian adalah
data pendukung yang sumbernya berasal dari masyarakat umum, yaitu
berupa hasil wawancara pendukung yang berasal dari jurnal, buku dan
hasil penelitian relevan yang diakui akuntabilitas ilmiahnya.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
empat kategori, yaitu: 1) Fokus Group Diskusi (FGD). Teknik ini
dilakukan untuk mengumpulkan secara umum data yang dibutuhkan.
FGD melibatkan beberapa orang pengurus partai dan tokoh ormas
Islam. Data yang diperoleh dari FGD menjadi salah satu pintu masuk
untuk pengayaan data dan penelusuran yang lebih mendalam terkait
dengan objek yang diteliti; 2) Wawancara mendalam (in depth interview).
Peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan di lokasi
penelitian. Wawancara dilakukan dengan pengurus DPW PAN Sumut
pada masa rentang waktu 2005-2015. Hal-hal yang diwawancarai terkait
dengan; (1) strategi komunikasi yang dilakukan partai untuk melakukan
pencitraan politik; (2) tujuan yang diinginkan partai ketika melakukan
pencitraan politik; (3) proses pencitraan politik yang dilakukan DPW
PAN Sumut; (4) bentuk-bentuk pencitraan politik yang dilakukan
partai; (5) efektifitas pencitraan politik atau hasil yang telah dilakukan
dari pencitraan yang telah dilakukan. Selain mewawancarai pengurus
DPW PAN Sumut, peneliti juga melakukan wawancara dengan tokohtokoh ormas Islam sebagai representasi masyarakat. Tokoh-tokoh yang
diwawancarai, yaitu tokoh Muhammadiyah dan tokoh Al Wasliyah.
Tokoh perempuan yang diwawancarai berasal dari tokoh Nasyiyatul
Aisyiyah (NA) Sumatera Utara. Dalam penelitian ini, masyarakat umum
juga tidak luput dari target wawancara dalam rangka melakukan chek
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
14 | Pendahuluan
and balace (penyeimbang) terhadap kebenaran data yang disampaikan
informan kunci; 3) Observasi. Melalui observasi, peneliti melakukan
pengamatan langsung (observasi participant) maupun pengnmatan tidak
langsung (observasi non-participant) terhadap kegiatan sehari-hari yang
dilakukan DPW PAN Sumut. Tujuannya adalah untuk mengalisa dan
mengetahui secara pasti kegiatan pencitraan politik yang dilakukan oleh
partai tersebut, baik kegiatan yang dilakukan perorangan maupun secara
kepartaian. Melalui observasi, peneliti juga ingin melihat media yang
digunakan, pesan-pesan yang disampaikan DPW PAN Sumut pada saat
melakukan pencitraan politik; dan 4) Dokumentasi. Dalam hal ini peneliti
menggunakan data dokumentasi milik DPW PAN Sumatera Utara yang
relevan dengan tujuan penelitian. Dokumentasi digunakan sebagai
upaya melihat bentuk-bentuk politik pencitraan yang dilakukan DPW
PAN, terutama untuk memastikan politik pencitraan yang dilakukan
pada tahun 2005, sampai 2015.
Kajian Terdahulu
Kajian tentang pencitraan politik semakin berkembang secara
khusus di Indonesia, dimulai sejak bergulirnya era reformasi yang
ditandai dengan pemberlakuan multi partai. Para pakar politik, para
peneliti semakin memperlihatkan keseriusannya dalam menelaah
fenomena perpolitikan di Indonesia, sehingga bermunculanlah sejumlah
karya dalam bentuk tulisan, buku, maupun penelitian yang berkaitan
dengan pencitraan politik. Beberapa penelitian terdahulu, dapat dijadikan
sebagai bahan kajian sekaligus pengayaan referensi penguatan penelitian
ini. Sebab, penelitian ini memiliki persinggungan dengan penelitian
terdahulu, terutama dari persinggungan dalam penggunaan teori.
Penelitian terkait yang pernah dilakukan adalah penelitian disertasi
yang dilakukan oleh Erwan Efendi dengan judul Pengaruh Pencitraan
Surat Kabar dan Religiusitas Terhadap Penentuan Pilihan Pemilih Dalam
Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara. Erwan pada penelitiannya fokus
untuk melihat pengaruh pencitraan pada surat kabar dan religiusitas
calon terhadap keinginan konstituen untuk memilih calon kepala
daerah di Sumatera Utara. Erwan dalam hal itu, menggunakan metode
penelitian kuantitatif. Erwan mengungkap melalui hasil penelitiannya,
bahwa pencitraan tidak signifikan mempengaruhi penentuan pilihan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 15
pemilih dalam pemilihan kepala daerah di Sumatera Utara. Justru yang
lebih mempengaruhi sikap pemilih adalah religiusitas calonnya.17
Penelitian lainnya dilakukan oleh Gita Savitri dalam bentuk
Tesis yang berjudul Konstruksi Retorika Politik dalam Restorasi Citra:
Analisis Pernyataan Pers Boediono dalam Kasus Bank Century.18 Gita
dalam penelitiannya bertujuan untuk menganalisis konstruksi
retorika politik dalam restorasi citra dalam pernyataan pers yang
dilakukan oleh mantan Wakil Presiden Boediono atas dugaandugaan keterlibatannya dalam pusaran kasus Bank Century yang
berlangsung pada akhir tahun 2008 dalam kapasitasnya sebagai
Gubernur Bank Indonesia. Gita dalam penelitiannya menyebut,
bahwa citra negatif antara pejabat negara dengan publik ketika terjadi
sebuah krisis dapat menghancurkan kredibilitas, hubungan politik,
kehidupan ekonomi serta keamanan dalam negeri, dengan demikian
diperlukan wacana mengenai strategi komunikasi untuk menanggapi
tuduhan kesalahan. Dengan pendekatan kualitatif dan metode
analisis data dari Bogdan dan Biklen, Gita mengungkap, bahwa:
Pertama, konstruksi retorika politik yang digunakan oleh Boediono
untuk merestorasi citranya selama situasi krisis telah digunakan
dalam pernyataan persnya. Kedua, konstruksi citra dengan teknik
restorasi citra mampu mendorong opini publik menjadi positif. Gita
juga menguatkan teori restorasi citra yang dikemukakan Benoit,19
efektif bila digunakan oleh pemerintahan khususnya para pejabat
negara yang suatu saat dihadapkan pada situasi krisis.
Penelitian lainnya juga penting disebutkan, yaitu penelitian tesis
George Towar Ikbal Tawakkal yang berjudul Peran Partai Politik dalam
Mobilisasi Pemilih (Studi Kegagalan Parpol Pada Pemilu Legislatif di Kabupaten
Erwan Efendi, Pengaruh Pencitraan Surat Kabar dan Religiusitas Terhadap
Penentuan Pilihan Pemilih Dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara (Disertasi
UIN Sumatera Utara: 2015)
17
Gita Savitri, Konstruksi Retorika Politik dalam Restorasi Citra: Analisis Pernyataan
Pers Boediono dalam Kasus Bank Century (Tesis: FISIP UI, 2014), h. vi.
18
19
Benoit kata Gita Savitri, menawarkan strategi restorasi citra untuk melakukan
pesan perbaikan, diantara yang lima adalah penolakan dan penyangkalan terhadap
tindakan kasus yang pernah dilakukan, atau menimpakan kesalahan kepada orang lain.
Ibid, h. 45.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
16 | Pendahuluan
Demak 2009).20 Fokus penelitian George adalah untuk: Pertama, mengkaji
kinerja partai dalam menghadapi perubahan sistem pemilu. Kedua,
mengkaji perilaku partai dalam mempertahankan dan meningkatkan
perolehan suaranya dalam sebuah sistem pemilu yang baru. Ketiga,
mengkaji gambaran mengenai peran partai dalam mempengaruhi
pemilih untuk memilih caleg-calegnya pada pemilu 2009. Dengan
pendekatan deskriptif kualitatif, George mengungkap bahwa Pertama,
dari sisi dinamika partai politik sebelum tahapan kampanye pemilu,
partai mengalami permasalahan konsolidasi internal. Partai berorientasi
pada nomor urut dan berorientasi pada suara terbanyak. Kedua,
Calon Legislatif yang berasal dari partai yang berorientasi nomor urut,
dituntut untuk merubah strateginya. Caleg dituntut untuk mobilisasi
mandiri. Ketiga, dari sisi harmonisasi antara partai dan Caleg tidak
terjadi kerjasama yang baik dalam mobilisasi pemilih. Partai cenderung
lepas tangan, dan menyerahkan kepada Caleg. Keempat, bentuk-bentuk
mobilisasi yang dilakukan oleh Caleg secara mandiri: Bentuk mobilisasi
terbagi menjadi 2 kriteria, yakni berdasarkan hubungan emosional,
dan bantuan-bantuan. Atas dasar temuan ini, George menyimpulkan,
bahwa partai politik telah gagal melaksanakan peran organisasi politik.
Selain penelitian di atas, penelitian lain yang diterbitkan dalam
jurnal di antaranya adalah penelitian Haryati yang berjudul Pencitraan
Tokoh Politik Menjelang Pemilu 2014. Haryati menyebutkan, bahwa
dinamika dan persaingan menjelang Pemilu 2014, antara partai politik
dan antara politisi sangat tinggi, antara lain pada pencitraan politik
yang dilakukan para tokoh politik. Media massa menjadi lahan strategis
dalam menyampaikan pesan-pesan politik kepada masyarakat.
yakni dalam pembentukan opini publik dan dalam membangun citra
politik. Media massa turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas
penyelenggaraan Pemilu 2014. Haryati juga mengemukakan, media
massa merupakan media yang banyak digunakan untuk melakukan
pencitraan.21
George Towar Ikbal Tawakkal, Peran Partai Politik dalam Mobilisasi Pemilih
(Studi Kegagalan Parpol Pada Pemilu Legislatif di Kabupaten Demak 2009) (Tesis: PPS
UNDIP Semarang, 2009), h. vii.
20
21
Haryati, “Pencitraan Tokoh Politik Menjelang Pemilu 2014” dalam Jurnal
Observasi, Vol 11, No. 2 Tahun 2013 (Jakarta: Badan Litbang SDM Kementerian
Komunikasi dan Informatika, 2013 ), h. 173-190.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 17
Tulisan lainnya tentang pencitraan diteliti oleh Suyatno Kahar
yang berjudul Pencitraan Politik Partai Nasdem Melalui Iklan di Televisi.
Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, Suyatno dalam
penelitiannya fokus untuk melihat tentang pencitraan partai politik yang
dilakukan Partai Nasional Demokrat melalui iklan ditelevisi. Penelitian
menganalisis tentang teks iklan politik versi Indonesia baru dan versi
hukum dengan menggunakan analisis wacana Teun van Dijk, yang
meliputi analisis dari segi teks (visual dan audio-visual). Hasil penelitian
Suyatno mengungkap bahwa Partai Nasional Demokrat mengajak
publik bergabung dalam melakukan penegakan hukum yang adil dan
beradab. Dalam rangka melakukan proses pencitraan politik, khalayak
juga membaca citra partai secara berbeda berdasarkan subyektivitas
mereka. Khalayak dalam menilai citra politik partai Nas Dem, ada yang
positif dan ada yang negatif bahkan ada yang netral, tergantung juga
subyektivitas mereka masing-masing.22
Alur Kajian dan Penelitian
Alur kajian dan penelitian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. 2. Kerangka konsep dan pemikiran
22
Suyatno Kahar, “Pencitraan Politik Partai Nasdem Melalui Iklan di Televisi”
dalam Jurnal Humanity, Vol. 9, No. 2, Maret 2014 (Yogyakarta: UMM, 2014), h. 72-84.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
18 | Pendahuluan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab II
Pencitraan dan Komunikasi Politik
Pencitraan Politik
1. Citra dan Pencitraan
Bila diikuti dinamika perpolitikan di Indonesia, pencitraan
menjadi istilah yang akrab di telinga setiap masyarakat Indonesia.
Istilah ini semakin menguat, ketika kaum akademisi maupun praktisi
menjadikannya sebagai kajian-kajian akademik dan diskusi ilmiah
dalam berbagai kesempatan. Saat ini, hampir semua pihak yang
berkepentingan dengan opini publik menyadari pentingnya mengelola
citra. Ditinjau dari sudut kesejarahan, pencitraan sebagaimana dijelaskan
Rendro Dhani sudah dilakukan manusia seiring dengan perkembangan
peradabannya. Para pemimpin suku primitif misalnya, berkepentingan
menjaga reputasi mereka dengan melakukan pengawasan terhadap
para pengikutnya melalui penggunaan simbol, kekuatan, hal-hal yang
bersifat magis, tabu, atau supranatural. Pada zaman Mesir Kuno, untuk
memelihara kesan publik akan keagungan rajanya maka didirikanlah
bangunan-bangunan semacam piramida dan spinx dan memposisikan
raja sebagai tuhan. Pada masa perkembangan peradaban Yunani dan
Romawi, kesadaran akan pentingnya opini publik dan pencitraan juga
sangat kuat. Karya seni dan sastera pada masa itu banyak diarahkan
untuk menguatkan reputasi raja. Kaum bangsawan istana umumnya
adalah ahli-ahli persuasi dan retorika yang luar biasa. Karya pidato
Cicero, tulisan bersejarah Julius Caesar, bangunan-bangunan dan ritual
saat itu banyak digunakan sebagai media pembentukan opini publik
dan pencitraan.1
1
Rendro Dhani, Centang Perenang Manajemen Komunikasi Kepresidenan dari
19
20 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Pencitraan yang awalnya identik dengan kegiatan kehumasan
(public relations) dalam dunia bisnis, bergeser pada kegiatan politik,
sehingga dinamika perpolitikan erat dengan istilah pencitraan. Salah
satu tujuan komunikasi politik adalah membentuk citra yang baik
pada khalayak. Citra terbentuk berdasarkan informasi yang diterima,
baik langsung maupun tidak langsung, misalnya dari media.
Pencitraan berasal dari kata citra yang didefenisikan para pakar secara
berbeda-beda dan pada hakikatnya sama maknanya. Pemaknaan
citra merupakan hal yang abstrak, karena citra tidak dapat diukur
secara sistematis meskipun wujudnya dapat dirasakan baik positif
maupun negatif. Penerimaan dan tanggapan, baik positif maupun
negatif tersebut datang dari publik atau khalayak. Citra terbentuk
sebagai akumulasi dari tindakan maupun perilaku individu yang
kemudian mengalami suatu proses untuk terbentuknya opini publik
yang luas.
Pada dasarnya citra berakar dari nilai-nilai kepercayaan yang
secara nyata diberikan secara individual dan merupakan pandangan
atau persepsi. Seorang tokoh populer (public figure) dapat menyandang
citra baik atau buruk. Kedua hal tersebut bersumber dari citra-citra
yang berlaku dan terbentuk dari hal-hal yang dilakukan tokoh
tersebut baik bersifat positif maupun negatif. Pencitraan pada diri
seorang public figure misalnya, dibentuk oleh pencitraan diri yang
dioleh secara sengaja sedemikan rupa. Harapan dari pencitraaan
itu adalah mendapat citra positif di mata masyarakat luas. Akan
tetapi pencitraan tersebut tidak selalu menghasilkan opini publik
yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pelaku pencitraan.
Hal itu disebabkan karena latar belakang, status sosial, ekonomi,
perbedaan pengalaman, serta aspek-aspek lain dapat mempengaruhi
pemaknaan terhadap pencitraan yang dibangun.
Citra dapat didefinisikan sebagai konstruksi atas representasi
dan persepsi khalayak terhadap individu, kelompok atau lembaga
yang terkait dengan kiprahnya dalam masyarakat. Soleh Soemirat
dan Elvinaro, memaknai citra sebagai kesan, perasaan dan gambaran
dari publik terhadap perusahaan atau kesan yang sengaja diciptakan
Soekarno Sampai Megawati (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004), h. x.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 21
dari suatu objek, orang atau organisasi.2 Berdasarkan definisi tersebut,
Soemirat kemudian menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor
yang terkait dalam proses pencitraan, yaitu:
a.Persepsi, yaitu hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan
yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata
lain individu akan memberikan makna terhadap rangsangan
berdasarkan pengalamannya mengenai suatu produk.
Kemampuan mempersepsi itulah yang dapat melanjutkan
proses pembentukan citra.
b.Kognisi, yaitu suatu keyakinan diri individu terhadap
stimulus. Keyakinan itu akan timbul apabila individu telah
mengerti rangsangan itu sehingga individu harus diberikan
informasi-informasi yang cukup dan dapat mempengaruhi
perkembangan informasinya.
c.Motif, yaitu keadaan dalam individu yang mendorong
keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai tujuan.
d.Sikap, yaitu kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir,
dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai.
Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecenderungan
untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu.3
Pemaknaan citra yang lain disampaikan Ruslan yang memandang
citra adalah sesuatu yang abstrak atau intangible, tetapi wujudnya
bisa dirasakan dari hasil penilaian, penerimaan, kesadaran, dan
pengertian seperti tanda respek dan rasa hormat, dari publik atau
masyarakat luas kepada perusahaan ataupun personelnya yang
dipercaya, profesional, dan dapat diandalkan dalam pemberian
pelayanan yang baik.4 Sedangkan Kotler menjelaskan makna citra
sebagai jumlah dari keyakinan-keyakinan, gambaran-gambaran, dan
kesan-kesan yang dimiliki seseorang pada suatu objek. Objek yang
dimaksud bisa berupa orang, organisasi, kelompok atau yang lainnya
Soleh Soemirat dan Elvinaro, Dasar-Dasar Publik Relations (Bandung: PT
Remaja Rosadakarya, 2005), h. 111-112.
2
3
Ibid, h. 115-116.
Ruslan, Strategi Public Relations, Bauran Public Relations (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1997), h. 50.
4
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
22 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
yang dia ketahui.5 Dari dua penjelasan ini, dapat dipahami bahwa
citra adalah sebagai gambaran yang terdapat dalam pikiran orang
lain. Untuk penguatan citra, ada pesan tunggal yang menunjukkan
keunggulan utama dan posisi produk. Pesan juga bisa dibuat dengan
sifat yang unik, sehingga tidak memiliki perbedaan dengan pesan
yang disampaikan competitor lainnya. Pesan tersebut pun harus
memiliki kekuatan emosional untuk membangkitkan perasaan selain
pikiran pembeli. Sebab itu, citra dapat berubah menjadi buruk apabila
kemudian ternyata tidak didukung oleh kemampuan atau keadaan
yang sebenarnya.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa citra dapat
terbentuk sepenuhnya oleh bagaimana lembaga mampu membangun
persepsi yang didasarkan oleh realitas yang terjadi. Semua proses
yang terjadi ini tentunya dibangun dengan nilai kredibilitas pihak
perusahaan, lembaga atau organisasi. Citra dapat juga dipahami
sebagai konstruksi atas representasi dan persepsi khalayak terhadap
individu, kelompok atau lembaga yang terkait dengan kiprahnya
dalam masyarakat. Sebagaimana dijelaskan Kaid, citra dalam politik
dibuat melalui penggunaan tayangan visual yang dikomunikasikan
melalui penampilan di media, sampai informasi terintegrasi dalam
pikiran masyarakat.6
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa hal yang perlu
diketahui sehubungan dengan terbentuknya pencitraan adalah
adanya persepsi yang berkembang dalam benak publik terhadap
realitas yang muncul dalam media. Sebab itu, untuk mengetahui
citra seseorang terhadap suatu objek dapat diketahui dari sikapnya
terhadap objek tersebut. Semua sikap bersumber pada organisasi
kognitif, pada informasi dan pengetahuan yang dimiliki setiap orang.
Tidak akan ada teori sikap atau aksi sosial yang tidak didasarkan
pada penyeledikan tentang dasar-dasar kognitif. Efek kognitif
dari komunikasi sangat mempengaruhi proses pembentukan citra
seseorang. Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasiPhilip Kotler, Dasar-Dasar Pencitraan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia
(Jakarta: Erlangga, 1994), h. 401.
5
6
Lynda Lee Kaid, Handbook Penelitian Komunikasi Politik, Terj. Ahmad Asnawi
(Bandung: Nusa Media, 2015), h. 26.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 23
informasi yang diterima seseorang. Hal ini disebabkan, karena
perhatian masyarakat cenderung lebih dipengaruhi gambaran yang
ada daripada situasi nyata dunia sekelilingnya.7 Pengetahuan atau
efek kognitif yang dirasakan khalayak, akan mempengaruhi sikapnya,
misalnya muncul perasaan menyenangi seorang figur yang sedang
mencitrakan diri, atau sebaliknya membecinya. Proses pembentukan
citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan pengertian sistem
komunikasi digambarkan oleh John S. Nimpoeno sebagaimana
dikutip Soleh Sumirat dan Elvinaro.8
Gambar 2.1. Model Pembentukan Citra
Gambar di atas memperlihatkan kuatnya hubungan antara inputoutput dalam proses pembentukan citra. Stimulus yang diberikan
merupakan input dalam mempengaruhi citra pada benak individu,
dan output merupakan respon atau tanggapan yang muncul, yaitu
berupa prilaku tertentu. Citra itu sendiri diproses melalui persepsi
– kognisi – motivasi – sikap. Rangsangan akan diproses berdasarkan
persepsi terhadap objek yang di lihat. Dengan kata lain, individu
akan memberikan makna terhadap rangsangan yang dipersepsinya.
Sedangkan kognisi atau keyakinan individu akan menguat terhadap
Efek kognitif menunjukkan jika terjadi perubahan pada apa yang diketahui,
difahami, atau dipersepsi seseorang. Efek kognitif berkaitan dengan transmisi
pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi. Efek kognitif berkaitan
juga dengan penciptaan atau penghilangan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda
setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat dan penegasan terhadap nilai-nilai.
Lihat, S. Djuarsa Sendjaja Dkk, Teori Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 1994),
h. 201.
7
8
Sumirat dan Elvinaro, Dasar-Dasar, h. 155.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
24 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
stimulus, ketika seseorang itu mengerti informasi yang yang
mempengaruhi perkembangan kognisinya.9 Motivasi adalah keadaan
dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Sikap, yaitu kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara
tertentu. Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap
menentukan apakah orang akan menerima atau menolak, menyukai
atau tidak menyukai. Dengan demikian, citra politik selalu berubah
sesuai dengan berubahnya pengetahuan politik dan pengalaman
politik seseorang.
Model pembentukan citra sebagaimana yang digambarkan
di atas menunjukkan bagaimana stimulus yang berasal dari luar
diorganisasikan dan mempengaruhi respons. Stimulus (rangsangan)
yang diberikan pada individu diterima atau ditolak. Jika rangsangan
ditolak proses selanjutnya tidak dapat berjalan, hal ini menunjukkan
bahwa rangsangan tersebut tidak efektif dalam mempengaruhi
individu karena tidak ada perhatian dari individu tersebut.
Sebaliknya, jika rangsangan diterima oleh individu, berarti terdapat
komunikasi dan terdapat perhatian organisme, dengan demikian
proses selanjutnya dapat berjalan. Gambar di atas juga menunjukkan,
bahwa komunikasi tidak secara langsung menimbulkan pendapat
atau perilaku tertentu, tetapi cenderung mempengaruhi cara khayalak
mengorganisasikan citranya tentang lingkungan dan cara itulah yang
mempengaruhi pendapat (opini) perilaku khayalak. Konkritnya, citra
9
Studi tentang keyakinan dan sikap politik memiliki beberapa konsep kunci
yang sama dengan psikologi. Dua konsep sentral adalah kognisi dan afek. Kognisi
mengacu pada cara bagaimana individu memproses dan menggunakan informasi.
Studi tentang kognisi terfokus pada isu-isu perhatian, persepsi, pembelajaran, dan
memori. Keyakinan adalah probabilitas subjektif seseorang bahwa suatu obyek
memiliki karakteristik tertentu, atau apa yang dianggap seseorang benar tentang
dunia. Afeksi mengacu pada bagaimana seseorang dapat merasakan tentang
suatu hal. Sementara sikap sebagaimana dijelaskan Gordon Allport adalah kondisi
kesiapan mental atau saraf, yang terorganisir melalui pengalaman, yang memberikan
pengaruh direktif atau dinamis terhadap respons individu terhadap obyek dan
situasi yang terkait dengannya. Akhirnya, prilaku dapat menimbulkan disonansi
kognitif dan keinginan untuk mencapai konsistensi atau keseimbangan kognitif
yang pada gilirannya dapat melahirkan penyesuaian dalam apa yang dipikirkan dan
dirasakan orang tentang dunia politik dan sosial. Lihat, Kaid, Handbook, h. 532-534.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 25
politik terwujud sebagai konsekuensi kognisi dari politik. Dengan
demikian, dapat ditegaskan bahwa pencitraan merupakan proses
yang berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap pesan yang
menyentuhnya dan merangsangnya. Citra yang melekat dibenak
seseorang dapat berbeda dengan realitas objektif, atau imajinasi yang
mungkin tidak sama dengan realitas empiris.
Sebagaimana dijelaskan Dan Nimmo, citra seseorang tentang
politik yang terjalin melalui pikiran, perasaan dan kesucian subyektif
akan memberi kepuasan baginya. Paling tidak kata Nimmo, ada
tiga kegunaan yang diperoleh seseorang terkait dengan pencitraan
ini. Pertama memberi pemahaman tentang peristiwa politik tertentu,
Kedua kesukaan atau ketidaksukaan umum kepada citra seseorang
tentang politik menyajikan dasar untuk menilai objek politik. Ketiga
citra diri seseorang dalam cara menghubungkan diri dengan orang
lain. Dengan demikian, Citra membantu memberikan alasan yang
dapat diterima secara subjektif tentang mengapa segala sesuatu hadir
sebagai mana tampaknya tentang preferensi politik, dan tentang
penggabungan dengan orang lain.10
Citra sangat penting bagi setiap organisasi, tidak terkecuali
bagi partai politik yang merupakan kelompok terorganisir, di mana
anggotanya memiliki nilai, orientasi dan cita-cita yang sama untuk
mendapatkan kekuasaan politik dengan cara konstitusional. Tentu bagi
partai politik, pencitraan sangat penting dalam rangka mendongkrak
perolehan suara dalam pemilihan umum. Dalam sistem politik, nyatalah
terlihat bahwa partai merupakan penggerak sistem politik yang ada.
Partai yang memberikan input, terlibat dalam proses politik, pendidikan
politik, sosialisasi politik. Antara partai politik dengan masyarakat, tentu
memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam kaitan itu, maka
Dahl menegaskan bahwa sistem politik merupakan pola hubungan
manusiawi yang kokoh, bersifat langgeng sampai pada tingkat tertentu,
yaitu pengendalian, kekuasaan, kewenangan dan pengaruh.11
Pengaruh tidak terlepas dari kepiawaian aktor politik dalam
menampilkan citra diri sebaik mungkin. Citra politik mampu
10
Nimmo, Komunikasi Politik, h. 6-7.
Robert, A. Dhal, Analisis Politik Modern, Ter. Mustafa Kamil Ridwan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 1994), h. 4.
11
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
26 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
mempengaruhi pandangan politik seseorang, karena pencitraan
bertujuan untuk membentuk opini publik, sehingga masyarakat
memandang positif partai atau politisi yang sedang mengikuti
kontestasi politik. Citra politik seseorang akan membantu dalam
pemahaman, penilaian dan pengidentifikasi peristiwa, gagasan,
tujuan atau pemimpin politik. citra politik juga membantu bagi
seseorang dalam memberikan alasan yang dapat diterima secara
subjektif tentang mengapa segala sesuatu hadir sebagaimana
tampaknya tentang referensi politik. Citra yang positif dari sebuah
partai politik akan mampu menarik simpatik massa pendukung
maupun masyarakat. Oleh sebab itu, citra inilah yang sering menjadi
salah satu fokus perhatian komunikator politik, baik secara perorangan
maupun kepartaian. Citra ini jugalah yang sering digunakan partaipartai politik untuk mendongkrak kepercayaan rakyat terhadap
partai yang dimiliki mereka. Hasil studi Fritz Plasser menunjukan
bahwa faktor pertama yang mempengaruhi peluang kandidat untuk
menang pemilu di Eropa adalah image atau citra.12 Citra sebagai kunci
kemenangan pemilu juga menjadi keniscayaan di Indonesia sejak
pemilu 2004. Citra adalah gambaran manusia mengenai sesuatu,
mengacu pada Lippman, citra adalah persepsi akan sesuatu yang
ada di benak seseorang (pictures in our heads) dan citra tersebut tidak
selamanya sesuai dengan realitas sesungguhnya.13
Citra politik itu terbentuk berdasarkan informasi yang diterima,
baik langsung maupun melalui media politik. Citra politik merupakan
salah satu efek dari komunikasi politik. Dalam paradigma atau
perspektif mekanistis, yang pada umumnya dipahami sebagai kesan
yang melekat dibenak individu atau kelompok. Meskipun demikian
citra itu dapat berbeda dengan realitas yang sesungguhnya atau
tidak merefleksikan kenyataan objektif. Citra politik sebagaimana
dijelaskan Arifin, berkaitan dengan pembentukan opini publik, karena
pada dasarnya opini publik politik terbangun melalui citra politik.
Sedangkan citra politik terwujud sebagai konsekuensi kognisi dari
Adam Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 75.
12
13
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2001), h. 223.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 27
komunikasi politik. Dalam kaitan ini, Anwar Arifin juga menyatakan
bahwa komunikasi tidak secara langsung menimbulkan pendapat
atau perilaku tertentu, tetapi cenderung mempengaruhi cara khalayak
mengorganisasikan citranya tentang lingkungan dan citra itulah yang
mempengaruhi pendapat (opini) atau perilaku khalayak.14 Arifin
juga menjelaskan, bahwa pencitraan memiliki empat fase, yaitu:
(1) representasi dimana citra merupakan cermin suatu realitas; (2)
ideologi dimana citra menyembunyikan dan memberikan gambaran
yang salah akan realitas; (3) citra menyembunyikan bahwa tak ada
realitas; dan (4) citra tidak memiliki sama sekali hubungan dengan
realitas apapun.15
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa citra adalah
sebagai gambaran tentang sesuatu, kendatipun tidak selamanya
sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Citra adalah seperangkat
anggapan maupun gambaran seseorang atau sekelompok orang
mengenai suatu objek bersangkutan. Jadi citra adalah total persepsi
terhadap suatu objek yang dibentuk dengan memproses informasi
terkini dari beberapa sumber. Citra tersusun melalui persepsi yang
bermakna tentang gejala yang muncul dan kemudian menyatakan
makna itu melalui kepercayaan, nilai dan pengharapan dalam bentuk
pendapat pribadi yang selanjutnya dapat berkembang menjadi opini
publik. Pencitraan dapat membantu dalam memberikan pemahaman,
penilaian, pengindentifikasian peristiwa, gagasan tujuan sesuatu.
Untuk lebih tegasnya, citra dapat dipahami sebagai campuran
persepsi terhadap suatu objek baik itu perorangan atau lembaga.
Citra merupakan hasil gabungan dari semua kesan yang didapat,
baik itu dengan melihat simbol, mengamati perilaku, mendengar
atau membaca aktifitas atau melalui bukti material lainnya. Namun
demikian, citra yang paling memuaskan muncul jika didasarkan
pada kenyataan. Mengutip penjelasan Anggoro, bahwa bahwa citra
ideal akan memberikan kesan yang benar. Citra tersebut selalu
didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman atas
kenyataan yang sesungguhnya, sehingga citra tidak seyogyanya
Arifin Anwar, Komunikasi Politik: Paradigma, Teori, Aplikasi, Strategi dan
komunikasi Politik Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 178.
14
15
Ibid, h. 179.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
28 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
dipoles agar lebih indah dari warna aslinya, karena hal itu justru
dapat mengacaukan.16
Frank Jefekins menjelaskan, bahwa ada lima jenis citra, yaitu
citra bayangan (mirror image), citra yang berlaku (current image),
citra harapan (wish image), citra perusahaan/ kelembagaan (corporate
image), citra majemuk (multiple image).17
a. Citra Bayangan (Mirror Image)
Citra bayangan adalah citra yang melekat pada anggota-anggota
organisasi, dan melalui itulah orang lain atau pihak luar memberikan
penilaian terhadap organisasi bersangkutan. Dengan kata lain, citra
bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam, mengenai
pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini sering kali tidak tepat,
bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya
informasi, pengetahuan maupun pemahaman yang dimiliki oleh
kalangan dalam organisasi mengenai pendapat atau pandangan pihak
luar. Citra ini cenderung positif, bahkan terlalu positif, karena bisa
dibayangkan hal yang serba hebat mengenai diri sendiri, sehingga
muncul kepercayaan bahwa orang lain pun memiliki pemikiran yang
serupa dengan pemikiran orang dalam organisasi.
b. Citra yang Sedang Berlaku (Current Image)
Citra kekinian adalah kebalikan dari citra bayangan. Maksudnya
adalah suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak
luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra
bayangan, citra ini tidak berlaku selamanya, bahkan jarang, sesuai
dengan kenyataan karena semata-mata terbentuk dari pengalaman
atau pengetahuan orang-orang luar yang bersangkutan yang
biasanya tidak memadai. Biasanya pula citra ini cenderung negatif.
Citra ini ditentukan oleh banyak sedikitnya informasi yang dimiliki
oleh penganut atau mereka yang mempercayainya.
c. Citra yang Diharapkan (Wish Image)
Citra harapan adalah suatu citra yang diharapkan oleh pihak
pencitra. Citra ini juga tidak sama dengan citra yang sebenarnya. Biasanya
16
Frank Jefkins, Public Relations (Jakarta: Erlangga, 2002), h. 123.
17
Ibid, h. 74.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 29
citra harapan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang
ada, walaupun dalam kondisi tertentu, citra yang terlalu baik juga bisa
merepotkan. Namun secara umum yang disebut sebagai citra harapan itu
memang merupakan sesuatu yang berkonotasi lebih baik. Citra harapan
ini biasanya dirumuskan dan diperjuangkan untuk menyambut sesuatu
yang relatif baru, yakni ketika khalayak belum mempunyai informasi
yang memadai.
d. Citra Perusahaan / Kelembagaan (Corporate Image)
Citra lembaga adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan,
jadi bukan citra atas produk dan pelayanan saja. Citra lembaga terbentuk
oleh banyak hal. Hal-hal positif yang dapat meningkatkan citra lembaga
antara lain adalah sejarah lembaga yang gemilang, keberhasilankeberhasilan yang pernah diraih, reputasi yang baik sebagai pencipta
lapangan kerja dalam jumlah besar, kesediaan turut memikul tanggung
jawab sosial, komitmen mengadakan riset dan sebagainya.
e. Citra Majemuk (Multiple Image)
Setiap perusahaan atau organisasi pasti memiliki banyak unit dan
pegawai (anggota). Masing-masing unit dan individu tersebut memiliki
perilaku tersendiri, sehingga secara sengaja ataupun tidak mereka
pasti memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan jumlah
pegawai yang dimilikinya. Untuk menghindari berbagai hal yang tidak
diinginkan, variasi citra itu harus ditegakkan. Banyak cara yang dapat
ditempuh. Antara lain dengan mewajibkan semua karyawan untuk
mengenakan seragam, menyamakan jenis dan warna mobil dinas, bentuk
toko yang khas dan simbol-simbol tertentu serta hal-hal lainnya.
2. Urgensi Pencitraan Politik
Secara historis, pencitraan politik menjadi salah satu konsentrasi
kajian dalam komunikasi politik, sejak berubahnya sistem perpolitikan
di Indonesia dari monopolitik ke arah multi partai. Di dorong oleh
gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, perpolitikan
Indonesia berubah dengan warna tersendiri. Mobilitas politik massa
lahir ke permukaan dengan warna-warni yang berbeda. Wajah
perpolitikan secara nasional berubah drastis setelah sebelumnya
dalam kurun waktu 32 tahun terbungkam dalam kebijakan politik
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
30 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Orde Baru yang sarat nuansa otoriter. Seperti sebuah saluran pipa
air yang sudah lama tersumbat lalu kemudian terbuka lebar, maka
bermunculanlah wadah-wadah penampungan aspirasi publik
berupa partai politik baru. Munculnya partai politik baru, menandai
berakhirnya era monopolitik yang menjenuhkan dan melaju ke arah
perpolitikan yang bebas, demokratis dan kompetitif.18
Dalam perjalanannya, demokrasi dianggap sebagai sistem politik
yang paling sempurna. Hal itu dikarenakan demokrasi merupakan
sistem yang dapat diterima secara luas baik sebagai teori maupun
sebagai model bagi masyarakat. Di Indonesia sendiri, demokrasi
perpolitikan dapat dikatakan berjalan cukup dinamis. Indonesia
pernah menggunakan demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin,
demokrasi pancasila serta juga demokrasi langsung yang sampai
sekarang diterapkan, dimana demokrasi langsung diinterprestasikan
dengan pemilihan langsung oleh rakyat terhadap anggota legislatif
dan eksekutif. Oleh karena dipilih langsung, setiap orang yang akan
mewakili atau memimpin bangsa ini, haruslah orang yang didukung
oleh masyarakat atau setidaknya mayoritas masyarakat. Dalam
mekanisme demokrasi langsung, popularitas adalah satu hal yang
utama dan penting. Orang yang populer tentu saja merupakan orang
yang disukai banyak orang. Oleh karena itu, upaya untuk menjadi
populer berbondong-bondong dilakukan oleh para elit politik
dengan tujuan mendapatkan legitimasi politik dari masyarakat. Para
elit dituntut tidak hanya menguasai literatur-literatur ilmu politik
dan penguasaan basis massa di masyarakat baik secara primordial
maupun secara ideologis, namun para elit juga dituntut untuk bisa
18
Demokrasi merupakan sebuah bentuk sistem politik yang merupakan
respon terhadap sistem monarki-diktator pada Abad ke-5 SM. Namun pada
perkembangannya demokrasi lebih jauh dianggap sebagai jawaban (antitesa)
atas teokrasi dan monarki yang semakin jauh dari kesejahteraan rakyat. Konsep
mengenai demokrasi berasal dari gagasan-gagasan beberapa tokoh yang sampai
hari ini masih berpengaruh dalam dunia ilmu politik. Gagasan-gagasan seperti
gagasan Nicolo Machievelli tentang sekularisme, Thomas Hobes tentang kontrak
sosial, gagasan tentang negara dan pemisahan kekuasaan oleh John Locke yang
selanjutnya dikembangkan oleh Montesqiue serta gagasan tentang kedaulatan
rakyat dan kontrak sosial oleh J.J Rousseau. Lihat, Anthonius Sitepu, Sistem Politik
Indonesia (Medan: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara,
2004), h. 5-6.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 31
menjadi figur publik. Sebagaimana dijelaskan Vidyarini, bahwa
dalam wacana popular, tampilan-tampilan secara audio dan visual
dipercaya sebagai strategi yang ampuh untuk membuat orang
menjadi popular. Seseorang dapat menyenangkan hati rakyat dan
mendapatkan legitimasi dari rakyat, khususnya terhadap pemilih
pemula dan pemilih yang rasional (swing voter) dengan bantuan
media informasi dan komunikasi.19
Era demokrasi mendorong setiap partai berupaya memberikan
yang terbaik bagi masyarakat. Karena dalam era demokrasi, kompetisi
antara parpol semakin tinggi, sehingga salah satu tugas berat bagi
parpol adalah bagaimana caranya agar parpol tersebut bisa diterima
oleh masyarakat. Kondisi ini kemudian mendorong partai berupaya
menguatkan keberadaannya dengan berbagai strategi. Ada yang
menunjukkan eksistensinya dengan menonjolkan programnya, ada
yang menonjolkan ketokohan, simbol-simbol, jargon-jargon hingga
singkatan nama. Hal itu semua dilakukan partai dalam rangka
membentuk popularitas. Dalam wacana politik, kegiatan tersebut
dinamakan sebagai politik pencitraan yang merupakan salah satu
strategi untuk memenangkan kontestasi politik. Pencitraan adalah
sebagai salah satu strategi baru, di samping strategi yang lebih klasik
yaitu dengan strategi penggalangan suara melalui jaringan politik
partai.
Strategi politik pencitraan digunakan sebagai media untuk
mempublikasikan akuntabilitas politik para kontestan politik.
Pencitraan tersebutlah yang semakin berkembang dan atraktif, ketika
sistem pemilihan langsung dalam Pemilu 2004 dan terlihat hingga
Pemilu 2009. Masa kampanye yang lebih lama dan sistem suara
terbanyak, memungkinkan satu partai, baik secara institusional
maupun individual untuk melakukan pencitraan politik yang lebih
beragam dan menarik. Bahkan sejumlah partai memanfaatkan jasa
media massa, hotline advertising, dan sebagainya untuk memuluskan
pencitraannya. Pemilu Presiden 2004 yang dimenangkan Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, merupakan indikasi kuatnya
19
Titi Nur Vidyarini, “Politik dan Budaya Populer Dalam Kemasan Program
Televisi” dalam Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol.2, No. 1, Januari 2008 (Pusat Penelitian
Universitas Kristen Petra: 2008), h. 33
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
32 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
pencitraan politik yang dilakukan SBY. Sebagai calon Presiden
yang berasal dari partai kecil dan dicalonkan oleh beberapa partai
kecil waktu itu, SBY berhasil mengalahkan 2 calon kuat dari partai
yang memiliki basis masa yang kuat di tingkat akar rumput, seperti
Wiranto yang dicalonkan partai Golkar pemenang pemilu 2004,
dan Megawati Soekarno Putri yang dicalonkan Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan yang merupakan pemenang kedua.
Proses pencitraan juga dilakukan partai dengan menggunakan
simbol-simbol, jargon-jargon dan lain sebagainya. Di antara simbol
dan jargon yang digunakan partai, misalnya “Bersama Kita Bisa”
adalah jargon yang disampaikan SBY pada pemilu 2004, yang pada
akhirnya mengantarkan SBY ke kursi RI-1. Jargon lain berbunyi
“Hidup adalah Perbuatan” yang didengungkan oleh Sutrisno Bachir
salah satu elit Partai Amanat Nasional, “Lebih Cepat Lebih Baik” yang
dikumandangkan oleh Muhammad Jusuf Kalla seorang politisi senior
Partai Golkar sekaligus Calon Presiden Partai Golkar Pada Pemilihan
Presiden 2009. Bahkan, secara personal ada juga elit politik yang
mendengungkan jargon yang khas versi pribadi elit bersangkutan,
misalnya Rizal Malarangeng mengumandankan “When There is a
While There is Way, kemudian Rizal Ramli dengan jargon “Indonesia
Tanpa Hutang” yang secara kebetulan Rizal Ramli adalah sebagai
penggagas blok perubahan.
Di samping menggunakan jargon-jargon sebagaimana yang
telah disebutkan di atas, tindakan-tindakan simbolis sebagai bentuk
pencitraan dipertunjukkan juga oleh para elit politik melalui media
massa. Sebagai Wakil Presiden pendamping Jusuf Kalla (Partai
Golkar), Jendral TNI (Purn) Wiranto (HANURA) mempertontonkan
adegan dramatis, menyentuh, dan menggugah ketika Wiranto
memakan nasi aking di tengah kerumunan keluarga miskin di Serang,
Banten. Ia merasakan sendiri betapa nasi aking tidak enak dan tidak
layak untuk dimakan. SBY juga pernah meneteskan air mata ketika
berkunjung ke Aceh untuk melihat kondisi masyarakat Aceh pasca
terjadinya bencana tsunami. Terlepas dari kepedulian kedua tokoh
terhadap keadaan yang sebenarnya, namun dari tinjauan politik
dipahami bahwa keduanya sedang sama-sama melakoni pencitraan
dalam rangka kontestasi politik yang sedang berlangsung. Wiranto
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 33
dan SBY secara tidak langsung membangun simulasi politik untuk
menciptakan citra atau gambaran tersendiri di mata publik. Masingmasing ingin menunjukkan kepada publik bahwa mereka adalah
calon pemimpin yang dekat, peduli dan mengerti dengan rakyat.
Apa yang dilakukan kedua tokoh di atas, erat kaitannya dengan
penjelasan Jon Simons, bahwa politik demokratis modern adalah
politik pencitraan, di mana persoalan penampilan lebih penting dari
substansi, dan kepribadian lebih penting dari pada kebijakan.20 Di
tinjau dari kajian antropologi politik, yang dilakukan oleh Wiranto
dan SBY merupakan salah satu bentuk politik simbolisme (politics
of symbolism). Dalam kampanye politik simbol dan atribut yang
digunakan para politisi merupakan bentuk komunikasi nonverbal
yang mampu membentuk persepsi masyarakat. Brian McNair
sebagaimana dikutip Mulyana, menjelaskan bahwa model jas, gaya
rambut, sudut pengambilan kamera atau warna penataan panggung
adalah contoh-contoh aspek pesan yang dapat mempengaruhi persepsi
khalayak mengenai komunikator dan pesan yang disampaikan21
Namun menariknya dari perkembangan demokrasi di Indonesia,
masyarakat mulai banyak belajar untuk menterjemahkan proses
simbolisme dan pencitraan yang dilakukan para elit politik. Ada
masyarakat yang mulai cerdas menilai, bahwa apa yang dilakukan
oleh seorang kandidat atau satu partai pada saat menjelang Pemilu,
adalah bentuk pencitraan, agar partai atau kandidat bersangkutan
dianggap baik.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa citra politik
terbentuk berdasarkan informasi yang diterima, baik langsung
maupun melalui media politik. Citra politik merupakan salah satu
efek dari komunikasi politik dalam paradigma atau perspektif
mekanistis, yang pada umumnya dipahami sebagai kesan yang
melekat dibenak individu atau kelompok. Citra politik juga berkaitan
dengan pembentukan opini publik, karena pada dasarnya opini
publik politik terbangun melalui citra politik. Sedangkan citra politik
Jon Simons, The Power Of Political Images (Bloomington: American Political
Science Association, 2006), h. 1.
20
21
Dedy Mulyana, Komunikasi Politik, Politik Komunikasi (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2014), h. 14.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
34 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
terwujud sebagai konsekuensi kognisi dari komunikasi politik. Robert
sebagaimana dikutip Anwar Arifin menyatakan bahwa komunikasi
tidak secara langsung menimbulkan pendapat atau perilaku tertentu,
tetapi cenderung memengaruhi cara khalayak mengorganisasikan
citranya tentang lingkungan dan citra itulah yang memengaruhi
pendapat (opini) atau perilaku khalayak.22 Dengan demikian,
pencitraan politik akan membantu dalam pemahaman, penilaian,
pengindentifikasian peristiwa, gagasan tujuan atau pemimpin politik.
Jelasnya, pencitraan politik membantu seseorang dalam memberikan
alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang mengapa segala
sesuatu hadir sebagaimana tampaknya tentang referensi politik.
Para politikus atau pemimpin dalam politik sangat berkepentingan
dalam pembentukan citra politik dirinya melalui komunikasi politik
dalam usaha menciptakan stabilitas sosial dan memenuhi tuntutan
rakyat. Maka tidak berlebihan, bila menjelang Pilpres 2009 dan 2014
yang lalu, figur-figur yang muncul berusaha keras menciptakan dan
mempertahankan tindakan politik yang dapat membangkitkan citra
yang memuaskan, supaya dukungan opini publik dapat diperoleh
dari rakyat sebagai khalayak komunikasi politik. Misalnya pernyataan
presiden atau wakil presiden dalam konferensi pers atau dalam sebuah
pidato mengenai kesulitan perekonomian yang telah teratasi akibat
sebuah kebijakan. Untuk itu politikus harus berusaha menciptakan dan
mempertahankan tindakan politik yang membangkitkan citra yang
memuaskan, supaya dukungan opini publik dapat diperoleh dari rakyat
sebagai khalayak komunikasi politik.
Menurut Anwar Arifin, di negara-negara yang mengedepankan
budaya politik mencari kekuasaan, politik pencitraan sangat penting.
Persaingan politik bebas atau demokrasi, semakin menguatkan
pentingnya pencitraan politik. Arifin menegaskan, bahwa dalam
konteks perpolitikan di Indonesia, pencitraan politik semakin
menguat, ketika Indonesia menerapkan sistem pemilu langsung
berdasarkan suara terbanyak. Janji politik yang dikemas dengan
berbagai bentuk dan disebarkan melalui media massa merupakan
salah satu bentuk pencitraan politik.23
22
Arifin, Komunikasi Politik, , h. 178.
23
Ibid., h. 29-30.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 35
Pentingnya pencitraan dalam peta politik juga dijelaskan Yasraf
Amir Piliang sebagaimana dikutip Tinarbuko, bahwa dalam politik
abad informasi, citra politik seorang tokoh yang dibangun melalui
aneka media cetak dan elektronik seakan menjadi mantra yang
menentukan pilihan politik. Melalui mantra elektronik itu, maka
persepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat dibentuk bahkan
dimanipulasi. Ia juga telah menghanyutkan para elit politik dalam
gairah mengkonstruksi citra diri, tanpa peduli relasi citra itu dengan
realitas sebenarnya. Politik kini menjelma menjadi politik pencitraan,
yang merayakan citra ketimbang kompetensi politik.24
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pencitraan
dalam pentas demokrasi di Indonesia, dapat dikatakan sebagai
politikal marketingnya para politikus untuk menarik minat dan
kepercayaan dari masyarakat. Para kandidat atau politisi yang
sedang berkompetisi, dipasarkan mirip sebuah produk dan dijual
dengan cara yang berbeda-beda untuk memikat publik. Maka tidak
mengherankan jika politisi memanfaatkan konsep pencitraan untuk
menjembatani jarak antara pemilih dengan apa yang sesungguhnya
tersimpan di benak para pemilih. Dalam kaitan ini, pencitraan politik
sebenarnya lebih dari sekedar strategi untuk menampilkan kandidat
kepada para pemilih. Tetapi juga berkaitan dengan kesan yang dimiliki
oleh pemilih baik yang diyakini sebagai hal yang benar atau tidak.
Artinya, citra lebih dari sekedar pesan yang dibuat oleh kandidat
ataupun gambaran yang dibuat oleh pemilih, tetapi citra merupakan
negosiasi, evaluasi dan konstruksi oleh kandidat dan pemilih dalam
sebuah usaha bersama. Dengan kata lain, keyakinan pemilih tentang
kandidat berdasarkan interaksi atau kesaling bergantungan antara
yang dilakukan oleh kandidat dan pemilih.
Pencitraan dalam praktik politik demokrasi memiliki urgensi
yang sangat signifikan dalam mendukung keberadaan partai atau
kandidat yang sedang berkompetisi. Argumentasi ini dikuatkan
oleh Arifin, bahwa politik pencitraan atau pencitraan politik sangat
penting di negara-negara yang menganut budaya politik yang
bertujuan untuk mencari atau merebut kekuasaan, terutama negara
24
Sumbo Tinarbuko, Iklan Politik Dalam Realitas Media (Yogyakarta: Jalasutra,
2009), h. 7.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
36 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
yang menganut libertarian. Tetapi di negara yang menganut ideologi
otoritarian atau komunis, pencitraan tidak begitu diperlukan, sebab
kekuasaan tidak diperebutkan pada negara tersebut.25 Selanjutnya
Arifin menyebutkan, ada empat urgensi pencitraan politik, yaitu
untuk persaingan politik, menangkal khalayak politik, mempersuasi
dan menyugesti, terpaan dan kekuatan media.26
a. Persaingan Politik
Sejak tumbangnya rezim Orde Baru, maka berakhirlah kekuasaan
otoriter di Indonesia yang digantikan oleh era demokrasi, sebagai
produk dari ideologi libertarian. Sejalan dengan itu, muncul liberasi
politik dengan kemasan demokratisasi politik yang sesungguhnya
bukan produk asli Indonesia. Liberasi politik mendorong munculnya
banyak partai. Secara realitas terlihat, bahwa besarnya jumlah
partai yang mengikuti Pemilu jelas menambah nuansa dan tekanan
persaingan. Konsep persaingan yang selama ini tidak terlihat
pada masa Orde Baru, tiba-tiba saja menjadi hal yang mewarnai
pemandangan dalam nuansa perpolitikan Indonesia pascareformasi.
Kondisi ini serta merta mendorong lahirnya persaingan bebas dalam
memperoleh atau memperebutkan kekuasaan. Dalam persaingan
yang semakin ketat itu pula, partai-partai mulai menerapkan teori
pencitraan. Partai politik semakin agresif dan aktif mencari dan
berburu suara di luar basis pendukung tradisional.
Bila diikuti perkembangan demokrasi yang berlangsung
di Indonesia, kunci dari proses pertarungan politik tersebut
adalah bagaimana beragam informasi politik dikontestasikan
dan dikonstruksikan dalam arena politik, sehingga mampu
mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku pemilih. Setiap saat,
informasi politik terus berkembang karena meluasnya isu-isu politik
dan dalam waktu yang bersamaan juga, isu-isu politik tersebut
semakin ramai diperbincangkan oleh masyarakat dari beragam latar
belakang kelas sosial. Informasi politik yang sering diperdebatkan
menyangkut dua hal, yaitu terkait dengan partai politik dan para elit
yang menjadi kandidat dalam sebuah kontestasi politik. Di Indonesia,
25
Arifin, Politik, h. 29.
26
Ibid, h. 29-38.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 37
para elit politik pun berusaha membangun pencitraan untuk meraih
simpati dari masyarakat, sehingga intensitas persaingan di ruang
publik, termasuk di media terlihat sangat jelas.
Menurut Nyarwi Ahmad, ada tiga hal yang melatar belakangi
intensitas peningkatan pertarungan politik pencitraan, yaitu ketatnya
persaingan antara kontestan, tingginya permintaan masyarakat dan
faktor kultural.27 Pertama, ketatnya persaingan politik antarpartai
atau antarkandidat yang bertarung dalam kontestasi politik. Hal
ini misalnya dapat diperhatikan bagaimana persaingan politik
menjelang arena Pemilu Legislatif, Pemilu DPD, Pemilu Presiden
dan Pemilihan Kepala Daerah. Pertarungan politik tidak hanya
terkait dengan kondisi aktual masing-masing parpol, akan tetapi juga
terkait dengan para kandidat. Keterbatasan publik dalam mengakses
informasi, turut mendorong partai dan para kandidat untuk
menyampaikan informasi politik yang positif sebanyak-banyaknya
tentang dirinya, dan berusaha meminimalisir informasi politik
negatif yang ada pada dirinya. Partai atau para kandidat juga selalu
berusaha mengemas ragam informasi politik tentang dirinya dan
atribut lain yang positif bagi dirinya agar sampai ke benak publik.
Bahkan ketatnya persaingan politik, juga dibarengi dengan inovasiinovasi baru dalam menyebarkan dan mengelola informasi dan
pesan-pesan politik. Para kompetitor politik pada umumnya tidak
hanya sekedar menyampaikan informasi politik tentang dirinya,
akan tetapi memberikan informasi politik negatif juga terhadap
kompetitornya. Pola ini dijalankan dengan teknik-teknik pencitraan
dan persuasif yang cukup canggih oleh para tim pemenangan dan
para konsultan politik.
Kedua, ketatnya persaingan politik juga dipengaruhi oleh
perubahan permintaan para pemilihnya. Pemilih, ada kalanya disebut
sebagai pemilih rasional dan ada yang disebut pemilih emosional.
Di sebuah daerah, adakalanya pemilih rasional merupakan jumlah
terbanyak, namun adakalanya kalangan pemilih jenis seperti ini
sedikit. Bagi kalangan pemilih rasional misalnya, pertarungan
informasi politik dan pesan-pesan politik makin sengit dilakukan
27
Nyarwi Ahmad, Manajemen Komunikasi Politik dan Marketing Politik: Sejarah,
Perspektif dan Perkembangan Riset (Yogyakarta: Pustaka Zaman, 2012), h. 72-74.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
38 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
oleh masing-masing parpol dan kandidat. Hal ini dimaksudkan
untuk membentuk, mempengaruhi, merubah maupun memperkuat
persepsi, keyakinan maupun perilaku para pemilih agar sejalan
dengan kepentingan parpol atau kandidat untuk memenangkan
Pemilu maupun Pemilukada.
Ketiga, faktor kultural. Persaingan dan pertarungan politik
juga dipengaruhi oleh faktor kultural. Faktor kultural menyangkut
budaya komunikasi politik para elit dan juga budaya komunikasi
politik publik. Ada beragam tipe budaya komunikasi masyarakat
dalam menyampaikan informasi dan pesan-pesan politik. Ada yang
cenderung ekplisit, terang-terangan dan sebaliknya ada juga yang
cenderung implisit, disampaikan dengan bahasa yang halus. Pola
penghormatan masyarakat terhadap elit juga menentukan cara
bagaimana mereka menyebarkan informasi dan pesan-pesan politik
ketika menyangkut elit politik. Rezim moral dan budaya di sini
menjadi faktor penentu bagaimana diskursus informasi dan pesan
pesan politik dilakukan oleh publik dan elit poitik.
Meningkatnya arus kontestasi politik parpol dan kandidat
dalam arena pemilu dan Pilkada, merupakan fakta yang tidak dapat
dihindarkan. Terutama pasca reformasi yang dibarengi dengan
munculnya parpol-parpol baru semakin menguatkan praktik
pencitraan politik. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa
citra politik terbentuk berdasarkan informasi yang diterima, baik
langsung maupun melalui media. Citra politik seseorang akan
membantu dalam pemahaman, penilaian dan pengidentifikasi
peristiwa, gagasan, tujuan atau pemimpin politik. Citra politik juga
membantu bagi seseorang dalam memberikan alasan yang dapat
diterima secara subjektif, tentang mengapa segala sesuatu hadir
sebagaimana tampaknya tentang referensi politik. Citra politik akan
menjadi perhatian penting jika seseorang menganggap bahwa dalam
memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan psikologis, hanya dapat diatasi
dan dilakukan oleh negara.
Para politikus atau pemimpin politik sangat berkepentingan
dalam pembentukan citra politik dirinya. Namun dapat dipahami,
bahwa selain para politikus atau pemimpin politik, lembaga-lembaga
seperti lembaga eksekutif, lembaga legislatif dan lembaga yudikatif
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 39
sangat berkepentingan untuk melakukan pencitraan. Tetapi di
antara semua lembaga yang telah disebutkan, paling berkepentingan
terhadap upaya pencitraan adalah partai politik, karena partai politik
berkompetisi dengan sejumlah partai lainnya, terutama dalam
aktivitas memenangkan pemilihan umum yang berlangsung secara
periodik. Karena kompetisi berlangsung secara terus-menerus, maka
masing-masing partai politik berupaya menunjukkan citra positifnya
untuk menarik perhatian dan simpatik dari kalangan pemilih.
Strategi pencitraan yang dilakukan partai politik, tidak dilakukan
secara instan, melainkan dengan cara berkesinambungan. Hal ini
dilatar belakangi persaingan politik antarpartai. Di samping itu,
khayalak, publik atau rakyat ingin mengetahui kesesuaian dirinya
dengan ideologi, visi dan misi kerja serta kinerja dan reputasi suatu
partai politik dan tokoh-tokohnya.
Secara esensial, citra politik diciptakan, dibangun, dibina, dan
diperkuat setiap tokoh politik maupun partai politik melalui komunikasi
politik yang intensif. Hal itu berkaitan dengan kondisi persaingan
politik yang semakin kompetitif. Pesan-pesan politik disusun dan
dikemas sedemikian rupa untuk menimbulkan citra yang diinginkan,
terutama agar tercipta citra yang lebih indah dari warna aslinya. Upaya
memperoleh kemenangan dalam persaingan politik yang semakin sengit,
mendorong lahirnya berbagai cara, metode, tindakan, siasat, terutama
dalam melakukan pencitraan politik. Upaya-upaya itu dilakukan
partai dan kontestan dalam berbagai bentuk komunikasi politik, seperti
retorika, agitasi, propaganda dan iklan politik yang terorganisir melalui
media maupun secara langsung.
Pencitraan politik dengan segala aspek negatif maupun positifnya
terus berkembang, terutama karena setiap warga negara dalam sistem
politik demokrasi berhak dipilih dan memilih dalam suatu pemilihan
umum. Artinya, setiap warga negara di negara yang menganut
demokrasi memiliki kebebasan berkumpul dan mengeluarkan
pikirannya, baik secara lisan maupun tulisan. Adanya kemerdekaan
berserikat dan berkumpul, dengan sendirinya mendorong semakin
terbukanya persaingan dalam memperebutkan kekuasaan. Partai
politik dalam kaitan itu, terus menerus melakukan sosialisasi politik
secara bebas untuk membangun citra politik dan opini publik. Di
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
40 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Indonesia sendiri, partai politik masih dipandang sebagai wadah utama
dalam menyalurkan dan menampung aspirasi politik ketimbang sarana
lainnya. Partisipasi politik masyarakat masih terfokus pada penyaluran
aspirasi politik melalui pemilihan umum.28
Masyarakat Indonesia telah belajar banyak dari proses demokrasi
yang diperkenalkan pasca runtuhnya Orde Baru sejak tahun 1998.
Sistem pemilu di Indonesia berlahan berkembang kearah yang lebih
demokratis sejak reformasi tahun 1998. Pemilu 2004 merupakan
pemilu legislatif pertama yang diadakan secara langsung. Hal ini
mengindikasikan bahwa rakyat telah lebih banyak dilibatkan dalam
proses politik. Trend ini berlanjut hingga tahun 2009 hanya saja
bedanya, jika pemilu legislatif 2004 berdasarkan nomor urut, maka
pada pemilu legislatif 2009 berdasarkan suara terbanyak. Dalam
proses Pemilu legislatif tahun 2009 muncul fenomena menarik
untuk diperbincangkan dalam kaitannya dengan pelaksanaan pesta
demokrasi, terutama yang menyangkut kompetisi antarpartai politik
dalam upaya mempertahankan eksistensinya.
b. Menangkal Khalayak Politik
Dalam perspektif ilmu komunikasi, Anwar Arifin menggagas
perlunya strategi komunikasi politik dalam menciptakan efektivitas
pencitraan politik. Di antara tindakan strategis tersebut kata Arifin
adalah menciptakan kebersamaan dengan memahami khalayak,
menyusun pesan persuasif dan menetapkan metode serta memilih
media. Suasana homofili yang harus diciptakan antara politikus
dengan khalayak menurut Arifin adalah persamaan bahasa (simbol
komunikasi), persamaan busana, persamaan kepentingan dengan
khalayak terutama mengenai pesan politik, metode dan media
politik. Namun yang sangat penting adalah siapa tokoh yang akan
melakukan komunikasi kepada khalayak. Artinya, politikus atau
28
Pemilihan umum merupakan salah satu ciri dari sistem politik demokrasi.
Dalam masyarakat demokrasi, pemilihan umum dan institusi legislatif merupakan
penghubung yang sah antara rakyat dan pemerintah. Pemilihan umum menjadi
mekanisme politik untuk melakukan rekruitmen dan seleksi orang-orang yang akan
duduk dalam lembaga perwakilan. Ramlan Surbakti menyebutnya, bahwa dalam
sistem demokrasi, cara yang digunakan oleh suatu partai politik untuk mendapatkan
dan mempertahankan kekuasaan ialah ikut serta dalam pemilihan umum. Lihat,
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: PT. Grasindo, 2010), h. 149.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 41
aktivis telah memiliki banyak persamaan dengan khalayak dan
mengetahui khalayaknya.29
Memahami khalayak akan memudahkan pencapaian tujuan
politik. Hal ini mengingat bahwa komunikasi merupakan dua alur
proses antara kedua belah pihak yang berkomunikasi. Proses alur
komunikasi akan terpenuhi jika komunikator memahami khalayaknya
dengan baik. Bahkan kebutuhan dan motivasi individu-individu
yang akan menjadi khalayak politik, juga harus dikenal, diketahui
dan dipahami. Demikian juga pengetahuan dan kemampuan
khalayak dalam mengakses pesan-pesan politik, baik langsung
maupun melalui media. Sebagaimana dijelaskan Alo Liliweri, bahwa
komunikasi efektif akan tercapai jika komunikator mampu mengenali
khalayaknya, mampu menjawab kebutuhan khalayak dengan baik,
mampu menyampaikan pesan yang dipercayai dan disukai audiens.30
Terkait dengan pemahaman khalayak politik, beberapa hasil
studi menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap khalayak,
karena para pemilih memberikan suaranya kepada partai atau
kandidat yang sesuai dengan ideologi politiknya. Artinya, partai
atau kandidat yang tidak sesuai dengan ideologi politiknya akan
ditinggalkan. Itulah sebabnya, pemahaman terhadap khalayak sangat
penting. Khalayak sebagai pihak yang menjadi sasaran komunikasi
politik pencitraan, tidak boleh dianggap sebagai khalayak yang
pasif yang bisa diperlakukan sesuai dengan keinginan komunikator
politik.
Menurut Arifin, pada masyarakat yang menganut kebebasan
memilih (demokrasi), daya aktifnya akan lebih kuat, sehingga
membuat citra pada khalayak dan opini publik lebih dinamis karena
khalayak memiliki daya tangkal yang kuat. Menurut Arifin, studi
tentang daya tangkal khalayak sudah dikembangkan oleh para pakar
dalam perspektif psikologi komunikasi manusia. Raymon Bauer
(1964) mengembangkan teori khalayak kepala batu (the obstinate
audience) yang diperkenalkan oleh I.A. Richards sejak tahun 1936
dan diamalkan oleh para ahli retorika di zaman Yunani dan Romawi
Arifin Anwar, Komunikasi Politik – Filsafat, Paradigma, Teori, Tujuan dan
Komunikasi Politik Indonesia (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), h. 63-64.
29
30
Alo Liliweri, Komunikasi Serba Ada Serba Makna (Jakarta: Kencana, 2011), h. 125.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
42 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Klasik. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap teori peluru dan
mereka tidak percaya bahwa khalayak bersifat pasif dan tidak mampu
melawan keperkasaan media. Khalayak justru sangat berdaya dan
sama sekali tidak pasif dalam proses komunikasi politik. Khalayak
memiliki daya tangkal dan daya serap terhadap semua terpaan pesan
kepada mereka. Komunikasi merupakan transaksi, pesan yang masuk
akan disaring, diseleksi, kemudian diterima atau ditolak melalui
filter konseptual. Namun demikian, meskipun khalayak memiliki
daya tangkal terhadap informasi yang disampaikan, khalayak keras
kepala atau kepala batu, tapi bagi pendukung teori peluru (the bullet
theory) atau jarum suntik hipodermik (the hypodermic needle theory)
tetap berkeyakinan, bahwa citra dan opini publik dapat dibangun,
dibentuk, dan diperkuat melalui komunikasi politik yang intensif
dan efektif. Komunikasi itu bisa dilakukan melalui iklan politik,
kampanye, propaganda, agitasi, dan pidato.31
c. Persuasi dan Sugesti
Pencitraan politik atau politik pencitraan dapat juga dikategorikan
sebagai salah satu bentuk persuasi politik yang dilakukan partai
dan para politisi untuk merebut hati rakyat. Sebagaimana juga
yang ditegaskan Arifin, bahwa diantara metode yang paling sering
digunakan para politisi untuk menundukkan khalayak, selain metode
informatif, edukasi dan koersif adalah metode persuasi.32 Persuasi
adalah salah satu bentuk komunikasi paling mendasar. Persuasi
didefenisikan sebagai perubahan sikap akibat paparan informasi dari
Arifin, Politik Pencitraan, h. 34. Dalam teori peluru (bullet theory) atau model
jarum hipodermis, audience dianggap pasif maksudnya adalah pengertian yang
menganggap bahwa masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh media. Mereka
secara pasif menerima apa yang disampaikan media. Mereka menerima secara
langsung apa-apa yang disampaikan oleh media atau dengan kata lain, media of power
full. Berbeda dengan pandangan Uses and Gratification Theory, audience dianggap
sebagai audience yang aktif dan diarahkan oleh tujuan. Audience sangat bertanggung
jawab dalam memilih media untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Dalam
pandangan ini, media dianggap sebagai satu-satunya faktor yang mendukung
bagaimana kebutuhan terpenuhi, dan audiens dianggap sebagai perantara yang
besar. Mereka tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhi kebutuhan
tersebut atau dengan kata lain, mereka lebih selektif dalam menerima pesan-pesan
media. Mereka juga selektif dalam memilih dan menggunakan media.
31
32
Arifin, Politik, h. 37.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 43
orang lain. Sikap tersebut dapat diungkapkan dari rasa suka atau
tidak suka. Sikap tersebut sering dianggap memiliki tiga komponen,
yaitu: Pertama, komponen afektif, yaitu kesukaan atau perasaan
terhadap sebuah objek. Kedua, komponen kognitif, yaitu keyakinan
terhadap sebuah objek. Ketiga, komponen berkaitan dengan perilaku,
yaitu tindakan terhadap objek.33 Pencitraan yang positif akan
berpengaruh positif terhadap sikap, kepercayaan dan tingkah laku
orang yang dipersuasi. Demikian sebaliknya, pencitraan negatif akan
berpengaruh negatif terhadap sikap orang yang dipersuasi. Dengan
demikian, pencitraan dalam komunikasi politik sangat tergantung
dengan usaha-usaha persuasi yang dilakukan sesuai dengan tujuan
yang diinginkan oleh orang yang sedang melakukan persuasi. Pada
konteks inilah, dibutuhkan manajemen pencitraan atau satu penataan
dan pengelolaan terhadap suatu kegiatan yang mempunyai dampak
positif terhadap pencitraan.
Menurut Marwoto, istilah persuasif yang dalam bahasa Inggris
disebut persuation berasal dari kata kerja to persuade yang artinya
membujuk atau meyakinkan. Jadi persuasi adalah wacana yang
berisi paparan berdaya bujuk, ataupun berdaya himbau yang
dapat membangkitkan ketergiuran dan keyakinan orang yang
dipersuasi sehingga orang tersebut menuruti himbauan implisit
maupun eksplisit yang dilontarkan oleh yang mempersuasi.34 Dari
sini dipahami bahwa persuasi adalah usaha seseorang dengan cara
memberikan alasan yang meyakinkan orang lain untuk berbuat dan
bertindak seperti yang diharapkan tanpa paksaan. Dengan demikian,
persuasi memerlukan upaya-upaya tertentu untuk merangsang
orang mengambil keputusan sesuai dengan keinginan orang yang
mempersuasi. Upaya yang bisa digunakan adalah menyodorkan
bukti-bukti, walaupun tidak setegas yang dilakukan dalam
argumentasi. Dan Nimmo menjelaskan, ada tiga macam persuasi
dalam komunikasi politik: (a) propaganda, (b) iklan politik/iklan
massa, dan (c) retorika. Propaganda diarahkan kepada individuindividu sebagai anggota suatu kelompok masyarakat. Iklan
Werner J. Severin dan James W. Tankard Jr, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan
Terapan di Dalam Media Massa, terj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Kencana, 2005), h. 177.
33
34
Marwoto, Komposisi Praktis (Yogyakarta: Hanindita, 1997), h. 176.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
44 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
diarahkan kepada individu sebagai unit-unit yang anonym dalam
suatu kelompok yang lebih luas. Sementara retorika mempunyai
sifat one to one communication dan biasanya terjadi proses timbal balik
antara pembicara dengan khalayaknya.35
Masyarakat yang ada di negara demokrasi merupakan khalyak
yang dapat menentukan pesan politik agar disampaikan oleh para
politikus dalam kampanye maupun citra politik yang dibangun
politikus tersebut. Dalam hal ini, pesan politik yang disusun setelah
mengetahui kondisi khalayak dapat disebut sebagai ajakan yang
positif. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pesan
politik yang bersifat persuasif, yaitu menentukan tema dan materi
yang sesuai dengan kondisi dan situasi khalayak. Harus disadari
bahwa individu dalam saat yang bersamaan, selalu dirangsang oleh
banyak pesan dari berbagai sumber, termasuk pesan politik. Tetapi
tidaklah semua rangsangan itu dapat mempengaruhi khalayak,
kecuali hanya pesan yang memenuhi syarat. Upaya yang dapat
dilakukan dalam menyusun politik persuasif ialah membangkitkan
perhatian khalayak terhadap pesan-pesan yang disampaikan.
Agar komunikasi persuasif mencapai tujuan yang diinginkan,
perlu diperhatikan tahapan komunikasi persuasi, dalam hal ini lazim
dikenal dengan model AIDDA yang merupakan singkatan dari, A
(awareness= kesadaran), I (interest = perhatian), D (desire: hasrat),
D (decision = keputusan), A (action = kegiatan). Model komunikasi
AIDDA ini meskipun sifatnya linear, namun banyak digunakan
dalam kegiatan penyuluhan dan promosi karena di samping
sederhana, juga mudah diaplikasikan pada hal-hal yang bersifat
praktis. Awareness (kesadaran) atau attention (perhatian) tertuju
untuk menanamkan kesadaran pada khalayak terkait dengan apa
yang dipromosikan, sehingga khalayak dapat menyadari dan benarbenar memperhatikan apa manfaat dan keuntungan dari apa yang
ditawarkan kepada mereka. Interest (perhatian) dilakukan dalam
rangka menarik perhatian khalayat terhadap apa yang ditawarkan.
Perhatian khalayak biasanya muncul karena mereka merasa apa yang
ditawarkan tersebut mereka butuhkan. Desire (keinginan) merupakan
35
Dan Nimmo, Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan dan Media (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2006), h., 123-140.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 45
proses yang terjadi setelah timbul perhatian dan kesadaran khalayak
terhadap tawaran yang diberikan. Pada tahap ini, khalayak memiliki
keinginan untuk memilih atau tidak memilih. Decision (keputusan)
adalah tindakan yang dilakukan khalayak dalam bentuk keputusan
setelah melalui banyak pertimbangan. Action (tindakan) yaitu
perlakuan atau bentuk aksi yang dilakukan oleh khalayak, misalnya
memilih sesuai dengan harapan yang diinginkannya. Prosedur ini
sering juga disebut dengan A-A Procedure sebagai singkatan Attention
– Action Procedure yang berarti akhir dari kegiatan ini adalah kerelaan
komunikan menerima gagasan yang disampaikan tanpa paksaan.36
Gambaran model komunikasi AIDDA dapat dilihat pada bagan
di bawah ini.
Gambar 2. 2. Model komunikasi AIDDA
Onong Uchjana Effendy mengemukakan beberapa teknik
komunikasi persuasif, yaitu: 1). Teknik asosiasi. Penyajian pesan
komunikasi dengan cara menumpangkan suatu objek atau peristiwa
yang menarik perhatian khalayak. 2). Teknik integrasi. Kemampuan
36
Haified Cangara, Perencanaan dan Strategi Komunikasi (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2013), h. 79.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
46 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
komunikator untuk menyatu dengan komunikan. Artinya dengan
pendekatan verbal atau non verbal, komunikator menempatkan dirinya
merasakan hal yang sama dengan komunikan. 3). Teknik ganjaran.
Mempengaruhi orang lain dengan cara memberikan iming-iming
atau reward dari komunikator kepada komunikan. 4) Teknik tataran.
Menyusun pesan dengan secermat mungkin agar menarik, enak didengar
atau dibaca dan pada akhirnya akan menggiring khalayak bertindak
seperti yang diinginkan komunikator. 5). Teknik red-herring. Seni seorang
komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan
mengelakkan argumentasi yang lemah untuk kemudian mengalihkanya
sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna dijadikan senjata
ampuh dalam menyerang lawan. Teknik ini digunakan komunikator
ketika dalam keadaan terdesak.37
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa persuasi selalu
bertujuan untuk membujuk, agar orang lain berubah pikirannya.
Dengan terjadinya perubahan pada pikiran seseorang, maka
diharapkan orang tersebut dapat menerima atau melakukan sesuatu
yang diinginkan sesuai dengan tujuan orang yang mempersuasi. Sebab
itu, untuk menciptakan kepercaayaan terhadap pesan-pesan yang
disampaikan, maka pesan persuasif harus dirancang dan diciptakan
sesuai dengan kesepakatan melalui kepercayaan. Pada akhirnya,
orang yang menerima persuasi akan turut puas dan gembira karena
ia tidak menerima keputusan itu berdasarkan ancaman dan paksaan.
Menurut Severin, proses persuasi dapat dilihat dari model yang
ditawarkan Greenwald yang lazim dikenal dengan model respons
kognitif. Model ini menyebutkan bahwa perubahan sikap dimediasikan
oleh pemikiran-pemikiran yang terjadi di benak penerima pesan. Berbeda
dengan yang dikemukakan oleh Hovland, bahwa semua perubahan
sikap didasarkan kepada proses pembelajaran. Bagi Greenwald, daya
tahan sebuah pesan dan penerimaan sebuah pesan adalah dua hal
yang berbeda. Seseorang dapat mempelajari materi dalam sebuah
pesan tanpa mengalami perubahan sikap. Dalam kasus persuasi
tertentu menurut Greenwald, penerima pesan mempertimbangkannya,
menghubungkannya dengan sikap-sikap, pengetahuan dan perasaan
37
Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2002), h. 22-24.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 47
yang ada.38
Selain model Greenwald, model persuasi lainnya yang
menjelaskan persuasi adalah teori pemrosesan informasi (information
processing theory) yang diperkenalkan McGuire (1968). Menurut
McGuire, perubahan sikap terdiri dari enam tahap, yang masingmasing tahap merupakan kejadian penting yang menjadi patokan
untuk tahap selanjutnya. Tahap-tahap tersebut, yaitu:
1. Pesan persuasif harus dikomunikasikan.
2. Penerima akan memperhatikan pesan.
3. Penerima akan memahami pesan.
4. Penerima terpengaruh dan yakin dengan argumen-argumen
yang disajikan.
5. Tercapai posisi adopsi baru.
6. Terjadi prilaku yang diinginkan.39
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa teori pemrosesan
informasi dari McGuire memberi pandangan yang bagus tentang proses
perubahann sikap. Dalam penjelasan lain, Keraf juga menegaskan ada
tujuh teknik yang dapat dilakukan dalam persuasi, yaitu teknik rasional,
teknik identifikasi, teknik sugesti, teknik konformitas dan teknik
konpensasi, teknik penggantian dan teknik proyeksi.40
Pertama, teknik rasional. Teknik rasional dalam kegiatan
persuasif dapat dikatakan sebagai suatu proses penggunaan
akal untuk memberikan suatu dasar pembenaran kepada suatu
persoalan. Kebenaran yang dibicarakan dalam persuasif bukanlah
suatu kebenaran mutlak, tetapi hanya kebenaran yang berfungsi
meletakkan dasar-dasar dan memuluskan jalan agar keinginan,
sikap, kepercayaan, keputusan atau tindakan yang telah ditentukan
atau diambil dapat dibenarkan. Rasionalisasi dalam persuasi akan
berlangsung dengan baik apabila pembicara mengetahui apa yang
menjadi kebutuhan dan keinginan khalayak, serta bagaimana sikap
dan keyakinan mereka. Ciri yang menonjol dalam teknik ini adalah
perlibatan rasio atau pemikiran yang mendalam.
38
Severin, Teori, h. 203.
39
Ibid, h. 204.
40
Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi (Jakarta: Gramedia, 1994), h. 124-131.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
48 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Kedua, teknik identifikasi. Dalam kegiatan persuasif, pembicara
harus menganalisa khalayak dan seluruh situasi yang dihadapinya
dengan seksama. Pembicara tentu akan lebih mudah mengidentifikasikan
dirinya dengan khalayak. Hal ini sering digunakan para calon wakil
rakyat dalam pemilu yang berusaha mengidentifikasikan dirinya sebagai
“wakil rakyat” atau sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam
lingkungan petani, nelayan, buruh, dan sebagainya. Karena ia merasakan
dan melihat sendiri apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang
dihadapainya, maka ia akan memperjuangkan mati-matian kebutuhan
itu, yang sekaligus juga adalah kebutuhan sendiri. Perjuangan ini akan
tercapai apabila khalayak memberikan suara kepadanya atau kepada
golongannya.
Ketiga, teknik sugesti.41 Kegiatan persuasif, juga dapat dilakukan
dengan menggunakan teknik sugesti. Sugesti merupakan suatu
usaha untuk membujuk atau mempengaruhi orang lain agar bisa
menerima suatu keyakinan atau pendirian tanpa memberi suatu dasar
kepercayaan yang logis pada orang yang ingin dipengaruhi. Dalam
kehidupan sehari-hari, sugesti biasanya dilakukan dengan kata-kata
dan nada suara. Rangkaian kata-kata yang menarik dan meyakinkan
disertai nada suara yang penuh berwibawa dapat memungkinkan
seseorang mempengaruhi khalayak. Suatu kesan yang tidak mungkin
terkikis adalah keyataan bahwa sugesti pertama-tama memperoleh
kekuatan emosionalnya pada rasa ketaatan dan kepatuhan parental.
Orang tua atau misalnya, adalah orang yang dianggap serba tahu dan
serba berkuasa, sehingga apa yang dikatakannya selalu mempunyai
daya sugesti yang ampuh. Oleh karena itu, seseorang yang ingin
mengadakan persuasif dengan hasil yang di inginkan, dapat
memanfaatkan kekuatan sugesti. Ia harus berusaha menampilkan
41
Sugesti merupakan proses mempengaruhi orang lain dengan tujuan tingkah
laku, sikap, pendapat supaya identik dengan komunikator. Sugesti akan lebih mudah
dilakukan, jika dalam diri orang yang disugesti itu telah ada kerangka berpikir (frame
of reference) serta kerangka pengalaman (field of experience). Orang akan lebih mudah
tersugesti ketika seseorang dalam masyarakat cenderung menerima pandanganpandangan atau sikap tertentu, karena didukung oleh mayoritas anggota masyarakat.
Ketika masyarakat umum membenarkan, maka kecenderungan yang muncul akan lebih
mudah mensugesti orang tersebut. Inilah yang disebut Gerungan sebagai sugesti karena
mayoritas. Lihat, Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2010), h. 137.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 49
figur yang dapat menggantikan kedudukan orang tua, menampilkan
orang yang penuh kasih sayang, atau dihormati khalayak.
Keempat, teknik konformitas. Teknik konformitas dapat ditempuh
untuk melakukan persuasi kepada orang lain. Teknik konformitas
adalah suatu keinginan atau tindakan untuk membuat diri serupa
dengan sesuatu yang lain. Konformitas adalah suatu mekanisme mental
untuk menyesuaikan diri atau mencocokan diri dengan sesuatu yang
diinginkan. Sikap yang diambil dalam hal ini adalah menyesuaikan
diri dengan keadaan supaya tidak timbul ketegangan. Sekilas terlihat,
bahwa teknik ini mirip dengan identifikasi tetapi sebenarnya berbeda.
Bedanya, dalam identifikasi komuikator hanya menyajikan beberapa hal
yang menyangkut dirinya dengan kehadiran atau pembicara. Sedangkan
dalam konformitas komunikator memperlihatkan kemampuannya
berbuat dan bertindak sebagai khalayak.
Kelima, teknik konpensasi. Teknik ini adalah suatu tindakan
atau hasil dari usaha untuk mencari suatu pengganti (subtitute)
bagi suatu hal yang tidak dapat diterima, atau suatu sikap, keadaan
yang tidak dapat dipertahankan. Usaha mencari subtitute terjadi
karena tindakan atau keadaan yang asli sudah mengalami frustasi.
Komunikator mengajak khalayak untuk menciptakan keadaan yang
lebih baik, dan diharapkan oleh rakyat. Ini juga merupakan salah
satu bentuk persuasi yang diharapkan dapat mensugesti masyarakat
untuk menjatuhkan pilihannya pada calon tertentu yang ikut dalam
pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.
Keenam, teknik penggantian (displacement) atau subtitusi. Teknik ini
adalah suatu proses yang berusaha menggantikan suatu maksud atau hal
yang mengalami rintangan suatu maksud. Dalam persuasi komunikator
berusaha meyakinkan khalayak untuk mengalihkan suatu obyek atau
tujuan tertentu kepada suatu tujuan lain. Dalam hal ini ada kemiripan
dengan kompensasi. Contoh dari penggantian misalnya, kambing hitam
adalah suatu obyek yang menjadi sasaran kebencian atau kemarahan
dialihkan atau digantikan dengan obyek lain yang sebenarnya tidak
harus menerima kebencian atau kemarahan itu.
Ketujuh, Proyeksi. Teknik persuasif dengan menggunakan
proyeksi maksudnya adalah suatu teknik untuk mengubah sesuatu
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
50 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
yang tadinya adalah subyek menjadi obyek. Suatu sifat atau watak
yang dimiliki seseorang tidak mau diakui lagi sebagai suatu sifat atau
wataknya, tetapi dilontarkan sebagai sifat atau watak orang lain. Jika
seseorang diminta untuk mendeskripsikan seseorang yang tidak
disenangi, maka ia akan berusaha untuk mendeskripsikan sesuatu
hal-hal yang baik tentang dirinya sendiri.
Tujuh teknik yang telah dijelaskan di atas, merupakan teknik
persuasif yang ditawarkan Keraf. Pada prinsipnya, ketujuh teknik
tersebut merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka melakukan
persuasif, agar khalayak dapat menerima tanpa paksaan pesanpesan yang disampaikan. Dalam kegiatan politik, maka persuasi
politik dipakai oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang
politik dan kenegaraan. Para ahli politik dan kenegaraan lebih
sering menggunakan persuasi jenis ini untuk keperluan politik
dan kenegaraannya. Dalam hal ini, pencitraan sering digunakan
para politisi untuk melakukan pencitraan, karena dianggap dapat
merubah sikap masyarakat. Pesan-pesan politik berupa simbol
dan jargon-jargon politik yang disampaikan partai atau kandidat,
memiliki daya tarik persuasif bagi khalayak. Dalam kampanye politik,
simbol dan nilai-nilai dapat dikatakan sebagai salah satu yang paling
berpengaruh dari semua pesan kampanye yang disampaikan. Maka
dalam kaitannya dengan pemanfaatan kecenderungan psikologis,
seorang politisi perlu menyingkat isu-isu kompleks menjadi istilah
simbolik sederhana dengan mencoba membuat simbol-simbol
tersebut dalam istilah yang mampu membangkitkan kecenderungan
luas masyarakat. Sebagaimana yang dicerminkan Partai Amanat
Nasional (PAN) misalnya, yang membuat pencitraan dengan
membuat jargon “Politik Tanpa Gaduh”. Jargon ini merupakan salah
satu fakta simbolik yang menggambarkan suasana perpolitikan
saat ini. Meskipun hiruk pikuk konflik perpolitikan yang terjadi di
Indonesia, tapi melalui jargon ini, PAN ingin mencitrakan dirinya
sebagai partai yang damai, tidak rusuh dan tidak gaduh. PAN adalah
partai yang aman, damai, dan jauh dari konflik internal.
d. Terpaan dan Kekuatan Media
Politik pencitraan yang bersifat persuasif dapat dilakukan
melalui media massa, terutama melalui iklan. Terpaan media
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 51
ternyata dapat membuat khalayak menjadi tidak berdaya. Studi
tentang terpaan media yang menyebabkan khlayak menjadi tidak
berdaya diakui sejumlah pakar komunikasi, seperti Schramm (1971),
Berlo (1960), Defleur dan Ball Rokeach (1989).42 Dalam kaitan ini,
maka even-even pemilihan umum, media banyak digunakan partai
maupun para politisi untuk melakukan pencitraan politik. Media
dianggap memiliki peran strategis untuk penguatan citra politik,
karena media merupakan penghubung antara komunikator dengan
khalayak. Komunikasi dengan menggunakan media massa dianggap
sangat menguntungkan dan dapat memudahkan penyebaran
informasi terkait dengan calon yang sedang berkompetisi, karena
media massa menimbulkan keserempakan. Artinya, suatu pesan
dapat diterima oleh komunikan yang jumlahnya relatif banyak, lebih
luas dan heterogen.
Kekuatan utama penggunaan media massa untuk komunikasi
politik adalah pembentukan opini publik dan citra politik. Media
massa memiliki kontribusi besar dalam membangun pemahaman
masyarakat hingga perilaku politiknya. Salah satu faktor determinan
yang melatari terjadinya perubahan perilaku politik tersebut adalah
publikasi media yang memberitakan transformasi politik. Kuatnya
pengaruh media massa terhadap perilaku politik, menjadi kajian bagi
para pakar. Kraus dan Davis sebagaimana dikutip Nurul Syobah
menjelaskan, bahwa tema komunikasi politik telah dilakukan dan
dipublikasikan sejak 1959. Kraus dan Davis menegaskan, bahwa
media melakukan konstruksi realitas politik dalam masyarakat. Di
samping itu, juga mengungkap masalah-masalah posisi komunikasi
42
Schramm menyebut teori ini dengan teori peluru (the bullet theory), Berlo
memperkenalkan teori jarum suntik (hypodermic neddle theory) dan Ball Rokeach
memperkenalkan teori stimulus respons. Gagasan utama dari tiga teori yang
dikemukakan pakar komunikasi ini, bahwa komunikasi massa memiliki kekuatan
besar dalam mempengaruhi khalayak. Teori-teori yang dikemukakan para pakar ini,
menegaskan bahwa rakyat benar-benar rentan terhadap pesan-pesan komunikasi massa.
Teori ini menyebut, apabila pesan disampaikan tepat sasaran, maka pesan tersebut
akan memberikan efek kepada khalayak sesuai dengan yang diinginkan. Teori ini juga
mengasumsikan bahwa para pengelola media dianggap sebagai orang yang lebih pintar
dibanding audien. Oleh karenanya, audien bisa dibentuk dengan cara apapun sesuai
dengan keinginan media. Lihat, Sakhira Zandi, “Teori Komunikasi Massa” dalam Syukur
Kholil (ed.), Teori Komunikasi Massa (Bandung: Citapustaka Media, 2011), h. 99.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
52 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
politik dalam kasus-kasus kegiatan politik praktis dalam proses
transformasi dan pembentukan komunikasi politik masyarakat.43
Pembentukan opini publik berkaitan dengan citra politik, karena
pada dasarnya opini publik politik terbangun melalui citra politik,
sedangkan citra politik merupakan konsekuensi kognisi dari komunikasi
politik. Artinya, bahwa komunikasi tidak secara langsung menimbulkan
pendapat atau perilaku tertentu, tetapi cenderung mempengaruhi cara
khayalak mengorganisasikan citranya tentang lingkungan dan citra
itulah yang mempengaruhi pendapat (opini) atau perilaku khayalak.
Oleh sebab itu, ada dua kemungkinan keuntungan yang dapat diperoleh
dari penggunaan media massa sebagai media politik. Pertama, dengan
menggunakan media massa, pembentukan citra politik individu
dapat lebih tepat sasaran menuju arah yang diinginkan. Kedua, media
massa juga bisa mengarahkan khalayak (individu-individu) dalam
mempertahankan citra yang sudah dimilikinya. Hal ini menguatkan,
bahwa media massa memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk
persepsi politik dan citra politik khalayak.
3. Tujuan Pencitraan Politik
Dalam politik, pencitraan sering diidentikkan sebagai kegiatan
pamer, menonjolkan diri maupun menonjolkan partai dengan
mengedepankan ideologi, visi misi, program partai, dan berbagai
macam perubahan hingga simbol-simbol tertentu yang dimungkinkan
dapat mengubah opini masyarakat terhadap satu partai. Pencitraan
politik sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah representasi
visual dan naratif yang mengedepankan citra atau gambaran dengan
menggunakan medium tertentu yang sifatnya umum dengan beberapa
proses yang melibatkan simbol-simbol dan entitas-entitas sosial dan
politik dengan tujuan kekuasaan. Secara lebih luas dipahami, bahwa
pencitraan politik pada dasarnya merupakan simbiosis antara strategi
politik dengan teknik pencitraan yang di dalamnya ada pengemasan
terhadap sesuatu objek pelaku politik baik itu perorangan maupun
partai politik. Tujuan adalah untuk mempengaruhi persepsi,
perasaan, kesadaran, dan opini publik sehingga publik dapat digiring
43
Nurul Syobah, “Peran Media Massa Dalam Komunikasi Politik” dalam Jurnal
Komunikasi dan Sosial Keagamaan, Vol: XV, No. 1, Juni 2012 (IAIN Samarinda, 2012), h. 15.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 53
ke suatu preferensi, pilihan dan keputusan politik tertentu. Mengikuti
logika ini, maka pencitraan politik berfungsi sebagai alat komunikasi
politik untuk menginformasikan dan melakukan tranformasi dalam
meyakinkan khalayak agar sikap mereka semakin kukuh terhadap
suatu objek dan entitas yang selama ini masih diragukan mereka.
Kongkretnya, pencitraan politik secara esensial digunakan
untuk menciptakan kesinambungan antara realitas dan citra politik.
Pencitraan politik juga bisa digunakan untuk hal sebaliknya, di mana
bila terjadi diskontiunitas antara citra politik dan realitas politik, maka
pencitraan dapat digunakan untuk menciptakan realitas kedua (second
reality) yang di dalamnya terdapat kebenaran yang dimanipulasi.
Dengan upaya tersebut, realitas yang digambarkan lewat pencitraan
seolah-olah merupakan realitas sebenarnya. Dalam kaitan ini Wasesa
menegaskan, bahwa meskipun kewenangan para politisi sangat kuat
untuk mengatur sebuah negara, tetapi bukan berarti bahwa mereka
dapat menentukan citranya. Citra politik sepenuhnya ditentukan oleh
persepsi publik. Persepsi publik terbangun karena proses pengolahan
informasi pada limbic system dalam otak publik. Kekuatan politik
tidak mungkin untuk menyentuh limbic system masyarakat. Limbic
system (sistem limbik) merupakan bagian dari otak yang bekerja
secara obyektif dengan mengolah informasi-informasi yang mereka
terima dari pancaindra, kemudian diolah untuk disalurkan menjadi
persepsi tentang kumpulan informasi tersebut.44
Pencitraan selama ini identik dengan kegiatan bisnis pemasaran
atau kegiatan pemasaran produk atau jasa yang ditawarkan.45 Namun
sejak pemilu dilaksanakan secara proporsional terbuka untuk DPR
dan pemilihan langsung untuk Presiden, pencitraan menjadi bagian
yang sangat penting dalam sistem pemasaran politik. Jika politisi
atau partai diibaratkan sebagai sebuah produk, pencitraan baginya
adalah sebuah keniscayaan. Karena pemasaran politik merupakan
metode praktis dalam konteks komunikasi politik.
44
Wasesa, Political, h. 128.
Dalam bisnis, segmentasi pasar dan targeting digunakan untuk mengidentifikasi
segmen pelanggan kepada siapa pemasar mengarahkan produk dan kampanye promosi.
Hal ini banyak digunakan perusahaan yang memilih untuk menjual produk atau jasa
mereka tidak untuk pelanggan potensial, tetapi hanya untuk mereka yang cenderung
akan membelinya. Lihar, Lynda Lee Kaid, Handbook, h. 27.
45
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
54 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Pencitraan politik intinya adalah ingin membuat pemilih
terpesona, kagum, rasa ingin tahu dan menarik simpatik. Bagi
partai, pencitraan politik akan membantu partai menampakkan
sisi baik dan mempopulerkan partai pada masyarakat. Bagi partaipartai, pencitraan penting untuk menyebarkan programnya, realisasi
kegiatan yang dilaksanakan, janji-janji yang dilakukan, mengubah
citra negatif menjadi positif demi melanggengkan kekuasaan. Dengan
demikian, tujuan pencitraan jelas terlihat untuk merubah persepsi
khalayak terhadap suatu partai, sehingga dipikiran masyarakat,
partai tampil sebagai partai yang benar-benar memperjuangkan
aspirasi masyarakat. Kongkretnya, pencitraan bertujuan untuk
menciptakan opini publik.
Ruang-ruang publik, termasuk dalam berbagai media, menjadi
ruang ekspresi yang tidak terlepas dari berbagai manuver, taktik, dan
strategi politik yang dilakukan oleh elit politik. Teknik pemasaran politik
dengan mengemas citra sosok personal kerap digunakan sebagai bagian
dari pencitraan politik untuk menciptakan opini publik. Dalam kaitan ini,
terlihat dengan jelas bahwa para elit politik akan terus membangun citra
dan tujuannya hanya satu, yaitu mendapatkan kekuasaan. Penciptaan
opini publik dalam dunia politik yang dikonstruksi dengan bahasa,
tidak sekedar untuk melukiskan suatu fenomena, tetapi bertujuan untuk
mempengaruhi cara pandang lingkungan sekitar. Dengan demikian,
dipahami bahwa politik pencitraan menjelma menjadi kekuatan utama
dalam mengendalikan wacana politik sehingga di dalamnya tidak hanya
terdapat kekuatan pengetahuan, tetapi juga menjelmanya kekuatan citra
sebagai kekuatan politik. Seperti yang ditegaskan Hamad, bahwa bagi
suatu kekuatan politik, kekuatan media, sangat menentukan, terutama
untuk tujuan-tujuan pencitraan dan opini publik. Sebab, komunikasi
politik di satu pihak banyak bergantung pada cara media mengkonstruksi
kekuatan politik pencitraan. Pada sisi lainnya, media mempunyai
kekuatan yang signifikan untuk mempengaruhi khalayak.46
Dalam dunia politik, istilah pencitraan merupakan suatu hal yang
wajar dan logis. Pencitraan merupakan aspek vital yang dilakukan
untuk memperoleh jumlah suara yang lebih besar, dukungan
46
Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi
Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik (Jakarta: Granit, 2004), h. 30.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 55
maupun simpati masyarakat. Oleh karenanya, banyak para elit
politik yang menggunakan pencitraan diri maupun kelompoknya
guna memperoleh dukungan masyarakat. Sebagai contoh, PAN
sebagai partai yang dipandang masyarakat sebagai partai reformis,
karena PAN dicitrakan awal-awalnya dengan figur Amin Rais yang
secara kebetulan sebagai salah satu tokoh nasional yang turut dalam
gerakan reformasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa PAN dengan para
elit politiknya, sangat concern terhadap pencitraan dengan jargonjargon pemberantasan korupsi. Politik pencitraan PAN tentu menjadi
strategi bagi partai tersebut untuk mempertahankan survivalitasnya
di tengah masyarakat. Akan tetapi, terkadang pencitraan tersebut juga
dapat menjadi senjata yang dapat menjatuhkan PAN sendiri. Rival
politik PAN juga dapat menggunakan dan mengolah sedemikian
rupa pencitraan partai tersebut dengan tujuan untuk menjatuhkan
popularitasnya. Hal tersebut disebabkan karena citra merupakan
suatu hal yang sulit untuk dibangun, namun mudah hancur dengan
hal-hal tertentu yang menjadi titik kelemahannya.
Citra suatu partai akan menambah maraknya demokrasi
dan membantu tercapainya demokrasi sipil ketika janji-janji
yang dicitrakan dan ditampilkan benar-benar mampu membawa
perubahan dan kesejahteraan masyarakat. Wasesa menjelaskan,
bahwa untuk mencapai tujuan pencitraan terdapat beberapa tahapan
proses yang harus diperhatikan. Pencitraan yang dibangun salah
satunya dengan mengatur pesan yang akan disampaikan kepada
masyarakat. Pesan disampaikan melaluai alat yang disebut Key
Message Development (KMD). Sebagai panduan yang digunakan
untuk melakukan pencitraan, Key Message Development berisi
paparan pesan yang dibuat secara berkesinambungan antar program
sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Dengan panduan ini
tim pencitraan ataupun politisi dapat berkerja sesuai dengan jalur
pencitraan yang diharapkan. Wasesa membagi KMD menjadi dalam
beberapa bentuk, yaitu: grand KMD yang berisi penjabaran pesan
program politik selama satu tahun, lengkap dengan tahapan-tahapan
yang harus dicapai setiap bulan. Selain itu juga terdapat Key Message
House (KMH) atau rumah pesan yang berisi penjabaran pesan setiap
program. KMH ini akan menjadi panduan singkat pencitraan saat
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
56 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
menyampaikan pesan pada masyarakat. Manfaat KMH adalah untuk
menjaga konsistensi penyampaian pesan kepada masyarakat, dan
juga menjaga efisien pengembangan program. Selain itu ada juga
yang alat yang disebut Wasesa dengan istilah Key Performance Indicator
(KPI), sebagai alat untuk melihat indikator kesuksesan pencitraan
yang diharapkan. Secara umum aktivitas pencitraan politik diartikan
hanya sebatas kedekatan dengan media. Media adalah salah satu
kunci sukses untuk mendapat liputan besar dan berkelanjutan,
namun banyak politisi yang kecewa karena merasa bahwa media
tidak menyampaikan pesan yang dikehendaki. Bercermin dari itu,
menjadi hal yang mutlak perlu untuk memiliki indikator-indikator
sebuah pesan yang akan disampaikan melalui media massa ataupun
masyarakat. Indikator-indikator tersebut adalah indikator sederhana
dan indikator kompleks. Indikator sederhana merupakan indikator
yang tanpa harus menunggu analisis dari tim pencitraan, tetapi dapat
dilihat bahwa pesan tersebut tersampaikan dengan baik atau tidak.
Indikator kompleks merupakan indikator yang masih perlu bantuan
tim pencitraan dalam hal menganalisis pemberitaan berdasarkan halhal seperti: media value, media comparation, media preference, media map,
dan media audit.47
Dalam menggunakan panduan tersebut, Wasesa membagi
proses penggunaan alat tersebut dalam tiga tahap, yaitu: Pertama, tim
pencitraan politisi melihat peluang pemanfaatan dan penggunaan
media sebagai kebutuhan jangka pendek untuk sekedar meliput
dan menuliskan apa yang harus dicitrakan. Hasil yang diharapkan
47
Media value menjadi acuan awal tentang berapa rupiah yang didapat
ketika berita tersebut dikonversikan dalam bentuk iklan. Media comparation yaitu,
perbandingan sejauh mana masyarakat memahami pesan yang disampaikan tim
sukses dengan pesan-pesan politik yang disampaikan kandidat lain. Media preference
yaitu, menganalisis lebih cermat lagi pada media-media ketika menuliskan topiktopik yang berkaitan dengan key message development yang dimiliki. Media map adalah
indikator bahwa tim pencitraan dapat melihat kepentingan antar wartawan yang
ada disebuah media, media map ini berguna untuk mengirimkan pesan apa dan
kepada siapa. Media audit yaitu sebagai indikator bahwa mengingat media memiliki
kedekatan dengan pihak politisi sebagai sumber berita dan ada personal relationship,
maka perlu dilakukan audit tentang persepsi mereka mengenai cara penyajian
berita. Input yang diberikan akan membantu untuk melihat apakah pesan dapat
tersampaikan atau tidak. Lihat, Wasesa, Political, h. 146 -152.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 57
dari tahapan pertama ini adalah agar pesan politik bisa mengubah
pandangan seseorang. Kedua, tim pencitraan membuat media secara
berkesinambungan menyampaikan pesan yang sudah dirancang
oleh tim, sesuai dengan key message development (KMD). Untuk itu
dibutuhkan orang yang secara khusus menjaga pesan agar tidak
melenceng dari KMD. Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah
pesan politik dapat diaktivasi secara berkesinambungan, sehingga
pencitraan semakin tertanam di benak masyarakat. Ketiga, tim
pencitraan memastikan apakah pesan yang disampaikan dapat
mengubah pandangan publik sehingga mereka percaya dengan
pesan politik yang disampaikan. Untuk mengetahui keterpengaruhan
pesan, dapat dilakukan riset persepsi politik, misalnya dengan
meminta bantuan pada lembaga survey. Hasil yang diharapkan dari
langkah ketiga ini adalah sebagai evaluasi terhadap KMD. Selain itu,
dapat mengukur dan melihat program apa yang paling dikenal oleh
masyarakat, kesan apa yang terdapat di benak masyarakat terkait
dengan kandidat politik atau performance partai.48
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas, dapat
diindentifikasi bahwa ada tiga tujuan pencitraan politik, yaitu membangun
opini publik, mempengaruhi masyarakat untuk menjatuhkan pilihan
politiknya terhadap partai atau calon yang melakukan pencitraan dan
mempertahankan kekuasaan. Mengutip bahasa Anwar Arifin, pencitraan
politik atau politik pencitraan bertujuan untuk: 1. Membangun opini
publik. 2. Membangun partisipasi politik dan kebijakan politik. 3.
Memenangi Pemilihan Umum.49
1. Membangun Opini Publik
Pendekatan pencitraan dalam politik memiliki fungsi komunikasi,
yaitu informasional dan transformasional agar khalayak semakin
yakin dengan entitas yang selama ini mereka ragukan. Sebagai proses
komunikasi, maka pencitraan politik bertujuan untuk membangun
opini publik. Proses pembentukan opini publik dilakukan melalui
berbagai cara, misalnya melalui media massa elektronik maupun
media cetak. Opini publik dalam permasalahan politik pencitraan
48
Ibid, h. 134.
49
Arifin, Politik, 55-92.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
58 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
bertujuan untuk membentuk akuntabilitas politik seorang kontestan
politik. Akuntabilitas seorang kontestan politik menentukan tingkat
popularitas dan elektabilitasnya. Dalam kaitan ini, pencitraan politik
adalah upaya menggiring opini untuk menciptakan citra yang baik di
masyarakat tentang sosok kontestan politik, sehingga mendapatkan
dukungan dari masyarakat. Tetapi pada sisi lain, pembangunan opini
publik juga merupakan pendekatan kepada konstituen. Proses ini
dalam orientasi politik pencitraan diharapkan akan membuat tingkat
partisipasi masyarakat menjadi tinggi.
Herbert Blumer mendefenisikan opini publik sebagai suatu
produk kolektif yang merupakan pendapat yang disetujui oleh
setiap orang dari publik, dan juga tidak harus selalu pendapat
mayoritas. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa opini publik
adalah sikap yang dinyatakan secara verbal oleh sejumlah orang
yang tidak tergantung kepada tempat, yang mempunyai reaksi
psikis terhadap suatu isu yang dapat menimbulkan kesatuan jiwa.50
Pendapat Blumer ini memberikan pemahaman bahwa publik adalah
sejumlah individu yang tidak harus saling mengenal secara pribadi,
namun terikat kepada satu isu atau masalah yang sama dan masingmasing individu berkeinginan untuk menjadi bagian dari pemecahan
masalah tersebut. Secara lebih tegas, bahwa opini publik adalah
pendapat yang dinyatakan oleh masing-masing individu dalam
menyikapi suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan
umum. Pendapat tersebut didiskusikan secara intensif oleh individuindividu bersangkutan, sehingga menjadi informasi yang konsumsi
oleh khalayak umum.
Penjelasan Blumer, berkaitan erat dengan penjelasan Ikhsan
Darmawan bahwa opini publik memiliki tiga karakteristik, yaitu:
1.Opini publik terdiri dari kumpulan individu-individu. Artinya,
opini publik merupakan kumpulan pendapat tiap individu yang
digabung menjadi satu. Dalam hal ini, terdapat jenis opini yang
menyatakan persetujuan dan juga sebaliknya.
2.Opini publik berkaitan dengan apa yang penting yang
menjadi perhatian masyarakat, bukan hanya penting untuk
50
Matulada, Demokrasi Dalam Tradisi Masyarakat Indonesia (Jakarta, LP3ES,
1996), h. 4
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 59
segelintir orang atau sekelompok orang. Artinya, opini publik
berarti opini dari publik, sedangkan publik itu sendiri dapat
diartikan kumpulan banyak orang. Oleh karena itulah opini
publik tidak hanya penting untuk sedikit atau sekelompok
orang, namun orang dalam jumlah banyak atau sering disebut
dengan mayoritas.
3.Opini publik berkaitan dengan waktu atau periode tertentu
atau berhubungan erat dengan konteks terjadinya sesuatu.
Setiap opini tidak bersifat tanpa batas waktu. Sebaliknya,
sebuah opini tertentu boleh jadi hanya berlaku pada saat
waktu tertentu saja. Ketika sudah berganti waktu, sangat
mungkin terjadi perubahan dalam opini publik.51
Pembentukan opini publik dalam komunikasi politik, sangat
ditentukan oleh peranan media politik terutama media massa. Dalam
konteks sosial politik, opini publik sangat penting dalam mencapai
pencitraan politik, karena tanpa dukungan dari masyarakat, pencitraan
politik tidak akan efektif. Kongkretnya, pencitraan politik akan sejalan
dengan opini publik yang berkembang di masyarakat. Opini publik
dipahami sebagai pendapat yang sama dan dinyatakan oleh banyak
orang yang terbentuk melalui diskusi yang intensif sebagai jawaban atas
pertanyaan dan permasalahan yang menyangkut kepentingan umum.
Ferdinan Tones sebagaimana dikutip Tommy Suprapto menjelaskan,
ada tiga tahap proses perkembangan opini public. Pertama, luftartige
yaitu opini publik masih seperti uap, karena masih liar atau terombang
ambing dan masih dalam proses pencarian bentuk yang nyata. Kedua,
flussing yaitu opini publik sudah mulai mempunyai bentuk yang nyata,
akan tetapi masih dapat dialirkan melalui saluran yang dikehendaki.
Ketiga, festig yaitu opini publik yang sudah kuat, tidak mudah lagi
berubah. Kekuatan opini kata Tones tergantung kepada besar kecilnya
pendorong dari dalam yang dirangsang oleh berbagai faktor dari luar,
seperti isu, konflik, kegelisahan, frustasi dan lain-lain.52
Opini publik sebagai kekuatan politik tidak hanya mampu
Ikhsan Darmawan, Mengenal Ilmu Politik (Jakarta: Kompas Media Nusantara,
2015), h. 123-124.
51
52
Tommy Suprapto, Komunikasi Propaganda: Teori dan Praktik (Yogyakarta:
CAPS, 2011), h. 117.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
60 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
mendukung suatu pemerintahan atau kekuasaan, melainkan juga
memiliki kekuatan untuk menggulingkannya. Seperti apa yang
dialami oleh Soeharto dan Abd. Rahman Wahid (Gusdur), baik
melalui cara yang konstitusional (melalui parlemen), maupun
melalui pergolakan-pergolakan atau aksi-aksi massa, atau keduakeduanya (aksi massa dan parlemen). Opini publik dapat dibentuk,
dipelihara, dibina dengan baik oleh semua kekuatan politik, melalui
komunikasi politik yang intensif, persuasif, informatif, edukatif dan
koersif. Karakteristik yang paling penting dari opini publik yang
telah mendorong para ilmuwan sosial untuk menyelidikinya adalah
kekuatannya yang luar biasa terhadap pemerintah dan individu
masyarakat.
2. Membangun Partisipasi Politik
Selain membangun opini publik, pencitraan politik juga
mendorong terciptanya partisipasi politik masyarakat. Partisipasi
politik menurut Budiardjo merupakan pengejewantahan dari
penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat. Anggota
masyarakat yang berpartisipasi dalam proses politik melalui
pemilu di dorong oleh keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama
itu, kepentingan mereka akan tersalur atau sekurang-kurangnya
diperhatikan. Masyarakat percaya bahwa kegiatan mereka memiliki
efek dan efek tersebut dinamakan dengan political efficacy. Budiarjo
juga menegaskan, bahwa semakin tinggi partisipasi masyarakat
dalam pemilu, menunjukkan pendidikan politik rakyat berhasil,
pelaksanaan demokrasi semakin lebih baik. Sebaliknya, jika
partisipasi politik masyarakat rendah, hal tersebut mengindikasikan
pelaksanaan demokrasi pada suatu negara kurang baik. Indikasi
rendahnya minat dan partisipasi politik masyarakat diperlihatkan
dari perhatian masyarakat yang rendah terhadap persoalan-persoalan
politik dan ketatanegaraan.53
Dalam tatanan sebuah negara demokrasi, partisipasi politik
merupakan aspek penting. Partisipasi politik sekaligus merupakan
ciri khas modernisasi politik pada negara demokratis. Modernisasi
yang dimaksud bisa berkaitan dengan modernisasi hukum,
53
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 1991), h. 3.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 61
modernisasi pembangunan sosial politik, pemerataan pembangunan
dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena warga tidak hanya sekedar
ikut serta dalam memberikan suara pada pemilihan umum. Tetapi
lebih dari itu, masyarakat juga turut mempengaruhi pengambilan
keputusan atau kebijakan yang dilakukan pemerintah, sehingga
dapat dikatakan bahwa pada negara demokrasi yang sudah modern
dapat menghasilkan partisipasi yang meluas. Sebagaimana dikutip
Efriza dari Gabriel Almond, bahwa partisipasi politik tidak hanya
sebatas mengambil bagian atau peranan dalam konteks kegiatan
politik, tetapi selalu diawali oleh oleh adanya artikulasi kepentingan
dimana seorang individu mampu mengontrol sumber daya politik,
seperti halnya seorang pemimpin parpol atau seorang dictator
militer. Peran mereka sebagai aggregator politik (penggalang) akan
sangat menentukan terhadap partisipasi politik selanjutnya.54
Di negara-negara yang proses demokrasinya berjalan
dengan baik, biasanya tingkat partisipasi warganya sangat tinggi.
Keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan umum misalnya, dapat
mempengaruhi pengambilan kebijakan. Bila diperhatikan dari kondisi
pemilu yang berlangsung, sejak Indonesia memberlakukan pemilihan
umum langsung tahun 2004. Masyarakat dapat dikatakan turut
berpartisipasi dalam perpolitikan Indonesia. Munculnya sejumlah
partai, mendorong masyarkat untuk turut aktif menjadi anggota
dari sebuah partai, atau menjadi pengurus. Namun demikian, dari
fenomena yang mengemuka saat ini, partisipasi politik masyarakat
Indonesia dapat dikelompokkan kepada tiga bagian, yaitu partisipasi
aktif, partisipasi pasif dan golput. Pertama, partisipasi aktif misalnya
turut serta dalam kegiatan pengajuan usul mengenai suatu kebijakan,
mengajukan kritik terhadap suatu kebijakan, membayar pajak dan
memilih pemimpin atau pemerintahan. Kedua, partisipasi pasif
misalnya ikut serta dalam menaati pemerintah, menerima dan
melaksanakan apa saja yang menjadi keputusan pemerintah. Ketiga,
model ini adalah model yang hanya memilih diam. Mereka tidak ikut
serta dalam pemilihan umum, dan dalam menentukan kebijakan pun
mereka lebih memilih ikut dengan apa adanya. Golongan ini disebut
dengan golongan putih (golput).
54
Efriza, Politik Explore: Sebuah Kajian Ilmu Politik (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 157.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
62 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa partisipasi
politik adalah keikutsertaan khalayak atau masyarakat dalam
berbagai macam tindakan dalam kehidupan politik. Kegiatan itu
dapat diaplikasikan dalam bentuk pemberian dukungan politik
kepada pemerintah, baik dalam bentuk pemilihan umum maupun
kebijakan publik. Keikutsertaan masyarakat dalam berbagai kegiatan
politik, dapat dikatakan sebagai akibat atau efek dari komunikasi
politik pencitraan. Partisipasi politik sangat penting karena warga
negara telah menyerahkan hak berkuasa kepada lembaga politik
melalui pemilu dan tidak boleh kehilangan hak untuk membela diri
dari kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan. Untuk menegakkan
prinsip kedaulatan rakyat, maka warga negara harus tetap
mempunyai akses untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan.
3. Memenangi Pemilihan Umum
Pencitraan politik telah dijelaskan di atas, penting dilakukan
mengingat ketatnya persaingan politik di antara partai-partai atau
kandidat kontestasi pemilu, utamanya di negara yang menganut paham
libertarian atau demokrasi. Pencitraan merupakan hal penting bagi setiap
orang sebagai makhluk sosial. Melalui pencitraan manusia memilih hal
yang akan dilakukan dan juga apa yang seharusnya tidak dilakukan atau
ditinggalkan. Dengan upaya pencitraan positif, setiap orang berharap
bisa terlihat sempurna di mata orang lain. Dalam pembentukan citra
positif, bahkan tidak jarang seseorang melakukan cara apapun untuk
mengemas sikap dan perilakunya sehingga memberikan kesan positif di
mata orang lain. Citra, membantu manusia untuk mengambil keputusan
yang terbaik bagi dirinya dalam lingkungan sosialnya.
Demikian pula setiap menjelang pemilu, baik itu pemilihan umum
presiden, pemilihan legislatif maupun pemilukada, sejumlah tokoh politik
muncul di tengah-tengah publik melalui berbagai iklan dan pemberitaan
di media massa yang sarat dengan pencitraan. Citra politik dilakukan
untuk memengaruhi pemilih. Citra menjadi faktor paling menentukan
sukses tidaknya sebuah perjalanan kampanye. Pada akhirnya, pencitraan
politik bertujuan untuk memenangkan kompetisi dan meraih kekuasaan.
Upaya memenangkan pemilihan secara langsung dalam Pemilu, tentu
membutuhkan strategi yang tepat dan terarah untuk meraih suara
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 63
rakyat sebanyak-banyaknya. Salah satu upaya yang dilakukan partai
maupun kandidat adalah dengan cara melakukan pencitraan politik
atau politik pencitraan dengan menggunakan pemasaran politik. Sangat
erat kaitannya dengan penjelasan Sayuti, bahwa pemasaran politik
merupakan kegiatan yang melibatkan tindakan-tindakan pemanfaatan
riset opini publik dan analisis terhadap lingkungan politik, sebelum dan
sesudah kampanye oleh partai politik dan para kandidat peserta suatu
pemilihan umum yang ditujukan untuk mempromosikan tawarantawaran politis yang kompetitif dengan harapan akan membantu
pencapaian sasaran organisasi dan kepuasan khalak.55
Menurut Firmanzah, dalam proses pemasaran politik digunakan
penerapan 4P bauran marketing, yaitu: 1. Produk, dalam konteks
politik, produk yang dimaksud adalah partai, kandidat dan gagasangagasan partai berupa konsep dan identitas ideologi yang akan
disampaikan kepada konstituen. 2. Promosi, dalam hal ini seperti
melalui periklanan, kehumasan partai dan promosi partai. Dalam
politik, promosi bisa dilakukan dengan menggunakan spanduk, baliho
dan sebagainya dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
3. Price (harga), dalam hal ini mencakup banyak hal, mulai dari
ekonomi, psikologis, sampai citra nasional berupa kefiguran dan
ketokohan kandidat, apakah dapat menjadi kebanggaan negara. 4.
Penempatan, dalam hal ini berkaitan dengan distribusi sebuah partai
dan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan para pemilih.56
Tajamnya persaingan politik, menjadi pendorong bagi para politisi
dan partai untuk melakukan pencitraan. Pada kenyataannya, pencitraan
politik banyak dilakukan parpol atau kandidat yang sedang berkompetisi
dalam pemilu. Namun demikian, secara faktual dapat diperhatikan
bahwa tidak selamanya pencitraan politik berhasil menghantarkan
kandidat atau partai untuk memenangkan suatu pemilu. Misalnya,
pada tahun 2014 Partai Demokrat yang tetap disimbolkan dengan
keberadaan SBY, mengalami penurunan perolehan suara menjadi
pemenang keempat. Demikian juga dengan Partai Golkar hanya berada
di urutan kedua, padahal partai ini merupakan partai yang sangat gencar
Solatun Dulah Sayuti, Komunikasi Pemasaran Politik (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2014), h. 17.
55
56
Firmanzah, Marketing, h. 203.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
64 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
mengiklankan pencitraan di televisi. Demikian juga dapat diperhatikan
sejumlah kandidat dalam Pemilu Presiden maupun Pemilukada, gagal
untuk memenangkan kontestasi politik yang sedang berlangsung.
Untuk Sumatera Utara saja misalnya, dapat diperhatikan Pasangan
Charly (Chairuman – Fadly) tidak mampu memenangkan kontestasi
kursi gubernur, padahal kalau di baca dari jargonnya, kedua calon ini
memiliki jargon yang sangat populis dan sederhana. Menjadi sebuah
pelajaran politik juga, jika diperhatikan kekalahan Andi Malaranggeng
yang maju sebagai kandidat Ketua Umum Partai Demokrat, padahal para
pengamat politik mengakui, iklan yang ditayangkan terkait calon yang
satu ini sangat atraktif dan bagus. Tetapi, karena Andi kurang membumi
di tingkat akar rumput (grass roots), menyebabkannya tidak memenangi
kontestasi bergengsi tersebut. Berbeda dengan Anas Urbaningrum, yang
kemenangannya banyak disebabkan faktor kerendahan hati, kesantunan
dan kekuatan jaringan yang sudah dibangunnya sejak mahasiswa dan
menjadi Ketua PB HMI selama dua priode.
Beberapa fakta politik yang telah diuraikan, dapat dipahami
bahwa selain figuritas dan pencitraan politik, terdapat faktor lain yang
turut mendukung pemenangan seorang kandidat atau partai, yang
sering diistilahkan dengan modal politik, yaitu modal sosial dan modal
kapital. Modal sosial adalah seperangkat nilai atau norma yang berlaku
di masyarakat, yang menjadikan masyarakat mampu melakukan
kerjasama, misalnya saling meyakini dan mempercayai. Mengutip bahasa
Farancis Fukuyama, bahwa modal sosial memegang peranan yang sangat
penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masyarakat
modern. Modal sosial sebagai sine qua non bagi pembangunan manusia,
pembangunan ekonomi, sosial, politik dan stabilitas demokrasi.57 Bahasa
lain dari modal sosial ini antara lain adalah jaringan sosial, pola-pola
timbal balik dan kewajiban bersama-sama. Sedangkan modal capital
adalah berupa uang atau harta kekayaan. Karena tidak dapat dipungkiri,
bahwa modal kapital sangat mempengaruhi bagi kesuksesan seorang
kontestan dalam satu Pemilu.
Selain seorang calon atau satu partai berusaha untuk mencitrakan
kepada publik, bahwa partainya adalah partai yang peduli, empati dan
57
Fancis Fukuyama, Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru, terj.
Masri Maris (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 22.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 65
memahami persoalan masyarakat, maka calon atau partai bersangkutan
juga harus membuktikan bahwa calon atau partai tersebut juga memiliki
dana, harta dan kekayaan untuk kegiatan politiknya. Dari sini dipahami
bahwa faktor keterikatan emosional, solidaritas dan modal kapital
mampu mewujudkan pola kerjasama yang kuat, sehingga memudahkan
calon untuk meraih kemenangan. Dengan demikian, kemenangan partai
politik atau kandidat, tidak semata-mata ditentukan oleh pencitraan,
tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu modal sosial, modal kapital
dan kepribadian kandidat. Dalam kaitan itu, maka partai atau calon
kandidat tentu dalam melakukan pencitraan, harus didukung oleh ketiga
faktor tersebut, yaitu figuritas (ketokohan), modal kapital dan modal
sosial. Hubungan antara modal sosial dan modal kapital digambarkan
Firmanzah sebagaimana pada gambar di bawah ini.
Gambar 2. 3. Kombinasi Modal Kapital dengan Modal Sosial58
Gambar 2.3 memperlihatkan kombinasi antara modal kapital
dengan modal sosial. Kedua jenis modal politik diletakkan pada
sebuah spektrum tinggi rendah. Artinya, tiap-tiap politisi maupun
partai politik akan memiliki kedua jenis modal tersebut. Modal sosial
akan tinggi ketika partai atau politisi memiliki reputasi, kredibilitas,
popularitas, dan jaringan politik yang luas di masyarakat. Sebaliknya,
modal sosial rendah ketika seorang politisi tidak memiliki reputasi,
58
Disadur dari Firmanzah, Marketing Politik, h. 77.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
66 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
kredibilitas, popularitas, dan jaringan politik yang luas di masyarakat.
Demikian juga dengan modal kapital, ditempatkan pada posisi tinggi
rendah dan dibandingkan dengan pesaing. Besar kecilnya modal
kapital sangat tergantung pada modal kapital yang dimiliki pesaing.
Kalau politisi atau partai lebih besar dibandingkan dengan pesaing,
maka modal kapital diletakkan pada posisi tinggi. Sebaliknya, jika
politisi atau partai memiliki modal kapital rendah dibanding pesaing,
maka modal kapital diletakkan pada posisi rendah. Dengan demikian,
yang paling menguntungkan adalah ketika politisi atau partai berada
dalam politik dominatif, mereka memiliki modal sosial dan modal
kapital yang tinggi dibandingkan dengan pesaingnya, sehingga
peluang memenangkan Pemilu jauh lebih besar dari pesaing yang
memiliki modal kapital dan modal sosial rendah.59
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa dalam politik
popularitas yang menjadi keunggulan bersaing politik adalah sumber
daya jaringan sosial dan jaringan politik yang dimiliki. Meskipun
politisi atau partai tidak memiliki sumber modal kapital yang
besar, namun ketika mereka telah memiliki pendukung atau modal
sosial yang memadai, maka mereka dapat mengoptimalkan sumber
daya tersebut. Oleh sebab itu, pencitraan politik sering dijadikan
para politisi untuk menguatkan modal sosial tersebut, sehingga
bisa memenangkan kontestasi politik. Kadang-kadang pencitraan
yang dilakukan partai atau seorang kandidat tidak sesuai dengan
kenyataan, tapi pada akhirnya masyarakat akan bisa menilai setelah
kandidat terpilih atau satu partai memenangi kontestasi pemilu.
Misalnya, ketika Jokowi mencalonkan Presiden RI pada pemilu
2014 yang lalu, secara umum masyarakat melihat bahwa sosok
Jokowi adalah orang yang merakyat, mampu membawa Indonesia
kepada perubahan yang lebih signifikan. Penilaian itu didasarkan
rakyat pada keberhasilan Jokowi dalam memimpin Kota Solo, dan
kuatnya pencitraan yang dilakukan oleh Jokowi dan timnya. Tetapi
kenyataannya, seiring dengan perjalanan kepemimpinan Jokowi,
citra itu mulai memudar, karena masyarakat sudah melihat fakta
yang sebenarnya. Program yang ditawarkan di kampanye tidak
59
Firmanzah, Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, dan Marketing Politik (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2010), h. LVII – LIX.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 67
semuanya terlaksana sesuai keinginan rakyat, di tambah lagi dengan
suasana cabinet Jokowi yang dipandang tidak solid. Akibatnya, citra
kepemimpinan Jokowi di mata masyarakat mengalami penurunan
dan Jokowi dianggap sebahagian masyarakat, gagal dalam mengelola
kekuasaan.
Diakui, bahwa pada saat kontestasi Pemilu Presiden berlangsung,
dukungan masyarakat terhadap Jokowi sangat tinggi. Namun demikian,
tidak berarti keberhasilan dalam arena dan proses perebutan legitimasi
politik akan menentukan keberhasilan dalam arena pengambilan
keputusan politik. Hal inilah yang sering terjadi pada sejumlah politisi,
di mana seorang politisi berhasil dalam meraih dukungan suara, tetapi
gagal dalam arena pengambilan keputusan politik dan pengelolaan
kekuasaan. Kondisi ini sangat ditakutkan, karena akan berpengaruh
terhadap kelangsungan kebijakan publik. Sebagaimana ditegaskan
Nyarwi Ahmad, bahwa hal paling membahayakan dalam dunia politik
adalah ketika para aktor politik dan lembaga politik gagal mengelola
kekuasaan. Kegagalan dalam mengelola kekuasaan, terutama yang
dilakukan oleh negara dan pemerintah bisa berakibat fatal, yaitu
munculnya ketidakpercayaan publik terhadap pemegang mandat
kekuasaan. Lebih dari itu, kegagalan tersebut akan membuka peluang
adanya krisis politik nasional dan konflik politik yang berkepanjangan di
antara para aktor dan lembaga politik.60
Menyadari hal di atas, maka dalam dunia politik pengelolaan
atas kekuasaan harus dilakukan secara maksimal dengan didasari
pada kemampuan untuk menjalankan dan melaksanakan kekuasaan
agar sejalan dengan tujuan dan cita-cita negara dan sekaligus tujuan
dan cita-cita masyarakatnya. Dengan demikian, para politisi yang
lahir dan tampil ke depan publik tidak lagi semata-mata berbekal
pencitraan pada ideologi politik dan pemikiran politik yang dimiliki,
dikembangkan dan diperjuangkannya. Tetapi lebih jauh dari itu, isuisu publik yang diusung oleh partai politik dan para politisi, adalah
isu-isu yang aktual serta program kerja yang ditawarkan harus benarbenar berpihak kepada rakyat dan dilaksanakan untuk kesejateraan
rakyat.
60
Ahmad, Manajemen, h. 65.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
68 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Komunikasi Politik dalam Menguatkan Pencitraan
Pada awal bab ini, telah dijelaskan bahwa pencitraan yang
awalnya hanya dibicarakan pada tataran bisnis, sudah merambah
pada dunia politik. Bila diperhatikan, pencitraan adalah salah satu
bentuk komunikasi yang juga menuntut kesamaan makna sebagai hasil
akhirnya. Pelaku pencitraan berharap agar masyarakat bisa memiliki
kesan tentang diri, produk, perusahaan yang dicitrakan sesuai dengan
yang diharapkan. Pencitraan sangat terkait erat dengan dimensi fisik,
yaitu tempat berada. Seseorang akan mencitrakan diri secara berbeda
ketika berada di tempat yang berbeda. Pencitraan juga terkait erat dengan
dimensi sosial psikologis, yaitu lingkungan hubungan kejiwaan antara
komunikator dan komunikan. Seseorang akan mencitrakan dirinya
berbeda ketika berhubungan dengan orang dari status sosial ekonomi
yang berbeda, tingkat pendidikan berbeda, kedekatan emosional yang
berbeda dan sebagainya. Terakhir, pencitraan juga erat kaitannya dengan
dimensi temporal, yaitu waktu dalam sehari ataupun periode tertentu.
Seorang politisi akan mencitrakan diri berbeda dalam masa kampanye
dan sesudah terpilih. Sebelum diuraikan posisi komunikasi politik dalam
penguatan pencitraan, berikut akan dibahas telebih dahulu pengertian
komunikasi politik, unsur-unsur komunikasi politik, tujuan dan fungsi
komunikasi politik.
1. Komunikasi Politik
Dalam beberapa dekade terakhir ini, studi komunikasi politik
telah mengalami perkembangan yang pesat, dan pertumbuhan itu
terjadi di seluruh dunia. Bila dilihat dari sudut kesejarahan, komunikasi
politik telah dikenal dalam studi awal mengenai wacana demokrasi
dari Aristoteles dan Plato. Pada perkembangannya, komunikasi politik
modern bersandar pada multidisiplin yang berbasis pada konsep dalam
ilmu komunikasi, ilmu politik, jurnalistik, sosiologi, psikologi, sejarah,
retorika, dan lainnya. Perkembangan tersebut, memberikan kontribusi
yang beragam terhadap pendefenisian komunikasi politik. Untuk
mendekatkan pemahaman terhadap defenisi komunikasi politik yang
terdiri dari dua kata, yaitu komunikasi dan politik, kedua kata tersebut
akan dijelaskan secara terpisah tanpa mengurangi makna filosofis dan
tujuannya.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 69
Komunikasi sebagaimana dipahami adalah suatu aspek
kehidupan manusia yang paling mendasar, penting, dan kompleks.
Tidak ada kehidupan manusia yang terlepas dari kegiatan komunikasi.
Komunikasi dipahami sebagai proses pengoperan pesan, baik melalui
simbol maupun melalui bahasa dengan tujuan untuk mempengaruhi
orang lain. Mengikuti logika Deddy Mulyana, komunikasi adalah
proses berbagai makna melalui perilaku verbal dan nonverbal yang
melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya
suatu sumber dapat membangkitkan respons pada penerima melalui
penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol.61
Rogers mendefenisikan komunikasi sebagai sebuah proses dimana
pesan-pesan dioperkan dari sumber kepada penerima dengan
tujuan untuk merubah tingkah laku mereka. Proses tersebut secara
sederhana dapat digambarkan dengan model S-M-C-R, yaitu sumber
(source), mengirim pesan (message), melalui saluran (channel), kepada
penerima (receiver).62 Hafied Cangara mengutip dari Cassandra L.
Book menjelaskan bahwa sekelompok sarjana komunikasi yang
mengkhususkan diri pada studi komunikasi antarmanusia (human
communication) memberikan definisi komunikasi, yaitu:
Suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orangorang mengatur lingkungan dengan (1) membangun hubungan
antarsesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk
menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha
mengubah sikap dan tingkah laku itu.63
Berbeda dengan Efendy yang menjelaskan pengertian komunikasi
dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang kebahasaan dan
istilah. Dari tinjauan kebahasaan (etimologi), kata komunikasi atau
communication dalam bahasa Inggris adalah berasal dari bahasa Latin,
yaitu dari kata communis, yang artinya sama, communication atau
comunicare yang berarti membuat sama. Sama dalam hal ini adalah sama
Dedi Mulyana, Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), h. 3.
61
Everett M. Rogers dan F. Floyid Shoemaker, Communication of Innovations,
terj. Abdillah Hanafi (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 22.
62
63 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 1998), h. 18.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
70 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
makna. Jadi kalau ada dua orang yang terlibat dalam komunikasi, maka
komunikasi akan terjadi selama ada kesamaan makna terhadap apa
yang dibicarakan.64 Istilah communis adalah istilah yang paling sering
disebut sebagai asal-usul kata komunikasi yang merupakan akar dari
kata-kata Latin.65
Sejumlah definisi komunikasi yang telah dikemukakan di atas,
tentunya belum mewakili semua defenisi komunikasi yang telah
dibuat oleh para pakar. Namun demikian, dapat dipahami bahwa
paling tidak pengertian tersebut sedikit banyaknya memberikan
gambaran bahwa komunikasi pada intinya adalah proses pengoperan
pesan dari komunikator kepada komunikan, sehingga tercapai
persamaan persepsi tentang objek yang sedang dibicarakan. Oleh
Shannon dan Weaver (1949) mengatakan, komunikasi itu terjadi
antara satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja tidak terbatas
pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga
dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.66
Dari uraian singkat tentang pengertian komunikasi yang telah
dikemukakan di atas, dapat dipahami setiap pelaku komunikasi
akan melakukan empat tindakan, yaitu membentuk, menyampaikan,
menerima dan mengolah pesan. Keempat tindakan tersebut lazim
terjadi secara berurutan. Membentuk pesan berarti menciptakan suatu
ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui
proses kerja sistem syaraf. Pesan yang telah terbentuk kemudian
disampaikan kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pesan yang sudah terbentuk akan dikirim kepada orang
lain, dan kemudian pesan diterimanya dan diolah sistem syaraf
dan diinterperetasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut
akan menimbulkan reaksi pada orang tersebut. Apabila sudah
Onong Ucjhana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1984), h. 9.
64
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, cet. 2
Remaja Rosdakarya, 2001), h. 41.
65
(Bandung: PT
66
Komunikasi juga diartikan, Communication is the act of sending ideas and
attitudes from one person to another. Writing and talking to each other are only two ways
human beings communicate. We also communicate when we gesture, move our bodies, or roll
our eyes. Lihat Shirley Biagi, Media Imfact: an Introduction to Mass Media, 3rd ed (New
York: Wadsworth Publishing Company, 1995), h. 6.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 71
terbentuk tanggapan, maka orang tersebut juga akan membentuk
dan menyampaikan pesan baru kepada orang lain.
Selanjutnya politik juga diartikan dalam versi yang berbedabeda. Misalnya, pengertian yang dikutip Gun Gun Heryanto dari
Deliar Noer mengartikan politik sebagai aktivitas atau sikap yang
berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk
mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu
bentuk susunan masyarakat.67 Budiarjo sebagaimana dikutip Cangara,
menjelaskan politik sebagai kegiatan yang dilakukan suatu negara
yang menyangkut proses menentukan tujuan dan melaksanakan
tujuan tersebut.68 Menurut Nimmo, politik berasal dari kata “polis”
yang berarti negara, kota, yaitu secara totalitas merupakan kesatuan
antara negara (kota) dan masyarakatnya. Kata polis berkembang
menjadi politicos yang artinya kewarganegaraan. Dari kata politicos
menjadi “politera” yang berarti hak-hak kewarganegaraan.69 Nimmo
secara ringkas mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi
yang mengacu pada kegiatan politik. Nimmo juga menambahkan,
tujuan dari komunikasi politik adalah untuk mempersuasi komunikan
agar sependapat dengan komunikator.70
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa komunikasi politik
menunjukkan suatu proses pertukaran pesan yang dilakukan oleh
komunikator politik. Komunikasi politik dapat juga dikatakan sebagai
proses komunikasi yang di dalamnya memiliki bobot politik dan
konsekuensi komunikasi yang dilakukan adalah pesan politik yang
mengatur tingkah laku manusia. Artinya, bahwa komunikasi politik
merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan
politik kepada orang lain, dalam rangka menuju keteraturan. Keteraturan
dapat terwujud ketika komunikasi diarahkan kepada pencapaian suatu
pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis
kegiatan komunikasi ini, dapat mengikat semua warganya melalui suatu
sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik. Lebih
67
Gun Gun Heryanto, Komunikasi Politik (Jakarta: Universitas Indonesia 2010), h. 5.
Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi (Jakarta:
Rajawali Pers, 2008), h. 28.
68
69
Nimmo, Komunikasi Politik, h. 108.
70
Ibid, h. 118.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
72 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
tegas lagi dipahami, bahwa komunikasi politik dapat diartikan sebagai
suatu aktivitas komunikasi yang mempunyai konsekuensi politik. Oleh
Ramlan Surbakti, mendefenisikan komunikasi politik sebagai proses
penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintah kepada
masyarakat dan dari masyarakat kepada pemerintah.71
Rush dan Althoff menjelaskan komunikasi politik sebagai
transmisi informasi yang relevan secara politis dari satu bagian sistem
politik, yang merupakan unsur dinamis dari suatu sistem politik dan
proses sosialisasi, partisipasi serta rekrutmen politik bergantung
pada komunikasi.72 Proses tersebut menurut Rush dan Althoff terjadi
secara berkesinambungan dan mencakup pola pertukaran informasi
di antara individu-individu dengan kelompok-kelompok pada semua
tingkatan. Rush menyebut lebih tegas, bahwa komunikasi politik
merupakan unsur dinamis dari satu sistem politik. Sebagaimana
digambarkan oleh Rush dan Althoff.
Gambar 2.4. Sitem Politik Dalam Komunikasi Politik
Berdasarkan gambar di atas, dapat dipahami bahwa komunikasi
politik adalah salah satu fungsi yang dijalankan oleh setiap sistem politik.
Komunikasi politik adalah proses di mana informasi politik yang relevan
diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya, dan di
antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Kejadian tersebut
merupakan proses yang berkesinambungan, melibatkan pula pertukaran
informasi di antara individu-individu dengan kelompok-kelompok
pada semua tingkatan masyarakat sehingga melahirkan budaya politik.
Mengikuti logika Almond dan Verba sebagaimana dikutip Komaruddin
Sahid, budaya politik merupakan suatu sikap orientasi yang khas warga
71
Surbakti, Memahami, h. 152.
Michael Rush dan Philip Althoff, Pengantar Sosiologi Politik (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2004), h. 24.
72
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 73
negara terhadap sistem politik dan aneka ragam baginya, dan sikap
terhadap peranan warga negara di dalam sistem itu. Dalam hal ini terlihat
adanya unsur individu, yakni warga negara dengan sistem politik serta
keterikatannya.73
Komunikasi politik memainkan peranan yang penting dalam
sistem politik. Komunikasi politik menentukan elemen dinamis, dan
menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik,
dan rekrutmen politik. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai
komunikasi antara yang memerintah dengan yang diperintah. Dengan
demikian, melalui kegiatan komunikasi politik, terjadi pengaitan antara
masyarakat sosial dengan lingkup negara, sehingga komunikasi politik
merupakan sarana untuk pendidikan politik. Komunikasi politik
adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian pengaruh
sedemikian rupa yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
yang mempunyai orientasi, pemikiran politik atau ideologi tertentu
dalam rangka memperoleh kekuasaan. Mengutip penjelasan Rochajat
Harun, komunikasi politik adalah suatu proses dan kegiatan-kegiatan
membentuk sikap dan prilaku politik yang terintegrasi kedalam sebuah
sistem politik dengan menggunakan simbol-simbol.74
Aplikasi dari komunikasi politik akan berpengaruh pada dinamisasi
sistem politik kemudian akan berdampak juga pada sistem sosial
yang berkembang dalam masyarakat. Komunikasi politik terjalin dan
terdistribusi antar sistem politik dengan sistem politik lainya, seperti
halnya tergambarkan antara sistem politik dan sistem sosial. Partai-partai
politik, memposisikan komunikasi politik menjadi hal yang penting
karena komunikasi politik menjadi dasar pelaksana fungsi partai seperti
sosialisasi politik, partisipasi politik, rekrutmen dan lain sebagainya.
Maswadi Rauf dan Mappa Nasrun menjelaskan, bahwa komunikasi
politik sebagai alat untuk menyalurkan aspirasi dan kepentingan politik
masyarakat, kemudian dijadikan input sistem politik dan pada waktu
yang sama ia juga menyalurkan kebijakan yang diambil atau output
73
150.
Komarudin Sahid, Memahami Sosiologi Politik (Bogor: Ghalia Indonesia, 2015), h.
74
Rochajat Harun dan Sumarno AP, Komunikasi Politik (Bandung: Mandar
Maju, 2006), h. 5.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
74 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
sistem politik itu.75 Proses input dalam sebuah sistem politik melibatkan
partai sebagai infrastruktur untuk mengumpulkan aspirasi agar partai
mendapatkan dukungan masyarakat. Melalui proses komunikasi politik
itu pula masyarakat akan mengetahui apakah dukungan, aspirasi, dan
pengawasan itu tersalur atau tidak sebagaimana dapat mereka simpulkan
dari aplikasi sebagai kebijakan politik yang diambil pemerintah.
Komunikasi politik dalam proses politik memiliki berbagai
bentuk ketika digunakan oleh politikus atau aktivis politik untuk
mencapai tujuan politiknya. Teknik komunikasi dilakukan untuk
mencapai dukungan legitimasi (otoritas sosial), yang meliputi tiga
level yaitu, pengetahuan, sikap sampai dengan perilaku khalayak.
Kegiatan komunikasi politik meliputi juga, upaya untuk mencari,
mempertahankan dan meningkatkan dukungan politik dengan jalan
melakukan pencitraan dan membina opini publik yang positif.76
Brian McNair secara terperinci membagi tiga definisi komunikasi
politik berdasarkan komponen-komponennya: (a) semua bentuk
komunikasi yang dilakukan oleh politikus dan aktor politik lain
demi kepentingan berhasilnya tujuan-tujuan tertentu; (b) komunikasi
yang ditujukan kepada aktor politik tersebut oleh (masyarakat) non
politisi seperti pemilih dan penulis surat kabar; dan (c) komunikasi
mengenai aktor-aktor politik tersebut dan aktivitas-aktivitasnya,
ketika dimuat dalam laporan berita, editorial, dan format-format lain
diskusi media politik.77
Definisi berbeda, tetapi tujuannya hampir sama dengan yang telah
dijelaskan di atas disampaikan oleh Steven Foster, sebagaimana dikutip
Darmawan, bahwa komunikasi politik adalah cara dan implikasi di
mana politisi berusaha untuk mengkomunikasikan pesan mereka untuk
pemilih yang skeptis dan tidak terikat. Dalam hal ini, Foster menganggap
bahwa komunikasi politik terjadi dalam kaitannya dengan Pemilu,
ketika terdapat proses kampanye politik yang melibatkan politisi
dan pemilih. Demikian juga Damsar menjelaskan komunikasi politik
Maswardi Rauf dan Mappa Nasrun, Indonesia dan Komunikasi Politik (Jakarta:
PT Gramedia Utama, 1993), h. 3.
75
76
Arifin, Komunikasi Politik, h. 8.
Brian McNair, An Introduction To Political Communication (London: Routledge,
2011), h. 4.
77
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 75
sebagai proses pengalihan pesan (berupa data, fakta, informasi atau
citra) yang mengandung suatu maksud dari pengirim kepada penerima
yang melibatkan proses pemaknaan terhadap kekuasaan, kewenangan,
kehidupan politik, pemerintah, negara, kebijakan, pengambilan
keputusan dan pembagian atas alokasi (kekuasaan).78
Dari definisi komunikasi politik di atas, hakikat komunikasi
politik secara filosofis adalah kajian tentang hakikat kehidupan
manusia untuk mempertahankan hidup dalam lingkup berbangsa dan
bernegara. Hakikat kehidupan sebagai motif atau sebagai keinginan
yang mendorong manusia untuk berkiprah dalam kancah kehidupan.
Komunikasi politik adalah proses penyampaian informasi politik yang
relevan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya, dan di
antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Dalam hal ini
komunikasi politik merupakan proses yang berkesinambungan dan
melibatkan pula pertukaran informasi di antara individu-individu
dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkatan masyarakat.
Proses komunikasi tersebut memungkinkan mempunyai dampak
terhadap perilaku politik. Sebagaimana dikutip Ardial dari Almond dan
Powell menjelaskan, bahwa komunikasi politik menekankan keterkaitan
antara komunikasi politik dengan sistem politik. Pakar ini menempatkan
komunikasi politik sebagai salah satu fungsi politik dalam sistem politik.
Bahkan komunikasi politik merupakan prasyarat yang diperlukan bagi
berlangsungnya fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi artikulasi, agregasi,
sosialisasi, dan rekrutmen. Berarti, komunikasi politik sangat berkaitan
erat dengan sistem politik.79
2. Unsur-Unsur Komunikasi Politik
Sebagaimana unsur-unsur komunikasi pada umumnya, maka
komunikasi politik terdiri dari beberapa unsur yaitu: komunikator
politik, komunikan, isi komunikasi (pesan-pesan) media komunikasi,
tujuan komunikasi, efek, dan sumber komunikasi.80 Setiap unsur
jelas fungsinya, yang mengarah kepada tercapainya fungsi primer
komunikasi politik yaitu tujuan komunikasi. Dalam komunikasi
78
Darmawan, Mengenal, h. 115-116.
79
Ardial, Komunikasi Politik (Jakarta: Indeks, 2010), h. 30.
80
Mulyana, Ilmu Komunikasi, h. 5.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
76 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
politik, maka fungsi primer komunikasi melembaga dengan fungsi
primer negara sesuai sistem politik yang melandasinya.
a. Komunikator Politik
Dalam komunikasi politik, yang dimaksud komunikator
yaitu individu-individu yang berada dalam suatu instusi, asosiasi,
partai politik, lembaga-lembaga pengelola media massa dan tokohtokoh masyarakat. Komunikator politik dapat pula berupa negara,
badan-badan internasional dan mereka yang mendapat tugas atas
nama negara. Komunikator politik merupakan bagian integral
dalam berlangsungnya proses komunikasi. Komunikator politik
yang memberi warna dominan terhadap proses komunikasi, yaitu
komunikator yang menduduki struktur kekuasaan, karena merekalah
yang mengelola, mengendalikan lalu lintas pesan-pesan komunikasi
dan mereka yang menentukan kebijaksanaan dan mereka jugalah
yang akan menentukan berhasil tidaknya tujuan komunikasi politik.81
Dalam berbagai kajian komunikasi, dipahami bahwa komunikator
merupakan sumber utama aktivitas komunikasi. Sebab itu, jika satu
proses komunikasi tidak berhasil dengan baik, maka kesalahan
utama bersumber dari komunikator, karena komunikatorlah yang
tidak memahami penyusunan pesan, memilih media yang tepat dan
melakukan pendekatan yang baik kepada khalayak yang menjadi
sasaran atau target komunikasi. Para ahli persuasi pun, mulai dari
Aristoteles sampai sekarang ini, tidak meragukan bahwa sumber pesan
dapat mempengaruhi secara signifikan sikap politik masyarakat.
Untuk itu, seorang komunikator yang akan bertindak sebagai ujung
tombak komunikator politik, harus terampil berkomunikasi, kaya
ide, serta penuh dengan kreativitas.
Dalam kaitannya dengan penjelasan di atas, Cangara menjelaskan
tiga syarat yang harus dipenuhi seorang komunikator, yaitu: 1)
81
Menurut Lasswell, suatu kebijakan bertujuan pada realisasi nilai-nilai
tujuan tertentu. Lasswell membaginya kepada dua, yaitu: Pertama, bahwa perilaku
politik selalu berorientasi pada nilai atau berusaha mencapai tujuan. Nilai-nilai dan
tujuan itu sendiri dibentuk di dalam dan oleh proses perilaku yang sesungguhnya
merupakan suatu bagian. Kedua, Bahwa perilaku politik bertujuan menjangkau masa
depan, dan bersifat mengantisipasi, serta berhubungan dengan masa lampau dan
senantiasa memperhatikan kejadian masa lalu. Lihat, SP. Varma, Teori Politik Modern,
terj. Yohannes Kristiarto (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), h. 262-263.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 77
memiliki kredibilitas; 2) memiliki daya tarik (attractive); 3) memiliki
kekuatan (power).82 Pertama, Kredibilitas adalah seperangkat persepsi
tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seorang komunikator,
sehingga bisa diterima oleh target sasaran. Kredibilitas dalam hal ini
sebagaimana diungkapkan Aristoteles, memiliki etos, patos dan logos.
Etos menunjukkan karakter kepribadian seseorang, sehingga ucapanucapannya dapat dipercaya. Pathos ialah kekuatan yang dimiliki
seorang komunikator dalam mengendalikan emosi pendengarnya.
Sedangkan logos ialah kekuatan yang dimiliki seorang komunikator
melalui argumentasinya yang rasional dan logis.
Daya tarik (attractiveness), merupakan syarat kedua yang harus
dimiliki seorang komunikator. Dalam kampanye politik misalnya, faktor
daya tarik seorang politisi sangat berpengaruh bagi pemilih. Dalam
kegiatan-kegiatan kampanye misalnya, sering kali daya tarik partai atau
kandidat menumbuhkan rasa simpatik dan ketertarikan konstituen
terhadap partai atau kandidat yang sedang mengikuti kompetisi politik.
Daya tarik secara umum muncul karena cara bicara yang sopan, murah
senyum, kecerdasan, keramah tamahan, ketulusan, cara berpakaian yang
rapi, transparansi dan sebagainya. Ketertarikan masyarakat Amerika
untuk memilih Obama misalnya, tidak hanya karena visi misinya yang
82
Cangara, Perencanaan, h. 108. Ketiga syarat ini sangat erat kaitannya dengan
kompetensi komunikasi. Secara sederhana, kompetensi komunikasi dapat dipahami
sebagai kemampuan dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Kompetensi
tersebut akan meningkatkan kredibilitas seorang komunikator. Salah satu contoh
kompetensi tersebut adalah kemampuan komunikator dalam mengekspresikan diri
kepada siapa saja yang menjadi komunikannya. Ekspresi diri dengan cara mengungkapkan
suasana hati, emosi, dan pikiran ke dalam kata-kata, bahasa tubuh, ekspresi wajah,
dan penampilan. Kredibilitas diartikan sebagai tingkat kepercayaan penerima pesan
terhadap pembawa pesan. Tingkat kepercayaan ini penting karena pada kenyataannya
orang terlebih dahulu akan memperhatikan siapa yang membawa pesan, sebelum ia
bersedia menerima pesan yang dibawa. Ketika kredibilitas sumber pesan rendah, maka
bagaimanapun baiknya pesan yang disampaikan, komunikan akan sulit menerimanya.
Maka kredibilitas komunikator menjadi penting untuk menjadikan komunikan percaya
atau tidak percaya terhadap apa yang disampaikan komunikator. Dalam kaitan ini, Devito
menegaskan ada tiga aspek pendukung kredibilitas komuniktor, yaitu: (1) kompetensi
yang mengacu pada pengetahuan dan kepakaran yang menurut khalayak dimiliki
oleh komunikator; (2) karakter yang mengacu pada iktikad dan perhatian komunikator
kepada khalayak; dan (3) kharisma yang mengacu pada kepribadian dan kedinamisan
komunikator. Lihat, Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia (Jakarta: Professional
Book, 1997), h. 22.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
78 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
visioner, tetapi gaya bicaranya yang bagus, gagah, cerdas dan sikap
populisnya. Demikian juga kemenangan SBY karena selain ramah, SBY
juga memiliki postur tubuh yang gagah, simpatik, menawan dan gaya
retorika politik yang sopan.
Syarat ketiga seorang komunikator adalah kekuatan (power).
Komunikator yang mempunyai power akan lebih efektif dalam
penyampaian pesan dari pada sumber yang kurang atau tidak
mempunyai power. Kekuatan yang dimaksud dalam hal ini adalah
kemampuan membangun jaringan yang kokoh dan kekuatan dalam
menarik simpatik masyarakat. Dalam berbagai kegiatan komunikasi
politik, memobilisasi massa merupakan salah satu cara yang lazim
dilakukan. Untuk menggerakkan atau memobilisasi massa tentu
tidak mudah, karena yang demikian hanya dapat dilakukan dengan
kekuatan (power). 83
Komunikator politik bisa dalam bentuk individu dan bisa juga
dalam bentuk lembaga. Individu misalnya calon atau kandidat
Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota. Secara lembaga misalnya
partai politik, organisasi, dan sebagainya. Kategorikan komunikator
politik dapat digambarkan sebagaimana pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1. Komunikator di tinjau dari jenis pembagiannya.84
Individu
Pejabat (birokrat)
Politisi
Pemimpin opini (opinion leader)
Jurnalis
Aktifis
Pemimpin
Komunikasi profesional
Kolektif/ Lembaga
Pemerintah (birokrasi)
Partai politik
Organisasi kemasyarakatan/ LSM
Media massa
Kelompok penekan (interest group)
Kelompok elit
Badang/ perusahaan komunikasi
Gaya komunikasi, karakter komunikator politik dan cara
seseorang komunikator politik dalam mempengaruhi orang lain
turut mempengaruhi perkembangan dinamika politik. Hal ini terjadi
karena karakter komunikator politik berkaitan dengan cara ia memiliki
83
Ibid.
Disadur dari Nurani Soyomukti, Komunikasi Politik: Kudeta Politik Media,
Analisa Komunikasi Rakyat dan Penguasa (Malang: Intrans Publishing, 2013), h. 77.
84
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 79
kepentingan, informasi, ide dan gagasan serta kebijakan politik,
sehingga kondisi tersebut berpengaruh pada situasi politik. Seperti yang
dikutip Varma dari Lasswell, bahwa dalam setiap bidang aktivitas,
ada kecenderungan setiap orang untuk menguasai dan membentuk
karakter orang lain. Manusia selalu memiliki hasrat yang kuat untuk
mengendalikan dorongan-dorongan orang lain. Metode untuk
mewujudkan hal itu sendiri sangat beragam, mulai dari cara kekerasan
sampai kepada cara-cara yang menyenangkan. Keberhasilan dari usaha
tersebut terletak pada kemampuan menjaga pengakuan masyarakat.85
Dengan demikian, komunikator politik menjadi sosok
yang kadang-kadang amat dominan, sehingga apapun yang
disampaikannya dapat mempengaruhi orang lain untuk bertindak.
Komunikator politik memiliki istilah yang beragam. Komunikator
politik lazim disebut sebagai politisi atau politikus, elit berkuasa dan
sebagainya. Nimmo menjelaskan, bahwa komunikator politik sebagai
seorang politisi berada dalam posisi strategis untuk memainkan peran
politik dalam suatu setting politik tertentu. Politisi atau politikus
sebagai komunikator politik memainkan peran sosial yang utama,
terutama dalam pembentukan opini publik. Komunikator politik
menjadi pemimpin simbolis yang diharapkan dapat memainkan
peran utama dalam sebuah proses dramatik. Politikus berkomunikasi
sebagi wakil suatu kelompok dan pesan-pesan politikus itu adalah
untuk mengajukan dan melindungi tujuan kepentingan politik.
Artinya, komunikator politik mewakili kepentingan kelompok,
sehingga jika dirangkum maka politikus mencari pengaruh melalui
komunikasi.86
85
Varma, Teori, h. 267-268.
Politikus sebagai komunikator politik, merupakan Kelompok yang bercita-cita
untuk memegang jabatan pemerintah dan memegang pemerintah. Aktivitas mereka
secara umu adalah berkomunikasi tentang politik, tidak peduli apakah mereka dipilih,
ditunjuk, atau jabatan karier, baik jabatan eksekutif, legislatif, atau yudikatif. Pekerjaan
mereka adalah aspek-aspek utama dalam kegiatan politik. Meskipun politikus melayani
beraneka ragam tujuan dengan berkomunkasi, namun ada dua hal menonjol yang
mereka lakukan, yaitu mempengaruhi alokasi ganjaran dan mengubah struktur sosial
yang ada atau mencegah perubahan. Dalam kewenangannya yang pertama politikus itu
berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok; pesan-pesan politikus itu mengajukan
dan melindungi tujuan kepentingan politik, artinya komunikator politik mewakili
kepentingan kelompoknya. Lihat, Nimmo, Komunikasi, h. 29-31.
86
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
80 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
b. Komunikan
Komunikan adalah subyek yang dituju oleh komunikator
(pengirim/ penyampai pesan), yang menerima pesan-pesan (berita,
informasi, pengertian) berupa lambang-lambang yang mengandung
arti atau makna. Sebagaimana komunikator, komunikan yang
menjadi sasaran komunikasi juga bisa dalam bentuk individu
maupun banyak orang, misalnya dalam bentuk kelompok kecil,
kelompok besar, organisasi, bahkan masyarakat umum. Memahami
masing-masing komunikan merupakan hal yang sangat penting
dalam rangka mewujudkan tujuan komunikasi politik yang telah
direncanakan. Berapapun biaya, waktu dan tenaga yang dikerahkan
untuk mempengaruhi khalayak, tetapi kalau khalayak tidak terlebih
dahulu dipahami, maka usaha tersebut bisa sia-sia, karena bisa saja
khalayak tidak tertarik dengan komunikasi yang dilakukan.
Untuk mengetahui dan memahami segmentasi masyarakat,
para peneliti sering kali memulai dengan cara memetakan (scanning)
karakteristik masyarakat. Sebagaimana dijelaskan Cangara, ada tiga
cara yang bisa digunakan untuk memetakan karakteristik masyarakat
yang menjadi sasaran komunikasi, yaitu:
1. Pemetaan yang didasarkan kepada aspek sosiodemografik.
Pemetaan ini mencakup usia, jenis kelamin, pekerjaan,
pendidikan, tingkat pendapatan (income), agama, ideologi,
etnik dan termasuk pemilikan media.
2. Pemetaan berdasarkan profil psikologis. Pemetaan ini mencakup
sikap yang tercermin dari kejiwaan masyarakat, misalnya
tempramen, tenang, sabar, terbuka, emosional, tidak sabar,
dendam, antipati, terus terang, tertutup, berani, penakut.
3. Pemetaan yang didasarkan kepada karakteristik perilaku
masyarakat. Pemetaan ini mencakup kebiasaan-kebiasaan
yang dijalani dalam kehidupan suatu masyarakat. Misalnya
agamais (religius), santun, suka menabung, suka protes, suka
mabuk-mabukan, suka menolong, memiliki solidaritas tinggi
dan sebagainya.87
87
Cangara, Perencanaan, h. 112.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 81
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa khalayak
memiliki karakteristik yang sangat variatif. Dengan mengetahui peta
khalayak, seorang perencana komunikasi dapat memprediksi dan
mengantisipasi, serta menyesuaikan program-program komunikasi
yang akan dilakukannya.
c. Isi (pesan-pesan) komunikasi
Isi (pesan-pesan) komunikasi merupakan produk penguasa
setelah melalui proses encoding atau setelah diformulasikan
kedalam simbol-simbol sesuai lingkup kekuasaan. Pada dasarnya isi
komunikasi terdiri dari: 1) seperangkat norma yang mengatur lalu
lintas transpormasi pesan. 2) panduan dan nilai-nilai idealis yang
tertuju kepada upaya mempertahankan dan melestarikan sistem nilai
yang sedang berlangsung. 3) sejumlah metode dan cara pendekatan
untuk mewujudkan sifat-sifat integratif bagi penghuni sistem. 4)
karakteristik yang menunjukkan identitas negara. 5) motivasi sebagai
dorongan dasar yang memicu pada upaya meningkatkan kualitas
hidup bangsa.
Pesan-pesan yang disampaikan oleh para aktor politik
menunjukkan sejauh mana posisi, peran dan kualitas komunikator
politik. Pesan merupakan isi yang disampaikan, dan diharapkan akan
dipahami masyarakat sehingga membuat masyarakat melakukan
tindakan politik sesuai dengan pesan yang disampaikan. Pesan
merupakan inti komunikasi yang disampaikan kepada komunikan,
sehingga jika pesan tidak tepat, maka sasaran yang diinginkan juga
tidak tercapai.
Menurut Soyomukti, pesan politik dapat dibagi menjadi dua
jenis, yaitu pesan praktis pragmatis dan pesan ideologis. Pesan
pertama pesan praktis pragmatis, yaitu pesan yang disampaikan
komunikator kepada komunikan, agar komunikan melakukan
tindakan yang berguna untuk kepentingan politik sesaat. Misalnya,
mengajak masyarakat untuk memilih dirinya atau partainya dalam
pemilu. Dengan demikian, pesan praktis pragmatis ini adalah pesan
yang disampaikan dengan tujuan agar penerima pesan melakukan
tindakan dalam momen-momen tertentu. Pesan kedua adalah pesan
ideologis, yaitu suatu pesan yang berisi pemahaman dan iformasi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
82 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
tentang cita-cita politik dalam membentuk hubungan politik yang
kuat di masa yang akan datang. Pesan ideologis bisasanya tidak
semata-mata disampaikan dalam rangka memenangkan pertarungan
politik dan kekuasaan sesaat, tetapi sekaligus untuk menumbuhkan
kesadaran politik, dan memungkinkan munculnya partisipasi aktif
masyarakat dalam politik. 88
d. Media Komunikasi
Dalam sistem politik yang bagaimana pun bentuk dan sifatnya,
maka media komunikasi mendapat tempat yang cukup penting.
Media komunikasi menjadi pusat perhatian penguasa sebagai alat
untuk mendapat legitimasi rakyat didalam melakukan kebijaksanaan
dan sekaligus memperkuat kedudukan penguasa melalui pesanpesan komunikasi yang telah direpresentasikan kedalam simbolsimbol kekuasaan. Media yang dapat digunakan untuk komunikasi
bermacam-macam, mulai dari media lama, seperti media cetak,
media elektronik, media tradisional sampai kepada media baru,
seperti internet yang telah memediasi munculnya media-media
sosial, seperti facebook, twitter, istagram, path, dan lain-lain.
Memilih media komunikasi politik harus mempertimbangkan
karakteristik isi dan tujuan isi pesan yang ingin disampaikan, dan
jenis media yang diminati khalayak. Hal ini sangat penting dalam
menghindari pemborosan biaya, waktu dan tenaga. Misalnya, akan
terjadi pemborosan biaya, jika televisi digunakan sebagai media
penyampaian pesan politik, sementara khalayak tidak menjadikan
televisi sebagai media utama dalam mengakses informasi politik.
Demikian juga dengan penggunaan surat kabar tidak akan efektif
untuk masyarakat yang tidak pandai membaca, atau sulit ekonominya
untuk membeli surat kabar. Oleh sebab itu, untuk mengetahui
secara persis media yang tepat digunakan untuk penyiaran pesan
politik, tidak salah jika partai atau seorang kandidat terlebih dahulu
melakukan survey penggunaan media di masyarakat.
Cangara mengutip dari UNESCO terkait dengan petunjuk
pemilihan media komunikasi yang perlu diperhatikan. Pertama, yang
perlu diperhatikan adalah sumber daya komunikasi yang tersedia di
88
Soyomukti, Komunikasi, h. 69.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 83
suatu tempat. Misalnya, berapa banyak stasiun radio, penerbit surat
kabar, stasiun televisi yang digunakan oleh masyarakat. Apakah
siaran televisi atau radionya swasta atau pemerintah, siapa pemilik
penerbit surat kabar atau pemilik televisinya dan informasi apa yang
dibutuhkan masyarakat. Kedua, perlu juga diperhatikan kepemilikan
media di kalangan masyarakat. Misalnya, berapa banyak masyarakat
yang memiliki radio, televisi maupun pelanggan surat kabar. Ketiga,
perlu diperhatikan apakah pesan yang disampaikan terjangkau
atau tidak oleh masyarakat. Dalam kaitan ini, perlu diperhatikan
apakah siaran radio, televisi atau surat kabar dapat diterima oleh
masyarakat.89
e. Tujuan atau efek komunikasi
Efek komunikasi politik yang diharapkan adalah terciptanya
pemahaman terhadap sistem politik, atau sistem pemerintahan
dan partai-partai politik, di mana nuansanya akan bermuara pada
pemberian suara (vote) dalam pemilihan umum. Pemberian suara
sangat menentukan terpilih atau tidaknya seorang kandidat untuk
posisi mulai tingkat Presiden, Wakil Presiden, Anggota DPR, MPR,
Gubernur danWakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Walikota
dan Wakil Walikota sampai pada tingkat DPRD. Dengan demikian,
dipahami bahwa efek adalah hasil dari penerimaan pesan atau
informasi yang disampaikan oleh komunikan kepada masyarakat
sebagai sasaran komunikasi politik, sehingga dapat dipastikan bahwa
setiap program komunikasi yang dilakukan mempunyai tujuan,
yakni mempengaruhi target sasaran. Berhasilnya tujuan tersebut,
tentu akan memberikan pengaruh atau efek yang berlanjut dengan
pemberian respon tanggapan atau jawaban yang di sebut umpan
balik atu feedback. Feedback adalah arus balik yang berupa tanggapan
atau jawaban dalam rangka proses komunikasi yang bertujuan untuk
saling pengertian atau memperoleh kesepakatan bersama. Efek bisa
terjadi dalam bentuk perubahan pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude) dan prilaku (behaviour). Pada tingkat pengetahuan, pengaruh
bisa terjadi dalam bentuk perubahan persepsi dan perubahan
pandangan (opinion). Pada tingkat sikap, bisa terjadi pada perubahan
89 Cangara, Perencanaan, h. 121.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
84 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
internal pada diri seseorang yang diorganisir dalam bentuk prinsip,
sebagai hasil evaluasi yang dilakukannya terhadap suatu obyek.
Sementara pada tingkat perilaku (behaviour), ialah perubahan yang
terjadi dalam bentuk tindakan.
Dalam komunikasi politik, untuk mencapai tujuan tersebut maka
sumber-sumber komunikasi dikelola secara bijak melalui perencanaan
yang matang dan terarah. Sifat dan bentuk tujuan yang hendak dicapai
akan sangat bergantung kepada sistem politik yang mendasarinya.
Keberhasilan proses komunikasi pada akhirnya bermuara pada
kemampuan komunikator dalam memotivasi komunikan untuk berbuat
sesuatu sesuai kebijaksanaannya yang telah di tetapkan komunikasi elit
berkuasa. Sebagaimana dijelaskan Rush dan Allthof, bahwa pelaksanaan
komunikasi politik dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam
komunikasi politik, yaitu: sumber, pesan, saluran, umpan balik dan
audiens atau pendengar.90 Namun dalam pelaksanaannya, komunikasi
politik seringkali mengalami permasalahan. Karena itu sebuah sistem
harus berjalan dengan baik dan saling mendukung agar isi pesan
tersampaikan sesuai dengan apa yang diharapkan.
3. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Politik
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa komunikasi politik
merupakan prasyarat yang diperlukan bagi berlangsungnya fungsifungsi lainnya seperti fungsi artikulasi, agregasi, sosialisasi, dan
rekrutmen. Dari sini dipahami bahwa komunikasi politik memiliki
fungsi dan tujuan yang jelas. Mengikuti logika penjelasan Brian
Mcnair, ada lima fungsi dasar komunikasi politik, yaitu: Pertama,
memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa yang terjadi di
sekitarnya. Dalam kaitan ini, seorang politikus melakukan monitoring,
pengamatan terhadap lingkungan sekitar dan menceritakan realitas
tersebut kepada masyarakat. Kedua, memberikan pendidikan politik
kepada masyarakat terhadap arti dan siginifikansi fakta yang ada.
Dalam hal ini, para politikus dituntut agar berusaha untuk membuat
liputan yang objektif, yang bisa mendidik masyarakat terkait dengan
realitas yang terjadi. Ketiga, menyediakan diri sebagai platform
untuk menampung masalah-masalah politik, sehingga bisa menjadi
90
Rush, dan Althoff, Pengantar, h. 225.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 85
wacana dalam membentuk opini publik dan mengembalikan hasil
opini tersebut kepada masyarakat. Keempat, membuat publikasi
yang ditujukan kepada pemerintah dan lembaga-lembaga politik.
Kelima, melakukan advokasi yang bisa membantu agar kebijakan dan
program-program lembaga politik dapat dialurkan kepada media
massa.91
Penjelasan McNair memiliki kaitan erat dengan penjelasan
Hedebro, bahwa komunikasi politik berfungsi untuk:
1. Memberikan informasi kepada masyarakat terhadap usahausaha yang dilakukan lembaga politik maupun dalam
hubungannya dengan pemerintah dan masyarakat.
2. Melakukan sosialisasi tentang kebijakan program dan tujuan
lembaga.
3. Memberi motivasi
pendukung partai.
kepada
politisi,
fungsionaris
dan
4. Menjadi flatform yang bisa menampung ide-ide masyarakat,
sehingga menjadi bahan pembicaraan dalam bentuk opini
publik.
5. Mendidik masyarakat dengan pemberian informasi,
sosialisasi tentang cara memilih dan menggunakan hak
mereka sebagai pemberi suara.
6. Menjadi hiburan masyarakat sebagai pesta demokrasi.
7. Memupuk integrasi dengan mempertinggi rasa kebanggaan
guna menghindari konflik dan ancaman berupa tindakan
separatis yang mengancam persatuan nasional.
8. Menciptakan iklim perubahan dengan mengubah struktur
kekuasaan melalui informasi untuk mencari dukungan
masyarakat luas terhadap gerakan reformasi dan demokrasi.
9. Meningkatkan aktivitas politik masyarakat melalui siaran
berita, agenda setting, maupun komentar-komentar politik.
10. Menjadi pengawal bagi terciptanya good governance yang
transparan dan akuntabel.92
91
92
Mc. Nair, Introduction, h. 52.
Goran Hedebro, Communication and Social Change in Developing Nation, A
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
86 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa inti dari fungsi
komunikasi politik adalah sebagai upaya untuk menyerap berbagai
aspirasi, pandangan-pandangan dan gagasan yang berkembang
dalam masyarakat dan menyalurkan sebagai bahan dalam penentuan
kebijaksanaan. Selain itu, fungsi komunikasi politik juga merupakan
penyebarluasan rencana-rencana atau kebijakan pemerintah
kepada rakyat. Dari fungsi ini dipahami bahwa komunikasi politik
membawakan arus informasi timbal balik dari rakyat kepada
pemerintah dan dari pemerintah kepada rakyat. Dengan demikian,
terlihat jelas tujuan dari fungsi komunikasi itu sendiri. Sebagaimana
dikutip Effendy dari Lord Windelesham, yang mengemukakan
bahwa tujuan komunikasi politik adalah suatu penyampaian pesan
politik yang secara sengaja dilakukan oleh komunikator kepada
komunikan dengan tujuan membuat yang terlibat komunikasi
berperilaku tertentu.93 Komunikasi politik juga dijadikan alat untuk
menghubungkan pikiran politik yang hidup dalam masyarakat, baik
pikiran intern golongan, instansi, asosiasi, atau sektor kehidupan
politik pemerintahan. Menempatkan komunikasi politik sebagai
pendekatan politik yang merupakan alat untuk penyampaian pesanpesan yang bercirikan politik oleh para aktor-aktor politik pada pihak
lain.94
Dalam kaitannya dengan uraian di atas, dapat dipahami
bahwa partai-partai politik melakukan komunikasi politik dengan
melakukan penyampaian ide-ide dengan cara menghubungkan
gagasan-gagasan politiknya kepada masyarakat agar terciptanya
perubahan di masyarakat sesuai dengan cita-cita politik yang di usung
masing-masing parpol. Dengan demikian, terlihat secara jelas, bahwa
tujuan komunikasi politik adalah menjalankan proses komunikasi
secara optimal untuk mencapai kesamaan persepsi tentang isuisu atau ide-ide politik antara para elit politik dengan masyarakat.
Komunikasi politik dianggap gagal apabila kesamaan persepsi
antara komunikator dan komunikan tidak menemukan titik temu
dalam kesamaan persepsi. Dalam hal itu, partai politik sebagai subjek
Critical View (Iowa State University Press, 1982), h. 89.
93
94
Effendy, Dinamika, h.158.
Harun dan Sumarno, Komunikasi, h. 3.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 87
dalam komunikasi politik membutuhkan dukungan dari masyarakat
untuk mempertahankan eksistensinya serta dukungan terhadap
partai bersangkuatan. Dukungan tersebut tidak akan diberikan oleh
masyarakat apabila nilai utama dalam komunikasi yaitu kesamaan
ide dan gagasan tidak tebentuk. Itulah sebabnya, jika diikuti logika
berpikir Arifin, ia mengatakan bahwa tujuan lain dari komunikasi
politik, yaitu untuk mempengaruhi kebijakan atau keputusan dalam
pembuatan peraturan dan perundang-undangan. Itulah sebabnya
semua kegiatan komunikasi politik diperlukan seperti lobi, tindakan,
retorika, public relation politik dan komunikasi massa.95
Ardial menyebutkan, bahwa tujuan komunikasi politik sangat
terkait dengan pesan politik yang disampaikan komunikator politik.
Sesuai dengan tujuan komunikasi, maka komunikasi politik menurut
Ardial lebih dari sekedar menyampaikan informasi politik, tetapi
komunikasi politik bertujuan untuk pembentukan citra politik,
pembentukan public opinion (pendapat umum) dan bisa pula
menghandel pendapat atau tuduhan lawan politik. Selanjutnya
komunikasi politik bertujuan menarik simpatik khalayak dalam
rangka meningkatkan partisipasi politik saat menjelang pemilihan
umum atau pemilihan kepala daerah.96
a. Membangun citra politik
Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membangun
citra politik yang baik bagi khalayak. Para politisi, partai maupun
pemimpin politik sangat berkepentingan dalam pembentukan
citra politik melalui komunikasi politik dalam usaha menciptakan
stabilitas sosial dengan memenuhi tuntutan rakyat. Citra politik itu
terbangun atau terbentuk berdasarkan informasi yang diterima oleh
khalayak, baik langsung maupun melalui media politik, termasuk
media massa yang bekerja untuk menyampaikan pesan politik
yang umum dan aktual. Komunikasi politik adalah salah satu
upaya membangun citra agar sampai di masyarakat sesuai dengan
apa yang diharapkan. Komunikasi politik dipahami sebagai usaha
terus-menerus oleh suatu partai untuk melakukan komunikasi yang
95
Arifin, Komunikasi, h. 86.
96
Ardial, Komunikasi, h. 44.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
88 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
bersifat dialogis maupun monologis dengan masyarakat. Komunikasi
politik yang dibangun tidak hanya berisifat temporal (dilakukan
hanya pada waktu kampanye politik), melainkan melekat juga pada
pemberitaan dan publikasi atas apa saja yang telah, sedang, dan akan
dilakukan oleh partai politik bersangkutan. Tujuan dari komunikasi
politik sebagaimana disebut Firmanzah adalah untuk menciptakan
kesamaan pemahaman politik (misalnya pesan, permasalahan, isu,
kebijakan politik) antara satu partai politik dengan masyarakat.97
b. Membentuk dan membina pendapat umum
Selain untuk membentuk citra politik, komunikasi politik juga
bertujuan membentuk dan membina pendapat umum (opini public).
Bahkan dapat ditegaskan, bahwa citra politik dan pendapat umum
merupakan konsekuensi dari proses komunikasi politik yang
bersifat mekanistis. Emory S. Bogardus mengangkat empat macam
kompetensi pendapat umum, yaitu:
1.Pendapat umum dapat memperkuat undang-undang, karena
tanpa dukungan pendapat umum maka undang-undang akan
merupakan deretan huruf mati.
2.Pendapat umum memberi kekuatan hidup bagi institusiinstitusi atau lembaga kemasyarakatan (sosial institutions).
3.Pendapat umum merupakan pendukung dasar moral
masyarakat.98
Dengan mengetahui opini publik yang sesungguhnya,
kebijaksanaan yang diambil bisa disesuaikan, dimodifikasi,
sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya benturan psikologis.
Mempertimbangkan pendapat umum dalam proses pengambilan
keputusan bukan berarti elite dalam struktur sosial selalu menjadi
pihak yang harus mengalah, sehingga otoritas tidak bisa membedakan
pembagian nilai lagi. Memahami pendapat umum berarti memilik
data yang akurat mengenai, bagaimana dan kapan waktu yang
tepat meluncurkan suatu kebijaksanaan. Karena kebijaksanaan
97
Firmanzah, Marketing Politik, h. 242.
Emori S. Bogardus, The Marketing Public Opinion (New York: Associantion
press, 1991), h. 14.
98
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 89
yang tidak memperoleh respons dari masyarakat, bukan semata
karena kebijaksanaan itu belum dimengerti atau diterima sebagai
bagian nilai-nilai bersama. Khalayak (komunikan) belum merasakan
kebijaksanaan itu penting baginya, sehingga merasa tidak ikut
memiliki.
Pembentukan pendapat umum dalam komunikasi politik,
sangat ditentukan oleh peranan media politik, terutama media massa.
Dalam kaitan ini, Anwar Arifin menjelaskan, bahwa pers, radio, film
dan televisi, selain memiliki fungsi memberi informasi, mendidik,
menghubungkan dan menghibur, juga dapat membentuk citra
politik dan pendapat umum yang merupakan dimensi penting dalam
kehidupan politik.99 Pendapat umum sebagai kekuatan politik tidak
hanya mampu mendukung suatu pemerintahan atau kekuasaan,
melainkan juga memiliki kekuatan untuk menggulingkannya. Seperti
apa yang dialami oleh Soekarno, Soeharto dan Abd. Rahman Wahid,
baik melalui cara yang konstitusional (melalui parlemen), maupun
melalui pergolakan-pergolakan atau aksi-aksi massa, atau keduakeduanya (aksi massa dan parlemen). Sehingga pendapat umum
dapat dibentuk, dipelihara, dibina dengan baik oleh semua kekuatan
politik, melalui komunikasi politik yang intensif, persuasif ataupun
informatif, edukatif dan koersif.
c. Mendorong partisipasi politik
Istilah partisipasi politik telah digunakan dalam berbagai arti.
Partisipasi politik merupakan aspek penting dalam tatanan negara
demokrasi, sekaligus sebagai ciri khas adanya modernisasi politik. Itulah
bedanya negara modern dengan negara yang masyarakatnya cenderung
digolongkan kepada tradisional. Pada masyarakat tradisional yang
sifat kepemimpinan politiknya terkesan otoriter atau ditentukan oleh
sekelompok elit, partisipasi politik masyarakatnya tergolong sangat
rendah. Sebab segala keputusan yang diambil pemerintah, sering kali
tidak melibatkan masyarakat, atau jika dilibatkan pun, namun relatif
sangat kecil. Ini sekaligus fakta, bahwa masyarakat sederhana yang
kepemimpinannya otoriter, sering kali kurang diperhitungkan dalam
proses-proses politik. Berbeda dengan masyarakat di negara-negara yang
99
Arifin, Komunikasi Politik, h. 11.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
90 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
proses demokrasinya maju dan modernis, partisipasi masyarakat jauh
lebih tinggi. Mereka diperhitungkan tidak hanya dalam bidang politik,
tetapi termasuk dalam bidang hukum, adiminstrasi pembangunan,
ideologi nasional, pembangunan sosial politik, integrasi politik,
pemerataan pembangunan dan lain-lain. Sebab itu, Sastroatmodjo
menjelaskan, bahwa partisipasi politik merupakan kegiatan yang
dilakukan warga negara untuk terlibat dalam proses pengambilan
keputusan dengan tujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan
yang dilakukan pemerintah.100
Istilah Miriam Budiardjo, Partisipasi politik merupakan
pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang
absah oleh rakyat. Anggota masyarakat yang berparsisipasi dalam
proses politik melalui pemilu terdorong oleh keyakinan bahwa
melalui kegiatan bersama itu kepentingan mereka akan tersalur
atau sekurang-kurangnya diperhatikan. Mereka percaya bahwa
kegiatan mereka memiliki efek, dan efek tersebut dinamakan political
efficacy. Ditinjau dari aspek sosiologi politik, semakin banyak rakyat
yang turut berpartisipasi dalam politik, menunjukkan bahwa
pendidikan politik rakyat berhasil. Semakin besar partisipasi rakyat,
menunjukkan pelaksanaan demokrasi bergerak ke arah keberhasilan.
Tingginya tingkat partisipasi rakyat, ditunjukkan oleh banyaknya
rakyat mengikuti dan memahami masalah politik dan turut atau
ingin melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik. Sebaliknya,
jika tingkat partisipasi politik masyarakat rendah, menunjukkan
bahwa pelaksanaan demokrasi pada satu negara kurang baik.101
Partisipasi politik merupakan masalah yang selalu dihadapi
oleh setiap negara, karena partisipasi politik berkaitan erat dengan
kelangsungan suatu negara. Partisipasi politik merupakan tolak ukur
dalam memahami kualitas warga negara pada tingkat rujukan dan
tanggug jawab atas kemajuan dan kelangsungan hidup masyarakat
atau mengetahui sistem politik apa yang mendasari partisipasi
tersebut dari sifat ataupun orientasi politiknya. Partisipasi politik
dapat bersifat perorangan ataupun kelompok, di organisasikan atau
Sudjono Sastroatmodjo, Perilaku Politik (Semarang: IKIP Semarang Press,
1995), h. 67.
100
101
Budiarjo, Dasar-Dasar, h. 369.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 91
secara spontan secara baik-baik atau dengan kekerasan. Partisipasi
tumbuh karena adanya dorongan dari diri manusia yang muncul
karena kesadaran, tanpa adanya paksaan atau tekanan dari luar,
karena partisipasi bersifat berubah. Partisipasi yang kekal adalah
partisipasi yang timbul dari hati sendiri, karena merasa bahwasanya
dirinya adalah bagian dari negara yang dituntut untuk memikirkan
dan memajukan negara.
Partisipasi politik merupakan cerminan dari sikap politik warga
negara atau masyarakat yang berwujud dalam perilaku, baik secara
psikis maupun fisik. Perilaku politik dalam wujud partisipasi politik
dapat berlangsung secara konvensional. Partisipasi yang langsung
bersifat legal dan berada dalam ikatan normatif. Partisipasi politik
seperti inilah yang dikatakan partisipasi yang lahir dari hati nurani
tanpa ada paksaan. Partisipasi politik sebagai tujuan komunikasi
politik dimaksudkan agar individu-individu berperan serta dalam
kegiatan politik (partisipasi politik). Salah satu bentuk partisipasi
politik yang penting adalah ketika seseorang (khalayak) mau
memberikan suaranya untuk seorang politikus maupun partai politik
tertentu dalam pemilihan umum.
Individu atau kelompok mengambil bagian dalam politik dengan
berbagai cara. Dan Nimmo membagi cara tersebut ke dalam tiga
dimensi, yaitu gaya umum partisipasi, motif yang mendasari kegiatan
berpartisipasi, dan konsekuensi terhadap partisipasi seseorang
dalam politik.102 Pertama, gaya partisipasi mengacu pada baik apa
yang dilakukan maupun bagaimana ia melakukannya, misalnya
langsung terus-menerus dengan figur politik. Selain langsung, ada
juga sistematis untuk mencapai tujuan tetentu, mereka bertindak
bukan karena dorongan hati, melainkan berdasarkan perhitungan,
pikiran, perasaan untuk melakukan sesuatu dengan konsisten. Kedua,
partisipasi politik yang didorong oleh motivasi untuk ambil bagian
dari kegiatan politik. Motivasi bisa disengaja, misalnya beberapa
warga negara mencari informasi dan peristiwa politik untuk
mencapai tujuan tertentu. Mereka bisa menjadi berpengetahuan
mengarahkan kebijaksanaan pejabat pemerintah. Motivasi bisa juga
dilakukan dengan rasional, di mana masyarakat berhasrat mencapai
102
Nimmo, Komunikasi Politik, h. 127.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
92 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
tujuan tertentu, yang dengan teliti mempertimbangkan alat alternatif
untuk mencapai tujuan itu, dan kemudian memilih yang paling
menguntungkan di pandang dari segi pengorbanan dan hasilnya.
Sesuai dengan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa fungsi
komunikasi politik adalah untuk membangun citra politik, membentuk
dan membina pendapat umum, dan mendorong partisipasi politik.
Dari ketiga fungsi tersebut, pada akhirnya tujuannya adalah untuk
mewujudkan terciptanya partisipasi politik dan kemenangan para
politikus dan partai politik bersangkutan dalam pemilihan umum.
Keikutsertaan masyarakat dalam memberikan suara dalam pemilihan
umum, merupakan konsekuensi atau efek komunikasi yang sangat
penting. Dengan demikian, komunikasi politik merupakan prasyarat
yang diperlukan bagi berlangsungnya fungsi-fungsi lainnya seperti
fungsi artikulasi, agregasi, sosialisasi, dan rekrutmen. Oleh karena
itu, komunikasi politik sangat berkaitan erat dengan sistem politik.
Fungsi komunikasi politik sangat menentukan dalam pelaksanaan
program partai politik karena dalam melaksanakan program harus
adanya kesatuan antara komunikator dan komunikan yang ada di
partai politik tersebut.
4. Saluran-Saluran Komunikasi Politik
Sebagaimana dipahami bahwa komunikasi politik adalah proses
di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian
sistem politik kepada bagian lainnya, dan di antara sistem-sistem sosial
dengan sistem-sistem politik. Sebagai suatu proses komunikasi, tentu
komunikasi politik berkesinambungan dan melibatkan pertukaran
informasi di antara individu-individu dan kelompok-kelompoknya
pada semua tingkatan masyarakat.
Pada dasarnya komunikasi politik tidak terlepas dari adanya
peranan media massa. Media massa dalam hal ini dapat memberikan
gambaran sejauh mana seluruh proses politik itu mampu terintegrasi
dengan jaringan komunikasi sosial yang lebih luas. Melalui media massa
seperti surat kabar, radio, maupun televisi ini pada umumnya terdapat
informasi mengenai masalah-masalah politik yang ditujukan untuk
masyarakat luas. Meskipun tidak dipungkiri bahwa terkadang isu-isu
hiburan di media massa merupakan bagian utama yang ditonjolkan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 93
Komunikator politik, baik politikus, profesional atau aktivis,
sebagaimana dijelaskan Budiarjo selalu menggunakan alat untuk
mempengaruhi khalayak yang kurang terlibat di dalam politik.
Alat atau upaya untuk mengirimkan pesan tersebut ialah saluran
komunikasi yang berfungsi untuk menghindari terjadinya
miskomunikasi. Saluran ini bisa berupa media elektronik maupun
cetak. Saluran komunikasi politik merupakan sarana penghubung
antara komunikator dan komunikan. Secara populer media
komunikasi politik terdiri dari tiga macam, yaitu interpersonal,
organisasi, dan media massa.103 Tetapi, jika dilihat dari aspek jaringan
komunikasi, maka saluran komunikasi politik dibagi kepada: 1)
organisasi sebagai saluran, 2) kelompok sebagai saluran, 3) media
massa sebagai saluran, serta 4) saluran khusus yang biasanya
digunakan oleh orang atau individu dan/ atau kelompok tertentu
yang memainkan peran politik.
Organisasi dapat menjadi media penyalur bagi politisi untuk
mewujudkan apresiasi politik yang dimilikinya serta menampilkan
impression management politik yang dijalaninya sepanjang menyandang
predikat mewakili untuk menjalankankan fungsi keterwakilannya.
Saluran komunikasi kelompok juga dapat menjadi saluran bagi politisi
untuk menyalurkan apresiasi politiknya dan sekaligus menampilkan
penampilan politiknya. Tetapi kelompok memiliki kelemahan jika
politisi semata-mata tergantung pada dinamika kelompok untuk
menampilkan penampilan politiknya. karena kelompok biasanya
juga kurang langgeng, kurang melembaga, dan kurang permanent
di samping kelompok juga biasanya sangat mudah dipengaruhi oleh
sifat formal dan informal dari saluran komunikasi.
Sementara itu, media massa digunakan sebagai saluran karena
sifatnya yang dapat menjangkau khalayak secara heterogen dan tidak
terbatas, meskipun pengaruhnya juga seringkali tidak langsung.
Media massa justru paling banyak digunakan alam penampilan
politik politisi sebagai saluran untuk menebar jaringan komunikasi
yang relevan untuk mempertukarkan pesan politik politisi. Sebab,
di samping mampu menggambarkan realita politik, media massa
juga dapat dijadikan sebagai indeks untuk mengetahui mana yang
103
Ibid, h. 166.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
94 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
penting dan mana yang tidak penting. Seringkali media massa juga
dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui pendapat umum.
Saluran komunikasi interpersonal merupakan bentukan dari
hubungan satu orang dengan satu orang lainnya. Saluran ini pun
bisa berbentuk tatap muka maupun berperantara. Seorang kandidat
Presiden misalnya, dia berjalan melewati banyak orang sambil
berjabat tangan, atau seorang kandidat politik yang mendatangi
konstituen dari rumah ke rumah, merupakan contoh saluran
komunikasi interpersonal tatap muka.
Setiap sistem politik mengembangkan jaringan komunikasi
politiknya sendiri, dan mengakui pentingnya sumber-sumber
khusus, sedangkan saluran-saluran dan para pendengar akan berbeda
menurut jenis media yang digunakan. Pada masyarakat primitif
yang dicirikan dengan tingkatan melek-huruf yang rendah dan tidak
memiliki keahlian teknis dan sarana untuk mengembangkan media
massa modern, maka barang cetakan dan siaran radio merupakan
sarana utama, dengan mana informasi politik disampaikan kepada
setiap sistem politik. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa seluruh
media dapat dipergunakan dalam komunikasi politik, karena pada
dasarnya komunikasi politik sendiri bertujuan untuk mempengaruhi
pemberian suara dalam pemilihan umum. Penggunaan salah satu
di antara semua media yang tersedia itu sangat tergantung kepada
kebutuhan atau kemampuan khalayak menerima dan mencerna
pasan-pesan politik yang akan disampaikan. Jadi, seleksi media
didasarkan pada kemampuan, kebutuhan dan kepentingan serta
lokasi khalayak yang dijadikan sasaran komunikasi politik.
Pencitraan Politik Melalui Marketing Mix Politik
Strategi komunikasi politik merupakan sebuah taktik yang
sangat berperan dalam pemenangan kontestasi politik. Keberhasilan
strategi komunikasi politik memberikan sebuah kontribusi yang besar
dalam menggunakan dan merencanakan strategi partai politik untuk
menyusun, tidak hanya dalam menghadapi perhelatan politik, namun
pasca perhelatan politik. Strategi dan politik, merupakan dua hal yang
harus berbarengan apabila sebuah partai misalnya, ingin mewujudkan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 95
tujuan politiknya. Namun demikian, strategi membutuhkan taktik,
karena taktik adalah prasyarat dalam sebuah perencanaan strategi.
Perencanaan taktik dapat memberikan jawaban atas pertanyaan siapa,
akan melakukan apa, kapan, di mana, bagaimana dan mengapa.
Keputusan taktis semacam ini kata Schroder, digunakan untuk
mencapai setiap tujuan strategis. Keputusan-keputusan ini terutama
tergantung pada pengenalan akan ruang lingkup, kerangka prasyarat
dan kemampuan pribadi. Oleh sebab itu kata Schroder, bahwa
perencanaan taktis tidak direncanakan dari tingkat strategis, melainkan
oleh pimpinan yang ada ditingkat taktis.104
Strategi komunikasi politik sebagaimana dipahami adalah cara
atau taktik dari sebuah partai untuk mengemas dan mempromosikan
seluruh produk dan atribut yang berkaitan dengan kepartaian, sehingga
masyarakat bersedia memilih partai yang ditawarkan. Sebagaimana
disebutkan Firmanzah, bahwa promotion meliputi semua kegiatan yang
dilakukan institusi politik untuk mengkomunikasikan produknya,
platform partai, ideologi, dan lain-lain kepada publik.105 Dengan
demikian, promosi dapat dikatakan sebagai pengerahan semua sumber
daya pada media yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
ketertarikan sekaligus menghadirkan dukungan terhadap partai.
Aktivitas promosi tidak hanya terbatas pada apa yang dilakukan
selama periode kampanye, melainkan juga termasuk yang dilakukan
jauh sebelumnya. Dapat juga ditegaskan, bahwa promosi dalam
political marketing, tidak jauh berbeda dengan promosi pemasaran,
meskipun konsep promosi pemasaran promotion mix (bauran
promosi) tidak seluruhnya relevan diterapkan dalam dunia politik.
Namun demikian, di Indonesia sendiri aktivitas marketing politik
dijadikan strategi handal untuk membangun citra dan popularitas
partai maupun kandidatnya. Di dalam konstelasi politik, citra dan
popularitas menduduki posisi penting. Selain bertujuan untuk
menjaring suara konstituen, popularitas juga berperan sebagai jalan
untuk mengkonstruksi citra partai atau kandidat. 106
Peter Schroder, Strategi Politik (Jakarta: Friedrich Noumann Shiftung, 2004),
h. 10-11.
104
105
Firmanzah, Marketing Politik, h. 203.
106
Pembentukan citra politik menciptakan ruang tertentu dalam benak pikiran
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
96 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Dalam kaitan itu, Arifin menegaskan bahwa dalam organisasi atau
lembaga diperlukan tenaga spesialis yang bisa menangani masalah-masalah
komunikasi, apakah itu untuk keperluan pencitraan, pemasaran atau
kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, perlu juga
dilakukan analisis terhadap perencanaan program kegiatan komunikasi.
Analisis dilakukan untuk terlebih dahulu mendiagnosa permasalahan yang
dihadapi dan kemudian merumuskan rencana-rencana taktis dan strategis.
Pada tahap perencanaan, sudah terlebih dahulu dikaji kesiapan sumber
daya manusia, tenaga, dana dan fasilitas. Sedangkan pada tahap kegiatan
komunikasi, maka yang harus dipikirkan adalah tindakan yang harus
dilakukan dalam menyebarkan informasi. Misalnya dengan menggunakan
media massa atau saluran komunikasi lainnya seperti kelompok, media
baru, fokus group, atau temu publik. Arifin juga menegaskan, bahwa
perencanaan komunikasi, selain bisa diaplikasikan untuk pencitraan
pribadi atau lembaga, dapat juga digunakan untuk pencitraan produk.
Antara pencitraan pribadi dan pencitraan produk, tidak jauh berbeda. Jika
pada pencitraan pribadi tujuannya adalah berusaha untuk menciptakan
agar bisa menjadi idola orang lain, maka pada pencitraan produk mengarah
pada bagaimana khalayak bisa menjadi konsumen tetap terhadap produk
yang ditawarkan.107
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pencitraan
dapat dilakukan dengan cara memasarkan produk. Dalam kontestasi
politik, produk yang akan dipasarkan adalah kandidat partai politik
atau partai politik itu sendiri. Maka dalam teori pemasaran, dikenal
istilah marketing mix yang terdiri dari bauran 4P. Pertama, products
(produk), yaitu segala sesuatu dalam bentuk barang atau jasa yang
khalayak mengenai tanggapan terhadap produk (kandidat, program) tertentu bagi
kepentingan khalayak, di mana terdapat dua hubungan yang dibangun, yaitu
hubungan internal dan hubungan ekternal. Untuk membentuk citra politik, dilakukan
secara permanen dan dalam jangka waktu yang panjang, tidak terbatas pada waktu
pelaksanaan pemilu. Di sinilah marketing dapat dijadikan sebagai konsep pengelolaan
strategi dan aktivitas politik yang terkait dengan kebijakan dan program kerja politik
partai ataupun kandidat. Aktivitas marketing dilihat sebagai proses yang lebih panjang
dan terus menerus dengan tujuan untuk memastikan pembentukan citra politik dan
pencapaian tujuan politik, membangun relationship antar elit dan publik serta untuk
memberi kepuasan dan loyalitas. Lihat, Rosyadi Ruslan, Kampanye Public Relations: Kiat
dan Strategi (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 26-27.
107
Cangara, Perencanaan, h. 75.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 97
diproduksi dan dipasarkan guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Dalam politik, produk yang dijual kepada khalayak adalah platform
partai yang meliputi visi misi serta program-program partai atau
kandidat dalam keterlibatannya dengan proses pembangunan.
Bahkan yang termasuk dalam produk ini adalah track record baik
yang berkaitan dengan prestasi-prestasi yang dicapai oleh kandidat,
maupun partai di masa yang lalu. Kemudian, produk lainnya adalah
personal characteristic, yaitu kepribadian yang dimiliki oleh kandidat.
Tiga kategori produk politik ini, akan menjadi pokok pertimbangan
penting masyarakat pemilih untuk menentukan pilihannya.
Kedua, place (tempat), yaitu tempat yang digunakan untuk
mendistribusikan atau memajang barang yang akan diproduksikan.
Dalam konteks politik, place merujuk pada metode atau saluran
yang digunakan mempromosikan kandidat kepada pemilih melalui
nilai-nilai atau karakteristik pribadinya. Place berkaitan erat dengan
cara institusi politik dalam menyampaikan pesan politik kepada
para calon pemilih. Artinya, partai politik harus bisa menyentuh
segenap lapisan masyarakat dengan melakukan segmentasi publik
berdasarkan struktur dan karakteristik masyarakat. Dengan aliran
produk politik kepada masyarakat luas, masyarakat dapat merasakan
dan mengakses produk politik lebih mudah.
Ketiga, prace (harga), yaitu nilai barang atau jasa yang ditawarkan.
Harga sebuah produk akan ditentukan sesuai dengan kualitas
barang yang ditawarkan. Semakin berkualitas barangnya, maka
akan semakin tinggi harganya. Dalam konteks politik, price (harga)
dilihat dari prespektif psikologi massa yaitu sebagai biaya yang
harus dibayar konsumen (konstituen) berupa trust (kepercayaan)
terhadap kandidat atau partai yang dipilih dan dari aspek ekonomi
harga dipandang sebagai biaya-biaya yang berhubungan dengan
pemilihan kandidat. Dengan demikian, price (harga) meliputi harga
ekonomi, harga psikologis, sampai pada harga citra. Harga ekonomi
mencakup semua biaya yang dikeluarkan selama periode kampanye,
harga psikologis mengacu pada harga persepsi psikologis, dan
harga cirta berkaitan dengan apakah pemilih merasa kandidat bisa
memberikan citra positif dan menjadi kebanggaan di mata semua
orang atau tidak.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
98 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Keempat, promotion (promosi), yaitu usaha yang dilakukan untuk
menarik perhatian para pembeli melalui teknik-teknik berkomunikasi.
Dalam kaitannya dengan politik, promosi meliputi semua kegiatan
yang dilakukan institusi politik untuk mengkomunikasikan
produknya, baik platform partai, ideologi, dan lain-lain kepada
publik. Promosi dapat dikatakan sebagai pengerahan semua sumber
daya pada media yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
ketertarikan sekaligus menghadirkan dukungan terhadap kandidat.
Sebagai catatan, aktivitas promosi tidak hanya terbatas pada apa yang
dilakukan selama periode kampanye saja, melainkan juga termasuk
yang dilakukan jauh sebelumnya oleh kandidat atau institusi politik.
Dari empat elemen marketing mix yang telah dijelaskan di
atas, promosi merupakan elemen yang penting karena memiliki
keterkaitan dengan perencanaan komunikasi. Meskipun tidak seluruh
promosi dalam political marketing bisa diterapkan, namun tidak salah
bagi seorang politikus atau suatu partai untuk mengadopsi konsep
promosi pemasaran promotion mix (bauran promosi) sebagaimana
yang diterapkan dalam dunia komersil (bisnis).
Mengutip penjelasan Cravens, membagi promotion mix terdiri
dari lima unsur utama:108 Pertama, advertaising (periklanan), yaitu
semua bentuk penyajian dan promosi (penyampaian pesan) melalui
suatu media kepada publik. Tujuannya adalah untuk memberikan
informasi tentang partai yang bersangkutan, atau mempromosikan
program-program dan kebijakan tertentu. Dalam konteks komunikasi
politik, periklanan berkaitan dengan semua bentuk penyajian dan
promosi (penyampaian pesan) kandidat melalui suatu media kepada
publik. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang
kualifikasi, pengalaman, latar belakang, dan kepribadian kandidat,
sehingga dukungan masyarakat diharapkan dapat meningkat.
Kedua, sales promotion (promosi penjualan), yaitu sebagai
bentuk market education (mengedukasi pasar) yang bertujuan untuk
mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau
108
Unsur utama promotion mix, yaitu advertaising (periklanan), sales promotion
(promosi penjualan), public relations (kehumasan), personal selling (penjualan pribadi),
direct marketing (pemasaran langsung). Lihat, David W Cravens, Strategic Marketing
(USA: Mc-Graw Hill, 2000), h. 350.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 99
jasa. Dalam hal ini, anggota partai menemui pemilih atau calon
pemilih dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bergabung
dengan partai yang ditawarkan. Dalam kegiatan politik, para
politikus menemui konsumen (pemilih atau calon pemilih) untuk
mengenalkan produk secara langsung dengan melakukan presentasi
mengenai produk sekaligus memberi kesempatan kepada khalayak
untuk bersedia secara sukarela untuk memberikan dukungan bagi
calon bersangkutan.
Ketiga, public relations (kehumasan) merupakan pembentukan
persepsi publik (pencitraan) menggunakan informasi, persuasi,
dan penyesuaian untuk menghidupkan dukungan publik terhadap
partai. Dalam komunikasi politik, public relations adalah suatu
rangkaian kegiatan yang diorganisir sedemikian rupa sebagai suatu
rangkaian kampanye atau program terpadu, dan berlangsung secara
berkesinambungan dan teratur. Kegiatan public relations sama sekali
tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau dadakan. Tujuannya
adalah untuk memastikan kiprah organisasi yang bersangkutan, agar
senantiasa diketahui oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan atau
seluruh publik.
Keempat, personal selling (penjualan pribadi), para anggota partai
menemui dan berinteraksi langsung dengan pemilih, melakukan
presentasi, menjawab pertanyaan dan menerima pesan-pesan pemilih.
Dalam konteks komunikasi politik, personal selling dapat mempersuasi
pemilih berdasarkan penampilan fisik dan bahasa tubuh kandidat. Pada
bagian ini, ada empat tahap yang harus diperhatikan, yaitu: (1) kualifikasi
tentang siapa saja yang akan di sasar; (2) mengenali karakteristik pemilih,
baik dari segi karakter dan ideologinya; (3) menawarkan rencana atau
gagasan untuk meyakinkan sasaran memilih kandidat; (4) relationship,
menjaga hubungan dengan pemilih.
Kelima, direct marketing (pemasaran langsung), yaitu penggunaan
surat, telepon, faximile, e-mail dan alat penghubung non-personil
lainnya untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau
mendapatkan tanggapan langsung dari pemilih dan calon pemilih
tertentu. Model seperti ini dapat dilakukan dengan adanya dukungan
fasilitas internet dan sebagainya.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
100 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
Pencitraan Politik Melalui Kampanye Politik
Strategi pencitraan dapat dilakukan melalui kampanye politik.
Sebuah kampanye politik merupakan usaha terorganisir yang berusaha
untuk mempengaruhi proses-proses pembuatan keputusan di dalam
kelompok spesifik. Dalam kehidupan demokrasi, kampanye politik
disebut juga dengan kampanye pemilihan umum. Tujuan kampanye
politik pun sangat spesifik tergantung pada jenis pemilihan umumnya,
misalnya kampanye politik Presiden bertujuan untuk mempengaruhi
calon pemilih untuk memilih Presiden tertentu. Demikian juga
dengan pemilihan kepala daerah, ditujukan agar calon pemilih
memilih kepala daerah tertentu. Dalam perspektif komunikasi politik,
kampanye didefinisikan sebagai bagian dari aktivitas komunikasi
yang terorganisasi, secara langsung ditunjukan khalayak, pada periode
waktu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.109 Menurut
Arnold Steinberg sebagaimana dikutip Efriza, kampanye politik adalah
cara yang digunakan para warga negara dalam demokrasi untuk
menentukan siapa yang akan memerintah mereka. Politik adalah
praktik atau pekerjaan menjalankan urusan politik, yaitu melaksanakan
atau mencari kekuasaan dalam urusan pemerintah.110
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kampanye
merupakan proses komunikasi yang dilakukan secara terorganisir
dengan periode waktu tertentu untuk mempengaruhi publik dalam
mengambil keputusn. Kampanye merupakan usaha yang dikelola
secara terorganisir untuk mengusahakan orang yang dicalonkan,
terpilih dalam suatu jabatan resmi. Artinya, dalam hal ini terlihat
bahwa kampanye politik adalah suatu usaha hubungan masyarakat.
Maka dari itu, masing-masing partai politik harus melakukan proses
komunikasi seperti ini untuk mensosialisasikan pesan-pesan yang
ingin disampaikan kepada publik. Bentuk kampanye politik umumnya
dilakukan dalam bentuk pertemuan dan rapat-rapat umum yang berisi
berbagai pidato, pembicaraan, penyampaian slogan-slogan atau dalam
bentuk penyebaran informasi melalui selebaran yang berisi ajakan,
bujukan, gambar-gambar, simbol dan sebagainya.
109
Ruslan, Kampanye, h. 21
110
Efriza, Political, h. 469.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 101
Pesan-pesan dari suatu kampanye politik lazimnya memuat
gagasan-gagasan yang ditawarkan oleh para kandidat atau partai
politik kepada para khalayak calon pemilih. Pesan-pesan tersebut
berisi butir-butir tentang kebijakan yang diulang berkali-kali.
Menurut P. Norris sebagaimana dikutip Firmanzah, kampanye politik
adalah suatu proses komunikasi politik, di mana partai politik atau
konstestan individu berusaha mengkomunikasikan ideologi ataupun
program kerja yang mereka tawarkan. Tidak hanya itu, komunikasi
politik juga mengkomunikasikan pesan dan motivasi partai politik
atau konstituen dalam memperbaiki kondisi masyarakat. Partaipartai politik berusaha membentuk pencitraan bahwa partai
merekalah yang paling peduli atas permasalahan sosial.111
Fungsi kampanye politik diantaranya adalah pertama, proses
komunikasi politik dialogis antara partai politik dengan masyarakat.
Kedua, proses edukasi politik yang secara kolektif dilakukan oleh
partai politik dan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan politik
kepada pihak yang kurang paham dengan politik.112 Dari sudut
pandang komunikasi, kampanye memiliki fungsi, yaitu: Pertama,
menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif,
persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk
memperoleh hasil yang optimal. Kedua. Menjembatani kesenjangan
budaya akibat kemudahan diperolehnya media massa yang begitu
ampuh, yang dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya.113
Kampanye politik yang dilakukan oleh berbagai partai politik
memiliki orientasi yang berbeda-beda tergantung pada masing-masing
organisasi atau lembaga yang menjalankannya. Tujuan tersebut akan
beriringan dengan identitas kepartaian (possitioning). Kampanye politik
yang dilakukan dengan menonjolkan citra positif partai, sehingga
memudahkan masyarakat untuk memilih partai yang sesuai dengan
ideologi dan program kerja yang ditawarkan. Kampanye menurut
Firmanzah secara umum diklasifikasikan ke dalam dua bentuk, yaitu:
pertama, kampanye menjelang pemilu (short-term). Kampanye ini
digunakan sebagai ajang kompetisi jangka pendek menjelang pemilu
111
Firmanzah, Marketing Politik, h. 271.
112
Ibid, h. 272.
113
Effendi, Dinamika, h. 28.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
102 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
untuk mengingatkan, membentuk dan mengarahkan opini publik
dalam waktu yang singkat. Kedua, kampanye yang bersifat permanen
dan berlaku untuk jangka panjang.114
Dalam kampanye politik yang bersifat permanen, titik perhatian
tidak hanya terbatas pada periode menjelang pemilu, tetapi sebelum
dan sesudah pemilu juga menjadi perhatian yang amat penting
dalam pembentukan pencitraan politik. Bahkan akan lebih melekat
pencitraan dalam benak masyarakat, jika dilakukan secara terus
menerus. Kampanye politik merupakan kampanye yang berorientasi
pada kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan, sehingga
kemasan kampanye perlu disesuaikan dengan misi partai. Pihak
penyelenggara kampanye politik biasanya partai politik yang ingin
memperoleh dukungan suara untuk menduduki jabatan-jabatan
penting dalam pemerintahan. Kampanye politik yang dilakukan
oleh partai politik biasanya menggunakan instrumen internal partai
bersangkutan seperti humas, organisasi sayap partai, media internal
atau ekstenal partai seperti media massa dan lain-lain.
Pencitraan Politik Melalui Media Massa
Sebagaimana dipahami bahwa citra politik adalah sebagai
gambaran seseorang tentang politik yang memiliki makna,
kendatipun tidak selamanya sesuai dengan realitas politik yang
sebenarnya. Citra politik tersusun melalui persepsi yang bermakna
tentang gejala politik dan kemudian menyatakan makna itu melalui
kepercayaan, nilai dan pengharapan dalam bentuk pendapat pribadi
yang selanjutnya dapat berkembang menjadi opini publik. Citra
politik seseorang akan membantu dalam pemahaman, penilaian,
pengidentifikasian peristiwa, gagasan tujuan atau pemimpin politik.
Citra politik membantu bagi seseorang dalam memberikan alasan
yang dapat diterima secara subjektif tentang mengapa segala sesuatu
hadir sebagaimana tampaknya tentang referensi politik.
Para politikus atau pemimpin dalam politik sangat berkepentingan
dalam pembentukan citra politik dirinya melalui komunikasi politik
dalam usaha menciptakan stabilitas sosial dan memenuhi tuntutan
114
Firmanzah, Marketing, h. 275.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 103
rakyat. Misalnya pernyataan presiden atau wakil presiden dalam
konferensi pers atau dalam sebuah pidato mengenai kesulitan
perekonomian yang telah teratasi akibat sebuah kebijakan. Oleh sebab
itu, pencitraan merupakan hal penting bagi setiap orang sebagai makhluk
sosial. Melalui pencitraan, manusia memilih hal yang akan dilakukan
dan juga apa yang seharusnya tidak dilakukan atau ditinggalkan.
Dengan upaya pencitraan positif, setiap orang berharap bisa terlihat
sempurna di mata orang lain. Dalam pembentukan citra positif, bahkan
tidak jarang seseorang melakukan cara apapun untuk mengemas sikap
dan perilakunya sehingga memberikan kesan positif di mata orang lain.
Citra, membantu manusia untuk mengambil keputusan yang terbaik
bagi dirinya dalam lingkungan sosialnya.
Dalam komunikasi politik, proses kerja pembentukan citra
politik dapat dilakukan dengan cara mengemas pesan politik untuk
kemudian disebarkan kepada masyarakat. Kemudian keberadaan
media massa dijadikan bagian dari instrumen pembentukan dan
penyampaian pesan politik tersebut. Potret seperti inilah yang disebut
Stayer sebagai bagian dari cara baru dalam mengkomunikasikan
politik. Artinya kampanye yang dilakukan melalui komunikasi
interpersonal (direct-campaign), mulai ditinggalkan dan digantikan
oleh bentuk kampanye di media (mediated-campaign).115
Kampanye dengan menggunakan media, banyak dilakukan`
para politisi, terutama dengan menggunakan media massa. Bila
dirujuk ke dalam berbagai literatur, tidak diragukan lagi bahwa
media massa memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial.
Dennis McQuail misalnya, menjelaskan ada delapan peran media
massa dalam kehidupan sosial masyarakat. Pertama, media massa
sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang
sedang terjadi di luar ataupun pada diri mereka sendiri. Kedua, juru
bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa
atau hal yang terpisah dan kurang jelas. Ketiga, pembawa atau
pengantar informasi atau pendapat. Media massa sebagai forum
untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada
khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan
115
Akhmad Danial, Iklan Politik TV: Modernisasi Kampanye Politik Pasca Orde
Baru (Yogyakarta: Lkis, 2009), h. 35.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
104 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
umpan balik. Keempat, jaringan interaktif yang menghubungkan
pengirim dengan penerima pesan melalui berbagai macam umpan
balik. Kelima, sebagai papan penunjuk jalan yang secara interaktif
menunjukkan arah, memberikan bimbingan dan instruksi. Dalam
kaitan ini, media sering dipandang sebagai penerjemah penunjuk arah
atas berbagai ketidakpastian yang tidak beragam. Keenam, penyaring
yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian
khusus dan menyisihkan aspek pengalaman lainnya. Ketujuh, cermin
yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu
sendiri. Biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan (distorsi)
karena adanya penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat oleh para
anggota masyarakat. Kedelapan, tirai atau penutup yang menutupi
kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari
suatu kenyataan.116
Selain penggunaan media massa, kampanye politik dapat juga
dilakukan melalui media lainnya, seperti media baru yang terus
berkembang dengan pesat. Media baru yang dimaksud misalnya
internet yang sekarang menjadi trend dan dipandang sangat
ketinggalan jika tidak menggunakannya. Sejumlah lembaga sangat
berkepentingan membuat web dalam internet dengan tampilan
visual yang menarik. Tujuannya adalah untuk pencitraan dan
penyebarluasan informasi tentang program-program yang mereka
tawarkan. Sejumlah lembaga juga memanfaatkan media sosial yang
dibantu oleh internet dalam penggunaannya, misalnya facebook, blog,
twitter dan sebagainya.
Maraknya penggunaan internet dan media sosial sebagai media
komunikasi kata Subiakto dan Ida, menyebabkan media tersebut
menjadi public sphere (ruang publik) yang relative fenomenal.
Media sosial digunakan secara aktif dalam politik, mengingat
media tersebut bisa dipakai oleh siapa pun. Di dalamnya ada
kebebasan, ada partisipasi dan jangkauannya pun makin meluas
dan terinterkoneksi.117 Media sosial menjadi media interaktif untuk
Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa, terj. Agus Darma dan Aminuddin
(Jakarta: Penerbit Air Langga, 1994), h. 53.
116
117
Henri Subiakto dan Rachmah Ida, Komunikasi Politik, Media dan Demokrasi
(Jakarta: Kencana, 2012), h. 25.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 105
berkomunikasi telah membuktikan efektifitasnya dalam komunikasi
sosial dan komunikasi politik. Akurasi pesan yang disampaikan
melalui telepon seluler (layanan pesan pendek), twitter, facebook, koran,
radio dan televisi sangat urgen. Peran strategis media sosial dan media
massa dalam komunikasi politik, telah ditunjukan keberhasilan dan
kemampuanya untuk menggalang kekuatan, dukungan terhadap
gerakan untuk membangun citra positif. Melalui media massa
seseorang akan memperoleh informasi tentang benda, orang, citra
dan tempat yang tidak dialami secara langsung. Keberadaan media
sengaja dihadirkan untuk menyampaikan berbagai pesan tentang
lingkungan sosial dan politik. Semua pesan yang mengandung
muatan politik dapat membentuk dan mempertahankan citra politik
dan opini publik suatu partai. Di era banjir informasi saat ini, seorang
kandidat atau partai yang tidak menggunakan sarana media massa
dengan baik hampir pasti akan gagal meraih dukungan publik.
Argumentasi ini mempertegas bahwa keberadaan media memiliki
peran penting terhadap efektivitas penyampaian pesan politik serta
membentuk citra dan opini publik yang positif bagi partai politik
atau kandidatnya.
Di tengah keberagaman media saat ini, sesungguhnya
masyarakat mendapatkan kemudahan terhadap akses berbagai
informasi. Berbeda pada era sebelumnya pada era Orde Baru,
komunikasi politik tidak berkembang secara terbuka seperti saat
ini. Fenomena perkembangan komunikasi politik di Indonesia
saat ini, memperlihatkan dampak cukup nyata terhadap caracara berkampanye para tokoh politik menjelang kontestasi politik,
misalnya pemilihan Calon Anggota Legislatif, Pemilihan Kepala
Daerah dan Pemilihan Presiden. Sebagaimana misalnya yang terjadi
pada menjelang Pemilu Presiden RI tahun 2014. Terlihat secara jelas,
sajian media yang mempertontonkan, hampir semua tokoh politik
yang memproklamirkan diri sebagai capres maupun cawapres. Hal
itu didukung melalui dalam iklan-iklan politik dan pemberitaan
media sebagai sosok pribadi yang baik dan berpihak kepada rakyat.
Melalui berbagai simbol visual, slogan-slogan berupa frasa, para
calon kandidat membangun pencitraan. Misalnya, Prabowo Subianto
sebagai kandidat capres dari Partai Gerindra membangun pencitraan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
106 | Pencitraan dan Komunikasi Politik
melalui slogan seperti “Pengabdian Bagi bangsa dan Negara”.
Pasangan Wiranto – Hary Tanoe capres dan cawapres dari Partai
Hati Nurani Rakyat (Hanura) juga membangun pencitraan lewat
slogan “Win HT Bersih, Peduli, Tegas”, dibarengi dengan gambar
yang meperlihatkan kepedulian terhadap masyarakat miskin. Hatta
Rajasa meskipun belum secara tegas memproklamirkan diri sebagai
capres 2014, tetapi melalui iklan politik Partai Amanat Nasional
(PAN), membangun pencitraan dengan slogan “PAN Merakyat”.
Iklan politik tersebut tampak secara terselubung menampilkan
Hatta Rajasa sebagai sosok yang tepat sebagai kandidat capres dari
PAN, sementara Aburizal Bakrie dengan Partai Golkar membangun
pencitraan dengan mengangkat slogan “Suara Golkar, Suara Rakyat”.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, media dalam konteks
komunikasi politik memiliki peranan yang strategis. Posisi atau
kedudukan media massa dalam masyarakat demokrasi secara ideal
memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: Pertama, fungsi monitoring,
memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa yang sedang
berlangsung dalam masyarakat. Kedua, fungsi mendidik (educate),
memberikan kejujuran atas makna dan signifikansi dari fakta-fakta
yang terjadi. Ketiga, memberikan platform terhadap diskursus
politik publik, memfasilitasi atau mengakomodir pembentukan opini
publik dan mengembalikan opini itu kepada publik. Keempat, fungsi
watchdog, media memublikasikan institusi pemerintah dan institusi
politik, menciptakan keterbukaan (transparansi) pada institusiinstitusi public tersebut. Kelima, fungsi advocacy, menjadi channel
untuk advokasi politik.
Bila melihat peran dan fungsi media massa tersebut, media
massa memiliki posisi strategis dan penting dalam kehidupan politik
di suatu negara. Media massa juga sering digunakan sebagai alat
propaganda, pencitraan politik, dan membangun opini publik terkait
dengan politik. Penggunaan media massa juga sering digunakan
sebagai bagian dari strategi politik. Sebagaimana jika ditinjau
dari sudut kajian teori SMCR dari Rogers. Rogers menyebutkan,
komunikasi sebagai sebuah proses dimana pesan-pesan dioperkan
dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah tingkah
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 107
laku mereka.118
Source (sumber) pesan dalam praktik politik, yakni pihak partai
politik, bisa juga secara khusus calon yang sedang mengikuti kontestasi
politik. Message (pesan) adalah pesan-pesan yang disampaikan
oleh partai kepada masyarakat melalui komunikasi antarpribadi,
kelompok, komunikasi massa dan bentuk komunikasi lainnya.
Pesan yang disampaikan berupa program-program peningkatan
kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat mampu menentukan
pilihan. Pesan politik ialah pernyataan yang disampaikan, baik secara
tertulis maupun tidak tertulis, baik secara verbal maupun non verbal
yang mengandung bobot politik. Channel (media), yaitu saluran
atau media politik yang digunakan oleh partai sebagai komunikator
dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya baik melalui media
elektronik maupun media cetak. Receiver (komunikan atau penerima),
yaitu orang-orang yang menerima pesan dari komunikator politik.
Penyampaian informasi ataupun kegiatan yang dilakukan diharapkan
dapat meningkatkan citra positif partai. Pencitraan merupakan isi
pesan yang hendak diberikan komunikator, melalui media internet,
ataupun media cetak sebagai media penghubung antara pihak partai
dengan masyarakat.
118
Proses komunikasi untuk mempengaruhi orang lain kata Rogers, dapat
digambarkan dengan model S-M-C-R, yaitu sumber (source), mengirim pesan
(message), melalui saluran (channel), kepada penerima (receiver). Lihat, Rogers dan
Shoemaker, Communication, h. 22.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab III
Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
Strategi Komunikasi Politik
Strategi pada awalnya adalah istilah yang lazim digunakan
dalam kegiatan perang atau militer. Bila ditilik dari sudut kebahasaan,
strategi yang berasal dari Bahasa Yunani klasik, yaitu stratos berarti
tentara dan kata agein yang berarti memimpin. Dengan demikian,
strategi dimaksudkan adalah memimpin tentara, sehingga jadilah
pengertian strategi pada prinsipnya sebagai konsep militer yang bisa
diartikan sebagai seni perang para Jenderal (the art of general), atau
suatu rancangan yang terbaik untuk memenangkan peperangan.
Hingga awal industrialisasi, pengertian strategi hampir hanya
terbatas pada makna militer. Tetapi seiring dengan perkembangan,
strategi menghasilkan gagasan dan konsepsi yang dikembangkan
oleh para praktisi dari berbagai bidang, sehingga strategi menjadi
kajian dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Strategi digunakan
dalam bidan ekonomi, politik dan sosial budaya.
Secara sederhana, strategi merupakan alat yang berperan
sebagai akselerator dan dinamisator dalam mencapai tujuan secara
efektif dan efisien, sehingga istilah strategi hampir digunakan oleh
semua jenis organisasi, meskipun aplikasinya berbeda-beda sesuai
dengan jenis organisasi yang menerapkannya. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia disebutkan bahwa strategi adalah “Rencana yang
cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.”1 Arifin
menjelaskan pengertian strategi sebagai keseluruhan keputusan
kondisional pada saat tindakan yang akan dijalankan guna mencapai
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 859.
109
110 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
tujuan pada masa depan. Termasuk di dalamnya menurut Arifin adalah
dalam memilih metode penyampaian dan metode menyusun pesan
yang sesuai. Pemilihan metode harus disesuaikan pula dengan bentuk
pesan, keadaan khalayak, fasilitas dan biaya. 2 Menurut Arnold Steinberg
sebagaimana dikutip Toni Andrianus Pito, strategi adalah rencana untuk
tindakan, penyusunan dan pelaksanaan strategi mempengaruhi sukses
atau gagalnya strategi yang dilakukan.3 Sedangkan Marthin Anderson
sebagaimana dikutip Cangara merumuskan strategi sebagai seni di
mana melibatkan kemampuan inteligensi/ pikiran untuk membawa
semua sumber daya yang tersedia dalam mencapai tujuan dengan
memperoleh keuntungan yang maksimal dan efisien.4
Berdasarkan definisi di atas, dapat dipahami bahwa strategi
komunikasi merupakan sebentuk perencanaan komunikasi yang
dilakukan untuk mewujudkan tujuan komunikasi yang telah
direncanakan. Strategi selalu memiliki tujuan, yaitu kemenangan atau
dalam politik penguasaan pemerintahan atau penambahan perolehan
suara. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa strategi komunikasi
merupakan upaya maksimal penggunaan sumber daya komunikasi
yang tesedia untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Artinya, secara
sederhana strategi komunikasi merupakan cara praktis operasional yang
dilakukan untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, meskipun
dilakukan dalam situasi, kondisi dan waktu yang berbeda.
Beberapa pendapat pakar terkait dengan penjelasan strategi
komunikasi sebagaimana di kutip Cangara, seperti Rogers (1982)
misalnya, memberikan batasan strategi komunikasi sebagai suatu
rancangan yang dibuat untuk mengubah tingkah laku manusia dalam
skala yang lebih besar melalui transfer ide-ide baru. Middleton (1980)
seorang pakar perencana komunikasi membatasi defenisi strategi
komunikasi sebagai kombinasi yang terbaik dari semua elemen
komunikasi, mulai dari komunikator, pesan, saluran (media), penerima
sampai kepada pengaruh (efek) yang dirancang untuk mencapai tujuan
komunikasi yang optimal.5
2
Arifin, Komunikasi Politik, h. 167.
Toni Andrianus Pito, dkk, Mengenal Teori-Teori Politik (Bandung: Penerbit
Nuansa, 2009), h. 196-197.
3
4
Cangara, Perencanaan, h. 61.
5
Ibid.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 111
Berdasarkan pendapat di atas, maka dipahami bahwa dalam
sebuah organisasi, seperti partai perlu mempertimbangkan strategi
komunikasi yang akan dilakukan dalam menguatkan pencitraan.
Dalam rangka menyusun strategi, komunikasi diperlukan suatu
pemikiran dengan memperhitungkan faktor-faktor pendukung
dan faktor-faktor penghambat. Akan lebih baik apabila dalam
strategi itu diperhatikan komponen-komponen komunikasi dan
faktor-faktor pendukung dan penghambat pada setiap komponen
tersebut. Menurut Cutlip, Center dan Broom, tahapan komunikasi
yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) mengamati permasalahan dengan
melakukan penelitian dan pengawasan sebagai data awal dalam
mengimplementasikan strategi. 2) perencanaan dan pembuatan
program sebagai tahap lanjutan dari pengamatan terhadap data
awal. 3) mengambil tindakan komunikasi dengan cara mendesain
citra seefektif mungkin. 4) evaluasi terhadap program yang telah
dilakukan, apakah efektif atau tidak sehingga diketahui mana yang
harus dibenahi, dan usaha apa yang akan dilakukan di masa yang
akan datang.6
Pemilihan strategi merupakan langkah krusial yang memerlukan
penanganan secara hati-hati, sebab strategi komunikasi politik adalah
tindakan berpola seluruh sumber daya organisasi secara efektif
dikerahkan untuk mewujudkan visi organisasi. Jika penetapan
strategi salah atau keliru, maka jalan yang ditempuh untuk mencapai
tujuan bisa gagal, bahkan yang dialami adalah kerugian dari segi
waktu, materi dan tenaga. Strategi juga merupakan rahasia yang
harus diamankan oleh para ahli perencana komunikasi, utamanya
dalam kampanye politik. Strategi komunikasi dalam kegiatan politik
adalah keseluruhan keputusan kondisional pada saat ini tentang
tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan politik pada
masa depan. Karena strategi komunikasi politik adalah tindakan
berpola, maka dibutuhkan kepemimpin politik yang diharapkan
dapat menggerakkan aktivitas kegiatan komunikasi politik yang
terencana, terpola dan terarah dalam mewujudkan cita-cita politik
yang diinginkan. Di samping itu, langkah yang tepat bagi seorang
6
Cutlip, M. Scot, (et. al), Effective Public Relations Professional (New York: Prentice
Hall, 2006), h. 47.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
112 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
komunikator politik untuk mencapai tujuan politik ke depan
antara lain dengan merawat ketokohan yang telah melekat pada
diri komunikator politik tersebut serta memantapkan kelembagaan
politiknya.
Dengan demikian, strategi harus dilaksanakan secara efektif,
sehingga rencana strategi harus dipadukan dengan masalah
operasional. Untuk mewujudkan strategi yang efektif, banyak cara
yang dapat dilakukan oleh partai. Diantaranya adalah melakukan
analisis SWOT. Analisis ini lazim digunakan dalam berbagai bentuk
kontestasi politik dan berbagai bentuk kompetisi lainnya.
SWOT adalah singkatan dari S = Strenghts (kekuatan), yaitu analisis
yang ditujukan untuk mengukur kekuatan yang dimiliki oleh partai,
sehingga kekuatan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Kekuatan
yang dimiliki satu partai misalnya, memiliki basis massa yang ril dan
mengakar di masyarakat, kader-kader militan, cerdas dan tangguh, dana
kampanye yang kuat, kehamasan yang tangguh, dan sebagainya.
W = Weakness (kelemahan), yaitu analisis yang digunakan untuk
membaca kelemahan yang dimiliki partai jika dibandingkan dengan
partai kompetitor lainnya, sehingga kelemahan itu bisa ditutupi.
Kelemahan adalah komponen yang harus dianalisis dan dibenahi
secara internal. Misalnya, partai tidak memiliki manajemen yang
bagus, citra partai yang belum terkenal di masyarakat, kader yang
tidak loyal, perangkat dan atribusi partai yang kurang lengkap, dana
partai yang tidak tersedia. Ini adalah bentuk-bentuk kelemahan yang
harus dianalisis secara internal dan tidak boleh sampai keluar.
O = Opportunities (peluang), yaitu analisis yang digunakan
untuk melihat peluang-peluang yang mungkin bisa diperoleh.
Peluang atau kesempatan yang bisa diperoleh untuk mendukung
suatu upaya mencapai tujuan yang diinginkan. Partai dalam kaitan
ini misalnya, ketika ada kader yang menduduki jabatan penting,
baik di sekitar swasta, pemerintahan maupun legislatif yang bisa
memberikan dukungan. Peluang juga bisa dilihat dari adanya pihak
lain yang ingin memberikan bantuan berupa pinjaman kendaraan
selama kampanye, dukungan dana kampanye, sumbangan atribut
partai berupa kaos, bendera, topi, pin dan sebagainya.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 113
T = Threats (ancaman), yaitu analisis yang dilakukan terhadap
ancaman-ancaman yang ditemui di lapangan. Ancaman merupakan
unsur luar yang harus dianalisis dengan baik, karena faktor ini
menentukan kelangsungan organisasi atau partai politik. Misalnya,
ancaman yang muncul dalam kontestasi politik dapat dilihat dari adanya
praktik politik uang (money politics) dari lawan politik, adanya ancaman
penurunan spanduk dan baliho partai yang sudah terpasang. Hal ini
bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang berada di luar sistem politik
yang dibangun, atau lawan politik. Ancaman terhadap kurangnya
pendanaan kampanye juga menjadi satu hal yang harus diperhatikan.
Sebab kekurangan dana dalam kampanye politik dapat menyebabkan
kurangnya mobilisasi dan sosialisasi partai ke masyarakat. Ancaman
terhadap terjadinya pelarian kader yang tidak loyal ataupun berubahnya
keinginan khalayak untuk memilih partai tersebut. Kaitan antara keempat
elemen tersebut, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.1. Model Analisis SWOT
Berdasarkan gambar di atas, dapat dipahami bahwa dari
keempat komponen pada analisis SWOT, maka komponen kekuatan
dan kelemahan terlihat berada pada ranah internal lembaga. Kedua
komponen tersebut erat kaitannya dengan sumber daya dan manajemen
organisasi, karena itu disebut sebagai assessment internal organisasi.
Sedangkan komponen peluang dan tantangan berada pada ranah luar
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
114 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
organisasi. Peluang dan ancaman terjadi karena hasil ditentukan oleh
kemampuan komunikasi, jaringan, dan kerja sama dengan orang lain.
Oleh sebab itu, dalam perencanaan strategi komunikasi politik, orang
yang ditunjuk menjadi komunikator sedapat mungkin harus memiliki
keterampilan komunikasi, jaringan dan hubungan yang kuat dengan
masyarakat, sehingga dimungkinkan akan lebih mampu menjembatani
hubungan yang kuat antara partai dengan masyarakat, bahkan dengan
media.
Selain menggunakan analisis SWOT, pilihan strategi dapat juga
dibuat dengan mengembangkan matriks yang menghubungkan strategi
dengan pencapaian yang diinginkan. Misalnya, starategi dengan citra
seorang calon pemimpin atau partai politik agar dipilih masyarakat.
Strategi yang ditempuh dapat dilakukan dengan strategi penguatan, yaitu
penguatan citra satu partai melalui marketing mix (pemasaran), dapat juga
dilakukan dengan memanfaatkan media yang ada, baik media massa
modern maupun media tradisional, dan strategi lainnya dapat dilakukan
dengan cara bujukan (persuasif), dengan menawarkan berbagai program
yang tidak hanya sekedar ucapan, tetapi sudah dibuktikan lewat kinerja
selama ini.
Menurut Gioia dan Thomas sebagaimana dikutip Firmanzah,
pencitraan atau image dapat dikategorikan sebagai strategi positioning
suatu partai politik di antara partai-partai lainya.7 Image politik memiliki
kekuatan untuk memotivasi aktor atau individu untuk melakukan suatu
hal. Di samping itu, image politik dapat mempengaruhi opini publik
sekaligus menyebarkan makna-makna tertentu. Image partai politik
yang bagus atau individu, tentu akan memberikan efek yang positif bagi
pemilih guna memberikan suaranya dalam pemilihan umum. Semakin
bagus kesan yang dipersepsikan oleh masyarakat, maka semakin bagus
juga image politiknya. Image atau pencitraan inilah yang kemudian
membedakan antara satu partai dengan partai lainnya. Dalam kaitan
ini kata Firmanzah, membangun image politik membutuhkan waktu
yang relatif lama dan membutuhkan konsistensi dari semua hal yang
dilakukan dari partai politik yang bersangkutan, seperti platform partai,
program kerja, visi dan misi.8
7
Firmanzah, Marketing, h. 230.
8
Ibid, h. 232-233.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 115
Partai politik atau para kontestan harus mampu menciptakan
kesan, citra dan reputasi dalam benak masyarakat. Membangun
citra politik suatu partai bukan hal yang mudah. Untuk itu, harus
ada komunikasi politik yang baik antara partai politik dengan
masyarakat. Keterbukaan partai dalam membangun komunikasi
politik turut membantu terbangunnya image yang baik terhadap
partai. Melalui komunikasi yang baik antara partai dengan
masyarakat, maka masyarakat akan merasa bahwa partai benarbenar memperjuangkan aspirasinya. Sebaliknya, jika partai kurang
membuka ruang komunikasi dengan masyarakat, maka sebaik
apapun citra politik yang digambarkan, maka citra itu akan tetap
berkesan negatif. Firmanzah menggambarkan konstruksi image
partai, sebagaimana pada gambar di bawah ini.9
Gambar 3.2. Konstruksi dalam membangun image, disadur dari Firmanzah.
Dari gambar di atas terlihat bahwa semua hal yang dilakukan
secara sadar (intended) dan tidak sadar (unintended) dapat merupakan
isi dari komunikasi politik. Intended action adalah semua hal yang
terkait dengan aktivitas politik seperti jargon, program kerja, figur dari
seorang pemimpin atau orang yang akan maju kedalam pemilihan, dan
simbolisasi yang ingin diciptakan oleh partai politik atau individu yang
akan maju kedalam pemilihan umum. Hasil dari proses pembelajaran
dan identifikasi inilah yang akan tertanam dalam benak masing-masing
individu yang nantinya menjadi citra, reputasi dan kesan tentang suatu
partai politik. Apabila kesimpulan setiap individu sesuai dengan apa
yang terdapat dalam benak mereka, dan hal ini akan memperkuat citra
atau kesan yang tertangkap dalam masyarakat. Namun apabila yang
9
Ibid, h. 243.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
116 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
terjadi justru sebaliknya apabila kesimpulan baru yang diterima oleh
masyarakat berbeda dengan citra dan reputasi yang dibangun oleh
seseorang atau partai politik, maka masyarakat mulai mempertanyakan
serta ragu akan citra yang dibangun oleh individu atau partai politik.
Image disini mempunyai peranan yang sangat besar karena masyarakat
akan memilih berdarsarkan image atau kesan yang ditimbulkan oleh
individu atau partai politik.
Nimmo sebagaimana dikutip Haryati menjelaskan, terdapat
beberapa strategi pencitraan yang sering dilakukan para tokoh
politik. Pertama, pure publicity yakni mempopulerkan diri melalui
aktivitas masyarakat dengan setting sosial yang natural atau apa
adanya. Misalnya, menghadiri perayaan atau peringatan harihari besar, seperti hari kemerdekaan, peringatan hari-hari besar
keagamaan dan lain-lain. Pada momen tersebut biasanya para tokoh
politik atau partai politik melakukan pencitraan yang disebut Dan
Nimmo sebagai diri politik sang politisi. Kedua, free ride publicity
yakni publisitas dengan cara memanfaatkan akses atau menunggangi
pihak lain untuk turut mempopulerkan diri. Misalnya, politisi tampil
menjadi pembicara di sebuah forum, berpartisipasi dalam even-even
olah raga, mensponsori kegiatan-kegiatan sosial dan lain-lain. Ketiga,
tie-in publicity yakni memanfaatkan extra ordinary news kejadian sangat
luar biasa. Misalnya, memanfaatkan peristiwa tsunami, gempa bumi,
atau banjir. Kandidat dapat mencitrakan diri sebagai orang atau
partai yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sebuah peristiwa
luar biasa selalu menjadi liputan utama media, sehingga partisipasi
di dalamnya sangat menguntungkan secara politik. Keempat, paid
publicity yakni cara mempopulerkan diri lewat pembelian rubrik atau
program, dan lain-lain. 10
Selain yang telah disebutkan di atas, beberapa strategi politik
yang dapat dilakukan untuk penguatan pencitraan adalah, merawat
ketokohan dan kelembagaan, melaui marketing mix (pemasaran),
melakukan kampanye, memanfaakan keberadaan media massa.
10
Haryati, Pencitraan Tokoh Politik Menjelang Pemilu 2004, dalam Jurnal
Observasi, Vol. 11, No. 2 Tahun 2001 (Bandung: Balai Pengkajian Dan Pengembangan
Komunikasi dan Informatika, 2013). h. 186.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 117
Menjaga Ketokohan dan Kelembagaan
Merawat ketokohan dan memantapkan kelembagaan merupakan
salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam pencitraan politik.
Dengan merawat ketokohan dan memantapkan lembaga politik,
seorang politikus dapat memberikan pengaruh tersendiri dalam
proses komunikasi politik. Di samping merawat ketokohan dan
memantapkan kelembagaan, diperlukan pula kemampuan dan
dukungan lembaga dalam menyusun pesan politik, menetapkan
metode dan memilih media politik yang tepat agar proses komunikasi
politik berjalan dengan baik. Dalam kaitan ini, realitas masyarakat
Indonesia menunjukkan semacam kecenderungan untuk memberikan
suara dalam pemilihan kepada orang atau kandidat yang sesuai dan
ideal menurut pandangannya. Citra ideal yang dimaksud misalnya,
karena politikus yang dipilihnya kharismatik, memiliki ketokohan,
dan mempunyai sifat-sifat utama seperti kecakapan dan memiliki
moralitas yang baik.11
Citra politik bisa semakin menguat ketika apa yang dicitrakan
seorang tokoh sesuai dengan realitas yang dicitrakan. Sebaliknya,
ketokohan seseorang akan hancur ketika apa yang dicitrakan
tidak sesuai dengan realitas. Salah satu fakta dalam kaitan ini
adalah ketika Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum
Partai Demokrat, mengalahkan Andi Malarangeng yang didukung
anaknya SBY Edi Bhaskoro. Terpilihnya Anas dinilai para pakar
sebagai bentuk penggulingan terhadap politik pencitraan. Artinya,
pada proses pemilihan pemimpin, seseorang tidak hanya dilihat
dari pencitraan, tetapi lebih kepada figuritas dan modal sosial. Anas
terpilih bukan karena hanya seorang kader HMI yang memiliki
jaringan kuat, tetapi Anas juga terpilih karena faktor lainnya seperti
11
Sifat-sifat utama, seperti kecakapan dan memiliki moralitas merupakan
bentuk kepribadian baik yang harus melekat pada diri seorang politisi, karena
masyarakat sering menjadikan kesemua itu sebagai tolok bagi mereka untuk
memilih atau tidak memilih. Kepribadian yang baik akan memberikan dukungan
legitimasi moral yang kuat. Pemimpin yang mengabaikan dimensi moral, cepat atau
lambat akan mengalami kejatuhan. Sudah banyak contoh politisi yang jatuh akibat
moralitas yang kurang baik. Ketika masyarakat mempersepsikan moralitas politisi
itu buruk, maka mereka menganggapnya tidak layak untuk dipilih. Lihat, M. Alfan
Alfian, Menjadi Pemimpin Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 104.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
118 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
figuritas, kewibawaannya, dan kepeduliannya terhadap anggota
Partai Demokrat. Anas adalah seorang yang berpengalaman dalam
memimpin dan memiliki kecerdasan, sehingga para koleganya
di Partai Demokrat menganggap Anas mampu membawa Partai
Demokrat lebih jaya di masa yang akan datang.12
Fakta tersebut tentu menjadi satu argumentasi bahwa ketokohan
dan pencitraan adalah dua hal yang sangat penting untuk dipelihara.
Karena masyarakat sekarang ini, mulai semakin cerdas dan akan
memilih tidak hanya karena pencitraan, tetapi karena melihat
juga realitas ketokohan yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini juga
terjadi pada kemenangan SBY – Boediono pada Pilpres 2009 yang
mengalahkan pasangan JK – Wiranto. Kemenangan SBY sepertinya
mengulang kesuksesan SBY di tahun 2004 yang pada saat itu
berpasangan dengan JK. Kondisi ini sebenarnya menjadi salah satu
fakta bahwa pemilih di Indonesia ini belum berubah, meskipun
lima tahun bukan waktu yang singkat untuk merubah pola pikir
masyarakat. Tetapi nyatanya, platform politik yang bagus belum tentu
mengalahkan penampilan fisik dan kemampuan komunikasi atau
citra kandidat. SBY yang sudah mempunyai pamor dan dukungan
besar ketika Pilpres 2004, makin menguatkan pencitraannya selama
2004 – 2009. Waktu itu, SBY sebagai Presiden, benar-benar mampu
memanfaatkan kekuasaannya untuk meningkatkan citranya di
mata rakyat, selain secara faktual rakyat menilai bahwa SBY banyak
membawa perubahan terhadap bangsa Indonesia.13
Hal yang hampir sama juga terlihat pada gerakan yang
dilakukan oleh sejumlah partai yang berbasis massa Islam. Masuknya
sejumlah tokoh agama dan intelektual ke dalam partai dan menjadi
pimpinan partai merupakan salah satu upaya untuk menarik
simpatisme masyarakat. Meskipun sebagai ulama dan cendikiawan,
kinerja mereka sudah diyakini, tetapi sebagai politisi masih perlu
dibuktikan. Para tokoh agama dan kaum cendikiawan, mereka terjun
aktif dan bergabung di partai politik. Ada yang berkiprah di Partai
Muliansyah A. Ways, Political; Ilmu Politik, Demokrasi, Partai Politik dan Welfare
State (Yogyakarta: Buku Litera, 2015), h. 205.
12
13
Widjanarko Puspoyo, Dari Soekarno Hingga Yudhoyono, Pemilu Indonesia 1955
– 2009 (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2012), h. 367-369.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 119
Keadilan Sejahtera (PKS), ada juga di Partai Bulan Bintang (PBB),
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN),
Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan partai politik lainnya.
Para Ulama merupakan sosok panutan, figur moral, dan orang
yang memiliki wawasan keagamaan yang luas. Di samping mereka
memiliki pengetahuan agama yang mendalam, mereka juga sangat
lekat di hati masyarakat, sehingga kehadiran para ulama tersebut
di dalam partai diharapkan dapat menjadi pembimbing umat
dan menjadi benteng moral dalam kehidupan masyarakat. Oleh
karena itu, dengan hadirnya sosok tokoh agama dalam panggung
politik, diharapkan dapat menjadikan dunia politik lebih bermoral,
mementingkan kepentingan rakyat serta menjunjung tinggi nilainilai keadilan dan kemanusiaan.14
Dari sini jelas terlihat bahwa memelihara ketokohan dan
kelembagaan adalah salah satu strategi penting yang harus
diperhatikan oleh para politisi untuk menguatkan pencitraannya. Ini
juga berkaitan erat dengan sistem kepartaian yang bersifat multi partai
yang mendorong semakin tingginya tingkat persaingan antara partai
dan antara politisi. Bagaimanapun, untuk mendorong demokrasi
politik yang sehat dan dinamis, dibutuhkan keberadaan partai dan
para politisi yang sehat dan dinamis. Disinilah pentingnya menjaga
ketokohan dan kelembagaan, sebab ketokohan memiliki pengaruh
yang signifikan dalam pencitraan partai. Kelembagaan misalnya,
tentu memberikan pengaruh yang sangat kuat dalam melakukan
pencitraan. Semakin bagus lembaganya, maka akan semakin tinggi
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut.
The Indonesian Institut misalnya, telah menemukan adanya
indikasi kegagalan partai politik dalam menjalankan tugas pokok
dan fungsinya. Kegagalan tersebut dapat ditelusuri dari kuatnya
sikap pragmatisme kader partai yang diakibatkan gagalnya partai
dalam melakukan kaderisasi. Kegagalan ini, akan melahirkan
kecenderungan kader untuk melakukan politik uang dalam
even-even pemilu. Kenyataan partai-partai atau lembaga yang
14
Ujang Mahadi, “Komunikasi Politik Kiai Pada Kampanye Pemilu” dalam
Jurnal ADDIN, Volume. 9, Nomor, 2 Agustus 2015 (Bengkulu: IAIN Bengkulu, 2015), h.
230-231.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
120 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
demikian, tentu akan berpengaruh terhadap proses pencitraan yang
dilakukan.15 Oleh sebab itu, sebagai lembaga modern, partai dituntut
untuk mampu membangun mekanisme internal yang juga modern.
Di sinilah terlihat pentingnya menjaga kelembagaan sebagai upaya
membangun citra yang baik di mata masyarakat.
Partai Politik dan Fungsinya
Partai politik menduduki posisi yang sangat penting karena
pada masa kini telah lahir semacam adanya kesepakatan di antara
ilmuwan politik, demikian juga telah menjadi pendapat publik
masyarakat internasional bahwa partai politik menjadi ukuran serta
syarat penting bagi suatu negara, apakah negara itu dapat disebut
sebagai negara demokrasi atau tidak. Suatu negara akan dinamakan
negara demokrasi jika dalam negara itu terdapat partai politik yang
eksis, serta sebaliknya suatu negara akan disebut bukan sebagai
negara demokrasi jika di negara itu tidak terdapat partai politik yang
memiliki eksistensi. Dengan kata lain, partai politik pada kehidupan
politik modern, telah menjadi ukuran yang sangat jelas untuk melihat
kadar demokrasi suatu negara.
1. Partai Politik
Bila diperhatikan dalam berbagai literatur politik, maka
dijumpai pengertian partai politik yang sangat variatif. Hal tersebut
disebabkan karena masing-masing pakar menjelaskan sesuai
dengan sudut pandang keahlian mereka. Namun pada intinya,
semua pendefenisian mengacu pada arti bahwa partai politik
tersebut merupakan organisasi atau tempat untuk memperoleh dan
mempertahankan kekuasaan secara konstitusional.16 Menurut UU
Teguh Imansyah, “Regulasi Partai Politik Dalam Mewujudkan Penguatan
Peran dan Fungsi Kelembagaan Partai Politik” dalam Jurnal RechtsVinding, Volume 1.
Nomor 3, Desember 2012, (Jakarta: BPHN, 2012), h. 377-378.
15
16
Sigit Pamungkas misalnya, mengindentifikasi lebih kurang 80 variasi
pendefenisian partai politik yang dikemukakan para pakar secara berbeda-beda.
Pendapat-pendapat tersebut berbeda dalam penekanannya. Burke dan Reagen seperti
yang dikutip Pamungkas, menekankan pengertian partai politik pada akar ideologi.
Menurut mereka, partai politik adalah alat untuk mendapatkan akses pemerintahan.
Ada yang menekankan pengertiannya sebagai desain instrument mediasi yang penting
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 121
No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, dijelaskan bahwa partai
politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh
sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar
kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan
membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan
negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.17 Dari sini dipahami bahwa
Partai politik dapat berarti organisasi yang mempunyai basis ideologi
yang jelas, dimana setiap anggotanya mempunyai pandangan yang
sama dan bertujuan untuk merebut kekuasaan atau mempengaruhi
kebijaksanaan negara baik secara langsung maupun tidak langsung
serta ikut pada sebuah mekanisme pemilihan umum untuk bersaing
secara kompetitif guna mendapatkan eksistensi
Menurut Budiarjo, partai politik adalah suatu kelompok yang
terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilainilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk
memperoleh kekuasaan dan merebut kedudukan politik (biasanya)
dengan cara konstitusionil untuk melaksanakan kebijaksanaankebijaksanaan mereka. 18 Menurut Pendapat lain dikemukakan oleh
Ramlan Surbakti yang mendefinisikan partai politik merupakan
kelompok anggota yang terorganisasi secara rapi dan stabil
yang dipersatukan dan dimotivasi dengan ideologi tertentu, dan
yang berusaha mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam
pemerintahan melalui pemilihan umum guna melaksanakan
alternatif kebijakan umum yang mereka susun. Alternatif kebijakan
umum yang disusun ini merupakan hasil pemanduan berbagai
kepentingan yang hidup dalam masyarakat, sedangkan cara mencari
dalam mengorganisir dan menyederhanakan pilihan pemilih dalam mempengaruhi
tindakan pemerindah. Defenisi ini dikemukakan Downs, Key dan Chambers. Namun
dari berbagai defenisi tersebut, Sigit Pamungkas mendefenisikan partai politik
sebagai sebuah organisasi untuk memperjuangkan nilai atau ideologi tertentu melalui
penguasaan struktur kekuasaan dan kekuasaan itu diperoleh melalui keikut sertaannya
di dalam pemilihan umum. Lihat, Sigit Pamungkas, Partai Politik: Teori dan Praktik di
Indonesia (Yogyakarta: Institut for Democracy and Welfarisme, 2011), h. 5.
17
Pasal 1, ayat 1 UU No. 2 tahun 2011 tentang Partai Politik
18
Budiardjo, Dasar-Dasar, h. 160.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
122 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
dan mempertahankan kekuasaan guna melaksanakan kebijakan
umum dapat melalui pemilihan umum dan cara-cara lain yang sah.19
Partai politik dijelaskan Amal, yaitu suatu kelompok yang
terorganisir angota-anggotanya, mempunyai orientasi nilai-nilai
yang sama. Kelompok ini berusaha memperoleh kekuasaan politik
dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk
melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.20 Dalam Undang-Undang
Partai Politik disebutkan, bahwa partai politik adalah organisasi
politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik
Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan citacita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat,
bangsa dan negara melalui pemilihan umum. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa partai politik pada pokoknya memiliki
kedudukan dan peranan yang sentral dan penting dalam setiap
sistem demokrasi.21
Berdasarkan defenisi yang telah diuraikan di atas, dapat
dipahami bahwa partai politik adalah kelompok anggota yang
terorganisasi secara rapi dan stabil yang dipersatukan dan dimotivasi
dengan ideologi tertentu. Partai politik ini berusaha mencari dan
mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan melalui pemilihan
umum guna melaksanakan alternatif kebijakan umum yang mereka
susun. Partai politik menduduki posisi yang sangat penting karena
pada masa kini telah lahir semacam adanya kesepakatan di antara
ilmuwan politik, demikian juga telah menjadi pendapat publik
masyarakat internasional bahwa partai politik adalah menjadi
ukuran serta syarat penting bagi suatu negara apakah negara itu
dapat disebut sebagai negara demokrasi atau tidak.
Secara lebih kongkret dipahami, bahwa dari defenisi yang
telah disampaikan di atas, terdapat ciri-ciri partai politik. Ciriciri tersebut dapat diidentifikasi dan diklasifikan kepada: pertama,
partai merupakan satu organisasi. Sebagai satu organisasi, tentu
19
Surbakti, Memahami, h. 148-149.
Ichlasul Amal, Teori Mutakhir Partai Politik (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana,
1998), h.8
20
21
2/1999
Undang-undang No. 31/2002 Penyempurnaan Dari Undang-undang No.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 123
di dalamnya terdiri dari sejumlah entitas yang saling mendukung,
yaitu adanya pemimpin partai, anggota partai, pembagian kerja
pengurus partai, bagian-bagian yang menggerakkan partai, struktur
atau hirarki kepengurusan partai. Kedua, partai merupakan media
perjuangan seluruh pengurus maupun anggota dan konstituennya.
Artinya, ada nilai-nilai atau ideologi yang diperjuangkan dan
ideologi yang diperjuangkan itu merupakan cita-cita yang ingin
diwujudkan oleh seluruh elemen partai. Nilai-nilai ideologi itulah
yang mendasari partai untuk menguatkan cita-cita perjuangannya.
Ketiga, cita-cita yang diinginkan oleh partai dan konstituennya
diwujudkan lewat penguasaan struktur kekuasaan. Dengan kata lain,
bahwa partai berupaya melanggengkan perjuangannya dengan cara
merebut kekuasaan. Keempat, untuk mewujudkan kekuasaan, partai
mengikuti berbagai bentuk kontestasi politik. Misalnya, pemilihan
umum Presiden, Pemilihan Kepala Gubernur, Walikota dan Bupati.
Kongkretnya, segala bentuk kontestasi politik merupakan instrumen
partai untuk melanggengkan cita-citanya. Di sinilah terlihat, bahwa
pada akhirnya target akhir yang ingin dicapai oleh partai politik
adalah kekuasaan. Karena dengan merebut kekuasaan itulah partai
akan dapat merealisasikan program kerja, visi dan misi yang tertera
dalam platform partai itu sendiri.
2. Fungsi Partai Politik
Dari beberapa defenisi partai politik yang telah dikemukakan
di atas, dapat digambarkan bahwa partai politik, sesungguhnya
adalah kumpulan dari beberapa orang yang mempunyai kesamaan
orientasi yang terbentuk dalam suatu wadah lembaga formal
berdasar kepada ketentuan konstitusi kelembagaan dan mengikuti
sistem politik dan sistem pemilihan yang ada. Dengan demikian,
secara hakiki partai politik memiliki fungsi utama yaitu mencari dan
mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program-program
yang disusun berdasarkan ideologi tertentu. Selain fungsi di atas,
partai politik juga memiliki fungsi lain, sebagaimana dijelaskan
Ramlan Surbakti, yaitu.22
22
Surbakti, Memahami, h. 149-154.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
124 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
a. Fungsi sosialisasi
Salah satu fungsi partai politik adalah sosialisasi. Sebagaimana
dipahami bahwa sosialisasi bertujuan untuk membentuk sikap dan
orientasi politik para anggota. Melalui proses sosialisasi, para anggota
masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan
politik yang berlangsung dalam masyarakat. Fungsi sosialisai partai
politik partai juga dipahami sebagai upaya menciptakan citra (image)
bahwa partai politik memperjuangkan kepentingan umum. Bahkan
lebih luas lagi, bahwa fungsinya adalah memberikan pendidikan
kepada anggotanya menjadi manusia yang sadar akan tanggung
jawabnya sebagai warga negara.
Partai politik bertugas untuk memberikan informasi politik
yang penting bagi warga negara. Selain itu, partai politik juga harus
mendidik warga negara mengapa mereka harus mengambil posisi
kebijakan tertentu. Melalui proses sosialisasi politik tersebutlah
masyarakat, atau anggota partai memperoleh sikap dan orientasi
terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat.
Proses tersebut berlangsung seumur hidup, baik yang diperoleh
secara sengaja melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal
maupun secara tidak sengaja melalui kontak dan pengalaman
sehari-hari dalam kehidupan masyarakat. Melalui proses sosialisasi,
masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma,
dan simbol-simbol politik negaranya.
b. Fungsi rekrutmen.
Rekrutmen politik merupakan seleksi dan pemilihan atau
seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk
melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya
dan pemerintahan pada khususnya. Dalam kaitan ini, partai politik
berfungsi untuk merekrut kader-kader dan kepemimpinan yang
berkualitas. Rekrutmen politik menjamin kontinuitas dan kelestarian
partai, sekaligus merupakan salah satu cara untuk menjaring dan
melatih kader partai.
c. Fungsi partisipasi politik.
Hampir di seluruh negara yang menganut kepartaian atau negara
demokrasi, partai memiliki peran yang sangat penting untuk mendorong
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 125
partisipasi politik masyarakatnya. Peran itu dimainkan partai secara
langsung atau tidak langsung. Secara langsung misalnya, melibatkan
seluruh elemen atau mesin partai untuk mendorong masyarakat untuk
memilih. Secara tidak langsung, partai berusaha membuat lebih disukai,
atau lebih bersahabat dengan cara menurunkan biaya pemilihan, dan
aktivitas partai memberikan hasil kepada partisan.
Partisipasi politik ialah kegiatan warga negara biasa dalam
memengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan
umum dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan.
Kegiatan yang dimaksud, antara lain, mengajukan tuntutan, membayar
pajak, melaksanakan keputusan, mengajukan kritik dan koreksi atas
pelaksanaan suatu kebijakan umum, dan mendukung atau menentang
calon pemimpin tertentu, mengajukan alternatif pemimpin, dan
memilih wakil rakyat dalam pemilihan umum. Dalam hal ini, partai
politik mempunyai fungsi untuk membuka kesempatan, mendorong,
dan mengajak para anggota dan anggota masyarakat yang lain untuk
menggunakan partai politik sebagai saluran kegiatan memengaruhi
proses politik. Jadi, partai politik merupakan wadah partisipasi politik.
Untuk menjamin kemampuan partai dalam mendorong,
memobilisasi dan menyalurkan aspirasi konstituen, struktur partai politik
yang bersangkutan haruslah disusun sedemikian rupa, sehingga ragam
kepentingan dalam masyarakat dapat ditampung dan diakomodasi
seluas mungkin. Karena itu, struktur internal partai politik penting untuk
disusun secara tepat. Di satu pihak ia harus sesuai dengan kebutuhan
untuk mobilisasi dukungan dan penyaluran aspirasi konstituen. Di
pihak lain, struktur organisasi partai politik juga harus disesuaikan
dengan format organisasi pemerintahan yang diidealkan menurut visi
partai politik yang dimintakan kepada konstituen untuk memberikan
dukungan mereka. Semakin cocok struktur internal organisasi partai itu
dengan kebutuhan, makin tinggi pula derajat pelembagaan organisasi
yang bersangkutan.
d. Pemandu kepentingan.
Fungsi ini merupakan salah satu fungsi utama partai politik
sebelum mencari dan mempertahankan kekuasaan. Fungsi ini sangat
menonjol dalam sistem politik demokrasi. Karena dalam sistem
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
126 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
politik totaliter, kepentingan dianggap seragam, partai politik dalam
sistem ini kurang melaksanakan fungsi pemaduan kepentingan.
Alternatif kebijakan umum yang diperjuangkan oleh partai tunggal
dalam sistem politik totaliter lebih banyak merupakan tafsiran
atas ideologi doktriner. Dalam sistem politik demokrasi, ideologi
digunakan sebagai cara memandang permasalahan dan perumusan
penyelesaian masalah.
e. Komunikasi politik.
Komunikasi politik merupakan proses pemyampaian informasi
mengenai politik dari pemerintahan kepada masyarakat dari
masyarakat kepada pemerintah. Dalam hal ini, partai politik berfungsi
sebagai komunikator politik yang tidak hanya menyampaikan
segala keputusan dan penjelasan pemerintah kepada masyarakat
sebagaimana diperankan oleh partai politik di negara totaliter, tetapi
juga menyampaikan aspirasi dan kepentingan berbagai kelompok
masyarakat kepada pemerintah. Keduanya dilaksanakan oleh partaipartai politik dalam sistem politik demokrasi.
f. Pengendalian konflik
Partai politik berfungsi sebagai lembaga pengendalian konflik
melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik,
menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan
dari pihak-pihak yang berkonflik dan membawa permasalahan
kedalam musyawarah badan perwakilan rakyat untuk mendapatkan
penyelesaian berupa keputusan politik.
g. Fungsi kontrol politik
Fungsi ini menjalankan kegiatan untuk menunjukkan kesalahan,
kelemahan dan penyimpangan dalam isi suatu kebijakan atau
dalam pelaksanaan kegiatan yang dibuat untuk dilaksanakan oleh
pemerintah. Tolak ukur suatu kontrol politik berupa nilai-nilai politik
yang dianggap ideal dan baik yang dijabarkan kedalam berbagai
kebijakan atau peraturan perundang-undangan. Tujuannya untuk
meluruskan kebijakan atau pelaksanaannya sejalan dengan tolak
ukur tersebut.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 127
Presentasi Diri di Ruang Publik; Teori Dramaturgi
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebagai makhluk
sosial, senantiasa berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
sekitarnya. Interaksi dengan menggunakan bahasa, simbol atau
lambang sebagai penghubungnya dan itulah yang disebut dengan
komunikasi. Dengan berkomunikasi, maka akan tercipta dan
terbentuk suatu interpretasi mengenai pesan yang dikirim oleh
masing-masing pihak yang pada akhirnya membentuk pemaknaan
simbol yang sama satu dengan lainnya. Seperti dikutip Benedictus
A.S dari John Stewart menegaskan, bahwa suatu komunikasi antar
manusia ditujukan untuk mendapatkan kualitas dari komunikasi
(quality of communication) yang nantinya akan berdampak pada
kualitas hidup individu (quality of life). Hal yang dikemukakan oleh
Stewart ini menggambarkan bahwa suatu komunikasi yang berhasil
adalah komunikasi yang bisa membuat individu menjadi seseorang
(as a person). Artinya, melalui komuikasi yang terjalin baik, seseorang
dapat menjadi lebih berkualitas secara pribadi, sehingga dengan
kualitas yang dihasilkan diharapkan hubungan komunikasi terus
terjalin.23
Dalam berinteraksi dengan orang lain, seseorang tentu
senantiasa berusaha menampilkan peran dan gambaran yang sesuai
dengan lingkungan sekitarnya, agar dirinya dapat diterima orang
lain. Sebab itu, dalam penguatan kajian penelitian ini, salah satu teori
yang tidak luput digunakan adalah berkaitan dengan teori peran atau
presentase diri di ruang publik. Nina W. Syam menjelaskan, bahwa
di antara teori-teori awal yang paling menarik dan banyak membahas
interaksi komunikatif yang mengembangkan teori persentase diri,
sekaligus sebagai pertunjukan drama adalah teori dramaturgi yang
diperkenalkan oleh Erving Goffman.24 Goffman memperkenalkan
Benedictus A.S, “Konstuksi Diri dan Pengelolaan Kesan Pada Ruang Rill dan
Ruang Virtual” dalam Jurnal Aspikom, Volume 1, Nomor 1, Juli 2010, h. 28.
23
24
Ahli lain yang membicarakan tentang teori peran diri adalah model
identitas peran dari McCall dan Simmons,. Teori ini menjelaskan bahwa para aktor
memilih berbagai identitas peran. Identitas-identitas peran itu diorganisir ke dalam
perangkat-perangkat hirarkis, bahwa setiap identitas berhubungan dengan identitas
lainnya dan bahwa indentitas tersebut dipesan sesuai dengan tingkat kepentingan
dan urgensinya. Selain itu, Secord dan Backman juga memperkenalkan model
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
128 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi
melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku
tersebut menerangkan bahwa segala macam perilaku interaksi
yang dilakukan manusia dalam sebuah pertunjukan kehidupan
sehari-hari seolah-olah adalah menampilkan diri mereka sendiri,
hal tersebut sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter
orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Teori dramaturgi ini
banyak membicarakan peran atau presentase diri di ruang publik.
Mazhab ini berkembang antara tahun 1922-1982. Pendekatan teori
ini berangkat dari pemahaman mengenai berbagai aspek kajian
sosiologi, antropologi, dan komunikasi.25
Erving goffman, menyebutnya sebagai dramaturgi karena
ia memandang bahwa kehidupan manusia diibaratkan sebagai
panggung sandiwara. Manusia sebagai aktor utama berusaha untuk
menampilkan pertunjukan dan berusaha menunjukkan kesan yang
berbeda-beda. Apa yang diperbuat oleh individu maupun kelompok
tertentu, tidak selalu sama seperti apa yang tampak. Apa yang
dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu bisa karena memiliki
kepentingan tertentu. Goffman membagi kehidupan manusia
dengan istilah panggung depan (front stage) dan panggung belakang
(back stage) dan bagian dimana aktor tidak melakukan apa-apa (off
stage). Mengutip penjelasan Lely Arrianie, front stage adalah bagian
tempat peristiwa sosial yang memungkinkan individu menampilkan
peran formal atau bergaya layaknya aktor yang berperan. Wilayah
ini disebut panggung depan, karena yang ditonton oleh khalayak.
Sedangkan back stage adalah tempat untuk mempersiapkan perannya
negosiasi peran. Teori ini menjelaskan, bahwa dalam menciptakan identitas-identitas,
diperlukan adanya negosiasi. Teori ini menegaskan bahwa seorang aktor dan rekanrekan perannya dapat dianggap sebagai bagian yang menentukan seluruh negosiasi,
baik langsung maupun tidak langsung. Lihat, Nina W. Syam, Sosiologi Komunikasi
(Bandung: Humaniora, 2009), h. 149-154.
25
Teori dramaturgi merupakan pengembangan dari konsep Herbert Mead
mengenai makna, bahasa, pemikiran, yang kemudian dirumuskan oleh Blumer
menjadi apa yang disebut sebagai interaksionis simbolik. Salah satu premis
interaksionis simbolik adalah bahwa makna muncul dari interaksi sosial yang
merupakan proses interpretif dua arah, dan fokusnya adalah efek dari interpretasi
terhadap tindakannya sedang diinterpretasikan. Lihat, E. Griffin, A First Look at
Communication Theory (Boston:McGraw-Hil Higher Education, 2000), h. 54-55.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 129
di wilayah depan. Wilayah ini disebut sebagai panggung belakang,
karena merupakan kamar rias yang menjadi tempat pemain sandiwara
bersantai, mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan
perannya di panggung depan. Sedangkan off stage adalah bagian
dimana aktor tidak melakukan pertunjukan dan interaksi dengan
siapapun.26
Fokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang
lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa
mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka melakukannya.
Dengan demikian, penekanan teori ini adalah melihat tindakan
sebagai sebuah konsep dasar utama. Dramaturgi memahami bahwa
dalam interaksi antar manusia ada kesepakatan perilaku yang
disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud
interaksi sosial tersebut. Interaksi tersebut dapat dilihat sebagaimana
pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.3. Sketsa tentang ide dasar dramaturgi.
Goffman kemudian mengembangkan konsep wajah (face) dan
kata-kata (line). Ini menegaskan, bahwa interaksi didorong oleh
usaha-usaha seorang aktor untuk menjaga identitas yang diakui
secara sosial. Goffman dalam kaitan ini sebagaimana dijelaskan
Syam, menganjurkan bahwa semua aktor manusia berkaitan dengan
menjaga wajah. Wajah merupakan suatu identitas yang diakui
oleh dirinya sendiri (self). Demikian juga dengan kata-kata (line)
merupakan pola aksi verbal dan nonverbal dimana seorang aktor
26
Lely Arrianie, Komunikasi Politik; Politisasi dan Pencitraan di Panggung Politik
(Bandung: Widya Padjajaran, 2010), h. 35.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
130 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
menyampaikan pandangannya tentang situasi dan evaluasi dirinya
dan orang lain. Menurut Goffman, antara wajah dengan kata-kata
memiliki interaksi koordinasi yang hati-hati.27
Dramaturgi memberikan sisi lain dari sebuah kejadian yang terlihat.
Dalam perkembangannya saat ini, dramaturgi juga dilakukan oleh para
politikus, utamanya para kandidat dan partai yang akan mengikuti
kontestasi politik. Para pimpinan partai politik atau orang-orang yang
memiliki kepentingan politik tertentu, melakukan berbagai bentuk
lakon di atas panggung sandiwara dalam rangka membangun citra atau
gambaran yang baik mengenai mereka. Misalnya, para pemimpin partai
atau kandidat, membangun citra dengan cara mengumbar jasa, tiba-tiba
menjadi dermawan, baik dan santun. Para politisi juga tidak ketinggalan
menggunakan media untuk mengekspos berbagai kegiatan kebaikankebaikan mereka untuk menyembunyikan keburukan mereka di mata
masyarakat. Ada politisi yang tiba-tiba baik, dermawan, ramah dan suka
bersilaturrahmi. Apa yang terjadi itu, merupakan pertunjukan semua
yang syarat dengan kepentingan-kepentingan. Ini adalah sebentuk
upaya untuk mensosialisasikan diri, agar meningkat popularitasnya.
Bahkan sejumlah kandidat maupun partai, melakukan sosialisasi diri
melalui baliho, kalender, pamphlet, kartu nama, baju kaus, stiker dan
atribut-atribut lainnya. Sebagaimana dijelaskan Marzuki Wahid, model
sosialisasi seperti ini hampir dilakukan oleh semua politisi. Bahkan
mereka melakukannya jauh sebelum masa kampanye atau masa
pemilihan. Ada juga yang menemui warga dari rumah ke rumah.28
Apa yang dilakukan para politisi menunjukkan bahwa dirinya
ingin dikenal oleh orang lain, dan ia ingin mempersentasikan dirinya
sebagai orang yang diterima masyarakat. Seperti layaknya seorang
aktor panggung sandiwara, pelaku (dalam hal ini seorang politisi)
memerlukan pementasan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan
karakternya, agar bisa diterima oleh orang lain. Pada wilayah depan
itulah para pemain memiliki kesempatan untuk menciptakan image
27 Syam, Sosiologi, h. 138.
28 Marzuki Wahid, “Cirebon, Jawa Barat: Ketika Patronase Mengalahkan
Personalisme” dalam Edward Aspinall dan Mada Sukmajati (Ed), Politik Uang di
Indonesia: Patronase dan Klientalisme Pada Pemilu Legislatif 2014 (Yogyakarta: Penerbit
PolGov, 2015), h. 309-310.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 131
atas pertunjukannya yang skenarionya sudah diatur sedemikian
rupa dan berbeda jauh dengan apa yang ada di wilayah belakang.
Pada bagian lain dari penampilan individu yang secara teratur
berfungsi secara umum dan tetap untuk mendefenisikan situasi
bagi mereka yang menyaksikan penampilan tersebut. Bahkan
seperti yang diungkapkan Syam, selama berlangsungnya permainan
sandiwara, seorang aktor harus mampu mepertahankan performancenya agar mempertahankan ilusi kebenaran dan menghindarkan
kemungkinan keluarnya dari peran. Dalam beberapa hal, individu
yang mempersentasikan dirinya terhadap pihak-pihak lain, bukan
saja bertindak sebagai aktor, tetapi sekaligus manajer panggung dan
sebagai designer.29
Goffman sebagaimana dijelaskan Ritzer, menjelaskan bahwa
pada umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka
yang diidealisasikan dalam sebuah pertunjukan di panggung
depan. Mereka selalu merasa harus menyembunyikan hal-hal
tertentu dalam pertunjukannya. Hal tersebut disebabkan tujuh hal,
yaitu: Pertama, kemungkinan besar aktor ingin menyembunyikan
kesenangan-kesenangan tersembunyi. Kedua, aktor kemungkinan
ingin menyembunyikan kesalahan yang dibuat saat persiapan
pertunjukan, dan melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki
kesalahan tersebut. Ketiga, aktor kemungkinan merasa hanya
perlu menunjukkan produk akhir dan menyembunyikan proses
produksinya. Keempat, aktor mungkin perlu menyembunyikan kerja
kotor yang dilakukan untuk membuat produk akhir dari khalayak.
Kelima, dalam menampilkan pertunjukan tertentu aktor mungkin
harus mengabaikan standar lain, semisal menyembunyikan hinaan,
pelecehan, dan sebagainya sampai pertunjukan dapat berlangsung.30
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa presentasi diri
seperti yang ditunjukan Goffman, bertujuan memproduksi definisi
situasi dan identitas sosial bagi para aktor. Definisi situasi tersebut
mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi
para aktor dalam situasi yang ada. Goffman mengasumsikan bahwa
29
Syam, Sosiologi, h. 141.
George Ritzer, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Prenada Media, 2004), h.
298-299.
30
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
132 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu
gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu
sebagai pengelolaan pesan (impression management),31 yaitu teknikteknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu
dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Dari sinilah
dipahami, bahwa salah satu kontribusi interaksionisme simbolik
yang mengilhami pemikiran Goffman adalah penjabaran berbagai
macam pengaruh yang ditimbulkan penafsiran orang lain terhadap
identitas atau citra diri individu yang merupakan objek interpretasi.
Jadi seperti halnya pemikiran kaum interaksionis pada umumnya,
inti pemikiran Goffman seperti yang dikutip Mulyana adalah diri
(self), yang dijelaskan bahwa sebenarnya diri setiap orang dihadapkan
pada tuntutan untuk tidak ragu-ragu dalam melakukan apa yang
diharapkan. Untuk memelihara citra diri yang stabil, orang selalu
melakukan pertunjukan (performance) dihadapan khalayak.32
Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah
tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan
psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa berubah-ubah, dan
itu sangat tergantung kepada interaksi yang dilakukannya dengan
orang lain. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang
dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi
interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya
pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial
masyarakat itu sendiri.
Dramaturgi juga menekankan dimensi ekspresif/ impresif aktivitas manusia,
yaitu bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan
diri dalam interaksi dengan orang lain. Oleh karena perilaku manusia bersifat
ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik. Pendekatan dramaturgi
berintikan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola
pesan yang ia harapkan tumbuh dan dimengerti orang lain. Untuk itu setiap manusia
melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgi memandang manusia
sebagai aktor-aktor di atas panggung yang sedang memainkan peran-peran mereka.
Lihat, Musta’in, “Teori Diri; Sebuah Tafsir Makna Simbolik Pendekatan Teori
Dramaturgi Erving Goffman” dalam Jurnal Komunika, vol 4 no 2 Juli-Desember 2010, h.
274.
31
32
Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, Paradigm Baru Ilmu Komunikasi
dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 106.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 133
Pencitraan Politik Perspektif Komunikasi Islam
Sejak tahun 1999 sampai sekarang, Indonesia menganut sistem
multi partai, dengan tingkat polarisasi ideologi sangat tinggi.
Selain bermunculan partai politik nasionalis, umat Islam pun tidak
ketinggalan berpartisipasi dengan mendirikan partai Islam, baik
terang-terangan menggunakan ideologi Islam atau konstituennya
berbasis massa umat Islam. Burhanuddin Muhtadi menjelaskan,
bahwa partai Islam Indonesia dibagi kepada dua, yaitu: Pertama,
partai yang secara eksplisit mengklaim Islam sebagai ideologi dan
menjadikan Islam sebagai partainya. Kemudian yang kedua, partai
yang bukan terbuka, dan tidak secara nyata menjadikan Islam sebagai
ideologi dan asasnya, tetapi memiliki basis massa umat Islam dan
dukungan dari organisasi-organisasi Islam.33
Mengikuti logika Burhanuddin Muhtadi, partai politik yang
nyata-nyata menggunakan Islam sebagai asasnya, yaitu PKS, PPP
dan PBB. Sedangkan partai terbuka yang tetap memperjuangkan
aspirasi Islam, basisnya massa Islam, tetapi ideologi atau asasnya
tidak terang-terangan disebut Islam, yaitu PAN dan PKB. Terlepas
dari kedua pembagian itu, hal terpenting bahwa dengan banyak
berdirinya partai politik Islam di era reformasi, menjadikan panggung
politik Indonesia semakin dinamis. Pembicaraan relasi Islam-negara
semakin menarik, terlebih iklim kebebasan politik era reformasi,
memberi peluang seluas-luasnya kembalinya aspirasi Islam politik
dalam menerapkan Islam sebagai dasar negara.
Menurut Qardhawy, dalam kesejarahan Islam, telah lama dikenal
fiqh politik (Fiqhus Siyasah), yang mendasari pandangannya bahwa
Syari’at Islam disamping mengatur tentang ketuhanan, hubungan
antara manusia dengan Tuhan (masalah-masalah ibadah) serta
akhlak, tetapi juga mencakup hubungan individu dengan daulah
(negara dan pemerintah), atau hubungan pemimpin dengan rakyat,
hubungan hakim dengan terdakwa, hubungan pejabat dengan
penduduk. Tema ini dibahas dan diatur dalam fiqh daulah. Sebab
itu, menurut pandangan Qardhawy, politik menurut perspektif
33
h. 2-3.
Burhanuddin Muhtadi, Dilema PKS : Suara Dan Syariah (Jakarta: KPG, 2012),
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
134 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
syariat, ialah yang menjadikan syariat sebagai pangkal tolak,
kembali dan bersandar kepadanya, mengaplikasikannya dimuka
bumi, menancapkan ajaran-ajaran dan prinsip-prinsipnya ditengah
manusia, sekaligus sebagai tujuan dan sasarannya, sistem dan
jalannya. Tujuannya berdasarkan syariat dan sistem yang dianut juga
berdasarkan syariat.34 Al Qardhawy, juga menjelaskan bahwa dalam
kajian fiqh modern, bidang-bidang ini mencakup bidang kenegaraan
dan kebijakan publik, dan hukumnya adalah masuk dalam bidang
hukum publik, yaitu hukum tata negara, administrasi negara, hukum
pidana dan hukum acara.35
Perjalanan politik Indonesia dari masa ke masa tidak pernah bisa
dilepaskan dari peran politik yang dimainkan oleh umat Islam, dalam
sejarahnya umat Islam Indonesia telah banyak memberikan kontribusi
bagi arah pembangunan politik dan demokrasi. Turut sertanya umat
Islam dalam kehidupan politik telah menjadikan panggung politik
nasional bergerak cukup dinamis. Ledakan partisipasi pendirian
partai Islam bersifat sesaat hanya terjadi di pemilu pertama era
reformasi di tahun 1999. Untuk pemilu berikutnya di tahun 2004, 2009
dan 2014 jumlah partai politik Islam mengalami penurunan secara
signifikan, tercatat hanya lima partai Islam yang masih tetap bertahan
diantaranya Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtra
(PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dalam kajian komunikasi politik, pencitraan yang dilakukan
partai-partai, termasuk dalam hal ini partai-partai berbasis massa
Islam sebagaimana yang disebutkan di atas, tujuannya tetap untuk
merebut hati pemilih, bahkan ingin merebut kekuasaan. Oleh sebab
itu, partai-partai tersebut juga melakukan pencitraan dalam rangka
mendongkrak perolehan suara pada setiap pemilu. Namun demikian,
pencitraan yang dilakukan harus dilakukan secara benar, tidak
mengandung kebohongan dengan kata lain harus tetap menjunjung
tinggi etika komunikasi.
Yusul Al-Qardhawy, Pedoman Bernegara Dalam Perspektif Islam, Terj. Kathur
Suhadi (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1999), h. 23.
34
Ibid, h. 35.
35
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 135
Secara sederhana, etika komunikasi dipahami sebagai
komunikasi yang mengedepankan akhlak, dan nilai-nilai yang
tidak bertentangan dengan masyarakat. Jika dikaitkan dengan
landasan normatif Alquran, etika komunikasi tersebut adalah tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.
Utamanya bagi komunikator atau politisi muslim, tentu harus
mengedepankan dan menjunjung tinggi etika komunikasi tersebut.
Mengutip penjelasan Mafri Amir, bahwa komunikasi baru disebut
beretika, ketika seorang komunikator melakukan komunikasi sesuai
dengan standar nilai akhlak, atau komunikator berkomunikasi sesuai
dengan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat atau golongan
tertentu. Nilai tentu saja tidak dikur dari nilai keyakinan atau agama
masyarakat itu sendiri, tetapi juga diukur dari nilai-nilai menurut
kebiasaan (adat istiadat) yang berlaku dalam golongan masyarakat
tersebut. Dengan demikian kata Mafri Amir, untuk mengukur baik
tidaknya kualitas etika berkomunikasi seseorang, dapat dilihat dari
kualitas teknis berkomunikasi itu sesuai dengan nilai-nilai kebaikan
yang berlaku.36
Komunikasi dalam perspektif Islam, baik komunikasi bisnis,
komunikasi politik dan sebagainya harus dilaksanakan dengan
mengedepankan prinsip-prinsip kebaikan, kejujuran dan kebenaran.
Inilah yang menjadi sifat khas komunikasi Islam. Karena itu,
komunikasi Islam memiliki perbedaan dengan komunikasi Barat atau
non-Islam. Tetapi perbedaan itu lebih kepada isi pesan komunikasi
yang harus terikat kepada perintah agama. Karena terikat dengan
perintah agama, dengan sendirinya pula unsur isi pesan mengikat
unsur komunikasi lainnya. Artinya, bahwa komunikator harus
menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral pada saat menyampaikan
pesan-pesan kepada khalayak.
Komunikasi dalam pandangan Islam adalah ikatan tauhid.
Sebagaimana dikutip M. Tata Taufik dari Mowlana menegaskan,
bahwa komunikasi dalam pandangan Islam adalah sarana
pembentukan suatu komunitas dan komunitasi itu terbentuk karena
dasarnya adalah kesamaan tauhid. Bukan karena sekelompok kecil
36
Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa Dalam Pandangan Islam (Jakarta: Logos, 1999), h. 33-34.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
136 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
orang yang memiliki keinginan yang sama, melainkan komunitas
tersebut terbentuk lebih luas lagi. Konsep komunikasi yang dijelaskan
Mowlana berangkat dari pengembangan terhadap terminologi tabligh
dan pemikiran etik yang merupakan sarana untuk membentuk
komunitas. Konsep tabligh yang dikemukakan bersandar pada
beberapa hal, yaitu: Pertama, teori tauhid. Teori ini menguatkan
bahwa komunikasi bertujuan untuk menghancurkan berhala,
kemusyrikan dan membangun umat menuju masa depan. Kedua,
doktrin tanggung jawab sosial yang terwujud dalam amar ma’ruf
nahi munkar. Dalam pandangan Islam, setiap orang bertanggung
jawab untuk membimbing saudaranya, menganjurkan kebaikan
dan mencegah kemungkaran. Ketiga, konsep komunitas dan ummat.
Menurut Islam, komunitas dibangun atas dasar tauhid dan ummah.
Prinsip ummah mengajarkan suatu komunitas yang utuh di bawah
pengaturan kehendak Allah swt., bukan kehendak individu atau
kemauan manusia. Keempat, prinsip takwa merupakan suatu konsep
ideal muslim. Takwa juga sering diterjemahkan sebagai suatu sikap
religius sehingga dorongan tindakan dalam kehidupan sehari-hari
didasarkan kepada kekuatan untuk menjalankan kepercayaan, yang
secara umum dalam Islam, takwa diartikan sebagai perilaku ketaatan
dalam menjalankan perintah Allah swt., dan menjauhi larangannya.37
Dalam konteks komunikasi politik, spritual, etika dan akhlak
menjadi sangat penting bagi seorang politikus, karena ketiganya
memiliki peran strategis dalam memelihara dan mempersiapkan
politikus untuk membangun kesatuan komunitas yang beradab.
Sebagaimana dijelaskan Muis, bahwa komunikasi politik menurut
pandangan Islam berkaitan erat dengan etika. Namun etika
dan politik adalah dua dunia yang berbeda, sehingga bukan hal
yang mudah untuk menyatukannya. Politik berada pada dunia
kekuasaan, sedangkan etika berada pada dunia moralitas. Politik
sebagai alat mengejar kekuasaan, sering kali perlu menggunakan
komunikasi yang keras. Artinya komunikasi yang bebas nilai
untuk mempengaruhi opini atau sikap masyarakat atau bersifat
37
111.
M. Tata Taufik, Etika Komunikasi Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2012), h. 108-
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 137
agitatif.38 Dengan demikian, spritualitas, etika dan akhlak pada
akhirnya akan berpulang pada pembawaan personal. Sebagaimana
dijelaskan Ashadi Siregar, bahwa etika suatu profesi mengandung
orientasi sosial. Pentingnya etika tidak hanya untuk pergaulan sosial
antar perorangan. Ini menyangkut landasan bagi kehadiran suatu
institusi sosial di tengah masyarakat. Etika tersebut penting dalam
membangun komunitas masyarakat. Etika penting bagi institusi
pers, institusi politik, institusi kesehatan, institusi hukum, birokrasi
dan lain-lain yang memiliki peran sosial.39
Bagi pers misalnya, menjunjung kebenaran merupakan salah satu
upaya untuk menegakkan marwah dan martabat dalam membentuk
citra sosial, sehingga masyarakat mempercayainya. Dengan demikian,
menyampaikan kebenaran merupakan modal dalam proses komunikasi,
sehingga tingkat kepercayaan masyarakat tetap dapat terjaga. Penegasan
bahwa komunikasi bertujuan untuk menyampaikan kebenaran, dapat
dilihat dari apa yang dikutip Syukur Kholil dari Husain, yaitu sebagai
suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari komunikator kepada
komunikan dengan menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi yang
terdapat dalam Alquran dan Hadis. Dalam hal ini, komunikasi Islam
senantiasa berusaha mengubah perlakuan buruk individu atau khalayak
sasaran kepada perlakuan yang baik. Kongkretnya, komunikasi Islam
seperti yang dijelaskan Kholil, tidak seperti komunikasi umum yang
menyampaikan informasi yang baik maupun buruk, serta berusaha
mempengaruhi khalayak sesuai dengan keinginan komunikator yang
dapat bertendensi positif maupun negatif.40
Dalam berbagai literatur komunikasi Islam, prinsip komunikasi
Islam yang lazim dipahami. Keenam prinsip tersebut sebagaimana
yang dikemukakan Rakhmat, yaitu: 1. Qaulan sadida; 2. Qaulan
baligha; 3. Qaulan ma’rufa; 4. Qaulan karima; 5. Qaulan layinan; 6. Qaulan
maysura.41 Dua dari 6 prinsip komunikasi yang dilakukan, menjadi
hal utama yang harus diperhatikan dalam proses pencitraan politik.
Pertama, qawlan Sadida (berkata dengan benar dan jujur). Pencitraan
38
Abdul Muis, Komunikasi Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 117.
39
Ashadi Siregar, Etika Komunikasi (Yogyakarta: Penerbit Pustaka, 2008), h. 182-183.
40
Syukur Kholil, Komunikasi Islam (Bandung: Cita Pustaka, 2007), h. 2-3.
41
Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual (Bandung: Mizan, 1996), h. 80.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
138 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
dari perpektif terminologi ini, harus dilakukan dengan menjunjung
tinggi kejujuran dan kebenaran. Apa yang disampaikan harus sesuai
dengan apa yang dilakukan. Islam memandang bahwa komunikasi
harus dilakukan dengan benar, faktual, dan tidak mengandung
unsur rekayasa atau memanipulasi fakta. Kebenaran dan kejujuran,
merupakan landasan filosofis komunikasi Islam seperti dijelaskan
dalam surah al-Ahzab ayat 70-71.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki
bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosadosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.42
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa komunikasi Islam tidak
hanya menekankan pada komunikator, tetapi menekankan juga pada
kemaslahatan komunikan. Seorang komunikator dituntut untuk
menghindari kebohongan yang dimungkinkan dapat merugikan
komunikator. Hal ini dapat diperhatikan dari bahasa Alquran yang
sunyi dari kebohongan dalam mengajak manusia dengan bahasa
yang benar (qaulan sadida) sehingga berbekas pada jiwa manusia.
Pesan lain yang dapat ditangkap dari ayat di atas, bahwa pesanpesan yang mengandung makna menjatuhkan atau mendiskreditkan
harus segera diperbaiki. Ucapan yang arahnya meruntuhkan, pada
saat yang sama harus pula diiringi dengan pesan-pesan perbaikan.
Artinya, kritik yang disampaikan hendaknya merupakan kritik
yang membangun atau dalam arti kata, informasi yang disampaikan
harus mendidik. Dalam konteks lain kata Wahyu Ilaihi, pesan
yang disampaikan merupakan kalimat-kalimat yang baik sesuai
dengan kebiasaan pada masing-masing masyarakat, dan juga tidak
bertentangan dengan nilai-nilai ke-Ilahian.43
42
QS. Al Ahzab/ 33: 70-71.
43
Ilaihi, Komunikasi, h. 188.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 139
Kedua, qaulan ma’rufan (perkataan yang baik). Qaulan ma’rufan
sebagaimana dijelaskan Ilaihi dapat diartikan sebagai ungkapan
atau ucapan yang pantas dan baik. Pantas maksudnya adalah
sebagai kata-kata yang terhormat, sedangkan baik diartikan
sebagai kata-kata yang sopan. Istilah Jalaluddin Rakhmat kata Ilaihi
adalah pembicaraan yang bermanfaat, memberikan pengetahuan,
mencerahkan pemikiran dan menunjukkan pemecahan terhadap
kesulitas orang yang lemah. Bila ditelaah lebih jauh, qaulan ma’rufan
menggambarkan mengenai etika berkomunikasi dengan komunikan.
Misalnya, bagaimana etika seorang komunikator yang memiliki
kekuatan (power) terhadap masyarakat yang lemah, seperti orang
miskin, anak-anak yatim dan sebagainya. Bagaimana etika seorang
komunikator dalam berkomunikasi terhadap orang yang lebih
mengedepankan emosi dari pada akalnya.44
Berdasarkan kandungan ayat yang telah dijelaskan di atas, dapat
dipahami bahwa pencitraan harus dilakukan dengan ungkapan yang
pantas, yaitu berupa pesan-pesan kebaikan, bermanfaat, memberikan
pengetahuan, mencerahkan pemikiran, dan memberikan solusi
bagi kesulitan yang dihadapi orang lain. Hal ini sangat rasional,
karena seorang terhormat, misalnya para pejabat, politisi, pemimpin
partai politik sebagai seorang figur yang dihormati, tentu harus
menggunakan kata-kata yang sopan, lemah lembut dan bahasabahasa yang menunjukkan kehormatannya.
Prinsip-prinsip komunikasi yang telah dijelaskan di atas sangat
lekat dengan ciri komunikasi Islam. Prinsip tersebut mencakup dan
teraplikasi pada setiap unsur yang membentuk suatu komunikasi.
Komunikator harus mempersiapkan diri sesuai dengan nilai-nilai
dan prinsip-prinsip komunikasi Islam yang telah dijelaskan di atas.
Pesan yang akan disampaikan juga harus diformulasikan, dikemas,
dan disajikan sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian,
terlihatlah sisi kemanfaatan komunikasi Islam itu.
Komuikator misalnya, dituntut agar menyampaikan informasi
dengan benar. Tidak memanipulasi atau memutarbalikkan fakta.
Sebab salah satu yang perlu diingat oleh seorang komunikator politik,
44
Ibid, h. 183-187.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
140 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
bahwa dalam proses komunikasi politik, seorang politisi tidak hanya
berkonsentrasi pada proses menang atau kalah saja. Lebih jauh
dari itu, seorang komunikator politik harus menyadari bahwa ada
sebuah tanggung jawab transedensi45 yang mengikat dirinya sebagai
manusia sekaligus hamba Allah swt.. Tanggung jawab transedensi
tersebut ditegaskan dalam surat Al Baqarah ayat 30.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui.”46
Islam mengajarkan agar pesan yang disampaikan tidak
mengandung unsur kebohongan. Esensi komunikasi Islam adalah
mengajak manusia kepada yang lebih, menekankan kepada nilai-nilai
agama dan sosial budaya, yakni dengan menggunakan prinsip dan
kaedah yang terdapat dalam Alquran dan Hadis. Prinsip tersebut
Tanggung jawab transedensi dapat dirujuk kembali kepada tata cara Islam
mengajarkan komuniukasi yang baik, yaitu dengan mengedepankan akhlak. Jika
etika dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan
dengan tingkah laku lahiriyah, maka cakupan akhlak jauh lebih luas. Akhlak
mencakup beberapa hal yang menyangkut sifat lahiriyah, misalnya yang berkaitan
dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak mencakup berbagai aspek, dimulai
dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tidak bernyawa). Dengan demikian, etika dan
akhlak dalam pandangan Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia,
tetapi juga antara manusia dengan Allah, dan juga antara manusia dengan makhluk
lainnya. Lihat, M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran (Bandung: Mizan, 1996), h. 253.
45
46
Q.S. Al Baqarah/ 2: 30.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 141
bukan hanya sekedar penyampaian pesan dan terjadinya perubahan
prilaku komunikan, namun terjalinnya jaringan interaksi sosial yang
harmoni dan berasas normatif.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa
pencitraan dari perspektif komunikasi Islam harus dilakukan sesuai
dengan prinsip-prinsip komunikasi Islam, yaitu memberikan pesan
sesuai dengan fakta dan tidak dimanipulasi. Dengan pengertian
demikian, maka pencitraan komunikasi politik dalam pandangan
Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau
nilai-nilai yang disampaikan harus sesuai dengan ajaran Islam, cara
(how) penyampaiannya juga mengandung kejujuran, gaya bicara
yang digunakan harus santun dan menjunjung etika.
Sejarah mencatat, bahwa Rasulullah saw., pernah melakukan
pencitraan nama baik terhadap Abu Bakar dan sahabat lainnya.
Demikian pula pencitraan nama baik terhadap mereka yang diangkat
sebagai saksi guna menunaikan hak orang lain. Pencitraan yang
dilakukan Rasulullah saw., tentu berbeda dengan pencitraan yang
dilakukan orang banyak. Pencitraan yang dilakukan Rasulullah saw.,
didasari kepada ketakwaan. Bahkan tercatat dalam sejarah keislaman,
bahwa para sahabat Rasulullah saw., pada masa kepemimpinannya
juga melakukan pencitraan. Sepeninggal Rasululah saw., Imam Ali
tetap melanjutkkan perjuangan Rasul, yakni menghapuskan segala
bentuk penindasan terhadap sesama manusia. Ali tampil sebagai
pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat, kehidupan sehariseharinya terlihat tidak seperti pemimpim kebanyakan, tempat
tinggal, makanan serta pakaiannya sangat sederhana, sehingga orang
miskinpun hidup lebih baik dari pada kehidupannya. Padahal Ali
adalah seorang pemimpin yang memiliki kesempatan untuk hidup
mewah selama jadi pemimpin.47
Ali memilih hidup jauh dari kemewahan, karena sebuah ironi
ketika pemimpinnya kaya sedangkan rakyatnya miskin. Prinsip inilah
yang dipakai untuk menjalankan pemerintahannya. Sikap hidup
Imam Ali tentunya berefek kepada kepercayaan rakyat, bahwa dia
memang layak untuk menjadi pemimpin tanpa sebuah proses suksesi
47
George Jordac, Suara Keadilan; Sosok Ali bin Abi Thalib, terj. Muhammad alSajjad (Jakarta: Lentera, 1996), h. 74.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
142 | Pencitraan, Partai Politik dan Komunikasi Islam
yang mengeluarkan banyak dana seperti yang terjadi pada pilpres
dan even pemilu lainnya. Untuk mencitrakan calon presiden setiap
tim sukses harus mengeluarkan banyak dana. Pencitraan pemimpin
yang baik, dekat dengan rakyat miskin yang terjadi pada diri Imam
Ali bukanlah sebuah desain untuk mengambil hati rakyat. Tetapi
pencintraan itu lahir dari kesadaran karena kehidupan keseharian
Ali dan kebijakanya. Lain halnya dengan yang terjadi pada even
pemilu di Indonesia, pencitraan sosok politisi atau lembaga adalah
sebuah desain media, karena antara jualan politik dengan kenyataan
sehari-hari sangat jauh berbeda.
Membangun pencitraan, berarti melakukan proses pembaharuan
secara berkesinambungan, melakukan perbaikan dari waktu ke
waktu. Tetapi masalah yang sering muncul dalam politik pencitraan,
yaitu terjadinya perbedaan antara tujuan yang diinginkan dengan
perilaku orang yang melakukan pencitraan. Misalnya, seseorang
ingin menunjukkan kebaikan, tetapi sesungguhnya orang tersebut
sudah tercemar nama baiknya karena tersanjung sejumlah kasus
yang sudah diketahui masyarakat. Masalah lainnya, pencitraan tidak
muncul dari hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih, melainkan
hanya supaya mencapai target dikenal sebagai orang yang bagus,
orang yang peduli dan sebagainya. Dengan demikian, dapat
ditegaskan bahwa pencitraan dalam pandangan Islam, bukan sekedar
mengemas secara baik tampilan luarnya, tetapi tampilan luar tersebut
diharapkan dapat menjadi tolok ukur kebaikan tampilan dalamnya.
Ini erat kaitannya dengan sebuah pepatah Arab yang dikutip oleh
Munir, “Az zahiru yadullu alal batin (hiasan lahir menunjukkan hiasan
batin)”. Hal ini kata Munir menggambarkan bahwa penampilan
fisik seseorang sangat berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat
psikis dalam dirinya. Karena biasanya dalam menilai batin seseorang
dimulai dari penampilan luarnya.48
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa baik buruknya
pencitraan tidak terlepas dari kebersihan isi hati, pikiran, niat dan
tujuan yang diinginkan dari proses pencitraan tersebut. Bagi orang
yang beriman, menjaga kebersihan itu akan selalu menjadi prioritas
48
Abdullah Munir, Super Teacher (Sosok Guru Yang Dihormati, Disegani, dan
Dicintai) (Yogyakarta: Pedagogia, 2010), h. 116.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 143
utama. Salah satu indikasi ayat menegaskan pentingnya menjaga
tampilan luar, misalnya dalam surah Al A’raf ayat 31.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.
Ayat di atas memberi penjelasan pentingnya menjaga tampilan
luar, sebab tampilan luar itulah yang akan menjadi bahan penilaian
orang lain. Memakai pakaian yang rapi adalah sebagai upaya menjaga
tampilan luar. Seseorang mungkin akan menarik ketika orang lain
melihatnya memakai pakaian yang berwibawa, berpenampilan
menarik, rapi, sopan dan lemah lembut dalam berbicara. Sebab itu,
perhatian terhadap tampilan fisik idealnya sama dengan perhatian
terhadap ucapan dan tindakan yang dilakukan agar tidak sampai
melakukan banyak kesalahan. Karena ucapan dan tindakan itu akan
selalu menjadi tolok ukur penilaian orang banyak.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab IV
PAN Sumatera Utara dan Strategi Marketing
Politik Elektoral
Partai Amanat Nasional yang selanjutnya disebut PAN,
lahir seirama dengan bergulirnya era reformasi. PAN merupakan
partai terbuka (inklusif) bagi warga negara Indonesia. Kelahiran
PAN dibidani oleh Amien Rais, dan secara realitas, PAN memiliki
hubungan batin yang kuat dengan Muhammadiyah.1 Sejak pertama
kali dideklarasikan pada tanggal 23 Agustus 1998 di Jakarta, PAN
yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Amien Rais mendapat sambutan dan
dukungan luar biasa dari berbagai pihak, terutama dari kalangan
warga Muhammadiyah. Bahkan lebih dari sekedar dukungan moral,
berdirinya PAN dalam pentas perpolitikan nasional, banyak menarik
anggota Muhammadiyah untuk turut bergabung di dalamnya,
Dalam mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang disahkan sidang
tanwir 1950 secara tegas disebutkan bahwa Muhammadiyah memilih dan menempatkan
dirinya berjuang dalam bidang kemasyarakatan dengan tiga fungsi utama, yakni
dakwah ilal khair (mengajak kepada kebaikan), amar ma’ruf (menjalankan kebaikan),
dan nahi munkar (mencegah dan menjauhi keburukan). Dalam penguatan khittah itu,
Muhammadiyah menegaskan lagi bahwa tidak akan terjun dalam politik praktis, tidak
akan menjadi partai politik, dan tidak akan memasuki lembaga-lembaga kekaryaan
politik. Sikap tersebut bukan disebabkan oleh pandangan negatif atau pesimis terhadap
perjuangan politik, apalagi anti-politik atau apolitik. Penegasan itu adalah sebentuk
sikap, karena strategi perjuangan yang dipilih Muhammadiyah adalah gerakan dakwah
dan sosial kemasyarakatan yang tidak kalah mulianya dibanding dengan perjuangan
partai politik. Satu hal yang tidak dapat dihapuskan dari kenyataan, bahwa meskipun
PAN tidak lahir langsung dari rahim organisasi Muhammadiyah, namun keduanya
memiliki keterikatan moral-politik dan historis satu sama lain. Jejak historis PAN dengan
Muhammadiyah tidak terlepas dari kedekatan emosional tokoh-tokohnya. Banyak tokoh
PAN yang berasal dari Muhammadiyah dan sebaliknya banyak kader Muhammadiyah
yang masuk pada jajaran PAN. Ikatan emosional ini menguat, karena kepentingannya
sama, yaitu sama-sama ingin membesarkan PAN dan Muhammadiyah. Lihat, Anang
Anas Azhar, “Jarak PAN dan Muhammadiyah” dalam Harian Waspada, tanggal 24
Agustus 2015.
1
145
146 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
sehingga yang menjadi basis massa PAN adalah Muhammadiyah.
Realitas ini menguatkan argumentasi sejumlah pakar yang menilai,
bahwa PAN identik dengan partainya warga Muhammadiyah.
PAN diakui telah didirikan dan dipimpin oleh Amien Rais
yang juga mantan ketua PP Muhammadiyah periode 1995-2000
hasil Muktamar ke-43 tahun 1995 di Banda Aceh. Namun demikian,
PAN bukanlah bagian dari Muhammadiyah, walaupun dalam
melakukan ijtihad politiknya Amien Rais mendapat restu dari warga
Muhammadiyah melalui Sidang Tanwir 5-7 Juli di Semarang dan
juga Sidang Pleno 22 Agustus di Jakarta.2 PAN menurut Amien Rais
adalah partai perjuangan untuk mengawal jalannya reformasi dan
membangun demokrasi pasca jatuhnya kekuasaan otoriter orde baru.
Partisipasi politik warga dan elit Muhammadiyah merupakan hal
penting dalam dinamika politik saat itu, karena reformasi menuntut
konsolidasi demokrasi yang konkret melalui pelibatan diri dalam
kegiatan politik ketimbang melakukan uzlah politik. Tetapi disadari
pula, bahwa fenomena PAN menjadi batu ujian bagi Muhammadiyah,
yakni antara tuntutan untuk tetap menjaga netralitas dengan
kehendak memberi dukungan kepada partai pimpinan Amien Rais
itu.
Terlepas dari argumen-argumen yang mengemuka, menarik
untuk dicermati dari PAN adalah survivalitasnya sebagai
partai baru, yang turut berkompetisi dalam kancah perpolitikan
bangsa Indonesia. Meskipun PAN secara nasional mengalami
perkembangan yang fluktuatif dari sisi perolehan suara, tetapi PAN
senantiasa berhasil lolos dari Parliamentary Threshold (PT). Misalnya
pada Pemilu 1999, PAN memperoleh 7.528.956 suara (7,12%) atau
ekuivalen dengan 34 kursi (7,36%), berada pada posisi lima di bawah
PKB. Pada Pemilu 2004, raihan suara PAN sebanyak 7.303.324 suara
(6,44%) atau ekuivalen dengan 53 kursi (9,64%), berada pada posisi
2
Hasil keputusan sidang Tanwir Muhammadiyah memberikan amanat kepada
pimpinan pusat Muhammadiyah, untuk melakukan dua hal: Pertama, melakukan
ijtihad politik guna mencapai kemaslahatan umat dan bangsa secara maksimal, yang
senantiasa dilandasi semangat Islam amar ma’ruf nahi munkar. Kedua, menyusun
agenda reformasi (konsep dan strategi reformasi Muhammadiyah) di berbagai
bidang kehidupan berbangsa dan bernegara menuju makin cepat terwujudnya
masyarakat utama yang sejahtera.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 147
ke tujuh. Pada Pemilu 2009 suara PAN 6.254.580 suara (6,01%) atau
ekuivalen dengan 43 kursi (7,68%), berada pada posisi lima di atas
PPP. Pada Pemilu 2014, PAN memperoleh 9.481.621 suara (7,59%)
atau ekuivalen dengan 49 kursi, berada pada posisi ke delapan.
Sepanjang pengamatan yang dilakukan, survivalitas PAN
tidak hanya didukung oleh basisnya yang masif sampai ke ranting,
terutama dukungan dari warga Muhammadiyah. Namun pada sisi
lain, masifitas PAN didukung oleh komunikasi politik dan pencitraan
partai yang bagus di mata masyarakat. Itulah sebabnya, sebelum lebih
jauh memaparkan pencitraan politik yang dilakukan PAN, pada awal
bab ini akan diuraikan sekilas tentang sejarah perkembangan PAN.
Sebab sejarah dapat menggambarkan upaya dan langkah-langkah
strategis yang dilakukan untuk membangun survavilitas tersebut.
Paling tidak, sejarah perkembangan PAN akan menjadi tolak ukur,
apa yang menjadi ideologinya, platformnya, programnya dan bahkan
langkah-langkah strategisnya.
Sekilas Tentang Perkembangan PAN Sumatera Utara
PAN adalah salah satu partai yang tumbuh seiring dengan
bergulirnya era reformasi dan diberlakukannya sistem multi partai
di Indonesia. Seorang tokoh nasional, tokoh reformasi dan saat itu
menduduki jabatan Ketua Umum Muhammadiyah bernama Amien
Rais yang akrab disapa pak Amien berhasil membidani kelahiran
PAN. PAN merupakan embrio yang muncul dari Majelis Amanat
Rakyat (MARA), yaitu suatu wadah yang dibentuk Amien dengan
sejumlah tokoh nasional dalam rangka mendukung gerakan reformasi
yang berhasil mengakhiri kekuasaan Soeharto. MARA sendiri adalah
wadah yang dibentuk tanggal 14 Mei 1998, bersama sekitar 50 tokoh
nasional lainnya, seperti Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad,
Faisal Basri dan sebagainya.
Dalam pertemuan Bogor pada tanggal 5 – 6 Agustus 1998,
para tokoh-tokoh yang berasal dari MARA maupun tokoh-tokoh
gerakan lainnya seperti Tebet Society, berkumpul bermusyawarah
ingin mendirikan sebuah partai politik, dan partai itu diberi nama
Partai Amanat Bangsa (PAB). Pada 23 Agustus 1998 PAB berubah
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
148 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
nama menjadi PAN. Partai yang dibidani oleh tokoh-tokoh MARA
ini dengan tegas tidak memfokuskan perhatiannya pada ketokohan
seseorang, tetapi lebih mengajak masyarakat untuk memperhatikan
platform secara rasional. Nama pun dilemparkan ke forum, dan
peserta rapat diminta mempertimbangkan berbagai usulan untuk
nama partai yang sudah berdiri tersebut. Dari tiga nama yang
diusulkan yaitu PAB, Partai Amanat Rakyat (PAR), dan PAN, maka
melalui proses voting akhirnya nama yang disepakati adalah Partai
Amanat Nasional (PAN) dan M. Amien Rais terpilih sebagai ketua
umum pertama.
PAN bertujuan untuk menjunjung tinggi dan menegakkan
kedaulatan rakyat, keadilan, kemajuan material dan spiritual. Citacita PAN berakar pada moral agama, kemanusiaan, kemajemukan,
nonsektarian dan nondiskriminatif. Di antara ciri penting partai
ini adalah penghargaan pada pluralitas seperti menjadi identitas
bangsa Indonesia. PAN menganut prinsip non-sektarian dan nondiskriminatif, sehingga terbuka bagi siapa pun yang berasal dari
berbagai keyakinan, pemikiran, latar belakang etnis, suku, agama,
dan jender. Untuk terwujudnya Indonesia baru, titik sentral dialogdialog penting pertemuan partai ini adalah keadilan dalam mengelola
sumber daya sehingga rakyat seluruh Indonesia dapat benar-benar
merasakan sebagai warga bangsa.
Sebagai satu partai, PAN memiliki asas dan platform. Asas
PAN sebagai dasar dari pembentukan platform dengan sendirinya
memberikan wawasan kepada para kader bahwa baik asas maupun
platform harus dipahami secara bersama sebagai sesuatu yang saling
berkait satu sama lain. Upaya menemukan pemahaman secara cerdas
terhadap asas memastikan setiap kader PAN mampu menyerap
seluruh makna yang terdapat dalam platform. Berdasarkan Anggaran
Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ ART) PAN, Bab III Pasal
4 ayat (2), PAN mempunyai asas “Akhlak politik berlandaskan
agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam”. Konkritisasi asas
tersebut terinci dalam tiga poin:
a. Ketuhanan Yang Maha Esa yang membawa rahmat bagi
sekalian alam.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 149
b. Kebangsaan yang bersatu, berdaulat dan bermartabat.
c. Kerakyatan yang demokratis, adil dan sejahtera.
Asas dan platform dibuat bersamaan dengan berdirinya PAN,
sehingga platform menjadi dasar pendirian PAN ketika di deklarasikan
pada 23 Agustus 1998. Platform merupakan sebuah landasan kerja
politik serta berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan langkah
dan perjalanan PAN menyongsong masa depan. Secara substansial,
platform PAN menyebutkan bahwa PAN merupakan partai politik
yang memungkinkan setiap manusia dapat mengembangkan
kepribadiannya dalam kebebasan. Setiap manusia diniscayakan
untuk dapat berperan serta dalam kehidupan politik, ekonomi,
budaya, dan berperan serta dalam usaha-usaha mengembangkan
kemanusiaan. PAN dengan demikian merupakan partai yang
menghormati dan mendorong kemajemukan. PAN merupakan
partai terbuka (inklusif). Inklusivitas PAN secara realitas terbukti
dari beragamnya latar belakang yang menjadi pengurus PAN, mulai
dari perbedaan keyakinan, pemikiran, latar belakang etnis, suku,
agama dan jender.
Sebagai konsekuensi dari platform tersebut, PAN menentang
segala bentuk kediktatoran, totaliterisme dan otoriterisme, mengingat
semua itu berlawanan dengan harkat dan martabat manusia,
memasung kebebasan dan menghancurkan hukum. PAN juga
menjunjung tinggi demokrasi, untuk mewujudkan tatanan sosial
dan politik yang memungkinkan masyarakat mengawasi kekuasaan.
Konsekuensi lain dari semua itu ialah bahwa PAN memosisikan
dirinya untuk bersaing dengan partai-partai lain secara terbuka, adil
dan jujur demi meraih dukungan rakyat. Selama tidak berada dalam
posisi pemerintah, partai ini akan berfungsi sebagai oposisi. Partai ini
berpendirian, pemerintah dan oposisi memiliki tanggung jawab yang
setara terhadap masyarakat.
Berdasarkan identitas dan sifatnya, PAN adalah partai politik
terbuka bagi warga negara Indonesia, yang menjadikan agama
sebagai landasan moralnya. Selain itu, etika berbangsa dan bernegara,
penghargaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan merupakan
landasan untuk mewujudkan perjuangannya. Oleh sebab itu, visi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
150 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
PAN adalah “Terwujudnya PAN sebagai partai politik terdepan
dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur,
pemerintahan yang baik dan bersih di dalam negara Indonesia yang
demokratis dan berdaulat, serta di ridhoi Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa”. Untuk mewujudkan visi itu, PAN merumuskan misi,
yaitu:
a.Memenangkan PAN dalam setiap Pemilu.
b.Mewujudkan kader yang berkesadaran spiritual, sosial
dan politik yang tinggi, cerdas, ikhlas, pluralis, tangguh,
profesional, mandiri, progresif, inovatif, konsisten.
c.Mewujudkan PAN yang dekat dan membela kepentingan
rakyat.
d.Membangun organisasi PAN yang modern berdasarkan
sistem, manajemen dan budaya organisasi yang kuat dan
mengakar.
e.Mewujudkan masyarakat Indonesia baru yang demokratis,
berkeadilan sosial, makmur, damai, cerdas, mandiri, dan
partisipatif.
f. Mewujudkan tata pemerintahan Indonesia yang baik dan
bersih, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan
umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
g.Mewujudkan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat,
bermartabat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial, serta dihormati dalam pergaulan internasional.
Platform sebagai salah satu landasan kerja politik merupakan
modal awal yang dimiliki PAN untuk memosisikan dirinya sebagai
partai modern dan terbuka. Setiap kader PAN memahami posisi PAN
sebagai realitas historis yang tidak terbantahkan. Bahkan bertitik
tolak dari platform itu kemudian lahir dan terbentuk ideologi PAN
sebagai manifestasi intisari dari platform yang kemudian ditetapkan
dalam Rakernas ke-2 PAN di Bali pada tahun 2001. Visi misi PAN
kemudian dijabarkan dalam Garis Besar Perjuangan Partai yang
meliputi masalah politik, pertahanan negara, ekonomi, pertanahan,
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 151
perburuhan, pendidikan, kesehatan, kependudukan, kepemudaan,
kebudayaan, perumahan rakyat, kehidupan beragama, kesejahteraan
sosial, ketransmigrasian dan pengembangan wilayah, pertanian,
kelautan, perikanan, peternakan dan kehutanan, peningkatan harkat
dan martabat kaum perempuan, lingkungan hidup dan pergaulan
internasional.
Untuk memperkuat survivalitas dan gerakan perjuangannya,
maka PAN membentuk kepengurusan mulai dari tingkat nasional
sampai ke tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, kelurahan
bahkan membuka kepengurusan di luar negeri. Berdasarkan Anggaran
Dasar PAN Bab VI Pasal 12 ayat (1), struktur wilayah kerja PAN,
yaitu:
a.Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di tingkat nasional.
b.Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di tingkat provinsi.
c.Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di tingkat kabupaten/kota.
d.Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di tingkat kecamatan atau
nama lain yang setingkat.
e.Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) di tingkat kelurahan/desa/
nagari dan/atau nama lain yang setingkat.
f. Kepengurusan Rayon dan Sub Rayon di bawah tingkat
kelurahan/desa dan/atau kelompok perkumpulan massa
yang tidak terikat oleh daerah teritorial.
g.Koordinator Luar Negeri (KLN) di luar negeri dengan ruang
lingkup teritorial di tingkat Negara.
Dalam sejarah perkembangannya, usia PAN pada tahun 2016
genap 18 tahun dan sudah melalui empat kali kongres. Kongres
I PAN dilaksanakan tahun 2000 di Yogyakarta dan menetapkan
Amien Rais sebagai Ketua Umum DPP PAN dan Hatta Rajasa
sebagai Sekjen. Kongres II dilaksanakan di Hotel Patra, Semarang
pada tanggal 7 – 10 April 2005. Sutrisno Bachir terpilih sebagai Ketua
Umum DPP PAN dan Zulkifli Hasan sebagai Sekjen, sedangkan
Amien Rais sebagai Ketua Majelis Penasehat Partai (MPP). Kemudian
kongres III dilaksanakan di Batam dari tanggal 8–10 Januari 2010.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
152 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Ir. M. Hatta Rajasa terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN dan Prof. DR. M. Amien Rais,
MA sebagai Ketua Majelis Penasehat Partai (MPP) DPP PAN untuk
periode 2010-2015. Kongres IV dilaksanakan di Bali dari tanggal
28 Pebruari sampai 2 Maret, Zulkifli Hasan terpilih sebagai Ketua
Umum DPP PAN dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat
Nasional terpilih, Soetrisno Bachir sedangkan Amien Rais sebagai
Ketua Dewan Kehormatan PAN.
Bila ditelaah dari historisme kepemimpinan PAN, dari beberapa
kali kongres terlihat, bahwa ada satu tradisi yang berlaku di partai
tersebut, yaitu regenerasi. Ini mencerminkan bahwa PAN adalah
partai reformasi yang terus menyuarakan pembaharuan dan
regenerasi. Ini dapat dilihat dari suksesi kepemimpinan yang terus
bergulir. Setiap Ketua Umum PAN hanya terlihat satu periode,
meskipun sesungguhnya Ketua Umum incumbent tetap saja
dibolehkan menjadi calon ketua umum. Namun demikian, regenerasi
tampaknya menjadi tradisi yang mengakar dalam sejarah perjalanan
PAN. Bahkan tradisi ini menular kepada DPW PAN yang ada di
Propinsi wilayah Indonesia.
Salah satu Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di antara DPW yang
ada di Indonesia adalah DPW PAN Sumatera Utara. Sebagaimana
informasi yang diperoleh dari Ketua DPW PAN Sumatera Utara,
bahwa PAN Sumatera Utara dideklarasikan sebagai wadah untuk
memperjuangkan aspirasi rakyat dalam mewujudkan masyarakat
madani yang adil dan makmur. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut,
DPW PAN Sumatera Utara segera melaksanakan pendeklarasian
berdirinya PAN Sumut di Asrama Haji Medan, bertepatan dengan
deklarasi nasional PAN di Jakarta tanggal 23 Agustus 1998. Sebagai
partai yang terbuka bagi warga negara Indonesia, deklarasi PAN
Sumut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari
masyarakat simpatisan, tokoh lintas agama, tokoh lintas pemuda dan
tokoh lintas organisasi kemasyarakatan.3
Bila ditinjau dari sudut kesejarahan, PAN Sumut dalam
3
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 20152020. Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 153
perjalanannya telah melewati lima kali Musyawarah Wilayah
(Musywil). Musyawarah Wilayah (Musywil) I PAN Sumut dilaksanakan
satu hari setelah pendeklarasian. Dalam Musywil tersebut, terpilih Ir.
Amri Husni Siregar sebagai Ketua PAN Sumut periode 1998-2000.
Tercatat bahwa pada awal pergerakan PAN di Sumatera Utara, PAN
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam jangka tiga
bulan setelah deklarasi, PAN sudah terbentuk di 25 Kabupaten/Kota
se Sumatera Utara, karena pada saat itu, jumlah Kabupaten/Kota di
Sumatera Utara sebanyak 25. Tetapi sampai tahun 2016, PAN Sumut
sudah melengkapi kepengurusannya di seluruh Kabupaten/Kota hasil
pemekaran yang terbentuk belakangan di Sumatera Utara.4
Pesatnya perkembangan PAN Sumut menjadi sebuah catatan
penting dalam perpolitikan Indonesia, sebab PAN yang baru lahir
dari embrio era reformasi, mampu mengembangkan sayapnya dalam
jangka waktu yang singkat di seluruh Indonesia. Menurut analisa
yang dilakukan penulis, perkembangan PAN di Indonesia, tidak
terlepas dari keberadaan Muhammadiyah yang saat itu mendukung
Hal yang mendorong cepatnya perkembangan PAN di Sumatera Utara adalah
sinergisitas antara Muhammadiyah dengan PAN. Pada awal reformasi, yaitu pada
Tahun 1998-1999, DPW PAN Sumatera Utara dipimpin oleh Amri Husni Siregar yang
merupakan tokoh Muhammadiyah dan merupakan mantan ketua Pimpinan Daerah
Muhammadiyah (PDM) Kota Medan. Periode 2000-2005, ketua DPW PAN Sumut
juga dipegang oleh kader Muhammadiyah, yaitu Drs. H. Ibrahim Sakti Batubara.
Periode 2005-2010 PAN di Sumut diketuai oleh Kamaluddin Harahap yang juga
kader Muhammadiyah. Fakta politik ini tidak dapat dinafikan, bahwa peran kader
Muhammadiyah untuk membesarkan dan mengembangkan PAN di Sumatera
Utara sangat besar. Ini dapat ditelusuri sejak masa Amri Husni Siregar, dimana
PAN di DPRD Sumut memperoleh tujuh kursi. Saat Ibrahim Sakty jadi ketua DPW,
PAN memperoleh delapan kursi. Begitu juga di masa Kamaluddin Harahap, PAN
memperoleh tujuh kursi di DPRD Sumut. Bahkan di masa Kamaluddin Harahap,
PAN memperoleh amanah dipercayakan sebagai pimpinan di DPRD Sumut untuk
pertama kalinya dalam sepanjang sejarah. Kemudian torelah prestasi ini menurun
pada saat PAN Sumut di nakhodai oleh Syah Afandin periode 2010-2015. Perolehan
kursi PAN di DPRD Sumut hanya enam kursi. Asumsi yang berkembangn, bahwa
turunnya perolehan kursi PAN di DPRD Sumut, disebabkan figur ketua PAN Sumut
priode 2010-2015 bukan berasal dari kader Muhammadiyah. Kader dan simpatisan
Muhammadiyah tidak tertarik jika ketuanya berasal dari luar Muhammadiyah.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong turunnya perolehan kursi
PAN pada pemilu legislatif 2014. Lihat, Anang Anas Azhar, “Mencari Figur Ketua
PAN Sumut” dalam Harian Waspada tanggal 19 Juni 2015.
4
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
154 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
penuh gerakan partai tersebut, karena Amien Rais sebagai Ketua
Pusat Muhammadiyah adalah sebagai ketua umum yang menakhodai
pergerakan partai tersebut. Bahkan dari analisa penulis, untuk kasus
Sumatera Utara misalnya, PAN juga dapat dukungan penuh dari
warga Muhammadiyah, yang menyambut baik kelahiran partai yang
digadang-gadang saat itu dengan sebutan Partai Reformasi.5
Argumentasi dan analisa tersebut di dukung oleh pengakuan
Ketua DPW PAN Sumatera Utara, Zulkifli Husen, bahwa PAN di
Indonesia, termasuk di Sumatera Utara tidak dapat dipisahkan dari
keberadaan Muhammadiyah. Kelahiran PAN di Indonesia, termasuk
di Sumut mendapat dukungan maksimal dari warga parsyarikatan
Muhammadiyah mulai dari wilayah, cabang sampai ranting. Zulkifli
Husen menegaskan, bahwa pada awal perkembangannya di Sumut,
pengurus PAN secara umum berasal dari Muhammadiyah yang
secara otomatis ketua-ketua cabang Muhammadiyah menjadi ketua
partai di tingkat daerah Kabupaten/Kota. Gerakan tersebut sangat
masif sampai ke ranting, sehingga perolehan suara PAN pada Pemilu
Legislatif 1999 meningkat secara signifikan, di mana PAN meraih
7 kursi di DPRD Sumut. Dari wawancara yang dilakukan, Zulkifli
Husen menegaskan;
Kalau ada yang mengatakan PAN yang kelahirannya dibidani
oleh Amien Rais memiliki hubungan batin yang kuat dengan
Muhammadiyah, itu sah-sah saja, karena basis massa PAN itu
memang warga Muhammadiah, meskupun tidak dinapikan
ada juga simpatisan lainnya. Pada saat pembentukannya pun,
5
Bila diamati perkembangan politik, utamanya dalam kaitannya dengan
konteks perpolitikan di Indonesia, setidaknya ada dua argumen yang dapat dijadikan
sebagai alasan, kenapa satu parpol mampu bertahan hidup dalam tempo lama.
Pertama, parpol itu memiliki paralelisme sejarah politik dan kultural yang panjang.
Dalam konteks ini misalnya, bisa diambil contoh PDIP yang memiliki relasi sejarah
politik dengan PNI, IPKI, Murba, Partai Katholik, dan Parkindo. Contoh lain juga
seperti halnya Partai Golkar yang punya jalinan sejarah politik yang kuat dengan
Sekber Golkar. PPP juga demikian, memiliki jalinan sejarah dengan Masyumi, PNU.
Kedua, parpol itu memiliki jalinan sejarah politik, kultural, dan psikologis dengan
ormas tertentu yang sudah eksis dalam jangka waktu yang lama dan survive dalam
ranah sosial masyarakat Indonesia. Misalnya, PKB memiliki hubungan kultural dan
psikologi dengan ormas Islam NU. Sedangkan PAN sendiri memiliki hubungan
emosional yang kuat dengan Muhammadiyah. Dukungan dari ormas tersebutlah
yang membuat PAN survive.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 155
di Indonesia secara umum, dan Sumatera Utara secara khusus
banyak merekrut kepengurusan PAN itu dari Muhammadiyah
yang ada di daerah-daerah. Karena saat itu belum ada petunjuk
yang mengatur bahwa pengurus Muhammadiyah tidak boleh
jadi pengurus PAN dalam waktu yang bersamaan. Sebab itu,
dalam pengembangan sayap partai ke daerah-daerah, kita agak
mudah. Bahkan tercatat, pengurus Muhammadiyah yang ada
di daerah otomatis sebagai Pengurus PAN. Inilah mungkin
alasan-alasan para pengamat politik mengatakan bahwa PAN
kuat dalam perpolitikan nasional, karena adanya dukungan dari
Muhammadiyah.6
Berdasarkan informasi yang dijelaskan di atas, dapat dipahami
bahwa dalam sejarah pertumbuhannya, PAN memiliki romantisme
yang menarik dengan Muhammadiyah, meskipun akhirnya keluar
aturan-aturan bahwa pengurus Muhammadiyah tidak boleh menjadi
pengurus PAN secara bersamaan. Kemudian, Muhammadiyah pun
mulai mempertegas khittahnya untuk tidak terjun ke dalam politik
praktis. Muhammadiyah secara legal formal menarik diri dari politik
praktis dan kembali ke khittahnya sebagai ormas Islam diniyah
yang bergerak dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Namun
demikian, romantisme tersebut tidak serta merta berakhir, karena
ikatan emosional tersebut sudah menguat sejak kelahirannya. Bahkan
romantisme itu berkelanjutan sampai sekarang dalam berbagai level
kontestasi perpolitikan di Indonesia.
Seiring dengan perjalanan waktu, sama dengan partai lainnya
PAN juga terus melakukan suksesi kepemimpinan. Segera setelah
pemilu 1999 belangsung, PAN Sumut juga mulai berbenah diri
dengan melakukan suksesi kepemimpinan. Maka pada tahun 2000
Musywil II dilaksanakan untuk memilih pimpinan PAN Sumatera
Utara. Pada Musywil II, Ibrahim Sakti Batubara terpilih sebagai ketua
PAN Sumut periode 2000-2005 menggantikan Amri Husni Siregar.
Pada periode ini, PAN memperoleh 8 kursi. Selanjutnya Musywil
III PAN dilaksanakan, Ir. H. Kamaluddin Harahap terpilih sebagai
6
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 20152020. Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
156 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
ketua PAN Sumut periode 2005-2010 menggantikan Ibrahim Sakti
Batubara. Pada periode ini PAN memperoleh kursi di DPRD Sumut
sebanyak 7 kursi. Musywil IV dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus
2010 di gedung Selecta Jalan Listrik Medan. Syah Affandin atau yang
akrab disapa Ondim terpilih secara aklamasi untuk melanjutkan
kepemimpinan PAN Sumut periode 2010-2015. Pada periode ini, PAN
memperolah 6 kursi di DPRD Sumut. Musywil V dilaksanakan pada
tanggal 23 Juni 2015, Zulkifli Husein terpilih sebagai Ketua DPW PAN
Sumut periode 2015–2020 menggantikan Syah Affandin (Ondim).
Pada periode ini, PAN sudah memenuhi seluruh kepengurusan di 33
Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Utara, kemudian 510 DPC,
bahkan pengurus ranting dan sub rayon yang ada di desa-desa.
Sejarah berdiri dan perkembangan PAN dengan segenap citacitanya, secara terus-menerus merupakan spirit yang mendasari
eksistensi PAN. Sejarah dan cita-cita pendirian itulah yang
niscaya ditelaah ulang dalam rangka memaknai keberadaan PAN.
Pemahaman secara seksama terhadap sejarah dan cita-cita pendirian
PAN, merupakan satu upaya untuk menguatkan gerakannya
sebagai partai politik yang diperhitungkan di Indonesia pada masa
yang akan datang. Itulah sebabnya, dalam upaya menjangkau masa
depan tersebut, PAN berdiri di atas landasan ideologis amanah
dan nasionalitas untuk mampu memberikan respons secara cerdas
dan bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan kebangsaan
dan keummatan, serta memberikan kontribusi bagi terciptanya
kehidupan politik yang demokratis di Indonesia.
PAN menyadari bahwa sebagai partai politik, tidak bisa
mengelakkan diri dari berbagai hal yang bersifat partikular pada aras
pertarungan kepentingan politik di negeri ini. Bahkan pertarungan
tersebut tidak hanya antara sesama internal partai, bahkan
persaingan dengan partai-partai lainnya. PAN merupakan sebuah
kekuatan politik di Indonesia yang memiliki landasan sikap bahwa
seluruh proses dan segenap hasil yang diraih dalam kerja-kerja
politik adalah demi dan untuk mewujudkan amanah rakyat. Inilah
yang sering disampaikan Amien Rais yang merupakan pendiri PAN,
bahwa kelahiran PAN adalah untuk mewujudkan amanah rakyat.
Sementara dengan ideologi nasionalitas berarti PAN menghargai
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 157
dan menjunjung tinggi pluralitas, heterogenitas atau kemajemukan
sosial, ekonomi dan budaya yang kemudian bersenyawa membentuk
sebuah negara bangsa bernama Indonesia. Dengan demikian,
ideologi “amanah” dan “nasionalitas” merupakan pilar penyangga
PAN sebagai partai modernis.7
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis melihat bahwa
meskipun di internal Muhammadiyah sendiri sangat tegas disebutkan
bahwa Muhammadiyah secara organisatoris tidak berafiliasi
kepada partai politik manapun. Tapi satu hal yang perlu diingat,
bahwa hubungan emosional atas pendirian PAN dengan kader
Muhammadiyah tidak bisa terpisahkan dari catatan sejarah. Dominasi
klaim PAN ada hubungan emosional dengan Muhammadiyah adalah
suatu hal yang tidak terbantahkan. Namun demikian, perkembangan
politik yang sifatnya dinamis perlu dibaca dalam rangka melihat
kecenderungan massa di masa yang akan datang. Sebab tingkat
kepercayaan publik, khususnya kader Muhammadiyah kepada PAN
bisa saja akan semakin menurun, jika romantisme yang dulu pernah
dibangun, lalu kemudian dilupakan.
Dalam kaitan itu, PAN harus lebih rajin merawat hubungan
emosional dan romantisme tersebut, di samping itu pemeliharaan
terhadap basis yang bukan Muhammadiyah, tetapi mereka
simpatisan, juga jauh sangat penting. Bahkan advokasi kepada
konsituen perlu dijalankan secara konsisten, sehingga tidak
hanya sekedar pencintraan an sich. Oleh karena itu, dinamika
perpolitikan yang terus berkembang di Indonesia bersamaan dengan
berkembangnya penggunaan media massa, maka media massa perlu
jugalah dimanfaatkan sebagai upaya membangun citra yang positif.
Selain itu, saluran komunikasi lainnya yang tidak kalah penting,
misalnya komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok dan
7
Ideologi PAN bukanlah hanya sekedar retorika melainkan keseluruhan
sistem berpikir yang dikerahkan untuk menjadi pedoman dasar perjuangan. Ideologi
memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan bagaimana seseorang itu harus
bertindak. Bila diikuti logika berpikir Gramsci, ideologi itu katanya bukan hanya
sekedar sistem ide. Ideologi secara historis kata Gramsci memiliki keabsahan yang
bersifat psikologis. Artinya ideologi mengatur manusia dan memberikan tempat bagi
manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan
mereka dan sebagainya. Lihat dalam, Roger Simon, Gagasan-gagasan Politik Gramsci
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 83.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
158 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
bahkan komunikasi organisasi juga sangat penting untuk dilakukan
dalam rangka merawat basis massa PAN di Sumatera Utara.
Dari perkembangan yang mengemuka, upaya-upaya
komunikatif inilah yang sampai sekarang ini dilakoni oleh DPW
PAN Sumatera Utara dalam menunjukkan jati dirinya sebagai partai
yang berpihak pada kepentingan rakyat, dan juga partai yang eksis
dalam konstelasi politik nasional.
Pencitraan Melalui Berbagai Saluran Komunikasi
Pada bab-bab terdahulu telah dijelaskan bahwa pencitraan
telah banyak diperkenalkan oleh para pengamat politik dan para
politisi sering melakukan hal tersebut dalam rangka mendongkrak
perolehan suara pada setiap even pemilihan, baik Pemilu Presiden,
Kepala Daerah maupun pemilihan Calon Legislatif (Caleg). Salah
satu dari amatan yang dilakukan, partai yang terus melakukan
pencitraan baik pada saat menjelang berlangsungnya kontestasi
politik, maupun di luar itu adalah PAN Sumatera Utara. Dari
analisis yang dilakukan, politik pencitraan memperkuat kesadaran
bagi Parpol terkait pentingnya fungsi berbagai saluran komunikasi,
dalam rangka menjembatani kepentingan partai dengan kepentingan
konstituen. Mengingat pentingnya pencitraan itu, maka DPW PAN
Sumut memanfaatkan berbagai saluran komunikasi yang tersedia.
Sebagaimana diungkapkan Agus Salim Ujung.
DPW PAN Sumatera Utara pada prinsipnya tidak mau
ketinggalan dengan partai-partai lainnya. Terutama dalam
hal penyiaran informasi kepada masyarakat, PAN Sumatera
Utara terus dan secara serius memanfaatkan keberadaan
media yang berkembang sekarang ini. Bagi PAN Sumatera
Utara, pemanfaatan media, baik itu cetak maupun elektronik
mutlak sebagai hal yang urgen dalam membesarkan partai ini.
Khususnya di Sumatera Utara, PAN menggunakan media massa,
ada juga kita turun ke daerah-daerah mendatangi kontituen, baik
secara personal maupun kepada kelompok-kelompok binaan
kita. Misalnya, kita ada kelompok remaja binaan, ada kelompok
pedagang biaan kita di beberapa daerah. Intinya, DPW PAN
Sumatera Utara bahkan memiliki bulletin yang kita sebarkan
dan dibagi-bagikan kepada konstituen. Hal itu dilakukan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 159
secara berkesinambungan, baik pada saat-saat mau pemilu
atau pemilikada maupun di luar itu. Tujuan melakukan hal
tersebut, bukan untuk sekedar pencitraan supaya PAN dibilang
orang peduli atua dibilang orang PAN merakyat. Tetapi DPW
PAN melakukan hal tersebut, untuk menjaga ikatan emosional
dengan para konstituen di akar rumput.8
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Agus Salim Ujung,
dapat dipahami bahwa DPW PAN Sumut memanfaatkan berbagai
saluran komunikasi, bukan hanya sekedar untuk membangun
pencitraan. Tetapi lebih luas dari itu, adalah untuk membangun
komunikasi politik, menguatkan hubungan emosional dengan
konstituen, baik itu yang ada di dalam partai maupun di luar partai.
Proses komunikasi tersebut dilakukan secara berkesinambungan,
tidak hanya menjelang pemilu atau even-even pemilihan, seperti
pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada), tetapi dilakukan juga
setelah pemilu terlaksana. Dari informasi tersebut juga dipahami,
bahwa secara umum ada empat saluran komunikasi yang lazim
digunakan DPW PAN untuk melakukan pencitraan sekaligus
komunikasi politik, yaitu saluran komunikasi massa, media baru,
baliho, pamplet, brosur, komunikasi interpersonal dan komunikasi
kelompok.
1. Pencitraan Melalui Saluran Komunikasi Massa
Komunikasi massa atau disebut juga media massa yang dibagi
secara umum pada dua macam, yaitu media massa cetak dan
elektronik, merupakan saluran komunikasi yang lazim digunakan
DPW PAN Sumatera Utara untuk membangun pencitraan politiknya.
Sebagaimana dijelaskan pada bab terdahulu, bahwa pencitraan
politik terbentuk karena adanya komunikasi politik yang berperan
sebagai distribusi informasi dari partai maupun politisi kepada
masyarakat. Sedangkan untuk mendistribusikan informasi tersebut,
partai, para elit politik, politisi, maupun akitifis, menggunakan media
sebagai corong informasi. Oleh karena itu, keberadaan media massa
8
Agus Salim Ujung, Wakil Sekretaris Bidang Informasi dan Komunikasi Politik
DPW PAN Sumut Periode 2005-2010. Wawancara tanggal 30 Mei 2016 di Medan via
handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
160 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
bagi DPW PAN Sumatera Utara menjadi sangat penting sebagai
penunjang agenda politiknya untuk menyebarkan informasi kepada
masyarakat luas dan sebaliknya untuk mengetahui responsibilitas
masyarakat terhadap partai.
Pencitraan merupakan hal penting bagi setiap orang sebagai
makhluk sosial. Melalui pencitraan, manusia memilih hal yang
akan dilakukan dan juga apa yang seharusnya tidak dilakukan atau
ditinggalkan. Dengan upaya pencitraan positif, setiap orang berharap
bisa terlihat sempurna di mata orang lain. Dalam pembentukan citra
positif, bahkan tidak jarang seseorang melakukan cara apapun untuk
mengemas sikap dan perilakunya sehingga memberikan kesan positif
di mata orang lain. Oleh sebab itu, secara realitas harus diakui, bahwa
di era keterbukaan informasi, dimana media turut memainkan peran
yang cukup signifikan dalam penyiaran informasi tersebut, para
politisi sering memanfaatkan media sebagai panglima perang untuk
pencitraan. Hal ini disebabkan karena media memiliki kekuatan
penuh untuk mempengaruhi khalayak dan masyarakat modernis
tidak bisa lepas dari yang namanya media atau informasi. Bahkan
penting untuk ditegaskan, bahwa dalam konteks komunikasi politik,
media memiliki peran yang sangat kuat untuk mengkonstruksi citra
politik dalam berbagai ruang publik yang disediakan media massa.9
Dalam penyampaian informasi kepada publik, media massa
masih dianggap sangat berperan kuat untuk mempengaruhi iklim
9
Inilah yang dilansir oleh Little Jhon, bahwa media massa mempunyai peranan
penting dalam mensosialisasikan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat. Hal
tersebut semakin kuat terlihat, ketika media massa menampakkan fungsinya sebagai
alat untuk mengawasi lingkungan (surveillance of the environment), menghubungkan
bagian-bagian dalam masyarakat (correlation of the parts of society), mengirimkan
warisan sosial (transmission of the social heritage), dan memberikan hiburan
(entertainment). Lihat, Littlejohn, Theoris of Human Communication, terj, Mohammad
Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 1999), h. 112. Dalam kajian komunikasi
politik, pentingnya keberadaan media perlu juga ditegaskan, karena media massa:
1. Memiliki daya jangkauan yang sangat luas. Dalam hal ini, informasi politik
mampu melewati batas sosio demografis. 2. Media massa mampu melipat gandakan
pesan. Satu kejadian politik misalnya, dapat dilipat gandakan beribu eksamplar, dan
semua itu tergantung orang yang membutuhkan. 3. Media massa mampu untuk
mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai dengan pandangan masing-masing
media yang memberitakan. 4. Media massa mampu membentuk rantai informasi,
sehingga informasi yang disampaikan semakin kuat. Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 161
politik. Masyarakat mengakses segala informasi yang dibutuhkan,
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan politik melalui saluran
komunikasi massa. Informasi mengenai isu-isu atau kebijakankebijakan politik, citra social kandidat, perasaan emosional kandidat,
citra kandidat seperti kejujuran, ketegasan, kestabilan emosi kandidat
dan sebagainya, semuanya bisa diperoleh masyarakat melalui saluran
komunikasi massa. Bila diperhatikan lebih detail lagi, ruang-ruang
publik yang termasuk di dalam media massa, menjadi ruang ekspresi
bagi para politisi untuk melakukan berbagai manuver, taktik, strategi
dan pencitraan politik.
Dari amatan yang dilakukan, utamanya ketika menjelang
suatu perhelatan politik, baik itu pemilu Presiden, Legislatif dan
Pemilukada, partai-partai dan juga politisi muncul di tengah-tengah
masyarakat dengan bangunan citra yang menarik. Pemberitaan
di media massa juga turut mengukuhkan hal tersebut. Agenda
pemberitaan para politisi kebanyakan tidak jauh dari acara-acara
seremonial, terutama yang dihadiri massa atau kunjungan ke daerahdaerah, kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan
masyarakat, atau kegiatan bakti sosial. Bahkan tidak sedikit dari para
politisi maupun partai, mendekatkan diri kepada masyarakat melalui
tampilan yang seolah-olah pro rakyat kecil.
Dalam kaitannya dengan pencitraan politik, hampir bisa
dipastikan bahwa politik pencitraan DPW PAN Sumatera Utara
tidak terlepas dari peran media dalam kapasitasnya sebagai wadah
pencitraan. Dari pengamatan yang dilakukan, media yang digunakan
partai maupun para politisi PAN Sumatera Utara sebagai saluran
komunikasi politik pencitraan, yaitu media cetak lokal, seperti
Harian Waspada, Harian Analisa, dan secara umum surat kabar
harian yang terbit di Medan. Bahkan kebjikan-kebijakan politis PAN
juga disebar luaskan melalui media cetak tersebut. Hal ini dikuatkan
oleh informasi yang disampaikan Adi Munasip, di mana DPW PAN
Sumatera Utara memiliki langkah-langkah taktis strategis dalam
membesarkan PAN di Sumatera Utara. Sebagai partai politik yang
memerlukan dukungan dari masyarakat, PAN terus melakukan
upaya-upaya penguatan citra di tengah-tengah masyarakat. PAN
memanfaatkan media, seperti media cetak maupun elektronik dan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
162 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
media yang banyak digunakan DPW PAN Sumatera Utara selama
ini adalah media massa cetak. Agus Salim Ujung selanjutnya
menegaskan;
Kebijakan-kebijakan partai, sering disebarluaskan melalui media
massa, agar masyarakat menyadari bahwa PAN tidak hanya
berbuat bagi diri pribadi, tetapi berbuat untuk kepentingan
umat. Secara umum, media yang digunakan adalah surat kabar.
Melalui surat kabar, kita mencoba menginformasikan halhal yang berkaitan dengan kebijakan populis yang dilakukan
PAN selama ini. Misalnya, kegiatan-kegiatan sosial PAN
seperti pemberian santunan kepada masyarakat yang tertimpa
musibah, sunat massal, pengobatan gratis, bakti sosial, peduli
lingkungan dan sebagainya. Bahkan tidak hanya yang sifatnya
kegiatan sosial, kegiatan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan
pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, atau katakanlah
yang merugikan rakyat, juga kita sebar luaskan melalui media.
Selain itu, PAN Sumatera Utara menyebarluaskan gagasangagasan pembangunan melalui media massa. Itu dilakukan
secara berkesinambungan dalam rangka menumbuhkan
kesadaran masyarakat. Bukan hanya karena mau dekat pemilu
supaya PAN dapat dukungan masyarakat, karena kita punya
kepentingan terhadap rakyat bukan karena mau menjelang
pemilu. PAN besar, karena ada rakyat, ada masyarakat yang
mendukung perjuangan PAN ini. Hal itu sangat kita sadari,
sehingga apapun yang berkaitan dengan kepentingan rakyat
menjadi satu kewajiban bagi PAN untuk memperjuangkannya.10
Sebagaimana dipahami bahwa media cetak adalah saluran
komunikasi politik, yang mana pesan-pesannya dapat dibuat dengan
bervariasi. Media cetak sangat baik disebarluaskan untuk mereka
yang bisa membaca dan memiliki waktu senggang yang cukup
untuk membacanya. Namun sebaliknya, media cetak memiliki
sejumlah kelemahan, misalnya sulit untuk menjangkau khalayak
sasaran, terutama masyarakat yang ada di wilayah pedesaan yang
susah dimasuki transfortasi pengantar surat kabar. Kemudian,
kelemahannya hanya bisa dibaca oleh orang yang melek huruf.
10
Adi Munasip, Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik DPW PAN Sumatera
Utara Periode 2010-2015. Wawancara tanggal 3 Juni 2016 di Medan via hand phone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 163
Untuk menjangkau sasaran yang ada di desa-desa pedalaman,
salah satu hal yang tidak diabaikan DPW PAN Sumatera Utara
adalah menjalin hubungan intesif dengan para opinion leader
(pemuka pendapat). Opinion leader menjadi corong informasi yang
dimanfaatkan PAN untuk meneruskan informasi berkaitan dengan
kegiatan pencitraan politik PAN. Opinion leader tersebut bisa dari
tokoh masyarakat yang tingkat pendidikannya lebih tinggi, pemuda
yang lebih tinggi tingkat mobilisasinya di masyarakat di banding
dengan masyarakat lainnya. Opinion leader juga bisa berasal dari
perwakilan partai di tingkat ranting atau di tingkat desa.
Selain itu, PAN Sumatera Utara juga menerbitkan bulletin yang
bernama Matahariku. Pesan-pesan yang disampaikan berisi berita
tertulis dan gambar berwarna meliputi kegiatan pengurus DPW
PAN Sumatera Utara. Pertimbangan penerbitan bulletin tersebut
adalah karena tidak terlalu banyak melibatkan tim kerja. Penerbitan
bulletin dapat dilakukan dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit.
Tujuan penerbitan bulletin tersebut adalah untuk mengoptimalkan
penyampaian pesan-pesan kepada masyarakat, terutama masyarakat
yang tidak terjangkau media massa cetak lokal. Sebagaimana
dijelaskan Agussaling Ujung.
Dalam rangka menyebarluarkan informasi yang berkaitan dengan
kegiatan DPW PAN Sumut terutama kepada konstituen yang
berada di desa-desa yang sulit dijangkau media massa, maka kita
kerjasama juga dengan para pengurus PAN di ranting-ranting.
Kita juga membangun komunikasi intensif dengan para tokohtokoh berpengaruh di desa-desa yang belum masuk surat kabar
ke sana. Bahkan untuk lebih memudahkan sosialisasi PAN, maka
PAN menerbitkan bulletin. Tujuannya adalah untuk menjangkau
konstituen yang berada di daerah-daerah, terutama mereka
yang berada di daerah pelosok. Jadi, tugas para kaderlah untuk
membagikan ke daerah-daerah terkait. Misalnya, kalau ada kader
yang turun ke dapilnya, biasanya masing-masing membawa bulletin
itu untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. Itulah salah satunya
pertimbangan kita untuk terus mempertahankan penerbitan
bulletin PAN Sumut. Untuk operasional pembiayaannya, itu
dibebankan kepada sumbangan kader.11
11
Agus Salim Ujung, Wakil Sekretaris Bidang Informasi dan Komunikasi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
164 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Selain menggunakan bulletin, DPW PAN Sumatera Utara juga
melakukan pencitraan positifnya melalui media elektronik, seperti
televisi dan radio. Penggunaan media elektronik seperti radio dan
televisi tidak sebesar frekuensi penggunaan media massa cetak
terbitan lokal dan bulletin. Sebagaimana dijelaskan Agussalim Ujung.
DPW PAN Sumatera Utara bukan tidak mau menggunakan
televisi dan radio. Karena kita menyadari, bahwa pesan-pesan
yang disampaikan melalui media elektronik, seperti televisi
dan radio memiliki kelebihan, terutama kalau dilihat dari sisi
jangkauannya yang luas, dan informasi yang disampaikan cepat
dan serempak meliputi semua wilayah yang bisa dijangkaunya.
Televisi bergambar, bersuara dan bergerak. Tentu ini dapat
merangsang daya tarik masyarakat. Tetapi DPW PAN Sumatera
utara sudah mempertimbangkannya, bahwa di samping biayanya
mahal, penduduk Sumatera Utara yang menonton TVRI Sumatera
Utara juga hanya pada saat-saat tertentu. Bahkan di beberapa
daerah di Sumatera Utara, TVRI tidak dapat di tonton lagi. Artinya,
kalau digunakan TVRI, sementara TVRI itu jangkauannya terbatas.
Namun demikian, kegiatan-kegiatan DPW PAN Sumut yang
sifatnya sosial kemasyarakatan dan sebagainya, tetap kita upayakan
untuk disiarkan melalui TVRI dan radio swasta. Untuk iklan itu
hanya saat-saat tertentu saja, misalnya pada bulan Ramadhan
sebelum berbuka puasa. Iklannya, meskipun tidak berbau politis,
tetapi tetap saja mengatasnamakan PAN Sumut mengucapkan
selamat berpuasa.12
Berdasarkan informasi di atas, diketahui bahwa DPW PAN
Sumatera Utara menggunakan media massa yang bervariasi dalam
membangun pencitraan politiknya. tetapi kecenderungannya adalah
menggunakan media massa cetak sebagai saluran komunikasi politiknya,
meskipun televisi merupakan media yang memiliki kekuatan penyiaran
informasi yang lebih luas dan lebih menarik. Dari hasil pengamatan
yang dilakukan, dalam menggunakan televisi dan radio, PAN Sumatera
Politik DPW PAN Sumut Periode 2005-2010. Wawancara tanggal 30 Mei 2016 di
Medan via handphone.
12
Agus Salim Ujung, Wakil Sekretaris Bidang Informasi dan Komunikasi Politik
DPW PAN Sumut Periode 2005-2010. Wawancara tanggal 30 Mei 2016 di Medan via
handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 165
Utara bukan dalam bentuk iklan melainkan sekedar berita. Misalnya,
kegiatan-kegiatan kader PAN Sumatera Utara seperti bakti sosial, reses,
kegiatan kemasyarakatan, kegiatan partai seperti Musyawarah Wilayah,
penyantunan masyarakat miskin dan sebagainya, sampai kepada
kebijakan-kebijakan PAN dalam pembangunan di Sumatera Utara.
Dari penelusuran yang dilakukan terhadap sejumlah dokumen
pengurus DPW PAN Sumut periode 2005-2015, terlihat secara jelas
bahwa media yang paling banyak digunakan partai tersebut adalah
media massa cetak, seperti surat kabar. Sementara penggunaan media
elektornik seperti radio, dan televisi dapat dikatakan kurang optimal.
Ini menunjukkan bahwa dalam pemilihan media sebagai saluran
komunikasi politik pencitraan, PAN Sumatera Utara terlebih dahulu
melakukan kajian perencanaan. Oleh sebab itu, ketika salah dalam
merencanakan media yang digunakan sebagai pencitraan politik,
maka akibatnya tidak hanya sekedar membuang waktu dan tenaga,
tetapi sekaligus mengakibatkan pemborosan dari segi biaya. Ini
menjadi pengalaman bagi PAN semasa Sutrisno Bachir menjabat Ketua
Umum DPP PAN. Setiap hari iklan PAN dengan ikon Sutrisno Bachir
yang menyampaikan jargon “Hidup adalah perbuatan” muncul di
televisi. Dalam proses itu, PAN menghabiskan miliaran rupiah untuk
memboking televisi yang memasang iklannya. Namun pada akhirnya,
pada pemilu legislatif, suara PAN jauh dari apa yang diharapkan.
Berdasarkan fakta-fakta itu, DPW PAN Sumatera Utara sangat
selektif memilih media politik pencitraan. Langkah-langkah yang
dilakukan PAN Sumatera Utara dalam kaitannya dengan penggunaan
media tersebut adalah melihat sifat, karakteristik dan jangkauan
media itu sendiri. Itulah sebabnya, PAN Sumatera Utara secara
berkesinambungan terus menjaga ikatan emosional dengan para
opinion leader di daerah-daerah yang sulit dijangkau media massa
cetak, menjaga keberlanjutan penerbitan bulletin yang secara khusus
memuat informasi kegiatan berkaitan dengan PAN. Pertimbangan
mempertahankan bulletin tersebut karena lebih efektif, harganya
lebih murah dan lebih tepat sasaran. Di samping bulletin, PAN
juga memanfaatkan jasa opinion leader. Proses pemanfaatan media
massa dan opinion leader dalam proses pencitraan politik PAN yang
dipahami penulis dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
166 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Gambar 4.1. Proses Pemanfaatan Salurah Komunikasi Massa Dalam
Membangun Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara
Gambaran di atas menunjukkan, bahwa untuk membangun
pencitraan politik, PAN menggunakan saluran komunikasi massa.
Komunikasi massa yang digunakan sebagaimana telah disebutkan
secara umum adalah media cetak, seperti surat kabar. Dari bagan
di atas terlihat, bahwa pencitraan politik kepada masyakat kota ada
yang langsung dilakukan oleh fungsionaris DPW PAN Sumatera
Utara, dan ada juga yang dilakukan dengan menggunakan saluran
komunikasi massa. Media massa digunakan sebagai media pencitraan
kepada masyarakat kota, karena akses masyarakat kota kepada media
massa jauh lebih mudah dari pada masyarakat desa. Terutama dalam
mengakses media cetak, peluang masyarakat kota lebih mudah
untuk mengaksesnya dari pada masyarakat desa, terutama mereka
yang berada di pelosok. Dengan demikian, pencitraan politik yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara kepada masyarakat desa lebih
cenderung memanfaatkan jasa opinion leader. Hal tersebut disebabkan
karena akses masyarakat desa terhadap saluran komunikasi massa,
terutama media cetak sangat terbatas. PAN melakukan pencitraan
politik dengan memanfaatkan opinion leader yang memiliki pengaruh,
orang terpandang di masyarakat dan menjadi panutan masyarakat.
Opinion leader sebagaimana yang tergambar di atas adalah
individu-individu yang menaruh perhatian terhadap informasi,
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 167
dan mereka itulah yang menjadi sumber informasi bagi masyarakat
desa lainnya yang terbatas aksesnya terhadap media massa. Melalui
pengaruh pribadi, para opinion leader merupakan saluran yang
menghubungkan jaringan massa dan komunikasi interpersonal. Di
samping pengaruh yang diberikan opinion leader terhadap keputusan
politik melalui kontak interpersonal, opinion leader menjadi pemeran
utama dalam penyebaran informasi politik, sehingga mencapai
sebagian besar masyarakat yang ada di desa-desa yang minim
terjangkau surat kabar.
Opinion leader sebagaimana yang diistilahkan Elvinaro adalah
mereka yang terinformasi (well informed). Opinion leader adalah
mereka yang dekat dengan sumber-sumber informasi dan yang
mampu menginterpretasikan setiap pesan yang diterimanya
sesuai dengan frame of reference dan field of experience.13 Selanjutnya,
para opinion leader tersebutlah yang menyampaikan pesan yang
telah diinterpretasikan kepada individu-individu lainnya secara
antarpersonal. Sesuai dengan penelusuran yang dilakukan penulis,
untuk konteks masyarakat Sumatera Utara keberadaan opinion leader
ini masih efektif untuk dimanfaatkan DPW PAN Sumatera Utara untuk
membantu pencitraan politiknya. Sebab kondisi masyarakat Sumatera
Utara umumnya berdomisili di desa-desa yang sulit dijangkau surat
kabar. Secara realitas, surat kabar terbitan lokal sirkulasinya secara
umum lebih banyak di kota-kota Kabupaten/Kota, sementara PAN
Sumatera Utara cenderung menggunakan surat kabar sebagai saluran
komunikasi massa untuk penguatan pencitraan politiknya. Dengan
kata lain, opinion leader bagi masyarakat desa masih menjadi kunci
informasi bagi masyarakat desa, sebab masyarakat desa yang lain
umumnya pasif dalam mencari informasi.14
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Pengantar; Suatu Pengantar (Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2007), h. 69.
13
14
Berdasarkan Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, jumlah yang kecamatan
yang ada di Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 440 kecamatan, 5323 desa,
685 kelurahan. Jumlah desa terbesar berada di Kabupaten Simalungun, Kabupaten
Padang Lawas Utara, yaitu masing-masing 386 desa. Sedangkan kabupaten terbanya
kedua adalah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebanyak 385 desa. Lihat, BPS Sumatera
Utara, Sumatera Utara Dalam Angka tahun 2013. Secara realitas, penyebaran surat
kabar di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Padang Lawas Utara terkonsentrasi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
168 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Dengan demikian, khusus bagi masyarakat desa yang pasif
mencari informasi, opinion leader adalah pemrakarsa komunikasi.
Sebab itu, apabila variasi volume informasi dari opinion leader mampu
memberikan efek positif kepada masyarakat, maka bisa dipastikan
akan menguntungkan pihak sumber. Dalam hal ini misalnya PAN
Sumatera Utara, ketika pesan-pesan yang disampaikan partai kepada
opinion leader mampu mempengaruhi masyarakat ke arah pandangan
yang positif, tentu yang beruntung adalah PAN. Sebaliknya, jika
volume informasi dari opinion leader bersifat negatif, maka yang
dirugikan juga PAN. Sebab itu, dalam proses pemilihan opinion
leader ini juga, PAN tentu harus selektif juga dalam menentukan
siapa opinion leader yang dianggap dapat menyampaikan misi
kepartaian. Karena belum tentu para opinion leader yang ada di
desa-desa memiliki ideologi perjuangan yang sama dengan ideologi,
visi dan misi yang diusung oleh PAN itu sendiri.
Pencitraan politik menjadi salah satu penekanan yang secara
berkesinambungan dilakukan oleh DPW PAN Sumatera Utara untuk
menarik simpatik masyarakat. Citra parpol, positif atau negatif di
mata publik sangat tergantung pada pengetahuan, kepercayaan
dan persepsi publik tentang parpol itu sendiri. Untuk menciptakan
pengetahuan, kepercayaan dan persepsi publik terhadap PAN,
maka DPW PAN Sumatera Utara terus melakukan pencitraan
politik, dengan menganjurkan kadernya untuk turun langsung ke
masyarakat sebagai bentuk kepedulian.
Hal terpenting yang muncul dari fenomena pencitraan politik
ini adalah semakin tingginya kesadaran parpol tentang pentingnya
saluran komunikasi massa untuk menjembatani komunikasi politik
efektif antara parpol dengan masyarakat. Pengaruh pesan yang
disampaikan parpol melalui media masa memiliki nilai signifikan
terhadap keputusan memilih masyarakat, meskipun hal tersebut
bukan satu-satunya faktor. Secara logika politik, kedekatan parpol
dengan konstituen akan mendorong konstituen untuk menjatuhkan
pilihannya terhadap parpol tersebut. Dengan demikian, pencitraan
politik dengan perilaku pemilih memiliki hubungan yang erat.
Pencitraan mendorong parpol untuk melakukan komunikasi politik
di kota-kota besar atau ibu kota kecamatan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 169
dengan menggunakan saluran komunikasi massa, karena pesan dan
informasi politik parpol lebih mudah menjangkau rumah-rumah
pemilih.
Pembentukan pencitraan politik digarap dan dikelola sedemikian
rupa oleh PAN Sumatera Utara, baik sebelum pemilu maupun
pasca pemilu. Penggunaan media massa bukan hanya menjadi
bagian integral dari politik, tetapi menjadi hal yang sangat sentral
dalam menjalankan misi politik PAN Sumatera Utara. Media massa
menjadi saluran komunikasi politik yang banyak digunakan untuk
kepentingan menyebarluaskan informasi, menjadi forum diskusi
publik dan mengartikulasikan tuntutan masyarakat yang beragam
di Sumatera Utara. Saluran komunikasi massa menjadi kekuatan
untuk menggiring opini masyarakat untuk senantiasa bersama-sama
berjuang dengan PAN.
Dari sinilah dapat ditegaskan, bahwa media massa merupakan
wahana komunikasi yang dapat menembus batas ruang dan waktu.
Bahkan para ilmuwan komunikasi politik menekankan, agar
memanfaatkan media massa sebagai saluran komunikasi politik untuk
menyampaikan program politiknya, karena dalam perkembangan
teknologi komunikasi dewasa ini, media massa dapat menjangkau
jutaan orang di seluruh dunia.15 Dalam kajian komunikasi politik,
proses kerja pembentukan citra politik partai, dapat dilakukan dengan
cara mengemas pesan politik untuk kemudian disebarkan kepada
masyarakat. Media massa dimanfaatkan untuk menyampaikan dan
mengenalkan visi, misi dan program kerja parpol kepada publik
secara luas. Komunikai politik melalui media massa dapat diarahkan
15
Jika diikuti logika berpikir McLuhan, tegas dikatakannya bahwa media
merupakan perluasan dari alat indra manusia. Dalam bahasa lain bisa dikatakan
bahwa, kehadiran media dalam berkomunikasi tidak lain dari upaya untuk
melakukan perpanjangan dari telinga dan mata, seperti halnya telepon adalah
perpanjangan telinga dan televisi adalah perpanjangan mata. Pandangan McLuhan
lebih populer dikenal dengan teori perpanjangan alat indra (sense extension theory).
McLuhan juga menyebutkan bahwa yang mempengaruhi khalayak bukan apa yang
disampaikan media, tetapi jenis media komunikasi yang dipergunakan, misalnya
media media cetak, media elektronik, media sosial, internet, media antar personal.
Dalam prespektif komunikasi politik pandangan seperti ini merupakan pesan politik
yang akan berguna untuk membentuk citra politik dan opini publik. Lihat Arifin,
Komunikasi, , h. 157.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
170 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
kepada audiens relatif besar dan heterogen, sekaligus berfungsi
sebagai sarana untuk menggerakkan, mengukuhkan, memperkuat
atau mengubah sikap dan kepercayaan atau nilai seseorang untuk
memberikan suara kepada parpol tertentu. Potret seperti inilah
yang disebut sebagai komunikasi politik pencitraan gaya baru.
Artinya pembentukan citra politik yang selama ini dilakukan melalui
komunikasi interpersonal, hampir mulai ditinggalkan dan digantikan
oleh bentuk pencitraan politik di media. Dalam amatan penulis, DPW
PAN Sumatera Utara mulai bergerak ke arah ini, meskipun saluran
komunikasi lain tetap saja digunakan. Hal tersebut di dasarkan pada
pertimbangan situasi dan kondisi masyarakat Sumatera Utara yang
menjadi konstituen politik PAN.
2. Pencitraan Melalui Media Luar Ruangan
Selain media massa cetak dan elektronik, DPW PAN Sumatera
Utara juga membangun pencitraan lewat spanduk, brosur, pamplet,
baliho, kartu-kartu kecil, iklan pohon dan atribut lainnya. Media ini
disebut Cangara dengan istilah media luar ruangan, karena diletakkan
di tempat terbuka dan tempat-tempat strategis yang memungkinkan
orang lain dapat melihatnya.16 Meskipun sifat jangkauannya sangat
terbatas, karena hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang lewat di
mana media itu dipajangkan, ataupun orang yang sempat mencuri
pandang terhadap pajangan pesan-pesan pada media tersebut,
namun banyak partai yang menggunakan media tersebut sebagai
saluran komunikasi pencitraan politik.
Sepanjang tahun 2005-2015, DPW PAN Sumatera Utara
membangun pencitraan partai lewat media luar ruangan tersebut.
Media luar ruangan yang dimaksud, yaitu dengan menyebarkan
atribusi partai ke seluruh dapil yang ada di Sumatera Utara.
Sebagaimana dijelaskan oleh Yahdi Khoir Harahap.
Untuk membangun pencitraan politik partai, salah satu yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara adalah pencitraan
melalui atribusi partai yang dibagi-bagikan ke masyarakat.
Atribut partai itu berasal dari PAN. Ada yang disumbangkan
oleh DPP PAN dan ada juga ada bantuan dari masing-masing
16
Cangara, Perencanaan, h. 123.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 171
caleg. Pada masa ketua umum Hatta Rajasa misalnya, atribut
PAN dicetak sebanyak 100 juta berndera PAN dan itu dibagikan
kepada seluruh DPW PAN yang ada di seluruh Indonesia. DPW
PAN Sumatera Utara sendiri memperoleh 300 ribu atributisasi
bendera yang kemudian didistribusikan keseluruh 33 DPD PAN
di Sumatera Utara. Sedangkan baju kaus, PIN dan atribusi partai
lainnya diperbanyak dan disumbangkan oleh caleg yang berada
di dapil masing-masing. 17
Dari penelusuran penulis, pencitraan politik melalui media luar
ruangan ini tidak hanya dilakukan DPW PAN Sumatera Utara pada saat
menjelang pemilu ataupun kampanye, tetapi hal tersebut dilakukan
dalam berbagai kesempatan dan even-even penting. Misalnya, ketika
menyambut hari-hari besar umat Islam seperti puasa dan idul fitri,
PAN dan para kadernya senantiasa membuat ucapan “DPW PAN
Sumatera Utara mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa
Ramadhan”, “DPW PAN Sumatera Utara mengucapkan selamat hari
raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, mohon maaf lahir dan batin”. Ucapan
yang sama tidak ketinggalan disampaikan secara pribadi oleh para
kader, baik kader PAN yang sudah menjadi anggota DPRD Sumut
maupun yang pengurus biasa. Spanduk-spanduk ucapan banyak
terlihat diikatkan di tempat-tempat strategis yang ramai di lewati
orang, misalnya di persimpangan jalan, di jalan-jalan protokol dan
lain-lain. Bahkan sejumlah kader PAN yang duduk di DPRD Sumut,
tidak hanya menyampaikan pesan dalam bentuk spanduk, tetapi
juga dalam bentuk baliho.
Seperti halnya dari beberapa dokumentasi yang diperoleh
penulis, Kamaluddin Harahap yang merupakan Ketua DPW PAN
Sumut periode 2005-2010, dan juga sekaligus mencalonkan diri
sebagai gubernur Sumatera Utara terlihat membangun politik
pencitraan yang masif. Pesan-pesan pencitraan yang disampaikan
sangat menyentuh kepentingan masyarakat umum. Misalnya
spanduk dengan ucapan “Bersama bang Kamal kita ciptakan
lapangan pekerjaan di Sumatera Utara”. Pada spanduk lain juga
17
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
172 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
termuat pesan ucapan sambutan kepada Kamaluddin Harahap dalam
rangka reses dan temu ramah dengan masyarakat Tuntungan pada
tanggal 10 Oktober 2012. Pada spanduk tersebut tertulis, “Selamat
datang bapak Kamaluddin Harahap, M.Si bersama warga program
keluarga harapan (PKH)”. Dalam kegiatan tersebut, Kamaluddin
terlihat sangat akrab dengan masyarakat, dan hampir bisa di lihat
tidak ada jarak antara masyarakat dengan Kamaluddin Harahap.
Model pendekatan seperti ini tentu dapat menguatkan pencitraan
PAN maupun politisinya di mata masyarakat.
Dari beberapa spanduk yang dilihat penulis, masing-masing
politisi PAN menunjukkan gaya khas masing-masing. Ada yang
foto dibuat senyum, ada yang terlihat sangat patriotis dengan
mengepalkan tangan, ada yang dibuat gembira penuh persahabatan.
Semua tujuannya adalah untuk memperkenalkan diri, menunjukkan
kualitasnya dan membangun pencitraan, sehingga masyarakat
terhipnotis untuk memilih politisi tersebut. Spanduk-spanduk
tersebut bertebaran di berbagai tempat, bahkan ada yang ditempel di
becak, angkutan umum dan sebagainya. Apa yang dilakukan partai
maupun politisi PAN, secara umum dilakukan juga oleh partai-partai
lainnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Adman Nursal, hal seperti ini
merupakan bagian dari marketing politik, di mana produk-produknya
dipasarkan secara simbolis melalui spanduk dan baliho. Di antara
simboli-simbol tersebut seperti aura emosional, yaitu perasaan yang
terpancar dari politisi seperti ambisius, berani, patriotis, bersemangat,
gembira, optimis, cinta kasih, tegar, dan sebagainya. Ada juga yang
menunjukkan aura sosial yang merepresentasikan kelompok sosial
tertentu. Misalnya seorang politisi tertentu merupakan representasi
dari kaum muda, wong cilik, tokoh agama, akademisi, intelektual,
dan sebagainya.18
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sepanjang tahun
2005-2010 penggunaan media luar ruangan tersebut sangat banyak
dimanfaatkan kader PAN, terutama bagi mereka yang mencalonkan
diri sebagai anggota legislatif untuk membangun pecitraan politik.
Di spanduk-spandun foto para caleg dibuat bervariasi. Ada foto latar
belakangnya terlihat sangat ramah karena mengumbar senyuman
18
Nursal, Political Marketing, h. 208-209.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 173
sambil menyimpulkan tanga di depan dada, seolah-olah minta maaf
kepada masyarakat. Jelasnya terlihat sangat ramah, bersahabat dan
Islami. Ada juga foto yang dibuat dengan lambaian tangan dan
sebagainya. Selain itu, pesan-pesan yang disampaikanpun dibuat
dengan bervariasi dengan tujuan untuk mempersuasi masyarakat
yang membacanya. Selain baliho dan spanduk, terdapat juga
penggunaan iklan pohon, di mana foto-foto para caleg ditempelkan
di pohon yang terdapat di sepanjang pinggir jalan protokol.
Tujuannya adalah untuk membangun pencitraan politik sekaligus
memperkenalkan yang bersangkutan kepada masyarakat.
3. Pencitraan Melalui Media Baru
Perkembangan teknologi dengan segala produk yang
dihasilkannya adalah sesuatu keniscayaan yang tidak bisa dibantah
oleh manusia. Media baru hasil kemajuan teknologi informasi juga
telah menjadi trend dalam penyebaran informasi kepada khalayak.
Media baru atau lebih dikenal dengan internet selama satu dasawarsa
terakhir ini, juga telah berkembang sebagai arena pertarungan
informasi dan pesan-pesan politik. Model pertarungan informasi
politik dan pesan-pesan politik antara lain misalnya melalui jejaring
sosial seperti facebook, twitter dan blog. Perkembangan terakhir
dapat diperhatikan dari meningkatnya popularitas mail list dalam
penyebaran informasi dan pesan politik. Para politisi maupun partai
terlihat semakin sering memanfaatkan media tersebut sebagai media
pencitraan. Berkembangnya penggunaan media baru (new media)
sebagai arena pencitraan, dimanfaatkan secara optimal oleh para
politisi maupun partai.
Dari penelusuran yang dilakukan, ditemukan juga informasi
terkait, bahwa selain media massa cetak dan elektronik, media lain
yang digunakan DPW PAN Sumut adalah internet. Sebagaimana
para pakar menjelaskan, bahwa internet merupakan media baru
yang muncul dari produk kemajuan teknologi informasi. Media
baru tersebut muncul sebagai rekayasa pakar teknologi komunikasi
informasi, yang berhasil menggabungkan antara komunikasi
interpersonal dengan komunikasi massa. Disebut media massa,
karena media baru tersebut dapat menjangkau khalayak secara
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
174 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
global, dan dikatakan interpersonal karena pesan yang disampaikan
diarahkan dan dikonsumsi secara pribadi.
Media baru tersebut banyak digunakan para kaum akademisi,
birokrat, mahasiswa, dan juga politisi. Termasuklah dalam hal ini
DPW PAN Sumatera utara memanfaatkan perkembangan teknologi
informasi internet untuk membangun citranya di masyarakat. PAN
Sumatera Utara memiliki website yang dikelola secara bagus. Website
PAN Sumatera Utara dikelola untuk memudahkan penginformasian
berbagai macam kegiatan. Konkritnya, penggunaan internet bagi
PAN adalah suatu kemutlakan untuk menjadi PAN sebagai partai
yang lebih dikenal masyarakat.
Bahkan dengan munculnya media baru sekarang ini, PAN dan
para politisinya membangun pencitraan lewat media sosial seperti
facebook maupun twitter. Melalui jejaring sosial tersebut, para kader
PAN membangun pencitraan, karena media sosial dapat digunakan
untuk melakukan komunikasi interaktif. Bila dikaitkan dengan teori,
media internet memiliki sejumlah kelebihan, antara lain: (1) mampu
menembus batas wilayah, ruang dan waktu. (2) memperluas akses
memperoleh informasi global. (3) meningkatkan kemampuan untuk
berserikat secara bebas. (4) dapat mengancam tatanan yang sudah
mapan, seperti pemerintahan otokrasi. (5) memiliki kecepatan
perkembangan dan penyebaran yang sulit diatasi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa apa yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara menunjukkan secara realitas
bahwa media, baik media massa, media luar ruangan, media baru,
merupakan kekuatan yang senantiasa diperhitungkan, terutama
dalam menciptakan opini publik. Bahkan bisa dikatakan, bahwa media
dalam dunia politik menjadi sesuatu yang tidak asing lagi di mata
masyarakat. Dengan adanya informasi politik yang disajikan media,
masyarakat menjadi tahu mengenai realitas dan perkembangan isu
politik yang berkembang. Melalui media, masyarakat juga dapat
menyuarakan opini dan pandangannya terhadap situasi politik yang
sedang berkembang. Dalam kaitan itu pula, media menjadi ruang
public (public sphere) yang sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin
mencari popularitas atau membangun citra.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 175
Uraian di atas, menguatkan apa yang disebut McNair (1995)
bahwa dalam era mediasi, komunikasi politik memiliki fungsi untuk
menjadi penyampai (transmitters) pesan-pesan politik dari pihak-pihak
di luar dirinya, sekaligus menjadi pengirim (senders) pesan-pesan
politik yang dibuat (constructed) oleh para jurnalis kepada publik.
Jadi bagi para politisi, media massa dipakai untuk menyampaikan
pesan-pesan politik mereka kepada khayalak maupun sebagai media
untuk melakukan proses strategi pencitraan. Sebaliknya untuk
wartawan, media massa adalah wadah untuk memproduksi pesanpesan politik, karena peristiwa-peristiwa politik itu memiliki nilai
berita (news value). Oleh sebab itu, agar pesan-pesan politik tersebut
dapat memperoleh citra positif, maka pesan yang dikirim terlebih
dahulu di konstruksi.
Dengan demikian, apa yang dilakukan DPW PAN Sumatera
Utara adalah dalam rangka menguatkan pencitraan di tengahtengah masyarakat. Hal tersebut juga sekaligus membuktikan
bahwa peran media dalam pencitraan sangat penting dan strategis,
sehingga dalam perkembangan perpolitikan Indonesia, terlihat
secara jelas bahwa tidak hanya PAN yang melakukan hal tersebut,
bahkan partai-partai lain juga melakukan hal yang hampir sama.
Sejumlah kalangan politisi maupun partai politik, atau pihak-pihak
yang berkepentingan saling berpacu menggunakan media massa
untuk menonjolkan klaim mereka terhadap sesuatu. Pesan yang
disampaikan media, bisa jadi menimbulkan efek mendukung yang
dalam bentuk konkritnya adalah penggambaran positif pada parpol
atau politis yang bersangkutan, dan menggambarkan kesan negatif
pihak lawan. Dari realitas yang berkembang inilah terlihat secara
jelas, bahwa paling tidak ada dua macam fungsi teks media, yaitu
sebagai teks media yang dapat dinikmati oleh khalayak dan sebagai
teks public relations yang merupakan tujuan dari parpol sebagai upaya
untuk membentuk citra kepada khalayak.
Dengan adanya teks berita yang dibingkai secara positif, maka
secara tidak langsung memberikan keuntungan tersendiri bagi
sebuah parpol. Maka dalam konteks ini secara teoritis, framing
dipergunakan oleh perusahaan media untuk mengkonstruksi sebuah
teks yang kemudian disajikan kepada khalayak. Politik pencitraan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
176 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
yang dilakukan satu parpol, tentunya memberi dampak yang luar
biasa terhadap masa depan partai tersebut. Bagaimanakah suatu
parpol tersebut diberitakan, tentunya akan bermuara pada pencitraan
parpol tersebut dilakukan oleh media. Jika suatu parpol yang
dicitrakan oleh media baik, maka besar kemungkinan masyarakat
juga akan menilai partai itu baik. Sebaliknya, jika media mencitrakan
partai itu buruk atau negatif, besar kemungkinan partai itupun akan
buruk atua negatif di mata masyarakat. Jadi kedua hal tersebut
sangat tergantung kepada pembingkaian (framing) yang dilakukan
oleh media itu sendiri. Proses framing berkaitan dengan persoalan
bagaimana sebuah realitas dikemas dan dikonstruksi sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
Apa yang dilakukan oleh DPW PAN Sumatera Utara, secara
teoritis menguatkan teori konstrusi sosial media yang dikemukakan
Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Teori ini secara gamblang
menegaskan, bahwa individu menciptakan secara terus-menerus
suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.
Berger dan Luckman sebagaimana dikutip Burhan Bungin,
mengatakan bahwa terjadi dialektika antara individu menciptakan
masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Istilah Berger,
proses dialektika itu terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi, dan
internalisasi. Berger juga menyebut itu sebagai momen. Pertama,
eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia
ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Kedua,
objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik
dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Artinya, hasil itu
adalah realitas objektif yang dijadikan manusia untuk membedakan
dirinya dengan apa yang berada di luar dirinya. Ketiga, internalisasi
yaitu suatu proses internalisasi lebih merupakan penyerapan kembali
dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif
individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial.
Dari teori di atas, dipahami bahwa manusia bisa mengkonstruksi
realitas sesuai dengan keinginannya. Berger lebih menegaskannya
lagi, bahwa realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu
yang diturunkan oleh Tuhan, tetapi ia dibentuk dan dikonstruksi.
Itulah sebabnya, jika logika Berger ini diikuti, maka setiap orang bisa
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 177
mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap
orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu,
dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan
realitas sosial itu dengan konstruksi yang berbeda-beda, dan cara
menilai itu juga berbeda menurut apa yang direkonstruksi oleh
masing-masing pihak. Misalnya, ketika ada yang merekonstruksi
PAN negatif, maka nilainya bisa buruk, dan sebaliknya jika ada yang
merekonstruksi PAN positif, maka nilainya bisa baik.
Kalau ditelaah dari sudut pandang kajian psikologis, proses
penilaian itu menjadi suatu hal yang bersifat naluriah. Sebagaimana
ditegaskan Muzafer Sherif, seorang pakar yang memperkenalkan
teori penilaian sosial (social judgement theory), secara tegas ia katakan
bahwa manusia merupakan makhluk yang suka menilai dan
penilaian itu dilakukan manusia sesuai dengan apa yang di lihat
dan di dengarnya. Munculnya penilaian seseorang terhadap sesuatu,
baik yang bersifat positif maupun negatif dikarenakan individu
melibatkan tiga hal, yaitu egonya, acuan sikap dan efek kontras.19
Pertama, penilaian muncul karena keterlibatan ego mendorong
seseorang untuk menilai sesuatu. Keterlibatan ego yang dimaksud
Sherif, mengacu pada seberapa penting suatu isu itu dalam kehidupan
seseorang. Misalnya, PAN Sumatera Utara sudah sangat sering
memberitakan berbagai kegiatannya, menyampaikan kebijakankebijakannya, melakukan pencitraan yang masif di surat kabar dan
sebagainya. Ketika seseorang tidak merasa bahwa itu tidak berkaitan
atau tidak ada sangkut paut dengan dirinya, maka seseorang itu akan
mengaggap informasi itu sebagai hal yang tidak penting, karena
keterlibat egonya rendah. Bisa saja kemudian muncul penilaian
negatif terhadap itu. Tetapi sebaliknya, ketika seseorang merasa
memiliki kepentingan terhadap informasi yang disampaikan, maka
seseorang itu akan menjadikan informasi itu penting, karena tingkat
keterlibatan egonya tinggi. Kedua, acuan sikap. Ini berkaitan dengan
kondisi internal dan muncul ketika seseorang menerima sejumlah
pesan, lalu kemudian membanding-bandingkan hal yang berbedabeda tersebut atau bahkan bertentangan, sehingga muncullah
penilaian. Ketiga, penilaian muncul karena efek kontras. Artinya, efek
19
Morrisan, Psikologi Komunikasi (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), h. 19.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
178 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
ini muncul karena individu menilai suatu pesan menjadi lebih jauh
atau bententangan dengan pandangannya sendiri dari pada yang
seharusnya.20
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa media,
utamanya media massa, memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap perkembangan dinamika politik. Media menjadi sarana
penghubung atau saluran komunikasi politik para politisi dengan
konstituen yang tersebar luas secara geografis maupun demografis.
Inilah yang menjadi alasan DPW PAN Sumatera Utara untuk terus
mempertahankan eksistensi bulletin yang sudah ada dan terbit setiap
bulan. Sebagaimana dijelaskan oleh Adi Munasip.
DPW PAN Sumatera Utara sejak awal deklarasi, tidak
ketinggalan dalam menggunakan media. Kami menyadari
betul, bahwa media adalah corong informasi. Melalui merekalah
masyarakat akan semakin tau, apa yang kita lakukan dan tidak
kita lakukan. Atas dasar itu, kami membuat satu bulletin yang
dicetak dengan tampilan bagus, dan bulletin itu masih ada
sampai sekarang. Barangkali nanti bisa ditelusuri dan diambil
di kantor DPW Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim. Tujuan DPW
PAN menjaga eksistensi atau penerbita bulletin tersebut adalah
agar ikatan emosional kita dengan konstituen, atau masyarakat
lebih dekat lagi. Maka para pengurus PAN atau para Anggota
legislatif (DPRD) Sumatera Utara, kalau ada kegiatan ke
daerah atau reses, mereka dituntut untuk membawa itu, dan
membagikannya kepada masyarakat.21
Informasi di atas, menguatkan realitas bahwa media seringkali
dijadikan sebagai lahan strategis oleh partai dan para politisi untuk
menyampaikan pesan-pesan politiknya. Media massa tetap dianggap
penting dalam mempengaruhi iklim politik yang bisa mendorong ke
arah demokratisasi. Secara realitas juga harus diakui, bahwa dalam
waktu yang cukup lama, terpaan media turut membentuk persepsi,
sikap dan prilaku politik tertentu. Ini sekaligus menegaskan,
bahwa pesan-pesan politik yang disampaikan para politisi kepada
20
Ibid, h. 21-24.
Adi Munasip, Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik DPW PAN Sumatera
Utara Periode 2010-2015. Wawancara tanggal 3 Juni 2016 di Medan via hand phone.
21
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 179
masyarakat melalui media massa, dapat membentuk opini publik
(public opinion) dalam membangun citra politik suatu partai. Istilah
lainnya, kesadaran dan partisipasi berbagai kelompok dalam
masyarakat dapat dibentuk lewat dukungan komunikasi massa, atau
komunikasi bermedia.
Dari sini terlihat secara jelas, bahwa keberadaan media massa
sangatlah penting, karena media massa di ibaratkan sebagai alat yang
membentuk apa dan bagaimana yang terjadi dalam masyarakat. Dalam
kaitannya dengan perilaku memilih, melalui saluran komunikasi
pemilih dapat mengakses segala informasi yang dibutuhkan mengenai
berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan perhelatan politik.
Informasi mengenai isu-isu atau kebijakan-kebijakan politik, citra
kandidat, perasaan emosional kandidat, citra kandidat seperti kejujuran,
ketegasan, kestabilan emosi kandidat dan sebagainya, semuanya dapat
diperoleh melalui saluran komunikasi massa. Media massa memiliki arti
penting, yakni sebagai sumber dominan yang bukan hanya bagi individu
untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi
masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan
nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita atau
hiburan.
4. Pencitraan Melalui Saluran Komunikasi Interpersonal
Membangun pencitraan politik atau politik pencitraan tentunya
tidak dapat dilakukan tanpa adanya komunikasi politik yang
dilakukan partai politik atau politisi yang sedang berkompetisi.
Sebab itu, bagi DPW PAN Sumatera Utara, komunikasi politik
dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi merupakan
prasyarat utama ketika mempromosikan partai dan para politisi
dari PAN. Selain saluran komunikasi massa, DPW PAN Sumatera
Utara juga melakukan pencitraan politik melalui saluran komunikasi
interpersonal. Komunikasi interpersonal ini tentu sangat berbeda
dengan komunikasi massa yang bersifat satu arah dan khalayak
yang menjadi sasaran komunikasi jumlahnya sangat besar serta tidak
saling mengenal. Artinya, konteks komunikasi yang dilakukan adalah
bermedia, memiliki kecepatan jangkauan cepat, feedback tertunda dan
efek pesan kognitif. Maka dalam komunikasi interpersonal, arus
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
180 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
pesan bersifat dua arah, konteks komunikasi tatap muka, kecepatan
jangkauan lambat, feedback langsung dan efek pesan afektif/
psikomotorik.
Bila ditelaah secara literal, komunikasi interpersonal dipahami
sebagai komunikasi yang dilakukan oleh satu orang kepada orang lain
dalam kondisi tatap muka. Artinya, komunikasi berlangsung dalam
kelompok kecil, yaitu antara satu orang dengan satu orang lainnya atau
dengan dua orang yang dilakukan secara tatap muka. Istilah lainnya,
bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman dan
penerimaan pesan di antara dua orang atau di antara sekelompok kecil
orang, dengan berbagai efek dan umpan balik (feed back). Jadi komunikasi
interpersonal adalah model komunikasi tatap muka yang sifatnya sangat
personal, sehingga di antara kedua berlah pihak yang berkomunikasi
bisa terjalin dengan cepat.
Dalam proses komunikasi interpersonal, setiap komponen
dipandang dan dijelaskan sebagai bagian-bagian yang terintegrasi.
Komunikasi interpersonal memperlihatkan kuatnya jalinan hubungan
interaktif antara seorang individu dan individu lain, dimana lambanglambang pesan secara efektif digunakan, terutama lambang-lambang
bahasa. Penggunaan lambang-lambang bahasa verbal, terutama yang
bersifat lisan, didalam kenyataan kerap kali disertai dengan bahasa isyarat
terutama gerak atau bahasa tubuh (body language) seperti senyuman,
tertawa, dan menggeleng atau menganggukkan kepala. Komunikasi
interpersonal pada umumnya dipahami lebih bersifat pribadi (private)
dan berlangsung secara tatap muka.
Sepanjang tahun 2005 – 2015, komunikasi interpersonal sudah
menjadi kebiasaan yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara untuk
membangun pencitraan. Hampir semua kader, terutama orang-orang
yang terpilih sebagai caleg senantiasa menggunakan saluran komunikasi
interpersonal ini. Bahkan, hal ini menjadi anjuran bagi setiap kader yang
menjadi caleg, agar rajin turun ke dapil masing-masing untuk menjumpai
secara langsung para konstituen, dan mendengarkan langsung aspirasi
masyarakat. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Zulkifli
Husein diperoleh informasi bahwa sebelum para kader turun ke daerah
pemilihan (dapil), setiap kader sudah terlebih dahulu mempersiapkan
segala sesuatu yang berkaitan dengan atribusi kepartaian, karena
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 181
keberangkatan kader ke dapil, merupakan komunikator politik yang
diharapkan dapat membawa misi partai.
Menurut kebiasaan, sebelum para kader turun ke daerah, mereka
terlebih dahulu merancang kapan pertemuan dilakukan dan
dengan siapa mereka akan bertemu. Memang ada pertemuan itu
yang sifatnya spontanitas, misalnya bertemu secara tiba-tiba dengan
masyarakat yang tidak direncanakan. Di dapil ada masyarakat
yang secara tiba-tiba menyampaikan aspirasi, itu tetap kita serap
untuk dijadikan bahan kajian di partai. Tetapi kecenderungan kita
kalau mau turun ke daerah, itu dilakukan secara terencana. Tematema yang dibicarakan dalam pertemuan itupun biasanya sudah
jelas. Kalau sayalah misalnya turun ke dapil, saya terlebih dahulu
menjadwalkan kapan akan turun, kemudian dengan siapa akan
berkomunikasi dan apa yang harus saya sampaikan. Bentuknya,
ada yang bersifat formal ada yang tidak formal. Kalau yang sifatnya
formal, kita bertemu dengan yang berwenang seperti kepala desa,
tokoh masyarakat dan lain-lain. Kalau yang tidak formal, tibatiba saja bertemu dengan masyarakat di masjid, di warung dan
sebagainya. Kitakan tentu tidak mengenali semua masyarakat,
atau tokoh dan kepala desa. Tetap saja kita memperkenalkan diri,
meskipun kadang-kadang masyarakat itu sudah kenal. tetapi
untuk menjaga keramah tamahan, kita tetap memperkenalkan
diri. Itu sudah menjadi kebiasaan kader-kader PAN kalau turun
ke dapil. Setelah perkenalan, baru dimulai membicarakan hal-hal
penting, sampai nanti masyarakat setempat menerima ide yang
disampaikan, bahkan usaha kita bagaimana mereka supaya yakin
dan dapat mendukung program partai.22
Dari informasi di atas, tahapan proses komunikasi interpersonal
yang dilakukan kader PAN untuk membangun pencitraan, tidak jauh
berbeda dengan tahapan komunikasi interpersonal yang disampaikan
Mark Knapp, yaitu dimulai dari proses coming to gether (membangun
kebersamaan), relational maintance (memelihara hubungan), dan comming
appart (sama-sama memiliki harapan).23 Pada proses pertama, yang
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 20152020. Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
22
23
Bila diperhatikan peran kader PAN sebagai ujung tombak informasi,
memiliki tugas untuk memasarkan PAN ke tengah-tengah masyarakat. Bila
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
182 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
dilakukan adalah membangun kebersamaan, dalam hal ini para kader
PAN melakukan inisiasi pertemuan, misalnya membuat janji dengan
siapa yang mau dijumpai dan dimana berjumpa. Bila diperhatikan
informasi di atas, langkah pertama yang dilakukan adalah menginisiasi
pertemuan awal. Pada pertemuan ini, kader PAN memperkenalkan
dirinya. Kemudia langkah berikutnya yang dilakukan adalah pertukaran
informasi antara kader PAN dengan masyarakat. Selanjutnya, karena
sudah saling mengenal, dan sudah lama menjalin hubungan komunikasi,
maka kader PAN mulai mencoba untuk semakin mempererat ikatan
emosional. Setalah ikatan emosional terjalin dengan era, kedua belah
pihak, yaitu antara kader PAN dengan masyarakat membangun
komitmen dan saling menyepakati apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Proses ini mencerminkan komunikasi antarpersonal adalah komunikasi
yang dilakukan secara langsung, mengacu pada pesan yang jelas dan
mudah dipahami oleh penerima. Proses tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut.
Relational
Maintenence
Bonding
Integrating
Coming
Together
Intesifying
Differentiating
Circumscribing
Stagnating
Experimenting
Initiating
Coming
appart
Avoiding
Terminating
Gambar 4.2. Model proses komunikasi interpersonal Knap.24
Penjelasan di atas, sesuai dengan temuan, bahwa dari penelusuran
yang dilakukan, diketahui bahwa model komunikasi interpersonal
yang lazim dilakukan kader PAN adalah mendatangi masyarakat,
misalnya masyarakat yang sedang santai di masjid setelah selesai
dikaitkan dengan komunikasi pemasaran, Komunikasi antarpersonal merupakan
saluran komunikasi politik yang tepat untuk digunakan, karena langsung kepada
sasarannya. Komunikasi antarpersonal dapat menumbuhkan sikap yang saling
mengikat, dan dapat menghindari setiap gangguan yang muncul atau konflik. Lihat,
Alo Liliweri, Komunikasi Antarpersonal (Jakarta: Kencana, 2015), h. 56-58.
24
Ibid, h, 55.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 183
melaksanakan shalat, menjumpai masyarakat yang berada di warung
kopi. Meskipun suasana komunikasi yang dibangun tidak formal,
tapi di sela-sela pembincaraan tersebut selalu diselipkan pesan-pesan
partai. Dalam membangun komunikasi interpersonal tersebut, para
kader selalu menggunakan atribut partai seperti PIN, Jas partai, dan
sebagainya sehingga tidak terlalu sulit memperkenalkan diri kepada
masyarakat yang diajak berkomunikasi.
Hasil pengamatan yang dilakukan, erat kaitannya dengan
informasi yang disampaikan politisi PAN Sumatera Utara,
Parluhutan Siregar bahwa PAN merupakan partai terbuka. PAN
disosialisasikan bukan saja kepada warga persyarikatan tetapi
jangkauannya lebih luas, yaitu kepada masyarakat secara umum,
termasuk mensosialisasikannya kepada orang lain di luar Islam,
karena yang diperjuangkan PAN bukan hanya satu golongan, tetapi
seluruh aspirasi rakyat Indonesia. Sebagaimana dari hasil wawancara
yang dilakukan;
Saya di Sumatera Utara, maka utamanya yang saya perjuangkan
itu adalah aspirasi rakyat Sumatera Utara. Maka dalam setiap
kesempatan, saya terus membangun hubungan emosional dengan
masyarakat, dan terus membangun komunikasi interpersonal.
Apalagi sekarang ada HP, kadang-kadang ada masyarakat yang
sms, ada yang menelpon, itu tetap saya layani sepanjang tidak
mengganggu kerja. Bahkan pada saat reses atau di luar itu, kita
terus turun terutama ke dapil-dapil masing-masing. Di sana kita
berjumpa masyarakat, menjaring aspirasi mereka. Kadang kita
nongkrong di warung kopi, atau tempat di mana masyarakat
sering berkumpul. Bahkan kita juga bersilaturahmi ke rumahrumah warga. Hal itu menjadi kelaziman yang dilakukan setiap
pengurus PAN Sumatera Utara. Kita tidak hanya membangun
komunikasi dengan masyarakat pada saat menjelang pemilu.
Tapi itu kita lakukan di luar pelaksanaan pemilu, karena kita
perlu masyarakat bukan karena mau pemilu, tapi kita perlu
masyarakat setiap saat. Saya merasa, komunikasi interpersonal
ini perlu dilakukan secara terus menerus, sebab kita mengetahui
apa yang akan dilkaukan untuk rakyat, dan kita mengetahui
langkah-langkah strategis untuk merebut hati masyarakat ini.
Karena saya misalnya, saya menjadi anggota DPRD Sumut dua
periode dan berasa dari dapi berbeda. Periode pertama saya
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
184 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
dari Sumut 11, Binjai Langkat, dan periode kedua saya dari
Sumut 6 Tabagsel. Strategi utama yang saya lakukan adalah
menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat, dan itu saya
lakukan tidak hanya dengan warga Muhammadiyah, tetapi
semua masyarakat di dapil saya dan juga tidak saat menjelang
pemilu saja. Jauh-jauh hari itu udah saya persiapkan. Jadi kaderkader PAN, utamanya yang sudah menjadi anggota DPRD,
itu dianjurkan agar rajin menjumpai konstituennya di daerahdaerah pemilihan masing-masing.25
Dari informasi di atas diketahui bahwa komunikasi interpersonal
merupakan kegiatan yang sudah dijalankan oleh pengurus DPW
PAN Sumatera Utara. Komunikasi interpersonal terlihat, bahwa
disamping memiliki tujuan untuk membangun dan menguatkan
hubungan emosional, komunikasi interpersonal juga dapat menjadi
sarana untuk menampung aspirasi masyarakat, saran pendapat,
dan ikatan emosional. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Irwansyah
Damanik bahwa salah satu hal yang dilakukan oleh para kader PAN
adalah menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan masyarakat
tanpa membeda-bedakannya. Sebab dalam pemilihan, setiap rakyat
sama suaranya dihitung satu. Baik miskin, kaya dan apapun statusnya
suaranya tetap satu. Jadi berkomunikasi dengan masyarakat untuk
menjalin ikatan emosional. Sebab itu, menjadi satu kewajiban bagi
setiap kader, utamanya bagi pengurus dan anggota DPRD agar rajin
turun ke daerah-daerah pemilihan. Tujuannya adalah untuk menjaga
rasa kekeluargaan, hubungan silaturahmi, dan ikatan emosional.
Jangan ketika mau menjelang pemilu misalnya, kita memanfaatkan
jasa mereka, mejadikan mereka tim sukses. Tetapi setelah jadi anggota
DPRD lupa pada masyarakat.
Saya misalnya, upaya yang saya lakukan untuk menjaga
ikatan emosional itu, saya tetap membuat wadah silaturrahmi.
Kemudian, komunikasi yang saya bangun, tidak hanya dengan
warga Muhammadiyah. Bagi saya, semua warga harus bisa
kita jaring aspirasinya. Seperti di Simalungun misalnya, di sana
25
Parluhutan Siregar, Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015
juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 2005-2009 daerah pemilihan Sumur 11,
Binjai Langkat, anggota DPRD Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan
Sumut 6 Tabagsel. Wawancara tanggal 6 Juni di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 185
masyarakat bercampur. Ada yang Islam, Kristen, bahkan Budha.
Kemudian, kalau sedang kunjungan ke dapil, saya mencoba
untuk menjaring aspirasi masyarakat. Saya mendengarkan
aspirasi, saran dan pendapat dari masyarakat. Kadang-kadang
kita menjumpai kepala desa atau pemuka masyarakat, karena
mereka punya pengaruh di daerah masing-masing. Melalui
kepala desa atau pemuka masyarakat itulah kita mencoba untuk
menjaring aspirasi masyarakat setempat. Selain itu, komunikasi
interpersonal juga dilakukan pada saat menghadiri acara-acara
sosial kemasyarakatan. Misalnya, kalau di Simalungun itu
ada istilahnya pesta adat, dan itu dari berbagai lapisan marga.
Istilahnya, komunikasi yang kita lakukan sifatnya tidak formal.
Bahkan dari dapil, ada masyarakat yang bertelpon, dan sms. Itu
tetap dilayani, meskipun barangkali jawaban sms itu kadangkadang lama baru bisa di balas. Karena sayalah misalnya,
tentu punya kesibukan lain, terkait dengan tugas-tugas sebagai
anggota DPRD. Menurut saya secara pribadi, komunikasi yang
seperti inilah yang harus dilakukan secara berkesinambungan
oleh kader. Sebab kita dapat lebih dekat dan lebih kuat hubungan
emosionalnya.26
Sesuai dengan informasi di atas, diketahui bahwa PAN sebagai
partai terbuka tidak hanya membangun komunikasi interpersonal
dengan warga Muhammadiyah, tetapi termasuk kepada seluruh
masyarakat dari berbagai golongan, suku, agama dan ras. Dalam
kaitan ini, maka salah satu strategi yang dilakukan PAN untuk
membangun pencitraan adalah mewajibkan para kader untuk turun
ke setiap daerah pemilihannya. Pada kunjungan tersebut, para politisi
PAN dianjurkan untuk melakukan komunikasi interpersonal secara
intesif dengan masyarakat. Tujuan komunikasi interpersonal yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara adalah untuk membangun
citra positif partai. Selain itu, tujuannya adalah untuk mempererat
hubungan emosional dengan konstituen di dapil masing-masing
kader, dengan harapan PAN akan mampu memperoleh suara yang
lebih banyak pada even pemilu selanjutnya. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal tidak hanya sekedar
26
Irwansyah Damanik, Anggota DPRD PAN Sumatera Utara periode 20092014 daerah pemilihan Sumut 9 (Siantar Simalungun). Wawancara tanggal 5 Juni
2016 melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
186 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
bertujuan untuk memperkenalkan PAN secara lebih mendalam
kepada masyarakat, tetapi untuk menjalin silaturahmi yang sudah
terjalin selama ini.
Bila diidentifikasi praktik penggunaan saluran komunikasi
interpersonal yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara dalam
membangun citra partai selama ini, paling tidak ada lima tujuan
utamanya, yaitu:27
1. Mengenal diri sendiri dan orang lain.
Salah satu yang menjadi tujuan komunikasi interpersonal
adalah untuk memperkenalkan diri kepada orang lain. Artinya,
bahwa melalui komunikasi interpersonal, bagaimana orang lain
bisa mengenal saya, dan bagaimana saya bisa mengenal orang lain?
Prinsip itulah yang terjadi dalam praktik komunikasi interpersonal.
Bahkan setiap orang juga harus berprinsip dalam setiap komunikasi,
terutama komunikasi interpersonal, tujuannya adalah untuk
membantu orang lain menemukan diri mereka, atau dengan kata
lain menemukan identitas dirinya. Inilah salah satu yang melatar
belakangi setiap orang untuk melakukan komunikasi interpersonal.
Dengan terjalinnya komunikasi interpersonal antara satu orang
dengan yang lainnya, tentu seseorang dapat belajar tentang bagaimana
harus membuka diri dengan orang lain. Dengan melalui komunikasi
interpersonal, seseorang akan mengetahui pandangan orang lain,
sikapnya, serta tanggapannya terhadap apa yang sedang dibicarakan.
Hal tersebut terlihat dari beberapa sumber yang telah di wawancarai
di atas, bahwa para kader PAN Sumatera Utara dianjurkan untuk
turun ke dapil masing-masing membangun hubungan komunikasi,
agar masyarakat lebih mengenal program PAN, kebijakankebijakannya dan manfaat perjuangannya bagi masyarakat. Tentu
melalui terbukanya kran komunikasi interpersonal, hubungan
dengan masyarakat akan semakin kuat.
Semakin kuatnya ikatan emosional dan atraksi interpersonal
dengan masyarakat, maka masyarakat akan lebih mendalam mengenal
27
Tujuan adalah sesuatu yang abstrak atau konkrit yang harus diakui
keberadaannya, karena itu dia merupakan hasil yang diantisipasi atau yang
dimaksudkan untuk dicapai atau diperoleh, dia dijadikan sebagai arah atau sasaran
dari rencana tindakan yang dilakukan. Lihat, Liliweri, Komunikasi, h. 75.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 187
PAN itu sendiri. Bahkan tidak hanya partainya yang dikenal, tetapi
politisinya sendiri juga akan lebih dikenal masyarakat. Tentu hal
tersebut, menjadi modal sosial yang kuat bagi seorang politisi. Sebab
semakin banyak masyarakat yang mengenalnya, peluang untuk
merebut hati rakyatpun akan semakin besar, ketimbang rakyat tidak
mengenal sama sekali politisi yang bersangkutan. Modal sosial
seperti inilah yang dapat menguntungkan bagi partai, sehingga pada
saat-saat menjelang even-even politik, partai tidak terlalu repot lagi
untuk merekrut massa. Itulah sebabnya, banyak para politisi dan
juga partai, dari awal sudah mempersiapkan modal sosial tersebut,
di samping mempersiapkan modal finansial.
2. Menciptakan dan memelihara hubungan.
Dari data wawancara yang disampaikan di atas, terlihat secara
jelas bahwa tujuan kedua komunikasi interpersonal yaitu untuk
memelihara hubungan. Adanya anjuran DPW PAN Sumatera Utara
kepada kadernya untuk turun langsung ke masyarakat, ke dapil
masing-masing adalah indikasi pentingnya menjalin hubungan
dengan konstituen. Turunnya seorang politisi ke daerah tertentu,
merupakan langkah kongkret dalam memelihara hubungan dengan
konstituen lama, dan menciptakan hubungan dengan konstituen
baru.
Terpeliharanya hubungan yang baik antara partai maupun
politisi dengan masyarakat, sehingga bisa mengurangi konflik
dan ketegangan. Misalnya, ketika ada tanggapan miring dari
masyarakat bahwa kader atau anggota DPR PAN hanya mau turun
ke masyarakat pada saat perlu saja, tentu akan mencair kalau yang
bersangkutan sering turun ke masyarakat. Anggapan miring tersebut
akan berubah menjadi penilaian positif, jika seorang politisi secara
berkesinambungan membangun komunikasi interpersonal dengan
masyarakat. Sebab itu, bila diperhatikan dari hasil wawancara di
atas, maka yang menjadi tujuan PAN menganjurkan kadernya untuk
sering turun ke dapil adalah menghilangkan anggapan-anggapan
negatif terhadap partai, sehingga ikatan emosional rakyat dengan
partai tetap terpelihara dengan baik.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
188 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
3. Mengubah sikap dan perilaku.
Lazim dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi, baik itu
komunikasi massa dan termasuk komunikasi interpersonal adalah
mengubah sikap dan prilaku. Untuk mengubah sikap dan prilaku,
tentu yang dilakukan adalah mempengaruhi orang yang diajak
berkomunikasi. Dalam proses mempengaruhi tersebut dituntut
kemampuan melakukan persuasi, karena persuasi ditujukan untuk
mengubah seseorang, agar orang tersebut berubah keyakinannya,
berubah sikapnya, niatnya, motivasinya, atau prilakunya. Tentu dalam
kaitan ini tujuannya adalah bagaimana informasi yang disampaikan
pengurus DPW PAN yang turun ke dapil dapat merubah pandangan
masyarakat terhadap ide atau objek yang sedang dibicarakan.
Bila diperhatikan dari hasil wawancara yang dipaparkan
di atas, dapat dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi
interpersonal PAN dengan masyarakat adalah untuk mengubah
sikap dan prilaku masyarakat. Ketika seorang kader PAN Sumatera
Utara menyampaikan program partai kepada masyarakat, termasuk
kebijakan-kebijakan dan ide-idenya, tentu hal tersebut merupakan
salah satu upaya untuk meyakinkan masyarakat, bahwa PAN hadir
untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh sebab
itu, dari upaya penganjuran kader PAN untuk turun ke dapil,
merupakan salah satu upaya persuasif yang dilakukan partai untuk
mempengaruhi masyarakat, sehingga berubah sikap dan prilaku
masyarakat, yang misalnya tidak mau memilih PAN menjadi mau
memilihnya, atau tidak suka kepada kader PAN, akhirnya simpatik.
4. Membantu orang lain.
Komunikasi interpersonal bertujuan untuk saling membantu.
Proses ini akan terjadi berdasarkan cara pandang dalam melihat
orang lain. Jika dianalisis hasil wawancara yang dilakukan kader PAN
sebagaimana di atas, dapat dipahami bahwa membantu orang lain
adalah salah satu tujuan komunikasi interpersonal yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara. Untuk membangun citra positifnya,
DPW PAN Sumatera Utara melakukan komunikasi interpersonal
untuk membantu masyarakat keluar dari apa yang selama ini menjadi
permasalahan mereka. Misalnya, ketika turun ke daerah, masyarakat
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 189
yang diajak dialog tentu akan menyampaikan aspirasinya. Aspirasi itu
umumnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk membantu
para konstituen yang ada di daerah pemilihan sekaligus sebagai
bahan evaluasi untuk meningkatkan partisipasi dalam membantu
proses penyelesaian masalah yang dihadapi konstituen.
Proses membantu orang lain dalam konteks komunikasi yang
dilakukan kader DPW PAN Sumut terjadi ketika komunikasi dimulai,
para kader menyampaikan berbagai informasi, lalu masyarakat tentu
akan terbantu untuk menelusuri lebih mendalam lagi informasi yang
berkaitan dengan apa yang dibicarakan. Demikian juga sebaliknya,
informasi yang disampaikan masyarakat dapat menjadi bahan
masukan bagi para kader untuk menyikapinya. Dari sini jelas, bahwa
kedua belah pihak yang berkomunikasi dapat terbantu.
5. Mengetahui dunia luar.
Komunikasi merupakan pintu masuk bagi setiap orang untuk
mengetahui dunia luar, terutama dunia yang ada di luar dirinya.
Melalui komunikasi interpersonal misalnya, orang dapat memberi
nasihat, saran, dan pendapat kepada orang lain. Misalnya, dalam
konteks membangun pencitraan politik seperti yang dilakukan DPW
PAN Sumatera Utara dengan menganjurkan kadernya turun ke dapildapil, adalah salah satu langkah untuk mengetahui dunia luar, di luar
PAN itu sendiri. Jika selama ini misalnya, fungsionaris PAN Sumut
tidak mengetahui persoalan di dapil, maka persoalan-persoalan itu
akan diketahui setelah melakukan komunikasi interpersonal dengan
masyarakat. Pengurus PAN juga akan mengetahui responsibilitas
masyarakat terhadap partai tersebut, sehingga menjadi bahan
evaluasi. Jika ternyata PAN kurang diminati masyarakat, tentu
dengan berbagai masukan dan nasehat dari masyarakat, PAN akan
berbenah diri. Jika masyarakat menganggap selama ini PAN dapat
memberikan kontribusi bagi kehidupan mereka, tentu ini menjadi
prestasi yang harus ditingkatkan, sehingga PAN menjadi pilihan
utama di hati masyarakat.
Menurut penjelasan Zulkifli Husein, bahwa apapun serapan
para kader yang turun ke dapil-dapil, maka dalam rapat-rapat
internal PAN Sumatera Utara, serapan tersebut dijadikan sebagai
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
190 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
bahan evaluasi. Bahwa secara struktural organisatoris kata Zulkifli
Husein, setiap kader PAN memiliki tanggung jawab yang sama dalam
membesarkan partai. Maka bagi setiap kader memiliki tanggung
jawab untuk bersama-sama mensosialisasikan seluruh program PAN
dan kebijakan-kebijakan partai. Terutama bagi mereka yang sudah
duduk di DPRD Sumut, dituntut untuk lebih bertanggung jawab,
sebab kenderaan naik untuk ke DPRD Sumut adalah PAN. Dengan
demikian, menjadi satu kewajiban bagi setiap kader untuk senantiasa
turun ke dapil, terlepas itu dari tugas reses dan sebagainya.
Jika ada permasalahan di dapil, kita selalu mengharapkan
agar kader segera langsung turun. Terutama bagi anggota
DPRD yang terpilih di dapil tersebut. Setiap kader dianjurkan
turun ke dapil, dengan harapan dapat mendengarkan aspirasi
masyarakat. Melalui aspirasi itulah masyarakat terbantu. Bagi
kader juga, dianjurkan untuk mendengarkan saran, masukan
dan hal-hal yang harus dilakukan PAN sebagai partai aspirasi
mereka. Maka dalam berbagai kesempatan rapat-rapat internal,
kita secara keseluruhan membicarakan temuan di dapil masingmasing. Itu merupakan langkah strategis dan taktis dalam
menguatkan keberadaan PAN di masyarakat. Masyarakat juga
sebaliknya, merasa sangat senang ketika dilihatnya ada kader
PAN yang turun ke daerah mereka. Karena bagi masyarakat, itu
merupakan kesempatan untuk berdialogi, berdiskusi tentang
berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Misalnya, ada
masyarakat yang menyampaikan agar akses tranfortasi bisa
lancar. Artinya, masyarakat menyampaikan aspirasi agar jalan
yang belum di aspal supaya di aspal. Bagi petani misalnya, pada
saat di datangi dan dilangsungkan komunikasi, mereka berharap
agar dibangun irigasi, agar mudah dalam mengairi sawahnya.
Konkritnya, untuk menyahuti aspirasi-aspirasi masyarakat,
partai terus mendorong agar kader rajin turun ke masyarakat.28
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa komunikasi
interpersonal menjadi salah satu saluran komunikasi yang
digunakan DPW PAN Sumatera Utara untuk membangun pencitraan
28
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 2015-2020.
Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 191
politiknya. Para kader dianjurkan untuk turun ke dapil-dapil, baik
itu menjelang pemilu bahkan di luar pemilu. Tujuan turun ke dapil
adalah untuk berkomunikasi secara intensif dengan masyarakat.
Tentu pencitraan melalui komunikasi interpersonal sebagaimana
yang diprogramkan DPW PAN Sumatera Utara menuntut kader,
agar memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan menuntut
kemampuan psikologis yang mumpuni. Sebab kedua ini, komunikasi
yang baik dan kemampuan psikologis dapat menjadi modal untuk
membangkitkan hubungan emosional yang baik antara kader dengan
masyrakat. Kemampuan psikologis maksudnya adalah kemampuan
kader untuk membaca responsibilitas masyarakat, apakah tertarik
atau tidak. Jika tidak tertarik, mengetahui langkah yang akan diambil.
Jika dikaitkan dengan teori komunikasi, kemampuan komunikasi
kader yang dimaksud tentu adalah kompetensi komunikasi.
Seorang politisi atau kader satu partai adalah komunikator
politik bagi partainya. Dalam literatur komunikasi, disebutkan
bahwa komunikator merupakan pelaku utama, sekaligus sebagai
sumber kendali semua aktivitas komunikasi. Dengan demikian, jika
partai ingin membangun pecintraan yang bagus, maka komunikator
politik yang bertindak sebagai ujung tombak program suatu
partai harus memiliki keterampilan, kaya ide, serta penuh dengan
kreativitas. Lebih tegas lagi disebutkan para pakar, keterampilan itu
berkaitan dengan kredibilitas, yaitu gabungan antara kompetensi,
sikap, tujuan, kepribadian dan dinamika. Kompetensi berkaitan
dengan penguasaan seorang komunikator terhadap tema-tema yang
sedang dibicarakannya. Misalnya, seorang kader PAN yang menjadi
komunikator partai, tentu harus menguasai secara gamblang
tentang program partai, kebijakan partai, arah perjuangan partai,
dinamika perpolitikan dan lain-lain. Sikap menunjukkan apakah
komunikator politik itu tegas, memiliki ideologi perjuangan yang
jelas, dan memiliki prinsip. Tujuan maksudnya apakah ide-ide yang
disampaikan punya maksud yang baik atau tidak. Kepribadian
maksudnya apakah komunikator politik itu ramah, bersahabat,
sombong, dan sebagainya. Sedangkan dinamika menunjukkan
apakah komunikator itu membosankan atau menarik.
Selain yang disampaikan di atas, hal-hal yang perlu diperhatikan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
192 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
yaitu daya tarik seorang komunikator, apakah masyarakat bisa
menerimanya atau tidak. Dalam kaitan ini, PAN Sumatera Utara
dalam menempatkan calegnya di dapil-dapil yang ada di Sumatera
Utara, cenderung menempatkan kader sesuai dengan latar belakang
sosio demografisnya. Misalnya, caleg yang bermarga atau orang
Batak, biasanya ditempatkan di tempat-tempat yang basis massanya
bermarga dan bersuku Batak. Sebagaimana dijelaskan oleh Hapcin
Suhairy.
Biasanya PAN Sumatera Utara memusyawarahkan dan menggodok
nama-nama caleg sesuai dengan daerah masing-masing. Misalnya,
kalau ada yang bermarga dan asalnya dari Mandailing, ditempatkan
di dapil tersebut. Tujuannya adalah untuk menarik simpatik
masyarakat, kemudian perhatian masyarakatpun tinggi, karena
yang bersangkutan adalah putra daerah. Ataupun penyesuaian
itu dilakukan, karena diharapkan dapat lebih mudah membangun
hubungan interpersonal dengan masyarakat setempat. Sebab
itu, jika di daerah tersebut terdapat mayoritas bermarga, maka
ditempatkan kader yang bermarga. Jelasnya, penempatanpenempatan kader selalu mempertimbangkan daerahnya. Di
samping itu, di lihat juga popularitasnya. Kalau kader itu sudah
populer, penempatannya sebagai caleg tidak terlalu sulit. Intinya,
penempatan kader diupayakan dalam rangka menarik perhatian,
simpati dan empati masyarakat, sehingga dapat mendongkrak
perolehan suara PAN.29
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa faktorfaktor personal sangat berperan pada saat proses komunikasi
interpersonal belangsung. Faktor-faktor personal yang dimaksud,
seperti atensi, simpatik, empatik, kesopan santunan, kemampuan
dalam mengelola emosi dan sebagainya. Hal ini semua mendorong
ke arah semakin kuatnya hubungan interpersonal yang dibangun
pada saat komunikasi berlangsung. Ketika misalnya kader PAN
mampu berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat, tentu
misi partai akan sampai. Ketika misi partai sampai, maka jelaslah
bahwa pencitraan politik partai akan semakin kuat di masyarakat.
29
Hapcin Suhairi, Wakil Ketua Pusat Pengembangan Organisasi dan
Keanggotaan DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015. Wawancara tanggal 6
Juni 2016 di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 193
Terutama jika para kader PAN mampu menunjukkan secara konkrit
dalam bentuk kerja nyata, setiap apa yang disampaikannya kepada
masyarakat. Tentu ini akan semakin menguatkan pencitraan politik
PAN.
Pada saat masyarakat melihat kerja nyata anggota PAN, dan
melihat apa yang disampaikan sesuai dengan realitas di lapangan,
masyarakat akan semakin yakin bahwa anggota PAN tidak hanya
berjanji muluk-muluk. Pada tataran ini, citra PAN akan positif.
Tetapi sebaliknya, ketika apa yang disampaikan di masyarakat tidak
sesuai dengan kerja nyata yang dilakukan, masyarakat akan menilai
negatif dan menganggap itu sekedar janji. Bisa jadi pamor PAN akan
menurun dan mendapat kecaman di masyarakat. Dalam kaitan inilah,
pengurus DPW PAN Sumatera Utara menegaskan kepada setiap
kader yang turun ke daerah untuk memberikan yang terbaik kepada
masyarakat dan menyampaikan informasi yang real, apa yang telah
diperbuat partai selama ini. Sebagaimana dijelaskan Hapcin Suhairy.
Pada prinsipnya, ketika kader PAN itu turun ke masyarakat
atau katakanlah ke dapil masing-masing, pengurus DPW selalu
mengingatkan agar menyampaikan apa adanya. Jangan sampai
masyarakat di bohongi, karena sekali masyarakat dibohongi,
selamanya mereka tidak akan percaya lagi. Jadi apapun yang
disampaikan, sampaikanlah sesuai fakta. Karena turun ke dapil atau
ke masyarakat, bukan untuk sekedar pencitraan supaya dianggap
baik, merakyat, peduli dan sebagainya. Kalaupun itu dianggap
pencitraan, tapi tetaplah di jaga jangan sampai mencemarkan
partai. Karena satu kader saja yang salah, semua sampai partainya
akan kena juga. Jadi sebagai kader PAN perlu menjaga nama baik
itu, sehingga dianjurkan untuk menyampaikan secara jujur kepada
masyarakat, apa yang telah dilakukan dan apa yang bisa dibantu
untuk kebaikan masyarakat.30
Dari informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk
membangun pencitraan politik, DPW PAN Sumatera Utara
menggunakan saluran komunikasi interpersonal. DPW PAN
30
Hapcin Suhairi, Wakil Ketua Pusat Pengembangan Organisasi dan
Keanggotaan DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015. Wawancara tanggal 6
Juni 2016 di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
194 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Sumatera Utara menegaskan kepada kader untuk mampu bertindak
jujur, bersikap ramah dan sopan. Ini menunjukkan bahwa dalam
membangun pencitraan politik, PAN sangat menjunjung tinggi
sikap kesopanan, keramah tamahan, dan sikap-sikap baik lainnya,
meskipun pada kenyataannya kader PAN itu tidak semuanya
baik. Dalam bahasa Erving Goffman, kader PAN berusaha untuk
menjadi aktor yang dapat menyamakan panggung depan dengan
panggung belakang. Karena kalau praktik politik dianalisis dengan
menggunakan teori Erfing Goffman, sering kali dalam membangun
pencitraan tersebut, partai maupun para politisi sering kali
membedakan panggung depan dengan panggung belakang. Artinya,
ketika berada di depan khalayak, perannya diperlihatkan sangat baik,
bersahabat, dermawan, ramah, taat dan sebagainya. Tetapi kalau di
telusuri ke belakang, sebenarnya jauh dari apa yang dipraktikkan di
depan khalayak. Praktik seperti ini sering dilakukan dalam rangka
membangun pencitraan.
Apa yang dilakukan para politisi PAN, jika ditinjau dari sudut
kajian Goffman sebentuk upaya meyakinkan masyarakat terhadap
partai dan diri politisi itu sendiri. Tetapi dalam pengamatan penulis,
pada beberapa poin tertentu drama politik yang dipertontonkan
para politisi justru memberikan dampak negatif terhadap perilaku
kehidupan politik berbangsa, apalagi yang dipertontonkan tidak
sama antara depan dan belakang. Misalnya, pada satu sisi politisi
yang datang kepada masyarakat terlihat sangat taat beragama, ramah,
peduli dan sebagainya karena datang dengan busana Islami, murah
senyum dan empati. Tetapi sebaliknya, yang dilakukan politisi pada
kehadiran di masyarakat itu adalah untuk membeli suara masyarakat,
atau melakukan money politik. Tentu ini bertolak belakang antara
penampilan dan perbuatannya yang nyata melakukan money politik.
Tetapi demikianlah fenomena prilaku sebahagian politisi yang
sering terjadi dalam kancah perpolitikan. Artinya, demi pencitraan
politik, apapun akan dilakukan oleh seorang politisi, meskipun yang
dilakukan itu tidak sama antara kenyataan sehari-hari dirinya dengan
apa yang dilakukannya pada saat bertemu dengan masyarakat.31
31
Dampak politik yang dimaksud penulis dalam hal ini, bahwa masyarakat mulai
tidak percaya dengan para politisi. Jika seorang politisi mendatangi mereka, maka yang
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 195
Namun demikian, hal-hal yang berbeda ini, menjadi perhatian
yang serius bagi DPW PAN Sumatera Utara, sehingga dalam upaya
menguatkan pencitraan politik melalui komunikasi interpersonal,
kejujuran, kesopan santunan, ke ramah tamahan, sikap amanah,
merupakan hal yang terus diperhatikan PAN. Kejujuran, sopan santun,
ramah tamah adalah aplikasi praktis dari tata kerama atau pergaulan.
Tujuan utama menjaga tata kerama ini dalam komunikasi interpersonal
adalah untuk menjaga kenyamanan di antara kedua belah pihak yang
sedang membangun interaksi dan relasi. Tata kerama tersebut sekaligus
dibutuhkan dalam komunikasi interpersonal untuk menjaga interaksi
yang kooperatif. Sesuai dengan akal sehat juga, bahwa tidak ada satupun
manusia yang senang dibohongi. Terutama bagi masyarakat desa,
sekali mereka di bohongi, maka selamanya mereka tidak akan pernah
menaruh kepercayaan lagi pada orang yang membohonginya. Kejujuran,
kesopanan, dan keramah tamahan diyakini dapat menciptakan
hubungan interpersonal yang baik. Hubungan interpersonal yang baik,
akan melahirkan penilaian positif, citra itulah yang terus dijaga oleh
DPW PAN Sumatera Utara.
terjadi adalah masyarakat tetap menghargainya, tetapi ujung-ujungnya masyarakat
akan lebih bersikap transaksional. Artinya, masyarakat membangun relasi dengan
seorang politisi, hanya karena mereka di bayar, atau mereka sudah membuat perjanjian
keuntungan apa yang akan diterima masyarakat dari politisi yang bersangkutan. Jika
tidak ada manfaat dan keuntungan yang diperolehnya, atau tidak ada bayaran yang
diterimanya, maka relasi tersebut hanya sebatas dalam pertemuan itu saja. Lebih
gamblang ditegaskan, dampak politiknya masyarakat menjadi pragmatis, dan tidak
terjadi pencerahan politik yang mendorong partisipasi mereka dalam berbagai even
pemilu. Jika hanya sebatas itu yang dilakukan politisi, maka tujuannya bukan untuk
memperjuangkan kepentingan rakyat, tapi untuk kepentingan pencitraan dan
merebut kekuasan yang pada akhirnya juga akan memperkaya pribadi. Pencitraan
yang dipertontonkan para elit politik adalah bagian dari drama pencitraan. Pencitraan
inilah yang sering diperankan politisi untuk meraih simpatisme masyarakat. Perilaku
politisi yang berlatar belakang apapun, hampir bisa dipastikan memerankan dirinya
seperti aktor sebuah drama. Ketika harus berjuang untuk rakyat, politisi memang harus
menunjukkan keseriusannya memperjuangkan rakyat. Tentu ini untuk mendorong
meningkatnya elektabilitas dan popularitas politisi yang bersangkutan. Tapi di balik itu,
para politisi juga mau tidak mau harus mengedepankan kepentingan pribadinya. Dalam
kondisi ini, hal-hal yang bersifat pribadi tentunya tidak terlalu terlihat ke permukaan.
Demikianlah lakon yang dimainkan oleh seorang pemain film untuk menarik simpatik
penonton. Pencitraan politik seperti inilah yang banyak muncul belakangan ini. Politisi
seperti bertopeng dua, bahkan politisi harus berperilaku ganda demi sebuah kepentingan
untuk mencitrakan dirinya.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
196 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, politik pencitraan yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara melalui saluran komunikasi
interpersonal, dapat memberi pengaruh terhadap penguatan
citra partai. Hal ini didasarkan pada informasi yang disampaikan
beberapa orang masyarakat yang diwawancarai. Misalnya seperti
yang disampaikan Samsul Bahri, masyarakat Labuhan Batu Selatan,
yang bekerja setiap hari sebagai karyawan kebun. Dari wawancara
yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa turunnya kader-kader
PAN ke dapil-dapil ataupun ke masyarakat, kata pak Samsul dapat
menarik simpatisme masyarakat terhadap PAN.
Saya asli orang di sini, dan saya bekerja sehari-hari sebagai seorang
karyawan kebun. Saya bukan pengurus PAN, tapi saya masyarakat
biasa aja pak. Saya kurang tertarik dengan partai-partai ini, karena bagi
saya yang penting dapat bekerja bagus, dapat duit dan keluarga bisa
saya nafkahi. Namun demikian, saya tetap saja mengikuti politik ini
walaupun tidak serius, karena itu perlu juga untuk nambah-nambah
pengetahuan. Meskipun saya hanya sebagai karyawan kebun, tapi
kan mengikuti politik itu juga penting. Apalagi saya simpatisan
dulu. Saya simpatisan partai PAN. Ketertarikan saya kepada
PAN ini, mereka mau turun ke daerah-daerah, misalnya ke desa
ini. Mereka mau bergabung dengan masyarakat. Kadang-kadang
mereka mau membantu juga. Sepengetahuan saya, sudah dua kali
mereka turun ke desa ini. Bertemu dengnan masyarakat, kadang
dikumpul di balai desa. Mereka bertanya tentang perkembangan
masyarakat, keluhan-keluhan masyarakat. Jadi kalau menurut
saya, maunya semua seperti itulah orang-orang partai ini. Jangan
pas mau pemilu baru datang. Pohon-pohon sawitpun ditempeli
gambar-gambarnya. Di situ mau pemilu baru bilang ke masyarakat,
akan membantu masyarakat memberikan lapangan kerja, dan
macam-macam. Setelah itu, tidak pernah lagi datang. Tapi saya
lihat, anggota PAN meskipun mungkin semuanya tidak seperti itu,
tapi saya lihat mereka rajinlah datang ke masyarakat. Jadi harapharap semua partai seperti itu juga.32
Informasi yang hampir sama juga disampaikan oleh seorang
pegawai swasta bernama Rahmadi pada saat di wawancarai di salah
32
Samsul Bahri, masyarakat Desa Tanjung Medan Kecamatan Kampung Rakyat
Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara tanggal 19 Juni 2016 di Desa Tanjung
Medan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 197
satu rumah makan di Labuhan Batu Selatan.
Saya bekerja sebagai seorang pegawai swasta pak. Saya memang
tidak terlibat dengan politik. Tetapi kalau bapak bertanyak
tentang sepak terjang PAN di Labusel ini, saya rasa beda dengan
partai-partai lainnya. Apalagi Labusel ini kalau saya tidak
salah, 11 anggota DPRD nya dari PAN. Kalau saya melihat, ini
didukung oleh finansial, selain itu ketuanyapun ramah, pandai
bermasyarakat dan siapa yang tidak kenal dia di sini. Itulah yang
buat masyarakat bersimpatik, di samping juga caleg-calegnya
rajin ke masyarakat. Itu berlanjut sampai sekarang, meskipun
mereka sudah jadi anggota DPRD. Ini mungkin saja karena
latar belakang calegnya dulu orang-orang biasa-biasa saja.
Ini sebenarnya yang buat masyarakat simpatik. Karena sudah
berkawan-kawan dari dulu-dulu dan sekarang juga mereka
tidak memutuskan hubungan silaturahmi itu. Kan banyak
caleg-caleg itu, kalau sudah jadi anggota DPRD, mau melihat
rakyat ke desa-desapun malas. Harapan saya, mudah-mudahan
anggota PAN yang 11 itu, dapatlah memberikan perubahan ke
arah yang lebih baik, supaya Labusel ini lebih maju di masa yang
akan datang. Saya juga berharap, supaya kader-kader PAN yang
sudah anggota DPRD itu, tetap rajin turun ke desa-desa.33
Informasi tersebut juga dikuatkan berdasarkan hasil informasi
yang diperoleh dari ketua DPD PAN Labuhan Batu Selatan, bahwa
untuk membangun pencitraan politik, sehingga simpatik masyarakat
meningkat, mereka terus melakukan komunikasi interpersonal secara
berkesinambungan.
Saya sebagai ketua PAN Labusel, menganjurkan kepada seluruh
jajaran pengurus, baik mereka yang sudah anggota DPRD
maupun yang belum, agar rajin-rajin mengunjungi masyarakat.
Saya sampaikan khusus kepada mereka yang sudah terpilih
jadi anggota dewan, kalau mau terpilih satu periode lagi, harus
rajin menjemput suara langsung ke masyarakat. Caranya, dari
sekarang membangun silaturrahmi, menjalin komunikasi
dengan masyarakat. Kemudian, saya menyampaikan kepada
semua kader untuk menjaga hubungan emosional yang selama
33
Rahmadi, seorang pegawai swasta, masyarakat Desa Tanjung Medan
Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara tanggal
19 Juni 2016 di Desa Tanjung Medan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
198 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
ini sudah terjalin, dengan cara berkunjung ke dapil menjaring
aspirasi masyarakat, sehingga tau apa yang akan dilakukan
untuk mereka. Kalau masyarakat sudah senang, tentu di pemilu
yang akan datang lebih mudah mengarahkannya. Seperti itulah
anjuran saya kepada kader. Karena saya meyakini, komunikasi
interpersonal yang dibangun dari sekarang, akan menjadi modal
sosial yang kuat untuk membangun PAN ini di masa yang akan
datang. Namun demikian, saya juga mengakui bahwa tidak
semua komunikasi interpersonal yang dilakukan membuahkan
hasil yang optimal. Kadang-kadang masyarakat, ada yang sudah
bersikap apatis, merasa tidak percaya pada anggota-anggota
dewan. Meyakinkan sikap masyarakat yang apatis itu yang
secara terus-menerus dilakukan oleh PAN dengan cara turun
langsung ke masyarakat.34
Dari informasi yang telah disampaikan di atas, dapat dipahami
bahwa komunikasi interpersonal banyak memberi pengaruh terhadap
penguatan pencitraan politik PAN, meskipun pada sisi lainnya terdapat
juga hambatan seperti sikap apatisme masyarakat. Dari penelusuran
yang dilakukan, bahwa untuk membangun pencitraan politik, DPW
PAN Sumatera Utara tidak hanya berkunjung ke dapil, bertemu dengan
masyarakat. Tetapi kegiatan rutin lainnya yang dilakukan adalah menjalin
silaturahmi dengan tokoh lintas organisasi kemasyarakatan. PAN
Sumatera Utara berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah
dan tokoh Al Washliyah. Sebagaimana dijelaskan oleh Zulkifli Husein
bahwa salah satu rutinitas tahunan PAN Sumatera Utara adalah
menjalin silaturahmi dengan tokoh-tokoh dari berbagai organisasi
kemasyarakatan. Program tersebut sudah dilakukan sejak PAN ada di
Sumatera Utara. Bentuk silaturahmi yang dilakukan adalah menjalin
komunikasi intensif dengan para tokoh organisasi kemasyarakatan,
seperti tokoh-tokoh Muhammadiyah. PAN menetapkan program
tersebut sebagai agenda tahunan.
Setiap tahun kita terus melakukan silaturahmi dengan para
tokoh. Misalnya bersilaturahmi ke rumah rektor UMSU, ketua PW
Muhammadiyah, Prof. Ya’kub Matondang dan sesepuh PAN lainnya
seperti Haji Hanif Ray, Drs. H. Mulyadi, H. Azwir Sofyan. Mereka
34
Wildan Aswan Tanjung, Ketua DPD PAN Labusel periode 2011-2015 dan
periode 2016-2021. Wawancara tanggal 17 Juli 2016 di kantor DPD PAN Labusel.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 199
punya pengaruh, dan diharapkan dari pengaruh mereka masyarakat
juga akan loyal terhadap PAN khususnya warga parsyarikatan. Selain
tokoh-tokoh Muhammadiyah, kita juga silaturahmi dengan tokoh
ormas lainnya. Tujuan kita adalah untuk mengetahui pandanganpandangan mereka terhadap PAN, dan kita juga meminta masukan
dan dukungan dari mereka, sehingga kita mengetahui langkah strategi
taktis yang harus ditempuh ke depan. Kita juga bersilaturahmi,
karena para tokoh itu orang-orang terpandang. Statement-statement
mereka bisa memberi pengaruh kepada masyarakat. Sebab itu, setiap
bersilaturahmi dengan tokoh, kegiatan itu diekspos ke media. Kita
perlu menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, sebab
mereka juga punya pengaruh yang kuat di masyarakat dan mereka
juga punya tanggung jawab untuk membangun Sumatera Utara.
Jadi kita berharap, dari silaturahmi itu akan terjalin hubungan yang
sinergi dalam membangun Sumatera Utara.35
Dari informasi di atas, silatuturahmi dengan tokoh merupakan
strategi untuk meraih simpatisme masyarakat. Harapannya, bawah
tokoh tersebut mengeluarkan statement berupa dukungan, dan
statement itu di dengar masyarakat lalu dijadikan sebagai rujukan.
Dari hasil penelurusan juga ditemui informasi, kuatnya simpatisme
dan dukungan tokoh kepada PAN. Ini mengindikasikan bahwa
komunikasi atau silaturahmi interpersonal yang dibangun dapat
memberikan efek terhadap pencitraan politik PAN. Sebagaimana
misalnya yang diakui oleh Prof. Dr. Asmuni, M.Ag yang juga sebagai
cendikiawan dan sekaligus tokoh Muhammadiyah, bahwa secara
kelembagaan, hampir setiap tahun pengurus PAN bersilaturahmi
ke gedung dakwah Muhammadiyah Jl. SM. Raja No. 133 Medan.
Silaturahmi tersebut adalah dalam rangka mensinergikan kegiatankegiatan yang ada kaitannya dengan misi keumatan. Bukan dalam
rangka silaturahmi politik, sebab Muhammadiyah sudah kembali ke
khittah tidak terlibat dengan politikal praktis.
Silatuturahmi kekeluargaaan dengan PAN sudah terjalin sejak
lama. Selain silaturahmi ke gedung dakwah, sepanjang ingatan
35
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 20152020. Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
200 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
saya juga, hampir setiap tahun pengurus PAN Sumatera Utara
itu datang bersilaturahmi ke rumah-rumah, termasuk ke rumah
saya. Bagi saya, itu merupakan hal yang sangat baik, karena
silaturahmi itu di samping menjalin persaudaraan, juga berbagai
informasi tentang apa yang masing-masing bisa lakukan untuk
kebaikan-kebaikan. Mereka bersilaturahmi bukan dalam rangka
misi politik, tapi biasanya mereka datang silaturrahmi karena
mereka menganggap saya sebagai sesepuh di Muhammadiyah.
Dalam setiap silaturahmi, saya tidak lupa menyampaikan
saran kepada mereka agar mengelola partai itu sesuai dengan
khittahnya. Dulu PAN dikenal sebagai partai reformasi, tidak
suka korupsi, kolusi dan nepotisme. Jadi jangan sampai ke
depannya PAN menjadi sarang itu pula. Saya berharap untuk
menarik simpatik masyarakat, kader-kader partai harus rajinrajinlah mendatangi masyarakat, bersilaturahmi dengan mereka,
juga untuk kelancarang Muhammadiyah mereka juga harus
siap membantu. Kemudia saya senantiasa menyarankan kepada
pengurus PAN agar terus menunjukkan kerja nyata. Harapan
saya, sama dengan harapan masyarakat lainnya, agar PAN tetap
menjadi partai yang merakyat, dan partai yang bersih, bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme.36
Selain bersilaturahmi dengan tokoh Muhammadiyah dan
sesepuh PAN, DPW PAN Sumatera Utara juga menjalin silaturahmi
dan komunikasi dengan tokoh lain di luar PAN, misalnya dengan
tokoh Al Washliyah Sumatera Utara. Sebagaimana diakui oleh Dr.
Isma Fadli Pulungan, SH yang menegaskan eratnya hubungan
silaturahminya dengan PAN. Silaturahmi itu kata Fadli, sudah
lama terjalin karena sama-sama di partai dan sama-sama politisi.
Meskipun tahun 2009-2014 dirinya tidak lagi sebagai anggota DPRD
dari Partai Golkar, tetapi tetap saja silaturahmi itu terjaga. Diskusi
dan dialog merupakan rutinitas yang dilakukan mereka pada saat
bertemu di kantor. Fadli juga menyoroti pencitraan politik yang
selama ini dibangun PAN sudah cukup bagus, karena didukung
soliditas kadernya, sehingga tidak terlalu banyak riak-riak politik
yang berkembang di PAN dan dinamikanya tidak begitu mencuat
36
Asmuni, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara
periode 2010-2015. Wawancara tanggal tanggal 26 Juli 2016 di Jalan Prima Pasar VII
Tengah Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 201
seperti halnya partai-partai besar yang sampai kepada puncak konflik
perseteruan dualisme. Dari wawancara yang dilakukan, Isma Fadli
juga memberikan pandangan terhadap PAN;
Dalam silaturahmi yang berlangsung dan dialog-dialog kecil
dengan kawan-kawan di PAN, saya senantiasa menyarankan
kepada pengurus PAN itu supaya membuka ruang dan tempat
bagi siapa saja kader yang mau masuk PAN. Karena selama ini,
saya melihat PAN ini baik secara nasional maupun ke daerahan,
khususnya di Sumatera Utara ini, PAN ini belum mampu secara
intensif besosialisasi dengan massa di luar Muhammadiyah. Jadi
PAN ini semestinya harus keluar dari zona ke-Muhammadiyahan
itu, merambah ke lapisan masyarakat lainnya. Contohnya, Al
Washliyah ini misalnya, orang semua tahu bahwa organisasi Al
Washliyah hanya dihuni oleh dua partai besar, yaitu Golkar dan
PPP. Semestinya, PAN juga harus sudah masuk ke Al Washliyah
supaya massanya menyebar. Dalam silaturahmi itu juga sering
saya sampaikan kepada pengurus PAN agar membangun
pencitraan ke jamaah-jamaah Al Washliyah, sehingga simpatik
masyarakat juga meningkat. Terutama kalau dilihat dari visi
misinya, PAN itu kan partai nasionalis. Jadi sebagai partai
nasionalis, harus berani mengambil langkah-langkah nasionalis
juga. Rekrutmen massa di luar Muhammadiyah, merupakan
bentuk sikap nasionalisme. Jadi saya sarankan bahwa agar
pencitraan PAN yang sudah bagu itu semakin bagus, PAN
harus berani keluar dari melakukan rekrutmen ke luar warga
Muhammadiyah. Tapi secara umum saya melihat, bahwa
PAN merupakan partai yang solid, perduli kepada rakyat dan
memiliki gerakan yang bagus, karena dukungan dari organisasi
Muhammadiyah dan organisasi sayap lainnya.37
Informasi yang hampir sama dengan Isma Fadli Pulungan
disampaikan juga oleh Yahdi Khoir Harahap.
Untuk menguatkan pencitraan politik PAN di Sumatera Utara, PAN
sudah mulai keluar dari zona ke-Muhammadiyahan dan merambah
ke lapisan massa lainnya. Itu sudah dilakukan sejak kepemimpinan
Ibrahim Sakti, kemudian Kamaluddin Harahap. PAN memang
37 Isma Fadli Pulungan, Sekretaris Pimpinan Wilayah Al Wasliyah Sumatera
Utara. Wawancara tanggal 23 Juli 2016 di kantor PW Al Washliyah Sumatera Utara,
Jl. Sisinga Mangaraja Medan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
202 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
diharapkan agar tidak berkutat pada satu kelompok saja, misalnya
Muhammadiyah. Tetapi PAN juga sudah harus mulai memikirkan
cara lain untuk masuk pada organisasi kemasyarakatan lainnya,
seperti Al Washliyah, NU dan sebagainya. Maka kader-kader PAN
dan juga para pemimpin PAN harus berpandangan pelangi, bisa
lintas organisasi, lintas tokoh dan bahkan jika perlu melakukan
rekrutmen politik dari organisasi-organisasi yang berwarnawarni. Sebagaimana yang dilakukan di Tobasa, Tarutung, dan
tempat-tempat minoritas Islam lainnya. Kalau misalnya PAN
mengandalkan orang Muhammadiyah saja, maka PAN tidak akan
bisa berkembang di tempat tersebut. Jadi PAN harus membangun
pencitraan dengan cara yang berbeda-beda menurut situasi dan
kondisi daerah di mana PAN itu berada.38
Berdasarkan hasil wawancara di atas, komunikasi interpersonal
dengan tokoh dapat menguatkan citra politik partai. Di samping
itu, komunikasi interpersonal juga ternyata banyak memberikan
kontribusi terhadap kebaikan PAN di masa yang akan datang. Namun
demikian, secara realitas terlihat bahwa meskipun banyak yang
simpatik dan memberikan dukungan kepada PAN, namun terdapat
juga yang tidak mendukung dan simpatik. Dari pengamatan yang
dilakukan, ketidak simpatikan masyarakat terhadap PAN sebenarnya
bukan karena PAN tidak berbuat untuk kepentingan rakyat, tetapi ada
satu sikap masyarakat yang menjadikan mereka tidak percaya pada
partai. Sikap tersebut karena masyarakat menanamkan sikap curiga,
apatis, stereotip melihat partai dan merasa berbeda kepentingan
dengan partai. Misalnya, ada masyarakat yang menganggap kalau
partai turun ke masyarakat hanya untuk kepentingan pemilu atau
karena kepentingan untuk dapat proyek kerja.
Sikap-sikap yang muncul, seperti prasangka buruk, stereotip
adalah sikap-sikap yang dapat menghambat komunikasi. Jika
komunikasi terhambat, tentu pesan-pesan yang disampaikan juga
akan terhambat atau tidak efektif. Prasangka masyarakat biasanya
muncul, karena masyarakat menyikapi dan menilai kegiatan yang
dilakukan PAN didasarkan pada alasan-alasan yang tidak objektif
38
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 203
dan tidak rasional. Munculnya prasangka buruk komunikan terhadap
pada pembawa pesan (komunikator) menyebabkan munculnya
sikap curiga, sikap acuh, bahkan bisa pada tingkat yang lebih tinggi
lagi, yaitu menentang kehadiran komunikator. Selain prasangka, hal
yang menghambat komunikasi adalah munculnya sikap stereotip.
Sifat ini sebenarnya ada karena sudah ada prasangka tidak baik
di awal, pada saat melihat objek yang dipersepsi. Misalnya, ketika
melihat PAN yang mucul dalam pikirannya adalah ini partainya
orang Muhammadiyah, sehingga muncullah penilaian-penilaian
negatif, padahal orang yang bersangkutan belum mendalami apa
itu sesungguhnya PAN. Munculnya prasangka, curiga, dan stereotip
menyebakan pesan tidak sampai secara efektif. Kondisi ini banyak
dijumpai di masyarakat.
Salah satu contoh, ketika seorang warga di wawancarai, yang
tergambar dalam pikirannya bahwa PAN adalah partainya orang
Muhammadiyah, partai datang ke masyarakat kalau sudah ada maunya.
Saya sering mendengar informasi bahwa orang partai ada yang
datang ke desa ini. Saya tidak tau apa kegiatannya. Kata orangorang di sini ada kunjungan orang partai. Tapi saya malas mengikuti
dan saya tidak terlalu open dengan itu. Sebab orang-orang partai
ini kan pandainya janji-jani saja. Mereka mau datang kalau sudah
ada maunya. Kalau sudah mau dipilih baru datang. Menyampaikan
janji ini janji itu dan sebagainya. Waktu mau dipilih semua bagusbagus, tetapi sudah jadi, ingat sama masyarakatpun tidak. Jadi
sewaktu datang ke desa ini, saya cuek aja. Baguslah saya kerjakan
kerja saya. Toh seperti-seperti ini juga, tidak ada perubahan. Saya
juga pernah dengar ada dari partai PAN buat silaturahmi di rumah
warga. Tapi saya juga malas mengikutinya. Karena sama saja itu
menurut saya. Sayapun kurang tertarik juga dengan PAN ini karena
itu kan partainya orang Muhammadiyah. Jadi saya biasa-biasa saja.
Kalau ada pemilihan, nanti yang layak kita rasa dipilih, orangnya
memang bagus, ya itu yang dipilih. Jadi sama aja itu semua partaipartai. Coba lihat sendiri saja pak, jalan ke tempat kami ini saja
belum beres-beres sampai sekarang, padahal dulu janjinya kalau
sudah jadi akan berusaha mengaspal jalan ini. Berarti kan tinggal
janji-janji.39
39
Pariadi, warga Desa Bandar Khalifah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
Deli Serdang. Wawancara tanggal 24 Juli 2016 di Desa Bandar Khalifah.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
204 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Informasi yang disampaikan di atas tidak dapat dinafikan,
karena fenomena banyaknya anggota DPRD yang lupa kepada
masyarakat setelah duduk di kursi legislatif, adalah hal yang sangat
lekat dengan pengalaman masyarakat. Pada saat kampanye ke
masyarakat, banyak menyampaikan janji yang bagus-bagus, tetapi
akhirnya setelah duduk di legislatif, janji itu banyak yang tidak
ditepati. Selama ini, hal yang demikian sering terjadi, sehingga suatu
hal yang sangat wajar ketika ungkapan-ungkapan demikian muncul
dari kalangan masyarakat. Informasi yang disampaikan informan di
atas, adalah bentuk kekesan dan rasa apatis terhadap para politisi
yang sering mengumbar janji tapi kemudian tidak menepatinya.
Sepanjang pengalaman dan pengamatan yang dilakukan
penulis, bahwa banyaknya muncul prasangka curiga masyarakat
terhadap partai adalah karena partai lebih banyak berbuat menjelang
pemilu. Ketika pemilu semakin dekat, dalam kesempatan itu
pulalah intensitas kedekatan partai maupun para kandidat yang
berkontestasi semakin tinggi dengan masyarakat. Dengan janji-janji
program yang sangat bagus, mereka mendekati masyarakat, tetapi
setelah tercapai apa yang diinginkan oleh partai maupun para calon,
intensitas kedekatan dengan masyarakat mulai memudar. Bahkan,
kadang-kadang partai maupun calon yang sudah jadi tersebut, tidak
lagi membangun komunikasi yang intens atau kedekatan dengan
masyarakat semakin hari semakin memudar. Kondisi inilah menurut
pengamatan penulis, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
munculnya kecurigaan masyarakat terhadap partai atau para politisi.
Berbeda kondisinya dengan partai atau politisi yang sebelum pemilu
menjaga intensitas komunikasi dan silaturahmi dengan masyarakat,
dan setelah pemilu juga tetap menjaga intensitas komunikasi tersebut.
Partai dan politisi yang seperti ini umumnya akan lebih diterima
masyarakat dan program-programnya lebih didukung masyarakat.
Oleh sebab itu, untuk mengatasi persoalan prasangka negatif
dan kecurigaan masyarakat, dan juga stereotip terhadap partai, PAN
terus menjaga intensitas komunikasi dengan cara menganjurkan
kepada setiap kader untuk rajin turun ke dapil. Berdasarkan fakta
lapangan, salah satu upaya yang dapat dilakukan PAN untuk
menghindari prasangka dan curiga masyarakat tersebut, PAN harus
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 205
memilih komunikator yang memiliki reputasi yang baik. Di samping
itu harus memiliki kompetensi. Komunikator yang dimaksud tentu
para politisi atau pemimpin yang bersih, jujur dan amanah, tidak
pernah terlibat dalam berbagai tindakan tercela yang melukai
hati masyarakat. Sikap jujur dan amanah tidak hanya menjadi
tuntutan sosial bagi setiap pemimpin, tetapi dalam ajaran Islam juga
menegaskan agar pemimpin bersifat amanah dan jujur, sebagaimana
ditegaskan dalam Alquran surah Al Anfal.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati
Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu
mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.40
Pada ayat lain tentang kejujuran dijelaskan juga, agar setiap
janji yang telah disampaikan, ditunaikan secara jujur. Sebagaiman
ditegaskan dalam surah Al Anfal 58.
Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari
suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada
mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berkhianat.41
Dua ayat yang dikemukakan di atas menegaskan bahwa amanah
dan kejujuran adalah dua sikap yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin. Sikap jujur dan amanah, merupakan dua hal yang dapat
menarik simpatik masyarakat terhadap partai maupun seorang
politisi. Kata Adman Nursal, sifat personal seorang politisi seperti
kemampuan untuk melakukan tugasnya merupakan faktor yang
40
QS. Al Anfal/ 8:27.
41
QS. Al Anfal/ 8:58.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
206 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
paling menarik perhatian bagi masyarakat.42 Kemampuan melakukan
tugas seperti yang disebutkan Nursal, tentu tidak terlepas dari sikap
keamanahan. Indikasi dari sikap keamanahan itu akan muncul pada
prinsip-prinsip hidup yang meliputi sejumlah keyakinan atau nilai
dasar yang dianut oleh seorang politisi, seperti integritas, keterbukaan,
kesetiakawanan, ketulusan, kerelaan berkorban, kebersahajaan,
keperdulian sesama, keimanan, ketakwaan dan bertanggung jawab.
Para politisi harus memiliki sikap jujur dan amanah dalam
rangka mengurangi tingkat apatisme, kecurigaan dan prasangka
buruk masyarakat. Jika ini tidak dimiliki oleh PAN, maka menjadi
satu kewajibanlah bagi PAN Sumatera Utara untuk selektif memilih
kader, dan juga harus berkesinambungan melakukan perkaderan,
sehingga nilai-nilai perjuangan PAN itu sendiri semakin tertanam
dalam jiwa kader yang bersangkutan. Karena munculnya sikap
prasangka, curiga, stereotip terhadap PAN adalah bahagian dinamika
masyarakat yang tidak terbantahkan. Sebab masyarakat yang
dihadapi adalah masyarakat heterogen, baik dari segi budaya, agama,
pendidikan, ideologi dan sebagainya. Responsibilitas masyarakat
yang sifatnya mendukung dan tidak mendukung itulah yang dalam
amatan penulis, menjadi salah satu faktor penyebab fluktuatifnya
suara PAN. Bahkan itu bisa memberikan efek domino yang sangat
kuat terhadap perolehan suara PAN di Sumatera Utara.
Kondisi ini diakui oleh Zulkifli Husein, bahwa meskipun
PAN Sumatera Utara sudah membangun hubungan baik dengan
masyarakat, tetapi tidak semua masyarakat bisa menerima
keberadaan PAN. Ada masyarakat yang mendukung dan ada pula
yang tidak. Dukung mendukung merupakan hal yang biasa, karena
PAN bukan satu-satunya partai di Sumatera Utara. Namun kata
Zulkifli Husein, PAN Sumatera Utara tetap menjalin silaturrahmi
interpersonal kepada masyarakat maupun silaturahmi interpersonal
kepada para tokoh. Statement-statement para tokoh diharapkan
mampu meyakinkan masyarakat terhadap PAN, meskipun harapan
itu masih jauh. Demikian juga dengan upaya para kader PAN
yang turun ke dapil, tidak semua mendapat dukungan penuh dari
masyarakat.
42
Nursal, Political Marketing, h. 207.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 207
Sudah hal yang wajarlah saya pikir, ada yang mendukung dan
ada yang tidak mendukung. Saya melihat masyarakat yang
tidak mendukung itu disebabkan karena mereka melihat apa
yang dilakukan partai itu hanya sifatnya untuk kepentingan
pribadi partai. Di samping itu, saya melihat ada pandangan yang
salah di masyarakat yang masih melihat PAN ini sebagai partai
yang memperjuangkan kepentingan orang Muhammadiyah.
Pandangan itu sebenarnya sangat keliru. Sebab PAN dilahirkan
sebagai partai terbuka, bukan hanya sekedar memperjuangkan
kepentingan warga Muhammadiyah, tetapi kepentingan
masyarakat Sumatera Utara. Bahkan PAN secara serius
memperhatikan dan melakukan advokasi terhadap kepentingankepentingan masyarakat. Perbedaan pandangan-pandangan
ini otomatis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
fluktuatifnya perolehan PAN Sumatera Utara.43
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa silaturahmi
adalah bagian dari saluran komunikasi interpersonal yang dilakukan
PAN untuk membangun pencitraannya. Silaturahmi kepada tokoh,
merupakan rutinitas yang dilakukan PAN untuk menguatkan
pencitraan politiknya sehingga dapat menarik simpatik masyarakat
terhadap PAN. Silaturahmi yang dilakukan kepada para tokoh,
kemudian diekspos ke media, sehingga diharapkan dapat memberikan
pengaruh kepada masyarakat. Dengan demikian, pencitraan PAN
dalam konteks silaturahmi ini dikuatkan oleh para tokoh yang
didatangi oleh fungsionaris PAN. Pengaruh tersebut ada dua
macam, yaitu pengaruhnya baik jika citra yang disampaikan itu baik.
Sebaliknya, pengaruh bisa negatif jika apa yang dicitrakan terhadap
PAN negatif. Dengan demikian, dari sejumlah informasi di atas dapat
disimpulkan bahwa di samping saluran komunikasi interpersonal
sangat efektif dijadikan sebagai pembentukan pencitraan politik,
namun ada juga hambatan yang terjadi di dalamnya. Gambaran
komunikasi interpersonal yang dilakukan PAN dengan berbagai
hambatan yang dihadapinya, dapat dilihat pada gambar berikut.
43
ZH, Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah I tahun 2010 - 2015, dan
Ketua Umum DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 20152020. Wancara tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
208 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Gambar 4.3. Model Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara
Dari gambar di atas, dapat dipahami bahwa tujuan DPW PAN
Sumatera Utara adalah untuk meraih simpatisme masyarakat. Dari
gambar di atas dapat dipahami bahwa komunikasi yang dilakukan
PAN tujuannya adalah pencitraan politik yang diharapkan dapat
mempengaruhi simpatisme masyarakat terhadap PAN. DPW PAN
Sumatera Utara melakukan komunikasi secara langsung dengan
masyarakat umum, dan juga tokoh masyarakat. Namun salah satu
hal yang diharapkan dari komunikasi interpersonal terutama dengan
tokoh masyarakat adalah, pernyataan-pernyataan tokoh masyarakat
diharapkan dapat mempengaruhi masyarakat secara umum, sehingga
tertanam simpatisme masyarakat terhadap PAN. Secara realitas,
komunikasi yang dilakukan PAN dengan masyarakat maupun
tokoh sepanjang 2005-2015, dapat membangun survivalitas PAN di
Sumatera Utara, meskipun perolehan suaranya bersifat fluktuatif.
Hal ini menguatkan, bahwa saluran komunikasi interpersonal yang
dilakukan PAN Sumatera Utara dapat meningkatkan simpatisme
tokoh-tokoh masyarakat, dan simpatisme masyarakat umum
terhadap PAN. Turunnya kader-kader PAN ke dapil-dapil, baik
dalam kunjungan silaturahmi kepada tokoh, kegiatan reses anggota
DPRD, dan kunjungan kerja ke DPD PAN se-Sumatera Utara, dapat
menguatkan jalinan emosional dengan masyarakat. Inilah yang
menjadi salah satu modal bagi PAN untuk membangun pencitraan
politiknya sebagai partai terbuka yang senantiasa memperjuangkan
aspirasi masyarakat Sumatera Utara.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 209
5. Pencitraan Melalui Saluran Komunikasi Kelompok
Saluran komunikasi kelompok adalah salah satu saluran
komunikasi yang lazim dilakukan oleh manusia untuk menyampaikan
berbagai informasi dan saling berkomunikasi antara yang satu dengan
yang lainnya. Saluran komunikasi kelompok identik dengan komunikasi
yang terjadi antara beberapa orang dalam suatu kelompok, seperti dalam
rapat, diskusi kelompok dan sebagainya. Istilah Onong Uchjana Effendi,
komunikasi kelompok merupakan komunikasi yang berlangsung antara
seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih
dari dua orang.44 Dengan demikian, sekelompok orang yang dimaksud
adalah sejumlah orang yang berkumpul bersama-sama dalam bentuk
kelompok, sehingga bila dikategorikan dari segi jumlahnya, kelompok
tersebut bisa dalam bentuk kecil dan bisa dalam bentuk yang besar.
Kelompok kecil misalnya adalah kelompok komunikasi yang dalam
situasi komunikasi terdapat kesempatan untuk memberikan tanggapan
secara verbal. Contohnya adalah kelompok tani tebatas sekitar 3-20
orang yang bergabung dalam satu wadah, mereka membicarakan
tentang pertanian. Sedangkan kelompok besar adalah kelompok yang di
dalamnya tidak memungkinkan terjadi komunikasi yang dialogis antara
satu anggota dengan anggota lainnya. Komunikator dan masyarakat
dalam kelompok tersebut dapat melakukan komunikasi lebih intensif
membicarakan berbagai persoalan.
Dari pengamatan yang dilakukan, pemanfaatan saluran
komunikasi kelompok merupakan salah satu upaya yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara untuk membangun pencitraan politik.
Politik pencitraan dalam era demokrasi dan informasi menjadi
keniscayaan. Semua partai politik di Indonesia termasuk PAN,
bisa dipastikan melakukan pencitraan untuk merebut simpatik
masyarakat. Hal itu disebabkan karena politik pencitraan adalah
suatu upaya untuk mengkonstruksi representasi dan persepsi
masyarakat (publik) terhadap satu partai politik maupun seorang
politisi, mengenai semua hal yang terkait dengan aktivitas politik.
Untuk membangun pencitraan politik tersebut, DPW PAN
Sumatera Utara melakukan berbagai macam strategi politik, dan
44
Effendy, Ilmu, h. 75.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
210 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
salah satunya adalah dengan memanfaatkan saluran komunikasi
kelompok. Sejak berdirinya PAN, partai ini sangat eksis di
masyarakat melakukan pembinaan-pembinaan kelompok-kelompok
kecil di masyarakat. Ada kelompok pengajian, kelompok pemudan,
kelompok petani, nelayan dan kelompok buruh. Tujuan pembinaan
kelompok-kelompok ini adalah untuk menguatkan basis massa
PAN. Sebagaimana misalnya yang dilakukan DPD PAN di Labuhan
Batu Selatan sehingga pada periode 2015-2019, PAN memperoleh 11
kursi di DPRD dan di Serdang Bedagai memperoleh 7 kursi di DPRD.
Realitas ini menunjukkan bahwa aplikasi pencitraan politik yang
dilakukan berpengaruh pada peningkatan simpatisme masyarakat
terhadap PAN.
Di antara beberapa kelompok binaan DPW PAN Sumatera
Utara adalah KUR (Koperasi Usaha Rakyat) yang bertempat di
Desa Pantai Labu Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.
Untuk konteks masyarakat di Desa Pantai Labu, PAN melakukan
pembinaan kelompok masyarakat miskin dengan cara beternak
bebek. Kelompok masyarakat tersebut terdiri dari 25 orang yang
berasal dari masyarakat miskin dan menyatakan kesediaannya
untuk dibina di bawah arahan DPW PAN Sumatera Utara. Kegiatan
pemberdayaan peternak bebek ini berlangsung pada tahun 2006, dan
anggota kelompok merasakan manfaat yang besar dari bantua PAN
tersebut.
Selain itu, di desa yang sama juga dibuka SPBU mini yang
diresmikan langsung oleh Ketua DPW PAN Sumut Kamaluddin
Harahap. Kegiatan peresmian SPBU mini tersebut, melibatkan
sejumlah tokoh masyarakat setempat. Kegiatan tersebut berlangsung
pada tahun 2006 dan masih berkelanjutan sampai sekarang.
Pembukaan SPBU mini tersebut tentu dapat membuka lapangan
pekerjaan baru bagi masyarakat yang membutuhkan pekerjaan.
Menariknya dari proses pembukaan SPBU mini tersebut adalah
dilibatkannya tokoh-tokoh masyarakat setempat, baik itu dari tokoh
agama, tokoh lintas suku dan juga tokoh pemuda setempat. Tentu ini
merupakan salah satu upaya yang dilakukan DPW PAN Sumatera
Utara untuk membangun pencitraan politik, meskipun terlihat bahwa
yang dibuka hanya SPBU. Tetapi yang menjadi entry point dalam
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 211
kegiatan ini adalah pelibatan tokoh masyarakat setempat, sehingga
diharapkan adanya dukungan dari masyarakat, tidak hanya terhadap
SPBU, tetapi juga pada PAN.
Pembinaan-pembinaan kelompok yang dilakukan DPW PAN
Sumatera Utara juga bergulir sampai kepada masyarakat pesisir. Di
Belawan misalnya, PAN Kota Medan sebagai perpanjangan tangan
DPW PAN Sumatera Utara melakukan pemberdayaan masyarakat
nelayan. Para nelayan diberikan bantuan untuk keperluan pembuatan
boat. Pendanaan berasal dari Caleg yang berasal dari Dapil Belawan.
Di kawasan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara demikian juga,
PAN melakukan pemberdayaan kelompok nelayan tradisional.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya PAN untuk
mengadvokasi termarjinalkannya nelayan-nelayan tradisional, yang
dalam persaingan sangat jauh kalah di bandingkan dengan nelayannelayan modern yang sudah menggunakan kapal-kapal besar dan
alat penangkap ikan yang lebih maju. Menyikapi persoalan nelayan
tradisional tersebut, maka DPW PAN Sumatera Utara memberikan
pinjaman dana bagi para nelayan tradisional untuk pembuatan boat.
Pengadaan bantuan pembuatan boat tersebut berasal dari DPW PAN
Sumatera Utara tahun 2009 yang disponsori oleh caleg PAN Sumut dapil
IV (Batu Bara, Asahan, Tanjung Balai). Sebagaimana dijelaskan Husni
Lubis, bahwa salah satu upaya strategis PAN, khususnya di Kabupaten
Batu Bara, terutama lagi di daerah Tanjung Tiram ini adalah melakukan
pemberdayaan masyarakat nelayan. Sebab mayoritas penduduk di daerah
tersebut bekerja sebagai nelayan, dan mereka umumnya adalah nelayan
yang menggunakan boat-boat kecil. Mereka juga menggunakan alatalat penangkap ikan tradisional, sehingga kalau tidak dibantu, mereka
akan miskin terus. Dengan adanya program bantuan PAN, diharapkan
dapat memberdayakan nelayan. Para nelayan tersebut dibantu bukan
cuma-cuma, tetapi mereka wajib mengembalikan dana tersebut dengan
cara mencicil. Dana yang mereka kembalikan itu, diberikan lagi kepada
nelayan lain yang juga butuh bantuan. Jadi dana tersebut bergulir. Maka
untuk mengontrol pemberdayaan tersebut, DPD PAN Batu Bara sebagai
perpanjangan tangan DPW PAN Sumut, terus menjalin komunikasi
dengan nelayan. Sekali sebulan para nelayan melakukan pertemuan, dan
membahas persoalan-persoalan nelayan dan sebagainya. Pertemuan itu
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
212 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
dihadiri oleh DPD PAN Batu Bara sebagai pembina. Namun program
tersebut terkendala, artinya itu hanya berjalan 3 tahun. Setelah itu tidak
bisa dilanjutkan lagi, karena masyarakat nelayan yang ada dikelompok
perberdayaan tersebut tidak rutin dalam mengembalikan uang, sehingga
program tidak berjalan.45
Pembinaan kelompok nelayan juga dilakukan DPW PAN Sumatera
Utara di kawasan Pantai Cermin. Dalam kegiatan yang dilakukan pada
tahun 2009 tersebut, kelompok nelayan dan masyarakat setempat di bina
oleh PAN untuk melakukan penghijauan hutan mangrove. Masyarakat
mendapat bantuan dana yang difasilitasi PAN, dan dana tersebut
berasal dari APBN menteri Kehutanan yang saat itu menterinya Zulkifli
Hasan. Program ini berjalan pada tahun 2009 dan masyarakat setempat
merasakan manfaat dari pemberdayaan ini, karena masyarakat merasa
memiliki lapangan kerja baru. Sebagaimana dijelaskan oleh seorang
warga masyarakat Pantai Cermin.
Saya awalnya bukanlah anggota partai. Saya masyarkat biasa
nonpartai. Pada tahun 2009 saya masuk pengurus ranting PAN.
Awal ketertarikan saya masuk partai ini, pada tahun 2009 ada
kegiatan PAN di desa ini untuk menanami bakau. Waktu itu
saya ditawarkan kepala desa, lalu saya ikut. Kami waktu itu
ada 30 orang dan dibina oleh orang PAN. Ada caleg juga waktu
itu yang ikut. Setiap dua minggu sekali, pasti ada pertemuan.
Sambil membagikan bibit bakau, disitulah kami mendapat
arahan. Lama kelamaan, jadi saya tertarik dengan kegiatan
tersebut dan saya akhirnya bergabung dengan PAN. Kegiatan
seperti demikian itu besar manfaatnya, karena masyarakat
merasa terbantu ekonominya. Waktu itu, penanaman satu bibit
bakau itu dihargai Rp 2500.46
Dari penelusuran yang dilakukan penulis, selain memberdayakan
masyarakat nelayan dan masyarakat kota, DPW PAN Sumatera Utara
juga memberdayakan masyarakat petani. Di Kabupaten Labuah
Batu, DPW PAN Sumatera Utara juga memberdayakan 60 Kelompok
Husni Lubis, Wakil Ketua DPW PAN Sumatera Utara priode 2005-2010.
Wawancara tanggal 25 Juli 2016 di Medan melalui handphone.
45
46
M. Yunus, warga masyarakat Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang
Bedagai. Wawancara Cermin, tanggal 30 Juli 2016 di Kecamatan Pantai Cermin.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 213
Usasaha Bersama (KUBE) petani. Setiap KUBE diberi bantuan 15
juta untuk mengembangkan lahan pertanian milik mereka. Ke-60
KUBE tersebut menjadi kelompok binaan PAN pada periode 20052010. Dana bantuan yang diberikan berasal dari Ketua Umum DPP
PAN Soetrisno Bachir. Kelompok-kelompok ini menjadi saluran
komunikasi untuk mencitrakan poltik PAN. Selain memberdayakan
masyarakat, tetapi dalam konteks itu juga, visi misi politik PAN tetap
berjalan. Kelompok-kelompok yang ada tersebut, menjadi instrumen
untuk menyampaikan pesan-pesan politik PAN kepada masyarakat.
Upaya pembinaan kelompok yang dilakukan oleh PAN, tidak
hanya sekedar strategi politik pencitraan, tetapi kegiatan tersebut adalah
bagian dari kepedulian PAN terhadap kesejahteraan masyarakat. Bila
ditelaah dari perspektif kajian politik, PAN membangun komunikasi
intensif melalui saluran komunikasi kelompok, yang sengaja diciptakan
di masyarakat. Pendekatan ini secara emosional, dapat menggerakkan
masyarakat untuk memilih PAN pada saat pemilu, karena PAN
dianggap masyarakat sebagai partai yang peduli dengan mereka.
Artinya, PAN juga dalam hal ini meyakini bahwa pendekatan yang
demikian akan mampu mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap
PAN dan kemudian mereka akan memilih partai politik yang program
kerjanya paling rasional. Rasional artinya adalah programnya nyata dan
dirasakan manfaatnya secara langsung.
Dalam konteks tersebut, semua masyarakat pada akhrinya bisa
menilai, berpikir dan menganalisa mana partai yang memperhatikan
mereka dan mana yang tidak. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa saluran komunikasi kelompok merupakan salah satu upaya
yang dilakukan DPW PAN untuk membangun pencitraan politiknya.
Komunikasi kelompok merupakan satu bagian dalam upaya
memberdayakan masyarakat untuk menjadi corong informasi PAN
untuk membangun pencitraan. Tetapi bila diamati dari beberapa
informasi di atas, terlihat secara jelas bahwa komunikasi kelompok
sifatnya lebih formal, terorganisir dan terlembaga. Jadi terlihat bahwa
kelompok mempunyai kesatuan psikologi dan interaksi yang kuat dan
itu jugalah yang menguatkan ikatan emosional di antara kelompokkelompok tersebut.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
214 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Pencitraan Melalui Pesan Iklan Politik
Salah satu ciri negara demokrasi adalah terlaksananya pemilu
yang bertujuan untuk merebut kekuasaan melalui perjuangan
kompetitif dalam memperoleh suara rakyat. Maka menjadi
pemandangan yang biasa terlihat, partai maupun politisi menjelang
pemilu mulai hiruk pikuk menggalang dukungan rakyat dengan
cara membangun pencitraan melalui media massa. Menariknya
lagi, dinamika politik pencitraan tersebut ditandai dengan semakin
banyaknya parpol dan politis yang menggunakan iklan. Partai
maupun para politisi berlomba-lomba untuk mempopulerkan diri
dengan nama, nomor urut melalui iklan, baik itu di televisi, surat
kabar, majalah dan sebagainya.
Pemanfaatan iklan politik dianggap sebagai alat yang efektif
untuk mengangkat popularitas dan mengkontruksi pencitraan
politik partai maupun para politisi yang sedang berkompetisi.
Dengan kecepatan penyampaian pesanya, iklan menjadi alternatif
utama sebagai alat kampanye partai maupun para politisi, karena
dalam perspektif politik, pencitraan menduduki posisi penting untuk
mempengaruhi sikap politik masyarakat dan opini publik. PAN dalam
hal ini turut terlibat dalam pencitraan politik tersebut. Konstruksi
pencitraan yang dilakukan PAN bertujuan untuk membangun citra
positif PAN di mata masyarakat. Oleh karena itu, PAN sepanjang
tahun 2005-2015 berusaha mengemas sedemikian rupa citra politik
PAN agar mampu memikat hati masyarakat.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, untuk Sumatera
Utara misalnya, para politisi PAN mengiklankan partai dan para
politisinya melalui media massa cetak lokal. Sepanjang tahun 20052010, di berbagai media massa cetak lokal, ramai terlihat iklan-iklan
politik PAN, baik secara kepartaian maupun secara perorangan.
Iklan-iklan tersebut ada yang berbentuk ucapan selamat, dan ada
yang memperkenalkan bahwa dirinya adalah caleg dari PAN. Dalam
konteks ini, penulis melihat munculnya kesadaran para politisi
PAN bahwa pengiklanan partai dan dirinya melalaui media massa
adalah langkah awal perjuangan mereka untuk meraih simpatisme
masyarakat. Dalam kaitan inilah penulis melihat bahwa pencitraan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 215
politik menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika
demokrasi yang terus bergulir. Sebagaimana misalnya yang
dijelaskan oleh Yahdi Khoir Harahap.
Salah satu langkah PAN untuk memperkenalkan partai ini
kepada masyarakat di Sumatera Utara adalah membuat iklaniklan di surat kabar. Tujuan iklan tersebut umumnya adalah
untuk memberikan informasi dan membujuk masyarakat untuk
bersedia mengikuti apa yang diinginkan dalam iklan tersebut.
Misalnya, PAN mengiklankan dan mengajak agar mencoblos
PAN. Untuk pengiklanan ini, PAN pernah memboking Harian
Waspada satu halaman penuh untuk memuat gambar PAN di
dalamnya. Saat itu masa kepengurusan Soetrisno Bachir sebagai
Ketua Umum DPP PAN. Iklan tersebut sama seperti yang di
televisi, di mana saat itu jargon PAN hidup adalah perbuatan.
Iklan itu menurut saya sangat penting dibuat, meskipun
sebenarnya masyarakatpun sudah tau tentang PAN ini. Namun
demikian, untuk membangun citra yang baik, kemudian agar
masyarakat mengetahui program, visi, misi PAN, maka PAN
tetap membuat iklan yang diharapkan dapat menarik simpatik
masyarakat, khususnya di Sumatera Utara ini. Selain iklan partai,
ada juga beberapa anggota PAN yang membuat iklan tersendiri,
misalnya ada anggota yang menyampaikan ucapan selamat
dan sukses, selamat bertugas, atau ucapan belasungkawa dan
sebagainya. Kalaupun itu sifatnya pribadi, tetapi lambang PAN
atau sebutan sebagai anggota PAN tidak pernah lepas dari iklan
tersebut.47
Berdasarkan informasi di atas, dapat dipahami bahwa
PAN merasakan pentingnya pemanfaatan iklan sebagai upaya
membangun pencitraan politik partai. Dapat juga ditegaskan bahwa
PAN menempuh iklan politik sebagai salah satu upaya untuk
membangun pencitraan politik di Sumatera Utara. Bila diamati dari
beberapa iklan politik PAN, pencitraan yang dilakukan indentik
dengan menonjolkan diri dan partai. Misalnya ada sebutan “PAN
partai peduli rakyat”, “Bersama PAN kita bangun Sumatera Utara
yang sejahtera”, dan lain-lain. Konkritnya, tujuan iklan terlihat
47
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
216 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
dengan jelas adalah untuk membentuk persepsi masyarakat agar
berpandangan positif terhadap PAN. Fakta inilah yang mendukung
argumentasi penulis, bahwa iklan diperlukan dalam membangun
pencitraan politik, dan pencitraan itu diperlukan sebagai sarana
untuk menjual produk partai. Termasuk produk partai dalam hal ini
adalah para kader-kader PAN yang ditunjuk sebagai calon legislatif
(caleg) ataupun calon kepala daerah.
Sepanjang penelusuran yang dilakukan penulis terhadap
sejumlah iklan PAN, bahwa iklan-iklan tersebut adalah citra diri yang
mencerminkan para politisi PAN sebagai representasi masyarakat
umum. Iklan-iklan tersebut diproduksi untuk menciptakan citra
politik yang mendorong masyarakat memunculkan ketertarikan,
karena isu yang disajikan dalam iklan tidak terlepas juga dari
program partai. Konkritnya, dapat dipahami bahwa iklan yang
dibuat oleh PAN merupakan alat untuk membangun citra politik
sehingga mampu menarik simpatik masyarakat, dan pada akhirnya
dapat merebut kekuasaan. Iklan tersebut ada yang sifatnya di bayar
oleh partai kepada media, kemudian secara tidak langsung ada juga
pengiklanan yang dibuat melalui berita tidak berbayar. Misalnya,
ada kegiatan-kegiatan PAN yang di liput oleh media, dan media
menjadikannya sebagai berita, sehingga kegiatan itu juga menjadi
iklan yang dapat menambah informasi bagi masyarakat tentang PAN.
Apa yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara tentu merupakan
bahagian dari strategi untuk merebut perhatian masyarakat. Istilah
dalam marketing politik, bahwa iklan politik memainkan peran
strategi dalam perhelatan politik. Ini juga ditegaskan oleh Falkow
dan kawan-kawan sebagaimana dikutip Budi Setiyono, bahwa Iklan
politik berguna untuk beberapa hal, yaitu:
1.Membentuk citra kontestan dan sikap emosional terhadap
kandidat.
2.Membantu para pemilih untuk terlepas dari ketidak pastian
pilihan karena mempunyai kecenderungan untuk memilih
kontestan tertentu.
3.Alat untuk melakukan rekonfigurasi (memperbaiki figur) citra
kontestan.
4.Mengarahkan minat untuk memilih kontestan tertentu.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 217
5.Mempengaruhi opini publik tentang isu-isu tertentu.
6.Memberi pengaruh terhadap evaluasi dan interpretasi para
konstituen terhadap kandidat dan program politik.48
Dari analisis yang dilakukan penulis, pentingnya iklan politik
sangat relevan dengan kontelasi perkembangan politik di Indonesia,
terutama setelah pemilu menganut paham proporsional terbuka.
Artinya, bahwa seorang caleg misalnya, bisa terpilih atau tidak jika
suaranya lebih banyak dan memenuhi syarat keterpilihan. Bukan
lagi ditentukan secara tertutup berdasarkan nomor urut. Inilah
salah satu yang mendorong setiap politisi semakin bergairah untuk
memanfaatkan periklanan untuk membangu pencitraan politik.
Berkaitan dengan hal itu, maka dari pengamatan yang
dilakukan, secara umum partai-partai politik maupun para politisi
banyak memanfaatkan jasa iklan untuk membangun pencitraan
politik. Bukan hanya PAN, tetapi partai lain juga menggunakan iklan
untuk membangun pencitraan politik. Jelasnya, iklan menjadi bagian
komunikasi politik yang melekat dalam upaya mensosialisasikan
program partai, atau kefiguran seorang politisi. Terutama di era
kebebasan media, iklan politik dianggap sebagai strategi jitu dan
sangat penting untuk membangun pencitraan politik dan popularitas
partai maupun politisi. Istilahnya Yasraf Amir Piliang sebagaimana
dikutip Tinarbuko, iklan itu penting untuk membangun pencitraan
politik, karena mampu menghipnotis masyarakat, agar bersedia
memilih apa yang ditawarkan kepada mereka.
Dalam politik abad informasi, citra politik seorang tokoh yang
dibangun melalui aneka media cetak dan elektronik seakan
menjadi mantra yang menentukan pilihan politik. Melalui
mantra elektronik itu, maka persepsi, pandangan dan sikap
politik masyarakat dibentuk bahkan dimanipulasi. Ia juga telah
menghanyutkan para elit politik dalam gairah mengkonstruksi
citra diri, tanpa peduli relasi citra itu dengan realitas sebenarnya.
Politik kini menjelma menjadi politik pencitraan, yang merayakan
citra ketimbang kompetensi politik.49
Budi Setiyono, Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum
(Jakarta: AdGoal Com, 2008), h. 346-347.
48
49
Tinarbuko, Iklan, h. 7.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
218 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Apa yang dikemukakan di atas, merupakan realitas yang
tidak terbantahkan. Sebab di era informasi dan komunikasi yang
berkembang pesat pada saat ini, banyak terlihat iklan politik yang
mengenalkan identitas, jati diri dan sosok kelompok politik atau
yang dikenal dengan partai politik. Salah satu iklan partai politik
yang sering muncul sepanjang tahun 2005-2010 misalnya adalah
iklan politik PAN yang diketuai oleh Soetrisno Bachir. Iklan PAN
tersebut tentu tidak terlepas dari upaya membangun pencitraan
politik. Iklan yang dibuat oleh Soetrisno Bachir dimodifikasi secara
serius agar mampu memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.
Intensitas iklan tersebut semakin terlihat ketika waktu pemilu
semakin dekat. Hampir di semua stasiun televisi, bahkan di surat
kabar harian lokal, iklan tersebut dimuat dalam satu lembar penuh.
Untuk konteks sekarang misalnya, iklan politik yang sangat tinggi
spotnya adalah Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Dapat dilihat
bahwa hampir setiap hari, bahkan setiap jam iklan tentang partai
tersebut diputar, padahal pemilu 2019 masih lama. Tidak hanya
lambang yang disajikan, tetapi lagu partai Perindo juga dinyanyikan,
sehingga masyarakat pun mengetahui lirik mars partai Perindo
tersebut. Meskipun pemilu 2019 masih lama, partai Perindo sudah
berkampanye lebih awal melalui iklan-iklan politiknya. Di sinilah
terlihat, bahwa iklan sebagai strategi marketing politic memiliki peran
strategis dalam mempromosikan produk partai berupa visi, misi dan
program, sehingga partai tersebut semakin dikenal oleh masyarakat
Indonesia.
Dalam pengamatan penulis, iklan politik menjadi instrumen
penting dalam memandu kesadaran masyarakat untuk memilih suatu
partai atau seorang calon pemimpin. Iklan politik menjadi instrumen
kampanye politik lebih berkembang ketika para politisi menyadari
bahwa cara-cara konvensional seperti kampanye, temu muka,
silaturrahmi tidak cukup untuk memperkenalkan partai dan dirinya
kepada masyarakat. Kuatnya pengaruh iklan untuk membangun
pencitraan politik, sehingga iklan politik mendapatkan porsi yang
berlebih di berbagai media massa. Dalam kaitan ini, televisi menjadi
media yang paling diminati partai maupun para politisi untuk
beriklan karena dinilai lebih efektif menjangkau masyarakat. kondisi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 219
inilah kemudian yang memicu meningkatnya pembiayaan iklah
politik dari tahun-ke tahun. Dalam catatan data yang dikemukakan
AC Nielsen, biaya iklan politik pada tahun 2008 mencapai 2,2 triliun.
Angka ini naik 66 % dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya
1,31 triliun, atau jauh di bawah biaya iklan politik pemilu 1999
yang hanya 35,6 miliar. Tecatat juga bahwa menjelang pemilu 2014
misalnya, dana iklan yang paling banyak adalah Partai HANURA 70
miliar dan Partai Demokrat 56,8 miliar. Setelah kedua partai ini, PAN
tercatat sebagai partai pengiklan terbesar ketiga yang menghabiskan
dana sebesar Rp 43,8 miliar.
Terlepas dari besarnya biaya iklan tersebut, hal penting yang
perlu dicatat dari fenomena ini adalah bahwa efektivitas iklan politik
terjadi karena semakin berkembangnya pula media komunikasi.
Terutama meningkatnya kepemilikan televisi yang hampir dimiliki
oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari penduduk paling kumuh
sampai paling elit, bisa dipastikan memiliki televisi. Ini jugalah yang
mendorong partai dan para politisi untuk mengiklankan partai dan
dirinya melalui televisi, meskipun biayanya relatif mahal.
Hiruk pikuknya partai maupun para politisi untuk membangun
pencitraan politik melalui iklan, mendorong iklan saat ini sedang
berada di puncak kejayaan yang ditandai dengan munculnya iklaniklan politik di berbagai media. Iklan-iklan tersebut semakin kreatif
dan berbobot sehingga berhasil mempengaruhi masyarakat untuk
menentukan pilihannya terhadap satu partai. Seperti yang dilakukan
PAN misalnya, pada masa Soetrisno Bachir iklannya memperlihatkan
eksistensi PAN yang benar-benar berbuat untuk rakyat. Dalam iklan
tersebut juga menggambarkan berbagai potensi yang dimiliki oleh
bangsa Indonesia dan perlu dikelola bagus oleh orang-orang baik,
supaya apa yang diperbuat bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Demikian juga bila diperhatikan dalam konteks Sumatera Utara,
DPW PAN Sumatera Utara memanfaatkan iklan sebagai salah satu
upaya untuk membangun pencitraan politik. Sepanjang penelusuran
yang dilakukan terhadap dokumen terkait, PAN menyajikan iklan
yang variatif. Sebagai perpanjangan PAN di daerah, maka pada
periode 2005-2010 iklan PAN menyajikan jargon Soetrisno Bachir,
dan pada tahun 2010-2015, iklan PAN lebih banyak diwarnai kataPencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
220 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
kata merakyat, karena Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum DPP PAN
menetapkan slogan PAN sebagai partai yang merakyat. Tidak hanya
iklan Ketua Umum DPP PAN, tetapi iklan lain yang disampekan
DPW PAN Sumatera Utara adalah iklan politik berupa himbauan
untuk menghadiri kampanye akbar yang diprakarsai oleh PAN
Sumatera Utara. Sebagaimana dijelaskan Yahdi Khoir Harahap.
PAN Menyadari bahwa iklan politik itu sangat penting dalam
rangka mendukung suksesnya program partai ini. Iklan yang
disampaikan kepada masyarakat bukan hanya iklan ketua
umum. Tetapi ada juga kegiatan lain yang harus didukung oleh
iklan, seperti halnya kegiatan kampanye akbar yang diprakarsasi
oleh DPW PAN Sumut. Tentu kegiatan ini butuh banyak orang.
Di samping kita mengistruksikan kepada DPD sampai ranting,
tentu diiklankan melalui media massa. Bisanya, kalau ada
kampanya akbar yang dihadiri oleh jurkam nasional dan juga
Ketua Umum DPP PAN, itu pasti dibuat iklannya. Isi iklannya
itu berupa himbauan agar para kader maupun simpatisan
turut menghadirinya. Selama ini, iklan tersebut dapat memberi
pengaruh terhadap kader dan simpatisan PAN yang berasal
dari berbagai daerah. Pada kampanye-kampanye akbar mereka
datang. Sebenarnya, mereka itu ada yang digerakkan oleh
fungsionaris PAN di daerah atau di ranting masing-masing,
tetapi ada juga yang merasa tertarik untuk hadir. Biasanya
mereka adalah simpatisan PAN yang tertarik dengan programprogram PAN. 50
Sesuai dengan informasi di atas, dapat dipahami bahwa
iklan yang selama ini disampaikan PAN diberbagai media, dapat
meningkatkan rasa simpatik sebagian masyarakat terhadap PAN.
Simpatisme masyarakat mengalir kepada PAN, sehingga pada pemilu
tahun 2005-2009 PAN di Sumatera Utara berada pada posisi keenam,
dan pada tahun 2009-2014 berada diposisi kelima. Hasil ini semakin
mendorong PAN untuk berupaya meningkatkan eksistensi politiknya
melalui berbagai cara, termasuk dalam hal ini meningkatkan pencitra
politik partai melalui iklan politik di media cetak lokal. Harus diakui,
50
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 221
bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pencitraan politik adalah
menjaga hubungan baik dengan media massa.
Sejarah perpolitikan dunia, di mana para pemimpinnya bisa
unggul, juga karena dukungan iklan di media massa. Misalnya saja,
jika ditilik kepada pemilu Amerika, kemenangan Barack Obama dua
kali berturut-turut dalam pilpres di Amerika Serikat, tidak terlepas
dari peran media. Media memberikan kesempatan seluas-luasnya
untuk beriklan memperkenalkan obama sebagai kandidat presiden,
meskipun masyarakat Amerika sudah kenal dengan Obama. Demikian
juga dengan pemenangan SBY, tidak terlepas dari media dan iklaniklan yang ditayangkan. Pencitraan SBY setelah ditayangkan berkalikali melalui iklan di media, akhirnya menarik simpati rakyat Indonesia
untuk memilih SBY pada periode yang kedua.
Sajian realitas inilah kemudian yang mendorong partai maupun
para politisi untuk memanfaatkan iklan sebagai media pencitraan
politik. Monopoli iklan politikpun terjadi di sejumlah media, terutama
yang pemilik medianya berasal dari partai politik. Porsi iklan yang
ditampilkan pun sudah tidak sesuai dengan peraturan KPU. Iklaniklan politik yang ditampilkan pun, durasinya jauh berbeda dengan
iklan politik yang hanya memasang iklan selintas. Monopoli pemilik
media inilah yang dirasakan partai politik yang ketepatan tidak
memiliki media. Maraknya monopoli iklan politik yang terjadi di
sejumlah media, menyiratkan bahwa media sudah beralih kepada
kapitalisme. Kepentingan media tidak sepenuhnya menyalurkan
informasi yang berimbang. Kepentingan media bahkan “disandera”
pemilik modal.51
Terlepas dari kondisi tersebut, bila diperhatikan iklan-iklan yang
disajikan oleh PAN Sumatera Utara, maka secara keseluruhan iklan
tersebut dapat dikategorikan kepada tiga macam, yaitu: Pertama,
iklan yang bertujuan untuk mengajak masyarakat agar bergabung
dengan PAN untuk melakukan perubahan ke arah kehidupan yang
lebih baik dan sejahtera. Kedua, iklan PAN menunjukkan kepedulian
51
Anang Anas Azhar, “ Media dan Iklan Politik” dalam Harian Analisa, tanggal
13 Pebruari 2014.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
222 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
terhadap rakyat, sehingga mengajak agar secara bersama-sama
untuk menegakkan keadilan untuk semua masyarakat di Sumatera
Utara. Ketiga, PAN melihat bahwa kondisi bangsa Indonesia perlu
pengelolaan yang bagus sehingga dapat dimanfaatkan untuk
kesejahteraan rakyat.
Secara teoritis, iklan politik yang dilakoni oleh PAN terbagi
kepada dua cara, yaitu yang pertama lewat cara-cara gratis melalui
peliputan reguler media terhadap kegiatan politisi PAN maupun
partai. Kemudian yang kedua, dengan membayar ke media massa
cetak maupun elektronik, lokal maupun nasional. Bentuk iklan
berbayar dalam pengamatan penulis berupa gambar dan jargon yang
dimuat dalam media, dan yang tidak berbayar adalah berupa liputan
berita kegiatan yang dilakukan oleh PAN. Perbedaan di antara kedua
iklan ini, bahwa dalam iklan politik yang mana partai atau politisi
memutuskan seperti apa mereka ditampilkan dan apa yang mereka
ucapkan dan berapa lama durasi waktu yang mereka inginkan.
Sedangkan untuk yang sifatnya berita, tidak ada aturan main yang
ditetapkan. Maka sangat wajarlah ketika AC Nielsen menempatkan
PAN sebagai partai ketiga terbanyak yang mengeluarkan dana
iklan untuk pencitraan politik partainya. Dengan demikian, jika
diperhatikan dari besarnya dana iklan yang digunakan PAN, dapat
ditarik kesimpulan bahwa PAN adalah partai yang paling serius
melakukan pencitraan politik melalui iklan politik.
Pencitraan Melalui Program Unggulan Partai
Politik merupakan cara seseorang mempengaruhi orang
lain supaya tertarik. Dalam istilah lainnya, dunia politik adalah
dunia pertarungan yang membutuhkan strategi dan taktik untuk
memenangkannya. Strategi pencitraan yang dilakukan partai politik,
merupakan salah satu faktor dalam menentukan kemenangan dalam
kontestasi politik. Di samping itu, pendekatan program kerja partai
politik juga memiliki pengaruh yang cukup kuat untuk membangun
pencitraanya terhadap masyarakat, sehingga dengan pencitraan itu
masyarakat bisa terpengaruh dalam menentukan pilihannya.52
52
Tanggapan dan penilaian masyarakat merupakan unsur penting dalam
pencitraan, karena citra adalah seperangkat keyakinan, ide dan kesan seseorang
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 223
Salah satu langkah politik yang dapat dilakukan untuk
mempengaruhi masyarakat adalah melakukan pencitraan politik
lewat program. Sebagaimana bisa dipastikan, bahwa setiap partai atau
setiap calon yang maju dalam pemilihan umum, baik itu pemilihan
presiden, pemilihan gubernur atau pemilihan bupati, tentu memiliki
program kerja yang akan ditawarkan kepada masyarakat. Sebab
itu, dalam menetapkan program tersebut, partai dan para politisi
semestinya memperhatikan potensi yang ada dalam masyarakat.
Dengan memperhatikan potensi tersebut, maka masyarakat bisa
merasa terwakili dengan program-program kerja yang ditawarkan
kepada mereka. Hal ini sangat penting, karena bisa mendorong
semakin kuatnya citra politik partai atau seorang calon, dan secara
otomatis kalau masyarakat sudah tertarik, mereka akan memberikan
suaranya kepada partai atau calon yang dirasa mewakili dirinya.
Dalam kaitan itu, upaya DPW PAN Sumatera Utara untuk
membangun pencitraan politik yang dapat merebut hati rakyat,
ternyata tidak selamanya dengan menggunakan uang. Seperti rumor
yang selama ini berkembang di masyarakat, bahwa uanglah segalagalanya yang menentukan kemenangan partai atau seorang politisi
yang sedang mengikuti kontestasi politik. PAN Sumatera Utara
menyadari bahwa meskipun uang tidak dapat dinapikan dari prosesi
perpolitikan, namun uang bukanlah segala-galanya yang dapat
menentukan kemenangan. Bahkan masyarakat juga menyadari akan
hal itu, bahwa bukan uang tidak dapat memberikan perubahan,
sehingga sejumlah masyarakat kadang-kadang tidak memilih partai
atau memilih politisi yang menabur-naburkan uang. Meskipun
mereka mengambil uangnya, tetapi mereka tidak memilih partai atau
politisi yang menaburkan uang.
Justru sebaliknya, orang yang dipilih masyarakat adalah para
politisi yang visi misi yang jelas, kemudian memiliki program yang
bagus, dan program tersebut dapat dirasakan secara langsung
manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan, bahwa tingkat
kesadaran politik masyarakat sudah mulai meningkat, karena tidak
terhadap suatu obyek tertentu. Dengan demikian, sikap dan tindakan seseorang
terhadap satu obyek, akan ditentukan oleh citra obyek bersangkutan, apakah
tampilannya menarik atau tidak.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
224 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
selamanya suara mereka bisa diperjual belikan. Sebahagian besar
masyarakat pemilih, tidak lagi mendasari pilihannya kepada partai
yang memiliki uang, tetapi mereka memilih partai yang benar-benar
mampu memperjuangkan aspirasi mereka, atau partai yang memiliki
program nyata dan kegiatan real bagi masyarakat.
Dalam melihat pergeseran kesadaran tersebut DPW PAN
Sumatera Utara semakin menguatkan program partai yang pro
rakyat. Sebagaimana dijelaskan Parluhutan Siregar, bahwa DPW
PAN Sumatera Utara sama seperti partai-partai lain yang tentu tidak
terlepas dari pencitraan, karena itu adalah salah satu strategi partai
untuk memperkenalkan partai ini kepada masyarakat, sekaligus
sebagai upaya merebut simpatik masyarakat. Dalam kaitan itu kata
Parluhutan Siregar, pengurus DPW PAN Sumatera Utara menyadari
pentingnya pencitraan. Namun demikian, dalam melakukan
pencitraan, semua kader di wanti-wanti agar tetap menjaga nama
baik organisasi, dan tidak menghalalkan segala cara. Misalnya,
dalam even-even politik, apa saja itu evennya, semua kader di larang
melakukan praktek politik uang.
Kita memang mengakui bahwa uang itu dapat membantu
popularitas. Itu sah-sah saja sepanjang tidak menyalahi aturan
partai. Kalau seorang kader kunjungan ke dapilnya, lalu dia kasih
uang kepada orang yang dianggapnya berjasa membantunya
di dapilnya atau memberikan bantuan berupa uang kepada
masyarakat di dapilnya, itu sah-sah saja. Hal yang dilarang,
ketika sedang berlangsung kontestasi politik, lalu dia bagi-bagi
uang agar ia di pilih. Hal seperti itu tidak boleh ada di PAN.
Kita dari pengurus DPW PAN Sumatera Utara, menganjurkan
agar membuat kebijakan-kebijakan dan program-program
yang pro rakyat, karena itu akan lebih terasakan oleh rakyat
ketimbang memberikan uang 50 ribu. Jadi kita pun sekarang,
terus melakukan pembenahan terhadap program-program kerja.
Misalnya, dari pengurus yang lalu-lalu, kalau baik programnya
dilanjutkan, kalau kurang baik di evaluasi dan dijadikan bahan
pertimbangan. Jadi intinya, kita pengurus PAN Sumatera Utara,
memfokuskan pada perumusan program kerja yang pro rakyat.53
53
Parluhutan Siregar, Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015
juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 2005-2009 daerah pemilihan Sumur 11,
Binjai Langkat, anggota DPRD Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 225
Berdasarkan informasi di atas, dapat dipahami bahwa
kecenderungan pengurus PAN Sumatera Utara dalam membangun citra
partai adalah melalui penguatan program kerja. Untuk membangun
pencitraan yang baik di masyarakat, isu-isu kemasyarakatan dan
kebijakan politik merupakan presensi program yang sangat diutamakan
oleh PAN Sumatera Utara. Dengan menguatkan program kerja yang
dapat memberikan manfaat besar kepada masyarakat, PAN Sumatera
Utara meyakini akan semakin menjadikan partai tersebut semakin
dicintai masyarakat. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan terhadap
dokumen milik DPW PAN Sumatera Utara, terdapat sejumlah program
kerja yang telah disusun oleh partai. Namun program-program tersebut
dapat dikategorikan secara umum kepada kepada empat, yaitu bidang
kesehatan, kesejahteraan masyarakat, pendidikan dan perkaderan, serta
sosial keagamaan. Program-program ini tersusun secara priodek, ada
yang dalam bentuk jangka panjang, janga menengah dan jangka pendek.
Tetapi pada prinsipnya, semua program yang telah dirumuskan,
arahnya adalah untuk menguatkan PAN sebagai partai yang benarbenar pro rakyat.
Dari penelusuran yang dilakukan terhadap dokumentasi DPW
PAN Sumatera Utara pada tahun 2005-2015, diperoleh informasi
bahwa secara garis besar program DPW PAN Sumatera Utara
sama dengan partai-partai lainnya. PAN memiliki program yang
meliputi bidang kesehatan, bidang kesejahteraan masyarakat,
penegakan supremasi hukum, pendidikan dan perkaderan, program
pembangunan dan program sosial keagamaan.
Pertama, Program bidang kesehatan misalnya, DPW PAN
memiliki satu program kesehatan yang bekerja sama dengan Rumah
Sakit Muhammadiyah, di Jalan Thamrin Medan. Program kesehatan
merupakan salah satu upaya yang dilakukan DPW PAN Sumatera
Utara untuk membangun pencitraan politik. Sepanjang tahun 20052010, program kesehatan dijalankan secara berkesinambungan.
Bahkan program kesehatan ini berjalan sampai periode kepengurusan
tahun 2015-2020. Model program kesehatan tersebut dikenal namanya
dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) bersantunan yang diprakarsai
oleh DPW PAN Sumatera Utara periode 2005-2010.
Sumut 6 Tabagsel. Wawancara tanggal 6 Juni di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
226 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis dari fungsionarsi
PAN, program KTA bersantunan ini adalah bentuk kepedulian
PAN terhadap sulitnya mendapatkan perobatan bagi orang miskin,
sebagaimana dijelaskan Akrim Ashal Lubis, bahwa PAN Sumatera
Utara adalah partai yang peduli terhadap masyarakat, terutama
masyarakat miskin. Salah satu wujud kepedulian PAN terhadap
masyarakat miskin yaitu dengan membantu masyarakat dalam bidang
kesehatan. PAN Sumatera Utara memiliki program kesehatan yang
disebut dengan KTA bersantunan. Sejak 2005 sampai sekarang program
tersebut sudah disepakati sebagai program unggulan, karena PAN
bisa bekerja sama dengan rumah sakit Muhammadiyah yang ada di
jalan Tamrin Medan. Selama KTA bersantunan dijalankan mulai 2005
sampai sekarang, jumlah anggotanya sudah mencapai 360 ribu orang
untuk seluruh Sumatera Utara dan paling banyak berasal dari Kota
Medan yaitu sebanyak 10 ribu anggota. Program KTA bersantunan di
Sumatera Utara pernah meraih award dari Ketua Umum DPP PAN yang
waktu itu Soetrisno Bachir, karena mampu merekrut anggota KTA di
atas 300 ribu orang. Pada saat itu Soetrisno Bachir memberikan bantuan
300 juta kepada DPW PAN Sumatera Utara. Umumnya anggota KTA
bersantunan berasal dari keluarga tidak mampu karena program ini
hampir sama degan program pemerintah, misalnya Askes dan BPJS.
Kita memiliki program KTA bersantunan namanya. Tujuan
program ini adalah untuk memberikan santunan bagi anggota
PAN yang kemalangan, seperti salah satu keluarga meninggal, atau
salah seorang anggota mengalami kecelakaan dan cacat. Kepada
mereka yang mengalami hal tersebut diberikan bantuan sebesar 1
juta. Pemberian santunan bagi salah satu anggota keluarga yang
meninggal diberikan secara langsung oleh DPW PAN Sumatera
Utara di lokasi kemalangan pada malam ke 3 dan disaksikan oleh
jamaah yang hadir pada acara takziyah tersebut. Sedangkan bagi
anggota yang cacat karena kecelakaan, diberikan secara langsung ke
rumah bersangkutan. Bahkan mereka yang mengalami kecelakaan,
kemudian di rawat di rumah sakit Muhammadiyah, kalau memang
mereka adalah salah satu anggota KTA bersantunan, mereka akan
diberikan perobatan gratis.54
54
Akrim Ashal Lubis, Direktur KTA bersantunan DPW PAN Sumatera Utara
Periode 2005-2010. Wawancara tanggal 22 Juli 2016 melalaui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 227
Kedua, program unggulan DPW PAN Sumatera Utara adalah
dalam bidang kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan penelusuran
yang dilakukan penulis, program bidang kesejahteraan masyarakat
adalah program yang berkaitan erat dengan peningkatan taraf hidup
masyarakat. Dalam hal ini, DPW PAN Sumatera Utara memiliki
kelompok-kelompok binaan di masyarakat yang tujuannya untuk
peningkatan ekonomi kelas menengah ke bawah. Misalnya seperti
yang dilakukan PAN Sumatera Utara di Labuhan Batu, dengan
memberdayakan 60 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Kelompok ini
merupakan para petani yang diberdayakan dan diberi bantuan oleh
PAN Sumut, agar para petani tersebut mengelola lahan pertanian
mereka dengan baik, agar hasil pertaniannya semakin bagus. Progam
kesejahteraan ini juga berkaitan dengan pemberdayaan industri rumah
tangga, berupa usaha rakyat, seperti usaha tempe, usaha keripik,
kerajinan tangan, sebagaimana yang dilakukan PAN di daerah Serdang
Bedagai. Program ini merupakan salah satu bentuk kepedulian PAN
dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Termasuk dalam mendorong kesejahteraan masyarakat PAN
terus melakukan presure kepada pemerintah agar meratakan
pembangunan di Sumatera Utara. Dalam hal ini, PAN mendorong
pemerintah untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan
oleh masyarakat, seperti jalan utama perkampungan yang
dapat menunjang aktifitas pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pembangunan tersebut merupakan isu penting yang senantiasa
disuarakan oleh PAN, karena PAN sebagaimana dalam jargon Hatta
Rajasa adalah sebagai partai yang merakyat. Program pembangunan
yang ditawarkan kepada masyarakat, merupakan salah satu upaya
PAN Sumatera Utara untuk membangun pencitraan politik. Untuk
menyukseskan program tersebut, anggota DPRD yang berasal dari
PAN di seluruh tingkatan di anjurkan untuk menggiring anggaran ke
daerah pemilihan masing-masing, sehingga apa yang sudah dijanjikan
pada saat kampanye dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh
masyarakat di dapil masing-masing. Misalnya, ada Bantuan Daerah
Bawahan (BDB), anggota PAN mencoba untuk menggiring itu ke
dapil masing-masing sehingga dapat mempercepat pembangunan
daerah dan membantu perkembangan kesejahteraan masyarakat.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
228 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Upaya yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti dipahami,
bahwa terdapat sebagian masyarakat yang menjadikan kesejahteraan
sebagai tolak ukur negara demokrasi. Ketika kesejahteraan membaik,
maka masyarakat akan memuji demokrasi, tetapi sebaliknya, ketika
kesejahteraan masyarakat tidak juga membaik, maka mulailah
masyarakat meragukan demokrasi. Artinya, masyarakat menjadi
apatis, pesimis dan sebagainya, sehingga seringkali muncul katakata masyarakat yang membandingkan demokrasi dengan era masa
lampau. Ungkapan, lebih baik masa dulu dari pada sekarang. Sikap
tersebut tentu memunculkan keinginan untuk kembali ke masa
lampau dan cenderung menyalahkan demokrasi.
Ketiga, program unggulah PAN adalah pendidikan dan perkaderan.
Program bidang pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat
diperhatikan oleh PAN Sumatera Utara. Perhatian PAN Sumatera
Utara dalam pendidikan, diimplementasikan lewat pemberian beasiswa
kepada anak-anak sekolah yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Tidak hanya partai secara kelembagaan yang melakukan ini, tetapi
sejumlah kader pun pada saat-saat tertentu turut memberikan bantuan
beasiswa kepada siswa siswi berprestasi dan berasal dari keluarga tidak
mampu. Seperti halnya yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara
periode 2005-2010, yang memberikan beasiswa kepada anak-anak yang
kurang mampu lebih kurang 2000 orang. Kegiatan tersebut dilaksanakan
di Asrama Haji Medan bertepatan dengan kegiatan pelantikan DPW
PAN Sumatera Utara. Kegiatan pemberian beasiswa juga dilakukan
oleh Kamaluddin Harahap secara pribadi kepada 1000 orang anak
kurang mampu, sekaligus memberikan santunan kepada fakir miskin
dan keluarga kurang mampu.
Selain memberikan beasiswa kepada keluarga tidak mampu,
PAN Sumatera Utara juga sangat perhatian kepada nasib para guru
honorer. Dalam hal ini, DPW PAN Sumatera Utara terus-menerus
bersuara menyampaikan aspirasi pada guru honorer agar diangkat
menjadi PNS. Ini dilakukan PAN, bukan hanya untuk sekedar
pencitraan, tetapi peduli terhadap pendidikan adalah program
unggulan yang senantiasa di kedepankan oleh PAN Sumatera utara,
maupun DPD PAN yang ada di daerah-daerah.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 229
Dalam bidang perkaderan misalnya, PAN sangat perduli dan
konsen memperhatikan hal tersebut. Perkaderan merupakan salah
satu ujung tombak untuk menguatkan citra politik PAN, sehingga
bagi setiap kader PAN diwajibkan untuk senantiasa mengikuti
perkaderan yang ada di PAN. Secara formal misalnya, PAN
memberlakukan model perkaderan tiga tingkatan mulai dari kader
amanat dasar (KAD), kemudian kader amanat madya (KAM) dan
ketiga kader amanat utama (KAU). Tujuan perkaderan ini adalah
untuk memperkuat komitmen dan loyalitas terhadap PAN sebagai
partai aspirasi perjuangan. KAD diperuntukkan bagi kepengurusan
DPD PAN di Kabupaten Kota, KAM untuk kepengurusan DPW
Propinsi sedangkan KAU dipersiapkan kepengurusan PAN di pusat.
Namun di luar perkaderan formal ini, PAN melakukan perkaderan
dengan merekrut generasi muda, yang bersimpati kepada PAN.
Kegiatan ini dilakukan dengan suasana yang lebih santai dalam
rangka memperkenalkan PAN kepada mereka, sehingga dari sini
diharapkan muncul generasi PAN yang loyal, dan menjaga nilai-nilai
dasar perjuangan PAN.
Dari penelusuran yang dilakukan penulis, PAN menyadari
betul, bahwa dengan tetap melaksanakan perkaderan, akan
bermunculan kader-kader yang berkualitas, sehingga perkaderan
dilakukan secara berkesinambungan di semua tingkatan. PAN
juga menyadari bahwa masa depan partai tersebut ditentukan oleh
kemampuan para kadernya untuk menterjemahkan visi, misi dan
platform partai. Menurut teori political marketing, platform merupakan
salah satu bentuk identitas yang sering dijadikan partai sebagai
upaya membangun citra. Seperti pembentukan citra dalam dunia
bisnis, pembentukan citra dalam partai politik juga tidak dapat
dilakukan dalam waktu singkat. Terutama bagi partai politik yang
tergolong sedang berkembang semisal PAN, tentu pencitraannya
tidak sebanding dengan kuatnya pencitraan partai-partai lama.
Bagi partai politik lama, seperti Golkar dan PDI Perjuangan, citra
mereka sudah melekat erat dengan keberadaannya. Partai Golkar
yang dikenal sepanjang sejarah, telah memunculkan pencitraan
sebagai parpol pemegang kekuasaan. Demikian juga dengan PDI
Perjuangan walaupun umurnya 10 tahun, tapi landasan kulturalnya
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
230 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
membuat pencitraan partai tersebut dikenal sebagai partai wong
cilik, nasionalis, Soekarnois.
Berdasarkan alasan itu, penulis melihat bahwa perkaderan PAN
mengarah kepada peningkatan kualitas kader dalam memahami
asas PAN, dan pemahaman terhadap azas tersebut merupakan
hasil dari sebuah proses pembicaraan panjang yang mensyaratkan
adanya kapasitas intelektual. Hal itu hanya bisa didapatkan kader
melalui perkaderan yang berkesinambungan. Kader-kader yang
paham tentang hal tersebut tentu sangat dibutuhkan, sehingga
kontinuitas PAN sebagai partai modern dan partai masa depan
dapat dipertahankan. Hal ini hanya dapat dilakukan jika perkaderan
dilakukan secara berkesinambungan. Parluhutan Siregar juga
menegaskan pada sesi wawancara yang dilakukan penulis.
Perkaderan di PAN ini harus dikelola dengan bagus. Apa yang baik
di masa lampau, itu perlu dikembangkan ke depan sesuai dengan
tuntutan perkembangan. Saya pikir, PAN ini adalah partai kader.
Jadi untuk mendukung perkembangan PAN ini, mau tidak mau
harus dilakukan perkaderan-perkaderan. Rekrutmen kader-kader
potensial tentu menjadi satu keharusan. Hasil dari perkaderan
itu diharapkan akan memunculkan kader-kader yang komitmen
dan loyal dalam mendukung perjuangan partai. Loyalitas dan
idealisme kader itulah kadang-kadang yang sudah mulai terkikis
sekarang ini. Tapi untuk mengatasi itu, perkaderan harus jalan
terus. Perkaderan itu ibarat nafasnya organisasi. Kader-kader itu
yang akan dipersiapkan untuk memimpin partai ini di masa yang
akan datang. Sehingga karena kader adalah produknya partai,
maka produk tersebut tentu harus dikemas bagus, sehingga kalau
kadernya bagus, otomatis partainya juga akan bagus juga.55
Dalam proses rekrutmen kader partai, PAN pada prinsipnya
tidak membeda-bedakan orang yang ingin bergabung dengan PAN.
Bahkan, para kader PAN terbuka untuk semua elemen masyarakat,
mulai dari lintas pemuda, lintas budaya, lintas suku dan lintas
agama. PAN tidak membatasi bahwa kader PAN harus dari orang
55
Parluhutan Siregar, Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015
juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 2005-2009 daerah pemilihan Sumur 11
(Binjai Langkat), anggota DPRD Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan
Sumut 6 (Tabagsel). Wawancara tanggal 6 Juni melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 231
Muhammadiyah. Maka dalam kaitan ini, perkaderan merupakan
sebagai upaya untuk menguatkan visi, misi dan ideologi partai pada
diri seorang kader, sehingga kader tersebut dapat menjadi ujung
tombak public relation dari PAN itu sendiri.
Keempat, program sosial dan keagamaan juga merupakan
program unggulan yang senantiasa dikedepankan oleh partai
maupun politisi PAN Sumatera Utara. Untuk menguatkan pencitraan
politik, hampir semua partai senantiasa melakukan kegiatan yang
bersifat sosial keagamaa. Misalnya, memberikan bantuan kepada
masyarakat miskin, mendatangi masyarakat yang sedang ditimpa
musibah, mengikuti acara hari-hari besar Islam, menyampaikan
ucapan selamat pada hari-hari keagamaan. Ini menjadi ajang bagi
partai maupun politisi untuk melakukan pencitraan politik.
DPW PAN Sumatera Utara sebagai partai politik, juga melakukan
hal tersebut. Bahkan dari penelusuran yang dilakukan penulis,
dijumpai sejumlah fakta bahwa baik secara kepartaian maupun
perorangan, kegiatan sosial keagamaan sering dimanfaatkan partai
maupun politisi PAN untuk membangun pencitraan. Kegiatan sosial
misalnya adalah segala sesuatu kegiatan yang berkaitan erat dengan
kemasyarakatan. Beberapa kegiatan yang terkait dalam konteks ini
di antaranya, PAN melaksanakan kegiatan penyantunan terhadap
anak yatim, berkunjung ke panti asuhan, melakukan sunatan
massal, menyediakan buka puasa gratis dan sebagainya. Bahkan
DPW PAN Sumatera Utara juga tidak jarang terjun ke masyarakat
untuk menunjukkan kepedulian terhadap bencana yang melanda
masyarakat. Seperti halnya musibah meletusnya gunung Sinabung,
PAN dengan segenap jajarannya mengumpulkan bantuan berupa
uang, sembako dan pakaian yang kemudian diserahkan kepada
masyarakat pengungsi erupsi gunung Sinabung. Pada tahun
2007, DPW PAN Sumatera Utara juga meninjau secara langsung
kondisi masyarakat Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal yang
mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor. Sama seperti
masyarakat korban erupsi gunung Sinabung, PAN juga memberikan
bantuan kepada masyarakat Kotanopan berupa tenda-tenda darurat,
makanan instan sebagai advokasi awal bagi masyarakat yang ditimpa
musibah di Mandailing Natal Keccamatan Kotanopan tahun 2007.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
232 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Bila ditinjau dari sudut pandang politik, bahwa pencitraan yang
dilakukan PAN Sumatera Utara lewat program unggulannya, ditujukan
kepada seluruh masyarakat, baik itu warga Muhammadiyah maupun
bukan Muhammadiyah, Islam maupun non Islam. Bahkan pencitraan
politik PAN tidak memandang kelas sosial. Ini menunjukkan bahwa
PAN merupakan partai terbuka (inklusif) yang memiliki kepedulian
terhadap masyarakat. PAN bukan partai Muhammadiyah seperti
yang digambarkan kebanyakan orang, terutama orang-orang yang
tidak paham tentang PAN. Melalui program unggulan tersebut, PAN
menunjukkan bahwa partai tersebut adalah partai terbuka. Baik itu
dalam kaitannya dengan pola perekrutan kader yang terbuka secara
umum bagi simpatisan yang ingin masuk ke PAN. Konsistensi
PAN untuk menjalankan program kepartaian, termasuk bagian dari
upaya pembentukan citra politik. Intensitas komunikasi politik dan
pencitraan politik yang baik, sebagaimana yang dilakonkan PAN
melalui program unggulannya, tentu akan menambah penilaian baik
pula dari masyarakat.
Pencitraan Melalui Jargon Politik
Dalam catatan sejarah perpolitikan Indonesia, umur Partai Amanat
Nasional (PAN) pada tanggal 23 Agustus 2016 genap berusia 18 tahun.
Sebagai partai politik yang lahir dari rahim reformasi, PAN sudah
banyak memberi inspirasi bagi rakyat Indonesia. Inspirasi PAN salah
satunya membuka kran demokrasi politik Indonesia. Ini dimulai dari
kran konstitusi melalui amandemen UUD 1945 sampai perubahan UU
pemilihan presiden/ wakil presiden ketika tokoh reformasi Amien Rais
menjabat sebagai Ketua MPR RI. Partai ini dikenal sebagai partai modern
yang diharapkan dapat mengubah mindset masyarakat Indonesia.
Mengubah cara pandang rakyat terhadap kondisi real politik Indonesia.
Apalagi pasca runtuhnya rezim Soeharto yang berkuasa selama 32
tahun, banyak agenda yang harus dikawal, seperti penegakan supremasi
hukum, pemberantasan korupsi dan nepotisme yang berkelindan di
sekitar pejabat-pejabat negara.
Seiring dengan perjalanan politik bangsa, PAN terus bergerak
untuk mensejajarkan diri dengan partai-partai lainnya. PAN terus
berupaya untuk membangun pencitraan politik yang baik di mata
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 233
masyarakat. Salah satu upaya pencitraan politik yang dilakukan PAN
adalah melalui jargon-jargon politik. Bila diikuti penjelasan Chaer dan
Agustina, jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas
oleh kelompok sosial tertentu.56 Dengan demikian, jargon dipahami
sebagai entitas sebuah komunitas budaya tertentu yang bisa berupa
tradisi turun-temurun maupun tradisi baru yang tercipta secara alami
sesuai dengan interaksi yang terjadi di dalamnya. Tetapi yang jelas,
dalam ranah politik, penggunaan bahasa jargon sangat berkaitan erat
dengan sistem dan strategi mendapatkan kekuasaan, karena politik
merupakan jalan yang sah untuk meraih legalitas kekuasaan.
Dalam pengamatan penulis, munculnya jargon-jargon tersebut
berkaitan erat dengan fenomena sosial dan kultural yang muncul
saat itu. Pelaksanaan pemilu di Indonesia misalnya, setelah berlaku
multipartai, drastis model kampanye partaipun turut berubah. Pola
pendekatan yang dilakukan partai maupun para politisi kepada
masyarakatpun berbeda-beda. Kemudian, pencitraan politikpun
semakin banyak dipraktikkan oleh partai maupun politisi yang
mencalonkan diri sebagai pemimpin. Salah satu strategi pencitraan
politik yang dimaksud yaitu penggunaan jargon-jargon dalam media
kampanye, seperti spanduk, baliho dan sebagainya.
Penggunaan jargon ini jugalah yang dilakukan DPW PAN
Sumatera Utara sebagai penuturan khas untuk membangun
pencitraan, sehingga masyarakat sebagai konstituen tertarik kepada
PAN. Dalam catatan penulis, sejak PAN didirikan, setiap berganti
ketua umum berganti pula jargon yang didengungkan. Misalnya,
pada saat Amien Rais jadi ketua umum DPP PAN, jargon politik
yang diusung PAN adalah “Menuntaskan Reformasi”. Jargon ini
didengungkan PAN, karena PAN merupakan partai reformasi,
dan saat Amien Rais sebagai ketua umum DPP PAN, Amien rais
menganggap bahwa reformasi belum tuntas. Oleh sebab itu, agenda
reformasi perlu dilanjutkan, dan PAN dalam kaitan itu berada di level
terdepan untuk menuntaskan agenda reformasi yang belum tuntas.
Oleh sebab itu, PAN mengispirasi untuk melakukan amandemen
UUD 1945. Di antara isi amandemen tersebut mengubah sistem
56
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta:
PT Rineka Cipta, 2004), h. 68.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
234 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
pemilihan presiden/wakil presiden dari sistem perwakilan di MPR/
DPR RI menjadi sistem langsung. Ini mendapat perhatian yang bagus
dari seluruh rakyat Indonesia. Namun demikian, jargon PAN tersebut
dianggap terlalu elitis, dan kerja yang dilakukan untuk menuntaskan
reformasi hanya melibatkan kalangan tertentu.
Itulah sebabnya jargon tersebut perlu dirubah, agar PAN menjadi
milik semua masyarakat Indonesia. Karena dengan jargon tersebut,
PAN dicitrakan sebagai partai modern kelas menengah ke atas dan
kelas perkotaan. Dengan demikian, untuk menyahuti seluruh aspirasi
masyarakat, maka jargon PAN dirubah pada masa kepemimpinan
Soetrisno Bachir. Jargon yang dikemukakan Soetrisno Bachir, yaitu
“Hidup Adalah Perbuatan”. Soetrisno Bachir ingin mengajak seluruh
pengurus dan kader PAN agar berbuat melalui program kerja nyata.
Sebab dengan perbuatan nyata itulah PAN akan dilihat oleh masyarakat.
Program real dan kerja nyata ditunjukkan melalui kader-kadernya dan
ditujukan untuk kepentingan seluruh umat. Jargon yang digunakan
Soetrisno Bachir ini mengindikasikan penegasan adanya keinginannya
agar keberadaan PAN dapat memberikan manfaat kepada seluruh
masyarakat.
Perbuatan pada masa hidup, merupakan suatu hal yang akan
dikenang oleh orang lain pada masa yang akan datang. Dalam konteks
politik, jargon ini sengaja di produksi dengan sebaik mungkin lalu
disosialisasikan ke publik dengan tujuan untuk membangun pencitraan.
Pada kasus ini dapat dilihat, pemanfaatan jargon tersebut sebagai alat
politik pencitraan. Hampir di seluruh stasiun televisi, iklan Soetrisno
Bachir tampil dengan jargonnya, bahkan diberbagai surat kabar lokal,
iklan dengan jargon tersebut dimuat besar-besar, sehingga muncul isu
bahwa Sutrisno Bachir adalah calon presiden dari PAN. Dari sini dapat
dilihat, bahwa pengucapan jargon tersebut tidak semata-mata sebatas
sosialisasi partai, namun muatan politisi lain yang terkemas di dalamnya
bertujuan untuk membentuk citra politik yang saat itu sebagai ikon PAN
adalah Soetrisno Bachir.
Pencitraan PAN tidak sampai disitu, pada masa kepemimpinan
Hatta Rajasa, jargon PAN pun berubah. Tetapi menariknya pada
periode ini, terjadi dua kali perubahan jargon. Pertama, yaitu “PAN
Merakyat, Menunaikan Amanat Rakyat”. Jargon ini digunakan untuk
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 235
mencitrakan bahwa PAN adalah partai yang peduli kepada rakyat.
Jargon ini juga sekaligus sebagai model komunikasi persuasif untuk
mendekati hati rakyat di tingkat bawah (grass root). Jargon kedua pada
masa kepemimpinan Hatta Rajasa yaitu “Partai Aksi Nyata”. Jargon
ini diluncurkan sebagai awal kerja partai menghadapi Pemilu 2014.
Terbukti bahwa sosok Hatta Rajasa selama memimpin PAN memberikan
kontribusi positif dalam pengendalian partai. Hatta Rajasa berhasil
membangun pencitraan politik yang baik dalam kancah perpolitikan
di Indonesia. Hatta Rajasa berhasil membawa perubahan besar untuk
PAN terutama pada pemilu 2014.
Pada masa kepemimpinan Zulkfli Hasan, jargon PAN pun berubah
kembali. Jargon PAN yaitu, “Politik Tanpa Gaduh”. PAN dalam hal ini
ingin menunjukkan, bahwa di tengah kisruh perpolitikan internal partai,
misalnya Golkar, dan PPP yang terpecah menjadi dualisme. Sebaliknya
PAN menunjukkan soliditasnya. Meskipun suksesi kepemimpinan PAN
melahirkan riak-riak konflik, tetapi riak-riak tersebut tidak membuat
partai tersebut terbelah dua seperti partai Golkar dan PPP. Ini juga
ditegaskan oleh Wildan Aswan Tanjung.
Suksesi kepemimpinan di PAN, bukan hanya sekedar
memenuhi kebutuhan konstitusi partai dalam rangka pergantian
kepemimpinan. Tapi suksesi kepemimpinan di PAN merupakan
ajang silaturahmi kader, pendukung dan simpatisan. “Politik
Tanpa Gaduh” merupakan jargon yang harus diusung secara
bersama-sama. Itulah buktinya, bahwa kader PAN harus
menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dan persatuan. Di
PAN ini diharapkan tidak ada kegaduhan, karena politik
tapa gaduh, akan memberikan penilaian yang baik di mata
masyarakat. Politik tanpa gaduh ini, juga menunjukkan kepada
seluruh masyarakat Indonesia, bahwa PAN merupakan partai
yang memegang kokoh azas kekeluargaan, di mana setiap kader
dan juga calon-calon pemimpin hadir dengan tujuan yang sama,
yaitu sama-sama untuk menyelesaikan masalah masyarakat.57
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa PAN
yang lahir dari embrio reformasi mencitrakan dirinya sebagai partai
57
Wildan Aswan Tanjung, Ketua DPD PAN Labsel Periode 2011-2015 dan
Ketua DPD PAN Labusel 2016-2021. Wawancara tanggal 17 Juni 2016 di Labuhan
Batu Selatan di kantor DPD PAN Labusel.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
236 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
yang terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia. PAN berusaha
menjadi partai terdepan dalam mewujudkan masyarakat yang adil
dan makmur. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, setiap saat kader
PAN harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk membela
kepentingan rakyat. Jargon-jargon tersebut ingin membuktikan
kepada masyarakat bahwa PAN lahir untuk memperjuangkan
kesejahteraan masyarakat.
Pencitraan Melalui Penetapan Caleg PAN Sesuai Daerah Asal
Pesatnya arus perkembangan media informasi, serta diberikannya
hak yang luas bagi masyarakat untuk dapat memilih secara langsung
calon pemimpin (presiden/wakil presiden, DPR, Bupati, Walikota),
tentu mendorong partai-partai untuk merumuskan kembali strategi
politiknya. Persaingan yang ketat antar partai dan juga para politisi
yang berkompetisi di arena-arena politik juga menuntut semua partai
dan politisi untuk terjun secara langsung ke masyarakat. Model
konstruksi pencitraan yang dikembangkanpun semakin variatif untuk
menarik simpati masyarakat. Konkritnya, sistem politik Indonesia yang
telah berubah, turut mendorong berubahnya strategi politik, misalnya
dari yang bersifat konvensional kepada yang modern. Sistem ini juga
sekaligus menempatkan partai politik sebagai pilar utama penyangga
demokrasi, sehingga begitu pentingnya peran partai politik, maka
sudah selayaknyalah partai-partai politik menunjukkan fungsionalnya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan kondisi partai politik yang fungsional, akan
memungkinkan partai tersebut melakukan rekrutmen pemimpin
yang baik. Rekrutmen kepemimpinan inilah yang menjadi salah
satu perhatian serius dari DPW PAN Sumatera Utara. Berdasarkan
analisa yang dilakukan, rekrutmen kepemimpinan ini jugalah yang
merupakan salah satu strategi yang dilakukan DPW PAN Sumut
untuk menguatkan pencitraan politiknya. Penetapan caleg misalnya,
merupakan strategi awal PAN untuk membangun citra partai, baik
ke dalam maupun keluar partai.
Pasca keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi tentang
suara terbanyak, perubahan sistem perhitungan suarapun berubah.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 237
Penetapan caleg tidak lagi didasarkan pada nomor urut, tetapi
ditetapkan sesuai dengan suara terbanyak. Bagi DPW PAN Sumatera
Utara, penetapan caleg sesuai dengan suara terbanyak tidak terlalu
bermasalah, sebab PAN adalah salah satu partai yang mendorong
agar penetapan kursi caleg terpilih di tetapkan sesuai suara terbanyak.
Bahkan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir menyebut keputusan
Mahkamah Konstitusi yang menetapkan caleg sesuai suara terbanyak
adalah sebagai kemenangan rakyat dan demokrasi yang benar-benar
adil. Menurut Soetrisno Bachir, PAN memang memperjuangkan
suara terbanyak. Atas hasil tersebut, PAN juga menggelar syukuran.
Munculnya keputusan MK tersebut, mendorong DPW PAN
Sumatera Utara untuk semakin berbenah diri melakukan rekrutmen
kader-kader pemimpin yang berkualitas. Selektifitas penetapan calegcaleg PAN Sumatera Utara pun semakin ketat dalam mempersiapkan
orang orang yang popular di masyarakat sebagai caleg dari partai
tersebut. Berdasarkan analisis yang dilakukan penulis, dalam
penentuan caleg tersebut, ada tiga hal yang jadi pertimbangan PAN.
Pertama, PAN melakukan rekrutmen caleg berdasarkan pertimbangan
kedudukan dalam kepengurusan partai. Kedua, PAN melakukan
penempatan nomor urut caleg berdasarkan pertimbangan pengaruh
dan ketokohan. Ketiga, PAN melakukan penempatan caleg sesuai
dengan daerah asal masing-masing.
Ketiga langkah di atas, merupakan pertimbangan mendasar
dalam penetapan caleg PAN. Tetapi dengan menempuh langkah
tersebut, bukan berarti bahwa caleg-caleg yang berada di daftar urut
nomor paling terakhir tidak memiliki kesempatan menang, sebab
sistem pemilu yang disahkan adalah berdasarkan suara terbanyak.
Alternatif pemilihan langkah tersebut dalam pandangan penulis,
adalah satu strategi PAN Sumatera Utara untuk membangun
pencitraan politik, sehingga perebutan kekuasan di dapil-dapil dapat
berjalan mulus. Kemudian proses rekrutmen dan penetapan caleg
berdasarkan daerah adalah upaya untuk memudahkan caleg PAN
mensosialisasikan dirinya kepada masyarakat. Tentu hubungan
primordial kedaerahan bisa menjadi modal politik bagi seorang
caleg. Hubungan emosional caleg dengan masyarakat pun dapat
lebih mudah menguat, jika dibandingkan dengan caleg yang bukan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
238 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
putra daerah. Secara realitas, emosional kedaerahan tersebut sering
dijadikan masyarakat menjadi alasan untuk memilih seorang caleg
dan bahkan seorang pemimpin politik seperti presiden, bupati,
walikota dan sebagainya.
Apa yang dijelaskan di atas, adalah bahagian dari strategi
pencitraan politik PAN yang diharapkan dapat mempengaruhi
simpatisme masyarakat. Hal tersebut juga erat kaitannya dengan
penjelasan yang disampaikan Yahdi Khoir Harahap.
Dalam menetapkan caleg-caleg PAN, itu dilakukan dengan
cara yang selektif. Beberapa pertimbangan dalam penetapan
caleg, misalnya kita mempertimbangkan ketokohannya,
kepengurusannya di partai terus kedaerahannya, atau dari
daerah mana caleg itu berasal. Itu semua dilakukan oleh
PAN dalam rangka menyukseskan perolehan suara di pemilu
legislatif. Semakin banyak suara PAN tentu juga semakin
banyak kursinya dan semakin kokoh dalam memperjuangkan
aspirasi rakyat. Diharapkan, dengan penetapan caleg dengan
cara demikian, akan semakin muluslah peroses kader dalam
melakukan sosialisasi ke masyarakat, semakin mudah dalam
meyakinkan masyarakat dan semakin mudah juga menarik
simpatisme masyarakat.58
Berdasarkan informasi di atas, bahwa penetapan caleg
berdasarkan tiga pertimbangan, dapat dipandang sebagai hal yang
positif daripada apa yang terjadi sebelum keluarnya keputusan
MK tersebut. Dalam sistem ini, ada kompetisi antara sesama caleg,
sehingga masing-masing caleg bekerja untuk pribadinya, tetapi
sekaligus bekerja untuk membesarkan partai. Menariknya, dari
langkah-langkah penetapan caleg PAN tersebut, tentu sudah
dipertimbangkan oleh PAN secara matang sesuai dengan konteks
kehidupan sosial keagamaan di Sumatera Utara. Dalam kaitan
ini, penulis ingin menegaskan bahwa dalam konteks masyarakat
Sumatera Utara, hubungan kedaerahan, kesukuan dan alasan
primordial lainnya sering kali dijadikan masyarakat sebagai alasan
58
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 239
untuk memilih seorang pemimpin politik. Adanya perbincangan
yang mengemuka di masyarakat, misalnya perbicangan tentang
siapa yang akan dipilih ini sering muncul di berbagai tempat.
Sejumlah masyarakat misalnya sering mendiskusikan, “Siapa yang
kamu pilih? Lalu jawaban yang sering muncul saya memilih si “A” saja,
karena dia itu satu daerah dengan saya. Dia itu putra daerah. Siapa lagi
yang dipilih kalau bukan putra daerah. Dia itu beragama Islam, dia itu
satu marga dengan saya, masih satu darah dan sebagainya”. Ini adalah
ungkapan-ungkapan yang sering dimunculkan masyarakat menjelang
kontestasi politik, utamanya di daerah Sumatera Utara. Realitas ini
membantah apa yang disebutkan Clifford Geertz, bahwa ada perubahan
prilaku pemilih sekarang ini jika dibandingkan 45 tahun yang silam.
Jika 45 tahun yang silam basis pertarungan antarpartai mengikuti garis
primordial, dan rakyat memilih tidak berdasarkan persetujuannya atas
program partai secara rasional, tetapi lebih pada loyalitas agama, daerah,
dan suku. Sekarang kata Geertz, peran suku dan daerah agak berubah,
namun peran agama tetap.59
Penulis berbeda dengan konteks pernyataan Geertz bahwa
sekarang peran suku dan daerah agar berubah. Artinya, kesukuan
dan kedaerahan tidak begitu berpengaruh untuk menetukan pilihan,
sebagaimana yang digambarkan Geertz pada masa 45 tahun yang
silam yang itu pengaruhnya sangat kuat. Justru dari hasil penelitian
yang dilakukan penulis, untuk konteks Sumatera Utara, kesukuan,
kedaerahan bahkan agama, ketiganya memberi pengaruh bagi
masyarakat dalam menetapkan pilihannya. Ketiga elemen tersebut,
kesukuan, kedaerahan dan keagamaan bersinergi dalam mendorong
simpatisme masyarakat untuk menentukan pihannya terhadap
pemimpin. Kondisi ini menjadi suatu hal yang masih sulit dielakkan
dari masyarakat Sumatera Utara yang memiliki ikatan primordial yang
masih kuat dan mengakar. Indikator primordialisme diindikasikan
melalui sentiment kedaerahan, kesukuan, dan keagamaan.
59
Pandangan ini juga berbeda dengan apa yang diteliti oleh Liddle dengan
muridnya Saiful Mujani, dan sejumlah peneliti UI, antara lain Eep Saifulloh Fatah,
yang juga menjadi muridnya. Liddle menyimpulkan bahwa perilaku pemilih pada
pemilu 1999 belum banyak berbeda dengan perilaku pemilih pada 1955, sewaktu
pemilu pertama diadakan. Lihat, Tawakkal, Peran, h. 63.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
240 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Kekuatan primordialisme tersebut menjadi salah satu faktor
yang turut menentukan pilihan seseorang terhadap politisi atau
kandidat yang sedang berkompetisi dalam satu even pemilihan
umum. Sebagaimana dikuatkan oleh Ater, bahwa ada beberapa faktor
utama yang membentuk perilaku pemilih di Indonesia salah satunya
adalah faktor etnisitas.60 Kelompok etnis mempunyai peranan besar
dalam membentuk sikap, persepsi, dan orientasi seseorang. Adanya
rasa kesukuan atau kedaerahan mempengaruhi dukungan seseorang
terhadap partai politik. Kesetiaan etnis di Indonesia masih tampak
signifikan, sehingga dapat dikatakan bahwa etnisitas dapat
mempengaruhi perilaku politik seseorang.
Liddle juga menegaskan dalam penelitian yang dilakukannya
di Sumatera Utara dengan mengambil area penelitian di Kabupaten
Simalungun dan Pematang Siantar. Bahwa secara relatif kata Liddle
terdapat kesetiaan etnis (ethnic loyalty) yang relatif tinggi dengan
prilaku memilih. Liddle mengaitkan analisa makronya tentang
tingkah laku politik lokal dengan apa yang kelihatan makro di tingkat
nasional. Di kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar
Liddle menemukan hubungan-hubungan antara partai lokal dengan
kelompok agama, budaya dan etnis. Dimana pada waktu itu rakyat
Indonesia sangat mendambakan partai-partai yang akan mewakili
kepentingan mereka yang bersifat primordial.61
Dari uraian Liddle dapat ditegaskan bahwa etnis, termasuk
kesukuan, kedaerahan, dan agama memiliki pengaruh yang kuat
terhadap perilaku politik pemilih. Liddle menyimpulkan bahwa
primordialisme dan partai di Indonesia bagaikan zat dan sifatnya.
Pertama, merupakan kenyataan-kenyataan sosial budaya, dan yang
kedua adalah ekspresi alamiah dibidang politik. Kenyataan-kenyataan
yang ditemukan menimbulkan pertanyaan bagaimana hubungan
atau pun pengaruh etnisitas, khususnya struktur masyarakat dan
politiknya kepada perilaku politik dari masyarakat suku bangsa
dalam kehidupan politik.
60
David. E. Ater, Pengantar Analisa Politik (Jakarta: LP3ES, 1998), h.. 209.
R. Wiliam Liddle, Partisipasi dan Partai Politik di Indonesia Pada Awal Orde Baru
(Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1992), h. 22-81.
61
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 241
Sinergisitas ketiga elemen tersebutlah yang menjadi salah
satu pertimbangan PAN untuk menetapkan calegnya. Misalnya di
Kabupaten Toba Samosir, PAN menetapkan caleg yang berasal dari
daerah setempat, dan mempertimbangkan keagamaan mayoritas
penduduk setempat. Karena ketiga elemen tersebut dianggap sebagai
magnet yang dapat menarik simpatik masyarakat kepada PAN.
Sinergsitas ketiga elemen kesukuan, kedaerahan dan keagamaan
dapat digambarkan sebagaimana di bawah ini.
Gambar 4.4. Tiga elemen pertimbangan PAN dalam penetapan caleg
Gambaran di atas menunjukkan tiga elemen penting yang
menjadi pertimbangan penetapan caleg dalam konteks Sumatera
Utara. Selanjutnya, bila dikaji ulang kembali perjalanan politik PAN
Sumatera Utara sepanjang tahun 2005-2015, dapat dijumpai beberapa
hal penting, terkait dengan pola pendekatan yang dilakukan oleh
para politisi PAN secara perseorangan, dan termasuk dalam hal ini
partai secara umum. Dari sudut teori marketing, hal yang diperhatikan
pengurus PAN adalah dalam menentukan calon-calon legislatif
(caleg). Dari analisa yang dilakukan, dalam penentuan caleg, PAN
memilih kader-kader berkualitas dan juga sebagai representasi yang
dianggap dapat menarik simpatisme masyarakat di dapil (daerah
pemilihan) masing-masing caleg. Artinya, bahwa dalam hal ini PAN
membangun citra lewat penempatan kader, dengan harapan para
kader dapat menciptakan asosiasi-asosiasi tertentu dalam menarik
pemilih. Misalnya, kader yang berasal dari daerah Mandailing
atau Tapanuli Selatan di tempatkan pencalegannya di dapil yang
mayoritas bersuku Mandailing atau masyarakat Tapanuli Selatan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
242 | PAN Sumatera Utara dan Strategi...
Apa yang dilakukan PAN Sumatera Utara merupakan salah
satu bentuk strategi pemenangan dalam setiap kontestasi politik
yang dilakukan. Sebab pemilihan kader-kader yang berkualitas,
turut menentukan citra partai di masyarakat. Bahkan hal yang
perlu dipahami dalam hal ini, bahwa perilaku memilih, baik dalam
pemilihan umum, pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan
kepala daerah (Pilkada), yang akan dipasarkan adalah para kandidat.
Oleh sebab itu, agar masyarakat tahu dan mengenal orang yang akan
dipilihnya, maka kandidat itu sendiri yang harus memperkenalkan
dirinya kepada masyarakat. Di sinilah PAN melihat bahwa penetapan
kandidat-kandidat yang akan berkompetisi dalam setiap even
politik, direkrut dari kader-kader berkualitas, memiliki popularitas
dan pengaruh.
Informasi di atas, juga kalau ditinjau dari kajian teoritis, DPW
PAN Sumatera Utara dalam penetapan caleg menerapkan kolaborasi
antara merit system dan spoil system. Merit system adalah mekanisme
rekrutmen yang memakai alasan-alasan rasional sebagai alasan
utama, misalnya kedaerahan dan ketokohan individu dalam menarik
simpatisme pemilih. Sedangkan spoil system adalah mekanismen
pemilihan caleg yang tidak memakai alasan-alasan rasional sebagai
alasan utama, dalam hal ini berdasarkan kedudukan caleg dalam
kepengurusan partai. Terpampangnya nama-nama pengurus
partai pada nomor jadi (1 dan 2) menunjukkan bahwa pengurus
partai masih meyakini daya tarik partai dapat menarik simpatik
masyarakat kepada caleg bersangkutan. Oleh sebab itu, nomor urut
atas tetap menjadi rebutan di kalangan elit partai, karena fenomena
memilih partai paling nomor awal, masih menjadi kebiasaan
pemilih yang masih sulit untuk dirubah. Selain itu, ada masyarakat
yang tidak memiliki caleg pilihan, tetapi memiliki partai pilihan,
sehingga ia hanya memilih partai. Meskipun partai tersebut murni
menggunakan model suara terbanyak, tetapi karena partai yang
dipilih oleh masyarakat, maka yang berhak menentukan caleg yang
menempati kursi adalah partai. Apa yang dilakukan PAN ini adalah
sebagai sebuah strategi pencitraan politik untuk merebut simpatik
masyarakat dan pada akhirnya dapat memperoleh kekuasaan secara
konstitusional.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab V
Suksesi Pencitraan PAN Merebut Simpati
Masyarakat Sumatera Utara
Pasca runtuhnya Orde Baru, sistem multipartai menjadi bagian
penting dalam sistem demokrasi di Indonesia. Era multipartai
merupakan tonggak awal dimulainya pemilu yang demokratis di
Indonesia. Demokrasi pada mulanya merupakan satu gagasan
tentang pola kehidupan yang muncul sebagai reaksi terhadap
kenyataan sosial politik yang tidak manusiawi di tengah-tengah
masyarakat. Reaksi tersebut datang dari orang-orang yang merasa
terusik dan tergugah melihat adanya pengekangan dan pemerkosaan
terhadap hak-hak asasi manusia, dalam hal ini penentuan
kepemimpinan. Suatu pemerintahan itu dapat disebut demokratis
apabila pemerintahan tersebut dapat memberikan kesempatan
konstitusional yang teratur dalam memperoleh kekuasaan politik.
Salah satu ciri utama negara demokrasi adalah pemilihan umum
untuk memilih partai politik yang akan mendapat kepercayaan
rakyat. Tetapi harus dipahami, bahwa pemilu bukan sekedar
untuk menentukan partai yang berkuasa. Jauh lebih penting, pemilu
merupakan bukti berjalannya demokrasi. Inilah yang berkembang
pada awal-awal reformasi, di mana partai ingin menunjukkan
eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Menjamurnya partaipartai baru pada awal reformasi merupakan salah satu indikasi sikap
euforia politik yang diekspresikan setiap warga negara, dan dalam
waktu yang relatif singkat jumlah partai di Indonesia mencapai 140
partai. Dari 140 partai tersebut, yang lolos verifikasi adalah sebanyak
48 partai dan inilah yang berhak mengikuti pemilu pada tahun 1999.
Dari 48 partai tersebut, muncullah enam partai besar pemenang
pemilu, dan PAN merupakan salah satu partai politik baru yang
berhasil menjadi bagian dari pemenang pemilu tersebut.
243
244 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Perolehan suara PAN sebagai partai politik baru menunjukkan
bahwa kemunculan partai tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.
Meskipun sejak kelahirannya hingga pemilu 2014 lalu, PAN secara
nasional tidak pernah bergerak dari level tengah ke level atas, tetapi
pergerakan raihan suara dan kursi DPR RI PAN berada di level 7 % sampai
9 % tergolong sangat stabil. Demikian juga di daerah-daerah, perolehan
suara PAN di DPRD Kabupaten/Kota, ada juga yang menunjukkan
kemajuan yang siginifikan. Tentu ini tidak terlepas dari upaya PAN
yang terus menerus melakukan politik pencitraan yang dapat meraih
simpatik masyarakat. Indkasi keberhasilan pencitraan PAN tersebut
adalah mendorong survivalitas DPW PAN Sumatera Utara menguat.
Selain itu, PAN di beberapa daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara
menjadi kontestan politik yang berhasil mengalahkan kontestan politik
lainnya, misalnya seperti yang terjadi di Labuhan Batu Selatan dan
Serdang Bedagai. Bahkan di sejumlah tempat yang bukan berbasis massa
Muhammadiyah dan Islam, PAN juga berhasil mendudukkan caloncalon legislatif, meskipun hanya 1 kursi seperti di Nias.
Survivalitas PAN Sumut Menguat
Sebagai salah satu partai politik baru di Indonesia, PAN sejak awal
berdirinya hingga kini dapat dikatakan sebagai salah satu partai yang
layak diperhitungkan karena keberhasilan partai ini meraup kursi, baik
di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Secara nasional, pada
pemilu 1999, PAN memperoleh 7.528.956 suara (7,12 %) atau ekuivalen
dengan 34 kursi (7,36 %). Pada Pemilu 2004, raihan suara PAN dengan
7.303.324 suara (6,44 %) atau ekuivalen dengan 53 kursi (9,64%). Di
Pemilu 2009, suara PAN lebih jeblok lagi dengan 6.254.580 suara (6,01%)
atau ekuivalen dengan 43 kursi (7,68 %). Dan di Pemilu 2014, PAN
memperoleh 9.481.621 suara (7,59 %) atau ekuivalen dengan 49 kursi.
Perolehan suara PAN secara nasional, juga menunjukkan suvivenya
PAN sebagai partai baru dalam kancah politik nasional.
Dalam konteks Sumatera Utara juga, PAN telah menunjukkan
keberhasilannya dalam menarik simpatisme masyarakat. PAN
berhasil menarik simpatik para tokoh di Kota Medan maupun
tokoh yang ada di daerah. PAN juga berhasil menarik simpatik
masyarakat, baik yang Islam maupun di luar Islam. Misalnya di Nias,
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 245
PAN berhasil meraih satu kursi, padahal penduduk mayoritas Nias
adalah Kristen. Nias juga dikenal dengan basis PDIP. Demikian juga
di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) yang merupakan basis PDIP
dan juga bermayoritas penduduk beragama Kristen, PAN berhasil
meraih satu kursi di DPRD Tobasa.
Menguatnya dukungan para tokoh dan lapisan masyarakat
di Sumatera Utara, baik yang ada di Kota Medan maupun daerah,
menjadikan PAN sebagai partai yang diperhitungkan di Sumatera
Utara, meskipun perolehan suara PAN tergolong stabil di urutan
ke-5 dan ke-6. Keberhasila PAN sebagaimana dapat dilihat dari
perolehan suara dan kursi di DPRD Sumatera Utara. Pada pemilu
1999 PAN berhasil mendudukkan tujuh orang wakilnya di DPRD
Sumut periode 1999-2004. Pada pemilu 2004, DPW PAN Sumatera
Utara berhasil mendudukkan wakilnya di DPRD Sumatera Utara
periode 2004-2009 sebanyak delapan kursi. Begitu juga pada pemilu
2009, DPW PAN Sumatera Utara berhasil mendudukkan wakilnya
di DPRD Sumut priode 2009-2014 sebanyak enam kursi. Tentu hasil
ini menunjukkan bahwa PAN adalah partai yang survive di tengahtengah percaturan politik ke daerahan di Sumatera Utara.
Menurut pengamatan penulis, survivalitas PAN tidak terlepas
dari proses manajemen partai yang cukup cermat dalam melaksanakan
program unggulan yang telah direncanakan. Program unggulan tersebut
terlaksana sesuai dengan Standar Operasional Partai (SOP) yang telah
ditetapkan partai sebagai garis besar organisasi. Penulis juga mengamati,
bahwa bila ditelaah dari sudut keorganisasian partai, survivalitas PAN
didukung oleh kuatnya perhatian pengurus terhadap unsur-unsur
pendukung manajemen. Unsur-unsur manajemen yang dimaksud
senantiasa diistilahkan dengan 6 M, yaitu; man, money, materials, machine,
method, dan market. Bila dikaitnya dengan kepartaian, model ini dapat
disederhanan menjadi 1 I + 5 M. I yang dimaksud, yaitu ideologi,
sedangkan M yang dimaksud, yaitu; man (sumber daya manusia), money
(uang yang diperlukan untuk mencapai tujuan), machine (alat untuk
melakukan produksi), methode (cara atau sistem kerja) dan market (pasar
atau tempat untuk menjual hasil produksi).1
1
Pemahaman sederhana tentang manajemen adalah proses pengelolaan man,
money, materials, machine, method, dan market (6 M) dalam rangka mencapai tujuan
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
246 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Pertama, ideologi.2 Dapat dipahami bahwa secara sederhana
ideologi diartikan sebagai ide atau gagasan. Tetapi lebih luas lagi
sebagaimana dijelaskan oleh Syamsuddin Haris, bahwa ideologi
adalah suatu paham tertentu yang digunakan untuk melingkupi
semua usaha kondisi ideal tertentu. Ideologi berhubungan dengan
kekuasaan, sehingga ideologi menjadi alat untuk mencapai
kekuasaan. Perjuangan untuk memperoleh kekuasaan, tidak terlepas
dari perjuangan ideologis.3
Dalam kaitan ini ide atau gagasan pendirian PAN adalah untuk
mensejahterakan rakyat Indonesia, dengan cara melakukan reformasi
dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga PAN diidentikan sebagai
partai reformasi yang secara kebetulan didirikan oleh Amien Rais
yang merupakan tokoh reformasi. Ideologi menjadi dasar perjuangan
seseorang, karena di dalamnya terkumpul sejumlah konsep yang
dianggap sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan. Oleh sebab
itu, perjuangan terhadap ideologi PAN, mendorong setiap kader
untuk memberikan kontribusi bagi penguatan partai. Kedua, man
(manusia). Dalam hal ini PAN sangat mendukung peningkatan
kualitas kader dengan melakukan berbagai pelatihan kader. PAN
juga sangat memperhatikan pencalegan kader sesui dengan daerah
asal. Ketiga, money (uang). Meskipun uang bukanlah segala-galanya
faktor utama pendukung keberhasilan politik, tetapi sebagai modal
capital, PAN memperhatikan uang sebagai satu kekuatan yang dapat
mendorong survivalitas PAN. Karena untuk melakukan berbagai
kegiatan, tentu diperlukan uang. Keempat, machine (mesin). Mesin
yang dimaksud bukanlah seperti mesin pabrik. Tetapi mesin dalam
kaitan ini adalah mesin partai yang memiliki satu kesatuan yang
organisasi. Definisi ini tentu saja dapat diperdebatkan, karena bagaimana orang
memaknai manajemen, sangat tergantung bagaimana ia menginterpretasikan
(memahami) entitas yang namanya organisasi itu sendiri. Lihat, Siswanto, “Metafora
Budaya Sebagai Pendekatan Manajemen” dalam Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan
Politik, Th. XXI. No. 3, Juli-September 2009, h. 257-263.
2
Ideologi bermanfaat: Pertama, membentuk identitas dan kepribadian (ciri)
suatu komunitas, bangsa, dan sebagainya. Kedua, mempersatukan perbedaan,
sehingga merasa saling bersama dan kebersamaan. Ketiga, mempersatukan berbagai
macam masyarakat dari latar belakang yang berbeda-beda.
3
Syamsuddin Haris, dkk, Persepsi Masyarakat Terhadap Partai Politik Peserta
Pemilu 2004 (Jakarta: Pusat Penelitian Politik LIPI, 2003), h. 86.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 247
utuh, mulai dari DPW Propinsi sampai ke tingkat DPRt desa. PAN
sangat memperhatikan kondisi ini, sehingga mesin partai yang tidak
berjalan dengan bagus, segera disegarkan dengan pengurus-pengurus
baru yang lebih energik. Kelima, methode (cara kerja). Dalam kaitan
ini, penulis memperhatikan, bahwa PAN sangat memperhatikan cara
kerja yang tepat untuk melakukan kegiatan. Artinya, bahwa dalam
melakukan berbagai kegiatan, PAN selalu memperhatikan efektifitas
dan efisiensi, sehingga sasaran tercapai dan tidak terjadi pemborosan
dana partai. Keenam, market (pasar). Hal ini terkait dengan sasaran
yang akan menjadi target sosialisasi dan target rekrutmen. Dalam
kaitan ini, market PAN tidak hanya kepada warga Muhammadiyah,
tetapi PAN juga menjadikan kelompok lainnya, masyarakat Islam
maupun non-Islam sebagai market. Hal ini di dorong oleh ideologi
PAN yang merupakan partai terbuka.
Keenam unsur yang telah di atas, dalam pengamatan penulis
menjadi faktor yang mendorong semakin survivenya PAN di Sumatera
Utara. Bila diamati dari program unggulan yang dilaksanakan PAN,
dapat diketahui bahwa di antara program unggulan PAN yaitu:
program kegiatan KTA bersantunan, program sosial kemasyarakatan,
program kaderisasi dan konsolidasi ke sampai ke tingkat ranting.
Program-program tersebut menjadi faktor utama yang membuat
masyarakat tertarik kepada PAN. Sebagaimana informasi yang
diperoleh penulis dari Yahdi Khoir Harahap, bahwa untuk menuju
keberhasilan PAN di Sumatera Utara, di rapat-rapat PAN, baik
sifatnya rapat pengurus, Rakerwil, PAN telah merumuskan berbagai
macam bentuk program yang dirangkum dalam istilah program 5-SI.
Program tersebut adalah garis besar yang akan dijalankan untuk
memenangkan setiap kompetisi politik. Program 5-Si diinstruksikan
ke seluruh DPD PAN se Sumatera Utara untuk garis pedoman
program dalam menyukseskan cita-cita partai.
Selama ini, ada juga program yang dilakukan PAN, yaitu lebih
akrab disebut dengan program 5-Si itu: Pertama, program konsolidasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat struktur jaringan partai.
Misalnya, menggelar Musyawarah Daerah (Musda), Musyawarah
Cabang (Muscab) Musyawarah Ranting (Musran), dan konsolidasi
penyusunan kepengurusan sampai ke dusun dan lingkungan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
248 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Kedua, program kaderisa-si. Tujuannya adalah untuk memperkuat
sekaligus meneguhkan militansi kader PAN, di seluruh struktur
kepengurusan. Kaderisasi diperlukan untuk melihat secara kongkret
jumlah kader PAN secara kualitas. Kaderisasi dilakukan melalui
Latihan Kader Amanat Dasar (LKAD), Latihan Kader Amanat
Madya (LKAM) dan Latihan Kader Amanat Utama (LKAU).
Perkaderan dilakukan berdasarkan struktur jenjang kepengurusan
PAN, mulai dari ranting sampai ke tingkat wilayah. Ketiga, program
atributisa-si. Tujuannya adalah untuk pengadaan plank, tanda
gambar dan pendataan anggota di seluruh tingkatan. Atributisasi
dilakukan dengan rektrutmen anggota yang dibuktikan melalui
kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA) PAN. Keempat, program
sosialisa-si. Program sosialisasi ini ditujukan untuk pencitraan
PAN di seluruh tingkatakan. Pencitraan yang dilakukan melalui
sosialisasi ini dilakukan lewat media massa. Media massa yang
dimaksud adalah lewat surat kabar, televisi, radio dan media sosial
seperti facebook, instagram dan twitter. Kelima, program ak-si, yaitu
program aksi merupakan program real yang dilakukan pengurus
dan kader PAN di seluruh kabupate/kota. Program aksi dilakukan
sebagai bentuk kepedulian kader PAN membantu masyarakat
yang kurang mampu, seperti sunat massal, gotong-royong dan
peduli kemiskinan di lumbung suara PAN yang ada.4
Melihat pada keberhasilan PAN dalam melakukan pencitraan
untuk merebut simpatik masyarakat, dapat ditegaskan bahwa PAN
sudah menjalankan fungsi politiknya sebagai partai. DPW PAN
Sumatera Utara berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat untuk
memilih PAN. DPW PAN Sumatera Utara juga berhasil memobilisasi
massa. Mobilisasi politik sebagaimana dijelaskan Nedelmann,
adalah sebagai usaha aktor politik untuk mempengaruhi distribusi
kekuasaan. Dalam hal ini, digambarkan terdapat satu jenis hubungan
yang berkembang antara partai maupun politisi dengan Individu.
Menurut Nedelmann, ada 2 model dalam mobilisasi. Pertama,
mobilisasi vertikal, yakni mobilisasi yang bekerja dalam hubungan
vertikal meliputi downward mobilization model, grass-root or populist
mobilization model, dan ideal democratic model. Kedua, mobilisasi
Yahdi Khoir Harahap, Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010 dan
Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 2015-2020. Wawancara tanggal
20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
4
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 249
horizontal, yakni menyertakan segala kemungkinan dari prosesproses internal dalam mobilisasi yang berlangsung diantara partai,
politisi dan individu.5
Dalam pengamatan penulis, kedua model ini dijalankan
oleh PAN untuk membantu penguatan keberhasilannya dalam
membangun citranya dan penguatan survivalitasnya di Sumatera
Utara. Misalnya, DPW PAN Sumatera Utara melakukan mobilisasi
massa sampai ke massa akar rumput (grass root), yaitu masyarakat
awam, sehingga masyarakat tersebut bertambah pengetahuannya
tentang PAN dan menjatuhkan pilihan pada PAN. DPW PAN juga
melakukan gerakan populis, yaitu gerakan yang merakyat dengan
memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyat kecil. Secara
organisatoris juga dilakukan PAN untuk menguatkan gerakan ke
masyarakat dengan mendorong agar mesin partai bergerak. Inilah
yang dilakukan PAN Sumatera Utara dalam meraih keberhasilannya.
Survivalitas Perolehan Suara PAN di Daerah Menguat
Survivenya PAN tidak terlepas dari dukungan masyarakat
yang semakin menguat terhadap PAN. Jika diperhatikan, dukungan
tersebut tidak hanya dalam meraih kursi di DPRD Propinsi, tetapi
termasuk di beberapa daerah seperti Labuhan Batu Selatan (Labusel)
dan Serdang Bedagai (Sergai). Penguatan PAN di Labusel dan Sergai
adalah fakta keberhasilan PAN untuk merebut hati rakyat, sehingga
PAN di Sumatera Utara dapat eksis.
Labuhan Batu Selatan dan Sergai memiliki gambaran yang
hampir sama dalam kaitannya dengan perkembangan PAN dan
keberhasilannya dalam meraih kursi di DPRD. Labusel dan Sergai
adalah dua kabupaten di Sumatera Utara yang merupakan hasil
pemekaran dari kabupaten induk. Labusel dimekerkan dari
kabupaten induk Labuhan Batu, sedangkan Sergai dimekarkan dari
kabupaten induk Deli Serdang. Di tinjau dari sudut kepartaian PAN,
Labusel di ketuai oleh seorang bupati yaitu Wildan Aswan Tanjung,
dan Sergai pernah diketuai oleh bupati, yaitu Soekirman. Dari sini
5
Birgitta Nedelmann, Individuals and Parties - Changes in Processes of
Political Mobilization (European Sociological Review: Oxford University Press,
1987), h. 181-202.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
250 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
tentu terlihat, bahwa keberhasilan PAN juga tidak terlepas dari peran
aktif kepala daerah yang secara kebetulan adalah Ketua Umum DPD
PAN. Soekirman misalnya, sebagai anggota dan kader PAN yang juga
sebagai bupati, tentu sangat besar kontribusinya dalam membangun
pencitraan PAN.
Tetapi terlepas dari itu, penulis melihat terdapat faktor lain yang
menjadikan Labusel dan Sergai berhasil mendudukkan wakilnya di
DPRD, yang tercatat dalam sejarah perpolitikan PAN sebagai daerah
penyumbang kursi terbanyak di DPRD. Di Labusel anggota DPRD
PAN sebanyak 11 orang, sedangkan di Sergai anggota DPRD PAN
sebanyak 7 orang, sehingga kedua daerah ini dianggap sebagai
bahagian dari basis massa PAN untuk wilayah Sumatera Utara, di
samping Kota Medan.
Bila diperhatikan dari sudut sistem kepemilihan yang berlaku
sekarang ini, Labuhan Batu Selatan di bagi kepada 5 Dapil, yaitu
Dapil I Kecamatan kota pinang. Di dapil ini, PAN memperoleh 2
kursi. Dapil II, yaitu Torgamba A PAN berhasil memperoleh 2 kursi.
Dapil III yaitu Torgamba B, PAN juga memperoleh 2 kursi. Dapil
IV yaitu Dapil Kampung Rakyat PAN memperoleh 2 kursi. Dapil V
yaitu Kecamatan Sungai Kanan dan Kecamatan Silangkitang, PAN
berhasil meraih 3 kursi. Dari sini terlihat, bahwa raihan suara PAN
untuk seluruh Labusel dapat dikatakan merata, karena hampir semua
dapil PAN berhasil mendudukkan wakilnya.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, kemenangan PAN
di daerah ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang melihat
PAN sebagai partai aspirasi mereka. Ini juga ditegaskan oleh Gandi
Faisal pada saat diwawancarai.
Kekuatan PAN di daerah ini didukung oleh caleg-caleg yang
memiliki finansial dan juga merupakan tokoh masyarakat
setempat yang memiliki pengaruh kuat. Mereka yang menjadi
anggota DPRD dari PAN adalah orang-orang berpengaruh.
Mereka pemilik usaha. Mereka sudah dikenal dekat dengan
masyarakat. Ini yang membuat banyak anggota PAN yang
jadi anggota DPRD. Selain itu, PAN di Labusel ini dipimpin
oleh bupati. Jadi penguatan peran itu semakin terlihat oleh
masyarakat. Jadi keberhasilan PAN di daerah ini, tidak terlepas
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 251
dari kekuasaan daerah yang secara kebetulan bupatinya berasal
dari PAN Labusel.6
Informasi di atas, erat juga kaitannya dengan informasi yang
disampaikan oleh Ketua DPD PAN Labusel, bahwa PAN Labusel
memperoleh suara 11 kursi di DPRD Labusel. Perolehan tersebut
merupakan satu prestasi besar bagi PAN sepanjang perpolitikan
yang dilalui PAN. Karena baru Labusel yang mampu meraih 11 kursi
DPRD untuk seluruh Indonesia.
Tidak ada strategi khusus untuk meningkatkan perolehan
kursi PAN di Labusel dari 1 kursi menjadi 11 kursi. Model
yang dilakukan PAN untuk mencitrakan diri di tengah-tengah
masyarakat adalah melalui program yang menyentuh. Misalnya,
PAN membantu kau duafa, memberikan beasiswa kepada anakanak kurang mampu guna melanjutkan pendidikannya. Di
samping itu, secara berkesinambungan pengurus PAN Labusel
turun ke masyarakat untuk membangun pencitraan PAN.
Mendatangi rumah-rumah penduduk dalam rangka menjaga
konsituen sehingga mereka tidak lari dari PAN. Kemudian,
pengurus PAN di Labusel melakukan pencitraan PAN melalui
penguatan leadersip, kekuatan kekeluargaan, memberdayakan
jaringan kekeluargaan, pemanfaatan jasa para tokoh masyarakat.
Pencitraan kepedulian terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan.
Untuk menguatkan citra PAN, para calegnya pun sengaja dipilih
dari tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.7
Dari informasi di atas, jelaslah terlihat bahwa PAN di Labusel
berhasil menarik simpatisme masyarakat untuk memilih PAN,
sehingga PAN mampu meraih 11 kursi di DPRD Labusel. Dari
informasi tersebut terlihat, ada dua pendekatan komunikasi politik
yang dikembangkan PAN dalam meraih kemenangan pemilu di
Kabupaten Labusel, yaitu pendekatan struktural dan pendekatan
kultural.
Gandi Faisal Siregar, Wakil Ketua DPD PAN Labusel dan juga Anggota DPRD
Labusel. Wawancara tanggal 17 Juli 2016 di rumah makan Bahagia Kota Pinang.
6
7
Wildan Aswan Tanjung, Ketua DPD PAN Labusel Periode 2011-2015 dan
periode 2015-2020. Wawancara tanggal tanggal 17 Juli di Kota Pinang melalui
handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
252 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Pertama, pendekatan struktural dalam hal ini, bahwa diketahui
PAN adalah satu partai yang memiliki struktur pengurus mulai dari
pusat hinga ke desa. Di pusat, pengurus disebut dengan DPP, di
propinsi disebut DPW, di daerah kabupaten/kota disebut DPD, di
kecamatan disebut DPC dan di desa disebut dengan DPRt. Secara
struktural, kepengurusan ini memiliki satu komando. Mulai dari
pusat hingan desa, pengurus PAN memiliki cita-cita yang sama
untuk mewujudkan visi misi PAN. Pendekatan struktural melaui
institusi inilah yang dimaksud dengan pendekatan struktural
yang dilakukan oleh PAN dalam rangka pemenangan pemilu.
Pendekatan institusional partai memandang, bahwa partai politik
adalah lembaga yang memiliki struktur dan fungsi untuk mencapai
tujuan. Dalam kaitan ini, PAN melakukan pendekatan kepada
masyarakat melalui partai dari pusat hingga ke ranting. Dalam
hal ini, PAN menggerakkan mesin partai secara maksimal mulai
dari pusat sampai desa untuk melakukan komunikasi intensif
dengan masyarakat di daerah masing-masing.
Kedua, pendekatan kultural yaitu pendekatan yang dilakukan
dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial
kemasyarakatan. Pendekatan ini cenderung pada kebudayaan
maupun kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat
setempat. Pendekatan ini adalah pendekatan yang memberdayakan
nilai-nilai kemasyarakatan, menjaga penampilan, membangun
pencitraan positif dengan cara bersilaturahmi, mendatangi
masyarakat ke tempat-tempat pertemuan, ke pengajian, acara pesta
dan sebagainya.
Bila dikaji dari sudut pandang teori dramaturgi Erving
Goffman, dapat dipahami bahwa apa yang dilakukan caleg PAN di
Labusel, sehingga berhasil meraih simpatik masyarakat, tidak lepas
dari performance. Memperlihatkan performance yang dapat menarik
simpatisme masyarakat terhadap PAN, seperti dijelaskan Goffman,
bahwa performance kontestan sering kali terbentuk disaat terjadinya
interaksi antara aktor dengan masyarakat yang memilih, atau yang
disebut Goffman sebagai penonton. Perfomance atau penampilan
mempunyai makna kesan yang dibawa oleh aktor dalam setiap
interaksinya dengan masyarakat, dan itulah instrumen yang sering
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 253
berdampak positif dan berpengaruh pada reaksi masyarakat dalam
menentukan pilihan.
Dari pengamatan yang penulis lakukan, dapat juga ditegaskan
bahwa keberhasilan PAN meraih 11 kursi di DPRD Labuhan Batu
Selatan juga tidak terlepas dari dua faktor, yaitu faktor modal sosial
dan modal kapital. Pertama, modal sosial yaitu kemampuan untuk
membangun relasi, hubungan dan membangun popularitas dalam
mewujudkan tujuan bersama. Modal sosial merupakan fenomena
yang berasal dari orang-orang yang membentuk koneksi sosial dan
network yang didasarkan atas prinsip kepercayaan dalam hubungan
dan saling menguntungkan. Dari penelusuran yang dilakukan
penulis, modal sosial ini sangat kuat dimiliki oleh kader-kader PAN
Labusel yang sudah menjadi anggota DPRD. Modal sosial paling
kuat mempengaruhi masyarakat adalah keberadaan Bupati Labusel
yang merupakan Ketua Umum DPD PAN.
Kedua, modal kapital yaitu modal finansial, material dan
ekonomi. Modal ini merupakan salah satu faktor yang sangat
dibutuhkan partai dan para politisi untuk memenangkan kontestasi
politik. Satu partai tidak akan bisa eksis kalau tidak didukung
oleh modal kapital. Modal kapital ini tentu akan memudahkan
seseorang untuk memobilisasi massa, mengarahkan massa untuk
bersedia memilih dan sebagainya. Dukungan modal sosial, dapat
memudahkan seorang politisi untuk melakukan yang namanya
politik transaksional. Karena tidak dipungkiri, bahwa politik
transaksional ini juga berlaku dalam mendukung kemenangan calegcaleg PAN di Labusel. Politik transaksional yang dimaksud, tentu
bukan politik uang (money politic) apalagi pembelian suara pemilih.
Politik transaksional yang dimaksud adalah politik yang dilakonkan
seorang politisi PAN dengan cara memberi bantuan berupa fasilitas
sarana, seperti pengadaan sarana pengajian, sarana olah raga anak
muda, bantuan pendidikan dan sebagainya.
Pemberian bantuan yang sifatnya sangat transaksional tersebut,
bertujuan untuk mempengaruhi pemilih guna mendapatkan
keuntungan tertentu. Politik transaksional seperti yang dilakukan
politisi PAN, dianggap sebagai praktik yang sangat ampuh untuk
menarik simpati pemilih, khususnya pemilih tradisional yang tidak
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
254 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
mengetahui persis suasana politik menjelang pemilihan umum.
Misalnya seperti temuan yang diperoleh penulis terkait dengan pemilu
di Labusel, kemenangan PAN tidak terlepas dari praktik transaksional.
Caleg-calegnya memberikan bantuan barang, sarana dan kebutuhan
masyarakat, sehingga masyarakatpun memilih mereka. Di Kabupaten
Labuhan Batu Selatan, awalnya posisi perolehan kursi PAN hanya
memiliki 1 kursi, tetapi setelah dimekarkan dari Kabupaten Labuhan
Batu (induk), maka pada pemilu legislatif tahun 2014, perolehan
kursi PAN di Labusel bertambah secara signifikan menjadi 11 kursi.
Dari penelusuran yang dilakukan penulis, meningkatnya perolehan
kursi PAN di Labusel didukung oleh faktor kekuasaan yang secara
kebetulan Ketua DPD PAN Labusel sekaligus sebagai bupati.
Berdasarkan beberapa fakta di atas, dapat disimpulkan
bahwa dua modal, yaitu modal sosial dan modal kapital sangat
besar pengaruhnya dalam mendukung pemenangan dalam satu
kontestasi politik. Hubungan nilai-nilai kedua modal tersebutlah
yang menguatkan pencitraan politik PAN di Labusel dan Sergai,
sehingga PAN berhasil meraih kursi yang tergolong besar di DPRD.
Oleh sebab itu, survivalitas partai akan terjamin jika memiliki kedua
modal tersebut. Sebagaimana ditegaskan Bordieu, bahwa individu
maupun kolektif yang mempunyai modal kuat dipastikan menguasai
atau memenangkan kontestasi. Sementara pihak yang tidak dapat
bersaing di masyarakat karena keterbatasan modal, akan mengalami
kekerasan simbolik seperti tersisihkan, tidak diperhatikan dan
sebagainya.
Di balik keberhasilan PAN di beberapa daerah di Sumatera
Utara, namun tercatat juga kegagalan PAN dalam meraih
simpatisme masyarakat. Misalnya Kabupaten Karo merupakan
gambaran kegagalan PAN dalam membangun pencitraan. Pada
pemilihan legislatif tahun 2014, PAN tidak memperoleh kursi di
DPRD. Demikian juga dengan Kota Medan, dapat dikatakan sebagai
gambaran kegagalan PAN dalam menguatkan pencitraan. Dari data
yang diperoleh penulis pada tahun 1999 PAN Kota Medan meraih
tujuh kursi. Saat itu Ketua DPD PAN Kota Medan di pimpin Drs. H.
Ibrahim Sakty Batubara yang juga sebagai tokoh Muhammadiyah.
Secara historis periode ini PAN tidak terlalu dituntut bekerja keras,
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 255
sebab pada awal reformasi PAN menjadi perhatian rakyat secara luas.
PAN terbantu dengan ketokohan Amien Rais yang saat itu sebagai
ketua DPP PAN. Tetapi seiring dengan semakin ketatnya persaingan
antara partai, maka pada pemilihan umum 2004, perolehan kursi
PAN mengalami penurunan yang awalnya tujuh kursi menjadi 6
kursi. Menurut hasil wawancarai dengan Ahmad Arief, penurunan
suara PAN disebabkan makin melemahnya pencitraan partai.
Menurut pengalaman dan pandangan saya, terjadinya
penurunan perolehan kursi PAN di Kota Medan disebabkan
tiga hal. Pertama, sosialisasi kader PAN kepada konsituen di
daerah pemilihan sangat kecil. Kedua, kepopuleran PAN masih
mengandalkan ketokohan Amien Rais, sementara para kader
juga sebenarnya dituntut agar lebih banyak menunjukkan
ketokohannya, terutama di dapil masing-masing. Ini yang
menurut saya kurang dilakukan oleh para kader, khususnya para
caleg. Ini berpengaruh signifikan terhadap pilihan masyarakat
pada Pemilu 2004. Diakui juga bahwa persaingan antarpartai
di Kota Medan semakin ketat. Ketiga, secara organisatoris, PAN
lebih banyak disibukkan mengurusi konflik intenal. Sebab,
sebagai partai politik baru, PAN lebih banyak menuntaskan
struktur kepengurusan untuk dibentuk dari DPC, DPRt sampai
rayon dan sub rayon. Karena sibuk mengurusi itu, maka kurang
memperhatikan apa yang semestinya dilakukan. Artinya,
pendekatan pada masyarakat kurang dilakukan, padahal
konstituen itu perlu dijaga dan diperhatikan.8
Apa yang disebutkan Arif, tidak berhenti pada tahun 2004. Dari
data yang diperoleh penulis, pada pemilu tahun 2009, PAN Kota
Medan juga hanya mengalami penurunan suara menjadi 5 kursi atau
rangking ke lima peroleh kursi di legislatif. Dari data yang diperoleh
penulis, penurunan ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, para caleg
banyak yang tidak maksimal bersosialisasi ke daerah pemilihannya.
Kedua, penetapan caleg lebih kepada kedekatan emosional kepada
ketua partai. Siapa yang dekat dengan ketua partai, maka itulah
yang ditetapkan sebagai caleg utama atau nomor urut 1. Ketiga,
8
Ahmad Arif, Ketua DPD PAN Kota Medan periode 2005-2010, periode 20102015, anggota DPRD Kota Medan periode 2004-2009, periode 2009-2014 dan periode
2014-2019. Wawancara tanggal 5 September 2016 melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
256 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
tidak menempatkan para tokoh di daerah pemilihan yang kuat
ketokohannya.
Pada pemilu 2014, perolehan kursi PAN semakin menurun
menjadi empat kursi. Dari analisis yang dilakukan penulis, penurunan
perolehan suara tersebut mengindikasikan gagalnya pencitraan yang
dilakukan PAN di Kota Medan. Kegagalan ini juga dibarengi tidak
proporsionalnya penempatan caleg PAN. Selain itu, PAN tidak
menempatkan caleg sesuai dengan ketokohan dan kedaerahan,
sebagaimana yang dilakukan pengurus PAN di Labuhan Batu Selatan
dan Sergai. PAN Kota Medan juga kurang memperhatikan kondisi
pemilih dengan penempatan caleg. Misalnya di Dapil 2, Medan
Helvetia dan Medan Barat, di kawasan tersebut caleg PAN ditunjuk
dari orang Muslim, sementara kawasan tersebut dihuni mayoritas
non-muslim. Akhirnya sesama caleg muslim yang berasal dari partai
politik lain bersaing memperebutkan suara umat Islam. Sementara
caleg non-muslim hanya memperebutkan massa di luar Islam, atau
etnis batak lainnya.
Model Pencitraan Politik Untuk Menarik Simpati Masyarakat
Sumatera Utara
PAN yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1998 tergolong
masih sangat muda usianya, jika dibandingkan dengan partaipartai besar lainnya. Sejak PAN berdiri dan sudah berusia 18 tahun
sampai pada tahun 2016, faktor keberhasilan PAN didukung oleh
simpatisme masyarakat yang terus mengalir di berbagai daerah di
seluruh Indonesia. Tidak hanya faktor simpatisme, tetapi manajemen
pemasaran partai juga turut mendukung perkembangan partai
tersebut.
1. Merawat Ketokohan
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, ketokohan merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi simpatik masyarakat
kepada PAN Sumatera Utara. Hal ini terbukti dari perolehan suara
PAN yang berhasil mendudukkan anggotanya di DPRR Sumatera
Utara. Pemilih PAN masih sangat memperhatikan faktor ketokohan
tersebut. Di awal berdirinya PAN di Sumatera Utara, PAN di ketuai
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 257
oleh tokoh Muhammadiyah, yaitu Amri Husni Siregar. Setelah Amri
Husni, Musywil ke II PAN mengamanahkan kepemimpinan kepada
tokoh Ibrahim Sakti Batubara yang merupakan tokoh Muhammadiyah.
Hasilnya PAN memperoleh 8 kursi di DPRD Sumatera Utara.
Kemudian, pada Musywil ke III PAN juga dinakhodai oleh kader
Muhammadiyah, yaitu Kamaluddin Harahap, dan PAN berhasil
meraih 7 kursi di DPRD sekaligus berhasil mendudukkan wakilnya
sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara. Tetapi kemudian pada
Musywil ke IV, PAN Sumatera Utara di nakhodai ketua umum yang
bukan dari kader Muhammadiyah. Pada periode ini PAN Sumatera
Utara mengalami penurunan suara dan hanya meraih 6 kursi di
DPRD Sumut.
Kondisi ini menunjukkan, bahwa popularitas tokoh-tokoh
Muhammadiyah dalam memimpin PAN masih menjadi magnet
yang sangat memikat bagi konstituen, utamanya bagi warga
Muhammadiyah. Ketokohan sangat berpengaruh terhadap
popularitas PAN, sehingga popularitas itu jugalah yang membuat
simpatisme masyarakat meningkat dan menurun. Ketika tokoh
yang menakhodari PAN adalah tokoh Muhammadiyah, suara
PAN meningkat, demikian juga sebaliknya. Sama halnya dengan
ketokohan Amien Rais yang mampu menghipnotis masyarakat
Indonesia, sehingga PAN pada awal berdirinya berkembang dengan
pesat. Pada pemilu pertama dilaksanakan, yaitu tahun 1999 suara
PAN secara nasional sebanyak 7.528.956 suara (7,12%) atau ekuivalen
dengan 34 kursi. Perolehan suara ini menempatkan PAN diurutan
kelima partai pemenang pemilu 1999.
Tentu bagi PAN, urutan kelima merupakan hasil yang
spektakuler di awal perkembangannya. Sebab PAN adalah partai
yang masih baru dan dapat dikatakan sebagai partai yang lahir dari
embrio reformasi. Tentu ketokohan Amien Rais sebagai tokoh central
pada saat itu, menjadi daya tarik bagi PAN untuk meraih simpatisme
masyarakat Indonesia. Karena secara kebetulan, Amien Rais adalah
pendiri PAN, tokoh reformasi, sekaligus tokoh Muhammadiyah.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa dalam even-even
politik, baik itu pemilihan presiden, pemilihan caleg, maupun pilkada
langsung, kepopuleran seorang tokoh politik sangat mendominasi
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
258 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
dan menentukan bagi pilihan-pilihan masyarakat. Oleh karena itu,
perhatian dan pemeliharaan terhadap ketokohan tersebut sangat
intens dilakukan oleh PAN. Cara yang dilakukan PAN dalam hal
ini adalah dengan cara menghormati para tokoh dan sesepuh yang
ada di organisasi Muhammadiyah maupun PAN. Setiap pertemuanpertemuan akbar yang dilakukan PAN, bahkan dalam acara
silaturahmi PAN, seperti halal bil halal, milad PAN, tokoh-tokoh
tersebut selalu diundang untuk hadir. Di luar pemanfaatan media
sebagai saluran komunikasi politik pencitraan, maka pencitraan
tokoh-tokoh sentral PAN juga menjadi bahagian dari pencitraan
partai.
2. Penguatan Program dan Kerja Nyata Partai
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa DPW PAN
Sumatera Utara memiliki program-program yang telah disusun
dengan baik. Program-program tersebut ada yang sifatnya program
jangka pendek dan ada juga program jangka menengah dan jangka
panjang. Di antara program-program tersebut terdapat program
unggulan partai yang dilakukan secara berkesinambungan, seperti
program KTA bersantunan, program pemberdayaan nelayan,
program pemberdayaan KUBE tani dan sebagainya.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan penulis, program
unggulan PAN ini, dapat mempengaruhi simpatisme masyarakat
terhadap PAN. Perhatian DPW PAN Sumatera Utara melalui
kerja nyata dengan memperhatikan masyarakat miskin, mampu
meningkatkan pencitraan politik partai, sehingga masyarakat
semakin bersimpati kepada PAN. Simpatisme masyarakat
diimplementasikan dalam wujud kesediaan untuk memilih PAN pada
saat pemilu dan tingginya keinginan masyarakat untuk bergabung
menjadi simpatisan partai tersebut. Hal ini didukung dari beberapa
pernyataan masyarakat pada saat diwawancarai, sebagaimana yang
telah diuraikan di atas.
Penguatan kerja nyata PAN, di beberapa daerah dapat
mendorong peningkatan perolehan suara PAN. Misalnya di Serdang
Bedagai PAN meraih 7 kursi. Keberhasilan PAN di daerah ini
bukan karena Ketua DPD nya secara kebetulan Bupati, tetapi faktor
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 259
lain keberhasilan PAN di daerah ini adalah karena kemampuan
kader PAN untuk menggerakkan masyarakat, untuk ikut aktif
dalam berbagai kegiatan PAN. Misalnya program pemberdayaan
masyarakat pinggir pantai untuk melestarikan hutan mangrove.
Program ini berhasil menciptakan pencitraan politik yang dapat
menarik simpatisme masyarakat.
Oleh sebab itu, DPW PAN Sumatera Utara menyadari pentingnya
program-program yang dapat menarik simpatik masyarakat kepada
partai. Kondisi tersebut mendorong DPW PAN Sumatera Utara untuk
merancang program kerja yang sifatnya berkesinambungan dan
dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat. DPW PAN Sumatera
Utara terus melakukan inovasi program baru, tanpa meninggalkan
program lama yang juga dapat menarik simpatik masyarakat. Misalnya,
program kerja yang digagas PAN pada periode 2015-2020, DPW PAN
merancang kegiatan pelestarian sekitar pinggiran Danau Toba dengan
cara penghijauan. Prinsipnya, DPW PAN terus mengupdate program
kegiatan yang merakyat, tanpa mengesampingkan kegiatan lama yang
sudah menjadi rutinitas PAN di masa lampau.
3. Silaturahmi, Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Kelompok
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, bahwa PAN
merupakan partai yang sering turun ke dapil dan turun ke dapil
adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap kader.
Dalam kesempatan itu pula, partai maupun politisi PAN membangun
komunikasi politik kepada masyarakat, baik dengan menggunakan
saluran komunikasi massa, komunikasi luar ruangan, komunikasi
interpersonal dan komunikasi kelompok.
Komunikasi interpersonal, baik dengan cara menjalin silaturahmi
kepada masyarakat dan para tokoh merupakan saluran komunikasi
paling efektif dalam upaya membangun pencitraan politik. Sebab
melalui komunikasi interpersonal, seorang politisi PAN bertemu
langsung bertatap muka dengan masyarakat untuk mendiskusikan
berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat, dan politisi yang
bersangkutan dapat menanggapinya secara langsung. Komunikasi
interpersonal juga dikatakan efektif, karena dapat mengubah sikap,
pendapat atau perilaku seseorang karena sifatnya dialogis berupa
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
260 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
percakapan. Arus balik bersifat langsung, percakapan berlangsung
dengan cara yang dialogis dan santai.
Secara teoritis disebutkan, bahwa keunggulan komunikasi
interpersonal yaitu, komunikator mengetahui tanggapan komunikan
pada saat komunikasi berlangsung. Komunikator bisa mengetahui
secara pasti, apakah komunikasinya itu positif atau negatif, berhasil
atau tidak. Jika tidak berhasil atau tanggapan dari komunikan negatif,
komunikator dapat meyakinkan komunikan ketika itu juga, karena
komunikator dapat memberikan kesempatan kepada komunikan
untuk bertanya seluas-luasnya. Tetapi salah satu kelemahan
komunikasi interpersonal ini, ketika seorang komunikator salah
dalam berkomunikasi, maka akan terasa secara langsung bekasnya
di hati komunikan. Meskipun komunikator bisa minta maaf, tapi
kesalahan tersebut tidak serta merta terhapus. Kondisi yang seperti
ini, bisa mengakibatkan terjadinya penolakan langsung dari seorang
komunikan.
Model komunikasi kedua yang paling efektif dalam membangun
pencitraan PAN yaitu dengan cara melakukan komunikasi
kelompok. Komunikasi kelompok yang dilancarkan PAN dengan
memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat, sangat besar
efeknya terhadap pencitraan politik PAN. Pembinaan kelompkkelompok kecil, baik kelompok nelayan, kelompok tani dan kelompok
masyarakat miskin seperti yang dilakukan PAN di berbagai
daerah, mampu menguatkan pencitraan politik PAN. Masyarakat
sebagaimana hasil wawancara yang telah dipaparkan di atas, menilai
bahwa PAN adalah partai yang peduli dengan kondisi mereka,
PAN adalah partai yang memperhatikan rakyak kecil. Ini tentu akan
menguatkan posisi PAN di tengah masyarakat, sehingga pada saat
pemilu tiba, masyarakat tidak kerepotan lagi untuk memilih partai
apa yang harus mereka pilih, karena mereka sudah menjatuhkan
pilihan pada partai yang memperhatikan mereka.
Dengan demikian, komunikasi interpersonal maupun
komunikasi kelompok kecil, sebagaimana yang dilakukan PAN
kepada kelompok-kelompok binaan, merupakan suatu situasi
komunikasi yang memungkinkan orang-orang saling bertukar
pandangan tentang topik yang diperbincangkan. Pertukaran tersebut
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 261
menimbulkan serangkaian pesan dan tindakan. Kondisi itu semakin
menguat dan menyebar, jika anggota kelompok memperbincangkan
pesan-pesan yang didiskusikan di kelompok kecil tersebut. Tanpa
disadari kelompok kecil maupun orang-orang yang terlibat dalam
komunikasi interpersonal menjadi corong informasi, kepada
masyarakat yang lebih luas. Dalam konteks ini, jaringan komunikasi
PAN tentu semakin luas cakupannya. Bukan hanya masyarakat yang
ada di kelompok lagi, tetapi justru orang yang di luar kelompok kecil
itupun akan kebagian informasi.
Bila diperhatikan komunikasi kelompok kecil tersebut, ada
dua hubungan yang sangat berkaitan dalam proses komunikasi
yang berlangsung. Pertama, terdapat hubungan emosional anggota
kelompok terhadap pesan yang dibicarakan. Kedua, anggota
kelompok juga memiliki ikatan emosional yang semakin kuat. Pada
isi pesan, terdapat pandangan kelompok dalam mempersepsikan isi
pesan tersebut. Pada hubungan antar anggota, terdapat pandangan
tentang bagaimana satu anggota terhadap anggota lainnya.
Senyuman, kerutan dahi, nada suara, pertemuan pandangan, bahasa
tubuh, semuanya merupakan tanda yang dibaca orang untuk
mengetahui kesan apa yang dimiliki mereka tentang orang lain
dalam percakapan itu.
Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan upaya pencitraan politik
PAN Sumatera Utara, komunikasi interpersonal dan komunikasi
kelompok menjadi saluran komunikasi untuk membangun pencitraan
politik. Dengan demikian, dari penelusuran yang dilakukan penulis,
dapat ditegaskan bahwa silaturahmi, komunikasi interpersonal dan
komunikasi kelompok merupakan bagian dari model pencitraan
politik DPW PAN Sumatera Utara yang dapat menarik simpatisme
masyarakat. Pencitraan dengan melakukan pendekatan kepada
masyarakat, baik secara pribadi maupun kelompok, dapat
meningkatkan simpati masyarakat kepada PAN. Hal tersebut
disebabkan karena dalam komunikasi tersebut, visi misi PAN dan juga
para politisinya dapat mengenalkan dirinya secara personal terhadap
masyarakat terutama masyarakat yang masih mengambang atau
masyarakat yang belum mempunyai pilihan. Sebagaiaman diketahui
bahwa cara DPW PAN membangun pencitraan secara langsung
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
262 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
berkomunikasi dengan masyarakat, adalah untuk menggalang suara
sehingga pada kontestasi politik yang dilakukan tidak terlalu sulit
untuk mengarahkan masyarakat.
Sebagaimana misalnya yang disampaikan seorang anggota
DPRD Labuhan Batu Selatan, bahwa mendatangi masyarakat ke
rumah-rumah merupakan cara efektif untuk menarik simpatik
masyarakat. Bukan hanya sekedar pencitraan lagi, tetapi masyarakat
merasakan bahwa kehadiran seorang caleg di rumahnya merupakan
satu kebanggaan.
Saya terpilih sebagai anggota DPRD Labuhan Batu Selatan.
Selama saya menjadi Caleg dari PAN, saya rajin turun ke
masyarakat. Saya merasa bahwa kita tidak hanya cukup
membuat foto di baleho atau slogan-slogan di spanduk. Artinya,
tidak cukup sekedar pencitraan, tetapi harus dibuktikan dalam
kegiatan nyata. Saya turun ke masyarakat dengan dibantu
tim sukses, mendatangi rumah-rumah warga, bersilaturahmi,
mengajak mereka berdiskusi dan menanyakan perihal aspirasi
mereka. Kegiatan pertemuan itu sederhana tetapi sangat kuat
ikatan batin yang dihasilkannya. Saya dengan tim sukses
langsung memperkenalkan diri kepada masyarakat, dan itu
berkelanjutan dari satu desa ke desa lainnya di dapil saya.
Dalam pertemuan silaturahmi personal atau kelompok, saya
memperkenalkan program kerja kepada masyarakat, dan
saya sampaikan keseriusan saya untuk melakukan perubahan
di dapil yang saya wakili. Dalam silaturahmi itu, kita hanya
melakukan kegiatan makan-makan sambil berdiskusi. Bagi saya,
mendatangi rumah-rumah warga suatu hal yang sangat efektif
dalam meraih simpatisme mereka. Memang butuh dana untuk
itu, dan tidak hanya sekedar modal bercakap-cakap saja, sebab
kita juga menyediakan makan minum. Tentu itu butuh dana,
tetapi saya dalam hal ini menghindari politik uang. Bahkan
tidak hanya sekedar mendatangi warga ke rumah-rumah, tetapi
dalam membangun citra positif di masyarakat, saya sebagai
caleg ikut bergotong royong. Itu saya lakukan, tidak hanya saat
menjelang pemilu. Tetapi saya melakukan itu jauh-jauh hari
sebelum pemilu, dan intensitasnya meningkat menjelang pemilu
supaya masyarakat makin yakin dan makin kenal.9
9
Ahmad Hidayat Ritonga, Sekretaris DPD PAN Labuhan Batu Selatan periode
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 263
Hal tersebut juga didukung oleh hasil informasi yang diperoleh
dari masyarakat di Asam Jawa Kecamatan Kota Pinang Labuhan Batu
Selatan, bahwa banyak warga masyarakat yang merasa diperhatikan
dengan turunnya caleg ke desa mereka. Turunnya caleg ke dapil,
merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat. Ini
menjadi tolak ukur bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya.
Masyarakat memilih bukan karena uang dan sembako semata-mata,
atau karena memiliki ikatan emosional kekeluargaan, tetapi karena
merasa bahwa kehadirian caleg tersebut benar-benar memperhatikan
mereka, sebagaimana diakui oleh seorang warga bernanama
Muhajir, bahwa dalam setiap pemilihan, baik caleg maupun pilkada,
sudah barang tentu terjadi persaingan antara calon. Secara pribadi,
ia memilih seorang politisi bukan karena dikasi duit, tetapi ada
perasaan simpatik terhadap calon karena rajin bersilaturahmi dengan
masyarakat. Kedatangan seorang calon ke rumah atau kesediaan
calon untuk bersilaturahmi dengan masyarakat menjadi salah satu
fakta bahwa calon tersebut memperhatikan keadaan masyarakat.
Itulah yang membuat ketertarikan masyarakat untuk membantu.10
4. Kampanye dan Pemasaran Politik
Dalam perspektif politik, kampanye adalah bagian dari aktivitas
komunikasi yang terorganisasi dan secara langsung ditunjukan
kepada khalayak dalam rangka merebut simpatik masyarakat.
Maka dalam kaitan ini, untuk menarik simpatik masyarakat, PAN
melakukan kampanye dengan menonjolkan daya tarik identitas
partai yang pada awalnya sangat elitis menjadi partai yang populis.
Identitas partai yang ditonjolkan PAN dengan slogan “PAN
merakyat” adalah fakta bahwa PAN ingin memposisikan diri sebagai
partai rakyat, bukan partai orang-orang elit.
Dari pengamatan yang dilakukan, kampanye juga merupakan
salah satu model pencitraan politik yang paling efektif dilakukan oleh
PAN untuk menarik simpatik masyarakat terhadap PAN. Kegiatan
2009-2014, dan Anggota DPRD Labuhan Batu Selatan periode 2009-2014. Wawancara
tanggal 16 di Kota Pinang,
10
Muhajir, warga masyarakat Desa Asam Jawa Kecamatan Kota Pinang,
Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara tanggal 16 di Desa Asam Jawa.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
264 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
kampanye adalah periode yang diberikan oleh panitia pemilu kepada
partai dan para politisi, untuk memaparkan program-program kerja
dan mempengaruhi opini publik serta memobilisasi masyarakat untuk
memberikan suara pada saat pemilihan. Kampanye menjadi media
efektif bagi DPW PAN Sumatera Utara untuk menyampaikan program,
visi misi PAN kepada rakyat. Kampanye politik merupakan suatu
usaha yang dikelola, diorganisir, untuk mengihtiarkan agar orang partai
atau politisi yang dicalonkan, dipilih masyarakat dalam suatu jabatan
resmi. Sebagaimana dijelaskan oleh Parluhutan Siregar, bahwa salah
satu strategi PAN untuk menarik simpatik masyarakat adalah melalui
kampanye politik. Kampanye merupakan satu langkah terorganisir
partai yang melibatkan banyak orang, mulai dari pengurus ranting
sampai kepada pengurus DPW. Biasanya kampanye dilakukan pada
pemilu Presiden, Wakil Presiden, caleg, dan pilkada.
Kalau mau kampanye, tidak hanya orang partai yang diajak,
tetapi masyarakat secara umum yang memiliki kerelaan juga
diajak dalam kegiatan itu. Tujuan kampanye adalah agar
masyarakat umum mengetahui program partai. Di samping itu,
kampanye sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan
calon-calon yang akan di pilih dari PAN. Dari kampanye yang
dilakukan, diharapkan akan tertanam pengetahuan dalam diri
masyarakat tentang PAN. Setelah masyarakat mengenali PAN,
tentu nanti akan ada hasilnya, apakah dia akan mau memilih
PAN atau tidak, itu kan sangat tergantung pada orangnya. DPW
PAN juga melakukan kampanye bukan hanya sekedar untuk
membangun pencitraan politik. Tetapi kampanye yang dilakukan
PAN juga bertujua untuk meraih dukungan masyarakat untuk
memenangkan calon-calon yang diajukan PAN, agar mereka
dapat menduduki jabatan-jabatan politik yang diperebutkan
lewat proses pemilihan umum.11
Penjelasan lain juga disampaikan oleh Adi Munasip, bahwa
kampanye adalah salah satu strategi partai untuk membangun
citranya. Melalui kampanye, program-program PAN diperkenalkan
11
Parluhutan Siregar, Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015
juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 2005-2009 daerah pemilihan Sumur 11,
Binjai Langkat, anggota DPRD Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan
Sumut 6 Tabagsel. Wawancara tanggal 6 Juni di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 265
kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengetahui program
yang akan dilakukan oleh PAN dan masyarakat mengetahui bahwa
PAN adalah partai yang senantiasa memihak kepada rakyat.
Untuk membangun pencitraan politik partai, salah satu langkah
yang dilakukan DPW Sumatera Utara adalah berkampanye.
Kalau kampanye, kita melibatkan semua elemen, mulai dari
pengurus DPW PAN Sumatera Utara sampai pengurus ranting.
Melalui kampanye itu, PAN menyampaikan program-program
politiknya. Harapan dari pelaksanaan kampanye itu adalah
untuk menarik simpatisme masyarakat terhadap PAN. Karena
tidak semua masyarakat mengetahui program PAN itu sendiri.
Maka dari pelaksanaan kampanye tersebut, diharapkan akan
dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat, terutama
tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan PAN. Harapannya,
setelah masyarakat mengetahui program-program PAN dan apa
yang sudah dilakukan dan akan dilakukan PAN, masyarakat
dapat menjatuhkan pilihannya kepada PAN pada saat pemilu.
Karena kampanye adalah ajang sosialisasi partai, maka kita
juga membuat kegiatan tersebut dengan meriah. Misalnya
mengundang orang yang berpengaruh dan sebagainya.12
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model
kampanye yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara memiliki
tujuan dan target. Karena kampanye yang dilakukan adalah dalam
kegiatan politik, maka tujuan yang ingin diwujudkan adalah untuk
membangun pencitraan politik, sosialiasasi program partai kepada
publik dan pada akhirnya adalah untuk merebut kekuasaaan atau
menguasai jabatan-jabatan publik. Tidak hanya sampai pada tataran
itu, bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh dari fungsionaris
DPW PAN Sumatera Utara, bahwa kampanye partai tersebut
bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan politis yang dapat
merubah pendapat, sikap, dan pandangan masyarakat terhadap PAN,
bahwa PAN adalah partai yang membela kepentingan rakyat. Karena
tujuan utama kampanye adalah ingin merubah pendapat, sikap dan
pandangan masyarakat terhadap PAN, maka isu-isu penting yang
digulirkan PAN dalam setiap kampanye adalah tentang kemiskinan,
12
Adi Munasip, Wakil Ketua Pusat Kebijakan Publik DPW PAN Sumatera
Utara Periode 2010 – 2015. Wawancara tanggal 3 Juni 2016 di Medan via handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
266 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
pengangguran, keadilan, supremasi hukum, perbaikan ekonomi dan
lain-lain.
Para orator yang menyampaikan pesan-pesan pada kampanye
tersebut dipilih dari orang-orang yang memiliki kemampuan retorika
atau ceramah yang bagus. Sebagaimana dijelaskan Adi Munasip, di
mana dalam melaksanakan kegiatan kampanye, pengurus partai
terlebih dahulu rapat dengan tujuan memilih siapa yang layak jadi
Juru Kampanye (Jurkam). Di rapat internal partai, kita terlebih dahulu
mengidentifikasi siapa saja yang memiliki kelayakan untuk menjadi
Jurkam. Biasanya, jurkam dipilih berdasarkan studi kelayakan,
misalnya memiliki pengaruh, ketokohannya, dan kemampuannya
dalam berpidato, atau memiliki kemampuan retorika yang mantap.
Dalam proses pemilihan Jurkam, kita mengidentifikasi terlebih
dahulu isu-isu penting yang akan disampaikan di masyarakat,
karena tidak sama semua isunya. Misalnya, kalau kampanyenya
di Belawan tentu kita melihat daerah itu sering diisukan dengan
daerah pembangunan yang terabaikan. Di sana kita singgung
masalah pembangunan wilayah Utara. Konkritnya, isu-isu
kampanye disesuaikan dengan daerahnya. Setelah diidentifikasi,
lalu dipilih Juru Kampanye (Jurkam) dan disahkan oleh partai.
Pemilihan Jurkam tersebut sesuai dengan rapat internal partai,
dan itu tidak asal tunjuk. Alasan memilih Jurkam yang mantap,
karena PAN melihat kampanye adalah salah satu upaya untuk
menyampaikan misi politik PAN. Jadi PAN sebenarnya sudah
mengkemas terlebih dahulu isu paling hangat yang menyentuh
persoalan masyarakat, misalnya masalah ekonomi, kemiskinan,
pendidikan dan sebagainya. Isu-isu didiskusikan lebih tajam
di partai, dan dikampanyekan dengan harapan masyarakat
bisa lebih cerdas melihat bahwa PAN peduli tentang persoalan
itu semua. Kita juga berharap, dengan kampanye tersebut
pengetahuan masyarakat tentang PAN juga bertambah, sehingga
PAN menjadi partai pilihannya.13
Dari informasi di atas, dapat dipahami bahwa untuk mencapai
optimalnya pelaksanaan kampanye, DPW PAN Sumatera Utara
terlebih dahulu memetakan segmentasi masyarakat yang menjadi
13
Adi Munasip, Wakil Ketua Pusat Kebijakan Publik DPW PAN Sumatera
Utara Periode 2010 – 2015. Wawancara tanggal 3 Juni 2016 di Medan via handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 267
sasaran kampanye. Dipahami juga, bahwa kampanye yang dilakukan
bertujuan untuk merubah aspek pengetahuan, sikap dan prilaku
masyarakat. Dalam aspek pengetahuan misalnya, setelah mengikuti
kampanye, masyarakat menjadi lebih cerdas untuk menilai PAN.
Perubahan sikap misalnya, setelah mengikuti kampanye masyarakat
memiliki pandangan yang positif terhadap PAN. Sedangkan dari
segi aspek prilaku misalnya, masyarakat pada akhirnya akan
menjatuhkan pilihannya terhadap PAN sebagai partai aspirasinya.
Bila ditilik dari tinjauan teoritis, bahwa kampanye yang dilakukan
PAN tersebut, erat dengan apa yang dijelaskan Pito, di mana tujuan
kampanye adalah selain untuk memilih pemimpin, sangat erat juga
tujuannya untuk merubahan aspek pengetahuan (knowledge), sikap
(atitude), dan perilaku (behavioral) masyarakat. Aspek-aspek tersebut
dijabarkan Pito, yaitu:
a.Kegiatan kampanye diarahkan untuk menciptakan perubahan
pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahapan ini
pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran,
berubahnya keyakinan atau meningkatnya pengetahuan
khalayak terhadap isu-isu tertentu.
b.Pada tahap perubahan sikap, yang diharapkan adalah
munculnya rasa simpati, rasa suka, kepedulian atau
keberpihakan khalayak kepada isu-isu yang menjadi tema
kampanye.
c.Pada tahap terakhir kegiatan kampanye adalah untuk
merubah perilaku khalayak secara kongkrit dan terukur.
Pada tahap ini diharapkan adanya tindakan tertentu yang
dilakukan oleh sasaran kampanye atau masyarakat. Dengan
kata lain, tahapan ini ditujukan untuk mengubah perilaku
secara kongkrit dan terukur, dan adanya tindakan tertentu
dari masyarakat.14
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam
kampanye terdapat tujuan dan target yang sudah ditetapkan.
Kalau dalam kegaiatan politik tujuannya adalah mempengaruhi
pandangan masyarakat melalui pencitraan yang baik, sehingga
masyarakat bisa melihat bahwa satu partai itu bagus dan dia
14
Pito, Mengenal, h. 187.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
268 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
memilih partai tersebut. Dengan demikian, tujuan kampanye
yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara secara umum tidak
hanya untuk memobilisasi massa. Tetapi lebih jauh dari itu, tujuan
kampanye PAN adalah untuk memberikan pencerdasan politik
kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengetahui partai
mana yang memperjuangkan dan tidak memperjuangkan aspirasi
mereka. Selain itu, tujuan kampanye politik yang dilakukan PAN
adalah untuk menyampaikan program PAN, sehingga masyarakat
mengetahui apa yang akan dilakukan PAN untuk mereka. Terkait
dengan penjelasan Adi Munasip di atas, dapat juga dipahami bahwa
kampanye yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara merupakan
upaya membangun pencitraan politik secara sistematis. Pencitraan
yang dilakukan memiliki tahapan strategis dan langkah-langkah
taktis. Hal tersebut dapat digambarkan sebagaimana di bawah ini.
Isu-isu penng
- Kemiskinan
- Ekonomi
- Supermasi
hukum
- dll
Idenfikasi
Objek
kampanye,
target
masyarakat yang
dikampanyei
DPW PAN
Sumatera Utara
Capaian efek yang
diharapkan;
perubahan
pengetahuan,
sikap dan
prilaku
Idenfikasi Juru
Kampanye
Gambar 5.1. Pola Kampanye DPW PAN Sumatera Utara
Bagan di atas menggambarkan pola kampanye yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara untuk membangun pencitraan politik di
Sumatera Utara. Pola di atas dimodifikasi berdasarkan informasi yang
diperoleh dari hasil wawancara dengan Adi Munasip, sebagaimana
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 269
yang telah diuraikan di atas. Secara umum, langkah awal yang
dilakukan DPW PAN Sumatera Utara adalah mengindentifikasi
isu-isu yang berkembang di masyarakat. Langkah kedua, Setelah
kajian-kajian terhadap isu penting di bahas, maka melalui rapat
internal partai dilakukan indentifikasi dan penetapan jurkam. Pada
langkah ketiga, DPW PAN Sumatera Utara, termasuk jurkam yang
ada di dalamnya, melakukan analisis pemetaan segmentasi objek
masyarakat target kampanye. Pemahaman terhadap obyek kampanye
atau kelompok masyarakat target kampanye adalah salah satu bagian
penting dari berhasilnya pencitraan politik dalam kampanye. Atas
dasar pertimbangan objek kampanye tersebutlah isu-isu kampanye
bisa disesuaikan, dan atas dasar itu pulalah motode kampanye
bisa disesuaikan. Tentu target kampanye adalah masyarakat
yang berdomisili dan masyarakat yang sudah memiliki hak suara.
Pada langkah keempat adalah efek kampanye yang diharapkan,
atau tujuan yang ingin dicapai yaitu bertambahnya pengetahuan
masyarakat tentang persoalan kemiskinan, ekonomi, pendidikan,
supremasi hukum dan sebagainya. Efek pengetahuan juga meliputi
pengetahuan masyarakat tentang PAN dan kepeduliannya terhadap
persoalan-persoalan tersebut. Efek sikap, masyarakat menilai bahwa
PAN adalah partai yang peduli terhadap kondisi masyarakat. Artinya,
masyarakat memiliki pencitraan positif terhadap PAN. Sedangkan
efek prilaku adalah keputusan untuk bertindak, yaitu memilih PAN.
Pola kampanye yang dilakukan PAN, adalah salah satu upaya
untuk membangun pencitraan politik yang positif. Pencitraan politik
yang positif diyakini sebagai bagian terpenting dari tumbuhnya
preferensi-preferensi calon pemilih terhadap partai maupun para
politisi. Untuk mencapai keberhasilan kampanye, masing-masing
unsur sebagaimana yang digambarkan di atas, harus memiliki
keterkaitan yang erat dalam pembentukan citra politik. Istilah A.
Lock dan P. Harris sebagaimana dikutip Firmanzah, bahwa dalam
kampanye politik terdapat dua hubungan yang akan dibangun,
yaitu, internal dan eksternal. Hubungan internal adalah suatu
proses antara anggota-anggota partai dengan pendukung untuk
memperkuat ikatan ideologis dan identitas mereka. Sementara
hubungan eksternal dilakukan untuk mengkomunikasikan citra
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
270 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
(image) yang akan dibangun kepada pihak luar partai, termasuk
media massa dan masyarakat secara luas. Karena image politik harus
didukung oleh konsistensi aktivitas politik jangka panjang, maka
kampanye politik pun harus dilakukan secara permanen dan tidak
terbatas pada waktu menjelang pemilu saja. Image politik yang akan
dibangun harus memiliki karakteristik sendiri dibandingkan dengan
para pesaingnya.15
Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi kata kunci penguatan
citra politik PAN Sumatera Utara adalah pada intensitas penyampaian
isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Artinya,
isu-isu penting bagi masyarakat harus dijaga kesinambungannya.
Isu-isu penting yang dimaksud misalnya masalah yang berkaitan
dengan kesejahteraan masyarakat, pembangunan, peningkatan
ekonomi, lapangan kerja, supremasi hukum dan sebagainya. Di
samping itu, hubungan baik antara subjek (PAN) dengan objek atau
masyarakat yang menjadi sasaran kampanye harus dirawat dengan
baik. Jika intensitas isu tidak terjaga dengan baik, kesinambungannya
terhambat, ditambah lagi dengan penyampaian yang kuran baik
misalnya, bisa jadi masyarakat akan menolaknya, atau tidak
memperhatikannya. Di sini jugalah perlu diperhatikan, bahwa setiap
Jurkam harus menyampaikan isu-isu aktual dengan bahasa-bahasa
yang mudah dipahami masyarakat yang menjadi sasaran kampanye.
Selain kampanye, model pencitraan lain yang dilakukan DPW
PAN Sumatera Utara yang dapat mempengaruhi khalayak, yaitu
melalui political marketing (pemasaran politik). Meskipun istilah
marketing politik baru berkembang akhir-akhir ini, namun aktifitas
marketing dalam politik telah dilakukan sebelum kaum intelektual
dan akademisi mempelajarinya. Di Indonesia sendiri aktivitas
marketing politik dijadikan strategi handal untuk membangun
citra dan popularitas partai maupun para politisinya. Semakin
ketatnya persaingan politik, menuntut partai maupun politisi untuk
membentuk strategi politik yang handal. Ini terlihat dari pengalaman
pemilu langsung oleh rakyat sejak tahun 1999 sampai tahun 2014.
Maka dalam konteks ini, marketing politik menjadi salah satu pilihan
untuk membangun citra politik partai maupun politisinya. Politik
15
Firmanzah, Marketing, h. 275.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 271
pencitraan ini, sering kali terlihat mampu membalikkan fakta, di
mana seseorang yang sudah tercemar namanya di kalangan luas,
bisa saja lolos dalam kompetisi pemilu yang terbuka karena terbantu
oleh pencitraan yang dilakukan melalui berbagai macam media.
Pengembangan politik pencitraan ini jugalah yang diyakini oleh PAN
sebagai strategi politik yang efektif untuk membangun pencitraan
yang dapat mendongrak suara PAN.
Political marketing adalah strategi untuk melakukan pencitraan
politik, sehingga masyarakat dapat memutuskan atau memilih partai
yang mereka anggap baik dan mampu memperjuangkan aspirasi
mereka.16 Bila diperhatikan, political marketing yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara juga adalah bahagian dari kampanye
politik. Hanya saja perbedaannya, bahwa kampanye politik dengan
pengerahan massa misalnya, kecenderungannya dilaksanakan pada
saat musim-musim pemilu berlangsung. Jadi kampanye seperti ini
dapat dikatakan bersifat temporal. Sedangkan political marketing
adalah kampanye yang bersifat permanen dan kontiunitas. Jadi
model kampanye seperti ini tidak hanya menjelang pemilu, tetapi
dilakukan sebelum, dan sesudah pemilu.17
Dari penelusuran yang dilakukan, pada model kampanye
political marketing tersebut, DPW PAN memasarkan berbagai macam
produk yang dimiliki PAN, mulai dari visi misi, program partai,
kebijakan partai sampai kepada atribusi partai. Model kampanye
political marketing ini dalam pengamatan penulis, dapat memberikan
efek dalam penguatan citra partai, sebab kegiatan ini dilakukan tidak
Hampir sama dengan apa yang dijelaskan Adman Nursal, bahwa pada
dasarnya marketing politik adalah strategi kampanye politik untuk membentuk
serangkaian makna politis yang terbentuk dalam pikiran para pemilih. Itulah yang
menjadi orientasi perilaku yang akan mengarahkan pemilih untuk memilih partai
politik atau konstestan tertentu. Makna inilah yang menjadi output penting marketing
politik yang menentukan pihak- pihak mana yang akan dicoblos para pemilih. Lihat,
Nursal, Political, h. 295-298.
16
17
Istilah Firmanzah, model kampanye ada dua, yaitu model kampanye temporal
yaitu kampanye yang bersifat short term. Kampanye model seperti ini digunakan
sebagai ajang kompetisi jangka pendek menjelang pemilu untuk mengingatkan,
membentuk dan mengarahkan opini publik dalam waktu yang singkat. Sedangkan
kampanye model kontinu, berkelanjutan atau permanen adalah kampanye yang
berlaku untuk jangka panjang. Lihat, Firmanzah, Marketing, h. 275.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
272 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
hanya terbatas pada periode menjelang pemilu, tetapi sebelum dan
sesudah pemilupun dilakukan, sehingga pembentukan pencitraan
politik PAN lebih mempengaruhi perilaku masyarakat pemilih.
Dari pengamatan penulis, pada kampanye melalui political marketing
tersebut, ada tiga model pendekatan yang digunakan politisi PAN
maupun DPW PAN Sumatera Utara dalam membangun pencitraan
politik, yaitu push marketing, pull marketing dan pass marketing.
Pertama, model pendekatan push marketing yaitu langkahlangkah yang dilakukan PAN maupun politisinya untuk menyentuh
para pemilih secara langsung. Dalam pemilihan apapun bentuknya,
masyarakat merupakan elemen yang sangat penting dan dibutuhkan
oleh partai dan para politisi, karena masyarakat adalah orang yang
akan memilih. Karena dukungan masyarakatlah satu partai atau
seorang politisi bisa berkuasa, sehingga dalam pemilihan sering
kali disebutkan bahwa masyarakat adalah raja yang harus dipinang.
Dalam kaitan ini, yang dilakukan PAN Sumatera Utara adalah
melakukan pertemuan dengan masyarakat dan sekaligus melibatkan
masyarakat pemilih untuk merumuskan langkah-langkah taktis
perbaikan kehidupan masyarakat. Disini para politisi PAN turun
ke dapil-dapil, melakukan komunikasi persuasif dan berbicara
langsung kepada masyarakat. Sebagaimana yang dijelaskan
Parluhutan Siregar, bahwa untuk menarik simpatik masyarakat,
maka yang ia lakukan hampir sama dengan apa yang dilakukan
oleh fungsionaris PAN lainnya, karena sudah demikian SOP nya.
Parluhutan menyebutkan, kalau turun ke daerah atau dapil, dia
mengajak masyarakat untuk berdialog dan berdiskusi langsung.
Dia menyampaikan kepada masyarakat tawaran program-program
pembangunan yang menyentuh kehidupan mereka. Melalui
program-program nyata itulah Parluhutan menarik simpatisme
masyarakat terhadap PAN. Program kerja tersebut dirancang sesuai
dengan potensi daerah di mana kegiatan dilakukan dan masyarakat
juga dilibatkan dalam rangka menyukseskan program tersebut.
Masyarakat diajak diskusi, kemudian langkah-langkah seperti apa
yang dilakukan. Tetapi program tetap dalam pengawasan sehingga
program berjalan. Hal tersebut kata Parluhutan dilakukan, agar
hubungan emosional dengan masyarakat semakin kuat. Kalau sudah
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 273
kuat ikatan emosional dengan masyarakat, tentu masyarakat akan
mendukung partai. Kalau program kerja yang ditawarkan dianggap
masyarakat mewakili keinginan mereka, mereka akan melihat partai
ini memang bagus dan pada akhinnya pada pemilu, masyarakat akan
memilih para politisi yang benar-benar menjalankan program itu.18
Cara yang dilakukan para politisi PAN Sumatera Utara seperti
yang diinformasikan di atas, terjun langsung kemasyarakat, mengajak
masyarakat berdialog dan melibatkan mereka dalam program adalah
cara efektif untuk membangun pencitraan politik. Selain menguatkan
hubungan emosional, komunikasi yang demikian dapat memberikan
efek langsung kepada masyarakat. Dengan berkunjung langsung
ke masyarakat, akan lebih memungkinkan terjadinya komunikasi
dua arah, sehingga masyarakat dan pengurus partai PAN bertemu
secara langsung, dan masing-masing mengetahui umpan balik dari
pembicaraan yang dilakukan.
Kedua, model pendekatan pull marketing yaitu pendekatan yang
berperan untuk membentuk citra partai dan para politisi secara
konsisten. Dari data yang diperoleh, dalam hal ini ada beberapa
langkah yang dilakukan oleh PAN Sumatera Utara untuk menarik
simpatik masyarakat, yaitu: konsistensi dalam menyampaikan isuisu yang berkaitan dengan masyarakat. Turunnya para politisi PAN
ke dapil-dapil tentu menjadi komunikator partai. Dalam kaitan itu,
para politisi PAN menyampaikan pesan-pesan politik yang dapat
menarik simpatisme masyarakat. Misalnya dari uraian data yang telah
disampaikan di atas, pesan-pesan yang disampaikan adalah berkaitan
dengan peningkatan pendapatan penduduk sehingga masyarakat
bisa keluar dari kemiskinan. Isu penting lainnya yang konsisten
disampaikan DPW PAN adalah tentang kesejahteraan rakyat,
pembangunan infra struktur untuk kelancaran usaha penduduk.
Artinya bahwa perbaikan jalan-jalan yang dapat membuka terhadap
akses pertumbuhan ekonomi masyarakat, menjadi isu penting bagi
PAN. Selain itu, perbaikan ekonomi, supremasi hukum dan lain18
Parluhutan Siregar, Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015
juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 2005-2009 daerah pemilihan Sumur 11,
Binjai Langkat, anggota DPRD Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan
Sumut 6 Tabagsel. Wawancara tanggal 6 Juni di Medan melalui handphone.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
274 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
lain menjadi isu-isu penting dalam setiap pesan yang disampaikan
para poltisi PAN. Selain konsistensi, hal lain yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara adalah memperhatikan efisiensi biaya,
khususnya dalam penyiaran kegiatan-kegiatan kepartaian. DPW
PAN Sumatera Utara dalam hal ini tidak hanya mempertimbangkan
jumlah masyarakat yang menjadi target penyebaran informasi, tetapi
termasuk dalam hal ini yang dipertimbangkan adalah apakah pesanpesan itu memberikan efek atau tidak.
Ketiga, pendekatan pass marketing yaitu hal-hal yang berkaitan
dengan adanya dukungan dari pihak-pihak lain, baik itu perorangan
maupun kelompok. Dalam kaitan ini, diketahui bahwa simpatisme
masyarakat bertambah kepada PAN karena adanya penguatan dari
tokoh lain di luar PAN, seperti tokoh Muhammadiyah. Isu-isu yang
dilontarkan oleh tokoh dapat mempengaruhi masyarakat, terutama
jika tokoh tersebut adalah tokoh yang dipercayai masyarakat. Selain
dari tokoh-tokoh Muhammadiyah, penguatan dari tokoh-tokoh
pemuda juga menjadi hal yang positif dalam penguatan pencitraan
politik PAN di Sumatera Utara. Bahwa salah satu entry point dari
kegiatan DPW PAN Sumatera Utara adalah mengoptimalkan peran
pemuda untuk menjadi gerbong penggerak perubahan. Optimalisasi
peran pemuda dalam penguatan citra politik PAN dilakukan dengan
membentuk BM PAN (Barisan Muda Partai Amanat Nasional).
Selama ini, PAN secara berkesinambungan melakukan
rekrutmen terhadap para pemuda untuk dikader menjadi penerus
partai. DPW PAN Sumatera Utara melakukan perkaderan bagi
para pemuda yang diharapkan dapat menjadi penerus estafet
kepemimpinan PAN. Rekrutmen terhadap pemuda, untuk masuk
ke BM PAN yang merupakan sayap partai adalah salah satu upaya
untuk penguatan pencitraan politik PAN. Para pemuda diharapkan
dapat mengoptimalkan potensinya untuk terlibat dalam berbagai
kegiatan kepartaian, sehingga muncul kader-kader PAN yang
militan, berkualitas dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap PAN.
Adanya dukungan pemuda, meguatkan eksistensi PAN di tengahtengah masyarakat, sebagaimana dijelaskan Wempy Saragih, salah
satu langkah yang dilakukan PAN untuk menguatkan pencitraan
politik di Sumatera Utara adalah menjalin hubungan baik dengan para
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 275
pemuda. Kaum muda tidak dapat dinafikan sebab dukungan mereka
sangat diperlukan untuk membesarkan PAN. Wempy menegaskan
bahwa pemuda merupakan penerus partai ini, sehingga PAN merasa
berkepentingan untuk membuat satu organisasi sayap kepemudaan
dalam rangka mendukung pergerakan PAN. Untuk kesinambungan
partai tentu diperlukan generasi, mereka itulah para pemuda yang
dikader secara serius. Kalau di PAN ada sayap pemudanya BM PAN.
Mereka sangat membantu juga terhadap penguatan gerakan partai
ini. Dalam berbagai kegiatan kepartaian mereka dilibatkan, agar
mereka memiliki pengalaman keorganisasian, sehingga jika suatu
saat menjadi pengurus partai, mereka sudah memiliki modal dasar
sebagai kader PAN. Untuk meningkatkan potensi politiknya, para
pemuda terus mendapat perkaderan dari pengurus-pengurus PAN,
baik yang ada di wilayah maupun dari pusat.19
Selain penguatan dari tokoh masyarakat dan kelompok
pemuda, penguatan pencitraan politik PAN di Sumatera Utara juga
dilakukan lewat pembinaan pengajian-pengajian Aisyiyah. Perhatian
PAN terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Nasyiyatul
Aisyiyah mendapat tanggapan positif dari warga NA. Meningkatkan
kekuatan masyarakat melalui pengajian-pengajian rutin yang
terarah, menjadikan PAN mendapat dukungan yang baik di mata
masyarakat. Sebagaimana yang diperoleh penulis dari beberapa
sumber pengajian Aisyiyah di Kota Medan, bahwa keperdulian PAN
terhadap kelompok pengajian tersebut, menguatkan pandangan
masyarakat bahwa PAN adalah partai yang perduli dengan
pengajian mereka, perhatian dengan keagamaan dan sebagainya. Ini
tentu menguatkan citra PAN di masyarakat. Sebagaimana dijelaskan
oleh Rahmawati seorang ketua Nasyiyatul Aisyiyah, bahwa PAN
dalam pandangannya adalah partai yang peduli dengan kegiatan
keagamaan. Ia mengatakan demikian, karena persatuan ibu-ibu NA
selalu mendapat perhatian bantuan dari para politisi PAN, terutama
mereka yang sudah jadi anggota DPRD. Dalam kegiatan-kegiatan
keagamaan misalnya, mereka bersedia membantu dana, kemudian
19
Wempy Saragih, Ketua Pusat Koordinasi Ortom dan Kerjasama Antar
Lembaga DPW PAN Sumatera Utara priode 2010 – 2015. Wawancara tanggal 15 Juli
2016 di Medan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
276 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
sarana dan prasarana yang dibutuhkan ibu-ibu pengajian juga sering
dibantu. Demikian juga partainya, turut juga membantu. Mereka juga
bersedia membantu kegiatan-kegiatan pengajian NA, peringatan
maulid, peringatan 1 Muharram. Mereka juga selalu bersedia
membantu kegiatan perkaderan formal yang dilakukan NA. Secara
pribadi, saya menilai PAN itu peduli terhadap kegiatan keagamaan.20
Model kampanye dan juga ketiga pendekatan pemasaran politik
yang disampaikan di atas, dalam pandangan penulis sangat membantu
terhadap penguatan pencitraan politik PAN Sumatera Utara. Dari sinilah
terlihat, bahwa kampanye politik adalah kegiatan yang dilakukan oleh
partai atau para politisi dengan harapan masyarakat memilih partai atau
politisi yang sedang berkompetisi. Kampanye politik merupakan suatu
usaha yang terorganisir untuk mengihtiarkan agar orang yang dicalonkan,
dapat terpilih tanpa paksaan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
hal terpenting dalam kampanye adalah membuat orang-orang dengan
sukarela menerima nilai-nilai yang diinformasikan oleh juru kampanye.
Oleh karena itu, persuasif merupakan cara-cara yang lazim digunakan
dalam kampanye.
Sejak tahun 2005-2015, pencitraan politik DPW PAN Sumatera
Utara secara umum bisa dikatakan bagus dan dapat mempengaruhi
masyarakat. Namun demikian, terjadinya fluktuasi perolehan
suara PAN pada rentang waktu ini tidak terlepas dari ketatnya
persaingan antarpartai. Sebab Sumatera Utara identik dengan basis
PDI Perjuangan dan Golkar yang sudah memiliki pemilih emosional,
sementara di antara dua partai besar itulah PAN dengan partaipartai lainnya berebut massa pemilih.21 Namun dari penelusuran
Rahmawati, Ketua Nasyiyatul Aisyiyah Sumatera Utara Periode 2004-2008.
Wawancara tanggal 1 Juli 2016 di Medan.
20
21
Dari pengamatan yang dilakukan, fluktuasi perolehan suara PAN di Sumatera
Utara tidak berkaitan dengan munculnya pemberitaan tentang terlibatnya beberapa
orang kader PAN dan juga anggota DPRD Sumatera Utara dari PAN dalam kasus
korupsi Bansos Propinsi Sumatera Utara. Kasus korupsi Bansor yang menimpa
beberapa politis PAN dan akhir-kahir ini ramai dibicarakan di media massa cetak
terbitan lokal, maupun dibicarakan netizen di media sosial, tidak berpengaruh pada
fluktuasi perolehan suara PAN, sebab kasus tersebut muncul tahun 2015. Dengan
demikian, persoalan apakah kasus tersebut membuat buruk citra politik PAN, tidak
menjadi pembahasan dalam penelitian ini.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 277
yang dilakukan, bahwa sepanjang 2005-2015, DPW PAN Sumatera
Utara sudah melakukan langkah-langkah taktis pemetaan basis
massa, dengan cara mengobservasi dan mengamati masyarakat
dengan menurunkan para calegnya ke dapil-dapil. Meskipun basis
massa PAN tidak jelas di daerah mana, tetapi penyebaran suara dan
pemilih PAN Sumatera Utara dapat dikatakan merata sampai ke
daerah-daerah. Penyebaran ini terbantu dengan adanya pengurus
Muhammadiyah di berbagai daerah, yang notabene dapat dikatakan
sebagai massa emosional PAN, karena PAN dan Muhammadiyah
tidak dapat dipisahkan. Di samping itu, adanya perluasan rekrutmen
massa, terutama massa mengambang (vloating mass), kemudian
pemilih pemula, juga merupakan strategi yang dikembangkan dalam
penguatan pencitraan politik PAN Sumatera Utara.
Secara teoritis, ada dua strategi yang dilakukan DPW PAN
Sumatera Utara untuk membangun dan menguatkan pencitraan
politiknya, yaitu strategi bertahan dan strategi menyerang.
Mengutip penjelasan Peter dalam Pito, strategi politik yang bersifat
ofensif (menyerang), tujuannya adalah untuk memperluas target
dan sasaran massa yang akan dipengaruhi, yaitu menambah
jumlah pemilih atau massa. Strategi opensif dilakukan terhadap
massa mengambang atau masyarakat yang berubah-ubah dalam
pilihannya, atau belum tau sama sekali mana yang akan dipilihnya.
Termasuk massa dalam kategori ini adalah pemilih pemula yang
baru mempergunakan hal pilihnya dan strategi ini tepat dilakukan
kepada pemilih pemula yang akan menentukan pilihannya, sehingga
terbentuklah kelompok-kelompok baru, di samping kelompok yang
sudah ada. Sedangkan strategi defensif (bertahan) adalah strategi
yang bertujuan untuk mempertahankan untuk menjaga agar orangorang yang sudah loyal kepada PAN. Mereka menjadi target sasaran
dengan tujuan penjagaan, agar tetap memberikan suaranya pada
saat pemilihan.22 Dalam hal ini, massa yang menjadi target sasaran
pada prinsipnya adalah massa yang ada di ormas Muhammadiyah,
Nasyiyatul Aisyiyah maupun masyarakat di luar ormasy yang sudah
memiliki keterikatan emosional dengan PAN. Untuk membangun
dan menguatkan pencitraan politik di Sumatera Utara, DPW PAN
Pito, Mengenal, h. 198.
22
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
278 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Sumatera Utara menjalankan strategi segi tiga politik. Sebagaimana
digambarkan di bawah ini.
Gambar 5.2. Strategi Segitiga Pencitraan Politik PAN Sumatera Utara
Bagan di atas menunjukkan bahwa DPW PAN Sumatera
Utara membangun dan menguatkan pencitraan politik terhadap
dua elemen massa, yaitu massa mengambang (vloating mass), yaitu
mereka yang belum menentukan pilihan dan loyalis PAN, yaitu
mereka yang sudah memiliki ikatan emosional kuat dengan PAN.
DPW PAN Sumatera Utara membangun pencitraan politik dengan
membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat, baik
masyarakat yang ada di dalam maupun di luar PAN. Sebagaimana
gambar di atas menunjukkan bahwa sasaran komunikasi politik
DPW PAN Sumatera Utara adalah massa mengambang dan loyalis
PAN. Komunikasi politik kepada massa mengambang bertujuan
untuk menarik simpatisme, sehingga massa mengambang tersebut
berhasil direkrut menjadi loyalis PAN. Jika massa mengambang tidak
dapat direkrut menjadi loyalis PAN, maka target lainnya menarik
simpatik massa mengambang tersebut, agar tetap dapat menjatuhkan
pilihannya kepada PAN. Gambar di atas juga menunjukkan bahwa
politik pencitraan tetap juga dilakukan kepada loyalis PAN.
Tujuannya adalah untuk memelihara, agar para loyalis tersebut tidak
keluar dari PAN karena merasa kurang diperhatikan. Pada akhirnya,
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 279
target komunikasi politik yang dilakukan adalah untuk menguatkan
pencitraan politik, sehingga massa mengambang maupun loyalis
PAN dapat menjadikan PAN sebagai partai penyambung aspirasinya.
Polarisasi strategi segi tiga politik yang dilakukan DPW PAN
Sumatera Utara, adalah untuk mempermudah upaya penguatan
pencitraan politik. Dengan demikian, dipahami bahwa untuk
membangun suatu pencitraan politik tidak dapat dilakukan
tanpa adanya komunikasi politik yang intensif dengan berbagai
lapisan masyarakat. Karena masyarakatlah yang akan menilai baik
buruknya citra tersebut, sehingga partai dalam konteks ini harus
mampu menciptakan iklim komunikasi yang kondusif. Komunikasi
politik yang dimaksud disini adalah semua hal yang dilakukan oleh
partai politik untuk mentransfer sekaligus menerima unpan balik
(feedback) tentang isu-isu politik yang digulirkan. Dalam prespektif
yang lebih luas isu-isu politik tersebut di angkat oleh partai untuk
menunjukkan posisinya, sehingga terbangunlan identitas khas yang
dapat memperkuat citra politiknya di benak masyarakat. Misalnya,
ketika pemerintahan SBY, PAN adalah partai yang berada di kabinet
pemerintahan. Pemerintahan SBY terkenal dengan program pro
rakyat, sehingga PAN pun mengambil peran dalam konteks ini,
dengan memperkenalkan PAN kepada masyarakat sebagai partai
yang merakyat. Artinya, bahwa PAN juga ingin menunjukkan
kepeduliannya terhadap ekonomi kerakyatan, yang secara kebetulan
Ketua Umum DPP PAN masa SBY adalah Hatta Rajasa yang juga
sebagai menteri perekonomian.
Sepanjang pemerintahan SBY, PAN sebagai partai politik
terus membangun pencitraan politik dengan cara menghubungkan
gagasan-gagasan politiknya kepada masyarakat agar terciptanya
perubahan di masyarakat sesuai dengan cita-cita politik yang di usung.
Gagasan-gagasan politik tersebut dipasarkan kepada masyarakat
untuk membangun pencitraan. Meskipun di awal pemerintahan
Jokowi PAN berada di luar pemerintah, namun pada akhirnya
masuk dalam jajaran pemerintah. Tentu optimalisasi komunikasi
politik yang dilakukan PAN bertujuan untuk membangun pencitraan
politik, sehingga tercapailah kesamaan persepsi antara masyarakat
dengan partai, terkait dengan isu-isu yang disampaikan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
280 | Suksesi Pencitraan PAN Merebut...
Bila diperhatikan perkembangan politik di Indonesia, marketing
politik tidak hanya digunakan oleh PAN. Tetapi secara umum partaipartai lain juga melakukan hal yang sama. Fenomena marketing
politic menunjukkan tingginya persaingan antara partai-partai yang
hiruk pikuk menawarkan produk-produk politiknya. Misalnya,
menawarkan ideologi, gagasan, kebijakan dan rekam jejak. Masyarakat
dijadikan sebagai “pasar” untuk mendengar, melihat, memilih,
bahkan membeli produk-produk mereka. Menurut Firmanzah, ada
empat hal utama yang melandasi pentingnya penggunaan marketing
politik bagi partai-partai politik. Pertama, karena terjadi pergeseran
paradigma pemilih dari ideologi ke program kerja. Bahwa terdapat
perkembangan saat ini, dimana masyarakat cenderung menggantikan
ikatan-ikatan ideologis (tradisional) dengan hal-hal yang lebih
pragmatis, yaitu program kerja yang ditawarkan oleh partai maupun
para politisi. Kedua, meningkatnya pemilih non-partisan, yaitu
masyarakat yang tidak menjadi anggota atau mengikatkan diri secara
ideologis dengan partai politik tertentu. Mereka adalah orang-orang
yang lebih melihat kepada program partai. Ketiga, meningkatnya
massa mengambang (floating mass). Dengan meningkatnya jumlah
pemilih non partisan maka jumlah massa mengambang semakin
besar. Massa mengambang ini seringkali sangat menentukan menang
tidaknya suatu partai politik dalam Pemilu, sehingga mereka
merupakan kelompok masyarakat yang diperebutkan oleh partai
maupun politisi dalam Pemilu. Keempat, adanya persaingan politik,
terutama setelah sistem multipartai diberlakukan.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Bab VI
Kesimpulan
Penutup
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan terkait dengan
pencitraan politik yang dilakukan DPW PAN Sumatera Utara dalam
menarik simpatik masyarakat, maka dapat ditarik kesimpulan:
Pertama, pencitraaan politik yang dilakukan Partai Amanat
Nasional (PAN) untuk menarik simpati masyarakat Sumatera Utara
Tahun 2005-2015 menggunakan strategi komunikasi politik yang
sangat bervarisi. Tujuan pencitraan tersebut adalah untuk meraih
simpatik masyarakat, sehingga elektabilitas perolehan suara PAN
bisa meningkat. DPW PAN Sumatera Utara melakukan pencitraan
politik lewat penggunaan saluran komunikasi massa, komunikasi
interpersonal, komunikasi luar ruangan, komunikasi kelompok.
Pencitraan politik PAN juga dilakukan dengan menggunakan
iklan politik di surat kabar. Pencitraan politik yang dilakukan
PAN dengan menggunakan media massa lebih cenderung kepada
masyarakat kota karena akses mereka lebih mudah ke media massa.
Sedangkan pencitraan yang dilakukan kepada masyarakat desa,
cenderung dengan menggunakan saluran komunikasi interpesonal
dan komunikasi kelompok. DPW PAN juga melakukan pencitraan
politik melalui program kerja unggulan, yang dirangkum dalam
5 program aksi, yaitu konsolidasi partai, kaderisasi, atributisasi,
sosialisasi, dan aksi. Program 5 aksi tersebut, diimplementasikan
dalam bentuk pemberdayaan kelompok binaan di masyarakat,
penyantunan keluarga miskin, melakukan kunjungan silaturahmi
ke dapil, silaturahmi kepada tokoh-tokoh. DPW PAN juga tidak
281
282 | Kesimpulan
ketinggalan untuk melakukan pencitraan melalui iklan-iklan politik
di surat kabar maupun media lainnya. Tapi kencenderungan PAN
hanya menggunakan surat kabar. Lima Si yang telah dirumuskan
PAN, disampaikan kepada seluruh elemen partai, mulai dari DPW
sampai DPRt, untuk dijalankan untuk meraih simpatik masyarakat.
Pencitraan politik dilakukan oleh partai maupun oleh politisi PAN
secara pribadi.
Kedua, variatifnya pemanfaatan sejumlah media komunikasi
dan juga program kerja yang dirangkum dalam 5-si, mampu berhasil
menarik simpatik masyarakat. Dukungan terhadap PAN muncul dari
berbagai lapisan masyarakat, baik dari tokoh maupun masyarakat
umum. Kemampuan PAN membangun pencitraan menguatkan
survivalitas PAN dalam kancah perpolitikan di Sumatera Utara
sejak tahun 2005 sampai sekarang. Di sejumlah daerah, PAN berhasil
mendudukkan wakilnya di DPRD, misalnya di Kabupaten Toba
Samosir PAN berhasil meraih satu kursi dan di Kabupaten Nias, PAN
juga berhasil meraih satu kursi. Ini juga membuktikan keberhasilan
pencitraan PAN kepada masyarakat di luar Islam, karena mayoritas
masyarakat Tobasa dan Nias adalah Kristen. Bahkan di Kabupaten
Labuhan Batu Selatan, PAN berhasil meraih 11 kursi, dan perolehan
ini tercatat sebagai hasil spektakuler perolehan suara PAN di seluruh
Indonesia. PAN juga berhasil meraih 7 kursi di Kabupaten Serdang
Bedagai (Sergai), sehingga kedua daerah ini dapat dikategorisasikan
sebagai basis PAN. Ini merupakan sejumlah fakta keberhasilan
DPW PAN Sumatera Utara dalam melakukan pencitraan kepada
masyarakat.
Ketiga, dari beberapa model pencitraan politik yang dilakukan
DPW PAN Sumatera Utara, mulai dari komunikasi massa,
komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi luar
ruangan, program unggulan, iklan dan kampanye politik, maka
pencitraan politik yang paling mempengaruhi simpati masyarakat
adalah melalui saluran komunikasi interpersonal, komunikasi
kelompok dan program unggulan partai. Dalam konteks Sumatera
Utara, komunikasi dengan pendekatan keagamaan, misalnya
komunikasi yang Islami juga turut mempengaruhi masyarakat, sebab
mayoritas masyarakat Sumatera Utara adalah beragama Islam. Untuk
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 283
melakukan komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok,
pengurus PAN turun ke dapil melakukan sosialisasi dan menjemput
suara masyarakat. Melalui komunikasi interpersonal, baik dengan
masyarakat maupun para tokoh, PAN bisa semakin dekat kepada
masyarakat, dan masyarakat merasa diperhatikan. Komunikasi
interpersonal dan komunikasi kelompok yang dilakukan, sekaligus
menjadi bahan evaluasi bagi PAN untuk memperbaiki kelemahan
partai. Pelaksanaan program partai yang tersimpul dalam program
5-Si, juga merupakan salah satu model pencitraan yang dapat
menarik simpatik masyarakat. Dengan berbagai program yang
dilakukan PAN, masyarakat dapat memperoleh manfaat langsung
dari program tersebut, sehingga masyarakat menilai bahwa PAN
adalah partai yang dapat dijadikan sebagai penyalur aspirasi mereka.
Saran-saran
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, beberapa saran yang
perlu disampaikan, yaitu:
1. Di tengah-tengah perkembangan teknologi komunikasi sekarang
ini, DPW PAN harus lebih optimal dalam memanfaatkan
penggunaan media dalam rangka melakukan pencitraan. Namun
demikian, komunikasi politik yang sifatnya konvensional, seperti
mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu, dari daerah ke
daerah, tidak boleh diabaikan, sebab mendatangi masyarakat
secara langsung dapat lebih mengeratkan hubungan emosional
dan lebih terjaganya suara PAN.
2. Survivalitas PAN sebagai partai baru, harus dipertahankan oleh
pengurus DPW PAN Sumatera Utara, terutama di beberapa
kabupaten yang menjadi basis massa PAN, misalnya Labusel
dan Sergai, PAN harus lebih banyak berbuat untuk masyarakat,
sehingga paling tidak pada pemilu yang akan datang,
PAN bisa meningkatkan prestasi ini, atau paling tidak bisa
mempertahankannya.
3. PAN Sumatera Utara sebagai partai terbuka, partai nasionalis,
harus lebih berani membuka diri dalam melebarkan strategi
rekrutmen massanya. Artinya, PAN harus sudah mulai merekrut
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
284 | Kesimpulan
massa di luar Muhammadiyah, mengingat persaingan politik
yang semakin ketat.
4. Program 5-Si yang telah dijadikan PAN sebagai program unggulan
untuk meraih simpatik masyarakat, harus di dorong agar lebih
terasakan oleh semua lapisan masyarakat. Terutama bagi
masyarakat yang ada di desa-desa, sebab mayoritas penduduk
Sumatera Utara tinggal di desa. Maka untuk melakukan itu, setiap
kader PAN harus memahami visi, misi dan perjuangan PAN itu
sendiri.
5. Disarankan kepada pengurus PAN agar dalam menarik simpatik
masyarakat, PAN menggunakan pendekatan komunikasi
keagamaan, seperti komunikasi Islami, mengingat mayoritas
masyarakat Sumatera Utara beragama Islam dan masih
melekatnya budaya masyarakat yang manut kepada pemukapemuka agama. Poin terakhir ini sekaligus menjadi rekomendasi
penelitian ini kepada mahasiswa Program Studi Komunikasi
Islam, untuk melakukan penelitian mendalam tentang
pendekatan komunikasi Islam yang dilakukan partai dalam
menarik simpatisme masyarakat.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Nyarwi. Manajemen Komunikasi Politik dan Marketing Politik:
Sejarah, Perspektif dan Perkembangan Riset. Yogyakarta: Pustaka
Zaman, 2012.
Alfian, M. Alfan. Menjadi Pemimpin Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2009.
Amal, Ichlasul. Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta: PT. Tiara
Wacana, 1998.
Amir, Mafri. Etika Komunikasi Massa Dalam Pandangan Islam. Jakarta:
Logos, 1999.
Ardial. Komunikasi Politik. Jakarta: Indeks, 2010.
Ardianto, Elvinaro dkk. Komunikasi Pengantar; Suatu Pengantar.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007.
Arrianie, Lely. Komunikasi Politik; Politisasi dan Pencitraan di Panggung
Politik. Bandung: Widya Padjajaran, 2010.
Arifin, Anwar. Komunikasi Politik: Paradigma, Teori, Aplikasi, Strategi
Komunikasi Politik Indonesia. Jarkarta: PT. Balai Pustaka, 2003.
__________. Politik Pencitraan - Pencitraan Politik. Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2014.
____________. Komunikasi Politik – Filsafat, Paradigma, Teori, Tujuan
dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.
Ater, David. E. Pengantar Analisa Politik. Jakarta: LP3ES, 1998.
Liddle, R. Wiliam. Partisipasi dan Partai Politik di Indonesia Pada Awal
Orde Baru. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1992.
Bahar, Nasril. “Kembali Kepada Jati Diri PAN” dalam Fraksi PAN:
Wujudkan Amanat Rakyat. Jakarta: Fraksi PAN Publisher, 2014.
285
286 | Daftar Pustaka
Basuki, Heru. Penelitian kualitatif: Untuk Ilmu-Ilmu Kemanusiaan dan
Budaya. Jakarta: Universitas Gunadarma, 2006.
Biagi, Shirley. Media Imfact: an Introduction to Mass Media, 3rd ed. New
York: Wadsworth Publishing Company, 1995.
Bogardus, Emori S. The Marketing Public Opinion. New York:
Associantion press, 1991.
282Ilmu Politik. Jakarta:Gramedia
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar
Pustaka Utama. 1991.
Bungin, Burhan. Analisa Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis
Ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2003.
Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 1998.
___________. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta:
Rajawali Pers, 2008.
___________. Perencanaan dan Strategi Komunikasi. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2013.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Perkenalan Awal
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.
Cravens, David W. Strategic Marketing. USA: Mc-Graw Hill, 2000.
Dhal, Robert, A. Analisis Politik Modern, Terj. Mustafa Kamil Ridwan.
Jakarta: PT Bumi Aksara, 1994.
Danial, Akhmad. Iklan Politik TV: Modernisasi Kampanye Politik Pasca
Orde Baru. Yogyakarta: Lkis, 2009.
Darmawan, Ikhsan. Mengenal Ilmu Politik. Jakarta: Kompas Media
Nusantara, 2015.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Devito, A. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional Book, 1997.
Dhani, Rendro. Centang Perenang Manajemen Komunikasi Kepresidenan
Dari Soekarno Sampai Megawati. Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004.
Effendy, Onong Uchjana. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004.
___________. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1984.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 287
Efendi, Erwan. Pengaruh Pencitraan Surat Kabar dan Religiusitas
Terhadap Penentuan Pilihan Pemilih Dalam Pemilihan Kepala Daerah
Sumatera Utara. Disertasi UIN Sumatera Utara: 2015.
Efriza. Politik Explore: Sebuah Kajian Ilmu Politik. Bandung: Alfabeta, 2012.
Firmanzah. Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, dan Marketing Politik.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010.
__________. Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2012.
Fukuyama, Francis. Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial
Baru, terj. Masri Maris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Griffin, E. A First Look at Communication Theory. Boston: McGraw-Hil
Higher Education, 2000.
Hamad, Ibnu. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah
Studi Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik.
Jakarta: Granit, 2004.
Haris, Syamsuddin, dkk. Persepsi Masyarakat Terhadap Partai Politik
Peserta Pemilu 2004. Jakarta: Pusat Penelitian Politik LIPI, 2003.
Harun, Rochajat dan Sumarno AP. Komunikasi Politik. Bandung:
Mandar Maju, 2006.
Hedebro, Goran. Communication and Social Change in Developing
Nation, A Critical View. Iowa State University Press, 1982.
Heryanto, Gun Gun. Komunikasi Politik. Jakarta: Universitas Indonesia
2010.
Ilaihi, Wahyu. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2010.
Jefkins, Frank. Public Relations. Jakarta: Erlangga, 2002.
Jordac, George. Suara Keadilan; Sosok Ali bin Abi Thalib, terj. Muhammad
al-Sajjad. Jakarta: Lentera, 1996.
Kaid, Lynda Lee. Handbook Penelitian Komunikasi Politik, Terj. Ahmad
Asnawi. Bandung: Nusa Media, 2015.
Katsir, Ibnu. Tafsir Ibnu Katsir. Bogor: Pustaka Imam Syafii, 2003.
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia, 1994.
Kholil, Syukur. Komunikasi Islam. Bandung: Cita Pustaka, 2007.
Kotler, Philip. Dasar-Dasar Pencitraan: Konsep dan Aplikasinya di
Indonesia. Jakarta: Erlangga, 1994.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
288 | Daftar Pustaka
Kriyantono, Rakhmat. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:
Kencana, 2006.
Liliweri, Alo. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana,
2011.
__________. Komunikasi Antarpersonal. Jakarta: Kencana, 2015.
Littlejohn. Theoris of Human Communication, terj, Mohammad Yusuf
Hamdan. Jakarta: Salemba Humanika, 1999.
Marwoto. Komposisi Praktis. Yogyakarta: Hanindita, 1997.
Matulada. Demokrasi Dalam Tradisi Masyarakat Indonesia. Jakarta,
LP3ES, 1996.
McNair, Brian. An Introduction To Political Communication. London:
Routledge, 2011.
McQuail, Dennis. Teori Komunikasi Massa, terj. Agus Darma dan
Aminuddin. Jakarta: Penerbit Air Langga, 1994.
Miles, Matthew B dan A. Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif,
terj. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press, 1992.
Muis, Abdul. Komunikasi Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2001.
Mulyana, Dedi. Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
___________. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2001.
___________. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004.
___________. Komunikasi Politik, Politik Komunikasi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014.
Munir, Abdullah Super Teacher (Sosok Guru Yang Dihormati, Disegani,
dan Dicintai). Yogyakarta: Pedagogia, 2010.
Muhtadi, Burhanuddin. Dilema PKS : Suara dan Syariah. Jakarta: KPG,
2012.
Mulyana, Dedy. Komunikasi Politik, Politik Komunikasi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014.
Morrisan. Psikologi Komunikasi. Bogor: Indonesia, 2002.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 289
Nedelmann, Birgitta. Individuals and Parties - Changes in Processes of
Political Mobilization. European Sociological Review: Oxford
University Press, 1987), h. 181-202.
Nimmo, Dan. Komunikasi Politik; Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006.
____________. Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan dan Media.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.
Nursal, Adman. Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Pamungkas, Sigit. Partai Politik: Teori dan Praktik di Indonesia.
Yogyakarta: Institut for Democracy and Welfarisme, 2011.
Pito, Toni Andrianus, dkk. Mengenal Teori-Teori Politik. Bandung:
Penerbit Nuansa, 2009.
Puspoyo, Widjanarko. Dari Soekarno Hingga Yudhoyono, Pemilu
Indonesia 1955 – 2009. Solo: Era Adicitra Intermedia, 2012.
Al-Qardhawy, Yusul. Pedoman Bernegara Dalam Perspektif Islam, Terj.
Kathur Suhadi. Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1999.
Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual. Bandung: Mizan, 1996.
____________. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya,
2001.
__________. Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis
Statistik. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984.
Rauf, Maswardi dan Mappa Nasrun. Indonesia dan Komunikasi Politik.
Jakarta: PT Gramedia Utama, 1993.
Rogers, Everett M dan F. Floyid Shoemaker. Communication of
Innovations, terj. Abdillah Hanafi. Surabaya: Usaha Nasional,
1981.
Rush, Michael dan Philip Althoff. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada, 2004.
Ruslan, Rosady. Kampanye Public Relation. Jakarta: PT RajaGrafindo,
2007.
Ruslan. Strategi Public Relations, Bauran Public Relations. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1997.
Sahid, Komarudin. Memahami Sosiologi Politik. Bogor: Ghalia
Indonesia, 2015.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
290 | Daftar Pustaka
Sastroatmodjo, Sudjono. Perilaku Politik. Semarang: IKIP Semarang
Press, 1995.
Savitri, Gita. Konstruksi Retorika Politik dalam Restorasi Citra: Analisis
Pernyataan Pers Boediono dalam Kasus Bank Century. Tesis: FISIP UI,
2014.
Sayuti, Solatun Dulah. Komunikasi Pemasaran Politik. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2014.
Schroder, Peter. Strategi Politik. Jakarta: Friedrich Noumann Shiftung,
2004.
Scot, Cutlip, M. (et. al), Effective Public Relations Professional. New York:
Prentice Hall, 2006.
Shihab, M. Quraish. Wawasan Alquran. Bandung: Mizan, 1996.
___________. Tafsir Al-Mishbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian AlQur’an). Jakarta: Lentera Hati, 2003.
Siregar, Ashadi. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Pustaka, 2008.
Simon, Roger. Gagasan-gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1999.
Sendjaja, S. Djuarsa Dkk. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas
Terbuka, 1994.
Setiyono, Budi. Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum.
Jakarta: AdGoal Com, 2008.
Severin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. Teori Komunikasi: Sejarah,
Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, terj. Sugeng Hariyanto.
Jakarta: Kencana, 2005.
Simons, Jon. The Power of Political Images. Bloomington: American Political
Science Association, 2006.
Sitepu, Anthonius. Sistem Politik Indonesia. Medan: Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, 2004.
Soemirat, Soleh dan Elviriano. Dasar-Dasar Publik Relations. Bandung: PT
Remaja Rosadakarya, 2002.
Soyomukti, Nurani. Komunikasi Politik: Kudeta Politik Media, Analisa
Komunikasi Rakyat dan Penguasa. Malang: Intrans Publishing, 2013.
Subiakto, Henri dan Rachmah Ida. Komunikasi Politik, Media dan
Demokrasi. Jakarta: Kencana, 2012.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 291
Suprapto, Tommy. Komunikasi Propaganda: Teori dan Praktik.
Yogyakarta: CAPS, 2011.
Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Grasindo, 2010.
Syam, Nina W. Sosiologi Komunikasi. Bandung: Humaniora, 2009.
Taufik, M. Tata. Etika Komunikasi Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2012.
Tawakkal, George Towar Ikbal. Peran Partai Politik dalam Mobilisasi
Pemilih (Studi Kegagalan Parpol Pada Pemilu Legislatif di Kabupaten
Demak 2009). Tesis: PPS UNDIP Semarang, 2009.
Tinarbuko, Sumbo. Iklan Politik Dalam Realitas Media. Yogyakarta:
Jalasutra, 2009.
Undang-Undang No. 31/2002 Penyempurnaan dari Undang-Undang
No. 2/1999.
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik.
Varma, SP. Teori Politik Modern, terj. Yohannes Kristiarto. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2010.
Ritzer, George. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media, 2004.
Wahid, Marzuki. “Cirebon, Jawa Barat: Ketika Patronase Mengalahkan
Personalisme” dalam Edward Aspinall dan Mada Sukmajati
(Ed), Politik Uang di Indonesia: Patronase dan Klientalisme Pada
Pemilu Legislatif 2014. Yogyakarta: Penerbit PolGov, 2015.
Wasesa, Silih Agung. Political Branding & Public Relation. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2011.
Wasesa, Silih Agung dan J. Macnamara. Strategi Public Relations,
Membangun Pencitraan Berbiaya Minimal dengan Hasil Maksimal.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.
Ways, Muliansyah A. Political; Ilmu Politik, Demokrasi, Partai Politik
dan Welfare State. Yogyakarta: Buku Litera, 2015.
Zandi, Sakhira. “Teori Komunikasi Massa” dalam Syukur Kholil (ed.).
Teori Komunikasi Massa. Bandung: Citapustaka Media, 2011.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
292 | Daftar Pustaka
Jurnal
A.S, Benedictus. “Konstuksi Diri dan Pengelolaan Kesan Pada Ruang
Rill dan Ruang Virtual” dalam Jurnal Aspikom, Volume 1, Nomor
1, Juli 2010.
Haryati, “Pencitraan Tokoh Politik Menjelang Pemilu 2014” dalam
Jurnal Observasi, Vol 11, No. 2 Tahun 2013. Jakarta: Badan Litbang
SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2013.
Imansyah, Teguh. “Regulasi Partai Politik Dalam Mewujudkan
Penguatan Peran dan Fungsi Kelembagaan Partai Politik” dalam
Jurnal RechtsVinding, Volume 1. Nomor 3, Desember 2012. Jakarta:
BPHN, 2012.
Kahar, Suyatno. “Pencitraan Politik Partai Nasdem Melalui Iklan
di Televisi” dalam Jurnal Humanity, Vol. 9, No. 2, Maret 2014.
Yogyakarta: UMM, 2014.
Mahadi, Ujang. “Komunikasi Politik Kiai Pada Kampanye Pemilu”
dalam Jurnal ADDIN, Volume. 9, Nomor, 2 Agustus 2015. Bengkulu:
IAIN Bengkulu, 2015.
Musta’in, “Teori Diri; Sebuah Tafsir Makna Simbolik Pendekatan
Teori Dramaturgi Erving Goffman” dalam Jurnal Komunika, Vol
4 No. 2 Juli-Desember 2010.
Siswanto. “Metafora Budaya Sebagai Pendekatan Manajemen”
dalam Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik, Th. XXI. No. 3,
Juli-September 2009.
Syobah, Nurul. “Peran Media Massa Dalam Komunikasi Politik”
dalam Jurnal Komunikasi dan Sosial Keagamaan, Vol: XV, No. 1, Juni
2012. IAIN Samarinda, 2012.
Vidyarini, Titi Nur. “Politik dan Budaya Populer Dalam Kemasan
Program Televisi” dalam Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 2, No.
1, Januari 2008. Pusat Penelitian Universitas Kristen Petra: 2008.
Surat Kabar
Anang Anas Azhar, “Jarak PAN dan Muhammadiyah” dalam Harian
Waspada, tanggal 24 Agustus 2015.
______________. “Mencari Figur Ketua PAN Sumut” dalam Harian
Waspada, tanggal 19 Juni 2015.
______________. “ Media dan Iklan Politik” dalam Harian Analisa,
tanggal 13 Pebruari 2014.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Dr. Anang Anas Azhar, M.A. | 293
Hasil Wawancara
Arif, Ahmad. Ketua DPD PAN Kota Medan periode 2005-2010,
periode 2010-2015, anggota DPRD Kota Medan periode 20042009, periode 2009-2014 dan periode 2014-2019. Wawancara
tanggal 5 September 2016 melalui handphone.
Asmuni. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera
Utara periode 2010-2015. Wawancara tanggal tanggal 26 Juli 2016 di
Jalan Prima Pasar VII Tengah Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan.
Bahri, Samsul. masyarakat Desa Tanjung Medan Kecamatan
Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara
tanggal 19 Juni 2016 di Desa Tanjung Medan.
Damanik, Irwansyah. Anggota DPRD PAN Sumatera Utara periode
2009-2014 daerah pemilihan Sumut 9 (Siantar Simalungun).
Wawancara tanggal 5 Juni 2016 melalui handphone.
Harahap, Yahdi Khoir. Ketua DPD PAN Batu Bara periode 2005-2010
dan Sekretaris Umum DPW PAN Sumatera Utara priode 20152020. Wawancara tanggal 20 Juni 2016 di kantor sekretariat DPW
PAN Sumatera Utara Jl. Wahid Hasyim.
Husein, Zulkifli. Ketua Pusat dan Pemengangan Pemilu Daerah
I tahun 2010-2015, dan Ketua Umum DPW Partai Amanat
Nasional (PAN) Sumatera Utara periode 2015-2020. Wancara
tanggal 23 Mei 2016 di kantor DPRD Sumatera Utara.
Lubis, Akrim Ashal. Direktur KTA bersantunan DPW PAN Sumatera
Utara Periode 2005-2010. Wawancara tanggal 22 Juli 2016
melalaui handphone.
Lubis, Husni. Wakil Ketua DPW PAN Sumatera Utara priode
2005-2010. Wawancara tanggal 25 Juli 2016 di Medan melalui
handphone.
Muhajir. Warga masyarakat Desa Asam Jawa Kecamatan Kota
Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara tanggal
16 di Desa Asam Jawa.
Munasip, Adi. Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik DPW PAN
Sumatera Utara Periode 2010-2015. Wawancara tanggal 3 Juni
2016 di Medan via hand phone.
Pariadi. Warga Desa Bandar Khalifah Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang. Wawancara tanggal 24 Juli 2016 di
Desa Bandar Khalifah.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
294 | Daftar Pustaka
Pulungan, Isma Fadli. Sekretaris Pimpinan Wilayah Al Wasliyah
Sumatera Utara. Wawancara tanggal 23 Juli 2016 di kantor PW
Al Washliyah Sumatera Utara, Jl. Sisinga Mangaraja Medan.
Ujung, Agus Salim. Wakil Sekretaris Bidang Informasi dan
Komunikasi Politik DPW PAN Sumut Periode 2005-2010.
Wawancara tanggal 30 Mei 2016 di Medan via handphone.
Rahmadi. Masyarakat Desa Tanjung Medan Kecamatan Kampung
Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wawancara tanggal
19 Juni 2016 di Desa Tanjung Medan.
Rahmawati. Ketua Nasyiyatul Aisyiyah Sumatera Utara Periode
2004-2008. Wawancara tanggal 1 Juli 2016 di Medan.
Ritonga, Ahmad Hidayat. Sekretaris DPD PAN Labuhan Batu Selatan
periode 2009-2014, dan Anggota DPRD Labuhan Batu Selatan
periode 2009-2014. Wawancara tanggal 16 di Kota Pinang,
Saragih, Wempy, Ketua Pusat Koordinasi Ortom dan Kerjasama
Antar Lembaga DPW PAN Sumatera Utara priode 2010-2015.
Wawancara tanggal 15 Juli 2016 di Medan.
Siregar, Parluhutan. Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara periode
2010-2015 juga anggota DPRD Sumatera Utara periode 20052009 daerah pemilihan Sumur 11, Binjai Langkat, anggota DPRD
Sumatera Utara periode 2010-2015 daerah pemilihan Sumut 6
Tabagsel. Wawancara tanggal 6 Juni di Medan melalui handphone.
Siregar, Gandi Faisal. Wakil Ketua DPD PAN Labusel dan juga
Anggota DPRD Labusel. Wawancara tanggal 17 Juli 2016 di
rumah makan Bahagia Kota Pinang.
Suhairi, Hapcin. Wakil Ketua Pusat Pengembangan Organisasi dan
Keanggotaan DPW PAN Sumatera Utara periode 2010-2015.
Wawancara tanggal 6 Juni 2016 di Medan melalui handphone.
Tanjung, Wildan Aswan. Ketua DPD PAN Labusel Periode 2011-2015
dan periode 2016-2021. Wawancara tanggal tanggal 17 Juli di
kantor DPD PAN Labusel.
Yunus, M. Warga masyarakat Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten
Serdang Bedagai. Wawancara Cermin, tanggal 30 Juli 2016 di
Kecamatan Pantai Cermin.
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
BIODATA PENULIS
ANANG ANAS AZHAR, adalah dosen tetap Fakultas Ilmu Sosial
(FIS) Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan dan
dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara (UMSU). Lahir di Desa Tebing Linggahara, Kabupaten
Labuhan Batu, Sumatera Utara, 04 Oktober 1974.
Anak pasangan Saibon AS (alm) dan Jamilah (almh) ini,
menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di tanah kelahirannya
tahun tamat 1987. Kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah
Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Rantau
Prapat, Labuhan Batu (1990 dan 1993). Tahun 1993, penulis
melanjutkan studi ke IAIN SU Medan, tepatnya Fakultas Dakwah
jurusan Penyiaran Penerangan Agama Islam (PPAI) tamat tahun
1998. Setelah menamatkan studi strata satu (S1) di IAIN SU Medan,
penulis memberanikan diri terjun di dunia wartawan. Tahun 1998,
ia menjadi wartawan Harian Realitas Pos. Selang beberapa bulan,
penulis pindah ke Harian Sumatera (1999-2001), Harian Analog
(2002), Harian Wasantara (2003) dan terakhir sejak tahun 2003 hingga
saat ini mengabdikan profesi jurnalisnya di Harian Medan Bisnis
sebagai redaktur daerah.
Penulis menikah tahun 2000 dengan Evi Sakdiah asal Kabupaten
Batubara, Sumatera Utara. Alhamdulillah, pasangan ini diberkahi
empat putra masing-masing, Muhammad Choirurrais Alvizar
(15), Muhammad Hafiz (12), Muhammad Tahfif Alvizar (10) dan
Muhammad Fikri Rizky Alvizar (8).
295
296 | Biodata
Tahun 2003, penulis baru mendapatkan kesempatan melanjutkan
pendidikan di S2. Beliau mengambil konsentrasi Komunikasi Islam
pada pascasarjana IAIN SU dan tamat 2009. Selama menempuah
pendidikan S2 penulis mendapatkan bantuan pendidikan beasiswa
dari Departemen Agama RI. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun
2011, penulis melanjutkan studi program doktor S3 pada program
studi yang sama sekarang namanya berubah dari IAIN SU menjadi
UIN SU Medan. Alhamdulillah, tahun 2016 ini sudah menyelesaikan
program doktornya dengan disertasi berjudul : “Pencitraan Politik
Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara Dalam Menarik Simpati
Masyarakat di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2005-2010”.
Sejak kuliah di IAIN Sumut Medan, bakat penulis sudah terlihat
di organisasi kampus dan kepemudaan. Tercatat, penulis pernah
mengaktifkan diri di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) IAIN SU (1997),
di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII) tahun 1994, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda
Muhammadiyah Sumut (2006), Ketua Pimpinan Pusat Pemuda
Muhammadiyah (2010-2014), pengurus departemen di DPD KNPI Sumut
(2004). Sejak berdirinya PAN tahun 1998-2011, penulis mengaktifkan
diri sebagai politisi, bahkan pernah duduk sebagai Wakil Ketua DPW
PAN Sumut periode 2005-2010. Tercatat pula, penulis pernah menjadi
staf ahli pimpinan DPRD Propinsi Sumut (2010-2013).
Setelah “dibuang” dari PAN dan tidak masuk kepengurusan PAN
pasca periode kepemimpinan Kamaluddin Harahap di DPW PAN
Sumut, penulis pun kembali ke dunia kampus untuk mengabdikan
pengalaman luarnya di kampus. Meski demikian, penulis juga sejak
tahun 2000 sudah mengajar sebagai dosen luar biasa di almamaternya
Fakultas Dakwah IAIN SU Medan. Penulis sempat mengampu mata
kuliah profesinya, yakni mata kuliah jurnalistik, grafika dan terkahir
mengasuh mata kuliah Reporting Editorial Advertising and Writing
(REWA).
Pemegang sertifikat wartawan utama bernomor ; 6347-PWI/
WU/DP/VIII/2014/04/10/74 dan anggota PWI bernomor ;
02.0013072.07 ini, banyak mengaktifkan diri sebagai penulis lepas
di sejumlah surat kabar skala nasional dan lokal Sumatera Utara.
Tercatat, sejak tahun 2013, penulis mengoleksi 731 tulisan artikel/
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Biodata | 297
opini yang dimuat di surat kabar, seperti Harian Republika, Harian
Sindo, Kontan (group Kompas), Harian Waspada, Harian Analisa,
Harian SIB, Harian Medan Bisnis, Harian Orbit, Harian Realitas,
Harian Jurnal Asia, Harian Sumut Pos, Harian Potibi, Harian Mimbar
Umum, Koran Cerdas dan lainnya.
Selain mengoleksi tulisan artikel, penulis juga mengoleksi
beberapa karya penelitian ilmiah. Di antaranya, “Pengaruh Membaca
Berita Brimininal di Surat Kabar Harian Medan Terhadap Konsidi
Psikologis Mahasiswa IAIN Sumatera Utara” (2009). “Persepsi Warga
Muhammadiyah Terhadap Partai Amanat Nasional (PAN) di Propinsi
Sumatera Utara” (2013). “Pengembangan Bidang dan Teori Komunikasi”
(2010). “Pencitraan Politik Partai Amanat Nasional (PAN) Dalam Menarik
Simpati Masyarakat di Propinsi Sumatera Utara Tahu 2005-2015”.
Karya tulis dalam bentuk artikel yang dipublikasi sejumlah surat
kabar di antaranya, Media dan Perselingkuhan Politik (Waspada; 2014),
Muhammadiyah dan Politik Identitas (Waspada; 2014), Parpol dan
Penyelenggara Pemilu (Waspada; 2014), Berandai Jadi Partai Generasi
(Waspada; 2015), Mencari Figur Ketua PAN Sumut (Waspada; 2015),
Komunikasi Politik PAN 2014 (Waspada; 2014), Menyoal Pemekaran
Sumut (Waspada; 2016), Muhammadiyah dan Pusaran Politik (Waspada;
2015), PAN dan Nasib KMP (Waspada; 2015), Pemilihan Kepala Daerah
(Waspada; 2014), Hijrah Dari Korupsi (Waspada; 2015), Puasa dan Nasfsu
Dunia (Waspada; 2016), Menggugat Modernitas Muhammadiyah
(Waspada; 2015), Tiket Capres Parpol Islam (Waspadal 2014), Nasib PAN
Pascakongres Bali (Waspada; 2015), Masa Depan Komunikasi Islam
(Waspada; 2013), Politik Kebangsaan Muhammadiyah (Catatan Pasa
Muktamar Muhammadiyah ke-47) (Waspada; 2015).
Merintis Hijrah Pikir (Waspada; 2016), Tantangan Rektor Baru
UINSU (Waspada; 2016), Kontroversi Roy Suryo (Waspada; 2013), Jarak
PAN dan Muhammadiyah (Waspada; 2015), Kampanye Politik (Waspada;
2013), Subsidi Haram Dana Parpol (Waspada; 2015), Partai Politik Dan
Caleg (Waspada; 2013), Menggugat Ramadhan Fair XII (Waspada; 2015),
Potret Parpol Islam 2014 (Waspada; 2013), Membangun Sikap Qana’ah
(Waspada; 2015), Independensi Media (Waspada; 2015), Peluang Capres
Alternatif (Waspada; 2013), Ayat Kursi Untuk Politik (Waspada; 2016),
Palestina; Derita Umat Islam (Waspada; 2015).
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
298 | Biodata
Mencari Figur Pemuda Muhammadiyah (Waspada; 2015),
Memotret Broker Politik 2014 (Waspada; 2015), Parpol Membajak
Pemilukada Serentak (Waspada; 2014), Politik Balas Jasa Pasca Pilpres
(Waspada; 2014), Pilpres Dan Kader Muhammadiyah (Waspada; 2014),
Mudik dan Sengkarut Urbanisasi (Waspada; 2014), People Power
Prabowo-Hatta (Waspada; 2014), Komunikasi Politik PAN 2014
(Waspada; 2014), Menggugat Ramadhan Fair (Waspada; 2014). Bercermin
Ikhlas Dari Rasulullah (Waspada; 2016). Menanti Gubsu Baru (Waspada;
2013). Menanti Rektor Baru IAIN-SU (Waspada; 2013). Leadhership
Untuk Komunikasi Bencana (Waspada; 2016). Fenomena Gadai SK (Medan Bisnis; 2014), Koalisi Mengabaikan Rakyat
(Orbit; 2014), Fatwa Haram Dalam Pilpres (Orbit; 2014), Implementasi Jihad
Dalam Islam (Orbit; 2013), Memaknai Sepakbola, Politik Dan Bisnis (Orbit;
2014), Harapan Bagi Caleg Terpilih (Orbit; 2014), Mempertanyakan Dana
Hibah (Orbit; 2014), Politisi dan Janji Oplosan (Orbit; 2013), Golput Memilih
(Tidak) Memilih (Orbit; 2014), Menyoal Annual Fee PT Inalum (Orbit;
2013), Mengeliminir Manipilasi Suara (Orbit; 2014), Menggugat Wakil
Rakyat Kita (Orbit; 2014), Plagiat Dan Kampanye Capres (Orbit; 2014),
Pasca Ratu Atut Tersangka (Orbit; 2014), Gita Wirjawan Dan Impor
Beras (Orbit; 2014), Politisi Bermuka Dua (Orbit; 2014).
Pemilu Bersih Dalam Bingkai Demokrasi (Orbit; 2014), Ketika
Negara Membiayai Parpol (Orbit; 2014), Membatasi Jabatan Parpol
(Orbit; 2014), Kontroversi Pembebasan Corby (Orbit; 2014), Indonesia
Darurat Bencana (Orbit; 2014), Pilpres (Antara) Pertarungan Ideologi
(Orbit; 2014). Meneguhkan Gerakan IMM (Refleksi Milad ke 50 IMM, 14
Maret 1964-14 Maret 2014) (Orbit; 2014), Fenomena Eyang Subur (Orbit;
2014), Berburu Kursi Caleg (Orbit; 2013), Gubernur Baru (Medan Bisnis;
2013), Partisipati Suara Golput (Medan Bisnis; 2014), Perspektif Alquran
Memilih Pemimpin (Mimbar Umum; 2014), Golput Dan Demokrasi
Kebablasan (Portibi; 2014). Menguji Nasionalisme Berbangsa (Realitas;
2014), Rontoknya Kekuataan Parpol Islam (Realitas; 2014), Urgensi
Syura; Dalam Perspektif Islam (Analisa; 2014), Pilpres dan Kader
Muhammadiyah (Andalas; 2014), Parpol Dan Pemimpin Berkarakter
(Portibi; 2014), Menyoal Rekrutmen CPNS K2 (Realitas; 2014).
Pencitraan Dan Labelisasi Politik (Analisa; 2016), Menggugat
Ormas Dalam Capres (Jurnal Asia; 2014), Nasib Capres Partai Demokrat
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Biodata | 299
(Realitas; 2014), Khalifah Untuk Rahmatan Lil’alamin (Analisa; 2014),
Menguji Netralitas Penyelenggara Pemilu (Analis; 2014), Akankah
Media Cetak Akan Gulung Tikar? (Analisa; 2014), Parpol, Demokrasi
Dan Kapitalisme (Medan Bisnis; 2013), Mewujudkan Tagline PAN
(Refleksi HUT PAN ke 15, Tanggal 23 Agustus 2013) (Medan Bisnis;
2013).
Survei Dan Peta Politik (Jurnal Asia; 2014). Wacana Pemindahan
Ibokota (Medan Bisnis; 2013), Menggagas Koalisi Parpol (Medan Bisnis;
2014), Kontroversi Miss World 2013 (Medan Bisnis; 2013), Menanti
Realisasi Kereta Api Cepat (Medan Bisnis; 2013), Reformulasi Tauhid
Sosial (Menyambut Refleksi Milad ke 104 Muhammadiyah) (Medan
Bisnis; 2014), Dunia Usaha Dan Guncangan Politik (Medan Bisnis; 2014),
Menggugat Kurikulum Indonesia (Medan Bisnis; 2013), Memutus
Siklus Korupsi Indonesia (Realitas; 2014), Jokowi Dan Konstruksi
Medan (Portibi; 2014), Kudeta Ala SBY (Medan Bisnis; 2013), High
Politik Muhammadiyah (Jurnal Asia (2014), Menggagas Kampanye
Santun Dalam Pilpres (Analisa; 2014), Golput Dan Ancaman Ideologi
(Jurnal Asia; 2014), Menyoal Liputan Bencana (Jurnal Asia; 2014),
Menggugat Etika Survei (Realitas; 2014), Meneladani Ulama dan
Umara (Sumut Pos; 2014), Menimbang Hatta atau JK (Portibi; 2014),
Nasib Uiama Dalam Pilpres (Portibi: 2014), Bencana Dan Kearifan
Lokal (Jurnal Asia; 2014), Islah PPP di Tengah Badai (Portibi; 2014). Islam Dan Demokrasi (Orbit; 2013), Menjauhi Gaya Hidup
Hedonisme (Sumut Pos; 2014), Pencitraan Parpol dan Caleg (Realitas;
2013), Media Dan Iklan Politik (Analisa; 2014), Suka Citra Menyambut
Ramadhan (Top News; 2014), Subsidi Dan Janji Politik Capres (Top
News; 2014), Malaysia Airline, Bangkrut Atau Bangkit (Medan Bisnis;
2014), Birokrasi Dan Komunikasi Bencana (Medan Bisnis; 2014),
Indonesia Darurat Bencana (Analisa 2014), Badai Korupsi 2013 (Medan
Bisnis; 2013).
Membumikan Spirit Hijrah (Analisa; 2014), Memanfaatkan
Waktu Sebelum Mati (Analisa; 2014), Berharap Rekrutmen CPNS
Bersih (Jurnal Asia; 2014), Apatisme Pemilih Ancaman Golput (Jurnal
Asia; 2014), Menjaga Bahaya Lidah (Mimbar Umum; 2014), RUU Desa
Dan Implikasi Otda (Medan Bisnis; 2014), Caleg Dan Branding Politik
(Jurnal Asia; 2014). Jokowi Dan Pendidikan Politik (Top News; 2014),
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
300 | Biodata
Status Quo Politik Uang Caleg (Medan Bisnis; 2013). Esensi Pemekaran
Daerah (Orbit; 2013), Meneladani Kepemimpinan Rasulullah (Sumut
Pos; 2014), Makna Menahan Diri Dalam Puasa (Mimbar Umum; 2014),
Masa Depan Petani Sinabung (Jurnal Asia; 2014), Caleg Dan Jual Beli
Kursi (Medan Bisnis; 2013). Meneropong Proyek MP3EI (Medan Bisnis;
2013). Pro Kontra Honor Saksi Parpol (Realitas; 2014), Damai Maluku
Terkoyak (Medan Bisnis; 2013), Penggabungan Partai Politik (Medan
Bisnis; 2013).
Politik Dalam Bahasa Alquran (Analisa; 2014), Melek Media di
Abad Media (Jurnal Asia; 2014), Pilpres Dan Demokrasi Identitas
(Jurnal Asia; 2014), Pemuda Dan Partai Politik (Realitas; 2014),
Kapitalisme Partai Politik (Medan Bisnis; 2013), Menggagas Koalisi
Parpol (Jurnal Asia; 2014), Puasa Dan Kemiskinan (Medan Bisnis;
2013). Parpol Dan Caleg Artis (Medan Bisnis; 2013), Belajar Dari Jawa
Barat (Medan Bisnis; 2013), Politik Wani Piro (Orbit; 2013), Politisasi
Dan Pencitraan (Orbit; 2013), Praktik Pungli di Kemenag (Refleksi
atas Hari Amal Bakti ke 67) (Orbit; 2013). Investasi Dari Sei Mangkei
(Orbit; 2013), 2013 Tahun Politik (Medan Bisnis; 2013).
Banjir Dan Komunikasi Bencana (Orbit; 2013), Penyederhanaan
Partai Politik (Orbit; 2013), Muhammadiyah Dan Teologi Alma’un
(Realitas; 2014), Nabi Muhammad Dan Peradaban Dunia (Orbit;
2014), Menggugat Lembaga Survei (Jurnal Asia; 2014), Memperkokoh
Kesalehan Sosial (Mimbar Umum; 2014), Dakwah Menuju Insan
Paripurna; (Mimbar Umum; 2014). Pilpres Dalam Bingkai Survei
(Portibi; 2014), Harapan Dari Kualanamu (Medan Bisnis; 2013). Ikon
Baru Pilpres 2014 (Top News; 2014), Indonesia Tanpa JIL (Medan Bisnis;
2013), Sengketa Pilkada Dan MK (Medan Bisnis; 2014), Regulasi Dan
Transparansi Dana Parpol (Medan Bisnis; 2013). Meredam Kampanye
Anaskis (Jurnal Asia; 2014), Subsidi BBM, Bom Waktu APBN (Medan
Bisnis; 2014).
Fenomena Golput pada Pemilikada (SINDO; 2013), Kania
Dan Political Will Pemerintah (SINDO; 2013), Proyek MP3EI Milik
Siapa? (SINDO; 2013), Meredam Konflik Tambang (SINDO; 2013),
Perempuan Dalam Panggung Politik (SINDO; 2013), Harapan
Setelah Babak Baru Inalum (Kontan; 2014), Jokowi Capres Pilihan
Rakyat (Jurnal Asia; 2014), Menanti Parpol Jujur (Jurnal Asia; 2014).
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
Biodata | 301
Muhammadiyah Dan PAN (Portibi; 2013). Kontraversi dan Pencitraan
Demokrat (Portibi; 2013), Belajar Dari Washington Post (Orbit; 2013),
Etika Politik Caleg (Medan Bisnis; 2013), Menimbang HR Capres 2014
(Medan Bisnis; 2013). Militansi Kader PKS (Medan Bisnis; 2013), Politisi
Kontrakan (Medan Bisnis; 2013), Politik Untuk Golput (Medan Bisnis.
2013). Politisi Pencari Kerja (Analisa; 2013), Menyoal RUU Ormas
(Medan Bisnis; 2013), Sentralistik Parpol (Medan Bisnis; 2013).
Drama Politik PKS dan KPK (Medan Bisnis; 2013). Pencitraan
Caleg (Orbit; 2013). Mendambakan Haji Mabrur (Analisa; 2014),
Berbenah Diri Sambut Ramadhan (Mimbar Umum; 2014), Menjauhi
Ulama Suu’, Meneladani Ulama Robbani (SIB; 2014), Loyalitas Anas
Urbaningrum (Orbit; 2013), Politik NPWP Dalam Pemilu (Jurnal Asia;
2014), Menyoal Konflik Tambang (Orbit; 2013), Kriris Capres Parpol
Islam (Orbit; 2013). Ancaman Pemilu Pascarekapitulasi Suara (Jurnal
Asia; 2014).
Kemelut Tahun Politik (Orbit; 2013), Popularitas Capres (Orbit;
2013). Arah Peta Koalisi Parpol Islam (Jurnal Asia; 2014), Media Dan
Komunikasi Politik (Orbit; 2013), Pemilukada Dan Golput (Orbit;
2013), PDIP Dan Jokowi Effect (Medan Bisnis; 2013), Popularitas Dan
Blusukan (Medan Bisnis; 2013), Mempertahankan Ibadah Ramadhan
(Orbit; 2014), Selebritis di Lingkungan Parpol (Realitas; 2014), Perang
Israel-Palestin Air Mata Umat Islam (Orbit; 2014), Koalisi Berbalut
Transaksional (Orbit; 2014). Demokrasi Transaksional (Jurnal Asia;
2014), Media Dan Pilpres 2014 (Orbit; 2014), PMII 54 Tahun dan
Bingkai Kebangsaan (Orbit; 2014), Ramadhan, Momentum Membentu
Manusia Taqwa (Mimbar Umum; 2014).
Menyoal Popularitas Parpol (Analisa; 2013), Dampak Byar
Pet PLN (Analisa; 2014), Politik Transisi Ala Jokowi (Analisa; 2014),
Agama Inspirasi kekuatan Moral (Medan Pos; 2014), ISIS Ancaman
Ideologi Islam (Mimbar Umum; 2014). Menyoal Over Kapasitas Lapas
(Analisa; 2014), Pengusaha Dan Politik Balas Jasa (Medan Bisnis; 2014),
Beban Politik Dan Sandera Parlemen (Medan Pos; 2014), Buruknya
Pengkaderan Parpol (Orbit; 2013), Menagih Janji Wakil Rakyat
(Medan Pos; 2014), Pilkada Dan Lambannya Anggaran (Analisa; 2015).
Gairah Demokrasi Pasca Pilpres (Orbit; 2014), Ongkos Politik Dan
Korupsi Parpol (Portibi; 2014), Pemimpin Ideal Menurut Imam Al
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
302 | Biodata
Ghazali (Mimbar Umum; 2014), Rancang Bangun Pemilukada (Orbit;
2014). Efektifkah Perampingan Kabinet Jokowi-JK? (Medan Pos; 2014).
Balasa Memfitnah Orang Lain (Mimbar Umum; 2014), Puasa Jihad
Melawan Nafsu (Analisa; 2015).
Memperkut Koalisi Ideologi di Parlemen (Realitas; 2014), Dilema
Kenaikan BBM (Analisa; 2014), Jokowi Dan Mafia Migas (Medan Bisnis;
2014), 16 Tahun Perjalanan Reformasi (Jurnal Asia; 2014), Mencabut
Mandat Rakyat (Orbit; 2014), Potret Alquran Untuk Kaum Duafa
(Orbit; 2014), Mencari Caleg Anti Korupsi (Jurnal Asia; 2013). Mudik
Dan Gerakan Ekonomi Kerakyatan (Medan Bisnis; 2014), Korupsi
APBN Berlabel Menteri (Medan Bisnis; 2014), Mencari Energi Baru
Atasi Krisis Listrik (Analisa; 2013). Siapa Kabinet Jokowi-JK? (Orbit;
2014), Transisi Pemerintahan Jokowi-JK (Mimbar Umum; 2014), Potret
Buram Sistem Pilkada Indonesia (Medan Pos; 2014).
Mempertaruhkan Loyalitas Kebangsaan (Medan Pos; 2014), Politik
Anggaran Jokowi-JK (Analisa; 2014), Poltik Belah Bambu PKS (Cerdas;
2015), Menuju Muslim Bermanfaat (Mimbar Umum; 2014), Menyoal
Manuver Prabowo-Hatta (Orbit; 2014), Konspirasi Perubuhan Masjid
(Cerdas; 2016), Menguji Kedaulatan Rakyat (Realitas; 2014). Kabinet
Jokowi-JK (Tanpa) Parpol (Mimbar Umum; 2014). Islah PPP di Tengah
Badai (Portibi; 2014), Filosofi 69 Tahun Indonesia Merdeka (Orbit;
2014), Kedermawanan Politik Untuk Legislatif (Orbit; 2014) dan
lainnya. **
Pencitraan Politik Elektoral
Kajian Politik Segitiga PAN Dalam Merebut Simpati Masyarakat
TENTANG EDITOR
Mawardi Siregar lahir tanggal 16 Nopember 1976 di Desa Padang
Bujur, 2 KM dari Kota Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera
Utara. Tinggal di Jalan Dahlia Medan Utara Kota Medan. Menempuh
pendidikan formal mulai dari pendidikan SD yang diselesaikan
di SD Negeri 142797 Padang Bujur tamat tahun 1989. Melanjutkan
ke SMP Negeri 1 Sipirok tamat tahun 1991. Madrasah Aliyah
ditamatkan tahun 1998 di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru
Kabupaten Mandailing Natal. Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)
diperoleh dari Fakultas Dakwah IAIN SU (UIN SU sekarang) tahun
2003. Menyelesaikan perkuliahan S1 dengan predikat Cumlaude
dan tercatat sebagai wisudawan terbaik. Meraih gelar M.A pada
konsetrasi Komunikasi Islam dari Perguruan Tinggi yang sama, dan
selesai pada tahun 2007 dengan predikat Cumlaude. Sejak tahun 2015
sampai sekarang, sedang menempuh perkuliahan S3 di Perguruan
Tinggi yang sama, dan konsetrasi yang sama Komunikasi Islam.
Di samping aktif sebagai mahasiswa Program Doktor
Pascasarjana UIN SU Medan, editor juga bekerja sebagai Dosen Tetap
PNS IAIN Langsa-Aceh. Aktifitas selain dosen, editor juga aktif
melakukan penelitian, memberikan ceramah ilmiah dalam berbagai
diskusi dan seminar, baik di tingkat lokal maupun nasional.
(Mawardi Siregar S.Sos.I, MA)
303
Download