6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Strategi Strategi

advertisement
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Strategi
Strategi berasal dari kata Yunani strategeia (stratos = militer; dan ag =
memimpin), yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jenderal.
Konsep ini relevan dengan situasi pada zaman dulu yang sering diwarnai
perang, dimana jenderal dibutuhkan untuk memimpin suatu angkatan perang
agar dapat selalu memenangkan perang. Konsep strategi militer seringkali
diadaptasi dan diterapkan dalam dunia bisnis. Dalam konteks bisnis, strategi
menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan
merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber daya dan usaha suatu
organisasi (Tjiptono, 2008).
Menurut Porter dalam Rangkuti (2008), Strategi adalah alat yang sangat
penting untuk mencapai keunggulan bersaing. Strategi juga dapat diartikan
sebagai suatu rencana yang terpadu dan menyeluruh yang mengaitkan
kekuatan perusahaan dalam menghadapi lingkungan usaha agar dapat
mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu laba (Yoeti, 2007).
2.2. Pemasaran
Pemasaran (marketing) adalah proses dimana perusahaan menciptakan
nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan,
dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya (Kotler
dan Armstrong, 2008). Kotler dalam Tjiptono (2007) juga menyatakan bahwa
pemasaran terdiri atas semua aktivitas yang dirancang untuk menghasilkan
dan memfasilitasi setiap pertukaran yang dimaksudkan untuk memuaskan
kebutuhan atau keinginan konsumen.
Menurut Miller dan Layton dalam Tjiptono (2007), pemasaran
merupakan sistem total aktivitas bisnis yang dirancang untuk merencanakan,
menetapkan harga, mempromosikan dan mendistribusikan produk, jasa, dan
gagasan yang mampu memuaskan keinginan pasar sasaran dalam rangka
mencapai tujuan organisasional.
7
Tujuan kegiatan pemasaran menurut Rangkuti (2002) adalah :
a) Konsumen potensial dapat mengetahui secara detail produk yang kita
hasilkan dan perusahaan dapat menyediakan semua permintaaan mereka
atas produk yang dihasilkan.
b) Perusahaan dapat menjelaskan secara detail semua kegiatan yang
berhubungan dengan pemasaran. Kegiatan pemasaran ini meliputi berbagai
kegiatan, mulai dari penjelasan mengenai produk, desain produk, promosi
produk, pengiklanan produk, komunikasi kepada konsumen, sampai
pengiriman produk agar sampai ke tangan konsumen secara cepat.
2.3. Strategi Pemasaran dan Bauran Pemasaran
Strategi ini merupakan sekumpulan tindakan pemasaran yang
terintegrasi dalam rangka memberikan nilai kepada konsumen dan
menciptakan keunggulan bersaing bagi perusahaan. Strategi perusahaan harus
bersifat distinctive (artinya bersifat unik, tidak mudah ditiru oleh pesaing, dan
spesifik) dan didukung oleh semua potensi yang dimiliki oleh perusahaan
secara optimal (Porter dalam Rangkuti, 2002).
Menurut Kotler dan Armstrong (2008), strategi pemasaran adalah
logika pemasaran dimana unit bisnis berharap untuk mencapai tujuan
pemasarannya. Perusahaan memutuskan pelanggan mana yang akan
dilayaninya (segmentasi dan penetapan target) dan bagaimana cara
perusahaan melayaninya (diferensiasi dan positioning). Perusahaan mengenali
keseluruhan pasar, lalu membaginya menjadi segmen-segmen yang lebih
kecil, memilih segmen yang paling menjanjikan, dan memusatkan perhatian
pada pelayanan dan pemuasan pelanggan dalam segmen ini.
Strategi pemasaran harus dapat mengidentifikasi segmentasi pasar,
target market, positioning dan diferensiasi yang diinginkan (STP), dan bauran
pemasaran.
1. Segmentasi Pasar
Proses membagi pasar menjadi kelompok pembeli berbeda yang
mempunyai kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda dan yang
mungkin memerlukan produk atau program pemasaran terpisah.
8
2. Penetapan Target Pasar
Proses mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen pasar dan memilih
satu atau lebih jumlah segmen yang dimasuki.
3. Positioning dan Diferensiasi Pasar
Pengaturan suatu produk untuk menduduki tempat yang jelas, berbeda,
dan diinginkan relatif terhadap produk pesaing dalam pikiran konsumen
sasaran. Positioning yang efektif dimulai dengan diferensiasi yang benarbenar mendiferensiasikan
penawaran pasar perusahaan sehingga
perusahaan dapat memberikan nilai lebih kepada konsumen.
Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran
taktis terkendali yang disebut “empat P” : Product (Produk), Price (Harga),
Place (Tempat), dan Promotion (Promosi) yang dipadukan perusahaan untuk
menghasilkan respons yang diinginkannya di pasar sasaran (Kotler dan
Armstrong, 2008). Untuk bauran pemasaran jasa, yang melibatkan berbagai
aspek keterlibatan pelanggan dalam produksi dan pentingnya faktor waktu,
membutuhkan unsur strategis lainnya, yaitu People, Process, Physical
Evidence, dan Productivity (Lovelock dan Wright, 2005).
1. Product (Produk) adalah semua komponen kinerja jasa yang menciptakan
nilai bagi pelanggan.
2. Price (Harga) meliputi pengeluaran uang, waktu, dan usaha oleh
pelanggan untuk membeli dan mengkonsumsi jasa.
3. Place (Tempat) merupakan keputusan manajemen tentang kapan, dimana,
dan bagaimana menyampaikan jasa kepada pelanggan.
4. Promotion (Promosi) adalah semua aktivitas dan alat-alat yang
menggugah komunikasi yang dirancang untuk membangun preferensi
pelanggan terhadap jasa dan penyedia jasa tertentu.
5. People (Orang) adalah karyawan (dan kadang-kadang pelanggan lain)
yang terlibat dalam proses produksi.
6. Process (Proses) merupakan metode pengoperasian atau serangkaian
tindakan tertentu, yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan
dalam suatu urutan yang telah ditetapkan.
9
7. Physical Evidence (Bukti Fisik) merupakan petunjuk visual atau berwujud
lainnya yang memberi bukti atas kualitas jasa.
8. Productivity (Produktivitas) berarti seberapa efisien pengubahan input jasa
menjadi output yang menambah nilai bagi pelanggan.
2.4. Jasa
Jasa (service) adalah semua kegiatan atau manfaat yang dapat
ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tak berwujud
(intangible) dan tidak menghasilkan kepemilikan akan sesuatu (Kotler dan
Armstrong, 2008). Contohnya perbankan, hotel, maskapai penerbangan,
pengecer, persiapan pajak, dan jasa perbaikan rumah.
Menurut Lovelock dan Wright (2005), jasa adalah tindakan atau kinerja
yang menciptakan manfaat bagi pelanggan dengan mewujudkan perubahan
yang diinginkan dalam diri atau atas nama penerima. Perbedaan dasar antara
barang dan jasa antara lain :
a. Pelanggan tidak memperoleh kepemilikan atas jasa
b. Produk jasa bersifat tidak berwujud
c. Pelanggan lebih terlibat dalam proses produksi
d. Orang lain dapat menjadi bagian dari produk
e. Adanya keragaman yang lebih besar dalam input dan output operasional
f. Banyak jasa sulit dievaluasi pelanggan
g. Umumnya tidak mempunyai persediaan
h. Faktor waktu relatif lebih penting
i. Sistem pemberian dapat menggunakan saluran fisik maupun elektronik.
2.4.1. Karakteristik Jasa
Berbagai riset dan literatur pemasaran jasa mengungkapkan
bahwa produk jasa memiliki sejumlah karakteristik unik yang
membedakannya dari produk barang (Tjiptono, 2007). Secara garis
besar, karakteristik jasa dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Intangibility (tidak berwujud). Jasa berbeda dengan barang. Bila
barang merupakan suatu objek, alat, atau benda; maka jasa adalah
suatu perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja, atau usaha.
10
Oleh sebab itu, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar,
dan diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi.
2. Inseparability
(tidak
dapat
dipisahkan).
Barang
biasanya
diproduksi, kemudian dijual, lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa
umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan
dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama.
3. Variability/heterogeneity/inconsistency (bervariasi). Jasa bersifat
sangat variabel karena merupakan non-standardized output, artinya
banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung kepada siapa,
kapan, dan dimana jasa tersebut diproduksi.
4. Perishability (tidak tahan lama). Jasa tidak tahan lama dan tidak
mengenal persediaan atau tidak dapat disimpan.
5. Lack of ownership (kurangnya kepemilikan). Pada pembelian
barang, konsumen memiliki hak penuh atas penggunaan dan
manfaat produk yang dibelinya. Mereka bisa mengonsumsi,
menyimpan, atau menjualnya. Di lain pihak, pada pembelian jasa,
pelanggan mungkin hanya memiliki akses personal atas suatu jasa
untuk jangka waktu yang terbatas (misalnya kamar hotel, bioskop,
jasa penerbangan, dan pendidikan).
2.4.2. Klasifikasi Jasa
Berdasarkan klasifikasi Organisasi Perdagangan Dunia (World
Trade Organization-WTO), sesuai dengan GATS/WTO-Central
Product Classification/MTN.GNS/W/120 dalam Lupiyoadi dan
Hamdani (2008), ruang lingkup klasifikasi bisnis jasa meliputi :
1.
Jasa Bisnis
2.
Jasa Komunikasi
3.
Jasa Konstruksi dan Jasa Teknik
4.
Jasa Distribusi
5.
Jasa Pendidikan
6.
Jasa Lingkungan Hidup
7.
Jasa Keuangan
8.
Jasa Kesehatan dan Jasa Sosial
11
9.
Jasa Kepariwisataan dan Jasa Perjalanan
10. Jasa Rekreasi, Budaya, dan Olahraga
11. Jasa Transportasi
12. Jasa Lain-lain.
2.5. Lingkungan Pemasaran
Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan pemasaran
(marketing environment) perusahaan terdiri dari pelaku dan kekuatan di luar
pemasaran yang mempengaruhi kemampuan manajemen pemasaran untuk
membangun dan mempertahankan hubungan yang berhasil dengan pelanggan
sasaran. Lingkungan pemasaran dapat dibagi atas dua lingkungan, yaitu
lingkungan internal dan eksternal.
2.5.1. Lingkungan Internal
Lingkungan
internal
adalah
kegiatan-kegiatan
internal
perusahaan yang dapat dikendalikan. Artinya, untuk mencapai tujuan
dan menjalankan strategi pemasaran, pemasar harus mampu
melakukan pengendalian atau pengaturan atas operasi kegiatankegiatan
tersebut
seperti
yang
dikehendaki
perusahaan
(elearning.gunadarma.ac.id).
Lingkungan internal terdiri dari dua aspek, pemasaran dan
nonpemasaran.
1. Lingkungan Internal-Pemasaran
Aspek pemasaran meliputi kegiatan-kegiatan yang berkaitan
dengan strategi pemasaran dan bauran pemasaran.
Strategi pemasaran meliputi kegiatan Segmentation, Targeting, dan
Positioning
(STP).
Sedangkan
bauran pemasaran
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan 4P :
1) Perencanaan barang (Product),
2) Penetapan harga (Price),
3) Program promosi (Promotion), dan
4) Saluran distribusi (Place).
meliputi
12
2. Lingkungan Internal-Non pemasaran
Aspek non pemasaran adalah kegiatan-kegiatan fungsional atau
operasional perusahaan (selain kegiatan pemasaran). Antara lain
adalah :
1) Sumber Daya Manusia
Manusia merupakan sumber daya terpenting bagi perusahaan.
Oleh karena itu, manajer perlu mewujudkan perilaku positif
dikalangan karyawan perusahaan. Berbagai faktor yang perlu
diperhatikan antara lain adalah : langkah-langkah yang jelas
mengenai manajemen SDM, keterampilan dan motivasi kerja,
produktivitas, dan sistem imbalan (Umar, 2008).
2) Keuangan
Dana dibutuhkan dalam operasional perusahaan. Oleh karena
itu,
faktor-faktor
yang
perlu
diperhitungkan
adalah
:
kemampuan perusahaan memupuk modal jangka pendek dan
jangka panjang, beban yang harus dipikul sebagai upaya
memperoleh modal tambahan, hubungan baik dengan penanam
modal dan pemegang saham, pengelolaan keuangan, struktur
modal kerja, harga jual produk, pemantauan penyebab
inefisiensi dan sistem akunting yang andal (Umar, 2008).
2.5.2. Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal kegiatan pemasaran adalah pengaruhpengaruh tidak langsung yang berada diluar kekuasaan atau kendali
pemasar. Pengaruh-pengaruh tersebut akan memaksa pasar untuk
menyesuaikan
arah
dan
strateginya
agar
tetap
survive
di
lingkungannya. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan eksternal
makro dan mikro (elearning.gunadarma.ac.id).
A. Lingkungan Eksternal Makro
Lingkungan luar makro meliputi aspek berikut ini.
1. Lingkungan Ekonomi
13
Lingkungan
ekonomi
terdiri
dari
faktor-faktor
yang
mempengaruhi daya beli dan pola pengeluaran konsumen seperti
berikut, yaitu :
1) Pendapatan dan Produk nasional (GNP, GDP, Tingkat
konsumsi)
2) Harga, Upah, Produktivitas (Tingkat inflasi, Index harga)
3) Investasi (Industri, Peralatan)
4) Tabungan (Personal, Bisnis)
5) Tenaga dan Kesempatan Kerja (Jumlah TK, Unemployment)
6) Kegiatan Pemerintah (PJP, Pelita, APBN)
7) Transaksi Internasional (Neraca Perdagangan, Ekspor, Impor)
2. Lingkungan Politik
Lingkungan politik terdiri dari hukum, badan pemerintah, dan
kelompok LSM yang mempengaruhi atau membatasi berbagai
organisasi dan individu di dalam masyarakat tertentu (Kotler
dan Armstrong, 2008).
3. Lingkungan Demografi
Demografi adalah studi kependudukan manusia menyangkut
ukuran, kepadatan, lokasi, usia, jenis kelamin, ras, lapangan
kerja, dan data statistik lain. Lingkungan demografis menjadi
minat
utama
pemasar
karena
lingkungan
demografis
menyangkut masyarakat, dan masyarakat membentuk pasar
(Kotler dan Armstrong, 2008).
4. Lingkungan Sosial dan kebudayaan
Lingkungan budaya terdiri dari institusi dan kekuatan lain yang
mempengaruhi nilai dasar, persepsi, selera, dan perilaku
masyarakat (Kotler dan Armstrong, 2008). Kondisi sosial ini
banyak aspeknya, misalnya : sikap, gaya hidup, adat-istiadat,
dan kebiasaan dari orang-orang di lingkungan eksternal
perusahaan (Umar, 2008).
14
5. Lingkungan Teknologi
Dewasa ini perkembangan teknologi mengalami kemajuan yang
pesat, baik di bidang bisnis maupun di bidang yang mendukung
kegiatan bisnis (Umar, 2008). Lingkungan teknologi merupakan
kekuatan paling dramatis yang membentuk nasib kita saat ini.
Teknologi telah menciptakan benda-benda mengagumkan
seperti antibiotik, pembedahan robotik, alat-alat elektronik mini,
komputer laptop, dan Internet (Kotler dan Armstrong, 2008).
B. Lingkungan Eksternal Mikro
Lingkungan luar mikro meliputi aspek berikut ini.
1. Lingkungan Pesaing
Persaingan dalam industri akan mempengaruhi kebijakan dan
kinerja perusahaan. Menurut Porter dalam Umar (2008), tingkat
persaingan itu dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :
a) Jumlah Kompetitor. Jumlah kompetitor atau pesaing sudah
tentu akan mempengaruhi tingkat persaingan. Kompetitor
hendaknya dilihat dari beberapa sisi, seperti jumlah, ukuran,
dan kekuatannya.
b) Tingkat Pertumbuhan Industri. Pertumbuhan industri yang
besar
biasanya
menyediakan
sejumlah
peluang
bagi
perusahaan untuk tumbuh bersama industrinya.
c) Karakteristik Produk. Produk hendaknya tidak sekedar
menyediakan kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki suatu
pembedaan (differentiation) atau nilai tambah.
d) Biaya Tetap yang Besar. Pada jenis industri yang mempunyai
total biaya tetap yang besar, perusahaan hendaknya
beroperasi pada skala ekonomi yang tinggi. Akibatnya adalah
perusahaan kadang kala terpaksa menjual produk di bawah
biaya produksi.
e) Kapasitas.
Kapasitas selalu berkorelasi dengan biaya
produksi per unit. Produksi pada kapasitas tinggi diperlukan
untuk menjaga efisiensi biaya per unit.
15
f) Hambatan Keluar. Hambatan keluar memaksa perusahaan
untuk tidak keluar dari industri. Hambatan ini dapat berupa
aset-aset khusus ataupun kesetiaan manajemen pada bisnis
tersebut. Contohnya adalah idealisme dalam bisnis.
2. Lingkungan Pemasok
Pemasok pemasaran perusahaan adalah lembaga-lembaga atau
individual yang melakukan penyediaan sumberdaya yang
diperlukan untuk operasional perusahaan. Masukan sumberdaya
yang diperlukan dapat berupa sumberdaya material, peralatan,
tenaga kerja, tenaga penggerak, sumberdana modal, metode,
informasi, waktu, moral, atau sumberdaya inspirasi/gagasan.
3. Lingkungan Perantara
Perantara (middleman) adalah individual atau lembaga-lembaga
usaha yang kegiatannya adalah menyampaikan barang dan jasa
secara langsung atau tidak langsung dari pemasar ke konsumen.
Perantara
atau
penyalur
dapat
merupakan
usaha
yang
independen maupun dependen terhadap perusahaan.
2.6. Hotel
Hotel berasal dari kata hostel. Konon hostel diambil dari bahasa
Perancis yang berasal dari bahasa latin, yaitu Hostes. Bangunan publik ini
sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya sebagai tempat
penampungan buat pendatang atau bisa juga sebagai bangunan penyedia
pondokan dan makanan untuk umum. Jadi, pada mulanya hotel diciptakan
untuk melayani masyarakat. Definisi dari hotel adalah jenis akomodasi yang
mempergunakan seluruh atau sebagian bangunan untuk menyediakan jasa
penginapan, makan dan minum serta jasa lain bagi umum yang dikelola
secara komersial (Ismayanti, 2010).
Menurut Hotel Proprietors Act, 1956 dalam Yoeti (2007) Hotel adalah
perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan
makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang
sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang
wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.
16
Penggolongan dan klasifikasi usaha sarana akomodasi di Indonesia
terdiri atas hotel berbintang (bintang satu sampai dengan lima dan lima
berlian) dan nonbintang (losmen, melati).
Menurut Ismayanti (2010), tipe hotel dapat dibagi menjadi beberapa
aspek sebagai berikut.
1. Berdasarkan lama tinggal, hotel dibedakan menjadi seperti berikut ini.
a. Transient Hotel adalah hotel yang diinapi oleh tamu selama 24 jam
hingga tiga hari dan tamu dikenakan biaya sewa kamar harian. Tamu
yang menginap di hotel ini sering disebut sebagai short stay guest.
b. Semi residential Hotel
Tujuh hingga 30 hari tamu dikenakan biaya sewa kamar mingguan.
c. Residential Hotel adalah hotel yang ditinggali tamu selama lebih dari
30 hari hingga setahun dan tamu dikenakan biaya sewa kamar bulanan.
Tamu yang menginap di hotel ini disebut long stay guest.
2. Berdasarkan lokasi, hotel dibedakan menjadi seperti berikut ini.
a. City Hotel adalah hotel yang berlokasi di perkotaan.
b. Resort Hotel merupakan hotel yang yang berlokasi di daerah wisata,
seperti pantai atau pegunungan.
c. Suburb Hotel adalah hotel yang berlokasi di luar kota.
d. Airport Hotel, yaitu hotel yang berlokasi di sekitar bandara.
3. Berdasarkan ukuran dan jumlah kamar, hotel dibedakan menjadi :
a. Hotel kecil atau small hotel dengan kapasitas kurang dari 150 kamar.
b. Hotel medium atau average hotel dengan kapasitas sekitar 150-299
kamar.
c. Hotel di atas rata-rata atau above average hotel dengan kapasitas sekitar
300-600 kamar.
d. Hotel besar atau large hotel dengan kapasitas lebih dari 600 kamar.
2.6.1. Pemasaran Hotel
Pemasaran hotel menurut Yoeti (2007) adalah suatu usaha yang
dilakukan dalam rangka menarik tamu untuk tinggal dan menginap
serta menggunakan semua fasilitas yang tersedia dalam hotel tersebut.
17
C. De Witt Coffman seorang pendiri Treadway Inn and Resort
di Amerika mengatakan pemasaran dalam industri hospitalities terdiri
atas lima unsur penting yang saling terkait satu dengan lainnya, yaitu :
people, product, price, promotion, dan performance.
1. People
Yang dimaksud di sini adalah siapa saja diantara orang yang
banyak tersebut yang dianggap sebagai potential customers bagi
hotel, layanan apa saja yang mereka perlukan dan kendala apa yang
menyebabkan mereka tidak dapat menikmati layanan suatu hotel
yang mereka inginkan.
2. Product
Produk yang ditawarkan hendaknya sesuai dengan selera dan
keinginan pasar yang yang sudah ditargetkan. Misalnya, kamar
yang bagaimana yang diinginkan atau disenangi tamu, makanan
apa saja yang perlu disediakan, fasilitas apa saja yang harus
dibangun sehingga mereka mau datang dan menginap pada suatu
hotel tertentu. Menurut Yoeti (2007), Produk hotel dapat dibagi
menjadi dua, yaitu :
a. Produk utama, yaitu penyediaan kamar untuk menginap, dan
layanan makan dan minum. Masing-masing pelayanannya
diberikan oleh front office, housekeeping, dan food & beverages.
b. Produk pendukung, yaitu layanan yang melengkapi produk
utama, seperti layanan yang diberikan oleh concierge, telephone
operator, laundry, money changer, front office cashier, bellboy,
dan lain-lain.
3. Price
Penetapan kebijakan harga atau tarif hotel agar dapat
bersaing dengan tarif hotel lain yang dianggap sebagai pesaing
penting.
4. Promotion
Pemilihan media massa yang sesuai dan efektif agar dapat
digunakan untuk penyampaian pesan kepada calon tamu hotel.
18
5. Performance
Pemberian layanan yang baik dan lebih kepada tamu hotel
harus sejalan dengan apa yang kita promosikan.
2.6.2. Strategi Pemasaran Hotel
Salah satu strategi pemasaran yang sering digunakan adalah
bauran pemasaran (marketing mix), yang dikenal dengan 4P yang
saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu : product, price,
place, dan promotion.
1. Product
Produk merupakan unsur penting yang dianggap paling
menentukan karena dengan produk inilah produsen dapat
memenuhi needs dan wants dari tiap konsumen. Dalam industri
perhotelan, produk utama adalah penyediaan kamar dan layanan
makan dan minum serta fasilitas lainnya.
Hotel memiliki tiga produk penting, yaitu : unsur fisik, unsur
jasa, dan unsur nonfisik. Produk fisik termasuk kamar hotel dan
restoran. Produk yang merupakan unsur jasa adalah semua bentuk
layanan yang diperuntukkan untuk menunjang produk fisik. Produk
nonfisik ada dua, yaitu : citra (image) dan suasana (atmosphere).
Ketiga unsur ini berbaur membentuk produk sebuah hotel secara
utuh (Yoeti, 2007).
Khusus mengenai citra suatu hotel sangat dipengaruhi oleh
banyak faktor, antara lain :
a. Letak lokasi hotel
b. Kelas hotel
c. Jenis dan macam kamar yang dimiliki
d. Banyak sedikitnya fasilitas yang tersedia
e. Desain interior yang digunakan
f. Tingkat layanan yang diberikan
g. Kualitas promosi yang dilakukan
h. Target tamu yang diharapkan datang
i. Sikap karyawan dan manajemen hotel itu sendiri
19
j. Suasana yang ada.
2. Price
Dalam penetapan tarif kamar suatu hotel ada satu hal yang
perlu diperhatikan, yaitu unsur biaya yang diinvestasikan. Biaya
tersebut relatif sangat besar dan pengembaliannya relatif sangat
lama. Oleh karena itu untuk menetapkan tarif hotel, manajemen
hotel biasanya mengambil kebijakan strategi harga yang berbeda
untuk setiap segmen pasar yang dijadikan target pasar.
Untuk hotel berbintang yang ada di kota-kota besar seperti
Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Ujung Pandang yang
tamunya sebagian besar adalah business tourist, baik domestik
maupun asing, maka penetapan tarif yang relatif tinggi dapat
diterapkan, karena pembayarannya bukan dilakukan oleh pribadi,
tetapi
oleh
perusahaan
yang
menugaskan
perjalanannya.
Sedangakan untuk wisatawan atau orang-orang yang berlibur dapat
diterapkan tarif yang berbeda dan dapat pula tarif dalam bentuk
paket. Artinya tarif sudah termasuk kamar, makan tiga kali, local
tour dan atraksi yang disediakan hotel (Yoeti, 2007).
3. Place
Pengertian place di sini sama dengan distribusi, yaitu suatu
cara bagaimana produsen menyampaikan barangnya sampai ke
pasar. Dalam pemasaran hotel, aspek terpenting dalam distribusi
adalah lokasi, yaitu suatu kondisi yang memungkinkan tamu
dengan mudah datang setiap waktu. Lokasi hotel ini tidak hanya
mengenai tempat di mana hotel didirikan, tetapi juga kemudahan
tamu mendatangi hotel (jalur lalu lintas, dekat dengan airport,
pelabuhan, atau terminal) dan usaha tamu untuk mencapai hotel
tersebut (Yoeti, 2007).
Dalam rangka usaha menarik atau mendatangkan tamu, suatu
hotel biasanya mengadakan kerja sama dengan pihak ketiga lainnya
seperti :
a. Hotel reservation service
20
b. Tour operator atau travel agency lainnya
c. Maskapai penerbangan
d. Chains hotel service.
4. Promotion
Menurut Yoeti (2007), kegiatan promosi terdiri atas empat
hal penting, yaitu :
a. Personal Selling
Di dalam dunia perhotelan, hal ini sangat penting dan
karena itu suatu hotel perlu membentuk sales department yang
bertanggung jawab melakukan koordinasi dalam kegiatan hotel
sales.
b. Advertising
Fungsi utama iklan untuk usaha jasa perhotelan adalah
memberikan informasi dan menarik tamu untuk datang serta
menggunakan fasilitas hotel yang tersedia. Namun demikian,
fungsi komunikasi sebenarnya bukan sekedar menarik tamu
untuk menginap di hotel, tetapi yang lebih penting adalah
meningkatkan citra hotel dan bagaimana manajemen hotel dapat
memelihara loyalitas tamu agar menjadi pelanggan yang setia.
c. Sales Promotion
Kegiatan sales promotion perlu dilakukan waktu-waktu
tertentu, misalnya penawaran khusus pada waktu liburan
sekolah.
d. Publicity
Kegiatan publikasi dilakukan melalui berbagai macam
media, baik melalui media cetak maupun elektronik. Pada suatu
hotel publikasi yang biasa dilakukan adalah : kesuksesan
manajemen
atau
pemilik
dengan
mengekspos
tentang
keberhasilannya mengembangkan hotel yang dipimpinnya.
21
2.7. MICE
Menurut Suparta (2008), MICE adalah kegiatan pertemuan, konvensi,
perjalanan insentif, dan pameran dalam industri pariwisata atau lebih jauh
dikatakan bahwa MICE dapat diartikan sebagai wisata konvensi, dengan
batasan : usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran yang
merupakan usaha dengan kegiatan memberi jasa pelayanan bagi suatu
pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan, dan
sebagainya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan
kepentingan bersama. Pada umumnya kegiatan konvensi berkaitan dengan
kegiatan
pariwisata
lain
seperti
transportasi,
akomodasi,
hiburan
(entertainment), pre dan post converence tour.
MICE dalam peristilahan Indonesia diartikan sebagai wisata konvensi.
Undang-undang no 9 Th. 1990 tentang kepariwisataan yang ditetapkan oleh
pemerintah melalui keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi
No. Km. 108/H.M 703/ MPPT-91 merumuskan : kongres, konferensi, atau
konvensi merupakan kegiatan berupa pertemuan sekelompok orang
(negarawan, usahawan, cendikiawanm dan sebagainya) untuk membahas
masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama. Jadi kalau
dilihat dari kegiatannya yang hampir sama dengan wisata biasa maka dapat
dikatakan bahwa wisata MICE merupakan perpaduan antara bisnis
(menghadiri konvensi) dengan rekreasi (pleasure) yang merupakan inti dari
pariwisata.
MICE terbentuk dari empat komponen yaitu Meeting, Incentive,
Convention, and Exhibition. Meeting merupakan istilah yang lebih luas yang
menyangkut segala bentuk pertemuan yang melibatkan sekelompok orang
dengan tujuan atau maksud tertentu. Incentive merupakan bonus atau hadiah
yang diberikan perusahaan kepada karyawan karena keberhasilannya
memajukan perusahaan.
Convention mengetengahkan issue yang menyangkut kepentingan
orang banyak diluar penyelenggara. Exhibition merupakan kegiatan yang
memamerkan hasil produksi kepada calon konsumen. Exhibition dibedakan
menjadi dua yaitu public exhibition dan trade exhibition atau lebih dikenal
22
dengan trade show. Public exhibition adalah kegiatan pameran terbuka untuk
umum sedangkan trade show pengunjungnya sudah ditentukan sebelumnya
melalui undangan.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan di Amerika Serikat, asosiasiasosiasi yang memprogramkan kegiatan konvensi akan memilih hotel yang
memiliki fasilitas lima terbaik, yaitu :
a. Ruang persidangan yang luas dan lengkap
b. Kualitas makanan dan minumannya yang enak
c. Kamar tidur dan ruang istirahat yang comfortable
d. Karyawan front office efisiensi
e. Ada manajer pelayanan konvensi
Sedangkan para pengusaha atau korporasi memilih hotel yang memiliki
persyaratan :
a. Kualitas makanan dan minuman excellent
b. Ruang persidangan yang luas dan menarik
c. Kamar tidur dan ruang istirahat yang comfortable
d. Efisiensi pada perhitungan pembayaran
e. Memiliki pengalaman menangani konvensi
2.8. Penelitian Terdahulu
Gultom (2010) dalam penelitiannya tentang strategi pemasaran jasa
yang berjudul “Analisis Strategi Pemasaran Kredit Pensiunan (Studi Kasus
Bank Tabungan Pensiunan Nasional Cabang Bogor” melakukan pengolahan
data dengan menggunakan matriks Internal Factor Evaliation (IFE) dan
matriks External Factor Evaluation (EFE) untuk tahap inputan, analisis
Internal Eksternal (IE) untuk tahap pencocokan, dan matriks QSPM untuk
tahap pengambilan keputusan. Empat alternatif strategi pemasaran yang
dihasilkan dalam penelitian ini, yaitu market penetration strategy, market
development strategy, product development strategy, dan konsolidasi internal.
Berdasarkan analisis QSPM, maka prioritas strategi yang terbaik untuk
diterapkan adalah strategi konsolidasi internal, yaitu penguatan ke dalam
dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
23
Alkausar (2011) dalam penelitiannya mengenai strategi pemasaran jasa
yang berjudul “Analisis Strategi Pemasaran Pada PT. Mitra Yomart Sejati”
diperoleh hasil bahwa segmentasi dari mini market ini berdasarkan geografi
berasal dari pulau Jawa dan Bali. Segmentasi berdasarkan demografi adalah
masyarakat kalangan bawah, menengah dan atas. Segmentasi berdasarkan
psychographic adalah jenis kelamin laki-laki dan wanita baik tua, muda,
maupun anak-anak. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan matriks
Internal Factor Evaliation (IFE), matriks External Factor Evaluation (EFE),
Metode Bayes, analisis SWOT dan AHP. Analisis menggunakan metode
AHP diperoleh hasil bahwa faktor yang menjadi prioritas utama adalah harga
bersaing. Aktor yang memiliki keterlibatan tinggi dalam perencanaan strategi
di Yomart adalah manajer pemasaran franchise dan direktur utama. Tujuan
yang menjadi perhatian perusahaan adalah kelangsungan hidup perusahaan.
Strategi peningkatan dan perbaikan promosi menjadi prioritas utama yang
harus perusahaan pikirkan.
Triatmoko (2012) dalam penelitiannya mengenai strategi pemasaran
jasa yang berjudul “Analisis Strategi Pemasaran Pada M-BRIO Food
Laboratory” melakukan pengolahan data dengan menggunakan matriks
Internal Factor Evaliation (IFE), matriks External Factor Evaluation (EFE),
MPE (Metode Perbandingan Eksponensial), analisis SWOT dan AHP. Hasil
dari analisis AHP didapatkan bahwa strategi direkomendasikan dalam
pemasaran jasa M-BRIO Food laboratory adalah melakukan promosi dan
edukasi dengan menginformasikan
kualitas jasa, cakupan produk ruang
lingkup dan parameternya yang sudah terakreditasi, kepada perusahaan
pangan yang membutuhkan jasa laboratorium pengujian dan melakukan
kampanye budaya keamanan pangan kepada publik dengan mengankat isu-isu
keamanan pangan sebagai bentuk promosi dan edukasi dengan menampilakan
Prof. Dr. F.G. Winarno sebagai endorser.
Download