analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja pada kelompok

advertisement
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI
KINERJA PADA KELOMPOK INDUSTRI TEKSTIL DARI
TAHUN 2003-2005
Studi survey pada beberapa perusahaan Industri tekstil
(yang Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam
Menempuh Ujian Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Pada
Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama
Disusun Oleh :
NAMA
: Asti Martha Aulia
NRP
: 0102178
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
Terakreditasi (Accredited)- Peringkat “A”
SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Nomor : 039/BAN-PT/AK-VII/S1/XI/2003
Tanggal 6 November 2003
2007
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI
KINERJA PADA KELOMPOK INDUSTRI TEKSTIL DARI
TAHUN 2003-2005
Studi survey pada beberapa perusahaan Industri tekstil
(yang Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta)
DRAFT SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam
Menempuh Ujian Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Pada
Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama
Disusun Oleh :
NAMA
: Asti Martha Aulia
NRP
: 0102178
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Diana Sari, S.E., M.Si., Ak.
Mengetahui,
Pjs.Dekan Fakultas Ekonomi,
Ketua Program Studi Akuntansi,
(H.Supriyanto Ilyas, S.E., M.Si., Ak)
(Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak)
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Asti Martha Aulia
NRP
: 01.02.178
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 4 Maret 1985
Menyatakan bahwa skripsi dengan judul : “Analisis Laporan Keuangan untuk
Menilai Kinerja pada Kelompok Industri Tekstil dari Tahun 2003-2005”,
adalah benar dan hasil karya sendiri. Bila terbukti tidak demikian, saya bersedia
menerima segala sanksi yang telah ditetapkan. Demikian skripsi ini dibuat
sebagaimana mestinya dan benar adanya.
Bandung, 26 Maret 2007
Asti Martha Aulia
ABSTRAK
Dengan berkembangnya dunia usaha yang semakin maju, banyak
menimbulkan persaingan yang ketat diantara perusahaan sejenis. Untuk dapat
bertahan atau bahkan mampu berkembang dalam persaingan tersebut, perusahaan
harus mencermati kondisi dan kinerja perusahaan. Untuk mengetahui kondisi dan
kinerja perusahaan, maka diperlukan suatu analis yang tepat. Media yang dipakai
untuk menilai kinerja perusahaan adalah laporan keuangan.
Berdasarkan uraian diatas penulis menyusun skripsi ini dengan judul
“Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai Kinerja pada Kelompok Industri
Tekstil dari Tahun 2003-2005”. Tujuan dilakukannya penelitian dengan objek
kelompok Industri Tekstil yang terdiri dari PT Polychem Indonesia (ADMG),
PT Sunson Textile Manufacture (SSTM), dan PT Panasia Indosyntec (HDTX)
yang dituangkan dalam skripsi ini adalah untuk menilai kinerja perusahaan pada
kelompok Industri Tekstil.
Penulis menggunakan metode deskriptif analisis, dan pendekatan metode
survey. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian
lapangan ke Pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Widyatama, selain itu
menggunakan metode kepustakaan dengan cara mempelajari buku-buku yang
berhubungan dengan masalah yang diteliti. Adapun analisis laporan keuangan
yang dilakukan yaitu dengan menggunakan analisis rasio.
Berdasarkan analisis, diperoleh kesimpulan bahwa kinerja terbaik dilihat
dari rasio profitabilitas pada tahun 2003 dimiliki oleh PT Sunson Textile
Manufacture, sedangkan untuk tahun 2004 dan tahun 2005 kinerja terbaik dimilki
oleh PT Polychem Indonesia. Dilihat dari rasio pertumbuhan kinerja terbaik dari
tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 dimiliki oleh PT Polychem Indonesia.
Dilihat dari rasio penilaian price to earning ratio (PER) kinerja terbaik tahun
2003 dimiliki oleh PT Sunson Textile Manufacture, sedangkan untuk tahun 2004
dan tahun 2005 kinerja terbaik dimiliki oleh PT Polychem Indonesia. Dilihat dari
rasio penilaian market to book value (MBVR) pada tahun 2003 sampai dengan
tahun 2005 secara umum kinerja terbaik dimiliki oleh PT Panasia Indosyntec.
Saran yang diberikan oleh penulis secara umum terhadap PT Polychem
Indonesia (ADMG), PT Sunson Textile Manufacture (SSTM), dan PT Panasia
Indosyntec (HDTX) yang merupakan perusahaan yang tergabung dalam
kelompok industri tekstil agar perusahaan yang bersangkutan dapat terus lebih
meningkatkan kinerja perusahaannya dengan meningkatkan penjualan ekspor,
menerapkan efesiensi biaya, dan juga lebih berhati-hati dalam menentukan foreign
exchange atau transaksi kurs mata uang asing, dan dapat melakukan investasi
sesuai dengan skala prioritas. Agar dapat menduduki peringkat yang baik, dan
dapat bersaing secara sehat dengan perusahaan sejenis lainnya.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim,
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul:
“Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai Kinerja pada Kelompok Industri
Tekstil dari Tahun 2003-2005” untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai
gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi di
Universitas Widyatama.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurna, akan tetapi dengan kemampuan terbatas, penulis berusaha untuk
menyusun skripsi ini sebaik mungkin dengan harapan dapat diambil manfaat yang
sebesar-besarnya.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan
bimbingan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini dengan hati yang tulus penulis ingin menyampaikan rasa terima
kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Ibu Diana Sari, S.E., M.Si., Ak., selaku Dosen Pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan
pengarahan serta petunjuk kepada penulis selama masa penyusunan sampai
selesainya skripsi ini.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Koesbandijah A.K., M.S., Ak., selaku Ketua Badan Pengurus
Yayasan Widyatama.
3. Bpk Dr. H. Mame S. Sutoko, Ir., DEA., selaku Rektor Universitas Widyatama.
4. Bpk H. Supriyanto Ilyas, S.E., M.Si., Ak., selaku Pjs Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Widyatama.
5. Bpk Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak., selaku Ketua Program Studi Akuntansi
S1 dan D3 Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
6. Bpk Wedi Rusmawan Kusumah, S.E, M.Si., Ak., selaku Sekertaris Program
Studi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
7. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama yang telah
memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis serta seluruh staf karyawan
Universitas Widyatama.
8. Pimpinan Pojok BEJ Universitas Widyatama, yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
9. Mama dan Papa tercinta yang senantiasa memberikan doa, dukungan,
perhatian, dan kasih sayang, serta kesabaran dalam membesarkan dan
mendidik penulis.
10. Kedua Kakak tercinta Boyan dan Enon serta adik Febri yang selalu
mendo’akan, memberikan semangat, dan memberikan canda tawa bagi
penulis.
11. Denny (sobler) abang tersayang yang selalu bersabar dalam menghadapi
penulis dan memberikan yang terbaik bagi penulis, terimakasih untuk segala
perhatiannya.
12. Kedua sepupu Akbar dan Azwar, yang selalu membuat hari-hari penulis penuh
makna.
13. Keluarga besar Amih Oyangsih dan Keluarga Besar Hj.Sasmita.
14. Keluarga Besar Bpk Pangestiono : Ibu Tati, Bang Arka, Gogon, Jarwo, Mae.
Terima kasih sudah mau direpotkan penulis selama penyusunan skripsi ini.
15. Mba Nas yang selalu mau mendengarkan curhatan penulis, makasih ya Mba.
16. Sahabat dekat : Dhea, Opay, Wine, Lionk, Leni. Terimakasih buat doa dan
dukungan nya, semoga kenangan dan persahabatan kita tidak akan terlupakan.
17. Teman seperjuangan : Citra, Keiz, Utiek, Fitri, Lisa, Ella.A, Iwa, Pipit, Meta,
Nana, Angel, Medania, terima kasih untuk dukungannya.
18. Anak-anak Pos : Arief, Hiery, Koi, Kamal, Sophie, Feby, Yoni, Firman, Aki,
Dally, Dea, Devi, Dik-dik, Nana, Ruben, Tresna&Pepep, dan semuanya yang
tidak bisa disebutkan satu per satu.
19. Seluruh teman-teman kelas E Ak.02 : Abay, Aini, Lilis, Ira, Ella, Septi, Maya,
Widya, Cachie, Prilla, Raymond, Ragam, dan semuanya terima kasih atas
kenangannya.
20. Anak-anak Ecomoda : Adit, Awal, Abay, Iman, Gay, Anggi, Elang, Egi, Irna,
Peggi, Ridwan, Thuram, Handi, Edit, Widya, Bass&Ia, Sapta&Ida,
Dimas&Ria, Ian&neng Op (awet terus ya), Manajer dan anggota-anggota baru.
21. Anak-anak ‘BudHa’ SMANSA : Maria, Ludi, Sendi, Teguh, Deni Dhut,
Tahoo, Andri, Faisal, Dadan, Helmi, Icha, Puput, Bule.
22. Seluruh teman-teman Universitas Widyatama yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, terima kasih atas kebaikan yang telah kalian berikan.
23. Semua orang yang peneliti kenal, yang tidak dapat disebutkan satu persatu,
terima kasih atas doa dan segala bantuan yang telah diberikan kepada peneliti
selama penyusunan skripsi ini.
Akhirnya sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam segala hal. Semoga amal ibadah yang diberikan
mendapatkan ridho Allah SWT. Amien.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pihak yang memerlukan.
Bandung, 26 Maret 2007
Penulis
Asti Martha Aulia
DAFTAR ISI
ABSTRAK ..................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. v
DAFTAR TABEL ......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 3
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ................................................... 3
1.4 Kegunaan Hasil Penelitian ......................................................... 3
1.5 Kerangka Pemikiran ................................................................... 4
1.6 Metodologi Penelitian ................................................................ 7
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Analisis ..................................................................... 8
2.2 Laporan Keuangan ..................................................................... 8
2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan ....................................... 9
2.2.2
Tujuan Laporan Keuangan ............................................. 10
2.2.3
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan .................... 12
2.2.4
Pemakai Laporan Keuangan ........................................... 13
2.2.5
Jenis Laporan Keuangan ................................................ 16
2.2.6
Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan .................... 21
2.3 Analisis Laporan Keuangan ....................................................... 23
2.3.1
Pengertian Analisis Laporan Keuangan ......................... 23
2.3.2
Tujuan Analisis Laporan Keuangan ............................... 24
2.3.3
Prosedur Analisis Laporan Keuangan ............................ 26
2.3.4
Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan ........... 27
2.4 Analisis Rasio Keuangan ........................................................... 30
2.4.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) ......................... 35
2.4.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) .................................. 37
2.4.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures) ............................ 37
2.4.4 Keunggulan
dan
Keterbatasan
Analisis
Rasio
Keuangan .......................................................................... 38
2.5 Kinerja ........................................................................................ 39
2.5.1 Definisi Kinerja ................................................................. 39
2.5.2 Pengukuran Kinerja ........................................................... 40
2.5.3 Manfaat Penilaian Kinerja Perusahaan .............................. 41
2.5.4 Alat Ukur Penilaian Kinerja Perusahaan............................ 42
2.6 Hubungan Kinerja
Perusahaan dengan
Analisis Laporan
Keuangan .................................................................................... 43
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian ......................................................................... 45
3.2 Gambaran Umum Perusahaan .................................................... 45
3.2.1 PT. Polychem Indonesia Tbk (ADMG) ............................ 45
3.2.2 PT. Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) .................. 47
3.2.3 PT. Panasia Indosyntec Tbk (HDTX) ................................ 49
3.3 Metode Penelitian ....................................................................... 53
3.3.1 Metode Penelitian yang Digunakan .................................. 53
3.3.2 Jenis dan Sumber Data ...................................................... 53
3.3.2.1 Jenis Data .............................................................. 53
3.3.2.2 Sumber Data .......................................................... 54
3.3.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................ 54
3.4 Operasionalisasi Variabel ........................................................... 55
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian .......................................................................... 56
4.1.1 Analisis Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia
Tbk (ADMG) .................................................................... 57
4.1.1.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) ............. 57
4.1.1.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) ...................... 62
4.1.1.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures) ............... 63
4.1.2 Analisis
Laporan
Keuangan
PT Sunson
Textile
Manufacture Tbk (SSTM) ................................................. 66
4.1.2.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) ............. 66
4.1.2.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) ...................... 72
4.1.2.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures) ............... 73
4.1.3 Analisis Laporan
Keuangan PT Panasia Indosyntec
Tbk (HDTX) ...................................................................... 76
4.1.3.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) ............. 76
4.1.3.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) ...................... 82
4.1.3.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures) ............... 83
4.2 Pembahasan ................................................................................ 87
4.2.1 Penilaian Kinerja dilihat dari Hasil Analisis Laporan
Keuangan ........................................................................... 87
4.2.1.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) ............. 87
4.2.1.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) ...................... 94
4.2.1.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures) ............... 96
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ................................................................................... 99
5.2 Saran .......................................................................................... 102
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Nama dan Kode Perusahaan .......................................................... 45
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian ............................................. 55
Tabel 4.1 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan ........................... 57
Tabel 4.2 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA) ............ 58
Tabel 4.3 Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan .......................................... 60
Tabel 4.4 Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE) ........................................ 61
Tabel 4.5 Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio) .................... 64
Tabel 4.6 Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market to Book
Value Ratio) ................................................................................... 65
Tabel 4.7 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan ........................... 67
Tabel 4.8 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA) ............ 68
Tabel 4.9 Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan .......................................... 69
Tabel 4.10 Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE) ........................................ 71
Tabel 4.11 Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio) .................... 74
Tabel 4.12 Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market to Book
Value Ratio) ................................................................................... 75
Tabel 4.13 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan ........................... 76
Tabel 4.14 Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA) ............ 78
Tabel 4.15 Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan .......................................... 79
Tabel 4.16 Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE) ........................................ 81
Tabel 4.17 Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio) .................... 84
Tabel 4.18 Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market to Book
Value Ratio) ................................................................................... 85
Tabel 4.19 Ikhtisar Penilaian Kinerja dilihat dari Rasio Profitabilitas ............ 87
Tabel 4.20 Iktisar Penilaian Kinerja dilihat dari Rasio Pertumbuhan ............. 94
Tabel 4.21 Ikhtisar Penilian Kinerja dilihat dari Ukuran Penilaian ................ 96
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
: Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia
Lampiran 2
: Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture
Lampiran 3
: Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec
Lampiran 4
: Daftar Harga Pasar Saham dan Daftar Nilai Buku Saham
Lampiran 5
: Surat Survei
Lampiran 6
: Kartu Bimbingan Skripsi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Penelitian
Sebagaimana kita ketahui bahwa bidang keuangan merupakan bidang yang
sangat penting dalam suatu perusahaan. Baik dalam perusahaan yang berskala
besar maupun kecil, ataupun bersifat profit motif maupun non-profit motif akan
mempunyai perhatian yang sangat besar dibidang keuangan, terutama dalam
perkembangan dunia usaha yang semakin maju, menimbulkan persaingan antara
perusahaan pun semakin ketat, khususnya antara perusahaan sejenis. Belum lagi
karena kondisi perekonomian yang tidak menentu menyebabkan banyaknya
perusahaan yang mengalami keruntuhan. Oleh karena itu agar perusahaan dapat
bertahan atau bahkan dapat tumbuh berkembang maka perusahaan harus
mencermati kondisi dan kinerja perusahaan. Untuk mengetahui dengan tepat
kondisi dan kinerja perusahaan maka perlu dilakukan analisis yang tepat.
Media yang dapat dipakai untuk menilai kinerja perusahaan adalah laporan
keuangan. Setiap perusahaan akan menyusun suatu laporan keuangan yang dapat
menggambarkan kondisi dan kinerja perusahaan pada akhir pembukuan. Laporan
keuangan yang disusun oleh setiap perusahaan di Indonesia harus mengacu pada
Standar Akuntansi Keuangan (SAK), yang disusun oleh Ikatan Akuntansi
Indonesia (IAI), disamping itu harus memenuhi pula aturan perpajakan dan aturan
lainnya sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum agar dapat memenuhi
kebutuhan pemakainya.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil akhir dari proses akuntansi
pada suatu periode tertentu yang merupakan hasil pengumpulan data keuangan
yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan ataupun ikhtisar lainnya yang
dapat digunakan sebagai alat bantu bagi para pemakai di dalam menilai kinerja
perusahaan sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat.
Laporan keuangan dapat dianalisis untuk melihat kondisi perusahaan, jenis
analisis bervariasi sesuai dengan kepentingan pihak-pihak yang melakukan
analisis. Salah satu teknis analisis laporan keuangan yang banyak digunakan
untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan adalah analisis rasio
keuangan karena penggunaanya yang relatif mudah.
Analisis laporan keuangan akan lebih tajam apabila angka-angka keuangan
dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa, standar
internal
yang
ditetapkan
membandingkan
oleh
angka-angka
manajemen,
keuangan
perbandingan
dengan
masa
historis
atau
sebelumnya,
membandingkan dengan perusahaan atau industri sejenis.
Analisis laporan keuangan secara garis besar meliputi dua jenis
perbandingan,yaitu :
1. Dengan membandingkan rasio sekarang dengan yang lalu dan yang akan
datang untuk perusahaan yang sama.
2. Perbandingkan rasio perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau
dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama.
Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan
dan kinerja perusahaan.
Salah satu alasan dilakukannya analisis terhadap laporan keuangan adalah
menilai kinerja perusahaan. Dimana penilaian kinerja dilakukan untuk mengetahui
tingkat efesiensi dan efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Penilaian kinerja suatu perusahaan dapat dilakukan dengan
menganalisis dua aspek, yaitu kinerja financial dan kinerja non-financial. Kinerja
financial dapat dilihat melalui data-data laporan keuangan, sedangkan kinerja
non- financial dapat dilihat melalui aspek-aspek non-finansial diantaranya aspek
pemasaran, aspek teknologi maupun aspek manajemen.
Pengukuran
kinerja
suatu
perusahaan
sangat
berguna
untuk
membandingkan perusahaan dengan perusahaan yang sejenis sehingga dapat
dilakukan suatu tindakan yang dianggap perlu untuk memperbaikinya. Tanpa
perbandingan, tidak akan diketahui apakah kinerja atau perusahaan mengalami
perbaikan atau sebaliknya yaitu menunjukkan penurunan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul, “Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai Kinerja
pada Kelompok Industri Tekstil dari Tahun 2003-2005”.
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, maka penulis akan
mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana analisis laporan keuangan perusahaan pada kelompok industri
tekstil.
2. Bagaimana kinerja perusahaan dilihat dari hasil analisis laporan keuangan
pada kelompok industri tekstil.
1.3
Maksud dan Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diuraikan diatas, maka maksud dari
penelitian ini adalah mengumpulkan data, mengolah, serta menganalisis laporan
keuangan untuk menilai kinerja perusahaan pada kelompok industri tekstil dari
tahun 2003-2005.
Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan adalah :
1. Untuk mengetahui analisis laporan keuangan perusahaan pada kelompok
industri tekstil.
2. Untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan dilihat dari hasil analisis
laporan keuangan pada kelompok industri tekstil.
1.4
Kegunaan Hasil Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini, penulis berharap agar hasil yang
diperoleh dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai analisis laporan
keuangan dan penilaian kinerja perusahaan.
2. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam
merumuskan kebijakan serta tindakan-tindakan selanjutnya sehubungan
dengan penggunaan analisis laporan keuangan.
3. Pihak lain, sebagai informasi yang dapat digunakan untuk bahan penelitian
bagi yang berminat dalam bidang yang serupa.
1.5
Kerangka Pemikiran
Pembangunan dalam bidang perekonomian adalah merupakan salah satu
bidang yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan pembangunan Bangsa
dan Negara secara menyeluruh. Kemajuan suatu Negara dalam bidang
perekonomian sangat tergantung pada tingkat perekonomian yang dicapai oleh
masyarakat secara keseluruhan.
Suatu perusahaan merupakan suatu bagian dari masyarakat secara
keseluruhan, dan apabila dikelola serta ditangani dengan baik maka akan memiliki
peranan yang cukup besar dalam menunjang pembangunan ekonomi Bangsa dan
Negara.
Perusahaan industri tekstil merupakan kelompok industri yang tergolong
cukup besar. Dalam perkembangannya perusahaan industri tekstil ini secara
berkelanjutan melakukan perbaikan mutu agar dapat bertahan diantara
perusahaan-perusahaan sejenis lainnya. Selain itu pengelolaan keuangan yang
efektif dan efesien juga sangat diperlukan agar perusahaan dapat mempertahankan
dan meningkatkan kinerja usahanya ditengah persaingan yang tajam.
Untuk mengetahui dengan tepat bagaimana kondisi dan kinerja
perusahaan, dapat dilakukan analisis terhadap laporan keuangan yang dimilikinya.
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:189) pengertian analisis dan
laporan keuangan didefinisikan sebagai berikut :
“Analisis adalah memecahkan atau menggabungkan sesuatu unit
menjadi berbagai unit terkecil”.
“Laporan keuangan adalah neraca, laporan laba rugi, dan laporan
arus kas”.
Jika kedua pengertian diatas digabungkan maka pengertian analisis
laporan keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:190) adalah:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi
yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan
atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain antara
data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk
mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam
proses menghasilkan keputusan yang tepat”.
Menurut Dewi Astuti (2004:29), analisis laporan keuangan mencangkup :
1. “Perbandingan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain dalam
industri yang sama.
2. Evaluasi kecenderungan posisi keuangan perusahaan sepanjang waktu.”
Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa analisis laporan keuangan
tidak lain merupakan proses untuk membedah laporan keuangan kedalam
unsur-unsurnya dan menelaah hubungannya, dengan tujuan untuk memperoleh
pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat mengenai kondisi keuangan dan
kinerja perusahaan sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang
tepat.
Teknik analisis laporan keuangan yang sering digunakan sebagai tolak
ukur dalam menilai kinerja perusahaan adalah analisis rasio keuangan, dimana
analisis rasio keuangan ini mencoba menginterpretasikan kondisi keuangan dan
hasil-hasil operasi perusahaan dengan melihat hubungan dari berbagai pos dalam
laporan keuangan. Dalam perhitungan analisis rasio digunakan data yang terdapat
dalam neraca dan laporan laba rugi.
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialihbahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:237), ukuran kinerja dianalisis
dalam tiga kelompok rasio, yaitu :
1. “Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengambilan yang
dihasilkan dari penjualan dan investasi.
2. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi
ekonominya dalam pertumbuhan perekonomian dan dalam industri atau
pasar produk tempatnya beroperasi.
3. Ukuran penilaian (Valuation Measures)
Mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai nilai-nilai pasar
yang melebihi pengeluaran kas."
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan bahwa laporan keuangan
dapat digunakan sebagai alat ukur kinerja perusahaan. Pengertian kinerja menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:503) adalah “sesuatu yang dicapai atau
prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan kerja”.
Sedangkan pengertian penilaian kinerja menurut Kamus Akuntansi
(2000:628) sebagai berikut :
“Penilaian kinerja adalah pertimbangan kumulatif tentang faktorfaktor (yang bersifat subjektif atau objektif) untuk menentukan
indikator representatif atau penilaian tentang aktivitas individu atau
badan usaha, atau kinerja yang berkaitan dengan sejumlah batasan
(atau standar) selama beberapa periode. Faktor-faktor yang
dipertimbangkan meliputi derajat pencapaian tujuan cara
pengukuran item-item dan standar yang digunakan”.
Dengan analisis laporan keuangan dapat diketahui mengenai kondisi
keuangan dan hasil-hasil operasi perusahaan yang pada akhirnya akan
memperlihatkan hasil akhir dari kegitan perusahaan yang dapat menggambarkan
performa atau kinerja dari perusahaan yang bersangkutan dan juga dapat
membantu manajemen untuk mengidentifikasi kekurangan dan kemudian
melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja perusahaan dan membuat
keputusan yang rasional dalam hal perencanaan perusahaan, sehingga tujuan
perusahaan dapat tercapai.
Penelitian tersebut sebelumnya pernah dilakukan oleh Rian Lestariman
tahun 2004 pada kelompok industri rokok (2001-2003) dengan judul:
“ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA DALAM
MENILAI KINERJA PERUSAHAAN”. Akan tetapi pada penelitian tersebut
hanya melakukan penelitian mengenai analisis sumber dan penggunaan modal
kerja, yang dilakukan pada kelompok industri rokok. Sehingga penulis ingin
menindaklanjuti dari penelitian tersebut dengan mengambil studi survey yang
penelitiannya mengenai analisis laporan keuangan pada perusahaan yang bergerak
dibidang industri tekstil, dan penelitiannya diarahkan pada penilaian kinerja
perusahaan. Adapun judul dalam penelitian yang penulis lakukan adalah
“ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PADA
KELOMPOK INDUSTRI TEKSTIL DARI TAHUN 2003-2005”.
1.6
Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan bersifat survey, sedangkan
metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis, yaitu suatu
metode penelitian yang bertujuan untuk memberi gambaran keadaan objek yang
sebenarnya. Data yang didapat akan diolah, dianalisis dan kemudian dapat ditarik
suatu kesimpulan.
Adapun teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara :
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Suatu teknik pengumpulan data, yang bertujuan untuk memperoleh data dari
perusahaan yang sedang diteliti untuk kemudian dipelajari, diolah dan
dianalisis.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Suatu teknik pengumpulan data dengan cara menumpulkan bahan-bahan dari
berbagai sumber dan mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan
teknik pembahasan untuk memperoleh dasar teoritis. Penelitian kepustakaan
ini dapat digunakan sebagai dasar pedoman dalam melakukan penelitian
lapangan.
1.7
Lokasi dan Waktu Penelitian
Dalam menyusun skripsi ini penulis melakukan penelitian di Pojok Bursa
Efek Jakarta Universitas Widyatama di Jl.Cikutra 204A Bandung, sedangkan
waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini diperkirakan dari bulan
September 2006 sampai dengan bulan Maret 2007.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Analisis
Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu :
1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:43)
“Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya
dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk
memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti
keseluruhan”.
2. Menurut Komaruddin (2001:53):
“Analisis adalah kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu
keseluruhan menjadi komponen sehingga dapat mengenal tandatanda komponen, hubungannya satu sama lain dan fungsi masingmasing dalam satu keseluruhan yang terpadu”.
3. Sedangkan menurut Kamus Akuntansi (2000:48) :
“Analisis adalah melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos
atau ayat-ayat yang berkaitan dengan akuntansi dan alasan-alasan
yang memungkinkan tentang perbedaan yang muncul.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa analisis adalah kegiatan berfikir
untuk menguraikan suatu pokok menjadi bagian-bagian atau komponen sehingga
dapat diketahui ciri atau tanda tiap bagian, kemudian hubungan satu sama lain
serta fungsi masing-masing bagian dari keseluruhan.
2.2
Laporan Keuangan
Laporan keuangan pada hakekatnya merupakan hasil dari proses akuntansi
yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum yang dapat
digunakan untuk mengkomunikasikan data keuangan kepada pihak yang
berkepentingan. Agar tidak salah dalam memakai informasi (laporan akuntansi)
ini maka perlu diketahui secara benar pengertian dari proses akuntansi.
Akuntansi merupakan suatu proses pencatatan, pengukuran, interpretasi,
dan komunikasi data keuangan. Menurut Arrens (2006:6), definisi akuntansi
adalah :
“Accounting is the process of recording, classifying and summarizing of
economical event in logical manner for the purpose of providing
financial information for decision making”.
Proses akuntansi tersebut meliputi pengumpulan dan pengolahan data
keuangan perusahaan. Dalam proses akuntansi diidentifikasi berbagai transaksi
atau peristiwa yang merupakan kegiatan ekonomi perusahaan, yang dilakukan
melalui pengukuran, pencatatan penggolongan dan pengikhtisaran transaksitransaksi yang bersifat keuangan sedemikian rupa sehingga hanya informasi yang
relevan dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya mampu memberikan
gambaran secara layak tentang keadaan keuangan serta hasil perusahaan dalam
suatu periode yang akan digabungkan dan disajikan dalam bentuk laporan
keuangan.
Laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban keuangan pimpinan
atas perusahaan yang telah dipercayakan kepada pimpinan tersebut mengenai
kondisi keuangan dan hasil-hasil operasi perusahaan yang tercermin dalam
laporan keuangan perusahaan, pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari
kegiatan perusahaan yang menggambarkan performa atau kinerja keuangan dari
perusahaan yang bersangkutan.
2.2.1
Pengertian Laporan Keuangan
Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari neraca, dan perhitungan laba
rugi serta laporan perubahan modal, dimana neraca menunjukkan atau
menggambarkan jumlah aktiva, hutang, dan modal dari perusahaan pada satu
tanggal tertentu, sedangkan perhitungan laba rugi memperlihatkan hasil-hasil yang
telah dicapai oleh perusahaan serta biaya selama periode tertentu, dan laporan
perubahan modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang
menyebabkan perubahan modal.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai laporan
keuangan, berikut dikemukakan pengertian laporan keuangan antara lain :
Menurut IAI (2004:2) adalah :
“Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan
keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca,
laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat
disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas,
atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi
penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan”.
Menurut Sofyan Safri Harahap (2004:105) adalah :
“Laporan
keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil
usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu
tertentu”.
Menurut Munawir (2004:2) pengertian laporan keuangan adalah :
“Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi
yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data
keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut”.
Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
adalah laporan yang menyajikan informasi yang akan digunakan oleh pihak-pihak
yang berkepentingan mengenai posisi keuangan, kinerja perusahaan, perubahan
ekuitas, arus kas dan informasi lain yang merupakan hasil dari proses akuntansi
selama periode akuntansi dari suatu kesatuan usaha.
Bagi para analis, laporan keuangan merupakan media yang paling penting
untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Agar dalam
melakukan analisis dan interpretasinya terhadap laporan keuangan itu hasilnya
memuaskan, perlu adanya konsistensi penyajian yaitu keseragaman bentuk
laporan keuangan untuk dianalisis.
2.2.2
Tujuan Laporan Keuangan
Hasil akhir dari suatu proses pencatatan keuangan diantaranya adalah
laporan keuangan, laporan keuangan ini merupakan pencerminan dari prestasi
manajemen perusahaan pada satu periode tertentu. Selain sebagai alat
pertanggungjawaban, laporan keuangan diperlukan sebagai dasar pengambilan
keputusan ekonomi.
Menurut IAI (2004:4) laporan keuangan bertujuan untuk:
“1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin
dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena
secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di
masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non
keuangan.
3. Laporan keuangan menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen
(stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya
yang dipercayakan kepadanya.”
Menurut Sofyan Safri Harahap (2004:133) menjelaskan bahwa APB
Statement No.4 (AICPA) menggambarkan tujuan laporan keuangan dengan
membaginya menjadi dua, yaitu :
“1. Tujuan Umum
Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi
keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.
2. Tujuan Khusus
Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih,
proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta informasi
lainnya yang relevan.”
Informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi
keuangan sangat diperlukan untuk dapat mengevaluasi atas kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas), dan waktu serta kepastian
dari hasil tersebut. Posisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh sumber daya
yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas, dan solvabilitas serta
kemampuan berdaptasi dengan perubahan lingkungan.
Informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan untuk
menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di
masa depan, sehingga dapat memprediksi kapasitas perusahaan dalam
menghasilkan kas (dan setara kas) serta untuk merumuskan efektivitas perusahaan
dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.
Informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk
menilai aktivitas, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode pelaporan.
Selain berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas
(dan setara kas), informasi ini juga berguna untuk menilai kebutuhan perusahaan
dalam memanfaatkan arus kas tersebut.
Selain untuk tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan juga menunjukkan
apa yang telah dilakukan manajemen atau menggambarkan pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Jadi tujuan utama laporan keuangan adalah memberikan informasi yang
berguna untuk mengambil keputusan ekonomi. Selain itu laporan keuangan juga
bertujuan untuk melaporkan kegiatan perusahaan yang mempengaruhi masyarakat
yang dapat ditentukan, dijelaskan, dan diukur dan penting bagi peran perusahaan
dalam lingkungan masyarakat.
2.2.3
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Informasi yang ada dalam laporan keuangan dan dalam laporan lainnya
yang dibuat perusahaan untuk melaporkan kegiatannya harus memiliki
karakteristik tertentu untuk memenuhi kebutuhan pemakainya.
Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi
dalam laporan keuangan tersebut berguna bagi para pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Menurut IAI (2004:7) terdapat empat karakteristik kualitatif
pokok laporan keuangan yaitu :
“1. Dapat dipahami.
2. Relevan.
3. Keandalan.
4. Dapat dibandingkan.”
Keempat karakteristik kualitatif laporan keuangan tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.
2. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas
relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan
membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa
depan menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.
3. Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki
kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan
material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau
jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara
wajar diharapkan dapat disajikan.
4. Dapat diperbandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar
periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja
keuangan. Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan
antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian
dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus
dilakukan secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antar periode
perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda.
Informasi yang disediakan oleh laporan keuangan tidak akan berguna
seandainya tidak relevan. Dalam membuat keputusan pemakai tidak hanya
mengerti atau memahami informasi yang disajikan tetapi juga harus mampu
menilai tingkat keandalan dan dapat diperbandingkan dengan informasi tentang
kemungkinan alternatif dan pengalaman yang lalu.
2.2.4
Pemakai Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan komoditi yang bermanfaat dan dibutuhkan
masyarakat, karena dapat memberikan informasi yang dibutuhkan para
pemakainya dalam dunia bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan. Dengan
membaca laporan keuangan dengan tepat maka seseorang dapat melakukan
tindakan ekonomi menyangkut lembaga perusahaan yang dilaporkan dan
diharapkan akan menghasilkan keuntungan baginya.
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005:4) Pemakai laporan
keuangan merupakan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan atau
disebut juga dengan Business Stakeholders yang meliputi :
“1. Investor.
2. Kreditor (pemberi pinjaman).
3. Pemasok dan kreditor usaha lainnya.
4. Shareholders (para pemegang saham).
5. Pelanggan.
6. Pemerintah.
7. Karyawan.
8. Masyarakat.”
Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa
kebutuhan informasi yang berbeda. Pemakai laporan keuangan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Investor
Penanam modal beresiko dan penasihat mereka berkepentingan dengan risiko
yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan.
Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus
membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga
tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai
kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
2. Kreditor (Pemberi pinjaman)
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan
mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar
pada saat jatuh tempo.
3. Pemasok dan kreditur usaha lainnya
Pemasok dan kreditur usaha lainnya tertarik dengan informasi yang
memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang
akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada
perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek dibandingkan kreditur.
4. Shareholder’s (para pemegang saham)
Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan
perusahaan, pembagian keuntungan yang akan diperoleh, dan penambahan
modal untuk business plan selanjutnya.
5. Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan
hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka
panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya
berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan
dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk
mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar
untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7. Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada
informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga
tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan
kesempatan kerja.
8. Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara.
Misalnya,
perusahaan
dapat
memberikan
kontribusi
berarti
pada
perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan
perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat
membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend)
dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian
aktivitasnya.
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bersifat umum. Dengan
demikian tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan pemakai. Berhubung para
investor merupakan penanam modal modal berisiko ke perusahaan, maka
ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan mereka juga akan
memenuhi sebagian besar kebutuhan pemakai lain.
2.2.5
Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan menurut
IAI (2004:13) terdiri dari :
“1. Neraca (Balance Sheet).
2. Laporan Laba Rugi (Income Statement).
3. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow).
4. Laporan Perubahan Ekuitas (Statement of Charge in Equity).
5. Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statement).”
Berdasarkan latar belakang penelitian yang diambil oleh penulis, maka
titik berat permasalahannya yaitu neraca dan laporan laba rugi. Jenis dari laporan
keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. NERACA
Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi
keuangan perusahaan pada saat tertentu. Neraca mempunyai tiga unsur
laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, dan ekuitas.
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005:18), masing-masing unsur
tersebut dapat disubklasifikasikan sebagai berikut :
1) Aktiva
Aktiva merupakan sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai
akibat peristiwa masa lalu dan diharapkan akan memberi manfaat ekonomi
bagi perusahaan di masa datang.
Aktiva dapat disubklasifikasi lebih jauh menjadi lima sub-klasifikasi,
yaitu:
a) Aktiva lancar
Aktiva yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam
waktu satu tahun kurang (atau siklus operasi normal), misalnya kas,
surat berharga, persediaan, piutang, dan persekot biaya.
b) Investasi jangka panjang
Yaitu penanaman modal yang biasanya dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain
dan jangka waktunya lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham,
investasi obligasi.
c) Aktiva tetap
Aktiva yang memiliki wujud fisik, digunakan dalam operasi normal
perusahaan (tidak dimaksudkan untuk dijual) dan memberikan manfaat
ekonomi lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi aktiva
ini antara lain tanah, gedung, kendaraan, mesin serta peralatan.
d) Aktiva tidak berwujud
Aktiva yang tidak mempunyai substansi fisik dan biasanya berupa hak
atau hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi
perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam
sub-klasifikasi aktiva ini misalnya patent, goodwill, royalty, copyright,
trade name/trade mark, franchise dan license.
e) Aktiva lain-lain
Aktiva yang tidak dimasukan kedalam salah satu dari empat subklasifikasi tersebut, misalnya beban ditangguhkan, piutang kepada
direksi, deposito, pinjaman karyawan.
2) Kewajiban (Hutang)
Kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul dari
peristiwa
masa
mengakibatkan
lalu,
arus
yang
penyelesaiannya
keluar dari
sumber
diharapkan
akan
daya perusahaan
yang
mengandung manfaat ekonomi. Kewajiban dapat disubklasifikasikan lebih
lanjut menjadi tiga sub-klasifikasi, yaitu :
a) Kewajiban Lancar
Kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus
keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi)
dalam jangka waktu satu tahun atau kurang. Termasuk dalam kategori
kewajiban ini misalnya utang dagang, utang wesel, utang gaji dan
upah, dan utang biaya atau beban lainnya yang belum dibayar.
b) Kewajiban jangka panjang
Kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus
keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi)
dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam kategori
kewajiban ini misalnya utang obligasi, utang hipotik, dan utang bank
atau kredit investasi.
c) Kewajiban lain-lain
Kewajiban yang tidak dapat dikategorikan kedalam salah satu subklasifikasi tersebut, misalnya utang kepada para pemegang saham.
3) Ekuitas
Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan
selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada. Unsur ekuitas ini dapat
disubklasifikasikan menjadi dua sub-klasifikasi, yaitu :
a) Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham
(termasuk agio saham bila ada).
b) Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan
kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk dividen (ditahan).
2. LAPORAN LABA RUGI
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005:22), untuk dapat
menggambarkan informasi mengenai potensi perusahaan dalam menghasilkan
laba selama periode tertentu (kinerja), laporan laba rugi mempunyai dua
unsur, yaitu :
1) Penghasilan (Income)
Yang diartikan sebagai kenaikan manfaat ekonomi dalam bentuk
pemasukan atau peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban (yang
menyebabkan kenaikan ekuitas selain yang berasal dari konstribusi
pemilik) perusahaan selama periode tertentu dapat disubklasifikasikan
menjadi :
a) Pendapatan (Revenues)
Yaitu penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa
dan yang dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti misalnya
penjualan barang dagang, penghasilan jasa (fees), pendapatan bunga,
pendapatan deviden, royalti dan sewa.
b) Keuntungan (Gains)
Yaitu pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin
timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang
rutin misalnya pos yang timbul dalam pengalihan aktiva lancar,
revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang.
2) Beban (Expense)
Yang diartikan sebagai penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus
keluar, penurunan aktiva, atau kewajiban (yang menyebabkan penurunan
ekonomis yang tidak menyangkut pembagian kepada pemilik) perusahaan
selama periode tertentu, dapat disubklasifikasikan menjadi :
a) Beban
Yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (yang
biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas
persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya harga pokok
penjualan, gaji dan upah, penyusutan.
b) Kerugian (losses)
Yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang
timbul atau tidak timbul dari aktivitas perusahaan yang jarang terjadi,
seperti misalnya rugi karena bencana kebakaran, banjir atau pelepasan
aktiva tidak lancar.
Selisih antara total penghasilan dan beban disebut penghasilan bersih.
Didalam laporan laba rugi, keuntungan dan kerugian biasanya disajikan
secara terpisah, sehingga akan memberikan informasi yang lebih baik
dalam pengambilan keputusan ekonomi.
3. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Laporan perubahan ekuitas yaitu suatu perubahan laporan atau mutasi laba
yang ditahan yang merupakan bagian dari pemilik perusahaan untuk suatu
periode tertentu. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas
sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan :
1) Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan.
2) Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian besrta
jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam
ekuitas.
3) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik.
4) Saldo akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode serta
perubahannya.
5) Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham,
agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan
secara terpisah setiap perubahannya.
4. LAPORAN ARUS KAS
Laporan arus kas merupakan laporan keuangan dasar yang berisi mengenai
aliran kas masuk dan keluar perusahaan.Laporan ini menggambarkan salah
satu komponen neraca, yaitu kas dari satu periode berikutnya. Laporan arus
kas ini menyediakan informasi yang berguna untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam menggunakan kasnya sehingga menghasilkan masukan
berupa kas pula. Laporan arus kas terdiri dari tiga bagian :
1) Arus kas dari aktivitas operasi.
2) Arus kas dari aktivitas investasi.
3) Arus kas dari aktivitas pendanaan.
5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos
dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan
informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan.
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan :
1) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi
yang penting.
2) Informasi yang diwajibkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas,
dan laporan perubahan ekuitas.
3) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi
diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
2.2.6
Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk
memberikan gambaran atau laporan kemajuan (progress report) secara periodik
yang dilakukan pihak manajemen yang bersangkutan. Menurut Munawir
(2004:6) laporan keuangan bersifat historis serta menyeluruh dan sebagai suatu
progress report laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari
suatu kombinasi antara :
“1. Fakta yang telah dicatat (recorded fact).
2. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting
conversation and postulate).
3. Pendapat pribadi (personal judgement).”
Fakta yang telah dicatat (Recorded Fact) sifat ini menunjukkan bahwa
penyusunan laporan keuangan itu dibuat atas fakta dari catatan-catatan akuntansi
atas peristiwa-peristiwa atau transaksi yang telah terjadi. Sehingga laporan
keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan perusahaan sesuai kondisi
perekonomian paling akhir.
Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (Accounting
Conversation and Postulate) sifat ini berarti bahwa data yang dicatat itu
didasarkan pada prosedur maupun anggaran-anggaran tertentu yang merupakan
prinsip-prinsip akuntansi yang lazim (General Accepted Accounting Principles),
hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan atau untuk keseragaman.
Pendapat pribadi (Personal Judgement) dimaksudkan bahwa, walaupun
pencatatan transaksi telah diatur oleh konvensi atau dalil-dalil dasar yang telah
ditetapkan dan sudah menjadi standar praktek pembukuan, namun penggunaan
dari konvensi dan dalil dasar tersebut tergantung daripada kemampuan dan
integrasi pembuatnya (akuntan) terhadap konvensi akun tersebut.
Dengan mengingat atau memperhatikan sifat-sifat laporan keuangan
tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan itu
menurut Munawir (2004:9) mempunyai beberapa keterbatasan antara lain :
“1. Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya
merupakan interim report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu
yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan final.
2. Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatannya
bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan
standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah.
3. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi
keuangan atau nilai rupiah dari berbagai waktu atau tanggal yang lalu.
4. Laporan keuangan tidak mencerminkan berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan karena faktorfaktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang.”
Menurut Sofyan Safri Harahap (2004:16) menjelaskan bahwa SAK
(Standar Akuntansi Keuangan) menggambarkan sifat dan keterbatasan laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
“1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas
kejadian yang telah lewat. Karenanya, laporan keuangan tidak dapat
dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses
pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan bersifat umum, disajikan untuk semua pemakai dan
bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu saja
misalnya untuk Pajak, Bank.
3. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan
taksiran dan berbagai pertimbangan.
4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material.
5. Laporan
keuangan
bersifat
konservatif
dalam
menghadapi
ketidakpastian.
6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu
peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas), (subtance
over form).
7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis,
dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi
dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
8. Adanya berbagai alternatif metode dan akuntansi yang dapat digunakan
menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan
tingkat kesuksesan antar perusahaan.
9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat
dikuantifikasikan umumnya diabaikan.”
Dengan memahami sifat dan keterbatasan laporan keuangan, maka
pengguna informasi laporan keuangan dapat menjaga kemungkinan salah tafsir
terhadap informasi yang diberikan, sehingga kesimpulan yang diambil lebih
akurat.
2.3
Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang penting
bagi para pemakai laporan keuangan dalam rangka pengambilan keputusan
ekonomi. Pada sisi lain, ternyata bahwa karena karakteristiknya, laporan keuangan
bukanlah segala-galanya, karena laporan keuangan memiliki keterbatasan.
Laporan keuangan akan menjadi lebih bermanfaat untuk pengambilan
keputusan ekonomi, apabila dengan informasi laporan keuangan tersebut dapat
diprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan mengolah lebih
lanjut laporan keuangan melalui proses perbandingan, evaluasi dan analisis trend,
akan diperoleh prediksi tentang apa yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Disinilah arti pentingnya suatu analisis terhadap laporan keuangan.
Hasil
analisis
laporan
keuangan
akan
mampu
membantu
menginterpretasikan berbagai hubungan kunci dan kecenderungan yang dapat
memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan di
masa datang.
2.3.1
Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Secara harfiah, analisis laporan keuangan terdiri dari dua kata yaitu,
analisis dan laporan keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini maka dapat
dilihat dari arti masing-masing kata.
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:189) pengertian analisis dan
laporan keuangan didefinisikan sebagai berikut :
“Analisis adalah memecahkan atau menggabungkan sesuatu unit
menjadi berbagai unit terkecil”.
“Laporan keuangan adalah neraca, laporan laba rugi, dan laporan
arus kas”.
Jika kedua pengertian diatas digabungkan maka pengertian analisis
laporan keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:190) adalah:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi
yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan
atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik
antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan
untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting
dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat”.
Menurut Kamus Akuntansi, analisis laporan keuangan adalah :
“Mencari hubungan yang ada antara suatu angka dalam laporan
keuangan dengan angka lain agar dapat diperoleh gambaran yang
lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan”.
Analisis laporan keuangan menurut Dewi Astuti (2004:29) adalah :
“Segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi
untuk membuat keputusan bisnis dan investasi”.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa analisis laporan
keuangan adalah membedah dan menguraikan pos-pos laporan keuangan untuk
mencari hubungan antara unsur-unsur dalam laporan keuangan agar dapat
diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha
perusahaan sehingga informasi tersebut dapat digunakan dalam membuat
keputusan bisnis dan investasi.
2.3.2
Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan alat yang penting untuk memperoleh
informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai
oleh perusahaan. Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang
cukup penting untuk pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan
menyajikan informasi mengenai apa yang telah terjadi, sementara para pemakai
laporan keuangan membutuhkan informasi mengenai apa yang mungkin terjadi di
masa datang.
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan untuk beberapa tujuan.
Misalnya menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julyanti (2005:57) analisa laporan
keuangan bertujuan untuk :
“Misalnya dapat digunakan sebagai alat screening awal dalam
memilih alternatif investasi atau merger; sebagai alat forecasting mengenai
kondisi dan kinerja keuangan di masa datang; sebagai proses diagnosis
terhadap masalah-masalah manajemen, operasi, atau masalah lainnya; atau
sebagai alat evaluation terhadap manajemen.”
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:195) tujuan analisis laporan
keuangan yaitu:
“1. Dapat memberikan informasi yang lebih dalam daripada yang terdapat
dari laporan keuangan biasa.
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari
suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan.
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan
komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi
yang diperoleh dari luar peruasahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan modelmodel dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi,
peningkatan (rating).
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil
keputusan. Dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu
laporan keuangan merupakan tujuan analisa laporan keuangan juga
antara lain:
1) Dapat menilai prestasi perusahaan.
2) Dapat memproyeksi keuangan perusahaan.
3) Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari
aspek waktu tertentu:
a. Posisi keuangan (Assets, Neraca, dan Modal)
b. Hasil usaha perusahaan (Hasil dan Biaya)
c. Likuiditas
d. Solvabilitas
e. Aktivitas
f. Rentabilitas atau profitabilitas
g. Indikator Pasar Modal
4) Menilai perkembangan dari waktu ke waktu.
5) Melihat komposisi struktur keuangan, arus dana.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria
tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain
dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau
standar ideal.
9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan,
baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya.
10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di
masa yang akan datang.”
Dengan menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan maka akan
diperoleh semua jawaban yang berhubungan dengan masalah posisi keuangan
perusahaan dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan
Dari semua tujuan tersebut, tujuan yang terpenting dari analisis laporan
keuangan adalah untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan
pada dugaan murni, terkaan, dan intuisi; mengurangi dan mempersempit lingkup
ketidakpastian pada setiap proses pengambilan keputusan.
2.3.3 Prosedur Analisis Laporan Keuangan
Berbagai langkah harus ditempuh dalam menganalisis laporan keuangan.
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh menurut Dwi Prastowo dan Rifka
Julianty (2005:58) adalah sebagai berikut :
“1. Memahami latar belakang data keuangan perusahaan
2. Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh pada perusahaan
3. Mempelajari dan mereview laporan keuangan
4. Menganalisis laporan keuangan.”
Keempat Prosedur analisis laporan keuangan dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Memahami latar belakang data keuangan perusahaan
Pemahaman
latar
belakang
data
keuangan
perusahaan
mencangkup
pemahaman tentang bidang usaha perusahaan dan kebijakan akuntansi yang
dianut dan diterapkan oleh perusahaan. Memahami latar belakang data
keuangan perusahaan yang akan dianalisis merupakan langkah yang perlu
dilakukan sebelum menganalisis laporan keuangan perusahaan tersebut.
2. Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh terhadap perusahaan
Kondisi-kondisi yang perlu dipahami mencangkup informasi mengenai trend
(kecenderungan) industri dimana perusahaan beroperasi; perubahan teknologi;
perubahan selera konsumen; perubahan faktor-faktor ekonomi seperti
perubahan pendapatan per kapita; tingkat bunga; tingkat inflasi dan pajak; dan
perubahan yang terjadi di dalam perusahaan itu sendiri, seperti perubahan
manajemen kunci.
3. Mempelajari dan mereview laporan keuangan
Kedua langkah pertama memberikan gambaran mengenai karakteristik (profil)
perusahaan. Sebelum berbagai teknis analisis laporan keuangan diaplikasikan,
perlu dilakukan review terhadap laporan keuangan secara menyeluruh. Tujuan
langkah ini adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan telah cukup
jelas menggambarkan data keuangan yang relevan dan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang berlaku.
4. Menganalisis laporan keuangan
Setelah memahami profil perusahaan dan merivew laporan keuangan, maka
dengan menggunakan berbagai metoda dan teknik analisis yang ada dapat
menganalisis laporan keuangan dan menginterpretasikan hasil analisis tersebut
(bila perlu disertai rekomendasi).
2.3.4
Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan
Banyak metode dan teknik yang dipakai dalam analisis laporan keuangan.
Metode dan teknik ini merupakan cara bagaimana melakukan analisis. Di bawah
ini akan dijelaskan bagaimana metode dan teknik yang dilakukan dalam
menganalisis laporan keuangan.
Secara umum menurut Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty (2005:59)
metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua klasifikasi,
yaitu :
“1. Metode analisis horizontal (dinamis).
2. Metode analisis vertikal (statis).”
Kedua metode analisis laporan keuangan dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Metode analisis horizontal (dinamis)
Metode analisis horizontal (dinamis) adalah metode analisis yang dilakukan
dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun
(periode), sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya.
Disebut metode analisis horizontal karena analisis ini membandingkan pos
yang sama untuk periode yang berbeda. Disebut metode analisis dinamis
karena metode ini bergerak dari tahun ke tahun (periode). Teknik-teknik
analisis yang termasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik analisis
perbandingan, analisis trend (index), analisis sumber dan penggunaan dana,
analisis perubahan laba kotor.
2. Metode analisis vertikal (statis)
Metode analisis vertikal (statis) adalah metode analisis yang dilakukan dengan
menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) tertentu, yaitu dengan
membandingkan antara pos yang satu dan pos lainnya pada laporan keuangan
yang sama untuk tahun yang sama. Oleh karena membandingkan antara pos
yang satu dengan pos lainnya pada laporan keuangan yang sama, maka disebut
vertikal. Disebut metode statis karena metode ini hanya membandingkan pospos laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama. Teknik-teknik analisis
yang termasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik analisis
prosentase per komponen (Common-size), analisis ratio, dan analisis impas.
Teknik analisa yang biasa digunakan dalam analisa laporan keuangan
menurut Munawir (2004:36) adalah sebagai berikut :
“1. Analisa perbandingan laporan keuangan, adalah metode dan teknik
analisa dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua
periode atau lebih, dengan menunjukkan :
a. Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah.
b. Kenaikan atau penurunan jumlah rupiah.
c. Kenaikan atau penurunan dalam prosentase.
d. Perbandingan yang dinyatakan dengan ratio.
e. Prosentase dari total.
2. Trend atau tendensi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang
dinyatakan dalam prosentase (trend percentage analysis), adalah suatu
3.
4.
5.
6.
7.
8.
metode atau teknik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan
keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan
turun.
Laporan dengan prosentase per komponen atau common size statement,
adalah suatu metode analisis untuk mengetahui presentase investasi pada
masing-masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengetahui
struktur permodalannya dan komposisi perongkosan yang terjadi
dihubungkan dengan jumlah penjualannya.
Analisa sumber dan penggunaan modal kerja, adalah suatu analisa untuk
mengetahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja atau untuk
mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerja dalam periode
tertentu.
Analisa sumber dan penggunaan kas (Cash Flow Statement Analysis),
adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah
uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan uang
kas selama periode tertentu.
Analisis ratio, adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan
dan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu
atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.
Analisa perubahan laba kotor (Gross Profit Analysis), adalah suatu
analisa untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu
perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor
suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
Analisis Break Event, adalah suatu analisa untuk menentukan tingkat
penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan
tersebut tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh
keuntungan. Dengan analisa break event ini juga akan diketahui berbagai
tingkat keuntungan atau kerugian untuk berbagai tingkat penjualan.”
Menurut Dewi Astuti (2004:30) ada tiga tipe pembandingan hasil analisis
rasio keuangan, yaitu :
“1. Analisis cross-sectional
Membandingkan hasil analisis ratio keuangan suatu perusahaan dengan
nilai analisis keuangan perusahaan sejenis dalam industri yang sama
dalam waktu yang sama.
2. Analisis time-series
Mengevaluasi kinerja perusahaan dengan cara membandingkan hasil
analisis rasio keuangan pada periode yang satu dengan hasil analisis
risiko keuangan pada peride yang lain dalam perusahaan yang sama.
3. Analisis gabungan
Gabungan antara analisis cross-sectional dan analisis time-series.”
Metode dan teknik analisis manapun yang digunakan, kesemuanya itu
adalah merupakan permulaan dari proses analisa yang diperlukan untuk
menganalisa laporan keuangan, serta digunakan untuk menentukan dan mengukur
hubungan antar pos-pos yang ada dalam laporan keuangan sehingga dapat
diketahui
perubahan-perubahan
dari
masing-masing
pos
tersebut
bila
diperbandingkan dengan laporan keuangan yang dianggarkan atau dengan laporan
keuangan perusahaan lain. Tujuan dari setiap metode dan teknik analisis adalah
untuk menyederhanakan data sehingga dapat lebih dimengerti.
2.4
Analisis Rasio Keuangan
Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analisis
keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak ukur yang sering dipakai
adalah analisis rasio, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan
yang lainnya. Pengertian rasio keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap
(2004:297) dalam bukunya “Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan” adalah :
“Angka yang diperoleh hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan
dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan
(berarti)”.
Analisis rasio keuangan merupakan salah satu teknik dalam menganalisa
laporan keuangan yang banyak digunakan untuk menilai kinerja perusahaan
kerena penggunaanya yang relatif mudah. Menurut Sutrisno (2003:247) dalam
bukunya “Manajemen Keuangan” jenis rasio dikelompokkan menjadi :
“1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratios)
2. Rasio leverage (Leverage Ratios)
3. Rasio aktivitas (Activity Ratios)
4. Rasio keuntungan (Profitability Ratios)
5. Rasio penilaian (Valuation Ratios).”
1. Rasio likuiditas (Liquidity Ratios)
Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar hutang-hutang jangka pendeknya. Likuiditas adalah kemampuan
perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang segera harus
dipenuhi.
Ukuran rasio likuiditas terdiri dari tiga alat ukur yaitu :
a. Current Ratio
Current ratio adalah rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang
dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek.
Current Ratio =
Current Assets
Current Liabilities
b. Quick Ratio atau Acid Test Ratio
Quick Ratio merupakan rasio antara aktiva lancar sesudah dikurangi
persediaan dengan hutang lancar.
Quick Ratio =
Current Assets − Inventory
Current Liabilities
c. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar
yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar.
Cash Ratio =
Cash + Securities
Current Liabilities
2. Rasio leverage (Leverage Ratios)
Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva
perusahaan dibiayai dengan hutang. Ada lima rasio dalam rasio leverage yaitu:
a. Total Debt to Total Asset Ratio
Rasio ini biasanya disebut dengan rasio hutang, yaitu mengukur prosentase
besarnya dana yang berasal dari hutang.
Total Debt to Total Asset Ratio =
Total Debt
× 100%
Total Assets
b. Total Debt to Total Equity Ratio
Rasio hutang dengan modal sendiri merupakan imbangan antara hutang
yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri.
Total Debt to Total Equity Ratio =
Total Debt
× 100%
Total Equity
c. Time Interest Earned Ratio
Rasio ini sering disebut coverage ratio merupakan rasio antara laba
sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga.
Time Interest Earned Ratio =
EBIT
Interest
d. Fixed Charge Coverage Ratio
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menutup beban
tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuran
pinjaman, dan sewa.
Fixed Charge Coverage Ratio =
EBIT + Rent
Interest + Rent
e. Debt Service Coverage Ratio
Rasio ini merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi beban
tetapnya termasuk angsuran pokok pinjaman.
EBIT + Re nt
Debt Service Coverage Ratio =
Angsuran
pokok pinjaman
3. Rasio aktivitas (Activity
+
InterestRatios)
(1 − Tax )
3. Rasio aktivitas (Activity Ratios)
Rasio-rasio untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan
sumber dananya. Dalam rasio ini ada empat rasio yaitu :
a. Inventory Turnover
Persediaan merupakan komponen utama dari barang yang dijual, oleh
karena itu semakin tinggi persediaan berputar semakin efektif perusahaan
mengelola persediaan.
Inventory Turnover =
Net Sales
Average Inventory
Untuk mengetahui berapa lama persediaan tersimpan dapat dihitung
dengan rumus :
Average day ' s Inventory =
Average Inventory × 360
Net Sales
b. Receivable Turnover
Rasio ini disebut juga perputaran piutang merupakan ukuran efektivitas
pengelolaan piutang.
Sales on Credit
Average Re ceivable
Re ceivable Turnover =
Sedangkan untuk mengetahui lamanya piutang tertagih dapat digunakan
rumus sebagai berikut :
Re ceivable Collection Period =
Average Re ceivable × 360
Sales on Credit
c. Fixed Assets Turnover
Rasio ini disebut juga perputaran aktiva tetap yang merupakan
perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap yang dimiliki
perusahaan.
Sales
Fixed Asset
Fixed Assets Turnover =
d. Total Assets Turnover
Rasio ini disebut juga perputaran total aktiva yang merupakan ukuran
efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
Net Sales
Total Asset
4. Rasio Keuntungan
Total Assets Turnover =
4. Rasio keuntungan (Profitability Ratios)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan
dalam mendapatkan keuntungan. Rasio keuntungan dapat diukur dengan
beberapa indikator yaitu :
a. Profit Margin
Profit margin merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang dicapai. Rumus yang
dapat digunakan adalah :
Gross Profit Margin =
Net Sales − COGS
×100%
Net Sales
Operating Profit Margin =
EBIT
×100%
Net Sales
Net Profit Margin =
EAT
×100%
Net Sales
b. Return on Assets
Return on assets sering juga disebut sebagai rentabilitas ekonomis,
merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam meghasilkan laba
dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Return on Assets =
EBIT
×100%
Total Asset
c. Return on Equity
Return on equity sering disebut juga dengan rate of return on Net Worth
yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan
modal sendiri, sehingga ROE ini ada yang menyebut sebagai rentabilitas
modal sendiri.
Return on Equity =
EAT
×100%
Total Equity
d. Return on Investment
Return
on
investment
merupakan
kemampuan
perusahaan
untuk
menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi
yang dikeluarkan.
Return on Investment =
EAT
×100%
Total Asset
e. Earning Per Share (EPS)
Earning per share atau laba per lembar saham merupakan ukuran
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar
saham pemilik.
EPS =
EAT
OutStandingShare
5. Rasio penilaian (Valuation Ratios)
Rasio-rasio ini untuk mengukur kemampuan manajemen untuk menciptakan
nilai pasar agar melebihi biaya modalnya. Rasio penilaian ini terdiri dari :
a. Price Earning Ratio
Rasio ini mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham
perusahaan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh para pemegang
saham.
PER =
Market Price
EPS
b. Market to Book Value Ratio
Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada di pasar
dibandingkan dengan nilai buku sahamnya.
MBV ratio =
Market Price
Book Value
Sedangkan menurut J. Fred Westod dan Thomas E. Copeland yang
dialihbahasakan oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:237) ukuran
kinerja perusahaan dianalisis dalam tiga kelompok, yaitu :
“1. Rasio profitabilitas (Profitability Ratios)
Mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang
dihasilkan dari penjualan dan investasi.
2. Rasio pertumbuhan (Growth Ratios)
Mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi
ekonomisnya dalam pertumbuhan perekonomian dan dalam industri
atau pasar produk tempatnya beroperasi.
3. Ukuran penilaian (Valuation Measures)
Mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai niali-nilai pasar
yang melebihi pengeluaran kas.”
2.4.1
Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios)
Rasio-rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berdasarkan
hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Rasio-rasio
profitabilitas yang digunakan menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland
yang dialihbahasakan oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:239) adalah
sebagai berikut :
1. Rasio laba operasi bersih terhadap penjualan (Operating Profit Margin)
Rasio ini mengukur persentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos operasional. Rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan banyak digunakan oleh praktisi keuangan sebagai penentu
nilai kunci yang mempengaruhi penilaian atas sebuah perusahaan karena rasio
ini mencerminkan pure profit yang dihasilkan untuk setiap hasil penjualan.
Rasio laba operasi bersih terhadap penjualan =
laba operasi bersih
×100%
penjualan
2. Rasio laba bersih terhadap total aktiva (Return on Assets)
Rasio ini mencoba mengukur efektivitas pemakaian total sumber daya oleh
perusahaan atau dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Rasio laba operasi bersih terhadap total aktiva =
Laba operasi bersih
×100%
Total aktiva
3. Rasio laba bersih terhadap penjualan (Profit Margin on Sales)
Rasio ini mengukur presentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos termasuk bunga dan pajak. Rasio ini biasa
dijadikan patokan dalam menilai kesuksesan perusahaan dalam menghasilkan
laba bersih.
Rasio laba bersih terhadap penjualan =
Laba bersih
x100%
Penjualan
4. Hasil pengembalian atas ekuitas (Return on Equity)
Hasil pengembalian atas ekuitas atau Return on Equity sering disebut juga
dengan rate of return on net worth, rasio ini memperhatikan sejauh mana
perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat
pengembalian bagi pemilik modal yang menginvestasikan uangnya ke dalam
perusahaan.
Hasil pengembalian atas ekuitas =
Laba bersih
x100%
Modal sendiri
2.4.2
Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Rasio-rasio
pertumbuhan
mengukur
sebaik
apa
perusahaan
mempertahankan posisi ekonominya di dalam industrinya. Data yang dilaporkan
adalah dalam angka-angka nominal sehingga tingkat pertumbuhan yang dihitung
merupakan penjumlahan pertumbuhan nyata ditambah faktor kenaikan tingkat
harga. Tingkat pertumbuhan dihitung dengan menggunakan metode titik-titik
ujung, yaitu :
1
X 
g =  n  − 1
 X0 
n
dimana :
g
= Tingkat pertumbuhan majemuk selama periode tercakup
Xn
= Nilai titik akhir
X0
= Nilai titik awal
N
= Jumlah periode pertumbuhan
Menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland yang dialihbahasakan
oleh
A.
Jaka
Wasana
dan
Kibrandoko
(1995:243),
yang
diukur
pertumbuhannya adalah :
1. Penjualan
2. Laba operasi bersih
3. Laba bersih
4. Laba per saham
2.4.3
Ukuran Penilaian (Valuation Measures)
Ukuran penilaian atau rasio penilaian adalah ukuran kinerja yang paling
menyeluruh untuk suatu perusahaan karena mencerminkan pengaruh gabungan
dari rasio hasil pengembalian dan resiko. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (investor) atau pada para
pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat
menghargai perusahaan sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan
harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham.
Menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland yang dialihbahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:244), rasio-rasio penilaian terdiri
dari :
1. Rasio harga terhadap laba (Price to Earning Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham
perusahaan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh para pemegang
saham.
Rasio Harga Terhadap Laba =
Harga pasar saham
Laba per lembar saham
2. Rasio harga pasar terhadap nilai buku (Market to Book Value Ratio)
Rasio ini untuk mengetahui sebarapa besar harga saham yang ada di pasar
dibandingkan dengan nilai buku sahamnya. Semakin tinggi rasio ini
menunjukkan perusahaan semakin dipercaya, artinya nilai perusahaan menjadi
lebih tinggi.
Rasio Harga Pasar Terhadap Nilai Buku =
2.4.4
Harga pasar saham
Nilai buku saham
Keunggulan dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan memiliki keunggulan dibandingkan dengan teknik
analisis lainnya, menurut Sofyan Safri Harahap (2004:298) keunggulan tersebut
adalah :
“1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
dibaca dan ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang
disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri yang lain.
4. Sangat berguna untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan
keputusan dan model prediksi Z score atau Altman’s Bankruptcy
prediction
model merupakan suatu model untuk meramalkan
kebangkrutan suatu perusahaan yang dibuat oleh Altman.
5. Menstandarisasi ukuran perusahaan.
6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan yang
lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik/time series.
7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa
yang akan datang.”
Keterbatasan analisis rasio keuangan menurut Agnes Sawir (2005:44)
antara lain adalah :
“1. Kesulitan dalam mengidentifikasi kategori industri dari perusahaan yang
dianalisis apabila perusahaan tersebut bergerak di beberapa bidang
usaha.
2. Rasio disusun dari data akuntansi dan data tersebut dipengaruhi oleh
cara penafsiran yang berbeda dan bahkan bisa merupakan hasil
manipulasi.
3. Perbedaan metode akuntansi akan menghasilkan perhitungan yang
berbeda misalnya perbedaan metode penilaian persediaan.
4. Informasi rata-rata industri adalah data umum dan hanya merupakan
perkiraan.”
2.5
Kinerja
Keberhasilan sebuah perusahaan dalam mencapai tujuannya dan
memenuhi kebutuhan masyarakat sangat tergantung dari kinerja perusahaan dan
manajer perusahaan di dalam melaksanakan pertanggungjawabannya.
2.5.1
Definisi Kinerja
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan bahwa laporan keuangan
dapat digunakan sebagai alat ukur kinerja perusahaan. Terdapat beberapa definisi
mengenai kinerja, yaitu :
1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:503)
“Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan
atau kemampuan kerja”.
2. Menurut Indra Bastian (2001:329) dalam bukunya “Akuntansi Sektor
Publik” adalah:
“Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan
suatu kegiatan/program dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan
visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic
planning) suatu organisasi. Secara umum dapat juga dikatakan bahwa
kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam
periode tertentu”.
3. Menurut Bernadin dan Russel (1993:378), yang terdapat di dalam buku
“Sistem Manajemen Kinerja” oleh Achmad dan Ruky (2004:15)
“Performance is defined as the record of outcomes produced on a specified
job Junction or activity during a specified time period”.
(kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh di fungsi-fungsi
pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu).
Dari ketiga definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja
adalah kemampuan atau prestasi yang dicapai dalam melaksanakan suatu tindakan
tertentu selama kurun waktu tertentu.
2.5.2
Pengukuran Kinerja
Menurut Helfert yang diterjemahkan oleh Wisnu Widjaya dan
Moh. Badjuri (1998:69), terdapat tiga ukuran kinerja keuangan perusahaan
menurut bidang dan sudut pandang :
“1. Sudut pandang manajemen atau perusahaan
2. Sudut pandang pemilik
3. Sudut pandang pemberi pinjaman”.
Ketiga
ukuran
kinerja
keuangan
perusahaan
diuraikan
sebagai
berikut :
1. Sudut pandang manajemen atau perusahaan
Manajemen mempunyai kepentingan ganda dalam analisis kinerja keuangan,
yaitu menilai efisiensi dan profitabilitas operasi, serta menimbang seberapa
efektif penggunaan sumber daya perusahaan. Penilaian atas operasi sebagian
besar dilakukan berdasarkan analisis atas laporan laba rugi, sedangkan
efektivitas penggunaan sumber daya biasanya diukur dengan mengkaji ulang
baik neraca maupun laporan laba rugi.
2. Sudut pandang pemilik
Pemilik
adalah
investor,
yaitu
kepada
siapa
manajemen
harus
bertanggungjawab. Daya tarik utama bagi pemilik perusahaan pemegang sham
dalam suatu perseroan adalah profitabilitas. Profitabilitas berarti hasil yang
diperoleh melalui usaha manajemen atas dana yang diinvestasikan pemilik.
Pemilik juga tertarik pada pembagian laba yang menjadi haknya, yaitu
seberapa banyak yang dibayarkan sebagai deviden kepada mereka.
3. Sudut pandang pemberi pinjaman
Bila orientasi pokok manajemen dan pemilik mengarah pada kesinambungan
perusahaan, pemberi pinjaman paling sedikit mempunyai dua kepentingan atas
perusahaan. Pemberi pinjaman tertarik untuk meminjamkan dana kepada suatu
perusahaan yang berhasil yang akan berjalan seperti yang diharapkan. Pada
saat yang sama mereka harus mempertimbangkan konsekuensi negatif seperti
kegagalan dan likuidasi. Meskipun tidak memperoleh imbalan apapun dari
keberhasilan perusahaan, kecuali menerima pembayaran bunga dan pokok
pinjaman secara teratur, pemberi pinjaman harus menilai dengan cermat risiko
pengembalian dana tersebut awal yang diberikan, khususnya jika dana tersebut
disediakan untuk jangka panjang.
2.5.3
Manfaat Penilaian Kinerja Perusahaan
Menurut Martono dan D. Agus Harjito (2002:52) mengungkapkan
bahwa “Kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat bagi
berbagai pihak (Stakeholder) seperti investor, kreditur, analis, konsultan
keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen sendiri”.
Manfaat penilaian kinerja dilihat dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
laporan keuangan dan kinerja perusahaan menurut Dwi Prastowo dan Rifka
Julianty (2005:54), yaitu :
“1. Para pemegang saham (investor).
2. Para kreditur.
3. Para manajer.
4. Analis sekuritas.
5. Analis kredit.”
1. Para pemegang saham (investor)
Para investor dan juga calon investor berkepentingan terhadap informasi
laporan keuangan antara lain untuk pengambilan keputusan apakah tetap
mempertahankan atau menjual saham suatu perusahaan, apakah grup
manajemen yang sekarang ada harus diganti atau dipertahankan dan apakah
perusahaan memiliki persetujuan untuk menertibkan dan memperoleh
pinjaman baru.
2. Para kreditur
Para kreditur dan juga calon kreditur berkepentingan terhadap informasi
laporan keuangan antara lain untuk menilai apakah laba yang diperoleh suatu
perusahaan akan mampu digunakan untuk membayar beban bunga periodik
dan apakah perusahaan mempunyai prospek dalam memenuhi kewajiban
(pokok pinjaman) pada saat jatuh tempo.
3. Para manajer
Para manajer berkepentingan terhadap informasi laporan keuangan antar lain
untuk dapat melakukan penilaian apakah perusahaan mempunyai kemampuan
untuk membayar deviden (Deviden Policy), apakah cukup tersedia dana yang
akan dapat digunakan untuk pengembangan usahanya dan apakah ada
kemungkinan
keberhasilan
perusahaan
di
masa
datang
di
bawah
kepemimpinannya.
4. Analis sekuritas
Para analis sekuritas tertarik terhadap informasi tentang estimasi laba di masa
datang dan kekuatan keuangan sebagai elemen penting untuk dasar penentuan
nilai sekuritas.
5. Analis kredit
Para analis kredit menginginkan untuk dapat menentukan aliran dana di masa
datang dan konsekuensinya pada posisi keuangan perusahaan sebagai upaya
untuk dapat mengevaluasi resiko kredit yang melekat pada perluasan
kreditnya.
2.5.4 Alat Ukur Penilaian Kinerja Perusahaan
Penilaian kinerja menurut Kamus Akuntansi (2000:628) sebagai berikut :
“Penilaian kinerja adalah pertimbangan kumulatif tentang faktorfaktor (yang bersifat subjektif atau objektif) untuk menentukan
indikator representatif atau penilaian tentang aktivitas individu atau
badan usaha, atau kinerja yang berkaitan dengan sejumlah batasan
(atau standar) selama beberapa periode. Faktor-faktor yang
dipertimbangkan meliputi derajat pencapaian tujuan cara pengukuran
item-item dan standar yang digunakan”.
Menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland yang dialihbahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:244), ukuran kinerja perusahaan
dianalisis dalam tiga kelompok, yaitu :
“1. Rasio profitabilitas (Profitability Ratios)
Mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengambilan yang
dihasilkan dari penjualan dan investasi.
2. Rasio pertumbuhan (Growth Ratios)
Mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi
ekonomisnya dalam pertumbuhan perekenomian dan dalam industri
atau pasar produk tempatnya beroperasi.
3. Rasio penilaian (Valuation Measures)
Mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai nilai-nilai pasar
yang melebihi pengeluaran kas.”
2.6
Hubungan Kinerja Perusahaan dengan Analisis Laporan Keuangan
Tingkat kesehatan merupakan alat ukur yang digunakan oleh para pemakai
laporan keuangan dalam mengukur kinerja suatu perusahaan. Performa suatu
perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Dari
laporan keuangan tersebut dapat diketahui keadaan finansial dan hasil-hasil yang
telah dicapai perusahaan selama periode tertentu.
Helfert yang diterjemahkan oleh Wisnu Widjaya dan Moch. Badjuri
(1998;68) mengemukakan bahwa :
“Untuk menilai kinerja perusahaan ini perlu dilibatkan analisis
dampak
keuangan
kumulatif
ekonomi
dari
keputusan,
dan
mempertimbangkannya dengan menggunakan ukuran komparatif”.
Sedangkan Harington (1991;1) mengemukakan sebagai berikut :
“The Primary resources of information these analysis use to evaluate a
firm performance are its financial statement the historical record of this
performance”.
Tingkat kesehatan perusahaan dapat diketahui dengan melakukan analisis
atau interpretasi terhadap laporan keuangan. Dari hasil analisis tersebut dapat
diketahui prestasi dan kelemahan yang dimiliki perusahaan, sehingga pihak-pihak
yang berkepentingan dengan perusahaan, dapat menggunakannya sebagai
pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Interpretasi atau analisis laporan
keuangan suatu perusahaan adalah sangat penting bagi pihak-pihak yang
berkepentingan mereka masing-masing berbeda.
Selanjutnya dikemukakan pula oleh Harington (1991;1) bahwa :
“The financial performance of corporation is of vital interest to many
groups and individual”.
Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan
perusahaan yang tergambar dalam laporan keuangan menjadi perhatian utama
bagi para pemakai laporan keuangan tersebut. Oleh karena itu, manajemen
perusahaan harus berusaha untuk meningkatkan kinerjanya dari periode ke
periode. Dari keseluruhan pernyataan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan dan selanjutnya dari
kinerja tersebut dapat ditentukan tingkat kesehatan perusahaan yaitu dengan
cara melakukan analisis dan interpretasi terhadap laporan keuangan.
2. Dengan melakukan analisis laporan keuangan, selain dapat mengevaluasi
kinerja perusahaan dari waktu ke waktu, juga dapat membandingkan kinerja
perusahaannya dengan perusahaan lain yang sejenis.
3. Dari hasil analisis terhadap kinerja perusahaan maka dapat membantu
manajemen dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi kondisi keuangan
di masa yang akan datang.
4. Kinerja perusahaan merupakan informasi yang dibutuhkan untuk membantu
dalam proses pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan.
BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1
Objek Penelitian
Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian pada beberapa
perusahaan industri tekstil yang telah Go Public. Berikut dibawah ini adalah nama
dan kode perusahaan yang menjadi unit obervasi dalam penelitian :
Tabel 3.1
Nama dan kode perusahaan
No.
Nama Perusahaan
Kode Perusahaan di BEJ
1
PT Polychem Indonesia Tbk
ADMG
2
PT Sunson Textile Manufacture Tbk
SSTM
3
PT Panasia Indosyntec Tbk
HDTX
Objek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah laporan
keuangan dari tiga emiten perusahaan industri tektil yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta, yang telah disebutkan diatas selama kurun waktu kurang lebih tiga tahun
kebelakang, yaitu mulai dari tahun 2003 sampai dengan 2005.
3.2
Gambaran Umum Perusahaan
Gambaran umum yang akan dijelaskan dalam penelitian ini adalah
gambaran umum baik dari sejarah, aktivitas, dan struktur kepemilikan dari
masing-masing perusahaan yang telah dijelaskan dalam objek penelitian diatas.
Dan gambaran umum dari masing-masing perusahaan tersebut adalah :
3.2.1
PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG)
PT. Polychem Indonesia Tbk (d/h PT. GT Petrochem Industries Tbk)
(Perusahaan), didirikan dengan akta No.62 tanggal 25 April 1986 dari Irawati
Marzuki Arifin, SH, notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah mendapat
pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat
Keputusannya No.C2-1526.HT.01.01.Th.87 tanggal 21 Februari 1987.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
yang terakhir dengan akta No.48 tanggal 29 juni 2005 dari Amrul Partomuan
Pohan, SH, Lex Legibus Magister, notaris di Jakarta, tentang perubahan nama
Perusahaan menjadi PT. Polychem Indonesia Tbk. Dan disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik
Indonesia dengan surat keputusannya No.C21350
HT.01.04TH.2005 tanggal 2 Agustus 2005 serta diumumkan dalam Tambahan
Berita Negara Republik Indonesia No.76 tanggal 23 September 2005.
Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada tahun 1990. Ruang
lingkup kegiatan Perusahaan meliputi industri pembuatan polyester chips,
polyseter filament,engineering plastik, engineering resin, ethylene glycol,
polyseter staple fiber dan petrokimia, pertenunan, pemintalan dan industri tekstil.
Hasil produksi dipasarkan di dalam dan luar negeri termasuk ke Asia, Amerika
Serikat, Eropa dan Afrika. Jumlah karyawan tetap Perusahaan tanggal 31
Desember 2005, 2004 dan 2003 masing-masing sebanyak 2.874, 3.448, 5.958
orang.
Berdasarkan Surat Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
No. S-1573/PM/1993 telah melakukan persetujuan atas penawaran umum tanggal
17 September 1983, Perusahaan telah melakukan penawaran umum perdana
sejumlah 80.000.000 saham kepada masyarakat. Dimana saham-saham tersebut
selanjutnya di catat pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.
Perusahaan telah beberapa kali meningkatkan jumlah saham yang dicatat, terakhir
dengan pencatatan 3.889.179.559 saham.
Perusahaan memiliki saham anak perusahaan, sebagai berikut:
Anak Perusahaan
PT.Filamendo Sakti (“FS”)
PT.Sentra Sintetikajaya(“SS”)
Jenis Usaha
Lokasi
Industri pembuatan nylon filament
yarn, polyester-chip untuk bahan
baku pembuatan kain nylon cord
dan fishing net yarn.
Industri pengolahan karet sintetik
Jakarta
Jakarta
GTPI Netherlands B.V (“GTPIN”)
Perdagangan umum dan keuangan
Belanda
Kantor Pusat
Wisma Diners Club Lt.12
Jl. Jend Sudirman Kav.34
Jakarta 10220
Phone : 021-570 9292
Fax
: 021-573 7638
Daftar Pemegang Saham
PT Satya Mulia Gema Gemilang
10.29%
HSBC Trustee (Singapore) Limited
33.93%
Garibaldi Venture Fund Limited
9.97%
PT Gajah Tunggal Tbk
28.91%
Manajemen (per 31 Desember 2005)
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris
: Bacelius Ruru
Wakil Presiden Komisaris
: Howell Rembrandt Picket Keezell
Komisaris
: Martua Radja Panggabean
Komisaris Independen
: Mochamad Sanoesi
Havid Abdul Gani
Dewan Direksi
Presiden Direktur
: Gautama Hartarto
Wakil Presiden Direktur
: Johan Setiawan
Direktur
: Irene Chan
Chen Ching Yen
Yusup Agus Sayono
3.2.2
PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM)
PT Sunson Textile Manufacture Tbk (Perusahaan), bertempat kedudukan
di Bandung, Jawa Barat Indonesia didirikan dengan nama “PT Sandang Usaha
Nasional Indonesia Tekstil Industri” dalam rangka Penanaman Modal Dalam
Negeri yang diatur dalam Undang-Undang No.6 Tahun 1968, berdasarkan akta
Notaris Widyanto Pranamihardja, SH No.20 tanggal 18 November 1972.
Perubahan dengan akta Notaris yang sama No.47 tanggal 28 Mei 1976. Akta
pendirian Perusahaan dan perubahannya telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
dengan Surat Keputusan No.Y.A.5/375/10 tanggal 16 Agustus 1976 dan
diumumkan dalam Berita Negara no.74 tanggal 17 September 1977, Tambahan
No.549.
Anggaran dasar perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan dan
yang terakhir mengenai perubahan Pasal 11 ayat 2 dan ayat 8 berdasarkan akta
Notaris Tatty Nurliana, SH, No.9 Tanggal 28 Juni 2005, masih dalam proses oleh
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.
Perusahaan memulai kegiatan komersilnya pada tahun 1973. Ruang
lingkup kegiatan utama perusahaan mencangkup bidang industri tekstil terpadu
termasuk memproduksi dan menjual benang, kain dan produk tekstil lainnya.
Jumlah tetap karyawan Perusahaan pada tahun 2005, 2004, dan 2003, masingmasing sebesar 4.235, 4.651, dan 4.699 orang (tidak diaudit).
Pada bulan Agustus 1997, Perusahaan melakukan penawaran umum
sebanyak 80.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 500 per saham yang
ditawarkan dengan harga Rp 850 per saham. Pernyataan pendaftaran untuk
penawaran umum saham tersebut telah dinyatakan efektif oleh Badan Pengawas
Pasar Modal (BAPEPAM) dalam surat No. S-1709/PM/1997 tanggal 28 Juli 1997.
Dimana saham-saham tersebut selanjutnya di catat pada Bursa Efek Jakarta dan
Bursa Efek Surabaya. Dalam Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham
pada tanggal 10 Agustus 1999 yang dinyatatakan dalam akta notaris Nanny
Sukarja, SH No.6 dan 7, Para pemegang saham Perusahaan antara lain menyetujui
perubahan nilai nominal saham (stock split) dari Rp.500 per saham menjadi
Rp.250 per saham, dan Perusahaan telah beberapa kali meningkatkan jumlah
saham yang dicatat terakhir dengan pencatatan 836.707.000 saham.
Kantor Pusat
Jl. Raya Rancaekek Km.25,5 Sumedang
Bandung
Phone : (022) 798289, 633046
Fax
: (022) 798302
Daftar Pemegang Saham
Sundjono Suriadi
7%
PT Sunsonindo Textile Investama
57 %
Manajemen (per 31 Desember 2005)
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
: Sundjono Suriadi
Komisaris
: Ny Mariah Suriadi
Sidarto Danusubroto
Bernardi Widjaja Kusuma
Wihardjo Hadiseputro
Komisaris Independen
: Ali Senitro
Alex Hidayat
Dewan Direksi
Direktur Utama
: Purnawan Suriadi
Direktur
: Ny Reise Suriadi
Fransiscus Hadyanto
Vinay Gupta
3.2.3
PT Panasia Indosyntec Tbk (HDTX)
P.T. Panasia Indosyntec Tbk (Perusahaan) didirikan dalam rangka
Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 jo. UndangUndang No. 12 tahun 1970 berdasarkan akta No. 13 tanggal 6 April 1973 dari
Imas Fatimah, S.H., notaris di Bandung. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No.Y.A.5/174/23
tanggal 11 Maret 1981 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
No.16 tanggal 24 Pebruari 1987, Tambahan No. 171.
Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir dengan akta notaris No. 4 tanggal 11 Nopember 2005 dari R. Tendy
Suwarman, S.H., notaris di Bandung, antara lain mengenai peningkatan modal
dasar, ditempatkan dan disetor Perusahaan. Akta perubahan ini telah memperoleh
persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dengan Surat Keputusannya No. C-31455 HT.01.04.TH.2005 tanggal 25
Nopember 2005.
Perusahaan mulai berproduksi secara komersial dalam industri tekstil pada
tahun 1974, sedangkan kegiatan pemrosesan bahan baku serat (polimerisasi)
dimulai pada tahun 1990. Ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama meliputi
usaha dalam bidang proses bahan baku serat (polimerisasi), twisting, pemintalan,
pertenunan dan industri tekstil serta perdagangan umum, Hasil produksi
Perusahaan dipasarkan di dalam dan di luar negeri termasuk ke benua Eropa,
Asia, Amerika, Australia, Afrika dan Timur Tengah. Jumlah karyawan
Perusahaan rata-rata 2.106 karyawan pada tahun 2005 dan 2.109 karyawan pada
tahun 2004.
Berdasarkan Surat dari Menteri Keuangan Republik Indonesia No.SI091/SHM/MK.10/1990 telah melakukan persetujuan atas penawaran umum
tanggal 22 Maret 1990, Perusahaan telah melakukan penawaran umum atas
7.000.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Dimana saham-saham tersebut
selanjutnya dicatat pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Perusahaan
telah beberapa kali meningkatkan jumlah saham yang dicatat, terakhir dengan
pencatatan 1.058.771.000 saham.
Anak perusahaan yang terdilusi pada tahun 2004, adalah sebagai berikut :
Persentase
Anak Perusahaan
Jenis Usaha
Lokasi
PT.Panasia Filament Inti Pertenunan, industri tekstil Bandung
Tbk (PFI)
dan perdagangan umum.
Kepemilikan
2004
2003
22,85%
80%
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)
PT Panasia Filament Inti Tbk (PFI) tanggal 8 Oktober 2004 sebagaimana
tercantum dalam akta No. 20 tanggal 8 Oktober 2004 dari R. Tendy Suwarman,
S.H., notaris di Bandung, para pemegang saham PFI setuju untuk mengeluarkan
saham seri B sebanyak 625.357.000 saham dengan nilai nominal sebesar Rp 100
per saham yang diambil bagian seluruhnya oleh Abernova Overseas Limited
(Abernova). Dengan demikian pemilikan Perusahaan atas PFI terdilusi dari 80%
menjadi 22,85% dan mulai bulan Oktober 2004, PFI tidak dikonsolidasi lagi
melainkan dicatat dengan metode ekuitas.
Penjualan Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30
September 2004 kepada PFI (operasi dalam penghentian) adalah sebesar
Rp 77.646.557.736. Untuk tujuan penyajian laporan laba rugi konsolidasi tahun
2004, maka penjualan Perusahaan kepada PFI periode sembilan bulan yang
berakhir 30 September 2004 tersebut di eliminasi dengan beban pokok penjualan
PFI. Penjualan Perusahaan pada tahun 2004 termasuk penjualan kepada PFI
(tanpa eliminasi) adalah sebesar Rp 851.376.468.389, sedangkan beban pokok
penjualan tahun 2004 (tanpa eliminasi) adalah sebesar Rp 826.336.708.493.
Berdasarkan Akta Jual Beli Saham No. 44 tanggal 16 September 2005,
dari notaris R.Tendy Suwarman S.H., Perusahaan dan Novatex International
Limited, Malaysia (Novatex) telah sepakat untuk menerima pelunasan hutang
Perusahaan sebesar US$ 4.197.600 dengan penjualan investasi saham Perusahaan
di PFI kepada Novatex sebesar 19,02% atau 166.499.000 saham, berdasarkan nilai
buku
saham
(sesuai
dengan
hasil
penilaian
konsultan
independent
No. IUP/PV/06637/05 tanggal 13 Juni 2005). Dengan demikian kepemilikan
saham Perusahaan di PFI turun menjadi 3,83% dan selanjutnya pencatatan
investasi saham ini berdasarkan metode biaya. Keuntungan atas pelepasan
investasi saham PFI dicatat sebagai bagian dari pendapatan lain-lain.
Anak perusahaan yang didivestasi pada tahun 2004 adalah sebagai berikut :
Persentase
Anak Perusahaan
PT
Panasia
Jenis Usaha
Lokasi
Indogemen Produksi dan Pemasaran Bandung
(PIM)
Kepemilikan
2004
2003
-
51%
benang wol
Berdasarkan akta No.17 tanggal 13 Februari 2004 dari R.Tendy
Suwarman, SH, notaris di Bandung, Perusahaan menjual seluruh kepemilikan
sahamnya di PIM kepada Novatex Internasional Limited (Novatex), Malaysia
dengan nilai divestasi sesuai dengan nilai ekuitas PIM pada tanggal 31 Desember
2003 berdasarkan laporan konsultan independent.
Kantor Pusat
Jl. Garuda No.153/74
Bandung 40124
Phone : (022) 632-589, 631-282, 634-123
Fax
: (022) 631-643
Daftar Pemegang Saham
Abernova Overseas Limited
24,92 %
PT Pan Asia Synthetic Abadi
41,29 %
Manajemen (per 31 Desember 2005)
Dewan Komisaris
Komisaris Utama / Independen
: Drs Koeswardojo
Komisaris
: Evelyne Meilyna Hidjaja
Dra. Dian Nathalia
Dewan Direksi
Direktur Utama
: Awong Hidjaja
Direktur
: Aang Hidjaja
Suwandi Bing Andi
3.3
Metode Penelitian
3.3.1
Metode Penelitian yang Digunakan
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan bersifat survey, sedangkan
metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu suatu
metode penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran keadaan objek
yang sebenarnya.Data yang didapat akan diolah, dianalisis dan kemudian dapat
ditarik suatu kesimpulan.
Studi komparatif merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan
dengan cara membandingkan variabel mandiri untuk sampel yang lebih dari satu
atau dalam waktu yang berbeda. Adapun ciri-ciri dari penelitian komparatif, yaitu:
1. Mengidentifikasi variabel untuk eksplorasi.
2. Mencari perhubungan antar variabel.
3. Membandingkan dua atau lebih kelompok subjek.
4. Membandingkan dengan rata-rata atau tabel silang.
5. Menerapkan gejala yang menjadi perhatian.
6. Tidak memanipulasi variabel yang diteliti.
Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian
komparatif adalah suatu penelitian dengan variabel lebih dari satu yang tidak
dimanipulasi untuk dilakukan suatu eksplorasi agar dapat dibandingkan satu sama
lain sehingga dapat dicari gejala dan penyebab perbedaannya. Penulis mencoba
untuk mengumpulkan
data yang diperoleh dari hasil penelitian serta
membandingkannya dengan teori untuk dianalisis penerapannya.
3.3.2
Jenis dan Sumber data
3.3.2.1 Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data
yang diperoleh dari bahan-bahan yang tersedia di buku-buku, majalah, jurnal, dan
sumber lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. Jenis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar.
Jenis data kualitatif ini adalah data sekunder yaitu data yang telah mengalami
proses pengolahan oleh sumbernya.
2. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka-angka atau data kualitatif
yang disajikan dalam bentuk angka. Data ini menunjukkan nilai terhadap
besaran atau variabel yang diwakilinya. Sifat ini adalah data runtun yaitu data
yang merupakan hasil pengamatan dalam suatu periode tertentu.
3.3.2.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa laporan
keuangan tahunan emiten perusahaan industri tekstil yang terdaftar pada Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Data penelitian ini merupakan gabungan antara deret waktu
(Time Series) dan satu waktu untuk suatu fenomena (Cross Section) selama kurun
waktu 2003 sampai dengan 2005. Data yang digunakan dalam penelitian ini
bersumber dari Pojok Bursa Efek Jakarta (BEJ) Universitas Widyatama di
Jl.Cikutra 204A Bandung, dan pengaksesan internet melalui www.jsx.com.
3.3.3
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap kelompok
perusahaan sejenis yaitu kelompok perusahaan industri tekstil yang telah
melakukan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan metode
pengumpulan data histories (documentary-historical). Dengan memilih tiga
perusahaan yang bergerak di bidang tekstil yaitu, PT.Polychem Indonesia Tbk, PT
Sunson Textile Manufacture Tbk, dan PT Panasia Indosyntec Tbk.
Langkah-langkah yang diambil dalam pengumpulan data yang berkaitan
dan menunjang penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan ini dilakukan untuk memperoleh data dari perusahaan
yang sedang diteliti dengan mengunjungi Pojok Bursa Efek Jakarta
Universitas Widyatama di Jl.Cikutra 204A, Bandung. Setelah itu data tersebut
dipelajari, diolah dan dianalisis.
2. Penelitian kepustakaan
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data sekunder dan untuk
mengetahui indikator-indikator dari variabel yang diukur. Penelitian ini juga
berguna sebagai pedoman teoritis pada waktu melakukan penelitian lapangan
serta untuk mendukung dan menganalisa data, yaitu dengan cara mempelajari
literatur-literatur yang relevan dengan topik yang sedang diteliti.
3.4
Operasionalisasi Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis laporan
keuangan untuk menilai kinerja pada kelompok industri tekstil dari tahun 2003
sampai dengan 2005. Penelitian kinerja perusahaan tersebut dilihat dari hasil
perhitungan analisis rasio keuangan.
Indikator variabel, sub indikator, skala pengukuran, dan instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel
Indikator
Sub Indikator
Skala
Instrumen
Analisis
Laporan
Keuangan
untuk
Menilai
Kinerja
Perusahaan
Hasil
analisis
laporan
keuangan
dalam
bentuk rasio
Rasio Profitabilitas
 Operating Profit Margin
 Return on Asset
(ROA)
 Profit Margin on Sales
 Return on Equity (ROE)
Rasio
Laporan
Keuangan
Rasio Pertumbuhan
 Penjualan
 Laba Operasi Bersih
 Laba Bersih
 Laba per Saham
Rasio
Ukuran Penilaian
 Price Earning Ratio
 Market to Book Ratio
Rasio
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Penelitian
Laporan keuangan merupakan cerminan dari kinerja perusahaan pada satu
periode tertentu. Namun bila hanya melihat laporan keuangan, belum bisa
mencerminkan kinerja yang sebenarnya. Informasi dan gambaran perkembangan
keuangan perusahaan bisa diperoleh dengan analisis terhadap laporan keuangan.
Hasil penelitian yang di peroleh penulis adalah berdasarkan analisis
terhadap laporan keuangan pada periode 2003 sampai dengan 2005 pada
kelompok industri tekstil yang telah Go Public yaitu PT Polychem Indonesia Tbk
(ADMG), PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM), PT Panasia Indosyntec
Tbk (HDTX).
Metode yang digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah analisis
vertikal atau statis dengan menggunakan teknik analisis rasio yang dibandingkan
antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya dari tahun 2003 sampai dengan
tahun 2005 atau dengan kata lain secara cross sectional dan time series.
Dalam penelitian ini, penulis menganalisis laporan keuangan perusahaan
pada kelompok industri tekstil untuk mengetahui kinerja dari perusahaan tersebut
untuk kemudian diperbandingkan. Analisis yang dilakukan oleh penulis untuk
mengetahui kinerja perusahaan industri tekstil adalah sebagai berikut :
1. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
2. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
3. Rasio Penilaian (Valuation Ratio)
Analisis laporan keuangan pada dasarnya bertujuan untuk memberikan
dasar pertimbangan yang lebih layak dan sistematis dalam rangka memprediksi
apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, selain itu analisis laporan
keuangan
juga
ketidakpastian.
akan
mampu
mengurangi
dan
mempersempit
berbagai
4.1.1
Analisis Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG)
4.1.1.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio-rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berdasarkan
hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Rasio-rasio
profitabilitas yang digunakan menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland
yang dialih bahasakan oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:239)
adalah:
1. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan (Operating Profit Margin)
Rasio ini mengukur persentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos operasional. Rasio laba operasi bersih terhadap
penjualan banyak digunakan oleh praktisi keuangan sebagai penentu nilai kunci
yang mempengaruhi penelitian atas sebuah perusahaan karena rasio ini
mencerminkan pure profit yang dihasilkan untuk setiap hasil penjualan.
Rasio laba operasi bersih terhadap penjualan =
Laba Operasi Bersih
×100%
Penjualan
Tabel 4.1
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Penjualan
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
22.695.282
462.658.401
3.059.049.325
4.481.623.689
0,74
10,32
2005
96.375.658
3.958.342.198
2,43
Sumber : Laporan keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan 2005 menghasilkan tingkat laba operasi bersih masing-masing
sebesar 0,74%, 10,32%, dan 2,43% dari penjualan yang dicapai, artinya setiap
penjualan Rp.1,00 pada tahun 2003, 2004, dan 2005 menghasilkan laba operasi
bersih masing-masing sebesar Rp 0,0074, Rp 0,1032 dan Rp 0,0243.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004, rasio laba operasi terhadap penjualan
perusahaan mengalami kenaikan. Kenaikan ini terjadi karena tingkat kenaikan
laba operasi bersih sebesar 1938,57% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat
kenaikan penjualan yang hanya sebesar 46,50%. Kenaikan laba operasi ini
disebabkan adanya kenaikan laba kotor dan turunnya beban usaha. Turunnya
beban usaha ini sebagian besar karena turunnya beban pemasaran dan promosi,
gaji dan tunjangan, royalti, perjalanan dinas, jasa manajemen dan profesional,
beban piutang ragu-ragu, dan transportasi. Dengan meningkatnya rasio ini
menunjukkan juga bahwa kinerja perusahaan cukup baik karena mampu
meningkatkan laba operasi bersih dari penjualan yang dilakukan.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 mengalami penurunan rasio laba
operasi bersih terhadap penjualan sebesar 76,45%. Penurunan ini dikarenakan
penjualan menurun diiringi dengan penurunan laba bersih. Penurunan laba bersih
jauh lebih besar dari penurunan penjualan yang hanya 11,68%. Laba bersih ini
menurun karena penjualan yang dihasilkan perusahaan lebih kecil dari tahun
sebelumnya, akan tetapi beban pokok penjualan mengalami penurunan hanya
sebesar 3,47%. Sehingga laba kotor setelah dikurangi beban usaha menghasilkan
laba usaha yang lebih kecil dari tahun sebelumnya. Penurunan rasio laba bersih
terhadap penjualan dari tahun 2004 ke tahun 2005 menunjukkan bahwa kinerja
perusahaan juga menurun.
2. Rasio Laba Operasi Bersih Terhadap Total Aktiva (Return On Assets)
Rasio ini mencoba mengukur efektivitas pemakaian total sumber daya oleh
perusahaan atau dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva =
Laba Operasi Bersih
×100%
Total Aktiva
Tabel 4.2
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA)
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Total Aktiva
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
22.695.288
462.658.401
6.239.216.594
4.549.288.344
0,36
10,17
2005
96.375.658
4.431.915.116
2,17
Sumber :Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun2005.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa perusahaan pada tahun 2003 sampai
dengan tahun 2005 memiliki ROA masing-masing sebesar 0,36%, 10,17%, dan
2,17%, artinya setiap penggunaan total aktiva Rp.1,00 pada tahun 2003, 2004,
dan tahun 2005 menghasilkan laba operasi bersih masing-masing sebesar
Rp.0,0036, Rp.0,1017, dan Rp.0,0217.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami peningkatan ROA yang
cukup tinggi. Peningkatan ini terjadi karena perusahaan pada tahun 2004 mampu
menghasilkan laba lebih besar tetapi nilai aktiva lebih kecil dari tahun 2003.
Peningkatan laba operasi bersih karena perusahaan berhasil meningkatkan
penjualan dengan jumlah beban pokok yang terkendali sehingga laba kotor yang
dihasilkan lebih tinggi, selain itu beban usaha tahun 2004 pun lebih kecil dari
tahun 2003. Kinerja meningkatnya perusahaan dilihat dari ROA, karena
perusahaan mampu menghasilkan laba lebih tinggi dari aktiva yang lebih kecil
dari tahun sebelumnya.
Dari tahun 2004 ke tahun 2005 ROA yang dimiliki perusahaan mengalami
penurunan sebesar 78,66%, hal ini karena perusahaan pada tahun 2005 mengalami
penurunan laba operasi bersih yang lebih besar daripada penurunan total aktiva
yang hanya sebesar 2,58%. Penurunan aktiva ini karena pada tahun 2005
mengalami penurunan kas, piutang usaha, piutang lain-lain, biaya dibayar dimuka,
dan penurunan aktiva tetap karena adanya penyusutan aktiva tetap. Sedangkan
penurunan laba operasi karena perusahaan mengalami penurunan penjualan dan
beban pokok penjualan sehingga laba kotor yang dihasilkan lebih kecil, selain itu
beban usaha tahun 2005 lebih kecil dari tahun 2004. Kinerja perusahaan
mengalami penurunan karena ROA menurun yang disebabkan karena penurunan
laba operasi bersih perusahaan lebih besar dari pada penurunan total aktiva.
3. Rasio Laba Bersih Terhadap Penjualan (Profit Margin On Sales)
Rasio ini mengukur presentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos termasuk bunga dan pajak. Rasio ini biasa
dijadikan patokan dalam menilai kesuksesan perusahaan karena mengukur
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan =
Laba Bersih
× 100%
Penjualan
Tabel 4.3
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Penjualan
%
2003
811.167.340
3.059.049.325
26,52
2004
458.097.469
4.481.623.689
10,22
2005
41.936.548
3.958.342.198
1,06
Sumber :Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun 2005.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa perusahaan memiliki rasio laba bersih
terhadap penjualan dari tahun 2003 sampai dengan 2005 masing-masing sebesar
26,52%, 10,22%, dan 1,06%. Artinya setiap penjualan Rp.1,00 pada tahun
2003,2004,dan 2005 perusahaan mampu menghasilkan laba bersih masing-masing
sebesar Rp.0,2652, Rp.0,1022, dan Rp.0,0106.
Dilihat dari rasio laba bersih terhadap penjualan dari tahun 2003 ke tahun
2004 perusahaan mengalami penurunan yang cukup tajam yaitu sebesar 61,46%.
Hal ini terjadi karena penjualan perusahaan meningkat sebaliknya laba bersih
perusahaan menurun. Penurunan laba bersih pada tahun 2004 atau dengan kata
lain laba bersih tahun 2004 yang lebih kecil dari tahun 2003 ini ternyata karena
laba bersih tahun 2003 merupakan laba yang diperoleh dari laba aktivitas normal
ditambah dengan keuntungan dari restrukturisasi yang dilakukan perusahaan.
Apabila dilihat dari rasionya perusahaan memang mengalami penurunan namun
apabila ditinjau kembali laba sebelum adanya restrukturisasi atau laba dari
aktivitas normal pada tahun 2004 lebih baik dibandingkan dengan tahun 2003.
Dari tahun 2004 sampai tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan rasio
lagi sebesar 89,63%, penurunan ini dikarenakan pada tahun 2005 laba bersih yang
dihasilkan menurun jauh lebih besar daripada penjualan. Penurunan laba bersih ini
karena pada tahun 2005 ternyata perusahaan mengalami penurunan penghasilan
lain-lain berupa pemulihan penyisihan piutang ragu-ragu, sehingga laba bersih
yang dihasilkan menurun. Penurunan rasio yang berturut-turut ini perlu
diwaspadai dan diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar perusahaan
tidak terperosok lebih jauh ke dalam keadaan yang tidak diharapkan, dan hal ini
pun menunjukkan bahwa kinerja perusahaan mengalami kemunduran.
4. Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return On Equity)
Hasil pengembalian atas ekuitas atau Return on equity sering disebut juga
dengan Rate of return on net worth, rasio ini memperhatikan sejauh mana
perusahaan
mengelola
modal
sendiri
secara efektif,
mengukur
tingkat
pengembalian bagi pemilik modal yang menginvestasikan uangnya ke dalam
perusahaan.
Hasil Pengembalian atas Ekuitas =
Laba Bersih
×100%
Modal Sendiri
Tabel 4.4
Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Modal Sendiri
%
2003
811.167.340
(361.851.116)
-224,17
2004
458.097.469
1.468.277.505
31,20
2005
41.936.548
1.506.447.972
2,78
Sumber :Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan 2005 menghasilkan tingkat laba bersih masing-masing sebesar
-224,17%, 31,20%, dan 2,78% ekuitas yang digunakan. Pada tahun 2003, setiap
penggunaan modal sendiri Rp.1,00 perusahaan mengalami rugi bersih sebesar
Rp.2,2417, sedangkan pada tahun 2004 dan tahun 2005 dari setiap penggunaan
modal sendiri Rp.1,00 menghasilkan laba bersih masing-masing sebesar
Rp.0,3120 dan Rp.0,0278.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami peningkatan ROE
(Return On Equity) yang cukup tinggi, meskipun dilihat dari rasio yang meningkat
tetapi sebenarnya perusahaan telah menaikkan penggunaan modal sendiri tetapi
sebaliknya laba bersih yang dihasilkan menurun, kenaikan ekuitas atau modal
sendiri ini karena ada penambahan selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas
sepengendali dan selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan. Kinerja
perusahaan meningkat jika dilihat dari nilai ROE.
Dari tahun 2004 ke tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan ROE yang
cukup tinggi. Dilihat dari nilai ekuitasnya dari kedua tahun ini tidak terlalu
signifikan perbedaannya tetapi jika dilihat dari laba bersih yang dihasilkan cukup
tinggi penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2005, dan karena penurunan laba
bersih inilah yang menyebabkan angka rasio pada tahun 2005 jauh lebih kecil dari
tahun 2004. Penurunan laba ini telah disinggung sebelumnya karena perusahaan
mengalami penurunan laba usaha, selain itu perusahaan juga mengalami
penurunan penghasilan lain-lain berupa pemulihan penyisihan piutang ragu-ragu,
dan juga karena perusahaan mengalami penurunan yang cukup tinggi atas hak
minoritas atas laba (rugi) bersih anak perusahaan yang mengakibatkan laba bersih
yang dihasilkan mengalami penurunan. Dilihat dari penurunan rasio ROE ini
menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dari tahun 2004 ke tahun 2005
mengalami penurunan.
4.1.1.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Rasio-rasio
pertumbuhan
mengukur
sebaik
apa
perusahaan
mempertahankan posisi ekonomisnya di dalam industrinya. Data yang dilaporkan
adalah dalam angka-angka nominal sehingga tingkat pertumbuhan yang dihitung
merupakan penjumlahan pertumbuhan nyata ditambah faktor kenaikan tingkat
harga. Tingkat pertumbuhan dihitung dengan menggunakan metode titik-titik
X
g =  n
 X0
ujung, yaitu :
Dimana : g



1/ n
−1
= Tingkat pertumbuhan majemuk selama periode tercakup
Xn
= Nilai titik akhir
Xo
= Nilai titik awal
N
= Jumlah periode pertumbuhan
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh
A.
Jaka
Wasana
pertumbuhannya adalah :
dan
Kibrandoko
(1995:243),
yang
diukur
1. Penjualan
1/ 2
 3.958.342.198 
g=

 3.059.049.325 
g = 0,138%
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk penjualan perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan tahun 2005 adalah sebesar 0,138%
2. Laba Operasi Bersih
 96.375.658 
g=

 22.695.282 
g = 1,061%
1/ 2
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba operasi bersih perusahaan dari tahun
2003 sampai dengan tahun 2005 adalah sebesar 1,061%
3. Laba Bersih
 41.936.548 
g=

 811.167.340 
g = −0,773%
1/ 2
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba bersih perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan 2005 adalah sebesar -0,773%
4. Laba per Saham
1/ 2
 11 
g=
 −1
 362 
g = −0,826%
Tingkat pertumbuhan majemuk laba per saham perusahaan dari tahun 2003
sampai dengan 2005 adalah sebesar -0,826%
4.1.1.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures)
Ukuran penilaian atau rasio penilaian adalah ukuran kinerja yang paling
menyeluruh untuk suatu perusahaan karena mencerminkan pengaruh gabungan
dari rasio hasil pengembalian dan resiko. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (Investor) atau pada para
pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat
menghargai perusahaan sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan
harga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku saham.
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:244), rasio-rasio penilaian terdiri
dari :
1. Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham
perusahaan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh pemegang saham.
Rasio Harga terhadap Laba =
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Tabel 4.5
Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Kali
2003
375
362
1,04
2004
345
190
1,82
2005
305
11
27,73
Sumber :Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan memiliki PER (Price Earning Rasio) sebesar
1,04 kali, pada tahun 2004 PER perusahaan meningkat menjadi 1,82 kali, dan
pada tahun 2005 PER perusahaan meningkat lagi menjadi 27,73.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 PER perusahaan naik sebesar 0,78
kali atau dapat dikatakan mengalami peningkatan sebesar 75% dari nilai PER
tahun 2003, walaupun perusahaan mengalami peningkatan rasio penilaian namun
sebenarnya perusahaan mengalami penurunan harga pasar saham sebesar 8% dan
laba per lembar saham sebesar 47,51%, penurunan laba per lembar saham yang
jauh lebih besar dibanding dengan penurunan harga pasar saham inilah yang
menyebabkan rasio perusahaan meningkat. Secara sekilas apabila hanya dilihat
dari peningkatan rasio memang kinerja perusahaan dapat dikatakan meningkat
tetapi apabila dilihat dari penurunan harga pasar saham dan laba per lembar
saham. Kinerja perusahaan dikategorikan menurun, penurunan harga pasar saham
yang berada jauh dibawah nilai nominal juga menunjukkan bahwa investor kurang
tertarik terhadap kinerja perusahaan.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 perusahaan mengalami kenaikan
PER sebesar hampir lima belas kali lipat dari PER tahun sebelumnya. Walaupun
perusahaan mengalami peningkatan rasio penilaian tetapi sebenarnya perusahaan
mengalami penurunan harga pasar saham dan laba per lembar saham masingmasing sebesar 11,59% dan 94,21%. Penurunan laba per lembar saham yang jauh
lebih tinggi dibandingkan penurunan harga pasar saham menyebabkan rasio
perusahaan meningkat. Apabila dilihat dari peningkatan rasio memang kinerja
perusahaan dapat meningkat tetapi jika dilihat dari penurunan harga pasar saham
dan laba per lembar saham maka kinerja perusahaan dikategorikan menurun.
Kinerja perusahaan yang terus menerus menurun dapat menunjukkan bahwa
investor kurang tertarik terhadap kinerja perusahaan.
2. Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada dipasar
dibandingkan dengan nilai buku sahamnya. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan
perusahaan semakin dipercaya, artinya nilai perusahaan menjadi lebih tinggi.
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Tabel 4.6
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Kali
2003
375
(161,58)
-2,32
2004
345
377,53
0,91
2005
305
392,51
0,78
Sumber :Laporan Keuangan PT Polychem Indonesia Tbk, tahun 2003, tahun 2004,dan tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan mengalami penurunan nilai MBVR (Market to
Book Value Ratio) sebesar -2,32 kali, pada tahun 2004 nilai MBVR perusahaan
meningkat menjadi 0,91 kali, dan pada tahun 2005 nilai MBVR perusahaan
kembali mengalami penurunan menjadi 0,78 kali.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 nilai MBVR perusahaan naik
sebesar 1,41 kali
(dari -2,32kali ke 0,91) atau dapat dikatakan mengalami
peningkatan sebesar 139,22% dari nilai MBVR tahun 2003. Hal ini karena
perusahaan pada tahun 2003 mengalami defisit yang lebih besar, dimana defisit
tersebut akan mengurangi nilai ekuitas perusahaan dan juga menyebabkan nilai
buku perusahaan sangat kecil sehingga pada tahun 2004 MBVR perusahaan
meningkat, sedangkan harga pasar saham mengalami penurunan dan tidak jauh
berbeda nilainya, penurunan harga saham mungkin dikarenakan minat masyarakat
terhadap saham perusahaan berkurang. Walaupun terjadi penurunan harga pasar
saham perusahaan pada tahun 2004 sudah dapat mengurangi defisit, jadi hal ini
menunjukkan bahwa kinerja perusahaan mengalami peningkatan.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan
nilai MBVR sebesar 14,29% penurunan ini karena nilai buku perusahaan
meningkat sedangkan harga pasar turun. Jika kita lihat tahun 2005, perusahaan
memiliki nilai buku yang jauh lebih besar dari harga pasar saham, yang berarti
pula investor menilai rendah terhadap saham perusahaan. Dari kasus tersebut
mungkin para investor tersebut menilai rendah terhadap kinerja perusahaan
sehingga kurang berminat untuk membeli saham perusahaan.
4.1.2
Analisa Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk
4.1.2.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio-rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berdasarkan
hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Rasio-rasio
profitabilitas yang digunakan menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland
yang dialih bahasakan oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:239)
adalah:
1. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan (Operating Profit Margin)
Rasio ini mengukur persentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos operasional. Rasio laba operasi bersih terhadap
penjualan banyak digunakan oleh praktisi keuangan sebagai penentu nilai kunci
yang mempengaruhi penelitian atas sebuah perusahaan karena rasio ini
mencerminkan pure profit yang dihasilkan untuk setiap hasil penjualan.
Rasio laba operasi bersih terhadap penjualan =
Laba Operasi Bersih
×100%
Penjualan
Tabel 4.7
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Penjualan
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
10.362.746.203
(14.986.895.604)
526.183.926.489
548.069.967.782
1,97
-2,73
2005
(11.189.828.271)
567.548.515.230
-1,97
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan tahun 2005 memiliki rasio laba operasi bersih masing-masing
sebesar 1,97%, -2,73%, dan -1,97%. Artinya setiap penjualan Rp.1,00 pada
tahun 2003 menghasilkan laba operasi bersih sebesar Rp.0,0197, sedangkan untuk
tahun 2004 dan tahun 2005 dari penjualan Rp.1,00 masing-masing perusahaan
menderita kerugian operasi bersih sebesar Rp.0,0273 dan Rp.0,0197.
Dilihat dari tahun 2003 sampai dengan 2004, rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan perusahaan mengalami penurunan rasio yang cukup tinggi
sebesar 238,58%. Penurunan ini terjadi karena pada tahun 2004 perusahaan
mengalami kenaikan penjualan hanya sebesar 4,16% sedangkan peningkatan
beban pokok penjualan sebesar 10,69% sehingga laba operasi yang dihasilkan
lebih kecil dari pada tahun sebelumnya, dalam kasus ini perusahaan merugi atau
dengan kata lain laba kotor lebih kecil dari beban usaha.
Dari tahun 2004 sampai tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan rasio
sebesar 27,84%. Pada tahun 2005 perusahaan sudah dapat mengurangi kerugian
yang diderita, hal ini karena peningkatan penjualan lebih besar dari pada
peningkatan harga pokok penjualan dari tahun sebelumnya, sehingga pada tahun
2005 perusahaan memiliki laba kotor setelah dikurangi beban usaha masih benilai
negatif namun kerugiannya jauh lebih kecil dari tahun sebelumnya, dan hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan sudah dapat mengendalikan pengeluarannya.
Dari kasus tersebut kinerja perusahaan dapat dikatakan mengalami peningkatan
karena berhasil meningkatkan nilai rasio.
2. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA)
Rasio ini mencoba mengukur efektivitas pemakaian total sumber daya oleh
perusahaan atau dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva =
Laba Operasi Bersih
×100%
Total Aktiva
Tabel 4.8
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA)
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Total Aktiva
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
10.362.746.203
(14.986.895.604)
913.733.973.344
923.895.372.181
1,13
-1,62
2005
(11.189.828.271)
898.038.774.367
-1,25
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Perusahaan pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 memiliki ROA
(Return On Asset) masing-masing sebesar 1,13%, -1,62%, dan -1,25% artinya
pada tahun 2003 setiap penggunaan total aktiva Rp.1,00 perusahaan menghasilkan
laba operasi sebesar Rp.0,0113, sedangkan untuk tahun 2004 dan tahun 2005
setiap penggunaan total aktiva Rp.1,00 perusahaan mengalami rugi operasi bersih
masing-masing sebesar Rp.0,0162 dan Rp.0,0125.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami penurunan ROA yang
cukup tinggi yaitu sebesar 243,36%. Penurunan ini terjadi karena peningkatan
aktiva yang digunakan tidak diimbangi dengan peningkatan laba operasi bersih
melainkan sebaliknya rugi operasi bersih perusahaan menjadi lebih besar.
Peningkatan rugi usaha yaitu karena beban pokok penjualan yang tidak wajar
menyebabkan laba kotor yang dihasilkan lebih kecil dari beban usaha, sedangkan
adanya peningkatan total aktiva pada tahun 2004 terjadi karena peningkatan
aktiva tidak lancar yang cukup tinggi yang disebabkan karena adanya
penambahan taksiran pajak penghasilan. Kinerja perusahaan menurun karena
perusahaan tidak dapat menghasilkan nilai lebih berupa laba operasi bersih
dengan penambahan sejumlah aktiva, hal ini ditunjukkan dengan rasio yang
menurun.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 perusahaan mengalami
peningkatan ROA sebesar 22,84% hal ini karena pada tahun 2005 nilai total aktiva
perusahaan menurun yang sebagian besar karena penurunan aktiva berupa kas,
piutang lain-lain, dan uang muka, sedangkan jumlah kerugian operasi bersih
perusahaan mulai berkurang, jadi dengan penggunaan total aktiva yang lebih kecil
dari tahun sebelumnya perusahaan berhasil mengurangi jumlah kerugian yang
diderita. Sehingga dapat dikatakan perusahaan sudah dapat mengatasi hal-hal
yang menyebabkan laba opersi bersih perusahaan bernilai negatif atau rugi. Dari
kasus tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan meningkat karena nilai
rasio yang meningkat dan juga perusahaan sudah dapat mengurangi rugi
usahanya.
3. Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan (Profit Margin On Sales)
Rasio ini mengukur presentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos termasuk bunga dan pajak. Rasio ini biasa
dijadikan patokan dalam menilai kesuksesan perusahaan karena mengukur
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan =
Laba Bersih
× 100%
Penjualan
Tabel 4.9
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Penjualan
%
2003
8.617.879.672
526.183.926.489
1,64
2004
(50.109.014.142)
548.069.967.782
-9,14
2005
(50.369.368.742)
567.548.515.230
-8.87
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa perusahaan memiliki rasio laba bersih
terhadap penjualan dari tahun 2003 sampai dengan 2005 masing-masing sebesar
1,64%, -9,14, dan -8,87%, artinya setiap penjualan Rp.1,00 pada tahun 2003
perusahaan mampu menghasilkan laba bersih Rp.0,0164, sedangkan pada
tahun 2004 dan tahun 2005 setiap penjualan Rp.1,00 perusahaan mengalami rugi
bersih masing-masing sebesar Rp.0,0914 dan Rp.0,0887.
Dilihat dari rasio laba bersih terhadap penjualan dari tahun 2003 ke tahun
2004 perusahaan mengalami penurunan rasio yang sangat tinggi sebesar 657,32%.
Hal ini terjadi karena penjualan perusahaan meningkat tetapi sebaliknya laba
bersih perusahaan menurun atau bahkan dapat dikatakan mengalami rugi bersih.
Penurunan laba bersih atau dengan kata lain peningkatan rugi bersih perusahaan
pada tahun 2004 terjadi karena adanya penurunan penjualan sisa kapas,
pendapatan bunga, dan laba atas penjualan aktiva tetap. Selain itu terjadinya
peningkatan beban keuangan dan penghasilan rupa-rupa. Penurunan rasio laba
bersih terhadap penjualan dari tahun 2003 sampai tahun 2004 menunjukkan
bahwa kinerja perusahaan juga menurun.
Dari tahun 2004 sampai tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan rasio
sebesar 2,95%. Peningkatan ini dikarenakan adanya penjualan yang meningkat
diiringi dengan kenaikan laba bersih. Peningkatan penjualan lebih besar dari
peningkatan rugi bersih yang hanya 0,52%. Peningkatan laba bersih atau dengan
kata lain rugi bersih tahun 2005 lebih besar dari tahun sebelumnya dikarenakan
penjualan yang dihasilkan perusahaan lebih tinggi tetapi tidak diimbangi dengan
pengeluaran beban lain-lain yang meningkat pula. Dari kasus tersebut dapat
dilihat perusahaan tidak berhasil dalam menekan biaya dengan efektif sehingga
rugi bersih perusahaan pun meningkat, tetapi jika dilihat dari rasio laba bersih
terhadap penjualan meningkat karena nilai rasio yang meningkat.
4. Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return On Equity)
Hasil pengembalian atas ekuitas atau Return on equity sering disebut juga
dengan Rate of return on net worth, rasio ini memperhatikan sejauh mana
perusahaan
mengelola
modal
sendiri
secara efektif,
mengukur
tingkat
pengembalian bagi pemilik modal yang menginvestasikan uangnya ke dalam
perusahaan.
Hasil Pengembalian atas Ekuitas =
Laba Bersih
×100%
Modal Sendiri
Tabel 4.10
Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Modal Sendiri
%
2003
8.617.879.672
339.374.892.808
2,54
2004
(50.109.014.142)
289.772.993.015
-17,29
2005
(50.369.368.742)
239.403.624.273
-21,04
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan tahun 2005 menghasilkan tingkat laba bersih masing-masing
sebesar 2,54%, -17,29%, -21,04% ekuitas yang digunakan. Pada tahun 2003 setiap
penggunaan modal sendiri Rp.1,00 menghasilkan laba bersih masing-masing
sebesar Rp.0,0254, sedangkan pada tahun 2004 dan tahun 2005 dari setiap
penggunaan modal sendiri Rp.1,00 perusahaan mengalami rugi bersih sebesar
Rp.0,1729 dan Rp.0,2104.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami penurunan rasio laba
bersih terhadap penjualan sebesar 114,69%, dapat dilihat bahwa pada tahun 2004
perusahaan mengalami penurunan laba bersih yang cukup tinggi atau perusahaan
sedang menderita kerugian yang disebabkan oleh penjualan yang meningkat tetapi
tidak diimbangi dengan pengeluaran beban usaha dan beban lain-lain yang
meningkat pula. Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami penurunan
dan berarti juga bahwa kinerja perusahaan menurun dilihat dari ROE.
Dari tahun 2004 ke tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan ROE
sebesar 21,69%, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya penurunan ini lebih
kecil. Hal ini terjadi karena perbandingan penurunan modal sendiri lebih besar
dari penurunan laba bersih atau dengan kata lain perusahaan masih mengalami
kerugian. Salah satu penyebab penurunan laba bersih tahun 2005 karena
meningkatnya beban pokok penjualan lebih besar dibandingkan dengan
peningkatan penjualan, selain itu beban lain-lain berupa penjualan sisa kapas,
pendapatan bunga dan laba atas penjualan aktiva tetap menurun. Dilihat dari
penurunan rasio ROE ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dari tahun 2004
ke tahun 2005 mengalami penurunan.
4.1.2.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Rasio-rasio
pertumbuhan
mengukur
sebaik
apa
perusahaan
mempertahankan posisi ekonomisnya di dalam industrinya. Data yang dilaporkan
adalah dalam angka-angka nominal sehingga tingkat pertumbuhan yang dihitung
merupakan penjumlahan pertumbuhan nyata ditambah faktor kenaikan tingkat
harga. Tingkat pertumbuhan dihitung dengan menggunakan metode titik-titik
X
g =  n
 X0
ujung, yaitu :
Dimana : g



1/ n
−1
= Tingkat pertumbuhan majemuk selama periode tercakup
Xn
= Nilai titik akhir
Xo
= Nilai titik awal
N
= Jumlah periode pertumbuhan
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh
A.
Jaka
Wasana
dan
Kibrandoko
(1995:243),
yang
diukur
pertumbuhannya adalah :
1. Penjualan
1/ 2
 567.548.515.230 
g=

 526.183.926.489 
g = 0,039%
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk penjualan perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan tahun 2005 adalah sebesar 0,039%
2. Laba Operasi Bersih
1/ 2
 (11.189.828.271) 
g=

 10.362.746.203 
g = −2,039%
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba operasi bersih perusahaan dari tahun
2003 sampai dengan tahun 2005 adalah sebesar -2,039%
3. Laba Bersih
1/ 2
 (50.369.368.742) 
g=

 8.617.879.672 
g = −3,418%
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba bersih perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan 2005 adalah sebesar -3,418%
4. Laba per Saham
1/ 2
 (60) 
g=
 −1
 10 
g = −3,449%
Tingkat pertumbuhan majemuk laba per saham perusahaan dari tahun 2003
sampai dengan 2005 adalah sebesar -3,449%
4.1.2.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures)
Ukuran penilaian atau rasio penilaian adalah ukuran kinerja yang paling
menyeluruh untuk suatu perusahaan karena mencerminkan pengaruh gabungan
dari rasio hasil pengembalian dan resiko. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (Investor) atau pada para
pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat
menghargai perusahaan sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan
harga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku saham.
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:244), rasio-rasio penilaian terdiri
dari :
1. Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham
perusahaan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh pemegang saham.
Rasio Harga terhadap Laba =
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Tabel 4.11
Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Kali
2003
140
10
14
2004
150
(60)
-2,5
2005
340
(60)
-5,67
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan memiliki PER (Price Earning Ratio) sebesar
14 kali, pada tahun 2004 PER perusahaan turun menjadi -2,5 kali, dan pada
tahun 2005 PER perusahaan turun lagi menjadi -5,67 kali.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 PER perusahaan mengalami
penurunan sebesar 117,86%, sedangkan kenaikan harga pasar saham yang hanya
sebesar 7,14%. Laba per lembar saham perusahaan menjadi bernilai negatif atau
dengan kata lain perusahaan menderita kerugian, dan kerugian ini terjadi karena
perusahaan pada tahun 2004 mengeluarkan beban usaha yang lebih besar daripada
tahun 2003. Kinerja perusahaan menurun yang diakibatkan karena perusahaan
mengalami rugi bersih pada tahun 2004 sehingga PER bernilai negatif.
Dari tahun 2004 ke tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan PER
sebesar 3,17 kali (dari -2,5 kali ke -5,67 kali) atau dengan kata lain PER
perusahaan mengalami penurunan sebesar 126,8%. Penurunan ini karena
perusahaan mengalami kenaikan harga saham, sedangkan laba per lembar saham
masih bernilai negatif atau dengan kata lain perusahaan masih menderita kerugian.
Jumlah saham yang beredar pada tahun 2004 dan tahun 2005 sama jumlah nya
mengakibatkan laba bersih yang bernilai negatif lebih besar jika dibagi dengan
saham yang beredar tentunya akan menghasilkan laba per lembar saham yang
lebih kecil pula. Nilai PER yang terus menurun selama dua periode ini,
menunjukkan kurangnya kepercayaan masyarakat kepada perusahaan.
2. Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada dipasar
dibandingkan dengan nilai buku sahamnya. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan
perusahaan semakin dipercaya, artinya nilai perusahaan menjadi lebih tinggi.
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Tabel 4.12
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Kali
2003
140
405,61
0,35
2004
150
347,58
0,43
2005
340
297,12
1,14
Sumber :Laporan Keuangan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan memiliki nilai MBVR (Market to Book Value)
sebesar 0,35 kali, pada tahun 2004 nilai MBVR perusahaan meningkat menjadi
0,43 kali, dan pada tahun 2005 nilai MBVR meningkat lagi menjadi 1,14kali.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 nilai MBVR perusahaan naik
sebesar 0,08 kali (dari 0,35kali ke 0,43kali) atau meningkat dengan tingkat
kenaikan sebesar 22,86%. Hal ini terjadi karena pada tahun 2004 harga pasar
saham mengalami kenaikan, tetapi nilai buku saham perusahaan mengalami
penurunan. Harga pasar saham yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan
memiliki tingkat pengembalian ekuitas yang relatif tinggi sehingga masyarakat
atau investor sanggup untuk membeli saham perusahaan dengan harga yang
tinggi. Dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa dengan meningkatnya nilai MBVR
menunjukkan kinerja perusahaan meningkat.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 perusahaan memiliki nilai MBVR
yang meningkat sebesar 165,17%, hal ini karena pada tahun 2005 perusahaan
memiliki harga saham yang jauh lebih besar dari tahun sebelumnya, tetapi
sebaliknya nilai buku perusahaan menurun. Dilihat dari nilai MBVR tahun 2004
ke tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan rasio sehingga dapat dikatakan
bahwa kinerja perusahaan juga meningkat, hal ini juga ditandai dengan harga
pasar saham yang sangat tinggi dan berarti menunjukkan bahwa perusahaan
dimata masyarakat memiliki kinerja yang baik.
4.1.3
Analisis Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk
4.1.3.1 Rasio Profitabilitas
Rasio-rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berdasarkan
hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Rasio-rasio
profitabilitas yang digunakan menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland
yang dialih bahasakan oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:239)
adalah:
1. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan (Operating Profit Margin)
Rasio ini mengukur persentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos operasional. Rasio laba operasi bersih terhadap
penjualan banyak digunakan oleh praktisi keuangan sebagai penentu nilai kunci
yang mempengaruhi penelitian atas sebuah perusahaan karena rasio ini
mencerminkan pure profit yang dihasilkan untuk setiap hasil penjualan.
Rasio laba operasi bersih terhadap penjualan =
Laba Operasi Bersih
×100%
Penjualan
Tabel 4.13
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Penjualan
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
2005
(131.411.143.275)
(46.901.649.604) (24.900.754.660)
978.309.034.011
1.073.767.661.309 846.946.258.114
-13,43
-4,37
-2,94
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan 2005 memiliki tingkat kerugian operasi bersih masing-masing
sebesar -13,43%, -4,37%, dan -2,94% dari penjualan yang dicapai, artinya
perusahaan menderita kerugian operasi bersih pada tahun 2003, 2004, dan 2005
masing-masing sebesar Rp.0,1343, Rp.0,0437, dan Rp.0,0294 dari setiap penjulan
Rp.1,00 pada masing-masing tahun tersebut.
Dilihat dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004, rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan perusahaan mengalami peningkatan rasio yang cukup tinggi
dengan tingkat peningkatan sebesar 67,46%, peningkatan ini terjadi karena pada
tahun 2004 perusahaan sudah mulai dapat mengurangi kerugian yang diderita, hal
ini terjadi karena tingkat kenaikan laba operasi bersih sebesar 64,31% lebih tinggi
dibandingkan dengan tingkat kenaikan penjualan yang hanya sebesar 9,76%.
Kenaikan laba operasi bersih ini disebabkan karena adanya kenaikan laba kotor
dan turunnya beban usaha. Turunnya beban usaha sebagian besar karena turunnya
beban pengiriman, beban gaji upah dan tunjangan, biaya perangkat lunak, dan
beban asuransi. Sehingga pada tahun 2004 perusahaan memiliki laba kotor setelah
dikurangi beban usaha masih bernilai negatif namun kerugiannya jauh lebih kecil
dari tahun sebelumnya, dan hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah dapat
mengendalikan pengeluarannya. Kinerja perusahaan dapat dikatakan mengalami
peningkatan meskipun menghasilkan rasio yang negatif, tetapi berhasil
meningkatkan nilai rasio.
Dari tahun 2004 sampai dengan 2005 perusahaan mengalami peningkatan
rasio laba operasi bersih sebesar 32,72%. Peningkatan ini terjadi karena
perusahaan
berhasil
mengurangi
kerugian
yang
diderita
dan
berhasil
meningkatkan laba operasi bersih sebesar 46,91% dari penjualan yang dilakukan.
Meskipun penjualan mengalami penurunan tetapi beban pokok penjualan dan
beban usaha jauh lebih kecil dari tahun sebelumnya sehingga pada tahun 2005
perusahaan memiliki laba kotor setelah dikurangi beban usaha masih bernilai
negatif namun kerugiannya jauh lebih kecil dari tahun 2004. Dari kasus tersebut
menunjukkan bahwa kinerja perusahaan meningkat karena nilai rasio yang
meningkat dan juga perusahaan sudah dapat mengurangi kerugian yang diderita.
2. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA)
Rasio ini mencoba mengukur efektivitas pemakaian total sumber daya oleh
perusahaan atau dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva =
Laba Operasi Bersih
×100%
Total Aktiva
Tabel 4.14
Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (ROA)
Tahun 2003,2004,2005
Tahun
Laba Operasi Bersih
Total Aktiva
%
(dalam Rupiah)
2003
2004
2005
(131.411.143.275)
(46.901.649.604)
(24.900.754.660)
1.863.038.755.694
1.113.478.491.441
1.036.533.198.305
-7,05
-4,21
-2,40
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Perusahaan pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 memiliki tingkat
kerugian operasi bersih masing-masing -7,05%, -4,21%, -2,40% dari total aktiva
yang digunakan, artinya setiap penggunaan total aktiva Rp.1,00 pada tahun 2003,
2004, dan 2005 perusahaan mengalami rugi operasi bersih masing-masing sebesar
Rp.0,0705, Rp.0,0421, dan Rp.0,0240.
Pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 perusahaan mengalami
peningkatan ROA (Return On Asset) sebesar 40,28%. Peningkatan ini karena pada
tahun 2004 nilai total aktiva perusahaan menurun yang disebabkan karena pada
tahun 2003 terdapat neraca konsolidasi untuk operasi yang dilanjutkan dan neraca
PFI dan PIM untuk operasi dalam penghentian, sehingga menyebabkan nilai
aktiva tahun 2003 lebih besar dari tahun 2004. Jadi dengan penggunaan total
aktiva yang lebih kecil dari tahun sebelumnya, perusahaan berhasil mengurangi
jumlah kerugian yang diderita. Dari kasus tersebut menunjukkan bahwa kinerja
perusahaan meningkat karena nilai rasio yang meningkat dan juga perusahaan
sudah dapat mengurangi rugi usahanya.
Dari tahun 2004 ke tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan ROA
sebesar 42,99% hal ini karena pada tahun 2005 nilai total aktiva perusahaan
menurun yang sebagian besar karena menurunnya aktiva lancar berupa kas dan
setara kas, dan piutang lain-lain kepada pihak ketiga, selain itu juga penurunan
aktiva tidak lancar yang cukup tinggi disebabkan karena penurunan investasi
saham, piutang kepada pihak hubungan istimewa, dan uang muka pembelian
aktiva tetap. Jadi dengan penggunaan total aktiva tahun 2005 yang lebih kecil
nilainya dari tahun 2004, perusahaan berhasil mengurangi jumlah kerugian yang
diderita, sehingga dapat dikatakan perusahaan sudah dapat mengatasi hal-hal yang
menyebabkan laba operasi bersih perusahaan bernilai negatif atau rugi. Hal ini
berarti bahwa kinerja perusahaan meningkat karena nilai ROA yang meningkat
dan juga perusahaan sudah dapat mengurangi rugi usahanya.
3. Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan (Profit Margin On Sales)
Rasio ini mengukur presentase laba dari hasil penjualan yang tersisa setelah
dikurangi semua ongkos-ongkos termasuk bunga dan pajak. Rasio ini biasa
dijadikan patokan dalam menilai kesuksesan perusahaan karena mengukur
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan =
Laba Bersih
× 100%
Penjualan
Tabel 4.15
Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Penjualan
%
2003
(29.276.243.860)
978.309.034.011
-2,99
2004
(16.566.369.435)
1.073.767.661.309
-1,54
2005
87.003.084.913
846.946.258.114
10,27
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa perusahaan memiliki rasio laba bersih
terhadap penjualan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 masing-masing
sebesar -2,99%, -1,54%, dan 10,27%, artinya setiap penjualan Rp.1,00 pada tahun
2003 dan tahun 2004 perusahaan mengalami rugi bersih masing-masing sebesar
Rp.0,0299, Rp.0,0154, sedangkan tahun 2005 setiap penjualan Rp.1,00
perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0,1027.
Dilihat dari rasio laba bersih terhadap penjualan dari tahun 2003 ke tahun
2004 perusahaan mengalami peningkatan rasio sebesar 48,49%. Peningkatan ini
dikarenakan adanya penjualan yang meningkat diiringi dengan kenaikan laba
bersih meskipun perusahaan masih dalam keadaan rugi namun perusahaan sudah
dapat menekan rugi usaha dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan
laba bersih atau berkurangnya rugi usaha jauh lebih besar dari peningkatan
penjualan yang hanya 5,67%. Laba bersih meningkat atau dengan kata lain rugi
usaha lebih kecil dari tahun sebelumnya karena penjualan yang dihasilkan
perusahaan lebih tinggi tetapi beban usaha lebih kecil dibanding tahun
sebelumnya. Disamping itu terdapat peningkatan penghasilan keuntungan
restrukturisasi hutang, peningkatan keuntungan penjualan investasi saham, dan
beban bunga yang dikeluarkan pun lebih kecil. Dari kasus tersebut dapat dilihat
bahwa perusahaan berhasil dalam menekan biaya dengan efektif sehingga rasio
laba bersih terhadap penjualan meningkat dan juga menunjukkan bahwa kinerja
perusahaan meningkat.
Dari tahun 2004 sampai tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan laba
bersih terhadap penjualan yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena pada tahun
2005 laba bersih perusahaan meningkat cukup signifikan dari tahun 2004, dimana
pada
tahun
sebelumnya
perusahaan
mengalami
rugi
bersih
sebesar
Rp.16.566.369.435 dan perusahaan pada tahun 2005 mengalami laba bersih
sebesar Rp.87.003.084.913. Peningkatan laba bersih ini karena pada tahun 2005
perusahaan hanya memiliki laporan laba rugi perusahaan saja, sebaliknya pada
tahun 2004 terdapat laporan laba rugi untuk operasi yang dilanjutkan dan laporan
laba rugi untuk operasi dalam penghentian (sebelum terdilusi). Kinerja perusahaan
meningkat karena perusahaan berhasil meningkatkan nilai rasio laba bersih
terhadap penjualan, dan hal ini dibuktikan dengan meningkatnya laba bersih yang
cukup tinggi.
4. Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return On Equity)
Hasil pengembalian atas ekuitas atau Return on equity sering disebut juga
dengan Rate of return on net worth, rasio ini memperhatikan sejauh mana
perusahaan
mengelola
modal
sendiri
secara efektif,
mengukur
tingkat
pengembalian bagi pemilik modal yang menginvestasikan uangnya ke dalam
perusahaan.
Hasil Pengembalian Atas Ekuitas =
Laba Bersih
×100%
Modal Sendiri
Tabel 4.16
Hasil Pengembalian atas Ekuitas (ROE)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Laba Bersih
Modal Sendiri
%
2003
(29.276.243.860)
247.183.730.253
-11,84
2004
(16.566.369.435)
275.629.476.965
-6,01
2005
87.003.084.913
420.327.840.844
20,70
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Dari perhitungan diatas, menunjukkan bahwa perusahaan pada tahun 2003
sampai dengan tahun 2005 menghasilkan tingkat laba bersih masing-masing
sebesar -11,84%, -6,01%, 20,70% ekuitas yang digunakan. Pada tahun 2003 dan
tahun 2004 dari setiap penggunaan modal sendiri Rp.1,00 perusahaan mengalami
rugi bersih masing-masing sebesar Rp.0,1184 dan Rp.0,0601, sedangkan pada
tahun 2005 setiap penggunaan modal sendiri Rp.1,00 menghasilkan laba bersih
sebesar Rp.0,2070.
Dari tahun 2003 ke tahun 2004 perusahaan mengalami peningkatan ROE
(Return on Equity) sebesar 49,24%, hal ini terjadi karena perbandingan
peningkatan laba bersih jauh lebih besar dari peningkatan modal sendiri atau
ekuitas dari tahun sebelumnya. Peningkatan laba bersih sebagian besar karena
peningkatan penjualan dan penurunan beban usaha berupa beban pengiriman,
beban gaji upah dan tunjangan, biaya perangkat lunak, dan beban asuransi. Selain
itu juga karena meningkatnya keuntungan restrukturisasi hutang dan keuntungan
penjualan investasi saham diiringi dengan beban bunga dan keuangan yang lebih
kecil dari tahun sebelumnya. Sedangkan salah satu penyebab peningkatan ekuitas
pada tahun 2004 karena terdapat selisih transaksi perubahan ekuitas perusahaan
asosiasi. Kinerja perusahaan meningkat dilihat dari ROE, dan hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengurangi rugi usaha dan mengelola
dengan baik dari sejumlah modal yang digunakan.
Dari tahun 2004 sampai tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan ROE
yang cukup tinggi, terjadinya peningkatan ini karena tingkat kenaikan laba bersih
yang dihasilkan jauh lebih besar dari tingkat kenaikan modal sendiri. Kenaikan
ekuitas perusahaan dikarenakan jumlah saham yang ditempatkan dan disetor pada
tahun 2005 berjumlah 1.058.771.000 saham dan untuk tahun 2004 berjumlah
708.571.000 saham,sedangkan nilai nominal perusahaan untuk tahun 2004 dan
tahun 2005 berjumlah sama. sehingga pada tahun 2005 nilai modal ditempat dan
disetor menjadi meningkat dari pada tahun sebelumnya, hal tersebut merupakan
salah satu penyebab meningkatnya ekuitas tahun 2005. Sedangkan peningkatan
laba bersih sebagian besar karena pada tahun 2004 terdapat laporan laba rugi
untuk operasi yang dilanjutkan dan laporan laba rugi untuk operasi dalam
penghentian, sedangkan tahun 2005 perusahaan hanya memiliki laporan laba rugi
perusahaan saja. Meningkatnya ROE yang cukup tinggi, hal ini menunjukkan
bahwa kinerja perusahaan meningkat.
4.1.2.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Rasio-rasio
pertumbuhan
mengukur
sebaik
apa
perusahaan
mempertahankan posisi ekonomisnya di dalam industrinya. Data yang dilaporkan
adalah dalam angka-angka nominal sehingga tingkat pertumbuhan yang dihitung
merupakan penjumlahan pertumbuhan nyata ditambah faktor kenaikan tingkat
harga. Tingkat pertumbuhan dihitung dengan menggunakan metode titik-titik
X
g =  n
 X0
ujung, yaitu :
Dimana : g



1/ n
−1
= Tingkat pertumbuhan majemuk selama periode tercakup
Xn
= Nilai titik akhir
Xo
= Nilai titik awal
N
= Jumlah periode pertumbuhan
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh
A.
Jaka
Wasana
pertumbuhannya adalah :
dan
Kibrandoko
(1995:243),
yang
diukur
1. Penjualan
 846.946.258.114 
g=

 978.309.034.011 
g = −0,070%
1/ 2
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk penjualan perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan tahun 2005 adalah sebesar -0,070%
2. Laba Operasi Bersih
 (24.900.754.660 ) 

g = 
 (131.411.143.275) 
g = −0,565%
1/ 2
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba operasi bersih perusahaan dari tahun
2003 sampai dengan tahun 2005 adalah sebesar -0,565%
3. Laba Bersih
 87.033.084.913 

g = 
 (29.276.243.860 ) 
g = −2,724%
1/ 2
−1
Tingkat pertumbuhan majemuk laba bersih perusahaan dari tahun 2003 sampai
dengan 2005 adalah sebesar -2,724%
4. Laba per Saham
1/ 2
 115 
 − 1
g = 
 (55) 
g = −2,446%
Tingkat pertumbuhan majemuk laba per saham perusahaan dari tahun 2003
sampai dengan 2005 adalah sebesar -2,446%
4.1.1.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures)
Ukuran penilaian atau rasio penilaian adalah ukuran kinerja yang paling
menyeluruh untuk suatu perusahaan karena mencerminkan pengaruh gabungan
dari rasio hasil pengembalian dan resiko. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (Investor) atau pada para
pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat
menghargai perusahaan sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan
harga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku saham.
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland yang dialih bahasakan
oleh A. Jaka Wasana dan Kibrandoko (1995:244), rasio-rasio penilaian terdiri
dari :
1. Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham
perusahaan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh pemegang saham.
Rasio Harga terhadap Laba =
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Tabel 4.17
Rasio Harga terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Laba per Lembar Saham
Kali
2003
275
(55)
-5
2004
500
(29)
-17,24
2005
450
115
3,91
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan memiliki PER (Price Earning Ratio) sebesar
-5kali, pada tahun 2004 PER perusahaan turun menjadi -17,24 kali, dan pada
tahun 2005 PER perusahaan meningkat menjadi 3,91 kali.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 perusahaan mengalami penurunan
PER sebesar 12,24 kali (dari -5kali ke -17,24kali) atau dengan kata lain PER
perusahaan mengalami penurunan yang cukup tinggi sebesar 244,8%. Penurunan
ini karena perusahaan mengalami kenaikan harga pasar saham sedangkan laba per
lembar saham masih bernilai negatif atau dengan kata lain perusahaan masih
menderita kerugian. Meningkatnya laba per lembar saham dikarenakan kenaikan
penjualan yang diimbangi dengan kenaikan beban pokok penjualan sedangkan
beban usaha dan rugi sebelum hak minoritas atas rugi bersih anak perusahaan
mengalami penurunan, sehingga kerugian yang dialami perusahaan pada tahun
2004 lebih kecil dari tahun sebelumnya. Laba bersih yang lebih besar atau dapat
dikatakan kerugian perusahaan berkurang jika dibagi dengan jumlah saham yang
beredar tentunya akan menghasilkan laba per lembar saham yang lebih besar atau
rugi per lembar saham menjadi lebih kecil. Perusahaan sebenarnya mengalami
peningkatan karena sudah dapat menekan rugi usahanya dan harga saham yang
tinggi menunjukkan minat masyarakat cukup besar untuk memiliki saham
perusahaan, tetapi jika dilihat dari rasio PER kinerja perusahaan menurun karena
mengalami penurunan rasio.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 PER perusahaan naik sebesar
13,33kali (dari -17,24kali ke 3,91kali) atau dapat dikatakan mengalami
peningkatan sebesar 122,68% dari nilai PER tahun 2004, kenaikan ini karena
perusahaan mengalami peningkatan pada laba per saham yang semula pada tahun
2004 bernilai negatif karena perusahaan menderita kerugian, peningkatan laba per
saham ini karena perusahaan mengalami peningkatan laba bersih sehingga laba
bersih dibagi dengan jumlah saham yang beredar pada tahun 2005 lebih tinggi.
Kinerja perusahaan meningkat karena perusahaan berhasil meningkatkan nilai
PER yang semula bernilai negatif yang diakibatkan karena perusahaan mengalami
rugi bersih pada tahun 2004.
2. Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada dipasar
dibandingkan dengan nilai buku sahamnya. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan
perusahaan semakin dipercaya, artinya nilai perusahaan menjadi lebih tinggi.
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Tabel 4.18
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market To Book Value Ratio)
Tahun 2003,2004,2005
(Dalam Rupiah)
Tahun
Harga Pasar Saham
Nilai Buku Saham
Kali
2003
275
464,63
0,59
2004
500
388,99
1,29
2005
450
268,41
1,68
Sumber :Laporan Keuangan PT Panasia Indosyntec Tbk, tahun 2003, tahun 2004, dan tahun 2005.
Pada tahun 2003 perusahaan memiliki nilai MBVR (Market to Book Value)
sebesar 0,59 kali, pada tahun 2004 nilai MBVR perusahaan meningkat menjadi
1,29 kali, dan pada tahun 2005 nilai MBVR meningkat lagi menjadi 1,68 kali.
Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 nilai MBVR perusahaan naik
sebesar 0,7 kali (dari 0,59kali ke 1,29kali). Hal ini karena perusahaan pada tahun
2004 memiliki harga saham yang jauh lebih besar dari tahun sebelumnya atau
meningkat sebesar 81,82%, sedangkan nilai buku saham mengalami penurunan
sebesar 16,28%. Harga saham yang tinggi menunjukkan pula bahwa perusahaan
memiliki tingkat pengembalian ekuitas yang relatif tinggi sehingga masyarakat
atau investor sanggup untuk membeli saham perusahaan dengan harga yang
tinggi. Dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa dengan meningkatnya nilai MBVR
menunjukkan kinerja perusahaan meningkat.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 perusahaan memiliki nilai MBVR
yang meningkat sebesar 30,23%, hal ini disebabkan karena pada tahun 2005 harga
pasar saham perusahaan mengalami penurunan sebesar 10%, sedangkan
penurunan nilai buku saham jauh lebih besar yaitu sebesar 30,99%. Kinerja
perusahaan meningkat karena memiliki nilai MBVR yang meningkat, selain itu
nilai buku saham perusahaan jauh di bawah harga pasar saham yang berarti bahwa
nilai perusahaan di mata masyarakat memiliki kinerja yang baik.
4.2
Pembahasan
Hasil pembahasan yang akan penulis uraikan adalah menilai kinerja perusahaan pada kelompok industri tekstil berdasarkan
hasil analisis laporan keuangan, yang dibandingkan antara perusahaan yang satu dengan lainnya selama tahun 2003 sampai
dengan tahun 2005.
4.2.1
Penilaian Kinerja Dilihat dari Hasil Analisis Laporan Keuangan
4.2.1.1 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Tabel 4.19
Ikhtisar Penilaian Kinerja dilihat dari Rasio Profitabilitas
Tahun 2003,2004,dan 2005
(dalam %)
Perusahaan
ADMG
SSTM
HDTX
Rasio Laba Operasi Bersih
Terhadap Penjualan
Rasio Laba Operasi Bersih
Terhadap Total Aktiva
2003
0,74
1,97
-13,43
2003
0,36
1,13
-7,05
2004
10,32
-2,73
-4,37
2005
2,43
-1,97
-2,94
2004
10,17
-1,62
-4,21
2005
2,17
-1,25
-2,40
Rasio Laba Bersih
Terhadap Penjualan
2003
26,52
1,64
-2,99
2004
10,22
-9,14
-1,54
2005
1,06
-8,87
10,27
Hasil Pengembalian
Atas Ekuitas
2003
-224,17
2,54
-11,84
2004
31,20
-17,29
-6,01
2005
2,78
-21,04
20,70
Sumber: Laporan Keuangan dari PT Polychem Indonesia (ADMG), PT Sunson Textile Manufacture (SSTM), PT Panasia Indosyntec (HDTX), tahun 2003,
tahun 2004, dan tahun 2005.
1. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Penjualan (Operating Profit Margin)
Berdasarkan tabel 4.19 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Tahun 2003 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan dipegang oleh PT Sunson Textile Manufacture karena
memiliki nilai rasio yang tertinggi sebesar 1,97%, dibandingkan PT Polychem
Indonesia dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar 0,74%
dan -13,43%.
Besarnya rasio laba operasi bersih terhadap penjualan pada PT Sunson
Textile ini karena penjualan perusahaan yang meningkat, sedangkan besarnya
beban pokok penjulan tidak terlalu besar sehingga menghasilkan laba kotor
yang cukup besar. Besarnya laba kotor dan rendahnya beban usaha
menyebabkan laba operasi bersih yang tinggi. Beban usaha yang kecil
dikarenakan perusahaan dapat menekan biaya pemasaran, biaya reparasi dan
pemeliharaan, dan juga melakukan penghematan dalam biaya premi asuransi.
b. Tahun 2004
Tahun 2004 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan dipegang oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki
nilai rasio tertinggi sebesar 10,32%, dibandingkan PT Sunson Textile
Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar -2,73%
dan -4,37%.
Besarnya rasio laba operasi bersih terhadap penjualan yang hanya
23,54% dari penjualan yang dilakukan sehingga menghasilkan laba kotor yang
cukup besar. Nilai rasio laba operasi bersih terhadap penjualan yang tinggi
pada PT Polychem Indonesia ini karena penjualan perusahaan yang
meningkat yang berasal dari salah satu pihak yang mempunyai hubungan
istimewa yaitu PT Gajah Tunggal, selain itu karena beban pokok penjualan
yang tidak terlalu besar dan beban usaha yang lebih kecil, kecilnya beban
usaha ini dikarenakan penurunan beban pemasaran dan promosi, beban gaji
dan tunjangan, royalti dan penurunan beban perjalanan dinas.
c. Tahun 2005
Tahun 2005 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan dipegang oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki
nilai rasio yang tertinggi sebesar 2,43% dibandingkan dengan PT Sunson
Textile Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar
-1,97% dan -2,94%
Besarnya rasio laba operasi bersih terhadap penjualan PT Polychem
Indonesia ini karena, kenaikan penjualan lebih tinggi dibandingkan dengan
kenaikan beban pokok penjualan yang menghasilkan laba kotor yang cukup
besar, selain itu turunnya beban usaha seperti penurunan beban pemasaran dan
promosi, gaji dan tunjangan, perjalanan dinas jasa manajemen dan profesional,
baban
piutang
ragu-ragu
dan
transportasi
menyebabkan
perusahaan
menghasilkan laba operasi yang besar, hal ini dibuktikan dengan perbandingan
laba operasi bersih terhadap penjualan yang presentasenya paling tinggi jika
dibandingkan dengan perusahaan lain.
2. Rasio Laba Operasi Bersih terhadap Total Aktiva (Return On Assets)
Berdasarkan tabel 4.19 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Tahun 2003 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap total aktiva dipegang oleh PT Sunson Textile Manufacture karena
memiliki nilai rasio yang tertinggi sebesar 1,13%, dibandingkan PT Polychem
Indonesia dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar 0,36%
dan -7,05%.
Besarnya nilai rasio laba operasi bersih terhadap total aktiva
PT Sunson Textile Manufacture ini, karena perusahaan berhasil memperoleh
laba yang cukup besar dari total aktiva yang digunakan, sebenarnya total
aktiva perusahaan cukup besar, aktiva yang besar ini ternyata sebagian besar
karena perusahaan memiliki kas dan setara kas, dan investasi sementara yang
tinggi. Walaupun aktiva yang digunakan cukup besar, namun dari laba operasi
bersih yang dihasilkan perusahaan masih dapat dikatakan wajar, hal ini
ditunjukkan dengan perbandingan laba operasi bersih yang dihasilkan
perusahaan dan total aktiva yang digunakan perusahaan memiliki nilai rasio
yang paling tinggi dibandingkan PT Polychem Indonesia dan PT Panasia
Indosyntec.
b. Tahun 2004
Tahun 2004 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap total aktiva dipegang oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki
nilai rasio yang tertinggi sebesar 10,17%, dibandingkan PT Sunson Textile
Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar -1,62%
dan -4,21%.
Nilai yang tinggi pada rasio laba operasi bersih terhadap total aktiva
PT Polychem Indonesia ini, karena perusahaan mampu meningkatkan laba
operasi yang cukup besar dari total aktiva yang digunakan, dalam hal ini total
aktiva yang digunakan perusahaan lebih kecil dari tahun sebelumnya. Laba
operasi bersih yang cukup tinggi ini karena perusahaan berhasil meningkatkan
penjualan, dan setelah dikurangi beban pokok penjualan perusahaan masih
dapat menghasilkan laba kotor yang besar. Penjualan perusahaan meningkat
karena sebagian besar penjualan kain ban, polyester, petrokimia, benang nylon
dan karet sintetik mengalami kenaikan. Selain itu beban usaha yang
mengalami penurunan terjadi karena perusahaan dapat menekan biaya
penjualan, umum dan administrasi. Penurunan beban usaha tentunya
menghasilkan laba operasi yang cukup tinggi. Total aktiva yang digunakan
menurun sebagian besar karena penyusutan aktiva tetap, dari keterangan diatas
dapat dikatakan bahwa perusahaan memiliki tingkat pengembalian yang cukup
baik karena dengan total aktiva yang lebih kecil perusahaan berhasil
meningkatkan laba operasi bersih.
c. Tahun 2005
Tahun 2005 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap total aktiva dipegang oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki
nilai rasio yang tertinggi sebesar 2,17%, dibandingkan PT Sunson Textile
Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar -1,25%
dan -2,40%.
Besarnya nilai Return On Assets (ROA) tahun 2005 pada PT Polychem
Indonesia karena perusahaan mengalami penurunan total aktiva yang tidak
terlalu besar dibandingkan dengan penurunan laba operasi bersih. Total aktiva
menurun sebagian besar karena penurunan kas dan setara kas, biaya dibayar
dimuka. Sedangkan penurunan laba operasi bersih karena penurunan
penjualan yang lebih besar daripada beban pokok penjualan sehingga
menghasilkan laba kotor yang tidak terlalu besar, dan setelah dikurangi
dengan beban usaha ternyata perusahaan menghasilkan laba operasi bersih
yang menurun. Walaupun rasio PT Polychem Indonesia menurun namun
perusahaan masih dapat mempertahankan nilai rasionya karena nilainya lebih
tinggi dari dua perusahaan lainnya.
3. Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan (Profit Margin On Sales)
Berdasarkan Tabel 4.19 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Tahun 2003 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan oleh PT Polychem Indonesia Manufacture karena memiliki
nilai rasio yang tertinggi sebesar 26,52%, dibandingkan PT Sunson Textile
dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar 1,64% dan -2,99%.
Nilai rasio laba bersih terhadap penjualan yang tinggi pada
PT Polychem Indonesia karena perusahaan pada tahun 2003 mengalami
restrukturisasi hutang dimana saldo hutang sebesar US $162.541.000 dirubah
menjadi pinjaman jangka panjang baru yang jatuh tempo dalam waktu
10 tahun.
Dari restrukturisasi tersebut perusahaan mendapatkan keuntungan
restrukturisasi setelah dikurangi beban pajak dan beban restrukturisasi terkait.
Keuntungan restrukturisasi ini menambah laba bersih perusahaan sehingga
laba bersih perusahaan meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan
peningkatan penjualan yang pada akhirnya menghasilkan nilai rasio laba
bersih terhadap penjualan yang cukup tinggi.
b. Tahun 2004
Tahun 2004 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki nilai rasio
yang tertinggi sebesar 10,22%, dibandingkan PT Sunson Textile Manufacture
dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio sebesar -9,14% dan -1,54%.
Besarnya rasio laba bersih terhadap penjualan PT Polychem Indonesia
ini, karena perusahaan mengalami peningkatan penjualan sedangkan laba
bersih menurun, walaupun laba bersih perusahaan menurun namun
penurunannya masih dapat dikatakan wajar, hal ini dibuktikan dengan nilai
rasio laba bersih terhadap penjualan perusahaan yang masih memiliki nilai
paling tinggi diantara dua perusahaan lainnya, meningkatnya penjualan
sebagian besar karena perusahaan berhasil meningkatkan penjualan ekspor ke
negara Australia. Sedangkan laba bersih menurun karena beban lain-lain
berupa keuntungan kurs mata uang asing menurun dan rendahnya keuntungan
restrukturisasi.
c. Tahun 2005
Tahun 2005 kinerja terbaik dilihat dari rasio laba operasi bersih
terhadap penjualan oleh PT Panasia Indosyntec karena memiliki nilai rasio
yang tertinggi sebesar 10,27%, dibandingkan PT Polychem Indonesia dan
PT Sunson Textile Manufacture dengan nilai rasio sebesar 1,06% dan -8,87%.
Besarnya rasio laba bersih terhadap penjualan PT Panasia Indosyntec
ini, karena perusahaan mengalami peningkatan laba bersih sedangkan
penjualan menurun. Penurunan penjualan dikarenakan pada tahun 2005 hanya
terdapat 52,21% dari penjualan bersih operasi, sedangkan pada tahun 2004
terdapat 44,99% dari penjualan bersih operasi serta 15,18% dari penjualan
bersih operasi dalam penghentian yang dilakukan dengan pihak-pihak
hubungan istimewa. Sebaliknya perusahaan mengalami peningkatan laba
bersih yang cukup signifikan dimana pada tahun sebelumnya perusahaan
mengalami kerugian, sehingga pada akhirnya perusahaan menghasilkan nilai
rasio laba bersih terhadap penjualan yang cukup tinggi.
4. Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return On Equity)
Berdasarkan tabel 4.19 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Tahun 2003 kinerja terbaik dilihat dari hasil pengembalian atas ekuitas
dipegang oleh PT Sunson Textile Manufacture karena memiliki nilai rasio
tertinggi sebesar 2,54%, dibandingkan PT Polychem Indonesia dan
PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio masing-masing sebesar -224,17%
dan -11,84%.
Besarnya hasil pengembalian atas ekuitas PT Sunson Textile
Manufacture ini, karena perusahaan pada tahun 2003 mendapatkan
keuntungan restrukturisasi hutang dimana keuntungan ini merupakan
pendapatan atas potongan pinjaman bank sehubungan dengan penyelesaian
(pelunasan) pinjaman kepada Standar Chartered Bank. Keuntungan ini
dikompensasi dengan kerugian fiskal perusahaan. Singkatnya perusahaan
mendapatkan laba bersih yang tinggi karena laba dari aktivitas normal
ditambah dengan keuntungan restrukturisasi. Sedangkan meningkatnya nilai
ekuitas karena adanya penambahan saldo laba ditahan. Hal inilah yang
menyebabkan nilai rasio PT Sunson Textile Manufacture lebih baik dari kedua
perusahaan lainnya.
b. Tahun 2004
Tahun 2004 kinerja terbaik dari hasil pengembalian atas ekuitas
dipegang oleh PT Polychem Indonesia karena memiliki nilai rasio tertinggi
sebesar 31,20%, dibandingkan PT Sunson Textile Manufacture dan
PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio masing-masing sebesar -17,29%
dan -6,01%.
Besarnya hasil pengembalian atas ekuitas PT Polychem Indonesia ini,
karena perusahaan mengalami penurunan laba bersih yang lebih besar
dibandingkan dengan penurunan nilai ekuitas. Penurunan laba bersih ini
karena penurunan laba selisih kurs dan laba atas penjualan aktiva tetap.
Sedangkan penurunan ekuitas karena adanya penggunaan saldo laba ditahan.
Meskipun laba bersih dan nilai ekuitas menurun namun perusahaan masih
dapat mempertahankan nilai ROE sehingga memiliki nilai rasio yang lebih
baik dibandingkan dengan perusahaan lainnya.
c. Tahun 2005
Tahun 2005 kinerja terbaik dilihat dari hasil pengembalian atas ekuitas
dipegang oleh PT Panasia Indosyntec karena memiliki nilai rasio tertinggi
sebesar 20,70%, dibandingkan PT Polychem Indonesia dan PT Sunson Textile
Manufacture dengan nilai rasio masing-masing sebesar 2,78% dan -21,04%.
Besarnya hasil pengembalian atas ekuitas PT Panasia Indosyntec ini,
karena perusahaan mengalami peningkatan laba bersih yang jauh lebih besar
dari peningkatan nilai ekuitas. Perusahaan mengalami peningkatan laba bersih
yang cukup signifikan ini karena sebelumnya perusahaan mengalami kerugian.
Sedangkan meningkatnya ekuitas karena adanya penambahan saldo laba
ditahan.
4.2.1.2 Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Tabel 4.20
Ikhtisar Penilaian Kinerja dilihat dari Rasio Pertumbuhan
Perusahaan
ADMG
SSTM
HDTX
Tahun 2003,2004,2005
(dalam %)
Penjualan
Laba Operasi
Laba Bersih
Bersih
0,138
1,061
-0,773
0,039
-2,039
-3,418
-0,070
-0,565
-2,724
Laba per
Saham
-0,826
-3,449
-2,446
Sumber: Laporan Keuangan dari PT Polychem Indonesia (ADMG), PT Sunson Textile
Manufacture (SSTM), PT Panasia Indosyntec (HDTX), tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
Berdasarkan tabel 4.20 dapat dijelaskan bahwa :
1.
Penjualan
Untuk tahun 2003 sampai dengan 2005 jika dilihat dari analisis
pertumbuhan penjualan, kinerja terbaik perusahaan dipegang oleh
PT Polychem Indonesia yang mengalami pertumbuhan penjualan paling
tinggi yaitu sebesar 0,138%, sedangkan PT Sunson Textile Manufacture
hanya memiliki pertumbuhan penjualan sebesar 0,039%. Berbeda dengan
kedua perusahaan sejenis tersebut PT Panasia Indosyntec mengalami
penurunan penjualan sebesar -0,070%.
2.
Laba Operasi Bersih
Untuk tahun 2003 sampai dengan 2005 jika dilihat dari analisis
pertumbuhan laba operasi bersih, kinerja terbaik perusahaan dipegang oleh
PT Polychem Indonesia yang mengalami pertumbuhan laba operasi bersih
paling tinggi yaitu sebesar 1,061%, dibandingkan PT Sunson Textile
Manufacture dan PT Panasia Indosyntec yang mengalami penurunan yaitu
masing-masing sebesar -2,039% dan -0,565%.
3.
Laba Bersih
Untuk tahun 2003 sampai dengan 2005 jika dilihat dari analisis
pertumbuhan laba bersih, kinerja terbaik perusahaan dipegang oleh
PT Polychem Indonesia yang mengalami penurunan pertumbuhan laba
bersih paling kecil yaitu sebesar -0,773%, dibandingkan
PT Sunson
Textile Manufacture dan PT Panasia Indosyntec yang mengalami
penurunan laba bersih lebih besar yaitu masing-masing sebesar -3,418%
dan -2,724%.
4.
Laba per Saham
Untuk tahun 2003 sampai dengan 2005 jika dilihat dari analisis
pertumbuhan laba per saham, kinerja terbaik perusahaan dipegang oleh
PT Polychem Indonesia yang mengalami penurunan pertumbuhan laba per
saham paling kecil yaitu sebesar -0,826%, dibandingkan PT Sunson
Textile Manufacture dan PT Panasia Indosyntec yang mengalami
penurunan pertumbuhan laba per saham yang lebih besar yaitu
masing-masing sebesar -3,449% dan -2,446%.
4.2.1.3 Ukuran Penilaian (Valuation Measures)
Tabel 4.21
Ikhtisar Penilaian Kinerja dilihat dari Ukuran Penilaian
Perusahaan
ADMG
SSTM
HDTX
Tahun 2003,2004,2005
(dalam kali)
Price To Earning Ratio
Market to Book Value
2003
2004
2005
2003
2004
2005
1,04
1,82
27,73
-2,32
0,91
0,78
14
-2,5
-5,67
0,35
0,43
1,14
-5
-17,24
3,91
0,59
1,29
1,68
Sumber: Laporan Keuangan dari PT Polychem Indonesia (ADMG), PT Sunson Textile
Manufacture (SSTM),PT Panasia Indosyntec Tbk (HDTX), tahun 2003, tahun 2004, dan
tahun 2005.
1. Rasio Harga Terhadap Laba (Price to Earning Ratio)
Berdasarkan tabel 4.21 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Dilihat dari rasio harga terhadap laba atau price to earning ratio (PER)
kinerja terbaik pada tahun 2003 dimiliki oleh PT Sunson Textile Manufacture
karena memiliki nilai tertinggi yaitu sebesar 14 kali, dibandingkan dengan
PT Polychem Indonesia dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
masing-masing sebesar 1,04 kali dan -5 kali.
Besarnya rasio harga terhadap laba atau price to earning ratio (PER)
PT Sunson Textile Manufacture ini, karena harga pasar saham pada
tahun 2003 berada jauh diatas laba per lembar saham perusahaan, dari
perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kelipatan laba yang akan
diperoleh sebesar 14kali, kelipatan laba sangat umum untuk digunakan
sebagai pedoman praktis dalam menilai perusahaan untuk tujuan akuisisi.
b. Tahun 2004
Dilihat dari rasio harga terhadap laba atau price to earning ratio (PER)
kinerja terbaik pada tahun 2004 dimiliki oleh PT Polychem Indonesia karena
memiliki nilai tertinggi yaitu sebesar 1,82 kali, dibandingkan dengan
PT Sunson Textile Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
masing-masing sebesar -2,5 kali dan -17,24 kali.
Besarnya rasio harga terhadap laba atau PER PT Polychem Indonesia ini,
karena harga pasar saham perusahaan yang meningkat sedangkan laba per
lembar saham perusahaan menurun, sehingga dari perbandingan tersebut
menghasilkan PER yang tinggi, namun jika kita lihat dari harga saham
perusahaan sebetulnya masyarakat kurang tertarik untuk membeli saham
perusahaan, hal ini ditunjukkan dengan harga pasar saham yang berada
dibawah nilai nominal.
c. Tahun 2005
Dilihat dari rasio harga terhadap laba atau price to earning ratio (PER)
kinerja terbaik pada tahun 2005 dimiliki oleh PT Polychem Indonesia karena
memiliki nilai tertinggi yaitu sebesar 27,73 kali, dibandingkan dengan
PT Sunson Textile Manufacture dan PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
masing-masing sebesar -5,67 kali dan 3,91 kali.
Nilai yang tinggi pada rasio harga terhadap laba atau PER tahun 2005
PT Polychem Indonesia ini, karena perusahaan mengalami penurunan harga
pasar saham yang jauh lebih kecil dari penurunan laba per lembar saham,
sehingga dari perbandingan tersebut menghasilkan PER yang tinggi. Namun
jika dilihat dari harga pasar perusahaan sebetulnya masyarakat kurang tertarik
untuk membeli saham perusahaan, hal ini ditunjukkan dengan rendahnya
harga pasar saham dibandingkan dengan nilai nominal.
2. Rasio Harga Pasar Terhadap Nilai Buku (Market to Book Value Ratio)
Berdasarkan tabel 4.21 dapat dijelaskan bahwa :
a. Tahun 2003
Kinerja terbaik pada tahun 2003 dilihat dari rasio harga pasar terhadap
nilai buku atau MBVR dimiliki oleh PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
tertinggi yaitu sebesar 0,59 kali, dibandingkan dengan PT Polychem Indonesia
dan PT Sunson Textile Manufacture yaitu sebesar -2,32 kali dan 0,35 kali.
Besarnya nilai MBVR PT Panasia Indosyntec karena perusahaan tidak
ditambah dengan nilai selisih transaksi perubahan ekuitas perusahaan asosiasi
yang akan diakui sebagai pendapatan pada saat pelepasan investasi yang
bersangkutan sehingga nilai ekuitas menjadi kecil, jadi rasio perusahaan tinggi
bukan karena harga pasar perusahaan yang tinggi melainkan karena ekuitas
yang sangat kecil. Sebenarnya harga saham perusahaan pun berada di bawah
nilai nominal.
b. Tahun 2004
Kinerja terbaik pada tahun 2004 dilihat dari rasio harga pasar terhadap
nilai buku atau MBVR dimiliki oleh PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
tertinggi yaitu sebesar 1,29 kali, dibandingkan dengan PT Polychem Indonesia
dan PT Sunson Textile Manufacture yaitu sebesar 0,91 kali dan 0,43 kali.
Besarnya nilai MBVR PT Panasia Indosyntec pada tahun 2004 karena
perusahaan mengalami peningkatan harga saham yang cukup tinggi sedangkan
nilai buku perusahaan menurun karena adanya penggunaan saldo laba ditahan.
Dilihat dari MBVR yang tinggi menunjukkan bahwa minat masyarakat
terhadap perusahaan cukup tinggi.
c. Tahun 2005
Kinerja terbaik pada tahun 2005 dilihat dari rasio harga pasar terhadap
nilai buku atau MBVR dimiliki oleh PT Panasia Indosyntec dengan nilai rasio
tertinggi yaitu sebesar 1,68 kali, dibandingkan dengan PT Polychem Indonesia
dan PT Sunson Textile Manufacture yaitu sebesar 0,78 kali dan 1,14 kali.
Besarnya nilai MBVR PT Panasia Indosyntec pada tahun 2005 ini,
karena harga saham perusahaan menurun yang diiringi dengan penurunan nilai
buku saham perusahaan yang cukup tinggi, tetapi penurunan harga pasar
saham masih berada dibawah nilai buku saham perusahaan. Hal ini
menunjukkan bahwa kinerja perusahaan baik sehingga investor bersedia
membayar harga pasar saham perusahaan sebanyak 1,68 kali lebih besar dari
nilai bukunya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1
Simpulan
Dari hasil analisis laporan keuangan yang telah dilakukan penulis pada
bab 4 dalam menilai kinerja pada perusahaan kelompok industri tekstil, dapat
diambil simpulan sebagai berikut :
1. Kinerja pada kelompok industri tekstil
a. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas meliputi operating profit margin, return on assets
(ROA), profit margin on sales, dan return on Equity (ROE). PT Polychem
Indonesia secara garis besar memiliki nilai profitabilitas yang baik, karena
perusahaan selalu menghasilkan laba dari kegiatan penjualan dan
sumber-sumber yang ada seperti aktiva dan modal.
PT Sunson Textile Manufacture memiliki nilai profitabilitas yang baik
pada tahun 2003, karena perusahaan mampu mendapatkan atau
menghasilkan laba kotor dari kegiatan penjualan yang mengidentifikasikan
kemampuan
perusahaan
untuk
berproduksi
secara
efesiensi
dan
memanfaatkan seluruh sumber dayanya, namun pada tahun 2004 dan
tahun 2005 persentasenya menjadi negatif karena pada tahun tersebut
perusahaan tidak manpu mendapatkan laba bersih melainkan mengalami
rugi usaha.
PT Panasia Indosyntec secara garis besar memiliki nilai profitabilitas yang
kurang baik atau bernilai negatif, karena perusahaan tidak mampu
mendapatkan laba bersih melainkan mengalami rugi usaha.
Dilihat dari hasil perbandingan terhadap analisis profitabilitas pada
kelompok industri tekstil dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja terbaik
pada tahun 2003 dimiliki oleh PT Sunson Textile Manufacture karena
secara umum perusahaan memiliki nilai rasio profitabilitas yang lebih
tinggi dibandingkan kedua perusahaan lainnya. Sedangkan untuk
tahun 2004 dan tahun 2005 secara garis besar kinerja terbaik dimiliki oleh
PT Polychem Indonesia karena secara umum perusahaan memiliki nilai
rasio profitabilitas yang lebih tinggi diantara dua perusahaan lainnya.
b. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan meliputi penjualan, laba operasi bersih, laba bersih,
dan laba per saham. PT Polychem Indonesia memiliki nilai persentase
pertumbuhan penjualan dan laba operasi bersih yang terbaik, namun untuk
pertumbuhan laba bersih dan laba per saham mengalami penurunan atau
bernilai negatif.
PT Sunson Textile Manufacture memiliki nilai pertumbuhan penjualan
yang baik, namun untuk laba operasi bersih, laba bersih, dan laba per
saham memiliki nilai rasio yang negatif.
PT Panasia Indosyntec secara garis besar memiliki rasio pertumbuhan
yang negatif, atau mengalami penurunan rasio pertumbuhan.
Dilihat dari hasil perbandingan terhadap analisis pertumbuhan pada
kelompok industri tekstil dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 dapat
ditarik kesimpulan bahwa kinerja terbaik untuk rasio pertumbuhan dimiliki
oleh PT Polychem Indonesia, karena secara umum perusahaan tersebut
memiliki rasio pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua
perusahaan lainnya.
c. Rasio Penilaian
Rasio penilaian meliputi price to earning ratio (PER) dan market to book
value (MBVR). PT Polychem Indonesia secara garis besar memiliki nilai
rasio penilaian yang baik, artinya menunjukkan perusahaan semakin
dipercaya dan nilai perusahaan menjadi lebih tinggi, namun pada
tahun 2003 nilai MBVR perusahaan bernilai negatif karena perusahaan
mengalami defisit.
PT Sunson Textile Manufacture memiliki nilai price to earning ratio pada
tahun 2003 dan market to book value yang baik, hal tersebut menunjukkan
kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan menjadi lebih tinggi, namun
pada tahun 2004 dan tahun 2005 nilai PER mengalami kemunduran karena
perusahaan mengalami rugi bersih sehingga PER bernilai negatif.
PT Panasia Indosyntec memiliki nilai price to earning ratio tahun 2005
dan market to book value yang baik, artinya perusahaan menciptakan nilai
yang baik pada masyarakat atau pada para pemegang saham, namun pada
tahun 2003 dan tahun 2004 nilai price to earning ratio bernilai negatif
karena perusahaan mengalami rugi bersih.
Dilihat dari hasil perbandingan terhadap analisis penilaian pada kelompok
industri tekstil dapat ditarik kesimpulan bahwa pada tahun 2003 kinerja
terbaik perusahaan jika dilihat dari price to earning ratio (PER) dimiliki
oleh PT Sunson Textile Manufacture, sedangkan pada tahun 2004 dan
tahun 2005 kinerja terbaik perusahaan dimiliki oleh PT Polychem
Indonesia karena memiliki nilai rasio yang lebih besar dari pada dua
perusahaan lainnya. Dan jika dilihat dari market to book value (MBVR)
kinerja terbaik selama tiga tahun tersebut dimiliki oleh PT Panasia
Indosyntec karena secara umum perusahaan tersebut memiliki rasio
MBVR yang lebih tinggi dibandingkan kedua perusahaan lainnya.
2. Hasil analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan oleh penulis maka penulis
menyimpulkan bahwa analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk
menilai kinerja perusahaan, karena hasil dari analisis akan dapat
menghilangkan situasi ketidakpastian dalam informasi sehingga keputusan
yang diambil menjadi lebih tepat. Secara umum nilai rasio yang baik adalah
nilai rasio yang memiliki nilai yang tinggi, akan tetapi nilai yang terlalu tinggi
belum tentu mencerminkan nilai rasio yang baik, oleh karena itu pada
dasarnya tidak ada yang optimum karena kondisi setiap perusahaan yang
berbeda-beda, maka dalam melakukan analisis rasio diperlukan ketelitian
sehingga tidak salah dalam menafsirkan hasil dari analisis atau kinerja suatu
perusahaan.
5.2
Saran
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada bab 4 dan kesimpulan
yang telah dikemukakan, selanjutnya penulis mempunyai saran yang sekiranya
dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan-perusahaan industri tekstil
sebagai berikut:
1. Untuk PT Polychem Indonesia Tbk
Secara umum perusahaan memiliki nilai rasio yang baik, tetapi jika dilihat
dari perbandingan laba bersih terhadap penjualan yang selalu meningkat
sebaliknya laba bersih yang diperoleh relatif menurun. Menurut penulis
penurunan laba bersih ini mungkin dapat diatasi dengan lebih
meningkatkan penjualan ekspor, menerapkan efesiensi biaya misalnya
dengan
penggunaan
produk
dalam
negeri
semaksimal
mungkin,
pengurangan biaya operasi yang bersifat non-esensial, meminimalisasi
biaya-biaya dalam mata uang asing. Selain itu perusahaan juga perlu
membatasi pengeluaran barang modal, dan melakukan pelepasan atas
aktiva dan usaha yang bukan merupakan usaha inti perusahaan sehingga
perusahaan dapat lebih fokus untuk meningkatkan kinerjanya.
2. Untuk PT Sunson Textile Manufacture Tbk
Perusahaan memiliki nilai rasio yang relatif stabil maksudnya naik
turunnya rasio tidak terlalu signifikan. Perusahaan memiliki nilai
penjualan yang sangat besar namun rata-rata laba bersih yang didapat
masih sangat kecil. Oleh karena itu sebaiknya perusahaan dapat
meningkatkan penjualan, melakukan penghematan biaya sehingga laba
yang diharapkan dapat tercapai. Mencari alternatif dengan membeli
produk-produk lokal dengan kualitas sama dengan produk tekstil impor.
Sebaiknya perusahaan melakukan investasi sesuai skala prioritas sehingga
investasi yang dilakukan lebih efektif.
3. Untuk PT Panasia Indosyntec Tbk
Dilihat dari rasio laba operasi bersih terhadap penjualan dan terhadap total
aktiva, perusahaan memiliki nilai rasio yang negatif, hal ini karena selama
tiga tahun berturut-turut perusahaan mengalami rugi opersi bersih yang
disebabkan penjualan yang diperoleh tidak seimbang dengan beban pokok
penjualan dan beban usaha yang dikeluarkan. Saran penulis terhadap
perusahaan mungkin hendaknya perusahaan dapat menekan biaya-biaya
atau menghilangkan biaya-biaya yang tidak memiliki value added dan
meningkatkan penjualan serta menaikkan harga jual produk sehingga
selisih antara penjualan dan beban pokok penjualan wajar. Perusahaan
telah melakukan restrukturisasi hutang dan defisit yang dialami
perusahaan sampai tahun 2005 sudah mulai berkurang, oleh karena itu
hendaknya perusahaan lebih berhati-hati dalam mengelola keuangannya
terutama dalam melakukan Foreign Exchange atau transaksi kurs mata
uang asing.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad S. Ruky, 2004, Sistem Manajemen Kinerja, Cetakan ketiga, Jakarta,
PT Gramedia Pustaka Utama
Agnes Sawir, 2005, Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan
Perusahaan, Cetakan kelima, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Arens, A and Loebecke, James K., 2006, Audit An Integrated Approach, 8ed,
New Jersey, Simon Co.
Dewi Astuti, 2004, Manajemen Keuangan Perusahaan, Cetakan ketiga Jakarta,
Ghalia Indonesia
Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2005, Analisis Laporan Keuangan, Edisi
kedua, Yogyakarta, UUP AMP YKPN
Helfert, Erich A, 1998, Teknik Analisis Keuangan, Edisi kedelapan, Cetakan
pertama, Jakarta, Erlangga.
Ikatan Akuntansi Indonesia, 2004, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta,
Salemba Empat
J. Fred Weston & Thomas E. Copeland, 1995, Manajemen Keuangan, Edisi
revisi kesembilan, cetakan kesatu, Jakarta, Binarupa Aksara,
diterjemahkan oleh Jaka Wasana dan Kirbrandoko
Martono dan D. Agus Harjito, 2002, Manajemen Keuangan, Yogyakarta,
Ekonisia
Munawir, 2004, Analisa laporan Keuangan, Edisi keempat, Cetakan ketiga
belas, Yogyakarta, Liberty
Sofyan Syafri Harahap, 2004, Analisis Kritis Atas laporan Keuangan, Cetakan
keempat, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada
Sutrisno, 2003, Manajemen Keuangan, Cetakan ketiga, Yogyakarta, Ekonisia
Syahrul dan Muhamad Afdi Nizar, 2000, Kamus Akuntansi, Cetakan pertama,
Jakarta, Citra Harta Prima
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Edisi ketiga, Cetakan kedua, Jakarta, Balai Pustaka
DAFTAR HARGA PASAR SAHAM
Per 31 Desember 2003, 2004, dan 2005
(dalam satuan rupiah)
TAHUN
HARGA PASAR SAHAM
ADMG
SSTM
HDTX
2003
375
140
275
2004
345
150
500
2005
305
340
450
Sumber : Indonesian Capital Market Directory, (Data diolah)
DAFTAR NILAI BUKU SAHAM
Per 31 Desember 2003, 2004, 2005
(dalam satuan rupiah)
TAHUN
NILAI BUKU SAHAM
ADMG
SSTM
HDTX
2003
(161,58)
405,61
464,63
2004
377,53
347,58
388,99
2005
392,51
297,12
268,41
Sumber : Indonesian Capital Market Directory, (Data diolah)
Download