PERANAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN

advertisement
PERANAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN BUKU AJAR
SUID SAIDI
FKIP UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
Abstract: The role of textbook to increase effectiveness of teaching places
dominant role. In the context of formal education, textbooks occur in any
teaching as a guideline, referring to curriculum and coverage of teaching
materials. This paper is a description of the advantages of using textbook in
the teaching process at secondary schools level that proves substantial
functions in increasing learning outcomes.
Keywords: textbook, teaching materials, effectiveness.
BERBICARA masalah pendidikan, kita tidak dapat terlepas dari Tri Pusat
Pendidikan yaitu, sekolah, orang tua (keluarga) dan masyarakat, ketiga komponen
tersebut harus saling mendukung serta berjalan bersama-sama untuk tercapainya
tujuan yang diinginkan.
Secara umum, output pendidikan dapat ditinjau dari hasil siswa dalam
mengerjakan tes ujian akhir sekolah meskipun rekonstruksi Ujian Akhir Nasional
(UAN) dan tes umumnya dalam kepatuhan terhadap cakupan isi masih diragukan. Hal
ini dikarenakan konstruksi tes tergantung pada logika pembuat keputusan. Bila
menggunakan logika pembuat tes, kualitas validitas isi suatu tes harus dianalisis untuk
membuktikan validitas isinya. Hal ini menyiratkan bahwa kesesuaian antara item tes
dan tujuan instruksional yang telah diajarkan tidak sepenuhnya sesuai (Yunhadi,
2016:33).
Pada Garis-Garis Besar Haluan Negara telah dikemukakan tentang tujuan
pendidikan nasional yaitu “Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan
untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, kecerdasan,
keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal
semangat kebangsaan dan tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan
yang dapat membangun dengan sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa.
Pada alenia lain dijelaskan pula bahwa titik berat pembangunan pendidikan
terletak pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka
mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar serta peningkatan
perluasan kesempatan belajar.
Proses belajar mengajar adalah merupakan kegiatan pelaksanaan kurikulum
suatu lembaga pendidikan agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan
pendidikan yang pada dasarnya adalah menuju pada perubahan tingkah laku
intelektual, moral maupun sosial. Dalam hal ini guru adalah merupakan salah satu
faktor penting dalam suatu pendidikan formal, dimana sebagai seorang guru harus
memenuhi persyaratan tersendiri, diantaranya kemampuan professional guru dalam
proses pembelajaran adalah kemampuan mengolah materi pelajaran (Sudjana,
1987:31).
24
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar, dikemukakan
bahwa:
1. Belajar adalah interaksi antara siswa dengan sumber belajar, yang dapat
berupa guru, buku atau lingkungan.
2. Mengajar adalah membimbing dalam usaha menciptakan kondisi agar siswa
berkemauan belajar untuk mencapai tujuan tertentu.
Memperhatikan apa yang telah dikemukakan diatas maka buku adalah
merupakan salah satu sumber belajar yang penting, karena dengan buku siswa dapat
mempela-jarinya untuk mencapai tujuannya. Berdasarkan tujuan pendidikan sekolah
dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) maupun
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pemerintah melalui pusat perbukuan
menerbitkan buku-buku pelajaran, yang merupakan buku wajib untuk sekolah baik
dari sekolah dasar sampai sekolah menengah umum maupun kejuruan.
Bagaiamana baiknya penyelenggaraan pendidikan di sekolah, sebagai contoh
keadaan guru kwalifait, fasilitas atau sarana dan prasarana cukup dan lain sebagainya
tanpa dukungan dari pihak keluarga maupun masyarakat maka pendidikan tidak ada
artinya apa-apa.
Usaha-usaha inilah yang menjadi pedoman bagi setiap mereka yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan, dengan melalui tahapan-tahapan pelita dan
tehun demi tahun kita secara bersama-sama mengusahakan perluasan kesempatan
belajar tiap-tiap tingkatan mulai dari sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama,
sekolah lanjutan umum maupun kejuruan sampai ke perguruan tinggi.
Harapan tersebut akan tercapai melalui suatu perencanaan dan pengembangan
pendidikan yang terpadu dimana sampai pada gilirannya, pembangunan dibidang
pendidikan diperoleh hasil yang positif. Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka
melalui mulai tahun 1995 diberlakukan penyempurnaan kurikulum 1994, mulai
sekolah dasar sampai sekolah menengah umum dan kejuruan .
Lebih lanjut dijelaskan bahwa berdasarkan kebijaksanakan menteri pendidikan
dan kebudayaan di bidang pendidikan dasar dan menengah untuk awal perencanaan
tahun pelajaran 1994/1995 pada salah satunya dikatakan “perlu meningkatkan tiga
kemampuan dasar: baca–tulis–hitung pada sekolah dasar dan penyempurnaan Bahasa
Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris pada sekolah menengah serta
meningkatkan kegiatan remaja baik tingkat nasional maupun internasional untuk
memacu Iptek”(Dirjen Didasman,1994).
Kurikulum baru lebih banyak memberikan keluasan kepada guru untuk dapat
menyesuaikan keluasan kepada guru untuk dapat menyesuaikan dengan kemajuan
teknologi yang terjadi di lingkungan sekolah perlu diserap kedalam kurikulum yang
berlaku, untuk ini diperlukan kemampuan khususnya bagi para guru baik di tingkat
pendidikan dasar maupun di tingkat pendidikan menengah.
Berlandaskan UU RI No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
maka tujuan kurikulum antara lain sebagai berikut:
1. Kurikulum disusun dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dengan
memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuain dengan lingkungan,
kebutuhan pembangunan
nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kesenian.
25
2. Kurikulum pendidikan dasar yang berkenaan dengan sekolah dasar baca–
tulis–bicara, serta berhitung: menambah, mengurang, mengalikan membagi,
mengukur sederhana dan memahami bentuk geomatri yang dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kurikulum pendidikan dasar yang berkenaan dengan sekolah lanjutan tingkat
pertama lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk menguasai
dasar–dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan
kebutuhan pembangunan dan lingkungan. Penguasaan tersebut akan memudahkan
siswa mengembangkan berbagai kemampuannya secara bertahap seperti berpikir
teratur dan kritis, memecahkan masalah sederhana serta sanggup bersikap mandiri
dalam kebersamaan.
4. Kurikulum pendidikan sekolah umum mengutamakan penyiapan siswa untuk
melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi.
Sastrawijaya (1991) menyatakan bahwa “isi bahan pelajaran merupakan titik
awal pelajaran dalam proses pembelajaran. Buku ajar merupakan sumber utama
pelajaran”. Pendapat lain mengumukakan pendapat bahwa: “Guru harus menguasai isi
dari setiap pokok bahasan atau sub pokok bahasan tersebut” (Sudjana, 1989). Isi
penjabaran dijabarkan dari GBPP, sedangkan bahan penjabaran adalah uraian atau
diskripsi dari pokok bahasan. Dengan membaca berbagai buku pelajaran (text book),
guru akan mudah membuat uraian tersebut.
Guru yang bertugas di kelas dalam melaksanakan proses pembelajaran tidak
dapat melepaskan diri dari buku, salah satu dari buku-buku itu ialah buku pelajaran.
Buku pelajaran dalam pembelajaran sangat besar dan paling menentukan, karena buku
pelajaran yang relevan. Tanpa buku pelajaran agaknya pengajaran tidak dapat terarah,
efisien dan efektif. Buku pelajaran dipersipakan secara baik memang merupakan
saran pengajaran ampuh bagi setiap mata pelajaran (Tarigan, 1986).
BAHAN PELAJARAN
Bahan pelajaran dirumuskan setelah tujuan ditetapkan. Bahan pelajaran harus
disusun sedemikian rupa agar dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran.
Sedangkan kegiatan belajar-mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan bahan
pengajaran. Dengan demikian harus terdapat hubungan yang harmonis dan sistematis
antara tujuan-bahan pelajaran-kegiatan pemebelajaran. Persoalannya bagaimana
menetapkan bahan pelajaran dan menentapkan kegiatan pembelajaran agar betul-betul
dapat menunjang bahan pelajaran.
1. Menetapkan Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsung
proses pembelajaran. Melalui bahan pelajaran ini siswa diantarkan kepada tujuan
pengajaran. Dengan perkataan lain tujuan yang akan dicapai siswa diwarnai dan
dibentuk oleh bahan pelajaran. Bahan pelakjaran pada hakekatnya adalah isi dari mata
pelajaran atau bidang studi yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum
yang digunakan.
Menurut Sudjana (1987) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menetapkan bahan pengajaran.
a. Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan.
26
b. Bahan yang ditulis dalam perencanaan pengajaran, terbatas pada konsep saja, atau
terbentuk garis besar bahan tidak pula diuraikan terinci.
c. Menetapkan bahan pengajaran harus sesuai dengan urutan tujuan dan bahan yang
akan disampaikan.
d. Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinulitas) yang
berarti bahwa antara bahan yang satu dengan bahan berikutnya ada hubungan
fungsional, bahan yang satu menjadi dasar bagi bahan berikutnya.
e. Bahan disusun daari sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju
yang sulit, dari yang kongrit menuju abstrak.
f. Sifat bahan ada yang faktual ada yang konseptual sifat kongrit dan mudah diingat.
2. Mengusai Bahan Yang Akan Diajarkan
Menguasai bahan yang akan diajarkan mutlak bagi guru tanpa penguasaan
bahan, sebenarnya guru tak dapat mengajar dengan baik. Contoh: guru yang tidak
menguasai bahan ialah guru yang mendikte siswa menyalin dari buku, membaca
bahan dari buku sumber dan lain-lain.
Hal ini yang diperlukan dalam menetapkan bahan pengajaran ialah kepandaian
atau kemampuan guru memilih/menyeleksi bahan yang akan diberikan pada siswa.
Tidak semua bahan yang ada pada buku sumber harus diajarkan seluruhnya
mengingat terbatasnya waktu yang tersedia.
Guru harus memilih bahan yang perlu diberikan, dan bahan mana yang tidak
perlu. Dalam menetapkan pilihan tersebut, hendaknya diperhatikan:
a. Tujuan pengajaran. Hanya bahan yang serasi dan menunjang tujuan yang perlu
diberikan oleh guru.
b. Urgensi bahan. Artinya bahan itu penting untuk diketahui oleh siswa. Demikian
juga sifat bahan tersebut merupakan landasan untuk memperlajari bahan
berikutnya.
c. Tuntutan Kurikulum. Artinya secara minimal bahan itu wajib diberikan bagi siswa
dalam kehidupan sehari-hari.
d. Nilai Kegunaan. Artinya itu mempunyai manfaat bagi siswa dalam kehidupan
sehari-hari.
e. Terbatasnya sumber bahan. Artinya sumber bahan susah diperoleh siswa (tidak ada
dalam buku sumber, sehingga perlu diberikan oleh guru. Sebaliknya jika bahan itu
banyak dibahas dalam buku sumber, maka tidak begitu perlu membahasnya secara
rinci, cukup pokok-pokonya saja, kemudian guru memberikan tugas pada siswa
untuk mempelajari lebih lanjut.
PENGERTIAN PEMBELAJARAN
Hamalik (1994) mengemukakan pembelajaran adalah suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan
prosedur yang paling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat
dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga
laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur fotografi, slide,
dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas,
perlengkapan audio visual, juga Komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode
penyampaian informasi praktek, belajar, ujian dan sebagainya.
27
Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistem pembelajaran dapat
dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau sekolah, karena
diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang paling
berkaitan untuk membelajarkan peserta didik.
Proses pembelajaran memiliki empat komponen yaitu: Tujuan, Bahan,
Metode, dan Alat serta Penilaian. Keempat komponen tersebut tidaklah terdiri sendiri,
tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain (interelasi).
Tujuan pembelajaran merupakan langkah pertama yang harus diterapkan
dalam proses pembelajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah
laku dan kemampuan-kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki peserta didik
setelah menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran.
Dari tujuan yang jelas dan operasional dapat diterapkan bahan pelajaran yang
harus menjadi isi dari kegiatan belajar mengajar. Bahan pengajaran inilah yang
diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapainya ini isi tujuan atau tingkah
laku yang diharapkan untuk dimiliki oleh peserta didik.
Metode dan alat yang dugunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan
dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode dan alat berfungsi sebagai
jembatan transformasi bahan pengajaran terhadap tujuan yang hendak dicapai.
Untuk menetapkan apakah tujuan telah tercapai atau tidak, maka penilaian
yang memainkan fungsi dan perannya. Dengan perkataan lain penilaian berperan
sebagai barometer untuk mengukur tercapainya tujuan.
Pada dasaarnya proses pembelajaran berusaha mengkoordinasi sejumlah
tujuan, metode dan alat serta penilaian sehingga satu sama lain saling berhubungan
dan saling berpengaruh sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada diri peserta
didik seoptimal mungkin menuju terjadinya perubahan tingkah laku sesuai dengan
tujuan yang ditetapkan (Rusyan, 1992). Unsur-unsur yang perlu diperhatikan
meliputi:
1. Unsur dinamis pembelajaran pada diri guru adalah terciptanya suasana
sehingga siswa belajar dengan mempertimbangkan unsur-unsur berikut ini
a) Motivasi pembelajaran siswa.
Guru harus memiliki motivasi untuk pembelajaran siswa motivasi
itu sebaliknya timbul dari kesadaran yang tinggi untuk mendidik peserta
didik menjadi warga negara yang baik. Jadi, guru memiliki hasrat untuk
menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan tertentu. Namun diakui bahwa motivasi membelajarkan itu
sering timbul karena insetif yang diberikan, sehingga guru melaksanakan
tugasnya sebaik mungkin. Kedua jenis motivasi itu diperlukan untuk
membelajarkan.
b) Kondisi guru siap membelajarkan siswa.
Guru perlu kamampuan dalam proses pembelajaran, disamping
kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan
dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan professional. Guru
perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar
senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa.
2. Unsur Pembelajaran Konkruen Dengan Unsur Belajar.
28
a). Motivasi belajar menurut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan
untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran.
Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam
rangka memotivasi siswa agar belajar adalah:
(1) Prinsip kebermaknaan; siswa termotivasi untuk mempelajari hal-hal
yang bermakna baginya.
(2) Persyarat ; siswa lebih suka mempelajari sesuatu yang baru jika dia
memiliki pengalaman prasyarat.
(3) Model ; siswa lebih suka memperoleh tingkah laku baru jika disajikan
dengan suatu model perilaku yang dapat diamati dan ditiru.
(4) Komunikasi terbuka ; siswa lebih suka belajar jika penyajiannya atau
pesan-pesan guru terbuka terhadap pendapat siswa.
(5) Daya tarik; siswa akan lebih suka belajar jika pengajarnya
menyenangkan.
(6) Aktif dan Lahitan; siswa senang belajar jika dapat berperan aktif dalam
latihan/pembelajaran.
(7) Latihan terbagi; siswa lebih suka belajar jika latihan-latihan
dilaksanakan dalam jangka waktu waktu pendek.
(8) Tekanan instruksional siswa lebih suka belajar jika diberikan tekanan
dimulai dari yang kuat makin lama semakin lemah.
(9) Keadaan yang menyenangkan; siswa akan termotivasi belajanya jika
kondisi-kondisi pembelajarannya menyenangkan.
b. Sumber-sumber yang digunakan Sebagai Bahan Belajar terdapat pada:
(1) Buku pelajaran yang disiapkan adalah buku sumber dan buku
penunjang yang mungkin sudah ada di perpustakaan sekolah atau
dibeli sendiri.
(2) Pribadi guru sendiri pada dasarnya merupakan sumber tak tertulis,
adalah sangat penting yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar
yang berdaya guna bagi kepentingan proses pembelajaran.
(3) Sember masyarakat, dalam pembelajaran guru perlu memanfaatkan
masyarakat atau lingkungan sebagai sumber belajar.
c. Pengadaan Alat-Alat Belajar
Prosedur penggunaan alat-alat Bantu belajar perlu diperhatikan
beberapa hal sebabagai berikut :
(1) Memiliki dan menggunakan alat Bantu yang tersdia di sekolah sesuai
dengan rencana pembelajaaran.
(2) Siswa memilih dan membantu sendiri alat Bantu yang diperlukannya
berdasarkan petunjuk dan bantuan guru.
(3) Membeli di pasaran bebas seandainya alat-alat yang diperlukan itu ada
dan cocok untuk kegiatan belajar yang akan dilakukan.
d. Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif, guru dan
siswa dapat melakukan beberapa upaya yaitu :
(1) Sikap guru sendiri terhadapa pembelajaran di kelas. Guru diharapkan
bersikap menunjang, membantu, adil, dan terbuka dalam kelas. Sikap
29
tersebut pada gilirannya akan menciptakan antusiasme terhadap
pelajaran yang sedang diberikan.
(2) Perlu adanya kesadaran yang tinggi dikalangan siswa membina disiplin
dan tata tertib yang baik dalam kelas. Suasana yang disiplin ini juga
ditentukan oleh perilaku guru dalam kemampuan memberikan
pengajaran serta suasana dalam diri siswa sendiri.
(3) Guru siswa menciptakan hubungan dan kerjasama yang serasi selaras
dan seimbang dalam kelas yang dijiwai oleh rasa kekeluargaan dan
kebersamaan.
e. Subyek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan
binaan.
Subyek belajar yang kondisinya kurang mantap perlu diberikan
pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar yang tepat waktunya,
penyesuaian bahan belajar dengan kemampuan bakatnya, semua kondisi
itu perlu terus dikontrol oleh guru. Sediakan waktu yang khusus untuk
mengenal dan mengetahui dengan seksama semua kondisi subjek belajar.
Bila diketahui terdapat keseimbangan dan gangguan pada kondisi mereka,
maka guru perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan
meningkatkan (Imran, 1996:42).
SUMBER BELAJAR SEBAGAI KOMPONEN SISTEM PENGAJARAN
Belajar mengajar sebagai suatu proses merupkan suatu sistem yang tidak
terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah
satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak
lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sumber belajar dalam pergertian sempit adlah misalnya, buku-buku atau
bahan-bahan teretak lainnya. Sedangkan pengertian yang lebih luas tentang sumber
belajar diberikan oleh Edgar Dale yang menyatakan bahwa pengalaman itu adalah
sumber belajar. Sumber belajar dalam pengertian tersebut menjadi sangat luas
maknanya, selaus hidup itu sendiri , karena segala sesuatu yang dialami dianggap
sebagai sumber belajar sepanjang hal itu membawa pengalaman yang menyebabkan
belajar. Belajar pada hakekatnya adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang
lebih sempurna sesuai denga tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya.
Sebagaimana telah diuraikan, sumber belajar segala daya yang dapat
dimanfaatkan guna memberikan kemudahan seseorang dalam belajar. Dalam
pengembangan sumber belajar itu terdiri dari dua macam yaitu:
a. Sumber belajar yang direncanakan atau secara sengaja dibuat atau
dipergunakan untuk membantu belajar-mengajar. Misalnya : buku, brosur,
film, video, tape slide dan sebagainya.
b. Sumber belajar yang tidak dirancang tapi dapat dimanfaatkan guna
memberi kemudahan kepada seseorang dalam belajar. Misalnya: toko,
museum,tokoh masyarakat dan sebagainya.
1. Klasifikasi Sumber Belajar
a. Sumber belajar tercetak: buku, majalah, brosur, kamus dan lain-lain.
b. Sumber belajar bon cetak: film, slide, video, dan lain-lain.
30
c. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas: perpustakaan, ruangan belajar,
laboratorium dan lain-lain.
d. Sumber belajar berupa kegiatan: wawancara, kerja kelompok, observasi,
simulasi dan lain-lain.
e. Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat: taman, pasar, pabrik dan
lain-lain.
2. Komponen dan Faktor Sumber Belajar.
a) Komponen-komponen Sumber Belajar
1. Tujuan, misi atau fungsi sumber belajar.
2. Bentuk formal, atau keadaan fisik sumber belajar.
3. Pesan yang dibawa oleh sumber belajar.
4. Tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber belajar.
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi sumber belajar.
1. Perkembangan teknologi
2. Nilai-nilai budaya setempat.
3. Keadaan ekonomi pada umumnya.
4. Keadaan pemakai
3. Memilih Sumber Belajar
a) Kriteria Umum
Kriteria umum merupakan ukuran kasar dalam memilih berbagai
sumber belajar, misalnya:
1. Ekonomi dalam pengertian murah.
2. Praktis dan sederhana
3. Mudah diperoleh
4. Bersifat fleksibel
5. Komponen-komponen sesuai dengan tujuan.
b) Kriteria Berdasarkan Tujuan
Beberapa Kriteria memilih sumber belajar berdasarkan tujuan
antara lain adalah:
1) Sumber belajar guna memotivasi, terutama berguna untuk siswa yang
lebih rendah tingkatannya, dimkasudkan untuk memotivasi mereka
terhadap mata pelajaran yang diberikan.
2) Sumber belajar untuk tujuan pengajaran, yaitu untuk mendukung
kegiatan belajar-mengajar. Kriteria ini paling umum dipakai oleh para
guru dengan maksud untuk memperluas bahan pengajaran, meliputi
berbagai kekurangan bahan, sehingga kerangka mengajar yang
sistematis.
3) Sumber belajar untuk peneltian
4) Sumber belajar untuk memecahkan masalah
5) Sumber untuk presentasi.
4. Memanfaatkan Sumber Belajar
Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui oleh para
pendidik/guru dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar antara lain:
a. Tujuan instruksi hendaknya dijadikan pedoman dalam memilih sumber
belajar sahih.
31
b. Pokok-pokok bahasan yang menjelaskan analisis ini pelajaran yang
akan disajikan kepada siswa, agar materi yang disajikan melalui
sumber-sumber belajar dapat memperjelas dan memperkaya isi bahan.
c. Pemilihan strategis, metode pengajaran yang sesuai dengan sumber
belajar.
d. Sumber-sumber belajar yang dirancang berupa media intruksional dan
bahan tertulis yang tidak dirancang.
e. Pengaturan waktu sesuai dengan luas pokok bahasan yang akan
disampaikan kepada siswa.
f. Evaluasi yakni bentuk evaluasi yang akan digunakan.
PENGERTIAN PRESTASI BELAJAR
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai atau suatu pekerjaan telah
dilaksanakan dan menimbulkan nilai tertentu. Diantara ketiga dominant tujuan belajar
menurut Bloom yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor , maka aspek kognitif adalah
yang paling tercermin dalam indikator pretasi belajar di sekolah. Jadi perkembangan
intelektual yang diutamakan di sekolah. Keberhasilan individu dalam mengikuti
pelajaran di sekolah (lembaga pendidikan formal) dilambangkan dengan angka-angka
atau huruf-huruf yang menunjukkan prestasi belajarnya.
Prestasi belajar yang dibahas dalam penelitian ini dicerminkan oleh nilai yang
diperoleh siswa, sebagaimana yang tercantum dalam tes. Dengan demikian prestasi
belajar suatu pelajaran ditunjukkan oleh angka: 5, 6, 7, 8 dan seterusnya. Angkaangka ini menunjukan kualitas belajar siswa.
Karena prestasi belajar diperoleh dari proses belajar, maka prestasi belajar
tersebut tidak lepas dari bagaimana proses belajar itu berlangsung. Seperti yang telah
diuraikan dalam bagian terdahulu bahwa ada dua faktor yang berasal dari dalam diri
siswa dan factor yang berasal dari luar diri siswa. Karena kedua faktor tersebut
mempengaruhi proses belajar siswa, maka prestasi yang dimiliki masing-masing
siswa berbeda, ada yang tinggi dan ada yang rendah tergantung dari bagaimana
dukungan dari kedua faktor tersebut (Winkel, 1986:24)
Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa kedua faktor diupayakan
agar selaras dan seimbang, sebab motivasi dan minat belajar akan banyak tergantung
pada lingkungan siswa (sekolah, keluarga , dan masyarakat). Hal ini memungkinkan
karena motivasi siswa dalam pembelajaran akan tumbuh dan berkembang kerena
adanya dorongan dari siswa dan dorongan dari lingkungan.
Faktor-faktor yang dimaksud adalah factor yang berasal dari dalam diri siswa
(internal) dan factor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal). Selanjutnya kedua
kelompok dibagi-bagi lagi menajdi elemen-elemen yang lebih kecil seperti diuraikan
dalam bagian berikut :
1) Faktor yang Berasal dari dalam Diri Siswa (internal)
Faktor ini masih dapat dikelompokkan lagi menjadi dua indikator yaitu:
a. Faktor biologis dimana faktor ini berhubungan dengan fisik siswa atau
bersifat kejasmanian, sebagai misal cacat anggota badan, kesehatan.
b. Faktor psikologis dimana faktor ini berhubungan dengan keadaan psikis
siswa. Faktor ini dikelompokkan menjadi factor intelektual dan non
intelektual. Sebagai contoh factor intelektual taraf intelegensi, kemampuan
32
belajar, dan cara belajar. Sedangkan faktor non intelektual misalnya :
perhatian, emosi, sikap, minat, motivasi belajar psikis.
2) Faktor yang Berasal dari Luar Siswa (eksternal )
Faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa dapat dibagi menjadi
tiga indikator, yaitu:
a. Faktor pengatur proses belajar di sekolah adalah factor yang berkaitan
langsung dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
b. Faktor sosial di sekolah adalah menyangkut hubungan siswa dengan
orang lain baik yang berkaitan langsung mapun tidak langsung dengan
pembelajaran.
c. Faktor non-sosial/situasional adalah pengaruh yang berasal dari
lingkungan non manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ali M. 1980. Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Abu Achmadi. 1990. Teknik Belajar Yang Efektif. Semarang: Rineka Cipta.
Eddy Soewardi Kartawijaya. 1987. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Hasil Belajar.
Bandung: Sinar Baru.
Departemen Pendidikan Nasional. 1995. Garis-Garis Besar Program Pengajaran
1994 SD. Jakarta: Depdikbud.
Nana Sudjana dkk. 1987. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru.
Oemar Hamalik. 1995. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Siti Rahayu Hadinoto. 1984. Kesulitan-Kesulitan Dalam Belajar. Yogyakarta:
Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Suharsimi Arikunto. 1992. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Yunhadi, Wuwuh. 2016. ”Quality of Listening Test Validity of the National Leaving
Exam for SMA.” JARES. Vol. 1, No. 1. P. 33-44.
Winkel, W.S. 1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.
Download