pengaruh tarif bea masuk, kurs dan volume impor

advertisement
TESIS
PENGARUH TARIF BEA MASUK, KURS DAN VOLUME
IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK
DI INDONESIA
I MADE ARYANA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tujuan Pembangunan Nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan
UUD 1945, yaitu “Untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial”. Telah disadari bahwa untuk merealisasikannya perlu diambil
usaha-usaha nyata yang tidak lain adalah pembangunan nasional yang menyangkut
semua aspek kehidupan masyarakat. Selanjutnya dirumuskan bahwa pembangunan
nasional itu merupakan rangkaian upaya pembangunan berkesinambungan seluruh
kehidupan bangsa dan negara hal mana oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat
digariskan dalam GBHN untuk dilaksanakan oleh Pemerintah.
Dalam rangka melaksanakan tugas pembangunan tersebut, dengan
sendirinya pemerintah memerlukan dana yang cukup besar dan meningkat setiap
tahunnya sehingga semua sumber dana yang ada harus digerakkan dan sedapat
mungkin menggali potensi sumber-sumber dana baru baik dari dalam maupun luar
negeri. Kegiatan pembangunan yang beraneka ragam dan kompleks tersebut harus
dilakukan berdasarkan suatu rencana kerja yang lengkap disertai dengan rencana
keuangan atau rencana kerja yang telah diperhitungkan dengan uang yang lebih
dikenal dengan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Dalam APBN
1
3
terkandung perkiraan jumlah pengeluaran dan perkiraan jumlah pendapatan untuk
menutupi pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada
pemerintah.
Sejak tahun anggaran 2000, struktur dan format APBN diubah dari
bentuk scontro (T-account) menjadi bentuk stafel untuk menyesuaikan dengan
standar yang berlaku secara internasional sebagaimana digunakan dalam statistik
keuangan pemerintah (Government Financial Statistics) dimana pada point
Pendapatan Negara dan Hibah disusun sebagai berikut :
I.Penerimaan Dalam Negeri.
1.Penerimaan Perpajakan.
a.Pajak Dalam Negeri.
i.Pajak Penghasilan.
- Migas.
- Non Migas.
ii.Pajak Pertambahan Nilai.
iii.PBB dan BPHTB.
iv.Cukai.
v.Pajak lainnya.
b.Pajak Perdagangan Internasional.
i.Bea Masuk.
ii.Pajak Ekspor.
2.Penerimaan Negara Bukan Pajak.
II.Hibah.
Dari susunan tersebut di atas, nampak bahwa salah satu pos penerimaan
dalam negeri yang berasal dari perpajakan khususnya pajak perdagangan
4
internasional adalah Bea Masuk yang pelaksanaan pengumpulannya dibebankan
kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yaitu berupa penerimaan yang berasal
dari pembayaran bea masuk oleh para importir sehubungan dengan kegiatan
memasukkan barang-barang ke dalam daerah pabean.
Anggaran yang diperkirakan dengan akurat mutlak diperlukan dalam
setiap organisasi atau kegiatan, yaitu harus dapat memperkirakan berapa jumlah
yang akan diterima dengan mempertimbangkan faktor-faktor terkait yang
mempengaruhinya. Anggaran yang over estimate atas pos penerimaan di samping
menimbulkan frustasi, juga dapat berakibat pada macetnya penyelenggaraan
kegiatan dan untuk level APBN maka dapat mengakibatkan tersendatnya roda
pembangunan
yang
pada
gilirannya
memperlambat
tercapainya
tujuan
pembangunan nasional. Demikian pula sebaliknya, anggaran yang under estimate
atas pos penerimaan dapat mengakibatkan tidak optimalnya penggunaan potensipotensi sumber daya yang berarti pula terjadinya inefisiensi sehingga pencapaian
tujuan nasional menjadi lebih lambat.
Dengan penetapan anggaran yang tepat diharapkan dapat memberikan
motivasi dan gairah tantangan untuk memanfaatkan segenap potensi sumber daya
yang tersedia untuk mencapai pemenuhannya serta lebih menjamin lancarnya
penyelenggaraan pemerintahan sesuai yang telah dianggarkan. Dengan demikian
dapatlah dipahami bahwa penerimaan bea masuk merupakan bagian dari
keseluruhan penerimaan negara yang akan dialokasikan untuk membiayai
pembangunan. Target penerimaan bea masuk, sebagaimana target mata anggaran
lainnya seperti PPh, PPN dan Cukai selalu saja mengalami trend kenaikan secara
5
proporsional terhadap perkembangan jumlah APBN sesuai tuntutan pembangunan
nasional.
Berdasarkan data target, realisasi, dan persentase tingkat pencapaian bea
masuk dapat dilihat dalam Tabel 1.1, sebagai berikut :
Tabel 1.1
Target, Realisasi dan Persentase Pencapaian Target BM Indonesia
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tahun Anggaran 2001-2010
Tahun
Target
Realisasi
Anggaran
(Juta Rupiah)
(Juta Rupiah)
2001
10.398.100,00
7.520.117,84
2002
11.839.200,00
10.399.133,00
2003
11.332.600,00
10.847.262,07
2004
11.837.600,00
12.444.003,76
2005
14.646.500,00
14.920.655,70
2006
13.583.300,00
12.141.649,38
2007
14.417.600,00
16.672.469,14
2008
15.820.900,00
22.761.308,14
2009
16.123.500,00
18.101.227,82
2010
15.106.813,00
19.956.186,15
Sumber : Data Penerimaan Kantor Pusat DJBC, 2011
Pencapaian
Target
72,32%
87,84%
95,72%
105,12%
101,87%
89,39%
115,64%
143,87%
112,27%
132,10%
Dari perkembangan target dan realisasi penerimaan bea masuk tersebut
rata-rata realisasi penerimaan bea masuk adalah 105,61 persen yang artinya
pencapaian penerimaan bea masuk sesuai harapan dengan target yang ditetapkan,
akan tetapi tahun 2001, 2002, 2003 dan 2006 target tidak terpenuhi .
Di sisi lain pada bidang hubungan internasional, pada tingkat regional
ASEAN telah diupayakan beberapa kerjasama industri dan perdagangan dalam
bentuk skema-skema seperti AIP (ASEAN Industrial Project – Juni 1978) dan
skema AIJV (ASEAN Industrial Join Venture - Oktober 1983) yang pada tahun
1996 keduanya dilebur menjadi skema AICO (ASEAN Industrial Cooperation).
6
Skema yang banyak terkait dengan masalah kepabeanan adalah ASEAN-PTA
(ASEAN Preferential Trading Arrangement – Februari 1977) dengan bentuk kerja
sama saling memberikan keringanan tarif bea masuk hingga 50% atas impor
barang-barang tertentu antar masing-masing negara anggota dengan harapan
terciptanya peningkatan perdagangan antar negara anggota ASEAN yang berhasil
dirumuskan pada Deklarasi Manila pada bulan Desember 1987. Namun demikian,
setelah beberapa tahun berjalan tidak juga tampak peningkatan angka statistik yang
signifikan,
hal
ini
diperkirakan
karena
daftar
barang
yang
diberikan
keringanan/penurunan bea masuk justru didominasi oleh produk yang tingkat
perdagangan regionalnya rendah atau tidak ada sama sekali sehingga terkesan
sekedar basa-basi dalam pergaulan regional saja.
Salah satu faktor yang ikut menentukan penerimaan bea masuk di
Indonesia adalah pengenaan pajak terhadap produk-produk impor. Peranan pajak
terhadap perekonomian sangat penting karena berdasarkan pasal 1 Undang–Undang
Nomor 28 Tahun 2007 bahwa Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma
hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk
mencapai kesejahteraan umum. Salah satu potensi pajak yang ditetapkan oleh
Pemerintah adalah pajak yang dibebankan kepada barang–barang impor yang masuk
ke Indonesia. Pengenaan tarif bea masuk bertujuan untuk meningkatkan daya saing
industry dalam negeri dan mendorong investasi. Dalam rangka meningkatkan daya
saing industri, pemerintah memberikan insentif bea masuk pada tahun 2008
berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM-DTP). Kebijakan ini berdasarkan
UU No. 16 tahun 2008 tentang APBN-P tahun 2008 Pasal 3 ayat (3) huruf a
7
Penerimaan bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebagaimana
dimaksud diatas tersebut dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah
yang sama. Sementara untuk mendorong investasi dilakukan pembebasan atau
keringanan bea masuk yang dapat diberikan atas impor: (a) barang dan bahan
untuk pembangunan dan pengembangan industri dalam rangka penanaman modal;
(b) mesin untuk pembangunan dan pengembangan industri; (c) barang dan bahan
dalam rangka pembangunan dan pengembangan industri untuk jangka waktu
tertentu.
Sekitar tahun 1990-an, para pejabat tinggi ASEAN meluncurkan gagasan
baru, yaitu mewujudkan suatu pasar bersama yang terintegrasi dan bebas hambatan
yang dinamakan AFTA (ASEAN Free Trade Area). Resminya skema kesepakatan
yang diberi judul “The Agreement on Common Effective Preferential Tariff (CEPT)
Scheme for the ASEAN Free Trade Area” ini dihasilkan dalam sidang ke-4 ASEAN
Summit di Singapura tanggal 28 Januari 1992 dan menyatakan kesepakatan bahwa
dengan menggunakan skema CEPT sebagai kesepakatan utama, yaitu program
penurunan tarif bea masuk untuk 15 kelompok produk secara bertahap antar negara
ASEAN hingga pada tahun 2008 kelak tarif bea masuk antar negara ASEAN
menjadi 0 sampai 5 persen saja. Pembatasan kuantitatif dan hambatan non tarif juga
dieliminasi hingga tercapainya status free trade area yang sudah mulai sejak tahun
2002.
8
Tabel 1.2
Perkembangan Tarif Bea Masuk Indonesia Tahun 2001-2010
Tarif Bea Masuk
Perkembangan
%
(%)
2001
2.81
2002
3.89
38.43
2003
4.29
10.07
2004
3.41
-20.47
2005
3.04
-10.97
2006
2.71
-10.60
2007
2.41
-11.14
2008
2.12
-12.28
2009
2.54
20.10
2010
1.99
-21.60
Sumber: Data Penerimaan Kantor Pusat DJBC, 2011
Tahun
Berdasarkan Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa pengenaan tarif bea masuk
cenderung mengalami penurunan. Hal ini membuktikan bahwa program penurunan
tarif bea masuk untuk 15 kelompok produk secara bertahap antar negara ASEAN
telah berjalan dengan baik. Dengan menurunnya tarif bea masuk akan
mengakibatkan volume impor meningkat. Hal ini akan membawa pengaruh buruk
bagi perkembangan industri di Indonesia karena barang-barang hasil dalam negeri
akan kalah saing dengan produk impor yang harganya jauh lebih murah.
Di sisi lain, sebagaimana diketahui bahwa kondisi perekonomian
nasional sejak tahun 1997 yang lalu telah menurunkan kepercayaan semua pihak
terhadap perekonomian dari tingkat pelaku ekonomi internasional hingga
masyarakat di seluruh Indonesia. Nilai tukar mata uang Rupiah melemah secara
drastis, industri perbankan merosot tajam dengan dilikuidasinya beberapa bank
bermasalah dan transaksi perdagangan internasional macet yang salah satunya
9
disebabkan karena pelaku ekonomi di luar negeri tidak mempercayai L/C (Letter of
Credit) yang diterbitkan oleh perbankan dan pelaku ekonomi di Indonesia. Nilai
tukar rupiah yang semula stabil dan dinamis ditetapkan menjadi mengambang
mengikuti harga pasar uang internasional sehingga setiap saat nilai tukar rupiah
selalu berubah-ubah sampai saat ini. Dalam kaitannya dengan proses penetapan
APBN, tentu saja hal ini turut mempersulit proses perencanaan penganggaran baik
penerimaan maupun pengeluaran belanja negara yang selalu menggunakan asumsi
patokan nilai mata uang Rupiah yang diperkirakan berlaku untuk satu tahun
anggaran, padahal jangankan dalam kurun waktu satu tahun, dalam kurun waktu
satu minggu saja sudah bisa terjadi perubahan nilai mata uang yang sangat tajam.
Tabel 1.3
Perkembangan Nilai Kurs Dolar Tahun 2001-2010
Di Indonesia
Tahun
Nilai Kurs
Perkembangan
Rp/$
(%)
2001
10,400
2002
8,940
-14.04
2003
8,465
-5.31
2004
9,290
9.75
2005
9,830
5.81
2006
9,020
-8.24
2007
9,419
4.42
2008
10,950
16.25
2009
9,400
-14.16
2010
9,078
-3.42
Sumber : Data Penerimaan Kantor Pusat DJBC, 2011
Dalam data yang dikutip dari Bank Indonesia diambil nilai rata-rata kurs /
nilai tukar mata uang Rupiah terhadap US $ per tahunnya dimana seperi kita ketahui
bersama bahwa nilai tukar mata uang bersifat dinamis bisa berubah sewaktu-waktu
10
setiap harinya sehingga untuk mempermudah diambil angka rata-rata per tahunnya
saja. Kurs Rupiah terhadap US $ dalam kurun waktu 2001 – 2010 relatif stabil
karena apresiasi maupun depresiasi mata uang Rupiah tidak terlalu jauh berbeda.
Hanya pada tahun 2001 dan 2008 yang mencapai angka Rp. 10.000,- per 1 US $.
Hal ini memberikan peluang bagi segala bidang sektor perekonomian termasuk
impor dimana jika nilai kurs meningkat maka nilai impor barang akan memiliki
kecenderungan menurun dan biaya produksi barang dalam negeri akan
menyesuaikan, sehingga penerimaan bea masuk akan menurun.
Mulai 1 Januari 2010 Indonesia harus membuka pasar dalam negeri
secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina. Pembukaan pasar ini
merupakan perwujudan dari perjanjian perdagangan bebas antara enam negara
anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei
Darussalam) dengan Cina, yang disebut dengan ASEAN China Free Trade
Agreement (ACFTA). Produk-produk impor dari ASEAN dan China akan lebih
mudah masuk ke Indonesia dan lebih murah karena adanya pengurangan tarif dan
penghapusan tarif, serta tarif akan menjadi nol persen dalam jangka waktu tiga
tahun (Dewitari,dkk 2009). Sebaliknya, Indonesia juga memiliki kesempatan yang
sama untuk memasuki pasar dalam negri negara-negara ASEAN dan Cina.
Beberapa
kalangan
menerima
pemberlakuan
ACFTA
sebagai
kesempatan, tetapi di sisi lain ada juga yang menolaknya karena dipandang sebagai
ancaman. Dalam ACFTA, kesempatan atau ancaman (Jiwayana, 2010) ditunjukkan
bahwa bagi kalangan penerima, ACFTA dipandang positif karena bisa memberikan
banyak keuntungan bagi Indonesia. Pertama, Indonesia akan memiliki pemasukan
11
tambahan dari PPN produk-produk baru yang masuk ke Indonesia. Tambahan
pemasukan itu seiring dengan makin banyaknya obyek pajak dalam bentuk jenis dan
jumlah produk yang masuk ke Indonesia. Beragamnya produk China yang masuk ke
Indonesia dinilai berpotensi besar mendatangkan pendapatan pajak bagi pemerintah.
Kedua, persaingan usaha yang muncul akibat ACFTA diharapkan memicu
persaingan harga yang kompetitif sehingga pada akhirnya akan menguntungkan
konsumen (penduduk/pedagang Indonesia).
Bila kalangan penerima memandang ACFTA sebagai kesempatan,
kalangan yang menolak memandang ACFTA sebagai ancaman dengan berbagai
alasan. ACFTA, di antaranya, berpotensi membangkrutkan banyak perusahaan
dalam negeri. Bangkrutnya perusahaan dalam negeri merupakan imbas dari
membanjirnya produk China yang ditakutkan dan memang sudah terbukti
memiliki harga lebih murah. Secara perlahan ketika kelangsungan industri
mengalami kebangkrutan maka pekerja lokal pun akan terancam pemutusan
hubungan kerja (PHK).
Tekanan dari kalangan pengusaha industri agar pelaksanaan ACFTA
ditunda menandakan besarnya pengaruh negatif terhadap industri di Indonesia.
Sementara itu pemerintah tetap menjalankan kesepakatan dengan tetap mengkaji
dan mengevaluasi berbagai hal untuk dapat tetap meningkatkan daya saing
Indonesia antara lain terkait dengan prasarana, biaya ekonomi tinggi, biaya
transportasi, dan sektor makro lainnya. (Nova dan Kirana, 2010). Karena sekalipun
pemerintah menunda pelaksanaan ACFTA untuk waktu tertentu bagi produkproduk tertentu, pada akhirnya perlindungan tersebut juga harus dihilangkan
12
sesuai kesepakatan. Jika pemerintah melanggar kesepakatan dan melindungi
industri dalam negeri, konsumen dirugikan karena harus membayar produk
dengan harga lebih mahal dan perekonomian menjadi tak berkembang.
Tabel 1.4
Perkembangan Volume Impor Indonesia Tahun 2001-2010
Volume Impor
Perkembangan
(Ton)
(%)
51,510,364.88
2001
39,156,039.46
2002
-23.98
28,392,253.53
2003
-27.49
50,643,547.05
2004
78.37
113,860,097.54
2005
124.83
117,010,502.32
2006
2.77
120,822,391.60
2007
3.26
133,923,275.52
2008
10.84
125,724,693.80
2009
-6.12
146,122,786.15
2010
16.22
Sumber: Data Penerimaan Kantor Pusat DJBC, 2011
Tahun
Berdasarkan Tabel 1.4 terlihat bahwa volume impor dari tahun 2001 sampai
2003 mengalami penurunan. Namun dari tahun 2003 sampai dengan 2010
cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan volume impor barang ke Indonesia
di tahun 2010 disebabkan sebagai akibat dari penerapan ASEAN-China Free Trade
Agreement (AC-FTA).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, untuk usulan penelitian ini penulis memilih
judul “Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Pencapaian Target Penerimaan
Bea Masuk Pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Jakarta”.
13
1.2 Rumusan Masalah
Pencapaian target penerimaan pada sektor bea masuk yang merupakan salah
satu mata penerimaan dalam APBN mempunyai andil dalam keberhasilan
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di samping sebagai
salah satu tolok ukur terpenting dalam pengukuran kinerja (benchmarking)
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam kapasitasnya sebagai pengumpul
keuangan negara. Realisasi penerimaan bea masuk diperkirakan berhubungan
dengan tarif bea masuk, nilai kurs rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat
dan volume impor.
Berangkat dari hal tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1.Apakah tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan
volume impor berpengaruh secara simultan terhadap realisasi penerimaan bea
masuk periode 2001 sampai dengan 2010?
2.Bagaimanakah pengaruh tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat dan volume impor secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk periode 2001 sampai dengan 2010?
3.Bagaimanakah tren penerimaan bea masuk untuk tahun 2011 dan 2012?
14
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui besarnya pengaruh tarif bea masuk, nilai kurs rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat dan volume impor secara simultan terhadap
realisasi penerimaan bea masuk periode 2001 sampai dengan 2010.
2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh tarif bea masuk, nilai kurs rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat dan volume impor secara parsial terhadap
realisasi penerimaan bea masuk periode 2001 sampai dengan 2010.
3. Untuk mengetahui tren penerimaan bea masuk untuk tahun 2011 dan 2012.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak, antara lain :
1. Penulis, untuk menambah pengetahuan tentang penelitian ilmiah yang
dibahas dalam bentuk laporan yang terstruktur secara sistematis dan
menambah wawasan mengenai beberapa hal berkaitan dengan pencapaian
target penerimaan bea masuk.
2. Pemerintah Republik Indonesia dan pihak terkait, untuk menjadi masukan
dan sumbangan pemikiran sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam
menetapkan Rancangan Undang-Undang, APBN dan kebijakan.
3. Peneliti lain, untuk menjadi sumber informasi dan referensi bagi penelitian
mengenai penerimaan bea masuk.
15
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Keuangan Negara
Menurut kaidah tata bahasa Indonesia kata keuangan negara merupakan
bentuk kata majemuk yang berasal dari gabungan dua buah kata tunggal yang
memiliki arti sendiri-sendiri, yaitu kata keuangan dan negara. Kata keuangan sendiri
berasal dari kata dasar uang dan mendapat imbuhan ke- dan -an. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia kata uang memiliki arti :
“Alat penukar; standar pengukur nilai (kesatuan hitungan) yang sah yang
dikeluarkan oleh suatu pemerintah negara berupa kertas, emas, perak, dan logam
lainnya yang dicetak dalam bentuk dan gambar tertentu”.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997).
Sementara dalam teori moneter kata uang selalu dikaitkan dengan bank.
Dimana menurut Abdurrachman (2002) dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan
dan perdagangan menjelaskan bahwa, “bank adalah suatu jenis lembaga keuangan
yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman,
mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat
penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan
lain-lain”.
Definisi bank menurut UU No. 14/1967 Pasal 1 tentang Pokok-Pokok
Perbankan adalah “lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan
jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang”, dan pengertian bank
menurut UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, yaitu : bank adalah badan usaha
15
16
yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan
kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Sedangkan kata keuangan memiliki arti :
“seluk beluk uang; segala urusan uang, atau keadaan uang” (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 1997).
Kata negara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti :
“Suatu kesatuan sosial yang menempati suatu wilayah atau daerah tertentu yang
diorganisasi dalam lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai
kesatuan politik, berdaulat, sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya;
organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan
ditaati oleh rakyatnya”
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997).
Sehingga dengan demikian keuangan negara merupakan segala sesuatu
yang berkaitan dengan keadaan uang dari suatu negara.
Keuangan negara sering disebut “public finance”. Istilah public atau
publik sering membingungkan dan bukanlah merupakan istilah yang pas. Dalam
literatur keuangan negara (public finance), istilah publik biasa diartikan pemerintah
(government).
Dalam
arti
luas
sebenarnya
istilah
publik
tidak
hanya
menggambarkan kegiatan pemerintah saja, namun menggambarkan pula utility
(yang menangani kebutuhan atau hajat hidup orang banyak) seperti perusahaanperusahaan kereta api, telepon, listrik, air minum dan lain sebagainya. Di luar negeri
perusahaan “utility” tidak selalu dimiliki pemerintah dan juga kegiatan
perhimpunan amal (charitable associations).
Menurut Arsjad (1992) keuangan negara adalah sebagai “government
finance” (keuangan pemerintah), yakni “menggambarkan segala kegiatan
17
(pemerintah) di dalam mencari sumber-sumber dana (source of fund) untuk
mencapai tujuan-tujuan (pemerintah tertentu)”.
Jadi, keuangan negara mencerminkan kegiatan-kegiatan pemerintah,
sedangkan kegiatan pemerintah itu sendiri berada dalam sektor publik (public
sector), bukan berada dalam sektor swasta (private sector). Kegiatan-kegiatan yang
berada di sektor swasta dilakukan oleh individu-individu dan perusahaanperusahaan swasta. Kegiatan-kegiatan pemerintah di sektor publik menurut sifatnya
juga berbeda dari kegiatan-kegiatan di sektor swasta. Kegiatan pemerintah di sektor
publik banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan yang serba politis. Pemerintah
harus memperhatikan preferensi para pemilih (voters) yang memilih orang-orang
yang akan duduk di pemerintahan. Dengan demikian, negara-negara demokrasi
seperti Indonesia, harus memperhatikan hak-hak individu rakyatnya.
Kegiatan-kegiatan di sektor swasta banyak dipengaruhi oleh mekanisme
pasar di mana pasar merupakan organisasi berlangsungnya keputusan-keputusan
swasta. Kelemahan (mekanisme) pasar sebagai dasar keputusan kegiatan swasta
adalah tidak memperhatikan hak-hak individu. Mereka yang berhak menikmati
barang-barang dan jasa-jasa yang dijual di pasar adalah mereka yang memiliki
sejumlah uang (rupiah) yang cukup. Antara kegiatan di sektor publik dan di sektor
swasta terdapat suatu interaksi, bukanlah terpisah dan tertutup.
Selanjutnya menurut Arsjad (1992) yang menjadi kegiatan-kegiatan yang
dilakukan pemerintah di sektor publik adalah meliputi kegiatan-kegiatan (i)
transaksi-transaksi melalui anggaran (budgetary transaction) meliputi transaksi
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (ii) kegiatan-kegiatan perusahaan negara
18
(public enterprises) milik pusat dan daerah, dan (iii) peraturan-peraturan pemerintah
(public regulation) yang dibuat pemerintah pusat dan daerah untuk mempengaruhi
kehidupan ekonomi, sosial dan politik masyarakat dalam suatu negara.
Untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah di sektor
publik maka pemerintah harus menyiapkan anggaran pendapatan dan belanja negara
. Pengeluaran negara merupakan sisi pertama dari anggaran pendapatan dan belanja
negara dan sisi lainnya yaitu perpajakan.
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), Pasal 23 ayat (1)
menyatakan bahwa:
“Anggaran Pendapatan dan Belanja ditetapkan tiap-tiap tahun dengan UndangUndang. Apabila DPR tidak menyetujui anggaran yang diusulkan Pemerintah
menjalankan anggaran tahun yang lalu”.
Apabila kita teliti dengan seksama, maka ayat ini secara implisit
mengartikan keuangan negara sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,
yang mengandung unsur periodik dalam penetapannya yakni setahun sekali.
Penetapan APBN mutlak terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari DPR. Sifat
mutlak ini dapat disimpulkan dari bunyi kalimat kedua pasal 23 ayat (1) UUD 1945
dimana Pemerintah tidak mungkin melaksanakan APBN tanpa persetujuan DPR.
Oleh karena itu khusus persetujuan RUU APBN oleh DPR, mempunyai makna
tersendiri, yakni bukan hanya sekedar consent, akan tetapi mempunyai hak dan
kewajiban dimana sanksi dapat diberlakukan yaitu Pemerintah berkewajiban
menjalankan anggaran tahun yang lalu, bilamana anggaran yang diusulkan oleh
19
Pemerintah ditolak oleh DPR. Pengertian anggaran tahun lalu adalah anggaran yang
telah mendapatkan persetujuan DPR.
Dengan demikian bila kita berbicara mengenai keuangan negara maka
kita tidak akan lepas dari hal-hal yang berkaitan dengan sumber penerimaan dan
pengeluaran negara. Salah satu sumber penerimaan negara adalah berasal dari pajak
baik berupa pajak langsung maupun tidak langsung.
2.2 Pengertian Bea Masuk sebagai Penerimaan Pajak
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara dibutuhkan sumber-sumber penerimaan negara
yang berupa uang. Untuk mendapatkan uang selain dengan mencetak sendiri atau
meminjam, dalam zaman modern ini banyak
cara yang dapat ditempuh oleh
Pemerintah, yaitu melalui pajak baik yang berupa pajak langsung maupun pajak
tidak langsung, retribusi, sumbangan, dan penghasilan negara lainnya seperti hasilhasil perusahaan negara dan daerah, hasil barang-barang milik pemerintah atau yang
dikuasai pemerintah, denda-denda dari perampasan untuk kepentingan umum, hak
waris atas harta peninggalan terlantar, hibah, wasiat, dan lain-lain. Salah satu
penerimaan pajak yang dalam pelaksanaannya dibebankan kepada Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai adalah bea masuk. Sebelum membahas secara rinci tentang
bea masuk, maka akan terlebih dahulu diulas mengenai pajak secara umum.
20
2.2.1
Pajak Sebagai Penerimaan Negara
Banyak sekali definisi pajak yang diungkapkan oleh para ahli, khususnya
ahli di bidang keuangan negara (public finance), ekonomi, maupun hukum.
Diantaranya pendapat yang dikemukakan oleh Adriani bahwa definisi pajak adalah
sebagai berikut:
Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib
pajak yang membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapatkan
prestasi secara kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara
menjalankan pemerintahan.
Menurut Guritno, pengertian pajak adalah suatu pungutan yang
merupakan hak prerogratif pemerintah, pungutan tersebut didasarkan pada Undang
Undang, pungutannya dapat dipaksakan kepada subyek pajak untuk mana tidak ada
balas jasa yang langsung dapat ditunjukkan penggunaannya.
Pajak bagi suatu negara pada prinsipnya mempunyai peran ganda, yaitu
fungsi fiskal (budgetair) dan fungsi mengatur (regurelend). Dari kedua fungsi
tersebut, kadang-kadang fungsi budgetair lebih menonjol dari pada fungsi
regurelend; misalnya pada pemungutan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Namun demikian
fungsi regulerend kadang-kadang sangat diutamakan seperti dalam pemungutan bea
masuk dan cukai. Penekanan mana yang diutamakan tergantung pada karakter dari
pajak itu, kondisi perekonomian negara, dan luasnya keterkaitan pajak tersebut
21
dengan hal-hal lain. Dalam hal ini pemerintah mengadakan prioritas-prioritas sesuai
dengan tujuan jangka pendek, jangka panjang dan sasaran mikro dan makro.
2.2.2 Bea Masuk
Pengertian bea masuk berdasarkan Ensiklopedia Indonesia, diartikan
sebagai pajak yang dipungut atas barang-barang impor. Sedangkan pengertian bea
masuk berdasarkan Pasal 1 UU No. 17/2006 perubahan dari UU No. 10/1995
adalah “Pungutan negara berdasarkan undang-undang ini yang dikenakan terhadap
barang yang diimpor”. Dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa
pengertian impor secara yuridis, yaitu pada saat barang memasuki daerah pabean
dan menetapkan saat barang tersebut wajib bea masuk. Jadi bea masuk merupakan
pajak yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas barang-barang
yang memasuki daerah pabean.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan
Nomor
2/KMK.02/2001
mempunyai
tugas
merumuskan
dan
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kepabeanan dan cukai
berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh menteri dan perundang-undangan yang
berlaku. Salah satu fungsi utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah sebagai
pengumpul penerimaan yang merupakan pendapatan negara untuk membiayai
pembangunan nasional. Peranan fungsi ini berubah sesuai dengan perubahan situasi
perkonomian dan sosial negara. Pada saat ini dimana Indonesia dalam keadaan
krisis di segala bidang khususnya di bidang ekonomi,fungsi ini menjadi salah satu
prioritas yang harus dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
22
Penerimaan yang dikumpulkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berupa bea
masuk yang merupakan pajak atas perdagangan internasional dan cukai yang
merupakan pajak spesifik terhadap barang-barang tertentu.
2.3 Prosedur Kepabeanan di Bidang Impor
Barang-barang yang dimasukkan ke dalam daerah pabean Indonesia
(diimpor), wajib memenuhi ketentuan pabean dan menjadi subjek bagi pemeriksaan
pabean (penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik). Kompleksitas sistem dan
prosedur pemenuhan kewajiban pabean termasuk pelaksanaan pemeriksaan pabean,
dimasa lalu, telah menyebabkan terhambatnya kelancaran arus barang dan
menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Sejalan dengan ditetapkannya Undang-Undang
Nomor 17 tahun 2006 perubahan dari Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995
tentang Kepabeanan, sistem dan prosedur pemenuhan kewajiban pabean tersebut
telah disempurnakan dan disederhanakan sehingga dapat mengatasi terhambatnya
kelancaran arus barang dan menurunnya biaya dalam proses pengeluaran barang
impor. Diantara karakteristik yang menonjol dalam sistem dan prosedur yang secara
efektif diberlakukan sejak tanggal 1 April 1997 dan terakhir disempurnakan dengan
KEP-07/BC/2003 adalah sebagai berikut :
a.
Penerapan konsep self assessment yang memberikan kepercayaan penuh
pada imporir untuk memberitahukan barang impor melalui dokumen
Pemberitahuan Impor Barang dan menghitung serta membayar sendiri bea
masuk dan pajak-pajak dalam rangka impor;
23
b.
Penggunaan teknologi komunikasi dan komputer dalam proses pengiriman
dokumen dan penelitian dokumen Pemberitahuan Impor Barang;
c.
Prenotification
yaitu
prosedur
yang
memungkinkan
importir
untuk
memberitahukan impornya meskipun kapal yang mengangkut barang impor
yang bersangkutan belum tiba di pelabuhan;
d.
Preentry classification yaitu penetapan tarif oleh pejabat bea cukai sebelum
dokumen Pemberitahuan Impor Barang diajukan atau sebelum kedatangan
kapal yang membawa impor yang bersangkutan;
e.
Penyederhanaan tata cara penelitian dokumen PIB (Pemberitahuan Impor
Barang) dan penyederhanaan penelitian terhadap substansi yang diperlukan
dalam rangka pengeluaran barang;
f.
Pemeriksaan selektif terhadap fisik barang berdasarkan konsep risk
management. Pemeriksaan fisik terhadap barang impor hanya dilakukann
terhadap importasi beresiko tinggi dan random sampling yang ditentukan
secara acak oleh komputer;
g.
Penerapan harga transaksi, atau harga yang sebenarnya dibayar oleh pembeli
kepada penjual, sebagai harga yang digunakan sebagai dasar dalam
penghitungan bea masuk dan pajak-pajak lainnya dalam rangka impor;
h.
Deffered/Periodic payment adalah kemudahan bagi importir produsen untuk
secara periodik (tidak setiap importasi) melakukan pembayaran bea masuk
dan pajak-pajak lainnya dalam rangka impor;
24
i.
Pelayanan segera adalah kemudahan pengeluaran barang terlebih dahulu yang
diberikan untuk barang-barang yang sifatnya urgent dengan hanya
menggunakan dokumen pelengkap pabean disertai jaminan;
j.
Pemerikaan phisik barang di gudang importir diberikan dalam rangka
percepatan pengeluaran barang dari pelabuhan dan mengurangi biaya yang
keluarkan oleh importir.
2.3 Penetapan Nilai Pabean
Dewasa ini dikenal ada tiga jenis sistem penetapan nilai pabean untuk
penghitungan Bea Masuk, dua diantaranya berasal dari konvensi internasional, yaitu
Brussels Definition of Value (BDV), yang mengatur bahwa nilai pabean
berdasarkan harga normal/harga patokan yang terjadi di pasaran bebas antara
penjual dan pembeli yang saling tidak berhubungan dan WTO/GATT Valuation
Agreement, yang mengatur bahwa nilai pabean adalah nilai transaksi barang impor
yang bersangkutan serta Sistem Nasional yang ketentuannya diserahkan masingmasing negara yang menerapkannya. Ketiga sistem penetapan nilai pabean di atas
dewasa ini masih diterapkan. Namun setelah ditanda tanganinya Final Act Uruguay
Round yang mengesahkan pembentukan WTO pada tanggal 15 April 1994 di
Maroko oleh 125 negara, sejak tanggal 1 Januari 2000, semua negara anggota WTO
telah melaksanakannya dalam sistem penetapan nilai pabean mereka.
Berdasarkan ketentuan WTO Valuation Agreement, negara berkembang
dapat menunda pelaksanaan Agreement tersebut paling lama lima tahun sejak
tanggal pemberlakuan WTO (1 Januari 1995). Dengan adanya kelonggaran ini,
25
Indonesia sebenarnya dapat menerapkan ketentuan Agreement tersebut pada tahun
2000, tetapi berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 perubahan dari
Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang mengakomodir
prinsip-prinsip WTO Valuation Agreement, Indonesia telah menerapkan sistem
penetapan nilai pabean ini sejak 1 April 1997. Untuk memberlakukan prinsipprinsip WTO Valuation Agreement sesuai Undang Undang Kepabeanan, Pemerintah
dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, telah melakukan berbagai kegiatan
yang meliputi penyusunan perangkat hukum, perubahan struktur organisasi,
penyusunan sistem dan prosedur serta sistem komputerisasi, pelatihan baik kepada
pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai maupun dunia usaha.
Secara garis besar Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 perubahan dari UndangUndang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan mengatur bahwa penetapan
nilai pabean barang impor untuk penghitungan Bea Masuk menggunakan enam
metode yang diterapkan sesuai hirarki penggunaannya, yaitu:
a. Metode I, nilai pabean ditetapkan berdasarkan nilai transaksi dari barang impor
yang bersangkutan. Nilai transaksi adalah harga yang sebenarnya atau yang
seharusnya dibayar dari barang yang dijual untuk diekspor ke Daerah Pabean
yang ditambah dengan biaya tertentu, sepanjang biaya tertentu tersebut belum
termasuk dalam harga yang sebenarnya atau yang seharusnya dibayar. Yang
dimaksud dengan harga yang sebenarnya adalah harga barang impor yang pada
waktu importasinya telah dilunasi (actually paid), sedangkan yang dimaksud
dengan harga yang seharusnya dibayar adalah harga barang impor yang pada
waktu importasinya belum dilunasi (payable) atau dibeli secara kredit;
26
b. Metode II, nilai pabean ditetapkan berdasarkan nilai transaksi barang identik;
c. Metode III, nilai pabean ditetapkan berdasarkan nilai transaksi barang serupa;
d. Metode IV, nilai pabean ditetapkan berdasarkan metode deduksi, yaitu harga
transaksi dalam negeri dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan sejak
barang tiba di daerah pabean;
e. Metode V, nilai pabean ditetapkan berdasarkan metode komputasi, yaitu dengan
cara menghitung biaya produksi dan biaya-biaya lainnya sampai barang tiba di
daerah pabean Indonesia;
f. Metode VI, nilai pabean ditetapkan berdasarkan data yang tersedia di Daerah
Pabean secara fleksibel.
Diantara keenam metode penetapan nilai pabean, maka metode
pertamalah yang paling sering digunakan, karena sebagian besar barang impor
berasal dari transaksi jual-beli. Penghitungan nilai pabean berdasarkan Metode I
juga sangat mudah dilakukan karena didasarkan pada masing-masing kondisi
transaksi jual-beli barang impor yang bersangkutan.
Dalam menetapkan nilai pabean, disamping mengikuti metode penetapan tersebut
diatas, juga harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. fair, nilai pabean harus ditetapkan secara adil dan transparan,
2. unifrom, nilai pabean ditetapkan berdasarkan enam metode yang diterapkan
secara seragam di seluruh Indonesia dengan memperhatikan hirarki
penggunaannya,
3. neutral, nilai pabean ditetapkan tanpa memperhatikan kepentingan tertentu,
misalnya kepentingan politis atau ekonomi,
27
4. nilai pabean tidak diizinkan ditetapkan secara fiktif atau sewenang-wenang.
5. dasar penetapan nilai pabean sedapat mungkin adalah berdasarkan nilai
transaksi barang impor yang bersangkutan nilai pabean harus ditetapkan
berdasarkan kriteria yang sederhana dan konsisten dengan praktik perdagangan
yang terjadi,
6. nilai pabean tidak diizinkan digunakan untuk mengatasi dumping.
Adanya prinsip-prinsip yang perlu ditaati oleh setiap Pejabat Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai pada waktu menetapkan nilai pabean menandakan bahwa
penetapan nilai pabean yang mengadopsi ketentuan WTO Valuation Agreement
sejauh mungkin mencerminkan realitas perdagangan, dilakukan dengan fair dan
trasnparan serta tidak dilakukan dengan cara sewenang-wenang atau fiktif .
Dengan diberlakukannya satu sistem penetapan nilai pabean yang seragam dalam
prinsip dan metode oleh semua negara anggota WTO diharapkan dapat lebih
memperlancar arus barang dan dokumen yang selanjutnya berdampak positif
terhadap perkembangan perdagangan internasional.
2.5 Hubungan Tarif Bea Masuk dengan Penerimaan Bea Masuk
Seperti diketahui bahwa pengenaan tarif bea masuk yang ditetapkan Pemerintah
sangat mempengaruhi besar kecilnya penerimaan Negara khususnya penerimaan
bea masuk. Semakin tinggi tarif bea masuk yang ditetapkan maka penerimaan bea
masuk akan semakin besar. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tarif bea masuk
maka penerimaan Negara khususnya bea masuk akan turun. Hal ini dapat
28
disimpulkan bahwa antara tarif bea masuk dan penerimaan bea masuk memiliki
hubungan yang positif.
2.6 Penetapan Kurs
Valas atau foreign exchange (forex) atau foreign currency
diartikan sebagai mata uang asing dan alat pembayaran lainnya yang
digunakan untuk melakukan atau membiayai transaksi ekonomi dan keuangan
internasional atau luar negeri dan biasanya mempunyai catatan kurs resmi
pada Bank Sentral atau Bank Indonesia. Nopirin (1987) mendefinisikan kurs
valuta asing adalah perbandingan atau harga antara dua mata uang.
Mata uang yang sering digunakan sebagai alat pembayaran dan
kesatuan hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional disebut
sebagai hard currency, yaitu mata uang yang nilainya relatif stabil dan
kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai terhadap mata uang
lainnya. Hard currency pada umumnya berasal dari negara-negara industri
maju, seperti USD, JPY, DEM, GBP, FRF, AUD, dan SFR.
Sedangkan soft currency adalah mata uang lemah yang jarang
digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung karena nilainya
relatif tidak stabil dan sering mengalami depresiasi atau penurunan nilai
terhadap mata uang lainnya. Soft currency ini pada umumnya berasal dari
negara-negara yang sedang berkembang, seperti Rupiah - Indonesia, Peso Filipina, Bath - Thailand, dan Rupee - India.
29
Sebagaimana halnya dengan perdagangan barang dan jasa di pasar
barang, mata uang dapat juga diperdagangkan karena ada permintaan dan
penawaran terhadap mata uang di pasar uang. Dan sebetulnya perdagangan valuta
asing terjadi sebagai akibat dari aktivitas penjualan dan pembelian barang dan jasa
di pasar barang, kegiatan investasi antar negara, dan lalu lintas mata uang antar
negara.
Perubahan
permintaan
dan
penawaran
terhadap
valuta
asing
mempengaruhi harga atau kurs valuta asing. Mata uang tiap-tiap negara yang
tercatat di bank sentral dan terkumpul di bank sentral maupun terkumpul di bankbank pelaksana, merupakan stock valuta asing (devisa) bagi suatu negara. Stock
devisa tersebut terbentuk karena adanya transaksi ekonomi antar negara.
Para peserta dalam pasar valuta asing terdiri dari Bank Sentral, Pedagang
Valuta Asing atau Money Changer, Bank-Bank selain Bank Indonesia, Eksportir,
Importir dan mungkin juga termasuk rumah tangga-rumah tangga karena mereka
melakukan kegiatan spekulasi valuta asing. Dalam hal pemerintah membiarkan
kurs valuta asing berubah-ubah atau tidak akan sangat tergantung dari sistem kurs
yang ditetapkan oleh negara yang bersangkutan, misalnya ditetapkan sistem kurs
yang berubah-ubah, sistem kurs yang perubahannya sedikit atau kecil atau sistem
kurs tetap.
Harga (kurs) mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya
pada saat tertentu dan pada saat tersebut juga dilakukan transaksi perdagangan
barang dan jasa antar negara, saat dilakukan realisasi investasi antar negara dan saat
terjadi lalu lintas uang antar negara, disebut Kurs Spot. Kurs Spot dapat dibaca pada
30
suatu pengumuman di papan pengumuman yang dibuat oleh peserta pasar valuta
asing, seperti yang dibuat oleh bank-bank dan oleh money changer.
Berdasarkan
perkembangan
sistem
moneter
internasional
sejak
berlakunya Bretton Woods System pada tahun 1947, pada umumnya dikenal dua
macam sistem penepatan kurs valas atau forex rate berikut : (Hamdy, 2001)
1) Sistem kurs mengambang atau berubah (floating exchange rate) system)
Pasar valuta asing yang tidak dicampuri oleh pemerintah sehingga
kekuatan permintaan dan penawaran terhadap valuta asing di pasar
valuta asing berinteraksi secara bebas. Perubahan kurs valuta asing
dalam pasar yang demikian tergantung beberapa faktor seperti terlihat
pada bagan berikut.
Kegiatan Ekonomi
Pendapatan
Harga dan
Tingkat Bunga
Perubahan ekspor,
Perubahan impor,
Perubahan aliran modal,
sistem kurs Valuta Asing
Faktor psikologis
Pasar Valuta Asing,
Perubahan permintaan
dan penawaran terhadap
Valuta Asing
Kebijaksanaan
Pemerintah
Kurs Valuta Asing
Gambar 2.1
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Kurs Valuta Asing
31
Tinggi rendahnya kurs valuta asing, merupakan cermin atau tanda kuat
lemahnya mata uang suatu negara dibanding dengan mata uang negara lain
dalam transaksi ekonomi antar negara.
2) Sistem kurs tetap atau stabil (fixed exchange rate system).
Umumnya kurs tetap dilaksanakan dengan menetapkan suatu standar tertentu
seperti dengan standar harga emas dan juga melalui pengawasan jumlah devisa.
Yang dimaksud dengan standar tertentu (misalnya standar emas) adalah
penetapan nilai mata uang domestik atau mata uang sendiri maupun uang
negara lain dengan seberat emas tertentu.Oleh karena itu diperlukan syarat
bahwa setiap mata uang dijamin dengan seberat emas tertentu, setiap orang
boleh membuat atau melebur uang emasnya dan pemerintah sanggup membeli
atau menjual emas dalam jumlah yang tidak terbatas pada harga tertentu.
Untuk saat ini Indonesia menggunakan sistem kurs mengambang atau
berubah-ubah dan untuk kurs penghitungan pemungutan pajak, pemerintah
melalui Departemen Keuangan menerbitkan kurs setiap hari Senin dan berlaku
seminggu berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI.
Menurut Winarno (2006) ada beberapa faktor yang dapat dijadikan
pedoman untuk menentukan sistem kurs, yaitu sebagai berikut.
1) Besarnya perekonomian dan tingkat keterbukaan.
Pada struktur ekonomi sebuah negara, perdagangan internasional merupakan
bagan terbesar dalam konfigurasi PDB, gejolak kurs mata uang bisa
merepotkan. Hal itu disebabkan oleh potensi pengaruh yang bisa mengena
berbagai sektor perekonomian.
32
2) Tingkat inflasi.
Jika inflasi suatu negara lebih besar daripada nilai inflasi mitra dagangnya,
sistem kurs fleksibel lebih mudah untuk menyesuaikan ketika terjadi penurunan
daya saing.
3) Sifat peraturan perburuhan.
Apakah kaku atau fleksibel lebih mudah dilakukan adaptasi agar mampu
berdaya saing.
4) Tingkat kemajuan pasar uang.
Di negara berkembang dengan pasar uang yang belum terlalu maju, sistem kurs
bebas kurang cocok, karena volume perdagangan uang yang kecil dapat
menimbulkan gejolak yang cukup besar.
5) Kredibilitas otoritas moneter.
Bila otoritas moneter dianggap kurang memiliki kredibilitas, sistem kurs bebas
mengakibatkan lonjakan kurs yang tinggi.
6) Mobilitas modal.
Di negara yang lalu lintas modalnya tidak memiliki mekanisme pembatasan
akan sulit mempertahankan sistem kurs tetap.
2.7 Hubungan Kurs dengan Penerimaan Bea Masuk
Teori permintaan menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara permintaan
dengan harga. Bahkan semakin tinggi harga komoditas maka semakin rendah
kuantitas permintaan terhadap komoditas tersebut. Demikian sebaliknya semakin
rendah harga komoditas akan dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditas
33
tersebut dengan asumsi ceteris paribus (faktor lain dianggap tetap atau tidak
mengalami perubahan). Harga yang dimaksud adalah kurs valas sedangkan
permintaannya adalah impor dari negara yang bersangkutan. Jika kurs valas
meningkat maka impor cenderung menurun, sebaliknya jika kurs valas menurun
maka impor akan meningkat (Sukirno, 1997). Dengan meningkatnya impor maka
penerimaan bea masuk pun akan meningkat. Jadi kurs valuta asing mempunyai
hubungan yang berlawanan arah atau negatif dengan penerimaan bea masuk.
2.8 Volume Impor
Menurut Boediono (1993) perdagangan diartikan sebagai proses tukar
menukar yang didasarkan atas kehendak suka rela dari masing-masing pihak.
Masing-masing pihak harus mempunyai kebebasan untuk menentukan untung rugi
pertukaran tersebut dari sudut kepentingan masing-masing dan kemudian
menentukan apakah ia mau melakukan pertukaran atau tidak. Pada dasarnya
pertukaran atau perdagangan timbul karena kedua belah pihak melihat adanya
manfaat atau keuntungan tambahan yang bisa diperoleh dari pertukaran tersebut
(gains from trade).
Tambunan (2001), mendefinisikan perdagangan internasional sebagai
perdagangan antara atau lintas negara yang meliputi kegiatan ekspor dan impor.
Perdagangan internasional dibagi menjadi dua kategori, yakni perdagangan barang
(fisik) dan perdagangan jasa. Perdagangan jasa antara lain terdiri dari biaya
transportasi, perjalanan (travel), asuransi, pembayaran bunga dan remittance seperti
gaji tenaga kerja serta fee atau royalty teknologi (lisensi).
34
Nopirin (1996) menyatakan perdagangan internasional antar dua negara
akan timbul karena adanya perbedaan permintaan dan penawaran. Perbedaan
permintaan bisa disebabkan oleh jumlah dan jenis kebutuhan, jumlah pendapatan,
kebudayaan, selera, dan sebagainya. Dari segi penawaran, disebabkan oleh
perbedaan faktor produksi baik kualitas, kuantitas, maupun dalam hal komposisi
faktor produksi tersebut. Perbedaan faktor produksi akan membedakan tingkat
produktivitas tiap negara. Faktor harga juga menentukan adanya perbedaan harga
komparatif antar negara yang menyebabkan timbulnya arus perdagangan
internasional.
Jadi, perdagangan internasional secara umum dapat didefinisikan sebagai
suatu kegiatan yang mencakup ekspor dan impor, baik berupa barang maupun jasa
yang dilakukan antar negara atas pertimbangan tertentu (keuntungan) dan dilakukan
tanpa adanya tekanan dari pihak manapun juga.
Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam
perekonomian suatu negara. Dalam situasi global tidak ada satu negara pun yang
tidak melakukan hubungan dagang dengan pihak luar negeri, mengingat bahwa
setiap negara tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri secara efektif tanpa
bantuan negara lainnya. Perdagangan luar negeri memiliki dampak yang luas
terhadap perekonomian suatu negara terutama di negara berkembang dengan
pendapatan yang rendah yang tidak memungkinkan untuk melakukan akumulasi
tabungan dan modal. Perdagangan luar negeri memberikan harapan bagi negara
untuk bisa menutupi kekurangan tabungan domestik yang diperlukan bagi
pembentukkan
modal
dalam
rangka
meningkatkan
produktivitas
35
perekonomiannya. Impor adalah kegiatan perdagangan dari luar negeri ke dalam
negeri melalui mekanisme yang hampir sama dengan ekspor, namun dengan
beberapa aturan tambahan yang berisi pembatasan-pembatasan yang bertujuan
untuk melindungi produsen di dalam negeri (Tambunan, 2001).
Dalam bukunya (Murni, 2006) menyatakan bahwa kegiatan ekspor dan impor
mempengaruhi agregat demand (AD) yaitu pengeluaran secara keseluruhan yang
berhubungan langsung dengan pendapatan nasional. Jika ekspor lebih besar dari
impor maka neraca perdagangan akan surplus dan meningkatkan pendapatan
nasional. Jika ekspor lebih kecil dari impor maka neraca perdagangan akan defisit
dan akan mengurangi pendapatan nasional.
Berdasarkan laporan indikator Indonesia komposisi impor menurut golongan
penggunaan barang ekonomi dapat dibedakan atas tiga kelompok, yaitu sebagai
berikut.
1) Impor barang-barang konsumsi, terutama untuk barang-barang yang belum
dapat dihasilkan di dalam negeri atau untuk memenuhi tambahan permintaan
yang belum mencukupi dari produksi dalam negeri, yang meliputi makanan
dan minuman untuk rumah tangga, bahan bakar dan pelumas olahan, alat
angkut bukan industri, barang tahan lama, barang setengah tahan lama serta
barang tidak tahan lama.
2) Impor bahan baku dan barang penolong, yang meliputi makanan dan
minuman untuk industri, bahan baku untuk industri, bahan baker dan pelumas,
serta suku cadang dan perlengkapan.
36
3) Impor barang modal, yang meliputi barang modal selain alat angkut, mobil
penumpang dan alat angkut untuk industri.
2.9 Hubungan Volume Impor dengan Penerimaan Bea Masuk
Volume impor memiliki hubungan yang positif dengan penerimaan bea
masuk. Apabila volume impor meningkat maka penerimaan bea masuk juga akan
meningkat. Begitu pula sebaliknya, apabila volume impor mengalami penurunan
maka penerimaan bea masuk pun akan turun.
2.10 Penelitian Sebelumnya
1. Penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
penerimaan bea masuk sudah pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
Untuk mendukung penelitian ini sebuah hasil penelitian oleh Anton (2003)
dijadikan referensi dengan judul : “Pengaruh Harga Rata-rata Barang Impor,
Kurs Rupiah, Tarif BM dan Volume Impor Terhadap Penerimaan Bea Masuk
Indonesia dari tahun 2002-2003”. Variabel penelitian yang digunakan meliputi
Harga Rata-rata barang impor, Kurs Rupiah, tarif BM dan Volume Impor.
Teknik analisis digunakan regresi berganda, dimana hasil penelitiannya dapat
disimpulkan sebagai berikut. Realisasi penerimaan bea masuk dipengaruhi
antara lain oleh Harga Rata-rata barang impor, Kurs Rupiah, tarif BM dan
Volume Impor. Tingkat tarif rata-rata bea masuk setiap bulan ternyata tidak
selalu mengalami trend penurunan meskipun pemerintah menerapkan CEPT
dalam konteks AFTA karena besaran tersebut bergantung pada pola
pengimporan barang berdasarkan klasifikasi jenis barang yang diimpor apakah
37
termasuk kategori bahan baku/barang antara yang dibebani tarif rendah ataukah
termasuk kategori barang jadi dan konsumsi yang bertarif sedang dan tinggi.
Penerimaan Bea Masuk ternyata tidak dipengaruhi secara signifikan oleh harga
rata-rata impor dan fluktuasi nilai kurs.
2.
Penelitian yang dilakukan oleh Eddy Wahyudi, Bunasor Sanim, Hermanto
Siregar, Nunung Nuryartono (2008) yang berjudul “Dampak Fluktuasi
Ekonomi terhadap Penerimaan Pajak di Indonesia”. Teknik analisis yang
digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM) dengan
menggunakan data bulanan dari Bulan Januari 1993 sampai Desember 2007.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 (dua belas) variabel yang
digunakan yaitu konsumsi minyak, harga minyak dan gas, inflasi US, inflasi
Indonesia, suku bunga luar negeri (SIBOR), nilai tukar rupiah, WPI/PPI, nilai
ekspor-impor, jumlah uang beredar, suku bunga dalam negeri, GDP, dan
tingkat hunian hotel, terdapat 3 (tiga) variabel yang memberikan gejolak
signifikan terhadap penerimaan pajak di Indonesia, yaitu tingkat hunian hotel,
jumlah uang beredar, dan konsumsi minyak. Hal ini disebabkan karena
peningkatan tingkat hunian hotel merupakan indikasi awal bahwa telah terjadi
peningkatan aktivitas bisnis. Dimana peningkatan aktivitas bisnis akan
berdampak pada siklus bisnis dan peningkatan penerimaan pajak dari berbagai
sektor. Sementara, perubahan jumlah uang beredar akan menyebabkan PDB
mengalami penurunan. Turunnya PDB disebabkan oleh nilai tukar yang
terdepresiasi ketika terjadi guncangan. Perubahan konsumsi minyak akan
berdampak sangat signifikan pada peningkatan penerimaan pajak.
38
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Besaran bea masuk sebagai salah satu mata anggaran penerimaan negara,
secara mikro jika dilihat dalam setiap transaksi impor barang maka dipengaruhi oleh
beberapa elemen, yaitu antara lain harga transaksi atas barang yang diperdagangkan
disebut CIF (Cost, Insurrance and Freight), nilai kurs mata uang yang digunakan
dalam transaksi dan besarnya tarif bea masuk yang dibebankan sesuai
pengklasifikasian barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia atau lebih dikenal
sebagai HS (Harmonized System). Dengan demikian fungsi antar elemen-elemen
tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
Bea Masuk = Tarif BM x Kurs x CIF
Jika ditinjau secara makro, maka agregat penerimaan bea masuk di seluruh
Indonesia dalam kurun waktu tertentu dapat dirumuskan dengan menambah elemen
volume impor sebagai berikut :
Σ Bea Masuk = Tarif BM x Kurs x CIF x Volume Impor
dimana besaran tarif bea masuk, kurs dan volume impor merupakan besaran ratarata dalam kurun waktu yang sama. Dengan demikian diperkirakan bahwa tarif bea
masuk, kurs dan volume impor mempunyai pengaruh terhadap penerimaan bea
masuk.
39
Dari uraian tersebut di atas maka akan diteliti pengaruh antara tarif bea
masuk, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor dalam
dimensi devisa bayar maupun tonagenya seperti terlihat pada Gambar 3.1, 3.2 dan
Gambar 3.3.
Gambar 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
X1 = tarif BM
X2 = kurs rupiah
Y = Realisasi
Target
Penerimaan
Bea Masuk
X3 = volume impor
Keterangan:
Pengaruh Simultan
Pengaruh Parsial
3.2 Hipotesis
Berdasarkan uraian tersebut pada latar belakang masalah dan kerangka pemikiran,
maka penulis mencoba mengajukan hipotesis sebagai berikut.
1. Tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan volume
impor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan bea
masuk.
40
2. Tarif bea masuk dan volume impor secara parsial berpengaruh positif dan
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk dan nilai kurs rupiah secara
parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap realisasi penerimaan bea
masuk.
41
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk
mendapatkan data yang berkaitan dengan penerimaan bea masuk, tarif bea masuk
dan volume impor, sedangkan data mengenai kurs rupiah yang dijadikan sebagai
Nilai
Dasar
Pengenaan
Bea
Masuk
diperoleh
dari
website
DJBC
(http://www.beacukai.go.id). Waktu penelitian adalah bulan Juni sampai Juli 2011.
4.2 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini berkaitan dengan pencapaian/realisasi target
penerimaan negara dari sektor bea masuk yang merupakan salah satu mata
anggaran penerimaan negara yang seringkali pula dianggap sebagai salah satu
tolok ukur utama dari kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
4.3 Identifikasi Variabel
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu
variabel terikat dan tiga variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah realisasi penerimaan bea masuk yang dinotasikan sebagai (Y) yang
merupakan jumlah penerimaan bea masuk dalam kurun waktu satu bulan.
Variabel bebas dalam penelitian ini ada tiga buah, yaitu sebagai berikut.
a. Tarif Bea Masuk (X1) merupakan persentase dari harga pabean sebagai dasar
pengenaan bea masuk. Untuk setiap jenis klasifikasi barang dikenakan
41
42
persentase tarif tertentu yang bervariasi dari 0 % sampai 200%. Tingkat
persentase tarif secara agregat dalam kurun waktu satu bulan dinyatakan dalam
flat rate tariff karena volume dan harga setiap jenis/barang tidak merata.
b. Kurs (X2) yang merupakan Nilai Dasar Pengenaan Bea Masuk (NDPBM) yaitu
nilai kurs USD atas IDR yang ditetapkan setiap minggu berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan untuk menetapkan pengenaan bea masuk sebagai faktor
pengalihan dari CIF (dalam USD) menjadi Harga Pabean (dalam rupiah).
c. Volume Impor (X3) merupakan jumlah kegiatan impor yang dinyatakan dalam
jumlah tonage barang impor selama satu bulan. Volume impor dapat pula
dinyatakan dalam jumlah devisa bayar selama satu bulan.
4.4 Definisi Operasional
Penelitian ini memerlukan pembatasan atas definisi variabel yang digunakan
agar tidak menjadi perluasan masalah. Adapun variabel penelitian yang akan
dirumuskan adalah sebagai berikut.
4.4.1 Penerimaan Bea Masuk
Penerimanan Bea Masuk adalah salah satu mata anggaran pendapatan negara yang
awalnya ditargetkan pada APBN. Target penerimaan bea masuk merupakan jumlah
yang diperkirakan dan atau diharuskan diterima oleh negara sebagai salah satu mata
anggaran pendapatan yang dimuat dalam UU APBN. Tercapainya target pendapatan
dalam APBN harus benar-benar dapat direalisasikan karena berjalannya roda
pemerintahan membutuhkan dana paling tidak sebesar yang telah dianggarkan
dalam anggaran belanja dan hal itu akan sangat bergantung pada pendanaan yang
43
berasal dari mata anggaran pendapatan sehingga jika mata anggaran pendapatan
tidak terealisasi sepenuhnya akan mengakibatkan sebagian kegiatan yang telah
dianggarkan tidak jadi terlaksana karena ketidaktersediaan dana yang pada
gilirannya menghadapkan pemerintah pada posisi pertanggungjawaban kegiatan dan
keuangan yang sulit.
Pencapaian target penerimaan juga dijadikan tolok ukur utama dalam mengukur
kinerja DJBC selama ini, jika realisasi penerimaan mencapai atau bahkan
melampaui target yang telah ditetapkan maka DJBC dianggap telah berhasil
menjalankan tugasnya.
4.4.2 Tarif Bea Masuk.
Tarif bea masuk merupakan salah satu komponen yang menentukan besarnya
pungutan bea masuk atas barang yang diimpor. Dalam perkembangannya, tarif bea
masuk selalu diupayakan untuk diturunkan serendah mungkin sesuai ketentuan yang
telah disetujui dalam perjanjian-perjanjian kepabeanan internasional seperti APEC
dan AFTA sementara target penerimaan bea masuk yang disetujui dan ditetapkan
dalam APBN menunjukkan trend yang selalu meningkat. Secara mikro, setiap
transaksi impor akan menghasilkan penerimaan negara sebesar persentase tarif bea
masuk dari nilai barang impor (dalam rupiah). Untuk barang-barang yang berupa
bahan baku, barang antara dan barang modal pada umumnya dikenakan tarif yang
rendah karena pengimporan barang tersebut dianggap sebagai impor yang produktif
dimana barang-barang impor tersebut akan diolah di dalam negeri untuk
mendapatkan nilai tambah sedangkan atas barang jadi umumnya dikenakan tarif
sedang sampai tinggi karena dianggap bersifat konsumtif dan khusus untuk barang
44
mewah dikenakan tarif sangat tinggi. Dengan demikian apabila masyarakat
Indonesia bersikap konsumtif akan mengakibatkan penerimaan bea masuk
cenderung tinggi disamping memboroskan devisa dan sebaliknya apabila
masyarakat Indonesia mencintai produk dalam negeri dan bersikap produktif maka
penerimaan bea masuk cenderung turun dan sebagai kompensasinya maka
penerimaan negara di bidang perpajakan akan meningkat, yaitu pajak yang berasal
dari pertambahan nilai barang di dalam negeri dan pajak penghasilan akibat
pertumbuhan ekonomi disamping membaiknya kondisi neraca pembayaran ke arah
yang lebih menguntungkan.
4.4.3 Penetapan Kurs
Kurs yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kurs yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan setiap minggu sebagai Nilai Dasar Pengenaan Bea Masuk (NDPBM).
Kurs ini merupakan salah satu elemen dalam menentukan besarnya bea masuk yang
harus dipungut dalam setiap transaksi pengimporan barang. Secara teoritis makro,
fluktuasi nilai rupiah yang terjadi seharusnya mempengaruhi demand atas barang
impor karena kurs secara langsung mempengaruhi nilai/harga barang impor yang
menggunakan pembayaran dengan mata uang asing halmana berdasarkan hukum
permintaan dan penawaran, semakin tinggi nilai barang maka permintaan atas
barang akan semakin berkurang, artinya volume impor akan berkurang dan
demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini kurs tidak saja mempengaruhi volume
impor tetapi juga secara langsung mempengaruhi besarnya pungutan bea masuk
karena dasar penetapan bea masuk adalah harga pabean dalam mata uang rupiah
45
sehingga harga barang impor dalam mata uang lain harus dikonversikan kedalam
rupiah berdasarkan NDPBM.
4.4.4 Volume Impor
Volume impor merupakan agregat transaksi impor barang yang secara langsung
mempengaruhi besarnya penerimaan bea masuk, namun besarnya pengaruh volume
impor terhadap realisasi penerimaan negara akan sangat bergantung pada nilai
masing-masing barang yang impor dan tingkat pembebanan tarif bea masuknya.
Jika nilai barang yang diimpor tinggi, diimpor dalam jumlah besar dan dikenakan
beban tarif yang tinggi maka penerimaan negara akan tinggi pula dan demikian pula
sebaliknya. Dalam pengukuran volume impor tersebut dalam penelitian ini
digunakan volume dalam arti fisik, yaitu berat barang dalam satuan ton (tonage)
maupun volume dalam arti nilai transaksi, yaitu jumlah devisa bayar yang
digunakan.
4.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data-data yang bersifat kuantitatif dinyatakan
dalam angka-angka, menunjukkan nilai terhadap besaran atau variabel yang
diwakilinya. Data bersifat time-series yaitu data yang merupakan hasil pengamatan
dalam suatu periode tertentu, misalnya data mingguan, bulanan atau tahunan. Data
yang digunakan berkategori sekunder karena berasal dari data yang dikumpulkan
oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang telah mengalami proses
pengolahan seperti misalnya data mengenai flat-rate tariff yang merupakan rata-rata
dari tarif yang dikenakan atas seluruh barang impor dalam kurun waktu tertentu.
Data berupa realisasi penerimaan bea masuk, tarif rata-rata dan volume impor
46
dikumpulkan dari Direktorat Pengkajian Peraturan Kepabeanan dan Cukai
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sedangkan data berupa kurs NDPBM
dikumpulkan dari website http://www.beacukai.go.id.
4.6. Metode Pengumpulan Data
Realisasi penerimaan bea masuk yang diamati merupakan jumlah populasi
penerimaan bea masuk dari seluruh kantor pelayanan di Indonesia. Dalam penelitian
ini dilakukan pengumpulan data dan informasi melalui studi kepustakaan dan
pengumpulan data sekunder. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca,
mendalami dan menelaah berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian yang
dilakukan untuk memperoleh informasi yang sifatnya teoritis dan digunakan sebagai
pembanding dalam pembahasan.
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan melakukan penelitian
lapangan dan pemanfaatan laporan mingguan, bulanan, tahunan serta jurnal guna
memperoleh data sekunder.
4.7 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :
a. Deskripsi data dan hasil perhitungan (analisis deskriptif).
b. Menentukan model penelitian yang sesuai antara variabel terikat dengan
variabel bebas dan validasi model penelitian.
c. Menguji hipotesis penelitian.
47
Tahap pertama dari analisis adalah secara deskriptif yaitu memberikan
gambaran awal atas data yang telah dikumpulkan mengenai hubungan antara tarif
bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan volume impor
dengan realisasi penerimaan bea masuk. Analisis ini juga bertujuan mencari
temuan-temuan yang tidak diperkirakan sebelumnya yang berguna untuk analisa
lebih lanjut.
4.7.1 Analisis Regresi
Tahap kedua dari analisis adalah menentukan model penelitian yang
sesuai dan melakukan validasi atas model tersebut sebagai berikut :
a.Estimasi Koefisien dan Validasi Model Regresi
Model :
Dimana :
Y = β0 + β1.X1 + β2.X2 + β3.X3 + εi
Y
β0
β1, β2, β3
X1
X2
X3
εi
=
=
=
=
=
=
=
Penerimaan Bea Masuk
Konstanta
Koefisien regresi
Tarif Bea Masuk
Kurs
Volume Impor
Error
Koefisien regresi menunjukkan tingkat hubungan yang terjadi diantara
variabel-variabel yang diteliti tersebut. Setiap variabel yang diteliti (X1, X2, X3)
merupakan variabel bebas terhadap penerimaan bea masuk. Mengamati realisasi
penerimaan bea masuk dimaksudkan untuk mengamati variabel-variabel tersebut
terhadap pencapaian target/realisasi penerimaan bea masuk. Dari model tersebut
langkah awal yang dilakukan adalah mengestimasi koefisien regresi masing-
48
masing variabel bebas dan selanjutnya melakukan validasi atas model yang
digunakan.
Dalam model regresi linear dengan k variabel ( Y, X1, X2, . . . , Xk ) untuk
mempermudah dalam mengestimasi koefisien regresi digunakan alat bantu berupa
komputer dengan memanfaatkan software SPSS versi 10.05. Dalam penelitian ini
variabel-variabel yang digunakan adalah satu variabel terikat dan tiga variabel
bebas. Disamping didapatkan hasil koefisien regresi, output SPSS memberikan
pula standart error masing-masing variabel bebas, nilai t hitung dan nilai F hitung
serta Eigen Value dan Condition Index yang diperlukan untuk melakukan
pengujian/validasi.
Salah satu asumsi penting dari model regresi linear klasik adalah bahwa
tidak ada autokorelasi atau kondisi yang berurutan di antara gangguan atau
disturbansi yang masuk kedalam fungsi regresi populasi. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak
dipengaruhi oleh unsur disturbansi atau gangguan yang berhubungan dengan
pengamatan lain yang manapun. Uji autokorelasi yang digunakan adalah DurbinWatson statistik dengan membandingkan nilai d hasil output komputer dengan
yang tertera pada tabel Durbin-Watson dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%.
49
Gambar 4.1 Kurva Durbin Watson
Terjadi
autokorelasi
positif
Daerah bebas
autokorelasi
Daerah
Keraguraguan
dl
du
Terjadi
autokorelasi
negatif
Daerah
Keraguraguan
4-du
2
4-dl
Sumber : Gujarati, (1999)
Asumsi penting lainnya dalam model regresi linear klasik adalah bahwa
gangguan yang muncul dalam fungsi regresi populasi adalah heteroskedastisitas;
uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Salah satu cara
untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan uji Glejser yang dilakukan
dengan meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel bebas. Jika tidak ada
satupun variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (nilai
absolut residual), maka tidak ada heteroskedastisitas.
Meskipun
tidak
ada
metode
yang
pasti
dalam
mendeteksi
multikolinearistas namun software SPSS menyediakan rambu-rambu untuk
mendeteksi adanya gejala multikolinearitas, yaitu dengan memberikan nilai Eigen
dan Condition Index. Apabila nilai Eigen lebih kecil dari 0,0001 atau mendekati
nol dan atau Condition Index lebih besar dari 15 maka ada kemungkinan terdapat
gejala multikolinearitas dan benar-benar merupakan problem yang serius jika nilai
Condition Index sampai lebih besar dari 30.
Tahap ketiga atau yang terakhir dalam analisis penelitian ini adalah
pengujian hipotesis penelitian yang dilakukan dengan pola sebagai berikut.
50
1) Menentukan parameter yang akan diuji, dalam hal ini adalah koefisien regresi.
2) Menerjemahkan dugaan penelitian ke dalam hipotesis statistik dalam bentuk Ho
dan Hi.
3) Menentukan tingkat kepercayaan yang akan digunakan, dalam hal ini digunakan
95% untuk menjaga tingkat keakuratan penelitian.
4) Mengumpulkan data data, dalam hal ini adalah data bulanan.
5) Menentukan statistik uji yang digunakan, yaitu : F dan t statistik serta d (DurbinWatson).
b.Uji F
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan statistik inferensial.
Pengujian hipotesis yang pertama adalah menguji hipotesis penelitian yang
menyatakan bahwa variabel-variabel bebas berupa tarif bea masuk, nilai kurs
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan volume impor secara bersama-sama
mempunyai hubungan linear dan dapat menjelaskan variabel terikat yakni realisasi
penerimaan bea masuk. Pengujian hipotesis tersebut dilakukan dengan pendekatan
pengujian tingkat penting (test of significance) yaitu suatu pengujian atas statistik
uji (estimator) yaitu keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis (H0) atas
dasar nilai statistik uji yang diperoleh dari data yang dimiliki.
Pengujian hipotesis ini menggunakan statistik uji F melalui pendekatan
analysis of variance (anova). Uji F dengan pendekatan anova ini bertujuan
menguji apakah ada pengaruh variabel terikat terhadap variabel bebas.
Hipotesis :
51
H0 : βi = 0
: artinya variabel bebas secara simultan tidak berpengaruh terhadap
variabel terikat (i = 1,2,3).
Hi : minimal satu atau βi ≠ 0, artinya variabel bebas secara simultan berpengaruh
terhadap variabel terikat (i = 1,2,3).
Gambar 4.2
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
dengan Uji F
f (F)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
0
F Tabel
F
Sumber: Nata Wirawan (2002)
c.Uji t
Pengujian terhadap parameter secara parsial dilakukan dengan uji t. Analisis ini
bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh tarif bea masuk, nilai kurs rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
1) Menguji pengaruh tarif bea masuk terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H 0 : β1 = 0
; berarti tarif bea masuk tidak berpengaruh secara parsial
H 1 : β1 > 0
terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
; berarti tarif bea masuk berpengaruh positif dan
52
signifikan secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk.
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kanan maka diperoleh ttabel.
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel
Ho ditolak apabila thitung > ttabel
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung
(5) Kesimpulan
Jika thitung < ttabel maka Ho diterima, yang berarti tarif bea masuk tidak
berpengaruh secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
Jika thitung > ttabel maka Ho ditolak, yang berarti tarif bea masuk berpengaruh
positif dan signifikan secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea
masuk.
Daerah penerimaan dan penolakan Ho dapat dilihat pada Gambar 4.3
Gambar 4.3
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Tarif Bea Masuk)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
0
Sumber : Nata Wirawan (2002)
t-tabel
t
53
2) Pengujian pengaruh nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H0 : β2 = 0
;
berarti nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat tidak berpengaruh secara parsial terhadap
H1 : β2 < 0
;
realisasi penerimaan bea masuk.
berarti nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat berpengaruh negatif dan signifikan secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kiri maka diperoleh ttabel.
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel
Ho ditolak apabila thitung > ttabel
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung
(5) Kesimpulan
Jika thitung < ttabel maka Ho ditolak, yang berarti nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara parsial terhadap realisasi
penerimaan bea masuk.
Jika thitung ≥ ttabel maka Ho diterima, ini berarti nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat berpengaruh negative dan signifikan secara parsial
terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
54
Daerah pengujian dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Kurs)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
T
-
t-tabel
0
Sumber : Nata Wirawan (2002)
3) Pengujian pengaruh volume impor secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H0 : β3 = 0
;
berarti volume impor tidak berpengaruh secara parsial
H1 : β3 > 0
;
terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
berarti volume impor berpengaruh positif dan signifikan
secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kanan maka diperoleh ttabel.
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel
Ho ditolak apabila thitung > ttabel
55
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung.
(5) Kesimpulan
Jika thitung < ttabel maka Ho diterima, yang berarti volume impor tidak
berpengaruh secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
Jika thitung > ttabel maka Ho ditolak, yang berarti volume impor berpengaruh
positif dan signifikan secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea
masuk.
Daerah pengujian dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Volume Impor)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
t
0
t-tabel
Sumber : Nata Wirawan (2002)
Koefisien determinasi dari suatu regresi berganda, R2, adalah koefisien
yang mengukur proporsi variabel dari variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh
kombinasi dari variabel bebas yang ada pada model regresi. R2 merupakan indikator
seberapa baik model regresi tersebut sesuai data. Semakin besar nilainya berarti
56
semakin tepat model regresi yang dikembangkan tersebut sebagai alat untuk
menjelaskan prilaku variabel terikat atas dasar variabel bebas, karena sebagian besar
dari variabel terikat dapat dijelaskan oleh variasi dari variabel bebas.
4.7.2 Analisis Trend Linier
Untuk mengetahui proyeksi penerimaan bea masuk di masa mendatang
digunakan rumus trend sebagai berikut.
Y’ = a + bX
Keterangan:
Y’
Xi
a
b
=
=
=
=
Nilai proyeksi realisasi penerimaan bea masuk.
Tahun setelah ditransformasikan, jadi dalam bentuk koding.
Konstanta dari persamaan trend yang akan di dapat.
Koefisien penaksir untuk meramalkan proyeksi penerimaan bea masuk.
Dari persamaan satu (1) tersebut maka nilai a dan b bisa dicari dengan (Nata
Wirawan, 2002):
a=
b=
Σ Yi
n
Σ XiYi
Σ Xi 2
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1
Perkembangan Penerimaan Pajak di Indonesia
Sejarah perkembangan dunia perpajakan di Indonesia secara garis besar
terbagi menjadi dua periode, yaitu periode sebelum tahun 1984 dan periode setelah
tahun 1984. Periode sebelum tahun 1984, sistem perhitungan pajak masih
menggunakan sistem office assessment, dimana dalam menghitung pajak terutang
dari Wajib Pajak dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui kantor inspeksi
pajak (fiskus). Disini Wajib Pajak hanya membayar pajak sesuai dengan
perhitungan dari fiskus sehingga apabila fiskus tidak menghitung dengan cermat
maka akan ada yang dirugikan baik dari segi pemerintah maupun Wajib Pajak.
Berdasarkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, penerimaan pajak terdiri
atas dua penerimaan, yaitu penerimaan pajak dalam negeri dan penerimaan pajak
perdagangan internasional. Pajak dalam negeri berasal dari PPH, PPN, PBB,
BPHTB, Cukai, dan Pajak lainnya. Sedangkan pajak perdagangan internasional
terdiri dari bea masuk, yang berasal dari impor, dan pajak ekspor.
Perkembangan penerimaan bea masuk dari tahun 2001 sampai dengan 2010
cenderung mengalami kenaikan dengan rata-rata per tahun sebesar 12,22 persen.
Hal ini disebabkan karena Indonesia masih bergantung pada produk-produk impor
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada tahun 2006 penerimaan bea masuk
mengalami penurunan dari Rp 14.920.655,70 juta rupiah pada tahun 2005 menjadi
Rp 12.141.649,38 juta rupiah atau perkembangannya sebesar minus 19,63 persen.
57
58
Kemudian pada tahun 2007 mengalami peningkatan lagi sampai tahun 2008
menjadi Rp 22.761.308,14 juta rupiah atau sebesar 36,52 persen. Namun, pada
tahun 2009 kembali mengalami penurunan menjadi Rp 18.101.227,82 juta rupiah
atau sebesar minus 20,47 persen.
Berkurangnya penerimaan bea masuk di Indonesia disebabkan karena
Indonesia
melakukan
meningkatkan
kualitas
pengurangan
terhadap
produk-produk
produksi dalam negeri.
Sementara,
impor
guna
bertambahnya
penerimaan bea masuk seperti pada tahun 2007-2008 disebabkan karena Indonesia
sedang dilanda bencana alam sehingga melakukan perdagangan impor khususnya
impor produk beras, white sugar dan raw sugar untuk memenuhi kebutuhan
sandang.
Dengan semakin menurunnya produksi dalam negeri maka peranan
penerimaan bea masuk untuk menunjang pelaksanaan pembangunan semakin besar,
sehingga diperlukan analisa terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
penerimaan bea masuk di Indonesia. Beberapa faktor-faktor tersebut yang sedang
dilakukan penelitian ini yaitu tarif bea msuk, kurs, dan volume impor. Diharapkan
faktor-faktor yang diteliti mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
penerimaan bea masuk di Indonesia.
5.2
Perkembangan Struktur Tarif Bea Masuk
Implementasi Skema Tarif Bea Masuk berlaku Umum (MFN) berdasarkan
Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk 2005-2010. Implementasi Tarif Bea
Masuk Preferensi dalam skema:
59
a. Common Effective Preferential Tariff for AFTA (CEPT-AFTA)
b. ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)
c. ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA)
d. Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA)
Dalam rangka pengamanan perdagangan menyangkut Bea Masuk Anti
Dumping, Bea Masuk Imbalan, Bea Masuk Pembalasan, dan Bea Masuk Tindakan
Pengamanan. Bea masuk anti dumping dikenakan terhadap barang impor dalam
hal :
a. harga ekspor dari barang tersebut lebih rendah dari nilai normalnya; dan
b. impor barang tersebut : menyebabkan kerugian terhadap industri dalam negeri
yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut; mengecam
terjadinya kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang
sejenis dengan barang tersebut; dan menghalangi pengembangan industri
barang sejenis di dalam negeri.
Produk yang masuk dalam bea masuk anti dumping adalah tepung gandum,
paracetamol, pisang cavendish, dan hot rolled coil.
Bea masuk imbalan dikenakan terhadap barang impor dalam hal :
a. ditemukan adanya subsidi yang diberikan di negara pengekspor terhadap barang
tersebut; dan
b. impor barang tersebut :
(i)
menyebabkan kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi
barang sejenis dengan barang tersebut;
60
(ii) mengancam terjadinya kerugian terhadap industri dalam negeri yang
memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut; atau
(iii) menghalangi pengembangan industri barang sejenis di dalam negeri. Bea
masuk imbalan dikenakan terhadap barang impor setinggi-tingginya
sebesar selisih antara subsidi dengan :
c. biaya permohonan, tanggungan atau pungutan lain yang dikeluarkan untuk
memperoleh subsidi; dan/atau
d. pungutan yang dikenakan pada saat ekspor untuk mengganti subsidi yang
diberikan kepada barang ekspor tersebut.
Bea masuk tindakan pengamanan dapat dikenakan terhadap barang impor
dalam terdapat lonjakan barang impor baik secara absolut maupun relatif terhadap
barang produksi dalam negeri yang sejenis atau barang yang secara langsung
bersaing, lonjakan barang impor tersebut:
a. menyebabkan
kerugian
serius
terhadap
industri
dalam
negeri
yang
memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut dan/atau barang yang
secara langsung bersaing; atau
b. mengancam terjadinya kerugian serius terhadap industri dalam negeri yang
memproduksi barang sejenis dan/atau barang yang secara langsung bersaing.
Produk yang termasuk dalam bea masuk tindakan pengamanan adalah keramik
tableware. Bea Masuk pembalasan dikenakan terhadap barang impor yang berasal
dari negara yang memperlakukan barang ekspor Indonesia secara diskriminatif.
Tarif bea masuk dari tahun 2001-2010 cenderung mengalami penurunan.
Pada tahun 2001 sampai 2003 tarif bea masuk mengalami peningkatan. Peningkatan
61
tajam terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 38,43 persen, sementara dari tahun 2004
terus mengalami penurunan hingga tahun 2008. Tahun 2009 kembali mengalami
peningkatan dari 2,12 persen menjadi 2,54 persen atau sebesar 20,10 persen.
Penurunan tajam kembali terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar minus 21,60 persen.
Hal ini berdasarkan implementasi program penurunan tarif bea masuk sejak tahun
1995 sampai dengan tahun 2003 (sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor
378/KMK.0l/1996) secara konsisten dan berkesinambungan telah menghasilkan
tingkat tarif bea masuk yang rendah hingga mencapai 1,99 persen pada tahun
2010. Pengenaan tarif bea masuk berbeda-beda untuk setiap produk-produk impor
sesuai dengan kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
5.3
Perkembangan Kurs
Dalam transaksi perdagangan antar negara baik ekspor maupun impor, akan
memerlukan valuta asing dalam proses pertukarannya. Agar kegiatan perdagangan
dapat berjalan dengan mantap diperlukan adanya kestabilan nilai tukar mata uang
dalam negeri terhadap mata uang asing (kurs valuta asing).
Perkembangan pasar uang di Indonesia semenjak krisis diwarnai dengan
perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar Amerika
yang selalu berfluktuasi dan cenderung merosot. Hal ini sebagai dampak dari
krisis moneter yang melanda negara ASEAN dan Asia lainnya serta kondisi sosial
politik negara Indonesia yang tak kunjung membaik. Nilai tukar rupiah terhadap
mata uang asing sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan keamanan negara
bersangkutan, terutama berhubungan dengan kebijakan pemerintah.
62
Dalam kondisi yang tidak mengembirakan tersebut pemerintah terus
berupaya untuk mempertahankan nilai tukar rupiah agar berada pada tingkat yang
wajar yaitu melalui serangkaian kebijaksanaan. Diantaranya kebijaksanaan nilai
tukar mengambang sepenuhnya dimana nilai tukar rupiah terhadap valuta asing
terutama dollar Amerika sepenuhnya ditentukan oleh pasar. Dengan demikian
pemerintah dapat lebih fleksibel dalam mengantisipasi fluktuasi rupiah di pasar
uang.
Pada tahun 2000 nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp 9.595,- per dolar
AS. Penurunan ini berlanjut hingga tahun 2001 menjadi Rp 10.400,- per dolar AS.
Pada tahun 2002 nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terus menguat menjadi
Rp 8.940,- per dolar AS dan hingga tahun 2003 menjadi Rp 8.465,- per dolar AS.
Pada tahun 2004 nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika melemah menjadi Rp
9.290,- per dolar AS dan berlanjut hingga tahun 2005 sebesar Rp 9.830,- per dolar
AS. Hal ini disebabkan akibat adanya Bom Bali II yang terjadi pada 1 Oktober 2005
lalu.
Selama tahun 2010, nilai tukar rupiah menguat cukup signifikan terutama
disebabkan oleh derasnya aliran masuk modal asing. Pergerakan nilai tukar rupiah
juga ditopang oleh keseimbangan interaksi permintaan dan penawaran valuta asing
di pasar domestik serta fundamental perekonomian domestik yang kuat. Nilai tukar
rupiah mulai mengalami apresiasi sejak awal tahun dan mencapai level Rp 9.078
per dolar AS atau menguat secara rata-rata sebesar 3,8 persen dibandingkan dengan
akhir tahun 2009. Secara point-to-point rupiah terapresiasi sebesar 4,4 persen.
63
5.4 Perkembangan Volume Impor
Volume impor Indonesia pada tahun 2010 tumbuh sebesar 16,22 persen,
meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar minus 6,12 persen.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan impor ini adalah pertumbuhan impor
produk-produk pertanian, seperti beras, gula, tepung, buah, dan lain-lain. Hal ini
menunjukkan bahwa impor pada laporan tahunan didominasi oleh produk-produk
yang memiliki kandungan impor (import content) tinggi, jika dilihat dari impor
per komoditi utama, terlihat bahwa hanya komoditi beras dan gula yang tumbuh
positif. Hal ini disebabkan karena pemerintah melakukan antisipasi untuk
menghadapi peristiwa yang tidak terduga seperti bencana alam, sehingga bahan
kebutuhan pokok tersebut sudah tersedia di dalam negeri untuk beberapa tahun
kedepan.
Volume impor dari tahun 2001-2010 tumbuh dengan rata-rata sebesar 17,87
persen per tahun. Volume impor tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar
146.122.786,15 ton. Terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 28.392.253,53
ton atau tumbuh sebesar minus 27,49 persen. Kemudian meningkat kembali pada
tahun 2004 menjadi 50.643.547,05 ton atau tumbuh sebesar 78,37 persen. Lonjakan
volume impor tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 124,83 persen atau
menjadi 113.860.097,54 ton dari tahun sebelumnya. Kemudian terus meningkat
hingga tahun 2008. Selanjutnya mengalami penurunan lagi di tahun 2009 sebesar
minus 6,12 persen. Dan mengalami peningkatan di tahun 2010 dengan pertumbuhan
sebesar 16,22 persen.
64
5.4
Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif yang digunakan terdiri dari rata-rata (mean), Standard
Deviasi, Minimum dan Maksimum terhadap data masing masing variabel
penelitian. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini tampak dalam tabel
berikut.
Tabel 5.1 Data Variabel Penelitian
Obs.
Y
7,520,117.84
2001
10,399,133.00
2002
10,847,262.07
2003
12,444,003.76
2004
14,920,655.70
2005
12,141,649.38
2006
16,672,469.14
2007
22,761,308.14
2008
18,101,227.82
2009
19,956,186.15
2010
Sumber: Data Digabung, 2011
X1
2.81
3.89
4.29
3.41
3.04
2.71
2.41
2.12
2.54
1.99
X2
10,400
8,940
8,465
9,290
9,830
9,020
9,419
10,950
9,400
9,078
X3
51,510,364.88
39,156,039.46
28,392,253.53
50,643,547.05
113,860,097.54
117,010,502.32
120,822,391.60
133,923,275.52
125,724,693.80
146,122,786.15
Keterangan:
Y
X1
X2
X3
=
=
=
=
Realisasi penerimaan Bea Masuk (Miliar Rupiah)
Tarif Bea Masuk (Persen)
Nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Rupiah/Dolar)
Volume Impor (Ton)
Statistik deskriptif masing-masing variabel selama periode pengamatan
tampak dalam Tabel 5.2.
65
Tabel 5.2 Hasil Analisis Deskriptif
N
Y
X1
X2
X3
Valid N
(listwise)
10
10
10
10
10
Minimum
7520.12
1.99
8465.00
28392253.53
Maximum
Mean
22761.31
14577.1240
4.29
2.9210
10950.00
9479.2250
1.46E8 92716595.1850
Std. Deviation
4767.30056
.74817
735.66622
44648469.64390
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS (Lampiran 1)
Tabel 5.2 menunjukkan rata-rata realisasi penerimaan bea masuk periode
pengamatan 2001 sampai dengan 2010 adalah Rp 14.577,12 Miliar, rata-rata tarif
bea masuk 2,92 persen, rata-rata nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
Rp 9.479,22 per Dolar AS, dan rata-rata volume impor 92.716.595,19 ton.
5.6 Analisis Regresi Linier Berganda
Berdasarkan hasil olahan data dengan menggunakan program SPSS maka
dapat disusun estimasi model regresi linear berganda sebagai berikut.
Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3
Y = -15496,300 + 2489,873 X1 + 1,237 X2 + 0,000 X3
SE
(30119,993)
(3864,208)
(1,875)
(0,000)
Sig.
(0,543)
(0,534)
(0,021)
t
(0,644)
(0,660)
(2,086)
F
= 5,041 Prob. = 0,044
R2 = 0,716 = 71,6 persen
Sebelum diinterpretasikan lebih lanjut terhadap model regresi tersebut
dilakukan agar model regresi estimasi dapat memberikan hasil estimasi yang akurat,
maka model tersebut seharusnya memenuhi uji asumsi klasik sebagai berikut.
66
1) Uji autokorelasi
Autokorelasi dapat dilihat pada hasil Regression Analysis dengan bantuan
program SPSS dimana didalamnya terdapat nilai yang menjadi tolok ukur
autokorelasi yaitu nilai uji Durbin Watson. Dengan sistematika pengujian
sebagai berikut. (Lampiran 2)
(1) Rumusan hipotesis
Ho : E (μiμj) = 0, artinya tidak ada autokorelasi dalam model baik
autokorelasi positif atau negatif.
H1 : E (μiμj) ≠ 0, artinya ada autokorelasi dalam model baik autokorelasi
positif atau negatif.
(2) Dengan tingkat kepercayaan 95 persen (α = 5 persen)
Tabel Durbin Watson (k variabel = 4 ; n = 10), maka: (Lampiran 8)
dl
= 0,38
du
= 1,59
4-du = 2,41
4-dl = 3,62
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima jika du < d < 4-du (tidak ada autokorelasi positif/negatif)
Ho ditolak jika :
d < dl (ada autokorelasi positif)
d > 4-dl (ada autokorelasi negatif)
dl ≤ d ≤ du atau 4-du ≤ d ≤ 4-dl (daerah keragu-raguan)
67
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS maka hasil olah data penelitian ini
diperoleh d-hitung sebesar 1,343. (Lampiran 2)
(5) Kesimpulan
Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa dl (0,38) < d-hitung (1,343) < du
(1,59). Ini berarti d-hitung berada pada daerah keragu-raguan. Oleh karena
d-hitung berada pada daerah keragu-raguan maka dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi positif/negatif.
Daerah ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat pada Gambar 5.1
Gambar 5.1 Kurva Durbin Watson
Terjadi
autokorelasi
positif
Daerah bebas
autokorelasi
Daerah
Keraguraguan
0,38
1,343
1,59
2
Daerah
Keraguraguan
2,41
Terjadi
autokorelasi
negatif
3,62
Sumber : Gujarati, (1999)
2) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Salah satu cara untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan
uji Glejser yang dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual terhadap
variabel bebas. Jika tidak ada satupun variabel bebas yang berpengaruh
68
signifikan terhadap variabel terikat (nilai absolut residual), maka tidak ada
heteroskedastisitas.
Tabel 5.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser
Variabel
Tarif Bea Masuk (X1)
Nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat (X2)
Volume Impor (X3)
Sumber : Lampiran 4
Sig
0.745
0.348
0.752
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa koefisien baik tarif bea masuk, nilai kurs
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor tidak berpengaruh
signifikan terhadap nilai absolut residual yang dari model regresi yang
digunakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
3) Uji multikolinearitas
Oleh karena multikolinearitas pada dasarnya merupakan gejala sampel,
berasal dari data non experimental yang besar, maka kita tidak memiliki
metode unik untuk mendeteksi atau mengukur kekuatannya. Untuk mengujinya
digunakan Eigen Value dan Condition Index. Apabila nilai Eigen lebih besar
dari 0,0001 atau menjauhi nol dan atau Condition Index lebih kecil dari 30
maka tidak terdapat gejala multikolinearitas.
Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan program SPSS
diperoleh perhitungan Eigen Value dan Condition Index yang ditunjukkan pada
Tabel 5.4 berikut.
69
Tabel 5.4 Perhitungan Eigen Value dan Condition Index
Variabel
Tarif Bea Masuk (X1)
Nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat (X2)
Volume Impor (X3)
Sumber : Lampiran 3
Collinearity Statistics
Eigen Value
Condition Index
0.210
4.238
0.010
0.001
19.387
27.024
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat, dan volume impor Eigen Value-nya lebih besar dari
0,0001 dan Condition Index-nya lebih kecil dari 30. Ini berarti tidak terjadi
multikolinearitas antara tarif bea masuk, kurs, dan volume impor.
5.6.2 Uji F
Pengujian terhadap parameter secara simultan dilakukan dengan uji F. Adapun
langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut.
1) Formula hipotesis:
H0 : βi = 0 ; berarti tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat, dan volume impor secara simultan tidak berpengaruh
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
H1 : minimal satu dari βi ≠ 0 ; berarti tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat, dan volume impor secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk
(i = 1, 2, 3).
70
2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df = (k-1) (n-k) maka Ftabel = (4-1)(10-4) = (3)(6) = 4,76 (Lamp. 7)
3) Kriteria pengujian
H0 diterima jika Fhitung ≤ Ftabel (4,76)
H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel (4,76)
4) Statistik uji:
Dengan menggunakan program SPSS maka diperoleh Fhitung sebesar 5,041.
5) Kesimpulan
Oleh karena Fhitung (5,041) > Ftabel (4,76) maka Ho ditolak, ini berarti tarif bea
masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan bea
masuk.
Daerah penerimaan dan penolakan H0 dapat dilihat pada Gambar 5.2.
Gambar 5.2
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
pada Pengujian secara Simultan
f (F)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
F
0
4,76
5,041
71
5.6.3 Uji t
Pengujian terhadap parameter secara parsial dilakukan dengan uji t. Analisis ini
bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh tarif bea masuk, nilai kurs rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
1) Menguji pengaruh tarif bea masuk terhadap penerimaan bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H 0 : β1 = 0
; berarti tarif bea masuk tidak berpengaruh signifikan
H 1 : β1 > 0
secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
; berarti tarif bea masuk berpengaruh positif dan
signifikan secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk.
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kanan maka diperoleh ttabel
sebesar 1,934. (Lampiran 6)
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel (1,934)
Ho ditolak apabila thitung > ttabel (1,934)
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung sebesar 0,644
(5) Kesimpulan
Oleh karena thitung (0,644) < ttabel (1,934) maka Ho diterima, ini berarti tarif
bea masuk tidak berpengaruh secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk.
72
Daerah penerimaan dan penolakan Ho dapat dilihat pada Gambar 5.3
Gambar 5.3
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Tarif Bea Masuk)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
0
0,644
1,934
t
2) Pengujian pengaruh nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H0 : β2 = 0
;
berarti nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat tidak berpengaruh secara parsial terhadap
H1 : β2 < 0
;
realisasi penerimaan bea masuk.
berarti nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat berpengaruh negatif dan signifikan secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kanan maka diperoleh ttabel
sebesar 1,934. (Lampiran 6)
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel (1,934)
73
Ho ditolak apabila thitung > ttabel (1,934)
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung sebesar 0,660.
(5) Kesimpulan
Oleh karena thitung (0,660) > ttabel (-1,934) maka Ho diterima, ini berarti nilai
kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
Daerah pengujian dapat dilihat pada Gambar 5.4.
Gambar 5.4
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Kurs)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
-1,934
0
0,660
t
3) Pengujian pengaruh volume impor secara parsial terhadap realisasi penerimaan
bea masuk.
(1) Formula hipotesisnya
H0 : β3 = 0
;
berarti volume impor tidak berpengaruh secara parsial
H1 : β3 > 0
;
terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
berarti volume impor berpengaruh positif dan signifikan
secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
74
(2) Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat
kebebasan df (n-k) = (10-4) = 6, dengan uji sisi kanan maka diperoleh ttabel
sebesar 1,934. (Lampiran 6)
(3) Kriteria pengujian
Ho diterima apabila thitung ≤ ttabel (1,934)
Ho ditolak apabila thitung > ttabel (1,934)
(4) Perhitungan
Dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil thitung sebesar 2,086.
(5) Kesimpulan
Oleh karena thitung (2,086) > ttabel (1,934) maka Ho ditolak, ini berarti volume
impor berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap realisasi
penerimaan bea masuk.
Daerah pengujian dapat dilihat pada Gambar 5.5.
Gambar 5.5
Daerah Penerimaan dan Penolakan H0
(Variabel Volume Impor)
f(t)
Daerah
Penolakan Ho
Daerah
Penerimaan Ho
t
0
1,934
2,086
75
5.6.4
Koefisien Determinasi (R2)
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besarnya variasi variabel terikat yang
dapat dijelaskan oleh variasi seluruh variabel bebas. Nilai koefisien determinasi
berkisar antara 0 sampai dengan 1, semakin mendekati angka 1 semakin besar
variasi variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel bebas.
Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan SPSS (Lampiran 2),
diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,716 yang artinya bahwa 71,6 persen
variasi naik turun realisasi penerimaan bea masuk dijelaskan oleh variabel tarif bea
masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan volume impor.
Sedangkan sisanya sebesar 28,4 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak
dimasukkan ke dalam model.
5.7 Analisis Trend Linier
Untuk mengetahui proyeksi penerimaan bea masuk di masa mendatang
digunakan rumus trend sebagai berikut.
Y’ = a + bX
Y’ = 11.010,968 + 1.426,462 (t) Tahun
Berdasarkan persamaan trend ini maka realisasi penerimaan bea masuk
tahun 2011 dan 2012, sebagai berikut.
1) Prediksi Penerimaan Bea Masuk tahun 2011 :
Y’ = 11.010,968 + 1.426,462 (t) Tahun
= 11.010,968 + 1.426,462 (8)
= 22.422,664
76
2) Prediksi Penerimaan Bea Masuk tahun 2012 :
Y’ = 11.010,968 + 1.426,462 (t) Tahun
= 11.010,968 + 1.426,462 (9)
= 23.849,126
77
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Pengaruh Tarif Bea Masuk, Nilai Kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika
Serikat, dan Volume Impor secara Simultan terhadap Realisasi
Penerimaan Bea Masuk Periode 2001-2010
Hasil analisis pengujian regresi simultan dengan uji-F, menunjukkan bahwa
nilai Fhitung (5,041) > Ftabel (4,76) dengan probability 0,044. Hal ini berarti bahwa tarif
bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume impor
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
1)
Nilai koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,716 berarti bahwa variasi naik
turunnya realisasi penerimaan bea masuk sebesar 71,6 persen dipengaruhi oleh
tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan volume
impor, sedangkan sisanya sebesar 28,4 persen dipengaruhi oleh variabel lain
yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian. Perkembangan penerimaan
bea masuk dari tahun 2001 sampai dengan 2010 cenderung mengalami kenaikan
dengan rata-rata per tahun sebesar 12,22 persen. Hal ini disebabkan karena
Indonesia masih bergantung pada produk-produk impor untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Pada tahun 2006 penerimaan bea masuk mengalami
penurunan dari Rp 14.920.655,70 juta rupiah pada tahun 2005 menjadi Rp
12.141.649,38 juta rupiah atau perkembangannya sebesar minus 19,63 persen.
Kemudian pada tahun 2007 mengalami peningkatan lagi sampai tahun 2008
menjadi Rp 22.761.308,14 juta rupiah atau sebesar 36,52 persen. Namun, pada
78
tahun 2009 kembali mengalami penurunan menjadi Rp 18.101.227,82 juta
rupiah atau sebesar minus 20,47 persen.
Berkurangnya penerimaan bea masuk di Indonesia disebabkan karena Indonesia
melakukan pengurangan terhadap produk-produk impor guna meningkatkan
kualitas produksi dalam negeri. Sementara, bertambahnya penerimaan bea masuk
seperti pada tahun 2007-2008 disebabkan karena Indonesia sedang dilanda bencana
alam sehingga melakukan perdagangan impor khususnya impor produk beras, white
sugar dan raw sugar untuk memenuhi kebutuhan sandang.
Dengan semakin menurunnya produksi dalam negeri maka peranan
penerimaan bea masuk untuk menunjang pelaksanaan pembangunan semakin besar,
sehingga diperlukan analisa terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
penerimaan bea masuk di Indonesia. Beberapa faktor-faktor tersebut yang sedang
dilakukan penelitian ini yaitu tarif bea msuk, kurs, dan volume impor. Diharapkan
faktor-faktor yang diteliti mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
penerimaan bea masuk di Indonesia.
Penelitian oleh Anton (2003) dijadikan referensi dengan judul : “Pengaruh
Harga Rata-rata Barang Impor, Kurs Rupiah, Tarif BM dan Volume Impor
Terhadap Penerimaan Bea Masuk Indonesia dari tahun 2002-2003”. Variabel
penelitian yang digunakan meliputi Harga Rata-rata barang impor, Kurs Rupiah,
tarif BM dan Volume Impor. Realisasi penerimaan bea masuk dipengaruhi antara
lain oleh Harga Rata-rata barang impor, Kurs Rupiah, tarif BM dan Volume Impor.
79
6.2 Pengaruh Tarif Bea Masuk, Nilai Kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika
Serikat, dan Volume Impor secara Parsial terhadap Realisasi Penerimaan
Bea Masuk Periode 2001-2010
Uji regresi secara parsial dengan uji-t untuk melihat satu per satu pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat, seperti yang tercantum dalam Lampiran 1,
yang dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
1) Koefisien regresi X1 untuk variabel tarif bea masuk bernilai 2489,873
(probability = 0,543), ini menunjukkan bahwa tarif bea masuk tidak berpengaruh
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk. Hal ini tidak sesuai dengan
hipotesis yang menyatakan hubungan yang positif dan signifikan antara tarif bea
masuk dengan realisasi penerimaan bea masuk. Ini disebabkan karena realisasi
penerimaan bea masuk dari tahun ke tahun selama periode pengamatan tetap
menunjukkan kecenderungan yang meningkat meskipun tarif bea masuk tinggi.
Sehingga tarif bea masuk tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan bea
masuk.
Seperti yang kita ketahui bahwa pengenaan tarif bea masuk yang
ditetapkan Pemerintah sangat mempengaruhi besar kecilnya penerimaan Negara
khususnya penerimaan bea masuk. Semakin tinggi tarif bea masuk yang
ditetapkan maka penerimaan bea masuk akan semakin besar. Begitu pula
sebaliknya, semakin rendah tarif bea masuk maka penerimaan Negara khususnya
bea masuk akan turun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antara tarif bea masuk
dan penerimaan bea masuk memiliki hubungan yang positif.
Dirjen Bea Cukai mengakui peningkatan penerimaan bea masuk sulit
tercapai sehubungan dengan berlakunya pembebasan 57 pos tarif bea masuk
80
sesuai dengan PMK Nomor 13/PMK.011/2011. "Bea masuk masih ada
peningkatan tapi ada kendala terkait apresiasi rupiah dan Free Trade Agreement
yang ditandatangani ASEAN, China, Jepang, Korea yang merupakan
kesapakatan bilateral atau multilateral yang membuat skedulnya menurun, dari
sisi bea masuk, ruang peningkatan sangat kecil. Berdasar data terakhir Bea
Cukai, sisa target bea masuk yang harus dicapai hingga akhir tahun sebesar Rp
9,7 triliun untuk bisa mancapai target RAPBN-P sebesar Rp 21,5 triliun.
2)
Koefisien regresi X2 untuk variabel nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat bernilai 1,237 (probability = 0,534), ini menunjukkan bahwa nilai kurs
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh signifikan terhadap
realisasi penerimaan bea masuk. Hal ini disebabkan karena peningkatan atau
penurunan realisasi penerimaan bea masuk tidak ditentukan oleh besar kecilnya
nilai kurs, namun lebih kepada banyak sedikitnya jumlah produk atau barang
yang diimpor ke Indonesia. Tinggi rendahnya kurs valuta asing, merupakan
cermin atau tanda kuat lemahnya mata uang suatu negara dibanding dengan
mata uang negara lain dalam transaksi ekonomi antar negara. Selama periode
penelitian, meskipun kurs turun, namun penerimaan bea masuk tetap naik
sehingga kurs tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan bea masuk.
Jika kurs valas meningkat maka impor cenderung menurun, sebaliknya jika kurs
valas menurun maka impor akan meningkat (Sukirno, 1997). Dengan
meningkatnya impor maka penerimaan bea masuk pun akan meningkat. Jadi
kurs valuta asing mempunyai hubungan yang berlawanan arah atau negatif
dengan penerimaan bea masuk. Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian
81
yang dilakukan oleh Eddy Wahyudi, dkk (2007) yang menyatakan bahwa nilai
kurs berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak sektor PPN.
3) Koefisien regresi X3 untuk variabel volume impor bernilai 0,0001 (probability =
0,021), ini menunjukkan bahwa volume impor berpengaruh positif dan
signifikan terhadap realisasi penerimaan bea masuk. Ini berarti bahwa semakin
tinggi volume impor, maka akan menyebabkan realisasi penerimaan bea masuk
akan naik. Hal ini disebabkan karena tingginya volume impor menyebabkan
pengenaan pajak perdagangan internasional juga makin tinggi, sehingga akan
berpengaruh pada penerimaan bea masuk yang mengalami peningkatan. Hasil
penelitian ini telah sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa volume
impor berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan bea masuk.
Salah satu faktor yang ikut menentukan penerimaan bea masuk di Indonesia
adalah pengenaan pajak terhadap produk-produk impor. Peranan pajak terhadap
perekonomian sangat penting karena berdasarkan pasal 1 Undang–Undang
Nomor 28 Tahun 2007 bahwa Pajak dipungut penguasa berdasarkan normanorma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif
untuk mencapai kesejahteraan umum. Salah satu potensi pajak yang ditetapkan
oleh Pemerintah adalah pajak yang dibebankan kepada barang–barang impor
yang masuk ke Indonesia. Pengenaan tarif bea masuk bertujuan untuk
meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan mendorong investasi.
Dalam rangka meningkatkan daya saing industri, pemerintah memberikan
insentif bea masuk pada tahun 2008 berupa Bea Masuk Ditanggung
Pemerintah (BM-DTP). Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang
82
dilakukan oleh Eddy Wahyudi (2007) yang menyatakan bahwa nilai impor
berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak sektor PPN.
6.3 Trend Realisasi Penerimaan Bea Masuk Tahun 2011 dan 2012
Hasil taksiran trend penerimaan bea masuk tahun 2011 dan 2012 adalah positif.
Oleh karena itu, dalam realisasi target penerimaan bea masuk diharapkan dapat
melebihi prediksi, sehingga dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan yang
lebih baik. Realisasi penerimaan bea masuk tahun 2011 diperkirakan sebesar Rp
22.422,664 miliar, dan tahun 2012 diperkirakan sebesar Rp 23.849,126 miliar.
Berdasarkan hasil prediksi tersebut, menunjukkan bahwa realisasi penerimaan
bea masuk adalah baik karena menunjukkan kecenderungan yang semakin
meningkat dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012, dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 11,74 persen per tahun. Hal ini berarti bahwa penerimaan bea
masuk tersebut akan mampu membiayai pengeluaran pemerintah yang juga semakin
meningkat. Namun, peningkatan tersebut tidak lepas dari tantangan yang harus
dihadapi pemerintah di masa mendatang, seperti penurunan kualitas produk dalam
negeri akibat impor meningkat.
83
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Variabel tarif bea masuk, nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan
volume impor berpengaruh signifikan secara simultan terhadap realisasi
penerimaan bea masuk.
2) Variabel tarif bea masuk dan nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
tidak berpengaruh secara parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk,
sedangkan variabel volume impor berpengaruh positif dan signifikan secara
parsial terhadap realisasi penerimaan bea masuk.
3) Proyeksi realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2011 sampai dengan
2012 semakin meningkat, yaitu tahun 2011 sebesar Rp 22.422,664 miliar
diprediksi menjadi Rp 23.849,126 miliar di tahun 2012, dengan rata-rata
pertumbuhan 11,74 persen per tahun.
7.2 Saran
Berbagai kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini mengandung beberapa
implikasi kebijakan yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1) Bagi pemerintah, penelitian ini hendaknya menjadi acuan dalam mengambil
kebijakan dengan mempertimbangkan pengenaan tarif bea masuk terhadap
barang-barang impor yang sesuai, pengendalian sistem kurs, serta pengetatan
84
kualitas terhadap produk-produk impor, artinya produk yang diimpor harus
memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), namun apabila ada yang tidak
memenuhi persyaratan SNI maka tidak akan memperoleh Sertifikat
Kesesuaian Mutu (SM) dan tidak dapat masuk ke Indonesia. Hal ini
diharapkan mampu meningkatkan penerimaan bea masuk yang berdampak
pada meningkatan pendapatan bagi negara. Kebijakan menjadi faktor yang
penting dalam pembangunan. Oleh sebab itu, dalam merumuskan suatu
kebijakan ekonomi perlu diadakan perencanaan yang koordinasi bersama
antara pihak-pihak terkait. Pemerintah harus bersinergi dengan kalangan bisnis
supaya kebijakan yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan tidak
merugikan kedua negara.
2) Pemerintah
hendaknya
dalam
meningkatkan
jumlah
impor
untuk
meningkatkan penerimaan bea masuk harus diimbangi dengan peningkatan
kualitas produk-produk produksi dalam negeri agar mampu bersaing dalam
perdagangan internasional dan produksi dalam negeri tidak lagi lesu akibat
kualitasnya kalah saing dengan produk-produk impor.
3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan bisa meneliti faktor-faktor lain yang
mempengaruhi penerimaan yang berasal dari pajak, khususnya penerimaan bea
masuk, tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga bisa dilihat dari faktor sosialbudaya, politik dan hukum. Dapat juga dilihat dari segi kondisi negara
pengimpor. Sehingga dapat diketahui dengan jelas faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi penerimaan negara dari pajak.
Download