- Digital Library UIN Sunan Kalijaga

advertisement
TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP
PENETAPAN PERKARA DISPENSASI NIKAH
(ANALISIS PENETAPAN NO. 0027/PDT.P/2014/PA.WT.)
SKRIPSI
DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT
MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU
DALAM ILMU HUKUM ISLAM
Oleh :
YULIANA TRIWIDIASTUTI
NIM 11350063
PEMBIMBING
Dr. SAMSUL HADI, S.Ag, M.Ag
JURUSAN AL AHWAL AS SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
ABSTRAK
Dispensasi nikah adalah suatu kemudahan atau keringanan bagi calon
mempelai laki-laki maupun calon perempuan yang masih dibawah umur dan belum
diperbolehkan untuk menikah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Kecuali suatu tindakan yang berdasarkan hukum dinyatakan bahwa suatu
peraturan perundang-undangan tidak berlaku untuk suatu hal yang khusus. Dispensasi
nikah merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi calon pasangan yang
belum mencapai umur minimal dibolehkan menikah yang diatur dalam Undangundang yang berlaku di Indonesia. Suatu perkawinan bagi calon pengantin yang
belum memenuhi persyaratan umur harus memperoleh dispensasi nikah. Hal ini dapat
ditegaskan lebih lanjut bahwa dalam ketentuan umur secara umum pada pasal 6 ayat
(2) yang berbunyi “untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai
umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua”. Jika dilihat
dari apa dasar hukum pertimbangan hakim dalam menetapkan penetapan dispensasi
nikah No. 0027/PDT.P/2014/PA.Wt.? dan Bagaimana tinjauan hukum Islam dan
hukum positif terhadap pertimbangan hakim dalam penetapan dispensasi nikah?
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian (library research) dengan
sumber data primer berupa observasi dengan meninjau secara langsung objek
penelitian yaitu Pengadilan Agama Wates. Data penunjang berupa dokumentasi
dengan menelusuri dan mempelajari dokumen-dokumen, berupa penetapan perkara
yang berhubungan dengan perkara dispensasi Nikah di PA Wates. Jenis analisis data
dalam penelitian ini bersifat deduktif dan induktif, dengan menggunakan pendekatan
normatif dan yuridis. Adapun sifat penelitian ini adalah adalah deskriptif-analitik.
Hasil dari penelitian ini bahwa dasar hukum yang digunakan hakim untuk
menetapkan perkara Dispensasi Nikah No. 0027/PDT.P/2014/PA.Wt. di tinjau dari
yuridis sudah sesuai dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1974. Jika di tinjau dari
segi normatif hal ini sesuai dengan kaidah fikiyah. Dari sini timbul pandangan
bahwa menikah dalam usia muda tidak menjadi permaslahan dari sudut agama.
Penetapan dispensasi nikah akan lebih mendatangkan kemaslahatan bagi kedua calon
mempelai dan terhindar dari perbuatan zina yang dilarang Agama. Secara angka batas
usia minimal bagi seseorang untuk melangsungkan pernikahan antara Undangundang Perkawinan dan Hukum Islam secara umum berbeda. Dalam UUP, batas usia
minimal untuk melangsungkan perkawinan adalah anak laki-laki telah mencapai usia
19 tahun dan wanita telah mencapai 16 tahun. Sementara dalam hukum islam,
khususnya madzab Syafi’i sama sekali tidak ditentukan mengenai batas minimal usia
nikah, karena yang penting sudah mencapai usia baligh dan tamyiz. Maka, dalam
hukum Islam, diperbolehkan pernikahan dini asalkan sudah memenuhi persyaratan
dan rukun nikah.
ii
ffi
ur3
Hat
Univemitas Islam Negeri Sunan l(alijaga
T,M.UINSK.BM-Offi3IRO
ST]RAT PERSETUJUAI\I SKRIPSTTUGAS AKHIR
: Persetujuan Skripsi
Lamp : Kepada Yth. Dekan Fakutas Syari'ah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Sunan Kahjaga Yogyakarta
Di Yogyakarta
As salamu'
alaihtm Wr. Wb
Setelah membaca, meneliti, memberikan petunjuk dan mengoreksi serta mengadakan
perbaikan seperlunya, maka kami selaku pembimbing berpendapat bahwa skripsi Saudari:
Nama : Yuliana Tri Widiastuti
NIM
:11350063
Judul :TINJAUAI{ HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERIIADAP
PEITETAPAI\I PERKARA DISPENSASI
NIKAII (ANALI$S PENETAPAI[
NO. 0027/PDT.P lz0l4tPA.WT)
Sudah dapat diajukan kembali kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum, Program Studi A1-
Ahwal Asy-syakhsiyyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu dalam Ilmu Hukum Islam.
Dengan ini kami mengharap agar skripsi/tugas akhir Saudara tersebut di atas dapat segera
dimunaqasyahkan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Was s al amu' al aikum Wr. Wb
Yogyakarta, 09 Juni 2015
fi
SI]RAT PERI{YATAAI\{ KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertandatangan di bawatr
ini:
Nama
Yuliana Tri Widiastuti
NIM
I 1350063
Jurusan
Al-Ahwal Asy-syakhsiyyah
Fakultas
Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Menyatakan deirgan sesungguhnya dan sejujurnya, bahwa skripsi saya yang
berjudul: "TINJAUAN HUKIJM ISLAM DAN IIUKUM POSITIF
TERIIADAP PEIIETAPAI\ PERKARA DISPENSASI I\IKAII (ANALISIS
PENETAPAIT NO. t027tPDT.Pn014lPA.WT)
'
adalah hasil penelitian saya
sendiri dan bukan plagiat hasil karya oreng lairU kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Yogyakart4 i8 Sya'ban 1436 H
05Juni
2015
NIM. 11350063
tv
M
\
KEMENTERIAN AGAMA
UNMERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
FAKULTAS SYARI'AH DAN HUKUM
Jl. Marsda Adisucipto Tetp. (0274) 512840 Fax. (0274) 545614 yogyakarta
55281
PENGESAHAN TUGAS AKHIR
Nomor : UIN.02IDS/PP.00.9 tO3S4/2015
TugasAkhirdenganjudul :TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP
PENETAPAN
PERKARA
NO.0027/PDT
NIKAH
DISPENSASI
.P /201 4 tP
(ANALISIS
A.WT .)
yang dipersiapkan dan disusun oleh:
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Telah diujikan pada
Nilai ujian Tugas Akhir
YULIANA TzuWiDIASTUTI
1 1 350063
Selasa, 16 Juni 2015
B+
dinyatakan telah diterirna oleh Fakultas Syari'ah dan Hukurn UIN Sunan Kalijaga yogyakarta
TIM UJIAN TUGAS AKHIR
Ketua Sidang
Dr. Samsul
NIP.
ru
Penguji
197
, S.Ag., M.Ag.
200003 1 003
I
Penguji
H. Wawan Guriawan, S.Ag., M.Ag.
19651208 199703 I 003
Dra. Hj. Ermi Suhasri Syafe'i, M.SI.
19620908 198903 2 006
Yogyakarta, 16 Juni 2015
Sunan Kalijaga
dan Hukurn
Hanafi, M.Ag.
70518 199703 I 003
1/1
2406/201 5
II
PENETAPAN
MOTTO
“Kesulitanmu itu hanya sementara, seperti semua yang
sebelumnya pernah terjadi.”
“Semangat adalah sebetulnya kepingan-kepingan bara kemauan
yang kita sisipkan pada setiap celah dalam kerja keras kita, untuk
mencegah masuknya kemalasan dan penundaan.”
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada :
 Bapak Soediastono S.Pd. dan Ibu Sri Sudaryati , terimakasih sudah memberikan
dorongan maupun semangat buat aku, kasih sayang, doa dan kesabaran yang tidak ada
habisnya untuk Aku. Engkaulah insan yang paling berjasa dalam hidup ini, jasa yang tak
tertebus dengan segala bentuk pengabdian, hanya ketulusan do’a yang senantiasa
kupanjatkan, semoga Allah SWT senantiasa memberi kesehatan, panjang umur dan
kebahagiaan dunia akhirat hingga kelak dapat melihatku menjadi anak yang berbakti,
bermanfaat bagi keluarga dan orang lain.
 Kakak-kakakku Mbak Novita Sri Widiastuti, S.TP dan Mas Dwi Widiastono,
A,Md, S.E, telah memberi semangat dari rumah untuk keberhasilan ini, semoga kalian
tetap menjadi kakak-kakak yang hebat nantinya dan Aku bisa menyusul kalian.
 Kedua ponakan aku tersayang, tercinta, terlucu, dan terimut
De’ Andika Rahman
Hariyanto dan De’ Fidian Ahza Pratista yang selalu memberikan keceriaan di saat aku
pulang ke rumah. Sayang kalian.
vii
KATA PENGANTAR
‫بسم هللا الرحمه الرحيم‬
.‫أشهد أن ال اله اال هللا الملك الحق المبيه‬. ‫الحمد هلل ربّ العالميه وبه وستعيه على أمىر ال ّد ويا وال ّد يه‬
‫ اللهم صل وسلم على رسىل هللا محمد وعلى‬.‫وأشهد أن محمدا عبده ورسىله المبعىث رحمة للعالميه‬
.‫أله وصحبه أجمعيه‬
:‫أما بعد‬
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam, yang telah memberikan
kenikmatan, pertolongan, rahmat, dan hidayah, sehingga penyusun mampu menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW.,
sebagai utusan-Nya yang membawa ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Beribu Syukur rasanya tak mampu mewakili rahmat dan petunjuk yang telah Allah SWT
berikan kepada penyusun atas terselesaikannya penyusunan skripsi ini. Sebagai manusia biasa,
tentunya penyusun tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Penyusun menyadari hal tersebut
seraya memohon kepada Allah SWT, bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan
pertolongan-Nya, terutama dalam penyusunan skripsi dengan judul: “Tinjaun Hukum Islam
dan Hukum Positif Terhadap Penetapan Perkara Dispensasi Nikah (AnalisisPenetapan No.
0027/Pdt.P/2014/PA.Wt.)” yang merupakan petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT yang
diberikan kepada penyusun.
Selanjutnya, penyusun menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud dengan baik
tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih dengan setulus hati
penyusun sampaikan kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu atas terselesaikannya
laporan ini. Ucapan terima kasih kami tujukan kepada:
1. Bapak Prof. Drs Akh. Minhaji., Ph. D selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
viii
2. Bapak Dr. H. Syafiq Mahmadah Hanafi, MAg, selaku Dekan Fakultas Syari’ah dan
Hukum, beserta para Wakil Dekan I, II, dan III beserta staf-stafnya.
3. Bapak .Wawan Gunawan, S.Ag., M.Ag selaku ketua Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah dan
Bapak Drs. Yasin Baidi, S.Ag M.Ag selaku Sekretaris Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
4. Bapak H. Abd. Madjid AS., M.SI. selaku Penasehat Akademik.
5. Bapak Dr. Samsul Hadi, S.Ag, M.Ag. selaku Pembimbing yang dengan kesabaran dan
kebesaran hati telah rela meluangkan waktu, memberikan arahan serta bimbingannya
kepada penyusun dalam menyelasaikan skripsi ini.
6. Kepada Bapak dan Ibu Dosen Al-Ahwal Asy-syakhsiyyah yang telah membimbing dan
menuangkan ilmunya kepada penyusun, serta seluruh civitas akademik fakultas syari’ah
dan hukum sebagai tempat penyusun selama menjalani studi pada jenjang perguruan
tinggi.
7. Karyawan TU jurusan yang dengan sabar melayani penyusun mengurus administrasi
akademik.
8. Orangtuaku yang tercinta Ayahanda Soediastono S.Pd. dan Ibu Sri Sudaryati, kakakkakakku Mbak Novita Sri Widiastuti, S.TP dan Mas Dwi Widiastono, Amd, S.E,
terimakasih atas doa, semangat dan kasih sayang tulus yang selalu mengalir setiap hari.
9. Terimakasih untuk Mas Isro, Rofah, Zuni, Nurul kalian sahabat terbaik dan terhebatku
yang selalu mengisi hari-hariku, terimakasih untuk semua kasih sayang kalian yang tidak
pernah putus. Serta atas do’a dan dukungannya selama penyusun mengerjakan setiap
harinya.
10. Fajar Surono, yang selalu menyisakan waktunya dan selalu memberikan semangat dan
doa di setiap hari-hariku.
11. Terima kasih juga untuk sahabatku Riris yang selalu setia mendengarkan curhatanku di
saat sedih maupun tertawa. Serta untuk semua Anak Asrama Putri Assalam II ( Erte Arin,
ix
Anggi, Emon, Mbak Ul, Kak Putri, Nita, Meme, Anggi) dan yang tak bisa disebutkan
satu persatu, terimakasih atas semangat kalian.
12. Temen BEM-J-AS (Abid, Syafik, Anggi, Yeni, Reni, Vika, Khoir dan yang lainnya)
terimakasih sudah mengisi kesibukanku disaat aku masih di Kampus ini sampai rela
lembur demi kelancaran acara BEM-J-AS.
13. Semua temen-temen KKN-83 Ringinsari (Bang Alwi, Nur, Catur, Nayla, Ady, Rini) yang
selalu semangat dan penuh keceriaan saat melaksanakan dan menjalankan kegiatan KKN.
14. Dan kepada seluruh rekan seperjuangan jurusan Al-ahwal Asy-syahsiyyah angkatan
2011 yang bersama-sama memulai perjuangan dalam menumpuh pendidikan di
Universitas dan fakultas serta jurusan tercinta.
Tiada suatu hal apapun yang sempurna yang diciptakan seorang hamba karena
kesempurnaan itu hanyalah milik-Nya. Dengan rendah hati penyusun menyadari betul
keterbatasan pengetahuan serta pengalaman berdampak pada ketidaksempurnaan skripsi ini.
Akhirnya harapan penyusun semoga skripsi ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua
pihak. Amin.
Yogyakarta, 18 Sya’ban 1435 H
05 Juni 2015 M
Yuliana Triwidiastuti
NIM : 11350063
x
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Transliterasi huruf Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada
Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 05936/U/1987.
A. Konsonan Tunggal
Huruf Arab
Nama
Huruf Latin
Keterangan
‫ا‬
Alîf
tidak dilambangkan
tidak dilambangkan
‫ة‬
Bâ‟
b
be
‫ت‬
Tâ‟
t
te
‫ث‬
Sâ‟
ś
es (dengan titik di atas)
‫ج‬
Jîm
j
je
‫ح‬
Hâ‟
ḥ
ha (dengan titik di bawah)
‫خ‬
Khâ‟
kh
ka dan ha
‫د‬
Dâl
d
de
‫ذ‬
Zâl
ż
zet (dengan titik di atas)
‫ز‬
Râ‟
r
er
‫ش‬
zai
z
zet
‫س‬
sin
s
es
‫ش‬
syin
sy
es dan ye
‫ص‬
sâd
ṣ
es (dengan titik di bawah)
‫ض‬
dâd
ḍ
de (dengan titik di bawah)
‫ط‬
tâ‟
ṭ
te (dengan titik di bawah)
‫ظ‬
zâ‟
ẓ
zet (dengan titik di bawah)
‫ع‬
„ain
„
koma terbalik di atas
‫غ‬
gain
g
ge
‫ف‬
fâ‟
f
ef
‫ق‬
qâf
q
qi
‫ك‬
kâf
k
ka
‫ل‬
lâm
l
`el
xi
‫و‬
mîm
m
`em
ٌ
nûn
n
`en
‫و‬
wâwû
w
w
‫هـ‬
hâ‟
h
ha
‫ء‬
hamzah
‟
apostrof
‫ي‬
yâ‟
Y
ye
B. Konsonan Rangkap karena Syaddah ditulis rangkap
‫يت ّعددة‬
Ditulis
Muta„addidah
‫عدّة‬
Ditulis
„iddah
C. Ta’ marbû a
1.
a
r aa
Bila dimatikan ditulis h
‫حكًة‬
Ditulis
‫عهة‬
Ditulis
Hi
ah
„illah
(ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam
bahasa Indonesia, seperti salat, zakat dan sebagainya, kecuali bila dikehendaki
lafal aslinya).
2.
Bila diikuti dengan ata sandang „al‟ serta bacaan edua itu terpisah, maka
ditulis h.
‫كسايةاألونيبء‬
3.
Bila ta‟
ditulis
arbûtah hidup atau dengan hara at fathah
Karâmah al-auliyâ‟
asrah dan ḍammah ditulis t
atau h.
‫شكبةانفطس‬
ditulis
Zakâh al-fiţri
D. Vokal pendek
__َ_
fathah
ditulis
a
‫فعم‬
ditulis
fa‟ala
__َ_
ditulis
i
xii
ditulis
żu ira
__َ_
ditulis
u
‫يرهت‬
ditulis
yażhabu
‫ذكس‬
kasrah
ḍammah
E. Vokal panjang
1
Fathah
alif
ditulis
Â
ditulis
jâhiliyyah
ditulis
â
ditulis
tansâ
ditulis
î
‫كـسيى‬
ditulis
karîm
Dammah + wawu mati
ditulis
û
‫فسوض‬
ditulis
furûd
ditulis
Ai
‫ثينكى‬
ditulis
bainakum
Fathah + wawu mati
ditulis
au
‫قول‬
ditulis
qaul
‫جبههية‬
2
Fathah
ya‟
ati
‫تنسى‬
3
4
Kasrah
ya‟
ati
F. Vokal rangkap
1
2
Fathah
ya‟
ati
G. Vokal pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof
‫أأنتى‬
ditulis
A‟antu
‫أعدت‬
ditulis
U„iddat
‫نئنشكستى‬
ditulis
La‟in sya artu
H. Kata sandang alif + lam
1.
Bila dii uti huruf Qo ariyyah ditulis dengan
engguna an huruf “l”.
ٌ‫انقسآ‬
ditulis
Al-Qur‟ân
‫انقيبس‬
ditulis
Al-Qiyâs
xiii
2.
Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah
yang mengikutinya, dengan menghilangkan huruf l (el) nya.
‫انسًآء‬
ditulis
As-Sa â‟
‫انشًس‬
ditulis
Asy-Syams
I. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat
Ditulis menurut penulisannya.
‫ذوي الفروض‬
ditulis
‫ﺃهل السنة‬
ditulis
a
al-furûd
Ahl as-Sunnah
J. Pengecualian
Sistem transliterasi ini tidak berlaku pada:
a. Kosa kata Arab yang lazim dalam Bahasa Indonesia dan terdapat dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia, misalnya: al-Qur‟an hadis
azhab syariat lafaz.
b. Judul buku yang menggunakan kata Arab, namun sudah dilatinkan oleh penerbit,
seperti judul buku al-Hijab
c. Nama pengarang yang menggunakan nama Arab, tapi berasal dari negara yang
menggunakan huruf latin, misalnya Quraish Shihab, Ahmad Syukri Soleh.
d. Nama penerbit di Indonesia yang menggunakan kata Arab, misalnya Tiko
Hidayah, Mizan.
xiv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
ABSTRAK ...................................................................................................... ii
SURAT PERSETUJAUN SKRIPSI ............................................................ iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ....................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... v
MOTTO ......................................................................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... vii
KATA PENGANTAR .................................................................................. viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN ........................................ xi
DAFTAR ISI ................................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
B. Pokok Masalah ................................................................................... 6
C. Tujuan Dan Kegunaan ........................................................................ 6
D. Telaah Pustaka ................................................................................... 7
E. Kerangka Teoretik ............................................................................. 11
F. Metodelogi Penelitian ....................................................................... 15
G. Sistematika Pembahasan .................................................................... 19
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PERKAWINAN DAN
DISPENSASI NIKAH
A. Pengertian Perkawinan
xv
xvi
1. Pengertian dan Dasar Hukum ....................................................... 21
2. Rukun dan Syarat-Syarat Perkawinan .......................................... 22
3. Tujuan dan Hikmah Perkawianan ................................................. 24
B. Kedewasaan Dalam Perkawinan
1. Ayat dan Hadis Tentang Kedewasaan .......................................... 27
2. Pendapat Para Ulama tentang Kedewasaan ................................. 28
C. Dispensasi Nikah
1. Pengertian Dispensasi Nikah ........................................................ 30
2. Batas Usia Perkawinan .................................................................. 32
3. Prosedur Dispensasi Nikah .......................................................... 35
BAB III PENETAPAN DISPENSASI NIKAH DI PENGADILAN
AGAMA WATES
A. Profil Pengadilan Agama Wates ...................................................... 37
B. Dasar Hukum dan Pertimbangan Hakim dalam Penetapan
Dispensasi Nikah .............................................................................. 43
BAB IV ANALISIS TERHADAP PERKARA PENETAPAN
DISPENSASI NIKAH NOMOR 0027/PDT.P/2014/PA.WT.
A. Analisis Dasar dalam Penetapan Dispensasi
Nikah No. 0027/PDT.P/2014/PA.Wt ............................................... 50
B. Analisis Pertimbangan Hakim.......................................................... 60
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................... 69
B. Saran-saran ...................................................................................... 71
xvii
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................72
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. Terjemahan ................................................................................ I
B. Biografi Ulama dan sarjana .................................................... II
C. Berkas Putusan ....................................................................... III
D. Curriculum Vitae ................................................................... IV
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan merupakan masalah yang penting bagi kehidupan manusia,
oleh karena di samping perkawinan sebagai sarana untuk membangun keluarga
yang bahagia dan sejahtera, juga merupakan kodrati manusia untuk memenuhi
kebutuhan seksualnya. Selain itu juga sebagai sunnatullah yang berlaku bagi
makhluk-makhukNya sebagai jalan untuk melangsungkan keturunan, karena pada
hakekatnya setiap makhuk yang bernyawa memiliki kecenderungan untuk saling
membutuhkan satu sama lain. Hal ini sebagaimana dengan hukum umum
penciptaan
bahwa
segala
sesuatu
diciptakan
berpasang-pasangan.Allah
SWTberfirman :
1
‫وهن کڶ شيءخلقنا ڒ و جين لعلکن تذ کر ون‬
Perkawinan merupakan cara yang ditempuh manusia untuk menemukan
pasangannya, yakni antara laki-laki dan perempuan sehingga terbentuk sebuah
rumah tangga, sebab pembentukan rumah tangga tidak akan terjadi tanpa melalui
perkawinan. Dengan jalan perkawinan yang sah, pergaulan antara laki-laki dan
perempuan akan terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk hidup
yang martabat. Suatu keluarga yang sakinah mawadah warahmah membutuhkan
1
Aż-Żāriyāt (51): 49
1
2
kematangan dan kedewasaan, salah satunya berumur yang cukup untuk menikah.
Sebagaimana bunyi hadis nabi SAW :
‫يا هعشر الشبا ب هن استطا ع هنڪن البا ء ۃ فليتز و ج فا نه ا غض للبصر‬
2
‫واحصن للفر ج و هن لن يستطع فعليه با لصو م فٳ نه له و جاء‬
Suatu perkawinan bagi calon pengantin yang belum memenuhi
persyaratan umur harus memperoleh dispensasi nikah. Hal ini dapat ditegaskan
lebih lanjut bahwa dalam ketentuan umur secara umum pada pasal 6 ayat (2) yang
berbunyi untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur
21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua”. Namun pada
ketentuan lain yang sesuai pada Kompilasi Hukum Islam pada pasal 15 ayat (1)
yang berbunyi untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya
boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan
dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yakni calon suami sekurangkurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16
tahun. Sehingga calon pengantin dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua baik itu pihak pria maupun
pihak wanita.
Beberapa Negara muslim, menentukan batas usia menikah dalam
perundang-undangan relatif cukup tinggi untuk laki-laki tetapi termasuk cukup
2
Imām Muslīm, Sahīh Muslīm, Kitab an-nikāh, diriwayatkan oleh Imām Muslīm dari Aisyah,
Hadis 1422, (Beirut: Dār al-Fikr, t.t), hlm. 594.
3
rendah untuk wanita.3 Misalnya, di Mesir usia 18 laki-laki dan 16 perempuan,
perkawinan di bawah umur sah untuk dilaksanakan tetapi tidak boleh didaftarkan.
Dalam Undang-undang Syiria uisa 18 laki-laki dan 17 perempuan4, bukan hanya
mengatur batas umur terendah untuk menikah, tetapi juga selisih umur antara
pihak laki-laki maupun wanita yang hendak melangsungkan pernikahan. Jika
perbedaan umur antara pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan itu
melebihi 20 tahun dan pihak wanita belum berumur 18 tahun, maka perkawinan
itu dilarang kecuali ada izin khusus dari pengadilan. Aturan tentang batas minimal
dan selisih umur kawin tidak diatur dalam kitab fikih, tetapi reformasi dalam
rangka untuk melindungi kaum wanita.
Pernikahan di bawah usia 19 dan 16 tahun disebut juga pernikahan usia
dini. Pernikahan usia dini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tidak
tercapainya tujuan pernikahan. Fakta menunjukkan bahwa dalam pernikahan usia
dini belum ada kematangan fisik, kematangan mental dan bahkan juga
kematangan ekonomi. Perkawinan dalam usia muda di mana seorang belum siap
mental maupun fisik, sering menimbulkan masalah di belakang hari bahkan tidak
3
M. Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution (ed.), Hukum Keluarga di Dunia Islam
Modern, cet. Ke-1 (Jakarta: Ciputat Press, 2003), hlm. 210.
4
http://hakamabbas.blogspot.com/2014/02/batas-umur-perkawinan-menurut-hukum.html,
diakses 8 Maret 2015, pukul 13.00 WIB.
4
sedikit berantakan di tengah jalan. Kematangan jiwa sangat besar artinya untuk
memasuki gerbang rumah tangga.5
Dispensasi nikah adalah suatu kemudahan atau keringanan bagi calon
mempelai laki-laki maupun calon perempuan yang masih di bawah umur dan
belum diperbolehkan untuk menikah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kecuali suatu tindakan yang berdasarkan hukum
dinyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan tidak berlaku untuk suatu
hal yang khusus. Dispensasi nikah merupakan salah satu syarat yang harus
dipenuhi bagi calon pasangan yang belum mencapai umur minimal dibolehkan
menikah yang diatur dalam Undang-undang yang berlaku di Indonesia.
Islam tidak mengenal dispensasi nikah, akan tetapi dalam mencapai
tujuan dilangsungkannya suatu pernikahan, ketentuan batas usia perkawinan
dalam Undang-undang perkawinan sejalan dengan ketentuan Maqasid asySyari’ah yaitu bertujuan mendatangkan maslahah bagi calon suami isteri, dalam
rangka memelihara agama, jiwa dan keturunan.
Allah SWT menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan
pemikiran para insan dan hendaknya dapat ditarik beberapa pelajaran berharga.
Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan perkawinan dan mengaturnya dengan
sangat teliti untuk membawa umat manusia hidup secara martabat sesuai
kedudukannya yang mulia di tengah-tengah makhluk Allah SWT yang lain. Suatu
5
A. Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Perkawinan (Nikah, Talak, Cerai, Rujuk), cet ke-2
(Bandung: Al-Bayan, 1995), hlm. 18.
5
perkawinan akan melahirkan kehormatan, keturunan, kesehatan jasmani dan
rohani setiap orang.
Pernikahan di bawah umur diprediksikan akan semakin meningkat
hingga akhir tahun, walaupun undang-undang Perkawinan masih memberikan
kelonggaran kepada orang yang ingin menikah. Akan tetapi mereka yang ingin
mendapatkan izin dispensasi nikah dari pengadilan harus dapat memberikan
alasan yang tepat mengenai apa alasan mereka menikah di usia dini.
Penyusun sangat tertarik dengan penetapan No. 27/Pdt.P/2014/Pa.Wt
karena perkara tersebut berbeda dengan perkara yang lain. Perbedanantara
penetapan No. 0027/Pdt.P/2014/Pa.Wt dengan penetapan dispensasi nikah dari
sekitar 56 perkara adalah perbedaan usia yang laki-laki masih 14 tahun sedangkan
wanitanya sudah 18 tahun. Maksud penyusun adalah karena dari berdasarkan
keterangan dan pengakuan anak pemohon, calon menantu dan calon besan
pemohon telah terbukti bahwa hubungan antara keduanya telah sedemikian
akrabnya bahkan telah melakukan hubungan layaknya suami istri. Kehendak
untuk melangsungkan pernikahan sangat kuat, dan kondisi calon menantu telah
dalam keadaan hamil 5 bulan, bila tidak segera dilaksanakan pernikahan tersebut
dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang lebih madharat.
Dispensasi nikah penting untuk pencatatan pernikahan di bawah umur
agar sah menurut Negara. Disini penyusun ingin mengetahui tentang apa
pertimbangan hakim dalam memberikan dispensasi kawin di bawah umur dan
6
bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pertimbangan hakim tersebut dalam
penetapan dispensasi nikah. Tujuan penyusun untuk mengulas lebih jauh
mengenai dispensasi nikah, dalam hal ini akan diangkat dengan judul “Tinjauan
Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Penetapan Perkara Dispensasi Nikah
(Analisis Penetapan No. 0027/PDT.P/2014/PA.WT)”.
B. Pokok Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, penyusun akan meneliti
beberapa hal sebagai berikut :
1. Apa dasar hukum dan pertimbangan hakim dalam menetapkan
permohonan Dispensasi Nikah No. 0027/PDT.P/2014/PA.Wt. ?
2. Bagaimana tinjauan hukum
pertimbangan
hakim
dalam
Islam
dan
penetapan
hukum
positif
dispensasi
terhadap
nikah
No.
0027/PDT.P/2014/PA.Wt. ?
C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penyusunan skripsi ini
adalah sebagai berikut :
7
1. Untuk menjelaskan dasar hukum dan pertimbangan hakim dalam
menetapkan
permohonan
Dispensasi
Nikah
No.
0027/PDT.P/2014/PA.Wt.
2. Untuk menjelaskan bagaimana tinjauan hukum Islam dan hukum positif
terhadap pertimbangan hakim dalam penetapan dispensasi nikah No.
0027/PDT.P/2014/PA.Wt.
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1. Penyusun diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk
mengembangkan dan memperkaya pengetahuan, terutama pengetahuan
yang berkaitan dengan Dispensasi Nikah.
2. Dapat menjadi bahan acuan dan pertimbangan bagi hakim pada masa yang
akan datang, khususnya masalah dispensasi kawin yang diajuakan oleh
calon mempelai sendiri.
D. Telaah Pustaka
Penyusun telah melakukan penelusuran terhadap karya ilmiah yang
ada. Di antaranya beberapa tulisan yang membahas masalah dispensasi nikah,
seperti tulisan karya Rohayah dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap
Dispensasi Kawin Karena Hamil Di Luar Nikah (Studi Terhadap Penetapan
Pengadilan Agama Yogyakarta Perkara Nomor 0030/Pdt.P/2011/PA.Yk)”.
Skripsi Rohayah menjelaskan bahwa pertimbangan-pertimbangan serta dasar
8
hukum yang telah dikemukakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama
Yogyakarta maka penetapan perkara nomor 0030/Pdt.P/2011/PA.Yk sudah tepat
menurut hukum Islam yang tidak membahas secara khusus tentang dispensasi
nikah dan juga telah sesuai dengan ketentuan syarat-syarat perkawinan dalam
hukum islam di antaranya adanya persetujuan dari calon mempelai pria dan
wanita tanpa adanya paksaan dari siapapun, kedua calon mempelai tidak memiliki
hubungan nasab, serta dengan walinya.6
Skripsi Rizkia Fina Mirzana dengan judul “Dispensasi Kawin yang
Diajukan
Oleh
Calon
Mempelai
Wanita
(Studi
Penetapan
No.
0035/Pdt.P/2011/PA.Mkd)”. Rizkia menjelaskan bahwa faktor-faktor yang
mendorong pemohon mengajukan dispensasi kawin adalah hubungan pemohon
dengan calon suaminya yang sudah sedemikaian rupa yang apabila perkawinan
antara keduanya tidak dilaksanakan dengan segera maka dikhawatirkan akan
lebih membawa madharat bagi kedua belah pihak dan kedua orang tuanya serta
masyarakat pada umumnya.7
Skripsi karya Ade Firman Fathoni dengan judul “Pertimbangan Hakim
dalam memberikan Dispensasi Perkawinan di Bawah Umur (Studi Di
6
Rohayah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Dispensasi Kawin Karena Hamil Di Luar
Nikah (Studi Terhadap Penetapan Pengadilan Agama Yogyakarta Perkara Nomor
0030/Pdt.P/2011/PA.Yk)”, skripsi stara satu Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
(2012). Tidak diterbitkan.
7
Rizkia Fina Mirzana, “Dispensasi Kawin Yang Diajukan Oleh Calon Mempelai Wanita
(Studi Penetapan No. 0035/Pdt.P/2011/PA.Mkd),” skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Syariah IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001).
9
Pengadialan Agama Wonosari tahun 2000-2002)”. Ade menjelaskan bahwa yang
menjadi pertimbangan utama hakim dalam menetapkan dispensasi nikah adalah
karena pemohon telah memiliki hubungan erat antara laki-laik dan perempuan
sehingga dikhawatirkan zina. Landasan utama pertimbangan hakim adalah
maslahah, walaupun ada tidaknya bersesuaian dengan maslahah.8
Skripsi oleh Abdul Salam dengan judul “Pertimbangan Hakim dalam
Memberikan Dispensasi Perkawinan dibawah Umur (Studi Kasus di Pengadilan
Indramayu dari tahun 2000-2002)”. Abdul menyatakan bahwa yang menjadi
pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim di Pengadilan Agama
Indramayu mempertimbangkan dari segi kemaslahatan yang diharapkan dapat
dicapai oleh kedua calon mempelai dengan dilangsungkannya perkawinan
mereka, dan menghindarkan kedua calon mempelai dari perbuatan melanggar
syari’at Islam. Pertimbangan ini didasarkan pada metode penetapan hukum
dengan
teori
maslahat
al-mursalah,
dan
disamping
itu
hakim
juga
mempertimbangkan secara “moral”dalam arti hakim berprinsip memudahkan
dilangsungkan perkawinan9
Skripsi Hendra Fahrudi Amin dengan Judul “Pertimbangan Hukum
Dispensasi Nikah oleh Hakim Pengadilan Agama Yogyakarta Bagi Pasangan
8
Ade Firman Fathoni, “Pertimbangan Hakim dalam memberikan Dispensasi Perkawinan di
Bawah Umur (Studi Di Pengadialan Agama Wonosari tahun 2000-2002).” Skripsi tidak diterbitkan,
Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2004).
9
Abdul Salam, “Pertimbangan Hakim dalam Memberikan Dispensasi Perkawinan dibawah
Umur (Studi Kasus di Pengadilan Indramayu dari tahun 2000-2002)”, Skripsi tidak diterbitkan,
fakultas Syari’ah Uin Sunan Kalijaga, (2004).
10
Usia Dini tahun 2007-2009” yang menyatakan bahwa kedewasaan tidak dapat
diukur dengan ukuran umur semata saja, tetapi aspek psikologis dan lingkungan
dapat membentuk orang untuk menjadi dewasa dan tidak menikah.10
Skripsi karya Aniyatul Fitriyah dengan judul “Tinjauan Maslahah
terhadap Pertimbangan Hakim dalam Menyelesaikan Perkara Dispensasi Nikah
(Studi Terhadap Penetapan Pengadilan Yogyakarta tahun 2006)” skripsi ini
menyatakan bahwa dengan mendasarkan pada pertimbangan kemaslahatan dan
menghindarkan kedua calon mempelai dari perbuatan melanggar syari’at islam.
Disamping itu pertimbangan hakim didasarkan pada calon mempelai wanita yang
telah terlanjur hamil diluar nikah sehingga Majlis Hakim mudah untuk
mengabulkan permohonan dispensasi nikah.11
Skripsi karya Siti Thoyibatun Nasihah, dengan judul “Dispensasi
Nikah (Tinjauan Hukum Islam terhadap Penetapan hakim Pengadilan Agama
Kediri pada perkara No. 15/PDT.P/2009/PA.KDR)” skripsi ini menyatakan
bahwa tentang apa dasar dan pertimbangan dalam menetapkan Dispensasi Nikah
dan bagaimana tinjauan hukum islam terhadap pertimbangan hakim dalam
10
Hendra Fahrudi Amin, “Pertimbangan Hukum Dispensasi Nikah oleh Hakim Pengadilan
Agama Yogyakarta Bagi Pasangan Usia Dini tahun 2007-2009”, Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas
Syari’ah, UIN Sunan Kalijaga (2010).
11
Aniyatul Fitriyah, “Tinjauan Maslahah terhadap pertimbangan hakim dalam menyelesaikan
perkara Dispensasi Nikah (Studi Terhadap Penetapan Pengadilan Yogyakarta tahun 2006)”, Skripsi
tidak diterbitkan, Fakultas Syari’ah, UIN Sunan Kalijaga (2008).
11
menetapkan perkara di PA Kediri, serta tidak adanya maslahah yang timbul dari
putusan hakim.12
Penyusun dapat menyimpulkan perbedaan penelitian penyusun dengan
penelitian di atas adalah pada obyek yang diteliti.Berdasarkan dari telaah pustaka
yang penyusun lakukan belum ada yang membahas.Perbedaan antara skripsi
penyusun dengan yang lainya adalah obyek dan penetapan yang dibahas. Dalam
penetapan ini calon mempelai laki-lakinya masih berumur 14, sedangkan calon
wanitanya sudah cukup umur yaitu 18 tahun yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Pengambilan lokasi penelitian tersebut dikarenakan
wilayah tersebut masih sedikit yang mengajukan Dispensasi Nikah, maka tampak
ada yang membahas topik yang diangkat dalam tulisan ini. Oleh karena itu, topik
penelitian ini layak untuk dibahas lebih lanjut lagi.
E. Kerangka Teoretik
Perkawinan dalam Islam bukan hanya merupakan tujuan untuk
menyalurkan kebutuhan biologis atau hanya mengembangkan keturunan, akan
tetapi juga merupakan salah satu sarana untuk mengabdikan diri kepada Allah
SWT, sehingga perkawinan disebut sebagai lembaga suci dan luhur. Demi
mencapai tujuan perkawinan yang mulia tersebut diperlukan persiapan.
12
Siti Thoyibatun Nasihah, “Dispensasi Nikah (Tinjauan Hukum Islam terhadap Penetapan
hakim Pengadilan Agama Kediri pada perkara No. 15/PDT.P/2009/PA.KDR)”, Skripsi tidak
diterbitkan, Fakultas Syari’ah, UIN Sunan Kalijaga (2010).
12
Kematangan jasmani maupun rohani sangat berkaitan erat dengan umur seseorang
walupun hal tersebut bukan sebagai harga mutlak. Mengingat kematangan setiap
orang berbeda dengan lainnya.
Ukuran kedewasaan yang diukur dengan kriteria baligh ini tidak
bersifat kaku (relatif). Artinya, jika secara kasuistik memang sangat mendesak
kedua calon mempelai harus segera dikawinkan, sebagai perwujudan metode
sadd al-zari’ah untuk menghindari kemungkinan timbulnya mudharat yang lebih
besar.
Para ulama berpendapat mengenai usia baligh. Menurut Imam AsySyafi’i apabila seorang anak telah berusia 15 tahun maka ia sudah dinyatakan
baligh. Abu Hanifah berpendapat bahwa baligh bagi laki-laki jika telah bermimpi
nikmat sehingga mengeluarkan mani dan bagi perempuan telah mengeluarkan
darah haid. Pendapat Abu Hanifah ini sangat relevan dalam kehidupan saat ini
karena usia belum tentu dapat menentukan seseorang mengalami mimpi basah
dan keluar darah haid bagi wanita. Pada usia 12 tahun biasanya laki-laki sudah
mengeluarkan air mani sedangkan pada usia 9 tahun wanita sudah mengeluarkan
darah haid.13 Pendapat di atas, menyimpulkan bahwa perbedaan batas usia baligh
dengan kedewasaan seorang dalam memikul tugas dan tanggung jawab sebagai
pasangan suami istri.
13
Wahbah āz-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmiwwa-Adilatuhu (ttp: Dār al-Fikr, tt), V, hlm 423-424.
13
Bila ingin membentuk keluarga yang sejahtera dan bahagia, maka
perkawinan harus sesuai dengan norma agama dan tata aturan yang berlaku. Di
Indonesia pernikahan yang diatur dalam undang-undang Nomor. 1 Tahun 1974
atau disebut juga Undang-Undang Perkawinan pasal 6 ayat (2) yang berbunyi
“Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun
harus mendapat izin kedua orang tua”. Demi kemaslahatan keluarga dan rumah
tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai
umur yang ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974
yakni berbunyi “perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai
umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam
belas) tahun”.
Walaupun masalah perkawinan sudah diatur dalam Undang-undang,
dalam masyarakat terdapat kenyataan, bahwa dalam mewujudkan kepastian
hukum tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini disebabkan di dalam
masyarakat yang menganut hukum adat maupun yang menganggap agama tidak
memberikan aturan tentang batas usia perkawinan.
Pertimbangan dan tarik menarik antara akibat baik maupun buruk juga
mempengaruhi
untuk
segera
melaksanakan
ataupun
menunda
perkawinan.Meskipun hal ini bersifat sangat subyektif, ini juga layak menjadi
fokus perhatian. Dalam kaedah fikih, disebutkan sebagai berikut :
14
14
‫در ءالمفا سد مقد م على جلب المصا لح‬
Kaedah di atas menyatakan bahwa pertimbangan menolak terjadinya mafsadat
lebih diprioritaskan daripada maslahat. Dalam hukum perkawinan, suatu
pertimbangan untuk menghindari perbuatan zina harus didahulukan daripada
terjadi kemudharatan. Misalnya melarang seorang laki-laki menikah di bawah
umur 19 tahun dan wanita menikah di bawah 16 tahun, padahal sebelum umur
tersebut biasanya mereka sudah ‘akil baligh dan diperbolehkan menikah apabila
sudah mampu. Larangan semacam ini hanya untuk menutupi dampak yang
negatif sampai berakibat perceraian terhadap pasangan yang menikah di usia
dini.
Teori al-maslahah al-mursalah adalah menetapkan ketentuanketentuan hukum yang tidak disebutkan sama sekali di dalam Al-Qur’an dan
Sunnah atas pertimbangan sesuai kebaikan dan menolak kerusakan dalam
kehidupan masyarakat. Misalnya perkawinan anak-anak di bawah umur tidak
dilarang agama dan sah jika dilakukan oleh walinya yang berwenang. Namun
ternyata data-data statistik menunjukkan bahwapernikahan usia dini banyak
berakibat perceraian, karena usia muda itu belum siap fisik dan mentalnya untuk
menghadapi tugas-tugas sebagai suami istri, apalagi sebagai bapak dan ibu
rumah tangga. Maka atas dasar al-maslahah al-mursalah ini, pemerintah
14
Asjmuni A. Rahman, Qai’dah qa-idah Fiqih (Qawaidul Fiqhiyah), (Jakarta: Bulan Bintang,
1976), hlm. 10.
15
membenarkan melarang perkawinan anak-anak, dan membuat peraturan tentang
batas umur bagi calon-calon suami istri, sebagaimana tercantum dalam UndangUndang Perkawinan pasal 7 ayat 1.15
Syarat-syarat al-maslahah al-mursalah agar dapat dipakai sebagai
hujjah (dalil) adalah:
1. Harus benar-benar menerapkan maslahah dan bukan maslahah yang
bersifat perkiraan.
2. Maslahah tersebut bersifat umum bukan bersifat perorangan.
3. Pembentukan hukum dengan mengambil kemaslahatan ini tidak
berlawanan dengan ketetapan nass dan ijma’.16
Kaedah-kaedah di atas bersifat antipasif, artinya, pertimbangan untuk
menolak
kemudharatan
lebih
didahulukan
daripada
memperoleh
kemaslahatan. Dalam prinsip hukum islam bisa berubah sesuai perubahan
zaman dominan yang mendukungnya.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
15
16
Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syariah, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1987), hlm. 96.
Abdul Wabāb Khalāf, Ilm Usūl al-Fiqh (t.tp: Dār al-Qalam, 1987), hlm. 86-87.
16
Dalam penelitian ini, penyusun menggunakan jenis penelitian literal
(library research) yaitu suatu penelitian dengan cara menuliskan,
mengklarifikasikan dan memperoleh data dari berbagai sumber tertulis.
Kemudian menganalisis sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan
materi dan difokuskan pada penelaahan masalah yang dibahas.17Data
kepustakaan pada penelitian ini yakni Penetapan Pengadilan Agama
Wates No. 27/PDT.P/2014/PA.Wt.
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang penyusun gunakan adalah deskriptif analitik, yaitu
suatu penelitian yang bertujuan memaparkan dan mengembangkanobyek
yang diteliti dalam pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara
dispensasi nikah di Pengadilan Agama Wates No. 27/PDT.P/2014/PA.Wt.
Data yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori-teori
yang ada.18
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang penyusun butuhkan untuk penelitian
adalah:
a. Observasi
17
Sumaryadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, cet. ke-1 (Jakarta: PT Raja Grafindo
persada, 2010), hlm. 18.
18
Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004), hlm. 3.
17
Observasi sebagai langkah awal penyusun dalam memperoleh sebuah
data. Observasi merupakan suatu proses yang tersusun dari berbagai
proses biologis dan psikologis, dalam hal ini adalah pengamatan dan
ingatan.19 Penyusun dalam melakukan observasi ini meninjau secara
langsung objek penelitian yaitu Pengadilan Agama Wates untuk
memperoleh data yang diperlukan berkaitan dengan permasalahan
yang dibahas.
b. Dokumentasi
Cara memperoleh data tentang suatu masalah dengan menelusuri dan
mempelajari dokumen-dokumen, berupa penetapan perkara yang
berhubungan dengan perkara dispensasi Nikah di PA Wates No.
27/PDT.P/2014/PA.Wt..
Selain itu juga melakukan studi kepustakaan dengan mempelajari
berbagai literatur yang ada relevansinya dengan persoalan tersebut.
4. Pendekatan
Ada dua pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini :
a. Pendekatan Yuridis yaitu pendekatan suatu masalah yang bertumpu
pada hukum positif/tata aturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, khususnya yang menyangkut masalah perkawinan. Dalam
19
Sutrisno Hadi, Metodelogi Research, (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm. 145.
18
hal ini terdapat dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan khususnya pasal 7 ayat (1) dan (2).20
b. Pendekatan Normatif yaitu pendekatan penelitian terhadap suatu
masalah yang didasarkan atas hukum Islam, baik berasal dari nash AlQur’an atau Al hadis dan kaidah-kaidah usul fiqih serta pendapat para
ulama yang berkaitan masalah dispensasi nikah.21
Dengan memakai pendekatan di atas, maka penilaian terhadap perkara
pertimbangan hakim dalam penetapan dispensasi nikah di Pengadilan
Agama Wates dengan menggunakan pengetahuan tentang dispensasi nikah
yang telah ada, serta dengan teori maslahah yang berkaitan dengan hal
tersebut, sehingga diketahui apakah penetapan dispensasi nikah di
Pengadilan Agama Wates itu sesuai dengan hukum Islam dan Hukum
Positif.
5. Analisis Data
Analisis data merupakan usaha untuk menginterpretasikan data yang telah
diperoleh. Penyusun menganalisis dengan dua metode yaitu deduktif dan
indiktuf. Deduktif ialah hal umum menuju hal khusus, yaitu dengan cara
berfikir yang berangkat dari teori atau kaidah yang ada. Induktif ialah hal-
20
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet III. (Jakarta: UII-Pres, 1986), hlm.
10.
21
Ibid.,
19
hal yang bersifat khusus menuju hal-hal yang bersifat umum. Cara berfikir
yang berangkat dari fakta-fakta khusus dan peristiwa-peristiwa yang
konkret kemudian digeneralisasikan.22 Pada penelitian ini penyusun
menganalisis
perkara
penetapan
dispensasi
nikah
No.
27/PDT.P/2014/PA.Wt, kemudian ditarik pada kesimpulan umum. Suatu
perkawinan merupakan hal yang lazim dilakukan, namun karena umur
calon pasangan yang belum mencukupi batasan umur yang telah
ditentukan maka untuk melangsungkan pernikahan tersebut harus
memperoleh penetapan dispensasi nikah oleh Pengadilan Agama.
G. Sistematika Pembahasan
Sebagai usaha untuk mempermudah dan mengarahkan skripsi ini
penyusun membuat sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab pertama yang merupakan pendahuluan berisi tentang pemaparan garis
besar isi penelitian. Latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan dan kegunaan
penelitian. Telaah pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika.
22
Ibid
20
Bab kedua gambaran umum tentang perkawinan, Hukum Perkawinan dan
dispensasi nikah. Dalam bab ini meliputi pengetian dan dasar hukum perkawinan,
rukun dan syarat syarat perkawinan, tujuan dan hikmah perkawianan.Sub bab
selanjutnya tentang hukum perkawinan yang terdiri dari hadis dan ayat tentang
kedewasaan, pendapat para ulama. Bab ini membahas tentang dispensasi nikah
yang terdiri dari pengertian dan dasar hukum dispensasi nikah, serta batasan usia
perkawinan, batas usia menikah dalam pandangan hukum islam dan batas usia
dalam pandangan Undang-Undang.
Bab ketiga membahas tentang penetapan dispensasi nikah di Pengadilan
Agama Wates. Bab ini membahas secara khusus tentang gambaran dalam
penetapan dispensasi nikah.
Bab keempat merupakan pembahasan yang berisi tentang analisis data
yang telah didapat, yaitu berisi tentang analisis dasar pertimbangan hakim dalam
menetapkan permohonan Dispensasi Nikah. Tinjauan hukum islam dan hukum
positif terhadap pertimbangan hakim dalam penetapan dispensasi nikah No.
27/PDT.P/2014/PA.Wt .
Bab kelima berisi tentang Penutup, yang terdiri dari kesimpulan
pembahasan skripsi dan saran-saran yang berkaitan dengan permasalahan yang
dibahas dalam skripsi ini.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian dan pembahasan yang penyusun lakukan pada bab
terdahulu maka kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut :
1. Dasar hukum dalam menetapkan dispensasi nikah adalah berdasarkan pada
ketentuan Pasal 6 dan 7 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam pasal
tersebut disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah
mencapai umur 19 Tahun dan pihak wanita 16 tahun. Apabila terjadi
penyimpangan dalam hal tersebut dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.
Selain itu pertimbangan Hakim lainnya dalam menetapkan dispensasi nikah
adalah demi kemaslahatan semua pihak serta keluarganya dan masyarakat
umumnya. Alasan yang melatarbelakangi para pihak mengajukan permohonan
dispensasi nikah di Pengadilan Agama Wates adalah dikarenakan:
a. Mayoritas calon mempelai perempuan telah hamil di luar nikah. Selain
alasan itu, kekhawatiran berbuat zina dan adanya kesanggupan kedua
calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan juga menjadi alasan
yang disampaikan oleh para pemohon.
69
70
b. Kesadaran pihak laki-laki untuk menikahi wanita yang dihamilinya
merupakan bentuk tanggung jawab terhadap perbuatan yang telah
dilakukannya.
c. Pihak kedua mempelai tidak ada larangan untuk melangsungkan
pernikahan. Hal ini sesuai dengan pasal 8,9,10, UU No. 1 Tahun 1974 Jo
Pasal 39-44 Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkantentang
larangan menikah.
2. Tinjauan hukum islam terhadap pertimbangan hakim dalam memberikan
dispensasi nikah:
a.
Secara angka batas usia minimal bagi seseorang untuk melangsungkan
pernikahan antara Undang-undang Perkawinan dan Hukum Islam secra
umum berbeda. Dalam UUP, batas usia minimal untuk melangsungkan
perkawinan adalah anak laki-laki telah mencapai usia 19 tahun dan
wanita telah mencapai 16 tahun. Sementara dalam hukum islam,
khususnya madzab Syafi’i sama sekali tidak ditentukan mengenai batas
minimal usia nikah, karena yang penting sudah mencapai usia balighdan
tamyiz. Maka, dalam hukum Islam, diperbolehkan pernikahan dini
asalkan sudah memenuhi persyaratan dan rukun nikah.
b. Dalam ajaran Islam acuan yang digunakan dalam perkawinan usia muda
ini adalah sejarah perkawinan antara Nabi Muhammad SAW dan Aisyah
dimana pada waktu itu Aisyah masih anak-anak. Dari sini timbul
71
pandangan bahwa menikah dlam usia muda tidak menjadi permaslahan
dari sudut agama.
c. Penetapan dispensasi nikah akan lebih mendatangkan kemaslahatan bagi
kedua calon mempelai dan terhindar dari perbuatan zina yang dilarang
Agama.
B. Saran-saran
1. Kepada Majelis Hakim Pengadilan Agama Wates agar lebih selektif dalam
menangani permohonan nikah. Dampak menikah di bawah umur hendaknya
ditempatkan secara sejajar dengan dampak perzinaan sebagai bahan
pertimbangan.
Kedewasaan
psikologis
calon
mempelai
juga
harus
dipertimbangkan.
2. Peran orang tua terhadap anak harus lebih ditingkatkan, guna menghindari
anak dari pergaulan bebas di kalangan remaja yang menyebabkan kehamilan
di luar nikah.
3. Pendidikan keagamaan harus ditanamkan sejak dini dalam kehidupan
keluarga. Dengan berbekal pengetahuan agama yang cukup diharapkan dapat
menjadi tameng terhadap pergaulan bebas yang berdampak pada kebebasan
perilaku seksual di luar nikah.
4. Penyuluhan kesehatan tentang pengaruh pernikahan di bawah umur terutama
terhadap kesehatan reproduksi wanita apabila melahirkan dalam usia relative
sangat muda.
DAFTAR PUSTAKA
A. Al Qur’an/Tafsir
Departemen Agama, Al –Jumānatul „ali Al-Qur‟an dan Terjemahannya,
Jakarta: CV Penerbit J-Art, 2005).
Sayid Riddā, Rasyid, As-, Tafsir al Manār, (Mesir: al-Manar, 1325H),
IV:387.
B. Kelompok Hadist
Bukhari, Abi „Abdillah Muhammad Ibn Isma‟il, Al-, Sahih al-Bukhari,
(Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), VI: 134, “Kitab an-Nikah”, Bab Tajwijul alAb‟ibabatuhu minal imam, hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari
„Aisyah.
Khaulani, Muhammad Ibnu Isma‟il, Al-, Subul as-Salam, Kitab al-Qada,
(Semarang: Toha Putera, tt), IV: 17, Hadis Shahih, Riwayat Muttafaqun
„Alaihi dari „Amr Ibnu Ash.
Zuhaili, Wahbah, Az-, al-Fiqh al-Islamiya-Adilatuhu, (ttp: Dar al-Fikr), tt.
C. Kelompok Fiqh/Ushul Fiqh
Abdurahman, Asjmuni, Metode Penetapan Hukum islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1976).
Amin, Hendra Fahrudi, “Pertimbangan Hukum Dispensasi Nikah oleh Hakim
Pengadilan Agama Yogyakarta Bagi Pasangan Usia Dini tahun 20072009”, Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Syari‟ah, UIN Sunan
Kalijaga (2010).
Arto, Mukti,
Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),
Baihaqi, Ahmad Rafi, Membangun syurga Rumah Tangga, (Surabaya: Gita
Media Press, 2006).
Fathoni, Ade Firman, “Pertimbangan Hakim dalam memberikan Dispensasi
Perkawinan di Bawah Umur (Studi Di Pengadialan Agama Wonosari
72
73
tahun 2000-2002).” Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Syari‟ah IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta (2004).
Fitriyah, Aniyatul, “Tinjauan Maslahah terhadap pertimbangan hakim dalam
menyelesaikan perkara Dispensasi Nikah (Studi Terhadap Penetapan
Pengadilan Yogyakarta tahun 2006)”, Skripsi tidak diterbitkan,
Fakultas Syari‟ah, UIN Sunan Kalijaga (2008).
Hawa, Syamsa, Siap-siap Nikah, cet. 1 (Bandung: Lingkar Pena, 2007).
Khalāf, Abdul Wabāb, Ilm Usūl al-Fiqh (t.tp: Dar al-qalam, 1987).
Muhdlor, A. Zuhdi, Memahami Hukum Perkawinan (Nikah, Talak, Cerai,
Rujuk), cet ke-2 (Bandung: Al-Bayan, 1995).
Mujieb, Abdul, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994).
Mustafa, al-Khin, Fiqih Syafi‟I Sistematis, (Semarang: CV. Asy-Syifa‟, 1992).
Muzdhar, M. Atho‟ dan Khairuddin Nasution (ed.), Hukum Keluarga di
Dunia Islam Modern, cet. Ke-1 (Jakarta: Ciputat Press, 2003).
Nasihah, Siti Thoyibatun, “Dispensasi Nikah (Tinjauan Hukum Islam
terhadap Penetapan hakim Pengadilan Agama Kediri pada perkara No.
15/PDT.P/2009/PA.KDR)”,
Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas
Syari‟ah, UIN Sunan Kalijaga (2010).
Nasution, Khoiruddin, Hukum Perkawinan I, (Yogyakarta : Academia +
Tazzafa, 2005).
Qadir Audah, Abdul, At-Tasyri‟ al-Jina‟I al-Islami, (Kairo: Dar al-Urubah,
1963), I:603.
Rahman, Abdul, Perkawinan dalam Syariat Islam, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
1966).
Rahman, Asmuni A., Qaidah-Qaidah Fiqh (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).
Rasyid, Roihan A. Hukum Acara Peradilan Agama (Edisi Baru), (Jakarta:
Rajawali Pres, 1991).
Rifai, Ahmad , Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Persfektif Hukum
Progresif, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011).
74
Rizkia, Fina Mirzana, “Dispensasi Kawin Yang Diajukan Oleh Calon
Mempelai Wanita (Studi Penetapan No. 0035/Pdt.P/2011/PA.Mkd),”
skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta (2001).
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-2 (Jakarta: Raja Grafindo,
1997).
Rohayah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Dispensasi Kawin Karena Hamil
Di Luar Nikah (Studi Terhadap Penetapan Pengadilan Agama
Yogyakarta Perkara Nomor 0030/Pdt.P/2011/PA.Yk)”, skripsi stara
satu Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2012).
Rosyadi, Rahmat, Problema Sex Kehamilan dan Melahirkan, (Bandung:
Angkasa, 1993).
Salam, Abdul, “Pertimbangan Hakim dalam Memberikan Dispensasi
Perkawinan dibawah Umur (Studi Kasus di Pengadilan Indramayu
dari tahun 2000-2002)”, Skripsi tidak diterbitkan, fakultas Syari‟ah
Uin Sunan Kalijaga, (2004).
Shaleh, M. Asrorum Ni‟am, “Pernikahan Usia Dini Perspektif Fikih
Munakahah” dalam Ijma‟ Ulama” (Majelis Ulama Indonesia), 2009.
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (UU
No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan) cet ke-5 (Yogyakarta: Liberty,
2004).
Suma, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, (Jakarta:
Rajawali Press, 2004).
Usman, Rachmadi, Aspek-aspek hukum Perorangan dan Kekeluargaan di
Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006).
Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad, Fiqih Wanita, diterjemahkan oleh M.
Abdul Ghoffar (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998).
Yanggo, Cuzaimah T, dan Hafiz Anshary (ed), Problematika Hukum Islam
Kontemporer.
Zaidan, Abdul Karim, Al-Wajiz 100 Kaidah Fikih Dalam Kehidupan Seharihari, alih bahasa Muhyidin Mas Rida.
75
Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Hukum Syariah, (Jakarta: CV Haji Masagung,
1987).
D. Kelompok Undang-Undang
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 2.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
(Jakarta: Tamita Utama, 2004).
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan
atas UU No.7 tentang Peradilan Agama.
E. Lain-lain
Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2004).
Hadi, Sutrisno, Metodelogi Research, disadur oleh Sugiyono (Bandung:
Alfabeta, 2007).
Http://hakamabbas.blogspot.com/2014/02/batas-umur-perkawinan-menuruthukum.html, diakses 8 Maret 2015, pukul 13.00 WIB.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/4337/1/NURMILA
H%20SARI-FSH.pdf, diakses 31 Maret 2015, pukul 14.00 WIB.
Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Kamus Pusat Pembinaan
Pengembangan Bahasa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989).
dan
Soekanto, Soejono, Pengantar Penelitian Hukum, cet III. (Jakarta: UII-Pres,
1986).
Staatsblaad 1933 No. 74 jo 36-607 jo LN. 1946 No. 136 tentang Ordinansi
Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijks Ordinanntie Cristen
Indonesiers), pasal 40 ayat (1,2).
www.pa-wates.net, akses 22 Maret 2015.
Download