kstradisi - UNPAR Institutional Repository

advertisement
I WAYAN PARTHIANA, SH, MH.
KSTRADISI
') C
IL
-
EKSTRADISI
DALAM
HUKUM INTERNASIONAL
DAN
HUKUM NASIONAL .INDONESIA
..
. i
r/1
RJWAYAT HIDUP PENUUS
'
·
Wayan Parthiana, clilahirkan di desa Guwang, Gianyar-Bali
pada tanggal 27 April 1947. Pendidikan Sekolah Dasar (Sekolah
Rakyat) diternpuh di desa Ketewel, Gianyar-Bali dari tahun
1954-1960, Sekolah Menengah Pertarna pada SMP (SLUB)
Saraswati di Sukawati, Gianyar-Bali clan Sckolah Menengah Atas
pada SMAN (sekarang SMAN I) di Denpasar-Bali, masing-rnasing
pada tahun 1960-1963 clan pada tahun 1963-1966. Sedangkan
pendidikan dalarn bidang ilrnu hukum diselesaikan pada Fakultas
Hukurn Univcrsitas Udayana di Denpasar-Bali dari tahun 196 71970 sampai pada tingkat sarjana rnuda. Kemudian pada tahun
1971 melanjutkan pada Fakultas Hukum Universitas Katolik
Parahyangan di Bandung clan diselesaikan pada tahun 1974 dengan
spesialisasi bidang hukum internasional. Pada tahun 1981 rnern­
peroleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan S2 pada Fakultas
Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran dalarn bidang kajian hukurn
internasional clan berhasil diselesaikan pada buIan Februari 1985.
Sejak tahun 1974 sampai sekarang menjadi staf pengajar
tetap pada alrnarnaternya Fakultas Hukurn Universitas Katolik
Parahyangan dalam bidang hukum internasional. Kegiatan lain
selain daripada sebagai staf pengajar adalah rnengadakan penelitian
ilrniah clalam bidang ilmu hukurn, menulis artikel dalarn bidang
hukurn yang telah dimuat di dalam majalah-rnajalah ilmiah tentang
hukurn seperti
PRO YUSTITIA, HUKUM DAN K EA DILAN,
HUKUM DAN PEMBANGUNAN clan lain-lainnya. Di samping
itu juga rnenulis buku-buku ilmu hukum internasional seperti
·
.
Ekstradisi
dalam
llukum lnternasional dan Hukwn Nasional
Inclonesia yang telah ditcrbitkan olch Penerbit ALUMNI Bandung,
Beberapa Masalah clalarn Hukum Intcrnasional clan Hukum Nasio-
ii
,.
•
nal
ditcrbitkan
Huk 11111
olch
Penerbit
Binacipta
Bandung,
dan
buku
Ill rernasio11al: Ragian U11111111 adalah merupakan buku
hasil karyanya yanµ. ketiga. Di samping itu juga mengikuti seminar­
scminar baik pacta tingkat nasional maupun daerah dalam biclang
hukum clan ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya.
I I
' "
lll
•
EKSTRADISl·
DALAM
HUKUM INTERNASIONAL
DAN
HUKUM NASIONAL IND
. ONESIA
I WAYAN PARTHIANA, SH, MH.
\' .
. .
.
'
I
. •/
.-·J
e
PENERBIT MANDAR-MAJU I 1990 I BANDUNG
v
•
Hak c1pta d1lindung1 undang·undang pada : Pengarang
Hak Penerb1tan pada : Penerb1t Mandar Maiu.
Cetakan I ; th. 1981
Cetakan II : th. 1990
No. Code Penerbitan : 90-EH-016
Tidak diperkenankan memperbanyak penerbitan
ini dalam bentuk stensil, foto copy atau cara lain
tanpa 1zin tertulis Penerb1t Manctar Maju.
,
vi
•
KATA PENGANTAR CETAKAN PERTAMA
Jstilah ekstradisi pada masa belakangan �ni sudah mulai dikenal
di kalangan masyarakat Indonesia, setidak-tidaknya di kalangan
para ahli hukum kita. Akan tetapi, ekstradisi sebagai suatu pranata
hukum, masih belum banyak diketahui isi dan ruang lingkupnya.
Namun demikian, istilah ekstradisi yang di kalangan masyarakat
Juas diidentikkan dengan penyerahan pelaku kejahatan yang
melarikan diri ke suatu negara kepada negara yang memintanya.
boleh dikatakan sudah umum dikenal. Hal ini terutama disebabkan, oleh karena Indonesia telah be berapa kali mengadakan
perjanjian ekstradisi dengan negara-negara tetangga, seperti dengan
Malaysia pada tahun 1974, dengan Pilipina pada tahun 1976 dan
dengan Thailand pada tahun 1978 serta ada kemungkinan pula
disusul dengan perjanjian ekstradisi dengan negara-negara lain
di dunia. Lebih-lebih lagi dengan berhasilnya disetujui oleh Dewan
Perw akilan Rakyat RI, RUU Ekstradisi menjadi undang-undang
ekstradisi yang telah diundangkan pada tanggal 18. Januari 1979
(Undang-undang Nomor I tahun 1979). Undang-undang ini adalah
merupakan undang-undang ekstradisi nasional yang menggantikan
Stb. Nomor 188 tahun 1883 sebagai undang-undang sisa pening­
galan jaman kolonial Belanda. Di samping itu pula, kasus-kasus
tentang ekstradisi tampak semakin sering muncul dalam pergaulan
intemasional, dan mendapat tempat yang cukup di dalam surat­
surat kabar dan media massa lainnya.
..
.
Adanya perjanjian-perjanjian dan perundang-undartgan tentang
ekstradisi serta terlibatnya dua negara atau lebih dalam suatu kasus
ekstradisi, menunjukkan bahwa ekstradisi dapat dipandang sebagai
bagian hukum internasional dan juga se·bagai bagian hukum
nasional. Oleh karena itu, pembahasan dalam buku ini dibagi
menjadi dua bagian. Bagian pertama, membahas ekstradisi sebagai
bagian dari hukum internasional scdangkan pacla bagian kedua,
ekstradisi sebagai bagian ctari lrnkum nasional khususnya hukum
nasional Indonesia. Dalam pembahasan pada bagian pertama, cli­
pergunakan pelbagai literatur yang hampir keseluruhannya berasal
clari buku-buku karya para sarjana Barat (Eropa, Amerika dan
vii.
Australia). Sedikit sekali dijumpai tulisan-tulisan mengenai ekstra­
disi fang berasal dari para sarjana Indonesia. Oleh sebab itu tidak­
lah. mengherankan bahwa jika dalam buku ini terdapat banyak
kutipan-kutipan atas pendapat sarjana Barat tersebut. Patut pula
dikemukakan secara khusus di sini, seorang sarjana hukum Austra­
lia bernama Ivan Anthony Shearer yang bukunya berjudul "Extra­
dition in International Law", merupakan buku pegangan utama
bagi penulis dalam menyusun buku ini, walaupun penulis tidak
sepenuhnya bisa menerima pendapat-pendapatnya. Selain daripada
itu, juga dipergunakan bahan-bahan referensi seperti perjanjian­
perjanjian ekstradisi yang telah diadakan oleh Indonesia dengan
negara-negara tetangga dan perjanjian ekstradisi negara-negara lain
serta dilengkapi pula dengan pelbagai kasus ekstradisi.
Untuk bagian kedua. yaitu ekstradisi dalarn hukum nasional
Indonesia, pembahasannya lebih ditekankan pada materi Undang­
undang Nomor 1 talrnn 1979 tentang ekstradisi. Urutan atau
sistematika pembahasannyapun disesuaikan dengan urutan atau
sistematika undang-undang tersebut. Boleh dikatakan, uraian atau
pembahasan dalarn bagian kedua ini lebih merupakan uraian
atau pembahasan yang bersifat praktis ketimbang uraian ilmial1.
Dia lebih tarnpak sebagai tafsiran dan komentar pasal demi pasal
dari undang-undang tersebut. Dengan memahami teori-teori dan
asas-asas ekstradisi seperti yang terdapat pada bagian pertama,
maka pemaharnan atas bagian kedua ini akan lebih mudah dapat
dilakukan.
·
Dengan segala kekurangannya penulis persem bahkan buku
ini J<e hadapan para. pembaca yang budiman. S.emua kritik dan
koreksi demi" kesempurnaannya karni terima dengan senang hati,
darimana dan dari siapapun datangnya. Sebagai akhir kata, penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberikan dorongan dalarn penulisan buku ini.
Bandung, akhir Maret 1981
,
viii
KATA PENGANTAR CETAKAN KEDUA
·
Dalam cetak.an kedua ini terdapat banyak perubahan dan
penambahan materi maupun kas1,1s-kasus ekstradisi. Demikian
pula penyuntingan ba.hasanya, sudah lebih baik dibandingkan
dengan cetakan pertama. Kasus-kasus tentang ekstradisi ataupun
kasus-kasus yang mirip dengan ekstradisi, semakin lama semakin
bertambah sering terjadi. Oleh. karena itu, setelah cetakan kedua
ini terbit, mungkin akan lebih banyak lagi timbul kasus-kasus
ekstradisi yang tidak sempat dimuat dalam bu�u ini:· Seolah-olah
buku tni menjadi ketinggalan mengikuti perkembangan. Itulah
salah satu konsekuensi suatu karya tulis yang berupa buku.
Selain daripada itu, cetakan kedua ini sudah menggunakan
bentuk huruf yang lebih baik dibandingkan dengan cetakan
pertama. Demikian pula mengenai tata letak (lay out) nya, me­
nunjukkan kemajuan jika dibandingkan dengan tata letak dalam
cetakan pertama. Hanya saja ketebalan halamannya tampak
berkurang. Hal ini bukan disebabkan oleh pengurangan ataupun
penurunan kualitas isinya, melainkan semata-mata karena peng­
gunaan bentuk hurufnya.
Atas sambutan yang sangat positif dari para pembaca atas
buku ini, baik yang berupa kritik, saran maupun koreksi, penulis
mengucapkan banyak terima kasih. Demikian pula atas kesediaan
Penerbit C. V. MANDAR MAJU untuk menerbitkannya, tidak
lupa penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.
Bandung, April 1990.
W. P.
ix
DAFTAR ISi
ha laman
KATA P ENGANTAR C' ETAKAN PERTAMA . . . . . . . . . .
.
KATA PENGANTAR C'ETAKAN KEDUA . . . . . . . . ....
vii
DArT AR ISi . . . . . . .. . . . . . ... ... . . . . .. . . . . . . . . ..
xi
PENDAHULUAN. . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
ix
xvii
BAGIAN PERTAMA
EKSTRADISI DALAM HUKUM INTERNASIONAL
BAB I
ASAL MULA, PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
EKSTRADISI
I.
2.
3.
Asal mula dan pcrkcmbangan ekstradisi . . . . . . . . . . . .
Ekstradisi sebagai sarana ampuh untuk mencegah dan
memberantas kejahatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pengertian dan ruang lingkup ekstradisi . V.. . . . . . . . .
3
5
9
BAB II
PERJANJIAN-PERJANJIAN DAN PERUNDANG­
UNDANGAN TENTANG EKSTRADISI
Adakah kcwajiban untuk menyerahkan orang yang
diminta . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. Perjanjtan-perjanjian tentang ekstradisi . . . . . . . . . . . . .
3. Perundang-undangan nasional tentang ekstradisi
. . . .
4. Penyerahan atas dasar kesediaan secara timbal batik . . .
I.
.
17
20
22
24
BAB III
BEBERAPA ASAS EKSTRADISI V
I.
2.
Asas kejahatan ganda atau double criminalitY.: . . . . . . .
I. I . Sistem tanpa daftar atau eliminative system . . . ..
1.2. Sistem daftar, list system atau enumerative system.. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1.3. Berpartisirasi dalam melakukan kejahatan . . . . . .
Asas kekhususan atau asas spesialitas . . . . . . . . . . . . . .
28
32
34
39
41
xi
3.
Asas tidak rnenyerahkan pelaku kejahatan politik
49
4. Asas tidak menyerahkan warga negara ............ .
5. Asas non bis in idem .......................... .
50
Asas kadaluwarsa . . .. ....... ...... ....... . .. ..
55
6.
52
BAB IV
KEJAHATAN POLITIK
1. Sejarah lahirnya konsepsi kejahatan politik . ... . . . . .
59
Praktek negara-negara tentang kejahatan politik: . . . ..
63
2.1. Inggris . . . ... . .... .. . .... . . ... . . . . . . . . . .
2.2. Arnerika Serikat ......... ...... . .. ... .. . .
63
2.
�
2.3. Er.opah Kontinental .. . . . . .. . . . .. . ... .. ....
67
70
3. Klausula attentat . . . ... . . . ........ . .. . . . .. . . . .
4. Kejahatan yang secara tegas tidak digolongkan sebagai
73
kejahatan politik . ... . ..... . .. ... . . ... .. . . . .. .
79
83
5. Kejahatan rniliter .. . .. ... . .... . ... . . . . . . ... . ..
6. Beberapa konvensi internasional yang dapat dijadikan
sebagai dasar hukurn bagi ekstradisi pelaku kejahatan
87
BAB V
KEJAHATAN YANG DIANCAM DENGAN
HUKUMAN MATI
1. Ancarnan hukurnan dalam ekstradisi . . .. .. . . .. ....
2. Dimasukkannya pidana atau ancaman hukuman rnati
91
dalam ekstradisi .. . . . ... . . . . .. .... .... . . ... ...
92
3. Pengaturan tentang kejahatan yang diancarn dengan
huk�
_ rnan ma ti dalam perjanjian ekstradisi . .. . .. . . . .
97
BAB VI
TENTANG KEWARGANEGARAAN SI PELAKU
KEJAHATAN
,
1. Arti pentingnya kewarganegaraan . .... .. . . . . . .....
2. Tidak rnenyerahkan warga negara sebagai larangan
m utlak dan sebagai kebijaksanaan . . . .. . . ... . .. . ..
3. Pendapat dan saran-saran Ivan Anthony Shearer . . . . .
4. Masalah dwi kewarganegaraan .. ; . . . . . . . . .. . . . ....
.
xii
102
105
111
115
r
9
0
5.
2
5
1.
2.
3.
5.
6.
7.
8.
9.
Masalah tanpa kewarg
anegaraan . . . . . . . . .
. . . . . . . . .
BAB VII
BEBERAPA MASALA
H PROSEDUR
Pengantar . . . ... . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . ..
. . . . . . ..
Permintaan un tuk menye
rahkan . . . . . .. . . . . .
. .. . . .
Permintaan untuk me
nyerahkan dari du a neg
ara
atau
lebih . . . . . ... . . . .
. . . . .. . . . . . . . . . . . .
. .. . . . . ..
Penahanan sementara
. . . . . . . . . . . . . . . . ..
.. . . . . . .
Peranan INTERPOL dal
am penahanan sement
ara . . . ..
Penyerahan orang yan
g diminta . . .. . . . ..
. . . .. . . ..
Singgah atau melewati
wilayah negara ketiga
. . . . . . ..
Penyerahan barang .
. . . . . . . . . . . . . . . ..
. . .. . . . . . .
.
BAB VIII
EKSTRADISI TERSEL
UBU G
1. Pengantar . . . . .
. . . .. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . .. .. . .
2. Pengusiran . . .. .
. . . . .. ... . . . . . . . ..
.
. . . . . . . .. .
3. Persona non grata
. .. . .. . . . . . .. . . ..
.
.
.
. . . . . ....
4. Penculikan . . . . .
. . . . . .. . . . . . .. . ..
. . .. . . . . . . . .
.
·
I 17
119
120
1 24
1 26
128
131
133
138
141
143
148
153
BAGIAN KEDUA
EKSTRADISI DALA
M HUKUM NASIONA
L
INDONESIA
BAB IX
TINJAUAN SINGKAT
TENTANG LAHIRNY
A
UNDANG-UNDANG
EKSTRADISI NASIO
NAL
INDONESIA
1. Staatblad Nomer 188
Tahun 1883 tentang
Uitlevering
van Vreemdelingen .
. . ... . . . .. . . . . . . . .
.
..... . ..
2. Perjanjian-perjanjian
ekstradisi antara Neger
i Belanda
dengan negara-negar
a lain yang berlak
u terhadap
Hindia-Belanda . . . .
. . .. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . .. .
3. L ahirnya Undang-U
ndang Nomer 1 tah
un 1979 tentang Ekstradisi . . . .
.. . .. .. . . . . . . . . . . .
. . . . . .. . .
161
164
165
xiii
BAB X
ASAS-ASAS YANG DIANUT OLEH
UNDANG-UNDANG NOMER 1 TAHUN 1979
TENTANG EKSTRADISI
1.
Pendahuluan
2.
Asas-asas ekstradisi yang dianut oleh Undang-Undang
.
. . . . . . . . . . .
Nomor 1 tahun 1979:
. .
.
.. . .. . . .. .. . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . ... .. . . .. .
I 70
171
2 . 1. Ekstradisi atas dasar perjanjian dan hubungan
baik
.
. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
171
'.2.2. Asas kejahatan ganda (double criminality) dan
sistem daftar (list system) .................. .
e
173
Asas tidak menyerahkan pelaku kejahatan politik
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
2.4. Asas tidak menyerahkan warga negara ........
.
.
177
178
2.5. Kejahatan yang seluruhnya atau sebagian dilakukan di dalam wilayah Indonesia ..............
180
2.6. Orang yang diminta sedang diproses di lndonesia
.
. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .
2.7. Asas non bis in idem......... . . . . . . . . . . . . .
2.8. Asas kadaluwarsa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . .
.
2. 9. Penolakan ekstradisi karena act a saJigkaan yang
cukup kuat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. l 0. Asas kekhususan . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
181
181
182
182
184
2.11. Orang yang diminta akan diekstradisikan kepacta
negara ketiga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. 12. Permintaan yang ditunda pemenuhannya
I 86
. .. '. .
188
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
I 90
.
BAB XI
PROSEDUR EKSTRADISI MENURUT
UNDAN�UNDANG NOMER1TAHUN1�9
TENTANG EKSTRADISI
Pengantar
1.
.
Syarat-syarat penahanan yang ctiajukan olch ne�:ira
peminta.. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
,
2.
. . .
I 90
S yarat-syarat yang harus ctipenuhi dal:lm m � n gajuh.a n
permintaan ckstraclisi
xiv
.
I 94
Syarat-syarat yang belum le��kap .... ..... ... ... .
Pemeriksaan terhadap orang yang dirnintakan ekstradisi
Pencabutan dan perpanjangan penahanan: . . . . . . . .. .
a. pencabutan penahanan . . . .. . . . . . . . .. . . . . . . . .
b. perpanjangan penahanan . . . . . . . . . . .. . . . . . . . .
6. Keputusan mengenai perrnintaan ekstradisi . . . . . ... .
7. Ada lebih dari satti negara-perninta . . .. . . . . . . . . . . . .
8. Ekstradisi atas dasar asas tirnbal batik atau hubungan
baik . .. . . . . .. . ... . . . . . . . . ... . .. . . ... . . .... .
9. Penyerahan orang yang dimintakan ekstradisi
3.
4.
5.
196
197
206
206
207
209
211
212
217
BAB XII
INDONESIA SEBAGAI NEGARA PEMINTA
Perrnintaan untuk menyerahkan kepada negaradiminta . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. Orang yang diminta diserahkan oleh negara-dirninta . . .
3. Tata cara perrnint'aan penyerahan dan penerimaan
orang yang diserahkan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .
I.
.
.
221
222
223
LAMPIRAN
Larnpiran
I: Undang-Undang Republik Indonesia.Nemer
l Tahun 1979 tentang Ekstradisi . . . . . . . .
228
II: Undang-Undang Republik Indonesia Nemer
9 tahun 1974 tentang Pengesahan Perjanji­
an antara Pemerintah R.I. dan Pemerintah
Malaysia rnengenai Ekstradisi . . . . . . . . . .
255
Lampiran III: Undang-Undang Republik Indonesia Nemer
l 0 Tahun 1976 tentang Pengesahan Per­
janjian Ekstradisi antara RI. dan Republik
Pilipina .. . '. . . '. . .. . . . . . . . .. . . . . . . . . .
265
Larnpiran
.
Lampiran IV: Undang-Undang Republik Indonesia Nemer
2 Tahun 1978 tentang Pengesahan Perjanji­
an antara R.I. dan Pernerintah Kerajaan
Thailand tentang Ekstradisi . . . . . . . . . . . .
278
xv
Larnpiran V:
1957 .
.
Extradition,
on
Convention
European
.. .
. . . . .. . . . . . . . . . . .. .. . . . . .
vention on Extradition,
Larnpiran VI: Inter-American Con
1981
Daftar Kepustakaan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . ..
288
303
317
,
xvi
�
PENDAHULUAN
8
3
7
Pada masa belakangan ini masalah ekstradisi semakin tampak
dan semakin mencuat di permukaan. Berita-berita mengenai
masalah ekstradisi di surat-surat kabar maupun media massa lain­
nya cukup sering munculnya. Terutama sekali jika ada seorang
atau beberapa orang yang diduga melakukan kejahatan atau
tindak pidana melarikan diri dari suatu negara ke negara lain.
Demikian pula jika suatu negara menyerahkan seorang tersangka
a tau seorang terh�um ke negara lain yang_memin.t�.
Sebagai contoh nyata, dapat ditunjukkan adanya beberapa
berita yang menyangkut masalah ekstradisi, antara lain, ekstradisi
atau penyerahan penjahat perang_Nazi bernama..Andriia Artukovic
yang juga dikenal dengan nama julukan Penjagal dari Balkan. oleh
Amerika SerikaLke.pada Yugoslavia, pada tanggal 13 Februari
1986 1). Juga penjahat perang Nazi lainnya, yaitu John Demjanjuk
diekstradisikan a]eb Amerika Serikat kepada Israel pada tanggal
28 Februari 1986 2). Demikian pula kasus Sobhraj, seorang ter­
hukurn warga negara India dalam kasus pembunuhan atas banyak
orang dari pelbagai kewarganegaraan, sehingga menjadi buronan
dari tujuh negara dan .illinin.takan-ekstradisinya oleh negara-negara
terse but kepada India 3 ) .
Masalah ekstradisi akan lebih menonjol lagi jika orang yang
dimintakan ekstradisinya itu adalah mantan orang penting dan
kuat dari suatu negara yang digulingkan dan berhasil melarikan
diri atau meminta suaka ke negara lain. Negara asal orang yang
bersangkutan meminta kepada negara tempatnya mencari suaka,
supaya mengekstradisikan orang tersebut. Sebagai contoh dapat
dikemukakan kasus Jean Claude Duvalier-,man.tan_penguasa Qjn
ulan Bebru­
diktator Haiti yang digulin kan oleh r ·im b
ari 1986 te ap1 er asil melarikan diri ke Perancis. Haiti meminta
supaya Perancis mengekstradisikan Duvalier kepada Haiti 4),
na­
mun Pe rancis tidak mengabulkan permohonan Haiti tersebut.
1)
KOMPAS, Jumat 14 Februari 1986.
2)
SURABAYA POST, 1 Maret 1986.
3)
4)
KOMPAS, 6 Februari 1986.
KOMPAS, 5 April 1986.
xvii
Kasus ekstradisi yang juga tidak kalah menonjolnya adalah
"kasus. Noriega", walaupun secara yuridis, sebenamya kasus ini
bukanlah kasus ekstradisi. Duduk persoalannya adalah sebagai
berikut: Pemerintah Panama yang dikendalikan oleh Jendral
Manuel Antonio Noriega, pada tanggal 20 Desember 1989, berhasil
digulingkan berkat invasi Amerika Serikat ke Panama. Noriega
berhasil menyelamatkan diri dan kemudian diketahui bahwa,
Noriega meminta suaka (asylum) di Kedutaan Besar Vatikan di
Panama City. Amerika Serikat bersikeras supaya Noriega diserah­
kan oleh Vatikan kepada Amerika Serikat untuk dJadili dan
menjalani hukuman di Amerika Serikat, karena kejahatan narkotika. Sebenamya Noriega sudah dijatuhi hukuman pidana 145
tahun oleh Pengadilan Miami, Florida. Melalui perundingan yang
berlangsung sangat alot antara Pemerintah Amerika Serikat dan
Vatikan, akhirnya pada tanggal 4 Januari 1990 Noriega bersedia
meninggalkan Kedutaan Besar Vatikan di Panama City dan ketika
dia ke luar dari gedung Kedutaan Besar Vatikan, seketika itu juga
dia diborgol dan diangkut dengan helikopter untuk selanjutnya
diterbangkan dengan pesawat terbang menuju Amerika Serikat 5).
Beberapa contoh kasus seperti diuraikan secara singkat di
atas, menunjukkan betapa masalah ekstradisi sebenamya tidaklah
merupakan masalah yang sederhana. Di satu pihak ada negara
yang menolak UJltuLmenge�stra-disikan orang yang d1mmta,di
pihak lain ada negara yang be.rsedia untuk men��adisikan
orang yang diminta sedangkan pada _pihak yang lain lagi, ada
negara yang begitu mudah m�angkap orang yang dicari...d i neg(\ra
orang itu sendiri yang notabene. merupakan negara berdaulaJ. Lalu
timbu1 pertanyaan, yang manakah. yang benar-benar dari kasus
tersebut yang tergolong sebagai ekstradisi atau penyerahan me­
nurut peraturan hukum tentang ekstradisi? Bahkan persoalan yang
lebih mendasar yang masih belum jelas bagi banyak orang adalah,
apa sebenamya yang dimaksud dengan ekstradisi itu?
Untuk menjawab persoalan ini dengan jelas dan lengkap, ten tu
saja tidak cukup hanya dalam satu patah atau dua patah kata
' atau hanya dalam beberapa kalimat saja, melainkan membutuhkan
5)
KOMPAS, 5 Januari 1990.
xviii
_::....;.__
r
uraian yang panjang lebar. Dalam buku ini, penulis mencoba untuk
menguraikan dan membahas secara agak lebih mendalam dan
sistematis tentang apa sebenarnya ekstraclisi tersebut. Di bawah
ini dikemukakan sistematika dari buku ini, dari Bab I sampai
deng an Bab yang terakhir.
Buku ini terdiri dari 12 bab yang terbagi dalam dua bagian,
dan BAGIAN . KEDUA. BAGIAN
PERTAMA membahas tentang ekstraclisi dalam hukum inter­
yakni BAGIAN PERT AMA
nasional
clan
BAGIAN
KEDUA
membahas
ekstraclisi
dalam
hukum nasional, khususnya hukum nasional lndone�ia. BAGIAN
-
PERT AMA terdiri atas 8 bab yakni clari BAB I sampai dengan VII
dan BAGIAN KEDUA terdiri atas 4 bab yakni BAB IX sampai
clengan XII.
·
Dalam
dibahas tentang
BAB I
fungsi clan ruang
asal mula, perkembangan,
lingkup dari ekstradisi.
Dengan memahami
materi BAB I ini diharapkan para pembaca sudah memiliki pe­
mahaman dasar tentang ekstraclisi. Namun, pemahaman tentang
ekstradisi ini tidak cukup hanya sampai cli sini saja, melainkan
harus dilanjutkan dengan memasuki bab-bab selanjutnya.
Dalam
BAB II sudah mulai
dijumpai peraturan-peraturan
hukum yang berkenaan dengan ekstraclisi, seperti dalam bentuk
pe1janjian-perjanjian tentang ekstraclisi. Seperti diketahui, ekstra­
clisi sebenarnya pertama-tama merupakan masalah antar negara
'"
clan oleh kar�itu_p_engaturannya terdapaLdalam hukum inter­
nasioiial, khususnya_d.a.lam_bentu.JLperjanjiail-.h1ternasional. Di
s
� itu,
dalam batas-batas tertentu ekstradisi juga merupakan
masalah domestik neg_ara-negara_dall.-oleJL .kaxe.na�iatuLdi
cralam hukum illlsfonal, khususnya dalam bentuk peraturan per­
undang-undangan tentang ekstradisi.
Memasuki
BAB
III
sudah
mulai dijumpai pnns1p-pnns1p
clan nonna-norma hukum positif tentang ekstradisi, dalam bentuk
asas-asas ekstradisi. Asas-asasnya inilah yang menjadi landasan
bagi peraturan-peraturan maupun penerapan ekstradisi itu dalam
praktek, yang harus dihormati oleh setfap negara, khususnya
negara-negara yang tersangkut dalam kasus ekstradisi. Oleh karena
itu pemahaman atas asas-asas dari ekstradisi ini merupakan suatu
xix
k
..conditio sine__ilJJa noQ_ bagi setiap orang yang mempelajari dan
atau menerapkan ekstradisi ini.
u
a
Selanjutnya di dalam BAB IV dibahas tentang kejahatan
politik yang merupakan salah satu masalah yang sangat pelik
dalam ekstradisi. Peliknya masalah kejahatan politik ini sudah
mulai dari hal yang paling mendasar yakni tentang pengertian dan
ruang lingkup dari kejahatan, politik terse but, yang selanjutnya
tentu saja berkelanjutan dalam penerapan terhadap kasus-kasus
nyata yang terjadi di kalangan pelbagai negara.
Setara dengan BAB IV, BAB V juga mengetengahkan masalah
yang cukup pelik, meskipun tidak sepelik masalah kejahatan
politik. Masalah itu adalah tentang pidana mati. Masalah pidana
.
ma ti ini mepjadi pen ting posisinya di tengah-tengah sema kin
meruncingnya pertentangan pendapat antara pihak yang pro
hukuman mati dan yang kontra. Di samping itu juga terkait
dengan persoalan hak-hak asasi ITI.ilnusia yang salah satu diantara­
nya adalah hak untuk hidup.
Sedangkan dalam BAB VI dibahas ten tang masalah kewarga­
negaraan dari orang yang diminta. Masalah kewarganegaraan ini
menempati bab tersendiri, oleh karena terkait kedaulatan negara.
Khususnya berkenaan dengan adanya hubungan hukum yang
langsung antara· seseorang yakni orang yang tersangkut dalam
masalah ekstradisi dengan negara dimana dia berkewarganegara­
an. Terutama jika kebetulan negara yang dimintai untuk me­
nyerahkan orang yang bersangkutan merupakan negara dimana
dia berkewarganegaraan. Dalam hal ini terkait kewajiban negara
untuk melindungi warga negaranya pada satu pihak dan kewajib­
an negara itu memelihara hubungan baiknya dengan negara yang
meminta penyerahan atas orang yang diminta itu. Ini merupakan
suatu dilema yang sudah cukup mendapatkan tempat pengaturan
di dalam perjanjian maupun perundang-undangan tentang ek�tra­
disi.
#
Masalah ekstradisi, di samping menyangkut substansi juga
menyangkut masalah prosedur. Supaya substansi itu dapat ter­
laksana dengan baik dan benar, maka dibutuhkan prosedur yang
baik dan benar juga. Oleh karena itu, masalah prosedur ini tidak
xx
.�
kalah pentingnya dengan masalah substansi. BAB VII ini meng­
uraikan tentang prosedur ekstradisi secara panjang lebar, dari
awal sampai akhir.
Sedangkan selain ekstradisi sebagai suatu pranata hu�um
yang secara resmi diakui dan diatur dalam hukum internasional
maupun hukum nasional, ada pula pranata-pranata hukum lain yang
mirip dengan ekstradisi, seperti misalnya persona non grata dan
deportasi atau pengusiran. Bahkan ada pula tindakan yang sebenar­
nya bertentangan dengan hukum internasional, tetapi dalam
praktek ternyata dilaksanakan juga oleh beberapa negara, yang
lazim dikenal dengan abduction atau penculikan. Tindakan ter­
akhir ini nyata-nyata bertentangan dengan lrnl<um internasional,
yang terbukti dari adanya prates dan kutukan-kutukan terhadap
tindakan penculikan tersebut. Semuanya ini ditempatkan dan
dibahas dalam satu bab tersendiri yakni BAB VIII.
Dengan memahami materi dari BAB I sampai dengan BAB VIII
ini, diharapkan para pembaca sudah memahami tentang ekstradisi
tersebut dan dengan demikian akan dapat menarik garis pembeda
tentang peristiwa yang manakah yang merupakan atau tergolong
ke dalam ekstradisi dan peristiwa yang manakah yang bukan
merupakan ekstradisi. Namun, belumlah . cukup hanya sampai
di sini saja, atau hanya sampai pada pemahaman tentang ekstradisi
dalam ruang lingkup hukum internasional. Masih ada sisi Iainnya
lagi dari ekstradisi ini yakni, ekstradisi sebagai bagian dari hukum
nasional. Dalam bagian ini ekstradisi secara khusus dibahas sebagai
bagian dari hukum nasional Indonesia, seperti dapat diikuti dalam
BAGIAN KEDUA yang terdiri atas BAB IX, X, X I dan XII.
Dalam BAB IX dibahas secara singkat tentang sejarah Iahirnya
Undang-Undang Ekstradisi Nasional Indonesia. Dimulai dengan
meninjau peraturan perundang-undangan ekstradisi peninggalan
jaman kolonial sampai akhirnya diganti oleh Undang-Undang
Ekstradisi Nasional Indonesia yakni Undang-Undang Nomer I
tahun 1979.
Pembahasan dilanjutkan dalam BAB X tentang asas-asas
yang terkandung dalam Undang-Undang Nomer I tahun 1979,
yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan asas-asas ekstraxxi
disi pada umumnya sebagaimana telah dibahas dalam BAB III.
Hanya di sana sini terdapat beberapa materi tambahan yang
tentu saja sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia.
Temyata yang cukup mendapat tempat adalah tentang pro­
sedur ekstradisi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Namer
1 tahun 1 979, dapat dilihat dan dibaca dalam BAB XI. Di samping
terkait kepentingan negara lain, tentu saja di dalam negeri Indone­
sia sendiri, terkait pula pelbagai instansi yang berwenang dalam
masalah ekstradisi ini, seperti Departemen Luar Negeri, Departemen
Kehakiman, Kejaksaan, dan Kepolisian. Semuanya ini perlu
diatur dan ditata dengan baik dan jelas, supaya tidak terjadi sating
tindih tugas dan wewenang· antar instansi tersebut. BAB XI ini
hanya mengatur tentang prosedur ekstradisi dalam hal Indonesia
berkedudukan_ sebagai negara yang diminta untuk menyerahkan
orang yang dicari atau yang diminta oleh negara lain.
Kadang-kadang Indonesia pun pada suatu waktu akan pernah
berkedudukan sebagai negara-peminta, yakni sebagai pihak yang
berkepentingan untuk meminta orang yang diminta guna diadili
atau menjalani hukuman di Indonesia. Hal ini dibahas tersendiri
dalam bab terakhir yakni BAB XII, yang meliputi pengajuan
permintaan oleh Indonesia kepada negara yang diminta, supaya
menyerahkan orang yang diminta, selanjutnya dibahas pula
tentang pengaturannya jika orang yang diminta itu diserah.kan
oleh negara-diminta kepad� Indonesia, serta tata cara penyerahan­
nya sendiri.
Akhirnya, pada bagian terakhir dilampirkan pelbagai dokumen
berup� perj�
. njian, konvensi dan peraturan perundang-undangan
nasional tentang ekstradisi. Hal ini dimaksudkan untuk memudah­
kan bagi para pembaca yang berminat memperdalam ekstradisi
ini, untuk mencari dan menemukan norma-norma hukum positif
tentang ekstradisi serta untuk mengkaji lebih lanjut, sejauh mana
uraian atau pembahasarr dalam buku ini tercermin di dalam
perjanjian, konvensi maupun peraturan perundang-undangan
tentang ekstradisi, ataupun sebaliknya.
,
xxii
�
I.
g
r
BAGIAN PERTAMA
EKSTRADISI DALAM HUKUM INTERNASIONAL
BAB
I
ASAL MULA, PENGERTIAN DAN
RUANG LINGKUP EKSTRADISI
1. Asal mula dan perkembangan ekstradisi.
Para penulis sejarah hukum in.ternasional mengemukakan
bahwa sebuah perjanjian tertua yang isinya juga mengenai masalah
(/)p�yeral1an penjahat pelarian adalah-F��anjian Perdamaian antara
\.'./ Raja Rarneses II dari Mesir dengan Hattusili II dari Kheta yang
dibuat pada tahun 1279 S.M. Kedua pihak rnenyatakan saling
berjanji akan menyerahkan pelaku kejahatan yang melarikan diri
atau yang diketemukan di dalam wilayah pihak lain 1)
Tetapi perjanjian semacam ini tentulah tidak merupakan per­
janjian ekstradisi yang berdiri sendiri seperti halnya yang kita
kenal sekarang ini. Melainkan soal ekstradisi ini hanyalah merupa­
kan salah satu bagian kecil saja dari keseluruhan materi perjanji�.
Biasanya perjanjian ini merupakan perjanjian perdamaian untuk
menjalin hubungan bersahabat antara pihak-pihak atau perjanjian
perdamaian unttik mengakhiri peperangan.
Namun demikic.m, praktek neg&ra-negara dalam melakukan
penyerahan penjahat pelarian, tidaklah semata-mata bergantung
pada adanya perjanjian tersebut. Kemungkinan besar jauh se­
belumnya terdapat negara-negara yang sating menyerahkan
�njahat eelarian meski1rnn kedua pffiak belum membuat p,er­
janjiannya. Walaupun bukti-bukti µntuk menguatkan dugaan
Im mas1h belum dapat ditunjukkan. Hubungan baik dan ber­
sahabat antara dua negara, dapat lebih memudal1kan dan memper­
cepat penyerahan penjahat pelarian. Sebaliknya jika hubungan
antara dua negara sating bermusuhan, dapat dipastikan amat
sukar untuk saling menyerahkan penjahat pelarian. Bahkan
masing-masing pihak akan mem biarkan wilayah:r.!.li.. dijadikan
sebagai
tempat pelarian dan mencari perlindungan bagi penjahat-
--...;;... --=
-
1) Arthur Nussbaum; A Concise History of the Law of Nations, diterjemahkan ke
dalam bahesa Indonesia oleh
Sam Suhaedi Admawirya: Sejarah Hukum lnter­
nasiona/, Jilid I, Cetekan I, Binacipta, Bandung, 1969. halaman 3.
3
-
penjahat dari negara musuhnya. Dengan demikian kesediaan
menyerahkan penjahat pelarian bukanlah didasarkan pada ke­
sadaran bahwa orang yang bersangkutan patut diadili dan di­
hukum. Demikian pula memberikan perlindungan kepada se­
orang atau beberapa orang penjahat pelarian bukan pula karena
didorong oleh kesadaran bahwa orang yang bersangkutan patut
untuk dilindungi. Apabila hubungan kedua negara yang semula
bersahabat berubah menjadi bermusuhan, maka kerjasama sating
menyerahkan penjahat pelarian, bisa b.e.ulb.ah menjadi saling
melindungi penjahat pelarian. Demikian pula sebaliknya. Di
samping itu pula praktek-praktek penyerahan p�njahat pelarian
belum didasarkan atas keinginan untuk bekerja sama dalam
mencegah dan memberantas kejahatan. Hal ini mengingat ke­
hidupan masyarakat umat manusia pada jaman kuno masih jauh
lebih sederhana jika dibandingkan dengan masyarakat pada masa
selama tiga abad belakangan ini.
Setelah kehidupan menegara sudah mulai tampak agak lebih
maju, terutama mulai abad ke 17, 18, 19 sampai abad ke dua­
puluh ini dengan tumbuhnya negara-negara nasional, hubungan
dan pergaulan internasional pun mulai mencari dan menemukan
bentuknya yang baru. Negara-negara dalam membuat perjanjian­
perjanjian, sudah mulai mengadakan pengkhususan mengenai
bidang-bidang tertentu. Demikian juga bidan'g ekstradisi yang
telah lama dikenal dalam praktek, turut pula mencari bentuknya
yaitu berbentuk perjanjian ekstradisi yang berdiri sendiri. Jadi
tidak lagi berkaitan atau menjadi bagian dari masalah-masalah
lain yang lebih luas ruang lingkupnya.
•
Kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetalrnan dan
teknologi serta berkembangnya pemikiran-pemikiran baru dalam
bidang politik, ketatanegaraan, dan kemanusiaan, turut pula
m emberikan warna tersendiri pada ekstradisi ini. Ilmu penge­
tahuan dan teknologi yang pada satu sisinya dapat meningkatkan
kesejah teraan hid up umat manusia, pada sisi lain menimbulkan
pel bagai efek negatif, misalnya seperti tim bulnya kejahatan
baru dengan akibat yang cukup besar dan luas. Tindakan ke­
jahatan serta akibat-akibatnya tidak hanya menjad1 urusan para
korban dan kelompok masyarakat sekitarnya saja, tetapi sering
4
me
pe1
be
' i
de1
1m
un
fa\ "§
lV sa:
pc
11)
h<
m
p1
p1
p
a·
d
J•
c
I
l
I
iaan
ke­
t di, Se­
rena
>atut
mula
aling
aling
.. Di
arian
lalam
t kejauh
m asa
. ra:uegara bahkan kadang-kadang merupakan
meJiballin _nega
oalan
umat
manusia. Sehingga untuk pencegahan dan pern­
ers
p
ip
n_ke.tjasama antara neiara. Misalnya
beranfasann..}la.,-de.tluk.a
ctengan menangkap si pelaku keja.hfilan yang_melarikan diri da�
menyeral1kannya kepada negara yang mempunyai yurisdiksi
untuk mengadili dan men rnkumn a atas ennintaan dari negara
(;\ $fSe
Disinilah tampak bahwa ekstradisi berfungsi sebagai
CJ sarana ampuh untuk memberantas kejahatan.
lebih
: dua­
ungan
:iukan
rnjian1genai
yang
uknya
l. Jadi
1asalah
n dan
dalam
t pula
penge­
.katkan
bulkan
jahatan
�an ke­
m
para
i sering
Pemikiran-pemikiran baru dalam bidang ketatanegaraan,
politik dan kemanusiaan, mendorong semakin diakui dan kukuh­
nya kedudukan individu sebagai subyek hukum dengan segala
hak dan kewajibannya. Negara-negara di dalam membuat dan
merumuskan perjanjian-perjanjian ekstradisi di samping mem­
perha tikan aspek-aspek pemberantasan kejahatannya juga mem­
perhatikan aspek-aspek kemanusiaan di mana individu-individu
pelaku kejahatan tetap diberikan/diakui hak-hak dan kewajib­
annya.
Demikianlah pada akhimya, perjanjian-perjanjian ekstradisi
dalam isi dan-.ben tuknya yang modem dewasa ini, mem berikan
jaminan keseimbangan antara tujyan mem berantas kejahatan
dan perlindungan/pengl:LQrmatan terhaQ_ap hak-haJca.sasi manusia.
PrinsiJL__tidak-menyerahkan pelaku kejahatan politik adalah.. se­
bagai konsekuensi dari pengakuan hak-hak asasi untuk menganu_L
keyakinan politik atau hak politik seseorang,untuk pertama kali­
nya dicantumkan dalam perjanjian ekstradisi antara Prancis dan
Belgia pada tahun 1824. Juga prinsip non bis in idem dan prinsip
kewarganegaraan erat pertaliannya dengan individu sebagai subyek
hukum dengan segala hak dan kewajibannya.
·
Abad ke 19 dan 20 adalah merupakan masa stabil dan kokoh­
oya ekstradisi ini, yang dapat dibuktikan dengan banyaknya
terdapat perjanjian ekstradisi dan perundang-undangan nasional
negara-negara mengenai ekstradisi dengan asas-asas yang sama.
2.
Ekstradisi sebagai sarana ampuh untuk menc.egah dan mem­
berantas kejahatan.
Sekarang timbu! pertanyaan, mengapa negara-negara cen­
derung untuk ·memilih bentuk ekstradisi sebagai sarana kerjasama
5
intemasiona1 untuk mencegah dan memberantas kejahatan?
kei;
Bukankah masih banyak lagi jalan yang bisa ditempuh supaya
dik
pelaku kejahatan tidak menjadikan wilayah negara lain sebagai
ora
tempat pelarian dan mencari perlindungan?
Misalnya dengan
memperkuat penjagaan keamanan di daerah perhatasan wilayah,
melakukan tindakan pengawasan yang lebih ketat terhadap orang­
orang yang memasuki atau meninggalkan wilayahnya, ataupun
dengan
menggunakan
upaya-upaya hukum seperti pengusiran
atau ekspulsi dan deportasi yaitu dengan menyuruh ke luar orang­
ter:
hul
bal
tin
Ak
bel
orang yang tidak dikehendaki kehadirannya di wilayah negara
yang bersangkutan.
CaJ
Perlu ditegaskan di sini, bahwa kehadiran atau masuknya
bi�
orang asing ke dalam wilayah suatu negara dapat dibedakan
dalam dua kelompok.
ki<
Kelompok pertama, adalah mereka yang benar-benar tidak mem­
punyai Jatar belakang yang tidak baik di negara asalnya atau
di negara tempatnya semula.
Kelompok kedua,
adalah mereka yang berlatar belakang tidak
baik, misalnya telah melakukan kejalrntan di negara asalnya atau
. di negara lain.
da
ke
ra!
ke
mi
se
n)
Terhadap kelompok yang pertama, apabila. dia melakukan tin­
kt
dakan yang tidak menyenangkan negara di mana dia berada,
di
misalnya melanggar hukum atau melanggar keamanan dan ke­
11<
tertiban negara yang bersangkutan, sudah tentu terhadapnya
dapat dikenakan tindakan hukum misalnya mengadili dan meng­
hukumnya, atau mempersilakan kepadanya untuk meninggalkan
wilayah negara itu.
Dengan mempersilakan ke luar atau lebih
tegasnya, mengusir orang yang demikian itu, maka bagi negara
tersebut . selesailah
persoalannya.
Sedangkan bagi
orang yang
diusir itu, terserah kepadanya sendiri untuk menentukan negara
yang akan ditujunya: Dalam hal ini jelas tidak ada tersangkut
kepen tingan negara lain.
u:
k
tt
rr
h
n
a
masalahnya
k
d
, adalah berlainan. Kehadirannya di dalam wilayah suatu negara
c
adalah ·Untuk menghindari tuntutan hukum dari negara di mana
,.
dia telah melakukan kejahatan. Jadi dalam ha! itu tersangkut
(
Sedangkan
6
terhadap
kelompok
yang
kedua,
kepentingan negara lain seba gai negara y ang mempunyai yu ris­
diksi
atas orang atau perbuatannya itu. Meskipun keh adi ran
orang semacam ini mungkin juga tidak dikehendaki oleh negara
tersebut, misalnya k arena keh adi rannya itu dapat mempengaruhi
h ubungan baik antara kedua' negara atau adanya kekh awati ran
�an
i.h,
un
bah wa orang tcrsebut akan melakukan tindakan serupa, meskipun
tindakan pengusiran terh adap orang terse bu t dapat j u ga dilakukan.
an
Ak
1 g­
1 g­
�pengusiran sehagai tindakanse13iflakiui menganduog
beberapa kelemah an. Kelemeh an-kelemah annya, antara lain:
tra
Pertama, jika si pelaku kejah atan yang diusir itu akan men­
ya
c ari negara lain yang mungkin mau menerimanya dan k al au
bi s a untuk selama mungkin, untuk menghi ndari tuntutan hukum
dari negara di mana dia telah melakukan kejah atan. Dengan demi­
an
11-
au
�k
kian dia akan tetap l olos dari tun tu tan hukum sehingga ras a
k eadilan dari korban atau anggota kelu arganya ataupun m asya­
rakat negara itu, tetap belum dipuli h k an. Hal ini jelas tidak di­
kehendak i oleh negara i tu sendi ri.
Kedua, tindakan pengusi ran ini
tidaklah
mem bantu untuk
rn
mencegah dan mem berantas kej ah atan, sebab orang-orang pelarian
semacam ini telah l olos dari pengadilan dan hukum negara tempat­
n-
nya melakuk an kejah atan. Bah k an dapat me rangsang setiap pelaku
kej ah atan untuk melarikan diri ke negara lain. W alaupun di a bisa
dikenakan tindakan pengusiran, di a toh merasa aman memilih
a,
e­
r
a
g­
m
ih
ra
tg
:a
It
negara lain untuk mencari perlindungan.
Ketiga, bagi si pelaku kej ah atan itu sendi ri, walaupun peng­
usiran mungkin - dalam batas-b atas tertentu.- lebih menguntung­
k an
dirinya seperti
tempatnya
mengadili
dikemukakan
di
atas,
tetapi j i k a negara
melarikan diri juga mempuny ai yurisdiksi untuk
kejahatan yang telah dilak u k anny a itu berdas arkan
hukum nasi onal negara i tu, kemudi an ternyata mengadili dan
menghukumnya. Kemudi an setelah dia seles ai men jal ani hukum­
a
anny a, di a merasa dirinya am an kem bali ke · negara as alnya atau
ke negara tempat kej ah atan terse bu t di lak ukan dahulu __(loc.us
delicti). Tetapi ternyata negara locus delicti i tu tetap mengadili
a
da
n m
e nghukumnya atas kej ah atan yang dahulu telah dij atuhi
a
hukuman oleh negara tersebut terdal1U l u , j u ga berdas arkan hukum
.t
(pidana) nasional dari negara yang bers angkutan. Dengan kata lain,
7
Download