PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI PENYESUAIAN

advertisement
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan
Kelas Pendidikan Dasar & Menengah
Vol. 6, No. 5, Oktober 2016
ISSN 0854-2172
PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI
PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
Ani Yuliastuti
SD Negeri Lemahabang 01 Tanjung Brebes
Abstrak
Hasil belajar siswa tentang pembelajaran IPA kompetensi penyesuaian diri makhluk hidup masih
sangat rendah, pada pembelajaran sehari-hari nilai rata-rata kelas hasil tes formatif hanya mencapai
35% yang mendapat nilai di atas KKM. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil
pembelajaran IPA Kompetensi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungan, di Kelas V SD
Negeri Lemahabang 01. Penelitian ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, hasil penelitian dan pembahasannya yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam
pelajaran. Pada siklus pertama hasil pembelajaran yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat
dari hasil refleksi siklus pertama pertemuan ke-1. Pada siklus I ketuntasan belajar pertemuan ke-1
mengalami peningkatan yaitu menjadi 67%, pada pertemuan ke-2 menjadi 75%, sedangkan
ketuntasan belajar pada siklus II pertemuan ke-1 adalah 92%, pada pertemuan ke-2 mencapai 95%.
Dengan menerapkan Model Pembelajaran Learning Cycle maka hasil pembelajaran IPA
Kompetensi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungan dapat mencapai hasil yang
maksimal.
© 2016 Dinamika
Kata Kunci: Hasil Belajar; Learning Cycle; Makhluk Hidup.
PENDAHULUAN
Menurut pendapat paham konstruktivisme bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi dari
kita yang sedang belajar. Kontruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswaberdasarkan pengalaman. (Wina Sanjaya, 2008: 118). Belajar
adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia,
seperti sikap, minat atau nilai dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk
melakukan berbagai jenis performance (kinerja) (Najib Sukhan, 2010: 5).
Sebagai guru yang merupakan jabatan fungsional di bidang pendidikan dengan sendirinya juga
dituntut dalam keahlian, pengetahuan dan keterampilan tertentu atau yang disebut sebagai sebuah
kompetensi guru. Secara minimal guru memiliki kompetensi kepribadian (personal) dan kompetensi
kemasyarakatan (sosial). Guru dituntut untuk berpikir kreatif dalam mengatasi persoalan yang terjadi
di kelas, termasuk dalam menyampaikan materi pembelajaran agar tujuan dari kegiatan pembelajaran
itu sendiri dapat tercapai secara maksimal (Dianta dan Eko, 2016).
PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI
PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
Ani Yuliastuti
1
Peranan guru meliputi banyak hal, yaitu guru dapat perperan sebagai pengajar, pemimpin
kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar, perencana pengajaran, supervisor, dan sebagai
evaluator, (Rusman, 2011:58). Guru bukan hanya bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri tetapi
lebih dari itu yaitu tanggung jawab kepada masyarakat luas, bukan bertanggungjawab untuk satu
generasi melainkan sampai ke generasi selanjutnya.
Untuk menumbuhkan sikap aktif, kreatif, inovatif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang
terjadi adalah guru dianggap sebagai sumber belajar yang paling benar. Di sisi lain rendahnya motivasi
dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA merupakan salah satu indikasi bahwa
pembelajaran yang dilakukan guru perlu untuk dicermati lebih serius lagi. Hal
yang lazim dijumpai dalam suatu pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya prestasi siswa di
antaranya : (1) kegiatan pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru; (2) rendahnya semangat
belajar siswa; (3) banyaknya siswa yang tidak berani bertanya atau mengemukakan pendapat; (4)
metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariatif (monoton); (5) media pembelajaran yang
terbatas; (6) Tidak berorientasi pada kebutuhan masyarakat setempat.
Hal ini terjadi pula di Kelas V SD Negeri Lemahabang 01, yakni hasil belajar siswa tentang
pembelajaran IPA kompetensi penysuaian diri makhluk hidup masih sangat rendah, pada
pembelajaran sehari-hari nilai rata-rata kelas hasil tes formatif hanya mencapai 48,25, dari 62 siswa
kelas V hanya 28 orang siswa atau 35% yang mendapat nilai di atas KKM yang ditentukan yaitu 65.
Sedang 34 lainnya mendapat nilai di bawah KKM.
Salah satu bentuk kepedulian dan sebagai kontribusi pemikiran yang dapat dijadikan acuan
dalam mengatasi rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kompetensi penyesuaian
makhluk hidup adalah melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas
enggan penerapan pembelajaran learing cycle. Model pembelajaran ini merupakan pendekatan yang
ampuh untuk perancangan pembelajaran IPA yang aktif dan efektif karena memberikan suatu cara
berfikir dan berperilaku yang konsisten dengan cara siswa belajar (Yuliati, 2008: 43). Menurut Susanto
(2012: 27) keuntungan model pembelajaran Learning Cycle yaitu: 1) meningkatkan motivasi belajar
karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, 2) membantu mengambangkan sikap
ilmiah siswa dan 3) pembelajaran lebih bermakna.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan minat dan prestasi
Belajar siswa Pada mata Pelajaran IPA kompetensi penyesuaian diri Makhluk Hidup terhadap
lingkunmgan, di kelas V SD. Tujuan penelitian tindakan kelas adalah meningkatkan minat dan
prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA kompetensi penyeuaian makhluk hidup di kelas V SD.
Suatu penelitian tentunya diharapkan mempunyai kegunaan atau manfaat bagi berbagai pihak,
antara lain: Membantu guru dalam usaha menemukan bentuk pembelajaran , Penelitian dapat
dijadikan sebagai tolak ukur serta inovasi dalam pengelolaan pendidikan di sekolah, serta sebagai
motivasi untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan di sekolah. Selain itu juga sebagai suatu
usaha dalam rangka mencapai tujuan. Sedang bagi siswa bermanfaat untuk memotivasi siswa yang
dimungkinkan dapat mendorong penigkatankreativitas, aktivitas, prestasi atau hasil belajar, baik
ketika ia masih di bangku sekolah maupun setelah mereka kembali ke keluarga ataupun masyarakat.
2
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar & Menengah
Vol. 6. No. 5, Oktober. (2016)
METODE PENELITIAN
Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas V semester I SD Negeri
Lemahabang 01 Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilakukan selama kurang
lebih 6 bulan yaitu mulai tanggal 01 Agustus sampai dengan 31 Desember 2014, Siswa yang menjadi
subjek penelitian ini berjumlah 62 orang siswa, yang terdiri dari 28 orang laki-laki dan 34 orang
perempuan. Penelitian ini dilaksanakan oleh Ibu Ani Yuliastuti, S.Pd.M.Pd., selaku kepala sekolah
dan observer. Kelas yang dijadikan tempat penelitian ini adalah Kelas V.
1. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian Tindakan Kelas terhadap pembelajaran IPS kompetensi penyesuaian
makhluk hidup dengan lingkungannya akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Dalam
setiap siklus terdapat empat fase yang meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3)
melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan
dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan minat belajar siswa tentang
pembelajaran IPA kompetensi dasar penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya.
Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari
(Prasiklus). Sedang fase pada siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama. Dengan cara
demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya
penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi adalah
teknik observasi, teknis tes, dan angket/Quesioner. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh
data pembelajaran IPA yang akan disajikan dalam deskripsi hasil penelitian. Teknis tes digunakan
untuk mengumpulkan data hasil tes, sedang teknik angket digunakn untuk mengetahui sejauh mana
minat siswa terhadap pembelajaran.
3. Teknik Pengolahan Data
Pada setiap akhir pembelajaran setiap pertemuan dan setiap siklus peneliti melakukan analisis
data hasil pengamatan dan data hasil tes. Kegiatan mereduksi data adalah kegiatan membuang data
yang tidak relevan dengan pedoman observasi dan mencatat data yang dapat digunakan untuk
laporan hasil penelitian. Kegiatan mengorganisasikan data adalah kegiatan mengurutkan atau
mendeskripsikan data secara kronologis sesuai dengan urutan kegiatan pembelajaran.
Selanjutnya, data yang telah diorganisasikan tersebut dijadikan bahan laporan hasil penelitian.
Bahan laporan tersebut disusun secara sistematis yang berupa deskripsi pembelajaran atau hasil
penelitian. Data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar adalah data hasil tes siklus
pertama dan siklus kedua. Data-data tersebut berupa angka, karena itu teknik pengolahan data yang
digunakan adalah teknik kuantitatif.
Hasil pengolahan hasil tes tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil
pengolahan data tersebut diperoleh peningkatan hasil belajar berarti hipotesis terbukti. Sebaliknya,
jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.
4. Indikator Kinerja
Dengan menerapkan Model Pembelajaran Learning Cycle (siklus belajar) diharapkan hasil
belajar pembelajaran IPA kompetensi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungan, akan
meningkat secara signifikan, sekurang-kurangnya rata-rata kelas mencapai angka 65,00 dan
prosentase ketuntasan minimal 75 %.
PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI
PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
Ani Yuliastuti
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. HASIL PENELITIAN
a. Hasil Observasi Siklus I Pertemuan ke-1 dan ke-2
Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan
pedoman observasi. Sebelum dilaksanakan observasi peneliti lebih dahulu menjelaskan tugas-tugas
observer serta cara menggunakan pedoman observasi. Hal ini dilakukan agar observer mampu
merekam data yang diperlukan dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran.
Hasil observasi terhadap pembelajaran siklus pertama, dideskripsikan sebagai berikut.
1. Kegiatan Awal ( 10 menit)
Pada kegiatan apersepsi dan motivasi mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan.
Mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Menyampaikan manfaat materi
pembelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Menyampaikan garis besar cakupan
materi. Penyampaian kompetensi, rencana kegiatan, dan penilaian. Menyampaikan kompetensi yang
akan dicapai. Menyampaikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan (kegiatan kerja kelompok,
untuk bermain peran sebagai tamu atau tuan rumah). Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian.
2. Kegiatan Inti ( 120 menit)
Pada saat eksplorasi siswa dapat Memahami peta konsep hewan yang menyesuaikan dengan
lingkungannya. Mememahami penyesuaian diri hewan-hewan dalam memperoleh makanan.
Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan memfasilitasi peserta
didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
Pada saat elaborasi siswa melakukan tugas. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan
eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
Konfirmasi, guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama
siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.
3. Kegiatan Akhir (10 menit)
Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian
materi). Siswa melakukan perenungan (ada 3 hal yang mereka pelajari di hari ini, bagian yang sudah
mereka pahami dengan baik, bagian yang belum dipahami, apa manfaat yang mereka peroleh, serta
apa yang mereka ingin ketahui lebih lanjut). Melakukan penilaian hasil belajar. Mengajak semua
siswa berdoa menurut keyakinan masing-masing.
4. Hasil Refleksi Siklus I
Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus I pertemuan ke-2 dapat
dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 72, KKM yang telah ditetapkan
yaitu 65 Jadi nilai rata-rata mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 9 siswa tuntas atau
sekitar 75 % dan yang belum tuntas ada 3 siswa atau 25 %. Bila dilihat dari hasil analisis pembelajaran
prasiklus yang mencapai 33 %, sudah ada ada peningkatan 42 %.
5. Penyebab Kegagalan dan Solusinya
Dalam pembelajaran masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru,
malu bertanya, tidak aktif dalam kerja kelompok. Belum memahami tugas yang diberikan dalam
kegiatan kerja kelompok.
4
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar & Menengah
Vol. 6. No. 5, Oktober. (2016)
Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan
motivasi baik secara individu maupun kelompok agar mereka turut aktif dalam kegiatan
pembelajaran, dan memperbanyak tanya jawab dengan teman. Selanjutnya solusi ini akan digunakan
untuk memperbaiki RPP siklus I menjadi RPP siklus II.
b. Hasil Penelitian Siklus II
1. Kegiatan Awal ( 10 menit)
Apersepsi dan motivasi. Mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan. Mengaitkan
materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Menyampaikan manfaat materi pembelajaran
yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Menyampaikan garis besar cakupan materi.
Penyampaian kompetensi, rencana kegiatan, dan penilaian. Menyampaikan kompetensi yang akan
dicapai. Menyampaikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan (kegiatan kerja kelompok,).
Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian.
2. Kegiatan Inti ( 120 menit)
Dalam kegiatan eksplorasi, guru siswa dapat Memahami peta konsep tumbuhan yang
menyesuaikan dengan lingkungannya. Memahami bahwa tumbuhan ada yang hidup di tanah, gurun
yuang kering dan panas dan di air. Memahami bahwa bentuk penyesuaian diri tumbuhan berbedabeda. Memahami bahwa tumbuhan menyesuaikan diri dari musuhnya. Melibatkan peserta didik
secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Dalam kegiatan elaborasi, guru melakukan tugas memfasilitasi peserta didik membuat
laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa
bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.
3. Kegiatan Akhir (10 menit)
Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian
materi). Siswa melakukan perenungan. Melakukan penilaian hasil belajar.
4. Hasil Refleksi Siklus II
Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus II Pertmuan ke-2 dapat
dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 80 KKM yang telah ditetapkan
yaitu 65. Jadi nilai rata-rata mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 12 siswa tuntas atau
sekitar 10%. Kalau dilihat dari hasil analisis pembelajaran Siklus I pertemuan ke-2 ketuntasan belajar
yang mencapai 75%, ada peningkatan 25%.
Dari hasil refleksi pembelajaran siklus I sampai siklus II pertemuan ke-2, maka peneliti sudah
merasa bahwa penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, sudah tidak perlu lagi dilanjutkan
ke siklus berikutnya, hal ini karena terbukti dari hasil analisis penilaian siklus I prtemuan k-2 dengan
siklus II pertemuan kedua, sudah terjadi selisih peningkatan ketuntasan belajar secara keseluruhan
yaitu dari 67 % menjadi 100 %.
Bila dari kondisi awal (prasiklus) ketuntasan belajar terlihat meningkat secara signifikan, yaitu
dari 33 %, ke 67 % di siklus I pertemuan ke-1 menjadi 75 % di siklus I pertemuan ke-2, dan meningkat
lagi di siklus II pertemuan ke-1 menjadi 92 %, dan 100% I pertemuan ke-2.
PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI
PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
Ani Yuliastuti
5
2. PEMBAHASAN
Setelah peneliti melaksanakan proses penelitian, dari mulai pra siklus, siklus I dilanjut siklus
II. Ternyata, terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dimana nilai ketuntasan siswa dalam
mengidentifikasi kegunaan benda di lingkungan sekitar meningkat. Hal tersebut terlihat dari hasil
ulangan harian sebagaimana disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 1. Tabel Hasil Ulangan Harian Pra Siklus
No
Uraian
Jumlah Siswa
Keterangan
1
Tuntas : 10 siswa
39 siswa
25 %
2
Belum tuntas : 30 siswa
39 siswa
75 %
Sumber : Hasil Analisis Data
Pada tabel diatas, siswa yang mendapat nilai diatas KKM sebesar 75 diperoleh sebanyak 10
dari 39 siswa. Sedangkan, yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 30 siswa. Hal ini berarti lebih
dari sebagian siswa belum memahami materi yang dipelajarinya. Kemudian, siswa yang belum tuntas
akan dilakukan treatment atau perbaikan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan
ketuntasan belajar mereka.
Setelah dilaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran yang terlaksana pada siklus I, maka
diperoleh hasil analisis I berupa nilai ulangan harian seperti dibawah ini.
Tabel 2. Tabel Hasil Ulangan Harian Siklus I
No
Uraian
Jumlah Siswa
Keterangan
1
Tuntas : 19 siswa
39 siswa
49 %
2
Belum tuntas : 20 siswa
39 siswa
51 %
Sumber : Hasil Analisis Data
Apabila dibandingkan dengan pra siklus, kegiatan pada siklus I dapat dikatakan meningkat.
Terlihat dari bertambahnya jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar. Hal ini didasari dari
keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Mereka lebih aktif dalam belajar menggunakan
kartu dan mencocokanya dengan fungsi masing-masing benda dalam gambar. Dari kejadian ini, dapat
diketahui bahwa mereka bosan dengan metode belajar yang selama ini mereka jalani. Dengan metode
baru ini, mereka merasa menemukan hal baru dengan belajar sambil bermain.
Keaktifan juga terlihat ketika guru mencoba mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari
jawaban mana yang benar tentang gambar yang tertera. Beberapa diantara mereka bersemangat
menjawab dengan suara lantang. Dengan begitu, metode GTR sekiranya mampu menanggulangi
permasalahan yang terjadi di kelas ini.
Namun, karena hasil yang diperoleh belum memenuhi indikator pencapaian kinerja, maka
perlu dilakukan siklus II. Dalam perencanaanya, gambar benda di lingkungan sekitar lebih
diperbanyak dan dibuat menarik. Karena, dari hasil pengamatan terlihat siswa bersemangat
mencocokan pasangan kartu dengan kegunaanya.
6
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar & Menengah
Vol. 6. No. 5, Oktober. (2016)
Inilah hasil analisis ulangan harian kedua setelah dilakukan perbaikan, dapat diketahui
melalui tabel 3. di bawah ini.
Tabel 3. Tabel Hasil Ulangan Harian Siklus II
No
Uraian
Jumlah Siswa
Keterangan
1
Tuntas : 36 siswa
39 siswa
92 %
2
Belum tuntas : 3 siswa
39 siswa
8%
Sumber : Hasil Analisis Data
Keberhasilan peneliti dalam menerapkan metode GTR dengan kartu telah mencapai kriteria
ketuntasan. Persentase jumlah siswa yang mencapai kriteria telah terpenuhi. Oleh sebab itu, siklus
berhenti sampai pada siklus II ini.
Hasil observasi diperoleh, bahwa pada siklus I sudah pasti menunjukan adanya peningkatan keaktivan
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran jika dibandingkan sebelum penerapan metode GTR.
Mereka lebih aktif dalam mencocokan pasangan kartu dan mau berdiskusi bersama untuk
mencocokan jawaban yang benar dengan guru tentang benda di sekeliling dan kegunaanya. Dalam
hal ini, perolehan skor keaktivan siswa dari hasil tabulasi data pada instrumen observasi menyatakan
56 % siswa cukup aktif. Sedangkan, hasil perolehan siklus II mengalami peningkatan kembali dengan
perolehan skor 86% yang menyatakan siswa sangat aktif. Tentu saja setelah dilakukan perbaikan yang
berkala pada tindakan siklus II yang mampu memberikan pengaruh keaktivan ini.
Berikut adalah grafik peningkatan prestasi dan keaktivan siswa yang dapat dicermati melalui
gambar berikut.
100
92
90
86
80
Persen (%)
70
56
60
49
50
prestasi
keaktivan
40
30
25
20
10
0
0
pra siklus
siklus I
siklus II
Gambar 1. Grafik peningkatan prestasi dan keaktivan siswa
.
PENERAPAN LEARNING CYCLE PADA MATERI
PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
Ani Yuliastuti
7
SIMPULAN
Berdasarkan uraian kegiatan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas, dapat
disimpulkan sebagai berikut.
1. Penerapan metode Give The Real (GTR) dengan bermain kartu dapat meningkatkan kompetensi
siswa pada pembelajaran IPA dalam mengidentifikasi kegunaan benda di lingkungan sekitar di
SD Negeri 02 Wiradesa Kab. Pekalongan.
2. Penerapan metode Give The Real (GTR) dengan bermain kartu benda di lingkungan sekitar dapat
meningkatkan ketuntasan belajar
DAFTAR PUSTAKA
-------. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Tingkat SD-MI untuk kelas 1. Jakarta : Depdiknas.
-------. 2007. Standart Penilaian Pendidikan. Jakarta : Depdiknas.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar IPS SD/MI. Jakarta : Diknas.
Cleave, Janice Van. 2001. Mengajarkan Keasyikan Sains. Bandung : Pakar Karya.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2007 tentang Standart
Isi Pendidikan SD/MI. Semarang : LPMP Jawa Tengah.
Djamarah, S. B. dan A. Zan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Indrastuti, dkk. 2007. Buana Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 6 SD. Bogor : Yudistira.
Lie, A. 2002. Cooperative Learning (Mempraktekkan Kooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta : Grasindo.
Slavin, R. E. 1994. Cooperative Learning Teori, Research and Pratktis. Busron : Ailya Baton.
8
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar & Menengah
Vol. 6. No. 5, Oktober. (2016)
Download