Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017 - e

advertisement
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
PENGARUH HYDROGEL CENTELLA ASIATICA
UNTUK PENYEMBUHAN LUKA INSISI
(Studi Eksperimen pada Tikus Putih Rattus Norvegicus)
Influence Of Hydrogel Centella Asiatica For Incision Wound Healing
(Experimental Study on The White Rat Rattus Norvegicus)
Indah Nur Imamah
Poltekkes Kemenkes Kaltim
ABSTRAK
Latar Belakang : Luka merupakan kerusakan yang abnormal pada kulit yang menghasilkan
kematian dan kerusakan sel-sel kulit. Pengobatan luka yang sering dilakukan adalah menggunakan
obat kimia, penggunaan obat ini secara topikal mempunyai banyak efek samping. Sebagai alternatif
masyarakat dapat memilih menggunakan tanaman obat. Daun pegagang atau Centella asiatica telah
dilaporkan pada penyembuhan luka kulit. Kandungan dari pegagan ini salah satunya anti radang dan
antioksidan menstimulasi penyembuhan luka.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh hydogel Centella asiatica untuk penyembuhan
luka insisi.
Metodologi Penelitian : Metode penelitian yang digunakan adalah true eksperimen, penelitian
komparatif dengan Pendekatan post test only control group design. Rancangan dengan metode
Randomised control group pre-post test design pada kelompok subjek. Populasi adalah tikus putih
usia 3 bulan dengan berat sekitar 150-300 gram. Sampel penelitian 12 ekor, kelompok kontrol 6 ekor
dan kelompok intervensi 6 ekor.
Hasil Penelitian : Hasil analisis didapatkan bahwa Hydrogel Centella Asiatica berpengaruh
terhadap jumlah leukosit (penyembuhan luka) pada kelompok intervensi.
Kesimpulan : Ada perbedaan jumlah leukosit pada kelompok Hydrogel Centella asiatica hari ke 3
dibandingkan kelompok kontrol dengan p value (0,004); Ada perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok Hydrogel Centella asiatica hari ke 7dibandingkan kelompok kontrol dengan p value
(0,004); Ada perbedaan jumlah leukosit pada kelompok Hydrogel Centella asiatica hari ke 14
dibandingkan kelompok kontrol dengan p value (0,013).
Kata Kunci : Luka Insisi, Cantella Asiatica, Rattus Norvegicus
ABSTRACT
Background: Wound is an abnormal damage to the skin resulting in death and damage to skin cells.
Wound treatment is often done using chemical drugs, the use of this drug topically has many side
effects. As an alternative people can choose to use medicinal plants. Pegagan leaves or Centella
asiatica have been reported on the healing of skin lesions. The content of Centella asiatica is one
anti-inflammatory and antioxidants stimulate wound healing.
Objective: To determine the effect of Centella asiatica hydrocele for incision wound healing.
Research Methodology: The research method used is true experimental method, comparative
research with post test only control group design approach. Randomized control group design
pre-post test design in the subject group. The population is white mice aged 3 months weighing
125
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
about 150-300 grams. 12 mice for study samples, 6 mice for control group and 6 mice intervention
group.
Results: The results of the analysis showed that Hydrogel Centella Asiatica had an effect on the
number of leukocytes (wound healing) in the intervention group.
Conclusion: There was a difference in the number of leukocytes in the Centella asiatica Hydrogel
group on day 3 compared with the control group with p value (0.004); There was a difference in the
number of leukocytes in the Centella asiatica Hydrogel group on day 7 compared with the control
group with p value (0.004); There was a difference in the number of leukocytes in the Hydrogel
Centella asiatica group on day 14 compared to the control group with p value (0.013).
Keywords: Incision Wound, Cantella Asiatica, Rattus Norvegicus
126
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
PENDAHULUAN
Luka merupakan suatu kerusakan yang
abnormal pada kulit yang menghasilkan
kematian dan kerusakan sel-sel kulit. Luka
juga dapat diartikan sebagai interupsi
kontinuitas jaringan, biasanya akibat dari suatu
trauma
atau
cedera.
Luka
dapat
diklasifikasikan secara umum, yaitu; luka akut
dan luka kronis. Luka akut adalah luka yang
sesuai dengan proses penyembuhan yang
normal, yang dapat dikategorikan menjadi
luka pembedahan (insisi), non pembedahan
(luka bakar) dan atau trauma. Sedangkan luka
kronis adalah suatu proses penyembuhan luka
yang mengalami keterlambatan, misalnya luka
dekubitus, luka diabetik, dan atau leg ulcer.
Pada umumnya, pengobatan luka yang
sering dilakukan adalah dengan menggunakan
obat kimia yang banyak tersedia di masyarakat.
Penggunaan obat ini secara topikal
mempunyai banyak efek samping yang
kemungkinan
dapat
menghambat
penyembuhan luka, yaitu iritasi kulit, reaksi
alergi (kemerahan pada kulit, rasa gatal, dan
bengkak). Sebagai alternatif masyarakat dapat
memilih menggunakan tanaman obat.
WHO merekomendasikan penggunaan
obat tradisonal termasuk herbal dalam
pemeliharaan
kesehatan
masyarakat,
pencegahan dan pengobatan penyakit,
terutama untuk penyakit kronis, penyakit
degeneratif dan kanker. Penggunaan obat
tradisional diharapkan dapat membantu
masyarakat untuk perawatan luka.
Indonesia memiliki budaya pengobatan
tradisional termasuk penggunaan tumbuhan
obat sejak dulu dan dilestarikan secara
turun-temurun. Tanaman obat ini digunakan
oleh masyarakat karena tidak mengandung
bahan kimia sintetis sehingga relatif aman
untuk digunakan. Di Indonesia ada banyak
tanaman obat yang digunakan untuk
penyembuhan luka, antara lain adalah daun
jambu biji, binahong, daun dewa, tempuyung,
daun mangkokan, buah nanas, bawang putih,
bawang merah, daun pegagang, pepaya dan
lain sebagainya.
Daun pegagang atau Centella asiatica
adalah tanaman obat herbal yang saat ini telah
digunakan berbagai perusahaan farmasi baik di
Asia Tenggara dan India. efek farmakologis
dari Centella asiatica telah dilaporkan pada
penyembuhan luka kulit, bronchitis, disentri,
keputihan,
penyakit
ginjal,
uretritis,
aterosklerosis, vena hipertensi, dan berfungsi
melindungi jantung. Di indonesia Centella
asiatica khususnya pulau jawa ternyata pegagan
dulu banyak digunakan sebagai bahan ramuan
jamu, baik untuk pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan penyakit, maupun untuk keperluan
pengobatan.
Kandungan dari pegagan ini salah satunya
adalah vallerin, suatu zat cair berwarna kuning,
dianggap sebagai zat berkhasiat dari pegagan
yaitu sebagai antilepra dan antilues. Kandungan
berkhasiat lainnya ialah glikosida saponin
brahmosida dan braminosida yang menunjukkan
khasiat sedatif pada hewan. Glikosida yang lain
yaitu madekasosida menunjukkan khasiat
antiradang dan asiatikosida menstimulasi
penyembuhan luka.
Cara kerja asiaticoside terhadap bakteri
serupa dengan komponen minyak atsiri alam,
dimana asiaticoside dapat menembus dinding sel
berbagai bakteri atau fungi sehingga dapat
mempercepat penyembuhan luka. Dalam
penelitian
ini
Centella
asiatica
akan
dimanfaatkan menjadi hydrogel, dengan
campuran utamanya adalah air. Hydrogel
merupakan jenis balutan primer yang dapat
langung diaplikasikan pada kulit yang terluka.
Hydrogel
dapat
menciptakan
suasana
lembab/rehidrasi pada luka serta memberikan
efek dingin.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah
true eksperimen, penelitian komparatif untuk
mengetahui manfaat pemberian hydrogel
Centella asiatica terhadap proses penyembuhan
luka insisi tikus putih (rattus novergicus) galur
wistar. Dengan Pendekatan yang digunakan
adalah post test only control group design. Pada
rancangan ini digunakan metode Randomised
control group pre-post test design pada
kelompok subjek.
Populasi penelitian adalah tikus putih jantan
(Rattus novergicus) galur wistar. Tikus betina
tidak digunakan untuk menghindari pengaruh
hormon progesterone dan estrogen terhadap
proses penyembuhan luka. Tikus yang
digunakan untuk penelitian adalah tikus usia 3
bulan dengan berat sekitar 150-300 gram.
Penelitian ini memerlukan sampel sebanyak
12 subyek. Peneliti akan membagi menjadi 2
kelompok. Kelompok kontrol 6 ekor dan
kelompok intervensi 6 ekor.
127
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
Tekhnik samping yang digunakan untuk
membagi tikus kedalam kelompok kontrol dan
kelompok intervensi adalah dengan metode
randomize sampling.
Adapun alur dalam penelitian ini adalah :
5
157
13750
11575
10350
11375
6
150
14875
12325
11750
11850
Dari
tabel 4.1 di atas, diketahui
bahwa jumlah leukosit pada kelompok tikus
intervensi dan kontrol pada saat pre test dan
post test hari ke 3, 7 dan 14 mengalami
penurunan.
Tikus putih jantan (Rattus Novergicus) Galur Sprague Dawley
12 Ekor tikus putih jantan (Rattus Novergicus) Galur Sprague Dawley
Randomized
6 ekor tikus
Kelompok Intervensi
6 ekor tikus
Kelompok Intervensi
Diberi luka insisi
Diberi luka insisi
Pemeriksaan Jumlah Leukosit
Pada hari ke 0 setelah 3 jam
perlukaan (pre test)
Pemeriksaan Jumlah Leukosit
Pada hari ke 0 setelah 3 jam
perlukaan (pre test)
B. Analisa Bivariat
1. Uji Kesetaraan Karakteristik Sampel
Penelitian Sebelum Intervensi
Tabel 2
Pemberian Hydrogel
Centella asiatica 60%
1 x/hr
Uji Kesetaraan Rata-rata Jumlah
Leukosit sebelum Intervensi
Pemeriksaan jumlah leukosit pada hari ke 3 (post test)
Kelompok
Intervensi
Kontrol
Pemeriksaan jumlah leukosit pada hari ke 7 (post test)
n
Nilai
Uji
12
12
53,18
53,20
F
P. Value
0,466
Pada hasil uji statistik dengan
menggunakan uji F diatas, dapat diketahui
jumlah leukosit baik pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol dinyatakan
tidak bermakna secara statistik, hal ini
menunjukkan bahwa jumlah leukosit
sebelum intervensi pada tiap kelompok
tersebut dalam kondisi sama, sehingga tiap
kelompok layak untuk dibandingkan dan
dianalisis lebih lanjut.
Pemeriksaan jumlah leukosit pada hari ke 14 (post test)
Analisa Data
HASIL PENELITIAN
A. Analisa Univariat
Tabel 1
Gambaran Perubahan Jumlah Leukosit
Jumlah leukosit hari ke ( /mm3)
Kel
Placebo
Pegagan
2.
Uji
Perbedaan
Jumlah
leukosit
Kelompok Kontrol dan kelompok
Intervensi
Tikus
BB
Pre
Post
(hr ke 3)
Post
(hr ke 7)
Post
(hr ke 14)
1
158
14750
14425
13075
12275
2
160
13500
13525
12150
11575
Tabel 3
3
150
14925
14550
13750
12325
4
152
13025
13725
13275
12050
Deskripsi perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok intervensi dan kontrol hari ke 3
5
165
13575
13350
13250
12350
6
166
14250
14235
13075
12025
1
158
13725
12850
11850
11575
2
154
14775
12025
11275
11875
3
161
13075
12725
10975
11250
4
160
14275
12775
10500
10250
Kelompok
Intervensi
Kontrol
n
12
12
Rata-rata
perubahan
3,50
9,50
Mann
Whitney
0,000
P. Value
0,004
Berdasarkan analisis yang dilakukan
terhadap jumlah leukosit pada hari ke 3
kelompok intervensi dan kelompok kontrol,
128
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
didapatkan nilai p.value sebesar (0,004),
hal ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan jumlah leukosit
antara kedua kelompok.
Tabel 4
Deskripsi perbedaan Jumlah Leukosit
pada kelompok intervensi dan kontrol
hari ke 7
Kelompok
n
Intervensi
Kontrol
12
12
Rata-rata
perubahan
3,50
9,50
Mann
Whitney
0,000
P. Value
0,004
Berdasarkan analisis yang dilakukan
terhadap jumlah leukosit pada hari ke 7
kelompok intervensi dan kelompok
kontrol, didapatkan nilai p.value sebesar
(0,004), Hal ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan jumlah leukosit
antara kedua kelompok.
Tabel 5
Deskripsi perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok intervensi dan kontrol hari ke
14
Kelompok
n
Intervensi
kontrol
6
6
Rata-rata
perubahan
3,92
9,08
Mann
Whitney
2,500
P. Value
0,013
Berdasarkan analisis yang dilakukan
terhadap jumlah leukosit pada hari ke
14 kelompok intervensi dan kelompok
kontrol, didapatkan nilai p.value sebesar
(0,013), hal ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan jumlah leukosit
antara kedua kelompok.
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada tikus putih
jantan Rattus novergicus galur wistar sehat
berusia 3 bulan dengan berat 150-200 gram
sebanyak 12 ekor. Tikus dibagi menjadi 2
kelompok, 6 kelompok intervensi dan 6
kelompok kontrol. Seluruh tikus terbagi
kedalam 2 kandang, tiap kandang berisi 6 ekor
tikus. Tikus dibuatkan luka insisi dibagian
punggung bawah dengan panjang 2 cm sampai
kedalaman subcutan, setelah 3 jam perlukaan
seluruh tikus kelompok kontrol dan kelompok
intervensi dilakukan pengambilan darah untuk
pengukuran jumlah leukosit (pre test).
Hari ke 3 setelah perlukaan, tikus kelompok
kontrol dan kelompok intervensi dilakukan
pengambilan darah kembali untuk pengukuran
jumlah leukosit (post test). Hasil analisa data
menyebutkan jumlah leukosit kelompok kontrol
dan kelompok intervensi didapatkan nilai p
value sebesar (0,004), kondisi ini menunjukkan
bahwa ada perbedaan signifikan antara
kelompok yang menggunakan Hydrogel
Centella
asiatica
dengan
yang
tidak
menggunakan Centella asiatica terhadap proses
penyembuhan luka pada hari ke 3.
Hasil analisis tersebut menyatakan bahwa
hipotesis penelitian diterima yang artinya
Hydrogel Centella asiatica berpengaruh terhadap
jumlah leukosit hari ke 3 pada kelompok
intervensi, sehingga terdapat perbedaan jumlah
leukosit kelompok intervensi dibandingkan
kelompok kontrol.
Hasil penelitian tersebut sejalan dengan
teori bahwa Centella asiatica (Pegagan)
merupakan salah satu tanaman obat yang
memiliki komponen yang bermanfaat bagi
kesehatan. Diantara komponen tersebut adalah
triterpenoid dan minyak esensial. Kandungan
triterpeinoidnya terdiri dari Asiatic acid,
Madecassic
acid,
Asiaticoside
dan
Madecassoside (Somchit et al, 2004).
Komponen ini memiliki banyak efek
farmakologi pada penyembuhan luka, yaitu
sebagai antiinflamasi, antibakteri, mendorong
angiogenesis dan sintesis kolagen tipe I.
Hari ke-3 merupakan fase inflamasi,
inflamasi adalah reaksi lokal yang aktif dari
jaringan vaskular dan jaringan ikat tubuh pada
saat
terjadinya
luka,
sehingga
dalam
perkembangannnya berupa suatu eksudat yang
kaya akan protein dan sel. Reaksi ini bertujuan
sebagai pelindung dan membatasi atau
menghilangkan iritasi selama proses mekanisme
perbaikan jaringan berlangsung (Fragiskos D,
2007). Leukosit Polimorfonuklear (PMN) adalah
sel pertama yang menuju ke tempat terjadinya
luka. Jumlahnya meningkat cepat dan mencapai
puncaknya pada 24–48 jam, fungsi utamanya
adalah memfagositosis bakteri yang masuk saat
makrofag membersihkan debris pada luka, bila
tidak terjadi infeksi sel-sel leukosit PMN akan
berumur pendek dan jumlahnya menurun
dengan cepat setelah hari ketiga (Sabiston CD,
2007). Proses tersebut yang membuat leukosit
129
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
pada kelompok intervensi hari ke pada
penelitian mengalami penurunan dibandingkan
kelompok kontrol.
Hasil tersebut sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang menyebutkan bahwa
kandungan essential oil pada daun pegagan
memiliki efek anti bacterial pada bakteri gram
positif dan negatif untuk menghambat
pertumbuhan bakteri pada luka (Zheng dan
Qin, 2007), sehingga leukosit PMN
mengalami penurunan.
Hari ke 7 proses penyembuhan luka, tikus
kelompok kontrol dan kelompok intervensi
dilakukan pengambilan darah kembali untuk
pengukuran jumlah leukosit (post test). Hasil
analisa data menyatakan bahwa terdapat
perbedaan jumlah leukosit kelompok kontrol
dan intervensi dengan nilai p.value sebesar
(0,004), kondisi ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan antara kedua kelompok.
Berdasarkan hasil statistik tersebut maka
hipotesis penelitian dinyatakan diterima yang
artinya
Hydrogel
Centella
asiatica
berpengaruh terhadap jumlah leukosit hari ke
7 pada kelompok intervensi, sehingga terdapat
perbedaan
jumlah
leukosit
kelompok
intervensi dibandingkan kelompok kontrol.
Secara teori pada hari ke 7 proses
penyembuhan luka telah memasuki fase
proliferasi, fase proliferasi tumpang tindih
dengan fase inflamasi. Tujuan fase ini adalah
untuk mengisi bagian luka dengan jaringan
baru dan mengembalikan integritas kulit.
Pembentukan jaringan baru adalah patokan
untuk memulai fase ini. Proses yang terlibat
dalam fase proliferasi adalah angiogenesis
(pertumbuhan darah baru), sintesis kolagen
(pembentukan ECM), dan kontraksi luka yang
dimulai pada tepi luka (jnsen, 2011). Sel yang
berperan dalam fase ini adalah makrofag,
limfosit, fibroblas, sel epitel, sel endotel
(prabakti, 2005).
Penelitian sebelumnya menyebutkan
bahwa, bila tidak terjadi infeksi sel-sel PMN
akan berumur pendek dan jumlahnya menurun
dengan cepat setelah hari ketiga (prabakti,
2005), hal tersebut yang membuat leukosit
kelompok interveni hari ke 7 pada penelitian
ini juga mengalami penurunan.
Pada fase proliferasi terjadi suatu metode
pembersihan dan penggantian jaringan
sementara, proses pembunuhan bakteri
patogen dan makrofag memfagosit bakteri
yang mati dan debris dalam usaha
membersihkan luka. Selain itu, terjadi
perangsangan fibroblastik sel untuk membuat
kolagen. Angiogenesis akan terjadi untuk
membangun jaringan pembuluh darah baru
sehingga akan tampak adanya jaringan granulasi
dan epitelisasi pada luka (Carville, 2007; Rainey,
2002).
Konsep tersebut sejalan dengan hasil
penelitian yang menyebutkan bahwa Kandungan
daun pegagan yang diperkirakan berperan pada
fase proliferatif adalah triterpenoid dan asiatic
acid.
Triterpenoid
akan
merangsang
pembentukan
matriks
ekstraseluler,
meningkatkan prosentase kolagen dalam lapisan
sel fibronectin (Vohra dkk, 2011; Jamil dkk,
2007). Hal ini juga didukung oleh Krishnaiah
(2009)
menyatakan
terpenoid
bersifat
menguatkan kulit, meningkatkan kosentrasi
antioksidan pada luka dan memperbaiki jaringan
inflamasi sehingga cocok untuk luka bakar.
Kandungan triterpenoid akan membantu
mempercepatan proses penutupan dan perbaikan
sel – sel jaringan yang rusak sehingga luka cepat
menutup. Selain itu Asiatic acid berperan dalam
sintesis kolagen (Medicine herbs, 2010; Jamil
dkk, 2007).
Hari ke 14 proses penyembuhan luka, tikus
kelompok kontrol dan kelompok intervensi
dilakukan pengambilan darah kembali untuk
pengukuran jumlah leukosit (post test). Hasil
analisa data menyebutkan bahwa terdapat
perbedaan jumlah leukosit antara kelompok
kontrol dan intervensi didapatkan nilai p.value
sebesar (0,013), kondisi ini menunjukkan bahwa
ada perbedaan signifikan jumlah leukosit antara
kedua kelompok. Berdasarkan hasil statistik
tersebut maka hipotesis penelitian dinyatakan
diterima yang artinya Hydrogel Centella asiatica
berpengaruh terhadap jumlah leukosit hari ke 10
pada kelompok intervensi, sehingga terdapat
perbedaan jumlah leukosit kelompok intervensi
dibandingkan kelompok kontrol.
Fase ini adalah Fase maturasi yang
merupakan fase remodeling, dimana fungsi
utamanya adalah meningkatkan kekuatan
regangan pada luka. Kolagen asli akan
diproduksi selama fase rekonstruksi yang
diorganisir dengan kekuatan regangan yang
minimal (Carville, 2007; Rainey, 2002). Fungsi
leukosit pada fase ini adalah untuk memproduksi
faktor pertumbuhan dan sitokin yaitu PDGF,
FGF, TGF β dan IL-1, IL-4, IgGI untuk deposisi
matrik ekstraseluler dan sintesis kolagen
(Bambang, 2005).
130
Jurnal Ilmiah Sehat BebayaVol.1 No. 2, Mei 2017
Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan
bahwa asiaticoside yang terkadung dalam daun
pegagan diperkirakan akan bekerja pada fase
ini dimana Asiaticoside akan memfasilitasi
proses
penyembuhan
luka
dengan
meningkatkan
komponen
peptic
hydroxyproline, tensile strength, sintesis
kolagen, angiogenesis, dan epitelisasi (Vohra
dkk, 2011; Jamil dkk, 2007;Gohil dkk, 2010).
KESIMPULAN
1. Ada perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok Hydrogel Centella asiatica hari
ke 3dibandingkan kelompok kontrol dengan
p value (0,004)
2. Ada perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok Hydrogel Centella asiatica hari ke
7dibandingkan kelompok kontrol dengan p
value (0,004)
3. Ada perbedaan jumlah leukosit pada
kelompok Hydrogel Centella asiatica hari ke
14 dibandingkan kelompok kontrol dengan p
value (0,013)
KEPUSTAKAAN
Anief, M. (2000). Farmasetika. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press. Hal
118-120.
Prabakti, Yudi. (2005). Perbedaan Jumlah
Fibroblas Di Sekitar Luka Insisi Pada
Tikus Yang Diberi Infiltrasi Penghilang
Nyeri Levobupivakain Dan Yang Tidak
Diberi
Levobupivakain.
Semarang:
UNDIP. Hal. 25.
Simon, K. and Kerry B. (2000). Principles and
Practice of Phytotheraphy. Modern Herbal
Medicine.
New
York:
Churchill
livingstone. Hal. 32, 69, 291.
Sjamsuhidajat, R., dan Wim, D.J. (1997).
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Halaman. 72-73.
Yuniarti, T. (2008). Ensiklopedia Tanaman
Obat Tradisional. Yogyakarta Media
Pressindo. Hal 381.
World Health Organization. (1992). Quality
Control Methods For Medicinal Plant
Material.
WHO/PHARM/92.559.
Switzerland:Geneva. Pages 25-28.
Wijayakusuma,
H.M.
(1992).
Tanaman
berkhasiat obat di Indonesia. Jilid I, Jakarta:
Pustaka Kartini. Hal 9.
Notoatmodjo S. 2012. Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Pagad S. 2011. Rattus norvegicus (mammal).
Tersedia dari : http://www.issg.org/databese.
Diakses tanggal 20 September 2016.
Ridwan E. 2013. Etika pemanfaatan hewan
percobaan dalam penelitian kesehatan.
Artikel
Pengembangan
Pendidikan
Keprofesian
Berkelanjutan
(P2KB).
63(3):2−16.
Aziz, Z.A, M.R. Davey, J.B.Power, P. Anthony,
R.M.Smith
and
K.C.Lowe.
2007.
Production
of
Asiatikosida
And
Madekasosida In Centella asitica In Vitro
and In Vivo. Plant Sciences Division,
School of Biosciences, University of
Nottingham,UK. Biologia Plantarum 51(1):
34-42.
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
2010. Teknologi Penyiapan Simplisia
Terstandar Tanaman Obat, Bogor.
CAPA and WHO. 2007.Monograph For Herbal
Medicinal Products. Central Administration
of Pharmaceutical Affairs (CAPA) In
collaboration
with
World
Health
Organization(WHO). Ministry of Health &
Population (MOHP), Egypt.
Chakrabarty and Deshmukh. 1976. Centella
asiatica in the Treatment of Leprosy. Sci
Cult 42: 573.
131
Download