LATAR BELAKANG MASALAH Penyelenggaraan

advertisement
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMERANKAN TOKOH DRAMA MELALUI
STRATEGI ACTIVE LEARNING (BERMAIN PERAN) SISWA KELAS V SDN
101801 KEDAIDURIAN KECAMATAN DELITUA KAB. DELISERDANG
Suharni
Guru SDN. N0. 101801, Kedaidurian Kecamatan Delitua.
Email : [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan
Kemampuan Memerankan Tokoh Drama Melalui Strategi Active Learning
(Bermain Peran) Siswa Kelas V SDN 101801 Kedaidurian Kecamatan
Delitua Kabupaten Deliserdang Tahun Pembelajaran 2010 - 2011”.Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri No 101801 Kedaidurian
Kecamatan Delitua Kabupaten Deliserdang pada siswa kelas V semester
ganjil tahun pelajaran 2010 – 2011 dengan siswa berjumlah 35 orang.Hasil
evaluasi menunjukkan terdapat kenaikan yang tuntas belajar dari 23 siswa
(65,71%) pada pra tindakan menjadi 27 siswa (77,14 %) pada siklus I, dan
menjadi 30 siswa (85,71%) pada siklus II. Hipotesis tindakan yang
menyatakan bahwa “Jika strategi Active Learning (Bermain Peran)
digunakan, maka kemampuan memerankan tokoh drama siswa kelas V SD
Negeri No.101801 Delitua Kabupaten Deliserdang akan meningkat”, dapat
diterima.Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kepada para guru agar
semakin aktif dan kreatif dalam memilih model dalam kegiatan belajar
mengajar agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kepada Kepala
Sekolah hendaknya dapat mengambil kebijakan tentang perlunya setiap guru
menjadi seorang fasilitator yang inspiratif, agar motivasi belajar siswa juga
semakin meningkat. Selain itu kepada Kepala Sekolah hendaknya dapat
mengusahakan agar ketersediaan sarana yang menunjang pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
terus ditingkatkan.
Kata Kunci :Strategi, BermainPeran, Drama, danPembelajaranAktif
LATAR BELAKANG MASALAH
Penyelenggaraan pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama
antara pemerintah, masyarakat dan
keluarga. Masing-masing memiliki
peran yang sangat besar dalam
rangka
mewujudkan
tujuan
pendidikan. Kesadaran orang tua,
dan masyarakat dalam mendukung
pelaksanaan kegiatan pendidikan
sangat diperlukan. Setiap orang tua
harus mampu memberikan motivasi
yang besar kepada anak-anaknya
untuk
mengikuti
kegiatan
pembelajaran di sekolah. Sedangkan
warga masyarakat juga harus dapat
menciptakan kondisi lingkungan
yang kondusif sehingga setiap anak
selalu
berusaha
untuk
dapat
melakukan kegiatan belajar dengan
aman dan nyaman. Ada beberapa hal
119
yang menjadi indikator keberhasilan
pendidikan di sekolah.
Strategi dan metode mengajar
menjadi salah satu bagian yang
terpenting
dalam
proses
pembelajaran,
khususnya
pada
pelajaran bahasa Indonesia. Jika
mata pelajaran ini disampaikan
dengan cara-cara yang kurang
menarik, penggunaan strategi dan
metode mengajar yang monoton dan
kurang variasi, maka kejenuhan
siswa akan lebih cepat muncul,
akibatnya motivasi belajar siswa
rendah
dalam
menerima
pembelajaran. Dengan motivasi yang
rendah, sangat sulit bagi guru
maupun siswa untuk dapat mencapai
tujuan
pembelajaran
yang
diharapkan.
Ditambah lagi pada pelajaran
bahasa Indonesia, dengan materi
pelajaran yang cukup luas karena
dalam
pembelajaran
bahasa
Indonesia ada 4 aspek berbahasa
yang harus dikuasai oleh siswa yaitu;
menyimak, berbicara, menulis dan
membaca. Sementara, tidak semua
guru yang mengajarkan bahasa
Indonesia menguasai keempat aspek
berbahasa itu.
Di SDN 101801 Kedaidurian
Kecamatan Delitua misalnya, sesuatu
yang memprihatinkan terjadi, guru
menyampaikan apa adanya, apa yang
dibenaknya, tanpa menyadari bahwa
bahasa Indonesia terus mengalami
perkembangan. Disamping itu, faktor
sosial ekonomi siswa yang kurang
mendukung, sebab sebahagian besar
pekerjaan orang tua murid adalah
buruh harian. Faktor kurang gizi dan
kurang motivasi belajar dari guru dan
orang tua. Siswa sering tidak masuk
sekolah dengan sebab yang tidak
jelas. Sementara, guru dalam
menyampaikan pembelajaran masih
menggunakan cara lama yaitu secara
konvensional. Hal yang tersebut
diatas menjadi sebab mengapa di
Sekolah Dasar Negeri 101801 kelas
V selalu saja nilai pembelajaran
bahasa Indonesia masih kurang
memuaskan, masih sangat rendah.
Khususnya dalam memerankan
tokoh drama. Melihat kondisi riil di
sekolah tersebut, diperlukan usaha
dari guru untuk dapat meningkatkan
aktifitas belajar siswa. Dengan jalan
memilih metode atau strategi
pembelajaran yang tepat diharapkan
siswa tertarik dengan pelajaran
bahasa
Indonesia
dan
dapat
mengikuti pembelajaran dengan
baik. Salah satu untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa adalah dengan
menggunakan
strategi
Active
Learning (Bermain Peran).
Strategi Active Learning
(Bermain Peran) merupakan usaha
yang dikemas agar dapat mendorong
siswa untuk lebih menguasai materi
pelajaran.
Dengan
penggunaan
Strategi Active Learning (Bermain
Peran) yang dirancang secara matang
dan dilaksanakan secara tepat,
diharapkan dapat mendorong siswa
lebih meningkatkan persiapan dalam
menerima pelajaran.
120
Strategi Active Learning
(Bermain Peran) merupakan strategi
pembelajaran yang dirancang secara
khusus untuk memberikan terapi atas
kemalasan siswa dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar di kelas.
Dampak strategi Active Learning ini
adalah siswa akan selalu berusaha
untuk menyiapkan diri sebaikbaiknya dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar di sekolah. strategi
Active Learning mengacu pada
peserta didik yang lebih dominan
selama proses pembelajaran dan guru
sebagai fasilitator.
Salah satu metode mengajar
yang dapat menumbuhkan motivasi
siswa untuk lebih aktif dalam
mengikuti kegiatan belajar mengajar
adalah bermain Peran. Metode
bermain peran mengajak siswa
berperan langsung dalam kegiatan
pembelajaran. Pembelajaran ini
membutuhkan pengalaman yang luas
dari siswa. Melalui strategi Active
Learning (Bermain Peran) yang
dilaksanakan dengan baik dan
sinergis,
siswa
lebih
mudah
memahami materi pelajaran yang
disajikan. Strategi ini meningkatkan
penguasaan konsep materi pelajaran
bahasa Indonesia dan mampu
membangkitkan minat belajar siswa.
SD Negeri 101801 Kedaidurian
Kecamatan
Delitua
Kabupaten
Deliserdang, dalam beberapa kali
ulangan bahasa Indonesia selalu
mendapat nilai rendah khususnya
untuk materi memerankan tokoh
drama. Peneliti hanya mengambil
sampel dalam tiga kali hasil belajar
terakhir
Berdasarkan uraian tersebut,
penulis ingin menindaklanjutinya
dengan
melakukan
penelitian
tindakan
kelas
dengan
judul
“Peningkatan
Kemampuan
Memerankan Tokoh Drama Melalui
Strategi Active Learning (Bermain
Peran) Siswa Kelas V SDN 101801
Kedaidurian Kecamatan Delitua
Kabupaten
Deliserdang
Tahun
Pembelajaran 2010 - 2011”.
TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan
Rumusan
masalah di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah: Meningkatkan
kemampuan memerankan tokoh
drama melalui Penerapan strategi
Active Learning (Bermain Peran)
siswa kelas kelas V SDN.101801
Kedaidurian Kecamatan Delitua
Kabupaten
Deliserdang
Tahun
Pembelajaran 2010 - 2011
TINJAUAN TEORI
Pembelajaran aktif adalah
segala bentuk pembelajaran yang
memungkinkan
siswa
berperan
secara
aktif
dalam
proses
pembelajaran itu sendiri baik dalam
bentuk interaksi antar siswa maupun
siswa dengan guru dalam proses
pembelajaran tersebut.
Menurut
pembelajaran
Bonwell (1995),
aktif
memiliki
121
karakteristik sebagai berikut: 1)
Penekanan proses pembelajaran
bukan pada penyampaian informasi
oleh
guru
melainkan
pada
pengembangan
ketrampilan
pemikiran analitis dan kritis terhadap
topik atau permasalahan yang
dibahas, 2) Siswa tidak hanya
mendengarkan pembelajaran secara
pasif tetapi mengerjakan sesuatu
yang berkaitan dengan materi
pembelajaran, 3) Penekanan pada
eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap
berkenaan
dengan
materi
pembelajaran, 4)
Siswa
lebih
banyak dituntut untuk berpikir kritis,
menganalisa
dan
melakukan
evaluasi, 5) Umpan balik yang lebih
cepat akan terjadi pada proses
pembelajaran.
perbedaan antara pendekatan
pembelajaran
Active
Learning
(belajar aktif) dan pendekatan
pembelajaran konvensional, yaitu :
Tabel 1 Perbandingan Pendekatan
Pembelajaran
Pembelajaran
Konvensional
Pembelajaran
Aktif
Berpusat pada
guru
Berpusat pada anak
didik
Penekanan
Penekanan pada
pada menerima menemukan
pengetahuan
Kurang
menyenangkan
Sangat
menyenangkan
Kurang
memberdayaka
n semuaindera
Membemberdayak
an semua
indera dan potensi
Pembelajaran
Konvensional
Pembelajaran
Aktif
dan potensi
anak didik
anak didik
Menggunakan
metode yang
monoton
Menggunakan
banyak metode
Kurang banyak Menggunakan
media yang
banyak media
digunakan
Tidak perlu
Disesuaikan
disesuaikan
denganpengetahua
dengan
n yang sudah ada
pengetahuan
yang sudah ada
Perbandingan di atas dapat
dijadikan bahan pertimbangan dan
alasan untuk menerapkan strategi
pembelajaran
Active
Learning
(belajar aktif) dalam pembelajaran di
kelas. Selain itu beberapa hasil
penelitian yang ada menganjurkan
agar anak didik tidak hanya sekedar
mendengarkan saja di dalam kelas.
Mereka perlu membaca, menulis,
berdiskusi
atau
bersama-sama
dengan anggota kelas yang lain
dalam memecahkan masalah. Yang
paling penting adalah bagaimana
membuat anak didik menjadi aktif,
sehingga mampu pula mengerjakan
tugas-tugas yang menggunakan
kemampuan berpikir yang lebih
tinggi,
seperti
menganalisis,
membuat sintesis dan mengevaluasi.
Dalam
konteks
ini,
maka
ditawarkanlah strategi-strategi yang
berhubungan dengan belajar aktif.
Dalam arti kata menggunakan teknik
122
Active Learning (belajar aktif) di
kelas menjadi sangat penting karena
memiliki pengaruh yang besar
terhadap belajarsiswa.
metode Role-Play dapat
membantu siswa untuk memahami
suatu masalah. Selain itu juga dapat
mengubah sikap atau perilaku yang
kurang baik dalam diri siswa.
Dengan Role-Play akan muncul
secara alami sikap-sikap yang kurang
baik maupun yang baik dalam diri
siswa. Sehingga setiap guru dapat
memberikan koreksi yang mendalam
terhadap sikap tersebut.
Selanjutnya disebutkan oleh
Slameto
(1991:105)
tentang
keunggulan dan kekurangan metode
Role-Play.Keunggulan: 1) Segera
mendapat perhatian, 2) Dapat dipakai
pada kelompok besar maupun kecil,
3) Membantu anggota untuk
menganalisa situasi,4) Menambah
rasa percaya diri pada peserta, 5)
Membantu anggota dan siswa
menyelami masalah, 6) Membantu
anggota mendapat pengalaman yang
ada pada pikiran orang lain, 7)
Membangkitkan minat dan
perhatian pada saat untuk pemecahan
masalah.Kekurangan: 1) Mungkin
masalahnya
disatukan
dengan
pemerannya. 2) Banyak yang tidak
senang memerankan sesuatu yang
salah, 3) Membutuhkan pemimpin
yang terlatih, 4) Terbatas pada
beberapa situasi saja, 5) Ada
kesulitan dalam memerankan
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan di SD Negeri No.
101801 Delitua Kabupaten Deli
Serdang, kelas V, dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia. Jumlah
siswa ada 35 siswa. Penelitian
dilaksanakan
dalam
Tahun
Pembelajaran 2010 – 2011 semester
ganjil,
Pelaksanaan tindakan dan
pengamatan dalam penelitian ini
dibagi dalam 2 siklus. Setiap siklus
dibagi dalam tiga kali pertemuan.
Bagan 1 Skema Penelitian
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini ada
beberapa instrumen yang digunakan
untuk menjaring data penelitian,
antara lain: pedoman observasi,
dokumen, dan catatan lapangan.
Instrumen penelitian disusun secara
fleksibel dengan harapan agar segala
bentuk permasalahan yang mungkin
timbul
dapat
dicarikan
jalan
keluarnya dengan cepat dan tepat.
123
Instrumen penelitian tindakan
kelas
yang
digunakan
untuk
menjaring data adalah berupa:
Lembar Observasi Bermain Peran
menunjukkan simpati, Menerima
tanggung
jawab,
Mendorong
partisipasi, Membuat kesan untuk
tiap materi yang diterima
Instrumen ini berisi tentang
kegiatan yang dilakukan oleh siswa,
dengan indikator sebagai berikut : 1)
Peran serta masing-masing anggota,
2)
Kesungguhan
dalam
membawakan peran, 3) Penguasaan
peran, 4) Kesesuaian dengan tujuan.
Skala penilaian yang digunakan
adalah: skor 1 = tidak baik; skor 2 =
kurang baik; skor 3 = baik; skor 4 =
sangat baik.
Skala
penilaian
yang
digunakan adalah: skor 1 = tidak
baik; skor 2 = kurang baik; skor 3 =
baik; skor 4 = sangat baik.
Untuk mengetahui seberapa
besar
tingkat
keberhasilan
pelaksanaan ketrampilan bermain
peran, digunakan kualifikasi sebagai
berikut:
Tabel 2 Kualifikasi Keterampilan
Bermain Peran
No Prosentase
1
2
3
4
0 – 50
51 – 64
65 – 84
85 – 100
Kualifikasi
Tidak baik
Kurang baik
Baik
Sangat baik
Lembar Observasi Tim
Instrumen
kerjasama
kelompok berisi tentang kegiatan
yang dilakukan oleh siswa, dengan
indikator
sebagai
berikut
:
Menghargai
kesepakatan,
Berpartisipasi
secara
aktif,
Memberikan penghargaan dengan
Untuk mengetahui seberapa
besar keberhasilan pelaksanaan
ketrampilan kerja sama siswa dalam
kelompok, digunakan kualifikasi
sebagai berikut:
Tabel 3 Kualifikasi Ketrampilan
Kerjasama Tim
No Prosentase Kualifikasi
1
0 – 50
Tidak baik
2
51 – 64
Kurang baik
3
65 – 84
Baik
4
85 – 100
Sangat baik
Teknik Analisis Data
Teknik
analisis
data
menggunakan teknik analisis data
kualitatif.
Secara garis besar
kegiatan analisis data dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai
berikut: Menelaah seluruh data yang
dikumpulkan. Penelaahan dilakukan
dengan
cara
menganalisis,
mensintesis,
memaknai,
menerangkan, dan menyimpulkan.
Kegiatan penelaahan pada prinsipnya
dilaksanakan sejak awal penjaringan
data.
Mereduksi
data
yang
didalamnya melibatkan kegiatan
pengkategorian
dan
124
pengklasifikasian.
Hasil
yang
diperoleh dapat berupa pola-pola dan
kecenderungan-kecenderungan yang
terjadi
dalam
pelaksanaan
pembelajaran dengan model bermain
peran.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil
pengamatan
tentang
kegiatan
bermain peran yang dilakukan oleh
masing-masing kelompok
yang
dilakukan pada siklus I dan siklus II,
maka dapat diketahui sebagaimana
dalam tabel berikut ini:
Kegiatan bermain peran
sebagaimana dalam tabel di atas,
dapat diuraikan bahwa rata-rata
prosentase pada siklus I sebesar
66,61 %.
Jadi kerjasama siswa
dalam kelompok sudah cukup baik
pada siklus I. Namun dalam siklus
II,
kegiatan
bermain
peran
mengalami
peningkatan,
yaitu
menjadi 70,89 %. Jadi kegiatan
bermain peran yang dilakukan sudah
termasuk baik dalam siklus II.
Dengan demikian kegiatan
bermain peran yang dilaksanakan
oleh masing-masing kelompok dalam
kegiatan pembelajaran sudah baik.
Kerjasama Di dalam Kelompok
Tabel 4 Perbandingan Kegiatan
Bermain Peran Siklus I dan II
N
o
1
2
3
4
5
Nama
Kelo
mpok
Menyi
mak
Berbic
ara
Menul
is
Memb
aca
Aktif
Jumlah
Rata-rata
Siklus I
Siklus II
Jml
%
Jml
%
72,
00
76,
00
71,
00
73,
00
81,
00
373
,00
74,
60
67,
86
70,
54
69,
64
71,
43
75,
00
333
,04
66,
61
76,
00
79,
00
78,
00
80,
00
84,
00
397
,00
79,
40
67,
86
70,
54
69,
64
71,
43
75,
00
354
,46
70,
89
Berdasarkan
hasil
pengamatan tentang kerjasama siswa
dalam kelompok yang dilakukan
pada siklus I dan siklus II, maka
dapat diketahui sebagaimana dalam
tabel berikut ini:
Tabel 5 Perbandingan
Ketrampilan Kerjasama Diskusi
Siklus I dan II
N
o
1
2
3
4
Nama
Kelo
mpok
Menyi
mak
Berbic
ara
Menul
is
Memb
aca
Siklus I
Siklus II
Jml
%
Jml
%
111
,00
115
,00
106
,00
110
,00
66,
07
68,
45
63,
10
65,
48
117
,00
120
,00
114
,00
118
,00
69,
64
71,
43
67,
86
70,
24
125
5
Aktif
Jumlah
Rata-rata
120
,00
562
,00
112
,4
71,
43
334
,52
66,
90
124
,00
593
,00
118
,6
73,
81
352
,98
70,
60
Kerjasama
siswa
dalam
kelompok diskusi sebagaimana tabel
di atas, dapat diuraikan bahwa ratarata prosentase pada siklus I sebesar
66,90 %.
Sehingga dapat
disimpulkan kerjasama siswa dalam
kelompok sudah cukup baik pada
siklus I.Namun dalam siklus II,
kerjasama siswa dalam kelompok
mengalami
peningkatan,
yaitu
menjadi 70,60 %. Jadi kerjasama
siswa dalam kelompok sudah
termasuk baik.
Dengan demikian kerjasama
siswa dalam kelompok yang
dilaksanakan
dalam
kegiatan
pembelajaran sudah baik.
Hasil Evaluasi
Berdasarkan hasil evaluasi
yang dilakukan pada pra tindakan,
siklus I, dan siklus II maka dapat
diketahui sebagaimana dalam tabel
berikut ini:
Tabel 6 Perbandingan Hasil
Evaluasi
N
o
Kegiat
an
1
Pra
Tuntas
J
ml
%
23
65,7
Belum
Tuntas
J
%
ml
12
34,2
Tindak
an
1
2
Siklus I
27
3
Siklus
II
30
77,1
4
85,7
1
9
8
5
22,8
6
14,2
9
Hasil evaluasi menunjukkan
terdapat kenaikkan yang tuntas
belajar dari 23 siswa (65,71%) pada
pra tindakan menjadi 27 siswa (77,14
%) pada siklus I, dan menjadi 30
siswa (85,71 %) pada siklus II.
Sedangkan yang belum tuntas belajar
mengalami penurunan dari 12 siswa
(34,29 %) pada pra tindakan menjadi
8 siswa (22,86 %) pada siklus I, dan
menjadi 5 siswa (14,29 %) pada
siklus II.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis
data dan pembahasan hasil penelitian
dalam bab terdahulu, dapat diuraikan
sebagai berikut :
 Prestasi belajar siswa yang
berupa kemampuan melakonkan
drama menunjukkan kenaikan,
yang ditunjukkan oleh hasil
evaluasi belajar yang tuntas
belajar dari 23 siswa (65,71%)
pada pra tindakan menjadi 27
siswa (77,14 %) pada siklus I,
dan menjadi 30 siswa (85,71%)
pada siklus II.

5Sedangkan yang belum tuntas
belajar mengalami penurunan
dari 12 siswa (34,29 %) pada pra
126
tindakan menjadi 8 siswa (22,86
%) pada siklus I, dan menjadi 5
siswa (14,29 %) pada siklus II.
Dengan
demikian
dapat
disimpulkan bahwa kegiatan belajar
mengajar dengan menggunakan
model
bermain
peran
dapat
meningkatkan penguasaan konsep
materi pelajaran bahasa Indonesia
khususnya
memerankan
tokoh
dramapada siswa kelas V SD Negeri
101801
KecamatanDelitua
Kabupaten Deli Serdangpadatahun
pelajaran 2010 – 2011.
Berdasarkan uraian di atas,
maka hipotesis tindakan yang
menyatakan bahwa “Jika strategi
Active Learning (bermain peran)
digunakan dalam pembelajaran,
maka kemampuan memerankan
tokoh drama siswa kelas VSD
Negeri101801
Kedaidurian
Kecamatan
Delitua
Kabupaten
Deliserdang Tahun Pembelajaran
2010 – 2011 akan meningkat”, dapat
diterima.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto,
Suharsini.
Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Jakarta : P.T. Rineka
Cipta, 2006.
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono,
Supardi.Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: P.T. Bumi
Aksara, 2006
Brown, G & Yule, G.Discourse
Analisis. terj. Soetikno.
Jakarta : P.T. Gramedia,
1993.
Gani, Rizanur. Respon Pengajaran
Bahasa Indonesia. Padang :
Dian Dinamika Press, 1988.
Hamalik, Umar. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : P.T.
Bumi Aksara, 2008.
Hayon,
Josep. Membaca dan
Menulis Wacana. Jakarta :
P.T. Grasindo, 2007.
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe,
Sekar Ayu Aryani. Strategi
Pembelajaran
Aktif.
Yogyakarta: CTSD, 2004.
Jihad,
Asep dan Abdul Haris.
Evaluasi
Pembelajaran.
Yogyakarta: Multi Pressindo,
2008.
Kasim, Anwar. Bimbingan Konseling
Belajar. Universitas Jakarta,
2005.
Ketetapan
MPR
RI
No.
IV/MPR/1999,
Tentang
GBHN. Surabaya: Penabur
Ilmu.
Kunandar. Guru Profesional. Jakarta
: P.T. Raja Grafindo Persada,
2007.
Lysanti, Rita Jenay. Studi Korelasi
antara Konsep Diri dan
Inteligensi dengan Hasil
Belajar Bahasa Indonesia.
Tesis : PPs UNJ, 2002.
127
Muliono, M. Anton. Buku Praktis
Bahasa Indonesia. Jakarta
Timur : Pusat Bahasa
Depdiknas, 2008.
Nurcholis, Hanif. Dkk. Saya Senang
Berbahasa Indonesia. Jakarta
: Erlangga, 2000.
Purwo, Bambang Kaswanti. PokokPokok Pengajaran Bahasa
dan Kurikulum 1994 :
Bahasa Indonesia. Jakarta :
Pusat Perbukuan Depdikbud,
1997.
Purwoko
Herujati.
Discourse
Analisis. Jakarta : P.T.
Indeks, 2008.
Pusat Bahasa Depdiknas. Kamus
Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka, 2001.
Riantiarno, N. Menyentuh Teater.
Jakarta : MU3Book, 2003.
Saiful
Rachman, Yoto, Syarif
Suhartadi, Suparti. Penelitian
Tindakan
Kelas
dan
Penulisan Karya Ilmiah.
Surabaya: SIC Bekerjasama
Dengan Dinas P dan K
Provinsi Jawa Timur,2006.
San, Suyadi. Telaah Drama Konsep
Teori dan Kajian. Medan :
Media Persada, 2004.
Soetomo. Dasar-dasar Interaksi
Belajar Mengajar. Surabaya:
Usaha Nasional,1993.
Soemanto, Wasty.
Psikologi
Pendidikan. Jakarta : P.T.
Rineka Cipta, 2006.
Sudjana, Nana. Dasar-dasar Proses
Belajar Mengajar. Bandung :
Sinar Baru, 1989.
Sudjana. Metode Statistika. Bandung
: Tarsito, 2005.
Suryaman, Maman. Bahasa dan
Sastra Indonesia. Jakarta :
P.T. Bumi Aksara, 2009
Suyatno, H. Dkk. Indahnya Bahasa
dan Sastra Indonesia kelas 5.
Jakarta : P.T. Mentari
Pustaka, 2008.
Triningsih, Diah Erna. Teknik
Berbicara. Jakarta : Intan
Pariwara, 2008.
Triningsih, Diah Erna. Berani
Bicara. Jogjakarta: C.V.
Kompetensi Terapan Sinergi
Pustaka, 2007.
Tukan, Paulus. Mahir Berbahasa
Indonesia 2. Jakarta : P.N.
Yudhistira, 2005. S
Slameto. Proses Belajar Mengajar
Dalam
Sistem
Kredit
Semester (SKS). Jakarta:
Bumi Aksara,1991.
128
Download