plus minus program opsi saham

advertisement
| Nomor 03 | Tahun 2004 | Rp6.750,- |
DaftarIsi
1
2
2
3
6
20
24
26
28
28
29
30
32
Dari
DariRedaksi
Info Eksekutif
Komentar
Etalase
Fokus
HC
HCTren
Kolega
Konsultasi
Kolom
Kiat
Life
LifeStyle
Bursa
Kerja
BursaKerja
Rehal
RAHASIA
MEMBANGUN
BUDAYA
KORPORAT
RAHASIA
MEMBANGUN
BUDAYA
KORPORAT
l
ha
am
an
26
F O K U S
RAHASIA
MEMBANGUN
BUDAYA
KORPORAT
Dunia bisnis diramaikan oleh perusahaan yang
muncul silih berganti. Puluhan ribu perusahaan baru
bermunculan di dunia setiap hari, tak sedikit pula
perusahaan yang justru jatuh bangkrut.
Namun, perusahaan-perusahaan terbaik tetap menjulang
dan menguasai pasar meski telah berusia tua.
Apa kuncinya?
PLUS MINUS
22
PROGRAM OPSI SAHAM
halaman
Beberapa perusahaan publik Indonesia sudah menerapkan ESOP
(Employee Stock Ownership Program/Plan) sebagai satu cara untuk
mengapresiasi manajer dan eksekutif. Program ini ternyata cukup efektif
menahan larinya para eksekutif handal. Sayangnya,
ESOP jadi tidak menarik karena harga saham perusahaan yang
turun terus dan cenderung kurang bernilai.
Judhi Kristantini:
“Rasanya memang kita
harus mencari pekerjaan
yang kita sukai agar tidak
menjadi beban,”
Rudjito:
“Sekarang, investor asing
sangat bullish dengan
saham Bank BRI,”
Robby Djohan:
“Kalau di seluruh dunia
orang-orang Citibank ada
di mana-mana,”
Stephen Z. Satyahadi:
“Jangan hanya mau jadi
yang terbaik saja, tanpa
mau tahu dasarnya,”
halaman 24
halaman 20
halaman 6
halaman 6
2
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
D a r i R e d a k s i
S
Kaizen
alah satu konsep manajemen yang membuat
perusahaan-perusahaan Jepang unggul di pasar
global adalah kaizen, yang bermakna upaya
perbaikan/penyempurnaan terus menerus
(continous improvement). Dalam skala yang lebih kecil,
kami pun menerapkan manajemen kaizen. Setiap saat
pengelola tabloid Human Capital terus menyempurnakan
seluruh aspek usaha, seperti redaksi, pemasaran, distribusi,
dan layanan pelanggan. Seluruh upaya ini bertujuan untuk
memuaskan Anda, para pembaca.
Dari sisi redaksi, kami memiliki komitmen untuk selalu
menyajikan yang terbaik kepada pembaca. Kami akan selalu
mengupas tuntas tema-tema yang dibutuhkan dengan
menggali informasi langsung dari para pelaku bisnis, para
pengamat dan konsultan, serta bahan-bahan referensi
mutakhir. Dari dua edisi HC yang telah meluncur ke pasar,
para pembaca bisa melihat betapa seriusnya kami
menggarap sajian kami. Kami tidak asal tulis atau asal
menulis enak, namun berusaha untuk tampil komprehensif
sehingga pembaca benar-benar meraih manfaat dari sajian
kami. Referensi terkini dari luar negeri akan selalu
menghiasi tulisan-tulisan kami.
Dalam edisi ini, kami memilih tema “Rahasia Membangun Budaya Korporat” di rubrik Fokus dan “Implementasi Opsi Saham” di rubrik HC Tren. Ternyata, perusahaan-perusahaan hebat atau sering disebut juga
perusahaan visioner sukses berkat keberhasilan mereka
membangun budaya korporat yang kuat. Budaya itu dijelaskan dalam bentuk nilai-nilai
(value) dan keyakinan (belief) yang kemudian membentuk sikap dan perilaku seluruh
orang dalam perusahaan itu. Sikap dan perilaku itu tampak dalam cara mereka bekerja,
berinteraksi satu sama lain, memandang persoalan, mengambil keputusan, dan berinteraksi
dengan pihak eksternal. Kami sajikan beberapa contoh
perusahaan lokal dan global yang dikenal memiliki budaya
korporat kuat, macam Unilever, Citibank, Astra, Bank Niaga,
IBM, HP, GE, dan sebagainya. Juga pendapat konsultan
terkemuka di bidangnya. Harapan kami, dengan membaca
rangkaian tulisan ini, pembaca bisa memperoleh rahasia
kunci membangun budaya korporat.
Persoalan opsi saham kami kupas tak kalah dalam
dengan Fokus karena program ini mulai banyak diterapkan
di perusahaan Indonesia, khususnya perusahaan publik
(Tbk). Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam)
mewajibkan emiten untuk memberikan 5% sahamnya
kepada para karyawan dan manajemen perusahaan. Hanya
saja, perusahaan Indonesia juga harus belajar dari
pengalaman Amerika, negara “mbahnya”program opsi
saham, karena kini pun mereka sedang mengoreksi program tersebut. Alasannya, program itu tak sepenuhnya
efektif mencapai sasaran.
Mulai edisi ini, sajian HC diperkaya dengan menghadirkan rubrik baru, seperti Info Eksekutif dan Tips Praktis.
Info Eksekutif berisi informasi singkat tentang berbagai
aspek manajemen, khususnya manajemen SDM, yang
perlu diketahui para eksekutif. Sedangkan Tips Praktis
menyajikan opini karyawan terhadap tema-tema ringan
seputar pekerjaan. Edisi kali ini mengambil tema
“Menghadapi Bos Galak”.
Namun demikian, tak lupa kami mohon maaf atas
terlambatnya edisi kali ini menemui pembaca. Mungkin kami terlalu bersemangat
menerapkan kaizen di redaksi sehingga lupa waktu. Kami akan berusaha keras agar
keterlambatan semacam ini tidak pernah terjadi lagi di masa mendatang.
Sekali lagi mohon maaf, dan selamat membaca.
Selamat
& Sukses
atas akan
terselenggaranya
Seminar &
Musyawarah cabang
IWAPI Surakarta
25 s/d 26 Mei 2004
P emim
pin U
mum: Farid Aidid „ P emim
pin P
erusahaan: If tida Yasar „ W akil P
emim
pin P
erusahaan: Harry Sidharta „ P emim
pin
emimpin
Umum:
emimpin
Perusahaan:
Pemim
emimpin
Perusahaan:
emimpin
R edaksi: P. Muhammad „ R edaktur P
elaksana: Malla Latif „ R edaktur: Ratri Suyani „ K ontribut
or: Indraria Djokomono „ Ar
tistik:
Pelaksana:
ontributor:
Artistik:
er: Dimas Mamik „ Iklan: T. Muhtadi „ Sekre
taris R
edaksi: Rizma Maulina „ A dministrasi: Afiantomi
Joel Totok Apriyanto „ Fo t ograf
ografer:
Sekretaris
Redaksi:
edaksi/T
ata Usaha, Iklan&Pr
omosi: Setiabudi Building 2, 3rd Floor. Suite 305
„ Penerbit: PT Bina Semesta Giartha Lestari „ Alamat R
Redaksi/T
edaksi/Tata
Iklan&Promosi:
Jl. H. R. Rasuna Said Kav. 62 Jakarta 12920 Telp. 021-5220575 Fax. 021-52901024 E-mail: [email protected] „ Bank: a/n PT. Perdana
tak: PT Temprint.
encetak:
Perkasa Elastindo, Bank Permata Cab. Atrium Setiabudi No. Rek. 0.216322.002 „ Pence
3
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
I n f o E k s e k u t i f
ASIA BUSINESS LEADER AWARDS 2004
C
NBC Asia Pasifik, TNT Asia, dan China
Business Network telah mengumumkan peluncuran Asia Business
Leader Awards (ABLA) 2004, yang diselenggarakan di Shanghai, Cina, tanggal 25-26
Mei 2004. ABLA, yang diluncurkan tahun
2001, merupakan satu-satunya penghargaan bergengsi di tingkat regional. Penghargaan ini diberikan kepada CEO-CEO Asia
yang telah secara luar biasa menunjukkan
kemampuan memimpin untuk meraih
sukses di negara mereka maupun di
kawasan regional.
ABLA 2001 digelar di Hotel Shangri-la,
Singapura. ABLA 2002 digelar di Hong Kong
bertempat di Hotel Hyatt. ABLA 2003
sedianya diadakan di Shanghai. Tapi karena
wabah SARS, panitia penyelenggara menunda acara ini menjadi tahun 2004. ABLA 2004
akan diadakan di Four Seasons Hotel yang
bertindak sebagai hotel resmi. Pemilihan
Cina sebagai lokasi acara juga pengakuan
terhadap Cina sebagai kekuatan ekonomi
yang berkembang di kawasan ini. Bahkan,
dalam ABLA 2004, secara khusus akan
diberikan penghargaan untuk kategori baru
China CEO of the Year, selain kategorikategori yang sudah ada: The Asia Business
Leader of the Year, Innovator of the Year,
Corporate Citizen of the Year, dan CEO’s
Choice of the Year.
Adapun tema penghargaan tahun ini
adalah Defining success through leadership. Proses penjurian adakan dilakukan
oleh tim akademis dari University of Chicago
Graduate School of Business, yang menjadi
Knowledge Partner. Sementara Development Dimensions International (DDI), salah
satu konsultan sumberdaya manusia dan
pengembangan kepemimpinan terdepan di
dunia, merupakan ABLA 2004 Research
Partner. Mereka bekerjasama dengan Chicago GSB dalam putaran pertama proses
penjurian.
Proses penjurian ini telah dibagi menjadi
tiga fase. Pada tahap pertama, tim akademis
telah mengumpulkan data kuantitatif
perusahaan terbaik di Asia dan menyeleksi
lebih dari 50 kandidat ke tahap selanjutnya.
Tahap kedua, wawancara para kandidat
berdasarkan kriteria tertentu. Setelah itu,
20 kandidat akan diseleksi untuk maju pada
Persepsi Para
Eksekutif Terhadap
Fungsi Human
Resources Dan
Pelatihan
S
Keahlian Dasar
Yang Wajib Dimiliki
Oleh Profesi Human Resources
K
aat ini diperkirakan para “CEO” (Indonesia?) dan pimpinan tinggi perusahaan lainnya, menetapkan aktifitas rekrutmen
dan memelihara karyawan yang kompeten,
sebagai prioritas strategik utama yang
mereka lakukan. Meski demikian jajak
pendapat yang dilakukan Accenture mengidentifikasikan bahwa para eksekutif tidak
terlalu ‘bahagia’ terhadap hasil yang diperoleh
dari aktifitas divisi human resources
tersebut.
Sebagai contoh, hanya 13% dari 200
eksektutif di enam negara yang merasa puas
terhadap HR inisiatif perusahaan mereka,
dan 17% dari responden yang menyatakan
puas terhadap hasil pelatihan dan pengembangan perusahaan. Hanya satu CEO yang
dilaporkan sangat puas dengan performa
HR, sementara 20% lainnya sangat tidak
puas.
Meski demikian, hasil ini masih membuka banyak pertanyaan, sebab didapat bahwa
paling tidak 40% dari perusahaan yang
dijadikan responden, tidak secara berkala
mengukur dampak HR serta pelatihan dan
pengembangan, melalui indikator seperti
rasio perbandingan karyawan keluar dan
tinggal, kepuasan karyawan, produktifitas
dan kualitas„
(Disadur dari “Industry week”, tahun 2003)
ontribusi Strategik (Strategic Contribu
tion) dan Kredibilitas Individu (Personal
Credibility), merupakan dua dari lima
keahlian utama yang harus dimiliki HR
profesional, agar dapat memberikan implikasi positif terhadap performa keuangan
perusahaan. Hal ini diungkap berdasarkan
penelitian Society of Human Resources
Management dan University of Michigan.
Hasil ini didapat dengan melakukan
analisa perbandingan terhadap perusahan
yang memiliki performa kerja tinggi dan
rendah. Selain Kontribusi Strategik dan
Kredibilitas Individu, keahlian lain yang
diperlukan adalah Pengetahuan Bisnis
(Business Knowledge), Kemampuan Memberikan Pelayanan HR (Ability to Deliver HR
Services) misalnya strategi kepegawaian
(Staffing Strategies), pengembangan dan
kepatuhan legal, dan terakhir Penggunakan
Tehnologi dalam Memberikan Pelayanan HR
(the use of technology in delivery HR services).
Temuan ini mengungkapkan bahwa
perusahaan dengan HR profesional yang
memiliki kelima kompetensi utama ini,
mampu meningkatkan performa keuangan
hingga 10% dalam jangka waktu tiga
tahun„
(Disadur dari
“Nation’s Restaurant News”, 2003)
tahap penjurian berikutnya. Tahap ketiga
(terakhir), dewan juri independen – terdiri
dari orang-orang kompeten – akan memilih
10 finalis, dan 4 dari mereka terpilih
mendapatkan penghargaan.
ASIA BUSINESS LEADER OF THE YEAR
Penghargaan ini diberikan sebagai
pengakuan bagi eksekutif yang berhasil
membangun loyalitas pelanggan, memberi
inspirasi dan motivasi kepada karyawan,
meningkatkan keuntungan, dan mewujudkan pandangannya bagi perusahaan.
Perhatian khusus akan diberikan terhadap
keberhasilan di tingkat regional, daya
inovasi, pelayanan masyarakat, dan perilaku
sang pemimpin terhadap berbagai isu-isu
global – termasuk Good Corporate Governance.
INNOVATOR OF THE YEAR
Diberikan kepada individu yang memiliki
pemikiran baru dalam dunia bisnis. Kriteria
ini berdasarkan keberhasilan pengembangan produk baru, inovasi proses bisnis,
model, dan strategi bisnis. Dia adalah
pemimpin bisnis yang bisa membuat reinvention menjadi sukses.
CORPORATE CITIZEN OF THE YEAR
Diberikan atas kontribusi di bidang seni,
pendidikan, lingkungan hidup, dan pengembangan masyarakat. Penerima penghargaan
ini akan dinilai berdasarkan kemampuan
untuk merubah sukses perusahaan menjadi
keuntungan bagi masyarakat.
CHINA CEO OF THE YEAR
Penghargaan ini diberikan kepada
pemimpin bisnis Cina yang dengan pandangan dan kemampuan manajemennya
membantu perusahaan menjadi tersukses
di Cina.
CEOS’ CHOICE OF THE YEAR
Penghargaan ini ditentukan melalui polling eksekutif top yang diadakan di seluruh
kawasan regional. Para eksekutif itu
diundang memberikan suara melalui email
ataupun dengan mengakses situs resmi
ABLA 2004 yang memuat 20 semifinalis
terdaftar„
Penelitian Menunjukkan Strategi HR
Yang Tertulis Lebih Bermanfaat
P
erusahaan yang telah memiliki Strategi HR secara tertulis ternyata cenderung
lebih beruntung dibandingkan yang tidak. Demikian menurut para eksekutif
yang berpartipasi dalam penelitian global yang diselenggarakan oleh
Pricewaterhouse-Coopers (PwC), New York.
Partner PwC, James Hatch, mengungkapkan bahwa menuangkan Strategi HR
kedalam tulisan akan memaksa mereka yang bertanggung jawab untuk lebih fokus
dan merasa terlibat, dibandingkan tanpa dokumentasi strategi.
Menurut laporan tersebut, untuk membuatnya menjadi efektif, suatu Strategi
HR membutuhkan “sesuatu untuk menterjemahkan tujuan menjadi aktifitas”,
misalnya sistem penilaian kerja (performance management system) yang efektif,
sistem kompensasi yang mampu mengaitkan motivasi individu dengan tujuan
bisnis, serta cara untuk mengukur return on investment (ROI) dari karyawan,
seperti evaluasi yang akurat terhadap program pelatihan.
Berdasarkan survey PwC tersebut juga didapat beberapa keuntungan yang
didapat dari Strategi HR yang tertulis:
z Keuntungan setiap karyawan 35% lebih tinggi dibanding di perusahaan
yang tidak memiliki strategi tertulis.
z Karyawan yang mangkir kerja 12% lebih rendah
z Pemecatan karyawan rendah
Meskipun banyak perusahaan mengaku memiliki Strategi HR, tapi banyak
yang tidak mampu menuangkannya dalam bentuk dokumen. James Hatch
menambahkan, “tindakan sederhana dengan menuliskan dan mendapatkan
persetujuan atas dokumen tersebut, ternyata membantu perusahaan”
Sebagai tambahan, laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa perusahaan
yang melibatkan pimpinan HR dalam pengambilan keputusan ternyata tidak lebih
baik secara profit, dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan hal ini. Lebih
dari setengah pejabat HR di banyak perusahaan, merupakan anggota tim pengambil
keputusan tertinggi, namun tetap ini bukan merupakan garansi adanya perbaikan
di sisi keuangan. “Hal ini hanya dapat terjadi bila pimpinan HR dapat berpatisipasi
aktif”, lanjut James Hatch. “Anda dapat saja berada di meja yang sama, namun
tidak bersuara. Masalah ini lebih penting dibandingkan dokumentasi, sebab pejabat
HR dapat berkontribusi positif terhadap pendapat perusahaan„
(Disadur dari “HR Magazine”, 2003)
4
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
E t a l a s e
PHK Karyawan HI
Setelah menolak untuk di-PHK, 279 karyawan Hotel Indonesia dan Hotel Inna
Wisata akhirnya bersedia menerima kebijakan PHK sebagai konsekuensi atas
kerjasama dengan PT Cipta Karya Bumi
Indah. Perusahaan dari Grup Djarum ini akan
merenovasi total kawasan HI dengan sistem
BOT selama 30 tahun. Rencananya di
kawasan ini akan hotel berbintang 5 dan
pusat perbelanjaan modern. Kesepakatan
ditandatangani Dirut Hotel Indonesia
Natour (HIN) AM Suseto dan Direktur SDM
HIN Arief Budiman dengan SP Syahrul Sidik,
Odih Setiadi, dan Asep Hermawan.
Sebelumnya sebanyak 836 karyawan
bersedia menerima pesangon yang ditawarkan Hotel Indonesia Natour, yang
besarnya berkisar antara Rp 30 juta hingga
Rp 55 juta, tergantung masa kerja„
Pengurangan
TKA Di Malaysia
Pemerintah Malaysia secara bertahap akan
mengurangi jumlah tenaga kerja asing di
negara itu dengan alasan industri manufaktur mereka mulai menggunakan teknologi tinggi. Kendati demikian, menurut
Menteri SDM Malaysia Datuk Wira Fong
Chan Oan, untuk sektor perkebunan, Malaysia tetap mengandalkan tenaga kerja Indonesia.
Hal itu ditegaskan Fong usai menandatangani MOU dengan Mennakertrans Jacob
Nuwa Wea tentang sistem rekrutmen TKI
di Malaysia. Fong berjanji menindak tegas
perusahaan yang mempekerjakan TKA,
termasuk TKI, secara illegal. Hanya saja,
Jacob berharap pemulangan TKI illegal
dilakukan secara bertahap, yang diperkirakan berjumlah 500.000 orang„
Fren SMART BUY
Berkerjasama dengan Nokia dan 8 institusi
keuangan terkemuka di Indonesia (BCA,
Bank Danamon, bii, Bank Mandiri, BNI, Bank
Niaga, Bank Permata, dan GE Money), PT
Mobile-8 Telecom meluncurkan Program
Fren Smart Buy. Program ini adalah layanan
terbaru berupa auto-debet melalui kartu
kredit yang akan mempermudah konsumen
dalam mendapatkan ponsel dan kartu Fren.
Dalam program ini, konsumen mendapatkan diskon 60% untuk pembelian ponsel
Nokia 6585 dan Nokia 6225, bahkan ada
juga paket gratis ponsel. Untuk paket-paket
tersebut, pelanggan hanya perlu menggunakan layanan Fren sebesar minimum
total pemakaian sebulan (termasuk abonemen) sesuai jangka waktu paket yang
dipilih. Jadi, bukan program cicilan„
Kerjasama
Bank Mandiri-Perumnas
Bank Mandiri menandatangani kesepahaman bersama dengan Perum Perumnas
dalam mendukung pemasaran Kredit
Kepemilikan Rumah (KPR) Graha Mandiri
bagi masyarakat yang ingin membeli rumah
yang dikembangkan Perum Perumnas.
Kerjasama ditandatangani oleh Direktur
Consumer Banking Bank Mandiri Omar S.
Anwar dan Direktur Pemasaran Perumnas
Jimmy Triestanto, CES. Sebelumnya,
Bank Mandiri telah bekerjasama
dengan perusahaan pengembang
lainnya, seperti Duta Pertiwi Group,
Ciputra Group, Duta Putera Group,
dan PT Pembangunan Perumahan„
Bhineka Tunggal Ika
di Ulang Tahun Ke-120
HSBC
HSBC yang telah mencatat sejarah
yang cukup panjang di Indonesia,
pada tanggal 23 April 2004 lalu,
merayakan ulang tahunnya yang ke
120 tahun. Pesta meriah yang Galeri GIP Jewelry
digelar HSBC bertema Bhineka
Tunggal Ika (Unity In Diversity). Hal itu
GIP Jewelry, karena Indonesia justru merudiwujudkan dengan partisipasi para staff
pakan pangsa pasar terbesar dibanding
yang hadir dengan mengenakan pakaian
negara-negara lainnya di Asia Tenggara. “Di
tradisional, baik dari Indonesia maupun dari
Jakarta saja, minat masyarakat membeli
mancanegara.
batu permata bisa mencapai 60%,” kata
“Kami merayakan acara ini untuk
Nasim yang mengaku GIP Jewelry akan
menunjukkan komitmen kami sebagai bank
membuka galeri di Solo, Jawa Tengah, sekitar
internasional yang mengerti tradisi dan
bulan Juli mendatang.
budaya setempat yang dimiliki staff kami
Menurut Nasim, selama ini orang
yang mempunyai latar belakang yang
merasa takut berinvestasi ke batu permata
beragam”, ujar Richard McHowat, CEO HSBC
karena adanya kekhawatiran membeli batu
Indonesia, yang hari itu mengenakan
palsu. Namun dengan membeli di GIP Jewpakaian tradisional kilt, pakaian asli
elry, masyarakat sudah tidak khawatir lagi
Skotlandia„
mengingat batu permata yang dijual
berstandar internasional disertai sertifikat
GIA. GIP Jewelry sendiri memberlakukan Investment Guarantee System (IGS), yaitu
jaminan dimana GIP Jewelry akan membeli
kembali batu-batu mulia tersebut bukan
dengan harga diskon, tapi berdasarkan
persentasi harga pembelian semula, sekitar
IBM meluncurkan 60 solusi piranti lunak
1,5% per tahun. “Pembelian di GIP Jewelry
untuk 12 industri vertikal, guna memenuhi
merupakan jaminan dimana aset rekanan
kebutuhan pelanggan yang berubah-ubah
investasi akan selalu meningkat,” ucap
saat mereka memasuki era on demand. KeNasim„
12 industri tersebut mencakup perbankan,
asuransi, pasar valuta, otomotif, ritel/
pedagang besar, produk konsumer, energi
dan utilitas, telekomunikasi, peralatan
elektronik, telekomunikasi, kesehatan dan
ilmu hayati.
Disela-sela Hari Ulang Tahun Pegadaian
Solusi industri middleware IBM meyang ke-103 Dirut Pegadaian, Deddy
mungkinkan pengaplikasian langsung
Kusdedy memaparkan bahwa tantangan
kemampuan-kemampuan Operating EnviPegadaian kedepan akan semakin komronment yang besifat on demand pada
pleks. Untuk itu sejak didirikan pada 1 April
bisnis utama yang dijalankan pelanggan.
1901 hingga saat ulang tahun, visi
“Solusi ini juga mencerminkan karakteristik
perusahaan pun mengalami pengembangan,
IBM piranti lunak yang aman, terbuka dan
sebagai “lembaga keuangan modern dan
fleksibel, yang memenuhi kebutuhan bisnis
dinamis”.
pelanggan yang semakin meningkat, kata
Dengan mengambil tema “mengutamaAchirul Djamal, Country Manager Software
kan pelanggan kita bangun kinerja peruGroup IBM Indonesia„
IBM Luncurkan
60 Solusi Piranti Lunak
untuk Tingkatkan Efisiensi
Industri
Pegadaian Targetkan
Laba Usaha 140 miliar
untuk 2004
GIP Jewelry
Buka Gerai Batu Permata
Pertama di Asia Tenggara
Investasi kini tidak hanya sekedar deposito,
tabungan atau saham. Kini, masyarakat
sudah beralih ke cara lain yang tidak kalah
menarik. Batu permata, misalnya. Tingginya
minat masyarakat Asia Tenggara, membuat
PT. Guna Inti Permata (GIP) membuka gerai
batu permata pertama di Asia Tenggara, yang
tepatnya berlokasi di Mal Taman Anggrek,
Jakarta, bulan April lalu.
Alasan dibuka gerai ini di Indonesia
diakui M. Nasim Khan, Manager Marketing
Deddy Kusdedy. Dirut Pegadaian
sahaan sehat”, seluruh jajaran
Pegadaian diharapkan untuk
lebih mempersiapkan kompetensi dan profesionalisme
sehingga mampu dalam mencapai target perusahaan serta
meningkatkan kinerja perusahaan. Deddy pun menambahkan upaya kerja keras ini
telah menghasilkan berbagai
penghargaan yang telah diraih
oleh Pegadaian, diantaranya
adalah masuk dalam predikat 20
BUMN terbaik, penghargaan dari
Badan Pengawas Keuangan
dengan predikat Wajar Tanpa
Pengecualian, tepat waktu kinerja keuangan perusahaan
“Sehat Sekali”. “Hal lainnya juga Deddy
dengan berseri mengatakan bahwa laba
usaha 2003 Pegadian yang mencapai
Rp122,737 miliar naik 13,28% dari tahun
lalu”, katanya„
“Warisan Sejatera”,
kerjasama Bank CIC,
PT Asuransi Jiwa Eka Life
dan Asuransi Sinar Mas
Di tengah maraknya produk asuransi
sejenis, “Warisan Sejahtera” produk baru
yang diluncurkan oleh Bank CIC, PT Asuransi
Jiwa Eka Life dan Asuransi Sinar Mas
merupakan produk baru gabungan dari
perbankan dan asuransi. Produk ini merupakan produk perlindungan pendapatan
yang dirancang untuk mereka yang berusia
antara 17 tahun sampai 55 tahun dengan
premi tunggal (single premium). Perlindungan yang disediakan produk ini adalah
selama 30 tahun atau sampai dengan usia
nasabah berumur 79 tahun.
Mengingat pertumbuhan Bank CIC
selama ini, kerjasama produk ini diharapkan
akan tercapainya suatu sinergi yang saling
menguntungkan bagi kedua belah fihak
serta bagi masyarakat dan nasabah”, kata
Hamidy, direktur Bank CIC„
Dirut Jiwasraya
Luncurkan Buku Nilai-nilai
Profesionalisme
Satu lagi terobosan baru dilakukan Jiwasraya
melalui Dirutnya, Herris B. Simandjuntak,
dengan meluncurkan buku “The Power of
Values in The Uncertain Business World Refleksi Seorang CEO”. Acara peluncuran
ini diisi juga dengan diskusi
buku bersama Herris dengan pembahas Rheinald
Kasali.
Dalam buku ini disampaikan berbagai pandangan
serta pemikiran Herris atas
berbagai permasalahan asuransi yang ada, maupun
kiprah dalam mengelola
perusahaan yang selama ini
cukup banyak ditulis di
berbagai media. Proses
transparansi yang sedang
dilakukan di Jiwasraya juga
diuraikan dalam buku ini„
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
E t a l a s e
5
6
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
RAHASIA
MEMBANGUN
BUDAYA
KORPORAT
Dunia bisnis diramaikan oleh perusahaan yang muncul silih berganti.
Puluhan ribu perusahaan baru bermunculan di dunia setiap hari, tak sedikit pula
perusahaan yang justru jatuh bangkrut. Namun, perusahaan-perusahaan terbaik
tetap menjulang dan menguasai pasar meski telah berusia tua. Apa kuncinya?
T
anyalah para lulusan perguruan tinggi
terbaik di Indonesia tentang perusahaan favorit mereka untuk bekerja?
Jawabannya tidak jauh-jauh dari Citibank,
Astra, Unilever, IBM, Telkom, dan sejumlah
nama lainnya. Perusahaan-perusahaan itu,
selain market leader juga memiliki track
record yang pantas dibanggakan. Mereka
adalah perusahaan-perusahaan yang menempatkan manusia sebagai modal atau
asset utama. Di situ, orang-orang yang
diterima ditempa keahlian, kompetensi, dan
kepemimpinannya. Sikap dan perilaku
mereka dibentuk sesuai dengan kultur
perusahaan.
Hasilnya, orang-orang Citibank memiliki
motivasi bersaing yang sangat tinggi karena
budaya korporat Citibank, antara lain, memang menumbuhkan persaingan. Mereka
dilatih untuk mencari pemecahan masalah
dan berorientasi kepada hasil. Orang-orang
Astra dikenal lebih low profile dan mengutamakan kerjasama tim serta etika dalam
bekerja. Sedangkan orang-orang Unilever
dikenal sangat dinamis dan inovatif.
Sikap dan perilaku merupakan cerminan
nyata dari budaya korporat sebuah perusahaan. Budaya korporat, menurut mantan
Chairman/CEO IBM yang sangat sukses
Louis V. Gerstner, Jr., adalah sukses (atau
kegagalan) itu sendiri. Lebih dari sekedar
elemen penentu sukses (atau gagal) –
bersama-sama dengan elemen lain – seperti
yang diyakini banyak orang. Dengan perkataan lain, budaya korporat sangat penting
dan strategik bagi keberhasilan perusahaan.
Menurut Nugroho Supangat, Managing
Partner Dunamis Organization Services,
budaya adalah pola perilaku yang dilihat
dalam suatu lingkungan. Misalnya, budaya
orang Jawa sangat beda dengan orang Batak.
Kalau orang Batak, anak ngomong keras,
bapak ngomong keras, orang Jawa menyangka mereka lagi berantam. Padahal belum
tentu.
Budaya korporat adalah budaya yang
berkembang di dalam lingkungan sebuah
perusahaan. Ada perusahaan yang sangat
boss oriented; begitu bos ada mereka
bekerja, tapi kalau bos pergi mereka main
game semua. Kemudian ada budaya customer oriented, mengutamakan konsumen.
Apapun dikalahkan demi kepentingan
konsumen. Lain lagi di lingkungan BUMN.
Budaya tenggang rasanya – budaya Jawa –
terasa sekali. Sementara di perusahaan
asing, orang bebas saja menyampaikan
pendapat, ide-ide, dan sebagainya.
“Sesungguhnya budaya korporat itu
barang abstrak. Susah dilihat tapi bisa
dirasakan,” tukas Marina R. Tusin, Managing Partner TASS Consulting. Manifestasinya, menurut Marina, bisa dilihat dari
bagaimana orang berinteraksi dalam perusahaan, cara pandang, sistem, iklim atau
atmosfir kerja, pola pengambilan keputusan,
hubungan atasan-bawahan. Hal ini sering
juga disebut dengan istilah core value dari
sebuah perusahaan. Sebuah tatanan nilai
atau prinsip yang diyakini benar atau baik
oleh satu organisasi dalam mencapai tujuan
tertentu.
Dalam istilah pakar manajemen perubahan Dr. A.B. Susanto, budaya korporat
adalah alat manajemen mencapai tujuan.
“Saya sering melihat, perusahaan hebat
karena eksekutifnya muda-muda, sekolahnya tinggi, punya penampilan yang baik,
cerdas, dan kemampuan komunikasi yang
bagus. Namun sayang, ujung tombak yang
runcing ini menghadapnya tidak sama
semua. Ada yang ke atas, ke bawah, dan ke
samping. Akibatnya, perkembangan perusahaan tidak terarah,” kata Managing Director The Jakarta Consulting Group itu.
Sebagai perusahaan konsultan yang
mengkhusus pada manajemen perubahan,
The Jakarta Consulting Group banyak terlibat
dalam pembentukan budaya korporat di Indonesia. AB Susanto memperkirakan, 70%
program budaya korporat di Indonesia
dibantu oleh perusahaannya. Proses yang
dilakukan dimulai dari pembentukan visi
dan misi perusahaan. Disusul dengan
menyusun strategi utama perusahaan agar
visi dan misi itu bisa diwujudkan. Kemudian
dibentuk struktur organisasi. Kalau struktur
organisasi sudah terbentuk, lanjut AB
BUDAYA, APA ITU?
Dalam buku The Corporate Culture Audit, budaya didefinisikan sebagai satu
kumpulan nilai dan keyakinan bersama yang bisa mendukung dan tidak mendukung
dalam lingkungan tertentu. Dengan berjalannya waktu, keyakinan ini mempengaruhi
praktik-praktik organisasi dan asumsi-asumsi yang mengarahkan pekerjaan. Sebagai
contoh, keyakinan bersama dari sebuah perusahaan menentukan perilaku mana yang
dianggap sesuai dan mana yang tidak.
Keyakinan juga mengoreksi cara pandang orang yang serba cuek terhadap dunia
mereka dan respons terhadap hal itu. Umpamanya, keyakinan pengembangan orang
berdasarkan pengalaman dalam perusahaan akan mempengaruhi pandangan mereka
tentang bagaimana cara menjadi terdepan dalam organisasi. Satu budaya bisa saja
memiliki keyakinan bahwa kerjasama tim adalah kunci sukses, sementara perusahaan
lain memiliki keyakinan hanya orang-orang yang fokus terhadap kontribusi independen
yang bisa mencapai posisi puncak. Orang yang ambisius dalam kedua budaya itu
akan menunjukkan sejumlah perilaku yang sangat beda berdasarkan keyakinan
tersebut.
Budaya, oleh sebab itu, meliputi nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma yang
bermanifestasi dalam bentuk kebiasaan anggota organisasi dalam menyelesaikan
pekerjaan, berhubungan dengan orang lain, memecahkan masalah yang dihadapi,
dan menerjemahkan lingkungan sosial mereka„
7
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
AYO, AUDIT BUDAYA KORPORAT ANDA
Tidak dapat dipungkiri, budaya sangat mempengaruhi berbagai aspek korporasi, seperti
strategi, produktifitas, efisiensi, inovasi, pelatihan, motivasi, dan kemampuan beradaptasi.
Bila seorang pemimpin memahami budaya sebuah perusahaan, ia bisa menyusun strategi
untuk memanfaatkan kekuatan unik dari organisasi. Dengan perkataan lain, dengan
memahami budaya, manajemen bisa memanfaatkannya sebagai sebuah sumber keunggulan
kompetitif. Ia bisa pula melaksanakan perubahan tanpa harus menciptakan resistensi yang
tidak perlu. Bahkan, kekuatan budaya bisa dipergunakan untuk merubah budaya bila
diperlukan.
Di era yang menempatkan perubahan dan kecepatan adalah faktor kunci untuk
mempertahankan keunggulan kompetitif, memahami budaya korporat akan menyediakan
dasar akselerasi perubahan di seluruh bagian organisasi. Sebagai perangkat manajemen
bisnis yang hebat, budaya yang ada di setiap perusahaan perlu diaudit. Menurut penulis
buku The Corporate Culture Audit, ada tiga cara mendasar dalam memahami pentingnya
budaya bagi manajemen untuk meningkatkan kemampuan menerapkan perubahan. Ketiga
hal ini menegaskan perlunya audit budaya dilakukan.
HINDARI MENIMBULKAN RESISTENSI TAK PERLU TERHADAP PERUBAHAN
Kendati kebanyakan gaya dan keahlian manajemen bisa diterapkan di berbagai
organisasi berbeda, tidak seluruh keahlian itu bisa diterapkan dari satu perusahaan ke
perusahaan lainnya, atau bahkan dari satu divisi perusahaan ke divisi lainnya. Gaya dan
keahlian manajemen harus disesuaikan dengan kondisi-kondisi unik dari budaya masingmasing. Jika tidak, pimpinan akan mendapatkan resistensi bila ingin melakukan perubahan
atau menggunakan pendekatan yang tidak sesuai dengan budaya korporat. Itu sebabnya,
audit budaya korporat sangat diperlukan.
HINDARI MERUSAK SUMBER KEBERHASILAN ANDA
Hindari untuk merusak nilai-nilai budaya terpenting yang selama ini membuat perusahaan
berhasil. Misalnya, seorang CEO baru ingin mendorong inovasi dengan memberikan
penghargaan kepada individu di depan publik. Padahal, selama ini inovasi dibuat sebagai
upaya bersama, di mana setiap individu bangga berkontribusi dalam setiap pengembangan
ide dan produk baru oleh tim. Sistem penghargaan yang lebih individualistik ini merusak
kekuatan perusahaan selama ini.
Susanto, baru berbicara soal budaya
korporat. Misalnya, perlu tidak budaya itu
diformalkan atau tidak.
Menyarikan budaya perusahaan dilakukan setelah mengeksplorasi nilai-nilai
yang ada. Konsultan sangat membantu
memilah-milah nilai-nilai yang baik dan
relevan bagi pencapaian tujuan perusahaan.
Nilai-nilai ini kalau diformalkan sangat
mendukung kemajuan perusahaan. Ini
merupakan tahapan pertama, yang oleh
Nugroho disebut dengan formulasi nilainilai. Yang patut disadari, lanjut Nugroho,
Marina, dan AB Susanto, pembicaraan
tentang budaya korporat tidak mengenal
budaya baik dan buruk. Yang ada hanya
budaya yang mendukung dan tidak mendukung pencapaian tujuan perusahaan.
Tahap kedua, setelah budaya perusahaan
dibentuk, perlu sosialisasi atau internalisasi
budaya tersebut ke seluruh jajaran perusahaan secara terus menerus. Tujuannya
bukan hanya karyawan paham akan slogan
atau kredo perusahaan, tetapi juga tercermin
dari sikap dan perilaku mereka dalam
bekerja. Tahapan ini adalah tahapan tersulit
karena banyak perusahaan yang memiliki
budaya korporat baru sebatas slogan. Nilainilainya indah, tapi sikap dan perilaku
karyawan tidak berubah. Ada yang mengklaim budayanya mengutamakan pelanggan, kenyataannya yang didahulukan adalah
faktor uang, bukan pelanggan. Jelas, hal ini
sangat mendasar. “Biasanya perusahaan
hancur karena tidak mengahulukan pelanggannya,” tutur Nugroho.
Kenyataan lain, sikap dan perilaku
pimpinan yang tidak sesuai dengan budaya
korporat yang didengung-dengungkan.
Padahal, menurut AB Susanto dan Marina,
pemimpin berperan terbesar dalam mem-
bentuk budaya korporat. Sebagian besar
proses pembentukan budaya diperoleh dari
CEO atau pemilik perusahaan. Ada perusahaan yang inisiatifnya berasal dari level
menengah, tetapi tidak akan jalan selama
pejabat di atasnya tidak memberi komitmen,
seperti yang dominan terjadi di BUMN.
Pimpinan merupakan figur panutan
sehingga sikap dan perilakunya akan
menjadi contoh bagi seluruh jajaran perusahaan. Ia harus konsisten dalam menerapkan budaya perusahaan yang telah
disepakati. Kalau perusahaan mengutamakan kejujuran – salah satu nilai dasar
yang dipegang oleh raksasa Procter &
Gamble (honesty and fairness) ataupun
Merck (honesty and integrity) – maka
pimpinan harus menjadi tauladan pertama
dalam menerapkan perilaku jujur itu. Selain
dedikasi terhadap nilai-nilai, sang pimpinan
juga harus mengoreksi perilaku yang salah
atau tidak sesuai dengan nilai-nilai perusahaan. Sosialisasi, internalisasi, dan komunikasi merupakan tugas sentral seorang
pimpinan.
Berikutnya, dan ini tidak kalah penting,
memberikan penghargaan terhadap orangorang yang menunjukkan perilaku sesuai
dengan budaya korporat. Caranya dengan
mengukur kinerja karyawan sesuai dengan
budaya korporat. Marina mengatakan, ada
perusahaan yang kinerja karyawannya
diukur dari penjualan atau laba saja, ini tidak
salah. Hanya saja organisasi semacam ini
cenderung berorientasi pada jangka pendek
semata. Seharusnya, perusahaan menitikberatkan pada pengembangan sumberdaya
manusia (SDM) seperti yang telah ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan paling
dikagumi di dunia. Sehingga indikator
pengukuran kinerja karyawan lebih diper-
GUNAKAN BUDAYA UNTUK MENDORONG DAN MENGINFORMASIKAN PERUBAHAN
Pemahaman utuh terhadap budaya perusahaan bisa menjadi alat yang efektif dalam
mendorong dan menginformasikan perubahan. Perubahan signifikan pasti menimbulkan
resistensi karena resistensi merupakan reaksi alamiah setiap manusia. Hanya saja, jangan
sampai yang muncul resistensi yang tidak perlu. Pemahaman terhadap budaya memungkinkan
pemimpin melakukan perubahan dengan lebih mudah, termasuk jika harus merubah budaya
yang ada„
luas, dan manajemen kinerja juga diselaraskan dengan budaya yang hendak
dibangun – sistem SDM, kebijakan di bidang
SDM dan terapannya seperti reward dan
punishment, pendidikan dan pelatihan.
Tahap ketiga, mengukur apakah budaya
korporat itu sudah diterapkan secara benar
oleh jajaran perusahaan dengan menggunakan indikator-indikator perilaku yang
diperlukan. Bila masih ada yang belum
melakukannya, salah satu opsi adalah
dengan memformalkan terlebih dulu budaya
korporat itu. “Banyak cara untuk mengevaluasi penerapan budaya korporat. Kuncinya,
harus dilakukan secara konsisten,” tegas
Nugroho, mantan pimpinan Amex Indonesia itu.
Persoalan utama pembentukan budaya
korporat di Indonesia adalah inkonsistensi
pembentukan budaya karena yang lebih
berpengaruh adalah budaya sang pemimpin.
Begitu sang pemimpin berganti, budaya kerja
pun berubah. Pemimpin baru merasa bodoh
atau kalah bila tidak mengganti budaya kerja
sesuai keinginannya. Akibatnya, para
karyawan pusing. Di perusahaan-perusahaan seperti ini, upaya membangun institusi
masih menjadi masalah. Institusi yang kuat
tidak akan terpengaruh oleh pergantian
pimpinan. Mungkin hanya diperlukan
sedikit penyesuaian saja terhadap budaya
korporat bila pemimpin baru datang.
Repotnya, pembentukan (baca: pemantapan) budaya korporat membutuhkan
waktu yang lama. Dibutuhkan beberapa
periode kepemimpinan atau waktu tahunan
atau bahkan puluhan tahun secara konsisten. Setiap pemimpin baru harus menyempurnakan budaya yang sudah terbentuk
sebelumnya disesuaikan dengan perubahan
lingkungan maupun kebutuhan organisasi
mengantisipasi perubahan di masa depan.
Perhatikan bagaimana Astra meletakkan
dasar-dasar budaya korporat yang sangat
dipengaruhi oleh nilai-nilai pendirinya William Soeryadjaya sejak didirikan tahun 1960an. Budaya korporat itu makin dimantapkan
di era kepemimpinan Teddy P. Rachmat,
disusul Rini MS Soewandi, dan Budi
Setiadharma saat ini.
Contoh yang sangat baik adalah konsistensi manajemen Citicorp (Citibank) dalam
membangun budaya korporatnya sejak
pertama didirikan tahun 1890-an. Sejak
awal, pemimpin City Bank (kemudian
berubah nama menjadi Citicorp) selalu
membuat tujuan bisnis yang berani dan
jelas. Presiden/pendiri City Bank James
Stillman telah membuat tujuan yang berani
(dalam banyak hal juga memberi stimulasi)
untuk menjadi sebuah nasional yang besar.
Padahal, waktu itu, City Bank hanya sebuah
bank kecil berskala regional di Amerika
dengan seorang Presiden, seorang kasir, dan
sejumlah karyawan.
Sikap dan ambisi Stillman itu memberi
inspirasi bagi pengembangan perusahaan
di era kepemimpian berikutnya. Frank
8
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
Vanderlip, pengganti Stillman, menulis
tahun 1915 (seperempat abad setelah
mimpi Stillman dan 6 tahun setelah Stillman
pindah ke Paris untuk pensiun):
Saya sangat yakin bahwa terbuka
peluang buat kami untuk menjadi institusi
keuangan yang paling kuat, paling handal
dalam layanan, dan tersebar luas pertama
di dunia.
Sungguh sebuah ambisi bisnis yang
besar mengingat waktu itu hanya memiliki
8 Vice President, 10 staf yunior, dan kurang
dari 500 karyawan serta hanya ada di satu
lokasi Wall Street. Berikutnya, Charles
Mitchell menggaungkan kembali ambisi itu
dalam pidatonya di depan karyawan tahun
1922. “Masa depan City Bank lebih cerah
dari yang pernah ada…Kita siap untuk
melangkah dengan kecepatan penuh ke
depan.” City Bank memang bertumbuh
secara luar biasa: dari total asset US$352
juta tahun 1914 menjadi US$2,6 miliar
tahun 1929, dengan pertumbuhan rata-rata
35% per tahun.
Seperti juga banyak bank lainnya, City
Bank juga kena dampak buruk akibat Perang
Dunia taun 1930-an, tapi setelah Perang
Dunia II – dengan 5 generasi kepemimpinan
berikutnya – City Bank tetap memiliki energi
yang tinggi untuk mewujudkan ambisi
Stillman dan Vanderlip. George Moore, CEO
1959-1967, kembali mempertegas ambisinya seperti para pendahulunya dengan
mengatakan: “Sekitar tahun 1960… (kami
memutuskan bahwa) kami akan berupaya
meraih sukses dalam setiap layanan
keuangan yang bermanfaat, di mana pun di
dunia ini.”
Perhatikan betapa konsistennya manajemen City Bank dalam setiap generasi
kepemimpinan. Mimpi Citicorp tidak bisa
dilepaskan dari mimpi sang pendiri. Namun,
tujuan bisnis itu telah melampaui batas usia
sang arsitek. Ia telah melekat dalam sikap,
nilai, dan ambisi dari keseluruhan institusi.
Sekali lagi, perusahaan-perusahaan
yang tangguh dan berumur panjang tergolong visioner (visionary company), seperti
ditulis James C. Collins dan Jerry I. Porras
dalam buku Built To Last. Visi itu menjadi
sumber penting dalam meletakkan budaya
korporat. Dengan budaya korporat, setiap
perusahaan bisa menyaring orang-orang
yang cocok untuk bergabung dengan
organisasi. Otomatis, tukas mantan Presiden Direktur Bank Universal Stephen Z.
Satyahadi, orang-orang yang tidak cocok
dengan budaya korporat itu akan memilih
untuk tidak bergabung atau ke luar perusahaan.
Makanya, seriuslah membangun budaya
di perusahaan Anda„
SELARASKAN BUDAYA
DENGAN STRATEGI PERUSAHAAN
Konsep budaya perusahaan mulai popular dalam literatur manajemen pada akhir 70-an
dan awal 80-an. Adalah Dean dan Kennedy yang secara khusus mempopulerkan tahun 1982
istilah budaya perusahaan sebagai “cara kita mengerjakan segala sesuatu… sebuah sistem
aturan informal yang menjelaskan bagaimana orang berperilaku sepanjang waktu.”
Menurut kajian konsultan manajemen terkemuka Hewitt, budaya korporat menjadi
kontributor terpenting kinerja usaha. Mengabaikannya berarti risiko kehilangan daya saing.
Belakangan ini, siklus strategi perusahaan makin memendek. Pada satu saat, perusahaan
bisa fokus pada upaya tiada henti untuk meningkatkan pangsa pasar, dan beberapa bulan
berikutnya, bisa saja pertumbuhan dilupakan sejalan dengan fokus perusahaan pada laba
usaha. Begitu banyak hal yang mempengaruhi organisasi dan membuatnya harus terus
berubah – kompetisi, konsumen, globalisasi, inovasi teknologi, perebutan tenaga handal,
tenaga kerja yang kian menua, dan perbedaan aspirasi karena beda generasi.
Semuanya ini bermuara pada perlunya eksekusi strategi secara excellence. Itulah yang
membedakan satu organisasi dengan yang lain. Bila bicara eksekusi yang excellence, Hewitt
menyimpulkan bahwa faktor budaya korporat menjadi sangat sentral. Oleh sebab itu,
disarankan kepada para eksekutif dan manajer untuk sejenak berpikir tentang budaya
perusahaan yang ada saat ini. Untuk menjelaskan organisasi Anda, maka jawablah pertanyaanpertanyaan berikut:
Bagaimana Anda menjelaskan orang-orang yang mendapat promosi di sini? Apa yang
terjadi dengan orang-orang yang karirnya sudah mentok di satu tempat?
Apa tipe orang yang sesuai dengan organisasi dan apa tipe orang yang meninggalkan
perusahaan dengan frustrasi?
Apa kata sifat yang bisa Anda gunakan untuk menjelaskan cara mengerjakan segala
sesuatu di perusahaan?
Apa yang mempengaruhi cara orang berperilaku?
Siapa yang membuat keputusan?
·Mudah atau sulitkah perubahan terjadi?
·Mana yang lebih mengikuti aturan atau mendapatkan hasil?
·Apakah Anda menjawab secara konsisten tentang nilai-nilai utama organisasi ataukah
cukup berbeda-beda?
·Apakah karyawan mendiskusikan hal ini secara serius di lingkungan kerja?„
MENGUPAS
FONDASI VISI DAN
BUDAYA KORPORAT
Visi terdiri dari dua komponen utama
– core ideology (ideology inti) dan envisioned future
(memandang masa depan). Ia berperan penting dalam
membentuk budaya korporat.
K
ata-kata visi kini menjadi makanan
sehari-hari di setiap organisasi.
Namun, makin sering disebut, katakata visi itu juga kian membuat pusing.
Banyak orang yang menyusun visi organisasi
berdasarkan cita-cita atau mimpi ideal di
masa depan, tapi tidak berdasarkan berbagai
kondisi atau lingkungan yang mendukung
perwujudan visi itu. Menurut James C.
Collins dan Jerry I. Porras, penulis buku
terkenal Built to Last, sebuah visi usaha yang
baik dibangun atas dasar ideology inti (yang
tidak pernah berubah) dan kemampuan
memandang masa depan (yang masih bisa
diubah-ubah).
Untuk mewujudkan visi tersebut, harus
diciptakan organisasi dan penyelerasan
strategik agar bisa mempertahankan core
ideology dan mendorong kemajuan untuk
menuju envisoned future. Penyelerasan itu
membuat visi itu membumi, mengubahnya
dari sekedar niat baik menjadi realitas
kongkrit.
IDEOLOGI INTI
Ideologi inti adalah karakter yang membuat
hidup sebuah organisasi dalam jangka
panjang – semacam identitas diri yang
konsisten sepanjang waktu dan melebihi
siklus hidup produk/pasar, terobosan
teknologi, model manajemen, dan pemimpin
individual. Ideologi inti menjadi perekat bagi
organisasi untuk bertumbuh, terdesentralisasi, terdiversifikasi, berekspansi ke pasar
global, dan menjaga keberagaman dalam
organisasi. Sumbangan terbesar para
pendiri perusahaan visioner agaknya dalam
membentuk ideologi dasar ini.
Ideologi tidak bisa diciptakan atau
disusun dengan melihat lingkungan eksternal. Ia dihasilkan dari pencarian terhadap
aspek internal perusahaan sehingga harus
otentik. Ideologi inti dibutuhkan agar
bermakna dan inspirasional bagi orang-orang dalam perusahaan. Dengan perkataan
lain, ia tidak harus menarik bagi pihak luar.
Adalah orang dalam perusahaan yang butuh
pemahaman terhadap nilai dan tujuan inti
untuk mendapatkan komitmen jangka
panjang bagi keberhasilan perusahaan. Oleh
sebab itu, ideologi inti memainkan peran
penting dalam menentukan siapa yang
berada dalam perusahaan dan siapa yang
berada di luar.
Menurut Collins dan Porras, harus
dibedakan ideologi inti dengan “pernyataan”
tentang ideologi inti. Sebuah perusahaan
bisa saja memiliki ideologi inti yang kuat
tanpa sebuah pernyataan formal. Misalnya,
Nike. Perusahaan ini memiliki tujuan inti
yang sangat kuat, meski tanpa membeberkannya secara resmi.
Hanya saja, kedua pakar mengharapkan
jangan sampai dalam menyusun nilai dan
tujuan inti hanya sebatas permainan katakata. Tidak diperlukan pernyataan sempurna
untuk menjelaskan ideologi dasar. Karena
yang diperlukan adalah pemahaman penuh
terhadap nilai dan tujuan inti perusahaan.
Ekspresi nilai dan tujuan inti bisa dilakukan
dalam banyak cara. Disarankan, sekali hal
inti itu teridentifikasi, minta seluruh
manajer menyampaikan pernyataan tentang
nilai dan tujuan inti perusahaan menurut
versi masing-masing.
Bedakan pula ideologi inti dengan
konsep kompetensi inti. Kompetensi inti
adalah konsep strategik yang menampung
kapabilitas organisasi, sedangkan ideologi
inti berisi untuk apa perusahaan ada dan
kenapa perusahaan eksis. Kompetensi inti
harus diselaraskan dengan ideologi inti
9
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
yang diperolehnya dari sang ayah: “Nilai-nilai
itu adalah aturan hidup – yang harus dijaga
dengan seluruh tenaga, ditanamkan kepada
seluruh orang, dan diikuti dengan kesadaran
penuh dalam setiap kehidupan karyawan.”
David Packard dan Bill Hewlett, pendiri
HP, tidak merencanakan HP Way secara
khusus. Mereka merasa sangat berkepentingan tentang bagaimana bisnis seyogyanya dibangun dan langkah-langkah penyebarluasan nilai-nilai itu.
TUJUAN INTI
Tujuan adalah sejumlah alasan fundamental kenapa perusahaan harus ada selain
hanya mendapatkan uang. Banyak orang
yang salah mengambil asumsi bahwa
perusahaan ada karena hanya untuk
mencari uang. Jika perusahaan ingin eksis
harus dicari alasan riil yang lebih dalam.
Tujuan inti tidak mesti unik. Bisa saja
dua perusahaan memiliki tujuan yang
hampir mirip seperti juga sangat mungkin
dua perusahaan mempunyai sistem nilai
yang sama, misalnya integritas. Peran utama
dari tujuan inti adalah untuk memandu dan
memberi inspirasi, tidak harus membuatnya
berbeda. Sebagai contoh, banyak perusahaan bisa berbagi tujuan inti yang dimiliki
Hewlett-Packard, yakni ingin berkontribusi
“CORE IDEOLOGY”
PERUSAHAAN VISIONER
3M
z
z
z
z
z
z
Innovation; “Thou shalt not kill e new product idea”
Absolutely integrity
Respect for individual initiative and personal growth
Tolerance for honest mistakes
Product quality and reliability
“Our real business is solving problem”
American Express
z Heroic customer service
z Worldwide reliability of services
z Encouragement of individual initiative
Citicorp
perusahaan – dan sering berakar pada
ideologi inti – tetapi tidak sama dengan ideology inti.
Ideologi inti terdiri dari dua subkomponen berbeda, yaitu nilai inti (core
value) dan tujuan inti (core purpose).
NILAI INTI
Nilai inti adalah ajaran esensial dan
membuat hidup organisasi – berisi sejumlah
prinsip panduan yang berlaku sepanjang
masa yang tidak membutuhkan justifikasi
eksternal. Ia memiliki nilai intrinsik dan
penting bagi internal organisasi. Nilai inti
tidak bisa dikompromikan dengan hasil
finansial dan sasaran jangka pendek. Ia juga
tidak sama dengan budaya spesifik atau
praktik operasional tertentu.
Dalam banyak kasus, nilai inti bisa
diperas menjadi lebih sederhana untuk
menjadi panduan substansial. Perhatikan
bagaimana Sam Walton menerjemahkan
esensi nilai utama Wal-Mart: “Kami
menempatkan pelanggan di atas segalagalanya .... Jika Anda tidak melayani
pelanggan, atau mendukung siapa saja yang
melakukannya, maka kami tidak butuh
Anda.” Juga bagaimana James Gamble
secara sederhana dan elegan menjelaskan
nilai inti P&G terhadap mutu produk dan
bisnis yang jujur: “Ketika Anda tidak bisa
membuat produk yang murni dengan
timbangan yang benar, pergilah ke orang lain
yang lebih jujur, kendatipun untuk itu harus
memecahkan batu besar.”
Menarik pula bagaimana John Young,
mantan CEO HP, menerjemahkan HP Way
secara sederhana namun mengena: “HP
Way pada dasarnya berarti menghargai dan
peduli terhadap individu. Anda harus
melakukannya jika orang lain juga ingin
melakukannya untuk Anda.”
Begitulah. Nilai inti bisa dijelaskan dalam
sejumlah cara berbeda, namun ia tetap
ringkas, jelas, mengena, dan bertenaga.
Perusahaan visioner, menurut Collins dan
Porras, cenderung hanya memiliki sedikit
nilai inti, biasanya antara 3 hingga 6. Sangat jarang perusahaan visioner yang
memiliki nilai inti lebih dari 6, dan
kebanyakan kurang dari jumlah itu. Itupun
hanya beberapa saja yang benar-benar bisa
dianggap nilai inti – nilai-nilai yang sangat
fundamental dan sangat melekat.
Implikasi penting dari upaya artikulasi
nilai inti tentunya ada. Nilai inti yang terlalu
banyak menyebabkan nilai inti yang
sebenarnya menjadi kabur. Salah satu cara
yang bisa ditempuh dalam menyusun nilai
perusahaan adalah dengan menanyakan
pada diri sendiri tentang “Mana saja di
antara nilai-nilai itu yang memungkinkan
untuk tetap hidup beratus-ratus tahun
terlepas dari perubahan eksternal apa pun
yang terjadi – kendati lingkungan bisnis
tidak mendukung nilai-nilai itu, atau bahkan
‘menghukum’.” Sebaliknya, tentukan nilainilai yang bisa diubah atau dihilangkan bila
lingkungan tidak bersahabat dengan
organisasi?
Satu hal yang perlu diingat adalah,
jangan terperangkap dengan mengambil
nilai inti perusahaan visioner untuk
dijadikan nilai inti perusahaan Anda. Nilai
inti atau budaya korporat tidak bisa datang
dari luar atau mengambil nilai inti perusahaan lain yang dianggap bagus. Juga dengan
mencontoh buku manajemen. Nilai inti
harus digali dari ideologi inti perusahaan
yang autentik, bukan dari mana-mana.
Harus dipahami, ideologi inti ada sebagai
elemen internal, sangat independen terhadap lingkungan eksternal.
Lihat bagaimana George Merck II
(Merck) sangat yakin bahwa obat-obatan
untuk pasien, dan ia ingin seluruh karyawan
Merck juga memahami keyakinan itu. Thomas J. Watson Jr. menguraikan nilai inti IBM
z
z
z
z
z
Expansionism – of size, of services offered, of geographic presence
Being out front – such as biggest, best, most innovative, most profitable
Autonomy and entrepreneurship (via decentralization)
Meritocracy
Aggresiveness and self-confidence
General Electric
z Improving the quality of life through technology and innovation
z Interdependent balance between responsibility to customers, employees, society, and shareholders
(no clear hierarchy)
z Individual responsibility and opportunity
z Honesty and integrity
Hewlett-Packard
z
z
z
z
z
Technical contribution to fields in which we participate (“We exist as corporation to make a contribution”)
Respect and opportunity for HP people, including the opportunity to share in the success of the enterprise
Contribution and responsibility to the communities in which we operate
Affordable quality for HP customers
Profit and growth as a means to make all of the other values and objectives possible
IBM
z Give full consideration to the individual employee
z Spend al lot of time making customers happy
z Go the last mile to do things right, seek superiority in all we undertake
Johnson & Johnson
z The company exists “to alleviate pain and deseas”
z “We have a hierarchy of responsibilities: customers first, employees second, society at large third,
and shareholders fourth”
z Individual opportunity and reward based on merit
z Decentralization = Creativity = Productivity
Marriott
z Friendly service & excellent value (customers are guest); make people away from home feel that
z
z
z
z
they’re among friends and really wanted”
People are numer 1 – treat them well, expect a lot, and the rest will follow
Work hard, yet keep it fun
Continual self-improvement
Overcoming adversity to build character
Merck
z “We are in the business of preserving and improving human life. All of our actions must be measured
z
z
z
z
z
by our success in achieving this goal”
Honesty and integrity
Corporate social responsibility
Science-based innovation, not imitation
Unequivocal excellence in all aspects of the company
Profit, but profit from work that benefits humanity
Procter & Gamble
z
z
z
z
Product excellence
Continuous self-improvement
Honesty and fairness
Respect and concern for the individual
Wal-Mart
z “We exist to provide value to our customers” – to make their lives better via lower prices and greater
z
z
z
z
z
selection; all else secondary
Swim upstream, but conventional wisdom
Be in partnership with employees
Work with passion, commitment, and enthusiasm
Run lean
Pursue ever-higher goals
Sony
z To experience the sheer joy that comes the advancement, application, and innovation of technology
that benefits the general public
z To elevate the Japanese culture and national status
z Being a pioneer – not following others, but doing the impossible
z Respecting and encouraging each individual’s ability and creativity
Sumber: Built to Last, karya James C. Collins dan Jeffry I. Porras
10
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
terhadap masyarakat melalui peralatan
elektronik untuk kemajuan ilmu dan
kesejahteraan umat manusia. Pertanyaannya, apakah perusahaan itu bisa melaksanakannya sekonsisten HP. Seperti juga
nilai inti, kuncinya adalah otentisitas, bukan
keunikan.
Sebuah tujuan yang efektif mencerminkan pentingnya orang bekerja bagi
perusahaan – ia membangkitkan motivasi
– ketimbang hanya menjelaskan output
organisasi atau target konsumen misalnya.
Tujuan jangan dicampur-adukkan dengan
tujuan spesifik atau strategi bisnis yang
bisa berubah berkali-kali. Dalam mengidentifikasi tujuan, beberapa perusahaan
membuat kesalahan dengan menjelaskan
lini produk atau segmen konsumen yang
dituju. Hindari pernyataan yang bersifat
deskriptif.
Ambil contoh 3M. Perusahaan ini tidak
menyusun tujuan berdasarkan bisnis adhesive dan abrasive, tetapi tujuan intinya
adalah memecahkan masalah yang belum
terpecahkan secara inovatif. Tujuan itu
memungkinkan 3M memasuki berbagai
bidang bisnis baru. Tujuan McKinsey bukan
untuk melaksanakan konsultansi manajemen, tetapi membantu perusahaan dan
pemerintah untuk lebih sukses, sehingga
bisa saja dalam 100 tahun ke depan metode
layanannya tidak lagi berbentuk konsultansi.
Saat diterima secara benar, tujuan lebih
bersifat luas, fundamental, dan memberi
daya hidup. Sebuah tujuan yang bagus
seyogyanya memandu dan memberi inspirasi terhadap organisasi untuk bertahuntahun. Memang, perusahaan visioner secara
kontinu mewujudkan tujuan tetapi tidak
pernah sepenuhnya mencapai atau menuntaskan tujuan itu. Walt Disney menerjemahkan upaya tiada henti dalam mewujudkan
tujuan itu dengan pernyataan: Disneyland
will never be compeleted, as long as there is
imagination left in the world.
GE tidak akan pernah menuntaskan
tugas untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui teknologi dan inovasi. JW
Marriott akan terus ber-evolusi – dari bisnis
A&W Root Beer, ke jaringan bisnis makanan,
ke katering pesawat, ke hotel, dan ke bidang
lain yang tidak seorang pun tahu di masa
depan – namun tidak pernah bertumbuh di
luar tugas fundamental “membuat orang
yang jauh dari rumah merasa tetap dekat
teman dan begitu dibutuhkan.”
Sama halnya Motorola yang terus berevolusi – dari pengganti baterai untuk radio
rumah, ke radio mobil, ke televisi rumah, ke
semikonduktor, ke integrated circuit, ke
komunikasi selular, ke sistem satelit, dan
ke bidang bisnis lainnya di abad mendatang
– namun tetap dalam koridor “dengan
bangga melayani komunitas dengan menyediakan produk dan jasa bermutu superior
dan harga yang fair.”
Disney akan terus ber-evolusi – dari
kartun, ke film animasi berdurasi panjang,
ke klub Mickey Mouse, ke Disneyland, ke
karya box office, ke EuroDisney, dan ke
bidang lain yang kelak belum jelas lagi –
namun tetap pada tujuan inti “memberikan
kegembiraan kepada jutaan orang”.
MEMANDANG
MASA DEPAN
Komponen kedua dari visi adalah memandang masa depan (envisioned future), yang
oleh Collins dan Porras dibagi atas dua
bagian: tujuan yang berani selama 10-30
tahun ke depan dan deskripsi jelas tentang
wajah perusahaan bila berhasil mencapai
tujuan yang berani itu. Tujuan yang berani
itu bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif,
misalnya menjadi perusahaan dengan
pendapatan US$125 miliar sebelum 2000
(Wal-Mart 1990), mendemokratisasi bisnis
otomotif (Ford, awal 1900-an), menjadi
perusahaan yang paling mengubah citra
produk Jepang yang bermutu rendah secara
global (Sony, awal 1950-an).
Pemilihan ungkapan “memandang
masa depan” sejatinya bermakna ganda dan
paradoks. Di satu sisi, ia memunculkan
perasaan kongkrit – sesuatu yang jelas,
nyata, bisa dilihat, disentuh, dirasakan. Di
sisi lain, hal itu mencerminkan satu waktu
yang belum terealisasi – sebuah mimpi,
harapan, atau aspirasi„
BAGAI MENGGULUNG BENANG
Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) akan
terus terjadi dalam dunia bisnis, lokal maupun global.
Hati-hati, masalah budaya bisa menjadi kendala
mulusnya proses M&A ataupun pencapaian
tujuan dari M&A itu sendiri.
S
aat pertama kali dipercaya memimpin Bank Universal oleh Grup Astra
tahun 1990, Stephen Z. Satyahadi
mempunyai setumpuk tugas. Setelah
merger dengan Bank Maranu milik pengusaha Andi Sose, Stephen harus membangun
fondasi yang kokoh bagi keberhasilan Bank
Universal jangka panjang. Sebagai orang
yang lama di Citibank, tak pelak ia banyak
terinspirasi oleh Citibank. Fokus usaha Bank
Universal yang tadinya lebih pada corporate
banking diubah menjadi retail banking,
khususnya konsumen dan perusahaan
menengah.
Hasil riset bersama dengan Boston Consulting Group menunjukkan bahwa kedua
segmen pasar itu paling menarik bagi bank
dalam 5-10 tahun ke depan berdasarkan
ukuran, pertumbuhan, dan profitabilitas.
Hubungan istimewa dengan konsumen dan
mitra bisnis Astra menjadikan fokus itu lebih
menguntungkan bagi Bank Universal.
Perubahan ini jelas sesuatu yang besar
bagi Bank Universal. Budaya korporat yang
diperlukan tentu berbeda. Kepemimpinan
senior perlu diramu ulang. Stephen mengundang beberapa eksekutif eks Citibank
untuk bergabung, termasuk Jerry Ng (kini
Direktur bank Danamon), Mahdi Syahbudin
(kini Direktur Bank Permata), dan Audi
Wiranata (kini Direktur Astra Buana/Garda
Oto). Selain jago ritel, mereka juga memiliki
budaya yang relatif sama karena sama-sama
jebolan Citibank. Bersama-sama dengan
Terry David, seorang Filipina yang jago dalam
bidang manajemen SDM, tim pimpinan
Bank Universal ini menggali, menyusun, dan
mensosialisasikan budaya korporat Bank
Universal yang baru. “Membangun budaya
korporat merupakan tugas yang kami
rasakan paling berat,” ujar Stephen kepada
Human Capital.
Penyusunan budaya korporat dilakukan
dengan mengembangkan pelatihan Seven
Habits karya Franklin Covey. “Seven Habits
dipilih karena sangat cocok untuk membangun keahlian fundamental sumberdaya
manusia,” jawabnya tentang alasan pemilih
konsep Franklin Covey itu. Dimulai dari
kelompok kecil pimpinan, program pelatihan
terus meluas ke seluruh jajaran perusahaan. Sebanyak 213 bankir Universal
menjadi instruktur, panelis dialog, mentor,
dan pengembangan kurikulum pelatihan
tahun 1996. Sebanyak 8.818 karyawan
Bank Universal telah mengikuti training di
dalam kelas. Beberapa eksekutif Bank Universal, yang umumnya masih berusia muda
dan cemerlang, dikirim ke universitas
terkemuka di dunia macam Stanford dan
Harvard Business School untuk mempermantap perubahan di Bank Universal.
Dalam mewujudkan visi sebagai bank
ritel terbaik di Indonesia, seluruh bankir
Universal dipandu oleh sistem nilai empathy, entrepreneurship, empowerment, teamwork, dan trustworthiness. Nilai investasi
sebesar Rp 100 miliar ditanamkan sejak
1994 untuk membangun infrastruktur bagi
pencapaian visi itu, termasuk menyelaraskan karyawan, proses, dan teknologi dengan
strategi bisnis. Stephen menyebut, periode
1991 hingga 1997 adalah periode membangun dasar-dasar budaya korporat Bank
Universal.
Sayangnya, krisis ekonomi keburu
melanda Indonesia, yang juga menghantam
Bank Universal. Bank ini beruntung tidak
harus dilikuidiasi seperti banyak bank
lainnya, karena tertolong oleh berkembangnya bisnis ritel yang cukup baik sesuai fokus
strategi mereka. Saat krisis ekonomi
melanda, porsi bisnis ritel dan korporat
sudah berimbang. “Bayangkan kalau kami
tidak mengembangkan bisnis ritel, Bank
Universal sudah pasti dilikuidasi karena
timbunan kredit bermasalah,” ujar pria yang
kini mengembangkan bisnis pembiayaan
konsumen, BPR, dan menjadi komisaris di
anak perusahaan Astra itu.
Stephen menyesal tidak bisa menyelamatkan Bank Universal karena harus
dimerger dengan 3 bank lainnya membentuk
Bank Permata. Tapi, satu hal yang harus
disyukuri, buah kerja mereka di Bank Universal selama ini tidak sepenuhnya sia-sia.
Banyak alumni Universal Bankers (begitu
mereka menyebut bankir Bank Universal)
yang tetap mencuat karena kompetensi dan
budaya kerja yang unggul. Darah Citibank
dan Bank Universal yang mengalir di tubuh
para bankir itu membuat mereka sulit untuk
diabaikan. Sebutlah Mahdi Syahbudin dan
Ongky W. Dana (Direktur Bank Permata), N.
Krisbiyanto dan Ekoputro Adijayanto (GM
Bank Permata), Jerry Ng (Direktur Bank
Danamon), dan masih banyak lagi namanama lainnya.
Keunggulan manusianya, itulah yang
membuat nama besar sebuah organisasi
akan selalu dikenang – meski nama
perusahaan bisa saja hilang karena merger,
akuisisi, atau sebab-sebab lainnya. Keunggulan manusia pula yang menjadikan
perusahaan-perusahaan besar selalu tumbuh. Manusia-manusia itu dibentuk dalam
sebuah budaya korporat yang kuat, dengan
sistem nilai dan keyakinan yang seragam.
Budaya itu kemudian tercemin pada sikap
dan perilaku setiap anggota organisasi itu.
Seperti dikatakan Stephen dan banyak
pakar, budaya korporat juga menjadi alat
yang efektif untuk menyaring orang-orang
yang cocok dan tidak cocok dengan sebuah
perusahaan.
Persoalan budaya korporat ini menjadi
isu menarik di Indonesia karena derasnya
gelombang merger dan akuisisi, terutama
pasca krisis ekonomi 1997. Gelombang
merger paling dominan terjadi di industri
perbankan, industri yang dianggap sebagai
jantung perekonomian. Kesulitan bisnis
dan kebijakan untuk memperkuat fondasi
perbankan oleh BI mendorong terjadinya
kegiatan merger di perbankan. Bank Danamon, misalnya, menjadi surviving bank setelah merger dengan 7 bank lainnya. Bank
Mandiri merupakan bank bentukan baru
hasil merger 4 bank pemerintah (Bank Exim,
BDN, BBD, dan Bapindo). Bank Permata
terbentuk setelah merger Bank Universal
dengan Bank Bali dan 2 bank lainnya. Praktik merger diproyeksikan akan terus berlangsung dalam periode konsolidasi perbankan
nasional sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia yang disusun oleh McKinsey
untuk BI. Kini Bank Pikko dan 2 bank
lainnya sedang bersiap pula untuk merger.
Pembentukan budaya korporat pada
sebuah entitas usaha hasil merger jelas
bukan pekerjaan mudah. Bagaimanapun,
perusahaan-perusahaan yang merger telah
memiliki budaya korporat masing-masing.
Dan, permasalahan yang dihadapi perusahaan hasil merger juga tidak sedikit.
Jangankan bicara pembentukan budaya
11
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
korporat, konsolidasi operasional pada Bank
Mandiri hingga kini masih terus berlangsung. Padahal, merger Bank Mandiri sudah
berlangsung sejak 2000. Tantangan persaingan dan globalisasi bisnis mengharuskan
Bank Mandiri untuk meninggalkan budaya
korporat lama yang menjadi khas bank
pemerintah, seperti terlalu birokratis,
lamban, dan kurang berorientasi pada pasar
serta nasabah.
Menarik memperhatikan pengembangan budaya korporat di Bank Permata.
Kesibukan manajemen dalam konsolidasi
operasional dan internal sedikit banyak
mengurangi perhatian terhadap pembentukan budaya korporat Bank Permata. Belum
lagi, begitu banyak masalah yang harus
dihadapi manajemen, seperti soal cessie
yang belum beres dan kini ditambah lagi oleh
rencana divestasi Bank Permata dan wacana
merger yang dilansir oleh manajemen Bank
BNI. Kendati demikian, beruntung sejumlah
direksi bank ini muncul dari bank dengan
budaya korporat yang kuat, seperti Agus
Martowadoyo (Citibank), Mahdi Syahbudin
dan Ongki W. Dana (Citibank dan Bank Universal). Sehingga visi, nilai-nilai, dan strategi
usaha tetap bisa dibentuk meskipun secara
pelan-pelan.
Para pakar manajemen dan budaya
korporat menegaskan bahwa pembentukan
budaya korporat membutuhkan waktu dan
konsistensi dalam eksekusinya. Pembentukan budaya korporat juga harus menggali
nilai-nilai dan keyakinan yang ada dalam
organisasi perusahaan, bukan dengan
mengambil dari pihak luar. “Jangan pernah
Anda mengambil ideologi dan nilai-nilai dari
perusahaan hebat sekalipun untuk menjadi
dasar penyusunan budaya korporat perusahaan Anda. Itu sebuah kesalahan besar,”
ungkap pakar manajemen perubahan James
C. Collins dan Jegry I. Porras mengingatkan.
Sebaiknya upaya menggali nilai-nilai itu
dilakukan sendiri oleh manajemen perusahaan, meskipun dalam praktiknya juga bisa
dibantu oleh konsultan. Biasanya di perusahaan hasil merger, menurut Nugroho
Supangat, dibutuhkan tim khusus untuk
pembentukan budaya korporat, di mana
CEO-nya terlibat penuh. Kalaupun melibatkan orang luar (semacam konsultan, red),
ia harus berpengalaman, netral, dan mengutamakan kepentingan perusahaan.
Budaya korporat mana yang mau dipakai
oleh perusahaan hasil merger macam Bank
Permata tergantung kesepakatan manaje-
Stephen Z. Satyahadi
Mantan Dirut Bank Universal
Culture adalah satu value atau nilai
dan believe dari norma-norma yang sebenarnya timbul dengan sendirinya dalam
suatu organisasi karena adanya interaksi
yang lama kelamaan akan membesar
tergantung dari core perusahaan itu sendiri.
Nilai dan believe akan berbeda antara satu
tempat dengan tempat lainnya. Biasanya
culture akan membesar, memformulasikan dan perusahaan akan memsosialisasikannya. Jadi hal ini tidak bisa diintervensi dari luar, sedangkan konsultan
sifatnya hanya memberi input saja.
Visi adalah suatu hal yang very soft,
tapi sangat powerful. “Kalau mau menekan
visi, harus tahu core valuenya. Baru dia
bisa berjalan berdasarkan itu”, ujar
Stephen. “Jangan hanya mau jadi yang
terbaik saja, tanpa mau tahu dasarnya”,
tambahnya lagi. Core ideology terdiri dari
dua bagian yaitu core value dan core purpose. Setelah ada core value dan core pur-
pose, baru bisa keluar visinya
Sebagai mantan direktur utama bank
Universal, pengalaman membangun di
bank Universal mulai tahun 1990, Stephen
memberi contoh core value yang digali di
bank Universal. Core value itu yaitu
emphaty dan concern mendengar nasabah,
teamwork dan trustworthiness. “Sebenarnya kita harusnya tidak terlalu mendorong
atau memaksa seseorang untuk bekerja.
People harusnya pulang kerja tidak dengan
wajah marah, kecewa dan sebagainya”,
tegas Stephen. “Kita yang bertanya,
mereka bisa digaji berapa, jadi kerjanya
akan lebih baik. Kalau digaji tinggi, mereka
juga akan kerja dengan lebih baik. Banyak
tindakan-tindakan yang didasari pada apa
yang kita beri”’ jelasnya lagi.
Menggali pengalaman di bank Universal yang merupakan bank hasil merger,
perlu proses dalam membentuk culture.
Waktu pertama bergabung, tujuan bank
Universal adalah bank retail. “Kalau masih
corporate banking, kita mungkin sudah
dilikuidasi. Jadi setengah corporate dan
setengah retail. Itu sudah jadi culture”,
jelas Stephen lagi.
Bagi Stephen merupakan tantangan
yang besar dalam membangun corporate
culture di bank Universal. “Saya, Jerry Ng,
Audi, Mahdi dan Terry David yang menjalankan bank Universal. Intinya untuk menggali culture yang baru”, tutur Stephen. Dan
seperti yang telah diketahu banyak pihak
bahwa Citibank adalah contoh bank yang
memiliki corporate culture yang paling
mapan. “Tantangan terbesar membangun
corporate culture di bank Universal, saya
kira harus konsisten. Kita harus komit,
valuenya harus sudah ada”, kata Stephen.
“Value yang kita kembangkan tidak terlepas
dari nenek moyang kita,Citibank. Mereka
cukup demokratis”, jelasnya mengakhiri„
men baru. Apakah budaya korporat bank
peserta merger terbesar atau budaya
korporat bank yang dianggap paling kuat
atau kombinasi yang terbaik dari bank-bank
yang ada, pilihan-pilihan itu bisa saja
diambil. “Konsultan bisa membantu mengeksplorasi nilai-nilai dan keyakinan itu
selaras dengan strategi perusahaan,” ujar
AB Susanto, Nugroho Supangat, dan Marina
Tusin di tempat terpisah.
Konsultan juga bisa berperan dalam
mengatasi benturan-benturan antar pimpinan baru dalam membentuk budaya korporat
baru. Benturan mungkin saja terjadi karena
masing-masing pimpinan memiliki ego dan
kebanggaan masing-masing. Kalaupun
disepakati mengambil yang terbaik dari
perusahaan-perusahaan sebelumnya, lanjut
Marina, harus ada kesepakatan tentang
keunggulan dari masing-masing nilai dan
keyakinan itu.
Tahapan berikutnya, setelah budaya
korporat berhasil diformulasikan, adalah
sosialisasi atau internalisasi budaya itu
kepada seluruh jajaran perusahaan. Inilah
tahapan paling menyita waktu, tenaga,
pikiran, dan komitmen dalam pembentukan
budaya korporat. Prosesnya memakan
waktu lama, bisa 10-20 tahun, mencakup
beberapa generasi kepemimpinan. Kelemahan perusahaan di Indonesia adalah
tidak adanya konsistensi dalam membangun
budaya korporat oleh setiap CEO dari waktu
ke waktu. Kita pun wajib ragu bagaimana
nasib budaya korporat Bank Mandiri bila
kelak E.C.W Neloe diganti atau budaya
korporat Bank Permata jika Agus Martowardoyo diganti.
Keraguan semacam ini tidak akan
pernah muncul pada perusahaan asing dan
perusahaan-perusahaan Indonesia yang
diakuisisi oleh pemilik asing, seperti yang
terjadi pada bii, Bank Danamon, Telkomsel,
Indosat, dan sebagainya. “Mereka hanya
membeli perusahaan kita, sehingga tidak
banyak mengutak-atik budaya korporat yang
sudah ada,” tukas Nugroho Supangat. Tentu
dengan catatan bila budaya korporat yang
ada sudah sesuai dengan kebutuhan
strategi perusahaan. Seandainya belum,
pemilik asing akan mengintroduksikan
nilai-nilai baru untuk menyempurnakan
budaya yang sudah ada. Sebagai contoh,
Temasek – yang menjadi pemilik baru pada
bii dan Bank Danamon - atau Singtel –
pemilik baru Telkomsel – sangat concerned
dengan upaya menggenjot pemasaran
sehingga nilai-nilai yang berkembang adalah
fokus pada pendapatan dan profitabilitas.
Mudah-mudahan fokus ini tidak mengorbankan pelanggan atau mengorbankan
kepentingan jangka panjang perusahaan.
Yang pasti, masuknya pemilik asing ini bisa
menjadi momentum untuk meningkatkan
daya saing SDM dan perusahaan-perusahaan
kita, termasuk dalam hal budaya korporat.
Seperti dikatakan Marina Tusin, pembentukan budaya korporat ibarat menggulung
benang. “Kalau benangnya belum selesai
digulung dan lepas, harus digulung lagi.
Begitulah seterusnya.” Karena prosesnya
membutuhkan waktu lama, maka budaya
korporat akan mempengaruhi investasi dan
eksistensi perusahaan di masa depan.
Maka, saatnya “menggulung benang”
secara benar„
12
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
BUDAYA KORPORAT LOKAL
SWA
KISAH ROBBY MEMBANGUN BANK NIAGA
R
obby Djohan adalah figur yang tak
terlepaskan dari serangkaian keberhasilan Bank Niaga, termasuk sebagai bank dengan kualitas manajemen dan
budaya korporat yang cukup tangguh.
Setelah 8 tahun malang-melintang di
Citibank dan berkontribusi besar dalam
meletakkan fondasi bisnis Citibank di Indonesia, menjelang usia 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan Citibank. Ada
dua pilihan yang tersedia baginya saat
meninggalkan Citibank, yaitu bekerja
sebagai agen (semacam manajer) di BDN
dan direktur Bank Niaga. Waktu itu, BDN
sebagai bank pemerintah sudah menjadi
organisasi yang besar sementara Bank
Niaga hanya sebuah bank kecil yang berdiri
26 September 1955.
“Kalau saya pilih BDN dengan sendirinya
terbuka peluang bagi saya menjadi orang
besar karena saya bekerja pada suatu
organisasi besar. Tapi, saya mengkhawatirkan birokrasi di BDN. Akhirnya saya memilih
Bank Niaga, sebuah bank pribumi yang kecil
dan apabila menjadi besar andil saya akan
sangat menonjol,” tulisnya dalam buku
Robby Djohan, the Art of Turnaround.
Masuk sebagai GM cabang Jakarta –
selevel direktur – Bank Niaga tahun 1976,
Robby dipercaya menjadi Presiden Direktur
1 Januari 1984 menggantikan Idham. Sejak
awal, Bank Niaga memang ingin menjadi
bank profesional seperti Citibank. Tatkala
masuk Bank Niaga, bank ini sudah menjalin
kerjasama dengan Citibank di bidang retail
banking. Hanya saja, Citibank bermaksud
menghentikan kerjasama itu sejalan
dengan strategi global Citibank yang waktu
itu lebih fokus di bidang perbankan korporasi. Robby berhasil meyakinkan Citibank
Indonesia untuk tidak menghentikan
kerjasama itu serta merta. Kebetulan,
beberapa orang Citibank yang ditempatkan
di Bank Niaga masih mau berkarir di Bank
Niaga.
Sebagai eks Citibanker dan latar belakang kerjasama Bank Niaga dengan Citibank, maka wajar bila Bank Niaga dianggap
sebagai Citibank mini atau Citibanknya Indonesia. Toh tidak semua hal yang diterapkan
di Bank Niaga adalah konsep Citibank. “Kami
hanya mengambil mana yang baik saja,”
ujarnya. Salah satunya, bagaimana Citibank
mempersiapkan orang-orangnya. Seperti
rekrutmen, pendidikan, pengembangan
karir, deskripsi pekerjaan, tujuan, program
dan evaluasi kinerja. Juga kebiasaan rapat
yang tidak berlama-lama dan selalu disiplin
dengan waktu.
Ketika berdiri hingga awal 70-an, belum
terpikir oleh manajemen pembentukan
budaya korporat Bank Niaga.
Saat itu, ujar Robby, orang belum
mengenal apalagi memahami
budaya korporat. Kalau pun ada,
perilaku pemilik Bank Niaga bisa
dianggap sebagai budaya korporat. Sehingga yang terjadi saat
itu, para bawahan meniru apa
yang dilakukan atasan. Oleh
sebab itu, budaya korporat Bank
Niaga banyak sekali dipengaruhi
oleh contoh yang kuat dari para
komisaris dan CEO Bank Niaga,
khususnya oleh Soedarpo Sastrosatomo, Julius Tahija, M.
Idham, dan Robby. Kebetulan,
menurut Robby, keempatnya
memiliki cara yang sama.
Sifat yang menonjol adalah,
pertama sikap konservatif dan
mengutamakan kualitas. Kedua,
manusia adalah asset utama. Robby Djohan. Figur di balik budaya Bank Niaga
Ketiga, citra dan integritas. Sifatsifat ini ada pada keempat orang itu karena
sehingga sulit bagi yang tidak bisa menyelatar belakang pendidikan Belanda, keluarga
suaikan diri dengan budaya korporat itu
yang intelektual, lingkungan pergaulan, dan
untuk berkembang. “Oleh sebab itu, rekrutpekerjaan.
men kader dari luar sangat dibatasi,”
Keseragaman sifat itu memang tidak
katanya.
melahirkan dinamika, tetapi menjamin
Robby mengakui, visi dan strategi usaha
munculnya satu fondasi yang kokoh untuk
yang terpikir waktu itu sangat sederhana. Ia
mengembangkan Bank Niaga. Karakter
ingin Bank Niaga menjadi bank yang berkuSoedarpo, Tahija, dan Idham yang sangat
alitas, menguntungkan, dan masuk lima bekonservatif dan Robby sebagai CEO yang
sar di antara bank swasta. Keinginan itu
cukup agresif menghasilkan sinergi yang
jelas sangat ambisius karena Bank Niaga
sangat baik.
saat itu merupakan bank terkecil di antara
Dengan sinergi ini, lanjut Robby, esensi
sekitar 65 bank swasta. Yang berkembang
budaya yang berkembang di Bank Niaga
justru bank milik WNI keturunan karena
adalah mengutamakan stakeholders. Selalu
praktis sudah menguasai seluruh perdaberorientasi pada pasar, manusia menjadi
gangan. Sedangkan Bank Niaga adalah bank
asset utama, dan senantiasa mementingmilik pengusaha pribumi yang sangat konkan kualitas dalam semua hal yang dikerservatif.
jakan. Setiap penyimpangan tidak bisa
Untuk mewujudkan keinginan itu, tahun
ditoleransi dan secara otomatis dikoreksi
1976 Bank Niaga menyusun lima tahapan
oleh budaya perusahaan yang berkembang.
sebagai strategi untuk mencapai visi itu.
Robby juga tergolong sangat keras – namun
Pertama, memiliki manajemen yang profestanpan dendam – terhadap anak buahnya
sional, terdiri dari sedikitnya 10 orang yang
yang melakukan penyimpangan.
kompeten dan siap ditempatkan di pusat
Pernah seorang staf Bank Niaga cabang
dan di cabang. Kedua, mengembangkan
Medan melakukan manipulasi. Waktu
program rekrutmen dan pendidikan yang
berkunjung ke Medan, meski marah Robby
akan menghasilkan kader-kader Bank Niaga.
mengatakan kepada orang itu untuk
Ketiga, memiliki prasarana, baik berupa
mencari pekerjaan di luar bank. Ia menilai,
kantor yang modern dan jasa perbankan
orang itu tidak cocok bekerja di bank karena
serta sistem operasi seperti Citibank.
tidak tahan godaan uang. Akhirnya, orang
Keempat, fokus pada retail banking dan
itu mundur dari Bank Niaga dan sesuai sacommercial banking dalam pemasaran.
ran Robby mencari pekerjaan di bidang lain.
Kelima, menjadi bank yang menguntungkan
Mereka yang ingin maju di Bank Niaga
sehingga lebih mudah mendapatkan modal
harus patuh kepada budaya korporat agar
dari investor maupun dari laba ditahan.
dia tidak menjadi orang asing di Bank Niaga.
Impelementasi dari strategi itu diakui
Penentuan dan pengangkatan eksekutif
Robby sangat sederhana. “Namun, karena
sangat ditentukan oleh rank and file,
kami konsisten dan penuh komitmen
menjalankannya, ia berjalan mirip bola salju.
Hasilnya bisa dilihat dalam waktu yang
cukup singkat.” Tahun 1988, Bank Niaga
sudah menjadi bank swasta kedua terbesar
di bawah BCA, yang dimiliki Liem Sioe Liong
kerabat Presiden Soeharto dan dipimpin
oleh Mochtar Riyadi. Bank lain yang menjadi
saingan adalah Bank Duta, yang banyak
dibantu Bulog; Bank Umum Nasional milik
Bob Hasan yang disebut Robby sebagai
“Anak Raja Republik”; BDNI dan BII – milik
dua konglomerat.
Robby menilai, cepatnya perkembangan
Bank Niaga karena faktor citra yang secara
cepat dapat diciptakan karena bank ini
memiliki orang-orang yang selalu ingin
melakukan hal-hal terbaik untuk nasabah
dan Bank Niaga, di samping memiliki
integritas. Semua orang di Bank Niaga ingin
menjadikan bank ini sebagai bank modern
dan mempunyai sistem perbankan yang
lebih baik dibandingkan bank lain.
Kalau datang ke cabang, maka laporan
pemimpin cabang bukanlah apa yang sudah
dikerjakan tetapi apa yang menjadi masalah
dan berapa besar kontribusi profit yang
mereka capai. Budaya Citibank terasa sekali
di sini. Tidaklah populer di Bank Niaga apabila
pemimpin cabang melaporkan apa yang
sudah ia lakukan ataupun keberhasilannya.
Karena Robby dengan ketus akan menjawab:
“Anda sudah dibayar untuk itu. Laporkan
kepada saya apa yang menjadi masalah
ataupun tantangan, dan bagaimana Anda
akan menghadapinya.”
Sikap Robby ini merupakan cerminan
budaya yang berkembang di kalangan
eksekutif Bank Niaga, yang selalu tertantang untuk memecahkan masalah. Mereka
sadar bahwa Bank Niaga berdiri sendiri dan
tidak dibantu oleh fasilitas maupun kemudahan dari pasar karena bank ini bank
pribumi. Kunci keberhasilan Bank Niaga di
mata Robby karena menciptakan dan
memiliki professional yang baik. Mereka
memiliki keahlian, jiwa kepemimpinan, dan
motivasi bekerja yang tinggi. “Kalau di
seluruh dunia orang-orang Citibank ada di
mana-mana, di Indonesia juga dapat
dikatakan orang-orang Bank Niaga ada di
mana-mana,” gumamnya bangga.
Sebagian besar direksi Bank Niaga saat
ini adalah lulusan Program Pengembangan
Eksekutif yang dulu dikembangkan oleh
Robby Djohan. Program ini meniru program
serupa di Citibank. Kendati ikut dirundung
masalah karena krisis ekonomi, Bank Niaga
tetap memiliki nilai berharga untuk dipertahankan dari kemungkinan ditutup dan
diminati oleh investor. Sebuah bukti bahwa
Robby memang hebat„
13
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
SETELAH TEMASEKKOOKMIN MASUK BII
G
elombang divestasi yang dilakukan
pemerintah Indonesia, baik perusahaan-perusahaan di bawah BPPN
maupun BUMN, menyebabkan masuknya
pemegang saham asing ke dalam kepemilikan perusahaan-perusahaan Indonesia.
Sebagian besar pemegang saham baru itu
berasal dari Singapura, terutama melalui
Temasek, BUMN negara itu. Temasek telah
masuk sebagai pemegang saham utama
Bank Danamon dan bersama bank terbesar
Korea Kookmin Bank (dalam konsorsium
Sorak) menjadi pemegang saham mayoritas
Bank Internasional Indonesia (bii).
Terlepas dari kontroversi di balik masuknya Temasek itu, perubahan besar kini
sedang terjadi dalam landscape perbankan
Indonesia. Selain dari sisi kepemilikan,
perubahan besar itu diyakini juga akan
berpengaruh terhadap budaya korporat dan
cara mengelola bank-bank tersebut. Banyak
yang berharap, perubahan ini akan membuat
manajemen perbankan nasional lebih
tangguh dan profesional. Praktik-praktik
moral hazard – penyalahgunaan kesempatan dan jabatan – diharapkan semakin
terkikis sejalan dengan meningkatnya
kesadaran akan pentingnya faktor kepercayaan dan kepuasan nasabah bagi keberlanjutan usaha perbankan.
Lantas, apakah masuknya konsorsium
Sorak melahirkan budaya korporat baru di
bii? Henry Ho, Presiden Direktur bii, tak
secara tegas mengatakannya. Namun, Managing Partner Dunamis Organization Services Nugroho Supangat menilai budaya
korporat perusahaan lokal yang dibeli asing
belum tentu akan berubah. “Mereka hanya
melihat sistem manajemennya saja. Kalau
masih selaras dengan kepentingan mereka,
tinggal disempurnakan saja.”
Budaya korporat bii diperkirakan sudah
semakin baik setelah bank itu tidak lagi
dimiliki oleh keluarga Eka Tjipta Widjaja. Di
bawah manajemen lama, dipimpin oleh Sigit
Pramono (kini menjadi Direktur Utama Bank
BNI), transformasi budaya dan sistem kerja
bii sudah berlangsung. “Kami tinggal
memantapkan saja apa-apa yang sudah
baik, dan menyempurnakan yang masih
kurang,” tutur Henry Ho, yang menghabiskan 22 tahun karirnya di Citibank itu
(terakhir di Arab Saudi).
Sebagai contoh, pemegang saham baru
sangat fokus pada upaya pelayanan nasabah
secara efisien. Kantor-kantor cabang benarbenar difungsikan sebagai ujung tombak
pelayanan sekaligus point of sales. Dalam
upaya meningkatkan layanan dan efisiensi
biaya, dalam 3 tahun ke depan bii akan
menanamkan investasi bernilai puluhan
juta dolar di bidang teknologi informasi.
Selain itu, seluruh jajaran bii diajarkan
untuk benar-benar berorientasi kepada
efisiensi dan hasil. Bii secara konsisten
mulai menerapkan meritocracy, yang
menghubungkan kinerja dengan reward dan
punishment. Para karyawan juga harus
PT. UNILEVER TBK.
PROSES TIADA HENTI
Salah satu perusahaan yang dianggap telah
memiliki corporate culture yang mapan adalah
PT. Unilever Indonesia Tbk. Corporate culture yang
mapan, membuat perusahaan yang telah beroperasi
di Indonesia sejak tahun 1933 ini tumbuh menjadi
perusahaan penyedia consumer products yang
mempunyai peran penting di Indonesia.
K
Henry Ho, Presiden Direktur bii
mampu beradaptasi dengan segala bentuk
perubahan, baik internal maupun eksternal.
Layaknya pemegang saham yang selalu
concerned dengan kinerja usaha, maka bii
akan melakukan penyelarasan dan realokasi
sumberdaya manusia ke bidang-bidang
penghasil pendapatan. “Kami akan berdayakan seluruh karyawan yang ada untuk
berkontribusi bagi kemajuan bii,” tukas
Henry Ho. Caranya, melalui upaya training
secara berkesinambungan, baik diselenggarakan sendiri maupun melalui outsourcing. Ia tak menampik, bii akan
memberi perhatian lebih terhadap pemasaran dan layanan nasabah. Dengan strategi
ini, jumlah karyawan bii yang kini mendekati
8.000 orang dianggap memadai. Yang akan
dilakukan bii, kata ayah 3 putera itu, bukan
downsizing melakukan resizing.
Dalam upaya penataan sumberdaya
manusia sesuai kebutuhan organisasi itu,
seluruh orang bii – dari karyawan terendah
hingga CEO – harus menjalani competence
audit dan performance appraisal. Penilaian
ini bertujuan untuk mengetahui potensi
karyawan dan kecocokannya pada bidangbidang pekerjaan yang ada. Dewasa ini,
menurut Direktur/Corporate Secretary bii
Sukatmo Padmosukarso, proses penilaian
terhadap 50 manajemen level atas –
termasuk Henry Ho - sudah dilakukan oleh
perusahaan konsultan asal Hong Kong.
Pelaksanaan penilaian terhadap karyawan
lainnya akan diselenggarakan konsultan
lokal, yang saat ini sedang diseleksi.
Para karyawan, lanjut Henry Ho, cukup
exciting dengan segala upaya dan rencana
perubahan yang akan diterapkan manajemen bii. “Kami ingin menjadikan kembali
bii sebagai salah satu paling menguntungkan di Indonesia, seperti yang pernah diraih
bank ini,” ujar Henry serius.
Masuknya Temasek dan Kookmin diakui
Sukatmo sangat positif menyempurnakan
budaya korporat bii. Setidaknya, bii kini
semakin transparan dan lebih disiplin.
“Dulu, kalau mau rapat, masih sering molor.
Sekarang sudah tidak lagi. Semuanya harus
ontime dan siap,” tuturnya„
emapanan corporate culture di PT.
Unilever, tidak begitu saja terbentuk.
Hal ini membutuhkan waktu dan
proses yang terencana dengan matang.
Keluar dari krisis tahun 1998, PT. Unilever
layaknya perusahaan lain, juga mengalami
penurunan penjualan. Namun memasuki
tahun 1999, PT. Unilever bertekad untuk
kembali mencapai pertumbuhan seperti
sebelum krisis. “Kami menyimpulkan, jika
mau kembali tumbuh dengan level pertumbuhan seperti sebelum krisis, Unilever harus
mengubah behavior orang-orangnya. “Kami
harus mengubah the way we are”, ujar Joseph Bataona, Direktur HR PT. Unilever Tbk.
“Jadi kami harus re-direct semua yang sudah
dipunyai. Karena jika tidak akan membutuhkan waktu yang lama sekali untuk
mewujudkan tekad itu”, tambahnya lagi.
Banyak proses yang telah dilalui oleh
perusahaan ini untuk mencapai tujuan
tersebut. Dalam masa persiapan, dilakukan
diskusi secara internal. Mulai pada level
puncak dipimpin oleh chairman dan direksi,
mencoba mengidentifikasi apa saja elemen
yang dimiliki perusahaan untuk tetap
tumbuh atau tumbuh lebih cepat lagi dan
apa saja yang menghambatnya. “Itu adalah
unsur awal kami mencoba bicara tentang
vision. Kami sebetulnya mau kemana dalam
5-10 tahun mendatang dari titik ini. Dan itu
kami lakukan sendiri”, jelas Joseph.
Kemudian disadari bahwa PT. Unilever
terfokus pada consumer, costumer dan
community. Hingga kemudian muncul visi
dari PT. Unilever yaitu ‘To become the first
choice of consumer, costumer and community’. Hal ini terwujud pada komitmen PT.
Unilever terhadap konsumennya yaitu
menyediakan produk bermerek dan pelayanan yang secara konsisten menawarkan
nilai dari segi harga dan kualitas, dan yang
aman bagi tujuan pemakaiannya.
Banyak juga exercising yang dilakukan
secara internal. Ada team kecil yang
berjumlah 5 orang, dipimpin oleh Joseph,
diminta untuk menerjemahkan visi itu ke
dalam real values yang harus dimiliki karyawan. “Waktu itu saya minta beberapa direksi
untuk menuliskan momen dalam karier
mereka dimana mereka merasa satisfied,
rewarded dan juga saat mereka merasa
marah besar, disappointed, dan very frustrated. Lalu mereka diminta untuk mencari
value apa yang membuat mereka merasa
satisfied dan value yang membuat mereka
merasa frustrated. Dan mereka menulis apa
saja values yang harus ada untuk memacu
perkembangan di perusahaan.”
Hasilnya, muncul sekitar 20 values,
yang kemudian di bagikan pada level puncak
untuk dibahas yang akhirnya dihasilkan the
top six. Yang termasuk dalam the top six
adalah Customer, consumer and commu-
Joseph Bataona, Direktur HR Unilever Indonesia
14
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
nity focus, Teamwork, Integrity, Making
things happen, Sharing of joy, dan Excellence.
Namun tim tidak berhenti di situ saja,
tim harus mengidentifikasi behavior seperti
apa yang mendukung atau tidak mendukung dari ke-6 nilai-nilai itu. Ini membutuhkan waktu kurang lebih 5 bulan. Joseph
menilai, behavior tersebut bukanlah sesuatu
yang statis sifatnya. Behavior yang dianggap
mendukung dan tidak mendukung itu
bukanlah sesuatu yang statis sifatnya. Ia
membutuhkan proses dalam pelaksanaannya. Meskipun sudah berjalan 4-5 tahun,
ini belum juga selesai, masih harus terus di
review from time to time.
Awal tahun 1999, akhirnya terbentuk
organization effectiveness committee.
Komite ini bertugas untuk melihat the whole
company dan memberikan advis pada
perusahaan untuk mewujudkan visi fokus
pada consumer, costumer and community.
Yang pertama dilakukan komite ini adalah
business process improvement plan. Untuk
membuat semua mengerti bahwa seluruh
proses itu dilakukan agar costumer, consumer dan community dapat merasa puas.
“Dalam hal ini pertanyaan yang selalu
muncul adalah apakah proses ini add value
kepada costumer, consumer dan community, jika tidak kami cut”, tegas Joseph.
Kemudian ditunjuk satu group yang
disebut sebagai facilitator perubahan,
karena hal ini tidak bisa dikerjakan oleh
board atau unit secara sendiri-sendiri. Ia
harus dilakukan secara paralel di semua
bagian dalam perusahaan. “Kami identifikasi
dari seluruh divisi untuk menjadi facilitator,
karena yang sedang kami rencanakan
adalah transformasi, dan ini butuh support
dari seluruh bagian. Kalau tidak akan
pincang jadinya,” jelasnya.
Keberagaman yang ada di perusahaan,
bagi PT. Unilever Tbk. juga tidak menjadi
masalah, bahkan dianggap sebagai nilai
tambah bagi perusahaan. “Kami yakin
bahwa diversity dalam hal apa saja di
perusahaan ini perlu dipupuk. Kami tidak
perlu menjadikan seseorang sama semuanya. Kami yakin meski berbeda mereka
memiliki kemampuan untuk mengerjakan
pekerjaan dan bahkan membawa nilai
tambah”, tutur Joseph. Contohnya, Unilever
pernah punya accountant itu seorang flight
engineer” atau pejabat HR yang pendidikannya teknik arsitektur.
Setiap proses pasti memiliki tantangan,
begitupun yang terjadi pada PT. Unilever.
Tantangannya yang ada yaitu apakah semua
pihak memiliki kesiapan yang sama dan
apakah plan untuk program energizing sudah
benar. “Jika kami benar mau berubah,
elemen transparansi atau keterbukaan juga
harus ada. Kami coba train karyawan di sini
sebagai the whole being, yang punya brain
juga heart”, tutur Joseph.
Banyak hal telah dilakukan PT. Unilever
untuk menyentuh hati para karyawannya.
Joseph mencontohkan banyak perusahaan
yang menyediakan fasilitas kesehatan
dengan menyediakan rumah sakit gratis, tapi
Unilever mau manusia yang sehat. Yaitu
dengan menyediakan ruang gym di lantai
atas untuk semua level. Contoh lain, di lantai
bawah disediakan nursery room, untuk ibu
yang menyusui. „
PT. MLC LIFE INDONESIA
Nuansa Pantai di Kantor
Pacu Kinerja Karyawan
M
emasuki kantor yang berlokasi di
Gedung Nugra Santana, jelas
menimbulkan keunikan tersendiri. Kantor bernuansa pantai ini memang
sengaja diset untuk menciptakan etos kerja
yang tinggi bagi karyawannya. Menurut Ivan
Taufiza, People & Culture Director PT MLC
Life Indonesia, infrastruktur seperti itu
memang sengaja dikonsepkan bernuansa
pantai. “Ini bertujuan menciptakan kenyamanan karyawan dalam bekerja,” paparnya.
Misalnya, di ruang rapat terdapat
akuarium dan pemandangan pasir dan
kerang-kerang di meja. Belum lagi ada kursi
pantai untuk duduk-duduk santai karyawan,
lantai yang didesain dengan warna biru
seperti warna laut, meja makan desain
pantai, ruangan perpustakaan yang cozy dan
game playstation di ruang makan untuk
mengatasi kejenuhan karyawan. Jangan
kaget jika untuk office boy dan driver, MLC
memberikan ruangan khusus untuk menjelajah di dunia maya alias internet.
“Kami juga mendesain kursi dan meja
kerja dengan ala cubicle, maksudnya agar
tidak ada gap antara satu dengan yang lain,
bahkan dengan jajaran manajer sekalipun,”
jelas Ivan. Sehingga, jika salah satu
karyawan ingin berdiskusi, mereka bisa
langsung ngobrol tanpa harus repot-repot.
Kecuali untuk hal-hal yang krusial, MLC
menyediakan beberapa ruangan kecil yang
sifatnya tertutup.
Meski hanya sebatas kendaraan, infrastruktur tersebut sangat ‘manjur’ buat
karyawan agar mereka memberikan hasil
kerja yang baik kepada perusahaan. Diakui
Ivan, MLC menganut prinsip-prinsip seperti
transparansi, keterbukaan, dan insiatif tidak
hanya di jajaran direksi saja, tapi juga sampai
ke level bawah. Semua karyawan, kata Ivan,
harus bertanggung jawab baik kepada
perusahaan maupun kepada dirinya sendiri.
Selama ini, perusahaan-perusahaan
yang ada menurut Ivan menginginkan
kontribusi yang sifatnya tangible atau
terukur dari segi finansial. “Tapi sebenarnya
ada hal-hal yang tidak terukur, tapi tetap
kontribusi ke bisnis. Contoh, kepuasan
karyawan,” Ivan memaparkan hal itu. Cara
mengukurnya, adalah lewat insiatif, ide,
semangat, spirit. Ini yang mendasari rule
People & Culture MLC untuk mengembangkan tersebut dan membuat nilai-nilai
yang intangible itu bisa makin membesar,
sehingga kontribusi ke bisnis juga makin
besar.
Untuk mengukur kinerja karyawan, MLC
menggunakan 6 cara, yaitu performance,
people, identifikasi, open eyes, control, dan
flexibility. “Prinsipnya, apa yang kita punya
sekarang dan apa yang kita inginkan,
gapnya ada dimana. Gap itu yang coba kita
tutup,” kata Ivan.
Ivan Taufiza. People and Culture Director MLC
Diakui Ivan, sebelum MLC berdiri, MLC
sempat bermitra dengan perusahaan
properti yaitu BII Landlease dan Simas Landlease. Baru pada tahun 2000, anak perusahaan National Australia Bank(NAB) ini resmi
didirikan. Sayangnya, sejak didirikan, banyak
perbedaan yang terjadi, antara budaya
sebelum MLC resmi didirikan dengan budaya
yang baru.
“Banyak karyawan yang bingung karena
nature dari pemilik yang sangat berbeda
yaitu dari property company berubah menjadi
bankir yang sangat konsevatif, maka
terkesan ada perubahan yang sangat
mencolok dari program-program karyawan,”
Ivan membeberkan. Perbedaan dan perubahan yang mendasar ini yang banyak disesalkan banyak karyawan MLC karena tidak
dikomunikasikan kepada mereka.
Untuk mengatasi perbedaan tersebut,
MLC menerapkan budaya yang lebih dinamis. “Di sisi demografi, dari sisi usia, masa
kerja dan latar belakang pendidikan
mayoritas berusia dibawah 35 tahun,
sangat dinamis & informal,” imbuhnya
kembali. Ini jelas menguntungkan MLC
karena perbedaan-perbedaan antara karyawan lama dan karyawan baru sudah lebih
tertutup sedikit demi sedikit. “Saya yakin,
kombinasi karyawan baru yang 42% dapat
saling bisa mempengaruhi karyawan lama
yang 52% sehingga budaya MLC lebih
terbentuk seperti yang diharapkan.”
Selain infrastruktur yang berperan bagi
kepuasan karyawan, MLC juga banyak
mengadakan kegiatan sosial seperti membuat bangunan sekolah bersama-sama,
membuat gerobak bakso, atau kegiatan
komunikasi bersama seperti nonton bareng,
main bowling bersama dan masih banyak
lagi. “Berdasarkan hasil survei, hasil
kepuasan karyawan ada 2 poin yang sangat
terasa, yaitu lingkungan kerja dan kegiatan
sosial yang dilakukan perusahaan,” akunya
dengan antusias.
Untuk ke depan, MLC mulai menerapkan
budaya baru yang bertajuk “36 Derajat Feedback”. Tujuannya, untuk memberikan
masukan kepada sesama karyawan, baik
jajaran atas maupun hingga ke level bawah
secara formal. “Secara umum, orang Indonesia punya budaya, sulit memberikan
masukan baik ke atasan atau ke teman.
Takutnya, dia akan dianggap lebih pintar dari
saya, atau sebaliknya takut menjelek-jelekan
saya.” Ini menyebabkan MLC membuat
dalam format yang seimbang yaitu stop doing, artinya tidak perlu dilakukan lagi, start
doing yaitu sesuatu yang belum dilakukan
tapi akan dilakukan dan continuous doing,
yaitu sesuatu yang sudah dilakukan dan
bagus, maka akan terus dilakukan. Ketiga
platform ini diharapkan mengurangi subyektifitas„
15
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
DEDDY
KUSDEDI
(DIRUT PEGADAIAN)
EKSEKUTIF
INTAN SEBAGAI
BUDAYA PERUSAHAAN
B
udaya perusahaan sangat signifikan dengan keberhasilan Pegadaian, terutama setelah pegadaian
berganti status dari perusahaan jawatan
(Perjan) menjadi persero. “Waktu status
kami Perjan, status kami PNS, bajunya
birokrat, motto kerja, kami dibutuhkan
masyarakat. Jadi manajemennya manajemen warung, artinya yang gadai syukur, tidak
ada yang gadai tutup saja. Toh tanggal 1
gajian juga. Terserah perusahaan mau
untung atau rugi”, jelas Dedi.
Dengan diganti menjadi perusahaan
persero maka berubah sistemnyapun berubah menjadi pegadaianlah yang membutuhkan nasabah. “Makanya kami bangun
budaya professional. Artinya, kualitas
pelayanan harus betul-betul menjadi target
utama. Kedua, nasabah harus betul-betul
dilayani sebaik-baiknya. Ketiga, mereka pun
harus bertanggung jawab terhadap maju
mundurnya perusahaan”, tutur Dedi lagi.
Kini pegadaian telah memiliki budaya
perusahaan, yang disebut namanya Si Intan.
“Ini singkatan, I-nya inovatif, N-nya, memiliki
nilai moral yang tinggi. T-nya trampil, A-nya
Adi layanan, dan N-nya nuansa citra”,
jelasnya. Sebelumnya pegadaian bisa
dikatakan tidak mengenal yang namanya
target laba. Dengan diberlakukan budaya
Intan, memberikan kesejahteraan bagi
semua pihak di pegadaian adalah nasabah.
“Yang menggaji kita adalah masyarakat”,
tegasnya. Intan sendiri telah mulai diberlakukan sejak tahun 1990. Bagi Dedi, Intan
harus menjadi kunci utama corporate culture di pegadaian. Tahap pertamanya adalah
sosialisasi. “Kita banyak kendala, karena
yang namanya budaya perusahaan tidak
semudah membalikkan tangan. Pertama
butuh kesabaran. Kedua, butuh pembinaan
yang berkelanjutan”, tuturnya.
Sekarang pegadaian terbuka untuk semua lapisan masyarakat. “Sekarang kami
seluruh pejabat. Karena
kalau bicara pelanggan,
yang dituju adalah seluruhnya, bukan melulu
nasabah saja. Konsep
budaya pelanggan di pegadaian ini, ada empat,
hubungan atasan dengan
bawahan, bawahan dengan atasan, hubungan
karyawan dengan sesama
karyawan atau teman sejawat, hubungan karyawan dengan nasabah.
“Paling tidak, bagaimana
saya harus memperhatiDeddy Kusdedi. Direktur Utama Pegadaian
kan kepentingan karyapunya dua program baru, ada program pegawan”, jelasnya pasti.
daian peduli, intinya adalah meningkatkan
Dalam hal membentuk corporate culkualitas pelayanan masyarakat yang betulture, pegadaian membutuhkan konsultan.
betul professional. Betul-betul peduli kepada
Yang relatif sulit adalah pembinaan yang
masyarakat”, jelas Dedi. “Internalnya,
berkelanjutan. “Saya intinya menekankan
menyangkut masalah keakuratan data. Satu
pendekatan kekeluargaan dan kemanulagi, nasabah mendapat jaminan asuransi
siaan untuk memantapkan budaya perusakecelakaan. Mungkin nanti juga akan
haan. Pilar-pilar budaya perusahaan dari
semacam hadiah yang diundi setiap tahun.
birokrasi ke professional saya ubah. TentuMau gadai piring, gadai mercy, haknya sama.
nya untuk merubah budaya yang ada, ada
Tapi hadiahnya tidak seperti bank, hadiahnya
konsekuensinya. Butuh biaya besar mepaling motor Honda, motor. Mulai bulan Juni
mang. Tapi itu investasi. Dananya bisa
akan diadakan. Dananya sekitar minimal
dipergunakan untuk kepentingan karyawan,
setahun 15-20 motor”, tambahnya lagi.
misalnya gaji yang memadai, benefit-benDi pegadaian peranan HRD untuk corefit supaya perilaku aneh seperti pungli,
porate culture ini merupakan kewajiban
KKN, bisa dikikis habis”, tutur Dedi lagi„
Formulir Berlangganan
Pembaca yang terhormat,
z Tabloid Human Capital ( HC ) merupakan media
pertama di Indonesia yang berfokus pada berita
dan informasi seputar Sumber Daya Manusia dan
penyajian informasi sangat informatif serta disain
tabloidnya sangat menarik.
z HC ditujukan bagi berbagai kalangan dan terbuka
bagi siapa saja yang tertarik pada sumber daya
manusia.
Dengan ragam rubrikasi yang sangat menarik
untuk pengembangan karir, kiat sukses, isu
permasalahan dan alternatif solusi di bidang
sumber daya serta rubrik lainnya.
z HC merupakan media komunikasi potensial bagi
para pengguna iklan untuk memasarkan produk
maupun corporate image mengingat pembaca tabloid HC adalah kalangan menengah, menengah
atas
z Untuk itu, kami memberikan penawaran yang
menarik & mudah kepada Anda guna mendapatkan
Tabloid Human Capital (HC) setiap terbit / edisi
dengan cara berlanggan.
z Cukup dengan menghubungi nomor telepon
telepon (62-21) 5220575 - 52901022 atau
mengirimkan form langganan ke faksimili (62-21)
52901024.
Kami pastikan Tabloid Human Capital (HC) akan
hadir tepat waktu di alamat yang Anda kehendaki.
Terima kasih.
Mohon dikirim tabloid HC
Nama
Perusahaan / instansi
Alamat
Telp
Alamat Rumah
Telp
Pesanan tiap edisi
z
HumanCapital, untuk dan atas nama kami :
: ……………………………………..
: ……………………………………..
Jabatan
: ……………………………….…….
Kota
: ……………………………….…….
Kode pos
: ……………………………………..
Faks
: ……………………………….…….
: ……………………………….…….
Kota
Kode pos
: ……………………………….……..
Faks
: …………………… Eksemplar
Mulai edisi
: ……………….… s/d ………
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………
Daftar Harga Langganan (per-eksemplar)
Harga : Rp. 6.750,- / Eksemplar
Periode
† 2 tahun (24 edisi)
† 1 tahun (12 edisi)
Harga Normal
Rp. 162.000,Rp. 81.000,-
Diskont
20% (Rp.32.400,-)
10% (Rp.8.100,-)
Harga Pelanggan
Rp. 129.600,Rp. 72.900,-
* Untuk Pelanggan di luar Jakarta tambah ongkos kirim
Pembayaran :
………, ………………………………. 2004
Hormat kami,
† Transfer a/n PT. Perdana Perkasa Elastindo,
Bank Permata Cab. Atrium Setiabudi No. Rek. 0.216322.002
(bukti transfer dikirim melalui faksimili)
( ………………………………)
PENAWARAN KHUSUS
Lengkapi referensi Anda dengan Tabloid HC 1 dan HC 2 dengan
HARGA SPESIAL: masing-masing hanya Rp5000,- (di luar ongkos kirim).
Hubungi TOMY untuk pemesanan
di telp. 021-5220575; fax. 021-52901024
16
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
BELAJAR DARI MNC
AKTUALISASI BUDAYA
KORPORAT IBM A LA GERSTNER
K
etika Louis V. Gerstner, Jr memutuskan menerima tawaran untuk menjadi Chairman dan CEO IBM Corp. 1
April 1993, kondisi keuangan dan kinerja
bisnis si raksasa biru sangat berat. Total
pendapatan IBM dan anak perusahaannya
hanya US$64,5 miliar dengan pendapatan
bersih minus US$5,0 miliar. Hampir semua
bisnis IBM mencatat kerugian. Satusatunya yang masih positif adalah bisnis
mainframe, yang selama ini memang
menjadi andalan IBM. Tetapi, itu pun hanya
menunggu waktu. Paul Rizzo, eksekutif IBM,
mengatakan kepada Gerstner bahwa
pendapatan bisnis mainframe terus turun
dari US$13 miliar tahun 1990 dan diperkirakan menjadi US$7 miliar saja tahun
1993. Pendapatan per saham minus
US$2,17 dan imbal hasil ekuitas (Return
on Stockholders’ Equity) minus 15,4%.
Harga saham per 31 Maret 1993 hanya
US$12,72.
Semua fakta ini, tak pelak lagi, menunjukkan betapa buruknya kondisi bisnis IBM.
Sampai-sampai Thomas J. Watson Jr.,
mantan Chairman dan CEO IBM yang juga
putera pendiri IBM Thomas J. Watson Sr.,
harus ikut turun tangan meyakinkan
Gerstner untuk menerima tawaran memimpin IBM itu. Tanpa pemulihan total (total
turnaround), IBM yang menjadi salah satu
kebanggaan Amerika bakal tinggal kenangan.
Banyak sekali langkah strategis dan
taktis yang dilakukan Gerstner untuk
memulihkan bisnis IBM. Salah satu yang
paling menarik adalah menyangkut budaya
korporat IBM. Di awal 90-an, jika mendengar
nama IBM, kata dan citra yang muncul di
pikiran seseorang adalah “komputer besar”,
“PC”, “ThinkPad”, dan lainnya. Pada saat
yang sama, orang akan berpikir tentang
“perusahaan besar”, “konservatif”, “handal”,
dan “seragam celana gelap dan baju putih”.
Deskripsi yang terakhir ini jelas tidak
berkaitan dengan produk dan layanan IBM,
melainkan terkait dengan orang-orang IBM
dan budaya bisnisnya. Sebelum sampai di
IBM (ia telah malang-melintang sebagai CEO
perusahaan raksasa), Gerstner berpikiran
bahwa budaya korporat hanyalah satu dari
beberapa elemen penting dalam membuat
organisasi sukses – bersama-sama dengan
visi, strategi, pemasaran, keuangan, dan
seterusnya. Begitu masuk ke IBM, ia
menyadari kekeliruan tersebut. “Budaya
korporat bukan hanya salah satu aspek dari
kesuksesan perusahaan. Ia adalah kesuksesan itu sendiri.” Sebuah organisasi, pada
akhirnya, tidak lebih dari kapasitas kolektif
dari orang-orangnya untuk menciptakan
nilai (value). Visi, strategi, dan seterusnya
itu tidak akan bisa membuat sukses bila
tidak menjadi elemen dari DNA perusahaan
itu sendiri.
Dalam membangun budaya dan jiwa
IBM, peran Thomas Watson Sr. sangat luar
biasa. Pengalaman Watson sebagai seorang
pengusaha yang berangkat dari nol menumbuhkan budaya menghargai, kerja keras, dan
perilaku etis di IBM. Watson menyadari
bahwa budaya dan nilai-nilai itu harus
diinstitusikan supaya menjadi acuan bagi
seluruh pemimpin dan karyawan IBM. Ia
menyimpulkannya dengan membuat istilah
“Keyakinan Dasar” (Basic Beliefs), yang
terdiri dari 3 hal: (a) Excellence in everything
we do, (b) Superior customer service, (c)
Respect for the individual.
Institusionalisasi “Keyakinan Dasar”
itu tidak hanya dengan menempelkannya
berupa slogan di dinding-dinding kantor. Ia
direfleksikan dalam sistem remunerasi,
sekolah manajemen, program pendidikan
dan pelatihan karyawan, dalam pemasaran,
maupun layanan pelanggan. Ia menjadi
doktrin perusahaan.
Selama bertahun-tahun, hal itu berjalan
dengan sukses. Hanya saja, lingkungan
terus berubah dan kerapkali hal itu tidak
diikuti dengan penyesuaian terhadap
implementasi budaya itu. Salah satu contoh
bagus adalah seragam karyawan IBM. Sudah
jadi rahasia umum bahwa tenaga penjual
IBM selalu berpakaian bisnis formal. Tom
Watson membuat aturan ini bagi para
eksekutif perusahaan. Tetapi, sebetulnya,
esensi di balik aturan itu adalah hargailah
pelanggan, dan berpakaianlah dengan
rapih.Atas dasar itu, Gerstner menghapus
ketentuan pakaian formal seperti itu tahun
1995 yang sempat menimbulkan banyak
berita negatif di koran. Berpakaian disesuaikan dengan keadaan dan dengan siapa
Anda bertemu.
Ambil contoh “Keyakinan Dasar” itu.
Kondisi saat ia dideklarasikan tahun 1962
dengan kondisi 1993 sangat berbeda.
Misalnya soal superior customer service.
Selama masa hegemoni IBM, layanan
pelanggan berarti “menservis mesin IBM
sesuai permintaan pelanggan” ketimbang
memberi perhatian terhadap perubahan
lingkungan bisnis klien dan memberikan
solusi yang sesuai. Layanan pelanggan lebih
menjadi pekerjaan administratif.
Hal yang sama terjadi pada excellence
in everything we do. Semua orang ingin
bekerja excellence tapi konsekuensinya
pengambilan keputusan jadi lambat. Saat
bergabung dengan IBM, Gerstner mengatakan, produk mainframe baru diumumkan
setiap 4-5 tahun. Karenanya, ada lelucon di
IBM awal 90-an: “Products aren’t launched
at IBM. They escape.” Saat ini rata-rata
peluncuran produk baru menjadi 18 bulan
saja.
Agaknya, “Keyakinan Dasar” yang paling dahsyat pengaruhnya – dan paling
banyak disalahgunakan – adalah respect for
the individual. Di satu sisi, hal ini menyebabkan karyawan merasa aman dan tenang
bekerja dengan imbalan yang baik. Namun,
di sisi lain, perasaan itu menyebabkan
karyawan tidak termotivasi untuk bekerja
dengan kinerja tinggi. Orang-orang terbaik
IBM mendapatkan remunerasi yang lebih
kecil dari rata-rata industri.
“Keyakinan Dasar” ini juga berarti
karyawan IBM bisa melakukan apa saja
sesuai aturan perusahaan dengan pertanggungjawaban yang minim. Bila karyawan
berkinerja pas-pasan dan diberhentikan,
perusahaan tidak menghargai individualitas
Anda karena perusahaan tidak melatih Anda
dengan apa saja yang Anda ingin kerjakan.
Jika bos memerintahkan melakukan sesuatu dan karyawan tidak setuju, karyawan
bisa mengabaikan perintah itu.
“Ini masalah yang sangat serius,”
gumam Gerstner. Karyawan sangat tergantung pada faktor pengalaman. Lebih dari itu,
mereka tidak bisa melepaskan diri dari
keyakinan bahwa IBM dan karyawannya
tergolong bagus, cerdas, dan kreatif. Hal ini
jelas sangat membahayakan kelangsungan
usaha IBM.
Di luar itu, Gerstner mengidentifikasi
berkembangnya “budaya tidak” di IBM, yaitu
kebiasaan setiap individu, tim, atau divisi
untuk menolak persetujuan atau pekerjaan.
Kendati setiap jajaran perusahaan telah
bersepakat, beberapa eksekutif bisa saja
memblok persetujuan bila persetujuan itu
mengurangi peran mereka terhadap perusahaan. Budaya ini telah menyebabkan
lamanya pengambilan keputusan, banyaknya kerja yang duplikatif, dan terganggunya
kinerja organisasi secara keseluruhan.
Gerstner sadar, mengubah sikap dan
perilaku ratusan ribu orang sangat sulit.
Sekolah bisnis tidak mengajarinya. Ia tidak
bisa melakukan revolusi dari menara gading
yaitu dari kantor pusat semata. Gerstner
juga tidak bisa hanya memberikan pidato
atau menulis kredo baru untuk IBM dan
menegaskan budaya baru telah muncul. Apa
yang bisa dilakukan adalah menciptakan
kondisi tranformasi. Itulah yang ditempuh
Gerstner.
Manajemen, menurut Gerstner, tidak
mengubah budaya korporat. Caranya,
manajemen mengundang karyawan untuk
mengubah budaya korporat IBM. Hal ini pun
17
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
tidak mudah dengan alasan birokrasi dan
karena banyak yang enggan mengambil
tanggung jawab terhadap hasilnya. Mereka
lebih menunggu perintah bos. Tujuan
perubahan budaya terbesar yang dilakukan
Gerstner adalah agar IBMer yakin kembali
kepada diri mereka sendiri – yakin bahwa
mereka menentukan nasib diri mereka
maupun perusahaan, dan mereka tahu apa
yang seharusnya mereka ketahui.
Gerstner mengambil peran sentral
dengan memberikan contoh langsung
perubahan budaya tersebut. Ia memulai
dengan menjelaskan prinsip-prinsip perusahaan sebagai penentu kinerja usaha. Prinsipprinsip itu merupakan upaya membuat
“Keyakinan Dasar” IBM kembali berfungsi
efektif. Bulan September 1993, ia mengumumkan 8 prinsip dasar yang menjadi pilar budaya baru IBM ke seluruh karyawan
IBM di seluruh dunia. Prinsip-prinsip
kepemimpinan tersebut sebagai berikut:
1. Pasar menjadi tenaga pendorong di balik
apapun yang kita kerjakan
2. Inti bisnis IBM adalah perusahaan
teknologi yang memiliki komitmen tinggi
terhadap mutu
3. Ukuran utama dari sukses adalah
kepuasan pelanggan dan nilai bagi pemegang saham
4. Kita beroperasi sebagai organisasi entrepreneurial dengan birokrasi minimum dan
senantiasa fokus pada produktivitas
5. Kita tidak pernah kehilangan fokus
terhadap visi strategik
6. Kita berpikir dan bertindak berdasarkan
urgensi
7. Karyawan yang hebat dan berdedikasi
membuat semuanya terjadi, terutama bila
mereka bekerja secara tim
8. Kita sensitif terhadap kebutuhan karyawan dan komunitas di mana kita beroperasi
Hasil dari serangkaian strategi perubahan yang dilakukan Lou Gerstner di IBM
sungguh luar biasa. Ia sukses membangun
budaya berkinerja tinggi di IBM, sesuatu yang
menurutnya sulit didefinisikan tapi mudah
dikenali. Para eksekutif perusahaan adalah
pemimpin yang sesungguhnya dan penuh
inisiatif. Karyawan memiliki komitmen
terhadap sukses organisasi. Produk IBM
muncul dengan cepat di pasar. Setiap orang peduli terhadap mutu. Kehilangan klien
kepada pesaing membuat karyawan marah
dan kecewa.
IBM berhasil melakukan salah satu turnaround terbesar dalam sejarah korporasi
dunia. Saat pensiun dari IBM secara total 1
September 2002, kinerja IBM sangat
mengkilap kendati tahun 2000-2001 bisnis
teknologi informasi sempat terpukul akibat
hancurnya bisnis dotcom. Pendapatan IBM
2001 tercatat US$85,9 miliar, pendapatan
bersih US$7,7 miliar, harga per saham
US$4,35, dan arus kas dari operasi sebesar
US$14,3 miliar. Hebatnya, harga saham IBM
mencapai titik tertinggi US$120,96 per
lembar dan imbal hasil investasi berdasarkan ekuitas (ROE) tercatat 35,1% (bandingkan dengan minus 35,2% saat ia
pertama kali memimpin IBM). Wajar, bila
Gerstner dengan bangga mengatakan:
“Who says elephants can’t dance?„
T
GE DAN “WELCH WAY”
ahun 1981, Jack Welch, 45, menjadi
CEO ke-8 sekaligus termuda dalam
sejarah General Electric (GE). Saat
pertama menjadi Chairman dan CEO, tujuan
Welch adalah menjadikan GE sebagai
perusahaan yang paling kompetitif di dunia.
Untuk mewujudkan tujuan itu, ia yakin,
dibutuhkan revolusi untuk mentrasformasikan mimpi itu menjadi kenyataan.
Sejarah menunjukkan bahwa Welch
adalah pemimpin yang tepat pada
waktu yang sangat tepat. Saat ia
mengambil-alih posisi puncak,
dunia korporasi Amerika dalam
masalah. Kompetisi global yang
baru dan kondisi ekonomi yang
tidak bagus telah mengubah ladang
permainan, tapi hanya sedikit CEO
yang mengenalinya. Model bisnis
korporasi Amerika tahun 1980
tidak pernah berubah selama beberapa dekade.
Tahun pertama Welch di posisi
puncak adalah perjuangan tiada
habis. Ia sendiri mencanangkan
revolusi, yang berarti perang terhadap cara lama GE dalam melaksanakan segala sesuatu sekaligus reinventing dari atas hingga ke bawah. Dalam dekade pertama kepemimpinannya, Welch merombak
banyak hal, menutup atau menjual
ratusan unit usaha, menghapuskan lapisan manajemen, dan mentransformasikan cara birokrasi
perusahaan.
Hanya sedikit orang yang paham kenapa CEO hebat ini harus
melakukan perubahan dramatis
itu. GE sudah dianggap sebagai produsen yang hebat di dunia, lantas
kenapa harus menata ulang sesuatu yang tidak bermasalah? Tetapi,
Welch melihat perusahaan kelebihan beban akibat strukturnya. Ia
melihat bisnis tidak bertumbuh cukup cepat dan budaya yang kurang mendorong munculnya ide dan inovasi baru.
Bagaimana Welch memimpin GE dibeberkan dalam buku berjudul The Welch Way,
yang tidak fokus pada strategi pertumbuhan
spesifik dalam revolusi Welch. The Welch
Way lebih menekankan kekuatan perilaku
dan kultural di balik strategi bisnis GE.
Berikut adalah beberapa kekuatan Welch
yang bisa jadi inspirasi bagi siapa saja dalam
mengelola bisnis:
1. Bukan mengelola (manage), tapi memimpin (lead)
Jack Welch adalah tentang kepemimpinan, bukan manajemen. Dia tidak suka
dengan kata-kata manage. Ia lebih suka
dengan kata-kata lead. Ia senang menciptakan visi dan membuat orang tekun dalam
melaksanakan rencananya. Welch berpikir,
eksekutif dan CEO memonopoli kepemimpinan – atau ide-ide bagus.
2. Menjadi kurang formal
Welch tidak menyukai suasana yang
serba formal, karena menurutnya keunggulan GE terletak pada suasana kurang formal. Tidak ada yang memanggil namanya
dengan Mr. Welch, tapi selalu dengan Jack
saja. Ia meninggalkan dasi di rumah lebih
sering ketimbang membawanya, melaksanakan rapat informak, dan mendorong
pencerahan pada setiap orang. Welch
membuat organisasi GE tanpa dinding
pembatas. Karyawan tidak takut menyam-
The Welch Way
lebih menekankan
kekuatan perilaku dan
kultural di balik strategi
bisnis GE.
paikan ide-ide mereka meskipun hal itu
bertentangan dengan nilai-nilai perusahaan
konvensional.
3. Hapuskan birokrasi
Welch sangat membenci birokrasi.
Baginya, birokrasi adalah musuh, sampah,
pengambilan keputusan yang lambat,
persetujuan yang tidak perlu, dan hal-hal
lain yang bertentangan dengan spirit
perusahaan. Ia menempatkan upaya menghapus birokrasi sebagai tugas utama setiap
orang.
4. Selalu melihat kenyataan
Welch selalu lebih suka melihat kenyataan dan mengambil keputusan yang tepat
berdasarkan kenyataan itu.
5. Sederhanakan persoalan
Welch tidak pernah berpikir bisnis itu
harus rumit. Baginya, menjaga segala
sesuatu tetap sederhana adalah satu kunci
bisnis. Ia mengatakan, tujuannya adalah
untuk menghapuskan kerumitan apa saja
di GE. Menurutnya, sepanjang orang mem-
peroleh akses terhadap informasi yang
sama, mereka akan memberikan jawaban
yang sama terhadap berbagai masalah yang
dihadapinya. Ia merasa sederhana membutuhkan percaya diri yang sangat tinggi.
6. Melihat perubahan sebagai peluang
Baginya, perubahan adalah bagian dari
hidup maupun bisnis. Ia mencintai perubahan dan mengatakan kepada karyawan,
perubahan ada dalam darah karyawan.
7. Memimpin dengan memberi
energi
Saat Welch menjadi CEO,
sistem manajemen yang berlaku
lebih bersifat command and control. Ia menemukan cara yang lebih
baik. Manajer terbaik tidak memimpin dengan intimidasi, melainkan dengan memberi inspirasi
kepada orang untuk mencapai
hasil.
8. Abaikan tradisi
GE adalah perusahaan yang
kaya historis, tapi saat menjadi
CEO Welch tak seorangpun yang
menyangka ia akan mengabaikan
tradisi itu. Ia menilai, apa yang
berhasil pada masa lampau tidak
mesti efektif lagi di masa depan.
Sebelum era Welch, GE tidak
menjual bagian besar dari perusahaan, memecat puluhan ribu
pekerja, atau memaksa bos mendengarkan pekerja.
9. Buat aturan intelek
Di banyak perusahaan besar,
pimpinanlah yang membuat aturan, dan karyawan mendengarkan
apa kata manajer. Bagi Welch,
bisnis menyangkut upaya menggali potensi intelektual. Makin
banyak orang, makin banyak ide.
Supaya orang mau menyampaikan
ide, organisasi harus mendorongnya
10. Bergerak cepat setiap hari
Selama karirnya, kecepatan sangat
penting bagi Welch. Dalam dunia yang kini
serba terhubung dengan komunikasi, waktu
yang tersedia sangat singkat. Ia selalu
berpikir dan mengambil keputusan dengan
cepat. Misalnya, pertengahan 90-an, Welch
dan tim dari TV NBC bergerak cepat untuk
memastikan hak penyiaran Olimpiade ke
depan. Sebelum jaringan TV lain menyadari
apa yang terjadi, NBC telah membuat
kesepakatan senilai US$3,5 miliar untuk
penyiaran 5-6 Olimpiade ke depan. Jika
Welch enggan, NBC akan kehilangan
semuanya.
11. Tempatkan nilai pertama kali
Kebanyakan manajer menghabiskan
waktu bicara angka-angka. Welch peduli
dengan angka-angka, tetapi jangan sampai
mengalahkan nilai-nilai perusahaan. Ia
bergeming dengan manajer berkinerja tinggi
namun dengan mengintimidasi karyawan„
18
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
Apa Kata Konsultan
AB SUSANTO
[Managing Partner The Jakarta Consulting Group]
Alat Manajemen Mencapai Tujuan
M
emandang perkembangan corpo
rate culture di perusahaan yang
ada di Indonesia, semakin lama
bertambah baik. Ada budaya perusahaan
tidak formal dan budaya yang formal. Yang
dimaksud budaya tidak formal adalah budaya
yang berkembang termasuk budaya baik dan
budaya buruk. Tapi kalau diformalkan, sudah
dipilih yang baik, dan lebih penting mendukung policy perusahaan.
Strategi yang mendukung perusahaan
ada caranya. “Kami di kantor ini membuat
banyak program untuk perusahaan, untuk
mendayagunakan budayanya. Macammacam strateginya, masalah visi misinya,
mempelajari grand strategy itu sendiri,
mempelajari budaya yang ada, baik yang
buruk ataupun yang baik”, jelas AB Susanto
Managing Partner The Jakarta Consulting
Group. “Kita mencoba mencari nilai-nilai
atau values, necessary corresponding and
supporting (NCS), artinya yang nyambung
dan mendukung akan policy suatu organisasi”, jelasnya lagi.
Behavior, itu sangat penting untuk program kerja organisasi. Terutama adalah
masalah sosialisasi. Internalisasi mengubah yang namanya body of knowledge, atau
pengetahuan menjadi perilaku. Itu menjadi
tantangan terbesar bagi organisasi dalam
merubah budaya informasi dan perilaku yang
tertanam.
Corporate culture sudah berkembang
besar sekali. Pertama mencari bentuk yang
cocok, kemudian cara mensosialisasikan
harus dalam waktu yang singkat, tetapi
merubahnya sendiri baru akan selesai pada
waktu yang telah ditentukan yang datang
dari perusahaan atau organisasi itu sendiri.
“Kalau organisasi anak buahnya 4000 or-
ang, itu makan waktu lebih banyak. Kecuali
kalau organisasinya hanya beranggotakan
400 orang. Itu kan beda”, jelas AB Susanto.
Banyak perusahaan di Asia yang punya
corporate culture yang bagus, seperti di
Singapura, termasuk di Indonesia seperti
Gudang Garam. Untuk perusahaan khususnya bank-bank di Indonesia yang sejak krisis
melanda, dimerger, memang tidak mudah,
karena corporate culture setiap perusahaan
beda-beda. Diperlukan strategi khusus
bagaimana menggabungkan corporate culture yang ada. “Seperti di Bank Mandiri, Bank
Permata, itu kan tidak mudah”, tutur AB
Susanto. “Kami biasanya melakukan strategy exploratory meeting yaitu untuk mengorganisir permasalahannya. Ini adalah mendesain sesuatu, caranya mengambil mana
yang paling bagus”, tambahnya lagi. Sedangkan bagi perusahaan yang diakuisisi,
menurut AB Susanto, pembentukkan corporate culture jauh lebih mudah.
Kendalanya dalam pembentukkan corporate culture cukup banyak, yang utama
adalah penekanan pada nilai-nilainya yang
NUGROHO SUPANGAT
berbeda. Sebagai contoh bank yang kecil
menekankan pada senioritas, sedangkan
bank yang bergabung menekankan pada performance.
“Jika bicara mengenai kerja secara
umum, pendekatannya tidak bisa serampangan. Intinya kita menerapkan strategi
exploratoring seperti tadi. Kita lihat strateginya mana dari 4 bank yang paling baik,
atau bahkan bisa saja strateginya baru”,
tutur AB Susanto. Setelah itu pihak-pihak
bersangkutan mulai menilai, nilai-nilai yang
ada. Ini disebut sebagai pemahaman nilainilai. “Selama ini kan pemahaman tentang itu masih sangat dangkal. Nilai-nilai itu ada
macam-macam. Kita mesti
pilah-pilah, nilai mana yang
relevan. Harus dipertahankan.
Yang kurang relevan, disingkirkan”, tegasnya lagi. Jika
bicara tentang relevan dan
tidak relevan, menurut AB
Susanto, yang baikpun ada
kalanya kurang relevan. Dalam
menilai mana yang baik dan
relevan, juga termasuk dalam
tugas konsultan.
Budaya perusahaan atau corporate culture adalah alat manajemen untuk mencapai
tujuan. “Saya sering lihat, perusahaan hebat
karena banyak eksekutifnya. muda-muda,
sekolahnya tinggi, punya penampilan yang
baik, kemampuan berkomunikasi baik, tapi
saying, ujung tombak yang runcing ini
menghadapnya tidak sama. Ada yang ke
atas, ke bawah, ke samping”, paparnya. Cara
menyatukan visinya harus ditata dengan
baik.
Peran CEO dalam pembentukkan cor-
porate culture sangat penting, karena
proses budaya itu hanya dapat dari CEO atau
pemilik, tidak dari bagian lagi. “Menengah
dan direksi, itu tidak. Selalu dari CEO. Ada
memang beberapa perusahaan yang prosesnya diinisiasi dilakukan oleh menengah, itu
bisa jalan. Tapi kalau yang di atasnya tidak
memberi komitmen, tidak ada gunanya”,
tegasnya lagi.
Untuk proses penerapan, biasanya
dilakukan proses meeting. Dirapatkan
terlebih dulu baru kemudian disosialisasikan ke karyawan. Untuk itu butuh tim
khusus, tapi tetap membutuhkan orang dalamnya. “Tidak bisa orang luar karena
mereka tidak tahu kondisinya. Visi itu
penting tapi harus di atas. Kalau pakai yang
bawah itu salah. Demokrasi sangat penting”, paparnya. Namun demikian kalau
ingin membangun budaya, butuh semua
pihak, ahli-ahli teknik, pemasaran, psikologi,
antropologi sendiri. “Kami yakin, kalau
budaya perusahaannya bagus, strategis,
maka budaya perusahaannya akan maju”,
tegasnya. Jika semua sudah ada, corporate
culturenya kemudian diformalkan, dijabarkan. Ada keterangan jelas, ada sosialisasi
juga program internalisasinya secara
tertulis.
Untuk perusahaan akuisisi pembentukkan corporate culture justru lebih mudah,
karena pihak yang mengakuisisi tinggal
menerapkan saja budaya yang sudah ada
kepada perusahaan yang diakuisisi. “Dia kan
beli, dia justru ingin nilai-nilai dia masuk.
Ada efeknya, tapi harus dicari yang baik.
Kalau dibeli itu ada tujuannya. Kalau ingin
diperbaiki, itu diterapkan”, jelasnya. Budaya
itu tidak tergantung baik atau buruk. Yang
terpenting budaya harus sesuai dengan
perusahaan. “Kalau CEO yang baru merasa
strateginya harus diubah, ya diubah. Kalau
masih mendukung, buat apa diubah. Belum
tentu budayanya yang salah, tapi belum
diterima oleh karyawan. Salahnya di dalam
program internalisasi”, tuturnya lugas„
[Managing Partner Dunamis Organization Services]
Indonesia Masih Menganut Budaya Untung
B
erbicara budaya perusahaan, erat
kaitannya dengan perilaku seseorang dalam suatu lingkungan.
Menurut Nugroho Supangat, Managing Partner Dunamis, jika melihat budaya keluarga
Jawa yang selalu berbahasa lemah lembut
misalnya, jelas sangat beda dengan keluarga Batak. “Kalau keluarga Batak, anaknya
ngomong keras, bapaknya ngomong keras,
kita nyangkanya lagi berantem,” tutur Nug,
sapaan akrab Nugroho. Padahal belum
tentu. Ini merupakan perilaku yang terjadi
dalam suatu habitat.
Ini sama halnya dengan budaya peru-
sahaan. Dikatakan Nug, jika bicara budaya
perusahaan, tergantung dari masingmasing perusahaan. Jika datang ke sebuah
perusahaan, saat atasan pergi, para karyawan malah asyik main game. “Itu kan
budaya. Budayanya yang sangat bos oriented,” tegas Nug memberi contoh. Atau di
perusahaan lain yang ketika atasan tidak
ada, tapi semua karyawan pada kerja.
“Budaya kerjanya adalah customer oriented,” akunya. Atau budaya BUMN yaitu
tenggang rasa yang kental dan budaya
perusahaan asing, orang bebas saja. “Kita
sebenarya bukan bicara budaya bagus atau
tidak. Tapi budaya yang dinilai pas bagi
perusahaan secara umum,” tandasnya.
Yang paling berperan dalam budaya
perusahaan menurut Nug ada beberapa hal.
Diantaranya adalah pemimpinnya. Kemudian, yaitu ada tidaknya proses kerja, yang
mengingatkan apa yang diinginkan. Artinya,
kalau pemimpin pernah bilang, pelanggan
adalah utama, jangan hanya sebatas ucapan
semata. “Pemimpin kan panutan. Dia
harusnya menaruh proses kerja ke bawahannya supaya semua proses berjalan
dengan lancar,” tegas Nug. Contoh lain, jika
ada telepon dari pelanggan, tapi disisi lain
ada atasan memanggil karyawan supaya ke
ruang kerjanya. Kalau harus memilih mana
yang diutamakan, seharusnya pelanggan
yang didahulukan. “Ini proses kerja. Jadi orang akan terdorong untuk budaya itu.”
Berbeda dengan budaya perusahaan
yang merger, ujung-ujungnya pola kerja
mereka yang berbeda-beda harus disatukan.
Perusahaan menyaring orang-orang yang
cocok atau tidak dengan budaya yang akan
dipakai. Perusahaan juga harus menjelaskan
budaya apa yang akan dipakai. Untuk
mengatasi masalah senioritas, perusahaan
juga harus memantapkan stake holder
19
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
F O K U S
mereka. “Namanya juga manusia, ego dan
insting survivalnya pasti ada,” Nug menambahkan. Jika stake holder sudah disetujui,
karyawan tidak perlu lagi meributkan
senioritas. “Itu masa lalu. Kalau bank,
setuju tidak kita lebih fokus ke pelanggan.
Kalau sudah tahu itu, kita sudah mulai
bahasan baru, misinya bersama, sedang
visinya melayani stake holder,” tukas Nug
panjang lebar.
Meski konsultan sangat dibutuhkan,
tetap peran CEO sangat berpengaruh. “Kalau ada orang luar, sifatnya harus netral dan
mementingkan perusahaan,” tutur Nug,
seraya menambahkan bahwa perusahaan
merger memang membutuhkan tim khusus,
beda dengan perusahaan akuisisi. Leader,
dianggap Nug, tidak hanya sekedar memipin
organisasi atau perusahaan. Ia juga harus
terlibat dalam proses kerja, tidak hanya
sekedar bicara hasilnya saja. “Pemimpin di
Indonesia banyak yang tidak mau memikirkan organisasinya. Rata-rata kita pemain
alamiah saja sesuai dengan strukturnya,
yaitu ada direksi ada anak buah. Tapi seringkali kita bertanya bagaimana cara menjalani
organisasinya,” paparnya kembali.
Membuat budaya perusahaan, lanjut
Nug, bukan dalam seumur satu atau dua
pemimpin saja. Ini harus tetap dikembangkan selama perusahaan itu berdiri. Budaya
perusahaan itu berkaitan dengan nilai-nilai
MARINA R. TUSIN
C
dasar. “Kalau di perusahaan asing, budayanya pasti masih sama dengan yang dulu.
Citibank contohnya. Budayanya sekarang
sama dengan budaya 100 tahun lalu. Beda
dengan perusahaan di Indonesia, pemimpin
ganti, semua budaya harus dirubah,” Nug
menyayangkan hal tersebut.
Untuk membangun sebuah budaya
perusahaan, ada beberapa tahapan, yaitu
formulasi, menetapkan valuenya. Tahapan
berikutnya, internalisasi semua orang yang
didalam, baik jajaran atas maupun sampai
ke bawah. Selanjutnya adalah bagaimana ini
bisa terus menerus. Termasuk mengukur,
budaya ini dijalani atau tidak. Supaya bisa
dijalani dengan benar. Indikator-indikator
perilakunya juga harus diuku dan disosialisasikan. “Ada banyak cara kok, yang penting
harus konsisten,” tegasnya.
Yang disayangkan, di Indonesia masih
ada budaya untung baru sekian, belum lebih
dari itu. Contohnya, kasus Bank BNI yang
jebol Rp30 miliar. “Ada saja yang bilang
untung jebol segitu, coba kalau lebih dari
itu. Itulah budaya orang Indonesia, masih
ada untungnya,” katanya. Padahal, beda
dengan orang asing yang tidak menganut
hal demikian. “Mungkin karena orang Indonesia kalau sudah terdesak suka pasrah,
makanya suka terlontar kalimat itu,” ujar
Nug yang mengakui adanya perbedaan
budaya di setiap negara di dunia„
[Managing Partner TASS (Tusin Adjas Suhardi & Stamboel) Consulting]
Bagai Menggulung Benang
orporate culture merupakan sesuatu
yang fundamental dan menentukan
kinerja dan keberadaan dari perusahaan itu untuk ke depan. Kalau kita melihat
perusahaan global, salah satu faktor yang
bisa dipertahankan keberadaannya adalah
corporate culture.
Ini adalah barang abstrak, susah dilihat
tapi bisa dirasakan. Manifestasi dari corporate culture bisa tampak dari bagaimana
orang berinteraksi di dalam perusahaan,
bagaimana cara pandang, sistem, iklim atau
atmosfir kerja, pola pengambilan keputusan, hubungan atasan bawahan. Juga bagaimana komunikasi apakah terbuka atau
tertutup. Ini yang biasanya tampak dalam
sebuah perusahaan. Ini merupakan gambaran manifestasi dari suatu budaya kerja
dari perusahaan.
Sebetulnya bagaimana orang berperilaku, berinteraksi, iklim formal dan informal itu terjadi, yang sifatnya sangat melekat
dan mendrive seseorang. Itu merupakan
core valuenya, yaitu tatanan nilai atau prinsip
yang diyakini benar dan baik oleh suatu
organisasi di dalam mencapai suatu tujuan
tertentu.
Tatanan nilai inilah yang sebetulnya
akan mendrive, mendorong, mengarahkan,
bagaimana tindakan-tindakan atau perilakuperilaku di dalam organisasi dalam mencapai tujuan. Misalnya, ada organisasi yang
salah satu valuenya yang diyakini adalah
integritas. Ini banyak terjadi di industri
finansial. Seperti jasa perbankan, mengelola
uang dari nasabah, bagaimana nasabah bisa
menaruh kepercayaan. Ini harus dibangun.
Dia akan berperilaku sesuai dengan prinsip
tadi. Perilaku yang bagaimana, adalah harus
jujur, tidak boleh menipu.
Keberadaan suatu organisasi, bisa
dilihat dari keterkaitan dengan visi, misi, dan
nilai-nilai yang diyakini benar. Sehingga
kalau budayanya solid, manifestasinya bisa
terlihat dari perilaku, dan kalau perilakunya
sesuai dengan nilai perusahaan, secara
tidak langsung kinerjanya juga akan
meningkat.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam membangun budaya korporat. Pertama, elemen atau faktor apa saja yang
berpengaruh dalam pembentukan budaya
korporat. Salah satu faktor yang sangat
berperan, leadership action. Figur panutan
sangat penting, perilakunya dilihat. Ini
sangat mempengaruhi integritas. Jika tidak
bisa memberikan contoh yang baik, bisa
menjadikan kehancuran sebuah perusahaan. Jika pimpinan sudah dijadikan contoh,
maka bawahan bisa mengikutinya.
Bila hal ini sudah menjadi suatu prinsip,
maka prinsip ini akan melekat di suatu
sistem. Jadi sistem yang menilai, tidak
tergantung orang. Karena itu, di dalam
menetapkan prinsip atau nilai-nilai, itu
bukan suatu yang mudah. Kecuali kalau
semuanya berubah, core valuenya diganti.
Tapi bisa saja seorang pimpinan baru yang
menjalani core value baru membawa budaya
kerja baru yang ingin dibangun.
Ada satu organisasi yang sudah terbangun budayanya. Bisa saja organisasi itu
mempunyai visi yang berbeda. Dia melihat
prinsip-prinsip itu sudah tidak menunjang
lagi ke depan. Bisa saja dengan value yang
baru bisa membangun budaya kerja yang
baru yang lebih dinamis. Itu bagus saja.
Pimpinan harus bisa menilai, bisa membangun, meyakinkan ke segenap jajaran
manajemen. Prinsip atau nilai kita yang baru
yang akan kita bangun perilaku yang baru
ke depan.
Lain hal jika pimpinan tidak bisa
membawa kemana bawahan, mengarahkan
kemana yang akan dituju. Tidak akan
terbentuk culture yang baru, culture yang
lama akan tetap ada.
Faktor yang lain, performance measurements, diukur dari kinerja. Kalau setiap orang di organisasi, ia bekerja untuk mencapai keinginan perusahaan, kinerjanya
diukur berdasarkan apa. Kalau ada perusahaan yang diukur berdasarkan performance,
tapi performance targetnya tidak sesuai,
atau performance targetnya hanya diukur
berdasarkan salesnya saja, profitnya saja.
Maka, di dalam mengelola perusahaan,
hanya sebatas itu saja.
Padahal, seharusnya dilihat misalnya
dari perkembangan SDMnya itu sendiri.
Sehingga perilaku yang mendukung budaya
bisa menjadi coach yang baik, bisa membim-
bing bawahannya. Kalau orang hanya
mengukur dari duit saja, orang tidak bisa
lagi melihat dari segi harmonisasinya
mengenai pentingnya kita berkembang,
mengenai koordinasi kita bekerja. Jadi hanya
sales driven organization. Itu tidak salah,
karena maunya begitu.
Tergantung pula dari ukuran kinerja yang
akan dipakai, pimpinan harus bisa mengarahkan, memberi contoh, mengoreksi
bawahan yang tidak sesuai dengan nilainilai. Pertama, pimpinan harus bisa menunjukan dedikasi, kedua harus bisa mengoreksi perilaku yang salah atau tidak sesuai
dengan nilai, ketiga harus bisa mendorong
orang yang sudah melakukan perilaku yang
sesuai. Ini perilaku kepimpinan. Dia harus
bisa mensosialisasikan, mengkomunikasikan dari waktu ke waktu tentang apa yang
dituju, dengan bahasa yang sama sehingga
orang memahami.
Ada faktor lain yaitu ukuran kinerja
kerja, itu kalau tidak jelas tidak akan
memfokuskan upaya-upaya yang dilakukan
individu-individu dalam suatu instansi.
Faktor yang tidak kalah pentingnya yaitu
people custom, bagaimana sistem SDM-nya,
bagaimana kebijakan-kebijakan SDM-nya,
juga terapannya (reward and punishment,
performance management, training and
development) itu selaras tidak dengan culture yang ingin dibangun. Misalnya performance management yang di manage
adalah bagaimana mengelola performance
seseorang tetapi kriteria yang diukur adalah
loyalitas. Lalu juga bagaimana dengan
sistem rewardnya, itu membantu membentuk perilaku-perilaku yang memiliki etika.
Kejelasan visi, strategi, struktur business
process dari organisasi tersebut juga
penting. Misalnya organisasi tersebut customer oriented, tetapi memiliki jalur
birokrasi yang panjang. Ini justru akan
menghambat.
Setiap organisasi tergantung sejauh
mana culture itu dibangun untuk mencapai
tujuan organisasi tertentu. Sebetulnya culture itu akan terbentuk dengan sendirinya.
Masalahnya culture yang bagaimana yang
ingin dibangun. Sulit untuk menentukan
culture ini baik atau buruk. Itu akan terlihat
dalam rentang waktu.
Untuk kasus perusahaan merger, harus
dibangun dulu visi dan misi bersama, baru
kemudian membentuk budayanya. Tatanan
nilai, kejelasan visi, sekarang yang harus
dibangun.
Dalam perusahaan merger, masingmasing dari pemimpin menganggap dirinya
yang terbaik. Empat perusahaan menjadi
satu, mereka punya pemimpin sendirisendiri. Waktu bersatu, salah satu ada yang
ditunjuk menjadi pimpinan baru. Bisa saja
datangnya dari perusahaan lama. Tapi harus
ada kesepakatan bersama. Jadi tidak bisa
lagi melihat dari yang lama.
Bagaimana dengan benturan-benturan,
dan cara mengatasinya? Ini harus ada
komitmen karena tantangan awalnya
sangat besar. Biasanya konsultan masuk
untuk memfasilitasinya. Misalnya, nilainilai diambail dari yang terbaik di perusahaan
sebelumnya. Tapi tetap harus ada kesepakatan, ini baiknya dimana, itu baiknya
dimana. Kita bangun perusahaan yang baru,
dengan prinsip yang seperti ini, visi dan misi
seperti ini. Kalau mereka tidak sesuai,
secara alami mereka akan ke luar.
Pembentukan budaya korporat , seperti
menggulung benang. Kalau benangnya
belum selesai digulung dan lepas, kita harus
gulung lagi. Artinya, ini membutuhkan waktu
yang cukup panjang, karena akan berpengaruh pada investasi perusahaan dan
keberadaan perusahaan 10 tahun - 20 tahun
mendatang. Biasanya yang jadi ukuran
adalah sejauh mana kesenjangan atau gap
antara budaya yang ingin dibangun dengan
budaya yang berlangsung sekarang. Kalau
gapnya sangat besar, maka pembentukan
budaya memakan waktu yang lebih panjang.
Upaya-upaya yang dilakukan juga lebih
kencang.
Soal biaya, bisa diatur. Tidak harus dalam
konteks uang semata-mata, tapi memang
biayanya sangat besar, dalam arti komitmen,
asset, modal. Proses komunikasi juga bisa
membantu secara efektif. Apakah mediamedia komunikasi juga berperan, baik media elektronik, poster-poster dan sebagainya. Bisa pula dalam bentuk training, workshop„
20
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
H C
T r
e n d
E
S
O
P
MENGGIURKAN
TETAPI TIDAK SELALU MENARIK
Beberapa perusahaan publik Indonesia sudah
menerapkan ESOP (Employee Stock Ownership
Program/Plan) sebagai satu cara untuk mengapresiasi
manajer dan eksekutif. Program ini ternyata cukup
efektif menahan larinya para eksekutif handal.
Sayangnya, ESOP jadi tidak menarik karena harga
saham perusahaan yang turun terus dan cenderung
kurang bernilai.
J
ack Welch, pemimpin bisnis legendaries
dari GE, sebentar lagi akan betul-betul
menikmati buah dari kehebatan dia
sebagai seorang eksekutif terkemuka di
dunia. Bapak program Six Sigma itu kini
telah mundur dari jabatan CEO & Chairman
GE. Itu berarti, dia akan bisa menjual jutaan
lembar saham GE yang berhasil didapatnya
dari program ESOP GE karena memasuki
pensiun. Saham-saham itu menurut ketentuan, memang baru bisa dijual (exercise)
setelah seorang pimpinan memasuki usia
pensiun.
Setiap tahun, Welch memperoleh gaji
dan bonus tunai jutaan dolar. Di luar itu, ia
mendapatkan pula bonus saham dari GE.
Jumlah saham bonus itu sekitar 150.000200.000 lembar per tahun. Bila dikalikan
dengan harga saham GE, nilai saham bonus itu mencapai ratusan ribu dolar
setahun. Menilik kinerja bisnis GE yang
begitu cemerlang selama ia menjabat Chairman dan CEO GE, hampir setiap tahun ia
mendapatkan saham bonus.
Kalau ditotal, Welch dan banyak mantan
CEO perusahaan transnasional lainnya
memperoleh saham bonus bernilai jutaan
dolar. Mereka mendapatkannya karena
murni berkerja sebagai professional dan
berhasil memimpin perusahaan meraih
banyak kemajuan. Di luar saham bonus
tersebut, mereka juga mendapatkan kompensasi dan benefit bernilai besar lainnya.
Bagi kebanyakan karyawan, apa yang diraih
oleh para eksekutif puncak itu seperti tidak
adil. Sudahlah berpendapatan besar, bonus
yang diperoleh eksekutif perusahaan
terkemuka juga sangat besar. Bandingkan,
misalnya, dengan apa yang mereka peroleh,
baik gaji maupun bonus kinerja. Tetapi,
beban tanggung jawab para eksekutif itu
juga tak kalah besar. Di tangan mereka
ditumpukan kemampuan perusahaan
meraih kinerja tinggi untuk kepentingan
seluruh stakeholders. Mereka mempertaruhkan track record dan nama besar dalam
menjalankan tugasnya sebagai CEO.
Dipelopori Amerika, penerapan ESOP
meluas ke daratan Eropa dan Asia, termasuk
di Indonesia. Bedanya, di banyak negara
maju, ESOP diterapkan untuk menghargai
sekaligus memotivasi figur pimpinan
perusahaan untuk bekerja secara optimal
dan loyal terhadap perusahaan. Saham bonus hanya bisa dijual ketika si eksekutif
pensiun. Di sini yang ditonjolkan adalah
mendorong eksekutif menjadi pemilik
sehingga benar-benar menjalankan perannya secara optimal.
“While there are many reasons American companies have flourished over the last
two decades, it’s no coincidence that the
boom has come in the wake of the shift in
executive pay from cash to equity,” tulis
Brian Hall dalam salah satu edisi Harvard
Business Review.
Pernyataan Brian Hall ini makin menegaskan kesahihan studi intensif Watson
Wyatt selama 10 tahun yang menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan sangat kuat
antara kepemilikan saham oleh CEO dan
perubahan remunerasi CEO terhadap kinerja
perusahaan. Fakta-fakta berikut menunjukkan korelasi yang kuat antara kepemilikan
saham untuk level senior dan kinerja
perusahaan, hasil riset Watson Wyatt:
z Total imbal investasi terhadap pemegang
saham yang setahunkan dalam periode 5
tahun (1994-1999) pada perusahaan di
mana CEO-nya memiliki saham yang signifikan 3 kali besar. Kenyataannya, CEO
perusahaan dengan kinerja tinggi memiliki
saham 40% lebih banyak daripada perusahaan dengan kinerja rendah. Temuan ini
mudah-mudahan masih tetap berlaku pasca
skandal pembukuan akuntansi yang dilaku-
21
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
H C
T r
e n
PELUANG BISNIS DI BALIK ESOP
Berdasarkan potensi dan keahlian yang dimiliki, Trimegah justru melihat peluang
bisnis yang menarik dari ESOP. Kekuatan Trimegah di back office (semuanya scriptless)
jelas sebuah keunggulan yang bisa ditawarkan kepada perusahaan lain. Jadi, bukan
hanya melayani eksekusi jual-beli saham ESOP, yang memang menjadi aktivitas seharihari perusahaan efek. Administrasi ESOP, kata Project Manager ESOP Trimegah Deti
kepada KAPITAL, tidaklah sederhana. Ia membutuhkan infrastruktur, sistem, dan SDM
yang ahli. “Kami punya semuanya,” lanjutnya.
Sukses menggandeng Grup Astra, Trimegah kini mampu menangani program
ESOP mulai dari kegiatan advisori, menyusun programnya, hingga program komunikasi/
sosialisasi ESOP kepada karyawan dan menangani transaksi bagi yang mau menjual.
“Komunikasi/sosialisasi ESOP kepada karyawan sangat penting,” ujarnya. Alasannya,
tidak semua karyawan mengerti seluk-beluk pasar modal. Tidak tertutup kemungkinan
ada karyawan yang beranggapan investasi saham itu judi. Maka, kepada karyawan
perlu dijelaskan aturan pasar modal dan hak/kewajiban karyawan sebagai pemilik.
Juga cara meraih harga terbaik bila mereka ingin menjual sahamnya.
Keseriusan Trimegah terlihat dari dibentuknya bagian khusus untuk mengelola
ESOP. “Jumlah administratornya ada 4 orang,” kata Jusanto, Administrator ESOP
Trimegah. Pengelolaannya dipisahkan dengan nasabah regular Trimegah. Lengkap
dengan prosedur pengelolaan standar yang khusus. “Kami ingin memberikan
kenyamanan dan keamanan bertransaksi,” tambah Deti. Misalnya jangan sampai
yang tidak berhak bisa memanfaatkan opsi saham. Di luar administrator, Trimegah
memiliki beberapa account officer (AO) yang khusus menangani transaksi ESOP di
bagian ekuiti. Mereka tidak boleh menangani transaksi regular atau non-ESOP.
Kini, Trimegah mengelola belasan klien ESOP. Sayang Trimegah menolak
mengungkapkan nama-namanya. Menurut sumber lain, BCA juga menjadi salah satu
nasabah Trimegah. Mahalkah fee yang harus dibayar kepada Trimegah? “Tidak juga,”
sergah Deti dan Jusanto. Biaya tersebut sangat tergantung kepada seberapa jauh
Trimegah dilibatkan untuk menyusun dan mengelola ESOP. Juga berapa banyak
karyawan yang menerima ESOP. Biayanya berkisar dari puluhan juta hingga beberapa
ratus juta rupiah. Dengan biaya tersebut, emiten tinggal menjelaskan ESOP yang
dimaui, Selanjutnya Trimegah akan menyiapkan semuanya. Sedangkan biaya transaksi
saham, besarnya standar sesuai praktik jual-beli saham biasa. Uang hasil penjualan
saham akan diterima penjual 4 hari setelah transaksi (T plus 4). Kecuali Trimegah,
Nikko Securities dan Danareksa Securities juga menggarap pasar ESOP ini„
kan banyak perusahaan raksasa Amerika
dalam beberapa tahun terakhir.
z Kepemilikan saham oleh CEO yang besar
terhubung dengan kinerja keuangan perusahaan yang superior pada tahun 1999,
seperti ditunjukkan oleh Return on Equity
(ROE), Return on Investment (ROI), dan
sebagainya. Hal itu juga mendorong tumbuhnya budaya kepemilikan di seluruh
jajaran perusahaan.
Selain pemberian opsi saham kepada
eksekutif atau manajemen senior, perusahaan-perusahaan Amerika memperluas
pula program ini kepada jajaran di bawahnya.
Secara keseluruhan, Amerika mengenal
beberapa bentuk opsi saham sebagai
berikut:
z ESOP (Employee Stock Ownership Plan),
yaitu program pemberian opsi saham
terkena pajak di Amerika – dalam banyak
hal nyaris gratis – kepada karyawan sebagai
bagian dari paket pensiun.
z ESPP (Employee Stock Purchase Plans),
sebuah program bebas pajak di Amerika di
mana karyawan bisa membeli saham dengan
diskon – biasanya sekitar 15% - dengan
memotong gaji.
z 401 (k) (sebagai alat penyesuaian saham
atau pilihan investasi). Ini adalah sebuah
program di mana perusahaan menyediakan
sebuah penyesuaian (match) dalam saham
perusahaan (biasanya 50% dari gaji 6 bulan
pertama) yang diberikan kepada karyawan.
Perusahaan bisa juga menawarkan saham
perusahaan sebagai salah satu alternatif
investasi.
z BSOG (Broad-based Stock Option Grants),
sebuah perluasan program opsi saham
terhadap level manajemen yang lebih
rendah.
Riset Strategic Rewards dari Watson
Wyatt menjelaskan manfaat pemberian opsi
saham, hasil survei terhadap perusahaanperusahaan di Amerika:
z Sebanyak 51% karyawan berprestasi tinggi
mengatakan opsi saham merupakan alat
rekrutmen yang paling efektif.
z Sebanyak 51% karyawan berprestasi tinggi
menegaskan opsi saham merupakan alat
retensi yang sangat efektif.
z Dari keseluruhan sistem remunerasi tunai
yang diberikan perusahaan, komponen yang
pertumbuhan penggunaan tertinggi dari
1999 ke 2000 adalah pemberian saham:
dari 40% menjadi 48%.
Di negara kita, menurut
Julius Aslan, Chief HRD dan
David Iskandar, Head of SOP,
Accounting & Tax Division PT
Astra International Tbk., konsep ESOP yang diterapkan
lebih kepada opsi saham
(Stock Option Program), termasuk yang dilaksanakan
oleh Grup Astra.
“Kami telah diminta untuk
mengevaluasi program opsi
saham yang telah dijalankan
dan memberikan usulan pe-
Yulius Aslan, Chief HR Astra
MENGUPAS ESOP BANK NIAGA
Sebagai salah satu bank terkuat dalam kualitas manajemen, Bank Niaga serius
menerapkan ESOP. Program ini tadinya sudah diusulkan sejak 2001, namun
pelaksanaannya ditunda karena situasi fluktuasi harga saham yang kurang mendukung
di Pasar Modal. Saat RUPSLB Desember 2003, manajemen mengusulkan kembali
implementasi ESOP dan disetujui oleh pemegang saham. Karena sudah mempersiapkan
diri sejak lama, persiapan implementasi ESOP tidak membutuhkan waktu yang lama.
Periode ESOP Bank Niaga, menurut Direktur Bank Niaga C. Heru Budiargo,
berlangsung selama 4 tahun, yang dimulai pada tanggal 1 April 2004 dan berakhir pada
31 Maret 2008. Pelaksanaan opsi dimulai pada 1 Juli 2004, setelah melewati periode
tunggu (vesting period) selama 3 bulan (1 April-30 Juni 2004). Berikut adalah rincian
pelaksanaan ESOP yang dilakukan dalam 4 periode pelaksanaan:
PERIODE
1. Periode Pelaksanaan I (maksimal 30% dari total opsi)
2. Periode Pelaksanaan II (maksimal 30% dari total
opsi + sisa opsi dari Pelaksanaan I)
3. Periode Pelaksanaan III (maksimal 40% dari total
opsi + sisa opsi dari Pelaksanaan I dan II)
4. Periode Pelaksanaan IV (pelaksanaan seluruh sisa
opsi yang belum dilaksanakan)
WAKTU
1 Juli 2004-30 Juni 2005
1 Juli 2005-30 Juni 2006
1 Juli 2006-30 Juni 2007
1 Juli 2007-31 Maret 2008
Saham yang dibagikan melalui ESOP merupakan saham baru yang diterbitkan
Perseroan, seluruhnya berjumlah 3.912.303.359 lembar (hampir 4 miliar lembar saham)
atau merupakan 5% dari jumlah seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor
penuh Perseroan. Dari seluruh saham baru yang diterbitkan itu, sejumlah 85% akan
dibagikan pada saat option grant 1 April 2004 kepada karyawan, sesuai dengan penetapan
distribusi masing-masing karyawan. Sedangkan 15% di antaranya dicadangkan untuk
kegunaan sebagai berikut: (1) Pembagian kepada karyawan yang akan berhak atas opsi
pada saat periode pelaksanaan telah berjalan; (2) Tambahan opsi bagi karyawan yang
dipromosikan; (3) Tambahan opsi bagi karyawan berprestasi.
“Distribusi opsi ditetapkan berdasarkan jenjang kepangkatan dan prestasi kerja
karyawan,” ungkap C. Heru Budiargo. Karyawan yang ditetapkan sebagai partisipan
ESOP adalah karyawan tetap (seluruh level) dengan masa kerja minimum 3 tahun dan
karyawan special hire dengan level middle officer ke atas (tanpa memperhatikan masa
kerja yang bersangkutan).
Saham tersebut ditebus dengan harga penebusan (exercise price) atau disebut juga
harga pelaksanaan (strike price) sebesar Rp 32,40 per lembar saham. Harga tersebut
berdasarkan rata-rata harga penutupan Saham Perseroan yang dicatat dan dilaporkan
secara formal oleh BEJ, selama kurun waktu 25 hari kerja Bursa berturut-turut di pasar
reguler sebelum dilakukannya pengumuman mengenai akan diadakannya pemanggilan
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan yang mengagendakan
Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dulu. Atau dengan perkataan
lain mulai tanggal 14 Oktober 2003 hingga 17 November 2003.
Karyawan yang ingin menebus opsinya menjadi saham harus menyetorkan dana
sesuai dengan jumlah opsi yang ingin ditebusnya dikalikan dengan harga penebusan ke
rekening penampung yang telah disediakan Bank Niaga. Selain dengan mekanisme itu,
lanjut C. Heru Budiargo, Bank Niaga juga mempersiapkan metode khusus di mana
karyawan tidak perlu mengeluarkan uang pribadi untuk menebus opsi sahamnya, yaitu
melalui kerjasama dengan perusahaan sekuritas. Yang pasti, ESOP bukanlah gratis.
Seperti dikatakan C. Heru Budiargo, ESOP merupakan bentuk penghargaan dengan
pengeluaran biaya minimal oleh perusahaan„
22
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
nyempurnaannya. Ada beberapa alternatif
konsep yang sudah diajukan, namun sampai
sekarang Astra belum memutuskan mana
yang akan dipilih,” kata Julius. David
mengakui, salah satu pilihan yang mereka
usulkan adalah penerapan ESOP yang
sesungguhnya seperti di Amerika. Pola,
tujuan, dan dampak program ini tentu
berbeda dengan program opsi saham. “Program seperti ini lebih berjangka panjang
sifatnya,” tambahnya.
S
AAT INI, PT Astra International Tbk.
(AI) dan 4 anak perusahaannya
(seluruhnya perusahaan publik: PT
Astra Agro Lestari, PT United Tractors, dan
PT Astra Otoparts) masih menerapkan ESOP
pola opsi saham. Mereka merupakan
perusahaan publik pertama yang menerapkan program opsi saham di Indonesia yaitu
tanggal 19 Mei 1999. Tanggal tersebut
merupakan pemberlakuan program opsi
saham di sejumlah perusahaan Astra (sering
juga disebut dengan Grant Date).
Menurut Robby Sani, Senior General
Manager/Chief Corporate Legal AI, opsi
saham diterapkan setelah ada masukan dari
Presiden Direktur AI waktu itu Rini MS
Soewandi untuk mencari pola agar karyawan
terbaik mau bertahan di Astra sekaligus
memberikan apresiasi bagi mereka yang
mau bertahan. Sebab, kondisi AI ketika itu
tidak begitu jelas karena terpukul krisis
ekonomi dan AI tidak memiliki kemampuan
dana, insentif dan bonus untuk mencegah
karyawan terbaik ke luar.
Kegundahan karyawan AI cukup beralasan. Jangankan kenaikan gaji, gaji
karyawan malah dipotong. Pada bulan
Oktober 1998, AI melakukan PHK terhadap
5.000 karyawan tetap dan 20.000 karyawan
kontrak dari sekitar 100.000 karyawan Grup
Astra. Perasaan tidak enak dan khawatir
menghinggapi pula karyawan yang tidak diPHK. Banyak karyawan terbaik ke luar
meninggalkan Astra. “Kalau ini dibiarkan,
nasib Astra bisa tidak jelas,” tutur Julius.
Sebagai jalan ke luar, AI menerapkan program opsi saham yang diberikan kepada
golongan VI dan VII, yaitu level GM ke atas.
Program opsi saham pertama ini (disebut
juga Grant I) diberikan kepada 266 orang
level GM ke atas. Tidak semua GM ke atas
berhak menerima opsi saham dengan
berbagai alasan. Jumlah keseluruhan GM
ke atas di Grup Astra sekitar 350-an orang.
“Keputusan hanya GM ke atas yang berhak
menerima opsi saham pertama karena
perhitungannya cukup rumit,” tegas
Aminudin, Senior VP/Corporate Secretary AI.
Selain itu, manajemen SDM untuk level GM
ke atas di Grup Astra dikelola secara terpusat
di AI. Sedangkan Golongan V (manajerial)
dan IV (staf) dikelola di level grup usaha.
Manajemen SDM untuk level I-III diserahkan
kepada masing-masing perusahaan.
Untuk menyusun program opsi saham,
AI meminta bantuan konsultan SDM Watson
Wyatt. Disusunlah rumusan lengkap
penentuan jatah saham bonus setelah
dibagi dengan harga penebusan program
opsi saham (harga exercise) – harga ratarata saham selama 20 hari kerja sebelum
Grant Date (rumusan ini dirubah oleh
ketentuan Bapepam tahun 2000 menjadi
25 hari kerja sebelum Grant Date). Harga
exercise itu adalah Rp 1.880. Sayang pihak
Astra menolak menyebutkan jumlah lembar
saham yang diperoleh individu pada saat
Grant I ini. Penjualan saham bonus ini
belum diatur, sehingga si penerima berhak
menjual kapanpun. Saham-saham yang
diberikan itu tidak bisa diperjual-belikan
dalam tempo setahun setelah Grand Date
(disebut juga vesting period).
Pada tahun 2000, AI kembali meluncurkan program opsi saham (Grant) II, yaitu
untuk golongan V ke atas (VI-VII yang belum
kebagian Grant I). Rumus penghitungan
jatah saham dibuat berbeda. Program Grant
II ini diberikan untuk 2.000-an karyawan
dengan harga exercise Rp 3.300. Sebenarnya harga itu sangat mahal waktu itu,
karena kemudian saham Astra ditutup pada
level Rp 2.400-an tahun 2000. Siapa sangka
kemudian, harga saham naik ke level Rp
4.000-an saat ini. Artinya, marjin keuntungan harga (gain) yang diperoleh penerima
opsi saham II mencapai Rp 700 lebih per
saham. Gain yang diperoleh jauh lebih besar
bagi penerima opsi saham I, sekitar Rp 2.200
per lembar. Tinggal dikalikan saja dengan
jumlah lembar saham bonus yang mereka
terima. Sebagai misal, golongan VA minimal
mendapatkan 27.000 lembar saham dan
golongan VD mencapai 45.000 lembar pada
Grant II. Berbeda dengan Grant I, pada Grant
II waktu penjualan saham diatur dengan vesting period: 50% saham boleh dijual tahun I,
sisanya pada tahun kedua.
AI mengalokasikan 3% dari total saham
perseroan (70 juta lembar) untuk program
opsi saham I dan II, yang masing-masing
terbagi 32 juta lembar dan 37 juta lembar
lebih. Jumlah saham ini memang belum
seperti ketentuan Bapepam yang mengharuskan perusahaan publik memberikan opsi
saham sebesar 5% dalam jangka waktu paling lambat 3 tahun. Pembagian sisa 2%
saham bonus masih dikaji oleh pihak AI.
“Kami belum memutuskan apakah memperluas program ini ke golongan I hingga III
atau juga membagikannya kepada mereka
yang sudah pernah menerima. Sebab,
karyawan yang sudah merasakan manfaat
program ini meminta untuk mengadakan
lagi program serupa,” ucap Robby.
Administrasi opsi saham Astra dikelola
oleh Administrator ESOP AI Shinta Permanasari yang merupakan bagian dari Divisi
SDM AI. Ia dibantu oleh 2 orang staf. Meski
ESOP, TAK LAGI SEMANIS NAMANYA?
Manfaat program opsi saham jelas sangat banyak. Meski sangat merekomendasikan
penerapan program opsi saham, pakar manajemen SDM Bruce N. Pfau dan Ira T. Kay –
penulis buku terkenal The Human Capital Edge – juga mengakui adanya kontroversi dan
tantangan terhadap program opsi saham. Sebagai sumberdaya yang langka, baik human
capital maupun financial capital, pemanfaatan optimum dan alokasi opsi saham oleh
dewan direksi perusahaan menjadi kebutuhan absolut.
Sedikitnya terdapat 2 efek negatif yang perlu dipahami tentang opsi saham, yaitu (1)
Efek insentif (Insentive Effect), dan (2) Efek dilusi/gonjang-ganjing (Dilution/Volatility
Effect). Efek insentif terjadi karena opsi saham memotivasi karyawan untuk
menghasilkan kinerja finansial superior sehingga menimbulkan tekanan ke atas terhadap
harga saham. Efek dilusi timbul karena opsi saham mengindikasikan potensi penerbitan
saham di masa depan sehingga menciptakan dilusi dan memberikan tekanan ke bawah
terhadap harga saham.
Menurut kedua pakar itu, seberapa besar dampak pemberian opsi saham itu terhadap
nilai perusahaan tergantung banyak faktor, termasuk seberapa besar jumlah saham
yang dibagikan, kondisi Bursa Saham, kinerja perusahaan, kultur perusahaan, dan level
kepemilikan saham perusahaan.
Lantas, bagaimana sebetulnya pandangan terbaru karyawan perusahaan di Amerika
terhadap program opsi saham? Sebuah studi oleh Sibson Consulting, sebuah divisi dari
Segal Co. yang berbasis di New York, menyimpulkan bahwa opsi dan pemberian saham
berdampak positif terhadap kultur perusahaan, namun hanya berdampak kecil terhadap
motivasi dan kinerja karyawan.
Temuan ini tentu saja sangat mengejutkan karena selama ini program seperti ini
diyakini berdampak besar terhadap motivasi dan kinerja karyawan. Studi itu menyebutkan,
pandangan karyawan terhadap manfaat program opsi saham sedikit bervariasi
dibandingkan beberapa tahun yang lalu – terlepas dari turun-naiknya Bursa Saham
utama. Barangkali, lanjut studi tersebut, manfaat terbesar opsi saham adalah
meningkatkan daya tarik seseorang untuk bekerja pada sebuah organisasi.
Hasil studi Sibson Consulting, agaknya, tak jauh berbeda dengan pendapat Bill
Leonard dalam HR News. Bursa Saham yang melemah dan serangkaian skandal akuntansi
korporasi telah mengubah secara dramatis cara perusahaan dalam memberikan opsi
saham kepada para karyawannya. Dua survei yang diluncurkan Desember lalu juga
mendapatkan kesimpulan serupa, yaitu menurunnya jumlah karyawan yang menerima
atau berhak memperoleh opsi saham.
Penurunan porsi opsi saham ini dalam paket kompensasi terutama didorong oleh
perhatian eksternal terhadap perubahan yang diusulkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (the Financial Accounting Standards Board). Persepsi pemegang saham juga
menjadi faktor lain yang menyebabkan penurunan porsi tersebut. Beberapa
perkembangan terbaru menyebabkan perusahaan meninggalkan opsi saham berbasis
luas dan hanya membatasi pemberian opsi kepada eksekutif-eksekutif puncak. Para
pakar berharap, penerapan program saham terbatas dan metode kompensasi berdasarkan
kinerja lainnya akan mendapatkan popularitas dalam beberapa tahun ke depan.
Studi opsi saham oleh Sibson dan WorldatWork menemukan pemberian opsi saham
berkurang dalam nilai 30% lebih untuk karyawan level lebih rendah dibandingkan dengan
karyawan level yang lebih tinggi. Selain lebih sedikit jumlahnya, pemberian opsi terhadap
karyawan lebih rendah juga kurang bernilai. Pada saat survei dilakukan, 90% perusahaan
yang disurvei melaporkan sebagian besar opsi saham yang dimiliki karyawan memiliki
nilai yang kecil atau bahkan tidak bernilai sama sekali karena besarnya gap antara harga
penebusan dengan harga saham di pasar.
Konsekuensinya, desain insentif jangka panjang akan berubah dan cenderung makin
konservatif. Perusahaan diperkirakan akan segera mengubah program insentif jangka
panjang. Dalam CFO Outlook, sebuah survei terhadap hampir 240 Chief Financial Officer
yang diluncurkan 17 Desember 2003 oleh Financial Executives International dan Fuqua
School of Business (Duke University), 13% responden melaporkan bahwa organisasi
mereka akan menghapuskan program opsi saham tahun 2004. Sebanyak 60% responden
berencana mengurangi kompensasi opsi saham dalam 12 bulan ke depan.
“Penggunaan opsi saham sebagai bagian dari remunerasi dan perlakuan akuntansi
terhadapnya telah menjadi perdebatan luas dalam berita media, oleh regulator dan legislator, serta dalam ruang eksekutif perusahaan,” ucap John Graham, professor bidang
keuangan dari Fuqua School of Business. “Survei kami mendapatkan kenyataan bahwa
perdebatan kini bergerak menuju aksi, dan perubahan tahun 2004 di antara perusahaan
publik bisa sangat dramatis,” tambahnya.
Rupanya, kinerja Bursa Saham yang sangat payah dan merebaknya skandal korporasi
telah menghancurkan “reputasi” hebat program opsi saham yang selama ini sering
didengung-dengungkan. Akankah program opsi saham yang mulai digalakkan di Indonesia harus dihentikan dengan adanya tren di Amerika itu?
Jawabannya, tentu saja tidak. Situasi di Indonesia saat ini tidaklah sama dengan
Amerika. Kinerja saham perusahaan publik tidak semuanya jeblok dan skandal keuangan
tidak terlalu menggejala. Perusahaan-perusahaan dengan kinerja saham yang bagus
selayaknya mempercepat pelaksanaan program opsi saham.
Tentu dengan menyempurnakan implementasinya, antara lain, dengan bercermin
dari kejadian di Amerika itu„
23
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
Rudjito. Direktur Utama Bank BRI
anak perusahaan Astra memiliki program
opsi saham sendiri-sendiri, untuk efisiensi,
mereka menyerahkan pengelolaan administrasi opsi saham kepada AI. Tentu dengan
sedikit biaya untuk teknologi informasi
(server dan software), sistem dan SDM yang
terlibat. “Kami memakai software Lotus
Notes,” urai Julius.
AI menggunakan jasa PT Trimegah Securities Tbk. untuk membantu administrasi
konversi opsi saham menjadi saham, di
samping eksekusi penjualan saham bonus
tersebut. Setiap karyawan yang berhak harus
memiliki rekening di Trimegah lengkap
dengan data saham mereka. Sebelum
seorang karyawan menjual sahamnya, ia
terlebih dulu melapor ke administrator ESOP
Astra. Tujuannya untuk mengetahui apakah
saham tersebut sudah boleh dijual dan
berapa jatah saham bonusnya. Kemudian,
administrator ESOP menerbitkan instruksi
kepada Trimegah. “Soal harga jual, karyawan
tinggal berhubungan langsung dengan
Trimegah,” tukas David.
S
EBAGAI perusahaan publik, Trimegah
menerapkan opsi saham sejak
perusahaan go public tahun 2000.
“Kami alokasikan 5% saham selama 3
tahun untuk ESOP,” ujar Avi Dwipayana,
Presiden Direktur PT Trimegah Securities
Tbk. Hal ini sesuai dengan ketentuan
Bapepam.
ESOP, menurut Avi, menyangkut
hubungan antara emiten dengan karyawannya. Tujuan ESOP pada dasarnya ada dua
hal: memberi akses kepada karyawan
menjadi pemilik dan memberikan kompensasi yang bentuknya bukan tunai. Penerapan program opsi saham di perusahaan
publik Indonesia mendapatkan momentum
ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi
sejak Juli 1997.
Krisis ekonomi telah membuat banyak
perusahaan publik menghadapi berbagai
masalah. AI, contohnya, menghadapi masalah keuangan karena ada kewajiban sekitar
Rp 4,8 triliun yang harus diselesaikan. Ada
perampingan karyawan dan pemotongan gaji
bagi yang tinggal sehingga banyak yang
berpikiran lebih baik ke luar saja. “Namun
sekarang mereka kembali lagi ke Astra,” kata
David. PT Bimantara Citra Tbk. menghadapi
masalah yang lebih kompleks akibat kede-
katan hubungan pemilik utamanya dengan
Orde Baru, yang di awal proses reformasi
menjadi bulan-bulanan kritik publik. Karyawan mereka merasa tidak aman, khawatir,
dan inferior. Agar tidak terjadi eksodus,
Bimantara membuat program ESOP.
Selain itu, banyak perusahaan publik
yang kemudian menerapkan program opsi
saham ini karena memenuhi ketentuan
Bapepam maupun karena menyadari betapa
pentingnya program ini untuk kepentingan
perusahaan. Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Tbk., misalnya, menjadi salah satu contoh
BUMN yang sukses menerapkan program
opsi saham ini saat melakukan IPO (Initial
Public Offering) tahun lalu. Program opsi
saham itu, menurut Direktur Utama Bank
BRI Rudjito, terbagi dua, yaitu program opsi
saham untuk seluruh karyawan (ESOP) dan
program khusus untuk manajemen (MSOP).
Program opsi saham untuk karyawan
tersedia dalam 2 bentuk pilihan. Pertama,
pembelian saham sebagai bentuk bonus
tahunan karyawan. Saham kategori ini tidak
boleh dijual (lock up) selama 6 bulan. Jumlah
saham yang didapatkan oleh setiap karyawan
ditentukan oleh kinerja masing-masing
karyawan. Kedua, pembelian tunai oleh
karyawan dengan diskon 3% (disubsidi
perusahaan sebesar 3%). Saham ini boleh
langsung diperjual-belikan begitu saham
Bank BRI dicatatkan di Bursa Efek. Sementara, pola MSOP mirip kategori pertama
C. Heru Budiargo. Direktur Bank Niaga
namun dikhususkan untuk jajaran manajemen. Total saham yang dibagikan kepada
karyawan (kategori pertama) dan MSOP
sebanyak 5%.
Meski jumlah saham yang bisa diperoleh
karyawan relatif kecil dibandingkan total
saham perusahaan, tetapi hasil investasinya
sangat menarik. Bayangkan, harga saham
saat pembelian hanya sekitar Rp 800 per
lembar, dan kini harga saham Bank BRI
sudah di atas Rp 1.400 per lembar. Rudjito
bahkan optimistis harga saham itu bisa lebih
naik lagi karena saat ini komposisi kepemilikan saham publik Bank BRI dikuasai
70% oleh investor asing. “Saat IPO, komposisi investor domestik sedikit lebih besar
daripada investor asing. Sekarang, investor
asing sangat bullish dengan saham Bank
BRI,’ ujarnya.
Bank BRI, dan juga Bank Mandiri, adalah
contoh dari BUMN yang didivestasi dengan
menerapkan pula program opsi saham.
Beberapa BUMN lainnya, seperti Telkom dan
Indosat, diperkirakan segera menyusul.
Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi
telah mengisyaratkan penerapan program
opsi saham ini dalam setiap IPO BUMN. Saat
mendengar adanya penolakan karyawan
Bank BNI untuk didivestasi, Laks berkomentar: “Jika karyawan Bank BNI ingin
merasakan manfaat dari pemberian opsi
saham pada Bank Mandiri dan Bank BRI,
tak ada alasan mereka untuk menolak
(divestasi, red),” ujarnya. Oleh karena itu,
rencana pemberian opsi saham diyakini juga
untuk meredam suara karyawan BUMN.
Bank Niaga termasuk salah satu perusahaan publik yang kini mulai melaksanakan program ESOP. Periode program,
menurut Direktur Bank Niaga C. Heru
Budiargo, adalah selama 4 tahun, yang akan
dimulai pada 1 April 2004 dan berakhir pada
31 Maret 2008. Pelaksanaan opsi, lanjutnya, dimulai 1 Juli 2004 setelah melewati
periode tunggu (vesting period) selama 3
bulan (1 April-30 Juni 2004).
Sedikitnya ada 3 tujuan implementasi
ESOP di Bank Niaga. Pertama, memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk
memiliki saham Perseroan, guna lebih
meningkatkan rasa memiliki karyawan,
sehingga diharapkan produktivitas dan
kinerja Perseroan lebih optimal. Kedua,
meningkatkan motivasi dan penghargaan
kepada karyawan Perseroan dalam rangka
meningkatkan kinerja dan pencapaian
tujuan usaha Perseroan. Ketiga, merupakan
salah satu bentuk insentif dalam rangka
memperoleh dan mempertahankan SDM
yang berdedikasi, terampil, dan profesional.
(Lihat: “Mengupas ESOP Bank Niaga”).
Berbeda dengan beberapa perusahaan
publik yang berupaya menerapkan program
opsi saham, PT Medco Energi Tbk. justru
menunda rencana implementasi program
opsi saham. “Kami menunda pelaksanaan
program opsi saham hingga waktu yang
tepat,” ungkap CEO Medco Hilmi Panigoro.
Kabarnya, penundaan tersebut terkait
dengan belum siapnya Medco mengantisipasi kompleksitas yang ditimbulkannya.
A
PA PUN, ESOP jelas sangat positif bagi
upaya mendapatkan dan mempertahankan karyawan terbaik. Hanya saja,
efektivitas program sangat tergantung
kepada kinerja saham - sekaligus kinerja
usaha - perusahaan. ESOP akan tidak
menarik bagi karyawan kalau harga saham
perusahaan cenderung tidak berarti dan
turun terus di bawah harga exercise.
Menarik jika memperhatikan harga exercise
Grant I AI yang hanya Rp 1.800-an (kini sudah
Rp 4.000 per lembar), BCA dengan harga
exercise Rp 800-an (kini Rp 2.000-an), atau
Bank BRI seperti di atas. Keuntungan yang
diperoleh penerima program jelas sangat
lumayan.
Perusahaan-perusahaan perlu pula
memikirkan agar program opsi saham ini
benar-benar efektif sebagai alat retensi dan
apresiasi karyawan terbaik dalam jangka
panjang (kalau perlu sebagai bagian dari
paket pensiun seperti yang terjadi di
Amerika). Jangan sampai, program ini hanya
menjadi insentif jangka pendek seperti yang
kini terjadi. Begitu periode lock up berakhir,
karyawan penerima saham langsung menjualnya begitu harga saham perusahaan di
pasar melonjak.
Hingga kini dari 300 lebih emiten di
Bursa Efek Jakarta, yang sudah menerapkan
ESOP diperkirakan masih kurang dari 20%
saja. Bila dikelola secara benar, program
ESOP memiliki dampak yang besar bagi
peningkatkan kinerja perusahaan. Bukan
tidak mungkin, kelak, ada direktur yang
mewakili pemegang saham ESOP seperti
yang terjadi di airline terbesar Amerika
United Airline (UAL) – dan tahun lalu
melaporkan kerugian terbesar dalam
industri airline US$2,2 miliar termasuk
karena kehilangan 2 pesawat akibat peristiwa September 2001.
Berdasarkan paket ESOP UAL yang
disusun 1994, grup mekanik dan grup pilot
masing-masing memiliki 1 kursi di dewan
direksi. Secara total, karyawan memiliki 55%
saham UAL. Anehnya, hubungan perburuhan
di UAL sejak lama dikenal sebagai yang paling buruk. Hubungan itu kini berusaha
diperbaiki John W. Creighton, Direktur
perusahaan induk UAL yang berasal dari
karyawan UAL. Sebagai mantan karyawan,
Creighton dianggap lebih bisa memahami
aspirasi karyawan. Inilah nilai lebih lainnya
dari ESOP„
24
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
K o l e
g a
Judhi Kristantini
Mengalir Seperti Air ...
I
bu dari dua anak, Gita dan Vito, ini
mengelak ketika ia disebut multi talent.
Padahal ketika berbincang dengan HC
terungkap banyak kemahiran yang ia miliki
bahkan tanpa belajar formal. Direktur Daya
Dimensi Indonesia, salah satu perusahaan
konsultan Human Resource terkemuka di
Indonesia, ini lebih percaya bahwa hidupnya
mengalir begitu saja. “Tentu saja saya punya
keinginan-keinginan yang sering saya
ucapkan pada diri sendiri. Selebihnya saya
berusaha menikmati apapun yang saya
kerjakan, melakukannya sesuai kemampuan dan mengikuti saja perkembangannya…,” demikian Judhi yang lahir
bertepatan dengan hari peringatan kemerdekaan Amerika Serikat 37 tahun silam ini
mengungkapkan.
Sebagai direktur, Judhi kini bertanggungjawab mengepalai Unit Bisnis bidang
Teknologi Pengembangan Pelatihan (Learning Development Technology) di perusahaan authorized representative dari DDI
World itu.Di samping itu ia juga menjabat
Head of Sales. “Awalnya Daya Dimensi Indonesia lebih dikenal dengan jasa selection /
assessment yang membantu banyak
perusahaan menyeleksi karyawan untuk
perekrutan atau kenaikan pangkat melalui
berbagai metode test. Namun DDI kemudian
mengembangkan bisnis strategic consultancy-nya hingga “saat ini LDT kami adalah
salah satu jasa yang sering dimanfaatkan
oleh klien. Kami bersyukur didukung oleh
DDI World yang sangat kuat riset pengembangan sumber daya manusianya,“
Judhi megatakan.
Judhi menuturkan bahwa teknologi yang
dimaksud dalam LDT bukanlah hal-hal yang
melulu berhubungan dengan IT melainkan
pengembangan sumber daya manusia
melalui program pelatihan yang menekankan pembentukan perilaku (shaping behaviour).” Enam puluh persen programnya
adalah skill practice dan feedback,” ungkap
Judhi. “Secara konsep training leadership,
misalnya, bukanlah sesuatu yang baru.
Namun kami menekankan langkah-langkah
konkrit dalam pengembangannya agar
menjadi yang terbaik melalui praktek /
implementasi yang kemudian juga diukur
dan diberi masukan (feedback).” Judhi
merasa senang belakangan ini banyak
perusahaan Indonesia, baik swasta maupun
BUMN, telah menyadari pentingnya merealisasikan pengembangan sumber daya
manusia. “Kalau bicara tentang pengembangan sumber daya, sejak dulu juga semua
orang sadar pentingnya. Tapi kenyataan
bahwa belakangan ini banyak perusahaan
sudah tergerak untuk berinvestasi untuk
pengembangan sumber daya manusia,
merupakan kabar yang sangat menggembirakan,” ungkap Judhi.
Sederet nama perusahaan swasta dan
BUMN termasuk lembaga pendidikan ada
pada daftar kliennya. Belakangan DDI
bahkan terlibat sebagai konsultan dalam
proses pemilihan Komisi Pemberantasaan
Korupsi (KPK), mulai dari membangun blue
print organisasinya, hingga ke pemilihan dan
pelatihan Jaksa Tindak Pidana Korupsi.
“Kami sangat bersyukur berkesempatan
bekerjasama dengan berbagai macam
organisasi. Dalam project KPK, kami bahkan
bekerjasama dengan LSM dan mahasiswa,”
ujar Judhi dengan bersemangat. Untuk
konsultasi pembntukan KPK, DDI melakukannya dengan sepenuh hati. “Bagaimanapun misi pemberantasan korupsi ini
adalah bagian dari social responsibility kami
di DDI, baik sebagai organisasi maupun
sebagai masing-masing individu, warga
negara Indonesia yang menginginkan
perekrutan atau promosi jabatan di sebuah
BUMN besar di Bandung hingga ia dapat
membiayai sendiri kuliah dan hidupnya di
sana. Selesai kuliah tahun 1991, Judhi
bergabung dengan Bank Universal, menangani rekutmen dan kemudian pengembangan di divisi Human Resource bank yang
kemudian merger menjadi Bank Permata ini
selama 4 tahun full time dan 1 tahun
kontrak. “Saya memilih berhenti dari
pekerjaan full time karena ingin mengerjakan hal-hal lain yang tak sempat saya
kerjakan ketika terikat pada pekerjaan formal,” ujarnya.
Judhi memang banyak menemukan
kemajuan dan perbaikan,” Sarjana Psikologi
jurusan klinis dari Universitas Padjadjaran
ini menambahkan.
Ketika ditanyakan mengenai kiatnya
berkarier, Judhi tertawa kecil. “Saya paling
susah menjawab pertanyaan ini,” katanya,
ia lalu terdiam sejenak. “Tapi rasanya
memang kita harus mencari pekerjaan yang
kita sukai agar tidak menjadi beban,”
lanjutnya. Lalu apa lagi Judhi? “Kerjakan saja
yang terbaik. Bukan untuk dinilai oleh atasan
atau orang lain tetapi yang terbaik menurut
kita. Lalu… biarkan dan nikmati saja hidup
yang berjalan…” ungkap Judhi.
Hidupnya memang lebih banyak mengalir begitu saja. Belum lulus dari pendidikan sarjananya Judhi sudah bekerja paruh
waktu sebagai tester untuk psikotest
kegiatan yang menyenangkan selepas kerja
formal. “Saya bekerja paruh waktu di
perusahan yang memberikan pelatihan outbound sebagai program designer dan facilitator. Saya juga mengajar di sebuah institusi
pelatihan bank,” tuturnya. Sisanya Judhi di
rumah bersama anak-anak. “Pada saat saya
ikut-ikutan anak-anak melukis untuk tugas
sekolah, saya menemukan saya bisa
melukis,” Judhi terbahak. “Saya juga punya
waktu membaca dan kemudian mencoba
menulis,” ungkap Judhi yang sampai kini
sudah mengkontribusikan banyak tulisan
untuk DDI. Tahun 1998 Judhi diminta DDI
untuk membantu beberapa project dengan
menjadi Associate Assesser hingga tahun
2000.
Lalu mengapa kembali ke pekerjaan full
time Judhi? Ia tersenyum, simple saja,
jawabnya. “Ketika sadar pekerjaan paruh
waktu juga banyak menyita waktu, kenapa
tidak saya kembali sekalian ke dunia kerja
penuh. Anak-anak saya sangat mandiri, tak
banyak bergantung pada saya. Suami pun
tak berkeberatan saya kembali ke dunia
kerja. Saya juga mendapat dukungan luar
biasa dari pembantu yang sudah lama
bekerja dengan saya sehingga bisa meninggalkan rumah dengan lebih tenang. Mungkin terdengar klise, tapi bagi saya ini sesuatu
yang sangat saya syukuri, di saat saya ingin
berprestasi yang rasanya juga bisa membuat anak-anak saya bangga dan sekaligus
mengumpulkan modal buat masa depan
mereka, saya dapat melakukannya,” tuturnya. “Ketimbang saya di rumah? Saya gak
bisa masak, gak suka beres-beres, kayaknya
saya lebih berguna kalau bekerja…,” Judhi
tergelak kembali. Satu hal yang juga penting
menurut Judhi adalah tempat kerjanya yang
sangat mendukung ia mengaktualisasikan
diri.”Kami dapat berkembang dan mengeluarkan yang terbaik dari kami dengan
dihargai oleh perusahaan,” ujarnya. DDI juga
dikenal memiliki hubungan yang sangat
dekat dengan klien-kliennya. “Anytime, anywhere we are reachable for clients, bahkan
seringkali kami bertemu klien hanya untuk
ngobrol dan bercanda…” ungkap Judhi.
Tahun 2000 ketika DDI serius membangung strategic consultantnya, Judhi
bergabung menjadi senior consultant
dengan 3 bulan masa percobaan atas
permintaannya sendiri “hanya supaya
terbiasa kembali ke dunia kerja penuh.”
Tahun 2003 Judhi menjadi direktur LDT,
jabatannya hingga kini. Lucunya, walau
sejak awal sudah ‘mengancam’ teamnya di
DDI agar tidak memintanya berjualan
karena merasa tidak berbakat jadi sales,
Judhi nyatanya justru tercatat banyak
melakukan penjualan. “Saya hanya sharing
dan bercerita saja pada klien atau calon
klien. Tapi rupanya itu membuat mereka
tertarik,” katanya tertawa. Alhasil mulai
2004 Head of Sales jadi jabatannya juga.
“Jadi saya punya target untuk Business Unit
LDT dan target sales perorangan yang
dikenakan untuk semua konsultan. Di atas
itu, saya juga punya target penjualan
seorganisasi yang berpengaruh pada
keuntungan dan bonus akhir tahun,” Judhi
terbahak. Jadi tambah beban dong? Judhi
tersenyum dan mengatakan ”Ya… seperti
biasa, ikuti dan jalani saja dengan lapang
dada….” Begitu juga Judhi menyikapi
kesedihan yang mendalam saat Ibundanya
tercinta menghadap Yang Kuasa. Begitu juga
ia menikmati kebahagiaannya saat mendapatkan dua buah hati yang kini lebih sering
diperlakukan sebagai sahabat.
Judhi pun terus mengalir bagai air sungai
ke muara. Entah berapa banyak lagi tepian
yang dia lewati dan akan membiaskan warna
pada hidupnya. Tapi yang jelas Judhi
Kristantini akan terus memberikan yang
terbaik di mana pun ia berada„
25
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
K o l e
g a
Joris
de
Fretes
Menikmati Kesuksesan Anak Didiknya
M
elihat anak didiknya sukses, merupakan kebanggaan tersendiri untuk sosok Joris de Fretes. Bapak dua anak
ini mengaku tidak mengharapkan lebih dari
kesuksesan anak didiknya, meski hanya
sekedar ucapan terima kasih.
Lulus pendidikan Psikologi Universitas Indonesia tahun 1978, pria pengoleksi perangko
dan DVD film ini memulai karir di PT Pupuk
Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, sejak tahun
1979 sebagai Recruitment Officer. “Selesai
kuliah, ada tawaran yang menarik, makanya
saya terima meski harus jauh dari Jakarta,”
lontar Joris.
Setelah lima tahun bergelut di Bontang,
akhirnya ia kembali ke Jakarta dan menerima
tawaran di PT Indofood Sukses Makmur mulai
tahun 1985 sampai 1991. Kemudian pria
kelahiran 22 Agustus 1953 ini melanglang ke
beberapa perusahaan seperti PT Gobel Intinusa
Corporation dan PT Metrodata Electronics,
hingga akhirnya kini terdampar di PT Excelcomindo Pratama, sebuah perusahaan yang
bergerak di bidang komunikasi seluler.
“Setiap perusahaan mempunyai tantangan
dan pengalaman yang menarik dan berbedabeda mengingat kendala setiap perusahaan
pun berbeda-beda,” paparnya. Ini yang
membuat Director Human capital Development
PT Excelcomindo Pratama ini merasa selalu
tertantang dengan berpindah-pindah tempat.
Dulu, lanjutnya, ia dan rekan-rekannya
menangani para buruh yang jumlahnya ribuan
saat bekerja di Indofood. Yang mengesankan
Joris, ia tidak melihat adanya keinginan para
karyawan Indofood untuk melakukan mogok
kerja seperti yang biasa terjadi di beberapa
perusahaan lain. “Yang penting, perusahaan
harus selalu menjamin karyawannya seperti
gaji yang memadai, jaminan-jaminan seperti
asuransi kesehatan dan sistem insentif juga
harus kita perhatikan,” tutur Joris yang
berusaha memperhatikan para karyawan.
Menurutnya, personil Human Resource
Department (HRD) akan lebih baik jika turun
langsung meninjau kondisi dan lokasi pekerjaan karyawan. Sampai ke urusan makanan di
kantin, diakui Joris juga harus diperhatikan.
“Karyawan juga melihat kalau perusahaan
memperhatikan mereka, misalnya kebersihan
kantin, makanan yang akan disantap para
karyawan dan semacamnya. Dengan begitu,
akan tercipta etos kerja yang baik bagi setiap
karyawan,” kata Joris menegaskan hal ini.
Sementara di Excelcomindo, ia harus
menangani sekitar 1500 karyawan dengan latar
belakang pendidikan yang berbeda dengan
pengalaman sebelumnya. “Meski dunia
telekomunikasi berkembang pesat dan selalu
berbeda, hal ini jelas tidak mudah,” imbuhnya.
Ia mengakui, menangani karyawan dengan
latar pendidikan yang tinggi cukup menantang,
karena biasanya orang-orang dengan pendidikan tinggi sangat kritis dan membutuhkan
informasi yang lengkap tentang kebijakan
perusahaan.
Tak heran jika Joris lebih suka menerapkan kiat Empowerment, memberikan
kebebasan anak buahnya untuk berkreasi. Ia
hanya memberikan poin-poin apa saja yang
harus dikembangkan. “Mereka cukup senang
karena merasa tidak diberi instruksi, perintah
dan sebagainya. Kalau ada ide datang saja.
Saya yakin mereka punya kreatifitas yang
bagus, Jadi biarkan saja, jangan dimatikan,”
papar pria yang memiliki 45 anak buah yang
sebagian besar adalah sarjana, panjang lebar.
Sementara untuk menangani ribuan
karyawan Excelcomindo, Joris memaparkan
bahwa Excelcomindo menggunakan nama Hu-
man Capital Development, untuk unit yang
dipimpinnya. Dengan menggunakan nama ini,
maka unit ini memusatkan kegiatannya untuk
mengiventarisasi dan mengembangkan pengetahuan dan keahlian-keahlian yang ada dalam
perusahaan. “Kita tidak lagi bicara besarnya
sumber daya manusia yang kita miliki, tetapi
kita bicara tentang luasnya keahlian-keahlian
yang kita miliki sebagai modal perusahaan.”
Dengan cara itu, akan diketahui tingkat
keahlian yang ada sehingga bisa melakukan
pendekatan pengembangan yang cocok.
“Semua karyawan dinilai untuk melihat
kompetensinya ada di level mana. Kalau masih
lemah, kita latih mereka,” sambungnya lagi.
Ada kompetensi yang tidak bisa dilakukan
dengan training. Misalnya seperti bagian
keuangan. Kompetensi yang diminta adalah
integritas, melatih sebuah kejujuran. “Itu tidak
bisa melalui training,” tukasnya.
Pola training yang selama ini datang ke
kelas juga perlahan-lahan diubah dengan cara
lain, bisa melalui internet dan baca buku. Juga
bisa melalui forum diskusi, dimana seorang
karyawan yang punya keahlian, berbicara
dalam seminar di depan karyawan lain. “Jadi
ada sharing knowledge,” Joris menambahkan.
Cuma sayangnya, lanjut Joris, adakala
karyawan yang pendidikannya cukup bagus,
tapi etos kerjanya kurang. “Ini yang perlu kita
bangun,” ujarnya yang mengaku ini menjadi
sebuah tantangan menarik.
Duapuluh lima tahun sudah ia malang
melintang di dunia HRD. Kini, pria yang
mengaku sebentar lagi akan pensiun di dunia
ini ingin menikmati hasil apa yang sudah ia
bangun selama itu. “Mereka bisa jadi manager, itu kebanggaan kita. Bahwa mereka nanti
tidak bilang terima kasih, tidak apa-apa,”
tuturnya merendah.
Sampai kini, sudah puluhan karyawan yang
direkrutnya sukses berkarir. Diantaranya, dua
orang yang ia rekrut di PT Kaltim Bontang dulu,
salah satunya kini menjabat sebagai jadi
Presdir di sebuah perusahaan di Surabaya,
sedang satunya menjabat Direktur di sebuah
pabrik milik pemerintah di Jawa Barat.
Joris mempunyai kepercayaan, kalau
seseorang bekerja, maka orang itu harus lebih
kreatif. “Sekarang banyak anak baru lulus
sudah ingin jadi manager. Bagi saya, jangan
berpikir jadi manager dulu. Kerja saja dulu,”
kata Joris menyayangkan pemikiran tersebut.
Buatnya, untuk menjadi seorang yang ahli,
seseorang harus kreatif dan selalu kreatif
dalam bekerja. Dengan begitu, atasan akan
menilai kemampuannya. “Banyak lulusan luar
negeri yang berpikiran demikian. Ilmu memang
bagus, tapi kematangan yang penting. Itu butuh
waktu, kalau tidak jadi, malah frustasi,” tegas
pria yang berangan-angan membuka gerai
perangko yang akan diisi oleh koleksi
perangkonya yang berjumlah ribuan buah, jika
ia pensiun kelak„
intuisi terhadap nilai berita, fokus dan
konsisten dalam mengejar berita. Di sisi lain
kesabaran diperlukan dalam mencari nara
sumber, namun kecepatan dan ketepatan juga
dituntut dalam penyajiannya.” katanya.
Sejak 1994 Endy mulai difokuskan ke
liputan perdagangan.”Tahun 1994 pertama kali
saya dikirim ke Osaka Jepang, meliput APEC.
Itu kali pertama saya ke luar negeri. Airport di
Osaka terletak di pulau terpisah dan akses ke
kota hanya bis atau kereta. Setengah hari saya
berputar-putar di airport hingga akhirnya saya
memilih naik bis saja ke hotel,” Endy yang
setelah itu menjadi wartawan liputan Sekretariat Negara dan melanglang buana ke manca
Negara ini terbahak.
Suka dukanya jadi wartawan? “Pekerjaannya sangat dinamis tidak membosankan,
banyak bertemu hal baru. Wartawan juga
terbentuk menjadi egaliter karena memang
relatif lebih mudah bertemu orang dari
berbagai kalangan, dari bawah hingga atas.
Kami juga punya kesempatan belajar sesuatu
langsung dari sumbernya misalnya pada saat
mewawancara nara sumber. Itu sukanya,” tutur
Endy. Dukanya? Endy terdiam sejenak. “Waktu
kerjanya tidak seperti waktu kerja kantoran.
Mungkin ini agak membatasi ruang kami
bersosialisasi, khususnya waktu buat keluarga,” katanya. Endy juga memahami bahwa
profesi wartawan sulit dilakoni hingga tua
mengingat pekerjaannya sangat dinamis, tak
kenal waktu dan memerlukan stamina yang
tinggi. “Menjadi pengamat, analis, penulis atau
barangkali konsultan bisa jadi pilihan profesi
lanjutan kami,” ujarnya. Mengenai pandangannya tentang dunia pers saat ini Endy mengatakan pers Indonesia sudah maju dan sudah
banyak memiliki kebebasan,”hanya saja pers
kita tampaknya perlu code of conduct agar
memiliki panduan dalam menjalankan
kebebasannya,” ungkapnya.
Bagaimana kisah suksesnya sebagai
kepala koperasi karyawan hingga terpilih dua
kali? “Awalnya saya memang sering lantang
berbicara mewakili kepentingan teman-teman.
Akhirnya malah sekalian dijadikan kepala
koperasi. Karena 30% saham Bisnis Indonesia dimiliki oleh koperasi karyawan, otomatis
saya jadi komisaris.” Di bawah komandonya,
aset koperasi karyawan Bisnis Indonesia
berkembang dari Rp.2milyar ke Rp.5 milyar.
Penjualan meningkat dari Rp. 100 ribu/hari
menjadi Rp. 6 juta/hari. SDM pun dibina lebih
professional dan sistem simpan pinjam
karyawan dibangun ihingga portfolio pinjaman
mencapai Rp. 4 milyar saat ini. “Masih kecil
lah. Banyak yang lebih hebat,” Endy masih
merendah. Lalu bagaimana kiatnya memperjuangkan nasib rekan-rekannya di tangah komisaris yang notabene tokoh bisnis ternama
seperti Ciputra dan Sudwikatmono? Endy
tergelak lagi, namun ia menyebutkan sekali
lagi fokus dan konsisten, meski ia menambahkan pendekatan personal juga jadi resepnya. “Tak mudah menjembatani kepentingan bisnis dengan kepentingan karyawan. Tapi
Alhamdullillah selama ini saya dapat melakukannya,” ujarnya. Begitu lah Endy…, si rendah
hati yang fokus dan konsisten„
Endy Subiantoro
Fokus dan Konsisten
E
ndy Subiantoro tergelak saat HC meminta
kesediaannya diwawancara untuk profil.
“Apa hebatnya saya?” tanyanya merendah. Lho, bukankah Endy seorang wartawan
senior dan Redaktur berita keuangan di harian
nasional Bisnis Indonesia? “Wah, masih
banyak yang lebih senior dan lebih hebat
daripada saya,” ujarnya masih berusaha
mengelak. Tapi bukankah jarang redaktur yang
juga berprestasi mengelola koperasi karyawan
hingga sempat termasuk 5 besar koperasi
terbaik seJakarta barat tahun 2003? Bukankah
tidak banyak juga redaktur yang duduk di
jajaran komisaris perusahaan untuk memperjuangkan kepentingan rekan-rekannya?
Endy tertawa lagi, kali ini ia sulit mengelak.
Ayah dua putri yang juga kerap menjadi
moderator di berbagai seminar serta rubrik
bisnis di TV dan radio ini telah bergabung
dengan Bisnis Indonesia sejak tahun 1993.
“Saya lulus dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Gajah Mada pada tahun 1992. Sejak
sebelum lulus saya sudah bekerja freelance
pada sebuah perusahaan minyak asing dan
setelah lulus sempat bekerja 3 bulan di
perusahaan tambang batu bara,” tuturnya. Endy
menyadari dirinya tak mampu berkarier di
bidang pertambanganyang umumnya dimulai
dengan bekerja di lokasi terpencil. “Di waktu
luang hanya berleha-leha. Paling-paling kalau
di hutan bengong ditemani monyet,” Endy
terbahak. Padahal pria yang menginjak usia
36 tahun pada 26 Desember lalu ini lahir dan
menghabiskan masa kecil yang diakuinya
sangat menyenangkan di Pontianak, “bermain
di sungai, kebun dan hutan yang masih asli
saat itu,” katanya.
Ketika ia menjadi karyawan kontrak Bisnis
Indonesia, ia sempat ditawari posisi di sebuah
perusahaan produsen alat berat terkemuka di
tanah air. Tapi ketika tahu akan di tempatkan
di pedalaman Kalimantan, “saya pilih jadi
wartawan saja,” ujarnya. Lho? Padahal itu kan
tidak sesuai dengan bidang ilmu sekolahnya.
“Pengalaman menunjukkan bahwa menjadi
wartawan tak wajib lulus dari ilmu komunikasi
atau publisistik karena di awal tetap saja kita
harus belajar mewawancara, menulis dan
menganalisa. Yang penting dapat kita dapat
mengikuit irama kerjanya yang cepat, punya
26
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
Konsultasi Hukum Ketenagaker jaan
Diasuh oleh: A. Kemalsjah Siregar
PEKERJA DAN
HAK UANG PESANGON
PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU
Mas Kemal Yth,
Saat ini status saya masih kontrak sebagai staff
personalia di sebuah perusahaan swasta, dan
PKWT saya akan berakhir pada 7 Juni 2004
nanti. Apakah untuk posisi saya ini dapat
diberlakukan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu) atau tidak? Soalnya jenis pekerjaan
yang saya lakukan adalah bersifat terus
menerus dan bersifat tetap.
Hormat kami,
Baskoro
GM HR
PT E&B
Jakarta
Jawab
Pasal 59 (1) dan (2) UU No. 13/2003 tegas
mengatur jenis pekerjaan yang boleh dibuat
dalam bentuk PKWT. Karena jenis pekerjaan
Saudara merupakan pekerjaan yang bersifat
tetap maka tidak boleh dibuat dalam bentuk
PKWT. Apabila pada saat berakhirnya jangka
waktu PKWT perusahaan tidak melanjutkan
hubungan kerja maka perusahaan berkewajiban untuk membayarkan uang pesangon
sebesar 2 x Pasal 156 (2), uang penghargaan
masa kerja sesuai Pasal 156 (3) UU No. 13/
2003 dan penggantian hak sesuai Pasal 156
(3) UU No. 13/2003 sebagaimana berlaku
terhadap pekerja tetap/permanen. Tetapi patut
diingat bahwa perusahaan tidak mempunyai
kewajiban untuk mengangkat Saudara sebagai
pekerja tetap.
HAK UANG PESANGON
Bang Kemalsyah Yth.
1. Di dalam UU No. 13 tahun 2003 banyak
ketentuan yang menyebutkan “akan diatur
dengan ketentuan tersendiri”. Apakah yang
dimaksud dalam hal ini merupakan Peraturan
Pemerintah, Kepmen, dll? Kami tidak tahu
apakah aturan tersebut sudah dikeluarkan atau
belum, kemana kita harus bertanya? Hal ini
sangat diperlukan perlu agar kita para HRD
tidak ketinggalan informasi.
2. Seorang pekerja yang di PHK dengan kualifikasi mengundurkan diri tidak mendapatkan
hak uang pesangon dan uang penghargaan
masa kerja. Akan tetapi mendapatkan uang
pisah dan uang penggantian hak. Apakah ybs
mendapatkan uang penggantian perumahan &
pengobatan sebesar 15% dari uang pesangon
dan atau dari uang penghargaan masa kerja?
Salam hormat,
Sorry Siregar
HR Manager
PT GVG
Jakarta
Jawab
1. Sumber yang patut diminta keterangan dan
tempat untuk mendapatkan salinan peraturan
pelaksanaan tersebut adalah Depnakertrans
atau Disnakertrans atau Sudinakertrans.
Sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat
maka mereka wajib memberikan salinan
peraturan pelaksanaan tersebut dan sepatutnya tidak dipungut bayaran apapun.
2. Karena dia tidak mendapatkan uang
pesangon dan uang penghargaan masa kerja
maka ia tidak akan mendapatkan uang
penggantian perumahan & pengobatan
sebesar 15% karena 15% tersebut adalah dikali
Nol yang artinya sama saja tidak mendapatkan
apapun.
ISTIRAHAT TAHUNAN PEKERJA
Pak Kemalsyah Yth.
1. Apakah pekerja wanita yang pernah
mengambil istirahat melahirkan masih berhak
untuk mengambil istirahat tahunan? Apakah
istirahat bersama yang ditetapkan oleh
pemerintah secara otomatis memotong hak
istirahat tahunan pekerja?
2. UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan sudah
di-undangkan per 25 Maret 2003. Bila seseorang diberhentikan pada tanggal 25 April 2003,
pesangonnya menganut Kep-150/MEN/2000
atau UU 13/2003 yang baru tersebut?
3. Bagaimana hak karyawati secara umum?
Khususnya tentang pemberian tunjangan
kesehatan & asuransi kesehatan? Menurut
Depnakertrans seharusnya tidak ada diskriminasi antara pekerja pria dan wanita karena
semua hak dan kewajibannya adalah sama.
Namun kenyataannya banyak perusahaan
yang menerapkan aturan yang berbeda-beda.
Ada yang menganggap karyawati sebagai
single, ada juga yang menanggung anakanaknya sampai anak ketiga, ada yang
menanggung suami dan anak2nya (kalau
suami tidak bekerja dan atau tempat suami
bekerja tidak memberikan medical yang
memadai).
3. Bagaimana hak karyawati secara umum?
Khususnya tentang pemberian tunjangan
kesehatan & asuransi kesehatan? Menurut
Depnakertrans seharusnya tidak ada diskriminasi antara pekerja pria dan wanita karena
semua hak dan kewajibannya adalah sama.
Namun kenyataannya banyak perusahaan
yang menerapkan aturan yang berbeda-beda.
Ada yang menganggap karyawati sebagai
single, ada juga yang menanggung anakanaknya sampai anak ketiga, ada yang
menanggung suami dan anak2nya (kalau
suami tidak bekerja dan atau tempat suami
bekerja tidak memberikan medical yang
memadai).
Salam hormat,
Johny Dirgo
HR Manager
PT JERMA
Jakarta
Jawab
1. UU No. 13/2003 sama sekali tidak mengatur
tentang hal ini. Namun patut diperhatikan
bahwa pengaturan tentang hak atas istirahat
melahirkan dan istirahat tahunan dalam UU
No. 13/2003 diatur dalam pasal yang berbeda.
Karenanya keduanya merupakan hak yang
berbeda yang diberikan oleh UU. Istirahat
tahunan tidak dapat dianggap sebagai bagian
dari istirahat melahirkan. Apabila pekerja telah
mengambil istirahat melahirkan maka haknya
atas istirahat tahunan tidak hilang.
2. Ini adalah pertanyaan yang sangat legalistik.
Pasal 191 UU No. 13/2003 mengatur bahwa
semua peraturan pelaksanaan yang mengatur
ketenagakerjaan tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dan/atau belum diganti dengan
peraturan yang baru berdasarkan UU No. 13/
2003. Karena ketentuan tentang uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak telah diatur dalam Pasal 156 UU
No. 13/2003 maka yang berlaku adalah Pasal
156 UU No. 13/2003.
Bila seorang pekerja diputuskan hubungan
kerjanya pada 25 April 2003, maka perhitungan
atas uang pesangon, uang penghargaan masa
kerja dan penggantian hak merujuk pada 156
UU No. 13/2003.
3. Pada dasarnya tidak ada perbedaan
perlakuan antara pekerja laki-laki dan
perempuan. Istilah yang digunakan pun adalah
pekerja tanpa melihat jenis kelamin. Tidak ada
ketentuan ketenagakerjaan yang mewajibkan
perusahaan untuk memberikan fasilitas
pengobatan kepada pekerjanya kecuali
keikutsertaan dalam Program Pemeliharaan
Kesehatan dalam Jamsostek. Kalau ada
perusahaan yang memberikan fasilitas
pengobatan kepada pekerjanya maka itu adalah
hak prerogatif perusahaan. Memang paling
baik dan akan sangat membantu pekerja
apabila penerapan pemberian fasilitas
pengobatan diberlakukan sama kepada
pekerja tanpa melihat jenis kelamin ataupun
status menikah atau tidak. Namun, kalau pun
perusahaan mengatur lain sebagaimana
contoh Saudara di atas menurut pendapat kami
itu pun tidak salah dan tidak dapat dikatakan
sebagai tindakan diskriminatif „
Kirimkan pertanyaan Anda ke Redaksi Human Capital
A. Kemalsjah Siregar
Partner Kemalsjah Cembyn & Affriline
Attorneys At Law
THE BEST DEAL OF ALL!!!
At Alessandro Nannini Pondok Indah Mal
30% OFF
7 Valid Monday to Friday (except: Public Holiday)
7 From 15 May - 15 June 2004
7 Exclude: Alcoholic Drink, Cigarette & not valid for
special event or other promotion
7 Selected items (dine in only)
7 Additional 10% off for ANZ cardholders
Bring this advertisement to get the discount!
For further information, please call: 021-750 6729 / 750 6769
Alessandro Nannini, Pondok Indah Mal; 2nd floor
27
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
L i f e S t y l e
Ermest Gaya Spa
Oase Bagi Eksekutif Yang Ingin Berelaksasi
Penat dalam rutinitas kantor ? Atau ingin melepas stress
dan menikmati semangat hidup baru ? Dengan Spa, semua
bisa diatasi. Manicure, bodycure, mandi susu atau pijat, bisa
dilakukan di spa. Bisa jad,i penampilan akan berbeda saat kita
keluar dari Spa. Muka berseri-seri, badan segar bugar, siap
menantang rutinitas yang akan dijalani.
S
oluse Per Aqua, atau lebih dikenal
dengan spa, kini hampir dijumpai di
beberapa tempat bergengsi di daerah
Jakarta. Trend masyarakat kelas A+ yang ingin
menikmati hal-hal baru bahkan, dalam
relaksasi pun, kini sudah beralih ke spa. Hal
ini yang dibidik Perry H Josohadisoerjo, Ermest
Thamrin dan Farid Aidid. “Kami melihat bahwa
pangsa pasar spa pada saat itu belum banyak
dan cukup menantang untuk dijalankan,” ujar
Perry yang juga memiliki fitness center Ermest
di Butik Ponsel – Galeria SCBD, di Kawasan
Niaga Terpadu Sudirman Jakarta.
Sepakat membawa Gaya Spa, sebuah spa
yang sudah punya nama, ke dalam konsep spa
yang dibangun di kawasan yang sama dengan
fitness center. Diakui Perry, kesepakatan menjadikan Gaya Spa sebagai partner karena Gaya
Spa memiliki tenaga pendidik bersertifikat.
“Selama ini, ada beberapa tempat yang mengaku tempatnya adalah spa, padahal fasilitas
yang ada tidak memenuhi standarisasi spa di
Indonesia,” keluh Perry terhadap kondisi ini.
Disamping itu, ada kesan kemewahan yang
ingin dirasakan kalangan mapan yang penghasilannya lebih dari Rp5 juta dalam perawatan
kulit. Menurut Perry, salon dan pijat tradisional
menjadi milik sebagian besar masyarakat
kalangan menengah ke atas untuk penampilan
mereka. Ini diakui Perry berbeda dengan spa
yang milik sebagian kecil masyarakat,
khususnya kalangan atas. “Spiritnya akan beda
jika kita keluar dari spa dibandingkan keluar
dari salon atau pijat tradisional,” sambungnya.
Orang yang pergi ke spa, baik laki-laki maupun
perempuan, tidak hanya ingin dirawat rambut
atau muka semata, tapi juga ingin perawatan
menyeluruh. “Keluar dari spa, kita akan
mendapatkan relaksasi dan penampilan yang
lebih dari sebelum masuk spa.”
Sejak dibuka dua tahun lalu, perry
mengaku pengunjungnya sudah mencapai
ratusan orang, dengan rata-rata pengunjung
pada hari biasa antara 15-20 pengunjung, dan
20-30 orang pada akhir pekan. “Yang menarik
dari Ermest Gaya Spa, tamu ekspatriat lebih
dari 50%, terutama warga negara Jepang, Korea, Asia pada umumnya dan Eropa,” jelas
Perry yang enggan memaparkan nilai investasi
spa milik ia dan rekan-rekannya. Padahal,
awalnya ia hanya ingin membidik lingkungan
sekitar Sudirman. “Tapi, ada pula pengunjung
yang mengetahui dari temannya dan ingin
mencoba yang baru,” tambahnya kembali.
Memberikan image yang baik dan pelayanan yang membuat pelanggan merasa puas
adalah tujuan Ermest Gaya Spa. “Kita akan
buat pelanggan merasa perlu kembali ke
tempat ini tidak lagi sekedar relaksasi,
melainkan sudah menjadi perawatan berkelanjutan,” tukas Perry kembali. Selain itu,
Ermest Gaya Spa juga hanya membatasi 4 tamu
untuk satu therapist, untuk memberikan hasil
maksimum setiap therapist kepada pengunjung. “Kita buka dari pukul 8 pagi sampai 8
malam. Kalau kita tambah jam kerja therapist, takut kerjanya tidak optimal,” Perry
menjelaskan.
Bagi pelanggan yang hadir dan
ingin menikmati relaksasi di spa,
terlebih dulu dilakukan cek kesehatan. “Kalau memiliki keluhan
dalam medis, kita akan melarang
relaksasi yang akan memicu keluhan tersebut,” jelas Nisma, salah seorang therapist dari 12 therapist yang ada di Ermest Gaya
Spa.
Setelah dicek kesehatan,
pengunjung bisa memilih paket
atau treatment yang dia inginkan.
Bagi pengunjung yang datang
hanya ingin mengunting rambut,
creambath atau facial, bisa melakukan treatment dengan biaya
minimal Rp95 ribu. Namun, jika ingin melakukan treatment per paket, ada beberapa paket
yang ditawarkan Ermest Gaya Spa. Paket Relax Gaya, pengunjung akan dimanja dengan
perawatan body massage, advance facial, treatment dan shampoo dan blow.
Atau jika ingin melakukan body massage,
luxury bath dan body scrub, bisa mencoba
paket Spa Gaya yang biayanya sebesar Rp265
ribu selama 2 jam lebih. “Paket Spa Gaya lebih
banyak diminati kaum laki dan perempuan,”
tutur Nisma yang mengaku tempat ini seringpula dikunjungi pasangan suami istri dan anakanak usia 12 tahun ke atas untuk berbagai
paket„
28
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
K i a t
DELEGASI
M
endelegasikan atau pelimpahan pekerjaan pada babawahan, seringkali dipandang sebagai suatu keuntungan atau fasilitas yang dimiliki oleh seorang
pemimpin. Namun cukup mengejutkan mengetahui ternyata
tidak semua menyukai dan mempergunakannya, saat menjadi
pemimpin.
Ada beberapa alasan yang mendasari atasan sehingga tidak
melakukan pendelegasikan pekerjaan:
z Tidak mengerti pekerjaan apa yang harus di delegasikan
z Tidak yakin bawahannya dapat mengerjakan sesuai standart
kerjanya
z Menganggap bila dikerjakan sendiri akan lebih cepat selesai
z Tidak percaya terhadap kemampuan, pengetahuan dan
keahlian kerja bawahan
z Bawahannya semua telah cukup sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing
z Tidak mengerti cara mendelegasikan pekerjaan dengan efektif
z Khawatir bila mendelegasikan pekerjaan, dirinya sendiri tidak
melakukan apa-apa.
Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi. Pada beberapa perusahaan, atasan justru mempergunakan pendelegasian pekerjaan sebagai alat “penyundul” posisi. Dengan menunjukkan
bahwa bawahannya dapat mengerjakan sebagian pekerjaannya
dengan baik, maka atasan memiliki alasan untuk meminta
tanggung jawab yang lebih. Otomatis, dengan berkembangnya
lingkup pekerjaan yang dikerjakan, atasan tersebut pun dapat
berharap mendapatkan penilaian kinerja yang baik dan
promosi.
Pendelegasian tidak hanya melulu mencangkup pelimpahan
pekerjaan pada bawahan, tapi juga harus merupakan
pembangunan iklim kerja berdasarkan kepercayaan serta
merupakan proses peningkatan motivasi kerja pegawai. Terasa
sulit memang, namun bukan berarti tidak dapat dipelajari. Agar
tercapai, berikut beberapa langkah strategis sederhana yang
dapat dilakukan para atasan.
1. Menganalisa pekerjaan
Kenali pekerjaan tersebut, termasuk seberapa penting dan
kapan pekerjaan tersebut harus selesai.
z Tentukan pembagian porsi yang akan diberikan pada bawahan
dan yang akan dikerjakan sendiri.
z Tentukan pula sejauh apa karyawan tersebut memiliki otoritas
dan tanggung jawab terhadap penyelesaian pekerjaan yang
diberikan
z Pekerjaan yang diberikan harus cukup menantang dan
sebaiknya dapat merupakan bagian dari proses pengembangan
karyawan tersebut
z
2. Menganalisa bawahan
Cek pekerjaan yang sedang dilakukan bawahan Anda saat
ini. Berusaha realistis untuk mengukur kemampuan bawahan
dan menyesuaikan jumlah pekerjaannya agar semua dapat
selesai tepat waktu.
z Kenali kompetensi yang dimiliki bawahan, termasuk
pengetahuan dan keahliannya, juga kemampuan dalam
mengelola berbagai sumber daya dalam menyelesaikan tugas.
z Usahakan agar pekerjaan yang akan dilimpahkan selaras
dengan yang saat ini sedang dilakukan
z Komunikasikan apa yang akan didapat oleh karyawan dari
pengerjaan ini. Kaitkan dengan program pengembangan karir.
z Ingat bahwa mencoba menguji kemampuan dengan
memberikan banyak tambahan pekerjaan bagi karyawan adalah
hal positif. Tapi bila tidak dilakukan dengan baik dapat
menurunkan motivasi mereka dan menimbulkan stres.
z
3. Menyepakati suatu sistim monitoring
Libatkan karyawan dalam pembuatan sistim monitoring
Sepakati target serta waktu pencapaian
z Bila diperlukan bagilah pekerjaan menjadi beberapa tahap
z Definisikan bersama dengan jelas kriteria sukses dan standar
kerja yang diharapkan
z Sepakati waktu untuk meninjau kemajuan projek.
z
z
4. Tentukan iklim kerja yang ingin terbentuk
z Dengarkan ide yang dikemukakan oleh karyawan, berkaitan
dengan pekerjaan baru tersebut. Seringkali karyawan melihat
dari perspektif positif yang berbeda.
z Tetap membuka komunikasi dan diskusi
z Berikan semangat, masukan dan nyatakan pujian secukupnya
selama proses, sehingga karyawan merasa dihargai
z Jangan terlalu mencampuri pekerjaan sebelum masa
peninjauan projek, kecuali bila sangat mendesak. Usahkan
terbangun rasa saling percaya
z Pergunakan kesempatan ini untuk melakukan pembimbingan
serta peningkatan keahlian dan pengetahuan karyawan
5. Tinjau kemajuannya
z Lakukan proses peninjauan hasil kerja secara disiplin dan
berkala, sesuai jadwal yang telah disepakati
z Usahakan membantu melalui pemberian pertanyaan agar
karyawan berproses dan berpikir, daripada langsung
memberikan jawaban ataupun jalan keluar
z Jadian kriteria sukses yang telah disepakati sebelumnya
sebagai acuan meninjau pekerjaan yang telah selesai dilakukan
z Bahas pelajaran dan kompetensi yang telah didapat oleh
karyawan melalui penyelesaian pekerjaan ini
Mintalah pendapat karyawan mengenai bagaimana Anda
menjalani peran Anda selama ini. Pertimbangkan masukan
tersebut untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam
pelimpahan pekerjaan di masa mendatang„
T i p s P r a k t i s
Bos
Galak
Tak
Karuan?
Bagaimana Jika Jadi Bawahannya?
A
WAS, JANGAN BERDIRI DI DEPAN
PINTU. BOSS GALAK! Dengan kreatif
karyawan divisi suatu perusahaan
membuat papan peringatan yang dicetak
rapi di karton, lengkap dengan karikatur
wajah si boss yang diberi kalung dobberman.
Peringatan itu ditempel di pintu ruangan
sang boss yang sedang bercuti 2 minggu
ke luar negeri. Awalnya kegiatan itu jadi
hiburan menarik bagi para karyawan di situ.
Namun suatu pagi, belum genap 2 minggu,
sekretaris sang boss hampir mati berdiri
mendapati bossnya sudah berada di ruangannya. Sementara papan peringatan masih
tertempel manis di pintunya. Apa yang mesti
ia sampaikan pada karyawan lain yang
belum datang???
Meski kisah di atas bukan cuma cerita,
artikel ini tidak membahas bagaimana nasib
para karyawan iseng tersebut. Tapi bagaimana jika Anda memiliki boss yang galak
luar biasa? Mau sering-sering ketemu, pasti
enggan. Tidak bertemu, susah juga mengkoordinasikan pekerjaan. Nah, berikut ini
adalah pandangan beberapa orang yang
mungkin bisa jadi referensi Anda:
Batara,
Assistant Manager Corporate
Communication
Wah, belum pernah tuh punya boss galak.
Tapi kalaupun iya, ya… bagaimanapun saya
harus tetap berkomunikasi dengan dia. Jika
galaknya relevan dengan pekerjaan, katakanlah jika dia marah memang karena saya
dan gak ada isinya, forget
it! Sudah pasti saya gak
akan menganggap dia
penting. Saya bisa saja
kerja sendiri dan berkoordinasi dengan team
kerja tanpa dia. Saya juga
bisa report langsung ke
atasannya dia lagi!
melakukan kesalahan, saya bisa terima. Tapi
kalau galaknya asal galak dan tidak mempedulikan penjelasan saya atau pekerjaan
yang sudah saya kerjakan dengan benar, ya
saya tinggal saja. Bukan resign lho…, tapi
lagi dia marah-marah, saya ngeloyor pergi.
Biar aja dia marah-marah sendirian!
Nuniek, Manager Product
Communication
Amit-amit deh kalau saya punya boss
galak. Buat saya sih yang penting apa dia
kompeten di bidangnya. Apa dia memang
perform? Kalau iya dan dia galak atau marah
sebagai kritik membangun untuk saya, saya
gak keberatan. Tapi kalau dia galak doang
Rudy, Kepala Divisi
Operasi
Saya pernah punya
boss galak. Bukan cuma
itu, malah otoriter, kalau
sedang berdiskusi dan
berargumentasi selalu
ditutup dengan kata-kata:
pokoknya saya maunya gitu…. Saya menyikapi sikap boss begitu dengan diam saja.
Buat apa dilawan? Yang saya lakukan adalah
mencari orang lain selevel dia yang bisa
membantu saya memberikan penjelasan
pada boss galak itu. Biar saja dia tahu dari
temannya kalau apa yang saya kerjakan itu
semua ada penjelasannya, cuma dia saja
yang tidak mau dengar.
Anto, Sales Departement Head
Capek banget kalau punya boss galak.
Yang jelas saya berupaya meminimalisasi
komunikasi langsung dengan dia. Mending
pakai memo atau email saja. Kalau dia perlu,
toch dia akan panggil saya. Paling tidak kalau
dia memanggil kan saya bisa mempersiapkan diri kira-kira apa yang bakal dia nyanyiin
buat saya.
Mulyati, Promotion Department Head
Saya pernah punya boss galak. Orangnya
pinter memang, tapi suka sok pinter juga
untuk hal-hal yang dia tak seberapa tahu.
Apa yang saya lakukan? Kalau saya membuat kesalahan ya saya terima saja dimarahi
dia. Tapi kalau tidak, biasanya saya punya
batas toleransi 3 kali. Sekali sampai 3 kali
dia marah yang tak beralasan, saya masih
coba bicara baik-baik.Tapi lewat dari 3 kali
dia begitu, saya lawan. Saya pernah protes
lebih keras daripada cara boss saya marah.
Cuma supaya dia sadar kalau dia gak bisa
terus-terusan semena-mena sama orang
lain, biarpun itu bawahannya.
Agus, Asisten Direksi
Punya boss galak? Kayaknya itu nasib
saya. Dari dulu saya selalu bekerja dengan
boss yang galak. Mungkin karena itu saya
jadi biasa. By nature saya adalah orang yang
outspoken. Bicara apa adanya. Jadi kalau
saya salah dimarahi ya biasa. Kalau tak salah
dimarahi ya saya jelaskan duduk persoalannya. Kalau dia tidak mau mendengar saat
marah, biasanya dia resapi sesudahnya.
Segalak apa sih yang namanya boss?
Pastinya dia gak makan orang kayak macan
...„
29
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
R e s t & R i l e k s
Rudy Hadisuwarno
S
epintas, mellihat tutur katanya yang
santun dan lembut, orang melihat
Rudy Hadisuwarno tidak mempunyai
energi yang cukup untuk mengembangkan
bisnisnya yang terus menggurita. Namun,
pada kenyataannya bisnis salon, penjualan
produk yang berkaitan dengan tata rambut
dan Training Center terus berkembang
pesat. Ini tidak lepas dari kepiawian Rudy
menempatkan diri sebagai entrepreunership
sekaligus entertainer.
Namun kisah sukses Rudy bukan terjadi
dalam semalam, atau sim salabim. Memulai
usahanya dengan menyulap garasi orangtuanya menjadi salon, jebolan semester VI
Fakultas Arsitektur Universitas Trisakti ini,
terus bertekun menggeluti dunia tata
rambut. Sedikit demi sedikit hasil ekspansinya membuahkan hasil. “Alasan saya
menggeluti dunia tata rambut dan meninggalkan bangku sekolah karena alasan yang
benar-benar simple, mencari duit,” ujar
Rudy.
Mengelola usaha yang bersentuhan
langsung dengan manusia, tentu bukan
pekerjaan gampang. Ini pula yang dihadapi
dan disadari Rudy sejak awal mengembangkan usahanya. Sebagai pemilik usaha salon, yang merupakan usaha sektor jasa,
kecakapan dan keterampilan para pekerja
jelas menjadi prioritas.
Namun itu saja, menurut Rudy belumlah cukup. Karena itu, selain membekali
keterampilan teknis para pekerjanya melalui
divisi Training Center, Rudy juga menekankan agar setiap karyawan memiliki sikap dan
perilaku yang sopan dan baik di depan para
pelanggan. “Hal ini memang tidak secara
khusus diajarkan, tapi sudah menjadi
prioritas kami bahwa kepuasan pelanggan
dalam segala hal menjadi tujuan utama
perusahaan yang harus dipahami dan
dilaksanakan oleh setiap karyawan,” kata
Rudy yang membawahi sedikitnya 400 or-
ang staf.
Dalam wawancara khusus dengan Human Capital, beberapa waktu lalu, Rudy
mengisahkan bahwa pada awalnya, Training
Center yang ia kembangkan hanya dikhususkan untuk melatih keterampilan para
karyawannya. Namun dalam perkembangannya kemudian, sekolah pengembangan
keterampilan di bidang salon tersebut juga
diminati oleh masyarakat umum. Melihat
antusiasme masyarakat yang begitu besar,
akhirnya Rudy memutuskan bahwa sekolah
pendidikan tersebut dijadikan divisi usaha
tersendiri di luar bisnis salon yang ia geluti.
Namun, tujuan semula untuk mencetak
tenaga-tenaga terampil di bidang salon dan
tata rias tetap menjadi prioritas. Para
peserta didik yang mempunyai prestasi
bagus kemudian diseleksi untuk bisa
direkrut menjadi karyawan Rudy Salon, baik
milik Rudy sendiri maupun salon-salon yang
dikembangkan dengan cara franchise yang
per Desember 2003 mencapai 130 salon .
Sebelum diterjunkan ke lapangan kerja
mereka ditraining lebih lanjut. Materi yang
disampaikan, selain pendalaman bidangbidang teknis bidang salon, juga mengenai
visi dan misi perusahaan karena mereka
akan menjadi bagian dari perusahaan tempat
mereka bekerja„
30
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
B u r s a K e r j a
OUR CLIENT AN INDONESIAN‘S DISTRIBUTORS AND AFTER SALES SERVICE OF POWER SUPPLY & AIR CONDITIONING PRODUCT. DUE TO ITS RAPID
EXPANSION OF THEIR ORGANIZATION,
THEY ARE SEEKING HIGHLY MOTIVATED
AND ENTHUSIASTIC PEOPLE WHO WILL
THRIVE IN THEIR PROFESSIONAL CAREER AS:
SALES ENGINEER
z
z
z
Flexible & outstanding personality
Strong management &
communication skill
Have Telecommunication, Building
& Construction, and Industrial
network.
To apply for this role, you must be:
z Hold a University degree from
Mechanical/Industrial Engineering
from Polytechnic ITB or another
reputable university.
z Dynamic male, around 27– 35 years
of age, with at least 2 years of
experience in sales and marketing of
Air Conditioning/Chiller, Power Supply
and Heavy Equip ment are preferable.
z Customer satisfaction oriented,
willing to serve and be adaptable &
flexible in a dynamic environment.
z Able to work under pressure, to have
self-motivation and to work as a team
player in dynamic environment.
z Have an extensive know how of
the market, particularly in
Telecommunication, Building &
Construction and Industrial.
z Computer literacy & Fluency in
English both oral & written is a must.
z Have strong personality with good
analytical, communication and
interpersonal skills.
Outstanding career opportunities and
competitive remuneration package will
be given to those who meet the requirement above. Contact us if you believe
you meet these requirements and are
seeking a demanding position to find
challenging and exciting opportunities.
All replies will be treated in strictest confidence. Written applications, including
a detailed resume and recent photographs, should be addressed to:
IQ Recruitment & Training Specialists
Senior Executive Search
Jl. Kemang Timur Raya 998,
Jakarta 12730,
Fax.: 021 - 7197307
e-mail: [email protected] Website: http//
www.internationalquatropersisi.com
| S TA R T |
YOUR CAREER WITH US
We are global leader in outsourcing company. Our client
is one of Indonesia’s premier banking industry, the company is seeking ‘Innovative and Driven Individuals’ to fill
this challenging positions:
ACCOUNTING (ACC)
You should hold min. S1 degree from reputable university
preferably accountancy with min. GPA 2.75 (scale 4.0). An
open-minded professional with strong leadership & computer literate are highly considered.
ADMINISTRATION (ADM) / DATA ENTRY (DE)
You will be responsible to creates or set up file management system, input data, and manage all relevant data
and records. You should hold min. D1 degree from reputable university, with min GPA of 2.75. You should have high
attention to detail and hands on with standard computer
packages.
ATM MONITORING (ATM)
As ATM Monitor you should hold min. S1 degree from reputable university with min. GPA 2.75 (scale 4.0) majoring
computer. You should have min. 2 years experience in the
same position and able operate IBM AS/400 program is a
must.
CALL CENTER (CC)
You will be responsible to handle incoming call and complain from customer. You should hold min. D3 degree from
reputable university with min. GPA 2.75. Ideally, you have
min. 2 years experience as call center, preferably in banking industry. You must have excellent communication skill
with pleasant voice, high tolerance for stress, and willing to
work on shift schedule.
COLLECTION (COLL)
You will be responsible to collect credit card invoice from
customer. Ideally, you hold min. S1 degree from reputable
university with 2 years experience in the same position in
banking preferably in card center. You should have a good
communication & interpersonal skill, knowledge in banking industry, stress tolerance, and handle difficult client.
CREDIT OFFICER (C0)
As Credit Officer, you will responsible for processing loan
transaction (e.g appraisal, document verification, loan
agreement and disbursement, provide reporting internal
& BI). You should hold min. D3 degree from reputable university with min. GPA 2.75. Ideally, you have min. 1 years
experience demonstrated top performance in mass market credit management role in fields such as BPR, BRI unit
Desa, mass market consumer goods (low end electronic).
You should be a team player, concern for excellent, following procedure and able to building relationship.
CUSTOMER SERVICE (CS)
You will responsible to serve and handle complain from
customer. You should hold min. D3 degree from reputable
university with min. GPA 2.75. You should have excellent
communication and interpersonal skill, good administration skill and high attention to detail. You should also have
excellent customer orientation.
INFORMATION TECHNOLOGY (IT) / MIS
As an IT you should hold min. S1 degree from reputable
university with min. GPA 2.75 (scale 4.0) majoring computer.
You should be able create new or existing program, maintain data base system, and able to analyze data.
MARKETING / SALES (MKT/SLS)
Your main responsibility will be to offer and sell our client’s
product. You should hold min. D3 degree from reputable
university with min. GPA 2.75. Ideally, you have min. 2 years
experience in the same position, preferably for banking
industry. You should also have excellent communication
and negotiation skill. An open-minded professional with
high initiative and creativity are highly preferred.
PHONE OPERATOR (OPR) / RECEPTIONIST (RCP)
You will be responsible to handle incoming call or guest.
You should have min. 2 years experience in the same position. Ideally, you hold min. D3 degree with min. GPA of 2.75.
You should be a nice person with customer orientation,
having good communication skill and ability to learn.
SUPPORT OFFICER (SO)
You will responsible to seek and open new channel for new
outlet. You should hold min. D3 degree from reputable university with min. GPA 2.75 located in Karawang, Bandung,
Tasikmalaya, and Surabaya. You should have excellent communication and interpersonal skill, good analyzing skill and
high attention to detail, and experienced in banking industry preferably in BPR or BRI unit Desa min. 1 year.
TELLER (TLR) / GREETER (GRT)
As Teller / Greeter, you will be responsible to serve cash
and non cash transaction, including to handle incoming
customer. You should have min. 2 years experience in the
same position, preferably in banking industry. Ideally, you
hold min. D3 degree from Economy, Accountancy or Finance
with min. GPA of 2.75. You must have high attention to
detail and integrity, and able to learn new things.
UNIT MANAGER (UM)
As Unit Manager, you will responsible for P & L of our unit
focused on micro businesses, small businesses and lower
income consumers. Manages sales, books and operations.
Can approve loans up to IDR50M. You should hold min. S1
degree from reputable university with min. GPA 2.75 and
with 3 years experience in management role of Sub Branch,
BPR or BRI unit Desa. You must have high integrity, able to
demonstrate core values of DSP, good leadership skill and
target oriented. Your location must be in Rengasdengklok.
VERIFICATION (VER)
As Verification Staff, You will be responsible to verify data,
based on incoming application. You should hold min. D3
degree from reputable university with min. GPA 2,75. Ideally, you have min. 2 years experience as verificator, preferably in banking industry. You must have excellent communication skill and good analytical thinking.
The successful candidate will be offered competitive remuneration package and opportunity to work for wellknown company. To apply, please submit your complete
application with brief description about your achievement
& job description, within 2 weeks to:
PO BOX 8231 JKS SB
Please indicate the position applied
on upper left of your envelope.
Tarif Iklan BursaKerja Rp10.000 per milikolom
Segera hubungi bagian iklan HumanCapital
Telp. 021-5220575
Fax. 021-52901024
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
B u r s a K e r j a
ASSISTANT MANAGER - DTH SALES (ASM)
z University Degree in any major
z Experience in managing sales people for about three (3) years
z Able to operate computer, good command in English
ACCOUNT EXECUTIVE - HOTEL Sales (AE Htl) for Jakarta & for Bali Based
z At least a D3 certificate-holder (of all departments)
z Has at least two (2) years experience as sales executive
z Deal-oriented with good business contacts, hotel industry in Bali – Lombok (for Bali based)
z Deal-oriented with good business contacts, hotel industry & hospital (for Jakarta based)
z Able to operate computer, good command in English
z In possession of A-driving license
ACCOUNT EXECUTIVE – Direct To Home Sales (AE DTH)
(for : Makasar, Bali, Bandung, Medan, Semarang based)
z At least a D3 certificate-holder (of all departments)
z Has initiative and can work independently, tough
z In possession of A-driving license
z Has at least one (1) year experience in the field of sales and service
z Able to operate computer, good command in English
ADMINISTRATION STAFF (ADM)
(for : Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Palembang, Pekan Baru, Samarinda, Banjarmasin, Makasar, Menado, Bandung, Cirebon,
Malang, Batam, Balikpapan, Lampung, Pontianak, Padang)
z Female, 22 – 24 years old
z At least D3 certificate holder in Administration
z Able to operate computer (at least Word & Excel)
z Understand in English
z Has at least one (1) year experience in the same field
PROMO SUPPORT COORDINATOR (PSC)
z University Degree in Communication, Business Administration or Marketing
z Has at least two (2) years experience on advertising & promotion / media planner
z Understand in English
z Able to operate computer
CUSTOMER SERVICE RESPRESENTATIVE (CSR)
z At least a D3 certificate-holder (of all departments)
z Friendly, personable, and has the desire the delight customer
z Energetic, a team-player and able to work under increasing pressure
z Fluent in English
z Able to operate computer (at least word & excel)
IT CONTROLLER (ITC)
z D3 – S1 of Computer Science
z Experience in Network, UNIX Specialist, Hardware
PRESENTATION STAFF (PRS)
z Minimum D3 certificate holder on Technical Electronic/ Telecommunication
z Able to speak English, communicative, able to operate computer (at least word & excel),
z Experience is not considered as most important
TRACKING & TELEMETRI & CONTROL OPERATION (TT & C)
z D3/ S1 certificate holder on IT/ Telecommunication/ Instrumentation
z Having a depth knowledge in UNIX/ Solaris operating System
z Well proven experience in C and Scripting language programming
z Good understanding of object-oriented concept.
TRAFFIC & MEDIA MANAGEMENT STAFF (TMM)
z D3 - S1 of Management informative/ Business Administration
z Fluent in oral & written English - Indonesia
z Has at least one (1) years experience
z Excellent English & Indonesia
z Enjoy entertainment — movie
z Creative, Team Work
BROADCAST ENGINEERING STAF (BES)
z D3 – S1 of Telecommunication Science
z Has at least one (1) year experience
z Knowing about MPEG-2, Audio-Video, and Signal RF
BROADCAST NETWORK CONTROLLER (BNC)
z Minimum D3 certificate holder of Computer Science or Information Technology
z Experience in UNIX OS, Oracle, Informix, SQL, Net, Object Store, C++,
DIBUTUHKAN SEGERA
SALES TOLL FREE (FREELANCE)
z Pria/ Wanita
z Pendidikan minimal SMU / sederajat
z Mampu berkomunikasi dengan aktif dan lancar
z Mampu berbahasa Inggris aktif / pasif
TROUBLE SHOOTER (TS)
z Minimal pendidikan STM jurusan Elektronika atau D3 jurusan Tehnik Elektronika
z Mempunyai pengetahuan serta pengalaman minimal 1 tahun dibidang pemasangan Parabola atau Sistem Komunikasi TVRO
z Lebih diutamakan yang memiliki SIM C dan memiliki kendaraan roda dua (motor)
z Bersedia bekerja di lapangan dan melakukan instalasi di rumah pelanggan
Please sent your application with CV, copies of supporting document,
and mark on the left side of the envelope the code of position you are applying, to:
HUMAN RESOURCE DIVISION
PT. MATAHARI LINTAS CAKRAWALA
Wisma INDOVISION 11 floor
Green Garden Block. Z/ III
Jakarta 11520
[email protected]
ONLY SHORT LIST CANDIDATES WILL BE NOTIFIED
31
32
| HumanCapital | Nomor 03 | Tahun 2004 |
R e h a l
Cara Perusahaan Terbaik Asia Memberlakukan Karyawan
Judul
Leadership & Talent in Asia
How the Best Employers
Deliver Extraordinary
Performance
Penulis
Mick Bennett dan Andrew Bell
Penerbit
John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd
Halaman
223 halaman, termasuk index
A
sia? Banyak orang yang yakin benua
ini berbeda dibandingkan benuabenua lainnya, termasuk di bidang
manajemen. Benarkah? Rasanya tidak.
Kultur masyarakat Asia memang beda
dengan kultur masyarakat Barat, namun
kultur lebih mempengaruhi cara menerapkan filosofi manajemen ketimbang menentukan filosofi manajemen itu sendiri.
Terbukti, studi konsultan manajemen
Hewitt Associates terhadap seluruh CEO
perusahaan di kawasan Asia mendapatkan
isu bisnis kunci yang sama dengan kawasan lainnya, yaitu:
(a) Mewujudkan kepemimpinan organisasi bermutu
tinggi
(b) Kelanggengan dalam sebuah lingkungan yang terus berubah
(c) Menciptakan
sebuah kultur
organisasi
yang memungkinkan terwujudnya kinerja yang
tinggi
(d) Kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkan talenta
bermutu tinggi
Lantas, kalau buku ini berjudul Leadership & Talent in Asia, tidak berarti Asia itu
benar-benar beda. Judul Asia dalam buku
yang ditulis Mick Bennett dan Andrew Bell,
kedua-duanya adalah eksekutif Hewitt Asia,
lebih karena buku ini dihasilkan dari sebuah
riset ekstensif sejak tahun 2000 terhadap
lebih dari 250.000 karyawan ratusan
perusahaan Asia. Perusahaan-perusahaan
yang disurvei juga tak tanggung-tanggung:
perusahaan-perusahaan terbaik di kawasan
Asia, baik perusahaan multinasional
Nomor
04
Th. 2004
MENGUPAS HABIS
MASALAH
REKRUTMEN
Rekrutmen merupakan langkah awal yang
sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Lantas,
bagaimana strategi perusahaan melakukan rekrutmen?
Apa saja yang harus diperhatikan? Sejauh mana peran
tes psikologi dan alat bantu lainnya dalam
mendapatkan kandidat yang dibutuhkan? Apa saja
persyaratan yang diminta perusahaan dari kandidat
yang mereka rekrut? Bagaimana pula perusahaan
merekrut manajer dan eksekutif?
Dapatkan jawabannya di rubrik FOKUS
edisi Nomor 04, Tahun 2004.
Dan, banyak tema menarik dan penting lainnya.
MEDIA SATU-SATUNYA
MENGUPAS TUNTAS MASALAH SDM
maupun perusahaan lokal.
Kesimpulannya, dalam semua indikator
kinerja bisnis – termasuk pendapatan perusahaan per karyawan – perusahaan-perusahaan terbaik jauh mengungguli perusahaan-perusahaan rata-rata. Atas dasar
temuan tersebut, kedua penulis mengkaji
berbagai rahasia manajemen perusahaanperusahaan terbaik itu dan membeberkannya dalam buku terbaru ini.
Secara ringkas, berikut adalah 6 karakteristik kunci yang hanya didapatkan pada
perusahaan-perusahaan terbaik, yang
dikupas penulis. Pertama, perusahaan
terbaik memiliki fokus yang tajam dan jelas,
berbagi secara sederhana namun efektif
dengan para karyawan. Kedua, perusahaan
terbaik tak kenal lelah mengembangkan
talenta terbaik dan berinvestasi untuk
membuat mereka terus berada di depan.
Ketiga, perusahaan terbaik memberi
inspirasi dan mempertahankan gairah
untuk prestasi yang hebat.
Keempat, perusahaan terbaik mempertajam kekuatan dari kultur dan menciptakan
lingkungan kinerja yang manusiawi. Kelima,
perusahaan terbaik menghindarkan kerumitan dengan fokus pada hal-hal yang
terpenting saja. Keenam, perusahaan
terbaik memperlihatkan hormat terhadap
karyawan dengan memberlakukan mereka
akuntabel untuk hasil dan menghargai prestasi mereka dengan antusias.
Buku ini terdiri dari 3 bagian besar,
masing-masing dengan bab tulisan terkait.
Bagian pertama mengupas tema Leadership
& Talent. Tema ini dibagi dalam 4 bab, yaitu
It begins with leadership, Clarity of purpose,
Creating a compelling work experience, dan
Aggressive talent management. Bagian
kedua, mengambil tema Engagement and
Execution, terdiri dari 3 bab tulisan, masingmasing berjudul Developing and engaged
workforce, Shaping a high-performance culture, dan Managing performance: the key
to execution. Bagian ketiga, berjudul A
Framefwork for sustainability, yang berisi 3
bab – Where to go from here, Methodology
and judging, dan Conclusion.
Esensi utama dari keberhasilan perusahaan terbaik mengelola para karyawan
terletak pada kualitas kepemimpinan
perusahaan. Buku ini menegaskan ulang
betapa strategisnya faktor kepemimpinan
tersebut. Sebuah buku yang sangat layak
dibaca para CEO, eksekutif, manajer, calon
pemimpin, dan karyawan sekalipun„
Download