Sekarang ini keberadaan jurnalisme warga seperti tidak terbatas

advertisement
PERTANGGUNG JAWABAN PERUSAHAAN PERS TERKAIT
DENGAN LIPUTAN KRIMINAL (DELIK PERS)
Ayu Dian Ningtias *)
*)
Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan
ABSTRAKSI
Pers sebagai media informasi merupakan pilar ke-empat demokrasi yang berjalan seiring dengan
penegakan hukum untuk terciptanya kesimbangan dalam suatau negara. Berbicara mengenai pers
maka tidak akan lepas berbicara mengenai kebebasan pers, karena kebebasan pers merupakan
bagian penting atau ruh hidup matinya pers. Kebebasan pers yang bertanggung jawab merupakan
prasyarat utama bagi sebuah negara dalam memperjuangkan kemajuan bangsa dan rakyatnya. Ini
menjadi keniscayaan dalam masyarakat yang demokratis. Kebebasan pers seperti ini sangat perlu
dan penting, bukan hanya bagi para pekerja pers, tetapi juga bagi seluruh rakyat dan bangsa. Tanpa
kebebasan pers, mustahil jurnalis atau pers akan mampu menjalankan tugas/peran sosialnya dengan
baik dan optimal.
Kata kunci : pertanggungawaban perusahaan pers, liputan kriminal, delik pers
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pers merupakan institusi yang memiliki
pengaruh yang kuat dalam pembentukan opini
publik dan efektif penyebarluasan informasi.1
Dibanding mekanisme penyebaran informasi
lainnya, seperi seminar, lokakarya, penataran,
rapat umum dan sebagainya. Pers memiliki
potensi menjangkau audien jauh lebih banyak
dan menyebarkan informasi ke lingkungan yang
lebih jauh, lebih luas dalam waktu relatif yang
singkat. Sejak awal perkembangannya, surat
kabar sebagai media massa tertua sudah
menjadi lawan nyata ketidak terbukaan
informasi. Surat kabar dan media massa
seringkali berada pada posisi lemah dan amat
mudah ditundukkan oleh kekuasaan.2
Selama 60 tahun merdeka, Indonesia
pernah mengalami beberapa kali kebebasan
pers, yaitu pada awal kemerdekaan, selama
Republik lndonesia menerapkan sistem
pemerintahan Kabinet Parlementer, pada awal
Pemerintahan Orde Baru dan para era
Reformasi saat ini. Pada waktu-waktu lainnya,
kebebasan pers di Indonesia mengalami
berbagai tekanan. Setidak-tidaknya ada enam
1
Oemar Seno Adji, Mass Media Hukum,
Erlangga, Jakarta, 1997,hal. 13.
2
MacQuail, Denis, Teori Komunikasi
Massa, suatu Pengantar (Terjemahan), Airlangga,
Jakarta, 1989: hal10.
ketentuan hukum yang dapat dicatat yang
membatasi kebebasan pers di Indonesia, yaitu:
(1) Peperti Nomor 10 tahun 1960 tentang Surat
Izin Terbit; (2) Peperti Nomor 2 Tahun 1961
tentang Pengawasan Dan Promosi Perusahaan
Cetak Swasta; (3) Kepres Nomor307 tahun
1962 tentang Pendirian LKBN Antara; (4)
Dekrit Presiden Nomor 6 Tahun 1963 tentang
Pengaturan Memajukan Pers; (6) Peraturan
Menpen Tahun 1970 tentang Surat Izin Terbit,
dan (6) Peraturan MenpenNomor 1 Tahun 1984
tentang SIUPP3. Dari berbagai peraturan
perundangan tersebut, salah satu diantaranya
yang mendapat sorotan selama pemerintahan
Orde Baru adalah Peraturan Menpen Nomor 1
Tahun 1984 tentang SIUPP, karena ketentuan
hukum ini memberikan kekuasaan yang amat
luas kepada pemerintah dalam membatasi
kebebasan pers melalui pembekuan perusahaan
penerbitan pers sewaktu-waktu, yang sangat
bertentangan dengan UUD 1945, khususnya
pasal 28.
Sekarang
ini
keberadaan
jurnalisme warga seperti tidak
terbatas
dan
terkontrol.
Bermunculannya saluran media baru
sejenis facebook, twitter, blog, atau
3
Anwar, Rosihan dalam Jurnal Pers
Indonesia, Nomor 5 Tahun XIX, Maret 1999
youtube memberi tantangan baru bagi
masyarakat dalam pengembangan
informasi di luar media pers. Melalui
saluran
media
baru
tersebut
diharapkan
informasi
yang
berkembang di masyarakat tidak
berdampak negatif bagi masyarakat
itu sendiri
Berbeda dengan
perusahaan pers. Perusahaan pers,
menurut UU No.40/1999 tentang
Pers, harus berbadan hukum sehingga
dapat diketahui keberadaan dan
penanggungjawabnya.
Untuk
membangun jurnalisme warga yang
baik, Kode Etik Jurnalistik yang
dikeluarkan Dewan Pers diharapkan
dapat dijadikan panduan. Perusahaan
pers menurut pasal 1 angka 2 UU Pers
adalah :
“Perusahaan pers adalah badan hukum
Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers
meliputi perusahaan media cetak, media
elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan
media
lainnya
yang
secara
khusus
menyelenggarakan,
menyiarkan,
atau
menyalurkan informasi”.
Perusahaan pers sebagai penyelenggara
penerbitan dan sebagai penanggung jawab
dalam hal penerbitan yang harus dilakukan
secara preventif, edukasi dan represif. Preventif
dalam hal ini penerbit (perusahaan pers) harus
bertanggung jawab memberikan edukasi
terhadap SDM (sumber daya manusia) /
wartawan / redaktur tentang persaingan
penerbitan pers saat ini. Dan juga melihat assetaset perusahaan bila terjadi delik pers harus
banyak memberikan kode etik- kode etik
tentang pers / jurnalistik . Represif dalam hal ini
adalah perusahaan pers meminta pihak yang
merasa dirugikan oleh pemberitaan sesasional /
delik pers/ untuk menggunakan hak jawab
terlebih dahulu jika dirasa tidak bisa maka baru
melakukan mediasi dengan dewan pers. Dan
apabila belum mendapatkan kesepakatan maka
dapat melakukan gugatan.
Pers yang meliputi media cetak dan
media elektronik dan media lainnya, merupakan
salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran
dengan lisan atau tulisan tersebut. Kebebasan
pers kadang kebablasan karena berita atau
tayangan yang diekspose mediacetak/elektronik
telah menyimpang dari koridor hukum,budaya
dan agama. Dimana jika pemberitaan pers
digunakan sebagai alat untuk memfitnah atau
menghina seseorang atau institusi dan tidak
mempunyai nilai berita (news), dan di dalam
pemberitaan
tersebut
terdapat
unsur
kesengajaan sebagai unsur kesalahan yang
memenuhi unsur-unsur tindak pidana.
Delik pers disebut juga sebagai tindak
pidana pers , yaitu suatu tindak pidana yang
berkaitan dengan fungsi pers. 4 subyek hukum
pers antara lain ; pers , perusahan pers dan
organisasi pers. 5 sebagai subyek hukum pers
perusahaan pers sebagai koorporasi dapat
dikenakan pertanggung jawaban pidana.
Adanya subyek hukum korporasi ini telah
memerluas asas pertanggungjawaban dalam
hukum pidana. Pada mulanya hanya dikenal
asas “ Siapa yang berbuat, maka ia yang
bertanggungjawab” untuk subyek hukum orang,
kemudian diperluas menjadi asas “Siapa yang
bertanggungjawab, maka ia yang berbuat”.
Dalam menetapkan siapa yang bertanggung
jawab terhadap isi berita yang dimuat di media
yang melanggar hukum adalah redaksi, karena
redaksilah yang menurut organisasi pers
sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap
isi berita yang dimuat dalam media yang
dipimpinnya.6 Hal ini terlihat pada Pasal 2 UU
Nomor 40 Tahun 1999:
“Perusahaan pers wajib mengumumkan nama,
alamat, dan penanggung jawab secara terbuka
melalui media yang bersangkutan, khususnya
untuk penerbitan pers ditambah nama dan
alamat percetakan.”
Atas
dasar
ketentuan
tersebut,
merupakan kewajiban hukum bagi media cetak
memuat kolom nama, alamat dan penanggung
jawab penerbitan serta nama dan alamat
percetakan. Atas dasar ketentuan tersebut dan
sesuai dengan kebiasaan dalam menjalankan
profesi di bidang pers (masyarakat pers) bahwa
yang bertanggung jawab adalah redaksi.
Perusahaan pers dituntut untuk memfasilitasi
kebebasan pers, yang sangat rentan dengan
pelanggaran pidana pers, disisi lain perusahaan
pers harus tetap menjalankan fungsinya sebagai
4
5
6
Aliansi Nasional Reformasi KUHP,
Seminar
Nasional“Mengurai Delik Pers dalam RUU KUHP”
Hotel Sofyan Betawi,Kamis, 24 Agustus 2006. hal. 23.
Kejahatan Pers Dalam Perspektif Hukum dalam
http://angga.org. diakses pada tanggal 12 januari 2012.
Rifqi Sjarief Assegaf , Pers Diadili, Jurnal Kajian
Putusan Pengadilan, Edisi 3, 2004, hal. 35.
badan hukum berkepentingan komersial. Dan
sebagai perusahaan perusahaan pers terus
bersaing dengan perusaahaan lain tentang
bagaimana eksistensi perusahaan pers dalam
terus bersaing dengan memperhatikan kaidahkaidah jurnalistik dan delik pers dalam
persaingan usaha antar perusahaan pers.
Apabila perusahaan pers terjerat delik
pers dan kemudian dihukum maka perusahaan
tersebut bisa bangkrut atau gulung tikar atau
tidak terbit lagi akibat persaingan tidak sehat,
melainkan karena kewajiban membayar
tuntutan ganti rugi. Demikian juga kalau
pimpinan perusahaan terlalu sering dijatuhi
hukuman karena delik pers oleh majelis hakim,
akan
mengancam
eksistensi
media
bersangkutan akibat citranya di mata publik
sudah hancur yang akan mempengaruhi
kelangsungan perusahaan pers tersebut .
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas
timbul permasalahan hukum sebagai berikut ;
Bagaimana pertanggung jawaban perusahaan
pers terkait delik pers ?
KAJIAN PUSTAKA
Pers adalah salah satu media
komunikasi massa yang bersifat umum dan
terbitsecara teratur berupa buku-buku, majalahmajalah, surat kabar dan barang-barangcetakan
yang
lain
bersifat
sebagai
sarana
penyebarluasan
informasi.
Berkaitan
dengan pengertian tersebut, maka yang
dimaksud
dengan
pengertian
delik
atau pertanggungjawaban pidana pers dalam
skripsi
ini
adalah
semua
kejahatan
yangdilakukan melalui sarana pers.Dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak
didapatkan suatu rumusan yang pasti tentang
pers. Dengan demikian untuk mengetahui
kriteria yangharus dipenuhi oleh suatu
kejahatan melalui pers dapat dikatakan sebagai
delik pers.Oemar
Seno Adji
dengan
berpedoman kepada pendapat dari W.F.C.
VanHattun memberikan tiga kriteria yang harus
dipenuhi dalam suatu delik persantara lain :7
1 . H ar us di l a ku kan d en ga n bar a n g
c et a kan
7
Dewan Pers, 2003, Delik Pers Dalam Hukum Pidana,
Dewan Pers dan Lembaga Informasi Nasional, Jakarta.
Hal 66.
2. Perbutan yang dipidana harus
terdiri atas pernyataan pikiran dan
perasaan.
3. Perumusan delik harus ternyata
bahwa publikasi merupakan suatu
syarat untuk menumbuhkan suatu
kejahatan, apabila kenyataan tersebut
dilakukand engan tulisan-tulisan.
Kriteria ketiga itulah yang khusus dapat
mengangkat suatu delik menjadi delik pers.
Tanpa dipenuhinya kriteria tersebut, suatu delik
tidak akan memperoleh sebutandelik pers dalam
arti yuridis.Pendapat lain soal delik pers
disampaikan R.Moegono. Menurutnya, delik
persharus memenuhi beberapa syarat antara lain
:8
1. Perbuatan yang diancam hukuman
harus terdiri dari pernyataan
pikiran dan perasaan orang.
2. Harus dilakukan dengan barang
cetakan .
3. Harus ada publikasi
Unsur ketiga inilah yang paling
menentukan, karena tanpa publikasi tak
akan mungkin ada delik pers. Dari kedua
pendapat di atas, jelas bahwa suatu delik baru
dikatakan memenuhi syarat sebagai delik pers,
jika perbuatan kejahatan itu mengandung
pernyataan pikiran atau perasaan seseorang
yang kemudian diwujudkan dalam bentuk
barang cetakan dan disebarluaskan kepada
khalayak ramai atau dipublikasikan. Delik
pers dalam KUHP bukanlah suatu delik
yang diatur suatu bab tertentu, melainkan
delik-delik yang tersebar dalam beberapa pasal
dalam KUHP.
Pertanggungjawaban penerbit diatur dalam
pasal 61 KUHP sebagai berikut:
a. Jika kejahatan dilakukan dengan
memprgunakan
percetakan,
maka
penerbit(uitgever) sebagai demikian tidak
dituntut jika pada barang cetakan itu
disebutkan nama dan tempat tinggalnya dan
sipembuat itu sudah diketahui, atau pada
waktu diberi peringatan yang pertama kali
sesudah
penuntutan
muali
berjalandiberitahukan oleh penerbit.
b. Peraturan ini tidak berlaku, jika
sipembuat kejahatan pada waktu barang
8
R.Moegono, Kumpulan Kuliah Delik Pers, Tindaka
Pidana
Korupsi,
Tindak
Pidana
Ekonomo
PadaPusdiklat Kejaksaan Agung RI (Jakarta, 1975)
hal. 14.
cetakanitu diterbitkan tak dapat dituntut
atau berdiam di luar negeri.
Dari ketentuan pasal tersebut dapat kita
lihat bahwa seorang penerbit tiidak akandapat
dituntut apabila;
1. Pada barang cetakan telah dimuat nama
dan tempat tinggal penerbit;
2. Penulis, penggambar atau pembuat
berita tersebut sudah diketahui atau
sesudah penuntutan sudah berjalan pada
waktu itu diberi peringatan pertama kepada
penerbit.
Pembuat termasuk pemotret, pelukis
atau penggambar.P embuatnya dapat dituntut
pada waktu diterbitkan tulisan, gambar atau
potretoleh penerbit. Artinya sipenulis atau
penggambar
dari
pemberitaan
tersebut
tidak dalam sakit ingatan atau tidak meninggal
dunia pada waktu pemberitaan itu diterbitkan.
Disamping itu perlu diingat bahwa dalam
perusahaan penerbitan
pers
seperti
dimaksudkan oleh pasal 14 Undang-undang
Nomor 11 Tahun1966 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun
1967 danUndang-undang Perubahan kedua
Undang-undang tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pers, (UU NO. 21/ 1982) ditetapkan
bahwa "Pimpinan suatu penerbit persterdiri atas
Pimpinan Umum, Pimpinan Redaksi dan
Pimpinan
Perusahaan".
Denganadanya
ketentuan tersebut timbul permasalahan di
tangan siapakah letak tanggung jawab jika
terjadi suatu tindk pidana pers. Dalam hal ini
kita harusmenghubungkannya dengan ketentua
pasal 15 dari Undang-undang Nomor 11
Tahun1966 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967
danUndang-undang Perubahan Kedua Undangundang Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pers sebagai berikut Pokok Pers, (UU NO. 21/
1982) ditetapkan bahwa "Pimpinan suatu
penerbit pers terdiri atas Pimpinan Umum,
Pimpinan Redaksi dan Pimpinan Perusahaan".
Dalam ketentuan pasal 15 dari Undangundang Nomor 11 Tahun1966 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4
Tahun 1967 danUndang-undang Perubahan
Kedua Undang-undang Tentang Ketentuanketentuan Pokok Pers sebagai berikut :
(1) Pimpinan Umum bertanggungjawab
atas keseluruhan penerbitan baik
kedalam maupun keluar.
(2) P er t a n ggun gan j a wab Pi m p i na n
U mu m
t er ha dap
h u ku m
d apat dipindahkan
kepada
Pimpinan
Redaksi
mengenai
isi
penerbitan(redaksional)
dan
kepada
Pimpinan Perusahaan mengenai soalsoal perusahaan.
(3) Pimpinan Redaksi bertanggungjawab
atas pelaksanaan redaksional danwajib
melayani hak jawab dan koreksi.
(4) Pimpinan Redaksi dapat memindahkan
pertanggungjawabannya
terhadaphukum mengenai sebuah tulisan
kepada anggota redaksi yang lain
ataukepada penulisnya yang bersangkutan.
Melihat ketentuan Pasal 15 Undangundang Nomor 11 Tahun 1966 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomot 4
Tahun 1967 dan Undang undang Perubahan
Kedua tentang ketentuan-ketentuan pokok pers,
terutama dalam ayat (4) bahwa pertanggun
jawaban pidana terhadap deli pers terletak pada
pihak siapa pertanggung jawaban hukum
dilimpahkan ketika berita itu diterbitkan. Bisa
pada Pimpinan Umum, Pimpinan Redaksi,
anggota
redaksi
atau
bahkan
pada
penulisnya,tergantung pada ada atau tidaknya
pemindahan
pertanggung
jawaban.
Untuk memudahkan
ada
atau
tidaknya
pemindahan pertanggung jawaban hukum
dalam penerbitan pers, di dalam undang-undang
seharusnya
sudah
ditentukan
bahwa pemindahan
pertanggung
jawaban
hukum tersebut hanya bisa dilakukan secara
tertulis. Karena disamping memudahkan dalam
pembuktian, juga akan menjamin adanya
kepastian hukum dalam pertanggungjawaban
penerbitan pers.
Seperti
dalam
kasus
Bambang
Harymurti sebagai pemimpin Redaksi Majalah
Tempo dijatuhi vonis 1 tahun penjara.
Kemudian pada tingkat banding, Pengadilan
Tinggi Jakarta Pusat menguatkan Putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan pada
tingakt kasasi, MA menyatakan bahwa
Bambang Harymurti tidak terbukti secara sah
atas dakwaan primair, Pasal 311 ayat (1) KUHP
Jo Pasal 55 ayat(1) KUHP dan Susidair, Pasal
310 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP,
dan membebaskan Bambang Harymurti dari
segala dakwaan.9
Berdasarkan putusan di atas, yang
menjadi alasan pemimpin redaksi sebagai
penanggung jawab terhadap berita yang dimuat
didalam media adalah karena pemimpin redaksi
9
http://majalah.tempointeraktif.com/ diakses pada tanggal
12 januari 2012
adalah orang yang bertanggung jawab diseluruh
bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk
menentukan diturunkan atau tidaknya suatu
berita. Pemimpin redaksi sebagai orang yang
bertanggung jawab dalam hal pemberitaan yang
merugikan kehormatan dan nama baik orang
lain, sesuai dengan sistem pertanggungjawaban
pidana
dianut
uu
pers
yaitu
pertanggungjawaban dengan sistem bertangga
(Stair System) yang menyatakan bahwa
pemimpin redaksi harus bertanggung jawab
terhadap sajian didalam pers. Stair system biasa
pula disebut fiktif pertanggung jawaban karena
yang melakukan perbuatan (delik pers) bukan
dia melainkan orang lain, tetapi dia harus
bertanggung jawab.
Sebelum adanya UU No. 40 Tahun
1999 tentang Pers, sistem pertanggung jawaban
pidana atas sajian pers diatur dalam pasal 15
ayat (4) UU No.21 Tahun 1982 tentang
Ketentuan ketentuan Pokok Pers yang bunyinya
sebagai berikut : Pemimpin umum bertanggung
jawab atas keseluruhan penerbitan baik ke
dalam maupun keluar; Pertanggungjawaban
pemimpin umum terhadap hukum dapat
dipindahkan
kepada
pemimpin
redaksi
mengenai isi penerbitan dan kepada pemimpin
perusahaan mengenai soal-soal perusahaan;
Pemimpin redaksi bertanggungjawab atas
pelaksanaan redaksionil dan wajib melayani
hak jawab dan koreksi. Pemimpin redaksi
dapat memindahkan pertanggungjawabannya
terhadap hukum, mengenai suatu tulisan kepada
anggota redaksi atau kepada penulisnya yang
bersangkutan.
Dalam
mempertanggungjawabkan
terhadap hukum, pemimpin umum, pemimpin
redaksi, anggota redaksi atau penulisnya
mempunyai hak tolak. Wartawan yang karena
pekerjaanya mempunyai kewajiban menyimpan
rahasia, dalam hal ini nama, jabatan, alamat,
atau identitas lainnya dari orang yang menjadi
sumber informasi, mempunyai hak tolak.
Ketentuan-ketentuan hak tolak akan diatur oleh
pemerintah, setelah mendengar pertimbanganpertimbangan dari dewan pers. Ketentuan ini
memperlihatkan
suatu
bentuk
pertanggungjawaban yang bisa dialihkan
kepada anggota redaksi yang lain. Dimana
pemimpin redaksi dapat mengalihkan tanggung
jawab hukum kepada anggota redaksi yang lain
atau kepada penulisnya yang memang mungkin
pelaku delik pers. Sistem pertanggungjawaban
pidana ini disebut pertanggung jawaban pidana
dengan sistem air terjun (Waterfall System).
Berbeda dengan pertanggungjawaban
pidana sistem air terjun (Waterfall System),
pertanggungjawaban pidana sistem bertangga
(Stair System) pemimpin redaksi harus
bertanggungjawab terhadap tulisan (gambar)
yang menyerang kehormatan dan nama baik
orang lain.meskipun pemimpin redaksi tidak
memenuhi 2(dua) hal pokok dalam penetapan
ada atau tidaknya pertanggung jawaban pidana
dari pemimpin redaksi.
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam ketentuan pasal 15 dari Undangundang Nomor 11 Tahun1966 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4
Tahun 1967 dan Undang-undang Perubahan
Kedua Undang-undang Tentang Ketentuanketentuan Pokok Pers sebagai berikut :
1. Pimpinan Umum bertanggungjawab
atas keseluruhan penerbitan baik
kedalam maupun keluar.
2. P er t a n ggun gan j a wab Pi m p i na n
U mu m
t er ha dap
h u ku m
d apat dipindahkan
kepada
Pimpinan
Redaksi
mengenai
isi
penerbitan(redaksional)
dan
kepada
Pimpinan Perusahaan mengenai soalsoal perusahaan.
3. Pimpinan Redaksi bertanggungjawab
atas pelaksanaan redaksional danwajib
melayani hak jawab dan koreksi.
4. Pimpinan Redaksi dapat memindahkan
pertanggungjawabannya
terhadaphukum mengenai sebuah tulisan
kepada anggota redaksi yang lain
ataukepada penulisnya yang bersangkutan.
DAFTAR BACAAN
Buku
Arief, Barda Nawawi, Beberapa Aspek Hukum
Pidana , Badan Universitas Diponegoro,
2007,Semarang.
Artadi, Ibnu, Hukum Pidana dan Dinamika
Kriminalitas , Syariah Fakultas Hukum
Unswagati 2006, Cirebon.
Borjesson, Kristina, Mesin Penindas Pers , Terj.
Yanto Musthofa, Q-Press, 2006,Bandung.
Dewan Pers, Delik Pers Dalam Hukum Pidana,
Dewan Pers dan Lembaga Informasi
Nasional, 2003, Jakarta.
_ _ _ _ _ _ _ _. Data Penerbitan Pers Indonesia.
2006, Dewan Pers Jakarta.
Girsang, Juniver, Penyelesaian Sengketa Pers ,
Gramedia Pustaka Utama, 2007,Jakarta.
Oemar Seno Adji, Mass Media Hukum, Erlangga,
1997,Jakarta.
MacQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa, suatu
Pengantar (Terjemahan), Airlangga, Jakarta,
1989
Panjaitan, Hinca IP dan Siregar, Amir Effendi, 1001
Alasan UU Pers Lex Spesialis, Serikat
Penerbit
Surat
kabar,
2004,Jakarta
Download