1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Konflik sebuah proses sosial yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
dimana
salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
mengahancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Pihak-pihak menginginkan
sesuatu bisa berupa uang, tanah, jabatan dan lain sebagainya yang mempunyai
sebuah nilai. Bahkan dalam memperebutkan apa yang dinginkan dapat timbulnya
pertengkaran yang dahsyat untuk memenangkannya.1
Harus kita ketahui bahwasanya di dalam pemerintahan daerah maupun
pemerintahan pusat pasti terdapat berbagai konflik, misalnya saja konflik
organisasi, konflik agama, konflik antara suku, konflik sosial dan lain sebagainya.
Suatu konflik itu di dalamnya pasti mempunyai akar permasalahan. Permasalahan
itu sendiri dapat diukur berat atau tidaknya suatu masalah. Hal tersebut dapat
dipicu karena adanya kecenderungan kecemburuan sosial yang berlebihan dalam
kalangan pemerintah ataupun masyarakat.
Pendapat dari Jhon Locke mengenai konflik dan anarkisme ialah demokrasi
mengatakan bahwa manusia sebagai manusia, terpisah dari semua pemerintah atau
masyarakat, mempunyai hak tertentu yang tidak pernah boleh diserahkan atau
dirampas. Manusia tidak menyerahkan hak untuk bergabung membentuk suatu
1
Dean G. Pruitt & Z. Rubin Jeffrey, Teori Konflik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm 4.
1
masyarakat atau pemerintah, dan masyarakat atau pemerintah tidak boleh
mencoba merampas hak-hak rakyat. Jika pemerintah mencoba merampas hak-hak
tersebut, maka manusia dibenarkan melakukan revolusi untuk mengubah
pemerintahan. Hak yang dimiliki atau yang harus dimiliki seseorang lebih sering
dinamakan hal alamiah, sedangkan hak yang diperoleh dari pemerintah
dinamakan hak sipil.2
Hal alamiah disini adalah hak atas kebutuhan sandang, pangan, dan
perlindungan yang diperlukan untuk dapat hidup di suatu lingkungan masyarakat
tertentu. Tolak ukur suatu kehidupan tentu berbeda antara masyarakat satu dengan
masyarakat lain. Kebutuhan minimum pun jelas berbeda. Hak yang diperoleh dari
pemerintah dinamakan hak sipil.
Sangat menarik ketika berbicara tentang konflik dan pasar. Disini peneliti
akan meneliti tentang konflik yang terjadi di Pasar Sentolo Kabupaten Kulon
Progo. Pada saat konflik terjadi pengelolaan Pasar Sentolo Lama dikelola oleh
Pemerintah Daerah Kulon Progo dalam hal ini Dinas Perdagangan Perindustrian
dan Energi Sumber Daya Mineral. Konflik yang terjadi terkait tentang relokasi
Pasar Sentolo adalah konflik sosial. Awal mula terjadinya konflik Pasar Sentolo
adalah rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD) Pemerintah Kabupaten
Kulon Progo dalam penataan pedagang di Pasar Sentolo agar tertib, nyaman dan
bersih; sehingga terciptanya suasana pasar yang asri. Tetapi, banyak kalangan pro
maupun kontra terkait dengan relokasi Pasar Sentolo tersebut. Masalahnya
pemerintahberencana pengalih fungsian Pasar Tradisional Sentolo menjadi ruang
2
Yadiman & Rycko Amelza Dahniel, Konflik Sosial dan Anarkisme, (Yogyakarta: CV. Andi
Offset, 2013), hlm 103.
2
terbuka hijau (RTH), taman kuliner, maupun taman niaga. Dalam berita salah satu
media online pada hari Senin, 27 Januari 2014 menyebutkan bahwa:
“Polemik seputar pasar tradisional Sentolo terus berlanjut. Ratusan orang
yang berasal daripihak penentang penutupan pasar tersebut menggeruduk
gedung DPRD Kulonprogo.Mereka mengungkapkan aspirasinya pada
kalangan legislatif terkait penataan pasar tradisional tersebut”.3
Menurut Bapak Teguh selaku Kepala Desa Sentolo bahwa tanah yang berada
di Pasar Sentolo Lama adalah milik kas Desa Sentolo. Sedangkan bangunan yang
berdiri di atas tanah kas Desa Sentolo adalah milik Pemda Kulon Progo. Dalam
hal ini Pemda Kabupaten Kulon Progo menjalin kontrak tanah dengan Pemdes
Sentolo.
Awal mula terjadinya sewa tanah antara Pemdes Sentolo dengan Pemkab
Kulon Progo, menurut Bapak Teguh selaku Kepala Desa Sentolo bahwa awal
berdirinya Pasar Sentolo Lama berdiri pada tahun 1930, pada saat penjajahan
Belanda. Kurang lebih pada tahun 1948 pasar tersebut dikelola oleh Desa Sentolo.
Akan tetapi setelah pasar tersebut berkembang dengan pesat, kurang lebih pada
tahun 1954 pasar tersebut diambil alih pengelolaannya oleh Pemda Kulon Progo.
Alasannya Pemda Kulon Progo mengambil alih dan menyewa tanah kas Desa
Sentolo unutk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kulon Progo. Sewa tersebut
disepakati dan lama sewa tanah adalah 20 tahun.
Pemdes Sentolo dalam hal ini hanya diberi sewa tanah yang tidak setimpal
dengan luas tanah kas Desa Sentolo yang luasnya 6.000 m2. Harga sewa tanah
milik Pemdes pada tahun 2008 hanya dihargai Rp 600 per m 2. Sedangkan pada
3
http://jogja.tribunnews.com/2014/01/27/ratusan-pedagang-sentolo-demo-di-dprdkulonprogodiaskes tanggal 28 September 2016, 21:11 WIB.
3
tahun 2012 harga sewa tanah naik menjadi Rp 1.000 per m 2. Pada bulan
Desember akhir tahun 2014 sewa tanah kas Desa Sentolo habis. Tetapi, dari pihak
Pemda ingin memperpanjang masa sewa tanah. Namun para pedagang tidak
menyetujuinya dan meminta pengelolaanya dikembalikan kepada Desa sentolo.
Sejumlah pedagang Pasar Tradisional Sentolo, remaja, dan toko warga Desa
Sentolo menolak dengan rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo.
Mereka menginginkan eksistensi pasar tradisional dipertahankan sementara
pengelolaannya dialihkan pada PemerintahDesaSentolo. Alasan pedagang yang
berada di Pasar Tradisional Sentolo Lama sudah berpuluh-puluh tahun berada di
Pasar tersebut. Karena Pasar Tradisional bagi mereka adalah sebagai sumber
penghasilan dan penghidupan keluarga.
Setelah pembangunan tahap empat Pasar Sentolo Baru telah usai yang
mengahbiskan dana sekitar Rp 7 miliar dari APBN dan 4,09 miliar dari APBD,
pedagang banyak yang mengeluh dikarenakan pada saat ini keberadaan Pasar
Sentolo Baru masih sepi pembeli. Pembeli lebih suka berbelanja di Pasar Sentolo
Lama dari pada berbelanja di Pasar Sentolo Baru yang dijadikan pasar
percontohan karena pembeli lebih memilih tempat yang strategis karena tidak
perlu melewati jalan nasional dikarenakan ramai kendaraan.
Pada Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 11 Tahun 2011
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional serta Penataan Pusat
Perbelanjaan dan Toko Modern dalam Bab III Perlindungan Pasar Tradisional
Pasal IV berbunyi “Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan perlindungan
4
kepada Pasar Tradisional dan pelaku usaha di dalamnya”. Perlindungan yang
dimaksud dalam bentuk:
a. Membatasi jumlah dan mengatur jarak antara Pasar Tradisional dengan
Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
b. Menentukan lokasi usaha yang strategis dan menguntungkan Pasar
Tradisional.
c. Memfasilitasi kejelasan dan kepastian hukum tentang status hak pakai
lahan pasar yang ditempati.
d. Mengatur mengenai mekanisme pelayanan pada Pasar Tradisional.
e. Memprioritaskan kesempatan memperoleh tempat usaha bagi pedagang
Pasar Tradisional yang telah ada sebelum dilakukan renovasi atau relokasi
Pasar Tradisional.
Perlu kita ketahui definisi pasar menurut Perda Nomor 11 Tahun 2011
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional serta Penataan Pusat
Perbelanjaan dan Toko Modern bawasannya pasar merupakan tempat area jual
beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu, baik yang disebut sebagai pusat
perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun
sebutan lain.
Kulon Progo dalam hal ini memiliki sejumlah pasar tradisional yang tersebar
di berbagai kecamatan maupun desa. Dalam hal ini kulon progo mempunyai 32
Pasar Tradisional yang tersebar di 12 Kecamatan. Jumlah infrastruktur berupa
kios dan los berbeda-beda, bahkan ada yang tidak memiliki kios dan los tersebut.
5
Penelitian kali ini akan melihat konflik yang dilakukan oleh Dinas
Perdagangan Perindustrian dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulon
Progo dan para pedagang Pasar Sentolo tersebut. Permasalahan itu dimulai saat
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo (Dinas Perdagangan Perindustrian dan Energi
Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulon Progo) ingin mengubah pasar tradisional
lama menjadi ruang terbuka hijau (RTH) dan taman niaga. Kemudian rencana
Pemkab ialah memindahkan para pedagang di Pasar Lama ke Pasar Baru. Akan
tetapi, permasalahan para pedagang menolak relokasi ini dikarenakan beberapa
hal:
1. Pasar Lama Sentolo sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda, menurut
pedagang pasar tersebut memiliki sebuah sejarah penting.
2. Pasar tersebut keberadaanya sudah memiliki kelayakan bagi para pembeli sejak
lama.
3. Para pembeli sudah merasakan kenyamanan di tempat yang lama tersebut.
4. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah cacat adminitrasi dan melanggar
Perjanjian Nomor 58 e Tahun 2007 tentang Sewa Menyewa Tanah Kas Desa
yang Digunakan untuk Kepentingan Pembangunan oleh Pemerintah Kabupaten
Kulon Progo.
Selanjutnya, Pemkab Kulon Progo dan para pedagang memilih untuk
mediasi atau berdialog.Hasil mediasi dan dialog menghasilkan beberapa
keputusan sebagai berikut:
1. Pasar Sentolo Lama tetap berdiri tetapi pengelolaanya diawasi oleh
Pemdes Sentolo.
6
2. Pasar Tradisional Baru tetap dilanjutkan, namun Pemkab ikut membantu
dalam mempromosikan pasar tersebut.
Lalu,
pada
kenyataanya
memang
Pasar
Tradisional
Lama
arus
perdagangannya tetap lancar seperti biasa, tetapi Pasar Tradisional Baru meskipun
sudah diadakan promosi oleh Pemerintah justru masih sepi, yang berdampak pada
omset pedagang menurun. Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mengkaji dan
meninjau permasalahan ini dalam bentuk tugas akhir skripsi. Judul penelitian ini
ialah “MANAJEMEN KONFLIK PENGELOLAAN PASAR SENTOLO
KULON PROGO (Studi Kasus Konflik Antara Pedagang Pasar Sentolo
Dengan Pemerintah Daerah)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari pemaparan latar belakang diatas maka penulis dapat
merumusakan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana manajemen konflik yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian
Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulon Progo dalam
menyelesaikan konflik pengelolaan Pasar Sentolo?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dimaksud ialah sebagai berikut:
Mengetahui manajemen konflik yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian
Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulon Progo dalam
menyelesaikan konflik pengelolaan Pasar Sentolo.
7
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan untuk pemerintah Kabupaten Kulon Progo khususnya
Dinas Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral dalam mengelola
pasar sentolo baru yang bisa menjadi harapan bagi masyarakat, pedagang
dan pemerintah setempat.
2. Sebagai informasi bagi kaum terpelajar yang membutuhkan keterangan
seputar konflik pasar sentolo.
E. Kajian Teori
1. Teori Konflik
Konflik adalah presepsi mengenai perbedaan kepentingan. Menurut
Raven dan Rubin (1983) kepentingan adalah perasaan orang mengenai apa
yang sesungguhnya ia inginkan. Perasaan itu cenderung bersifat sentral dalam
pikiran dan tindakan orang, yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan,
dan niat.4
Taquiri, Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang berlaku
dalam berbagai keadaan akibat bangkitnya keadaan ketidaksetujuan,
kontroversi dan pertentangan diantara dua pihak atau lebih pihak secara
berterusan.5
Selanjutnya pendapat Killman dan Thomas, konflik adalah kondisi
terjadinya ketidakcocokan antara nilai atau tujuan yang ingin dicapai, baik
yang ada dalam individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain.
Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu, bahkan
4
5
Dean G. Pruitt & Z. Rubin Jeffrey, Teori Konflik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm 21.
A. Rusdiana, Manajemen Konflik, (Bandung: CV. PustakaSetia, 2015), hlm 68.
8
menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan
produktifitas.6
Sedangkan menurut Webster (1996), istilah “conflict” di dalam bahasa
aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa
konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Tetapi arti kata itu kemudian
berkembang dengan masuknya “Ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi
atas berbagai kepentingan, ide dan lain-lain”. secara singkat istilah
“conflict”menjadi begitu meluas sehingga beresiko kehilangan statusnya
sebagai sebuah konsep tunggal.7
Coser menyatakan bahwa penyebab terjadinya konflik adalah kondisikondisi yang menyebabkan ditariknya legitimasi dari sistem distribusi yang
ada dan intensifikasi tekanan terhadap kelompok-kelompok tertentu yang
tidak dominan. Selanjutnya penarikan legitiamsi itu mempengaruhi variabelvariabel struktur sosial, derajat kesetiaan dan taraf mobilitas yang
diperbolehkan dalam suatu sistem. Tekanan-tekanan yang semakin intensif
dipengaruhi oleh konteks sosialisasi dan kendala-kendala struktural yang
dipergunkan untuk menekan kelompok-kelompok yang ada.8
Pendapat Karl Marx konflik merupakan suatu proses sosial antara satu
orang atau lebih yang mana salah seorang diantaranya berusaha
menyingkirkan pihak lain. Karl Marx melihat masyarakat manusia sebuah
proses perkembangan yang akan menyudahi konflik melalui konflik. Kalau
6
Ibid hlm 162.
Dean G. Pruitt & Z. Rubin Jeffrey, Teori Konflik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm 9.
8
Soerjono Soekanto & Ratih Lestarini, Fungsionalisme dan Teori Konflik dalam Perkembangan
Sosiologi, (Jakarta: Sinar Grafika, 1988), hlm 93.
7
9
kita melihat dari teori diatas, kita tahu bahwa sebagai masyarakat tidak bisa
menghindari konflik di kehidupan saat ini.
Ada 4 (empat) bentuk konflik yaitu konflik tujuan, konflik peranan,
konflik nilai dan konflik kebijakan. Konflik juga tidak begitu saja muncul tapi
konflik mempunyai sumber-sumber yang menjadi patokan atau pemicu
munculnya konflik antara individu maupun antara kelompok sosial. Konflik
memiliki peran dalam hubungan-hubungan sosial, diantara individu-individu.
Sedangkan White & Bednar (1991) mendefinisikan konflik sebagai
sesuatu interaksi antara orang-orang atau kelompok yang saling bergantung
merasakan adanya tujuan yang saling bertentangan dan saling menggangu
satu sama lain dalam mencapai tujuan itu.
Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik antar kelompok sosial antara
lain:
a. Adanya perbedaan antara kelompok sosial, baik secara fisik maupun
mental, atau perbedaan kemampuan, pendirian dan perasaan sehingga
menimbulkan pertikaian atau bentrokan diantara mereka.
b. Perbedaan pola kebudayaan seperti perbedaan adat istiadat, suku
bangsa, agama, paham politik, pandangan hidup dan budaya darah
sehingga mendorong timbulnya persaingan dan pertentangan, bahkan
bentrokan diantara anggota kelompok sosial tersebut.
c. Perbedaan mayoritas dan minoritas yang dapat menimbulkan
kesenjangan sosial diantara kelompok sosial tersebut. Misalnya antara
etnis Tiong hoa (minoritas) dan etnis pribumi (mayoritas).
10
d. Perbedaan kepentingan antar kelompok sosial, seperti perbedaan
kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan sejenisnya
merupakan faktor penyebab timbulnya konflik.
e. Perbedaan individu
Perbedaan kepribadian antara individu bisa menjadi faktor penyebab
terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menajdi sumber
konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia
adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan
perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya.
f. Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh
dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran
dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan
perbedaan individu yang dapat menghasilkan konflik.
g. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok manusia
memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan.
h. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam
masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi,
tetapi jika perubahan itu langsung cepat atau bahkan mendadak,
perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. 9
9
Yadiman & Dahniel Rycko Amelza, Konflik Sosial dan Anarkisme, (Yogyakarta: CV. Andi
Offset, 2013), hlm 1-4.
11
2. Bentuk-Bentuk Konflik
Berdasarkan bentuk konflik, konflik dapat dibedakan menjadi dua yaitu
antara lain sebagai berikut:
a. Konflik Laten
Konflik laten adalah konflik yang cenderung tertutup dan sifatnya
mengakar dalam masyarakat. Konflik ini belum mewujud dalam bentuk
tindakan kekerasan sehingga dapat lebih cepat diselesaikan.
b. Konflik Terbuka
Konflik terbuka adalah konflik yang sudah muncul ke permukaan, baik
berupa perilaku, sikap, maupun tindakan-tindakan tertentu. Konflik jenis ini
melibatkan dua belah pihak atau lebih yang kadang-kadang berhadapan
secara langsung dan memunculkan tindakan kekerasan baik fisik maupun
nonfisik. Konflik ini tidak mudak untuk diselesaikan.10
3. Keuntungan dan Kerugian Konflik
Untuk mengelola konflik secara tepat, dibutuhkan pengenalan terhadap
keuntungan dan kerugiannya. Martinez dan Fule menulis bahwa apabila konflik
dihilangkan, organisasi akan kehilangan manfaatnya, sebaliknya apabila dibiarkan
berkembang, konflik akan tidak terkendali dan merugikan organisasi. Oleh karena
itu, manajer perlu mengetahui keuntungan dan kerugian yang diakibatkan oleh
konflik.
Adapun keuntungan dan kerugian yang diakibatkan oleh konflik adalah
sebagai berikut:
10
A. Rusdiana, Manajemen Konflik, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2015), hlm 136.
12
a. Keuntungan Konflik
Beberapa keuntungan dari adanya konflik, yaitu:
1) Memiliki nilai diagnosis (merupakan alat deteksi dini, bagi masalah yang
akan segera muncul);
2) Pemacu kreatifitas (dalam pencarian solusi yang baru dan kreatif terhadap
permasalahan yang dihadapi);
3) Memfokuskan pada tugas (konflik merangsang para pelaku bekerja keras
untuk menyelesaikan tugas yang sedang dilaksanakan);
4) Sebagai umpan balik /Feed back (menyetel presepsi terhadap realitas);
5) Sebagai empowerment (pendorong kelompok yang tidak aktif menjadi
lebih aktif menyodorkan ide untuk menyelesaikan masalah);
6) Sebagai katup pengaman (jika muncul konflik yang lebih intens);
7) Berfungsi sebagai pancing (untuk memancing wacana-wacana yang
cemerlang dan penting bagi masyarakatumum);
8) Sebagai alat pembelajaran (dalam menyampaikan pandangan dengan
jelas);
9) Mendorong kearah perubahan.11
b. Kerugian Konflik
Kerugian dari konflik ialah dimana pihak-pihak yang terlibat merasa rugi
karena konflik tersebut. Konflik merusak munculnya bentuk konflik spiral.
Spiral konflik ini hanya memiliki satu arah yaitu mengikat dan maju. Dalam
spiral ini salah satu akan berusaha untuk mengubah struktur hubungan dan
11
A. Rusdiana, Manajemen Konflik, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2015), hlm 212-213.
13
membatasi pilihan pihak lain, untuk mencari keuntungan sepihak. Salah satu
kerugian dari konflik adalah konflik yang tak terselesaikan, bahkan
menimbulakan kerugian pada materi maupun nonmateri.12
4. Macam-Macam Konflik
Konflik sebagai gelaja sosial masyarakat akan didapatkan dalam kehidupan
sehari-hari. Artinya konflik merupakan gejala yang bersifat universal. Tidak ada
kehidupan bermasyarakat tanpa adanya konflik, baik itu konflik berskala kecil
maupun konflik berskala besar, baik itu menyangkut konflik antar individu, antar
kelompok, maupun antara individu dan kelompok.
Disamping itu juga konflik sosial dapat dibedakan menjadi beberapa macam
konflik. Berikut ini adalah macam-macam konflik sosial dan penjelasannya.
Menurut Soerjono Soekanto, ada beberapa konflik sosial, antara lain sebagai
berikut:
a. Konflik Antar Pribadi
Konflik antarindividu adalah konflik sosial yang melibatkan
individu dalam konflik tersebut. Konflik ini terjadi karena adanya
perbedaan, pertentangan, atau ketidakcocokan antar individu satu dan
individu
lain.
Setiap
individu
mempertahankan
tujuannya
atau
kepentingannya masing-masing.
b. Konflik Antar Etnik
Etnik atau suku bangsa memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda
antara satu dan lainnya. Sesuatu yang dianggap baik atau sakral dari suku
12
Robby I. Chandra, Konflik dalam Hidup Sehari-hari, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm 53.
14
tertentu mungkin tidak demikian halnya bagi suku lain. Perbedaan etnis
tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik antaretnis.
c. Konflik Antar Agama
Konflik dalam agama adalah keyakinan yang bersifat mutlak, artinya
tanpa pembanding. Dalam hal ini konteks agama dibandingkan dengan
ilmu pengetahuan keberadaanya bersifat relatif. Jika ditemukan teori baru
dan menyangkal teori lama, teori lama justru akan diganti dengan teori
baru. Agama tidak demikian, kebenarannya bersifat mutlak dengan
menerima ajaran agama tersebut dengan kenyakinan bahwa yang
diajarkan dalam agama adalah benar.
Sifat agama yang sering menimbulkan berbagai konflik, baik antar
umat dalam satu agama, umat antar agama, maupun umat beragama
dengan pemerintah. Potensi konflik yang berkaitan dengan agama,
pemerintah mencanangkan tiga kerukunan yaitu:
1. Kerukunan antar umat beragama.
2. Kerukunan antar agama.
3. Kerukunan antar umat beragama dan pemerintah.
d.Konflik Antar Golongan atau Kelas Sosial.
Konflik yang terjadi antarkelas sosial biasanya berupa konflik yang
bersifat vertikal, yaitu konflik antar kelas atas dan kelas sosial bawah.
Konflik ini dapat terjadi karena memiliki kepentingan yang berbeda.
Misalnya saja dari golongan buruh menuntut kenaikan upah kepada
15
pemerintah ataupun perusahaan adalah wujud dari salah satu konflik
antar golongan.
e. Konflik Antar Ras
Ras atau yang sering disebut dengan warna kulit merupakan ciri dari
biologis manusia yang dibawa sejak lahir. Masyarakat hidup di suatu
wilayah dan memiliki solidaritas yang sama. Oleh karena itu, konflik
yang terjadi karena diantara mereka karena perbedaan warna kulit dapat
meluas karena adanya adanya solidaritas di antara mereka yang memiliki
warna kulit yang sama.
f. Konflik Antar Negara
Konflik antarnegara adalah konflik yang terjadi antara kedua negara
atau lebih. Konflik ini memiliki perbedaan tujuan dan berupaya
memaksakan kehendak negaranya kepada negara lain.13
5. Faktor Penyebab Konflik
Menurut Amiruddi (1994) konflik yang ada dalam masyarakat dapat
dikategorikan menjadi tiga hal, yakni: pertama, konflik sosial konflik yang
terus menerus ada di antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menyangku
ttentang ideologi, ras dan agama. Kedua, konflik ekonomi, yaitu konflik
perbedaan taraf hidup antara yang berkecukupan dan yang tidak
berkecukupan pada perkembangannya menjadi konflik ras dan agama.Ketiga,
konflik berbagai kebudayaan masyarakat kelas bawah dengan kelas atas yang
memegang kekuasaan.
13
A. Rusdiana, Manajemen Konflik, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2015), hlm 73-75.
16
Faktor penyebab konflik sosial atau kerusuhan sosial tidak berdiri
sendiri.Oleh karena itu, konflik sosial dan kerusuhan sosial pada dasarnya
bersifat multi dimensional. Menurut Dorcey (1986), sebagaimana diacu oleh
Mitchell (2000), ada empat penyebab dasar konflik, yakni: pertama,
perbedaan pengetahuan dan pemahaman, kedua perbedaan nilai, ketiga
perbedaan
alokasi
keuntungan
dan
kerugian,
keempat,
perbedaan
latarbelakang personal dan sejarah kelompok-kelompok kepentingan.
Sedangkan menurut Warsilah (2000), ada tiga faktor yang menjadi
penyebab utama konflik terjadinya konflik sosial, diantaranya:
a. Faktor Struktural (kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik)
Faktor ini terjadi karena realisasi sosial antara kolektivitas-kolektivitas
yang ada dalam masyarakat mengalami hambatan, yang pada akhirnya akan
menumbuhkan sikap kecemburuan dan bisa terjadinya melemahnya
ekonomi.
b. Faktor Kebudayaan (etnik dan agama)
Faktor etnik berasal dari adanya perbedaan karakteristik budaya etnik ikut
menyumbang kepada proses disharmoni hubungan antara kolektivitas dalam
masyarakat. Sedangkan faktor agama terutama kemutlakan doktrin agama
dan masalah eksistensi kehidupan agama termasuk upacara ritual
keagamaan, serta masalah pelecehan terhada ptokoh-tokoh agama ternyata
menjadi faktor pencetus munculnya konflik laten.
17
c. Faktor Psikologi Sosial
Faktor psikologi sosial misalnya seperti sikap arogan aparat petugas
termasuk juga aparat penegak hukum.14
6. Teori Manajemen Konflik
Secara etimologi manajemen berarti kepemimpinan; proses peraturan;
menjamin kelancaran jalannya pekerjaan dalam mencapai tujuan dengan
pengorbanan sekeceli-kecilnya. Dengan kata lain manajemen secara singkat
berarti pengelolaan.
Menurut MaryParker Vollett, manajemen merupakan seni dalam
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Manajemen mempunyai
pengertian sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber
daya sumber organisasi.
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku
ataupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk
pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk
komunikasi dari perilaku ataupun pihak luar dan cara mempengaruhi
kepentingan dan interprestasi.
Manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para
pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah
hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan perselisihan
konflik dan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.
14
Istiana Hermawati , dkk, Faktor-faktor Determinan Penyebab Konflik Sosial Di Kota Makassar,
(Yogyakarta:Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, 2012),
hlm 23-25.
18
Pendapat dari Minnery tentang manajemen konflik adalah proses, sama
halnya dengan perencanaan kota. Bahwa proses manajemen konflik
merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya pendekatan
model
manajemen
konflik
dengan
cara
terus-menerus
mengalami
penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal.15
7. Tujuan Manajemen Konflik
Tujuan utama manajemen konflik sebenarnya adalah untuk membangun
dan mempertahankan kerja sama yang kooperatif dengan para pihak yang
terkait. Beberapa bentuk perilaku manajemen konflik seperti tawar menawar,
pemecahan masalah secara integratif, merupakan pendekatan untuk
menangani konflik.
Faisher dkk mengunakan istilah tranformasi konflik secara lebih umum
dalam menggambarkan situasi dan tujuan secara keseluruhan, yaitu sebagai
berikut:
a. Pencegahan konflik bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang
keras.
b. Penyelesaian konflik bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan
melalui persetujuan damai.
c. Pengelolaan konflik bertujuan untuk membatasi dan menghindari
kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihakpihak yang terlibat.
15
Ibid hlm 169-170.
19
d. Resolusi konflik menanggani sebab-sebab konflik dan berusaha
membangun hubungan baru dan tahan lama diantara kelompokkelompok yang berkonflik.
e. Transformasi konflik mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan
politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif
menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.16
8. Strategi Manajemen Konflik
Dalam telaah yang berjudul The Strategy of Conflict yang dibuat oleh
Thomas Schelling, disimpulkan bahwa elemen utama dalam teori strategi
yang diterapkan pada situasi persaingan, terutama berasal pemikiran yang
terdapat dalam game theory. Teori yang terdapat dalam The Strategy of
Conflict terutama membahas prinsip-prinsip tawar-menawar, ancaman,
ketidak percayaan antara satu pihak dengan pihak yang lainnya, serta
keseimbangan antara kerjasama dan konflik.17 Dalam proses perencanaan
wilayh
monflik
implementasinya.
dapat
terjadi
Pemecahan
pada
pengambilan
konflik dengan
sasaran
keputusan
dan
sumber
daya
manusianya sangat menguntungkan untuk dilaksanakan.
Menurut pendapat dari Ross, strategi dalam memecahkan konflik adalah
sebagai berikut:
1. Self Help
Strategi self help merupakan tindakan sepihak bersifat destruktif.
Tindakan ini kadang-kadang dilakukan oleh pihak yang kuat untuk
16
17
Ibid hlm 171-172.
Robert M. Grant, Analisis Strategi Kontemporer, (Jakarta: Erlangga, 1997), hlm 12.
20
menekan pihak yang lemah. Strategi self help dapat pula digunakan untuk
tindakan yang kontruktif dalam bentuk menarik diri, menghindar, tidak
mengikuti, atau untuk melakukan tindakan independen.
Adapun langkah-langkah yang dapat diambil dalam menerapkan
strategi self help, anatar lain sebagai berikut:
a. Exit
Dalam hal ini apabila tekanan dari pihak yang kuat terhadap
pihak yang lemah, pihak yang lemah sebaiknya keluar dari tekanan
tersebut. Hal ini didasarkan pada peritimbangan bahwa tekanan akan
menimbulkan pengaruh yang kuat pada pihak yang tertekan.
b. Advoidance
Advoidance
merupakan
tindakan
menghindar
dilakaukan
berdasarkan perhitungan untung ruginya untuk melakukan suatu
aksi. Terkait hal tersebut strategi penghindaran yang dapat dilakukan
adalah abaikan konflik yang terjadi dan melakukan pemisahan secara
fisik.
c. Noncompliance
Tidankan ini berguna untuk mencari dukungan atas tindakan
yang akan dilaksanakan sebgai akibat dari kewenangan yang dimiliki
sangat kecil.
d. Unilateral Action
Tindakan ini sangat memungkinkan terjadinya kekerasan karena
dua pihak saling berbenturan kepentingan. Pihak yang melakukan
21
tindakan ini menganggap bahwa hal yang dilakukan merupakan
bagian dari kepentingannya.
2. Joint Problem Sloving
Joint Problem Sloving memungkinkan adanya kontrol terhadap hasil
yang dicapai kelompok-kelompok yang terlibat. Setiap kelompok
mempunyai hak yang sama untuk berpendapat dalam menentukan hasil
akhir. Strategi penyelesaian masalah ini dilakukan melalui pertemuan
secara langsung antara pihak-pihak yang sedang mengalami konflik.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam strategi ini yaitu
sebagai berikut:
a. Identification of Interests
Identifikasi kepentingan yang terlibat dalam konflik sangat
kompleks. Hambatan dalam mencari solusi dalam konflik ini
adalah tidak mempunyai pihak-pihak yang terlibat menerjemahkan
keluhan.
b. Weighting Interests
Pihak-pihak memberikan penilaian terhadap kepentingannya.
Penilaian ini sangat bergantung pada komunikasi terbuka dan
kejujuran setiap pihak.
c. Third Party Assistance and Support
Dalam strategi ini, pihak ketiga membuat keputusan yang mengikat
berdasarkan aturan-aturan untuk mencapai hasil yang pasti. Pihak
ketiga seperti administrator atau hakim. Keputusan yang diambil
22
oleh pihak ketiga dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat
konflik karena dianggap mempunyai pedoman yang baik.18
9. Strategi Mengatasi Konflik
Menurut Stevenin, terdapat lima langkahstrategis dalam meraih
kedamaian konflik. Lima langkah tersebut antara lain adalah sebagai
berikut:19
a. Pengenalan
Pengenalan
kesenjangan
anatara
keadaan
yang
ada
diidentifikasikan dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Satusatunya
yang
menjadi
perangkap
adalah
kesalahan
dalam
mendeteksi.
b. Diagnosis
Diagnosis adalah langkah terpenting. Metode yang benar dan
telah diuji mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana
hasil dengan sempurna. Memusatkan pada masalah utama.
c. Menyepakati Suatu Solusi
Menyepakati suatu solusi diawali dengan mengumpulkan
masukan-masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari
orang-orang yang terlibat didalamnya. Menyaring penyelesaiannya
yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Dalam hal ini jangan
menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik.
18
19
A. Rusdiana, Manajemen Konflik, (Bandung: CV. PustakaSetia, 2015), hlm 173-176.
Ibid hlm 178.
23
d. Pelaksanaan
Pelaksanaan mengatasi konflik akan terjadi keuntungan dan
kerugian. Hal ini perlu kehati-hatian, jangan sampai membiarkan
pertimbangan terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.
e. Evaluasi
Penyelesaian dapat melahirkan serangkaian masalah baru.
Apabila penyelesaian tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkahlangkah sebelumnya dan coba kembali.
10. Lima Gaya Manajemen Konflik
Gaya seseorang dalam hal menghadapi konflik diletakkan pada
cooperativeness (keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat pihak lain)
dan assertiveness (keinginan untuk memenuhi keinginan dan minat diri
sendiri). Menurut Winardi, gaya dan intensi yang diwakili tiap-tiap gaya
adalah sebgai berikut:
1. Tindakan menghindari (Avoiding)
Tindakan menghindari, misalnya bersikap tidak kooperatif dan tidak
asertif; menarik diri dari situasi yang berkembang, dan bersikap netral
dalam segala macam suasana.
2. Kompetisi atau Komando Otoritatif
Gaya ini sering diartikan dengan gertakan dari paling yang berkuasa.
Gaya ini dikatakan efektif apabila membutuhkan keputusan yang cepat
atau jika persoalan kurang penting. Strategi ini baik digunakan apabila
24
dalam keadaan terpaksa, sepanjang memiliki hak dan sesuai dengan
pertimbangan.
3. Akomodasi atau Meratakan
Sikap ini, misalnya bersikap kooperatif, tetapi tidak asertif;
membiarkan keinginan pihak lain menonjol; meratakan perbedaan untuk
mempertahankan harmoni yang diciptakan secara buatan.
4. Kompromis
Bersikap kooperatif dan asertif, tetapi tidak hingga tingkat ekstrem.
Gaya kompromis berupaya melakukan kalrifikasi polaritas dan mencari
titik temu. Untuk menggunakan gaya ini, diperlukan keahlian negosisai
dan bargaining (tawar-menawar).
5. Kolaborasi (Kerja Sama) atau Pemecahan Masalah
Kolaborasi adalah bersikap kooperatif atau aserti; berupaya
mencapai kepuasan setiap pihak yang berkepentingan, melalui perbedaan
yang ada; mencari dan memecahkan masalah hingga setiap orang
mencapai keuntungan sebagai hasilnya. 20
11. Pendekatan Penyelesaian Konflik
Pengendalian konflik yang dilakukan melalui pendekatan musyawarah,
campur tangan pihak ketiga, konfrontasi, tawar-menawar (bargaining), dan
kompromi. Penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
20
Ibid hlm 190-191.
25
1. Musyawarah
Tujuan dari musyawarah adalah agar masaing-masing pihak
mendapatkan yang diinginkan sehingga kedua belah pihak tidak ada yang
dikalahkan ataupun menang. Pendapat Robbins yang menyatakan bahwa
musyawarah sebagai metode yang paling sehat untuk memecahkan
konflik.
Menurut Harjanan (1994), langkah-langkah musyawarah yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Pertama yang dilakukan oleh pemimpinan adalah identifikasi
masalah, yaitu mencari informasi dari pihak-pihak yang konflik
atau mencari informasi dari orang-orang yang mengetahui
informasi konflik.
b. Tahap selanjutnya kedua pihak dipertemukan dalam forum dialog
dengan dipandu oleh pimpinan.
c. Ketiga, pimpinan memantau realisasi hasil musyawarah. Dengan
cara musyawarah, kedua pihak yang terlibat konflik mencari
pemecahan masalah yang menguntungkan atau memuaskan kedua
pihak tersebut.
2. Campur Tangan Pihak Ketiga
Pengendalian konflik oleh pihak ketiga diperlukan apabila pihakpihak yang bertentangan tidak ingin berunding atau telah mencapai jalan
buntu. Pihak ketiga adalah orang yang mempunyai pengaruh yang besar
daripada pihak-pihak yang sedang berkonflik.
26
Dalam penyelesaian masalah, pihak ketiga tidak boleh memaksakan
kehendak untuk mengakhiri perselisihan karena penyelesaian yang
dipaksakan tidak akan mengenai sasaran atau kepuasan jangka panjang.
Penengah sebaiknya mendorong terjadinya kesepakatan dan negosiasi
yang mengarah pada kolaborasi dan pemecahan masalah yang lebih ke
arah solusi.
3. Konfrontasi
Konfrontasi termasuk salah satu cara yang digunakan untuk
mengendalikan konflik. Aldag dan Stearns (1987) menjelaskan bahwa
teknik konfrontasi merupakan pertemuan langsung antara anggota atau
kelompok yang bertikai untuk mendorong kearah suatu penyelesaian
masalah melalui diskusi ataupun perdebatan, sedangkan pimpinan
mengarahkan pada pendapat yang lebih rasional dan dapat diterima
semua pihak.
4. Kompromi
Pendekatan kompromi dilakukan untuk mengatasi konflik dengan
cara pencarian jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang
bertentangan. Hendricks (1992) bahwa dalam kompromi, setiap orang
memiliki sesuatu untuk diberikan dan menerima sesuatu. Berbeda dengan
pendapat Criblin yang menyatakan bahwa tidak seorang pun merasa puas
dengan kompromi; bahwa setelah tercapai perdamaian, masing-masing
pihak merasa terlalu yang diberikan kepada pihak lain, sementara untuk
diberikans dan menerima sesuatu.
27
5. Tawar-Menawar (Bargaining)
Tawar-menawar (Bargaining) adalah pengendalian konflik melalui
proses pertukaran persetujuan dengan maksud mencapai keuntungan
kedua belah pihak yang sedang konflik. Dalam proses tawar-menawar,
tiap-tiap pihak tidak mendapatkan secara penuh apa yang diinginkan,
tetapi tujuan dapat dicapai dengan mengorbankan sedikit kepentingan.
Inti dari tawar-menawar adalah tidak mengharuskan pihak-pihak yang
berkonflik untuk menyerahkan sesuatu yang dianggap penting bagi
kelompok mereka.21
F. Definisi Konseptual
Konsep yaitu untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan,
kelompok atatau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Definisi
konseptual merupakan pemaknaan dari konsep-konsep yang digunakan pada
penelitian ini. Ada beberapa definisi konseptual dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Konflik
Konflik merupakan sebuah peristiwa yang terjadi dikalangan masyarakat,
yang melibatkan satu orang atau lebih. Diamana seseorang tersebut
mempunyai tujuan yang tak lazim untuk menyingkirkan kaum yang lemah.
Sehingga dapat berakibat menimbulkan pertentangan di kedua belah pihak
secara terus menerus atau berkelanjutan.
21
Ibid hlm 204-206.
28
2. Manajemen Konflik
Manajemen konflik adalah tahap pendekatan yang dilakukan untuk
meredahkan konflik. Hal ini mempunyai tujuan pada umumnya agar kedua
belah pihak dapat menemukan jalan tengah dari konflik tersebut. Konflik
dapat dicegah dengan cara bermusyawarah maupun mufakat ketika konflik
mulai memanas.
G. Definisi Operasional
Definisi oprasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana
pengukuran-pengukuran dalam penelitian sehingga hasil yang diharapkan dari
pengukuran tersebut terhadap variabel yang terkandung dalam pertanyaan
penelitian yang akan menghasilkan informasi.22 Dari informasi tersebut peneliti
akan tau bagaimana pengukuran variabel tersebut. Dengan demikian peneliti dapat
menentukan
apakah
prosedur
pengukuran
yang
sama
akan
dilakukan
ataudiperlukan prosedur pengukuran yang sama akan dilakukan atau diperlukan
prosedur pengukuran yang baru. Dalam penelitian kali ini definisi operasional
disesuaikan dengan pembahasan BAB III yang akan dipaparkan sebagai berikut:
1. Awal konflik yang terjadi
2. Faktor penyebab konflik
3. Pihak-pihak yang terlibat
4. Gaya manajemen konflik
5. Pendekatan penyelesaian konflik dan manajemen konflik
22
Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2015),
hlm 99.
29
H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah istilah yang digunakan oleh Elieen Kane (1985).
Penelitian yang penulis gunakan adalah dengan cara pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak
diperoleh melalui prosedur statistik.23Penulis menggunakannya karena
dianggap lebih sesuai dengan permasalahan yang sudah ditulis pada
latarbelakang masalah. Teknik penelitian sebagai salah satu dari bagian
penelitian dan satu unsur yang sangat penting. Sedangkan menurut
Lofland(1984) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata
dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
Penelitian ini bersifat empiris wawancara dengan melakukan pengamatan
dan mendengar permasalahan yang berkaitan dengan sengketa Pemkab Kulon
Progo dengan para pedagang Pasar Sentolo. Hal tersebut dilakukan secara
sadar dan terarah karena memang direncanakan oleh peneliti. Terarah karena
memang dari berbagai macam informasi yang tersedia misalanya berita
online, kondisi di lokasi, pendapat para pihak yang bersengketa, maupun surat
kabar. Peneliti mempunyai seperangkat tujuan penelitian yang diharap dicapai
untuk memecahkan sejumlah masalah yang ada.24
23
Anselm Strauss & Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2003), hlm 4.
24
Lexy J. Melong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1988), hlm
112-113.
30
2. Sumber Data
Sumber data pada penelitian kali ini dibedakan menjadi dua, yaitu data
primer dan data sekunder. Secara singkat data primer adalah data yang
diperoleh langsung observasi maupun wawancara dan pengambilan foto.
Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur, dokumendokumen yang terdapat di beberapa instansi terkait seperti Dinas Perdagangan
Perindustrian dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Kulon Progo, atau
penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait. Selain itu peneliti juga
memanfaatkan dokumen yang ada di masing-masing pemerintah Desa
Sentolo dan Salam Rejo Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti akan dilakukan, beserta
jalan dan kotanya.25 Dalam peneliti kali ini peneliti mengambil lokasi di Pasar
Sentolo Lama, Pasar Sentolo Baru dan Balai Desa Sentolo Kecamatan
Sentolo Kabupaten Kulon Progo
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
Pengumpulan
data
disini
peneliti
menggunakan
teknik
wawancara, teknik observasi, dan teknik dokumentasi. Teknik tersebut
diharapkan mampu membantu penyelesaian permasalahan yang ada. Berikut
ini merupakan penjelasan dari teknik pengumpulan data yang dilakukan
peneliti adalah sebagai berikut:
25
Lexy J. Melong, Metodologi Penelitian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hlm 33.
31
a. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan
itu dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu. Model interview adalah sebuah dialog atau tanya jawab
yang dilakukan dua orang atau lebih yaitu pewancara dan terwancara
dilakukan secara berhadap-hadapan.26 Maksud mengadakan wawancara,
seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985), antara lain:
mengkontruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan,
motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain lain.27
Adapun subyek penelitian untuk menggali informasi adalah sebagai
berikut:
1. Dinas Perdagangan Perindustrian dan Energi Sumber Daya
Mineral Kabupaten Kulon Progo
2. Pemerintah Desa Sentolo Kulon Progo
3. Pedagang di Pasar Sentolo, baik di Pasar Sentolo Lama maupun
Pasar Sentolo Baru.
4. Konsumen atau pembeli
b. Observasi
Teknik observasi adalah teknik pengamatan terlebih dahulu dengan
maksud untuk pengenalan terhadap kondisi di lapangan. Teknik
observasi yang dilakukan peneliti dengan cara turun ke lokasi yang
26
Ibid hlm 35.
Lexy J. Melong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1988), hlm
135.
27
32
diteliti secara langsung. Adapun lokasi yang menjadi penelitian yaitu
Pasar Sentolo Lama dan Pasar Sentolo Baru yang terletak di Kecamatan
Sentolo Kabupaten Kulon Progo.
c. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah teknik mengambil dokumen atau berkas
yang berkaitan dengan proses penelitian tersebut. Teknik dokumentasi
dilakukan dengan cara mengambil gambar. Hal ini dipakai sebagai alat
utnuk keperluan penelitian kualitiatif karena dapat dipakai dalamberbagai
keperluan. Terutama foto menghasilkan data deskriptif yang cukup
berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi subjektif.28
Disini peneliti mengambil beberapa dokumen maupun foto terkait
dilapangan. Dokumen itu misalnya Perjanjian Nomor 58e Tahun 2007
tentang Sewa Menyewa Tanah Kas Desa yang Dipergunakan untuk
Kepentingan Pembangunan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo,
Surat Pernyataan Bersama Warga Desa Sentolo tentang Pengelolaan Eks
Pasar Sentolo, maupun dokumen terkait lainnya.
5. Analisa Data
Analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan
kedalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar. Sedangkan metode
kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku tersebut
dapat diamati.29
28
29
Ibid hlm 114.
Lexy J. Melong, Metodologi Penelitian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hlm 38.
33
Analisis dalam penelitian ini
adalah membahas tentang Manajemen
Konflik Pengelolaan Pasar Sentolo, konflik antara Pedagang Pasar Sentolo
dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo. Nantinya pembahasan
ini akan dijelaskan pada BAB III secara rinci.
34
Download