1 PENGEMBANGAN KIT PEMBELAJARAN

advertisement
PENGEMBANGAN KIT PEMBELAJARAN BERBANTUAN LKS
MATERI SISTEM PERNAPASAN UNTUK SISWA KELAS XI SMA
Dewi Novrina Utami*, Abdul Ghofur, dan Hadi Suwono.
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang.
Jalan Semarang, 5 Malang 65145
*Email: [email protected]
ABSTRAK: Proses pembelajaran biologi materi sistem pernapasan, khususnya dalam
penerapan kurikulum 2013 terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi oleh guru dan
siswa. Hal ini disebabkan karena belum tersedianya bahan ajar yang sesuai dengan
prinsip pendekatan ilmiah dan masih terbatasnya media yang diperlukan dalam kegiatan
pembelajaran sistem pernapasan. Penelitian dan pengembangan ini dilakukan untuk
mengembangkan media pembelajaran yaitu KIT Pembelajaran berbantuan LKS. Metode
dan prosedur penelitian dan pengembangan ini mengadaptasi Four-D model yang
dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. Hasil uji kelayakan dan uji keterlaksanaan
menunjukkan bahwa media sangat layak dan terlaksana dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, KIT Pembelajaran berbantuan LKS mampu
meningkatkan ketuntasan belajar siswa sebesar 60,67%. Kesimpulan mengenai KIT
Pembelajaran berbantuan LKS ini yaitu media ini telah mendapatkan penilaian sangat
layak berdasarkan uji kelayakan oleh validator ahli, dapat terlaksana dalam kegiatan
pembelajaran, mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa dan mendapatkan respon
yang sangat positif dari siswa.
Kata Kunci: KIT Pembelajaran, LKS, materi sistem pernapasan.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu suatu fenomena alam secara
sistematis. Pembelajaran IPA harus
memberikan kesempatan siswa untuk
mendeskripsikan obyek dan kejadian,
mengajukan
pertanyaan, memperoleh
pengetahuan, meng-konstruksi pengetahuan dari fenomena alam, menguji penjelasan dengan berbagai cara dan mengkomunikasikannya kepada orang lain (Damayanti, dkk. 2013:58 dan Sayekti, dkk.
2012:143). Pada proses pembelajaran, khususnya pembelajaran materi sistem
pernapasan terdapat beberapa kesulitan
yang dihadapi oleh guru dan siswa. Berdasarkan observasi yang di-laksanakan pada
10 Oktober 2014 di SMAN 1 Singosari
juga menunjukkan hal demikian.
Kesulitan-kesulitan dalam mempelajari materi sistem pernapasan disebabkan karena belum tersedianya buku guru
dan buku siswa, bahan ajar yang digunakan oleh guru seperti LKS juga belum
menggunakan pendekatan ilmiah, belum
tersedianya KIT Pembelajaran yang berisi
peralatan praktikum yang menunjang, dan
pelaksanaan model pembelajaran PBL,
PjBL, dan inkuiri menimbulkan kebosanan
pada siswa.
Materi sistem pernapasan adalah
materi yang terdapat dalam Kurikulum
2013, yaitu pada KD 2.1, 3.8, dan 4.8 permendikbud no. 69 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
Submateri yang dipelajari dalam materi
sistem pernapasan yaitu organ penyusun
sistem pernapasan manusia, mekanisme
pernapasan manusia dan volume udara
pernapasan, dan ke-lainan pada sistem
pernapasan manusia (Sherwood, 2010).
Salah satu upaya dalam meningkatkan
efektifitas dan kualitas pembelajaran,
1
khususnya dalam materi sistem pernapasan
yaitu dengan mengembangkan media yang
tepat
sehingga
dapat
memberikan
pengalaman
belajar
secara
utuh,
meningkatkan motivasi belajar peserta
didik, serta memudahkan dalam memahami konsep-konsep sistem pernapasan.
Berdasarkan hasil penelitan Wahyudi dan
Khanafiyah (2009:117) bahwa kegiatan
belajar siswa dapat ditunjang dengan memanfaatkan KIT dalam pembelajaran, yang
dilengkapi dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang berorientasi pada
aktivitas belajar siswa, dan LKS yang dirancang dengan pendekatan ilmiah dengan
model pembelajaran tertentu yang menjadi
arah serta panduan bagi siswa dalam bekerja ilmiah.
Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan KIT Pembelajaran berbantuan
LKS. Di dalam KIT Pembelajaran terdapat
empat set alat peraga yang dapat digunakan siswa dalam pembelajaran pada materi
sistem pernapasan. Dengan menggunakan
KIT Pembelajaran berbantuan LKS, siswa
diharapkan mampu menemukan konsep
sistem pernapasan secara aktif, termotivasi
untuk belajar dan mengalami peningkatan
ketuntasan belajar.
METODE
Prosedur Penelitian & Pengembangan
Penelitian dan pengembangan ini
menggunakan model pengembangan yang
mengadaptasi tahapan-tahapan dari FourD model yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. (1974), yaitu: tahap I pendefinisian (define), tahap II perancangan
(design),
tahap III pengembangan
(develop), dan tahap IV penyebarluasan
(disseminate). Pada penelitian dan pengembangan ini, hanya dilakukan hingga
tahap III yaitu pengembangan (develop).
Pada tahap define dilakukan beberapa analisis yang digunakan untuk
memperkuat pentingnya pengembangan
KIT Pembelajaran berbantuan LKS. Pada
tahap define dilakukan analisis mengenai
permasalahan yang muncul dalam pembelajaran dan proses pembelajaran yang
efektif, analisis karakteristik siswa, analisis
kompetensi dasar, analisis konsep, dan
penentuan tujuan pembelajaran.
Selanjutnya
dilakukan
tahap
design, pada tahap ini dilakukan beberapa
langkah. Pertama yaitu penentuan acuan
dasar atau kriteria pengembangan media
yang baik, selanjutnya dilakukan pemilihan media pembelajaran, pemilihan
bentuk, lalu dilakukan perancangan awal
media yang akan dikembangkan. Tahap
selanjutnya yaitu develop, pada tahap ini
dilakukan pengembangan media sesuai
rancangan dan kriteria yang telah
ditentukan pada tahap sebelumnya. Setelah
media dibuat, dilakukan uji kelayakan pada
validator ahli yaitu ahli materi, ahli
pendidikan, dan praktisi lapangan atau
guru biologi SMA. Setelah melalui uji
kelayakan KIT Pembelajaran berbantuan
LKS selanjutnya direvisi dan diuji
keterlaksanaannya pada siswa kelas XI
MIA 3 SMAN 1 Singosari.
Data dan Analisis Data
Data penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif
diperoleh dari komentar dan saran
validator yang diisi oleh validator pada
angket uji kelayakan dan pengisian lembar
observasi keterlaksanaan produk dalam
kegiatan pembelajaran oleh observer. Data
kuantitatif diperoleh dari hasil uji
kelayakan oleh validator ahli, ketuntasan
belajar siswa dan respon siswa. Data hasil
uji kelayakan berupa nilai rentangan skala
1-4 yang diisikan pada angket uji
kelayakan yang diberikan kepada validator. Data yang diperoleh kemudian dianalisis
menggunakan
teknik
analisis
deskriptif untuk mengetahui komponen
dan aspek apa sajakah yang mendapat
penilaian layak dan belum layak sehingga
perlu direvisi. Data uji keterlaksanaan
berupa hasil pengisian lembar observasi
2
keterlaksanaan produk oleh observer. Data
ketuntasan belajar siswa diperoleh dari
nilai pre-test dan post-test siswa yang
dianalisis dengan rumus:
TB = X 100 %
Keterangan:
TB = Persentase ketuntasan belajar siswa
T = Banyaknya siswa yang mendapat
skor akhir minimal 75
N = Banyaknya siswa (Muawwanah,
2013:34)
Persentase yang diperoleh
selanjutnya dicocokkan dengan kriteria
berikut.
Tabel 1. Kriteria Ketuntasan Belajar Siswa
Rentangan Persentase
Kualifikasi
85-100 %
Sangat Baik
70-84,5 %
Baik
55-69,9 %
Cukup
40-54,9 %
Kurang
(Sumber: Agustina, 2013:22)
Data respon siswa diperoleh dari
pengisian angket oleh siswa yang telah
mengikuti kegiatan pembelajaran dengan
KIT Pembelajaran berbantuan LKS. Data
yang diperoleh selanjutnya dianalisis
dengan rumus:
RS=
Keterangan:
RS = persentase respon siswa
f = jumlah siswa yang menjawab setuju
n = jumlah seluruh siswa
Hasil perhitungan respon siswa dicocokkan dengan kriteria berikut.
RS≥85%
: Sangat Positif
RS˂
70%≤
85% : Positif
50%≤RS˂70% : Kurang Positif
RS˂50%
: Tidak Positif
(Yamasari,2010:4)
HASIL
Produk yang dihasilkan dari
penelitian dan pengembangan ini yaitu
KIT Pembelajaran berbantuan LKS. KIT
Pembelajaran merupakan suatu kotak
instrumen yang berisi empat set alat peraga
yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran sistem pernapasan. Spesifikasi
produk KIT Pembelajaran adalah sebagai
berikut: (a) Box atau kotak kit (Gambar 1)
terbuat dari papan triplek dengan ketebalan
1 cm dengan ukuran yaitu panjang: 60 x
lebar: 35 x tinggi: 25 cm
KIT Sistem Pernapasan
Gambar 1. Kotak Kit
(b) Set alat peraga dalam KIT Pembelajaran (Gambar 2, 3, 4, dan 5) terdiri dari alat
peraga mekanisme pernapasan manusia,
alat sederhana untuk mengukur volume
udara pernapasan, alat peraga bahaya
rokok, dan respirometer sederhana).
Gambar 2. Alat Peraga Mekanisme Pernapasan
Gambar 3. Alat Sederhana untuk Mengukur
Volume Udara Pernapasan
Gambar 4. Alat Peraga Bahaya Rokok
Gambar 5. Respirometer Sederhana
Penggunaan KIT Pembelajaran
ditunjang dengan LKS yang berisi panduan
kegiatan belajar siswa. LKS menggunakan
4 model pembelajaran yang bervariasi
pada setiap kegiatan pembelajaran, model
pembelajaran yang digunakan yaitu
Snowball Throwing, Group Investigation,
3
Problem Based Learning, dan Siklus
Belajar 5E. LKS juga dilengkapi dengan
RPP dan kunci jawaban LKS yang dapat
digunakan oleh guru sebagai pedoman
pelaksanaan
kegiatan
pembelajaran.
Berdasarkan hasil uji kelayakan oleh ahli
materi KIT Pembelajaran dan LKS
mendapatkan penilaian sangat layak. Hasil
uji kelayakan oleh ahli pendidikan, KIT
Pembelajaran mendapatkan penilaian
sangat layak, sedangkan LKS mendapatkan penilaian layak. Hasil uji
kelayakan oleh praktisi lapangan, KIT
Pembelajaran dan LKS mendapatkan
penilaian sangat layak. Hasil uji keterlaksanaan menunjukkan bahwa seluruh
kegiatan belajar siswa pada LKS dan
seluruh model dan alat peraga di dalam
KIT Pembelajaran ter-laksana dalam
kegiatan pembelajaran dan siswa memberikan respon yang sangat positif.
Ketuntasan belajar siswa juga meningkat
60,67% setelah pelaksanaan kegiatan
pembelajaran menggunakan produk yang
dikembangkan.
PEMBAHASAN
Penelitian dan pengembangan ini
menghasilkan produk KIT Pembelajaran
berbantuan LKS. KIT Pembelajaran ini
berisi 4 set alat praktikum dan peraga
materi sistem pernapasan dan LKS yang
berisi panduan kegiatan belajar siswa. LKS
menggunakan 4 model pembelajaran yang
berbeda pada setiap kegiatan belajar, yaitu
Snowball Throwing, Group Investigation,
Problem Based Learning, dan Siklus
Belajar 5E. Berdasarkan kriteria suatu
media, KIT Pembelajaran berbantuan LKS
dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang memerlukan kegiatan praktikum atau percobaan dan berperan untuk
menanamkan dan memantapkan ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Prihatiningtyas, 2013:19 bahwa KIT berisi
peralatan yang digunakan dalam kegiatan
belajar (praktikum) dan KIT merupakan
media untuk menanamkan dan meman-
tapkan pemahaman konsep. Peralatan yang
terdapat dalam KIT dapat digunakan siswa
untuk menemukan konsep yang sedang
dipelajari baik melalui praktikum maupun
non praktikum, seperti yang dikemukakan
oleh Wahyudi dan Khanafiyah, (2009:115)
bahwa pemanfaatan KIT dalam pembelajaran bersifat dinamis, yaitu selain dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan eksperimen
atau praktikum dalam laboratorium, juga
dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar
di kelas. KIT Pembelajaran ditunjang
dengan LKS yang berisi panduan kegiatan
belajar siswa. LKS dapat digunakan oleh
siswa untuk meningkatkan keterlibatan
atau aktifitas dalam kegiatan belajar dan
dapat membantu guru dalam mengarahkan
siswanya untuk dapat menemukan konsep
melalui aktivitasnya sendiri (Sunyono,
2008:8)
Dari hasil uji kelayakan dan uji
keterlaksanaan, KIT Pembelajaran berbantuan LKS dapat kategorikan sebagai
media pembelajaran yang layak untuk
diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Hasil uji kelayakan juga menunjukkan
bahwa metode dalam pengembangan
produk telah sesuai dengan prinsip-prinsip
pengembangan media yang dipaparkan
oleh Suprayitno (2011:15). Prinsip-prinsip
pengembangan tersebut yaitu: (1) dapat
memperjelas atau me-nunjukkan konsep
dengan lebih baik, (2) dapat meningkatkan
motivasi peserta didik, (3) memiliki
akurasi yang cukup dapat diandalkan, (4)
tidak berbahaya ketika digunakan, (5)
menarik, (6) memiliki daya tahan alat yang
cukup baik, (7) inovatif dan kreatif, dan (8)
bernilai pendidikan. Hasil uji coba pada
kegiatan pembelajaran langsung juga menunjukkan bahwa media yang dikembangkan telah memenuhi beberapa manfaat
media, seperti yang dijabarkan oleh Arsyad
(2011:21) bahwa manfaat media pembelajaran adalah: penyampaian konsep menjadi
lebih baku, pembelajaran bisa lebih menarik dan interaktif, alokasi waktu menjadi
4
lebih efektif, dan kualitas hasil belajar siswa dapat meningkat.
Keunggulan KIT Pembelajaran berbantuan LKS
Produk akhir KIT Pembelajaran berbantuan LKS memiliki keunggulan sebagai
berikut:
a. KIT Pembelajaran ini telah diorganisasikan untuk 1 pokok bahasan saja yaitu
sistem pernapasan. Hal ini dapat memudahkan guru dan siswa dalam belajar
materi sistem pernapasan dengan segala
peralatan yang ada di dalamnya tanpa
perlu mengambil alat lain di luar kotak
KIT.
b. Peralatan yang terdapat di dalam KIT
Pembelajaran menggunakan bahan
bekas yang mudah ditemui di sekitar
siswa, sehingga siswa tidak kesulitan
dalam mencari alat yang diperlukan
apabila ada kekurangan alat dalam kegiatan praktikum. Hal ini juga dapat
memotivasi siswa untuk menggunakan
barang bekas di sekitarnya sebagai barang yang berguna misalnya digunakan
sebagai media (alat praktikum sederhana).
c. Bahan dasar yang digunakan untuk
merancang peralatan dalam KIT Pembelajaran aman bagi siswa SMA,
peralatan tidak terlalu banyak menggunakan bahan kaca sehingga tidak mudah pecah dan tidak akan melukai siswa
ketika pelaksanaan kegiatan praktikum.
d. LKS dikembangkan dengan berbagai
model pembelajaran yang telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai, sehingga selain
tidak monoton tujuan pembelajaran juga
akan tercapai secara maksimal dengan
model pembelajaran yang telah disesuaikan.
Keunggulan-keunggulan tersebut
sejalan dengan manfaat media pembelajaran yang dikemukakan oleh Arsyad
(2007:25) bahwa, manfaat praktis dari
penggunaan media pembelajaran dalam
proses pembelajaran sebagai berikut: (a)
dapat memperjelas penyajian pesan dan
informasi sehingga dapat memperlancar
dan meningkatkan proses dan hasil belajar;
(b) dapat meningkatkan dan mengarahkan
perhatian peserta didik sehingga dapat
menimbulkan motivasi belajar, interaksi
yang lebih langsung antara peserta didik
dengan lingkungannya, dan kemungkinan
peserta didik untuk belajar sendiri-sendiri
sesuai dengan kemampuan dan minatnya;
(c) dapat mengatasi keterbatasan ruang dan
waktu, dan (d) dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada peserta didik
tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan
mereka.
Di dalam KIT Pembelajaran juga
terdapat beberapa set alat praktikum dan
alat peraga yang dapat digunakan siswa
untuk memperagakan suatu proses atau
melakukan praktik,
misalnya set alat
peraga mekanisme pernapasan dan alat
sederhana untuk mengukur volume udara
pernapasan. Hal ini dapat membuat peserta
didik lebih mudah memahami dan mengingat konsep yang dipelajari. Hal ini
sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh
Anderson (2011:2)
bahwa, semakin banyak alat indra yang
terlibat dengan sumber belajar pada
kegiatan belajar siswa, maka semakin baik
pula kesempatan bagi peserta didik untuk
belajar dan mendapatkan informasi dari
sumber belajar serta memahaminya dengan
baik.
Berdasar keunggulan-keunggulan
yang telah dipaparkan, KIT Pembelajaran
berbantuan LKS merupakan salah satu
solusi yang tepat untuk digunakan dalam
mengatasi permasalahan dalam
pembelajaran, misalnya permasalahan kurangnya fasilitas atau sarana pendidikan
disekolah kurang ter-motivasinya siswa
dalam kegiatan pem-belajaran, kurang
aktifnya siswa dalam kegiatan penemuan
pengetahuan, dan lain-lain.
5
KIT Pembelajaran berbantuan LKS
juga telah sejalan dengan pernyataan yang
dikemukakan oleh Suprayitno (2011:1)
bahwa alat peraga atau model mempunyai
peranan yang sangat penting dalam
pembelajaran. Alat peraga dapat digunakan
sebagai sumber belajar atau menjelaskan
konsep, sehingga peserta didik memperoleh kemudahan dalam memahami halhal yang dikemukaan guru, selain itu alat
peraga dapat memantapkan penguasaan
konsep yang ada hubungannya dengan
bahan atau model yang dipalajari sehingga
juga dapat meningkatkan keterampilan
peserta didik. Selain itu KIT Pembelajaran
berbantuan LKS juga dapat mambantu
sekolah dalam memenuhi standarisasi
pendidikan yang telah ditentukan oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP), yaitu melengkapi perabot,
peralatan, atau media pembelajaran yang
ada di sekolah.
Hal yang Perlu Diperbaiki dari KIT
Pembelajaran berbantuan LKS yang
Dikembangkan
Selain keunggulan yang telah
dipaparkan, KIT Pembelajaran berbantuan
LKS juga memiliki beberapa hal yang
masih perlu diperbaiki, antara lain: (a) beberapa alat masih dikembangkan dalam
jumlah terbatas seperti respirometer sederhana dan alat peraga bahaya rokok, sehingga apabila akan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sebenarnya masih
perlu dilakukan perbanyakan alat. (b)
komponen KIT tambahan seperti model
organ atau gambar organ penyusun sistem
pernapasan manusia belum dapat dimasukkan ke dalam kotak KIT, sehingga masih
harus dibawa secara terpisah dengan kotak
KIT. (c) beberapa alat dibuat dengan bahan
yang mudah rusak seperti galon bekas sehingga untuk ketahanan alatnya masih
kurang. (d) uji coba produk hanya dilakukan pada uji kelayakan dan uji keterlaksanaan, sedangkan uji keefektifan belum dilakukan.
PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk berupa KIT pembelajaran
berbantuan LKS. Produk yang dihasilkan
merupakan produk yang sangat layak
berdasarkan penilaian validator ahli materi,
pendidikan, dan praktisi lapangan. KIT
pembelajaran berbantuan LKS juga dapat
terlaksana dalam kegiatan pembelajaran
dan mampu meningkatkan ketuntasan
belajar siswa.
Saran
Untuk peneliti yang akan melakukan penelitian dan pengembangan KIT
Pembelajaran berbantuan LKS lebih lanjut
dapat mempertimbangkan hal-hal berikut.
a. Mengembangkan KIT Pembelajaran
berbantuan
LKS
dengan
mempertimbangkan kelemahan yang telah
dijabarkan
sebelumnya,
seperti
mengembangkan alat atau komponen
KIT dengan jumlah yang lebih banyak
masing-masing itemnya, menggunakan
bahan yang memiliki ketahanan yang
lebih baik sehingga lebih tahan lama,
dan mengusahakan agar seluruh komponen dapat masuk ke dalam kotak KIT
agar lebih praktis misalnya dengan memodifikasi ulang komponen yang sebelumnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kotak KIT agar dapat terorganisir
menjadi satu kesatuan yang utuh dan
praktis untuk dibawa kemana-mana.
b. Menggunakan bahan yang memiliki ketahanan lebih baik sehingga KIT dapat
digunakan dalam jangka waktu yang
lebih lama, namun tetap harus. mempertimbangkan keamanan alat untuk digunakan oleh siswa kelas XI SMA.
c. Uji keefektifan ditambahkan sebagai
salah satu uji coba produk. Uji
keefektifan dapat dilakukan dengan
membandingkan ketercapaian hasil belajar siswa menggunakan produk yang
dikembangkan
dan
dibandingkan
6
dengan hasil belajar siswa menggunakan produk sejenis yang telah ada.
DAFTAR RUJUKAN
Agustina, Entin T. 2013. Implementasi
Model Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa dalam Membuat Produk Kriya
Kayu dengan Peralatan Manual. Jurnal Invotec, 9(1): 17-28
Anderson, H. M. 2011. Dale’s Cone Experience, (Online), (http://wwww.
etsu.edu/uged/etsu1000/documment/
Dales_Cone_of_Experience.pdf), diakses 1 Mei 2013.
Arsyad, A. 2007. Media Pembelajaran.
Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Damayanti, Dyah Shinta, Ngazizah, Nur,
Setyadi, Eko. 2013. Pengembangan
Lembar Kerja Siswa (LKS) Dengan
Pendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk
Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Materi
Listrik Dinamis SMA Negeri 3 Purworejo Kelas X Tahun Pelajaran
2012/2013. Radiasi.Vol.3.No.1: 58-62
Muawwanah, Siti. 2013. Pengembangan
LKS Teorema Phitagoras Bercirikan
RMF untuk RSMPBI Pacitan. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang
Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah. Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia. (Online),
(http://kemdikbud.go.id), diakses pada
15 September 2014
Prihatiningtyas, S, Prastowo, T, Jatmiko,
B. 2013. Imlementasi Simulasi Phet
Dan Kit Sederhana Untuk Mengajar-
kan Keterampilan Psikomotor Siswa
Pada Pokok Bahasan Alat Optik. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1 (1):
18-22
Sayekti, Ika Candra, Sarwanto, Suparmi.
2012. Pembelajaran Ipa Menggunakan
Pendekatan Inkuiri Terbimbing Melalui Metode Eksperimen Dan Demonstrasi Ditinjau Dari Kemampuan Analisis Dan Sikap Ilmiah Siswa. Jurnal
Inkuiri, 1 (1): 142-154
Sherwood, Lauralee. 2010. Fundamental
of Human Physiology. Canada: Yolanda Cossio
Sunyono, 2008. Development Of Student
Worksheet Base On Environment To
Sains Material Of Yunior High School
In Class Vii On Semester I. Makalah
Disajikan dalam The 2nd International
Seminar of Science Education – UPI
2008
Suprayitno, T. 2011. Pedoman Pembuatan
Alat Peraga Fisika untuk SMA.
Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Direktorat Jendral
Pendidikan Menengah Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Thiagarajan, S., Semmel, D. S., dan Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of
Exceptional Children: A sourcebook.
USA: Indiana University.
Wahyudi dan Khanafiyah. 2009. Pemanfaatan Kit Optik Sebagai Wahana Dalam Peningkatan Sikap Ilmiah Siswa.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 5
(1): 113-118
Yamasari, Yuni. 2010. Pengembangan
Media Pembelajaran Matematika
Berbasis ICT yang Berkualitas. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional
Pascasarjana X – ITS, Surabaya
7
Download