Fenomena Price Reversal: Analisis Overreaction Hypothesis (Studi

advertisement
FENOMENA PRICE REVERSAL: ANALISIS OVERREACTION
HYPOTHESIS
(Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di BEI)
Adhika Restu Setyawati
LATAR BELAKANG PENELITIAN
Pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga
sekuritas-sekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relevan (Husnan,
1996). Harga saham akan
merespon secara cepat dan akurat saat menerima
informasi baru. Hal ini disebabkan karena investor menggunakan semua informasi
yang relevan dalam penetapan harga. Sehingga investor tidak mungkin
mengetahui antara investasi yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan
pada masa yang akan datang berdasarkan karakteristik-karakteristik saat ini
(Haugen, 1993: 648, dalam Kusumawardhani, 2001). Dengan kata lain, investor
tidak mungkin dapat mengidentifikasi suatu pola tertentu yang dapat digunakan
untuk memprediksi harga suatu saham.
Efficient Market Hypothesis (EMH) merupakan hipotesis pasar modal
yang menjelaskan bahwa harga suatu saham akan selalu tercermin dari informasi
yang tersedia di pasar. Hipotesis ini telah lama menjadi salah satu isu dalam
penelitian keuangan karena di pasar modal sering terjadi gejala yang bertentangan
dengan konsep tersebut. Ahli ekonomi mulai percaya bahwa harga saham dapat
diprediksi berdasarkan pola tertentu di masa lalu (Malkiel, 2003). Pendapat
tersebut memunculkan permasalahan tentang keberadaan pasar efisien. Zarowin
(1990), Choi dan Jayaraman (2005), Leung (2009) dan Yull dan Kirmizi (2012).
merupakan beberapa peneliti mengemukakan bahwa saham-saham dengan kinerja
buruk akan berubah menjadi baik pada periode berikutnya. Fenomena pembalikan
ini berlawanan dengan karakteristik pasar modal yang efisien.
1
Akibat adanya pembalikan tersebut, banyak peneliti yang kemudian
merujuk pada hipotesis reaksi berlebihan (overreaction hypothesis) (Yull dan
Kirmizi, 2012). Menurut DeBondt dan Thaler (1985), pembalikan harga (price
reversal) ke arah yang berlawanan menandakan bahwa pasar telah bereaksi secara
berlebihan terhadap informasi. Investor cenderung menetapkan harga terlalu
tinggi sebagai reaksi terhadap informasi yang dinilai positif. Sebaliknya, investor
akan menetapkan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap informasi yang
dinilai negatif. Overreaction investor tersebut menyebabkan pembentukan dan
pergerakan harga saham menjadi abnormal. Selanjutnya pasar akan mengoreksi
melalui pembalikan harga sampai tingkat keseimbangan tercapai.
Kusumawardhani (2001) menyatakan bahwa pembalikan harga (price
reversal) harga saham dapat berubah dan diikuti oleh perubahan kembali ke arah
yang berlawanan. Kenaikan harga secara signifikan akan diikuti dengan
penurunan harga pada periode selanjutnya akibat overreaction. Hal ini
menunjukkan bahwa pasar dalam kondisi yang tidak efisien. Apabila pernyataan
tersebut benar, maka strategi kontrarian diterapkan yaitu dengan membeli saham
yang baru saja berkinerja buruk dan menjual saham pada saat kinerjanya bagus.
Beberapa penelitian terdahulu juga menemukan adanya karakteristik lain
terkait dengan pembalikan harga dalam kaitannya dengan overreaction, antara
lain ukuran perusahaan (firm size) dan likuiditas. Ukuran perusahaan
menunjukkan nilai pasar dari ekuitas perusahaan, sedangkan likuiditas dikaitkan
dengan elastisitas harga yang ditunjukkan oleh volume perdagangan saham.
Kedua faktor tesebut berpengaruh terhadap kondisi pasar saham dalam hal
perubahan ekuitas perusahaan akibat perubahan jumlah saham yang beredar dan
perubahan volume perdagangan. Kedua faktor tersebut juga merupakan faktor
yang menjadi pertimbangan para investor dalam melakukan investasi, terutama
berkaitan dengan informasi positif dan negatif. Informasi tersebut akan
mendorong investor untuk bereaksi berlebihan dan pada akhirnya menyebabkan
pembalikan harga.
Penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990) misalnya, menguji kembali
penemuan DeBondt dan Thaler (1985) tentang keberadaan reaksi berlebihan.
2
Zarowin (1990) menemukan bahwa fenomena pembalikan tidak semata-mata
karena overreaction dari investor, tetapi hal tersebut dipengaruhi oleh firm size.
Size dari perusahaan loser rata-rata lebih kecil dari winner, sehingga fenomena
yang ditemukan oleh DeBondt dan Thaler muncul karena pengaruh firm size,
bukan karena fenomena reaksi berlebihan.
Benou dan Richie (2003) meneliti adanya price reversal setelah adanya
penurunan harga pada perusahaan Amerika Serikat yang termasuk perusahaanperusahaan mapan yang tercatat di indeks S&P 100 mulai Mei 1990 hingga Mei
2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembalikan harga tersebut memang
disebabkan oleh overreaction. Lebih lanjut penelitian tersebut juga menyimpulkan
bahwa lama waktu pembalikan harga tergantung pada jenis perusahaan.
Di
Indonesia
penelitian
tentang
overreaction
dilakukan
oleh
Kusumawardhani (2001). Hasil penelitian menyatakan overreation hanya terjadi
pada saham loser dan pembalikan harga saham tersebut terjadi dalam waktu 5
hari. Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yull dan
Kirmizi (2012) terhadap saham saham yang diperdagangkan di BEI selama tahun
2007-2010. Yull dan Kirmizi (2012) menyatakan bahwa saham-saham winner
tidak menunjukkan adanya overreaction. Overreaction hanya tejadi pada saham
loser yang kemudian diikuti dengan koreksi harga dalam waktu 2 hari.
Dinawan (2007) juga menguji adanya overreaction di Bursa Efek
Indonesia pada periode 2007-2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
price reversal terjadi pada saham winner maupun loser yang ditandai dengan
adanya overreaction. Yang membedakan adalah jangka waktu pembalikan harga
untuk kedua saham jenis tersebut. Saham winner mengalami periode pembalikan
selama 13 hari, sedangkan saham loser periode pembalikannya lebih pendek yaitu
selama 5 hari.
Beberapa hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa terdapat berbagai
pendapat
mengenai
overreaction
dan
fenomena
price
reversal
serta
mengindikasikan bahwa fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia. Selanjutnya
penelitian ini mengembangkan penelitian-penelitian tersebut dengan melihat
ketajaman overreaction dan perbedaan karakteristik perusahaan dalam hal firm
3
size dan likuiditas antara perusahaan yang termasuk dalam saham winner dan
loser. Periode observasi yang digunakan yaitu 4 tahun mulai Januari 2010 hingga
bulan Desember tahun 2013 pada saham-saham yang tercatat di BEI. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perusahaan dalam
mengetahui seberapa besar kemungkinan adanya overreaction dan pembalikan
harga saham, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan
penawaran saham. Sedangkan bagi pelaku pasar, hasil penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk
berinvestasi di pasar modal.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka beberapa persoalan yang ingin
dijawab dalam penelitian ini antara lain:
1.
Apakah terdapat hubungan antara reaksi berlebihan (overreaction)
investor yang menyebabkan terjadinya fenomena price reversal?
2.
Bagaimana ketajaman overreaction saham winner dan saham loser?
3.
Berapa lama waktu terjadi pembalikan harga saham winner dan loser pada
saat terjadi overreaction?
4.
Bagaimana karakteristik perusahaan (firm size dan likuiditas) untuk saham
winner dan loser pada saat terjadi overreaction?
4
KAJIAN PUSTAKA
Hipotesis Pasar Efisien
Konsep pasar efisien pertama kali dikemukakan oleh Eugene F. Fama
(1970). Suatu pasar dikatakan efisien apabila tidak ada investor yang dapat
memperoleh return tidak normal (abnormal return), setelah disesuaikan dengan
risiko, dengan menggunakan strategi perdagangan yang ada. Harga-harga yang
terbentuk di pasar merupakan cerminan dari informasi yang ada atau “stock prices
reflect all available information” (Fama, 1970). Penekanannya terletak pada dua
aspek, yaitu fully reflect dan information available. Fully reflect menunjukkan
harga-harga sekuritas dapat mencerminkan informasi yang ada secara akurat.
Sedangkan information available menunjukkan ketersediaan informasi. Sehingga,
informasi yang tersedia dapat digunakan investor untuk mengekspektasi harga
sekuritas dengan akurat (Yull dan Kirmizi, 2012).
Dalam mempelajari konsep pasar efisien, tingkat efisiensi pasar modal
ditentukan oleh sejauh mana dan seberapa cepat informasi tersebut dapat
mempengaruhi pasar yang tercermin dalam perubahan harga sekuritas
(Kusumawardhani, 2001). Terkait dengan hal tersebut, Haugen (2001) membagi
kelompok informasi menjadi tiga, yaitu (1) informasi harga saham masa lalu
(information in past stock prices), (2) semua informasi publik (all public
information) dan (3) semua informasi yang ada termasuk informasi orang dalam
(all available information including inside or private information). Masingmasing kelompok informasi tersebut nantinya akan mencerminkan sejauh mana
tingkat efisiensi suatu pasar.
Reaksi Harga Saham terhadap Informasi
Pasar dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas tidak terlalu jauh
menyimpang dari nilai instrinsiknya. Hal ini disebabkan karena informasi dapat
ditangkap oleh investor secara jelas, sehingga tidak terjadi kesalahan penetapan
harga dan harga saham akan berfluktuasi dalam batas tertentu dari nilai
sesungguhnya (Yull dan Kirmizi, 2012).
5
Fama (1970) mendefinisikan pasar efisien sebagai suatu pasar sekuritas
yang harga-harga sekuritasnya mencerminkan secara penuh informasi yang
tersedia. Pendapat berbeda dikemukakan oleh Beaver (1989) yang mengatakan
bahwa pasar efisien jika harga-harga sekuritas bertindak mengamati sistem
informasi yang ada. Beaver mengasumsikan bahwa investor bisa mempunyai
ekspektasi yang berbeda terhadap informasi yang ada. Adanya perbedaan
informasi diantara pelaku pasar tersebut dapat menimbulkan inefisiensi pasar.
Perbedaan informasi tersebut diakibatkan karena pelaku pasar cenderung
menitikberatkan informasi terkini dan mengabaikan informasi di masa lalu. Hal
ini menunjukkan adanya pemikiran investor yang tidak rasional (Yull dan
Kirmizi, 2012). Selanjutnya, reaksi berlebihan ini kemudian disadari investor
sehingga melakukan koreksi terhadap tindakan tersebut (Dinawan, 2007).
Fenomena Price Reversal (Pembalikan Harga)
Price reversal atau pembalikan harga merupakan perubahan harga saham
karena investor melakukan kesalahan dalam menetapkan harga saham
(misspricing) (Santosa, 2010). Fenomena price reversal terjadi ketika harga saham
bergerak secara eksesif menjauhi nilai intrinsiknya. Saham yang telah mengalami
kenaikan atau penurunan harga akan terus mengalami kenaikan atau penurunan
harga walaupun tidak ada informasi baru yang berkaitan dengan fundamental
perusahaan. Momentum harga tersebut akan berhenti dan diikuti pembalikan
akibat koreksi harga oleh para investor. Hal tersebut membuktikan bahwa harga
saham tidak selalu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan sehingga investor
dapat memperoleh abnormal profit dari kondisi tersebut. Faktor psikologis
investor cenderung mendorong terjadinya mispricing pada saham-saham yang
relatif sulit untuk diprediksi seperti saham perusahaan kecil atau perusahaan yang
rentan terhadap kondisi eksternal. Keberhasilan memprediksi harga dalam jangka
pendek dapat menimbulkan overconfidence yang mendorong investor melakukan
strategi investasi tertentu, salah satunya strategi kontrarian (Yill dan Kirmizi,
2012).
6
Faktor-faktor yang mempengaruhi Price Reversal
Overreaction
hypothesis
merupakan
anomali
yang
pertama
kali
dikemukakan oleh De Bondt dan Thaler (1985). Penelitian ini pada dasarnya
menyatakan bahwa pasar bereaksi berlebihan dan tidak tepat sebanding dengan
informasi baru. Saham yang sebelumnya berkinerja buruk (loser) pada periode
selanjutnya berkinerja baik dengan abnormal return positif. Sedangkan sahamsaham yang tadinya berkinerja baik (winner) pada periode selanjutnya mengalami
kinerja yang buruk dengan abnormal return negatif. Hal ini dilanjutkan dengan
adanya koreksi berupa fenomena pembalikan (reversal) pada periode selanjutnya.
De Bondt dan Thaler (1985) juga mengemukakan bahwa pada dasarnya pasar
telah bereaksi secara berlebihan terhadap suatu informasi. Jika informasi yang
diterima dianggap baik, investor akan menilai saham terlalu tinggi dan segera
membeli dalam jumlah banyak dengan harapan memperoleh profit. Begitu juga
sebaliknya, ketika informasi yang diterima dianggap buruk, investor akan menilai
saham terlalu rendah dan ingin menjual saham yang dimiliki untuk
meminimalisasi kerugian. Peristiwa tersebut yang dinamakan overreaction.
Reaksi yang berlebihan tersebut terjadi karena pengambilan keputusan
investor didasari oleh emosi, pengalaman dan intuisi mereka (Mutiara, 2012).
Beberapa teori umum memang menyebutkan bahwa perilaku investor cenderung
untuk bereaksi terlalu berlebihan (overreact) terhadap peristiwa-peristiwa luar
biasa, informasi baru, dan cenderung mengabaikan informasi lama (Jones, 2000).
Informasi-informasi tersebut bersifat tidak terduga dan dramatis. Ketika pasar
bereaksi berlebihan, saham akan menjadi underpriced dan saham winner juga
akan menjadi overpriced. Berdasarkan peristiwa tersebut pembalikan harga dapat
diprediksi, sehingga adanya overreaction memungkinkan investor mendapatkan
keuntungan dari adanya abnormal return.
Fama (1970) mendefinisikan pasar efisien sebagai suatu pasar sekuritas
yang harga-harga sekuritasnya mencerminkan secara penuh informasi yang
tersedia sehingga tidak ada investor yang dapat memperoleh return tidak normal.
Terdapat tiga tingkat efisiensi pasar modal yang ditunjukkan oleh reaksi pasar
terhadap suatu informasi berdasarkan jenis informasi yang ada, antara lain
7
efisiensi bentuk lemah berdasarkan informasi historis, efisiensi bentuk setengah
kuat berdasarkan informasi terpublikasi dan efisiensi bentuk kuat berdasarkan
informasi privat. Overreaction yang memberikan kemungkinan bagi investor
untuk mendapatkan abnormal return menunjukkan bahwa pasar sebenarnya tidak
selalu dalam kondisi yang efisien. Sedangkan abnormal return yang terjadi akibat
suatu event menunjukkan bahwa pasar tidak efisien dalam bentuk setengah kuat.
Beberapa literatur mengaitkan overreaction dengan kemampuan investor
dalam menduga kecenderungan harga di pasar (behavioral finance). Barberis dan
Thaler (2003) dalam Bodie, Kane, dan Marcus (2008) menjelaskan behavioral
finance sebagai sebuah model pasar keuangan yang menekankan akibat dari faktor
psikologis yang mempengaruhi perilaku investor. De Bont dan Thaler (1995) juga
mengemukakan bahwa investor sering mengikuti pemikiran optimisme dan
pesimisme
mereka
sehingga
menyebabkan
pergerakan
harga
menjadi
menyimpang dari nilai fundamentalnya. Investor akan terlalu percaya pada
kemampuannya meramalkan harga saham. Hal ini dapat dibuktikan dari tetap
mendominasinya strategi manajemen aktif meskipun kinerja dari dana yang
dikelola secara aktif telah menunjukkan hasil yang mengecewakan.
Faktor lain yang diamati ketika terjadi price reversal antara lain ukuran
perusahaan (firm size). Menurut Zarowin (1990) firm size didefinisikan sebagai
ukuran perusahaan atau nilai pasar dari ekuitas perusahaan. Nilai pasar mengacu
pada kapitalisasi pasar atau nilai saham perusahaan yang beredar di pasaran.
Harga saham inilah yang menyatakan naik turunnya suatu saham. Jika harga
saham perusahaan naik, otomatis nilai perusahaan tersebut juga naik.
Menurut Agnes Sawir (2004:101-102 dalam Dewi, 2010), ukuran
perusahaan dapat menentukan tingkat kemudahan perusahaan memperoleh dana
dari pasar modal. Perusahaan kecil umumnya kekurangan akses ke pasar modal,
baik untuk obligasi maupun saham. Biaya peluncuran dari penjualan sejumlah
sekuritas juga menjadi penghambat. Jika penerbitan sekuritas dapat dilakukan,
sekuritas perusahaan kecil mungkin kurang dapat dipasarkan sehingga
membutuhkan penentuan harga tersendiri agar investor mendapatkan hasil yang
memberikan return lebih tinggi. Banyaknya keterbatasan tersebut menyebabkan
8
informasi yang dimiliki perusahaan kecil lebih sedikit dibandingkan dengan
perusahaan besar. Sehingga ketika perusahaan kecil mengeluarkan informasi
penting, reaksi investor akan lebih sensitif dibandingkan ketika informasi tersebut
dikeluarkan oleh perusahaan besar. Ketika perusahaan kecil mengeluarkan
informasi tertentu, hal tersebut cenderung akan mendorong perilaku overreaction
investor.
Penelitian Kang, Liu dan Ni (2002) juga menyimpulkan bahwa
kecenderungan investor untuk bereaksi berlebihan dipengaruhi oleh besar
kecilnya kapitalisasi pasar, dominasi investor tertentu dan kesenjangan informasi
pasar, terutama pada perusahaan kecil. Perusahan kecil yang hanya mempunyai
sedikit informasi menyebabkan investor menggunakan data masa lalu dan isu-isu
pasar untuk memprediksi harga. Sehingga semakin kecil ukuran perusahaan, maka
return saham perusahaan tersebut akan semakin besar pada hari pembalikan
harga.
Likuiditas saham tercermin dari volume transaksi perdagangan saham
tersebut di pasar modal (Wira dan Afriyani, 2008). Semakin tinggi fluktuasi
saham, semakin tinggi juga tingkat likuiditas saham tersebut. Tingginya frekuensi
transaksi berdampak pada peningkatan minat investor terhadap saham tersebut.
Minat yang tinggi diakibatkan karena semakin tinggi tingkat likuiditas saham,
semakin tinggi kemungkinan untuk mendapatkan return dibandingkan saham yang
likuiditasnya rendah (Yull dan Kirmizi, 2012). Sehingga hal tersebut berdampak
pada kenaikan dan penurunan harga saham.
Terkait dengan analisis overreaction hypothesis, tindakan sharesplit yang
dilakukan perusahaan dapat mengakibatkan peningkatan signifikan pada
permintaan saham tersebut. Tindakan sharesplit akan berdampak pada penurunan
harga saham, disertai dengan kenaikan jumlah saham secara proporsional (Rusliati
dan Farida, 2010). Investor mungkin merespon tindakan tersebut dengan
menyusun kembali portofolio investasinya berdasarkan berbagai pertimbangan.
Investor akan beranggapan kenaikan aktifitas perdagangan pada saham tersebut
akan kembali memicu kenaikan harga, dan pada akhirnya return saham. Pada
periode selanjutnya terjadi koreksi pasar dengan adanya pembalikan.
9
Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan price reversal dalam kaitannya
dengan overreaction salah satunya dilakukan oleh Kusumawardhani (2001). Hasil
penelitian menyatakan
overreation hanya terjadi pada kategori saham loser
dengan periode pembalikan selama 5 hari. Hasil tersebut didukung oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Yull dan Kirmizi (2012) terhadap saham saham
yang diperdagangkan di BEI selama tahun 2007-2010. Periode pembalikan saham
loser dalam hasil penelitian Yull dan Kirmizi lebih singkat, yaitu selama 2 hari.
Wibowo dan Sukarno (2004) meneliti tentang overreaction dengan melihat
ukuran perusahaan. Wibowo dan Sukarno menguji saham harian di Bursa Efek
Indonesia. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan
antara ukuran perusahaan saham winner dan loser, baik perusahaan kecil maupun
perusahaan besar ketika terjadi momentum overreaction. Dalam penelitian
tersebut juga dikemukaan bahwa terdapat kecenderungan saham loser untuk
menjadi winner, tetapi tidak sebaliknya.
Sukmawati dan Hermawan (2003) melakukan penelitian mengenai
overreaction hypothesis dengan cara membentuk enam portofolio dimana
portofolio tersebut terdiri dari tiga portofolio golongan loser dan tiga portofolio
golongan winner. Selanjutnya, penelitian tersebut menguji keberadaan reaksi
berlebihan untuk memprediksikan apakah pola portofolio loser mengungguli pola
portofolio winner. Mereka menemukan bahwa portofolio loser terbukti
mengungguli portofolio winner dan terjadi secara terpisah selama beberapa waktu.
Dinawan (2007) juga menguji adanya overreaction di Bursa Efek
Indonesia pada periode 2007-2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
price reversal terjadi pada saham winner maupun loser. Pembalikan harga pada
hari peristiwa, baik peristiwa kenaikan maupun penurunan harga terjadi akibat
dari reaksi berlebihan investor. Derajat overreaction saham winner yang lebih
besar dibandingkan dengan loser menyebabkan periode pembalikan harga saham
winner lebih lama dibandingkan dengan saham loser.
10
Pengembangan Hipotesis
Hubungan Overreaction Hypothesis dengan Price Reversal
De Bond and Thaler (1985) menyatakan bahwa pada dasarnya pasar telah
bereaksi secara berlebihan terhadap suatu informasi. Sekuritas kategori loser yang
biasanya memiliki return rendah justru akan mempunyai abnormal return tinggi,
sedangkan sekuritas yang termasuk kategori winner justru mempunyai abnormal
return yang rendah (Sukmawati dan Hermawan, 2003). Anomali pasar ini disebut
hipotesis reaksi berlebihan (overreaction hypothesis).
Ketika terdapat informasi yang menyebabkan perilaku investor menjadi
overreaction pembentukan dan pergerakan harga saham menjadi abnormal.
Selanjutnya harga terkoreksi sehingga terjadi pembalikan harga (price reversal)
karena harga saham terkoreksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa overreaction
dapat diketahui melalui adanya pembalikan harga setelah munculnya suatu
informasi baru (Yill dan Kirmizi, 2012).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
H1: Terdapat hubungan antara reaksi berlebihan (overreaction) dari
investor dengan fenomena price reversal.
11
METODE PENELITIAN
Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode penelitian, yaitu selama tahun 2010 –
2013. Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan non probability
random sampling dengan metode purposive sampling. Dasar yang digunakan
untuk pengambilan sampel adalah populasi yang memenuhi kriteria tertentu.
Kriteria-kriteria tersebut antara lain:
1. Saham tersebut termasuk saham yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek
Indonesia (BEI) berturut-turut dari awal 2010 sampai dengan akhir 2013.
Suatu saham dapat dikatakan aktif diperdagangkan apabila frekuensi
perdagangan dalam tiga bulan lebih dari 75 kali (berdasarkan surat edaran
PT. BEJ No. SE- 03/BEJ II/1/1/94).
2. Data saham perusahaan yang termasuk sampel harus tersedia. Apabila
terdapat ketidaktersediaan data, maka saham tersebut dikeluarkan dari
sampel.
3. Pada portofolio winner, sampel harga saham perusahaan diambil jika
harga tersebut mengalami kenaikan harian diatas rata-rata penurunan harga
saham pada hari peristiwa (
.
4. Pada portofolio loser, sampel harga saham perusahaan diambil jika harga
tersebut mengalami penurunan harian dibawah rata-rata penurunan harga
saham pada hari peristiwa (
.
5. Sampel saham winner maupun loser tersebut tidak mengadakan aksi
korporasi selama periode pengamatan. Dalam penelitian, aksi korporasi
dalam kriteria pengambilan sampel dilihat berdasarkan publikasi yang
terdapat dalam publikasi web masing-masing perusahaan.
12
Tabel 1. Jumlah Sampel yang Memenuhi Syarat
Berdasarkan Kriteria Pengambilan Sampel
Jumlah
No.
Kriteria Pengambilan Sampel
Sampel yang
Memenuhi Syarat
Populasi Penelitian: 461 perusahaan.
1.
Termasuk saham yang aktif diperdagangkan.
Data tersedia mulai 1 Januari 2010 s/d 31
2.
213
Desember 2013.
Sampel Penelitian: 213 perusahaan.
Memiliki kenaikan diatas
Sampel
3.
Winner
7,2%*
Bebas dari aksi korporasi
89
69
Jumlah sampel winner: 69 perusahaan.
Memiliki kenaikan diatas
Sampel
4.
Loser
8,9%**
Bebas dari aksi korporasi
106
102
Jumlah sampel loser: 102 perusahaan.
Sumber: Data sekunder yang diolah.
Ket.
*
Rata-rata kenaikan harga saham perusahaan pada hari peristiwa positif
(26/05/10).
**
Rata-rata penurunan harga saham perusahaan pada hari peristiwa negatif
(22/09/11).
13
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel-variabel dalam penelitian antara lain overreaction dan price
reversal. Price reversal merupakan fenomena pembalikan arah harga saham
setelah terjadinya tren naik atau tren turun pada harga saham. Pembalikan harga
tersebut dapat diketahui melalui perubahan abnormal return pada average
abnormal return atau cumulative abnormal return. Penelitian ini menggunakan
Cumulative Abnormal Return (CAR) untuk mewakili price reversal. Menurut
Jogiyanto (2009), rumus perhitungan CAR adalah sebagai berikut:
∑
CARi,t adalah cumulative abnormal return saham i pada periode ke-t. Nilai
CARi,t merupakan akumulasi dari abnormal return saham i, mulai dari awal
periode (a atau t3) hingga periode ke-t.
Overreaction didefinisikan sebagai reaksi yang berlebihan dari investor
terhadap harga saham karena adanya informasi yang bersifat baik maupun buruk
(Yill dan Kirmizi, 2012). Reaksi berlebihan tersebut dapat diketahui melalui
adanya pembalikan harga terhadap perubahan harga, baik kenaikan maupun
penurunan yang terjadi sebelumnya. Sehingga korelasi antara abnormal return
pada saat perubahan harga tersebut dengan abnormal return pada saat terjadinya
price reversal akan menunjukkan hubungan antara overreaction dengan fenomena
price reversal.
Menurut Jogiyanto (2009), rumus perhitungan abnormal return (AR) adalah
sebagai berikut:
ARi,t merupakan abnormal return saham i pada periode ke-t, dimana
.
R merupakan nilai actual return. Sedangkan ER merupakan nilai expected return,
dimana keduanya merupakan nilai untuk saham i pada periode ke-t.
Variabel ukuran perusahaan (firm size) dan likuiditas digunakan untuk
menjelaskan karakteristik perusahaan pada saham winner dan loser pada saat
14
terjadi momentum overreaction. Firm size didefinisikan sebagai nilai pasar dari
ekuitas perusahaan (Zarowin, 1990). Rumus perhitungan untuk mengukur firm
size adalah sebagai berikut:
saham x volume saham yang beredar
Likuiditas saham yang baik ditunjukkan dengan frekuensi transaksi yang
semakin tinggi. Sehingga likuiditas saham merupakan volume perdagangan saham
yang terjadi di pasar modal (Ferdian, 2009).
∑
Metode Analisis Data
Mengidentifikasi Hari Peristiwa ( t = 0 )
Penentuan hari peristiwa terjadinya perubahan (kenaikan atau penurunan)
harga secara signifikan mengacu pada perubahan return IHSG. IHSG dijadikan
sebagai indikator awal adanya perubahan harga secara besar-besaran yang diikuti
oleh pembalikan ke arah yang berlawanan (price reversal). Return IHSG tersebut
kemudian digunakan untuk membedakan perubahan harga menurut kejadiannya.
Metode penentuan jenis kejadian mengikuti metode yang digunakan Dinawan
(2007), antara lain:
a) Kejadian positif adalah kejadian dimana
̅
b) Kejadian negatif adalah kejadian dimana
̅
c) Bukan kejadian adalah perubahan harga dimana
.
.
̅
.
Keterangan:
Rt : return pada hari t
̅ : rata-rata return selama periode penelitian
15
Penentuan
untuk peristiwa kenaikan harga secara besar-besaran
dilakukan dengan memilih kejadian positif yang bernilai paling besar. Sedangkan
penentuan
untuk peristiwa penurunan harga secara besar-besaran dilakukan
dengan memilih kejadian negatif yang bernilai paling rendah. Sehingga, selama
periode penelitian terdapat dua hari peristiwa, antara lain peristiwa kenaikan harga
dan peristiwa penurunan harga.
Mengidentifikasi Terjadinya Price Reversal
Langkah
untuk
mengidentifikasi
terjadinya
price
reversal
setelah
mengetahui hari peristiwa perubahan harga yang signifikan dapat dilakukan
dengan melihat average abnormal return saham winner dan loser pada periode
pengamatan. Periode pengamatan yang digunakan adalah (
dengan (
) sampai
). Periode pengamatan ini mengikuti periode pengamatan yang
digunakan oleh Wibowo dan Sukarno (2004) dan Dinawan (2007). Alasan
digunakannya periode pengamatan (
) adalah untuk menghindari bias
akibat event lain yang kemungkinan bersifat dramatik. Sedangkan digunakan
periode (t = 20) setelah perubahan besar harga saham adalah untuk mengetahui
adanya pembalikan yang terjadi. Apabila periode setelah momentum harga terlalu
pendek, maka akan sulit untuk mengidentifikasi adanya pembalikan.
Berdasarkan periode pengamatan tersebut, jika abnormal return setelah hari
peristiwa signifikan dan mengalami perubahan kearah yang berlawanan, maka
terdapat pembalikan harga (Kusumawardhani, 2001). Langkah-langkah yang
perlu dilakukan untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menghitung
abnormal return untuk masing-masing saham winner dan loser selama periode
pengamatan. Nilai abnormal return dihitung dengan menggunakan Market
Adjusted Model. Perhitungan Market Adjusted Model adalah sebagai berikut
(Jogiyanto, 2009):
1. Menghitung return saham harian untuk masing-masing saham winner dan
loser selama periode pengamatan (Daily Return).
16
2. Menentukan expected return dengan menggunakan nilai return pasar
(Daily Return Market)
3. Menghitung abnormal return untuk masing-masing saham
4. Menghitung Cumulative Abnormal Return
∑
5. Mengitung Average Abnormal Return
∑
6. Mengitung Cumulative Average Abnormal Return
∑
Keterangan :
: Return harian saham i pada periode t
: Harga closing price saham pada periode t
: Harga closing price saham pada periode t-1
: Return pasar pada periode t
: Indeks Harga Saham Gabungan periode t
: Indeks Harga Saham Gabungan periode t-1
: Abnormal return saham i pada hari t
: Return saham pada periode t
: Cumulative Abnormal Return saham i pada hari t
17
: Average Abnormal Return saham i pada hari t
: Cumulative Average Abnormal Return saham pada periode t
n
: Jumlah saham yang diteliti
Teknik Analisis Data
Pengujian terhadap overreaction dilakukan dengan melakukan uji korelasi
terhadap abnormal return pada hari peristiwa (
) dengan CAR pada hari
pembalikan harga. Korelasi negatif antara overreaction dan price reversal
menandakan bahwa return positif yang makin besar di hari tertentu akan diikuti
dengan return negatif. Pembalikan tersebut yang menandakan terjadinya price
reversal. Langkah-langkah pengujian adalah dengan menghitung koefisien
korelasi pearson yang diolah dengan software SPSS Statistics 20.
18
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian
Gambaran Umum Sampel
Saham perusahaan yang dijadikan obyek penelitian adalah saham yang aktif
diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut selama tahun 2010
hingga tahun 2013. Suatu saham dikatakan aktif diperdagangkan apabila frekuensi
perdagangannya lebih dari 75 kali dalam 3 bulan. Berdasarkan kriteria pemilihan
sampel tersebut, terdapat 213 saham perusahaan yang digunakan sebagai sampel
dalam penelitian. Saham-saham yang termasuk dalam sampel penelitian
ditunjukkan dalam Lampiran 1.
Selanjutnya sampel tersebut diklasifikasikan menjadi dua antara lain sampel
saham winner dan sampel saham loser. Sampel yang termasuk saham winner
merupakan saham yang mengalami kenaikan harga harian diatas rata-rata
kenaikan harga saham pada hari kemungkinan terjadinya kenaikan harga saham
secara besar-besaran. Sedangkan saham loser merupakan saham yang mengalami
penurunan harga harian dibawah rata-rata penurunan harga saham pada hari
kemungkinan terjadinya penurunan harga saham secara besar-besaran. Sahamsaham yang termasuk dalam sampel saham winner dan loser ditunjukkan dalam
Lampiran 2 dan 3.
Berdasarkan kriteria tersebut terdapat 69 perusahaan yang termasuk
portfolio saham winner dan 102 perusahaan yang termasuk portfolio saham loser.
Penguatan bursa Asia yang dibarengi dengan meningkatnya harga minyak mentah
dunia juga ikut mempengaruhi bursa saham Indonesia sehingga menyebabkan
terjadinya peningkatan harga saham terutama saham untuk sektor komoditas (http:
//bisnis.news.viva.co.id/news/read/153553-regional_menguat__ihsg_berhasil_re
Bound). Namun jumlah sampel saham loser yang lebih besar dibandingkan
winner mengindikasikan bahwa terdapat kejadian negatif yang memberikan
dampak yang lebih kuat pada bursa dibandingkan dengan kejadian positif,
sehingga mengakibatkan saham-saham emiten mengalami penurunan harga yang
signifikan. Kejadian negatif tersebut adalah anjloknya bursa saham Indonesia
19
hingga 8,9 persen pada tanggal 22 September 2011 (Publikasi PT Prudential Life
Assurance, 26/09/11). Faktor utama yang menyebabkan anjloknya bursa saham
Indonesia adalah ketidakpastian kondisi ekonomi di AS dan krisis hutang kawasan
Eropa. Ketidakpastian tersebut menimbulkan kekhawatiran investor lokal dan
asing sehingga aksi jual segera dilakukan untuk mengamankan investasi mereka
dari risiko. Nilai tukar rupiah yang terkoreksi cukup cepat menambah terjadinya
aksi jual yang lebih besar. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut secara umum
merupakan refleksi atas penguatan yang terjadi atas dolar Amerika Serikat.
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data.
Deskripsi tersebut dilihat dari nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata (mean)
dan standar deviasi data. Statistik deskriptif dari variabel penelitian yang
digunakan ditunjukkan dalam tabel berikut.
Tabel 2. Statistik Deskriptif Saham Winner dan Loser
Saham Winner
AAR*
Firm Size
Likuiditas*
Min
0,0005
20.583.517.500
0,0000
Max
0,4473
120.554.000.000.000
0,0434
Mean
0,0734
8.601.340.215.728
0,0058
St. Deviasi
0,0842
20.131.673.575.928
0,0082
Saham Loser
AAR*
0,0000
0,0366
163.204.023.340.300
0,0403
-0,0353
12.145.348.889.281
0,0040
St. Deviasi
0,0897
27.483.495.275.164
Sumber: Data JKSE yang diolah
0,0071
**
-0,1502
Max
Mean
Likuiditas*
46.920.000.000
Ket. *
Min
Firm Size **
dalam rasio
dalam Rupiah
20
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa portofolio saham winner
menghasilkan rata-rata abnormal return yang positif dan portofolio saham loser
memiliki rata-rata abnormal return yang negatif. Portfolio saham winner rata-rata
mendapatkan abnormal return
sebesar 7,34 persen. Nilai abnormal return
tertinggi dimiliki oleh PT. Energi Mega Persada sebesar 44,73 persen. Salah satu
penyebab tingginya abnormal return yang dimiliki PT. Energi Mega Persada
adalah akibat meningkatnya likuiditas saham tersebut. Bahkan saham tersebut
merupakan saham yang paling likuid pada hari peristiwa. Sedangkan portfolio
saham loser memiliki abnormal return negatif sebesar -3,53 persen, dengan nilai
maksimal return hanya 3,66 persen. Fenomena yang terjadi selama periode
pengamatan mengindikasikan bahwa terdapat kecenderungan terjadi anomali
winner-loser pada emiten di pasar modal Indonesia. Hal tersebut mendukung hasil
penelitian DeBond dan Thaler yang menemukan bahwa saham-saham yang
awalnya memberikan return sangat positif (winner) atau return sangat negatif
(loser), kondisinya akan berbalik pada periode-periode berikutnya.
Likuiditas saham yang baik ditunjukkan dengan frekuensi transaksi yang
semakin tinggi. Berdasarkan tabel diatas, rata-rata likuiditas saham winner yang
lebih tinggi dari saham loser mengindikasikan bahwa portfolio saham winner
memang memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan portfolio saham
loser pada hari peristiwa. Rasio likuiditas tertinggi untuk saham winner dimiliki
oleh PT. Energi Mega Persada dengan nilai 0,0434. Sedangkan likuiditas tertinggi
untuk saham loser dimiliki oleh PT. Berlina Tbk dengan nilai 0,0403; walaupun
PT tersebut memiliki ukuran perusahaan paling kecil dengan nilai kapitalisasi
pasar sebesar 46.920.000.000.
Terkait dengan ukuran perusahaan (firm size), ketika terjadi penurunan
harga saham secara signifikan, portfolio saham loser justru dimiliki oleh
perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan kecil yang jarang mengeluarkan
informasi membuat investor lebih sensitif sehingga peluang untuk bereaksi
berlebihan menjadi lebih besar. Dalam penelitian, nilai minimum, maximum dan
rata-rata ukuran perusahaan saham loser lebih besar dibandingkan saham winner.
Hal tersebut disebabkan adanya overreaction akibat pengaruh ancaman dari
21
default Yunani yang diikuti dengan kebijakan Operation Twist yang dikeluarkan
bank
sentral
Amerika
Serikat
sehingga
nilai
rupiah
melemah
(http://investasi.kontan.co.id/news/anjlok-32-rupiah-terseret-ke-posisi-terlemahdalam-setahun--1/2011/09/22). Faktor-faktor tersebut menyebabkan tekanan jual
yang tinggi, tidak terkecuali pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank
Mandiri dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar 163.204.023.340.300. Selanjutnya,
saham-saham perusahaan yang biasanya memberikan return positif, malah
mendapatkan return negatif di hari peristiwa. Investor yang sahamnya telah masuk
dalam kategori loser tidak akan mengambil risiko kerugian lebih banyak dengan
menahan saham perusahaan yang dimiliki. Apalagi portofolio saham loser
sebagian besar merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar.
Mengidentifikasi Hari Peristiwa
Hari peristiwa terjadinya kenaikan dan penurunan saham secara besarbesaran ditentukan dengan menggunakan tingkat perubahan dalam IHSG.
Penentuan
untuk peristiwa kenaikan harga saham secara besar-besaran
dilakukan dengan memilih kejadian positif yang memiliki tingkat perubahan yang
paling besar. Sedangkan penentuan
untuk peristiwa penurunan harga
saham secara besar-besaran dilakukan dengan memilih kejadian negatif yang
memiliki tingkat perubahan yang paling rendah.
Berikut adalah hasil penentuan tiga kejadian positif dengan nilai terbesar
dan tiga kejadian negatif dengan nilai terendah.
Tabel 3. Kejadian Positif
Tanggal
IHSG
Return (Rt)
Rata-rata
Return ( ̅ )
Rt- ̅
Ket.
26/05/2010
2696,8
0,0727
0,0006
0,0721
dipilih
menjadi
27/09/2011
3473,94
0,0476
0,0006
0,0469
19/09/2013
4670,73
0,0465
Sumber: Data JKSE yang diolah.
0,0006
0,0459
22
Tabel 4. Kejadian Negatif
Tanggal
IHSG
Return (Rt)
Rata-rata
Return ( ̅ )
Rt- ̅
Ket.
dipilih
menjadi
22/09/2011
3369,14
-0,0888
0,0006
-0,0894
03/10/2011
3348,71
-0,0564
0,0006
-0,0570
19/07/2013
4313,52
-0,0558
Sumber: Data JKSE yang diolah.
0,0006
-0,0564
Berdasarkan hasil perhitungan sesuai kriteria yang terdapat dalam bab
sebelumnya, kejadian positif dengan tingkat perubahan paling tinggi terjadi pada
tanggal 26 Mei 2010. Pemicu utama sentimen positif pada pergerakan IHSG pada
tanggal tersebut adalah adanya penguatan indeks di bursa Asia, seiring dengan
pergerakan positif harga minyak mentah dunia. Pergerakan positif tersebut
kemudian diikuti aksi beli investor terhadap saham-saham terutama di sektor
komoditas (http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153677-bursa_regional_pe
rkasa__ihsg_melonjak_7_).
Sedangkan kejadian negatif dengan tingkat perubahan paling rendah terjadi
pada tanggal 22 September 2011. Penurunan sebesar 8,9 persen tersebut
disebabkan oleh ancaman dari default Yunani yang diikuti dengan kebijakan
Operation Twist yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat. Kebijakan
tersebut memancing orang untuk membeli obligasi AS sehingga mengakibatkan
rupiah melemah hingga level Rp 9367 per dolar AS (http://investasi.
kontan.co.id/news/anjlok-32-rupiah-terseret-ke-posisi-terlemah-dalam-setahun-1/2011/09/22). Banyak investor asing dan lokal yang khawatir dan memilih untuk
keluar dari bursa domestik sehingga memicu tekanan jual yang tinggi. Tekanan
tersebut menyebabkan indeks turun drastis.
Selanjutnya
untuk masing-masing kejadian digunakan untuk
menentukan sampel saham winner dan loser. Suatu saham dikategorikan sebagai
sampel saham winner jika tingkat kenaikan perubahan saham tersebut lebih tinggi
23
daripada rata-rata perubahan sampel pada hari peristiwa kenaikan saham besarbesaran. Sebaliknya, saham tersebut dikategorikan sebagai sampel saham loser
jika tingkat penurunan saham tersebut lebih rendah daripada rata-rata perubahan
sampel pada hari peristiwa penurunan saham besar-besaran. Berdasarkan kriteria
tersebut, suatu saham termasuk sampel saham winner apabila memiliki tingkat
perubahan harga diatas 7,20 persen. Sedangkan sampel saham loser memiliki
tingkat penurunan harga dibawah -8,92 persen.
Analisis Data
Identifikasi Pembalikan Harga Saham (Price Reversal)
Terjadinya pembalikan harga saham (price reversal), baik untuk sampel
saham winner maupun sampel saham loser, diidentifikasi dengan melakukan uji t
sehingga tingkat signifikansi average abnormal return (AAR) dari masing-masing
hari perdagangan selama periode pengamatan dapat diketahui. Periode
pengamatan yang digunakan adalah
hingga
. Selanjutnya terjadi
pembalikan harga diasumsikan sebagai perubahan harga menuju ke arah yang
berlawanan dengan peristiwa yang terjadi pada
. Price reversal terjadi ketika
nilai average abnormal return (AAR) signifikan tidak sama dengan nol dan
mengalami kenaikan atau penurunan. Selain itu price reversal juga dapat
diidentifikasi melalui grafik CAAR.
Analisis Pembalikan Harga (Price Reversal) untuk Saham Winner
Pembalikan harga yang terjadi pada saham winner dapat diketahui jika
Average Abnormal Return (AAR) pada hari setelah
signifikan dan bernilai
negatif. Pembalikan harga juga dapat diketahui dengan membuat scatter plot pada
hasil Cumulative Average Abnormal Return (CAAR).
24
Tabel 5. AAR dan CAAR Winner
Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
t
Tanggal
AAR
CAAR
Signifikansi
-5
19/05/10
0,0021
0,0021
0,661
-4
20/05/10
-0,0014
0,0007
0,788
-3
21/05/10
-0,0200
-0,0193
0,000
-2
24/05/10
-0,0339
-0,0532
0,000
-1
25/05/10
-0,0658
-0,1190
0,000
0
26/05/10
0,0734
-0,0456
0,000
1
27/05/10
0,0079
-0,0377
0,185
2
31/05/10
-0,0041
-0,0418
0,413
3
01/06/10
0,0225
-0,0193
0,008
4
02/06/10
-0,0041
-0,0234
0,467
5
03/06/10
-0,0029
-0,0263
0,470
6
04/06/10
0,0034
-0,0229
0,598
7
07/06/10
-0,0029
-0,0258
0,558
8
08/06/10
-0,0018
-0,0276
0,641
9
09/06/10
0,0078
-0,0198
0,046
10
10/06/10
0,0189
-0,0009
0,000
11
11/06/10
-0,0084
-0,0093
0,007*
12
14/06/10
-0,0006
-0,0099
0,839
13
15/06/10
-0,0038
-0,0137
0,339
14
16/06/10
0,0056
-0,0081
0,275
15
17/06/10
-0,0024
-0,0105
0,491
16
18/06/10
-0,0071
-0,0176
0,014*
17
21/06/10
0,0033
-0,0143
0,364
18
22/06/10
-0,0012
-0,0155
0,668
19
23/06/10
0,0105
-0,005
0,008
20
24/06/10
0,0007
Sumber: Data JKSE yang diolah.
-0,0043
0,835
25
Berdasarkan tabel diatas, pembalikan harga untuk saham winner terjadi
pada
dengan tingkat signifikansi 0,007. Grafik CAAR berikut juga
memperlihatkan bahwa tren naik berakhir pada
kemudian diikuti dengan
penurunan harga walaupun pembalikan tersebut tidak terlalu signifikan.
Gambar 1. CAAR Winner Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
0.0200
0.0000
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
-0.0200
-0.0400
-0.0600
-0.0800
-0.1000
-0.1200
-0.1400
Sumber: Data JKSE yang diolah.
Analisis Pembalikan Harga untuk Saham Loser
Pembalikan harga yang terjadi pada saham loser dapat diketahui jika
Average Abnormal Return (AAR) pada hari setelah
signifikan dan bernilai
positif. Pembalikan harga juga dapat diketahui dengan membuat scatter plot pada
hasil Cumulative Average Abnormal Return (CAAR).
Tabel 6. AAR dan CAR Loser Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
t
Date
AAR
CAAR
Signifikansi
-5
15/09/2011
-0,0014
-0,0014
0,535
-4
16/09/2011
-0,0017
-0,0031
0,590
-3
19/09/2011
-0,0072
-0,0103
0,002
-2
20/09/2011
0,0025
-0,0078
0,424
-1
21/09/2011
-0,0026
-0,0104
0,362
0
22/09/2011
-0,0353
-0,0457
0,000
26
1
23/09/2011
-0,0049
-0,0506
0,227
2
26/09/2011
-0,0226
-0,0732
0,000
3
27/09/2011
0,0239
-0,0493
0,000*
4
28/09/2011
-0,0126
-0,0619
0,001
5
29/09/2011
-0,0068
-0,0687
0,023
6
30/09/2011
-0,0087
-0,0774
0,017
7
03/10/2011
-0,0086
-0,0860
0,013
8
04/10/2011
-0,0075
-0,0935
0,040
9
05/10/2011
0,0044
-0,0891
0,380
10
06/10/2011
0,0119
-0,0772
0,008*
11
07/10/2011
-0,0044
-0,0816
0,132
12
10/10/2011
0,0001
-0,0815
0,986
13
11/10/2011
0,0037
-0,0778
0,193
14
12/10/2011
0,0020
-0,0758
0,594
15
13/10/2011
0,0109
-0,0649
0,024*
16
14/10/2011
0,0105
-0,0544
0,008*
17
17/10/2011
0,0235
-0,0309
0,000*
18
18/10/2011
-0,0145
-0,0454
0,000
19
19/10/2011
0,0075
-0,0379
0,026*
20
20/10/2011
-0,0007
Sumber: Data JKSE yang diolah.
-0,0386
0,768
Tabel diatas menunjukkan nilai AAR positif yang signifikan terdapat pada
dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Pada grafik CAAR, tren penurunan
juga berhenti pada
dan terjadi pembalikan harga ke arah berlawanan.
Walaupun pembalikan harga tersebut hanya terjadi satu hari dilanjutkan dengan
tren penurunan kembali pada periode selanjutnya.
27
Gambar 2. CAAR Loser Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
0.0000
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
-0.0200
-0.0400
-0.0600
-0.0800
-0.1000
Sumber: Data JKSE yang diolah.
Pengujian Normalitas Data
Uji normalitas dalam penelitian dilakukan dengan melihat nilai signifikansi
data pada uji Kolmogorov-Smirnov (K-S). Pada uji K-S, data yang berdistribusi
normal ditunjukkan dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05.
Tabel 7. Hasil Uji Kormogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Saham Winner
N
Normal Parameters
a,b
Most Extreme
Differences
Mean
Std.
Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
AR0
CAR11
69
,073422
69
-,009206
,0842166
,1411647
,197
,197
-,193
1,638
,091
,099
,099
-,061
,820
,512
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
28
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Saham Loser
N
Normal Parameters
Mean
Std.
Deviation
Absolute
Positive
Negative
a,b
Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
AR0
CAR3
102
-,035285
102
-,049196
,0314100
,0745696
,115
,105
-,115
1,162
,134
,048
,045
-,048
,488
,171
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: Ouput SPSS yang diolah.
Distribusi data yang normal dapat dilihat pada tabel hasil uji KolmogorovSmirnov yang menunjukkan nilai signifikansi di atas 0,05. Nilai signifikansi hari
peristiwa saham winner dan loser, serta hari pembalikan harga masing-masing
saham berturut-turut adalah 0,91; 0,134; 0,512 dan 0,171 membuktikan bahwa
data dalam penelitian telah berdistribusi normal.
Analisis Data
Pengujian Hipotesis 1 untuk Saham Winner
Pengujian hipotesis 1 untuk saham winner dilakukan dengan menghitung
koefisien korelasi antara abnormal return (AR) saham winner pada hari peristiwa
(
) dengan cumulative abnormal return (CAR) saham winner pada hari
pembalikan harga yaitu
, pada 69 saham perusahaan yang termasuk dalam
kategori saham winner.
29
Tabel 8. Hasil Uji Korelasi Saham Winner
Correlations
AR0
CAR11
Pearson Correlation
AR0
1
Sig. (2-tailed)
,201
N
Pearson Correlation
CAR11
-,156
Sig. (2-tailed)
69
69
-,156
1
,201
N
69
69
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Tabel tersebut menunjukkan adanya korelasi negatif antara AR
CAR
dan
sebesar -0,156. Namun korelasi tersebut memiliki nilai signifikansi
0,201. Pada tingkat kepercayaan 95 persen, nilai tersebut tidak signifikan
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat overreaction investor yang
menyebabkan terjadinya fenomena pembalikan harga.
Pengujian Hipotesis 1 untuk Saham Loser
Pengujian hipotesis 1 untuk saham loser dilakukan dengan menghitung
koefisien korelasi antara abnormal return (AR) saham winner pada hari peristiwa
(
) dengan cumulative abnormal return (CAR) saham winner pada hari
pembalikan harga yaitu
, pada 102 saham perusahaan yang termasuk dalam
kategori saham loser.
Tabel 9. Hasil Uji Korelasi Saham Loser
Correlations
AR0
Pearson Correlation
AR0
CAR3
1
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
CAR3 Sig. (2-tailed)
N
-,252*
,011
102
,252*
102
1
,011
102
102
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Sumber: Output SPSS yang diolah.
30
Hasil output menunjukkan terdapat korelasi negatif antara AR
CAR
dan
sebesar -0,252 dengan nilai signifikansi 0,011. Nilai signifikansi
tersebut kurang dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat reaksi
berlebihan dari investor yang menyebabkan terjadinya fenomena price reversal.
Korelasi yang negatif antara abnormal return pada hari peristiwa dengan
cumulative abnormal return pada hari pembalikan harga menunjukkan bahwa
return negatif yang terjadi pada
akan diikuti dengan return positif sebagai
akibat dari adanya koreksi harga. Koefisien korelasi yang signifikan pada tingkat
kepercayaan 95 persen berarti menerima Ha yaitu terdapat hubungan antara reaksi
berlebihan (overreaction) investor yang menyebabkan terjadinya fenomena price
reversal pada saham loser dan menolak Ho.
Pembahasan
Peristiwa Price Reversal untuk Saham Winner
Perhitungan average abnormal return dengan menggunakan metode Market
Adjusted Model pada tabel 4 menunjukkan bahwa penurunan harga untuk saham
winner terjadi pada hari ke-11 dan 16 setelah hari peristiwa (
). Peningkatan
harga saham sampel winner ketika hari peristiwa menyebabkan saham tersebut
memiliki abnormal return positif. Nilai average abnormal return setelah hari
peristiwa yang signifikan dan negatif menandakan kemungkinan tejadinya
pembalikan harga sebagai koreksi akibat adanya pergerakan harga yang tidak
normal ketika hari peristiwa.
Terjadinya pembalikan harga juga dapat diketahui dengan melihat
pergerakan cumulative abnormal return (CAAR) portfolio saham winner selama
periode pengamatan yaitu
Pergerakan CAAR
saham winner ditunjukkan dalam grafik berikut.
31
Gambar 3. CAAR Winner Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
0.0200
0.0000
-5 -4 -3-0.0200
-2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
-0.0400
-0.0600
-0.0800
-0.1000
-0.1200
-0.1400
Sumber: Data JKSE yang diolah.
Grafik diatas menunjukkan pergerakan harga yang terus menurun di awal
periode pengamatan. Selanjutnya terjadi peristiwa kenaikan harga saham secara
besar-besaran yang ditunjukkan dengan grafik CAAR yang meningkat secara
signifikan pada
. Pada periode setelah
, harga masih bergerak naik.
Walaupun pada beberapa periode harga kembali turun, namun secara keseluruhan
harga masih menunjukkan tren kenaikan. Tren tersebut berakhir pada pe
Pada periode
.
, harga mulai terkoreksi dan menurun secara perlahan.
Penurunan kembali terjadi pada
hingga harga bergerak relatif stabil.
Walaupun terdapat korelasi negatif antara abnormal return
cumulative abnormal return
dengan
yang menunjukkan adanya kenaikan harga
saham yang signifikan diikuti dengan pembalikan harga, namun nilai tersebut
tidak signifikan. Hal tersebut berarti kenaikan ekstrim pada harga saham tersebut
tidak disebabkan oleh overreaction dari investor.
Walaupun sama-sama digunakan untuk menentukan posisi aksi jual dan beli
saham, overreaction berbeda dengan trend. Suatu trend harga naik diamati dengan
melihat pergerakan harga dalam beberapa periode atau bahkan dalam jangka
panjang. Identifikasi adanya trend dilakukan dengan membuat garis trend yang
dihubungkan dari beberapa support (Kusumawati, 2011). Sedangkan overreaction
hanya terjadi dalam satu periode (satu hari) dan kenaikan harga yang terjadi
terlihat sangat signifikan akibat adanya peristiwa tertentu. Overreaction juga
32
ditandai dengan pembalikan harga pada periode berikutnya akibat koreksi harga.
Sedangkan dalam trend, perubahan harga dari trend naik menjadi turun disebut
retracement (Kusumawati, 2011). Perubahan tersebut bukan akibat koreksi pasar,
melainkan akibat adanya pembeli yang menutup posisinya dengan tujuan
memperoleh keuntungan.
VIVAnews (Rabu, 26/05/10) mempublikasikan bahwa pemicu utama
sentimen positif bagi pergerakan IHSG dan kenaikan harga saham tersebut adalah
penguatan indeks di bursa Asia sejak pembukaan pada hari yang sama. Penguatan
bursa di Asia sendiri disebabkan oleh naiknya harga komoditas, seiring dengan
pergerakan positif harga minyak mentah dunia dan melemahnya mata uang yen
Jepang terhadap euro Eropa setelah beberapa hari terus mengalami pelemahan
(http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153677-bursa_regional_perkasa__
ihsg_melonjak_7_ ). Penurunan indeks harga saham gabungan bursa Indonesia
selama lima hari sebelumnya akibat kecemasan krisis utang Yunani akhirnya
terhenti. Menurut tim riset PT Mega Capital, sentimen positif bursa gobal dan
regional, serta harga minyak mentah yang berbalik arah menguat (rebound)
diprediksi mampu memberikan angin segar di pasar saham domestik. Hal tersebut
dapat dimanfaatkan kembali oleh investor dalam memburu saham-saham
unggulan (http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153553-regional_menguat__
ihsg_berhasil_rebound).
IHSG pada penutupan transaksi sesi kedua tanggal 26 Mei 2010 memang
melonjak 182,66 poin atau 7,26 persen ke level 2.696,78. Sebanyak 226 saham
menguat, 31 melemah, 24 stagnan, serta sebanyak 222 sedang tidak terjadi
transaksi. Bursa Asia saat IHSG ditutup hari ini juga bergerak positif. Indeks
Hang Seng naik 1,11 persen ke level 19.196,45, Nikkei 225 menguat 0,66 persen
di posisi 9.522,66, dan Straits Times terangkat 1,71 persen menjadi 2.696,02
(http://www.yiela.com/view/1128632/bursa-regional-menguat-ihsg-melonjak-7-).
Di Bursa Efek Indonesia, saham unggulan (blue chips) yang memberikan
kontribusi dalam penguatan IHSG, antara lain PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
terangkat Rp 4.250 atau 13,20 persen ke level Rp 36.000, PT Astra International
Tbk (ASII) menguat Rp 3.650 (10,02 persen) menjadi Rp 40.050, dan PT Indo
33
Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 3.050 atau 10,09 persen di posisi Rp
33.250 (hhtp://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153677-bursa_regional_perkasa_
_ihsg_melonjak_7_).
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kenaikan harga
saham pada saham-saham winner pada hari peristiwa bukan diakibatkan oleh
perilaku investor yang bereaksi berlebihan terhadap suatu informasi positif,
namun lebih kepada pengaruh penguatan indeks bursa Asia dan kenaikan harga
minyak mentah dunia.
Peristiwa Price Reversal untuk Saham Winner
Perhitungan average abnormal return dengan menggunakan metode Market
Adjusted Model pada tabel 5 menunjukkan bahwa pembalikan harga pertama
untuk saham loser terjadi pada hari ke-3 setelah hari peristiwa (
). Berikut
adalah pergerakan CAAR saham loser selama periode pengamatan yaitu dari
Gambar 4. CAAR Loser Periode Pengamatan t-5 sampai dengan t+20
0.0000
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
-0.0200
-0.0400
-0.0600
-0.0800
-0.1000
Sumber: Data JKSE yang diolah.
Berdasarkan grafik tersebut, tren pergerakan harga yang turun sebenarnya
telah terlihat sejak sebelum
. Pada periode
, harga sempat naik
walaupun pada akhirnya turun kembali pada periode berikutnya. Selanjutnya
terjadi penurunan yang signifikan dimana hari tersebut merupakan hari peristiwa
penurunan saham secara besar-besaran (
). Penentuan hari pembalikan harga
34
dilihat berdasarkan nilai average abnormal return setelah
yang signifikan
dan bernilai positif. Sehingga kenaikan harga saham-saham loser terjadi pada hari
ke-3, 10, 15, 16, 17 dan 19. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa penurunan harga
saham sampel loser ketika hari peristiwa menyebabkan saham tersebut memiliki
abnormal return negatif. Nilai average abnormal return setelah hari peristiwa
yang signifikan dan positif menandakan kemungkinan tejadinya pembalikan harga
sebagai koreksi akibat adanya pergerakan harga yang tidak normal ketika hari
peristiwa.
Penurunan harga yang terjadi akibat overreaction juga berbeda dengan
trend. Harga memiliki trend menurun apabila garis trend dalam pergerakan harga
semakin rendah. Garis trend dibuat dengan menghubungkan beberapa ressistance
(Kusumawati, 2011). Sehingga trend turun diamati dalam beberapa periode atau
jangka panjang. Sedangkan penurunan harga dalam overreaction hanya terjadi
dalam satu periode (satu hari) dengan penurunan yang sangat signifikan akibat
pengaruh adanya peristiwa negatif. Overreaction juga ditandai dengan
pembalikan harga pada periode berikutnya akibat koreksi harga. Dalam trend,
perubahan harga dari trend turun menjadi naik disebut retracement (Kusumawati,
2011). Perubahan tersebut disebabkan oleh adanya penjual yang menutup
posisinya dengan tujuan memperoleh keuntungan dan bukan akibat koreksi pasar.
Pada tanggal 22 September 2011, IHSG di Bursa Efek Indonesia turun
sangat signifikan ke zona negatif. IHSG terpuruk 328,35 poin atau 8,89 persen ke
level 3.369,14. Bahkan pelemahan IHSG tersebut merupakan yang terbesar
dibandingkan bursa kawasan Asia Pasifik (http://bisnis.news.viva.co.id/news/read
/249291-indeks-terpuruk-300-poin).
Pergerakan negatif IHSG tersebut dipicu oleh berbagai faktor. Faktor
pertama adalah pelemahan bursa global, terutama Amerika Serikat dan Eropa.
Kondisi tersebut kemudian merembet ke pasar saham Asia akibat outlook
ekonomi AS yang memburuk. Outlook negatif ekonomi AS dan krisis utang
Eropa yang berkepanjangan akan berimplikasi pada outlook ekonomi dunia. Hal
tersebut akan tentunya juga akan berpengaruh pada ekonomi Asia, termasuk
35
Indonesia
(http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/249291-indeks-terpuruk-300-
poin).
Selain itu, terpuruknya bursa Indonesia juga diakibatkan pasar keuangan
yang melemah. Hal tersebut terlihat dari nilai tukar rupiah yang terkoreksi cukup
cepat. Kondisi pelamahan nilai rupiah menambah ketidakpastian investor asing
dan domestik, sehingga mereka cenderung untuk meminimalisir risiko dengan
menjual lebih dahulu. Adanya informasi negatif dibarengi dengan ketidakpastian
menyebabkan investor, baik domestik maupun asing bereaksi berlebihan sehingga
tekanan jual menjadi tinggi. BI dan pemerintah mulai mempersiapkan
pencadangan
dana
buyback
(http://internasional.kompas.com/read/2011/09
/22/15260963/Hatta.Pelaku.Pasar.Modal.Jangan.Panik). BEI sendiri menyarankan
untuk membeli saham asing sehingga keuntungan dapat dihasilkan pada periode
selanjutnya
(http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/249246-bursa-ri-terpuruk--
ini-saran-otoritas-bei). Namun antisipasi tersebut tidak terlalu mempengaruhi
keputusan investor, karena investor yang sahamnya telah masuk dalam kategori
loser tidak berani mengambil risiko kerugian lebih banyak dengan menahan
saham perusahaan yang dimiliki. Apalagi portofolio saham loser sebagian besar
merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar.
Ketajaman Overreaction dan Jangka Waktu Pembalikan Harga Saham
Winner dan Loser
Berdasarkan grafik CAAR sebelumnya, terlihat bahwa derajat ketajaman
overreaction saham winner lebih besar dibandingkan dengan saham loser. Secara
psikologis, pelaku pasar memang cenderung memberikan aksi yang lebih
dramatik terhadap berita yang buruk akibat keinginan investor untuk
meminimalisasi risiko. Investor yang sahamnya telah masuk dalam kategori loser
tidak akan mengambil risiko kerugian lebih banyak dengan menahan saham
perusahaan yang dimiliki. Selanjutnya aksi tersebut akan diikuti oleh reaksi yang
jangka waktunya tergantung pada jenis informasi yang menyebabkan perilaku
aksi tersebut.
36
Jusuf (2008) menyatakan bahwa berita positif hanya mengakibatkan reaksi
“lembut” yang kurang mencerminkan efisiensi pasar. Investor bereaksi dengan
segera, namun berlangsung dalam waktu yang lama. Sedangkan even negatif
mengakibatkan reaksi yang lebih kuat. Pergerakan ekstrim pada harga saham akan
diikuti dengan pergerakan arah sebaliknya, dan semakin pendek durasi pergerakan
harga saham maka durasi reaksi yang terjadi juga semakin singkat. Hal tersebut
sesuai dengan pergerakan harga dalam grafik CAAR saham winner dan loser.
Saham winner yang mempunyai derajat overreaction lebih besar daripada saham
loser membutuhkan waktu 11 hari dalam koreksi harga. Sedangkan pada saham
loser, pembalikan harga terjadi dalam periode yang lebih singkat yaitu selama 3
hari. Kedua hasil identifikasi tersebut menunjukkan bahwa semakin besar
pergerakan harga ketika hari peristiwa, maka semakin besar pula jangka waktu
pembalikan harga selama hari penyesuaian.
Tabel 10. Perbandingan Ketajaman Overreaction dan Jangka Waktu
Pembalikan Harga Saham Winner dan Loser
Saham Winner
Saham Loser
Kenaikan Return IHSG
0,0721
-0,0894
Koefisien Korelasi
-0,156
-0,252
Derajat Overreaction
7,34 %
3,53 %
11 hari
3 hari
Periode Pembalikan Harga
Jangka Waktu Pembalikan Harga
Sumber: Data sekunder yang diolah.
Karakteristik Perusahaan Saham Winner dan Loser ketika Terjadi
Overreaction
Penelitian overreaction selalu mengelompokkan data menjadi dua jenis
saham, antara lain kelompok saham winner dan saham loser. Perusahaanperusahaan yang termasuk saham winner
mengalami kenaikan harga secara
signifikan pada hari peristiwa sehingga abnormal returnnya bernilai positif.
Sebaliknya perusahaan yang termasuk dalam saham loser mengalami penurunan
37
harga yang signifikan, sehingga abnormal return perusahaan-perusahaan tersebut
menjadi negatif.
Beberapa penelitian terdahulu, diantaranya Kusumawardhani (2001),
Dinawan (2007) serta Yull dan Kirmizi (2012) menggunakan variabel firm size,
likuiditas dan bid-ask spread sebagai faktor yang mempengaruhi price reversal
dalam penelitian overreaction. Namun dalam penelitian ini, variabel bid-ask
spread tidak digunakan akibat sulitnya memperoleh data historis bid dan ask. Data
bid dan ask yang bersifat intraday menyebabkan data historis tidak tersedia pada
website-website bursa. Padahal variabel tersebut merupakan salah satu variabel
yang mempengaruhi adanya reaksi berlebihan investor yang akhirnya memicu
pembalikan harga. Pendekatan lain dalam menghitung variabel bid-ask spread
telah dilakukan namun masih belum dapat merepresentasikan variabel tersebut.
Sehingga penelitian ini hanya menganalisis perbedaan likuiditas dan ukuran
perusahaan pada saham winner dan loser sebagai karakteristik perusahaan yang
diamati dalam penelitian overreaction.
Likuiditas saham adalah seberapa mudah dan cepat suatu aset dijual dan
berada dekat dengan nilai wajarnya (Rusliati dan Farida, 2010). Tingginya
frekuensi transaksi berdampak pada peningkatan minat investor terhadap saham
tersebut. Minat yang tinggi dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat likuiditas
saham, semakin tinggi kemungkinan untuk mendapatkan return dibandingkan
saham yang likuiditasnya rendah (Yull dan Kirmizi, 2012).
Terkait dengan analisis overreaction hypothesis, tindakan sharesplit yang
dilakukan perusahaan dapat mengakibatkan peningkatan signifikan pada
permintaan saham tersebut. Tindakan sharesplit akan berdampak pada penurunan
harga saham, disertai dengan kenaikan jumlah saham secara proporsional (Rusliati
dan Farida, 2010). Investor mungkin merespon tindakan tersebut dengan
menyusun kembali portofolio investasinya berdasarkan berbagai pertimbangan.
Investor akan beranggapan kenaikan aktifitas perdagangan pada saham tersebut
akan kembali memicu kenaikan harga, dan pada akhirnya return saham. Sehingga
semakin likuid suatu saham, semakin sensitif pula reaksi investor terhadap saham
tersebut.
38
Dalam penelitian kenaikan harga saham yang signifikan memang bukan
disebabkan karena perilaku reaksi berlebihan investor. Namun saham winner yang
pada hari peristiwa memiliki kinerja diatas rata-rata saham terlihat memiliki
tingkat likuiditas yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham loser. Lebih lanjut
periode pembalikan harga saham winner yang lebih cepat dibandingkan dengan
saham loser sesuai dengan pendapat Cox dan Peterson (1994) yang menyatakan
bahwa semakin likuid suatu saham, maka derajat pembalikan harga yang terjadi
akan semakin cepat.
Tabel 11. Perbandingan Nilai Firm Size dan Likuiditas
Saham Winner dan Loser
Saham Winner
Saham Loser
Firm Size
Likuiditas
Firm Size
Likuiditas
Min
20.583.517.500
0,0000
46.920.000.000
0,0000
Max
120.554.000.000.000
8.601.340.215.728
0,0434
0,0058
163.204.023.340.300
12.145.348.889.281
0,0403
0,0040
Mean
Sumber: Data sekunder yang diolah.
Terkait dengan ukuran perusahaan (firm size), Zarowin (1990), Choi (2005)
dan Leung (2009) merupakan sebagian peneliti mengemukakan bahwa sahamsaham yang yang berkinerja buruk pada satu periode waktu cenderung untuk
membaik pada periode berikutnya, begitu juga sebaliknya. Saham dengan kinerja
buruk biasanya merupakan saham perusahaan kecil yang memiliki sedikit
informasi. Sedangkan saham dengan kinerja baik biasanya merupakan sahamsaham unggulan yang informasinya selalu tersedia di pasar dan sering
mendapatkan return positif.
Dalam penelitian, tidak seluruh saham winner merupakan perusahaan
dengan ukuran yang kecil. Namun nilai minimum, nilai maksimum dan rata-rata
kapitalisasi pasar saham winner yang lebih rendah jika dibandingkan dengan
saham loser. Momentum saham loser yang diakibatkan oleh overreaction
menyebabkan saham perusahaan berkapitalisasi besar yang pada awalnya
39
memiliki kinerja yang baik berubah menjadi loser. Saham-saham perusahaan
besar yang biasanya memberikan return positif, malah mendapatkan return negatif
di hari peristiwa. Investor yang sahamnya telah masuk dalam kategori loser tidak
akan mengambil risiko kerugian lebih banyak dengan menahan saham perusahaan
yang dimiliki. Apalagi portofolio saham loser sebagian besar merupakan
perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar.
Pada saham winner, momentum harga bukan disebabkan oleh overreaction
investor melainkan akibat penguatan indeks di bursa Asia, seiring dengan
pergerakan positif harga minyak mentah dunia. Pergerakan positif tersebut
kemudian diikuti aksi beli investor terhadap saham-saham terutama di sektor
komoditas
(http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153677-bursa_regional_per
kasa_ihsg_melonjak_7_). Aksi beli tersebut menyebabkan harga saham komoditas
naik sehingga memberikan return positif pada hari peristiwa. Selain itu, sentimen
positif bursa gobal dan regional, serta harga minyak mentah yang menguat juga
dimanfaatkan kembali oleh investor dalam memburu saham-saham unggulan
(http://bisnis.news.viva.co.id/153553regional_menguat__ihsg_berhasil_rebound).
40
KESIMPULAN
Dari pengujian dan analisis data yang telah dilaksanakan, diperoleh
kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara reaksi berlebihan dari investor
dengan fenomena price reversal. Reaksi investor yang berlebihan dalam menilai
saham tersebut ditunjukkan dengan korelasi negatif yang signifikan antara
abnormal return hari peristiwa (
) dengan CAR
pada saham loser.
Sedangkan momentum harga yang terjadi pada saham winner bukan disebabkan
oleh reaksi berlebihan investor, melainkan karena penguatan bursa di Asia akibat
naiknya harga komoditas.
Kesimpulan
selanjutnya
adalah
mengenai
keterkaitan
ketajaman
overreaction dengan lama pembalikan harga. Semakin ekstrim pergerakan harga
saham pada hari peristiwa, semakin lama pula durasi pembalikan harga sebagai
akibat dari adanya pergerakan abnormal tersebut. Saham winner yang mempunyai
derajat overreaction lebih besar daripada saham loser membutuhkan waktu 11
hari dalam koreksi harga. Sedangkan saham loser membutuhkan waktu 3 hari
dalam koreksi harga. Selanjutnya, momentum saham loser yang diakibatkan oleh
overreaction menyebabkan saham perusahaan berkapitalisasi besar yang pada
awalnya memiliki kinerja yang baik berubah menjadi loser. Sedangkan
momentum saham winner menyebabkan saham sektor komoditas dan sahamsaham unggulan mengalami kenaikan harga.
Implikasi Manajerial
Bagi investor, waktu untuk melakukan aksi jual dan beli dapat diketahui
dengan
mengamati
pergerakan
CAAR
pada
saat
terjadi
overreaction.
Overreaction menyebabkan harga menjadi abnormal, sehingga untuk saham
winner aksi jual dapat dilakukan ketika harga masih mengalami overreact pada
saat hari peristiwa. Harga tersebut masih menguntungkan apabilabelum mencapai
harga keseimbangan setelah terjadi overreaction.
41
Sebaliknya untuk saham losser, aksi beli dapat dilakukan ketika saham
masih mengalami penurunan harga. Dengan harapan ketika terjadi koreksi pasar
harga akan naik menuju tingkat keseimbangan dan pada akhirnya investor dapat
memperoleh profit. Namun aksi beli tersebut juga perlu mempertimbangkan baik
buruknya aspek fundamental dari perusahaan loser yang bersangkutan.
Keterbatasan Penelitian dan Agenda Penelitian Mendatang
1.
Beberapa penelitian terdahulu menggunakan variabel firm size, likuiditas
dan bid-ask spread sebagai faktor yang mempengaruhi price reversal dalam
kaitannya dengan analisis overreaction. Namun dalam penelitian ini,
variabel bid-ask spread tidak digunakan. Sulitnya mencari data bid-ask
menjadi kendala dalam penelitian. Data bid dan ask yang bersifat intraday
menyebabkan data historis tidak tersedia pada website. Pendekatan lain
dalam menghitung variabel bid-ask spread telah dilakukan namun masih
belum dapat merepresentasikan variabel tersebut.
2.
Identifikasi terjadinya overreaction dilakukan dengan melihat perubahan
harga yang terjadi pada sampel winner dan loser yang memenuhi beberapa
kriteria. Kriteria terakhir mengharuskan sampel winner dan loser bebas dari
seluruh aksi korporasi yang dilakukan perusahaan selama periode
pengamatan
sampai dengan
. Pada kenyataannya aksi korporasi
bisa saja dilakukan setiap hari oleh suatu perusahaan. Kendala lain adalah
sulitnya mencari seluruh media yang digunakan sebagai media publikasi
aksi korporasi atau bahkan terdapat kemungkinan beberapa aksi korporasi
tidak dipublikasikan. Dalam penelitian, aksi korporasi dalam
kriteria
pengambilan sampel hanya dilihat berdasarkan publikasi yang terdapat
dalam ICMD.
3.
Penelitian selanjutnya dapat mengajukan permohonan permintaan data ke
Indonesian Capital Market Library (ICaMEL) dan Pusat Informasi Pasar
Modal (PIPM) di kota-kota besar, sehingga didapatkan data historis bid-ask
yang akurat.
42
4.
Sebagian besar penelitian menngenai price reversal di Indonesia telah
menggunakan variabel firm size, likuiditas dan bid-ask spread sebagai
faktor yang berpengaruh. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan
variabel-variabel lain yang diduga dapat mempengaruhi price reversal.
43
DAFTAR PUSTAKA
Adhi,
Robert.
2011.
Hatta:
Pelaku
Pasar
Modal
Jangan
Panik.
http://internasional.kompas.com/read/2011/09/22/15260963/Hatta.Pelaku.Pa
sar.Modal.Jangan.Panik. 10 Maret 2014
Ardi, Azhar, Kiryanto, dan Dista Amalia. 2008, “Over Reaksi Pasar terhadap
Harga Saham Perusahaan-Perusahaan di Indonesia”, Simposium Nasional
Akuntansi ke 11, Pontianak, Mei 2008.
Barberis, N. and Thaler, R. 2003, “Survey of Behavioral Finance,” Handbook of
the Economics of Finance.
Benou, G. and Nivine Richie, 2003, “The Reversal of Large Stock Price Declines:
The Case of Large Firms”, Journal of Economics and Finance.
Beaver, W.H., 1989, Financial Reporting: An Accounting Revolution,
Englewood Cliffs: NJ: Prentice-Hall Inc., second edition.
Bodie, Zvi; Alex Kane, dan Alan J. Marcus, 2008, “Investments”, Seventh
Edition Mc-Graw Hill, page 347, 605-621.
Choi, Hyung-Suk dan Narayanan Jayaraman, 2005, “Is Reversal of Large StockPrice Declines Caused by Overreaction or Information Asymetry: Evidence
from Stock and Option Markets”, Working Paper of Georgia Institute of
Technology, USA.
Cox, Don R dan David Peterson, 1994, “Stock Returns Following Large One Day
Declines:Evidence on Short-Term Reversals and Longer-Term Performance”,
The Journal of Finance, March, Vol. XLIL, No. 1, 255-267.
DeBondt, W. dan R Thaler. 1985, “Does the Stock Market Overreact?”, Journal
of Finance, Vol. XI No. 3 July: 793-805.
Dewi, Diastiti Okkarisma, 2010, “Pengaruh Jenis Usaha, Perusahaan dan
Financial Leverage terhadap Tindakan Perataan Laba pada Perusahaan yang
44
Terdaftar di BEI (Studi Empiris di Bursa Efek Indonesia)”, Skripsi UNDIP,
2010.
Dinawan, Muhammad Rizkada, 2007, “Analisis Overreaction Hyphothesis, Dan
Pengaruh Firm Size, Likuiditas & Bid-Ask Spread Terhadap Fenomena
Price Reversal Di Bursa Efek Jakarta“, Tesis UNDIP, Semarang.
Dupla Kartini. 2011. Anjlok 3,2&, Rupiah Terseret ke Posisi Terlemah Dalam
Setahun.
http://investasi.kontan.co.id/news/anjlok-32-rupiah-terseret-ke-
posisi-terlemah-dalam-setahun--1/2011/09/22. 25 Februari 2014.
Fama, Eugene, 1970, “Efficient Capital Markets – A Review of Theory and
Empirical Work”, Journal of Finance Vol. 25 No. 2.
Hermawan, Daniel dan Sukmawati, 2002, “Overreact Hypothesis dan Price
Earning Ratio Anomaly Saham – Saham Sektor Manufaktur Di BEJ”,
Jurnal Riset Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi, Februari, Vol. 2, No.
1: 57 – 76
Husnan, Suad, 1998, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas,
Edisi Ketiga, BPFE UGM, Yogyakarta.
Jogiyanto, H.M., 2009, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE,
Yogyakarta.
Jones, Charles P, 2000, Investment Analysis and Management, New
Hamphshire : John Wiley & Sons Inc.
Jusuf, A An Arief, 2008, ”Reaksi Pasar Yang Berlebihan”, Jurnal
Kewirausahaan.
Kusumawardhani, Srihartati, 2001, “Analisis Reaksi Berlebihan, Efek Bid-Ask,
Firm Size, dan Likuiditas dalam Fenomena Price Reversal di Bursa Efek
Jakarta”, Tesis UNDIP, Semarang.
Leung, W.K., 2009, “Price Reversal and Firm Size in the US Stock Markets, New
Evidence”, The World Congress on Engineering, Vol. II, July: 1-3.
Malkiel, Burton G., 2003, “The Efficient Market Hypothesis and Its Critics“,
Journal of Economy Perspective, Vol. 17 No. 1, pp. 59-82.
45
Mutiara, M., 2012, “Analisis Return Portofolio dan Saham Berdasarkan Tingkat
Mispricing”, Tesis Universitas Indonesia, Jakarta.
Kang, Joseph, Ming-Hua Liu dan Sophie Xiaoyan Ni, 2002, ”Contrarian and
momentum strategies in the China stock marker: 1993-2000”, Pasific-Basin
Finance Journal, Vol. 10: 243-256.
Latif, Syahid dan Iwan Kurniawan. 2011. Bursa RI Terpuruk,Ini Saran
Otoritas
BEI.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/249246-bursa-ri-
terpuruk--ini-saran-otoritas-bei. 10 Maret 2014
PT
Prudential
Life
Assurance.
2011.
News
Investment.
http://www.prudential.co.id/export/sites/default/prudential_in_id/resources/d
ownloads/investmenthighlights/01_Investment_News_September_2011_Inve
stment_News_26_Sept_2011.pdf. 3 Maret 2014.
Reza Ferdian,
2009, “Pengaruh Likuiditas Saham dan Return On Equity
Perusahaan Terhadap Tingkat Pengembalian Saham”, Skripsi Universitas
Widyatama, Bandung.
Rusliati, Ellen dan Esti Nur Farida, 2010, “Pemevahan Saham Terhadap
Likuiditas dan Return Saham”, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 12 No. 3,
Desember: 161-174.
Santosa, Perdana W. 2010. Fenomena Overreaction di Pasar Modal.
http://www.financeindonesia.org/archive/index.php/t-204.html. 13 November
2013.
Sukmawati dan Daniel H., 2003, “Overreact Hipothesis dan Price Earning Ratio
Anomaly Saham – Saham Sektor Manufaktur di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal
Riset Ekonomi dan Manajemen, Vol. 3, No. 1.
Tri Saputro. 2010. Bursa Regional Menguat, IHSG Melonjak 7%.
http://www.yiela.com/view/1128632/bursa-regional-menguat-ihsg-melonjak7-. 4 Maret 2014.
46
Yull, Elline dan Kirmizi, 2012, “Analisis Overreaction Hypothesis dan Pengaruh
Ukuran Perusahaan, Bid-Ask Spread dan Likuiditas Saham terhadap
Fenomena Price Reversal”, Pekbis Jurnal. Maret, Vol. 4 No. 1 Maret: 1-16.
VIVAnews.
2010.
Bursa
Regional
Menguat,
IHSG
Melonjak
7%.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153677bursa_regional_perkasa__ihsg
_melonjak_7_. 24 Maret 2014.
VIVAnews.
2010.
Regional
Menguat
IHSG
Berhasil
Rebound.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/153553regional_menguat__ihsg_berh
asil_rebound. 3 Maret 2014.
VIVAnews.
2011. Indeks Bursa Anjlok 328 Poin. http://bisnis.news
.viva.co.id/news/read/249291-indeks-terpuruk-300-poin. 10 Maret 2014.
Wibowo, Agus dan Agus Sukarno, 2004, “Reaksi Pasar Berlebihan dan Pengaruh
Ukuran Perusahaan Terhadap Price reversal Di Bursa Efek Jakarta”,
Wahana, Februari, Vol. 7, No 1: 57-73.
Wira, Variyetmi dan Endang Afriyani, 2008, “Pengaruh Insider Ownership
Terhadap Likuiditas Saham Pada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek
Jakarta”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 3, No. 2 Oktober.
Zarowin, Paul, 1990, “Size, Seasonality, and Stock Market Overreaction”,
Journal of
Financial and Quantitative Analysis, Vol. 25 No.1 March:
113 – 125.
http://finance.yahoo.com/q;_ylt=AwrSyCQD_I1TPGcAzEaTmYlQ?s=%5EJKSE
http://finance.yahoo.com/q/cp?s=%5EJKSE+Components
http://www.idx.co.id/
47
Lampiran 1
Sampel Penelitian
No.
Kode
Nama Emiten
No.
Kode
1
AALI
Astra Agro Lestari Tbk.
21
ASIA
2
ABBA.
Mahaka Media Tbk.
22
ASRI
23
ASII
24
ATPK
ATPK Resources Tbk.
25
AUTO
Astra Otoparts Tbk.
26
BACA
Bank Capital
Indonesia Tbk.
27
BAYU
Bayu Buana Tbk
28
BBCA
29
BBKP
Bank Central Asia
Tbk.
Bank Bukopin Tbk.
30
BBLD
Buana Finance Tbk.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Asuransi Bina Dana
Arta Tbk.
Ace Hardware
ACES
Indonesia Tbk.
Akasha Wira
ADES
International Tbk.
Adhi Karya (Persero)
ADHI.
Tbk.
Adira Dinamika Multi
ADMF
Finance Tb
Polychem Indonesia
ADMG
Tbk
ADRO Adaro Energi Tbk.
Bank Rakyat Indonesia
AGRO
Agroniaga
Tiga Pilar Sejahtera
AISA
Food Tbk.
ABDA
12
AKRA
13
AMAG
14
AMFG
15
AMRT
16
ANTM
17
APLI
18
ARNA
19
ARTI
20
ASGR
AKR Corporindo Tbk.
Asuransi Multi Artha
Guna Tbk.
Asahimas Flat Glass
Tbk.
Sumber Alfaria
Trijaya Tbk
Aneka Tambang
(Persero) Tbk.
Asiaplast Industries
Tbk.
Arwana Citra Mulia
Tbk.
Ratu Prabu Energi
Tbk
Astra Graphia Tbk.
31
32
33
34
35
36
Nama Emiten
Asia Natural
Resources Tbk
Alam Sutera Realty
Tbk.
Astra International
Tbk.
Bank Negara
Indonesia (Persero)
Bank Rakyat
BBRI
Indonesia (Persero)
Bank Tabungan
BBTN
Negara (Persero)
Bank Danamon
BDMN
Indonesia Tbk.
Bank Pundi Indonesia
BEKS
Tbk.
BFI Finance Indonesia
BFIN
Tbk
BBNI
37
BHIT
38
BISI
39
BKDP
40
BKSL
MNC Investama Tbk.
BISI International
Tbk.
Bukit Darmo Property
Tbk.
Sentul City Tbk.
48
No.
Kode
Nama Emiten
Bank Mandiri
(Persero) Tbk.
41
BMRI
42
BMTR
Global Mediacom
Tbk.
62
43
BNBA
Bank Bumi Arta Tbk.
63
44
BNBR
45
BNGA
46
BNII
47
48
49
BNLI
BRNA
BRPT
50
BSDE
51
BTEK
52
BTEL
53
BTON
54
BTPN
55
BUDI
56
BUMI
57
Bakrie & Brothers
Tbk
Bank CIMB Niaga
Tbk.
Bank Internasional
Indonesia Tb
Bank Permata Tbk.
Berlina Tbk.
Barito Pacific Tbk.
Bumi Serpong Damai
Tbk.
Bumi Teknokultura
Unggul Tbk
No.
61
64
65
66
67
68
69
70
Kode
Nama Emiten
Citra Marga
CMNP
Nusaphala Persada T
CNKO Exploitasi Energi
Indonesia Tbk
Cowell Development
COWL
Tbk.
Charoen Pokphan
CPIN
Indonesia Tbk
Catur Sentosa Adiprana
CSAP
Tbk.
Ciputra Development
CTRA
Tbk.
CTRP Ciputra Property Tbk.
CTRS Ciputra Surya Tbk.
CTTH Citatah Tbk.
Duta Anggada Realty
DART
Tbk.
71
DEWA Darma Henwa Tbk
72
DGIK
73
DILD
74
DOID
75
DVLA
Bumi Resources Tbk
76
EKAD
BVIC
Bank Victoria
International Tbk
77
ELSA
Elnusa Tbk.
58
BWPT
BW Plantation Tbk.
78
ELTY
Bakrieland
Development Tbk
59
BYAN
79
ENRG
Energi Mega Persada
Tbk
60
CFIN
Bayan Resources
Tbk.
Clipan Finance
Indonesia Tbk.
80
ETWA
Eterindo Wahanatam
Tbk
Bakrie Telecom Tbk.
Betonjaya
Manunggal Tbk.
Bank Tabungan
Pensiunan Nasional
BUDI STARCH &
SWEE
Nusa Konstruksi
Enjiniring Tbk.
Intiland Development
Tbk.
Delta Dunia Makmur
Tbk
Drya Varya
Laboratoria Tbk
Ekadharma
International Tbk.
49
No.
Kode
81
EXCL
82
FORU
83
FPNI
84
FREN
85
Nama Emiten
No.
Kode
XL Axiata Tbk
101
INDR
Fortune Indonesia Tbk
LOTTE CHEM
TITAN
102
INDY
103
INKP
SMARTFREN
Telecom Tbk
104
INPC
Bank Artha Graha
Internasional
GDST
Gunawan Dianjaya
Steel Tbk
105
INTA
Intraco Penta Tbk.
86
GGRM
Gudang Garam Tbk
106
INTP
87
GJTL
107
INVS
88
GPRA
108
ISAT
Indosat Tbk
89
GTBO
Gajah Tunggal Tbk
Perdana Gapuraprima
Tbk
Garda Tujuh Buana
Tbk.
Indocement Tunggal
Prakasa Tbk
Inovisi Infracom Tbk.
109
ITMG
90
GZCO
Gozco Plantations Tbk
110
JECC
91
HADE,
HD Capital Tbk
111
JPFA
92
HEXA,
Hexindo Adiperkasa
Tbk
112
JPRS
Jaya Pari Steel Tbk
93
HMSP
HM Sampoerna Tbk
113
JSMR
Jasa Marga (Persero)
Tbk
94
IDKM
114
KAEF
Kimia Farma Tbk
95
IGAR
115
KARK
96
INAF
116
KBLI
97
INAI
117
KBRI
98
INCI
118
KIAS
99
INCO
Vale Indonesia Tbk
119
KIJA
100
INDF
Indofood Sukses
Makmur Tbk
120
KBLF
Indosiar Karya Media
Tbk
Champion Pacific
Indonesia Tbk
Indofarma Tbk
Indal Aluminium
Industry Tbk
Intanwijaya
Internasional Tbk
Nama Emiten
Indo-Rama Synthetics
Tbk
Indika Energy Tbk
Indah Kiat Pulp &
Paper Tbk
Indo Tambangraya
Megah Tbk
Jembo Cable Company
Tbk
Japfa Comfeed
Indonesia Tbk.
Dayaindo Resources
International
KMI Wire & Cable
Tbk
Kertas Basuki
Rachmat Indonesia
Keramika Indonesia
Assosiasi Tbk.
Kawasan Industri
Jababeka Tbk
Kalbe Farma Tbk.
50
No.
Kode
121
KPIG
122
KREN
123
LMPI
124
LPCK
125
Nama Emiten
No.
Kode
141
MNCN
142
MPPA
143
MRAT
Lippo Cikarang Tbk
144
MTDL
LPKR
Lippo Karawaci Tbk
145
MYOR
126
LPLI
Star Pacific Tbk
146
MYTX
127
LPPS
147
NIKL
128
LSIP
148
NISP
129
LTLS
149
OKAS
130
MAIN
150
PANR
131
MAPI
151
PANS
Panin Sekuritas Tbk
132
MASA
152
PBRX
Pan Brothers Tbk.
133
MDLN
153
PGAS
134
MDRN
154
PJAA
135
MEDC
155
PKPK
136
META
156
PLAS
137
MFIN
157
PNBN
138
MICE
158
PNIN
Bank Pan Indonesia
Tbk
Panin Insurance Tbk
139
MITI
159
PNLF
Panin Financial Tbk
140
MLPL
160
POLY
Asia Pacific Fibers Tbk
MNC Land Tbk
Kresna Graha
Sekurindo Tbk.
Langgeng Makmur
Industri Tbk
Lippo Securities
Tbk.
PP London Sumatra
Indonesia Tbk.
Lautan Luas Tbk
Malindo Feedmill
Tbk
Mitra Adiperkasa
Tbk
Multistrada Arah
Sarana Tbk.
Modernland Realty
Ltd. Tbk.
Modern
International Tbk.
Medco Energy
International Tbk.
Nusantara
Infrastucture Tbk
Mandala
Multifinance Tbk
Multi Indocitra Tbk
Mitra Investindo
Tbk
Multipolar Tbk.
Nama Emiten
Media Nusantara Citra
Tbk
Matahari Putra Prima
Tbk.
Mustika Ratu Tbk
Metrodata Electronics
Tbk
Mayora Indah Tbk
Apac Citra Centertex
Tbk
PELAT TIMAH
NUSANTARA IDR100
Bank OCBC NISP Tbk
Ancora Indonesia
Resources Tbk
Panorama Sentra
Wisata Tbk.
Perusahaan Gas Negara
(Persero)
Pembangunan Jaya
Ancol Tbk
Perdana Karya Perkasa
Tbk
Polaris Investama Tbk
51
No.
Kode
161
PTBA
162
163
PTSN
PUDP
164
PWON Pakuwon Jati Tbk.
184
165
PYFA
Pyridam Farma Tbk
185
166
RAJA
Rukun Raharja Tbk
186
167
168
169
170
Ramayana Lestari
Sentosa Tbk
Ristia Bintang
RBMS
Mahkotasejati Tb
Bentoel Internasional
RMBA
Investama
Radiant Utama
RUIS
Interinsco Tbk
RALS
171
SCMA
172
SDPC
173
SDRA
174
SGRO
175
SHID
176
SIPD
177
SMCB
178
179
180
Nama Emiten
Tambang Batubara
Bukit Asam (Pe
Sat Nusapersada Tbk
Pudjiadi Prestige Tbk
Surya Citra Media Tbk.
Millennium Pharmacon
Internatio
Bank Himpunan
Saudara 1906 Tbk
Sampoerna Agro Tbk
Hotel Sahid Jaya
International
Sierad Produce Tbk
Holcim Indonesia Tbk
Semen Indonesia
(Persero) Tbk
Sinarmas Multiartha
SMMA
Tbk
Summarecon Agung
SMRA,
Tbk
SMGR
No.
181
182
183
187
188
189
190
191
Kode
Nama Emiten
Selamat Sempurna
SMSM
Tbk
SPMA Suparma Tbk
SRSN Indo Acidatama Tbk
Surya Semesta
SSIA
Internusa Tbk.
PT SLJ GLOBAL
SULI
TBK
Tunas Baru Lampung
TBLA
Tbk
TINS
Timah (Persero) Tbk.
Tirta Mahakam
Resources Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi
TKIM
Kimia Tbk
Telekomunikasi
TLKM
Indonesia (Persero)
Pelayaran Tempuran
TMAS
Emas Tbk
TIRT
192
TMPI
193
TMPO Tempo Intimedia Tbk
194
195
196
197
198
AGIS Tbk
Total Bangun Persada
Tbk
Chandra Asri
TPIA
Petrochemical Tbk
TRAM Trada Maritime Tbk.
Triwira Insanlestari
TRIL
Tbk
Trimegah Securities
TRIM
Tbk
TOTL
199
TRIO
Trikomsel Oke Tbk.
200
TRST
Trias Sentosa Tbk
52
No.
Kode
201
TRUB
202
TSPC
203
TURI
204
ULTJ
205
UNSP
206
UNTR
207
UNVR
Nama Emiten
No.
Truba Alam
Manunggal
208
Engineerin
Tempo Scan Pacific
209
Tbk
Tunas Ridean Tbk.
Ultra Jaya Milk
Industry & Trad
Bakrie Sumatra
Plantations Tbk
United Tractors
Tbk
Unilever Indonesia
Tbk
Kode
VRNA
Nama Emiten
Verena Multi Finance
Tbk.
Panorama Transportasi
Tbk
Wicaksana Overseas
210 WICO
Internationa
Wijaya Karya (Persero)
211 WIKA
Tbk.
Wahana Ottomitra
212 WOMF
Multiartha Tbk
213
WEHA
YPAS
Yana Prima Persada
Lampiran 2
Kriteria Pengambilan Sampel Saham Winner
No
Kode
Nama Emiten
Return
%
1
ADES.
Akasha Wira International
Tbk.
0,1
10
>
7,2
2
ADHI.
Adhi Karya (Persero) Tbk.
0,1071
10,71
>
7,2
3
ADMG. Polychem Indonesia Tbk
0,0756
7,56
>
7,2
4
ANTM.
Aneka Tambang (Persero)
Tbk.
0,0909
9,09
>
7,2
5
ARNA
Arwana Citra Mulia Tbk.
0,0895
8,95
>
7,2
6
ASIA.
Asia Natural Resources Tbk
0,0833
8,33
>
7,2
7
BAYU.
Bayu Buana Tbk
0,1192
11,92
>
7,2
8
BBKP.
Bank Bukopin Tbk.
0,0947
9,47
>
7,2
9
BBLD.
Buana Finance Tbk.
0,1522
15,22
>
7,2
10
BBTN
Bank Tabungan Negara
(Persero)
0,0982
9,82
>
7,2
11
BISI.
BISI International Tbk.
0,0917
9,17
7,2
12
BKSL.
Sentul City Tbk.
0,28
28
>
>
7,2
53
13
BMTR
Global Mediacom Tbk.
0,2333
23,33
>
7,2
14
BNBR.
Bakrie & Brothers Tbk
0,2308
23,08
>
7,2
15
BRPT.
Barito Pacific Tbk.
0,0941
9,41
>
7,2
16
BSDE.
Bumi Serpong Damai Tbk.
0,1053
10,53
>
7,2
17
BTEL.
Bakrie Telecom Tbk.
0,0992
9,92
>
7,2
18
BTON.
Betonjaya Manunggal Tbk.
0,2
20
>
7,2
19
BTPN
Bank Tabungan Pensiunan
Nasional
0,1967
19,67
>
7,2
20
BUMI.
Bumi Resources Tbk
0,1988
19,88
>
7,2
21
BWPT
BW Plantation Tbk.
0,0833
8,33
>
7,2
22
CFIN.
0,1458
14,58
>
7,2
23
CNKO.
0,2167
21,67
>
7,2
24
CPIN
0,1263
12,63
>
7,2
25
CSAP.
Catur Sentosa Adiprana Tbk.
0,1096
10,96
>
7,2
26
CTRP.
Ciputra Property Tbk.
0,0741
7,41
>
7,2
27
CTTH.
Citatah Tbk.
0,1017
10,17
>
7,2
28
DART.
Duta Anggada Realty Tbk.
0,1157
11,57
>
7,2
29
DEWA. Darma Henwa Tbk
0,3833
38,33
>
7,2
30
DGIK.
Nusa Konstruksi Enjiniring
Tbk.
0,1316
13,16
>
7,2
31
ELSA.
Elnusa Tbk.
0,1667
16,67
>
7,2
32
ENRG,
Energi Mega Persada Tbk
0,52
52
>
7,2
33
FPNI,
LOTTE CHEM TITAN
0,0769
7,69
>
7,2
34
GDST
Gunawan Dianjaya Steel Tbk 0,092
9,2
>
7,2
Clipan Finance Indonesia
Tbk.
Exploitasi Energi Indonesia
Tbk
Charoen Pokphan Indonesia
Tbk
35
GGRM, Gudang Garam Tbk
0,1321
13,21
>
7,2
36
HMSP,
HM Sampoerna Tbk
0,0797
7,97
>
7,2
37
IDKM
Indosiar Karya Media Tbk
0,1412
14,12
>
7,2
38
INAI,
Indal Aluminium Industry
Tbk
0,0753
7,53
>
7,2
39
INCO,
Vale Indonesia Tbk
0,1172
11,72
>
7,2
54
40
ITMG,
Indo Tambangraya Megah
Tbk
0,101
10,1
>
7,2
41
JPRS,
Jaya Pari Steel Tbk
0,2222
22,22
>
7,2
42
JSMR,
Jasa Marga (Persero) Tbk
0,0791
7,91
>
7,2
43
KARK
Dayaindo Resources
International
0,2063
20,63
>
7,2
44
KBLI,
KMI Wire & Cable Tbk
0,1077
10,77
>
7,2
45
KBRI
0,1077
10,77
>
7,2
46
KIJA,
0,1734
17,34
>
7,2
0,1818
18,18
>
7,2
47
Kertas Basuki Rachmat
Indonesia
Kawasan Industri Jababeka
Tbk
MNCN, Media Nusantara Citra Tbk
48
NIKL
PELAT TIMAH
NUSANTARA IDR100
0,1277
12,77
>
7,2
49
PLAS,
Polaris Investama Tbk
0,1034
10,34
>
7,2
50
PNBN,
Bank Pan Indonesia Tbk
0,15
15
>
7,2
51
PNLF,
Panin Financial Tbk
0,0732
7,32
>
7,2
52
POLY,
Asia Pacific Fibers Tbk
0,1343
13,43
>
7,2
53
PWON
Pakuwon Jati Tbk.
0,1071
10,71
>
7,2
54
PYFA,
Pyridam Farma Tbk
0,1047
10,47
>
7,2
55
RAJA,
Rukun Raharja Tbk
0,125
12,5
>
7,2
56
RBMS,
0,1455
14,55
>
7,2
57
SDPC,
0,1273
12,73
>
7,2
58
SGRO,
Sampoerna Agro Tbk
0,1082
10,82
>
7,2
59
SMGR,
Semen Indonesia (Persero)
Tbk
0,1558
15,58
>
7,2
60
SRSN,
Indo Acidatama Tbk
0,0769
7,69
>
7,2
61
SULI,
PT SLJ GLOBAL TBK
0,1935
19,35
>
7,2
62
TINS
Timah (Persero) Tbk.
0,0773
7,73
>
7,2
63
TIRT,
0,1231
12,31
>
7,2
64
TMAS,
0,0828
8,28
>
7,2
65
TMPI,
0,3471
34,71
>
7,2
Ristia Bintang Mahkotasejati
Tb
Millennium Pharmacon
Internatio
Tirta Mahakam Resources
Tbk
Pelayaran Tempuran Emas
Tbk
AGIS Tbk
55
66
TRIL,
67
TRUB,
68
UNSP,
69
UNVR,
Triwira Insanlestari Tbk
Truba Alam Manunggal
Engineerin
Bakrie Sumatra Plantations
Tbk
Unilever Indonesia Tbk
0,1406
14,06
>
7,2
0,3857
38,57
>
7,2
0,2963
29,63
>
7,2
0,0897
8,97
>
7,2
Lampiran 3
Kriteria Pengambilan Saham Loser
No
1
2
3
4
Symbol
ABBA.JK
Name
Mahaka Media Tbk.
Akasha Wira
ADES.JK
International Tbk.
Adhi Karya (Persero)
ADHI.JK
Tbk.
Polychem Indonesia
ADMG.JK
Tbk
5
ADRO JK
6
AMAG.JK
7
8
Adaro Energi Tbk.
Asuransi Multi Artha
Guna Tbk.
Aneka Tambang
ANTM.JK
(Persero) Tbk.
Asiaplast Industries
APLI.JK
Tbk.
9
ARTI.JK
Ratu Prabu Energi Tbk
10
ASGR.JK
11
ASRI.JK
Astra Graphia Tbk.
Alam Sutera Realty
Tbk.
12
ASII JK
13
AUTO JK
Astra Otoparts Tbk.
14
BAYU.JK
Bayu Buana Tbk
15
BBKP.JK
Bank Bukopin Tbk.
16
BBLD.JK
Buana Finance Tbk.
17
BBNI.JK
Bank Negara Indonesia
Astra International Tbk.
Return
-0.1583
%
-15.83
<
-8.921
-0.1157
-11.57
<
-8.921
-10.53
<
-8.921
-14.71
<
-8.921
-10.00
<
-8.921
-0.2049
-20.49
<
-8.921
-0.0899
-8.99
<
-8.921
-11.61
<
-8.921
-13.04
<
-8.921
-9.17
<
-8.921
-10.84
<
-8.921
-9.45
<
-8.921
-9.49
<
-8.921
-12.96
<
-8.921
-11.48
<
-8.921
-9.09
<
-8.921
-14.84
<
-8.921
-0.1053
-0.1471
-0.1000
-0.1161
-0.1304
-0.0917
-0.1084
-0.0945
-0.0949
-0.1296
-0.1148
-0.0909
-0.1484
56
(Persero)
Bank Rakyat Indonesia
(Persero)
Bank Tabungan Negara
(Persero)
Bank Pundi Indonesia
Tbk.
BFI Finance Indonesia
Tbk
18
BBRI JK
19
BBTN JK
20
BEKS.JK
21
BFIN JK
22
BHIT JK
MNC Investama Tbk.
23
BISI.JK
24
BKDP JK
BISI International Tbk.
Bukit Darmo Property
Tbk.
25
BKSL.JK
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
Sentul City Tbk.
Bank Mandiri (Persero)
Tbk.
BNGA.JK Bank CIMB Niaga Tbk.
BRNA JK Berlina Tbk.
BRPT.JK Barito Pacific Tbk.
Betonjaya Manunggal
BTON.JK
Tbk.
Bank Tabungan
BTPN JK
Pensiunan Nasional
BUMI.JK Bumi Resources Tbk
Exploitasi Energi
CNKO.JK
Indonesia Tbk
Cowell Development
COWL.JK
Tbk.
Charoen Pokphan
CPIN JK
Indonesia Tbk
Catur Sentosa Adiprana
CSAP.JK
Tbk.
Ciputra Development
CTRA JK
Tbk.
BMRI JK
38
DEWA.JK Darma Henwa Tbk
39
DGIK.JK
40
DILD JK
41
DOID JK
Nusa Konstruksi
Enjiniring Tbk.
Intiland Development
Tbk.
Delta Dunia Makmur
-0.1311
-13.11
<
-8.921
-0.1783
-17.83
<
-8.921
-11.27
<
-8.921
-9.52
<
-8.921
-10.50
<
-8.921
-14.16
<
-8.921
-12.28
<
-8.921
-8.93
<
-8.921
-14.52
<
-8.921
-10.40
-9.09
-13.13
<
<
<
-8.921
-8.921
-8.921
-0.1045
-10.45
<
-8.921
-0.1141
-11.41
<
-8.921
-0.1262
-12.62
<
-8.921
-12.61
<
-8.921
-0.1304
-13.04
<
-8.921
-0.1619
-16.19
<
-8.921
-0.1400
-14.00
<
-8.921
-0.1161
-11.61
<
-8.921
-15.73
<
-8.921
-0.0990
-9.90
<
-8.921
-0.1154
-11.54
<
-8.921
-11.39
<
-8.921
-0.1127
-0.0952
-0.1050
-0.1416
-0.1228
-0.0893
-0.1452
-0.1040
-0.0909
-0.1313
-0.1261
-0.1573
57
Tbk
Ekadharma
International Tbk.
Elnusa Tbk.
Energi Mega Persada
Tbk
Gunawan Dianjaya
Steel Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Garda Tujuh Buana
Tbk.
42
EKAD.JK
43
ELSA.JK
44
ENRG,JK
45
GDST JK
46
GJTL,JK
47
GTBO JK
48
HMSP,JK
49
IDKM JK
50
IGAR,JK
51
52
INAF,JK
INCO,JK
53
INDF,JK
54
INDR,JK
55
INDY,JK
56
INTP,JK
57
INVS JK
58
JECC,JK
59
JPFA JK
60
JPRS,JK
61
JSMR,JK
62
KIJA,JK
63
KBLF JK
64
LMPI,JK
65
LPCK,JK
Lippo Cikarang Tbk
66
LPLI,JK
Star Pacific Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indosiar Karya Media
Tbk
Champion Pacific
Indonesia Tbk
Indofarma Tbk
Vale Indonesia Tbk
Indofood Sukses
Makmur Tbk
Indo-Rama Synthetics
Tbk
Indika Energy Tbk
Indocement Tunggal
Prakasa Tbk
Inovisi Infracom Tbk.
Jembo Cable Company
Tbk
Japfa Comfeed
Indonesia Tbk.
Jaya Pari Steel Tbk
Jasa Marga (Persero)
Tbk
Kawasan Industri
Jababeka Tbk
Kalbe Farma Tbk.
Langgeng Makmur
Industri Tbk
-0.1139
-0.2034
-20.34
<
-8.921
-0.1111
-11.11
<
-8.921
-11.31
<
-8.921
-0.1184
-11.84
<
-8.921
-0.1101
-11.01
<
-8.921
-0.1726
-17.26
<
-8.921
-10.09
<
-8.921
-0.1474
-14.74
<
-8.921
-0.1250
-12.50
<
-8.921
-0.1000
-0.1348
-10.00
-13.48
<
<
-8.921
-8.921
-13.00
<
-8.921
-10.20
<
-8.921
-9.65
<
-8.921
-0.1515
-15.15
<
-8.921
-0.2957
-29.57
<
-8.921
-10.00
<
-8.921
-14.29
<
-8.921
-9.09
<
-8.921
-9.49
<
-8.921
-0.1528
-15.28
<
-8.921
-0.1691
-16.91
<
-8.921
-19.61
<
-8.921
-13.44
<
-8.921
-13.40
<
-8.921
-0.1131
-0.1009
-0.1300
-0.1020
-0.0965
-0.1000
-0.1429
-0.0909
-0.0949
-0.1961
-0.1344
-0.1340
58
67
LPPS JK
68
LSIP JK
69
LTLS,JK
Lautan Luas Tbk
70
MAPI,JK
Mitra Adiperkasa Tbk
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
Lippo Securities Tbk.
PP London Sumatra
Indonesia Tbk.
Medco Energy
International Tbk.
MICE,JK Multi Indocitra Tbk
MLPL JK Multipolar Tbk.
Ancora Indonesia
OKAS,JK
Resources Tbk
PANS,JK Panin Sekuritas Tbk
Perusahaan Gas Negara
PGAS JK
(Persero)
Pembangunan Jaya
PJAA,JK
Ancol Tbk
PNIN,JK Panin Insurance Tbk
PNLF,JK Panin Financial Tbk
POLY,JK Asia Pacific Fibers Tbk
PTSN,JK Sat Nusapersada Tbk
PYFA,JK Pyridam Farma Tbk
Bentoel Internasional
RMBA,JK
Investama
Radiant Utama
RUIS,JK
Interinsco Tbk
SGRO,JK Sampoerna Agro Tbk
SIPD,JK Sierad Produce Tbk
Summarecon Agung
SMRA,JK
Tbk
SPMA,JK Suparma Tbk
SULI,JK PT SLJ GLOBAL TBK
TINS JK Timah (Persero) Tbk.
Tirta Mahakam
TIRT,JK
Resources Tbk
Pelayaran Tempuran
TMAS,JK
Emas Tbk
TMPI,JK AGIS Tbk
TMPO,JK Tempo Intimedia Tbk
TRIL,JK Triwira Insanlestari Tbk
TRST,JK Trias Sentosa Tbk
MEDC JK
-0.1700
-17.00
<
-8.921
-0.1070
-10.70
<
-8.921
-11.96
<
-8.921
-15.82
<
-8.921
-12.24
<
-8.921
-17.95
-8.97
<
<
-8.921
-8.921
-12.28
<
-8.921
-9.60
<
-8.921
-0.1287
-12.87
<
-8.921
-0.2286
-22.86
<
-8.921
-0.1373
-0.1094
-0.1154
-0.1071
-0.1243
-13.73
-10.94
-11.54
-10.71
-12.43
<
<
<
<
<
-8.921
-8.921
-8.921
-8.921
-8.921
-0.1071
-10.71
<
-8.921
-0.1207
-12.07
<
-8.921
-0.1136
-0.1176
-11.36
-11.76
<
<
-8.921
-8.921
-0.1000
-10.00
<
-8.921
-0.1321
-0.0949
-0.1095
-13.21
-9.49
-10.95
<
<
<
-8.921
-8.921
-8.921
-0.0984
-9.84
<
-8.921
-0.1489
-14.89
<
-8.921
-0.2390
-0.1552
-0.1053
-0.1154
-23.90
-15.52
-10.53
-11.54
<
<
<
<
-8.921
-8.921
-8.921
-8.921
-0.1196
-0.1582
-0.1224
-0.1795
-0.0897
-0.1228
-0.0960
59
Ultra Jaya Milk
Industry & Trad
98 UNTR,JK United Tractors Tbk
Verena Multi Finance
99 VRNA JK
Tbk.
Wicaksana Overseas
100 WICO,JK
Internationa
Wijaya Karya (Persero)
101 WIKA JK
Tbk.
Wahana Ottomitra
102 WOMF,JK
Multiartha Tbk
97
ULTJ,JK
-0.1017
-10.17
<
-8.921
-0.0948
-9.48
<
-8.921
-0.1410
-14.10
<
-8.921
-0.1207
-12.07
<
-8.921
-0.1111
-11.11
<
-8.921
-0.1385
-13.85
<
-8.921
60
Download