http://sumut.kemenag.go.id/

advertisement
http://sumut.kemenag.go.id/
URGENSI SUMBER BELAJAR DALAM PENDIDIKAN
Oleh Muhammad Siddik
Widyaiswara Madya
Balai Diklat Keagamaan Medan
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Sumber belajar sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai
bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari
kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format
perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh
siswa ataupun guru. Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda,
pesan, bahan, teknik dan latar.
Sumber belajar sangat urgen dalam proses belajar mengajar, sebab tanpa adanya
sumber belajar dalam proses pembelajaran tidak akan terjadi.
Pembahasan dalam makalah ini meliputi pengertian sumber belajar, proses
pembelajaran dan sumber belajar, pengadaan sumber belajar, macam-macam
sumber belajar, pemanfaatan sumber belajar dan peranan sumber belajar dalam
proses pembelajaran.
Diharapkan tulisan ini dapat membantu para guru untuk mengetahui pengertian
sumber belajar, proses pembelajaran dan sumber belajar, pengadaan sumber
belajar, macam-macam sumber belajar, pemanfaatan sumber belajar, peranan
sumber belajar dalam proses pembelajaran.
Kata kunci: Urgensi sumber belajar dalam proses belajar mengajar
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan aktivitas dan proses yang sistematis dan sistemik
yang terdiri dari beberapa komponen yaitu : guru, kurikulum, anak didik, fasilitas
dan administrasi. Masing-masing komponen tidak bersifat parsial (terpisah) atau
berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung,
komplementer dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan rancangan dan
pengelolaan belajar yang baik yang dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
1
http://sumut.kemenag.go.id/
Pada sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi
dalam proses pembelajaran. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alatalat atau media yang digunakan dalam pembelajaran, disamping itu guru mampu
menggembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan
digunakannya apabila media tersebut belum tersedia di sekolah.
Kenyataannya di atas menuntut guru di dalam melaksanakan tugasnya
sebagai perancang maupun pengelola pembelajaran untuk memiliki ketrampilan
dalam menyusun rencana pengajaran maupun melakukan interaksi dengan anak
didik, mengelola kelas, menggunakan sumber belajar termasuk didalamnya
menggunakan media pembelajaran. Untuk itu guru yang profesional memerlukan
pemahaman mengenai ilmu yang mendasari profesinya. Guru setidak-tidaknya
memiliki pengetahuan tentang karakteristik anak didik, mengetahui teori belajar,
rancangan pembelajaran, penyajian bahan ajar, penguasaan terhadap penggunaan
media pembelajaran dan melakukan penilaian hasil belajar.
Selanjutnya efektivitas pembelajaran juga berhubungan dengan kompetensi
yang berupa kemampuan menggunakan media pembelajaran yang yang
menunjang persiapan serta pelaksanaan tugas sebagai pendidik. Anak didik
belajar dari gurunya bukan saja dari apa yang secara langsung diajarkan, tetapi
juga dari media pembelajaran yang terlihat saat yang bersangkutan melaksanakan
proses belajar mengajar.
Guru yang mengharapkan proses dan hasil pembelajaran supaya efektif,
efisien dan berkualitas, semestinya memperhatikan faktor media pembelajaran
yang keberadaannya memiliki peranan sangat penting. Media pembelajaran
memiliki nilai praktis dan fungsi yang besar bagi pelaksanaan pembelajaran.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), orang juga
banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang
diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal
2
http://sumut.kemenag.go.id/
secara tidak terasa apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah
termasuk sumber belajar.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan
dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar
sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam
bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai
format
yang dapat
digunakan oleh siswa
ataupun guru. Sadiman
mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar
(Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
untuk Pembelajaran, makalah, 2004)
Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai
berikut:
a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat
melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu
dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar,
misalnya
perpustakaan,
pasar,
museum,
sungai,
gunung,
tempat
pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan
tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan
sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta
didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan
sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli
lainnya.
d. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman
elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh
peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku
pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
3
http://sumut.kemenag.go.id/
f. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan,
peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan
peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
Dengan demikian , sumber belajar itu merupakan bahan untuk menambah
ilmu pengetahuan yang mengandung hal -hal baru. Sebab pada hakekatnya
belajar adalah mendapatkan hal-hal yang baru.
2. Proses Pembelajaran dan Sumber Belajar
Istilah kegiatan “belajar”, “mengajar”, dan “pembelajaran” merupakan
istilah kegiatan yang tidak terpisahkan, meskipun ketiganya merupakan
kegiatan yang berbeda. Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada
kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu
dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika seorang guru menjelaskan
pelajaran di depan kelas maka terjadi kegiatan mengajar, tetapi dalam kegiatan
tersebut belum tentu terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa. Kegiatan
mengajar dikatakan berhasil jika dapat menghasilkan kegiatan belajar pada
diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk
membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya
menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Kegiatan inilah yang
disebut dengan peoses pembelajaran.
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat
belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak
menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya
bias berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Jadi
syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar yaitu
terjadinya interaksi antara pebelajar (learner) dengan sumber belajar.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan
menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang
merupakan bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya.
Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa
belajar. Peran penting yang harus dilakukan oleh guru dalam proses
pembelajaran adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi
secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Meskipun guru juga
4
http://sumut.kemenag.go.id/
merupakan salah satu sumber belajar bagi siswa, tetapi masih banyak lagi
sumber-sumber belajar yang lain yang dapat dimanfaatkan untuk terjadinya
proses pembelajaran.
3. Pengadaan Sumber Belajar
Pengelola madrasah (kepala madrasah dan guru) perlu memetakan tentang
sumber-sumber
belajar
yang
dibutuhkan
untuk
menunjang
proses
pembelajaran agar berjalan efektif. Bentuk sumber belajar pada dasarnya
tergantung pada kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru.
Sangat mungkin terjadi, bahwa sumber belajar pada mata pelajaran tertentu
berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Untuk itu, pengadaan sumber
belajar perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran dari setiap mata
pelajaran termasuk dalam hal ini mata pelajaran.
Untuk menentukan sumber belajar, paling tidak ada tiga langkah yang
perlu diperhatikan, yaitu:
a. Membuat daftar kebutuhan melalui identifikasi sumber dan sarana
pembelajaran yang diperlukan untuk kegiatan belajar mengajar di kelas
atau sekolah. Pengelola madrasah perlu membuat daftar inventarisasi
sumber dan sarana belajar yang tersedia di sekitar madrasah, baik yang ada
di madrasah seperti media pembelajaran, laboratorium, dan fasilitas yang
ada di dalamnya, masjid/mushala, maupun yang ada di luar madrasah,
seperti fasilitas di masyarakat yang tersedia di sekitar madrasah. Fasilitas
ini tidak sekedar yang berupa benda mati (non-human) namun juga bisa
yang berupa manusia seperti Tokoh agama (kiai/ustadz), lembaga
pengelola zakat dan shadaqah (ZIS), praktisi atau ahli tertentu di sekitar
madrasah yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses pembelajaran.
b. Setelah proses identifikasi dan inventarisasi tentang sumber belajar selesai,
perlu dilakukan penggolongan ketersediaan alat, bahan atau sumber belajar
tersebut. Tujuan dari penggolongan ini adalah untuk mengetahui
ketersediaan sumber belajar di sekitar madrasah. Dari proses ini akan
diketahui sumber belajar yang sebenarnya sangat diperlukan untuk
menunjang kegiatan belajar mengajar namun belum tersedia sehingga ada
5
http://sumut.kemenag.go.id/
upaya konkrit dari pengelola untuk mengadakannya, baik melalui
pembelian, pembuatan sendiri, maupun peminjaman.
c. Bila sumber belajar tersebut tersedia, maka para guru tinggal
memanfaatkannya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Apabila ditemukan sumber belajar yang sudah tersedia, namun belum
sepenuhnya dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran,
maka guru perlu memodifikasi atau menyesuaikan sumber belajar tersebut.
Berikut ini skema tentang alur pengadaan sumber belajar di madrasah.
4. Macam-macam Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda)
yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi
siswa. Sumber belajar ini bermanfaat dalam memberikan sumbangan yang
positif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Terdapat enam
macam sumber belajar yaitu :
a. Pesan, adalah pelajaran/informasi yang diteruskan oleh komponen lain
dalam bentuk ide, fakta, arti, dan data.
b. Orang, mengandung pengertian manusia yang bertindak sebagai
penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Tidak termasuk mereka yang
menjalankan funsgi pengembangan dan pengelolaan sumber belajar.
c. Bahan, merupakan sesuatu (bisa pula disebut program atau software) yang
mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh
dirinya sendiri.
d. Alat, adalah sesuatu (biasa pula disebut hardware) yang digunakan untuk
menyampaikan pesan yang tersimpan di dalam bahan.
e. Teknik, berhubungan dengan prosedur rutin atau acuan yang disiapkan
untuk menggunakan bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk
menyampaikan pesan.
f. Lingkungan, merupakan situasi sekitar di mana pesan diterima
(Mudhoffir, 1992:1)
Keenam sumber belajar tersebut juga merupakan komponen system dalam
pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu terdapat
keenam komponen tersebut.
6
http://sumut.kemenag.go.id/
Bahan-bahan
yang
merupakan
sumber
belajar
tersebut
perlu
dikembangkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya oleh sebuah badan/wadah
yang disebut Pusat Sumber Belajar agar dapat memberikan kemudahan dan
berfungsi secara optimal untuk proses pembelajaran. Ditinjau dari asal
usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar
yang dirancang (Learning resource by Design) yaitu sumber belajar yang
memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku
pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar
yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal
dimanfaatkan (Learning Resource by Utilization ) yaitu sumber belajar yang
tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat
ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan,
kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran
televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber
belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan untuk
keperluan belajar. Sekali lagi, guru hanya merupakan salah satu dari sekian
banyak sumber belajar yang ada. Bahkan guru hanya salah satu sumber
belajar yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium,
tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. Dilihat dari
segi fungsi dan perannya, terutama kemampuannya dalam melakukan
interaksi dan komunikasi dengan para peserta didik, sumber belajar dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu: alat peraga (teaching aids) atau alat
audio visual (audio-visual aids) dan media pembelajaran.
Sumber belajar dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi dan mampu
berinteraksi dengan peserta belajar dalam suatu kegiatan pendidikan dan
pembelajaran. Oleh sebab itu sumber belajar harus dikembangkan dan
dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan pembelajaran
yang akan dilaksanakan dan juga berdasarkan pada karakteristik para peserta
didik yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
7
http://sumut.kemenag.go.id/
5. Pemanfaatan Sumber Belajar
Hal berikutnya yang perlu dipikirkan oleh guru setelah sumber belajar
sudah tersedia adalah memanfaatkannya untuk kegiatan pembelajaran. Berikut
ini disampaikan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan
sumber belajar yang sudah tersedia.
a. Identifikasi kebutuhan sumber daya
Guru perlu melakukan identifikasi tentang sumber daya, terutama
manusia, yang tersedia untuk dapat memanfaatkan atau mengelola sumbersumber belajar demi pencapaian tujuan pendidikan. Sebab, ketersediaan
sumber belajar yang ada di sekitar madrasah tidak akan banyak berarti
tanpa ada dukungan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya.
b. Mengidentifikasi potensi sumber belajar yang ada dan dimanfaatkan untuk
pembelajaran
Selain persoalan ketersediaan sumber daya di madrasah, guru juga perlu
mengklasifikasikan sumber-sumber belajar tersebut agar mudah dalam
pemanfaatannya.
c. Pengelompokkan sumber belajar dalam kelompok
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa sumber belajar tidak hanya
dipahami sebagai sejumlah benda mati, namun juga berupa makhluk
hidup, termasuk manusia. Karena itu, upaya pengelompokkan sumber
belajar oleh guru akan sangat membantu dalam pemanfaatannya agar
sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Pengelompokan sumber
belajar antara lain dapat dilihat berikut ini:
1) Lingkungan alam
Sumber belajar ini berupa benda-benda alami yang ada di sekitar
madrasah, seperti batu, tumbuhan, sawah, sungai, dan sebaginya. Jenis
sumber belajar ini dapat dimanfaatkan untuk mengasah semua jenis
kecerdasan siswa, misalnya linguistik, logis-matematis, spasial,
musikal, kinestetis-jasmani, interpersonal, intrapersonal, dan natural.
2) Perpustakaan
8
http://sumut.kemenag.go.id/
Sumber belajar jenis ini berupa barang cetakan yang tersedia di
perpustakaan, seperti buku, majalah, jurnal, dan laporan-laporan
penelitian.
3) Media cetak
Media cetak yang dimaksud di sini tidak dalam pengertian yang sudah
tersedia di perpustakaan, namun media cetak yang ada di luar,
misalnya koran, majalah, dan buku.
4) Nara sumber
Sumber belajar dapat berupa orang yang ahli atau praktisi di berbagai
bidang
yang
dapat
dimanfaatkan
untuk
menunjang
kegiatan
pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang dicapai. Jenis sumber
belajar ini antara lain: ahli agama (kiai/ustadz, muballigh), bankir,
dokter, petani, pedagang, polisi, militer, dan seterusnya. Mereka
sesekali dapat dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran, baik dengan
cara berkunjung ke tempat mereka bekerja maupun mendatangkannya
ke madrasah.
5) Karya siswa
Sumber belajar jenis ini adalah sejumlah media yang diciptakan oleh
siswa, misalnya lukisan, kaligrafi, kliping, peta, dan alat peraga lain.
6) Media elektronik
Sumber belajar jenis ini berupa alat elektronik, baik dibuat sendiri
maupun yang sudah tersedia, misalnya radio, televisi, komputer,
internet, dan antena parabola.
d. Mencari dan menganalisis relevansi antara kelompok sumber belajar
dengan mata pelajaran.
Langkah berikutnya setelah mengelompokkan sumber-sumber belajar
yang tersedia di sekitar madrasah adalah mengaitkan kelompok sumber
belajar tersebut dengan mata pelajaran yang diampu oleh guru. Dalam hal
ini sangat mungkin terjadi bahwa satu mata belajaran menggunakan lebih
dari satu kelompok sumber belajar. Mata pelajaran dapat menggunakan
media elektronik, narasumber, media cetak, perpustakaan, dan alam
sekitar.
9
http://sumut.kemenag.go.id/
e. Menentukan materi dan kompetensi untuk pembelajaran
Langkah berikutnya yang perlu dicermati adalah menentukan materi dan
kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran yang harus dikuasai oleh
siswa. Penggunaan sumber belajar pada dasarnya untuk mendukung
pencapaian kompetensi ini. Kompetensi yang dimaksud disini mencakup
penguasaan pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding),
keterampilan (skill), nilai (value), sikap (attitude), dan minat (interest).
f. Pemanfaatan
sumber-sumber
belajar
dalam
pembelajaran
Setelah
penentuan materi dan kompetensi dari setiap mata pelajaran dilakukan,
maka langkah berikutnya adalah memanfaatkan sumber belajar yang
tersedia untuk dapat mencapai kompetensi yang diinginkan.
g. Multimedia Teknologi baru khususnya multimedia memiliki peranan
semakin penting dalam pembelajaran. Teknologi pembelajaran melihat
prospek yang bagus bagi pendidikan masa depan dimana “onlineteaching” “e-learning” “virtual classrooms” dan “laptop universities”
memegang pernaanyang semakin penting. Diyakini bahwa multimedia
akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana “learning with
effort” akan dapat digantikan dengan “learning with fun” Jika situasi
belajar semacam ini tidak terjadi, maka multimedia sekurang kurangnya
dapat membuat belajar menjadi lebih efektif.
Multimedia yang dimaksudkan disini adalah gabungan beberapa alat alat
tkenik (misalnya, komputer, memori elektronik, jaringan informasi, dan
alat alat display) yang dapat menyajikan informasi melalui berbagai format
(seperti teks, gambar nyatata atau grafik) dan melalui multi saluran
sensorik.
Multimedia dimasa depan, bahkan masa kini telah menjadi bagian dari
upaya peningkatan kemampuan seseorang dalam menerima materi
pembelajaran secara efektif. Untuk itu multimedia adalah informasi
terkahir yang satu saat nanti telah menjadi sejarah maka harus diikuti
perkembangannya.
10
http://sumut.kemenag.go.id/
6. Peranan Sumber Belajar dalam Proses Pembelajaran
Sumber belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran
yang dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut:
a. Peranan sumber belajar dalam pembelajaran individual
Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan
sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat
pembelajaran individual adalah pada peserta didik, sedang guru
mempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator.
Dalam pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda,
yaitu:
1) Front line teaching method, dalam pendekatan ini guru berperan
menunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari.
2) Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalized
system of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber
berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual.
3) Metode proyek, peranan guru cenderung sebagai penasehat dibanding
pendidik, sehingga peserta didiklah yang bertanggung jawab dalam
memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.
4) Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Klasikal
Pola komunikasi dalam belajar klasikal yang dipergunakan adalah
komunikasi langsung antara guru dengan peserta didik. Hasil belajar
sangat tergantung oleh kualitas guru, karena guru merupakan sumber
belajar utama. Sumber lain seolah-olah tidak ada peranannya sama sekali,
karena frekuensi belajar didominari interaksinya dengan guru.
Pemanfaatan sumber belajar selain guru, sangat selektif dan sangat
ketat di bawah petunjuk dan kontrol guru. Di samping itu guru sering
memaksakan penggunaan sumber belajar yang kurang relevan dengan ciriciri peserta didik dan tujuan belajar, hal ini terjadi karena sumber belajar
yang tersedia terbatas. Peranan Sumber Belajar secara keseluruhan seperti
terlihat dalam pola komunikasinya selain guru rendah. Keterbatasan
11
http://sumut.kemenag.go.id/
penggunaan sumber belajar terjadi karena metode pembelajaran yang
utama hanyalah metode ceramah.
Menurut Percipal and Ellington (1984), bahwa perhatian yang penuh
dalam belajar dengan metode ceramah (attention spannya) makin lama
makin menurun drastis. Misalnya, dalam 50 menit belajar, maka pada awal
belajar attention spannya berkisar antara 12-15 menit, kemudian makin
mendekati akhir pelajaran turun menjadi 3-5 menit.
Di samping itu British Audio Visual Association (1985), menyatukan
bahwa 75 % pengetahuan diperoleh melalui indera penglihatan, 13 %
indera pendengaran, 6 % indera sentuhan dan rabaan dan 6 % indera
penciuman dan lidah. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
perusahaan SOVOCOM COMPANY di Amerika dalam Sadiman (1989:
155-156), tentang kemampuan manusia dalam menyimpan pesan adalah :
verbal (tulisan) 20%, Audio saja 10%, visual saja 20%, Audio visual 50%.
Tetapi kalau proses belajar hanya menggunakan methode (a) Membaca
saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10% (b) Mendengarkan
saja pengetahuan yang mengendap hanya 20%. (c) Melihat saja
pengetahuan yang mengendap bisa 50%. Dan (e) Mengungkapkan sendiri
pengetahuan yang mengendap bisa 80%. (f) Mengungkapkan sendiri dan
mengulang pada kesempatan lain 90%.
Dari penjelasan tersebut diatas, bahwa guru harus pandai memilih dan
mengkombinasikan metode pembelajaran dengan belajar yang ada.
7. Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Kelompok
Pola komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam
bukunya “Educational Technologi in Curriculum Development” (1982),
menyajikan dua pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar
yaitu pola:
a. Buzz sessions (diskusi singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta
didik untuk didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang
digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya.
12
http://sumut.kemenag.go.id/
b. Controllet discussion (diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya
antara lain adalah bab dari suatu buku, materi dari program audio visual,
atau masalah dalam praktek laboratorium.
c. Tutorial adalah belajar dengan guru pembimbing, sumber belajarnya
adalah masalah yang ditemui dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab
dari buku, topik masalah dan tujuan instruksional tertentu.
d. Team project (tim proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar
anggota kelompok dengan cara mengenai suatu proyek oleh tim.
e. Simulasi (persentasi untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya).
f. Micro teaching, (proyek pembelajaran yang direkam dengan video).
g. Self helf group (kelompok swamandiri)
C. PENUTUP
Kesimpulan
Pendidikan dan pembelajaran terus mengalami perubahan, perubahan itu
akibat tuntutan dari kebutuhan masyarakat maupun juga akibat dari kemajuan
teori-teori dari pembelajaran. Terdapat hubungan signifikan antara berbagai
temuan dalam bidang pembelajaran dengan tuntutan masyarakat, yang pada
gilirannya akan menghasilkan formula-formula baru dalam kegiatan
pendidikan dan pembelajaran.
Media pembelajaran melihat bahwa perubahan harus diikuti dan dijadikan
bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kegiatan pembelajaran dengan
satu makna yakni; mempermudah orang belajar. Belajar dengan cara mudah
dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, baik itu dari materi, kemampuan
pendidik, kesiapan peserta belajar, serta penciptaan suasana agar menjadi
nyaman.
Penciptaan suasana memerlukan sistem, material, nilai dan lain
sebagainya, disinilah media pembelajaran dihadirkan untuk dikaji dan
dikembangkan. Sistem artinya perlu aturan aturan tertentu yang harus dipatuhi
sehingga suasana dapat menjadi menyenangkan peserta didik untuk belajar,
material artinya diperlukan bantuan alat, benda atau bahan hasil teknologi
yang mampu memberikan kemudahan peserta didik mengakses informasi dari
13
http://sumut.kemenag.go.id/
sumber belajar sebanyak mungkin, kemudian nilai dalam hal ini diperlukan
satu tatanan kaidah yang menjadi kontrol bagi upaya pengadaan, pemilihan,
penggunaan serta pengendalian dari media sebagai bagian dari pengembangan
pembelajaran.
Media pembelajaran yang berawal dari upaya mempermudah orang
belajar, kemudian menjadi alat, instrumen untuk membantu peserta didik belajar,
kemudian mempunyai nilai yang strategis dalam hal mengefektifkan dan
mengefisiensikan kegiatan pembelajaran.
REFERENSI
AECT. 1977. Definisi Teknologi Pendidikan. (Diterjemahkan oleh PAU di
Belajar (MSB). 26 Oktober 2008 .
file:///D:/pengembangan-media-dan-sumber-belajar.html
http: // id.wordpress.com/tag/makalah. Sumber Belajar untuk Mengefektifkan
http: // www.freewebs.com/Hijrahsaputra/catatan/manajemen.htm. Manajemen
Pembelajaran Siswa. Diterbitkan April 15, 2008 .
Seels,B. and Richey,C.1994. Teknologi Pembelajaran. (Diterjemahkan oleh
Universitas Terbuka). Penerbit Manajemen PT. Grafindo Persada.
Jakarta.
Yusufhadi Miarso, dkk. Universitas Negeri Jakarta.
14
Download