Bab 1.p65 - Research Report - Universitas Muhammadiyah Malang

advertisement
i
MENYELAMATKAN MASA DEPAN GENERASI EMAS BANGSA
(CATATAN KRITIS DAN SHARING PENGALAMAN GURU INDONESIA)
Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang
i
ii
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Hak Cipta © Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas
Muhammadiyah Malang
Hak Terbit pada UMM Press
Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang 65144
Telepon (0341) 464318 Psw. 140
Fax. (0341) 460435
E-mail: [email protected]
http://ummpress.umm.ac.id
Anggota APPTI (Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia)
Cetakan Pertama, Maret 2017
ISBN : 978-979-796-263-0
xx; 544 hlm.; 16 x 23 cm
Setting & Design Cover : A. Andi Firmansah
Editor: Arif Setiawan, Husamah, Fuad Jaya Miharja,Bustanol Arifin
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, termasuk
fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit. Pengutipan harap
menyebutkan sumbernya.
iii
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan
dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
iv
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
v
KATA PENGANTAR
GURU DAN KOMITMEN MENGAWAL MASA DEPAN “PENERUS” BANGSA
Oleh: Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.
(Wakil Rektor I/Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Malang;
Guru Besar Fakultas Agama Islam)
Sam M. Intrator & Robert Kunzman, dua orang profesor pendidikan
dari Smith College Massachusetts dan Indiana University, Amerika Serikat,
lewat artikel mereka “The Person in the Profession: Renewing Teacher
Vitality through Professional Development (The Educational Forum, Vol.
71, Fall 2006)” dengan lugas menulis bahwa “Teachers are people with
biographies and changing life circumstances and not merely repertoires
of skills and techniques, the personal realm of teachers has been
considered private terrain”. Berdasarkan pandangan tersebut, pribadi
guru yang utuh tidak lain adalah model dan teladan, yang bahkan
mampu mengubah kehidupan manusia yang lain, dengan ciri khas
mereka berupa keyakinan, kepekaan, dan kejujuran.
Kita semua menyadari, tuntutan pendidikan kekinian, terlebih di era
“revolusi mental”, menghendaki profesi guru untuk memastikan bahwa
peserta didik mereka mampu menaklukan dan meraih masa depan.
Dengan kata lain, orang yang menekuni profesi tertua ini adalah orangorang terpilih, orang-orang yang mampu menciptakan masa depan.
Lewat transfer ilmu pengetahuan, pengembangan potensi, dan
pembentukan karakter, amanah itu senantiasa dijalankan tiap hari,
bahkan rasanya tidak berlebihan bila dikatakan “tiap waktu”.
Guru memiliki peran strategis dan jelas merupakan ujung tombak
untuk menyelamatkan generasi. Berhasil atau tidak, baik atau buruk
output pendidikan, dipegaruhi oleh bentuk pendidikan, dengan guru
sebagai aktor utamanya. Hal ini tentu dengan tidak bermaksud menafikan
peran orang tua dan masyarakat dalam satu rangkaian tripusat
pendidikan.
v
vi
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Interaksi guru yang erat dan intens dengan peserta didik memberi
makna bahwa guru memiliki pengaruh langsung dalam pikiran dan
perilaku mereka. Guru selalu dibutuhkan sebagai salah seorang agen
kunci bagi peserta didik, mereka yang dalam level remaja, dalam
merespon masalah kekinian kehidupan.
Tentu saja, aktivitas perjuangan mencetak generasi masa depan itu
tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada begitu banyak ranjau
kehidupan yang siap meledak hingga meluluhlantakkan niat, ada aneka
bentuk jurang dan cadas kehidupan yang siap untuk menghancurkan
semangat, dan cukup jamak rintangan yang setiap saat melumpuhkan
energi guru, dan tentu saja para peserta didik, remaja, atau generasi
muda itu sendiri. Maka, tak heran bila keluhan, rasa cemas, kegalauan,
dan kesedihan guru, adalah kabar buruk bagi kehidupan bangsa.
Faktanya, generasi muda bangsa kini dihadapkan pada beragam
problema akut, mulai dari rusaknya pergaulan remaja dan menjamurnya
tindakan amoral/asusila (penggunaan miras dan narkoba, akses pornografi,
free sex, pemerkosaan, pelacuran, aborsi, perjudian, kriminalitas), tawuran,
geng motor, bullying, bahkan pembunuhan dan tindakan tidak etis
lainnya. Rangkaian perilaku buruk itu senantiasa kita baca dan saksikan
di berbagai media massa atau bahkan secara langsung hingga detik ini.
Tatakrama kehidupan sosial dan etika moral dalam praktik kehidupan
pun kian luntur dan sampai pada titik nadir, baik di rumah, sekolah,
maupun lingkungan masyarakat luas.
Sebagai bahan perenungan, kurang lebih sepuluh tahun lalu kita
pernah dikagetkan dengan hasil penelitian PKBI pada tahun 2005 tentang
perilaku seksual remaja menyatakan remaja yang telah melakukan
hubungan seks pranikah di Jabotabek 51%, Bandung 54%, Surabaya
47% dan Medan 52% dengan kisaran umur pertama kali melakukan
hubungan seks pada umur 13-18 tahun, 60% tidak menggunakan alat
kontrasepsi, dan 85% dilakukan di rumah sendiri. Berdasarkan data PKBI
(2006) pun didapatkan 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per
tahun, 27% dilakukan oleh remaja, sebagian besar dilakukan dengan
cara tidak aman, 30-35% aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu
atau Maternal Mortality Rate (MMR). Kondisi tidak banyak berubah.
Hasil penelitian Abadi (2015) menunjukkan aktivitas yang umum dilakukan
remaja, yaitu masturbasi/oral seks (18%), berciuman (42%), meraba
bagian sensitif pasangannya (30%), serta berhubungan kelamin (20%).
Kata Pengantar Wakil Rektor II UMM
vii
Kondisi ini tentu semakin mengkhawatirkan mengingat besarnya
jumlah remaja di Indonesia. Bila kita merujuk dan memadukan data
proporsi remaja di dunia, Biro Pusat Statistik, dan Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia tahun 2013 maka persentase jumlah remaja adalah
20-30%. Dengan estimasi jumlah penduduk Indonesia sebesar 250 juta
orang, maka jumlah remaja adalah 50-75 juta orang.
Arus informasi dan euphoria era globalisasi semakin memperunyam
masalah, hingga menjadi sengkarut benang kusut, sebab sinyal kebebasan
tanpa batas dan klaim modernitas yang dibawa cenderung di-amini oleh
generasi muda. Sebagian dari orang tua justru malah acuh, atau bahkan
terbawa arus dengan menganggap itu sebagai sebuah keniscayaan.
Sebagian lagi mencoba melakukan tindakan aktif, mencoba reaktif dan
berbuat sesuatu yang positif meskipun berat. Pada golongan kedua
inilah kita dapat melihat posisi para guru Indonesia. Semangat mereka
untuk terus berjuang memastikan setiap anak didik dapat menjadi
generasi masa depan bangsa yang membanggakan senantiasa membara.
Minimal indikator dari statemen itu adalah kemauan, kesadaran,
kepekaan, dan antusiasme mereka untuk memberikan kontribusi berupa
artikel dalam buku ini.
Semangat para guru ini tentu harus selalu dipelihara, diwadahi, dan
diapresiasi. Universitas Muhammadiyah Malang, dengan jargonnya Dari
Muhammadiyah untuk Bangsa, secara sadar memahami hal itu. Sebagai
bagian dari bangsa ini, sebagai bagian dari unsur pendidikan, dan
sebagai bagian dari pencetak generasi, menjadi dasar Universitas
Muhammadiyah Malang untuk memberikan perhatian lebih terhadap
niat-niat baik, usaha-usaha positif, dan perhatian setiap bagian dari
bangsa untuk ikut terlibat mengurai atau memikirkan sedikit demi
sedikit benang kusut problematika bangsa. Oleh karena itu, kami selaku
jajaran pimpinan UMM sekaligus secara pribadi sebagai pengamat/
pemerhati pendidikan, menyambut baik dan memberikan apresiasi
setinggi-tingginya atas penerbitan buku kumpulan catatan, opini, artikel,
kajian pemikiran, dan penelitian para guru tingkat SD, SMP, SMA dan
sederajat, sekolah luar biasa (SLB), dan pemerhati pendidikan di Jawa
Timur yang dikoordinasi oleh Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan
(PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang. Tentu saja kami meyakini,
bahwa meluangkan waktu untuk menulis merupakan sebuah perjuangan
sendiri di tengah aktivitas mengajar dan berbagai pekerjaan domestik
viii
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
yang menjadi tanggungan para guru setiap harinya.
Insya Allah buku berjudul “Menyelamatkan Masa Depan Generasi
Emas Bangsa: ini akan menjadi oase baru, memperkaya wawasan, dan
khasanah pemikiran kita terkait isu kependudukan, pendidikan, dan
khususnya remaja sebagai generasi penerus bangsa. Nilai plus-nya adalah
bahwa para penulis yang berkontribusi dalam buku ini adalah para
pelaku pendidikan dan para guru yang setiap hari berinteraksi dengan
remaja. Maka menjadi wajar bila tulisannya pun kebanyakan adalah
fakta, kondisi riil, dan pengalaman sehari-hari. Kita seakan-akan ikut
merasakan bagaimana kondisi yang begitu miris di ruang-ruang kelas,
dan kenyataan pahit remaja di sekeliling kita. Kita ikut merasakan,
karena seakan kita berada di ruang dan waktu yang sama dengan para
guru. Tulisan mereka tidak melulu teoritis, sebagaimana kebanyakan
buku yang bertebaran di rak buku kita. Tentu, dengan tidak menutup
mata bila mungkin saja masih terdapat kelemahan dalam penulisan,
pengutipan, gaya bahasa, dan kevalidan teori. Hal yang wajar dalam
penulisan sosial/kualitatif, yang bisa jadi akan termaafkan bila kita
sepenuhnya menghargai semangat dan niat mulia para guru tersebut.
Akhirnya, semoga kerja luar biasa para guru di Jawa Timur dan Tim
PSLK UMM ini menjadi tradisi akademik yang akan terus diagendakan,
menjadi peneguh komitmen dan peneguh semangat untuk terus mendidik
generasi bangsa. Juga, semoga buku ini menjadi amal jariyah bagi kita
semua, dari guru dan UMM untuk bangsa Indonesia. Wallahu a’lam.
ix
KATA PENGANTAR KEPALA PSLK UMM
Ide untuk mengajak para guru untuk menulis tema ini diilhami
oleh kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Lingkungan
dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang pada
tahun 2016 yang lalu. Penelitian tersebut dilaksanakan oleh Tim PSLK,
yaitu Drs. Atok Miftachul Hudha, M.Pd sebagai ketua dengan anggota
Husamah, S.Pd., M.Pd. dr. Rubayat Indradi, MOH serta Sri Sunaringsih
Ika Wardojo, SKM, M.PH. Penelitian dengan judul Efektivitas Model
Pembelajaran “OIDDE” Sebagai Langkah Promotif dan Preventif Terhadap
Seks Pranikah melalui PIK Remaja di Kota Malang dibiayai oleh Bidang
Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, BKKBN Pusat. Lewat interaksi
yang cukup intens dengan puluhan guru dari 16 sekolah (8 SMP dan 8
SMA/SMK) dan hampir 600 siswa se-kota Malang selama hampir 5 bulan,
maka ide tersebut semakin kuat. Kami merasa, ada semangat yang luar
biasa, energi yang kuat, dan niat yang besar dari para guru (umumnya
saat itu adalah guru Bimbingan Konseling dan pendamping kesiswaan)
untuk bersama-sama “memastikan” bahwa para siswa yang mereka
didik benar-benar berkualitas, mencerminakan generasi masa depan
bangsa yang berkualitas.
Atas dasar itulah, maka kami mencoba menyebarkan undangan
menulis hanya dengan menggunakan media sosial WhatsApp. Ternyata
respon para guru sangat di luar dugaan. Kabar tersebar luas, bahkan
sampai ke luar Jawa. Atas berbagai pertimbangan, dan keterbatasan
sumberdaya maka tim PSLK hanya membatasi kepesertaan menulis ini
untuk pendidik di Jawa Timur (sembari berharap tahun-tahun berikutnya
akan dapat dilaksanakan dengan skala luas bahkan sampai level nasional).
Ide untuk menerbitkan buku dengan tema ini sepenuhnya berangkat
dari kondisi kekinian bangsa ini, khususnya pada kondisi remaja/siswa/
generasi masa depan bangsa. Mereka sedang mengalami split
personality (diri yang terpisah). Dinamika perubahan zaman yang terus
berkembang dengan sangat cepat memunculkan pergeseran aspek nilai
dan moral dalam kehidupan masyarakat. Dekadensi moral dan sifat
buruk yang ditunjukkan siswa semakin jamak kita dengar dan temukan
ix
x
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
sehari-hari. Isu-isu moralitas di kalangan remaja seperti penggunaan
narkotika, pornografi, pornoaksi, tawuran pelajar, aborsi perkosaan,
perampasan, pencurian, pembunuhan, dan tindakan-tindakan amoral
lainnya sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini terus
mengancam.
Permasalahan tersebut, menurut hemat kami, bagaimanapun adalah
masalah kependudukan yang sangat penting, perlu untuk terus
diperhatikan dengan berupaya mencari solusi-solusi ideal, semata demi
masa depan bangsa. PSLK UMM berpandangan bahwa sekecil apapun
upaya kita untuk memberikan kontribusi penyelesaian masalah tentu
akan sangat bermanfaat. Masalah besar tentu akan menuntut keterlibatan
dan kepedulian banyak pihak pula. Pada titik inilah alasan mengapa
PSLK UMM hadir. Terlebih kampus ini telah menetapkan jargon luar
biasa, Dari Muhammadiyah untuk Bangsa.
Akhirnya, tentu sangat patut kami berterima kasih, penghargaan,
dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para penulis (para guru dan
pengamat pendidikan) yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi
pikiran dan ide kreatif-bahkan banyak tulisan berasal dari pengalaman
nyata penulis (best practices). Terima kasih pula kami sampaikan kepada
Bapa Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., sekaligus
pemerhati dan pelaku pendidikan, yang berkenan memberikan kata
pengantar buku ini. Tentu, tidak lupa kami menyampaikan terima kasih
dan penghargaan kepada para tim editor PSLK (Arif Setiawan, M.Pd.,
Fuad Jaya Miharja, M.Pd., Bustanol Arifin, M.Pd., dan Husamah, M.Pd)
atas segala kerja kerasnya dalam menyunting naskah sehingga lebih enak
dibaca dan memenuhi kaidah yang ada. Terima kasih juga kepada Tim
UMM Press atas kerja kerasnya menerbitkan buku ini. Semoga buku ini
bermanfaat untuk semakin menambah wawasan dan semangat kita
dalam isu-isu terkait remaja/siswa generasi masa depan bangsa.
Malang, Maret 2017
Kepala PSLK UMM
Husamah, S.Pd., M.Pd.
xi
KATA PENGANTAR EDITOR
PENDIDIKAN KARAKTER DAN PROBLEMATIKA REMAJA DALAM SOROTAN GURU
“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”
Ir. Soekarno
Sebaris kalimat di atas dari Bapak proklamasi yang terasa sangat
menggema di seantero penjuru negeri. Hampir setiap orang tidak asing
dengan kalimat tersebut, bahkan sudah digunakan oleh siapapun untuk
memantik api semangat kaum muda. Tidak dapat dipungkiri lagi,
memang ucapan Bung Karno tersebut sudah menjadi trendmark dalam
segala aspek kehidupan. Di pundak kaum muda semua harapan seolah
digantungkan dan ditumpahkan untuk membuat sebuah perubahan
besar dalam dirinya maupun di luar dirinya. Filosofi “yang muda yang
berkresai” seolah telah menjadi sebuah ilham dalam pemahaman roda
kehidupan di setiap prosesnya. Berbekal ucapan Bung Karno dan realita
yang ada di lapangan, memang tidak asing lagi kalau di setiap poros
kehidupan akan ditemui sosok muda nan kreatif.
Kaum muda memang tidak terlepas dari setiap sorotan, pantauan,
dan intaian terhadap bakat dan talenta yang mereka miliki. Berkaca
pada kalimat sebelumnya, nampaknya memang benar adanya. Dewasa
ini genderang kaum muda seolah telah membuat perubahan mendasar
dalam segalam urusan. Salah satunya benar-benar diadaptasi dalam
dunia industri sepak bola, tengok saja filosofi “yang muda yang berkreasi”
benar-benar menjadi fondasi klub asal Kota Barcelona, dengan akademi
sepak bola La Masia-nya. Akademi tersebut telah melahirkan banyak
talenta muda nan berbakat seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi
Hernadez, dan Gerad Pique. Di pundak merekalah digantungkan dan
ditumpahkan semua harapan untuk Berjaya. Tidak main-main buah
manis dari kepercayaan itu adalah prestasi yang bergelimang di semua
level tertinggi. Terlepas dari dunia industri sepak bola, ada satu hal yang
perlu kita pahami dengan baik, yaitu kepercayaan pada kaum muda.
xi
xii
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Tentunya kepercayaan tersebut tidak hanya sekadar kata “percaya”,
melainkan semua pola dan bentuk bimbingan dalam mengarahkan
tumbuh kembang kaum muda menjadi lebih bermakna. Investasi tersebut
yang nantinya akan berbuah manis seperti halnya filosofi akademi milik
Barcelona.
Harapan besar seperti dua paragraf di atas boleh saja kita harapkan
menjadi sebuah kenyataan. Hal ini memang tidak jauh api dari panggang,
karena banyak talenta muda bangsa ini yang telah menelurkan karya
luar biasa dan monumental. Selain itu, banyak juga di antara mereka
yang telah berhasil membuktikan diri di tingkat internasional.
Nampaknya, kaum muda inilah yang nantinya akan menjadi harapan
besar bangsa dalam mengarungi derasnya arus globalisasi, sehingga
mampu menjadikan bangsa menjadi lebih berdikari sesuai dengan
keinginan para founding fathers. Oleh karena itu, perlu sebuah kesadaran
yang teramat dalam dari setiap pemuda bangsa untuk mampu
mewujudkan cita-cita dan harapan tersebut.
Hal inilah yang setidaknya sekarang ini sedang dialami oleh bangsa
kita dan nampaknya memerlukan sebuah penanganan yang teramat
serius. Perkembangan dan perubahan zaman yang semakin bergerak
maju, sehingga memberikan dampak positif yang menuntut setiap
individu untuk selalu terus melakukan terobosan baru. Selain itu,
dampak negatif juga sangat dirasakan, mulai dari lemahnya kemampuan
berpikir kritis, manusia menyukai segala sesuatu yang bersifat instan,
dan yang paling parah adalah degradasi moral yang tengah dialami oleh
remaja. Nampaknya uraian pada poin terkahir ini bukan sekedar omong
kosong belaka, melainkan sebagai kenyataan yang harus dihadapai dan
dicarikan sebuah solusi. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani,
maka dapat dipastikan nasib bangsa ini ke depan hanyalah akan menjadi
sebuah sejarah. Oleh karena itu, perlu sebuah langkah nyata dari semua
elemen, mulai dari orang tua, guru, dan masyarakat. Tidak dapat
dipungkuri apabila peran ketiga elemen tersebut akan sangat signifikan
terhadap tumbuh kembang remaja dalam mengarungi kehidupan.
Peran tersebut dimulai dari dari lingkup yang paling kecil, namun
memberikan efek yang luar biasa yaitu keluarga. Di lingkup inilah
semua nilai positif ditanamkan dan diajarkan dengan baik pada anak.
Selian itu, di lingkup keluarga juga diajarkan terkait dengan nilai-nilai
yang tidak sepantasnya dilakukan di tengah masyarakat. Kondisi demikian
Kata Pengantar Editor
xiii
dapat dibangun semenjak dini, mulai dari ibu mengandung (prenatal)
sampai anak tumbuh dan berkembang menuju fase dewasa. Diharapkan
bekal yang sudah diberikan oleh orang tua mampu dijadikan sebagai
pegangan dan pedoman hidup, sehingga nanti tumbuh menjadi manusia
yang berkarakter.
Aspek kedua yang juga memiliki peran luar biasa dalam tumbuh
kembang anak menjadi remaja adalah sekolah. Sebagian besar waktu
anak dan remaja dihabiskan di sekolah untuk menuntut ilmu. Dalam
prosesnya ternyata siswa tidak hanya belajar dan menuntut ilmu saja,
melainkan melakuan komunikasi dan interkasi dengan komunitas dalam
lingkup yang sedang. Kondisi inilah yang secara perlahan telah
mentrasformasi sekolah menjadi lingkup masyarakat. Dengan demikian,
tidak dapat dipungkuri perlu sebuah peran pengendali yang harus
dipegang oleh seorang guru. Hal ini dikarenakan guru sebagai orang tua
kedua dan ujung tombak dari harapan sebuah bangsa. Di mana tugas
dan kewajibannya adalah mengajar, mendidik, membimbing, dan
mengarahkan siswa untuk menjadi generasi yang sukses dunia dan
akhirat. Tanggung jawab berat tersebut seolah tidak menjadi halangan
bagi guru, sebaliknya malah menjadikan sebuah semangat dalam
melaksanakan tugas. Pelayanan dengan sepenuh hati seolah menjadi
sebuah jalan lurus yang akan menuntun siswa melewati semua fase
pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga siswa dapat menjadi
insan kamil seperti halnya cita-cita proklamasi.
Aspek ketiga yang tidak kalah pentingnya dalam membangun
karakter remaja adalah masyarakat. Masyarakat dalam hal ini bukan
hanya sekedar yang ada di sekitar remaja, melainkan masyarakat yang
sifatnya sudah sangat universal. Kondisi ini dilatari oleh semakin
berkembang dan mudahnya jalinan komunikasi yang dapat dilakukan
dengan orang lain di berbagai belahan dunia. Oleh kerena itu, diperlukan
perangkat yang dapat menjaga konsistensi dan keajegan dalam melakukan
tindakan. Perangkat tersebut berupa pemahaman etika, sopan santun,
dan budi pekerti luhur yang dikemas dalam sebuah nilai karakter
bangsa. Berbekal karakter bangsa, diharapkan nantinya setiap penerus
bangsa tidak lagi canggung dan kehilangan jati diri dalam melakukan
komunikasi yang bersifat universal.
Berbicara mengenai pendidikan karakter, otomatis tidak dapat
dilepaskan dari segitiga emas yang menjadi dasar pembentukannya.
xiv
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Perlu kiranya untuk menyiapkan dan membekali SDM dengan semua
perangkat pemahaman terhadap etika, sopan santun, dan budi pekerti
luhur yang dikemas dalam sebuah nilai karakter bangsa. Bekal tersebut
diharapakan akan mampu membentuk pribadi yang sesuai dengan citacita proklamasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan sejak dini
adalah mengenalkan, menanamkan, dan membekali generasi penurus
bangsa dengan nilai karakter dan falsafah bangasa. Langkah tersebut
akan menjadikan nilai positif pada setiap Sumber Daya Manusia (SDM)
dalam bertindak dan bersikap. Bentuk penilaian postif yang tersirat
dalam kalimat sebelumnya coba diukir oleh Bapak/Ibu guru dalam
sebuah artikel yang menitik beratkan pada pendidikan karakter. Di mata
para guru coba diulas secara mendetail tentang pendidikan karakter dan
cara mengaplikasikannya. Langkah nyata tersebut perlu dan harus terus
mendapatkan dukungan dari semua pihak, agar goresan dan sumbangan
ide para guru tidak hanya sekedar menjadi ukiran tulisan yang tidak
bermakna. Pemikiran tersebut dapat dilihat dari beberapa intisari goresan
guru yang mencoba mengemukan argumentasinya melalui sudut pandang
pendidik seperti berikut.
Ainul Yaqin memberikan sebuah ide nyata dalam menanamkan
pendidikan karakter pada anak. Proses tersebut dapat dilakukan melalui
prenatal education, kondisi ini diilhami semakin bobroknya karakter
yang dimiliki oleh remaja, utamanya karakter profetik. Dalam konsep
pemikirannya, coba diulas lebih mendalam mengenai salah satu peran
dari segitiga emas yaitu keluarga. Keluarga dianggap sebagai garda
terdepan dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak. Hal ini
dapat dimulai ketika anak masih dalam kandungan ibu. Semasa hamil
orang tua dituntut untuk bersikap proaktif terhadap pertumbuhan dan
perkembangan buah hati. Sikap proaktif tersebut dimulai dari hal-hal
yang bersifat sederhana dan mengandung nilai profetik, seperti membaca
Al-Quran di setiap waktu agar memberikan rangsangan terhadap pola
tumbuh kembang otaknya. Selain itu, pola makan dan sumber makanan
perlu untuk dijaga, karena pola dan sumber makan itu yang nantinya
akan menjadi darah dan daging pada buah hati. Dapat dibayangkan
apabila sumber makanan yang dikonsumsi tidak halal, maka akan
berdampak pada buah hati dan menjadi karakter bawaan. Oleh karena
itu, diperlukan kesadaran sedini mungkin bagi setiap laki-laki dan
perempuan yang akan menikah. Kesadaran yang dimaksud adalah untuk
mempertimbangkan orang yang akan dinikahinya, sehingga nantinya
Kata Pengantar Editor
xv
anak yang dilahirkan akan memiliki karakter yang baik.
Zakiyah mencoba memberikan sudut pandang tersendiri mengenai
proses pendidikan karakter pada Anak Berekebutuhan Khusus (ABK).
Melalui proses pemahaman yang mendalam terhadap ABK, ia mencoba
untuk mengungkapkan bahwa mereka sama seperti anak-anak yang
normal. Meraka memiliki hak dan kewajiban untuk diperlakukan sama
dengan peserta didik yang normal sebagai salah satu generasi penerus
bangsa. Penanaman karakter pada ABK dapat dilakukan semenjak dini
dan disesuaikan dengan jurusannya. Bentuk perilaku berkarakter tersebut
ditungkan dalam kegiatan-kegiatan kecil yang penuh makna, di antaranya
saling membantu, saling menghargai, dan saling menghormati, meskipun
mereka beda kebutuhan khususnya. Selian itu, pendidikan karakter juga
diterapkan di dalam dan di luar kelas dalam bentuk yang dikemas
sedemikian rupa, sehingga ABK pun dapat tumbuh menjadi generasi
penerus bangsa. Berbekal pendidikan karakter yang telah dilakukan di
sekolah, maka ABK juga dapat menjadi bagian utuh di masyarakat
dalam memberikan bukti nyata mengenai pendidikan karakter.
Alfin Faridian memberikan argumentasi mengenai perkembangan
generasi muda di era sekarang. Melalui sumbangsi pemikirannya yang
diulas lebih mendalam serta terperinci dalam mempersipakan remaja di
era digital. Remaja yang dinamai dengan genrazi Z ini merupakan
remaja yang mampu menyesuaikan dengan segala bentuk kemajuan
zaman dan tantangannya. Generasi tersebut tidak perlu lagi harus saling
bertatap muka dalam melakukan segala sesuatunya, hanya cukup dengan
kecanggihan teknologi mereka dapat melakukan segalanya dengan baik.
Selain itu, sebagian besar identitas diri tidak lagi ditentukan dari nilainilai budaya tradisional, melainkan seberapa mampu mereka memiliki,
menyebarkan, dan mengetahui banyak informasi. Tentunya dengan
kondisi yang demikian perlu sebuah paradigma baru dari para orang tua
dalam melakukan pendekatan kepada generasi Z. Hal ini dikrenakan
pendekatan dan dukungan penuh kepada generasi Z akan semakin
membuat kreatif dan invotaif. Dukungan tersebut juga akan memberikan
masukan karakter ke-Indonesia-an, sehingga mereka tidak melupakan
budaya nasional yang menjadi dasar falsafah negara dalam setiap
beraktivitas.
Lilik Suhartatik mempunyai sebuah pandangan mengenai kesuksesan
yang akan didapatkan oleh peserta didik melalui pembinaan soft skill,
xvi
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
di mana soft skill memang merupakan aspek yang tidak dapat dianggap
sebelah mata dalam pembentukan karakter. Dapat dikatakan bahwa
karakter yang baik dapat bermula dari soft skill yang dimiliki oleh setiap
manusia. Hal inilah yang menjadi objek argumentasi yang diutarakan
lebih menyeluruh oleh Lilik melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Seperti yang banyak diketahui, bahwa selama ini SMK mendapatkan
stigma sebagai sekolah nomor dibandingkan dengan SMA atau MA.
Kondisi demikian tidak berlaku untuk Lilik, yang justru menjadi sebuah
poin penting dalam mewujudkan keinginan pemerintah dalam
membentuk karakter peserta didik. Proses tersebut dilaksanakan tidak
harus dengan cara yang sangat sulit atau berbelit, melainkan melalui
cara yang sagat sederhana dan berkesan. Dengan cara tersebut ternyata
dapat menumbuhkan soft skill peserta didik menjadi lebih baik lagi,
sehingga harapan dalam membentuk pendidikan karakter dapat tercai
dengan baik.
Debora Primawati Widayat menguraikan sebuah pandangan bahawa
dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter, diperlukan
sebuah langkah nyata dalam mengaplikasikannya. Hal ini dapat dimulai
dari sebuah aspek yang ternyata dianggap sepele dan kerap dianggap
sebelah mata. Aspek tersebut adalah tingkat kedisiplinan diri atau self
discipline, sepintas memang terlihat sangat sederhana sekali dan bahkan
hampir semua orang mampu dengan mudah untuk mengucapkannya.
Akan tetapi, ketika ditantang untuk membuktikan atau melakukanya,
banyak di antara mereka yang mengernyitkan dahi. Kondisi yang
demikian seolah menimbulkan sebuah pertanyaan besar di dalamnya,
kenapa self discipline dapat berkorelasi pada sebuah kesuksesan. Tentunya
pertanyaan tersebut dapat diuraikan berdasarkan logika praktis, bahwa
sebuah kesuksean tidak akan didapatkan secara cuma-cuma dan begitu
saja. Self discipline yang tinggi akan dapat mengantarkan setiap
individunya meraih semua keinginan yang dimilikinya. Kondisi inilah
yang coba diulas lebih mendalam dan bersifat klinis berdasarkan
pengalam penulis yang telah menjadi guru Bimbingan Konseling (BK)
dan telah banyak menghadapi karakter peserta didik.
Gagasan serta hasil penelitian yang telah diulas oleh para guru
dalam sebuah bungai rampai ini, seolah membuka cakrawala yang
selama ini masih terkotak-kotak dalam melihat potensi Sumber Daya
Manusia (SDM) yang ada. Cakarawala tersebut diharapkan dapat membuka
Kata Pengantar Editor
xvii
paradigma baru dalam memahami peserta didik sebagai objek yang
akan digarap karakternya, sehingga dapat menjadi manusia Indonesia
seutuhnya. Dengan demikian, konsep lama mengenai karakter dan
perilaku peserta didik atau generasi muda perlu rasanya untuk
mendapatkan penyegaran. Kondisi tersebut dikarenakan banyaknya ruangruang yang selama ini belum pernah digarap dan disoroti dengan baik
oleh khalayak. Melalui beberapa goresan dan pemikiran guru ini, kita
sebagai pembaca diajak untuk menelusuri ruang-ruang yang menjadi
lahan garapan guru, di mana lahan tersebut selama ini belum tergarap
secara maksimal. Dengan kembali membaca, memahami, dan melakukan
perenungan terhadap karya guru tersebut, sudah selayaknya negara,
pemerintah, dan masyarakat mulai merapatkan barisan dan bersamasama menyingsingkan tangan dalam membangun pendidikan karakter
terhadap peserta didik, sehingga kelak meraka akan menjadi insan kamil
sesuai dengan UUD 1945.
Secara garis besar pemikiran guru mengenai pendidikan karakter,
telah memberikan banyak informasi baru pada setiap khalayak. Tentunya
dengan membaca perwakilan lima contoh yang telah diulas di atas,
belum mampu memberikan sebuah pemahaman menyeluruh mengenai
ulasan dan goresan sebanyak lima puluh empat essai lainnya. Setiap
pemikiran dan ulasan essai tersebut menunjukkan sebuah keunikan dan
kekhasan tersendiri mengenai sudut pandang para guru dalam
melaksanakan tugas mulianya. Sisi lain dan peran orang tua kedua
seolah mengalir dengan sendirinya dalam ulasannya tanpa perlu
diungkapkan dengan dengan nyata. Ciri tersebut seolah telah menjadi
sebuah fitrah lahir dan batin bagi seorang guru yang tidak dapat
dinafikan oleh apapaun. Tentunya di balik uraian dan ulasan yang
mendalam tersebut terselip sebuah harapan besar pada instansi pengambil
keputusan untuk menindaklanjutinya. Sekali lagi, ulasan para guru
tersebut seolah membuka beberapa fakta tersembunyi yang belum
mampu digali lebih dalam oleh khalayak ramai.
Malang, Maret 2017
Editor
Arif Setiawan, dkk
xviii
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
xix
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR: GURU DAN KOMITMEN MENGAWAL
MASA DEPAN “PENERUS” BANGSA. Oleh:
Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (Wakil Rektor I/Bidang Akademik
Universitas Muhammadiyah Malang; Guru Besar
Fakultas Agama Islam) ..................................................................
KATA PENGANTAR KEPALA PSLK UMM .......................................
KATA PENGANTAR EDITOR ............................................................
v
ix
xi
TEMA 1: MEDIA SOSIAL DAN PROBLEMATIKA KENAKALAN
REMAJA SERTA SOLUSINYA
Peran Orang Tua dalam Melindungi Remaja dari Bahaya
Free Sex di Tengah Derasnya Arus Teknologi Informasi
Muryati ...........................................................................................
1
Pergaulan Bebas Ancaman Generasi Masa Depan
Ellen Landriany ..............................................................................
7
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap
Perilaku Berisiko pada Remaja
Etik Fariati ......................................................................................
15
Ciptakan Generasi “Z” Cerdas dan Berkarakter
Alfi Faridian ...................................................................................
27
Peran Orang Tua dan Peer Counselor dalam Menyikapi Masalah
Kenakalan Remaja
Eviatun Khaeriah ...........................................................................
35
Ketergantungan Siswa terhadap Penggunaan Smartphone
Berdampak pada Pribadi dan Interaksi Sosial
Evva .................................................................................................
43
xix
xx
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Pendidikan Seksual Bagi Remaja Sebagai Upaya Preventif
Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja
Mamang Efendy.............................................................................
51
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
Dwi Ulfa Nurdahlia .......................................................................
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di MTS
Maulidatul Fitriyah ........................................................................
67
Menangkal Narkoba Pada Remaja
Erna Pratiwi....................................................................................
73
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan, dan Matinya
Akal Kritis)
Muhlis .............................................................................................
79
Remaja Itu Harus Keren
Sulastrini .........................................................................................
89
Remaja Kekinian dan Kenakalannya
Erwin Qadariyah ............................................................................
97
Pergaulan Bebas Penghancur Peradapan
Santi Suhermina ............................................................................
103
Menangkal Narkoba di Kalangan Pelajar
Uyun Ni’mah ..................................................................................
109
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
Susi Irmayanti ................................................................................
115
Film Berkarakter “Pernikahan Dini” Via Media Arus Utama dan
Media Arus Alternatif
Ferril Irham Muzaki ......................................................................
131
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
Diana Kusumawati.........................................................................
137
59
Daftar Isi
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
Juwariyah .......................................................................................
Jaringan Anti Narkoba “Siap Lapor” SMP Negeri 22 Malang
Sumarno .........................................................................................
PIK Remaja Ar Risalah Peduli Generasi Emas
Eko Endri Wiyono .........................................................................
xxi
153
161
169
TEMA 2: . MEWUJUDKAN PENDIDIKAN INKLUSIF, HUMANIS, DAN
BERBASIS LITERASI UNTUK CALON GENERASI EMAS BANGSA
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Malang
Yachya Hasyim ...............................................................................
179
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orang Tua dalam Mengantar
Anak Berkebutuhan Khusus Menjadi Bagian Generasi Emas Bangsa
Aryadharma Sukma Alam Adhikusuma .......................................
195
Membangun Mindset Optimis Siswa SMK Guna Mereduksi
Kecemasan Mempersiapkan Diri Memasuki Dunia Kerja
Isrizal Anwar Zuhri ........................................................................
211
Ketapatan Pemilihan Jurusan di Perguruan Tinggi Awal Langkah
Menuju Kesuksesan Peserta Didik
Pepi Nuroniah ................................................................................
217
Strategi Token Reinforcement untuk Menurunkan Munculnya
Perilaku Out-of seat pada Anak Usia Sekolah Dasar
Rosyida Aziz ..................................................................................
223
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
Zakiyah............................................................................................
233
Menggapai Uluran Tangan Anak
Sulistiana ........................................................................................
255
xxii
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
Yachya Hasyim ...............................................................................
Air Itu Bernama Murid
Saifi Yunianto ................................................................................
Peran Pendidik untuk Menyentuh Hati Remaja dengan Kasih
Agar Meraih Prestasi yang Berarti
Dina Elisa........................................................................................
263
273
281
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21
Melalui Gerakan Literasi dan Karya
Endang Mudjianah ........................................................................
289
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di Lahan Subur
Hariati Tinuk ..................................................................................
307
Budaya Literasi dalam Pembentukan Karakter di SMAMDA Sidoarjo
Ifta Zuroidah. .................................................................................
317
TEMA 3: URGENSI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
SECARA KONSISTEN
Reinterpretasi Pendidikan Karakter (Tinjauan Ulang Konsep
Pendidikan Karakter Menuju Pendidikan Kritis dan Emansipatoris)
Arief Hanafi....................................................................................
325
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline
Siswa SMP
Debora Primawati Widayat ...........................................................
331
Keutamaan Karakter Religi
Dwi Utami ......................................................................................
347
Pengaruh Implementasi Pendidikan Karakter Terhadap Tingkat
Moralitas Peserta Didik di Daerah Migrasi Kota Surabaya Utara
Ichmi Yani Arinda Rohmah ..........................................................
351
Daftar Isi
xxiii
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui
Pembelajaran (Building Young Generation Character ofIslamic
Through Learning Education)
Intan Ayu Sari Dewi ......................................................................
359
Pembentukan SoftSkill di Sekolah Menengah Kejuruan
Menjadikan Karakter Unggul di Masa Depan
Lilik Suhartatik ..............................................................................
375
Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mengembangkan Karakter
Siswa sebagai Akselerator Revolusi Mental
Maghfira Wijayanti .......................................................................
381
Menjadi Generasi (Tidak) Berkarakter
Erna Pratiwi....................................................................................
391
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak
terhadap Perkembangan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Mudafiatun Isriyah ........................................................................
399
Metode GPS (Gerakan Positif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai
Pendidikan Karakter dan Nilai Pancasila pada Siswa
Rhegita Resih Kemuning ..............................................................
409
Prenatal Education Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
Ainul Yaqin ....................................................................................
423
Menjadi Generasi Berkarakter
Siti Robiah .....................................................................................
435
Pendidikan Karakter dan Peran Guru di Sekolah dalam
Mengatasi Kenakalan Remaja
Tutiek Srihayati ..............................................................................
449
Berkarakter Kebangsaan Bhineka Tunggal Ika
Sri Wahyuni ...................................................................................
463
xxiv
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(Catatan Kritis dan Sharing Pengalaman Guru Indonesia)
Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
Anna Jarrotul Khoiriyah ...............................................................
471
Membentuk Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Agama Islam
di Sekolah dan Madrasah
Arif Muzayin Shofwan ..................................................................
Menyongsong Generasi Emas Melalui Penanaman Budaya Religius
Fitrotul Hasanah ............................................................................
487
Selamatkan Anak-anak Bangsa dengan Pendidikan Karakter
Rif’ah Azizah .................................................................................
499
Upaya Sang Guru Mencegah Tindak Kekerasan di Kalangan
Pelajar Melalui Jurus Cakar
Sri Asih ...........................................................................................
515
Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah Sebagai Upaya
Sekolah Mewujudkan Generasi Berkarakter
Aloysius Gonzaga Adi ...................................................................
529
479
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
1
TEMA 1:
MEDIA SOSIAL DAN DILEMA
PROBLEMATIKA KENAKALAN REMAJA
SERTA SOLUSINYA
1
2
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran Orang Tua dalam Melindungi Remaja Dari Bahaya Free Sex di .....
1
PERAN ORANG TUA DALAM MELINDUNGI REMAJA DARI BAHAYA FREE SEX DI
TENGAH DERASNYA ARUS TEKNOLOGI INFORMASI
Muryati
SMAN 3 Kediri
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak, namun masih
belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Masa ini dapat
dikatakan sedang mencari pola hidup yang paling sesuai dan sering
melakukan coba-coba walaupun sering melakukan kesalahan. Kesalahan
yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang
tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tua. Kesalahan yang
diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal
ini karena mereka semua sama-sama masih dalam masa mencari identitas.
Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah
yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Remaja merupakan aset masa depan yang dimiliki oleh sebuah
bangsa. Dapat dibayangkan apabila remaja yang menjadi tulang punggung
sebuah bangsa tidak memiliki komimen yang tinggi dan moral yang
baik. Banyak kegiatan menggembirakan yang telah dilakukan oleh para
remaja seperti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pelajar
dan mahasiswa. Selain kegitan yang positif kita juga melihat arus
kemerosotan moral yang semakin melanda di kalangan sebagian remaja,
yang lebih terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Sering dijumpai
dalam surat kabar berita tentang seks bebas yang dilakukan oleh anakanak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan
di kalangan remaja putri, dan penyalahgunaan narkoba yang semakin
merajalela. Hal tersebut merupakan suatu masalah yang dihadapi
masyarakat dewasa ini. Oleh karena itu, masalah kenakalan remaja
mendapatkan perhatian yang serius untuk segera ditangani. Selain itu,
fokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik
beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan
remaja. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam
melindungi remaja dari hal-hal negatif seperti free sex dan
penyalahgunaan narkoba.
1
2
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
PEMBAHASAN
Rendahnya Pemahaman Remaja
Seks bebas menjadi salah satu permasalahan yang ada di Indonesia.
Setiap tahun, permasalahan ini semakin meningkat seiring
berkembangnnya zaman dan teknologi, sehingga mempermudah
mengakses situs yang seharusnya tidak dikunjungi. Kesalahan pergaulan
juga dapat menyebabkan remaja terjerumus ke dalam lingkaran seks
bebas. Hal ini dikarenakan remaja adalah individu yang labil emosinya
dan rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah
keluarga, kekecewaaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan temanteman membuat semakin berkurangnya potensi generasi muda
Indonesia dalam kemajuan bangsa. Peran orang tua sangat penting
dalam mengendalikan perilaku anak. Oleh karena itu, diperlukan adanya
keterbukaan antara orang tua dan anak dengan melakukan komunikasi
yang efektif. Mungkin menjadi tempat curhat bagi anak, mendukung
hobi yang diinginkan, tidak terlalu mengekang anak, dan orang tua
harus mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan anak diluar rumah
adalah salah satu cara, sehingga anak dapat terhindar dari penyimpangan
perilaku. Tidak hanya diberi asupan pendidikan formal disekolah, mereka
juga harus diberikan pendidikan melalui keluarga, seperti memberikan
masukan berupa siraman rohani, pemahaman terhadap etika dan estetika,
dan pemahaman terhadap bakat dan minat anak. Oleh karena itu,
bagaimana peran orang tua dalam melindungi remaja dari bahaya free
sex di tengah-tengah derasnya arus teknologi informasi, perlu dicarikan
solusi.
Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak
Peran orang tua dalam melindungi remaja dari bahaya seks bebas
sangat diperlukan, karena hal tersebut merupakan salah satu aspek
penting yang harus diperhatikan dalam perjalanan hidup seorang remaja.
Orang tua merupakan inti pembentukan tata nilai seorang remaja. Di
dalam keluarga orang tua mempunyai otoritas terhadap pembentukan
dan penentuan sistem tata nilai keluarga. Pengajaran tata nilai yang
lebih mengedepankan kelimpahan materi dan kemakmuran ekonomi
jika tidak dibekali dengan kekuatan iman, akan mendorong anak menjadi
hamba keserakahan dan ketamakan. Orang tua dapat memberikan kasih
sayang dan perhatiannya terhadap para remaja di dalam lingkup keluarga,
Peran Orang Tua dalam Melindungi Remaja Dari Bahaya Free Sex di .....
3
sehingga para remaja tidak mencari-cari kasih sayang yang salah dalam
pergaulannya di luar rumah. Selain itu, peran orang tua dalam memenuhi
kebutuhan remaja perlu dimaksimalkan, namun jangan berlebihan.
Apabila remaja melakukan sebuah kesalahan perlu diperingatkan dan
diberikan pendidikan agar mampu mengetahui kesalahan dan tidak
mengulanginya kembali. Selain itu, peran orang tua juga sangat
diperlukan dalam pembentukan watak dan tata nilai remaja yang kelak
menjadi identitasnya. Bagaimanapun setiap anak remaja pasti mempunyai
ciri khas masing-masing yang berbeda dengan yang lain. Ada remaja
yang pendiam, penurut, mudah bergaul, pemurung, gembira,
pembangkang, bahkan pemberontak. Sering kali remaja memandang
rumah sebagai penjara dan orang tuanya tidak lebih sebagai mahkluk
yang kegemarannya menciptakan peraturan dan larangan. Oleh karena
itu, perlu kiranya para orang tua memahami dan mengerti kondisi anak
dalam setiap detiknya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peran
sebagai orang tua dengan tujuan sebagai berikut.
a.
Tidak salah dalam pergaulan
b.
Tidak terjerumus dalam seks bebas
c.
Terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan obat terlarang
d.
Terhindar dari penyakit atau penularan HIV/AIDS
e.
Terhindar dari tindak kriminal
f.
Terhindar dari kemalasan
g.
Terhindar dari perkelahian
h.
Terhindar dari sikap apatis di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Langkah Tepat dalam Medidik Remaja Menjadi Lebih Baik
Berdasarkan hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional Pusat (BKKBN), 63% remaja di Indonesia pada usia sekolah SMP
dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah pada tahun
2008. Pada tahun 2010 BKKBN mencatat bahwa persentase seks bebas di
kalangan remaja meningkat menjadi 65%. Data ini diperkirakan akan
terus bertambah dengan semakin bertambah majunya zaman. Pada
dasarnya, ada beberapa faktor yang mendorong remaja usia sekolah
SMP dan SMA melakukan hubungan seks di luar nikah. Faktor pertama
adalah pengaruh liberalisme atau pergaulan hidup bebas. Remaja zaman
sekarang lebih mengedepankan gaya hidup kebarat-baratan, sedangkan
4
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
gaya hidup kebarat-baratan yang dianut itu terkesan bebas, tidak
mengindahkan tata nilai dan norma yang berlaku di Indonesia.
Faktor kedua adalah lingkungan atau keluarga yang mendukung ke
arah perilaku tersebut. Peran orang tua dan lingkungan sekitar turut
mempengaruhi perilaku remaja. Jika orang tua dan lingkungan mau
peduli dengan keadaan dan kondisi remaja di sekitarnya, maka hal
tersebut tidak akan pernah terjadi. Faktor ketiga adalah pengaruh dari
media massa, khususnya peran teknologi informasi dan komunikasi. Hal
ini dibuktikan dengan mudahnya akses internet bagi kalangan remaja
menuju situs porno. Dengan mudahnya mengakses situs porno, para
remaja dapat dengan mudah melihat tayangan yang seharusnya tidak
mereka tonton. Mereka juga dengan mudah menyimpan video terlarang
tersebut ke dalam smartphone yang dimilikinya. Hal inilah yang
mendorong terjadinya seks pranikah di kalangan remaja. Psikologi dan
pemikiran mereka selalu tertuju pada tayangan tersebut, hingga tanpa
sadar mereka tertarik melakukan seks karena dorongan seksual pada diri
mereka memuncak.
Secara fisik aktivitas remaja dapat dipantau oleh orang tuanya,
namun secara psikis orang tua harus memahami kebutuhan biologis dan
harus mengarahkan sudut pandang anak secara hati-hati. Tentu saja
sebagai pertimbangan dapat dilakukan pendidikan seksual dan mengajak
anak mengalihkan pandangannya tentang kebutuhan biologis dengan
pendekatan religius. Hal ini juga dapat dipelaji dalam Al-Quran yang
telah memberikan peringatan keras tentang seks yang disalahgunakan
(QS. Al-Isra’: 32) dan sebaiknya seks dilakukan dengan pasangan yang
diikat dengan sebuah pernikahan yang sah (QS. Al-Mukminun: 5-7). Hal
ini memang sudah menjadi fitrah manusia saling membutuhkan pasangan
atau lawan jenisnya (QS. Az-Zariat: 49, Ar-Rum: 21) bukan dengan yang
sejenis (QS. Al-A’raf: 80-81). Pendidikan seks yang sehat dalam Al-Qur’an
dapat menjauhkan diri dari berbagai penyakit bagi pelaku-pelaku seks
yang sah dalam ikatan pernikahan (QS. Al-Baqarah: 222). Selain
itu,bagaimana cara agar terhindar dari aktivitas seks yang haram (zina)
baik itu berpakaian dan tingkah laku laki-laki atau perempuan yang
dapat menjaga setiap titik urat malunya (QS. An-Nur: 30-31, Al-Azab: 59)
agar tidak putus. Nabi Muhammad SAW bersabda “Malu itu sebagian
dari iman, jika kamu tidak punya rasa malu (urat malunya sudah putus)
maka kamu pasti akan berbuat sesuka hatimu”.
Peran Orang Tua dalam Melindungi Remaja Dari Bahaya Free Sex di .....
5
Agar anak-anak tidak terjerumus dalam perilaku free sex, orang tua
harus menjelaskan bahwa apa yang diharamkan (zina), akan dihalalkan
pada waktunya (ketika sudah resmi menikah). Tidak hanya itu, kelak jika
sudah uzur kemungkinan besar juga tidak lagi membutuhkan hal-hal
yang berbau seksualitas. Bahwa kebutuhan insan mengikuti irama
kehidupan sesuai dengan usia adalah takdir. Remaja biasanya di saatsaat tertentu justru menjauh dari orang tuanya dan lebih mendengarkan
kata-kata temannya yang lebih persuasif. Hal ini dikarenakan ajakan
teman dianggap menyenangkan dan terkadang membahayakan.
Keduanya sering di luar perhitungan remaja, jika terjadi resiko, orang
tua tentu ikut menerima dampaknya. Terlebih masa depan pelaku
sendiri yang dipertaruhkan. Oleh karena itu, para orang tua, guru,
saudara, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemimpin, perangkat desa/
kelurahan, dan aparatur negara, hendaknya bersama-sama peduli pada
remaja, minimal di sekitar lingkungan domisili maupun lingkungan
kerja. Hal ini penting sekali dalam memantau dan memberi perhatian
baik berupa sapaan, dialog atau komunikasi, dan perhatian pada remaja
yang rata-rata malu-malu atau bahkan ada yang tidak peduli pada
sekitar. Kepedulian ini untuk menumbuhkan rasa bahwa dirinya
diperhatikan/mendapat perhatian, dengan harapan mereka memiliki
rasa malu jika mulai melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan
atau norma.
PENUTUP
Di era globalisasi dan semakin berkembangnya teknologi yang
memengaruhi kehidupan remaja tidak lepas dari yang namanya media
sosial. Banyak remaja yang menyalahgunakan teknologi untuk hal-hal
negatif seperti menonton hal yang berbau porno. Hal itu yang memicu
terjadinya free sexdi kalangan remaja. Kondisi ini terjadi karena kelalaian
orang tua dalam mengawasi anaknnya. Terutama keimanan yang dimiliki
orang tua biasanya dicontohkan atau dimiliki oleh seorang anak, free
sex juga muncul karena kurangnya iman dalam diri seorang anak. Bila
anak salah dalam memilih pergaulan, hal itu dapat menimbulkan ajakan
negatif dari teman yang mengarah pada free sex.
Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak usia dini hingga remaja,
tentu sudah menanamkan nilai-nilai adat, budaya, dan religius kepada
anak-anaknya. Akan tetapi, dengan adanya laju arus gelombang teknologi
6
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
informasi yang menyebabkan segala sesuatu menjadi mungkin, baik halhal yang positif maupun yang negatif. Rasanya perlu pengoptimalan
penanaman nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam
butir-butir Pancasila.Pancasila sebagai dasar negara sudah lengkap memuat
nilai-nilai yang harus ditanamkan pada remaja/generasi muda Indonesia.
Oleh karena itu, dibutuhkan peran orang tua sebagai berikut:
1.
Sebagai orang tua hendaknya menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila
kepada anaknya menjadi sebuah kewajiban.
2.
Sebaiknya orang tua sebagai penanggung jawab tertinggi atas perilaku
anak-anaknya, dapat membagi waktu antara waktu bekerja dan waktu
untuk sang anak.
3.
Seharusnya orang tua dapat dijadikan teladan buat anaknya.
4.
Orang tua memberitahukan kepada anaknya tentang bahaya free sex
agar tidak salah langkah. Bahwa suatu saat nanti hal-hal yang
diharamkan saat ini akan halal pada waktunya.
5.
Orang tua harus mengetahui dengan siapa anak bergaul.
6.
Sebaiknya orang tua mengajarkan dan menerapkan perihal keimanan
yang harus dipegang teguh agar anak tidak terjerumus ke hal-hal yang
negatif.
7.
Sebaiknya ketika menegur anak, menggunakan kata-kata yang tidak
menyakitkan hati, jangan terkesan menghakimi namun mengajari
menyadari akan kesalahan.
Pergaulan Bebas Ancaman Generasi Masa Depan
7
PERGAULAN BEBAS ANCAMAN GENERASI MASA DEPAN
Ellen Landriany
SMA Negeri 10 Malang
Membicarakan tentang remaja memang selalu menarik perhatian
dari semua kalangan. Tidak hanya karena remaja merupakan sosok
unik ketika melewatifase perubahan ragawi maupun mental,tetapi
juga dari perubahan non fisik. Menurut Glenn (1999: 239) tubuh akan
tumbuh pesat karena ada zat-zat kimiawi bernama “hormon” yang
mendesaknya untuk tumbuh. Remaja laki?laki dengan ciri kelamin
sekunder seperti: pita suara bertambah panjang dan tebal, suara menjadi
lebih dalam, mental lebih agresif, sikap aktif, dan mulai berminat
terhadap perkembangan kelamin lawan jenis. Untuk ciri-ciri kelamin
sekunder perempuan meliputi panggul bertambah lebar, payudara dan
organ reproduksi bertambah besar.
Perubahan non fisik meliputi perubahan perasaan yang tiba-tiba
merasa gembira tanpa sebab, ingin marah-marah atau dirundung
kecemasan yang tiada henti-hentinya,sangat mudah tersinggung, dan
ingin selalu menangis. Pakar psikologi mengatakan pada fase ini dikenal
dengan proses pencarianjati diri dan pemahaman diri, serta penjajakan
peranan dan kedudukannya dalam lingkungan. Dalam proses pencarian
jati diri, remaja membutuhkan kemandirian meliputi “Perilaku mampu
berinisiatif, mampu mengatasi hambatan maupun masalah, mempunyai
rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan
orang lain”. Ada suatu dorongan yang kuat untuk terlepas dari
ketergantungan dengan orang tua, keinginan dihargai sebagai orang
dewasa dan mempunyai hak terhadap dirinya dalam berkeputusan, serta
bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya. Masa remaja adalah
masa pembelajaran, masa mencari jati diri, dan masa yang masih labil.
Meskipun remaja mendapatkan kesempatan mengembangkan potensi
diri, namun tetap memerlukan bekal, bimbingan, dan pengarahan dari
orang tua, pendidik, serta dukungan lingkungan yang kondusif. Oleh
karena itu, perlu rasanya untuk membekali remaja dengan pemahaman
konsep hidup yang benar.
7
8
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dengan bimbingan, akan membentuk remaja menjadi merasa percaya
diri, karenasecara kemampuanmereka belum teruji dalam menghadapi
tantangan hidup. Keterlibatan orang tua, pendidik, dan lingkungan
dalam memberikan pengarahan akan membentuk kesiapan mentalnya,
karena secara kejiwaan remajamasih labil, mudah kebingungan ketika
mengalami kesulitan, dan kegagalan menjalani hidupnya.
Mengambil Keputusan tentang Seks
Bagi remaja perempuan atau perempuan muda sangat sulit untuk
mengambil keputusan tentang laki-laki.Kebanyakan orang mulai memiliki
perasaan cinta atau seksual bila telah menginjak masa remaja. Perempuan
muda dan gadis melakukan hubungan seks karena berbagai alasan, ada
yang ingin punya anak atau merasa diinginkan oleh lelaki,sekedar
menjalankan tugasnya sebagai seorang istri tanpa menikmatinya, bahkan
mungkin juga karena dipaksa, serta ada yang terpaksa melakukan
hubungan seks dengan imbalan uang atau imbalan lain yang diperlukan
untuk bertahan hidup (Burns dkk, 2005: 72).
Ancaman Penyakit AIDS (Acquuired Immune Deficiency Sindrome)
Salah satu penyakit yang disebabkan oleh hubungan seks yang tidak
sehat adalah AIDS. Penyakit tersebut mampu merambah ke semua
kalangan dan semua tempat. Namun, yang paling pesat perkembangannya
terjadi pada beberapa tempat yang memiliki latar belakang penduduk
miskin dan kurang berpendidikan, kelaparan, peperangan, dan
pengangguran. Kondisi tersebut membuat runtuhnya tradisi seks yang
baik dan hubungan seks dengan pasangan-pasangan barupun menjadi
kegiatan yang biasa.AIDS merupakan penyakit yang menyerang kekebalan
tubuh, di mana “himpunan kekurangan kekebalan tubuh yang
ditularkan“. Penderita penyakit AIDS akan memiliki system kekebalan
tubuh yang berbeda dengan manusai normal. Hal ini dikarnekan penyakit
AIDS akan menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga penderitanya
mudah terserang penyakit dan memiliki kondisi tubuh yang ringkih.
Ibarat sebuah penyakit kanker yang siap memberangus setiap nyawa
yang ditemuinya. Setiap tahun kita terperangah dengan semakin
meningkatnya orang yang terkena penyakit HIV/AIDS dan pecandu
narkoba. HIV/AIDS dan narkoba bukan lagi menjadi endemik ganda
yang mengancam kehidupan mereka yang gemerlap, bebas dan para
penjaja seks namun sudah mulai masuk dalam ranah kehidupan
rumah tangga dan anak?anak.
Pergaulan Bebas Ancaman Generasi Masa Depan
9
Mencuatnya banyak kasus asusila tersebut, yang perlu digaris
bawahi adalah : Pertama, muatan materi agama yang masih minim.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya muatan materi pengetahuan
agama pada kurikulum sekolah umum hanya memberikan tatap
muka dalam pembelajaran tiga jam setiap minggu, hal tersebut belum
dapat menjadi jaminan peserta didik untuk memahami mau pun
mempraktekkan dalam tindakan dan perilakunya. Materi maupun
ajaran agama tentu saja tidak hanya menjelaskan masalah ubudiyah
yang sifatnya wajib, atau doktrin jihad, namun lebih dari itu
ajaran agama mengajarkan kita masalah moralitas, untuk berperilaku
baik terhadap orang tua, keluarga, bergaul dengan komunitasnya,
menghargai sesama makhluk dan memprilakukan dengan baik
lingkungan sekitarnya, terlebih mengenai hubungannya dengan Sang
Pencipta. Pada dasarnya seluruh agama yang ada, tidak
membenarkan ummatnya melakukan seks bebas.
Menurut pendapat Nelty (2016: 174) pergaulan bebas yang dimaksud
adalah pergaulan yang tidak dibatasi oleh aturan agama maupun susila,
perilaku yang dilarang oleh agama Islam yaitu Zina. Terkait hukum zina
dianggap sebagai puncak keharaman hal tersebut didasarkan pada
firman Allah SWT dalam Q.Sal- Isra’ /17- 32 , dalam pandangan hukum
Islam perbuatan zina merupakan dosa besar yang dikategorikan sebagai
perbuatan yang keji, hina, dan buruk.
Kedua, doktrin hidup bebas dan serba glamour seolah menjadi
ideologi anak muda. Kebebasan merupakan ideologi dalam berperilaku,
dan apa yang dilakukannya merupakan sebuah kebenaran. Gaya
hidup remaja, disamping disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap
ajaran agama, juga kurangnya perhatian dari pihak keluarga, belum
lagi serbuan yang menyerang imajinasi remaja usia labil yang terus
memberondong dari mulai ia keluar rumah melalui gambar?
gambar, pamlet, iklan-iklan di media cetak atau elektronik ditambah
lagi dengan sajian sinetron remaja yang mereka tonton di televisi.
Terjerumusnya remaja pada dunia seks merupakan hasil dari rasa
keingintahuan terhadap seks itu sendiri, yang mereka dapatkan dari
media, video cassete disk dan fasilitas lainnya. Yang tanpa disadari
dengan sekali melakukan, ia akan terjerumus pada pecandu seks bebas.
Ketiga, guru sebagai pengajar dan pendidik. Dengan kejadian tersebut
yang akan merasakan dampaknya adalah pendidik, guru yang seyogyanya
10
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sebagai pendidik siswanya baik di lingkungan maupun di luar
sekolah, hanya berfungsi sebagai pengajar di kelas, guru memiliki
peran ganda, yaitu seorang pengajar juga peran pendidik. Apabila
terjadi pergaulan yang bebas, siapakah yang akan memikul tanggung
jawab dari pergaulan bebas tersebut?
Keempat, problem yang ditimbulkan dalam keluarga mendominasi
dari timbulnya perilaku menyimpang pada diri anak. Perilaku
menyimpang anak usia pelajar bukan sepenuhnya kesalahan anak.
Namun dapat juga disebabkan keharmonisan dalam keluarga mulai
menipis dan menghilang. Keributan orang tua di depan mata putraputrinya sudah menjadi tontonan. Tanpa disadari bahwa apa yang
dilakukan orang tua di depan anaknya sudah menghancurkan psikologis
seorang anak oleh karena itu, maka dalam kondisi keputusasaan usia
pelajar sangat mudah mengambil keputusan untuk menentukan jalan
hidupnya sendiri, meskipun berakibat sangat fatal.
Dari pemaparan di atas pertanyaan, siapa yang patut disalahkan
dengan kejadian seks bebas tersebut? Apakah Sekolah yang memberi
porsi agama sangat minim, atau pelajar yang mengikuti arus globalisasi
hidup bebas, guru, atau keributan orang tua di depan anaknya maupun
perilaku acuh orang tua terhadap anaknya.
Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seks Bebas
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seks bebas.
Pertama, industri pornografi. Luasnya peredaran materi pornografi
memberi pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan pola
perilaku seks remaja. Kedua, pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi. Banyak informasi tentang kesehatan reproduksi yang tidak
akurat, sehingga dapat menimbulkan dampak pada pola perilaku seks
yang tidak sehat dan membahayakan. Ketiga, pengalaman masa kecil,
dari hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang pada masa
kecil mengalami pengalaman buruk akan mudah terjebak ke dalam
aktivitas seks pada usia yang amat muda dan memiliki
kecenderungan untuk memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti.
Keempat, pembinaan religius. Remaja yang memiliki kehidupan
religius yangbaik, lebih mampu berkata ‘tidak’ terhadap godaan seks
bebas dibandingkan mereka yang tidak memperhatikan kehidupan
religius. Seks bebas dapat disebabkan oleh hal-hal berikut: maraknya
peredaran gambar dan VCD porno, kurangnya pemahaman akan nilai
Pergaulan Bebas Ancaman Generasi Masa Depan
11
nilai agama, keliru dalam memaknai cinta, minimnya pengetahuan
remaja tentang seksualitas serta belum adanya pendidikan seks
secara reguler?formal di sekolah? sekolah.
Itulah sebabnya informasi tentang Makna Hakiki Cinta dan
adanya Kurikulum Kesehatan Reproduksi di sekolah mutlak diperlukan.
Melacak lebih jauh persoalan cinta dan seksualitas di kalangan remaja
ini, ada sejumlah fakta yang mesti diterima dengan lapang dada dan
disikapi secara bijak. Pertama, banyak remaja memiliki persepsi yang
salah tentang cinta. Ketika diberi anugerah cinta singgah di hatinya, ia
tidak rela hubungan cintanya diakhiri. Konsekuensi apa pun, juga rela
melakukan apa saja yang diinginkan pasangannya, termasuk melakukan
perbuatan yang belum layak mereka lakukan. Kedua, tawaran erotisme
dan stimulasi seksual yang seronok ? vulgar, yang disuguhkan media
massa begitu deras mengalir di ruang publik. Hal tersebut sangat
berdampak buruk pada mentalitas para remaja. Tawaran erotisme
dan stimulasi seksual tersebut akan menimbulkan implikasi
psikologis di kalangan remaja yang sedang dalam proses transisi
mencari identitas diri.
Ketiga, cinta dan seksualitas merupakan hal yang sangat menarik
perhatian remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja
tersebut segala perangkat seksualnya mengalami perkembangan
pesat dan dorongan seksualnya pun menjadi hal yang sangat akrab
dalam kehidupan mereka. Keempat, cinta dan seks adalah dorongan
alami yang tak dapat dipisahkan dalam perkembangan setiap
manusia yang normal. Dorongan seks tersebut sering menimbulkan
masalah tetapi bukan tidak dapat
diatasi. Seks harus dilihat dari
konteks kehidupan kita secara utuh, tidak parsial. Dorongan itu
dapat disublimasi menjadi potensi yang positif untuk berprestasi bila
ditangai secara benar.
Kelima, kini, seks bukan monopoli orang dewasa atau aorang tua
lagi. Seks juga milik remaja. Nilai seks yang luhur itu pun sudah
sedikit demi sedikit meninggalkan ketabuannya. Oleh sebab itu,
nilai luhur seks itu harus ditanamkan pada remaja. Kalau dulu
orang malu membicarakannya meskipun begitu banyak orang mengalami
masalah seks, sekarang sebaliknya kalau tidak berani berpacaran
dapat dinilai kuper dan ketinggalan zaman. Keenam, para remaja
kita sekarang ini telah mengalami pergeseran nilai yang cukup
12
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
signifikan terhadap seks ini. Pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi,
seks bebas (free sex), intercouse, sex pranikah, dan berbagai aktivitas
seksual lainnya bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka
begitu permisif dengan hal?hal tersebut. Di mata mereka, di dalam
seks hanya ada kesenangan. Sementara sisi buram akibat perbuatan
mereka hampir tidak pernah dipikirkan.
Ketujuh, banyak remaja yang kurang bahkan tidak mempunyai
pemahaman yang memadai tentang masalah cinta dan seks ini.
Banyak diantara mereka yang tidak mengenal organ tubuhnya sendiri
secara baik, sementara tingkat keingintahuan mereka mengenai
masalah seks ini begitu besar. Untuk memenuhi keingintahuan mereka
yang begitu besar tersebut, mereka mencarinya secara sembunyi. Akibatnya,
tidak sedikit di antara mereka yang terjebak dalam informasi yang salah
bahkan menyesatkan yang dapat membahayakan perkembangan
mental mereka. Untuk semua fakta itulah, informasi yang jelas, lugas
dan komprehensif mengenai makna hakiki cinta dan seks dengan
segala dampak yang ditimbulkannya mutlak diperlukan.
Remaja adalah aset bangsa dan agama, persoalan remaja saat ini
sudah masuk dalam tataran kritis dan sulit dikendalikan. Hal ini
menjadikan berbagai kalangan merasa cemas dan berupaya menemukan
langkah?langkah penyelesaiannya, karena remaja adalah aset negara,
agama, dan penerus perjuangan generasi sebelumnya. Secara kejiwaan
remaja
mempunyai energi
yang
berpotensi
menghasilkan
kecermelangan berfikir dalam menemukan ide dan inovasi baru yang
penuh kedinamisan. Namun potensi ini harus diimbangi dengan
kejelasan arah dan tujuan hidupnya. Ketika remaja kosong dengan
tujuan hidup yang benar, pemanfaatan potensi ini akan beralih pada
keadaan yang justru merugikan bahkan menghancurkan kehidupannya.
Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan presiden RI bahwa
endemik ganda narkoba dan HIV/AIDS telah mencapai keadaan yang
mengkawatirkan eksistensi negara.
Menurut pendapat Winarno (2014: 404), globalisasi merupakan faktor
yang mempengaruhi perdagangan narkoba, juga membuat kedudukan
negara menjadi lemah, dampaknya telah menjadikan negara tanpa
batas, perubahan arah kehidupan masyarakat semakin terinterdependensi.
Beliau menyarankan langkah antisipatif dengan 3T nya yaitu: Tingkatkan
kepemimpinan dan upaya pencegahan, Tingkatkan layanan kesehatan
Pergaulan Bebas Ancaman Generasi Masa Depan
13
komprehensif, profesional dan manusiawi, dan Tingkatkan mobilisasi
sumber dana dan daya. Banyak pula pernyataan solutif yang
diberikan para praktisi kesehatan, psikologi bahkan pemerhati
remaja tentang cara terbaik untuk mencegah semakin menjamurnya
kasus endemik ganda yang merusak generasi bangsa. Pergaulan bebas
yang terjadi di kalangan remaja sekarang sudah menjadi wabah yang
setiap saat dapat melahirkan berbagai penyakit fisik dan psikososial.
Sebagian praktisi mengatakan remaja putri merupakan pihak
yang sangat dikorbankan akibat pergaulan bebas ini. Untuk itu perlu
memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksinya sehingga
remaja memahami tentang dirinya, keunikan organ reproduksinya.
Dengan demikian remaja mampu memberikan keputusan tepat dan
bertanggung jawab terhadap penggunaan organ
reproduksinya.
Selain itu dengan dalih kedaruratan, diambil langkah?langkah
penyelesaikan seperti ATM kondom untuk mencegah penularan HIV/
AIDS, anjuran pemakaian jarum steril saat mengonsumsi narkoba,
kemudahan sarana untuk melakukan aborsi aman yang sebenarnya
justru akan memfasilitasi semakin berkembangnya seks bebas
berikut juga dampaknya. Sekali lagi kita selalu dihadapkan dengan
kenyataan bahwa kenaikan kasus dampak dari pergaulan bebas yang
terjadi di masyarakat terutama remaja semakin tidak terkendali.
Fenomena dampak pergaulan bebas dan seks bebas yaitu
meningkatnya pemakai narkoba, berkembangnya penyakit menular
seksual terutama HIV/AIDS yang akan menghancurkan aset termahal
bangsa ini.
Upaya Mengatasi Pergaulan Bebas.
Cara paling ampuh untuk menghindari penyakit menular seksual
adalah tidak melakukan hubungan seksual, sedangkan tindakan
pencegahan meliputi: pengawasan terhadap sumber penularan,
menghindari perilaku yang mempermudah penularan, penyembuhan
dan menghilangkan sumber penularan.Pendidikan dan penyuluhan kepada
masyarakat. Menerapkan perilaku mulia sesuai dengan ajaran agama
Islam dengan menjaga pergaulan yang sehat yaitu pergaulan yang
terbebas dari nafsu yang mengarah kepada hubungan seksual di luar
nikah. Menjaga aurat perempuan untuk menggunakan jilbab dan pakaian
yang dapat menutupi seluruh tubuhnya termasuk bagian dada. Demikian
juga dengan laki laki, agar terjaga dari pandangan maka bagian tubuh
14
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang menjaga aurat harus dijaga dari pandangan lawan jenisnya.
Menjaga pandangan dengan cara menundukkan pandangan. Menjaga
kehormatan yang ada pada organ tubuh yang paling pribadi.
Memperbaiki wawasan secara luas mengenai kehidupan yang lebih
baik, melakukan komunikasi dengan baik pada masyarakat dan membuat
masyarakat tidak melakukan ajakan kepada hal yang negatif. Pemerintah
mengadakan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya pergaulan bebas
dalam rangka melakukan tindakan pencegahan, juga menegakkan aturan
hukum yang akan dapat memberikan efek jera mengenai pergaulan
bebas sekaligus sebagai benteng terakhir untuk menyelamatkan generasi
muda.
Referensi
August Burn et all. 2005. Bila Perempuan Tidak Ada Dokter. Yogyakarta:
Insis.
Budi Winarno. 2014. Dinamika Isu Isu Global Kontemporer. Jakarta: Caps
Glenn and Susan Toole. New Understanding Biology For Advanced Level
Fourth Edition. Stanley Thornes.
Nelty Khairiyah. 2016. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Jakarta:Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Putu Budi Adnyana. 2003. Kesehatan Reproduksi. Malang: UM
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
15
PEER COUNSELING UNTUK MENINGKATKAN SELF EFFICACY TERHADAP
PERILAKU BERISIKO PADA REMAJA
Etik Fariati
SMKN 6 Malang
Upaya untuk meningkatkan sumberdaya manusia, khususnya remaja
di Indonesia dari waktu ke waktu selalu menemui kendala. Salah satu
kendalanya adalah semakin meningkatnya kecenderungan remaja untuk
melakukan sindrom perilaku berisiko. Sindrom perilaku berisiko pada
remaja menurut Kagan (dalam Heaven, 1996) meliputi kehamilan di luar
nikah, kenakalan remaja, dan pergaulan bebas.
Berdasarkan survey Media Litbang Departemen Kesehatan di tahun
2009 terdapat peningkatan perilaku berisiko pada remaja yang sangat
tinggi, survey tersebut terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya,
dan Medan. Kondisi tersebut menjadi lebih mengkhawatirkan, karena
sedikit demi sedikit merambah ke kota-kota kecil termasuk Malang, yang
ironisnya dikenal sebagai kota pelajar. Remaja dapat menghindari perilaku
yang berisiko apabila dalam diri tertanam efikasi diri untuk mencegahnya.
Self efficacy (efikasi diri) yang tinggi pada remaja menjadikan memiliki
keyakinan personal untuk tetap melakukan perilaku sehat meskipun
tantangannya berat. Self efficacy tinggi menjadikan remaja juga memiliki
keyakinan untuk mampu mempelajari semua kemampuan menghindari
perilaku berisiko.Selain itu, self efficacy merupakan evaluasi individu
terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk menyelesaikan suatu
tugas, mencapai tujuan, atau menghadapi suatu tantangan. Individu
yang mempunyai efikasi diri tinggi akan mampu memotivasi diri dan
mengontrol lingkungan sekitarnya, sehingga dapat menampilkan perilakuperilaku tertentu sesuai dengan keinginannya (Bandura, 1997).
Salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi diri remaja adalah
melalui konseling sebaya (peer counseling). Konseling sebaya (peer
counseling) merupakan konseling yang dilakukan oleh kelompok sebaya.
Dalam hal ini dibangun melalui hubungan saling percaya terhadap
15
16
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
individu yang membutuhkan bantuan. Konseling ini dipandang cukup
efektif karena diberikan oleh teman sebayanya sendiri. Pada remaja ada
kecenderungan untuk memiliki personal fable, yaitu keyakinan bahwa
hanya dia yang mengalami pengalaman unik, bukan orang dewasa lain.
Oleh karena itu, penguatan melalui konseling dipandang cukup bermakna
dilakukan. Penguatan remaja untuk meningkatkan efikasi diri terhadap
perilaku berisiko sudah banyak dilakukan. Akan tetapi, upaya yang
dilakukan masih sebatas menjadikan remaja sebagai objek, misalnya
melalui ceramah dan pelatihan. Penguatan yang menjadikan remaja
aktif untuk diri dan kelompoknya sendiri melalui konseling sebaya,
tampaknya belum banyak dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan remaja yang memiliki
hubungan dekat dan berinteraksi dengan pemuda yang lebih tua, akan
terdorong untuk terlibat dalam kenakalan, termasuk juga melakukan
hubungan seksual secara dini (Billy, Rodgers, & Udry, dalam Santrock,
2004: 414). Sementara itu, remaja alkoholik tidak memiliki hubungan
yang baik dengan teman sebayanya, serta memiliki kesulitan dalam
membangun kepercayaan pada orang lain (Muro & Kottman, 1995: 229).
Remaja membutuhkan afeksi dari remaja lainnya, dan membutuhkan
kontak fisik yang penuh rasa hormat. Remaja juga membutuhkan
perhatian dan rasa nyaman ketika mereka menghadapi masalah. Selain
itu, butuh orang yang mau mendengarkan dengan penuh simpati,
serius, dan memberikan kesempatan untuk berbagi kesulitan serta
perasaan seperti marah, takut, cemas, dan keraguan (Cowie and Wallace,
2000: 5). Uraian fakta di atas sangat menarik perhatian peneliti untuk
melakukan sebuah pengujian lebih lanjut melalui penelitian tindakan
(action research) dalam bimbingan dan konseling dengan judul “Peer
Counseling untuk meningkatkan self afficacy terhadap perilaku
berisiko pada remaja”.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang
dilaksanakan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Malang,
Kota Malang, Propinsi Jawa Timur. Dalam menyelesaikan penelitian
tindakan ini membutuhkan waktu selama dua bulan, terhitung sejak
bulan Oktober 2016 sampai dengan bulan November 2016. Adapun
pembagian waktunya meliputi penyusunan proposal penelitian dan
penyusunan instrumen penelitian pada bulan Oktober.Bulan November
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
17
digunakan untuk mengumpulkan data atau melakukan tindakan
(action), analisis data, pembahasan dan analisis, serta menyusun laporan
hasil penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
beberapa metode yang digabungkan sekaligus dalam pengambilan
data.Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang padat, tepat,
dan komprehensif. Dengan demikian, diharapkan dapat memenuhi standar
data yang valid. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini sebagai berikut.
1.
Angket, angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan
tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 1993:124).
Angket ini digunakan untuk mengetahui tanggapan responden
terhadap pertanyaan yang diajukan. Dengan angket ini responden
mudah memberikan jawaban karena alternatif jawaban sudah
disediakan dan membutuhkan waktu singkat dalam menjawabnya.
Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana efikasi diri
remaja terhadap perilaku berisiko. Angket ini terdiri dari dua bagian,
yang pertama angket pretest yang diberikan kepada responden
sebelum melakukan tindakan, dan yang kedua posttest diberikan
setelah melakukan tindakan konseling sebaya.
2.
Observasi. Metode observasi ini merupakan pengamatan atau
mendengarkan perilaku individu dalam situasi atau selang waktu tanpa
manipulasi atau mengontrol dimana perilaku itu ditampilkan. Observasi
dalam penelitian ini juga tidak mengabaikan kemungkinan
menggunakan sumber-sumber non manusia seperti dokumen dan
catatan.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan deskripsi kualitatif, yakni data yang diperoleh
dijelaskan secara rinci berdasarkan hasil pretest dan membandingkannya
dengan hasil posttest. Kemudian disandingkan dengan hasil observasi di
lapangan sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan. Data
dianalisis berdasarkan metode pendekatan terhadap permasalahan yang
diangkat, sehingga ada relevansi antara data dan kesimpulan. Subjek
penelitian tindakan ini adalah semua siswa yang tergabung dalam
kegiatan PIK (Pusat Informasi dan Konseling) PEER-COAKTA SMK Negeri
6 Malang. Rinciannya adalah 5 orang siswa yang terlatih sebagai peer
counseling yang diambil berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan
18
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sebagai pemberi layanan bimbingan, sedangkan siswa yang menerima
layanan bimbingan berjumlah 31 orang. Jadi sampel yang digunakan
dalam penelitian tindakan ini berjumlah 36 orang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Format pelatihan konselor sebaya berupa pelatihan yang bertujuan
agar konselor sebaya mampu bertindak sebagai peer educator yang
memiliki keterampilan konseling dasar. Metode yang digunakan dalam
pelatihan konselor sebaya meliputi ceramah, diskusi, brainstorming, dan
simulasi. Materi yang diberikan berupa materi tumbuh kembang remaja,
peran efikasi diri terhadap pencegahan perilaku berisiko, serta teknikteknik dan strategi konseling sebaya. Pelatihan dilengkapi dengan buku
panduan yang berisi materi yang disampaikan dalam pelatihan, serta
materi yang akan dipresentasikan oleh para peer educator dalam
konseling sebaya. Penekanan simulasi adalah melatih konselor sebaya
agar mampu memberikan penguatan terhadap teman sebaya untuk
menolak perilaku berisiko secara klasikal. Para konselor sebaya diarahkan
untuk memiliki ketrampilan menjadi pendidik sebaya, dengan tugas
memberikan informasi yang dibutuhkan remaja mengenai perilaku
berisiko dan cara menghadapinya, serta menjadi model bagi remaja
yang lain. Dalam kegiatan konselor sebaya ini, para konselor secara
bergantian melakukan simulasi sebagai peer educator terhadap teman
sebaya. Secara umum hasil pelatihan menunjukkan bahwa konselor
sebaya sudah menunjukkan penguasaan materi dan ketrampilan sebagai
peer educator untuk meningkatkan efikasi diri teman sebaya dalam
menolak perilaku berisiko.
Pelaksanaan Konseling Sebaya
Tindakan dalam bentuk konseling sebaya dilakukan konselor sebaya
yang terlatih terhadap teman sebaya dilaksanakan terdiri dari 2 siklus.
Siklus 1 berupa pemberian konseling sebaya oleh konselor secara klasikal
pada siswa yang tergabung dalam PIK (Pusat Informasi dan Konseling)
PEER-COAKTA SMK Negeri 6 Malang. Siklus 2 peneliti merencanakan
perbaikan tindakan pada siklus 1. Pada masing-masing siklus ini berisi
kegiatan (1) perencanaan, (2) implementasi, (3) monitoring, dan (4)
refleksi.
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
1.
Siklus I: Konseling Sebaya Secara Klasikal
a.
Tahap Perencanaan
19
Pada siklus 1 ini peneliti merencanakan kegiatan ceramah dan
diskusi. Kegiatan ceramah dilakukan dalam bentuk pemberian informasi
mengenai macam-macam perilaku berisiko pada remaja. Materi yang
diinformasikan adalah kehamilan, narkoba dan miras, serta menjadi
remaja dengan efikasi diri tinggi. Perencanaan dilakukan peneliti (guru
BK) dan konselor sebaya untuk menentukan waktu pelaksanaan, dan
tindakan yang akan dilakukan. Direncanakan kegiatan dilaksanakan
tanggal 26 Oktober 2016 pukul 13.00 sampai selesai di ruang 5.
b. Tahap Pelaksanaan
Konseling sebaya secara klasikal ini dilaksanakan pada tanggal 26
Oktober 2016 selama 2 x 45 menit, yaitu dimulai dari pukul 13.00 sampai
14.30 di ruang 5 dengan jumlah siswa 31 orang. Sebelumnya, terlebih
dahulu siswa diukur efikasi dirinya terhadap perilaku berisiko.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Efikasi Diri Siswa (pretest)
No.
1
2
3
4
5
Interval
28 – 30
31 – 33
34 – 36
37 – 39
40 - 42
Jumlah
Frekuensi
2
11
14
3
1
31
Frekuensi Relatif (%)
7%
35%
45%
10%
3%
100%
Kategori
Rendah Sekali
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
Hasil pengukuran sebelum tindakan menunjukkan bahwa ada 2
siswa (7%) yang memiliki skor efikasi diri rendah sekali, 11 siswa (35%)
memiliki efikasi diri rendah, 14 siswa (45%) memiliki efikasi diri sedang,
3 siswa (10%) memiliki efikasi diri tinggi, dan 1 siswa (4%) memiliki
efikasi diri sangat tinggi. Setelah pretest, selanjutnya konselor sebaya
memberikan konseling sebaya dalam bentuk peer education pada siswa
yang tergabung dalam PIK (Pusat Informasi dan Konseling) PEER-COAKTA
SMK Negeri 6 Malang.
c.
Tahap Pengamatan
Monitoring dilakukan melalui observasi selama kegiatan berlangsung.
Konselor sebaya menyampaikan materi dengan gaya dan bahasa yang
mengena untuk taraf perkembangan remaja, serta cukup komunikatif
meskipun masih tampak sedikit ketegangan di awal proses. Hasil
20
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
monitoring menunjukkan adanya ketertarikan siswa untuk mengikuti
informasi yang disampaikan konselor sebaya. Ada antusiasme siswa yang
ditunjukkan oleh respon verbal maupun non verbal. Siswa tampak
tenang menyimak ketika para konselor menyampaikan materi, dan
mengajukan pertanyaan ketika ada hal-hal yang mengganjal.
Tabel 2. Deskripsi Hasil Pengamatan Peneliti pada Pertemuan
Siklus ke I
No
1.
Kondisi yang
Diamati
Melaksanakan tugas
dalam segala situasi
dan kondisi
2.
Mempelajari
kemampuan tertentu
dalam segala situasi
dan kondisi
3.
Mengendalikan diri
berupa keyakinan
tetap melakukan
perilaku positif
meskipun tantangan
yang dihadapi relatif
besar
4.
Mempelajari semua
kemampuan
menghindari perilaku
berisiko
5.
Mengendalikan diri
dari perilaku berisiko
meskipun tekanan
internal maupun
eksternal sangat kuat
Hasil Pengamatan
Sebagian besar siswa kurang aktif dalam mengikuti
proses kegiatan bimbingan klasikal yang berlansung,
sehingga berdampak pada kurangnya pemahaman
mereka tentang materi yang sedang dijelaskan oleh
konselor sebaya. Hal itu dapat dibuktikan ketika
konselor sebaya memberikan beberapa pertanyaan
kepada siswa hanya tiga orang siswa yang mampu
menjawab dengan baik.
Hampir seluruh siswa tidak dapat memahami
kemampuan yang spesifik dalam dirinya.Hal itu
disebabkan karena kurangnya perhatian siswa pada
saat konselor sebaya menjelaskan materi, sehingga
siswa tidak mampu mengenal kemampuan diri
sendiri agar terhindar dari perilaku yang berisiko.
Selama proses bimbingan berlansung, nampak
diamati sebagian besar siswa belum mampu
mengontrol diri atau mengendalikan diri baik
perilaku verbal dan maupun perilaku non verbal yg
ditampilkan. Hal ini dibuktikan dengan ributnya
kelas membuat proses bimbingan kurang begitu
efektif. Karena kurangnya perhatian siswa pada
materi yang sedang dijelaskan, membuat siswa tidak
memahami sekaligus menumbuhkan keyakinan
dalam diri untuk tidak melakukan berbagai perilaku
berisiko.
Hasil pengamatan peneliti menemukan bahwa proses
kegiatan bimbingan berlansung tidak begitu efektif,
sehingga hal ini berdampak pada kurangnya
pemahaman
dan
kemampuan
siswa
dalam
menghindari perilaku berisiko pada remaja.
Kurangnya perhatian siswa pada materi yang
dijelaskan
konselor sebaya disebabkan oleh
minimnya motivasi diri siswa sendiri untuk
mendengarkan materi tersebut. Hal lain juga
dipengaruhi oleh adanya gangguan dan maupun
tekanan dari teman sebaya, sehingga sebagian besar
siswa didalam kelas kurang mampu mengendalikan
diri untuk terhindar dari perilaku berisiko.
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
21
d. Tahap Refleksi
Secara umum pelaksaaan konseling sebaya pada siklus 1 menunjukkan
proses yang berjalan cukup baik. Namun demikian, tampaknya keterlibatan
penuh peserta konseling sebaya belum optimal. Siswa peserta konseling
masih cenderung pasif mendengarkan, sedangkan keaktifan proses masih
berada pada konselor sebaya. Berdasarkan evalusi dan refleksi ini peneliti
merencanakan tindakan pada siklus II.
2.
Siklus II : Konseling Sebaya melalui Diskusi Kelompok
a.
Tahap Perencanaan
Pada siklus II ini direncanakan peran konselor sebaya adalah sebagai
fasilitator diskusi kelompok siswa yang tergabung dalam PIK (Pusat
Informasi dan Konseling) PEER-COAKTA SMK Negeri 6 Malang. Tujuan
dari kegiatan adalah untuk lebih mengoptimalkan proses peer education
dengan lebih menekankan partisipasi aktif siswa sebagai peserta konseling
sebaya. Pada siklus 2 ini peneliti merencanakan kegiatan diskusi kelompok
sebagai bagian dari pelaksanaan konseling sebaya. Diskusi dilakukan
dalam bentuk pembagian kelompok di kelas. Dibentuk 5 kelompok dan
masing-masing kelompok mendiskusikan macam-macam perilaku berisiko
pada remaja beserta strategi menolak perilaku tersebut. Materi yang
didiskusikan adalah kehamilan tidak diinginkan, narkoba, miras, tawuran,
dan pembolosan. Peran para konselor sebaya adalah menjadi pendamping
dan fasilitator diskusi kelompok. Kegiatan direncanakan pada tanggal 11
November 2016 pukul 13.00 sampai selesai di ruang 5.
b. Tahap Pelaksanaan
Konseling sebaya secara klasikal ini dilaksanakan pada tanggal 11
November 2016 selama 90 menit yaitu dimulai dari pukul 13.00 sampai
dengan pukul 14.30 di ruang 5 dengan jumlah siswa 31 orang. Diskusi
berlangsung dengan cukup baik. Para konselor sebaya menunjukkan
peran sebagai fasilitator yang baik, sehingga mendorong peserta diskusi
untuk terlibat aktif dalam proses diskusi. Masing-masing kelompok
menghasilkan pokok-pokok bahasan yang kemudian ditulis sebagai
kesimpulan hasil diskusi kelompok. Selanjutnya hasil diskusi kelompok
ini dipresentasikan secara pleno kelas.
c.
Tahap Pengamatan
Monitoring dilakukan melalui observasi selama kegiatan berlangsung.
Konselor menunjukkan peran yang baik sebagai fasilitator dan
22
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
pendamping dalam diskusi kelompok. Diskusi berlangsung cukup menarik
karena antusisme dan partisipsi aktif siswa sangat menonjol. Pokokpokok hasil diskusi masing-masing kelompok sudah menunjukkan sangat
tingginya efikasi diri siswa untuk menolak perilaku berisiko.
Tabel 3. Deskripsi Hasil Pengamatan Peneliti pada Pertemuan
Siklus ke II
No
1.
Kondisi yang diamati
Melaksanakan tugas
dalam segala situasi dan
kondisi
2.
Mempelajari
kemampuan tertentu
dalam segala situasi dan
kondisi
3.
Mengendalikan diri
berupa keyakinan tetap
melakukan perilaku
positif meskipun
tantangan yang
dihadapi relatif besar
4.
Mempelajari semua
kemampuan
menghindari perilaku
berisiko
5.
Mengendalikan diri dari
perilaku berisiko
meskipun tekanan
internal maupun
eksternal sangat kuat
Hasil Pengamatan
Sebagian besar siswa sangat aktif dalam
mengikuti proses diskusi yang berlansung pada
kelompoknya masing-masing, terihat mereka
saling berdebat, memberikan masukan, dan
maupun
mengkritik
pendapat
teman
sekelompoknya. Hal itu dapat dibuktikan ketika
konselor
peneliti
memberikan
beberapa
pertanyaan kepada siswa pada sesi akhir kegiatan
hampir semua siswa berebutan menjawab semua
pertanyaan yang diajukan. Namun, ada satu siswa
yang terlihat diam tanpa merespon sekalipun.
Secara keseluruhan siswa terlihat aktif dalam
mengemukan berbagai temuan yang pernah
diamati dilingkungan masyarakat terkait dengan
berbagai kenakalan–kenakalan yang dilakukan
oleh kalangan remaja dan juga dampak negatif
yang timbul dari perilaku tersebut.Hal ini sangat
membantu siswa agar dapat mengenal diri lebih
dalam lagi.
Selama proses diskusi kelompok berlansung,
nampak diamati sebagian besar siswa sudah
mampu mengontrol diri atau mengendalikan diri
baik perilaku verbal dan maupun perilaku non
verbal yang ditampilkan. Hal ini dapat dibuktikan
dengan keheningan dan ketenangan kelas karena
semua siswa sangat aktif untuk berpikir dan
mencari ide untuk mengemukakan pendapatnya
masing–masing pada diskusi kelompok.
Hasil pengamatan peneliti menemukan bahwa
proses diskusi kelompok yang berlansung sangat
efektif, sehingga semua siswa dapat mempelajari
dan memahami semua materi diskusi dengan
baik, hal ini menandakan adanya peningkatan
kemampuan siswa untuk menghindari perilaku
yang berisiko.
Efektifitas
diskusi
kelompok
sangat
mempengaruhi motivasi siswa dalam berpikir dan
menemukan ide–ide yang cemerlang.Hal ini
membuat siswa tidak memiliki kesempatan untuk
mempengaruhi
teman
sebayanya
untuk
melakukan berbagai perilaku yang berisiko.
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
23
d. Tahap Refleksi
Evaluasi terhadap tindakan pada siklus II menunjukkan peningkatan
kualitas proses maupun isi konseling sebaya secara signifikan. Tampak
ada pemahaman dan penguasaan konselor sebaya maupun peserta
konseling sebaya terhadap materi dan berbagai ketrampilan untuk
menolak perilaku berisiko. Secara umum pelaksanaan konseling sebaya
pada siklus II menunjukkan proses yang berjalan cukup baik. Tampak
keterlibatan penuh peserta konseling sebaya yang ditunjukkan cenderung
aktif dalam mengikuti kegiatan diskusi. Sesudah konseling sebaya
diberikan pada siswa yang tergabung dalam PIK (Pusat Informasi dan
Konseling) PEER-COAKTA SMK Negeri 6 Malang, selanjutnya siswa kembali
diukur efikasi dirinya terhadap perilaku berisiko. Adapun skor efikasi diri
sisiwa sesudah tindakan menunjukkan bahwa:
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Variabel Efikasi Diri (Post Test)
No.
1
2
3
4
5
Interval
35 – 37
38 – 40
41 – 43
44 – 46
47 - 49
Jumlah
Frekuensi
1
2
2
23
3
31
Frekuensi Relatif (%)
3%
6%
6%
76%
9%
100%
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
Hasil pengukuran setelah tindakan menunjukkan bahwa ada 1 siswa
(3%) yang memiliki skor efikasi diri sangat rendah, 2 siswa (6%)
memiliki efikasi diri rendah, 2 siswa (6%) memiliki efikasi diri sedang,
23 siswa (76%) memiliki efikasi diri tinggi dan 3 siswa (9%) memiliki
efikasi diri sangat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa setelah siswa
mendapatkan tindakan berupa konseling sebaya maka sebagaian besar
atau 85% siswa memiliki self efficacy yang sang tinggi untuk menghindari
perilaku berisiko dikalangan remaja saat ini. Jika hasil pre test dan post
test diperbandingkan, tampak ada kecenderungan peningkatan efikasi
diri siswa yang diberi konseling sebaya secara berarti. Pada saat pre test
ada ada 2 siswa (7%) yang memiliki skor efikasi diri rendah sekali, 11
siswa (35%) memiliki efikasi diri rendah, 14 siswa (45%) memiliki efikasi
diri sedang, 3 siswa (10%) memiliki efikasi diri tinggi dan 1 siswa (4%)
memiliki efikasi diri sangat tinggi. Sedangkan pada saat post test hanya
terdapat ada 1 siswa (3%) yang memiliki skor efikasi diri sangat rendah,
24
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
2 siswa (6%) memiliki efikasi diri rendah, 2 siswa (6%) memiliki efikasi
diri sedang, 23 siswa (76%) memiliki efikasi diri tinggi dan 3 siswa (9%)
memiliki efikasi diri sangat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa setelah
siswa mendapatkan tindakan berupa konseling sebaya maka sebagaian
besar atau 85% siswa memiliki self efficacy yang sang tinggi untuk
menolak perilaku berisiko dikalangan remaja saat ini.
Pada para konselor sebaya setelah tindakan pada siklus 2 berakhir
dilakukan pengukuran kembali. Perbandingan perolehan skor total pada
para konselor sebaya sebelum dan sesudah tindakan menunjukkan
adanya peningkatan skor efikasi diri yang cukup berarti. Hal Ini
menunjukkan bahwa pada konselor sebaya, aktivitas sebagai konselor
pada konseling sebaya juga turut meningkatkan efikasi diri remaja
untuk menolak perilaku berisiko. Hasil ini cukup menggembirakan
mengingat konselor sebaya sendiri juga berperan sebagai model bagi
teman-teman sebayanya.
Secara kognitif, penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan
pemikiran dan orientasi remaja untuk berperilaku sehat dan menghadapi
situasi yang menekan dengan strategi pengelolaan diri yang efektif.
Salah satu indikatornya adalah adanya peningkatan skor efikasi diri
sesudah tindakan jika dibandingkan dengan sebelum tindakan. Ditinjau
dari aspek motivasi, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan
motivasi peserta konseling dan konselor sebaya untuk menghindari
perilaku berisiko. Uraian dan tayangan konselor sebaya pada temantemannya cukup menggugah peserta konseling sebaya dan para konselor
sebaya sendiri untuk tidak lagi berani melakukan perilaku berisiko.
Diskusi kelompok dan diskusi pleno menunjukkan tingginya motivasi
siswa yang diberi konseling dan para konselor sebaya untuk menghindari
atau menolak perilaku berisiko. Secara afektif, hasil yang terlihat dalam
penelitian ini adalah remaja tidak lagi merasa cemas seandainya menolak
perilaku berisiko yang ditawarkan teman-temannya. Ini tampak dari
hasil diskusi ketika siswa diminta menggambarkan perasaannya ketika
menghadapi situasi tersebut. Ketika dihadapkan pada situasi dilematis
untuk melakukan atau menghindari perilaku berisiko, pada saat diskusi
tampak siswa sudah mampu memilih perilaku yang cenderung
menghindari perilaku berisiko.
Peer Counseling untuk Meningkatkan Self Efficacy terhadap Perilaku Berisiko pada Remaja
25
PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian ini menghasilkan suatu buku panduan sederhana bagi
konselor sebaya untuk membantu meningkatkan efikasi diri teman teman sebayanya terhadap perilaku berisiko. Selain itu, penelitian ini
juga dapat menghasilkan gambaran proses suatu penerapan konseling
sebaya di sekolah untuk meningkatkan efikasi diri remaja terhadap
perilaku berisiko. Dalam penelitian tindakan ini sebenarnya terdapat
dua tindakan dan dua populasi subyek yang dikenai tindakan. Tindakan
pertama, berupa: pelatihan konselor sebaya dan penerjunan konselor
sebaya yang sudah dilatih tersebut kepada para siswa. Tindakan kedua
berupa konseling sebaya oleh para konselor sebaya berupa: ceramah dan
diskusi yang ditujukan kepada siswa yang tergabung dalam PIK (Pusat
Informasi dan Konseling) PEER-COAKTA SMK Negeri 6 Malang. Ada lima
remaja yang menjadi konselor sebaya, setelah melewati seleksi. Hasil
tindakan berupa pelatihan konselor sebaya yang dilanjutkan penerjunan
menjadi pendidik dan konselor sebaya bagi teman sekelasnya
menunjukkan hasil adanya peningkatan efikasi diri para konselor sebaya
sebelum dan sesudah tindakan. Ada 31 siswa yang tergabung dalam PIK
(Pusat Informasi dan Konseling) PEER-COAKTA SMK Negeri 6 Malang
yang dikenai tindakan konseling sebaya berupa ceramah dan diskusi.
Hasil menunjukkan terjadinya peningkatan efikasi diri para siswa yang
mendapat konseling sebaya untuk meningkatkan efikasi diri remaja
terhadap perilaku berisiko.
Saran
Untuk meningkatkan self efficacy terhadap perilaku remaja, hendaknya
diberikan penguatan melalui kegiatan PIK (Pusat Informasi dan Konseling)
yang terintegrasi dalam Bimbingan dan Konseling, maka perlu
ditingkatkan pelatihan-pelatihan konselor sebaya dan dikaji hal-hal yang
berkaitan dengan cara pengefektifan dinamika komunikasi di kalangan
remaja. Hal ini untuk mengantisipasi persoalan yang berkaitan dengan
ketidakaktifan konselor sebaya atau peer counselor dalam menjalankan
perannya atau persoalan yang berkaitan dengan kurangnya koordinasi
dan komunikasi di antara para pengelola yang berkompeten dengan
konselor sebaya yang telah mengikuti pelatihan.
26
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT
Rineka Cipta Bandura,1994.
Ontological and Epistemological Terrains Revisited. Journal of Behavior
Therapy and experimental Psychiatry. 27, 323-345
Borg, W and Gall MD. Education Research and Introduction. Fourth
Edition. Longman Inc
Heaven P.C.L. 1996. Adolescence Health: The Role of Individual Differences.
London: Routledge.
Kusmilah, S, Rimayanti, Aini, N, Hartanto D, dan Purwoko, F. 2004. Model
Peer Counseling dalam Mengatasi Problematika Remaja Akhir. Laporan
Penelitian. Yogyakarta: FIP UNY
O’Leary, A. 1985. Self Efficacy and Health. Behavioral Research and Therapy,
23, 437-451.
Scwarzer, R and Renner,B. 1995. Health Specific Self Efficacy Scale. www.
Ralfschwarzer.com
Thompson CL, Rudolph LB, dan Henderson DA. 2004. Counseling for
Children. USA: Thompson Brooks/Cole.
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
27
CIPTAKAN GENERASI “Z” CERDAS DAN BERKARAKTER
Alfi Faridian
SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo
Generasi “Z” dikenal sebagai generasi Facebook, Instagram, Twitter,
WhatsApp dan internet atau generasi sosial media. Mereka sangat
dipengaruhi cepatnya arus informasi dan sangat bergantung pada
teknologi. Mereka mampu berinteraksi dengan siapa pun tanpa harus
bertatap muka. Bagi generasi Z, bekerja tidak harus berada di lokasi
pekerjaan, asalkan dapat diselesaikan. Self –Esteem mereka dipenuhi
dengan membuat produk yang menunjukkan keunikan dan jati diri.
Pesatnya arus informasi membuat mereka toleran dengan hidup alternatif.
Akulturasi budaya begitu deras, kadang terbentuk jarak budaya antara
mereka dengan orang tuanya, apalagi dengan kakek-neneknya. Sebagian
besar identitas diri tidak lagi ditentukan dari nilai-nilai budaya tradisional,
melainkan seberapa mampu mereka memiliki, menyebarkan, dan
mengetahui banyak informasi. Mereka menganggap bahwa “mengelola“
informasi lebih bernilai daripada bertahan pada nilai-nilai tradisional.
Guru maupun orang tua, harus mengetahui siapa dan bagaimana
generasi “Z” ini. Kepekaan dari orang sekitar akan memicu mereka
untuk lebih kreatif dalam berkegiatan. Lingkungan harus mendukung
ide dan keinginannya dengan menyeimbangkan adab dan budaya.
Dalam kondisi ini tentu menjadi tugas kita yang harus mengenalkan
nilai-nilai budaya tradisional kepada mereka, hingga akhirnya tidak
terjadi ketimpangan karakter.
Generasi merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Kemajuan
suatu bangsa bergantung pada generasi yang akan melanjutkannya.
Tujuan pembangunan nasional dapat tercapai bila didukung oleh seluruh
komponen bangsa, termasuk generasi muda. Pemuda mempunyai peranan
penting dalam menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, bidang
pendidikan mempunyai peranan penting dalam menciptakan generasi
cerdas. Generasi cerdas adalah generasi yang mempunyai pengetahuan
luas, potensi diri yang tinggi, mempunyai keahlian dan ketrampilan,
27
28
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
serta produktif. Generasi “Z” sebagai generasi penerus bangsa juga harus
memiliki daya saing dan daya juang tinggi. Hal ini diperlukanuntuk
melanjutkan pembangunan Indonesia diera globalisasi.
Untuk menciptakan generasi yang cerdas diperlukan keseimbangan
dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
bersumber pada diri anak itu sendiri, kemauan, dan kemampuan untuk
mengembangkan dirinya, sedangkan faktor eksternal adalah orang tua,
sekolah, dan lingkungan. Kedua faktor ini harus seiring sejalan dalam
setiap kehidupan anak bangsa.
Di samping pendidikan, faktor yang juga berperan untuk membentuk
generasi Z yang berkualitas adalah iman dan takwa kepada Allah SWT.
Keimanan dan ketakwaan akan membentengi seseorang dari perbuatanperbuatan tercela. Sebuah pepatah yang berbunyi “ilmu tanpa agama
adalah buta” memang benar adanya. Setinggi apa pun ilmu yang
didapatkan tanpa diikuti kepatuhan terhadap perintah agama pasti akan
binasa. Selain cerdas dan kreatif generasi Z harus beriman dan bertakwa
kepada Allah SWT. Untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada
generasi Z, pemerintah telah memasukkan materi pendidikan agama ke
dalam kurikulum pembelajaran di sekolah. Selain itu, kegiatan keagamaan
di lingkungan rumah, seperti majelis taklim merupakan solusi lain
dalam rangka menanamkan dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan
terhadap Allah SWT. Dengan demikian, terbentuklah generasi penerus
pilihan yang cerdas, kreatif, berakhlak mulia, dan mengedepankan nilainilai keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT.
Aspek pendidikan adalah aspek terpenting dalam membentuk karakter
bangsa. Dengan mengukur kualitas pendidikan, dapat melihat potret
bangsa yang sebenarnya. Aspek pendidikan menentukan masa depan
seseorang, dalam hal ini generasi Z. Apakah mereka dapat memberikan
suatu yang membanggakan bagi bangsa? Apakah mereka juga dapat
mengembalikan jati diri bangsa atau sebaliknya? Pendidikan seperti apa
yang diberikan agar generasi Z lebih berkarakter. Setidaknya ada empat
faktor utama yang harus diperhatikan, yaitu kurikulum, dana yang
tersedia untuk pendidikan, kelayakan tenaga pendidik, dan lingkungan
yang mendukung bagi penyelenggaraan pendidikan. Keempat faktor ini
terkait satu sama lain untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM)
dengan karakter yang yang mampu bersaing di era global, sehingga
dapat mengembalikan jati diri bangsa.
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
29
Pada aspek pendidikan, generasi Z tidak hanya dibekali aspek
kognitif saja. Bekal aspek kognitif itu membuat peserta didik hanya
sekedar ‘tahu’ dan ‘mengenal’ ilmu pengetahuan, tanpa memahami apa
yang dipelajari, dan bagimana menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Dari pernyataan tersebut, tentunya peserta didik harus dibekali
aspek sikap dan ketrampilan, agar peserta didik menjadi manusia yang
dapat mengerti ilmu dan juga mempraktikkannya. Institusi pendidikan
harusnya dapat membuat anak didik menerapkan ilmu yang dipelajari,
karena sesungguhnya itulah kegunaan dari ilmu pengetahuan. Dengan
aspek sikap dan ketrampilan yang mumpuni, diharapkan generasi Z akan
menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter.
Secara normatif, pembentukan atau pengembangan karakter yang
baik memerlukan kualitas lingkungan yang baik juga. Dari sekian
banyak faktor atau media yang berperan dalam pembentukan karakter,
ada empat peran media yang memiliki pengaruh sangat besar yaitu:
keluarga, media masa, lingkungan sosial, dan pendidikan formal. Keempat
faktor tersebut merupakan bagian yang selalu bersinggungan dengan
generasi Z, ulasan tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1.
Keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama seorang manusia sejak dini.
Dalam keluarga, seorang anak belajar mengenai konsep baik dan buruk,
pantas dan tidak pantas, serta benar dan salah. Dengan kata lain, di
keluargalah seseorang dibentuk menjadi individu yang sadar
lingkungan, belajar tata-nilai atau moral, dan bagaimana bersikap dalam
kehidupan. Pendidikan di keluarga menentukan seorang anak berproses
menjadi orang yang lebih dewasa. Di dalam keluarga pula nilai moral
dipelajari, misalnya kejujuran, kedermawanan, dan kesedehanaan. Selain
itu, keluarga sebagai tempat mengembangkan konsep awal mengenai
keberhasilan dalam hidup dan wawasan mengenai masa depan. Oleh
karena itu, sebagai orang tua selayaknya mampu menciptakan suasana
keluarga yang harmonis, agar anak tumbuh menjadi generasi yang lebih
baik. Proses komunikasi antara masing-masing anggota keluarga juga
sangat diperlukan guna menciptakan suasana yang harmonis.
2.
Media massa
Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, salah satu faktor
yang berpengaruh pada pembangunan adalah media masa. Hampir
30
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
semua informasi yang sampai pada pembaca dan pendengar merupakan
andil dari media massa. Kondisi yang demikian memang memberikan
kemudahan kepada siapaun, tetapi tidak dapat dipungkiri di balik
kemudahan yang menyertainya ada sebuah ancaman besar. Jika
penggunaan media masa tidak terkontrol, maka akan menjadi pemicu
rusaknya karakter masyarakat, khususnya generasi Z. Dengan semakin
majunya teknologi maka semakin menjamur pula keberadaan media
massa atau mdia sosial di kalangan masyarakat.
Bentuk media sosial yang dapat menyamai peran media massa
meliputi, Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, BBM, Linkid, Path, Instagram,
dan Telegram. Dengan semakin beraneka ragamnya bentuk media sosial
yang ada, secara otomatis berdampak pada tampilan da nisi media
tersebut. Dalam hal ini peran orang tua untuk mengontrol penggunaan
media sosial yang digunakan oleh anak-anak. Perbedaan generasi bukan
menjadi penghalang dalam melakukan kontrol kepada anak, perlu
metode yang tepat dan sesuai dengan jiwa generasi Z. Seperti kata bijak
“Didiklah anakmu seperti zamannya, jangan didik anakmu seperti
zamanmu”. Dari pernyataan itu sudah sangat jelas bahwa sebagai orang
tua harus mengantarkan mereka dengan dunia mereka sendiri. Jika
mereka memiliki akun-akun di media sosial, sebagai pengontrol orang
tua juga tidak boleh ketinggalan. Sebagai orang tua tidak boleh gagap
teknologi, tapi wajib melek teknologi, sehingga perkembangan generasi
Z seiring sejalan antara iman dan teknologi. Harapan untuk menjadikan
generasi yang berkemajuan pun akan terwujud dengan baik.
3.
Lingkungan Sosial
Peran orang tua harus mampu untuk mendominasi dan meletakkan
generasi Z ada di lingkungan yang bagaimana. Tentunya dengan demikian
dapat mengarahkan pergaulan sosial yang lebih baik. Hal ini tidak
hanya pada lingkungan yang dengan mudah dapat dipantau, namun
harus mampu menyesuikan dengan era yang sudah berubah. Generasi Z
hidup di zaman perkembangan teknologi yang semakin maju. Dapat
dikatakan lingkungn mereka berada di dunia ganda, yaitu dunia nyata
dan dunia maya. Sebagai orang tua harus mengetahui dua dunia
tersebut, agar lingkungan yang baik selalu dapat mengiringi
perkembangan generasi Z.
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
4.
31
Pendidikan Formal
Pendidikan formal seperti sekolah dan perguruan tinggi diharapkan
berperan besar dalam pembangunan karakter bangsa. Lembaga-lembaga
pendidikan formal diharapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.
Harus diakui bahwa pendidikan formal di Indonesia secara umum
banyak melakukan pelatihan daripada pendidikan. Kegiatan pendidikan
telah terusir menjadi kegiatan ’mengisi’ otak para siswa dan mahasiswa
sebanyak-banyaknya, dan kurang perhatian pada perkembangan ’hati’
mereka. Keberhasilan seorang guru diukur dari kecepatannya ’mengisi’
otak para siswanya. Sekolah menjadi ’pabrik’ untuk menghasilkan orang-orang yang terlatih, namun belum tentu terdidik. Dengan demikian,
bukan berarti bahwa secara praktik pendidikan sama sekali terpisah dari
pelatihan, melainkan dalam pendidikan dikembangkan juga berbagai
keterampilan.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus mengarah kepada
pembangunan karakter manusia. Hal ini dikarenakan sekolah adalah
salah satu lembaga yang berorientasi dalam mencetak manusia yang
lebih baik, jadi sekolah harus mampu memanusiakan manusia. Saat ini
pembangunan fisik, teknologi, dan ilmu pengetahuan di dunia telah
megalami kemajuan yang sangat pesat. Akan tetapi, kondisi manusia
menjadi jauh dari kondisi manusia yang sempurna kemanusiaanya.
Banyak manusia menjadi robot-robot hidup yang penuh dengan
ketakutan-ketakutan yang diakibatkan oleh penemuan manusia itu sendiri,
kondisi ini tidak mengarah kepada kedamaian dan ketenangan yang
dibutuhkan oleh manusia. Manusia tidak tahu arah hidupnya dan
menjadi budak-budak konsumsi dari apa yang diciptakan sendiri, akhirnya
membuat hati mereka mati. Mereka terlalu mempertuhankan apa yang
telah diciptakan dan diperbudak oleh otak kiri (akalnya) saja. Mereka
tidak mempergunakan kemampuan otaknya secara sempurna, yaitu
menggunakan otak kiri, otak kanan, bawah sadar, serta kekuatan hati
nurani. Tentu saja kondisi yang demikian harus dijauhkan dari generasi
Z agar tidak menjadi racun yang membunuh karakter mereka.
Menciptakan generasi yang beretika memang tidak semudah
membalik telapak tangan, tetapi harus dengan perjuangan yang sungguhsungguh. Sebenarnya, hal pertama yang harus diperbaiki adalah niat,
niat untuk menjadi yang baik dan membaikkan. Pendidikan haus akan
orang-orang yang beretika dan memiliki kesadaran hati nurani dalam
32
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
menjalankan profesinya, secara tidak langsung pendidikan adalah etika
itu sendiri. Orang tahu bersopan santun karena dididik, orang tahu yang
mana benar dan yang mana salah juga karena dididik, dan orang
berbudi juga hasil dari didikan. Namun, yang sedang marak terjadi
sekarang adalah anak yang tidak mau dididik, mereka lebih memilih
caranya sendiri dan menganggap dirinya yang paling benar, hebat, dan
yang lain dianggap salah. Tentu saja hal tersebut tidak diinginkan
terjadi pada generasi Z, sehingga perlu sebuah langkah nyata dalam
meresalisasikannya.
Karakter generasi yang tidak sesuai dengan cita-cita dan harapan
bangsa dapat diperbaiki melalui beberapa cara sebagai berikut.
1.
Mengubah Pola Pikir
Perubahan cara berpikir, hendaknya tidak dilakukan hanya oleh
pemerintah saja, namun juga seluruh elemen pendidikan, mulai dari
pemerintah, sekolah, guru, murid, keluarga, hingga siswa. Perubahan
cara berpikir meliputi pemahaman tentang siapa dan bagaimana generasi
sekarang yang dikenal dengan generasi Z.
2.
Penataan Ulang Konsep Pendidikan
Pemerintah harus mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya
pembangunan pendidikan nasional. Pemerintah juga harus dapat
menjamin bahwa seluruh generasi memperoleh pendidikan dasar. Konsep
pendidikan ke depan berupaya menciptakan suasana belajar yang
memungkinkan peserta didik mencapai kesejahteraan batin dalam belajar
dengan penuh kebebasan, sesuai dengan gaya belajar anak masingmasing. Penciptaan suasana dan konsep pendidikan, hendaknya
berhubungan dengan nilai-nilai kreativitas, beretika, dan berkarakter .
3.
Pemahaman tentang Pilar Pendidikan yang Humanis
Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu pengetahuan dari satu
orang ke orang yang lain, tapi juga mentransformasikan nilai-nilai ke
dalam jiwa, kepribadian, dan struktur kesadaran manusia. Hasil cetak
kepribadian manusia merupakan proses transformasi pengetahuan dan
pendidikan yang dilakukan secara humanis.
4.
Pemahaman bahwa Pendidikan adalah Faktor Kunci
Pendidikan menjadi kunci bagi semua hal, dengan pendidikan,
manusia memiliki daya untuk membagi pengetahuan meski tidak harus
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
33
berlevel-level. Namun dari pendidikanlah semua ilmu pengetahuan
dapat dikuasai, dan pemahaman tentang suatu hal dapat terjadi. Oleh
karena itu, penting untuk memahamkan pendidikan sebagai faktor
kunciuntuk membuka cakrawala dan berpikir dengan luas.
5.
Dilakukan Terprogram Bersama-sama
Seluruh program pendidikan haruslah saling menunjang satu sama
lain, dan saling mendukung. Dengan demikian, fungsi saling mengisi
antar program pendidikan satu sama lain dapat terlaksana dengan baik.
6.
Bergerak Bersama-sama dengan Semua Elemen
Sebuah mobil tidak akan berjalan bila roda-rodanya berjalan saling
berlawanan arah. Ibarat roda, elemen-elemen pendidikan haruslah berjalan
beriringan dan selaras satu dengan yang lain. Pemerintah, legislatif,
sekolah, guru, siswa, bahkan keluarga, dan individu, harus paham dan
siap bergerak bersama-sama.
Akhirnya, pendidikan mengambil peranan yang tidak pernah usai
dan tidak berujung dalam rangka membangun karakter bangsa yang
utuh. Hal ini dikarenakan karakter bangsa itu sendiri selalu berproses
menurut perkembangan dan dinamika bangsa. Keberlanjutan proses ini
memerlukan komitmen, konsistensi, dan waktu yang lama. Tak lupa
pula, pembentukan karakter pada sebuah generasi diperlukan keterlibatan
seluruh komponen bangsa guna membangun Indonesia yang maju,
mandiri, kuat, dan berkepribadian.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mencetak
generasi Z yang baik diperlukan pendidikan yang cerdas dan berkarakter.
Sekolah merupakan satu wahana untuk membangun itu semua. Hampir
semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai prioritas
utama dalam program pembangunan nasional. Sumber Daya Manusia
yang bermutu merupakan produk pendidikan dan merupakan kunci
keberhasilan suatu negara. Oleh sebab itu, pendidikan sangat diharuskan
sekali karena memberikan peranan yang sangat penting baik untuk diri
sendiri, oang lain ataupun negara. Untuk diri sendiri keuntungan yang
didapat adalah ilmu, untuk orang lain kita dapat mengajarkan ilmu
yang kita ketahui, dan untuk negara kita dapat mengangkat nama baik
melalui pendidikan di dunia internasional.
Pendidikan berkarakter merupakan pedoman pelaksanaan
pembaharuan sistem pendidikan. Hal itu dikarenakan pendidikan yang
34
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sangat berperan dan diharapkan mampu mendukung upaya mewujudkan
kualitas masyarakat Indonesia yang maju. Selain itu, mampu menghadapi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui pendidikan
yang cerdas dan berkarakter, maka tercipta generasi Z yang luar biasa.
Jika Indonesia memiliki generasi Z yang cerdas, tangguh, dan beretika,
maka dengan sendirinya terwujud tujuan pendidikan nasional yang
baik. Apabila tujuan pendidikan nasional telah tercipta, maka cita-cita
bangsa Indonesia yang berada di genggaman seluruh masyarakat Indonesia dapat terwujud. Dengan demikian, generasi Z dapat mewujudkan
harapan masa depan ibu pertiwi.
Peran Orang Tua dan Peer Counselor dalam menyikapi Masalah Kenakalan Remaja
35
PERAN ORANG TUA DAN PEER COUNSELOR DALAM MENYIKAPI MASALAH
KENAKALAN REMAJA
Eviatun Khaeriah
SMKN 2 Malang
Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip
mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat
dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas
ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat
dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan
yang terjadi pada dirinya, maupun akibat perubahan lingkungan.
Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja,
mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada
masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase
perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugastugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut
berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan,
kebahagian, dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu
memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu
memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup
mereka. Kenangan saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah
dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak
orang tua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia
remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh
orang tua dan remaja itu sendiri. Banyak orang tua yang tetap
menganggap remaja masih perlu dilindungi dengan ketat, sebab di
mata orang tua para remaja masih belum siap menghadapi tantangan
dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal
membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri
dan terlepas dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan
yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup
sebagai orang dewasa.
35
36
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis menurut beberapa
pakar, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Laura E. Berk seorang pakar
psikologi perkembangan, menggolongkan remaja dalam rentang usia 11
hingga 18 tahun, sedangkan aliran kontemporer membatasi usia remaja
antara 11 hingga 22 tahun. Pada masa remaja banyak hal yang berubah,
mulai dari perubahan fisik, kognitif, dan psikososial remaja. Saat remaja
mengalami perubahan dan secara psikis belum siap atau bahkan remaja
sebagian belum mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya,
maka akan timbul masalah dan konflik internal serta eksternal. Salah
satu bentuk masalahnya adalah kenakalan remaja. Dimana kenakalan
remaja acapkali mengarah pada perilaku yang tidak dapat diterima oleh
khalayak.
Saat ini sering kali kita mendengar banyak remaja-remaja yang
terlibat dalam kenakalan remaja, seperti perkelahian, narkoba, seks
bebas sampai masalah paling parah, seperti tindakan kriminal. Kita
menyadari bahwa kenakalan yang ditimbulkan oleh para remaja, selain
menjadi tanggung jawab dari remaja itu sendiri, juga merupakan
tanggung jawab orang-orang dan lingkungan di sekitar mereka.
Masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya
perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk
tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organorgan seksual). Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh
pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada
usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan
tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi
pada usia 13 tahun. Kemampuan berpikir para remaja juga berkembang
sedemikian rupa, sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan
banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau
hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang.
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood
(suasana hati) dapat berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di
Chicago pada tahun 1984 detemukan bahwa, remaja rata-rata memerlukan
waktu hanya 45 menit untuk berubah dari msood “senang luar biasa” ke
“sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam
untuk hal yang sama.
Peran Orang Tua dan Peer Counselor dalam menyikapi Masalah Kenakalan Remaja
37
Dalam hal kesadaran diripara remaja mengalami perubahan yang
dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat
rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa
orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti
mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu
membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang
direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri
mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir
dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjamjam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan
tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan
dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada
usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan
sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata.
Remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga
seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan
mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka
tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek
atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk
mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi
orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu
bertanggung-jawab. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan
oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai
“seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari
untuk dicobanya. Remaja cenderung merespon sesuatu dengan spontan,
dengan reaksi yang tidak disadari terhadap stimulus emosional, sedangkan
orang dewasa lebih mungkin bereaksi dengan cara yang lebih rasional
dan masuk akal.
Pada masa remaja berkembang social cognition, yaitu kemampuan
untuk memahami orang lain. Pemahaman ini mendorong remaja untuk
menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama
teman sebaya), baik melalui jalinan persahabatan maupun pacaran. Pada
masa ini berkembang juga sikap conformity, yaitu kecenderungan untuk
menyerah, mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, atau
keinginan orang lain. Perkembangan konformitas pada remaja dapat
memberi pengaruh positif maupun negatif bagi dirinya.
38
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Remaja lebih sering berada di luar rumah, bersama dengan temanteman sebaya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa
pengaruh teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan,
dan perilaku, lebih besar daripada keluarga. Dari semua perubahan yang
terjadi dalam sikap dan perilaku sosial, yang paling menonjol terjadi
pada hubungan heteroseksual. Pada periode ini juga sering terbentuk
kelompok atau lebih dikenal dengan sebutan peer group atau istilah
kerennya gank. Idealisme mereka sangat kuat dan identitas diri mulai
terbentuk dengan emosi yang labil. Dalam fase ini, orangtua sangat
berperan dalam mengawasi anak-anaknya dalam bergaul dan menuntun
mereka dalam menjalani hidup supaya tidak salah bergaul dengan
teman-teman yang dapat menjerumuskan mereka.
Pada masa remaja, mereka lebih intens dan cenderung lebih dekat
dengan teman sebaya, kiranya peran teman sebaya yang baik dan positif
akan sangat membantu remaja-remaja menemukan identitas dirinya dan
mengatasi krisis identitas diri yang lazim terjadi pada masanya. Dalam
hal ini peran peer counselor atau konselor sebaya sangat diperlukan
untuk membantu teman-teman remajanya mengatasi masalah dan menjadi
teman curhat, menjadi sahabat yang mampu mensosialisasikan hal-hal
yang positif untuk teman sebayanya yang membutuhkan berbagai
informasi berkaitan erat dengan masalah remaja. Masalah yang sering
dihadapi remaja seperti krisis identitas diri, emosi, sosialisasi dan adaptasi,
masalah pubertas, tertarik pada lawan jenis sampai dengan bahaya seks
bebas, narkoba dan bahaya infeksi menular seksual.
Peran Peer counselor atau konselor sebaya adalah keeratan,
keterbukaan dan perasaan senasib yang muncul diantara sesama remaja
dapat menjadi peluang bagi upaya fasilitasi perkembangan remaja. Pada
sisi lain beberapa karakteristik psikologis remaja seperti emosi yang labil
juga merupakan tantangan bagi efektifitas layanan konseling terhadap
remaja. Pentingnya teman sebaya bagi remaja antara lain tampak dalam
konformitas remaja terhadap kelompok sebayanya. Konformitas terhadap
teman sebaya dapat berdampak positif dan negatif. Interaksi antar
remaja dikelola sehingga berdampak positif dan dapat memberikan
dukungan terhadap berkembangnya resiliensi remaja. Resiliensi adalah
daya lentur individu atau keberhasilan individu dalam menghadapi
berbagai kesulitan.
Peran Orang Tua dan Peer Counselor dalam menyikapi Masalah Kenakalan Remaja
39
Memanfaatkan momentum dan fenomena yang terjadi pada diri
remaja inilah, dipandang perlu untuk dibentuknya konseling sebaya
atau peer counselor. Terbentuknya konselor sebaya ini diharapkan dapat
membantu guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugasnya
membantu siswa dalam menemukan pemecahan masalah yang
dihadapinya.
Kegiatan konseling yang dilakukan oleh teman sebaya disebut
sebagai konseling sebaya. Pengertian konseling sebaya adalah suatu
program bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang
lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan
atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi
sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di
samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu
konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi,
perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan
bimbingan dan konseling.
Program konseling teman sebaya mempunyai alasan-alasan yang
rasional, terstuktur, aktivitasnya khas atau spesifik, personal yang
melakukannya juga khusus dan diorganisir secara terus menerus. Program
ini merupakan usaha mempengaruhi (memperbaiki tingkah laku yang
dimiliki oleh siswa), yaitu tingkah laku yang dapat membedakan antara
tingkah laku yang pantas dengan tidak pantas, dan menggunakan tingkah
laku yang pantas menjadi identitas pribadi yang diharapkan, serta
menemukan berbagai cara pemecahkan masalah, dan memberikan
pengalaman yang memberikan motifasi mengikuti pelatihan untuk
pengembangan diri mereka sebagai orang dewasa yang matang dan
bertanggung jawab. Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan
kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds,
2001). Dibandingkan pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan
kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, dan
bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).
Pada masa remaja peran kelompok teman sebaya sangatlah
berpengaruh. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan
perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap
perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya
sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
40
dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya. Kelompok
teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan
seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger,
1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia
& Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan
sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang
berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber
informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik,
musik atau film dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian konseling
sebaya adalah :
1.
Konseling sebaya adalah suatu proses tatap muka dimana orang yang
menjadi narasumber/konselor adalah berasal dari kelompok sebaya
yang berusaha membantu untuk memecahkan masalah.
2.
Konseling sebaya dilakukan oleh klien (seorang/beberapa orang)
dengan konselor (yang sebaya).
3.
Proses konseling sebaya menganut sistem ;
a.
Hubungan saling percaya
b.
Komunikasi yang terbuka
c.
Pemberdayaan klien agar mampu mengambil keputusan sendiri
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan peer
konselor atau konselor sebaya di sekolah sangatlah diperlukan untuk
membantu teman sebayanya mencapai kepribadian yang optimal.
Disamping itu, dengan adanya peer-counselor, guru BK (Bimbingan dan
Konseling) sebagai konselor di sekolah akan semakin maksimal dalam
memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk siswa.
Ketika peran teman sebaya menjadi sangat berpengaruh pada remaja
bukan berarti peran keluarga menjadi boleh dianggap sebelah mata.
Justru keberadaan dan dukungan keluarga pada remaja juga menjadi
modal dasar tumbuhnya pribadi-pribadi remaja yang optimal. Pada
masa remaja, perkembangan identitas diri menjadi isu sentral pada masa
remaja yang akan memberikan dasar bagi masa berikutnya yaitu masa
dewasa. Pada tahap ini akan terjadi identity vs role confused
(kebingungan akan identitas diri), jika remaja telah berhasil menemukan
jati dirinya maka dia akan memiliki identity, tetapi apabila dia gagal
mengintegrasikan aspek-aspek kehidupannya dan tidak mampu memilih,
Peran Orang Tua dan Peer Counselor dalam menyikapi Masalah Kenakalan Remaja
41
maka remaja akan mengalami kebingungan (role confused).
Seringkali masalah keluarga yang broken home (orang tua yang
bercerai atau bermasalah) menjadi akar dari permasalahan anak-anak.
Keluarga merupakan hal yang penting sebagai pedoman hidup remaja.
Bila mereka kehilangan pedoman hidup, maka mereka akan susah untuk
melewati masa kritis dalam hidupnya. Masa kritis tersebut diwarnai oleh
konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung,
dan cita-cita serta keinginan yang tinggi tetapi sulit untuk diwujudkan,
sehingga menimbulkan stress dan frustasi.
Perlu kita ingat kembali bahwa keluarga adalah kehidupan dimana
seorang anak pertamakali berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan.
Oleh sebab itu, pendidikan dalam keluarga sangatlah penting untuk
menjadi dasar dan arah anak mencapai kedewasaan mereka yang
menuntut tanggung jawab. Anak adalah generasi muda yang nantinya
akan meneruskan generasi tua sehingga pendidikan sangatlah perlu
untuk diperhatikan dan ditekankan.
Pengendalian untuk kenakalan remaja dapat dilakukan dengan
bersikap preventif (mencegah) dan bersifat represif. Anak-anak perlu
ditanamkan sikap disiplin oleh orangtua, diberikan kasih sayang dan
rasa keamanan bagi anak, serta orangtua dapat menjadi sahabat bagi
anak. Sebaiknya orangtua tidak bersikap terlalu overprotective (proteksi
yang berlebihan). Akan tetapi, anak perlu diberikan kebebasan untuk
memilih apa yang dia suka dan tidak dia suka, karena dengan berjalannya
waktu, anak juga dituntut untuk bersikap dewasa dan bertanggung
jawab terhadap hidup dan pilihan mereka. Oleh sebab itu, orangtua
perlu membiasakan diri untuk memberikan pengertian terhadap diri
mereka dan percaya kepada anak-anaknya. Tentu saja, orangtua juga
tidak boleh memberikan kebebasan yang berlebihan, tetapi tetap menjadi
pengawas dan guru bagi mereka untuk mengarahkan mereka ke jalan
yang benar apabila arah mereka terlihat melenceng/tak sesuai.
Orang tua juga dapat terlibat dalam organisasi sosial yang bertujuan
menanggulangi kenakalan remaja. Dengan banyak ikut serta dan mengenal
kehidupan remaja, orang tua dapat menjadi sahabat yang baik bagi
anak-anaknya serta dapat menjadi tempat berkeluh kesah bagi sang
anak. Dengan menanamkan arti kepercayaan, hubungan cinta dan rasa
tenteram dalam keluarga antara anak dan orang tua akan tercipta, serta
akhirnya dapat turut mengurangi kenakalan remaja.
42
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Setelah menelaah pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kenakalan remaja merupakan perilaku menyimpang yang erat
hubungannya dengan perkembangan fisik, kognitif, otak, dan
perkembangan psikososial remaja. Dimana perkembangan fisik, kognitif,
otak, dan psikososial remaja membawa dampak pada perilaku remaja,
kepribadian dan sikap remaja.Adapun sebagai orang tua perlu memahami
apa saja yang dialami dan dirasakan oleh remaja mereka, sehingga tidak
terjadi perbedaan pendapat serta pandangan antara orang tua dan anak.
Antara orang tua dan anak remajanya perlu terjalin komunikasi timbal
balik yang harmonis.
Peran orang tua sangat besar pada munculnya kenakalan remaja,
karena bagaimanapun remaja adalah bagian dari keluarga. Apabila
fungsi-fungsi keluarga tidak berjalan semestinya, maka peluang untuk
terjadinya berbagai persoalan semakin besar, apalagi bila mereka memiliki
anak remaja yang kita ketahui berada pada masa storm and stress, masa
badai dan tekanan. Remaja memerlukan dukungan keluarga lebih dari
sebelumnya.
Demikian pula peran konselor sebaya sebagai sahabat remaja yang
dapat menjadi tempat berbagi cerita suka dan duka sangatlah diperlukan,
sehingga ketika seorang remaja berada di sekolah, mereka memiliki
teman-teman yang baik dan mampu mengajak teman-temannya ke arah
yang positif. Dengan demikian, remaja mampu mengatasi masalah yang
dihadapinya, menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter dan jauh dari
segala hal–hal yang mengarah pada kenakalan remaja.Jadi, peran orang
tua dan teman sebaya dalam hal ini konselor sebaya (peer counselor)
sangatlah diperlukan untuk menghindari remaja terjerumus dalam
kenakalan remaja.
Ketergantungan Siswa terhadap Penggunaan Smartphone Berdampak pada pribadi dan
Interaksi Sosial
43
KETERGANTUNGAN SISWA TERHADAP PENGGUNAAN SMARTPHONE
BERDAMPAK PADA PRIBADI DAN INTERAKSI SOSIAL
Evva
SMA Negeri 4 Malang
Komunikasi sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan manusia.
Komunikasi secara ilmiah memiliki arti proses penyampaian pesan atau
informasi dari pengirim (komunikator/sender) kepada penerima
(komunikan/receiver) dengan menggunakan symbol atau lambang
tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung (menggunakan
media) untuk mendapatkan umpan balik (feedback). Manusia saling
bertukar informasi melalui berkomunikasi kepada masing-masing individu
yang dituju. Budaya berkomunikasi akan berpengaruh terhadap cara
manusia melakukannya. Komunikasi itu sendiri dapat mengubah budaya
dalam masyarakat.
Dalam perkembangan terakhir di mana dunia informasi menjadi
sangat penting dalam aspek kehidupan manusia, maka menjadi bagian
yang sangat penting dalam melengkapi kehidupan manusia. Pernyataan
tersebut menegaskan bahwa perkembangan zaman memberikan kontribusi
dalam berkomunikasi, apabila pada saat dahulu kala sebelum
berkembangnya teknologi komunikasi, manusia dapat melakukan
komunikasi kepada orang secara tatap muka. Namun seiring
berkembangnya zaman serta teknologi komunikasi, proses komunikasi
dapat dilakukan tanpa batasan waktu, jarak dan tempat.
Perkembangan teknologi dalam beberapa aspek sudah mengubah
pola kehidupan masyarakat. Contoh nyata hasil perkembangan teknologi
komunikasi ialah munculnya telepon genggam. Pada masa saat ini
penggunaan telepon genggam bukanlah hal aneh karena hampir
penduduk Indonesia sudah menggunakan telepon genggam dalam
kesehariannya. Namun, alat komunikasi jarak jauh tersebut juga
mengalami kemajuan teknologi yang sangat pesat. Telepon genggam
sudah beralih fungsi dari alat komunikasi jarak jauh menjadi sebuah
43
44
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
benda yang sangat pintar yang dapat digunakan berbagai macam hal
oleh sipenggunanya. Dalam era masa kini telepon genggam disebut
menjadi smartphone, alat yang dapat digunakan banyak hal selain
untuk berbicara jarak jauh maupun mengirim pesan singkat.
Dulu sebuah handphone diciptakan memang bertujuan untuk
mempermudah melakukan komunikasi jarak jauh. Namun, seiring
berkembangnya teknologi munculnya sebuah smartphone tidak hanya
dapat digunakan untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Bahkan lebih
dari itu, seperti menonton video, mendengarkan musik, mencari informasi
di internet, dan bermain game. Kemudahan yang didapatkan dari
penggunaan smartphone menjadikan seseorang termasuk di dalam
bagiannya adalah siswa di sekolah terlena terhadap dirinya dan juga
lingkungan sosialnya, hingga seorang pengguna smartphone terkadang
tidak menyadari bahwa mereka menjadi ketergantungan dalam
menggunakan sebuah smartphone. Ini merupakan salah satu dampak
negatif penggunaan smartphone.
PEMBAHASAN
Saat ini smartphone sudah menjadi salah satu kebutuhan primer
bagi kebanyakan orang. Kegiatan komunikasi sesederhana menyapa
teman pun tetap kita lakukan menggunakan smartphone. Seberapa
sering kita chatting melalui instant messanger pun sudah mulai menjadi
salah satu tolak ukur kedekatan kita dengan seseorang. Selain itu, kita
merasa banyak hal menarik yang dapat didapatkan melalui smartphone.
Mulai dari info terkini, games, dan berbagai hiburan lainnya yang dapat
kita lakukan pada benda canggih dalam genggaman.
Penggunaan smartphone dalam jumlah tinggi juga terjadi di
lingkungan sekolah, dimana siswa merupakan pengguna aktif dari
smartphone. Mulai dari smartphone yang berharga murah sampai yang
mahal merupakan pilihan mereka. Dari pengamatan itu membuat
ketertarikan kami untuk melakukan survei ke siswa kelas X dan XI di
SMAN 4 Malang, dan ditemukan data dari 246 siswa yang mengisi
angket ada satu siswa yang menjawab tidak memiliki smartphone,
artinya 99,6% siswa memiliki smartphone yang memiliki fitur canggih
untuk mengakses berbagai kegiatan yang disukai oleh siswa.
Kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan siswa dengan menggunakan
smartphone-nya berdasarkan hasil survei dari urutan yang paling sering
Ketergantungan Siswa terhadap Penggunaan Smartphone Berdampak pada pribadi dan
Interaksi Sosial
45
diakses sebagai berikut, 1) Chatting atau sekedar mengecek chat grup;
2) Membuka social media; 3) Bermain game online; 4) Mencari informasi
pelajaran atau mencari jawaban tugas sekolah; 5) Menonton film atau
mencari film di youtube; 6) Browsing; 7) Mendengarkan musik; 8) Baca
berita terkini; 9) Baca Webtoon; 10) Telepon; 11) Selfie/ foto diri; 12)
Membaca novel; 13) Download film/lagu/pelajaran; 14) SMS; 15)
Stalking/kepo informasi orang lain; 16) Edit foto; 17) Upload cerita fiksi;
18) Video call; 19) Membaca Al-Quran; dan 20) Berjualan
Saat ditanya apa yang dirasakan siswa ketika smartphone nya
tertinggal, dari hasil survei ada 59,7 % siswa menjawab tidak senang
dengan uraian jawaban mereka menyatakan bingung, merasa aneh,
cemas, gelisah, hampa, khawatir, kesepian, menyesal, resah, panik,
takut. Sejumlah kurang lebih 40 % siswa menjawab biasa saja. Dari hasil
perhitungan tersebut menandakan bahwa banyak siswa merasakan
ketergantungan terhadap smartphone mereka.
Tidak dapat dipungkiri, ketergantunggan siswa terhadap smartphone
sudah mulai mengkhawatirkan, siswa sering sekali bahkan ‘ketagihan’
untuk terus mengecek smartphone-nya. Berbagai kegiatan mendasar
seperti komunikasi, sudah kita gantungkan pada smartphone. Smartphone
dapat digunakan untuk menjadi asisten pribadi, dikarenakan alat ini
dapat menyimpan data-data penting maupun sebagai pengingat apa
yang harus dilakukan selanjutnya oleh si penggunanya. Smartphone
dapat dimasukan berbagai aplikasi untuk keperluan chat, email, telepon,
media sosial, dan hiburan, begitu juga untuk keperluan pengerjaan
tugas siswa, menjadi kamus bahasa asing, mencari jawaban pertanyaan
yang sulit, dan sebagainya dalam hal yang positif. Namun, ada beberapa
hal negatif dari penggunaan smartphone tersebut, seperti aplikasi game
online yang membuat para siswa lebih banyak menghabiskan waktunya
untuk mencoba. Di samping itu smartphone mampu memudahkan
pengguna dalam bertukar informasi.
Dengan kemajuan teknologi ini juga mempengaruhi pola hidup
manusia dalam mendapatkan informasi. Saat ini, semua informasi yang
ada dari belahan dunia manapun dapat dengan mudah tersebar ke
seluruh penjuru dunia dengan adanya teknologi jaringan, era digital
yang menggunakan sistem internet yang dapat membuat manusia
dengan mudah dan cepat memperoleh informasi.
46
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Seiring dengan penjelasan di atas dilihat dari hasil perhitungan
survei dikatakan siswa merasa cemas, takut, panik, dan gelisah ketika
smartphone-nya tertinggal. Ketakutan atau kecemasan yang menetap
(setiap tersadar bahwa seseorang pergi dan tidak membawa smartphonenya), tidak rasional dan berlebihan, serta ada desakan-desakan yang
irasional untuk menghindarinya, maka itu dapat dimasukkan ke dalam
kelompok phobia. Gejala yang dialami tersebut dinyatakan oleh sebuah
studi dari perusahaan pengesahan keamanan sebagai penyakit psikologis
yang disebut dengan nomophobia (nomobilephonephobia).
Gangguan ini akan mempengaruhi ke diri siswa apalagi kalau
kecemasan yang dialami siswa berubah menjadi gangguan kecemasan
yang tidak beralasan. Kecemasan yang dirasakan memang bukan tanpa
alasan. Salah satunya adalah masalah biaya yang harus dikeluarkan jika
benar-benar kehilangan smartphone, dan juga kehilangan akses berbagai
data, mulai data penting hingga data-data rahasia yang ada pada
smartphone. Belum lagi ditambah dengan kesulitan berkomunikasi
dengan kerabat. Padahal, tanpa smartphone, siswa masih dapat melakukan
berbagai pekerjaan lain dan tetap dapat bersosialisasi secara nyata dan
intens dengan teman bicara. Smartphone memang memberikan
kepraktisan dalam melakukan banyak hal, namun tanpa smartphone
siswa (pengguna gadget) dapat menjadi lebih kreatif. Kamu akan
berpikir bagaimana cara melakukan berbagai hal tanpa smartphone
yang tentunya akan membuahkan ide yang berbeda dari orang lain.
Kegiatan-kegiatan siswa dalam menggunakan smartphone ada yang
bernilai positif, yaitu dengan memanfaatkan smartphone sebagai sarana
belajar. Kemajuan teknologi saat ini menjadikan smartphone sebagai
alat komunikasi yang memudahkan seseorang untuk berhubungan tanpa
ada jarak dan waktu yang membatasi. Siswa dapat saling menanyakan
tugas yang belum dimengerti melalui aplikasi chatting, yang
memungkinkan siswa dapat memfoto pekerjaannya untuk dibagi dengan
teman yang lain. Namun, ternyata dari teknologi komunikasi yang
modern itu juga dapat menyebabkan pengaruh pada kehidupan sosial
siswa, yaitu menurunnya kepedulian sosial siswa terhadap orang-orang
yang ada di sekitarnya. Mereka terlalu asyik menikmati fitur-fitur yang
ada di smartphone, sehingga seolah yang terjadi adalah “Dengan
smartphone mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.
Belum lagi jika terjadi siswa menjadikan smartphone sebagai benda
Ketergantungan Siswa terhadap Penggunaan Smartphone Berdampak pada pribadi dan
Interaksi Sosial
47
yang harus selalu ada di hari-harinya, bahkan menjadi cemas jika
smartphone-nya tertinggal.
Gambar 1. Diagram Jumlah Siswa yang Memiliki Smartphone
Gambar 2. Jumlah Aktivitas Siswa Menggunakan Smartphone
Hal ini menimbulkan dampak buruk dalam interaksi interpersonal
secara langsung dan dapat merusak psikologis siswa, beriringnya waktu
seseorang akan sulit menjalin komunikasi tatap muka dan membangun
relasi dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan ada rasa bahwa ingin
menunjukkan eksistensi diri dengan menyamarkan identitas yang
sebenarnya, hingga menurut Ratrioso: 2008, dalam bukunya yang berjudul
“Remaja Unggul Kamukah Itu?” menyatakan bahwa masa remaja adalah
masa yang tidak realistik dimana remaja cenderung melihat segala
48
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan, tidak sebagaimana adanya.
Hal tersebut terwadahi dalam aktivitas yang paling banyak dilakukan
oleh siswa dengan smartphone-nya, yaitu membuat berbagai status dan
komentar di media sosial. Aplikasi media sosial yang tersedia di
smartphone tidak hanya ada satu aplikasi saja, tetapi lebih dari itu.
Penulisan status yang disertai foto pengguna seolah-olah ingin
menunjukkan segi kelebihan dari si pembuat status meski itu dapat jadi
hasil penyamaran. Begitu juga dengan berbagai kata-kata yang digunakan
dalam status di media sosial tersebut bermaksud ingin menyindir orang
lainyang akibatnya menimbulkan perselisihan. Selain itu, banyaknya
waktu yang terserap untuk menikmati aplikasi media sosial yang ada di
smartphone menjadikan siswa kehilangan banyak waktu yang sia-sia dan
keengganan untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan
sekitarnya. Apabila hal tersebut tidak segera dicegah akan menimbulkan
dampak yang sangat buruk bagi kehidupan sosial. Selain itu, maraknya
muncul gambar-gambar pornografi yang dengan mudah diakses di
smartphone, penggunaan internet di smartphone juga mempengaruhi
siswa menjadi asing dengan dunia luar karena jarang berinteraksi sosial,
sehingga perasaan dan dinamika emosi yang biasanya muncul dan
terasah dari perjumpaan-perjumpaan dengan orang lain menjadi agak
kurang peka. Remaja lebih asyik chatting bermain dengan teman-teman
di dunia mayanya yang belum pernah ditemui, mengutak-atik situs
media sosial atau menikmati gameonline hingga bejam-jam. Remaja
hidup dalam dunia maya sehingga persoalan-persoalan sosial yang
terjadi di sekitarnya termasuk keluarganya tidak ia perhatikan.
Oleh karena itu, kita harus bijak dalam memanfaatkan perkembangan
teknologi komunikasi yang berkembang saat ini. Ketika membutuhkan
komunikasi jarak jauh sedapat mungkin untuk tidak terlalu mementingkan
kerabat yang jaraknya jauh, kita harus sadar bahwa waktu dengan
orang-orang disekitar kita lebih penting untuk selalu dapat menjalin
komunikasi secara langsung. Dengan demikian, kita dapat menghargai
waktu yang ada untuk melakukan aktivitas bersama keluarga atau
kerabat yang sedang berada di sekitar kita. Bahkan kita sebagai
masyarakat Indonesia yang ramah terhadap orang lain tetap menjadi
budaya masyarakat Indonesia.
Dalam kehidupan sosial pun peran-peran penting seperti orang tua
dan pemerintah harus menjadi pagar untuk perkembangan anak-anaknya
Ketergantungan Siswa terhadap Penggunaan Smartphone Berdampak pada pribadi dan
Interaksi Sosial
49
dan masyarakat secara keseluruhan. Mempunyai smartphone memang
mempermudah kita dalam menjalani aktivitas. Peran orang tua dalam
menanamkan pendidikan agama pada anak-anaknya serta menanamkan
nilai-nilai kehidupan dan norma-norma yang baik dan tidak baik, agar
pemanfaatan teknologi itu sendiri lebih tepat. Pemerintah pun ikut
andil dalam pengawasan dari perkembangan teknologi komunikasi.
Dengan demikian, dampak negatif dapat semakin tersaring dan
meminimaliskan dampak negatif itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ratrioso, Iman. 2008. Remaja Unggul Kamukah Itu?. Jakarta: PT Perca.
h t t p s : / / g h e o v a n c h o f f . w o r d p r e s s . c o m / 2 0 1 4 / 1 1 / 1 8 /p e n g e r t i a n phobia-penyebab-dan-macam-macam-phobia/
50
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pendidikan Seksual Bagi Remaja Sebagai Upaya Preventif Perilaku Seksual Pranikah
pada Remaja
51
PENDIDIKAN SEKSUAL BAGI REMAJA SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PERILAKU
SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA
Mamang Efendy
SMP Negeri 1 Galis Pamekasan
Masalah seks pada remaja memang sangat mencemaskan para orang
tua, pendidik, pejabat pemerintah, dan para ahli. Bagaimana tidak,
sering kali kita dihadapkan pada berita-berita di televisi dan koran
tentang kasus remaja puteri yang bunuh diri akibat hamil diluar nikah,
tidak hanya itu bahkan yang lebih tragis lagi terjadi pada kisah sepasang
muda-mudi yang bunuh diri bersama-sama karena pasangannya hamil
diluar nikah. Akan tetapi, seandainya pun dilakukan perkawinan pada
usia dini pada akhirnya juga akan menimbulkan permasalahan yang
tidak kalah peliknya. Jadi dalam situasi apapun perilaku seksual pranikah
pada remaja memang tidak menguntungkan.
Adapun yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah segala
tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis
ataupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bermacammacam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan,
bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain,
orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2015:175)
Masa remaja sering disebut sebagai masa peralihan diantara masa
kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa
pertumbuhan dan masa perkembangan, baik secara fisik maupun
perkembangan psikis. Remaja (adolescence) diartikan sebagai masa
perkembangan transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa
yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Batasan
usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12
hingga 21 tahun. Masa remaja adalah masa dimana seharusnya mereka
mempersiapkan diri menuju kehidupan dewasa, termasuk dalam aspek
seksualnya. Seharusnya pada masa ini remaja mendapatkan sikap yang
sangat bijaksana dari para orang tua, pendidik, dan masyarakat pada
51
52
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
umumnya agar mereka dapat melewati masa transisi ini dengan baik
dan selamat.
Karena remaja adalah suatu fase tumbuh kembang yang dinamis
dalam kehidupan, merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa yang ditandai percepatan perkembangan fisik, mental,
emosional, dan sosial. Pertumbuhan sosial dan pola kehidupan masyarakat
akan sangat mempengaruhi pola tingkah laku dan jenis penyakit
golongan usia remaja seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit
akibat hubungan seksual, dan penyalahgunaan alkohol yang semuanya
akan menentukan kehidupan pribadi serta dapat menjadi masalah bagi
keluarga, bangsa, dan negara di masa yang akan datang (Budie, 2009).
Orang tua sering tidak memahami perubahan yang terjadi pada remaja.
Merasa tidak dimengerti, remaja seringkali memperlihatkan agresivitas
yang dapat mengarah pada perilaku berisiko tinggi. Salah satu bentuk
perilaku risiko tinggi yang terjadi dan menjadi masalah remaja adalah
perilaku yang berkaitan dengan seks pranikah.
Akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seksual pranikah remaja
sangat kompleks, diantaranya yaitu kasus aborsi, penyakit menular
seksual, kehamilan yang menyebabkan remaja putri putus sekolah, dan
yang lebih tragis apabila sampai terjadi bunuh diri seperti pada kasus
diatas. Dalam sebuah laporan majalah Gatra dinyatakan bahwa tingkat
kasus aborsi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, yakni mencapai dua
juta kasus dari jumlah kasus di negara ASEAN yang mencapai 4,2 juta
kasus per tahun. Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) mengenai kasus aborsi tersebut terungkap pada Talk
Show “Virginitas dan Fenomena Aborsi” yang digelar di Makassar, Sabtu
25 Maret 2006. Sementara itu, akibat psikososial yang lainnya yang
harus ditanggung oleh remaja adalah ketegangan mental, seta
kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah apabila seorang
remaja puteri tiba-tiba hamil. Akan terjadi cemoohan dan penolakan
dari masyarakat sekitar, akibat-akibat lainnya yaitu putus sekolah dan
akibat ekonomis untuk biaya perawatan dalam membesarkan anak
(Sanderwitz & Paxman dalam Sarlito, 2015).
Akibat yang tidak terlalu tampak jika hanya dilihat sepintas, sehingga
kurang banyak dibicarakan adalah berkembangnya penyakit kelamin di
kalangan remaja. Prof. Dr. M. Sukandar selaku Ketua Panitia Kongres
Nasional IV Perkumpulan Ahli Dermatovenerologi (Penyakit kulit dan
Pendidikan Seksual Bagi Remaja Sebagai Upaya Preventif Perilaku Seksual Pranikah
pada Remaja
53
kelamin) Indonesia, Juni 1983 di Semarang menyatakan bahwa sebagian
besar penyakit kelamin berbahaya dari luar negeri telah melanda remaja
usia16-25 tahun baik di kota maupun di pedesaan. Salah satu jenis
penyakit menular seksual (PMS) itu adalah Genorhoea (kencing nanah)
yang sudah tidak mempan lagi diberantas dengan 300.000 unit penicillin, tetapi paling tidak harus dengan 24 juta unit. Para penderita
tampaknya lebih kebal terhadap pengobatan karena semakin ganasnya
penyakit itu.
Faktor-faktor penyebab masalah seksualitas pada remaja yaitu,
(1) meningkatnya libido seksualitas, (2) penundaan usia perkawinan,
(3) tabu-larangan, (4) kurangnya informasi tentang seks, dan (5) pergaulan
semakin bebas. Berkenaan dengan faktor-faktor penyebab masalah
seksualitas diatas akan dibahas tentang masalah kurangnya informasi
tentang seks. Pada umumnya remaja seringkali mendapatkan informasiinformasi yang salah tentang seks. Hal ini terjadi karena tidak ada peran
orang tua yang memberikan informasi yang benar tentang seks itu
sendiri, orang tua menganggap tabu membicarakan seks dengan anaknya.
Padahal tugas perkembangan remaja yang harus dikuasai diantaranya
adalah masalah seksualitas, di mana belajar menjalankan peran seksualitas
yang diakui. Seksualitas, sebagai bagian dari permasalahan remaja
berkaitan dengan semua aspek perkembangan tersebut.
Maka dari itu perlunya pendidikan seks pada remaja oleh pendidik
itu sebagai upaya memberikan informasi yang benar bagi remaja tentang
seks itu sendiri.Hal ini dikarenakan pendidikan seks adalah salah satu
cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks oleh remaja.
Akan tetapi, di pihak lain ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan
pendidikan seks, anak-anak yang belum saatnya tau tentang seks jadi
mengetahuinya dan karena dorongan keingintahuan yang besar maka
dikhawatirkan mereka akan mencobanya. Padahal pada dasarnya tidak
pernah mengajarkan pada anak atau remaja tentang bagaimana cara
melakukan hubungan seks, ataupun hal-hal lain yang berkesan tabu dan
vulgar.
Pendidikan seks membicarakan tentang totalitas ekspresi seseorang
(dalam hal ini anak, pra remaja, dan remaja) sebagai laki-laki atau
perempuan, apa yang dipercayai, dipikirkan dan dirasakan, bagaimana
bereaksi terhadap lingkungan, bagaimana menampilkan diri, bagaimana
berbudaya dan bersosial, etika dan adab pergaulan, yang kesemuanya
54
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
tersebut akan mencirikan sosok identitas remaja. Oleh karena itu,
pemahaman seksualitas akan menjadikan anak dan remaja mengerti
benar hal-hal yang berkaitan dengan dirinya,tubuhnya,fungsi dari bagianbagian tubuhnya, dan bagaimana menjaga diri dari hal-hal yang tidak
diperkenankan.
Informasi yang salah tentang seksual mudah sekali didapatkan oleh
remaja, media massa dan segala hal yang bersifat pornografis akan
menguasai pikiran remaja yang kurang kuat dalam menahan pikiran
emosinya. Hal ini dikarenakan mereka belum boleh melakukan hubungan
seks yang sebenarnya dan disebabkan adanya norma-norma, adat, hukum,
dan juga agama. Semakin sering seseorang tersebut berinteraksi atau
berhubungan dengan pornografi, maka akan semakin beranggapan
positif terhadap hubungan seks secara bebas (Budie, 2009).
Pertama yang memberikan pengetahuan seks bagi anak seharusnya
orang tua. Informasi seks dari teman, film, atau buku yang hanya
setengah-setengah tanpa pengarahan mudah menjerumuskan. Apalagi si
anak tidak tahu resiko melakukan hubungan seksual pranikah. Pendidikan
seks dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Sekali waktu
penyuluhan seks dapat diadakan. Tema penyuluhan didasarkan pada
pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni
penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan
psikolog di sekolah, atau guru agama. Di tingkat RT pun sebetulnya bisa
sekali waktu diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua
atau remaja dengan bantuan dokter Puskesmas (Yulia, 2010).
Pendidikan seks di Indonesia seyogiyanya tetap dimulai dari rumah.
Salah satu alasan utamanya adalah karena masalah seks ini merupakan
masalah yang sangat pribadi sifatnya, yang kalau hendak dijadikan
materi pendidikan juga perlu penyampaian yang pribadi. Di sekolah
guru yang diharapkan bisa membantu siswa dalam memberikan
pendidikan seks yang baik dan benar dan bersifat pribadi. Hal ini dapat
dilakukan melalui Guru Bimbingan Konseling, karena Guru BK memahami
betul perkembangan masa remaja dan tugas-tugas perkembangan masa
remaja yang harus dilalui dengan baik. Selain itu, dalam dunia Bimbingan
dan Konseling terdapat layanan-layanan yang bersifat pribadi yaitu
konseling individu. Konseling individu di sekolah-sekolah diharapkan
dapat dijadikan layanan sebagai upaya preventif pencegahan remaja
dari kesalah pahaman dan penyalahgunaan seks.
Pendidikan Seksual Bagi Remaja Sebagai Upaya Preventif Perilaku Seksual Pranikah
pada Remaja
55
Tetapi apabila topik seksual dianggap terlalu sensitif atau vulgar
maka guru BK dapat memproyeksikannya dalam bentuk yang lain,
misalnya informasi tentang kesehatan reproduksi remaja yang orientasi
tujuannya adalah sama yaitu mencegah para remaja untuk tidak
melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Remaja harus
bertanggung jawab atas dirinya serta bertanggung jawab atas kehormatan
dirinya sebagai laki-laki dan perempuan. Dari beberapa jurnal penelitian
yang penulis baca terdapat beberapa hal yang mendorong remaja
melakukan hubungan seksual sebelum menikah diantaranya yaitu
religiusitas (agama) yang rendah, Harga diri yang rendah, konsep diri,
pengetahuan remaja tentang seks itu sendiri, peranan orang tua, kotrol
diri, dan pengaruh teman sebaya. Beberapa hal tersebut diatas sedikit
banyak sudah dapat kita temukan jalan keluarnya untuk membantu
remaja agar tidak terjerumus pada perilaku seksual pranikah, yaitu
menumbuhkan religiusitas yang baik, harga diri yang tinggi, konsep diri
yang positif, dan pengetahuan yang benar tentang informasi seks.
Peran bidan di komunitas dalam hal mencegah terjadinya seks
pranikah akibat akses informasi yang salah, dapat dilakukan dengan
memberikan bimbingan pada kelompok remaja yang salah satunya
dengan cara penyuluhan tentang seks pranikah beserta dampaknya. Hal
ini sesuai dengan wewenang bidan dalam KEPMENKES RI No 900/
MENKES/SK/VII/2002 pasal 4 isinya pelayanan kepada wanita dalam masa
pranikah meliputi konseling untuk remaja, konseling persiapan pranikah,
dan pemeriksaan fisik yang dilakukan menjelang pernikahan. Tujuan
dari pemberian pelayanan ini adalah untuk mempersiapkan wanita usia
subur dan pasangannya yang akan menikah agar mengetahui kesehatan
reproduksi, sehingga dapat berperilaku reproduksi sehat secara mandiri
dalam kehidupan rumah tangganya kelak. Mengingat sikap merupakan
salah satu komponen yang penting dalam membentuk perilaku, maka
dalam menanggulangi perilaku seksual pranikah bebas di kalangan
remaja melalui pendidikan dalam keluarga dan memberikan pemahaman
tentang seksual kepada remaja.
Faktor keluarga adalah faktor yang sangat mempengaruhi munculnya
perilaku seksual pranikah pada remaja. Kinnaird (2003) dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa remaja yang melakukan hubungan
seksual sebelum menikah banyak di antaranya berasal dari keluarga
yang bercerai atau pernah cerai, keluarga dengan banyak konflik, dan
56
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
perpecahan. Tidak adanya pengawasan dan disiplin yang baik dari orang
tua akan menyebabkan seorang remaja cenderung berperilaku delinkuen.
Adanya pengawasan yang baik, disertai perhatian, kasih sayang,
pemberian kepercayaan kepada anak, dan keharmonisan keluarga yang
timbal balik akan mencegah munculnya perilaku seksual pranikah bebas
pada remaja.
Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Kartono (1995) bahwa perhatian
orang tua yang diwujudkan berupa penyediaan fasilitas belajar, serta
pemberian bantuan dalam pemecahan masalah, maka anak merasa
diperhatikan oleh orang tuanya. Perhatian adalah keadaan yang
merupakan tingkat atau perhatian orang tua dalam memberikan
dorongan serta perhatian pada anak-anaknya. Dengan mendapat perhatian
orang tua maka remaja akan merasa senang dan merasa dihargai
keberadaannya, sehingga akan patuh dan segan kepada orang tuanya
sebagai timbal balik. Hal ini juga akan membawa akibat atau dampak
yang positif pada sikap anak dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya
anak yang kurang mendapat perhatian orang tua cenderung mengalami
berbagai macam kesulitan yang mungkin dapat mengarah ke hal-hal
yang menyimpang, salah satunya kecenderungan perilaku seksual
pranikah. Keluarga juga mempunyai peranan dalam membentuk
kepribadian seorang remaja. Dalam keluarga yang sehat dan harmonis,
anak akan mendapatkan latihan-latihan dasar dalam mengembangkan
sikap sosial yang baik dan perilaku yang terkontrol. Oleh karena itu,
peran penting orang tua, guru, tenaga ahli, dan semua pihak diharapkan
dapat berkontribusi dalam menanggulangi dan mencegah perilaku seksual
pada remaja, agar kita bisa mempersiapkan remaja yang baik untuk
masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, S.W. 2009. Penyaluran Hasrat Seksual pada Penyandang Cacat
Ganda. Makalah untuk Kongres Asosiasi Seksolohi Indonesia di
Pontianak.
Sarwono, S.W. 2015. Psikologi Remaja. Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo
Perasada.
Fitriana, N.G. 2010. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Seks
Pranikah dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Siswa SMK XX
Semarang. Jurnal Penelitian. (Online) http://e-journal.com.
Pendidikan Seksual Bagi Remaja Sebagai Upaya Preventif Perilaku Seksual Pranikah
pada Remaja
57
Fitriana, N.G. 2010. Ketimpangan Religiusitas dengan Perilaku Seksual Pra
Nikah Remaja SMA Sederajat di Jakarta Selatan. Skripsi. Jakarta:
Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al-Azhar Indonesia.
Hasanah, U. 2012. Peran Keharmonisan Keluarga dan Konsep Diri terhadap
Perilaku Seksual Remaja Puteri. Tesis. Surakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
58
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
59
KENAKALAN REMAJA DAN PERAN GURU DI SEKOLAH
Dwi Ulfa Nurdahlia
Pengamat Pendidikan/ IKIP Budi Utomo Malang
Kenakalan Remaja sebagai Satu Indikator Gagalnya Pendidikan
Juvenile delinquency merupakan istilah yang digunakan dalam dunia
psikologi, khususnya remaja yang sering melakukan kenakalan remaja.
Mereka sering melakukan perilaku yang yang maladaptive. Beberapa
perilaku negatif yang muncul dalam dunia remaja, antara lain: free sex,
tawuran, mencuri, minum minuman keras, dan penggunaan narkoba.
Bahkan dalam sebuah jurnal menyebutkan kenakalan remaja semakin
meningkat, hal tersebut diapaparkan dari data-data yang berasal dari
BNN, KPAI, ditambah informasi dari media cetak seperti Kompas dan
media elektronik seperti TV One (Sabarisman dan Unayah, 2015). Perilaku
yang bersifat merusak diri dan lingkungan kerap ditunujukkan oleh
remaja. Hal ini yang akan membawa para remaja berada dalam lingkaran
label negatif dari masyarakat umum. Dampaknya banyak diantara mereka
menjadi objek yang dikucilkan dan dijadikan bahan untuk menjadi
contoh negatif. Tentunya hal ini akan membuat remaja akan merasa
dirinya terintimidasi bahkan akan memperkuat perilaku negatifnya.
Perilaku negatif yang dilakukan oleh remaja, pada dasarnya tidak
murni kesalahan dari remaja itu sendiri. Melainkan peranan dari dua
faktor antara lain: faktor internal yang berasal dari diri remaja dan
faktor eksternal yang berada dari luar diri remaja. Berikut beberapa
peritiwa yang menggambarkan faktor internal remaja yang mendorong
melakukan perilaku menyimpang sebagai gejala patologis:
Kasus 1: contoh remaja yang mengalami krisis identitas
Remaja merasa dirinya sudah dewasa dan memiliki hak yang sama
dengan orang tua, seperti pulang malam, merokok dan dapat bergaul
dengan siapa saja. Kemudian remaja tersebut, tidak memiliki kendali
59
60
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
untuk memposisikan dirinya sebagai remaja yang memiliki positive
values, sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti keinginannya
menjadi dewasa tanpa kontrol dari orang tua. Dari peristiwa tersebut,
remaja mulai memiliki gaya hidup yang tidak sehat, mereka mulai
sering pulang malam, menjadi addicted terhadap rokok dan minuman
keras
(Sumber: pengalamam penulis ketika menjadi guru BK)
Krisis identitas yang dialami oleh remaja sering dikaitkan dengan
perilaku memberontak di kalangan remaja atau disebut adolescent
rebellion. Namun, jika remaja tersebut mendapat kesempatan untuk
mengelola emosi yang dimiliki, maka tidak akan timbul pemberontakan
dalam diri remaja. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
para ahli antropologi seperti Margaret Mead yang mempelajari
pertumbuhan di pulau Samoa, kemudian didukung hasil observasi
Schlegel & Barry terhadap 186 masyarakat praindustri 1991, serta beberapa
peneliti lain seperti Offer, Ostrov, Howard, dan Atkinson (Feldman dkk,
2009) yang menyatakan bahwa “badai dan stress” yang dialami remaja
tidak akan terjadi, jika remaja mengalami peralihan emosi yang stabil.
Kasus 2: contoh tentang keyakinan diri pada remaja
Remaja yang memiliki keyakinan diri yang tidak sesuai dengan
lingkungan. Misal remaja memilih membolos daripada harus hadir di
sekolah. Tingkah laku tersebut dilakukan secara berulang dengan
alasan, aturan sekolah yang mewajibkan hadir pukul 06.45 dan banyak
tugas yang diberikan oleh guru.
(Sumber: pengalamam penulis ketika menjadi guru BK)
Keyakinan negatif yang dimiliki remaja merupakan suatu bentuk
perwujudan dari penguatan identitas diri untuk mendapat pengakuan,
bahwa ia mampu bertindak dan memutuskan apa yang remaja suka dan
tidak disukai. Perilaku yang tidak sesuai dengan norma, merupakan
perilaku menyimpang. Menurut Feist (2009) penyimpangan adalah
tindakan memberontak melawan penguasa. Remaja menyimpang dengan
keras kepala, berpegang pada kepercayaan dan praktik tersebut tidak
diterima. Namun, menurut Erikson perilaku remaja tersebut bukan
hanya sebagai penyangkalan peran, melainkan penambahan gagasan
baru dan vitalitas baru dalam struktur sosial (Feist, 2009). Dengan kata
lain, struktur sosial yang merupakan bagian luar dari remaja memerlukan
pengkajian terhadap aturan yang memiliki pengaruh terhadap pemikiran
internal remaja.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
61
Pembentukan perilaku remaja tidak hanya disebabkan oleh faktor
internal, melainkan juga faktor eksternal sebagai reinforcement yang
mampu membenarkan remaja untuk melakukan peruatan yang maladaptive. Beberapa faktor eksternal yang menyebabkan remaja
melakukan tindakan menyimpang, antara lain: keluarga, sekolah, dan
lingkungan masyarakat.
Kasus 1: remaja yang tinggal dengan keluarga yang tidak
harmonis
Ketika berada di rumah, remaja sering mendengarkan pertengkaran
dan ibu yang sering mengeluh tentang perbuatan ayahnya, sehingga
remaja tersebut memilih untuk menggunakan narkoba yang akan
membuatnya tenang dan membuatnya tidur untuk menghilangkan
kegundahan hatinya.
(Sumber: pengalamam penulis ketika menjadi guru BK)
Dampak negatif faktor eksternal yang ditimbulkan dari pola asuh
orang tua akan menjadikan remaja yang bermasalah. Jika dalam keluarga
melakukan program yang bertujuan meningkatkan hubungan dalam
perkawinan adalah memperbaiki pengasuhan, maka konsekuensinya
adalah menghasilkan anak-anak dan remaja yang lebih sehat (Santrock,
2007). Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan keluarga untuk menjadikan
remaja yang sehat. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Rahayu et
all (2013) yang menggunakan rumus person product moment (PPM) Karl
Person. Disebutkan bahwa ada korelasi antara keharmonisan keluarga
dan motivasi belajar siswa sebesar 0,648 pada taraf signifikansi 0,01,
sehingga menunjukkan ada hubungan yang sangat erat.
Kasus 2: remaja yang mendapat hukuman saat di sekolah
Remaja yang melakukan pelanggaran tidaklah selalu dari kalangan
remaja yang memiliki kemampuan rendah. Adakalnya mereka yang
memiliki kemampuan lebih juga pernah melakukannya. Misalkan, ada
remaja yang mampu memanipulasi nilai ujian sekolah melalui
systemcomputer. Kasus tersebut bagi beberapa guru, mungkin akan
dihukum. Akan tetapi, tidak pada sekolah tersebut, remaja tersebut
dibina oleh tim guru IT.
(Sumber: pengalamam penulis ketika menjadi guru BK)
Sekolah yang hanya memberikan hukuman akan semakin
memperburuk situasi dan keadaan remaja. Mereka akan memiliki mindset
sekolah adalah tempat yang buruk serta dipenuhi dengan ancaman dan
62
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
hukuman. Namun, pemikiran negatif akan berubah menjadi pikiran
yang positif pada saat pendidik mampu mendekatkan diri pada remaja
dan melakukan pendekatan secara humanis. Terjalinnya hubungan yang
harmonis antara pendidik dengan remaja (siswa) akan menciptakan
perilaku yang positif pada diri remaja. Seperti penelitian selalu
menunjukkan bahwa kualitas hubungan guru-siswa adalah satu faktor
terpenting-mungkin satu-satunya faktor yang paling penting-yang
mempengaruhi kesehatan emosi, motivasi, dan pembelajaran siswa
selama disekolah (Ormrod, 2009).
Sekolah Sebagai Rumah Kedua
Pendidikan merupakan tempat bertukarnya ilmu. Dikatakan sebagai
tempat bertukarnya ilmu dikarenakan terjadi pertukaran ilmu antara
guru dengan guru, guru dengan siswa. Guru menyampaikan ilmunya
kepada siswa. Disisi lain siswa secara tidak langsung juga memberikan
ilmu terkait dengan perilaku yang muncul pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Konsep pertukaran ilmu inilah yang harusnya dimiliki oleh
guru maupun remaja yang sedang menempuh pendidikan di sekolah.
Jika konsep tersebut sudah dipahami, maka proses pembelajaran di
sekolah merupakan sesuatu yang penting dan akanada rasa saling
membutuhkan satu sama lain, layaknya makhluk sosial.
Sekolah merupakan tempat memanusiakan manusia. Para ahli teori
humanistic menunjukkan bahwa (1) tingkah laku individu pada mulanya
ditentukan oleh bagaimana mereka merasakan dirinya sendiri dan dunia
sekitarnya, dan (2) individu bukanlah satu-satunya hasil dari lingkungan
mereka seperti yang dikatakan oleh ahli teori tingkah laku, melainkan
langsung dari dalam (internal), bebas memilih, dimotivasi oleh keinginan
untuk aktualisasi diri (self-actualization) atau memenuhi potensi keunikan
mereka sebagai manusia (Djiwandono, 2004). Pandangan teori humanistic menunjukkan bahwa remaja merupakan kesatuan utuh, memiliki akal
untuk menciptakan sesuatu atau bertingkah laku sesuai dengan kehendak
yang dimiliki. Jika dikaitkan dengan kenakalan remaja, maka sebagi
seorang pendidik harus mampu mengelola remaja sebagai individu utuh
yang layak untuk dimanusiakan. Mereka bukan robot yang dapat disetting
oleh lingkungan terlebih oleh orang lain.
Kemampuan mengelola remaja di sekolah dapat dilakukan dengan
5 cara. Hal ini seperti yang biasa dilakukan oleh guru bimbingan dan
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
63
konseling atau konselor yaitu: pemahaman, pencegahan, pengentasan,
pengembangan, dan advokasi.
(1) Pemahaman: remaja diberikan penjelasan perihal yang negatif dan
positif,sehingga remaja memiliki pemahan utuh untuk tidak melakukan
perilaku negatif.
(2) Pencegahan: memberikan kegiatan positif yang bertujuan untuk
mengembangkan bakat dan minat remaja,sehingga kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri terpenuhi. Selain itu, energi yang dimiliki
remaja akan tersalurkan pada pengembangan diri yang positif.
(3) Pengentasan: penanganan terhadap remaja yang terlanjur melakukan
perilaku maladaptive, maka dapat dilakukan pendekatan melalui
konseling. Pendekatan konseling yang digunakan menyesuaiakan
permasalahan yang dialami oleh remaja. Selama proses pengentasan,
guru BK bekerjasama dengan seluruh guru mapel atau pun karyawan
dan staff di sekolah untuk tidak memberikan label negatif. Guru BK
atau konselor harus memiliki kemampuan menjaga kerahasiaan dari
permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa.
(4) Pengembangan: pengembangan bakat dan minat secara maksimal,
sehingga mereka tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang
memiliki kepercayaan diri serta akan menjadi remaja yang memiliki
identitas utuh.
(5) Advokasi: proses pendampingan dan pembelaan terhadap remaja yang
memiliki permasalahan. Tidaklah bijaksana seorang guru BK atau
konselor membiarkan siswa berjuang sendiri tanpa adanya
pendampingan. Membela bukan berarti tidak ada ketegasan untuk
menunjukkan kesalahan yang telah dilakukan oleh remaja.Melainkan
menguatkan remaja dan memberikan petunjuk untuk
bertanggungjawab dan memperbaiki kesalah yang telah dibuatnya.
Saat 5 konsep tersebut mampu diterapkan di sekolah,kemugkinan terbesar
adalah remaja akan merasa aman dan nyaman ketika berada disekolah.
Seolah bapak dan ibu guru di sekolah merupakan orang tua kedua yang
selalu ada untuk mereka. Dengan kata lain, sekolah sebagai rumah kedua
yang mampu melindungi dan mengayomi layaknya keluarga di rumah.
Pendidikan sebagai Pilar Pembentukan Karakter
Pendidikan sebagai pilar yang harus dikokohkan yang memiliki
unsur antara lain: kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan. Guru
64
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
merupakan pemeran utama yang tidak luput dari dukungan karyawan
dan kepala sekolah. Namun, interaksi yang paling dominan adalah guru
yang mengajar di kelas yang berinteraksi secara intens dengan para
remaja (siswa). Oleh sebab itu, penting bagi seorang guru memiliki sifat
humanis yang mampu memberikan kenyamanan. Saat remaja (siswa)
merasa nyaman, maka besar kemungkinan penanaman nilai-nilai positif
akan lebih mudah,sehingga akan terwujud remaja yang memiliki karakter
positif. Terdapat kebutuhan-kebutuhn afektif yang terkait dengan emosi,
perasaan, nilai, sikap, predisposisi, dan moral (dalam Djiwandono, 2004)
yang kemudian diuraikan sebagai tujuan pendidikan humanistik oleh
Combs (dalam Djiwandono, 2004) seperti berikut ini.
(1) Menerima kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa serta menciptakan
pengalaman dan program untuk perkembangan keunikan potensi
siswa.
(2) Memudahkan aktualisasi diri siswa dan perasaan diri mampu.
(3) Memperkuat perolehan keterampilan dasar (akademik, pribadi,
antarpribadi, komunikasi, dan ekonomi).
(4) Memutuskan pendidikan secara pribadi dan penerapannya.
(5) Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi dalam
proses pendidikan.
(6) Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan dapat
dimengerti, mendukung, menyenangkan, serta bebas dari ancaman.
(7) Mengembangkan rasa ketulusan, respek, menghargai orang lain, dan
terampil dalam menyelesaikan konflik pada diri siswa.
Pola pendidikan yang tepat sesuai dengan kebutuhan remajaakan
membentuk karakter positif. Keberhasilan pembentukan karakter akan
terlihat ketika remaja tersebut mampu bersosialisasi dengan masyarakat
umum. Mereka tidak lagi berperilaku baik karena berada disekolah dan
dalam pengawasan guru, melainkan kesadaran pribadi yang utuh dalam
bermasyarakat.
Peranan Guru yang Efektif
Pembentukan karakter bagi anak-anak yang spesial “remaja yang
berperilaku negatif” memerlukan guru yang luar biasa. Mereka adalah
guru-guru tangguh yang memiliki mental positif. Berikut ini merupakan
atribut bagi guru yang peduli terhadap prestasi akademik dan
pembelajaran sosial (Arends, 2013).
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
65
(1) Guru-guru yang efektif memiliki kualitas personal yang membuat
mereka mampu mengembangkan hubungan manusia yang autentik
dan penuh perhatian dengan para siswa, orang tua, dan kolega.
(2) Guru efektif dapat menciptakan kelas yang demokratis dan
memberikan contoh keadilan sosial siswa.
(3) Guru yang efektif memiliki disposisi positif terhadap pengetahuan.
Mereka memiliki kemampuan dalam tiga hal, yaitu dasar pengetahuan
luas yang berkaitan dengan bidang studi, pengembangan manusia
dan pembelajaran, serta pedagogi. Mereka menggunakan pengetahuan
ini untuk membimbing ilmu dan seni dari praktik mengajar.
(4) Guru efektif memiliki repertoar praktik-praktik mengajar yang efektif
yang dapat memotivasi siswa, meningkatkan prestasi siswa dalam
keterampilan dasar, mengembangkan pemikiran tingkat tinggi, dan
menghasilkan pembelajar yang dapat mengatur diri sendiri.
(5) Guru yang efektif secara personal cenderung berefleksi dan memecahkan
masalah. Mereka menganggap belajar untuk mengajar adalah proses
seumur hidup, dapat mendiagnosis situasi dan beradaptasi, serta
menggunakan pengetahuan profesionalnya secara tepat untuk
meningkatkan pembelajaran dan peningkatan mutu sekolah.
Guru-guru yang efektif tidak akan memberikan stereotip negatif
yang menciptakan jarak dengan (siswa). Mereka adalah orang tua kedua
saat disekolah, disertai dengan peran sebagai pendamping, pembimbing,
dan pendidik jika terjadi kesalahan. Kemampuan guru-guru efektif
inilah yang akan menjadi pilar pembentukan karakter remaja. Bahkan
para remaja yang tergolong spesial “teracuhkan oleh masyarkat” tidak
akan lagi terabaikan.
Kesimpulan:
Pada dasarnya sekolah merupakan tempat yang layak untuk membantu
remaja dalam membentuk karakter positif. Tentunya dengan bantuan
para guru-guru yang efektif, sehingga remaja tidak lagi
mendapat stereotip negatif dan mereka tidak akan
terabaikan. Dengan kata lain, sekolah memiliki
fungsi maksimal bagi seluruh remaja yang
memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan
sebagai warga negara Indonesia.
guruku sahabatku,
guruku pahalawanku,
66
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard, I. 2013. Belajar untuk Mengajar Edisi 9 buku 1. Jakarta:
Salemba Humanika.
Djiwandono, Wuryani. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Feist, G. J. dan Feist, J. 2009. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humnika.
Feldman, R. D., Olds, S. W., dan Papalia, D. E. 2009. Perkembangan Manusia.
Jakarta: Salemba Humanika.
Ormrod, J. Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa Tumbuh dan
Berkembang jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Rahayu, K. S. I, et all. 2013. Hubungan antara Keharmonisan Keluarga dan
Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Ilmiah Konseling, 2 (1): 23-56.
Sabarisman, Muslim dan Unayah, Nunung. 2015. Fenomena Kenakalan
Remaja dan Kriminalitas. Jakarta: Yrama Media.
Santrock. 2007. Remaja: edisi 11, jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di MTs
67
KENAKALAN REMAJA DAN PERAN GURU DI MTs
Maulidatul Fitriyah
MTS Darul Karomah Randuagung Pasuruan
Pada era global saat ini terjadi banyak penyimpangan di kalangan
remaja, termasuk dunia pendidikan. Saat ini dunia pendidikan sudah
mulai mengkhawatirkan,karena ulah penerus bangsa, kenakalan remaja
di dunia pendidikan sudah mulai mejalar bahkan merajalela. Kenakalan
remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam
menjalani proses–proses perkembangan jiwanya, baik itu dilakukan pada
masa anak-anak ataupun masa remaja. Dalam perkembangannya,
Indonesia bahkan menjadi sasaran sindikat internasional dengan
ditemukannya pabrik-pabrik (produsen) narkoba di beberapa daerah
belakangan ini.
Hasil survei demografi kesehatan Indonesia mencapai 30% dari
jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2 juta jiwa terlibat beraneka macam
kenakalan remaja. Hal ini tentunya menjadi berita yang sangat
mencengangkan. Tidak masalah apabila remaja dapat menunjukkan
potensi diri yang positif, namun apabila sebaliknya akan menjadi petaka
jika remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai
terlibat dalam kenakalan remaja.
Menurut Santrock (2006S:28) kenakalan remaja merupakan kumpulan
dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial,
sehingga terjadi tindakan kriminal. Kenakalan remaja menjadi hal yang
perlu diwaspadai dan lebih diperhatikan karena seiring berkembangnya
seorang anak. Sudah sewajarnya seorang remaja melakukan sebuah
kenakalan, selama kenakalan itu sebagai tingkat yang wajar. Oleh
karena itu, peran orang tua dan guru pendidik sangat penting serta
diperlukan dalam penanaman nilai dan norma yang diberikan sejak dini
dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan seorang anak, sehinnga anak
dapat memilah mana yang baik dan buruk.
67
68
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kenakalan remaja merupakan suatu isu yang sering ditampilkan
dalam berbagai media. Media sering memuat berita tentang remaja
seperti balapan liar, penyalahgunaan narkoba, cara bicara kepada guru
dan orang tua yang tidak pantas, merokok, dan seks bebas. Selain itu,
tayangan di televisi juga memperlihatkan bahwa remaja itu sendiri
sebagai pelaku tindakan kriminal seperti menganiaya guru,merokok,
mengedarkan narkoba, dan seks bebas. Banyak faktor-faktor yang
membuat remaja memasuki dunia pergaulan yang tidak biasanya.Hal ini
berawal dari teman sebaya yang membawa dampak buruk,karena masa
remaja merupakan masa dimana keadaan psikis remaja mudah
terpengaruh. Kondisi tersebut dapat terjadi karena faktor keluarga,
kondisi tersebut terjadi karena kurangnya perhatian dari keluarga
membuat anak menjadi royal dalam pergaulan. Faktor terpenting yang
membuat anak terjerumus dalam kenakalan remaja adalah kurangnya
bekal agama sebagai fondasi yang membentengi pikiran dan jiwa anak.
Remaja juga senang mencoba hal baru dan rasa ingin tahunya
sangat besar dan mengikuti gaya baru,sehingga remaja mudah
terpengaruh untuk menyalahgunakan narkoba. Menurut Hawari (2003)
sebanyak 70% pasiennya yang menggunakan narkotika adalah remaja
usia sekolah baik yang duduk di bangku SMP, SMU dan Perguruan
Tinggi. Pada dasarnya remaja tidak ingin dibilang seperti anak kecil lagi,
karenanya mereka mulai meniru perilaku yang mereka hubungkan
dengan status dewasa. Oleh sebab itu, remaja mulai memusatkan diri
pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa seperti merokok,
penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas. Uraian selanjutnya akan
mengulas lebih mendalam, beberapa bentuk kenalan remaja.
Jenis Kenakalan Remaja
a.
Membolos sekolah
b.
Balapan liar
c.
Penyalahgunaan narkoba
d.
Perkelahian antar pelajar
e.
Seks bebas
Penyebab terjadinya Kenakalan Remaja
Perilaku menyimpang pada remaja dapat timbul dari dalam diri
(Internal) maupun faktor dari luar (eksternal), berikut ulasan lebih
mendalam mengenai kedua faktor tersebut.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di MTs
a.
69
Faktor Internal
Remaja yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk,
maka remaja tersebut akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun
bagi remaja yang sudah bisa membedakan hal yang baik dan
buruk.Namun tidak mampu mengembangkan kontrol diri untuk
bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
b. Faktor eksternal
1)
Keluarga. Seperti yang telah kita ketahui bersama, peran keluarga
sangat penting dalam mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan tentang nilai-nilai
kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikan
merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi
pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Yusuf, 2010:177). Bisa
jadi remaja yang mengalami kenakalan remaja karena faktor perceraian
orang tua, orang tua yang sering bertengkar, kesibukan orang tua
sehingga tidak ada waktu bagi anak. Hal ini dapat memicu hal negatif
pada perkembangan sikap pada remaja. Bahkan pendidikan yang salah
di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan
pendidikan agama, dan terlalu mengekang anak dapat menjadi
timbulnya kenakalan remaja.
2)
Pengaruh teman sepermainan yang kurang baik.
3)
Lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
4)
Minimnya pemahaman tentang keagamaan
Dalam kehidupan berkeluarga, kurangnya pembinaan agama juga
menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja. Dalam pembinaan
moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting, karena nilainilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah oleh waktu
dan tempat. Pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui
rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya,
karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar
dan mana yang salah. Selain itu, belum mengerti mana batas-batas
ketentuan moral dalam lingkungannya. Oleh karena itu, pembinaan
moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihanlatihan dan nasehat-nasehat yang dipandang baik.
Maka pembinaan moral harus dari orang tua melalui teladan yang
baik berupa hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif, karena
70
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
apa yang diperoleh dalam rumah akan di bawa ke lingkungan masyarakat.
Oleh karena itu, pembinaan moral dan agama dalam keluarga penting
sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka dari kenakalan, serta
merupakan cara untuk mempersiapkan diri bagi generasi yang akan
datang. Oleh sebab itu, kesalahan dalam pembinaan moral akan berakibat
negatif terhadap remaja itu sendiri. Pemahaman tentang agama sebaiknya
dilakukan sejak kecil, yaitu melalui kedua orang tua dengan cara
memberikan pembinaan moral dan bimbingan tentang keagamaan. Hal
iniagar nantinya setelah mereka remaja, dapat memilah baik buruk
perbuatan yang akan dilakukan sesuatu di setiap harinya.
Berbagai Kasus nyata yang pernah terjadi di sekolah MTs
a.
Seorang remaja yang sering membolos, kemudian guru bimbingan
dan konseling melakukan kunjungan rumah kepada remaja tersebut.
Setelah menyelidiki kasus remaja tersebut ternyata si anak tiap hari
berangkat ke sekolah tetapi anak tersebut tidak ada/tidak sampai di
sekolah. Penelusuran pun terus berlanjut, remaja ini ternyata sering
nongkrong dengan anak-anak yang tidak sekolah, bahkan ketika
dikonseling oleh guru bimbingan dan konseling anak tersebut mengaku
kalau menggunakan pil, dia juga mengaku telah beberapa kali
meminum minuman keras dan merokok.
b.
Kasus kedua hampir sama dengan kasus pertama yang mana remaja
ini berangkat kesekolah dan tidak sampai di sekolah. Saat guru
bimbingan dan konseling melakukan penelusuran, ternyata remaja
tersebut ketahuan di sebuah warnet dan sedang main game online.
Dia mengaku kalau sudah bermain game online sampai lupa waktu,
serta sering melakukan ini setiap harinya, bahkan pernah pulang pukul
04.00 pagi.
c.
Baru-baru ini sekolah mendapatkan laporan dari beberapa orang tua
kalau anak mereka baru pulang sekolah sekitar pukul 19.00. Akhirnya
dari pihak sekolah menyelidiki kemana remaja-remaja ini main setelah
pulang sekolah. Ada satu guru yang sengaja membuntuti remaja-remaja
ini dan ternyata remaja-remaja ini melakukan balapan liar.
Peran orang tua, guru dan lingkungan
Sebenarnya tingkah laku yang positif itu tidak hanya dari orang tua
dan guru saja, melainkan tanggung jawab semua orang. Misal antara
perkataan dan perbuatan harus konsisten, sehingga remaja dapat meniru
tingkah laku guru dan orang tua dengan baik. Guru itu singkatan dari
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di MTs
71
digugu dan ditiru, peran guru itu tidak hanya sebatas tugas yang harus
dilaksanakan di depan kelas saja. Akan tetapi, seluruh hidupnya memang
didedikasikan untuk pendidikan. Menurut Lydia & Satya (2006:12) bahwa
seseorang yang terlatih dalam tanggung jawab tidak pernah terlibat
tawuran, kebut-kebutan di jalan umum, atau menyalahgunakan narkoba,
serta terlibat dalam perilaku negatif lain. Oleh karena itu, pupuklah rasa
tanggung jawabmu demi sebuah masa depan yang lebih baik dan cerah.
Selalu memantau, mengecek, dan mengawasi peserta didik dan
remaja dalam melakukan apapun. Saat anak membuat kesalahan jangan
memarahi anak tersebut, setidaknya tanyakan dulu dan dengarkan
penjelasannya. Baru guru bimbingan dan konseling dapat memberi
bimbingan, orang tua bisa memberikan solusi dan nasehat, sedangkan
masyarakat bisa memberikan dorongan dan motivasi kepada anak tersebut.
Tips untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja
a.
Orang tua harus lebih banyak berkomunikasi dan memberikan
perhatian pada anaknya, penting juga orang tua memberikan waktu
mendengarkan cerita anaknya, agar tidak ada apapun hal yang
disembuyikan dan masalah anak tersebut dapat terselesaikan.
b.
Pondasi, penanaman, dan pengenalan agama perlu dimulai sejak dini.
c.
Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak termasuk
mengawasi media televisi, internet, handphone, dan semua situs yang
berbahaya bagi anak.
d.
Perlunya materi bimbingan dan konseling di sekolah.
e.
Dukunglah hobi dan bakat anak, fasilitasi hobinya agar dapat terhindar
dari hal yang negatif.
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa upaya
pencegahan dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian remaja
tersebut perlu membentengi pengaruh dari luar dengan pemahaman
agama yang kuat, moral yang baik dan selalu berpikir positif. Selain itu,
upaya pencegahan dalam mengantisipasi kenakalan remaja perlu
dukungan dari semua serta kerjasama yang baik (orang tua, guru, dan
masyarakat). Adapun upaya yang lebih kongkret yang dapat dilakukan
adalah lebih memperhatikannya, upaya yang lebih penting lagi adalah
menanamkan agama sejak dini kepada si anak.
72
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Fanidya. 2013. Kenakalan Remaja. (Online) https://fanidya111. wordpress.
com/2013/03/08/contoh-artikel-tentang-kenakalan-remaja-dan-narkoba,
diakses 26 November 2016.
Martono, Harlina, dkk. 2006. Belajar Hidup Bertanggung jawab, Menangkal
Narkoba dan Kekerasan. Jakarta: Balai Pustaka.
Hawari, Dadang. 2003. Kenakalan Remaja. Sinar Harapan. 1 Desember
2003:A5, Print.
Hurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan. Jakarta:Erlangga.
Samin,Cah. 2015. Kenakalan Remaja. (Online) http://artikelmateri.
blogspot.co.id/2015/12/kenakalan-remaja-pengertian-adalah-contohpenyebab.html, diakses 26 November 2016.
Yusuf, Syamsu, dan Nurihsan Juntika. 2010.Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Menangkal Narkoba pada Remaja
73
MENANGKAL NARKOBA PADA REMAJA
Erna Pratiwi
SMP Al–Ikhlash Lumajang
Mengutip cerita Bill Beausay, seorang penulis yang sangat terkenal
dengan karyanya tentang remaja. Di mana menceritakan sebuah kisah
menarik mengenai seorang tokoh agama nasrani (pastor) yang letih
melihat bagaimana narkoba merebak luas di lingkungan dan
menghancurkan kehidupan remaja di daerahnya. Sang pastor tidak tahu
lagi harus berbuat apa untuk menghentikan bagaimana merebaknya
narkoba yang ada di sekitarnya. Ia lalu memutuskan mengambil sebuah
langkah yang menurut orang lain adalah gila/radikal untuk menangani
masalah narkoba, yaitu dengan mendatangi pengedar narkoba atau
berguru lansung pada sang pengedar.
Dengan langkah pasti dan tanpa keraguan, ia langsung menemui
pengedar dan menanyakan ‘kiatnya‘ sampai demikian sukses dalam
melakukan pendekatan pada remaja untuk ngedrugs. Pertanyaan tersebut
dijawab si pengedar dengan begitu entengnya dan menusuk ulu hati
sang pastor. Saya ada disana mendampingi mereka, engkau tidak. Saat
mereka berangkat sekolah di pagi hari, saya di sana engkau tidak. Saat
mereka pulang sekolah di sore hari, saya di sana engkau tidak. Saat
mereka membeli buku di toko aku di sana engkau tidak. Saat mereka
bersama teman-temannya nongkrong di café, saya di sana engkau tidak.
Saat mereka membutuhkan seseorang untuk merasa kuat, berani, dan
terlindungi saya di sana dan engkau tidak, maka aku menang dan kau
kalah (I’am there to accompany them, your’re not. When these children
go to school in the morning, I’m there, you’re not. When they come
home in the afternoon, I’m there, you’re not. When they buy books
from a bookstore, I am there, you are not. When they go to a caffee
with their frend, I’m there, you’re not. When they need someone to
make them strong and though and protected, I’m there, you’re not.
Then, I win and you lose). Demikian sederhana cara yang digunakan
oleh pengedar untuk menjerumuskan semua pemuda ke dalam kesenangan
semua.
73
74
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Lalu kita dimana
Artikel ini saya baca pada sebuah majalah yang sangat lama, tapi
saya terus mengingatnya karena memang isinya menarik dan cocok
digunakan sebagai refleksi kehidupan dewasa ini. Artkel ini memang
digunakan untuk mengajak para orang tua dan masyarakat untuk saling
mengencangkan pengawasan terhadap remaja. Hal ini didasari oleh
betapa banyaknya orang yang paling bertanggung jawab dalam
kehidupan anak (dalam contoh ini menggunakan pastor untuk
menekankan masalah siapa yang bertanggung jawab terhadap nilai–
nilai religius). Ternyata bukan yang paling dekat dengan para remaja.
Artinya sebagai orang tua/guru marilah kita renungkan bersama bahwa
dalam menghadapi remaja kita saat ini, sudahkah kita menjadi orang
terdekat bagi mereka (para remaja kita), menjadi sahabat mereka,
pendamping mereka, orang yang selalu ada di saat mereka membutuhkan.
Bukan tidak mungkin disadari atau tidak, kesulitan yang kita hadapi
adalah adanya perbedaan pendapat yang sering kali muncul dalam
hubungan antara remaja dengan orang tua dan antara para remaja dan
guru mereka. Hal ini tercipta karena masing-masing dari mereka merasa
paling benar tanpa ada yang merasa untuk mengalah sehingga semakin
lebarlah jurang yang memisahkan hubungan tersebut.
Para orang tua dan guru cenderung menuntut para remaja menjadi
seperti keinginan mereka tanpa tahu apa keinginan para remaja itu
sendiri. Jadilah pihak ke tiga yang memanfaatkan kesenjangan itu
dengan menawarkan kenikmatan semu melalu ngedrugs, karena hanya
para pengedar la yang selalu berada di dekat mereka saat mereka dalam
situasi apapun. Artinya kita hendaknya mampu bergaul dengan para
remaja kita.
Bagaimana Memahami Remaja
Kita lihat remaja kita sekarang dalam pertumbuhan fisiknya mereka
mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, meski dari segi fisik dan
dimensi berpikir seorang remaja telah dapat disetarakan dengan orang
dewasa, namun secara emosi dan sosial mereka belum bisa sepadan atau
setara dengan orang dewasa. Perubahan hormonal pada remaja amat
mempengaruhi kehidupan emosional para remaja. Tak heran bila
seoarang motivator sekaliber Miftahul Jinan mengungkapkan dalam
sebuah bukunya yang berjudul ‘Alhamdulilah anakku Nakal’, yakni
Menangkal Narkoba pada Remaja
75
seorang remaja bisa marah-marah tak karuan dengan ekspresi yang
menakutkan lalu sesaat kemudian dia sudah tertawa terbahak – bahak
bersama teman – temannya. Secara psikologis dan emosi mereka memang
masih berada dalam tahap peralihan dari anak – anak menuju menjadi
orang dewasa dan itu tidak mudah .Karena semua itu membutuhkan
proses yang panjang
Dengan perubahan fisik dan suasana psikologis para remaja
itu,terpaan pengaruh dari media masa saat ini begitu gencar mulai dari
HP. Gadget hingga Internet yang bisa di akses dimana – mana tanpa
saringan yang jelas sehingga mereka bisa nenerobos pilar – pilar yang
seharusnya belum boleh mereka lihat, baca atau pahami belum lagi
masukan dari teman atau lingungan dimana biasa mereka berada, dan
remaja banyak sekali memiliki kejutan dan pertanyaan yang
membingunkan kita. Oleh karena itu disinilah peran orang tua pada
masa – masa ini menjadi sangat dominan. Mereka diharapkan dapat
menjadi teman/sahabat remaja atau kalau kita lihat istilah anak jaman
sekarang adalah kita para orang tua harus gaul dengan mereka.
Masalahnya adalah kalau kita termasuk para orang tua yang tertutup
dan bersikap kaku terhadap para remaja, maka para remaja itu akan
merasa serba salah. Mau ngomong, takut diomelin. Ijin bermain dengan
jujur malah dilarang. Tidak ngomong atau diam saja, tapi ingin bertanya
karena rasa ingin tahu mereka yang sangat melimpah ruah. Akhirnya
mereka memilih diam dan selalu nampak baik – baik saja di hadapan
orang tua. Padahal mereka memilih bertanya pada teman atau pihak
lain. Ini yang berbahaya karena kalau bertanya pada teman, pengetahuan,
emosi dan usia mereka rata – rata adalah sebaya jadi tentu saja jawaban
dari rasa ingin tahu mereka tidak memperoleh jawaban tapi malah
menambah beban rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Sedangkan
pihak lain yang di tuju para remaja kita justru tidak memiliki kejelasan
sebagai sumber informasi yang akurat. Lalu siakah kita sebagai orang
tua atau Guru untuk selalu berada di samping para remaja.
Bagaimana bisa bergaul dan bersahabat dengan Remaja
Seringkali orang tua/guru ditolak oleh anak atau remaja kita,
mengapa karena kita tidak memahami mereka. Ingin menjadi sahabat
bagi anak, siswa atau remaja di sekitar kita? Mudah kok, asal kita mau
membuka diri dan memahami mereka maka yakinlah anak. Siswa atau
76
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
remaja di sekitar kita pasti membuka lengannya lebar-lebar dan bilang
selamat datang teman. Pengalaman penulis sebagai seorang guru disebuah
SMP mendekati siswa atau remaja mudah-mudah saja, tapi menjadi
tidak mudah manakala siswa atau remaja yang kita dekati bermasalah,
karena mereka akan menatap kita dengan pandangan curiga, dan kuatir
atas pendekatan yang kita lakukan.
Kiat Sukses bersahabat dengan Remaja
1.
Pahami Bahasa Remaja; Pengertian bahasa ini tidak hanya meliputi
penggunaan istilah tetapi juga penyampaian kapasitas berpikir dengan
gaya bicara remaja saat ini. Remaja cenderung bicara spontan, apa
adanya dan ceplas-ceplos, tidak malu-malu dan kadang-kadang
cenderung emosional. Oleh karena itu pembicaraan remaja sering bikin
merah telinga orang tua. Oleh karena itu kita sebagai orang tua atau
Guru hendaknya bisa menahan diri untuk tidak marah mendengar para
remaja bicara. Tidak apa-apa siswa atau remaja bicara seperti itu, gaya
bicara seperti itu bukan buruk tapi lebih menunjukkan bahwa remaja
itu suka bebas. Mereka hanya tengah bersemangat dan penuh rasa
ingin tahu.
2.
Mendengarkan; Siswa atau remaja di sekitar kita sangat tidak suka
bila dinasehati yang dibutuhkan mereka adalah didengarkan. Tak
jarang remaja yang mau mengadu, berkeluh kesah sebenarnya hanya
ingin menumpahkan uneg- uneg atau sekedar mencari perhatian kita.
Hindari menasehati anak, siswa atau remaja setiap kali bicara dengan
mereka. Tetapi lebih baik menunjukkan sikap antusias kepada mereka
saat berbicara, sekali-sekali berlakulah hanya sebagai pendengar yang
antusias tanpa embel-embel mengatakan harus begini dan harus
begitu karena hal imi menyebabkan mereka akan menjauh dari kita.
3.
Bicara apa adanya, kapan saja dan di mana saja; Kita lihat
menagapa anak kita, siswa dan remaja pada umumnya sangat akrab
dengan temanya, mereka rela tidak ikut acara kita asal bisa bersua
dengan teman-temannya, apapun rela mereka korbankan untuk temantemannya. Mengapa? Karena mereka bisa memperbincangkan segala
hal setiap saat, ketika jalan-jalan, naik sepeda, nongkrong di restoran
atau cafe, sambil berenang, sambil tiduran di kamar, sambil jajan di
kantin jadi kapanpun mereka inginkan. Jangan tunggu waktu khusus
untuk duduk berhadapan saat berbincang dengan anak, siswa atau
para remaja kita. Mereka sedang menghadapi masa aktif (kita
Menangkal Narkoba pada Remaja
77
mengistilahkan mereka sedang kelebihan banyak energi). Gaya ini bicara
yang diatur dan disetting akan membuat mereka bosan, dan cenderung
merasa di interogasi. Jadi setiap ada kesempatan bicaralah dengan
mereka. Sambil nonton TV, sambil masak, sambil belanja bahkan saat
mengantar mereka ke sekolah atau Les. Bicaralah dengan santai dan
tidak terkesan ingin tahu terhadap apa yang mereka lakukan. Sekalikali minta pendapat mereka tentang beberapa hal.
4.
Terbuka untuk semua topik Pembicaraan; Jangan batasi
pembicaraan dengan anak, siswa atau remaja kita meski (menurut kita)
topik itu remeh, tabu, buruk, tidak pantas atau amat mengejutkan.
Biarkan mereka mengungkapkan pikiran mereka dan kita para orang
tua atau guru di sekolah dapat menjadi pendengar yang baik sekaligus
menjadi pengarah, jangan sekali-kali memotong/menyela pembicaraan
mereka kemudian menyalahkan pembicaraan itu sembari mengatakan
bahwa pembicaraan itu tabu, menjijikan atau yang lain. Hal ini akan
mengakibatkan mereka bungkam dan tutup mulut tentang banyak
hal yang nereka ketahui. Buat mereka merasa nyaman dan enjoy setiap
berbicara dengan kita termasuk dalam membicarakan hal-hal yang
sensitif sekalipun maka pasti anak, siswa atau remaja kita akan merasa
aman, percaya dan mau terbuka pada kita sebagai Orang Tua atau
Guru mereka.
5.
Percaya; Yang ini paling penting untuk di ingat oleh orang tua atau
guru yaitu jangan Overprotect pada anak, siswa atau remaja kita. Bila
kita telah memberikan masukan pada remaja kita tentang hal-hal yang
baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram langkah berikutnya
adalah kepercayaan. Tak perlu khawatir bila sekali waktu anak akan
berbuat salah ,atau mengambil tindakan kurang tepat. Ada sebuah
pepatah yang mengatakan tindakan yang tepat biasanya berasal dari
pengalaman berharga dan pengalaman berharga berasal dari kesalahan.
6.
Hargai Privasinya; Sebagaimana kita orang tua atau guru, anak kita,
siswa atau remaja juga ingin punya privasi yang ingin dihargai. Oleh
karena itu meski dorongan ingin tahu sangat kuat jangan sekali-kali
membaca buku hariannya, menguping pembicaraan rahasianya,
membongkar kamarnya di luar sepengetahuannya, mengikutinya/
menguntinya bahkan membongkar rahasianya yang ia percayakan pada
anda. Itu sangat menyakiti hatinya dan ingatlah bila anak kehilangan
kepecayaan pada anda maka bersiaplah kita sebagai orang tua atau
guru akan “kehilangan” mereka .
78
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
7.
Jadilah Model Terbaik bagi Mereka; jangan tetapkan standar ganda
kepada mereka ,bila kita ingn mereka jujur kepada kita maka kita
sebagai orang tua/guru harus berlaku sama selalu jujur kepada mereka
dan jangan sekali – sekali berbohong kepada mereka karena kejujuran
yany kita bangun bersama mereka akan hancur berkeping – keping
manakala sekali saja kita membohongi mereka apalagi kalau berkali
kita bohong.
8.
Sediakan Ruang dan Waktu Untuk Mereka Sendirian; Kita sebagai
orang tua atau guru jelas – jelas sangat sayang dan sudah sangat akrab
dengan anak, siswa atau remaja kita tetapi ia sebagaimana kita juga
butuh suatu tempat atau ruang tempat di mana kadang-kadang dia
menyendiri dan punya waktu khusus menyendiri, biarkan mereka
melakukan itu jangan curiga atau memata-matai mereka dengan
prasangka bahwa mereka akan melakukan hal- hal yang kurang baik
tanpa sepengetahuan kita, saat-saat khusus ini sangat berguna bagi
anak, siswa atau remaja kita menyendiri sekali waktu untuk instropeksi
diri dan sebagai sarana untuk menumpahkan emosi atau sekedar keluar
dari rutinitas yang dilakukan.
9.
Ucapkan Maaf; Walau sebagai orang tua atau guru kita adalah manusia
biasa yang tidak luput dari melakukan kesalahan begitu juga anak,
siswa atau remaja kita,jangan gengsi mengakui kesalahan atau
meminta maaf pada anak, siswa atau remaja kita bila kita sebagai
orang tua atau guru melakukan kesalahan melakukan perbuatan yang
menyakiti hati anak, siswa atau remaja kita. Orang tua atau guru tidak
akan kehilangan wibawanya karena meminta maaf pada mereka tetapi
kita justru akan mengukir keindahan dalam diri remaja karena telah
berlaku bijak.
Bila beberapa pendekatan kepada anak, siswa atau orang tua yang
sudah sudah kita bangun dan bisa kita lakukan kemian ud kita sudah
bisa bergaul dengan mereka layaknya teman/sahabat maka menjadi
mudah kita masuk dalam hidup mereka dalam kegiatan mereka dan
mampu mendampingi mereka dalam situasi apapun maka kami yakin
anak,siswa atau remaja kita tidak akan terjerumus dalam peredaran
narkoba karena kitalah yang paling dekat dengan mereka bukan minuman
keras, bukan rokok dan bukan pula narkoba, bukan yang lain-lainya tapi
kitalah Orang tua guru sebagai pendamping mereka hingga kelak mereka
dewasa dan telah meraih cita-citanya dan pula telah mampu memilah
mana yang baik dan mana yang tidak baik. Semoga ini bermanfaat.
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan dan Matinya Akal Kritis)
79
INDONESIA DARURAT (TEKNOLOGI, SEKS, PENDIDIKAN,
DAN MATINYA AKAL KRITIS)
Muhlis
SMK Al-Asy’ari Kwanyar Bangkalan
Tujuh puluh satu (71) tahun Indonesia menapaki usianya, mungkinkah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sanggup melampaui
usianya yang ke 100 tahun? Demikian, pertanyaan Sukanto dalam
bukunya Prahara Bumi Jawa (2007). Ia merepresentasikan, angka 100
tahun untuk memprediksi usia NKRI, bukan mengandai-andai atau
sebuah angka yang kebetulan semata. Secara rasional, 100 tahun adalah
satu abad, sebuah umur yang sangat krusial untuk sebuah bangsa dan
peradaban. Uni Soviet yang dibangun lewat Revolusi Bolsevik 1917 yang
seakan demikian kokoh dan kuat pun, harus berakhir terpecah-pecah
menjadi beberapa negara kecil,demikian juga dengan Yugoslavia.
Persoalannya siapa yang dapat memberi jaminan bahwa NKRI yang
megah dan prestisius ini akan tetap berjaya di usianya yang keseratus
sekian?
Fakta sejarah menyatakan Sriwijaya yang disebut-sebut Kerajaan
Nusantara I, dan Majapahit, sebagai Kerajaan Nusantara II tak sanggup
melampaui usianya yang keseratus lebih. Padahal Kerajaan Majapahit
semasa Tri Buwana Tunggadewi, lewat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah
Mada, sedemikian hegemonik menguasai kepulauan Nusantara, bahkan
juga Asia Tenggara. Sebelum abad 20, Tan Malaka (2002), menyebut
Filipina sebagai bagian Indonesia Selatan. Selain itu, ada banyak fakta
dan jejak-jejak historis pengaruh Majapahit yang ditinggalkan di Asia
Tenggara, seperti Filipina, Birma, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
Demikian pula, kerajaan-kerajaan setelahnya, seperti Demak, Pajang,
dan Mataram, semua tidak sanggup melampaui usianya yang ke seratus
(Sukanto, 38-39: 2007).
Rekam jejak, menunjukkan bahwa bangsa ini memang bangsa yang
besar, dengan keanekaragaman ras, suku, agama, budaya, serta bahasa.
Keragaman ini tentu tidak cukup dengan melihat burung garuda
79
80
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
mencengkram tulisan Bhineka Tunggal Ika. Melainkan melalui perjalanan
panjang dalam mengenyahkan keogoisan dan primordialisme. Indonesia
29 tahun lagi mencapai angka keseratus?Tak ada pilihan untuk menjawab
pertanyaan tersebut, kecuali cara berbangsa dan bernegara kita adalah
dengan terus membangun kesadaran kolektif: kesadaran melanjutkan
segala bentuk perjuangan, kesadaran menjaga nilai-nilai moralitas anak
bangsa, merancang ide-ide kemajuan melawan persaingan global, serta
tetap mempertahankan empat pilar kebangsan: Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia) sebagai harga mati.
Simbol-simbol kenegaraan serta Pancasila sebagai ideologi bangsa
yang sejatinya memang sudah tertanam sejak bangsa ini berdiri, akhirakhir ini terus diuji keberadaan dan kekuatannya. Mewaspadai adanya
sekelompok orang sebagai pemecah belah kedaulatan bangsa haruslah
diantisipasi sedini mungkin. Tidak pandang bulu darimana asal-muasal
serta latar belakangnya tetap harus ditindak tegas di atas Bumi Pertiwi
yang menganut faham ‘hukum’ di atas panglima.
Teknologi dan Seks: Ancaman Berat Anak Cucu Bangsa
Sabang hingga Merauke adalah bukti betapa luas dan majemuk
bangsa ini. Jika mengumpulkan semua peristiwa dalam satu hari, satu
berita, butuh ribuan halaman untuk memuatnya. Di satu sisi, kehadiran
teknologi sangat berperan aktif untuk membentuk wacana positif. Di sisi
lain teknologi menjadi evaluasi tersendiri buat kita semua.Di tahun 2015
Telkom Indonesia merilis pengguna internet di tanah air yaitu sebanyak
85.956.163. Dari 505,5 juta pengguna internet, 40% dari total penduduk
ASEAN adalah pengguna internet. Indonesia memiliki jumlah pengguna
internet terbanyak,angka ini sangat fantastis. Tidak heran, bila kemudian
negeri ini menjadi sasaran empuk pemilik industri teknologi.
Data ini, bagian dari panduan kehidupan global yang patut
dikhawatirkan. Ketika semua peristiwa terpublikasi dengan mudah,
murah, dan lumrah. Peristiwa besar dimungkinkan menjadi biasa-biasa
saja karena jangkauan mata kita terlalu sering menjumpainya di berbagai
media. Begitu pun sebaliknya.Sebagaimana diberitakan (Jawa Pos, 17/11/
2016). Kasus di SDN Karang Kadawung 01, Kecamatan Mulbulsari Jember.
Gara-gara gaduh dan keluyuran di kelas, tiga siswi kelas IV mengaku
dihukum dengan disuruh menelan lem glukol oleh gurunya ketika
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan dan Matinya Akal Kritis)
81
pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Atas perbuatannya, guru tersebut
dilaporkan orangtua kepada pihak berwajib.
Tidak hanya di Jember, kejadian serupa juga terjadi di Situbondo
dan lebih memilukan. Di media cetak yang sama, di hari yang sama,
diberitakan dugaan kasus pencabulan oknum guru di sebuah sekolah
dasar negeri di Kecamatan Arjasa Situbondo.Empat siswi menjadi korban
predator seksual,pelaku adalah guru Matematika. Dua ribu hingga dua
belas ribu rupiah dibagikan pada korban sebagai pemulus kekejian
nafsunya. Selain itu, korban juga diancam akan disembelih bila tidak
mau mengikuti ajakannya. Korban-korban itu miris bila disebutkan yang
terdiri dari kelas IV (1 siswi), kelas III (2 siswi), terakhir paling kecil,
paling tragis kelas I.
Di Sumenep, kisah bejat terbongkar pada 30 Oktober 2016 dan
terpublikasi pada tanggal 17/11/2016 di Radar Madura (Jawa Pos
Group),“SembilanTahunCabuliAnakTiri”. Kasus itu terbongkar setelah
ibu kandung korban curiga anaknya disiram dengan bumbu rujak oleh
pelaku dan pulang larut malam saat menonton hiburan pada acara Hari
Jadi Kabupaten. Dalam tekanan dan kekerasan seksual yang cukup lama,
pelaku kali pertama menggagahi anak tirinya ketika masih sekolah dasar
dan belum menstruasi. Saat itu,rumah sedang sepi,istri bekerja sebagai
buruh cuci di tetangga. Nafsu hewaninya berlanjut hingga terakhir
dilakukan 24 Oktober 2016.
Dari ribuan kasus yang hampir sama dengan peristiwa di atas, baik
yang terpublikasi maupun tidak terpublikasi dan dari kata ‘perlu’ harus
ditingkatkan menjadi kata ‘wajib’, sudah selayaknya perlu mendapatkan
refleksi secara bersama. Pelaku kekerasan fisik dan seksual justru berada
di lingkungan keluarga, sekolah, dan berasal orang-orang terdekat
merupakan sebuahkenyataan yang tidak dapat dipungkiri.
Ketidakberdayaan para korban yang notabene anak-anak, telah menambah
deretan daftar bahwa moral bangsa berada dalam stadium akhir.
Menyejajarkan manusia dengan hewan, tentu banyak kalangan yang
tidak akan sependapat. Kondisi ini semata-mata bukan mengkategorikan
semua manusia demikian adanya. Akan tetapi mengacu pada pelaku
yang seharusnya menjadi pelindung, justru sebagai penghancur masa
depan anak. Dalam kejadian tersebut membutuhkan waktu yang cukup
panjang untuk memulihkan trauma para korban. Dunia anak-anak adalah
82
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
keceriaan, bermain, dan berinteraksi pada skala dimana mereka
memperoleh kebahagiaan pada dunianya. Status mereka seharusnya
berada dalam kasih sayang orang-orang terdekat. Diharapkan dengan
memahami prinsip tersebut, kelak merka akan menjadi harapan dan
tumpuan bangsa.
Tabel 1. Kasus Pengaduan Anak Berdasarkan Klaster Perlindungan
Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
(Sumber: Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2014)
Rincian tabel di atas merupakan kasus pengaduan anak berdasarkan
klaster perlindungan anak di KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)
dalam kurun waktu 4 tahun (2011-2014). Kekerasan seksual (pemerkosaan,
sodomi, pencabulan, pedofilia) mencapai angka tertinggi dengan jumlah
2286 di bawah klaster keluarga dan pengasuhan alternatif dengan
jumlah 2432.Dalam banyak hal, kondisi ini diperparah dengan tayangantayangan kurang mendidik. Celaka sekali ketika gambaran media massa,
terutama TV, setiap hari mengumbar kata-kata indah, tawa, dan tangis
yang menghibur dan menghipnotis, tetapi pada realitasnya masyarakat
disuguhi oleh gambaran kejahatan dan kekerasan yang semarak. Bukan
hanya pesimisme yang muncul, tapi seolah-olah masyarakat ditambahkan
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan dan Matinya Akal Kritis)
83
pemahaman dalam perasaannya bahwa ternyata hidup ini bagai
“sinetron” atau “drama”, penuh kepura-puraan, sedangkan tangis dan
tawa hanyalah alat untuk membungkus kepentingan nafsu jahat yang
ada (Soyomukti, 67-68: 2008).
Pendidikan: Dunia Kasih Sayang Kenapa Harus Melahirkan
Kekerasan?
Periode awal abad ke-20 merupakan periode cukup penting dalam
sejarah Indonesia. Fondasi Indonesia sebagai negara bangsa mulai
dibangun pada periode ini. Kesadaran kebangsaan itu tidak serta-merta
muncul, namun melalui proses. Pendidikan merupakan media penting
dalam proses pembentukan kesadaran itu.Secara perlahan kebijakan
kolonialisme Belanda lebih “manusiawi”, ketika mereka memperkenalkan
kebijakan etis. Di bidang pendidikan, mulai ada peluang rakyat pribumi
untuk terlibat dalam proses pendidikan model barat.Di samping
itu,mereka mulai bisa mengakses layanan kesehatan lebih berkualitas.
Dua bidang itu, kesehatan dan pendidikan, awalnya dilaksanakan oleh
pemerintah dan organisasi keagamaan (Budi, 177: 2010).
Dari kolonial ke reformasi, kurun waktu panjang ini sudah melompati
fase hidup dan mati. Kini, branding pendidikan kita seperti mengalami
depresi sebagai dampak politik citra pemangku kebijakan. Setiap
pergantian kabinet kementrian pendidikan, kurikulum pun main bongkar
pasang. Alhasil setiap lembaga sekolah kocar-kacir menentukan pilihan
kurikulum mana yang akan diterapkan di sekolah masing-masing sesuai
keadaan demi suatu capaian? Kondisi demikian seperti hidup di jalan
yang buntu. Ketika semua lini saling menghimpit dan terhimpit.
Mengembalikan citra pendidikan yang telah tercoreng ditengah karutmarut sistem pendidikan nasional, tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Demontrasi guru menuntut kenaikan gaji, hingga tuntutan
mengenai status guru honorer dan swasta terhadap pengangkatan calon
Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih perlu kepastian. Jika di internal
pendidik tumpul, maka bagaimana nasib anak didik?
Pendidikan yang baik setelah rumah (keluarga) adalah sekolah,
kemudian lingkungan masyarakat sebagai lahan dimana benih-benih
pengalaman, pengetahuan, dan keilmuan diterapkan. Bagaimana ketika
menyaksikan tawuran antar pelajar bergejolak dimana-mana? narkoba
sudah menjadi hal biasa? free sex bukan hal tabu lagi? dan semua itu
sebagai sebuah suguhan yang menghipnotis. Pelajar kini sangat dekat
84
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dengan dunia kekerasan, yang jelas-jelas bertolak belakang dengan
dunia mereka sendiri, yakni dunia pendidikan dan keilmuan. Pendidikan
adalah sebuah dunia yang terlahir dari rahim kasih sayang. Seorang ibu
akan mengasuh dan mendidik anaknya disebabkan naluri kasih sayang
yang dimilikinya. Jadi, kekerasan pelajar ini menyisakan sebuah pertanyaan
besar: mengapa dunia kasih sayang kini malah melahirkan kekerasan
(Munir, 01: 2009).
Perilaku Seks Bebas dan Matinya Akal Kritis
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI menerbitkan hasil survei
reproduksi remaja kurun waktu 1998-1999. Hasil penelitian yang dilakukan
di 20 Kabupaten pada 4 buah provinsi yang mencakup: Jawa Timur
(Ngawi, Jombang, Sampang, Pamekasan, dan Trenggalek). Jawa Tengah
(Brebes, Cilacap, Jepara, Pemalang, dan Rembang). Jawa Barat (Indramayu
dan Bandung). Lampung (Lampung Barat, Selatan, Utara, dan Tengah,
serta Bandar Lampung). Penelitian tersebut melibatkan 8000 orang
responden dan hasilnya sekitar 2,9% pernah melakukan seks pranikah
atau hubungan seksual, sekitar 34,9% responden laki-laki dan 31,2%
reponden perempuan mempunyai teman yang pernah melakukan
hubungan seks pranikah. Tahun 1990, Soetjipto dari Fakultas Psikologi
UGM melaporkan bahwa 90% remaja Bali pernah melakukan hubungan
seks pranikah (Wijayanto, 35-36: 2003).
Hasil survei lama ini sengaja diorbitkan kembali bukan untuk
pengingat semata, tetapi juga sebagai tolak ukur saat ini, apakah angka
data ini menjadi berkurang atau kian meningkat? Di tahun 2007
jawabannya sangat mencengangkan. Data itu datang dari Komisi Nasional
Perlindungan Anak (KNPA) yang merilis hasil survei di 12 kota besar di
Indonesia, dimana 62,7% remaja yang duduk di bangku SMP (Sekolah
Menengah Pertama) pernah berhubungan intim, dan 21,2% siswi SMA
(Sekolah Menengah Atas) pernah menggugurkan kandungannya
(Kompasiana, 2010). Survei di tahun 2016 semoga hasilnya tidak lebih
mencengangkan?
Di sisi lain, dari hasil survei ini bisa digunakan untuk melihat dan
memahami merosotnya kemanusiaan kita. Bagaimana ‘manusia modern’
terjebak pada akumulatif peradaban ‘instan’. Manusia sebagai konsumen
pengkonsumsi ‘pemuas diri’. Kemudian lahir dan berkembang manusiamanusia pencari hasrat ‘keinginan’ bukan lagi ‘kebutuhan’. Pakaian
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan dan Matinya Akal Kritis)
85
bukan urusan sandang lagi, tapi sudah berubah menjadi gaya hidup
(lifestyle). Hp bermetamorfosis dari komunikasi menjadi tempat
berekspresi. Makan bukan lagi penopang perut lapar, tapi sudah urusan
menuruti selera lidah.
Hukum kausalitas pun berlaku dalam hal ini,kaum kapitalis tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini. Menurut Fromm (1988) pada dasarnya
gagasan untuk mengonsumsi barang-barang yang lebih baik dimaksudkan
untuk memberi kebahagian yang lebih dan hidup yang lebih memuaskan.
Tetapi, konsumsi telah menjadi tujuan itu sendiri. Pertambahan
kebutuhan yang terus-menerus memaksa manusia untuk memenuhinya.
Dengan munculnya benda-benda komoditas, tampillah dunia-dunia benda
asing yang memperbudak manusia. Melalui teror iklan yang menciptakan
kebutuhan-kebutuhan semu (palsu), mengonsumsi pada hakikatnya
merupakan kepuasan fantasi yang dirangsang secara artifisial, suatu
bentuk fantasi yang teralienasi dari diri manusia yang konkret.
Jika fenomena sosial yang sedang terjadi saat ini sebagai akibat dari
genjatan masif kaum kapitalis untuk meraup keuntungan sebanyak
mungkin, maka Indonesia berada dalam zona merah. Hal ini dikarenakan
sebagian masyarakat cenderung konsumtif daripada kreatif. Situasi ini
membuat hamparan generasi didominasi kesepian akal kritis.
Krisis Identitas dan Resolusi Situasi Kekinian
Tak ada asap, bila tak ada api,tak ada kenakalan, bila tak ada
penyebab. Robohnya sendi-sendi generasi, disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktorinternal meliputi krisis identitas,keinginan untuk
diakui ditengah-tengah golongan sebagai perwujudan eksistensi identitas
peran pada dirinya sangat besar. Jika tak terarah, maka akan terjadi
kontrol diri yang lemah. Berbagai cara dapat ditempuh, tanpa
pertimbangan apapun. Faktoreeksternal datang dari keluarga,kurangnya
kasih sayang orang tua/keluarga yang disebabkan perceraian menjadi
penyebabnya. Tidak adanya pengawasan orang tua membuat anak lebih
leluasa melakukan hal-hal semaunya. Selain keluarga, faktor eksternal
dikarenakan pergaulan sesama teman dan lingkungan setempat.Jika
kedua-duanya merupakan lingkaran positif, maka buahnya tentu
mani,tetapi jika negatif, buahnya tentu akan terasa pahit.
86
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Selain faktor internal dan eksternal, pemicu lain diantaranya adanya
reaksi frustasi diri. Perasaan yang terpendam, serupa hobi/bakat, cinta,
dan adanya sebuah peristiwa yang menimpa diri sendiri atau orangorang terdekat. Tekanan luar biasa itu akan mengganggu pola pikir dan
intelegensia.Terakhir, dasar-dasar agama yang kurang tertanam. Seiring
tuntutan zaman, tuntutan memecahkan persoalan, sebenarnya sudah
ada dalam setiap agama manapun. Resolusi jihad tidaklah relevan bila
digunakan untuk berperang seperti yang pernah terjadi di masa kolonial.
Bentuk perang sekarang, Sri Mangkunegara IV menjelaskan tentang
Narapati: julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun,
yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya,yang dikuasainya
adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia,Pati berarti raja,penguasa,
atau pengendali, maka yang dimaksudkan adalah pengendalian diri
(Jatmiko, 2005: 107).
Pengendalian diri diharapkan dapat meredam segala wujud
peradaban. Peradaban modernisasi yang secara perlahan-lahan menggiring
semua pola pikir anak manusia untuk mengikutinya. Baik-buruk
merupakan hasil akhir reaksi mahluk hidup (manusia) terhadap semua
kebudayaan yang pada dasarnya lahir untuk kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Budi, Langgeng Sulistyo, Kota-kota di jawa: Identitas, Gaya Hidup dan
Permasalan Sosial. Yogyakarta: Ombak, 2010.
Fromm, Erich. 1998. Manusia Bagi Dirinya. Jakarta: Akademika.
Jatmiko, Adityo. 2005. Tafsir Ajaran Serat Wedhatama. Yogyakarta: Pura
Pustaka.
Jawa Pos. 17 Oktober 2016.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia: Bidang Data Informasi dan
Pengaduan, 2015.
Kompasiana atau http://www.kompasiana.com/bocahndeso/80-gadis-taklagi perawan_550057e2a33311376f510bc4,1 Desember 2010.
Malaka, Tan. 2002. Dari Penjara Ke Penjara. Jakarta: Teplok Press.
Munir, Abdullah. 2009. Spritual Teaching: Agar Guru Senantiasa Mencintai
Pekerjaan dan Anak Didiknya. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Otto, Sukanto. 2007. Prahara Bumi Jawa: Sejarah Bencana Jatuh-Bangunnya
Penguasa Jawa. Yogyakarta: Jejak.
Indonesia Darurat (Teknologi, Seks, Pendidikan dan Matinya Akal Kritis)
87
Radar Madura (Jawa Pos Group), 17 Oktober 2016.
Soyomukti, Nurani. 2008. Dari Demontrasi Hingga Seks Bebas: Mahasiswa
Di Era Kapitalisme dan Hedonisme. Jogjakarta: Garasi.
Wijayanto, Iip. 2003. Sex In Kost: Realitas dan Moralitas Seks Kaum
“Terpelajar. Yogyakarta: Tinta.
88
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Remaja Itu Harus Keren
89
REMAJA ITU HARUS KEREN
Sulastrini
MTsN I Kota Malang
“Braaaaakkk” Hantaman keras suara itu terdengar dari rumah sebelah.
Tidak sekali dua kali pintu tak berdosa itu jadi sasaran kemarahan putri
tunggal tetangga sebelah rumahku. “Mama sich nggak pernah tau isi
hatiku, sukanya ngatur-ngatur…” “Aku sudah dewasa maaa” pokoknya
aku mau pergi sama teman-teman”. “Katriiiin….mama sangat sayang
sama kamu naak?” “Mama tega ya kalo aku nggak punya teman?”.
“Mama nggak ingin kamu terpengaruh sama teman-temanmu”. “Apa
yang mama khawatirkan, teman-temanku itu anak baik-baik semuanya”.
“Mama papa sama saja sukanya curiga sama orang”
“Masa bodoh… Katrin tetep pergi ini kan ulang tahunku ke-17 yang
nggak bakalan terulang lagi” “Mama tahu nggak sich “
Bukan tanpa alasan tante Vinza dan dan suaminya melarang Katrin
untuk pergi saat itu. Hati kecilnya tidak rela dan selalu menjerit melihat
tingkah polah putri semata wayangnya. Sebulan yang lalu tanpa sengaja
Katrin terpegok lagi kumpul-kumpul di salah satu foodcourt dan kala itu
teman-temannya pada merokok, cowok juga cewek. Memang Katrin tidak
merokok, tapi orang tua mana yang sudi melihat anaknya bergaul
dengan teman-teman seperti itu. Namun, setiap diingatkan selalu dia
membela teman-temannya. Dia bilang biasa maa anak muda, kan cuma
merokok aja, atau dia bilang kalau papa mama yang nggak ngikuti
zaman, kolot lah dan ini itu yang pasti dia merasa yang paling benar.
Aku sebagai gadis yang sebaya dengannya memahami bagaimana
gejolak jiwa remaja. Aku dengan Katrin hanya beda 2 tahun lebih tua,
kami beda sekolah. Katrin anak orang kaya, sehingga bisa melanjutkan
di sekolah favorit di kotaku. Berbeda denganku yang berasal dari anak
buruh pabrik sebagai pekerjaan utama ayahku. Ibuku pekerjaannya
sebagai tukang cuci dengan gaji yang pas-pasan untuk memenuhi
kebutuhan makan kami sekeluarga.
89
90
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Katrin sebenarnya bukan anak yang urakan, di lingkungan kami
Katrin dikenal sebagai gadis yang sopan, ditambah parasnya yang cantik
membuat setiap orang yang memandangkan tidak akan pernah bosan,
apalagi papa mama Katrin terkenal dermawan. Setiap tahun pasti
menyantuni orang-orang miskin di sekitar rumahnya, termasuk keluargaku
pasti akan dapat bagian, kami segan dengan keluarga Katrin. Waktu
kami masih sama-sama sekolah SD aku akrab dengan Katrin. Aku suka
karena sering dibelikan es krim, yang bagiku jajanan yang sangat mahal
karena orang tuaku pasti akan berpikir beribu-ribu kali jika uangnya
untuk membeli es krim. Namun, sejak sekolah SMP dan sekarang sudah
SMA kami agak renggang. Katrin sudah punya teman-teman yang
memiliki status sosial yang sama. Aku sering melihat Katrin keluar
mengendarai mobil bersama teman-teman sekolahnya, entah kemana
dia pergi bersama mereka. Aku hanya sesekali melihat teman-temannya
yang berparas cantik dan ganteng. Terkadang aku iri kenapa nasibku
tidak sebaik Katrin. Bisa jalan-jalan pakai mobil bagus, bisa hangout
dengan teman-temannya, asyik kelihatannya. Tapi semua perasaan itu
segera aku tepis, aku ingat pesan ayah bahwa jika kita pandai mensyukuri
karunia Allah, maka Allah akan tambahkan rezeki yang melimpah untuk
kita. Hal ini pun termaktub dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7 yang
artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”.
Seperti pada hari-hari biasanya Katrin pergi bersama temantemannya. Namun, orang tuanya merasa gelisah dengan kepergian
Katrin, biasanya pukul 22.00 pasti sudah pulang, namun tidak dengan
malam itu. Jarum jam berpindah dari jam 23.00, 24.00 sampai akhirnya
pada pukul 02.00 dini hari ada suara dering HP. Tampak jelas suara di
seberang sana mengabarkan bahwa Katrin sekarang berada di salah satu
rumah sakit dan orang tuanya diminta segera datang. Tanpa berpikir
panjang antara, percaya dan tidak apakah penipuan atau sungguhsungguh, papa dan mama Katrin meluncur ke rumah sakit yang ditunjuk.
Semakin berdebar hati mama Katrin bahkan kaki rasanya tidak bisa
untuk menopang tubuhnya yang semakin bertambah tua. Begitu sampai
didepan kamar tak sabar untuk membukanya, kemudian keluarlah
seorang perawat yang menanyakan kepastian apakah benar orang tua
Remaja Itu Harus Keren
91
Katrin. Perawat yang ramah mempersilakan untuk masuk dan spontan
teriakan keras dan tangisan mamanya Katrin tak bisa dibendung tatkala
melihat tubuh yang lemas dengan berbagai kabel menancap di badannya.
“Dok, apa yang terjadi dengan anak saya?” Papa Katrin berusaha
menentramkan mama Katrin, namun isakan tangis seorang ibu yang
tidak mampu dibendung. Dokter menjelaskan bahwa Katrin mengalami
pendarahan yang sangat hebat karena berusaha untuk menggugurkan
Janin yang di kandungnya. Seperti petir disiang bolong orang tua Katrin
mendengar penjelasan dokter “Nggak mungkin dok.”“Anak saya anak
yang baik. Teman-temannya juga anak yang baik”. Orang tua mana
yang rela anak semata wayang menjadi korban aborsi, namun semua
sudah terjadi. Kini yang ada hanya tinggal penyesalan mendalam.
Ada hal yang penting diperhatikan untuk kalian yang menginjak
remaja. Gaul tidak harus berpakaian minim untuk para cewek. Gaul
tidak selalu yang hobi nongkrong di café sambil menghisap rokok.
Namun, jadilah remaja yang keren yaitu yang sobat muda dimana saja
kamu berada, kita tentu sudah tidak asing lagidengan istilah ‘gaul’. Yah,
tren yang sudah membumi di lingkungan masyarakat, terlebih lagi bagi
para ABG. Mulai dari model baju, celana ketat, rok mini, tanktop,
sampai buku-buku, dan majalah tidak ketinggalan membahas tren gaul.
Akan tetapi, apa teman-teman tahu? apa sebenernya arti gaul tersebut?
Ada yang bilang, gaul itu punya banyak temen dan punya banyak
wawasan, di mana-mana ia dikenal,banyak yang menelpon, banyak
yang mengajak hang-out, banyak yang naksir, dan banyak juga yang
iseng gangguin. Intinya, hidup serasa seperti seorang superstar, ia
dikenal di manapun berada. Kemudian Ada juga yang mengatakan, gaul
itu mengikuti perkembangan zaman. Pokoknya, orang dapat dikatakan
gaul, jika ia dapat mengikuti perkembangan zaman saat ini. Apapun
yang dianggap modern pasti diikuti untuk menunjukkan identitas
gaulnya. Dari bacaan modern yang membahas perselingkuhan artis,
sampai film modern yang mengumbar nafsu dan kekerasan. Dari mulai
celana gombrong di bawah mata kaki sampai celana ketat yang kesannya
seperti telanjang. Dari baju kebesaran yang berumbai di mana-mana
sampai kaos kekecilan model adik bayi, semuanya diikuti untuk
mendapatkan status gaul. Namanya juga mengikuti tren modern!
Walaupun terasa susah tetap saja dilakukan agar terlihat gaul.
92
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Ada lagi yang memaknai gaul sebagai kebiasaan belanja di mall,
nongkrong di kafe, jago sms-an, jago pencet HP, dan mengumbar foto
tidak seronok. Tapi apa memang hanya sebatas itu saja definisi gaul?
Mari kita tengok makna gaul yang sebenarnya, agar kita tidak tersesat
lebih jauh. Dalam Islam sendiri, gaul berarti memiliki prinsip. Tidak lucu
apabila kita mengaku gaul, tetapi ke mana-mana hanya ikut-ikutan
tanpa dasar. Oleh karena itu, kita harus mencari tahu prinsip tersebut.
Sebagai seorang muslim, kita mempunyai cara gaul, yakni dekati dan
akrabi ilmu agama, khususnya Al-Quran dan As-Sunnah. Pramuka saja
punya prinsip “Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan”, masa kita
sebagai seorang muslim yang merupakan umat terbaik malah tidak
mempunyai prinsip. Tentunya Malu dong! Lantas apa prinsip kita sebagai
Muslim? Ada yang bilang “Hidup mulia atau mati syahid!”. Selain itu,
pribadi muslim yang gaul tercermin dalam tujuh sifat sebagai berikut.
1.
Salimul Aqidah (aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap
muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki
ikatan yang kuat kepada Allah. Dengan ikatan yang kuat itu, kita tidak
akan nyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan
kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan
segala perbuatannya kepada Allah ta’ala sebagaimana dalam firmanNya”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua
bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al An’am:162).Karena aqidah yang
salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada awal dakwahnya
kepada para sahabat di Mekkah, Rosulullah mengutamakan pembinaan
aqidah, iman, dan taukhid. Kita dapat tahu hal tersebut tentunya
dengan membaca buku-buku Islami dan kajian-kajian yang bermanfaat.
Jadi kalau ingin disebut manusia gaul, maka bersihkan terlebih dahulu
aqidah kita. Jangan hanya membersihkan wajah agar tidak berjerawat!
2.
Sahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rosulullah yang
penting. Dalam satu hadits, beliau bersabda “Shalatlah kamu sebagaimana
melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini kita bisa menarik sebuah
kesimpulan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah
merujuk kepada sunnah Rasul, yang berarti tidak boleh ada unsur
penambahan atau pengurangan. Muslim yang gaul memang muslim
yang mempunyai prinsip. Akan tetapi, prinsip kita harus berdasarkan
Remaja Itu Harus Keren
93
kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan asal prinsip. Apalagi berprinsip
berdasarkan hawa nafsu dan orang yang tidak mengerti agama.
3.
Matinul Khuluq (akhlaq yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki
oleh setiap muslim, khususnya kita sebagai generasi muda. Sifat tersebut
harus ada baik dalam hubungannya kepada Allahta’ala maupun dengan
makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam
hidupnya, baik dunia maupun akhirat. Pastinya setiap kita ingin
merasakan bahagia dunia-akhirat? Oleh karena itu, penting untuk
memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rosulullah diutus
untuk memperbaiki akhlak. Beliau sendiri telah memberi contoh kepada
kita akhlaknya yang agung, sehingga diabadikan oleh Allah di dalam AlQuran yang artinya “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki
akhlak yang agung”(QS. Al Qalam: 4).
4.
Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan satu sisi yang harus ada pada setiap
Muslim, kita katakan lagi khususnya kita sebagai pemuda. Kekuatan
jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh, sehingga
dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang
kuat. Salat, puasa, zakat, dan haji merupakan amalan di dalam Islam
yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi
berjihad di jalan Allah ta’ala dan bentuk-bentuk perjuangan
lainnya.Intinya untuk mencari ridho Allah ‘azzawajalla. Oleh karena
itu,kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan
pencegahan dari penyakit jauh lebih utama dari pada pengobatan.
Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar
bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun, jangan sampai seorang
muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang
penting, maka Rosulullah bersabda yang artinya “Mukmin yang kuat
lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim).
Berarti poin ini memiliki makna bahwa Gaul itu tidak mudah sakitsakitan. Oleh karena itu, olah raga sebagai sesuatu yang mudah, serta
dapat dilalukan sebagai sarana menyehatkan tubuh agar tetap kuat
dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azzawajalla. Akan tetapi,
jangan sampai juga waktu kita habis hanya untuk olah raga, apalagi
sampai lupa waktu. Masalah jasmani tentunya berkaitan juga dengan
94
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
gaya hidup. Orang yang merokok tentunya jauh dari sehat jasmaninya,
walaupun perokok kelihatan sehat tapi mereka sebenarnya kehilangan
sebagian dari kehidupannya. Apalagi minuman keras, naudzubillah,
semoga kita dijaukan oleh Allah ‘azzawajalla dari hal tersebut.
5.
Mujahadatu lLinafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang juga
harus ada pada diri seorang muslim. Karena setiap manusia memiliki
kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan
kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat
menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala
seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada
pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam.
Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Tidak beriman seseorang
dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang
aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim). Orang yang gaul, tidak akan
bernafsu untuk memiliki ini dan itu, atau mengikuti hal ini dan itu. Jika
ada seorang yang berpacaran tentunya kita sebagai seorang muslim
yang gaul, maka harus berprinsip bahwa pacaran adalah hal yang
diharamkan dalam Islam, serta tidak mudah mengikuti orang yang
melakukan hal tersebut. Apalagi dizaman sekarang muncul istilah pacaran
Islami, padahal pacaran sebelum menikah adalah perbuatan maksiat,
apakah perbuatan maksiat jadi Islami.
6.
Harishun AlaWaqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal
tersebut karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah
ta’aladan Rasul-Nya. Allah banyak bersumpah di dalam Al-Quran dengan
menyebut nama waktu seperti walfajri, waddhuha, wal’asri, wallaili dan
seterusnya. Allah memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah
yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu,
ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Oleh
karena itu, tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik
kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu
yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena
itu,setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya
dengan baik, sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif
dan tidak ada yang sia-sia. Jangan sampai waktu kita habis dengan hal
yang tidak bermanfaat atau bahkan dengan kemaisiatan, seperti
Remaja Itu Harus Keren
95
menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik. Tentunya kalau
sudah mendengarkan musik, yang namanya waktu itu tidak terasa,
sampai-sampai salat terlalaikan.Padahal waktu terutama dimasa muda
telah Allah terangkan sebagai masa kuat diantara dua masa lemah yaitu
anak-anak dan masa tua. Selain itu, Allah ta’ala berfirman yang artinya
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian
Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat,
kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan
beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang
Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54).
Maka diantara yang disinggung nabi adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup
sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang
sebelum sibuk, dan kaya sebelum miskin.
7.
Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim.
Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik, sehingga
dimanapun dia berada selalu memberikan mnafaat kepada siapapun.
Orang merasakan keberadaannya dan merasa kehilangan ketika ia tidak
ada.Ini berarti setiap Muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan
dirinya dan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat bermanfaat dan
mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini,
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sebaikbaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR.
Qudhy dari Jabir).Demikian beberapa poin yang mewakili seorang muslim
menjadi gaul, Khususnya bagi kita sebagai seorang pemuda.
8.
Muntadzim (Teratur dalam segala urusan)
Dalam menciptakan keteraturan dalam hidup harus dengan cara
yang baik. Cara yang baik antara lain dengan harus punya jadwal
harian, kamar jangan berantakan, catatan dan tugas tidak amburadul.
Aktifis organisasi tetapi masih sempat untuk mencuci baju dan mencuci
piring sendiri. Itu baru remaja yang dapat dikatakan gaul.
9.
Muqtasid (Pintar nyari duit)
Tentunya dengan cara yang benar dan ihsan, bukan dari hasil
mengamen di perempatan. Dapat berawal dari hobimu yang
dikembangkan menjadi bisnis. Misalnya suka menulis buku, hal ini dapat
96
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sekaligus diginakan sebagai sarana dakwah. Ada juga yang suka kuliner
dapat mencoba resep yang super kreatif. Dimulai dari tante yang beli
dilanjut ke temen-temen dapat jadi konsumen. Jangan sampai kita
berkata gaul, tapi tetap ikut-ikutan zaman tanpa menyaring mana yang
baik dan mana yang buruk.
Remaja Kekinian dan Kenakalannya
97
REMAJA KEKINIAN DAN KENAKALANNYA
Erwin Qadariyah
SMAN 1 Lawang, Malang
Kebanyakan orang mengartikan remaja adalah masa yang paling
indah dan menyenangkan. Setiap peristiwa yang dilakukan pada masa
remaja sulit untuk dilupakan, kadangkala berlanjut sampai reuni tetap
diingat-ingat peristiwa yang menyenangkan. Banyak para ahli berbeda
pendapat tentang masa remaja, ada yang berpendapat masa remaja
hanya berlaku pada masa usia antara 13–18 tahun, ada yang berpendapat
masa remaja hanya berlaku pada usia 13–20 tahun.Apa itu remaja? apa
itu remaja kekinian? Bagaimana remaja saat ini?Nampaknya beberapa
pertanyaan tersebut perlu untuk didukkan dan dicarikan sebuah definisi
yang tepat.
Pengertian Remaja Menurut Para Ahli
Menurut Derajat (1990:23) remaja adalah masa peralihan diantara
masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa
pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan
psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak, baik bentuk badan ataupun cara
berpikir atau bertindak tetapi bukan pula orang dewasa yang telah
matang. Menurut Santrock (2003:26) remaja berasal dari kata latin
adolescence yang dapat diartikan sebagai masa perkembangan transisi
antara masa anak dan masa dewasa, di mana mencakup perubahan
biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Dengan kata lain, yang berarti
tumbuh dan menjadi dewasa. Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai
tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak
juga golongan dewasa atau tua.
Menurut Rumini dan Sundari (2004:53) masa remaja adalah peralihan
dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan
semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja
berlangsung antara umur 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita dan 13
97
98
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
tahun sampai 22 tahun bagi pria.Adapun batasan usia remaja menurut
Deswita (2006:192) yang umum digunakan oleh para ahli adalah 12-21
tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga,
yaitu 12-15 tahun (masa remaja awal), 16-20 tahun (masa remaja
pertengahan), dan 21-23 tahun (masa remaja akhir).Pernahkah Anda
mengamati remaja saat ini? Menurut news.okezone, remaja saat ini
tidak punya pegangan untuk bersikap. Para remaja cenderung bersikap
narsis lantaran ingin eksis. Inilah fenomena yang terjadi saat ini yang
dalam bahasa gaul dikatakan remaja kekinian.
Masalah Utama yang Sering Dihadapi Remaja Saat Ini
Secara general, beberapa isu berikut jadi perhatian utama yang
sering dihadapi remaja sekarang ini.
a.
Cyber Bullying and Stalking
Internet ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan aktivitas
kita dan membuat kita menjadi orang yang selalu update. Tapi di sisi
lain, ada banyak kejahatan yang terjadi karena internet. Diantaranya
cyber bullying dan cyber stalking. Terkadang, dilakukan oleh orang yang
tidak dikenal, tapi tidak jarang dilakukan oleh orang terdekat kita.
Tanpa sadar kita juga sering melakukan cyber bullying, seperti
meninggalkan komentar bernada negatif yang mengkritik seseorang.
Efek cyber bullying ini lebih parah ketimbang bullying biasa, karena
siapa saja dapat menjadi pelaku dan korban. Oleh Karena itu, kita harus
berhati-hati dalam memanfaatkan internet, terutama sosial media, dan
jangan mudah terpancing.
b. Free Sex
Seks bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Bahkan, sekarang
remaja sudah akrab dengan seks. Sayangnya, kebanyakan di antara kita
mencari tahu seputar seks dengan cara yang salah, seperti mencari tahu
sendiri melalui internet atau teman-teman sehingga terjebak dalam
hubungan seks di usia dini. Padahal, kita belum saatnya melakukan
hubungan seksual ini. Belum lagi informasi yang sangat mudah didapat,
seperti melalui film, televisi, majalah, internet, yang membuat kita
tambah penasaran. Sayangnya tidak diimbangi dengan pengetahuan
yang cukup. Oleh karena itu, jika ingin tahu tentang seks, langsung
tanyakan kepada ahlinya, seperti orangtua, guru, atau dokter,sehingga
tidak akan tergoda untuk melakukan hubungan seksual di usia remaja.
Remaja Kekinian dan Kenakalannya
c.
99
Drugs and Alcohol
Narkoba semakin lama semakin mudah untuk ditemui. Bahkan, di
usia remaja sekarang, sudah ada yang mulai menggunakan narkoba.
Atau setidaknya mencoba-coba alkohol. Masalahnya, seringkali kita
mengalami peer pressure dan berani mencoba-coba hal ini karena
tekanan teman. Jika melihat teman minum minuman beralkohol atau
mencoba narkoba, maka jangan tertarik untuk mencobanya. Meski
mereka memaksa kita melakukannya, yakinkan diri untuk tidak pernah
mencoba hal ini.
d. Grades
Masalah sekolah, terutama nilai, juga jadi hal utama yang dihadapi
sekarang. Setiap hari, kita seperti dituntut untuk mendapatkan nilai
sempurna, entah itu dari sekolah, guru, dan orangtua. Akibatnya, kita
sering stres karena belum berhasil memenuhi tantangan ini. Kita pun
jadi semakin sibuk belajar demi nilai tinggi, sehingga melupakan hal
lain, seperti social life. Nilai memang penting, tapi ingat, kita juga
punya kehidupan sosial yang harus dipenuhi. Daripada belajar keras,
lebih baik belajar secara efektif. Agar hasilnya lebih maksimal, kita bisa
mengenal cara belajar yang cocok untuk kita.
e.
Family Issue
Masalah keluarga juga menjadi perhatian. Seperti orangtua yang
terlalu sibuk, sehingga merasa dicuekin, kakak yang nyebelin, adik yang
suka bikin kesal, orangtua yang sering berantem, orang tua yang banyak
aturan atau perceraian orang tua. Hal yang dialami di rumah seringkali
mempengaruhi tindakan di luar rumah. Jika masalah yang dihadapi di
rumah sangat besar, maka kita dapat merasa stres dan berimbas
menurunnya nilai di sekolah, dan tentunya menimbulkan masalah
baru.Jika menghadapi masalah keluarga, maka ajak orangtua untuk
membicarakan ini dan sampaikan kalau keadaan rumah membuat kita
stres. Jika tidak berhasil, maka tidak ada salahnya meminta bantuan dari
luar seperti saudara dan guru bimbingan konseling di sekolah.
f.
Eating Disorder
Masalah kesehatan juga jadi perhatian penting yang sering dialami
remaja. Salah satunya adalah eating disorder. Eating disorder ini jadi
masalah kesehatan utama yang sering dihadapi remaja. Tuntutan untuk
kurus membuat kita melakukan diet yang salah dan berujung ke eating
100
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
disorder. Setelah mendapatkan tanda-tanda eating disorder, kita harus
segera menyikapinya. Kunjungi dokter untuk tahu pola diet sehat yang
dapat diterapkan.
g. Depression
Remaja juga rentan terhadap depresi. Biasanya, depresi ini sudah
mulai dihadapi sejak umur 13 tahun. Banyaknya tekanan yang dialami
di masa-masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa membuat kita
merasa depresi. Jika dibiarkan, maka depresi dapat berbahaya karena
memunculkan keinginan untuk bunuh diri atau melakukan tindakan
negatif lainnya, seperti, kekerasan, free sex, dan narkoba. Jika merasakan
tanda-tanda depresi, jangan dibiarkan dan segera cari pertolongan.
Setidaknya, kita punya seseorang yang bisa dijadikan tempat curhat dan
siap menolong.
h. Smoking
Rokok sudah jadi hal yang gampang sekali ditemui di kalangan
remaja. Padahal kita semua tahu bahaya merokok, tapi tetap saja
mencoba merokok. Seringnya, kita mencoba rokok karena ajakan teman.
Karena sudah tahu bahaya merokok, jangan sampai terpengaruh,
sekalipun yang mengajak adalah sahabat sendiri. Banyak faktor terjadinya
kenakalan remaja secara umum, yaitu pergaulan yang salah, terlibat
geng anak nakal, faktor keluarga, faktor media massa. Selain itu, ada
faktor biologis yaitu melalui gen pembawa sifat dalam keturunan dapat
memunculkan penyimpangan tingkah laku remaja, faktor psigenis,
sosiogenis, dan subkultur delikunsi.
Upaya Pencegahan Masalah Kenakalan Remaja
a.
Upaya preventif dengan cara moralitas
Upaya ini menitikberatkan pada pembinaan moral dan membina
mental remaja. Sekolah merupakan wadah yang mampu memberikan
kegiatan dan pendidikan yang sesuai kebutuhan anak, serta mampu
meningkatkan bakat dan potensi remaja.
b. Upaya preventif dengan cara abolisionistis
Upaya ini mengurangi, menghilangkan sebab-sebab yang mendorong
anak remaja melakukan perbuatan-perbuatan nakal. Dalam penerapannya
pencegahan ini memerlukan keterlibatan semua pihak dan serangkaian
kegiatan dalam sebuah kesinambungan dari masa ke masa. Misalnya,
Remaja Kekinian dan Kenakalannya
101
dari pihak kepolisian terlibat untuk mensosialisasikan ke sekolah-sekolah
mengenai aturan-aturan hukum yang mengatur tentang kenakalan
remaja.Keterlibatan tokoh masyarakat/agama, melalui organisasi remaja
untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kepemudaan yang diminati
remaja terkini.
c.
Pembinaan dan peningkatan kualitas keluarga
Keluargalah yang paling berperan dalam pencegahan kenakalan
remaja. Oleh karena itu, kedua orangtua membina serta mengembangkan
kepribadian dan akhlak anak-anak dengan baik. Keluarga harus mampu
menjadi teladan yang baik bagi kehidupan remaja itu sendiri. Dimulai
dari keluarga yang sehat akan tercipta masyarakat yang sehat berdampak
pada lingkungan sosial yang sehat pula.
d. Menyehatkan kembali media massa
Pada upaya ini, menyehatkan kembali materi dan penyajian dalam
media massa baik media sosial ataupun media elektronik. Hilangkan
segala bentuk berita atau hiburan yang mendorong munculnya kenakalan
remaja. Media massa mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam
perkembangan mental anak.
e.
Membentuk Badan Kesejahteraan Masyarakat dan Badan
Remorfatif
Misalnya membangun panti asuhan, melalui tempat ini, anak-anak
yang tidak memiliki keluarga akan mendapatkan rasa kasih sayang dan
didikan dari pengasuhnya.Badan reformatif untuk memberikan latihan
korektif dan asistensi untuk hidup mandiri dan susila kepada anak-anak
dan para remaja yang membutuhkan.
f.
Membuat Undang-Undang Khusus untuk Pelanggaran dan
Kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja
g. Menyelenggarakan Diskusi Kelompok daan Bimbingan
Kelompok untuk membangun komunikasi manusiawi diatara
para remaja nakal dan masyarakat luar.
Remaja kekinian dan kenakalannya merupakan tanggungjawab
bersama seluruh elemen masyarakat. Jika keluarga sehat, masyarakat
sehat, sekolah sehat, maka akan tercipta generasi yang baik yaitu
generasi yang berprestasi dan menginspirasi sekitarnya.
102
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Laning, Vina Dwi. 2008. Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya.
Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementrian Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Remaja Rosda Karya.
Pergaulan Bebas Penghancur Peradaban
103
PERGAULAN BEBAS PENGHANCUR PERADABAN
Santi Suhermina
SMP Negeri 2 Dau Satu Atap Malang
Ini sebuah kisah nyata. Mereka ada di sekitar kita.
Sepulang mengajar dari sekolah, saya biasanya nyambi sebagai guru
les. Kali ini murid saya seorang anak SMA di sebuah perumahan elit.
Ketika sedang asyik belajar, tiba-tiba ada seorang anak kecil usia empat
tahunan, sedang asyik bersepeda di jalan raya sendirian. Kulitnya agak
hitam dengan baju ketat yang kekecilan. Kancing bajunya terkatup tak
sempurna, hingga menampakkan sebagian kulit perutnya. Rambutnya
agak kemerahan dikepala yang ukurannya terlalu kecil untuk anak
seumurannya. Sekilas saya melihatnya nampak seperti anak yang kurang
gizi. Anak kecil itu berlarian kesana kemari, membunyikan klakson
sepeda roda tiganya disiang yang terik. Entah kenapa, memperhatikan
anak ini membuat saya tertarik bertanya pada murid les saya. “Siapa
anak itu? Kok panas-panas begini main sendirian di jalanan. Apa tidak
kepanasan?”
“Oh, dia memang biasanya begitu, Bu. Maklum keluarganya kurang
perhatian.”
“Memang rumahnya dimana?” tanya saya penasaran.
“Itu Bu. Disebelah kanan persis depan gang.” Ujarnya sambil menunjuk
suatu arah. Saya agak terkejut saat menyadari bahwa rumah yang
ditunjuk murid saya ini termasuk bangunan mewah meski terlihat
kurang terawat. Rumah seperti itu harganya masih milyaran. Halaman
depan rumah banyak tumbuh rumput yang sudah panjang. Kondisinya
pun kotor seperti jarang disapu. Sampah plastik bercampur sampah
rumah tangga bertebaran dimana-mana.
“Yang rumah bagus itu?” tanya saya berusaha meyakinkan diri. Murid
saya mengangguk. Saya terdiam meski masih ingin bertanya. Saya
berusaha menahan diri karena ini waktunya belajar bukan berbincang.
Saya dibayar untuk mengajar bukan untuk bergosip. Namun, entah
kenapa rasa penasaran saya pada anak itu tak bisa saya tahan lebih
lama lagi. Belum sempat saya bertanya, murid saya menyela. “Ibu
penasaran ya sama anak itu?” Saya mengangguk. Beberapa menit
setelah itu sebuah cerita mengalir dari bibir murid saya.
103
104
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Ternyata ayah dari anak kecil itu masih berstatus pelajar SMA. Ia
bersekolah disalah satu sekolah favorit di kota ini. Kakek dan nenek dari
anak kecil itu berprofesi sebagai dosen. Mereka saat ini dalam proses
cerai dan masing-masing tinggal diluar kota yang berbeda. Mereka
sudah berencana membina keluarga baru lagi jika proses cerai itu nanti
selesai. Karena pasangan dosen itu sudah tidak tinggal bersama lagi,
praktis rumah sebesar ini hanya dihuni tiga orang, yaitu pelajar SMA
yang juga ayah biologis dari anak itu, anak itu sendiri dan seorang
asisten rumah tangga berusia paruh baya. Ketidakhadiran orang tua dan
fasilitas materi tanpa diiringi tanggung jawab adalah jurang ampuh
untuk menghancurkan masa depan seorang anak. Setiap hari pelajar
SMA itu membonceng teman perempuannya untuk diajak ke rumah.
Teman perempuan ini selalu berganti-ganti setiap hari. Asisten rumah
tangga di rumah itu hanya mampu diam dan tak bisa berbuat apapun.
Ketidakhadiran orang tua membuat pelajar SMA tersebut bebas melakukan
apapun tanpa kontrol. Ditunjang dengan kondisi masyarakat perkotaan
di perumahan yang individualis membuat kontrol masyarakat menjadi
lemah. Hingga pada akhirnya salah seorang teman wanitanya hamil.
Kejadian inilah yang membuka fakta-fakta yang sebelumnya tertutup
rapat. Bahwa ternyata ini bukanlah kehamilan yang pertama. Ada tujuh
teman perempuan yang pernah hamil dan enam diantaranya berhasil
digugurkan. Dan perempuan kali ini adalah yang ketujuh. Yang k-e-t-uj-u-h!
Naudzubillahimindzalik! Saya terpaku diam, kisah ini nyata dan
terjadi di sekitar kita, saya kaget mendengar cerita ini. Murid saya
melanjutkan ceritanya, sebenarnya bayi dalam kandungan itu sudah
berusaha digugurkan berkali-kali namun tak berhasil. Waktu itu ujian
nasional masih kurang beberapa minggu saat pacar anak laki-laki tersebut
harus melahirkan di rumah sakit. Sempat ada pikiran untuk meninggalkan
bayi itu begitu saja di rumah sakit. Namun, nenek anak laki-laki tersebut
merasa iba saat melihat wajah bayi. Akhirnya bayi itu dibawa pulang
dan diasuh oleh asisten rumah tangganya. Sementara neneknya kembali
ke rumahnya di luar kota. Alhasil bayi itu tumbuh tanpa kasih sayang
orang tua. Setelah melahirkan, pacar anak SMA itu kembali melanjutkan
sekolah dan mengikuti ujian nasional. Ia berhasil lulus dan kemudian
menghilang entah kemana. Anak SMA itu pun melanjutkan sekolah
hingga selesai. Bayi kecil itu ditinggal dan diasuh oleh asisten rumah
Pergaulan Bebas Penghancur Peradaban
105
tangganya sendirian. Saya terenyuh melihatnya, tanpa sadar saya
menitikkan air mata. Ini fakta dan saya sulit percaya ini benar-benar
terjadi.
Pergaulan bebas saat ini seolah menjadi tren remaja, anggota
mereka yang tak mengikutinya maka dianggap tidak kekinian. Seringkali
saya mengintip pembicaraan murid-murid saya di sekolah. Sekedar
untuk mengetahui apa yang sedang tren dikalangan mereka. Dengan
mengetahui apa yang terjadi diantara mereka, saya bisa melakukan
banyak tindakan preventif dikelas. Seperti misalnya bahaya pacaran,
penularan penyakit seksual maupun dampak buruk yang terjadi akibat
ketidaksiapan menghadapi pernikahan dini.
Yang membuat saya miris, banyak dari mereka merasa malu jika
tidak mempunyai pacar. Anggapan tidak laku akan menjadi stigma yang
mampu menjadi hantu yang menakutkan bagi mereka. Disisi lain,
punya pacar artinya mereka harus siap melakukan aktivitas-aktivitas seks
yang berbahaya. Karena bagi mereka pacaran identik dengan aktivitas
seks mulai dari yang ringan sampai berat. Masyarakat yang permisif
membentuk pola pikir yang menyimpang dikalangan remaja. Mereka
percaya dalam pacaran apapun boleh dilakukan asal tidak sampai hamil.
Sebenarnya pergaulan bebas tidak hanya terjadi di masa kini,
zaman dulu pun sebenarnya juga sudah ada. Namun, remaja zaman
sekarang amat mudah mengakses hal-hal yang mampu membangkitkan
libido hanya dengan menjentikkan jari di gadget. Hampir mayoritas
murid saya memiliki gadget dengan fasilitas facebook, WA, twitter,
BBM dan lain sebagainya. Padahal saya mengajar disekolah desa yang
jauh dari pusat kota. Saya tak bisa membayangkan, jika didesa saja
akses anak-anak sudah sejauh ini, bagaimana dengan mereka yang
tinggal dikota. Belum lagi sinetron-sinetron dan tayangan yang tidak
memdidik turut andil merusak moral dengan mengusung gaya hidup
hedonis yang penuh hura-hura.
Dalam otak manusia, terdapat bagian khusus yang dinamakan pre
frontal cortex. Dibagian inilah tempat moral dan nilai-nilai tanggung
jawab terbentuk dalam diri seseorang. Ia memiliki fungsi untuk mengatur
emosi agar seseorang tersebut mampu menunda pemuasan kebutuhan
sampat waktu yang ditentukan. Disinilah awal pembentukan terhadap
kontrol diri seseorang dibentuk. Apabila fungsi ini gagal maka akibatnya
akan sangat fatal bagi penerus generasi di negeri ini. Menurut penelitian
106
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang dilakukan Elly Risman, pakar parenting dan psikolog dari Yayasan
Buah Hati Jakarta, gambar-gambar pornografi bertebaran di media sosial
dapat merusak fungsi otak ini. Kerusakan yang ditimbulkan lebih parah
dari luka karena kecelakaan. Kerusakan otak akibat pengaruh pornografi
di mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), hasilnya sama dengan
kerusakan pada mobil saat tabrakan keras.
Candu pornografi membuat seseorang menjadi dissensitifisasi. Gambar
yang sudah dilihat tidak ingin dilihat lagi. Ia akan mencari gambar yang
lain dengan level yang lebih dan lebih, sehingga pengonsumsi ini akan
merasa kecanduan dan selalu ingin mencari gambar yang baru lagi.
Hampir mayoritas lembaga survei menemukan fakta bahwa anak-anak
mengkonsumsi pornografi dan pornoaksi dari ketidaksengajaan. Dalam
salah satu postingan di facebook diceritakan bagaimana seorang anak
tertarik mengetik kata “ciuman” di google hanya karena gara-gara
melihat ending film spiderman. Dari satu adegan itulah semuanya
berawal. Padahal banyak dari orang tua yang masih beranggapan film
spiderman adalah film anak-anak!
Bahkan saya pernah mengalami dirumah saya sendiri, anak saya
yang masih berumur tiga tahunan mengambil gadget tanpa
sepengetahuan saya (saya amat protektif dan memberi batasan
penggunaan gadget dirumah). Waktu itu saya lupa menaruhnya diatas
meja. Sikecil mengambilnya lalu asal menyentuh tombol google. Tanpa
sengaja ia mengetik huruf x. Dari satu huruf itu keluarlah gambargambar yang amat tidak pantas dilihat. Untunglah ia masih berusia tiga
tahun dan belum paham tentang hal-hal semacam itu. Namun, kejadian
itu membuat saya berpikir,jika saja asal pencet itu tidak terjadi pada
balita seusia anak saya, namun pada anak usia remaja apa yang akan
terjadi?
Satu lagi pengalaman dari saya. Waktu itu saya berencana menyapih
ASI si kecil yang sudah berusia dua tahun. Saya browsing mencari susu
pendamping yang kira-kira cocok untuk anak saya. Di google saya
mengetik “susu” ternyata gambar yang keluar bukan hanya susu
formula namun anggota tubuh perempuan. Lagi-lagi saya membayangkan,
jika saja yang melihat bukan saya yang notabene seorang perempuan,
apa jadinya jika yang melihat adalah laki-laki usia remaja.
Data statistik di kota-kota besar menunjukkan tren pergaulan bebas
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan fakta mengejutkan
Pergaulan Bebas Penghancur Peradaban
107
dikota Batu, 60% calon mempelai wanita sudah dalam kondisi hamil.
Kepala KUA Junrejo Kota Batu, Arif Syaifuddin pada hari selasa (22/2/
2011) mengatakan dari 328 pasangan calon, 60%-nya ditolak mengajukan
nikah karena sudah dalam keadaan hamil. Jika itu terjadi sekitar enam
tahun yang lalu, maka dipastikan sekarang kondisinya semakin parah.
Pergaulan bebas dapat di kategorikan sebagai perbuatan zina.
Perbuatan ini amat dikutuk dalam kitab suci di agama manapun. Bahkan
dalam salah satu riwayat Imam Syafii, zina adalah dosa yang azabnya
dapat mengenai keluarga, tetangganya, keturunannya hingga tikus dan
semut diliang rumahnya. Sedemikian berat dosa zina hingga azabnya
pun dapat mengenai orang-orang bahkan binatang yang ada disekitarnya
yang tidak tahu apa-apa.
Akhir tulisan ini saya hanya mengingatkan sebuah peristiwa beberapa
saat sebelum kejatuhan Andalusia yang amat legendaris itu. Suatu hari
raja Leon menyuruh salah seorang mata-mata pergi ke daerah tersebut,
ditengah jalan ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang
menangis. Mata–mata itu bertanya kenapa ia menangis, anak itu
menjawab “Anak panahku meleset. Jika begini bagaimana aku bisa
mengalahkan musuhku nanti.” ujarnya tersedu-sedu. Mata-mata itu
berpikir, jika anak sekecil ini saja mampu berpikir tentang keamanan
sebuah negara, maka bagaimana mungkin kerajaan ini bisa dikalahkan.
Ia laporkan kejadian itu pada rajanya. Beberapa tahun kemudian seorang
mata-mata kembali dikirim ke Andalusia. Di tengah jalan mata-mata itu
bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menangis. Mata-mata itu
bertanya kenapa ia menangis. Pemuda itu menjawab ia menangis karena
baru saja ditinggal kekasihnya. Mata-mata itu segera melapor pada raja,
seketika raja berkata, inilah saatnya menjatuhkan Andalusia.
Belajar dari sejarah, Andalusia yang kokoh berabad-abad itu akhirnya
jatuh. Siapapun tak mampu percaya Andalusia yang negara superpower
bisa ditaklukkan dan jatuh begitu saja tanpa perlawanan dan rajanya
diusir dalam keadaan yang hina. Mereka lemah karena pemudanya
lemah. Pergaulan bebas, dunia pacaran dan pornografi telah
menghancurkan sebuah negara adidaya. Bandingkan dengan zaman
Sultan Salahudin Al Ayubi yang pada umur 18 tahun waktunya telah
dihabiskan untuk mewujudkan visi dan cita-cita besar menaklukan
Konstantinopel. Bandingkan dengan generasi sekarang, usia 18 tahun
waktu kita dihabiskan didepan TV sambil membicarakan ulah selebriti
108
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang tak habisnya membuat sensasi. Lalu merengek pada orang tua agar
dibelikan gadget atau sepeda motor terbaru yang bisa dipamerkan di
depan teman-teman sekelas.
Ah, jika kita tidak segera berbenah, negara kita akan hancur. Anakanak muda adalah generasi penting yang akan memegang tongkat
estafet menuju mercusuar dunia. Seperti kata bung Karno, berikan aku
10 pemuda dan akan kubangun negara ini. Betapa pentingnya generasi
muda. Indonesia tidak akan pernah berkilau seperti “emas” jika kita
tidak melakukan tindakan dari sekarang.
Selama ini masalah-masalah yang berhubungan dengan peserta
didik seperti tawuran, pergaulan bebas dan lainnya disekolah ditangani
oleh bagian kesiswaan. Melalui program-program kesiswaan ini
diharapkan mampu menjadi motor utama dalam menyelesaikan masalah–
masalah yang berhubungan dengan para peserta didik. Oleh karena itu,
didalam sekolah, tim kesiswaan biasanya dekat dengan anak-anak.
Namun kesiswaan tidak akan berhasil tanpa ditopang semua elemen
baik itu dewan guru, orang tua maupun lingkungan sekitar. Kerjasama
yang harmonis akan menyelamatkan generasi ini dari kehancuran.
Tidakkah kita belajar dari sejarah?
Menangkal Narkoba di Kalangan Pelajar
109
MENANGKAL NARKOBA DI KALANGAN PELAJAR
Uyun Ni’mah
SMAN 1 Purwoasri, Kediri
Generasi muda merupakan representasi penerus kelangsungan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tangan merekalah nasib bangsa
Indonesia ditentukan. Sebagai pilar pembangunan di masa mendatang
kiprah mereka dinanti untuk melanjutkan perjuangan bangsa. Jika
mereka unggul, tentu harapan untuk kemajuan bangsa akan muncul.
Namun jika sebaliknya, masa depan bangsa akan semakin hancur.
Narkoba adalah ancaman yang sangat serius khususnya bagi generasi
muda penerus bangsa. Mereka menjadi objek yang potensial untuk
merusak keutuhan negara Indonesia. Jika mereka sudah lemah, maka
secara otomatis nasib bangsa Indonesia akan rusak, serta dengan mudah
dapat dihancurkan oleh orang-orang yang ingin mengusik keutuhan
NKRI.
Saat ini berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat
untuk menanggulangi bahaya ancaman narkoba. Bentuk upaya yang
dilakukan Pemerintah antara lain dengan memberantas peredaran dan
penyalahgunaan narkoba melalui penegakan hukum. Selain itu, upayaupaya lain yang diwujudkan pemerintah yaitu melalui programprogram yang bersifat preventif, repsresif maupun rehabilitatif. Secara
umum dapat diamati bahwa upaya-upaya tersebut belum sepenuhnya
optimal. Nampaknya upaya penaggulangan penyalahgunaan narkoba
hanya sampai pada permukaannya saja. Hal ini dapat diibaratkan seperti
fenomena “gunung Es.” Begitu banyak kasus penyalahgunaan narkoba
yang dapat diatasi, namun di sisi lain jauh lebih banyak lagi yang belum
terkuak ke permukaan. Kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba
seringkali kita dengar, bahkan tidak sedikit para pengedar dan
penyalahgunaan narkoba terjaring oleh petugas keamanan. Mereka
terdiri dari golongan pelajar, mahasiswa, masyarakat, bahkan aparatur
pemerintah sendiri. Bukan berarti dengan tertangkapnya para pengedar
109
110
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dan pemakai urusan menjadi selesai. Diperlukan upaya-upaya kongkrit
dan tindakan yang tegas bagi para pengedar dan penyalahgunaan
narkoba.
Sepanjang tahun 2015 BNN telah mengungkap sebanyak 102 kasus
narkotika dan TPPU yang merupakan sindikat jaringan nasional dan
internasional. Di mana sebanyak 82 kasus telah P21. Kasus-h WNA.
Berdasarkan seluruh kasus narkotika yang telah diungkap, BNN telah
menyita barang bukti sejumlah 1.780.272,364 gram sabu kristal; 1.200
mililiter sabu cair; 1.100.141,57 gram 606.132 butir ekstasi; serta cairan
precursor sebanyak 32.253 mililiter, dan 14,8 gram. Dalam kasus TPPU
total aset yang berhasil disita oleh BNN senilai Rp 85.109.308.337. Selain
itu, pada tahun ini BNN juga menemukan 2 jenis zat baru (new
psychoactive substances) yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon,sehingga
total NPS yang telah ditemukan BNN hingga akhir tahun.
Waspada Ancaman Narkoba
Ancaman narkoba di Indonesia patut mendapatkan perhatian khusus.
Isu ancaman ini bukan hanya isapan jempol belaka. Jaringan narkoba di
tingkat Internasional membidik Indonesia sebagai sasaran yang empuk.
Mayoritas pemasok narkoba berasal dari negara-negara asing. Mereka
terus berupaya memasarkan narkoba di Indonesia. Meski berbagai upaya
telah dilakukan untuk menghentikan masuknya narkoba ke Indonesia,
seribu satu cara tetap mereka tempuh untuk mencapai pasar perdagangan
narkoba di Indonesia. Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya,
Kombes Pol Nugroho Aji pada tahun 2012 menyampaikan bahwa ada
dua modus pelaku untuk mengirimkan paket-paket narkoba tersebut,
sehingga dapat masuk bebas ke Indonesia. Modus pertama, dulu mereka
pakai pesawat yang di koper, dalam jumlah kecil dan banyak terungkap
di bea cukai. Modus yang kedua dalam jumlah besar. Pelaku dari
Malaysia memakai kapal laut, ada yang lewat Medan, Aceh, Dumai,
Jambi melalui pelabuhan kecil.
Generasi muda Indonesia menjadi sasaran yang sangat memiliki
prospek untuk peredaran narkoba di Indonesia. Di usia yang masih labil
dalam mencari jati diri, mereka mudah sekali terpengaruh. Jika mereka
sudah mengenal, memakai, hingga pada tahap kecanduan tentunya hal
ini sangatlah menguntungkan pihak-pihak yang memiliki kepentinngan
untuk merusak generasi muda Indonesia. Untuk melancarkan aksi
peredaran narkoba di Indonesia, kini narkoba juga dikemas semakin
Menangkal Narkoba di Kalangan Pelajar
111
menarik sehingga konsumsinya dapat meluas ke berbagai kalangan.
Berbagai bentuk variasi olahan yang patut diwaspadai dari peredaran
narkoba dapat berupa makanan (seperti kue & permen) dan minuman
(seperti blue safir, snow white, dan red top) yang dipasarkan di tempattempat hiburan malam. Selain itu, ada pula yang berbentuk tisyu.
Berikut contoh makanan yang terindikasi mengandung narkoba.
Gambar 1. Petugas BNN
menunjukkan kue ganja dan
bahan olahannya
(Sumber: Hafidz Mubarak, 2015)
Ancaman narkoba kian hari kian
terasa semakin dekat. Di lingkungan sekitar kita banyak ditemukan
kasus narkoba di kalangan pelajar. Berdasarkan pengalaman pribadi
penulis sebagai seorang guru BK di sebuah lembaga pendidikan, peta
kerawanan siswa yang berkaitan dengan narkoba patut menjadi catatan
yang harus diwaspadai. Narkoba sudah mulai merambah di dunia
pendidikan. Sasarannya jelas para pelajar. Sebagian dari pelajar tersebut
bahkan ada yang sudah terjun menjadi pengedar di lingkungan sekolah.
Sungguh sangat ironi jika narkoba berkeliaran di sekolah yang semestinya
digunakan sebagai tempat pencetak generasi emas bangsa. Sebuah data
yang diungkap oleh BNN Surabaya menunjukkan bahwa tes urine yang
dilakukan kepada 400 siswa di 10 SMA memberikan hasil 41 sampel
positif pengguna narkoba. Indikasi tersebut bahkan menunjukkan bahwa
mereka telah menggunakan narkoba sejak SMP.
Mewujudkan Sekolah Bebas Narkoba
Sebagian aktivitas pelajar banyak dihabiskan di sekolah. Sebagai
rumah kedua, sekolah memberikan andil yang sangat besar dalam
proses pendidikan dan perkembangan anak. Dalam rangka mewujudkan
program sekolah bebas narkoba perlu diupayakan pengembangan yang
komprehensif dan terpadu dari seluruh komponen sekolah yang meliputi
siswa, personel sekolah, orangtua siswa serta tokoh masyarakat. Disamping
itu diperlukan dukungan dari lembaga pelayanan kesehatan, sosial,
agama, dan penegak hukum, sehingga akan terwujud lingkungan
sekolah yang bebas narkoba. Program ini dapat diwujudkan dengan
membangun budaya anti narkoba, anti kekerasan, dan penegakan
112
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
disiplin untuk mencegah serta menanggulangi penyalahgunaan narkoba
serta kekerasan. Dalam upaya mewujudkan sekolah bebas narkoba,
penegakan hukum yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Mengadakan razia secara berkala mengenai penyimpanan dan
pemilikan narkoba atau benda-enda terlarang lainnya.
2.
Merujuk kasus pelanggaran hukum yang dilakukan siswa kepada pihak
kepolisian.
3.
Memberikan informasi kepada polisi tentang kasus peredaran gelap
narkoba dan tindakan pelanggaran hukum lain di sekolah serta
lingkungan sekitar.
Bijak dalam Bertindak
Sebagai generasi yang bertekad kuat terbebas dari narkoba, beberapa
upaya untukmencegah penyalahgunaan narkoba yang dapat dilakukan
para remaja antara lain:
1.
Mencintai dan mensyukuri hidup sebagai aanuerah Tuhan YME
2.
Menemukan dan mengenali daya, minat, serta hobi.
3.
Dengan mengenali kelemahan serta kelebihan diri, fokus pada hal-hal
yang bersifat positif.
4.
Menghadapi masalah hidup sebaik mungkin, bukan justru lari pada
narkoba.
5.
Membuat mindmap bahwa penyalahgunaan narkoba bukanlah solusi,
namun justru memperparah kondisi.
6.
Memiliki komunitas pertemanan yang mendorong pada aktivitas positif.
7.
Memperkuat kepercayaan diri yang tinggi serta keberanian untuk
mengatakan tidak pada narkoba.
Sikap dan perilaku diatas diharapkan dapat menjadikan para pelajar
bijak dalam setiap tindakan yang direncanakan. Mengingat remaja yang
sedang mencari jati diri sangat rentan mendapatkan pengaruh negatif
dari berbagai arah.
Peran Strategis Guru BK
Keberadaan guru BK menjadi salah satu faktor yang sangat penting
dalam mewujudkan sekolah bebas narkoba. Guru BK dituntut untuk
dapat mengawal segala bentuk perkembangan siswa. Kepala Badan
Narkotika Nasional Sumatera Selatan Brigjen Polisi Bontor Hutapea,
dalam acara focus group discussion dengan 40 guru BK yang bertajuk
Menangkal Narkoba di Kalangan Pelajar
113
“Apa yang Bisa Diperbuat Guru BK dalam pencegahan pemberantasan
penyalahgunaan peredaran gelap narkoba” menyampaikan bahwa guru
BK bisa memberikan nasihat dan saran atas persoalan siswa. Hal ini
dikarenakan kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar kian
memprihatinkan. Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru memberikan
pendidikan tentang bahaya narkoba kepada siswa. Konseling yang
diartikan sebagai layanan profesional konselor terhadap klien diharapkan
dapat membantu klien dalam memahami dirinya dalam membuat
keputusan dan memecahkan masalah. Unit layanan bimbingan siswa
memiliki tugas dalam memberikan bantuan kepada siswa bermasalah.
Bimbingan tersebut dapat berupa:
1.
Melakukan deteksi dini dan dalam penyalahgunaan narkoba.
2.
Merujuk kepada tenaga profesi di sekolah (konselor, dokter UKS,
psikolog).
3.
Memberikan layanan konseling di sekolah.
4.
Merujuk kasus ke profesi lain di luar sekolah/lembaga pendidikan
(psikolog, dokter, psikolog, rohaniawwan) atau ke pusat rehabilitasi.
5.
Mengadakan tindak lanjut.
Menangkal Narkoba
Bahaya ancaman narkoba bagi generasi muda Indonesia memerlukan
penanganan yang efisien dan efektif. Untuk mewujudakan hal tersebut
perlu kerjasama dari seluruh elemen.Baik Pemerintah, masyarakat maupun
tokoh agama. Diantara upaya preventif yang dapat dilakukan tindakan
sebagai berikut.
1.
Penguatan tingkat keimanan diperlukan untuk menumbuhkan
religiusitas anak, sehingga mereka akan tahu bahwa narkoba menjadi
sesuatu yang dilarang oleh agama.
2.
Menjalin keharmonisan hubugan keluarga, sehingga anak memiliki
kedekatan emosi yang baik dengan keluarga tercinta. Hal ini dapat
menghindarkan anak melakukan penyimpangan perilaku.
3.
Sosialisasi dari pemerintah maupun sekolah serta pihak-pihak terkait
harus dilakukan secara massif, sehingga masyarakat semakin tahu dan
sadar informasi tentang bahaya narkoba serta dampaknya.
4.
Pembinaan generasi muda perlu dilakukan sejak dini. Dalam hal ini
diperlukan pendidikan narkoba bagi para pelajar mulai dari tingkat
dasar hingga tingkat atas.Pembinaan ini juga dapat dilakukan melalui
114
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
beberpa pendekatan seperti pendekatan informatif (pemberian
informasi tentang bahaya narkoa dan ancamannya), pendekatan afektif
(pendekatan kebutuhan mental dan emosional anak), sehingga dapat
mengurangi alasan pemakaian narkoba. Pendidikan yang berorientasi
pada situasi penawaran, sehigga anak dapat menolak jika ada
penawaran penggunaan narkoba, kegiatan alternatif yang bersifat
positif, latihan peningkatan keepercayaan diri dalam kompetensi sosial
dsb.
5.
Aparat Pemerintah perlu menindak tegas pelaku pengedar narkoba
tanpa pandang bulu. Hal ini dilakukan demi menyelamatkan masa
depan generasi bangsa.
6.
Pemerintah harus menjalankan Clean Governance (Pemerintahan yang
bersih) anti suap dimana para pejabat betul-betul amanah terhadap
segala bentuk penyuapan. Penulis yakin jika cara ini diterapkan
Indonesia dapat terhindar dari ancaman bahaya narkoba.
DAFTAR PUSTAKA
Martono, Lydia Harlina dan Setya Joewana. 2006a. Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Sekolah. Jakarta:
Balai Pustaka.
Martono, Lydia Harlina dan Setya Joewana. 2006b. Menangkal Narkoba
dan Kekerasan Jakarta: Balai Pustaka.
Nurhayati, Eti. 2011. Bimbingan Konseling & Psikoterapi Inovatif. Jakarta:
Pustaka Pelajar.
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
115
REMAJA DAN BAHAYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Susi Irmayanti
SMP Negeri 6 Kota Probolinggo
Istilah narkoba dapat kita dengar dan kita baca dimana-mana,
melalui media seperti radio, televisi, koran, majalah, perbincangan atau
forum diskusi ilmiah maupun non ilmiah. Kata narkoba adalah istilah
yang telah dikenal luas diberbagai kalangan baik kalangan tua, dewasa,
remaja hingga anak-anak. Narkoba adalah singkatan dari narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya. Penggunaan yang salah dapat
sangat merugikan penggunanya. Yang banyak terjerumus dalam hal ini
adalah kalangan muda yaitu anak-anak dan remaja. Ketidaktahuan atau
keterbatasan pengetahuan tentang narkoba merupakan salah satu yang
mendorong terjadinya penyalahgunaan terhadap Narkoba.
Narkoba pada era saat ini tidak hanya berupa pil atau obat-obatan
saja tapi telah disisipkan pada makanan atau minuman yang sangat
akrab dengan dunia anak maupun remaja. Narkoba itu dapat disisipkan
melalui permen, coklat atau brownis yang sangat digemari anak/remaja.
Yang sangat membahayakan justru anak-anak yang diberi dan secara
sengaja atau tanpa sengaja mereka mengkonsumsi makanan atau
minuman yang sekilas terlihat seperti makanan atau minuman pada
umumnya, sehingga mereka mendapatkan efek negatif dari zat yang
membahayakan tersebut. Maraknya Narkoba akhir-akhir ini yang
dilakukan dengan cara-cara yang terselubung dan menipu oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab membuat orang tua, guru dan
remaja menjadi cemas dan khawatir akan menjadi korban dari para
pengedar Narkoba apabila kurang berhati-hati atau waspada.
Meningkatkan kewaspadaan dan membekali anak-anak atau remaja
kita agar membentengi diri mereka supaya tidak menjadi korban dalam
penyalahgunaan dan peredaran narkoba di masyakakat. Peran berbagai
pihak sangat dibutuhkan dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba
agar tidak semakin meluas dan merusak masa depan bangsa.
115
116
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan tentang seluk beluk narkoba,
akibat atau dampak negatif bagi penggunanya serta cara pengobatan,
upaya rehabilitasi dan pencegahannya. Tulisan ini juga bertujuan agar
kita dapat belajar bahwa narkoba benar-benar mampu merusak fisik dan
mental generasi muda, pecandu narkoba sehingga kehilangan semangat
hidup dan cita-citanya bahkan masa depannya hancur karena terjerumus
narkoba. Dengan demikian remaja, orang tua dan guru perlu dibekali
pengetahuan atau wawasan tentang narkoba dan bahaya
penyalahgunaannya serta kiat untuk menangani masalah tersebut.
Pengertian Narkoba
Menurut susunan kata, Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan
obat/bahan berbahaya. Narkoba juga dikenal dengan istilah lain,
khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dikenal dengan
Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat
adiktif. Kedua istilah itu tidaklah berbeda. Kedua istilah ini, baik
Narkoba maupun Napza mengacu pada sekelompok zat yang umumnya
mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.
Narkoba atau Napza adalah obat/bahan/zat, yang bukan tergolong
makanan. Jika diminum, dihisap, dihirup, ditelan dan disuntikkan,
berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat) dan sering
menyebabkan ketergantungan. Penyalahgunaannya mengakibatkan kerja
otak menjadi menurun. Demikian juga fungsi vital organ-organ tubuh,
seperti jantung peredaran darah serta pernafasan terganggu.
Manfaat Penggunaan Narkoba
Penggunaan narkoba/napza dengan dosis yang tepat dan oleh pihak
yang berwenang seperti dokter dengan tujuan untuk kepentingan medis
atau pengobatan akan membawa manfaat bagi penggunanya. Suatu
contoh, penggunaan narkoba secara benar sebagai berikut.
a.
Seorang Dokter spesialis Anestesi memberikan morfin dalam dosis sesuai
takaran kepada pasiennya yang akan dilakukan pembedahan atau
operasi dengan tujuan medis agar pasien tersebut tidak merasakan
sakit ketika proses operasi berlangsung.
b.
Seorang Dokter spesialis Kejiwaan memberikan obat penenang atau
obat jenis antidepresan dengan dosis yang tepat kepada pasien
skizofrenia (salah satu jenis gangguan kejiwaan) yang bertujuan agar
dapat membuat pasiennya yang gelisah dapat beristirahat dengan
tenang.
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
117
Cara Penggunaan Narkoba
a.
Dihirup melalui hidung atau dihisap melalui mulut. Contonnya ganja
yang dibentuk menyerupai rokok klobot kemudian dinyalakan dengan
api lalu dihisap seperti halnya rokok.
b.
Disuntikkan kedalam pembuluh darah, contohnya putaw berjenis cair
dimasukan dalam pipet atau alat suntik lalu disuntikan pada pecandu.
c.
Ditelan melalui mulut, misalnya putaw dapat berupa serbuk maupun
tablet yang dapat ditelan melaui mulut atau dicampur dalam makanan
atau minuman.
Jenis-jenis Narkoba
a.
Narkotika
1)
Pengertian Narkotika. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis (campuran) maupun
semi sintesis (setengah campuran) yang dapat menyebabkan atau
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Istilah Narkotika berasal dari bahasa
Yunani yaitu narkotikos yang berarti menggigil. Ditemukan pertama
kali, berasal dari subtansi-subtansi yang dapat membantu orang untuk
tidur.
2)
Jenis-jenis Narkotika. Jenis-jenis Narkotika sangat beragam, diantaranya
sebagai berikut: Tanaman papaver, opium mentah, opium masak
(candu, jicing, jicingko) opium obat, morfin, kokain, ekgonina,
tanaman ganja dan damar ganja. Garam-garam dan turunan–turunan
dari morfin dan kokain, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan
yang mengandung bahan tersebut diatas.
3)
Penggolongan Narkotika. Penggolongan Narkotika berdasarkan
potensi dalam mengakibatkan ketergantungan adalah sebagai berikut.
a)
Narkotika golongan 1, berpotensi sangat tinggi menyebabkan
ketergantungan, tidak digunakan untuk terapi (pengobatan).
Contohnya heroin, kokain dan ganja.
b)
Narkotika golongan II, berpotensi tinggi menyebabkan
ketergantungan. Digunakan pada terapi, contohnya morfin,
petidin dan matadon.
c)
Narkotika golongan III, berpetensi ringan menyebabkan
ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi, contohnya
kodein, difenoksiat, asetilhidritenia.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
118
4)
Efek Narkotika bagi Pemakainya. Efek Narkotika banyak sekali. Beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut.
a)
Orang yang menggunakan narkoba dapat kecanduan atau
ketagihan
b)
Orang tersebut mencari cara agar dapat memperoleh narkoba
kembali, meskipun dengan cara-cara kriminal
c)
Mata merah
d)
Bibir mereka menjadi kecoklatan, bahkan daya tahan tubuhnya
menurun
e)
Ketika daya tahan tubuh menurun mereka mudah sekali terserang
penyakit
f)
Tubuh menjadi kurus kering dan kurang semangat
b. Psikotropika
1)
Pengertian Psikotropika. Psikotropika adalah zat atau obat, baik
alamiah maupun sisntesis (campuran) bukan narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada pusat saraf yang meyebabkan
perubahan pada aktivitas mental dan perilaku.
2)
Jenis-jenis Psikotropika. Jenis-jenis Psikotropika antara lain yaitu,
Sedatin (pil BK), rohipol, magadon, valium, mandarax, amfetamin,
fensiklidin, metakualon, metinenidat, fenoberbital, flunitrazepam,
ekstasi, shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide) dan sebagainya.
a)
Efek Pemakaian Psikotropika
Efek Psikotropika bagi penggunanya adalah:
b)
1.
Merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan
perilaku
2.
Menurunkan aktivitas otak
3.
Menyebabkan gangguan cara berpikir (halusinasi dan ilusi)
4.
Perubahan alam perasaan
5.
Ketergantungan obat
6.
Mempunyai efek stimulasi (merangsang)
Penggolongan Psikotropika
1.
Psikotropika golongan 1, berpotensi sangat tinggi
menyebabkan ketergantungan, tidak digunakan untuk tujuan
pengobatan. Contohnya cathinon, DMA (dimetthoxyalpha-methyphenethydro)
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
119
2.
Psikotropika golongan II, berpotensi tinggi menyebabkan
ketergantungan. Digunakan pada terapi dan menimbulkan
ketergantungan, contohnya amphetaminine, dexamphetamine
3.
Psikotropika Golongan III, menyebabkan ketergantungan
sedang dari kelompok hipnotik, cotohnya amobarbital,
buprenorphine, cathine dan lain-lain.
4.
Psikotropika Golongan IV, menyebabkan ketergantungan
ringan, cotohnya Allobarbital, Alprazolam, Amfepramon dan
lain-lain.
Gejala fisik Pengguna Narkoba
Tanda-tanda secara fisiologis yang dapat diamati dari pengguna
narkoba antara lain adalah:
a.
Wajah pucat dan kuyu
b.
Berat badan menurun tajam
c.
Bibir kering kehitaman
d.
Mata cekung dan merah
e.
Tangan gemetar
f.
Nafas tersengal
g.
Mengeluarkan air mata berlebihan
h.
Sering nyeri kepala, persendian ngilu
i.
Badan lesu dan malas
Gejala Psikologis Pengguna Narkoba
Gejala secara psikologis yang sering dialami oleh pengguna narkoba
diantaranya adalah:
a. Anak menjadi pemurung dan penyendiri
b.
Sangat sensitif dan cepat bosan
c.
Badan lesu dan selalu gelisah
d.
Mudah curiga dan cemas
e.
Susah tidur
f.
Kurang berminat pada kegiatan yang digemarinya, misalnya olah raga
g.
Menjadi mudah tersinggung
h.
Suka menentang orang tua
i.
Penurunan konsentrasi belajar yang berakibat pada penurunana nilai
akademisnya
120
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Gejala Perubahan Perilaku
Gejala-gejala adanya perubahan perilaku yang dialami pemakai
narkoba antara lain yaitu:
a.
Malas dan melupakan tanngung jawab/tugas rutinnya
b.
Bersikap kurang peduli dan jauh dari keluarga
c.
Sering menyendiri di kamar, toilet, gudang atau ruang-ruang yang
gelap
d.
Nafsu makan tidak menentu
e.
Takut air sehingga jarang mandi
f.
Sering menguap/mengantuk
g.
Sikapnya cenderung manipulatif dan tiba-tiba bersikap manis jika ada
maunya
h.
Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga
i.
Sering pergi tanpa pamit dan pulang hingga larut malam
Bahaya Pemakaian Narkotika
Narkotika sangat berbahaya jika dikonsumsi. Dampaknya akan
berpengaruh kepada organ-organ penting dalam tubuhnya, yaitu:
a.
Otak. Narkoba dapat menyebabkan kerusakan pada otak sehingga
menyebabkan stroke dsn cacat mental.
b.
Hati. Narkoba dapat merusak sel hati sehingga mengakibatkan
menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit lain.
c.
Ginjal. Narkoba akan merusak fungsi hati, sehingga pecandu narkoba
dapat meninggal karena infeksi atau gagal ginjal
d.
Jantung. Narkoba menyebabkan munculnya penyakit jantung koroner
yang mengakibatkan kematian.Narkoba akan merusak organ lainnya
seperti limpa, paru-paru, sumsum tulang dan lain-lain.
Penyakit yang disebabkan karena Narkoba
Narkotika juga dapat menimbulkan bahaya infeksi dan komplikasi
ditimbulkan karena pemakaian jarum suntik yang kurang steril dan
pemakaian yang bergantian. Hepatitis, HIV/AIDS adalah penyakit yang
umumnya dapat ditularkan melalui pemakaian jarum suntik yang tidak
steril sesama pengguna narkotika. Siphilis atau penyakit kelamin juga
bisa ditularkan virus melalui hubungan badan antara sesama pengguna
narkoba yang disebabkan faktor kedekatan dan pengaruh ketidaksadaran
karena pengaruh obat.
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
121
Zat Adiktif lain
Zat adiktif lain adalah zat/bahan lain bukan narkotika dan psikotropika
yang berpengaruh pada kerja otak. Jenis ini tidak tercantum dalam
perundang-undang tentang narkotika dan psikotropika. Zat psiko-aktif
yang sering disalahgunakan antara lain yaitu:
a.
Alkohol yang terdapat pada berbagai jenis minuman keras
b.
Inhalansia/solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang
terdapat pada berbagai keperluan seperti pabrik, kantor dan rumah
tangga.
c.
Nikotin, seperti yang terrkandung pada rokok
d.
Kafein pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala
tertentu.
Definisi Penyalahgunaan Narkoba
Penyalahgunaan Narkoba adalah pemakaian narkoba secara tetap
yang tidak bertujuan pengobatan atau digunakan tanpa mengikuti
petunjuk atau aturan takaran yang seharusnya. Penyalahgunaan narkoba
juga diartikan suatu tindakan yang dilakukan secara sadar, bahwa
narkoba tersebut akan berpengaruh terhadap tubuhnya, tetapi tetap
menggunakannya. Jadi pada dasarnya semua jenis obat dapat
disalahgunakan oleh seseorang
a.
Ciri-ciri dan Dampak Pemakaian Narkoba. Jenis Narkoba yang biasa
dipakai oleh masyarakat kita atau yang telah dikenal luas di masyarakat
kita, yaitu ekstasi, shabu-shabu, ganja, kokain, nikotin, heroin serta
minuman keras. Berikut ini akan diuraikan ciri-ciri maupun dampak
penggunaannya.
b.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba.
Fakor-faktor penyebab Penyalahgunaan Narkoba secara umum
digolongkan menjadi 2 yaitu:
Faktor internal dan faktor eksternal
1)
Faktor internal (didalam diri individu)
a)
Ingin tahu (coba-coba). Adanya rasa penasaran dan keinginan
untuk mencoba hal-hal yang belum diketahui menyebabkan
remaja menggunakan nakroba
b)
Perasaan rendah diri. Perasaan ingin dianggap hebat, ingin
diakui, ingin menjadi pusat perhatian adalah sikap yang
dimiliki generasi muda/remaja
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
122
2)
c.
d.
c)
Rasa setia kawan. Rasa setia kawan pada remaja sangat
dibanggakan sebab mereka sama-sama mencari identitas diri,
merasa senasib sepenanggungan.
d)
Emosioanal. Emosional yang dimaksud rasa frustasi, kecewa
dan kesal yang berlebihan sehingga mereka ingin lari dari
kenyataan hidup yang mereka hadapi.
Faktor eksternal diluar diri individu (lingkungan soaial/pergaulan)
a)
Lingkungan keluarga. Adanya masalah dengan keluarga dapat
menjadi latar belakang anak/remaja terjerumus dalam
penyalahgunaan Narkoba. Kekeliruan komunikasi antara anak
dengan orang tua dapat menjadi pemicu kekecewaan anak
pada orang tua. Hubungan kurang harmonis antara anak
dengan orang tua yang disebabkan oleh kesalah-fahaman.
Hubuangan yag tidak harmonis juga disebabkan karena kondisi
keluarga/orang tua yang kacau atau broken home (keluarga
berantakan).
b)
Lingkungan pergaulan di masyarakat. Lingkungan pergaulan
diluar rumah juga sangat berpengaruh besar terhadap remaja.
Remaja yang kurang pandai memilih teman akan mudah
terjerumus dalam pergaulan yang kurang baik. Ajakan dan
paksaan dari teman dapat mempengaruhi anak untuk
mengkonsumsi narkoba.
Akibat Penyalahgunaan Psikotropika. Efek yang ditimbulkan dari
pemakaian psikotropika antara lain sebagai berikut:
1)
Depressansia Adalah mengendorkan dan mengurangi kegiatan
sususnan syaraf pusat artinya akibat dari penggunaannya dapat
menenangkan saraf seseorang sehingga dapat tidur nyenyak.
2)
Stimulasi Adalah mengendorkan dan mengurangi kegiatan
sususnan syaraf pusat yang berakibat akan meningkatkan aktivitas
kemampuan fisiknya.
3)
Halusinogen Artinya menimbulkan khaayalan yang sangat
menyenangkan. Bahan atau zat psikotropika jenis tertentu dapat
menimbulkan seseorang berhalusinasi.
Upaya Penanganan Penyalahgunaan Narkoba. Upaya Penanganan
masalah penyalahgunaan narkoba ini dapat dilakukan dengan tiga
cara yaitu, pengobatan/penyembuhan (kuratif), rehabilitatif
(pemulihan) serta pencegahan (preventif).
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
1)
e.
123
Upaya Pengobatan pada masalah narkoba (Kuratif). Korban
penyalahgunaan narkoba terus meningkat, mereka perlu
mendapatkan bantuan dengan berbagai pendekatan, misalnya
dengan pengobatan medis, alternatif, spiritual, dan sebagainya.
Adapun cara-cara yang dilakukan untuk menyembuhkan penderita
akibat penyalahgunaan narkoba sebagai berikut.
a)
Pengobatan Alternatif dapat ditangani oleh tokoh agamawan,
misalnya kyai, pendeta dan lain-lain.
b)
Pengobatan Medis dapat meminta pertolongan seseorang
yang berprofesi sebagai dokter, psikolog atau psikiater.
2)
Upaya Pemulihan (Rehabilitatif). Rehabilitasi adalah upaya
pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai
narkoba yang telah menjalani pengobatan, baik alternatif maupun
medis. Tujuan program ini adalah menyadarkan pemakai narkoba
agar terbebas dari penyalahgunaan narkoba dan penyakit
ikutannya, serta setelah menjalani program ini diharapkan mantan
pecandu tersebut sadar akan kekeliruannya dan tidak mengulangi
kembali. Panti-panti rehabilitasi dan pondok-pondok yang
memang diperuntukan untuk korban penyalahgunaan narkoba.
Di tempat ini mereka dibimbing tentang praktik-praktik
keagamaan, olahraga, kesenian, perbengkelan dan lain-lain,
diharapkan melalui program tersebut para mantan pengguna
narkoba dapat mandiri dan berwirausaha sesuai bidang yang
diminati dan diperolehnya.
3)
Upaya Pencegahan Masalah Narkoba (preventif). Agar
perkembangan narkoba tidak bertambah luas dimasyarakat, maka
diharapkan peran serta dari berbagai pihak yakni generasi muda,
orang tua, guru/sekolah dalam upayapencegahan
penyalahgunaannya. Adapun peran-peran yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut.
Peran Generasi Muda (Remaja)
(1) Prinsip hidup sehat;
(a) Terapkan pola hidup yang sehat dengan mengkonsumsi
makanan dan minuman yang sehat dan halal.
(b) Biasakan bergaya hidup sederhana. Hindari gaya hidup mewah
dan berfoya-foya dengan membelanjakan uang/harta sesuai
dengan kebutuhan.
124
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(c) Hiduplah dengan teratur dan sehat serta hindari kebiasaan
merokok. Rokok merupakan pintu pembuka bagi masuknya
narkoba sebab sifat rokok hampir menyerupai narkoba dimana
terdapat zat adiktif didalamnya yang menyebabkan
pemakainya ketagiahan.
(d) Kembangkan pola pikir yang positif dalam menghadapi setiap
persoalan.
(2) Peningkatan Iman dan Takwa. Ajak remaja agar taat beribadah ke
tempat-tempat peribadatan, dengan rajin mengikuti kegiatankegiatan keagamaan. Dekatkanlah mereka kepada sang Pencipta
untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Tuhan sesuai
agama atau keyakinannya.
(3) Memberikan bekal pengetahuan tentang narkoba. Berikan
informasi dan pengetahuan tentang jenis-jenis narkoba serta
bahayanya melalui media berupa buku, majalah, maupun melalui
diskusi dengan keluarga atau bekerjasama dengan tokoh-tokoh
lain seperti guru, tokoh agama dan petugas kesehatan dan lainlain
(4) Sikap asertif. Sikap asertif adalah sikap/keberanian seseorang untuk
menyampaikan pandangan/prinsip sehingga berani menolak
narkoba. Berikut ini kiat untuk menolak ajakan penyalahgunaan
narkoba;
(a) Ajarkan remaja untuk menolak hal-hal yang tidak biasa mereka
lakukan atau mereka konsumsi. Berilah pesan kepada mereka
pantang menerima sesuatu/barang dari seseorang asing atau
orang yang belum begitu akrab dengan mereka.
(b) Berilah pengertian bahwa bisa jadi orang asing tersebut
memiliki niat yang kurang baik kepada mereka sehingga
remaja berusaha waspada dan lebih berhati-hati jika ada orang asing yang mendekatinya.
(c) Ajarkan remaja cara menolak ajakan dalam hal-hal yang
kurang baik dengan cara yang halus maupun tegas. (d) Ajarkan
kepada mereka menghindari pergaulan yang kurang baik
dengan memilih teman yang dapat mengarahkan mereka pada
kegiatan yang positif agar terhindar dari kelaamnya dunia
narkoba
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
f.
g.
125
Bagi Remaja (remaja sebagai teman pengguna narkoba). Yang dapat
dilakukan para remaja untuk membendung penyalahgunaan narkoba
di kalalangan remaja adalah: Menjadi teman curhat yang baik, sehingga
dapat meringankan beban/masalahnya dan mencegahnya untuk
menggunakan narkoba. Tips yang perlu dilakukan remaja dalam
membimbing teman sebayanya adalah:
1)
Jangan sekali-kali menyalahkannya, dengarkan segala keluh-kesah
dan permasalahannya hingga selesai dan puas bercerita lalu beri
nasihat atau masukan yang positif dan berguna
2)
Buat acara khusus bagi remaja dan undang pada tokoh yang
berhubungan dengan narkoba, jika perlu undanglah korban
pengguna narkoba dengan tujuan untuk berdiskusi, berbagi kisah
dan pengalaman dengan mereka.
3)
Buat klub atau kelompok-kelompok yang dapat berkegiatan sesuai
hobi atau kegiatan-kegiatan positif yang mereka gemari secara
bersama-sama.
Peran Orang tua. Bila kita cermati secara seksama perilaku
penyalahgunaan narkoba tidak lepas dari peran dan tanggung jawab
orang tua. Keluarga menjadi batu peletak pertama seorang anak untuk
menanamkan budi pekerti dan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Adapun peran dan tanggung jawab orang tua untuk
mencegah penyebarluasan narkoba sebagai berikut:
(1) Orang tua dapat menjadi tauladan atau panutan. Remaja
pada jaman sekarang adalah remaja yang kritis tidak perlu diberi
dalil-dalil, tetapi mereka hanya perlu contoh sikap perilaku
keteladanan dari orang dewasa terutama orang tuanya.
Contohnya, orangtua melarang anak remaja untuk merokok tetapi
justru ayahnya sendiri malah merokok tanpa henti. Yang mereka
butuhkan adalah tindakan dan contoh yang nyata agar ucapan
dan tindakan orang tua cenderung konsisten dalam pandangan
anak.
(2) Orang tua dapat menjadi tempat bercerita, diskusi dan curhat.
Berikut ini adalah tips-tips bagi orang tua dalam membina
hubungan dengan anak:
(a) Sediakan waktu khusus untuk menyampaikan persoalanpersoalan baik yang dihadapi orang tua maupun dialami anak.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
126
(b) Dengarkan keluhan-keluahan anak secara seksama dan penuh
perhatian. Jangan sekali-kali memotong pembicaraan anak,
dengarkan saja hingga anak selesai mengutarakan
keluahannya. Apabila anak telah selesai barulah beri nasihat
atau solusi alternatif bagi permasalahannya,.
(c) Jauhkan kesan menggurui, mendikte, tempatkanlah posisi
mereka sebagai teman.
(d) Cermati dan amati setiap perkembangan remaja dirumah.
Tanggap terhadap setiap perubahan pada perilaku mereka
sehari-hari. Periksa barang-barang dan kamar anak dan
waspada terhadap hal-hal diluar kebiasaannya.
3)
Orang tua menjadi tempat beratanya. Orang tua sebaiknya
menjadi tempat/rujukan anak sebagai teman bicara, caranya
sebagai berikut.
(a) Orang tua wajib mengikuti perkembangan dunia remaja saat
ini. Jika anak bertanya orang tua enggan menjawab atau
bahkan tidak tahu tentang dunia anak/remaja.
(b) Oarang tua memiliki kewajiban untuk mengetahui lebih jauh
tentang dunia anak/remaja sehingga mereka akan lebih tahu
dan memahami permasalahan remaja. Apabila orang tua
merasa kurang/tidak memahami permasalahan anak maka
orang tua perlu berkonsultasi dengan pihak lain seperti pada
guru, dokter, konselor, para orang tua lain atau pihak yang
mereka anggap lebih memahami permasalahan tersebut.
(c) Orang tua menyediakan buku-buku pengetahuan umum atau
khusus yang dibutuhkan anak atau ajaklah anak membaca
buku di perpustakaan.
Orang tua harus mengetahui gejala dini perubahan perilaku pengguna
narkoba dan tanggap terhadap perubahan tersebut. Orang tua aktif
membekali diri dengan informasi dan pengetahuan lewat buku,
bacaan, diskusi, seminar dan media-media lain tentang Narkoba dan
pemasalahan yang lain berkaitan dengan anak dan remaja.
4)
Orang tua perlu mengetahui dan memahami bakat anak. Orang
tua harus mengetahui bakat dan potensi pada diri anak sedini
mungkin. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan
dirinya, menyediakan sarana agar minat atau kesenangan anak
dapat terfasilitasi.Orang tua dapat menfasilitasi anak sesuai dengan
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
127
minat, hobi atau kesenangan anak, yakni dengan cara mengikuti
klub-klub atau lembaga-lembaga baik dibidang seni, olah raga
dan organisasi lainnya. Kegiatan tersebut diatas memiliki banyak
manfaat yakni, antara lain:
(a) menumbuhkan kreativitas dan sportivitas anak/remaja
(b) lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya
(c) memiliki jati diri dan harga diri lebih positif sehingga anak
lebih percaya diri
(d) mengembangkan potensi dan mengasah bakatnya
(e) meningkatkan keterampilan hidup (soft skill dan hard skill)
(f)
5)
meningkatkan keterampilan sosial anak
Peran guru dan sekolah. Peran guru tidak kalah penting dalam
upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Guru dapat
melakukan hal-hal berikut ini dalam upaya preventif, antara lain
adalah:
(a) Sebagai teman. Guru sebagai teman berbagi cerita,
pengalaman dan persoalan remaja di sekolah.
(b) Sebagai pusat informasi. Guru dan sekolah sebagai pusat
informasi tentang narkoba dan bahayanya yang dapat
mengancam masa depan remaja
(c) Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti Puskesmas,
BKKBN, BNN atau pihak Kepolisisan dalam rangka penyuluhan
tentang bahaya narkona bagi remaja
(d) Bekerjasama dengan pihak yang berwenang (kepolisian atau
dinas kesehatan) jika mengamati ada gelagat mencurigakan
dari perilaku remaja secara perorangan atau kelompok yang
kurang wajar.
Sekolah dapat menyediakan sarana dan prasarana dalam rangka
memfasilitasi remaja mengembangkan potensinya dengan cara
sebagai berikut.
(1) Kegiatan intrakulikuler yang aktif, kreatif, menyenangkan dan
bermakna
(2) Kegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan kebutuhan siswa
siswinya sehingga mampu meningkatkan minat dan bakat
anak remaja.
6)
Peran Masyarakat dan Unsur lainnya
128
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran masyrakat juga diperlukan dalam mengamati atau kontrol
terhadap sikap dan penyimpangan perilaku remaja. Tokoh-tokoh di
masyarakat hendaknya dapat turun tangan dan berkontribusi dalam
upaya pemberian bantuan korban penyalahgunaan narkoba dan
menyediakan suport terhadap kegiatan-kegiatan remaja yang bersifat
positif demi pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Pemerintah dapat mengurangi atau menekan peredaran narkoba
dimasyarakat dengan cara menutup pabrik pembuatan narkoba.
Pemerintah harus mampu menegakkan hukum yang jelas dan tegas bagi
pengguna, pembuat dan pengedar narkoba serta penyandang dana
peredaran narkoba di Indonesia.
Maraknya Narkoba akhir-akhir ini yang dilakukan dengan cara-cara
yang terselubung dan menipu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab membuat orang tua, guru dan remaja menjadi khawatir dan
cemas. Dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba dapat merusak
fisik dan mental generasi muda yang merupakan tunas harapan bangsa
akan meneruskan perjuangan bangsa. Tulisan ini bertujuan untuk
menguraikan tentang seluk beluk narkoba, bahaya atau dampak negatif
bagi penggunanya. Peran serta dari berbagai pihak sangat dibutuhkan
untuk membantu remaja dalam menangangi penyalahgunaan narkoba
yaitu peran dari remaja sebagai generasi muda, orang tua, guru/sekolah,
masyarakat, dan pemerintah
Upaya Penanganan masalah penyalahgunaan narkoba ini dapat
dilakukan dengan tiga caya yaitu pengobatan/penyembuhan (kuratif),
(rehabilitatif) serta pencegahan (preventif). Upaya Pengobatan pada
Masalah narkoba (Kuratif). Dengan tujuan para korban penyalahgunaan
Narkoba mengalami kesembuhan, mereka perlu mendapatkan bantuan
dengan berbagai pendekatan, misalnya dengan pengobatan secara medis,
alternatif, spiritual, dan lain sebagainya.Rehabilitasi adalah upaya
pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai
Narkoba yang sudah menjalani pengobatan, baik alternatif maupun
medis.Adapaun tujuan program ini adalah menyadarkan pemakai Narkoba
agar terbabas dari penyalahgunaan narkoba dan penyakit ikutannya,
serta setelah menjalani program ini diharapkan bekas pecandu tersebut
sadar akan kekeliruannya dan tidak mengulangi kembali.
Agar perkembangan narkoba tidak bertambah luas dimasyarakat,
Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
129
maka diharapkan peran serta dari berbagai pihak dapat turut
berpartisipasi yakni generasi muda, orang tua, guru-guru di sekolah dan
pihak-pihak yang terkait membantu dan memberantas peredaran narkoba
dan penyalahgunaannya. Peran masyarakat juga diperlukan dalam
mengontrol penyimpangan perilaku remaja. Tokoh-tokoh di masyarakat
hendaknya dapat turun tangan dan berkontribusi dalam upaya rehabilitasi
dan pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan menyediakan fasilitasfasilitas atau kegiatan remaja yang bersifat positif agar remaja terhindar
dari pengaruh-pengaruh negatif. Pemerintah dapat mengurangi atau
menekan peredaran narkoba dimasyarakat dengan cara menutup pabrik
pembuatan narkoba dan miras. Pemerintah harus mampu menegakkan
hukum yang jelas dan tegas bagi pengguna, pembuat dan pengedar
narkoba serta penyandang dana peredaran narkoba di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Istiati. 2009. Narkoba. Klaten: Sahabat.
Kabain, Ahmad. 2007. Peran keluarga, Guru, dan Sekolah dalam
Menyelamatkan Anak dari Pengarun Napza. Semarang. Bengawan Ilmu.
Laning, V.D. 2008. Kenakalan Remaja dan Penaggulangannya. Klaten.
Cempaka Putih.
Sunarmo. 2007. Bahaya Narkoba dan Upaya Pencegahannya. Semarang.
Bengawan Ilmu.
Widodo, R.W. 2008. Benteng Remaja Menolak Narkoba. Jakarta. Nobel
Edumedia.
Winarto, S.S. 2007. Ada Apa Dengan Narkoba. Semarang. Aneka Ilmu.
130
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Film Berkarakter “Pernikahan Dini” Via Media Arus Utama dan Media Arus Alterknatif
131
FILM BERKARAKTER “PERNIKAHAN DINI” VIA MEDIA ARUS UTAMA DAN MEDIA
ARUS ALTERNATIF
Ferril Irham Muzaki
Pengamat Pendidikan, Penulis Lepas
Tantangan bonus demografis Indonesia yang didominasi oleh
kelompok muda usia produktif sudah menjadi sebuah keniscayaan.
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang berjumlah 400 juta jiwa
(perkiraan per-Oktober tahun 2016) pertumbuhan penduduk telah
melahirkan fenomena berupa permasalahan yang erat kaitannya dengan
pendidikan baik di dalam sekolah, keluarga maupun luar sekolah yang
termaktub dalam gagasan Ki Hadjar Dewantara yakni Tri-Pusat Pendidikan.
Permasalahan bonus demografis itu perlu disikapi sebagai sebuah
tantangan dalam kehidupan pada khususnya dunia pendidikan pada
tingkatan Sekolah Dasar (SD). Hill (2015:224) memberi sebuah ulasan
bahwa generasi muda merupakan bonus yang memberi kemajuan pada
sebuah negara, yang akan berbahaya apabila terlalu banyak generasi tua
dibanding dengan generasi muda.
Fenomena yang memegang peranan strategis adalah dunia yang
sudah dipenuhi oleh media massa arus utama dan media sosial yang
terdiri dari jejaring sosial dan blog sosial. Kedua media massa tersebut
baik media massa arus utama yang terdiri dari televisi, radio, koran dan
berbagai media lain dan media sosial juga memegang peranan yang
memerlukan sebuah evaluasi yakni penyebaran gagasan dan ide-ide
yang pada akhirnya bisa mempengaruhi perilaku warga lebih khususnya
peserta didik yang masih duduk di bangku SD. Sejalan dengan itu
pemikiran dari Kim dan Lowrey (2015:290) mengutarakan bahwa digital
media yang berkembang saat ini menjadi alternatif sebagai alat untuk
menyampaikan ide dan gagasan.
Gagasan berkenaan globalisasi semakin menjadi-jadi seiring dengan
laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam menyikapi
laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seorang peserta
didik tentu dituntut untuk mampu mengembangkan gagasan yang
131
132
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
memiliki manfaat dalam kehidupan dikalangan warga secara mendetail,
baik yang dilakukan secara fisik maupun yang dilakukan secara mental.
Dalam hal tersebut seorang peserta didik meski perlu dibimbing oleh
guru pada tingkat SD agar memiliki akhlak (perilaku) yang sesuai
dengan norma-norma yang berlaku pada komunitas warga.
Kondisi demografis Indonesia memerlukan masukan yang berkaitan
dengan sistem perilaku secara umum. Pokok permasalahan ini adalah
berbagai macam garis kebijakan yang sesuai dengan berbagai prinsip
yang sesuai dengan garis-garis dasar kebijakan pendidikan karakter yang
digagas oleh Kemendikbud pada tahun 2011. Dalam gagasan tersebut
jika dilakukan sintesa dengan kondisi media penyampai informasi akhirakhir ini bisa dicapai sebuah simpulan bahwa kesepahaman akan
membawa kepada kemampuan untuk mengembangkan gagasan pada
diri sendiri.
Pada masa yang lalu, pernah ada sistem pencegahan pernikahan dini
dalam bentuk film atau sinetron. Dalam konteks ini kasus pernikahan
dini bisa dicegah dengan mengadakan sistem pencegahan berupa
sosialisasi dampak pernikahan dini dengan mendatangkan cerita atau
fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan, yang dibintangi oleh
tokoh-tokoh atau pemeran pada masa itu. Untuk itulah gagasan ini
perlu dikembangkan lagi dengan gaya lebih segar dan isu-isu kekinian
untuk mensosialisasikan ulang dampak pernikahan dini yang dipicu oleh
perilaku sendiri. Hal ini menjadi sebuah titik tolak untuk mengembangkan
gagasan yang pada akhirnya bermanfaat dalam sosialisasi remaja.
Kriteria Film Berkarakter untuk Pernikahan Dini
Film-film yang ditujukan untuk melakukan pencegahan atas
pernikahan dini memiliki karakter-karakter yang khusus yang meski
dikaji secara kreatif untuk kepentingan pengembangan diri peserta didik
yang terutama duduk di bangku SD. Konflik-konflik yang ada dalam
pernikahan dini merupakan langkah-langkah kongkrit untuk
mengembangkan kriteria tokoh-tokoh yang sesuai untuk film pernikahan
dini. Kesesuaian ini didadasarkan atas kemampuan untuk mengembangkan
karakter film yang sesuai dengan perilaku kemanusiaan yang sesuai
dengan pengembangan kemampuan diri maupun keterampilan untuk
bermasyarakat.
Film Berkarakter “Pernikahan Dini” Via Media Arus Utama dan Media Arus Alterknatif
133
Dalam memegang peranan ini diperlukan karakter yang sesuai
dengan perilaku yang ingin dikembangkan untuk membangun individu
yang memiliki karakter yang sesuai dengan film pernikahan dini. Rauch
(2016:760) menuturkan bahwa penyebaran gagasan tidak hanya berasal
dari media massa yang sifatnya arus utama, melainkan media massa
alternatif bisa dijalankan sebagai media penyebaran film selama dikelola
dengan sistem yang identik dengan media massa arus utama.
Atas dasar itulah film-film yang memiliki karakter pernikahan dini
meski disesuaikan dengan tingkatan perilaku. Apalagi film-film yang
sesuai dengan tingkat perilaku meski disesuaikan dengan perilaku yang
dimiliki oleh peserta didik. Dengan keberadaan perilaku ini diharapkan
seorang peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam
perilaku yang sesuai dengan karakter bangsa. Dengan keberadaan hal ini
diharapkan berbagai macam sistem bisa melahirkan semangat untuk
membangun keberagaman yang sesuai dengan sistim perilaku warga.
Dengan demikian sistem perilaku yang sesuai dengan warga yang meski
dirancang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tokoh dan Penokohan Film Berkarakter untuk Mendiskusikan
Pernikahan Dini
Dalam pengembangan film seringkali tidak bisa dilepaskan dari
tokoh dan penokohan yang ada di dalam berbagai kegiatan. Dalam
tokoh dan penokohan tidak sekadar membangun jati diri kehidupan
maupun perilaku kehidupan melainkan sebuah sistim perilaku yang
sesuai dengan perilaku yang ada dalam bermasyarakat. Dengan demikian
sistem perilaku yang ada meski disesuaikan dengan berbagai macam
perilaku yang ada di kalangan warga. Kopeliovich (2013:251) menyatakan
bahwa perancangan tokoh sekaligus membuat penokohan meski
disesuaikan dengan berbagai macam perilaku yang sesuai dengan sistem
untuk membangun kemandirian yang pada akhirnya adalah kemampuan
untuk mengembangkan diri.
Kemampuan untuk mengembangkan perilaku-perilaku yang
menyesuaikan dengan berbagai macam teknis dan langkah-langkah
menjadi semakin dominan serta menjadi sebuah katalisator dalam
mengembangkan kehidupan yang sifatnya keekonomian. Sejalan dengan
hal tersebut sudah meski disesuaikan dengan berbagai macam tindakan
yang pada gilirannya mampu mengembangkan diri untuk membangun
134
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
jati diri serta kehidupan yang lebih baik bagi warga yang lebih khususnya
keadaan yang lebih membuat baik. Dengan pengembangan diri maka
diharapkan keberadaan ini semakin menyesuaikan dengan keterampilan
yang sesuai dengan sesama serta membentuk perilaku yang wajar dan
terukur. Dengan demikian, pengembangan jati diri warga diperlukan
untuk membangun kemampuan yang sesuai dengan sistem perilaku
yang ada. Untuk itulah diperlukan gagasan yang sesuai dengan sistem
yang sesuai dengan perilaku yang diharapkan.
Tokoh-tokoh yang ada dalam film yang membahas pernikahan dini
meski disesuaikan dengan sistem perilaku yang ada dalam
mengembangkan gagasan serta kemandirian serta tidak lupa membangun
kemampuan diri untuk mengembangkan gagasan. Dengan demikian
sistem perilaku ini lebih mencerminkan perilaku yang sesuai dengan
data yang ada. Sistem yang ada lebih banyak mengandalkan kemampuan
untuk menyesuaikan diri serta membangun kemandirian dalam mendesain
semangat serta keterampilan dalam berkarya. Fauzi (2016:3) menuturkan
bahwa tokoh dan penokohan meski dirancang untuk menyesuaikan
dengan perilaku yang mandiri serta menguraikan masa depan. Dengan
penguaraian itu diharapkan perancangan terhadap berbagai macam
fenomena akan semakin optimal.
Perancangan untuk menerapkan sistem yang ideal memerlukan
gagasan yang utuh. Dengan keberadaan hal tersebut maka dapat
dimaklumi sistem perilaku yang terbangun semakin membangun
kemandirian yang ideal. Dengan pengembangan sistem tersebut maka
dipastikan berbagai macam sistem yang dibangun menjadi semakin
ideal serta mampu untuk menyesuaikan diri untuk mengembangkan
citra diri dan keterampilan yang sifatnya dominan. Keterampilan tersebut
semakin memegang peranan strategis seiring dengan laju pengembangan
data yang memberikan tambahan kemampuan atas berbagai perilaku
untuk kemandirian warga.
Langkah-Langkah Kongkrit untuk Mensosialisasikan Film
“Pernikahan Dini”
Dalam mengembangkan film dan pendidikan karakter diperlukan
perancangan sistem yang ideal serta sesuai dengan kemandirian. Sistem
yang memandirikan warga diperlukan untuk mengembangkan diri serta
mendesain keterampilan untuk membangun jati diri yang sesuai dengan
Film Berkarakter “Pernikahan Dini” Via Media Arus Utama dan Media Arus Alterknatif
135
keterampilan warga. Dengan keberadaan sistem maka diharapkan
kemampuan warga untuk mengembangkan gagasan semakin utuh seiring
dengan laju arus gagasan dan pengembangan diri. Dengan demikian
kemampuan untuk mengembangkan diri semakin dominan dalam
kehidupan serta mengembangkan jati diri warga.
Kemampuan warga untuk membangun jati diri inilah yang menjadi
dominan di tengah keperluan untuk tampil dan mendominasi setiap
percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejalan dengan prinsip
tersebut maka diperlukan membangun keberagaman yang sesuai dengan
kemampuan warga untuk membangun sebuah film yang bersosialisasi.
Dengan keberadaan yang sesuai dengan prinsip keberagaman serta
gagasan.
Untuk mengembangkan hal itu maka diperlukan sebuah sistem yang
sesuai dengan keberagaman dan kemanusiaan. Untuk itulah diperlukan
sistem yang sesuai dengan keberagaman yakni mengajarkan konsekuensi
atas tindakan dalam pernikahan dini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh
Gold dan Nash (2013:11) yang menjelaskan bahwa fenomena pernikahan
dini erat kaitannya dengan kesiapan kondisi fisik ibu maupun kondisi
mental ibu yang ada kaitannya dengan faktor ekonomi dan sosial
politik.
KESIMPULAN
Untuk mengembangkan diri maka diperlukan sistem yang sesuai
dengan warga. Kemampuan yang memberikan persepsi. Keyakinan
bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa diubah menjadi sebuah fakta
yang agak sulit untuk dimengerti. Untuk itulah diperlukan kampanye
massif tentang dampak dan konsekuensi pernikahan dini dimulai dari
cara pengasuhan bayi, cara memperoleh uang dengan bekerja dan
berbagai macam teknik untuk mengembangkan diri dalam bentuk
pengembangan start-up (usaha rintisan).
Untuk itulah maka film-film yang ditujukan untuk mendidik karakter
menjadi penting di tengah arus globalisasi yang semakin lama perlu
disaring yang sesuai dengan nilai-nilai keIndonesiaan. Permasalahan
sekarang adalah ada berapa hal yang perlu dikaji sebagai objek film
berkarakter yang salah satunya adalah fenomena pernikahan dini yang
dipicu tidak hanya karena perilaku melainkan lebih dikarenakan
ketidaktahuan atas dampak perilaku yang memicu pernikahan dini.
136
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Perilaku yang disebabkan ketidaktahuan malah-malah akan
menjerumuskan diri sendiri maupun individu yang bersangkutan kepada
permasalahan-permasalahan seperti destabilitas emosi hingga
permasalahan ekonomi yang sering menjadi pemicu tindak kejahatan
yang lain seperti tindak pidana kejahatan yang oleh pihak aparatur
didefinisikan sebagai “masalah asmara dan keuangan”.
DAFTAR RUJUKAN
Fauzi, Y. 2016. The Analysis Of Character Building Values In Big Hero 6
Movie (Doctoral dissertation, Universitas Muria Kudus).
Gold, R. B., & Nash, E. 2013. TRAP laws gain political traction while
abortion clinics—and the women they serve—pay the price. Guttmacher
Policy Review,16(2): 7-12.
Hill, H. 2015. Comment on “Population Ageing and Social Security in
Asia”.Asian Economic Policy Review, 10(2): 223-224.
Kim, Y., & Lowrey, W. 2015. Who are Citizen Journalists in the Social
Media Environment? Personal and social determinants of citizen
journalism activities.Digital Journalism, 3(2): 298-314.
Kopeliovich, S. 2013. Happylingual: A family project for enhancing and
balancing multilingual development. In Successful family language
policy (pp. 249-275). Springer Netherlands.
Rauch, J. 2016. Are There Still Alternatives? Relationships Between
Alternative Media and Mainstream Media in a Converged
Environment.Sociology Compass, 10(9) : 756-767.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
137
KENAKALAN REMAJA DAN PERAN GURU/SEKOLAH
Diana Kusumawati
SDN Balongsari 1 Mojokerto
Pada saat era globalisasi yang kaya akan teknologi modern, banyak
menggunakan IT di mana-mana dan dapat membantu manusia dalam
segala hal tambah banyak kejadian yang menyimpang terjadi di bumi
ini,baik masalah ekonomi, sosial, budaya, tatakrama yang terjadi pada
orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Prihatin dan miris melihat kejadian
yang menimpa masyarakat kita, kadang tambah semakin transparan saja
kejadiannya tidak melihat dari adat kita sebagai orang timur yang masih
menghormati adat istiadat atau tata krama, contohnya, pada orang
dewasa: narkoba, miras, perselingkuhan, pemerkosaan, homosek,
lesbian, sodomi, pencurian, pembunuhan, narkoba, miras, pengeboman,
penculikan, perdagangan manusia, penjualan organ tubuh manusia,
pada remaja dan anak-anak : merokok, narkoba, miras, seks bebas,
homosek, lesbian, pernikahan dini, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan,
sodomi, geng motor, tawuran antar pelajar dan lain sebagainya.
Saya pernah melihat sendiri tawuran antar pelajar SMP Swasta dan
STM Swasta ternama di Surabaya hanya karena tersinggung kata-kata
sampai mengerahkan teman-temannya untuk membelanya berkelahi
melawan sekolah lain dengan menggunakan sajam tanpa memikirkan
akibat yang di timbulkan dari kejadian itu, mereka dalam melangkah
tidak berpikir jauh atau ke depan, di pikirannya yang ada hanya dendam
dan bagaimana cara membalasnya yang penting hati ini puas bisa
melawannya, ada lagi kejadian sorang remaja tertangkap mengedarkan
narkoba lalu di bawa ke rumahnya, di introgasi oleh polisi dan di
geledah rumahnya ternyata terdapat narkoba, anak sekolah baik itu SD,
SMP, SMA pada saat jam pelajaran di sekolah masih ada yang keluar
berada di warnet di amankan oleh petugas kepolisian dan di beri
pengarahan.
137
138
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Timbulnya kejadian tersebut berasal dari:
1.
Dasar-dasar agama yang kurang
2.
Kurangnya kasih sayang orang tua.
3.
Kurangnya pengawasan dari orang tua.
4.
Pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
5.
Peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
6.
Kebebasan yang berlebihan
7.
Masalah yang di pendam
Solusi Kenakalan Remaja
Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan
remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya
ada beberapa solusi yang tepat dalam pembinaan dan perbaikan remaja
masa kini. Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat
yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu
sendiri. Tindakan penanggulangan kenakalan remaja dapat dibagi dalam:
1.
Tindakan Preventif.
Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum dapat
dilakukan melalui cara berikut.
a.
Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
b.
Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para
remaja. Kesulitan-kesulitan mana saja yang biasanya menjadi sebab
timbulnya pelampiasan dalam bentuk kenakalan.
Usaha pembinaan remaja dapat dilakukan melalui:
a.
Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan
persoalan yang dihadapinya.
b.
Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan
pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan
pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.
c.
Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal
demi perkembangan pribadi yang wajar.
d.
Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat
bermanfaat.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
139
e.
Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkah laku baik dan
merangsang hubungan sosial yang baik.
f.
Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan
mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan
memberikan pengarahan yang positif.
g.
Memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga
maupun masyarakat di mana banyak terjadi kenakalan remaja.
Sebagaimana disebut di atas, bahwa keluarga juga mempunyai
andil dalam membentuk pribadi seorang remaja. Jadi untuk memulai
perbaikan, maka harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Mulailah
perbaikan dari sikap yang paling sederhana, seperti selalu berkata jujur
meski dalam gurauan, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil,
memberikan bimbingan agama yang baik kepada anak dan masih
banyak hal lagi yang bisa dilakukan oleh keluarga. Memang tidak
mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, tetapi semua itu
bisa dilakukan dengan pembinaan yang perlahan dan sabar.
Dengan usaha pembinaan yang terarah, para remaja akan
mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimbangan diri yang
serasi antara aspek rasio dan aspek emosi akan dicapai. Pikiran yang
sehat akan mengarahkan para remaja kepada perbuatan yang pantas,
sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan
kesulitan atau persoalan masing-masing.
Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus dilakukan oleh
para pendidik terhadap kelainan tingkah laku para remaja. Pendidikan
mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog
sekolah bersama dengan para pendidik lainnya. Usaha pendidik harus
diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian
khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di
rumah dan di sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang
memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja. Ada banyak
hal yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk memulai perbaikan remaja,
di antaranya melakukan program “monitoring” pembinaan remaja melalui
kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler yang ada di
sekolah dan penyelenggaraan berbagai kegiatan positif bagi remaja.
Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah
pengertian remaja mengenai:
140
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
a.
Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan
orang lain.
b.
Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan
diri dengan tuntutan tersebut.
c.
Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara
diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilainilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yang dilakukan terhadap remaja dilakukan dengan dua
pendekatan:
a.
Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi
pada remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan
remaja dan membantu mengatasinya.
b.
Pendekatan melalui kelompok, di mana ia sudah merupakan anggota
kumpulan atau kelompok kecil tersebut.
2.
Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat
dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan
pelanggaran. Dengan adanya sanksi tegas pelaku kenakalan remaja
tersebut, diharapkan agar nantinya si pelaku tersebut “jera” dan tidak
berbuat hal yang menyimpang lagi. Oleh karena itu, tindak lanjut harus
ditegakkan melalui pidana atau hukuman secara langsung bagi yang
melakukan kriminalitas tanpa pandang bulu.
Sebagai contoh, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang
berlaku dalam keluarga. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman
yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata
cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten.
Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama.
Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan
sesuai dengan perkembangan dan umur.
Di lingkungan sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam
pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam
beberapa hal, guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang
berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan
wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas
menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinankemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
141
represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan
maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan
khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang
bersekolah untuk sementara waktu (skors) atau seterusnya tergantung
dari jenis pelanggaran tata tertib sekolah.
3.
Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Tindakan ini dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya
dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku pelanggar
remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi
melalui pembinaan secara khusus yang sering ditangani oleh suatu
lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Ada beberapa cara mengatasi kenakalan remaja yaitu:
a.
Memberikan kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal
apapun.
b.
Adanya kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga
sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman
bagi remaja.
c.
Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya:
kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih dalam
batas kewajaran, dan apabila menurut pengawasan dia telah melewati
batas yang sewajarnya, maka orangtua perlu memberitahu dia dampak
dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal
yang sudah melewati batas tersebut.
d.
Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda
umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita
membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya
dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun
bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia
jalani.
e.
Remaja harus pandai dalam memilih teman dan lingkungan yang baik
serta orang tua harus memberi arahan dengan siapa dan dikomunitas
mana remaja harus bergaul.
f.
Memberikan pengawasan yang intensif dari orang tua terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
g.
Memberikan bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah
tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
142
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
h.
Memberikan pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti
beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman
kepercayaannya. Hal ini juga betujuan untuk membentuk akhlak yang
baik bagi sang anak yang sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama.
i.
Memberikan dukungan terhadap hobi yang dia inginkan selama itu
masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun
kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat
Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian
dan kepercayaan dirinya.
j.
Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman
untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia
sedang menghadapi masalah.
k.
Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika
ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan
harapan.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari
norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku
tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara
khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile
court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat. Beberapa ahli mendefinisikan
kenakalan remaja ini sebagai berikut.
1)
Kartono, ilmuwan sosiologi. Kenakalan Remaja atau dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah juveniledelinquency merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk
pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk
perilaku yang menyimpang”.
2)
Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai
perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi
tindakan kriminal.”
Masa Remaja
1.
Masa pra-pubertas (12-13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanakkanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat
dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
143
yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan
mulai berkembangnya organ- organ seksual serta organ-organ reproduksi
remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat
juga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung
bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering
diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan
terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya
baik, serta menjadikannya sebagai “hero” atau pujaannya.
2.
Masa pubertas (14-16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan
fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan
fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang
bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil
akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu
pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada
remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama,
sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah
yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini,
sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian
yang baik dan benar tentang seksualitas.
3.
Masa akhir pubertas (17-18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya
dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki
maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap
menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat.
Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja
pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai
dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas
mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum
tercapai sepenuhnya.
4.
Periode remaja Adolesen (19-21 tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan
yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan
mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai
memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka.
Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada
144
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti
cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya
serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja dan Cara
Mengatasinya
1.
Faktor internal
a.
Krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja
memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya
perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya
identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai
masa integrasi kedua.
b.
Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan
membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak
dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut,
namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku
sesuai dengan pengetahuannya.
2.
Faktor eksternal
a.
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar
anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa
memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di
keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan
pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa
menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b.
Teman sebaya yang kurang baik
c.
Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Menurut Kumpfer dan Alvarado, faktor-faktor Penyebab kenakalan
remaja antara lain.
a.
Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral
dan sosial.
b.
Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah
terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
c.
Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di
sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
145
d.
Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
e.
Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
f.
Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan
keluarga.
g.
Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
h.
Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur
otoritas lain.
i.
Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain
atau lingkungan baru.
j.
Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat
terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
Contoh dari Faktor-faktor Tersebut
1.
Pengaruh Teman
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu
bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai
mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman
dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota
itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun
anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan
bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan
juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya
mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal,
kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat
dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya.
Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup
yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi
tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya
maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja
kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat
terlarang, dan lain sebagainya.
Cara Mengatasi :
a.
mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai.
b.
orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan
sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
146
c.
dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari.
Mereka dididik untuk mandiri.
2.
Tekanan Orang Tua dalam Memilih Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu
tugas orang tua kepada anak, agar anak dapat memperoleh pendidikan
yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Terkadang hal ini yang
menjadikan orang tua berkeras hati untuk memasukan anaknya kesekolah
yang manurut orang tua adalah yang terbaik tapi belum tentu untuk
anak itu sendiri. Tak jarang dengan adanya selisih paham tentang
pendidikan anak menjadi lebih egois karena dia mempunyai tempat
pendidikan menurutnya terbaik. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan
berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak
yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak
sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa,
frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah
pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa
mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna
obat-obat terlarang.
Cara Mengatasinya:
a.
Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan
akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi.
Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa
depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai
dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena
kesenangan orang tua.
b.
Berikan Kepercayaan anak untuk memilih pendidikannya dan orang
tua mengawasi anak dan jangan terlalu membatasi selama itu masih
dalam batas kewajaran.
Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya
kenakalan remaja antara lain:
1.
Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan
pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah
dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi permasalahan serta
konflik batin sendiri.
2.
Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja yang tidak
terpenuhi, keinginan dan harapan anak–anak tidak bisa tersalur
dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
147
Anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang
sangat diperlukan untuk hidup normal, mereka tidak dibiasakan dengan
disiplin dan kontrol-diri yang baik, maka dengan demikian perhatian
dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang
berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk
kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih
sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya kenakalan
remaja.
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja antara lain:
1.
Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari kenakalan yang dilakukan oleh remaja akan berdampak
bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental,
walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan
tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Dampak bagi fisik yaitu
seringnya terserang berbagai penyakit karena gaya hidup yang tidak
teratur. Sedangkan dampak bagi mental yaitu kenakalan remaja tersebut
akan mengantarnya kepada mental-mental yang lembek, berfikir tidak
stabil dan kepribadiannya akan terus menyimpang dari segi moral yang
pada akhirnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu kan
terus berlangsung selama remaja tersebut tidak memiliki orang yang
membimbing dan mengarahkan.
2.
Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi
tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi
bekerja. Apabila remaja selaku anak dalam keluarga berkelakuan
menyimpang dari ajaran agama, akan berakibat terjadi ketidakharmonisan
di dalam kekuarga dan putusnya komunikasi antara orang tua dan anak.
Tentunya hal ini sangat tidak baik karena dapat mengakibatkan remaja
sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya
bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minumminuman keras atau mengkonsumsi narkoba. Pada akhirnya keluarga
akan merasa malu dan kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh
remaja. Padahal kesemuanya itu dilakukan remaja hanya untuk
melampiaskan rasa kekecewaannya terhadap apa yang terjadi dalam
keluarganya.
148
3.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Bagi lingkungan masyarakat
Apabila remaja berbuat kesalahan dalam kehidupan masyarakat,
dampaknya akan buruk bagi dirinya dan keluarga. Masyarakat akan
menganggap bahwa remaja itu adalah tipe orang yang sering membuat
keonaran, mabuk-mabukan ataupun mengganggu ketentraman
masyarakat. Mereka dianggap anggota masyarakat yang memiliki moral
rusak, dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan
jelek. Untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan
waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.
4.
Peran Guru/Sekolah
Sebenarnya menjaga sikap dan tindak tanduk positif itu tidak hanya
tanggung jawab para guru dan keluarganya, tetapi semua orang, Guru
yang selalu mengusahakan keluarganya menjadi garda terdepan dalam
memberikan pendidikan dengan sebuah contoh, adalah cerminan
komitmen dan pendalaman makna dari seorang guru. Sang guru harus
berusaha agar keluarganya baik dan tidak korupsi agar ia dapat mengajari
kepada murid-muridnya yang merupakan remaja generasi penerus bangsa
memiliki moral dan ahlak baik dan tidak korupsi, berusaha tidak
berbohong agar murid-muridnya sebagai remaja yang baik tidak menjadi
pendusta, tidak terjaebak dalam kenakalan remaja.
Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah dilaksanakan serta
memiliki posisi yang sangat luhur di masyarakat. Semua orang pasti
akan membenarkan pernyataan ini jika mengerti sejauh mana peran dan
tanggung jawab seorang guru . Peran guru tidak hanya sebatas tugas
yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh hidupnya
memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya
menyampaikan teori-teori akademis saja tetapi suri tauladan yang
digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam kehidupan seharihari.
Terkesannya seorang Guru adalah sosok orang sempurna yang di
tuntut tidak melakukan kesalahan sedikitpun, sedikit saja sang guru
salah dalam bertutur kata itu akan tertanam sangat mendalam dalam
sanubari para remaja. Jika sang guru mempunyai kebiasaan buruk dan
itu di ketahui oleh sang murid, tidak ayal jika itu akan dijadikan
referensi bagi para remaja yang lain tentang pembenaran kesalahan
yang sedang ia lakukan, dan ini dapat menjadi satu penyebab, alasan
mengapa terjadi kenakalan remaja.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
149
Tidak mudah memang untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru
diharapkan tidak hanya didasari oleh gaji guru yang akan dinaikkan,
bukan merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di
bidang yang lain, tidak juga karena peluang. Selayaknya cita-cita untuk
menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk
menciptakan para remaja sebagai generasi penerus yang berkualitas.
Sebaiknya Guru tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, tetapi
adalah bagian hidup dan idialisme seorang guru memang harus dijunjung
setinggi-tingginya. Idealisme itu seharusnya tidak tergantikan oleh apapun
termasuk uang. Namun guru adalah manusia, sekuat-kuatnya manusia
bertahan dia tetaplah manusia, jika terpaan cobaan itu terlalu kuat
manusia juga dapat melakukan kesalahan.
Setiap orang akan menjadi seorang ayah dan ibu yang notabenenya
merupakan guru yang terdekat bagi anak-anak penerus bangsa ini. Akan
sulit bagi seorang ayah untuk melarang anak remajanya untuk tidak
merokok jika seorang ayahnya adalah perokok. Akan sulit bagi seorang
ibu untuk mengajari anak-anak remaja untuk selalu jujur, jika dirumah
sang ibu selalu berdusta kepada ayah dan lingkungannya, atau sebaliknya.
jadi bagaimana mungkin orang tua melarang remaja untuk tidak nakal
sementara mereka sendiri nakal?
Anak itu terlahir bagaikan selembar kertas yang masih putih, mau
jadi seperti apa kelak di hari tuanya tergantung dengan tinta dan
menulis apa pada selembar kertas putih itu. Orang pertama yang patut
disalahkan mungkin adalah guru, baik guru yang ada di rumah (orang
tua), di sekolah (guru), atau pun lingkungannya hingga secara tanpa
disadari mencetak para remaja tersebut untuk melakukan perbuatan
yang dapat digolongkan ke dalam kenakalan remaja.
Peran orang tua yang bertanggung jawab terhadap keselamatan
para remaja tentunya tidak membiarkan anaknya terlena dengan fasilitasfasilitas yang dapat menenggelamkan si anak remaja kedalam kenakalan
remaja, kontrol yang baik dengan selalu memberikan pendidikan moral
dan agama yang baik diharapkan akan dapat membimbing si anak
remaja ke jalan yang benar, bagaimana orang tua dapat mendidik
anaknya menjadi remaja yang sholeh sedangkan orang tuanya jarang
menjalankan sesuatu yang mencerminkan kesholehan, ke masjid misalnya.
Jadi jangan heran apabila terjadi kenakalan remaja, karena sang remaja
mencontoh pola kenakalan para orang tua.
150
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kerja team yang terdiri dari orang tua (sebagai guru dirumah), guru
di sekolah, dan Lingkungan (sebagai Guru saat anak-anak, para remaja
bermain dan belajar) harus di bentuk. Diawali dengan komunikasi yang
baik antara orang tua dan guru di sekolah, pertemuan yang intensif
antara keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat
mendukung bagi pendidikan para remaja. Peran Lingkungan pun harus
lebih peduli, dengan menganggap para remaja yang ada di lingkungannya
adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat
memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak
tanduk si remaja tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk
mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam kenakalan
remaja.
Terlihat betapa peran orang tua sangat memegang peranan penting
dalam membentuk pola perilaku para remaja, setelah semua informasi
tentang pertumbuhan anaknya di dapat, orang tuapun harus pandai
mengelola informasi itu dengan benar.
Terlepas dari baik buruknya seorang guru nampaknya filosofi seorang
guru dapat dijadikan pegangan bagi kita semua terutama bagi para
orang tua untuk menangkal kenakalan remaja, Sang guru bagi para
remaja adalah Orang tua, guru sekolah dan lingkungan tempat ia di
besarkan. Seandainya sang guru dapat memberi teladan yang baik
mudah-mudahan generasi remaja kita akan ada di jalan yang benar dan
selamat dari budaya “kenakalan remaja” yang merusak kehidupan dan
masa depan para remaja.
Dampak Negatif Kenakalan Remaja
Dampak negatif kenakalan remaja adalah bodoh mereka
menjadibodoh, karena mereka tidak mau belajar, tidak pernah belajar
dan tidak mau memikirkan pelajaran, tidak dapat mengatur waktu
dengan baik. Remaja tidak pernah mempergunakan waktunya dengan
baik. Karena waktunya habis terbuang untuk bermain-main dan
bersenang-senang tidak pernah memikirkan pelajaran sekolah. Selain
itu, dapat merusak positif dan tidak pernah melakukan ibadah akibatnya
remaja menjadi nakal dan melakukan perbuatan yang tidak baik.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru/Sekolah
151
DAFTARPUSTAKA
Atkinson. 1999. PengantarPsikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat. 2001. Buku Pedoman Umum Tim
Pembina, Tim Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi
oleh Proyek Peningkatan Kesehatan Khusus APBD 2002.
Hurlock, E.B. 1998. Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo &
Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.
Kozier, B. 1991. Fundamental of Nursing: Concept, Process, and
Practice.Fourth Edition.California: Addison-Wesley Publishing
Company.
Mappiare, A. 1992.Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Soerjono, Soekanto. 1988. Sosiologi Penyimpangan. Rajawali: Jakarta 1985
Perubahan Sosial.
Stuart & Sundeen. 1998.Principle and Practice of Psychiatric Nursing. 6th.
Ed.Philadelphia: The CV Mosby.
152
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
153
KENAKALAN REMAJA DAN PERAN GURU DI SEKOLAH
Juwariyah
SMP Negeri 3 Kota Mojokerto
Hari selasa tanggal 22 november 2016, tepatnya jam 21.00 terjadi
hal yang sangat tragis di sekolah kami. Murid kami tercinta yang
bernama Rehan Adistra main-main di rel kereta api sehingga tidak
sempat lari akhirnya tertabrak kereta, akhirnya meninggal di tempat
dengan kondisi sangat mengenaskan. Ini kejadian sungguh tragis karena
latar belakang anak tersebut berasal dari keluarga broken home ( orang
tuanya berpisah/ bercerai), ia tinggal di rumah kontrakan bersama
ibunya beserta ke empat adiknya. Hari selasa pagi ia masih masuk
sekolah, walaupun sering kena masalah karena ia sering tidak masuk
kelas, namun kata teman-temannya ia tidak pernah meninggalkan
sholat. Semoga segala dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya
diterima disisi Alloh SWT.
Anak remaja pada usia SMP masih rentan dengan pencarian jati
diri, mereka masih ingin coba-coba, jika yang dicoba positif tidak apaapa, tetapi jika yang dicoba negative (minuman yang beralkohol) ini
sungguh bermasalah. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang
menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh
remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orangorang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja
adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang
sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang
untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang
sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok,
Narkoba, Freesex, tawuran antar pelajar. Fakta ini sudah tidak dapat
dipungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang.
Dan saya pun pernah melihat di handphone anak-anak remaja putra dan
remaja putri sedang smsan saat pelajaran dan kata-katanya sungguh
153
154
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
diluar dugaan kita ( anak-anak kls 8 smp sudah berani pacaran yang
keblabasan (ciuman, pelukan, bersetubuh).
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
Kartono, ilmuwan sosiologi “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian
sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang”.
Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai
perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi
tindakan kriminal. Masalah kenakalan mulai mendapat perhatian
masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak
nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
Jenis-jenis kenakalan remaja
·
Minuman beralkohol ( minuman keras)
·
Penyalahgunaan narkoba
·
Seks bebas, kehamilan tidak diinginkan, Aborsi
·
Tawuran antara pelajar, tindak kriminal
·
Kecanduan main game on line
·
Kecanduan lihat film porno
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu
sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja
memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya
perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya
identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai
masa integrasi kedua. Remaja tidak menemukan figur yang bias dijadikan
teladan (orang tua).
Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan
membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
155
dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut,
namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku
sesuai dengan pengetahuannya. Remaja dengan kontrol diri lemah tidak
bisa membedakan mana prilaku yang menyimpang dan mana prilaku
yang baik.
Masalah yang dipendam : Remaja nakal kemungkinan ada masalah
yang dipendam oleh anak tersebut, misalnya ada masalah dikeluarga,
ada masalah kesulitan belajar, ada masalah dengan teman sebayanya.
Dasar-dasar agama yang kurang : Remaja dengan latar belakang
agama yang kurang, maka akan mudah terpengaruh teman atau
lingkungannya.
Faktor eksternal:
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar
anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu
perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun,
seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama,
kurangnya kasih sayang orang tua. kurangnya pengawasan dari orang
tua. kebebasan yang berlebihan atau penolakan terhadap eksistensi
anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Teman sebaya yang kurang baik, teman yang kurang baik bisa
membawa pengaruh buruk bagi remaja, katanya “tidak gaul” jika tidak
mau minum yang beralkohol atau sejenisnya. pergaulan dengan teman
yang tidak sebaya. Bergaul dengan teman yang umurnya jauh di atas
mereka
Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Lingkungan
yang tidak baik, juga membawa pengaruh buruk bagi remaja.
Peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif. Remaja
pada zaman sekarang memang rentan dengan godaan perkembangan
iptek, dimana yang dikhawatirkan adalah tergoda dengan rayuan
tegnologi negative, seperti kecanduan game online dan video porno.
Tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah. Sekolah seharusnya
bisa membimbing dan mengarahkan remaja remaja untuk berbuat baik,
tetapi jika tidak ada bimbingan maka akan mudah terpengaruh pada hal
negative.
156
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya. Sekolah seharusnya
bisa menyalurkan semua bakat dan hoby anak-anak. Jika hoby dan bakat
anak-anak tidak tersalurkan maka anak lebih suka berbuat semaunya
sendiri.
Hal-hal yang bisa dilakukan/ cara mengatasi kenakalan remaja:
1.
Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa
dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa
mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah
melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. Figur ini
bisa didapatkan dari orang tua ( bapak dan ibu) dan guru guru
disekolahnya.
2.
Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan
hal hal yang baik. Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua
dalam hal apapun. Remaja tidak terlalu dimanja, ketika berbuat salah
anak-anak diberi hukuman/panisment (bukan kekerasan, misalnya:
dihukum membersihkan rumah) dan jika berbuat baik maka anak-anak
diberi hadiah ( reward).
3.
Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. Kita boleh
saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan
apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang
sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan
akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang
sudah melewati batas kewajaran tersebut. Sebagai orang tua memang
tidak boleh lengah .
4.
Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga
tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi
remaja. Akhirnya remaja betah tinggal dirumah.
5.
Kita Sebagai orang tua harus menjadi tempat curhat yang nyaman
untuk anak kita, sehingga kita dapat membimbing dia ketika ia sedang
menghadapi masalah. Jika siswa berada disekolah maka guru harus
bisa menjadi tempat curhat bagi anak-anak, buat senyaman mungkin
sehingga siswa kita bisa menggagap kita sebagai pengganti orang tua
dirumah. Sebagai guru yang baik harus bisa menjadi sahabat bagi
anak didik kita.
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
157
6.
Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta
orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja
harus bergaul. Ikut aktif di organisasi baik ikut osis, kegiatan ekstra di
sekolah maupun ikut aktif di karang taruna dan remaja masjid.
7.
Hanya berteman dengan teman yang sebaya saja. contohnya: Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda
umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita
membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak
sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka
dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum
perlu dia jalani.
8.
Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika
ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan
harapan, bentengi diri dengan latar belakang agama. Ikut mengaji di
pondok atau di masjid untuk memberi siraman ruhani.
9.
Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti
tv, internet, radio, handphone. Ini terjadi di sekolah kami karena face
book maka siswi kami berteman dengan anak yang kurang baik
sehingga di berani kabur dari rumah hanya untuk bertemu dengan
teman face booknya. Untuk itu kita harus selalu mengawasi anak-anak
kita.
10. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat
anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah. Disekolah
seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter positif. Ini tugas
kita bersama sebagai pendidik, bukan hanya kuwajiban guru agama
dan guru PPKN saja. Setiap kita mengajar diselingi dengan penanaman
kepribadian yang baik yang bisa diteladani murid-murid kita.
11. Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti
beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman
kepercayaannya. Alhamdulillah disekolah kami, selalu diadakan sholat
dhuhur bersama setiap hari dibimbing oleh guru agama beserta warga
sekolah dan juga setiap minggunya diadakan istighosah dihari jumat
pagi untuk membentegi ruhani anak-anak remaja jaman sekarang.
12. Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif
untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan
dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif.
Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan
kepercayaan dirinya. Sebagai guru yang baik harus bisa mengarahkan
158
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
anak didik kita mencari bakat dan minatnya terhadap mata pelajaraan
maupun terhadap ekstra ekstra yang ada di sekolah. Sehingga
kreativitas anak-anak tersalurkan. Alhamdulillah disekolah kami banyak
kegiatan ekstra, ada ekstra pramuka, PMR, sepak bola, Bola Volly,
Pencak silat, Karawitan, dan lain-lain.
Itulah ulasan tentang jenis-jenis kenakalan remaja dan bagaimana
cara mengatasi kenakalan remaja. Nah kita sebagai pengajar yang baik
harus bisa mengarahkan anak-anak yang notabene nakal dikelas (misalnya
ramai, tidak mengerjakan tugas, dan suka mengganggu temannya)
untuk menjadi anak-anak yang baik. Dengan menyelami kehidupan
remaja maka kita bisa dianggap sebagai sahabat yang baik bagi anak
anak didik kita, jangan sampai anak-anak curhat pada teman yang tidak
baik. Rangkullah anak anak yang nakal di kelas, bisa jadi anak-anak
tersebut kurang kasih sayang dari orang tuanya atau mereka sedang
dihimpit berbagai masalah bisa masalah kesulitan belajar maupun masalah
ekonomi keluarganya. untuk remaja yang sudah terjerumus dalam
pergaulan anak muda jaman sekarang sebaiknya bertobat/renungkanlah
lagi apa yang telah kalian perbuat yang telah mengecewakan semua
orang. jadilah anak yang berbakti pada orang tua kalian, gapai mimpi,
cita-cita, dan harapan, karena masa depan kalian masih panjang.
Sebagai seorang guru harus bisa menjadi pionir inspirasi buat
murid-muridnya. Guru harus bisa mengkondisikan kelasnya, suasana
kelas yang nyaman, tertib tanpa tekanan akan membuat pelajaran
menjadi lebih sampai ke anak-anak. Para pendidik harus tahu latar
belakang anak, karena jika anak tersebut ada masalah dalam keluarganya
pasti anak tersebut dalam menerima pelajaran sulit akhirnya ramai
dikelas, tidak mengerjakan tugas bahkan mengaggu temannya. Jika
guru bisa menjadi sahabat bagi anak maka anak-anak yang bermasalah
akan bercerita pada kita, jangan sampai anak anak tersebut lari mencari
pelampiasan yang tidak terarah seperti bercerita pada teman yang salah(
salah pergaulan), akhirnya di ajak minum-minuman keras untuk
menghilangkan masalahnya.
Sebagai penutup tulisan saya, bertepatan dengan hari guru nasional
pada tanggal 25 november kemarin, maka kita sebagai guru yang akan
membawa generasi penerus bangsa ini menuju keberhasilan. Guru
merupakan pendidik yang bisa di gugu dan ditiru. Digugu maksudnya
ucapannya dipatuhi anak-anak, ditiru maksudnya perbuatannya dicontoh
Kenakalan Remaja dan Peran Guru di Sekolah
159
anak-anak. Untuk itu sebagai guru yang baik harus bisa memberi contoh
yang baik, baik melalui ucapannya maupun perbuatannya. Sebagai
pendidik yang baik bukan hanya menstranfer ilmu saja tetapi juga
memotivasi, mendidik dan mengarahkan anak-anak untuk berbuat baik.
Wahai para guru Jangan berhenti berkarya!!!! Teruslah mengabdi untuk
pembentukan karakter dan kebribadian budaya bangsa. Bangsa dan
Negara bisa sukses jika moral para remaja-remaja kita baik, anak anak
terus berpretasi tanpa terpengaruh oleh godaan baik dari dalam diri
maupun dan luar lingkungan mereka. Jayalah indonesiaku. Bersatu kita
teguh bercerai kita runtuh.
160
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Jaringan Anti Narkoba “Siap Lapor “ SMP 22 Negeri Malang
161
JARINGAN ANTI NARKOBA “ SIAP LAPOR ” SMP NEGERI 22 MALANG
Sumarno
SMP Negeri 22 Malang
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan
Bahan Adiktif lainnya.Terminologi narkoba familiar digunakan oleh
aparat penegak hukum seperti polisi (termasuk didalamnya Badan
Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain
narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah
Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Istilah napza biasanya
lebih banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan rehabilitasi. Akan
tetapi pada intinya pemaknaan dari kedua istilah tersebut tetap merujuk
pada tiga jenis zat yang sama.
Menurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan
pengertian Narkotika adalah “zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan”.
Sebenarnya Narkoba itu obat legal yang digunakan dalam dunia
kedokteran, namun dewasa ini Narkoba banyak disalahgunakan. Bahkan
kalangan muda tidak sedikit yang menggunakan narkoba. Banyak dari
mereka yang menggunakan Narkoba dengan alasan untuk kesenangan
batin, namun sayangnya tidak banyak yang mengetahuai bahaya narkoba.
Terutama diwilayah Cemorokandang yang merupakan salah satu wilayah
pinggiran kota Malang. Peredaran dan penyalah gunaan narkoba yang
marak dewasa ini menimbulkan keresan bagi sebagian besar orang tua
dan sekolah, sehingga perlu adanya beberapa inovasi untuk menangulangi
hal tersebut.
Tujuan
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan
generasi muda di wilayah Cemorokandang dewasa ini kian meningkat.
161
162
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat
membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari.
Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus
bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur
syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya,
generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal
kenangan. Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau
remaja. Bahkan sampai dengan anak-anak usia sekolah dasar, oleh
karena itu dibutuhkan kerjasama dari seluruh komponen masyarakat
diseluruh wilayah cemorokandang sehingga generasi muda wilayah
cemorokandang bisa terlindungi dari peredaran dan penyalahgunaan
narkoba.
Jaringan Siap Lapor Anti Narkoba
Apa Itu JARINGAN SIAP LAPOR? Jaringan SIAP LAPOR salah satu
bentuk jaringan ANTI NARKOBA SMPN 22 Malang yang berangotakan
beberapa unsur yang bersingunggan secara langsung mapun tidak
langsung dengan siswa SMPN 22 Malang dengan tujuan untuk melaporkan
segala bentuk yang berkaitan dengan peredaran dan penggunaan narkoba
disekitar wilayah SMPN 22 Malang pada khususnya dan peredaran
narkoba diwilayah kelurahan Cemorokandang pada umumnya. Dengan
memberikan informasi melalui media elektronik maupun secara langsung
datang ke:
-
Posko Anti Narkoba
-
SMPN 22 Malang, dengan Call Center.
-
Email. [email protected]
-
Telp./WA/ SMS pada nomor 081230868566
-
Web. Smpn22-mlg.sch.id
-
Fb. SMPN 22 Anti Narkoba
-
Blog. SMPN 22 Anti narkoba blog spot.com
-
Instagram. Siap Lapor. SMPN 22 Malang
Adapun unsur-unsur tersebut adalah:
1.
Kader Anti Narkoba dan Spionase 22
Kader anti narkoba SMPN 22 adalah beberapa siswa yang terlatih
dan faham akan bahaya narkoba mereka adalah kader yang diharapkan
Jaringan Anti Narkoba “Siap Lapor “ SMP 22 Negeri Malang
163
bisa memberikan penyuluhan terhadap teman sebaya sekaligus
memberikan pengawasan secara langsung terhadap seluruh siswa terhadap
penyalahgunaan dan peredaran narkoba di SMPN 22 Malang, sedangkan
Spionase 22 adalah perwakilan dari masing- masing kelas dimana setiap
kelas ada 2 siswa yang berperan sebagai spionase dan memberikan
laporan kepada Kader anti narkoba kalau ada indikasi siswa yang
mengedarkan atau menggunakan narkoba.
2.
Pedagang keliling
Pedagang keliling adalah pedagang yang selalu berkeliling kesekolahsekolah disekitar kelurahan Cemoro kandang, mulai dari SD
Cemorokandang 1 sampai dengan SD cemorokandang 4, MTSn 2 SMPKN
9 dan SMPN 22 pedagangnya selalu sama. pedagang keliling yang selalu
datang siang hari di SMPN 22, pada saat siswa pulang sekolah. Mereka
merupakan orang-orang yang faham betul apa yang dilakukan oleh
siswa sepulang sekolah, kemana anak-anak berkumpul dengan siapa dia
berkumpul bahkan apa yang dilakukan siswa, karena mereka yang selalu
berada diluar dan berinteraksi secara intens dengan siswa saat pulang
sekolah sehingga tidak ada salahnya apabila para pedagang keliling
disekitar sekolah dijadikan sebagai Informan tentang peredaran dan
penggunaan narkoba disekitar sekolah.
3.
Pedagang di Kantin sekolah
Kantin sekolah merupakan sarana siswa berkumpul pada jam-jam
istirahat baik istirahat pertama maupun istirahat kedua, hampir semua
siswa berkumpul disana baik yang membeli atau sekedar mengantar
teman, dan pedagang di kantin faham betul dengan anak-anak, baik
yang pendiam ataupun anak-anak yang sering berbuat ulah, mereka
adalah orang-orang yang dekat dengan siswa setiap siswa istirahat.
4.
Penjaga parkir disekitar sekolah
Sebenarnya siswa SMP belum diijinkan untuk mengendarai sepeda
motor, namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali
siswa yang mengendarai sepeda motor ke sekolah meskipun sudah
sering kali sekolah mengingatkan pada orang tua untuk mengantar
anaknya. Sebuah ironi memang, namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri
letak geografis SMPN 22 Malang yang berada pada puncak Gunung
Buring dan tidak ada angkutan yang bisa mengantar mereka maka
dengan penuh berat hati kita menutup mata dengan hal tersebut. Ada
164
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
4 tempat parkir yang berada di sekitar sekolah, mereka adalah orangorang pertama yang dijumpai siswa ketika datang ke sekolah dan tidak
jarang siswa selalu berkerumun baik ketika datang maupun pulang
sehingga bisa dikatakan bahwa tempat parkir dijadikan tempat nongkrong
anak-anak sebelum dan setelah pulang sekolah, apa yang dilakukan
anak-anak disana ? penjaga parkir yang tahu tentang hal itu, sehingga
tidak ada salahnya kita melibatkan mereka dalam team work ini.
5.
Pedagang / warung disekitar sekolah.
Ada sekitar 4 warung / toko disekitar sekolah yang biasa juga
digunakan sebagai tempat nongkrong siswa ketika siswa datang maupun
ketika siswa pulang mereka juga hafal betul dengan siswa-siswi SMPN 22.
6.
Sekolah Dasar di wilayah Cemorokandang
Ada 4 sekolah dasar disekitar SMPN 22 yaitu SDN Cemorokandang 1
sampai dengan SDN Cemorokandang 4 hampir 75 % murid-murid dari
sekolah dasar ini masuk di SMPN 22, sehingga sangatlah tepat menjadikan
keempat SD ini sebagai informan awal tentang anak-anak yang nantinya
akan masuk ke SMPN 22 Malang.
7.
Kelurahan, RW dan RT dan Tokoh masyarakat
Kelurahan, RW dan RT merupakan lembaga resmi pemerintahan
yang langsung bersinggungan dengan masayarakat dimana SMPN 22
berada, melibatkan lembagalembaga inimsangatlah penting karena hampir
80 % Siswa SMPN 22 Berasal dari wilayah disekitar sekolah yang
merupakan warga dari RW 9 dan RW 7 Kelurahan Cemorokandang,
sehingga kalau ada permasalahan yang melibatkan masyarakat setempat
akan mudah menyeslesaikannya.
8.
Karang Taruna RW 9 dan RW 7
Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan yang ada disetiap RW
dan beberapa siswa SMPN 22 adalah aggota dari karang taruna,,
melibatkan mereka secara aktif dalam jaringan ini akan banyak
memberikan keuntungan Karena jaringan SIAP LAPOR ini kedepan
bukan hanya untuk kepentingan sekolah SMPN 22 saja tetapi juga akan
memberikan control terhadap peredaran narkoba diwilayah
Cemorokandang.
Jaringan Anti Narkoba “Siap Lapor “ SMP 22 Negeri Malang
9.
165
BNN Kota Malang, Polsek Kedung Kandang, dan Koramil Kedung
Kandang
Lembaga-lembaga Negara ini merupakan unsur tepenting dari Net
working SIAP LAPOR SMPN 22 ANTI NARKOBA. Karena tidak semua
masalah bisa diselesaikan oleh fihak sekolah maka perlu unsur tekait
untuk merikan dukungan dalam upaya membebaskan wilayah
Cemorokandang dari penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
Dengan unsur-unsur tersebut diatas Net Working Siap Lapor akan
bisa memberikan arti lebih bagi pemberantasan penyalahgunaan dan
peredaran narkoba diwilayah Cemorokandang pada khususnya dan di
Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu mulai saat ini kita selaku
pendidik, masyarakat, dan sebagai orang tua harus sigap dan waspada,
akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak
kita sendiri. Dengan berbagai upaya cara untuk mencegah penyalahgunaan
narkoba dan narkotika mari kita jaga dan awasi anak didik kita dari
bahaya narkoba tersebut.
Tindak lanjut
Sebagai satgas anti narkoba di lingkungan sekolah tentu kewenangan
dalam menangani kasus atau masalah yang berkaitan dengan narkoba
hanya sebatas dilingkungan sekolah dan mempunyai hubungan langsung
dengan pembinaan siswa, oleh karena itu setiap laporan yang masuk
dari berbagai sumber akan kami pilah menjadi beberapa bagian
diantaranya :
1.
Masalah yang berkaitan langsung dengan siswa dan dapat diselesaikan
secara mandiri oleh pihak sekolah dengan melibatkan orang tua siswa
2.
Masalah yang berkaitan secara langsung dengan siswa dan masyarakat
sehingga dalam penyelesainya harus melibatkan orang tua dan
organisasi masyarakat setempat seperti Kelurahan, RW dan RT.
3.
Masalah yang berkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan
siswa yang melibatkan masyarakat luar sehingga penyelesainya harus
melibatkan instansi terkait yang mempunyai wewenang terhadap
permasalahan tersebut misalnya pihak BNN, Polsek Kedung Kandang
maupun Koramil Kedung Kandang
Demikian tindak lannjut yang dapat dilakukan oleh Kader Anti
Narkoba SMPN 22 Malang dalam menyelesaikan berbagai permasalahan
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
166
yang berkaitan dengan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran
narkoba di wilayah Cemorokandang, semoga semua pihak bisa berperan
aktif dalam Jaringan Siap Lapor Anti Narkoba ini sehingga apa yang
menjadi tujuan bersama yaitu Indonesia bebas narkoba bisa terwujud.
Adapun hasil yang diperoleh setelah berjalannya kegiatan ini selama
satu bulan sudah ada dua laporan dari email, satu lewat telepon dan
satu laporan langsung dari pedagang keliling. Semoga kepedulian
seluruh anggota jaringan anti narkoba ini terjalin secara terus menerus
sehingga peredaran narkoba diwilayah cemorokandang bisa ditekan
seminimal mungkin, semoga.
Penutup
Kesimpulan
Dari uraian di atas bisa ditark kesimpulan bahwa:
1.
Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak
generasi muda dan masa depan bangsa
2.
Perlu kerjasama secara aktif seluruh komponen masyarakat,
pemerintahan dan sekolah untuk menangulangi peredaran dan
penyalahgunaan narkoba.
3.
NET WORKING SIAP LAPOR ANTI NARKOBA merupakan salah satu upaya
untuk mengetahui lebih dini penyalahgunaan dan peredaran narkoba
sebelum berdampak lebih buruk terhadap siswa dan generasai muda
diwilayah Cemorokandang
Saran
NETWORKING SIAP LAPOR ANTI NARKOBA adalah salah satu upaya
untuk mengendalikan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, perlu
adanya kerja keras dari semua pihak yang terlibat didalamnya untuk
memujudkan sebuah wilayah benar-benar bebas dari bahaya narkoba,
semoga keberhasilan NET WORKING SIAP LAPOR ANTI NARKOBA ini
nantinya dapat ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia dengan
harapan dapat membebaskan seluruh pelajar Indonesia terbebas dari
bahaya narkoba, semoga.
Jaringan Anti Narkoba “Siap Lapor “ SMP 22 Negeri Malang
167
Kegiatan Launching Jaringan Siapa Lapor ANTI NARKOBA SMPN
22 Malang Yang dihadiri oleh, Kapolsek Kedung Kandang, Dan
Ramil Kedung Kandang, Ketua BNN Kota Malang, Perwakilan
SMKN 9 Malang, Kepala SDN Cemorokandang 1, 2, 3, 4, Para
pedagang keliling di sekolah-sekolah wilayah Kedung Kandang,
Penjaga-penjaga kantin di SMPN 22, Penjaga-penjaga warung di
sekitar sekolah SMPN 22, Penjaga Parkir sekitar sekolah, Ketua
RW 9 dan RW 04 kel Cemorokandang, Ketua RT 04 RW 9 dan RT 07
RW 4 Kelurahan Cemorokandang , Karang Taruna RW 09, ibu PKK
RW 09, Paguyuban sekolah dan Komite sekolah.
168
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
PIK Remaja AR Risalah Peduli Generasi Emas
169
PIK REMAJA AR RISALAH PEDULI GENERASI EMAS
Eko Endri Wiyono
MTsN Tanjunganom Nganjuk
Pada masa kini remaja sering kali mengalami permasalahan yang
sangat kompleks seiring dengan fase tumbuh kembang yang dialami
remaja. Masalah yang dialami para remaja sangat beragam. Sebagian
besar remaja belum memahami mengenai permasalahan seputar remaja
seperti kenakalan remaja (tawuran, kebut-kebutan, bolos sekolah,
narkoba, kasus video porno), terlebih permasalahan tentang kesehatan
reproduksi remaja, dampaknya akan menjadi permasalahan sosial seperti
kasus remaja hamil di luar nikah, pernikahan dini (usia sekolah) bahkan
sampai dengan kasus HIV/AIDS. Masalah yang menonjol dikalangan
remaja antara lain masalah seksualitas (kehamilan yang tidak diinginkan
dan aborsi), terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PSM), HIV dan AIDS,
penyalahgunaan NAPZA dan sebagainya. Sebagai bentuk dalam untuk
meningkatkan pemahaman dan pengetahuan remaja khususnya di
lingkungan MTsN Tanjunganom mengenai kesehatan reproduksi remaja
serta kenakalan remaja, maka pada bulan Agustus 2016 di bentuklah PIK
Remaja AR RISALAH.
Kondisi Kabupaten Nganjuk
1.
Profil Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013'
BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah
sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari atas: Tanah
sawah 43.052.5 Ha, Tanah kering 32.373.6 Ha Tanah hutan 47.007.0 Ha.
Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan,
Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup
produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun
tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi
dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini
169
170
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang
69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang
mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha. Jumlah curah hujan per bulan
selama 2002 terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu 7.416 mm dengan
rata-rata 436 mm. Sedangkan terkecil terjadi pada bulan November
dengan jumlah curah hujan 600 mm dengan rata-rata 50mm. Pada bulan
Juni sampai dengan bulan Oktober tidak terjadi hujan sama sekali.
Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang dalam bahasa Jawa
Kuna berarti Tanah Kemenangan. Dibangun pada tahun 859 Caka atau
937 Masehi.
2.
Pembagian administratif
Nganjuk mempunyai 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan.
Kecamatan-kecamatan tersebut adalah: Bagor, Baron, Berbek, Gondang,
Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos,
Ngluyu,Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sawahan,
Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan.
3.
Agama dan Budaya
Mayoritas penduduk di Kabupaten Nganjuk memeluk agama Islam
dengan jumlah hampir 99%, dan sisanya menganut agama Kristen,
Hindu, Budha, Khonghucu.
Sejarah PIK-R AR RISALAH
Sebagai seorang Guru Bimbingan Konseling tentu kita harus siap
dan sigap ditempatkan dimana saja termasuk mutasi ke sekolah lain.
Sebelumnya penulis aktif di MTsN Lengkong sebelum di MTsN
Tanjunganom Nganjuk. Pada tanggal 15 Januari 2014 di MTsN Lengkong
di bentuklah PIK-R AL AZMI, sebagai wadah kegiatan para siswa.
Berjalannya waktu pada bulan Agustus 2016 digulirkannya mutasi dan
akhirnya ditempatkan di MTsN Tanjunganom, nah saat itu juga dibentuklah
Pusat informasi Konseling Remaja AR RISALAH adalah Organisasi yang
dibangun dan dikelola dari, oleh dan untuk remaja. Bertujuan
mensosialisasikan Kelurga Berencana (KB) dan antisipasi terhadap perilaku
seks bebas juga NAPZA yang mengakibatkan HIV/AIDS, serta memberikan
pendidikan tentang reproduksi sehat bagi remaja. PIK Remaja AR RISALAH
berusaha untuk mengadakan sosialisasi atas dampak penyalahgunaan
Narkoba dan bahaya HIV & Aids serta dampak pergaulan bebas ke siswa-
PIK Remaja AR Risalah Peduli Generasi Emas
171
siswi MTsN Tanjunganom. Terdorong rasa keprihatinan sekolah terhadap
pergaulan bebas yang saat itu sudah mulai menjadi trend dikalangan
remaja. Dengan sosialisasi oleh dan untuk remaja diharapkan mereka
mulai memikirkan bagaimana hidup sehat, dan beretika. Sehingga pada
tahun 2016 yang lalu ditanda tangani Mou antara MTsN Tanjunganom
dengan BPPKBD Kab Nganjuk sebagai tanda terbentuknya PIK-Remaja di
MTsN Tanjunganom dengan nama PIK-Remaja AR RISALAH. Hal ini tidak
lepas dari dorongan berbagai pihak, Kehadiran PIK-Remaja AR RISALAH
sangat membantu remaja dalam mengatasi masalah. dan kehadirannya
sangat diharapkan, terbukti semakin banyak siswa-siswi untuk
mengadakan sosialisasi. Eko Endri Wiyono, S.Pd selaku pembina PIKRemaja AR RISALAH senantiasa merangkul semua lini untuk berperan
serta aktif dalam kegiatan siswa sehingga siswa tergugah untuk lebih
giat dan aktif. Pusat Informasi Konseling Remaja AR RISALAH dibentuk
berdasarkan sebuah rapat pertemuan sebagai tindak lanjut dari hasil
Sosialisai PIK Remaja di Kabupaten Nganjuk yang kemudian
ditindaklanjuti dengan pembentukan sususnan pengurus PIK Remaja AR
RISALAH.
Materi Sosialisasi
a.
b.
Materi dan Isi Pesan yang diberikan oleh dari untuk remaja di Pusat
Informasi Konseling Remaja AR RISALAH adalah sebagai berikut:
1)
TRIAD KRR
2)
Pedewasaan Usia Perkawinan.
3)
Pemahaman tentang Hak-hak Reproduksi
4)
8 Fungsi Keluarga
5)
Life skill
Kegiatan yang dilakukan:
1)
Sosialisasi dan berkegiatan yang dilakukan oleh PIK Remaja AR
RISALAH
2)
Bentuk aktifitas bersifat penyadaran (KIE) di PIK Remaja AR
RISALAH
3) Menggunakan media sebagai sarana sosialisasi
4) Melakukan pencatatan dan pelaporan
172
c.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Program kerja
Setelah selesai kepengurusan terbentuk, disusunlah program kerja
sebagai pedoman kegiataan selanjutnya. Adapun program kerja tersebut
meliputi :
1)
Pembekalan Pengurus
2)
Penataan Administrasi
3)
Sosialisasi PIK Remaja AR RISALAH kepada Remaja
4)
Rekrutmen Anggota
5)
Sosialisasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
6)
Pengadaan Perpustakaan Mini
7)
Pembuatan Blog
8)
Pembuatan Mading
9)
Konseling Sebaya
10) Pertemuan Rutin
11) Life Skills
12) Pemilihan Pengurus
13) Pelantikan Pengurus
Kegiatan
Kegiatan yang sudah dilakukan oleh PIK Remaja AR RISALAH Periode
Kepengurusan Tahun 2016/2017 adalah :
1.
Pembekalan Pengurus
Kegiatan yang dilaksanakan ini dimaksudkan untuk membekali
pengurus PIK Remaja AR RISALAH yang baru dilantik dengan pengetahuan
dasar tentang TRIAD KRR menjalankan fungsinya. Kegiatan ini
dilaksanakan di ruang MTsN Tanjunganom dengan materi seksualitas,
HIV, AIDS, dan NAPZA BNN Jawa Timur. Kegiatan ini dimaksudkan untuk
melengakapi pembekalan awal. Pada saat itu dijelaskan tentang program PIK Remaja, dan 8 fungsi Keluarga.
2. Penataan Administrasi
Administrasi merupakan sarana mencapai tujuan, yang jelas sangat
penting dalam jalanya organisasi. Sebagai pengurus periode pertama,
sudah pasti segala sesuatunya dimulai dari nol. Karenanyalah dilakukan
penataan administrasi meliputi pengadaan buku administrasi dan
pengisinya.
PIK Remaja AR Risalah Peduli Generasi Emas
3.
173
Sosialisasi PIK Remaja AR RISALAH kepada Remaja
Sebagai sebuah organisasi baru, tentu masih banyak siswa yang
belum mengenal PIK Remaja AR RISALAH. Maka dilakukanlah sosialisasi
tentang organisasi ini kepada siswa, baik secara personal oleh tiap-tiap
pengurus.
4.
Rekrutmen Anggota
Jumlah personal PIK Remaja AR RISALAH saat terbentuk tidak terlalu
banyak, rekrutmen anggota dilakukan untuk menambah kekuatan PIK
Remaja AR RISALAH dalam melaksanakan fungsinya.
5.
Sosialisasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
Permasalahan-permasalahan terkait remaja begitu kompleks. Pengurus
kemudian mengadakan kegiatan Sosialisasi tentang kesehatan Reproduksi
Remaja untuk seluruh siswa.
6.
Mengikuti Sosisalisasi KRR
Yang diselenggrakan oleh BPPKB Kabupaten Nganjuk. Atas undangan
Badan pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten
Nganjuk, Sosialisasi KRR yang dilaksanakan di Gedung Anjuk Ladang
pada hari Sabtu, 28 Desember 2013. Kegiatan ini didiikuti oleh Guru Bk
dan Waka Kesiswaan SLTP Negeri/Swasta.
7. Mengikuti Capacity Building oleh Pengurus di Hotel Istana
Nganjuk
8.
Mengikuti Capacity Building oleh Pembina di BKK Pasuruhan
9.
Pengadaan Perpustakaan Mini
Diperlukan untuk menambah wawasan anggota sebagai bekal
melakukan konseling ataupun KIE, maka PIK Remaja AR RISALAH
mengusahakan Perpustakaan Mini dengan mengumpulkan buku-buku
ataupun kliping secara swadaya anggota, sumbangan pihak luar, serta
meminjam perpustakaan sekolah.
10. Pembuatan Mading
Bekerja sama dengan eskul jurnalistik, PIK AR RISALAH mengisi
artikel tentang KRR atau materi lain yang terkait dimading sekolah.
Bahkan secara berkala PIK Remaja AR RISALAH juga menerbitkan
madingnya sendiri, yang khusus membahas seputar permasalahan remaja.
174
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
11. Mempunyai akses pada jaringan internet
PIK Remaja AR RISALAH, lebih dikenal oleh masyarakat luas dan
sekaligus juga untuk sosialisasi/KIE tentang permasalahan- permasalahan
remaja, memamfaatkan jaringan internet, maka PIK Remaja AR RISALAH
memanfaatkan blog dengan label PIK R yang dapat dakses didunia maya
12. Konseling Teman Sebaya
Konseling Teman Sebaya dilakukan oleh pengurus yang sudah
terlatihKegiatan ini dilakukan secara personal. Waktu dan tempat
penyesuaianya.
13. Pertemuan Rutin
Pertemuan Rutin PIK Remaja AR RISALAH dilakukan setiap hari
Jum’at, Kegiatan ini dimaksudkan untuk koordinasi terkait dengan
pelaksanaan program, dinamika kelompok, pembinaan khusus.
14. Life Skills
Multimedia, Jurnalistik, Broadasting dan Toga sebagai bekal keakapan
hidup remaja, Mengadakan pelatihan-pelatihan untuk membekali anggota
PIK Remaja dengan ilmu/pengetahuan dan kerterampilan agar dapat
mencari penghasilan sendiri.
Sarana Dan Prasarana
1.
Ruang Khusus dan Ruang Aktifitas Pengurus
PIK Remaja AR RISALAH belum memiliki ruang khusus untuk konseling
yang nyaman, dan ruang aktifitas pengurus yang cukup luas, meskipun
pengelolaanya sudah mandiri dan dibawah binaan dari Bimbingan
Konseling di sekolah.
2.
Pengelolaan dan tanggungjawab
Pengelolaan PIK Remaja AR RISALAH ditangani sesuai struktur
organisasi, yang meliputi Pelindung dan Pembina, unsur organisasi ada
Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara, sedangkan bidang di PIK
Remaja AR RISALAH Konsultasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Bidang
pengembangan Sumber Daya Manusia, Bidang advokasi dan Humas,
Bidang penelitian dan Evaluasi.
3.
Memiliki Identitas diri
Identitas PIK Remaja AR RISALAH terletak representatif terbuat dari
banner, sehingga mampu menjadi penunjuk bagi remaja, yang memuat
nama PIK, alamat, website, facebook, email dan sms counseling.
PIK Remaja AR Risalah Peduli Generasi Emas
4.
175
Lokasi mudah diakses serta digemari remaja
PIK Remaja AR RISALAH beralamat di desa Tanjunganom, kecamatan
Tanjunganom Nganjuk, berada di lingkungan persawahan dan
perkampungan, berdekatan dengan sarana tempat peribadatan.
5.
Jumlah Pendidik Sebaya
Sebagai PIK Remaja AL AZMI yang dalam tahapan tumbuh memiliki
2 Pendidik Sebaya, meskipun masih dalam tahab tumbuh namun giat
berlatih dan memiliki dedikasi yang tinggi untuk tumbuh, sebagai
konsekuensinya harus menjadi profesional dengan adanya pelatihan.
6.
Memiliki Konselor Sebaya yang dapat di akses
Sebagai PIK Remaja AR RISALAH yang dalam tahapan tumbuh
belum memiliki Konselor Sebaya, namun PIK Remaja AR RISALAH
berkomitmen untuk senantiasa eksis, perlu pelatihan untuk menuju
profesional.
7.
Bersinergi dengan AR RISALAH MEDIA
AR RISALAH MEDIA yang menaungi website dan multimedia. Sebagai
sarana untuk menuju kecakapan hidup dan mensosialisasikan programprogram dari PIK Remaja AR RISALAH.
8.
Memiliki SMS Konseling
PIK Remaja AR RISALAH memiliki hotline SMS yang dapat dihubungi
oleh para remaja, diharapkan dapat dijadikan tempat curhat alternatif
bagi para remaja yang mengalami kesulitan mengenai permasalahan
remaja.
9.
Memiliki Perpustakaan Mini
Perpustakaan Mini PIK Remaja AR RISALAH memiliki beberapa
koleksi mengenai buku pengetahuan populer, buletin, majalah dan buku
alternatif yang disukai remaja.
Inovasi
1.
Dinamika Kelompok
Dalam pelaksanaan kegiatan PIK Remaja AR RISALAH tidak selalu
mengacu pada sosialisasi saja melainkan mampu menyuguhkan alternatif
berdinamika kelompok dalam game, permainan sederhana yang
menyenangkan dan menghibur.
176
2.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kecakapan Hidup (Life Skill)
Bersinergi dengan AR RISALAH MEDIA yang mengelola website,
disamping mensosialisasikan program PIK Remaja AR RISALAH juga mampu
untuk mengasah pengetahuan. Bersinergi dengan AR RISALAH MEDIA
yang mengelola jurnalistik, menambah pengetahuan tentang jurnalistik,
mulai dari proses peliputan sampai keredaksian. Semuanya itu bermuara
pada kecakapan hidup yang akan bermanfaat dikemudian hari.
Perlunya penguatan para remaja dengan aktifitas dan pengetahuan
yang benar, Untuk itulah PIK-R AR RISALAH senantiasa berbenah dan
bersinergi dengan berbagai instansi untuk menambah kacakapan dalam
kemandirian life skill, termasuk dengan sekolah maupun madrasah,
BPPKBD, BNN, PERPUSDA dan AR RISALAH MEDIA yang mengelola
jurnalistik website,. Semuanya itu bermuara pada kecakapan hidup yang
akan bermanfaat dikemudian hari.yang senantiasa aktif, proaktif, agresif
diperlukan adanya serapan yang dapat dijadikan pedoman pembinaan
dan pengkaderan,
Penutup
Demikian sekilas tentang PIK-R AR RISALAH, dengan segala
kerendahan hati, kami memohon Kehadirat Sang Ilahi Robbi agar kami
dapat terus melangkah menapaki masa depan dengan didasari ilmu dan
keikhlasan. Akhirnya kami mohon kepada seluruh pembaca, baik
pembina, sahabat maupun kerabat kiranya dapat ikut memberi masukan
dan mengingatkan kami agar keberadaan kami bisa memberikan arti.
DOKUMENTASI KEGIATAN
1)
Sosialisai Pembentukan PIK Remaja oleh BPPKB Nganjuk tahun 2013,
awal terbentuk nya PIK Remaja AL AZMI/ PIK AR RISALAH
PIK Remaja AR Risalah Peduli Generasi Emas
177
Sosialisasi Pembentukan PIK Remaja yang diselenggrakan oleh BPPKB
Kabupaten Nganjuk. Atas undangan Badan pemberdayaan Perempuan
dan Keluarga Berencana Kabupaten Nganjuk, Sosialisasi KRR yang
dilaksanakan di Gedung Anjuk Ladang pada hari Sabtu, 28 Desember
2013. Kegiatan ini didiikuti oleh Guru BK dan Waka Kesiswaan SLTP
Negeri/Swasta.
2)
Peringatan Hari AIDS tahun 2016
3)
PIK Remaja AR RISALAH yel yel
178
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
4)
Lomba Yel dan Poster Anti Narkoba
5)
Dinamika Kelompok dengan Genre Kit
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
1
TEMA 2:
MEWUJUDKAN PENDIDIKAN
INKLUSIF, HUMANIS, DAN BERBASIS
LITERASI UNTUK CALON GENERASI
EMAS BANGSA
1
2
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
179
PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 MALANG
Yachya Hasyim
SMK Negeri 2 Malang
Konferensi Dunia tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK) pada bulan Juni 1994 di Kota Salamanca Spanyol, diterbitkan
deklarasi yang dikenal sebagai ’The Salamanca Statement on Inclusive
Education’. Dokumen ini mengakui hak asasi dari semua anak-anak
untuk pendidikan yang inklusif, dari perjanjian tersebut dapat
disimpulkan berarti bahwa education for all—pendidikan untuk semua—
harus diberlakukan. Negara yang hadir dalam konferensi Dunia ada 193
termasuk Indonesia, dalam Konferensi Dunia tersebut telah
ditandatangani pernyataan tentang hak-hak anak dan komitmen untuk
melaksanakan pernyataan ini di negara masing-masing.
Selanjutnya, adalah sunatullah bahwa setiap individu khas berbeda
satu dengan lainnya, perbedaan itu adalah keindahan, tapi dapat juga
berarti menuntut pemahaman atas individu lainnya. Perlu dipahami
bahwa keberadaan siswa ABK inklusi adalah salah satu wujud
keberagaman tersebut, seyogyanya diterima perbedaan serta keberagaman
tersebut dengan memberikan pendidikan secara inklusi. Prinsip mendasar
dari pendidikan inklusif adalah “(Jika mungkin) semua anak seyogyanya
belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan
yang ada”. Pendidikan inklusif berarti sekolah harus mengakomodasi
semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial-emosional,
linguistik atau kondisi lainnya (Tarmansyah, 2003).
Masalah pendidikan inklusif ini juga dijamin oleh UUD 1945 RI, Pasal
31 Ayat (1) yang berbunyi ”Setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan”. Di dalam kitab suci Al-Quran juga ada beberapa ayat yang
mencerminkan pendidikan inklusif, di mana pada ayat suci Allah tersebut
dikatakan bahwa semua makhluk itu sama. Inilah beberapa ayat yang
dapat dijadikan pedoman, antara lain Surat At Tin ayat 4 yang berbunyi
”sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya” dan Surat Al Hujarat ayat 11 & 13 yang berbunyi ”hai
orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum
179
180
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik
dari mereka (yang mengolok-olokkan) … manusia diciptakan berbagai
bangsa untuk kenal mengenal … (ayat 13).”
Perlu diketahui bahwa sampai sejauh ini masih belum didapatkan
format pendidikan inklusif yang tepat dan sesuai. Pakar pendidikan
inklusif di berbagai perguruan tinggi giat berusaha merancamg serta
mencari model bagaimana melaksanakan pendidikan inklusif yang ideal.
Pendidikan inklusif di Indonesia saat ini masih terkonsentrasikan pada
penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mendapat layanan
inklusif di sekolah reguler. Hal ini menunjukkan betapa banyaknya ABK
yang tidak berkesempatan mendapat pendidikan dan tidak terfasilitasi
potensinya. Rasmanudin, Kasi Kurikulum Inklusi Dinas Pendidikan Kota
Malang, menerangkan bahwa sebenarnya di setiap sekolah ada siswa
inklusif, namun karena belum semua sekolah disiapkan sebagai sekolah
inklusif, maka fenomena ini menimbulkan dilema dan permasalahan
bagi sekolah.
Perlu diketahui bahwa ternyata ada guru yang masih belum tahu
bagaimana seharusnya siswa inklusif diperlakukan. Disamping itu, juga
ada pimpinan sekolah yang kuatir prestasi hasil ujian akhir sekolah akan
turun,sehingga kalah bersaing dengan sekolah lain.Ketidakpahaman
siswa reguler terhadap perilaku siswa inklusif juga menimbulkan masalah
tersendiri,banyak kasus cerita bahwa siswa inklusif dibully atau dianiaya
oleh teman-temannya sendiri yang notabene adalah siswa reguler.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang dan Dr. Idayu (Pengawas SD/SMP/
SMA/SMK Inklusif Kota Malang) sepakat dan menegaskan bahwa Sekolah
Inklusif sebenarnya merupakan jawaban dari keresahan ini (Idayu, 2011).
Dalam rangka memberikan jembatan interaksi antara siswa reguler
dan inklusif, maka pendidikan melalui program inklusif dapat menjadi
titik temunya. Dengan pendidikan inklusif diharapkan terciptakan
komunitas ramah, sehingga pendidikan untuk semua dapat segera
terealisir. Diperlukan perhatian tinggi agar sekolah-sekolah dapat
dimodifikasi atau disesuaikan untuk meyakinkan bahwa pendidikan
inklusif relevan dengan konteks lokal, memasukkan dan mendidik semua
peserta didik dengan ramah dan fleksibel,sehingga mereka dapat
berpartisipasi (Hildegum, 2003).
Delphie (2006)menyampaikan bahwa pelaksanaan pendidikan inklusif
dilapangan tidak semudah teorinya. Banyak kendala dan tantangan
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
181
yang membutuhkan adaptasi kedua belah pihak; antara siswa inklusif
dengan guru serta teman regulernya.Hal itu biasanya bersumber dari
ketidakpahaman pada perilaku siswa inklusi yang mempunyai
keterbatasan. Jika guru reguler tidak dapat bersikap sabar, maka dapat
berakibat pada kegiatan belajar yang tidak terkendali. Oleh karena itu,
sebaiknya setiap guru reguler yang akan dilibatkan dalam pengajaran di
kelas inklusif harus dibekali tentang psikologi kepribadian siswa inklusif.
Keberhasilan dalam mengajar siswa berkebutuhan khusus sangat
dipengaruhi oleh sikap guru. Rose dan Howley (2007) menyatakan
bahwa jika guru memiliki harapan positif, misalnya dengan mendorong
anak dengan memberikan kesempatan untuk belajar dan menguatkan
usaha siswa ABK, maka siswa akan mampu dan terus belajar. Satu hal
penting yang harus disadari adalah kemauan untuk menerima perbedaan
siswa ABK dan membantunya untuk dapat merasa nyaman di kelas.
Menurut catatan Kementrian Sosial RI, pada tahun 2011 jumlah ABK
di Indonesia telah berkembang mencapai 7 juta orang atau sekitar 3%
dari total penduduk di Indonesia yang berjumlah 238 juta jiwa. Dari
jumlah tersebut, sebagian besar ABK adalah slow leaner, termasuk di
antaranya autis dan tuna grahita yang jumlahnya mencapai 60%. Maka,
pendidikan yang lebih diutamakan bagi mereka adalah untuk
pengembangan keterampilan dan kemampuan motorik. Pola atau model
pendidikan semacam itu dapat diperoleh di Sekolah Menengan Kejuruan
atau SMK, demikian disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Luar
Biasa Kementrian Pendidikan Nasional, Ekodjatmiko Sukarso (Tarsidi,
2004). Akan tetapi, setelah beberapa tahun pendidikan Inklusif
diperkenalkan di Indonesia, keberadaannya belum menyentuh level
SMK. Artinya, belum ada terobosan untuk membuka pendidikan inklusi
di tingkat SMK. Salah satu tantangan yang cukup sulit dihadapi di
lapangan ialah kesiapan warga sekolah, antara lain bagaimana manajemen
inklusif, pemahaman guru reguler dalam mengajar siswa inklusif untuk
mengembangkan pembelajaran inklusif di kelas, serta bagaimana
memberikan sosialisasi kepada siswa reguler tentang bagaimana
menyikapi keberadaan siswa inklusif di sekolah mereka.
Pada perkembangannya,ternyata ada sebagian guru reguler yang
belum memahami proses pendidikan inklusif. Mereka beranggapan bahwa
pendidikan inklusif adalah pendidikan khusus bagi siswa ABK yang
diadakan di SMK regular, namun pada pelaksanaannya punya sistem dan
182
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
menempati ruang tersendiri (Sunaryo, 2009).Proses pelaksanaan pendidikan
inklusif di SMK merupakan proses belajar terintegrasi atau tergabung,di
mana siswa ABK belajar bersama dengan siswa reguler untuk pelajaran
produktif atau pelajaran yang bersifat teori serta praktek kejuruan. Untuk
materi pelajaran yang bersifat normatif dan adaptif, siswa inklusif belajar
diruangankhusus dibawah bimbingan para GPK atau guru pendamping
khusus,dimana GPK tersebut adalah guru yang memang dipersiapkan dan
dididik secara khusus untuk mendidik siswa inklusif.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Penelitian kualitatif
adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa
yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku,persepsi,motivasi,
dan tindakansecara holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk
kata-kata serta bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong,2010:54).
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Malang.Mengapa SMK Negeri
2 Malang yang dipilih sebagai lokasi penelitian? Hal itu karena SMK
Negeri 2 Malang mempunyai kekhasan,salah satunya ada Program Keahlian
Pekerjaan Sosial yang mana keahlian yang diajarkan pada siswa salah
satunya adalah mengurus, membimbing dan mendampingi siswa inklusif,
atau dikenal sebagai shadow.Pada penelitian kualitatif, keunikan serta
kekhasan lokasi penelitian adalahsalah satu pertimbangan memilih lokasi
penelitian. Dalam pengambilan sampel, penelitian kualitatif sangat erat
kaitannya dengan faktor-faktor kontekstual untuk menjaring sebanyak
mungkin informasi dari pelbagai sumber (Moleong, 2010:55).
HASIL
Letak SMK Negeri 2 Malang yang berada di wilayah strategis
rupanya memang layak mengemban tugas sebagai SMK inklusif. Ditambah
kondisi warga SMK Negeri 2 Malang yang sangat memahami keberadaan
siswa inklusif dengan segala keunikannya, akan sangat membantu
berjalannya pendidikan inklusif.Selain itu, di Malang belum ada sekolah
inklusif yang setingkat SMK. Oleh karena itu, SMK Negeri 2 Malang
mendapat tugas dari Dinas Pendidikan Kota Malang untuk menjadi
sekolah inklusif berdasarkan surat tugas nomor ; 800/1850/35.73.307/
2011.Selanjutnya hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
183
Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di SMK Negeri 2 Malang
Letak dan lokasi yang strategis sesuai dengan paradigma pendidikan
inklusif, yang berusaha menerima perbedaan anak reguler dan inklusif
(ABK) serta memberikan hak pada setiap anak untuk dapat sekolah di
tempat terdekat dengan tempat tinggalnya. Sebagaimana telah
dirumuskan oleh UNESCO (1994) pendidikan inklusif berarti
bahwa”sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa memandang
kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, dan linguistik”. Hal ini harus
mencakup anak cacat dan berbakat, anak jalanan dan anak yang bekerja,
anak dari populasi terpencil atau nomaden, anak dari minoritas linguistik,
etnis atau budaya, dan anak-anakkurang beruntung lainnya atau dari
kelompok marginal.”
Paradigma pendidikan inklusif ini harus selalu disosialisasikan secara
konsisten agar segera diterima masyarakat serta semua yang terlibat
dalam dunia pendidikan, terutama para guru dan siswa reguler sebagai
pelaku terdepan di sekolah. Demikian juga yang terjadi di SMK Negeri
2 Malang, yang pada mulanya agak canggung dan kaku dalam menerima
keberadaan siswa inklusif. Lambat laun pendidikan inklusif merupakan
hal yang sangat diterima oleh segenap warga SMK Negeri 2
Malang,bahkan merupakan salah satu komponen keunggulan sekolah.SMK
Negeri 2 Malang sangat menghormati peranan guru reguler dan guru
pendamping khusus terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif. Oleh
karena itu, dalam upaya mendekati para guru, sekolah mengundang
narasumber atau pakar inklusif pada beberapa kali pertemuan untuk
mensosialisasikan pendidikan inklusif. Harapannya tentu para guru
tersentuh serta memperoleh pemahaman pendidikan inklusif secara
detail, sehinggamerekadapat menjalankan tugasnya dengan jelas. Dengan
demikian, akhirnya dapatmenjadi corong pada seluruh warga sekolah
untuk menerima keberadaan siswa inklusif secara empati,terbuka,ikhlas,
dan tidak ragu-ragu. Usaha sekolah menyentuh perasaan para guru agar
terbuka hatinya diistilahkan Thorndike sebagai penggunaanlawof
associatif shifthing. Secara umum, hukum ini menyatakan bahwa
seseorang dapat memperoleh setiap respon yang dalam batas kemampuan
belajar dengan menghubungkannya pada situasi yang sensitif bagi
orang tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa siswa inklusif yang
ada di SMK Negeri 2 Malang terdiri dari berbagai macam ketuhanan.Oleh
184
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
karena itu, penempatan mereka pada program keahlian dilihat dari
faktor ketunaan mereka. Siswa inklusif yang autis dan tuna grahita
cenderung kurang dapat berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk
mempunyai hambatan komunikasi. Oleh karena itu, mereka ditempatkan
di program keahlian perhotelan.Di program keahlian ini mereka lebih
banyak berinteraksi dengan pekerjaan yang tidak berhubungan langsung
dengan manusia,pekerjaan mereka antara lain house keeping,making
bed,danlaundry,sehingga kemampuan motorik mereka lebih berkembang.
Untuk siswa inklusif yang ketunaannya pada pendengaran atau tuna
rungu ditempatkan di program keahlian Teknik Komputer Jaringan.Hal
ini disebabkan siswa tuna rungu biasanya kecerdasannya lebih dibanding
ketunaan yang lain. Mereka juga mudah beradaptasi dengan temantemannya yang reguler walaupun menggunakan bahasa isyarat.
Tabel 1: Data Siswa Inklusif di SMKN 2 Malang
Nama
NIS
BfV
10388
FAS
10419
NVD
10454
TW
10482
TAN
10357
BDB
9346
JNS
9388
ZAP
9446
TMH
9819
ADM
DMC
RPD
MNU
DF
8538
8548
8628
9008
8558
Kelas
X
AP3
X
AP3
X
AP3
X AP3
X
TKJ3
XI
AP3
XI
AP3
XI
AP3
XI
TKJ3
XII AP1
XII AP1
XII AP1
XII TKJ
XII AP
Jenis Ketunaan
Autis
C = Tuna Grahita
Tempat, Tgl. lahir
Surabaya, 10 Jun 1996
Malang,16 Mei 1995
Nama Ortu
SMW
SM
Autis
Malang, 21 Nop 1996
RY
Autis
Malang, 18 Jan 1995
HBS
B =Tuna Rungu
Madiun, 3 Okt 1996
DP
Autis
Malang. 2 Des 1995
HRH
G = Tuna Daksa
Autis
Malang, 5 Jul 1993
PW
Autis
Malang, 12 Peb 1995
LU
B = Tuna Rungu
Malang, 4 Mei 1995
THS
Autis
Autis
Autis
B = Tuna Rungu
C = Tuna Grahita
Malang, 15 Nop1994
Cilacap, 18 Des 1994
Malang, 02 Mar 1994
Malang, 31 Mar 1994
Surabaya, 1 Peb1994
CA
DS
SP
WM
DBS
Berikutnya, GPK ada 4 orang, mereka cukup profesional dan ahli
dibidangnya. Mereka semua sudah memiliki pengalaman yang cukup
dibidang pendidikan inklusif sebelum mengabdikan diri mendidik para
siswa inklusif di SMK Negeri 2 Malang.Disamping itu, mereka juga
sangat komunikatif kepada warga sekolah dan orang tua siswa,sehingga
selama 3 tahun berjalannya pendidikan inklusif segala masalah yang
terjadi berkaitan dengan siswa inklusif dapat terselesaikan dengan baik.
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
185
Bahkan para GPK cenderung melakukan jemput bola atau menangani
masalah secara preventif agar masalah tidak berkembang menjadi hal
yang tidak diharapkan.
Tentang penggunaan kurikulum modifikasi, kurikulum ini disusun
oleh GPK bersama dengan guru reguler.Kurikulum modifikasi tersebut
meliputi, (1) duplikasi kurikulum,yakni siswa inklusif menggunakan
kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa rata-rata/
regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra,
tunarungu tunawicara, tunadaksa, dan tunalaras. (2) Modifikasi
kurikulum,yakni kurikulum siswa rata-rata/regular disesuaikan dengan
kebutuhan dan kemampuan/potensi siswa inklusif. Modifikasi kurikulum
ke bawah diberikan kepada peserta didik tuna grahita dan modifikasi
kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik gifted and talented. (3)
Substitusi kurikulum,yakni beberapa bagian kurikulum siswa rata-rata
ditiadakan dan diganti dengan yang kurang lebih setara. Model kurikulum
ini untuk ABK dengan melihat situasi dan kondisinya.(4) Omisi
kurikulum,yaitu bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran
tertentu ditiadakan total, karena tidak memungkinkan bagi siswa inklusif
untuk dapat berpikir setara dengan anak rata-rata.
Pada proses belajar siswa inklusif sejauh ini tidak ada masalah
bahkan para siswa inklusif kelihatan rileks dan nyaman dalam belajar.
Dengan mencampur mereka bersama, kawannya yang reguler pada saat
pelajaran kejuruannya atau materi produktif, mereka lancar
melakukannya. Sebaliknya, teman-teman reguler mereka banyak yang
empati dengan membantu jika ada kesulitan yang dialami siswa inklusif
saat praktek. Saat harus menempuh pelajaran Normatif serta Adaptif,
mereka masuk keruang inklusif dimana mereka diajar secara khusus oleh
GPK. Hal itu dilakukan karena keterbatasan siswa inklusif,sehingga ada
beberapa materi pelajaran yang harus diolah secara khusus agar mereka
dapat menerimanya.
Dalam rangka meningkatkan semangat siswa inklusif saat belajar
serta mengenalkan mereka pada teknologi informasi, mereka
diperkenalkan dengan penggunaan komputer atau laptop untuk proses
belajarnya. Hal itu juga untuk memanfaatkan bantuan laptop yang
diberikan oleh Direktorat Menengah Kejuruan (DMK).Penggunaan laptop
dalam proses belajar ini ternyata sangat menarik dan meningkatkan
minat belajar, bahkan saat didepan laptop mereka sering lupa waktu,
186
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sehingga GPK harus mengingatkan dan menghentikan kegiatan mereka
untuk ganti pelajaran lainnya. Hasil penelitian menunjukkandari beberapa
siswa inklusif terdapat 6 siswa yang mempunyai akun facebook, 3 siswa
tunarungu ada di program keahlian Teknik Komputer Jaringan, serta 4
siswa yang ada di Program Keahlian Akomodasi Perhotelan.
Pada saat praktek kerja industri, jika siswa reguler disebar pada
berbagai lembaga yang sudah bekerja sama dengan sekolah untuk
pelaksanaan prakerin, praktek kerja industri siswa inklusif hanya ada
dilingkungan sekolah.Pertimbangannya adalah untuk memberikan rasa
aman dan nyaman pada siswa dan orang tua. Selain itu, GPK lokasi di
lingkungan sekolah akan mudah melakukan monitoring kegiatan
mereka,serta mempercepat memberikan pertolongan jika ada faktor tak
terduga terjadi, misalnya sakitatau kondisi psikologis siswa tidak stabil.
Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah (UAS) untuk siswa inklusif dilaksanakan
dengan kebijakan sekolah sendiri karena keterbatasan mereka, maka
siswa inklusif tidak diikutkan dalam Ujian Nasional/UN. Materi ujian
akhir sekolah bagi mereka disusun oleh GPK bekerja sama dengan guru
reguler,predikat kelulusan mereka nantinya adalah Tamat
Belajar,sedangkan Surat Keterangan Tamat Belajarnya yang mengeluarkan
tetap Dinas Pendidikan.
Respon Siswa Reguler dalam Menerima Siswa ABK di SMK
Negeri 2 Malang
Pada awal pelaksanaan pendidikan inklusif memang ada sikap
penolakan dari orangtua siswa dan guru reguler karena keberadaan
siswa inklusif, kondisi tersebut dikarenakankurangnya pemahaman tentang
pendidikan inklusif. Ada kekuatiran bahwa anak-anak mereka tidak
berkembang jika dikumpulkan dengan siswa inklusif.Seperti disampaikan
Garrett, salah satu faktor terkuat dalam pembentukan sikap adalah
faktor budaya masyarakat. Budaya/kebiasaan/tradisi masyarakat yang
mempunyai anak inklusif selama ini adalah mengirim mereka ke Sekolah
Luar Biasa atau Pendidikan Model Segresi. Hal ini berarti mereka
menghendaki agar siswa inklusif harus disekolahkan secara khusus dan
tidak boleh belajar bersama siswa reguler.Jika dilihat dari teori belajar
Thorndike, maka sikap penolakan guru terhadap paradigma baru. Dengan
kata lain, pendidikan inklusif merupakan sebuah reaksi ketidaksiapan
(Law ofreadiness) yang dipaksakan dalam pembelajaran bersama ABK,
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
187
serta menuntut pengetahuan dan keterampilan baru yang selama ini
tidak pernah dilakukan (lawof exercise). Guru reguler yang ada tidak
memiliki pengetahuan tentang bagaimana pendidikan inklusif secara
komprehensifsehingga pemahamannya sangat terbatas. Disamping itu,
guru juga tidak ada pengalaman berinteraksi dengan ABK, tidak pernah
ada pelatihan tentang bagaimana menangani ABK. Disamping itu, sikap
dasar guru ini telah dibentuk oleh budaya memberikan label negatif
pada ABK. Sikap ini akan mengarahkan atau melandasi perilaku guru
terhadap proses pembelajaran di kelas terutama terhadap ABK. Faktor
internal individu sangat mempengaruhi pembentukan sikap yang
memegang peranan dalam menentukan bagaimana perilaku seseorang
di dalam lingkungannya.
Respon penerimaan siswa reguler terhadap keberadaan siswa inklusif
merupakan keberhasilan sosialisasi pelaksanaan pendidikan inklusif di
SMK Negeri 2 Malang. Kegiatan sosialisasi dilakukan secara terus menerus,
diawali dengan workshop dan sosialisasi pendidikan inklusif untuk
guru,yang dilaksanaan bersamaan dengan penyusunan perangkat
administrasi pembelajaran sebelum dimulainya tahun ajaran
baru.Dilanjutkan dengan sosialisasi kepada siswa kelas X saat Masa Orientasi
Siswa Baru, dan diteruskan dengan sosialisasi oleh siswa Program Keahlian
Perawatan Sosial. Mengapa siswa Program Keahlian Perawatan Sosial
yang diandalkan? karena materi pelajaran mereka ada yang berhubungan
dengan perawatan dan pendampingan siswa inklusif, yang berartimereka
mempunyai pemahaman tentang keberadaan siswa inklusif.Oleh karena
itu, merekalah ujung tombak sosialisasi keberadaan siswa inklusif kepada
teman mereka yang ada di jurusan atau program keahlian lain.
Pergaulan antara siswa inklusif dan reguler juga tidak ada kendala.
Siswa reguler sudah dapat menerima kehadiran siswa inklusif dalam
kehidupan mereka, walaupun kadang hanya didiamkan saja karena
mereka tidak paham apa yang dibicarakan oleh temannya yang inklusif
tersebut.Pada beberapa kejadian, peneliti menyaksikan betapa akrabnya
hubungan mereka,perilaku yang lucu dari siswa inklusif membuat suasana
ceria dan meriah,dimana siswa inklusif diminta menyanyi dan siswa
tersebut menyanyi serta bergaya dengan lucunya. Pemahaman siswa
reguler terhadap adanya siswa inklusif membuat mereka diterima dengan
tulus, sehingga sejauh ini belum ada laporan catatan kasus gangguan
atau pem-bully-an terhadap siswa inklusif.
188
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dukungan Sarana dan Prasarana dalam Pelaksanaan
Pendidikan Inklusi di SMK Negeri 2 Malang
Dewasa ini pemerintah sudah sangat memperhatikan pelaksanaan
pendidikan inklusif di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan diterbitkannya
PERMEN nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta
didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa. Selain itu, Dinas Pendidikan Kota Malang juga
mengeluarkan peraturan yang mewajibkan semua sekolah mulai TK
sampai SMA/SMK mulai tahun pendidikan latihan 2013-2014 untuk
menerima
siswa
inklusif.Pemerintah
juga
menurunkan
bantuankelengkapan media belajar siswa inklusif di sekolah-sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif, dan memberikan pelatihan-pelatihan
tentang pendidikan inklusif.
Sarana prasarana pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang dapat
dikatakan sudah cukup memenuhi kebutuhan.Dengan 2 ruang kelas
untuk belajar materi Normatif dan Adaptif yang berdampingan dengan
ruang bimbingan konseling. Kondisi ruang ini cukup ideal untuk
pembimbingan siswa inklusif secara terpadu antara kebutuhan pendidikan
dan psikologis siswa.Untuk kebutuhan materi kejuruan atau produktif
juga sangat memenuhi syarat,sebab SMK Negeri 2 Malang mempunyai
Edotel, yaitu hotel yang merupakan unit produksi dan sekalian
laboratorium praktek industri siswa. Disamping itu, ada fasilitas
laboratorium komputer dan audio visual untuk praktek kerja industri
siswa program keahlian Teknik Komputer Jaringan.Dengan kelengkapan
sarana-prasrana tersebut maka pelaksanaan pendidikan inklusif di SMK
Negeri 2 Malang berjalan cukup lancar.Tentunya semua itu harus selalu
ditingkatkan,apalagi setelah adanya kebijakan kewajiban bahwa setiap
sekolah mulai tahun 2013 – 2014 harus menerima siswa inklusif. Tentunya,
jumlah siswa inklusif akan selalu meningkat, itu artinya sarana-prasarana
yang ada harus selalu ditambah dan ditingkatkan agar ada keseimbangan
antara jumlah siswa dengan sarana prasarana pendidikan yang ada.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian secara mendalam, pelaksanaan
pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang dapat disampaikan sebagai
berikut.
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
189
1.
Pendidikan inklusi adalah suatu rencana yang terpadu dari sistem
pendidikan nasionaluntuk dipergunakan dalam mendidik anak
penyandang cacat. Pendidikan inklusi merupakan sebuah proses dan
tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik tertentu yang
merupakan perwujudan pendidikan untuk Semua.
2.
Pendidikan inklusif adalah sebuah upaya merespon keberagaman
masyarakat.
3.
Pendidikan inklusif di SMK merupakan sebuah alternatif yang
mendekati sesuai untuk mendidik anak berkebutuhan khusus.
4.
Pendidikan inklusif di SMK lebih mengakomodasi pengembangan skill
dan motorik siswa ABK.
5.
Pendidikan inklusif yang ada di SMK menjadikan ABK lebih mudah
melaksanakan praktek kerja lapangan dengan rasa aman, karena semua
terintegrasi dilingkungan sekolah.
Hasil wawancara dan penelitian dengan berbagai pihak sebagai
pelaksana pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang, dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1.
Pelaksanan pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang berawal dari
perintah dari Dinas Pendidikan Kota Malang yang kemudian diperkuat
dengan diterbitkannya surat keputusan nomer : 800/1850/35.73.307/
2011.
2.
Setelah berjalan selama 3 tahun, pelaksanaan pendidikan inklusif di
SMK Negeri 2 Malang berlangsung dengan baik dan lancar.Indikasinya
adalah sejauh ini tidak ada permasalahan yang terjadi, baik itu
komplain dari siswa reguler, guru reguler, dan orang tua siswa inklusif.
3.
Pendidikan inklusif mulai mendapat tempat di masyarakat dan
Pemerintah Kota Malang, hal ini terbukti dari banyaknya permintaan
Pemerintah Kota kepada SMK Negeri 2 Malang untuk mengisi berbagai
kegiatan di Kota Malang dengan melibatkan siswa inklusif.
4.
Untuk kurikulum,digunakan kurikulum modifikasi yang disusun
bersama antara Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum,Manajer
Inklusif,GPK,dan guru reguler. Kurikulum modifikasi materi pelajaran
disesuaikan dengan ketunaan siswa,artinya ada beberapa bagian yang
tidak sama dengan siswa reguler.
5.
Pelaksanaan belajar siswa inklusif menerapkan sistem kelas
PullOut.Maksudnya, siswa inklusif belajar bersama dengan siswa
190
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
reguler pada waktu pemberian materi Produktif,yaitu materi yang
bersifat kejuruannya, kemudian saat materi pelajaran Normatif dan
Adaptif, mereka ditarik atau pindah menuju ruang khusus inklusif
dengan diajar dan dibimbing oleh para GPK.
6.
Untuk menarik minat belajar siswa inklusif digunakan beberapa cara
atau strategi dalam belajar. Salah satu strategi yang efektif adalah
pembelajaran dengan menggunakan komputer.Ketertarikan siswa
inklusif pada penggunaan komputer agaknya membuat mereka lebih
mudah menangkap dan menerima materi belajar.
7.
Pada saat praktek kerja industi atau praktek pengalaman lapangan,
siswa inklusif dipraktekan di unit atau laboratorim yang ada di
lingkungan SMK Negeri 2 Malang sendiri. Hal itu bertujuan untuk
mempermudah pengawasan serta untuk keamanan siswa inklusif. Selain
itu, juga bermaksud menciptakan rasa aman dan tenang bagi orang
tua siswa inklusif.
8.
Sosialisasi dilakukan secara intens dan terus menerus, tujuannya agar
seluruh warga SMK Negeri 2 Malang dapat (a) berinteraksi dan
memperlakukan secara wajar kehadiran siswa inklusif, (b) memberikan
pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan siswa inklusif, (c) siswa inklusif
merasa aman dan nyaman untuk menempuh pendidikan inklusif di
SMK Negeri, dan (d) meningkatkan kepercayaan orang tua siswa inklusif
dan masyarakat terhadap peran serta SMK Negeri 2 dalam pendidikan
inklusif.
9.
Siswa inklusif di SMK Negeri 2 Malang juga ikut kegiatan
ekstrakurikuler. Hampir semua siswa inklusif suka musik dan bernyanyi.
Oleh karena itu, mereka sering dilibatkan jika ada kegiatan penerimaan
tamu di sekolah atau jika diundang pada acara-acara di Pemkot Malang.
10. Seluruh warga SMK Negeri 2 Malang telah sangat mengerti tentang
keberadaan siswa inklusif, karena sosialisasi dilakukan terus menerus.
Apalagi didukung peranan siswa-siswa program keahlian Perawatan
Sosial yang mendapat materi pelajaran tata cara melayani siswa
berkebutuhan khusus,sehingga mereka dapat menjadi informan untuk
teman-temannya yang ada di program studi yang lain, serta bagaimana
menghadapi serta menerima siswa Inklusif.
11. Siswa inklusif pada ujian akhir sekolah tidak diikutkan UN.Hal itu sesuai
dengan surat resmi ber-kop surat Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) tertanggal 17 Februari 2009, dengan nomor surat 1596/BSNP/II/
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
191
2009 yang ditandatangani Ketua BSNP, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo,
M.Pd.,Kons., dan ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi.
12. Siswa berkebutuhan khusus yang tidak dapat mengikuti ujian nasional
masih dapat mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).Mereka
mendapatkan Surat Keterangan Tamat Belajar (SKTB) khusus meski
tanpa diikuti dengan dengan surat keterangan hasil ujian nasional
(danem) atau ijasah penyetaraan PAKET C.
13. Pemerintah sudah cukup memperhatikan keberadaan siswa inklusif,
hal ini terbukti dari pemberian bantuan sarana belajar berupa 15 laptop
khusus untuk pendidikan inklusif. Begitu juga para GPK juga dikirim
mengikuti workshop inklusif baik tingkat kota, provinsi sampai workshop tingkat nasional.Disamping itu, juga disediakan ruang kelas
tersendiri serta perangkat musik sebagai sarana peningkatan sosialisasi
serta pengembangan bakat serta potensi siswa inklusif di bidang seni.
SARAN
Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berkenaan
denganpenelitian ini untuk berbagai pihak adalah sebagai berikut.
1.
Kepada Kepala Sekolah dan Manager Inklusif
Dewasa ini pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang merupakan
hal yang sangat diharapkan kehadirannya oleh masyarakat.Maka
keberadaan pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang harus semakin
ditingkatan kualitasnya.Hal tersebut menyangkut kurikulum modifikasi
inklusif, keprofesian GPK dan guru reguler serta sarana prasarana
pendukungnya seperti ruang kelas untuk pembelajaran Materi Normatif
dan adaptif yang representatif, labotarorium yang aman dan nyaman,serta
situasi belajar yang kondusif. Untuk memantapkan keberadaan SMK
Negeri 2 Malang sebagai sekolah inklusif, maka ada beberapa hal yang
disarankan antara lain:
a.
Melakukan sosialisasi tentang pendidikan inklusif secara terus menerus,
sehingga semua warga SMK Negeri 2 Malang mengerti, memahami,
dan menerimakeberadaan siswa inklusif.
b.
Meningkatkan profesionalisme para pelaku pendidikan inklusif,
Manajer inklusif Staf Administarasi, GPK, dan guru reguler dengan
cara mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan atau workshop
tentang pengelolaan pendidikan inklusif.
192
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
c.
Memantapkan kurikulum modifikasi untuk pendidikan inklusif dengan
memasukan materi lokal supaya menjadi acuan kurikulum modifikasi
untuk pendidikan inklusif.Hal tersebut tentunya dengan melibatkan
segala komponen yang berkaitan dengan pendidikan inklusif termasuk
para pakar pendidikan inklusif yang ada di Kota Malang.
d.
Membuat sistem pengelolaan administrasi pendidikan inklusif yang
handal di segala lini,seperti pada pengelolaan keuangan,administrasi
pendidik dan tenaga kependidikan, sehingga pelaksanaan pendidikan
inklusif dapat berjalan secara profesional.
e.
Membuat Memorandum of Understanding (MoU) dengan lembagalembaga profesional untuk pengembangan pendidikan inklusif di SMK
Negeri 2 Malang,seperti pelaksanaan tes psikologis, pengukuran
kecerdasan,bakat minat, serta kepribadian bagi siswa-siswa inklusif.
2.
Kepada Dinas Pendidikan
Karena Dinas Pendidikan Kota Malang merupakan salah
satustakeholder pemegang kebijakan pendidikan inklusif, maka di
sarankan:
a.
Menambah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif untuk
level Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Malang,mengingat jumlah
lulusan pendidikan inklusif level SMP semakin banyak dan
membutuhkan pendidikan inklusif level SMK untuk lanjutannya.
b.
Melengkapi sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan inklusif
di SMK agar kegiatan belajar siswa inklusif dapat berlangsung dengan
maksimal.
c.
Memberikan pengertian dan pemahaman secara berkelanjutan
mengenai pendidikan inklusif kepada warga sekolah dan masyarakat,
melalui sosialisasi menggunakan berbagai media
d.
Memberikan pelatihan manajemen pendidikan inklusif kepada sekolah
penyelenggara inklusif.
e.
Mengadakan workshop pengembangan materi pendidikan inklusif
kepada GPK serta guru reguler.
f.
Menurunkan kebijakan aturan standarisasi pedoman penyusunan
kurikulum pendidikan inklusif yang disesuaikan dengan kekhasan program keahlian masing-masingSMK.
g.
Menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan biaya yang dapat
dijangkau orang tua siswa inklusif, karena tidak semua orang tua siswa
inklusif dari golongan sosial ekonomi yang mampu.
Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Kejuruhan Negeri 2 Malang
193
3. Kepada Guru
a.
Diharapkan selalu mengikuti pelatihan dan sosialisasi pendidikan
inklusif yang diselenggarakan, sehingga mempunyai pengertian dan
pemahaman mendalam tentang pendidikan inklusif.
b.
Menjadi katalisator diterimanya keberadaan siswa inklusif kepada
warga sekolah.
c.
Mempelajaripsikologi kepribadiansiswa inklusifsehingga
mempermudahpendekatan terhadap siswa inklusif.
4. Kepada Orang Tua Siswa Inklusif
Anak adalah permata hati,dengan segala keunikan, kelebihan, dan
kekurangannya yang merupakan hadiah dari Tuhan yang Maha Memberi.
Oleh karena itu, orang tua sebaiknya:
a.
Ikhlas menerima kehadiran anak inklusif sebagai bagian dari ibadah.
b.
Berusaha semaksimal mungkin memberikan pendidikan yang terbaik
kepada anak-anak inklusif.
c.
Bertanggung jawab mengikuti pendidikan dan perkembangan anakanaknya yang inklusif.
d.
Memupuk serta mengembangkan potensi siswa inklusif dengan
melibatkan siswa sesuai dengan kemampuan siswa.
5.
Kepada Peneliti selanjutnya
Pendidikan inklusif semakin berkembang dan tentunya semakin
menarik minat para pakar untuk mengadakan penelitian, oleh karena itu
hal-hal yang disarankan adalah:
a.
Melakukan penelitian untuk menyusun model kurikulum pendidikan
inklusif diSMK
b.
Menyusun prosedur operasional standar pelayanan dan penanganan
siswa inklusif saat terjadi masalah di sekolah atau di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Delphie, B. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam
SettingPendidikanInklusif. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hildegum, O.2003. Pendidikan Inklusif suatu Strategi Menuju Pendidikan
untuk Semua.Mataram: Direktorat PSLB. http://surabaya.
tribunnews.com/2013/02/15/tak-ikut-unas-anak-inklusi-tetap dapat
ijazah#sthash.IJldk0fc.dpuf (online), dikases 23 November 2016.
194
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Idayu, Walentiningsih. 2011.Pakem Sekolah Inklusif.Malang:Bayu Media
Publishing.
Moleong, Lexi. 2012.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Rose, R. dan Howley, M. 2007. The Practical Guide to Special Education
Needs inn Inclusive Primary Classrooms. London: Paul Chapman
Publishing.
Sunaryo.2009. Manajemen Pendidikan Inklusif. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Tarmansyah. 2003. Penyiapan Tenaga Kependidikan dalam Kerangka
Pendidikan Inklusif. Surabaya: Bina Ilmu.
Tarsidi, D. 2004. Implementation of Inclusive Education in Indonesia.
Bandung: UniversitasPendidikan Indonesia.
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
195
KELEBIHAN DI BALIK KEKURANGAN PERAN ORANG TUA DALAM MENGANTAR
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS MENJADI BAGIAN GENERASI EMAS BANGSA
Aryadharma Sukma Alam Adhikusuma
SMA Muhammadiyah 10 Surabaya
Ayah, Ibu Aku Juga Manusia!
Kejam! “Ayah ini tega membunuh anaknya yang autis karena lelah
mengurusnya”, itu salah satu judul yang dimuat dalam koran online
Detik News yang dimuat pada Rabu tanggal 7 Oktober 2015. Dalam
berita tersebut diberitakan M (50 tahun) tega membunuh anaknya
sendiri yang bernama FH (21 tahun) karena lelah mengurus anaknya
yang berkebutuhan khusus.
Berbeda dengan kasus yang terjadi di keluarga H, dalam jurnal yang
ditulis oleh Hendriani, Handayani,dan Malia (2006). H merupakan anak
laki-laki penderita keterbelakangan mental ringan,dia adalah anak ke-2
dari 5 bersaudara. H dianggap sebagai seorang anak yang bodoh dan
lemah secara sosial oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Mereka
juga memandang H tidak mampu melakukan apa-apa, sehingga tidak
mememiliki konstribusi apapun terhadap keluarga. Mereka menganggap
H tidak bekerja seperti orang normal, tidak dapat mengambil peran
untuk ikut membiayai kebutuhan keluarga seperti saudara-saudaranya
yang lain, sehingga seolah-olah ia menjadi tidak berguna. Persepsi dan
stigma negatif yang diterima oleh H dari lingkungan, terutama dari
keluarga, menunjukkan masih belum dapat menerima kondisi H yang
berbeda dengan anak pada umumnya. Perlakuan tersebut tentu saja
memperbesar hambatan perkembangan dalam diri H yang seharusnya
dapat berkembang secara optimal.
Pada 2 kasus diatas,dapatdilihat bahwa masih banyak orang tua
menganggap rendah anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus.
Para orang tua cenderung menganggap bahwa anak-anak berkebutuhan
khusus tidak memiliki masa depan cerah. Setiap orang tua tentu
mendambakan memiliki anak yang sehat, baik secara jasmani maupun
rohani. Selain itu, orang tua juga mendambakan anaknya sehat, cerdas,
195
196
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
berhasil dalam pendidikan, dan sukses dalam hidup. Orang tua merasa
bangga dan bahagia ketika harapan tersebut menjadi kenyataan. Orang
tua mana yang tidak bangga ketika melihat anak-anaknya sukses. Tidak
jarang orang tua mengungkapkan perasaan bangga tersebut dengan
menceritakan kesuksesan anaknya kepada sanak saudara, tetangga dekat
maupun jauh, teman sejawat, dan bahkan kepada siapapun yang menjadi
lawan bicaranya. Anak yang terlahir sempurna merupakan harapan
semua orang tua.
Padahal tanpa disadari orang tua bila disuruh memilih tentu setiap
anak tidak ingin terlahir sebagai anak yang mengalami kebutuhan
khusus. Anak berkebutuhan khusus tidak mengetahui dan tidak berharap
lahir dalam keadaan tidak sempurna. Anak berkebutuhan khusus lahir
tanpa memandang latar belakang orang tuanya. Mereka dapat hadir
dikeluarga siapa saja, tanpa mengenal status ekonomi atau pendidikan
seseorang (Ciptono dan Triadi, 2009:141). Salah satu gangguan psikiatrik
pada anak dikenal dengan istilah “anak berkebutuhan khusus” (special
needs children), yaitu anak yang secara bermakna mengalami kelainan
atau gangguan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam
proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anakanak lain seusianya. Anak-anak tersebut memerlukan pelayanan
pendidikan khusus (Direktorat Pembinaan SLB, 2005).
PEMBAHASAN
Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (children with special needs) adalah anak
dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya,
tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau
fisik. Anak dengan kebutuhan khusus (ABK) merupakan anak yang
mengalami kelainan/penyimpangan fisik, mental, maupun karakterisitik
perilaku sosialnya.
Menurut Alimin istilah anak berkebutuhan khusus memiliki cakupan
yang sangat luas. Dalam paradigma pendidikan kebutuhan khusus
keberagaman anak sangat dihargai. Setiap anak memiliki latar belakang
kehidupan budaya dan perkembangan yang berbeda-beda.Oleh karena
itu, setiap anak dimungkinkan akan memiliki kebutuhan khusus serta
hambatan belajar yang berbeda-beda, sehingga setiap anak sesungguhnya
memerlukan layanan pendidikan yang disesuiakan dengan hambatan
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
197
belajar dan kebutuhan masing-masing. Anak berkebutuhan khusus dapat
diartikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan yang disesuiakan
dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing. Cakupan konsep
anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan menjadi dua kelompok
besar yaitu anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer)
dan anak berkebutuhan khusus yang besifat menetap (permanent).
Anak Berkebutuhan Khusus Bersifat Sementara (Temporer)
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah
anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan
disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang mengalami
gangguan emosi karena trauma akibat diperekosa, sehingga anak tersebut
tidak dapat belajar. Pengalaman traumatis seperti itu bersifat sementara,
apabila anak ini tidak memperoleh intervensi yang tepat boleh jadi akan
menjadi permanent. Anak seperti ini memerlukan layanan pendidikan
kebutuhan khusus, yaitu pendidikan yang disesuikan dengan hambatan
yang dialaminya, tetapi anak ini tidak perlu dilayani di sekolah khusus.
Di sekolah biasa banyak sekali anak-anak yang mempunyai kebutuhan
khusus yang bersifat temporer.Oleh karena itu, mereka memerlukan
pendidikan yang disesuiakan, disebut pendidikan kebutuhan khusus.
Contoh lain, anak baru masuk kelas I Sekolah Dasar (SD) yang
mengalami kehidupan dua bahasa. Di rumah anak berkomunikasi dengan
bahasa ibunya (contoh bahasa: Sunda, Jawa, Bali atau Madura), tapi saat
belajar membaca permulaan menggunakan bahasa anak akan terkejut.
Kondisi seperti ini dapat menyebabkan munculnya kesulitan dalam
belajar membaca permulaan dengan bahasa Indonesia. Anak tersebut
dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus sementra
(temporer).Oleh karena itu, ia memerlukan layanan pendidikan yang
disesuikan (pendidikan kebutuhan khusus). Apabila hambatan belajar
membaca seeperti itu tidak mendapatkan intervensi yang tepat boleh
jadi anak ini akan menjadi anak berkebutuhan khusus permanen.
Anak Berkebutuhan Khusus yang Bersifat Menetap (Permanent)
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen adalah anakanak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan
yang bersifat internal.Kondisi tersebut merupakanakibat langsung dari
kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan fungsi penglihatan,
pendengaran, gannguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, ganguan
gerak (motorik), gangguan interaksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial,
198
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dan tingkah laku. Dengan kata lain, anak berkebutuhan khusus yang
bersifat permanent sama artinya dengan anak penyandang cacat.
Istilah anak berkebutuhan khusus bukan merupakan terjemahan
atau kata lain dari anak penyandang cacat. Akan tetapi, anak
berkebutuhan khusus mencakup spektrum yang luas yaitu meliputi anak
berkebutuhan khusus temporer dan anak berkebutuhan khusus permanen
(penyandang cacat). Oleh karena itu, apabila menyebut anak berkebutuhan
khusus selalu harus diikuti ungkapan termasuk anak penyandang cacat.
Jadi anak penyandang cacat merupakan bagian atau anggota dari anak
berkebutuhan khusus. Maka konsekuensi logisnya adalah ruang lingkup
pendidikan berkebutuhan khusus menjadi sangat luas, berbeda dengan
lingkup garapan pendidikan khusus yang hanya menyangkut anak
penyandang cacat.
Anak berkebutuhan khususmerupakan anak-anak yang mengalami
gangguan bersifat sementara maupun gangguan yang bersifat permanen.
Menurut Handadari dan Ariana (2014) anak berkebutuhan khusus dapat
dibagi menjadi 4 gangguan sebagai berikut.
1.
Gangguan Fisik
Beberapa hambatan fisik mempengaruhi kemampuan atau prestasi
akademik. Misalnya gangguan pendengaran (tuna rungu) gangguan
bicara (tuna wicara), gangguan pengelihatan atau kebutaan, kecacatan
(tuna daksa). Hanya sebagian kecil penderita penderita gangguan fisik
yang diikuti dengan hambatan kemampuan kognitif dan berpikir.
Sebagian besar dari mereka memiliki kemampuan berpikir normal,
hanya saja hambatan fisik yang ada menyebabkan perlunya pola belajar
yang berbeda dari mereka yang normal.
2.
Gangguan Kognitif
Learning disorder (LD), kemampuan membaca, matematika, atau
menulis secara substansial berada di bawah rata-rata anak seusianya,
artinya menyimpang 2 sd atau lebih dari hasil IQ-nya. Dapat dikatakan,
anak yang mengalami LD memiliki kecerdasan yang cukup baik untuk
belajar materi tertentu, tetapi tidak dapat menunjukkan bahwa mereka
mampu melakukannya. Untuk lebih memahami bentuk LD berikut
klasifikasinya.
a.
Reading Disorder, yaitu ketidakmampuan seseorang dalam
membedakan atau memisahkan bunyi dalam kata-kata yang diucapkan.
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
199
Hal ini biasanya diikuti dengan pola anak membaca sebuah kata secara
tepat untuk membaca seluruh kalimat.
b.
Mathematic Disorder, yaitu ketidakmapuan atau kesulitan yang dialami
anak-anak dalam mengembangkan kemampuan aritmatika, seperti
pengenalan angka dan simbol-simbol, mengingat tabel-tabel
penjumlahan, mengurutkan angka, atau memahami konsep-konsep
abstrak seperti nilai ruang dan pecahan.
c.
Writing Disorder, yaitu kesulitan dalam bidang menulis dan
menggambar, kesulitan dalam kemampuan motorik halus pada tugastugasyang membutuhkan koordinasi mata atau tangan meskipun
perkembangan motorik kasar mereka normal. Beberapa komponen
dalam gangguan ini adalah lemah dalam penulisan tangan, kesalahan
tata bahasa dan tanda baca, lemah dalam pengorganisasian paragraf,
ataupun kesalahan pengejaan ganda.
3.
Gangguan Perkembangan
a.
Autisme, yaitu gangguan perkembangan yang kompleks yang
disebabkan adanya kerusakan pada otak yang mengakibatkan
gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan
sosialisasi, sensoris, dan belajar. Pada anak-anak ditunjukkan dari
ketidakmampuannya mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah
hidup dalam duninya sendiri. Tanda-tanda yang paling menonjol adalah
tidak ada (atau minimalis) kontak mata dari sang anak kepada orang
lain.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial dan komunikasi serta
adanya pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku,
minat, dan kegiatan.
b.
ADHD (Attention Deficit Hyperaktif Disorder), yaitu gangguan pada
anak-anak yang secara konsisten dan berulang memperlihatkan inattention (kekacauan perhatian) dan hyperactivity-impulsitivy. Hal yang
sangat menonjol adalah kurangnya konsentrasi, dan aktivitas yang
berlebihan (aktivitas yang tidak bertujuan).
c.
Retardasi Mental (RM), gangguang yang terjadi karena fungsi
intelektual umum yang berada di bawah rata-rata secara signifikan,
serta defisit dalam perilaku adaptif dan ditunjukkan selama periode
perkembangan. RM memiliki ciri-ciri IQ kurang dari 70 serta memiliki
fungsi adaptif yang rendah dalam bidang(1) komunikasi, (2) mengurus
diri sendiri, (3) kehidupan keluarga, (4) ketrampilan interpesonal, (5)
penggunaan sumber daya komunitas, (6) kemampuan mengambil
keputusan sendiri, dan (7) rekreasi.
200
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Menurut Abdullah (2013) faktor penyebab terjadinya kelainan pada
seseorang sangat beragam jenisnya. Secara umum dilihat dari masa
terjadinya kelainan itu sendiri diklasifikasikan menjadi sebelum kelahiran
(prenatal), pada saat kelahiran (neonatal), dan setelah kelahiran
(postnatal). Kelainan terjadi sebelum anak lahir, yaitu masa di mana
anak masih berada dalam kandungan diketahui telah mengalami kelainan
atau ketunaan. Kelainan yang terjadi pada masa prenatal, berdasarkan
periodisasinya dapat terjadi pada periode embrio, periode janin muda,
dan periode janin aktini (Arkandha, 1984).
Periode embrio dimulai sejak saat pembuahan sampai kandungan
berumur 3 bulan. Karakreristik periode ini yaitu pembiakan sel yang
pesat dan berakhir pada saat embrio dapat hidup sendiri dengan
memanfatkan bahan-bahan yang ada dalam kantong kuning telur (yolk
sack). Kelainan saat anak lahir (neonatal), yakni masa dimana kelainan
itu terjadi pada saat anak dilahirkan. Ada beberapa sebab kelainan saat
anak dilahirkan, antara lain anak lahir sebelum waktunya (prematurity),
lahir dengan bantuan alat (tang verlossing), posisi bayi tidak normal,
analgesia dan anesthesia, kelahiran ganda, asphyxia, atau karena kesehatan
bayi yang bersangkutan. Kelainan yang terjadi setelah anak lahir (postnatal), yakni masa di mana kelainan terjadi setelah bayi itu dilahirkan,
atau saat anak dalam masa perkembangan. Ada beberapa sebab kelainan
setelah anak dilahirkan, antara lain infeksi, luka, bahan kimia, malnutrisik
deprivation factor dan meningitis, serta stuip.
Pentingnya Peran Ayah dan Ibu dalam Perkembangan Anak ABK
Orang tua merupakan aspek pertama dan utama dalam proses
perkembangan anaknya. Orang tua atau keluarga memiliki posisi sentral
dalam hal konvensi hak pada anak. Maka anak-anak yang hidup dan
berkembang di luar keluarganya sendiri, berhak mendapatkan keluarga
baru atau lembaga asuh pengganti.Hal ini agar mereka tetap dapat
berkembang sebagaimana layaknya anak-anak yang hidup dalam
keluarganya yang asli. Bagaimanapun juga anak-anak sangat bergantung
pada orang dewasa, karena pola asuhnya dapat membentuk kepribadian
individu bagi mereka (Gautama,2000). Keluarga merupakan kelompok
sosial yang terdiri dari ayah,ibu, dan anak. Keluarga inti lazim disebut
rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai
proses pergaulan hidup (Soekanto,1990).
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
201
Menurut Khairuddin (1997: 5) setiap keluarga tentunya akan menjalani
peran serta fungsi-fungsinya yang telah ditentukan untuk terciptanya
hubungan yang baik, sehingga tujuan yang diharapkan dari keluarga
dapat tercapai. Menurut Khairuddin (1997: 5) 7 fungsi keluarga dalam
teori keluarga sebagai berikut.
1.
Fungsi Pengaturan Seksual
Keluarga adalah lembaga pokok yang merupakan wahana bagi
masyarakat untuk mengatur dan mengorganisasikan kepuasan dan
kenginan seksual.
2.
Fungsi Reproduksi
Urusan memproduksi anak yang disikapi masyarakat, tentunya
tergantung kepada keluarga. Cara lain hanyalah kemungkinan teoritis
saja dan sebagian masyarakat yang menerapkan norma untuk memperoleh
anak kecuali sebagai bagian keluarga.
3.
Fungsi Sosialisasi
Fungsi ini diberikan bagi anak-anak kedalam alam dewasa yang
dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat.
4.
Fungsi Efeksi
Keluarga bertujuan memberikan kebutuhan akan kasih sayang atau
rasa cinta bagi anggota keluarga.
5.
Fungsi Penentuan Status
Keluarga berfungsi memberikan status keluarga berdasarkan umur,
jenis kelamin, dan urutan kelahiran. Hal ini berfungsi sebagai dasar
untuk memberi status sosial.
6.
Fungsi Perlindungan
Keluarga berfungsi memberikan perlindungan baik fisik, ekonomi,
dan psikologi, bagi seluruh anggota keluarga.
7.
Fungsi Ekonomi
Keluarga memberikan fungsi ekonomi guna memenuhi semua
kebutuhan sandang,pangan, dan papan.Dimana orang tua dapat
mengoptimalkan anak pada masa perkembangannya
Dari penjelasan di atas betapa penting peran keluarga,terutama
peran orang tua bagi anak untuk dapat mengoptimalkan masa
perkembangannya. Oleh karena itu, orang tua seharusnya mampu untuk
202
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dapat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dan memberikan
banyak stimulus untuk dapat mengoptimalkan perkembangan anak,
karena setiap anak sebenarnya selalu ingin mencoba hal-hal yang baru.
Seperti yang dikatakan oleh Shapiro L.E. (dalam Handadari, 2015) bahwa
anak usia dini memiliki harapan yang tinggi untuk berhasil mempelajari
segala hal, dan anak-anak memiliki kepercayaan yang tinggi untuk
berhasil, walaupun dalam kenyataannya mungkin tidak semuanya berhasil.
Oleh karena itu, pentingnya peran orang tua untuk dapat selalu
mendampingi anaknya dikala berhasil maupun tidak.
Peran orang tua dalam membina dan membimbing buah hatinya
merupakan suatu hal yang sangat vital. Pendidikan yang diterima oleh
seorang anak, diawali dari para orang tuanya. Pendidikan keluarga yang
ditanamkan kepada anak merupakan pondasi dasar pendidikan anak di
masa yang akan datang. Dengan istilah lain, keberhasilan anak khususnya
pendidikan sangat bergantung pada pendidikan yang diberikan oleh
orang tuanya dalam lingkungan keluarga.
Namun, saat ini belum sepenuhnya disadari oleh para orang tua
betapa pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Terlebih
lagi peran orang tua terhadap pendidikan anak yang mengalami
kebutuhan khusus. Justru terkadang sikap orang tua cenderung tidak
menganggap penting pendidikan bagi mereka. Persoalan ini sebabkan
banyak hal, selain karena adanya faktor ketidakpahaman orang tua
tentang pendidikan anak yang berkebutuhan khusus. Selain itu, rendahnya
pendidikan orang tua juga menjadi dasar tersebut.Faktor lain yang
justru lebih miris adalah ketika orang tua secara sadar dan sengaja tidak
mau mempedulikan pendidikan anaknya. Hal ini didasari oleh rasa
khawatir, malu, dan menganggap sebagai aib mempunyai anak
berkebutuhan khusus,sehingga tidak jarang ABK ditelantarkan oleh
orang tuanya, bahkan diasingkan atau dipasung.
Memang tidak mudah bagi orang tua yang mempunyai anak
berkebutuhan khusus. Menurut Mira (dalam Faradina, 2016)memiliki
anak berkebutuhan khusus merupakan beban berat bagi orang tua baik
secara fisik maupun mental. Beban tersebut membuat reaksi emosional
di dalam diri orang tua. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan
khusus dituntut untuk terbiasa menghadapi peran yang berbeda dari
sebelumnya. Anak yang tadinya menjadi harapan masa depan cemerlang
dan investasi yang sangat berharga, akhirnya malahan menjadi korban.
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
203
Anak diterlantarkan, dibiarkan, diabaikan, ditolak kehadirannya, tidak
dibimbing, tidak didorong, tidak diberi semangat untuk mencapai
perkembangan yang seharusnya dan optimal. Kondisi semacam ini
sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Besar kemungkinan
anak akan mengalami gangguan psikologis, psiko-sosial, dan perilaku
serta emosi.
Menurut Puspita (dalam Faradina, 2016)) reaksi pertama orang tua
ketika awalnya dikatakan bermasalah adalah tidak percaya, shok, sedih,
kecewa, merasa bersalah, marah dan menolak. Tidak mudah bagi orang
tua yang anaknya menyandang kebutuhan khusus untuk mengalami fase
ini, sebelum akhirnya sampai pada tahap penerimaan (acceptance). Ada
masa orang tua merenung dan tidak mengetahui tindakan tepat apa
yang harus diperbuat. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih
tidak terbuka mengenai keadaan anaknya kepada teman, tetangga
bahkan keluarga dekat sekalipun, kecuali pada dokter yang menangani
anak tersebut.
Setiap anak berhak mendapatkan apa yang seharusnya anak dapatkan
dari orang tuanya untuk dapat melengkapi proses perkembangannya.
Begitu pula dengan anak berkebutuhan khusus, mereka pun berhak
mendapatkan hak yang sama dengan anak normal yang lainnya. Meskipun
mereka terlihat berbeda seperti anak pada umumnya, sebenarnya mereka
pun sama dengan anak pada umumnya yang mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Menurut Hewett dan Frenkpenanganan dan pelayanan
orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut.
1.
Pendamping utama (as aids), yaitu sebagai pendamping utama yang
dalam membantu tercapainya tujuan layanan penanganan dan
pendidikan anak.
2.
Advokat (as advocates), yang mengerti, mengusahakan, dan menjaga
hak anak dalam kesempatan mendapat layanan pendidikan sesuai
dengan karakteristik khususnya.
3.
Sumber (as resources), menjadi sumber data yang lengkap dan benar
mengenai diri anak dalam usaha intervensi perilaku anak.
4.
Guru (as teacher), berperan menjadi pendidik bagi anak dalam
kehidupan sehari-hari di luar jam sekolah.
5.
Diagnostisian (diagnosticians) penentu karakteristik dan jenis kebutuhan
khusus dan berkemampuan melakukan treatmen, terutama di luar jam
sekolah.
204
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pentingnya peran orang tua terhadap anak, terutama pada anak
berkebutuhan khusus.Akan tetapi, masih banyak orang tua merasa sudah
memenuhi kewajibannya ketika mereka sudah memberikan makan,
minum, pakaian ataupun ketika sudah berhasil menyekolahkan anaknya.
Namunmereka terkadang lupa memberikan perhatian kepada anaknya
karena kesibukan akan pekerjaan. Mereka tidak punya cukup waktu
untuk mengenal anak-anak mereka secara mendalam. Selain itu, juga
tidak mempunyai cukup waktu untuk membicarakan masalah-masalah
yang dihadapi oleh anak-anaknya. Sang ayah yang tidak mengetahui
apa yang dikatakan atau diputuskan ibu mengenai anaknya, ataupun
sang ibu tidak mengetahui apa yang telah dijanjikan ayah kepada
anaknya. Oleh karena itu, pentingnya keserasian, saling menbantu satu
sama lain, dan juga saling mendukung ketika salah satu sedang mengalami
kelelahan antara ayah dan ibu untuk mengasuh anak berkebutuhan
khusus dalam mengoptimalkan potensinya.
Orang tua disini, bukan ayah saja atau ibu saja sebagai orang yang
paling mempengaruhi anak.Akan tetapi, keduanya (ayah dan ibu) secara
bersama memberikan semua yang dimilikinya secara konsisten. Dampaknya
adalah sang anak akan melewati perkembangan dengan optimal, sehingga
tidak terlalu ketinggalan dalam mengikuti pendidikan sekolah, meskipun
belum dapat menjadi yang terbaik di sekolah. Selain itu, dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana dia berada nantinya,
termasuk ketika harus berhadapan dengen teman sebaya, orang tua,
maupun lingkungan sosial lainnya. Apabila anak tersebut sudah
terstimulasi atau diperhatikan sejak dini oleh kedua orang tuanya, yaitu
keterlibatan ayah dan ibu dalam pengasuhan secara terus menerus,
maka sang anak akan dapat diharapkan berkembang secara optimal.
Salah satu cara orang tua mengoptimalkan pekermbangan anak
berkebutuhan khusus adalah dengan melakukan deteksi dini. Deteksi
dini tersebut adalah dengan mendeteksi problem-problem perkembangan
anak berkebutuhan khusus. Hal ini penting dilakukan orang tua untuk
dapat mengantisipasi dan mengurangi keparahan dan kekurangan yang
dimiliki anak berkebutuhan khusus. Setelah itu orang tua juga
memberikan intervensi kepada anak berkebutuhan khusus. Dengan
demikian, anak akan mempunyai peluang lebih besar untuk dapat
meningkatkan fungsinya melalui intervensi yang tepat. Menurut
Handadari & Ariana (2014) secara umum, hal-hal yang perlu diperhatikan
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
205
oleh orang tua dalam melakukan deteksi dini anak-anak berkebutuhan
khusus antara lain:
1.
Kenali tugas perkembangan anak.
Tugas perkembangan anak adalah segala hal-hal yang seharusnya
mampu dilakukan oleh anak pada usianya. Untuk memperoleh informasi
mengenai tugas perkembangan, para orang tua dapat mengumpulkan
informasi dari buku, internet, maupun pengamatan langsung terhadap
rata-rata kemampuan anak pada usia tertentu.
2.
Kenali pola dan irama perkembangannya.
Secara universal perkembangan anak yang diasumsikan terjadi secara
runtut pada seluruh anak. Namun pada kenyataannya, kecepatan anak
tidak terjadi secara mutlak dan berbeda-beda setiap anak. Oleh sebab
itu, seringkali ditemui beberapa anak sudah dapat berjalan,tetapi belum
lancar berbicara maupun sebaliknya. Dalam hal ini, dibutuhkan kepekaan
dan kebijakan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya dalam
menyikapinya. Latihlah dan berikanlah stimulus yang dibutuhkan anak
agar dapat mengoptimalkan perkembangnnya.
3.
Perluaslah wawasan tentang berbagai jenis gangguan
perkembangan
Wawasan mengenai gangguan perkembangan ini penting, untuk
dapat mengantisipasi dan mengurangi ketidaktahuan akan berbagai
jenis gangguan anak. Hal ini dapat dilakukan secara mandiri atau
otodidak maupun mengikuti pelatihan, seminar, maupun diskusi dengan
sesama orang tua yang mengalami hal yang sama.
4.
Amati perkembangan dan perilaku anak.
Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dan keserasisan yang harmonis
dan saling melengkapi antara orang tua (ayah dan ibu), sebagai orang
yang paling bertanggung jawab dan yang paling utama dalam mengasuh
anak berkebutuhan khusus.
5.
Carilah informasi yang seluas-luasnya
Hal ini dilakukan bila para orang tua merasa ragu-ragu ataupun
kurang informasi, serta takut untuk melakukan intervensi kepada anak.
Lebih baik Anda menemui atau berdiskusi kepada pakar atau ahli di
bidangnya, sehingga dapat melakukan identifikasi dan merencakan
intervensi secara tepat untuk diberikan.
206
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran Anak Berkebutuhan Khusus sebagai Bagian Generasi Emas
Bangsa
Semua anak memiliki hak yang sama untuk dapat berkembang dan
mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya. Begitu pula dengan
anak berkebutuhan khusus, meskipun terlihat berbeda, sebenarnya anak
berkebutuhan khusus juga sama dengan anak pada umumnya yang
mempunyai kekurangan dan juga kelebihan. Akan tetapi, masih banyak
orang tua yang masih memandang dengan stigma negatif dan dipandang
tidak memiliki masa depan. Mereka lupa bahwa setiap anak pasti tidak
ada yang mau terlahir menjadi anak yang berkebutuhan khusus.
Seperti telah dijelaskan pada paparan di atas, bahwa anak
berkebutuhan khusus juga mempunyai hak untuk dapat mengembangkan
dan mengoptimalkan semua potensinya untuk menjadi bekalnya di
masa depan. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua untuk
dapat memberikan semua apa yang dipunyai dan memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya.
Banyak contoh nyata dengan kekurangan yang dimiliki anak-anak
berkebutuhan khusus, tetapi tetap dapat melakukan karya yang hebat
bila dapat mengoptimalkan segala kelebihan potensi yang dimilikinya.
Berikut adalah orang-orang yang berkebutuhan khusus tetapi dapat
sukses dan berkarya.
1.
Raffi Abdurrahman Ridwan
Keterbatasan alat indera tidak menghalangi Rafi Abdurrahman
Ridwan, pria kelahiran Jakarta 20 Juli 2002 untuk berkarya dan berprestasi
sebagai desainer cilik. Lewat rancangan busananya, nama Rafi melambung
di luar negeri. Bahkan super model Amerika Serikat, Tyra Banks memuji
Rafi saat perhelatan final America’sNextTopModel di Bali beberapa bulan
lalu. Rafi menderita tuna rungu sejak lahir, derita yang dialaminya ini
terkait dengan virus rubellasaat di dalam kandungan. Sejak kecil Rafi
hobi menggambar, semakin dewasa kreativitas Rafi dalam hobi
menggambar justru terasah. Coretan kasar Rafi tentang baju lambat laun
berubah menjadi desain yang unik. Siapa sangka, berawal dari coretan
itulah, karya Rafi diakui tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar
negeri.
2.
Stephani Handoyo
Gadis yang lahir pada 5 November 1991, merupakan anak penderita
downsyndrome yang berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pemain
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
207
piano yang mampu membawakan 22 lagu berturut-turut, serta pembawa
obor Olimpiade London 2012. Selain itu, jejak prestasi Stephanie sudah
tergores di sejumlah deretan piala penghargaan, mulai dari juara I di
bidang renang gaya dada 50 meter Pekan Olahraga Nasional Special
Olympic Indonesia 2010, dan gaya dada 50 meter Special Olympics
WorldS ummer Games 2011 Athena. Stephanie putri pasangan dari Maria
Yustina dan Santoso Handojo, sejak kecil memang sudah mulai mengikuti
kegiatan positif khususnya di bidang olahraga seperti berenang dan
bulutangkis. Bahkan, saat menginjak usia 12 tahun, ia berhasil meraih
juara 1 pada kejuaraan Porcada.
3.
Reviera Novitasari
Putri kelahiran 30 Oktrober 1993, merupakan anak penderita
downsyndrome yang berhasil mendapatkan medali perunggu renang
100 meter gaya dada pada kejuaraan renang internasional di Canberra,
Australia, 11-13 April 2008. Kemampuan renangnya sudah menonjol
sejak kecil dibandingkan anak cacat lainnya. Sadar akan bakat anak
keempatnya itu, orang tuanya memfasilitasi Reviera dengan latihan
renang seminggu dua kali di Club SOINA (SpecialOlympic Indonesia)
Sunter Jakarta. Derita yang dialami Reviera tidak pernah terbayangkan
sebelumnya, bahkan selama tiga tahun kedua orang tuanya tidak dapat
menerima kehadirannya. Sampai akhirnya dia disekolahkan di Sekolah
Luar Biasa (SLB) Dian Grahita Kemayoran Jakarta. Bahkan ketika menginjak
kelas 2 SMP di luar dugaan terjadi, gadis cantik ini mementahkan
ramalan dokter dengan tiba-tiba dapat menulis, membaca, dan berhitung.
4.
Satoshi Tajiri
Satoshi Tajiri dikenal sebagai desainer video game Jepang yang
menciptakan Pokemon. Pria kelahiran 28 Agustus 1965 juga menciptakan
salah satu waralaba video game yang paling populer di dunia, Game
Freak Inc, yang menciptakan game secara eksklusif untuk Nintendo.
Meski didiagnosis dengan sindrom asperger, Satoshi Tajiri telah tumbuh
menjadi pengusaha Nintendo yang sangat kreatif tapi tertutup dan
eksentrik.
5.
Daniel Tammet
Penulis, linguist, pendidik, dan dinobatkan sebagai 1 dari 100 orang
jenius yang masih hidup di dunia, Daniel Tammet dikenal sebagai
‘Brainman’. Pria kelahiran 31 Januari 1979 ini mulai menarik perhatian
208
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
pada tahun 2006 setelah menulis buku terlaris New York Times berjudul
‘Born On A Blue Day’. Buku tersebut menceritakan kehidupannya sebagai
penyandang autisticsavant.
Dari berbagai contoh diatas, bahwa anak berkebutuhan khusus juga
dapat berkarya dan mengapai cita-citanya dengan segala keterbatasan
yang mereka miliki. Hal ini menegaskan bahwa anak berkebutuhan
khusus juga dapat ambil bagian menjadi generasi emas bangsa,serta
mematahkan stigma negatifbahwa anak berkebutuhan khusus tidak
dapat melakukan apa-apa. Selain itu,sudah seharusnya mampu
mengahapus stigma orang tua yang menganggap bahwa setiap anak
berkebutuhan khusus tidak mempunyai masa depan. Setiap anak memang
anugerah dari Allah kepada kita yang sudah dilengkapi kelebihan dan
kekurangan yang dimilikinya, tentunya kondisi tersebut harus diterima
dan dioptimalkan oleh kedua orang tuanya.
Peran orang tua dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat
vital. Orang tua sebagai orang yang pertama hidup bersama dengan
anak sejak mulai dilahirkan, mereka memahami betul tentang bagaimana
pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Saat anak memasuki masa
sekolah, orang tua dituntut untuk proaktif dengan para guru terkait
pertumbuhan dan perkembanganya. Potensi dan bakat yang nampak
pada diri anak sangat penting sekali untuk diinformasikan kepada
guru.Hal ini sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam
memberikan program pendidikan yang tepat bagi anak berkebutuhan
khusus,sehingga dalam perkembanganya, anak akan tumbuh bersama
bakat tersebut. Hal ini tentu akan membantu mewujudkan generasi
emas bangsa di masa yang akan datang. Pada dasarnyar anak-anak
berkebutuhan khusus juga bagian dari bangsa, sehingga mereka berhak
untuk berkarya serta berperan membangun negara ini lebih maju
dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Naniyah. 2013. Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus. Magistra.
No. 86, Desember 2013. Diambil dari (Online) http://news.detik.com/
berita/3038883/kejam-ayah-ini-tega-bunuh-anaknya-yang-autis-karenalelah-mengurusnya, diakses 29 November 2016.
Kelebihan di Balik Kekurangan Peran Orajng Tua dalam.....
209
Ali, Yasser. 2015. Kejam! Ayah ini Tega Bunuh Anaknya yang Autis karena
Lelah Mengurusnya. Diambil Dari(Online) http://news.detik.com/berita/
3038883/kejam-ayah-ini-tega-bunuh-anaknya-yang-autis-karena-lelahmengurusnya (29 Novemeber 2016)
Alimin, Zaenal. Anak Berkebutuhan Khusus. Diambil dari (Online) http://
file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195903241984031ZAENAL_ALIMIN/MODUL_1_UNIT_2.pdf, diakses 29 November 2016.
Ciptono dan Triadi, G. 2009. Guru Luar Biasa. Yogyakarta: PT Bentang
Pustaka.
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. 2005. Identifikasi Anak
Berkebutuhan Khusus dalam Pendidikan Inklusif.Jakarta: Direktorat
Pembinaan Sekolah Luar Biasa.
Faradina, Novira. 2016. Penerimaan Diri pada Orang Tua yang Memiliki
Anak Berkebutuhan Khusus. Ejournal Psikologi. 4(4):386-396, 2016.
Handadari, W., Ariana, A. D., 2014. Jurnal Kelas Psikologi untuk Bunda
PAUD. Surabaya: Airlangga University Press.
Handadari, Woelan. 2015. Peran Ayah-Ibu sebagai Model Pengasuhan dan
Pembelajaran yang Efekif Sejak Dini. Surabaya: Insan Media.
Hendriani, W., Handariyati, R., Sakti, T. M. 2006. Penerimaan Keluarga
terhadap Individu yang Mengalami Keterbelakangan Mental. Surabaya:
Insan Media Psikologi.
Khairuddin, 1997. Sosiologi Keluarga, Yogyakarta: Liberty.
Khairuddin, 2002. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty.
210
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Membangun Mindset Optimis Siswa SMK Guna Mereduksi Kecemasan Mempersiapakan....
211
MEMBANGUN MINDSET OPTIMIS SISWA SMK GUNA MEREDUKSI KECEMASAN
MEMPERSIAPKAN DIRI MEMASUKI DUNIA KERJA
Isrizal Anwar Zuhri
SMKN 2 Singosari Malang
Umumnya pada masa remaja terjadi berbagai perubahan dan
perkembangan yang dialami di berbagai aspek dalam diri individu
seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock 2003: 26). Pada
masa ini merupakan masa transisi antara anak-anak ke dewasa yang
berada pada rentang usia 13 sampai 18 tahun (Hurlock 1980:206). Lebih
lanjut, Hurlock (1980: 213) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan
salah satu periode kehidupan yang sarat akan dinamika, mempunyai ciri
khas pada salah satu tugas perkembangannya yaitu kurangnya
keterampilan dalam mengontrol diri pada aspek psikologis.
Ketidakterampilan remaja dalam mengontrol diri pada aspek psikologis
diwujudkan dalam bentuk rasa kekhawatiran yang berlebih terhadap
dunia kerja, utamanya remaja yang bersekolah di kelas XII Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK). Kekhawatiran yang berlebihan tersebut
berdampak serius pada perkembangan siswa, utamanya berkaitan erat
dengan kondisi psikis siswa SMK dalam mempersiapkan diri memasuki
dunia kerja.
SMK merupakan salah satu bagian dari jenjang pendidikan menengah
yang mempersiapkan siswa atau individu untuk siap bekerja di suatu
bidang tertentu secara profesional. Berdasarkan peraturan pemerintah
No. 29 Tahun 1990 menyatakan bahwa tujuan pendidikan kejuruan
(SMK) mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja,
serta mengembangkan sikap profesional. Dengan demikian, fokus utama
SMK adalah lembaga pendidikan yang mencetak perserta didik untuk
siap bekerja.
Penjelasan di atas berbanding terbalik dengan fenomena di lapangan.
Seperti data yang dilansir oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa
Timur, Sairi Hasbullah (2015) menyatakan berdasarkan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPK) di Provinsi Jawa Timur hingga Agustus
211
212
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
2015, paling tinggi terjadi pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) yakni 11,74 persen.Pada sektor pendidikan lainnya, tingkat
pengangguran pada SMP di Jatim mencapai 4,43 persen, SMA 8,73
persen, Diploma 8,11 persen, dan Universitas 4,99 persen. Sementara
untuk TPK terendah terjadi pada lulusan SD yaitu 1,39 persen. Data
tersebut menunjukkan bahwa sekolah-sekolah kejuruan yang diharapkan
dapat langsung bekerja, ternyata tidak seperti itu,” kata Sairi di Surabaya,
Kamis (5 November 2015). Skala nasional tingkat pengangguran yang
paling tinggi terjadi pada lulusan SMK yaitu 12,65 persen sampai agustus
2015. Sementara tingkat pengangguran terendah terjadi pada lulusan
Sekolah Dasar (SD) yaitu 2,74 persen.
Data di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi
lulusan SMK yang dipersiapkan memasuki dunia kerja, namun realita
jumlah siswa SMK yang sulit mendapat pekerjaan setelah lulus masih
tinggi. Keadaan seperti inilah yang membuat banyak siswa SMK
mengalami tekanan psikologis dalam mempersiapkan diri memasuki
dunia kerja, karena adanya persaingan yang semakin berat untuk
mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini pula yang memunculkan kecemasan
siswa akan masa depan mereka. Kecemasan yang dialami siswa SMK
tersebut secara otomatis akan menghambat proses perkembangannya
baik secara kognitif dan afektif dalam proses persiapannya memasuki
dunia kerja.
Senada dengan data diatas hasil temuan penulis selama mengajar di
SMK negeri baik kota maupun Kabupaten Malang terdapat fakta yang
sangat mengejutkan. Banyak siswa yang pesimis akan masa depannya
terkait dengan aspek karier, banyak siswa-siswi yang berpikir setelah
lulus nanti ketrampilan serta ijazah SMK mereka bakal sia-sia dan tidak
terpakai. Selain itu, ketidak siapan mereka untuk kerja jauh dari orang
tua menjadi kecemasan selanjutnya, disusul mendapatkan gaji yang
sedikit atau pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Itu semua mereka
tuturkan dengan gamblang sewaktu saya sedang ngobrol santai dengan
beberapa anak kelas XII, yang seyogyanya sudah memiliki pandangan
ingin menjadi apa dan bekerja dimana setelah lulus nantinya.
Begitu pula hasil wawancara terhadap beberapa siswa kelas XI dan
X yang umumnya belum memiliki tuntutan terkait dengan kelulusan
dan ujian nasional. Hasil dari wawancara singkat dengan mereka saya
mendapati suatu kesimpulan kalau mereka juga memiliki kecemasan
Membangun Mindset Optimis Siswa SMK Guna Mereduksi Kecemasan Mempersiapakan....
213
akan karier di masa depannya kelak, terutama dalam bidang karier. Hal
ini menunjukkan bahwa kecemasan siswa akan masa depan kariernya
sudah muncul dari kelas X.
Kecemasan memasuki dunia kerja,itulah salah satu masalah terbesar
siswa SMK saat ini. Sebelum membahas lebih jauh mengenai kecemasan,
sebenarnya apa itu kecemasan, menurut Ramaiah (2003:10) Kecemasan
adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang dalam waktu tertentu
dikehidupannya. Kecemasan adalah reaksi normal terhadap situasi yang
sangat menekan kehidupan seseorang. Kecemasan juga dapat muncul
sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan
emosi. Senada dengan pendapat diatas Beck & Moore (2001) memberikan
definisi bahwa kecemasan adalah suatu rangkaian pandangan negatif
dan tidak terkendali yang berpusat pada beberapa masalah yang dialami
dengan menimbulkan akibat yang tidak pasti, dari hal tersebut pasti
dapat mendatangkan berbagai kekacauan. Dari berbagai sumber diatas
penulis menarik satu kesimpulan bahwasannya kecemasan adalah suatu
respon terhadap situasi tertentu yang dianggap mengancam baik nyata
ataupun khayalan. Jika kecemasan tersebut dikaitkan dengan persiapan
diri memasuki dunia kerja, maka akan menjadi sebuah kondisi atau
respon dimana individu memiliki pemikiran negatif tentang masa depan
kariernya yang belum tentu terjadi.
Siswa SMK bukanlah satu-satunya penyumbang pengangguran bagi
Indonesia, ada lulusan diploma, SMA,SMP, SD bahkan S1 dan S2. Akan
tetapi, dengan besic lulusan SMK yang diproyeksikan sebagai calon
tenaga kerja professional dan masa depan generasi emas bangsa malah
menempati pringkat teratas penyumbang pengangguran,hal inilah yang
membuat pembahasan ini menarik. Sebenarnya apa yang menyebabkan
hal tersebut? Apakah sistem yang diterapkan masing-masing sekolah
salah? atau intruksi dari pemerintah yang selalu berganti patut untuk
dikambing hitamkan? atau pula para guru-guru dimasing-masing sekolah
sebagai orang yang patut untuk dipersalahkan atas kegagalan siswanya
dalam masa depan karir peserta didik? Banyak hal sebenarnya yang
perlu dikoreksi akan permasalahan kecemasan siswa dalam persiapan
memasuki dunia kerja ini. Dalam hal ini penulis menggolongkan dua
aspek dalam terbentuknya kecemasan siswa SMK tersebut, dimana kedua
aspek ini sangat berhubungan dan saling menguatkan satu sama lain.
214
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dua aspek tersebut yakni aspek internal dan eksternal. Internal yakni
dari dalam siswa itu sendiri, siswa sudah memiliki bayangan-bayangan
akan dirinya ataupun memiliki kepesimisan sejak awal mula dirinya
masuk SMK. Kemudian keengganan siswa memiliki keinginan untuk
merubah karakternya menjadi seorang petarung. Petarung disini dalam
artian siswa SMK memiliki motivasi atau jiwa memberontak dalam
merubah nasib yang dia anggap tidak memihak padanya. Sikap-sikap
tersebut seperti keaktifan dalam berbagai organisasi-organisasi yang positif,
lebih dekat dengan guru, tidak sungkan bertanya, mengkesampingkan
melakukan hal-hal yang tidak penting bahkan melanggar norma sosial
yang kebanyakan remaja saat ini lakukan. Sampai akhirnya sikapnya
tersebut akan memberikan suatu pemikiran baru yang lebih matang,
ataupun dampak positif guna menentukan tujuan dia setelah lulus nanti
baik bidang pekerjaan/karir atau bidang lain.
Aspek selanjutnya adalah eksternal. Kalau dalam aspek ini peran
berbagai lapisan masyarakat dan lingkungan yang menentukan. Seperti
pertemanan diluar sekolah, banyak siswa SMK yang masih berteman
akrab dengan teman SMP, SD atau teman sepermainannya dulu,
sebenarnya tidak ada masalah dengan pergaulan tersebut.Akan tetapi,
menjadi dampak yang merugikan bagi anak didik kita jika temantemennya dulu ternyata sudah putus sekolah dan mengajak bolos,
keluar main malam hari, bahkan sampai melakukan pelanggaran norma
sosial, dan lain sebagainya. Dampak seperti itulah yang paling ditakutkan
semua guru terutama guru BK, karena akan sangat mengganggu peroses
pembelajaran disekolah yang akhirnya menyebabkan kerugian pada diri
peserta didik itu sendiri.
Lapisan selanjutnya adalah lingkungan keluarga,lingkungan keluarga
ini ibarat pondasi anak didik kita. Dimana dari keluargalah pola pikir,
prilaku, dan karakter anak terbentuk, memiliki lingkungan keluarga
yang kurang sehat sudah dapat dipastikan semangat belajar peserta
didik disekolah juga tidak sehat. Oleh karena itu, semangat belajar
kurang baik akhirnya peserta didik tersebut tidak dapat mengikuti
proses pembelajaran dengan baik, pastinya kompetensi yang dimiliki
akan kurang memuaskan pula, sehingga pemikiran-pemikiran yang
irasional akan muncul. Peserta didik akan berpikir bahwa ilmu yang dia
dapatkan di sekolah hanyalah kesia-siaan dan ujungnya mereka akan
melampiaskan amarah mereka dengan hal-hal negatif. Parahnya lagi
Membangun Mindset Optimis Siswa SMK Guna Mereduksi Kecemasan Mempersiapakan....
215
mereka (peserta didik) mengajak teman untuk mendukung dan menemani
pelampiasan amarahnya ini, sehingga anak yang tidak berpikir negatif
akan berpikir sama dengan anak yang memiliki pemikiran negatif.
Kondisi demikian menyebar ke yang lain pula, hingga akhirnya dari
pemikiran-pemikiran yang kesemua negatif tersebut, akan menimbulkan
kekhawatiran dari dalam diri individu peserta didik dalam persiapan
karirnya dan serta menghambat proses perkembangannya.
Lapisan selanjutnya adalah pihak sekolah serta guru-guru di
dalamnya. Sekolah dapat dibilang adalah tombak atau pisau dari Siswa
SMK, karena sekolah adalah bagian akhir dan vital dalam pembentukan
mindset dari para siswa SMK tersebut.Sistem dan lingkungan sekolah
yang tidak dapat menampung aspirasi dan kreativitas siswa, akan
menyebabkan ketidakpercayaan siswa terhadap proses pendidikan.Hal
ini dikarenakan ketidakpercayaan tersebut akan menimbulkan pemikiran
pesimis dari dalam diri siswa, kepesimisan tersebut akan menular ketemanteman siswa yang lain. Kepesimisan akan menimbulkan dampak
keminderan yang bermuara pada kecemasan dalam persiapan diri di
karier siswa SMK. Akan tetapi, apakah semua ini mutlak kesalahan
sekolah, keluarga, ataupun teman yang salah? tentu tidak, masih banyak
aspek yang perlu dikritisi dalam hal ini, seperti pemerintah, sistem
pendidikan yang membingungkan bagi peserta didik, dan akhirnya
bukan sistem pendidikan yang melayani atau mengikuti kemampuan
para peserta didiknya. Justru malah sebaliknya peserta didiklah yang
harus dapat mengikuti alur dunia pendidikan di negri ini. Padahal
kemampuan seluruh peserta didik di Indonesia tidak dapat disama
ratakan. Bukannya ingin menyalahkan pemerintah atau mengambing
hitamkan pemerintah, tetapi pemerintah juga ikut andil dalam
membengkaknya prosentase pengangguran di berbagai tingkatan
pendidikan, khususnya SMK.
Sementara itu upaya kita sebagai seorang guru BK sekiranga memiliki
cara, agar siswa SMK tidak memiliki pemikiran-pemikiran negatif
mengenai masa depan karirnya. Peran kita (guru BK) adalah sebagai
salah seorang yang harus siap memberikan bahunya untuk setiap siswa
ketika mereka mulai putus asa, memberikan tangan untuk mengangkat
ataupun mendorongnya agar mereka tetap optimis meraih masa depan,
tidak lupa menjadi pendengar yang baik untuk semua keluhan siswa,
dan pembicara yang diharapkan setiap katanya sebagai sarana informasi
216
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
baik itu informasi kerja ataupun sekolah lanjutan. Paling utama adalah
guru BK dapat menjadi sumber motivasi dan informasi bagi seluruh
peserta didik dimasing-masing sekolah.
Dari berbagai data dan argumentasi diatas menunjukkan bahwa
dunia SMK perlu diberikan perhatian lebih, karna di SMK ini pemudapemuda bangsa yang siap menjadi tumpuan perekonomian dan dunia
industri kita dicetak. Perlu langkah pasti untuk membuat SMK menjadi
lebih baik. Langkah kongkrit yang perlu diusahakan yakni saling
bekerjasama satu sama lain, jadi tidak hanya satu pihak saja yang
berusaha merubah dan membangun mindset optimistis dari siswa SMK.
Akan tetapi, semua aspek diatas dapat memberikan titik temu dan dapat
memecahkan masalah apa, serta bagaimana menjadikan siswa SMK yang
matang dan siap untuk bekerja demi generasi emas Indonesia di masa
depan.
DAFTAR RUJUKAN
Beck, J. R., & Moore, D.T. 2001. Kuatir. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Hurlock, E. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan (edisi kelima) Jakarta: Erlangga.
Kurniawan, Dian. 2005. Memprihatinkan, Lulusan SMK Banyak yang
Menganggur. (Online) (http://news.liputan6.com/read/2358787/
memprihatinkan-lulusan-smk-paling-banyak-menganggur /Diakses pada
tanggal 26 November 2016).
PP No 29 tahun 1990, tentang standart pendidikan Indonesia.
Ramaiah, S. 2003. Kecemasan Bagaimana Mengatasi Penyebabnya. Jakarta:
Pustaka Populer Obor.
Santrock, J.W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta:Erlangga.
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
217
KETEPATAN PEMILIHAN JURUSAN DI PERGURUAN TINGGI
AWAL LANGKAH MENUJU KESUKSESAN PESERTA DIDIK
Pepi Nuroniah
Pascasarjana UM dan Guru MAN 2 Serang, Banten
Setiap tahun ajaran baru biasanya jadi ajang untuk mewujudkan
mimpi calon mahapeserta didik. Di Indonesia ada beberapa jalur untuk
masuk ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ada jalur seleksi
melalui rapor atau undangan (misalnya PMDK, SNMPTN, SPAN PTKIN),
tes tulis yang diadakan bersama (SBMPTN, UMBPT, dll), dan tes tulis
mandiri (misalnya UTUL UGM, UM UNDIP, SIMAK UI). Di saat-saat inilah
peserta didik kelas XII menyiapkan dirinya agar dapat masuk ke universitas favoritnya. Persiapan biasanya dilakukan dengan belajar mandiri
lebih keras dan rajin, ditambah mengikuti bimbingan belajar. Di samping
menyiapkan ujian Ujian Nasional, mereka meluangkan waktu untuk
berlatih soal-soal SBMPTN. Bukan hanya belajar, biaya pun harus
dipersiapkan dengan matang.
Situasi yang tertulis di atas menggambarkan bagaimana peserta
didik amat ingin masuk universitas yang favorit atau terkenal. Tentu saja
hal ini wajar, setiap peserta didik ingin belajar di tempat yang berkualitas.
Sayangnya, ketika sudah masuk ke dunia kuliah apakah mahasiswa baru
ini sebelumnya memikirkan apa sebenarnya tujuan dia berkuliah? Atau
hanya mengikuti kebiasaan yang sudah ada? Setelah lulus SMA, SMK,
MAN harus kuliah. Hal ini terkadang menjadi sebuah tanya besar, apakah
“Karena orang-orang melakukan itu jadi saya pun melakukannya” ikutikutan temankah? disuruh orang tua? Biar keren? atau benar-benar
ingin mewujudkan mimpi? Tentunya sebaris pertanyaan tersebut menjadi
begitu familiar saat tahuan ajarn baru dibuka.
Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru BK, kebanyakan dari
peserta didik ingin masuk ke universitas A, namun mereka bingung
memilih program studi. Kebingungan yang tidak ada jalan keluarnya
atau dibiarkan saja oleh peserta didik, kemungkinan ke depannya akan
menyebabkan peserta didik tersebut mengalami salah jurusan. Adapun
penyebab-penyebab peserta didik salah jurusan sebagai berikut.
217
218
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
1.
Hanya mengikuti yang disarankan orang tua. Peserta didik mengalami
kebingungan ketika apa yang diinginkannya tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan oleh orang tua.
2.
Ikut-ikutan teman, bingung memilih jurusan danterkadang peserta
didik hanya mengikuti apa yang temannya pilih.
3.
Asal kuliah di universitas ternama. Menurut Alfan (2014) Jacket
Syindrom perlu diwaspadai pada peserta didik. Maksudnya ketika
peserta didik lebih mengutamakan warna almamater yang akan dia
gunakan dibandingakan jurusan pilihannya. Contoh apabila peserta
didik diberikan pertanyaan akan kuliah di mana? Mereka bisa langsung
menjawab UI, ITB, UGM dll. Padahal pertanyaan kuliah di mana bisa
saja dijawab dengan nama daerah.
4.
Tidak mengetahui konsep dirinya dan tujuannya kuliah.
Salah jurusan dapat menimbulkan kejenuhan dan kebingungan
ketika menjalani perkulihannya. Potensi yang dimiliki bisa jadi tidak
dikembangkan secara maksimal. Ada yang menyadari kekeliruannya dan
mengulang ditahun berikutnya, ada juga yang bertahan pada jurusan
tersebut. Tentu saja tidak masalah ketika sang mahasiswa merasa baikbaik saja dengan jurusannya. Namun, banyak kita temui ketika mereka
bekerja kadang tidak sesuai dengan jurusannya. Tepat jurusan dapat
membuat mahasiswa bertanggungjawab atas pilihannya dan memiliki
motivasi tinggi dalam meraih masa depan cerah.
Untuk menangani hal-hal di atas ada beberpa program yang mungkin
dapat dilaksanakan di sekolah. Sebab, study lanjut adalah bagian layanan
bimbingan karier dalam bimbingan dan konseling yang berfungsi untuk
pengembangan potensi diri dan memandirikan peserta didik dalam
menganmbil keputusan karir.Program yang rutin dilakukan sebagai
berikut.
1.
Pertemuan dengan orang tua peserta didik. Disetiap ajaran tahun baru,
sekolah mengadakan pertemuan dengan orang tua peserta didik untuk
mensosialisasikan cara masuk perguruan tinggi, jurusan, dan apa saja
yang perlu disiapkan. Tujuan pertemuan ini agar orang tua dan peserta
didik dapat sesuai dalam pemahaman memilih jurusan. Sebab masalah
yang sering timbul adalah siswa ingin masuk jurusan teknik sipil
orang tua ingin anaknya masuk kedokteran.
2.
Carier Day, sekolah mendatangkan pemateri-pemateri dari universitas
untuk menjelaskan lebih detail juruasan apa saja yang ada di
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
219
universitas tersebut, ada juga pemateri dari lembaga yang memberikan
beasiswa, dan dapat mengundang alumni yang baru lulus untuk
memebrikan motivasi pada adik kelasnya. Agar peserta didik lebih
mengetahui setiap jurusan dan tahu apa perbedaan serta kesamaannya
3.
Melaksanakan tes minat bakat, pelaksanaan tes ini dapat mengetahui
kecenderungan minat dan bakat peserta didik. Bukan untuk dijadikan
acuan utama, namun dapat jadi pertimbangan untuk peserta didik.
4.
Guru BK dapat melaksanakan Bimbingan dan Kelompok. Tujuan
utamanya agar peserta didik dapat saling membantu dalam
menyelesaikan maslahnya. Contoh masalah kecemasan dalam memilih
bidang studi yang tidak sesuai dengan pilihan orang tuanya. Dalam
kelompok tersebut mungkin ada peserta didik yang mengalami
permasalahan yang sama dan dapat memberikan pendapat-pendapat
atau cara yang pernah dilakukannya. Begitupun dengan anggota
kelompok lainnya.
5.
Guru BK juga dapat melaksanakan layanan klasikal dengan memilih
tema-tema berkaitan dengan pemilihan jurusan atau tentang karir di
masa depan. Namun, yang harus dilakukan lebih dulu adalah
melaksanakan need asessmet. Mengetahui kebutuhan utama siswa,
hal ini bisa didapat dari angket, inventori, dan observasi di lapangan.
6.
Konseling Individu adalah konseling yang dilakukan oleh guru BK baik
untuk menyelesaikan masalah yang mengganggu peserta didik
maupun untuk mengembangkan potensinya. Bisa jadi siswa memiliki
masalah yang sama, namun diatasi dengan pendekatan teori konseling
yang berbeda. Ada berbagai macam pendekatan contoh behavioristik,
psikoanalisis, gestalt, personcenter, realita dan banyak lagi pendekatan
teori konseling.
Sebagaimana diuraikan di atas, poin-poin yang dapat dilakukan
guru BK dalam membantu peserta didik dalam menyelesaikan masalah
jurusan. Untuk lebih mendalam peulis akan membahas poin terakhir
yakni konseling individu yang biasa dilakukan oleh guru BK. Mungkin
guru BK dapat menerapkan prosedur konseling realitas yang dikenal
dengan singkatan WDEP yakni (Fall et al, 2001).
a.
Want: mengetahui apa yang diingikan oleh peserta didik saat ini,
contoh: saya ingin masuk jurusan pendidikan bahasa Indonesia, seperti
yang ibu tahu saya sering juara kepenulisan dan lomba puisi, tapi
orang tua saya ingin saya masuk jurusan kebidanan.
220
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
b.
Do/Direction: mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh peserta didik
selama ini, contoh: ”apa saja yang sudah kamu lakukan untuk dapat
persetujuan dari orang tuamu?” “bagaimana cara kamu menjelaskan
keinginanmu”. Guru BK mengidentifikasi apa saja yang pernah
dilakukan oleh peserta didik.
c.
Evaluation: adalah evaluasi yang dilakukan oleh peserta didik atas
apa yang pernah dikerjakannya dalam mengatasi masalah. Guru BK
hanya mengkonfrontasi dan menghindari judgement. Contoh “baik,
kamu hanya mengatakan ingin masuk jurusan bahasa Indonesia namun
belum mengungkapkan alasan memilih jurasan bahasa Indonesia?”
d.
Planing: Rencana yang akan dilakukan oleh peserta didik. Contoh:
“kapan kamu akan menjelaskan alasanmu memilih jurusan bahasa
Indonesia kepada orang tuamu?” rencana yang dibuat harus
berdasarkan pilihan peserta didik, dapat diukur keberhasilannya dan
dapat dilaksanakan.
Prosedur tersebut didasarkan pada prinsip keterlibatan
(involvement), pemutusan pada tingkah laku saat sekarang dari pada
perasaan (focus on present behavior rather than on feeling), pertimbangan
nilai (value judgement), perancanaan tingkah laku bertanggungjawab
(planning responsible behavior), membuat komitmen (commitment),
tidak menerima alasan-alasan kegagalan (no excuses), peniadaan hukuman
(eliminate punishment), dan pantang menyerah (never give up). Prinsipprinsip ini harus dilaksanakan oleh guru BK ketika memilih menggunakan
prosedur WDEP agar tujuan konseling tercapai.
Menurut Glaseser dan Zunin (Corey, 2013) tujuan umum dari
konseling realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi.
Otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang
untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
Guru BK harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam
pikirannya.Akan tetapi, tujuan-tujuan itu harus diungkapkan dari segi
konsep tanggung jawab individual.
Tujan tersebut selaras dengan tujuan dari bimbingan dan konseling
yakni mengentaskan masalah peserata agar dapat membuatnya mandiri
dalam mengambil keputusan karirnya di masa depan. Sempat di awal
disinggung, bahwa masalah yang sama belum tentu dapat diselesaikan
dengan pendekatan yang sama pada setiap peserta didik. Untuk itulah
guru BK harus dapat mengindentifikasi secara holistik dalam menghadapi
peserta didik.
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
221
Ketepatan memilih jurusan, diharapakan dapat menumbuhkan
motivasi berprestasi yang tinggi dalam diri peserta didik kelak di
perguruan tinggi. Sebab, kuliah mempunyai arti “pelajaran yang
diberikan” atau “ceramah”. Lebih sering diartikan juga proses belajar.
Pelajaran yang kurang disukai kemungkinan dapat menurunkan motivasi
belajarnya terlebih kurang mengetahui tujuan dari jurusan yang
dipilihnya. Oleh karena itu, salah jurusan sebisa mungkin untuk dihindari
dan pemilihan jurusan dimulai semenjak sekolah.
DAFTAR RUJUKAN
Alfan, Rabbani. 2014. Waspada Jacket Syindrom. PT Gramedia: Jakarta.
Corey, Gerald. 2013. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, Terjemahan
Koswara E. Bandung: Refika Aditama.
Fall, A, Kefin et al. 2010. Theoretical Models of Counseling and
Psychotherapy.Brunner-Rountage: New York and Hove.
Ramli, M. 2016. Penerapan Prinsip dan Prosedur Konseling Realitas dalam
Membantu Remaja Mengatasi Masalah yang Dihadapi. Disampaikan
dalam seminar profesi bimbingan dan konseling, tantangannya dalam
menghadapi problematika remaja. Malang: UM.
222
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Strategi Token Reinforment untuk Menurunkan Munculnya Perilaku Out-Of Seat pada.....
223
STRATEGI TOKEN REINFORCEMENT UNTUK MENURUNKAN MUNCULNYA
PERILAKU OUT-OF SEAT PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Rosyida Aziz
SMA Muhammadiyah 10 Surabaya
Masa anak-anak adalah masa dimana seorang individu berada pada
usia empat sampai sebelas tahun. Masa ini merupakan masa dimana
individu mulai melakukan sosialisasi dengan lingkungannya, baik dengan
lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Pada fase ini individu yang awalnya lebih cenderung menutup diri dan
lebih menyukai bermain sendiri mulai memilih untuk membuka diri
terhadap lingkungan dan bermain dengan kelompok seusianya. Pada
usia ini individu cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar,
sehingga apa yang dilakuakan orang tua maupun orang-orang disekitarnya
menjadi cerminan apa yang akan dilakukan anak saat ini maupun pada
masa yang akan datang. Pada usia ini anak menyerap sangat cepat
apapun yang ada di depannya, sikap orang tua sangat mempengaruhi
sikap anak dimanapun dia berada. Anak-anak usia sekolah dasar
cenderung memiliki sifat manja dan mencari perhatian baik kepada
orang tuanya ataupun kepada orang-orang di sekelilingnya. Keinginan
untuk selalu ingin diperhatikan ini tidak selalu diiringi sikap positif,
namun juga mampu menimbulkan sifat negatif seperti manja, jahil, atau
perilaku negatif lainnya. Perlakuan orang tua akan mampu mengarahkan
perilaku anak, misalnya dengan tidak selalu menuruti permintaan anak,
dengan bersikap tegas namun tetap tidak kasar dan lain sebagainya.
Pada usia ini anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi,
sehingga kerap muncul pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya dari semua
yang dilihat, didengar, dandirasakan olehnya. Jawaban yang diberikan
akan terekam kuat oleh anak, sehingga jika jawaban yang diberikan
tidak dapat memuaskannya.Maka ia akan mencari jawaban dari orang
lain yang dianggapnya mampu memenuhi rasa ingin tahunya. Tentu
jawaban yang didapat haruslah jawaban yang benar, misalnya seorang
anak yang sedang berjalan-jalan di taman sedang melihat langit,
kemudian bertanya kepada orang tuanya “apakah langit itu dekat?”
223
224
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
jawaban yang diberikan oleh orang tua akan selalu di ingat oleh
anak.Jika jawaban orang tua asal-asalan untuk menghindari pertanyaan
yang lebih dalam lagi, maka hal ini akan mengakibatkan anak menjadi
anak yang kurang kritis.
Anak-anak usia 7-8 tahun pada dasarnya sedang mengalami proses
adaptasi, dari model pendidikan yang lebih banyak bermain menjadi
model pembelajaran yang lebih komples seperti mulai mengenal angka
atau huruf yang lebih rumit. Perlakuan guru pada saat ini sangat
berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan anak.Jika seorang anak
untuk pertama kali mendapatkan guru yang penyebar dan penyayang,
maka anak akan menjadi anak yang lebih sabar dan lebih percaya diri.
Jika mendapat guru yang kurang sabar dan sedikit keras. maka anak
akan merasa takut, malas, dan lebih tidak percaya diri di lingkungan
sekolah. Hal ini terjadi karena penerimaan guru pada awal masa sekolah
terutama sekolah dasar akan selalu diingat oleh anak, perlakuan baik
guru anak menjadikan anak lebih merasa diterima dan disayang, sehingga
anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan apa adanya.
Anak juga akan memiliki ketertarikan untuk datang ke sekolah dan
selalu berprestasi, sebab lingkungannya mendukung.
Di usia ini individu sedang berada pada kondisi dimana ia memiliki
energi yang sangat besar, sehingga anak akan cenderung bersikap
agresif atau tidak bisa diam. Kenyataan ini jika tidak diarahkan pada
kegiatan-kegiatan yang positif akan menjadi sebuah perilaku
mengganggu, baik di rumah maupun di sekolah. Baru-baru ini para
psikolog menekankan bahwa pengalaman kehidupan sehari-hari dan
juga peristiwa-peristiwa utama kehidupan dapat menjadi faktor-faktor
penyebab timbulnya stres bagi anak-anak. Tekanan hidup keluarga
seperti kemiskinan, atau pertengkaran antar anggota keluaga yang
dialami oleh anak-anak setiap hari, dapat menambah tegangnya
kehidupan dan pada akhirnya mengakibatkan gangguan atau penyakit
kejiwaan (Compas dalam Santrock, 1995).
Perilaku menggangu ini jika dibiarkan akan menjadi perilaku yang
menetap dalam diri individu bahkan menjadi salah satu faktor munculnya
gangguan kejiwaan. Pada dunia pendidikan, perilaku mengganggu
disebut juga sebagai perilaku off-task behavior. Perilaku-perilaku yang
termasuk dalam off-task behavior anatara lain tingkahlaku impulsive,
innatention, non completon of task, out-of seat, talking without
Strategi Token Reinforment untuk Menurunkan Munculnya Perilaku Out-Of Seat pada.....
225
permission, unmotivated to learn, unprepared for class, out of class
(Sparzo, 1989). Perilaku off-task yang banyak muncul pada usia-usia
sekolah dasar adalah perilaku out-of seat, danperilaku out-of seat
merupakan salah satu perilaku yang menjadi penentu prestasi akademik
siswa disekolah. Perilaku out-of seat adalah perilaku dimana siswa keluar
dari tempat duduk ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran di
depan kelas, perilaku ini sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar
di kelas karena perilaku ini dapat menghilangkan konsentrasi siswa lain.
Perilaku out-of seat ini ditandai dengan munculnya kebiasaan siswa
keluar dari tempat duduknya untuk mengganggu teman-temannya yang
lain atau hanya sekedar untuk mencari perhatian dari guru yang sedang
mengajar.
Perliku out of seat merupakan kebiasaan keluar dari tempat duduknya
ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung. Kebiasaan yang
menetap terlalu lama menjadikan kebiasaan ini berubah menjadi perilaku.
Bentuk-bentuk dari perilaku our of seat antara lain adalah sebagai
berikut.
a.
Berjalan berkeliling ruangan;
b.
Berdiri di beberapa tempat diluar bangkunya;
c.
berdiri atau berlutur di atas kursi;
d.
Duduk di tempat duduk siswa lain;
e.
Mengganggu konsentrasi siswa lain dengan mengajak siswa lain
berbicara;
f.
Berbuat kegaduhan di luar bangkunya.
Sparzo (1989) menjelaskan bahwa perilau out-of seat merupakan
salah satu bentuk gangguan perilau dan emosi. Ciri-ciri anak dengan
gangguan perilaku dan emosi antara lain pemalu, rendah diri, sering
murung, menyendiri, pendiam, mudah marah/tersinggung, ingin menang
sendiri, sering membuat ulang, keributan atau sering mengganggu
orang lain, kurang percaya diri, mudah terpengaruh, terlalu cuek atau
tidak perduli, sering melanggar peraturan, dan sering menunjukkan
gerakan aneh yang menetap. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan
oleh Widyastono Heri mengatakan bahwa 33% siswa di Indonesia
mendapatkan nilai dibawah rata-rata dan mengalami gangguan perilaku
dan emosi. Penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan perilaku dan
emosi merupakan salah satu jenis kesulitan belajar, penelitian ini juga
226
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
menunjukkan bahwa gangguan perilaku dan emosi dapat menetap pada
diri seseorang. Dari ungkapan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku
out-of seat dapat muncul pada jenjang pendidikan berikutnya jika terus
dibiarkan tanpa penanganan tertentu.
Perilaku out-of seat banyak dilakukan oleh siswa Sekolah Dasar.Hal
ini ditunjukkan dalam studi pendahuluan atau need assesment yang
dilakukan sebelumnya yakni menunjukan bahwa lebih dari 10% siswa
kelas II menunjukkan perilaku out-of seat. Hal ini disebabkan karena
pada usia Sekolah Dasar anak sangat mudah merasa bosan dan jenuh
dalam menjalankan aktivitas yang monoton,sehingga mereka cenderung
lebih suka melakukan hal-hal yang dianggap mampu mengalihkan
kebosanan selama dikelas. Perilaku seperti out-of seat merupakan perilaku
yang tidak hanya merugikan bagi siswa yang bersangkutan, namun juga
berdampak buruk pada lingkungannya. Model klasikal yang digunakan
dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar menyebabkan guru
kurang mampu mengawasi siswa-siswanya secara keseluruhan. Guru
akan cenderung memperhatikan sebagian siswa saja,karena dengan
pembelajaran model klasikal ini guru akan kesulitan untuk
memperhatikan, mengawasi, serta mengawal siswa satu persatu.
Setiap individu memiliki ciri khas yang berbeda anatara satu dengan
yang lain, sehingga guru dituntut untuk memahami karakteristik masingmasing siswa. Masa Sekolah Dasar terutama pada kelas-kelas awal (kelas
satu atau kelas dua) adalah masa dimana siswa sangat ingin diperhatikan
terutama oleh guru kelas dan oleh teman-teman satu kelasnya. Hal ini
menyebabkan sering munculnya perilaku off-taks pada diri siswa, diantara
perilaku off-task tersebut adalah perilaku out-of seat. Selain karena
keinginan untuk selalu diperhatikan, siswa pada usia ini juga sangat
mudah merasa bosan dalam melakukan aktivitas yang monoton atau
aktivitas yang dilakukan berulang-ulang dengan waktu yang relatif
lama.
Pada usia Sekolah Dasar siswa masih terbawa kebiasaan-kebiasaan
yang dilakukannya selama di rumah atau di pra sekolah dasar, misalnya
pada jam-jam tertentu siswa bermain, makan atau melakukan kegiatan
lain diluar kegiatan belajar mengajar. Hal ini menyebabkan ketika
masuk Sekolah Dasar siswa masih terbawa kebiasaan dalam berperilaku
tersebut, sehingga perlu adanya perlakuan khusus dari guru kelas untuk
menurunkan perilaku-perilaku tersebut agar tidak mengganggu kegiatan
Strategi Token Reinforment untuk Menurunkan Munculnya Perilaku Out-Of Seat pada.....
227
pembelajaran. Perilaku ini jika tidak segera dihilangkan akan menjadi
perilaku yang menetap dan akan mengganggu kestabilan dalam proses
pembelajaran. Jika hal tersebut terjadi maka tujuan pendidikan tidak
akan sama lagi dengan tujuan pendidikan nasional.
Masalah yang dihadapi oleh guru dari waktu ke waktu adalah sama,
yakni bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan keterampilan
sosial, mereduksi perilaku destruktif, dan sejenisnya. Out of seat
merupakan salah satu bentuk dari perilaku off-task behavioryang sulit
untuk direduksi. Menurut Sparzo (1989) yang termasuk dalam perilai out
of seat meliputi “student walks about the room,student stands at same
place other then her or him assigned desk,student kneels in the seat in
and someone else’s chair.” Selain itu, Sparzo (1989) juga mengemukakan
bahwa perilaku out of seat yang dilakukan oleh siswa dapat mengganggu
proses pembelajaran yang sedang berlangsung, serta mengganggu tugas
yang diberikan oleh guru kelas mereka. Dalam beberapa situasi perilaku
out of seat didorong oleh guru kelas, namun tetap harus dalam
pengawasan sang guru. Karena jika dibiarkan tanpa pengawasan kegiatan
atau perilaku ini akan menjadi sebuah perilaku yang mengganggu.Selain
itu, pengawasan atau atauran yang dibuat juga digunakan untuk
mengajarkan tentang kedisiplinan untuk tetap duduk di bangku masingmasing dengan tenang pada saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Tidak semua sekolah memiliki guru Bimbingan dan Konseling,
namun kebanyakan SD memberikan tugas-tugas guru BK kepada guru
kelas. Sebab guru kelas lah yang lebih sering bertemu dengan siswa dan
dituntut untuk memahami karakteristik siswa satu persatu. Kehadiran
guru BK di Sekolah Dasar merupakan hal yang baru bagi beberapa
sekolah, sehingga kebanyakan struktur sekolah menganggap bahwa
guru BK tidaklah terlalu penting. Sangat jarang ada jam khusus bagi
guru BK untuk menyampaikan materi di dalam kelas.Hal ini disebabkan
karena kepala sekolah menganggap materi yang disampaikan oleh guru
BK sama atau monoton,sehingga guru BK hanya diberikan waktu untuk
menyampaikan materinya dua hingga tiga kali selama satu semester.
Guru BK hanya menyelesaikan masalah-masalah yang dianggap besar
oleh sekolah seperti kasus pencurian, pemukulan, dan lain
sebagainya.Namun masalah siswa di dalam kelas seperti munculnya
perilaku out ofseat pada siswa tidak menjadi perhatian guru BK.
228
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
BK di SD bersifat preventif atau pencegahan, dimana materi yang
diberikan adalah materi yang sesuai dengan pengalaman siswa seperti
perasaan, pandangan diri, minat, dan lain sebagainya (Alwisol, 2010).
Hal ini bertolak belakang dengan keadaan di lapangan, karena di
lapangan guru BK hanya menangani masalah yang sudah terjadi bukan
lagi mencegah munculnya masalah tersebut. Karena jarangnya guru BK
bertatap muka dengan siswa menyebabkan guru BK kurang memahami
sifat dan karakteristik masing-masing siswa. Hal ini menyebabkan kurang
bisanya guru BK dalam mencegah perilaku negatif atau masalah pada
siswa.
Terdapat 3 pandangan penting tentang pelaksanaan bimbingan dan
konseling di lingkup sekolah dasar yakni bimbingan terbatas pada
pengajaran yang baik (innstructional guidence); bimbingan hanya
diberikan kepada siswa yang menunjuukan gejala-gejala penyimpangan
dari laju perkembangan yang normal; dan pelayanan bimbingan tersedia
bagi seluruh siswa agar proses perkembangannya berjalan lebih lancar
dan sesuai dengan tugas perkembangan masing-masing individu. Siswa
sekolah dasar pada dasarnya memang gemar mencari perhatian dari
lingkungan di sekelilingnya, namun perilaku yang berlebihan juga dapat
menjadi salah satu indikator bahwa anak tersebut memiliki sesuatu yang
tidak sesuai di lingkungan rumahnya baik lingkungan keluarga maupun
lingkungan sekitar rumahnya. Sebab tempat seorang anak belajar dan
menyerap segala pengetahuan pertama kali adalah pada lingkungan
keluarga dan lingkungan rumahnya. Lingkungan keluarga yang tidak
kondusif berdampak negatif pada psikologis anak. Perceraian,
pertengkaran atau perdebatan, dan sikap kasar orang tua memiliki
dampak yang cukup besar dalam kehidupan dan psikologis anak termasuk
perilakunya di sekolah.
Menurut Hurlock dalam bukunya yang berjudul Psikologi
Perkembangan jenis disiplin yang digunakan pada masa awal kanakkanak menentukan karakter anak dimasa yang akan datang, bahkan
hingga anak tersebut dewasa. Jenis disiplin yang dijalankan orang tua
terbagi menjadi tiga antara lain disiplin otoriter, lemah, dan demokratis.
Disiplin yang diterapkan oleh orang tua dapat mempengaruhi sifat dan
perilaku pada diri anak, diantaranya adalah:
Strategi Token Reinforment untuk Menurunkan Munculnya Perilaku Out-Of Seat pada.....
229
Tabel 1. Disiplin yang diterapkan dan pengaruhnya
Disiplin
Perilaku
Sikap
Kepribadian
Pengaruhnya Terhadap Anak
Anak yang orang tuanya lemah akan mementingkan diri sendiri, tidak
menghiraukan hak-hak orang lain, agresif, dan tidak sosial. Anak-anak yang
mengalami disiplin yang keras (otoriter) akan sangat patuh bila dihadapan
orang-orang dewasa namun agresif dalam hubungannya dengan temanteman sebayanya. Anak yang dibesarkan dilingkungan disiplin demokratis
belajar mengendalikan perilaku yang salah dan mempertimbangkan hak-hak
orang lain.
Anak yang orang tuanya melaksanakan disiplin otoriter maupun disiplin yang
lemah cenderung membenci orang-orang yang berkuasa. Anak yang
mengalami disiplin otoriter merasa diperlakukan tidak adil.Anak yang orang
tuanya lemah merasa bahwa orang tua seharusnya memperingatkan bahwa
tidak semua orang dewasa mau menerima perilaku yang tidak disiplin.
Disiplin yang demokratis dapat menyebabkan kemarahan sementara tetapi
bukan kebencian. Sikap-sikap yang terbentuk sebagai akibat akibat dari
metode pendidikan anak cenderung menetap dan bersifat umum, tertuju
kepada semua orang yang berkuasa.
Semakin banyak hukuman fisik digunakan, semakin anak cenderung menjadi
cemberut, keras kepada negativistik. Ini mengakibatkan penyesuaian pribadi
dan sosial yang buruk, yang juga merupakan ciri khas dari anak yang
dibesarkan dengan disiplin yang lemah. Anak yang dibesarkan di bawah
disiplin yang demokratis akan mempuanyai penyesuaian pribadi dan
penyesuaian sosial yang terbaik.
(Sumber: Hurlock, 1980)
Kurangnya perhatian dari orang tua membuat anak cenderung
banyak menunjukkan perilaku out-of seat mauapun perilaku off-task
lainnya. Kebanyakan orang tua menganggap perilaku negatif yang
ditunjukkan oleh sang anak merupakan perilaku yang buruk dari anak
tersebut.Hal ini menyebabkan orang tua memberikan “cap” negatif
pada anak tersebut. Cap negatif yang diberikan oleh orang tua ataupun
oleh lingkungan sekitarnya dapat menyebabkan anak merasa rendah diri
dan dapat pula menurunkan rasa kepercayaan diri sang anak.Turunnya
kepercayaan diri anak akan membuat anak tersebut menjadi lebih
pendiam atau bahkan lebih sulit di kendalikan.
Perilaku out-of seat masuk kedalam kategori pelanggaran tata tertib
kelas yakni ketidak displisinan selama berada dalam kelas. Sebab pada
usia ini anak memiliki aspek perkembangan motorik yang lebih besar
daripada perkembangan moral, intelektual, maupun sosial (Hurlock,
1980), sehingga anak perlu diberikannya layanan bimbingan dan
konseling yang sesuai dengan kebutuhan individu-individu yang memiliki
kebiasaan negatif tersebut. Selain itu, guru di sekolah perlu membuat
kesepakatan dengan siswa dalam membuat peraturan kelas, sehingga
dengan peraturan tersebut perilaku siswa dapat dikontrol dengan baik.
230
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Untuk dapat merubah suatu perilaku yang dimiliki oleh setiap
individu dibutuhkan berbagai macam teknik, karena dalam prakteknya,
setiap individu memiliki kecenderungan terhadap suatu teknik tertentu.
Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa setiap individu unik dan
berbeda dari individu yang lain. Beberapa teknik dalam behavior analysis antara lain : shaping, flooding, token reinforcement, chaining,
behavior contract,dantime-out. Menurut Goodwin & Coates (1976) dalam
penerapannya di lapangan behavior analysis didasarkan pada tiga asumsi,
yakni “Token reinforcement merupakan teknik modifikasi perilaku dimana
guru memberikan reinforcement atau hadiah berupa token atau
tanda.Tanda tersebut dapat berbentuk bintang, stempel, stiker, poster,
atau dengan tanda yang lain sesuai dengan kesepakatan anatara guru
dengan siswa. Dimana dalam pelaksanaannya guru akan memberikan
token ketika siswa mampu untuk tidak melakukan perilaku yang hendak
diubah dalam hal ini adalah perilaku out-of seat. Selain itu, tugas siswa
adalah mengumpulkan token, jika siswa mampu mengumpulkan token
dalam jumlah tertentu maka siswa berhak mendapatkan reinforcement
asli. Reinforcementasli dapat berupa uang, makanan, atau barang yang
diinginkan oleh siswa sesuai dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya.
Pada pelakansanaannya hadiah asli atau berang yang diberikan
hendaknya adalah barang atau sesuatu yang tidak didapatkan anak
dengan mudah, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan
sekitar. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dan minat anak
terhadap hadiah yang akan diberikan.Jika hadiah yang diberikan adalah
barang yang dengan mudah ia dapatkan di lingkungan keluarganya,
maka motivasi anak untuk mendapatkan hadiah tersebut akan turun.
Cooper (1994) menyebutkan bahwa token reinforcement sangat
cocok digunakan untuk anak-anak usia 5 hingga 12 tahun.Dimana anakanak pada usia ini masih sangat tertarik dengan bentuk-bentuk maupun
dengan hadiah asli yang diberikan ketika mereka mampu melakukan
perilaku yang diinginkan. Selain itu,token reonforcement telah banyak
digunakan pada berbagai seting seperti di rumah, di sekolah, di asrama,
maupun pada seting-seting yang lain.
Pada beberapa Sekolah Dasar yang memiliki guru BK perilaku outof seat bukanlah menjadi perilaku yang diamati maupun diselesaikan
(dianggap bukan sebagai masalah). Yang terjadi adalah ketika siswa
menunjukkan perilaku out-of seat pada saat guru sedang memberikan
Strategi Token Reinforment untuk Menurunkan Munculnya Perilaku Out-Of Seat pada.....
231
materi di dalam kelas, guru akan memberikan hukuman kepada siswa
berupa berdiri didalam kelas, atau hukaman fisik bahkan hukumanhukuman yang membuat mental anak jatuh di depan teman-temannya
yang lain. Hal ini ternyata tidak menimbulkan efek yang baik bagi
siswa, mereka tetap melakukan perilaku yang sama di hari-hari berikutnya
dan kemunculan perilaku tersebut akan cenderung naik. Proses
pembelajaran akan sangat terganggu dengan adanya siswa yang memiliki
perilaku out-of seat. Selain itu, guru BK di lingkungan sekolah dasar
cenderung hanya menangani masalah-masalah yang dianggap besar saja
seperti pencurian dan perkelahian. Karena tidak adanya tindakan atas
munculnya perilaku out-of seat pada siswa maka yang terjadi adalah
perilaku ini akan dibawanya hingga jenjang kelas selanjutnya.
Dengan adanya treatment berupa token reniforcement diharapkan
anak akan mampu menurunkan atau bahkan menghilangkan sama sekali
perilaku out-of seat nya. Ketika perilaku out-of seat siswa hilang maka
dapat dipastikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara
maksimal.Jika demikian, maka kreativitas gurulah yang kemudian di uji.
Jika anak sudah berhasil mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku
out-of seat nya dan guru mengajar dengan metode yang membosankan,
maka yang akan terjadi adalah perilaku tersebut akan muncul kembali.
Sebab anak akan mengalami kebosanan dalam proses pembelajaran
tersebut, sehingga guru harus selalu memperbaharui caranya mengajar
untuk dapat menarik minat siswa untuk senantiasa memperhatikan
secara suka rela bukan lagi karena terpaksa. Keterpaksaan siswa dalam
proses belajar mengajar dapat menyebabkan anak kurang kreatif dan
cenderung pasif karena tidak tertarik dengan apa yang diajarkan.
Namun, semakin menarik materi dan cara guru mengajar, maka anak
akan semakin kreatif dan akan mampu menyerap apa yang disampaikan
oleh guru secara cepat dan maksimal. Selain dengan menerapkan
strategi token reinforcement, guru juga harus bersikap kreatif dan
inovatif untuk merangsang anak tertarik dengan materi dan sekolah.
DAFTRA PUSTAKA
Hurlock, E.B. 1980.Psikologi Perkembangan(Edisi terjemah bahasa
Indonesia). Jakarta: PT Erlangga.
Cooper, J.O, Timothy E. H., & William L. H. 1994.Applied Behavior
Analysis. Ohio: Maemillan Publishing Company.
232
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Sparzo, F.J. and Pottet, J.A.1989. Classroom Behavior. Detecting and Correcting Special Problems. Boston: Allyn and Bacon.
Winkel. & Sri H. 2010. BimbingandanKonseling di InstitusiPendidikan
(EdisiRevisi). Yogyakarta: Media Abadi.
Sobur, A.2003. Psikologi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Azrin, N.H. & Lindsley, O.R. 1956. The Reinforcement of Cooperation
between Children. Journal of Abnormal and Social Psyichology. 52.
(2): 100-102.
Santrock, J.W. 1995. Life-Spand Development; Perkembangan Masa Hidup
jilid 1.Jakarta: PT. Erlangga.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
233
MENCETAK GENERASI BERKARAKTER PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Zakiyah
Pendidikan Khusus Negeri Seduri Mojokerto
Pada dasarnya pendidikan karakter tidak hanya di peruntukkan pada
anak normal saja. Anak berkebutuhan khusus juga harus ditanamkan
pendidikan karakter itu sejak dini, dengan berbagai kekurangan yang
ada pada anak berkebutuhan khusus merupakan tantangan tersendiri
bagi guru di sekolah luar biasa untuk menanamkan pendidikan karakter
pada peserta didik. Anak berkebutuhan khusus berhak mendapat
perlakuan yang sama dengan peserta didik reguler, dan juga mempunyai
kewajiban yang sama sebagai generasi bangsa yang berkarakter. Meskipun
cara perlakukan nya berbeda dengan anak reguler atau anak normal.
Seperti yang dituangkan dalam undang undang dasar 1945 pasal 31 ayat
1 yang berbunyi
“Setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan”.Ayat 3 yang berbunyi: “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikannasional, yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta akhlak muliadalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur denganundang-undang”.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami hambatan
kemampuan dalam berbagai aspek seperti hambatan kemampuan dalam
penglihatan yang di sebut dengan tunanetra. hambatan kemampuan
dalam pendengaran disebut dengan tunarungu. hambatan kemampuan
dalam kecerdasan disebut dengan tunagrahita. hambatan kemampuan
dalam gerak tubuh disebut dengan tunadaksa. hambatan kemampuan
dalam emosi dan sosial di sebut tunalaras. Autis, anak berkebutuhan
khusus juga bisa menjadi generasi berkarakter sama dengan anak normal
lainnya, tapi cara penanganan pada anak berkebutuhan khusus
memerlukan strategi dan metode khusus juga, sehingga anak bisa
menerapkan karakter karakter yang baik dalam kehidupan sehari hari.
Mencetak generasi berkarakter pada anak berkebutuhan khusus
merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua di rumah dan guru di
sekolah. Diperlukan strategi dan metode khusus dalam penanganannya.
233
234
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Adapun metode dan strategi tersebut harus disesuaikan dengan berbagai
macam karakteristik anak berkebutuhan khusus dan harus sesuai dengan
hambatan yang disandangnya. Adapun karakteristik anak berkebutuhan
khusus adalah sebagai berikut.
Tunanetra
1.
Pengertian Anak Tunanetra
Dipandang dari segi bahasa, kata tunanetra terdiri dari kata tuna
dan netra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990)
tuna mempunyai arti rusak, luka, kurang, tidak memiliki, sedangkan
netra artinya mata. Tunanetra artinya rusak matanya atau tidak memiliki
mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatannya.
Definisi bila ditinjau dari sudut pendidikan, anak dengan gangguan
penglihatan adalahanak yang mengalami gangguan daya penglihatannya
berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, walaupun telah diberi
pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap tidak
mampu memanfaatkan media pendidikan yang dirancang untuk anakanak awas pada umumnya, sehingga mereka memerlukan pelayanan
pendidikan khusus(Azwandi, 2005).
Menurut white conference, pengertian tunanetra adalah seseorang
dikatakan buta baik total maupun sebagian (low vision) dari kedua
matanya bila kedua mata itu tidak dapat digunakan untuk membaca,
meskipun dibantu dengan kaca mata.Seseorang dikatakan buta untuk
pendidikan bila mempunyai katajaman penglihatan 20/200 atau kurang
pada bagian mata terbaik.Setelah mendapat perbaikan yang terbaik
atau bila mempunyai ketajaman lebih dari 20/200 tetapi luas daerah
penglihatannya membentuk sudut tidak lebih dari 20 derajat
(Widdjajantin, 1995).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tunanetra adalah
seseorang yang mengalami kerusakan pada kedua matanya, sehingga
tidak bisa melihat (buta) atau yang masih dapat melihat tetapi tidak
cukup jelas penglihatannya. Kondisi yang tetap tidak mengalami
perubahan, walaupun telah dibantu dengan kaca mata ia tidak dapat
mengikuti pendidikan dengan menggunakan fasilitas yang umumnya
dipakai anak awas.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
2.
235
Klasifikasi Tunanetra
WHO mengklasifikasikan orang dengan gangguan penglihatan ke
dalam lima kategori (Ilyas dalam Azwandi,2007) yaitu: kategori 1 dan 2
adalah rabun dengan penglihatan kurang dari 30/60 atau ketajaman
penglihatan kurang dari 6/60 sedangkan.Kategori 3 dan 4 adalah buta
dengan ketajaman penglihatan kurang dari 1/60 atau ketajaman
penglihatan kurang dari 1/60 dengan lapang pandang kurang dari 5
derajat. Kategori 5 adalah buta dan tidak ada persepsi sinar.
Penglihatan seseorang dikatakan benar-benar terganggu bila
ketajaman penglihatannya lebih rendah atau sama dengan 20/200, yaitu
seseorang yang hanya mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki,
sedangkan benda tersebut dapat dilihat oleh orang yang memiliki
ketajaman normal pada jarak 200 kaki. Orang yang tidak memiliki
ketajaman penglihatan sama sekali atau yang visus matanya nol disebut
buta (Arum, 2005). Dari dua pendapat tersebut disimpulkan bahwa
pengklasifikasian seorang tunanetra, dapat dilihat dari seberapa besar
ketajaman penglihatan yang masih dipunyainya.
3.
Sebab-sebab Ketunanetraan
Penyebab ketunanetraan menurut Sunanto (2005) ada beberapa
faktor sebagai berikut.
a.
Kelainan yang terjadi pada struktur mata atau karena penyakit yang
menyerang kornea mata, saraf mata, dan lain sebagainya.
b.
Karena faktor keturunan misalnya perkawinan antar saudara dekat
yang dapat menyebabkan kemungkinan diturunkannya kondisi
kelainan penglihatan yang dibawa.
c.
Karena infeksi virus, tumor otak atau cedera yang terjadi akibat
kecelakaan.
d.
Penyakit trachoma
e.
Kondisi badan yang tidak sehat disertai kekurangan gizi dan perawatan
kesehatan dasar yang buruk.
f.
Kondisi kelainan genetis bawaan yang disebut retinopaty of
prematurity atau kerusakan jalur penglihatan.
Penyebab ketunanetraan juga dapat ditinjau dari sudut internal dan
eksternal(Widdjajantin, 1995)seperti beruikut.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
236
a.
Faktor internal. Faktor intern merupakan faktor penyebab kecacatan
mata yang timbul dari dalam diri orang tersebut. Misalnya dari
perkawinan keluarga dan perkawinan sesama tunanetra.
b.
Faktor eksternal. Faktor ekstern merupakan faktor penyebab
kecacatan mata yang timbul dari luar diri orang tersebut. Misalnya
karena:
1)
Penyakit sifilis/ raja singa/ rubella
2)
Malnutrisi berat atau kekurangan nutrisi berat
3)
Kekurangan vitamin A
4)
Penyakit diabetes melitus
5)
Penyakit tekanan darah tinggi
6)
Mengalami stroke
7)
Mengalami radang kelenjar kelopak mata
8)
Penyakit hemangioma yaitu tumor jinak pada pembuluh darah.
9)
Penyakit retinoblastoma yaitu tumor ganas yang berasal dari retina.
10) Menderita Cellutis orbita yaitu radang jaringan mata yang
disebabkan karena infeksi kuman pada jaringan mata.
11) Glaukoma yaitu tekanan pada bola mata yang tinggi.
12) Fibroplasi retrolensa yaitu pemberian oksigen yang berlebihan
pada bayi lahir prematur.
13) Pengaruh obat atau zat kimiawi
4.
Karakteristik Tunanetra
Karakteristik tunanetra adalah kegiatan yang dilakukan oleh
tunanetra. Edangkan berat ringan karakteristik tersebut tergantung sejak
kapan mengalami ketunaannya, tingkat ketajaman penglihatannya,
tingkat pendidikannya, lingkungan, serta usia (Widdjajantin, 1995)
a.
Karakteristik tunanetra total antara lain :
1)
Mempunyai rasa curiga pada orang lain
2)
Perasaannya mudah tersinggung
3)
Ketergantungan pada orang lain yang berlebihan
4)
Melakukan blindism, yaitu gerakan-gerakan yang dilakukan
tunanetra tanpa mereka sadari
5)
Mempunyai rasa rendah diri
6)
Sikap tangan ke depan dan sikap badan agak membungkuk
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
7)
Suka melamun
8)
Memiliki fantasi yang kuat untuk mengingat suatu obyek
9)
Memiliki sifat kritis
237
10) Memiliki sifat pemberani
11) dan perhatian terpusat
b.
Karakteristik tunanetra kurang lihat antara lain
1)
Selalu mencoba melihat suatu benda dengan memfokuskan pada
titik-titik benda.
2)
Menanggapi rangsang cahaya yang datang padanya, terutama
pada benda yang kena sinar yang disebut visually function.
3)
Bergerak dengan penuh percaya diri baik di rumah maupun di
sekolah.
4)
Merespon terhadap warna.
5)
Dapat menghindari rintangan-rintangan yang berbentuk besar
dengan menggunakan sisa penglihatannya.
6)
Memiringkan kepala bila akan memulai dan melakukan suatu
pekerjaan.
7)
Mampu mengikuti gerak benda dengan sisa penglihatannya yang
dipunyainya
8)
Tertarik pada benda yang bergerak.
9)
Berusaha mencari benda jatuh dengan menggunakan
penglihatannya.
10) Kebanyakan mereka menjadi penuntun bagi teman-temannya
yang buta.
11) Jika berjalan sering terbentur atau kakinya menginjak-injak benda
tanpa disengaja.
12) Jika berjalan dengan menyeretkan kaki, menggeserkan kaki atau
salah langkah.
13) Mengalami kesulitan dalam menunjuk benda atau mencari benda
kecuali benda-benda yang berwarna kontras.
14) Mengalami kesulitan melakukan gerakan-gerakan yang halus, dan
lembut.
15) Bila melihat benda secara global atau menyeluruh.
16) Kerjasama antara mata dan anggota badan lemah.
238
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Tunarungu
1.
Pengertian anak tunarungu
Anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau
kehilangan kemampuan mendengar sebagai akibat dari kerusakan atau
tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia
tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari–
hari yang berdampak terhadap kehidupanya secara menyeluruh.
Seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan
mendengar baik sebagian atau seluruh alat pendengarannya dalam
kehidupan sehari–hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya
secara komplek (Permanarian dan Hernawati, 1996: 27).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau
kehilangan kemampuan mendengar baik sebagai akibat dari kerusakan
atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga
ia tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan
sehari – hari yang berdampak terhadap kehidupannya secara menyeluruh.
2.
Karakteristik anak tunarungu
a.
Karakteristik dalam segi intelegensi. Secara umum anak tunarungu
memiliki intelegensi normal atau rata – rata, tetapi dalam
perkembangannya intelegensi tidak secepat anak normal pendengaran.
Hal tersebut sangat dipengaruhi kemampuan bahasa yang dimiliki anak,
akibatnya dalam prstasi anak tunarungu lebih rendah dibanding dengan
anak berpendengaran normal atau mendengar yang sebaya. Rendahnya
tingkat prestasi anak tunarungu bukan berasal dari kemampuan
intelektual yang rendah, tetapi pada umumnya disebabkan
intelegensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang dengan
maksimal, tapi tidak semua aspek intelegensi anak tunarungu
terhambat hanya yang bersifat verbal saja anak tunarungu mengalami
hambatan.
b.
Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara. Kemampuan berbicara dan
berbahasa anak tunarungu berbeda dengan anak yang mendengar,
hal ini disebabkan perkembangan bahasa erat kaitannya dengan
kemampuan mendengar, anak tunarungu mengalami hambatan karena
masalah ketajaman pendengaran yang dapat mempengaruhi
perkembangan bahasa dan bicara anak
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
c.
239
Karakteristik dalam segi kepribadian, emosi dan sosial. Kemiskinan
bahasa anak tunarungu mengakibatkan terhambatnya komunikasi
dengan lingkungan, hal tersebut menimbulkan masalah bagi anak
tunarungu karena anak terasing dari pergaulan sehari–hari dimana
dia hidup. Keterasingan tersebut dapat menimbulkan efek negatif
seperti:
1)
Egoisentrisme yang melebihi anak berpendengaran normal.
2)
Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas.
3)
Ketergantungan terhadap orang lain.
4)
Perhatian mereka sukar dialihkan.
5)
Lebih mudah marah dan cepat tersinggung.
Karena dampak tersebut diatas menyebabkan anak tunarungu kurang
mempunyai konsep sosial meliputi pengertian luas yaitu lingkungan
dimana dia hidup, sehingga menimbulkan perasaan rendah diri, terasing,
cemburu, mudah curiga, kurang dapat bergaul, dan mudah marah.
Tunagrahita
1.
Pengertian Anak Tunagrahita
Pengertian Anak tunagrahita menurut beberapa ahli (soemantri,
2007:103) adalah “anak yang memiliki kemampuan intelektual dibawah
rata-rata”. Menurut Delphie (2007:2) “anak dengan hambatan kemampuan
(tunagrahita) memiliki problema belajar disebabkan adanya hambatan
perkembangan intelegensi, mental, emosi, sosial, fisik”. Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut, yang dimaksud dengan anak tunagrahita
adalah anak dengan gangguan intelegensi atau intelegensi di bawah
rata-rata normal sehingga mengalami kesulitan dalam akademik,
komunikasi, bahasa maupun sosial.
2.
Karakteristik Anak tunagrahita ringan
a.
Ditinjau dari segi Kecerdasan.
Umumnya anak tunagrahita ringan adalah anak yang mengalami
keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dan memiliki kecerdas-an di
bawah rata-rata. Dengan kecerdasan di bawah rata-rata ini anak
tunagrahita ringan memiliki keterbatasan kemampuan dalam berpikir
abstrak dan kemampuan intelektual lain di bawah kemampuan yang
dimiliki oleh kebanyakan anak, anak tunagrahita ringan lebih banyak
belajar dengan cara membeo (rate learning).
240
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dengan kemampuan yang terbatas ini, anak tunagrahita ringan
sering dianggap sebagai anak yang bodoh dan acapkali menempati
urutan paling bawah dalam prestasi belajar di lingkungan tempat
tinggalnya. Sebagaimana tertulis dalam The new America Webster
(dalam Amin, 1995:37) bahwa “Moron (debile) is person whole mentality
does not develop beyond the 12 years old level”. Maksudnya kecerdasan
berpikir seseorang tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan
kecerdasan anak normal usia 12 tahun.
Walaupun anak tunagrahita ringan ke-mampuan akademiknya terbatas
namun mereka masih memiliki kemampuan yang dapat di-kembangkan
dalam bidang ketrampilan. Dalam berbicaranya Anak tunagrahita ringan
banyak yang lancar, tetapi minim kosa katanya, Mereka mengalami
kesulitan dalam berpikir abstrak, tetapi mereka masih mampu mengikuti
pelajaran yang bersifat akademik atau tool subject, baik di sekolah biasa
maupun di sekolah luar biasa (SLB).
b.
Ditinjau dari segi bahasa.
Anak tunagrahita ringan yang mengalami gangguan bahasa lebih
banyak dibandingkan dengan yang mengalami gangguan bicara (Rochyadi
dalam Imandala, 2012). Hasil penelitian Robert Ingall (Rochyadi dalam
Imandala,2012) tentang kemampuan berbahasa anak tunagrahita dengan
menggunakan ITPA (Illionis Test of Psycholinguistic Abilities), menunjukkan
bahwa (1)anak tunagrahita memperoleh keterampilan berbahasa pada
dasarnya sama seperti anak normal, (2)kecepatan anak tunagrahita
dalam memperoleh keterampilan berbahasa jauh lebih rendah dari pada
anak normal, (3)kebanyakan anak tunagrahita tidak dapat mencapai
keterampilan bahasa yang sempurna, (4)perkembangan bahasa anak
tunagrahita sangat terlambat dibandingkan dengan anak normal, sekalipun
pada MA yang sama, (5)anak tunagrahita mengalami kesulitan tertentu
dalam menguasai gramatikal, (6)bahasa tunagrahita bersifat kongkrit,
(7)anak tunagrahita tidak dapat menggunakan kalimat majemuk. Ia akan
banyak menggunakan kalimat tunggal.
Mc Lean dan Synder (Sunardi dan Sunaryo, 2007:194) mengemukakan
bahwa “anak tunagrahita cenderung mengalami kesulitan dalam
keterampilan berbahasa, meliputi morfologi, sintaksis, dan semantik.
Dalam hal semantic mereka cenderung kesulitan dalam menggunakan
kata benda, sinonim, penggunaan kata sifat, dan dalam pengelompokkan
hubungan antara objek dengan ruang, waktu, kualitas, dan kuantitas”.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
241
Menurut Sutjihati (Sunardi dan Sunaryo, 2007:194) anak tunagrahita
disamping dalam komunikasi sehari-hari cenderung menggunakan kalimat
tunggal, pada mereka umumnya juga mengalami gangguan dalam
artikulasi, kualitas suara, dan ritme, serta mengalami kelambatan dalam
perkembangan bicara”.
c.
Ditinjau dari segi sosial dan emosi
Anak tunagrahita kurang memiliki kemampuan untuk beradaptasi
atau bersosialisasi dengan lingkungannya. Kemampuan menyesuaikan
diri yang kurang ini akan sulit bagi mereka untuk membuka jaringan
sosial dengan teman sebayanya. Kalaupun mungkin akan membutuhkan
waktu yang cukup lama sebagai proses adaptasi. Oleh karena itu, anak
tunagrahita lebih cenderung bergaul dengan anak usia lebih mudah di
bawah usia mereka sendiri. Lingkungan yang baru juga merupakan hal
yang sangat dihindari oleh anak tunagrahita ringan karena beberapa
adat kebiasaan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang
lain. Beberapa anak tunagrahita membutuhkan pertolongandalam
kemampuan itu dibutuhkan untuk hidup, bekerja, dan bermain di dalam
masyarakat.
Fungsi mental anak tunagrahita juga mengalami kemunduran seiring
dengan ke-mampuan sosial mereka. Secara mental, kecerdasan setaraf
anak normal berumur 12 tahun. Mereka mengalami kesukaran dalam
memusatkan perhatian, pelupa, kurang mampu membuat asosiasi dan
sukar membuka kreasi-kreasi yang baru. Dengan demikian anak
tunagrahita ringan akan semakin tersisih secara sosial dan pada akhirnya
akan berakibat pada emosinya. Dimana anak tunagrahita emosinya
kurang kaya, kurang kuat dan kurang banyak mempunyai keragaman
anak tunagrahita jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab
dan hak sosial.
d.
Masalah Anak tunagrahita ringan
Menurut Sunardi & Sunaryo (2007) permasalahan Anak tunagrahita
ringan meliputi:
1)
Hambatan perkembangan motorik. Anak tunagrahita memiliki
kecakapan motorik yang lebih rendah dibandingkan kelompok anak
normal sebaya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
2)
Hambatan perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif anak
tunagrahita hakekatnya seperti yang terjadi pada anak normal. Namun,
sulit untuk berfikir abstrak.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
242
3)
Hambatan perkembangan komunikasi. Perkembangan bahasa dan
bicara erat kaitannya dengan perkembangan kognitif. Per-kembangan
kognitif yang terhambat ber-pengaruh pada perkembangan bahasa
dan bicaranya.
4)
Hambatan perkembangan sosial dan emosi. Dalam perkembangan
sosialnya anak tunagrahita memiliki ketergantungan pada orang lain.
Perkembangan emosi anak tunagrahita tidak jauh dengan anak
normal tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat
memeperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana
hatinya secara tepat.
Tunadaksa
1.
Pengertian tuna daksa
Tunadaksa adalah adalah bahasa kasar Indo nya adalah cacat, dan
bahasa halus adalah Tuna Daksa (alias cacat tubuh). Definisi Tunadaksa
menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, tunadaksa
berasal dari kata “Tuna“ yang berarti rugi, kurang dan “daksa“ berarti
tubuh.
2.
a.
Ciri-ciri anak tunadaksa
1)
Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh
2)
Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna,tidak lentur/tidak
terkendali).
3)
Terdapat bagian angggota gerak yang tidak lengkap/tidak
sempurna/lebihh kecil dari biasanya.
4)
Terdapat cacat pada alat gerak.
5)
Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
6)
Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap
tubuh tidak normal.
7)
Hiperaktif/tidak dapat tenang.
Ciri-ciri fisik
Anak memiliki keterbatasan atau kekurangan dalam kesempurnaan
tubuh. Misalnya tangannya putus, kakinya lumpuh atau layu, otot atau
motoriknya kurang terkoordinasi dengan baik.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
b.
c.
243
Ciri-ciri mental
1)
Anak memiliki kecerdasan normal bahkan ada yang sangat cerdas.
2)
Depresi, kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai
dengan kedengkian dan permusuhan. Orang tersebut begitu susah
dan frustasi atas cacat yang dialami.
3)
Penyangkalan dan penerimaan, atau suatu keadaan emosi yang
mencerminkan suatu pergumulan yang diakhiri dengan
penyerahan. Ada saat-saat di mana individu tersebut menolak
untuk mengakui realita cacat yang telah terjadi meskipun lambat
laun ia akan menerimanya.
4)
Meminta dan menolak belas kasihan dari sesama. Ini adalah fase
di mana individu tersebut mencoba menyesuaikan diri untuk dapat
hidup dengan kondisinya yang sekarang. Ada saat-saat ia ingin
tidak bergantung, ada saat-saat ia betul-betul membutuhkan
bantuan sesamanya. Keseimbangan ini kadang-kadang sulit
dicapai.
Ciri-ciri sosial
Anak kelompok ini kurang memiliki akses pergaulan yang luas
karena keterbatasan aktivitas geraknya. Kadang-kadang anak
menampakkan sikap marah-marah (emosi) yang berlebihan tanpa sebab
yang jelas. Untuk kegiatan belajar-mengajardisekolah diperlukan alatalat khusus penopang tubuh, misalnya kursi roda, kaki dan tangan
buatan.
Penyebab tunadaksa ada beberapa macam sebab yang dapat
menimbulkan kerusakan pada anak hingga menjadi tunadaksa. Kerusakan
tersebut ada yang terletak dijaringan otak, jaringan sumsum tulang
belakang, pada sistem musculusskeletal.Adanya keragaman jenis tuna
daksa dan masing-masing kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat
dari saat terjadinya kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum
lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.
1)
Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal), kerusakan terjadi pada saat
bayi masih dalam kandungan, kerusakan disebabkan oleh:
(a) Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung
sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya,
misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis.
244
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(b) Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu,
tali pusat tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf
di dalam otak.
(c) Bayi dalam kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung
mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun
fungsinya terganggu.
(d) Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma (kecelakaan)
yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem
syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan perutnya membentur yang
cukup keras dan secara kebetulan mengganggu kepala bayi maka
dapat merusak sistem syaraf pusat.
2)
Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal, peri natal), Hal-hal yang
dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan
antara lain:
(a) Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu
kecil sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan
oksigen menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam
otak bayi, akibatnya jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
(b) Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang
mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak
pada bayi.
(c) Pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Ibu yang melahirkan
karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis
dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi, sehingga otak
mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya.
(d) Sebab-sebab setelah proses kelahiran (fase post natal), Fase setelah
kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai masa
perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir
adalah:
(1) Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
(2) Infeksi penyakit yang menyerang otak.
(3) Anoxia/hipoxia.
3.
Karakteristik Anak Tuna Daksa,
Kareakteristik anak tunadaksa mempengaruhi kemampuan
penyesuaian diri dengan lingkungan, kecenderungan untuk bersifat
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
245
pasif. Demikianlah pada halnya dengan tingkah laku anak tuna daksa
sangat dipengaruhi oleh jenis dan derajat keturunannya.jenis kecacatan
itu akan dapat menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai kompensasi
akan kekurangan atau kecacatan. Ditinjau dari aspek psikologis, anak
tuna daksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan
diri dari lingkungan.
Tunalaras
1.
Definisi
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam
mengendalikan emosi dankontrol sosial.Individu tunalaras biasanya
menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan
aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena
faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan
sekitar.Menurut Somantri (2007:139)“Anak tunalaras sering juga disebut
anak tunasosial karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan
terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud seperti mencuri,
mengganggu, dan menyakiti orang lain.”Individu tunalaras biasanya
menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan
aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena
faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan
sekitar.Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan
karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa
selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.
2.
Ciri-ciri Anak Tuna Laras
Penggolongan anak tunalaras secara umum dapat ditinjau dari segi
gangguan atau hambatan dan kualifikasi berat ringannya kenakalan,
dengan penjelasan sebagi berikut.
a.
Gangguan Emosi. Anak tunalaras yang mengalami hambatan atau
gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan, yaitu: senangsedih, lambat cepat marah, dan releks-tertekan. Secara umum emosinya
menunjukkan sedih, cepat tersinggung atau marah, rasa tertekandan
merasa cemas. Gangguan atau hambatan terutama tertuju pada
keadaan dalam dirinya. Macam-macam gejala hambatan emosi, yaitu:
1)
Gentar, yaitu suatu reaksi terhadap suatu ancaman yang tidak
disadari, misalnya ketakutan yang kurang jelas objeknya.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
246
b.
2)
Takut, yaitu rekasi kurang senang terhadap macam benda, mahluk,
keadaan atau waktu tertentu. Pada umumnya anak merasa takut
terhadap hantu, monyet, tengkorak, dan sebagainya.
3)
Gugup/nervous, yaitu rasa cemas yang tampak dalam perbuatanperbuatan aneh. Gerakan pada mulut seperti meyedot jari, gigit
jari dan menjulurkan lidah. Gerakan aneh sekitar hidung, seperti
mencukil hidung, mengusap-usap atau menghisutkan hidung.
Gerakan sekitar jari seperti mencukil kuku, melilit-lilit tangan atau
mengepalkan jari. Gerakan sekitar rambut seperti, mengusap-usap
rambut, mencabuti atau mencakar rambut.
4)
Demikian pula gerakan-gerakan seperti menggosok-menggosok,
mengedip-ngedip mata dan mengrinyitkan muka, dan sebagainya.
5)
Sikap iri hati yang selalu merasa kurang senang apabila orang
lain memperoleh keuntungan dan kebahagiaan.
6)
Perusak, yaitu memperlakukan bedan-benda di sekitarnya menjadi
hancur dan tidak berfungsi.
7)
Malu, yaitu sikap yang kurang matang dalam menghadapi
tuntunan kehidupan. Mereka kurang berang menghadapi
kenyataan pergaulan.
8)
Rendah diri, yaitu sering minder yang mengakibatkan tindakannya
melanggar hukum karena perasaan tertekan.
Gangguan Sosial. Anak ini mengalami gangguan atau merasa kurang
senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri
dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan itu adalah
seperti sikap bermusuhan, agresip, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang menghina orang lain, berkelahi,
merusak milik orang lain dan sebagainya. Perbuatan mereka terutama
sangat mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan orang lain.
Beberapa data tentang anak tunalaras dengan gangguan sosial antara
lain adalah:
1)
Mereka datang dari keluarga pecah (broken home) atau yang sering
kena marah karena kurang diterima oleh keluarganya.
2)
Biasa dari kelas sosial rendah berdasarkan kelas-kelas sosial.
3)
Anak yang mengalami konflik kebudayaan yaitu, perbedaan pandangan
hidup antara kehidupan sekolah dan kebiasaan pada keluarga.
4)
Anak berkecerdasan rendah atau yang kurang dapat mengikuti
kemajuan pelajaran sekolah.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
5)
c.
247
Pengaruh dari kawan sekelompok yang tingkah lakunya tercela
dalam masyarakat.
Dari keluarga miskin. Dari keluarga yang kurang harmonis sehingga
hubungan kasih sayang dan batin umumnya bersifat perkara. Salah
satu contoh, kita sering mendengar anak delinkwensi. Sebenarnya anak
delinkwensi merupakan salah satu bagian anak tunalaras dengan
gangguan karena social perbuatannya menimbulkan kegoncangan
ketidak bahagiaan/ketidak tentraman bagi masyarakat. Perbuatannya
termasuk pelanggaran hukum seperti perbuatan mencuri, menipu,
menganiaya, membunuh, mengeroyok, menodong, mengisap ganja,
anak kecanduan narkotika, dan sebagainya.
Klasifikasi berat-ringannya kenakalan
Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk
menetapkan berat ringan kriteria itu adalah:
1.
Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semikin tinggi memiliki
perasaan negatif terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative
semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.
2.
Frekwensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan
tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik
semakin berat kenakalannya.
3.
Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat
diketahui dari sanksi hukum.
4.
Tempat/situasi kenalakan yang dilakukan artinya Anak berani berbuat
kenakalan di masyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan
dengan apabila di rumah.
5.
Mudah sukarnya dipengaruhi untk bertingkah laku baik. Para
pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan
segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar
mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
6.
Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak
tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan
berat dalam pembinaannya. Maka kriteria ini dapat menjadi pedoman
pelaksanaan penetapan berat-ringan kenakalan untuk dipisah dalam
pendidikannya
248
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Autis
Autis adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang
yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan kadang-kadang
telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan terapi
sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan
dirinya dengan yang normal. Kadang-kadang terapi harus dilakukan
seumur hidup, walaupun demikian penderita Autisme yang cukup cerdas,
setelah mendapat terapi Autisme sedini mungkin, seringkali dapat
mengikuti Sekolah Umum, menjadi Sarjana dan dapat bekerja memenuhi
standar yang dibutuhkan, tetapi pemahaman dari rekan selama bersekolah
dan rekan sekerja seringkali dibutuhkan, misalnya tidak menyahut atau
tidak memandang mata si pembicara, ketika diajak berbicara. Karakteristik
yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah
kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal
maupun memahami emosi serta perasaan orang lain.[1] Autisme
merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian
dari gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD)
dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah
payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development
Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan
suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak
tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini
termanifestasi pada perilaku penyandang autisme.Autisme adalah yang
terberat di antara PDD.
Gejala-gejala autisme dapat muncul pada anak mulai dari usia tiga
puluh bulan sejak kelahiran hingga usia maksimal tiga tahun.Penderita
autisme juga dapat mengalami masalah dalam belajar, komunikasi, dan
bahasa.Seseorang dikatakan menderita autisme apabila mengalami satu
atau lebih dari karakteristik berikut: kesulitan dalam berinteraksi sosial
secara kualitatif, kesulitan dalam berkomunikasi secara kualitatif,
menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan
yang terlambat atau tidak normal
Dari beberapa pengertian dan karakteristik tentang anak berkebutuhan
khusus dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras dan
autis, dapat kami kami simpulkan bahwa pendidikan karakter dapat di
berikan pada anak berkebutuhan khusus tapi pemberiannya di sesuaikan
dengan karakteristik masing masing anak dan di sesuaikan dengan
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
249
kebutuhan khususnya, pendekatan harus memperhatikan time yang tepat,
sebab kalau tidak tepat maka akan pemperburuk pada perkembangan
anak tersebut, dengan melihat time yang tepat maka penanaman karakter
karakter yang baik dapat merubah prilaku yang kurang baik pada anak
didik berkebutuhan khusus. Sehingga anak berkebutuhan khususpun
dapat menjadi pribadi pribadi yang berkarakter sehingga anak dapat
bergaul secara sosial dengan masyarakat pada umumnya.
Penanaman Nilai – nilai Karakter Pada anak Berkebutuhan Khusus
Di sekolah Pendidikan Khusus Negeri Seduri penanaman prilaku
yang berkarakter selalu ditanamkan sejak dini pada anak berkebutuhan
khusus dari jurusan tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan
Autis. Perilaku–perilaku berkarakter perlu ditanamkan pada anak didik
supaya mereka bisa saling membantu, saling menghargai, dan saling
menghormati, meskipun mereka beda kebutuhan khususnya. Ada rasa
kebersamaan sesama anggota warga sekolah seperti wali murid,
pendidikan dan tenaga kependidikan, adapun prilaku yang ditanamkan
pada peserta didik tersebut dibagi tiga yaitu :
1.
Diluar kelas
a.
Religius: sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama
lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Perilaku ini
ditanamkan pada anak didik pada awal sebelum masuk kelas, anak di
kumpulkan di halaman sekolah untuk berdoa bersama dipimpin oleh
salah satu siswa tunanetra, dengan alasan siswa tunanetra mampu
mengucapkan doa dengan ucapan yang jelas sehingga dapat
mengajarkan pada siswa tunagrahita dan tunadaksa, sedang untuk
siswa tunarungu, ada salah seorang guru yang membantu dengan
isyarat jari tangan untuk disimak siswa tunarungu dalam berdoa.
Keadaan tersebut dapat di lihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Kegiatan berkumpul di halaman untuk berdo’a
250
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Prilaku karakter religius juga ditanamkan pada siswa pada saat
sholat berjamaah Di mushollah sekolah, siswa di ajak sholat dhuhur
berjamaah, sebelum pulang sekolah. Dan sholat berjamaah tersebut juga
diikuti oleh siswa SD reguler yang kebetulan dekat dengan sekolah
pendidikan khusus negeri seduri, disitu terlihat adanya saling interaksi
siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler.
b.
Peduli sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
c.
Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,
suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda
dari dirinya.
Siswa berkebutuhan khusus juga memiliki rasa peduli pada orang
lain, meskipun itu siswa tunagrahita yang selama ini dianggap sebagian
masyarakat sebagai anak tidak berguna karena lemah mentalnya, ternyata
dengan pembiasaan yang ditanamkan guru pada siswa, anak tunagrahita
juga mempunyai rasa peduli pada temannya, seperti yang terlihat pada
gambar di bawah ini:
Gambar 2. Bersalaman dengan guru
Mereka tanpa disuruh mendorong kursi roda temannya yang tunadaksa
agar bisa bersalaman dengan guru, setelah selesai berdoa bersama.
d.
Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan.
Prilaku karakter disiplin pada siswa berkebutuhan khusus ditanamkan
pada saat setelah selesai berdoa bersama, mereka berbaris rapi untuk
bersalaman dengan guru nya. Mereka dengan tertib berbaris untuk
bersalaman, dan saling menolong juga ditunjukkan dengan mendorong
temanya yang tunadaksa dan tunanetra untuk berjalan berbaris dengan
rapi di halaman sekolah.
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
251
Prilaku disiplin juga ditanamkan pada siswa pada saat mau masuk
kelas, disini terllihat kebersamaan siswa, pada saat mau masuk kelas
siswa dengan tertib berbaris dengan rapi mesikipun yang mempimpin
adalah anak tunagrahita, siswa tunarungu mau menghargai pemimpin
barisan meskipun pemimpinnya tunagrahta.
Gambar 3. Berbaris untuk melatih
kedisiplinan
a) Di dalam kelas
1) Bersahabat/Komunikatif: tindakan yang
memperlihatkan rasa senang berbicara,
bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain
Didalam kelas perlu ditanamkan sikap
karakter ini sebab agar siswa mudah
bersosialisasi denga temannya, enjoy
menerima pelajaran, dengan suasana enjoy
siswa lebih bisa berkomunikasi dengan guru dan temannya, terutama
siswa tunagrahita,yang sulit ditebak prilakunya. Guru harus benar benar
melakukan dengan pendekatan dengan berbagai startegi dan metode.
Agar dapat menguasai kelas.
Gambar 4. Kegiatan siswa di
dalam kelas
2)
Rasa Ingin Tahu: Sikap dan
tindakan yang selalu berupaya
untuk mengetahui lebih
mendalam dan meluas dari
sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat, dan didengar.
Pembelajaran di kelas hendaknya mampu mendorong rasa ingin tau
siswa terhadap materi pembelajaran, guru harus mampu memilih startegi
dan metode yang sesuai dengan karakteristik pada siswa, sehingga kelas
menjadi bermakna. Contohnya : pembelajaran tidak harus di lakukan
dalam kelas, pembelajaran bisa di lalukan di luar kelas tapi harus di
sesuaikan juga dengan materi yang ada, sekiranya bisa dilakukan di luar
kelas lebih baik di luar kelas untuk menghindari kejenuhan siswa pada
pembelajaran. Seperti pada gambar di bawah ini. Siswa tunagrahita
252
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
pada Pembelajaran alat komunikasi bisa langsung di bawa ke asarama
untuk di kenalkan pada alat komunikasi, yaitu telepon, hp, televisi, dan
Tape/radio.
Gambar 5. Kegiatan melatih rasa ingin tahu
3)
Tanggung-jawab: sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan
Tuhan Yang Maha Esa.
4)
Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang
lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Penanaman rasa tanggung jawab dan mandiri perlu ditanamkan
pada siswa berkebutuhan khusus, mesikupun mereka ada kekurangan,
tapi mereka harus bisa mandiri, harus bisa bertanggung jawab minimal
pada diri mereka sendiri tanpa bergantung pada orang lain, maksimal
bisa ikut serta dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Hal ini ditanamkan
pada siswa agar mampu mandiri, mampu mengurusi kebutuhan diri nya
sendiri tanpa bergantung pada orang lain, baik itu saudara, orang tua
atau teman, seperti gambar di bawah ini
Mencetak Generasi Berkarakter pada Anak Berkebutuhan Khusus
253
Gambar 6. Kegiatan melatih tanggung jawab dan mandiri
b) Di rumah
Program–program yang ditanam kan guru di sekolah tidak akan ada
guna nya bila tidak ada dukungan dari orang tua siswa itu sendiri, sebab
program dan bimbingan itu tidak ada gunanya bila dirumah tidak
dilakukan pembiasaan, untuk itu perlu adanya kerjasama dan komunikasi
yang baik antara guru dan orang tua wali murid, perlu adanya diskusi
mengenai program yang akan dilakukan pada siswa, juga kendala
kendala yang dialami guru di sekolah bisa di diskusikan dengan orang
tua siswa demikian juga sebaliknya, kendala kendala orang tua dalam
meneruskan program sekolah di rumah di konsultasikan dan diskusikan
ke guru agar keberhasil program bisa berhasil dengan baik. Sebab
pengorbanan oraang tua berkebutuhan khusus tidak sedikit, seperti di
bawah ini, harus meluangkan waktu untuk mengantarkan anaknya ke
sekolah, sambil membawa anak yang masih kecil, juga dengan finansial
yang tidak sedikit, untuk transpot, uang saku, dan kebutuhan lainnya.
KESIMPULAN
Dengan berbagai macam teori tentang anak berkebutuhan khusus
dan kenyataan di lapangan meskipun itu hanya sebagaian kecil contoh
perlakuan pada siswa berkebutuhan khusus di Pendidikan Khusus Negeri
Seduri, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pembiasaan merupakan
pendekatan yang tepat untuk menanamkan prilaku yang berkarakter
pada siswa berkebutuhan khusus baik itu yang tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan aiutis.
Semakin komplek karakteristik siswa berkebutuhan khusus semakin
memerlukan perlakuan dan strategi khusus dalam menanamkan prilaku
berkarakter pada siswa tersebut. Mesikipun berkebutuhan khusus siswa
di SLB atau di Pendidikan Khusus mampu menjadi generasi yang
254
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
berkarakter. Tinggal masyarakat luas saja apakah mereka mau menerima
mereka dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka, jangan menutup
mata pada mereka, seperti slogan kami para guru–guru pendidilkan luar
biasa untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak berkebutuhan
kusus yaitu: JANGAN KASIHANI KAMI, TAPI BERI KAMI KESEMPATAN.
DAFTAR PUSTAKA
Arum, W.S.A, 2005. Perspektif Pendidikan Luar Biasa dan Implikasinya bagi
Penyiapan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Depdiknas.
Purbaningrum, Endang. 2013. Modul Bina Persepsi Bunyi dan Bina Bicara.
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press.
Somad, Permanarian dan Hernawati, Tati .1996.Ortpedagogik Anak
Tunarungu.Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek
Pendidikan Tenaga Guru.
Sunaryo dan Sunardi. 2007. Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:
Depdiknas Dirjen Dikti.
Sutjiati, Somantri. 2006. Psikologi Anak LuarBiasa. Bandung: Reflika
Aditama.
Widdjajantin, A, 1995. Ortopaedagogik Tunagrahita Jakarta: DepdikbudDin.
Widdjajantin, A, 1995. Ortopaedagogik Tunanetra I. Jakarta: DepdikbudDin.
Menggapai Uluran Tangan Anak
255
MENGGAPAI ULURAN TANGAN ANAK
Sulistiana
SMA Negeri I Kebomas Gresik
Dunia anak adalah dunia impian. Berjuta bintang, bunga, anak
binatang dengan berbagai kelucuannya, kebun, laut, langit dan berbagai
isi alam berpadu dalam warna dan nuansa bak negeri dongeng. Semua
hadir dalam dunia anak. Milik anak.
Setiap orang dewasa, utamanya yang telah menikah, tidak akan
menolak bahwa kehadiran anak adalah hal yang paling ditunggu dalam
kehidupan rumah tangga. Para orang tua bahkan rela melakukan apapun
demi hadirnya sang buah hati yang tidak hanya menambah makna
dalam kehidupan, tetapi juga sebagai generasi penerus bagi keluarga
besar ayah dan ibu. Kelahiran anak menambah kokoh keberadaan
pasangan suami dan istri. Demikian pula sebaliknya, anak terlahir ke
dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasan (Margaretha;
Workshop Klinis Kekerasan Seksual).
Tetapi fenomena saat ini sungguh membuat pilu dan miris siapapun
yang memiliki hati nurani yang normal dan wajar. Anak-anak saat ini
sejak lahir sudah menghadapi bahaya yang sangat luar biasa terhadap
fisiknya yakni kekerasan seksual terhadap anak. Di Medan, seorang ayah
tega mencabuli anak perempuannya yang baru berusia 18 bulan. Di
Kukar, seorang guru SD menjadi tersangka kasus sodomi terhadap
seorang siswanya. Di Cianjur, pedofilia melibatkan seorang oknum guru
SD di Yayasan Al-Azhar. Pelaku berinisial AS diduga melakukan pelecehan
seksual terhadap belasan muridnya. Sedangkan di Aceh, seorang oknum
polisi ditahan setelah mencabuli 5 bocah (Kompas com, 23/04/2014). Dan
tidak seorang pun bisa melupakan tragedi JIS. Sekolah yang katanya
ber-SPP 20 juta per bulan itu telah menjadi mimpi buruk yang membuka
fakta bahwa tindak kekerasan seksual terhadap anak bisa terjadi dimana
saja, pada kalangan apa saja tanpa melihat latar belakang pendidikan
dan yang lainnya.
255
256
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Data dari Komnas Perlindungan Anak menyebutkan, terdapat 2508
kasus kekerasan terhadap anak (KTA) sepanjang tahun 2011. Dari jumlah
itu, 62,7 persennya adalah bentuk kekerasan seksual. Angka tersebut
meningkat jika dibandingkan pada 2010 yakni sebanyak 2413 kasus
(vivanews.com,20/12/11). Hasil asesmen tentang KTA di 3 sekolah dasar
yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan
World Population Foundation (WPF) tahun 2010 lalu, juga masih
menemukan adanya guru yang melakukan tindak kekerasan dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajarya, khususnya kekerasan fisik dan
psikis (Modul Aku Anak Berani). Bahkan saat ini Jawa Timur dinyatakan
sebagai tempat tindak kekerasan seksual terhadap anak tertinggi secara
nasional, dengan rincian 20% diantaranya terjadi di lingkungan pendidikan
(Workshop Klinis; Kekerasan Seksual Terhadap Anak).
Hal ini membuat para orangtua merasa tidak aman terhadap
keberadaan anak baik di sekolah dan tempat umum lainnya, misal saja;
tempat bermain, tempat wisata, tempat les dan sejenisnya. Anak lakilaki maupun perempuan semuanya memiliki potensi sebagai korban
kekerasan seksual.
Mengapa anak-anak? Karena anak seringkali diposisikan sebagai
sosok yang lemah dan mudah tergoda dengan iming-iming yang sangat
bernilai bagi anak-anak tetapi bersifat sederhana bagi orang dewasa.
Anak-anak adalah sosok tidak berdaya dan memiliki ketergantungan
yang tinggi pada orang dewasa baik yang tidak dikenal dan lebih-lebih
pada yang dikenal. Suatu hal yang lumrah jika anak-anak merasa takut
saat menghadapi ancaman dari orang dewasa yang memiliki otoritas
akan dirinya. Melihat tubuh yang lebih besar dan kekuatan yang juga
lebih besar dari dirinya, menekan keberadaannya. Tentu saja kebanyakan
anak menjadi takut karenanya, meski tidak menutup kemungkinan
adanya anak yang pemberani. Tetapi tentu saja jumlah anak yang
pemberani tidaklah banyak. Secara umum lebih banyak yang takut dan
tidak mampu berpikir panjang untuk melindungi dirinya.
Oleh karenanya, hampir setiap kasus yang terungkap, pelakunya
adalah orang dekat korban. Orang-orang terdekat yang seharusnya
memberi perlindungan dan kasih sayang, justru menjadi tersangka
urutan pertama. Bisa merupakan orang yang dikenal dan disukai anak.
Bisa perempuan maupun laki-laki; menikah maupun single. Bisa sesama
anak, remaja atau dewasa. Bisa jadi anggota keluarga, rekan, guru,
Menggapai Uluran Tangan Anak
257
rohaniwan, pengusaha, atau siapapun yang melakukan kontak dengan
anak tanpa menghiraukan tingkat intelektual dan latar belakang
pendidikan karena tidak berpengaruh pada perilaku pelecehan seksual
(Modul Aku Anak Bahagia). Erlinda, Sekretaris Jendral KPAI menyatakan;
kekerasan seksual terhadap anak itu ibarat fenomena gunung es, atau
dapat dikatakan bahwa satu orang korban yang melapor di belakangnya
ada enam anak bahkan lebih yang menjadi korban tetapi tidak melapor
(http://indonesia.ucanews.com,diakses pada 20 November 2016).
Kekerasan seksual terhadap anak baik perempuan maupun laki-laki
tentu tidak boleh dibiarkan. Kekerasan seksual terhadap anak adalah
pelanggaran moral dan hukum, serta melukai secara fisik dan psikologis.
Kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan dalam bentuk sodmi,
pemerkosaan, pencabulan, serta incest.
Kekerasan Seksual Pada Anak
Menurut Ricard J. Gelles (Hurairah, 2012), kekerasan terhadap anak
merupakan perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya
terhadap anak-anak (baik secara fisik maupun emosional). Kekerasan
seksual terhadap anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism
(ECPAT) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang
anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang
asing, saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan
sebagai obyek pemuas kebutuhan seksual pelaku. Perbuatan ini dilakukan
dengan menggunakan paksaan, ancaman, suap, tipuan bahkan tekanan.
Kekerasan seksual terhadap anak adalah apabila seseorang
menggunakan anak untuk mendapatkan kenikmatan atau kepuasan
seksual. Tidak terbatas pada hubungan seks saja, tetapi juga tindakantindakan yang mengarah kepada aktivitas seksual terhadap anak-anak,
seperti : menyentuh tubuh anak secara seksual, baik si anak memakai
pakaian atau tidak; segala bentuk penetrasi seks, termasuk penetrasi ke
mulut anak menggunakan benda atau anggota tubuh; membuat atau
memaksa anak terlibat dalam aktivitas seksual; secara sengaja melakukan
aktivitas seksual yang dilakukan orang lain; membuat, mendistribusikan
dan menampilkan gambar atau film yang mengandung adegan anakanak dalam pose atau tindakan tidak senonoh; serta memperlihatkan
kepada anak, gambar, foto atau film yang menampilkan aktivitas seksual
(www.parenting.co.id, diakses pada 20 November 2016).
258
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang
yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Tetapi dalam psikologi perkembangan ada penahapan atau periodesasi
rentang kehidupan manusia yang ditandai oleh ciri-ciri atau pola-pola
tingkah laku tertentu. Titik berat pembagian fase-fase perkembangan
didasarkan pada gejala-gejala perubahan fisik anak, atau didasarkan atas
proses biologis tertentu. Aristoteles misalnya, membagi dalam 3 fase. 1).
Fase anak kecil atau masa bermain (0 – 7 tahun), 2). Fase anak sekolah
atau masa belajar (7 – 14 tahun), 3). Fase remaja (pubertas) atau masa
peralihan dari anak menjadi dewasa (14 – 21) tahun.
Menurut Maria Montessori, pembagian fase-fase perkembangan anak
mempunyai arti biologis, sebab perkembangan itu adalah melaksanakan
kodrat alam dengan asas pokok, yaitu asas kebutuhan vital (masa peka),
dan asas kesibukan sendiri. Fase-fase perkembangan itu adalah: 1). 0 –
7 tahun, periode penangkapan dan pengenalan dunia luar dengan
pancaindra, 2). Umur 7 – 12 tahun, periode abstrak, dimana anak-anak
mulai menilai perbuatan manusia atas dasar baik- buruk dan mulai
timbulnya insan kamil, 3). Umur 12 – 18 tahun, yaitu periode penemuan
diri dan kepekaan sosial, 4). Umur 18 tahun ke atas, periode pendidikan
perguruan tinggi (Desmita, 2009;20-35).
Adapun secara kognitif, Piaget (dalam Desmita, 2009; 98) menyatakan
bahwa kemampuan kognitif anak juga mengalami perkembangan secara
bertahap. Secara sederhana kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai
kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan
melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Piaget membagi tahap
perkembangan kognitif dalam 4 tahap, yaitu; tahap sensori-motorik
(sejak lahir hingga usia 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 sampai 7
tahun), tahap konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun), dan tahap
operasional formal (usia 11 tahun ketas). Usia rata-rata anak Indonesia
saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun.
Jika mengacu pada pembagian tahapan perkembangan anak, berarti
anak usia sekolah berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa
kanak-kanak tengah (6 – 9 tahun), dan masa kanak-kanak akhir (10 – 12
tahun) (Desmita, 2009; 96-101). Hal ini mengandung pengertian, anak
usia sekolah Dasar secara sederhana memiliki kemampuan mengenali
lingkungan, mampu menilai perbuatan baik dan buruk, serta secara
kognitif mampu melakukan penalaran konkret-operasional yakni berpikir
Menggapai Uluran Tangan Anak
259
secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan melakukan
klasifikasi. Dalam pengertian yang lebih luas mereka telah mampu untuk
berpikir tentang keselamatan dirinya terhadap ancaman kekerasan seksual.
Hal ini tidak sesuai dengan pandangan lama yang menyatakan bahwa
anak-anak selayaknya “boneka” yang tidak mengerti apa-apa dan tidak
mampu berbuat apa-apa terhadap bahaya yang mengintainya.
Anak-anak usia sekolah dasar (SD) memang belum bisa sepenuhnya
menghilangkan kesenangan masa kecilnya, tampak masih senang bermain
dan mudah memberi kepercayaan pada orang dewasa yang dalam
benaknya orang dewasa adalah orang yang selalu baik hati pada setiap
anak-anak. Secara teori perkembangan dan kognitif, anak-anak memiliki
potensi untuk mampu mengenali gejala kejahatan yang mengancam
dirinya. Mereka hanya belum memiliki pengalaman untuk
mengantisipasinya dengan baik. Disinilah peran orang-orang dewasa,
baik itu orang tua sendiri, guru, pegiat sosial dan lain sebaginya,
membekali anak-anak dengan wawasan dan ilmu pengetahuan untuk
mengasah ketajaman anak terhadp bahaya seksual yang mengancam
dimana-mana. Karena kejahatan itu adalah masalah kesempatan, demikian
slogan pemeberantas kejahatan atau pak polisi pada tayangan televisi.
Modul Aku Anak Berani yang digagas oleh YKAI dan Rutgers WPF,
membuat program yang diharapakan dapat menjadi salah satu solusi
bagi permasalahan kekerasan seksual terhadap anak. Melalui workshop
yang digelar oleh Psikologi Unair, modul tersebut ditujukan untuk anak
SD kelas 3-5. Modul memiliki tujuan untuk membangun pengetahuan
dan kesadaran baru pada diri anak-anak tentang tindak kekerasan,
sehingga mereka dapat menghindari kemungkinan menjadi korban
maupun pelaku kekerasan. Selain itu, modul dirancang untuk
memberdayakan anak-anak, membangun sikap mental dan ketrampilan
yang dibutuhkannya untuk dapat mencari solusi pada saat menghadapi
kekerasan. Melalui program tersebut, anak-anak diharapkan
mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan untuk menghargai dirinya
sendiri dan orang lain, sikap empati dan kepedulian untuk membangun
orang lain, sikap tanggap dan responsif, keberanian dan kreativitas
untuk berinisiatif menyelesaikan masalah dengan cara positif.
Secara umum modul berisi tentang pemahaman anak pada daerah
sensitif mereka sekaligus bagaimana cara melindungi dari orang-orang
yang tidak berhak untuk melakukannya. Salah satunya bagaimana anak
260
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
mengenali berbagai jenis sentuhan pada daerah sensitif tersebut. Ada
sentuhan baik, sentuhan membingungkan dan sentuhan buruk. Sentuhan
baik adalah sentuhan yang tidak mengarah pada organ sensitif anak.
Sentuhan membingungkan adalah sentuhan yang mengarah pada organ
sensitif yang dilakukan oleh orag yang dikenal dan membuat anak
merasa tidak nyaman tetapi tidak tahu bagaimana cara menolaknya.
Sentuhan buruk adalah sentuhan yang mengarah langsung pada organ
sensitif anak yang dilakukan oleh orang tidak dikenal maupun dikenal
oleh anak yang membuat anak menjadi ketakutan.
Modul Aku Anak Berani juga berisi pembelajaran tentang bagaimana
cara anak dapat mengenal dirinya secara utuh dan bagaimana ia dapat
menjaga dirinya. Melalui modul tersebut anak memiliki wawasan dalam
aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek ketrampilan. Peran guru atau
orang dewasa lain dalam memotivasi siswa untuk terlibat dan
berpendapat sesuai daya imajinasinya, akan membuat anak memiliki
pemahaman terhadap gejala kekerasan seksual yang mengancamnya.
Pada akhirnya mereka akan menularkan ilmu yang dimiliki pada
temannya, atau bisa menjadi model belajar bagi anak-anak lainnya.
Beberapaa gambar di bawah merupakan contoh bagaimana anak
mengetahui perlindungan terhadap organ sensitif mereka, baik
perempuan maupun laki-laki;
Menggapai Uluran Tangan Anak
261
DAFTARPUSTAKA
Anonim.______. Modul Aku Anak Berani. Workshop Nasional: Kekerasan
Seksual Terhadap Anak.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Hurairah, Abu. 2012. Kekerasan Terhadap Anak. Bandung: Nuasa Press.
262
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
263
PERKEMBANGAN INOVASI BARU DALAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING
Yachya Hasyim
SMK Negeri 2 Malang
Saat ini, kecanggihan teknologi informasi telah memungkinkan
terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas
ruang dan waktu. Kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat
tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan
pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas. Karakteristik masyarakat
seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan
(knowledge-based society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia
akan mampu bersaing dalam era global. Oleh karena itu, setiap negara
berlomba untuk mengintegrasikan media seperti teknologi informasi
dengan tujuan dapat bersaing dalam era global.
Perkembangan yang sangat pesat dalam hal teknologi dan informasi
tersebut, menimbulkan masalah dan tantangan baru yang lebih berat
bagi siswa/konseli. Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh
tantangan di abad 21 yaitu, (1) kecepatan (speed), (2) kenyamanan
(convenience), (3) gelombang generasi (age wave), (4) pilihan (choice),
(5) ragam gaya hidup (life style), (6) kompetisi harga (discounting), (7)
pertambahan nilai (value added), (8) pelayananan pelanggan (costumer
service), (9) teknologi sebagai andalan (techno age), dan (10) jaminan
mutu (quality control). Kesepuluh tantangan tersebut, menurut Robert B
Tucker, menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam
pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolution, megabrain,
quantum learning, value clarification, learning than teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process
approach, porfolio evaluation, school/community based management,
school based quality improvement, life skills, dan competency based
curriculum.
Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai suatu proses pemberian
bantuan kepada individu (siswa) dapat dilaksanakan melalui berbagai
macam layanan. Saat ini layanan tersebut semakin berkembang, tidak
hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tapi juga
263
264
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada.
Tujuannya adalah menjadikan proses BK lebih menarik, interaktif, dan
inovatif, tidak terhambat oleh ruang dan waktu, tetapi tetap
memperhatikan azas-azas dan kode etik dalam bimbingan dan konseling.
Selanjutnya inilah beberapa inovasi dalam memberikan layanan
Bimbingan Konseling pada siswa SMK.
Pengertian Inovasi Layanan pada Bimbingan dan Konseling (BK)
Inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, atau
barang-barang buatan manusia yang diamati sebagai suatu hal yang
benar-benar baru bagi seseorang atau kelompok (masyarakat) yang
digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan
suatu permasalahan.InovasidalambidangBK adalah suatu ide, metode,
cara atau barang yang dibuat oleh guru BK sebagai suatu hal yang
benar-benar baru yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau
untuk memecahkan masalah dalam bidang BK.
Tentang hal ini, Fullan & Stiegelbauer (1991) mengemukakan bahwa
setiap inovasi seharusnya terdiri dari tiga elemen intrinsik sebagai
berikut.
a.
Bentuk (form), bentuk fisik yang dapat diamati secara langsung dan
substansi yang terkandung dari sebuah inovasi. Misalnya, bentuk dari
pendekatan BK komprehensif dapat dipahami sebagai layanan BK yang
terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah,melalui komponen
program yang dirancang secara utuh dan saling berkaitan dengan
layanan dasar bimbingan, layanan responsif, perencanaan individual,
dan dukungan sistem.
b.
Fungsi (function), kontribusi atau manfaat yang dihasilkan dari inovasi
terhadap kehidupan anggota dalam sistem sosial. Misalnya fungsi yang
diperoleh dari pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif
ini adalah memfasilitasi pencapaian tugas-tugas perkembangan konseli
yang memandirikan.
c.
Makna (meaning), intensitas manfaat yang diberikan inovasi terhadap
pengguna inovasi, sehingga dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang
penting dalam kehidupan individu dalam sistem sosial. Misalnya,
pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif dapat mendorong
aksesibilitas semua peserta didik dan pihak-pihak terkait kepala sekolah,
guru, staf administrasi sekolah, orang tua siswa, dan profesi lainnya
untuk terlibat dalam proses bimbingan dan konseling.
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
265
Inovasi Layanan Bimbingan & Konseling
Berikut adalah beberapa inovasi dalam hal layanan bimbingan dan
konseling yang ada di SMK.
1.
Layanan Informasi Bimbingan Konseling Berbasis IT
Bimbingan dan Konseling (BK)adalah bagian dari sekolah yang
membantu siswa mengatasi segala permasalahan yang dihadapi dalam
proses studi untuk mencapai perkembangan yang optimal. Segala upaya
dapat dilakukan untuk menjalin hubungan emosi antara guru
pembimbing dengan siswa. Upaya ini dilakukan dengan merealisasikan
program layanan yang sudah terkonsep sebagai empat komponen layanan
pada bimbingan dan konseling. Salah satu dari empat komponen
layanan tersebut adalah Layanan Perencanaan Individual.
Tujuan layanan perencanaan individual ini adalah agar siswa/
konselidapat membuat, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan,
karier, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri melalui
media online/blog BK sekolah.
Melalui layanan perencanaan individual, diharapkan siswa dapat
melakukan hal sebagai berikut.
a.
Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan,
merencanakan karier, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi,
yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang
sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
b.
Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka
pencapaian tujuannya.
c.
Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
d.
Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.
Sebagian besar tujuan dari layanan tersebut di atas cenderung
bersifat informatif, sehingga perlu dibangun sebuah layanan informasi
berbasis web yang dinamis dengan konten yang menarik dan mudah
diatur.Layanan informasi tersebut dapat dibuat dengan menggunakan
Content Management System (CMS) yang mudah dioperasikan, bahkan
dapat digunakan oleh pengguna yang tidak mengerti tentang bahasa
pemrograman.Sistem ini diciptakan untuk membangun layanan informasi
sekolah. Sistem ini memiliki ukuran yang kecil dan mudah untuk
dikonfigurasikan secara manual pada server lokal atau server-server
gratis yang ada di Internet, sehingga akan lebih ekonomis. Hal ini
266
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sangat membantu konselor sekolah tanpa memerlukan bantuan tenaga
ahli.
2.
Konseling Online/CyberCounseling
CyberCounseling atau konseling lewat dunia maya adalah konseling
online dengan email atau lewat inbox Facebook. Perkembangan alat
komunikasi elektronik yang sangat pesat, makin canggih, dan mudah
dalam pengoperasiannya menuntut konselor untuk lebih aktif dan
proaktif mengikutinya agar tidak tertinggal dalam memberikan layanan
BK dengan era ini. Salah satu tindakan pengembangan atau inovasi
yang dapat dilakukan oleh konselor adalah dengan memberikan layanan
konseling melalui email. Konseling dengan cara ini sangat efektif
terutama bagi konselor di sekolah yang tidak memiliki waktu tatap
muka untuk layanan BK secara rutin yang terjadwal setiap minggu.
Konseling melalui email tidak sulit/rumit untuk dilakukan, karena
hampir semua konselor sudah mahir dalam memanfaatkan teknologi
informasi dan hampir semua sekolah sudah memiliki website, blog,
media sosial, dan fasilitas laboratorium computer yang terkait dengan
teknologi informasi. Konselor tinggal mengkomunikasikan program BK
yang direncanakan sehubungan dengan kegiatan layanan konseling
melalui email kepada pihak terkait di sekolah agar dapat terlaksana
dengan lancar. Hal ini penting, karena merupakan salah satu kewajiban
sekolah dalam memfasilitasi program yang dimaksud (dukungan sistem).
Hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan layanan konseling
melalui email bagi konselor dan konseli adalah sebagai berikut.
a.
memiliki alamat email;
b.
ada fasilitas komputer/laptop/netbook;
c.
terhubung dengan Internet (modem, wifi, hot spot, smartphone,
android, warnet).
3.
Bursa Kerja Khusus Berbasis online /lewat Facebook atau Blog
Perkembangan telekomunikasi dan informatika saat ini sangat cepat,
berbagai infomasi dapat diperoleh dengan mudah. Penggunaan komputer
secara online sebagai sarana untuk memperoleh informasi sudah tidak
asing lagi saat ini. Pengiriman dan pengambilan informasi dapat dilakukan
dengan cepat melalui sistem komputer yang terhubung satu dengan
yang lain dalam satu jaringan. Perkembangan jaringan dari yang semula
sekedar server penyedia data statis menjadi server yang dapat memberikan
informasi yang bersifat nyata (real).
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
267
Penyampaian informasi lowongan kerja sangatlah penting untuk
dapat diketahui oleh berbagai pihak terutama oleh para pencari kerja.
Melihat kondisi yang ada saat ini, penulis mencoba merancang suatu
aplikasi bursa kerja secara online untuk memenuhi kebutuhan akan
penyampaian informasi lowongan kerja melalui media internet/facebook
(online). Selama ini dalam proses bursa kerja (lowongan kerja) yang
dilakukan oleh pihak perusahaan untuk mencari karyawan, kebanyakan
dilakukan melalui media massa yang seringkali terbatas dalam hal waktu
penyampaian berita. Bursa kerja secara online mengacu pada tingkat
kebutuhan akan lowongan pekerjaan yang dapat secara cepat diterima
maupun dikirim oleh pihak perusahaan maupun pihak pencari kerja.
Banyak sekali mereka yang telah lulus bersaing untuk memperoleh suatu
pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya dan diharapkan lewat aplikasi
yang dibuat ini, para pencari kerja dapat dengan mudah dan cepat
untuk mengakses lowongan pekerjaan yang diinginkan.
Seiring perkembangan waktu, maka dipilihlah salah satu media
sosial (facebook) untuk dapat menjaring dan menyampaikan berbagai
macam informasi berkenaan dengan bursa kerja.Hal ini merupakan salah
satu dari sekian banyak tugas konselor atau guru BK di SMK yang
berfungsi untuk memberikan layanan penempatan dan penyaluran
alumni. Selain itu, untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan
selnjutnya, atau juga dapat digunakan untuk menyampaikan pada siswa
atau alumni yang ingin bekerja.
4.
Sinema Konseling
Sinema konseling adalah suatu konseling kreatif, di mana seorang
konselor menggunakan film atau video sebagai alat konseling. Menurut
Solomon (2011) sinema konseling adalah suatu metode dengan
mengunakan film dalam sebuah konseling yang memiliki efek positif
pada orang, kecuali pada seseorang dengan gangguan psikotik. Lebih
luas lagi diungkapkan oleh Solomon (dalam Anindito, 2008) bahwa
masalah yang dapat dikonseling adalah motivasi, hubungan, dan depresi.
Dalam sinema konseling, subjek terdiri dari 5-8 konseli dan
berlangsung kurang lebih selama 90 menit, serta didokumentasikan
dengan menggunakan variabel yang terukur (Demir, 2007). Sinema
konseling merupakan perkembangan dari bibliokonseling. Bibliokonseling
merupakan suatu konseling yang menggunakan sumber bacaan untuk
membantu kliennya (Demir, 2007). Menurut Ulus (dalam Demir, 2007),
268
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sinema konseling lebih menarik daripada bibliokonseling, selain itu
sinema konseling lebih mudah daripada bibliokonseling karena menonton
film lebih mudah daripada membaca buku. Menonton film membutuhkan
waktu lebih singkat dibandingkan membaca buku. Dinilai dari hasil,
proses konseling menggunakan film lebih cepat dibandingkan
menggunakan bahan bacaan. Sejalan dengan yang diungkapkan Mc
Conahey (2003), remaja akan lebih tertarik dan mudah ketika mereka
melihat film pada daripada membaca.
Woltz(2004)mengungkapkan bahwa sinema konseling juga merupakan
konseling yang spesifik. Dalam prosesnya konselor bukan hanya
menayangkan film, tetapi juga memilih kesesuaian film dengan tujuan
dalam konseling.Menurut Berg-Cross, Jenning, & Baruch (dalam Derme,
2000) sinema konseling adalah sebuah konseling spesifik untuk melihat
konseli secara individual atau kelompok, yang mana menggunakan film
sebagai sarana mencapai keuntungan konseling. Dari beberapa definisi
mengenai sinema konseling menurut beberapa ahli, dapat disimpulkan
bahwa sinema konseling adalah sebuah metode dalam konseling yang
menggunakan film atau video dapat dilakukan secara individual maupun
kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan menghasilkan efek positif,
kecuali pada seseorang dengan gangguan psikotik.
Prosedural dalam pelaksanaan sinema konseling tidak hanya
penayangan film, namun terdapat serangkaian kegiatan seperti (a)
penayangan film, (b) refleksi isi film, (c) refleksi diri, (d) pengembangan
komitmen, (e) uji komitmen, dan (f) refleksi pengalaman. Film atau
video yang digunakan dalam sinema konseling memiliki durasi paling
lama 60 menit, melalui proses editing dimana akan dilakukan pemilihan
bagian mana yang layak ditonton konseli dan bagian mana yang tidak
layak. Alur cerita film atau video hendaknya yang disukai oleh konseli
dan memilih tokoh yang mana menarik dan sesuai dengan usia
perkembangan konseli. Hal ini diharapkan akan lebih mempermudah
penyerapan oleh konseli terhadap pesan yang hendak disampaikan
melalui film. Serangkaian kegiatan yang telah disampaiakan diatas
sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dari konseling. Prosedur yang
sistematis akan mendukung kesuksesan pelaksanaan sinema konseling.
Selain itu, sinema konseling memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.
a.
Tawa bekerja sebagai obat. Penelitian ilmiah telah membuktikan
bahwa tawa dapat meningkatan aktivitas sistem kekebalan. Tertawa
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
269
juga dapat mengurangi hormon stres yang dapat menyempitkan
pembuluh darah dan menekan aktivitas hormon (epinefrin dan
dopamin). Dalam keadaan bermasalah, film lucu dapat menjadi alat
yang ampuh untuk mendapatkan sedikit ketenangan.
b.
Menangis sebagai katarsis emosional. Sebuah film yang membuat
seseorang menangis dapat merangsang pelepasan emosi yang
terpendam, yang selanjutnya akan menimbulkan perasaan lega dan
dapat mengangkat semangat untuk membuka sebuah perspektif baru.
c.
Mendapatkan harapan dan semangat. Tidak ada film yang dengan
sendirinya dapat membalikkan pandangan dunia yang negatif. Tetapi
jika seseorang berada pada perasaan tidak berdaya dan putus asa, film
yang dimulai dengan cerita mengenai keputusasaan dan berakhir pada
kemenangan dapat memberikan harapan. Film mampu membawa
seseorang untuk seolah-olah berada didalamnya, merasakan seperti
pada cerita sehingga dapat memunculkan sikap optimis dan keberanian
untuk mengubah situasi pada diri.
d.
Mempertanyakan keyakinan negatif tentang diri dan menemukan
kembali kekuatan diri. Seseorang mungkin memegang keyakinan
negatif tentang dirinya dan tidak menyadari kekuatan pada diri dan
cara mendapatkannya. Dengan merefleksikan cerita dan karakter yang
terdapat dalam film, seseorang dapat menemukan kekuatan yang
sebenarnya ada dalam diri, integrasi kehidupan tidak nyata ke dalam
kehidupan nyata dapat terjadi ketika seseorang bercermin pada film.
e.
Memperbaiki komunikasi. Film dapat digunakan sebagai sarana dalam
memperbaiki komunikasi yang kurang baik antara teman atau
pasangan. Dengan menonton film bersama-sama dan menjelaskan
kepada pasangan atau teman mengenai alasan memilih film tertentu,
dapat memungkinkan masuk ke percakapan yang lebih produktif. Film
berfungsi sebagai metafora yang mungkin lebih akurat untuk mewakili
perasaan dan ide-ide dari pada kata-kata dari seseorang yang kesulitan
dalam perangkaiannya.
5.
Peer Counselor/Konselor Sebaya
Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985) mengemukakan: “Peer
counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours
assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others”
(konseling teman sebaya dapat diartikan sebagai jenis bantuan
interpersonal yang dilakukan oleh nonprofesional untuk membantu
270
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
teman yang lainnya). Lebih lanjut dijelaskan bahwa: “Peer counseling
includes one-to-one helping relationships, group leadership, discussion
leadership, advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal
human helping or assisting nature” (konseling teman sebaya meliputi
hubungan bantuan individu ke individu, kepemimpinan kelompok,
kepemimpinan dalam diskusi, pemberian nasehat, tutorial, dan semua
aktivitas hubungan interpersonal manusia yang saling membantu).
Dengan sederhana, dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya
adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya
(biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama). Dalam hal ini
yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi
konselor sebaya, sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik
secara individu maupun kelompok kepada teman-temannya yang
bermasalah atau mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan
kepribadiannya. Mereka yang menjadi konselor sebaya bukanlah seorang
yang profesional di bidang konseling, tapi mereka diharapkan dapat
menjadi perpanjangan tangan konselor profesional (Erhamwilda, 2009).
Dengan adanya layanan peercounseling berarti sekolah
menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional
dalam membantu menyelesaikan masalah teman-temannya. Para siswa
calon peercounselor akan mendapatkan serangkaian pelatihan yang
memadai untuk menjadi konselor sebaya, sehingga diharapkan
meningkatkan kemampuan siswa (yang dilatih sebagai peerconselor dan
konseli yang dibimbingnya) dalam menghadapi masalah.
6. Layanan Bimbingan Konseling untuk Inklusif/Siswa
Berkebutuhan khusus
Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus saat ini
mengalami perubahan paradigma, dari eksklusif menjadi inklusif.
Perubahan ini memberikan warna baru terhadap kebijakan, dimana
layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, tidak mesti
dilaksanakan di SLB, tetapi dapat dilaksanakan di sekolah inklusi.
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan
anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas
biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil, 1994).
Nyatanya upaya pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus
melalui layanan pendidikan di sekolah inklusi tidak cukup melalui
instructional approach. Hal tersebut dikarenakan proses perkembangan
Perkembangan Inovasi Baru dalam Layanan Bimbingan Konseling
271
anak berkebutuhan khusus ‘untuk menjadi’ (on becoming)relatif
dihadapkan pada berbagai hambatan (barrier of development), baik
yang bersumber dari dalam diri maupun bersumber dari lingkungan
perkembangannya. Kenyataan inilah yang memberikan landasan empirik
akan pentingnya layanan BK bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendekatan komprehensif pelayanan BK pada siswa inklusif
memberikan kerangka acuan agar pelayanan harus dilaksanakan dengan
mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut.
a.
Layanan BK didesain secara utuh dengan memandang konseli sebagai
sosok individu yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis,
psikolgis, sosial, dan spiritual). Konsep ini sejalan dengan visi
Departemen Pendidikan Nasional dalam memandang sosok peserta
didik yang hendak dicapai melalui ikhtiar pendidikan, yaitu
“Menjadikan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif” atau dengan
kata lain “Menjadi insan kamil atau paripurna” (Depdiknas, 2005).
b.
Ditinjau dari manajemen implementasi layanan, pendekatan BK
komprehensif bercirikan integratif dengan program sekolah,
berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait, memperluas peran konselor
ke dalam konsep “3K” yakni: konselor, konsultan, dan koordinator.
Hal ini mengandung makna bahwa keberadaan program BK dan sosok
konselor sekolah tidak tampil sebagai sosok yang “eksklusif”.Akan
tetapi, hadir sebagai komponen yang terintegratif dengan komponen
sekolahan lainnya. Namun demikian, inklusivisme layanan bimbingan
dan konseling dan kinerja konselor tetap memiliki ekspektasi dan
konteks tugas yang unik dan profesional.
c.
Orientasi layanan adalah bahwa pendekatan BK komprehensif
mengakses semua peserta didik. Hal ini merubah paradigma BK
tradisional, dimana layanan diidentikkan untuk menangani peserta
didik yang bermasalah saja.
Memperhatikan esensi yang terkandung dalam pendekatan BK
komprehensif sebagaimana dijelaskan di atas, maka dalam perspektif
inovasi pendidikan, pendekatan komprehensif ini dapat dimaknai sebagai
sebuah inovasi dalam dunia bimbingan dan konseling.
Di era digital ini, konselor harus senantiasa menciptakan inovasiinovasi baru dalam pelayanan BK, tentunya ditunjang oleh kompetensi
yang memadai mengenai teknologi informasi. Teknologi informasi
mampu menunjang pelayanan BK agar lebih efektif. Oleh karena itu,
272
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
konselor harus selalu meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan
teknologi yang berkembang saat ini. Konselor akan selalu menjadi idola
klien apabila selalu up to date, karena pada dasarnya bimbingan adalah
long life learning atau belajar sepanjang hayat. Selain itu, penyediaan
infrastruktur harus ditingkatkan disetiap sekolah. Penyediaan perangkat
teknologi informasi adalah hal yang mutlak dalam konseling melalui
teknologi informasi, sehingga pelayanan bimbingan konseling akan
berjalan efektif tanpa batas ruang dan waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, G. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. E.
Koswara). Bandung: Refika Aditama.
Demir. 2005. Practical Counselling and Helping Skills. London: Sage
Publications Ltd.
Dirjen PMPTK. 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan
Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akademik). Jakarta.
Erhamwilda. 2009. Model Hipotetik Peer Counseling, dengan Pendekatan
Realitas untuk Siswa SLTA. Bandung: Nuansa.
Gati, I. 1994. Computer-Assisted Career Counseling: Dilemmas, Problems, and
Possible Solutions. JournalofCounseling&Development. 73 (1): 51-73.
Gendler, M. E. 1992. Learning & Instruction; Theory into Practice. New York:
McMillan Publishing.
Rahman, A. 2009. Peran Pendidikan Inklusif Bagi Anak Berkelainan.
Yogyakarta: Printa.
Rogers, E. 1983. Diffusion of Innovation. New York: The Free Press a
Division of Macmillan Publishing Co. Inc.
Rose, R. and Howley, M. 2007. The Practical Guide to Special Education Needs
inn Inclusive Primary Classrooms. London: Paul Chapman Publishing.
Santrock, J.W. 2004. Education Psychology. New York: McGraw-Hill Company, Inc.
Slavin, R.E. 2006. Education Psychology. Boston: Allyn and Bacon.
Smith, J. D. 2009. Inklusif Sekolah Ramah untuk Semua. Bandung: Nuansa.
Sudarman, D. 2002. InovasiPendidikan Dalam Upaya Peningkatan
Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Suherman, U. 2009. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rizqi Press.
Tindall, J.A. & Gray, H. D. Shernoff, M. 2000. Cyber Counseling for Client.New
Yorke: Haworth Press.
Air Itu Bernama Murid
273
AIR ITU BERNAMA MURID
Saifi Yunianto
SMPN 2 Rembang Kab. Pasuruan
Ada joke teman-teman guru yang membahas kehebatan para murid
mereka di sela-sela MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) berlangsung.
Ketika bersama siswa-siswanya, salah satu guru tengah ber-googling
dengan medsos (media sosial), dia tidak dapat melampirkan laman yang
akan diunggah. Tanpa diminta tolong, siswa yang di sebelah tahu
keresahannya dan ternyata ia dapat melakukan bahkan lebih lengkap
hasil unggahannya. Ada juga guru lainnya yang masih setia menggunakan
satu aplikasi lama, ketika beberapa siswi mengetahuinya lantas ‘meledek’
pak guru tidak update dan jadul. Cerita-cerita tersebut sebagian kecil
dari satu konsekuensi perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi) yang sangat pesat.
Dampak kemajuan IPTEK tidak dapat dipungkiri bagi perubahan tata
nilai dan budaya masyarakat, termasuk dalam lingkup pendidikan.
Sekolah sebagai satu pilar pendidikan yang mampu membekali para
peserta didiknya untuk memiliki pijakan yang kuat. Dasar yang kokoh
untuk mampu bertahan di tengah kehidupan bermasyarakat nantinya.
Selain itu, peran lingkungan (masyarakat) yang ditopang, juga peran
keluarga (orang tua) mutlak dibutuhkan. Bak sebilah pisau yang bermata
dua, IPTEK terutama teknologi dapat digunakan untuk apa saja dan oleh
siapa saja tanpa terkecuali anak-peserta didik.
Peran sinergi ketiga pilar tersebut menjadi signifikan untuk terus
dilakukan. Lompatan-lompatan perkembangan yang semakin akseleratif
perlu ada upaya penguatan filter para pengguna teknologi. Dalam hal
ini, saat guru tidak meng-upgrade ilmu dan keterampilan
berteknologinya, tentu dapat menjadi bumerang baginya. Bagaimanapun
ia akan mengalami kesulitan, setidaknya untuk mencari penangkal akses
informasi yang tidak sepatutnya bagi peserta didik. Lantaran siswanya
dapat mengakses informasi yang lebih beragam, sehingga tidak mustahil
bila murid dapat jadi lebih hebat dibanding gurunya seperti cerita di
273
274
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
atas. Kemampuan murid yang hebat tersebut menyisakan celah yang
perlu ditutup guru dan orang tua, yaitu bekal tanggung jawab. Tanggung
jawab yang dimaksudkan adalah pada langkah pengambilan keputusan
dan tindakan apa yang akan dilakukan.
Pengejewantahan rasa tanggung jawab berkorelasi erat dengan
Yang Maha Pencipta, orang tua, guru, teman, dan sesama di sekitarnya.
Setiap manusia termasuk murid adalah pemimpin dan kelak dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Tanggung jawab atas
tindakan yang pernah dilakukan. Demikian kurang lebih makna sabda
Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori. Hal itu yang
perlu digarisbawahi, oleh guru maupun orang tua untuk menanamkan
pada diri anak-peserta didik dan melatih mereka sejak dini. Begitu pula
Pahlawan sekaligus Pelopor Pendidikan, Ki Hajar Dewantara yang
mengklasifikasinya kembali dalam tiga bagian. Ing Ngarsa Sang Tuladha,
Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Kala di depan
memberi teladan dan inspirasi, di tengah menyemangati dan memotivasi,
dan di belakang menaati dan mengikuti. Ulasan mengenai tiga pilar
tersebut menyiratkan sebuah makna bahwa bentuk tanggung jawab
yang harus dilakukan adalah menurut porsi dan kursinya masing-masing.
Peserta Didik Terlahir Fitrah
Setiap anak (peserta didik) yang terlahir berdasarkan fitrahnya.
Orang tualah yang kemudian menjadikan atau mempengaruhi anak
tersebut mengambil keputusan A, B, C atau lainnya. Orang-orang
terdekat terutama orang tua yang berperan membimbing dan
mengarahkan anak-anaknya untuk memilih keputusan terbaik. Juga,
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bagian dua
Hak dan Kewajiban orang tua pasal dua menegaskan hal senada. Orang
tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan
dasar pada anaknya. Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad SAW
merekomendasikan sejak janin dalam kandungan sering diperdengarkan
kalimat-kalimat yang baik, bahkan setelah lahir pun diberi nama-nama
yang baik pula. Tentunya nama tersebut dapat menjadi harapan, doa,
serta menyelamatkannya dari segala cobaan dan ujian duniawi. Bukan
sebaliknya, menjadi sebuah asa yang membuat terlena dan melupakan
asal muasal dirinya yaitu berasal dari tanah dan air yang terpancar.
Air Itu Bernama Murid
275
“Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup...” (QS. AlAnbiya [21]:30). Air adalah unsur utama dalam tubuh manusia. Komposisi
tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air yang berkisar 60 persen
sampai 70 persen (www.academia.edu). Belum lagi bagian otak yang
mengandung air antara 73 persen - 74,5 persen, jantung 73 persen, paru
83 persen, hati 71 persen, dan ginjal 79 persen. Setali tiga uang dengan
hasil riset Ilmuwan Jepang, Dr. Masaru Emoto yang menyatakan 70
persen tubuh orang dewasa mengandung air. Dengan isitilah lainnya,
materi pembentuk manusia adalah air.
Menurut Emoto, air adalah prinsip pertama dari semua benda
sebagaimana yang disampaikan dalam filosofi Yunani kuno. Semakin
manusia mengenal air, sejatinya ia semakin mampu melihat diri sendiri.
Lantas, bagaimana potret air yang berhasil diambil setelah diucapkan kata
arigato (terima kasih) bentuknya berubah menjadi begitu indah,
Subhanallah,ia membentuk heksagonal yang menakjubkan. Begitu
sebaliknya, saat foto air yang dipotret setelah dikatakan you’re fool
(kamu bodoh), maka hasilnya berubah tidak sedap dipandang mata, air
tidak menjelma bentuk yang menawan. Jauh-jauh hari sebelumnya,
Rasulullah SAW sempat menyitir tentang air zamzam. “Air zamzam akan
melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya.” AA Gym panggilan
populer KH. Abdullah Gymnastiar (2006) mengatakan barangsiapa
meminumnya karena ingin melepas dahaga, niscaya hilanglah dahaganya.
Barangsiapa meminumnya karena ingin sembuh dari sakit, maka ia segera
sembuh dan sehat. Dr. Emoto juga meneliti air zamzam dengan hasil foto
yang menakjubkan bergambar kristal yang sangat indah.
Tersibak juga kekuatan sejati air dalam penelitian Dr. Emoto dan
Ahli Sains, Kazuya Ishibashi yang menemukan efek gelombang energi,
hasil penelitian tersebut dinamakan Hado. Hado memiliki arti semua
energi yang sulit dilihat dan berada di alam semesta (Emato, 2006:25).
Hampir semua benda yang ada di dunia mempunyai gelombang atau
hado. Energi tersebut dapat berbentuk positif atau negatif dan mudah
dipindahkan dari satu benda menuju benda yang lain. Artinya, jika ada
dua benda yang mempunyai frekuensi yang sama, maka keduanya saling
membentuk resonansi. Dalam hubungan antar manusia, seringkali kita
mengatakan tidak cocok dengan seseorang. Hal itu yang sebenarnya
berkaitan dengan gelombang dan resonansi.
276
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Murid dan Air
Hasil jajak pendapat Kompas (22-24/4/2015) menunjukkan bahwa
mayoritas publik menyadari pentingnya peran orang tua dalam pendidikan
anak. Pengumpulan pendapat ini diambil dari 325 responden yang
memiliki anak usia sekolah dalam keluarganya. Tidak kurang dari 85
persen responden menyatakan bahwa orang tua dan keluarga memiliki
peran paling penting dalam proses pendidikan anak. Hanya 15 persen
responden yang menilai peran ini ada di tangan guru dan lingkungan
di luar sekolah. Selain itu, peran aktif keluarga perlu didukung komunikasi
yang baik antara pihak sekolah dan orang tua siswa. 74 persen orang tua
murid mengaku tidak tahu pola pelajaran atau kurikulum di sekolah.
Mayoritas responden menyatakan, sumber utama infromasi terkait
perkembangan anak adalah guru. 45 persen mengaku berkomunikasi
dengan guru hanya satu atau dua kali dalam setahun (akhir semester/
awal tahun ajaran baru). Hanya 15 persen yang biasa menanyakan
perkembangan sekolah pada anaknya.
Prosentase survei tersebut setidaknya menjadi gambaran awal perlu
terjalinnya sinergi antara lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan
masyarakat. Harapannya, hubungan yang saling menguatkan dan
berkolaborasi mampu mengurangi hambatan-hambatan di lapangan.
Dengan demikian, visi dan misi bersama untuk melahirkan generasi yang
kuat dan bertanggung jawab dapat tercapai sesuai asa. Semisal, tidak ada
lagi orang tua yang menaruh penuh tanggung jawab pembinaan anak
pada sekolah, atau seorang siswa sepulang sekolah bergaul di lingkungan
yang tidak memotivasinya untuk belajar, lantaran sebagian temannya
putus sekolah atau tidak sekolah. Kasus-kasus yang terjadi di luar rencana
pun dapat menambah perbendaharaan rintangan menuju kerja sama
yang semakin kokoh di antara stakeholders pendidikan terkait.
Ketika ada seorang peserta didik yang hampir sebulan absen tanpa
alasan yang jelas, sekolah melalui guru BK (Bimbingan dan Konseling)
dan wali kelas mendatangi rumahnya. Ternyata anak tersebut berangkat
dan berseragam ke sekolah, tapi tidak menuju sekolah. Orang tua
sampai kejadian itu baru mengetahui perihal anaknya. Beberapa kali
sekolah mengunjungi anak tersebut dan memotivasinya untuk kembali
bersekolah. Namun belum berhasil sampai kemudian ditemukan alasan
mengapa ia sering bolos sekolah. Lantaran permintaannya untuk dibelikan
sepeda motor seperti artis di televisi belum diwujudkan orang tuanya.
Air Itu Bernama Murid
277
Orang tua tidak menuruti permintaan tersebut dengan alasan
kekhawatiran. Proses mencapai titik temu pun berlangsung secara
bertahap, akhirnya anak itu mau pergi ke sekolah lagi.
Berbeda dengan kasus berikut. Ada peserta didik mutasi dari sekolah
lain yang hadir dua hari, lalu tidak hadir sepekan. Kemudian dia masuk
beberapa hari, absen juga beberapa hari. Orang tua dipanggil bolakbalik ke sekolah dan belum terjadi perubahan. Anak tersebut masih
sering bolos dengan teman sekolah asalnya. Beberapa guru bergantian
mengunjungi ke rumahnya, ibunya ada tapi anak tidak di rumah. Bapak
yang bekerja di luar daerah jarang memantau perkembangan anaknya,
menurut ibu, sesekali pulang. Saat bertemu putranya, bapak tersebut
kerapkali memarahi dan bertindak keras. Hal itu semakin tidak menemui
jalan keluar. Sampai akhirnya, salah seorang guru home visit ke rumah
keluarga, bertemu dengan formasi lengkap. Ada bapak, ibu dan anaknya
yang kebetulan berada di rumah. Guru tersebut menceritakan pengalaman
pribadi yang diselaraskan dengan tanggung jawab masa depan peserta
didiknya, mereka pun menyimak dengan baik. Terbukti, esoknya murid
tersebut hadir di sekolah. Apa ada keterkaitan dengan hado atau
resonansi, tapi yang jelas perlu ada kata kunci sebagai pengungkit
semangat anak tersebut.
Kuat dan Bertanggung Jawab
Sementara pertanyaan yang muncul, apa kaitan antara peserta didik
dengan air dalam membentuk pribadi yang kuat dan bertanggung
jawab? Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, peserta didik juga manusia
yang berkomposisi dominan air. Artinya, ketika peserta didik diberi
stimuli perlakuan dalam bentuk ucapan maupun tindakan yang baik,
tentu juga ia meresponnya dengan ucapan dan tindakan yang baik pula.
Saat orang tua dan guru memperlakukan anak dengan energi positif,
maka secara otomatis ia membalasnya dengan resonansi yang positif.
Seperti air, kala diucapkan pujian atau kata-kata baik lainnya maka
kristal yang menawan segera terbentuk, begitu juga sebaliknya. Memang
tidak sesederhana itu untuk membentuk pribadi yang berkarakter kuat
dan bertanggung jawab. Paling tidak, sebagai dasar acuan untuk
mengarahkan peserta didik ke arah tersebut.
Menurut Prof. Dr. Hamka, pembentukan pribadi yang kuat dan
bertanggung jawab perlu memiliki lima kriteria di antaranya. Pertama,
278
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
memiliki tujuan. Setiap manusia harus mempunyai tujuan, karena tidak
ada orang yang berhasil datang ke suatu tempat dengan tiba-tiba.
Kedua, keinginan bekerja dan yang ketiga adalah rasa wajib. Emmerson
mengatakan (dalam Hamka, 2014) Manusia yang bekerja disebabkan
oleh dorongan kewajiban maka akan gembira dalam mengerjakannya.
Meski awalnya terpaksa, lambat laun akan terbiasa dan menikmati
perkerjaan itu dengan hati. Sementara, keempat, pengaruh agama dan
iman juga dibutuhkan. Kelima, pengaruh sholat dan ibadah. Eisenhower
juga meyakini bahwa pekerjaan tidak dapat dilaksanakan semata-mata
dengan tenaga manusia dan senjata lengkap, di atas semua itu adalah
kehendak Yang Maha Kuasa.
Setali tiga uang dengan pendapat Trainer yang juga Motivator,
Lukman Hakim, bahwa satu-dua persen dari jumlah peserta didik satu
sekolah merupakan anak bermasalah. Setelah dirunut dari peserta didik
yang bermasalah, ternyata berasal dari keluarga yang bermasalah pula.
Ada berbagai pendekatan dan cara yang dapat ditempuh dalam
mendampingi anak-anak bersosialisasi. Salah satunya, tips hierarki
pembinaan mereka yang perlu dicermati dalam sebuah akronim Copete
Celaan Hahu (contoh, perintah, tegur, cela, ancam, hukum, dan hati
(usapan di kepala saat terlelap dan berdoa). Saat proses pembinaan terus
diupayakan melakukan tarik ulur antara boleh dan tidak boleh, sehingga
menjadi pribadi yang matang dan baik. Juga memperhatikan empat
aspek jiwa anak, antara lain: (1) akal (intellectual) yang memperoleh
asupan nutrisi dari referensi, buku, dan literasi, (2) perasaan (emotional)
yang bersumber dari senyum, belaian, dan kasih sayang, (3) spiritual
(spiritual) yang dapat diperoleh dari aktivitas sholat, membaca Al-Quran,
sedekah, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan, dan (4) ruh (soul)
akan baik jika ketiganya baik. Tugas orang tua menyiapkan jasmani dari
makanan yang empat sehat lima sempurna plus satu, halalyang thoyyib.
Teladan memang menjadi sesuatu yang paling diamati peserta didik.
Lantaran mereka kerapkali dikenal dengan sebutan perekam yang baik.
Seperti yang diutarakan Lukman dalam paparannya di atas. Bahkan
jauh-jauh hari Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah (teladan yang
baik) memotivasi para pemuda untuk belajar memanah dan menunggang
kuda. Pasalnya, aktivitas tersebut menggambarkan keperkasaan, kekuatan
dan kesiapan untuk menghadapi kesulitan. Ditambah lagi Nabi
Muhammad SAW bersabda, Allah tidak pernah mengutus seorang nabi
Air Itu Bernama Murid
279
kecuali ia pernah mengembala kambing (Abdurrahman, 2007:187). Lantas
para sahabat bertanya, Begitu juga Anda? “Ya, saya menggembalakan
milik orang-orang Mekkah dengan upah qararith (pecahan dirham/
dinar), jawab Nabi SAW dalam sabdanya.
Perjalanan Nabi SAW yang didesain memang tidak mudah. Justru hal
itu mampu mencetak kepribadian yang kuat, tahan banting, dan
bertanggung jawab. Sebagai orang tua dan guru di era kekinian, peningkatan
kecakapan dan ketrampilan dalam mendampingi anak-anak dan peserta
didik mutlak diperlukan secara berkesinambungan. Tidak cukup upayaupaya lahir dalam melahirkan generasi yang kuat dan bertanggung jawab,
tapi juga diperlukan usaha-usaha batin yang simultan. Sentuhan, elusan,
ciuman, dan doa yang tulus dilantunkan orang tua di ubun-ubun anak
sambil menyampaikan cinta yang mendalam ketika terlelap tetap meresap
pada dirinya (Yudisia, 2015:15). Enegri hado-nya Emoto juga berlaku dalam
momen-momen tersebut. Namun beberapa abad sebelumnya, Ibnu Khaldun
menyatakan bahwa saat tidur, seluruh indera termasuk peraba atau kulit
menjadi lebih peka meski mata yang terpejam.
Tren tersebut ternyata merambah di negeri ginseng. Para orang tua
di Korea dewasa ini, biasa memasuki kamar putra-putrinya yang tengah
tertidur saat pulang dari kesibukannya. Mereka berupaya menjaga
frekuensi positif kedekatan dengan anak-anaknya melalui cara mengelus
dan memijit kakinya. Alangkah indahnya tatapan mata keduanya, orang
tua dan anak ketika tiba-tiba terjaga yang dapat menyemai cinta yang
beresonansi. Kemudian Buya Hamka (2014) pun tak luput berpesan
kepada para anak muda baik anak maupun peserta didik dengan
lantang. Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Langkahmu akan
jaya. Kuatkan pribadimu. Petuah tersebut masih relevan dengan apa
yang terjadi saat ini. Bagaimanapun perkembangan IPTEK dan pergeseran
budaya tengah berlangsung, pembentukan karakter yang kuat dan
bertanggung jawab dapat menjadi langkah alternatif pemecahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Jamal. 2007. Cara Nabi SAW Menyiapkan Generasi. Surabaya:
Penerbit eLBA.
Emato, Masaru. 2006. The True Power of Water. Bandung: MQ Publishing.
Hamka. 2014. Pribadi Hebat. Jakarta: Penerbit Gema Insani.
280
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran Pendidik untuk Menyentuh Hati Remaja dengan.......
281
PERAN PENDIDIK UNTUK MENYENTUH HATI REMAJA DENGAN KASIHAGAR
MERAIH PRESTASI YANG BERARTI
Dina Elisa
SMP Negeri 27 Malang
Remaja dengan segala tindakannya membutuhkan bimbingan,
perhatian, dukungan serta sentuhan kasih yang berarti untuk memberikan
pencerahan baru, bahwa sesungguhnya ia mampu berprestasi dengan
cara dan kemampuannya sendiri.
Masa remaja adalah masa yang bergejolak, masa dimana seorang
mencari jatidirinya secara utuh.Namun seringkali remaja terjerumus
dalam pencariannya karena tidak tahu jalan mana yang harus dipilih.
Dengan sebab apa, dengan siapa, dan jalan mana yang dia pilih,bahkan
dengan alasan yang tidak logis sekalipun. Mereka lebih percaya kepada
teman daripada orang tua, mereka lebih care kepada orang yang
memberikan perhatian lebih walaupun itu baru dikenal, padahal mereka
lebih sering tertipu dan terpedaya dengan janji-janji gombal.Sayangnya
mereka tidak sadar meskipun sering diingatkan oleh orang-orang yang
menyayangi mereka dengan sepenuh hati.
Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau
tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih
luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial, dan fisik
(Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang
jelas karena tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak juga golongan
dewasa atau tua.Masaremaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai
dengan 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun
bagi pria. pengertian remaja menurut Darajat (1990:23) adalah masa
peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak
mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisik maupun
psikis. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan dan cara berfikir
atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.Jadi,
281
282
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa,
proses tersebut berlangsung antara umur 12 sampai 22 tahun yang
ditandai dengan beberapa perubahan baik secara fisik, psikis maupun
emosional, dan sosial.
Pergaulan Remaja
Pergaulan remaja saat ini dengan remaja 10 sampai 20 tahun
kebelakang akan sangat jauh berbeda dengan remaja sekarang ini. Baik
dari segi cara berpakaian/model, sopan santun, etika, menunjukkan rasa
simpati, dan mengungkapkan rasa suka kepada lawan jenis. Bahkan
perkembangan teknologi yang semakin maju membuat remaja semakin
maju dan berkembang dari sisi positifnya, namun juga semakin maju
tindakan menyimpangnya.Beberapa tindakan menyimpang dalam
kehidupan remaja yang dapat disebut kehidupan efektif sehari-hari
terganggu (Kes-T) dalam istilah bimbingan dan konseling, yang seringkali
dilakukan remaja antara lain:
a.
Berkelahi/tawuran
b.
Membolos
c.
Nge-game
d.
Merokok/ nge-drugs
e.
Pacaran di luarbatas
f.
Nge-gank dengan kegiatan negatif
g.
Melakukan tindakan bullyying
h.
Perbuatan melanggar etika dan sopan santu
i.
Pencurian
j.
Perampokan
k.
Freesex dan lain-lain
Tidak sedikit upaya orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah
untuk meminimalisir tindakan menyimpang yang dilakukan remaja. Hal
ini untuk menuju kehidupan efektif sehari-hari yang sehat.Namun
pengaruh luar biasa gadget dan kemajuan teknologi juga menjadi
perhatian oleh banyak pihak. Kemajuan tidak dapat dilarang bahkan
sangat penting dalam rangka mengikuti perkembangan dan kemajuan
zaman.Tindakan-tindakan menyimpang akan menimbulkan dampak
terhadap kehidupan remaja, dimana dampak itulah yang akan menjadi
pengaruh penting dalam menyongsong kehidupannya mendatang.
Peran Pendidik untuk Menyentuh Hati Remaja dengan.......
283
Dampak nyata akibat perilaku menyimpang itu antara lain mengakibatkan:
a.
Permusuhan
b.
Malas belajar/sekolah
c.
Kecanduan
d.
Kecelakaan
e.
Kekerasan yang berakibat fatal
f.
Tindakan kriminal
g.
Dipenjara
h.
Kehamilan tidak diinginkan
i.
Aborsi
j.
IMS (Infeksi Menular Seksual) dan lain-lain
Dampak yang begitu beragam dapat mengganggu kehidupan kedepan
dan pengaruhnya terhadap masa depan remaja. Hal ini menjadi inspirasi
kuat dan harus menjadi alasan untuk mencari cara bagaimana upaya
membantu remaja menyongsong masa depannya.
Sentuhan Agama dan Kasih
Agama dan ilmu pengetahuan adalah pondasi utama manusia
menuju sukses. Dalam Alqur an (QS. Al-Mujaadilah: 11) Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan
orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat”.
Mengapa manusia sering melakukan tindakan menyimpang?
Kemungkinanjawaban terbanyak karena mereka jauh dengan Tuhan
(jarang beribadah), dan mereka kurang berpengetahuan.Demikian pula
dengan perilaku menyimpang pada remaja jawabannya 11-12 tidaklah
jauh dari kemungkinan yang dimaksudkan.
Di suatu sekolah pernah dilakukan vooting tindakan perilaku
menyimpang. Lebih dari 80 persen mereka mengangkat tangan dan
mengakui pernah melakukan tindakan menyimpang yang disebutkan,
karena apa? berbagai alasan tentunya. Namun, setelah disimpulkan
sebagian besar yang pernah melakukan tindakan menyimpang tidak lain
karena mereka tidak pernah melakukan ibadah, jarang melakukan ibadah
serta melakukan ibadah kalau hanya disuruh.Mereka yang sadar untuk
mau beribadah adalah sebagian kecil dari mereka yang sedikit melakukan
perilaku menyimpang, dan itu bukanlah hakl-hal yang fatal.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
284
Sentuhan agama sekali lagi merupakan hal yang sangat urgent
untuk mengetuk hati para remaja. Pengertian dan pemahaman yang
gamblang dan tegas, namun sangat lembut melalui ajaran agama yang
akan mengantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi santun juga
penyayang. Agama mengajarkan bagaimana cara bersikap terhadap
orang yang lebih tua dan bagaimana terhadap yang lebih muda/
sebaya.Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Bukanlah termasuk
golonganku orang yang tidak menyayangi yang kecil/muda dan tidak
menghormati yang tua”. Penyadaran pentingnya etika pada remaja
diperlukan proses-proses dan pendekatan yang beragam dan tidak mudah.
Pendekatan yang akan dibahas dalam hal ini adalah pendekatan dari
hati dan juga kasih.
a.
Menumbuhkan Motivasi Internal Menumbuhkan sebuah motivasi yang
tumbuh dari dalam diri secara ikhlas dan membayangi dirinya untuk
menjadi sukses. Hal ini dapat menjadi kebahagiaan diri sendiri juga
orang yang ada disekitar. Dalam menumbuhkansebuah motivasi mau
tidak mau harus melakukan 4 kiat sukses berikut ini.
1)
Sholat 5 waktu tepat waktu berjamaah
2)
Birrulwalidain (berbakti kepada orang tua)
3)
Bersedekah
4)
Belajar diatas rata-rata (disampaikan Abdul Tedy, M.Pd; dalam LDK
OSIS SMPN satu Atap Lesanpuro Malang periode 2015/2016)
Gambar 1. Kegiatan Religi
“Salat Dzuhur berjamaah di
lab.IPA-Mushola”
b.
Seringnya mengucapkan, memperdengarkan, memperlihatkan, dan
memberikan teladan positif dimanapun berada, serta memberikan
keyakinan bahwa usaha keras dan positif akan menghasilkan sesuatu
yang positif. Contohnya: selalu mengucapkan yel-yel positif sebelum
melakukan kegiatan (Manjaddawajada, I can do, Bravo, Jaya, Sukses,
Peran Pendidik untuk Menyentuh Hati Remaja dengan.......
285
Yes!), menempeli dinding-dinding
kelas dan sekolah dengan kalimatkalimat motivasi/peribahasa/
mahfudhot.
Gambar 2. Pemasangan Banner
yang Berisi Kata-kata Motivasi dan
Inspirasi di Depan dan di Dalam
Kelas Tahun 2015
c.
Sentuhan secara pribadi, yaitu tindakan pemahaman, penyadaran,
pencegahan, pengembangan potensi, pemberian informasi, pemberian
santunan, motivasi dari orang-orang terdekat, yang dipercaya dan
diyakini mau dan mampu untuk
membantu menyelesaikan remaja yang
melakukan tindakan menyimpang.
Contohnya: melakukan konseling
dengan guru pembimbing, teman
sebaya dalam PIK-R (Pusat Informasi dan
Konseling Remaja) di sekolah, dengan
wali kelas, ustadz, kyai, ahli (psikolog
dan psikiater) dan juga SEFter/
hypnoteraphis.
Gambar 4. Pemberian Santunan Siswa Kurang Mampu dari Dinas
Pendidikan Kota Malang
d.
Mempertemukan remaja yang melakukan
tindakan menyimpang dengan orang-orang
yang mengasihi dan menyayanginya
(parenting). Dengan cara dan tujuan yang
telah disepakati bersama dengan orang-orang tertentu, untuk memberikan
pemahaman, menumbuhkan kesadaran dan
menghasilkan komitmen perubahan melalui
kontrak perilaku oleh remaja tersebut.
Gambar 5. Kegiantan Parenting “Bertemu
dengan Orang-orang Terkasih” Tahun
2016
286
e.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Membina dan menjaring kerjasama positif dengan berbagai pihak
terkait, guna melakukan pembimbingan, pembinaan, penyuluhan,
pengkaderan, penyaluran bakat, dan usaha peningkatan skill serta
akhlak remaja. Contohnya: kerjasama dengan BNN, Puskesmas, BKKBN,
Polisi, motivator, psikolog, psikiater, dosen, kyai/ustadz/mubaligh/da’i,
dokter, wali murid, dan pihak-pihak lainyang diperlukan.
Gambar 6. Bekerjasama dengan Lembaga Psikilogi untuk Tes IQ
dan Wali Murid tentang Pengolahan Limbah/Daur Ulang
Gambar 7. Serangkaian Kegiatan Penyuluhan tentang Sex
Education Bekerjasama dengan PSLK UMM Tahun 2016
Gambar 8. Kerjasama dengan Polisi dan TNI untuk meningkatkan
Kedisiplinan
Peran Pendidik untuk Menyentuh Hati Remaja dengan.......
f.
287
Ingat Pelajaran Hidup yang Berarti:
Bila anak hidup dengan kritik, ia belajar untuk menyalahkan
Bila anak hidup dengan kekerasan, ia belajar untuk berkelahi
Bila anak hidup dengan ketakutan, ia belajar untuk menjadi penakut
Bila anak hidup dengan rasa benci,ia belajar untuk tidak menghargai
Bila anak hidup dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah
Bila anak hidup dengan perasaan iri, ia belajar iri hati
Bila anak hidup dengan berbagi, ia belajar kemurahan hati
Bila anak hidup dengan toleransi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak hidup dengan dukungan, ia belajar percaya diri
Bila anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai
Bila anak hidup dengan penghargaan, ia belajar memiliki tujuan hidup
Bila anak hidup dengan persetujuan, ia belajar menyukai dirinya sendiri
Bila anak hidup dengan penerimaan, ia belajar menemukan cinta
dalam kehidupan
Bila anak hidup dengan ketenangan dan kebahagiaan, , ia akan hidup
dengan pikiran yang damai (dikutip dari materi Workshop Super Wali
Kelas, Umar Kadafi; 2014)
Kegiatan positif menjadi pengalaman berharga yang membekas,
dan menyentuh hati akan membawa pengaruh besar terhadap
keberhasilan, serta perubahan siswa menjadi lebih positif baik skill,
sikap, dan prestasi. Keberhasilan siswa tidaklah harus diwujudkan dalam
bentuk penghargaan piala dan materi lainnya. Kesadaran siswa secara
mandiri merubah perilaku yang tidak baik menjadi baik, yang kasar
menjadi lebih santun, melawan dan membantah orang tua menjadi
menghormati dan sopan/berbudi pekerti, itu adalah keberhasilan yang
lebih berharga.
Semua itu adalah usaha dan rangkaian tugas serta tanggungjawab
yang diemban oleh pendidik dan harus dilaksanakan dengan baik.Namun,
keberhasilan dan kebaikan yang dihasilkan semua adalah kehendak Yang
Maha Kuasa. Semoga yang dilakukan pendidik-pendidik di Indonesia
walaupun itu kecil, tetapi dapat menyentuh hati peserta didik, sehingga
dapat mengantarkan dan membawa perubahan berarti terhadap generasi
mendatang.
288
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Gambar 9. Beberapa surat cinta kepada Bapak/Ibu guru pada
peringatan hari guru 25 November 2016 yang berisi ucapan
terima kasih sudah membantu menyadarkan anak yang tidak
baik/nakal menjadi anak yang lebih baik. Dari yang punya
kebiasaan merokok mau berhenti merokok, dari yang depresi
dan ingin bunuh diri karena disakiti akhirnya dapat memaafkan
dan menjalani kehidupannya dengan baik.
DAFTAR RUJUKAN
Departemen Agama Republik Indonesia. 1989. Al-Quran dan Terjemahnya.
Surabaya: CV Jaya Sakti.
Mustafa. 1987. 150 Hadits Pilihan untuk Pembinaan Akhlak dan Iman.
Surabaya: Al-Ikhlas.
De Porter, Bobby & Mike Hernacki. 1999.Quantum Learning Membiasakan
Belajar Nyaman dan Menyanangkan.Bandung: Kaifa.
Chatib, Munif.2011. Gurunya Manusia Menjadikan Semua Anak Istimewa
dan Semua Anak Juara.Bandung: Kaifa.
Chatib, Munif. 2012. Sekolahnya Manusia Sekolah Berbasis Multiple
Intelligences di Indonesia.Bandung: Kaifa.
Utomo, Nurbowo Budi. 2012. Pengembangan Materi BK Berbasis
Multimedia. Yogyakarta: Paramitra Publishing.
Kadafi, Umar dan Abdul Tedy. 2013.Modul Workshop Super Wali Kelas.
Malang: UMM Press.
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
289
PROFESIONAL GURU IPA DALAM MEMBANGUN GENERASI ABAD 21 MELALUI
GERAKAN LITERASI DAN KARYA
Endang Mudjianah
SMP Negeri 1 Siliragung Kec. Siliragung Kab. Banyuwangi
Guru merupakan salah satu pilar bangsa, tanpa guru pesan tak
dapat tersampaikan kepada peserta didiknya. Guru yang tidak mampu
menyampaikan pesan dengan benar dan baik kepada peserta didik
belum bisa dikatakan guru tetapi belum profesioanal. Kualitas bangsa
akan ditentukan oleh kualitas generasi penerus bangsa. Oleh karenanya
yang penting bukan hanya kebijakan, kurikulumnya, metode
pembelajaran tetapi pelaku utama dalam dunia pendidikan, yang
berkiprah membangun dan mencetak generasi di masa depan yaitu
guru. Kebijakan, kurikulum itu tak lain sebagai pedoman, acuan dalam
melangkah melaksanakan proses pembelajaran sedangkan metode,
strategi, model pembelajaran adalah sarana dan cara guru untuk
mengembangkan pembelajaran, pengetahuan yang dimiliki untuk
ditransferkan kepada siswa/peserta didiknya.
Disadari atau tidak guru sebagai ujung tombak di dunia pendidikan
ikut ambil bagian dalam mencetak peserta didik 5 – 10 tahun ke depan.
Keberhasilan peserta didik baru bisa dirasakan betul setelah para guru
bertemu, mendengar cerita jika ada murid-muridnya bekerja di tempat
yang mapan dan benar. Alangkah bangganya seorang guru bisa bertemu
dengan mantan muridnya yang sukses di bidang apapun dan muridnya
mengatakan keberhasilan ini juga karena motivasi bapak / ibu guru atau
seorang murid mengatakan masih ingat saya pak/bu yang nakal itu lho.
Sejalan dengan pemikiran Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna
Surapranata dalam kata sambutan Modul Guru Pembelajar yaitu Peran
guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai
kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang
kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat
menghasilkan pendidikan yang berkualitas.
289
290
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Hiruk pikuk kasus yang melanda di negara ini merupakan salah satu
kesalahan tanpa sadar yang guru-guru lakukan saat mengajar/
menyampaikan sebuah kata/kalimat, memperlakukan peserta didik. Mereka
tidak pernah menyadari dan tidak pernah berfikir dampak jangka panjang
dan sangat besar di masa yang akan datang. Contoh kecil saja, pernahkah
guru melatih peserta didik untuk jujur pada saat ulangan, mulut bisa
berbicara tetapi tanpa penerapan yang benar akan ikut mencetak atau
membangun peserta didik di masa akan datang menjadi korupsi, mafia
narkoba, pecandu, ini semua didasari oleh ketidakjujuran.
Menjadi tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik untuk
membangun peserta didik sebagai generasi penerus perjuangan di
negara ini melalui gerakan peserta didik berkarya didahului dengan
peningkatan profesionalisme guru. Membaca definisi profesionalisme
guru itu gampang, yang sulit ketika istilah profesionalisme harus dipahami
dan guru harus menerapkan keprofesionalnya dalam membangun peserta
didiknya menuju abad 21. Sangat ironis sekali bila ada guru yang tidak
tahu profesionalnya sebagai guru. Profesionalisme dengan 4 kompetensi
yang harusnya melekat pada diri seorang guru masih banyak yang
belum mengalir pada darah seorang guru dan belum menyatu di hati
mereka. Tentu saja sebelum melangkah membangun generasi abad 21,
guru memahami betul profesionalismenya guru dalam UU no. 14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen dan Permendiknas no. 16 tahun 2007
tentang Standart Kualifikasi Akademik dan Kompetensi guru.
Pemerintah dengan Permendikbud no. 23 tahun 2015 melalui
Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan mencanangkan Gerakan Literasi Bangsa (GLB) dengan tujuan
menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi (membaca dan
menulis). Menurut hasil penelitian tahun 2012, budaya membaca
masyarakat Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara. Gerakan
literasi ini ditanamkan dan dikaitkan dengan gerakan peserta didik
berkarya. Tanpa membaca dan menulis sudah tentu sulit untuk
menghasilkan karya. Gerakan Literasi Bangsa merupakan kegiatan
ekstrakurikuler bukan intrakurikuler dan tidak menambah jam belajar
dengan model membaca, mengkontruksi dan menulis kembali hasil
bacaan dengan bahan bacaan yang sudah disiapkan yang relevan dengan
perkembangan psikologi dan kecerdasan peserta didik.(http://badan
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
291
bahasa.kemendikbud.go.id). Gerakan literasi ini juga menjadi pilar
terciptanya generasi abad 21 melalui karya peserta didik. Modal utama
yang harus dilalui peserta didik adalah kebiasaan berliterasi (membaca
dan menulis). Literasi ini yang menjadi kendala seseorang untuk
berkembang, jangankan peserta didik, guru yang tidak mau membaca
dan menulis selama mereka mengatakan sebagai seorang guru sangat
besar berdampak negative mustahil dapat mencetak generasi abad 21.
Melalui kegiatan literasi peserta didik akan mampu berkarya dan akan
menuntut guru juga untuk melakukan literasi.
Pengembangan Kebijakan Pemerintah perlu dipandang sebagai usaha
pemerintah untuk memperbaiki di setiap line kehidupan berbangsa dan
bernegara. Melalui dunia pendidikan pemerintah merenta kembali
penanaman budi pekerti anak dengan gerakan literasi sekolah. Menurut
Unesco 2003. Literasi terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.
Literasi juga terkait dengan kemampuan mengidentifikasi, menentukan,
menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi,
menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi
berbagai persoalan. Gerakan Literasi Sekolah merupakan gerakan social
dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh
untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca yang dilakukan 15
menit diarahkan tahap pengembangan dan pembelajaran disertai
tagihan berdasarkan Kurikulum 13.(http://ainamulyana.blogspot.com).
Gerakan literasi sekolah memiliki tujuan yang jelas yang utama membaca
dan menulis agar di masa yang akan datang menjadi budaya bagi diri
sendiri dan lingkungan. Gerakan literasi sekolah akan bermakna dan
mengenai sasaran bila Kepala Sekolah sebagai pilot disekolah dan
pembantu-pambantunya, guru serta penanggung jawab kegiatan literasi
memahami apa maksud dan tujuan diadakan literasi. Dinas Pendidikan
sebagai pengontrol jalannya literasi di sekolah juga mengfungsikan diri
sebagai pengawas ke tingkat bawah, apakah sudah sesuai dengan
himbauan yang disampaikan kepada sekolah melalui kepala sekolah.
Kalau tidak ada pengawasan atau pengontrolan jalannya literasi di
sekolah al hasil tidak ada gunanya gerakan literasi yang dicanangkan
pemerintah di dunia pendididkan akhirnya gerakan literasi hanya sekedar
himbauan dan himbauan dan akan berlalu begitu saja tanpa bekas.
Oleh karenanya sebagai guru yang memahami maksud dan tujuan
gerakan literasi tidak seharusnya kalah start untuk melakukan kegiatan
292
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
literasi pada mata pelajaran yang diampunya. Mata pelajaran IPA
memilki keterkaitan yang kuat dengan tujuan literasi. Walaupun
sebenarnya literasi tidak harus berhubungan dengan mata pelajaran,
namun untuk kepentingan membangun budaya literasi dan memberi
motivasi pada peserta didik, guru memberi kesempatan kepada peserta
didik secara bebas dan seluas-luasnya untuk waktu tertentu 5-10 menit
untuk melakukan literasi Kegiatan ilmiah IPA membantu guru untuk
mengarahkan peserta didik dalam membangun budaya literasi. Literasi
(membaca dan menulis) antara lain diarahkan pada peserta didik untuk
pembuatan karya berupa alat peraga, laporan atau membuat kerangka
karya ilmiah. Namun tidak memasung peserta didik untuk melakukan
literasi yang berkaitan dengan IPA saja boleh yang lain, tentunya
diperlukan tagihan-tagihan sebagai control kegiatan literasi yang
dilakukan.
Guru sebagai pelaku pendidikan ditingkat bawah (sekolah) tidak
semuanya mampu menangkap sinyal-sinyal kebaikkan pemerintah dalam
memperbaiki dunia pendidikan khususnya, bangsa dan negara pada
umumnya. Banyak kalangan yang berpikir sempit dalam menanggapinya
dengan lontaran ganti menteri ganti kebijakan, yang lebih mengharukan
lagi ketika lontaran-lontaran itu dimaksudkan untuk menutupi
ketidakmampuan dan ketidakmauan untuk menjadi lebih baik karena
mereka para guru merasa sudah baik dan benar dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Perubahan demi perbaikan-perbaikan merupakan
kewajaran yang semestinya bisa diterima dengan keikhlasan hati. Tanpa
ada perubahan, kebijakan maupun pengembangan dari pemerintah
selaku pengontrol dari atas guru sebagai pelaku pendidikan di sekolah
tidak akan pernah tahu apa yang telah dilakukan benar atau salah
karena pada dasarnya manusia sebagai pribadi tidak pernah melakukan
intropeksi diri dan tidak pernah merasa salah dalam menyampaikan/
mentransfer ilmu kepada peserta didiknya. Sifat manusiawinya akan
muncul ketika diusik dengan kebijakan baru yaitu mempertahankan
pendiriannya sendiri yang dianggapnya sudah baik dan benar.
Zaman sudah berubah, pola pikir peserta didik berubah dan
lingkungan yang mempengaruhinya juga berubah, apa yang akan terjadi
bila guru tidak mau merubah pola pikir, tindakan dan memahami
peserta didik dari pengaruh lingkungannya. Perubahan, pengembangan
dan kebijakkan pemerintah sudah pasti ada dasarnya, tujuan dan maksud
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
293
untuk masa depan generasi penerus bangsa, masyarakat, sekolah maupun
keluarga. Walaupun guru selaku pendidik di sekolah menjadi orang
pertama tahu permasalahan-permasalahan yang ada pada diri peserta
didik beserta lingkungan yang mepengaruhinya namun jika pemikirannya
tidak sesuai dengan kondisi peserta didik di era sekarang maka masalah
akan membunuh diri sendiri. Pola pikir guru sekarang sudah tidak
sejalan dengan pola pikir peserta didik saat ini. Dan peserta didik tidak
bisa diperlakukan seperti guru kita dulu memperlakukan kita. Peserta
didik tidak dapat diperlakukan sama karena mereka memilki watak,
kepribadian, latar belakang dan tujuan yang berbeda juga lingkungan
yang begitu kejam serta pemikiran yang jauh tidak seimbang dengan
pemikiran guru di zamannya. Andaikata guru seorang dokter dan
peserta didik adalah pasiennya, penyakit yang tidak sama, hasil analisa
sama hanya karena gejala yang diderita sebagian ada yang sama
selanjutnya diberi obat yang sama apa jadinya, guru tersebut sama
artinya melakukan mal praktek, akan sangat berbahaya bagi peserta
didik saat ini dan di masa yang akan datang.
Apabila terjadi ketidaksesuaian perilaku peserta didik, sebenarnya
bisa disebabkan oleh guru namun guru tidak pernah mau dikatakan
dirinya salah. Contoh kecil saja salah satu peserta didik nilainya jelek,
memang anak itu sulit diatur, anak itu memang bodoh dan sebagainya,
tidak pernah mereka menyadari atau introspeksi diri sudahkah guru
menyampaikan hal-hal yang benar, sudahkan pembelajaran dilakukan
dengan benar. Ini yang menjadi persoalan atau akar permasalahan dari
tahun ke tahun hasil Ujian Nasional menurun, karakter bobrok, masa
yang panjang munculnya banyak pengangguran, dan masih banyak
persoalan kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai.
Pada akhirnya munculah permasalah-permasalah karena ketimpangan
yang ada., antara lain bagaimana guru professional yan diharapkan
mampu menghantarkan peserta didik menuju gerbang generasi emas
abad 21 dan bagaimana cara yang dilakukan guru untuk mencetak
peserta didik menuju gerbang abad 21?
Keberhasilan sebuah proses belajar mengajar diperlukan adanya
keseimbangan antara usaha yang dilakukan guru, kemauan peserta didik
dan sarana yang mendukungnya. Peranan guru menuju gerbang
keberhasilan harus dilalui dengan menapaki jalan berliku-liku. Sebagai
inspirator dan motivasi tidak cukup menggugurkan kewajibannya sebagai
294
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
seorang guru yaitu mengajar saja. Namun mengajar, mendidik,
membimbing, mengarahkan dan melatih sudah selayaknya menjadi satu
kesatuaan yang harus tertanam pada diri seorang guru. Setiap langkah
kaki seorang guru, seharusnya guru menyadari akan beban yang dipikul
untuk mengantarkan peserta didiknya. Tiada rasa berat, tiada beban
yang dipikirkan tugas akan dijalani dengan menyenangkan “Bismillah”
dengan ridho Allah peserta didik bukanlah beban. Guru akan terus
berusaha mengembangkan pengetahuan, menggali ilmu pendidikan dan
pembelajaran sebagai bekal mengantarkan peserta didiknya. Dengan
satu kata “Sukses” menjadi modal bagi guru untuk mengiringi langkah
perjuangan peserta didik. Tidak cukup hanya mempertimbangkan usaha
yang dilakukan oleh guru tetapi dengan latar belakang peserta didik
yang berbeda-beda, pengaruh negatif lingkungan yang sangat kuat baik
keluarga, sekolah maupun di masyarakat kondisi mental peserta didik
akan menjadi pertimbangan dalam menapaki jalan yang berliku-liku itu
untuk mencapai tujuannya. Peserta didik yang menyadari akan tujuan
yang akan dicapai, jalan yang akan dilalui, kendala yang dihadapi akan
lebih mudah mencapai harapannya. Ditambah sarana yang mendukungnya
dari keluarga, sekolah untuk proses pembelajaran atau proses belajar
mereka, bukanlah hal yang sulit untuk dapat mencapai harapan diri
sendiri, orang tua dan sekolah. Usaha-usaha yang dilakukan guru mendidik
diri sendiri yaitu dengan keprofesionalannya dimaksudkan sebagai modal
dan bekal dalam mencetak peserta didik menapaki perjalanan yang
berliku-liku itu yaitu menuju generasi abad 21melalui kegiatan di
sekolah maupun di luar sekolah dengan mewujudkan sebuah karya
peserta didik yang diawali dengan menanamkan kegiatan literasi.
Di sekolah tujuan dari pembelajaran atau hasil belajar tidak hanya
dilihat dari nilai atau angka-angka tetapi sikap perilaku yang sesuai
norma agama, tata tertib sekolah norma-norma dalam masyarakat
sehingga perkembangan yang terjadi merupakan perkembangan
kompetensi peserta didik dalam hal berpikir, kreativitas dan kepribadian.
Menurut piaget yang ditulis kembali oleh Agus Suprijono (2012:31)
bahwa pengetahuan meliputi:
a.
pengetahuan fisis yang terbentuk langsung terhadap objek yang
dipelajari
b.
pengetahuan matematis logis yang dibentuk berdasarkan koordinasi,
relasi dan
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
295
penggunaan objek artinya seseorang harus berpikir terhadap objek
yang dipelajari.
c.
pengetahuan sosial yang dibentuk melalui interaksi seseorang dengan
orang lain yang memiliki pengetahuan atau pemikiran tentang proses
pembelajaran dan proses belajar.
Orang tua akan menjadi kekuatan atas keberhasilan peserta didik.
Dirumah mereka juga mengarahkan, membimbing, memberi tauladan
kepada putra-putri, bukan tidak mungkin harapan yang luar biasa akan
mereka nikmati karena keberhasilan putra-putrinya. Orang tua peserta
didik yang mampu menempatkan diri sebagai pengayom, tauladan,
sahabat, inspirator, motivator bukan sebagai penuntut suatu saat akan
merasakan hasilnya melebihi apa yang mereka pikirkan
Namun pada kenyataanya banyak hal yang bertentangan dengan
harapan baik dari guru, peserta didik maupun orang tua. Masih banyak
guru yang belum sadar akan pilihannya menjadi guru, menjadi guru
karena terpaksa, terpaksa tidak mendapatkan pekerjaan lain, terpaksa
karena saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang bisa menerima
sesuai kemampuan yang dimiliki di jurusan guru atau mendapatkan
ijazahnya tidak melalui perjuangan, di sisi lain dari pihak orang tua
banyak orang tua yang hanya bisa menekan, meminta kepada anakanaknya (peserta didik) untuk mendapatkan rangking, kalau nilai ulangan/
hasil rapotnya jelek mereka hanya bisa marah-marah tetapi tidak pernah
bisa menyelesaikan atau mencari akar permasalahan. Dalam hal ini yang
paling penting dalam hidup manusia, mereka hanya bisa menyuruh,
membentak-bentak tanpa ada contoh, tanpa ajakan dan sebagainya.
Mestinya tauladan akan lebih mengena di hati daripada hanya dibentakbentak. Contoh: anak dibentak-bentak untuk sholat, tetapi orang tuanya
sendiri tidak pernah sholat atau sholatnya 1 kali dalam setahun. Sebagai
guru melihat dan merasakan peristiwa yang seperti ini sungguh sangat
menusuk hati. Masih banyak orang tua yang tidak pernah memikirkan
bagaimana andaikata aku jadi anak walaupun mereka pernah menjadi
anak, bisa jadi ini hasil tiruan dari orang tua mereka dulu.Contoh: ketika
nilai anak jelek, pernahlkah orang tua menanyakan atau mengajari
anak-anak, mereka hanya bisa marah-marah tidak pernah mengarahkan
untuk berani menanyakan kepada guru yang mengajar tetapi bisa juga
karena ketidak beraniaannya, ketakutan, malu atau sikap diamnya
karena dengan gurunya tidak bisa terbuka atau mungkin mereka tidak
296
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
memahami materinya, sehingga tidak tahu apa yang harus ditanyakan.
Baik itu karena guru maupun orang tua, yang pasti mengalami
ketidakadilan adalah peserta didik dengan kata lain peserta didik akan
menjadi korban. Perilaku peserta didik menjadi menyimpang tidak
sesuai dengan norma agama, tata tertib sekolah dan norma masyarakat.
Menangani masalah dari sekian banyak peserta didik dengan kondisi,
latarbelakang yang berbeda, keinginan yang bervarisi dibutuhkan guruguru yang mau, peduli, tegar, kuat iman dan sabar, kadang-kadang
gurupun memiliki kemauan atau prinsip yang tidak sama. Kondisi guru
yang demikian ini juga menjadi pemicu terhalangnya peserta didik
mencapai sukses. Karena guru merupakan salah satu pilar yang mampu
mengantarkan kesuksesan peserta didik dengan 4 kompetensi yang
harus dimiliki oleh guru, sudah pasti guru akan ikut andil dan mampu
mewujudkan satu kata ‘Sukses” bagi peserta didik. Meningkatkan
kompetensi inipun juga tidak mudah, perlu waktu dan bisa jadi masih
banyak guru yang tidak menyadari apa yang harus dilakukan maupun
ditingkatkan, yang penting mereka mengajar dianggap sudah
menggugurkan kewajibannya. Jangan heran kalau out put peserta didik
jauh dari angan-angan, kadang-kadang ada juga yang tidak mengajar,
ada tapi tidak ada. Jika memberi motivasi pada diri sendiri tidak mampu
bagaimana memberi motivasi pada orang lain atau pada peserta didik.
Diklat-diklat diadakan juga bisa dipantau hasilnya ketika mereka
mengerjakan tagihan, banyak diantara mereka yang copy paste, bagi
mereka yang penting dapat sertifikat.
Oleh karena itu pilarnya harus kokoh untuk mampu mengantarkan
kesuksesan peserta didik. Peningkatan 4 kompetensi harus atau wajib
hukumnya karena guru yang seperti ini yang akan menjadi inspirator
dan motivator bagi peserta didik karena motivasi akan menjadi kekuatan
bagi peserta didik untuk menjalani hidup, hidup di dunia pendidikan di
sekolah. Anak adalah amanah dari Allah di dunia ini, peserta didik
adalah amanah di sekolah, mereka harapan orangtua, msyarakat, bangsa
dan negara. Dipundak merekalah perjuangan ini akan dilanjutkan,
mereka tombak di masa depan oleh karena itu memenuhi hak-hak
mereka adalah kewajiban guru sebagai pemegang amanah di sekolah
dan sebagai pelaku dalam proses pembelajaran.
Dalam literatur-literatur ilmu kependidikan (Suara A’isyiah : 2015)
dikenal teori-teori terkait dengan kesuksesan pembelajaran yaitu :
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
297
1.
Ahmaddah ahammi min at thariqah artinya materi lebih penting dari
strategi/metode mengajar untuk pembelajaran.
2.
At thariqah ahammi min al- maddah artinya strategi/metode mengajar
lebih penting dari
materi.
3.
Al mumuta’alim ahammi min al- maddah wa at thariqah artinya
pembelajaran dan
siswa lebih penting dari materi dan strategi/metode mengajar.
4.
Al mu’allim au al mudarris ahammu min kulli syai artinya guru lebih
dari segalanya untuk keberhasilan sebuah proses pembelajaran/kegiatan
belajar mengajar.
Teori di atas menunjukkan bahwa keberhasilan proses pembelajaran
berada di tangan guru yang profesinal bukan ditentukan oleh kebijakan,
penentu kebijakan, pergantian kurikulumnya, media pembelajarannya
dan bahkan Presiden sekalipun.
Guru profesional adalah guru yang memiliki 4 kompetensi, menurut
Permendiknas no 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi guru yaitu guru yang menguasai:
1.
Kompetensi Pedagogik meliputi memahami peserta didik, memahami
teori—teori/prinsip-prinsip pembelajaran, mampu mengembangkan
kurikulum, melakukan kegiatan pembelajaran, mengembangkan
potensi peserta didik, berkomunikasi kepada peserta didik dan
melakukan penilaian sekaligus mengevaluasi proses pembelajaran.
Memahami potensi peserta didik merupakan langkah awal untuk
mengarahkan peserta didik dalam berkarya. Tidak hanya peserta didik
yang mampu saja yang memi;lii kesempatan untuk berkarya, kadangkadang ada beberapa peserta didik yang secara teori tidak mampu
ternyata ketika dihadapkan dengan dunia nyata atau melakukan
kegiatan yang jelas kelihatan mereka justru lebih baik disbanding
dengan peserta didik yang memiliki kelebihan pada teori pembelajaran/
konsep-konsep yang ada. Ini sebuah kesalahan yang muncul karena
pada umumnya orang tua/guru di sekolah yang sebelumnya
mengandalkan pada teori-teori.
2.
Kompetensi kepribadian meliputi adanya interaksi sesuai norma,
agama, hukum sosial dan kebudayaan nasional, memiliki pribadi yang
dewasa dan menjadi tauladan dan memilki etos kerja, tanggung jawab
298
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang tinggi serta bangga menjadi guru. Dengan berkepribadian yang
mantap dan stabil, seorang guru akan bertindak sesuai norma yang
berlaku, memilki sikap mandiri, disiplin, arif, bertindak untuk
kepentingan peserta didik, sekolah dan masyarakat, berwibawa atau
berperilaku positif dan berakhlak mulia/religius sehingga menjadi
tauladan bagi peserta didik.
Kepribadian guru berpengaruh besar terhadap perilaku peserta didik.
Guru yang memiliki tauladan yang baik akan mendorong peserta didik
untuk melakukan kebaikan seperti apa yang sudah dilakukan oleh
guru. Tauladan lebih penting dari hanya sekedar menyuruh ini dan
itu. Apalagi guru memilki prestasi yang patut dijadikan contoh bagi
peserta didik. Tauladan akan terpancarkan pada kegiatan yang
dilakukan oleh guru tentunya yang berdampak positif. Peserta didik
diajak bersama-sama guru melakukan kegiatan yang bermakna dan
berdampak di masa yang akan datang diantaranya dengan berkarya
yang dilandasi dengan kebiasaan berliterasi (membaca dan menulis).
3.
Kompetensi sosial meliputi bersikap obyektif, tidak diskriminatif,
melakukan komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan
orang tua dan masyarakat. Keprofesionalan guru dituntut dengan tidak
membedakan latarbelakang, kemampuan, warna kulit, siapa orang
tuanya (kaya/miskin) agar semua peserta didik mendapatkan perlakuan
dan pelayanan yang sama. Peserta didik berhak mendapatkan
pengarahan sesuai dengan ide-ide yang didiskusikan dengan guru.
Selain itu tidak segan-segan dan perlu melakukan diskusi dengan guru
lain tentang kondisi peserta didik. Perbedaan yang ada pada peserta
didik merupakan khasanah social bagi guru ketika menerapkan atau
mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam membangun peserta didik
menuju abad 21.
4.
Kompetensi profesional artinya menguasai konsep keilmuannya
(materi ajar, metode, strategi dan konsep) dan selalu mengembangkan
keprofesiaannya. Dalam 3 tahun dibagi dijabarkan menjadi 10
kompetensi yang dijelaskan pada modul-modul pembelajaran. Dengan
adanya guru pembelajar sebenarnya pemerintah bermaksud untuk
membelajarkan guru-guru namun kembali pada sifat guru itu sendiri
mau belajar atau tidak. Namun untuk mampu mengantarkan peserta
didik menuju gerbang abad 21 dibutuhkan guru yang ikhlas, ringan
hati, ringan kaki untuk mewujudkan sebuah karya hasil dari peserta
didik.
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
299
Budaya literasi harus dimulai dari pelaku pendidikan yang utama
adalah guru, Guru ujung tombak pendidikan di sekolah bagaikan makan
buah simalakama, dilakukan tidak mampu tidak dilakukan salah. Berapa
ribu guru yang ada di sebuah kabupaten? Berapa persen yang membaca
dan menulis, menjadi sebuah tanda tanya besar bagi diri sendiri,
sekolah, Dinas penddikan dan pemerintah khususnya Kementerian
Pendidikan, keadaan inipun tidak disadari oleh guru, betapa menyedihkan
sekali ketika guru dengan tanpa bersalah naik pangkat tanpa ada karya
yang mampu diukir dengan tangan sendiri. Banyak guru yang tidak
berani mencoba membuat karya tulis sendiri, walaupun sudah banyak
yang mengikuti pelatihan-pelatihan penyusunan Karya Ilmiah namun
pada akhirnya mereka mengajukan kenaikkan pangkat dengan
mengeluarkan uang tanpa menggoreskan pena untuk menulis. Kalau
sudah seperti ini bagaimana mereka (guru) bisa menerapkan literasi
dengan benar sesuai dengan anjuran kebijakan yang ada. Mereka tidak
akan pernah tahu membaca dan menulis yang diinginkan, yang sesuai
dan yang dapat mengarah pada penulisan sebuah karya tulis karena
mereka tidak pernah berhadapan dengan pengujian sebuah karya. Bila
guru berani membuat karya ilmiah berkaitan dengan kenaikkan pangkat
dan diujikan maka betapa banyak ilmu yang akan didapatkan karena
kesalah-kesalahan penulisannya. Disinilah sebenarnya guru belajar, belajar
dari kesalahan karena salah akhirnya tahu yang benar.
Peserta didik tidak cukup disuruh membaca kemudian merangkum
apa yang dibacanya, tetapi bagaimana membaca yang benar dan
menuliskan kembali apa yang dibaca tidak hanya merangkum saja.
Kalau setiap hari membaca dan merangkum akan dapat menimbulkan
kejenuhan dan literasi menjadi tidak bermakna, pada ujung-ujungnya
literasi tidak mampu memberi motivasi kepada peserta didik untuk
meningkatkan kesukaan membaca dan menulis karena literasi tidak
berdampak positif tetapi menjadi beban bagi peserta didik. Belum lagi
bila guru menambah beban kepada peserta didik untuk kegiatan literasi
peserta didik di beri tugas mencari bacaan di internet dan dikumpulkan,
sudah menambah biaya pengeluaran tetapi tidak berujung dan mengarah
pada tujuan yang jelas akhirnya tujuan literasi menjadi kabur.
Menjadi lebih kabur lagi tujuan literasi bila pelaksanaan Literasi di
sekolah dimasukkan jam belajar, dan selama jam itu peserta didik
disuruh membaca dan merangkum sedangkan guru yang diberi tanggung
300
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
jawab hanya duduk tanpa memberikan masukan kepada peserta didik
bagaimana membaca yang benar, yang bermakna sekaligus menulis
yang mengikat. Kembali kepada kemampuan guru dalam memahami
tujuan literasi di sekolah. Hal ini juga tidak luput dari pengalaman guru
dalam membaca dan menulis. Sudah semestinya guru mencari tahu
apabila ada perubahan/perbaikan/himbauan yang berkaitan dengan dunia
pendidikan. Informasi pasti lebih gampang dicari dibanding zaman
dulu. Banyak guru yang pegang Hp mahal tetapi tidak banyak yang
menggunakan sesuai dengan kebutuhan, khususnya yang berkaitan
dengan dunianya. Gerakan Literasi banyak di muat di internet asalkan
kita mau membaca pasti akan mendapatkan dan akan memahami
maksud dan tujuannya.
Oleh karenanya sebagai guru yang memahami maksud dan tujuan
gerakan literasi tidak seharusnya kalah start untuk melakukan kegiatan
literasi pada mata pelajaran yang diampunya. Mata pelajaran IPA
memilki keterkaitan yang kuat dengan tujuan literasi. Walaupun
sebenarnya literasi tidak harus berhubungan dengan mata pelajaran,
namun untuk kepentingan membangun budaya literasi dan memberi
motivasi pada peserta didik, guru memberi kesempatan kepada peserta
didik secara bebas dan seluas-luasnya untuk waktu tertentu 5-10 menit
untuk melakukan literasi. Kegiatan membuat karya harus dilandasi
dengan literasi untuk mendapatkan ide-ide berkaitan dengan karya yang
dibuat. Di sinilah ntu guru membantu peserta didik dan mengarahkan
peserta didik dalam membangun budaya literasi. Literasi (membaca dan
menulis) antara lain diarahkan pada peserta didik untuk pembuatan
laporan membuat kerangka karya ilmiah. Namun tidak memasung
peserta didik untuk melakukan literasi yang berkaitan dengan IPA saja
boleh yang lain, tentunya diperlukan tagihan-tagihan sebagai control
kegiatan literasi yang dilakukan.
Menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis (literasi) memerlukan
rangsangan yang mendorong peserta didik untuk tertarik dan menyenangi
kegiatan literasi tersebut. Sebagai guru IPA peluang untuk merangsang
peserta didik yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu adalah
melakukan kegiatan ilmah yang didahului dengan kegiatan eksperimen.
Walaupun sebenarnya literasi tidak harus terkait dengan bidang studi
tertentu namun untuk membangun budaya literasi perlu adanya kebiasaan
atau membiasakan peserta didik untuk melakukan kegiatan membaca
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
301
dan menulis. Karena literasi di sekolah belum diterapkan secara maksimal
dan dilaksanakan terlepas dari aturan yang telah ditetapkan maka guru
IPA perlu membantu pemerintah menciptakan budaya literasi. Literasi
yang dilaksanakan di sekolah-sekolah rata-rata hanya melakukan kegiatan
membaca dan merangkum yang sebanarnya bukan hanya kegiatan
seperti itu tetapi ;lebih luas lagi dalam membaca harus mampu mengikat
makna/ menemukan bagian yang penting dan mampu mencerikan/
menyampaikan kembali apa yang dibacanya. Kegiatan membaca dalam
pembelajaran dilakukan setiap 5 menit, kemudian dilanjutkan dengan
kegiatan menulis selama 5 menit yang bersifat umum yang penting
membaca dan menulis selanjutnya masuk pada kegiatan ilmiah membaca
materi yang berkaitan dengan tema kegiatan eksperimen. Kegiatan
literasi akan berlanjut setelah kegiatan eksperimen selesai dilaksanakan
yaitu dengan membuat laporan. Membuat laporan ilmiahpun jika tidak
dilatih/dibiasakan juga tadak mungkin peserta didik mampu membuatnya.
Secara tidak disadari peserta didik sudah melakukan banyak kegiatan
literasi antara lain membaca, menulis, kemampuan mengidentifikasi,
menentukan, menemukan dan sebagainya. Kegiatan literasi tidak harus
dilakukan saat pembelajaran tetapi dilakukan di luar jam pelajaran saat
melakukan kegiatan eksperimen. Materi eksperimen yang akan dilakukan
tidak harus berasal dari guru IPA tetapi guru memberi keluasan dan
kebebasan kepada peserta didik untuk mencari ide-ide baru apa yang
dapat dikaryakan dengan mencari sumber bacaan sendiri kemudian
dikomunikasikan dengan guru dan guru mengarahkan yang disesuaikan
dengan materi IPA, namun bila berkaitan dengan mata pelajaran lain
guru IPA mengarahkan kepada peserta didik untuk menghubungi guru
yang lain yang sesuai dengan yang diampu. Namun ada kalanya guru
yang bersangkutan kadang tidak memahami maksud dan tujuan dari
literasi dan tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis atau
literasi termasuk didalamnya tidak pernah membuat karya ilmiah.
Kegiatan literasi pada saat melakukan membuat sebuah karya dari
hari ke hari ditentukan/ditargetkan ada perubahan setiap menitnya.
Misalnya hari pertama membaca mendapatkan 100 kata maka hari kedua
seharusnya lebih dari 100 kata dan seterusnya. Demikian juga dengan
menulis peserta didik dilatih dalam 5 menit hari berikutnya harus ada
perubahan lebih banyak. Awalnya peserta didik hanya membaca kemudian
dilanjutkan dengan membaca yang mengikat makna/ yang berarti
302
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sehingga kata, kalimat yang diikat dapat disampaikan kembali dengan
mengembangan kalimat tersebut sesuai dengan cara pandang mereka.
Membaca adalah melisankan gambar huruf yang bersusun jadi kata, kata
jadi kalimat, tetapi menyinkronkan pikir, hati dan penglihatan yang
menuntun pembaca mengungkapkan lisan yang jelas. (Harnowo:133:2016).
Pemantauan kegiatan membaca dari hari ke hari harus dilakukan oleh
guru dan peserta perlu menyimpan hasil yang dilakukan setiap harinya.
Kegiatan menulis dalam kegiatan ilmiah diarahkan pada pembuatan
laporan yang dikembangkan lagi ke penulisan karya ilmiah. Ditargetkan
dalam satu tahun peserta sudah bisa dan mampu membuat karya ilmiah
dengan ide dari peserta didik, minimal peserta didik mampu membuat
makalah atau artikel. Menulis yang benar memerlukan ketrampilan,
kebiasaan dan harus dibangun sehingga menjadi budaya menulis di
sekolah. Ini merupakan salah satu tujuan literasi yang dilakukan di
sekolah dan lebih jauh akan tertanam pada pribadi peserta didik di masa
yang akan datang. Latihan menulis tidak jauh berbeda dengan membaca,
ditekankan setiap 5 menit di hari berikutnya harus mendapatkan jumlah
kata yang lebih banyak, diawali dengan menulis bebas tidak terpasung
dunia IPA, puisi, ceritapun boleh. Dengan harapan bagi guru IPA akan
mendapatkan tidak hanya satu hasil karya tetapi lebih, tidak hanya
membuat karya ilmiah tetapi dimungkinkan ada diantara peserta didik
yang mampu membuat cerita pendek/panjang, deskripsi dari suatu
daerah wisata, asal usul daerah kelahirannya, menulis resep makanan,
menulis hasil laporan dan lain-lainnya. Bila itu terjadi guru IPA
mengarahkan kepada guru yang sesuai dan mampu membimbing
selanjutnya. Sehingga apa yang ditulis peserta didik menjadi tulisan
yang bermakna dan terarah sesuai dengan apa yang dipikirkan dan apa
yang menjadi luapan emosinya. Menulis adalah menggambarkan ekspresi
hati yang tampak pada gambar dan huruf melalui proses berfikir yang
bermakna karena tulisan adalah tuturan lisan yang dicerna oleh indra
mata. (Hernowo:133:2016). Untuk sebuah karya Ilmiah peserta didik
dilatih memahami dengan benar membuat laporan, dan selanjutnya
dimulai menulis kata pengantar, latar belakang, rumusan masalah,
hipotesa dan seterusnya. Proses menulis ini membutuhkan waktu yang
lama oleh karenanya diperlukan latihan mulai dari dasar sampai benarbenar paham. Selain membaca, menulis merupakan bagian dari literasi
yang perlu dibangun sehingga berdampak pada kebiasaan membaca dan
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
303
menulis. Membangun budaya literasi inilah yang dibutuhkan untuk
kelangsungan penulisan karya ilmiah dari sebuah karya yang dibuat..
Kegiatan ilmiah untuk menghasilkan sebuah karya dimulai dengan
membaca, peserta harus membaca sumber- sumber yang diperlukan
untuk melakukan kegiatan. Kesempatan diberikan kepada peserta didik
untuk mendapatkan ide-ide baru atau ide ditentukan oleh guru dan
peserta didik memperluas pengetahuan dengan mencari di internet atau
sumber yang lain. Sebelum kegiatan ilmiah berlangsung peserta didik
sebanyak-banyaknya mencari sumber bacaan yang mendukung kegiatan
tersebut. Selama kegiatan ilmiah berlangsung peserta didik melakukan
literasi dengan menulis yaitu pengambilan data, analisa data, membahas
kegiatan (membaca dan menulis) dan yang terakhir membuat laporan
(membaca dan menulis). Sehingga dengan melakukan kegiatan ilmiah
peserta didik sudah terbangun literasinya. Hal ini senada dengan
kurikulum KTSP bahwasanya ketrampilan ilmiah meliputi ketrampilan
mengamati, mengukur, mencatat data, menerapkan prosedur,
memprediksi, menginferensi, merencanakan, melaksanakan dan yang
terakhir melaporkan semua ini membutuhkan ketrampilan dasar membaca
dan menulis. Seiring juga dengan Kurikulum 13 yaitu 5 M, mengamati,
menanya, mencoba, mengasosiasikan dan mengkomunikasikan.
Selama proses terbangunnya budaya literasi mulailah ditentukan
target-target yang diinginkan atau yang dicapai antara lain berkaitan
dengan pembuatan laporan dari kerja ilmiah. Dalam jangka panjang
minimal peserta didik mampu membuat makalah, artikel dan sebuah
karya yang lebih luas yaitu karya ilmiah. Guru IPA hanya sebagai
jembatan mengantarkan peserta didik untuk melatih diri menuangkan
apa yang dipikirkan dari sebuah pengamatan kemudian menuangkan
dalam bentuk tulisan sesuai dengan hati dan emosinya. Bukan tidak
mungkin ada diantara peserta didik yang mampu membuat sebuah
cerita baik yang nyata maupun yang khayal. Terciptalah karya-karya
yang selanjutnya perlu diarahkan ke mana hasil karya-karya ini dijadikan
karya yang bermakna. Diawali diadakan lomba-lomba disekolah agar
memberi motivasi kepada peserta didik yang sudah berkarya atau
peserta didik yang lain yang belum berkarya. Tanpa ada pengakuan
karya lunturlah tujuan membangun budaya literasi di sekolah. Ditingkat
pusat sudah ada lomba-lomba yang memberi rangsangan kepada peserta
didik untuk dapat mengikutinya namun perlu pedamping dari guru
304
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
untuk bisa melangkah ke sana. Oleh karenanya menjadi tantangan bagi
guru untuk mencari dan mendapatkan info-info yang berkaitam dengan
karya peserta didik agar bisa dibanggakan oleh diri sendiri, keluarga dan
sekolah. Guru harus terus berkarya juga. Kalau sudah demikian ini
membangun budaya literasi melalui kegiatan ilmiah merupakan
hubungan yang sangat terkait bagaikan hubungan simbiosis mutualisme
dimana keduanya saling membutuhkan dan dibutuhkan. Membaca
menulis apa? Bila tidak ada kegiatan ilmiah. Sehingga membaca menulis
ada tujuan. Kegiatan ilmiah apa? Bila belum membaca menulis apa
yang dikerjakan. Simbiosis antara literasi dan kegiatan ilmiah akan
seiring dengan model literasi yang dicanangkan pemerintah yaitu model
literasi membaca, mengkontruksi dan menulis. Terbentuknya sebuah
karya dari hasil literasi akan sejalan dengan pemikiran seorang tokoh
pendidikan yaitu kemampuan mengidentifikasi, menentukan,
menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi,
menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi
berbagai persoalan.
Untuk mendukung gerakan literasi ini diperlukan kerjasama dengan
sarana dan prasarana yang ada di sekolah antara lain peran perpustakaan
dan isinya termasuk petugas perpustakaan yang siap melayani kegiatan
peserta didik, laboratorium IPA dan isinya termasuk petugas laboran
harus mampu mengimbangi kebutuhan peserta didik, Laboratorium TIK
dan petugas yang harus share dengan peserta didik dan yang terakhir
perancang kurikulum harus terbuka wawasannya menghadapi gerakan
literasi. Jika semua unsur melakukan tanggungjawab sesuai dengan
bidangnya gerakan literasi akan berdampak positif bagi peserta didik
khususnya masyarakat luas pada umumnya. Karena peserta didik akan
merasa membutuhkan untuk membaca dan menulis dan akan terangsang
pikirannya ke hal-hal yang bermanfaat. Yang paling utama gerakan
literasi untuk semua jenis bacaan dan tulisan sedangkan kegiatan ilmiah
hanya rangsangan bagi peserta didik agar termotivasi untuk berliterasi
dan untuk membangun budaya literasi karena kemampuan, potensi dan
daya khayal masing-masing peserta didik berbeda. Perbedaan yang ada
justru akan memperkaya terbentuknya karya-karya peserta didik. Dengan
literasi diharapkan peserta didik menghasilkan sebuah karya bebas tidak
hanya bidangf IPA tetapi bisa bidang studi yang lain. Secara keseluruhan
diharapkan peserta didik menjadi insan yang memiliki sifat-sifat yang
Profesional Guru IPA dalam Membangun Generasi Abad 21 melalui.....
305
berkarakter menuju generasi abad 21 antara lain guru dengan
profesionalnya mampu membekali generasi abad 21 dengan : keimanan,
kecerdasan, siap berubah, berani menghadapi tantangan, siap bersaing,
tegar dan pantang menyerah, kreatif, berkepribadian, berkualitas.
Karakter ini akan terbentuk selama proses literasi sampai menghasilkan
karya. Peserta didik akan merasakan setelah 10 tahun ke depan itulah
abad 21 atau abad emas sehingga Visi, Misi dan fungsi pendidikan
nasional akan sekaligus tercapai.
Dari pembahasan diatas tentang profesional guru IPA dalam
membangun generasi abad 21 melalui gerakan literasi dan karya dapat
disimpulkan dengan profesionalnya dalam 4 kompetensi yang dimiliki
guru ternyata mampu membangun proses pembelajaran yang baik
mampu menghasilkan pembelajaran yang berkualitas sehingga
keberhasilan proses pembelajaran bukan ditentukan oleh kebijakan,
penentu kebijakan, pergantian kurikulumnya, media pembelajarannya.
Keberhasilan proses pembelajaran menunjukkan terbangunnya generasi
abad 21. Hal ini ditandai saat proser literasi berlangsung sebagai hasil
akhir terciptanya karya-karya peserta didik. Diharapkan akan tertanam
peserta didik yang beriman, cerdas, siap berubah, berani menghadapi
tantangan, siap bersaing, tegar dan pantang menyerah, kreatif,
berkepribadian, berkualitas.
Rujukan:
Asmani, Ma’mur Jamal. 2009. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan
Inovatif. Ciputat: Penerbit DIVA Press.
Sofan, Hendro dan Ahmadi, Iif. 2011. Pembelajaran Akselerasi. Jakarta:
Penerbit Pretasi Pustaka.
Sudarwati. 2014. Revitalisasi Profesionalme. Jawa Timur: Media.
http://badan bahasa.kemendikbud.go.id
http://ainamulyana.blogspot.com
Hasim Hernowo, Flow Di Era Socmed, Kaifa, Bandung, 2016
Yoto dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, SIC, 2005
306
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di LAhan Subur
307
GERAKAN LITERASI, BAK MENYEMAI BIJI DI LAHAN SUBUR
Hariati Tinuk
Wakil Kepala SMP Negeri 8 Malang Bidang Kesiswaan
Membaca dan menulis adalah dua bentuk kegiatan yang tidak bisa
dipisahkan, karena untuk bisa menulis perlu membaca dan untuk bisa
menuangkan apa yang telah dibacanya harus di tulis, sehingga membaca
dan menulis merupakan rangkaian aktivitas yang dapat meningkatkan
kapasitas belajar dan meningkatakn pengetahuan seseorang. Aktivitas
belajar dalam bentuk membaca dan menulis di kalangan pelajar memang
belum menggembirakan, belum menjadi ruh, tak terkecuali pula di
masyarakat Indonesia secara luas. Membaca dan menulis seolah menjadi
dasar untuk belajar lebih jauh dan lebih dalam, karena dengan membaca
dan menulis mampu meningkatkan derajat pengetahuan dan keilmuan
seseorang. Dan dalam komunitas besar sebagai suatu bangsa, maka
budaya membaca dan menulis yang telah tumbuh, mampu meningkatkan
derajat dan citra pengetahuan dan keilmuan bangsa tersebut.
Seiring dengan pentingnya membaca dan menulis, karena keduanya
merupakan bagian dari literasi, maka sangat tepat jika pemerintah turut
ambil bagian dengan mengeluarkan kebijakan, melalui Permendikbud
Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang di
dalamnya tertuang upaya menumbuhkan budaya membaca dan menulis
selama lima belas menit sebelum memulai pelajaran.
Jika merujuk pada Unesco (2003) maka literasi tidak hanya berupa
gerakan membaca dan menulis, namun literasi mencakup bagaimana
seseorang berkomunikasi dalam masyarakat, juga bermakna praktik dan
hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.
Itulah sebabnya gerakan literasi sekolah harus melibatkan semua unsur,
sumberdaya dan peran maksimal para guru, siswa, tenaga kependidikan,
dan pimpinan sekolah, serta masyarakat (khususnya orang tua siswa) dan
juga penerbit.
Hadirnya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai gerakan penumbuhan
budi pekerti melalui gerakan membaca dan menulis adalah upaya
307
308
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
menumbuhkan budaya ilmiah untuk gemar membaca dan menulis pada
siswa, yang seharusnya sudah menjadi iklim dan atmosfir yang harus
tumbuh dan berkembang secara otomasis pada siswa, sejak di tingkat
dasar. Namun harus jujur kita mengakui, bahwa membaca, apalagi
menulis belum menjadi budaya yang atmosfirnya tumbuh di lingkungan
kita. Banyak faktor yang menyebabkannya, sebagaimana dibahas dalam
berbagai diskusi, bahwa rendahnya kemampuan membaca kita dan atau
literasi kita sebagai pelajar, mahasiswa dan masyarakat Indonesia antara
lain, disebabkan budaya menonton lebih dominan. Masyarakat kita
dinilai suka sekali menonton dari pada membaca. Hal ini tidak salah,
karena sejak usia kanak-kanak, hadirnya teknologi dan media visualisasi
seperti televisi di rumah, telah menciptakan budaya menonton dari pada
membaca.
Kita perlu tahu, dimana posisi dan peringkat literasi kita sebagai
bangsa Indonesia dibandingkan dengan literasi masyarakat internasional.
Jika merujuk pada peringkat literasi tertinggi masyarakat dunia (World,s
Most Literate Nations) berdasarkan rujukan dari Central
Connecticut State University Tahun 2016 sebagaimana di lansir
dalam tranding topic pada Femina.co.id (2016) disebutkan, bahwa
terdapat 10 besar negara dengan literasi tertinggi yang dimulai dari
Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, Amerika Serikat,
Jerman, Latvia, dan Belanda. Sementara jika melihat laporan Programme
for International Student Assessment (PISA) di tahun 2012, dikatakan
budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara
yang diteliti di dunia, karena Indonesia berada di posisi ke 64, dari 65
negara tersebut, dan justru Vietnam menempati urutan ke-20 besar.
Menurut Oktavian (2016), indeks membaca rata-rata penduduk Indonesia hanya membaca 4 judul buku setahun dan masih jauh dari
standard UNESCO, yaitu 7 judul buku dalam setahun, dalam hal ini
posisi Indonesia di peringkat 60 dari 65 negara dan masih di bawah
Malaysia. Data ini menunjukkan betapa Indonesia masih rendah dan
jauh ketinggalan dibanding negara-negara lain di dunia dalam hal
budaya membaca. Jika kita baca sejarah, sesungguhnya budaya membaca
telah dibentuk dan ditumbuhkan sejak jaman penjajahan Belanda, di
mana siswa AMS (sekolah Belanda) saat itu diwajibkan untuk membaca
25 judul buku sebelum mereka lulus. Tentu tidak salah, jika kebijakan
Belanda tersebut melahirkan para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di LAhan Subur
309
yang pada perjalanan hidupnya pernah mengenyam pendidikan di
sekolah Belanda tersebut.
Sering kita membaca slogan, “Membaca adalah jalan Menguasai
Dunia” atau “Membaca Jendela Dunia”, tentu yang dimaksud dengan
sloganini bukan dunia dalam makna materi, akan tetapi dunia dalam
kehidupan global, dunia dalam percaturn kehidupan internasional, dunia
dalam kehidupan dan kemajuan. Oleh karena itu, jika kita membaca
buku saku Gerakan Literasi Sekolah (Wiediarti, dkk:2016) akan kita
temukan adanya tiga tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yaitu: 1)
Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca
(sebagaimana Permendikbud No. 23 Tahun 2015); 2) Meningkatkan
kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan; dan
3) Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran:
menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata
pelajaran. Tiga tahapan dimaksud jika disimpulkan merupakan gerakan
tiga langkah menumbuhkan literasi, yaitu tahap pembiasaan (belum ada
tagihan), tahap pengembangan (ada tagihan sederhana untuk penilaian
non-akademik); dan tahap pembelajaran (ada tagihan akademik).
Tahap pembiasaan ditumbuhkan melalui kegiatan membaca selama
lima belas menit setiap hari sebelum jam pelajaran dengan membaca
buku secara nyaring (read aloud) atau seluruh warga sekolah membaca
dalam hati (sustained silent reading). Keberhasilan tahap ini harus
didukung dengan penyediaan lingkungan fisik sekolah yang kaya literasi,
antara lain: (1) adanya perpustakaan sekolah, sudut baca, area baca yang
nyaman; (2) pengembangan sarana lain (UKS, kantin, kebun sekolah):
dan (3) penyediaan koleksi teks cetak, visual, digital, maupun multimodal
yang mudah diakses oleh seluruh warga sekolah; (4) pembuatan bahan
kaya teks (print-rich materials).
Tahap pengembangan ditumbuhkan melalui kegiatan membaca juga
selama lima belas menit sebelum jam pelajaran, juga membacakan buku
dengan nyaring (read aloud) atau dalam hati, membaca bersama (shared
reading), dan/atau membaca terpandu (guided reading) diikuti kegiatan
lain dengan tagihan non-akademik, contoh: membuat peta cerita (story
map), menggunakan graphic organizer, dan bincang buku. Keberhasilan
tahap ini akan tercapai atas dukungan pengembangan lingkungan fisik,
sosial, afektif sekolah yang kaya literasi dan menciptakan ekosistem
sekolah yang menghargai keterbukaan dan kegemaran terhadap
310
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
pengetahuan dengan berbagai kegiatan, antara lain: (1) memberikan
penghargaan kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial, dan
semangat belajar peserta didik (dimana penghargaan ini dapat diberikan
pada setiap uapacara bendera hari Senin dan/atau peringatan lain); (2)
kegiatan-kegiatan akademik lain yang mendukung terciptanya budaya
literasi di sekolah, seperti belajar di kebun sekolah, belajar di lingkungan
luar sekolah, wisata perpustakaan kota atau daerah, dan taman bacaan
masyarakat, dan lain-lain. Juga mndorong peserta didik untuk merespon
teks (baik cetak atau visual atau digital), fiksi dan nonfiksi, melalui
beberapa kegiatan sederhana seperti menggambar, membuat peta konsep,
berdiskusi, dan berbincang tentang buku.
Tahap pembelajaran memiliki kesamaan dengan tahap satu dan dua
dalam hal kegiatan ini dimulai dengan membaca setiap hari selama lima
belas menit sebelum jam pelajaran dengan membacakan buku yang
nyaring (read aloud) atau dalam hati, membaca bersama (shared reading), dan/atau membaca terpandu (guided reading) namun diikuti
dengan kegiatan lain berupa tagihan non-akadamik dan akademik.
Tagihan akademik disesuaikan dengan tagihan akademik pada kurikulum
2013. Kegiatan literasi pada tahap tiga ini dapat dikembangkan melalui
berbagai macam strategi, khususnya dalam memahami teks dalam
semua mata pelajaran (misalanya, dengan menggunakan graphic organizer). Lingkungan fisik, sosial, afektif, dan akademik (disertai beragam
bacaan cetak, visual, audotori, dan digital) yang kaya literasi di luar
buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata
pelajaran.
Graphic organizer, menurut Wikipedia (2016) juga dikenal sebagai
peta pengetahuan (knowledge map), peta konsep (concept map), peta
cerita (story map), pengorganisasian pengetahuan (cognitive organizer),
‘gagasan awal’ (advance organizer), dan diagram konsep (diagram
concept). Adapun contoh bentuk-bentuk diagram dari graphic organizer
dimaksud dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah:
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di LAhan Subur
311
Gambar 1: Peta Konsep Cahaya
(Sumber: Anonim, 2012)
Selain peta konsep di atas, juga bisa dikembangkan dalam peta
pikiran (mind mapping) sebagaimana Gambar 2 di bawah:
(1)
(2)
Gambar 2: Contoh Peta Pikiran (Mind Mapping)
(1) Sukses Belajar ; (2) Surat
(Sumber: Ratri, 2011; Kurniasari, 2015)
Dari dua contoh gambar di atas perlu diketahui, bahwa peta konsep
berbeda dengan peta pikiran, sebagaimana menurut Buzan (2007), mind
map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam
otak dan mengambil informasi ke luar otak dari otak, dan dengan mind
312
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
map, daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi diagram
warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras
dengan cara kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal. Adapun
peta konsep menurut Hudojo, at al (2002) adalah keterkaitan antara
konsep dan prinsip yang dipresentasikan sebagai jaringan konsep yang
perlu di konstruk, sedangkan Novak and Gowin (1985) menyebut peta
konsep adalah alat atau cara yang dapat digunakan guru untuk
mengetahui apa yang telah diketahui oleh siswa.
Penumbuhan dan pengembangan literasi di sekolah dengan
membudayakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran utama
dimulai, adalah atmosfir baru yang harus senantiasa ditumbuhkan,
diaktifkan, terjadwal, terorganisir dan terpadu keterlaksanaannya dengan
melibatkan semua unsur di dalam sekolah dan orang tua siswa.
Penumbuhan minat membaca pada siswa menampakkan atmosfir belajar
di sekolah, meskipun terkesan dipaksa untuk membaca, namun dampak
yang terjadi akan mendorong terbentuknya perilaku membaca di kalangan
siswa, dan hal ini akan menjadi langkah baik untuk merubah kebiasaan
siswa dari tidak peduli terhadap buku menjadi peduli terhadap buku, dari
sekedar melihat cover buku, menjadi ingin mengetahui isi buku.
Potret perubahan perilaku pada siswa dengan Gerakan Literasi
Sekolah (GLS) memang belum terevaluasi, namun melihat kondisi sekolah
di pagi hari yang menjadi tenang dan semua siswa membaca buku
bacaan apapun yang dibawanya selama 15 menit, atau buku bacaan
yang telah disediakan sekolah telah menciptakan suasana baru dalam
belajar. Hal ini tentu menjadi titik awal sebuah harapan dari Gerakan
Literasi Sekolah (GLS), yaitu terciptanya belajar sepanjang hayat.
Pengembangan literasi harus disadari sebagai jalan menumbuhkan
siswa berkarakter, sehingga akan terbentuk siswa berkarakter. Bukan
tidak mungkin selama 15 menit siswa membaca tidak akan memperoleh
informasi penting, justru dengan waktu 15 menit membaca bacaan
apapun yang telah diarahkan guru, pasti siswa akan memperoleh
kekayaan informasi dan buku yang dibacanya, sehingga menambah
pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya.
Jika kita kembalikan kepada posisi sekolah sebagai lembaga
pendidikan, maka akan sangat salah jika Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
tidak diupayakan semaksimal mungkin dan sekondusif mungkin, sebab
gerakan membaca dan menulis (literasi) adalah rohnya pendidikan.
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di LAhan Subur
313
Pendidikan dapat berkembang, siswa menjadi cerdas dan berprestasi jika
budaya utama yang menjadi ciri sosok siswa, yaitu membaca dan
menulis dikembangkan dan ditumbuhkan.
Penumbuhan gerakan membaca dan menulis dalam lingkup literasi
sebenarnya merupakan gerakan kesadaran diri yang seharusnya sudah
tumbuh otomatis, apalagi pada diri siswa. Ketika seseorang berstatus
sebagai siswa, maka tentunya membaca dan menulis adalah tugas utamanya
dalam belajar dan secara otomatis menjadi kebiasaan yang dilakukan
setiap hari. Bukankah setiap hari siswa mendapatkan pelajaran yang selalu
berbeda dengan hari sebelumnya, kecuali mata pelajaran yang memang
membutuhkan pertemuan lebih dari satu kali dalam seminggu.
Membaca dan menulis adalah aktivitas yang mudah di ucapkan
namun sulit dilaksanakan, karena kedua kegiatan ini membutuhkan
kesiapan hati dan pikiran yang penuh perhatian dan fokus. Ketika hati
tidak siap untuk diajak membaca, maka pikiran tidak terdorong untuk
membaca, namun jika hati terdorong untuk membaca, maka pikiran
akan sepenuhnya berkonsentrasi dan fokus pada bacaan yang dibacanya,
karena sejatinya hati dan pikiran membutuhkan gelombang dan frekuensi
yang sama untuk menuju keseimbangan kerja. Oleh karena itu Gerakan
Literasi Sekolah (GLS) harus didorong dengan menumbuhkan rasa senang
pada diri siswa, serta menumbuhkan situasi psikologis yang kondusif
agar hati dan pikiran siswa menyatu dalam menerima Gerakan Literasi
Sekolah (GLS) ini, sehingga siswa merasa senang membaca dan menulis
dan tidak meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis yang sudah
mulai tumbuh dan membudaya dengan sia-sia.
Mengkondisikan siswa untuk sampai pada kebisaan membaca dan
menulis adalah pekerjaan kasih-sayang dari berbagai pihak, sekolah,
guru, orang tua siswa dan masyarakat. Memberi kesempatan sebaikbaiknya, menerima segala pendapat dan uraian atas bacaan yang telah
dibacanya serta memberi ruang untuk menulis apa yang telah dibacanya,
harus pula dibangun, sebab hal demikian perlahan dan pasti akan
meningkatkan kemampuan literasi siswa dengan baik. Kemampuan
literasi memang harus dibangun dan dibentuk tidak bisa muncul begitu
saja tanpa ada dorongan yang menyertainya. Mengapa demikian? Karena
harus disadari, bahwa kesadaran literasi pada berbagai lapisan masyarakat
kita, termasuk para siswa masih jauh dari harapan. Oleh karena itu
kehadiran Gerakan Literasi Sekolah (GLS) tidak hanya memberikan kondisi
314
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dan situasi guna meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis pada
siswa, namun para guru juga harus ikut terlibat dengan baik dalam
membaca dan menulis agar turut serta menjadi generasi literat.
Membangun dan membentuk kebiasaan membaca dan menulis (literasi)
pada siswa di sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini tentu
tidak terfokus pada membaca dan menulis bacaan di luar mata pelajaran.
Harapan yang menjadi tujuan ke depan tentu akan tumbuh pada diri
setiap siswa bentuk literasi yang lebih baik dan meningkat pada mata
pelajaran, sehingga dengan meningkatnya literasi siswa pada mata pelajaran
tentu diharapkan akan diikuti dengan meningkatnya prestasi belajar
siswa. Jika langkah ini berhasil, maka akan sinergis dengan tahapan ketiga
dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yaitu meningkatkan kemampuan
literasi di semua mata pelajaran: menggunakan buku pengayaan dan
strategi membaca di semua mata pelajaran.
Lingkungan sekolah yang kondusif dan kaya akan sumber
penumbuhan literasi adalah lahan yang subur, sehingga bagaimana
lahan yang subur bisa menghasilkan panen yang berlimpah, maka bijibji kebiasaan membaca dan menulis harus disemai dengan baik, karena
siswa-siswa di sekolah adalah biji-biji yang baik yang harus di tanam di
lahan yang subur. Oleh karena itu menumbuhkan budaya literasi di
sekolah, bak menyemai biji di lahan subur, yang harus di semai oleh
semua guru, pimpinan, tenaga pendidikan, orang tua siswa, masyarakat
sekitar sekolah, para penerbit buku dan penggiat literasi.
Daftar Pustaka
Anonim. (2012). Peta Konsep Bunyi dan Cahaya. Retrieved from http://
fdsmtsnslawi.blogspot.co.id/2012/01/peta-konsep-bunyi-dancahaya.html
Buzan. (2007). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dahar, R.W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Hudojo, Herman, at al. (2002). Peta Konsep. Makalah. Jakarta: disajikan
dalam forum diskusi Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Januati, Eka dan Yusrini, 2016. Peringkat Literasi Indonesia, Nomor Dua
Dari bawah. http://www.femina.co.id/trending-topic/peringkat-literasiindonesia-nomor-dua-dari-bawah, diakses 30 Desember 2016.
Kurniasari, H. (2015). Pembahasan. Retrieved from http://
hanykurniasari14.blogspot.co.id/2015_03_01_archive.html
Gerakan Literasi, Bak Menyemai Biji di LAhan Subur
315
Litbang Kemendikbud. (2015). Mendikbud Luncurkan Gerakan Literasi
Sekolah. (Online). http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/indexberita-bulanan/2015/berita-bulan-agustus-2015/1297-mendikbudluncurkan-gerakan-literasi-sekolah, diaskes 27 Desember 2016
Novak and Gowin. (1985). Learning how to learn. Cambridge; Cambridge
University Press.
Oktavian, Catur Nurrochman. (2016). Membangun Budaya Literasi Di
Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. Retrieved from http://
literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-424-membangun-budaya-literasi-dikeluarga-sekolah-dan-masyarakat.html, diaskes, 31 Desember 2016.
Ratri, D. (2011). Belajar untuk belajar. Retrieved from http://
menerjemahkandunia.blogspot.co.id/2011/04/belajar-untukbelajar.html; Kurniasari, 2015)
Unesco. (2003). Literacy: a Unesco Perspective. Retrieved from http://
unesdoc.unesco.org/ images/0013/ 001318/131817eo.pdf, diakses 30
Desember 2016
Wiedarti, Pangesti, dkk. (2016). Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Wikipedia. (2016). Graphic Organizer. Retrieved from https://
en.wikipedia.org/wiki/Graphic_ organizer, diakses, 27 Desember 2016
316
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Budaya Literasi dalam Pembentukan Karakter di SMAMDA Sidoarjo
317
BUDAYA LITERASI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER
DI SMAMDA SIDOARJO
Ifta Zuroidah
SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo
Pendidikan karakter mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja,
tapi juga di rumah dan di lingkungan sosial masyarakat. Di masa kini,
siswa menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai
kelas yang lainnya. Tuntutan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM)tentunya membutuhkan good character. Hal ini dikarenakan karakter
adalah kunci keberhasilan individu. Kegagalan siswa sering disebabkan
oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan
hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, jika menginginkan
keberhasilan, siswa membutuhkan Emotional Quotient (EQ). Sekolah
pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat “transfer of knowledge”
belaka, sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan
pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Akan tetapi, sekolah juga
adalah lembaga yang mengusahakan proses pembelajaran yang
berorientasi pada nilai
Kegiatan kelas yang dapat mendorong siswa untuk lebih
mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip etika dan perilaku
yang baik akan dapat menjadi karakter siswa saat melakukan pembelajaran
di sekolah maupun diluar sekolah nantinya. Adapun cara membangun
karakter siswa disekolah dapat melalui upaya yang meiluputi:
1)
Pilar karakter, yaitu suatu karakter positif yang patut ditanamkan dalam
diri siswa, sehingga perilaku yang baik akan secara otomatis dan secara
spontanitas diterapkan oleh siswa.
2)
Mengatur peraturan yang tepat,hal ini merupakan tanggung jawab
sebagai guru untuk menetapkan aturan yang tepat untuk perilaku kelas
dengan menetapkan aturan-aturan dasar yang jelas dan baik. Guru
dapat melihat secara langsung kepribadian siswa, apa saja yang dapat
dan tidak dapat diterima untuk diarahkan menjadi suatu kebaikan.
317
318
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
3)
Mendorong umpan balik yang baik, maksudnya adalah siswa memilih
model peran apakah seorang guru atau orang lain untuk menunjukkan
model peran karakter positif dalam sejarah, sastra, ilmu pengetahuan,
seni dan lain-lain.
4)
Meletakan dasar saling menghormati, dimana kelas harus mapan di
atas dasar rasa hormat. Harga diri dan rasa hormat kepada orang lain
merupakan dasar dari banyak karakter positif lainnya. Karakter negatif
dan penyalahgunaan dalam bentuk apapun tidak dapat ditolerir dan
hasus diikuti dengan konsekuensi yang sesuai. Hal ini diperlukan untuk
kampanye anti bullying dan memuji kebaikan siswa karena
memperlakukan semua teman sekelas dengan hormat dan bermartabat.
Selain itu, siswa juga diajarkan untuk jujur dan berperilaku sopansantun, menghargai dan menghormati keadaan orang lain terutama
antar siswa di kelas dan tidak saling mengejek atau membicarakan
kekurangan orang lain, santun terhadap yang lebih tua dan menjaga
menyayangi yang lebih muda.
5)
Kebijakan toleransi yang mempunyai tanggungjawab terhadap
lingkungan yang baik, meletakkan dasar kejujuran dan kesetiakawanan
sosial yang baik terhadap apa yang dilihat dan dirasakan, melalui suatu
kegiatan yang melibatkan seluruh siswa sehingga timbul rasa sosial
dan menghargai terhadap sesama.
6)
Tindakan yang berkarakter, yang mencakup bagaimana pendidik atau
guru dapat memberikan wawasan pengetahuan yang baik terhadap
siswa akan adanya suatu kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain,
serta membuat suatu kegiatan yang melibatkan siswa untuk berperan
aktif dalam kegiatan sosial dan kesetiakawanan.
Dalam ajaran Islam, banyak anjuran untuk belajar, belajar, dan
belajar serta berpikir, berpikir dan berpikir. Bahkan, kita pun menjumpai
dalam salah satu ayat Al-Quran surat Iqra’ yang artinya adalah ‘baca’.
Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam
hidup, karena semua proses belajar didasarkan pada kemampuan
membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri
setiap siswa, tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan
masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik.
Bagaimana siswa kita agar terbiasa untuk membaca padahal kita
tahu banyak dari mereka yang belum terbiasa melakukan sesuatu
berdasarkan pemahaman dari membaca dan mengaktualisasi diri melalui
Budaya Literasi dalam Pembentukan Karakter di SMAMDA Sidoarjo
319
tulisan. Membaca dan menulis dapat dikatakan belum mengakar kuat
dalam budaya siswa. Kondisi ini tidak hanya siswa yang menjalani,
bahkan mahasiswa, guru, dan dosen tidak sedikit dari mereka yang sama
keadaannya. Hal ini terbukti dengan minimnya jumlah buku yang
dimiliki.
Menciptakan kebiasaan dan keinginan untuk terus membaca haruslah
terus kita upayakan. Kita berharap bahwa siswa siap untuk diajak
kepada hal-hal yang lebih terbuka pikirannya dengan dunia luar dari
proses literasi. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat berpikir
kritis, disiplin, berinisiatif, tekun, ulet/gigih, dinamis, dan menghargai
waktu. Lemahnya budaya literasi siswa yang kita jumpai mengakibatkan
siswa hanya mengandalkan apa yang dilihat dan apa yang didengar.
Mereka merasa lebih menikmati belajar praktis dengan cara melihat dan
mendengarkan dari media elektronika yang tersedia. Jika kita amati
lebih jauh mana yang lebih cepat mereka tangkap antara melihat,
mendengar, membaca, dan menulis, maka sudah dapat dipastikan melihat
dan mendengarlah yang akan menjadi pilihan mereka.
Sebuah harapan bahwa budaya literasi yang dibangun ini akan
dapat menciptakan karakter seseorang yang jauh lebih baik. Banyak hal
yang perlu diperhatikan, misalnya bagaimana siswa kita memiliki karakter
bawaan, akan tetapi tidak berarti karakter itu tidak dapat diubah. Untuk
dapat mengubah karakter seseorang dibutuhkan perjuangan yang berat.
Dibutuhkan latihan yang terus menerus untuk menghidupi nilai-nilai
yang baik dan tidak terlepas dari faktor lingkungan sekitar.
Memulai budaya literasi disekolah dengan memanfaatkan
perpustakaan kelas dapat dikatakan cukup efektif. Siswa banyak yang
mulai tertarik dan ingin membaca dari buku yang dikumpulkan bersama,
tidak perlu jauh dan antri di perpustakaan sekolah hanya untuk
meminjam buku, karena apa yang ingin dibaca semua sudah tersedia di
kelas mereka. Ada waktu yang dapat mereka manfaatkan untuk membaca,
sekolah kami, SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo, mengalokasikan 15 menit
sebelum siswa memulai aktivitas pembelajaran untuk membaca. Jam
sekolah masuk 6.30 pagi dan pembelajaran baru dimulai 6.45, jadi masih
ada sisa waktu yang dapat siswa gunakan untuk membiasakan diri
dengan membaca, tidak jarang dijumpai pula siswa yang membaca pada
saat istirahat jam pertama atau pada istirahat jam kedua.
320
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dengan adanya perpustakaan kelas ini, siswa mulai merasa tertantang,
sehingga tidak hanya mengumpulkan buku saja. Disinilah mulai muncul
nilai-nilai karakter yang tanpa mereka sadari mulai terbentuk. Bertanggung
jawab adalah salah satunya, mereka harus merawat dan memanfaatkan
perpustakaan kelas ini. Cinta ilmu juga salah satunya, kebiasaan mereka
membaca tanpa kesulitan mencari buku dari waktu yang terbatas. Selain
itu, disiplin membaca juga menjadi kebiasaan bagi mereka.
Wajah masa depan siswa kita dapat dilihat dari bagaimana kualitas
literasi yang mereka lakukan. Dengan memperkenalkan budaya literasi
secara terus menerus kepada siswa melalui contoh dan penyampaian
yang menarik, maka kita tidak perlu khawatir lagi mereka akan menjadi
korban globalisasi atau peradaban modern. Tidak dapat dimungkiri
bahwa minat baca mampu mencerdaskan anak didik kita.
Gambar 1. Dokumentasi Bukti Penghargaan dan Kegiatan yang
Dilakukan
SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo adalah sekolah yang mendapatkan
penghargaan penguatan literasi satuan pendidikan dari bupati Sidoarjo.
Sekolah ini tidak lantas berpuas diri setelah mendapatkan penghargaan
ini, budaya literasi ini masih tetap dilanjutkan dengan sepenuh hati.
Konsekuensi yang didapatkan tidaklah mudah, dibutuhkan peran semua
pihak di sekolah serta kerja sama yang kuat antara pemimpin sekolah,
guru, tenaga kepegawaian, dan siswa.
Sekolah dengan julukan School of Champions ini mampu
membuktikan diri. Budaya literasi yang sudah dibangun, salah satu
caranya melalui kegiatan membaca surat kabar Jawa Pos, yang dilakukan
dua kali dalam satu minggu, mampu membangun karakter siswa untuk
dapat berpikir kritis, berinovasi tinggi, kreatif, ulet, tanggung jawab,
Budaya Literasi dalam Pembentukan Karakter di SMAMDA Sidoarjo
321
dan mampu beraktualisasi kearah yang lebih baik. Dengan bukti, siswa
mampu berpikir kreatif dan inovatif dalam melakukan berbagai hal
yang bermanfaat dan dengan sikap yang positif.
Surat kabar dalam jumlah banyak yang sudah mereka baca dan mereka
buat literasi tulisan tidaklah terbuang sia-sia. Pembentukan karakter dari
budaya literasi ini menciptakan suatu gagasan yang membuat kita bangga
kepada mereka, melalui event pameran Zero Waste, mereka memanfaatkan
koran-koran ini sebagai bahan untuk membuat media pembelajaran dalam
bentuk tubuh manusia dan organ-organnya, yang ditampilkan dalam
pameran yang bertempat di Pendopo Kabupaten Sidoarjo.
Tidak berhenti sampai disini, dengan gigih, ulet, kerja keras, disiplin,
dan tanggung jawab, mereka mampu memahami tidak hanya pada
literasi yang harus mereka lakukan setiap saat. Mereka juga aktif
mengikuti event penting lain yang harus mereka lakukan dan perjuangkan,
salah satunya bagaimana menjadi juara dalam tingkat internasional.
SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo mendapatkan kesempatan tampil dalam
ajang internasional paduan suara LICC (Lanna International Choir Competition) di Chiang Mai, Thailand. LICC merupakan ajang bergengsi yang
diselenggarakan oleh Interkultur Europen Choir Games. Kompetisi ini
diadakan di Payap Univercity, Chiang Mai, Thailand.
Pembentukan karakter yang terjadi dalam mempersiapkan mereka
cukuplah berat, mereka betul- betul harus melakukan apa yang sudah
menjadi ketentuan. Mulai dari literasi tentang musik, disiplin dalam
waktu latihan bahkan siswa-siswi ini pun juga harus disiplin dalam segi
makanan dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan media sosial
selama sembilan bulan. Kegigihan, kerja keras, keuletan dan tanggung
jawab yang terbentuk dalam diri mereka membuahkan hasil yang begitu
membanggakan sekolah. Mereka menjadi juara dalam dua kategori,
yaitu kategori folklore yang memperoleh Golden, dan kategori Mixed
Youth yang memperoleh Silver.
Budaya literasi sudah mulai mengakar dalam diri siswa, guru, dan
semua elemen yang ada di SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo. Karakter
inovatif, pemikiran kritis, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan
keuletan mereka betul-betul sudah dapat terbentuk menjadi karakter
siswa sesuai dengan yang diharapkan. SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo
tidak berhenti dan tidak pernah puas dalam menoreh prestasi. Hal itu
dibuktikan dengan mengikuti ajang Pesta Rakyat Fisika yang
322
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
diselenggarakan di Universitas Indonesia. Kembali dibuktikan oleh
SMAMDA, karakter yang sudah berhasil kita bentuk melalui budaya
literasi mengantarkan siswa-siswi kami kembali menoreh prestasi. Tiga
penghargaan sekaligus mereka raih; Bidang science Project juara 1
(ANSONT), juara 3 kategori (ATLASTIC) dan bidang robotika menempati
juara 2 Sumo Robot.
Usaha tidak akan menghianati hasil, semangat yang sudah tertanam
di jiwa siswa- siswi kami semakin membara, menjadikan SMAMDA
sebagai sekolah literasi. Hal ini membuat para gurupun banyak belajar
dari berbagai pihak, misalnya dari bedah buku yang mengupas misteri
di balik perintah membaca 14 abad yang lalu, yang menjadikan wawasan
mereka semakin terbuka bahwa dengan membaca dan membaca itulah
manusia akan semakin dapat berpikir lebih kritis, serta menjadikan
mereka dapat lebih baik dalam melakukan berbagai hal, termasuk dalam
usaha sebagai guru untuk terus membangun karakter siswa yang kuat
dan semakin baik. Terus menoreh prestasi, itulah yang kami lakukan,
kembali dengan kreativitas, inovasi, dan ide yang cemerlang, siswa kami
menorehkan kembali kemenangannya lewat juara menulis yang
dilaksanakan oleh salah satu perguruan tinggi di Surabaya dan
mendapatkan juara pertama.
Budaya literasi di SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjoini pun juga membuat
semua guru terus berinovasi dalam melakukan pembelajaran di kelas.
Bahkan ada beberapa guru SMAMDA yang lolos dalam menulis soal yang
diselenggarakan oleh Kemendikbud.Kompetisi yang diperuntukkan untuk
para Guru di seluruh Indonesia itu berkomitmen untuk menemukan
penulis soal nasional demi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Untuk lolos seleksi ini tidak mudah, pasalnya soal yang ditulis harus sudah
sesuai dengan format dan kaidah penulisan soal serta berkriteria Higher
Order Thinking Skill. Tidak hanya itu, Guru yang mengikuti lomba
penulisan soal ini harus sudah memiliki pengalaman mengajar minimal 5
(lima) tahun. Program ini juga diikuti guru-guru SMA Muhammadiyah 2
Sidoarjo. Dua guru lolos dalam seleksi dari Kemendikbud ini, Siti Agustini,
M.Pd dan Alful Musyrifah, M.Pd, keduanya merupakan pengampu mata
pelajaran Bahasa Indonesia dan Kimia.
Pembentukan karakter melalui budaya literasi betul-betul efektif.
Banyak hal yang sudah dapat dilakukan siswa untuk menyalurkan
inspirasi dan motivasi mereka dengan penuh percaya diri, tanggung
Budaya Literasi dalam Pembentukan Karakter di SMAMDA Sidoarjo
323
jawab, kreatif, dan imajinatif, tidak hanya dalam hal prestasi akademik,
tapi juga prestasi non akademik. Bahkan, untuk menanamkan sifat
heroik dalam jiwa supporter yang betul-betul supportif, mereka juga
membentuk kelompok supporter yang diberi nama ‘SMAMDA Holic’.
Dipiloti alumni SMAMDA, kelompok SMAMDA Holic ini berdiri dengan
menjunjung tinggi kebersamaan, kekompakan, berinovasi membuat
lagu-lagu, koreografi, dan yel-yel yang menarik. Kembali prestasi diraih
oleh teamSMAMDA lewat SMAMDA Holic, yaitu mendapatkan
penghargaan Koor Best Five Supporter dan Supporter Best of the Day.
Dalam menjalankan budaya literasi ini, sekolah selalu
mengembangkan ekosistem belajar-mengajar yang kondusif,
mengembangkan praktik-praktik yang baik dalam meningkatkan mutu
berkelanjutan dan berprestasi akademik maupun non akademik. Sampai
akhirnya, satu lagi prestasi diraih oleh SMAMDA di kancah nasional.
Tahun ini, SMA Muhammdiyah 2 Sidoarjo didapuk sebagai sekolah
rujukan nasional. Prestasi ini jelas bukan prestasi biasa, pasalnya
Kemendikbud hanya memilih 614 SMA dari 514 kabupaten/kota yang
tersebar di 34 Propinsi. Sebagai sekolah rujukan, SMAMDA diharapkan
dapat menjadi inspirasi bagi sekolah imbasnya, baik secara administratif
maupun dalam proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.sekolahdasar.net/2013/07/peranan-sekolah-dan-keluarga-dalammembentuk-karakter-siswa.html#ixzz4PgWBEQS5.
www.gurumuda.web.id , 2016 Gerakan literasi sekolah.
Satria, Dharma.2015. Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yangLalu.
Jakarta: Eureka Academia.
324
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Ciptakan Generasi ‘Z” Cerdas dan Berkarakter
TEMA 3:
URGENSI IMPLEMENTASI
PENDIDIKAN KARAKTER SECARA
KONSISTEN
1
1
2
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Reinterpretasi Pendidikan Karakter
325
REINTERPRETASI PENDIDIKAN KARAKTER
(TINJAUAN ULANG KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENUJU PENDIDIKAN
KRITIS DAN EMANSIPATORIS)
Arief Hanafi
SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo
Pemuda adalah tumpuan bangsa,di tangan para pemuda, bangsa ini
akan ditentukan arahnya. Sejarah membuktikan, perubahan suatu bangsa
atau negara ditentukan oleh pemudanya. Maka tidak salah jika di era
kemerdekaan Soekarno pernah berucap, berikan aku 1000 orang tua,
niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia. Dalam hal ini sudah jelas bagaimana
posisi pemuda dalam merubah keadaan menjadi posisi yang amat strategis.
Dalam konteks sejarah Indonesia misalnya, kita dapati bagaimana
pemuda yang menanamkan benih-benih nasionalisme, bersatu
merumuskan cita-cita kemerdekaan melalui sumpah pemuda pada 28
Oktober 1928. Di tahun itulah tonggak perubahan bangsa dimulai,
berangkat dari bangsa yang terpuruk karena sistem kolonialisme, menuju
bangsa yang bangkit dan menolak segala aspek penjajahan. Bukan
hanya itu, peran atau kiprah pemuda berlanjut pada tahun 1966 yang
berhasil menumbangkan rezim Soekarno yang saat itu terkenal dengan
nuansa demokrasi terpimpin yang cenderung otoroiter. Kiprah pemuda
dalam membangun bangsa berikutnya terjadi pada Mei 1998. Elemen
masyarakat menengah ini mampu menyadarkan masyarakat/mahasiswa
bergabung menjadi satu dengan masyarakat untuk “mendobrak” segala
sistem yang sudah melewati batas saat itu. Dalam konteks ini untuk
kesekian kalinya pemuda menjadi tongak perubahan bangsa.
Apa yang dilakukan pemuda dalam beberapa contoh kasus diatas
memang sangat beralasan,pasalnya dalam diri pemuda tertanam jiwa
idealis.Pemuda mempunyai modal sosial yang kuat dibarengi dengan
bentuk solidaritas mekanik. Dimana solidaritas ini muncul dalam
sekelompok manusia yang sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif.
325
326
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kesadaran kolektif inilah yang menjadi kunci, bagaimana pemuda
mampu menjadi garda terdepan dalam perubahan.
Jika kita lihat dalam sistem tatanan sosial masyarakat, maka
sebenarnya terletak pada stratara tengah. Dihimpit antar kaum kelas
atas, yang biasanya diduduki oleh para pemangku kebijakan, dan kelas
bawah yang biasanya didiami oleh masyarakat bawah, atau rakyat
jelata. Maka dalam hal ini sebenarnya generasi muda sudah seharusnya
manjadi penyambung lidah rakyat. Menjalin komunikasi dengan bahasa
birokrasi jika berkomunikasi dengan pemangku kebijakan, serta
menggunakan bahasa rakyat jika berhadapan dengan masyarakat kalangan
bawah.
Generasi Muda dan Kapitalisme
Setiap zaman pastinya mempunyai kondisi yang berbeda-beda. Dulu
pemuda-pemudi Indonesia berhadapan dengan kolonialisme dan
imperialisme barat, hari ini pemuda berhadapan pada sistem kapitalisme
global yang sudah mangakar kuat dalam sendi-sendi masyarakat. Sistem
kapitalisme dewasa ini, sudah menjelama menjadi berbagai “produk”
budaya populer seperti, konsumerisme, hedonisme, westernisasi, dan
matrealistis. Bahkan kalau kita telisik libah dalam, adanya sistem
kapitalisme beserta kroni-kroninya itu, cenderung lebih berbahaya dari
pada sistem imperialisme dan kolonialisme. Pasalnya bentuk pergolakan
yang harus dilawan pada masa lalu adalah nyata dan dapat dilihat di
depan mata. Akan tetapi, dengan adanya bentuk kapiltalisme yang
menjadi objek serangan adalah cara pandang, fikiran, dan ideologi.
Kapitalisme yang sekarang terjadi tidak lebih dari proses hegemoni
yang tiada henti. Antonio Gramsci tokoh neo marxis dari Italia,
menjelaskan hegemoni ini dengan cukup menarik. Hegemoni menurtnya
adalah bentuk penguasaan ideologi/pikiran manusia dengan cara
mengedepankan kepemimpinan moral dan intelektual. Dalam hal ini
dapat diartikan bahwa hegemoni berjalan dengan rapi, dan menumpulkan
kesadaran kritis setiap manusia sebagai objeknya. Penguasaan manusia
atas manusia bukan lagi pada persolan fisik, namun lebih pada
penguasaan alam pikiran sadar manusia. Jadi meminjam istilah lain
manusia dalam sistem kapitalisme menjadi manusia yang terasing dengan
dirinya sendiri.
Reinterpretasi Pendidikan Karakter
327
Apa yang sudah dijelaskan diatas, dapat diamati pada generasi
muda sekarng ini yang cenderung asik dengan dunianya sendiri.
Kesadaran kritis menjadi sebuah alur pemikiran yang sangat langka,
apalagi jika pemuda melakukan gerakan-gerakan yang emansipatoris
berbasis penadaran masyarakat. Bahkan pemuda jarang untuk terjun
langsung kebawah melihat berbagai macam realitas sosial yang ada. Ini
merupakan persoalan serius yang seharusnya tidak terus melanggeng
begitu saja menjadi sebuah hegemoni baru.
Persoalanya adalah bagaimana jika pemuda di era sekarang ini
dihadapkan pada budaya kapitalisme yang semakin gencar
mencengkramkan pengaruhnya di dunia? Apakah pemuda hari ini masih
mempunyai idealisme? Apa yang harus dilakukan pemuda hari ini untuk
menangkal sistem kapotalisme ini?
Membangun Generasi Berkarakter Kritis dan Emansipatoris
Tahun 2010 boleh dikatakan sebagai tahun pendidikan karakter. Hal
tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya sejak awal tahun 2010, tepatnya
pada tanggal 14 Januari 2010 lalu, pemerintah melalui Kementerian
Pendidikan Nasional mencanangkan program “Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa” sebagai gerakan nasional. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) mengawali kerjanya sebagai kepala pemerintahan
Kabinet Indonesia Bersatu jilid II mengangkat isu tentang pendidikan
karakter bangsa sebagai pilar pembangunan.
Apa yang dilakukan oleh SBY itu merupakan realitas politik nasional,
dimana dalam kehidupan sehari-hari, negara adalah sebuah realitas
politik yang nyaris diterima sebagai suatu pemberian. Kecenderungan
ini terjadi karena negara yang diketahui dan dialami setiap hari itu
seakan berada di luar kesadaran manusia. Pada tingkat individual,
negara baru dirasakan keberadaannya manakala ia berbenturan dengan
kekuasaan. Ada sebuah realitas kekuasaan di luar dirinya, yang berada
pada atmosfer publik, namun cukup berpengaruh terhadap kehidupan
sehari-hari. Dari kekuasaan dan legitimasi dalam wacana politik,
kenyataan itu disebut sebagai realitas kekuasaan negara dalam masyarakat.
Apa yang diwacanakan oleh pemerintah tentang pendidikan katakter
tersebut, sering dimaknai sebagai proses penundukan yang bertolak
belakang dengan pendidikan kritis. Pendidikan karakter dekat dengan
makna keteraturan, karena istilah katakter lebih pada istilah yang
328
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
mengarah pada pendisiplinan. Padahal dalam konteks ini pendidikan
harus berhaluan pada paradigma kritis dan emansipatoris.
Paulo Freire, praktisi pendidikan kritis asal Brazil, membagi kasedaran
manusia menjadi kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis.
Pertama,adalah kesadaran magis yang merupakan suatu kesadaran yang
tidak mampu mengetahui hubungan atau kaitan antara satu faktor
dengan faktor lainnya. Kesadaran magis lebih mengarahkan penyebab
masalah dan ketidakberdayaan masyarakat dengan faktor-faktor diluar
manusia, baik natural maupun supernatural. Kesadaran ini berhubungan
dengan alam dan bersifat vertikal. Sebagai contoh, siswa yang tidak
dapat atau kurang dapat menyerap proses pembelajaran itu karena
adanya takdir dari Tuhan, sehingga dalam bentuk kesadaran yang
pertama ini manusia seolah tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam konteks
masyarakat muslim, orang yang memahami masalah sosial dengan
menggunakan kesadaran magis ini akan melihat bahwa kemiskinan dan
ketidakberdayaan masyarakat merupakan takdir atau ketetapan dari
Tuhan. Hanya Tuhan yang Maha Tahu apa arti dan hikmah dibalik
ketentuan tersebut.
Kedua adalah kesadaran naif, di mana melihat ‘aspek manusia’
sebagai akar penyebab masalah dalam masyarakat. Dalam kesadaran ini,
masalah etika, kreativitas, dan ‘need for achievement’ dianggap sebagai
penentu dalam perubahan sosial. Jadi, dalam menganalisis kemiskinan
mereka berpendapat bahwa masyarakat miskin terjadi karena kesalahan
mereka sendiri, yakni karena malas, tidak memiliki jiwa kewiraswastaan,
atau tidak memiliki budaya pembangunan. Kesadaran ini dikaitkan
dengan sistem sosial yang ada di luar dirinya. Sistem globalisasi menjadi
sebuah kebenaran yang mutlak, dan kemiskinan yang diakibatkan oleh
sistem ini karena manusianya sendiri yang tidak mampu untuk
mengembangkan segala potensinya yang ada.
Aspek yang ketiga adalah kesadaran kritis,disinilah intinya,
pendidikan kritis sebagai cara untuk memerdekakan mansusia yang
setuhnya. Paradigma kritis dalam perubahan sosial memberikan ruang
bagi masyarakat untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam
sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis
bagaimana sistem dan struktur tersebut bekerja, serta bagaimana
mentransformasikannya. Pendidikan kritis adalah menciptakan ruang
dan kesempatan agar masyarakat terlibat dalam suatu proses dialog
Reinterpretasi Pendidikan Karakter
329
‘penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik atau
lebih adil’. Kesadaran ini disebut sebagai kesadaran transformatif.
Menurut Freire sudah menjadi bagian dari konsep memanusiakanmanusia. Manusia dimaknai sebagai wujud yang kompleks dan merdeka,
baik fisik dan pemikiran. Kaitanya dengan pendidikan karakter adalah,
sudah saatnya pendidikan karakter bukan sebagai sarana untuk
penundukan atau pelanggeng statsu quo pemangku kebijakan. Melainkan
pendidikan karakter dalam konteks keindonesiaan adalah pendidikan
karakter yang “berhaluan” kritis dan emansipatoris. Selain itu,
kesadaranakan kearifan lokal dan kebutuhan masyarakat, serta
emansipatoris. Artinya mampu untuk mengembangkan segala potensi
yang ada dalam masyarakat. Merubah keadaan yang tidak adil dan
bahkan keadaan yang menindas.
Sudah saatnya pendidikan karakter tidak hanya sebagai wacana
yang menguap begitu saja, pasalnya sudah berulang kali ganti program
namun output yang dihasilkan masih stagnan tanpa ada perubahan
yang drastis.Apalagi pemerintah dalam konteks ini belum begitu siap
dengan berbagai proses revolusi dibidang teknologi. Perang media
sosial menjadi “musuh” yang harus ditundukkan dengan penuh kesadaran.
Agar generasi tidak jatuh pada kesadaran semu yang menindas. Maka
kaitanya dengan konsep pendidikan yang emansipatoris adalah bagaimana
mampu mengarahkan pada potensi generasi penerus bangsa sesuai
dengan apa yang dimilikinya. Setiap manusia mempunyai kelebihannya
masing-masing. Tatkala sudah mengetahui potensi dirinya maka konsep
emansipatoris ini dapat dikembanghkan pada jiwa generasi yang mampu
“memerdekakan” masyarakat yang lain diluar dari dirinya bahkan di
luar golongannya.
330
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
331
KEEFEKTIFAN PEER SUPPORT UNTUK MENINGKATKAN SELF DISCIPLINE
SISWA SMP
Debora Primawati Widayat
SMP Negeri 27 Malang
Pada masa ini, Indonesia memerlukan banyak generasi penerus yang
memiliki kepribadian tangguh, mampu berelasi secara sosial, memiliki
ketahanan mental yang kuat, dan disiplin diri yang memadai supaya
mampu bertahan menghadapi berbagai macam tantangan dalam era
globalisasi. Kualitas pribadi dan keterampilan-keterampilan tersebut
perlu dimiliki oleh setiap orang, secara khusus para siswa Indonesia.
Disiplin diri ditandai dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan
diri, mengatur dan mengarahkan diri untuk mampu bertahan, serta
mampu mengatasi berbagai masalah dalam kehidupannya.
Kemampuan seperti ini dapat dicapai dengan berbagai upaya yang
harus senantiasa dilatih sejak dini untuk meraih keberhasilan dalam
kehidupannya. Untuk menunjang hal tersebut, diperlukan bimbingan
serta lingkungan yang dapat membuatnya terus melatih diri
meningkatkan kemampuan dalam mengatur diri, mengendalikan diri,
dan mengarahkan dirinya. Disiplin diri, merupakan dasar bagi seseorang
dalam mencapai target-target yang diharapkan. Bagi siswa, disiplin diri
mutlak diperlukan sebagai dasar meraih prestasi belajarnya.
Indonesia memiliki siswa-siswa berprestasi dan memperoleh
penghargaan di mata dunia. Para pelajar SMA yang tergabung dalam
Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) berhasil meraih medali perak
dan perunggu dalam ajang International Olympiad in Informatics (IOI)
pada tahun 2009. Dua siswi Indonesia meraih medali perak dan perunggu
dalam European Girl Mathematical Olympiad (EGMO) di Inggris (Kompas,
2012). Pada tahun 2014, Indonesia memperoleh 7 medali emas dalam
ajang Olimpiade Sains Dunia (Kompas, 2014). Beberapa prestasi besar
para siswa Indonesia tersebut hanyalah sebagian kecil dari prestasi yang
diraih oleh para siswa Indonesia. Masih banyak siswa Indonesia yang
belum mampu meraih prestasi besar bahkan gagal dalam belajarnya.
331
332
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pada tahun 2013, terdapat 24 sekolah dari 15.000 sekolah yang 100
persen siswanya tidak lulus, total siswa yang tidak lulus di Indonesia
sebanyak 8.250 siswa (Kompas, 2013). Hasil pengamatan mengenai
prestasi siswa di SMP Negeri 27 Malang menunjukkan bahwa banyak
siswa yang masih memiliki nilai dibawah KKM, tidak naik kelas, dan
tidak melanjutkan sekolah.Fenomena tersebut memberikan gambaran
bahwa untuk meraih prestasi diperlukan kemampuan siswa untuk
mengatur dirinya, mengikuti tata aturan yang seharusnya diikuti sebagai
seorang pelajar, disiplin dalam belajar, mengendalikan dirinya, dan
berusaha terus mengarahkan diri untuk mencapai target belajarnya.
Ketidaklulusan siswa di atas menggambarkan bahwa disiplin diri
yang dimiliki oleh siswa di Indonesia masih lemah. Kegagalan akademis
seperti contoh di atas merupakan salah satu kontributor dari rendahnya
self discipline. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang
disiplin dirinya rendah, memiliki tingkat intelegensi yang rendah (Sasson,
2012). Hasil penelitian serupa dilakukan oleh Gong (2009) menunjukkan
bahwa siswa yang memiliki self discipline tinggi berkorelasi positif
dengan pengetahuan. Seligman dan Duckworth (2005) dalam
penelitiannya mengenai self discipline yang diukur dengan menggunakan
self report, laporan orang tua, laporan guru, dan hasil tes IQ,
menunjukkan bahwa alasan utama jatuhnya potensi intelektual siswa
karena kegagalan mereka dalam menerapkan disiplin diri.
Self discipline merupakan syarat seorang pelajar untuk mencapai
target belajarnya. Prestasi dalam belajar hanya dapat diraih apabila ada
ketekunan, kemampuan mangatur diri, motivasi yang besar, tanggung
jawab, dan kemampuan siswa dalam mengarahkan diri untuk mencapai
target belajar yang ditetapkan.Individu yang memiliki self discipline
berarti di dalam dirinya terdapat skema yang dijadikan sebagai dasar
untuk mengarahkan, mengatur, serta mengontrol pola pikir dan tingkah
lakunya. Skema ini terbentuk melalui proses kognitif yang panjang.
Pengalaman dan interaksi dengan perilaku orang lain, pola asuh orang
tua (Gunarsa, 2004), nilai-nilai baru, ide-ide baru, reinforcement dari
lingkungan, tujuan, harapan, serta rencana merupakan komposisi dari
skema tersebut (Friedman, 2006). Segala sesuatu yang dialami dan
dirasakan oleh individu akan diobservasi dan diinternalisasi. Nilai yang
cocok akan dijadikan sebagai bagian dari skema tersebut. Bagaimana
membentuk pribadi seorang individu tergantung dengan lingkungan
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
333
dan komposisi dari skema tersebut. Semakin baik nilai-nilai yang terkonsep
dalam diri individu, maka akan semakin baik pula pola pikir dan
perilaku individu tersebut.
Self disciplineadalahkemampuan yang dimiliki oleh individu untuk
mengendalikan diri, mengarahkan diri, dan mengelola diri yang
didasarkan pada keinginan untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban
di dalam kehidupan. Schunk dan Zimmerman (1998) mengemukakan,
bahwa siswa dikatakan memiliki self discipline apabila mereka secara
sistematis dapat mengatur perilaku dan kognitifnya dengan
memperhatikan aturan yang ada, siswa dapat mengontrol diri, dapat
mengintegrasikan pengetahuan, dan pengalaman, melatih dan mengingat
informasi yang diperolehnya, serta mampu mengembangkan dan
mempertahankan nilai-nilai positif belajarnya. Self discipline menurut
Bryant (2008) adalah kesadaran untuk mengarahkan diri (self direction)
dan mengatur diri (self-regulation). Jadi dapat disimpulkan bahwa self
discipline merupakan kesadaran untuk mengatur, mengontrol, dan
mengarahkan diri sendiri secara mandiri agar sesuai dengan nilai-nilai
yang berlaku, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Self discipline adalah bekal yang diperlukan oleh individu pada
setiap aspek kehidupannya. Kemampuan self discipline membantu
individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga
memudahkannya dalam membangun relasi soaial dengan orang lain.
Self discipline juga memberikan keterampilan dan kemampuan pada diri
individu untuk mengatur, mengarahkan, dan mengontrol diri, sehingga
berpengaruh terhadap prestasi akademiknya (Lane, Stanton-Chapman,
Jamison & Philips, 2007). Seorang siswa tidak akan mampu mencapai
prestasi yang optimal apabila ia tidak memiliki self discipline yang baik,
meskipun memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, kepribadian,
lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah yang mendukungnya
(Susanto, 2006). Disiplin diri memiliki pengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Siswa yang memiliki disiplin diri yang baik, secara sadar dapat
mengatur dan mengendalikan dirinya sendiri untuk belajar dengan baik
dan teratur, sehingga dapat menghasilkan prestasi yang baik pula.
Dimilikinya self discipline yang memadai pada diri individu harus
ditanamkan sejak dini dan melalui latihan yang terus-menerus. Self
discipline tidak dapat berkembang dengan sendirinya, namun dipengaruhi
oleh banyak faktor. Dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif agar
334
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
disiplin di dalam diri dapat berkembang. Berdasarkan teori sosial kognitif
Bandura (Feist & Feist, 2011),yang menyatakan bahwa self discipline
ditentukan oleh faktor eksternal dan internal yang memiliki hubungan
timbal balik. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap terbentuknya
self discipline adalah peran serta lingkungan serta pola asuh dalam
keluarga dan sekolah. Bentuk dan pola didikan yang diterima seorang
individu di dalam keluarga menyumbangkan pengaruh terhadap
pembentukan self discipline-nya. Orang tua memegang peranan penting
bagi anak khususnya sebagai cermin dan informasi mengenai diri anak.
Perilaku dan perkataan orang tua juga menjadi sebuah model bagi
anaknya. Saat orang tua mampu menunjukkan perbuatan dan perkataan
yang baik, maka anak akan meniru hal tersebut, begitu pula sebaliknya.
Bagaimana orang tua mengembangkan nilai-nilai di dalam keluarga
akan memberikan pengaruh dan dijadikan sebagai bahan dalam menyusun
konsep dan mengembangkan self discipline. Pola hubungan antara anak
dan orang tua memberikan pengaruh terhadap pola tingkah laku anakanak. Sokol-Katz dan Dunham menyatakan bahwa jenis dan kualitas
hubungan anak dengan orang tua memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap timbulnya kenakalan yang dilakukan anak (Sheehan, 2010).
Sebuah studi di Korea menunjukkan bahwa kenakalan yang dilakukan
oleh remaja lebih terkait dengan disfungsi remajadengan orangtuanya,
hubungan keluarga yang kurang berfungsi, serta tingginya level kekerasan
dalam rumah tangga (Demuth, 2004.)
Sekolah sebagai tempat belajar bagi anak pun memberikan pengaruh
untuk mengembangkan pola pikir dan sikap. Sekolah mendidik siswa
untuk taat pada aturan, menerapkan disiplin, dan memiliki kecakapan
akademik. Pola didikan dan ajaran yang diterapkan sekolah pada siswa
memiliki tujuan menumbuhkan kesadaran pada siswa untuk mampu
memiliki kecakapan diri, baik secara akademik, kepribadian,dapat hidup
secara teratur, terarah, dan mampu mengendalikan diri. Sekolah sebagai
tempat berkumpul dan berinteraksi dengan teman sebaya, guru, dan
orang lain adalah menjadi tempat bagi individu belajar keterampilan
mengatur, mangarahkan, dan mengontrol dirinya sendiri, sehingga pada
akhirnya mampu melakukan penyesuaian sosial dengan tepat. Tujuan
pelatihan self discipline ini adalah untuk membekali siswa supaya
mampu mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam proses belajar dan masa perkembangannya, self discipline perlu
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
335
untuk dimiliki oleh setiap siswa. Self discipline merupakan faktor penting
dalam menunjang siswa memperoleh prestasi yang optimal.
Selain keluarga dan sekolah sebagai faktor pembentuk self discipline, lingkungan budaya juga memiliki pengaruh. Menurut Vygotsky
(1978) anak berkembang dalam lingkungan budaya, bagaimana pola
interaksi dalam lingkungan tersebut akan sangat berpengaruh dalam
membentuk pribadi anak. Kepribadian anak terbentuk karena hasil
belajar. Budaya masyarakat yang juga diikuti oleh orang tua berdampak
pada pola asuhnya. Pendidikan yang diterima anak dari orang tua di
dalam keluarga, serta pendidian yang diterima anak di sekolah dan
masyarakat, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya yang ada.
Mengajar, mendidik, dan mengasuh berarti juga menanamkan nilai-nilai
tertentu pada anak, sehingga nilai budaya dan subkultur akan memberikan
warna terhadap hasil belajar atau perilaku anak termasuk di dalamnya
disiplin diri. Dimilikinya self discipline sejak dini akan membantu
individu dalam mengatur, mengontrol, dan mengarahkan diri serta
kehidupan, sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan.
Nilai-nilai yang diajarkan dan berbagai bentuk pola tingkah laku
yang dilakukan di dalam keluarga, sekolah, lingkungan, dan pengalamanpengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan orang lain,
memberikan sumbangan terhadap pembentukan pola disiplin di dalam
dirinya. Semakin baik nilai dan pola tingkah laku yang dilihat serta
tertanam di dalam diri individu akan membentuk konsep diri yang
positif, sehingga menghasilkan pribadi yang bertanggung jawab, dapat
mengontrol tingkah lakunya, dan dapat mencapai tujuan hidup dengan
lebih mudah. Hal ini berbeda ketika sejak anak-anak mendapatkan
lingkungan dan pengaruh yang buruk, anak-anak akan mengidentifikasi
hal-hal buruk, sehingga apa yang terkonsep di dalam dirinya negative,
dan menghasilkan pola tingkah laku yang negatif pula. Identifikasi
tingkah laku dari lingkungan dan pengalaman yang tersarikan dan
terkonsep membentuk sebuah pola aturan di dalam dirinya, semakin
baik pengalaman dan identifikasi tersebut maka akan semakin kuat pula
self discipline yang terbentuk.Namun semakin buruk dan kacaunya
keadaan dan aturan yang diperolehnya dari lingkungan, maka akan
membentuk konsep diri yang keliru, sehingga self discipline yang
terbentuk di dalam diri siswa menjadi lemah. Hal ini mengakibatkan
munculnya perilaku yang kurang terkontrol bahkan pelanggaran serta
kenakalan remaja.
336
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Self discipline sangat penting dimiliki oleh setiap individu, karena
memberikan kemampuan untuk mencapai tujuan lebih cepat dari yang
kita pikirkan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki
self discipline mampu mencapai prestasi akademik yang tinggi, lebih
fleksibel, kreatif, memiliki tanggung jawab, mandiri, memiliki performa
yang bagus, dan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik
dibandingkan mereka yang tidak memiliki self discipline (Kapeleris,
2010).
Schunk dan Zimmerman (1998) mengemukakan bahwa siswa
dikatakan memiliki self discipline apabila mereka secara sistematis dapat
mengatur perilaku dan kognitifnya dengan memperhatikan aturan yang
ada, siswa dapat mengontrol diri, dapat mengintegrasikan pengetahuan
dan pengalaman, melatih mengingat informasi yang diperolehnya, serta
mampu mengembangkan dan mempertahankan nilai-nilai positif
belajarnya. Siswa yang memiliki pengaturan diri yang baik mampu
mengontrol perilaku, sehingga dapat mengarahkan diri untuk mengambil
keputusan dan tindakan yang sesuai.Hal itu mendukung kesuksesan
dalam membangun komunikasi sosial, menghindarkan dari permusuhan
sosial, dan sukses akademik (Bronson, dalam Lane et al., 2007). Storandt
dan Pearman (2004) dalam penelitiannya mengenai para usia lanjut
menunjukkan, bahwa mereka yang semasa hidupnya memiliki self
discipline yang baik dan membiasakan hidup secara disiplin memiliki
kesadaran dan memori yang baik sampai usia lanjut, sehingga di usianya
yang telah lanjut mereka masih tetap dapat fokus pada pekerjaan atau
kegiatan yang dimiliki (Storant, 2004).
Membentuk self discipline harus dimulai sejak dini dan melalui
latihan yang berkesinambungan. Minimnya self discipline tampak dari
sikap dan perilaku individu sehari-hari yang cenderung tidak sesuai
bahkan dapat mengarah ke arah penyimpangan. Perilaku yang tidak
sesuai tersebut akan muncul dalam berbagai simbol perbuatan negatif
yang dapat terjadi sepanjang rentang hidupnya. Penyimpangan perilaku
dimulai dari kejadian yang ringan seperti buruknya nilai ujian, sering
membolos, tidak naik kelas, tidak lulus ujian, mengganggu teman.
Siswa SMP berada pada tahap perkembangan remaja. Pada tahap
usia remaja, mereka sudah memiliki kemampuan untuk berpikir secara
analitis, mampu membedakan mana perbuatan yang baik dan buruk,
serta mampu mengungkapkan pendapatnya. Di Sekolah Menengah
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
337
Pertama (SMP), para pendidik dan konselor seyogyanya memandang self
discipline siswa sebagai bagian yang sangat penting untuk ditingkatkan
dan dikembangkan, melalui program bimbingan dan konseling. Untuk
mengembangkan self discipline, seorang siswa memerlukan bantuan
dari pihak lain, baik itu orang tua, guru, konselor, hingga teman
sebayanya. Self discipline harus dikembangkan supaya tugas-tugas
perkembangan individu sebagai seorang siswa dapat terpenuhi. Menurut
Havighurst (dalam Monk, dkk, 2002) tugas perkembangan (developmental task) yaitu tugas yang harus dilakukan oleh individu dalam masa
hidup tertentu sesuai dengan norma masyarakat dan norma kebudayaan.
Para siswa memiliki potensi yang dapat dikembangkan, sertamemiliki
kebutuhan materiil dan spiritual yang harus dipenuhi.
Peranan Bimbingan dan Konseling (BK) semakin penting di sekolah,
terutama untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa,
baik kesulitan belajar dan permasalahan pribadi siswa. Siswa yang
mengalami kesulitan perlu memperoleh bimbingan dan motivasi dari
BK. Bimbingan dapat diartiukan sebagai suatu proses pemberian bantuan
kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini sebagau
upaya agar individudapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup
untuk mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, mampu
menyesuaikan diri dengan tuntutandan keadaan lingkungan sekolah,
keluarga, dan masyarakat.
Bimbingan dan konseling di sekolah yang bergerak dalam bidang
human service, harus memberikan bantuan psikologis kepada para
peserta didik agar dapat mengembangkan potensi diri dan mencapai
semua tugas perkembangannya. Self discipline adalah salah satu bagian
dari tugas perkembangan yang perlu mendapatkan perhatian khusus
dari guru dan konselor sekolah, supaya siswa dapat berkembang menjadi
lebih optimal. Penerapan disiplin yang paling tepat bagi remaja adalah
yang bersifat demokratis, artinya penerapan dan pelatihan disiplin diri
dilakukan dengan cara memberikan penjelasan-penjelasan dan pengertian
melalui layanan pembelajaran (fungsi BK). Melalui layanan pembelajaran,
siwa dapat lebih mampu mengarahkan diri, mengendalikan diri, dan
mengatur dirinya secara sadar. Pengertian dan penjelasan yang diberikan
membangun kesadaran siswa untuk mengembangkan kendali dan
keteraturan dalam diri, sehingga memunculkan perilaku yang benar.
338
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dari penjelasan di atas, diperlukan suatu strategi yang tepat untuk
meningkatkan self discipline siswa agar mamiliki kesadaran untuk
mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri. Kesadaran
akan keterampilan tersebut penting dimiliki siswa, agar mampu
menyesuaiakan diri untuk menghadapi tugas-tugas sulit dan tanggung
jawab yang besar. Beberapa teknik bimbingan dapat digunakan dalam
membimbing siswa. Teknik dan strategi tersebut dipilih yang efektif dan
efisien disesuaikan dengan karakteristik siswa. Salah satu teknik yang
dapat digunakan adalah melalui pemanfaatan hubungan dan dukungan
sebaya (peer support).Usaha untuk membuat para siswa sadar tentang
tanggungjawab untuk mencapai cita-cita ini dapat diberikan melalui
dukungan sebaya (peer support). Sejalan dengan perkembangan yang
terjadi pada diri remaja, yaitu perkembangan sosial, yang mana pada
masa ini keterikatan dengan teman sebaya sangat kuat. Oleh karena itu,
penggunaan dukungan sebaya (peer support) diharapkan dapat
membantu menegaskan pentingnya self dicipline bagi para siswa dan
mampu membantu meningkatkan disiplin diri siswa SMP. Dukungan
sebaya (peer support) adalah pemberian bantuan interpersonal yang
diberikan oleh orang-orang non profesional kepada orang lain yang
memerlukan bantuan. Istilah sebaya memiliki arti bahwa seseorang
yang menjalankan tugas membantu adalah seseorang yang memiliki
usia yang kurang lebih sama dengan orang yang dilayani.
Beberapa penelitian mengenai peer support menemukan bahwa
dukungan sebaya (peer support) dapat digunakan untuk mengembangkan
resiliensi remaja (Suwarjo, 2012). Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa
bantuan aktif dari para siswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis
perkembangan dan problem-problem psikologis mereka, program layanan
dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif. Menurut Carr
(1981) konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai
cooperative allies dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai
tindakan yang rasional dan logis.Temuan dari Miller (dalam Frits, 1999)
melaporkan bahwa para siswa yang memanfaatkan layanan dukungan
sebaya (peer support) mampu melakukan identifikasi diri dengan teman
sebaya mereka, serta menganggap bahwa peer counselor memiliki
kemauan membangun jembatan komunikasi.
Tindal dan Grey (1987) memiliki keyakinan bahwa apabila seseorang
memiliki masalah, maka orang pertama yang akan diajaknya berbicara
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
339
adalah teman ataupun kelompok sebaya,sebagian besar orang kemudian
memilih kepada konselor. Pendapat ini juga diperkuat oleh Bramer yang
mengungkapkan bahwa, sebagian besar orang akan mengungkapkan
persoalan kepada teman dekat atau sebayanya daripada kepada orang
yang lebih tua. Hal ini disebabkan karena sesama remaja lebih memahami
lika-liku permasalahan dan lebih cepat untuk memulai kontak. Tindall &
Gray (1985) telah menunjukkan bahwa sebagian besar layanan yang
diberikan melalui peer counseling berhasil.
Sebagaimana Bowman and Myrick (1980) menggambarkan program dukungan sebaya (peer support) pada pelajar kelas 3-6 SD, di
mana siswa sudah dilatih menjadi konselor junior. Semua peer helpers
mengalami peningkatan positif dalam konsep diri ketika dibandingkan
dan dianalisis dari hasil pretest dan posttestnya. Emmert (1977)
menemukan bahwa kelompok siswa yang telah mendapatkan pelatihan
menjadi peer-helper secara statistik berbeda dan lebih tinggi skor
empatinya, dibanding kelompok siswa yang tidak menerima pelatihan.
Dalam studi yang lain, Bell (1977) menggunakan metode perbandingan
antar kelompok untuk menemukan efek dari partisipasi pada program
peer support siswa SMP. Ia menguji apakah terjadi peningkatan konsep
diri dan prestasi akademik pada peer support. Dia menemukan meskipun
peer counselor yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam
self concept. Mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi
dibanding kelompok siswa peer counselor yang tidak bekerja dengan
siswa (Tindall & Gray,1985).
Penelitian lain berkaitan dengan dukungan sebaya (peer support)
dilakukan oleh Muslikah, menunjukkan bahwa bimbingan teman sebaya
dapat mengembangkan sikap negatif terhadap perilaku seks tidak sehat
pada remaja. Melalui kegiatan bimbingan teman sebaya, teman yang
dibantu akan diajak untuk saling berinteraksi baik secara individual
maupun secara kelompok dalam membahas topik tentang seksualitas.
Penelitian ini menggambarkan bahwa dengan dukungan sebaya (peer
support), teman yang dibantu merasa lebih nyaman mengungkapkan
masalahnya tanpa ragu dan takut. Penelitian ini dilakukan pada siswa
kelas X SMA Negeri 12 Semarang. Dalam penelitian Rubin et al (2006),
tentang hubungan interaksi teman sebaya dan kelompok, ditemukan
bahwa anak-anak dan remaja yang sulit berempati dan mengatur diri
sendiri memiliki sedikit interaksi sosial yang positif.Tidak adanya
340
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
kemungkinan ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, secara signifikan
berdampak pada kesejahteraan sosial dan hasil-hasil akademik.
Dalam penerapannya, dukungan sebaya (peer support) memiliki
keunggulan apabila dibandingkan dengan konseling yang dilakukan oleh
konselor profesional. Dukungan sebaya (peer support) dapat membangun
rapport lebih cepat karena adanya hubungan kesederajatan. Disamping
itu, adanya faktor kesamaan pengalaman dan status non profesional yang
dimiliki oleh konselor sebaya menyebabkan mereka lebih diterima oleh
konseli (Sandmeyer dalam Bernardus, 2012). Berdasarkan beberapa
penelitian yang telah diungkapkan diatas, dukungan sebaya (peer support) dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan self
discipline siswa SMP. Melalui dukungan sebaya (peer support), proses
interaksi antara konselor dan kelompok sebaya (konseli) dapat berjalan
lebih efektif. Hal ini dikarenakan usia diantara para peer support sama,
maka proses pelaksanaan dapat berjalan lebih baik, konseli yang dibantu
merasa lebih nyaman dalam mengungkapkan masalahnya tanpa keraguan
ataupun rasa takut. Dengan dinamika dan pengaruh dalam dukungan
sebaya (peer support), individu dapat merumuskan dan memperbaiki
konsep diri, menguji dirinya sendiri, mengevaluasi dirinya. Melalui
dukungan, hasil evaluasi dan penyadaran ini, individu dapat menetapkan
tujuan hidup dengan tepat dan dapat membuat perencanaan dengan baik
untukmencapai kesuksesan ataupun cita-cita yang diharapkan. Melalui
peer support diharapkan dapat membangun perilaku yang potensial
melalui pengorganisasian materi pelajaran secara mandiri. Hal ini
berpengaruh dalam bentuk mencari pertolongan dan memberikan bantuan
selama proses belajar berlangsung, karena jarak psikologis antara subjek
dan peer supporter yang tidak jauh.
Peer support yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
prosedur DBC (Direct Behavioral Consultation). DBC merupakan metode
mengajarkan keterampilan kepada konsulti (peer supporter), yang
memiliki tujuan memberdayakan konsulti melalui konsultasi (Watson &
Robinson, 1996). Para siswa dengan kriteria tertentu dilatih sebagai peer
support bagi siswa lain yang memiliki masalah dengan disiplin dirinya.
Dasar digunakannya DBC adalah teori behavioristik yang memiliki asumsi
bahwa setiap tingkah laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat
diganti dengan tingkah laku baru, dan manusia memiliki potensi untuk
berperilaku baik atau buruk, tepat atau salah (Komalasari, 2011). Manusia
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
341
dipandang sebagai individu yang mampu melakukan refleksi atas tingkah
lakunya sendiri, mengatur serta dapat mengontrol perilakunya, dan
dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi perilaku
orang lain (Walker & Shea, 1998). Berdasarkan teori di atas, pembelajaran
yang bersifat behavioristik dapat diajarkan kepada siapapun termasuk
kepada siswa SMP. Oleh sebab itu, mereka dapat dilatih dan diajari
untuk menjadi penolong dan pendukung bagi rekan sebayanya di
sekolah sebagai peer support.
Mengingat pentingnya self discipline, peran orang tua juga sangat
diperlukan untuk menegaskan proses pembentukan dan pengembangan
self disciplinebaik di rumah maupun di sekolah, sehingga self discipline
siswa dapat meningkat seperti yang diharapkan. Keterlibatan orang tua
akan sangat membantu dalam penegakan upaya pembimbing di sekolah.
Orang tua atau pembimbing yang memberikan kepercayaan kepada
siswa akan membantu siswa merasa yakin bahwa dirinya mampu
mengatur, mengontrol, dan mengarahkan diri sendiri. Rogers (dalam
Feist dan Feist 2006) menyatakan bahwa manusia terlahir dengan
membawa potensi kreativitas untuk memecahkan masalah, mengubah
konsep diri dan mengarahkan diri sendiri, manusia mengevaluasi setiap
pengalamannya, dan menginternalisasi pengalaman yang sesuai dengan
dirinya sebagai bagian dari kepribadian.
METODE
Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen, karena adanya
suatu perlakuan(intervensi) yang diterapkan oleh peneliti kepada subjek.
Penelitian ini menggunakan Time Series Design, yaitu menguji satu
kelompok belajar, mengobservasi perilaku subjek dari waktu ke waktu
dengan langkah-langkah melalui beberapa pretest dan postes atau
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Subjek penelitian ini adalah
siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Malang. Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah equivalent time series, sehingga subjek yang
dipilihdidasarkan pada kelompok yang sudah ada yaitu siswa SMP
Negeri 27 Malang. Dasar yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan
subjek penelitian ini adalah (1) siswa SMP yang berada dalam rentang
usia 12-15 tahun, (2) pada dasarnya siswa SMP kelas VIII belum
memperoleh bimbingan pengembangan self discipline secara khusus,
dan (3) subjek penelitian teridentifikasi memiliki self discipline yang
rendah berdasarkan pengukuran menggunakan skala self discipline.
342
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Penentuan subjek dalam penelitian ini tidak ditentukan secara acak,
namun dilakukan melalui penjaringan dengan menggunakan skala self
discipline. Proses penjaringan subjek dilakukan dengan menggunakan
beberapa tahapan, yaitu: (1) wawancara konselor dan guru (wali kelas),
dari hasil wawancara tersebut ditetapkan kelas mana yang akan diberikan
pretest,(2) kelas yang telah direkomendasikan oleh konselor dan guru
akan diberikan pretest menggunakan skala self discipline untuk
mengetahui siswa yang memiliki skor self discipline tinggi, sedang, dan
rendah, (3) siswa yang memiliki skor self discipline rendah akan
dikumpulkan dan dilakukan wawancara secara mendalam untuk
memastikan kemampuan self discipline siswa dalam kategori rendah,
dan (4) peneliti meminta kesediaan siswa yang terjaring dalam self
discipline kategori rendah untuk mengikuti program hingga selesai.
Untuk meningkatkan self discipline siswa, maka bantuan dari peer
support yang diperlukan. Peer support merupakan kelompok yang
terdiri dari siswa-siswi SMP yang sudah dipilih berdasarkan kriteria dan
pelatihan khusus berjumlah 8–10 orang.Tugasnya adalah mengadakan
pertemuan rutin sesuai jadwal pertemuan yang sudah disepakati/disetujui
untuk berbagi pengalaman, ide, informasi seputar peningkatan self
discipline, apa saja yang menjadi penghambatdan pendukungnya. Tujuan
dari peer supportadalah agar self discipline siswa dapat ditingkatkan
atau dapat memiliki self discipline yang tinggi. Dukungan yang dilakukan
oleh peer supporter akan lebih mudah diterima oleh teman sebaya,
karena remaja memiliki kecenderungan untuk bercerita dan lebih percaya
kepada teman sebayanya.Dalam hubugannya dengan teman sebaya
suasana saling mendukung dapat terbangun karena memiliki pengalaman
dan situasi yang sama (Nankunda, 2006).
Aspek–aspekself discipline yang diukur meliputi (1) kemampuan
mengatur diri (self regulation), yaitu kemampuan untuk mengatur
perilaku dan kognitifnya dengan memperhatikan aturan yang ada,
sehingga mampu mengarahkan diri dalam mengambil keputusan,(2)
kemampuan mengarahkan diri (self directed), yaitu kemampuan
menyalurkan dan mengarahkan setiap keinginan, emosi, dan tindakannya
sendiri untuk mencapai tujuan, dan (3) kemampuan mengontrol diri (self
control), yaitu kemampuan mengatur impuls-impuls, kebiasaan-kebiasaan
dan tingkah laku demi tujuan tertentu. Instrumen penelitian yang
digunakan ialah Skala Self Discipline oleh Widayat (2016) untuk
mengungkap tingkat self discipline siswa SMP.
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
343
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi, posttest, dan pretest adalah tidak
semuasiswa di SMP Negeri 27 Malang memiliki self discipline yang
rendah, tetapi hanya sebagian kecil. Mereka yang memiliki self discipline
rendahharus memperoleh perlakuan (treatment) oleh peer support yang
sudah dipilih dan dilatih. Penelitian ini diawali dengan membentuk peer
support (kelompok pendukung sebaya yang dapat membantu teman
sebayanya meningkatkan self dicipline). Peer support adalah mereka yang
memiliki self discipline yang tinggi (hasil skala self discipline, rekomendasi
wali kelas, BK, dan kesiswaan) dan bertugas untuk memberikan informasi,
pengalaman, dan menawarkan atau memberikan bantuan kepada teman
sebaya (yang self discipline-nya kurang) dalam kondisi saling percaya dan
menghargai. Tujuan pembentukan dan pelatihan peer support adalah
meningkatkan keterampilan peer support, sehingga selain menjadi teman
sebaya juga mampu memberikan berbagai pengalaman tentang usaha
peningkatan self discipline kepada siswa atau teman sebaya lainnya.
Selain itu, memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi konseler
yang berhubungan dengan disiplin dirinya yang rendah, sehingga dapat
teratasi, serta dirumuskan tingkah laku yang baru.
Peer support merupakan kelompok yang terdiri dari siswa-siswi SMP
yang sudah dipilih berdasarkan kriteria dan pelatihan khusus, berjumlah
8–10 orang.Tugasnya adalah mengadakan pertemuan rutin sesuai jadwal
pertemuan yang sudah disepakati/disetujui untuk berbagi pengalaman,
ide, informasi seputar peningkatan self discipline, serta apa saja yang
menjadi penghambat dan pendukungnya. Tujuan dari peer supportadalah
agar self discipline siswa dapat ditingkatkan atau dapat memiliki self
discipline yang tinggi. Dukungan yang dilakukan oleh peer support akan
lebih mudah diterima oleh teman sebaya, karena remaja memiliki
kecenderungan untuk bercerita dan lebih percaya kepada teman
sebayanya. Dalam hubugannya dengan teman sebaya suasana saling
mendukung dapat terbangun,karena memiliki pengalaman dan situasi
yang sama (Nankunda, 2006).
Pemberian bantuan diawali dengan melakukan observasi terhadap
siswa yang bermasalah dengan self discipline-nya. Siswa yang memiliki
masalah dengan self discipline-nya dikumpulkan dan diberi skala self
discipline, diambil 10 siswa yang memiliki self discipline rendah. 10
siswa yang bermasalah (konselee) akan dipasangkan dengan 10 peer
344
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
support, peer support bertugas membantu konselee selama proses treatment, tugas peer support meliputi membuat laporan kemajuan konselee
dan berkonsultasi dengan konselor terkait dengan kemajuan konselee.
KESIMPULAN
Penelitian yang dilakukan ini sedang berada dalam proses treatment
untuk melihat sejauh mana keefektifan peer support dalam meningkatkan
self discipline siswa SMP. Saran penelitian ini meliputi (1) bagi konselor,
hasil dan temuan pada penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi
untuk membantu para konselor dalam memperbaiki dan mengembangkan
layanan di sekolah, (2) bagi sekolah, penelitian diharapkan dapat
digunakan sebagai informasi untuk meningkatkan self discipline siswa
melalui pemanfaatan layanan BK dan peer support; (3) bagi siswa, peer
support dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk mengembangkan self
discipline, sehingga siswa sekolah menengah pertama (SMP) dapat
mencapai tugas perkembangannya yang optimal, (4) bagi penelitian
lanjut, data dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian
awal untuk mengembangkan penelitian lanjutan pada lingkup yang
lebih luas berkenaan dengan aspek self discipline.
DAFTAR PUSTAKA
Bell, Michele. 1997. Building Moral Intelligence: The Seven Essential
Virtues That Teach Kids to Do The Right Things. Pennsylvania:
Pennsylvania University Press AS.
Brown, Martha. 1980. Recognizing and Supporting the Development of
Self-Regulation in Young Childern. (Online) www.naeyc.org/resources/
journal, diakses 1 Agustus 2014.
Bryant, R.D. 2008. Self-Discipline in 10 Days: How to go From Thinking to
Do. Seattle Washington: Human Understanding and Behavior
Publishing.
Carter, T. D. 2005. Peer Counseling: Roles, Functions, Boundaries. ILRU
Program. (Online) http://www.peercounseling.com, diakses 12 Maret
2014.
Carr, Barbara. 1981. The Bully, The Bullied, and The Bystander: from
Preschool to High School.New York: Harper Collins Publisher.
Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa SMP
345
Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:
Refika Aditama.
Demuth, Brown. 2004. Family Structure, Family Process, and Adolescent
Deliquency: The Significance of Parental Absence Versus Parental
Gender. Journal of Research In Crime and Deliquency. 41 (1): 345-355.
Feist, Jess and Gregory Feist. 2006. Heories of Personality. Amerika: Mc.
Graw Hill.
Friedman, Howard Schustack. 2006. Personality: Classic Theories and
Modern Research. New Jersey: Pearson Publication.
Gong, W.S. 2009. Preschool and Child Care Expulsion and Suspension: Rates
and Predictors in One State.Journal Infants and Young Childern. 19
(3): 228-245.
Gunarsa, Singgih D. 2004. Psikologi Perkembangan dari Anak sampai Usia
Lanjut. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Kapeleris, J. 2010. The Power of Self Discipline: Action, Personal Development, Self-Discipline.(Online) http://johnkapeleris.com/blog/
?p=332,diakses 17 April 2014.
Lane, K., Stanton-Chapman, and T., Jamison, K., 2007. Teacher and Parent
Expectations of Preschoolers Behaviors: SocialSkills Necesarry for
Success. San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc.
Schunk, C. 1998. Cara Efektif Mendidik dan Mendisiplinkan Anak.
Terjemahan T. Sirait. Jakarta: Mitra Utama.
Sheehan, Hillary. 2010. The “Broken Home” or Broken Society A Sosiologycal
Study of Family Structure and Juvenile Deliquency. California: Social
Science Department College.
Susanto, H. 2006. Mengembangkan Kemampuan Self-Discipline untuk
Meningkatkan Keberhasilan kademik Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur.
7 (5): 219-228.
Vygotsky, L. 1978. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Process. Cambrige: Harvard University Press.
Widayati, Wahyuningsih. 2015. Pelatihan dan Implementasi Konselor PeerSupport Berbasis Masyarakat pada Kelompok Pendukung ASI Ekslusif.
Jurnal SEMAR, 4 (1):211-219.
Widodo, Bernardus. 2012. Perilaku Disiplin Siswa Ditinjau dari Aspek
Pengendalian Diri (Self Control) dan Keterbukaan Diri (Self Disclosure)
pada Siswa SMK Wonoasri Caruban Kabupaten Madiun. Jurnal Widya
Warta,35 (1): 91-101.
346
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Walker, Daniel. 1998. Training Children in Self-Discipline and Self Control.
USA: The Prentice-Hall.
Watson, D. 1996. The Psychology of Winning. Victoria: Brolga Publising
Pty. Ltd.
Zimmerman, B.J. 1998. An Educator with Passion for Developing SelfRegulation of Learning ThroughSocial Learning. New York: Baruch
College.
Keutamaan Karakter Religi
347
KEUTAMAAN KARAKTER RELIGI
Dwi Utami
SMP Brawijaya Smart School Malang
“Benteng utama untuk dapat cerdas dan selektif menghadapi
kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah dengan
pemantapan karakter religi pada aktivitas pendidikan”
Indonesia saat inisedang gencar menerapkan sistem pendidikan
karakter, guna mendidik generasi penerus bangsa menjadi manusia yang
berkarakter. Pendidikan karakter dilaksanakan dengan menanamkan nilainilai karakter pada setiap matapelajaran maupun matakuliah yang
diajarkan oleh semua instansi pendidikan. Menurut Kementrian
Pendidikan Nasional (2010) terdapat 18 nilai karakter yang dapat
ditanamkan dalam pendidikan karakter, salah satunya adalah religius.
Menurut Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah(dalam Suparlan, 2010) karakter adalah cara berpikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat
membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan akibat dari
keputusan yang dibuat. Lebih lanjut, Suparlan (2010) menjelaskan bahwa
pendidikan karakter merupakan usaha sengaja atau sadar untuk
mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusian yang baik secara
objektif.Bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik
untuk masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, proses pendidikan
karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu
harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang
sifatnya terjadi secara kebetulan.
Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing
religion, sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau
kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia.Religius
berasal dari kata religious yang berarti sifat religi yang melekat pada
diri seseorang (Thontowi, 2012). Religius sebagai salah satu nilai karakter
347
348
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dideskripsikan oleh Suparlan (2010) sebagai sikap dan perilaku yang
patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam
menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral.Dalam hal ini, siswa
diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan
buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama.
Pembentukan karakter religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh
komponen stakeholder pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan
serta, termasuk orang tua dari siswa itu sendiri. Aspek yang dapat
dikembangkan pada dunia pendidikan saat ini adalah adanya nilai–nilai
plus pendidikan akademis yang mereka miliki dengan aktivitas berbasis
religi.Sebagaimana yang sudah banyak dilakukan oleh sekolah–sekolah
di kota besar di Indonesia saat ini. Dengan menyusun kegiatan
pembelajaran yang berbasis religi melalui rencana pembelajaran,
kemudian melaksanakan aktivitas nyata berbasis religi sebagai berikut.
1.
Dengan menyelenggarakan saolat duha berjamaah sebelum memulai
aktivitas pembeljaaran akademis sebagai salah satu pembiasaan pada
diri siswa. Dengan pembiasaan salat duha berjamaah diharapkan saat
menerima materi pembelajaran, siswa dalam keadaan telah bersuci
dan berdoa pada waktu yang afdhol untuk berdoa.
Sebagaimana hadits berikut ini “Wahai anak Adam, janganlah engkau
merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya
Aku (Allah) akan mencukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).
2.
Mewajibkan mengikuti salat berjamaah pada zuhur dan asar. Aktivitas
ini memberikan pembiasaan salat tepat pada waktunya dan akan
membawa dampak pembiasaan tepat waktu dalam menyelesaikan
kewajiban mengerjakan tugas akademis.
3.
Menyelanggaran pembelajaran Al-Quran yang dikenal dengan Smart
Al-Quran sebagai salah satu bagian kurikulum internal sekolah. Dengan
demikian, siswa lebih mudah menghafal materi pembelajaran, apabila
telah dibiasakan membaca Al-Quran bahkan berupaya untuk
menghafal.
4.
Mengadakan peringatan hari besar agama, kegiatan tersebut tidak
hanya sekedar seremonial. Akan tetapi,diharapkan adanya praktek
langsung sehingga betul–betul memberikan pengalaman belajar pada
siswa.
Keutamaan Karakter Religi
349
Keempat aspek tersebut adalah pengembangan religi pada
siswamuslim.Sudah seharusnya ada kegiatan sepadan yang harus dilakukan
oleh yang non muslim, mislakan adanya kajian Bible pada jam yang
bersamaan dengan siswa muslim belajar Al-Quran, adanya kegiatan
ritmis bagi siswa Nasrani yang dilakukan pada saat yang muslim pondok
ramadan.
Uraian di atas adalah aktivitas disekolah dalam pengembangan
karakter religi.Namun, kegiatan tersebut tidak terlepas dari kerjasama
yang baik dengan orangtua dalam peningkatan karakter religi dirumah.
Hal ini dikarenakan bagaimanapun waktu yang lebih banyak adalah di
rumah, serta agen sosialisasi karakter yang paling utama adalah
keluarga.Inilah pentingnya karakter religi yang menjadi kunci utama
dalam pembentukan karakter peserta didik, sehingga dapat dengan
mudah menyesuaikan diri pada segala tantangan zaman.Utamanya di
era globalisasi yang menuntut generasi Indonesia dapat berjuang melawan
tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Intinya pelajar
Indonesia saat ini harus dipertebal karakter religinya, sehingga mampu
menghadapi kecanggihan teknologi, berpikir kritis, dan selektif menyikapi
suguhan–suguhan atau tampilan IT yang semakin canggih.
DAFTAR RUJUKAN
Elearning Pendidikan. 2011. Membangun Karakter Religius Pada Siswa
Sekolah Dasar. (Online), (http://www.elearningpendidikan.com), diakses
23 November 2016.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan Karakter. (Online), (http:/
/www.perpustakaan.kemdiknas.go.id), diakses 23 November 2016.
Suparlan. 2010. Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah dan Apa yang
Harus Kita Lakukan. (Online), (http://www.suparlan.com), diakses 23
November 2016.
Thontowi, A. 2012. Hakekat Religiusitas. (Online), (http://
www.sumsel.kemenag.go.id), diakses 23 November 2016.
350
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pengaruh Implementasi Pendidikan Karakter terhadap Tingkat Moralitas .........
351
PENGARUH IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP TINGKAT
MORALITAS PESERTA DIDIK DI DAERAH MIGRASI KOTA SURABAYA UTARA
Ichmi Yani Arinda Rohmah
SMP PGRI 6 Surabaya
Pendidikan dalam definisi Emile Durkheim yaitu sebagai proses yang
ditempuh oleh setiap individu yang memiliki tujuan untuk memperoleh
bimbingan untuk mengembangkan kualitas secara fisik, intelektual, dan
moral yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat (Ritzer, 2014:
180-181). Tujuan pendidikan untuk memperoleh pengembangan kualitas
fisik dalam hal ini sebagai pemenuhan kebutuhan secara jasmani atau
raga individu. Selain itu, pendidikan juga dapat meningkatakan
keintelektualan, memperoleh alat-alat moral yang membentuk karakter
dan sikap tiap individu untuk menjalani kehidupan di dalam masyarakat.
Durkheim berargumen bahwa pendidikan harus memiliki tujuan
secara nyata untuk membantu anak-anak mengembangkan suatu sikap
moral terhadap masyarakat. Dia percaya bahwa lembaga sekolah
merupakan satu-satunya lembaga yang dinilai paling efektif yang dapat
memberikan suatu fondasi sosial bagi moralitas modern (Ritzer, 2014:181).
Ungkapan Emile Durkheim setara dengan tujuan penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia sebagaimana tersebut dalam Undang-undang
No. 20 tahun 2003 Bab I Pasal I yang berbunyi: “Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.
Berdasarkan definisi Durkheim dan UU Republik Indonesia No. 20
tahun 2003, menegaskan bahwa salah satu tujuan dari diselenggarakannya
pendidikan yaitu untuk membentuk moral atau karakter dalam diri
peserta didik. Kemudian di Indonesia berlandaskan UU No. 20 tahun
2003 dikembangkan pendidikan karakter yang terdiri dari 18 karakter.18
karakter dalam pendidikan karakter di Indonesia yaitu karakter religius,
351
352
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,
peduli sosial, dan tanggung jawab.
Pendidikan moral atau pendidikan karakter sebagaimana dirumuskan
dalam pendidikan nasional sangat perlu untuk diimplementasikan.
Lembaga sekolah merupakan salah satu lembaga yang memiliki kewajiban
sekaligus kewenangan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter
atau pendidikan moral tersebut. Pendidikan karakter dapat
diselenggarakan melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran terutama di
dalam kelas, namun juga dapat dilaksanakan di luar kelas.
Bagi Durkheim, ruang kelas yang digunakan dalam proses
pembelajaran merupakan masyarakat kecil yang memiliki semangat
tinggi kolektifnya.Selain itu, dapat dibuat cukup kuat untuk menanamkan
sikap moral. Ruang kelas dapat memberikan lingkungan pergaulan
kolektif yang diperlukan untuk menghasilkan kembali representasirepresentasi kolektif (Ritzer, 2014: 181).
Melihat realitas sosial yang ada, moralitas masyarakat di Indonesia
di era modernisasi dan globalisasi dapat dinilai menurun terutama di
kalangan generasi muda. Penurunan moralitas generasi muda dapat
dilihat dari banyaknya perilaku penyimpangan moral (anmoral) yang
terjadi di Indonesia. Perilaku anmoral seperti tawuran pelajar, penggunaan
narkoba di kalangan pelajar, pemerkosaan, pencurian, dan masih banyak
tindak anmoral yang terjadi.
Berbicara tentang moral, Durkheim membagi tiga elemen yang
terdapat dalam moralitas. Pertama, moralitas meliputi disiplin yaitu
suatu perasaan akan otoritas yang melawan dorongan-dorongan hati
yangbersifat idiosinkritik. Kedua, moralitas meliputi kelekatan kepada
masyarakat karena masyarakat adalah sumber moralitas. Ketiga, moralitas
meliputi otonomi yaitu suatu perasaan akan tanggung jawab individual
atas tindakan-tindakan kita (Ritzer, 2014:180). Ketiga elemen moralitas
tersebut menurut Durkheim dapat dihadirkan dan diproduksi melalui
lembaga pendidikan.
Pembahasan dalam artikel mengambil objek pembahasan tingkat
moralitas pada para remaja di daerah imigrasi Kota Surabaya utara
dengan mengambil sampel di SMP PGRI 6 Surabaya. Sebagaimana
informasi yang peneliti dapatkan bahwa wilayah Kota Surabaya bagian
Pengaruh Implementasi Pendidikan Karakter terhadap Tingkat Moralitas .........
353
utara banyak pendatang dari beberapa daerah, terutama pendatang dari
Madura.Kondisi daerah migrasi Surabaya utara yang termasuk wilayah
pinggiran secara geografisnya tentu memberikan dampak salah satunya
pada psikis masyarakat. Akibatnya, kondisi lingkungan yang memiliki
kultur campuran dari suku yang berbeda membentuk karakter masyarakat.
Masyarakat di daerah tersebut tidak hanya usia tua, tetapi juga muda
rentan terpengaruh dengan adanya tindakan amoral. Hal tersebut dapat
dilihat dari hasil pengamatan sehari-hari pergaulan para remaja atau
peserta didik di sekolah.
Adanya pendidikan karakter yang telah diterapkan oleh pihak sekolah
sedikit banyak memberikan pengaruh dalam pembentukan moral atau
karakter peserta didik. Perihal yang menjadi menarik pada pembahasan
kali ini, yaitu pengaruh implementasi pendidikan karakter terhadap
penilaian moral peserta didik yang memiliki latar belakang keluarga
pinggiran dan migran.
PEMBAHASAN
Wilayah Kota Surabaya bagian utara merupakan wiayah yang
mayoritas penduduknya berasal dari Madura. Penduduk yang melakukan
migrasi ke Surabaya bagian utara memiliki beberapa tujuan. Diantara
beberapa tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh
fasilitas pendidikan, kesehatan, dan rekreasi yang jauh lebih lengkap
dibandingkan daerah asal.
Penduduk yang melakukan migrasi ke Kota Surabaya bagian utara
cenderung membawa sejumlah anggota keluarga yang tidak sedikit
jumlahnya. Bahkan terdapat beberapa penduduk pendatang yang merubah
Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai penduduk Surabaya. Para remaja
yang terlahir di Surabaya bagian utara khususnya yang menjadi peserta
didik di SMP PGRI 6 Surabaya memiliki latar belakang keluarga Madura,
meskipun kebanyakan dari peserta didik dilahirkan di Kota Surabaya.
Lingkungan sangat memberikan pengaruh yang fundamental bagi
pembentukkan karakteristik seseorang. Apalagi bagi seorang anak usia
muda yang memiliki karakter yang rentan untuk terpengaruh oleh
perihal positif maupun negatif lingkungan. Perlu adanya kewaspadaan
dengan memberikan pengawasan kepada para generasi muda oleh
generasi tua, supaya generasi muda yang akan datang memiliki moral
yang sesuai dengan yang diinginkan.
354
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Lembaga sekolah formal merupakan salah satu lembaga yang ada di
dalam masyarakat yang memiliki peran yang sangat penting untuk
mendidik anak. Lembaga sekolah tidak hanya mengajarkan pelajaranpelajaran umum seperti IPA, IPS, Matematika, Olahraga. Namun, di lain
sisi, lembaga sekolah formal juga memiliki kewajiban untuk mendidikan
peserta didik untuk mencapai nilai moralitas yang baik.Salah satu upaya
yang dilakukan oleh pemerintah melalui pendidikan formal di Indonesia, pemerintah mulai mencanangkan pendidikan yang berkarakter.
Pendidikan karakter merupakan langkah awal yang dapat dilakukan oleh
pihak sekolah sebagai pondasi membentuk karakter peserta didik.
Seseorang dikatakan berkarakter atau berwatak terpuji jika telah
berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang ada dalam masyarakat
sebagai kekuatan moral dalam hidupnya (Zuriah, 2008:19). Kekuatan
moral yang dimaksudkan adalah sebagai bentuk untuk mengupayakan
diri agar tidak menyalahi nilai-nilai dan norma-norma yang telah
disepakati
untuk
dijadikan
pedoman
hidup
dalam
bermasyarakat.Pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada sembilan
pilar karakter dasar, antara lain: (1) cinta kepada Allah dan semesta
beserta isinya; (2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; (3) jujur; (4)
hormat dan santun; (5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama; (6) percaya
diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan
kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi, cinta damai,
dan persatuan (Zubaedi, 2011:72).
Pendidikan karakter yang telah dilaksanakan di sekolah formal SMP
PGRI 6 Surabaya memiliki keunikan tersendiri. Pendidikan karakter yang
diimplementasikan diintegrasikan dengan nilai-nilai agama yang dianut
peserta didik, sehingga seringkali di SMP PGRI 6 Surabaya terdapat
kegiatan-kegiatan yang bernuansa religius.Beberapa kegiatan religius
yang sebagai bentuk pelaksanaan pendidikan berkarakter, yaitu
diantaranya peserta didik setiap pagi diwajibkan melaksanakan mengaji
bersama di halaman sekolah, ber-istighosah atau membaca bacaanbacaan sholawat, melakukan kegiatan keagamaan setiap kali peringatan
hari-hari khusus dalam ajaran agama Islam. Hal ini dikarenakan peserta
didik di SMP PGRI 6 Surabaya semua Islam.
Pelaksanaan pendidikan karakter pada peserta didik SMP PGRI 6
Surabaya juga melibatkan orang tua peserta didik dan masyarakat di
sekitar sekolah. Peran orang tua peserta didik lebih dominasi di rumah.
Pengaruh Implementasi Pendidikan Karakter terhadap Tingkat Moralitas .........
355
Dalam hal ini, pihak sekolah selalu memberikan monitoring kepada
orang tua peserta didik dalam memberikan pengawasan dan pendidikan
keluarga kepada peserta didik. Kerja sama dengan masyarakat di sekitar
sekolah, yaitu juga sebagai pengontrol perilaku atau sikap peserta didik
ketika berada di luar sekolah.Meskipun latar belakang orang tua peserta
didik SMP PGRI 6 Surabaya 90% penduduk migran dari Madura yang
bertempat tinggal di kawasan pinggiran Kota Surabaya utara, orang tua
peserta didik masih dapat diajak untuk bekerjasama dengan pihak
sekolah untuk memberikan pengawasan pada peserta didik. Latar belakang
peserta didik yang berasal dari keluarga Madura yang memiliki tingkat
religiusitas yang cukup baik, ternyata memberikan dorongan untuk
terlaksananya pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan nilai
keagamaan. Hal tersebut karena penduduk di Madura mayoritas memiliki
prinsip untuk mendidik putra-putrinya yang pertama tentang penanaman
nilai religiusitas.
Faktor penghambat terlaksananya pendidikan karakter di lingkungan
peserta didik yaitu adanya perkembangan teknologi informasi. Dapat
dinilai bahwa mayoritas semua peserta didik di Indonesia mulai tingkat
Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas memiliki sifat
ketergantungan dengan teknologi, terutama handphone.Adanya
kemajuan teknologi informasi selain memberikan dampak positif ternyata
juga memberikan dampak negatif pada peserta didik. Oleh karena itu,
pihak sekolah SMP PGRI 6 Surabaya selalu menghimbau pada peserta
didik untuk tidak ketergantungan dengan alat komunikasi jenis
handphone, sehingga peserta didik setiap datang ke sekolah dilarang
membawa HP.
Hasil implementasi pendidikan karakter di SMP PGRI 6 Surabaya
yang memiliki sejumlah peserta didik 90% berlatar belakang masyarakat
migran yang tinggal di daerah pinggiran Kota Surabaya bagian utara
memiliki hasil yang cukup bagus. Hal tersebut sesuai dengan penilaian
guru konseling dan pendamping peserta didik yang menilai hampir
tidak ada peserta didik yang melakukan tidakan amoral.
Disamping pendidikan karakter yang diimplementasikan dengan
berbagai inovasi atau cara baru yang dilakukan oleh pihak lembaga
pendidikan. Usaha untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di
daerah-daerah juga perlu diperhatikan. Salah satunya peningkatan kualitas
guru yang sebagai sumber utama peserta didik mendapatkan ilmu
356
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
pengetahuan utama (Syafi’I, 2006:4). Sekaligus guru sebagai sosok yang
menjadi cermin bagi peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan karakter
tidak hanya mengupayakan pembentukan karakter yang terpuji pada
peserta didik, namun juga mendorong karakter guru yang harus patut
untuk dipercontohkan kepada peserta didik.
PENUTUP
Pendidikan memberikan kesempatan bagi para civitas akademik
untuk melakukan bimbingan selain pada mata pelajaran umum yang
harus dikuasai, tapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang baik
pada peserta didik. Adanya inovasi-inovasi baru yang dapat dilakukan
oleh lembaga sekolah formal utamanya, dapat memudahkan untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter pada peserta didik di sekolah.
Karakteristik peserta didik terbentuk dengan tidak sendirinya, tetapi
terdapat faktor-faktor di luar diri peserta didik yang membentuk karakternya.
Seperti lingkungan di sekitar, pengaruh teknologi informasi, dan lain
sebagainya,sehingga dalam hal tersebut perlu adanya pengawasan yang
dilakukan oleh beberapa pihak untuk mengawasi perilaku peserta didik.
Pihak-pihak di luar sekolah termasuk orang tua peserta didik dan masyarakat
pada umumnya. Adanya sinergisitas dan ide inovasi baru yang dikerahkan
dalam pengimplementasian pendidikan karakter akan memberikan buah
hasil yang baik. Peserta didik terhindar dari tindakan-tindakan amoral yang
dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, mari bersama-sama baik dari civitas akademik dan
masyarakat luas memanfaatkan dengan baik pendidikan di Indonesia
sebagai wadah pembentukan karakter yang terpuji bagi para generasi
muda. Jangan ada yang saling menyalahkan jika terdapat tindak amoral,
apabila yang menyalahkan tidak ikut berupaya untuk memberikan didikan
dan pengawasan pada generasi muda sekarang untuk mematuhi normanorma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian, akan terbentuk
karakter generasi muda yang memiliki nilai moralitas yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Ritzer, George. 2014. TeoriSosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syafi’I, Muzammil. 2006. Memacu Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan.
Malang: Pustaka Kayutangan.
Pengaruh Implementasi Pendidikan Karakter terhadap Tingkat Moralitas .........
357
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana.
Zuriah, Nurul. 2008. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
Tilaar, H.A.R. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Asdi
Mahasatya.
358
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
359
MEMBANGUN GENERASI MUDA YANG BERKARAKTER ISLAM
MELALUI PEMBELAJARAN
Intan Ayu Sari Dewi
Pengamat Pendidikan/ Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Bangsa kita yaitu bangsa Indonesia terkenal dengan karakter
ketimurannya. Karakter ketimuran merupakan watak budaya bangsa
bukan hanya sekedar slogan semata, karakter bukan merupakan suatu
bawaan melainkan suatu sikap atau sifat yang memang harus diubah
menuju yang terbaik. Karakter yang terbaik tumbuh dari manusia yang
berkualitas. Jika kekayaan sirna, maka sesungguhnya tidak ada yang
hilang karena karakter mengutamakan kekayaan budi pekerti. Jika
kesehatan yang hilang, maka sesuatu telah hilang karena suatu karakter
memerlukan kesehatan jiwa dan raga yang ada pada diri individu. Jika
karakter yang hilang, maka segalanya telah hilang karena karakter
merupakan suatu roh dalam kehidupan. Manusia yang memiliki kualitas
terbaik merupakan manusia berkarakter yang dalam filsafat pendidikan
mencakup ideografis dan dimensi nomotetis. Individu yang ideografis
memiliki kemampuan yang memanfaatkan rambu–rambu nomotetis,
yaitu norma kebangsaan.
Bung Karno mengatakan bahwa karakter merupakan salah satu
pendukung utama dalam pembangunan bangsa. Bangsa Indonesia harus
dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building), karakter inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang
besar, maju, dan jaya serta bermartabat (Soedarsono, 2009). Jika character
building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa
Kuli. Dalam Perspektif filosofis dikatakan bahwa education without character, this is sins the basis for misery in the world, the essence of
education is to recognize truth. Let your secular education go hand in
hand with spiritual education (Sathya, 2002). Karakter bangsa tercermin
dari kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, antara lain adalah
kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan prilaku berbangsa dan bernegara
sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah karsa.
359
360
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Islam sangat mementingkan pendidikan, dengan pendidikan yang benar
dan berkualitas, generasi muda yang beradab akan terbentuk yang akhirnya
memunculkan kehidupan sosial yang berakhlak. Sayangnya, sekalipun institusiinstitusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusiinstitusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang memiliki
akhlak mulia. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada
terbentuknya manusia yang berakhlak mulia, terabaikan dalam tujuan
institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya peserta didik supaya
hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual, dan akhlakulkarimah seperti
terabaikan (Syarif dan Ainiyah, 2013).
Suatu karakter dikembangkan melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak dini atau anak–anak melalui
pendidikan formal, informal, dan non formal, tujuannya adalah untuk
mendorong lahirnya generasi muda yang terbaik, tumbuh dengan
kapasitas dan komitmen untuk menjadi generasi muda yang memiliki
tujuan hidup yang jelas. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya
dalam membangun dan membentuk pola pikir, yang jika tidak dilakukan
dengan terencana dan sungguh–sungguh maka akan pupus ditengah
jalan. Jika pendidikan karakter berhasil diterapkan dalam suatu lembaga
pendidikan, maka akan menghasilkan generasi muda yaitu generasi
yang memiliki delapan belas sifat dari pendidikan karakter. Pendidikan
karakter salah satu pendidikan yang mengembangkan nilai–nilai budaya
dan karakter bangsa pada diri generasi muda, sehingga memiliki nilai
dan karakter dalam pribadinya.
Dalam kondisi saat ini, karakter hanya sebatas wacana (Sukidi, 2005),
karakter generasi dididik dalam perspektif nomotetis dan ideografis
dengan tujuan untuk melahirkan keempat dimensi karakter, keempat
dimensi tersebut meliputi dimensi sikap positif, pola pikir esensial,
komitmen normatif, dan kompetensi abilitas berlandaskan IESQ. Kerangka
berpikir dalam menciptakan pendidikan karakter adalah bahwa setiap
ilmu pengetahuan atau mata pelajaran tidak dapat bebas nilai atau
tidak dapat berdiri sendiri.
Pelajaran matematika dapat dimasukkan pada pendidikan karakter
oleh seorang pendidik ketika ia menjelaskan materi pembelajaran yang
terkait geometri bangun datar. Dalam hal ini, seorang pendidik mencoba
mengajak peserta didik untuk mengenal bilangan pecahan dari bilangan
pecahan setengah, sepertiga, seperempat dan seterusnya. Apa yang
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
361
terjadi apabila suatu bilangan dipangkatkan? Makin tinggi pangkatnya,
dua, tiga dan seterusnya, maka makin kecil nilainya yaitu menjadi
seperempat, seperdelapan, seperenambelas, dan seterusnya. Kita
bandingkan dengan bilangan bulat yang dipangkatkan, semakin tinggi
pangkatnya maka semakin besar nilainya. Apa makna dari pernyataan
berikut? Dalam proses pembelajaran, seorang pendidik dapat mengatakan
kepada peserta didik bahwa kepribadian seseorang jika belum utuh dan
diberi pangkat setinggi apapun, maka akan mengecil kedudukan orang
yang diberi pangkat tersebut. Dengan kata lain, seorang pendidik harus
memotivasi peserta didik dengan mengatakan lebih baik membangun
keutuhan kepribadian terlebih dahulu dengan karakter–karakter yang
baik dan terpuji, baru kemudian kita dapat mengejar pangkat. Bukan
sebaliknya, mengejar pangkat tanpa dilandasi karakter yang kuat.
Pemaparan diatas merupakan salah satu contoh yang dapat
disampaikan oleh pendidik untuk memotivasi peserta didik dalam proses
pembelajaran yang berkaitan dengan bilangan pecahan. Dari proses
pembelajaranlah seorang pendidik dapat berupaya terus menerus
menerapkan pendidikan karakter, sehingga menciptakan generasi muda
untuk Indonesia.
Pendidikan Karakter di Indonesia
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat
Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita
permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi
dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat
kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya
nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya
kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi
bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan
Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025).
Masa depan suatu bangsa bukanlah sebuah tempat yang akan
dituju, melainkan sebuah tempat yang akan dibangun. Lintasan untuk
menuju ketempat tersebut harus dibuat bukan ditemukan. Sebuah
karakter menentukan kualitas hidup masa depan, artinya efektivitas
dalam menghadapi tantangan masa depan suatu bangsa, membutuhkan
karakter yang baik. Karakter generasi muda merupakan kekuatan utama
membangun masa depan bangsa.
362
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Harus diakui bahwa sorotan terhadap karakter bangsa saat ini telah
semakin mengemuka.Pemerintah semakin gencar mengkampenyekan
pendidikan karakter di sekolah setidaknya dapat merubah tingkah laku
pelajar agar bertata krama yang lebih baik, mempunyai budi pekerti
yang luhur dari sebelumnya.Sorotan itu tidak terlepas dari fenomena
globalisasi saat ini, sebuah kondisi dimana mau tidak mau atau suka
tidak suka, kita harus memberikan peluang dan akses yang sama kepada
segala pihak, termasuk pihak asing, untuk ikut terlibat dalam berbagai
percaturan nasional maupun regional di berbagai bidang, berikut segala
konsekuensinya.
Tampaknya tidak berlebihan jika bangsa Indonesia selama ini
digambarkan sebagai bangsa yang mengalami penurunan kualitas pada
pendidikan karakter bangsa. Mulai dari masalah gontok-gontokan, kurang
kerja sama, lebih suka mementingkan diri sendiri, golongan atau partai,
sampai kepada bangsa yang sarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Persoalan ini muncul karena lunturnya nilai-nilai karakter bangsa yang
diakui kebenarannya secara universal.Karakter bangsa yang dimaksudkan
adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan,
kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir yang dimiliki oleh
sekelompok manusia yang mau bersatu, merasa dirinya bersatu, memiliki
kesamaan nasib, asal, keturunan, bahasa, adat dan sejarah bangsa.
Sekurang-kurangnya ada 17 nilai karakter bangsa yang diharapkan dapat
dibangun oleh bangsa Indonesia. Adapun nilai-nilai karakter bangsa
yang dimaksud adalah iman, taqwa, berakhlak mulia, berilmu/berkeahlian,
jujur, disiplin, demokratis, adil, bertanggung jawab, cinta tanah air,
orientasi pada keunggulan, gotong-royong, sehat, mandiri, kreatif,
menghargai, dan cakap.2
Pembangunan karakter bangsa adalah upaya sadar untuk
memperbaiki, meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat
istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran bangsa
Indonesia.3Keinginan menjadi bangsa yang berkarakter sesungguhnya
sudah lama tertanam pada bangsa Indonesia. Para pendiri negara
menuangkan keinginan itu dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2
dengan pernyataan yang tegas,“…mengantarkan rakyat Indonesia ke
depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Para pendiri negara menyadari
bahwa hanya dengan menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat,
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
363
adil, dan makmurlah bangsa Indonesia menjadi bermartabat dan
dihormati bangsa-bangsa lain. Semangat untuk menjadi bangsa yang
berkarakter ditegaskan oleh Soekarno dengan mencanangkan nation
and character building dalam rangka membangun dan mengembangkan
karakter bangsa Indonesia guna mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu
masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Secara spesifik
Soekarno menegaskan dalam amanat Pembangunan Semesta Berencana
tentang pentingnya karakter ini sebagai mental investment, yang
mengatakan bahwa kita jangan melupakan aspek mental dalam
pelaksanaan pembangunan dan mental yang dimaksud adalah mental
Pancasila (Manullang, 2013).
Pendidikan yang berfokus dalam membangun generasi muda yang
memiliki karakter, sikap positif, pola pikir esensial, komitmen normatif
dan kompetensi abilitas. Pendidikan di Indonesia masih jauh dari arah
pembentukan karakter seperti empat dimensi tersebut. Bahkan boleh
jadi belum ada penerapan yang benar dalam membentuk karakter
generasi muda di Indonesia.Fenomena yang terjadi adalah ketika
pendidikan karakter disosialisasikan, semua pihak menyambutnya dengan
antusias namun masih banyak penafsiran yang beraneka ragam tentang
sosok ilmu berkarakter yang diharapkan oleh negara. Banyak yang
berbicara tentang karakter, namun pemahaman tentang esensi masih
belum dipahami bahkan proposal yang diajukan untuk pendidikan
karakter masing–masing membuat penafsiran beraneka ragam.
Tujuan dari pendidikan karakter yaitu mendorong lahirnya generasi
muda yang baik, tumbuh dengan kapasitas, dan komitmen untuk
menjadi generasi yang memiliki tujuan hidup yang jelas (Wiyani, 2010).
Pendidikan karakter dikategorikan menjadi 5 tahap sesuai dengan
perkembangan generasi muda, yaitu: (1) Adab, mengenal mana yang
benar dan mana yang salah, mengenal mana yang baik dan mana yang
buruk, serta mengenal mana yang diperintah (yang dibolehkan) dan
mana yang dilarang (tidak dibolehkan dilakukan). (2) Tanggung jawab
diri, generasi muda dididik untuk bertanggung jawab, terutama dididik
untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Generasi muda bertanggung
jawab untuk membina dirinya sendiri, generasi muda dididik untuk
memenuhi kebutuhan dan kewajiban dirinya sendiri. (3) Caring-Peduli,
generasi muda dididik untuk mulai peduli pada orang lain, terutama
teman–teman sebaya yang setiap hari ia bergaul. (4) Kemandirian,
364
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
generasi muda dilatih untuk menerapkan hal–hal yang menjadi perintah
dan yang menjadi larangan, serta sekaligus memahami konsekuensi
resiko jika melanggar aturan. (5) Bermasyarakat, generasi muda dilatih
untuk dapat bergaul dimasyarakat dengan berbekal pengalaman–
pengalaman yang dilalui sebelumnya (Lidyasari, 2014).
Pendidikan karakter bukanlah berupa materi yang hanya dapat
dicatat dan dihafalkan serta tidak dapat dievaluasi dalam jangka waktu
yang pendek.Akan tetapi, pendidikan karakter merupakan sebuah
pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan siswa baik disekolah,
lingkungan masyarakat, dan dilingkungan keluarga melalui proses
pembiasaan, keteladanan, dan dilakukan secara berkesinambungan. Oleh
karena itu, keberhasilan pendidikan karakter ini menjadi tanggung
jawab bersama antara sekolah, masyarakat dan orangtua. Evaluasi dari
Keberhasilan pendidikan karakter ini tentunya tidak dapat dinilai dengan
tes formatif atau sumatif yang dinyatakan dalam skor (Yuwono, 2014).
Tetapi tolak ukur dari keberhasilan pendidikan karakter adalah
terbentuknya peserta didik yang berkarakter; berakhlak, berbudaya,
santun, religius, kreatif, inovatif yang teraplikasi dalam kehidupan
disepanjang hayatnya. Oleh karena itu, tentu tidak ada alat evaluasi
yang tepat dan serta merta dapat menunjukkan keberhasilan pendidikan
karakter.
Pendidikan karakter menjadi salah satu akses yang tepat dalam
melaksanakan characterbuilding bagi generasi muda.Generasi yang
berilmu pengetahuan tinggi dengan dibekali iman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Ainiyah,
2013).
Dasar Pembentukan Karakter
Dari mana perubahan karakter itu dimulai? Al-Quran datang untuk
melakukan perubahan-perubahan positif, mengeluarkan manusia dari
kegelapan kepada keadaan terang benderang (minazzulamâtiilaal-nûr),
yakni mengubah nilai-nilai lama yang tidak relevan kepada nilai-nilai
baru yang lebih sesuai dengan perkembangan dan jati diri manusia,
yang mengharuskan perubahan individu dan masyarakat kepada sikap
yang luhur dan dikehendaki oleh Allah SWT. Perubahan adalah sebuah
keniscayaan bagi makhluk hidup khususnya manusia. Dalam konteks itu,
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
365
Al-Quran memberikan banyak prinsip perubahan yang disebut dengan
sunnatullâh. Dengan mempelajari sunnatullâh, sejarah, dan memahami
isyarat quraniyah, akan tampak gaya dan cara membentuk prilaku untuk
menampilkan sisi positif dari perubahan itu, yang mengandung nilainilai inti (corevalues) makna hidup. Perubahan itu diisyaratkan oleh AlQuran dengan berbagai ayat, antara lain “... Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri ....”. Dalam merealisir perubahan, AlQuran menempu prinsip dasar yang dikemukan oleh ayat ini. Kitab suci
ini memulai perubahan dengan pendidikan nilai serta pembentukan
karakter (character building) yang kemudian pada gilirannya membentuk
karakter dan prilaku yang diharapkan. Konsep pembentukan dasar
karakter ini merupakan nilai-nilai inti (corevalues) yang mesti ada adalah
reformasi pendidikan.
Dasar pembentukan karakter itu adalah nilai baik atau buruk. Nilai
baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan
dengan nilai setan. Karakter manusia merupakan hasil tarik-menarik
antara nilai baik dalam bentuk energi positif dan nilai buruk dalam
bentuk energi negatif. Energi positif itu berupa nilai-nilai etis religius
yang bersumber dari keyakinan kepada Tuhan, sedangkan energi negatif
itu berupa nilai-nilai moral yang bersumber dari taghut (Iberani, 2003).
Dalam hal pembentukan karakter, pendidikan mempunyai peranan yang
sangat penting dalam kehidupan generasi muda. Pendidikan Islam
berperan sebagai pengendali akhlak atau perbuatan yang terlahir dari
sebuah keinginan untuk membentuk karakter Islam suatu generasi
muda. Jika ajaran agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman
kehidupan generasi muda dalam sehari-hari dan sudah ditanamkannya
sejak kecil, maka akhlak akan lebih terkendali dalam menghadapi segala
keinginan-keinginannya yang timbul (Syarif, 2013).
Generasi Muda untuk Indonesia
Secara bahasa, generasi merupakan kata benda yang bermakna masa
orang-orang seangkatan hidup sekalian orang yang kira-kira sama waktu
hidupnya angkatan (KBBI, 2002). Dengan demikian, maka istilah dari
“generasi muda” merupakan konotasi atas harapan dimasa mendatang
tentang hadirnya generasi-generasi Indonesia yang genius dan unggul
dalam segala bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun
366
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
NKRI menjadi bangsa yang besar, kuat, dan berdaulat di mata dunia.
Bila demikian adanya bahwa konotasi generasi muda adalah suatu
bentuk kaderisasi generasi-generasi Indonesia yang genius dan unggul
dimasa depan.
Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki.
Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan
dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsabangsa lain. Oleh karena itu, menjadi bangsa yang berkarakter adalah
impian bangsa Indonesia. Meskipun sudah bukan barang baru lagi,
namun harus diakui bahwa fenomena globalisasi adalah dinamika yang
paling strategis dan membawa pengaruh dalam tata nilai dari berbagai
bangsa termasuk bangsa Indonesia. Sebagian kalangan menganggapnya
sebagai ancaman yang berpotensi untuk menggulung tata nilai dan
tradisi bangsa kita, serta menggantinya dengan tata nilai pragmatisme
dan popularisme asing.
Di era globalisasi yang tidak dapat menahan derasnya arus informasi
dari dunia manapun, membuat generasi muda dapat dengan mudah
mengetahui dan menyerap informasi dan budaya dari negara lain.
Demikian sebaliknya negara manapun dapat dengan mudah mendapatkan
segala bentuk informasi dan budaya dari negara kita. Dalam hal ini
karakter bangsa diperlukan, karena apabila karakter bangsa tidak kuat
maka globalisasi akan melindas generasi muda. Generasi muda diharapkan
dapat berperan menghadapi berbagai macam permasalahan dan
persaingan di era globalisasi yang semakin ketat sekarang ini. Untuk
membentengi generasi muda khususnya pelajar agar tidak terlindas oleh
arus globalisasi.
Konsep Pendidikan Karakter Islam
Membangun suatu generasi muda yang berkarakter Islam tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini membutuhkan cara yang
tepat, proses yang cukup panjang dan sistematis bahkan ada suatu
tembok yang harus dibangun. Tembok tersebut adalah akhlak dan
aqidah, akhlak dan aqidah sangat penting karena sebagai tanda bahwa
orang tersebut merupakan manusia. Apabila tidak mempunyai akhlak,
maka ia bukanlah seorang manusia. Setidaknya ada beberapa profil
yang harus terinternalisasikan dalam diri seorang generasi emas sebagai
berikut.
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
1.
Salimul Aqidah (aqidah yang bersih)
2.
Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
3.
Matinul Khuluq (akhlak yang mulia)
4.
Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
5.
Mutsaqqul Fikri (intelek dalam berfikir)
6.
Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
7.
Harishun ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
8.
Munadhdhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
9.
Qodirun ala Kasbi (mampu berusaha sendiri/mandiri)
367
10. Nafi’un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)
Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman
Rasulullah SAW. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwa tugas
pertama dan utama Rasulullah adalah sebagai penyempurna akhlak bagi
umatnya. Pembahasan substansi makna dari karakter Islam sama dengan
konsep akhlak dalam Islam, keduanya membahas tentang perbuatan
prilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika akhlak adalah suatu sikap
yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan
dengan mudah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan
pertimbangan (Rusn, 1998). Akhlak sering disebut juga ilmu tingkah laku
atau perangai karena dengan ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan
tentang keutamaan-keutamaan jiwa; bagaimana cara memperolehnya
dan bagaiman membersihkan jiwa yang telah kotor (Suwito, 2004).
Antara akhlak dan karakter mengisyaratkan substansi makna yang
sama yaitu masalah moral manusia tentang pengetahuan nilai-nilai yang
baik,serta seharusnya dimiliki seseorang generasi muda dan tercermin
dalam setiap prilaku serta perbuatannya. Prilaku ini merupakan hasil dari
kesadaran generasi muda. Generasi muda yang mempunyai nilai-nilai baik
dalam jiwanya serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari disebut generasi muda yang berakhlak atau berkarakter. Akhlak atau
karakter dalam Islam adalah sasaran utama dalam pendidikan. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang
keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah
anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka” (Ulwan), konsep pendidikan
didalam Islam memandang bahwa manusia dilahirkan dengan membawa
potensi lahiriah yaitu, (1) potensi berbuat baik terhadap alam, (2) potensi
368
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
berbuat kerusakan terhadap alam, (3) potensi ketuhanan yang memiliki
fungsi-fungsi non fisik. Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan
kembali perkembangannya kepada manusia (Suwito, 2004).
Lebih luas Ibnu Faris menjelaskan bahwa konsep pendidikan karakter
dalam Islam adalah membimbing seseorang dengan memperhatikan
segala potensi pedagogik yang dimilikinya. Proses tersebut melalui
tahapan-tahapan yang sesuai, untuk didik jiwanya, akhlaknya, akalnya,
fisiknya, agamanya, rasa sosial politiknya, ekonominya, keindahannya,
dan semangat jihadnya (Mahmud, 2003). Hal ini memunculkan konsep
pendidikan akhlak yang komprehensif, dimana tuntutan hakiki dari
kehidupan manusia yang sebenarnya adalah keseimbangan hubungan
antara manusia dengan tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya
serta hubungan manusia dengan lingkungan disekitarnya. Akhlak selalu
menjadi sasaran utama dari proses pendidikan karakter dalam Islam,
karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan
manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi pedagogis
yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu, (1) hikmah ialah
situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara hal
yang benar dan yang salah. (2) Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis
dimana seseorang melampiaskan atau menahan potensialitas aspek
emosional dibawah kendali akal. (3) Iffah (kesucian) ialah mengendalikan
potensialitas selera atau keinginan dibawah kendali akal dan syariat. (4)
‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan
keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya.
Dalam pandangan Islam, Rasulullah telah memberikan contoh yang
tepat, beliau dapat menjadi simbol/keteladanan umatnya dalam
membentuk karakter yang sempurna. Ada beberapa tindakan Rasul
dalam menanamkan karakter terhadap anak bangsa, yaitu: fokus, repetisi,
analogi, memperhatikan keragaman, menumbuhkan kreativitas, berbaur,
dan aplikatif.
Dalam mendidik karakter generasi muda agar terwujud akhlak yang
mulia dalam setiap pribadinya, ada tiga tahapan strateginya (Majid &
Andayani, 2011):
1.
Moral Knowing, sebagai langkah pertama dalam membentuk
karakter, dalam tahapan ini generasi kita diorientasikan tentang nilainilai. Artinya; generasi kita dapat memilih dan memilah antara akhlak
yang mulia dengan akhlak yang tercela.
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
369
2.
Moral Loving, belajar untuk mencintai tanpa syarat, maksudnya
generasi kita termotivasi untuk melakukan nilai-nilai akhlak mulia
dengan penuh kesadaran diri bukan karena keterpaksaan
3.
Moral Doing, ini merupakan puncak dari keberhasilan akhlak, artinya
akhlak yang baik telah dapat diterapkan oleh generasi kita dalam
kehidupan sehari-hari.
Penjelasan diatas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar
utama dari tujuan pendidikan karakter didalam Islam. Hal ini senada
dengan latar belakang perlunya diterapkan pendidikan karakter disekolah;
untuk menciptakan bangsa yang besar, bermartabat dan disegani oleh
dunia maka dibutuhkan goodsociety yang dimulai dari pembangunan
karakter (character building). Pembangunan karakter atau akhlak tersebut
dapat dilakukan salah satunya melalui proses pendidikan disekolah
dengan mengimplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam setiap
materi pelajaran.
Pembelajaran untuk Membangun Karakter Islam
Untuk membangun karakter bangsa, haruslah dimulai dari lingkup
yang terkecil. Khususnya di sekolah, kita menganalogikan proses
pembelajaran di sekolah dengan proses kehidupan bangsa. Upaya
mewujudkan nilai-nilai tersebut di atas dapat dilaksanakan melalui
pembelajaran. Tentu saja pembelajaran yang dapat mengadopsi semua
nilai-nilai karakter bangsa yang akan dibangun.
Para pendidik sedini mungkin harus menyisipkan nilai-nilai karakter
bangsa. Nilai-nilai karakter ini dapat ditanamkan dalam pembelajaran
dan juga dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan pramuka,
haiking, penghijauan, olah raga, dan peduli lingkungan, diharapkan
melalui wahana itulah kita dapat membangun karakter bangsa.
Pembelajaran merupakan sebuah proses kegiatan belajar agar dapat
membangun generasi muda yang berkarakter Islam,sehingga suatu situasi
sengaja dirancang secara tersusun untuk membantu dan memudahkan
generasi muda dalam memahami materi (Shauqi, 2012). Pembelajaran
dapat dipandang dari dua sudut (Komalasari, 2010) yaitu:
1.
Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem pembelajaran terdiri
dari sejumlah komponen yang terorganisasi antara lain tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran,
media pembelajaran, pengorganisasian kelas, evaluasi belajar dan
tindak lanjut pembelajaran.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
370
2.
Pembelajaran dipandang sebagai suatu proses. Proses tersebut meliputi:
a.
Persiapan, dimulai dari merencanakan program pengajaran
tahunan semester hingga alat-alat evaluasi (alat peraga).
b.
Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada
persiapan pembelajaran yang telah dibuat. Pada tahap
pelaksanaan pembelajaran ini, struktur dan situasi pembelajaran
akan banyak dipengaruhi oleh strategi dan pendekatan
pembelajaran yang telah dipilih atau dirancang.
c.
Menindaklanjuti pembelajaran yang telah dikelola. Kegiatan ini
dapat berbentuk pengayaan, dapat pula berupa pemberian
layanan remedial teaching bagi generasi muda yang berkesulitan
belajar.
Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan atau proses yang
terdapat unsur timbal balik antara peserta didik dan pendidik untuk
mencapai suatu tujuan pembelajaran. Hamalik (2005) mengemukakan
bahwa pembelajaran adalah suatu proses gabungan antara unsur
manusiawi, material, fasilitas, peralatan, dan prosedur yang saling
berkaitan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Selain itu,
pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya menciptakan suatu kegiatan
belajar yang sistematis dan mendidik (Mulyana, 2008:17).
Pendidikan salah satu wahana yang tepat untuk
menumbuhkembangkan karakter bangsa yang baik. Melalui Pendidikan
dapat membangun karakter generasi muda dalam menghadapi era
globalisasi. Karena di dalam pendidikan ada proses pembelajaran yang
pada akhirnya diharapkan terjadi transformasi yang dapat
menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari
yang tidak baik menjadi baik. Peran penting dari generasi muda dalam
menghadapi berbagai permasalahan di era globalisasi ini adalah sebagai
pembangun kembali karakter (character enabler),pemberdaya
karakter(character builders), dan perekayasa karakter (character enginee).
Jika tidak ada pembelajaran dalam pendidikan, maka hasilnya akan
seperti sebelumnya, dalam arti kata tidak ada perubahan. Kita
menginginkan adanya proses pembelajaran yang dapat memberikan
perubahan atau dampak positif pada perilaku dan sikap pelajar kita,
sehingga mereka tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan secara
akademik tetapi mereka dapat membentuk karakter yang kuat bagi
dirinya. Belum terlambat untuk menyelamatkan karakter bangsa kita
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
371
yang sudah terpuruk sekarang ini asal semua komponen bangsa mau
dan mampu berupaya untuk membangun kembali karakter bangsa
melalui pendidikan yang menginginkan adanya pembelajaran dalam
pendidikan tersebut. Dengan pembelajaran yang kontinyu akan
mendorong kemandirian dan kebebasan siswa dalam berkreativitas,
sehingga dapat melahirkan calon penerus yang lebih berkarakter dan
bermoral. Pembangunan karakter dalam bentuk apapun akan memberikan
perubahan apabila pendidikan yang dilaksanakan menerapkan adanya
proses pembelajaran yang berpotensi semakin tingginya daya saing
bangsa dan lebih bermartabat di mata Internasional.
PENUTUP
Ada beberapa tindakan Rasul dalam menanamkan karakter terhadap
anak bangsa, yaitu: fokus, repetisi, analogi, memperhatikan keragaman,
menumbuhkan kreativitas, berbaur, dan aplikatif. Dalam mendidik karakter
Islam generasi muda agar terwujud akhlak yang mulia dalam setiap
pribadinya, ada tiga tahapan strateginya yaitu: (1) Moral Knowing,
sebagai langkah pertama dalam membentuk karakter, dalam tahapan ini
generasi kita diorientasikan tentang nilai-nilai. Artinya; generasi kita
dapat memilih dan memilah antara akhlak yang mulia dengan akhlak
yang tercela. (2) Moral Loving, belajar untuk mencintai tanpa syarat,
maksudnya generasi kita termotivasi untuk melakukan nilai-nilai akhlak
mulia dengan penuh kesadaran diri bukan karena keterpaksaan. (3)
Moral Doing, ini merupakan puncak dari keberhasilan akhlak, artinya
akhlak yang baik telah dapat diterapkan oleh generasi kita dalam
kehidupan sehari-hari.
Pendidikan merupakan salah satu wahana yang tepat untuk
menumbuhkembangkan karakter Islam bangsa yang baik. Melalui
Pendidikan dapat membangun karakter generasi muda dalam menghadapi
era globalisasi. Karena di dalam pendidikan ada proses pembelajaran
yang pada akhirnya diharapkan terjadi transformasi yang dapat
menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari
yang tidak baik menjadi baik. Peran penting dari generasi muda dalam
menghadapi berbagai permasalahan di era globalisasi ini adalah sebagai
pembangun kembali karakter (character enabler),pemberdaya karakter
(character builders),dan perekayasa karakter (character enginee).
372
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTRA RUJUKAN
Ainiyah, N. 2013. Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam.
Jurnal Al Ulun, Volume 13 Nomor 1.
Depdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Iberani S, J. 2003. Mengenal Islam. Jakarta: El-Kahfi.
Komalasari, K. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Lidyasari A, T. 2014. Keterlibatan Orang tua Dalam Membentuk Karakter
Anak Bangsa Melalui Pendidikan Karakter. Seminar Nasional Menuju
Generasi Emas Berkarakter, Volume 7 ISBN 978-602-70434-0-4.
Manullang, B. 2013. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045.
Jurnal Pendidikan Karakter, Volume 3 Nomor 1.
Mulyana, Enceng. 2008. Model Tukar Belajar (Learning Exchang) dalam
Perspektif Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Rusn A, I. 1998. Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Shauqi, K. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Modul Interaktif Las
Busur Manual di SMK Negeri 1 Sedayu. Skripi sarjana, tidak diterbitkan.
Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter Mengantar Bangsa, dari Gelap
Menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
Sukidi. 2005. Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ Lebih Penting daripada
IQ dan SQ.
Suwito. 2004. Filsafat Pendidikan Akhlak Ibn Miskawaih. Yogyakarta:
Belukar.
Syarif, M. 2013. Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter
Bangsa (Studi Analisis Perilaku Siswa Madrasah Aliyah Negeri 1
Palembang). Jurnal Nasional Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah,
Volume 1.
Wiyani N, A. 2010. Manajemen Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pedagogia.
Yuwono, I. 2014. Pendidikan Matematika dan Pendidikan Karakter Dalam
Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Nasional Pendidikan Matematika
Program Pasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung, Volume 1 ISSN 23550473.
Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Islam Melalui Pembeljaran
373
Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025.
Membangun Karakter dan Kemandirian Bangsa. (Online) http://
www.setneg.go.id (diakses tanggal 15 Nopember 2016)1.
Membangun Karakter Bangsa Melalui Pembelajaran Kontekstual.
(Online)http://agupenajateng.net (diakses tanggal 15 Nopember 2016)2.
374
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pembentukan Soft Skill di Sekolah Menengah Kejuruan Menjadikan Karakter.....
375
PEMBENTUKAN SOFTSKILL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN MENJADIKAN
KARAKTER UNGGUL DI MASA DEPAN
Lilik Suhartatik
SMKN 1 Duduksampeyan, Gresik
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia menjadi salah
satu negara yang sepakat dengan adanya masyarakat ekonomi ASEAN
(MEA). Dengan adanya hal tersebut, maka Indonesia harus siap bersaing
dengan negara-negara ASEAN. Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber
Daya Manusia (SDM) haruslah lebih unggul daripada negara lain agar
tidak kalah dalam perdagangan ekonomi ASEAN.
Pendidikan sebagai tonggak utama untuk mencetak manusia
yang unggul baik dari karakter tingkah laku maupun ilmu pengetahuan.
Peran sekolah sangatlah penting sebagai tempat untuk menempa peserta
didik agar mempunyai bekal perilaku dan pengetahuan yang unggul
dan berguna bagi diri sendiri dan masyarakat di masa depan. Pendidikan
menengah baik SMA maupun SMK untuk kaum remaja haruslah lebih
mengutamakan aspek pembentukan karakter. Hal tersebut dikarenakan
pembetukan karakter perlu pembiasaan yang membutuhkan waktu
cukup lama. Karakter erat hubungannya dengan soft skills. Soft skills
akan membentuk karakter unggul yang sangat dibutuhkan oleh peserta
didik untuk sosialisasi di masyarakat dan mencari pekerjaan di dunia
usaha atau dunia industri. Oleh karena itu, penulis akan berbagi
pengalaman tentang penerapan kebiasaan-kebiasaan atau budaya positif
yang diterapkan di sekolah menengah kejuruan (SMK), agar membentuk
soft skills atau karakter peserta didik yang unggul yang sekaligus
berguna ketika memasuki dunia usaha dan dunia industri.
Pengertian Soft Skills
Berthal sebagaimana dikutip Illah Sailah (dalam Sudiana, 2010)
menyebutkan bahwa soft skills didefinisikan sebagai “personal and
interpersonal behaviours that develop and maximize human
performance (e.g.coaching, team building, initiative, decision making,
etc.) soft skills does not include technical skills such as financial,
375
Peran Bimbingan dan konseling dalam Mengembangkan Karakter Siswa sebagai.....
381
PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGEMBANGKAN KARAKTER
SISWA SEBAGAI AKSELERATOR REVOLUSI MENTAL
Maghfira Wijayanti
MTsN 1 Paron Ngawi
Karakter atau watak hakikatnya merupakan ciri kepribadian yang
berkaitan dengan pertimbangan nilai moralitas normatif yang berlaku.
Kualitas karakter seseorang bersifat relatif tetap dan akan tercermin
dalam penampilan kepribadiannya ditinjau dari sudut timbangan nilai
moral normatif yang meliputi aspek emosional, intelektual, moral dan
spiritual. Sharon dan Miller (dalam Winkel, 1982) menyatakan bahwa
karakter dipandang sebagai hubungan timbal balik yang sehat antara
diri dengan tiga hal yaitu lingkungan eksternal (orng lain dan fisik),
internal (diri sendiri), dan lingkungan spiritual (sesuatu yang maha besar
dan abadi). Oleh karena itu, karakter akan menyatu dalam perilaku,
mulai dari niat, sikap, pandangan hidup, pikiran, perasaan, ucapan, dan
tindakan sebagai wujud totallitas kepribadian.
Karakter selalu berkait dengan serangkaian sikap (attitudes), perilaku
(behaviors), motovasi, dan keterampilan (skills). Karakter akan mendasari
sikap untuk melakukan sesuatu yang terbaik, akan mendorong kapasitas
intelektual seperti berpikir kritis, mendorong bersikap jujur, etik,
bertanggung jawab dan mempertahankan prinsip-prisip moral yang
diyakini dalam berbagai situasi, baik dalam situasi yang nyaman ataupun
dalam situasi sebaliknya. Karakter mendorong kecakapan interpersonal
dan emosional yang menjadikan seorang individu mampu berinteraksi
secara efektif dalam bebrbagai situasi, keadaan, dan komitmen untuk
berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Individu yang
berkarakter baik adalah seseorang yang berupaya untuk melakukan hal
yang terbaik (Battistich, 2008).
Istilah karakter sendiri berangkat dari bahasa Yunani yang berarti to
mark atau menandai dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan
nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku (Wynne,
1991). Karakter acap kali disama artkan dengan kepribadian. Alwisol
381
382
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
(2006) membedakan karakter dengan kepribadian, karena pengertian
kepribadian dibebaskan dari nilai. Namun, keduanya berwujud pada
tingkah laku yang ditujukan pada lingkungan sosial dan keduanya
menuntun, mengarahkan, dan mengorganisasikan aktivitas individu.
Karakter merupakan basis terwujudnya cita-cita nasional, sehingga
pembentukan karakter dituangkan dalam dalam salah satu tujuan
pendidikan nasional seperti yang termaktub dalam UU Sidiknas tahun
2003. Karakter berkait erat dengan mental oleh karena itu revolusi
mental pada prinsipnya adalah revolusi perubahan karakter. Revolusi
mental merupakan transformasi etos yaitu perubahan mendasar dalam
mentalitas yang meliputi cara berpikir, cara berperilaku, dan cara
bertindak. Revolusi mental mengacu pada keselarasan pikiran (idea)dan
tindakan (action), sehingga seorang individu tidak hanya berpikir dan
megetahui yang baik dan benar tetapi juga bertindak baik dan benar.
Revolusi Mental
Istilah revolusi mental sebenarnya sudah lama dipakai dalam sejarah
pemikiran. Plato (428-347 SM) menggunakan istilah revolusi mental
untuk mengacu pada pengembalian dominasi akal budi, hati nurani atas
nafsu, dan emosi agar terjadi keselarasan antara pikiran (idea) dan
tindakan (actio). Orang tahu tentang baik dan benar, tetapi belum tentu
bertindak baik dan benar. Idealnya pikiran baik dan benar diikuti
tindakan baik dan benar. Pandangan Plato ini pun berabad-abad kemudian
dilanjutkan oleh Descartes (1596-1650) dengan jargonnya yang mashur
‘cogito ergo sum!’ yang merevolusi mental pemikiran filsafati pada
zamannya.
Di Indonesia, secara historis revolusi mental kali pertama
dikumandangkan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1956 dengan istilah
mental investment, yang kemudian (1957) dinyatakan secara tegas dengan
istilah gerakan revolusi mental, yakni gerakan untuk menggembleng
manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih,
berkemauan baja, bersemangat garuda, dan berjiwa api menyala-nyala
(Nuryanta, 2014).
Istilah revolusi mental mencuat kembali saat presiden Joko Widodo
menjadikannya salah satu prioritas program pembangunan di samping
prorgam kemandirian dan kemaritiman. Menurut presiden Joko Widodo
(2014) pembangunan Indonesia pasca reformasi baru terbatas pada
Peran Bimbingan dan konseling dalam Mengembangkan Karakter Siswa sebagai.....
383
pembangunan atau perubahan yang sifatnya institusional dan
kelembagaan negara, belum menyangkut pembangunan yang menyentuh
paradigma, mindset, dan budaya politik dalam rangka pembangunan
bangsa (nation buiding). Pembangunan yang hanya menekankan pada
institusional dan kelembagaan negara, tidak akan mampu untuk
mengantarkan masyarakat Indonesia ke arah cita-cita bangsa. Agar
pembangunan dapat mencapai ke arah perubahan yang lebih baik,
bermakna dan berkesinambungan diperlukan revolusi mental.
Revolusi metal bertujuan untuk mengadakan perubahan mental
atau cara berpikir, serta bertindak masyarakat Indonesia secara cepat
dari yang belum baik menjadi baik. Istilah mental berkaitan dengan
jiwa, ahlak, dan watak. Mental juga berkaitan dengan kepribadian yang
berupa keseluruhan karakteristik, sikap, dan nilai-nilai yang dianut oleh
individu untuk bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain dan
lingkungannya (Pangewa’ 2004).
Mental berkaitan dengan sikap. Sikap dirumuskan Pangewa (2008:40)
sebagai situasi mental yang mempengaruhi seseorang dalam
kecenderungannya untuk menjadi bermotivasi dalam hubungannya
dengan sesuatu. Sikap bukan pembawaan lahir tetapi dibentuk oleh
pengalaman dan lingkungan. Bisa bersifat tetap, tetapi juga bisa berubah
sesuai faktor-faktor yang mempengaruhi. Mental juga dapat dimaknai
sebagai cara berpikir atau mindset seseorang (Supratno, 2014). Mental
ini akan menentukan sikap, perilaku, dan tutur bahasa.
Revolusi mental secara luas dimaknai sebagai perubahan cara berpikir
seseorang dari kondisi belum baik menjadi baik. Perubahan menjadi
baik ini akan membawa konsekuensi perubahan tatanan masyarakat
yang lebih baik. Perubahan mental seseorang dapat berubah dengan
kesadaran diri sendiri (internal) ataupun berubah karena dorongan pihak
luar (eksternal) misalnya melalui pendidikan formal, pendidikan karakter,
peraturan, dan gerakan nasional.
Karakter dan Pendidikan Karakter
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ atau
menandai atau memfokuskan pada pengaplikasian nilai-nilai kebaikkan
dalam bentuk tindakan atau tingkah laku nyata (Wynne, 1991). Karakter
merupakan gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai-nilai baik
atau positif yang muncul secara eksplisit maupun implisit.
384
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Klipatrick (1992) dan Licona (1991) adalah pencetus utama pendidikan
karakter.Kedua tokoh ini percaya akan adanya keberadaan moral absolut
yang perlu diajarkan kepada generasi muda agar paham betul moral
yang baik dan benar. Nilai-nilai moral yang universal dan absolut ini
bersumber dari agama-agama di dunia yang disebutnya sebagai the
golden rule, seperti berkata jujur, suka menolong, hormat orang tua,
dan bertanggung jawab.
Menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Yus, 2008) aktualisasi karakter
berwujud dalam bentuk perilaku sebagai hasil perpaduan antara karakter
biologis dengan interaksi dengan lingkungannya. Lickona (1991)
mengemukakan pula bahwa karakter berkaitan dengan konsep moral,
sikap moral, dan perilaku moral. Berdasarkan ketiga komponen dapat
dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan
tentang kebaikan, keinginan berbuat baik dan melakukan perbuatan
baik. Konsep moral memiliki komponen kesadaran moral, pengetahuan
moral, pandangan ke depan, penalaran moral, pengambilan keputusan,
dan pengetahuan diri. Sikap moral memiliki komponen kata hati, rasa
percaya diri, empati, cinta, kebaikan, pengendalian diri, dan kerendahan
hati. Perilaku moral terdiri dari komponen-komponen moral yang
membentuk karakter yang baik dan tangguh serta unggul.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan
nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara
tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi anak didik
untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.Hal itu berarti
menunjukkan bahwa sekolah memiliki tugas penting membangun karakter
anak didik. Hal ini sesuai dengan pendapat Battisch (2008) yang
menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif adalah sekolah
yang memungkinkan semua peserta didik menunjukkan potensi mereka
untuk mencapai tujuan yang sangat penting. Pembangunan karakter
merupakan sebuah upaya sadar untuk memperbaiki danmeningkatkan
seluruh perilaku yang mencakup adat isttiadat, nilai-nilai, potensi,
kemampuan, bakat, dan pikiran anak didik.
Bimbingan dan Konseling
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyatakan tujuan pendidkan tidak hanya membentuk insan
manusia yang pintar.Namun,juga berkepribadian sehingga nantinya akan
Peran Bimbingan dan konseling dalam Mengembangkan Karakter Siswa sebagai.....
385
lahir generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan kepribadian
yang bernafaskan nilai-nilai luhur agama dan Pancasila. Hal itu
menunjukkan bahwa sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak (TK)sampai
dengan Perguruan Tinggi (PT)memiliki peran penting dalam
mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai karakter. Melalui sekolah
dapat disusun dan diatur secara secara sistematis dan berkesinambungan
pengembangan dan pembentukan karakter anak.
Posisi pendidikan sebagai pemberi masukan pengetahuan tentang
moral, nilai, dan kebaikan sekaligus sebagai sarana pembentukan karakter
anak didik jelas menjadi rujukan penting untuk pembentukan karakter
siswa yang diharapkan. Salah satu program pendidikan yang disusun
untuk kepentingan pembentukan karakter itu adalah bimbingan dan
konseling. Siswa yang tumbuh dalam karakter yang baik, maka melakukan
sesuatu dengan benar dan cenderung memiliki tujuan hidup. Tugas
bimbingan konselinglah untuk menumbuhkan karakter dan mengarahkan
dan mengoptimalkan tujuan hidup siswa.
Pada paragraf di atas telah ditunjukkan bahwa tujuan pendidikan
nasional tidaklah sekedar memprioritaskan perkembangan aspek kognitif
dan penegtahuan siswa. Namun,juga mengembangkan karakter siswa
agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan utuh. Untuk mefasilitasi
pengembangan karakter dan pembentukan pribadi yang tangguh dan
utuh itulah, maka dalam setiap satuan pendidikan harus memberikan
layanan yang optimal melalui bimbingan dan konseling.
Ahmadi (1991) mengemukakan bahwa bimbingan adalah bantuan
yang diberikan kepada peserta didik agar dengan potensi yang dimilikinya
mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami
diri sendiri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna
menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Adapun konseling
dikemukakan Tolbert (dalam Prayitno, 2014) sebagai hubungan pribadi
yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, yaitu konselor dan
konseli. Dalam kegiatan tersebut konseli dibantu untuk memahami diri
sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya di masa
depan. Konseli melalui kegiatan tatap muka ini dapat belajar bagaimana
memecahkan masalah dan menemukan kebutuhannya di masa
mendatang.Bimbingan dan konseling merupakan bantuan individu di
dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Dalam konsepsi tentang tugas perkembangan (devel-
386
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
opment task) ditegaskan bahwa setiap periode tertentu terdapat sejumlah
tugas-tugas pengembangan yang harus diselesaikan.
Agar layanan bimbingan dan konseling dapat terlaksana harus
berdasar pada 12 azas yang meiliputi (1) azas kerahasiaan, (2) azas
kesukarelaan, (3) azas keterbukaan, (4) azas kegiatan, (5) azas kemandirian,
(6) azas kekinian, (7) azas kedinamisan, (8) azas keterpaduan, (9) azas
keharmonisan, (10 ) azas keahlian, (11) azas alih tangan kasus, dan (12)
azas Tut Wuri Handayani.Program bimbingan konseling di sekolah
disusun berdasar kebutuhan peserta didik (need assesment). Berdasar
kebutuhan peserta didik tersebut program layanan konseling mencakup
empat hal yaitu jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan,
sasaran pelayanan dan volume atau beban tugas konselor.
Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mengembangkan
Karakter Siswa
Posisi pendidikan sebagai pemberi masukan pengetahuan tentang
moralitas, kebaikan, dan nilai kepada peserta didik, sekaligus sebagai
wahana belajar anak didik secara formal jelas menjadi rujukan penting
dalam membentuk karakter siswa yang diharapkan. Salah satu program
pendidikan yang disusun untuk itu adalah bimbingan dan konseling
yang bertujuan untuk mendorong lahirnya peserta didik yang berperilaku
dan berkarakter positif. Pendidikan karakter yang efektif bisa diperoleh
melalui pengoptimalan peran bimbingan dan konseling di sekolah,
karena melalui bimbingan dan konseling semua peserta didik bisa
‘menemukan’ dirinya sendiri, mengetahui, dan mengembangkan potensi
dalam dirinya sekaligus menyusun dan merancang strategi untuk
mengatasi hambatan dan mencapai tujuan hidupnya.
Pendidikan karakter yang dilakukan melalu bimbingan dan konseling
harus berpijak pada tujuan membentuk manusia yang utuh (holistic),
berkarakter, mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual, dan intelektual anak didik secara optimal. Banyaknya aspek yang
harus dicermati dalam proses bimbingan dan konseling dalam membentuk
dan mengembangkan karakter. Hal ini menjadikan bimbingan konseling
tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada kolaboratif dengan komponen
pendidikan lainnya. Komponen pendidikan lainnya seperti isi kurikulum,
proses pembelajaran, kulaitas hubungan, penanganan mata pelajaran,
pelaksanaan aktivitas ekstra kurikuler, dan etos seluruh lingkunagn sekolah.
Peran Bimbingan dan konseling dalam Mengembangkan Karakter Siswa sebagai.....
387
Melalui bimbingan dan konseling, pengembangan karakter bisa
dilakukan dengan dimulai dengan menanamkan nilai-nilai dasar (core
ethical values) sebagai basis karakter. Nilai-nilai dasar tersebut harus
menyentuh kawasan kognitif, afektif, dan perilaku. Bimbingan dan
konseling harus memiliki komponen program berupa layanan dasar,
layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan sistem
yang tersusun secara terencana dan terpadu yang menyentuh bidang
akademik, bidang pribadi, bidang sosial, dan bidang karir dengan
berbasis karakter.
Program bimbingan dan konseling dengan berbagai kegiatan di
dalamnya harus mendukung potensi siswa denga memberikan kesempatan
pada siswa untuk mengembangkan seluas-luasnya kemampuan dirinya.
Posisi bimbingan konseling adalah sebagai wadah yang strategis dalam
pembentukan karakter.Melihat peran penting bimbingan dan konseling,
maka setiap jenjang sekolah seharusnya memilliki layanan bimbingan
konseling yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
keseluruhan program pendidikan. Ini berarti bahwa setiap komponen
sekolah harus terlibat dalam usaha layanan bimbingan dan konseling.
Inilah yang disebut Keriee Lee (2007) sebagai model terpadu atau model
gabungan.Peran bimbingan dan konseling sebagai salah satu komponen
pendidikan formal amat penting bagi upaya pembentukan dan
pengembangan karakter. Bimbingan dan konseling dapat menjadi dasar
pijakan atau lokus untuk mengembangkan karakter.
Fungsi dan Hasil yang Diharapkan pada Karakter Siswa
Bimbingan dan konseling berperan sangat strategis untuk
mengembangkan karakter karena memiliki banyak fungsi. Fungsi-fungsi
tersebut adalah (1) fungsi pencegahan atau preventif, (2) fungsi
pemahaman, (3) fungsi pengentasan, (4) fungsi pemeliharaan, (5) fugsi
penyaluran, (6) fungsi penyesuaian, (7) fungsi pengembangan, (8) fungsi
perbaikan, dan (9) fungsi advokasi.
Melalui peran optimal bimbingan dan konseling dalam membentuk
dan mengembangkan karakter siswa, dengan tidak lupa melibatkan
seluruh komponen pendidikan, diharapkan terjadi beberapa hal dalam
diri siswa. Beberapa hal itu adalah (1) adanya perubahan karakter dan
perilaku konseli/siswa menjadi lebih baik, positif, produktif, dan kreatif;
(2) siswa/konseli mempunyai dan memelihara kesehatan mental, karakter,
388
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dan kepribadian positif; (3) dapat menyelesaikan masalah dengan rasa
percaya diri yang tinggi, (4) mencapai keefektifan pribadi, dan (5)
mendorong konseli/siswa untuk mampu mengambil keputusan yang
penting bagi dirinya
Upaya dan peran optimal bimbingan dan konseling di atas bisa
dilakukan dengan berbagai pendekatan bimbingan dan konseling.
Pendekatan yang paling efektif adalah pendekatan krisis, pendekatan
remidial, pendekatan preventif, dan pendekatan perkembangan.
Pendekatan krisis merupakan upaya bimbingan yang diarahkan pada
individu yang mengalami krisis atau mengalami masalah. Bimbingan
dan konseling diarahkan untuk mengatasi dan bersama-sama mencari
jalan keluar dari permasalahan tersebut. Pendekatan remidial adalah
upaya bimbingan dan konseling diarahkan pada konseli yang mengalami
kesulitan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kelemahan dan kesulitan
yang dialami. Pendekatan preventif merupakan upaya bimbingan dan
konseling yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum
konseli dan mencegah jangan sampai terjadi pada diri konseli.
Pendekatan perkembangan bertitik sentral pada perkembangan optimal
kepribadian, karakter, dan kemampuan siswa yang artinya memberikan
berbagai stimulus melalui perekayasaan lingkungan untuk mempertajam
potensi dan karakter konseli.
Kesimpulan
Dari hasil paparan, deskripsi dan eksplanasi di atas dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.
Pembentukan dan pengembangan karakter berkait erat dengan revolusi
mental karena pada prinsipnya revolusi metal adalah revolusi perubahan
karakter.
2.
Bimbingan konseling mempunyai peran yang amat penting dan
strategis dalam mengembangkan karakter siswa karena memiliki (a)
fungsi pencegahan, (b) fungsi pemahaman, (c) fungsi pengentasan,
(d) fungsi pemeliharaan, (e) fungsi penyaluran, (f) fungsi
pengembangan, (g) fungsi penyesuaian, (h) fungsi perbaikan, dan (i)
fungsi advokasi.
3.
Melalui peran optimal bimbingan dan konseling diharapkan pada siswa/
konseli terjadi perubahan karakter, perilaku, dan kepribadian konseli
yang positif, produktif, kreatif, dan inovatif, mempunyai dan
Peran Bimbingan dan konseling dalam Mengembangkan Karakter Siswa sebagai.....
389
memelihara kesehatan mental dan kepribadian positif, dapat
menyelesaikan masalah, mencapai keefektifan pribadi, dan mampu
mengambil keputusan yang penting bagi kehidupannya.
4.
Bimbingan dan konseling bisa dilakukan dengan melalui berbagai
pendekatan di anatranya pendekatan kritis, pendekatan remidial,
pendekatan preventif, dan pendekatan perkembangan dengan
melibatkan seluruhkomponen pendidikan.
Saran
Melihat peran bimbingan dan konseling yang demikian penting dan
strategis, dalam membangun dan mengembangkan karakter siswa maka
perlu ditingkatkan efektivitas layanan bimbingan dan konseling pada
setiap satuan pendidikan. Efektivitas layanan bimbingan dan konseling
pun secara berkala harus dilakukan evaluasi, sehingga dapat memenuhi
sasaran dengan tepat dan selalu bersifat kontinyu atau terus menerus.
Perlu diperhatikan pula bahwa keberhasilan bimbingan dan konseling
juga melibatkan secara aktif setiap komponen pendidikan yang ada,
sehingga dibutuhkan koordinasi dan sinergi yang tepat dan
berkesinambungan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Balttistich, Voctor. 2007. Character Education, Prevention and Poditive
Youth Development. Illnois: Uneversity of Missouri.
Budinuryanta, Johanes.2014. Revolusi Mental dalam Pendidikan.
DalamMakalahProsiding Seminar Nasional Revolusi Mental dalam
Pendidikan. Surabaya:Unesa Press.
Izzaty, Rita eka. 2004. Mengenali Perkembangan Masalah Anak. Jakarta:
Dirjen Dkti.
Rubino, Rubiyanto.2008. Bimbingan Konseling. Surakarta: FKIP
Muhamadiyah.
Ridwan. 1998. Penanganan Efektif Bimbingan Konseling di
Sekolah.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sofyan, S.Wilis. 2004. Konseling Individual. Surabaya: Usaha Nasional.
Sudrajat, Ahmad. 2010. Strategi Pelaksanaan Layanan dan Bimbingan
Konseling, Jakarta: Gramedia.
390
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Sukardi, Dewa Ketut.1998. Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan
Konseling di Sekolah.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Supratno, Haris.2014. Revolusi Mental dalam Pendidikan untuk menciptakan
Masyarakat Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, Berbudaya, dan
Berkepribadian. Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Revolusi
Mental dalam Pendidikan. Surabaya:Unesa Press.
Winkel. WS.1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah.Jakarta:
Gramedia.
Wijayanti, Maghfira.2012.Menjadi Remaja Hebat. Surabaya: AM Pres.
________________.2013. Menuju Pribadi Sukses. Sidoarjo:Satukata.
________________.2015. MoveOnSukses Belajar. Sidoarjo:Satukata.
376
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
computing and assembly skills.”Soft skill adalah ketrampilan seseorang
dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dirinya sendiri). Dengan
demikian, atribut soft skills tersebut meliputi nilai yang dianut, motivasi,
perilaku, kebiasaan, karakter, dan sikap.
Soft skills dibagi menjadi dua bagian yaitu intrapersonal skills dan
interpersonal skills.Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang
dalam “mengatur” dirinya sendiri,sedangkan, interpersonal skills adalah
keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan
orang lain (Endang dan Made, 2011). Sekolah Menengah Kejuaruan
(SMK) haruslah mencetak lulusan yang siap kerja dengan soft skills yang
unggul dan kemampuan teknis yang mumpuni. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh negara-negara Inggris, Amerika, dan Kanada, ada
23 atribut soft skills yang dominan di lapangan pekerjaan (Illah Sailah
dalam Sudiana, 2010).
1. Inisiatif
13. Manajemen diri
2. Etika/ integritas
14. Menyelesaikan persoalan
3. Berpikir kritis
15. Dapat meringkas
4. Kemauan belajar
16. Kooperatif
5. Komitmen
17. Fleksibel
6. Motivasi
18. Kerja dalam tim
7. Bersemangat
19. Mandiri
8. Dapat diandalkan
20. Mendengarkan
9. Komunikasi lisan
21. Tangguh
10. Kreatif
22. Berargumentasi logis
11. Kemampuan analitis
23. Manajemen waktu
12. Dapat mengatasi stress
Sekolah merupakan sebuah tempat yang mempersiapkan lulusannya
untuk memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, sekolah harus sejak dini
memperhatikan kandungan atribut soft skills dalam proses pembelajaran.
Tanpa upaya yang dibangun dalam penguasaan soft skills sejak di
bangku sekolah, hanya akan menghasilkan tamatan yang cerdas, mudah
mencari pekerjaan, tetapi tidak akan bertahan di dunia kerja. Peningkatan
kompetensi lulusan berbasis soft skills sangat mendesak untuk memenuhi
kebutuhan stakeholders dengan orientasi produktivitas yang tinggi, juga
untuk mewarnai dunia kerja kearah perbaikan karakter bangsa.
Pembentukan Soft Skill di Sekolah Menengah Kejuruan Menjadikan Karakter.....
377
Penerapan Kebiasaan/Budaya Positif untuk Menumbuhkan Soft
Skillsdi SMK
Berbicara tentang pembiasaan, maka penulis selaku salah satu guru
di SMK akan berbagi pengalaman nyata tentang pembiasaan/budaya
positif yang membentuk soft skills yang diterapkan di sekolah kami.
a.
Masuk sekolah tepat waktu, kurang 5 menit dari pukul 07,00
wib Gerbang utama ditutup.
Maksud dan tujuan dari pembiasaan tersebut adalah peserta didik
bisa disiplin terhadap waktu masuk di sekolah. Pukul 06.55 bel tanda
masuk sudah berbunyi, sehingga siswa hanya punya jeda waktu 5 menit
untuk tidak terlambat masuk di lingkungan sekolah. Pukul 07.00 pintu
gerbang sudah ditutup dan dikunci, sehingga peserta didik yang terlambat
tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar. Setelah diterapkan peraturan
tersebut, sangatlah signifikan hasilnya sesuai yang diharapkan. Tidak
ada siswa yang terlambat karena takut dialpha/tidak masuk tanpa
keterangan alias bolos. Hal tersebut akan bisa menjadi suatu kebiasaan
ketika mereka bekerja di suatu perusahaan. Disiplin waktu yang tinggi
akan memperkaya produktivitas kerja yang pada akhirnya berimbas
pada melesatnya karier di perusahaan. Soft skill yang ditanamkan
kepada peserta didik tentang manajemen waktu bisa tercapai dan
bermanfaat untuk kebaikan di masa depan.
b. Turun dari sepeda motor ketika masuk pintu gerbang dengan
cara menuntun hingga sampai di tempat parkir siswa.
Hal ini sangat berguna untuk melatih kesopanan peserta didik di
masyarakat. Mereka diharapkan untuk lebih tahu tata cara memasuki
rumah/sekolah agar tidak menimbulkan kebisingan yang pada akhirnya
menimbulkan kenyamanan semua penghuni. Sikap seperti ini pun juga
sangat dibutuhkan di dunia kerja karena sikap yang tahu tata cara dan
etika akan lebih memudahkan dalam mencari teman. Sikap yang tahu
etika memberi kesan sopan dan ramah dalam pergaulan. Sikap sopan
semacam ini sesuai dengan atribut soft skill yaitu tahu etika dan
manajemen diri.
c.
Kegiatan doa bersama sebelum memulai jam pelajaran yang
dipimpin dari central atau ruang guru.
Kegiatan ini sangat berguna untuk para peserta didik agar selalu
ingat bahwa dalam kegiatan apapun selalu didahului dengan bacaan
basmallah agar mendapat keridho’an dan dipermudah segala urusan.
378
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peserta didik dituntut untuk pandai secara keilmuan dunia dan juga
pandai secara agama karena ilmu tanpa agama akan menyebabkan
seseorang kebablasan baik dalam berpikir maupun bersikap. Sebaliknya
agama tanpa ilmu adalah kebodohan yang menyebabkan manusia tidak
bisa kritis dan bijak dalam bersikap. Sikap yang selalu berpegang pada
agama akan menuntun orang yang bersangkutan untuk selalu berbuat
kebaikan. Demikian pula, ketika peserta didik bekerja di perusahaan/
dunia kerja maka mereka lebih mengutamakan cara yang halal ketika
ingin berprestasi di tempat kerja. Tidak menghalalkan segala cara hanya
untuk mencari untung/laba maupun jabatan di perusahasaan. Kebaikan
itu akan selalu mereka kerjakan untuk mencapai keberkahan. Kebiasaan
yang baik ini sudah ditanamkan sejak mereka masuk menjadi murid
SMK hingga dinyatakan lulus dari sekolah. Soft skill yang dibentuk
untuk peserta didik adalah manajemen diri, tangguh, dan beretika
dalam agama maupun kehidupan sehari-hari.
d. Kegiatan jum’at sehat diawal jam pelajaran.
Salah satu hari favorit di SMKN 1 Duduksampeyan Gresik adalah hari
Jumat. Pasalnya setiap hari Jumat ada kegiatan senam bersama. Peserta
didik berkumpul di lapangan dan diajak untuk menyehatkan diri di awal
jam pelajaran. Seluruh warga sekolah mengikuti senam bersama yang
bisa menyegarkan tubuh setelah hampir seminggu beraktivitas rutin di
sekolah. Hal tersebut sangat berguna untuk menyeimbangkan antara
kesehatan mental dan raga. Pembiasaan yang baik ini bisa membentuk
soft skill peserta didik untuk bisa manajemen diri dan waktu untuk
memelihara kesehatan. Ini juga berguna ketika mereka sudah bekerja di
perusahaan agar bisa menyeimbangkan kesehatan jiwa dan raga, agar
produktivitas diri dan kerja semakin baik dan terjaga. Ketika badan dan
jiwa sehat maka semangat pun semakin bertambah. Selain itu, dengan
rajin senam atau olahraga juga bisa mengelola stress dengan baik,
sehingga tekanan pekerjaan atau tugas baik di sekolah ataupun ketika
sudah bekerja bisa di atasi dengan tuntas. Soft skill yang dibentuk dan
ditanamkan dengan adanya penyeimbangan kesehatan jiwa dan raga
berupa senam bersama untuk peserta didik adalah selalu bersemangat
dan bisa mengelola stress dengan baik.
e.
Kegiatan Jumat shodaqoh
Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk menyisihkan sebagian
uang saku untuk kegiatan amal rutin hari Jumat. Selain untuk
Pembentukan Soft Skill di Sekolah Menengah Kejuruan Menjadikan Karakter.....
379
menumbuhkan rasa cinta shodaqoh, kegiatan ini mengajarkan kepada
peserta didik untuk lebih menghargai uang. Ketika peserta didik mengerti
dan menghargai uang maka mereka akan lebih bijak dalam
membelanjakan uangnya. Demikian juga, ketika peserta didik sudah
bekerja di sebuah dunia usaha/industri maka menyisihkan sebagian harta
untuk shodaqoh akan melancarkan usaha itu sendiri. Selain itu, kebiasaan
bisa menghargai uang berarti peserta didik yang menjadi karyawan akan
lebih bijak dalam membelanjakan semua perlengkapan kantor/perusahaan
secara efektif dan tepat sasaran sesuai kebutuhan. Atribut soft skill yang
dibentuk dan dikembangkan adalah mempunyai inisiatif untuk bertindak
efektif, berpikir kritis, dan mempunyai kemampuan analitis yang baik
dalam membelanjakan uang.
f.
Sebagian besar kegiatan belajar mengajar menggunakan LCD
proyektor dengan berbagai media pembelajaran menarik
disertai tugas pembuatan proyek.
Pembiasaan kegiatan belajar mengajar menggunakan media yang
menarik akan membuat peserta didik lebih antusias dan bersemangat
dalam megikuti pelajaran. Rasa ingin tahu mereka akan jauh lebih besar
karena mereka merasa senang dan nyaman dengan kondisi kelas.
Pembuatan slide, pemutaran video, dan demonstrasi materi dikelas akan
membuat peserta didik lebih bersemangat. Setiap akhir sesi pembelajaran
bisa dipastikan ada tugas kelompok atau individu guna mengukur
pemahaman siswa. Selain itu, ada pembuatan proyek kelompok dari
setiap mata pelajaran yang di desain untuk membangkitkan solidaritas,
toleransi, dan kerjasama tim. Dengan pembiasaan tersebut diharapkan
soft skill yang terbentuk dan tertanam adalah peserta didik selalu
bersemangat untuk mencari ilmu baru baik di lingkungan masyarakat
maupun dunia usaha dan industri. Selain itu, kebiasaan untuk
bekerjasama dengan tim sangat berguna ketika peserta didik memasuki
dunia kerja.
Dari paparan diatas, soft skill sangat dibutuhkan selain kemampuan
teknis dari peserta didik. Kemampuan dan ketrampilan dalam mengatur
diri dan sikap yang baik sangat dipengaruhi oleh pembiasaan atau
budaya positif yang ditanamkan oleh pihak sekolah. Pembiasaan tersebut
akan menjadi karakter unggul peserta didik yang lulus dari sekolah agar
diterima dan melejit potensinya baik dilingkungan masyarakat maupun
di lingkungan dunia usaha dan industri.
380
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Sadbudhy, Endang dan Made Nuryata, 2011. Pengembangan Soft Skills di
SMK. Jakarta: SEkarmita Publisher & Training.
Sudiana, I ketut. 2010. Peningkatan Kualitas Lulusan melalui Pengembangan
Soft Skills di Perguruan Tinggi. Makalah disajikan dalam Lokakarya
Softskill Implementasi PHK-I STIE Triatma MUlya Tanggal 29 Januari
2010.
Menjadi Generasi (Tidak) Berkarakter
391
MENJADI GENERASI (TIDAK) BERKARAKTER
Erna Pratiwi
SMP Al –Ikhlash Lumajang
Ketika mengoreksi tugas siswa klas VII di Sekolah seorang teman
guru terhenyak melihat sebuah tulisan yang isinya bikin bulu kuduk kita
merinding. Apa tulisan itu?
“Aku bunuh kamu Er!!!”
Wali kelas, jelas-jelas merasa horor membaca tulisan itu, mengapa
karena Er itu kebetulan adalah nama depan sekaligus nama panggilan
saya sebagai kesiswaan di sekolah kami. Ibu wali kelas ini bertanyatanya sudah dihukum dengan cara apa siswa itu sehingga begitu
dendamnya terhadap saya. Akhirnya dengan berbagai macam pendekatan
bu wali kelas ini menggali sedalam –dalamnya mengapa siswa kelas 7 ini
sampai menulis kata-kata seperti itu di buku tugasnya. Pendekatan itu
membuahkan hasil ternyata nama itu tidak ada hubungannya sama
sekali dengan saya tetapi tetapi nama itu adalah nama ibunya yang
kebetulan nama depannya sama dengan saya. Tapi lagi-lagi ibu wali
kelas ini semakin heran mengapa anak seusia ini sudah berani mengancam
ibunya. Hasil pendekatan kepada siswa tadi ternyata jawabannya adalah
dia merasa muak dan bosan terus menerus diomeli. Dilarang ini, itu, dan
semuanya serba tidak boleh. Hanya boleh begini dan begitu sesuai
keinginan orang tua.
Setelah mengetahui hal itu, ibu wali kelas bercerita panjang lebar
kepada saya tentang tulisan itu dan saya menyarankan untuk konsultasi
dengan BK (bimbingan konseling) agar mendapat penanganan yang
tepat sesuai Job Desk di sekolah kami.
Pembaca sekalian ini benar-benar terjadi dan baru awal bulan
Nopember 2016 terbaca di kelas. Sekolah kami adalah sekolah swasta
dengan mengedepankan ISLAMI sebagai Visi paling utama sehingga RPP
dan PBM terkonsep dengan tambahan muatan berupa QA (Quality
Assurance) sebagai jaminan mutu dalam pembelajaran di sekolah kami.
Seperti contohnya kegiatan kami di pagi hari adalah dari siswa dan
391
392
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
seluruh komponen sekolah melaksanakan ibadah sholat Dhuha bersama
dilanjutkan dengan membaca Al-Quran. Kami berasumsi sebelum
membaca apapun, mendengar apapun, dan melihat apapun kami lebih
dulu melihat, membaca dan mendengarkan Al-Quran. Dengan harapan
segala kegiatan yang kami lakukan selalu diwarnai dan bersumber dari
Al-Quran. Tetapi, apa yang bisa kita lihat dari salah satu siswa kami yang
meulis ancaman kepada Ibunya?
Masa remaja merupakan peralihan antara masa anak-anak dengan
dewasa dimana masa peralihan tersebut biasanya ada batasan usia
remaja biasanya ada rentangnya yaitu antara 12 – 21 tahun. Selama
periode itu banyak perubahan yang terjadi dalam diri seseorang.
Perubahan hormonal dan perubahan fisik. Perubahan hormonal nyatanya
amat mempengaruhi perubahan fisik dan kehidupan emosional seseorang.
Kita lihat tahapan perkembangan remaja, para ahli Psikologi
mengelompokkan menjadi dua, yaitu masa puber (12 – 18 tahun) dan
masa remaja adolesen (19 – 21 tahun).
Masa pubertas diawali dengan masa pra puber tas (12-14 tahun)
pada masa ini banyak yang akan kita dapati pada saat mengamati
mereka ,dan penemuan itu penuh kejutan yang tidak kita sangka –
sangka karena mereka telah berubah, mereka bukan lagi “gadis kecil”
atau “bocah laki- laki kecil”. Paling tidak itulah menurut mereka. Pada
masa ini anak mulai perubahan hormon seksual. Walaupun secara fisik
mereka masih terlihat seperti anak-anak, tetapi mereka tidk suka
diperlakukan seperti anak-anak. Bisa kita coba dengan berusaha mencium
anak laki-laki anda yang berusia 12 tahun di depan teman-temannya.
Kemungkinannya adalah dia akan menarik diri dan menatap anda
dengan kesal. Padahal satu atau dua tahun lalu dia masih senang
dipeluk dan dicium di depan umum. Mereka mulai bersikap kritis
terhadap kondisi atau orang – orang yang ada di sekitarnya. Beberapa
anak mulai menyukai lawan jenisnya jadi jangan heran kalau ‘gadis
kecil’ anda selalu bercerita tentang Adi, teman sekelasnya yang menurut
dia pintar.
Masa renajan Awal antara usia (14-16 tahun). Pada masa ini mereka
masih mengalami perubahan Hormonal, sementara perubahan fisik
mereka semakin kentara. Gadis kecil kita mulai mendapatkan menstruasi
dan tubuhnya semakain mekar ,sementara si bocah laki- laki kecil
“pecah” suaranya, jakunnya mulai nampak dan mereka mengalami
Menjadi Generasi (Tidak) Berkarakter
393
mimpi basah. Perubahan hormonal yang masih terjadi dalam tubuh
mereka mempengaruhi kondisi psikologis mereka, mereka jadi labil.
Perubahan fisik yang terjadi membuat mereka cemas. Terlebih bila
wajah mereka mulai berjerawat. Banyak remaja yang sangat merasa
terganggu dengan jerawatnya. Hal ini dapat dipahami karena pada masa
ini remaja mulai peduli pada penampilannya. Selain itu seringkali
mereka menjadi sensitif. Hal-hal sepele/hal kecil begitu mudah membuat
mereka tersinggung atau memusuhi anda (seperti kasus ilustrasi di atas)
Mereka cenderung memberontak terhadap kita dan terhadap aturanaturan yang kita buat. Mereka cenderung senang berkelompok (peer
group). Remaja merasa mendapat banyak kesenangan dengan
kelompoknya , dalam kelompoknya mereka bebas. Solidaritas mereka
juga sangat tinggi. Mereka berkelompok kadang memiliki “rahasia”,
bahkan bahasa atau sandi – sandi khusus. Tidak jarang gank ini lebih
mempengaruhi mereka ketimbang keluarga atau kita sebagai orang tua
mereka. Jadi jangan heran kalai mereka mulai sulit diajak menghadiri
acara keluarga, mereka sudah asyik dengan kelompoknya bahkan sudah
memiliki jadwal kegiatan sendiri dengan kelompoknya.
Akhir masa pubertas masa dialami remaja berusia 17-18 tahun,
perubahan fisik mereka mulai matang. Tubuh atau penampilan mereka
sudah sama dengan orang dewasa. Pada masa ini anda benar-benar
telah kehilangan sosok boch kecil atau gadis kecil anda. Sekarang
mereka bisa jadi sudah lebih tinggi, lebih tangkas atau lebih gagah
daripada kita. Bahkan mungkin lebih pintar dari kita. Namun secara
Psikologis kondisi kejiwaan mereka masih belum matang. Walau kadangkadang sifat kekanak – kanakan mereka masih sering muncul.
Pembaca
sekalian manusia mengalami berbagai
tahap
perkembangan dalam hidupnya, dalam setiap tahap perkembangan
seseorang perlu “mempelajari” beberapa hal agar perkembangannya
sempurna. Menurut sorang ahli Psikologi dalam proses perubahan itu
perlu mempelajari setidaknya 5 hal yang prinsip, yaitu:
1.
Remaja mampu menerima perubahan kondisi fisiknya .
2.
Remaja harus dapat bergaul baik dengan teman sejenis maupun lawan
jenis
3.
Remaja harus mampu menerima kemampuan diri secara positif, dan
juga kelemahannya.
394
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
4.
Remaja dengan kondisi psikologis yang belum matang perlu selalu
didampingi dan diperkuat penguasaan dirinya.
5.
Remaja selalu ingin memiliki kebebasan emosional (pada tahapan ini
selalu terjadi pertentangan dengan orang tua) sehingga perlu selalu
dikomunikasikan.
Bila kelima hal ini kita pahami maka Insya Allah kita tidak akan
menjumpai siswa .anak atau remaja kita yang mencoret/menulisi bukunya
dengan perkataan penuh dendam kepada ibunya. Banyak orang kurang
bersimpati ketika membicarakan remaja. Dalam kepala mereka remaja
adalah sekelompok orang muda yang sok tahu, penuh kesombongan, suka
coba–coba, banyak tingkah dan menyebalkan. Dr. James E. Gardner,
penyusun buku Memahami Gejolak Masa Remaja mendapat komentar dari
seorang rekannya, bahwa menulis buku untuk menolong orang dengan
anaknya yang masih remaja adalalah isapan jempol belaka, sebab tak ada
gunanya. Mengapa timbul banyak sekali masalah pada usia remaja? Apa
sebenarnya yang terjadi saat seseorang memasuki dunia remaja?
Dari uraian di atas sudah jelas bahwa pada saat seorang anak
mengalami perubahan baik perubahan psikis maupun perubahan hormonal akibat matangnya organ – organ seksual. Pada diri remaja itu
sendiri ada beberapa yang mengalami kebingungan tersendiri. Dan masa
ini jelas mereka menghadapi banyak persoalan, merasa ditinggalkan,
tidak diperhatikan, selalu dikekang. Kadang, remaja memberikan reaksi
terhadap kegalauan dan kegelisahan lewat tindakan. Mereka acapkali
berontak dan melawan segala bentuk otorika. Bila tanpa arahan, mereka
menjadi bertindak sesuka hatinya dan memiliki rasa solidaritas yang
tinggi dengan kelompoknya.
Lalu bagaimana seharusnya ? Sebenarnya yang dibutuhkan remaja
adalah bantuan dan dukungan memasuki masa dewasanya. Perubahan
jaman memiliki pengaruh kuat pada diri seseorang baik dalam berpikir,
menentukan langkah kehisupan ke depan ataupun berinterkasi dengan
sesama. Bagaimana hubungan perubahan masa sekarang dengan para
remaja sebagai generasi penerus bangsa. Kita lihat jika dulu perilaku
yang tidak sopan berbicara dengan orang tua tanpa memandang
wajahnya, maka sekarang hal itu seperti lumrah saja terjadi. Dahulu,
saat anggota keluarga berkumpul dalam suasana santai tak mungkin
rasanya masing-masing berdiam diri tanpa suara, tapi saat ini hal itu
sudah menjadi fenomena, perubahan zaman.
Menjadi Generasi (Tidak) Berkarakter
395
Perubahan zaman telah pula mengubah gaya hidup para remaja,
dimanapun mereka berada, di desa ataupaun di kota besar. Umumnya,
para remaja kita sangat akrab dengan mediadan teknologi. Tak heran
kemudian pebisnis media dan teknologi melihat kelompok usia remaja
sebagai target pasar yang cukup memguntungkan. Kita lihat gaya hidup
remaja memang telah berubah. Dulu para remaja lebih banyak mengisi
waktu dengan kegiatan–kegiatan bersama teman- teman maupun dengan
keluarga. Di rumah, berolahraga, main ini itu atau bahkan belajar
bersama. Tapi sekarang mereka justru semakin banyak menghabiskan
waktu dengan media dan teknologi. Media ini bisa berupa Internet
berupa Fb, BBM, Line, WA, Instagram dan media sosial lainnya.
Sedangkan dibidang teknologi remaja kita sangat memahami dan
cenderung mahir menggunakan Laptop, HP dan teknologi lainnya.
Persoalannya kemudian adalah muatan yang disajikan dari media dan
teknologi yang ada benar-benar telah melenceng jauh dari tujuan
pendidikan yang kita harapkan .Kemampuan media untuk menanamkan
nilai-nilai baik dan buruk inilah yang membuat kehawatiran banyak
kalangan. Sangat wajar dan manusiawi kekhawatiran orang tua terhadap
perubahan jaman ini. Tapi kalau kita hanya merasa khawatir saja tanpa
melakukan tindakan apapun maka tujuan kita untuk menciptakan remaja
yang berkarakter tentunya hanya menjadi angan – angan saja. Lalu apa
yang harus kita lakukan. Kalau kita lihat potret remaja saat ini tentunya
tidak beda jauh dengan ilustrasi awal yang penulis paparkan. Cerita
tentang kebrutalan remaja dan remaja pengguna Narkoba. Banyak
penyebab munculnya persoalan yang menimpa remaja, mulai dari media
massa yang tidak mendidik, nilai-nilai yang mulai bregeser, sampai
konspirasi untuk menghancurkan moral remaja. Di tengah situasi seperti
ini, tidak ada pilihan lain bagi kita, orang tua dan guru, yaitu memberikan
bekal yang cukup bagi remaja agar tetap terjaga fitrahnya.
Memberikan bekal merupakan kewajiban orang tua yang mau tidak
mau harus dilakukan namun tidak semua orang tua mampu melakukannya
dengan baik karena memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang
tua. Mengutip perkataan seorang ahli yang mengatakan bahwa orang
tua seringkali tidak mempunyai imu yang cukup bahkan bekal yang
cukup untuk menjadi orang tua. Akibatnya kita mendidik anak sepertinya
coba- coba saja. Kadang kita mengacu kepada bagiamana orang tua kita
dulu mendidik kita. Tetapi ternyata tidak cukup, jadi banyak kekeliruan-
396
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
kekeliruan yang kita lakukan dalam mengasuh anak- anak kita yang
sudah remaja.Hal ini harus disadari dan dibenahi bersama. Untuk
membekali remaja kita supaya menjadi remaja yang berkarakter. Hal
yang paling penting di perbaiki adalah aspek psikolosial terutama
disiplin dan komunikasi. Kenapa Komunikasi, ada yang salah dengan
komunikasi kita, setidaknya ada dua kesalahan dalam komunikasi yang
kita lakukan yaitu ;
1.
Orang tua yang terlalu Sibuk
Pada kasus ini sering kali orang tua yang terlalu sibuk cenderung
berbicara serba terburu-buru karena ingin cepat selesai yang hendak
dibicarakan. Contoh “Kamu sudah makan belum? ‘Ayo cepat makan!, “
Gimana PR sudah dikerjakan?.” Kamarmu sudah Rapi?
Orang tua menginginkan anak menyeleseikan segala sesuatunya
dengan cepat sehingga isi pembicaraan kebanyakan hanya perintah. Kita
tidak duduk bersama – sama anak dan berpikir tentang bagaimana cara
menyampaikan sesuatu atau keinginan kita kepada mereka dengan baik.
Dalam kondisi terburu - buru seperti itu, jangankan untuk mendengarkan
perasaan anak, mendengarkan perkataan secara lengkap saja tidak
sempat dilakukan. Apalagi sampai membaca bahasa tubuh anak.
Sebaliknya, anak juga tidak bisa mendengarkan dengan baik apa yang
disampaikan oleh ibunya. Anak tidak mampu mengingat semuanya
karena disampaikan dengan terburu-buru.
2.
Kebutuhan dan keinginan Orang Tua berbeda dengan
kebutuhan dan keinginan Anak.
Sebelum menyampaikan kepada anak sebaiknya orang tua bertanya
dulu kepada dirinya, ini kebutuhan siapa, kebutuhan orang tua atau
kebutuhan anak. Menginginkan anak menjadi pintar atau menjadi soleh
misalnya adalah kebutuhan orang tua. Oleh karena itu orang tua harus
menyampaikan kepada anak dengan baik agar anak juga merasa apa yang
disampaikan orang tua adalah kebutuhannya juga. Hal lain yang sering
dilakukan orang tua adalah orang tua cenderung memerintah,
menyalahkan, meremehkan dan cenderung membanding-membandingkan
ketika orang tua bercerita. Gaya seperti ini alih- alih melancarkan
komunikasi, tetapi justru membuat komunikasi semakin buruk. Hasil
komunikasi yang seperti ini menjadikan anak tidak memiliki konsep diri
yang positif. Akibatnya anak akan menganggap dirinya tidak cukup
berharga. Konsep diri yang negatif ini sangat beresiko. Mengapa? Jika
konsep dirinya negatif mereka menganggap diri mereka tidak berharga.
Menjadi Generasi (Tidak) Berkarakter
397
Bekal apa yang harus Kita berikan kepada mereka
Selain konsep diri yang positif ternyata agar remaja kita berkarakter
adalah dibekali dengan sembilan aspek yang menurut bebeapa ahli dan
beberapa bacaan yang penulis baca kesembilan aspek itu adalah
dimulai dari faktor utama, yaitu Kesehatan, tauhid, ibadah, akhlak,
hubungan sosial, emosi, kecerdasan, keterampilan hidup sampai masalah
seksual. Remaja harus diberi batasan yang jelas. Mereka harus diberi
rambu-rambu yang jelas, mana perbuatan dosa, mana yang tidak.
Kehidupan sehari – hari nya harus memiliki batasan – batasan yang jelas
dan tegas. Selain itu mereka juga memerlukan penjelasan yang masuk
akal dan nalar tentang batasan yang diberikan.
Dalam kaitannya dengan masalah seksual, kita sebagai orang tua
harus selalu memperhatikan anak. Pembekalan yang memadai, akan
membuat anak-anak siap menghadapi lingkungan di sekitarnya. Dan kita
sebagai orang tua tetap tidak melupakan pengawasan kita terhadap
mereka. Remaja tidak bisa dilepas sepenuhnya, namun yang mesti
diingat, dalam melakukan pengawasan hendaknya orang tua menghindari
intimidasi. Remaja tetap harus diperlakukan dengan respect. Mereka
tetap harus dihargai hak dan privasinya. Remaja sudah memasuki tahap
7 yang ketiga dari periode pentahapan pendidikan anak versi Ali bin
Abi Thalib, yaitu menjadikan menjadikan mereka sebagai teman. Sekali
lagi pendekatan pada remaja ini sesungguhnya bukan sekedar mengatakan
mana boleh dan mana tidak boleh tetapi harus diberikan pengertian.
Sebab, kalau nggak boleh jadinya mereka akan curi-curi. Kita khawatir
bisa terjadi double standard (standar ganda), lalu mereka menjadi
“munafik”. Di depan orang tua terlihat seperti baik-baik saja, tetapi di
luar kita tidak tahu apa yang mereka lakukan. Hemat saya, lebih baik
mereka jujur, kita ajak bicara baik-baik apa yang seharusnya boleh dan
tidak boleh, mereka tahu atau tidak, apa yang mereka suka dan apa
yang tidak mereka suka itu kita bisa bicarakan bersama. Akhirnya upaya
seperti itu menjadi sangat bagus, karena kerja sama dengan orang tua
juga baik. Artinya, orang tua itu harus sering banyak dialog.
Akhirnya, marilah kita sebagai orang tua jangan sampai kecolongan.
Kita sebagai orang tua hanya bisa membekali dengan sesuatu yang kita
mampu, artinya sesuai jangkauan kita. Marilah kita selalu mendoakan
anak-anak kita supaya mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan
sholehah.
398
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak terhadap......
399
NILAI BALASAN SENTUHAN CIUM TANGAN GURU DAN ANAK
TERHADAP PERKEMBANGAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK)
Mudafiatun Isriyah
Pemerhati Pendidikan/Program Studi PAUD IKIP PGRI Jember
Menguatkan pendidikan karakter yang dimiliki anak diperlukan strategi
pendekatan dan pembiasaan yang dinamis. Kompetensi anak sebelumnya
sudah terbangun dengan latar belakang dan karakter masing-masing.
Guru bertanggung jawab pada kemajuan kompetensi yang dimiliki anak,
saat yang sama setiap anak adalah unik, harus dihormati, bisa berinteraksi
dengan setiap anak menyeimbangkan perkembangan, menyesuaikan
budayanya, dan memenuhi kebutuhannya. Hal inidilakukan agar menjadi
anak yang sesuai dengan pengembangan kurikulum sekolah yang penuh
dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).Dengan demikian, anak
akan tahu apa yang dilakukan, sehingga memiliki kompetensi dalam
segala bidang yang sesuai dengan tahapannya (Isriyah, 2016).
Menanggapi kebutuhan ini guru harus memiliki kompetensi profesional
mendidik anak usia dini, dengan melakukan pendekatan sentuhan bahwa
guru adalah sebagai fasilitator dan pembimbing selalu melakukan perhatian
dengan sentuhan (attachment). Berdasarkan hasil penelitian bahwa tidak
ada keraguan dengan pengaruh sentuhan terhadap perbedaan dalam
banyak aspek seperti kognisi, perilaku, keterampilan sosial, emosional,
tanggapan, dan kepribadian. Beberapa ahli perkembangan menegaskan
bahwa pengalaman awal anak akan menjamin perkembangan jangka
panjang hasil atau melindungi terhadap berikutnya misalnya trauma
(Sroufe dan Jacobvitz, 1989). Awal pengalaman, terutama emosional atau
afektif pengalaman dan lainnya, mendorong dan mengatur pola
pertumbuhan anak yang mengakibatkan perluasan kapasitas fungsional
berkembang pada individu. Schore (1994) menunjukkan bahwa pengalaman
awal membentuk pengembangan kepribadian yang unik, yang kapasitas
adaptif serta kerentanan dan resistensi tertentu terhadap bentuk patologi
masa depan. (Malekpour, 2007)
399
400
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran pengasuhan pada perkembangan anak-anak akan menentukan
aspek fungsi manusia, setidaknyasebagian, dari hasil perkembangan
kehidupan individu. Alam, lingkungan, genetikabadi dan pengalaman
berinteraksi dalamkondisi eksternal yang beragam, mentaldan dukungan
pemerintah, untukmenentukan kelangsungan hidup,kesehatan dan
pengembangananak-anak (Rutter, 1989). Bukti empiris menunjukkan
pentingnya aspek pengalaman yang dimiliki anak-anak akan berdampak
dan menentukan pada kelangsungan hidup mereka dan pengembangan
yang sehat. Mereka sehari-hari berinteraksi dengan pengasuhan yang
intim dan rutin. Tahun-tahun awal kehidupan memiliki pengaruh penting
pada pengalaman kemudian. Mereka menentukan dampak bahwa
pengalaman kemudian terhadap kesehatan dan perkembangan masa
depan. Ini adalah karena tiga tahun pertama kehidupan diyakini menjadi
periode sensitif di biologi dan sosial pengembangan (Bornstein, 1989a).
Pentingnya pengasuhan anak berinteraksi untuk kelangsungan hidup
dan perkembangan yang sehat,meliputi bidang yang sangat besar.
Proporsi terbesardari bidang studi psikologi perkembangandan pediatri
perilaku yang relevan, seperti psikiater, sosiologi keluarga, dan gizi.
Hubungan pengasuhan anak pada sosial danhasil psikologis, terutama
padaperkembangan kognitif, kompetensi sosial danpenyesuaian perilaku
sebaliknya,pada kelangsungan hidup, pertumbuhan dan hasil kesehatan
fisikterkait dengan hubungan anak usia dini adalahterbatas. Ini terkait
dengan pandanganbahwa fisik, bukan psikologis, faktorcenderung untuk
bertindak kausal pada kelangsungan hidup anakdan perkembangan
yang sehat. Akibatnya, efekhubungan pengasuhan anak sejak dini
kelangsungan hidup dan kesehatan cenderung lebih tidak langsung.
Kebijakan Pemerintah dalam penguatan pedidikan karakter di
sebutkan dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan
Budi Pekerti.Secara makna, karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai
kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan dalam cara
pandang, cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Oleh karenanya
setiap nilai-nilai luhur sesungguhnya merupakan nilai-nilai karakter.
Nilai-nilai luhur tersebut ada yang berlaku secara lokal, nasional, maupun
universal. Perbedaan nilai antar masyarakat harus dimaknai sebagai
kebinekaan yang harus dihargai oleh semua pihak.(Dr. Sukiman, 2016)
Pendidikan keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama.
Banyak keluarga yang masih menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak terhadap......
401
pendidikan anak pada sekolah. Peran sekolah adalah membantu keluarga
agar pendidikan anak dapat terlaksana secara lebih lengkap, sistematis,
efektif, dan hasilnya tersertifikasi. Untuk mencapai hasil yang optimal,
kerjasama keluarga dengan satuan pendidikan mutlak diperlukan.Sekolah
sebagai pihak penyedia layanan wajib bekerjasana dengan keluarga
dalam memajukan pendidikan anak mereka.
Di zaman globalisasi ini wanita yang memiliki
kerja sebagai
pegawai kantoran yang mengharuskannya pergi pagi pulang sore seakan
menjadi cita-cita dan impian wanita masa kini. Berlomba-lomba untuk
mendapatkan pendidikan di sekolah dan kampus meningkatkan prestasi
akademik dan soft skill telah lumrah dilakukan kaum wanita masa kini.
Hal ini menjadikan perempuan lebih banyak muncul di ruang publik.
Perempuan dapat dengan leluasa melakukan hal-hal yang biasanya
dilakukan oleh kaum laki-laki. (Mustikawati, 2015) Wacana ini yang
membuat kaum ibu mencari tempat pengasuhan anak yang dapat di
percaya sebagai pengganti orang tua.
Cium tangan adalah istilah yang kita gunakan untuk menggambarkan
hubungan atau ikatan yang berkembang antara guru dan anak, anak
dengan guru, orang tua dengan anak juga anak dengan orang tua.Anakanak bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan
mereka termasuk:makanan, keamanan, perawatan fisik, interaksi sosial
dan keamanan emosional. Mereka memiliki dorongan alamiah
untukmengembangkan dan membangun hubungan dengan orang tua
atau wali sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhanini terpenuhi
dengan sentuhan. Perilaku yang paling mudah dilihat ketika anak-anak
bersapa dengan guru, anak akan meninggalkan guru atau orang tua,
anak akan menikuti kegiatan untuk mohon doa restu, anak sakit minta
sentuhan, terluka, lelah, cemas.
Sentuhan (attachment) mulai terbentuk selama tahap-tahap praverbal
pembangunan, sebelum bayi memilikibahasa untuk mengekspresikan
kebutuhan mereka. Mengamati perilaku bayi dan anak-anak memiliki
bentukan dasar pemahaman dan belajar tentang sentuhan awal.
Pada anak-anakperilaku attachment dapat mencakup:Pandangan mata
untuk tatapan mata sampai tersenyum, tersentuh terespon atau membalas
tatapan, menempel atau menghampiri mencari untuk direspon dengan
mencari keterlibatan Verbal diadaptasi dari Pearce 2009. Sentuhan (attachment) adalah salah satu yang paling penting tugas perkembangan
bayi Dr Joy Osofsky.
402
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kwalitas tempat pembelajaran anak harus memiliki pengembangan
kompetensi. Kurikulum Anak Usia Dini di Indonesia kurikulum 2013 yang
sudah disosialisasi kenyataan di lapangan masih jauh dari harapan.
Aplikasi dari pelaksanaan K13 masing belum bisa dilaksanakan dengan
baik dikalangan guru PAUD. K13 yang di pakai pada PAUD sosialisasi
dari berbagai stage holder sudah sering dilakukan. Pelatihan di tingkat
propinsi sudah sering dilaksanakan. Namun aplikasi di lembaga masih
jauh dari sempurna, sehingga di khawatirkan dalam melaksanakan
pengembangan pada anak usia golden age tidak sesuai dengan
tahapannya. (Mudafiatun Isriyah, 2016)
Melihat fenomena tersebut perlu adanya rancangan konsep
pembelajaran yang mendukung pada tahapan perkembangan anak usia
dini. Informasi tentang tahap-tahap perkembangan seperti Piaget dan
Lev Vygotsky adalah saran untuk mengaplikasikan teori perkembangan
anak. Teori Vygotsky bahwa anak aktif dalam menyusun pengetahuan
mereka. Ada tiga klaim inti pandangan Vygotsky 1) keahlian kognitif
anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara
developmental; 2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa,
dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk
membantu dan mentrasnsformasikan secara mental; dan 3) kemampuan
kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang
sosiokultural. Sedang Piaget menerapkan: 1) pendekatan konstruktif ; 2)
fasilitasi mereka untuk belajar; 3) pertimbangkan pengetahuan dan
tingkat pemikiran anak; 4) gunakan penilaian terus menerus; 5) tingkatkan
kemampuan intelektual anak; 6) jadikan ruang kelas menjadi ruang
eksplorasi dan penemuan (Santrock, 2004).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peranan nilai balasan sentuhan
cium tangan guru dan anak terhadap perkembangan penguatan
pendidikan karakter (PPK) untuk membangun kompetensi anak melalui
konsep sekaligus mengimplementasikan pada Pendidikan Anak Usia Dini
sangat diperlukan. Dalam hal ini bagaimana guru merancang
pengembangan kecerdasan majemuk anak, anak-anak efektif
berkomunikasi, melatih sensori diperlukan penanaman melalui sentuhan,
pelukan,tatapan antara guru dan anak, antara anak dan guru. Anak akan
merasa lebih aman dan terarah pada sentuhan tersebut.
Mengajar adalah hal yang kompleks dan anak-anak itu bervariasi,
maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak terhadap......
403
hal (Diaz, 1997). Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi,
dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Guru yang efektif
punya strategi yang baik untuk memotivasi anak agar mau belajar dan
bermain.
Pada anak usia dini akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan
yang sangat pesat yang tidak tergantikan pada masa mendatang. Menurut
berbagai penelitian di bidang neorologi terbukti bahwa 50% kecerdasan
anak terbentuk dalam kurun waktu 4 tahun pertama. Setelah anak berusia
8 tahun perkembangan otaknya mencapai 80% dan pada usia 18 tahun
mencapai 100% (Slamet Suyanto , 2005: 6). Mengapa periode itu disebut
sebagai masa keemasan? Sebab, pada masa itu otak anak sedang mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Dan, otak merupakan
kunci utama bagi pembentukan kecerdasan anak. Kecerdasan anak
merupakan proses kognitf anak yang dimaksud adalah perubahan dalam
pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak. Proses perkembangan kognitif
memampukan anak untuk mengingat, membayangkan, memecahkan
masalah, menyusun strategi dan menghubungkan kalimat menjadi
pembicaraan bermakna.( Santrock, 2004)
Dari pendekatan pemrosesan informasi tersebut menyatakan bahwa
anak mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi
berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah
proses memori dan proses berfikir (thinking). Menurut pendekatan
pemrosesan informasi, anak secara bertahap mengembangkan kapasitas
untuk memproses informasi, dan karenanya secara bertahap
mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi dan karenanya
secara bertahap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian
yang kompeks. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2004)
Dalam teori attachment, perilaku bayi terkait dengan sentuhan
terutama mencari kedekatan dengan orang tua dalam situasi stres dan
lain-lain itu sebagai pengasuh. Bayi menjadi besar dengan sensitif dan
responsif dalam interaksi sosial dengan dunianya, dan orang tua tetap
mengasuh untuk beberapa bulan sampai dua tahun. Selama tahun
terakhir ini, anak-anak mulai mengenal attachment (orang asing) sebagai
basis yang aman untuk mengeksplorasi dengan lingkungan. Orang tua
mengarah pada pengembangan pola attachment ini, semua yang melekat
pada bayi akan menyebabkan model kerja internal yang akan memandu
perasaan individu, pikiran dan harapan dalam hubungan nanti. Pemisahan
404
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
kecemasan atau kesedihan setelah kehilangan sosok pengasuh dianggap
sebagai respon normal dan adaptif untuk keberadaan bayi. Perilaku ini
telah melekat karena mereka bisa meningkatkan perubahan yang benarbenar dirasakan pada kelangsungan hidup anak. (J, 1993)
Penelitian oleh psikolog perkembangan Mary Ainsworth pada tahun
1960 dan 70-an didukung konsep-konsep dasar,memperkenalkan konsep
“dasar aman” dan mengembangkan teori dari sejumlah pola attachment
pada bayi:pelukan yang aman, menghindari dari rasa takut,gelisah dan
sentuhan bebas,adalah persoalan nanti. Pada 1980-an, teori ini
diperpanjang untuk attachment pada orang dewasa. Interaksi lainnya
dapat ditafsirkansebagai bentuk perilaku, ini termasuk hubungan dengan
teman sebaya pada semua usia, romantis dan seksual daya tarik dan
tanggapan terhadap kebutuhan perawatan bayi atau orang sakit dan
lanjut usia. Namun, teori attacment sejak itu menjadi “pendekatan yang
dominan untuk memahami awal sosialpengembangan, dan telah
menimbulkan gelombang besar penelitian empiris dalam pembentukan
perkembangan anak-anak. Kemudian teori ini berhubungan dengan
temperamen, kompleksitas hubungan sosial,dan keterbatasan berbagai
macam pola individu untuk klasifikasikannya. Teori ini telah diubah
secara signifikan sebagai hasil penelitian empiris, namun konsep telah
menjadi berlaku umum. Teoriattacment telah membentukdasar terapi
baru dan informasi yang sudah ada, dan konsep yang telah digunakan
dalam perumusan sosial dankebijakan perawatan anak untuk mendukung
hubungan keterikatan awal anak-anak.
Ia berhasil mengintegrasikan elemen-elemen psikologi, biologi,
filosofi, dan logika dalam memberikan penjelasan yang menyeluruh
tentang bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan. Salah satu
teori Piaget menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui kegiatan
atau aktivitas pembelajaran. Piaget menolak paham lama yang
menyatakan bahwa kecerdasan adalah bawaan secara genetis. Ini terjadi
pada setiap manusia,termasuk pada anak-anak.(Suyadi, 2010)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai balasan cium tangan guru
dan anak terhadap perkembangan penguatan pendidikan karakter (ppk)
menjadi kebutuhan penting bagi setiap anak baik untuk guru maupun
sebaliknya mengingat kebutuhan tumbuh kembang karakter anak guru
usia golden age perlu mempersiapkan dan mendesain sikap yang
mendukung pada perkembangan anak pada tiap tahapannya.
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak terhadap......
405
Pengertian Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan anak adalah sikap
kecenderungan dan kesediaan untuk bertindak dan disertai dengan
perasaan-perasaan yang dimilki oleh keduanya. Dengan dasar
pengetahuan dan pengalaman masa lalu maka timbul sikap dalam diri
manusia dengan perasaan-perasaan tertentu, dalam menanggapi suatu
objek yang menggerakkan untuk bertindak. Sikap yang dicakup dalam
domain afektif mempunyai 4 (empat) tingkatan yaitu : menerima
(receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan
bertanggung jawab (responsibility). Menerima (receiving), diartikan bahwa
orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek
adalah suatu indikasi dari sikap tingkat pertama. Merespon responding),
diartikan member jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap
tingkat dua. Menghargai (vauling), mengajak orang untuk mengerjakan
atau mendiskusikan suatu masalah yang ada adalah suatu indikasi sikap
tingkat ketiga. Bertanggung jawab (responsibility), bertanggung jawab
atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan
sikap yang paling tinggi (Utara, 2011).
Sentuhan tangan meskipun biasa untuk ibu menjadi angka primer,
bayi akan membentuk sentuhan untuk setiap pengasuh yang sensitif dan
responsif dalam interaksi sosial dengan mereka. Dalam teori attachment,
sentuhan berarti ikatan rasa sayang antara individu dan tokoh
attachment (biasanya pengasuh). Anggapan tersebut mungkin timbal
balik antara dua orang dewasa, tetapi antara anak dan guru pernyataan
ini didasarkan pada kebutuhan anak untuk keselamatan, keamanan dan
perlindungan, yang terpenting pada masa bayi dan kanak-kanak. Menjadi
perubahan besar pada diri anak tersebut dengan nilai balasan sentuhan
cium tangan guru terhadap anak. Itu teori menyatakan bahwa anakanak merasa naluriah tubuhnya keluar yang pada akhirnya akan
mendapatkan tujuan hidup untuk replikasi genetik bahwa itu tujuan
biologis adalah kelangsungan hidup dan tujuan psikologis keamanan.
Balasan sentuhan tangan guru dengan anak bukan gambaran yang utuh
dari hubungan manusia, juga tidak identik dengan cinta dan kasih
sayang, meskipun ini mungkin menunjukkan bahwa obligasi ada. Dalam
hubungan anak ke orang dewasa, yang sayang anak disebut
“attachment” dan timbal balik antara guru dengan anak saling memberi
kepedulian yang sama.
406
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Berkaitan dengan Penguatan Pendidikan Berkarakter anak usia dini
merupakan solosi terbaik bagi anak. Kualitas kurikulum yang dibuat oleh
pengembang pendidikan PAUD adalah tugas pengembang untuk merancang
program-program yang mendukung pembelajaran anak usia dini. Sikap
guru terhadap anak secara umum yang bisa menggantikan posisi orang tua
di sekolah. Sikap terhadap guru, kepala sekolah, teman, orang tua teman,
lingkungan yang memang harus di desain agar anak bisa mendapatkan
sesuatu yang sama ketika anak di rumah dan anak di sekolah.
Perkembangan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Konsep sekolah yang ramah dan menyenangkan merupakan
keharusan dari kurikulum yang dibuat. Sistem pembelajaran yang terpadu
dengan perawatan secara umum menciptakan sekolah berbasis Attacment
sangat diharapkan pada pengembang kurikulum sekolah PAUD. Bisa
dibayangkan belajar di sekolah seraya belajar di rumah, ini yang
membuat anak betah dan tidak bosan belajar. Nilai keefektifannya
sangat tinggi karena desain penguatan pendidikan karakternya bisa
mengembangkan kecerdasan majemuk anak.
Sekolah itu sebagai rumah kedua, anak-anak senang belajar di
rumah kedua pada pendidikan berkarakter semua dilakukan dengan
senang dan penuh kasih dan sayang. Imajinasi anak-anak bekerja
sepanjang waktu, dan pemahaman mental mereka mengenai dunia
menjadi lebih baik. Hari-hari penuh dengan keceriaan sesuai dengan
konsep belajar anak yaitu belajar sambil bermain dan bermain seraya
belajar. Hal semacam ini penyedia layanan dan pendukung lingkungan
harus di desain sedemikian rupa sehingga ruang belajar anak benarbenar di konsep bermain agar anak bisa melakukan kegiatan sosial
dengan teman sebaya yang mendukung pengembangan attacment.
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah Program pendidikan di
sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati,
olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik
dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan
bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Urgensi Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) adalah 1) pembangunan Sumber Daya Manusia
(SDM) merupakan pondasi pembangunan bangsa 2) keterampilan abad
21 yang dibutuhkan siswa kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi
4C, guna mewujudkan keunggulan bersaing Generasi Emas 2045 3)
Nilai Balasan Sentuhan Cium Tangan Guru dan Anak terhadap......
407
kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti.
(Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI)
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam konteks sekarang sangat
relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara
kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap
teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obatobatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi
masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas,
oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang menciptakan anak
tidak bosan selama sehari. Kegiatan di sekolah dibuat agar anak tidak
mudah stres dan bisa bemain dengan bebas. Program sekolah juga
melayani masyarakat untuk penyedia jasa guna mendukung program
dengan latar belakang orang tua yang berbeda. Tersedia juga layanan
yang mudah diakses agar orang tua bisa melihat perkembangan anak
sewaktu-waktu.
Penutup
Nilai balasan sentuhan cium tangan guru dan anak terhadap
perkembangan penguatan pendidikan karakter (ppk) merupakan konsep
nilai yang sangat baik untuk dikembangkan pada anak usia dini.
Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang menciptakan anak tidak
bosan selama sehari. Kegiatan di sekolah dibuat agar anak tidak mudah
stres dan bisa bermain dengan bebas. Konsep sekolah yang ramah dan
menyenangkan merupakan keharusan dari program sekolah. Sekolah
merupakan rumah kedua bagi anak yang dikembangkan dengan
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Daftar Pustaka
Catherine Fife, O. (2011). Family-Friendly Schools Spell Success!,“An integrated system of early learning and care that is universally accessible,
publicly funded. The Atkinson Letter , 1-2.
Dr. Sukiman, M. (2016). Pelibatan Keluarga, Penguatan Pendidikan Karakter,
Dan Sekolah Sehari Penuh (Full Day School).
408
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
J, H. (1993). Attachment theory. Makers of modern psychotherapy .
Mudafiatun Isriyah. (2016). Pengembangan Buku Bercerita Bergambar
Melalui Pembelajaran Saintifik Berbasis BCCT. In A. Muis (Ed.), Jambore
Nasional BK (p. 102). Jember: Proceeding, ISBN.
Malekpour, M. (2007). Effects Of Attachment On Early And Later. The
British Journal of Developmental Disabilities , 1.
Santrock, J. W. (2004). Psikologi Pendidikan, Diterjemahkan dari buku aslinya
‘Educational Psychology 2’ Edition McGraw Hill Company, Inc . Jakarta,
University of Texas at Dallas: Kencana Prenada Media Group.
Starter, R. (2016). The Montessori Method. EBSCO Research Starters® •
Copyright © 2008 EBSCO Publishing Inc.
Research Starters, A. T. (2016). The Montessori Method. EBSCO Research
Starters® • Copyright © 2008 EBSCO Publishing Inc..
Utara, U. S. (2011). Translate. In U. I. Repositori, Chapter 3 (p. 6). Sumatra
Utara: Repository.usu.ac.id/bit stream 123456789/3chapter/2011
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
409
METODE GPS (GERAKAN POSITIF SISWA) GUNA MENINGKATKAN NILAI
PENDIDIKAN KARAKTER DAN NILAI PANCASILA PADA SISWA
Rhegita Resih Kemuning
SMP Negeri 25 Malang
Guru adalah sosok orang tua kedua bagi siswa ketika berada di
sekolah, sehingga seorang guru harus memiliki perilaku yang positif, lemah
lembut, dan penuh kasih sayang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Yustisia yang menyatakan bahwa, guru tidak hanya sebatas pada mengajarkan
keilmuan, tetapi juga mendidik dan mengajar tentang hal-hal yang
berhubungan dengan spiritualitas dan keterampilan fisik. Seorang guru
yang baik tidak hanya dituntut untuk mengajarkan materi pembelajaran
yang ada di sekolah, melainkan juga mengajarkan banyak nilai pendidikan
karakter dan juga nilai Pancasila. Nilai sendiri memiliki sebuah pengertian
yakni sesuatu yang berguna, benar, indah, dan juga baik.
Salim menyatakan bahwa Karakter mengacu pada serangkaian sikap,
perilaku, motivasi, dan keterampilan. Karakter merupakan nilai-nilai
perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran sikap perasaan perkataan dan perbuatan berdasarkan norma
agama, hukum tata krama, budaya, dan adat istiadat. Salah satu mata
pelajaran yang memberikan banyak nilai positif adalah mata pelajaran
PPKn. Di dalam mata pelajaran PPKn terdapat nilai pendidikan karakter
dan nilai Pancasila yang harus selalu dikembangkan oleh para peserta
didik ketika menempuh pendidikan.
Pendidikan memiliki pengertian yang sangat luas karena mencangkup
beberapa perbuatan untuk meningkatkan nilai-nilai pengetahuan,
pengalaman, kecakapan, serta berbagai keterampilan. Hal tersebut sesuai
dengan pendapat Salim mengenai pengertian pendidikan adalah seluruh
aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada
peserta didik,ini dilakukan terhadap semua aspek perkembangan
kepribadian, baik jasmani dan rohani. Nilai-nilai pada mata pelajaran
PPKn dapat diterapkan dalam proses kehidupan saat peserta didik
409
410
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
berada di masyarakat. Salah satu materi yang ada di mata pelajaran
PPKn yang sangat penting namun saat ini mulai dilupakan adalah
norma. Keberadaan norma yang ada di masyarakat dapat menjadikan
kehidupan lebih tertib dan terkendali. Materi Norma dapat membuat
peserta didik memiliki kesadaran hidup dan berfikir secara kreatif. Hal
tersebut sesuai dengan pendapatSantrock yang menjelaskan bahwa
kesadaran berarti menjadi waspada hadir secara mental dan kognitif
fleksibel saat melalui kegiatan dan tugas hidup sehari-hari, sedangkan
berpikir kritis adalah berpikir reflektif, produktif, dan mengevaluasi
bukti.
Para peserta didik khususnya sekolah menengah pertama haruslah
memiliki kesadaran dan cara berpikir kritis agar dapat menciptakan ideide baru, terbuka terhadap informasi baru, dan sadar lebih dari satu
perpesktif. Jika seorang peserta didik dapat berpikir secara kritis, maka
penanaman nilai pendidikan karakter dan juga nilai Pancasila akan
berjalan secara maksimal. Peserta didik di tingkat sekolah menengah
pertama berada pada fase remaja, yakni sebuah masa peningkatan
pengambilan keputusan. Di masa remaja, peserta didik berada pada
kondisi yang tidak menentu dan sering menimbulkan konflik ataupun
masalah. Menurut Sukmadinata pada masa remaja akan terjadi berbagai
gejolak hidup ataupun kemelut yang berhubungan dengan afektif,
sosial, intelektual, dan juga moral seseorang. Hal tersebut dapat terjadi
karena perubahan fisik dan psikis yang sangat cepat, sehingga
menimbulkan ketidakstabilan kepribadian seorang remaja. Pernyataan
tersebut yang saat ini sering di dengar dengan istilah labil ketika
menghadapi sebuah permasalahan hidup. John Wock menjelaskan bahwa
seorang yang dapat memecahkan masalah akan menemukan cara yang
tepat untuk mencapai tujuannya. Jika seseorang tidak dapat memecahkan
permasalahannya, maka akan menimbulkan banyak konflik seperti yang
dialami para remaja saat ini. Namun, kenakalan remaja dan konflik di
masyarakat tidak akan terjadi apabila nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila dapat diterapkan oleh peserta didik. Seluruh masyarakat
menginginkan kehidupan yang harmonis, rukun, dan juga damai, hal
tersebut dapat terjadi jika semua pihak mampu menampilkan sifat
positif baik saat sendiri maupun di tengah pergaulan sehari-hari.
Guru dan orang tua menginginkan dengan adanya mata pelajaran
PPKn, kenakalan remaja dapat sedikit diminimalisir. Seorang guru
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
411
khususnya selalu dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan
juga sosial. Seorang guru PPKn juga dituntut untuk memiliki kompetensi
keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam
keadaan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mata pelajaran PPKn memiliki
peranan yang sangat penting karena memiliki dasar positif yang berasal
dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter dilakukan melalui
pendidikan nilai-nilai kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa.
Pendidikan karakter mengembangkan sebuah nilai-nilai yang mengacu
pada empat hal yakni, agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan
bangsa Indonesia. Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu bersifat
normatif dan terarah kepada sebuah hal yang baik. Jika tujuan yang
diharapkan positif, maka proses pendidikannya pun juga harus positif,
konstruktif, dan juga normatif. Namun tantangannya adalah, penanaman
pendidikan karakter tidaklah mudah diperlukan proses yang panjang
dalam membentuk sebuah karakter positif pada seseorang khususnya
peserta didik. Karakter peserta didik dapat dibangun jika terdapat
sebuah sistem yang saling kuat yakni kerjasama orang tua di rumah dan
guru di sekolah. Wijaya Kusuma berpendapat bahwa sistem dapat
terjadi jika guru dan orang tua berpikir keras dalam menanamkan moral
pada siswa dan tetap menjaga akhlaknya dengan baik.
Dari penjelasan diatas muncul beberapa pertanyaan yakni, apa
sajakah nilai pendidikan karakter dan nilai yang terkandung di dalam
Pancasila, apa saja manfaat penanaman nilai pendidikan karakter dan
nilai Pancasila, dan yang ketiga apa yang dimaksud dengan metode GPS
bagi penanaman nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila bagi
siswa. Sesuai dengan pernyataan diatas maka penulis melakukan evaluasi
dan inovasi dengan membuat sebuah metode yang bernama metode
GPS. Metode GPS adalah akronim dari kata Gerakan Positif Siswa dan
diharapkan dapat meningkatkan nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila pada siswa khususnya siswa sekolah menengah pertama yang
berada pada masa perubahan dan mencari jati diri yang sesungguhnya.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dalam penanaman
nilai-nilai positif.
Nilai Pendidikan Karakter dan Nilai Pancasila
Saat ini pembelajaran di Indonesia menggunakan sebuah kurikulum
yang bernama Kurikulum 2013. Di dalam Kurikulum 2013 terdapat
412
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sebuah konsep yang menganjurkan kepada pendidik untuk menggunakan
nilai pendidikan karakter di setiap proses pembelajarannya. Hal tersebut
sangatlah tepat karena nilai pendidikan karakter memiliki tujuan yang
sangat positif bagi peserta didik. Sama halnya dengan nilai karakter,
peran dari nilai-nilai Pancasila juga sangat penting karena berasal dari
nilai-nilai luhur bangsa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dahlan
danAsyari yang menjelaskan, bahwa Pancasila dijadikan pandangan
hidup bangsa yang sebenarnya dan merupakan perwujudan dari nilainilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri, yang diyakini kebaikan dan
kebenaranya.
Jika membahas mengenai nilai karakter dan nilai Pancasila, alangkah
baiknya jika mengetahui terlebih dahulu pengertian dari nilai itu
sendiri. Menurut pendapat Dahlan nilai merupakan sebuah hal di dalam
ranah filsafat, sesungguhnya nilai itu memiliki arti yang sangat luas bila
dihubungkan dengan unsur yang ada pada diri manusia seperti akal,
pikiran, perasaan, dan juga keyakinan. Nilai dalam arti yang sesungguhnya
tidak hanya sekedar konsep abstak, melainkan sebuah hal yang
ditanamkan dengan sepenuh hati dan juga mempengaruhi jiwa raga
seseorang. Nilai juga dijalankan secara dinamis dan selalu mengikuti
perkembangan zaman. Sebuah nilai bersumber pada budi pekerti
seseorang yang selalu memiliki tujuan hidup untuk mendorong dan
mengarahkan sikap dan perilaku manusia ke arah yang lebih baik. Nilai
akan menjadi petunjuk yang mengarahkan tingkah laku manusia dalam
kesehariannya. Nilai sendiri memiliki 6 ciri sebagai berikut.
1.
Dibentuk dan disebarluakan oleh masyarakat melalui hasil interaksi
sehari-hari dan proses belajar.
2.
Nilai merupakan sebuah bagian dari pemenuhan kebutuhan dan
kepuasaan masyarakat.
3.
Nilai memiliki berbagai macam bentuk kebudayaan.
4.
Nilai memiliki peranan sebagai perubahan perkembangan diri
seseorang.
5.
Pengaruh yang ditimbulkan dari nilai tersebut setiap masyarakat
berbeda-beda.
6.
Terbentuk sistem nilai yang mengikat kehidupan masyarakat.
Setelah mengetahui pengertian dan ciri-ciri nilai yang ada di
masyarakat, maka pembahasan akan semakin terpusat kepada nilai
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
413
pendidikan karakter dan nilai Pancasila. Nilai pendidikan karakter yang
harus dijalankan seorang pendidik kepada peserta didik sebanyak 18
nilai sebagai berikut.
1.
Nilai Religius. Patuh terhadap ajaran agama yang dianutnya, toleransi
terhadap agama lain, menjalani kehidupan rukun antar umat
beragama.
2.
Nilai Jujur. Sikap dalam diri yang menunjukkan bahwa seseorang dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan juga pekerjaan.
3.
Nilai Toleransi. Menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan yang berbeda dengan dirinya.
4.
Nilai Disiplin. Perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5.
Nilai Kerja Keras. Perilaku tidak mudah menyerah dalam menggapai
sebuah tujuan.
6.
Nilai Kreatif. Memikirkan rancangan untuk hasil baru yang menarik.
7.
Nilai Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
orang lain.
8.
Nilai Demokratis. Pemikiran yang sederajat dalam pemenuhan hak dan
kewajiban terhadap seseorang.
9.
Nilai Rasa Ingin Tahu.Perasaan yang mendalam mengenai sesuatu hal
yang dipelajarinya.
10. Nilai Semangat Kebangsaan. Sikap semangat yang menempatkan
kepentingan bangsa di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Nilai Cinta Tanah Air. Sikap cinta terhadap tanah airnya dan
menempatkan kepentingan bangsanya di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
12. Nilai Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya
untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Nilai Bersahabat/Komunikatif. Sikap dan tindakan yang selalu semangat
dalam membina sebuah persahabatan dan komunikasi dengan orang
lain.
14. Nilai Cinta Damai. Selalu menempatkan kasih dan sayang dalam dasar
tindahkannya
15. Nilai Gemar Membaca. Kebiasaan menambah wawasan dan pemikiran
dengan membaca buku-buku yang bermanfaat
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
414
16. Nilai Peduli Lingkungan. Selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam di sekitarnya.
17. Nilai Peduli Sosial. Tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada
orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Nilai Tanggung Jawab. Sikap pemenuhan tugas dan kewajiban, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan,
negara, dan juga Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai Pancasila yang harus selalu diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari oleh peserta didik terdapat lima bagian utama yang dijabarkan
dalam berbagai poin. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Dahlan
dan juga Asyari yang menyebutkan bahwa,
1.
2.
Nilai-nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
a.
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaanya
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.
Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing
c.
Mengembangkan sikap hormat dan bekerja sama antar pemeluk
agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda.
d.
Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama.
e.
Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan merupakan masalah yang
menyangkut pribadi.
f.
Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama.
g.
Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
YME.
Nilai-nilai Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
a. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat
dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan YME.
b.
Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan kewajiban asasi
setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, adat, ras, agama,
gender kedudukan sosial, dan juga warna kulit.
c.
Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
d.
Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepaslira.
e.
Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
f.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
3.
4.
415
g.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
h.
Berani membela kebenaran dan keadilan.
i.
Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat
manusia.
j.
Mengembangkan sikap hormat-menghormarti dan bekerja sama
dengan bangsa lain.
Nilai-nilai Sila Persatuan Indonesia
a.
Mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
b.
Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
c.
Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
d.
Mengembangkan rasa kebanggan berkebangsaan dan bertanah
air Indonesia.
e.
Memelihara ketrtiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
f.
Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal
Ika.
g.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Nilai-nilai Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan
a.
Sebagai warga negara dan warga masyarakat setiap manusia
Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
b.
Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
c.
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama.
d.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai secara musyawarah.
e.
Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musywarah.
f.
Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas
kepentingan golongan ataupun pribadi.
g.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan YME.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
416
5.
Nilai-nilai Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
a.
Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan.
b.
Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
c.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d.
Menghormati hak orang lain.
e.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat mandiri.
f.
Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan kepada orang lain.
g.
Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
h.
Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan
dan merugikan kepentingan umum.
i.
Suka bekerja keras.
j.
Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat.
k.
Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan keadilan sosial.
Dari nilai-nilai Pancasila tersebut, peserta didik dapat menerapkan
sikap positif dalam kehidupan sehari-hari seperti berikut ini.
1.
2.
4.
Sikap positif terhadap Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
a.
Jika antar pemeluk agama saling menghormati dan bekerja sama
maka kerukunan akan tercipta.
b.
Setiap individu tidak boleh memaksakan agamanya kepada
orang lain.
Sikap positif terhadap Sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
a.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
b.
Memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya.
3.
Sikap positif terhadap Sila Persatuan Indonesia.
a.
Mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
b.
Menjaga kerukunan antar bangsa.
Sikap positif terhadap sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
a.
Menjunjung tinggi hak dan kewajiban seseorang dalam sebuah
musyawarah.
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
b.
5.
417
Mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan bersama
bukan kepentingan pribadi.
Sikap positif terhadap sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia
a.
Menganggap bahwa derajat semua manusia itu sama.
b.
Tidak membeda-bedakan keadilan seseorang.
Nilai dan sikap positif yang terdapat dalam nilai pendidikan karakter
dan nilai Pancasila seharusnya dapat diterapkan oleh peserta didik
dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat membantu peserta
didik untuk memperoleh keadaan yang tentram dan damai. Hal tersebut
dikarenakan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila merupakan ciri
khas atau kepribadian asli bangsa Indonesia yang harus selalu ditampilkan
secara jelas dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat ini kesadaran
masyarakat untuk melaksanakan nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila sudah mulai luntur. Untuk menyiasatinya maka diperlukan
penguatan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila sejak dini, bisa
melalui dua hal yakni jalur pendidikan dan juga jalur media masa.
Manfaat Penanaman Nilai Pendidikan Karakter dan Nilai
Pancasila pada Siswa
Manfaat dari penanaman nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila
pada peserta didik adalah semakin terarahnya kehidupan masyarakat
ketika telah dewasa. Tidak hanya melakukan sesuai dengan keinginannya
saja, melainkan dapat diatur sesuai dengan norma dan nilai asli Indonsia.
Jika membahas mengenai hubungan antara nilai dan juga pendidikan di
Indonesia, maka muncullah sebuah pernyataan bahwa sebuah nilai akan
mengajarkan mengenai ide yang akan dijadikan sebagai pandangan
hidup yang sangat berharga. Seseorang akan memiliki karakter yang
positif apabila memiliki kebiasaan yang positif dalam mengambil dan
menanggapi keadaan di dalam hidupnya. Kebiasaan juga akan membawa
seseorang kepada proses adaptasi penerapan pendidikan karakter dalam
kehidupan sehari-hari. Pembiasaan pendidikan karakter yang utama
adalah di dalam keluarga, namun sebagai seorang pendidik, guru juga
sangat berperan penting dalam menerapkan nilai pendidikan karakter.
Salah satu kendala penanaman pendidikan karakter di rumah adalah jika
keluarga, khususnya orang tua memiliki rutinitas yang sangat
418
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
padat,sehingga peran guru di sekolah akan semakin dibutuhkan, karena
peserta didik tidak mendapatkan perhatian yang tepat. Bekal nilai
pendidikan karakter dan nilai Pancasila pada siswa akan mengantarkannya
pada lingkungan sosial. Sesuai dengan pendapat Sukmadinata yang
menjelaskan bahwa lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan
antar manusia.
Seorang peserta didik yang mendapatkan pendidikan akan melalui
sebuah bimbingan dan latihan untuk membantu pengembangan potensi
yang ada di dalam dirinya. Pendidikan juga akan menyelamatkan
peserta didik, ketika melalui masa perubahan dari masa anak-anak
menuju tahap yang lebih tinggi ataupun lebih baik. Namun, setiap
individu memiliki cara sendiri-sendiri dalam melakukan perubahan di
hidupnya. Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi yakni faktor keturunan, lingkungan, dan pendidikan.
Maka dari itu, pentingnya pendidikan bagi seorang peserta didik, karena
pendidikan dibutuhkan seseorang sejak dia bayi hingga sepanjang
perjalanan hidupnya. Untuk memahami karakter dari peserta didik
dibutuhkan tiga aspek penting yakni aspek biologis, psikologis, dan
perbedaan intelektual. Ketiga aspek ini dapat diperkuat dengan
menempuh pendidikan yang baik ketika berada di sekolah. Peran guru
sebagai model utama di sekolah sangat dibutuhkan bagi setiap peserta
didik. Tingkah laku dan sikap seorang pendidik akan selalu ditiru oleh
para peserta didik. Maka dari itu, dalam proses penanaman nilai
pendidikan karakter dan nilai Pancasila guru harus menerapkan nilai dan
juga norma yang ada di masyarakat, bangsa, dan negara. Nilai dasar
bangsa Indonesia adalah nilai Pancasila, maka setiap tingkah laku
seorang pendidik dan peserta didik harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam penanaman nilai
pendidikan dan nilai Pancasila bagi siswa. Selain menyampaikan ilmu
pengetahuan, seorang guru juga harus menyampaikan ilmu-ilmu yang
berhubungan dengan kehidupan sosial. Guru juga dituntut untuk memiliki
kepribadian yang positif, sehingga penyampaian nilai-nilai akan semakin
maksimal. Tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, guru juga
harus selalu belajar dan menambah pengetahuannya serta
keterampilannya. Agar pengetahuan dan keterampilannya tidak
ketinggalan zaman. Sesuai pernyataan diatas, peran guru menurut
Moedikdo ada sembilan macam diantaranya sebagai seorang pendidik,
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
419
pembimbing, komunikator, motivator, mediator, informator, evaluator,
fasilitator; dan director. Maka dari itu, peran yang dimiliki oleh seorang
guru dapat menggantikan posisi orang tua ketika berada di sekolah.
Peserta didik diharapkan dalam menghindari hal-hal negatif di hidupnya,
karena selalu mendapatkan arahan yang positif dari para pendidik.
Namun ada beberapa peserta didik yang tetap melakukan pelanggaran
dan kenakalan remaja. Upaya yang dapat diambil oleh seorang pendidik
adalah:
1.
Pendidikan diharapkan mampu memberikan contoh tingkah laku yang
tidak menyimpang dari norma.
2.
Pendidik diharapkan mampu memberikan motivasi kepada peserta
didik.
3.
Pendidik diharapkan memberikan informai mengenai bahaya tindakan
kriminal.
4.
Pendidik mengawasi perkembangan dan tingkah laku peserta didik.
5.
Pendidik memberikan bimbingan kepribadian kepada peserta didik.
6.
Pendidik mengarahkan peserta didik untuk melakukan hal-hal yang
positif.
Namun upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik tidak akan
berjalan dengan maksimal apabila tidak didukung oleh upaya orang tua
ketika di rumah. Dibutuhkan kerjasama yang baik diantara keduanya, agar
kenakalan remaja dapat diminimalisir. Hal tersebut dikarenakan kenakalan
remaja meskipun sangatsederhana akan menimbulkan dampak yang sangat
besar bagi kehidupan peserta didik sendiri. Pembinaan yang terarah dari
seorang guru kepada peserta didik yang berada pada posisi remaja dapat
mengembangkan antara aspek rasio dan aspek emosi yang positif. Segala
bentuk tindakan yang positif akan mengarahkan kepada perbuatan yang
sopan, bertanggung jawab serta sopan dalam berbagai hal.
Penggunaan Metode GPS sebagai Upaya Meningkatkan Nilai
Pendidikan Karakter dan Pendidikan Pancasila bagi Siswa
Setelah memahami apa saja nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila beserta manfaat penerapannya, maka pembahasan yang ketiga
berlanjut kepada penggunaan metode GPS sebagai upaya meningkatakan
pendidikan karakter dan pendidikan Pancasila pada siswa. Pengertian
dari metode adalah salah satu inovasi yang dapat dilakukan oleh
420
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
seorang guru adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang
berbeda. Metode ini dirancang agar peserta didik lebih termotivasi
untuk melaksanakan hal-hal positif di kehidupannya. Metode GPS adalah
sebuah metode yang berasal dari akronim kara Gerakan Positif Siswa.
Gerakan ini ditujukan agar para siswa dapat termotivasi untuk melakukan
hal-hal positif setiap hari. GPS berbentuk seperti buku saku yang sangat
kecil dan dimiliki oleh setiap siswa. Di dalam GPS akan tertulis hal-hal
yang dilakukan oleh siswa setiap harinya. Hal-hal tersebut didasari oleh
nilai pendidikan karakter dan juga nilai Pancasila.
Jika seorang siswa telah melaksanakan salah satu poin dari GPS,
maka dapat meminta tanda tangan kepada pengamat. Pengamat disini
adalah seseorang yang dianggap mampu untuk mengawasi segala
aktivitas siswa, bisa orang tua di rumah, guru, walikelas, kepala sekolah
bahkan perangkat desa setempat. Saat meminta tanda tangan sebagai
bukti pelaksanaan GPS, peserta didik akan diberikan beberapa pertanyaan
yang berhubungan dengan poin yang disetujui. Contohnya adalah, jika
seorang siswa melaksanakan salah satu poin nilai pendidikan karakter
yaitu nilai Religius, siswa menunjukkan dengan cara rajin beribadah
sesuai dengan keyakinannya. Setelah itu siswa dapat meminta tanda
tangan untuk melengkapi poin-poin pada GPS. Jika semua poin telah
diselesaikan oleh siswa, maka siswa dapat mengikuti syarat yang akan
diajukan oleh guru. Misalnya adalah, jika para siswa telah menyelesaikan
seluruh poin pada GPS maka siswa dapat mengikuti ujian akhir
semester,sehingga kelengkapan dari GPS setiap siswa akan menentukan
pendidikan yang ditempuh oleh seorang peserta didik. Jika hal ini dapat
berjalan dengan maksimal, maka peserta didik akan terbiasa melakukan
hal-hal positif baik dalam keadaan sendirian maupun berada pada
keramaian. Penggunaan metode GPS ini sangat cocok diberikan kepada
peserta didik yang berada pada masa remaja yakni sekolah menengah
pertama. Peserta didik dapat membentuk konsep dan pengalaman hidup
yang positif apabila selalu diarahkan dan dipantau oleh guru maupun
orang tua.
PENUTUP
Pelaksanaan yang diharapkan dari metode GPS sebagai upaya
peningkatan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila tidaklah mudah
diwujudkan.Namun dengan adanya kerjasama yang baik maka dapat
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
421
dilaksanakan secara baik pula. Hal tersebut dapat mengarahkan peserta
didik kepada kehidupan yang lebih baik, karena sesuai dengan nama
aslinya GPS jika berada pada sebuah teknologi memiliki pengertian
sebuah hal yang dapat mengarahkan. Maka metode GPS juga diharapkan
dapat mengarahkan peserta didik secara dini ke dalam jalan yang baik.
Peserta didik dapat melaksanakan norma dan peraturan kehidupan
secara sosial di masyarakat luas,sehingga kehidupannya akan semakin
positif dan berada pada kondisi yang stabil. Hal tersebut dapat
meminimalisir kenakalan remaja yang saat ini marak terjadi kepada para
peserta didik. Pemberian tanda tangan kepda peserta didik yang telah
melaksanakan poin GPS juga akan memberikan pemahaman lebih jika
orang-orang di sekitarnya selalu memperhatikan secara khusus. Selain
itu, peserta didik juga akan selalu termotivasi dan menganggap bahwa
lingkungannya menyayangi dan memberikan penghargaan atas apa
yang dilakukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alfandi, Haryanto. 2011. Desain Pembelajaran yang Demokratis dan
Humanis. Jogjakarta: ArRuzz Media.
Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evalusi Pendidikan. Jakarta: Penerbit
Bumi Aksara.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Micro Teaching & Team Teaching. Jogjakarta:
Diva Press.
Dahlan, Saronji dan Asyari. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMP
Kelas VIII. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Darmansyah. 2012. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor.
Jakarta: Bumi Aksara.
Dewey, John. 2008. Pengalaman dan Pendidikan. Yogyakarta: Kepel Press.
Holt, John. 2016. Belajar Sepanjang Waktu. Jakarta: Gelora Kasara Pratama.
Kusuma, Wijaya. 2012. Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya. Jakarta: PT
Indeks.
Salikun dkk. 2014. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/
Mts Kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Salikun dkk. 2016. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/
Mts Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
422
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Salim, Moh. Haitami. 2013. Pendidikan Karakter Konsepsi dan
Implementasinya Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah,
Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Santrock, John W. 2016. Psikologi Pendidikan Educationaal Psychology.
Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2011. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Thoha, M. Chabib. 2003. Tekhnik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Thoifuri. 2008. Menjadi Guru Inisiator. Semarang: RaSAIL Media Group.
Wahidin. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan. Tanggerang: Penerbit In
Media.
Yustisia, N. 2013. Hypno Teaching Seni Ajar Mengeksplorasi Otak Peserta
Didik. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
409
METODE GPS (GERAKAN POSITIF SISWA) GUNA MENINGKATKAN NILAI
PENDIDIKAN KARAKTER DAN NILAI PANCASILA PADA SISWA
Rhegita Resih Kemuning
SMP Negeri 25 Malang
Guru adalah sosok orang tua kedua bagi siswa ketika berada di
sekolah, sehingga seorang guru harus memiliki perilaku yang positif, lemah
lembut, dan penuh kasih sayang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Yustisia yang menyatakan bahwa, guru tidak hanya sebatas pada mengajarkan
keilmuan, tetapi juga mendidik dan mengajar tentang hal-hal yang
berhubungan dengan spiritualitas dan keterampilan fisik. Seorang guru
yang baik tidak hanya dituntut untuk mengajarkan materi pembelajaran
yang ada di sekolah, melainkan juga mengajarkan banyak nilai pendidikan
karakter dan juga nilai Pancasila. Nilai sendiri memiliki sebuah pengertian
yakni sesuatu yang berguna, benar, indah, dan juga baik.
Salim menyatakan bahwa Karakter mengacu pada serangkaian sikap,
perilaku, motivasi, dan keterampilan. Karakter merupakan nilai-nilai
perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran sikap perasaan perkataan dan perbuatan berdasarkan norma
agama, hukum tata krama, budaya, dan adat istiadat. Salah satu mata
pelajaran yang memberikan banyak nilai positif adalah mata pelajaran
PPKn. Di dalam mata pelajaran PPKn terdapat nilai pendidikan karakter
dan nilai Pancasila yang harus selalu dikembangkan oleh para peserta
didik ketika menempuh pendidikan.
Pendidikan memiliki pengertian yang sangat luas karena mencangkup
beberapa perbuatan untuk meningkatkan nilai-nilai pengetahuan,
pengalaman, kecakapan, serta berbagai keterampilan. Hal tersebut sesuai
dengan pendapat Salim mengenai pengertian pendidikan adalah seluruh
aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada
peserta didik,ini dilakukan terhadap semua aspek perkembangan
kepribadian, baik jasmani dan rohani. Nilai-nilai pada mata pelajaran
PPKn dapat diterapkan dalam proses kehidupan saat peserta didik
409
410
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
berada di masyarakat. Salah satu materi yang ada di mata pelajaran
PPKn yang sangat penting namun saat ini mulai dilupakan adalah
norma. Keberadaan norma yang ada di masyarakat dapat menjadikan
kehidupan lebih tertib dan terkendali. Materi Norma dapat membuat
peserta didik memiliki kesadaran hidup dan berfikir secara kreatif. Hal
tersebut sesuai dengan pendapatSantrock yang menjelaskan bahwa
kesadaran berarti menjadi waspada hadir secara mental dan kognitif
fleksibel saat melalui kegiatan dan tugas hidup sehari-hari, sedangkan
berpikir kritis adalah berpikir reflektif, produktif, dan mengevaluasi
bukti.
Para peserta didik khususnya sekolah menengah pertama haruslah
memiliki kesadaran dan cara berpikir kritis agar dapat menciptakan ideide baru, terbuka terhadap informasi baru, dan sadar lebih dari satu
perpesktif. Jika seorang peserta didik dapat berpikir secara kritis, maka
penanaman nilai pendidikan karakter dan juga nilai Pancasila akan
berjalan secara maksimal. Peserta didik di tingkat sekolah menengah
pertama berada pada fase remaja, yakni sebuah masa peningkatan
pengambilan keputusan. Di masa remaja, peserta didik berada pada
kondisi yang tidak menentu dan sering menimbulkan konflik ataupun
masalah. Menurut Sukmadinata pada masa remaja akan terjadi berbagai
gejolak hidup ataupun kemelut yang berhubungan dengan afektif,
sosial, intelektual, dan juga moral seseorang. Hal tersebut dapat terjadi
karena perubahan fisik dan psikis yang sangat cepat, sehingga
menimbulkan ketidakstabilan kepribadian seorang remaja. Pernyataan
tersebut yang saat ini sering di dengar dengan istilah labil ketika
menghadapi sebuah permasalahan hidup. John Wock menjelaskan bahwa
seorang yang dapat memecahkan masalah akan menemukan cara yang
tepat untuk mencapai tujuannya. Jika seseorang tidak dapat memecahkan
permasalahannya, maka akan menimbulkan banyak konflik seperti yang
dialami para remaja saat ini. Namun, kenakalan remaja dan konflik di
masyarakat tidak akan terjadi apabila nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila dapat diterapkan oleh peserta didik. Seluruh masyarakat
menginginkan kehidupan yang harmonis, rukun, dan juga damai, hal
tersebut dapat terjadi jika semua pihak mampu menampilkan sifat
positif baik saat sendiri maupun di tengah pergaulan sehari-hari.
Guru dan orang tua menginginkan dengan adanya mata pelajaran
PPKn, kenakalan remaja dapat sedikit diminimalisir. Seorang guru
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
411
khususnya selalu dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan
juga sosial. Seorang guru PPKn juga dituntut untuk memiliki kompetensi
keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam
keadaan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mata pelajaran PPKn memiliki
peranan yang sangat penting karena memiliki dasar positif yang berasal
dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter dilakukan melalui
pendidikan nilai-nilai kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa.
Pendidikan karakter mengembangkan sebuah nilai-nilai yang mengacu
pada empat hal yakni, agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan
bangsa Indonesia. Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu bersifat
normatif dan terarah kepada sebuah hal yang baik. Jika tujuan yang
diharapkan positif, maka proses pendidikannya pun juga harus positif,
konstruktif, dan juga normatif. Namun tantangannya adalah, penanaman
pendidikan karakter tidaklah mudah diperlukan proses yang panjang
dalam membentuk sebuah karakter positif pada seseorang khususnya
peserta didik. Karakter peserta didik dapat dibangun jika terdapat
sebuah sistem yang saling kuat yakni kerjasama orang tua di rumah dan
guru di sekolah. Wijaya Kusuma berpendapat bahwa sistem dapat
terjadi jika guru dan orang tua berpikir keras dalam menanamkan moral
pada siswa dan tetap menjaga akhlaknya dengan baik.
Dari penjelasan diatas muncul beberapa pertanyaan yakni, apa
sajakah nilai pendidikan karakter dan nilai yang terkandung di dalam
Pancasila, apa saja manfaat penanaman nilai pendidikan karakter dan
nilai Pancasila, dan yang ketiga apa yang dimaksud dengan metode GPS
bagi penanaman nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila bagi
siswa. Sesuai dengan pernyataan diatas maka penulis melakukan evaluasi
dan inovasi dengan membuat sebuah metode yang bernama metode
GPS. Metode GPS adalah akronim dari kata Gerakan Positif Siswa dan
diharapkan dapat meningkatkan nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila pada siswa khususnya siswa sekolah menengah pertama yang
berada pada masa perubahan dan mencari jati diri yang sesungguhnya.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dalam penanaman
nilai-nilai positif.
Nilai Pendidikan Karakter dan Nilai Pancasila
Saat ini pembelajaran di Indonesia menggunakan sebuah kurikulum
yang bernama Kurikulum 2013. Di dalam Kurikulum 2013 terdapat
412
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
sebuah konsep yang menganjurkan kepada pendidik untuk menggunakan
nilai pendidikan karakter di setiap proses pembelajarannya. Hal tersebut
sangatlah tepat karena nilai pendidikan karakter memiliki tujuan yang
sangat positif bagi peserta didik. Sama halnya dengan nilai karakter,
peran dari nilai-nilai Pancasila juga sangat penting karena berasal dari
nilai-nilai luhur bangsa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dahlan
danAsyari yang menjelaskan, bahwa Pancasila dijadikan pandangan
hidup bangsa yang sebenarnya dan merupakan perwujudan dari nilainilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri, yang diyakini kebaikan dan
kebenaranya.
Jika membahas mengenai nilai karakter dan nilai Pancasila, alangkah
baiknya jika mengetahui terlebih dahulu pengertian dari nilai itu
sendiri. Menurut pendapat Dahlan nilai merupakan sebuah hal di dalam
ranah filsafat, sesungguhnya nilai itu memiliki arti yang sangat luas bila
dihubungkan dengan unsur yang ada pada diri manusia seperti akal,
pikiran, perasaan, dan juga keyakinan. Nilai dalam arti yang sesungguhnya
tidak hanya sekedar konsep abstak, melainkan sebuah hal yang
ditanamkan dengan sepenuh hati dan juga mempengaruhi jiwa raga
seseorang. Nilai juga dijalankan secara dinamis dan selalu mengikuti
perkembangan zaman. Sebuah nilai bersumber pada budi pekerti
seseorang yang selalu memiliki tujuan hidup untuk mendorong dan
mengarahkan sikap dan perilaku manusia ke arah yang lebih baik. Nilai
akan menjadi petunjuk yang mengarahkan tingkah laku manusia dalam
kesehariannya. Nilai sendiri memiliki 6 ciri sebagai berikut.
1.
Dibentuk dan disebarluakan oleh masyarakat melalui hasil interaksi
sehari-hari dan proses belajar.
2.
Nilai merupakan sebuah bagian dari pemenuhan kebutuhan dan
kepuasaan masyarakat.
3.
Nilai memiliki berbagai macam bentuk kebudayaan.
4.
Nilai memiliki peranan sebagai perubahan perkembangan diri
seseorang.
5.
Pengaruh yang ditimbulkan dari nilai tersebut setiap masyarakat
berbeda-beda.
6.
Terbentuk sistem nilai yang mengikat kehidupan masyarakat.
Setelah mengetahui pengertian dan ciri-ciri nilai yang ada di
masyarakat, maka pembahasan akan semakin terpusat kepada nilai
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
413
pendidikan karakter dan nilai Pancasila. Nilai pendidikan karakter yang
harus dijalankan seorang pendidik kepada peserta didik sebanyak 18
nilai sebagai berikut.
1.
Nilai Religius. Patuh terhadap ajaran agama yang dianutnya, toleransi
terhadap agama lain, menjalani kehidupan rukun antar umat
beragama.
2.
Nilai Jujur. Sikap dalam diri yang menunjukkan bahwa seseorang dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan juga pekerjaan.
3.
Nilai Toleransi. Menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan yang berbeda dengan dirinya.
4.
Nilai Disiplin. Perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5.
Nilai Kerja Keras. Perilaku tidak mudah menyerah dalam menggapai
sebuah tujuan.
6.
Nilai Kreatif. Memikirkan rancangan untuk hasil baru yang menarik.
7.
Nilai Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
orang lain.
8.
Nilai Demokratis. Pemikiran yang sederajat dalam pemenuhan hak dan
kewajiban terhadap seseorang.
9.
Nilai Rasa Ingin Tahu.Perasaan yang mendalam mengenai sesuatu hal
yang dipelajarinya.
10. Nilai Semangat Kebangsaan. Sikap semangat yang menempatkan
kepentingan bangsa di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Nilai Cinta Tanah Air. Sikap cinta terhadap tanah airnya dan
menempatkan kepentingan bangsanya di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
12. Nilai Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya
untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Nilai Bersahabat/Komunikatif. Sikap dan tindakan yang selalu semangat
dalam membina sebuah persahabatan dan komunikasi dengan orang
lain.
14. Nilai Cinta Damai. Selalu menempatkan kasih dan sayang dalam dasar
tindahkannya
15. Nilai Gemar Membaca. Kebiasaan menambah wawasan dan pemikiran
dengan membaca buku-buku yang bermanfaat
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
414
16. Nilai Peduli Lingkungan. Selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam di sekitarnya.
17. Nilai Peduli Sosial. Tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada
orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Nilai Tanggung Jawab. Sikap pemenuhan tugas dan kewajiban, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan,
negara, dan juga Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai Pancasila yang harus selalu diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari oleh peserta didik terdapat lima bagian utama yang dijabarkan
dalam berbagai poin. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Dahlan
dan juga Asyari yang menyebutkan bahwa,
1.
2.
Nilai-nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
a.
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaanya
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.
Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing
c.
Mengembangkan sikap hormat dan bekerja sama antar pemeluk
agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda.
d.
Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama.
e.
Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan merupakan masalah yang
menyangkut pribadi.
f.
Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama.
g.
Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
YME.
Nilai-nilai Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
a. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat
dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan YME.
b.
Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan kewajiban asasi
setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, adat, ras, agama,
gender kedudukan sosial, dan juga warna kulit.
c.
Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
d.
Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepaslira.
e.
Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
f.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
3.
4.
415
g.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
h.
Berani membela kebenaran dan keadilan.
i.
Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat
manusia.
j.
Mengembangkan sikap hormat-menghormarti dan bekerja sama
dengan bangsa lain.
Nilai-nilai Sila Persatuan Indonesia
a.
Mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
b.
Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
c.
Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
d.
Mengembangkan rasa kebanggan berkebangsaan dan bertanah
air Indonesia.
e.
Memelihara ketrtiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
f.
Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal
Ika.
g.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Nilai-nilai Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan
a.
Sebagai warga negara dan warga masyarakat setiap manusia
Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
b.
Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
c.
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama.
d.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai secara musyawarah.
e.
Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musywarah.
f.
Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas
kepentingan golongan ataupun pribadi.
g.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan YME.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
416
5.
Nilai-nilai Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
a.
Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan.
b.
Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
c.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d.
Menghormati hak orang lain.
e.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat mandiri.
f.
Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan kepada orang lain.
g.
Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
h.
Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan
dan merugikan kepentingan umum.
i.
Suka bekerja keras.
j.
Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat.
k.
Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan keadilan sosial.
Dari nilai-nilai Pancasila tersebut, peserta didik dapat menerapkan
sikap positif dalam kehidupan sehari-hari seperti berikut ini.
1.
2.
4.
Sikap positif terhadap Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
a.
Jika antar pemeluk agama saling menghormati dan bekerja sama
maka kerukunan akan tercipta.
b.
Setiap individu tidak boleh memaksakan agamanya kepada
orang lain.
Sikap positif terhadap Sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
a.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
b.
Memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya.
3.
Sikap positif terhadap Sila Persatuan Indonesia.
a.
Mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
b.
Menjaga kerukunan antar bangsa.
Sikap positif terhadap sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
a.
Menjunjung tinggi hak dan kewajiban seseorang dalam sebuah
musyawarah.
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
b.
5.
417
Mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan bersama
bukan kepentingan pribadi.
Sikap positif terhadap sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia
a.
Menganggap bahwa derajat semua manusia itu sama.
b.
Tidak membeda-bedakan keadilan seseorang.
Nilai dan sikap positif yang terdapat dalam nilai pendidikan karakter
dan nilai Pancasila seharusnya dapat diterapkan oleh peserta didik
dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat membantu peserta
didik untuk memperoleh keadaan yang tentram dan damai. Hal tersebut
dikarenakan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila merupakan ciri
khas atau kepribadian asli bangsa Indonesia yang harus selalu ditampilkan
secara jelas dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat ini kesadaran
masyarakat untuk melaksanakan nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila sudah mulai luntur. Untuk menyiasatinya maka diperlukan
penguatan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila sejak dini, bisa
melalui dua hal yakni jalur pendidikan dan juga jalur media masa.
Manfaat Penanaman Nilai Pendidikan Karakter dan Nilai
Pancasila pada Siswa
Manfaat dari penanaman nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila
pada peserta didik adalah semakin terarahnya kehidupan masyarakat
ketika telah dewasa. Tidak hanya melakukan sesuai dengan keinginannya
saja, melainkan dapat diatur sesuai dengan norma dan nilai asli Indonsia.
Jika membahas mengenai hubungan antara nilai dan juga pendidikan di
Indonesia, maka muncullah sebuah pernyataan bahwa sebuah nilai akan
mengajarkan mengenai ide yang akan dijadikan sebagai pandangan
hidup yang sangat berharga. Seseorang akan memiliki karakter yang
positif apabila memiliki kebiasaan yang positif dalam mengambil dan
menanggapi keadaan di dalam hidupnya. Kebiasaan juga akan membawa
seseorang kepada proses adaptasi penerapan pendidikan karakter dalam
kehidupan sehari-hari. Pembiasaan pendidikan karakter yang utama
adalah di dalam keluarga, namun sebagai seorang pendidik, guru juga
sangat berperan penting dalam menerapkan nilai pendidikan karakter.
Salah satu kendala penanaman pendidikan karakter di rumah adalah jika
keluarga, khususnya orang tua memiliki rutinitas yang sangat
418
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
padat,sehingga peran guru di sekolah akan semakin dibutuhkan, karena
peserta didik tidak mendapatkan perhatian yang tepat. Bekal nilai
pendidikan karakter dan nilai Pancasila pada siswa akan mengantarkannya
pada lingkungan sosial. Sesuai dengan pendapat Sukmadinata yang
menjelaskan bahwa lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan
antar manusia.
Seorang peserta didik yang mendapatkan pendidikan akan melalui
sebuah bimbingan dan latihan untuk membantu pengembangan potensi
yang ada di dalam dirinya. Pendidikan juga akan menyelamatkan
peserta didik, ketika melalui masa perubahan dari masa anak-anak
menuju tahap yang lebih tinggi ataupun lebih baik. Namun, setiap
individu memiliki cara sendiri-sendiri dalam melakukan perubahan di
hidupnya. Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi yakni faktor keturunan, lingkungan, dan pendidikan.
Maka dari itu, pentingnya pendidikan bagi seorang peserta didik, karena
pendidikan dibutuhkan seseorang sejak dia bayi hingga sepanjang
perjalanan hidupnya. Untuk memahami karakter dari peserta didik
dibutuhkan tiga aspek penting yakni aspek biologis, psikologis, dan
perbedaan intelektual. Ketiga aspek ini dapat diperkuat dengan
menempuh pendidikan yang baik ketika berada di sekolah. Peran guru
sebagai model utama di sekolah sangat dibutuhkan bagi setiap peserta
didik. Tingkah laku dan sikap seorang pendidik akan selalu ditiru oleh
para peserta didik. Maka dari itu, dalam proses penanaman nilai
pendidikan karakter dan nilai Pancasila guru harus menerapkan nilai dan
juga norma yang ada di masyarakat, bangsa, dan negara. Nilai dasar
bangsa Indonesia adalah nilai Pancasila, maka setiap tingkah laku
seorang pendidik dan peserta didik harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam penanaman nilai
pendidikan dan nilai Pancasila bagi siswa. Selain menyampaikan ilmu
pengetahuan, seorang guru juga harus menyampaikan ilmu-ilmu yang
berhubungan dengan kehidupan sosial. Guru juga dituntut untuk memiliki
kepribadian yang positif, sehingga penyampaian nilai-nilai akan semakin
maksimal. Tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, guru juga
harus selalu belajar dan menambah pengetahuannya serta
keterampilannya. Agar pengetahuan dan keterampilannya tidak
ketinggalan zaman. Sesuai pernyataan diatas, peran guru menurut
Moedikdo ada sembilan macam diantaranya sebagai seorang pendidik,
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
419
pembimbing, komunikator, motivator, mediator, informator, evaluator,
fasilitator; dan director. Maka dari itu, peran yang dimiliki oleh seorang
guru dapat menggantikan posisi orang tua ketika berada di sekolah.
Peserta didik diharapkan dalam menghindari hal-hal negatif di hidupnya,
karena selalu mendapatkan arahan yang positif dari para pendidik.
Namun ada beberapa peserta didik yang tetap melakukan pelanggaran
dan kenakalan remaja. Upaya yang dapat diambil oleh seorang pendidik
adalah:
1.
Pendidikan diharapkan mampu memberikan contoh tingkah laku yang
tidak menyimpang dari norma.
2.
Pendidik diharapkan mampu memberikan motivasi kepada peserta
didik.
3.
Pendidik diharapkan memberikan informai mengenai bahaya tindakan
kriminal.
4.
Pendidik mengawasi perkembangan dan tingkah laku peserta didik.
5.
Pendidik memberikan bimbingan kepribadian kepada peserta didik.
6.
Pendidik mengarahkan peserta didik untuk melakukan hal-hal yang
positif.
Namun upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik tidak akan
berjalan dengan maksimal apabila tidak didukung oleh upaya orang tua
ketika di rumah. Dibutuhkan kerjasama yang baik diantara keduanya, agar
kenakalan remaja dapat diminimalisir. Hal tersebut dikarenakan kenakalan
remaja meskipun sangatsederhana akan menimbulkan dampak yang sangat
besar bagi kehidupan peserta didik sendiri. Pembinaan yang terarah dari
seorang guru kepada peserta didik yang berada pada posisi remaja dapat
mengembangkan antara aspek rasio dan aspek emosi yang positif. Segala
bentuk tindakan yang positif akan mengarahkan kepada perbuatan yang
sopan, bertanggung jawab serta sopan dalam berbagai hal.
Penggunaan Metode GPS sebagai Upaya Meningkatkan Nilai
Pendidikan Karakter dan Pendidikan Pancasila bagi Siswa
Setelah memahami apa saja nilai pendidikan karakter dan nilai
Pancasila beserta manfaat penerapannya, maka pembahasan yang ketiga
berlanjut kepada penggunaan metode GPS sebagai upaya meningkatakan
pendidikan karakter dan pendidikan Pancasila pada siswa. Pengertian
dari metode adalah salah satu inovasi yang dapat dilakukan oleh
420
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
seorang guru adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang
berbeda. Metode ini dirancang agar peserta didik lebih termotivasi
untuk melaksanakan hal-hal positif di kehidupannya. Metode GPS adalah
sebuah metode yang berasal dari akronim kara Gerakan Positif Siswa.
Gerakan ini ditujukan agar para siswa dapat termotivasi untuk melakukan
hal-hal positif setiap hari. GPS berbentuk seperti buku saku yang sangat
kecil dan dimiliki oleh setiap siswa. Di dalam GPS akan tertulis hal-hal
yang dilakukan oleh siswa setiap harinya. Hal-hal tersebut didasari oleh
nilai pendidikan karakter dan juga nilai Pancasila.
Jika seorang siswa telah melaksanakan salah satu poin dari GPS,
maka dapat meminta tanda tangan kepada pengamat. Pengamat disini
adalah seseorang yang dianggap mampu untuk mengawasi segala
aktivitas siswa, bisa orang tua di rumah, guru, walikelas, kepala sekolah
bahkan perangkat desa setempat. Saat meminta tanda tangan sebagai
bukti pelaksanaan GPS, peserta didik akan diberikan beberapa pertanyaan
yang berhubungan dengan poin yang disetujui. Contohnya adalah, jika
seorang siswa melaksanakan salah satu poin nilai pendidikan karakter
yaitu nilai Religius, siswa menunjukkan dengan cara rajin beribadah
sesuai dengan keyakinannya. Setelah itu siswa dapat meminta tanda
tangan untuk melengkapi poin-poin pada GPS. Jika semua poin telah
diselesaikan oleh siswa, maka siswa dapat mengikuti syarat yang akan
diajukan oleh guru. Misalnya adalah, jika para siswa telah menyelesaikan
seluruh poin pada GPS maka siswa dapat mengikuti ujian akhir
semester,sehingga kelengkapan dari GPS setiap siswa akan menentukan
pendidikan yang ditempuh oleh seorang peserta didik. Jika hal ini dapat
berjalan dengan maksimal, maka peserta didik akan terbiasa melakukan
hal-hal positif baik dalam keadaan sendirian maupun berada pada
keramaian. Penggunaan metode GPS ini sangat cocok diberikan kepada
peserta didik yang berada pada masa remaja yakni sekolah menengah
pertama. Peserta didik dapat membentuk konsep dan pengalaman hidup
yang positif apabila selalu diarahkan dan dipantau oleh guru maupun
orang tua.
PENUTUP
Pelaksanaan yang diharapkan dari metode GPS sebagai upaya
peningkatan nilai pendidikan karakter dan nilai Pancasila tidaklah mudah
diwujudkan.Namun dengan adanya kerjasama yang baik maka dapat
Metode GPS (Gerakan Postif Siswa) Guna Meningkatkan Nilai Pendidikan Karakter dan....
421
dilaksanakan secara baik pula. Hal tersebut dapat mengarahkan peserta
didik kepada kehidupan yang lebih baik, karena sesuai dengan nama
aslinya GPS jika berada pada sebuah teknologi memiliki pengertian
sebuah hal yang dapat mengarahkan. Maka metode GPS juga diharapkan
dapat mengarahkan peserta didik secara dini ke dalam jalan yang baik.
Peserta didik dapat melaksanakan norma dan peraturan kehidupan
secara sosial di masyarakat luas,sehingga kehidupannya akan semakin
positif dan berada pada kondisi yang stabil. Hal tersebut dapat
meminimalisir kenakalan remaja yang saat ini marak terjadi kepada para
peserta didik. Pemberian tanda tangan kepda peserta didik yang telah
melaksanakan poin GPS juga akan memberikan pemahaman lebih jika
orang-orang di sekitarnya selalu memperhatikan secara khusus. Selain
itu, peserta didik juga akan selalu termotivasi dan menganggap bahwa
lingkungannya menyayangi dan memberikan penghargaan atas apa
yang dilakukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alfandi, Haryanto. 2011. Desain Pembelajaran yang Demokratis dan
Humanis. Jogjakarta: ArRuzz Media.
Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evalusi Pendidikan. Jakarta: Penerbit
Bumi Aksara.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Micro Teaching & Team Teaching. Jogjakarta:
Diva Press.
Dahlan, Saronji dan Asyari. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMP
Kelas VIII. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Darmansyah. 2012. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor.
Jakarta: Bumi Aksara.
Dewey, John. 2008. Pengalaman dan Pendidikan. Yogyakarta: Kepel Press.
Holt, John. 2016. Belajar Sepanjang Waktu. Jakarta: Gelora Kasara Pratama.
Kusuma, Wijaya. 2012. Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya. Jakarta: PT
Indeks.
Salikun dkk. 2014. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/
Mts Kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Salikun dkk. 2016. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/
Mts Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
422
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Salim, Moh. Haitami. 2013. Pendidikan Karakter Konsepsi dan
Implementasinya Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah,
Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Santrock, John W. 2016. Psikologi Pendidikan Educationaal Psychology.
Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2011. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Thoha, M. Chabib. 2003. Tekhnik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Thoifuri. 2008. Menjadi Guru Inisiator. Semarang: RaSAIL Media Group.
Wahidin. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan. Tanggerang: Penerbit In
Media.
Yustisia, N. 2013. Hypno Teaching Seni Ajar Mengeksplorasi Otak Peserta
Didik. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
423
PRENATAL EDUCATION MENJAWAB KRISIS GENERASI BERKARAKTER
Ainul Yaqin
MA. Mashlahatul Hidayah dan STIQNIS, STIDAR Sumenep
“Pemuda hari ini adalah generasi masa depan hari esok” begitulah
Sang Revolusioner akbar bersabda, untuk pemuda yang saat ini mengalami
krisis karakter dalam berjiwa bijak dan bersifat profetik.Sebuah tantangan
besar bagi kemajuan generasi kita umat Islam dan bangsa ini. Maka
syekh Musthofa al-Ghulayaini (1949) menafsirkan hadist diatas dalam
sebuah buku ‘IdzatunNasyi’in“Sesungguhnya ditangan pemudalah urusan
Ummat.....” bahkan sang bapak proklamator kita (Soekarno) berkata:
“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku merdekakan negeri ini dari para
penjajah” dan bahkan Yesus Kristuspun berkata: “Bapa di surga, beri
hambamu ini 12 Murid, maka akan aku selamatkan manusia dari derita
dan kehinaan”(Lembaga Al-kitab Indonesia, 2004), makna dari semua itu
mengisyaratkan akan peran penting pemuda sebagai generasi harapan
bangsa.
Sebuah realita yang ada ditengah masyarakat saat ini telah mengalami
krisis berkarakter profetik terutama bagi para pemuda.Hal ini dibuktikan
dengan merosotnya moral dan tindak krimanal yang semakin menjalar
keberbagai pelosok.Belum lagi prilaku asusila oleh anak dibawah umur
ataupun oleh orang tua yang berusia lanjut seperti dalam berita-berita
yang ada di medsos.Selain itu, faktor lingkungan yang bersifat eksternal
mempengaruhi watak manusia, juga faktor internal dalam diri jiwa
manusia sangat menentukan. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali dalam
Ihya’ Lumuddin menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Hasan
Langgulung bahwa ada empat macam unsur pada watak manusia yaitu:
1.
Unsur kehewanan adalah terdiri dari nafsu, sahwat. Tujuannya agar
mereka mencapai pada kesehatan badan sebagai alat dan bertanggung
jawab atas kualitas kehewanan seperti, makan, tidur, dan seks.
2.
Unsur kebuasan adalah sifat marah, ambisi, yang tujuannya untuk
menjaga diri dari segala yang dapat melukai jasmani.
423
424
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
3.
Unsur kenakalan diperkenalkan, unsur tersebut ada pada sekitar
berumur tujuh tahun.
4.
Penjelmaan unsur-unsur ketuhanan sumber kualitas suka pada pujian,
unsur tersebut lahir pada roh semenjak diciptakan.
Keempat unsur tadi tidak berkembang secara sekaligus, akan tetapi
berkembang secara sedikit demi sedikit (bertahap) sesuai dengan
perkembangan usia dan lingkungan sekitar (Langgulung, 2003).Apabila
perkembangan anak dibiarkan pada keempat unsur tersebut makauntuk
mengarahkan suatu hal yang tidak tahu menjadi tahu tanpa ada upaya
pendidikan. Tentunya hal ini dirasakan kurang optimal tanpa mengarahkan
seseorang untuk lebih mengenal Tuhannya.Sebagaimana konsep AlGhazali yang dikutip oleh Ibnu Rush tentang tujuan pendidikan Islam
adalah untuk membentuk manusia yang berkepribadian muslim, yaitu
manusia bertakwa dengan sebenarnya takwa kepada Allah(Abidin Ibnu
Rush. Pem. Al-ghazali 1998). Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan
metode dan strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan agar sesuai
harapan.
Berdasarkan fakta dan realita diatas, sejatinya zaman sekarang
cukup menghawatirkan kepribadian masadepan anak sebagai tunas
pemuda bangsa dan negara.Dalam memahami agama diperlukan
penawaran konsep pendidikan sedini mungkin yaitu prenatal (anak
sebelum lahir), pendidikan prenatal tersebut dilakukan mulai dari tahapan
memilih jodoh sampai proses pernikahan calon bapak-ibu sianak.
Pendidikan prenatal yaitu pendidikan tidak langsung karena diberikan
pada ibu yang mengandung. (Uhbiyati Nur. 2009).
Istilah Long Life Education, menjadi stimulasi terhadap kalangan
praktisi pendidikan barat untuk mengadakan penelitian.Pada tahun 1996
The American Assosiation of the Advancement of Sience melaporkan
prenatal enrichment unit di Hua Chiew General Hospital, Bangkok,
Thailand dengan pimpinan DR.C. Panthuraamphorn telah melakukan
penelitian terhadap bayi Prenatal dan hasilnya disimpulkan bahwa bayi
yang diberikan stimulus dalam usia kandungan lebih cepat mahir
berbicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum
secara spontan, dan juga mengembangkan pola sosial yang lebih baik
pada saat dewasa. Hal ini pun dibuktikan oleh peneliti Dr. Mark Pitzer,
Ph.D yang menulis “penelitian ilmiah membuktikan bahwa perkembangan
intlektual anak dipengaruhi oleh faktor keturunan dan kondisi awal
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
425
lingkungannya”. Awal lingkungan yang dimakasud sejak adalah sebelum
lahir sampai usia 3 tahun.
Tokoh pembaharu Perancis Jean Jaqques Rosseau mengatakan;
“Semua yang kita butuhkan dan semua kekurangan waktu kita lahir
hanya kita penuhi melalui pendidikan”(Rush,1998). Maka pendidikan
prenatalbagian jawaban tantangan yang ada, sebuah tindakan antisipasi
mulai sejak dalam kandungan dengan mengenalkan ajaran keagamaan,
kedisiplinan, serta mental krakter baik merupakan solusi
cerdas.Sebagaimana disampaikan juga oleh tokoh nasionalis kita Ir.
Soekarno dan Ki Hajar Dewantara yang mengatakan; “satu-satunya yang
dapat merubah sesuatu bangsa hanyalah pendidikan” (Kartono, 1995).
Sejatinya pendidikan sebelum lahir (prenatal) merupakan tawaran konsep
yang perlu direalisasikan keseluruh generasi umat Islam, khususnya dan
bangsa pada umumnya mulai dari kalangan masyarakat kecil sampai
kalangan tingkat elit yang mempunyai kebijakan dalam mengatur
sistem kepemerintahan.
Pendidikan Prenatal dalam Keluarga sebagai Garda Terdepan
terhadap Terbentuknya Karakter
DR C. Panthuramphom menyatakan dalam penelitiannya bahwa
janin yang diberi stimulasi sebelum lahir cepat mahir berbicara,
menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum spontan,
menolehkan kepala kearah suara orang tuanya, lebih tanggap musik,
dan juga mengembankan pola sosialnya lebih baik saat dia dewasa.
Pendapat tersebut diamini olehBaihaki yang menyatakan bahwa anak
didalam kandungan (yang telah mendapatkan roh) sudah mampu
merespon segala stimulus dari lingkungan luarnya. Penemuan ini dapat
diterima oleh ilmuan muslim, karena Islam telah menjelaskan bahwa
ketika roh ditiupkan pada anak akan memberikan kehidupan,sehingga
memiliki daya koknitif tinggi (Nur, 2009). Disini Al-Quran memberikan
penjelasan tentang masa kehidupan Janin, tepatnya pada QS. AlMukminun:14 yang berbuyi “Kemudian air mani itu kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta yang
paling baik”.
426
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pada masa atau priode dalam kandungan yang bisa dididik menurut
Ahlisin apabila telah memenuhi 4 syarat, diantara empat syarat itu
adalah:
1.
Anak dalam kandungan adalah janin yang sudah matang sebagai bayi
yang hidup dan tumbuh secara normal (teleh memiliki roh).
2.
Anak dalam kandungan yang layak mendapatkan pendidikan yaitu
anak yang sudah berusia 5-6 bulan dari pembuahan (priode kegelapan
tahap ke-3).
3.
Anak dalam kandungan yang tidak terganggu fisik dan psikisnya.
4.
Anak dalam kandungan yang sudah diketahui letak posisi dan jenis
klaminnya. (Ahlishin,2004).
Saat masa seperti itulah kedua orang tua berperan dalam mendidik
anak, peranan tersebut tidak hanya dimiliki oleh sang ibu yang sedang
mengandungnya, atau hanya diperankan oleh suami. Tidak semuanya
berperan dalam mendidik anak, sebagaimana yang disebut dalam QS.
An-Nisa: 34 yang berbunyi “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi
kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka
(laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (lakilaki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ………( QS. AnNisa’:34)”.
Dari ayat tersebut dipahami kedudukan seorang suami diibaratkan
seorang aktor yang paling berperan untuk menjadi “nahkoda” keluarga
itu sendiri.Seorang ayah adalah tokoh yang sangat berpengaruh terhadap
terciptanya keluarga yang bahagia, tentunya bahagia dunia dan akhirat.
Tugas seorang ayah adalah selain menjadi kepala rumah tangga adalah
sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas pendidikan keluarganya.
Keberhasilan dan kegagalan suatu sistem pendidikan keluarga, menjadi
tanggung jawab ayah. Lain halnya dengan ibu, ibarat sebuah persuahaan,
seorang ibu layaknya seorang manager operasional pendidikan. Ibulah
yang teramat dekat hubungannya dengan keluarga, sehingga
perkembangan anak baik ataupun buruknya tergantung peranan sang
ibu (walaupun tidak mutlak). Seorang ibu sangat dominan dalam alur
keluarga, karena ibu adalah yang paling mengerti dan paling faham
situasi di rumah,sehingga dalam rangka menciptakan pendidikan
berdasarkan syariat keislaman yang kuat dilingkungan keluarga, terutama
pada calon anak. Hal ini sangatlah dipandang perlu persiapan sedini
mungkin dengan beberapa tahapan sebagai berikut.
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
1.
427
Tahapan Memilih Jodoh
Dalam pendidikan anak orang tua terutama seorang calon ibu
notabenenya sebagai “madrasatul ulaa” yaitu tempat pertama seorang
anak belajar. Orang tua merupakan pemegang peranan penting terhadap
pendidikan dan kemajuan anak didik.Oleh karena itu, perlu berhati-hati
dalam menentukan pilihan pasangan, setidaknya harus seagama(Tafsir,
2004). Dalam memilih jodoh kita jangan hanya melihat kecantikan,
kekayaan atau postur tubuh yang dijadikan indikator utama untuk
diprioritaskan, apalagi seorang yang musyrik. Apabila untuk mencetak
anak yang berkarakter baik, maka harus melihat karakter keagamaannya
baru kemudian nasab, kecantikan, dan harta. Sebuah kisah seorang
sahabat yang ingin menikahi perempuan syirik telah dijelaskan pada
ayat, yang artinya sebagai berikut.
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari
wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih
baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintahperintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.
(QS. Al-Baqarah:221)
Pada azbabunnuzulnya ayat tersebut, diriwayatkan sebagai petunjuk
atas permohonan Ibnu Murtsid Al-Ghanawi yang meminta izin kepada
nabi Muhammad SAWuntuk menikah dengan seorang wanita musyrik
yang cantik terpandang. Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi
Hatim, dan Al-Wahidi yang bersumber pada Muqatil (Dahlan, dkk,2002).
Dapat diambil hikmahnya dari kisah hadist tersebut, bahwa dalam
memilih jodoh kita harus selektif jangan karena melihat mulusnya paha
sintal atau mempunyai “masadepan” yang menonjol, apalagi seorang
musyrik, maka untuk mencetak anak yang berkepribadian pendidikan
Islami kita harus lebih memandang pada Al-Quran, “….. wanita budak
yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik…”.Hal ini bertujuan untuk
mengarahkan pendidikan anak sedini mungkin, dalam mewujudkan
tujuan pendidikan Islami yang berkarakter mulia.
Tujuan memilih jodoh berdasarkan konsep Al-Quran diatas adalah
semata untuk meluruskan niat suci dalam mendidik anak pada fase
prenatal, sehinggamembentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan
Rahmah. Sebagaimana ayat berikut dalam QS. Ar-Rum:21, yang artinya;.
428
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum:21).
2.
Hubungan Keluarga Sakinah dan Makanan yang Pantas
Dikonsumsi Keluarga Terutama pada Masa Kehamilan
Saat mendapatkan jodoh yang sesuai dengan syariat agama, maka
hubungan suami istri harus dicetak seharmonis mungkin.Tidak boleh
saling menang sendiri ataupun saling curiga, seharusnya saling mengalah
dan menghargai serta saling mempercayai sebaiknya untuk memberikan
kesan yang indah pada malam pertama.Langkah terbaik untuk
menciptakan hubungan harmonis dan penuh mengesankan sudah
dijelaskan dalam hadist Nabi dalam kitab Af’alul Ibad (77) yang dikutip
oleh Musthofa Murod dalam bukunya, Rasulullah bersabda, yang artinya:
“Jika seseorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli
seorang budak, maka hendaklah dia memegang ubun-ubunnya, lalu
menyebut nama Allah dan memohon keberkahan. Hendaklah dia
mengucapkan: Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu akan
kebaikannya dan kebaikan yang melekat padanya, dan aku berlindung
kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang melekat padanya.
Apabila dia membeli seekor unta, maka hendaklah dia memegang
ujung punuknya dan mengucapkan doa seperti itu” (HR. Bukhari dalam
kitab Af’aal Al Ibaat).
Sementara juga ada tata tertib mempergauli istri sebagaimana
firman Allah dalam QS. An-Nisa’:19:
“………dan bergaullah dengan mereka secara patut (baik) ………”(QS.
An-Nisa’:19)
Ditegaskan kembali pengertian “Bil-Ma’ruf ” dalam ayat berikut.
”Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan
bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 223).
Sebagaimana ayat dan melaksanakan anjuran Hadis Rasulullah
diatas, maka akan terjalinlah hubungan harmonis antara suami istri,
sehingga tidak akan mempengaruhi kondisi janin ketika menghadapi
kehamilan.Dimana dalam masa hamil seorang ibu sangat sensitif dengan
situasi dan lingkungan disekitarnya, keharmonisan tersebut dapat juga
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
429
menumbuhkan perkembangan positif pada kondisi kejiwaan anak pada
fase prenatal dalam kandungan.
Selain seorang ibu yang telah hamil harus mendoakan anaknya.
Anak pada fase prenatal haruslah senantiasa didoakan oleh ibunya,
karena setiap muslim meyakini bahwa hakikatnya, dan Allahlah yang
menciptakan anak tersebut sedangkan orang tua hanyalah sebatas yang
dititipkan olehNya.
Seorang ibu harus senantiasa memakan makanan yang halal dan
baik. Karena setiap yang dimakan oleh ibu, secara otomatis akan
berpengaruh terhadap perkembangan si anak. Selanjutnya, jika ia
bermaksud agar anak yang pada fase prenatal lahir dengan cerdas dan
berdedikasi tinggi dengan dengan kedewasaanya, maka ia harus menjaga
benar-benar agar makanan dan minuman yang diberikan kepada anaknya
itu haruslah baik dan halal. Makanan dan minuman yang halal tersebut
diberinya kepada anak pada fase prenatal tentu saja melalui ibu yang
mengandungnya. Firman Allah SWT., artinya:
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah
Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu
beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
Walaupun secara ilmiah tidak ada pembuktian dengan memakan
barang haram itu dapat mempengaruhi kondisi prenatal pasca melahirkan,
namun anak berasal dari benih pria dan wanita yang berasal dari sari
pati tanah yang terkandung dalam makanan. Maka dianggap perlu
memperhatikan makanan dan minuman bagi kedua orang tua sebagai
wujud bentuk prilaku edukatif terhadap calon anaknya. Sementara
makanan yang baik dan berkualitas tentunya makanan yang berdasarkan
anjuran dalam Al-Quransebagai pedoman hidup umat, sebagaimana
yang telah disebut diatas dalam surat Al-Ma’idah ayat 88.
Pengertian haram tersebut bukan hanya makanan yang didapat dari
mencuri atau korupsi, akan tetapi daging yang disembelihpun juga
haram jika ditambah dengan menyebut selain Allah, hal ini ditegaskan
dalam QS.Al-Baqarah.119, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah.119)
430
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Selain makanan yang halal dan baik juga perlu diperhatikan gizi
dan porsi makanannya, harus mengandung zat pembangun atau protein, kalsium, zat besi, vitamin dan magnesium. Termasuk hal yang
perlu diperhatikan disini adalah perilaku orang tua sudah dapat direkam
oleh anak pada fase prenatal, karena pada usia tertentu janin sudah
diberi roh dan bergerak bebas dalam kandungan. Sebagaimana yang
telah disebut diatas dalam QS. Al-Mukminun ayat 14.
3.
Menuju Generasi Anak Berkarakter yang Berkualitas Islami dan
Cerdas
Terdapat beberapa penyebab kecerdasan anak yang hal itu perlu
dilakukan sedini mungkin dalam mencetak generasi berkarakter, termasuk
semenjak masih usia prenatal. Kondisi demikian dapat diciptakan karena
beberapa sebab yang meliputi makanan, perilaku orang tua dalam
upaya melakukan dialog terhadap anak pada fase prenatal.Miarti, seorang
direktur LPPA ZAIDAN Tutorial Preschool, telah menulis bertajuk “Prenatal Education: Berdialog dengan Janin” sebagai berikut. “Ada sebuah
pengalaman yang cukup menarik yang dialami oleh seorang pasangan
suami istri di sebuah kota. Ketika sang istri tengah hamil, dari awal
kehamilan terjadi, si suami sangat rajin mengajak ngobrol sang janin
lewat perut isterinya. Sang calon bapak sering membunyikan barangbarang yang ada di rumahnya kemudian didekatkan pada perut istrinya.
Misalnya, ia memukul-mukul wajan dengan gagang sendok, atau
meniupkan terompet, memainkan tambur, dan lain-lain. Apa yang
dilakukan tersebut tiada lain adalah untuk memberikan stimulus kepada
anak prenatal. Maksudnya, walaupun sang janin masih berada di dalam
kandungan, namun sang janin bisa merasakan kebersamaan dengan
orang-orang di luar dunianya. Dengan bunyi-bunyian tersebut, diharapkan
agar janin tersebut akan memiliki kepekaan yang tinggi
(www.suparlan.com 2008)
Menurut F. Rene Van de Carr MD dan Marc Rehrer dalam Uhbiyati,
terdapat delapan prinsip berkomunikasi dengan anak pada fase prenatal
sebagai berikut.
1.
Prinsip kerjasama. Dengan permainan-permainan belajar dan latihan
stimulasi,akan membantu orang tua dan anggota keluarga lain belajar
bekerjasama untuk mencapai kesejahteraan bayi sebelum dilahirkan.
Selain itu, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerjasamanya setelah
melahirkan.
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
431
2.
Prinsip ikatan cinta pra lahir . Dengan memainkan permainan belajar
dan melakukan latihan-latihan, orang tua dapat mengungkapkan dan
mengembangkan ikatan cinta sebelum lahir.
3.
Prinsip stimulasi pralahir. Latihan-latihan pendidikan pralahir
memberikan stimulasi sistimatis bagi otak dan perkembangan syaraf
bayi sebelum dilahirkan. Karena membantu otak bayi menjadi lebih
efisien dan menambah kapasitas belajar sebelum bayi dilahirkan.
4.
Prinsip kesadaran pralahir. Latihan-latihan pendidikan pra lahir
memiliki potensi mengajarkan bayi untuk menyadari bahwa
tindakannya mempunyai efek, dan mempunyai potensi besar dalam
mempercepat bayi belajar sebab akibat setelah bayi dilahirkan.
5.
Prinsip Kecerdasan. Program pendidikan pra lahir mencakup latihanlatihan untuk menarik minat bayi yang sedang berkembang terhadap
sensasi dan urutan yang dapat dipahami sebelum kelahiran.
6.
Prinsip mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik. Mengembangkan
kebiasaan-kebiasaan baik seperti berbicara dengan jelas kepada bayi
(mengaji Al-Quran dengan jelas dan tartil), mengharapkan bayi
menanggapi dan mengulang latihan-latihan tersebut dengan prasaan
senang ketika masa pasca lahir.
7.
Prinsip melibatkan kakak sang Bayi. Dengan ikut serta dalam latihanlatihan pendidikan pralahir, anak-anak yang lain akan merasa penting
dan tidak diabaikan.
8.
Prinsip peran penting ayah dalam masa kehamilan. Pendidikan pralahir
dapat dilakukan dengan mudah oleh ayah dan sang bayi akan lebih
menanggapi nada dalam suara ayah dan mempengaruhi
perkembangan sosial anak (Uhbiyati, 2009).
Sebuah pembuktian akan peranan penting bagi pendidikan
prenataltelah dilakukan oleh DR. Stephen Carr Leon, tentang
pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi, kenapa
terdapat banyak orang yahudi yang pintar dan berkualitas.Menurut DR.
Carr leon dari terjemahan buku H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru
besar Universitas Kebangsaan Malaysia). Apabila seorang Yahudi hamil,
maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi,
dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja,
mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih
intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika.
Kemudian mempelajarinya, mencermatinya, dan bila ada yang tidak
432
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang
lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu,
dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.
Disamping hal tersebut sang ibu memilih lebih banyak makan
kacang, korma, dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa
kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala
ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik
untuk pertumbuhan otak anak. Disamping itu sang ibu diharuskan
banyak mengkonsumsi minyak ikan (Fish Oil). Menu diatur sedemikian
rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan
makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan
makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan.
Makan ikan seyogiyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging,
hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka
mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi.
Pada hakekatnya kebiasaan orang Israil tersebut dalam memakan
buah-buahan sebelum makan nasi atau roti.Hal ini ada pada konsep
hadist nabi ketika akan berbuka puasa sebagaimana riwayat hadis
Sulaiman Ibnu ‘Amir Adldhabbi.
“Menurut hadis Sulaiman Ibnu ‘Amir Adldhabbi, bahwa Rasulallah
SAW. bersabda: “Bila seseorang daripadamuhendak berbuka maka
berbukalah dengan kurma, bila tidak ada berbukalah dengan air,
karena air itu suci”. (Diriwayatkan oleh lima ahli hadis serta dishahehkan
oleh Ibnu Khazaimah, Ibnu Hibban dan Hakim).
Sangat jelas sekali pengertian Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat
88 bahwa yang dimaksud dengan “halalantoyyiban” adalah makanan
yang halal menurut syar’i dan makanan baik adalah yang bergizi dan
berprotein serta menjaga ketahanan dan kesehatan tubuh.
PENUTUP
Implementasi pendidikan prenatal sebenarnya diawali dengan
hubungan keluarga yang sakinah,mawaddah, warrahmah dalam rangka
mendidik anak berdedikasi tinggi terhadap agama dan orang tuanya.
Karena menggunakan pendidikan pembiasaan dan kebiasaan orang tua
disaat masa usia kandungan, konsep membangun keluarga yang sakinah,
mawaddah, warrahmah termaktub dalam Firman Allah QS. Ar-Rum ayat
21.
Prental Educatioon Menjawab Krisis Generasi Berkarakter
433
Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Uhbiyati dalam
pendahuluan bukunya yang berjudul Long Life Education…..bahwa
pendidikan prenatal (usia anak dalam kandunga) merupakan pendidikan
yang tidak langsung karena diberikan kepada ibu yang mengandung.
Termasuk juga bapak,sehingga dipandang perlu untuk mempersiapkan
sedini mungkin, sejak tahap pencarian jodoh yang sesuai dengan konsep
Al-Quran, hubungan suami istri sampai pada hubungan berrumah
tangga.
Upaya untuk memberikan dorongan kesadaran positif dalam
mencetak generasi berkarakter sesuai harapan orang tua, bangsa, dan
agama. Maka diperlukan peran penting dari faktor eksternal, dalam hal
ini adalah pemerintah. Diharapkan nantinya lebih serius kembali dalam
memberikan perhatian kepada ibu hamil sebagai objek sasaran pendidikan
Prenatal. Halini dilakukan dengan membekali dan menajamkan kembali
program parenting, serta program bantuan untuk ibu hamil sebagaimana
upaya pemerintah yang selama ini dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran Terjemah.2012. Bandung: Cordoba.
Al-Kitab dengan Kidung Jemaat. 2004. Jakarta: Lembaga Al-kitab Indonesia.
Gymnastiar, Abdullah. 2005. Cara Merawat Anak. Bandung: Khas MQ.
Atsari, Abul Ishaq. 2002. Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah.
Solo: At-Tibyan.
A. Susanto. 2009. Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: AMZAH
Departemen Agama. 2009. Tafsir Al-Quran Tematik, Etika Berkeluarga,
Bermasyarakat dan Berpolitik. Jakarta: Lajnah pentashihan Mushaf
Al-Quran.
Abdullah, Muhammad Imam Syafii. 2007. Ringkasan Kitab Al-UMM. Jakarta
Selatan: Pustaka azzam.
Munir, Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi. Yogyakarta: Sukses offset.
Musthafa, Murad. 2009. Memilih Pasangan &TataCara Menikah. Bandung:
Irsyad baiyus salam.
Mulkhan,Munir Abdul. 1994. Masalah-masalah Teologi dan Fiqih dalam
tarjih Muhammadiyah. Yogyakarta: Roykhan.
434
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Shaleh. 2004. AsbabunNuzul. Bandung: CV.Penerbit.
Uhbiyati, Nur. 2009.Long Life Education Pendidikan Anak Sejak dalam
Kandungan Sampai Lansia. Semarang: Walisongo Press.
Ulwan, Nashihin Abdullah. 1981. Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam.
Semarang. CV. Assyifa’.
Ubes, Nur Ahlishin. 2004. Islam Mendidik Anak dalam Kandungan. Jakarta:
Gema Insan Press.
Menjadi Generasi Berkarakter
435
MENJADI GENERASI BERKARAKTER
Siti Robiah
SMAN 1 Lawang, Malang
Bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang dikenal ramah
tamah,menghargai perbedaan, dan suka gotong royong.Semua itu,
hanya sanjung puja yang kelewat narsistis dari pada realistisnya. Persoalan
yang muncul di masyarakat seperti kekerasan, kejahatan seksual,
perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif,
kehidupan politik yang tidak produktif, narkoba, korupsi, dan tindakan
sara. Nyatanya dari beberapa urain tersebut, kasus kekerasan pada anak
di dunia pendidikan makin marak. Dari data Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) mencatat untuk anak korban tawuran pelajar
menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 20 kasus, 2012 terdapat 49
kasus,2013 terdapat 52 kasus,2014 terdapat 113 kasus, dan 2015 ada 37
kasus. Anak pelaku tawuran pelajar pada tahun 2011 terdapat 64 kasus,
tahun 2012 ada 82 kasus, 2013 ada 71 kasus, 2014 terdapat 46 kasus, dan
2015 terdapat 62 kasus.
Persoalan sosial budaya kini juga menjadi sorotan tajam masyarakat,
jika ditinjau dari letak geografis Indonesia yang strategis di antara dua
benua; Benua Asia dan Benua Australia; diantara dua samudra; Samudra
Pasifik dan Samudra Hindia. Letak geografis Indonesia yang strategis ini
memberikan banyak dampak yang berakibat bagi Indonesia, dampak
yang
menguntungkan dan yang merugikan. Dampak yang
menguntungkan tidak menimbulkan masalah bagi Indonesia, tetapi
dampak yang merugikan bagi Indonesia, secara otomatis memberikan
dampak negatif bagi Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan sosial
budaya yang berpengaruh besar terhadap bangsa Indonesia.Adapun
dampak negatif sosial budaya bisa berupa: (1) banyak budaya yang
masuk dari luar membuat budaya lokal dapat terpinggirkan, (2) banyaknya
perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan adat istiadat Indonesia atau
norma-norma Indonesia karena mengikuti budaya asing.Selama ini
masyarakat Indonesia memandang apa yang datang dari luar selalu baik,
435
436
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya, sehingga melahirkan
ketidak seimbangan peradaban. Atau lebih tepatnya disebut “keterkejutan
budaya (cultural shock)”.(3)Banyaknya perilaku dari turis asing yang
membawa pengaruh buruk bagi bangsa Indonesia, (4) lahan subur
meningkatnya kejahatan Internasional,karena Indonesia merupakan jalur
perdanganInternasional dan jalur penghubung dua benua, dan dua
Samudra yang memudahkan masuknya kejahatan internasional berupa
narkotika dan obat-obatan terlarang.
Bagaimana cara untuk menanggulangi peristiwa-peristiwa yang
muncul di masyarakat sepertikekerasan, kejahatan seksual, perusakan,
perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif. Bagaimana
pula cara untuk mencegah generasi penerus, terutama kalangan pelajar
Indonesia supaya tidak terpengaruh pada dampak negatif sosial budaya,
dan Siapa saja yang terlibat untuk pencegahan tersebut.
Pentingnya Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter bangsa dimulai dari pendidikan karakter dalam
keluarga. Pendidikan karakter bangsa diperlukan untuk membentuk
pribadi bangsa yang beradab, berilmu, berwawasan, dan berkarakter.
Jika bangsa kita kehilangan karakter, maka kerusakanlah yang terjadi,
mereka akan terombang-ambing, dan tidak memiliki pendirian. Pendidikan
karakter pada intinya bertujuan membentuk generasi muda bangsa yang
tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong
royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, beroreantasi ilmu
pengetahuan, dan teknologi, yang semuanya dijiwai oleh iman dan
takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.Dengan
adanya pendidikan karakter yang diterapkan secara sistimatis dan
berkelanjutan, seorang anak akan cerdas Emosinya. Kecerdasan Emosi ini
merupakan bekal penting dalam mempersiapkan anak untuk menyongsong
masa depan, karena seseorang akan lebih mudah berhasil dalam
menghadapi segala macam tantangan kehidupan termasuk tantangan
untuk berhasil secara akademik. Dari hasil penelitian para ahli
perkembangan manusia menemukan kecerdasan yang sifatnya kognitif,
atau dikenal dengan istilah kecerdasan intelektual atau dikenal IQ
(Intelligence Quotient) sebagai kecerdasan yang mutlak. Oleh karena itu,
pada saat itu teori kesuksesan individu diukur dari sejauh mana IQ
dimiliki seseorang, dengan kata lain apabila seseorang mempunyai IQ
Menjadi Generasi Berkarakter
437
tinggi, ia pun memiliki harapan untuk sukses dibanding dengan individu
yang memiliki IQ yang rendah. Pada kenyataannya individu yang
memiliki IQ yang tinggi tidak selalu sukses, malah sebaliknya.
Dari hasil penelitian beberapa pakar psikologi perkembangan
menyimpulkan bahwa masih ada kecerdasan yang cukup potensial untuk
mendongkrak kesuksesan, yakni kecerdasan Emosional (EQ).
Atmosoeprapto dalam bukunya yang berjudul ”Temukan kembalui Jat
Diri Anda” bahwa kecerdasan kognitif (IQ) hanya menentukan 20 %
perjalanan hidup, sisanya sebagaian besar yang 80 % bersifat emosional
yang dikendalikan oleh kemampuan emosional. Kecerdasan emosional
lebih menekankan kepada sifat perasaan, imajinasi, intuisi maupun
emosional. Kecerdasan emosional inilah yang dominan membentuk
karakter individu manusia, dengan demikian diperlukan sekali pendidikan
karakter bukan berarti tanpa dibekali pendidikan kognitif. Ada sebuah
kata bijak mengatakan”ilmu tanpa agama buta,dan agama tanpa ilmu
adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa
pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya,karena buta tidak bisa berjalan,
berjalanpun asal jalan tidak tahu arah; kalaupun berjalan menggunakan
tongkat, tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya pendidikan
karakter tanpa pendidikan kognitif,maka akan lumpuh sehingga mudah
disetir, dimanfaatkan, dan dikendalikan orang lain. Oleh karena itu,
penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter bangsa.
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam Keluarga
Pendidikan merupakan faktor yang paling penting untuk membentuk
kepribadian manusia, dengan pendidikan akan terbentuk kepribadian
baik dan buruk manusia. Pendidikan dapat dilakukan dengan dua sistem
yaitu sistem pendidikan formal dan non formal, pendidikan di dalam
keluarga termasuk pendidikan non formal, pendidikan karakter harus
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan agar menjadi kokoh
dan kuat. Untuk itu, hendaknya pendidikan karakter dilakukan sejak usia
dini, karena usia dini merupakan masa emas perkembangan (golden
age) yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak di masa
dewasanya, yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa yang sukses
dan berkarakter. Dalam hal ini keluarga adalah aktor yang sangat
menentukan terhadap masa depan perkembangan anak. Dari pihak
keluarga perkembangan pendidikan sudah dimulai semenjak masih
438
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dalam kandungan, anak yang belum lahir sebenarnya sudah bisa
menangkap dan merespons apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya,
terutama ibu.
Menurut Megawangi (2004), anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi
yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang
berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci ibarat
kanvas putih bersih. Diberi goresan hitam, ia akan menjadi hitam, diberi
goresan kuning akan menjadi kuning. Atau yang lebih tepat, anak itu
ibarat lempung dan kita orang-orang dewasa di sekitarnya, adalah yang
membentuk lempung itu, akan dibentuk apa lempung itu tergantung
orang tua yang membentuknya. Mengingat lingkungan anak bukan saja
lingkungan keluarga yang sifatnya mikro, maka semua pihak, yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat turut andil dalam perkembangan
karakter anak. Dengan kata lain, mengembangkan generasi penerus
bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak.
Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan,
serta kenyataan bahwa manusia tidak secara alamiah (spontan) tumbuh
menjadi manusia yang berkarakter baik.
Menurut Aristoteles (dalam Megawangi, 2004) hal itu merupakan
hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat. Bagi seorang
anak keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan
dan perkembangannya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB fungsi
utama keluarga adalah ”sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh,
dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh
anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan
baik, memberikan kepuasan, dan lingkungan yang sehat guna tercapainya
keluarga sejahtra”. Keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan
seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga, dimana
sebagaian besar anak-anak Indonesia sampai usia 18 tahun menghabiskan
waktunya 60-80 % bersama keluarga, sampai usia 18 tahun, mereka
masih membutuhkan orang tua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses
seorang anak tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”.
Pendidikan yang perlu ditumbuhkan sejak awal adalah (1) pendidikan
keagamaan, ini adalah hal yang utama perlu ditekankan pada seorang
anak, seorang anak perlu tahu siapa Tuhannya, bagaimana cara beribadah,
bagaimana memohon berkah, dan mengucap syukur. (2)Kualitas input
yang diterima, merupakan tugas orang tua untuk memilih dan
Menjadi Generasi Berkarakter
439
menentukan, input-input mana saja yang perlu dimasukkan dan mana
yang perlu dihindari. (3)Anak adalah peniru yang baik, ada istilah
Monkey see, Monkey Do; artinya seekor monyet biasanya akan bertindak
berdasarkan apa yang telah dilihatnya, demikian pula seorang anak.
Anak perlu figur seorang tokoh yang dikagumi, yang akan ditiru di
dalam tindakan sehari-harinya.Pilihan utamanya akan jatuh pada orang
tua, dan seorang anak akan lebih percaya pada apa yang dilihat
daripada apa yang dikatakan orang tua. Dalam hal ini orang tualah yang
menumbuhkan karakter seorang anak untuk itu tumbuhkanlah karakter
anak, suatu karakter yang baik. (4)Membiasakan seorang anak sejak kecil
harus bekerja dulu baru mendapatkan hasil yang dikenal dengan sistemno
pain no gain, karena hal ini dalam jangka waktu yang panjangakan
membentuk karakter yang kuat dan tangguh. (5)Tiga perilaku dasar
dalam berkomunikasi, sejak kecil seorang anak perlu dididik tiga prilaku
dasar dalam komunikasi yang berhubungan dengan orang lain.Pertama
adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja
yang sudah memberikan sesuatu padanya, kedua adalah harus belajar
mengucapkan kata “tolong” apabila ingin minta bantuan orang lain,
dan ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang
bersalah. Kelihatannya memang sederhana,akan tetapi dengan terbiasa
mengucapkannya kata-kata tersebut sejak kecil,secara otomatis akan
membentuk karakter seorang anak menghargai orang lain.
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan selain keluarga, dan
lingkungan yang menjamin seorang anak untuk mampu melewati tahapan
perkembangan yang optimal.Dia akan terus menerus didukung apabila
dia memiliki kekurangan, dan akan didorong untuk berkembang bila dia
memiliki potensi. Sekolah merupakan lembaga yang memperlakukan
semua manusia yang berkekurangan maupun berkelebihan sebagai
manusia yang sederajat, yang memiliki kelebihan dilayani sebagaimana
kelebihan yang dimiliki, demikian juga yang berkekurangan. Inilah yang
menjadikan sekolah sebagai lembaga sosial yang tepat untuk
mendampingi anak disetiap tahapan perkembangannya.Sekolah juga
memberikan pembagaian jenjang yang sesuai dengan tahapan
perkembangan, dan tujuan tahapan perkembangan. Meskipun sekolah
memberikan perlakuan yang setara, namun antara individu yang berbeda
440
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
usia dan kebutuhan belajar akan dibedakan dengan adil. Perlakuan yang
setara dan adil ini tidak akan ditemui di dalam keluarga dan
lingkungan.Bertitik tolak, pada tujuan Pendidikan Nasional, pada UndangUndang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), yang merumuskan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan
upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas
menyebutkan,”Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan,
membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”.
Tujuan pendidikan nasional itu, merupakan rumusan mengenai
kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan
pendidikan.Pendidikan adalah suatu usaha yang sadardan sistematis
dalam mengembangkan potensi peserta didik, merupakan suatu usaha
masyarakatdan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi
keberlangsungan kehidupan masyarakat, serta bangsa yang lebih baik di
masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan
karakter yang telah dimiliki masyarakat, dan bangsa.Oleh karena
itu,pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa
bagi generasi muda, juga proses pengembangan budaya dan karakter
bangsa, untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakatdan bangsa di
masa mendatang.
Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif
peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses
internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka,
dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat
yang lebih sejahtra, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang
bermartabat. Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk
kepribadian. Baik pendidikan formal, informal, maupun nonformal
memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian,terutama
anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003,bahwa
pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang tersetruktur dan
berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar,pendidikan menengah,
Menjadi Generasi Berkarakter
441
dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur
pendidikandi luar pendidikan formal yang terdiri atas lembaga kursus,
lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat,
serta satuan pendidikan yang sejenis. Pendidikan informal adalah jalur
pendidikan keluarga dan lingkungan. Kegiatan pendidikan informal
dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar
secara mandiri.
Dari ketiga jenis pendidikan di atas ada kecendrungan berjalan
secara terpisah antara pendidikan formal, pendidikan non formal, dan
pendidikan informal. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan
pembentukan kepribadian anak. Setiap lembaga pendidikan berjalan
sendiri-sendiri, sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan
pribadi anak menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah,
namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan
perkelahian antar pelajar, melakukan kekerarasan yang merupakan bagian
dari penyimpangan moralitas dan prilaku sosial pelajar (Suyanto dan
Hisyam,2000:194). Dalam hal ini difokuskan pada pendidikan formal di
sekolah, dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa
yang dibuat oleh Kementerian Dinas Pendidikan, mulai tahun ajaran
2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan
pendidikan berkarakter dalam proses pembelajaran. Karena proses
pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa merupakan sebuah
proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai
dari suatu satuan pendidikan seterusnya sampai ke jenjang pendidikan
berikutnya.
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter
telah dikembangkan 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila,
budaya, dan tujuanpendidikan nasional yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3)
toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis,
(9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12)
menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15)
gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18)
tanggung jawab.Kemudian dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti pasal
1 ayat 2 dijelaskan bahwa Penumbuhan Budi Pekerti adalah kegiatan
pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah, yang dimulai sejak
dari hari pertama masuk sekolah sampai dengan kelulusan. Berarti sejak
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
442
kelas1 Sekolah Dasar (SD) sampai kelas 12 Sekolah Menengah Atas
(SMA)sederajat. Berkaitan dengan Permendikbud tersebut, muncullah
Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti (GPBP) .
Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti
Gerakan berarti menjadikan aturan ini sebagai milik bersama;
menggunakan istilah penumbuhan,bukannya penanaman.Menanam
bermakna menaruh bibit atau benih artinya ada campur tangan pihak
lain dalam prosesnya.Sementara menumbuhkan berartimemelihara sesuatu
agar tumbuh semakin besar.Kemendikbud meyakini bahwa pada dasarnya
setiap peserta didik memiliki bibit-bibit nilai positif.Mereka tentu tahu
apa itu kejujuran,sopan santun,kebaikan,menolong teman dan
sebagainya,berarti semua itu sudah ada di dalam diri peserta dididik.Budi
Pekerti merupakan istilah untuk menyebut kepribadian seseorang itu
baik.Kita melihat seseorang berbudi pekerti baik,bila memang dia telah
memiliki kebiasaan baik dalam kesehariannya. GPBP dimasukkan dalam
jalur non-kurikuler. Melalui program ini diharapkan para peserta didik
memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia,kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus
memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Ada 7 nilai positif yang hendak ditumbuhkan dalam GPBP,nilai ini
ditumbuhkan melalui pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan sepanjang
waktu,di sekolah,lingkungan, dan rumah.7 pembiasaan tersebut adalah:
1.
Internalisasi sikap moral dan spiritual,yaitu mampu menghayati
hubungan spiritual dengan sang Pencipta yang diwujudkan dengan
sikap moral untuk menghormati sesama makhlluk hidup dan alam
sekitar. Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah untuk
Menumbuhkembangkan Nilai-nilai Moral dan Spiritual adalah.
a.
Kegiatan Wajib. Sebelum dan sesudah pelajaran, guru dan peserta
didik berdoa bersama sesuai dengan keyakinan masing-masing
yang dipimpin seorang peserta didik secara bergantian.
b.
Pembiasaan umum. Membiasakan menunaikan ibadah bersama
sesuai dengan agama, dan kepercayaan masing-masing, baik di
sekolah maupun lingkungan tempat tinggal.
c.
Pembiasaan Periodik. Membiasakan perayaan hari Besar
Keagamaan dengan kegiatan sederhana dan khidmat. Contoh yang
lain: santun dalam berbicara, berprilaku, berpakaian sopan sesuai
aturan sekolah, dan mengucapkan salam saat masuk kelas.
Menjadi Generasi Berkarakter
2.
Keteguhan menjaga semangat kebangsaan dan kebhinekaan untuk
merekatkan persatuan bangsa,yaitu mampu terbuka terhadap
perbedaan bahasa,suku bangsa,agama dan golongan,dipersatukan oleh
keterhubungan untuk mewujudkan tindakan bersama sebagai satu
bangsa,satu tanah air dan berbangsa bersama Bahasa Indonesia.
Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah untuk
Menumbuhkembangkan nilai-nilai Kebangsaan dan Kebhinnekaan
adalah.
a.
3.
443
Kegiatan Wajib
1)
Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin.
2)
Melaksanakan upacara bendera pada pembukaan Masa
Orientasi Peserta Didik Baru(MOPDB) untuk jenjang SMP, SMA,
SMK, dan sekolah pada jalur pendidikan khusus yang setara.
3)
Menyanyikan lagu bernuansa patriotik dan cinta tanah air,
baik lagu wajib nasional maupun daerah.
b.
Pembiasaan umum. Mengenakan beragam keunikan potensi asal
daerah peserta didik melalui berbagai media dan kegiatan positif.
c.
Pembiasaan Periodik. Membiasakan perayaan Hari Besar
Nasional dengan mengkaji atau mengenalkan pemikiran dan
semangat yang melandasinya melalui berbagai media dan aktivitas.
Interaksi sosial positif antara peserta didik dengan figur orang dewasa
di lingkungan sekolah dan rumah,yaitu mampu dan mau menghormati
guru,kepala sekolah,tenaga kependidikan,warga masyarakat di
lingkungan sekolah dan orang tua. Pembiasaan GPBP yang dilakukan
di sekolah untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai Interaksi positif
antara peserta didik dengan guru dan orang tua.
a.
Kegiatan Wajib. Membiasakan pertemuan orang tua peserta didik
pada setiap tahun ajaran baru untuk menyosialisasikan
visi,misi,aturan,materi dan capaian belajar siswa yang diharapkan
dapat dukungan orang tua di rumah.
b.
Pembiasaan umum
1)
Memberi salam, senyum, dan sapaan kepada setiap orang di
komunitas sekolah.
2)
Guru dan tenaga kependidikan datang lebih awal untuk
menyambut kedatangan peserta didik sesuai dengan tata nilai
yang berlaku.
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
444
c.
4.
5.
Pembiasaan Periodik
1)
Membiasakan peserta didik untuk berpamitan pada orang tua/
wali/penghuni rumah saat pergi dan lapor saat pilang,sesuai
kebiasaan yang dibangun keluarga.
2)
Secara bersama peserta didik mengucapkan salam hormat
kepada guru sebelum pembelajaran dimulai.
Interaksi sosial positif antar peserta didik,yaitu kepedulian terhadap
kondisi fisik dan psikologis antar teman sebaya,adik kelas, dan kakak
kelas. Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah untuk
menumbuhkembangkan nilai-nilai Interaksi positif antara peserta.
a.
Kegiatan Wajib. Membiasakan pertemuan di lingkungan
sekolahdan/atau rumah untuk belajar kelompok yang diketahui
oleh guru dan/atau orang tua.
b.
Pembiasaan umum. Gerakan kepedulian sesame warga sekolah
dengan menjenguk warga sekolahyang sedang mengalami
musibah, seperti sakit, kematian dan lainnya.
c.
Pembiasaan Periodik. Membiasakan siswa saling membantu,bila
ada siswa yang sedang mengalami musibah atau kesusahan.
Memelihara lingkungan sekolah,yaitu melakukan gotong-royong untuk
menjaga, keamanan, ketertiban, kenyamanan, dan kebersihan
lingkungan sekolah. Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah
untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai merawat diri dan lingkungan
sekolah.
a.
Kegiatan Wajib. Melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan
sekolah dengan membentuk kelompok lintas kelas dan berbagi
tugas sesuai usia dan kemampuan siswa.
b.
Pembiasaan umum
1)
Membiasakan penggunaan sumber daya sekolah
(air,listrik,telepon)secara efisien melalui berbagai kampanye
kreatif dari dan oleh peserta didik.
2)
Menyelenggarakan kantin yang memenuhi standar kesehatan.
3)
Membangun budaya peserta didik untuk selalu menjaga
kebersihan di bangkunya masing-masing sebagai bentuk
tanggung jawab individu maupunkebersihan kelas dan
lingkungan sekolah sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Menjadi Generasi Berkarakter
c.
6.
445
Pembiasaan Periodik
1)
Mengajarkan simulasi antri dengan berbaris sebelum masuk
kelas.
2)
Antri bergantian saat memakai fasilitas sekolah.
3)
Peserta didik melaksanakan piket kebersihan secara beregu
dan bergantian regu.
4)
Menjaga dan merawat tanamandi lingkungan sekolahsecara
bergiliran.
5)
Melaksanakan kegiata buang sampah bekerja sama dengan
dinas kebersihan setempat.
Penghargaan terhadap keunikan potensi peserta didik untuk
dikembangkan,yaitu mendorong peserta didik gemar membaca dan
mengembangkan minat yang sesuai dengan potensi bakatnya untuk
memperluas cakrawala kehidupan di dalam mengembangkan dirinya
sendiri. Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah untuk
menumbuhkembangkan nilai-nilai potensi diri peserta didik secara
utuh.
a.
Kegiatan Wajib
1)
Membaca buku selain pelajaran selama 15 menit sebelum
pelajaran dimulai.
2)
Seluruh warga sekolah(guru, tenaga kependidikan, dan siswa)
memanfaatkan waktu sebelum memulai pembelajaran pada
hari-hari tertentu untuk kegiatan olah fisik seperti senam
kesegaran jasmani, dilaksanakan secara berkala dan rutin
sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu).
b. Pembiasaan Umum
1)
Peserta didik membiasakan diri untuk memiliki tabungan
dalam berbagai bentuk (rekening bank,celengan, danlainnya).
2)
Membangun budaya bertanya dan melatihpeserta didik
mengajukan pertanyaan kritis dan membiasakan peserta didik
mengacungkan tangan sebagai isyarat akan mengajukan
pertanyaan.
3)
Membiasakan setiap peserta didik untuk selalu berlatih
menjadi pemimpin dengan cara memberikan kesempatan pada
setiap peserta didiktanpa kecuali, untuk memimpin secara
bergilir dalam kegiatan bersama/berkelompok..
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
446
c.
Pembiasaan Periodik. Peserta didik melakukan kegiata positif
secara berkala sesuai denganpotensi dirinya, misalnya membuat
buletindan/atau majalah dinding.
Contoh lain: Gerakan Literasi Sekolah (GLS), dimana GLS merupakan
sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan
sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang
hayat melalui pelibatan publik. Literasi lebih dari sekedar membaca dan
menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumbersumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori.
Tiga tahapan pelaksanaan GLS meliputi(1) pembiasaan,yaitu penumbuhan
minat baca melalui kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran
dimulai, (2) pengembangan,yaitu meningkatkan kemampuan literasi
melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, (3) pembelajaran, yaitu
meningkatkan kemampuan literasi disemua mata pelajaran menggunakan
buku pengayaan dan strategi membaca disemua mata pelajaran.
7.
Penguatan peran orang tua dan unsur masyarakat yang terkait,yaitu
melibatkan peran aktif orang tua dan unsur masyarakat untuk ikut
bertanggung jawab mengawal kegiatan pembiasaan sikap dan prilaku
positip di sekolah. Pembiasaan GPBP yang dilakukan di sekolah untuk
menumbuhkembangkannilai-nilai pelibatan orang tua dan masyarakat
di sekolah.
a.
Kegiatan Wajib. Mengadakan pameran karya peserta didik pada
setiap akhir tahun ajarandengan mengundang orang tua dan
masyarakat untuk memberi apresiasi pada peserta didik.
b.
Pembiasaan Umum. Orang tua membiasakan untuk
menyediakan waktu 20 menit setiap malam untuk bercengkrama
dengan anak mengenal kegiatran di sekolah.
c.
Pembiasaan Periodik
1)
Masyarakat bekerja sama dengan sekolah untuk
mengakomodasi kegiatan kerelawanan oleh peserta didik
dalam memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan
sekitar sekolah.
2)
Masyarakat dari berbagai professi terlibat berbagi ilmu dan
pengalaman kepada peserta didik di dalam sekolah.
Dengan adanya pendidikan budaya dan karakter bangsa, sangat
berguna bagi seseorang untuk memilih karakter mana yang baik baginya,
Menjadi Generasi Berkarakter
447
dan mana yang buruk.Pendidikan budaya dan karakter bangsa, sangat
berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Karena suatu
bangsa jika memiliki karakter dan kepribadian, akan unggul dibandingkan
dengan bangsa yang belum memiliki karakter dan kepribadian.Pendidikan
karakter sangat penting diberikan bagi generasi muda bangsa Indonesia,
karena generasi muda adalah penentu suatu karakter bangsa. Jika suatu
bangsa ingin memiliki karakter kuat, bermartabat, dan disegani oleh
bangsa lain, maka dibutuhkan generasi muda yang berkarakter.Melalui
pendidikan karakter diharapkan generasi muda bangsa Indonesia, menjadi
lebih menjunjung tinggi nilai-nilai karakter yang telah dimiliki bangsa
Indonesia sejak dulu, yang mana nilai-nilai terdapat didalam sila-sila
Pancasila dan UUD 1945.
Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam pendidikan
budaya dan karakter bangsa, kegagalan keluarga dalam membentuk
karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak
berkarakter.Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran,
bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter
anak mereka didalam keluarga. Pendidikan karakter di sekolah
dilaksanakan melalui pembiasaan kehidupan keseharian dengan
keteladanan, dan disertai penumbuhan nilai-nilai karakter.Oleh karena
itu, melalui kegiatan di lingkungan sekolah, serta dengan penumbuhan
nilai-nilai karakter yang dibiasakan lewat pembelajaran di kelas,
diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki bekal
karakter yang kuat untuk dapat menjadi generasi mendatang yang lebih
berkarakter. Dengan diterapkannya pendidikan karakter di sekolah, semua
potensi kecerdasan peserta didik akan dilandasi oleh karakter-karakter
yang dapat membawa mereka menjadi generasi emas penerus bangsa
yang berpegang teguh pada karakter yang kuat dan beradab.
Daftar Pustaka
Tridhonanto. 2009. Melejetkan Kecerdasan Emosi (EQ) Buah Hati. Jakarta:
PT Elex Media Komputendo.
Megawangi, Ratna. 2010. Pengembangan Program Pendidikan Karakter di
Sekolah, Pengalaman Sekolah Karakter. Makalah. IHF. Jakarta.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015
tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
448
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
449
PENDIDIKAN KARAKTER DAN PERAN GURU DI SEKOLAH
DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Tutiek Srihayati
SMP Negeri 21 Malang
Pada masa remaja terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan
biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka
alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Masalah yang timbul
berupa akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks,
hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan
sosial yang berlaku di sekitar remaja. Banyak ahli psikologi yang
menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah,
penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain
sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu.
Tetapi para remaja merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka
lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.
Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa
untuk menentukan arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam
lingkungan pergaulan yang penuh dengan “energi negatif”, segala
bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif.
Sebaliknya, jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu
menyebarkan “energi positif”, yaitu sebuah kelompok yang selalu
memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan
diri secara positif kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki
sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.
Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh
energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung
melatarbelakangi apa pun yang remaja lakukan. Dalam konteks motivasi
yang positif, seandainya ini menjadi sebuah budaya, barangkali tidak
akan ada lagi kata-kata “kenakalan remaja” yang dialamatkan kepada
remaja. Lembaga pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh
penghuni berusia produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin
banyak orang sukses berusia muda.
449
450
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Masa remaja merupakan masa dimana seseorang belajar bersosialisasi
dengan sebayanya secara lebih mendalam, serta dengan itu pula mereka
mendapatkan jati diri dari apa yang mereka inginkan dan merupakan
tempat untuk memacu landasan dalam menggapai kedewasaan. Remaja
merupakan generasi muda yang menjadi aset negara dan merupakan
tumpuan harapan bagi masa depan bangsa dan negara maupun agama.
Maka sudah menjadi kewajiban bagi orang tua, pendidik (guru),
pemerintah, dan kita semua untuk mempersiapkan generasi muda yang
berwawasan luas dan berakhlak baik serta bertanggungjawab secara
moral.
Kini tuntutan pendidikan semakin meningkat. Untuk itu, ada
pendidikan karakter terhadap remaja sebagai penerus bangsa agar
memiliki akhlak yang baik dan bertanggungjawab. Semakin
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat remaja
lebih sensitif dalam menanggapi hal itu. Pada akhirnya tidak sedikit
remaja yangterjerumus ke hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai
moral, norma agama, norma sosial, serta norma hidup dimasyarakat.
Oleh karena itu, remaja akan cenderung mempunyai tingkah laku yang
tidak wajar dalam arti melakukan tindakan yang kurang pantas.
Kenakalan remaja inilah yang menjadikan diri kita semakin terbelakang
dan tertinggal jauh untuk dapat membangun Indonesia ini menjadi
negara yang baik dan maju.
Inilah yang menarik bagi penulis untuk mengeksplorenya lebih
dalam dari aspek berikut.
1.
Hakikat kenakalan remaja.
2.
Penyebab kenakalan remaja.
3.
Akibat kenakalan remaja.
4.
Pendidikan karakter.
5.
Peran guru dalam menanggulangi kenakalan remaja.
Hakikat Kenakalan Remaja
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia kata kenakalan berasal dari
kata “nakal” yang artinya adalah suka berbuat tidak baik, suka
mengganggu dan suka tidak menurut. Pengertian kenakalan adalah sifat
nakal, perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat mengganggu
ketenangan orang lain, tingkah laku yang menyimpang dari norma yang
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
451
berlaku dalam suatu masyarakat. Kata “remaja” berarti mulai dewasa,
sudah sampai umur untuk kawin. Remaja disebut pula dengan istilah
pubertas yaitu antara usia 12 dan 16 tahun. Pengertian pubertas
meliputi perubahan-perubahan fisik dan psikis, seperti halnya pelepasan
diri dari ikatan emosional dengan orang tua dan pembentukan rencana
hidup dan sistem nilai sendiri. Perubahan pada masa ini menjadi objek
penyorotan terutama perubahan dalam lingkungan dekat, yakni
dalam hubungan dengan keluarga.
Secara terminologi, para ahli merumuskan masa remaja dalam
pandangan dan tekanan yang berbeda, di antaranya menurut Daradjat
(2007), masa remaja adalah”masa peralihan dari masa anak-anak menuju
masa dewasa, di mana anak-anak mengalami pertumbuhan cepat di
segala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik bentuk jasmani, sikap,
cara berpikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah
matang. Masa ini mulai kira-kira pada umur 13 tahun dan berakhir kirakira umur 21 tahun.”
Menurut Arifin (2006)”Bagi setiap remaja mempunyai batasan usia
bagi remaja masing-masing yang satu sama lain tidak sama. Di Indonesia, dalam rangka usaha pembinaandan usaha penanggulangan kenakalan
remaja, agar secara hukum jelas batas-batasnya, maka ditetapkanlah
batas usia bawah dan usia atas. Batas usia bawah sebaiknya adalah 13
tahun dan batas usia atas adalah 17 tahun baik laki-laki maupun
perempuan dan yang belum kawin (nikah). Dengan demikian, maka
perilaku yang nakal yang dilakukan oleh anak di bawah umur 13 tahun
dikategorikan dalam kenakalan “biasa”. Sebaliknya perilaku nakal oleh
anak usia 18 tahun ke atas adalah termasuk dalam tindak pelanggaran
atau kejahatan. Penentuan batas usia tersebut di atas berdasarkan alasan
di antaranya: kenakalan remaja, menurut data yang diperoleh selama
ini, banyak terjadi dalam bentuk dan sifat kenakalan yang dilakukan
oleh anak usia 13 tahun sampai dengan anak usia 17 tahun. Bentuk
kenakalan yang dilakukan oleh anak usia sebelum 13 tahun pada
umumnya belum begitu serius dan membahayakan dibandingkan
dengan yang dilakukan oleh anak usia 13 tahun atas. Sedang usia 18
tahun ke atas adalah dipandang sudah menjelang dewasa yang telah
terkena sanksi hukum”.
Adapun istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata”
Juvenile Delinquency”. Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis,
452
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifatsifat khas pada periode remaja. Delinquent berasal dari kata Latin
“delinquere” yang berarti: terabaikan, mengabaikan; yang kemudian
diperluas artinya menjadi jahat, kriminal, pelanggar aturan, pembuat
ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi,dan lain-lain.
Delinquency itu selalu mempunyai konotasi serangan,pelanggaran,
kejahatan dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda di
bawah usia 22 tahun. John M Echols dan Hassan Shadily dalam kamus
Inggris Indonesia menterjemahkan juveniledelinquency sebagai kejahatan/
kenakalan anak-anak/anak muda/muda-mudi. Ciri-ciri dari kenakalan
remaja, antara lain: (1)seseorang akan mudah marah jika dia merasa
tidak cocok dalam suatu hal, (2) apabila sudah terjerumus dalam hal
yang negatif, anak menjadi pemalas, (3) tidak memiliki belas kasihan
terhadap sesama, (4) mudah putus asa, (5) tidak memperhatikan
penampilan, dan (6) tidak patuh kepada orang tua dan guru.
Adapun jenis kenakalan remaja antara lain:(a) tidak mau patuh
kepada orang tua dan guru. Hal seperti ini biasanya terjadi pada
kalangan siswa, dia tidak segan-segan menentang apa yang dikatakan
oleh orang tua dan gurunya bila tidak sesuai dengan jalan pikirannya.
Lari atau bolos dari sekolah adalah pilihan untuk menghindari dari
nasihat orang tua an guru. (b) Sering berkelahi.Sering berkelahi
merupakan salah satu dari gejala kenakalan siswa. Siswa yang
perkembangan emosinya tidak stabil yang hanya mengikuti kehendaknya
tanpa memperdulikan orang lain, yang menghalanginya itulah musuhnya.
(c) Cara berpakaian. Meniru pada dasarnya sifat yang di miliki oleh para
siswa, meniru orang lain atau bintang pujaannya yang sering di lihat di
TV atau pada iklan-iklan baik dalam hal berpakaian atau tingkah laku,
walaupun itu tidak sesuai dengan keadaan dirinya yang penting baginya
adalah mengikuti mode zaman sekarang. (d) Membolos pada jam
sekolah. (e) Kenakalan yang menganggu ketentraman dan keamanan
orang lain. Kenakalan ini adalah kenakalan yang dapat digolongkan
pada pelanggaran hukum, sebab kenakalan ini menganggu ketentraman
dan keamanan masyarakat di antaranya adalah: mencuri, menodong,
kebut-kebutan, minum-minuman keras, penyalahgunaan narkotika, dan
membaca buku-buku porno.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja yaitu
kehidupan remaja yang menyimpang dari berbagai pranata dan norma
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
453
yang berlaku umum, atau remaja yangperbuatannya menyimpang dari
norma-norma agama, hukum, dan adat istiadat yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat, sehingga meresahkan kehidupan keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara.
Penyebab Kenakalan Remaja
Sebagaimana kita ketahui bahwa kanakalan remaja merupakan
penyimpangan yang bersifat sosial, dan pelanggaran terhadap nilai-nilai
moral, nilai-nilai sosial, nilai-nilai luhur agama, dan norma-norma hukum
yang hidup dan tumbuh di dalamnya baik hukum tertulis maupun
hukum tidak tertulis. Semua perilaku yang menyimpang bagi siswa itu,
akan menimbulkan dampak pada pembentukan citra diri siswa dan
aktualisasi potensinya.
Menurut Darajat (2007) sebab-sebab terjadinya kenakalan siswa yang
paling menonjol antara lain: (a)kurangnya pendidikan agama, yang
dimaksud dengan didikan agama bukanlah pelajaran agama yang diberikan
secara sengaja dan teratur oleh guru sekolah saja. Akan tetapi, yang
terpenting adalah penanaman jiwa agama yang dimulai dari rumah
tangga, sejak si anak masih kecil, dengan jalan membiasakan si anak
kepada sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. (b)Kurang pengertian orang
tua tentang pendidikan. Banyak orang tua yang tidak mengerti bagaimana
cara mendidik anak. Mereka menyangka bahwa apabila telah memberikan
makanan, pakaian, dan perawatan kesehatan yang cukup kepada si
anak, telah selesai tugas mereka. Ada pula yang menyangka bahwa
mendidik anak dengan keras, akan menjadikannya orang baik dan
sebagainya. Sesungguhnya yang terpenting dalam pendidikan si anak,
adalah kesuluruhan perlakuan-perlakuan yang diterima oleh si anak dari
orang tuanya, di mana dia merasa disayangi, diperhatikan dan diindahkan
dalam keluarganya. Disamping itu ia harus merasa bahwa dalam
hubungannya dengan orang tua ia diperlakukan adil diantara saudarasaudaanya, ia merasa aman dan tentram, tanpa rasa ketakutan akan
dimarahi, diolok atau dibanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya
yang lain. Kurangnya komunikasi antara guru dan siswa.Komunikasi
antara guru dan siswa sangat mempengaruhi perilaku siswa, siswa yang
merasa nyaman pada guru, pasti akan merasa betah di sekolah dan
berpikir untuk melakukan tindakan yang menyimpang. (c) Kurangnya
pemahaman tentang peserta didik dan kebutuhan peserta didik”.
454
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Faktor-faktor penyebab lainnya dari kenakalan remaja antara lain:
reaksi frustasi diri, kurangnya kasih sayang,dan pengawasan dari orang
tua, dampak negatif dari perkembangan teknologi modern, tidak adanya
media penyalur bakat/hobi, masalah yang dipendam,brokenhome, salah
dalam pergaulan serta pengaruh informasi dan teknologi yang negatif.
Akibat Kenakalan Remaja
Setiap perbuatan pasti akan ada akibat yang ditimbulkan, begitu
pula dengan kenakalan remaja. Dampak kenakalanremaja pasti akan
berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan
tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
Dampak kenakalan remaja antara lain: (1)kenakalan dalam
keluarga. Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal
yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol
dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal
tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut
malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya,
mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati,
berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua
adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga. (2) Kenakalan dalam
pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam
hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak
dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan
terlarang sampai seks bebas. Menyeret remaja pada sebuah pergaulan
buruk memang relatif mudah, dimana remajasangat mudah dipengaruhi
oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat
pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung
beban yang cukup berat. (3) Kenakalan dalam pendidikan:
Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi,
namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan
menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup
mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal
pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan
guru, tidur dalam kelas, dan lain-lain.
Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan
dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut
hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
455
berguna.Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja
tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Hal yang dimaksud
gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan
dalam lingkungan sosial, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci
orang-orang sekitarnya.Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak
sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat
merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan
remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para
remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja
yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan
dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur
perlahan dan tidak sempat memperbaikinya. Kriminalitas bisa menjadi
salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif
bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak
kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan
barang berharga.
Itulah beberapa dampak kenakalan remaja yang sudah semestinya
harus dihindari. Peran orang tua atau keluarga, guru di sekolah, dan
juga teman-teman, adalah orang-orang yang sangat berperan penting
dalam kehidupan remaja. Keikutsertaan mereka dalam mengontrol
seorang remaja, bisa berdampak cukup besar demi mencapai masa
depan yang lebih cerah.
Pendidikan Karakter
Ki Hajar Dewantara (1962) mengatakan bahwa pendidikan berarti
daya upaya untuk memajukan pertumbuhan nilai moral (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intellect), dan tumbuh anak yang antara satu dan
lainnya saling berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup,
yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik
selaras.Sementara Zamroni (1992) memberikan definisi pendidikan adalah
suatu proses menanamkan dan mengembangkan pada diri peserta didik
pengetahuan tentang hidup, sikap dalam hidup agar kelak ia dapat
membedakan barang yang benar dan yang salah, yang baik dan yang
buruk, sehingga kehadirannya ditengah-tengah masyarakat akan bermakna
dan berfungsi secara optimal.
456
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar, disengaja, dan positif untuk menuntun
hidup jasmani dan rohani anak didik dengan memberi kesempatan
kepadanya untuk mengembangkan bakat menuju terbentuknya
kepribadian yang utama, serta untuk membina kualitas sumber daya
manusia seutuhnya agar ia dapat melakukan perannya dalam kehidupan
secara fungsional dan optimal. Karakter yang dimiliki oleh seseorang
pada dasarnya terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup
panjang. Karakter manusia bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir.
Lebih dari itu, karakter merupakan bentukan ataupun tempaan lingkungan
dan juga orang–orang yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Karakter
dibentuk melalui proses pembelajaran di beberapa tempat, seperti di
rumah, sekolah, dan di lingkungan sekitar tempat tinggal. Pihak–pihak
yang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang yaitu
keluarga, guru, dan teman sebaya.
Karakter seseorang biasanya akan sejalan dengan perilakunya. Bila
seseorang selalu melakukan aktivitas yang baik seperti sopan dalam
berbicara, suka menolong, atau pun menghargai sesama, maka
kemungkinan besar karakter orang tersebut juga baik, akan tetapi jika
perilaku seseorang buruk seperti suka mencela, suka berbohong, suka
berkata yang tidak baik, maka kemungkinan besar karakter orang
tersebut juga buruk.
Pengertiankarakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan,
hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian,
berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Karakter berasal dari
bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan
bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku
jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang
perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter
mulia. Koesoema(2010) memahami bahwa karakter sama dengan
kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau
gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukanbentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa
kecil, juga bawaan sejak lahir.
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
457
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya,
sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada
umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan
disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya(perasaannya).
Pendidikankarakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku
pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan
itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian,
penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana
prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.
Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga
sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Pendidikankarakter merupakan sesuatu yang dilakukan guru, yang
mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu
membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana
perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana
guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Tujuannya adalah
membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga
masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang
baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi
suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial
tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan
bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam
konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan
nilai-nilai luhuryang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri,
dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan
karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan
secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai
perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-orma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
458
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Peran Guru dalam Mengatasi Kenakalan Remaja
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berada di tengah-tengah
masyarakat hanya akan berhasil apabila ada kerja sama dan dukungan
yang penuh pengertian dari masyarakat dan keluarga. Sekolah merupakan
suatu kesatuan dari pribadi-pribadi yang berinteraksi. Pribadi-pribadi
yang bertemu di sekolah bergabung dalam bagian-bagian yang melakukan
hubungan yang harmonis. Terutama hubungan antara guru dan orang
tua siswa.
Guru sebagai salah satu komponen di sekolah tidak hanya menitik
beratkan pada transfer ilmu kepada siswanya tetapi juga harus bisa
membentuk karakter siswa yang jauh dari hal-hal negatif, sehingga para
siswa layak menjadi calon pemimpin di masa yang akan datang.
Saardiman (2010) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru, yaitu:
1.
Informator: sebagai pelaksana mengajar dan sumber informasi
kegiatan akademik maupun umum.
2.
Organisator: guru sebagai organisator, pengelolah kegiatan akademik,
silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponenkomponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua
diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektivitas
dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa.
3.
Motivator: peranan guru sebagai motivator ini penting artinya dalam
meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa.
Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamiskan potensi siswa, menumbuhkan
swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjadi
dinamika dalam proses belajar-mengajar. Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting sebgai dalam interaksi belajar-mengajar,
karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan
kemahiran sosial, menyangkut performance dalam arti personalisasi
dan sosialisasi diri.
4.
Pengarah/director: jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini
lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan
mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicitacitakan.
5.
Inisiator: guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses
belajar. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang
dapat dicontoh aleh anak didiknya.
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
459
6.
Transmitter: dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku
penyebar kebijaksanaan pendidik dan pengetahuan.
7.
Fasilitator: berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan
memberikan fasilitas atau kemudahan dalm proses belajar-mengajar,
misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang
sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi
belajar-mengajar akan berlangsung secara efektif. Hal ini sesuai dengan
semboyang “Tut Wuri Handayani”.
8.
Mediator: guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah
dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberikan
jalan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa.
9.
Evaluator: sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai
prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku
sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya
berhasil atau tidak.
Dalam dunia pendidikan guru memiliki peran penting dalam
membimbing siswa untuk menjadi siswa yang baik, siswa yang patuh
terhadap aturan, dan mampu mengukir prestasi, walau tidak semua
siswa bisa atau mau menjadi yang seperti yang diharapkan, contohnya
ada siswa yang tidak mau belajar dengan aktif. Ketika hal ini terjadi
guru harus bekerjasama dengan orang tua untuk memberikan bantuan
bimbingan kepada siswa. Orang tua dan guru harus memiliki hubungan
dalam konteks yang demikian erat seperti (a) guru hendaknya selalu
mengadakan hubungan timbal balik dengan orang tua/wali anak didik
dalam rangka kerja sama untuk memecahkan persoalan-persoalan di
sekolah dan pribadi anak. (b) Segala kesalahfahaman yang terjadi antara
guru dan orang tua/wali anak didik, hendaknya diselesaikan dengan
musyawarah dan mufakat.
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan mutlak harus mengadakan
kerja sama dengan orang tua siswa, karena siswa berada disekolah
waktunya sangat terbatas, untuk memantau perkembangan siswa. Baik
dari segi pengetahuan, maupun sikap guru harus lebih aktif untuk
bertanya kepada orang tua tentang bagaimana kehidupan siswa di luar
sekolah.Namun, guru juga berkewajiban untuk memberikan laporan dan
penjelasan kepada orang tua tentang perkembangan yang dialami oleh
siswa, sehingga jika ada permasalahan yang dialami oleh siswa akan
lebih mudah untuk mencari solusinya.
460
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Hubungan kerjasama antara guru dengan orang tua dalam mengatasi
kenakalan siswa sangatlah dibutuhkan. Kendala yang dialami oleh guru
dalam mengatasi kenakalan siswa adalah kurangnya partisipasi dan
kerjasama dari sebagian orang tua siswa, lemahnya motivasi dari dalam
diri siswa dan rendahnya minat belajar, kurangnya bantuan dari
masyarakat sekitar, mudah dan murahnya akses teknologi, lemahnya
pengawasan orang tua.
Upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi kenakalan siswa
adalah dengan memberikan keteladanan, memberikan pendidikan agama,
melakukan pendekatan psikologis, membuat tata tertib dan memperkecil
peluang siswa untuk melakukan pelanggaran tata tertib, melakukan
kerjasama dengan semua warga sekolah, orang tua dan masyarakat
sekitar, mengadakan pengawasan lebih ketat, dan menciptakan lingkungan
kelas dan sekolah yang menyenangkan, sehingga membuat siswa betah
dan nyaman ketika berada di kelas dan di lingkungan sekolah.
Sebagi sebuah upya nyata yang telah dilakukan guru (wali kelas)
dalam mengatasi kenakalan remaja di SMPN 21 Malang sebagai berikut.
1.
Guru berdiri di pintu gerbang dan menyambut kehadiran siswa di sekolah
dengan senyuman di pagi hari, untuk memberikan motivasi belajar agar
siswa selalu ceria dan semangat dalam mengikuti pelajaran di kelas.
2.
Guru menjalin hubungan dengan siswa seperti layaknya sahabat,
sehingga siswa tidak canggung dalam mengutarakan masalah yang
dihadapi yang berhubungan dengan pelajaran atau teman,dengan
menggunakan media sosial.
3.
Guru juga menjalin komunikasi dengan wali murid dengan membentuk
paguyuban antar kelas, sehingga informasi dari sekolah lebih mudah
dan cepat tersampaikan ke orang tua melalui media sosial (WA).
4.
Guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk selalu melakukan
hal yang positif misalnya untuk melatih jiwa sosial siswa, di dalam
kelas ada “celengan ceria”, dimana siswa memasukkan uang seikhlasnya
setiap hari dan dibuka setiap bulan. Hasilnya di bawa ke panti asuhan
dan program nasi bungkus untuk dibagikan kepada yang berhak
sebagai wujud syukur dan berbagi dengan sesama, dan ini dilakukan
oleh siswa bersama orang tua dan guru.
5.
Istighosah bersama antara siswa, orang tua dan guru, sehingga siswa
merasa nyaman ketika berdoa didampingi oleh orang tua masingmasing dan ini dilaksanakan sebulan sekali.
Pendidikan Karalkter dan Peran Guru di Sekolah dalam Mengatasai Kenakalan Remaja
6.
461
Outbound dengan tujuan melatih kerjasama, kekompakan antar teman
dan orang tua masing-masing siswa.
Itulah sekelumit contoh dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan
di sekolah kami, sehingga dengan kegiatan-kegiatan tersebut para siswa
dengan mudah terdeteksi secara dini apabila melakukan
pelanggaran.Orang tua dan guru juga dengan mudah mengontrol
kegiatan siswa. Mari kita bersama-sama untuk menjadi guru bagi anakanak dan para remaja kita para remaja belia, dengan selalu memberi
contoh kebenaran dan memberi dorongan untuk berbuat kebenaran.
Guru bagi para remaja adalah orang tua, guru sekolah, dan lingkungan
tempat ia dibesarkan. Apabila sang guru sudah memberi teladan yang
baik mudah-mudahan generasi remaja kita akan ada di jalan yang benar
dan selamat dari budaya “kenakalan remaja” yang merusak kehidupan
dan masa depan para remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M. 2006. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama.
Jakarta: PT Golden Terayon Press.
Daradjat, Zakiah. 2007. KesehatanMental. Jakarta: Gunung Agung.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dewantara, Ki Hadjar. 1962.Karya Ki Hadjar Dewantara.Yogyakarta: Taman
Siswa.
Echols, John M. Kamus Inggris Indonesia (An Engglish-Indonesian
Dictionary). Jakarta: PT Gramedia.
Kemendiknas. 2010. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah
Pertama. Jakarta: Gramedia.
Koesoema, Doni.2010. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di
Zaman Global. Jakarta:Grasindo.
Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali
Pers.
Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial.Yogyakarta: Tiara
Wacana.
462
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Berkarakter Kebebasan Tunggal Ika
463
BERKARAKTER KEBANGSAAN BHINNEKA TUNGGAL IKA
Sri Wahyuni
SMPN 2 Berbek Nganjuk
Setiap manusia dilahirkan tidak ada yang sama persis dan dalam
keadaan atau potensi yang berbeda. Oleh karena itu, manusia disebut
sebagai makhluk unik atau khas. Perbedaan itu bukan hanya mengenai
bentuk dan roman muka, tetapi juga mengenai tingkah laku dan perbuatan.
Bahkan, walaupun ada dua orang yang mempunyai dua ciri jasmani yang
sama, misalnya kembar identik, bila diamati dengan seksama pasti ada
juga perbedaannya (Mustaqim dan Wahib, 1991:56). Inilah yang akan
menjadi patokan pembahasan mengenai perbedaan individu, namun
harus tetap bersatu dan berkarakter kebangsaan yang sama.
Indonesia adalah negara dengan budaya keramah-tamahannya,
gotong royong, dan cinta damainya. Sejak zaman dahulu Indonesia
memang sudah terkenal dengan persatuannya, walaupun dengan beribu
budaya yang berbeda-beda. Kondisi karakter seperti inilah yang
seharusnya membuat masyarakat Indonesia memiliki keluasan wawasan
kebangsaan yang tinggi. Hal ini ditujukan agar setiap individu mengetahui
bahwabangsa Indonesia sejak dulu telah memiliki budaya yang baik.
Seorang individu tentu saja memiliki sifat yang berbeda dari individu
yang lain. Namun setiap individu harus memiliki kesadaran akan
pentingnya toleransi dan sikap menghargai sesama masyarakat Indonesia. Jika rasa menghargai itu sudah ada dalam setiap individu, maka
perbedaan bukanlah suatu hal yang perlu dihindari dalam pergaulan.
Faktanya, banyak para pelajar yang tawuran yang dilatarbelakangi
oleh perbedaan pendapat atau kesalahpahaman. Selain itu, terkadang
pertentangan dan permusuhan terjadi hanya karena fansclub sepakbola
yang berbeda. Sebagai seorang pendidik sudah selayaknya dapat
membentuk karakter peserta didik melalui pemahaman konsep toleransi
dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan tersebut tidak lain agar siswa
memahami bahwa tidak ada manfaatnya sama sekali dari perbedaan
pandangan yang berujung pertikaian. Selain itu, sebagai guru harus
463
464
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dapat menumbuhkembangkan jiwa saling menghargai serta merefleksikan
kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan dengan segenap
jiwa raganya. Dengan demikian, peserta didik akan lebih memahami
pentingnya persatuan antar sesama warga Indonesiadi balik perbedaan
yang beragam.
Menurut Ahmadi (2014:21) setiap manusia sejak dilahirkan
membutuhkan kehadiran orang lain agar ia dapat bertahan hidup.
Setiap individu memerlukan bantuan orang lain untuk perkembangannya.
Sejak seseorang dilahirkan ia membutuhkan bantuan orang lain untuk
mengurusnya, jika tidak ada yang mengurusnya pasti seorang bayi itu
akan meninggal. Seperti yang diketahui bahwa manusia sebagai makhluk
sosial pasti harus berinteraksi dengan orang lain. Manusia tidak mampu
memenuhi kebutuhannya sendiri apabila bersifat individual. Dalam
segala aspek kehidupan baik besar maupun kecil, seseorang tetap
membutuhkan bantuan dari orang lain. Misalnya seorang yang kaya
raya dengan puluhan mobil yang dimilikinya, tetap membutuhkan
petani untuk menghasilkan sumber makanannya. Jadi tidak ada individu
atau manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini.
Setiap individu haruslah memiliki kepekaan sosial yang baik terhadap
sesamanya. Banyak sekali fakta yan terjadi saat ini dijalan, di sekolah
dan di banyaktempat lain, seorang anak sekolah kurang sekali rasa
pedulinya untuk membantu orang lain. Entah karena dia tidak bisa
membantu atau karena memang tidak memiliki keinginan untuk
membantu. Ada seorang anak yang melihat orang tua terjatuh dijalan,
namun tetap melaju kencang dengan motornya tanpa berhenti. Kondisi
yang seperti ini yang menjadi masalah bagi sebagain besar peserta
didik, yang seolah kehilangan sikap peduli terhadap sesama. Seharusnya
sebagai warga negara Indonesia yang berkarakter kebangsaan dan
Pancasila, dengan tanpa basa-basi pasti akan langsung membantu orang
lain yang sedang kesulitan. Pentingnya moral dan nilai dalam kehidupan
memang seharusnya lebih diutamakan daripada wawasan ilmu
pengetahuan yang tinggi. Dengan moral dan nilai yang baik, dapat
dipastikan seseorang akan mampu memberikan manfaat bagi orang lain,
walaupun mungkin dalam pengetahuan keilmuannya dirasa kurang.
Selain itu, sebagai seorang pendidik berkewajiban untuk menumbuhkan
nilai sosial yang baik terhadap orang lain, khususnya pada peserta didik.
Diharapkan nantinya peserta didik akan memiliki nilai dan karakter
Berkarakter Kebebasan Tunggal Ika
465
kebangsaan yang baik. Dengan demikian, peserta didik siap menghadapi
era globalisasi yang semakin membuat kacau nilai dan karakter
kebangsaan bangsa Indonesia.
Menurut Ahmadi (2014:24) salah satu karakteistik manusia adalah
memiliki kehendak. Kehendak adalah kekuatan batin seorang individu
untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Kehendak adalah fungsi jiwa
untuk mencapai sesuatu. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui
bahwa setiap orang pasti memiliki keinginan atau suatu tindakan yang
ingin diperbuat. Banyak sekali keinginan individu yang berbeda di
dunia ini, karena pada dasarnya setiap individu memiliki keinginan
berbeda pula. Telah banyak dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana
seorang anak yang masih belum menginjak usia remaja sangat bergantung
pada orang tuanya. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap kehendak
yang dimiliki oleh orang tua, di mana kehendak tersebut selalu
diwujudkan pada si anak. Bila kehendak orang tua baik, maka anak
tersebut akan melakukan tindakan yang baik pula, begitu pun sebaliknya.
Peran orang tua lagi-lagi sangat menentukan sikap dan kehendak anak
ketika sudah menginjak usia remaja. Seorang yang dari kecil sudah
diajarkan melakukan kehendak dan tindakan yang baik, ketika dewasa
dia juga akan berbuat baik pula.
Kehendak seorang individu juga tergantung dengan sebuah situasi
yang sedang dihadapi. Bagaimana seorang individu menangani suatu
masalah dengan kehendaknya, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Misalnya seorang individu yang hidup di daerah dengan budaya berbeda
menghadapi peristiwa penghinaan terhadap budayanya, dalam kondisi
yang demikian sesungguhnya dia dihadapkan pada dua pilihan.
“Melakukan pembalasan atau menyikapi masalah itu dengan bijak”. Dua
pilihan tersebut yang hampir selalu ada dalam benak setiap individu
ketika menghadapi permasalahn. Maka pilihan kedua yang seharusnya
dipilih untuk menunjukkan seseorang yang berkarakter kebangsaan
yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika. Jika selalu memilih kehendak
yang bijak, maka seorang individu merupakan salah satu aset bangsa
terbaik. Hal itu sebagai sebuah wujud pengejawantahan penerus
perjuangan pahlawan untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan
bangsa Indonesia. Hal yang demikian adalah salah satu bentuk tanggung
jawab dari seorang pendidik kepada peserta didik.
466
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Berdasarkan beberapa pemaparan diatas, ada suatu hal yang
dapat dikaji lebih mendalam lagi yaitu tentang nilai karekter. Manusia
memilki kehendak dan pasti memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya,
tujuan itulah yang dinamakan cita-cita. Seperti yang dikatakan (Ahmadi,
2014:28) setiap individu memiliki cita-cita hidup. Tidak ada satu pun
manusia yang tidak memiliki cita-cita sama sekali. Baik orang itu bodoh
maupun cerdas, kaya atau miskin, di kota maupun desa, semua pasti
memiliki cita-cita. Cita-cita adalah tujuan seseorang yang ingin dicapai
selama hidup di dunia. Setiap manusia mempunyai cita-cita yang
berbeda-beda, ada yang bercita-cita setinggi langit dan ada pula yang
bercita-cita ala kadarnya saja. Sebagai manusia yang tinggal dalam
sebuah negara dan menjadi suatu bangsa memiliki kewajiban untuk
menjunjung persatuan dan kemajuan bangsa. Dengan demikian, seorang
yang tinggal di suatu negara harus menjadi bagian integral di dalamnya,
serta wajib memberikan yang terbaik untuk negaranya.
Jika seseorang mempunyai cita-cita, maka harus memiliki tujuan
yang disertakannya untuk mengembangkan serta memajukan bangsa.
Harus juga memiliki cita-cita yang tetap menjaga persatuan serta kesatuan
bangsa dan negaranya. Mulai dari cita-cita yang tinggi maupun rendah
pun, bisa untuk mencapai tujuan kebangsaan dan menjadi seorang yang
berkarakter kebangsaan yang baik. Contohnya adalah seorang dengan
cita-cita tinggi ingin menjadi professor ataupun pengembang teknologi,
semua haruslah tetap disumbangkan dan didedikasikan ilmunya serta
penemuannya untuk negara. Sebagai contoh orangnya adalah mantan
presiden kita, bapak Habibie yang dulu menempuh pendidikan jauh ke
negeri Jerman namun setelah beliau berhasil dan sukses, beliau tak lupa
dengan negaranya. Beliau merupakan sumbangsih terbesar bagi negara
sebagai orang yang sukses di negeri lain. Sangat patut sekali kita contoh
dan teladani bagaimana seorang yang kayanya tidak dipungkiri dan
dijamin negara Jerman kehidupannya sangat berlebih namun tetap
memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya dan tanah airnya.
Beliaupun juga tak pernah lupa untuk terus mengembangkan dan
membudidayakan pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa.
Ada pula contoh cita-cita yang mungkin saja terlihat sederhana, namun
memiliki nilai karakter kebangsaan yang sangat tinggi.contohnya citacita sebagai guru sekolah kecil di pelosok. Cita-cita yang begitu sederhana
namun memiliki fungsi kearifan yang luar biasa. Dengan menjadi
Berkarakter Kebebasan Tunggal Ika
467
seorang guru yang berarti pendidik, pembimbing dan pelurus moral
anak muda bangsa, maka sangat penting sekali perannya untuk persatuan
dan pencerdasan bangsa. Sebagai seorang guru, seseorang bisa
memberikan ilmu serta wawasan kebangsaan yang menghargai
perjuangan para pahlawan serta pentingnya menjaga tanah air Indonesia agar tidak terjajah kembali. Seorang guru bisa memberikan pengaruh
positif setiap hari kepada sang siswa. Sehingga walaupun dengan
jauhnya anak didik atau anak-anak pelosok dari kemajuan dan teknologi
yang maju saat ini, serta kebudayaan mereka yang masih tradisional dan
tertinggal, namun mereka memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi
dan mampu bertindak bijak jika ada masalah yang menyangkut dengan
persatuan bangsanya. Inilah pentingnya suatu cita-cita, bukan hanya
untuk memuliakan dirinya sendiri, namun lebih luas cita-cita harus
bernilai kebangsaan sehingga mampu menjaga negara Indonesia dengan
baik menggunakan cita-citanya.
Menurut (Hariyono, 2014:27) munculnya kelompok-kelompok yang
mendasarkan pada identitas etnis dan agama yang eksklusif jelas
membahayakan upaya membangun nasionalisme inklusif serta kehidupan
bermasyarakat yang toleran tehadap basis pada kebhinekaan. Ini artinya
pemuda yang baik memang kadang dapat dilihat dari kereligiusan dan
penghormatan terhadap budayanya dengan baik. Namun lain cerita jika
ketaatan agama dan budaya seseorang ini melampaui batas. Sehingga
dapat dikatakan bahwa orang yang taat terhadap budaya dan agamanya
ini menjadi seorang yang radikal dan keras. Menolak mentah-mentah
bahkan memusuhi budaya dan agama lain. Hal inilah yang menjadi
kesalahan seseorang dalam berbangsa dan bernegara. Kita harus ingat
bahwa kita mendiami negara pasti berlandaskan terhadap sesuatu. Dan
negara kita Indonesia berlandaskan pancasila yang harus menjunjung
tinggi Bhineka Tunggal Ika. Apa artnya? Artinya kita mampu untuk
menerima dan bijak dalam menyikapi suatu perbedaan. Karena Indonesia memang dibentuk dan berdiri dalam perbedaan.
Kita harus mengingat bagaimana dahulu para pahlawan bahkan
warga sipil yang ikut berjuang untuk kemerdekaaan, mengorbankan
nyawa dan raga serta hartanya untuk negara. Apakah ada yang berfikir
bahwa mereka berjuang hanya bersama dengan golongannya saja?
Dengan kelompok sesama budayanya ataupun kelompok agamanya
saja? Jawabanya adalah tidak. Semua warga negara Indonesia berjuang
468
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
bersama, berjalan bersama dengan banyak perbedaan. Ada yang dari
Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain. Mereka berkumpul bermusyawarah
dan berperang bersama dalam satu visi yaitu untuk memerdekaan
Indonesia serta menyatukannya. Selain perbedaan budaya, agamapun
dikesampingkan untuk perjuangan bersama. Bagaimana seorang santri
bersama-sama mengangkat senjata dan tolong menolong bersama
dengan penganut agama lainnya. Lihatlah sejarah Indonesia zaman
dulu, bagaimana perbedaan yang disatukan dengan satu tujuan itu
sangatlah indah. Maka jika ingin memiliki karakter kebangsaan yang
baik, kesampingkanlah agama dan budaya untuk persatuan dan kemajuan
bangsa. Namun di Indonesia saat ini yang terlihat banyak sekali pertikaian
dan permusuhan hanya karena perbedaan-perbedaan kecil. Kita lihat
bagaimana fans suatu klub sepakbola bertikai dengan fans klub lain.
Bahkan sampai saling membunuh dan mengancam dan selalu bermusuhan.
Bagaimana bisa banyak sekali pemuda yang masih sekolah dan mengerti
pendidikan, ikut-ikutan dengan radikalnya suatu fans klub sepakbola.
Inilah yang harus pendidik perbaiki. Jangan sampai Bhineka Tunggal Ika
hanya sebagai sebuah wacana saja. Dan jangan sampai negara lain
menertawakan kita dengan motto kita yang sangat bertolak-belakang
dengan fakta yang terjadi di masyarakatnya. Untuk itulah, sebagai
pendidik harus dapatmembimbing anak didiknya, untuk membuka
pikirannya dan merenung, alangkah indahnya jika kita bersatu dan
bersama-sama menuju suatu tujuan yang baik. Tentu Indonesia akan
menjadi negara yang maju dan mampu bersaing dengan negara maju
lain pastinya. Namun yang pertama harus kita lakukan adalah dengan
bertindak sesuai dengan asas pancasila serta menghargai perbedaanperbedaan. Apapun itu, perbedaan besar maupun kecil.
Saat ini kita hidup di zaman yang sudah sangat modern. Era
globalisasi, era 2000-an dengan banyak sekali kemajuan dalam segala
bidang. Perkembangan ilmu pengetahuan sejalan dengan perkembangan
teknologi yang semakin mempermudah pekerjaan manusia saat ini.
Menurut (Ahmadi, 2014:136), perkembangan IPTEK terjadi pada semua
sektor pembangunan, baik ekonomi, pendidikan, politik, sosial, budaya,
dan keamanan, termasuk dalam dunia teknologi dan informasi (TIK).
Banyak manusia tercengang dengan kemajuan teknologi yang semakin
membuat pekerjaan manusia lebih efisien dan efektif. Namun dibalik
itu, ada banyak sekali hal negatif dari kemajuan IPTEK. Sebagai suatu
Berkarakter Kebebasan Tunggal Ika
469
alat untuk membantu manusia, seharusnya IPTEK tidak melebihi batas
fungsinya. IPTEK bisa membantu sebuah negara untuk maju dengan
semakin mudahnya melakukan banyak hal dengan teknologi baru.
Semua akses informasi yang begitu cepat dan keamanan yang semakin
terjamin juga dengan kemajuan teknologi.
Kita sebagai pendidik haruslah dapat menyiapkan generasi penerus
yang berwawasan luas dalam menyikapi kemajuan teknologi saat ini.
Karena tidak semua teknologi mempermudah manusi.Namun ada juga
yang menggeser fungsi kerja manusia yang akhirnya membuat angka
pengangguran semakin meningkat. Sebagai warga negara yang baik,
kita haruslah tetap melihat dan mengamati kebutuhan sumber daya
yang dibutuhkan. Kita wajib tahu kapan menggunakan teknologi dan
kapan menggunakan tenaga manusia untuk melakukan suatu pekerjaan.
Karena dengan tetap mempertahankan fungsi manusia dan
memberdayakannya maka dengan secara langsung kita telah membantu
memajukan negara dan bangsa dengan tetap memperhatikan
kesejahteraan rakyat dibalik kemajuan teknologi yang semakin
menggiurkan.
Teknologi saat ini memang membuat banyak manusia dan diantaranya
adalah para pemuda maupun remaja yang terjebak dalam bingkai
kenikmatan fatamorgana bermain dengan dunia maya. Teknologi yang
begitu mudah diakses seperti smartphone memang memiliki beberapa
manfaat, namun banyak sekali juga mudharatnya. Seperti contohnya
adalah dengan mudahnya segala sesuatu diakses dari internet, maka
pemuda yang masih labil dan gampang terbujuk sesuatu kesenangan
sementara akan terbuai dan melihat suatu hal yang dilarang oleh nilai
yang berlaku dimasyarakat maupun nilai agama. Untuk itu sebagai
pendidik harus dapat menyiapkan generasi penerus bangsa yang
berkarakter kebangsaan yang berjiwa Bhineka Tunggal Ika. Seorang
pendidik harus dapat mencetak generasi penerusyang dapat menjaga
diri dari hal yang merusak moral dan tingkah laku yang dilarang
agama. Sehingga nantinyagenerasi kita akan memiliki jiwa yang bersih
dan bisa berpikir jernih untuk kedamaian dan persatuan tanpa terkotori
oleh hal yang tidak baik.
470
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
471
PEMBENTUKAN KARAKTER DENGAN BAHASA CINTA
Anna Jarrotul Khoiriyah
SMPN 18 Malang
Tujuan pendidikan nasional antara lain membentuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia (UU Sisdiknas No 20,
2003). Tujuan ini juga didukung oleh kurikulum 2013 yang mencantumkan
karakter didalamnya. Berdasarkan Kopentensi Inti (KI) dalam kurikulum
2013 ada 2 kompetensi yang dibangun berlandaskan karakter yaitu KI 1
tentang sikap spiritual dan KI 2 yang tentang sikap sosial (Permendiknas
no 58, 2014). Karakter menjadi pokok penting yang harus ditanamkan
dalam pelaksanaan pembelajaran.
Masalah tentang pendidikan karakter dipaparkan Baswedan (2014),
yang mengemukakan masih rendahnya karakter yang dimiliki siswa. Hal
ini dapat dilihat dari data banyaknya tawuran pelajar, kekerasan fisik,
dan kekerasan seksual yang dilakukan pelajar. Beberapa masalah yang
dihadapi guru di sekolah antara lain (1) Kurangnya tanggung jawab
siswa, hal ini terlihat 37% siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan
guru (2) Kurangnya kepedulian siswa, hal ini terlihat dari kecuekan siswa
terhadap temannya ketika memerlukan bantuan (3) siswa cenderung
mengolok-olok ketika ada temannya yang salah atau berpenampilan
tidak semestinya (4) siswa cenderung marah, mudah tersinggung dan
emosi (5) siswa cenderung membesar-besarkan hal-hal kecil.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada orang tua siswa
ditemukan beberapa perilaku siswa selama di rumah, diantaranya (1)
Siswa lebih suka menunda-nunda waktu untuk mengerjakan sholat (2)
Siswa lebih suka menonton tv dan bermain gadget daripada belajar dan
(3) Siswa tidak memiliki banyak waktu untuk membantu pekerjaan orang
tua di rumah atau peduli dengan saudaranya selama di rumah. Masalah
ini memang tidak dialami oleh semua siswa, walaupun demikian kebiasaankebiasaan tersebut dapat memicu tumbuhnya karakter yang akan merugikan
siswa untuk bekal kehidupan sekarang atau yang akan datang.
471
472
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Guru memiliki andil besar dalam pembentukan karakter. Pembelajaran
di sekolah melibatkan guru dan siswa. Proses pembelajaran
memungkinkan hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Ada keterkaitan emosi dari hubungan sosial mereka selama proses
pembelajaran. Rasa peduli, kerjasama, disiplin, tanggung jawab, dan
karater-karakter yang baik dapat ditumbuhkan dan dilatih selama proses
pembelajaran. Prasetyo (2014) mengemukakan pendidikan, khususnya
pendidikan di sekolah dasar diyakini berperan dalam membangun adab
dan budi pekerti luhur, bangsa ini.
Guru dapat melakukan banyak hal untuk membangun karakter
siswa. Kemampuan, keterampilan yang dimiliki guru, dan sikap guru
sangat diperlukan dalam membangun karakter siswa. Siswa pada jenjang
pendidikan dasar cenderung sensitif. Sentuhan hati lebih membuat
mereka menyadari akan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.
Kondisi ini memungkinkan ”bahasa cinta” yang diberikan guru mampu
mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.
Pembentukan Karakter
Karakter merupakan ciri khas yang dimiliki oleh individu atau
seseorang. Menurut Kamus Bahasa Indonesia karakter adalah sifat-sifat
kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dengan yang lain. Pendapat lain disampaikan Muhtadi (2014)
yang menyatakan bahwa secara psikologi, karakter bermaknakepribadian
yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang,
dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Karakter
merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi
pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi
pendorong dan penggerak, serta membedakannya dengan individu lain
(Muhtadi, 2014). Menurut hemat kami, karakter merupakan perilaku
yang bersumber dari pola pikir. Karakter dapat dibentuk dengan membuat
siswa mengerti, memahami, dan mengetahui sebab pentingnya karakter,
selanjutnya adalah dengan membiasakan, dan menanamkan dalam pola
pikirnya.
Beberapa karakter yang perlu dikembangkan pada siswa antara lain
menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, menghargai
dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi,
gotong royong), santun, dan percaya diri (Permendiknas No 58, 2014).
Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
473
Karakter tersebut tahap demi tahap dapat ditanamkan pada siswa
selama proses pembelajaran. Cara yang dilakukan untuk menjamin
bahwa karakter tersebut dapat tertanam untuk masa sekarang, yang
akan datang dan selamanya serta dapat diimplementasikan dalam
kehidupan sehari hari, perlu dipikirkan guru.
Pendidikan karakter yang dibelajarkan pada siswa sekolah dasar
memiliki prioritas lebih besar dibanding sekolah menengah dan sekolah
menengah lebih besar dibanding perguruan tinggi. Keseimbangan antara
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan karakter (attitude)
di sekolah dijelaskan pada Gambar 1.
Sumber: Bruner (1960) dalam BPSDM (2014)
Gambar 1. Keseimbangan Sikap, Keterampilan, dan Pengetahuan
untuk Membangun Soft Skills dan Hard Skills.
Pentingnya memulai pendidikan karakter pada usia dini dengan
cara membiasakan, membentuk pola pikir yang bagus, membuat pondasi
karakter yang kuat, dan mengajak siswa untuk mengerti betapa pentingnya
membentuk manusia yang berkarakter dan mengetahui apa tujuan
dibangunnya karakter yang lebih baik. Pendidikan di sekolah memiliki
andil besar dalam hal ini. Penting bagi dunia pendidikan melakukan
perubahan pola pikir bahwa pendidikan tidaklah sekedar pemaknaan
atas transformasi akademik (keilmuan) saja, melainkan perlu dilengkapi
dengan karakter (Dongoran, 2014).
474
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Bahasa Cinta
Pengertian bahasa cintadimaknai seseorang dengan cara yang berbedabeda. Tutur bahasa yang lembut, perilaku yang sabar, penuh perhatian
merupakan bentuk-bentuk ungkapan bahasa cinta. Chapman (2007)
memaknai bahasa cinta dengan 5 bahasa yaitu: (1) Sentuhan fisik (2)
Kata-kata mendukung (3) Waktu bersama (4) Pemberian hadiah (5)
Pelayanan. Dephlie (2005) menjelaskan bahwa bahasa cinta berupa kasih
sayang yang merupakan pola hubungan yang unik diantara dua orang
manusia atau lebih. Bahasa cinta mampu membuat suasana seseorang
menjadi berbeda. Balutan bahasa cinta mampu membius pola pikir
seseorang untuk menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Cara
sederhana ini diharapkan mampu merubah karakter siswa menjadi
seperti diharapkan.
Penting bagi guru sebagai model mereka untuk bertutur kata yang
lembut, berperilaku halus, memberi perhatian dan kasih sayang kepada
siswa. Sikap yang ramah cenderung lebih menyentuh emosional siswa.
Kelembutan membuat siswa dapat berfikir positif. Siswa pada pendidikan
dasar cenderung menjadikan guru sebagai model/idola mereka. Anak
yang tumbuh dalam balutan penuh dengan kasih sayang dan perhatian
akan memiliki kepribadian yang mulia, senang mencintai orang lain dan
berperilaku baik dalam masyarakat (Seefeld, 2002).
Seorang guru yang mampu memperlakukan siswanyadengan bahasa
cinta dan begitu juga siswanya yang berperilaku dengan bahasa cinta
kepada guru dan siswa lainnya dalam bersosial, maka akan menumbuhkan
hubungan sosial yang harmonis antara guru dengan siswa dan siswa
dengan siswa. Perilaku siswa yang terbentuk pada dasarnya merupakan
hasil dari mencontoh atau mentauladani perilaku yang diperlihatkan
guru (Rahmat, 2010). Hal ini juga akan menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan, belajar bukan lagi beban dan keterpaksaan, tetapi
belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, bebas, santai, penuh
semangat. Susana belajar yang seperti ini yang diharapkan dapat tercipta
dalam proses pembelajaran. DePorter (2007) menjelaskan satu-satunya
hal yang dapat menarik minat siswa untuk belajar adalah hubungan
sebagai manusia yang dapat mereka bangun dengan guru.
Siswa pada pendidikan dasar memerlukan pondasi yang tepat dalam
penanaman karakter. Usia mereka membutuhkan model yang baik untuk
perkembangan jiwanya. Guru adalah model yang tepat pada saat
Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
475
pembelajaran di sekolah. Wardani (2002) mengemukakan bahwa seorang
pendidik harus melakukan berbagai peran dalam menjalankan suatu
proses pendidikan, diantaranya (1) membimbing dengan kasih sayang (2)
pembentuk kepribadian (3) sebagai tempat perlindungan (4) sebagai
figur teladan.
Implementasi Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
Tantangan abad 21 memicu berbagai pihak untuk andil di dalamnya,
termasuk dunia pendidikan yang mempesiapkan generasi emas yang
salah satunya adalah dengan membentuk manusia yang berkarakter.
Karakter diharapkan mampu menjadi pondasi kuat menyongsong
tantangan masa depan. Menghadapi tantangan masa depan diperlukan
manusia yang memiliki kemampuan mempertimbangkan segi moral
suatu permasalahan dan Kemampuan menjadi warga negara yang
bertanggungjawab (BPSDM, 2014).
Kurikulum 2013 merupakan pijakan awal dalam proses pembelajaran.
Implementasi kurikulum 2013 diharapkan mampu mewujudkan tujuan
nasional pendidikan, mampu mewujudkan manusia yang terampil, cerdas,
dan berkarakter. Pengawalan yang serius terhadap implementasi
kurikulum 2013 terutama dilakukan untuk menjamin terwujudnya Generasi
Emas 2045 (Prasetyo, 2014).
Beberapa asumsi yang menyebabkan gagalnya pendidikan karakter
(1) Adanya anggapan bahwa persoalan pendidikan karakter adalah
persoalan klasik yang penanganannya adalah sudah menjadi tanggung
jawab guru agama dan guru PPKn. (2) Rendahnya pengetahuan dan
kemampuan guru dalam mengembangkan dan mengintegrasikan aspekaspek pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan
(3) Proses pembelajaran mata pelajaran cenderung bersifat transfer of
knowledge dan kurang diberikan dalam bentuk latihan-latihan
pengalaman untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari. Asumsi ini
harus kita tepis, bahwa keberhasilan pendidikan karakter adalah tanggung
jawab kita bersama. Semua guru dalam mata pelajaran apapun harus
mampu mengembangkan inovasi dan kreasinya untuk mengembangkan
karakter sesuai yang tertera pada KI 1 dan KI 2 pada kurikulum 2013.
Bahasa cinta adalah tawaran yang menggiurkan untuk diterapkan
guru dalam membentuk karakter. Beberapa hal yang dapat dilakukan
guru adalah (1) Luangkan waktu 10 menit sebelum memulai pelajaran
476
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
untuk menayangkan video atau cerita tentang kisah bernuansa karakter
(2) Saat membuka pelajaran pada kegiatan pendahuluan, sisipkan
pertanyaan dan pernyataan tentang untuk apa Allah menciptakan,
kebesaran Allah, atau rasa syukur kepada Allah atas karunia yang
diberikan (3) Tambahkan pertanyaan dalam LKS tentang sikap spiritual
dan sosial yang berhubungan dengan materi yang dipelajari (4)
Tambahkan pada kegiatan penutup dengan kesimpulan yang melibatkan
sikap spriritual dan sosial (5) Perhatian guru ditujukan untuk seluruh
siswa tanpa pilih-pilih, dengan bahasa lembut dan berperilaku halus,
bimbing siswa dengan telaten. (6) Berikan pujian dengan kata-kata yang
baik, tidak mencemooh atau berkata-kata kasar walaupun siswa berbuat
salah.
Tayangan video yang dimaksud dapat diperoleh dari media sosial,
pilih yang sesuai dengan materi, tetapi apabila tidak menemukan yang
sesuai materi tidak masalah, guru dapat menghubungkan/memberi benang
merah dengan pernyataan atau pertanyaan yang diajukan pada siswa
tentang video yang ditayangkan. Pertanyaan yang ditambahkan pada
kegiatan pendahuluan atau di LKS misalnya “Mengapa Allah menciptakan
suhu benda berbeda-beda?”, “Apa fungsi Allah menciptakan suhu yang
berbeda-beda?”. Kalimat pernyataan yang diberikan guru misalnya “kita
harus bersyukur bahwa Allah telah mendesain sedemikian rupa untuk
kepentingan manusia”. “Coba pikirkan apa yang terjadi jika Allah
menciptakan semua suhu benda sama. Kalimat-kalimat halus diberikan
guru pada saat proses pembelajaran dapat membangkitkan dan
memotivasi siswa.
Kisah bernuansa karakter dari video terbukti mampu menyentuh
hati siswa. Hal ini terbukti dari antusias siswa dalam menyimak dan
respon siswa setelah menyimak video. Anderson (1987) menjelaskan
bahwa kelebihan dari tayangan video dengan menggunakan efek dan
teknik, dapat menjadi media yang sangat baik dalam mempengaruhi
sikap dan emosi. Pertanyaan dan pernyataan tentang sikap spiritual dan
sikap sosial yang dilakukan guru terbukti mampu membiasakan siswa
untuk mengagungi, mensyukur karunia Allah dan menumbuhkan sikap
sosial yang baik. Penting bagi guru untuk memberi pertanyaan atau
pernyataan pada siswa yang berkaitan dengan sikap spiritual dan sikap
sosial pada saat membuka pelajaran untuk meningkatkan sikap spiritual
dan sikap sosial siswa (Khoiriyah, 2016).
Pembentukan Karakter dengan Bahasa Cinta
477
Kepedulian guru sebagai wujud bahasa cintanya pada siswa dapat
ditumbuhkan dengan berbagai cara, misalnya (1) Sabar menunggu
ketika siswa tidak mengerjakan PR, bukan menghukumnya (2) Mudah
memaafkan apabila siswa berbuat salah (3) Menanyakan alasan ketika
siswa datang terlambat atau tidak membawa perlengkapan sekolah dan
berusaha mencari solusi yang tepat dari permasalahan siswa. Hubungan
yang baik yang terjalin antara guru dan siswa menjadi modal suksesnya
pembelajaran. Prayitno (2002) menjelaskan bahwa dalam proses
pendidikan hendaknya ada kedekatan antara pendidik dengan peserta
didik.
Ksimpulan
Bahasa cinta adalah cara yang tepat yang dipergunakan guru dalam
membangun karakter siswa. Ketulusan guru sebagai pendidik dalam
proses pembelajaran menunjang keberhasilan pendidikan karakter.
Berhenti untuk memberikan hukuman, ganti dengan memberikan
pengertian tentang kesalahan yang dilakukan. Ajak siswa berfikir apa
yang harus dan sebaiknya dikerjakan. Ubahlah pola pikir siswa dengan
membuat siswa memahami tujuan yang dinginkan.
DAFTAR RUJUKAN
Anderson, R. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk
Pembelajaran. Terjemahan Yusuf Hadi Miarso, dkk. Jakarta: PAU-UT.
Baswedan, A. Gawat Darurat Pendidikan Indonesia. 2014. Disampaikan
dalam silaturahmi kementrian dengan kepala dinas. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
BPSDM Kemendikbud & Penjamu Pendidikan. 2014. Rasional Kurikulum
2013. Jakarta: Kemendikbud.
Chapman, G. 2007. Lima Bahasa Cinta Menghadapi Remaja. Yogyakarta:
Quills Book Publisher Indonesia.
Deplhie, B. 2005. Bimbingan Perilaku Anak. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
DePorter, Bobbi., dkk. 2007. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum
Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Kaifa.
Dongoran, F. R. 2014. Paradigma Membangun Generasi Emas 2045 dalam
Perspektif Filsafat Pendidikan. Jurnal Tabularasa PPS Unimed, 11 (1):
61-76.
478
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Khoiriyah, A. J. 2016. Penerapan Inkuiri Terpimpin dalam Pembelajaran
IPA untuk Meningkatkan Sikap Spiritual, Sikap Sosial, Pengetahuan,
dan Keterampilan Siswa kelas VII SMPN 18 Malang. Tesis tidak
diterbitkan. Pascasarjana: Universitas Negeri Malang.
Muhtadi, A. 2014. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum
Sekolah. Slide share. Diakses 21 November 2016.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/
Madrasah Tsanawiyah. 2014. Jakarta: Kementrian Pedidikan dan
Kebudayaan.
Seefeldt, C. 2002. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.
Prasetyo, Z. K. 2014. Generasi Emas 2045 sebagai Fondasi Mewujudkan
Siklus Peradaban Bangsa Melalui Implementasi Kurikulum 2013 di
Sekolah Dasar. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Kurikulum
2013 di Universitas Tanjungpura Pontianak pada Rabu, 16 April 2014.
Prayitno. 2002. Hubungan Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat
SLTP.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Diundangkan oleh Sekertaris Negara
Republik Indonesia.
Wardani. 2002. Pengantar Pendidikan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Membentuk Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah....
479
MEMBENTUK GENERASI BERKARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SEKOLAH DAN MADRASAH
Arif Muzayin Shofwan
MI Miftahul Huda Papungan 01 Blitar
“Sungguh-sungguh ada bagi kalian teladan yang baik pada diri
Rasulullah bagi orang yang mengharap kasih sayang Allah dan hari akhir
dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Setiap guru bisa dianggap berhasil apabila mampu membentuk anak
didiknya sebagai generasi yang berkarakter. Lebih-lebih seorang guru
agama akan dianggap berhasil apabila mampu membentuk anak didiknya
sebagai generasi yang berkarakter sesuai dengan agamanya. Seorang guru
agama Islam misalnya, akan dapat dianggap berhasil apabila mampu
membentuk anak didiknya sebagai generasi yang berkarakter sesuai
dengan ajaran Islam. Hal tersebut tentu saja tidak menjadi suatu masalah
bagi kemajuan bangsa dan negara. Sebab negara Indonesia yang memiliki
dasar Pancasila dan UUD 45 telah mengakui dan melindungi keberadaan
berbagai agama untuk ikut andil dalam membangun bangsa dan
menjadikan manusia yang berkarakter. Justru keberadaan berbagai agama
tersebut sangat membantu tumbuhnya generasi berkarakter di negara
Indonesia yang berbhineka, yakni sebuah negara yang berbeda-beda
agama, suku, budaya, etnis, dan semacamnya, tetapi memiliki tujuan
yang sama berupa persatuan dan kesatuan bangsa.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa pembentukan generasi yang
berkarakter bagi peserta didik yang beragama Islam di sekolah maupun
madrasah dapat dilakukan oleh seorang guru agama melalui pendidikan
agama Islam. Adapun yang termasuk sekolah dalam tulisan ini dapat
berupa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah
Menengah Atas (SMA), dan semacamnya. Sedangkan yang termasuk
madrasah dapat berupa Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah
(MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan semacamnya. Pendidikan agama Islam
479
480
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
yang dimaksud meliputi tiga komponen, di antaranya: (1) akidah, yakni
berupa tauhid dan iman yang tidak terdapat perbedaan bagi umat Islam;
(2) ibadah, yakni berisi mengenai tata pelaksanaan ibadah ritual; dan(3)
akhlak, yakni menekankan tata cara hubungan antara manusia dengan
Tuhan, sesama dan alam semesta (Tholkhah, 2011). Dari ketiga hal diatas
yang signifikan dengan tema tentang karakter adalah komponen akhlak.
Seorang pakar pendidikan Islam Abdul Rahman (2012) menyatakan
bahwa pembentukan karakter melalui pendidikan agama Islam sangat
berkaitan erat dengan misi pendidikan Nabi Muhammad saw yang
hanya diutus Tuhan di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak atau
karakter umatnya. Masih menurut Rahman bahwa akhlak merupakan
bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Sebab misi dakwah
nabi sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yaitu mempertinggi nilainilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak mulia (akhlaq al-karimah).
Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam dinilai sebagai faktor
kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan, yang menurut
pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu
menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan kehidupan di akhirat.
Sementara itu, Megawangi (2016) menyatakan bahwa beberapa
tolok ukurbagi anak didik atau siswa-siswi apabila mereka telah
berkarakter, diantaranya; (1) cinta pada Tuhan dan alam semesta; (2)
tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) toleransi dan cinta
damai terhadap sesama; (4) baik dan rendah hati; (5) kepemimpinan dan
keadilan; (6) kepercayaan terhadap diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah; (7)kasih sayang, kepedulian dan kerja sama; (8)hormat dan
santun; dan (9) kejujuran. Dengan demikian, seorang guru agama Islam
baik di sekolah maupun madrasah dapat membentuk anak didiknya
sebagai generasi yang berkarakter melalui pendidikan agama Islam yang
diajarkan berdasarkan sembilan tolok ukur tersebut. Selain itu, untuk
membentuk generasi berkarakter diperlukan pula pendekatan proaktif,
komprehensif, dan intensif (Lickona, 1991).
Signifikansi Pembentukan Karakter melalui Pendidikan Agama
Islam
Pembentukan karakter atau pembanguan karakter (character building) sesungguhnya tidak hanya sebatas dalam dunia pendidikan saja,
tetapi memiliki spectrum yang lebih luas. Selain itu, character building
Membentuk Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah....
481
sesungguhnya merupakan proses berkelanjutan dan terus berkembang
sepanjang hidup manusia (Naim, 2012). Dengan demikian, character
building dapat dilakukan di dalam maupun diluar dunia pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, tentu saja apa yang telah diuraikan Megawangi
di atas bukan merupakan satu-satunya tolok ukur dalam membentuk
anak didiknya sebagai generasi berkarakter. Namun dalam konteks ini,
tolok ukur Megawangi akan menjadi sebuah tawaran tersendiri bagi
para guru pendidikan agama Islam untuk membentuk anak didiknya
menjadi generasi yang berkarakter.
Sebagai sebuah tawaran, tolok ukur yang dinyatakan Megawangi di
atas dapat dijelaskan signifikansinya dengan pendidikan agama Islam di
sekolah maupun madrasah sebagai berikut. Pertama, cinta pada Tuhan
dan alam semesta. Seorang guru agama Islam dapat membentuk anak
didiknya sebagai generasi yang memiliki karakter cinta pada Tuhan dan
alam semesta dengan cara menjelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Penciptalah yang menciptakan alam semesta untuk kebutuhan manusia. Sehingga
sebagai bukti bahwa seseorang mencitai Tuhan dan alam semesta di
antaranya adalah dengan merawat ciptaan-Nya dengan baik. Seorang
guru agama Islam bisa memaparkan isi dari firman Allah swt berikut:
“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu...”
(QS. Al-Baqarah: 29). Berdasarkan firman tersebut seorang guru agama
Islam bisa menjelaskan kepada anak didiknya agar mencintai Tuhan yang
telah menciptakan bumi dan memperuntukkan baginya.
Kedua, tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian. Seorang
guru agama Islam dapat membentuk anak didiknya menjadi generasi
berkarakter tanggungjawab melalui firman Allah swt berikut: “Apakah
manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja tanpa
pertanggungjawaban?.” (QS. Al-Qiyamah: 36). Berdasarkan firman tersebut
seorang guru agama Islam bisa menjelaskan pada anak didiknya bahwa
manusia dilahirkan di dunia memiliki berbagai tanggungjawab yang
harus dilaksanakan, di antaranya: tanggungjawab pada dirinya sendiri,
keluarga, masyarakat, bangsa, alam semesta, dan lain sebagainya. Selain
itu, seorang guru agama Islam dapat membentuk anak didiknya sebagai
generasi yang berkarakter disiplin, teguh pendirian dan mandiri melalui
firman Allah swt berikut: “Maka tetaplah engkau di jalan yang benar
sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu...” (QS. Hud: 112).
Berdasarkan firman tersebut seorang guru agama Islam dapat menjelaskan
482
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
kepada anak didiknya bahwa disiplin, teguh pendirian dan mandiri
merupakan salah satu ajaran Islam yang dapat membawa kesuksesan dan
kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Ketiga, toleransi dan cinta damai terhadap sesama. Seorang guru
agama Islam dapat membentuk anak didiknya sebagai generasi yang
berkarakter toleran dan cinta damai terhadap sesama melalui firman
Allah swt berikut: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. AlKafirun: 6). Selain itu, seorang guru agama Islam dapat menjelaskan
kepada anak didiknya tentang toleransi dalam berbangsa dan bersukusuku melalui firman Allah swt: “Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling
mengenal...” (QS. Al-Hujurat: 13). Berdasarkan firman tersebut seorang
guru agama Islam dapat menjelaskan kepada anak didiknya bahwa Islam
merupakan agama yang toleran dan cinta damai terhadap sesama. Islam
merupakan salah satu agama yang membawa kebaikan di kehidupan
kini dan mendatang tanpa ada keraguan di dalamnya.
Keempat, baik dan rendah hati. Seorang guru agama Islam dapat
membentuk anak didiknya menjadi generasi yang berkarakter baik
melalui suri tauladan dari Rasulullah saw, di antaranya: berlaku jujur
(siddiq), dapat dipercaya (amanah), pemaaf (hilm), berbudi luhur
(muru’ah), dermawan (sakha’), dan semacamnya. Tak jauh dari itu,
seorang guru agama Islam juga mengajarkan sifat-sifat yang harus
dihindari dalam pergaulan, seperti iri hati (hasad), dendam (hiqdu),
sombong (kibr), berbuat aniaya (zulm), dan semacamnya. Tak jauh dari
itu, seorang guru agama Islam dapat membentuk anak didiknya menjadi
generasi yang berkarakter rendah hati melalui firman Allah swt berikut:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu karena sombong dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh...” (QS. Luqman:
18). Sebab dalam kerendahan hati terdapat kekuatan jiwa yang dapat
menjadikan seseorang mampu mengendalikan diri dalam situasi dan
kondisi apapun.
Kelima, kepemimpinan dan keadilan. Seorang guru agama Islam
dapat membentuk anak didiknya sebagai generasi yang memiliki jiwa
kepemimpinan melalui sabda Rasulullah SAW berikut: “Setiap kalian
adalah pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari). Berdasarkan
Membentuk Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah....
483
hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan harus dimulai
dari diri pribadi masing-masing. Selain itu, seorang guru agama Islam
dapat membentuk anak didiknya sebagai generasi yang berkarakter adil
melalui firman Allah swt berikut: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian
berlaku adil dan berbuat kebajikan...” (QS. An-Nahl: 90). Berdasarkan
firman tersebut, seorang guru agama Islam dapat membangun karakter
anak didiknya agar berperilaku adil kepada siapapun tanpa memandang
agama, ras, suku, budaya, dan semacamnya.
Keenam, kepercayaan terhadap diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah. Seorang guru agama Islam dapat membentuk anak didiknya
sebagai generasi yang memiliki karakter percaya diri, kreatif, kerja keras,
dan pantang menyerah melalui firman Allah SWT: “Maka berlombalombalah kamu dalam berbuat kebaikan...” (Al-Baqarah: 148). Firman
tersebut menjelaskan agar seseorang percaya diri, kreatif, kerja keras,
dan pantang menyerah dalam berkompetisi pada kebaikan. Tak jauh dari
itu, seorang guru agama Islam dapat membentuk anak didiknya sebagai
generasi yang berkarakter pantang menyerah melalui firman Allah SWT
berikut: “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sebelum
mereka merubah keadaan diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Dengan
demikian, kedua firman tersebut dapat digunakan seorang guru agama
Islam dalam membentuk anak didiknya sebagai generasi yang memiliki
karakter yang dimaksud sesuai ciri khas Islam.
Ketujuh, kasih sayang, kepedulian dan kerjasama. Seorang guru
agama Islam dapat membentuk anak didiknya sebagai generasi yang
berkarakter kasih sayang melalui firman Allah swt berikut: “Dan tidaklah
Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi kasih sayang bagi
semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107). Berawal dari firman tersebut
seorang guru agama Islam dapat mengembangkan penjelasan kepada
anak didiknya bahwa Islam mengajarkan kepedulian dan kerjasama
melalui firman Allah swt: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam
mengerjakan kebaikan dan ketakwaan dan janganlah tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2). Dengan
demikian, seseorang bisa dikatakan memiliki karakter peduli dan mampu
kerjasama dengan manusia lainnya apabila dia dapat mengaplikasikan
perilaku tolong-menolong (ta’awun) terhadap sesama dalam hal kebaikan
dan ketakwaan serta tidak tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
permusuhan.
484
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Kedelapan,hormat dan santun. Seorang guru agama Islam dapat
membentuk anak didiknya sebagai generasi yang berkarakter hormat
dan santun melalui sabda Rasulullah saw berikut: “Tidaklah seorang
pemuda menghormati kepada orang tua karena tua usianya, melainkan
Allah akan membalas dengan penghormatan orang yang menghormatinya
karena usianya kelak.” ( HR. Tirmidzi). Berdasarkan sabda tersebut
seorang guru agama Islam dapat mengembangkan penjelasan tentang
perilaku hormat dan santun melalui beberapa ajaran Islam berikut, di
antaranya: QS. Al-Isra: 23 berisi tentang pentingnya perilaku hormat
dan santun kepada kedua orang tuanya; QS. Luqman: 18 berisi pentingnya
perilaku hormat, santun dan tidak berperilaku sombong terhadap sesama;
dan hadist-hadist Bukhari Muslim yang berisi tentang pentingnya
berperilaku hormat dan santun terhadap tamu dan tetangga. Selain itu,
seorang guru agama Islam dapat mengembangkan cara pembentukan
generasi berkarakter hormat dan santun melalui nilai-nilai yang termuat
dalam pendidikan agama Islam lainnya.
Kesembilan, kejujuran. Seorang guru agama Islam dapat membentuk
anak didiknya sebagai generasi yang berkarakter jujur melalui sabda
Rasulullah saw berikut: “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena
kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan
seseorang ke surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap
memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang
jujur...” (HR. Bukhari Muslim). Berdasarkan hadist tersebut seorang guru
agama Islam bisa menjelaskan pada anak didiknya bahwa Islam
mengajarkan umatnya berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, ibadah
dan semua perkara. Tak jauh dari itu, tampak pula bahwa Tuhan
memerintah hamba-Nya agar selalu bersama orang-orang yang jujur.
Firman Allah swt: “Dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang
benar atau jujur.” (QS. Taubah: 119). Sebab perilaku dan berteman
dengan orang-orang jujur itulah yang dapat membawa kebaikan bagi
dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara dalam kehidupan kini
dan mendatang
Demikianlah tawaran tolok ukur yang dapat digunakan seorang
guru agama Islam untuk membentuk anak didiknya sebagai generasi
yang berkarakter. Selain itu, seorang guru agama Islam dapat pula
mengembangkan tolok ukur yang lainnya. Seperti tolok ukur manusia
berkarakter yang dikemukakan Tim Penulis Naskah (2010) pada
Membentuk Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah....
485
Kementerian Pendidikan Nasional berikut, di antaranya: (1) relegius; (1)
jujur; (3) toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras; (6) kreatif; (7) mandiri; (8)
demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta
tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat; (14) cinta damai;
(15) gemar membaca; (16) pantang menyerah; (17) peduli lingkungan;
(18) peduli sesama. Tak jauh dari itu semua, seorang guru agama Islam
dapat mengembangkan berbagai tolok ukur dalam membentuk generasi
berkarakter berdasarkan pendapat para pakar lainnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru
agama Islam dapat membentuk anak didiknya sebagai generasi yang
berkarakter melalui pendidikan agama Islam di sekolah maupun madrasah
dengan tolok ukur yang ditawarkan para pakar pendidikan karakter.
Apabila seorang guru agama Islam mampu menggali nilai-nilai luhur
yang ada dalam pendidikan agama Islam, maka dia akan banyak
menemukan berbagai nilai yang signifikan dengan pendapat para pakar
pendidikan karakter tersebut. Dengan demikian, pembentukan karakter
(character building) melalui pendidikan agama Islam merupakan ciri
khas bagi peserta didik yang beragama Islam. Sementara itu, seorang
guru agama lain juga berhak membentuk anak didiknya sebagai generasi
yang berkarakter sesuai dengan ciri khas keyakinannya masing-masing.
Sebab hal tersebut tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45
sebagai dasar negara.
DAFTAR PUSTAKA
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character. New York: Bantam Book.
Megawangi, Ratna. 2016. Membangun SDM Indonesia melalui Pendidikan
Holistik Berbasis Karakter. Makalah diakses dari www.usm.mainc.edu/
psy/gayton pada 10 November 2016.
Naim, Ngainun. 2012. Character Building: Optimalisasi Peran Pendidikan
dalam Pengembangan Ilmu & Pembentukan Karakter Bangsa.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Rahman, Abdul, 2011. Pendidikan Agama Islam & Pendidikan Islam:
Tinjauan Epistemologi dan Isi Materi. Jurnal Eksis, 8 (1): 2058.
Tholkhah, Imam, ed. 2011. Buku Pengayaan Guru PAI: Pendidikan
Kewarganegaraan, Budaya dan Agama. Jakarta: Kemenag RI.
486
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
Tim Penulis Naskah. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi
Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya
Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional
Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Qur’an Departemen Agama
RI. 2007. Al-Qur’an Terjemah Per-Kata. Bandung: Syaamil Al-Qur’an.
Menyongsong Generasi Emas Melalui Penanaman Budaya Religius
487
MENYONGSONG GENERASI EMAS MELALUI PENANAMAN BUDAYA RELIGIUS
Fitrotul Hasanah
SMP Negeri 21 Malang
Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia
diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan,
yaitu mewujudkan masyarakat indonesia yang berkualitas, maju, mandiri,
modern serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang nomor 20 tahun
2003, tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa tujuan
pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
(Dirjen Dikti, 2003). Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan wahana
dan proses yang memungkinkan peserta didik memiliki iman, taqwa dan
akhlak mulia. Salah satu wahana pembentukan peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia
adalah pembelajaran agama Islam di sekolah.
Pembelajaran agama Islam di sekolah merupakan pilar penting
dalam membentuk manusia yang berbudi luhur, berakhlak mulia, memiliki
pengetahuan agama serta mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai
pedoman utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kenyataannya,
sejak dulu hingga saat ini pendidikan agama yang berlangsung di
sekolah masih dianggap kurang berhasil dalam menggarap sikap dan
perilaku keberagamaan peserta didik dan membangun moral dan etika
bangsa (Muhaimin, 2009:256).
Pendidikan agama di sekolah selama ini dikatakan lebih menekankan
pada aspek knowing (mengetahui tentang ajaran dan nilai-nilai agama)
dan doing (mempraktikkan apa yang diketahui) dan belum banyak
mengarah ke aspek being (beragama atau menjalani hidup atas dasar
ajaran dan nilai-nilai agama) yakni peserta didik menjalani hidup sesuai
487
488
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
dengan ajaran dan nilai-nilai agama yang diketahui. Berbagai alasan
dikemukakan untuk memperkuat pernyataan tersebut antara lain alasan
yang dikemukakan oleh Nasution, bahwa:
1.
Masih banyak siswa yang belum mampu membaca Al- Qur’an dengan
baik dan benar, tidak melaksanakan shalat dengan tertib, tidak
menjalankan puasa di bulan Ramadhan dan berperilaku kurang sopan.
2.
Masih sering terjadi tawuran antar pelajar dan tidak jarang membawa
korban jiwa, banyaknya pelanggaran susila serta tingginya prosentase
penggunaan obat terlarang dan minuman keras di kalangan pelajar.
3.
Meluasnya korupsi, kolusi dan nepotisme di semua kantor
kemasyarakatan, merupakan isyarat masih lemahnya kendali akhlak
di dalam diri seseorang. Maraknya perilaku hidup mewah, dan masih
tergoda untuk berbuat tidak baik, hal ini menggambarkan kurang
berperannya pendidikan agama terlebih Aqidah Akhlak (Nasution,
2001:49).
Keberhasilan pendidikan agama dalam menanamkan nilai-nilai bagi
pembentukan kepribadian dan watak peserta didik tidak hanya ditentukan
oleh proses belajar mengajar di kelas saja tetapi sangat ditentukan oleh
proses yang mengintegrasikan antara aspek pengajaran, pengamalan
dan pembiasaan serta pengalaman sehari-hari yang dialami peserta didik
baik di sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi dianggap
gagal dalam menghasilkan peserta didik yang aktif, kreatif dan inovatif.
Karena dengan cara ini peserta didik hanya berhasil mengingat jangka
pendek tetapi mereka gagal dalam memperoleh bekal untuk memecahkan
persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Keterpaduan, konsistensi dan sinkronisasi antara nilai-nilai yang
diterima peserta didik dari pengajaran yang diberikan guru di dalam
kelas dengan kegiatan keagamaan di luar kelas dapat memotivasi
peserta didik untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam perilaku
nyata sehari-hari, baik motivasi dari peserta didik sendiri, maupun
motivasi dari seluruh pelaku pendidikan, termasuk guru dan staf sekolah.
Dengan demikian akan tercipta budaya religus di sekolah. Pengamalan
dan pembiasaan perilaku sehari-hari yang sejalan dengan nilai-nilai
agama yang diajarkan dan yang berlangsung secara terus menerus itulah
yang akan menciptakan suatu lingkungan pendidikan yang melahirkan
pribadi-pribadi siswa yang utuh.
Menyongsong Generasi Emas Melalui Penanaman Budaya Religius
489
Budaya religius dapat ditanamkan melalui proses pembelajaran dan
pembiasaan-pembiasaan. Penciptaan budaya religius berarti menciptakan
suasana atau iklim kehidupan keagamaan. Dalam konteks pendidikan
agama Islam di sekolah berarti penciptaan suasana atau iklim kehidupan
keagamaan Islam yang dampaknya adalah berkembangnya suatu
pandangan hidup yang bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilainilai agama Islam, yang diwujudkan dalam sikap hidup oleh para warga
sekolah (Muhaimin, 2009:1).
Generasi emas yang diidam-idamkan Indonesia diharapkan akan terwujud
nanti pada saat negara ini berusia genap 100 tahun. Berarti calon generasi
emas tersebut saat ini sebagian besar masih duduk di bangku SMP, SMA
serta Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, jika ingin generasi emas nanti
memiliki kualitas yang prima maka perlu segera diciptakan sebuah
lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat mengamalkan
pendidikan agama yang telah diperoleh di dalam kelas atau disebut budaya
religius, sehingga nilai-nilai yang telah ditanamkan di dalam kelas dapat
mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal ini sudah terwujud
maka akan tercipta peserta didik yang memiliki pribadi yang utuh dan siap
menjadi generasi emas yang berkualitas prima.
PEMBAHASAN
Generasi Emas
Pada periode tahun 2010 sampai 2035 bangsa kita dikaruniai oleh
Tuhan Yang Maha Kuasa potensi sumber daya manusia berupa populasi
usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Jika kesempatan emas yang
baru pertamakalinya terjadi sejak indonesia merdeka tersebut dapat kita
kelola dan manfaatkan dengan baik, populasi usia produktif yng
jumlahnya sangat luar biasa tersebut Insya Allah akan menjadi bonus
demografi (demografic devidend) yang sangat berharga. Di sinilah peran
strategis pembangunan bidang pendidikan untuk mewujudkn hal itu
menjadi sangat penting. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada
peringatan hari Pendidikan Nasional 2012, Rabu, 2 Mei 2012)
Generasi emas adalah generasi yang memandang masa depan diri
dan bangsanya merupakan hal yang pertama dan utama. Generasi emas
adalah generasi muda yang penuh optimisme dan gairah untuk maju
dengan sikap dan pola pikir yang berlandaskan moral yang kokoh dan
490
Menyelamatkan Masa Depan Generasi Emas Bangsa
benar. Generasi emas adalah generasi dengan visi ke depan yang
cemerlang, kompetensi yang memadai dan dengan karakter yang kokoh,
kecerdasan yang tinggi dan kompetitif merupakan produk pendidikan
yang diidam idamkan. Peserta didik dalam setiap jenis, jenjang dan jalur
pendidikan merupakan individu yang sedang dalam masa masa
pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung secara terus menerus
dalam ruang dan waktu melalui proses pendidikan yang bermutu.
Dikatakan generasi emas karena merupakan generasi penerus bangsa
yang pada periode tersebut adalah sangat produktif, sangat berharga
dan sangat bernilai
Sehingga perlu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik agar
berkualitas menjadi insan yang berkarakter, insan yang cerdas dan insan
yang kompetitif.
Budaya Religius
Budaya religius memiliki makna yang sama dengan “suasana religius
atau suasana keagamaan.” Adapun makna suasana keagamaan menurut
M. Saleh Muntasir adalah suasana yang memungkinkan setiap anggota
keluarga beribadah, kontak dengan Tuhan dengan cara-cara yang telah
ditetapkan agama, dengan suasana tenang, bersih, hikmat. Sarananya
adalah selera religius, selera etis, estetis, kebersihan, itikad religius dan
ketenangan (Muntasir, 1985:120).
Budaya religius di sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak
warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan)
(Sahlan, 2010:75). Sedangkan menurut Muhaimin budaya religius di
sekolah berarti penciptaan suasana atau iklim kehidupan keagamaan
Islam yang dampaknya adalah berkembangnya suatu pandangan hidup
yang bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama Islam,
yang diwujudkan dalam sikap hidup oleh para warga sekolah (Muhaimin,
2009:1).
Budaya religius merupakan salah satu metode pendidikan yang
komprehensif, karena dalam perwujudannya terdapat nilai, pemberian
teladan, dan penyiapan generasi muda agar dapat mandiri dengan
mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan-pembuatan keputusan moral
secara bertanggung jawab. Menciptakan suasana religius di sekolah
merupakan perwujudan dari sekolah sebagai lembaga yang berfungsi
mentransmisikan budaya. Sekolah merupakan tempat internalisasi budaya
Menyongsong Generasi Emas Melalui Penanaman Budaya Religius
491
religius kepada peserta didik, supaya peserta didik mempunyai benteng
yang kokoh untuk membentuk karakter yang luhur. Sedangkan karakter
yang luhur merupakan pondasi dasar untuk memperbaiki sumber daya
manusia yang telah merosot ini.
Penciptaan suasana religius berarti menciptakan suasana atau iklim
kehidupan keagamaan (Muhaimin, 2006:106). Dalam konteks pendidikan
agama ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Yang vertikal berwujud
hubungan manusia atau warga sekolah dengan Allah (hablum min
Allah). Penciptaan suasana religius yang bersifat vertikal dapat diwujudkan
dalam bentuk kegiatan-kegiatan ritual, seperti shalat berjamaah, membaca
Al Qur’an serta do’a bersama ketika akan dan setelah sukses dalam
meraih tujuan tertentu dan lain-lain. Yang horizontal berwujud hubungan
antar manusia atau warga sekolah (hablum min an-nas), dan hubungan
mereka dengan lingkungan alam sekitarnya.
Suasana religius adalah suasana yang bernuansa religius, seperti
adanya sistem absensi dalam kegiatan shalat Dhuhur berjamaah, perintah
untuk membaca kitab suci setiap akan memulai pelajaran dan sebagainya,
yang biasa diciptakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai religius ke
dalam diri peserta didik. Suasana religius merupakan upaya
pengembangan pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
Nasional.
Suasana Religius dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan
manusia yang tidak hanya melakukan ritual (beribadah) tapi juga ketika
melakukan aktifitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural.
Menurut Clock dan Stark dalam Muhaimin, macam-macam dimensi
religiusitas atau keberagamaan seseorang ada lima, yaitu
Download