Draft Proposal Penelitian

advertisement
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencemaran air telah menjadi permasalahan krusial di banyak negara dan
mendapat perhatian peneliti di seluruh dunia (Huang & Morimoto 2002).
Kelangkaan dan kesulitan mendapatkan air bersih dan layak pakai menjadi
permasalahan yang mulai muncul di banyak tempat dan semakin menggejala dari
tahun ke tahun, tak terkecuali di Indonesia. Wilayah Indonesia memiliki 6% dari
persediaan air dunia atau sekitar 21% persediaan air Asia Pasifik (KLH 2005a),
namun kecenderungan konsumsi air naik secara eksponensial sementara
ketersediaan air bersih terus berkurang dengan cepat akibat kerusakan alam dan
pencemaran yang diperkirakan sebesar 15–35% per kapita per tahun (KLH 2009).
Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya kemampuan mengakses dan
memprediksi ketersediaan air, kualitas air, serta penggunaan dan keseimbangan
air (Simonovic 2002).
Kali Surabaya yang merupakan hilir dari Sungai Brantas termasuk dalam
sungai strategis Nasional. Pencemaran Kali Surabaya menjadi salah satu contoh
kasus permasalahan pencemaran air yang mendapat perhatian banyak pihak dan
menjadi isu nasional. Air Kali Surabaya mempunyai multifungsi yang sangat vital
dalam menunjang pembangunan daerah yaitu sebagai sumber baku air minum,
industri, pertanian dan sarana rekreasi air serta berperan dalam mendukung
kehidupan biota perairan, sementara kualitasnya cenderung mengalami penurunan.
Kualitas air sungai sangat bergantung pada jenis kegiatan yang dilakukan manusia
di sekitar daerah aliran sungai. Berkembangnya kegiatan penduduk di sekitar Kali
Surabaya yang memanfaatkan bantaran sungai untuk pemukiman, kegiatan
industri rumah tangga, dan industrialisasi merupakan sumber pencemaran Kali
Surabaya, baik yang melepaskan zat pencemar melalui titik pembuangan (point
sources) maupun sumber pencemar yang dengan letak sumber tidak jelas (nonpoint sources) mencemari sungai pada lokasi yang tersebar. Jenis limbah yang
dihasilkan berpotensi tidak hanya menyebabkan peningkatan nilai TSS (total
suspended solid), BOD (biological oxygen demand), dan COD (chemical oxygen
demand), namun yang lebih berbahaya adalah akumulasi logam berat. United
State Environmental Protection Agency (USEPA) mendata ada 13 elemen logam
berat yang merupakan elemen utama pencemar yang berbahaya, namun logam
2
berat merkuri bersama timbal dan kadmium dikenal sebagai the big three heavy
metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia
dikarenakan tingkat keracunannya yang sangat tinggi walaupun pada konsentrasi
rendah (Rezazee et al. 2005).
Beberapa studi tentang pencemaran Kali Surabaya telah dilaporkan. Hasil
riset yang dilakukan oleh Ecoton dan National Institute Minamata Disease (2002),
menunjukkan badan air, lumpur, kerang, ikan dan ekosistem di dalam Kali
Surabaya telah terkontaminasi merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga
(Cu) dan besi (Fe) dengan kadar yang telah melebihi ambang batas, bahkan kadar
Hg dalam air telah mencapai 100 kali lipat dari baku mutu. Hasil penelitian ini
juga menyatakan bahwa pada rambut orang yang tinggal dan mengkonsumsi ikan
dari Kali Surabaya, positif terkontaminasi merkuri rata-rata 0.6 mg/l (Arisandi
2002). Hasil serupa dilaporkan Ismanto et al. (2006), bahwa konsentrasi merkuri
di Sungai Brantas pada tahun 1991-2005 mencapai 0.49 mg/l.
Hasil studi Purwatiningsih (2005) yang dilakukan di sepanjang Kali
Surabaya pada 8 lokasi sampling menunjukkan bahwa tingkat BOD dan DO
(dissolved oxygen) di daerah studi tidak memenuhi baku mutu, kualitas struktur
sungai 62.5% termasuk kategori sedang dan 37.5% termasuk kategori buruk.
Sementara hasil riset Koemantoro (2007) menunjukkan bahwa beban pencemar
BOD di titik lokasi intake PDAM Karang Pilang Surabaya mencapai 10.45 mg/l,
kondisi ini jauh melebihi batas standar peruntukan badan air kelas 1 yaitu 2 mg/l.
Kondisi ini jika tidak segera diambil tindakan pengendalian akan menimbulkan
dampak ekologis, ekonomis dan sosial budaya, seperti kerusakan keseimbangan
ekologi di aliran sungai, bertambahnya biaya pengolahan air oleh Perusahaan Air
Minum, menurunnya nilai estetika, dan risiko kesehatan penduduk.
Kandungan logam berat terutama Hg, Cd, dan Pb dalam air Kali Surabaya
dikhawatirkan akan mengkontaminasi air PDAM yang dikonsumsi oleh 95%
warga Surabaya, mengingat proses pengolahan air PDAM dengan menggunakan
tawas biasanya tidak mampu menghilangkan logam berat yang terlarut dalam air.
Karenanya, analisis proyeksi risiko kesehatan penduduk akibat paparan logam
berat penting dilakukan untuk mengetahui status kesehatan masyarakat dan
manajemen risiko.
Menurut Razif dan Yuniarto (2004), sumber pencemaran sungai di Surabaya
didominasi oleh beberapa faktor pencemar, yaitu: industri pangan, industri kimia,
3
industri logam, industri kertas, dan penduduk. Hal serupa dikemukakan Novita
dan Indarto (2006) yang menyatakan bahwa persentase terbesar sumber pencemar
Kali Surabaya berasal dari limbah cair industri, dalam hal ini dari 70 buah industri
yang berlokasi di daerah aliran Kali Surabaya sekitar 40 buah di antaranya
dianggap potensial sebagai sumber pencemar, baik pencemar organik maupun
anorganik. Industri pangan, penyamakan kulit, industri kertas, pemotongan hewan
dan industri tekstil merupakan sumber pencemar organik, sedangkan sumber
pencemar anorganik di Kali Surabaya adalah industri pelapisan logam, industri
kimia, dan industri keramik (Novita 2000). Menurut Arisandi (2004) dan Rezazee
et al. (2005), pencemaran logam berat seperti merkuri, timbal, kadmium, dan
kromium berasal dari industri (elektroplating, detergen, cat, keramik, kertas) dan
aktivitas pertanian dan dikategorikan sebagai limbah anorganik.
Meningkatnya beban pencemaran juga disebabkan oleh kebiasaan
masyarakat membuang limbah domestik, baik limbah cair maupun limbah
padatnya langsung ke perairan. Dampak negatif yang ditimbulkan di antaranya:
(a) memicu tingginya suhu badan air, sehingga menggurangi oksigen terlarut
dalam air yang dibutuhkan makluk hidup air, (b) meningkatkan proses
sedimentasi di dasar sungai karena tingginya run-off air hujan yang membawa
partikel sedimen, dan (c) meningkatkan beban limbah organik bagi badan air
(Arisandi 2004). Adanya masukan bahan pencemar sampai pada batas tertentu
tidak menurunkan kualitas air sungai, namun apabila beban masukan bahan
pencemar tersebut melebihi kemampuan sungai untuk membersihkan diri sendiri
(self
purification), akan menimbulkan permasalahan yang serius
yaitu
pencemaran perairan.
Berdasarkan hasil pemantauan Kali Surabaya oleh Ecoton (1998) yang
dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau diketahui bahwa, sumber
pencemaran terbesar adalah Kali Tengah yang merupakan tempat pembuangan
limbah lebih dari 40 industri yang beroperasi di sepanjang bantaran Kali Tengah,
yang memicu turunnya kualitas air Kali Surabaya. Pada musim kemarau, di mana
debit air terbatas, bendungan di hulu hanya mampu menyediakan debit rata-rata
20 m3/detik selama 3 bulan pertahun (Novita & Indarto 2006), bahkan debit
terendah dapat mencapai 4 m3/detik selama 1 bulan. Kondisi ini menyebabkan
semakin menurunnya kapasitas purifikasi dan pengenceran Kali Surabaya
(Masduqi 2006).
4
Berdasarkan indikator kualitas air, khususnya BOD, COD, dan TSS, Kali
Surabaya berada dalam kondisi tercemar. Data hasil Studi Brantas River Pollution
control-SUDP tahun 1998 menunjukkan bahwa, beban limbah industri dan
domestik Kali Surabaya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun
1989 beban BOD dari limbah domestik dan industri masing-masing 38.4 dan 81.6
ton/hari, pada tahun 1998 meningkat menjadi 125 dan 205 ton/hari. Kualitas
limbahnya pun jauh di atas baku mutu. Kandungan BOD, COD, dan TSS limbah
yang terbuang di Kali Surabaya masing-masing mencapai 575, 1431, dan 674
mg/l. Padahal baku mutu untuk BOD hanya 50-150 mg/l, COD 100-300 mg/l dan
TSS 20-300 mg/l (www.pu.go.id/humas/media). Sementara itu, hasil pemantauan
Perum Jasa Tirta I (PJT-I), terhadap kualitas air Kali Surabaya pada tahun
2005 untuk nilai COD mencapai 26.5 mg/l dan BOD 9.6 mg/l dan hasil pantauan
periode Oktober-Desember 2007 (posisi Karangpilang), nilai COD 41.5 mg/l dan
BOD 15.0 mg/l. Hal ini berarti kualitas Kali Surabaya sudah berada pada kondisi
yang mengkawatirkan karena nilai COD dan BOD telah melebihi nilai ambang
batas yang telah ditetapkan. Menurut prediksi PJT-1 jika tidak ada upaya
pengendalian pada tahun 2020, beban limbah domestik Kali Surabaya akan
mencapai 257 m3/detik dan beban limbah industri 308 m3/detik (PJT I 2007).
Upaya penurunan beban pencemaran yang masuk ke sungai telah
dilaksanakan oleh pemerintah sejak tahun 1979 terutama untuk mengatasi kasuskasus pencemaran yang terjadi secara rutin. Bahkan sejak tahun 1989, telah
dicanangkan Program Kali Bersih (PROKASIH) dan Superkasih dengan fokus
pada pengendalian pencemaran air dari kegiatan industri dan jasa. Pada tahun
1995 dicanangkan Program PROPER dengan fokus perbaikan sistem internal
terhadap baku mutu air limbah dan pada tahun 2007 juga dicanangkan program
pengawasan pengendalian pencemaran air untuk hotel melalui penghargaan
Berlian (KLH 2008), namun hingga saat ini kualitas air Kali Surabaya belum
menunjukkan peningkatan yang berarti bahkan tingkat pencemaran makin tinggi.
Hal ini diakibatkan antara lain karena kurangnya koordinasi antar instansi/sektor
dan
lemahnya
penegakan
hukum
dalam
pengelolaan
Kali
Surabaya
(Purwatiningsih 2005). Selain itu, penyebab lain adalah semakin banyaknya
kegiatan industri yang terdapat di Kali Surabaya, kurangnya kepedulian
masyarakat dalam menjaga kualitas badan air, dan belum tertanganinya
pengendalian limbah industri dan domestik secara efektif. Karenanya, diperlukan
5
upaya pengendalian pencemaran air yang komprehensif dan sistematik melalui
penggunaan model dinamik berdasarkan kondisi eksisting karakteristik fisik
kimia.
Sistem di dalam sungai merupakan suatu sistem kompleks yang mempunyai
variabel-variabel yang bersifat dinamik dan tidak pasti (Qin et al. 2007; Maharani
et al. 2008). Variabel-variabel dalam sistem dinamik mencakup variabel level,
variabel rate, dan variabel auxiliary (Zhang et al. 2009). Menurut Qin et al.
(2007), laju deoksigensi dan reoksigenasi pada sistem sungai merupakan
karakteristik yang dinamik dan tidak pasti karena unsur-unsur di dalamnya
mengalami gejala tanspor dan transformasi. Input yang masuk ke dalam sungai
pun bervariasi terhadap waktu, baik kualitas maupun kuantitasnya. Model
pendekatan klasik tidak mampu memprediksi ketersediaan dan penggunaan
sumber daya air yang sangat penting bagi perencanaan dan pengelolaan secara
berkelanjutan akibat dinamika spasial variabel utama (Nandalal & Semasinghe
2006). Kompleksnya permasalahan dan banyaknya variabel yang berpengaruh
dalam suatu sistem dapat digambarkan secara sederhana dan sistematis melalui
sebuah model yang mencerminkan hubungan antara variabel-variabel yang
berpengaruh dalam sistem tersebut. Karenanya, perlu dilakukan penelitian tentang
pencemaran air yang terjadi di Kali Surabaya menggunakan pendekatan sistem
dinamik dengan melibatkan berbagai faktor yang berpengaruh, sehingga
diharapkan dapat menghasilkan suatu model pencemaran air dan strategi
pengendalian pencemaran secara holistik.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model pengendalian
pencemaran air Kali Surabaya dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan Kali
Surabaya secara berkelanjutan. Tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kualitas perairan Kali Surabaya berdasarkan parameter
kualitas air: suhu, pH, konduktivitas, DO, COD, BOD, TSS, N-NH 3 , NNO 2 , N-NO 3 , P-PO 4 , dan konsentrasi Hg, Pb, dan Cd;
2. Menentukan beban pencemaran dan tingkat pencemaran Kali Surabaya;
3. Mengkaji proyeksi risiko
penduduk;
dampak pencemaran terhadap kesehatan
6
4. Membangun model sistem pengendalian pencemaran Kali Surabaya yang
berkelanjutan;
5. Menyusun skenario pengendalian pencemaran Kali Surabaya yang
berkelanjutan.
1.3 Kerangka Pemikiran
Kali Surabaya memiliki peran strategis dalam menunjang pembangunan
kota Surabaya, karena menopang kebutuhan air minum warga Surabaya dan
bahan baku bagi ratusan industri di wilayah Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan
Mojokerto. Fungsi strategis ini menjadi alasan pentingnya menjaga air Kali
Surabaya dari pencemaran.
Pada daerah aliran Kali Surabaya terdapat komponen lingkungan yang
saling berkaitan dan dapat menghasilkan kejadian yang tidak dikehendaki.
Komponen lingkungan tersebut adalah lingkungan pemukiman, lingkungan
industri, lingkungan pariwisata, dan lingkungan sosial ekonomi masyarakat
berupa rumah sakit dan sarana sosial lainnya. Permasalahan pencemaran air
merupakan hasil interaksi dan pengaruh kolektif berbagai komponen lingkungan
berupa suatu sistem pencemaran limbah cair menyangkut sumber, karakteristik,
akumulasi, proses penanganan, pembuangan, dan tanspormasi limbah ke aliran
sungai. Pertumbuhan penduduk, laju urbanisasi, dan industrialisasi menyebabkan
peningkatan kebutuhan dan tekanan terhadap sumberdaya air secara cepat dan
memicu terjadinya pencemaran air Kali Surabaya. Menurut Masduqi dan
Apriliani (2008), pencemaran berat yang terjadi di Kali Surabaya disebabkan oleh
limbah industri dan limbah domestik di daerah padat penduduk.
Kali Surabaya sebagai suatu sistem menerima beban pencemaran organik
dan anorganik dari berbagai sumber pencemar baik point sources maupun non
point sources yang menyebabkan penurunan kualitas air. Dampak negatif
pencemaran air akan mengganggu kehidupan ekologis biota air, penurunan nilai
ekonomi air sebagai sumber baku air minum, dan risiko kesehatan masyarakat.
Perilaku sistem sungai yang rumit, berubah cepat dan mengandung ketidakpastian
menyebabkan pengendalian pencemaran air Kali Surabaya tidak mungkin dikaji
atau dikendalikan oleh satu atau dua metode spesifik saja, namun membutuhkan
pendekatan sistem dan pemodelan. Pendekatan sistem diperlukan dalam rangka
7
pembatasan ruang lingkup dan meminimasi pengaruh serta output yang tidak
dikehendaki, agar pengendalian pencemaran berlangsung secara berkelanjutan.
Desain sistem berdasarkan pendekatan model dinamik untuk pengendalian
pencemaran air sungai diperlukan untuk memahami perilaku dan melakukan
simulasi terhadap sistem secara sederhana, sehingga kemungkinan alternatif
pengendalian dan strategi pengelolaan menjadi lebih efektif dan terpadu. Model
pengendalian pencemaran yang dibangun didasarkan pada beban limbah dan
karakteristik pencemaran, terutama karakteristik efluen dan kimia pencemar, serta
faktor-faktor yang berpengaruh dalam rangka pencapaian tujuan.
Model dinamik menawarkan berbagai cara untuk menggambarkan sistem
yang dikembangkan, menganalisis perilaku sistem, dan menghubungkan perilaku
yang diamati dengan struktur sistem dengan suatu bentuk desain sistem dan
pemodelan (Skartveit et al. 2003). Pemodelan sistem dinamik merupakan kajian
rekayasa sistem yang dapat digunakan untuk menganalisis mekanisme, pola dan
kecenderungan sistem. Rekayasa sistem ini berdasarkan analisis terhadap struktur
dan perilaku sistem sungai yang rumit, berubah cepat, dan mengandung
ketidakpastian dengan suatu bentuk desain sistem dan pemodelan (Muhammadi et
al. 2001; Skartveit et al. 2003). Pendekatan model sistem dinamik didasari oleh
prinsip umpan balik antar komponen yang terlibat dalam sistem yang dikaji.
Skema kerangka pemikiran penelitian diilustrasikan pada Gambar 1.
1.4 Perumusan Masalah
Permasalahan pencemaran air Kali Surabaya semakin berat, sementara
upaya pengendaliannya belum terprogramkan secara baik. Kualitas air Kali
Surabaya sebagai sumber air minum PDAM Kota Surabaya semakin menurun
akibat masuknya beban pencemar baik organik maupun anorganik yang berasal
dari berbagai sumber pencemar terutama limbah industri dan limbah domestik.
Industri kertas, industri pangan, industri karet, perusahaan tahu, dan
pemotongan hewan yang berada di sepanjang Kali Surabaya merupakan sumber
pencemar organik, sedangkan beragam limbah cair yang berasal dari industri
kimia, industri cat dan pewarna, industri baterai, industri peralatan listrik, industri
korek api, industri produk-produk logam dan pelapisan logam, dan industri
keramik menjadi sumber pencemar anorganik termasuk logam-logam berat.
Selain itu, penurunan kualitas air Kali Surabaya juga disebabkan oleh limbah
8
domestik yang banyak menghasilkan senyawa organik berupa protein, karbohidrat,
lemak, dan asam nukleat. Kondisi ini menjadi suatu permasalahan yang sangat
serius karena dapat berdampak pada lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Kali
Surabaya
Bantaran
Kali Surabaya
Pemukiman
penduduk
Industri
Limbah
Debit air
Beban
pencemaran
Kebijakan
pengelolaan
Baku Mutu
KBP>KBM
Kondisi eksisting:
Fisik-kimiaekonomi-sosbud
Kali Surabaya
tercemar
Ekologi
Kerusakan
ekosistem akuatik
Ekonomi
Sosial
1. Biaya pengolahan
2. Biaya kesehatan
3. Biaya reduksi
beban pencemar
Risiko
kesehatan
Butuh penyelesaian yang komprehensif
Rekomendasi
Keterangan:
KBP = Konsentrasi bahan pencemar
KBM = Konsentrasi baku mutu
Pemodelan sistem
Pengendalian
Pencemaran
Model Pengendalian
Pencemaran
Skenario pengendalian
pencemaran
Strategi
pengendalian
pencemaran
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian.
Banyaknya industri yang membuang limbahnya ke Kali Surabaya dan
variasi kualitas limbah industri yang kompleks menyebabkan penanganan limbah
industri memerlukan perhatian yang cukup besar. Jarak antara industri yang
berdekatan juga menyebabkan kemampuan air untuk melakukan purifikasi
9
menjadi rendah. Limbah industri umumnya berupa bahan sintetik, logam berat,
dan limbah B3 yang sulit untuk diurai oleh proses biologi (nondegradable)
sehingga berbahaya terhadap kesehatan manusia. Beberapa unsur logam berat
seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan timbal (Pb) dari limbah cair industri
memiliki sifat toksik dan destruktif terhadap organ penting manusia. Limbah
domestik umumnya tersusun atas limbah organik, meskipun dapat terurai menjadi
zat-zat yang tidak berbahaya dan dapat dihilangkan dari perairan dengan proses
biologis alamiah, proses kimia dan fisika, namun dapat mengakibatkan deplesi
oksigen terlarut dan mengancam kehidupan biota air.
Untuk menjaga atau mencapai kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan
secara berkelanjutan sesuai tingkat mutu air yang diinginkan, diperlukan upaya
pengendalian. Tanpa upaya pengendalian pencemaran akan terus berlangsung dan
dampaknya akan semakin luas, baik dampak terhadap kelangsungan fungsi sungai
maupun dampak terhadap kesehatan masyarakat. Pentingnya pengendalian
kualitas air merupakan implikasi dari tekanan pencemaran terhadap badan sungai
yang semakin meningkat, baik limbah domestik maupun limbah industri dan
bertambahnya pemanfaatan air sungai serta tuntutan akan kebutuhan kualitas air
yang memadai dari tahun ke tahun.
Kualitas air sungai ditentukan oleh debit air dan debit limbah yang dibuang
ke dalam badan air sungai tersebut. Oleh karena itu, upaya pengendalian dapat
dilakukan dengan menetapkan besaran limbah yang boleh dibuang ke badan air
sungai itu disesuaikan dengan debit air sungai yang ada. Untuk itu, suatu konsep
dan strategi pengendalian pencemaran air perlu dikaji secara komprehensif untuk
menunjukkan keterkaitan antara beban pencemaran dengan dampak yang
ditimbulkan melalui penggunaan model dinamik. Beberapa pertanyaan penelitian
terkait model pengendalian pencemaran air yang akan dibangun adalah:
1. Bagaimana kualitas air Kali Surabaya berdasarkan parameter kualitas air:
suhu, pH, konduktivitas, DO, COD, BOD, TSS, N-NH 3 (amonia), N-NO 2 ,
N-NO 3 , P-PO 4 dan konsentrasi Hg, Pb, dan Cd?
2. Berapa beban dan tingkat pencemaran air Kali Surabaya?
3. Bagaimana risiko dampak pencemaran terhadap kesehatan penduduk?
4. Bagaimana mendesain model sistem pengendalian pencemaran air Kali
Surabaya yang berkelanjutan?
10
5. Bagaimana skenario strategi pengendalian pencemaran Kali Surabaya yang
berkelanjutan?
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian
ini diharapkan
dapat
memberikan
manfaat
bagi
pengembangan ilmu pengetahuan dan menunjang pembangunan, terutama
sebagai:
1. Sumber informasi ilmiah mengenai kualitas air, beban dan tingkat
pencemaran serta proyeksi risiko dampak akibat pencemaran terhadap
kesehatan masyarakat;
2. Sumber informasi ilmiah bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih
memahami status kesehatan masyarakat yang aktual dan potensial bagi
keperluan manajemen risiko;
3. Sumber informasi ilmiah dalam merumuskan kebijakan dan strategi
pengendalian pencemaran air di Kali Surabaya;
4. Alat bantu pengambilan keputusan bagi pemerintah daerah dalam upaya
pengendalian pencemaran air Kali Surabaya terutama dalam penyiapan
perencanaan sistem pengawasan pencemaran.
1.6 Kebaruan (Novelty)
Penelitian ini berusaha menggambarkan kondisi eksisting Kali Surabaya
menggunakan parameter fisik-kimia secara lebih lengkap. Selain itu, penelitianpenelitian yang pernah dilakukan umumnya masih bersifat parsial baik dari kajian
sumber pencemar, parameter yang diteliti maupun zona penelitian dan belum
mengkaji secara komprehensif mengenai model pengendalian dan strategi
pengendalian pencemaran air Kali Surabaya.
Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian pencemaran air sungai yang
komprehensif melibatkan stakeholders dalam sistem pengendalian pencemaran
dan penggambaran kondisi eksisting menggunakan parameter fisik-kimia time
series lebih lengkap. Kebaruan dari segi metode, penelitian ini mengaplikasikan
pendekatan sistem dinamik yang didukung dengan metode lain yang
komprehensif. Kebaruan dari segi luaran terletak pada temuan tentang proporsi
dan kontribusi sumber pencemar utama terhadap total beban pencemaran BOD,
COD, dan TSS, model sistem dinamis pengendalian pencemaran Kali Surabaya
yang dihasilkan, dan strategi kebijakan pengendalian yang direkomendasikan.
Download