laporan praktikum imunologi pemeriksaan golongan darah a, b, ab

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI
PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH A, B, AB, O & RHESUS
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V-A/ GANJIL
NUR ALIMIN [0901037]
ASISTEN :
ALIFIANA ANGGRAINI
ONA SISCANOVA
DOSEN PEMBIMBING :
Dra. SYILFIA HASTI, M.Farm., Apt.
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
PEKANBARU
2012
PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH A, B, AB, O & RHESUS
1. TUJUAN PERCOBAAN
– Mengetahui cara pengerjaan pemeriksaan golongan darah A, B, AB, O
– Mengetahui cara pengerjaan pemeriksaan golongan darah Rhesus
– Menentukan golongan darah
– Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada pemeriksaan golongan
darah melalui analisa secara biokimiawi klinis
– Memahami prinsip penggolongan darah A, B, AB, O dan Rhesus
melalui analisa secara biokimiawi klinis
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Golongan darah ABO
Sejarah perkembangan golongan darah
Sejak ratusan tahun yang lalu ahli-ahli telah berpendapat, bahwa
penderita-penderita yang kekurangan darah seperti orang-orang yang mengalami
perdarahan yang hebat, seperti akibat kecelakaan, peperangan, persalinan atau
penyakit-penyakit perdarahan dapat ditolong dengan penambahan darah ke dalam
tubuh penderita tersebut.
Mula-mula William Harvey telah melakukan transfusi darah pada
penderita kekurangan darah, tetapi banyak menyebabkan kematian dan ada juga
yang berhasil secara kebetulan. Juga sudah pernah dicoba memindahkan darah
binatang, seperti darah kelinci, darah domba tetapi menyebabkan kematian.
Pernah dikakukan percobaan oleh dokter pribadi Raja Perancis Lwiss ke
XIV memberikan darah domba pada orang gila tersebut, karena dia berpendapat
dan orang beranggapan pada waktu itu domba bersifat peramah. Tetapi ternyata
mengakibatkan kematian, sehingga sejak itu dilarang untuk melakukan
pemindahan darah (transfusi darah).
Lalu pada Tahun 1900 Dr.Karl Landsteiner mengumumkan penemuannya
tentang golongan darah manusia. Sejak penemuan inilah pemindahan darah
(transfusi) darah ini tidak lagi berbahaya, sudah dapat menolong penderita-
penderita yang kekurangan darah. Dengan ditemukannya golongan darah oleh
Dr.Karl Landsteiner, dapatlah dijelaskan sebab – sebab kematian yang dulu akibat
dari transfusi darah. Pada penyelidikannya juga dia dapat menemukan zat-zat
yang dapat menghalangi pembekuan darah, sehingga darah yang diambil dari
tubuh tidak segera membeku. Selain itu dia menemukan, bahwa dengan
penambahan larutan glukosa ke dalam darah dapat memperpanjang hidup
Erythrocyt diluar tubuh manusia. Dengan penemuan, darah sudah dapat disimpan
sebelum ditransfusikan kedalam tubuh penderita.
Pada perang dunia ke II, akibat banyaknya korban-korban yang mengalami
perdarahan-perdarahan juga memberi kesempatan untuk penyelidik-penyelidikan
sehingga pengetahuan mengenai penyimpanan darah ini dapat dilakukan secara
intensif, sehingga transfusi darah dapat ditunjukkan untuk pengobatan-pengobatan
dan juga penelitian tentang penggunaan bagian-bagian dari darah.
Juga semakin majunya ilmu pengetahuan mengenai golongan darah ini,
semakin banyak digunakan pada bagian-bagian lain, seperti dalam bidang
kriminal. Golongan darah dapat juga membantu mencari identitas seseorang,
seperti bercak-bercak darah yang ditemukan akibat pembunuhan dapat membantu
petugas kepolisian. Dalam menentukan keturunan, golongan darah ini juga dapat
membantu, karena golongan darah si anak akan bergantung pada golongan darah
kedua orang tuanya.
Dalam kebanyakan pengamatan, pencampuran darah yang berasal dari 2
orang yang berbeda akan menyebabkan timbulnya pengendapan sel – sel darah
merah. Peristiwa pengendapan sel tersebut dinamai sebagai aglutinasi.
Pengamatan selanjutnya memperlihatkan, bahwa peristiwa ini melibatkan sel
darah merah dan bagian cair dari darah, yaitu serum atau plasma.
Penemuan Golongan darah ini dilandasi oleh adanya Interaksi AntigenAntibodi. Antibodi adalah molekul protein (immunoglobulin) yang memiliki satu
atau lebih tempat perlekatan (combining sites) yang disebut paratope. Antigen
adalah molekul asing yang mendatangkan suatu respon spesifik
dari limfosit.
Sejak tahun 1900 sampai dengan tahun 1962 telah dikenal orang dengan
baik, 12 macam system golongan darah, yang penting dalam bidang transfusi
darah dan kehamilan. Golongan dimaksud adalah system – system : ABO, MNSs,
P, Rhesus, Lutheran, Kell, Lewis, Duffy, Kidd, Ausberger, Xg dan Doombrok.
Dan masih ada lagi system – system golongan darah lainnya seperti Diego, Sutter
yang ditemukan pada beberapa ras bangsa saja dan lainnya.
Didalam transfusi darah hanya system ABO yang merupakan golongan
terpenting untuk tujuan-tujuan klinis. System golongan darah lainnya dianggap
kurang mempunyai arti klinis karena termasuk memiliki antigen-antigen
mengalami yang transfusi lemah, yang dan antibodynya berulangkali. Dan baru
zat timbul antinya setelah biasanya mempunyai suhu optimum reaksi yang rendah
( dibawah 37° C ), sehingga tidak mempunyai arti klinis yang berarti.
Pemeriksaan golongan darah ABO
Golongan darah merupakan ciri khusus darah dari suatu individu karena
adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel
darah merah. Golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut
antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah (Fitri, 2007).
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di
dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan
darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B.
Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B,
golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. (Alrasyid,
2010).
Golongan darah menurut sistem A-B-O dapat diwariskan dari orang tua
kepada anaknya. Land-Steiner dalam Suryo (1996) membedakan darah manusia
kedalam empat golongan yaitu A, B, AB dan O. Penggolongan darah ini
disebabkan oleh macam antigen yang dikandung oleh eritrosit (sel darah merah).
Sebagian besar gen yang ada dalam populasi sebenarnya hadir dalam lebih
dari dua bentuk alel. Golongan darah ABO pada manusia merupakan satu contoh
dari alel berganda dari sebuah gen tunggal. Ada empat kemungkinan fenotip untuk
untuk karakter ini: Golongan darah seseorang mungkin A, B, AB atau O. Hurufhuruf ini menunjukkan dua karbohidrat, substansi A dan substansi B, yang
mungkin ditemukan pada permukaan sel darah merah. Sel darah seseorang
mungkin mempunyai sebuah substansi (tipe A atau B), kedua-duanya (tipe AB),
atau tidak sama sekali (tipe O).
Golongan darah yang berbeda yaitu A, B, AB dan O. ditentukan oleh
sepasang gen, yang diwarisi dari kedua orang tua. Setiap golongan darah dapat
dikenal dari zat kimia yang disebut antigen, yang terletak di permukaan sel darah
merah. Ketika seseorang membutuhkan transfusi darah, maka darah yang
disumbangkan haruslah sesuai dengan golongan darah tertentu. Kesalahan dalam
melakukan transfusi akan dapat menimbulkan komplikasi yang serius. (Australia
Red Cross, 2008).
Pemeriksaan
golongan
darah
mempunyai
berbagai
manfaat
dan
mempersingkat waktu dalam identifikasi. Golongan darah penting untuk diketahui
dalam hal kepentingan transfusi, donor yang tepat serta identifikasi pada kasus
kedokteran forensik seperti identifikasi pada beberapa kasus kriminal (Azmielvita,
2009).
Kesesuaian golongan darah sangatlah penting dalam transfusi darah. Jika
darah donor mempunyai faktor (A atau B) yang dianggap asing oleh resipien,
protein spesifik yang disebut antibodi yang diproduksi oleh resipien akan
mengikatkan diri pada molekul asing tersebut sehingga menyebabkan sel-sel
darah yang disumbangkan menggumpal. Penggumpalan ini dapat membunuh
resipien (Azmielvita, 2009).
Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4
golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa
golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun
dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal
dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki
antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam
antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama
sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O.
Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega
dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan
darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah
merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi. Golongan darah manusia
ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam
darahnya, sebagai berikut:
Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen
A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B
dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya
dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel
darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum
darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat
menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif .
Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan
antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B.
Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari
orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal.
Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah
kecuali pada sesama AB-positif.
Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan
golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Tabel 1 : Penggolongan darah ABO
Golongan
Sel darah merah
Plasma
A
Antigen A
Antibodi B
B
Antigen B
Antibodi A
Antigen A & B
Tidak ada antibodi
Tidak ada antigen
Antibodi A & B
AB
O
Untuk menentukan golongan darah diperlukan suatu serum penguji yang
disebut tes serum yang terdiri dari tes serum A dan tes serum B. Darah yang akan
kita periksa dimasukkan kedalam suatu tabung yang berisi 2cc gram fisiologis lalu
dikocok. Darah tersebut ditaruh di atas object glass kemudian diteteskan tes serum
A dan tes serum B.
Gambar 1 : Sistem darah ABO
Jika darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak maka termasuk golongan
darah A
Jika darah di A tidak menggumpal sedangkan di B menggumpal maka
termasuk golongan darah B
Jika darah di A dan B menggumpal maka termasuk golongan darah AB
Jika darah di A dan B tidak menggumpal maka termasuk golongan darah O
Tabel 2 : Pengamatan aglutinasi dalam penggolongan darah ABO
Kit anti A
Kit anti B
Kit anti A&B
Golongan darah
(+)
(-)
(+)
A
(-)
(+)
(+)
B
(+)
(+)
(+)
AB
(-)
(-)
(-)
O
Dari penuntun praktikum imunologi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau 1;2012
Gambar 2 : Pengamatan pada pemberian serum
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis
darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah
berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar
disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel
darah merah.
Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan
resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai
golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari
golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis
yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis
adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit.
Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif.
Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang.
Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari
donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus
negatif termasuk minoritas.
Tabel 3 : Kecocokan golongan darah
Golongan
darah resipien
Donor harus
AB+
Golongan darah manapun
AB-
O-
A-
B-
AB-
A+
O-
O+
A-
O-
A+
A-
A+
B+
O-
O+
B-
B+
O+
O-
O+
OODari laporan praktikum anatomi fisiologi manusia, golongan darah FMIPA
Universitas Negeri Jakarta. 2011.
Tabel 4 : Kecocokan plasma
Aman ditransfusi
Golongan
darah
Antigen pada
eritrosit
Antibodi
dalam plasma
Resepien
Donor
A
A
B
A, AB
A, O
B
B
A
B, AB
B, O
AB
A+B
-
AB
A, B, AB, O
O
A+B
A, B, AB, O
O
Dari laporan praktikum anatomi fisiologi manusia, golongan darah FMIPA
Universitas Negeri Jakarta. 2011.
2.2. Golongan darah Rhesus
Sistem Rhesus merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Masih
banyak perdebatan baik mengenai aspek genetika, nomenklatur maupun interaksi
antigeniknya.
Rhesus positif (rh positif) adalah seseorang yang mempunyai rh-antigen
pada eritrositnya sedang Rhesus negatif (rh negatif) adalah seseorang yang tidak
mempunyai rh-antigen pada eritrositnya. Antigen pada manusia tersebut
dinamakan antigen-D, dan merupakan antigen yang berperan penting dalam
transfusi. Tidak seperti pada ABO sistem dimana seseorang yang tidak
mempunyai antigen A/B akan mempunyai antibodi yang berlawanan dalam
plasmanya, maka pada sistem Rhesus pembentukan antibodi hampir selalu oleh
suatu eksposure apakah itu dari transfusi atau kehamilan. Sistem golongan darah
Rhesus merupakan antigen yang terkuat bila dibandingkan dengan sistem
golongan darah lainnya. Dengan pemberian darah Rhesus positif (D+) satu kali
saja sebanyak ± 0,1 ml secara parenteral pada individu yang mempunyai golongan
darah Rhesus negatif (D-), sudah dapat menimbulkan anti Rhesus positif (anti-D)
walaupun golongan darah ABO nya sama.
Anti D merupakan antibodi imun tipe IgG dengan berat molekul 160.000,
daya endap (sedimentation coefficient) 7 detik, thermo stabil dan dapat ditemukan
selain dalam serum juga cairan tubuh, seperti air ketuban, air susu dan air liur.
Imun antibodi IgG anti-D dapat melewati plasenta dan masuk kedalam sirkulasi
janin, sehingga janin dapat menderita penyakit hemolisis.
Penyakit hemolisis pada janin dan bayi baru lahir adalah anemia hemolitik
akut yang diakibatkan oleh alloimun antibodi ( anti-D atau inkomplit IgG antibodi
golongan darah ABO) dan merupakan salah satu komplikasi kehamilan. Antibodi
maternal isoimun bersifat spesifik terhadap eritrosit janin, dan timbul sebagai
reaksi terhadap antigen eritrosit janin. Penyebab hemolisis tersering pada neonatus
adalah pasase transplasental antibodi maternal yang merusak eritrosit janin.
Pada tahun 1892, Ballantyne membuat kriteria patologi klinik untuk
mengakkan diagnosis hidrops fetalis. Diamond dkk. (1932) melaporkan tentang
anemia janin yang ditandai oleh sejumlah eritroblas dalam darah berkaitan dengan
hidrops fetalis. Pada tahun 1940, Lansstainer menemukan faktor Rhesus yang
berperan dalam patogenesis kelainan hemolisis pada janin dan bayi. Levin dkk
(1941) menegaskan bahwa eritroblas disebabkan oleh Isoimunisasi maternal
dengan faktor janin yang diwariskan secara paternal. Find (1961) dan freda (1963)
meneliti tentang tindakan profilaksis maternal yang efektif.
Setiap orang terlahir dengan golongan darah A, B, AB, atau O dan faktor
Rh positif (+) atau negatif (-). Faktor Rh ini menggambarkan partikel protein
dalam sel darah seseorang. Mereka yang memiliki Rh (-) berarti kekurangan
protein dalam sel darah merahnya. Sebaliknya, jika Rh (+), berarti ia memiliki
protein yang cukup.
Orang Asia dan Afrika umumnya (sekitar 90%) memiliki Rh (+),
sedangkan orang Eropa dan Amerika kebanyakan memiliki Rh (-).
Masalah akan timbul jika ibu hamil memiliki Rh (-) sementara ayah Rh
(+). Dalam kondisi seperti ini, si jabang bayi bisa saja memiliki darah dengan Rh
(+) atau Rh (-). Namun, biasanya bayi akan mewarisi Rh (+) karena lebih bersifat
dominan.
Lantaran janin mewarisi Rh yang berbeda dengan Rh ibunya, akan terjadi
ketidakcocokan Rh bayi dengan ibu atau yang lazim disebut erythoblastosis
foetalis.
Ketidakcocokan Rh
Ketidakcocokan atau inkompatibilitas Rh ini bisa berakibat kematian pada
janin dan keguguran berulang. Inilah alasan mengapa pemeriksaan faktor Rh ibu
dan ayah perlu dilakukan sedini mungkin agar inkompatibilitas yang mungkin
muncul bisa ditangani segera.
Perbedaan Rh antara ibu dengan bayi membuat tubuh ibu memproduksi
antirhesus untuk melindungi tubuh ibu sekaligus menyerang calon bayi. Rh darah
janin akan masuk melalui plasenta menuju aliran darah ibu. Melalui plasenta itu
juga, antirhesus yang diproduksi ibu akan menyerang si calon bayi. Antirhesus
lalu akan menghancurkan sel-sel darah merah calon bayi.
Kerusakan sel darah merah bisa memicu kerusakan otak, bayi kuning,
gagal jantung, dan anemia dalam kandungan maupun setelah lahir. Kasus
kehamilan dengan kelainan Rh ini lebih banyak ditemui pada orang-orang asing
atau mereka yang memiliki garis keturunan asing, seperti Eropa dan Arab.
Sementara di Indonesia sendiri, walaupun tidak banyak, kasus seperti ini
kadang tetap ditemui.
Gambar 3 : Sensitisasi Rhesus pada kehamilan pertama
Risiko Meningkat pada Kehamilan Kedua
Pada
kehamilan
pertama,
antirhesus
kemungkinan
hanya
akan
menyebabkan bayi terlahir kuning. Hal ini lantaran proses pemecahan sel darah
merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan warna kuning pada bayi.
Tetapi pada kehamilan kedua, risikonya lebih fatal. Antirhesus ibu akan
semakin tinggi pada kehamilan kedua. Akibatnya, daya rusak terhadap sel darah
merah bayi pun semakin tinggi dan ancaman kematian janin kian tinggi.
Gambar 4 : Sensitisasi rhesus pada kehamilan berikutnya
Penanganan Kehamilan dengan Kelainan Rh
Biasanya, langkah pertama yang dilakukan dokter adalah memastikan jenis
Rh ibu dan melihat apakah antibodi telah tercipta. Jika antirhesus itu belum
terbentuk, pada usia kehamilan 28 minggu dan 72 jam setelah persalinan, ibu akan
diberi injeksi anti-D immunoglobulin (RhoGam).
Sebaliknya, jika antirhesus sudah tercipta, dokter akan melakukan
penanganan khusus terhadap janin yang dikandung. Diantaranya, monitoring
secara reguler dengan scanner ultrasonografi. Dokter akan memantau masalah
pada pernafasan dan peredaran darah, cairan paru-paru, atau pembesaran hati yang
merupakan gejala- gejala akibat rendahnya sel darah merah.
3. BAHAN & ALAT
a. Bahan
– pipet tetes
– objek gelas
– kertas tes darah
– tusuk gigi
– lanset
– kapas
b. Alat
– alkohol 70%
– kit golongan darah ABO (anti A, anti B, & anti AB)
– darah kapiler
– kit Rhesus (anti D)
4. CARA KERJA
a. Pemeriksaan golongan darah ABO
– bersihkan jari manis tangan kiri dengan kapas yang telah dibasahi dengan
alkohol 70%
– tusuk dengan lanset dengan satu kali tusukkan, tetesan pertama dibuang
dan tetesan selanjutnya diteteskan pada 3 objek glass, masing-masing satu
tetes
– teteskan di atas tetesan darah pada objek glass pertama kit anti A, onjek
glass kedua kit anti B, dan objek glass ketiga dengan kit anti AB
– aduk dengan tusuk gigi dengan cara melingkar, amati reaksi aglutinasi
yang terjadi
b. Pemeriksaan golongan darah Rhesus
– bersihkan jari manis tangan kiri dengan kapas yang telah dibasahi dengan
alkohol 70%
– tusuk dengan lanset dengan satu kali tusukkan, tetesan pertama dibuang
dan tetesan selanjutnya diteteskan pada objek glass
– teteskan di atas tetesan darah pada objek glass kit anti D
– aduk dengan tusuk gigi dengan cara melingkar, amati reaksi aglutinasi
yang terjadi
5. Hasil & Pembahasan
a. Hasil pengamatan
Hasil pengamatan di bawah ini merupakan hasil pengamatan gabungan
antara objek I dan II karena pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus
berhubungan.
Tabel 5 : Pengamatan kelompok V-A (ganjil)
Nama
Kit anti A Kit anti B
Kit Anti
AB
Kit anti D
Golongan
Rh
Darah
Nur Alimin
(-)
(-)
(-)
(+)
O
+
Riki Erisman
(+)
(+)
(+)
(+)
AB
+
Devi Hasanti
(-)
(+)
(+)
(+)
B
+
Eka Lisnasari
(-)
(-)
(-)
(+)
O
+
Fivy Yuniarty S
(-)
(-)
(-)
(+)
O
+
Keterangan :
(-)
= tidak terjadi aglutinasi (penggumpalan)
(+)
= terjadi aglutinasi (penggumpalan)
Tabel 6 : Data pengamatan kelompok I-V A (ganjil)
Kelompok
Golongan darah ABO
Rh
A
B
AB
O
+
-
I
3
2
x
1
6
x
II
1
3
1
1
6
x
III
x
1
1
3
5
x
IV
1
1
x
3
5
x
V
x
1
1
3
5
x
5
8
3
11
27
0
18.5
29.6
11.1
40.7
100
0
Jumlah
%
Keterangan :
x
= tidak ada
b. Pembahasan
Kegiatan pengujian golongan darah ini dilakukan untuk mengetahui cara
menentukan golongan darah melalui perbedaan reaksi antara berbagai golongan
darah kemudian menentukan golongan darah sistem ABO dan sistem Rhesus.
Membran sel darah manusia mengandung bermacam-macam protein oligosakarida
dan senyawa lainnya salah satunya antigen. Golongan darah sistem ABO yang
akan diuji kali ini, didasari pada keberadaan antigen, yaitu antigen A dan antigen
B di membran sel darah merah. Golongan darah A mempunyai antigen A,
golongan darah B mempunyai antigen B, golongan darah AB mempunyai antigen
A dan B, sedangkan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut.
Darah yang diambil berasal dari kapiler pada bagian ujung jari tangan.
Sebelum darah diambil dengan menggunakan blood lancet, ujung jari tangan
dibersihkan dengan alcohol 70% agar terhindar dari kuman-kuman yang dapat
menyebabkan infeksi. Selanjutnya, darah yang keluar diteteskan pada kedua sisi
kaca objek, sesegera mungkin sebelum darah membeku. Masing-masing tetesan
darah diberi serum anti A dan anti B.
Golongan darah sistem ABO dibagi berdasarkan struktur antigen
permukaan eritrosit, yang disebut juga sebagai aglutinogen.
Penggolongan darah pada praktikum ini dilakukan dengan melihat apakah
terjadi penggumpalan setelah mencampurkan darah dengan masing-masing
antiserum A dan B. Reaksi penggumpalan dapat terjadi akibat antigen darah
Opraktikan terhadap serum anti-A dan anti-B yang berasal dari masing-masing
darah B dan A. Serum anti-A yang diteteskan menandakan bahwa darah yang diuji
tersebut diberikan antigen A dari golongan darah B. Sedangkan serum anti-B yang
diteteskan merupakan antigen B dari golongan darah A. Jika pengumpalan darah
ketika ditetesi serum anti-A, maka darah tersebut memiliki anti-B pada darahnya.
Sedangkan jika penggumpalan terjadi akibat ditetesi serum anti-B, maka darah
tersebut memiliki anti-B pada darahnya.
Pada darah praktikan Devi Hasanti, terjadi reaksi penggumpalan setelah
diberikan serum anti-B. Hal ini karena darah Devi Hasanti memiliki anti-A
(antibodi A), namun tidak memiliki anti-B karena ketika diteteskan serum anti-A,
darahnya tidak menggumpal. Maka golongan darah Devi Hasanti adalah B karena
golongan darah B memiliki anti-A (plasma antibodi/ aglutinin A ) dan antigen B
(aglutinogen B) pada darahnya. Pada darah praktikan Riki Erisman, terjadi
penggumpalan setelah diteteskan serum anti-A dan juga terjadi pengumpalan
setelah ditetesi serum anti-B. Hal ini berarti serum anti-A dan serum anti-B tidak
dimiliki oleh darah Riki Erisman. Karena itu tidak cocok dan menggumpal. Untuk
memperkuat analisa biokimia klinik maka diteteskan serum anti-AB, dan terjadi
penggumpalan. Maka darah Riki Erisman bergolongan AB yang berarti memiliki
aglutinogen A dan B. Sedangkan pada tiga orang praktikan (Nur Alimin, Eka
Lisnasari & Fivy Yuniarty S) tidak terjadi penggumpalan darah karena darah
mereka memiliki anti-A dan anti-B. Maka praktikan tersebut bergolongan darah
O. Golongan darah O dapat disebut sebagai donor universal karena golongan O
tidak memiliki aglutinogen untuk diaglutinasi sehingga dapat diberikan pada
resipien manapun, asalkan volume transfusinya sedikit.
Pada analisa biokimia klinis untuk penentuan Rhesus, semua praktikan
kelompok V-A (ganjil) memiliki Rh (+)/ positif, karena darah yang teramati
mengalami aglutinasi.
6. KESIMPULAN
– Jika serum anti-A menyebabkan aglutinasi pada tetes darah, maka individu
tersebut memiliki aglutinogen tipe A (golongan darah A)
– Jika serum anti-B menyebabkan aglutinasi, individu tersebut memiliki
aglutinogen tipe B (golongan darah B)
– Jika kedua serum anti-A dan anti-B menyebabkan aglutinasi individu
tersebut memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B (golongan darah AB)
– Jika kedua serum anti-A dan anti-B tidak mengakibatkan aglutinasi, maka
individu tersebut tidak memiliki aglutinogen (golongan darah O)
– Aglutinogen D (antigen D) pada eritrosit golongan Rh+, tidak punya
Aglutinogen D berarti memiliki golongan Rh7. DAFTAR PUSTAKA
– Rachmawati, Anis. dkk. Laporan Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia,
Golongan Darah. FMIPA Universitas Negeri Jakarta. 2008
– Sindu, E. Hemolytic disease of the newborn. Direktorat Laboratorium
Kesehatan Dirjen. Pelayanan Medik Depkes dan Kessos RI
– Cunningham FG, MacDonald PC, et al. Williams Obstetrics. 18th edition
1995. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995: 706-721.
– Markum AH, Ismail S, Alatas H. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jakarta:
Bagian IKA FKUI, 1991: 332-334
– Anonim. Informasi bagian pasien. -: 2007
Download