bab ii sanksi tindak pidana pencurian menurut konsep sariqah

advertisement
BAB II
SANKSI TINDAK PIDANA PENCURIAN MENURUT KONSEP
SARIQAH DALAM FIKIH JINAYAH
A. Tindak Pidana Pencurian Dalam Fikih Jinayah
Pencurian /sariqah apabila ditinjau dari segi hukumannya dibagi menjadi
dua: pencurian/sariqah yang diancam hukuman had dan pencurian/sariqah yang
diancam dengan hukuman ta’zir.
Pencurian /sariqah yang dihukuman had dibagi menjadi dua: Sariqah
Sugra ( pencuri kecil/biasa) dan sariqah kubra ( pencuri besar/ pembegalan) yang
sering dikenal dengan istilah hirabah.
Adapun yang dimaksud dengan pencurian kecil secara terminologis
adalah: Menurut Abd al Qadir Audah Pencurian kecil adalah mengambil harta
orang lain secara sembunyi-sembunyi sedangkan menurut al Sayid Sabiq yaitu,
pencurian kecil adalah pencurian yang wajib divonis dengan potongan tangan.
Sedangkan yang dimaksud dengan pencurian besar secara terminologis
menurut Abd al Qadir Audah dan al Sayid Sabiq yaitu,pencurian besar adalah
mengambil harta orang lain dengan kekerasan dan ini disebut juga dengan
merampok atau begal.1
1
Sayyid Sabiq, fiqih Sunnah 9, (Bandung: al- ma’arif, 1987 ). 247.
Syarat-syarat Pencuri Menurut al Sayid Sabiq, bahwa syarat- syarat
pencuri yang divonis dengan sanksi potong tangan adalah sebagai berikut:
1.
Taklif (cakap hukum)
Yaitu, pencuri tersebut sudah balig dan berakal maka tidak divonis
potong tangan pencuri gila, anak kecil, karena keduanya tidak mukalaf, tapi
anak kecil yang mencuri dapat sanksi yang bersifat mendidik (ta’zir). Dan
Islam tidak menjadi syarat bagi pencuri karena apabila kafir dzimi atau
orang murtad mencuri, maka divonis potong tangan begitu sebaliknya.
2.
Kehendak sendiri atau Ikhtiar
Yaitu, bahwa pencuri tersebut mempunyai kehendak sendiri
Seandainya ia terpaksa untuk mencuri, maka tidak dianggap sebagai
pencuri, karena paksaan meniadakan ikhtiar tidak adanya ikhtiar
menggugurkan taklif.
3.
Sesuatu yang dicuri itu bukan barang syubhat
Yaitu sesuatu yang dicuri itu bukan barang Syubhat, jika barang
tersebut syubhat, maka pencuri itu tidak divonis potong tangan, oleh karena
itu orang tua (Bapak-Ibu) yang mencuri harta anaknya, tidak divonis potong
tangan, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW: kamu dan hartamu
milik Bapakmu.2
2
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, Cet. Ke-5,1993,). 1
Dalam fikih jinayah hukuman potong tangan terhadap pencuri hanya
dijatuhi apabila atau dilakukan apabila telah memenuhi beberapa unsur-unsur
atau rukun tertentu. Unsur- unsur pencurian di bagi menjadi empat macam,
yaitu sebagai berikut:3
1.
Pengambilan secara diam-diam atau sembunyi Pengambilan secara diamdiam terjadi apabila pemilik (korban) tidak mengetahui terjadinya barang
tersebut dan ia tidak merelakannya. Contohnya, mengambil barang-barang
milik orang lain dari dalam rumahnya pada malam hari ketika ia (pemilik)
sedang tidur
2.
Barang yang diambil berupa harta Salah satu unsur yang penting untuk
dikenakannya hukuman potong tangan adalah bahwa barang yang dicuri itu
harus barang yang bernilai mal (harta) ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi untuk dapat dikenakan hukuman potong tangan, syarat-syarat
tersebut adalah:
a.
Barang yang dicuri harus Mal Muttaqawin, Yaitu barang yang
dianggap bernilai menurut syara'. Menurut imam Syafi'i, Maliki' dan
Hambali bahwa yang dimaksud dengan benda berharga adalah benda
yang dimuliakan syara', yaitu bukan benda yang di haramkan oleh
syara' seperti khamr babi, anjing, bangkai, dan seterusnya, kareana
benda-benda tersebut menurut Islam dan kaum Muslimin tidak ada
3
Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam; Penegakan Syari’at dalam Wacana dan Agenda ,
(Jakarta: Gema Insani Press, 2003), 20.
harganya. Karena mencuri benda yang diharamkan oleh syara', tidak
dikenakan sanksi potong tangan.hal ini diungkapkan oleh Abdul Qodir
Audah bahwa tidak divonis potong tangan kepada pencuri anjing
terdidik (halder) maupun anjing tidak terdidik, meskipun harganya
mahal karena haram menjual belinya.4
b.
Barang tersebut harus barang yang bergerak. Untuk dikenakan
hukuman had bagi pencuri maka disyaratkan barang yang dicuri harus
barang atau benda yang bergerak. Suatu benda dapat dianggap sebagai
benda bergerak apabila benda tersebut bisa dipindahkan dari satu
tempat ke tempat yang lainnya.
c.
Barang tersebut harus barang yang tersimpan. Jumhur fuqaha
berpendapat bahwa salah suatu syarat untuk dikenakannya hukuman
had bagi pencuri adalah bahwa barang yang dicuri harus tersimpan
ditempat simpanannya. Sedangkan zahiriyyah dan muhaditsin tetap
memberlakukan hukuman had walaupun pencurian bukan dari tempat
simpanannya apabila barang yang dicuri mencapai nishab yang dicuri.
d.
Barang tersebut mencapai nishab pencurian. Tindak pidana pencurian
baru dikenakan hukuman bagi pelakunya apabila barang yang dicuri
mencapai nishab pencurian. Nishab harta pencurian yang dapat
mengakibatkan hukuman had ialah ¼ Dinar (kurang lebih seharga
4
Abdul Qodir Audah, al-Tasyri’ al-Jina’y al-islami, (Beirut: Dar Al-Kitab al- Arabi,tt), 67
emas 1,62 gram), dengan demikian harta yang tidak mencapai nishab
tidak dapat dipikirkan kembali, disesuaikan dengan keadaan ekonomi
pada suatu tempat.5
3.
Harta tersebut milik orang lain
Untuk terwujudnya tindak pidana pencurian yang pelakunya dapat
dikenai hukuman had, disyaratkan barang yang dicuri itu merupakan barang
orang lain. Dalam kaitannya dengan unsur ini yang terpenting adalah barang
tersebut ada pemiliknya dan pemiliknya itu bukan si pencuri melainkan
orang lain dengan demikian apabila barang tersebut tidak ada pemiliknya
seperti benda-benda yang ubah maka pengambilannya tidak dianggap
sebagai pencurian, walaupun dilakukan secara diam-diam Demikian pula
halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman apabila terdapat subhat
(ketidak jelasan). Dalam barang yang dicuri. Dalam hal ini pelakunya hanya
dikenai hukuman ta'zir contohnya seperti pencurian yang dilakukan oleh
orang tua terhadap harta anaknya. Dalam kasus ini, orang tua dianggap
memiliki bagian harta anaknya , sehingga terhadap syubhat dalam hak
milik.6
Dengan demikian pula halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman
had apabila ia mencuri harta yang dimiliki bersama sama dengan orang yang
menjadi korban, karena hal itu dipandang sebagai syubhat pendapat ini
5
6
Umar Shihab, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, (Bogor: Karisma Ilmu, 2003), 77-78
Ibid.,123
dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan golongan Syi'ah akan
tetapi menurut Imam Malik dalam kasus pencurian harta milik bersama, pencuri
tetap dikenai hukuman hadd apabila pengambilannya itu mencapai nisab
pencurian yang jumlahnya lebih besar daripada hak miliknya.
yang jumlahnya lebih besar daripada hak miliknya. Ahmad dan golongan
Syi,ah Zaidiyah, sama hukumannya dengan pencurian hak milik bersama karena
dalam hal ini pencuri dianggap mempunyai hak sehingga hal inin juga dianggap
syubhat. Akan tetapi menurut Imam Malik pencuri tetap dikenai hukuman had.7
Adanya niat yang melawan hukum (mencuri) unsur yang keempat dari
pencurian yang harus dikenai hukuman hadd adalah adanya niat melawan hukum.
Unsur ini terpenuhi apabila pelaku pencurian mengambil suatu barang bahwa ia
tahu bahwa barang tersebut bukan miliknya, dan karena haramnya untuk diambil.
Dengan demikian dan karenanya dalam hal ini tidak ada maksud untuk melawan
hukum. Demikian pula halnya pelaku pencurian tidak dikenai hukuman apabila
pencurian tersebut dilakukan karena terpaksa(darurat) atau dipaksa orang lain hal
ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-baqorah ayat 173;
tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia
tidak menginginkanya dan tidak (pula)melampaui batas maka tidak ada dosa
baginya. Sesungguhnya allah maha pengampun lagi maha penyayang. (qs.alBaqaroh; 173).
7
Abdul Qodir Awdah, Al-Tasyri’ Al-Jina’y Al-Islami, (Beirut: Muassasash al Risalah,tt) Juz I, 79
B. Hukuman Untuk Tindak Pidana Pencurian
Apabila tindak pidana pencurian dapat dibuktikan dan melengkapi
segala unsur dan syarat-syarat maka pencurian itu akan dijatuhi dua hukuman
yaitu:
1. Pengganti kerugian (Dhaman)
Menurut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad, hukuman potong tangan dan
penggantian kerugian dapat dilaksanakan bersama- sama. Alasan mereka
adalah bahwa dalam perbuatan mencuri terdapat dua hak, yaitu hak
Allah sedangkan penggantian kerugian dikenakan sebagai imbangan dari
hak manusia.8
Menurut Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya penggantian
kerugian dapat dikenakan terhadap pencurian apabila ia tidak dikenakan
hukuman potong tangan. Akan tetapi apabila hukuman potong tangan
dilaksanakan maka pencuri tidak dikenakan hukuman untuk pengganti
kerugian. Dengan demikian menurut mereka, hukum potong tangan dan
penggantian kerugian tidak dapat dilaksanakan sekaligus bersama-sama.
Alasan bahwa Al-quran hanya menyebutkan hukuman potong tangan
untuk tindak pidana pencurian, sebagaimana tercantum dalam surat AlMaidah ayat 38, dan tidak menyebutkan penggantian kerugian.
8
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, Cet. Ke-5, 1993), 7-8
2. Hukuman potong tangan
Hukuman potong tangan merupakan hukuman pokok, sebagaimana
tercantum dalam surah Al-Maidah ayat 38- 39:
ِ ِ ِ ِ َ‫َفَمنَت‬.َ‫سا ِر ُقَوال ّسا ِرقَةَُفَاقْطَعواَأَي ِدي هماَجزاء َِِبَاَ َكسباَنَ َك ًاًلَ ِّمنَالّلّ ِهََۗوالّلّهَع ِزيزَح ِكيم‬
َ‫َصّلَ َح‬
ْ ‫ابَِمنَبَ ْعد َظُّلْمه ََوأ‬
َ
ََ
َ ٌ َ ٌَ ُ َ
َ َّ ‫َوال‬
َ
ً ََ َ َُ ْ ُ
ِ ‫فَِإ ّّنَالّلّهَي توبَعّلَي ِهََۗإِ ّّنَالّلّهَ َغ ُف‬
َ‫يم‬
ْ َ ُ َُ َ
ٌ َ
ٌ ‫ورَ ّرح‬
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan
keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan
sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu)
sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka
sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang (QS.5 (Al-Maidah): 38-39)
Hukuman potong tangan dikenakan terhadap pencurian dengan teknis
ulama' madzhab empat berbeda-beda. Cara yang pertama, memotong tangan
kanan pencuri pada pergelangan tanganya. Apabila ia mencuri untuk kedua
kalinya maka ia dikenakan hukum potong kaki kirinya. Apabila ia mencuri
untuk tiga kalinya maka para ulama' berbeda pendapat. Menurut Imam Abu
Hanifah, pencurian tersebut dikenai hukuman ta'zir dan dipenjarakan,
sedangkan Imam yang lainnya, yaitu menurut Imam Malik, Imam Ahmad,
dan Imam Syafi'i pencuri tersebut dikenakan potong tangan kirinya, apabila
pencuri itu masih mencuri yang keempat kalinya maka dikenai hukuman
Ta'zir dan penjara seumur hidup (sampai mati) atau sampai ia bertaubat.9
9
Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, Cet-2, 2005), 248-249
Adapun ketetapan untuk memotong tangan pencuri yang mengambil
tiga dirham atau lebih serta tidak menerapkan hukuman seperti itu pada
pencopet atau pada orang yang merampas harta orang lain, karena pencuri
tidak mungkin dihindari( perbuatannya). Andaikata tidak ditetapkan hukuman
potong tangan bagi pencuri, niscaya pencurian akan merajalela dan manusia
akan saling mencuri satu sama lain. Berbeda dengan perampokan dan
pencopet, perampuk adalah orang yang mengambil hak orang lain secara
terang-terangan dihadapan khalayak, sehingga memungkinkan bagi orangorang yang meliahat kejadian itu untuk menangkapnya, lalu mengambalikan
harta yang di zhalimi atau menjadi saksi atas kejadian itu di depan mahkamah.
Sedangkan pencopet, sesungguhnya ia hanya dapat mengambil harta disaat
pemiliknya lengah, sehingga ada sedikit unsur kecerobohan dari sang pemilik
harta.
Adapun ketetapan untuk memotong tangan pencuri yang mencuri yang
mencuri barang senilai seperempat dinar, lalu menetapkan ganti rugi atas
terpotongnya sebuah tangan tangan tanpa senganja senilai lima ratus dinar,
juga termasuk diantara bukti-bukti keagungan maslahat dan hikmah yang
dikandung oleh syariat islam. Karena, dalam kedua hal itu syariat telah
memberi perhatian serius pada dua sisi yang berbeda. Dalam masalah
pencurian, tangan itu dinilai seperempat.dinar demi menjaga keamanan
harta.sementara dalam masalah diyat( ganti rugi atas terpotongnya tangan
seseorang tanpa sengaja), tangan itu dinilai lima ratus dinar, yakni demi
menjaga keamanan tangan.
Adapun
pengkhususan
kadar
ini(serempat
dinar)
batasan
dperbolehkannya memotong tangan pencuri. Alasannya adalah, adanya suatu
kemestian untuk menetapkan kadar tertentu yang menjadi batasan
dilaksanakannya kewajiban untuk memotong tangan. Dan syariat tidak pernah
menetapkan hal yag seperti itu. Demikian pula hikmah ALLAH subhanahu wa
ta’ala dan rahmat serta kebaikannya sangat jauh dari hal-hal itu.10
Menurut riwayat, sejumlah budak mencuri seekor unta betina,
menyembelihnya dan memakannya beramai-ramai. Ketika persoalan ini
disampaikan pada Umar, seketika ia memerintahkan agar dilakukan
pemotongan tangan terhadap mereka, tetapi setelah termenung sesaat ia
berkata pada pemilik budak-budak itu: “Kuduga, kamu pasti telah membuat
budak-budak ini kelaparan”. Karena itu, ia memerintahkan pemilik budakbudak itu agar mengganti unta betina itu dengan dua kali harganya dan
mencabut perintah sebelumnya, yaitu pemotongan tangan terhadap
pencurinya.
Dalam kasus ini tampaknya Umar melanggar ayat Al-Qur’an yang
memerintahkan supaya memotong tangan pencuri. Tetapi bahwa Al-Qur’an
bungkam atas perincian penjatuhan hukuman potong tangan. Umar bin
10
Ibnu Taimiyah . Hukum Islam Dalam Timbangan Akal dan Hikmah, ( Bandung: Pustaka Azzam,
1975.). 157-161
Khathab telah mengubah hukum yang qath'i, yakni hukum potong tangan
DalAm hal ini Sunnah atau ra’yi untuk memutuskan kapan pemotongan
tangan dilaksanakan atau tidak
Umar bin Khatab ra sama sekali tidak mengubah status hukum
potong tangan bagi pencuri. Tetapi, yang sebenarnya, penerapan hukum itu
sendiri harus memenuhi sejumlah syarat. Ada beberapa dalil untuk itu.
Pertama, hadis riwayat As-Sarkhasi dari Mahkul bahwa Nabi SAW telah
berkata: Tidak ada potong tangan pada masa (tahun) paceklik yang teramat
sangat.11
Pencurian yang tidak memenuhi unsur-unsur pencurian dapat dikenai
hukuman ta’zir, pengertian ta'zir ialah memberi pengajaran (At-Ta'dib).
Tetapi untuk hukum Islam istilah tersebut mempunyai pengertian tersendiri.
Syara' tidak menentukan macam- macamnya hukuman untuk tiap-tiap
jarimah ta'zir, tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman, dari yang
seringan-ringannya sampi kepada yang seberat-beratnya. Dalam hal ini hakim
diberi kebebasan untuk memilih hukuman-hukuman mana yang sesuai
dengan macam-macam jarimah ta'zir serta keadaan si pembuatnya juga. Jadi
hukuman-hukuman jarimah ta'zir tidak mempunyai batas-batas tertentu.
Maksud pemberian hak penentuan jarimah-jarimah ta'zir kepada para
penguasa ialah agar mereka dapat mengatur masyarakat dan memelihara
11
Muhammad Abdul Aziz Al Halawi, Fatwa Dan Ijtihad Umar Bin Khattab, (Surabaya : Risalah
Gusti, 1999), 206
kepentingan-kepentingannya, serta bisa menghadapi sebaik- baiknya
terhadap keadaan yang mendadak. Perbedaan antara jarimah ta'zir yang
ditetapkan oleh para penguasa, ialah kalau jarimah ta'zir pertama tetap
dilarang selama-lamanya dan tidak mungkin akan menjadi perbuatan yang
tidak dilarang kapan pun juga. Akan tetapi jarimah ta'zir kedua bisa menjadi
perbuatan
yang
tidak
dilarang
manakala
kepentingan
masyarakat
menghendaki demikian. 12
Adapun bentuk dan macam-macam hukuman ta'zir adalah:
1.
Hukuman Jilid
Hukuman Jilid merupakan hukuman pokok dalam Syari'at Islam,
dimana untuk jarimah jarimah hudud sudah tertentu jumlahnya misalnya
seratus kali untuk zina dan delapan puluh kali untuk gadzaf untuk
jarimah jarimah ta'zir tidak tertentu jumlahnya. Bahkan untuk jarimah
jarimah ta'zir yang berbahaya, hukuman Jilid lebih diutamakan. Adapun
sebab-sebab diutamakannya hukuman tersebut dikarenakan; Pertama,
lebih banyak berhasil dalam memberantas orang-orang penjahat yang
biasa melakukan jarimah atau tindak pidana. Kedua, hukuman jilid
mempunyai dua batas, yaitu batas tertinggi dan batas terendah dimana
hakim bisa memilih jumlah Jilid yang terletak antara keduanya yang
lebih sesuai dengan keadaan pembuat. Ketiga, dari segi pembiayaan
12
Ahmad Hanafi,Asas-asas Hukum Pidana Islam,(Jakarta : Bulan Bintang, 1976),9
pelaksanaannya tidak merepotkan keuangan negara dan tidak pula
menghentikan
daya
usaha
pembuat
ataupun
menyebabkan
terlantar, sebab hukuman jilid bisa dilaksanakan seketika dan sesudah
itu pembuat bisa bebas. Keempat, dengan hukuman jilid pembuat
dapat terhindar dari akibat- akibat buruk penjara, seperti rusak akhlak
serta kesehatan dan membiasakan sikap mengaggur serta bermalasmalasan.13
2. Hukuman Kawalan (penjara kurungan)
Ada dua macam hukuman kawalan dalam syari' at Islam, yaitu
(a) Hukuman Kawalan Terbatas
Batas terendah bagi hukuman ini ialah satu hari, sedang batas setinggitingginya tidak menjadi kesepakatan. Ulama-ulama syafi'iyah menetapkan batas
tertinggi, yaitu satu tahun, karena mereka mempersamakannya dengan pengasingan
dalam jarimah zina. 14
(b) Hukuman kawalan tidak terbatas
Hukuman kawalan ini tidak ditentukan masanya terlebih dahulu, melainkan
dapat berlangsung terus sampai terhukum mati atau taubat dan baik untuk
pribadinya. 40 Orang yang dikenakan hukuman tersebut ialah penjahat yang
berbahaya atau orang-orang yang berulang kali melakukan jarimah-jarimah yang
13
14
Ibid.,306
Ibid.,308
berbahaya, atau orang-orang yang tidak tegas dijatuhi hukuman-hukuman biasa,
yang biasa melakukan jarimah pembunuhan, penganiayaan atau pencurian
3. Hukuman Ancaman (tahdid), Teguran (tanbih) dan Peringatan
Ancaman juga merupakan salah satu hukuman ta'zir, dengan syarat akan
membawa hasil dan bukan ancaman kosong. Antara lain dengan ancaman akan
dijilid atau dipenjarakan atau dijatuhi hukuman yang lebih berat, jika pembuat
mengulangi perbuatannya. Termasuk ancaman juga, apabila hakim menjatuhkan
keputusannya, kernudian menunda pelaksanaannya sarnpai waktu tertentu. Teguran
juga merupakan- hukuman ta'zir, kalau pembuat juga dijatuhi hukuman tersebut.
Hukuman tersebut pernah dijatuhkan oleh Rasulullah saw terhadap sahabat Abu
Zarr yang memaki- maki orang lain, kemudian dihinakan dengan menyebut-nyebut
ibunya. Dan teguran untuk Abdurrahman bin Auf yang juga memaki-maki seorang
hamba biasa. Hukuman peringatan (alwa'dhu) juga ditetapkan dalam Syari'at Islam
dengan jalan memberi nasehat.15
Ada hukuman yang lebih ringan daripada itu, yaitu disiarkannya nama
pembuat atau dihadapkannya ke muka pengadilan. Pada masa dahulu penyiaran din
pembuat diadakan dengan jalan memanggil-manggil namanya dipasar-pasar atau
ditempat tempat umum. Akan tetapi pada masa sekarang penyiaran tersebut
diadakan dengan jalan mengumumkan keputusan hakim di surat-surat kabar atau
ditempat- tempat umum.
15
Ibid,315
5. Hukuman Pengucilan (al Hajru)
Di antara hukuman ta'zir dalam Syari'at Islam ialah pengucilan sebagai
hukuman terhadap istri yang dinyatakan dalam firman Allah:
Yang artinya "Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah diri dan tempat mereka
".(QS. An Nisa' : 34).
Rasulullah saw pernah menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap tiga
orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk, yaitu Ka'ab bin Malik,
Mirarah bin Bai'ah dan Hilal bin Umayah. Mereka dikucilkan selama lima
puluh hari tanpa diajak bicara
4. Hukuman Denda (al-Gharamah)
Hukuman denda ditetapkan juga oleh Syari'at Islam Antara lain,
mengenai pencurian buah yang masih tergantung dipohonnya yang didenda
dengan dua kali lipat harga buah tersebut.16
16
Ibid,
Download