Artocarpus heterophyllus Lamk.

advertisement
CHARACTERISTIC AMYLUM JACKFRUIT SEEDS ( Artocarpus
heterophyllus Lamk.) AND IN VITRO ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST
Reny Angelina Asmarawati1, Aprilita Rina Yanti2, Eddy Purwoto Boedijono3
1)
Majoring Nutrition, Faculty of Health Esa Unggul University
2)
Faculty of Health Sciences, Esa Unggul University
3)
Chemical Laboratory Health Sciences, Esa Unggul University
Jalan Arjuna Utara No.9, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Abstract
Jackfruit seeds are not much explored in terms of nutrition and antioxidant
properties. Gupta et al., indicated jackfruit seeds to be a good source of
nutritional and antioxidant components and hold their potential for value
addition and nutreaceuntical development. The purpose of this study was
determine : (1) Knowing the characteristics of the starch contained in the seeds of
Jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lamk.. (2) Knowing the moisture, ash , and
Phytocemical content in the Jackfruit seeds (3) Evaluation antioxidant activity
DPPH Method that using Etanol 96%. The characteristic of the starch obtained
from isolated starch is a starch that high amylosa and amylopektin content flour
seeds jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lamk.) has a water content of 8,01 % ,
ash content of 3,34%. The jackfruit seeds has positive phytochemical compounds
such as flavonoids, Saponin and steroid. The jackfruit seeds have IC 50 value
514,77 ppm (low) when associated with IC50 value of Vitamin C 3,359 ppm (very
Strength). Result Indicated jackfruit seed have antioxidant activity 153 x lower
than vitamin C.
Keywords : Amylum, Antioxidant Activity, Jackfruit, Jackfruit seeds (Artocarpus
heterophyllus Lamk), DPPH.
KARAKTERISTIK AMILUM BIJI NANGKA ( Artocarpus heterophyllus
Lamk.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SECARA IN-VITRO
Abstrak
Biji nangka jarang di ekplorasi padahal biji nangka memilki kandungan gizi yang
baik dan potensi aktivitas antioksidan. Menurut Gupta, biji nangka merupakan
sumber gizi yang baik dan memiliki komponen antioksidan yang berpotensial dan
dapat digunakan dalam pengembangan pangan fungsional. Tujuan dari penelitan
ini adalah (1) mengetahui karakteristik amilum biji nangka (Artocarpus
heterophyllus Lamk), (2) mengetahui kadar air, kadar abu dan kandungan senyawa
fitokimia biji nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk), mengetahui aktivitas
antioksidan dengan metode DPPH menggunakan pelarut etanol 96%. Amilum
mengandung amilosa dan amilopektin dengan kadar air 8,01% dan kadar abu
2,14%. Biji nangka positif mengandung senyawa kimia seperti flavonoid, saponin
dan steroid. Berdasarkan penelitian diperoleh Nilai IC50 biji nangka sebesar 514,77
ppm, bila dibandingkan dengan nilai IC50 Vitamin C 3,359 ppm dapat disimpulkan
bahwa biji nangka memeiliki aktivitas antioksidan 153 kali lebih lemah dibanding
vitamin C.
Kata Kunci : Amilum, Aktivitas Antioksidan, Biji nangka (Artocarpus
heterophyllus Lamk), DPPH
PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara
yang kaya akan tanaman salah
satunya adalah nangka. Di Indonesia
Tanaman Nangka yang dikenal
dengan nama botani Artocarpus
integra Merr atau Artocarpus
heterophyllus Lamk. Sudah banyak
dimanfaatkan, baik sebagai sayuran
maupun sebagai penyusun suatu
hidangan karena baunya yang
disenangi. Selain buahnya yang enak
biji nangka juga dapat dimanfaatkan
dalam industri pangan. Namun,
masyarakat
umumnya
tidak
mengkonsumsi biji, sehingga biji
nangka biasanya dibuang sebagai
limbah padat (Fairus, 2010), padahal
biji nangka memiliki kandungan gizi
yang meliputi karbohidrat, asam
organik, Vitamin B dan Vitamin C
(Dai Yin-Fang dan Liu Cheng-Jun,
2002. Kandungan amilum pada biji
nangka berpotensi sebagai alternatif
pengganti bahan makanan (Halim,
2014) serta kandungan gizi dan
aktivitas antioksidan yang berpotensi
dalam
pengembangan
pangan
fungsional (Gupta, 2011). Upaya
pemanfaatan tepung biji nangka
(Artocarpus heterophyllus lam.)
sebagai bahan baku pembuatan
tepung diharapkan dapat membantu
mengurangi
ketergantungan
masyarakat terhadap tepung terigu.
Meskipun begitu pemanfaatan dan
pengolahan biji nangka belum
dilakukan secara optimal, karena
kurangnya minat masyarakat dan
belum banyak penelitian tentang biji
nangka serta dukungan pemerintah.
Oleh karena itu dilakukan
penelitian
tentang
karakteristik
amilum biji nangka dan uji aktivitas
antioksidan secara in-vitro yang
terdapat
dalam
biji
nangka
(Artocarpus heterophyllus Lam)
dengan metode DPPH (2,2-diphenyl1 picrylhydrazyl).
METODE PENELITIAN
ALAT DAN BAHAN
Peralatan yang digunakan yaitu:
Blender dan oven, pisau, erlenmeyer,
tabug reaksi, pipet tetes, pipet
volumetri, spektrofotometer UVvish, mikroskop, desikator, objek
glass, cover glass, spatula, tanur,
kertas saring, mortil dan stamper,
rotari evaporator, Almunium dish,
labu alas dan alat gelas lainnya,
timbangan analitik, dan cawan
porselen.
Bahan dasar yang digunakan
adalah Biji Nangka (Artocarpus
heterophyllus Lamk) yang diperoleh
dari
Pasar
tradisional
Jalan
Pahlawan, Bogor, Jawa Barat., dan
telah dideterminasi di Herbarium
Bogorriense, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Botani, Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Jl. Raya Jakarta Bogor km 46,
Cibinong Jawa Barat. Bahan kimia
yang digunakan yaitu natrium
hipoklorit 0,4 %, Asam klorida 3 %,
natrium hidroksida, Etanol 96 %,
Asam asetat anhidrat, Asam sulfat
pekat, kloroform, Amonia 10%, Ferri
klorida, Aquades, Vitamin C dan
DPPH.
METODE
Isolasi Amilum
Biji nangka yang telah bersih
direndam dalam aquades selama 12
jam, setelah itu blender hingga halus
tambahkan
akuades
1,5
kali
banyaknya bahan, kemudian disaring
hingga diperoleh filtrat. Penyaringan
diulang
hingga
cairan
yang
dikeluarkan tidak berwarna. Filtrat
yang didapat kemudian diendapkan.
Cuci endapan dengan natrium
hipoklorit 0,4% diaduk selama 15
menit sampai bersih, kemudian
dicuci kembali dengan air hingga
bersih. Selanjutkan keringkan dalam
oven pada suhu 50°C selama 24
hingga diperoleh butiran amilum.
biru, cokelat, kuning, sampai tidak
berwarna (Maligan, 2014).
Uji Iodin
Untuk mengetahui adanya amilum
dari serbuk yang diperoleh dari
proses isolasi dilakukan uji iodin. Uji
dilakukan pada tiga suasana yaitu
netral, asam dan basa. Serbuk
dihomogenkan dengan aquades,
kemudian dimasukan ke dalam tiga
tabung setelah itu direaksikan
dengan Reagen yang berbeda pada
tiap tabung, tabung I ditambahkan
aquades, tabung II ditambahkan HCL
dan tabung III ditambahkan NaOH.
Pada
masing-masing
tabung
ditambahakan
larutan
Iodin,
kemudian
amati
perubahan
warnanya. Setelah itu dipanaskan
diamati
perubahan
warnanya.
Polisakarida akan memberikan reaksi
dengan
larutan
iodin
dan
memberikan
warna
spesifik
tergantung
pada
jenis
karbohidratnya, Amilosa dengan
iodin
akan
berwarna
biru,
amilopektin dengan iodine akan
berwarna merah violet.
Amilum dalam suasana Asam bila
dipanaskan
dapat
terhidrolisis
menjadi senyawa yang lebih
sederhana hasil pemecahan amilum
jika diuji akan memberikan warna
Penetapan Kadar Abu Metode Tanur
Penetapan kadar abu dengan
Tanur
menggunakan
prisnsip
gravimetri.
Untuk
mengetahui
mengetahui besarnya kandungan
mineral pada amilum.
Pemeriksaan
Amilum
secara
mikroskopis
Dengan meletakan sampel
pada gelas objek ditetesi dengan air
kemudian amati dengan pembesaran
40X pada mikroskop binokuler.
Penetapan Kadar Air ( AOAC 2005)
Penetapan
kadar
air
menggunakan prinsip Gravimetri
yaitu menghitung selisih berat
sebelum pemanasan dengan berat
setelah dilakukan pemanasan.
Penapisan Senyawa Kimia
Penapisan senawa kimia
dilakukan
untuk
mengetahui
golongan
senyawa
metabolit
sekunder yang memiliki khasiat bagi
kesehatan. Penapisan dilakukan
dengan menggunakan reagen yang
sesuai dengan senyawa sekunder
yang akan diuji. Senyawa metabolik
yaitu flavonoid, steroid, alkaloid,
saponin dan Tanin.
Ekstraksi biji nangka dengan Etanol
96%
Ekstraksi dilakukan dengan
cara maserasi menggunakan etanol
96% Selama satu mingggu. Ekstrak
hasil maserasi sipisahkan dari ampas
kemudian ampas dimaserasi kembali.
Kemudian dipekatkan dengan Rotary
Evaporator selama 60 menit pada
suhu 40°C. Kemudian dihitung
rendemennya dengan rumus
Berat Hasil EkstraksiBerat Awal Biji
Nangkax 100
Pembuatan Reagen
Dalam pengujian aktivitas
antioksidan metode DPPH diperlu
beberapa reagen yaitu, Larutan
DPPH, larutan blangko, larutan
induk,
larutan
uji,
larutan
pembanding vitamin C. Larutan
DPPH dibuat dari 4,929 mg DPPH
(2,2–diphenyl-1-Pieryhidrazyl)
dilarutkan dengan etanol hingga
larut. Larutan blangko didapatkan
dari dengan cara memipet 500 µL
larutan
DPPH
(2,2-diphenyl-1
picrylhydrazyl)
(125
µM)
dimasukkan ke dalam mikroplate,
ditambahkan
etanol,
500µL.
Campuran selanjutnya divorteks
selama 1 detik dan diinkubasi selama
30 menit. Larutan ini selanjutnya
diukur absorbansi pada panjang
gelombang 517 nm menggunakan
elisa reader. Pembuatan larutan uji
Pembuatan larutan uji sejumlah 50
mg ekstrak ditimbang seksama dan
dilarutkan dalam 50 ml etanol
kemudian dikocok hingga homogen.
Selanjutnya larutan ekstrak dibuat
dalam
berbagai
konsentrasi( 6,25;12,5;25;50;75;100
µg/ml
Larutan Vitamin C
Pembuatan
Ekstrak
dari
larutan induk Vitamin C dengan
penambahan etanol. Pembuatan.
Larutan dibuat dalam berbagai
konsentrasi (0,5, 1, 2,5, 5, 7,5 10
µg/ml)
Pengukuran Aktivitas Antioksidan
Dari
masing-masing
konsentrasi fraksi dan vitamin C
dipipet 500 µL dimasukkan ke dalam
mikroplate lalu di tambahkan 500 µL
DPPH
125
µM.
Campuran
selanjutnya divortek sselama 1 detik
dan diinkubasi selama 30 menit.
Larutan ini selanjutnya diukur
absorbansi pada panjang gelombang
517 nm menggunakan elisa reader.
Analisa Data
Pengolahan data, menggunakan
analisis regresi linear sederhana.
Untuk menghitung % hambatan
antioksidan terhadap radikal bebas
DPPH digunakan rumus sebagai
berikut:
(Absorban blangko-Absorban
sampel)Absorban blangkox100%
Penentuan Nilai IC50
Nilai IC50 diperoleh dari
perpotongan garis antara daya
hambatan dan sumbu konsentrasi,
kemudian dimasukkan ke dalam
persamaan y= bx+a.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil identifikasi sampel
yang dilakukan di Herbarium
Bogorriense, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Botani, Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Jl. Raya Jakarta Bogor km 46,
Cibinong Jawa Barat menunjukan
bahwa sampel merupakan biji
nangka (Artocarpus heterophyllus
Lamk.) dengan familia moraceae.
Amilum biji nangka dibuat
dengan cara seperti yang telah
dilakukan peneliti terdahulu. Biji
nangka yang digunakan dari buah
nangka yang sudah matang. Setelah
biji nangka bersih dan sudah dirajang
dilakukan perendaman selama 12
jam tujuannya agar biji nangka yang
akan diblender lunak. Untuk
menghasilkan
amilum
dengan
kualitas yang baik, maka dilakukan
pencucian dan pemutihan dengan
natrium hipoklorit 0,4%, diaduk
selama 15 menit hingga kadar
natrium
hipokloritnya
hilang.
Besarnya kadar natrium hipoklorit
dan lamanya mengaduk merupakan
hasil optimal dari orientasi, yaitu
apabila dilakukan pada kadar kurang
dari 0,4% hasilnya kurang putih, dan
bila dilakukan lebih dari 0,4%
partikel amilum jadi rusak. Jadi
karena tujuan pemutihan disini hanya
untuk menghilangkan pengotor yang
menyebabkan warna amilum tidak
putih bersih maka diusahakan warna
seputih mungkin tetapi amilumnya
tidak rusak. Selanjutnya amilum
dicuci kembali dengan aquades
hingga bersih dan bau khas
kaporitnya hilang.
Hasil uji kualitatif dengan
iodin menunjukan bahwa serbuk
putih yang dihasilkan adalah benar
amilum setelah diperoleh reaksi
positif terhadap reaksi iodin, setelah
1 gram serbuk disuspensikan dalam
50 ml air yang kemudian ditetesi
Iodn terjadi perubahan warna
menjadi biru tua. Setelah dipanaskan
5 menit warna biru tua memudar
(Gusmayadi, 2011). Selanjutnya
amilum biji nangka dilakukan uji
kadar abu dan uji kadar air.
Pengujian kadar abu bertujuan untuk
mengetahui kandungan mineral
dalam amilum. Farmakope Indonesia
memberikan batas untuk amilum
kadar abu tidak lebih dari 0,6% dan
kadar air tidak lebih dari 15%
(Gusmayadi, 2011). Hasil uji
menunjukan kadar abu biji nangka
2,14%, ini berarti biji nangka
mengandung mineral cukup tinggi.
Berdasarkan uji kadar air diperoleh
8,01% hasil ini mendekati hasil
penelitian sebelumnya yaitu 8,1 %
dapat disimpulkan bahwa amilum
biji nangka memenuhi syarat kualitas
bahan yang baik.
Pemerikasaan
Morfologi
amilum
biji nangka dilakukan
dengan mikroskop binokuler pada
pembesaran 40x. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui bentukbentuk khas dari amilum biji nangka.
Penampakan bentuk amilum secara
mikroskopis tidak terlalu jelas,
karena keterbatasan alat. Yang
tampak pada mikroskop yaitu butirbutir tunggal, butir persegi, hilus
tidak terlihat jelas ada juga lamella
yang berupa butir majemuk.
Selanjutnya
dilakukan
penapisan
senyawa
kimia.
Berdasarkan penapisan senyawa
kimia yang telah dilakukan ekstrak
biji nangka memberikan hasil positif
pada flavonoid, saponin dan steroid.
Hasil ini berbeda dengan hasil
penelitian
sebelumnya
yang
dilakukan di India oleh Gupta (2011)
yang menyatakan bahwa biji nangka
mengandung alkaloid, saponin dan
steroid. Perbedaan hasil yang
diperoleh kemungkinan disebabkan
karena
dipengaruhi sumber biji
nangka yang berbeda (Akinmutimi
2006). Faktor lingkungan, seperti
iklim, cuaca dan lokasi tumbuh
sangat
berpengaruh
terhadap
komponen aktif suatu tumbuhan
(Bruso, 2015).
Tabel 1. Hasil Penapisan Senyawa
Kimia
Senyawa kimia
Hasil
Alkaloid
Flavonoid
+
Saponin
+
Steroid
+
Tanin
Keterangan :
(+)
= Mengandung
sekunder
senyawa
(-)
=
Tidak
mengandung
senyawa sekunder
Penapisan senyawa kimia
terhadap ekstrak etanol biji nangka
(Artocarpus heterophyllus Lam.)
dilakukan
guna
mengetahui
kandungan metabolit sekunder yang
terdapat dalam ekstrak etanol biji
nangka.
Pengujian
fitokimia
dilakukan dengan cara mengambil
sedikit sampel dari ekstrak hasil
maserasi, lalu ditambahkan reagen
sesuai dengan senyawa yang akan
diidentifikasi (Amir dan Saleh,
2012)
Uji aktivitas Antioksidan
Pada pengujian ini digunakan
250 gram sampel biji nangka.
Sampel
dipotong-potong
dan
dihaluskan dengan blender sehigga
didapatkan serbuk halus sebayak
23,78 gram. Sampel dipotong-potong
untuk mengurangi kadar air pada
sampel sehingga dapat mencegah
tumbuhnya
jamur
serta
mempermudah proses penguapan
pelarut. Botol yang digunakan dalam
metode maserasi ini adalah botol
berwarna gelap dan penyimpanan
juga di tempat yang terlindung dari
cahaya. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari penguraian zat oleh
cahaya
(fotolisis).
Ekstraksi
dilakukan dengan cara maserasi
selama 1 minggu dengan 3 kali
pengulangan
atau
penggantian
larutan etanol setiap 3 hari sekali.
Hal ini dimaksudkan agar proses
penarikan zat-zat dari sampel
sempurna (Nasution, 2014). Cara
maserasi dipilih untuk mencegah
kerusakan kandungan kimia yang
tidak tahan terhadap panas, selain itu
cara maserasi mudah dilakukan dan
peralatan yang dibutuhkan sederhana
mudah diusahakan.
Pelarut etanol 96% dipilih
karena etanol dapat mempertahankan
sifat dan karakteristik bahan terlarut
dan mampu mengendapkan zat-zat
yang terkandung dalam bahan.
Etanol banyak digunakan sebagai
pelarut karena etanol relatif aman
digunakan untuk bahan-bahan kimia
yang ditunjukan untuk konsumsi dan
kegunaan
manusia.
Etanol
merupakan senyawa bersifat polar
yang artinya mampu melarutkan
senyawa polar, dan etanol dapat
bercampur dalam air yang juga
bersifat polar sifat. yang paling
penting adalah polaritas dan gugus
polar suatu senyawa. Suatu bahan
akan larut dalam pelarut yang sama
polaritasnya. Macam pelarut yang
digunakan dalam proses ekstraksi
dapat
mempengaruhi
proporsi
senyawa-senyawa kandungan yang
tersari (Arista, 2013).
Maserat
yang
diperoleh
diuapkan dengan Rotary Evaporator
pada suhu 40°C, penggunaan suhu
tersebut adalah untuk mencegah
terjadi kerusakan pada maserat yang
diekstrak dan menjaga keamanan
pada saat proses pengentalan dengan
Rorary Evaporator. Ekstrak kental
etanol biji nangka selanjutnya
digunakan untuk uji aktivitas
antioksidan metode DPPH 2,2difenil-2- pikrilhidrazil) (Khoirani,
2013).
Dalam penelitian ini vitamin
C digunakan sebagai pembanding
larutan pembanding Vitamin C
memilki gugus hidroksil bebas yang
betindak sebagai penangkap radikal
bebas. Gugus polihidroksil akan
meningkatkan aktivitas antioksidan
(Wahono, 2012).
Aktivitas antioksidan dari
ekstrak etanol biji nangka dinyatakan
dalam presentase inhibisi terhadap
radikal bebas DPPH. Presentase
inhibisi
ini
didapatkan
dari
perbedaan serapan antara absoraban
DPPH dengan absorban sampel.
Besarnya
aktivitas
antioksidan
ditandai dengan nilai IC50 yaitu
konsentrasi larutan sampel yang
dibutuhkan untuk menghambat 50%
radikal bebas DPPH. Semakin besar
presentase inhibisi sampel maka
semakin
tinggi
aktivitas
antioksidannya (Nasution, 2014).
Penggunaan DPPH untuk
metode
penangkapan
radikal
mempunyai
keuntungan
yaitu:
mudah
digunakan,
mempunyai
tingkat sensitivitas tinggi, dan dapat
menganalisis sejumlah besar sampel
dalam jangka waktu yang singkat
(Kim, 2002).
Dari pengujian aktivitas
antioksidan pada biji nangka
diperoleh persen inhibisi sebesar
81,25%, 52,26%, 33,33%, 23,0,56%
dan 18,056%. Peningkatan persen
inhibisi ini menandakan bahwa
konsentrasi
estraksi
yang
ditambahkan
mempengaruhi
kemampuan ekstrak dalam meredam
radikal bebas. Hanani,
(2005)
menyatakan
bahwa
presentase
inhibisi terhadap radikal bebas akan
ikut meningkat seiring meningkatnya
konsentrasi.
Hasil analisis nilai IC50 dari
ekstrak etanol biji nangka adalah
514,77 ppm, Sedangkan vitamin C
sebagai pembanding memiliki nilai
IC50 3,359 ppm. Berdasarkan hasil
IC50 tersebut diketahui ekstrak etanol
biji nangka memilki aktivitas
antioksidan 153 kali lebih kecil
dibanding
aktivitas
antioksidan
vitamin C yang telah terbukti
terhadap penghamabatan radikal
bebas. Aktivitas antioksidan ekstrak
biji etanol ini termasuk kategori
lemah. Menurut literatur, sampel
yang
mempunyai
aktifitas
antioksidan kuat memiliki IC50
kurang dari 200 μg/ml.
Tabel 2. Nilai-nilai IC50 ekstrak
etanol biji nangka dan Vitamin C
Sampel
Persamaan
Regresi
Ekstrak
Y=0,0674+15
etanol biji ,51
nangka
Vitamin C Y=11,79+10,3
7
IC50
(ppm)
514,77
3,359
SIMPULAN DAN SARAN
Amilum yang dihasilkan
putih bersih dengan kadar air 8,01%
dan kadar abu 2,14%. Senyawa
metabolit sekunder yang terdapat
dalam ekstrak etanol biji nangka
adalah flavonoid, saponin dan
steroid. Nilai IC50 dari ekstrak etanol
biji nangka adalah 514,77 ppm,
Sedangkan vitamin C sebagai
pembanding memiliki nilai IC50
3,359 ppm. Berdasarkan hasil IC50
tersebut diketahui ekstrak etanol biji
nangka
memiliki
aktivitas
antioksidan 153 kali lebih lemah
dari vitamin C.
Perlu dilakukan penelitian
aktivitas antioksidan biji nangka
menggunakan pelarut lain seperti
etil asetat atau heksan. Serta perlu
dilakukan isolasi senyawa murni
untuk mengetahui senyawa yang
berperan
terhadap
aktivitas
antioksidan.
DAFTAR PUSTAKA
Akinmutimi, A.H., (2006). Nutritive
Value of Raw and Processed
Jack Fruit Seeds (Artocarpus
heterophyllus):
Chemical
Analysis.
Agricultural
Journal, 1: 266-271.
Amir, Farida., Saleh, C., (2014). Uji
aktivitas Antioksidan ekstrak
etanol biji durian (Durio
zibethinus
Murr)
menggunakan
DPPH.
Jurnal
Mulawarman
dengan
Penambahan
metode
Nangka
Kimia
11:2,
Mei
2014.
Arista,
Fairus,
(2010).
Pengaruh
Konsentrasi HCL dan waktu
hidrolisis terhadap perolehan
glukosa yang dihasilkan dari
pati
Biji
Bandung:Institut
nangka.
Teknologi
Nasional Bandung. Jurnal
prosiding, ISSN 1693-4393
Gupta, D., Mann, S., Sood, A., dan
Gupta,
R.
K.
(2011).
Phytochemical, Nutritional
and Antioxidant Activity
Evaluation of Seeds of
jackfruit
(Artocarpus
Heterophyllus
Lam.).
International Journal of
Pharma and Bio Sciences. 30
November
2015.
http://www.ijpbs.net
Gusmayadi, I., dan sumaryono, B.,
(2012). Isolasi Pisang kepok
(Musa Paradisiaca Var ABB)
Serta modifikasinya. Jurnal
FARMASAINS 1:5. April
2012.
Pati
Biji
(Artocarpus
Heteophyllus
Terhadap
Nugget
Mega. (2013). Aktivitas
Antioksidan Ekstrak etanol
80% dan 96% daun katuk
(Sauropus androgynus (L.)
Merr.)
Jurnal
Ilmiah
Mahasiswa
Universitas
Surabaya 2:2. 2013
Sirin.
Halim, Ibrahim, (2014). Pengaruh
Lam.)
kualitas
Ayam..
fisik
Jurnal
universitas Brawijaya.1:1.
2014
Hanani, (2005). Identifikasi senyawa
antioksidan dalam Spons
callysponga
SP
dari
kepulauan seribu. Majalah
ilmu kefarmasian, Vol.2 No.3
Desember, 2005, 127-133
Hanani, (2013). Antioksidant activit
of combination of Gracianan
Manggostana Pericarp and
Hibiscus Sabdariffa calyxes.
International
PharmaTech
jurnal
of
Research
Vol.5,No.1, pp 162-166. JanMar
2013.
University
of
Indonesia.
Ibrahim, Halim., Radiati, Eka., dan
Tohari, Imam
(2014).
Pengaruh Penambahan Pati
Biji nangka (Arthocarpus
heterophyllus Lam.) terhadap
kualitas fisik Nugget Ayam.
Jurnal
universitas
Brawijaya.1:7
Khoirani, Nur., (2013). Karakteristik
Simplisia Dan Standardisasi
Ekstrak
Etanol
Herba
Kemangi
(Ocimum
americanum L). Skripsi.
Program
Studi
Farmasi.
Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan. UIN Syarif
Hidayatullah; Jakarta
Kim, D.K., Lee, K.W., Lee, H.J. and
Lee, C.Y., 2002, Vitamin C
equivalent
antioxidant
capacity
(VCEAC)
of
phenolic
phytochemicals,
Journal Agric. Food Chem.
Maligan, J.M., Sani, R.N., Nisa, F.C.,
dan Andriani, R.D., (2014).
Analisis
Rendemen
dan
Skrining Fitokimia Ekstrak
Etanol
Mikroalga
Tetraselmis
chuii.
Laut
Jurnal
Pangan dan Agroindustri.2
(2):121-126.
Molineux, P. (2004). The Use of
The Stable Free Radical
Diphenyl
picrylhydrazil
(DPPH) for estimating
Antioxidant
Activity.
Songklanakarin Journal.
Sci. Technol., 26(2).
Nasution, Hasmalina (2014).
Pengujian
antiradikal
bebas difenilpikril hidrazil
(DPPH) ekstrak etil asetat
daun nangka (Artocarpus
heterophyllus
Lam.).
Jurnal Sains Dasar 3:2.
2014
Wahono,
(2012).
Antioxidant
Activity of Flavonoid from
Anredera Cordifolia (Ten)
Steenis
Leaves.
International
Research
Journal Pharmacy 2012.
3:9
Windono, T., Soediman, S.,
Yudawati, U., Ermawati,
E., Srielita, A., Erowati,
T.I., (2001), Uji Peredam
Radikal Bebas Terhadap
1,1-Diphenyl-2Picrylhydrazil
(DPPH)
dari Ekstrak Kulit Buah
dan Biji Anggur (Vitis
vinifera L.) Probolinggo,
Biru dan Bali, Artocarpus,
1:1 34-43.
Download