Analisis Pembentukan Citra Perusahaan Listrik

advertisement
5
BAB II
PENDEKATAN TEORETIS
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Public Relations
Cutlip et all (2000) menyatakan public relations sebagai fungsi manajemen
yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara
seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan
melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik.
Pengertian Public Relations secara lebih rinci juga dijelaskan dalam Human
Relations dan Public Relations karya Onong Uchjana Effendy, menurut rumusan
Dr. Rex Harlow yang telah mengkaji 472 definisi PR dari para pakar dan
pemimpin PR kenamaan. Dr. Rex Harlow mendefinisikan Public Relations
sebagai fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan
pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya mengenai
komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerja sama; melibatkan manajemen
dalam permasalahan atau persoalan; membantu manajemen menjadi tahu
mengenai dan tanggap terhadap opini publik; menetapkan dan menekankan
tanggungjawab manajemen untuk melayani kepentingan publik; mendukung
manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif;
bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam membantu mengantisipasi
kecenderungan; dan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat
dan etis sebagai sarana utama.
Berbagai definisi tentang PR yang diungkapkan oleh para ahli tersebut,
dapat dikatakan bahwa Public relations mempunyai fungsi untuk menjalin
komunikasi yang efektif antara perusahaan dengan publik internal maupun publik
eksternal organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
2.1.1.1.
Fungsi Public Relations
Fungsi Public Relations pun berkembang seiring kemajuan dunia usaha.
Terdapat empat fungsi utama yang dituntut dari petugas PR menurut Ruslan
(2008) dalam Novianti (2010) yaitu sebagi berikut:
6
1. Communicator
Sebagai juru bicara organisasi, PR berkomunikasi secara intensif melalui media
dan kelompok masyarakat. Hampir semua teknik komuikaasi antar personal
(personal communication) dipergunakan, komunikasi lisan, komunikasi tatap
muka sebagai mediator maupun persuasif.
2. Relationship
Kemampuan PR membangun hubungan positif antara lembaga yang
diwakilinya dengan publik internal maupun eksternal. Relationship yang tidak
harmonis beresiko menimbulkan ketidakpuasan public yang pada akhirnya
mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. Selain itu, relationship juga
berupaya menciptakan saling pengertian, kepercayaan, dukungan, kerjasama,
dan toleransi antara kedua belah pihak.
3. Backup management
Melaksanakan dukungan manajemen atau menunjang kegiatan departemen lain
dalam perusahaan demi terciptanya tujuan bersama dalam suatu kerangka
tujuan pokok perusahaan.
4. Good image maker
Menciptakan citra perusahaan dan publisitas positif merupakan prestasi,
reputasi, dan menjadi tujuan utama aktivitas PR dalam melaksanakan
manajemen kehumasan membangun citra perusahaan.
2.1.1.2. Sasaran Kegiatan Public Relations
Setiap pelaku humas perlu mengenali siapa saja khalayak sasarannya. Ada
beberapa alasan pokok perusahaan harus mengenali atau menetapkan unsur
masyarakat luas menjadi sasarannya, yakni2:
1. untuk mengidentifikasi segmen khalayak atau kelompok yang paling tepat
untuk dijadikan sasaran dari suatu program kehumasan;
2. untuk menciptakan skala prioritas sehubungan dengan terbatasnya anggaran
dan sumber-sumber daya lainnya;
3. untuk memilih media dan teknik humas yang sekiranya paling sesuai;
2
M. Linggar Anggori, Teori & Profesi Kehumasan-Serta Aplikasinya di Indonesia, PT Bumi
Aksara, Jakarta, 2000, hal.60
7
4.
untuk mempersiapkan pesan-pesan sedemikian rupa agar cepat dan mudah
diterima.
Adapun yang termasuk stakeholder internal perusahaan antara lain yaitu
pemegang saham, manajer/top eksekutif, karyawan, dan keluarga karyawan.
Sedangkan stakeholder eksternal terdiri dari konsumen, penyalur, pemasok, bank,
pemerintah, pesaing, media, dan komunitas.3
Kasali
(1994)
menyebutkan
bahwa
komunitas
(community) disini
merupakan masyarakat yang tinggal, hidup, dan berusaha di sekitar lokasi pabrik,
kantor suatu perusahaan, atau bangunan milik perusahaan. Maka PR bertugas
untuk mendidik komunitas agar mereka dapat berhubungan timbal balik.
Termasuk didalamnya adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
mereka sebagai sumber tenaga kerja atau pengelola untuk keberlanjutan
pelaksanaan program perusahaan.
2.1.1.3. Efektivitas Program PR
Terdapat empat cara, menurut Ishak & Koh Siew Leng (1991) dalam Ruslan
(2003), untuk pengukuran efektifitas dari program PR yang telah dilaksanakan,
dapat dilihat melalui tolak ukur sebagai berikut:
a. Audience Coverage (khalayak yang dicapai)
Untuk melihat keberhasilannya, meneliti mampu atau tidaknya PR mencapai
target khalayak sasarannya (target audience) dalam program tersebut serta
jumlah khalayak yang dijangkau. melihat keinginan khalayak dan respon
(tanggapan) selanjutnya.
b. Audience Response (tanggapan khalayak)
Cara ini untuk melihat tanggapan dari kahalayak sasaran (audience respon),
dan melihat isi pesan dalam program PR tersebut bermanfaat atau tidak bagi
khalayak sasaran.
c. Communication Impact (pengaruh komunikasi)
Setelah menilai dari berbagai reaksi khalayak, selanjutnya melihat pengaruh
(dampak) dari pesan-pesan dalam komunikasi (communication impact)
program PR tersebut setelah diekspos keluar terhadap khalayak sasaran.
3
Rhenald Kasali, Manajemen Public Relations: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, Pustaka
Utama, Jakarta, 1994, hal.64
8
d. Process of Influence (proses pengaruh)
Melihat sejauh mana proses kegiatan komunikasi dalam program PR efektif
atau tidak dalam mempengaruhi khalayak sasaran. Selain itu, juga untuk
mengetahui sejauh mana pesan yang disampaikan melalui saluran media
komunikasi dan mekanisme persuasif dapat mempengaruhi individual atau
kelompok. Juga untuk melihat efektifitas PR dalam mempengaruhi tanggapan
(process of influence), terhadap sikap (perilaku), dukungan (atau menolak),
memotivasi atau dapat membentuk opini publik sebagai khalayak sasaran, baik
secara positif atau negatif.
Salah satu unsur Public Relations adalah suatu proses yang mencakup
hubungan antara organisasi dengan publiknya. Hubungan antara organisasi
dengan publik internal dan publik eksternal ini sangat penting bagi perusahaan
untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Pelaksanaan hubungan dengan
publik eksternal yang perlu diperhatikan oleh PR adalah hubungan dengan
khalayak sekitar atau yang lebih dikenal dengan community relations.
2.1.2. Community Relations
PR memiliki beragam fungsi yang bertujuan untuk menciptakan image
positif akan perusahaan. Diantara sekian fungsinya Ruslan (1998) menyebutkan
adanya “fungsi community participation, yaitu partisipasi PR dalam melakukan
suatu hubungan timbal balik dengan publik demi tercapai saling pengertian dan
citra positif terhadap lembaga yang diwakili”. Selaras dengan fungsi PR tersebut,
maka salah satu program yang diwujudkan adalah melalui pelaksanaan program
Community Relations. Bentuk kegiatan ini merupakan salah satu dari beragam
media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan komunikasi serta
mendapat dukungan dari publik.
Create Profit Inc. (2001)4 menggambarkan tiga tahapan perkembangan
konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam
konteks community
relations. Pertama, community relations dan pemberian sumbangan sebagai
respons atas kebutuhan/tekanan lokal dan manajemen senior/chief excecutive
offocer (CEO) pada tahun 1960-an dan 1970-an. Kedua, pada tahun 1980-an dan
4
Dalam Yosal Iriantara, Community Relations Konsep dan Aplikasinya, 2004, Hal.27
9
1990-an berkembang model community relations yang dinamakan “Model
Kewarganegaraan Korporat” yang didasarkan pada isu-isu etis. Ketiga,
berkembang konsep aliansi strategis yang terkait erat dengan tujuan organisasi
yang muncul sejak tahun 1999.
Menurut Iriantara (2007) community relations bisa dipandang berdasarkan
dua pendekatan. Pertama, dalam konsep PR lama yang memosisikan organisasi
sebagai pemberi donasi, maka program community relations merupakan bagian
dari aksi dan komunikasi dalam proses PR. Bila berdasarkan pengumpulan fakta
dan perumusan masalah ditemukan bahwa permasalahan yang mendesak adalah
tentang komunitas, maka dalam perencanaan akan disusun program community
relations.
Pendekatan kedua, memosisikan komunitas sebagai mitra, dan komunitas
bukan sekedar kumpulan orang yang berdiam di sekitar wilayah operasi
organisasi. Community relations merupakan program tersendiri yang merupakan
wujud tangung jawab sosial organisasi. Dalam hal ini, organisasi bersama-sama
dengan komunitas berusaha memecahkan permasalahan yang dihadapi komunitas.
Organisasi dan komunitas bersama-sama memberikan sumber daya yang
dimilikinya untuk memecahkan permasalahan dan mencapai tujuan bersama.
2.1.2.1.
Tujuan Community Relations
Community relations ditujukan sebagai kegiatan berkomunikasi antar
perusahaan dengan komunitas. Dalam hal ini Wilcox, Ault dan Agee dalam
Iriantara (2007) mengungkapkan bahwa community relations merupakan dialog
antar perusahaan dengan komunitas, dimana perusahaan sebenarnya dapat
memantau bagaimana pendapat publik atau komunitas akan keberadaan
perusahaan mereka. Isu apakah yang saat itu tengah berkembang di masyarakat
yang kiranya nanti dapat berpengaruh pada eksistensi perusahaan.
Di lain sisi tujuan program community relations juga dipengaruhi oleh
besarnya komunitas dan kebutuhannya, seperti sumber penghasilan dan sasaran
hubungan masyarakat perusahaan yang mendukung program-program tersebut.
10
Moore (1998) merangkum tujuan penting tersebut sebagai berikut:
1. Memberi informasi kepada komunitas bagaimana tanggung jawab perusahaan
terhadap komunitasnya, dan apa saja yang disumbangkan untuk kehidupan
sosial dan ekonomi setempat.
2. Menjadikan sebuah perusahaan sebagai faktor penting dalam kehidupan
komunitas melalui bantuan kepada lembaga-lembaga setempat dan turut serta
dalam masalah lingkungan.
3. Bekerjasama dengan sekolah dan perguruan tinggi dengan menyediakan bahanbahan pendidikan dan melengkapi sarana dan fasilitas latihan.
4. Meningkatkan kesehatan komunitas dengan mendukung program-program
kesehatan setempat dan dengan membantu rumah sakit dan palang merah
setempat.
5. Menunjukkan kepada warga komunitas bahwa suatu perusahaan merupakan
warga dan majikan yang baik.
6. Menjaga hubungan yang harmonis dengan para pemuka komunitas dalam
semangat kebersamaan yang tinggi.
7. Menciptakan iklim bisnis yang menghasilkan kegiatan yang efisien dan
ekonomis serta menciptakan perusahaan sebagai tempat yang baik untuk
bekerja di mata para calon karyawannya.
Tabel 1. Manfaat Community Relations.
Bagi Organisasi
• Reputasi dan citra organisasi lebih
baik
• ‘lisensi untuk beroperasi’ secara sosial
• Memanfaatkan pengetahuan
dan
tenaga kerja lokal
• Keamanan yang lebih besar
• Infrastruktur dan lingkungan sosioekonomi lebih baik
• Menarik dan menjaga personel
berkaliber tinggi untuk memiliki
komitmen tinggi
• ‘Laboratorium pembelajaran’ untuk
inovasi organisasi
Bagi Komunitas
• Peluang penciptaan kesempatan kerja,
pengalaman kerja dan pelatihan
• Pendanaan
investasi
komunitas,
pengembangan infrastruktur
• Keahlian komersial
• Kompetensi teknis dan personel
individual pekerja yang terlibat
• Representatif bisnis sebagai juru
promosi
bagi
prakarsa-prakarsa
komunitas
11
Rogovsky (2005) dalam Iriantara (2007) menjelaskan adanya manfaat
keterlibatan bagi komunitas dan organisasi bisnis pada pelaksanaan community
relations melalui Tabel 1. Jika dulu banyak pandangan bahwa community
relations adalah sebuah usaha yang hanya menguntungkan komunitas dan sia-sia
bagi perusahaan karena hanya sekedar upaya penghambur-hamburan uang, namun
sebenarnya pelaksanaan community relations yang dibangun berdasarkan
tanggung jawab sosial korporat akan memberikan manfaat yang bisa dipetik oleh
kedua belah pihak. Sehingga penting untuk disadari bahwa program-program
community relations bukanlah program dari perusahaan untuk komunitas
melainkan program untuk perusahaan dan komunitas.
2.1.2.2.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Community Relations
Community relations pada dasarnya merupakan kegiatan PR, sehingga
langkah-langkah dalam pelaksanaan community relations sama dengan langkah
pelaksanaan kerja PR. Kegiatan community relations berhadapan langsung dengan
persoalan sosial yang nyata dan dihadapi komunitas. Melalui pendekatan
community relations itu, organisasi bersama dengan komunitas sekitarnya
berusaha untuk mengidentifikasi, mencari solusi dan melaksanakan rencana
tindak atas permasalahan yang dihadapi. Fokusnya adalah permasalahan yang
dihadapi komunitas, bukan permasalahan organisasi. Namun, dampak dari
penyelesaian masalah ini dirasakan juga oleh organisasi. Bila kegiatan community
relations terkoordinasi dengan strategi organisasi, bisa juga membantu organisasi
dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi organisasi. Kegiatan
community relation bisa ditujukan untuk mencapai kemaslahatan bersama baik
organisasi maupun komunitas. Berkaitan dengan hal tersebut, maka program dan
kegiatan community relations organisasi dilaksanakan melalui tahapan-tahapan
berikut:
1) Pengumpulan fakta
Permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat cukup banyak, mulai dari
permasalahan lingkungan sampai dengan permasalahan ekonomi. Kita bisa
mengumpulkan fakta tentang permasalahan sosial yang dihadapi komunitas
organisasi dari berbagai sumber, baik dari media massa, data statistik, obrolan
warga sampai menelusuri laporan hasil penelitian.
12
2) Perumusan masalah
Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang dialami.
Tentu saja tidak semua permasalahan bisa diselesaikan melalui pendekatan
community relations organisasi, harus masalah yang diperkirakan dapat diatasi
melalui kegiatan dan program ini. Tahapan ini memfokuskan pada komunitas
organisasi. Jika komunitasnya dirumuskan secara sederhana, berarti komunitas
berdasarkan lokasi yakni komunitas sekitar wilayah operasi organisasi. Namun
bila komunitasnya dipandang sebagai struktur interaksi maka komunitas
tersebut lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih pada pertimbangan
kesamaan kepentingan.
3) Perencanaan dan Pemrograman
Rencana merupakan prakiran yang didasarkan fakta dan informasi tentang
sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti.
4) Aksi dan Komunikasi
Pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, meliputi ragam kegiatan
community relations, jenis komunikasi yang dijalankan, media komunikasi
yang digunakan, frekuensi pelaksanaan program, dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan teknis pelaksanaan community relations. Dalam pelaksanaan
community relations terdapat komunikasi yang menjelaskan menjelaskan
mengapa program ini dijalankan. Aksi dan komunikasi diharapkan akan
berkembang pandangan yang positif dari komunitas terhadap perusahaan
sehingga reputasi dan citra perusahaan menjadi baik.
5) Evaluasi
Meliputi usaha untuk menilai kembali akan sejauh mana pesan komunikasi
yang disampaikan kepada publik dapat diterima. Evaluasi dilakukan untuk
mengetahui efektivitas dan efisiensi program. Berdasarkan hasil evaluasi bisa
diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan, atau dilanjutkan dengan
melakukan beberapa perbaikan dan penyempurnaan. Evaluasi ini sangat
berguna bagi penyusunan langkah atau kegiatan baru PR di masa mendatang.
2.1.3. Citra Perusahaan
Kotler (2000) mengungkapkan bahwa citra merupakan seperangkat
keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu obyek. Citra
13
berkaitan erat dengan suatu penilaian, tanggapan, opini, kepercayaan publik,
asosiasi atau simbol-simbol tertentu terhadap suatu perusahaan. Citra tersebut
dapat bersifat positif atau negatif. Terdapat beberapa jenis citra (image), yakni:
citra bayangan (mirror image), citra yang berlaku (current image), citra yang
diharapkan (wish image), citra majemuk (multiple image), serta citra perusahaan
(corporate image).5
a. Citra Bayangan
Citra ini sebenarnya dimiliki oleh internal organisasi yang mempunyai
pandangan terhadap citra yang dimiliki eksternal organisasi terhadap
organisasinya. Citra ini cenderung tidak akurat karena penilaia terhadap
organisasi yang cukup subyektif, sehingga citra yang terbentuk cenderung
positif. Ketidakakuratan bisa jadi disebabkan oleh kurangnya informasi yang
dimiliki pihak dalam terhadap pandangan yang dimiliki oleh orang luar
terhadap organisasinya.
a. Citra yang Berlaku
Jika citra bayangan mengacu pada pendapat pihak dalam tentang bagaimana
citra yang dimiliki pihak eksternal terhadap organisasinya, maka citra yang
berlaku ini merupakan kebalikannya. Citra yang berlaku merupakan citra yang
dimiliki pihak luar terhadap suatu organisasi. Namun tidak selamanya citra
yang berlaku ini sesuai dengan keadaan yang ada karena citra yang terbentuk
biasanya cenderung negatif. Citra ini sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya
informasi yang dimiliki oleh mereka yang memercayainya.
b. Citra yang Diharapkan
Merupakan citra yang diinginkan pihak perusahaan. Citra ini biasanya
berkaitan untuk menyabut sesuatu yang relatif baru dimana khalayak belum
memiliki informasi yang memadai tentangnya.
c. Citra Majemuk
Tiap individu dalam perusahaan bisa jadi memunculkan citra tersendiri yang
bisa saja sama atau berbeda dengan citra organisasi atau perusahaan. Jumlah
citra yang dimiliki perusahaan sama dengan jumlah pegawai yang dimilikinya.
5
Frank Jefkins, Public Relation Edisi Keempat, Erlangga, 1992, Hal 17-21
14
Cara untuk meminimalkan variasi citra ini, perusahaan memberlakukan
penyamaan seragam, adanya mobil dinas, maupun hal-hal lainnya.
d. Citra Perusahaan
Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, bukan
citra atas produk maupun pelayanannya. Banyak hal yang menjadi dasar
terbentuknya citra ini, diantaranya adalah sejarah atau riwayat perusahaan,
keberhasilandi bidang keuangan yang pernah diraih, reputasi sebagai penyedia
lapangan kerja dalam jumlah besar sampai kesediaan untuk turut memikul
tanggung jawab sosial, ikut andil dalam terbentuknya citra positif perusahaan.
Saat ini dunia usaha tidak lagi hanya memerhatikan catatan keuangan
perusahaan semata (single bottom line), melainkan juga aspek sosial dan
lingkungan yang biasa disebut triple bottom line. Penting diperhatikan perusahaan
untuk membentuk dan mempertahankan citra positif perusahaan pada khalayak,
salah satunya melalui kegiatan community relations.
2.1.3.1.
Proses Terbentuknya Citra
Terdapat tiga hal penting dalam citra, yaitu: kesan obyek, proses
terbentuknya citra, dan sumber terpercaya. Obyek meliputi individu maupun
perusahaan yang terdiri dari sekelompok orang di dalamnya. Citra dapat terbentuk
dengan memproses informasi setiap waktu. Besarnya kepercayaan obyek terhadap
sumber informasi memberikan dasar penerimaan atau penolakan informasi.
Sumber informasi dapat berasal dari perusahaan secara langsung dan atau pihakpihak lain secara langsung. Citra perusahaan menunjukkan kesan obyek terhadap
perusahaan yang terbentuk dengan memproses informasi setiap waktu dari
berbagai sumber informasi terpercaya.
Alma (2002)6 mengungkapkan bahwa “citra dibentuk berdasarkan impresi,
berdasar pengalaman yang dialami seseorang terhadap sesuatu sebagai
pertimbangan untuk mengambil keputusan”.
Proses terbentuknya citra
perusahaan dapat diterangkan melalui Gambar 1.
6
Dalam Iman Mulyana Dwi Suwandi, Citra Perusahaan Seri Manajemen Pemasaran, www.eiman.uni.cc,
15
Attention
Exposure
Image
Behavior
Comprehensive
Sumber : Hawkins et all (2000)
Gambar 1. Proses Terbentuknya Citra Perusahaan.
Terbentuknya citra perusahaan berlangsung melalui beberapa tahapan.
Pertama adalah penerimaan informasi dimana penerima program mengetahui
(melihat atau mendengar) upaya yang dilakukan perusahaan dalam membentuk
citra perusahaan. Tahap kedua, obyek memperhatikan upaya perusahaan tersebut.
Tahap ketiga, setelah adanya perhatian obyek mencoba memahami semua yang
ada pada upaya perusahaan. Tahap keempat, terbentuknya citra perusahaan pada
obyek. Tahap kelima, citra perusahaan yang terbentuk akan menentukan perilaku
obyek sasaran dalam hubungannya dengan perusahaan. (Hawkins et all, 2000)
Tahap-tahap dalam proses pembentukan persepsi atau citra tersebut secara
rinci dijelaskan sebagai berikut:
a. Tahap Penangkapan Informasi (Exposure)
Terjadi disaat suatu rangsangan-rangsangan mencapai daerah syaraf penerima
indera seseorang (Sensory Receptor), misalnya ketika seseorang mengetahui
adanya kegiatan community relations yang dilakukan. Obyek mengetahui
(melihat atau mendengar) upaya yang dilakukan perusahaan dalam membenuk
citra perusahaan.
b. Tahap Perhatian (Attention)
Agar kegiatan yang dilakukan menjadi perhatian seseorang, maka setelah
rangsangan mencapai daerah syaraf penerima maka selanjutnya rangsangan
tersebut harus dapat menggertakkan saraf indera dan menimbulkan respon atau
sensasi-sensasi pada otak (sensation). Contohnya ketika seseorang tertarik
untuk mengetahui lebih jauh mengenai kegiatan community relations tersebut.
Pada tahap ini, obyek memperhatikan upaya yang dilakukan perusahaan.
16
c. Tahap Pemahaman (Comprehensive)
Setelah adanya perhatian, obyek mencoba memahami semua yang ada pada
upaya perusahaan. Misalnya dari pengetahuan mengenai kegiatan community
relations yang dilakukan suatu perusahaan. Khalayak sasaran kemudian mulai
memperhatikan dan mencoba untuk mengerti dan memberikan penilaian
terhadap community relations tersebut. Hal tersebut kemudian mengarah pada
pembentukan persepsi terhadap kegiatan yang dilakukan perusahaan yang
bersangkutan.
Setelah persepsi terbentuk, persepsi tersebut disimpan kedalam ingatan
(memory). Adapun proses pembentukan persepsi dan penyimpanan persepsi
kedalam ingatan hampir terjadi secara bersamaan dan bersifat interaktif, dimana
lama tidaknya persepsi seseorang terhadap suatu rangsangan tergantung kepada
seleksi yang dilakukan kepada seseorang, yaitu mengukur sejauh mana
keterlibatan yang bersangkutan terhadap rangsangan tersebut.
2.1.3.2.
Elemen Citra Perusahaan
Citra perusahaan merupakan persepsi masyarakat terhadap perusahaan yang
dibentuk melalui proses komunikasi informasi baik yang disengaja maupun tidak
disengaja, yang dilakukan maupun tidak dilakukan oleh perusahaan. Persepsi
tersebut mungkin tidak selalu menggambarkan profil perusahaan yang
sebenarnya. Apabila persepsi yang timbul positif maka dengan sendirinya akan
mendukung aktivitas perusahaan, tetapi sebaliknya apabila persepsi yang timbul
negatif maka akan menimbulkan akibat negatif pula terhadap perusahaan.
Perusahaan perlu mengirimkan pesan kepada lingkungan perusahaan baik
internal amupun eksternal. Perusahaan harus sungguh-sungguh dalam usaha
membentuk image yang positif, dalam hal ini penerimaan pesan merupakan faktor
terpenting karena citra diukur dari penerima pesan.
Pembentukan citra perusahaan diperlukan informasi yang lengkap. Menurut
Harrison (1995), informasi yang lengkap mengenai citra perusahaan meliputi
empat elemen, yaitu:
17
a. Personality
Keseluruhan karakteristik perusahaan yang dipahami publik sasaran seperti
perusahaan yang dipercaya, perusahaan yang mempunyai tanggung jawab
sosial. Unsur dalam citra ini akan memberikan gambaran umum perusahaan
secara keseluruhan, seperti perusahaan yang terpercaya, atau perusahaan yang
bertanggungjawab sosial.
b. Reputation
Hal yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini publik sasaran berdasarkan
pengalaman sendiri maupun pihak lain. Studi pustaka ini lebih menekankan
keyakinan publik terhadap manfaat positif dari kegiatan community relations
yang dilakukan perusahaan.
c. Value
Nilai-nilai dan filosofi yang dimiliki suatu perusahaan, termasuk didalamnya
kebijakan internal dan interaksi eksternal dengan pihak luar yang berhubungan
dengan perusahaan.
d. Corporate Identity
Komponen-komponen yang memudahkan pengenalan publik sasaran terhadap
perusahaan.
Ambadar, dkk (2007) mengungkapkan bahwa dalam persepsi publik, citra
perusahaan terbentuk dari asosiasi antara perusahaan sebgaai subyek dan atributatributnya (citra baik atau buruk, berkualitas atau tidak berkualitas, peduli
lingkungan, bertanggungjawab dan lain-lain). Akumulasi dari citra perusahaan
menurut Ambadar (2007) mengutip dari pernyataan Dr. AB Susanto akan
membentuk reputasi perusahaan yang bermakna bagi perusahaan. Reputasi
perusahaan adalah suatu akumulasi penilaian dari keberadaan baik masa lalu
ataupun hasil-hasil yang dicapai di masa kini secara multidimesi di hadapan
stakeholder.
2.1.3.3.
Pembentukan Citra Perusahaan Melalui Community Relations
Berkaitan dengan proses pembentukan citra perusahaan menurut Hawkins
(2000), maka kegiatan community relations bisa dilakukan oleh PR perusahaan
sebagai salah satu upaya agar sasaran program dapat menangkap informasi yang
ingin disampaikan perusahaan melalui program-program
kegiatan community
18
relations. PR perlu memaksimalkan proses terbentuknya citra mulai dari tahap
penangkapan informasi (exposure), perhatian (attention), dan tahap pemahaman
(comprehensive).
Community Relations
behavior
Exposure
Attention
comprehensive
IMAGE
• Personality
• Reputation
• Value ethics
• Corporate
Identity
Gambar 2. Proses Terbentuknya Citra Perusahaan Melalui Community Relations.
Hal pertama untuk membentuk citra perusahaan dimulai dengan
memberikan pengetahuan (exposure) tentang perusahaan yang dikemas dalam
pesan yang disampaikan melalui kegiatan-kegiatan community relations, serta
memberikan rangsangan pada khalayak tentang adanya beragam program yang
dilakukan oleh perusahaan. Tahap berikutnya menekankan perlunya rangsangan
lebih lanjut agar stimulus yang diberikan melalui kegiatan community relations
bisa menjadi perhatian bagi khalayak sasaran sehingga mereka tertarik
mengetahui tentang kegiatan-kegiatan community relations. Pada tahap ini, obyek
memperhatikan upaya yang dilakukan perusahaan. Pemahaman (comprehensive)
terjadi ketika khalayak sasaran memahami implementasi program community
relations yang dilakukan oleh perusahaan.
Penilaian terhadap community
relations akan mengarah pada pembentukan persepsi terhadap kegiatan yang
dilakukan perusahaan yang bersangkutan. Citra perusahaan tersebut di mata
khalayak bisa dilihat dari personality, reputation, value ethic, serta corporate
identity perusahaan di mata penerima program community relations.
19
2.2. Kerangka Pemikiran
Adanya tuntutan untuk memiliki relasi yang baik dengan komunitas,
menuntut tiap perusahaan untuk memiliki strategi yang tepat. Berkaitan dengan
hal ini, public relations suatu perusahaan yang bertugas menjalankan fungsi
komunikasi dengan pihak eksternal maupun internal perusahaan, berperan sebagai
perwakilan perusahaan. PR bertugas untuk menyampaikan pesan-pesan berkaitan
dengan tujuan perusahaan kepada publik eksternal. Hal ini tidak hanya berkaitan
dengan iklan maupun publikasi melalui media saja yang perlu diperhatikan namun
juga melalui kegiatan pemberdayaan pada komunitas melalui kegiatan community
relations, agar perusahaan dapat menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan
perusahaan. Komunikasi yang terjalin dengan komunitas, diharapkan mampu
membentuk citra positif perusahaan untuk terciptanya hubungan yang kokoh
antara komunitas dengan perusahaan. Community relations bisa menjadi strategi
komunikasi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik perusahaan
maupun komunitas, jika pelaksanaannya berjalan sesuai. Berkaitan dengan hal
tersebut, perusahaan harus memperhatikan aktivitas community relations dalam
mengembangkan dan mengelola citra perusahaan.
PLN sebagai salah satu perusahaan yang menjalankan community relations
harus memperhatikan faktor-faktor terkait pelaksanaan community relations
melalui program PLTMH yang dilakukan di Lebak Picung. Pelaksanaan
community relations harus memperhatikan keterlibatan masyarakat penerima
program dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan PLTMH. Penilaian
dilakukan untuk melihat kesesuaian hipotesis bahwa warga yang terlibat aktif
dalam program akan memiliki citra yang lebih positif dibandingkan warga yang
memiliki keterlibatan rendah. Adanya strategi community relations yang
melibatkan peran penerima program akan mempengaruhi tingkat penangkapan
informasi (exposure) mereka terhadap program maupun perusahaan. Penangkapan
informasi oleh penerima program adalah sejauh mana penerima program
menyadari adanya kegiatan community relations melalui program PLTMH.
Keterlibatan dalam program juga mempengaruhi tingkat perhatian sasaran
program. Penilaian sasaran program terhadap manfaat program juga menjadi hal
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan community relations. Adanya manfaat
20
program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat juga berpengaruh pada
pemahaman penerima program. Pemahaman masyarakat terhadap program adalah
sejauh mana pengetahuan penerima program tentang implementasi community
relations, semakin tinggi kesesuaian manfaat yang didapatkan penerima program
akan meningkatkan tingkat pemahaman (comprehensive) penerima program.
Adanya
kesesuaian
proses
pembentukan
citra
perusahaan
akan
mempengaruhi citra perusahaan yang terbentuk. Citra perusahaan dinilai dari
personality, reputation, value ethics, serta corporate identity menurut sasaran
program terhadap perusahaan. Proses pembentukan citra yang baik akan
cenderung meningkatkan citra perusahaan yang terbangun.
Community Relations (X1)
• Keterlibatan dalam Program
• Manfaat program
Proses Pembentukan Citra (X2)
• Tingkat Penangkapan Informasi
• Tingkat Perhatian
• Tingkat Pemahaman
•
•
•
•
Gambar 3.
Citra Perusahaan (Y)
Penilaian pada Personality Perusahaan
Penilaian pada Reputation Perusahaan
Penilaian pada Value Ethics Perusahaan
Penilaian pada Corporate Identity Perusahaan
Kerangka Pemikiran Pembentukan Citra Perusahaan Melalui
Implementasi Community Relations.
2.3. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini
adalah sebagai berikut:
21
1. Terdapat hubungan positif antara pelaksanaan community relations melalui
program community empowering PLTMH di Lebak Picung dengan
pembentukan citra perusahaan.
- Terdapat hubungan positif antara keterlibatan aktif dalam program dengan
tingkat penangkapan informasi (exposure) pada sasaran program
- Terdapat hubungan positif antara keterlibatan aktif dalam program dengan
tingkat perhatian (attention) sasaran program
- Terdapat hubungan positif antara kesesuaian manfaat program community
relations Desa Mandiri Energi di Lebak Picung dengan tingkat pemahaman
(comprehensive) pada sasaran program program
2. Terdapat hubungan positif antara proses pembentukan citra perusahaan melalui
pelaksanaan community relations program PLTMH di Lebak Picung dengan
citra perusahaan yang terbangun pada penerima program community relations.
2.4. Definisi Operasional dan Pengukuran
1.
Keterlibatan dalam program adalah keikutsertaan warga Lebak Picung
dalam perencanaan, pembuatan, maupun pemeliharaan PLTMH. Mencakup:
keterlibatan dalam perencanaan PLTMH, keikutsertaan dalam pembangunan
PLTMH, ikut menjaga keberlangsungan PLTMH dengan melaksanakan
ronda sesuai jadwal, menjaga lingkungan khususnya ketersediaan air sungai
sebagai sumber utama PLTMH, maupun menjadi pengurus aktif dalam
pengelolaan PLTMH. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala
ordinal dengan pemberian skor berikut:
• Sangat Tidak Setuju
:1
• Tidak Setuju
:2
• Setuju
:3
• Sangat Setuju
:4
Dengan total tujuh pertanyaan, akan dikategorikan keterlibatan dalam
program ke dalam tiga kategori:
• Tingkat keterlibatan rendah
= skor ≤ 13
• Tingkat keterlibatan sedang
= skor 14-21
• Tingkat keterlibatan tinggi
= skor ≥ 22
22
2. Manfaat program adalah sejauhmana program community relations berguna
bagi sasaran program. Manfaat program melihat sejauhmana PLTMH dinilai
telah membantu memenuhi kebutuhan listrik di Lebak Picung, manfaat yang
dirasakan dalam pemenuhan listrik rumah tangga dibandingkan pembangkit
listrik lain seperti generator maupun PLTS, sejauh PLTMH PLN
memberikan
manfaat
pada
pemenuhan
kebutuhan
informasi
yang
didapatkan rumah tangga melalui akses pada media dengan adanya listrik,
manfaat di bidang pendidikan dengan peningkatan minat belajar anggota
keluarga dengan adanya listrik, peningkatan perekonomian keluarga,
maupun perkembangan pada Lebak Picung secara keseluruhan. Variabel ini
diukur berdasarkan pernyataan sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat
tidak setuju. Pengukuran dengan skala ordinal dengan penilaian berikut ini:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Data dari enam pertanyaan akan dikelompokkan ke dalam tiga kategori:
• Tidak bermanfaat
= skor ≤ 11
• Cukup bermanfaat
= skor 12-18
• Bermanfaat
= skor ≥ 19
3. Program community relations menilai seperti keterlibatan penerima program
pada program yang diberikan perusahaan serta kesesuaian manfaat program
dengan kebutuhan penerima program. Secara keseluruhan data tentang
keterlibatan warga dalam program dan manfaat program sebagai variabel
dalam
program community relations PLTMH PLN, dengan total
keseluruhan terdapat 13 pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke
dalam tiga kategori, yaitu:
• Program comrel PLTMH dilaksanakan dengan buruk
=skor ≤ 25
• Program comrel PLTMH dilaksanakan dengan cukup baik =skor 26-39
23
• Program comrel PLTMH dilaksanakan dengan baik
=skor ≥ 40
4. Tingkat penangkapan informasi (exposure) adalah sejauh mana sasaran
program mengetahui atau menyadari adanya implementasi program
PLTMH. Variabel ini diukur berdasarkan pernyataan sangat setuju, setuju,
tidak setuju, dan sangat tidak setuju terhadap informasi yang dimiliki
responden tentang program PLTMH di Lebak Picung, hingga sejauh mana
responden mengetahui tentang PLN dan upaya yang dilakukan PLN.
Pengukuran dilakukan dengan skala ordinal dengan penilaian berikut ini:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Tingkat penangkapan informasi (exposure) pada pembentukan citra dilihat
dari enam pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga
kategori, yaitu:
• Tingkat penangkapan informasi rendah
= skor ≤ 11
• Tingkat penangkapan informasi sedang
= skor 12-18
• Tingkat Penangkapan informasi tinggi
= skor ≥ 19
5. Tingkat perhatian (attention) adalah sejauh mana ketertarikan penerima
program untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan PLTMH, yang
dilihat melalui kerlibatan, serta perhatian penerima program melalui apa
yang mereka rasakan terhadap program PLTMH dari PLN. Variabel ini
diukur berdasarkan pernyataan sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat
tidak setuju. Pengukuran dengan skala ordinal dengan penilaian berikut ini:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4`
24
Tingkat perhatian (attention) pada pembentukan citra dilihat dari 5
pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu:
• Tingkat perhatian rendah
= skor ≤ 9
• Tingkat perhatian sedang
= skor 10-15
• Tingkat perhatian tinggi
= skor ≥ 16
6. Tingkat pemahaman (comprehensive) adalah sejauh mana pengetahuan dan
penilaian individu sasaran program tentang implementasi program
community relations. Variabel ini mengukur pernyataan tentang pemahaman
terhadap manfaat PLTMH secara keseluruhan, penilaian terhadap PLN
sebagai sahabat bagi warga karena mampu memenuhi kebutuhan listrik,
serta kebersediaan menjadi pengurus dalam program pemberdayaan yang
diadakan PLN maupun kebersediaan jika PLN melakukan kegiatan lain di
Lebak Picung dengan penilaian sangat setuju, setuju, tidak setuju, atau
sangat tidak setuju. Pengukuran dengan skala ordinal dengan penilaian
berikut ini:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Tingkat pemahaman (comprehensive) pada proses pembentukan citra dinilai
dari 6 pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori,
yaitu:
• Tingkat pemahaman dan penerimaan rendah
= skor ≤ 11
• Tingkat pemahaman dan penerimaan sedang
= skor 12-18
• Tingkat pemahaman dan penerimaan tinggi
= skor ≥ 19
7. Proses pembentukan citra adalah proses pemaknaan program pada sasaran
yang diawali dari adanya penangkapan informasi (exposure), dilanjutkan
dengan
perhatian
(comprehensive)
(attention)
pada
terhadap
program.
Secara
program,
dan
keseluruhan,
pemahaman
data
tentang
25
penangkapan informasi, perhatian, dan pemahaman menunjukkan tentang
proses pembentukan citra dengan total keseluruhan terdapat 17 pertanyaan
yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
• Proses pembentukan citra yang buruk
= skor ≤ 33
• Proses pembentukan citra yang cukup baik
= skor 34-51
• Proses pembentukan citra yang sangat baik
= skor ≥ 52
8. Penilaian pada personality perusahaan, adalah sejauh mana publik sasaran
menilai perusahaan sebagai perusahaan yang dipercaya, perusahaan yang
mempunyai tanggung jawab sosial. Pengukuran dilakukan dengan skala
ordinal yang dikategorikan ke dalam empat kategori, yang diukur dengan
pembagian skor berikut:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Penilaian responden terhadap personality perusahaan dilihat dari enam
pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
• Perusahaan memiliki personality yang buruk
= skor ≤ 11
• Perusahaan memiliki personality yang kurang baik = skor 12-18
• Perusahaan memiliki personality yang baik
= skor ≥ 19
9. Penilaian pada reputation perusahaan, adalah keyakinan positif publik
sasaran berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain terhadap
manfaat yang diberikan perusahaan. Pengukuran dilakukan dengan skala
ordinal yang dikategorikan ke dalam empat kategori, yang diukur dengan
pembagian skor berikut:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
26
Penilaian responden terhadap reputation perusahaan dilihat dari lima
pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
• Perusahaan memiliki reputation yang buruk
= skor ≤ 9
• Perusahaan memiliki reputation yang kurang baik
= skor 10-15
• Perusahaan memiliki reputation yang baik
= skor ≥ 16
10. Penilaian pada value ethics Perusahaan, adalah sejauh mana publik
menganggap perusahaan memiliki nilai-nilai yang baik. Pengukuran
dilakukan dengan skala ordinal yang dikategorikan ke dalam empat
kategori, yang diukur dengan pembagian skor berikut:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Penilaian responden terhadap value ethic perusahaan dilihat dari lima
pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
• Perusahaan memiliki value ethic yang buruk
= skor ≤ 9
• Perusahaan memiliki value ethic yang kurang baik
= skor 10-15
• Perusahaan memiliki value ethic yang baik
= skor ≥ 16
11. Penilaian pada corporate identity perusahaan, adalah sejauh mana publik
sasaran mengetahui dan menilai komponen pengenal perusahaan seperti
logo, dll. Pengukuran dilakukan dengan skala ordinal yang dikategorikan ke
dalam empat kategori, yang diukur dengan pembagian skor berikut:
• Sangat tidak setuju
: skor 1
• Tidak setuju
: skor 2
• Setuju
: skor 3
• Sangat setuju
: skor 4
Penilaian responden terhadap corporate identity perusahaan dinilai dari
empat pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori,
yaitu:
27
• Perusahaan memiliki corporate identity yang buruk
= skor ≤ 7
• Perusahaan memiliki corporate identity yang kurang baik = skor 8-12
• Perusahaan memiliki corporate identity yang baik
= skor ≥ 13
12. Citra perusahaan adalah sejauhmana publik sasaran program memandang
perusahaan. Citra perusahaan ini dilihat berdasarkan pendapat sasaran
program community relations terhadap personality, reputation, value ethic,
dan corporate identity perusahaan. Untuk mengetahui citra perusahaan yang
terbentuk didapatkan dari penjumlahan seluruh hasil dari dua puluh
pertanyaan tentang personality, reputation value ethic dan corporate
identity pada penerima program community relations. Hasil data yang
diperoleh kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu:
• Perusahaan memiliki citra yang buruk
= skor ≤ 39
• Perusahaan memiliki citra yang kurang baik
= skor 40-60
• Perusahaan memiliki citra yang baik
= skor ≥ 61
Download