urgensi khilafah dan kesatuan kaum muslimin dalam membangun

advertisement
URGENSI KHILAFAH DAN KESATUAN KAUM MUSLIMIN DALAM
MEMBANGUN EKONOMI UMMAT
Pendahuluan
Ajaran Islam sangat lengkap dan detail, seluruh aspek kehidupan manusia tercakup
didalamnya , mulai dari urusan yang sederhana seperti etika saat makan dan minum hingga urusan
yang lebih luas seperti negara dan aturan yang ada didalamnya. Dengan kata lain dari urusan pribadi
hingga urusan seluruh umat dunia ada aturannya dan sama kadar perhatiannya. Mengingat
kelengkapan ajaran tersebut, mungkin kita akan bertanya-tanya mengapa negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam mengalami kesenjangan dan ketidakseimbangan , sehingga
Islam dimata dunia sangat menonjol dengan peperangan dan kemiskinan, padahal kita ketahui
bahwa peperangan dan kemiskinan tersebut selalu diidentikkan dengan dalam berpolitik dan
berekonomi. Contoh yang sangat dekat dengan kita yaitu di Negara Indonesia yang mayoritas
muslim, dalam menentukan kebijakan politik dan ekonomi, selalu ada intervensi dari negara-negara
barat yang notabene non muslim, baik melalui IMF, maupun melalui kebijakan-kebijakan
internasional yang dibuat oleh mereka melalui kelompok-kelompok perdagangan internasional, yang
tentunya hanya memberikan keuntungan pada mereka, karena sistem ekonomi yang berkembang
saat ini diwarnai dengan adanya sistem ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis. Dengan sistem
ekonomi tersebut negara–negara berkembang yang mayoritas memiliki penduduk muslim dijadikan
negara yang penuh dengan ketergantungan ekonomi menjadi lemah tidak bisa berbicara banyak
sehingga sibuk melakukan penyesuaian terhadap kebijakan-kebijakan yang mereka buat.
Kalau kita renungi secara mendalam, kita akan mencari-cari kemana kekuatan kita ?
Mengapa kepemimpinan ada ditangan mereka ? Akankah kita kembalikan kejayaan kita ? Akankah
pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas akan segera terjawab apabila kita tidak membangun
kekuatan bersama ? sebenarnya masih segudang pertanyaan lagi yang dapat kita tujukan pada
negara-negara yang berpenduduk muslim. Padahal Al-qur’an lah yang pertama kali menjelaskan
konsep khilafah (kepemimpinan) manusia dibumi yang direalisasikan dalam bentuk pemakmuran
bumi, tetapi pada kenyataannya saat ini kekhalifahan dipegang oleh orang-orang yang tidak
bertujuan untuk memakmurkan bumi.
Artikel ini akan mengkaji sekilas pentingnya khilafah dan persatuan ummat dalam
pembangunan ekonomi ummat Islam, yang akan diawali dengan penjelasan singkat mengenai
sejarah khilafah Islamiyah dalam konteks ekonomi hingga kondisi saat ini, kemudan dilanjutkan
dengan pembahasan peran kekhalifahan dalam perkonomian uummat dan diakhiri dengan simpulan.
Khilafah Islamiyah
Manusia adalah khalifah Allah atau Wakil Allah dibumi (Al-Baqarah: 30 , Al-An’aam: 165;
Faathir: 39, shaad: 27, dan al-Hadiid: 7) . Manusia telah dibekali dengan semua karakteristik mental
dan spiritual serta materiil untuk memungkinkan hidup dan mengemban misi secara efektif. Khilafah
merupakan salah satu dari 5 dasar filsafat (philosophical foundation) yang mendasari konsep
pembangunan dalam Islam. Dasar ini memberikan ketegasan kepada segenap umat manusia tentang
fungsi dan tujuan keberadaannya dimuka bumi ini. Dalam konteks pembangunan Khalifatullah fil ard
berarti bahwa manusia sebagai individu adalah”agent of development”.
Dalam konteks jamaah, kekhilafahan manusia diwujudkan dalam Khilafah Islamiyah yang
terbentuk dari adanya daulah Islamiyah. Daulah Islamiyah yang kita kehendaki adalah daulah inti.
Menurut Hasan Al-Banna dalam buku membina angkatan mujahid daulah inti adalah daulah yang
memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragam kaum muslimin, mengembalikan
keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang telah dirampas.
Menegakkan daulah Islamiyah, berarti juga menegakkan khilafah Islamiyah. Lebih lanjut
menurut Imam Hasan Al-Banna ,”mengembalikan eksistensi daulah Islam kepada umat Islam dengan
membebaskan negaranya, menghidupkan keagungannya, mendekatkan peradabannya,
Page 1 of 7
menghimpun kalimatnya hingga itu akan mengantarkan kembalinya khilafah Islamiyah yang hilang
dan persatuan yang dicita-citakan”.
Penegakkan khilafah Islamiyah dan persatuan ummat merupakan kewajiban yang selama ini
diabaikan oleh kebanyakan umat Islam. Oleh karena itu Hasan Al-banna berkata,”Selama daulah ini
tidak tegak, maka semua umat Islam berdosa dan bertanggung jawab dihadapan Allah SWT,
mengapa mereka sampai lalai memperjuangkannya dan bersikap acuh tak acuh dalam
penegakkannya. Sungguh merupakan sebuah kedurhakaan terhadap nilai kemanusiaan bahwa
dalam situasi yang membingungkan ini justru tegak suatu negara yang mengokohkan sistem nilai
zhalim yang mempropagandakan seruan palsu, sementara tidak seorangpun mau berjuang untuk
menegakkan negara yang haq, adil dan damai”.
Dengan demikian tujuan pokok penegakan Islam harus kita lakukan, melalui suatu daulah
Islam dan penegakan Islam tersebut harus melingkupi seluruh aspek kehidupan yaitu meliputi
penegakkan rukun-rukun Islam, sistem politik, sosial, ekonomi, militer, akhlak, pendidikan,
pengajaran dan jurnalisme Islam. Menurut Yusuf Qardhawi karena tujuan itu wajib, maka semua
aspek yang mendukung penegakan tujuan tersebut menjadi hukumnya wajib pula .
Kejayaan dan kemunduran khilafah dalam konteks ekonomi
Kejayaan Khilafah
1. Zaman Rasullulah dan Khulafa’ur Rasyidin
Zaman Rasullulah dan khulafaur Rasyidin merupakan zaman ideal , pada zaman ini dasardasar pertama negara Islam ditegakkan, selama kurang lebih 40 tahun, dengan demikian dalam
setiap sisi kehidupan baik dalam sisi ekonomi, politik hukum dsb, harus didasarkan pada Al-qur’an
dan As-sunnah . Perwujudan sistem ekonomi dilakukan Rasullulah melalui Baitul mal yang pada
awalnya tidak mempunyai bentuk formal sehingga memberikan fleksibilitas yang tinggi dan nyaris
tanpa birokrasi. Keadaan ini bertahan sampai jamannya Khilafah Abu bakar ra, dapat dikatakan tidak
ada perubahan yang signifikan dalam pengelolaan Baitul Mal. Barulah ketika jamannya khalifah
Umar ibn Khattab ra, sejalan dengan bertambah luasnya wilayah pemerintahan Islam, ada
peningkatan volume dana yang dikelola dan adanya keragaman kegiatan, Baitul Mal bertambah
besar dan kompleks. Keadaan ini mendorong khalifah untuk membuat sistem administrasi dan
pembukuan yang mampu menangani perkembangan ini. Sejumlah manajer dan akuntan persia mulai
dipekerjakan di Baitul Mal.
Secara Umum politik ekonomi yang digariskan Umar bin Khattab bermaksud memenuhi
kebutuhan si miskin dengan sarana yang dapat mencegahnya dari perbuatan hina seperti memintaminta. Selain itu politik ekonomi beliau menuntut jaminan kesejahteraan, makan, minum, hingga
mengawinkan kaum muslimin dengan menggunakan dana dari Baitul Mal. Begitu pula membayar
hutang-hutang mereka, memberikan biaya kepada para petani agar mereka menanami tanahnya.
Kondisi politik ekonomi ini berlangsung terus hingga masa daulah umayah dibawah pemerintahan
khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dalam hubungannya dengan memperlakukan rakyatnya yang tidak beragama Islam
pemerintahan khilafah senantiasa dengan penuh keadilan, memberikan hak yang sama dengan
kaum muslimin, jiwanya, harta, gereja dan salib mereka. Saat pemerintahan khilafah Umar bin Abdul
Aziz tidak ada seorangpun yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena sistem
perekonomian yang diterapkan senantiasa melindungi setiap warga negara selama mereka berada
dalam negara Islam, sungguh peran kekhilafahan yang di ceritakan Al-Qur’an terwujud pada masa
ini, sehingga kemakmuran dimuka bumi dapat dirasakan seluruh ummat manusia.
2. Jaman Emas Islam
Jaman ini meliputi jaman Umayyah, Jaman Absasiyah I dan jaman Abbasiyah II, jaman ini
dikenal sebagai jaman Emas Islam. Yaitu jaman berkembangnya Negara Islam meliputi tiga benua
lama: Asia, Afrika dan Eropa dan cemerlangnya kemajuan kebudayaan Islam. Pada jaman Umayyah
Page 2 of 7
yang berpusat di Damascus, ummat Islam dipimpin oleh para khalifah yang bijaksana dan panglima
perang yang pemberani , jaman ini berlangsung sekitar 90 tahun. Sementara itu pada jaman
Abbasiyah I, yang berpusat di Bagdad, sudah banyak pemikir maju dan pencinta ilmu pengetahuan,
dan menteri-menterinya yang progressif telah membina dasar-dasar kemajuan dunia, jaman
Abbasiyah ini berlangsung selaman 100 tahun.
Pada jaman emas terakhir yaitu masa Abbasiyah II (Turki I), para khalifah masih konsekuen
dengan prinsip-prinsip Islam, para panglima dari Turki yang gagah berani dan sanggup
mempertaruhkan jiwa raga untuk membela negara.
Pada awalnya secara keseluruhan kondisi ekonomi jaman ini masih cukup baik, masa-masa ini
merupakan kebanggaan bagi umat Islam, ini merupakan puncak kebahagiaan dan kejayaan umat.
Pada jaman ini perekonomian Islam dilakukan ditiga benua besar.
B.Akhir Kekhilafahan
Pemerintahan Abbasiyah hanya berlangsung sampai tahun 656 H .Akhir jaman emas Islam,
merupakan masa kemunduran khilafah, meskipun awalnya terkenal dengan kemajuan
peradabannya, pada akhir masa ini juga kepala pemerintahan mulai bergelimang dengan
kemewahan. Pada zaman ini mulai terjadi berbagai kemelut ekonomi Penguasa-penguasa pada saat
itu mulai melakukan penumpukkan kekayaan, tidak lagi muncul rasa keadilan sosial, dari penguasa
terhadap rakyat. Penggunaan uang negara pun tidak dapat dikontrol lagi dengan baik, sehingga
muncul masalah-masalah keuangan.
Perang saudara mulai terjadi pada masa ini dan kesempatan ini juga digunakan oleh musuhmusuh Islam yang datang dari luar, dari barat kaum salibiyah Kristen melakukan penyerbuan selama
200 tahun, sedangkan dari timur bangsa tartar dibawah pimpinan Jenghiz Khan menghancurkan
segala sesuatu. Kekacauan pada masa ini semakin meningkat karena mulai muncul kerusakan moral
dan kerendahan budi yang menghancurkan segala sifat-sifat baik. Dibidang perekonomian,
mmasyarakat muali kehilangan sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, pelaku-pelaku
ekonomi mulai menghalalkan segala cara, misalnya dalam kebijakan fiskal adanya praktek riba dan
terjadi inflasi yang membumbung. Seorang pemikir ekonomi Islam Taqiuddin Ahman Ibn Alialmaqrizi
(1364-1441) menyimpulkan ada dua hal yang menjadi penyebab hancurnya ekonomi yang
disebabkan inflasi, pertama adalah natural inflation akibat berkurangnya persediaan barang baik
karena perang yang berkepanjangan atau adanya musim paceklik, kedua adalah inflasi yang
disebabkan tiga kesalahan manusia pada saat itu .
Kesalahan pertama adalah korupsi, kolusi dan administrasi yang buruk. Kesalahan kedua
adalah pajak yang berlebihan, kesalahan ketiga adalah jumlah uang yang berlebihan. Kesemuannya
atau sendiri-sendiri mendorong terjadinya inflasi. Menurut Ibn Hazm (dalam Karim ‘2000), pada saat
terjadinya inflasi hanya rakyat kecil yang menanggung beban, padahal dalam ekonomi Islam para
penguasa seharusnya juga ikut bertanggung jawab agar rakyat dapat memenuhi kebutuhan hidup
dasarnya.
Kondisi Ekonomi Saat Ini
Setelah mencapai titik puncaknya, masyarakat muslim kehilangan momentum keemasannya,
hal ini dikarenakan adanya degredasi politik dan moral. Chapra (2000) menyatakan lembaga pertama
yang sirna adalah ke-khilafahan yang mencerminkan sistem politik Islam dalam bentuk yang ideal.
Lembaga itu kemudian diganti oleh sistem otokratis dan turun temurun yang kurang mengambil
aspirasi dari kewajiban-kewajiban demokratis Islam dan yang menghimpun kebusukan-kebusukan
kekuasaan semacam ini sepanjang waktu.
Suatu kenyataan perekonomian yang sangat menyedihkan terjadi didunia timur, yang
banyak dihuni oleh kaum muslimin. Meskipun ada beberapa negara yang menempatkan dirinya
sebagai negara kaya , tetapi kekayaannya tidak membuatnya berpacu dengan kemajuan jaman,
sebagai contoh negara Indonesia yang begitu kaya dengan sumber daya alam, kekayaan kita itu
justru dimanfaatkan oleh negara-negara non Islam untuk memperkuat dan menggemukkan
Page 3 of 7
negaranya (lihat kasus Freepot atau Bontang) dan hal tersebut pada hakekatnya menghancurkan
negara kita baik dalam bidang politik, ekonomi maupun dibidang sosial budaya.
Dominasi barat semakin besar, terhadap dunia Islam akibat perilaku konsumtif yang dimiliki
kebanyakan muslim saat ini, hilangnya semangat untuk berkurban, kesadaran sosial, terhadap
sesama muslim melengkapi perilaku ini. Negara-negara muslim yang konsumtif membekukan
kehidupan produktif dimasyarakat, dan hal ini semakin memperburuk kondisi perekonomian dunia
Islam. Negara-negara barat yang non muslim semakin menguatkan posisinya sebagai ’bapak asuh’
negara-negara timur disemua bidang, sehingga dengan mudah mereka menjerat kehidupan politik
dan sosial budaya.
Beberapa organisasi yang mereka miliki hanyalah mempersulit sistem perekonomian dunia
Islam, sebagai contoh dominasi OPEC yang ditujukan untuk mempersulit negara-negara penghasil
minyak yang sebagian besar kaum muslim. Sehingga banyak negara-negara Islam yang mengalihkan
perhatiannya pada komoditi non migas, termasuk Indonesia, tetapi jalan ini juga tidak mulus, karena
negara-negara barat menutup pintunya rapat-rapat melalui organisasi-organisasi yang mereka buat
dengan siasat protective-nya. Amerika dengan siasat liciknya membendung arus komoditi berupa
barang-barang konveksi dari negara-negara berkembang terutama Indonesia, dibalik itu Amerika
melancarkan hubungan bisnis barang-barang tersebut dengan negara-negara anteknya di Eropa.
Sehingga yang terjadi dinegara berkembang bagaikan pedagang keliling yang keluar masuk kampung,
tetapi tidak ada satupun pembeli yang memberikan keuntungan yang berarti dari hasil dagangannya.
Sehingga kita kembali kepada Amerika dengan meminta belas kasihannya, melalui suatu pilihan yang
mudah yaitu dengan jalan berhutang. Hutang ini dianggap alternatif terbaik oleh negara-negara
berkembang untuk membangun negaranya, ini dapat disadari karena negara-negara Islam berstatus
sebagai negara berkembang. Sangat disayangkan dari masing-masing negara berkembang ini tidak
mau bekerjasama, karena bagaimanapun harus disadari solidaritas diperlukan tidak hanya dari
negara-negara maju terhadap negara berkembang, tetapi juga antara penduduk negara berkembang
sendiri.
Strategi lain yang sedang dilancarkan dunia barat adalah slogan politik pasar bebas. Politik
pasar bebas dalam hal ini berarti penerapan kebebasan hak milik yang bersumber dari aqidah
ideologi kapitalisme secara internasional, yakni penerapan kebebasan hak milik dalam hubungan
perdagangan internasional, yang bertujuan meringankan atau menghentikan intervensi negaranegara dalam perdagangan khususnya, dan dalam kegiataan perekonomian pada umumnya. Dengan
politik ini AS berusaha untuk menggiring negara-negara dunia untuk menghilangkan hambatan tarif
(bea masuk) dan rintangan apapun dalam perdagangan internasional.
Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut AS dan negara kapitalis besar telah mengadakan
perjanjian-perjanjian perdagangan internasional dan membentuk kelompok-kelompok ekonomi
seperti NAFTA (beranggotakan AS, Canada dan Meksiko) pasar bersama eropa dan APEC, yang
beranggotakan negara-negara NAFTA, Australia, Selandia baru, Jepang, Indonesia dan negara-negara
macan Asia yang kesemuanya berada dilautan pasifik. Perjanjian-perjanjian yang dibuat AS dalam
bidang ekonomi dan perdagangan seperti WTO, GATT ,dll , bertujuan agar tidak terdapat peluang
bagi negara-negara berkem¬bang untuk membangun ekonominya sendiri atas basis-basis yang kuat
dan kokoh, padahal penguatan basis-basis ekonomi akan membebaskan ketergantungan ekonomi
negara-negara berkembang dari negara-negara kaya, sehingga nantinya negara-negara berkembang
itu tidak lagi menjadi pasar bagi barang-barang konsumtif (consumer goods) yang diproduksi negaranegara kaya. Jadi politik pasar bebas tersebut membuat negara-negara berkembang tidak mampu
mengubah kondisi ekonomi mereka menjadi produktif, yang harus bertumpu pada industri berat
sebagai prasyarat mutlak bagi kondisi perekonomian yang produktif.
Peran Khilafah dalam mengatasi krisis ekonomi global
Pada tataran praktis adanya kekhilafahan menunjukkan adanya kemerdekaan kita dari dominasi
asing, khususnya dalam melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi. Peran khilafah dalam mengatasi
Page 4 of 7
krisis ekonomi global dimulai dengan mewujud pengaruh nilai-nilai Islam sebagai pengganti
kebijakan kapitalis dan sosialis dalam kebijakan-kebijakan ekonomi, baik kebijakan fiskal maupun
kebijakan moneter, adapun peran tersebut adalah sebagai berikut:
A.Peran Khilafah Islamiyah dalam Penentuan Kebijakan Fiskal.
Lembaga Baitul Mal yang pada jaman Rasullulah dan Khulafaur Rasyidin berfungsi mengatur
kas negara dapat difungsikan kembali secara optimal melalui khilafah. Pengembangan Baitul Mal
merupakan salah satu yang harus dilakukan dalam menmpengaruhi kebijkan fiskal, karena Baitul Mal
dapat berfungsi sebagai Bank Sentral dalam Daulah Islam. Baitul mal tidak terbatas sumber
penerimaannya melalui zakat saja, tetapi mencakup karaj (pajak atas tanah, yang saat ini dikenal
dengan PBB), khums, jizya dan penerimaan lain seperti kaffarah.Karena sumbernya tidak terbatas
dari zakat saja, maka, penggunaan dana Baitul Mal tidak terbatas untuk delapan ashnaf mustahiq.
Apabila pada masa sekarang indikator untuk kebijakan fiskal biasa menggunakan budget
defisit, yakni selisih antara pengeluaran pemerintah dengan penerimaan ( yang lebih sering
menyesatkan), maka dengan memfungsikan baitul Mal hal ini tidak berlaku, karena salah satu ciri
dari kebijakan Baitul Mal adalah jarang ditemui anggaran defisit. Dalam teori ekonomi, anggaran
defisit akan menimbulkan berbagai persoalan akibat adanya pertambahan uang yang beredar antara
lain inflasi dan melemahnya nilai tukar uang (Karim, 2000). Adanya khilafah dan persatuan ummat
Islam membantu pembentukan jaringan kerja antar Baitul Mal didaerah-daerah. Dengan semakin
luasnya wilayah pemerintahan Islam, hubungan kerja antara pusat dan daerah menjadi jelas melalui
Baitul Mal. Disisi lain dalam kebijakan fiskalnya yang akan dilakukan tentunya, akan meminimalkan
praktek-praktek KKN dalam negara, sistem ayng dipakai tidak hanya sistem-sistem horizontal,
bangsa-bangasa dan kebudayaan seperti yang saat ini tengah berlangsung, tetapi penerapan sistem
vertikal dan ideologi, merupakan ciri khas dalam khilafah Islamiyah.
B.Peran Khilafah dalam penentuan kebijakan moneter
Ada banyak peran khilafah dalam pengembangan ekonomi umat khususnya dalam
penentuan kebijakan moneter. Pertama dalam sistem perbankan akan didilakukan penghapusan
interest system, karena pada saat ini interest system yang paling dominan didunia perbankan, hal ini
berdampak pada kehidupan masyarakat yang semakin sulit. Padahal sistem tersebut dilarang oleh
Allah SWT, hal ini ditekankan dalam firmannya : …”Sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba..”(2:275).
Dalam firman diatas Allah telah mengingatkan ummat Islam agar tidak terlibat dalam sistem
riba, karena riba adalah haram bagi ummat Islam. Kekhalifan akan membantu mendorong
terlaksananya kerjasama pembentukan Islamic Bank System dalam dunia perbankan yang akan
membantu memberikan dana pembangunan bagi negara-negara dalam khilafah, sehingga kita dapat
mengindari dari interest system yang diberlakukan beberapa lembaga pendanaan iinternasional
seperti IMF, IGGI dsb. Pendanaan dengan Islamic Bank System berupa profit sharing antar bank
dengan para nasabah yang membutuhkan sehingga akan muncul ekonomi keadilan yang
memberikan kemaslahatan pada seluruh umat
Kedua, pelarangan monopoli dan bisnis spekulatif. Islam melarang adanya monopoli dan
bisnis spekulatif karena monopoli sumber daya merupakan penguasaan sumber daya oleh segelintir
orang yang memikirkan dirinya sendiri, mengenai pelarangan ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara oprang-orang kaya saja diantara kamu.”(Q.S.Al
Hasyr, 59:7).
Islam memerintahkan pengeluaran yang bersifat sosial dan bermanfaat, sesuai dengan
hasidt Rasul:” Kekayaan (Yaitu Zakat) harus diambil dari si kaya dan dikembalikan pada si miskin
(Bukhari).
Ketiga, Pembangunan Jaringan Internasional. Pembangunan jaringan perekonomian dan
perdagangan internasional dalam satu sistem kekhilafahan akan menjadikan negara-negara Islam
bebas dari ketergantungan negara-negara barat, dalam hal ini Imam Hasan AL-Bana pernah berkata
Page 5 of 7
“Semua negara Islam harus bebas dari cengkraman kekuasaan asing”. Keinginan untuk bebas dari
cengkraman barat dapat diwujudkan apabila terbentuk khilafah Islamiyah. Dengan demikian ummat
Islam akan memiliki kekuatan baru dalam mempengaruhi sistem ekonomi dunia. Mulai dari
kebijakan-kebijakan perdagangan dalam mengantisipasi politik pasar bebas, hingga kebijakan sistem
perburuhan yang lebih baik.
Keempat, terciptanya pemerataan pembangunan dinegara-negara dalam khilafah.
Pemerataan pembangunan akan tumbuh dinegara-negara dalam khilafah, karena adanya penegakan
konsep persaudaraan yang dibarengi dengan keadilan sosio-ekonomi merupakan bagian integral dari
konsep tauhid dan khilafah. Dengan konsep keadilan dan persaudaraan ini, negara dalam kesatuan
khilafah akan saling membantu dalam melakukan distribusi pendapatan dan kekayaan, pemenuhan
kebutuhan pokok dsb, hal ini ditegaskan Rasullulah saw:”tidak beriman orang yang kenyang
sementara tetangganya kelaparan, sementara ia tahu hal itu”. Begitu banyak peran kekhilafahan dan
persatuan ummat dalam konteks ekonomi, yang kesemuanya harus kita upayakan untuk dapat
diwujudkan Menegakkan khilafah kembali : Membangun Kekuatan Ekonomi Internasional Sebelum
kita berbicara mengenai pembangunan ekonomi , satu hal yang harus dipertanyakan adalah jalinan
ikatan keummatan. Salah satu unsur penting dalam jalinan keummatan adalah konsep ummat tidak
mengenal batas-batas geografis maupun politis, dan tidak mensyaratkan sosok organisasional yang
terstruktur secara jelas.
Hal ini diterjemahkan dalam suatu kekhilafahan yang akan menciptakan persatuan umat.
Terciptanya khilafah Islamiyah dan persatuan umat merupakan kewajiban kita saat ini, karena
banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari kondisi tersebut, salah satu diantaranya adalah akan
munculnya ekpresi praktis kepada tujuan dan nilai-nilai Islam (Chapra ’2000). Pengaturan melalui
daulah Islamiyah sangat diperlukan, hal ini disebabkan karena dalam sebuah lingkungan yang
bermuatan moral sekalipun, masih mungkin ada individu yang tidak menyadari kebutuhan urgen
orang lain , atau persoalan-persoalan kelangkaan dan prioritas sosial terhadap penggunaan sumber
daya. Negara dalam juga hal ini sangat berperan dalam membantu mewujudkan kesejahteraan
semua orang, menjamin keseimbangan antara kepentingan privat dan sosial, memelihara roda
perekonomian pada rel yang benar, dan mencegah pengalihan arahnya oleh kelompok berkuasa
yang berkepentingan.
Dengan demikian pada sistem perekonomian yang menganut prinsip Islam pada negaranegara dalam khilafah, akan ada penekanan pada konsep keadilan dan konsep sosial. Dalam suatu
khilafah, negara dimungkinkan untuk mengadakan campur tangan dalam bidang perekonomian,
guna mencegah terjadinya kepincangan-kepincangan dalam masyarakat sebagai akibat kebebasan
perseorangan yang kurang tepat . Penegakan daulah Islam disuatu kawasan merupakan satu tahap
untuk menegakkan pemerintahan Islam inti. Tahapan ini untuk mempersiapkan tahapan berikutnya,
yakni kesatuan Islam. Kesatuan Islam merupakan tahapan untuk menuju tegaknya kekuatan Islam
internasional dan inipun merupakan tahapan bagi proses selanjutnya. Dalam konteks ini Imam Hasan
Al-Bana mengatakan, ”Alangkah beratnya tanggung jawab dan tugas ini. Orang lain melihatnya
sebgai khayalan, sementara Ikhwan melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa dan
kepada Allah sajalah harapan kita sandarkan".
Simpulan Penegakkan khilafah membawa ummat pada persatuan yang integral dalam semua
sistem kehidupan. Dengan khalifah akan terbangun tatanan interaksi Islami, pola kehidupan yang
memuaskan serta memberikan nilai tambah kemanusiaan yang hakiki yakni kehormatan, yang lahir
karena adanya kekuatan dalam tubuh negara-negara Islam.
Dalam konteks ekonomi penegakkan khalifah merupakan upaya mewujudkan kekuatan
ekonomi Islam , dan akan menjadikan negara-negara Islam nmandiri tidak terpengaruh pada pihak
lain. Dengan demikian marilah kita rapatkan barisan untuk membangun dan menyebarkan kembali
kehidupan Islam kesegenap pelosok dunia guna memenuhi janji Allah yang akan memberi rahmat
dan kemakmuran dimuka bumi.
Page 6 of 7
Maraji’
 Al-Qur’an Karim
 Al Hadits
 Abdurrahman, Al Baghdadi. Ulama dan Para Penguasa di Abad Islam dan Diabad
Kemundurannya Dewasa Ini, Makalah Forum Islamic Studies, Bogor 1997.
 An-Nabhani Taqyuddin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif, Risalah Gusti, Surabaya
1996.
 Azhar Basyir. Garis Besar Sistem Ekonomi Islam, BPFE Yogyakarta 1978.
 Chapra. M Umer. Islam dan Tantangan Ekonomi, Gema Insani Press, Jakarta 2000.
 Hawwa, Sa’id. Membina Angkatan Mujahid: Studi Analitis Atas Konsep Dakwah Hasan AlBanna dalam Risalah Ta’alim. Penerbit Era Intermedia. Solo 2000.
 Karim, Adiwarman A.. Syariat Islam : Solusi Total Krisis Multidimensional, Jurnal Ekonomi
Syari’ah Universitas Indonesia 2001.
 Mannan. Abdul M, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, PT. Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta
1993.
 M.M. Metwally. Teori dan Model Ekonomi Islam, Bangkit Daya Insana,Jakarta 1995.
 Santoso, Purwo. Kemandirian Ummat. Makalah pada Diskusi Panel ”Meningkatkan
Kemandirian Ummat di Bidang Politik dan Ekonomi”. Yogyakarta, Januari 2001.
 Syamsul., Abadi Peranan Politik Ummat Islam, Media Da’wah, Jakarta 1989.
 Wawasan Islam dan Ekonomi, Lembaga Penerbit Fak. Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
1997.
 Zadjuli, Suroso Imam. Peranan Lembaga Perguruan Tinggi dalam Sosialisasi dan
Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia. Makalah pada seminar nasional ekonomi Islam,
Semarang, Mei 2000.
 Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya Sampai Sekarang, Bulan Bintang, Jakarta
1978.
Page 7 of 7
Download