hak kebebasan beragama atau berkepercayan

advertisement
HAK KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEPERCAYAN1
Nicola Colbran2
Secara garis besar, peraturan-peraturan yang menjamin hak kebebasan beragama atau
berkepercayaan di Indonesia tercantum dalam UUD 1945, instrumen internasional yang telah
diratifikasi Indonesia, dan peraturan nasional lainnya.
Ketentuan dalam UUD 45
Pasal 28E
1. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya...
2. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan
sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Pasal 28I
1. ... hak beragama ... adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apa pun.
2. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa
pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat
diskriminatif itu.
Pasal 29
1. Negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Walaupun UUD 1945 menegaskan setiap orang bebas memeluk agama, apa yang dimaksud
dengan kebebasan ini? Yait, apa intinya hak kebebasab beragama?
Salah satu sumber yang dapat mengartikan hak ini adalah kovenan internasional yang sudah
diratifikasi Indonesia. Kovenan internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota
masyarakat bangsa-bangsa yang bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu.
Pihak yang membentuk dan menyetujui kovenan internasional adalah negara.
Mengapa maknanya kebebasan beragama atau berkepercayaan dapat kita temukan dalam
kovenan internasional (dan bukan dalam hukum domestik saja)? Karena:
¾ apabila sebuah negara sudah meratifikasi kovenan/perjanjian internasional, Negara itu
terikat secara hukum dan wajib melaksanakannya dalam undang-undang atau
peraturan yang lain. Jelas bahwa sebuah negara tidak akan meratifikasi sebuah
perjanjian apabila tidak menyetujui kewajiban yang terkandung dalam kovenan itu.
¾ hukum Indonesia sendiri menegaskan bahwa ketentuan hukum internasional yang
telah diterima negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia
menjadi hukum nasional.3
Hak kebebasan beragama atau berkepercayaan diatur oleh beberapa instrumen internasional,
namun instrumen yang mengaturnya secara mendalam adalah Kovenan Internasional Hak
1
Disampaikan dalam acara Workshop “Memperkuat Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya:
Prospek dan Tantangan,” diselenggarakan oleh Pusat Studi HAM UII, bekerjasama dengan NCHR University of
Oslo Norway, di Yogyakarta, 13-15 Nopember 2007.
2
Penasehat Hukum, Program Indonesia, Norwegian Centre for Human Rights, Fakultas Hukum, Universitas
Oslo
3
Pasal 7, ayat 2 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
1
Sipil dan Politik. Indonesia telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan
Politik lewat UU No.12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak
Sipil dan Politik.
Berdasarkan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, inti normatif dari hak kebebasan
beragama atau berkepercayaan dapat dirumuskan dalam delapan elemen:
1. Kebebasan internal: setiap orang berhak atas kebebasan berfikir, berkepercayaan dan
beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk setiap orang menganut, menetapkan,
merpertahankan atau pindah agama atau kepercayaan.4
2. Kebebasan eksternal: setiap orang mempunyai kebebasan, baik sendiri atau bersamasama dengan orang lain, di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama atau
kerpercayaannya dalam kegiatan pengajaran, pengamalan, ibadah dan pentaatan.5
3. Tanpa dipaksa: tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya
untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan
pilihannya.6
4. Tanpa diskriminasi: Negara berkewajiban untuk menghormati dan menjamin hak
kebebasan beragama atau berkepercayaan bagi semua orang yang berada dalam
wilayahnya dan tunduk pada wilayah hukumnya, hak kebebasan beragama atau
berkepercayaan tanpa pembedaan apa pun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin,
bahasa, agama, politik atau pendapat lain, kebangsaan atau asal-usul lainnya,
kekayaan, kelahiran atau status lainnya.7
5. Hak orang tua dan wali: Negara berkewajiban untuk menghormati kebebasan orang
tua dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa pendidikan
agama dan moral bagi anak-anak mereka dilakukan sesuai dengan kepercayaan
mereka sendiri, dibatasi oleh kewajiban melindungi hak kebebasan beragama atau
berkepercayaan setiap anak sesuai dengan kemampuan anak yang sedang berkembang.8
6. Kebebasan korporat dan kedudukan hukum: komunitas keagamaan boleh
mempunyai kedudukan hukum dan hak kelembagaan untuk mewakili hak dan
kepentingannya sebagai komunitas.9
7. Pembatasan yang diperbolehkan terhadap kebebasan eksternal: kebebasan
menjalankan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan
berdasarkan hukum, dan pembatasan tersebut diperlukan untuk melindungi:
¾ keamanan,
¾ ketertiban,
¾ kesehatan,
¾ nilai moral masyarakat,
¾ atau hak-hak mendasar orang lain.10
8. Tidak boleh dikurangi: Negara tidak boleh mengurangi hak kebebasan beragama
atau berkepercayaan, bahkan dalam keadaan darurat.11
4
Lihat Komentar Umum 22 Paragraf 18, ayat 5. Komentar Umum merupakan panduan tidak mengikat yang
menafsirkan dan memberikan petunjuk kepada Negara pihak mengenai penerapan Kovenan Internasional tentang
Hak Sipil dan Politik di tingkat nasional. Komentar Umum ditetapkan oleh Komite HAM, yaitu Komite yang
secara resmi mengawasi perilaku Negara pihak dalam melaksanakan isi Kovenan baik secara hukum maupun
dalam praktek. Komite ini telah mengeluarkan satu Komentar Umum yang menetapkan rincian petunjuk
pelaksanaan hak kebebasan beragama atau berkepercayaan.
5
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 18(1)
6
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 18(2)
7
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 2(1)
8
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 18(4); Konvensi Hak-Hak Anak, pasal 14
9
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 18
10
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 18(3)
2
11
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, pasal 4(2)
3
CONTOH PENERAPAN HAK KEBEBASAN BERAGAMA ATAU
BERKEPERCAYAAN DI PENGADILAN INDONESIA:
PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
Permohonan Uji Materiil Pasal 86 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak: PUTUSAN Nomor 018/PUU-III/2005
Dalam kasus tersebut, Ruyandi Hutasoit sebagai Pemohon meminta Mahkamah Konstitusi
menyatakan pasal 86 UU Perlindungan Anak tidak berkekuatan hukum mengikat.
Pemohon adalah seorang Warga Negara Indonesia,12 yang:
¾ sering memberikan dan menyampaikan pelajaran agama, pendidikan agama,
bimbingan agama, penyuluhan agama dan pelayanan masyarakat umum
¾ kepada orang-orang yang sudah dewasa dan belum dewasa atau anak-anak,
¾ di gereja, tempat-tempat ibadah, balai/tempat pertemuan umum dan di tempat-tempat
pendidikan.
Pemohon beranggapan bahwa hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya untuk menikmati
kebebasan beragama sebagaimana dijamin oleh Pasal 28(E) UUD 1945 dirugikan dengan
berlakunya Pasal 86 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak13 karena:
¾ Pasal 86 dapat mudah disalahgunakan untuk meniadakan, mengekang ataupun
mengurangi hak dan kebebasan berbicara Pemohon atau orang lain yang sama
kegiatannya dengan Pemohon, karena gampang untuk menuduhnya “dengan sengaja
menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk
memilih agama lain bukan atas kemauan sendiri”;
¾ Pasal 86 berpotensial untuk mengurangi dan mengekang kemerdekaan Pemohon dan
orang-orang lain untuk berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan
perihal agama Kristen yang dilakukan di tempat ibadah, di tempat pertemuan umum
dan di tempat-tempat pendidikan;
Selain itu, Pemohon juga menganggap bahwa Pasal 86 berpotensial untuk mengurangi dan
mengekang kebebasan dan kemerdekaan seorang anak untuk memilih pendidikan dan
pengajaran agama yang dikehendakinya, oleh karena harus mengikuti dan menganut agama
orang tuanya atau wali mereka.
Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materiil yang diajukan Ruyandi Hutasoit
karena hak konstitusional yang dimilikinya tidak ada hubungan sebab-akibat dengan
12
Menurut pasal 51, ayat 1, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, untuk
memenuhi ketentuan kedudukan hukum, Pemohon harus merupakan pihak yang menganggap hak dan/atau
kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara
13
Pasal 86 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja
menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas
kemauan sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal dan belum bertanggung
jawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah)”.
4
ketentuan Pasal 86 UU Perlindungan Anak.14 Mahkamah Konstitusi menilai Pasal 86 tidak
mengurangi hak konstitusional Pemohon sebagaimana dijamin dalam Pasal 28E ayat (1) dan
ayat (2) UUD 1945. Apabila Pemohon atau siapa saja tidak memenuhi unsur-unsur perbuatan
pidana sebagaimana dimaksud pasal 86, tidak perlu takut atau khawatir dalam berdakwah atau
menyebarkan agamanya.
Namun, mengingat kesulitan yang dihadapi orang yang memberikan dan menyampaikan
pelajaran agama kepada anak-anak, apakah putusan Mahkamah Konstitusi benar-benar
mempertimbangkan sifat potensialnya kerugian konstitusional Ruyandi Hutasoit?
Contohnya, pada tanggal 1 September 2005 (kasus Ruyandi Hutasoit diputuskan bulan
Januari 2006), tiga guru sekolah minggu Gereja Kristen Kemah Daud, yakni dr. Rebecca
Laonita, Ratna Mala Bangun serta Ety Pangesti divonis 3 tahun penjara oleh Pengadilan
Negeri Indramayu, Jawa Barat.
Mereka dituduh telah melakukan pemurtadan dan kristenisasi di Kecamatan Haurgeulis,
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tuduhan itu dilancarkan oleh Majelis Ulama Indonesia
setempat. Tudingan pemurtadan dan kristenisasi itu berawal dari pelayanan mereka dalam
sekolah minggu “Minggu Ceria” pada 9 September 2003 yang dilakukan di rumah dr Rebecca
Laonita yang dihadiri oleh 10-20 anak Kristen setiap minggunya. Dalam perkembangannya
beberapa anak beragama non-Kristen ikutserta dalam permainan di sekolah minggu tersebut.
Tiga guru sekolah minggu ini dikenakan tuduhan pasal 86 Undang Undang tentang
Perlindungan Anak padahal hingga kini, anak-anak non-Kristen yang mengikuti sekolah
minggu “Minggu Ceria” tersebut tidak ada yang pindah agama.
Pengamat kebebasan beragama atau berkepercayaan menanyakan kemungkinan orang
tersebut divonis karena tekanan massa dan tokoh tertentu atas kasus tersebut di luar
pengadilan, ketimbang pembuktian di ruang pengadilan. Yaitu, justru tiga guru sekolah
minggu itu divonis karena pasal 86 disalahgunakan pihak tertentu.
Permohonan Uji Materiil Persyaratan Poligamni dalam Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan: PUTUSAN Nomor 12/PUU-V/2007
Dalam kasus tersebut, M Insa sebagi Pemohon meminta Mahkamah Konstitusi menyatakan
sejumlah pasal terkait poligami dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, mulai dari Pasal 3 Ayat (1) dan Ayat (2), Pasal 4 Ayat (1) dan Ayat (2), Pasal 5
Ayat (1), Pasal 9, Pasal 15, Pasal 24 tidak berkekuatan hukum mengikat.
14
Mahkamah Konstitusi telah memberikan pengertian dan batasan tentang kerugian konstitusional yang timbul
karena berlakunya satu undang-undang menurut Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi, harus memenuhi 5 (lima) syarat (vide Putusan Perkara Nomor 006/PUU-III/2005
dan Perkara Nomor 010/PUU-III/2005 ) yaitu sebagai berikut:
a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
b. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undangundang yang diuji;
c. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidaknya
bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d.adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang
dimohonkan untuk diuji; dan
e.adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan
tidak akan atau tidak lagi terjadi.
5
Pemohon adalah warga negara Indonesia yang beragama Islam. Sebagai orang Islam,
Pemohon beranggapan bahwa dia bebas melakukan seluruh jenis ibadah dalam agama Islam
termasuk melakukan perkawinan poligami:
¾ karena poligami ialah salah satu jenis ibadah dalam agama Islam yang
pelaksanaannya dalam bentuk perkawinan,
¾ di mana seorang pria muslim diperbolehkan untuk mempunyai atau nikah dengan
satu, dua, tiga dan/atau empat orang isteri.
Menurut Pemohon ketentuan UU Perkawinan yang terkait poligami telah mempersulit
seorang pria muslim yang akan melakukan poligami. Oleh karena itu pasal-pasal tersebut
dianggap menghalangi haknya sebagai warga negara, antara lain, untuk menikmati kebebasan
beragama sebagaimana dijamin oleh pasal 28(E) Undang-Undang Dasar karena:
¾ berdasarkan pasal 3, ayat 1 UU Perkawinan, seorang pria pada azasnya hanya
diperkenankan mempunyai seorang isteri, dan sebaliknya, dengan pengecualian di
mana seorang pria boleh beristeri lebih dari satu jika memenuhi syarat: dikehendaki
oleh para pihak (suami, isteri, dan calon isteri kedua)15, dan ada izin dari pengadilan.
Pemohon keberatan karena pasal 3 ini mendukung asas monogomi.
¾ Menurut ketentuan pasal 4, izin hanya bisa diberikan pengadilan jika memenuhi salah
satu dari tiga syarat. Pertama, isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai
isteri. Kedua, isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat
disembuhkan. Ketiga, isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Menurut Pemohon, pasal 4 memungkinkan diskriminasi atas sesama warga negara
Indonesia yang berbeda agama, di mana perkawinan pemeluk agama lain tidak
diintervensi, sedangkan perkawinan antara pria wanita sesama pemeluk agama Islam
diintervensi negara.
¾ Pasal 9 menegaskan bahwa apabila seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan
orang lain, maka dia tidak dapat kawin lagi, kecuali diizinkan oleh UU Perkawinan.
Pemohon beranggapan bahwa pasal 9 merugikan hak pemohon karena sifatnya
memperkuat asas monogami, dan mengurangi hak prerogatifnya untuk berpoligami.
¾ Pasal 15 dan pasal 24 UU Perkawinan memberikan kesempatan kepada salah satu dari
kedua belah pihak yang merasa dirinya masih terikat perkawinan untuk mencegah
perkawinan baru16 atau mengajukan pembatalan perkawinan baru.17
Menurut Pemohon, pasal 15 dan pasal 24 ini sangat merugikan hak konstitusionalnya
secara khusus dan umat Islam pada umumnya, karena sebelum undang-undang yang
dimaksud diberlakukan, hak menjalankan seluruh bentuk ibadah bagi umat Islam
termasuk berpoligami itu, dalam kenyataannya bisa merupakan amal ibadah yang
sangat besar manfaatnya.
15
Pasal 3, ayat 2: “Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang
apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan”
16
Pasal 15
17
Pasal 24
6
Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materiil yang diajukan M Insa. Alasannya di
dalam hak-hak konstitusional, terkandung kewajiban penghormatan atas hak-hak
konstitusional orang lain.18 Sehingga tidaklah mungkin hak-hak konstitusional yang diberikan
oleh Negara dapat dilaksanakan sebebas-bebasnya oleh setiap orang, karena pelaksanaannya
bisa melanggar hak konstitusional orang lain. Pasal-pasal yang tercantum dalam UU
Perkawinan yang memuat alasan, syarat, dan prosedur poligami, sesungguhnya semata-mata
sebagai upaya untuk menjamin dapat dipenuhinya hak-hak isteri dan calon isteri yang menjadi
kewajiban suami yang berpoligami dalam rangka mewujudkan tujuan perkawinan. Dengan
demikian, hal dimaksud tidak dapat diartikan meniadakan ketentuan yang memperbolehkan
perkawinan poligami. Oleh karena itu, penjabaran persyaratan agar seorang suami yang
berniat melakukan poligami berlaku adil.
Mahkamah Konstitusi sependapat juga dengan ahli dari pemerintah Profesor Quraish Shihab.
Menurut tafsir beliau, sebenarnya tidak lazim dalam ajaran Islam menyebut poligami sebagai
ibadah. UUD 1945 hanya memuat prinsip-prinsip yang menjamin kebebasan menjalankan
ibadah menurut agamanya. Dengan demikian, persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang
suami untuk melakukan poligami sama sekali tidak melarang setiap orang untuk bebas
menjalankan ibadah agama yang dianutnya.
Anehnya, baik Mahkamah Konstitusi sendiri, maupun Pihak Terkait Tidak Langsung dari
kalangan gerakan pro perempuan tidak mengacu pada Komentar Umum Nomor 28: Hak
Persamaan antara Laki-laki dan Perempuan (pasal 3).19 Paragraf 21 berbunyi bahwa Pasal 18
(yang mengatur hak kebebasan beragama atau berkepercayaan) tidak boleh dijadikan landasan
untuk membenarkan diskrimasi terhadap perempuan dengan merujuk pada kebebasan berfikir,
berkepercayaan dan beragama. Penafsiran ini ditegaskan dalam paragraf 24 yang menyebut
bahwa hak persamaan dalam hal menikah berarti bahwa polgami bertentangan dengan prinsip
persamaan ini. Poligami melanggar martabat perempuan dan merupakan diskriminasi
terhadap perempuan yang tidak bisa diterima. Oleh karena itu, poligami harus dihapus.
18
Pasal 28J Ayat (1): “Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.
19
Negara Pihak Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik berjanji untuk menjamin hak-hak yang
sederajat dari laki-laki dan perempuan untuk menikmati semua hak sipil dan politik yang diatur dalam Kovenan
ini.
7
Download