kompetensi pedagogik dan profesional guru sekolah

advertisement
KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU SEKOLAH
DASAR YANG TERSERTIFIKASI PADA PEMBELAJARAN SAINS
Muhammad Ridwan Kalu¹, Amram Rede dan H. Asep Mahpudz²
[email protected]
¹Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Tadulako
²Dosen Pengajar Program Studi Magister Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Tadulako
Abstract
The objektive of the research was to analyze pedagogical and profesional competence of
certified elementary school teachers on science learning. The research subjecs were 16 teachers.
The research method employed was qualitive descriptive by using survey data collected by
questionnare, observation and interview. The research result showed hat the pedagogical
competence of certified elementary school teachers in science learning in regional I and regional
II Tanantovea sub district with observation result reached 48% and questionnare was 76,12%. The
competence of the professional had haved on observation 45,97% and questionnare was 66,02%.
The pedagogical competence of certified elementary school teacher on science learning in regional
I and regional II Tanantovea sub district was good enough category. The professional competence
of certified elementary school teachers on science learning was in good enough category.
Keywords: pedagogic, professional, competence, certified teacher.
Guru
sebagai
tenaga
pendidik
merupakan
komponen
yang
paling
menentukan kualitas pendidikan, karena
ditangan gurulah kurikulum dikembangkan
dan diaplikasikan. Ditangan guru yang
profesional pembelajaran akan menjadi lebih
bermakna. Sarana dan prasarana menjadi
akan diberdayakan lebih maksimal dan iklim
pembelajaran menjadi magnet pemicu
pengalaman yang membentuk peserta didik
menjadi insan yang berilmu, bertanggung
jawab dan mampu menghadapi segala
tantangan masa depan. Disamping itu guru
adalah pemeran utama dalam proses
peningkatan
kualitas
pembangunan
pendidikan, khususnya pendidikan formal.
Supriadi (1998),
mengemukakan
bahwa untuk menjadi profesional, seorang
guru dituntut memiliki minimal lima hal
yaitu (1) mempunyai komitmen pada peserta
didik dan proses belajarnya, (2) menguasai
secara mendalam bahan/ mata pelajaran yang
diajarkan serta cara mengajarnya kepada
peserta didik, (3) bertanggung jawab
memantau hasil belajar peserta didik melalui
berbagai cara evaluasi, (4) mampu berpikir
sistematis tentang apa yang dilakukannya dan
belajar dari pengalamannya, dan (5)
seyogyanya
merupakan
bagian
dari
masyarakat belajar dalam lingkungan
profesinya.
Pemerintah memberikan apresiasi yang
sangat tinggi terhadap profesionalitas guru
yang selama ini diberi julukan pahlawan
tanpa
tanda
jasa.
Slogan
tersebut
sesungguhnya memiliki makna yang sulit
diterjemahkan secara verbalitas karena
sesungguhnya jasa guru tercermin dari
peningkatan sumber daya manusia serta mutu
generasi yang kini mampu bersaing di dunia
internasional. Salah satu bentuk apresiasi,
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan
kebijakan yang dituangkan dalam UndangUndang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen yang antara lain mengatur tentang
kesejahteraan guru dan syarat-syarat untuk
mendapatkannya.
Perhatian
terhadap
peningkatan
kesejahteraan
guru
meningkatkan
insentif
guru
melalui
sertifikasi. Sertifikasi guru sebagai upaya
peningkatan mutu guru dibarengi dengan
kesejahteraan guru, sehingga diharapkan
85
86 Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, Volume 5 Nomor 3, Agustus 2016 hlm 85-94
dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan
mutu pendidikan di Indonesia secara
berkelanjutan.
Bentuk
peningkatan
kesejahteraan yaitu berupa pemberian
tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok
kepada guru yang memiliki sertifikat
pendidik.
Berdasarkan
pengamatan
penulis
tentang dampak kebijakan sertifikasi bagi SD
di
Kecamatan
Tanantovea
dalam
meningkatkan standar kompentensi guru
tentang pembelajaran sains belum optimal.
Peneliti dapat menggambarkan bahwa
sertifikasi guru memberi motivasi tersendiri
dalam meningkatkan kesejahteraan, belum
dalam tataram meningkatkan kompetensi
guru itu sendiri. Kemampuan guru SD dalam
pembelajaran sains masih perlu ditingkatkan,
terutama yang telah lulus sertifikasi ternyata
kompetensinya belum maksimal, belum
menunjukkan perbedaan kinerja dari guru
yang belum tersertifikasi yaitu guru kurang
mampu menguasai teori belajar, masih
banyak guru yang hanya mencopi dengan
silabus dan rencana pembelajaran yang sudah
ada sebelumnya, dan guru-guru masih
menggunakan proses pembelajaran sains
pola lama, yaitu proses pembelajaran satu
arah yang didominasi oleh guru yang tidak
mengarahkan dan memfasilitasi peserta didik
dalam
belajar
dan
mengembangkan
pembelajaran dari lingkungan dari mana
peserta didik belajar.
Metode pembelajaran yang digunakan
kebanyakan hanya menggunakan metode
ceramah dan masih banyak guru yang tidak
menggunakan alat bantu dalam proses
pembelajaran. Seharusnya guru yang telah
memiliki sertifikat pendidik dalam mengajar
banyak menggunakan metode dan media
ataupun sumber yang beraneka ragam,
sehingga peserta didik tidak merasa bosan
dan cenderung pasif dalam kegiatan
pembelajaran. Sebagian guru kurang
memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran
dalam menumbuhkan motivasi, minat, dan
kreativitas siswa untuk belajar dan kurang
ISSN: 2089-8630
berusaha untuk mengatasinya, guru kurang
memperhatikan setiap siswa yang memiliki
keberagaman individual, baik latar belakang
kemampuan, pengetahuan, sikap dan
motivasi
belajar
siswa.
Pendekatan
pembelajarannya pendekatan konsep.
Penelitian yang telah dilakukan oleh
Rahayu (2012) yang melakukan penelitian
tentang
kompetensi
pedagogik
dan
kepribadian guru biologi bersertifikasi
pendidik di SMA 3 Semarang bahwa
kompetensi
pedagogik
guru
dalam
pengelolaan pembelajaran cukup baik tetapi
belum optimal dalam mengaplikasikan
pengelolaan pembelajaran yang memenuhi
standar sains. Proses pembelajaran peserta
didik hanya menerima konsep yang diberikan
oleh guru tanpa pernah membuktikan konsep
tersebut.
Program sertifikasi guru diharapkan
menjadi instrumen penting dalam upaya
meningkatkan kualitas pembelajaran, maka
harapannya tentu ketika seorang guru telah
mendapatkan sertifikat sebagai seorang
pendidik
profesional,
dia
bisa
mentransformasikan diri menjadi seorang
guru yang menunjukkan dan menjaga sikap
profesionalismenya dalam melaksanakan
tugas kependidikan. Alur sertifikasi guru
yang selama ini dilakukan, baik melalui
fortopolio maupun diklat belum menjadi
jaminan dalam pembelajaran sains di kelas.
Hasil penelitian sebelumnya dilakukan
oleh siti Zulkaedah Hasibuan tentang
sertifikasi pendidik dan profesionalitas
menunjukkan bahwa sertifikasi tidak
menjamin tercapainya guru profesional
walaupun ada perbedaan terhadap yang
belum sertifikasi tetapi belum signifikan.
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, maka dirumuskan permasalahan yaitu
bagaimana kompetensi pedagogik dan
profesional guru Sekolah Dasar tersertifikasi
pada pembelajaran sains?.
Muhammad Ridwan Kalu, dkk. Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Sekolah Dasar …………………………87
METODE
Jenis penelitian ini adalah kualitatif,
pendekatan penelitian adalah deskriptif
kualitatif dan metode penelitian adalah
survey. Subyek penelitian yakni 16 orang
guru SD yang tersertifikasi mengajar
pelajaran sains berada di Wilayah I dan
Wilayah II Kecamatan Tanantovea.
Penelitian ini akan menganalisis satu
variabel
(variabel
tunggal),
yaitu
Profesionalisme guru tersertifikasi yang
memiliki kompetensi yang dipersyaratkan
untuk melakukan tugas pendidikan dan
pembelajaran
yaitu:
(1)
mengenal
karakteristik peserta didik, (2) menguasai
teori
belajar
dan
prinsip-prinsip
pembelajaran, (3) pengembangan kurikulum,
(4) kegiatan pembelajaran yang mendidik, (5)
memahami mengembangkan potensi peserta
didik, (6) komunikasi dengan peserta didik,
(7) penilaian dan evaluasi, (8) penguasaan
materi, struktur, konsep, dan pola fikir
keilmuan yang mendukung mata pelajaran
No
1
2
3
4
5
6
7
yang diampu, dan (9) mengembangkan
keprofesian melalui tindakan reflektif.
Sugiyono (2009) menyatakan bahwa
jenis dan sumber data dalam penelitian
adalah subjek dari data yang dapat diperoleh.
Sumber data yang digunakan
dalam
penelitian ini adalah data primer yaitu angket
observasi, wawancara dan data skuender
yaitu dokumen.
Adapun teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini sebagaimana
yang dikemukakan oleh Miles dan
Humberman dalam Basrowi dan Suwandi
(2008) yaitu (1) reduksi data; (2) penyajian
data; dan (3) penarikan kesimpulan
(verifikasi).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kompetensi
Pedagogik
Guru
SD
Tersertifikasi pada Pembelajaran Sains
Hasil analisis angket kompetensi
padagogik dapat dilihat pada Tabel 1.
Indikator Kompetensi Pedagogik
Menguasai karakteristik peserta didik
Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik
Pengembangan kurikulum
Memahami kegiatan pembelajaran yang mendidik
Memahami dan mengembangan potensi peserta didik
Berkomunikasi dengan peserta didik
Penilaian dan evaluasi
Rata-rata
Berdasarkan tabel 1 kompetensi
pedagogik guru SD yang tersertifikasi pada
pembelajaran sains. Menguasai karakteristik
peserta didik 78,13% dengan kategori baik,
menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik 73,83%
kategori baik, pengembangan kurikulum
83,33% kategori baik, memahami kegiatan
Nilai Perolehan
78,13 %
73,83 %
83,33 %
73,43 %
76,11 %
77,08 %
70,93 %
76,12 %
pembelajaran yang mendidik 73,43%,
memahami dan mengembangkan kompetensi
peserta didik 76,11% kategori baik,
berkomunikasi dengan peserta didik 77,08%
kategori baik, dan penilaian dan evaluasi
70,93% kategori baik. Hasil analisis
observasi tentang kompetensi pedagogik
dapat dilihat pada Tabel 2.
88 Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, Volume 5 Nomor 3, Agustus 2016 hlm 85-94
No
1
2
3
4
5
6
7
Indikator Kompetensi Pedagogik
Menguasai karakteristik peserta didik
Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik
Pengembangan kurikulum
Memahami kegiatan pembelajaran yang mendidik
Memahami dan mengembangan potensi peserta didik
Berkomunikasi dengan peserta didik
Penilaian dan evaluasi
Rata-rata
Berdasarkan tabel 2 kompetensi
pedagogik guru SD yang tersertifikasi pada
pembelajaran sains. Menguasai karakteristik
peserta didik 48,70% dengan kategori cukup
baik, menguasai teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik 47,66%
kategori
cukup
baik,
pengembangan
kurikulum 50,76% kategori cukup baik,
memahami kegiatan pembelajaran yang
mendidik 47,44% kategori cukup baik,
ISSN: 2089-8630
Nilai Perolehan
48,70 %
47,66 %
50,76 %
47,44 %
48,88 %
51,04 %
41,56 %
48,00 %
memahami dan mengembangkan kompetensi
peserta didik 48,88% kategori cukup baik,
berkomunikasi dengan peserta didik 51,04%
kategori cukup baik, dan penilaian dan
evaluasi 41,56% kategori baik.
Kemampuan kompetensi pedagogik
guru
SD
yang
tersertifikasi
pada
pembelajaran sains melalui kuesioner dilihat
pada
gambar
1.
86
84
82
80
78
76
74
72
70
68
66
64
1
2
3
4
5
6
7
Kemampuan kompetensi pedagogik guru SD yang tersertifikasi pada pembelajaran sains
melalui kuesioner dilihat pada gambar 2.
Muhammad Ridwan Kalu, dkk. Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Sekolah Dasar …………………………89
60
50
40
30
20
10
0
1
2
3
Kompetensi pedagogik guru SD yang
tersertifikasi pada pembelajaran sains di
Wilayah I dan Wilayah II Kecamatan
Tanantovea dengan kuesioner dari tujuh
indikator rata-rata 76,12% atau kategori baik,
kompetensi pedagogik
guru SD yang
tersertifikasi pada pembelajaran sains dengan
observasi dari tujuh indikator 48 % kategori
cukup baik. Dari rata-rata kuesioner dan
observasi, indikator penilaian dan evaluasi
yang paling belum optimal
disebabkan
responden dalam melaksanakan penilaian
tidak melakukan dengan berbagai teknik dan
jenis penilaian hanya pada tes tertulis dan
penugasan, selain itu masih banyak
responden
yang tidak menganalisis
penilaian
untuk
mengidentifikasikan
topik/kompetensi dasar yang sulit sehingga
dapat diketahui kelemahan dan kekuatan
masing-masing peserta didik untuk dilakukan
remedial dan pengayaan.
Hasil penelitian pada indikator
memahami karakteristik peserta didik berada
pada kategori baik dan cukup baik, guru
perlu memahami peserta didik melalui
karakteristik peserta didik yang berkaitan
dengan aspek intelektual, emosional, moral
dan latar belakang peserta didik, hal ini
bertujuan agar proses interaksi peserta didik
dengan guru terjadi, sehingga tujuan
pembelajaran
tercapai
sesuai
yang
diharapkan.
Dalam
pelaksanaan
pembelajaran, guru mengidentifikasikan
4
5
6
7
pengetahuan awal peserta didik, kegiatan ini
bertujuan untuk mengetahui kemampuan
awal yang telah dimiliki peserta didik.
Indikator penelitian tentang menguasai
teori
belajar
dan
prinsipprinsip
pembelajaran yang mendidik berada pada
kategori baik dan cukup baik, maka guru
sains SD diharapkan dalam melakasanakan
pembelajaran sains di kelas guru harus
menggunakan berbagai teknik yang dapat
memotivasi kemauan belajar peserta didik.
Indikator penelitian tentang pengembangan
kurikulum sains yang dilakukan guru berada
pada kategori baik dan cukup baik, artinya
pengembangan kurikulum sains masih perlu
disesuaikan dengan kebutuhan lokal, dimana
guru dapat mengimplementasikan materimateri sains ke dalam kehidupan peserta
didik.
Indikator penelitian tentang kegiatan
pembelajaran yang mendidik berada pada
kategori baik dan cukup baik, diharapkan
dalam
pembelajaran
sains
guru
mengkomunikasikan informasi baru sesuai
dengan usia dan tingkat kemapuan belajar
pesera didik, guru banyak memberikan
kesempatan bertanya kepada peserta didik,
melakukan praktek, dan menggunakan
berbagai alat bantu yang dapat memotivasi
belajar peserta didik untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Indikator
penelitian
memahami dan mengembangkan potensi
pesrta didik berada pada kategori baik dan
90 Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, Volume 5 Nomor 3, Agustus 2016 hlm 85-94
cukup baik, diharapkan dalam pembelajaran
sains guru dapat melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan berbagai model
pembelajaran yang dapat mengembangkan
kreativitas peserta didik. Guru harus terampil
menggunakan metode pembelajaran yang
tepat dan sesuai dengan karakteristik
pembelajaran serta situasi pada saat materi
pelajaran
yang
disajikan.
Indikator
komunikasi dengan peserta didik peserta
didik berada pada kategori baik dan cukup
baik, diharapkan guru dapat berinteraksi
dengan peserta didik dengan mengajukan
pertanyaan untuk mengetahui pemahaman,
menjaga partisipasi dengan peserta didik,
menanggapi pertanyaan peserta didik dengan
benar dan menghilangkan kebingunagan
peserta didik.
Kompetensi pedagogik guru SD
tersertifikasi pada pembelajaran sains DI
Wilayah I dan wilayah II Kecamatan
tanantovea cukup baik disebabkan oleh
kurangnya
kemampuan
guru dalam
mengelola pembelajaran sains, metode yang
digunakan masih banyak metode ceramah,
penggunaan teknologi dalam hal ini media
kurang dipergunakan sehingga proses belajar
mengajar tidak efektif dan tidak efisien.
Pembelajaran sains lebih menekankan pada
penguasaan fakta dan konsep, yang menjadi
bahan
hafalan
bagi
peserta
didik.
Pembelajaran sains bahkan dilaksanakan
dalam bentuk latihan-latihan penyelesaian
soal-soal semata dalam rangka mencapai
target nilai tes tertulis evaluasi hasil belajar
sebagai ukuran utama dalam kesuksesan
mengelola pembelajaran. Pembelajaran yang
menekankan pada penguasaan sejumlah
konsep dan kurang menekankan pada
penguasaan kemampuan dasar kerja ilmiah
atau keterampilan proses, akhirnya guru tidak
terlalu terdorong untuk menghadirkan
fenomena-fenomena alam melalui alat peraga
sederhana kedalam pembalajaran sains.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Asmani (2009) bahwa pada diri guru perlu
ditumbuhkan kesadaran
penguasaan
ISSN: 2089-8630
terhadap perkembangan peserta didik, teknik
evaluasi, penguasaan terhadap model-model
dan metode pembelajaran, disamping
penguasaan mata pelajaran dan iptek yang
berkaitan dengan pengajaran. Selanjutnya
responden dalam pembelajaran sains metode
yang sering digunakan adalah ceramah,
belum mampu menetukan metode yang
digunakan agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Schramm dalam Suwarna (2005)
mengatakan bahwa, sebelum melakukan
proses belajar mengajar (PBM) seorang guru
harus menentukan metode yang akan
digunakan agar tujuan pembelajaran yang
telah disusun dapat tercapai, pemilihan
metode yang akan digunakan harus sesuai
dengan tujuan dan sifat materi yang akan
menjadi obyek pembelajaran.
Sudjana (2004) berpendapat, ada
beberapa kualifikasi yang harus dipenuhi
oleh seorang guru, yakni: Pertama, mengenal
dan memahami karakteristik siswa seperti
kemampuan, minat, motivasi, dan aspek
kepribadian lainnya. Kedua, menguasai
bahan pelajaran dan cara mempelajari bahan
pelajaran. Ketiga, menguasai pengetahuan
tentang belajar dan mengajar seperti teoriteori belajar, prinsip-prinsip belajar, teori
pengajaran, prinsip-prinsip mengajar, dan
model-model pengajaran. Keempat, terampil
membelajarkan
siswa,
termasuk
merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, memilih dan menggunakan
media serta alat bantu pengajaran, memilih
dan menggunakan metode-metode mengajar,
dan memotivasi siswa. Kelima, terampil
menilai proses dan hasil belajar seperti
membuat ala-alat penilaian, mengelola data
hasil penilaian, menafsirkan dan meramalkan
hasil penilaian, mendiagnosis kesulitan
belajar dan serta memamfaatkan hasil
penilaian untuk menyempurnakan proses
belajar
mengajar.
Keenam,
terampil
melaksanakan penilaian dan pengkajian
proses belajar mengajar serta memamfaatkan
hasil-hasilnya untuk kepentingan tugas-tugas
Muhammad Ridwan Kalu, dkk. Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Sekolah Dasar …………………………91
profesinya. Ketujuh, bersikap positif terhadap
tugas profesinya.
Kemampuan penguasaan kompetensi
pedagogik oleh guru tersertifikasi akan
sangat
memungkinkan
guru
tersebut
menjalani aktivitas mengajarnya dengan
lebih baik, penggunaan metode pembelajaran
yang lebih variatif, penggunaan model
pembelajaran yang baik, pemanfaatan media
pembelajaran yang sesuai, pengelolaan
penilaian yang obyektif. Kompetensi
pedagogik selayaknya dimiliki oleh guru
No
1
2
2
Kompetensi Profesional Guru SD
Tersertifikasi pada Pembelajaran Sains
Hasil analisis angket kompetensi
profesional dapat dilihat Tabel 3.
Indikator Kompetensi Profesional
Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola fikir keilmuan
yang mendukung mata pelajaran yang diampu
Mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif
Rata-rata
Berdasarkan tabel 3 kompetensi
profesional guru SD yang tersertifikasi pada
pembelajaran sains, penguasaan materi,
struktur, konsep, dan pola keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampuh
No
1
tersertifikasi untuk menepis anggapan negatif
bahwa guru sesudah tersertifikasi tidak ada
bedanya dengan guru yang belum
tersertifikasi hanya mengajar tanpa didukung
cara mengajar yang baik.
Nilai Perolehan
40,63 %
51,30 %
45,97 %
mengembangkan
keprofesian
melalui
tindakan reflekti 51,30% kategori cukup baik.
Kemampuan kompetensi profesional
guru
SD
yang
tersertifikasi
pada
pembelajaran sains melalui kuesioner dapat
dilihat pada Gambar 3.
80
70
60
50
40
30
20
10
0
1
58,59 %
66,02 %
73,44% kategori baik dan mengembangkan
keprofesian melalui tindakan reflekti 58,59%
kategori cukup baik. Hasil analisis observasi
profesional dapat dilihat pada Tabel 4.
Indikator Kompetensi Profesional
Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola fikir keilmuan
yang mendukung mata pelajaran yang diampu
Mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif
Rata-rata
Berdasarkan tabel 4 kompetensi
profesional guru SD yang tersertifikasi pada
pembelajaran sains, penguasaan materi,
struktur, konsep, dan pola keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampuh
40,63%
kategori
kurang
dan
Nilai Perolehan
73,44 %
2
92 Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, Volume 5 Nomor 3, Agustus 2016 hlm 85-94
guru
Kemampuan kompetensi profesional
SD
yang
tersertifikasi
pada
ISSN: 2089-8630
pembelajaran sains melalui observasi dapat
dilihat
pada
Gambar
4.
60
50
40
30
20
10
0
1
Kompetensi profesional guru SD
tersertifikasi pada pembelajaran sains di
Wilayah I dan Wilayah II Kecamatan
Tanantovea rata-rata dengan kuesioner
76,12%
kategori
baik.
Kompetensi
profesional guru SD tersertifikasi pada
pembelajaran sains di Wilayah I dan Wilayah
II Kecamatan Tanantovea rata-rata dengan
observasi 45,97% kategori cukup baik, hal
ini disebabkan karena kemampuan guru pada
pembelajaran sains sangat terbatas dalam
penguasaan
materi
sains
yang
memungkinkan dapat membimbing peserta
didik dalam memenuhi kompetensi yang
diharapkan. Proses pembelajaran sains akan
berlangsung dengan baik jika seorang guru
dapat menguasai materi yang diajarkan
kepada peserta didik. Guru berperang sebagai
pendorong dan pembimbing bagi peserta
didik
dalam
kegiatan
pembelajaran,
sedangkan peserta didik dengan kesadaran
diri melakukan pembelajaran sains dengan
antusias yang tinggi.
Proses pembelajaran sains SD di
Wilayah I dan Wilayah II Kecamatan
Tanantovea di lakukan oleh guru kelas.
Artinya mata pelajaran apapun yang diterima
oleh peserta didik dilakukan oleh guru yang
sama.
Dengan
keadaan
demikian
pengetahuan guru tentang mata pelajaran
2
menjadi serba dasar, begitu juga dengan
pembelajaran sains pengetahuan guru masih
serba dasar dalam penguasaan pembelajaran.
Olehnya itu demi mewujudkan pembelajaran
yang menekankan aspek sains perlu adanya
pembinaan guru-guru SD terkait dengan
peningkatan kompetensi penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam.
Hamalik
(2008)
menyatakan
bahwa
kompetensi profesional yaitu kemampuan
guru dalam mengarahkan kegiatan belajar
mengajar bagi peserta didik untuk mencapai
tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut
mampu menguasai materi pelajaran dengan
baik. Guru harus meng-update materi
pelajaran yang disajikan. Persiapan diri
tentang materi pelajaran yang akan disajikan
diusahakan dengan jalan mencari informasi
melalui berbagai sumber seperti membaca
buku-buku terbaru, mengakses dari internet,
selalu
mengikuti
perkembangan
dan
kemajuan tentang materi yang disajikan.
Hasil penelitian pada indikator
mengembangkan
keprofesian
melalui
tindakan reflektif baik dan cukup baik
disebabkan karena sebagian responden tidak
melakukan evaluasi diri untuk mengetahui
keberhasilan dari suatu materi pelajaran,
mengikuti pelatihan atau diklat sudah sangat
jarang diikuti oleh guru tersertifikasi untuk
Muhammad Ridwan Kalu, dkk. Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Sekolah Dasar …………………………93
menambah pengetahuan. Hal ini relevan
dengan penelitian Arfandy (2014), bahwa
kompetensi profesional guru yang sudah
tersertifikasi baik tingkat SD, SMP, dan
SMA belum maksimal, hal ini disebabkan
masih banyak guru yang sudah tersertifikasi
tidak melakukan evaluasi diri
terhadap
kinerjanya selama ini, selain itu juga
dipengaruhi masih jarang sekali guru
melakukan penelitian dan menyusunnya
dalam suatu jurnal ilmiah yang dapat menjadi
acuan mengajar.
Isjoni (2006) mengemukakan bahwa
pengembangan profesional guru harus diakui
sebagai suatu hal yang sangat fundamental
dan penting guna meningkatkan mutu
pendidikan.
Pengembangan
profesional
adalah proses dimana guru meningkatkan dan
menggunakan pengetahuan, keterampilan dan
nilai secara tepat.
Peningkatan kompetensi guru dapat
dilakukan melalui program pelatihan.
Pelatihan mengandung makna bahwa setelah
mengikuti pelatihan guru akan terdorong
motivasinya untuk memperbaiki kinerjanya,
serta cara pembelajaran. Pelatihan secara
umum diartikan sebagai kegiatan untuk
memperbaiki
penguasaan
berbagai
keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja
tertentu dalam waktu yang singkat (Sikula,
1976).
Pengembangan diri yang optimal,
maka guru merasa tidak akan tampil lagi
sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya
yang menonjol selama ini, tetapi beralih
sebagai pelatih (coach) dan manajer belajar
(learning manager), sebagai pelatih seorang
guru akan mendorong peserta didik untuk
menguasai alat belajar, memotivasi peserta
didik untuk bekerja keras dan mencapai
prestasi yang setinggi-tingginya, sebagai
manajer belajar, guru akan membimbing
peserta didik, mengambil prakarsa, dan
mengeluarkan ide-ide yang dimilikinya.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan tentang kompetensi pedagogik
dan profesional guru SD tersertifikasi pada
pembejaran sains, maka peneliti dapat
menarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Kompetensi pedagogik guru SD yang
tersertifikasi pada pembelajaran sains
kategori cukup baik. Dari tujuh indikator
kompetensi
pedagogik,
indikator
penilaian dan evaluasi belum optimal
disebabkan karena guru dalam melakukan
penilaian selalu pada akhir pembelajaran
yang hanya melihat pada hasil bukan pada
proses, penilaian selalu dalam bentuk tes
tertulis dan guru tidak melakukan analisis
penilaian pada tiap SK/KD.
2) Kompetensi profesional guru SD yang
tersertifikasi kategori cukup baik. Dari dua
indikator
kompetensi
profesional
kemampuan
guru
belum
optimal,
disebabkan dalam menyajikan materi
peserta didik hanya menerima apa yang
diberikan, tanpa melalui pengamatan,
analisis, praktek dan menyimpulkan.
Dalam pengembangan profesional guru
belum optimal dalam melakukan evaluasi
diri, memiliki jurnal pembelajaran dan
mengikuti pelatihan/diklat.
Rekomendasi
Berdasarkan
hasil
penelitian,
pembahasan dan kesimpulan maka peneliti
mengajukan saran-saran sebagai berikut:
1) Disarankan kepada guru tersertifikasi
untuk dapat memahami karakteristik
peserta didik berkaitan dengan aspek
intelektual, emosional, dan latar belakang
peserta didik.
2) Disarankan kepada guru tersertifikasi
dalam melaksanakan pembelajaran sains
dapat mengetahui model, metode, teknik
dan stategi pembelajaran yang sesuai
94 Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, Volume 5 Nomor 3, Agustus 2016 hlm 85-94
dengan karakteristik sains dan peserta
didik.
3) Disarankan kepada guru tersertifikasi
untuk selalu melakukan evaluasi diri,
membuat jurnal pembelajaran, dan
senantiasa ikut pelatihan/diklat.
4) Disarankan kepada kepala sekolah dapat
memantau kinerja guru tersertifikasi di
sekolah dan dilakukan evaluasi bersama
dengan
guru
untuk
meningkatkan
profesionalisme guru.
5) Disarankan kepada Dinas Pendidikan
Kabupaten Donggala agar secara berkala
dan
berkesinambungan
memberikan
pelatihan kepada guru SD tersertifikasi
khususnya kompetensi pedagogik dan
profesional pada pembelajaran sains.
DAFTAR RUJUKAN
Arfandy, H. 2014 Evaluasi Kinerja Guru
Pasca Tersertifikasi di Sulawesi
Selatan. Jurnal Ilmiah Samkarya
Nugraha 20 Maret 2014.
Asmani, J. M. 2009. Kompetensi Guru
Menyenangkan
dan
Profesional.
Yogyakarta: Power Books (IHDINA).
Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami
Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rhineka
Cipta.
Hamalik, O. 2008. Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
ISSN: 2089-8630
Hasibuan, S, Z. 2010. Sertifikasi Pendidik
dan Profesionalitas Guru SMKN I
Panyambungan
Mandailing
Natal
Sumatera Natal Utara Antara Legalitas
dan
Realitas.
Tesis.
Tidak
dipublikasikan. Yogyakarta: Program
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Isjoni. 2006. Gurukah yang Dipersalahkan?.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahayu. 2012. Kompetensi Pedagogik dan
Kepribadian Guru Biologi Bersertifikat
Pendidik di SMA 3 Semarang. Jurnal
Unnes 1 (2): 1-8.
Sikula, A. E. 1976. Personnel Administration
and Human Resources Management.
Santa Barbara: John Wiley & Sons.
Sudjana, N. 2004. Dasar-Dasar Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif
dan Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Supriadi, D. 1998. Mengangkat Citra dan
Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita
Karya Nusantara.
Suwarna.
2005.
Pengajaran
Makro:
Pendekatan
Praktis
Menyiapkan
pendidik Profesional. Yogyakarta:
Tiara Wicana.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
14 tahun 2005 Tentang Guru dan
Dosen.
Download