BAB II PSIKOLOGI SOSIAL 1. Pengertian Psikologi

advertisement
BAB II
PSIKOLOGI SOSIAL
1. Pengertian Psikologi Sosial
Seperti halnya psikologi, maka psikologi sosial merupakan juga suatu ilmu
pengetahuan baru, dalam arti baru saja timbul di dalam abad modern. Ilmu ini mulai
dirintis pada tahun 1930 di Amerika Serikat, dan kemudian juga di negara-negara lain.
Psikologi Sosial masih dalam tahap pembentukan meskipun masalahnya sudah ada
sejak adanya manusia. Dorongan kegiatan dihadapinya dalam masalah-masalah
praktis.
Masalah-masalah
itu
bergerak
sekitar
kelompok-kelompok
manusia,
organisasi-organisasi, kepemimpinan dan pengikut-pengikutnya, moral, hubungan
kekuasaan dan saluran komunikasi.
Psikologi sosial merupakan perkembangan ilmu pengetahuan yang baru dan
merupakan cabang dari ilmu pengetahuan psikologi pada umumnya. Ilmu tersebut
menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasisituasi sosial, seperti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya; termasuk di
dalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya. Interaksi ini baik antar
individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok
dapat berjalan lancar dapat pula tidak. Interaksi akan berjalan lancar bila masingmasing pihak memiliki penafsiran yang sama atas pola tingkah lakunya, dalam suatu
struktur kelompok sosial. Masing-masing pihak telah mempelajari perangsang serta
respon mana yang harus dipilih dan dihindarkan.
Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita misalnya, umum sudah memahami
bahwa dua individu yang saling berkenalan atau dua sahabat lama yang saling
bertemu akan berjabat tangan. Pola interaksi ini berjalan lancar karena memiliki
persamaan dalam penafsiran. Dan pola interaksi ini akan menjadi lain bila di antara
mereka itu berasal dari lingkungan masyarakat yang tidak mengenal jabat tangan
sebagai simbol berkenalan atau keakraban. Pola tingkah laku yang hidup dalam
lingkungan masyarakat yang terbatas kemungkinan berbeda dengan pola tingkah laku
masyarakat yang lebih luas.
Tingkah laku individu yang timbul dalam kontek sosial atau lingkungan sosial inilah
yang akan dipelajari oleh Psikologi Sosial. Berdasarkan gambaran tersebut
dikemukakan beberapa definisi psikologi sosial sebagai berikut:
a. Panitia istilah Pedagogik yang tercantum dalam kamus Pedagogik:
Psikologi sosial ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala psikis pada
massa, bangsa, golongan, masyarakat dan sebagainya. Lawannya: Psikologi
individu (orang-seorang).
b. Hubert Bonner dalam bukunya “Social Psychology” mengatakan
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
manusia. Di sini Bonner lebih menitik beratkan pada tingkah laku individu, bukan
tingkah laku sosial. Tingkah laku itulah yang pokok, yang menjadi sasaran
utama dalam mempelajari psikologi sosial.
c. A.M. Chorus dalam bukunya “Grondsiagen der sociale Psikologie” merumuskan:
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
Dalam rumusan ini Chorus menekankan adanya tingkah laku individu dalam
hubungannya sebagai anggota masyarakat. Rupa-rupanya Chorus menyadari
bahwa tiap-tiap manusia tidak bisa lepas dari hubungan masyarakat. Tidak
mungkin manusia hidup normal, apabila ia hidup di luar masyarakat.
Bahkan Aristoteles mengatakan: bahwa makhluk hidup yang tidak hidup dalam
masyarakat adalah ia sebagai seorang Malaikat atau seekor hewan. Itulah
sebabnya Chorus membuat rumusan yang berbeda-beda dengan Bonner.
d. Sherif & Sherif dalam bukunya “An Outline of Social Psychology” memberikan
definisi: “Social psychology is the behavior of the individuals in relation to social
stimulus situations”. Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari
pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan
situasi-situasi perangsang sosial. Dalam hal ini Sherif & Sherif menghubungkan
antara tingkah laku dengan situasi perangsang sosial, perangsang mana sudah
barang tentu erat sekali hubungannya antara manusia dengan masyarakat.
e. Roueck and Warren dalam bukunya “Sociology” mendefinisikan:
Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psikologis
daripada tingkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.
Dalam definisi tersebut lebih menitik beratkan adanya interaksi manusia yang
nyata-nyata sangat mempengaruhi tingkah laku manusia. Rupa-rupanya ada
persamaan pandangan dengan Chorus, yaitu tentang adanya hubungan yang
erat antara individu dengan masyarakat.
f.
Boring,
Langveld,
Weld
dalam
bukunya
“Foundations
of
Psychology”
mengutarakan:
Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia
dalam kelompoknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.
g. Kimball Young (1956)
Psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia.
h. Krech, Cruthfield dan Ballachey (1962)
Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku individu di dalam
masyarakat.
i.
Joseph E. Mc. Grath (1965)
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tingkah laku
manusia sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan dan
lambang-lambang dan orang lain.
j.
Gordon W. Ailport (1968)
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mengerti dan
menerangkan
bagaimana
pikiran,
perasaan dan
tingkah
laku
individu
dipengaruhi oleh kenyataan, imajinasi, atau kehadiran orang lain.
k. Secord dan Backman (1974)
Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari individu dalam kontek sosial.
l.
W.A. Gerungan
“Ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki:
pengalaman dan tingkah laku individu manusia seperti yang dipengaruhi atau
ditimbulkan oleh situasi-situasi sosial”.
Pandangan para ahli ini kiranya juga tidak berbeda jauh dengan pandanganpandangan sebelumnya. Bahkan mereka tidak saja menganggap adanya hubungan
manusia dengan manusia, manusia dengan kelompoknya, tetapi juga hubungan antara
kelompok dengan kelompok. Nyatalah kiranya bahwa tiap-tiap ahli psikologi sosial
mempunyai pandangan rumusan sendiri-sendiri. Namun demikian tidaklah berarti
bahwa masing-masing rumusan itu bertentangan satu sama lain, tetapi semuanya
saling isi mengisi dan saling melengkapi. Dan rumusan-rumusan tersebut di atas
dapatlah kita simpulkan secara bulat bahwa:
Psikologi sosial adalah suatu studi ilmu ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku
individu-individu dalam hubungnnnya dengan situasi sosial. Atau dapat kita singkatkan:
Ilmu yang mempelajari individu sebagai anggota kelompok.
Dengan demikian akan jelas bagi kita apa yang akan dipelajari dalam lapangan
psikologi sosial itu. Membicarakan psikologi sosial tidak dapat terlepas dari
pembicaraan individu dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial. Masalah
pokok dalam psikologi sosial adalah pengaruh sosial (social influence). Pengaruh
sosial inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku individu. Berdasarkan inilah maka
psikologi sosial didefinisikan sebagai: Ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tingkah
laku. individu dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial.
2. Latar Belakang Timbulnya Psikologi Sosial
Berikut ini dipaparkan sejarah perkembangan psikologi sosial secara singkat, yang
dipelopori oleh beberapa tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap
perkembangan psikologi sosial. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
a. Gabriel Tarde (1842-1904)
Seorang sosiolog dan kriminolog Perancis yang dianggap pula sebagai Bapak
Psikologi Sosial (Social Interaction). Tarde berpendapat bahwa semua hubungan
sosial (social interaction) selalu berkisar pada proses imitasi; bahkan semua
pergaulan antar manusia itu hanyalah semata-mata berdasarkan atas proses
imitasi itu. Menilik katanya, imitasi berasal dari bahasa Inggris “to imitate” yang
berarti: frilow the example ofi take as a model or pattern, yang kalau diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia secara bebas berarti mencontoh mengikuti suatu pola.
Istilah imitasi ini secara populer diartikan sebagai “meniru”.
Imitasi itu dalam masyarakat melalui suatu proses perkembangan, adapun
prosesnya meliputi tahapan berikut:
(1). Timbulnya gagasan-gagasan, penemuan-penemuan baru yang biasanya
dirumuskan oleh individu yang berbakat tinggi.
(2). Gagasan-gagasan atau penemuan baru kemudian diimitasi dan
disebarluaskan oleh orang banyak di dalam masyarakat, sehingga seolah-olah
dalam masyarakat terdapat suatu arus imitasi. Demikian seterusnya dan arus
imitasi itu timbullah gagasangagasan atau penemuan-penemuan baru.
b. Gustave le Bon (1841-1932)
Terkenal dengan sumbangannya dalam lapangan “Psikologi massa”. Yang
dimaksud dengan massa ialah kumpulan orang satu sama lain untuk sementara
waktu karena minat atau kepentingan bersama. Cortoh: para penonton
pertandingan olah raga, sepakbola dan sebaginya.
Le Bon mengatakan bahwa massa itu mempunyai suatu jiwa tersendiri yang
berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiwa individu. Jadi seorang individu yang
tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secara berlainan dibandingkan
dengan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu. Adapun
sifat massa itu lebih impulsif, Iebih mudah tersinggung, ingin bertindak dengan
segera dan nyata lebih mudah terbawa-bawa oleh sentimen, kurang rasionil lebih
mudah dipengaruhi (sugestibel), lebih mudah mengimitasi dan sebagaina.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut Le Bon pada manusia terdapat dua
macam jiwa, yaitu jiwa individu dan jiwa massa yang masingmasing berlainan
sifatnya. Jiwa massa lebih bersifat primitif (buas tidak rasionil, penuh sentimen
daripada sifat-sifat jiwa individu.
Pendapat Le Bon tersebut ternyata banyak menimbulkan kritik terutama
pandangannya terhadap massa. Jiwa massa dianggapnya banyak mengandung
sifat-sifat negatif pada hal sebenarnya anggapan itu tidak selalu benar seluruhnya,
sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang susila. Contoh: kesatuan-kesatuan aksi
massa dan lain-lain.
c. Sigmund Freud (1856-1939)
Seorang ahli psikologi, sekaligus Bapak Psiko-analisa, juga sebagai psikiater
Austria yang ternama. Seirama dengan Gustave Le Bon, ia berpendapat bahwa
jiwa manusia itu rnempunyai sifat-sifat khusus yang berlainan dengan sifatsifatjiwa individu.
Berlainan dengan Le Bon, ia berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya
sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu. Hanya saja sering tidak disadari
oleh manusia itu sendiri, karena memang dalam keadaan terpendam. Pendapat mi
sesuai dengan prinsip Ilmu Jiwa dalam yang dibinanya. Baru setelah berada dalam
situasi massa, maka sifat-sifat yang terpendam tersebut seolah-olah diajak untuk
mengatakan dirinya dengan leluasa, sehingga tampaklah jiwa massa yang
sebelumnya tidak terduga-duga itu.
Sudah barang tentu pendapat Freud tersebut mengandung kelemahan. Salah satu
kelemahannya ialah bahwa tinjauan Freud mengenai jiwa massa hanya dan segi
yang negatif, segi yang tidak baik. Padahal pada jiwa massa terkandung pula sifatsifat yang positif, sifat-sifat yang baik antara lain: sifat rela berkorban, suka
membantu dan lain sebagainya.
d. Emile Durkheim (1858-1917)
Sebagai seorang tokoh sosiologi, ia berpendapat bahwa:
1. Gejala-gejala sosial yang terdiri dalam masyarakat itu tidak dapat dibahas oleh
psikologi, melainkan hanya oleh sosiologi. Adapun alasannya ialah bahwa
yang mendasari gejala-gejala sosial itu adalah suatu kesadaran kolektif dan
bukan kesadaran individuil.
2. Masyarakat itu terdiri atas kelompok-kelompok manusia yang hidup secara
kolektif dengan pengertian-pengertian dan tanggapan-tanggapan kolektif pula.
Dan hanya dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejalagejala sosial.
3. Bahwa manusia terdapat dua macam jiwa, seperti yang dikemukakan oleh Le
Bon, yaitu jiwa kelompok (group mind) dan jiwa individu (individu mind).
Kritik yang ditujukan atas pendapat Durkheim tersebut meliputi hal-hal dibawah
ini:
a. Berat sebelah, artinya sangat menitik beratkan pada peranan jiwa kolektif.
b. Fantastis, artinya pendapat mengenai jiwa kolektif hanya suatu lamunan,
khayalan saja yang sukar dibuktikan oleh kehidupan nyata.
e. William James & Charles H. Cooley (hidup diawal abad 20)
Mereka berpendapat bahwa perkembangan individu itu berhubungan erat dengan
perkembangan masyarakat di sekitarnya. Ciri-ciri dan tingkah laku individu tidak
mudah dimengerti jika tidak dikaitkan dalam hubungannya dengan orang-orang
lain di dalam kelompok itu, sebab sejak dilahirkan individu itu sudah beninteraksi
sosial dengan orang lain, misalnya dengan orang tuanya, keluarganya, kawankawan sepermainan yang kesemuanya ini akan memupuk perkembangan
individuil
serta
keseimbangan
pribadi
sebaik-baiknya.
Bahkan
Cooley
menambahkan self-concept seseorang individu merupakan refleksi dan konsepkonsep orang lain.
f. Kurt Lewin (meninggal tahun T966)
Beliau menjadi terkenal karena pembinaannya dalam lapangan psikologi moderm
yang disebut “Typological Psychology” atau Field Psikologi. Pokok pikiran Field
Psychology adalah bahwa bagaimanapun dan bilamanapun manusia itu hidup
dalam suatu ‘field” (lapangan). Jadi yang dimaksud dengan field adalah suatu
lapangan kekuatan physis maupun psychis yang senantiasa berubah menurut
situasi kehidupannya. Oleh karena itu uraian mengenai tingkah laku manusia
harus pula memperhatikan kekuatan-kekuatan yang bekerja terhadapnya dalam
lapangan yang berubah-ubah itu.
Kesimpulan Kurt Lewin tersebut merupakan kesimpulan ekperimental, sebab
ditarik oleh ekperimen yang dilakukan bersama-sama dengan Lippit dan White
(1939). Penelitian mereka atas tiga kelompok yang dipimpin dengan pola
kepemimpinan yang berbeda ternyata mampu menghasilkan pengaruh yang
berlainan pula terhadap suasana kerja dan cara-cara bertingkah laku dalam
kelompoknya masing-masing.
Selanjutnya perlu diketahui, bahwa psikologi sosial mulai berkembang setelah
Perang Dunia 1. Kejadian mi diikuti oleh meluasnya komunisme, depresi ekonomi
pada tahun 1930, munculnya Hitler, kekacauan diantara ras, dan Perang Dunia II
yang merangsang lahirnya cabangcabang ilmu sosial. Kemunculan itu berupaya
untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul karena situasi di atas.
Psikologi sosial sendiri diharapkan pada berbagai masalah yang memerlukan
jawaban dan penjelasan. Masalah-masalah itu adalah masalah-masalah yang
berhubungan dengan gejala-gejala kepemimpinan, pendapat umum (public opin
ion), propaganda, prasangka sosial, perubahan sikap, komunikasi, pembuatan
keputusan, hubungan ras serta konflik nilai. Beberapa kejadian sejarah penting
dalam perkembangan psikologi sosial dapatlah di petakansebagai berikut (John H.
Harvery dan William P. Smith, 1977 :4):
Tahun 1897:
Eksperimen dalam bidang psikologi sosial yang pertama dilakukan oleh triplett.
Eksperimen ini bermaksud meneliti pada kecepatan pengendara sepeda dengan
hadirnya pengendara sepeda (motor) lain didepannya. Ternyata kecepatan
ditemukan meningkat dengan hadirnya pengendara lain di depannya.
Tahun 1908:
Buku pertama tentang psikologi sosial secara bersamaan dikeluarkan oleh Mc.
Dougall dan Ross. Buku Mc. Dougall menekankan peranan instrink dalam tingkah
laku sosial, sedangkan buku Ross pada peranan imitasi (peniruan) dan “Group
mind” di dalam tingkah laku sosial.
Tahun 1921:
Terbitlah “The journal of Abnormal and social psychology” yang banyak memuat
laporan
penelitian di lapangan. Pada tahun 1965 Journal itu dipisahkan ke dalam “Journal
of Abnormal Psychology” dan “Journal of personality and sosial psychology”.
Tahun 1920-1950:
Selama periode ini tekanan diletakan pada pengukuran sikap dalam Psikologi
sosial. Tokoh-tokoh yang mengembangkan validitas, skala reliabilitas untuk
mengukur sikap adalah Bogardus (1924), Thurstone (1928), Likert (1932), dan
Guttman (1950). Juga selama periode ini Moreno (1934) mengembangkan teknik
sociometri untuk mengukur ketertarikan antar individu (inter personal attraction).
Tahun 1945:
Lewin mendirikan Pusat Riset untuk Dinamika Kelompok (Research Center for
Group Dynamics) di institut Pusat Teknologi Massachusatts. Pendirian ini berarti
pendekatan eksperimental dalam Psikologi sosial. Banyak para tokoh senior dalam
psikologi sosial sekarang ini yang memulai pekerjaan mereka dengan Lewin Pusat
Riset ini. Sesudah Lewin meninggal pada tahun 1947 Pusat Riset ini pindah ke
tempat yang sekarang yaitu Universitas Mechigan.
Akhir 1950 dan 1960:
Selama periode ini Psikologi Sosial tumbuh secara aktif. Progam gelar dalam
Psikologi dimulai di sebagian besar universitas.
3. Dasar Mempelajari Psikologi Sosial
Dalam kehidupan manusia merupakan makhluk tertinggi di antara makhlukmakhluk lain ciptaan Tuhan. Kelebihan manusia dan makhluk- makhluk yang lain
terutama karena kecerdasan dan kemauan yang dimilikinya dan kesadara
terhadap Tuhan zat Yang Maha Tinggi/pencipta dirinya dan seluruh alam semesta.
Karena kecerdasan dan kemauan yang dimiliki manusia tersebut manusia mampu
menguasai alam, menaklukkan makhluk yang lebih kuat dari padanya dan sebagai
homo Faber manusia mampu menciptakan segala sesuatu untuk kesempurnaan
dirinya.
Manusialah
satu-satunya
makhluk
yang
berbudaya
yang
selalu
berkembang ke arah yang lebih baik dan paling dapat menyesuaikan diri terhadap
tuntutan
alam
dengan
sebaik-baiknya.
Oleh
karena
ditinjau
dari
segi
kebutuhannya, manusia adalah makhluk monodualis artinya di samping manusia
membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya sebagaimana makhluk
biologis yang lain, manusia juga membutuhkan hasil kebudayaan untuk
pertahanan dan perkembangan hidupnya, sehinga tidak tertelan oleh tuntutan
alam dan kemajuan zaman, justru sebaliknya dapat memperkembangkan dan
menyempurnakan hidupnya ke derajat yang lebih tinggi.
Kesemuanya itu bisa tercapai karena potensi-potensi yang dimiliki manusia, di
mana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup
dalam lingkungan masyarakat.
Potensi-potensi tersebut antara lain:
1. Kemampuan menggunakan bahasa
Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini hanyalah
semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian, bisa merubah
menambah dan mengambangkan bahasa yang digunakan. Pada binatang
memang ada tetapi masih sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi
suara yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.
2. Adanya sikap etik
Dalam setiap masyarakat pasti ada peraturan/norma-norma yang mengatur
tingkah laku anggota-anggotanya baik itu di masyarakat modern maupun di
masyarakat
yang
masih
terbelakang
sekalipun
norma-norma
tersebut
merupakan ketentuan apakah suatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk.
Norma-norma tersebut tidak selalu sama antara masyarakatyang satu dengan
masyarakat
yang
lain
sesuai
dengan
adat
kebiasaan,
agama
dan
perkembangan kebudayaan pada umumnya dimana dia hidup. Individu sebagai
anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma-norma
yang berlaku dalam masyarakat karena adanya sikap etik yang dimilikinya.
Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebadayaan manusia berusaha untuk
menyempurnakan norma-norma yang telah ada.
3. Hidup dalam alam 3 dimensi
Artinya manusia maupun hidup atas dasar 3 waktu. Tingkah laku manusia
didasarkan pada pengalaman yang lampau, kebutuhan-kebutuhan sekarang
dan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Pengalamanpengalaman masa lalu merupakan pegangan bagi perbuatan-perbuatannya
masa sekarang, sehingga kesalahan yang sama tidak akan selalu terulangulang. Pengalaman-pengalaman yang tidak baik diingat untuk tidak diperbuat
lagi sedang pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman dalam aktifitasaktifitasnya masa kini sedangkan aktifitas-aktifitas masa kini di arahkan untuk
mencapai tujuan selanjutnya,dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain
manusia dapat merencanakan apa yang akan diperbuat dan apa yang akan
dicapai.
Ketiga pokok di atas biasa pula di sebut sebagai syarat “human minimum”.
Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum ini dengan sendirinya
sukar digolongkan sebagai masyarakat manusia. Ditinjau dan sifat manusia
sebagai makhluk monopluralis artinya di samping sebagai makhluk individul juga
sebagai makhluk sosial dan makhluk berketuhanan. Atas dasar sifat-sifat manusia
tersebut, Dr. A. Kuypers menggolongkan kegiatan manusia menjadi 3(tiga)
golongan utama yang hakiki, ialah kegiatan yang bersifat individual, kegiatan yang
bersifat sosial dan kegiatan yang bersifat keTuhanan.
Manusia sebagai makhluk individual, berarti manusia itu merupakan suatu
totalitas. Individu berasal dari kata in-dividere, yang berarti tidak dapat dipecahpecah. Memang ada beberapa pandangan tentang hal ini, misalnya Aristoteles
berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan daripada beberapa
kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja tersendiri, seperti kemampuan
vegetatif: makan, berkembang biak, kemampuan sensitif (bergerak mengamati
dan
mempunyai
nafsu),
dan
kemampuan
intelektif
(berkemauan
dan
berkecerdasan).
Descartes menyatakan bahwa manusia itu terdiri atas zat-zat rohaniah ditambah
zat material yang masing-masing tunduk pada peraturan-peraturan tertentu yang
kadang-kadang bertentangan. Dengan demikian kita melihat bahwa pada manusia
itu masih terdapat adanya dualisme, yang tidak saja berbeda tetapi bahkan
kadang-kadang berlawanan.
Dengan munculnya Wilhelm Wundt, sebagai tokoh aliran ilmu jiwa modern,
barulah ada penegasan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwa
dan raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan. Dalam pembahasan ilmu jiwa
sosial, yang menjadi pokok pembahasan, dengan tidak mengabaikan segi
individulnya, karena tanpa memperhatikan segi individul tersebut akan sukarlah
diperoleh pengertian yang sewajarnya, adalah manusia sebagai makhluk sosial.
Sejak manusia dilahirkan selalu membutuhkan bantuan orang lain, ia memerlukan
bantuan untuk makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian
pula setelah bertumbuh lebih besar, anak belajar berbicara, berjalan, mengenal
benda-benda, normal dan sebagainya selalu membutuhkan pertolongan dan
bantuan orang-orang sekitarnya.
Pada pokoknya tak mungkin manusia hidup sendiri tanpa adanya komunikasi
dengan manusia lainnya. Manusia baru menjadi manusia yang sebenarnya kalau
ia hidup bersama manusia juga. Dengan kata lain, pada dasarnya pribadi manusia
tak sanggup hidup seorang diri tanpa lingkungan psychis atau rohaniahnya
walaupun secara biologis-fisiologis ia mungkin dapat mempertahankan dirinya.
Justru dalam interaksi antar manusia itulah sebenarnya, manusia dapat merealisir
kehidupan secara individul. sebab tanpa adanya timbal balik dalam interaksi sosial
itu dia tidak dapat mereali kemungkinan-kemungkinan serta potensi-potensi yang
ada padanya sebagai makhluk individu.
Dalam kehidupan bersama ini pula individu akan turut membentuk norma-norma
kelompok/norma-norma sosial. Selain itu dalam kehidupan sosial tadi individu
bukan hanya akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya,
tapi masyarakat itu juga membutuhkan sumbangan.
Atas dasar uraian-uraian di atas maka sudah seharusnya manusia mengabdi
kepada kehidupan bersama dan meningkat kehidupan bersama tersebut ke arah
yang lebih tinggi, karena meningkatnya kehidupan masyarakat merupakan pula
pendorong untuk meningkatkan diri pribadi dan memberikan kesempatan yang
lebih besar untuk mengembangkan kecakapan sera potensi yang ada pada
dirinya. Untuk maksud itu ilmu jiwa sosial merupakan salah satu ilmu yang sangat
penting sebab ilmu jiwa sosial memberikan dasar-dasar pengertian tentang gejalagejala kejiwaan dan tingkah laku individu dalam situasi sosial; dengan demikian
akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat untuk mengadakan
perubahan-perubahan
dan
pengarahan
kepada
suatu
tujuan
dengan
sebaikbaiknya.
Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial maka kita tidak akan mudah
terpengaruh dan terbawa-bawa oleh situasi yang ada dalam masyarakat,tidak
mudah tersugesti oleh gerakan-gerakan massa yang tidak selamanya baik.
Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu
problema sosial secara tepat dan sistematis, mengenai semua proses kejiwaan
yang mengakibatkan kehidupan bersama utuk merubah manusia-manusia lama
menjadi manusia baru sesuai dengan manusia itu sendiri, maka salah satu cara
yang dapat dilaksanakan ialah dengan merubah sifat dan sikap sosialnya; caracara demikian dipelajari pula dalam ilmu sosial.
Download